SEPEKAN TERAKHIR
  Selasa, 28 Maret 2017   -HARI INI-
  Senin, 27 Maret 2017
  Minggu, 26 Maret 2017
  Sabtu, 25 Maret 2017
  Jumat, 24 Maret 2017
  Kamis, 23 Maret 2017
  Rabu, 22 Maret 2017
POKOK RENUNGAN
Orang yang selalu bersyukur akan mampu menanggung permasalahan hidupnya.
DITULIS OLEH
Pdt. Andreas P. Chandra
Rohaniwan Pusat
Renungan Lain oleh Penulis:
Home  »  Renungan  »  Bersyukur Dalam Segala Hal
Bersyukur Dalam Segala Hal
Jumat, 15 Maret 2013 | Tema: Umat Yang Memasyurkan Allah
Bersyukur Dalam Segala Hal
I Tesalonika 5:18
Selalu ada alasan untuk mengucap syukur, sekalipun kondisi yang kita hadapi kelihatannya buruk. Chrysostom, seorang yang pernah menjadi Uskup Besar Constantinopel, dibawa ke pembuangan, dianiaya, direndahkan dan mati di tempat yang jauh dari kemewahan kota serta kesenangan dan kemuliaan yang pernah dinikmatinya. Namun demikian ia belajar bersyukur dalam semua keadaan. Semua ini bertolak dari motto hidupnya: Doxa to Theo Panton Heneken yang artinya kemuliaan bagi Allah dalam segala sesuatunya. Ia dapat membuktikan mottonya itu, di mana ia tetap bersyukur dan memuliakan Allah sekalipun menderita.

Marilah kita juga belajar untuk memuji Allah dan bersyukur kepada-Nya dalam segala ...selengkapnya »
Hidup adalah pilihan Matius 16:21-26 Lalu Yesus berkata kepada murid-murid-Nya: ’Setiap orang yang mau mengikut Aku, ia harus menyangkal dirinya, memikul salibnya dan mengikut Aku. [ayat 24] Ada pepatah mengatakan: ’Hidup adalah pilihan.’ Kemana arah hidup kita tergantung pada pilihan kita. Menjadi murid Kristus adalah masalah pilihan hidup. Apakah kita murid Kristus yang sejati atau tidak terlihat dari bagaimana kita membuat keputusan dalam hidup ini. Ayat 21 mengatakan: ’Sejak waktu itu Yesus mulai menyatakan kepada murid-murid-Nya bahwa Ia harus pergi ke Yerusalem dan menanggung banyak penderitaan dari pihak tua-tua, imam-imam kepala dan ahli-ahli Taurat, lalu dibunuh dan dibangkitkan pada hari ketiga.’ Menjelang akhir perjalanan hidup-Nya di dunia ini Yesus mengajarkan apa yang harus dilakukan oleh seorang murid dalam menentukan arah hidupnya. Yesus mengajarkan bahwa seorang murid harus memilih untuk mengikuti rencana dan kehendak Bapa di sorga. Seperti yang Yesus sedang lakukan, yaitu Dia sedang menuju ke Yerusalem, sekalipun di sana Dia harus menanggung banyak penderitaan, bahkan mengalami kematian. Dia tahu bahwa tujuan hidup-Nya di dunia ini adalah malaksanakan apa yang menjadi kehendak Bapa-Nya, yaitu menebus dosa manusia dengan cara mati di atas kayu salib. Ada pilihan yang harus diambil oleh Yesus. Dia bisa memilih untuk menghindar dari rencana Bapa dan mencari kenyamanan buat diri-Nya sendiri. Tetapi Dia tidak mengambil pilihan itu. Dia memilih untuk menerima dan menjalani kehendak Bapa-Nya. Sebab itu Yesus memilih untuk pergi ke Yerusalem. Yesus memilih jalan yang akan membawa-Nya kepada salib untuk menebus dosa manusia, karena itulah kehendak Bapa di sorga. Bagi Petrus pilihan yang diambil Yesus itu tidak masuk akal. Sebab itu dia menarik Yesus ke samping dan menegor Dia, katanya: ’Tuhan, kiranya Allah menjauhkan hal itu! Hal itu sekali-kali takkan menimpa Engkau.’ [ayat 22]. Itu adalah pikiran manusiawi. Pikiran manusiawi selalu cenderung mencari kenyamanan dan menghindari penderitaan. Pikiran manusiawi mencari kesenangan untuk dirinya sendiri. Tetapi Yesus mengajarkan apa yang dipikirkan oleh Allah. Yang dipikirkan Allah adalah agar anak-anak-Nya percaya kepada-Nya, percaya akan kebaikan rencana-Nya, dan menjalani rencana Allah itu dengan penuh percaya dan penyerahan diri. Setiap orang yang mengambil pilihan itu dan menjalani rencana-Nya akan menuju kepada hidup yang penuh kemuliaan. Seperti apa yang dikatakan Yesus: ’Karena barangsiapa mau menyelamatkan nyawanya, ia akan kehilangan nyawanya; tetapi barangsiapa kehilangan nyawanya karena Aku, ia akan memperolehnya.’ [ayat 25]. Hidup adalah pilihan, pilihan apa yang kita ambil? Mencari kenyamanan diri sendiri ataukah mengikuti kehendak Allah? Pdt. Goenawan Susanto
Tidak ada makan siang gratis. Ungkapan tersebut menggambarkan bahwa segala sesuatu ada harga yang harus dibayar. Ada pertanggung-jawaban yang harus diberikan di akhir kehidupan ini [Roma 14:12, 2 Korintus 5:9-10]. Sejak awal penciptaan, Adam dan Hawa diberi mandat yang harus ditunaikan, yaitu mengelola dan menaklukkan bumi, tentunya termasuk menaklukkan Lusifer, musuh Allah [Kejadian 1:28]. Sayangnya mereka gagal karena tidak mau membayar harga untuk taat mutlak kepada Allah. Banyak orang percaya berpikir menyimpang, bahwa karya penebusan Tuhan Yesus menghindarkan manusia dari tanggung jawab dan membuat kehidupan serba gratis. Sebetulnya justru anugerah membawa manusia pada tanggung jawab yang berat [Lukas 12:48]. Anugerah memberikan hak istimewa supaya orang percaya bisa dibentuk dan hidup sebagai anak-anak Allah yang harus sempurna seperti Bapa [Yohanes 1:12; Matius 5:48]. Rasul Paulus menegaskan bahwa orang percaya berhutang untuk hidup bukan menurut daging, melainkan menurut roh [Roma 8:12]. Hidup menurut roh artinya segala sesuatu yang dilakukan sesuai dengan kehendak Bapa, supaya hidup umat tebusan memberi buah kehidupan [Yohanes 15:16]. Buah kehidupan adalah menjadi pribadi yang berkodrat ilahi seperti yang diinginkan oleh Bapa, hidup berkenan dan menyenangkan hati-Nya. Tuhan sudah memberikan kesempatan kepada masing-masing orang percaya. Anugerah untuk menjadi anak-anak Allah telah disediakan gratis oleh Allah Bapa, tetapi orang percaya harus memberi respon/”membayar harga” untuk bisa mengalami anugerah tersebut dan benar-benar berkeadaan sebagai anak Allah.
Suatu saat saya ingin menengok mama yang tinggalnya cukup jauh dari rumah, yaitu di Perum Graha Mukti. Saya sudah pikirkan untuk ke rumah mama dan bertemu dengan beliau. Maka saya pun mengeluarkan motor dari rumah dan kemudian saya kendarai. Dalam perjalanan saya memikirkan banyak hal yang terlintas di benak saya. Dan lucunya saya tidak ke rumah mama, tetapi justru ke sekolah anak saya yang pada waktu itu sedang libur. Dalam kehidupan, kita seringkali tidak mencapai apa yang menjadi tujuan karena terlalu banyak yang kita pikir dan kehilangan arah. Demikian juga dalam kehidupan kerohanian, kita seringkali, baik melalui berita mimbar atau firman yang kita baca, kita tidak dapat melakukan apa yang Tuhan mau atau ingini. Dalam nats kitab di atas, penulis surat Wahyu mengingatkan supaya kita melakukan firman Tuhan baik yang kita dengar maupun yang kita baca tidak saja karena kedatangan Tuhan Yesus yang kedua kali yang semakin dekat, tetapi juga karena ketaatan terhadap firman Tuhan merupakan hal yang mutlak yang harus kita lakukan di dalam hidup kita sebagai umat Tuhan. Di dalam Injil Matius 23:1-4, Yesus mengecam para ahli Taurat dan orang Farisi karena mereka tidak melakukan firman. Mari kita tidak saja menjadi pendengar firman Tuhan, tetapi juga bersedia melakukannya dalam kehidupan kita. Ingatlah kitab suci berkata: “Berbahagialah orang yang mendengar dan melakukan firman Tuhan.”
Yakobus 1:22 menyatakan “Tetapi hendaklah kamu menjadi pelaku firman dan bukan hanya pendengar saja; sebab jika tidak demikian kamu menipu diri sendiri.” Ayat ini tidak bermaksud mengadakan pembedaan antara pelaku dan pendengar firman. Kata-kata ‘...dan bukan pendengar saja’ menunjukkan bahwa siapa pun orang Kristen tidak hanya berhenti pada mendengar firman saja. Memang mendengar firman adalah awal yang benar, tetapi belum selesai sebab kalau hanya sampai di situ saja, firman Tuhan berkata ‘..kamu menipu diri sendiri’. Kepala manggut-manggut, wajah berseri, mulut tertawa, mata terbelalak lebar ketika mendengarkan firman sebagai bentuk umpan balik. Pertanda bahwa firman telah ditangkap dengan baik, pengkhotbah pun lega. Tetapi ketika keluar dari kebaktian semua yang didengarnya dengan cepat terlupakan, dan kembali hidup dalam kebiasaan lama yang tidak sesuai firman yang didengarnya, itulah menipu diri sendiri. Tetapi ada juga ekstrim kedua: ketika jam ibadah, kagak pernah dengerin firman. Kalaupun duduk maka melakukan aktivitas lain. Ada saja yang dilakukan. Tetapi kalau soal angkat-angkat kursi, angkut-angkut barang, persiapan bagian perlengkapan dalam acara program gereja jangan tanya tiada duanya, rajin luar biasa. Tipe seperti ini sangat disukai banyak orang karena semua dikerjakan dengan baik. Banyak acara kelar dan setiap kali ada acara gereja selalu saja ada tipe seperti ini. Salahkah? Tidak! Tetapi tidak cukup berhenti sampai di situ saja. Lalu bagaimana? Tentu saja pada saat-saat tertentu kita harus bisa bersikap seperti Maria, yaitu duduk tenang mendengar firman Tuhan, tetapi di lain waktu kita harus bisa bersikap seperti Marta. Artinya kita juga memiliki semangat mengerjakan banyak hal, namun demikian harus ada urutan yang tepat. Yang pertama, kita harus bersedia bersikap seperti Maria, yaitu mendengar firman Tuhan. Dan kedua, kita harus berusaha keras untuk melakukan apa yang kita dengar, yaitu firman Tuhan itu. Dengan demikian hal ini bukan satu pilihan di antara dua, tetapi dua-duanya harus kita lakukan, yaitu mendengar firman dan kemudian kita melakukannya.
BARCODE BBM CHANNELS
RENUNGAN HARIAN
Burung Gagak Memberi Makan
10 Maret '17
Membayar Harga Menjadi Anak Allah
02 Maret '17
Mau dikoreksi
12 Maret '17
Copyright © 2012 All rights reserved. Designed and Developed by GIA Dr. Cipto Semarang