SEPEKAN TERAKHIR
  Minggu, 26 Juni 2016   -HARI INI-
  Sabtu, 25 Juni 2016
  Jumat, 24 Juni 2016
  Kamis, 23 Juni 2016
  Rabu, 22 Juni 2016
  Selasa, 21 Juni 2016
  Senin, 20 Juni 2016
POKOK RENUNGAN
Orang yang selalu bersyukur akan mampu menanggung permasalahan hidupnya.
DITULIS OLEH
Pdt. Andreas P. Chandra
Rohaniwan Pusat
Renungan Lain oleh Penulis:
Home  »  Renungan  »  Bersyukur Dalam Segala Hal
Bersyukur Dalam Segala Hal
Jumat, 15 Maret 2013 | Tema: Umat Yang Memasyurkan Allah
Bersyukur Dalam Segala Hal
I Tesalonika 5:18
Selalu ada alasan untuk mengucap syukur, sekalipun kondisi yang kita hadapi kelihatannya buruk. Chrysostom, seorang yang pernah menjadi Uskup Besar Constantinopel, dibawa ke pembuangan, dianiaya, direndahkan dan mati di tempat yang jauh dari kemewahan kota serta kesenangan dan kemuliaan yang pernah dinikmatinya. Namun demikian ia belajar bersyukur dalam semua keadaan. Semua ini bertolak dari motto hidupnya: “Doxa to Theo Panton Heneken” yang artinya kemuliaan bagi Allah dalam segala sesuatunya. Ia dapat membuktikan mottonya itu, di mana ia tetap bersyukur dan memuliakan Allah sekalipun menderita.

Marilah kita juga belajar untuk memuji Allah dan bersyukur kepada-Nya dalam segala ...selengkapnya »
Pada awal tahun 2000-an di Bimas Kristen sudah terdaftar secara resmi 300-an aliran Gereja Kristen. Pertanyaannya adalah bagaimana proses terjadinya berbagai merek atau denominasi aliran gereja itu? Fakta menunjukkan bahwa berbagai aliran itu terjadi rata-rata diawali dengan apa yang namanya perbedaan pendapat, perselisihan, pertengkaran dan akhirnya perpecahan [Tarmizi Taher, Sekjend Depag RI, 2004]. Ya, memang benar. Tidak disangkali bahwa di dalam gereja, bahkan sejak gereja mula-mula sering juga terjadi konflik, perbedaan pendapat bahkan menjurus perpecahan. Padahal firman Tuhan berkata bahwa Kristus itu satu dan tidak terbagi-bagi, serta dengan tegas Paulus mewanti-wanti supaya jangan ada perpecahan [ay. 10, 13]. Gereja sudah terlanjur terpecah-pecah dan sekarang terdiri dari ratusan denominasi. Memang bukan tidak mungkin akan ada rekonsiliasi secara besar-besaran, namun semakin banyak perpecahan gereja maka semakin banyak “pekerjaan rumah” bagi gereja itu sendiri untuk membenahinya. Itu berarti gereja akan semakin banyak membuang energi untuk mengurus diri sendiri. Kapan menjalankan misi Allah? Jemaat Tuhan, mari kita merenungkan sejenak arti keutuhan gereja kita. Setan adalah pakar dalam bidang memecah belah dan apabila di gereja kita ternyata ada perselisihan maka setan sangat senang. Perselisihan di dalam gereja hanya membuang-buang waktu dan menguras banyak energi. Semua itu tidak ada faedahnya, hanya meninggalkan luka batin dan saling membenci. Memang tidak ada gereja yang sempurna tetapi setidaknya kita bisa berjuang untuk meminimalisir segala bentuk kemungkinan terjadinya perpecahan dalam gereja. Langkah apa supaya kita terhindar dari perselisihan dalam gereja kita sendiri? Pertama-tama, jemaat harus seia-sekata, erat bersatu dan sehati sepikir di dalam Kristus [ay. 10]. Artinya jemaat harus kembali konsentrasi kepada visi misi Allah bahwa gereja adalah “ambasador-nya” Tuhan [duta Tuhan]. Gereja harus siap sedia menjadi berkat bagi dunia ini dengan lebih banyak terobosan-terobosan keluar daripada asyik berlama-lama dengan acara di dalam. Berikutnya adalah jemaat jangan terpancang dengan “kehebatan” hamba Tuhan sebab itu bisa jatuh pada pengkultusan hamba Tuhan [ay. 12]. Semua hamba Tuhan sama, karena yang disampaikan adalah Firman Tuhan. Jemaatlah yang harus belajar untuk mendengar suara Tuhan, jangan memilih-milih hamba Tuhan supaya tidak kecewa nanti. Cukup mendengar dengan baik dan tangkap apa maunya Tuhan. Kuncinya adalah jemaat harus seia sekata, erat bersatu dan sehati sepikir, jangan ada lagi perpecahan.
Kalau saya bertanya, “Apa semboyan negara kita?“ Pasti kita semua tahu apa itu, yaitu “Bhineka Tunggal Ika“, yang berarti berbeda-beda itu, satu itu. Terjemahan bebasnya “berbeda-beda tetapi satu juga“. Dari mana datangnya dan mau kemana tujuannya semboyan itu? Sekedar menyegarkan ingatan. Bhineka Tunggal Ika adalah salah satu ragam sastra puisi yang ditulis di kitab Sutasoma. Siapa pengarangnya? Ia bernama Mpu Tantular. Seorang pujangga agama Budha abad 14 kerajaan Majapahit. Mpu Tantular menulis semboyan ini karena pada masa itu wilayah kerajaan Majapahit sangat luas, selain meliputi Indonesia juga mencakup Malaysia dan Singapura [sekarang]. Di kerajaan Majapahit ini terdapat ratusan etnik dengan ratusan bahasa. Penduduknya menganut agama Budha, Hindu dan ratusan macam agama suku hidup berdampingan dengan damai. Kerukunan dan kesatuan penduduk Majapahit itu berbuah kemakmuran dan kemajuan perdagangan. Semua itu adalah bukti bahwa di dalam ragam keberbedaan tidak menghalangi mereka untuk mencapai kemakmuran dan kemajuan karena adanya kesatuan. Ketika Republik Indonesia [RI] lahir, semboyan inilah yang dipakai dengan maksud di mana Indonesia yang terdiri dari beragam agama, budaya, etnik ribuan pulau tersebar memiliki satu keinginan, yaitu Republik Indonesia menjadi tempat yang damai, aman, makmur bagi tiap penduduknya. Keberagaman ini tidak berarti menutup kemungkinan untuk bekerja bersama-sama. Paulus memakai keragaman ini melalui kesatuan tubuh dengan banyak anggota untuk menggambarkan kesatuan gereja Kristus. Digambarkan bahwa tubuh terdiri dari bagian-bagian yang berbeda bentuk dan fungsinya [ayat 18]. Peranan dan fungsi masing-masing anggota tubuh itu baru dapat dirasakan apabila ditempatkan dalam kesatuan tubuh. Kesatuan tubuh itu sedemikian solid sampai-sampai ketika gigi terasa nyeri, kepala pun terasa sakit sehingga seluruh aktifitas tubuh pun ikut terganggu [ayat 26]. Orang-orang percaya di Korintus adalah gambaran tubuh Kristus yang sebenarnya. Melalui penjelasan tersebut Paulus mengingatkan bagaimana umat percaya seharusnya hidup. Tiap-tiap orang percaya diberikan fungsi khusus dalam rangka kesatuan jemaat, tetapi tidak berarti karunia yang satu lebih bernilai dibandingkan yang lain. Meski satu dengan yang lain berbeda, Paulus mengingatkan bahwa masing-masing bisa berfungsi sebagai tubuh Kristus hanya bila mereka menyadari kebergantungan dengan bagian tubuh yang lainnya.
Seorang hamba Tuhan mengalami masalah yang sangat berat. Sudah beberapa bulan dia berdoa dan berusaha tetapi masalah tersebut tidak selesai dan menjadi beban. Suatu saat dalam keadaan putus asa dia berdoa, mohon Tuhan mengirim seorang hamba Tuhan yang dapat menolong atau memberikan jalan keluar atas masalahnya. Pintu diketuk, seorang rekan hamba Tuhan datang, dia sangat gembira karena cepat sekali Tuhan jawab doanya. Sebelum dia menyampaikan masalahnya, rekannya telah lebih dahulu menyampaikan permintaan tolong atas masalah yang dihadapinya. Dengan hikmat dari Tuhan dia dapat memberikan nasihat dan beberapa masukan kepada rekannya. Saat itu rekannya sangat bersukacita karena telah mendapat jalan keluar atas masalahnya. Dia sendiri menjadi lega walaupun belum selesai masalahnya tetapi dihadapinya dengan sukacita. Pengikut Kristus akan terlihat kesatuannya bila saling menolong dalam menanggung beban. Keinginan untuk menolong selalu timbul bila melihat orang lain membutuhkan pertolongan walaupun tidak diminta. Dengan bertolong-tolongan, orang percaya akan memenuhi hukum Kristus. Bila ada orang yang lemah imannya atau melakukan pelanggaran, saudara seiman yang lain bertanggung jawab menolong orang itu kembali ke jalan yang benar dengan lemah lembut. Manusia, pada hakekatnya, lemah dan perlu pertolongan orang lain. Setiap orang perlu menguji dirinya sendiri dan tidak boleh bermegah melihat keadaan orang lain. Dengan demikian akan memiliki hati yang rela untuk menolong orang lain. Dalam keluarga, lingkungan tetangga, pekerjaan, kelompok pelayanan, komcil dan di manapun kita perlu mempunyai kemauan untuk menolong orang lain. Kalau kita rindu melakukan hukum Kristus, maka kita harus ringan tangan terhadap siapa saja yang membutuhkan pertolongan, walaupun kita masih bergumul dengan masalah. Pertolongan yang didasari kasih akan berdampak pada sebuah pertobatan. Jadilah teladan dalam memberi pertolongan sehingga tercipta budaya saling menolong yang akan memperkokoh kesatuan.
Suasana rapat pimpinan di perusahaan itu semakin memanas seperti yang sudah saya duga. Bagaimana tidak, rapat yang diharapkan bisa menelurkan ide-ide yang cemerlang untuk meningkatkan penjualan, malah menjadi ajang saling menyalahkan antar manager dan mengkritik kebijakan perusahaan. Alhasil, tidak ada kesepakatan yang dicapai, tidak jalan keluar yang didapat dari hasil rapat itu. Dan masing-masing peserta keluar dengan wajah yang kuyu karena kelelahan berdebat. Sungguh sangat disayangkan. Hanya membuang waktu, tenaga dan pikiran, tanpa mendapatkan hal yang positif. Mencari kambing hitam, itu hal yang biasa dilakukan segelintir orang ketika dihadapkan pada masalah/persoalan. Bukan berusaha memikirkan jalan keluar agar masalah bisa diatasi, tetapi hanya berkutat dengan penyebab masalah itu. Hal ini tentu saja memicu perpecahan dalam sebuah komunitas seperti keluarga, perusahaan, maupun gereja. Sifat mencari kambing hitam adalah sifat dari manusia lama yang belum diubahkan. Sebagai orang yang sudah menerima Yesus, sudah seharusnya kita meninggalkan manusia lama dan menjadi manusia baru dengan sifat dan karakter yang baru [ayat 5-11]. Dengan begitu ketika kita menyadari bahwa kita adalah bagian dari tubuh Kristus dalam gereja, kita mampu memelihara dan mewujudkan kesatuan. Dan suatu waktu ketika diperhadapkan dengan masalah/persoalan, kita tidak mencari kambing hitam lagi, karena dasar pemikiran kita adalah belas kasihan, kemurahan, kerendahan hati, kelemah lembutan dan kesabaran [ayat 12-13]. Damai sejahtera Kristus yang memerintah dalam hati kita akan mendatangkan hikmat baik dalam pikiran maupun ucapan saat kita duduk bersama menyelesaikan masalah yang ada. Masalah/persoalan akan selalu ada, datang silih berganti, tetapi jangan lagi mencari kambing hitam. Carilah kasih yang sanggup mengikat dan mempersatukan dengan sempurna. Belajarlah memelihara dan mewujudkan kesatuan dalam hidup bergereja dengan mengutamakan kepentingan bersama di atas kepentingan pribadi.
BARCODE BBM CHANNELS
RENUNGAN HARIAN
Kesatuan Yang Tidak Ada Duanya
12 Juni '16
Kesatuan Di Dalam Kristus
19 Juni '16
Berbeda Fungsi Satu Tujuan
11 Juni '16
Copyright © 2012 All rights reserved. Designed and Developed by GIA Dr. Cipto Semarang