SEPEKAN TERAKHIR
  Kamis, 30 Juli 2015   -HARI INI-
  Rabu, 29 Juli 2015
  Selasa, 28 Juli 2015
  Senin, 27 Juli 2015
  Minggu, 26 Juli 2015
  Sabtu, 25 Juli 2015
  Jumat, 24 Juli 2015
POKOK RENUNGAN
Orang yang selalu bersyukur akan mampu menanggung permasalahan hidupnya.
DITULIS OLEH
Pdt. Andreas P. Chandra
Rohaniwan Pusat
Renungan Lain oleh Penulis:
Home  »  Renungan  »  Bersyukur Dalam Segala Hal
Bersyukur Dalam Segala Hal
Jumat, 15 Maret 2013 | Tema: Umat Yang Memasyurkan Allah
Bersyukur Dalam Segala Hal
I Tesalonika 5:18
Selalu ada alasan untuk mengucap syukur, sekalipun kondisi yang kita hadapi kelihatannya buruk. Chrysostom, seorang yang pernah menjadi Uskup Besar Constantinopel, dibawa ke pembuangan, dianiaya, direndahkan dan mati di tempat yang jauh dari kemewahan kota serta kesenangan dan kemuliaan yang pernah dinikmatinya. Namun demikian ia belajar bersyukur dalam semua keadaan. Semua ini bertolak dari motto hidupnya: “Doxa to Theo Panton Heneken” yang artinya kemuliaan bagi Allah dalam segala sesuatunya. Ia dapat membuktikan mottonya itu, di mana ia tetap bersyukur dan memuliakan Allah sekalipun menderita.

Marilah kita juga belajar untuk memuji Allah dan bersyukur kepada-Nya dalam segala sesuatu yang terjadi pada diri kita atas ijin-Nya. Kita tidak hanya bersyukur untuk hal-hal yang baik saja, tetapi juga untuk kejadian-kejadian yang menyesakkan hati kita. Kita mungkin tidak tahu apa maksud Allah ketika Ia mengijinkan semua itu terjadi, namun kita harus tetap percaya bahwa Ia adalah Allah yang Mahabaik. Kita tahu kisah Ayub yang mengalami pencobaan sedemikian beratnya, namun Ia belajar bersyukur dan tetap setia kepada Allah. Dan karena ia setia, maka Allah memulihkan keadaannya dan memberkati hidupnya.

Berdasarkan pengajaran Paulus kepada jemaat Tesalonika untuk selalu mengucap syukur dalam segala hal, mari apapun yang Anda alami, bersyukurlah kepada Allah dan tetaplah memuji Dia, sepe...selengkapnya »
Seorang nenek begitu setia beribadah kepada Tuhan dalam usianya yang semakin bertambah. Sang nenek terus berusaha mendekatkan diri kepada Tuhan. Dalam keadaan hujan atau panas dan tubuh tuanya yang sudah seringkali mengalami sakit, sang nenek tidak melupakan hari minggu untuk tetap beribadah. Nenek tersebut berpikir bahwa melalui ibadah, ia bertemu dengan Tuhan. Tetangga begitu tertarik dengan apa yang dilakukan sang nenek. Sampai suatu ketika tetangga yang awalnya tidak mempercayai Yesus sebagai Tuhan dan juruselamat, akhirnya menjadi percaya karena melihat kehidupan sang nenek . Seringkali kita berpikir bahwa menjadi berkat berarti kita harus mengeluarkan rupiah dari dompet atau dari saku kita. Tidak salah memang, namun melalui kehidupan ini, kita bisa menjadi berkat bagi siapa saja ataupun dengan cara apapun termasuk melalui bibir kita. Penulis surat Ibrani mengingatkan supaya kita mempunyai ucapan bibir yang memuliakan Allah. Tentu orang yang mendengar kita memuji dan memuliakan Allah karena kebaikan-Nya akan senang mendengarnya. Seperti halnya yang dilakukan Paulus dan Silas sekalipun di dalam penjara [Kisah Para Rasul 16:25]. Begitu juga ucapan syukur yang kita ucapkan saat kita menghadapi masalah dan tantangan, tentu akan memberi semangat baru bagi mereka yang mendengarnya. Saat kita belajar mengucap syukur dalam segala keadaan tidak saja memperkenankan hati Tuhan [1 Tesalonika 5:18], tetapi juga bisa membuat orang yang mendengarnya mendapatkan harapan baru. Oleh sabab itu mari kita, khususnya melalui perkataan, menjadi berkat bagi orang lain, sehingga seperti perintah Tuhan supaya Abraham yang diberkati menjadi berkat, demikianlah juga kita yang menikmati berkat Abraham juga menjadi berkat bagi sesama dalam kehidupan kita.
Di tahun 1988, Indonesia dikejutkan oleh Mak Eroh seorang wanita desa, usia 50 tahun, yang mendapat penghargaan lingkungan hidup Upakarti dari Presiden Soeharto dan tahun berikutnya penghargaan lingkungan dari PBB. Desa tempat tinggal dan sekitarnya gersang sehingga penduduk, termasuk dirinya, setiap hari hanya makan singkong atau ubi. Prihatin dengan keadaan tersebut wanita sederhana ini seorang diri memapras bukit cadas dengan peralatan sederhana guna membuat saluran air sepanjang 45 meter di tengah cibiran penduduk. Saluran itu mengalirkan air dari sungai Cilutung ke sawah miliknya seluas 400 m2 dan dikerjakannya selama 47 hari. Setelah ia berhasil, 19 warga desa membantu untuk membuat saluran sepanjang 4,5 km selama 2,5 tahun. Saluran itu bisa untuk mengalirkan air ke sawah seluruh desa dan dua desa tetangga yang lain. Yesus mengatakan, “Segala sesuatu yang kamu lakukan untuk salah seorang dari saudara-Ku yang paling hina ini, kamu telah melakukan untuk Aku.” Memberi makan orang yang lapar, memberi minum yang haus, menolong orang yang membutuhkan walaupun tidak kenal, memberi pakaian pada yang membutuhkan, menengok mereka yang sakit, mengunjungi yang di penjara. Semua itu merupakan suatu perbuatan yang dilakukan untuk Tuhan, artinya memiutangi Tuhan. Suatu kali kelak waktu bertemu Tuhan, Dia akan membayar dengan Kerajaan yang telah disediakan-Nya. Sebagai orang yang telah menerima anugerah dan berkat-Nya, maka kita selayaknya memberikan perhatian kepada orang di sekitar kita. Banyak orang di sekitar kita yang membutuhkan perhatian dan bantuan kita. Kita bisa membantu mereka dengan apa yang kita miliki, seperti Mak Eroh, dengan peralatan sederhana miliknya, menolong orang sedesanya. Marilah kita memandang orang yang membutuhkan pertolongan seakan-akan kita memandang Tuhan, dengan demikan bantuan dan pertolongan kita seakan kita memiutangi Tuhan.
Ada seorang penguasaha kaya di Karmel. Ia hidup di masa pemerintahan Saul. Namanya Nabal. Ia seorang yang kasar dan jahat kelakukannya, tetapi istrinya sangat cantik dan bijaksana [ayat 2-3]. Nabal memiliki 3000 ekor domba dan 1000 ekor kambing. Waktu itu Daud dan 600 tentaranya sedang dalam masa sulit karena harus bertahan di padang gurun Paran. Kebiasaan yang terjadi di padang gurun itu adalah barangsiapa menggembalakan ternak di padang itu harus memberi ‘tips’ yang selayaknya kepada penjaga wilayah itu. Sedang Daud dan pasukannya yang telah memberi perlindungan dan menjaga keamanan para gembala dan kambing domba kepunyaan Nabal. Maka sudah selayaknya Nabal membalas kebaikan Daud dan pasukannya Namun apa yang dilakukan Nabal ketika Daud menyuruh pasukannya menemuinya untuk mendapat belas kasihan? Nabal menghina Daud sebagai orang yang tidak jelas asal usulnya, menganggap Daud dan pasukannya adalah sekelompok orang yang tidak bermartabat yang tidak setia kepada pemerintahan Saul [ayat 10-11]. Abigail sebagai istri Nabal tetap menunjukkan rasa hormatnya kepada suami. Ia menyusun rencana untuk menyelamatkan suaminya dari malapetaka karena menghina Daud dan pasukannya. Abigail tahu persis bahwa Daud adalah orang yang telah diurapi Tuhan menjadi raja Israel menggantikan Saul. Maka Abigail tanpa sepengetahuan Nabal menemui Daud untuk memohonkan maaf atas kelakuan suaminya dan mengingatkan Daud sebagai orang yang di urapi Tuhan serta memberi pemberian kepada Daud dan pasukannya [ayat 18-35]. Maka redalah amarah Daud. Abigail telah menyelamatkan keluarganya. Melalui peristiwa di atas, kita dapat belajar melalui Abigail yang mau berbagi kepada sesama. Abigail telah berbuat yang benar dengan segenap hatinya dengan sujud di kaki Daud dan membawa pemberian kepada Daud dan pasukannya [ayat 23]. Hendaklah kita juga menjadi orang beriman yang memiliki kerelaan hati berbagi dan melayani orang lain dengan segenap hati. Karena dengan demikian kita telah melakukan apa yang Tuhan kehendaki [Kolose 3:23-24]. Maka upah yang dari Tuhan akan selalu mengikuti kita. Seberapa yang kita berikan kepada orang lain akan menjadi takaran berkat pada diri kita [Lukas 6:38a]. Oleh sebab itu hendaklah kebaikan kita untuk menjadi berkat bagi orang lain selalu melekat pada diri kita, karena kebaikan itu akan menjadi takaran berkat bagi kita.
Pada sebuah acara pertemuan keluarga, Andi, bocah berusia empat tahun tiba-tiba berteriak, “Bego, kamu.” Kontan saja Dewi, sang mama, yang mendengar ucapan itu jelas kaget dan malu. Walaupun sudah diberi pengertian bahwa kata-kata itu tidak baik, Andi tetap mengulanginya berkali-kali hingga membuat Dewi semakin malu dan berusaha menahan amarah kepada anaknya. Melihat reaksi orang di sekelilingnya yang mendiamkannya, akhirnya Andi berhenti berkata-kata. “Waduh, Andi tahu istilah itu dari mana, ya?” telisik sang mama. Tentunya masalah tersebut tidak hanya dialami oleh ibu Dewi, tetapi juga kita semua, para orangtua. Proses alami meniru ucapan terjadi pada anak usia 1 - 3 tahun. Di masa itulah mereka belajar berbicara, belajar bahasa, dan juga menambah kosa kata. Di usia itu seringkali anak-anak ‘membeo’ tanpa tahu maksud dan artinya, menirukan kata-kata yang didengarnya baik dari orangtua dan keluarga, dari teman-teman bermainnya, dan bahkan dari televisi. Kata-kata yang buruk dan tidak sopan, seperti kasus Andi di atas, harus disikapi dengan bijak karena jika kebiasaan jelek tersebut terbawa hingga besar, maka si anak akan mudah melontarkan kata-kata tidak sopan dan kasar saat sedang emosi. Biasanya reaksi marah [terutama yang berlebihan] ketika anak kita mengucapkan kata-kata kasar dan tidak sopan seringkali merupakan upaya menutupi rasa malu kita sebagai orangtua. Kita takut dipandang sebagai orangtua yang tidak bisa mendidik anak dengan baik. Alangkah baiknya jika kita lebih fokus memberi arahan kepada anak daripada sekedar menutupi rasa malu kita. Seperti nats hari ini menyatakan bahwa orang yang bijak hati disebut berpengertian, dan berbicara manis lebih dapat menyakinkan. Artinya kata-kata yang bijaksana mempunyai kekuatan untuk meyakinkan dan bahkan mengubahkan perilaku seseorang. Apa yang bisa kita lakukan sebagai orangtua jika menghadapi kasus serupa? Kita sebagai orangtua [termasuk kakek dan nenek] bisa memberi contoh kata-kata yang sederhana dan sopan kepada anak setiap hari. Ayah ibu, selaku orangtua, harus benar-benar memperhatikan kosakata yang dipakai dalam percakapan keseharian. Kata-kata kasar dan tidak sopan harus benar-benar dihilangkan termasuk ketika tensi emosi kita meninggi. Kita hendaknya mengapresiasi [memberi pujian] ketika anak berkata-kata dengan sopan dan mengarahkan ketika anak mengucapkan kata-kata yang kasar dan tidak sopan tanpa harus marah secara berlebihan. Juga tidak kalah pentingnya adalah mendampingi anak-anak ketika mereka menonton televisi dan memberikan pengertian tentang apa yang ditontonnya.
BARCODE BBM CHANNELS
RENUNGAN HARIAN
Hendaklah Kamu Murah Hati
14 Juli '15
Berbahagialah!
30 Juni '15
Menjadi Teladan
02 Juli '15
Copyright © 2012 All rights reserved. Designed and Developed by GIA Dr. Cipto Semarang