SEPEKAN TERAKHIR
  Kamis, 07 Mei 2015   -HARI INI-
  Rabu, 06 Mei 2015
  Selasa, 05 Mei 2015
  Senin, 04 Mei 2015
  Minggu, 03 Mei 2015
  Sabtu, 02 Mei 2015
  Jumat, 01 Mei 2015
POKOK RENUNGAN
Orang yang selalu bersyukur akan mampu menanggung permasalahan hidupnya.
DITULIS OLEH
Pdt. Andreas P. Chandra
Rohaniwan Pusat
Renungan Lain oleh Penulis:
Home  »  Renungan  »  Bersyukur Dalam Segala Hal
Bersyukur Dalam Segala Hal
Jumat, 15 Maret 2013 | Tema: Umat Yang Memasyurkan Allah
Bersyukur Dalam Segala Hal
I Tesalonika 5:18
Selalu ada alasan untuk mengucap syukur, sekalipun kondisi yang kita hadapi kelihatannya buruk. Chrysostom, seorang yang pernah menjadi Uskup Besar Constantinopel, dibawa ke pembuangan, dianiaya, direndahkan dan mati di tempat yang jauh dari kemewahan kota serta kesenangan dan kemuliaan yang pernah dinikmatinya. Namun demikian ia belajar bersyukur dalam semua keadaan. Semua ini bertolak dari motto hidupnya: “Doxa to Theo Panton Heneken” yang artinya kemuliaan bagi Allah dalam segala sesuatunya. Ia dapat membuktikan mottonya itu, di mana ia tetap bersyukur dan memuliakan Allah sekalipun menderita.

Marilah kita juga belajar untuk memuji Allah dan bersyukur kepada-Nya dalam segala sesuatu yang terjadi pada diri kita atas ijin-Nya. Kita tidak hanya bersyukur untuk hal-hal yang baik saja, tetapi juga untuk kejadian-kejadian yang menyesakkan hati kita. Kita mungkin tidak tahu apa maksud Allah ketika Ia mengijinkan semua itu terjadi, namun kita harus tetap percaya bahwa Ia adalah Allah yang Mahabaik. Kita tahu kisah Ayub yang mengalami pencobaan sedemikian beratnya, namun Ia belajar bersyukur dan tetap setia kepada Allah. Dan karena ia setia, maka Allah memulihkan keadaannya dan memberkati hidupnya.

Berdasarkan pengajaran Paulus kepada jemaat Tesalonika untuk selalu mengucap syukur dalam segala hal, mari apapun yang Anda alami, bersyukurlah kepada Allah dan tetaplah memuji Dia, sepe...selengkapnya »
Pernahkah kita melihat orang-orang di sekitar kita melakukan hal-hal negatif yang tidak kita senangi, sehingga tindakan mereka dapat membuat kita marah, sedih, atau mungkin berduka? Mungkin itu dilakukan orang-orang yang kita kasihi, misalnya; istri, suami, orangtua, anak-anak, cucu, dll. Atau mungkin hal itu dilakukan oleh tetangga kanan kiri kita, bahkan mungkin orang-orang yang kita jumpai setiap hari dalam segala aktivitas dan pelayanan kita. Mengapa kerap kali hati kita tidak berkenan jika melihat orang-orang yang kita kasihi melakukan tindakan yang negatif? Sesungguhnya kesadaran itu telah muncul dengan sendirinya ketika hidup kita diperbaharui oleh kebenaran Firman Tuhan. Kebenaran Firman yang adalah sumber terang itulah yang kemudian menuntun kita dalam terang sehingga kita dipimpin untuk selalu hidup dalam terang Allah. Ketika terang Allah itu telah ada dalam hati kita, sesungguhnya kita akan mengetahui semua hal yang berkenan di hati Tuhan dan yang tidak. Kita menjadi cermin di mana kita bisa turut merasakan apa yang dirasakan oleh Tuhan. Jika kita sedih melihat kejahatan dan ketidakadilan, maka Tuhan lebih sedih melihatnya. Ketika kita menangis melihat orang-orang yang kita kasihi jatuh dalam dosa, sesungguhnya Tuhan juga sedang menangis melihat orang-orang yang telah ditebus-Nya kembali jatuh dalam dosa. Apa yang kita rasakan sesungguhnya mewakili apa yang Tuhan rasakan. Kita dapat merasakan kasih Allah yang demikian besar karena kasih Allah telah menerangi kita. Ketika Nehemia mendengar keadaan orang-orang Israel yang terluput dari pembuangan, maka Nehemia terduduk menangis dan berkabung selama beberapa hari. Nehemia berpuasa dan berdoa kehadirat Allah semesta langit selama beberapa hari [ayat 4]. Tuhan memakai Nehemia bak sebuah cermin yang dapat melihat sekelilingnya. Ia sangat sedih melihat keterpurukan orang Israel yang tertinggal di Yerusalem [ayat 3]. Sesungguhnya apa yang kita rasakan juga dirasakan oleh Tuhan. Aku adalah cermin bagi diriku di hati Tuhan. Jika kita sedih melihat kejahatan dan ketidakadilan, jangan sampai kita malah jatuh di dalamnya. Berkenanlah di hati Tuhan seperti kita melihat orang-orang di sekitar kita yang berkenan di hati kita.
Ketika kami masih kecil, saya dan adik, dibelikan mainan kapal-kapalan yang bisa berjalan dan berbunyi ketika diletakkan di atas air. Agar bisa berjalan dan berbunyi, kapal-kapalan itu di dalamnya harus diberi lampu minyak yang menyala. Yang menarik bagi saya adalah pesan ayah untuk menjaga kapal-kapalan agar tidak cepat rusak, tidak mudah tenggelam, dan bunyi kas kapal-kapalan itu tetap ada. Untuk itu kami diingatkan agar tidak dimuatinya secara berlebihan dan tidak boleh mengangkatnya dari air dengan sembarangan selama api lampu itu belum mati atau dimatikan. Kapal siapakah yang lebih awet hidup? Kepunyaan adik atau saya? Pastinya kepunyaan saya. Karena kepunyaan adik selalu dimuati barang besar sehingga sering tenggelam dan akhirnya rusak. Lalu seberapa lama kapal-kapalan saya ini bertahan hidup dengan suara yang nyaring itu? Saya selalu ingat pesan ayah untuk menjaganya agar tetap baik. Namun apa yang terjadi, justru orang lain yang merusaknya. Ada tetangga yang tertarik dengan kapal itu sehingga tergoda untuk mengangkatnya tanpa mematikan api lampu dalam kapal itu. Akhirnya dapat ditebak, suara nyaring kapal-kapalan itu mati dan ketika berjalan sering tenggelam. Dari cerita pengalaman di atas kita ingat akan Saul yang dipilih Allah menjadi raja Israel [1 Samuel 9:17]. Saul menjadi raja yang mampu mengalahkan beribu-ribu musuhnya karena ada Roh Allah dalam dirinya. Tetapi kemudian Allah menjauhinya karena ia tidak taat [1 Samuel 13:6-10]. Saul sebenarnya mendengar suara Allah tetapi ia tidak melakukan kehendak Allah karena lebih takut kepada rakyatnya [ayat 20-22]. Sehingga Roh Tuhan undur darinya dan roh jahat selalu mengganggunya [1 Samuel 16:15]. Apa yang dapat kita pelajari melalui contoh peristiwa di atas? Melakukan kehendak Allah dengan sepenuh hati adalah harga mati bagi setiap orang percaya [Keluaran 15:26]. Namun kita juga harus sadar bahwa seringkali pencobaan hidup selalu mengintai kita. Sebagai orang percaya di generasi sekarang hendaklah tetap waspada terhadap tipu daya yang mudah membuat kita jauh dari kehendak Allah. Maka ketaatan dalam melakukan kehendak Allah harus ada dari sekarang juga, agar kita tetap hidup dalam penyertaan Roh Allah. Allah akan membentengi, menyertai, memberi umur panjang, dan bahkan keselamatan jika hati kita tetap melekat sepenuhnya kepada-Nya.
Gadis remaja itu menatap tumpukan kaset yang dikumpulkannya dalam sebuah kardus besar. Itu adalah koleksi yang dibeli dari uang sakunya sejak SD sampai SMA. Kaset-kaset itu telah menemaninya sekian lama sehingga ia hafal sebagian besar lagunya di luar kepala. Beberapa di antaranya bahkan menyimpan kenangan yang sangat mendalam. Tetapi sore itu satu demi satu ia meraih kaset-kasetnya dan mengeluarkannya dari kemasan. Satu per-satu diurainya pita kaset yang biasanya diperlakukan dengan hati-hati. Digapainya gunting dan dikoyaknya pita-pita coklat tua yang berkilau dan panjang bergelombang. Sore itu si gadis remaja memusnahkan koleksinya. Tindakan itu membuatnya menjadi bahan tertawaan sepupunya. Sasaran cibiran paman dan bibinya. Namun ia bersikukuh melanjutkannya sampai semua koleksinya tak bersisa. Mengapa? Berawal dari seorang gadis remaja yang rindu berlaku sesuai kehendak Tuhan, setelah bertahun-tahun melupakan-Nya. Kehausan untuk menaati Tuhan, tanpa bimbingan. Berkeliling dari satu KKR ke KKR lain. Hadir dari satu persekutuan ke persekutuan lain. Diberi asupan pengajaran demi pengajaran yang tak selalu bisa dipertanggungjawabkan. Ujung-ujungnya ia meyakini dan mengikuti ajaran pembicara yang ’sepertinya’ murni dan membawa kepada terobosan iman. Termasuk bakar-membakar semua buku dan kaset non-rohani. Yang menurut si pembicara adalah ’sesat’. Peristiwa itu terjadi tiga puluh tahun yang lalu. Kini trend KKR dengan pembicara-pembicara yang sedang ’naik daun’ memang tak lagi segencar dulu. Ajaran-ajaran yang ’mencengangkan’ tak sebegitu menjamur seperti dulu. Namun bukan berarti para pembicara yang gemar mencari sensasi sudah punah. Dari masa ke masa itu selalu ada. Dan orang-orang yang rindu mengikuti kehendak Tuhan demikian mudahnya mengasup ajaran yang disodorkan tanpa menyaring lagi. Bisa jadi karena tak mengerti mana yang benar. Bisa juga karena terlalu percaya kepada pembicara. Generasi yang rindu melakukan kehendak Tuhan butuh bimbingan dan pendampingan agar tak mudah diombang-ambingkan oleh berbagai pengajaran. Adakah kerinduan di hati kita untuk melakukan kehendak Tuhan? Kenali kebenaran Firman Tuhan. Tanpa dikurangi. Tanpa dilebih-lebihkan. Lakukan tepat seperti yang dikehendaki-Nya. Itulah yang menyenangkan hati Tuhan.
Nuh hidup di tengah-tengah masyarakat yang jahat, rusak di hadapan Allah, dan penuh kekerasan. Dia tidak larut di tengah rusaknya dunia, tetapi hidup benar dan tidak bercela di hadapan Allah. Nuh hidup bergaul dengan Allah dan sangat taat kepada perintah-Nya. Waktu Allah sudah hilang kesabaran-Nya melihat ulah umat manusia dan akan memusnahkan mereka, Nuh beserta keluarga diselamatkan. Nuh diperintah untuk membuat kapal dengan ukuran panjang 133 m, lebar 22 m, dan tinggi 13 m. Kapal sangat besar yang dikerjakan oleh Nuh dan anak-anaknya dengan peralatan sangat sederhana. Mereka membuat kapal dengan bersusah payah dalam jangka waktu puluhan tahun di tengah cemooh dan olok-olok masyarakat. Nuh tetap setia dan percaya kepada janji Allah, walaupun harus mengalami kesulitan. Hal itu yang menyebabkan Nuh disukai Allah [Kejadian 6]. Seringkali orang percaya beranggapan sudah menyenangkan hati Tuhan apabila sangat sibuk dengan pelayanan, memberi persembahan dalam jumlah besar walau tidak mempunyai waktu pribadi untuk Tuhan. Pandangan yang sangat keliru, karena Tuhan menyukai kasih setia daripada korban sembelihan. Menyukai pengenalan akan Allah lebih dari korban bakaran. Pengenalan akan Allah melalui kasih-Nya, kesetiaan-Nya, perintah-Nya, janji-Nya yang benar-benar kita pahami dan berdampak pada kehidupan sehari-hari. Kita bersyukur apabila kita mempunyai waktu untuk melayani pekerjaan-Nya, bisa memberi persembahan yang besar kepada-Nya. Tetapi akan lebih baik lagi jika kita taat akan perintah-Nya walaupun tidak mudah, berbagi kasih Kristus pada semua orang, setia kepada-Nya meskipun dalam penderitaan, memberitakan kabar keselamatan melalui hidup dan perkataan kita. Maukah kita disukai oleh Allah? Hiduplah bergaul dengan Allah.
BARCODE BBM CHANNELS
RENUNGAN HARIAN
Keluar Dari Zona Nyaman
16 April '15
Hati Suci Berkenan Di Hadapan Allah
08 April '15
Kristen Emas-Perak Atau Kristen Kayu-Tanah
28 April '15
Copyright © 2012 All rights reserved. Designed and Developed by GIA Dr. Cipto Semarang