SEPEKAN TERAKHIR
  Senin, 20 Februari 2017   -HARI INI-
  Minggu, 19 Februari 2017
  Sabtu, 18 Februari 2017
  Jumat, 17 Februari 2017
  Kamis, 16 Februari 2017
  Rabu, 15 Februari 2017
  Selasa, 14 Februari 2017
POKOK RENUNGAN
Dosa selalu mengincar kita, maka mintalah kekuatan dari Allah supaya kita kuat di dalam pencobaan.
DITULIS OLEH
Bpk. Daud Sugiarno
Kontributor
Renungan Lain oleh Penulis:
Home  »  Renungan  »  Angerah Keselamatan
Angerah Keselamatan
Senin, 20 Februari 2017
Angerah Keselamatan
2 Korintus 3:18
Adam diciptakan menurut gambar dan rupa Allah sehingga ia mencerminkan, seperti cermin kebenaran Allah. Namun gambar itu telah rusak karena dosa, karena itu harus dipulihkan di dalam Kristus. Kelahiran kembali orang kudus tidak lain adalah pembentukan ulang gambar Allah di dalam mereka [2 Korintus 3:18]. Manusia telah kehilangan gambar Allah saat ia diciptakan, maka dari itu adalah suatu yang mutlak bahwa gambar itu dipulihkan oleh Kristus bagi kita. Dia mengajarkan bahwa rancangan dari kelahiran kembali adalah memimpin kita kembali dari kesalahan kepada tujuan kita diciptakan.

Kejatuhan manusia ke dalam dosa otomatis membuat manusia di bawah kuasa dosa maut. Manusia menyerah ...selengkapnya »
Memasuki awal tahun yang baru ini, tentu kita juga menginginkan kehidupan yang lebih baik dari tahun-tahun sebelumnya dengan menyusun rencana-rencana yang akan kita kerjakan. Mungkin ada kegagalan-kegagalan yang kita alami di tahun sebelumnya yang membuat kita ingin memperbaikinya. Kita mencoba membuat daftar hal-hal yang akan kita lakukan di tahun baru dan berusaha melakukannya. Atau istilah lain yang kita kenal adalah “resolusi tahun baru”. Resolusi tahun baru dibuat karena adanya rasa kurang puas akan sesuatu hal yang ada pada diri manusia sehingga muncul niatan untuk memperbaikinya. Orang dunia membuat resolusi tahun baru menurut standarnya sendiri, tetapi kita sebagai orang Kristen harus bisa berbeda dengan orang dunia. Sebagai orang Kristen, resolusi tahun baru hendaklah berkaitan dengan bagaimana cara kita mengasihi Tuhan dan sesama manusia. Apakah kita sudah berhasil mengasihi Tuhan dan sesama kita ataukah kita telah gagal. Di dalam Alkitab tertulis bahwa tidak mungkin seseorang dapat berubah hanya dengan mencoba lebih keras dan berkomitmen lebih banyak. Tindakan kita dipengaruhi oleh hati kita dan bukan oleh komitmen kita yang logis. Kita tidak memiliki kekuatan untuk mengubah diri kita sendiri dari hal-hal yang buruk, kecuali oleh pertolongan anugerah dan pekerjaan dari Roh kudus yang mengubahkan kita dan memampukan kita untuk mengasihi Tuhan dan sesama manusia. Mari kita sebagai orang Kristen menyadari bahwa untuk mengubah diri menjadi orang yang lebih memuliakan Tuhan, kita harus bergantung seutuhnya kepada Tuhan yang mampu menolong kita untuk melakukan resolusi yang benar sesuai dengan kehendak-Nya, dan dengan tujuan untuk mempermuliakan nama Tuhan.
Mengalami Tuhan 5 Kisah Para Rasul 9:1-20 Ia rebah ke tanah dan kedengaranlah olehnya suatu suara yang berkata kepadanya: ’Saulus, Saulus, mengapakah engkau menganiaya Aku?’ Jawab Saulus: ’Siapakah Engkau, Tuhan?’ Kata-Nya: ’Akulah Yesus yang kauaniaya itu.’ Orang yang mengalami perjumpaan dengan Tuhan pasti akan mengalami perubahan di dalam hidupnya. Saulus, seorang yang tadinya melawan Kristus dan aktif dalam membinasakan para pengikut Kristus, telah berjumpa dengan Kristus di jalan menuju Damsyik dan hidupnya berubah secara drastis. Tadinya hendak membinasakan iman kepada Kristus, setelah bertemu Kristus dia menjadi seorang yang memberitakan bahwa Yesus adalah Mesias dan Anak Allah. Saulus ada dalam perjalanan menuju Damsyik untuk menangkap orang-orang yang percaya kepada Kristus. Dia melakukan aktivitas itu dengan penuh semangat, ’dengan hati berkobar-kobar.’ Apa yang dia kerjakan itu dia kerjakan dengan sepenuh hati, seolah-olah sedang mengerjakan suatu yang ditugaskan oleh Tuhan sendiri [walaupun sebenarnya bukan]. Rupanya Tuhan tertarik dengan orang-orang semacam ini, yang mengerjakan sesuatu dengan sepenuh hati dan dengan penuh keyakinan. Tuhan ingin mengubah dan memakai orang yang seperti Saulus ini. Tuhan mengubah pikiran Saulus. Tadinya dia menganggap Yesus sebagai seorang manusia biasa. Setelah berjumpa dengan Yesus dia mengerti bahwa Yesus adalah Tuhan. Dan apa yang selama ini dia kerjakan ternyata salah. Dia telah menganiaya pengikut Yesus dan itu berarti menganiaya Yesus sendiri. Pada saat itu terjadilah perubahan di dalam dirinya. Sebelumnya semangat dan segenap energinya dia arahkan untuk sesuatu yang tidak benar, tetapi setelah bertemu dengan Yesus dia mengerahkan segenap kekuatannya untuk memberitakan Yesus sebagai Tuhan dan Juruselamat bagi segala bangsa. Setelah berjumpa dengan Yesus, Saulus mengalami perubahan total dalam hidupnya. Tuhan yang telah mengubah hidup Saulus adalah Tuhan yang masih bekerja hingga sekarang. Jika kita mengalami pengalaman yang otentik dengan Dia, maka hidup kita pun akan menjadi baru. Amin. Pdt. Goenawan Susanto
Orang percaya dikatakan sebagai orang-orang yang lebih dari pemenang. Dalam hal apa? ’Dalam semuanya itu’, yaitu dalam penindasan, kesesakan, penganiayaan, kelaparan, ketelanjangan, bahaya dan pedang. Bagaimana kita bisa menjadi pemenang, bahkan lebih dari pemenang dalam hal-hal di atas? Paulus memberikan tiga kunci agar kita dapat hidup sebagai pemenang-pemenang dalam pergumulan hidup kita sehari-hari. Pertama, hiduplah dalam pertobatan yang sungguh. Roma 8:1-4 berbicara mengenai kemerdekaan sejati yang kita peroleh melalui karya penebusan Yesus di kayu salib. Setiap orang yang mau hidup berkemenangan, maka ia harus mengalami pertobatan dan perjumpaan dengan Yesus. Bila seseorang masih hidup dalam pertobatan yang semu, sekalipun ia rajin ke gereja atau melayani, maka ia tidak akan mengalami kemenangan demi kemenangan. Kita harus sungguh-sungguh hidup dalam pertobatan yang benar : tidak ada lagi dusta, fitnah, kebohongan dan gosip. Berhenti berjudi, stop narkoba, tidak lagi mabuk-mabukan, juga dengan tegas meninggalkan dosa-dosa seksual. Kedua, hiduplah dalam pimpinan Roh. Roma 8:5-17 berbicara mengenai hidup yang dipimpin oleh Roh. Setiap orang percaya yang mau hidupnya selalu berkemenangan haruslah peka untuk mendengarkan suara Penolongnya. Ia harus mengikuti semua arahan dan petunjuk yang diberikan oleh Roh Kudus. Baca dan renungkan Firman Tuhan, maka kita akan mendapat tuntunan bagi jalan hidup kita. Ketiga, hiduplah dalam pengharapan [Roma 8:18-30]. Bagaimana kita bisa hidup dalam pengharapan? Tidak ada cara lain selain kita harus dapat melihat dengan jelas apa yang menanti kita di kekekalan. Rasul Paulus dapat melihat hal itu sehingga dengan berani ia berkata, ’Sebab aku yakin, bahwa penderitaan zaman sekarang ini tidak dapat dibandingkan dengan kemuliaan yang akan dinyatakan kepada kita.’ Orang Kristen yang tidak bisa melihat apa yang menantinya di sorga, cenderung mudah kehilangan iman, kasih dan pengharapannya di dunia ini karena matanya melihat apa yang ada di dunia ini.
Kata “murid = disciple [bhs. Inggris]”. Dari kata ini lahir kata discipline atau disiplin dalam bahasa Indonesia. Seorang disciple [murid] yang baik mempunyai tingkat discipline [disiplin] yang tinggi. Dengan disiplin yang tinggi dia membangun ketaatan dalam dirinya. Renungan kita hari hari ini adalah di atas landasan apa seorang murid Kristus membangun ketaatannya dengan disiplin yang tinggi? Ketaatan dapat berlandaskan atas kepatuhan terhadap suatu idealisme. Ketaatan dapat juga berlandaskan atas kepatuhan terhadap pemimpin yang bersifat diktator. Seringkali terjadi dan kita saksikan, walaupun idealisme keliru, kepatuhan tetap dilakukan. Kepatuhan/ketaatan seperti itu membawa kesengsaraan. Dalam sebuah pemerintahan hal tersebut membawa kepuasan dan kenikmatan hidup bagi para pemimpinnya tapi membawa penderitaan bagi rakyatnya. Alkitab mengajarkan landasan ketaatan yang tidak sama dengan yang diajarkan manusia. Berdasarkan Firman-Nya, landasan ketaatan adalah KASIH, bukan suatu idealisme, bukan juga seorang pemimpin yang diktator. Landasan ketaatan adalah nilai hidup yang luhur, yaitu KASIH. Mengasihi berarti menaati. Yesus mengasihi Bapa dan Bapa mengasihi Yesus. Berlandaskan kasih, Yesus melakukan segala sesuatu yang diperintahkan Bapa kepada-Nya [Yohanes 5:20; 14:31]. Itu sebabnya kita yang mengasihi Yesus wajib menaati semua perintah-Nya seperti yang Yesus teladankan dalam hidup kemanusiaan-Nya, Yesus taat pada perintah Bapa. Rasul Paulus menyaksikan bahwa kasih Kristus yang menguasai hidup-Nya [2 Korintus 5:14]. Berlandaskan pada kasih, Rasul Paulus melaksanakan Firman-Nya dengan penuh ketaatan. Sekalipun harus menghadapi kesulitan, aniaya, penderitaan, ancaman maut, Rasul Paulus tetap mengasihi Tuhan [Roma 8:38-39]. Rasul Paulus juga tetap menaati perintah dan hukum-hukum-Nya. Mengasihi Tuhan berarti menaati Firman-Nya. Bagaimana dengan kita?
BARCODE BBM CHANNELS
RENUNGAN HARIAN
Selalu Ada Resiko
07 Februari '17
Mengikut Dia
27 Januari '17
Mengalami Tuhan 4
05 Februari '17
Copyright © 2012 All rights reserved. Designed and Developed by GIA Dr. Cipto Semarang