SEPEKAN TERAKHIR
  Kamis, 23 November 2017   -HARI INI-
  Rabu, 22 November 2017
  Selasa, 21 November 2017
  Senin, 20 November 2017
  Minggu, 19 November 2017
  Sabtu, 18 November 2017
  Jumat, 17 November 2017
POKOK RENUNGAN
Tinggi hati mendahului kehancuran, tetapi kerendahan hati mendahului kehormatan. [Amsal 18:12]
DITULIS OLEH
Ibu Lydia N. Haryanto
Kontributor
Renungan Lain oleh Penulis:
  Proses
  Kasih
Home  »  Renungan  »  Tetaplah Rendah Hati
Tetaplah Rendah Hati
Kamis, 23 November 2017
Tetaplah Rendah Hati
1 Samuel 24, 26

Ada ungkapan yang mengingatkan setiap insan untuk tidak berlaku tinggi hati dengan kemampuan yang dimilikinya, yaitu “ilmu padi” dan “di atas langit masih ada langit”. Kita tahu bahwa padi semakin berisi akan semakin merunduk, demikian juga kita diharapkan semakin tinggi kemampuan kita dalam bidang apapun, kita semakin rendah hati dan jangan lupa bahwa masih ada orang lain yang lebih hebat.

Kita bisa belajar dari Raja Daud, betapa dia tetap rendah hati, tetap menghormati Raja Saul yang sangat ingin membunuhnya. Saul menjadi benci dan dengki kepada Daud sejak Daud selalu berhasil dalam peperangan mengalahkan orang Filistin dan mendengar kata-kata yang menyakitkan hatinya pada acara sambutan yang begitu meriah para perempuan dari seluruh kota Israel menyongsong Raja Saul dengan tarian dan nyanyian, “Saul mengalahkan beribu-ribu musuh, tetapi Daud berlaksa-laksa.”

Dua kali Daud tidak mau membunuh Saul walau kesempatan sudah di depan mata. Pertama, ketika Daud bersembunyi di En-Gedi. Ia hanya memotong punca jubah Saul saat Saul membuang hajat di sebuah goa [1 Samuel 24:4]. Kedua, ketika Daud di padang Z...selengkapnya »
Pada Olimpiade 2012 di London, ada pemandangan yang tak biasa di lintasan lari. Seorang pelari bernama Oscar Pistorius menarik perhatian penonton karena tidak memiliki kaki dan berlari menggunakan dua buah kaki palsu yang terbuat dari serat karbon. Walau tidak mendapat medali, dia mencatat waktu tercepat ke 13 dari 49 peserta. Ketika di Paralimpiade 2012 di London, dia mendapat medali emas di lari estafet 4 x 100 meter. Dia lahir tanpa tulang fibula [betis], sehingga pada usia 11 tahun kedua kakinya diamputasi sampai lutut. Di tengah kekurangan secara fisik dan kesulitan yang dihadapi, dia tekun untuk berlatih lari dengan kaki palsunya. Dia tekun dan disiplin dalam berlatih sesuai aturan-aturan yang diharuskan bagi pelari. Karena ketekunannya, dia berhasil menjadi juara pada usia 25 tahun. Setiap orang percaya harus meninggalkan beban dosa dan dengan tekun berlomba dalam kehidupan yang diwajibkan. Walaupun banyak rintangan dan kesulitan tetap harus dilakukan dengan mata yang tertuju kepada Kristus yang membawa iman kita kepada kesempurnaan. Dia yang mengabaikan kehinaan, tekun memikul salib sebagai ganti sukacita yang disediakan bagi-Nya. Sekarang Dia duduk di sebelah kanan tahta Allah. Jangan kita menjadi lemah dan putus asa karena dalam pergumulan kita melawan dosa belum sampai mencucurkan darah. Sebagai manusia, masing-masing kita mempunyai kekurangan, tetapi tetaplah tekun dalam melatih diri untuk menang dalam perlombaaan hidup. Dalam menghadapi tantangan dibutuhkan ketekunan untuk mengalami Tuhan setiap hari melalui perenungan Firman-Nya. Di tengah kesulitan dan himpitan, tetaplah mata rohani kita tertuju kepada Kristus yang akan menyempurnakan iman kita. Jangan kita putus asa dan kehilangan iman di tengah penderitaan, ingatlah bahwa penderitaan kita belum sebanding dengan penderitaan-Nya.
Tujuan hidup orang percaya adalah Tuhan dan Kerajaan-Nya. Dalam realitas dijumpai orang-orang yang hidup tanpa tujuan. Hidup tanpa tujuan adalah hidup yang tidak berkualitas. Tuhan Yesus memberi contoh cara hidup seperti ini dalam perikop di atas. Seorang yang mengisi hidupnya dengan segala kesibukan, tetapi tidak pernah/tidak serius mencari Tuhan. Dari sudut pandang dunia mereka dianggap sebagai orang yang cerdas dan sukses. Tetapi Tuhan Yesus menyebut nya sebagai orang bodoh, gegabah dan ceroboh. Bagi kebanyakan manusia duniawi cara hidup seperti ini dianggap sebagai pola hidup standar, dan dijadikan sebagai tujuan atau alasan hidup yang normal dan wajar. Orientasi berpikirnya hanya sebatas hari ini, sekarang dan di bumi ini. Proyeksi dan urusan hidupnya hanya berputar-putar pada hal-hal berikut: sekolah, berkarir, membentuk keluarga, melengkapi hidup dengan fasilitas fisik, menikmati wisata, hobi dan berbagai kesenangan duniawi. Mencari kehormatan dan nilai diri melalui kekayaan, penampilan, gelar pendidikan, pangkat, kekuasaan dan popularitas. Memanjakan keinginan dagingnya dengan makan, minum dan seks. Sebetulnya tidak ada yang salah dengan hal-hal tersebut sepanjang tidak membelenggu hidupnya dan tidak membuat seseorang tenggelam dalam berbagai aktivitas yang menyita sebagian besar waktunya serta melalaikan kebutuhan mencari Tuhan secara benar. Firman Tuhan menyebutnya sebagai orang bodoh, tidak kaya dihadapan Tuhan dan dapat bermuara pada kebinasaan. Pola hidup yang salah ini akan sangat membahayakan nasib kekalnya, kesibukan dengan kesenangan-kesenangan dunia akan seperti candu yang mengikat sampai tidak bisa melepaskan diri. Padahal perjalanan waktu hidup ini singkat dan ada batasnya, usia semakin senja, kesehatan semakin rapuh, sampai tidak ada kesempatan lagi untuk merubahnya [Ibrani 12:16-17]. Hal ini adalah keadaan yang sangat dahsyat dan mengerikan. Untuk menghindari cara hidup ceroboh kita harus menghayati peringatan Tuhan Yesus: Berjaga-jagalah dan waspadalah terhadap segala ketamakan, sebab walaupun seorang berlimpah-limpah hartanya, hidupnya tidaklah tergantung pada kekayaannya itu [Lukas 12:15]. Kumpulkanlah bagimu harta di sorga [Matius 5:20]. Dan juga nasihat rasul Paulus: Karena itu, perhatikanlah dengan saksama, bagaimana kamu hidup [berkebiasaan], janganlah seperti orang bebal, tetapi seperti orang arif, dan pergunakanlah waktu [kesempatan singkat] yang masih ada [Efesus 5:15-16].
Pada umumnya semakin bertambah usia seseorang, kemampuannya semakin berkurang. Baik kemampuan fisik, intelegensi, maupun emosional. Tapi Bapak yang satu ini luar biasa menurut saya. Tahun ini usianya 90 tahun, usia yang jarang dicapai oleh kebanyakan orang. Kemampuan fisiknya memang semakin berkurang seiring dengan bertambahnya usia, namun kemampuan intelegensinya tidak kalah dengan orang-orang muda. Semangatnya dalam mempelajari banyak hal mengalahkan kami yang jauh lebih muda. Beliau memiliki prinsip selagi masih diberi nafas hidup, apapun hal positif yang diketahuinya, akan dibagikan kepada orang lain. Keinginan dan cita-citanya itu dituangkan dalam sebuah buku harian yang diberi judul “Hidupku harus bermakna”. Melihat hidupnya, pandangan-pandangannya, prinsip-prinsipnya, saya seperti diingatkan bahwa semakin bertambah usia kita dalam mengenal Tuhan, seharusnya semakin banyak hal yang ingin kita ketahui tentang-Nya. Jangan merasa cukup dengan apa yang sudah kita ketahui saat ini; jangan merasa “tua” untuk menggali Firman Tuhan; jangan pernah merasa sudah tahu akan semua Firman Tuhan. Semakin kita mengenal Firman-Nya, semakin banyak hal baru yang akan kita ketahui. Semakin banyak waktu yang kita gunakan untuk menggumuli Firman-Nya, semakin banyak hikmat yang akan kita peroleh. Dan pengenalan terus menerus akan Firman Tuhan akan memberi pengertian tentang takut akan Tuhan [ayat 5], memelihara jalan orang-orang yang setia [ayat 8], mengerti tentang kebenaran, keadilan dan kejujuran [ayat 9]. Lalu setelah itu apakah pengenalan kita akan kebesaran kasih-Nya, akan kedahsyatan kuasa-Nya, akan pengorbanan-Nya yang besar bagi kita, akan pertolongan-Nya yang tidak pernah terlambat, akan kebaikan-Nya yang terus menerus melimpah dalam hidup kita, hanya kita nikmati sendiri? Terlalu sayang menyimpan semua itu bagi kita pribadi karena di sekeliling kita masih banyak orang yang memerlukan anugerah-Nya. Selama kita masih diberi kesempatan untuk menikmati anugerah-Nya, pakailah setiap kesempatan yang ada untuk mengabarkan tentang segala kebaikan Tuhan bagi mereka yang belum mengenal-Nya. Banyak cara bisa kita pakai untuk menceritakan kebaikan-Nya, supaya apa yang kita tahu tentang Dia, semua orang juga bisa mengetahuinya. Dan “hidupku harus bermakna” biarlah menjadi kerinduan kita juga selama kita hidup.
Seorang ibu pedagang tembakau keliling, yang suaminya hanya seorang pekerja serabutan, memiliki empat orang anak. Walaupun mereka hanya bekerja apa adanya, namun mereka mempunyai keinginan yang sangat besar untuk anak-anaknya kelak menjadi orang berhasil. Maka mereka berusaha menyekolahkan anaknya setinggi mungkin. Secara manusiawi mereka tidak mungkin melakukan semuanya itu, tetapi karena IMANnya kepada Kristus, mereka berani melakukannya. Dan hasilnya adalah semua anaknya telah menyelesaikan studi kesarjanaanya dan telah bekerja semua. Salah satu peristiwa luar biasa yang pernah dialami adalah ketika anak nomer 2 dan nomer 3 yang kuliah bersamaan membutuhkan biaya untuk kuliah dan kos. Mereka tidak memiliki uang sama sekali, IMAN dan DOA luar biasa dipraktikkan oleh orangtua ini. Dan Tuhan luar biasa mengatur berkat untuk mereka. Hari itu ibu tersebut mendapatkan pesanan tembakau yang sangat banyak, dan suaminya juga mendapat pesanan mengangkat barang dari mobil truk ke gudang. Dalam waktu 3 hari mereka dapat mengumpulkan uang yang dibutuhkan. Setiap orang pasti menginginkan peristiwa yang luar biasa dalam hidupnya. Namun kebanyakan orang tidak mau menerima proses dalam hidupnya untuk menuju peristiwa luar biasa itu. Peristiwa luar biasa itu telah dialami oleh suami istri dalam kisah di atas. Mereka mampu melihat berkat Allah karena keberaniannya melangkah dengan IMAN dan DOA. Peristiwa luar biasa juga pernah di alami oleh Zakharia dan Elisabet. Mereka sadar bahwa Allah yang mereka layani dan sembah adalah Pribadi yang ajaib dan penuh kuasa untuk melakukan perkara-perkara yang mustahil. Namun tetap saja hal tersebut tidak dapat meyakinkan Zakharia untuk mempercayai rancangan Tuhan dalam hidupnya, yaitu tentang hadirnya seorang anak di usia tuanya [ayat 13-20]. Kadang kita sebagai orang percaya juga berlaku demikian. Kita rajin ke gereja setiap hari, menjadi aktivis gereja, dan sebagainya, namun ketika diperhadapkan dengan kemustahilan, kita mulai meragukan kemahakuasaan Allah. Ingatlah bahwa keajaiban atas kemustahilan dimulai dari keterbatasan logika manusia [ayat 7]. Jadi pernyataan “mengalami peristiwa luar biasa karena Allah” tidak akan pernah terjadi dalam kehidupan orang percaya jika tidak ada penyerahan diri sepenuhnya dengan IMAN dan DOA kepada Allah. Penyerahan diri tersebut adalah menyerahkan sepenuhnya keterbatasan kita kepada Allah, yang kemudian disertai dengan membayar harga, yaitu melakukan tindakan nyata apa yang kita gumulkan. Mari kita mengalami peristiwa luar biasa melalui iman kita bahwa tidak ada yang mustahil bagi Tuhan.
BARCODE BBM CHANNELS
RENUNGAN HARIAN
Hidup Menjadi Berkat !
16 November '17
Kehidupan Yang Berbuah
05 November '17
Kelegaan/Ketenangan Jiwa Yang Sejati
13 November '17
Copyright © 2012 All rights reserved. Designed and Developed by GIA Dr. Cipto Semarang