NIKMATI & BAGIKAN
  Artikel & Kesaksian
  Tulis Artikel / Kesaksian Anda
  Subscribe Renungan
  Electronic Formulir
  Form Permohonan Doa
  Form Katekisasi Baptisan Air
  Form Bimbingan Pra Nikah
  Form Penyerahan Anak
  Form Pendaftaran SPK Pemenang
  Form Pendaftaran Pelayanan
NEWS & EVENT
ELECTRONIC FORM
Manfaatkan fasilitas formulir online, untuk efisiensi waktu dan tenaga Anda (tanpa harus ke kantor sekretariat gereja).
GO PAPERLESS - REDUCE USING PAPER - THINK BEFORE YOU PRINT - SAVE EARTH
  Form Bimbingan Pra Nikah
  Form Pendaftaran SPK Pemenang
  Form Katekisasi Baptisan Air
  Form Penyerahan Anak
  Form Permohonan Doa
Home  »  Media  »  Artikel & Kesaksian  »  Pemimpin Berintegritas: No Share Hoax
Pemimpin Berintegritas: No Share Hoax
Pemimpin Berintegritas: No Share Hoax
anonymous
Hoax, kata yang marak kita dengar belakangan ini. Sebenarnya apa sih hoax itu?

Hoax berasal dari kata `hocus` atau `hocus pocus` yang artinya `sim salabim`. Istilah `april mop`, 1 April, juga merupakan salah satu contoh hoax.

Di dunia ini hanya mengenal `hitam` & `putih`, salah & benar. Warna abu-abu ada, tapi kebenaran yang abu-abu sama sekali tidak ada. Hitam-putih menunjukkan ketegasan akan keyakinan dari kebenaran yang kita pegang.

Jika ya, hendaklah kamu katakan: ya, jika tidak, hendaklah kamu katakan: tidak. Apa yang lebih dari pada itu berasal dari si jahat. Mat 5:37.

Kebenaran disini bukan berarti iman/agama/kepercayaan, tapi arti secara umum, kebenaran dari setiap apa yang kita percayai, yang terwujud dalam bentuk tutu...selengkapnya »
`Karena di mana hartamu berada, di situ juga hatimu berada.` Lukas 12:34. Harta tidak melulu bicara mengenai uang, tapi bisa juga bicara mengenai nama besar kita, gengsi, ego, harga diri, hobi, dan apapun yang kita marah saat itu diusik atau diambil dari hidup kita. Pernahkah kita mempersiapkan segala sesuatunya untuk menyambut seseorang dalam hidup kita? Mungkin itu keluarga, sahabat, atau pimpinan bahkan pejabat selevel walikota, gubernur, menteri, bahkan presiden sekalipun. Kita memepersiapkan segala sesuatunya, mulai dari hari atau jam disaat beliau akan datang, sebisa mungkin semua janji atau aktivitas kita batalkan. Halaman, rumah, dan seisinya kita bersihkan, cat ulang, bahkan kita permak total. Makanan terbaik kita sediakan. Juga baju paling baru dan bagus pun kita pakai. Semua kita persiapkan demi orang spesial tersebut. Namun apa yang ada di hati atau pikiran kita, apabila tiba-tiba orang tersebut menunda kedatangannya bahkan membatalkannya? Tentu hati kita sangat sedih dan hancur. Ya, semua orang pasti akan melakukan hal yang sama demi orang spesial tersebut. Tapi bagaimana dengan kehidupan rohani kita? Pernahkah kita mempersiapkan yang terbaik bagi Tuhan, baik itu secara pribadi maupun gerejawi? Padahal notabene, Dia selalu hadir dalam hidup kita, dan tidak pernah ingkar ataupun menunda apa yang telah dijanjikan-Nya. Pernahkah kita membatalkan janji dengan teman kita saat Tuhan berbisik ingin meminta waktu kita untuk Dia ingin bercengkrama dengan kita, mengutarakan isi hati-Nya bagi kita? Atau bahkan kita tidak peduli, jam-jam saat teduh pun kita rampas demi janji dengan orang lain, demi menyenangkan orang lain atau untuk kepuasan dan ego pribadi kita. Atau sebagai pelayan Tuhan, kita tidak peduli dengan adanya doa bersama sebelum ibadah, bahkan justru dengan santai kita datang terlambat dan tetap melayani tanpa terlebih dahulu mempersiapkan hati dan mencari wajah-Nya. Sebagai worship leader, singer, pemain musik, ataupun hamba Tuhan, mungkin kita tidak lagi pernah mencari tahu apa yang jadi kerinduan dan isi hati Tuhan untuk disampaikan melalui ibadah yang kita pimpin, namun justru kita terjebak dalam rutinitas rohani dan kita hanya mengandalkan pikiran dan kemampuan yang kita miliki. Di hadapan Tuhan kita semua adalah sama, tidak ada perbedaan senioritas, yang ada hanya perbedaan level iman. Mari kita dengan berbesar hati mengambil saat teduh sejenak dan merenungkan artikel ini. Biarkan Roh Kudus menjamah hati dan pikiran kita, mengoreksi segenap aspek hidup kita. Kalau untuk manusia saja kita bisa memberikan yang terbaik, bagaimana dengan Dia, Sang Raja Segala Raja?
"Orang Kristen identik dengan memberi", katanya... Banyak orang yang mengatakannya, terutama orang kristen sendiri yang mengungkapkan hal tersebut, khususnya para pendeta atau hamba Tuhan. Sehingga saat ada orang yang memberi, sang penerima akan bertanya, "Kristen ya?" Tidak bisa kita telan mentah-mentah statement tersebut. Itu barulah sebuah statement, belum jadi sebuah final statement atau conclusion kalau statement tersebut belum kita uji. Ya! Kalau saat-saat musim Natal, Paskah, ada orang yang bagi-bagi sembako atau bingkisan di pinggir-pinggir jalan atau di panti-panti asuhan dan lain-lain, tentu sebenarnya tidak usah ditanya juga sudah pasti jelas jawabannya, tapi mungkin untuk lebih meyakinkan, sang penerima akan bertanya "Kristen ya?", mungkin... Namun bagaimana kalau ada orang yang bagi-bagi sembako atau bingkisan di pinggir-pinggir jalan atau di panti-panti asuhan dan lain-lain di saat-saat bukan momen Natal atau Paskah, saat hari-hari biasa, atau bahkan saat bulan puasa atau saat hari raya agama tertentu? Apakah mungkin sang penerima akan tetap bertanya, "Kristen ya?". Mereka otomatis akan mengira, kalau musim Natal / Paskah, ya pasti orang Kristen yang lagi bagi-bagi. Kalau bulan puasa ada yang bagi-bagi takjil atau makanan pembuka atau saat hari raya Idul Fitri / Idul Adha, ya pasti orang Islam yang lagi bagi-bagi. Kalau pas hari raya Waisak, tentunya orang Budha yang sedang berbagi. Kalau begitu ceritanya, sama aja dong kita dengan mereka? Sama-sama memberi secara musiman. Lalu apa bedanya dong kita dengan mereka? Padahal dengan jelas Alkitab mengatakan, "Janganlah kamu menjadi serupa dengan dunia ini", Roma 12:2a, dan "Jika hidup keagamaanmu tidak lebih benar dari pada hidup keagamaan ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi, sesungguhnya kamu tidak akan masuk ke dalam Kerajaan Sorga.", Matius 5:20. Kristen ya? Kok tidak ada bedanya dengan agama lain? Think about it!
Manusia cenderung menyukai hal-hal yang rutin. Rutinitas bisa menjadikan hidup kita nyaman karena semuanya dapat diprediksi, dapat diduga, tidak ada kejutan-kejutan. Rutinitas dan repetisi penting untuk mencapai suatu kualitas yang konsisten. Kita memerlukan rutinitas dalam kehidupan sehari-hari, contohnya rutinitas pelayanan penerbangan dan pelayanan rumah sakit. Bayangkan bila jadwal penerbangan berubah setiap hari atau jam pelayanan rumah sakit tidak rutin. Namun, jangan jadikan kehidupan kita suatu rutinitas. Pada saat Tuhan mengulurkan undangan kepada kita untuk masuk ke hal-hal baru, lepaskanlah hal-hal yang lama dan rangkul yang baru. `Janganlah ingat-ingat hal-hal yang dahulu, dan janganlah perhatikan hal-hal yang dari zaman purbakala! Lihat, Aku hendak membuat sesuatu yang baru, yang sekarang sudah tumbuh, belumkah kamu mengetahuinya? Ya, Aku hendak membuat jalan di padang gurun dan sungai-sungai di padang belantara.` Yesaya 43:18-19. Memang tidak nyaman untuk berubah saat kita sudah terbiasa dengan suatu hal, atau sudah terbiasa melakukan dengan cara tertentu. Tetapi dalam perjalanan menuju kebesaran yang telah Tuhan sediakan, kita mutlak harus berubah. Kenali lima hal yang menghambat perubahan sehingga Anda bisa mengatasinya dan tetap berjalan memasuki destinasi Tuhan bagi Anda. 1. Fear of The Unknown - takut akan hal-hal yang tidak diketahui Perubahan menuntut kita untuk masuk ke tempat-tempat yang baru di mana kita berada di posisi tidak nyaman karena kita tidak tahu dengan pasti apa yang akan terjadi. Banyak orang menjadi tidak bergairah ketika berhadapan dengan sesuatu yang tidak mereka pahami atau kuasai. Perubahan menuntut kita untuk masuk ke tempat-tempat yang baru di mana kita berada di posisi tidak nyaman karena kita tidak tahu dengan pasti apa yang akan terjadi. Kita dituntut untuk meninggalkan zona kenyamanan kita di mana segala sesuatu dapat diprediksi dan beranjak menuju ke tempat yang lebih dalam di mana kita harus berfungsi dengan cara yang baru. Hal-hal yang tidak kita ketahui bisa membuat kita takut dan ragu untuk melangkah maju. Seorang agen perubahan yang sejati rela masuk ke wilayah baru yang belum pernah terjamah sebelumnya. Tidak ada seorang pembunuh raksasa sebelumnya di Israel. Tetapi Daud tahu bahwa bangsa Israel tidak mungkin tetap tinggal dalam kondisi diintimidasi oleh bangsa Filistin. Daud mengerti bahwa dia harus keluar dari rutinitas sebagai gembala kambing domba. Daud menghadapi raksasa Goliat dan membunuhnya sehingga dalam waktu sekejap dia menjadi pahlawan nasional. Tuhan berkata kepada Abraham untuk meninggalkan negerinya dan keluarganya, yaitu segala sesuatu yang merupakan keamanan dan kenyamanannya selama ini. Abraham patuh. Dengan iman Abraham bergerak maju untuk menerima warisannya sekalipun dia belum mengerti seluruhnya. Lawan dan konfrontasi segala ketidakamanan dan rasa takut dalam hidup Anda. `Jangan biarkan ketakutan menguasai Anda sebab Allah memberikan kepada kita bukan roh ketakutan, melainkan roh yang membangkitkan kekuatan, kasih dan ketertiban.` 2 Timotius 1:7. 2. Fear of Risk Factor - takut terhadap faktor resiko Tidak ada perubahan tanpa resiko. Daud mengambil resiko yang sangat besar ketika dia menghadapi Goliat. Tetapi Daud tidak membiarkan ketakutan menguasainya. Ketika faktor resiko dan peluang kekalahan yang kita hadapi sangat besar, namun akhirnya kita berhasil meraih kemenangan, maka kemenangan itu akan sangat indah dan manis. Semakin besar resiko dan peluang kalah, semakin kita menghargai kemenangan kita. Mereka yang berkemenangan adalah mereka yang berani untuk mengambil resiko. 3. Forces of The Environment - kekuatan tekanan lingkungan sekitar Lingkungan tempat tinggal atau lingkungan di mana kita dibesarkan dengan segala elemen-elemennya dapat menjadi satu kekuatan yang menghambat perubahan terjadi. Anggota keluarga dan sanak saudara Anda dapat menolong Anda maju, tetapi sebaliknya mereka juga dapat menghambat kita. Karena itu Tuhan menyuruh Abraham untuk meninggalkan sanak saudaranya dan rumah bapanya. `Dan kalau sekiranya dalam hal itu mereka ingat akan tanah asal, yang telah mereka tinggalkan, maka mereka cukup mempunyai kesempatan untuk pulang ke situ.` Ibrani 11:15. 4. Instant Success Syndrome - sindroma sukses secara instan Zaman kita hidup saat ini adalah zaman di mana orang menginginkan segala sesuatu serba instan dan cepat. Sebisa mungkin orang menghindari menunggu. Sebaliknya, mereka yang kisahnya tertulis di Alkitab, yang membuat perubahan sejarah suatu kota, bangsa atau negara; mereka harus menunggu lama untuk menerima upah ketaatan mereka, bahkan hasilnya baru terlihat sesudah kematian mereka. Abraham tidak pernah melihat penggenapan janji Tuhan kepadanya. Dia tidak pernah menginjak tanah perjanjian, apalagi mendudukinya. Keturunan Abraham yang kesekian yang kelak mengalami manifestasi janji Allah kepada Abraham. `Dalam iman mereka semua ini telah mati sebagai orang-orang yang tidak memperoleh apa yang dijanjikan itu, tetapi yang hanya dari jauh melihatnya dan melambai-lambai kepadanya dan yang mengakui, bahwa mereka adalah orang asing dan pendatang di bumi ini.` Ibrani:11:13 Seperti Abraham, kita harus punya alasan untuk bisa bertekun dan tabah dalam proses perubahan. Alasannya adalah karena kita melihat sesuatu di ujung penantian kita. Visi menghasilkan gairah yang membuat kita mengejar dengan strategi. Oleh karena itu sangat penting memvisualisasi dan menebarkan visi (Habakuk 2:2-3). 5. Unwillingness to Pay The Price - ketidakrelaan membayar harga Tidak ada keberhasilan yang gratis. Hasil perubahan tidak terjadi seketika itu juga pada saat kita melepaskan kenyamanan dan kemudahan kita. Seringkali hasil dari perubahan yang kita lakukan hari ini dituai dan dinikmati oleh anak cucu kita dan generasi berikutnya bahkan oleh generasi yang tidak melihat kita hidup. Saat ini orang Amerika bisa menikmati kehidupan di suatu negeri tanpa diskriminasi warna kulit, tanpa kebencian dan kepahitan. Ini adalah upah dari harga yang dibayar oleh mereka yang memperjuangkan persamaan hak seperti Dr. Martin Luther King. Dia sendiri tidak mengalami apa yang dia impikan. Namun generasi sesudahnya bisa menikmati hasil dari keberanian dan kegigihan Dr. Martin Luther King. Kesimpulannya: tidak ada kebesaran tanpa pengorbanan. Jika Anda sekarang sedang menikmati suatu ukuran kesuksesan, itu karena seseorang telah berjalan di depan Anda dan membuka serta menyiapkan jalan dengan ketekunan dan kegigihan mereka. Jika sekarang Anda sedang membayar harga tetapi belum melihat hasilnya, bersukacitalah. Anda sedang mempersiapkan jalan untuk mereka yang berada di belakang Anda. Sekarang saatnya Anda melangkah keluar dari kotak kenyamanan dan keamanan Anda. Keluar dari kebiasaan dan rutinitas lama. Mungkin jawaban dari dilema di hadapan Anda terletak di dalam kerelaan Anda untuk melakukan sesuatu yang baru secara radikal. Ketika Anda rela melepaskan yang lama, maka Tuhan akan membawa hal-hal baru ke dalam kehidupan Anda. `Marilah kita melakukannya dengan mata yang tertuju kepada Yesus, yang memimpin kita dalam iman, dan yang membawa iman kita itu kepada kesempurnaan, yang dengan mengabaikan kehinaan tekun memikul salib ganti sukacita yang disediakan bagi Dia, yang sekarang duduk di sebelah kanan takhta Allah.` Ibrani 12:2
Apa yang Anda lakukan jika mengetahui kelemahan atau keburukan atasan Anda? Bayangkan ini. Anda adalah calon yang disiapkan untuk menggantikan atasan Anda. Prestasi Anda gilang gemilang. Hampir seluruh karyawan di kantor lebih menyukai Anda ketimbang bos. Parahnya, atasan tahu kalau bawahannya lebih menyukai Anda. Bos tak tinggal diam dan sering mencari-cari kesalahan untuk menjegal Anda. Lalu tiba-tiba, datanglah kesempatan itu. Anda mengetahui bos melakukan kesalahan fatal dalam suatu proyek. Barangkali rekan sejawat Anda akan menyemangati Anda di saat-saat seperti ini. ”Ini waktunya Anda menduduki jabatan si Bos,” begitu kata mereka. Apa yang akan Anda lakukan? Kisah ini ada dalam sejarah. Tepatnya di Perjanjian Lama, 1 Samuel 24. Saat itu Saul mengejar Daud bersama beribu-ribu pasukan untuk membunuhnya. Di tengah pengejaran itu, Saul masuk ke gua untuk buang hajat. Ia sama sekali tak tahu kalau justru Daud dan pasukannya bersembunyi di belakang gua itu. Lalu berkatalah orang-orangnya kepada Daud: ”Telah tiba hari yang dikatakan TUHAN kepadamu: Sesungguhnya, Aku menyerahkan musuhmu ke dalam tanganmu, maka perbuatlah kepadanya apa yang kaupandang baik.” Maka Daud bangun, lalu memotong punca jubah Saul dengan diam-diam. Kemudian berdebar-debarlah hati Daud, karena ia telah memotong punca Saul. 1 Samuel 24:5-6. Jantung Daud berdebar-debar. Itu adalah peringatan dari Tuhan. Dengan memotong punca jubah saja, sebenarnya hati Daud tergoda untuk menuruti anjuran orang-orang di sekitarnya. Daud memang tak membunuh Saul, tapi ia sudah menyentuh ”jawatan” yang bukan haknya. Untung saja, Daud mendengarkan nuraninya. Pemimpin yang dibentuk oleh Tuhan memang tidak melewati proses mulus. Justru lewat tantanganlah, Tuhan mengasah karakter kita, menyiapkan diri kita menjadi pemimpin yang bijak dan takut akan Tuhan. There is no short cut to destiny.
FOLLOW OUR INSTAGRAM
ARTIKEL & KESAKSIAN
Jadwal Ibadah Minggu
10 Juli 2022
Tidak Ada Kegiatan Ibadah
Copyright © 2012 All rights reserved. Designed and Developed by GIA Dr. Cipto Semarang