SEPEKAN TERAKHIR
  Jumat, 09 Desember 2016   -HARI INI-
  Kamis, 08 Desember 2016
  Rabu, 07 Desember 2016
  Selasa, 06 Desember 2016
  Senin, 05 Desember 2016
  Minggu, 04 Desember 2016
  Sabtu, 03 Desember 2016
POKOK RENUNGAN
’Hati-hatilah dan berjaga-jagalah! Sebab kamu tidak tahu bilamanakah waktunya tiba.” [Markus 13:33]
DITULIS OLEH
Sdr. Dwi Winarno
Kontributor
Renungan Lain oleh Penulis:
Home  »  Renungan  »  Berjaga-Jagalah
Berjaga-Jagalah
Jumat, 09 Desember 2016 | Tema: Siap Menyambut KedatanganNya
Berjaga-Jagalah
Markus 13:33-37

Pada waktu keponakan saya berumur 2 [dua] tahun, ia dititipkan kepada ibu saya karena kedua orangtuanya harus bekerja. Ketika awal-awal keponakan saya selalu menangis dan berjaga-jaga menunggu mamanya pulang. Sepanjang hari ia menunggu kalau-kalau mamanya datang. Sampai kurang lebih dua mingguan ia setiap hari masih selalu merengek dan selalu menunggu kedatangan mamanya sepulang kerja. Namun setelah lewat dua minggu, ia mulai terbiasa ditinggal mamanya bekerja. Ia sudah tidak menangis ketika ditinggal, dan tidak selalu berjaga-jaga menunggu kedatangan mamanya. Ia sudah terbiasa diasuh oleh ibu saya sepanjang hari. Ketika mamanya lembur kerja sekalipun ia tidak merengek minta segera ketemu mamanya. Bahkan karena kadang terlalu asyik bermain, ia tidak berjaga-jaga menyambut kedat...selengkapnya »
Saat Haman yang ’gila hormat’ itu tahu bahwa Mordekhai berkebangsaan Yahudi, maka Haman mencari cara untuk membinasakan seluruh bangsa Yahudi karena terlalu hina baginya jika hanya membunuh Mordekhai. Dengan kelicikannya Haman mendapat ijin dari raja untuk membinasakan seluruh bangsa Yahudi. Ketika Mordekhai dan seluruh bangsa Yahudi mendengar berita itu, maka mereka mengadakan perkabungan besar. Mordekhai memakai pakaian kabung dan duduk di pintu gerbang istana. Mordekhai ingin memberitahukan hal itu kepada Ester, karena Ester tidak mengetahui akan hal itu. Saat mengetahui hal itu hati Ester menjadi kuatir dan tidak tahuharus berbuat apa, tetapi ia berusaha untuk tetap tenang. Inilah untuk pertama kalinya Ester berhadapan dengan masalah yang serius. Masalah ini merupakan ujian yang mendewasakan sikap Ester. Kedewasaan sikap Ester terlihat dalam dua hal, yaitu: pertama, tetap tenang ketika berhadapan dengan masalah. Saat itu Ester tidak mempunyai teman untuk diajak diskusi mencari jalan keluar dari masalah yang sedang dihadapinya tetapi ia tetap tenang dan tidak panik. Kedua, bertindak bijaksana. Ester bertindak sangat bijaksana saat mengirimkan Hatah untuk bertanya jawab dengan Mordekhai. Orang yang dewasa tidak bertindak gegabah melainkan bertindak bijak dengan kepala yang dingin dan hati yang tenang. Mungkin saat ini Anda sedang menghadapi persoalan yang berat. Anda tidak menemukan orang yang tepat untuk diajak bertukar pikiran. Anda tidak perlu panik dan berputus asa. Ingatlah bahwa seluruh masalah diijinkan Tuhan terjadi di dalam hidup kita untuk mendewasakan kita. Jangan lari dari masalah mintalah kekuatan dan hikmat kepada Tuhan di dalam mencari jalan keluarnya. Jika Anda tetap tenang dan berusaha menyelesaikannya dengan bijak maka Anda akan mendapat kemenangan.
Riwayat penciptaan alam semesta dan penciptaan manusia yang serupa dan segambar dengan Allah menunjukkan kesempurnaan hasil ciptaan, sehingga diberi predikat sungguh amat baik [Kejadian 1:31]. Tetapi karena kejatuhan manusia, bumi dan manusia tidak lagi menjadi seperti yang dirancang semula oleh Bapa. Keadaan manusia menjadi sangat menyedihkan, kehilangan damai, moralnya rusak dan berjalan menuju kebinasaan, terpisah dari Penciptanya. Dengan kata lain, kehilangan kemuliaan Allah [Roma 3:23]. Allah Bapa tentunya sangat prihatin dengan keadaan manusia yang jatuh dalam dosa. Keprihatinan ini ditunjukkan dalam peristiwa:  Yesus menangisi Yerusalem dalam Lukas 13:34.  Dalam kisah tentang Lazarus yang mati, Tuhan Yesus juga menangis [Yohanes 11:35]. Dia bukan saja menangisi Lazarus yang telah mati, tetapi sedih karena realitas adanya kematian dalam kehidupan manusia. Sesungguhnya kematian bukan suatu realitas yang dirancang oleh Allah Bapa. Kisah kedatangan Anak Allah ke dalam dunia menunjukkan solidaritas yang luar biasa dari Pencipta. Lahir di kandang domba, mengosongkan diri dan mengambil rupa seorang hamba, dan menjadi sama dengan manusia, merendahkan diri, mengalami penderitaan yang hebat dan taat sampai mati di kayu salib [Filipi 2:6-8]. Kita perlu merespon keprihatinan dan beban di hati Tuhan dengan terus bertumbuh dewasa rohani sehingga bisa memahami pikiran dan perasaan Allah terhadap keadaan dunia yang sebetulnya sangat tragis dan menyedihkan. Kita harus memiliki visi Bapa untuk menyelamatkan sebanyak mungkin manusia melalui hidup kita di dunia ini [2 Petrus 3:9].
Aku di dalam mereka dan Engkau di dalam Aku supaya mereka sempurna menjadi satu, agar dunia tahu, bahwa Engkau yang telah mengutus Aku dan bahwa Engkau mengasihi mereka, sama seperti Engkau mengasihi Aku. Di dalam bahasa Yunani kata ’sempurna’ dipakai kata TELEIOS, yang berarti: 1. Lengkap, utuh [Lukas 8:14; 2 Korintus 12:9; Yakobus 1:4], 2. Menjadi dewasa, atau matang [1 Korintus 14:20; Ibrani 5:14], 3. Telah mencapai akhir, tujuan, atau target yang tepat atau yang ditentukan [Yohanes 19:28; Filipi 3:12]. Jika itu berkaitan dengan benda maka sebuah benda disebut ’sempurna’ apabila selaras, atau sesuai dengan tujuan yang ditetapkan oleh si perancang atau pembuatnya, atau sesuai dengan penggunaan yang dikehendaki oleh si penerima atau penggunanya. Ketika Tuhan Yesus menyelesaikan segala tuntutan Hukum Taurat, yaitu dengan kematian-Nya sebagai Anak Domba Allah penghapus dosa dunia, di atas kayu salib Ia berkata ’sudah selesai’ [sempurna!]. Apa yang dilakukan oleh Yesus telah sesuai atau mencapai tujuan Bapa-Nya dalam mengutus Dia di dunia ini, yaitu menebus umat manusia dari dosa. Tuhan menghendaki agar kita menjadi sempurna, artinya agar tujuan-Nya dalam menciptakan kita dapat tercapai. Tuhan menciptakan dan menghadirkan kita di tengah dunia ini tidak lain untuk mengerjakan kehendak-Nya melalui hidup kita [Efesus 2:10]. Jika hidup kita telah mewujudkan apa yang menjadi kehendak-Nya maka dapat dikatakan bahwa kita telah sempurna. Kesempurnaan itu dapat tercapai jika Kristus ada di dalam kita. Kita mencapai kesempurnaan bukan atas kemampuan kita sendiri, tetapi oleh karena Kristus yang mengerjakannya di dalam diri kita. Amin.
Setiap mahluk hidup memiliki kemampuan untuk merespon setiap rangsangan dari luar dirinya. Perhatikan perkebunan pohon karet di daerah Ngaliyan. Batang pohonnya miring [condong] ke arah yang sama. Ada yang menyatakan hal itu terjadi karena ketika pohon karet ditanam dalam jarak yang relatif dekat, maka ia akan berusaha mencari dan menemukan sinar matahari. Sehingga condongnya ke arah mana ia mendapatkan banyak sinar matahari. Coba juga perhatikan seekor anjing ketika ia dipegang dan dibelai-belai oleh pemiliknya, maka ia akan bermanja-manja dengan menggerak-gerakkan ekornya, membaringkan badannya dan menyambut ungkapan sayang dan perhatiaan dari tuannya. Dan tentunya yang paling sempurna adalah manusia. Manusia diberikan kemampuan merespon lebih dari mahluk yang lain. Tetapi sayangnya tidak semua manusia bisa merespon dengan baik kekayaan kemurahan, kesabaran, dan kelapangan hati Allah. Ada pribadi-pribadi yang kurang peka bahkan tidak peka terhadap ungkapan kasih Allah. Buktinya, seperti yang dinyatakan oleh Paulus dalam nats bacaan hari ini. Meskipun mereka melihat kekuatan-Nya yang kekal dan keilahiaan-Nya yang nampak dalam segenap karya ciptaan-Nya, bahkan melalui penyataan Pribadi-Nya dalam diri Yesus Kristus yang menyatakan kasih secara sempurna, tetapi ternyata masih banyak yang mengingkari dan mengeraskan hati. Sehingga mereka terjerat dalam berbagai-bagai nafsu kejahatan dan menolak untuk bertobat. Memang nats tersebut merupakan sebuah teguran yang ditujukan kepada mereka yang lebih memilih kejahatan daripada bertobat dan meninggalkan dosa. Secara posisi mereka adalah manusia duniawi yang menolak bertobat dan percaya Yesus. Jika seperti itu, apakah ayat tersebut sama sekali tidak berlaku kepada kita yang sudah percaya Yesus? Tentu saja tidak! Ayat tersebut tentu juga menjadi sebuah peringatan bagi kita, segenap umat Tuhan. Jangan sampai kita memiliki sifat dan sikap yang sama dengan mereka. Jangan sampai kita mengeraskan hati dan memilih jalan kita sendiri seperti halnya manusia duniawi ketika Allah menegur kita, ketika Allah memperingatkan kita. Jangan anggap sepi [enteng, remeh, dan tidak ada artinya] setiap kekayaan kemurahan-Nya, kesabaran-Nya, dan kelapangan hati-Nya. Jadilah pribadi yang cepat merespon dengan baik [peka] ketika Allah menegur dan memperingatkan kita sebagai bentuk kasih-Nya yang besar kepada kita. Hendaknya kita memiliki hati yang lembut dan mudah untuk bertobat.
BARCODE BBM CHANNELS
RENUNGAN HARIAN
Menahan Ego dan Bersatu
09 November '16
Tetaplah Jadi Berkat
25 November '16
Reaksi Yang Menentukan
14 November '16
Copyright © 2012 All rights reserved. Designed and Developed by GIA Dr. Cipto Semarang