SEPEKAN TERAKHIR
  Senin, 02 Maret 2015   -HARI INI-
  Minggu, 01 Maret 2015
  Sabtu, 28 Februari 2015
  Jumat, 27 Februari 2015
  Kamis, 26 Februari 2015
  Rabu, 25 Februari 2015
  Selasa, 24 Februari 2015
POKOK RENUNGAN
Orang yang selalu bersyukur akan mampu menanggung permasalahan hidupnya.
DITULIS OLEH
Pdt. Andreas P. Chandra
Rohaniwan Pusat
Renungan Lain oleh Penulis:
Home  »  Renungan  »  Bersyukur Dalam Segala Hal
Bersyukur Dalam Segala Hal
Jumat, 15 Maret 2013 | Tema: Umat Yang Memasyurkan Allah
Bersyukur Dalam Segala Hal
I Tesalonika 5:18
Selalu ada alasan untuk mengucap syukur, sekalipun kondisi yang kita hadapi kelihatannya buruk. Chrysostom, seorang yang pernah menjadi Uskup Besar Constantinopel, dibawa ke pembuangan, dianiaya, direndahkan dan mati di tempat yang jauh dari kemewahan kota serta kesenangan dan kemuliaan yang pernah dinikmatinya. Namun demikian ia belajar bersyukur dalam semua keadaan. Semua ini bertolak dari motto hidupnya: “Doxa to Theo Panton Heneken” yang artinya kemuliaan bagi Allah dalam segala sesuatunya. Ia dapat membuktikan mottonya itu, di mana ia tetap bersyukur dan memuliakan Allah sekalipun menderita.

Marilah kita juga belajar untuk memuji Allah dan bersyukur kepada-Nya dalam segala sesuatu yang terjadi pada diri kita atas ijin-Nya. Kita tidak hanya bersyukur untuk hal-hal yang baik saja, tetapi juga untuk kejadian-kejadian yang menyesakkan hati kita. Kita mungkin tidak tahu apa maksud Allah ketika Ia mengijinkan semua itu terjadi, namun kita harus tetap percaya bahwa Ia adalah Allah yang Mahabaik. Kita tahu kisah Ayub yang mengalami pencobaan sedemikian beratnya, namun Ia belajar bersyukur dan tetap setia kepada Allah. Dan karena ia setia, maka Allah memulihkan keadaannya dan memberkati hidupnya.

Berdasarkan pengajaran Paulus kepada jemaat Tesalonika untuk selalu mengucap syukur dalam segala hal, mari apapun yang Anda alami, bersyukurlah kepada Allah dan tetaplah memuji Dia, sepe...selengkapnya »
Ketika mobil ambulance “meluncur” kencang dibarengi dengan suara sirine yang nyaring menuju salah satu rumah sakit, maka siapapun yang melihatnya pasti akan segera mengerti bahwa di dalam mobil ambulance itu ada orang sakit yang harus ditolong dengan segera. Ketika sampai di rumah sakit, maka dengan segera orang itu mendapatkan pertolongan pertama sebelum lebih lanjut menjalani perawatan intensif. Aksi menolong dengan cepat dan sigap harus segera dilakukan karena tindakan ini bermanfaat menyelamatkan seseorang yang hidupnya sedang terancam. Tuhan Yesus mengajarkan supaya para murid-Nya dengan sigap memberikan pertolongan sebagai bentuk kasih yang dinyatakan dalam perbuatan. Pertolongan itu hendaknya diberikan kepada semua sesama manusia dengan tidak memandang suku, ras, agama, tingkat sosial, dll. Misalnya seperti orang Samaria yang oleh Yesus digambarkan sebagai orang yang murah hati, ketika melihat ada seorang yang tidak berdaya dan menderita, maka dengan sigap memberikan pertolongan karena korban adalah dilihatnya sebagai sesama manusia yang hidupnya sedang terancam. Saudara, melalui kisah orang Samaria yang murah hati, Tuhan Yesus menandaskan bahwa kasih harus diwujudkan kepada sesama manusia dengan tidak pandang bulu. Itu berarti bahwa kasih adalah sebuah tindakan keharusan bagi semua murid Yesus untuk menolong kepada sesama manusia yang tak berdaya. Kasih adalah komitmen, bukan sekedar “main perasaan”, bukan pilih-pilih tetapi bagi semua orang, khususnya yang tak berdaya-menderita. Apakah Anda termasuk murid Yesus? Berbuatlah demikian.
Kisah nyata yang menceritakan sekelompok tahanan perang yang bekerja di Jawatan Kereta Api Birma selama Perang Dunia II ditulis dalam buku To End All Wars, karya Ernest Gordon. Merupakan kisah yang tak terlupakan karena adegan itu juga difilmkan dengan judul yang sama. Hari itu seperti biasa, setelah pekerjaan selesai maka semua peralatan dikumpulkan dan dihitung. Ketika kekelompok tahanan itu akan dibubarkan, tiba-tiba sang tentara berteriak bahwa ada sebuah sekap telah hilang. Maka tentara itu sambil mondar mandir di hadapan para tahanan sambil berteriak siapa pencurinya. Dan tentara itu bersikeras pasti ada tahanan yang yang telah mencuri dan menjualnya kepada orang-orang Thailand. Tentara itu sambil menunjukkan kemarahannya yang tinggi berteriak “semua harus mati”. Untuk menunjukkan bahwa ia benar-benar marah, ia mengangkat senapannya menaruh di bahunya dan membidik, siap menembak orang pertama di hadapanya karena tidak ada yang mengakuinya. Pada saat itulah sang Argyll (julukan untuk tentara Skotlandia) maju ke depan, berdiri dengan tegak dan penuh hormat, dan berkata dengan tenang, “Akulah pelakunya.” Akhirnya tentara Jepang itu melampiaskan seluruh kemarahan dan kebenciannya yang telah memuncak dengan cara menendang, memukul, meninju tahanan yang tidak berdaya itu. Namun tahanan itu tetap tegap dan penuh hormat walaupun darah mengucur di wajahnya. Bahkan setelah dia mati terkapar pun masih diinjak sampai tentara Jepang itu kelelahan. Setelah semua selesai, ketika di rumah jaga dan peralatan itu di hitung lagi ternyata tidak ada yang hilang. Tentara itu salah hitung. Sang prajurit muda itu tidak mencuri, namun ia rela berkorban untuk teman-temannya. Walaupun ia tidak bersalah Masih adakah zaman sekarang ada orang yang mau berkorban untuk orang lain, bahkan nyawanya demi kelangsungan hidup orang lain? Yesus berkata (ayat 13), “Tidak ada kasih yang lebih besar daripada kasih seorang yang menyerahkan nyawanya untuk sahabat-sahabatnya.” Itulah ekspresi kasih yang paling agung. Ya, kasih sejati tidak mencari keuntungan bagi diri sendiri. Sebaliknya, kasih sejati senantiasa berusaha memberikan keuntungan bagi orang yang dikasihi. Bila perlu, kasih sejati akan rela mengorbankan segala sesuatu, bahkan nyawanya sendiri bagi orang yang dikasihinya. Sebagai seorang yang telah menerima kasih kristus, hendaknya kasih itu juga melekat pada setiap kehidupan kita sebagai bukti kita meresponi kasih Kristus dalam hidup kita. Ingatlah, sebagaimana Kristus telah mengasihi kita, kita pun harus mengasihi sesama kita. Sebagaimana Kristus rela berkorban demi keselamatan kita, kita pun harus rela berkorban demi keselamatan sesama kita.
Sebuah toko yang tidak begitu besar sangat ramai dikunjungi pembeli dibanding toko-toko di sekitarnya yang jauh lebih besar. Bukan karena barang-barang di toko itu dijual lebih murah dibanding toko lainnya, tetapi karena pelayanannya. Pemilik toko, seorang aktivis sebuah gereja, melatih semua karyawan agar melayani pembeli dengan ramah walaupun orang tersebut sangat menjengkelkan dan tidak jadi membeli setelah semua barang porak poranda. Suatu ketika ada seorang pria dengan pakaian kumal masuk ke toko dan ingin membeli sebuah barang yang cukup mahal harganya. Karyawan toko kuatir dia tidak bisa bayar. Pemilik toko mendekati dan melayaninya dengan ramah, si pembeli membayar dengan beberapa tumpuk uang ribuan. Setelah si pembeli pulang, dia berkata kepada karyawan-karyawannya: “Layanilah pembeli siapapun dia, jangan memandang penampilannya. Layanilah mereka dengan kasih seperti kepada Tuhan.” Tuhan ingin setiap anak-Nya hidup di dalam kasih seperti kasih Kristus yang rela berkorban bagi manusia. Hidup dalam kasih dinyatakan dengan tidak melakukan percabulan, kecemaran, keserakahan, bahkan dibicarakannya pun jangan. Demikian juga perkataan kotor, sembrono atau tidak pantas. Tetapi ucapkanlah syukur senantiasa. Ingatlah orang cemar, orang cabul dan yang perkataannya kotor tidak mendapat bagian dalam Kerajaan Kristus dan Allah. Kita hidup di masyarakat yang beraneka ragam, apakah kita bisa menyatakan kasih Kristus dalam pergaulan kita? Walaupun sekitar kita hidup dalam percabulan, kecemaran, keserakahan dan perkataan mereka kotor, sembrono, tidak pantas, apakah kita tetap hidup dalam kasih Kristus dengan rela berkorban dicemooh, disakiti hati, disingkirkan oleh lingkungan kita? Marilah kita terus bertahan dan setia kepada-Nya sampai satu saat Dia berkata, “Sabaslah hai hamba-Ku yang setia.”
Kemarin saya membaca status seorang teman di media sosial yang menimbulkan banyak interpretasi. Dalam tulisannya dia meminta maaf kepada temannya karena tidak bisa mentraktir. Menurutnya, dia bukan pendeta kota yang “berkantong tebal”, melainkan pendeta ndeso yang kadang punya duit kadang tidak. Kalau ada duit ya makan, kalau tidak ada ya puasa, katanya. Terang saja hal ini menimbulkan perang komentar dari berbagai sudut pandang. Entah hanya untuk sensasi atau merupakan curahan hati, yang jelas pernyataan itu berhasil membuat gerah pembacanya. Ada yang menasihati untuk tidak mengumbarnya di media sosial; ada yang mengingatkan untuk tetap bersyukur; ada yang menyarankan untuk tidak jadi pendeta jika mau banyak uang; tapi juga ada yang menyemangatinya karena menurutnya ini adalah sebuah kejujuran. Jika status tersebut merupakan sebuah “kejujuran” dari seorang pelayan Tuhan tentang keadaan ekonomi sosialnya, maka apakah sikapnya sudah dilandasi dengan kasih [1 Korintus 13:4-7]? Jujur atau mengeluh? Atau keduanya? 1 Petrus 4:11 mengatakan bahwa pelayanan adalah anugerah Tuhan, maka sebagai penerima anugerah hendaknya kita melakukannya dengan penuh rasa syukur, dengan tulus, dan dengan penuh tanggung jawab. Ada banyak orang yang keadaannya lebih memprihatinkan, namun mereka masih bisa bersukacita ketika melayani Tuhan. Sebut saja bapak Y, seorang pendeta dari desa Precet, Wlingi, Blitar. Dia menggembalakan hanya sekitar 20 orang yang dirintisnya melalui kesetiaannya membuka persekutuan doa. Dia hanya punya sepeda sebagai satu-satunya alat transportasi untuk hidup dan pelayanannya. Untuk menopang perekonomiannya, dia memelihara seekor kambing. Namun sampai Tuhan memanggilnya pulang ke rumah Bapa di usia sekitar 35 tahun, dia masih setia memegang penggembalaan itu. Kini istrinya dengan seorang anak yang berumur 9 tahun meneruskan pelayanannya di sana. Keadaan sekeliling kita sangat mungkin mengganggu fokus kita dalam melayani Tuhan. Entah kebutuhan ekonomi, opini publik, kebutuhan sosial, dll. Pengetahuan, pengalaman, pikiran dan fisik kita seringkali tidak mampu menahan desakan-desakan itu. Namun jika kita mengandalkan kekuatan dari Tuhan, maka kita akan menang. Daud bisa membuat roh jahat pergi dari Saul saat Roh Tuhan menguasainya ketika bermain kecapi [1 Samuel 16:23]. Berbeda halnya dengan Saul, ketika Samuel tak kunjung datang untuk mempersembahkan korban, sementara rakyat mendesaknya, maka ia pun melayani dengan pengetahuannya saja dan bukan karena kehendak Tuhan. Justru Saul tidak mendapat perkenanan Allah. Jadi jika saat ini kita sedang dipercayakan untuk melayani Tuhan dalam bidang apapun dan di manapun, lakukan dengan penuh ucapan syukur, bertanggung jawab, setia dan dengan kekuatan dari Allah sebagai bukti kasih kita. Maka Tuhan akan dipermuliakan. Selain itu, pelayanan kita akan menjadi berkat serta nama kita tertulis sebagai pelaku Firman.
BARCODE BBM CHANNELS
RENUNGAN HARIAN
Iman : Warisan Yang Bernilai Abadi
11 Februari '15
Kasih Tanpa Diskriminasi
17 Februari '15
Hidup Dalam Kasih
19 Februari '15
Copyright © 2012 All rights reserved. Designed and Developed by GIA Dr. Cipto Semarang