SEPEKAN TERAKHIR
  Kamis, 05 Mei 2016   -HARI INI-
  Rabu, 04 Mei 2016
  Selasa, 03 Mei 2016
  Senin, 02 Mei 2016
  Minggu, 01 Mei 2016
  Sabtu, 30 April 2016
  Jumat, 29 April 2016
POKOK RENUNGAN
Memaknai Kenaikan Tuhan Yesus ke surga bukan hanya dengan perayaan yang meriah, tetapi juga dengan menggaungkan peristiwa tersebut ke seluruh dunia.
DITULIS OLEH
Pdt. Denny D. Kristianto
Kontributor
Renungan Lain oleh Penulis:
Home  »  Renungan  »  Kehadiran, Kemenangan dan Kepergian Yang Sunyi
Kehadiran, Kemenangan dan Kepergian Yang Sunyi
Kamis, 05 Mei 2016
Kehadiran, Kemenangan dan Kepergian Yang Sunyi
Lukas 2:1-20; 24:1-12; Kisah Rasul 1:6-14

Pada tahun ini ulang tahun Gereja tempat Sambey dan Benay berjemaat dirayakan dengan sangat sederhana. Roti tart yang menjulang tinggi diarak ke depan mimbar menjelang akhir ibadah. Para rohaniwan, majelis, dan pengurus seksi maju ke depan dengan sangat tertib langkah demi langkah. Sebuah pisau berkilau yang terhias cantik telah dipersiapkan untuk sesi potong kue. Ketika Gembala Jemaat memotong kue tipis terdengar suara yang tak lazim. “Krrreeeek…rrryeerkk….eerrrr…eek.” Dan tampak butiran-butiran putih nan lembut berguguran mengikuti irisan pisau. Sambey dan Benay yang sedari tadi membayangkan lezatnya kue itu mendadak kehilangan selera makan. Tampakya bahan kue itu bukan sesuatu yang layak makan. Andaikata dipaksa memakannya sedikit, maka setidaknya perut akan mual. ...selengkapnya »
Coba simak apa yang seringkali dilakukan oleh beberapa elit politik di negeri ini ketika menanggapi sebuah kasus terjadi. Apakah itu kasus korupsi, kasus asusila ataupun penyalahgunaan wewenang. Jika itu dialami oleh koleganya, maka mereka akan berusaha membela dan menutup-nutupi. Tetapi jika itu menjerat lawan politiknya, maka mereka akan memanfaatkannya sebagai upaya untuk menjatuhkan. Seringkali mereka tersandera oleh kepentingan sendiri, sehingga cenderung melihat kebenaran seirama dengan kepentingan mereka. Akibatnya, kebenaran dan keadilan dikebiri. Ayat nats hari ini menyatakan, Bencilah yang jahat dan cintailah yang baik; dan tegakkanlah keadilan di pintu gerbang.... Pada zaman Perjanjian Lama, pintu gerbang menjadi simbol tempat pelaksanaan kekuasaan dan otoritas. Para tua-tua Israel mengambil keputusan-keputusan penting di tempat terbuka dan luas [semacam tanah lapang] di dekat pintu gerbang kota. Tempat untuk membicarakan dan memutuskan masalah-masalah yang disediakan bagi kalayak ramai. Seruan tersebut bukan hanya ditujukan kepada para tua-tua Isarel [sebagai juru pengadil] untuk berlaku adil dalam memutuskan perkara, tetapi juga kepada segenap umat Allah. Allah menghendaki umat-Nya menjauhi dan meningggalkan segala perbuatan jahat dengan melakukan hal-hal yang baik. Allah menghendaki kebenaran dinyatakan; Allah memerintahkan kebenaran ditegakkan. Ketika kebenaran dinyatakan dan ditegakkan, maka keadilan itu akan terjadi. Tak dapat dipungkiri, kadang usaha menegakkan kebenaran tidaklah mudah dan tidak selalu berjalan mulus. Yang seringkali terjadi justru menemui jalan terjal dan berliku. Meskipun demikian kebenaran haruslah tetap ditegakkan dalam kehidupan pribadi, keluarga, gereja maupun masyarakat. Oleh sebab itu, mari kita menjauhi dusta dan kebohongan; bersikap jujur; tidak menyebar fitnah. Berani mengatakan ya di atas ya dan tidak di atas tidak. Jangan kita memihak secara membabi buta karena faktor kedekatan atau demi mendapatkan keuntungan pribadi. Ya, menyuarakan kebenaran memang beresiko, tetapi jika kita berani melakukannya, paling tidak kita telah mempraktekkan perintah Tuhan untuk membenci yang jahat dan mencintai yang baik.
Beberapa tahun yang lalu, melalui dunia maya, saya bisa menemukan teman-teman lama. Teman sekolah yang tidak tahu kabar beritanya selama belasan bahkan puluhan tahun, dengan mudah bisa ditelusuri keberadaannya melalui media sosial. Saya senang sekali menemukan teman-teman lama karena serasa kembali ke masa-masa sekolah. Cerita-cerita lama pun terkuak kembali. Lucu dan menyenangkan. Di antara teman-teman lama tersebut, ada seorang teman lawan jenis yang mengungkapkan bahwa dahulu dia naksir saya. Dia termasuk aktif menguhubungi saya kembali, baik melalui chating maupun telpon. Dia selalu mengungkapkan bahwa masih mengharapkan hubungan yang khusus dengan saya. Bukannya senang karena masih ada yang suka, tapi lama kelamaan saya jadi tidak suka dengan sikapnya. Menurut saya bukan saatnya lagi untuk mengulang masa lalu, semua sudah berubah. Saya sudah memiliki dunia saya sendiri, dan tidak akan saya biarkan masa lalu merusak masa kini dan masa depan saya. Dan mulailah saya menghindari kontak dengan teman saya itu. Kesadaran akan jatidiri menentukan sikap kita dalam mengambil keputusan dalam kehidupan sehari-hari. Ketika kita menyadari bahwa kita adalah bangsa yang terpilih , imamat yang rajani, bangsa yang kudus, bahkan kita adalah umat kepunyaan Allah, tentu kita akan berhati-hati dalam menentukan sikap atau mengambil keputusan. Kita pasti akan berpikir, apakah perilaku yang saya tunjukkan mencerminkan sebagai imamat yang rajani? Atau sebaliknya kehidupan kita menunjukkan bahwa kita adalah imam abal-abal yang sama sekali tidak mencerminkan sifat Illahi? Tuhan memilih dan menetapkan kita sebagai imamat yang rajani sudah pasti ada rencana bagi pekerjaan-Nya dan bagi hidup kita. Tugas kita adalah menyatakan keimaman kita di tengah pergaulan atau masyarakat. Dia telah memanggil kita keluar dari kegelapan kepada terang-Nya yang ajaib. Sadar akan keimaman kita akan membuat kita meninggalkan perbuatan yang gelap yang tidak berkenan di hadapan-Nya. Sadar akan keimaman kita akan membuat kita belajar hidup di dalam terang Tuhan. Sadari peran kita sebagai imamat yang rajani dengan menjadi terang melalui perbuatan-perbuatan yang benar. Fungsikan keimaman kita di tengah masyarakat dengan benar, menjadi teladan, dan pembawa damai sejahtera. Lakukan tugas-tugas keimaman kita dengan kesadaran bahwa kita adalah bangsa yang terpilih yang diperlengkapi dengan kuasa dan kemampuan. Sadar imam akan membuat kita melakukan perbuatan yang benar sesuai dengan status kita sebagai imam kerajaan Allah, dan nama Tuhan dimuliakan.
Selama perang saudara di Amerika, perdagangan kapas dilarang. Meskipun demikian masih ada beberapa pedagang rakus mencoba membeli kapas di Selatan dan membawanya ke Utara dengan keutangan yang berlipat-lipat. Salah seorang dari pedagang-pedagang itu mendekati kapal Mississippi dan menawarkan seratus dolar jika mau mengangkut kapas itu. Kapten kapal itu menolak sambil mengingatkan pedagang kapas itu bahwa perdagangan itu melanggar hukum. Walaupun kapten telah menolaknya, namun pedagang itu tetap memintanya dengan berkata, “Saya akan membayarmu lima ratus dolar.” Kemudian sang kapten membentaknya dengan berkata, ”Tidak.” Pedagang itu lalu merayunya, ”Baiklah saya naikkan seribu dolar.” Dan sang kapten mengulang jawabannya, ”Tidak.” Dan sekali lagi pedagang itu mendesak sang kapten dengan berkata, “Saya akan memberimu tiga ribu dolar.” Sampai di situ sang kapten mengambil pistolnya, menodongkan ke penggodanya dan berteriak, “Keluar dari kapal ini! Kamu sudah mendekati harga yang saya inginkan.” Cerita di atas menggambarkan betapa sulitnya hidup di tengah-tengah tantangan zaman ini. Sebagai orang percaya, kita dituntut untuk hidup benar dan kudus di hadapan Allah. Bahkan mampu menolak perbuatan yang melanggar kehendak Allah harus menjadi kebiasaan kita setiap hari. Pemazmur mengatakan setiap orang yang berani hidup benar besar upahnya, bahkan sampai kepada anak cucunya [ay. 1-2]. “Haleluya! Berbahagialah orang yang takut akan TUHAN, yang sangat suka kepada segala perintah-Nya. Anak cucunya akan perkasa di bumi; angkatan orang benar akan diberkati.” Orang benar adalah orang yang hidup di dalam ketaatan, merenungkan firman Tuhan siang dan malam serta melakukannya. Sedangkan orang yang takut akan Tuhan adalah orang yang menghormati kehadiran-Nya dalam setiap kehidupannya. Memang untuk hidup benar ada harga yang harus kita bayar. Itulah yang disebut pikul salib. Terkadang ketika mempertahankan hidup benar [menjaga kekudusan], kita malah ditinggalkan temen-temen terdekat, dicemooh dan juga dikucilkan dari lingkungan pergaulan. Ini bukanlah hal yang mengejutkan lagi. Orang cenderung lebih memilih hidup menurut keinginannya sendiri dan memuaskan nafsunya daripada harus tunduk dan taat kepada firman Tuhan. Hari ini kita kembali diingatkan bahwa hidup benar bukanlah kerugian, tetapi membawa keuntungan yang luar biasa. Tidak hanya saat kita masih hidup di dunia ini, tetapi terlebih lagi untuk kehidupan yang akan datang, bahkan kepada keturunan kita. Hendaklah kita tetap menjaga hidup benar di hadapan Tuhan agar ketika Dia sewaktu-waktu datang, kita didapati-Nya telah siap [2 Petrus 3:10a-11].
Hidup berdampingan dengan para tetangga yang ramah ternyata bukan jaminan bahwa penghuni rumah akan betah tinggal di sana. Selama empat belas tahun menghuni rumah yang lama, meski senang memiliki tetangga-tetangga yang baik, ada satu hal yang sangat mengganggu, yaitu seringnya mati lampu. Kerap kali sewaktu saya tengah menikmati saat yang menyenangkan di rumah ... padamlah si lampu. Tak jarang lebih dari sekali dalam sehari. Sangat disayangkan. Sebagaimana lingkungan yang menyenangkan tidak menjamin kebetahan penghuni rumah, demikian pula sebutan sebagai umat pilihan Allah tidak menjamin seseorang sudah hidup di dalam terang. Acap kali orang menganggap bahwa satu-satunya tanda bahwa kegelapan telah sirna adalah keeratan hubungannya dengan Allah. Namun Rasul Yohanes mengungkapkan bahwa hubungan manusia dengan sesamanya pun menjadi pertanda apakah hidup seseorang dipenuhi oleh terang kasih Kristus atau tidak. Barangsiapa berkata, bahwa ia berada di dalam terang, tetapi ia membenci saudaranya, ia berada di dalam kegelapan sampai sekarang. Firman Tuhan yang tercatat dalam 1 Yohanes 2:9 ini dengan lugas menguak fakta bahwa rasa benci itu berjalan berbarengan dengan kegelapan. Sebaliknya apabila seseorang hidup di dalam terang, maka rasa kasihlah yang menandainya [ayat 10]. Terang dan benci tidak mungkin seiring sejalan. Kebencian menandakan bahwa seseorang masih hidup dalam kegelapan. Demikian pekatnya sehingga ia kehilangan arah sebab matanya dibutakan oleh kegelapan itu [ayat 11]. Jadi, terang atau kegelapankah yang menguasai kita? Ke manakah arah langkah kita? Jika kebencian dibiarkan merajalela, maka kegelapan sudah pasti menggiring kita menuju kehancuran. Jika terang bercahaya atas kita, maka kasihlah yang pasti menghuni hati. Dan kasih itu yang akan mengatasi rasa benci. Membuat langkah kita tak tersandung-sandung dalam menjalani kehidupan ini. Kasih itu seiring sejalan dengan terang. Kasihlah yang menandakan bahwa kita ini adalah umat pilihan Allah. Umat tebusan yang teramat dikasihi-Nya.
BARCODE BBM CHANNELS
RENUNGAN HARIAN
Memilih Sang Kapten
14 April '16
Menjadi Anak Emas
08 April '16
Berdamai Dengan Semua Orang
26 April '16
Copyright © 2012 All rights reserved. Designed and Developed by GIA Dr. Cipto Semarang