SEPEKAN TERAKHIR
  Minggu, 28 Agustus 2016   -HARI INI-
  Sabtu, 27 Agustus 2016
  Jumat, 26 Agustus 2016
  Kamis, 25 Agustus 2016
  Rabu, 24 Agustus 2016
  Selasa, 23 Agustus 2016
  Senin, 22 Agustus 2016
POKOK RENUNGAN
sekali kelak pekerjaan masing-masing orang akan nampak. Karena hari Tuhan akan menyatakannya, sebab ia akan nampak dengan api dan bagaimana pekerjaan masing-masing orang akan diuji oleh api itu.
DITULIS OLEH
Pdt. Goenawan Susanto
Gembala Jemaat
Renungan Lain oleh Penulis:
Home  »  Renungan  »  Tahan Uji atau Tidak?
Tahan Uji atau Tidak?
Minggu, 28 Agustus 2016 | Tema: Diperlengkapi Untuk Membangun Tubuh Kristus
Tahan Uji atau Tidak?
1 Korintus 3:10-15
Tahan uji atau tidak?

1 Korintus 3:10-15
sekali kelak pekerjaan masing-masing orang akan nampak. Karena hari Tuhan akan menyatakannya, sebab ia akan nampak dengan api dan bagaimana pekerjaan masing-masing orang akan diuji oleh api itu. [ayat 13]

Saya mengagumi Ipad yang biasa saya pakai untuk mengetik renungan ini. Beberapa kali pernah jatuh tapi masih tetap berfungsi dengan baik....selengkapnya »
Kasih karunia Allah yang menyelamatkan semua manusia telah disediakan Tuhan melalui karya penebusan salib Kristus yang sangat mahal harganya. Orang percaya yang menerima penebusan telah dibeli oleh Tuhan Yesus dan menjadi milik-Nya. Dimerdekakan dari belenggu kuasa gelap dan masuk ke dalam terang-Nya yang ajaib [Kisah Rasul 26:18, 1 Petrus 2:9]. Keselamatan melalui penebusan adalah usaha Tuhan untuk mengembalikan manusia kepada rancangan-Nya semula pada waktu diciptakan, yaitu serupa dengan Penciptanya. Anugerah keselamatan diberikan bukan sekedar supaya nanti bisa masuk surga, tetapi supaya manusia dimungkinkan untuk bisa dididik [menjadi murid] selama di dunia ini, sehingga pribadinya bisa diubah [mengalami metamorfosis] menjadi anak-anak Allah yang berkenan kepada Bapa. Yaitu menjadi manusia yang: • Sempurna seperti Bapa [Matius 5:48]. • Hidup kudus dan tak bercacat di hadapan-Nya [Efesus 1:4]. • Mengambil bagian dalam kodrat ilahi [2 Petrus 1:4]. • Hidup seperti Tuhan Yesus telah hidup selama di dunia ini [Roma 8:29; 1 Yohanes 2:6] Untuk mendidik kita menjadi murid, Bapa telah menyediakan berbagai fasilitas, perlengkapan berupa: 1. Karya penebusan salib Kristus yang menjadi landasan satu-satunya manusia bisa dimiliki kembali oleh Tuhan untuk dimuridkan [1 Petrus 1:18-19]. 2. Kebenaran Injil [semua yang diajarkan oleh Tuhan Yesus], yang sanggup: menyelamatkan [Kisah Rasul 1:16], menguduskan [Yohanes 17:17; Efesus 5:26; 1 Petrus 1:22], sumber hikmat, memperbaiki kelakuan, mendidik orang dalam kebenaran [2 Timotius 3:15-17]. 3. Roh Kudus, yang memimpin orang percaya ke dalam segala kebenaran, mengingatkan kita akan Kebenaran Injil; membuat kita peka akan suara Tuhan [Yohanes 16:13]; menguduskan umat pilihan supaya taat kepada Kristus [1 Petrus 1:2]; memeteraikan dan menjamin orang percaya sebagai milik Allah [Efesus 1:13-14] 4. Penggarapan Bapa dalam kenyataan dan pengalaman hidup sehari-hari, sehingga kita bisa menangkap suara Tuhan dalam setiap peristiwa yang kita hadapi [Roma 8:28]. Kita sebagai umat tebusan yang telah dimiliki oleh Tuhan Yesus harus menghargai dan “memanfaatkan“ semua fasilitas tersebut supaya bisa menjadi murid Kristus yang setia.
Leonardo Kamilius, seorang anak muda yang memiliki hati yang selalu iba melihat orang yang mengalami penderitaan. Dia memutuskan berhenti bekerja di perusahaan konsultan berskala internasional dengan jabatan yang cukup tinggi untuk memenuhi panggilan hatinya melayani orang yang membutuhkan. Januari 2011 bersama temannya dia mendirikan Koperasi Kasih Indonesia untuk melayani keluarga-keluarga prasejahtera. Dia mendatangi rumah ke rumah untuk mengajak keluarga prasejahtera untuk menabung, mengembangkan usaha dengan diberi pinjaman untuk modal. Dia juga memberi pelatihan cara berwiraswasta. Dia mengabdikan diri sepenuh waktu untuk melayani mereka. Februari 2016 jumlah anggota koperasi sudah 8200 orang di daerah Jakarta Utara dan sebagian besar sudah meningkat ekonominya. Yesus, pada waktu makan malam Paskah bersama murid-murid-Nya, memberi contoh kepada mereka bagaimana saling melayani. Yesus membasuh kaki mereka dan minta agar apa yang dilakukan-Nya diteladani. Melalui hal tersebut Yesus sedang mengajarkan bila mau melayani harus mau merendahkan diri seperti seorang hamba. Karena dalam tradisi Yahudi waktu itu pembasuh kaki orang yang akan bertamu dan mau masuk ke dalam rumah adalah seorang hamba. Melayani akan hanya merupakan sebuah kegiatan atau keterpaksaan apabila dilakukan tidak dengan menghambakan diri. Kita sudah terbiasa dengan melayani orang lain, tetapi apakah kita sudah melayani seperti Yesus melayani? Kalau kita mengaku sebagai murid Kristus, maka selayaknya kita meneladani apa yang Guru kita lakukan, salah satunya merendahkan hati dalam melayani orang lain. Alangkah indahnya apabila kita saling melayani sebagai anggota tubuh Kristus yang berbeda-beda karunianya. Satu dengan yang lainnya tidak ada yang menonjolkan karunianya tetapi merendahkan hati dan menganggap yang lain lebih utama seperti ketika melayani Tuhan.
Decak kagum akan keluar dari mulut kita saat kita melihat sebuah bangunan rumah yang sangat indah, dan dalam hati akan timbul pertanyaan, “Siapa pemiliknya? Siapa yang merancangnya, ya ?” Dan bukan tidak mungkin akan terbersit dalam pikiran kita adanya seperangkat perabot yang indah dan mahal dalam rumah tersebut. Di dalam rumah kita pun pasti banyak sekali perabotan. Mulai dari yang berharga mahal sampai perabotan yang harganya sangat murah atau kurang berarti. Kita akan memperlakukan perabot yang berharga mahal dengan baik dan hati-hati supaya tidak terjadi kerusakan. Dalam suratnya kepada Timotius, Rasul Paulus mengatakan bahwa kita adalah perabot yang Tuhan pakai sesuai dengan rancangan Tuhan untuk kemuliaan nama-Nya. Tuhanlah yang memilih dan meletakkan kita dalam bangunan tubuh Kristus sesuai dengan keberadaan diri kita. Perlu kita sadari bahwa penempatan perabot adalah wewenang dan sesuai selera pemilik, perabot tidak boleh atau tidak bisa protes karena memang perabot adalah benda mati. Tetapi manusia adalah makhluk hidup yang berakal budi dan punya kehendak bebas. Jadi ketika dirinya merasa ’penempatan” oleh Tuhan melalui para pemimpin gereja tidak sesuai dengan apa yang diinginkan, maka dia akan kecewa, marah dan pergi. Mengapa? Karena merasa dirinya adalah perabot emas atau perak, tidak sadar bahwa dirinya hanyalah perabot dari tanah yang mudah retak mudah pecah. Bagaimana dengan diri kita? Ada tawaran menarik dari Rasul Paulus dalam suratnya ini, yaitu kalau kita rindu menjadi perabot mulia yang dipandang layak untuk dipergunakan oleh Tuan kita, maka kita harus hidup berkenan di hadapan Tuhan, menyucikan diri dari hal-hal yang jahat. Amin.
Xu Yuehua, seorang wanita yatim piatu, pada usia 13 tahun mengalami kecelakaan terlindas kereta api ketika mengumpulkan batu bara di rel kereta. Dia kehilangan kedua kakinya sampai pangkal paha. Untuk mobilitas ia menggunakan dua buah bangku kecil sebagai ganti kaki. Dalam keadaan seperti itu ia menemukan panggilannya untuk merawat anak-anak di panti asuhan yatim piatu. Dia bersyukur bisa berkarya di tengah keterbatasannya dan dengan sukacita merawat anak-anak dari bayi sampai usia remaja. 37 tahun dia melayani dengan sabar, perkataan yang lembut dan membangun. Mereka yang dirawat sejak kecil olehnya banyak yang telah menjadi orang yang berhasil. Ia berhasil membangun kehidupan sesama yatim piatu karena hidupnya penuh dengan ucapan syukur di tengah keterbatasan. Paulus mengingatkan setiap murid Kristus seyogyanya mengucap syukur dalam nama Tuhan Yesus di dalam segala keadaan. Ucapan syukur tidak hanya di bibir tetapi dari hati. Ucapan syukur yang dinyatakan dalam hubungan dengan sesama. Berkata-kata dalam mazmur, kidung pujian dan nyanyian rohani. Artinya, setiap perkataan yang keluar seperti ketika bermazmur/memuji Tuhan. Perkataan yang menyenangkan, membangun, menghibur, menguatkan dan bukan sebaliknya menyakiti, mengumpat, memaki, melemahkan. Bernyanyi dan bersorak bagi Tuhan dengan sepenuh hati yang dinyatakan dalam kehidupan sehari-hari melalui wajah dan tindakan penuh sukacita akan membangun hidup orang lain terutama mereka yang mengalami masalah. Apapun yang sedang kita alami saat ini, ucapkanlah syukur dalam nama Tuhan Yesus. Berbicaralah dengan siapa saja seperti kita sedang menyanyikan pujian, sehingga akan membuat lawan bicara kita merasa terhibur, termotivasi, dikuatkan karena mungkin saja saat ini dia sedang mengalami masalah. Kita harus mempunyai hati yang meluap dengan pujian kepada Tuhan yang ditampakkan pada wajah yang penuh sukacita. Mari dengan ucapan syukur kita membangun sesama sebagai tubuh Kristus.
BARCODE BBM CHANNELS
RENUNGAN HARIAN
Biarkan Roh Kudus Bekerja
12 Agustus '16
Tidak Ada Yang Terbuang Percuma
24 Agustus '16
Iman Yang Memberi Kemenangan
17 Agustus '16
Copyright © 2012 All rights reserved. Designed and Developed by GIA Dr. Cipto Semarang