SEPEKAN TERAKHIR
  Sabtu, 23 September 2017   -HARI INI-
  Jumat, 22 September 2017
  Kamis, 21 September 2017
  Rabu, 20 September 2017
  Selasa, 19 September 2017
  Senin, 18 September 2017
  Minggu, 17 September 2017
POKOK RENUNGAN
Penyertaan-Nya adalah sumber kekuatan kita.
DITULIS OLEH
Pdt. Laij Andreany
Rohaniwan Pusat
Renungan Lain oleh Penulis:
Home  »  Renungan  »  Nazar Yakub : Jika Engkau Besertaku
Nazar Yakub : Jika Engkau Besertaku
Sabtu, 23 September 2017
Nazar Yakub : Jika Engkau Besertaku
Kejadian 28:20
Di awal Tahun Ajaran baru sekolah, kita menyaksikan bahwa mungkin kita melakukannya. Di jenjang pendidikan Play Group dan TK, orangtua mengantar, menunggui dan kembali membawa pulang anak-anak mereka. Di jenjang SD, SMP, SMA bahkan sampai di Perguruan Tinggi, orangtua mengantar dan menjemput mereka. Beberapa orangtua tidak tega melepas anak-anaknya studi atau bekerja ke luar kota bahkan ke luar negeri. Banyak pertanyaan “bagaimana...” memenuhi hati mereka. Bagaimana kalau anak-anak salah bergaul? Bagaimana kalau anak-anak sakit? Bagaimana kalau anak-anak diganggu orang jahat? Tetapi ada juga orangtua yang dengan tenang melepas anak-anak mereka dengan alasan supaya anak-anak belajar mandiri, tentunya dengan seabreg bekal mengenai hal-hal yang mungkin anak-anak hadapi.

Yakub dan Ribka juga mengalami hal yang sama ketika mereka harus berpisah. Hukum rimba masih berlaku zaman itu, siapa kuat dialah yang menang. Perjalanan tidak secepat dan seaman sekarang, belum ada mobil, bus, kereta api atau pesawat. Sewaktu-waktu Yakub bisa terancam bahaya, diserang binatang buas, berjumpa dengan gerombolan perampok. Yakub adalah “anak mami” yang selama ini ia merasa aman tinggal di kemah bersama Ribka ibunya. Pasti ketakutan menghantui Yakub. Takut tersesat, takut dikeja...selengkapnya »
TUGAS GENERASI Mazmur 78:6-7 supaya dikenal oleh angkatan yang kemudian, supaya anak-anak, yang akan lahir kelak, bangun dan menceritakannya kepada anak-anak mereka, supaya mereka menaruh kepercayaan kepada Allah dan tidak melupakan perbuatan-perbuatan Allah, tetapi memegang perintah-perintah-Nya; Di medsos sering ada tulisan yang mengatakan bahwa kita yang lahir di tahun 1960-70-80an, adalah generasi yang layak disebut generasi paling beruntung. Karena kitalah generasi yg mengalami loncatan teknologi yang begitu mengejutkan di abad ini, dengan kondisi usia prima. Kitalah generasi dengan masa kecil bertubuh lebih sehat dari anak masa kini, karena lompat tali, loncat tinggi, petak umpet, gobak sodor, main kelereng, karetan adalah permainan yang tiap hari akrab dengan kita. Sekaligus saat ini mata dan jari kita tetap lincah memainkan berbagai game di gadget. Kitalah generasi terakhir yang pernah menikmati lancarnya jalan raya tanpa macet dimana-mana walaupun jalan belum diaspal. Juga bersepeda onthel / motor menikmati segarnya angin jalan raya tanpa helm di kepala. Kitalah generasi terakhir yang pernah menikmati jalan kaki berkilo meter tanpa perlu berpikir ada penculik yg membayangi kita. Kitalah generasi terakhir yang pernah begitu mengharapkan datangnya Pak Pos menyampaikan surat dari sahabat dan kekasih, namun dilain sisi kita juga bisa menikmati email bahkan membuat blog pribadi kita. Sebenarnya ada yang lebih lagi. Kita yang lahir di tahun-tahun 50-80an adalah generasi yang sangat beruntung secara rohani, karena kita mengalami masa-masa kebangunan rohani. Kita sempat menikmati KKR-KKR yang memberikan semangat rohani. Ada banyak bermunculan persekutuan-persekutuan doa yang membawa semangat pembaharuan bagi gereja-gereja yang saat itu mengalami kesuaman. Sebagian dari kita yang pernah menjadi pelajar atau mahasiswa pasti pernah diajak untuk bergabung dalam persekutuan doa di sekolah-sekolah atau kampus-kampus. Kita juga sempat menikmati kegerakan pujian dan penyembahan, dengan munculnya lagu-lagu pujian baru yang membawa semangat baru pula. Ada banyak orang yang mengalami pertobatan dan pembahatuan iman melalui kegerakan-kegerakan rohani itu. Dan hasilnya adalah orang-orang Kristen generasi sekarang ini. Pernahkah kita bertanya: Lalu apa? Apakah maksud Tuhan untuk generasi kita ini? Tuhan punya maksud untuk generasi kita, yaitu agar kita menjadi generasi yang mengenal Dia dengan benar. Agar kita mengenal Dia sebagai Allah yang dahsyat dan penuh kasih karunia. Namun bukan hanya sampai di situ saja. Kita punya tugas generasi, yaitu untuk menyampaikan pengenalan akan Allah itu kepada generasi selanjutnya. Agar generasi di bawah kita nantinya juga percaya kepada Allah dan mentaati perintah-perintah-Nya. Pdt. Goenawan Susanto
Menjadi murid perlu latihan 1 Timotius 4:6-11 Tetapi jauhilah takhayul dan dongeng nenek-nenek tua. Latihlah dirimu beribadah. Latihan badani terbatas gunanya, tetapi ibadah itu berguna dalam segala hal, karena mengandung janji, baik untuk hidup ini maupun untuk hidup yang akan datang. [ayat 7-8] Ada sebuah pernyataan menarik dari seorang guru di Australia: ’Kami tidak terlalu khawatir anak-anak Sekolah Dasar kami tidak pandai Matematika. Kami jauh lebih khawatir jika mereka tidak pandai mengantri.” Mengapa pernyataan itu menarik? Biasanya kita di Indonesia menganggap bahwa kemampuan dalam pelajaran itu jauh lebih penting daripada etika. Berprestasi di dalam pelajaran itu dianggap jauh lebih membanggakan daripada menjadi seorang anak yang mengerti tata krama. Hasilnya adalah di Indonesia ini banyak orang pandai, tetapi kepandaiannya itu tidak digunakan untuk hal yang baik tapi untuk hal yang tidak baik, misalnya korupsi. Ya, korupsi itu dimulai dan dipelajari sejak kecil. Dimulai dari kebiasaan-kebiasaan tidak tertib, mengutamakan kepentingannya sendiri dan menyerobot hak orang lain. Misalnya di dalam hal mengantri. Kalau sejak kecil anak sudah terbiasa menyerobot maka sewaktu dewasa nanti juga dia punya anggapan bahwa menyerobot hak orang lain adalah perkara biasa. Dan banyak orang tua yang tidak keberatan dan malah mengajari anaknya untuk menyerobot hak orang lain. Itulah sebabnya di Indonesia ini banyak orang yang melakukan korupsi dan menganggap bahwa korupsi adalah hal biasa, karena memang sudah biasa mereka lakukan sejak kecil. Sedangkan di negara-negara yang membiasakan warganya untuk tertib [contohnya dalam hal mengantri] korupsi pun jarang terjadi. Rasul Paulus menasihati Timotius, muridnya secara rohani, agar melatih diri di dalam ibadah. Ibadah yang dimaksud di sini adalah kesalehan [godliness]. Kesalehan memang harus dilatih, bahkan harus diajarkan sejak kecil, ketika seseorang masih kanak-kanak. Seperti halnya dengan kedisiplinan dalam mengantri, ketertiban, menghargai hak orang lain, harus ditanamkan sejak dini. Hasilnya akan terlihat nanti setelah anak itu menjadi dewasa, dia akan menjadi seorang yang baik. Buat setiap murid Kristus, perlu kita melatih dan mendisiplin diri kita sendiri, dengan membaca Alkitab, bersaat teduh secara rutin, dan melakukan Firman itu agar terbentuk karakter Kristus di dalam diri kita. Amin. Pdt. Goenawan Susanto
Seorang pemuda yang sedang menyelesaikan pendidikan sarjana tentu berharap mendapatkan pekerjaan yang sesuai dengan bidang kemampuan yang dimilikinya. Ia terus berusaha mencari dan mendapatkan pekerjaan. Ia akan mencari peluang untuk bisa mendapatkan pekerjaan yang tepat bagi dirinya. Cita-cita semasa belajar seolah-olah akan segera didapatkan. Mimpi-mimpi ketika menjalani perkuliahan dalam angan sudah terbayang nyata. Ia memiliki harapan yang besar untuk masa depan yang gemilang. Harapan itu pasti sesuatu yang indah dan yang baik karena ada keyakinan pasti bisa meraihnya. Kitab Amsal 23:18 memberitahu bahwa masa depan dan harapan yang baik itu tetap ada. Meskipun harus dengan perjuangan yang berat. Kadang masa depan yang diimpikan dan harapan yang indah selalu dibayangkan, namun untuk menggapainya membutuhkan kerja keras dan usaha, tentunya juga berdoa dan berserah diri kepada Tuhan. Kata demi kata dalam ayat ini mengandung makna yang dalam jikalau setiap kita merenungkan lebih dalam. Meskipun kadang kita kehilangan harapan, seakan-akan hidupnya tidak ada yang bisa diharapkan, namun Tuhan menyediakan harapan yang tidak akan hilang bagi orang yang percaya. Memiliki masa depan dan harapan bukan hanya berlaku bagi generasi muda saat ini, melainkan bagi semua orang yang percaya bahwa Tuhan telah memberikan hari depan yang penuh dengan harapan bagi kita yang mempercayakan diri sepenuhnya kepada Tuhan. Bukankah Ia adalah Allah yang sama dari dulu, sekarang dan selamanya. Jika Allah memberikan masa depan dan hikmat yang luar biasa bagi Salomo, raja Israel, maka Ia adalah Allah yang sama yang akan memberikan hari depan dan harapan yang baik bagi kehidupan kita. Sebagai manusia ciptaan Tuhan yang mulia, kita harus berpegang teguh kepada janji dan kuasa Tuhan yang mampu mengubahkan sesuatu yang tidak baik menjadi sangat baik. Ia sanggup mengubahkan kelemahan kita menjadi kekuatan dalam hidup kita. Bahkan Ia sanggup mengubahkan sesuatu yang mustahil menjadi sangat mungkin bagi masa depan kita. Jadilah manusia yang memiliki pengharapan yang penuh kepada Tuhan, Ia pasti akan melakukan yang terbaik.
Acara peringatan HUT Kemerdekaan RI Ke-72 telah usai dengan segala kemeriahannya di seluruh pelosok negeri ini. Yang tersisa adalah pesan pemerintah melalui tema peringatan tahun ini “kerja bersama, bersama kerja” yang harus ditindaklanjuti oleh seluruh rakyat Indonesia untuk mengisi kemerdekaan. Presiden Joko Widodo dalam pidato kenegaraan menyampaikan tekad pemerintah untuk terciptanya pemerataan kesejahteraan di seluruh negeri. Hal tersebut telah dilakukan melalui upaya persamaan harga BBM dan semen di seluruh negeri, membuat jalan trans Papua, Sumatra dan tol di seluruh Jawa, serta tol laut untuk melancarkan roda ekonomi. Dibutuhkan kerjasama dan gotong royong di seluruh lapisan masyarakat sehingga tidak ada lagi saling curiga, saling memfitnah, saling menghancurkan untuk menuju Indonesia yang lebih baik, seperti tertulis dalam tema peringatan di beberapa wilayah “Semangat gotong royong untuk membangun Indonesia menuju masa depan yang lebih baik”. Sebagai orang yang merdeka secara rohani, hendaklah kita mengisi kemerdekaan bukan dengan menyalahgunakan kemerdekaan untuk menyelubungi kejahatan, tetapi hidup sebagai hamba Allah. Tunduklah kepada pemerintah sebagai pemegang kekuasaan tertinggi, menghormati hukum yang berlaku. Berbuat baik kepada sesama sebagai kehendak Allah karena dengan berbuat baik kita akan membungkam kepicikan orang. Hormati hak-hak orang lain dan hiduplah dalam kasih pada semua orang. Jauhilah keinginan-keinginan daging yang akan merusak jiwa, milikilah cara hidup yang baik di antara semua orang agar Tuhan dimuliakan dan melawat mereka. Isilah kemerdekaan dengan perbuatan baik yang akan berdampak pada semua orang, sehingga dapat memenuhi Amanat Agung untuk memuridkan orang lain. Jadilah agen Kristus untuk mengubah negeri ini menjadi lebih baik di masa depan.
BARCODE BBM CHANNELS
RENUNGAN HARIAN
Pelaku
16 September '17
Bertobat Dengan Merubah Hidup
04 September '17
Jesus Is The Center
11 September '17
Copyright © 2012 All rights reserved. Designed and Developed by GIA Dr. Cipto Semarang