SEPEKAN TERAKHIR
  Minggu, 26 Juni 2016   -HARI INI-
  Sabtu, 25 Juni 2016
  Jumat, 24 Juni 2016
  Kamis, 23 Juni 2016
  Rabu, 22 Juni 2016
  Selasa, 21 Juni 2016
  Senin, 20 Juni 2016
POKOK RENUNGAN
“Supaya mereka semua menjadi satu, sama seperti Engkau, ya Bapa, di dalam Aku dan Aku di dalam Engkau, agar mereka juga di dalam kita, supaya dunia percaya bahwa Engkaulah yang telah mengutus Aku.”
DITULIS OLEH
Pdt. Denny D. Kristianto
Kontributor
Renungan Lain oleh Penulis:
Home  »  Renungan  »  Ukhuwah Nasraniyah
Ukhuwah Nasraniyah
Sabtu, 25 Juni 2016 | Tema: Kesatuan Tubuh Kristus
Ukhuwah Nasraniyah
Yohanes 17:20-23

Lain dulu lain sekarang. Kekristenan yang pernah begitu berpengaruh di Eropa, sekarang tidak lagi. Kekristenan di Eropa kian hari kian merosot. Beberapa gedung gereja terpaksa dijual karena tidak ada lagi jemaat yang beribadah di sana. Gedung-gedung itu kemudian beralih fungsi menjadi museum dan masjid. “Mengapa bisa terjadi demikian?” tanya Benay dalam hati.

Tak perlu jauh-jauh. Beberapa kantong-kantong Kristen di tanah air menunjukkan kemunduran. Sebut saja Sulawesi Utara dan Papua misalnya. Di Sulawesi Utara berdiri gedung-gedung gereja nan megah di hampir setiap sudut daerah. Menunjukkan pengaruh kekristenan yang kuat di sana.. Namun sampai berapa lamakah pengaruh ini?...selengkapnya »
Kira-kira 2 bulan lalu, saat doa korporat di gereja, bapak Gembala memberi sebuah ilustrasi berupa klip yang diambil dari film berjudul “Finding Nemo”. Nemo adalah seekor ikan anemon kecil yang tidak sengaja terperangkap dalam jaring sebuah kapal besar pencari ikan. Dalam klip itu digambarkan betapa jaring raksasa itu seakan mengeruk habis isi laut. Namun Nemo berinisiatif untuk menolong ikan-ikan lain keluar dari jaring. Dia berbicara kepada seluruh ikan untuk berenang sekuat-kuatnya menuju bawah untuk melawan pusat kekuatan kendali jaring itu. Awalnya dia mengalami kesulitan karena seluruh ikan sibuk, bingung dan panik untuk menyelamatkan diri masing-masing dengan berenang ke segala arah. Namun ketika mereka mendengarkan suara Nemo si ikan kecil, mereka mulai bersatu dan melakukan instruksi Nemo untuk berenang ke bawah bersama-sama dengan sekuat mungkin. Alhasil para nelayan di kapal mulai heran karena jala semakin berat, dan sungguh tidak terelakkan, jala itu koyak karena tidak kuat menahan ikan yang “memberontak” tadi. Akhirnya bebaslah ikan-ikan tersebut. Dari kisah ikan di atas, kita dapat mengambil banyak pelajaran yang berharga. Mulai dari betapa hebatnya dampak dari sebuah kesepakatan dan kesatuan dalam kelompok. Kesepakatan seakan mengaburkan kekurangan dari setiap individu dan justru melipatgandakan kelebihan atau kekuatan mereka. Seekor ikan sudah pasti sangat mustahil untuk mengoyakkan jala. Namun beda cerita jika ikan itu bersama dengan kelompoknya. Bahkan lebih “mengerikan” lagi jika ikan yang banyak itu memiliki satu titik fokus. Itulah Kuasa dari kata sepakat. Kesepakatan mampu melipatgandakan kekuatan dan memfokuskan tujuan. Namun kehebatan kesepakatan juga menuntut adanya “pribadi yang hebat”. Yaitu mereka yang mau berbesar hati, rendah hati, menghargai pendapat orang lain dan mampu berpikir secara komprehensif. Di mana pun posisi kita, selagi kita masih berada dalam sebuah kelompok atau komunitas, kita dituntut untuk berkarakter menjadi “orang hebat” jika kita menginginkan adanya sebuah keajaiban dalam sebuah kesepakatan. Dalam keluarga, tempat kerja, lingkungan masyarakat, gereja dan di mana pun. Dan perlu diingat, bagi orang yang mau membangun karakter orang hebat tersebut, Tuhan berkenan dan bahkan akan mengabulkan apapun yang mereka minta. Selamat menjadi orang hebat!
Ketika masih tinggal di sebuah perumahan di daerah Demak, saya pernah mengalami peristiwa buruk. Karena jarak rumah yang cukup jauh dengan tempat kami bekerja di Semarang, maka setiap hari kami berangkat pagi-pagi. Suatu pagi ketika baru saja kami keluar memutar kampung untuk berangkat kerja, tiba-tiba roda mobil bagian kanan depan dan belakang terperosok ke sawah. Itu terjadi karena selain jalan kampung yang sempit, juga para tetangga memarkir mobil dan motor menghabiskan jalan. Dengan dibantu istri, saya bersusaha pelan-pelan menaikkan mobil. Tetapi usaha kami gagal total. Alih-alih bisa naik kembali ke jalan, mobil pun malahan semakin dalam terperosok, padahal waktu terus berjalan. Kami semakin tidak tenang. Dalam kondisi seperti itu tidak ada seorang pun yang mau keluar membantu kami. Malah ada yang sengaja menutup pintunya. Saat saya sedang frustasi, tiba-tiba ada sepeda motor mendekat. Ternyata mereka berboncengan. Dengan cepat kedua orang itu turun dari motornya dan tanpa banyak bicara mereka turun ke sawah dan membantu mengeluarkan mobil yang terperosok itu. Siapakah mereka? Salah seorang mengatakan bahwa dia sering melihat kami ikut ibadah di gereja mereka. Mereka mengganggap kami sebagai saudara, maka selayaknya saling menolong. Dari pengalaman di atas, kita melihat betapa pentingnya bersekutu di dalam kasih Allah karena di dalamnya ada saling menolong dan memperhatikan sebagai satu tubuh Kristus yang telah dipersatukan oleh Roh Kudus sendiri [1 Korintus 12:13]. Kesatuan merupakan jantungnya gereja. Salah satu organ vital yang harus terpelihara dengan baik agar tetap sehat. Kesatuan merupakan satu unsur penting yang harus terus diperjuangkan sampai terwujud sehingga berkat yang Tuhan perintahkan tidak akan terhalang, sebagaimana Mazmur Daud berkata, “Sungguh, alangkah baiknya dan indahnya, apabila saudara-saudara diam bersama dengan rukun!…Sebab ke sanalah TUHAN memerintahkan berkat, kehidupan untuk selama-lamanya.” Bagaimana caranya supaya kita dapat bersatu? Kesatuan hati akan terwujud bila kita tidak melihat perbedaan yang ada. Setiap orang pasti memiliki perbedaan-perbedaan, baik dari segi fisik, sifat, hobi atau minat, pola pikir dan sebagainya. Hendaknya perbedaan itu tidak menjadi penghalang dan penghambat untuk bersatu, tetapi sebaliknya menjadi perekat yang saling melengkapi. Di dalam Kristus kita adalah satu: satu baptisan, satu Allah dan Bapa [Efesus 4:5]. Mari kita bangun kesatuan hati di antara orang-orang percaya dan jangan mau diperalat Iblis! Dengan demikian damai sejahtera Kristus yang akan memerintah atas kita semua [Kolose 3:15].
Kesatuan yang tak ada duanya Yohanes 17:20-21 supaya mereka semua menjadi satu, sama seperti Engkau, ya Bapa, di dalam Aku dan Aku di dalam Engkau, agar mereka juga di dalam Kita, supaya dunia percaya, bahwa Engkaulah yang telah mengutus Aku. [ayat 21] Di dunia ini ada bermacam-macam kesatuan dan bermacam-macam alasannya. Ada kesatuan karena alasan hubungan darah. Ada kesatuan karena hubungan kekerabatan. Ada kesatuan karena ikatan kesukuan. Ada kesatuan karena kesamaan warna kulit, budaya atau kebangsaan. Alasan itu menentukan siapa saja yang bisa ikut di dalam kesatuan itu. Apa alasan kesatuan jemaat/ gereja Tuhan? Jelas bukan karena hubungan darah, kekerabatan, warna kulit, kesukuan dan sebagainya. Juga bukan karena kesamaan hobi atau kesukaan bersama. Lalu karena apa? Apakah karena sebuah kepentingan bersama? Banyak kesatuan di dunia saat ini, seperti misalnya organisasi sosial, perusahaan, partai politik, didasarkan pada kepentingan bersama. Apakah gereja Tuhan ada karena sebuah kepentingan? Atau kesamaan hobi? Gereja didirikan oleh Tuhan Yesus sendiri [Matius 16:18]. Gereja didirikan oleh Tuhan untuk sebuah tujuan, yaitu untuk memberitakan perbuatan-perbuatan yang besar dari Dia, yang telah memanggil kamu keluar dari kegelapan kepada terang-Nya yang ajaib [1 Petrus 2:9]. Jadi gereja didirikan bukan untuk kepentingan gereja itu sendiri, tapi untuk tujuan besar dari Allah sendiri bagi dunia ini. Terlebih lagi kesatuan gereja Tuhan didasarkan pada Pribadi Allah sendiri. Kesatuan gereja Tuhan mengacu pada kesatuan Kristus dan Bapa. Tidak ada kesatuan yang begitu solid dan suci selain kesatuan Kristus dan Bapa. Dengan kata lain kesatuan ini adalah kesatuan yang tidak ada duanya. Jika kita pahami hakikat kesatuan gereja maka kita akan betul-betul menjunjung tinggi kesatuan Tubuh Kristus. Jangan rusak kesatuan Tubuh Kristus hanya karena kepentingan kita sendiri. Jagalah kesatuan gereja dengan segenap hati. Amin. Pdt. Goenawan Susanto
Dalam teks aslinya, kata “perubahan” dalam ayat tersebut adalah “metamorfosis” yang dalam ilmu Biologi dicontohkan proses perubahan dari telur, ulat kecil, ulat dewasa, kepompong sampai menjadi kupu-kupu. Proses ini secara logika penuh misteri dan sangat luar biasa. Rasul Paulus hendak menggambarkan bahwa proses kelahiran baru menuju kedewasaan rohani orang percaya tidak terjadi sekejap, tapi melalui sebuah proses panjang. Tidak terjadi secara instan pada waktu tertentu. Dalam Lukas 2:52 digambarkan proses pertumbuhan pribadi Yesus yang tidak berlangsung instan. Muara proses ini adalah pola pikir yang tidak serupa dengan dunia, mempunyai kecerdasan spiritual, sehingga memiliki kepekaan untuk mengerti kehendak Allah, yaitu apa yang baik, yang berkenan dan yang sempurna. Proses kelahiran baru terjadi ketika seseorang terus menerus mengganti cara berpikir/filosofi hidup dengan cara berpikir Tuhan melalui kebenaran Injil [apa yang diajarkan oleh Tuhan Yesus] dan pekerjaan Roh Kudus. Jadi perubahan menuju kedewasaan rohani membutuhkan waktu dan perjuangan serius untuk “masuk jalan sempit” [Lukas 13:23-24]. Kita harus merespon anugerah keselamatan dengan tekun masuk proses metamorfosis ini, sehingga tidak menyia-nyiakan keselamatan yang besar [Ibrani 2:1-3]. Kesalahan banyak orang adalah tidak sungguh-sungguh melakukan perjuangan tersebut. Sementara waktu berjalan, dunia menyeretnya kepada berbagai kesibukan dan kesenangan yang tidak mendukung proses metamorfosis. Istilah lain, menukarkan hak kesulungan dengan sepiring makanan [Ibrani 12:16]. Waktu, sarana, dan potensi yang seharusnya digunakan untuk mengalami proses ini digunakan untuk banyak hal lain. Berarti tidak mendahulukan Kerajaan Sorga dan kebenaran-Nya [Matius 6:33]. Seharusnya selama Tuhan masih mengaruniakan kesempatan, masih memiliki kemampuan pikiran yang didukung oleh kondisi sel-sel syaraf otak yang masih berfungsi optimal, kita manfaatkan untuk membangun pola pikir ilahi dan bertumbuh menjadi anak-anak Allah yang dewasa rohani. Sebab suatu saat organ otak akan mengalami kemunduran [demensia], baik oleh usia atau oleh bebagai sebab lain. Jangan menunda-nunda, harus dimulai sedini mungkin untuk mengalami metamorfosis menjadi anak Allah. Kita harus selalu haus dan lapar akan kebenaran Injil dan bersedia untuk terus bertobat dan memperbaharui diri tanpa henti. Waktu hidup ini hanyalah untuk menjalankan proses metamorfosis atau transformasi menjadi anak-anak Allah, sehingga semakin hari keberadaan sebagai anak Allah semakin nyata.
BARCODE BBM CHANNELS
RENUNGAN HARIAN
Mencari Kambing Hitam
20 Juni '16
Berkenan Di Hadapan Nya
01 Juni '16
Perabot Untuk Maksud Mulia
29 Mei '16
Copyright © 2012 All rights reserved. Designed and Developed by GIA Dr. Cipto Semarang