SEPEKAN TERAKHIR
  Sabtu, 27 Mei 2017   -HARI INI-
  Jumat, 26 Mei 2017
  Kamis, 25 Mei 2017
  Rabu, 24 Mei 2017
  Selasa, 23 Mei 2017
  Senin, 22 Mei 2017
  Minggu, 21 Mei 2017
POKOK RENUNGAN
Orang yang serakah suatu saat akan tersandung dengan keserakahanya sendiri.
DITULIS OLEH
Pdt. Andreas P. Chandra
Rohaniwan Pusat
Renungan Lain oleh Penulis:
Home  »  Renungan  »  Ulat Yang Serakah
Ulat Yang Serakah
Sabtu, 27 Mei 2017
Ulat Yang Serakah
Kolose 3:5-6
Pertengahan Desember 2002 ada pemandangan yang aneh di wilayah Kelapa Gading, Jakarta. Pohon-pohon angsana yang tumbuh di sepanjang pinggir jalan, daun-daunnya pada hilang sehingga pohon itu hanya tinggal ranting-rantingnya saja. Hal ini terjadi karena ada banyak sekali ulat pemakan daun yang besarnya setengah tusuk gigi. Ulat ini memakan habis semua daun yang hijau tanpa menyisakan sedikitpun. Akibat dari kerakusannya sendiri si ulat kehilangan tempat perlindungannya. Sekarang si ulat langsung terkena panas terik sinar matahari yang menyebabkan banyak dari ulat-ulat itu yang berjatuhan ke jalan dan akhirnya mati. Juga, karena tidak ada pelindungnya maka ketika hujan turun, si ulat tidak dapat berlindung di balik daun, akhirnya ia jatuh ke aspal jalan dan mati. Keserakahan si ulat telah membawa bencana yang besar atas dirinya.
...selengkapnya »
Hari-hari ini kesatuan kita sebagai bangsa Indonesia sedang dalam kondisi yang memprihatinkan. Sebagaimana kita lihat, dengar dan rasakan akhir-akhir ini melalui pemberitaan di media massa maupun jejaring media sosial, ujaran-ujaran kebencian semakin marak, kelompok yang satu saling menghujat dengan kelompok lainnya, muncul aksi-aksi pengerahan massa untuk memojokkan pribadi dan kelompok lawannya. Jika gejala ini dibiarkan dan terus menerus berlanjut maka keberadaan kita sebagai sebuah bangsa bisa terancam keberlangsungannya. Beberapa contoh nyata tentang kehancuran sebuah bangsa bisa kita lihat, misalnya bangsa Suriah. Mereka terkoyak-koyak oleh peperangan yang tak kunjung selesai. Penduduk yang tidak terlibat dalam perselisihan politik terancam nyawanya dan lari mengungsi ke negara-negara lain untuk mencari perlindungan. Kita semua tentu tidak menginginkan bangsa dan negara kita bernasib seperti itu. Tanggal 20 Mei kemarin kita memperingati Hari Kebangkitan Nasional. Mengapa kita memperingati hari itu? Tanggal 20 Mei 1908 adalah hari berdirinya Boedi Oetomo sebagai tonggak sejarah bangkitnya rasa dan semangat persatuan, kesatuan, dan nasionalisme, serta kesadaran untuk memperjuangkan kemerdekaan Republik Indonesia. Para pejuang kemerdekaan bangsa kita tanpa mempedulikan perbedaan agama, etnik dan kesukuan serta golongan, mereka memperjuangkan kemerdekaan bagi seluruh rakyat Indonesia. Tetapi akhir-akhir ini perjuangan dan pengorbanan para pahlawan itu hendak dikotori dan dikhianati oleh orang-orang tertentu untuk kepentingan pribadi dan golongannya sendiri. Kita sebagai orang-orang Kristen percaya kepada Tuhan yang adalah Pencipta langit dan bumi, yang juga adalah Tuhan atas bangsa Indonesia. Kita ada di Indonesia ini bukan atas pilihan kita tetapi atas kehendak Tuhan. Karena itu kita meyakini bahwa Tuhanlah yang menempatkan kita untuk lahir sebagai anak dari bangsa Indonesia. Maka kita harus mensyukuri ketetapan Tuhan itu dan ikut mengusahan dan menjaga kesejahteraan bangsa ini. Berdoalah bagi Indonesia. Usahakanlah kesejahteraan bagi bangsa Indonesia. Ikutlah merawat kedamaian dan kerukunan di tengah bangsa Indonesia. Semoga Indonesia tetap utuh dalam bingkai NKRI. Semoga Indonesia menjadi semakin adil dan makmur. Kiranya Tuhan Yesus terus dan semakin dimuliakan di Indonesia. Amin.
Malam sudah beranjak larut, tapi mata saya tidak juga mau terpejam, pikiran mengembara kemana-mana. Antara kecewa, galau, gelisah, khawatir campur aduk jadi satu. Meskipun sudah berusaha menghalau semua pikiran yang tidak jelas itu, tetap saja kegelisahan tidak mau pergi. Kekalahan Ahok dalam pilpres di DKI benar-benar menyita pikiran saya. Kekhawatiran ibu kota akan kembali menjadi arena pertunjukan kepentingan oknum-oknum yang tidak bertanggung jawab membuat saya kehilangan damai sejahtera. Aneh dan terlalu berlebihan memang. Meski saya bukan warga DKI, tapi jujur saya merasa sedih dengan kekalahan itu. Saya sadar tidak ada kepentingan bagi saya untuk memikirkan itu, tapi saat itu sulit sekali menghilangkan kegelisahan yang ada. Beruntungnya saya ketika membaca Firman Tuhan dalam Yohanes 14:27 menyatakan ‘damai sejahtera kutinggalkan bagimu. Damai sejahtera-Ku, Kuberikan kepadamu, dan apa yang Kuberikan tidak seperti yang diberikan oleh dunia kepadamu, janganlah gelisah dan gentar hatimu’, hati saya menjadi lebih tenang. Kepercayaan kepada-Nya membuat saya kembali merasakan damai sejahtera dan tidak khawatir lagi dengan situasi yang saat ini sedang terjadi. Tuhan mengingatkan saya bahwa semua yang terjadi ada di bawah kendali-Nya. Tuhan sangat tahu bahwa suatu saat setiap kita pasti akan mengalami situasi seperti yang saya rasakan. Kekhawatiran akan banyak hal yang tidak sanggup kita atasi, kekecewaan terhadap lingkungan maupun orang lain, kegalauan yang tak berujung, itu semua akan merampas sukacita dan damai sejahtera yang seharusnya menjadi milik kita. Karena itu Dia sudah menyediakan Roh Penolong yang siap sedia untuk menolong ketika kita membutuhkan kekuatan dan penghiburan. Ingatlah bahwa damai sejahtera dan sukacita adalah hak milik yang harus kita nikmati sebagai anak-anak Tuhan. Jangan biarkan situasi di luar merampas apa yang menjadi milik kita, dan biarkan Roh Penolong bekerja ketika kita tidak mampu untuk mengatasi kegelisahan dan tawar hati yang menghampiri. Sehingga kita bisa melewati hari-hari kita dengan nyaman dan tentu saja bisa tidur dengan nyenyak karena kita tahu bahwa Dia yang mengendalikan semuanya. [RH] Pokok Renungan: Janganlah gelisah dan gentar hatimu karena damai sejahtera-Nya sudah diberikan bagimu.
Pola hidupnya sangat tidak sehat. Merokok sudah menjadi bagian yang tak bisa dipisahkan dari kehidupannya. Makanan yang dikonsumsi sehari-hari tergolong makanan yang kurang baik untuk kesehatan. Tidak menyukai buah, apalagi sayur. Olahraga tidak pernah sekalipun dilakukan. Setelah menjalani pola hidup seperti itu tanpa mau mendengarkan saran dari orang-orang di sekitarnya, masalah mulai muncul. Penyakit itu datang menggerogoti tubuhnya. Dan sudah terlambat untuk menyingkirkan semua racun yang timbul akibat salah mengkonsumsi makanan. Kisah hidup saudara saya ini mengingatkan saya, apa yang masuk ke dalam tubuh jasmani kita akan sangat menentukan kondisi kesehatan tubuh kita. Demikian juga kesehatan rohani kita akan dipengaruhi oleh apa yang dikonsumsi sehari-hari. Apa yang kita masukkan ke dalam otak kita melalui pendengaran, penglihatan dan pembacaan, apakah sudah cukup sehat untuk kesehatan rohani kita? Kemajuan teknologi menawarkan banyak kemudahan dalam kita mengakses informasi. Dalam waktu yang singkat kita bisa dengan mudah mengikuti berita-berita yang ada di dunia ini. Melalui media televisi, koran, internet, segala informasi yang ingin kita ketahui akan cepat masuk dalam otak kita. Begitu banyak berita yang menggoda untuk kita ketahui. Tapi apakah kita sadar, berita-berita itu seringkali mengacak-acak emosi kita, membangkitkan kebencian, memupuskan pengharapan, melunturkan kesetiakawanan, menimbulkan banyak kekhawatiran, memunculkan permusuhan dan pada akhirnya merampas sukacita dan damai sejahtera kita. Jangan biarkan pikiran dan hati kita diisi dengan “makanan” yang tidak menyehatkan, tapi isilah dengan “makanan” yang memberi kehidupan [Amsal 7:2], yang memberi ketentraman [Mazmur 119:165], dan yang membuat tidak binasa [Mazmur 119:92]. Izinkan Firman Tuhan mengisi pikiran dan hati kita, memberi kesehatan bagi rohani kita, sehingga tidak ada penyakit rohani yang mampir dalam hidup kita. Sakit hati, ketakutan, kekhawatiran, kebencian, dendam tidak akan menjangkiti kita, ketika kita memutuskan untuk mengkonsumsi “makanan” rohani yang sehat, dan menjalani pola hidup yang sehat dengan persekutuan dengan-Nya. [RH]
Penganiayaan bukanlah hal yang asing sejak pertama kalinya para pengikut Kristus disebut sebagai orang Kristen. Para pendahulu kita dianiaya oleh pemerintah Romawi karena tidak mau menyembah patung kaisar. Mereka dicap pembangkang dan bahkan pemberontak karena mempunyai kaisar sendiri, yaitu Yesus Kristus. Bahkan menyebut-Nya sebagai Kaisar di atas segala kaisar [Raja di atas segala raja]. Namun keadaan berbalik, pada tahun 313 Kaisar Constantinus mengeluarkan maklumat toleransi dan kemudian berkembang dengan menjadikan Agama Kristen sebagai agama resmi kekaisaran. Kekristenan berbalik dari minoritas tertindas menjadi mayoritas penindas yang didukung alat-alat kekuasaan negara. Dan kala itu yang terjadi bukanlah zaman keemasan Gereja, namun sebaliknya masyarakat Kristen Eropa hidup dalam abad-abad yang gelap. Tuan Joko Ndokondo menarik pelajaran berharga atas pengalaman buram Gereja di masa lalu itu. “Keyakinan itu tidak dapat dipaksakan!” katanya dengan tegas di hadapan beberapa anak muda Gereja, “Jika dipaksakan pastilah berbuahkan keburukan semata.” Bukan saja kisah Gereja di abad pertengahan yang menunjukkan hal itu. Namun sudah dinyatakan dalam Alkitab, yaitu tentang kisah Israel di tanah Mesir yang diperbudak oleh Firaun. Firaun berupaya membuat bangsa Israel lupa akan Allahnya. Kerja paksa yang kian hari kian keras diterapkan agar kelelahan membuat kerinduan untuk beribadah sirna dari benak mereka. Namun ternyata pemaksaan yang demikian justru membuat bangsa Israel kian dahaga untuk berjumpa dengan Allah dan beribadah kepada-Nya. Seorang anak muda mengangkat tangan, “Jika keyakinan tidak bisa dipaksakan, apakah dengan demikian kita pun tidak boleh memberitakan Injil pada orang lain?” tanyanya. “Tidak demikian anak muda”, jawab Tuan Joko Ndokondo, “Injil adalah kabar baik yang harus disampaikan dengan cara yang baik pula, yaitu memberitakannya tanpa pemaksaan apalagi dengan ancaman dan kebencian. Jika orang yang kita beritakan Injil menerima, kita bersukacita. Namun jika tidak, kita tetap menghormatinya beserta dengan keyakinan yang ia pilih sebagai jalan hidupnya.” Si anak muda mengangguk-angguk tanda mengerti. Tuan Joko Ndokondo menghela nafas panjang lalu berkata, “Dengan demikian kita mengagungkan keyakinan kita di dalam Kristus Yesus dan sekaligus turut memelihara kebhinnekaan. Hanya dengan cara ini kesatuan bangsa tetap dapat dipelihara.” Dan “Sttt…ttt, jangan bilang siapa-siapa ya?” kata Tuan Joko Ndokondo menutup pituturnya. Jemaat yang terkasih, kita tidak ingin kebebasan kita beribadah sesuai dengan keyakinan kita diganggu. Apalagi dengan kata-kata “Kafir!” sebagai ungkapan penuh kebencian. Oleh sebab itu marilah kita berlaku bijak pada orang-orang yang berbeda keyakinan dengan kita. Amanat Agung Tuhan Yesus mesti tetap kita diberitakan. Namun bersamaan dengan itu kita harus menghormati orang lain beserta dengan keyakinan dan ibadah yang ia pilih. Terpujilah Tuhan!
BARCODE BBM CHANNELS
RENUNGAN HARIAN
Dekat dan Mengenal
27 April '17
Menjaga Hati
25 Mei '17
Nikmati Damai SejahteraNya
02 Mei '17
Copyright © 2012 All rights reserved. Designed and Developed by GIA Dr. Cipto Semarang