SEPEKAN TERAKHIR
  Rabu, 27 Agustus 2014   -HARI INI-
  Selasa, 26 Agustus 2014
  Senin, 25 Agustus 2014
  Minggu, 24 Agustus 2014
  Sabtu, 23 Agustus 2014
  Jumat, 22 Agustus 2014
  Kamis, 21 Agustus 2014
POKOK RENUNGAN
Orang yang selalu bersyukur akan mampu menanggung permasalahan hidupnya.
DITULIS OLEH
Pdt. Andreas P. Chandra
Rohaniwan Pusat
Renungan Lain oleh Penulis:
Home  »  Renungan  »  Bersyukur Dalam Segala Hal
Bersyukur Dalam Segala Hal
Jumat, 15 Maret 2013 | Tema: Umat Yang Memasyurkan Allah
Bersyukur Dalam Segala Hal
I Tesalonika 5:18
Selalu ada alasan untuk mengucap syukur, sekalipun kondisi yang kita hadapi kelihatannya buruk. Chrysostom, seorang yang pernah menjadi Uskup Besar Constantinopel, dibawa ke pembuangan, dianiaya, direndahkan dan mati di tempat yang jauh dari kemewahan kota serta kesenangan dan kemuliaan yang pernah dinikmatinya. Namun demikian ia belajar bersyukur dalam semua keadaan. Semua ini bertolak dari motto hidupnya: “Doxa to Theo Panton Heneken” yang artinya kemuliaan bagi Allah dalam segala sesuatunya. Ia dapat membuktikan mottonya itu, di mana ia tetap bersyukur dan memuliakan Allah sekalipun menderita.

Marilah kita juga belajar untuk memuji Allah dan bersyukur kepada-Nya dalam segala sesuatu yang terjadi pada diri kita atas ijin-Nya. Kita tidak hanya bersyukur untuk hal-hal yang baik saja, tetapi juga untuk kejadian-kejadian yang menyesakkan hati kita. Kita mungkin tidak tahu apa maksud Allah ketika Ia mengijinkan semua itu terjadi, namun kita harus tetap percaya bahwa Ia adalah Allah yang Mahabaik. Kita tahu kisah Ayub yang mengalami pencobaan sedemikian beratnya, namun Ia belajar bersyukur dan tetap setia kepada Allah. Dan karena ia setia, maka Allah memulihkan keadaannya dan memberkati hidupnya.

Berdasarkan pengajaran Paulus kepada jemaat Tesalonika untuk selalu mengucap syukur dalam segala hal, mari apapun yang Anda alami, bersyukurlah kepada Allah dan tetaplah memuji Dia, sepe...selengkapnya »
1 Yohanes 4:18 Di dalam kasih tidak ada ketakutan: kasih yang sempurna melenyapkan ketakutan; sebab ketakutan mengandung hukuman dan barangsiapa takut, ia tidak sempurna di dalam kasih. Ketakutan seringkali berkonotasi dengan kegelapan. Sedangkan kasih berkonotasi dengan terang. Firman Tuhan berkata: ”Terang itu bercahaya di dalam kegelapan dan kegelapan itu tidak menguasainya” (Yoh 1:5). Orang yang melakukan perbuatan jahat biasanya melakukannya di dalam kegelapan, pada malam hari atau di tempat yang sepi atau gelap, karena dia takut perbuatannya diketahui orang lain. Tetapi orang yang melakukan perbuatan baik tidak perlu menutup-nutupi perbuatannya. (Meskipun juga tidak perlu mengumbar perbuatannya supaya diketahui semua orang). Orang yang melakukan perbuatan baik tidak perlu merasa takut dan malu. Jika kasih yang memimpin kehidupan kita, maka kita tidak perlu takut. Hanya orang-orang yang punya maksud jahat yang layak untuk merasa takut. Tetapi sering kali kita merasa takut meskipun kita melakukan perbuatan baik atau benar. Sebagai contoh dalam hal bersaksi atau memberitakan Injil kepada orang lain. Sering kita takut bersaksi tentang kebaikan Tuhan yang telah kita alami, meskipun kita tahu bersaksi itu baik. Mengapa kita takut? Bukankah kita melakukan sesuatu yang baik? Seringkali juga kita takut mengatakan kebenaran atau menegur orang yang berbuat salah. Seringkali jika melihat orang berbuat salah, kita memilih untuk diam atau membiarkannya saja. Apalagi kalau yang berbuat salah itu lebih tinggi kedudukannya daripada kita. Kita berdalih: ”Ah, itu kan urusannya sendiri. Untuk apa saya mencampuri urusan pribadinya?” Padahal sebenarnya kita takut atau kita tidak mau berurusan dengan orang itu. Sebenarnya jika kita sungguh-sungguh mengasihi orang tersebut kita harus menegur atau mengingatkannya. Kalau kita membiarkannya berarti kita tidak peduli dengan keselamatan orang itu. Rasul Paulus memberikan contoh yang baik dalam hal ini. Dia menegur jemaat Galatia yang telah menyimpang dari ajaran Firman Tuhan yang benar. Bahkan dia menegur mereka dengan tegas. Kemudian dia berkata dalam suratnya: ”Apakah dengan mengatakan kebenaran kepadamu aku telah menjadi musuhmu?” (Gal 4:16) Dia yakin bahwa dengan mengatakan kebenaran dia tidak memusuhi jemaat Galatia. Justru dia mengasihi mereka. Sikap seperti itulah yang harus kita pakai. Pertama kita yakin bahwa kita punya maksud kasih. Kemudian kita mengatakan kebenaran tanpa rasa takut. Tuhan memberkati.
Apakah Saudara pernah mengenal “Super Penyet”? Di sana disajikan menu makanan seperti bebek goreng, ayam goreng, dsb. Tentunya makan di sana rasanya enak sekali apalagi kalau rasa ’bayar’ (alias gratis). Namun pada awal bulan Juli 2014 saya mengalami rasa “super takut” yang kesekian kali. Rasa ketakutan yang diikuti tidur kurang nyenyak, selera makan berkurang dan daya tahan tubuh menurun. Bukan karena takut hantu di malam hari atau dikejar tagihan kredit, namun karena pengurusan dokumen yang bermasalah. Ada seorang dosen dari Republik Korea yang dokumen imigrasinya akan segera habis tanggal 31 Juli 2014 dan pengurusan terakhir tanggal 25 Juli. Lebih menegangkan lagi pilihannya: keluar dari negara Indonesia atau denda per hari sebesar 300 ribu rupiah kalau pengurusan dilanjutkan (padahal proses pengurusan bisa butuh waktu 30 hari, jadi total denda sekitar 9 juta rupiah). Di sini tanggung jawab dan kepercayaan yang diberikan kepada saya dipertaruhkan. Mari membaca dan merenungkan dalam perikop Injil Lukas 22:39-46. Bukankan Tuhan Yesus juga pernah mengalami hal demikian. Dalam ayat ke-44a dicatat: ”Ia sangat ketakutan dan makin bersungguh-sungguh berdoa”. Tuhan Yesus telah memberi keteladanan dalam menghadapi ketakutan dengan berdoa. Karena di dalam doa ada pertolongan di mana malaikat dari langit telah memberikan kekuatan kepada-Nya. Ora et Labora, berdoa dan bekerja. Dalam pekerjaan berat, saya berdoa kepada Tuhan Yesus, doa semalam suntuk hingga dini hari di tempat doa Goa Kereb - Ambarawa. Dan di tengah malam bersama istri berdoa menangis kepada Tuhan. Puji Tuhan persyaratan dokumen bisa terlengkapi dan pengurusan dokumen selesai tepat waktu tanggal 25 Juli 2014. Bagaimana dengan pergumulan Saudara? Mari menjalani kehidupan yang seringkali dipenuhi ketakutan bersama dengan Bapa di Sorga karena Dia sejauh doa. Amin.
Pak Wiryo pegawai negeri ekselon 4 adalah orang desa yang lugu dan jujur. Meskipun sudah pensiun tetap dipercaya sebagai bendahara yang dipercaya pemerintah untuk membayar seluruh gaji pegawai pemkot di mana dia bekerja. Berlandaskan iman yang diyakininya, pak Wiryo tidak pernah merasa takut dalam melakukan pekerjaannya. Berulangkali dia diancam, diperdaya melalui guna-guna agar keuangan yang dipercayakan kepadanya dapat dimanfaatkan untuk kepentingan tertentu yang dapat mendatangkan keuntungan termasuk bagi dirinya sendiri. Namun pak Wiryo tetap bersikukuh untuk tidak melakukannya meskipun harus menghadapi berbagai macam tekanan dan ancaman dari pihak tertentu yang ingin menguasai pekerja dan memanfaatkan hal ini. Nats kita hari ini berbicara tentang seorang pemimpin muda yang penuh dedikasi dan integritas bernama Daniel, orang Israel di pembuangan yang mendapatkan kepercayaan besar dari Raja Darius, bangsa Media Persia. Sebagai pemimpin yang dipercaya penuh oleh raja, Daniel bekerja dengan jujur, baik dan benar berdasarkan iman percayanya kepada Allah. Ketika Daniel menghadapi masalah dan tantangan serius dalam pekerjaannya, dia tetap mengungkapkan pergumulannya kepada Allah dan tidak mengandalkan kemampuannya sendiri. Resiko yang harus ditanggung cukup berbahaya bagi keselamatan jiwanya. Hatinya yang melekat kepada Allah membuat Daniel tidak gentar sedikitpun meskipun harus berhadapan dengan singa-singa yang sengaja dibuat lapar untuk membinasakannya. Dampak dari sikap Daniel telah menimbulkan simpati raja, hal ini terbukti bahwa raja sangat sedih akibat keputusannya yang gegabah. Raja juga merasa bersalah dan akan kehilangan orang terbaiknya apabila singa-singa peliharaannya benar-benar memakan Daniel. Maka sepanjang malam sejak Daniel dimasukkan ke dalam gua singa, raja tidak bisa tidur nyenyak dan terus berpuasa karena merasa bersalah menghukum orang yang hidup benar dan mengabdi kepadanya dengan tulus iklas. Semua kekuatiran dan ketakutan raja Darius akhirnya sirna ketika Daniel didapati masih hidup dan singa-singa tidak memangsanya. Maka Allah bangsa Israel menjadi termasyur di seluruh kerajaan Media Persia (ayat 27-29). Bagaimana dengan kehidupan kita? Adakah didapati seorang beriman seperti Daniel di bidang pekerjaan sekuler yang sedang kita kerjakan? Apakah yang menjadi andalan kita dalam bekerja saat ini: kekuatan kita, kepandaian kita, kemampuan kita atau atasan kita? Apakah Allah mendapatkan tempat di dalam hidup dan pekerjaan kita? Biarlah kisah Daniel ini memberi inspirasi yang menyegarkan bagi kehidupan kita di dunia kerja sehingga Allah dipermuliakan.
Suatu ketika seorang ayah melarang anaknya untuk bermain sepakbola di siang hari dengan alasan cuaca yang begitu panas. Dan sang ayah menyarankan tentu akan lebih baik kalau anaknya istirahat atau belajar. Tetapi karena ajakan teman-temannya untuk bermain sepakbola dan kebetulan ayahnya juga sedang pergi, maka bermainlah anak tersebut. Setelah anak itu selesai bermain sepakbola ternyata ayahnya sudah di rumah, maka apa yang terjadi dengan anak itu? Dia takut untuk pulang ke rumah karena melanggar perintah orangtuanya. Dari bacaan di atas Yesuspun pernah mengalami ketakutan yang begitu hebat sampai peluhnya bercampur darah. Bukan karena sebuah kesalahan, tetapi karena Dia harus menanggung dosa seluruh manusia di kayu salib. Kepada siapa Yesus terbuka menceritakan kesedihan hati-Nya? Dalam pergumulan-Nya yang berat, Dia menceritakan kesedihan hatinya kepada murid-murid terdekat-Nya dan juga kepada Bapa-Nya di sorga. Dalam ketakutan-Nya, Yesus terbuka kepada orang-orang dekat-Nya dan yang lebih penting adalah berserah kepada Bapa. Setiap kita tentu pernah mengalami ketakutan dan banyak hal yang bisa membuat kita menjadi takut, namun bukankah semua sudah ditanggung oleh Yesus di atas salib Golgota. Ketika kita mengalami ketakutan, mari kita mau belajar seperti Yesus. Belajar terbuka kepada rekan-rekan yang dapat dipercaya dan siap memberikan dukungan. Juga datang kepada Bapa kita di sorga dan menceritakan semua pergumulan kita. Yang harus kita lakukan adalah membangun komunitas yang siap memberi dukungan. Dan yang terpenting adalah serahkan semua dan percayakan diri kita kepada Allah .
BARCODE BBM CHANNELS
RENUNGAN HARIAN
Mengatakan Kebenaran
10 Agustus '14
Yes...Aku Bisa
04 Agustus '14
Fair Play
14 Agustus '14
Copyright © 2012 All rights reserved. Designed and Developed by GIA Dr. Cipto Semarang