SEPEKAN TERAKHIR
  Kamis, 20 Juli 2017   -HARI INI-
  Rabu, 19 Juli 2017
  Selasa, 18 Juli 2017
  Senin, 17 Juli 2017
  Minggu, 16 Juli 2017
  Sabtu, 15 Juli 2017
  Jumat, 14 Juli 2017
POKOK RENUNGAN
Orang yang selalu bersyukur akan mampu menanggung permasalahan hidupnya.
DITULIS OLEH
Pdt. Andreas P. Chandra
Rohaniwan Pusat
Renungan Lain oleh Penulis:
Home  »  Renungan  »  Bersyukur Dalam Segala Hal
Bersyukur Dalam Segala Hal
Jumat, 15 Maret 2013 | Tema: Umat Yang Memasyurkan Allah
Bersyukur Dalam Segala Hal
I Tesalonika 5:18
Selalu ada alasan untuk mengucap syukur, sekalipun kondisi yang kita hadapi kelihatannya buruk. Chrysostom, seorang yang pernah menjadi Uskup Besar Constantinopel, dibawa ke pembuangan, dianiaya, direndahkan dan mati di tempat yang jauh dari kemewahan kota serta kesenangan dan kemuliaan yang pernah dinikmatinya. Namun demikian ia belajar bersyukur dalam semua keadaan. Semua ini bertolak dari motto hidupnya: “Doxa to Theo Panton Heneken” yang artinya kemuliaan bagi Allah dalam segala sesuatunya. Ia dapat membuktikan mottonya itu, di mana ia tetap bersyukur dan memuliakan Allah sekalipun menderita.

Marilah kita juga belajar untuk memuji Allah dan bersyukur kepada-Nya dalam segala sesuatu yang terjadi pada diri kita atas ijin-Nya. Kita tidak hanya bersyukur untuk hal-hal yang baik saja, tetapi juga untuk kejadian-kejadian yang menyesakkan hati kita. Kita mungkin tidak tahu apa maksud Allah ketika Ia mengijinkan semua itu terjadi, namun kita harus tetap percaya bahwa Ia adalah Allah yang Mahabaik. Kita tahu kisah Ayub yang mengalami pencobaan sedemikian beratnya, namun Ia belajar bersyukur dan tetap setia kepada Allah. Dan karena ia setia, maka Allah memulihkan keadaannya ...selengkapnya »
Zaman sekarang ini sulit menemukan orang yang benar-benar memiliki kesetiaan yang murni terhadap pimpinannya, misalnya saja dalam sebuah perusahaan besar. Banyak karyawan tampaknya begitu rajin dan setia dalam pekerjaannya, tetapi bisa saja kesetiaannya itu hanya tampak pada luarnya saja supaya tetap dipakai di perusahaan tersebut. Bahkan banyak yang mencari muka kepada atasan dengan cara menunjukkan kesetiaan dan loyalitas yang tinggi supaya cepat naik pangkat atau segera dapat dipromosikan menjadi pimpinan. Kesetiaan seperti itu tidak murni karena berujung pada untuk kepentingan diri sendiri sehingga tidak jarang pula yang menghalalkan segala cara. Tuhan menghendaki supaya kita semua memiliki kesetiaan kepada Tuhan dengan murni atau tulus. Kesetiaan itu harus diwujudkan dalam tindakan nyata bukan saja di dalam pelayanan gerejawi, tetapi juga dalam aspek kehidupan yang luas. Kita harus melakukan segala sesuatu seperti kita melakukan untuk Tuhan. Daud misalnya, dia adalah sosok yang memiliki kesetiaan yang murni kepada Allah. Dan kesetiaannya kepada Allah bisa kita perhatikan misalnya ketika Daud memboyong tabut perjanjian dari Baale-Yehuda menuju ke Yerusalem [ayat 2]. Di dalam tabut Allah diletakkan loh-loh batu, tongkat Harun dan manna. Benda-benda tersebut tampaknya tidak ada istimewanya, tetapi di balik simbol itu ada sebuah sejarah yang dahsyat, yaitu bagaimana Allah-Yahweh memberikan pimpinan kepada bangsa Israel ketika mereka keluar dari perbudakan Mesir menuju tanah perjanjian, Kanaan. Upaya memboyong tabut perjanjian yang dilakukan Daud merupakan bentuk usaha membangun kesetiaan dan kedekatannya kepada Allah. Daud melakukan itu dengan mengerahkan seluruh kekuatannya. Artinya, Daud mengajak seluruh rakyat dan tentaranya untuk membangun kesetiaan kepada Allah. Saudara kekasih, kesetiaan kepada Tuhan harus kita wujudkan dalam bentuk tindakan nyata, sekalipun dalam situasi yang tidak menguntungkan bagi kita. Dalam apapun keadaannya, kita tetap setia. Dalam berkelimpahan, kekurangan, dalam ancaman, kesulitan bahkan penderitaan sekalipun kita tetap setia kepada Tuhan. Tidak ada situasi sesulit apapun yang mampu menghalangi kita untuk membangun kesetiaan kepada Tuhan karena Tuhan terlebih dulu setia kepada kita, umat-Nya. Sejak semula Tuhan menentukan kita menjadi anak-anak-Nya untuk menerima kasih karunia dan keselamatan. Itulah kesetiaan Tuhan kepada kita [bnd. Efesus 1:3-14].
Hidup kekal adalah hidup yang diperlihatkan Yesus Kristus pada tingkat kemanusiaan. Dan ini adalah hidup yang sama yang diwujudkan di dalam tubuh fana kita, ketika kita mengalami lahir baru. Daya dan kuasa yang diwujudnyatakan di dalam Yesus akan diwujudkan di dalam diri kita karena suatu tindakan anugerah Allah yang berkuasa mutlak, bagian kita membuat keputusan yang menyeluruh dan efektif tentang dosa. “Tetapi kamu akan menerima kuasa kalau Roh Kudus turun ke atas kamu....” - [Kisah Para Rasul 1:8] - bukan kuasa sebagai suatu pemberian dari Roh Kudus; kuasa itu adalah Roh Kudus. Hidup yang ada di dalam Yesus menjadi milik kita karena salib-Nya setelah kita membuat keputusan untuk disatukan dengan-Nya. Jika kita sulit memiliki relasi yang baik dengan Allah, itu lebih disebabkan kita menolak untuk membuat keputusan moral tentang dosa. Namun ketika kita membuat keputusan, kehidupan Allah segera memenuhi kita. Hidup kekal tidak ada hubungannya dengan waktu. Itu adalah hidup yang dijalani Yesus ketika Dia berada di bumi dan satu-satunya sumber kehidupan adalah Tuhan Yesus sendiri. Upaya apapun untuk “bergantung” pada bagian terkecil dari kekuatan kita, hanya akan mengurangi kuasa hidup Yesus di dalam diri kita. Bahkan orang percaya yang terlemah pun dapat mengalami kuasa keilahian Anak Allah, jika ia bersedia “melepaskan diri” dari kekuatannya sendiri. Kita harus terus melepaskan diri dari kekuatan kita sendiri, maka secara perlahan tapi pasti kepenuhan hidup Allah yang agung akan menguasai kita, menembus setiap bagian diri kita. Selanjutnya kuasa itu “Roh Kudus” secara menyeluruh dan efektif bekerja di dalam kita dan orang-orang akan memperhatikan bahwa kita telah bersama-Nya.
Seminggu yang lalu saat liburan sekolah, kami sekeluarga berlibur ke Bandung. Di sana kami menyempatkan pergi ke Lembang untuk mengunjungi beberapa tempat wisata yang cukup menarik bukan hanya untuk anak-anak tetapi juga bagi orang dewasa. Tetapi perjalanan menuju Lembang yang tidak terlalu jauh dari kota Bandung bisa menjadi perjalanan yang cukup melelahkan tenaga bahkan emosi karena terkenal kemacetannya apalagi pada masa-masa liburan. Oleh sebab itu kami pergi pagi hari untuk menghindari kemacetan yang parah. Dan benar saja, perjalanan ke Lembang kami lalui dengan lancar, tanpa kemacetan yang berarti. Tetapi saat pulang menuju Bandung, tentunya kemacetan tidak akan bisa dihindarkan. Oleh sebab itu kami mengambil jalan pulang melalui Maribaya yang mengarah ke Dago. Meskipun sudah berusaha melewati jalur alternatif, kemacetan tidak bisa dihindari karena ternyata juga banyak wisatawan yang melewati jalur tersebut. Kemacetan semakin diperparah dengan beberapa mobil dan banyak motor yang tidak sabar mengambil jalur kanan sehingga menutup jalur kendaraan dari arah yang berlawanan. Jemaat yang terkasih, ada kalanya peristiwa seperti itu terjadi dalam hidup kita. Sesuatu yang tidak diduga, di luar perhitungan, bahkan kendali. Kita sudah berusaha mengantisipasi dan membuat rencana yang baik. Memikirkan dan memperhitungkan segala resiko dan mempersiapkan langkah antisipasinya. Membuat rencana sedetail mungkin dan bahkan sudah meminta pendapat dari mereka yang berpengalaman. Tetapi ternyata yang terjadi tidak sesuai dengan apa yang kita rancangkan. Rencana kita tidak berjalan baik. Apa yang kita usahakan tidak membuahkan hasil seperti yang diinginkan. Bahkan mungkin mengalami kegagalan. Kadang kemudian kita berpikir semuanya sia-sia. Tidak ada gunanya berlelah-lelah melakukan semuanya. Percuma saja telah bekerja keras. Dan mungkin masih banyak pemikiran negatif yang bergelayutan mengganggu dalam hati. Bagaimana sikap kita jika mengalami kondisi seperti itu? Memang tidak mudah ketika mengalami kondisi di luar rencana dan prediksi; mengalami jalan buntu; apalagi mengalami kegagalan. Tetapi dalam kondisi tersebut tetaplah optimis dan berpikiran positif. Pasti selalu ada pelajaran berharga di setiap kegagalan. Yang penting adalah bagaimana kita tetap mau belajar untuk bangkit dan mengevaluasi untuk perbaikan ke depan.
Untuk menyatu dengan Yesus Kristus, seseorang harus bersedia untuk tidak hanya meninggalkan dosa tetapi juga menyerahkan seluruh caranya memandang segala sesuatu. Dilahirkan kembali oleh Roh Allah berarti kita pertama-tama harus rela melepaskan sesuatu sebelum dapat memahami sesuatu yang lain. Hal pertama yang harus kita lepaskan adalah kepura-puraan atau ketidakjujuran. Apa yang dikehendaki Tuhan untuk diserahkan kepada-Nya bukanlah kebaikan, kejujuran atau usaha untuk melakukan sesuatu yang lebih baik, tetapi sesungguhnya dosa kita. Sebenarnya itu yang ingin Dia ambil dari kita. Dan apa yang Tuhan berikan sebagai pengganti dosa kita adalah kebenaran yang nyata dan penuh. Selanjutnya harus menyerahkan segala kepura-puraan bahwa kita ini berarti dan meninggalkan semua klaim yang menganggap diri layak bagi Allah. Ketika telah melakukannya, Roh Allah akan memperlihatkan apa yang harus kita serahkan selanjutnya. Bersama setiap langkah proses ini, kita harus menyerahkan klaim kita terhadap hak bagi diri sendiri. Apakah kita bersedia melepaskan genggaman atas harta milik, hawa nafsu dan semua hal lain dalam hidup kita? Apakah kita siap disatukan dengan kematian Kristus Yesus? Kita akan menderita kekecewaan yang sangat menyakitkan jika tidak berserah sepenuhnya. Ketika seseorang melihat dirinya sama seperti Tuhan memandang, maka ia akan merasa malu dan putus asa bukan hanya karena dosa-dosa kedagingan tetapi natur kesombongan hatinya yang menentang Yesus Kristus ketika melihat dirinya sendiri dalam terang Tuhan. Apabila diperhadapkan dengan pertanyaan, apakah kita akan berserah atau tidak? Buatlah tekad untuk terus berjalan menghadapi semua pergumulan, menyerahkan semua yang dimiliki dan seluruh keberadaan kita kepada-Nya. Dan Allah pasti memperlengkapi kita untuk melakukan segala yang Dia kehendaki.
BARCODE BBM CHANNELS
RENUNGAN HARIAN
Kerjakan Keselamatanmu !
29 Juni '17
Kuasa Dari Roh Kudus
24 Juni '17
Membangun Kesetiaan
27 Juni '17
Copyright © 2012 All rights reserved. Designed and Developed by GIA Dr. Cipto Semarang