SEPEKAN TERAKHIR
  Jumat, 31 Oktober 2014   -HARI INI-
  Kamis, 30 Oktober 2014
  Rabu, 29 Oktober 2014
  Selasa, 28 Oktober 2014
  Senin, 27 Oktober 2014
  Minggu, 26 Oktober 2014
  Sabtu, 25 Oktober 2014
POKOK RENUNGAN
Orang yang selalu bersyukur akan mampu menanggung permasalahan hidupnya.
DITULIS OLEH
Pdt. Andreas P. Chandra
Rohaniwan Pusat
Renungan Lain oleh Penulis:
Home  »  Renungan  »  Bersyukur Dalam Segala Hal
Bersyukur Dalam Segala Hal
Jumat, 15 Maret 2013 | Tema: Umat Yang Memasyurkan Allah
Bersyukur Dalam Segala Hal
I Tesalonika 5:18
Selalu ada alasan untuk mengucap syukur, sekalipun kondisi yang kita hadapi kelihatannya buruk. Chrysostom, seorang yang pernah menjadi Uskup Besar Constantinopel, dibawa ke pembuangan, dianiaya, direndahkan dan mati di tempat yang jauh dari kemewahan kota serta kesenangan dan kemuliaan yang pernah dinikmatinya. Namun demikian ia belajar bersyukur dalam semua keadaan. Semua ini bertolak dari motto hidupnya: “Doxa to Theo Panton Heneken” yang artinya kemuliaan bagi Allah dalam segala sesuatunya. Ia dapat membuktikan mottonya itu, di mana ia tetap bersyukur dan memuliakan Allah sekalipun menderita.

Marilah kita juga belajar untuk memuji Allah dan bersyukur kepada-Nya dalam segala sesuatu yang terjadi pada diri kita atas ijin-Nya. Kita tidak hanya bersyukur untuk hal-hal yang baik saja, tetapi juga untuk kejadian-kejadian yang menyesakkan hati kita. Kita mungkin tidak tahu apa maksud Allah ketika Ia mengijinkan semua itu terjadi, namun kita harus tetap percaya bahwa Ia adalah Allah yang Mahabaik. Kita tahu kisah Ayub yang mengalami pencobaan sedemikian beratnya, namun Ia belajar bersyukur dan tetap setia kepada Allah. Dan karena ia setia, maka Allah memulihkan keadaannya dan memberkati hidupnya.

Berdasarkan pengajaran Paulus kepada jemaat Tesalonika untuk selalu mengucap syukur dalam segala hal, mari apapun yang Anda alami, bersyukurlah kepada Allah dan tetaplah memuji Dia, sepe...selengkapnya »
Kisah Para Rasul 9:36-42 Di Yope ada seorang murid perempuan bernama Tabita dalam bahasa Yunani Dorkas. Perempuan itu banyak sekali berbuat baik dan memberi sedekah. (Ayat 36b) Tabita adalah seorang biasa. Alkitab menyebut identitasnya hanya sebagai seorang murid perempuan. Dia bukan seorang nyonya atau istri dari seorang terkemuka. Dia juga bukan seorang pengusaha atau seorang kaya. Kemungkinan dia seorang single atau seorang janda. Mungkin dia seorang yang hidup secara sederhana. Tapi ada sesuatu yang istimewa di dalam dirinya. Dia adalah seorang murid yang benar-benar melakukan ajaran Tuhan Yesus. Firman Tuhan berkata: ”Ibadah yang murni dan yang tak bercacat di hadapan Allah, Bapa kita, ialah mengunjungi yatim piatu dan janda-janda dalam kesusahan mereka, dan menjaga supaya dirinya sendiri tidak dicemarkan oleh dunia.” (Yakobus 1:27) Tabita menerapkan gambaran tentang seorang perempuan yang penuh hikmat: ”Tangannya ditaruhnya pada jentera, jari-jarinya memegang pemintal. Ia memberikan tangannya kepada yang tertindas, mengulurkan tangannya kepada yang miskin”. (Amsal 31:19-20) Tabita banyak melakukan kemurahan hati kepada orang-orang yang miskin, terutama janda-janda yang tidak mampu. Ia membuatkan pakaian bagi mereka. Dia menjahit dengan tangannya sendiri pakaian-pakaian itu, lalu dia berikan kepada yang membutuhkan. Hidupnya sangat berarti bagi banyak orang, sehingga pada waktu ia meninggal banyak orang merasa kehilangan dan menangisi kepergiannya. Hidup Tabita berarti bukan hanya bagi orang-orang miskin yang pernah dibantunya, tetapi juga berarti bagi Tuhan. Firman Tuhan berkata bahwa apa yang kita perbuat bagi orang-orang kecil kita telah melakukannya untuk Tuhan (Matius 25:40). Itulah sebabnya ketika Tabita meninggal, Tuhan berkenan membangkitkan dia dari kematian. Tuhan mendengar permohonan orang-orang yang mengasihinya. Apakah hidup kita juga berarti bagi banyak orang? Apakah ketika kita meninggal nanti banyak orang akan merasa kehilangan? Atau sebaliknyakah yang terjadi? Hidup kita menyusahkan banyak orang. Ketika kita meninggal, banyak orang merasa lega karena sudah berkurang satu orang yang sering membuat masalah. Termasuk yang manakah hidup anda?
Di sebuah kota yang bernama Yope, hiduplah seorang perempuan yang sangat baik sekali hatinya. Namanya Tabita. Ia banyak sekali berbuat baik dan memberi sedekah, sehingga apa yang dilakukannya sangat memberkati orang-orang yang ada di sekelilingnya. Karena kebaikannya, Tabita sangat dikenal di masyarakat. Namun demikian tahukan kita siapa Tabita? Alkitab memang tidak memberikan keterangan dengan jelas, namun para ahli dalam tafsir Alkitab yang dapat dipertanggungjawabkan menerangkan bahwa Tabita adalah seorang yang sederhana. Tabita bukanlah wanita yang kaya raya sehingga kita cukup asing jika ia menjadi salah satu wanita dermawan dalam rentetan daftar tokoh-tokoh Alkitab. Tabita dikenal masyarakat karena kebaikannya. Ia tidak hanya baik sekali hatinya, tapi juga sering memberi sedekah. Dipenuhi kebajikan dan kemurahan adalah kerinduan kita bersama sebagai murid-murid Tuhan Yesus, karena demikianlah teladan yang diberikan Tuhan Yesus. Setiap murid dipanggil untuk menyatakan kebajikan dan kemurahan Tuhan, apapun keadaan kita. Seperti Tabita dengan segala kesederhanaannya, ia terlibat dalam pelayanan kasih yang sangat memberkati banyak orang. Demikian kita. Hendaklah kita menyatakan kebajikan dan kemurahan Allah melalui keterlibatan kita dalam melayani orang-orang di sekitar kita. Bukan pada saat kita sudah hidup dalam kelimpahan berkat, namun kita dapat melakukannya dari saat ini sesuai dengan talenta yang Tuhan berikan kepada kita. Kita dapat melayani dengan: menasehati, mengunjungi, mengasihi, mendoakan, memotivasi, meneguhkan, menguatkan, dan masih banyak hal lagi yang dapat kita lakukan dalam pelayanan kita. Menyatakan kebajikan dan kemurahan Allah adalah panggilan pelayanan kita. Oleh karena itu, belajar dari Tabita, kita harus memulainya sejak saat kita membaca renungan ini. Menjadi murah hati dan memberkati bukan kita awali setelah hidup kita berkelimpahan, namun dalam kederhanaan.
Beberapa waktu lalu saya membaca sebuah artikel yang menarik tentang keturunan orang-orang yang hidup benar dan orang-orang yang jahat. Di situ dipaparkan sebuah data akurat bahwa orang baik, keturunannya akan juga hidup menjadi orang yang baik. Dikatakan dalam artikel itu, keturunannya ada yang menjadi pendeta, pengusaha, hakim, dosen, dll. Namun sebaliknya, diceritakan juga bahwa keturunan dari orang yang jahat, ada yang jadi pembunuh, koruptor, buronan, dll. Terbuktilah sebuah pepatah, “Like father like son.” Artinya, anak akan menjadi seperti apa yang dilihat ataupun didengar dari ayahnya. Jika ayahnya mengajarkan yang baik, maka anaknya akan menjadi baik. Dan berlaku juga sebaliknya. Kita tentu juga sering mendengar beberapa slogan seperti , “Rajin pangkal pandai” dan “Hemat pangkal kaya”. Kedua slogan itu dengan cerita sebelumnya memiliki persamaan, yaitu adanya sebuah konsekwensi dari sebuah aksi. Sebuah aksi yang mengandung pengorbanan akan menghasilkan upah, yaitu kemuliaan. Dan hal itu juga berlaku bagi orang yang mau hidup berkenan di hadapan Tuhan. Nats yang kita baca hari ini mengandung sebuah janji bagi orang yang hidupnya berkenan kepada Tuhan. Bahkan di ayat yang lain, Mazmur 112:2 misalnya, jika kita hidup benar, maka hidup keturunan kita pun dijamin Tuhan. Mereka tidak akan meminta-minta, mereka akan diberkati, mereka akan mewarisi negeri, dll. Namun dengan syarat, jika kita sebagai orang tua, hidup benar di hadapan Tuhan. Untuk hidup benar memang tidak mudah. Ada banyak pengorbanan yang harus kita tanggung, ada banyak perjuangan yang harus kita tempuh. Kita harus beda dengan sikap orang pada umumnya tentang kebiasaan dosa yang sudah menjadi wajar. Misalnya perselingkuhan, perceraian, kebohongan demi keuntungan dalam usaha, politik uang, mencontek, dll. Kita harus siap untuk dijauhi, dihina, mungkin juga usaha kita mengalami perkembangan yang lambat, atau kita mendapat nilai jelek karena kita mau hidup benar. Ketika sedang dalam keadaan itu, ingatlah janji-janji Tuhan yang lebih indah dan mulia sedang ada dalam perjalanan untuk menghampiri Anda. Jadi berjuanglah demi upah perkenanan Tuhan yang akan Anda terima.
Di sebuah kampung berpenduduk mayoritas pemeluk agama tertentu. Agama mereka hanya sebagai pengenal saja, sedang cara hidup mereka tidak sesuai dengan ajarannya. Ada seorang bapak yang telah menerima injil dan baru satu-satunya orang di kampung itu yang mengenal Kristus. Meskipun begitu para warga masih mengganggapnya sebagai sesepuh atau orang yang dituakan secara adat agama mereka. Dia tidak pernah secara langsung memberitakan Injil melalui mulutnya. Dan yang menarik adalah dia tidak pernah mempermasalahkan ketika di minta untuk memberikan pengajaran agama mayoritas ini menurut ajaran mereka, bukan menurut ajaran yang dianutnya. Kesempatan itu dipergunakan oleh bapak tersebut untuk membawa setiap orang untuk menemukan jawaban dari setiap pergumulan hidup walaupun tanpa menyebut nama Injil Kristus. Maka mulailah banyak orang yang tertarik, sehingga hampir setiap malam beberapa orang kampung berdatangan ke rumahnya untuk menemukan jawaban pergumulan hidup mereka. Dan melalui bapak tersebut Roh Kudus bekerja, dan berdirilah sebuah gereja. Hampir seluruh warga kampung mengenal kristus karena cara hidupnya yang menjadi berkat. Demikian juga jemaat di Tesalonika menjadi kebanggaan tersendiri bagi Rasul Paulus karena cara hidupnya yang menjadi berkat bagai banyak orang (ayat 6). Selain itu jemaat Tesalonika mampu menjadi saksi bagi jemaat yang lainnya karena ketekunannya dalam iman, kasih dan pengharapan (ayat 3). Dan yang lebih membahagiakan Paulus adalah ketika Firman Allah itu dilakukan dan menjadi bagian iman dari hidup orang Tesalonika (ayat 8). Sehingga Injil tersebar ke daerah lain. Semua ini terjadi karena Jemaat Tesalonika juga merupakan umat pilihan Allah yang dipilih untuk menjadi berkat bagi orang lain (Ayat 4). Kita semua juga merupakan jemaat-jemaat dari salah satu gereja yang Tuhan telah tetapkan. Hendaklah kita dapat dikenal melalui cara hidup yang selalu mencerminkan Injil sebagai kabar baik bagi semua orang. Karena kita telah dipilih Allah untuk menjadi pembawa kabar baik itu kepada semua orang, dan Roh Kudus sebagai pembimbing kita (ayat 4, 6). Posisi kita sama seperti jemaat Tesalonika, mereka dipilih dan dalam penyertaan Roh Kudus.
BARCODE BBM CHANNELS
RENUNGAN HARIAN
Mengapa Kita Ada Di Sini?
26 Oktober '14
Hidup Diwarnai Kebaikan
08 Oktober '14
Saling Mencukupi
09 Oktober '14
Copyright © 2012 All rights reserved. Designed and Developed by GIA Dr. Cipto Semarang