SEPEKAN TERAKHIR
  Sabtu, 20 September 2014   -HARI INI-
  Jumat, 19 September 2014
  Kamis, 18 September 2014
  Rabu, 17 September 2014
  Selasa, 16 September 2014
  Senin, 15 September 2014
  Minggu, 14 September 2014
POKOK RENUNGAN
Orang yang selalu bersyukur akan mampu menanggung permasalahan hidupnya.
DITULIS OLEH
Pdt. Andreas P. Chandra
Rohaniwan Pusat
Renungan Lain oleh Penulis:
Home  »  Renungan  »  Bersyukur Dalam Segala Hal
Bersyukur Dalam Segala Hal
Jumat, 15 Maret 2013 | Tema: Umat Yang Memasyurkan Allah
Bersyukur Dalam Segala Hal
I Tesalonika 5:18
Selalu ada alasan untuk mengucap syukur, sekalipun kondisi yang kita hadapi kelihatannya buruk. Chrysostom, seorang yang pernah menjadi Uskup Besar Constantinopel, dibawa ke pembuangan, dianiaya, direndahkan dan mati di tempat yang jauh dari kemewahan kota serta kesenangan dan kemuliaan yang pernah dinikmatinya. Namun demikian ia belajar bersyukur dalam semua keadaan. Semua ini bertolak dari motto hidupnya: “Doxa to Theo Panton Heneken” yang artinya kemuliaan bagi Allah dalam segala sesuatunya. Ia dapat membuktikan mottonya itu, di mana ia tetap bersyukur dan memuliakan Allah sekalipun menderita.

Marilah kita juga belajar untuk memuji Allah dan bersyukur kepada-Nya dalam segala sesuatu yang terjadi pada diri kita atas ijin-Nya. Kita tidak hanya bersyukur untuk hal-hal yang baik saja, tetapi juga untuk kejadian-kejadian yang menyesakkan hati kita. Kita mungkin tidak tahu apa maksud Allah ketika Ia mengijinkan semua itu terjadi, namun kita harus tetap percaya bahwa Ia adalah Allah yang Mahabaik. Kita tahu kisah Ayub yang mengalami pencobaan sedemikian beratnya, namun Ia belajar bersyukur dan tetap setia kepada Allah. Dan karena ia setia, maka Allah memulihkan keadaannya dan memberkati hidupnya.

Berdasarkan pengajaran Paulus kepada jemaat Tesalonika untuk selalu mengucap syukur dalam segala hal, mari apapun yang Anda alami, bersyukurlah kepada Allah dan tetaplah memuji Dia, sepe...selengkapnya »
Sejak usia 2 tahun sampai 23 tahun saya tinggal di Maluku, secara otomatis saya dapat dengan fasih berbicara bahasa Maluku (bahasa Tobelo) dengan dialeknya yang unik. Dengan bahasa dan gaya dialek yang sama dengan masyarakat Tobelo, tentu saya beranggapan bahwa masyarakat tidak akan mengenal identitas saya yang sesungguhnya, yaitu orang Jawa. Namun ternyata saya salah, mereka tetap menyapa saya dengan panggilan ‘mas’. Peristiwa serupa juga saya alami, pada tahun 2011 saat saya mengikuti studi banding tentang “Pertumbuhan Gereja dan Budaya Masyarakat Korea” di Korea Selatan selama hampir 1 bulan. Tanpa saya memperkenalkan asal-muasal saya, orang-orang Korea dapat mengenal jika saya berasal dari Indonesia. Dengan rasa penasaran saya kemudian bertanya, “Bagimana Anda mengenal saya?” “Dari warna kulit, bentuk rambut, bentuk wajah, tinggi badan, dan nama Anda-lah yang menunjukkan bahwa Anda orang Indonesia,” jawab mereka. Setelah saya merenungkan pengalaman tersebut, saya kemudian menjadi paham bahwa dalam diri saya ada sesuatu yang tidak dapat saya sembunyikan, yaitu identitas. Identitas pribadi yang sudah melekat sejak lahir dalam diri saya tidak dapat saya ubah dan saya sembunyikan sehingga hanya dengan melihat saya, maka semua orang akan tahu siapa saya dan dari mana saya berasal. Hal ini tentunya juga menjadi pengalaman kita bersama bukan? Sebagai anak-anak Allah, Ia memposisikan kita sebagai ‘terang dan garam’ yang tentunya harus menerangi tempat yang gelap dan mengasinkan dunia yang sudah menjadi tawar. Dengan demikian identitas kita jelas bahwa Tuhan mengangkat kita menjadi anak-Nya supaya kita tahu siapa kita, dari mana kita berasal, dan apa tujuan kita diciptakan. Tuhan Yesus berkata: “Kamu adalah terang dunia. Kota yang terletak di atas gunung tidak mungkin tersembunyi” (ayat 14). Identitas kita adalah murid-murid Tuhan Yesus. Secara otomatis kita harus meneladani Guru Agung kita sebagai figur identitas kita, yaitu menjadi ‘terang dan garam’. Dengan teladan yang kita lakukan dalam kehidupan sehari-hari tersebut, maka secara otomatis orang akan mengenal identitas kita, bahwa kita adalah orang-orang Kristen yang benar.
Sang pemrakarsa adanya Gereja adalah Tuhan sendiri. Namun Gereja yang ada dalam Perjanjian Baru (PB) terkait dengan adanya Umat Allah dalam Perjanjian Lama (PL). Dengan kata lain Gereja adalah kesinambungan dari Umat Allah dalam PL, dalam hal ini adalah bangsa Israel, yang kepadanyalah Tuhan Yesus datang untuk kembali membawa umat Allah itu supaya bertobat kepada Allah. Saat ini kita akan membahas perihal jati diri umat Allah dalam PL yang merupakan cikal-bakal dari Gereja itu sendiri. Umat Allah ada, berawal dari Allah yang memanggil para leluhur Israel (Abraham, Ishak, dan Yakub). Kepada leluhur itulah Allah membangun perjanjian yang pada intinya bahwa Allah akan memberkati dengan keturunan yang “memenuhi bumi”. Ketika keturunan Abraham menjadi suatu bangsa (Israel), maka Allah semakin menunjukkan penyertaan dangan perbuatan nyata: membebaskan sebagai budak di Mesir, memimpin perjalanan selama di padang gurun dengan memenuhi kebutuhan sehari-hari dengan mujizat, memberikan tanah Kanaan yang subur, menjaga ketentraman dan perlindungan dari musuh, dst. Oleh sebab itu TUHAN menginginkan supaya Umat Allah melakukan aksi kebaikan. Iman yang hidup adalah perbuatan nyata sebagai respon ketaatan kepada TUHAN dalam kehidupan sehari-hari: memperhatikan dan membela hak orang miskin, yaitu para janda dan anak yatim, serta umat Allah harus menjauhkan diri dari semua perbuatan jahat (Yesaya 1:16-17). Ibadah dengan korban syukur di rumah Allah itu penting, tetapi itu hanyalah sikap mengucap syukur karena TUHAN sudah berbuat nyata kepada umat-Nya. Tetapi iman umat Allah (Gereja) harus tercermin dalam tindakan nyata, terutama membela (menolong) sesama manusia yang miskin: membela hak-hak yatim dan janda-janda. Itulah yang dikehendaki Allah, itu prioritas. Dan seperti itulah umat Allah, seperti itu pula-lah jati diri Gereja.
Di ruang tunggu sebuah sekolah, Sambey duduk sambil membaca Koran Bibir Kota. Keasyikannya membaca terpecah oleh perhatiannya pada pembicaraan ibu-ibu yang tengah berbincang riuh rendah. Arisan! Adalah tema yang diperbincangkan ibu-ibu itu. Seorang ibu berwajah bulat keputih-putihan menceritakan dengan bangga bahwa ia mengikuti 3 arisan. Arisan PKK, arisan perabot rumah, dan arisan sepeda motor. Seorang ibu berambut keriting berpipi tembem mengomentari bahwa sebenarnya ia wegah mengikuti arisan PKK karena baginya tidak level. Seorang ibu yang lain dengan ceriwis plus semangat mempromosikan arisan-arisan yang diikutinya. Sementara ibu-ibu yang lain hanya bengong mendengarkan saja. Sambey tersenyum geli mendengar celoteh ibu-ibu yang makin menambah gerah siang hari itu. Entah mengapa terbersit dalam pikirannya mengenai gereja. “Apakah gereja seperti kumpulan arisan? Meskipun terbuka untuk semua orang tetapi terbagi berdasarkan “taraf keelokan” tertentu? Dan membiarkan sekumpulan orang lain “yang tidak elok” sekedar pendengar dan penggembira?” pikir Sambey. “Ah, semoga tidak demikian,” gumam Sambey sambil tersenyum. Hambatan besar bagi kesatuan jemaat Korintus adalah masalah etnis dan status sosial-ekonomi. Jemaat cenderung berkelompok berdasarkan kebanggaan etnis dan status sosial-ekonomi. Jemaat terbelah antara keturunan Yahudi dan Yunani. Jemaat terpisah antara yang kaya dengan yang miskin. Ungkapan masa kini ora level mungkin menggambarkan secara tepat jurang yang digali oleh dua kelompok jemaat di atas. Menghadapi kenyataan ini, Rasul Paulus menasihati jemaat agar menyadari bahwa mereka adalah satu tubuh. Sebagai satu tubuh Kristus sudah seharusnya mereka berbaur, saling membutuhkan dan memperhatikan satu sama lain. Itu dimulai dengan kesediaan memperhatikan anggota yang selama ini luput dari perhatian. Mungkin karena ia dari etnis tertentu, mungkin ia tidak terpandang, dan mungkin ia orang miskin. Rasul Paulus minta itu dilakukan hingga kebanggaan etnis dan status sosial-ekonomi tergerus dan berganti dengan sehati-seperasaan. Jika ada satu anggota menderita, semua anggota turut menderita. Jika ada satu anggota dihormati, semua anggota bersukacita. Jemaat yang terkasih. Dalam masyarakat, tiap orang dikelompokkan berdasarkan etnis dan status sosial-ekonomi. Tionghoa atau Jawa? Batak? Madura? Dayak? Kaya atau miskin? Bos atau buruh? Manager atau Satpam? Direktur atau Cleaning Service? Sehingga suka atau tidak suka, kita cenderung mudah menerima, mengasihi dan menghormati orang-orang yang se-etnis dengan status sosial-ekonomi yang relatif setingkat dengan kita. Tuhan menghendaki kita melawan pengaruh ini. Tuhan mau kita hidup sebagai satu tubuh Kristus yang sehati-seperasaan satu sama lain. Semoga kita bisa.
”Aku ndak mau ikut pelayanan di gereja. Melayani membuatku terikat. Aku mau bebas, jadi kalau sewaktu-waktu ada masalah, aku bisa pindah dengan gampang.” ”Aku ndak mau alamatku diketahui oleh gereja. Nanti kalau aku sedang malas ke gereja, aku ndak mau ada yang mengunjungi dan mengajak-ajakku untuk datang kebaktian.” Bebas. Tak terikat. Sekehendak hati. Tak perlu bergaul dengan saudara seiman. Tak ingin merepotkan dan tak ingin direpotkan. Sebagian orang Kristen memilih demikian. Praktis memang, tampaknya. Daripada terlibat dengan banyak orang dengan berbagai macam latar belakang dan kepribadian. Kadang memusingkan. Mengikis kesabaran. Memancing kegeraman. Bukankah lebih baik berada di luar komunitas dan cukup hadir seminggu sekali saja? Tuhan tidak merancang kita untuk lepas sendiri-sendiri, tak terkait satu sama lain. Memang bagi sebagian orang melibatkan diri jauh lebih mudah dilakukan daripada bagi sebagian yang lain. Namun Tuhan merancang kita untuk saling terkait, tanpa melihat apakah itu mudah atau sulit bagi kita. Setiap orang percaya adalah bagian dari Tubuh Kristus yang dirancang untuk bersama-sama melakukan kehendak Kristus sebagai sang Kepala. Bukan sebagai individu-individu yang lepas tak tentu arah. Oleh karena itu, penting bagi kita untuk belajar menguasai diri sebagai bagian dari Tubuh Kristus. Sadar siapa diri kita, yaitu kepunyaan Tuhan. Sadar untuk siapa kita giat bekerja, yaitu untuk kepentingan Tuhan. Dan sadar siapa yang seharusnya dipermuliakan melalui pelayanan kita, yaitu Tuhan sang Empunya semesta alam.
BARCODE BBM CHANNELS
RENUNGAN HARIAN
”Action? ... Yes!”
17 September '14
Keberanian Iman Mengalahkan Rasa Takut
25 Agustus '14
Saksi Yang Berani
24 Agustus '14
Copyright © 2012 All rights reserved. Designed and Developed by GIA Dr. Cipto Semarang