SEPEKAN TERAKHIR
  Sabtu, 23 Juli 2016   -HARI INI-
  Jumat, 22 Juli 2016
  Kamis, 21 Juli 2016
  Rabu, 20 Juli 2016
  Selasa, 19 Juli 2016
  Senin, 18 Juli 2016
  Minggu, 17 Juli 2016
POKOK RENUNGAN
Orang yang selalu bersyukur akan mampu menanggung permasalahan hidupnya.
DITULIS OLEH
Pdt. Andreas P. Chandra
Rohaniwan Pusat
Renungan Lain oleh Penulis:
Home  »  Renungan  »  Bersyukur Dalam Segala Hal
Bersyukur Dalam Segala Hal
Jumat, 15 Maret 2013 | Tema: Umat Yang Memasyurkan Allah
Bersyukur Dalam Segala Hal
I Tesalonika 5:18
Selalu ada alasan untuk mengucap syukur, sekalipun kondisi yang kita hadapi kelihatannya buruk. Chrysostom, seorang yang pernah menjadi Uskup Besar Constantinopel, dibawa ke pembuangan, dianiaya, direndahkan dan mati di tempat yang jauh dari kemewahan kota serta kesenangan dan kemuliaan yang pernah dinikmatinya. Namun demikian ia belajar bersyukur dalam semua keadaan. Semua ini bertolak dari motto hidupnya: Doxa to Theo Panton Heneken yang artinya kemuliaan bagi Allah dalam segala sesuatunya. Ia dapat membuktikan mottonya itu, di mana ia tetap bersyukur dan memuliakan Allah sekalipun menderita.

Marilah kita juga belajar untuk memuji Allah dan bersyukur kepada-Nya dalam segala ...selengkapnya »
Pada suatu sore ketika pak Rano pulang dari kantor dengan mengendarai sepeda motor. Tiba-tiba dari arah belakang, sebuah mobil menyerempetnya hingga terjatuh. Mobil berhenti dan keluarlah seorang anak muda. Bukannya menolong tetapi memaki dengan kasar sambil menunjukkan kaca spion yang patah. Ia memaksa pak Rano untuk mengganti rugi atas kerusakan pada mobilnya, padahal semestinya ia yang salah. Sambil menahan sakit pak Rano berdiri dan minta maaf pada pemuda itu dan tanpa banyak berbantah dia mengeluarkan dompetnya dan menyerahkan uang sebagai ganti rugi. Pak Rano sedang belajar untuk mempraktekkan Firman yang baru saja dipelajarinya dalam komcil sehari sebelum peristiwa itu terjadi. Di tengah dunia yang semakin tidak ramah, Tuhan mengingatkan agar setiap murid-Nya hidup dalam perdamaian dengan semua orang. Hal itu bisa terwujud bila tidak membalas kejahatan dengan kejahatan, tetapi lakukan yang baik bagi semua orang. Jangan menuntut pembalasan bila tersakiti, serahkan kepada Tuhan karena ada tertulis, pembalasan itu hak Tuhan. Allah yang akan menuntut pembalasan, kata Firman Tuhan. Tetapi bila seterumu lapar, berilah dia makan, jika haus berilah dia minum. Dengan berbuat demikian seperti menumpukkan bara api di atas kepalanya. Jangan kalah terhadap kejahatan, tetapi kalahkanlah kejahatan dengan kebaikan. Dalam hidup sehari-hari kita diperhadapkan pada hal-hal yang bisa membuat kita sakit hati, jengkel atau marah. Yang mendatangkan hal itu bisa suami, isteri, anak, rekan seiman atau sepelayanan, tetangga atau siapapun saja. Seharusnya sebagai manusia normal kita ingin melakukan pembalasan atau pertengkaran, tetapi bila kita mengingat Firman-Nya, marilah kita melakukan sebaliknya, yaitu membalas dengan kebaikan. Alangkah indahnya bila semua murid Kristus berdamai dengan sesama karena kerinduan Yesus agar kesatuan di antara murid-Nya tergenapi.
Pada sidang Badan Penyelidik Usaha Persiapan Kemerdekaan Indonesia [BPUPKI] di tahun 1945, Presiden Sukarno menyampaikan bahwa gotong royong merupakan jiwa masyarakat Indonesia. Saat saya masih kecil, mudah sekali menemukan budaya gotong royong dalam berbagai bentuk. Mulai dari kerja bakti kampung, membantu tetangga mendirikan rumah hingga budaya gotong royong antar umat beragama. Budaya tersebut telah menjadi identitas nasional. Tetapi sayangnya budaya luhur tersebut perlahan-lahan telah luntur. Istilah gotong royong berasal dari bahasa Jawa. Gotong berarti pikul atau angkat, sedangkan royong berarti bersama-sama. Sehingga jika diartikan secara harafiah, gotong royong berarti mengangkat secara bersama-sama atau mengerjakan sesuatu secara bersama-sama. Gotong royong dapat dipahami pula sebagai bentuk partisipasi aktif setiap individu untuk ikut terlibat dalam memberi solusi dan nilai positif terhadap permasalahan atau kebutuhan orang-orang di sekelilingnya. Sehingga di dalamnya sarat dengan nilai kebersamaan, persatuan, rela berkorban, tolong menolong dan solidaritas. Alkitab mengajarkan prinsip tersebut. “Bertolong-tolonganlah menanggung bebanmu! Demikianlah kamu memenuhi hukum Kristus.” ‘Beban’ dalam ayat tersebut berarti suatu kelemahan atau ketidaksempurnaan secara spiritual yang membuat seseorang mengalami rasa tertekan. Paulus menyebutnya sebagai ‘suatu pelanggaran’ [dosa]. Dia menasihatkan agar kita yang hidup menurut Roh Allah [terjemahan baru: yang rohani] membimbing orang yang berbuat dosa kembali ke jalan yang benar. Membimbingnya dengan roh yang lemah lembut dan bukan penghakiman. Membimbingnya untuk bertobat, menyadari kesalahannya dan kembali kepada Allah serta kebenaran-Nya. Artinya, kita bertanggung jawab untuk ‘mendukung dan mengangkat’ saudara kita yang mengalami kejatuhan. Semangat ‘bertolong-tolonganlah menanggung bebanmu’ adalah jiwa gotong royong yang harus kita wujud nyatakan ketika mendapati sesama kita, khususnya saudara-saudara seiman, berbuat dosa. Bukan sebaliknya, cuek dan masa bodoh, membicarakan dan menjelek-jelekkannya di belakang; menghakimi dan mempermalukannya; mencibir dan memandangnya sebelah mata; atau bahkan ‘menendangnya’ dari komunitas kita. Karena dengan ‘bertolong-tolongan” maka kita menunjukkan ketaatan kepada perintah Yesus Kristus. ‘Jiwa gotong royong’ ini tidak boleh luntur dari kehidupan kita dan harus tetap menjadi identitas kita sebagai saudara di dalam Kristus.
Dunia ini sangat menyukai kekuatan, kebesaran, kekayaan, dan keterkenalan. Salah satu contoh adalah monopoli dagang. Mengapa melakukan demikian? Karena ingin menguasai perdagangan dan kesuksesan ingin direguknya sendiri. Contoh lain, saat ini negara Inggris mengambil keputusan untuk keluar dari Uni Eropa dengan alasan selama puluhan tahun bergabung dalam Uni Eropa tidak mengalami keuntungan justru setiap tahun malah mengalami kerugian. Jika dirupiahkan maka per tahun kerugian mencapai triliunan. Apa harapan dari kebijakan tersebut? Inggris ingin mengalami kembali kejayaan ekonomi secara mandiri. Rasul Paulus mengingatkan kepada jemaat Korintus pentingnya kasih guna pembangunan tubuh Kristus agar gereja bertumbuh besar. Memang benar bahwa gereja yang bertumbuh dan penuh dinamika adalah gereja yang umatnya aktif dengan segala karunianya. Misalnya karunia: bernubuat, iman, bahasa roh, pengetahuan, berkata-kata dengan semua bahasa manusia, suka memberi [ayat 1-3]. Tetapi jika masing-masing tidak melengkapinya dengan kasih, maka semua karunia itu seolah tiada artinya. Seandainya sebuah gereja penuh dengan karunia-karunia, sangat maju, dan terlihat dinamis, namun hal tersebut belum menjamin bahwa gereja tersebut akan bertumbuh dengan baik. Justru bisa saja mengalami perpecahan jika masing-masing mementingkan karunianya sendiri seperti halnya jemaat Korintus [1 Korintus 1:10-17]. Saudara yang kekasih, gereja yang besar belum tentu gereja yang kuat, justru di dalamnya berpotensi terjadi banyak persoalan. Jangan hanya sekedar memimpikan gereja besar. Besar? Yes! Tetapi juga harus kuat dan berfungsi sesuai dengan apa yang dikehendaki Tuhan Yesus. Bagaimana supaya gereja kita besar dan juga kuat? Bagaimana gereja kita bertumbuh dan melakukan kehendak Tuhan Yesus? Jika kita merenungkan 1 Korintus 13:1-13, maka kita seharusnya tidak anti terhadap segala karunia. Karunia adalah baik, tetapi semua karunia harus plus kasih. Semua karunia untuk membangun tubuh Kristus. Kuncinya adalah semua pemilik macam-macam karunia harus mengenakan KASIH, sebab pada hari Tuhan semua karunia akan lenyap, tetapi hanya kasih yang tinggal tetap selamanya [ayat 8].
“Betapapun hebat kemampuan olah bola Lionel Messy, Christiano Ronaldo, Morata, Neymar, dan lainnya, tetapi keberhasilan sebuah tim sepakbola lebih bertumpu pada kerjasama apik dari tiap-tiap orang yang terlibat”, demikian ujar Pdt. Itong yang dikenal sebagai pecandu berat bola dalam sebuah acara talk show tingkat RT menyongsong babak 16 besar Piala Eropa 2016. Sambey dan Benay yang datang menemani Pdt. Itong, sedari awal cengar-cengir melihat polah tingkah lucu Pdt. Itong yang menurut mereka mirip Ronaldo, penyerang Brasil kawakan. “Sebenarnya kita bisa belajar dari sepakbola”, kata Sambey sambil menepuk perut Benay. “Ya, tapi jelas bolanya tidak ada di perutku!” kata Benay terkekeh. Sambey tertawa ringan menyambut respon akrab sahabatnya itu. Kemudian ia berkata, “Jika dalam tim ada figur yang mempunyai kemampuan di atas rata-rata dan terkenal tentu mempunyai daya tarik tersendiri. Tetapi bertumpu pada satu atau dua pemain hebat pasti akan sulit meraih keberhasilan.” “Ya, aku setuju”, respon Benay, “Sudah banyak contoh tim-tim yang gagal dalam sebuah kompetisi meski mempunyai pemain bintang.” Sambey mengangguk menyetujui perkataan Benay. “Benar kata Pdt. Itong. Sinergi atau kerjasama tiap pemain di tiap lini sangat menentukan keberhasilan sebuah tim, daripada mengharapkan kemenangan dengan mengkultuskan satu atau dua pemain bintang.” “Syukur-syukur jika semua pemain adalah pemain bintang yang top markotop dan mau bekerjasama dengan apik”, ujar Benay. “Wuih…, jika ada tim yang seperti itu tentu sangat sulit ditaklukkan oleh tim-tim lain”, kata Sambey, “Tapi umumnya pemain-pemain bintang itu tingkat kerjasamanya rendah.” Benay mengangguk setuju. “Gereja juga bisa belajar dari tim sepakbola. Bukankah kerjasama sangat penting dalam menentukan keberhasilan sebuah pelayanan.” “Bukan hanya penting, Ben. Tetapi sinergi dari tiap-tiap rohaniwan, majelis, dan jemaat dengan talenta dan karunia masing-masing adalah kehendak Tuhan”, kata Sambey, “Tuhan tidak menghendaki kultus individu dari tokoh-tokoh gereja yang hanya akan berakibat pada perpecahan.” “Ya Sam. Bukankah jemaat Korintus yang kaya dengan karunia Roh justru mengalami perpecahan karena ada kelompok-kelompok jemaat dengan idola mereka masing-masing.” “Benar Ben. Oleh karena itu jika kita mau pelayanan gereja berjalan dalam kehendak Tuhan dan berhasil, perlu kita bangun kerjasama yang solid,” kata Sambey, “Kita tetap boleh memberikan kritik, tetapi kritik yang membangun. Kita boleh berbeda pendapat, tetapi loyalitas tetap harus dipelihara.” Jemaat yang terkasih, marilah kita belajar dari obrolan ringan Sambey dan Benay di atas. Janganlah kita menghormati secara berlebihan satu atau dua tokoh Gereja dan mengharapkan kemajuan pelayanan dari mereka saja. Sebaliknya marilah kita menyatukan potensi, talenta, dan karunia yang Tuhan percayakan kepada kita dalam pelayanan bersama demi kemuliaan Tuhan. [DDK] Pokok renungan: Sinergi dan soliditas menentukan keberhasilan.
BARCODE BBM CHANNELS
RENUNGAN HARIAN
Menyelamatkan Waktu
24 Juni '16
Perlindungan Tuhan
12 Juli '16
Terhubung
17 Juli '16
Copyright © 2012 All rights reserved. Designed and Developed by GIA Dr. Cipto Semarang