SEPEKAN TERAKHIR
  Sabtu, 21 Januari 2017   -HARI INI-
  Jumat, 20 Januari 2017
  Kamis, 19 Januari 2017
  Rabu, 18 Januari 2017
  Selasa, 17 Januari 2017
  Senin, 16 Januari 2017
  Minggu, 15 Januari 2017
POKOK RENUNGAN
Orang yang selalu bersyukur akan mampu menanggung permasalahan hidupnya.
DITULIS OLEH
Pdt. Andreas P. Chandra
Rohaniwan Pusat
Renungan Lain oleh Penulis:
Home  »  Renungan  »  Bersyukur Dalam Segala Hal
Bersyukur Dalam Segala Hal
Jumat, 15 Maret 2013 | Tema: Umat Yang Memasyurkan Allah
Bersyukur Dalam Segala Hal
I Tesalonika 5:18
Selalu ada alasan untuk mengucap syukur, sekalipun kondisi yang kita hadapi kelihatannya buruk. Chrysostom, seorang yang pernah menjadi Uskup Besar Constantinopel, dibawa ke pembuangan, dianiaya, direndahkan dan mati di tempat yang jauh dari kemewahan kota serta kesenangan dan kemuliaan yang pernah dinikmatinya. Namun demikian ia belajar bersyukur dalam semua keadaan. Semua ini bertolak dari motto hidupnya: Doxa to Theo Panton Heneken yang artinya kemuliaan bagi Allah dalam segala sesuatunya. Ia dapat membuktikan mottonya itu, di mana ia tetap bersyukur dan memuliakan Allah sekalipun menderita.

Marilah kita juga belajar untuk memuji Allah dan bersyukur kepada-Nya dalam segala ...selengkapnya »
Edward VII, raja Inggris, pada suatu sore berjalan jalan bersama istrinya. Tiba tiba istrinya terpeleset dan kakinya terkilir. Istrinya berusaha berjalan tetapi tidak bisa. Raja Edward pun memberikan bahunya untuk digelayuti istrinya. Dengan sangat berat mereka berjalan hingga tiba di sebuah rumah sederhana. Raja Edward mengetuk pintu rumah itu. ’Siapa disana?’ Datang pertanyaan dari dalam rumah. ’Ini Raja Edward, biarkan saya masuk.’ Orang itu berteriak dari dalam rumah, ’Cukup kelakarmu itu. Pergilah!’ Raja Edward mencoba mengetuk pintu untuk kedua kalinya. Lagi-lagi terdengar suara cukup keras, ’Apa yang kamu inginkan?’ Raja Edward menjawab, ’Saya Raja Edward, biarkan saya masuk.’ Dengan marah orang tersebut berteriak ini dan itu serta membuka pintu sedikit hanya untuk melihat apakah orang yang di luar itu benar-benar raja atau bukan. Dengan meminta maaf orang itu mempersilahkan raja dan istrinya masuk rumahnya. Dia pun mencari bantuan untuk menolong sang ratu. Sebagaimana raja Edward yang mengetuk pintu rumah itu, Yesus pun selalu mengetuk pintu hati manusia. Tidak hanya sekali dua kali Yesus mengetuk, tetapi berkali-kali. ’Lihat, Aku berdiri di muka pintu dan mengetok; jikalau ada orang yang mendengarkan suara-Ku dan membukakan pintu. Aku akan masuk dan mendapatkannya dan Aku makan bersama-sama dengan dia, dan ia bersama-sama dengan Aku.’ Banyak orang yang berhenti pada titik keraguan apakah Yesus itu Raja atau bukan. Sayang mereka tidak mau membuka pintu hatinya, sehingga Yesus tetap berada di luar. Mungkin Anda adalah orang yang membuka sedikit pintu hati untuk Yesus. Tidak mengapa, tetapi harus dilanjutkan untuk mempersilahkan Yesus masuk di dalam hati Anda. Tidak sedikit juga orang yang mengaku Kristen tetapi membiarkan Yesus tetap berada di luar hidupnya. Yesus tidak dipersilahkan untuk menduduki hatinya. Yesus tidak dipersilahkan untuk menjadi Raja dan bertahta di dalam kehidupannya. Bukalah hatimu bagi Yesus, jalinlah persekutuan dengan-Nya.
Anak-anak tentunya gemar bermain termasuk anak-anak saya. Tidak hanya satu dua alat permainan yang mereka keluarkan, tetapi bisa sampai semua mainan-mainan yang ada keluar dari tempatnya. Semua berhamburan di lantai. Setelah puas bermain, seringkali mereka lupa untuk membereskannya. Mainan ditinggal begitu saja berserakan. Nampak kacau jadinya. Biasanya kemudian saya mengingatkan mereka untuk segera membereskannya. Sebelum Allah menjadikan segala sesuatu, bumi masih belum berbentuk dan kosong. Tidak teratur dan kacau. Kemudian Allah menciptakan semuanya. Mulai dari hari pertama sampai hari keenam, Allah menciptakan bumi dan segala isinya. Dan Alkitab berkata, “Maka Allah melihat segala yang dijadikan-Nya itu, sungguh amat baik.” Allah mampu mengubah dan menjadikan sesuatu yang kacau dan tidak teratur tidak hanya menjadi baik, tetapi lebih dari itu ‘sungguh amat baik’. Memasuki tahun 2017 ini masih banyak hal yang samar di depan kita, masih tanda tanya besar. Kita tidak tahu apa yang akan terjadi. Mungkin masih ada hal-hal yang menggelayuti hati kita karena pergumulan di tahun sebelumnya yang belum tuntas. Keadaan di hadapan kita baik secara iklim usaha, keuangan, kesehatan, dan sebagainya apakah semakin membaik atau sebaliknya menjadi buruk juga tidak bisa kita prediksi. Menghadapi ketidakpastian tersebut, janganlah menjadi kecut dan tawar hati. Menjadi ciut nyali dan selalu kuatir. Percayalah dan percayakan hidup kita kepada Allah. Allah kita berkuasa menjadikan sesuatu yang ‘kacau’ menjadi sungguh amat baik. Mengubah yang buruk menurut pandangan kita menjadi sesuatu yang mendatangkan manfaat dan berkat bagi kita. Oleh sebab itu jangan pesimis tetapi jadilah optimis bukan karena kekuatan kita tetapi karena Allah yang menyertai kita.
Seorang perempuan tengah baya duduk termenung dalam ibadah tutup tahun. Derai air mata membuat sinar lampu hiasan pohon natal semakin menyilaukan matanya. Kesepian mencekam hatinya di tengah-tengah sorak-sorai pujian umat Tuhan. Tahun lalu dia duduk dalam ibadah bersama suaminya di bangku yang sama, dia juga mendengar ucapan selamat Natal dan Tahun Baru dari putra tunggal tercinta yang tinggal nun jauh di sana tetapi sekarang dia sendiri tidak punya apa-apa dan siapa-siapa. Tuhan mengambil mereka dari dirinya. Hanya sebuah pertanyaan yang dia punya, “Mengapa ini semua harus terjadi Tuhan?” Pertanyaan yang sama mungkin saja keluar dari mulut kita. Dalam Alkitab sering pertanyaan serupa itu dilontarkan kepada Tuhan. Dari bangsa Israel yang bersungut-sungut ketika tidak ada makanan dan minuman sampai kepada Paulus yang mempunyai duri dalam daging. Sejarah umat manusia sarat dengan kisah tentang umat Tuhan yang tidak luput dari masalah. Salah satunya adalah kisah Ayub, laki-laki yang taat kepada Tuhan. Ayub bertanya kepada Tuhan mengapa masalah itu menimpa dirinya. Ayub ingin membela diri mengajukan perkaranya kepada Tuhan berkeluh kesah bahwa dia tidak sepatutnya mengalami masalah yang menimpa dirinya [ayat 2-7]. Tuhan seakan diam tidak memberi jawaban yang melegakannya [ayat 8-9]. Para sahabat menyalahkannya dan menganggap dia kena tulah karena berbuat dosa. Namun di tengah-tengah kebimbangan dan keraguannya ada satu pengakuan yang mengandung kepastian bahwa Tuhan tahu yang terbaik bagi dirinya. Jika Tuhan mengujinya, ia akan menjadi seperti emas murni [ayat 10]. Dia punya pengharapan dan keyakinan yang teguh. Kiranya pengharapan dan keyakinan Ayub juga menjadi pengharapan dan keyakinan kita di awal tahun ini. Di tengah-tengah terpaan masalah yang mungkin sempat membuat kita bimbang dan ragu, kita tetap yakin dan percaya bahwa Tuhan tahu jalan hidup yang terbaik bagi kita. Dia tidak akan meninggalkan kita, namun Dia sedang membentuk kita menjadi emas yang semakin murni.
Di dunia ini banyak orang berbicara tentang kebenaran karena menurutnya kebenaran adalah satu-satunya menuju kedamaian dan keseimbangan di tengah masyarakat. Misalnya saja semua kejadian terjadi karena adanya norma-norma yang mengikat bersama. Jika ada yang tidak sesuai dengan norma-norma yang berlaku maka menimbulkan masalah. Yang sesuai dengan norma itulah masyarakat mengatakan sebagai kebenaran. Tetapi persoalanya adalah norma atau ideologi bisa menjadi relatif ketika terlalu banyak kelompok masyarakat. Contohnya, para teroris menganggap bahwa apa yang dipikirkan dan yang dilakukan itu kebenaran sekalipun mengorbankan banyak orang. Sementara di masyarakat luas ada yang menentang para teroris tetapi mungkin juga ada yang sepaham dengan mereka. Itu baru paham soal mau masuk sorga saja berbeda-beda. Tentunya masih banyak hal di masyarakat yang mengandung “kebenaran” relatif. Tetapi bagi kita, orang percaya dalam Kristus Yesus, mempercayai bahwa kebenaran itu datang hanya dari Allah yang di dalam Yesus Kristus saja. 1 Korintus 1:30 mengatakan “Tetapi oleh Dia kamu berada dalam Kristus Yesus, yang oleh Allah telah menjadi hikmat bagi kita, Ia membenarkan dan menguduskan dan menebus kita”. Bahwa Yesus Kristus membenarkan dan menguduskan kita. Membenarkan berarti kita diperdamaikan dengan Allah Bapa, sedangkan menguduskan berarti di dalam hati kita dituntun oleh kuasa kebenaran-Nya untuk terus- menerus melakukan segala sesuatu yang sesuai dengan kehendak Allah. Hal ini akan terjadi ketika seseorang memiliki iman di dalam Kristus Yesus karena kita semua yakin bahwa manusia dibenarkan oleh iman bukan karena berbagai perbuatan yang muncul dari hikmat manusia [band. Roma 3:28]. Saudara kekasih Tuhan, kebenaran itu akan “diinfuskan” ke dalam diri kita sehingga akan mempengaruhi seluruh manusia kita ini, yaitu tubuh, jiwa dan roh. Tubuh kita akan menuju kepada semua perbuatan baik. Jiwa kita yang terdiri dari pikiran dan hasrat akan memikirkan hal-hal yang kudus dan roh kita akan selalu memiliki hati nurani untuk selaras dengan kehendak Tuhan dan menurutinya. Ketika kita beriman di dalam Kristus Yesus yang adalah kebenaran Allah, maka “diinfuskan” kebenaran itu sehingga benar yang dikatakan dalam Wahyu 19:8 bahwa orang beriman dalam Kristus akan mendapat karunia memakai kain lenan halus. Apa itu kain lenan halus? Yaitu perbuatan-perbuatan yang benar. Dengan kata lain orang beriman mendapat karunia perbuatan-perbuatan benar dari Tuhan dan itu merupakan syarat mutlak untuk menyongsong mempelai laki-laki dalam pesta perjamuan kawin Anak Domba. Sehingga di luar Kristus bukanlah kebenaran sejati.
BARCODE BBM CHANNELS
RENUNGAN HARIAN
Berjalan di dalam Terang
07 Januari '17
Sungguh Amat Baik
02 Januari '17
Resolusi Tahun Baru
20 Januari '17
Copyright © 2012 All rights reserved. Designed and Developed by GIA Dr. Cipto Semarang