SEPEKAN TERAKHIR
  Sabtu, 23 September 2017   -HARI INI-
  Jumat, 22 September 2017
  Kamis, 21 September 2017
  Rabu, 20 September 2017
  Selasa, 19 September 2017
  Senin, 18 September 2017
  Minggu, 17 September 2017
POKOK RENUNGAN
Orang yang selalu bersyukur akan mampu menanggung permasalahan hidupnya.
DITULIS OLEH
Pdt. Andreas P. Chandra
Rohaniwan Pusat
Renungan Lain oleh Penulis:
Home  »  Renungan  »  Bersyukur Dalam Segala Hal
Bersyukur Dalam Segala Hal
Jumat, 15 Maret 2013 | Tema: Umat Yang Memasyurkan Allah
Bersyukur Dalam Segala Hal
I Tesalonika 5:18
Selalu ada alasan untuk mengucap syukur, sekalipun kondisi yang kita hadapi kelihatannya buruk. Chrysostom, seorang yang pernah menjadi Uskup Besar Constantinopel, dibawa ke pembuangan, dianiaya, direndahkan dan mati di tempat yang jauh dari kemewahan kota serta kesenangan dan kemuliaan yang pernah dinikmatinya. Namun demikian ia belajar bersyukur dalam semua keadaan. Semua ini bertolak dari motto hidupnya: “Doxa to Theo Panton Heneken” yang artinya kemuliaan bagi Allah dalam segala sesuatunya. Ia dapat membuktikan mottonya itu, di mana ia tetap bersyukur dan memuliakan Allah sekalipun menderita.

Marilah kita juga belajar untuk memuji Allah dan bersyukur kepada-Nya dalam segala sesuatu yang terjadi pada diri kita atas ijin-Nya. Kita tidak hanya bersyukur untuk hal-hal yang baik saja, tetapi juga untuk kejadian-kejadian yang menyesakkan hati kita. Kita mungkin tidak tahu apa maksud Allah ketika Ia mengijinkan semua itu terjadi, namun kita harus tetap percaya bahwa Ia adalah Allah yang Mahabaik. Kita tahu kisah Ayub yang mengalami pencobaan sedemikian beratnya, namun Ia belajar bersyukur dan tetap setia kepada Allah. Dan karena ia setia, maka Allah memulihkan keadaannya ...selengkapnya »
Ketika Paulus dapat melihat lagi setelah tiga hari mengalami kebutaan, ia juga menerima pencerahan rohani tentang pribadi Yesus Kristus. Seluruh hidup dan pelayanannya sejak saat itu hanya dikuasai oleh Tuhan Yesus Kristus. Seperti yang nyata dalam pernyataannya dalam 1 Korintus 2:2, “Sebab aku telah memutuskan untuk tidak mengetahui apa-apa di antara kamu selain Yesus Kristus, yaitu Dia yang disalibkan.“ Paulus tidak pernah lagi membiarkan apapun menarik dan memikat perhatian, pikiran dan jiwanya selain diri Yesus Kristus. Kita semestinya belajar seperti Rasul Paulus yang bersedia memelihara karakter yang kuat dalam hidupnya bahkan sampai pada tingkat yang telah disingkapkan dalam penglihatan, pengalamannya akan Yesus Kristus. Karakteristik kekal dari orang beriman adalah kemampuannya untuk memahami dengan benar makna Tuhan Yesus Kristus dalam hidupnya dan kemampuannya untuk menjabarkan tujuan Allah kepada sesamanya. Semangat juang yang menguasai hidupnya adalah Yesus Kristus. Setiap kali kita melihat sifat ini dalam hidup seseorang, kita dapat merasakan bahwa ia adalah orang yang sungguh berkenan di hati Allah [lih. Kisah Para Rasul 13:22]. Jangan pernah membiarkan apapun mengalihkan perhatian kita terhadap Tuhan Yesus Kristus. Itu adalah ujian sejati untuk kehidupan rohani kita. Kita belum dapat disebut rohani ketika masih ada hal-hal lain yang lebih menarik dan menguasai perhatian kita ketimbang Yesus Kristus.
Seorang pemuda yang sedang menyelesaikan pendidikan sarjana tentu berharap mendapatkan pekerjaan yang sesuai dengan bidang kemampuan yang dimilikinya. Ia terus berusaha mencari dan mendapatkan pekerjaan. Ia akan mencari peluang untuk bisa mendapatkan pekerjaan yang tepat bagi dirinya. Cita-cita semasa belajar seolah-olah akan segera didapatkan. Mimpi-mimpi ketika menjalani perkuliahan dalam angan sudah terbayang nyata. Ia memiliki harapan yang besar untuk masa depan yang gemilang. Harapan itu pasti sesuatu yang indah dan yang baik karena ada keyakinan pasti bisa meraihnya. Kitab Amsal 23:18 memberitahu bahwa masa depan dan harapan yang baik itu tetap ada. Meskipun harus dengan perjuangan yang berat. Kadang masa depan yang diimpikan dan harapan yang indah selalu dibayangkan, namun untuk menggapainya membutuhkan kerja keras dan usaha, tentunya juga berdoa dan berserah diri kepada Tuhan. Kata demi kata dalam ayat ini mengandung makna yang dalam jikalau setiap kita merenungkan lebih dalam. Meskipun kadang kita kehilangan harapan, seakan-akan hidupnya tidak ada yang bisa diharapkan, namun Tuhan menyediakan harapan yang tidak akan hilang bagi orang yang percaya. Memiliki masa depan dan harapan bukan hanya berlaku bagi generasi muda saat ini, melainkan bagi semua orang yang percaya bahwa Tuhan telah memberikan hari depan yang penuh dengan harapan bagi kita yang mempercayakan diri sepenuhnya kepada Tuhan. Bukankah Ia adalah Allah yang sama dari dulu, sekarang dan selamanya. Jika Allah memberikan masa depan dan hikmat yang luar biasa bagi Salomo, raja Israel, maka Ia adalah Allah yang sama yang akan memberikan hari depan dan harapan yang baik bagi kehidupan kita. Sebagai manusia ciptaan Tuhan yang mulia, kita harus berpegang teguh kepada janji dan kuasa Tuhan yang mampu mengubahkan sesuatu yang tidak baik menjadi sangat baik. Ia sanggup mengubahkan kelemahan kita menjadi kekuatan dalam hidup kita. Bahkan Ia sanggup mengubahkan sesuatu yang mustahil menjadi sangat mungkin bagi masa depan kita. Jadilah manusia yang memiliki pengharapan yang penuh kepada Tuhan, Ia pasti akan melakukan yang terbaik.
TUGAS GENERASI Mazmur 78:6-7 supaya dikenal oleh angkatan yang kemudian, supaya anak-anak, yang akan lahir kelak, bangun dan menceritakannya kepada anak-anak mereka, supaya mereka menaruh kepercayaan kepada Allah dan tidak melupakan perbuatan-perbuatan Allah, tetapi memegang perintah-perintah-Nya; Di medsos sering ada tulisan yang mengatakan bahwa kita yang lahir di tahun 1960-70-80an, adalah generasi yang layak disebut generasi paling beruntung. Karena kitalah generasi yg mengalami loncatan teknologi yang begitu mengejutkan di abad ini, dengan kondisi usia prima. Kitalah generasi dengan masa kecil bertubuh lebih sehat dari anak masa kini, karena lompat tali, loncat tinggi, petak umpet, gobak sodor, main kelereng, karetan adalah permainan yang tiap hari akrab dengan kita. Sekaligus saat ini mata dan jari kita tetap lincah memainkan berbagai game di gadget. Kitalah generasi terakhir yang pernah menikmati lancarnya jalan raya tanpa macet dimana-mana walaupun jalan belum diaspal. Juga bersepeda onthel / motor menikmati segarnya angin jalan raya tanpa helm di kepala. Kitalah generasi terakhir yang pernah menikmati jalan kaki berkilo meter tanpa perlu berpikir ada penculik yg membayangi kita. Kitalah generasi terakhir yang pernah begitu mengharapkan datangnya Pak Pos menyampaikan surat dari sahabat dan kekasih, namun dilain sisi kita juga bisa menikmati email bahkan membuat blog pribadi kita. Sebenarnya ada yang lebih lagi. Kita yang lahir di tahun-tahun 50-80an adalah generasi yang sangat beruntung secara rohani, karena kita mengalami masa-masa kebangunan rohani. Kita sempat menikmati KKR-KKR yang memberikan semangat rohani. Ada banyak bermunculan persekutuan-persekutuan doa yang membawa semangat pembaharuan bagi gereja-gereja yang saat itu mengalami kesuaman. Sebagian dari kita yang pernah menjadi pelajar atau mahasiswa pasti pernah diajak untuk bergabung dalam persekutuan doa di sekolah-sekolah atau kampus-kampus. Kita juga sempat menikmati kegerakan pujian dan penyembahan, dengan munculnya lagu-lagu pujian baru yang membawa semangat baru pula. Ada banyak orang yang mengalami pertobatan dan pembahatuan iman melalui kegerakan-kegerakan rohani itu. Dan hasilnya adalah orang-orang Kristen generasi sekarang ini. Pernahkah kita bertanya: Lalu apa? Apakah maksud Tuhan untuk generasi kita ini? Tuhan punya maksud untuk generasi kita, yaitu agar kita menjadi generasi yang mengenal Dia dengan benar. Agar kita mengenal Dia sebagai Allah yang dahsyat dan penuh kasih karunia. Namun bukan hanya sampai di situ saja. Kita punya tugas generasi, yaitu untuk menyampaikan pengenalan akan Allah itu kepada generasi selanjutnya. Agar generasi di bawah kita nantinya juga percaya kepada Allah dan mentaati perintah-perintah-Nya. Pdt. Goenawan Susanto
Seseorang yang berulangkali keluar masuk penjara disebut seorang residivis. Sekali melakukan kejahatan, dia ditangkap dan dipenjarakan setelah dibebaskan ternyata dia mengulangi perbuatan jahatnya dan dipenjarakan lagi. Terus berulang dan berulang seharusnya orang tersebut benar-benar memperbaharui hidupnya. Namun banyak yang menggunakan kebebasannya untuk berbuat jahat lagi. Akhirnya kondisinya semakin buruk dan semakin buruk. Hidup yang sudah dibebaskan dari terali besi penjara seharusnya diisi dengan hal-hal yang baik dan benar. Tidak sedikit orang jahat yang dipenjarakan setelah bebas dari penjara bukannya bertobat dan menyesali perbuatannya tapi semakin beringas dan brutal. Dalam Matius 12:42-45 Tuhan Yesus mengatakan bahwa apabila seseorang telah dibebaskan/dimerdekakan dari roh jahat, ia harus mengisi hidupnya dengan hal-hal yang baik sesuai dengan kebenaran Firman Allah. Apabila tidak, orang tersebut ibarat rumah yang bersih, rapi, teratur tapi kosong. Roh jahat yang sudah keluar ketika melihat rumah yang kosong, dia akan mengajak tujuh roh lain yang lebih jahat masuk dan diam di dalam rumah kosong tersebut. Akibatnya keadaan orang yang sudah dimerdekakan itu menjadi lebih buruk dari keadaannya semula. Saudara-saudara yang kekasih, bukankah Tuhan Yesus sudah melepaskan, membebaskan dan memerdekakan kita dari belenggu ikatan dosa dan kejahatan? Janganlah menjadi seorang residivis yang berulangkali kembali pada cengkeraman Iblis dengan menggunakan kebebasan/kemerdekaan kita untuk berbuat dosa. Mari dalam keseharian, kita isi hidup yang merdeka ini untuk melayani berdasarkan kasih.
BARCODE BBM CHANNELS
RENUNGAN HARIAN
Melakukan Firman-Nya
07 September '17
Kumulai Dari Diri Sendiri
31 Agustus '17
Tugas Generasi
10 September '17
Copyright © 2012 All rights reserved. Designed and Developed by GIA Dr. Cipto Semarang