SEPEKAN TERAKHIR
  Rabu, 10 Februari 2016   -HARI INI-
  Selasa, 09 Februari 2016
  Senin, 08 Februari 2016
  Minggu, 07 Februari 2016
  Sabtu, 06 Februari 2016
  Jumat, 05 Februari 2016
  Kamis, 04 Februari 2016
POKOK RENUNGAN
Orang yang selalu bersyukur akan mampu menanggung permasalahan hidupnya.
DITULIS OLEH
Pdt. Andreas P. Chandra
Rohaniwan Pusat
Renungan Lain oleh Penulis:
Home  »  Renungan  »  Bersyukur Dalam Segala Hal
Bersyukur Dalam Segala Hal
Jumat, 15 Maret 2013 | Tema: Umat Yang Memasyurkan Allah
Bersyukur Dalam Segala Hal
I Tesalonika 5:18
Selalu ada alasan untuk mengucap syukur, sekalipun kondisi yang kita hadapi kelihatannya buruk. Chrysostom, seorang yang pernah menjadi Uskup Besar Constantinopel, dibawa ke pembuangan, dianiaya, direndahkan dan mati di tempat yang jauh dari kemewahan kota serta kesenangan dan kemuliaan yang pernah dinikmatinya. Namun demikian ia belajar bersyukur dalam semua keadaan. Semua ini bertolak dari motto hidupnya: “Doxa to Theo Panton Heneken” yang artinya kemuliaan bagi Allah dalam segala sesuatunya. Ia dapat membuktikan mottonya itu, di mana ia tetap bersyukur dan memuliakan Allah sekalipun menderita.

Marilah kita juga belajar untuk memuji Allah dan bersyukur kepada-Nya dalam segala sesuatu yang terjadi pada diri kita atas ijin-Nya. Kita tidak hanya bersyukur untuk hal-hal yang baik saja, tetapi juga untuk kejadian-kejadian yang menyesakkan hati kita. Kita mungkin tidak tahu apa maksud Allah ketika Ia mengijinkan semua itu terjadi, namun kita harus tetap percaya bahwa Ia adalah Allah yang Mahabaik. Kita tahu kisah Ayub yang mengalami pencobaan sedemikian beratnya, namun Ia belajar bersyukur dan tetap setia kepada Allah. Dan karena ia setia, maka Allah memulihkan keadaannya dan memberkati hidupnya.

Berdasarkan pengajaran Paulus kepada jemaat Tesalonika untuk selalu mengucap syukur dalam segala hal, mari apapun yang Anda alami, bersyukurlah kepada Allah dan tetaplah memuji Dia, sepe...selengkapnya »
Saat kita memuji nama Tuhan, menyembah Tuhan dengan sepenuh hati, hati kita penuh ucapan syukur akan kebesaran kasih-Nya kepada kita, maka kita akan merasakan jamahan-Nya yang luar biasa dalam hidup kita. Sungguh indah kita rasakan hadirat Tuhan. Pemazmur mengajak kita untuk menaikkan pujian bagi Tuhan karena Tuhan Yang Kudus bersemayam di atas puji-pujian [Mazmur 22:3] Bagaimana kita memuji/menyanyi bagi Tuhan? Dikatakan oleh Pemazmur dalam Mazmur 149 sbb: 1. Nyanyikanlah bagi Tuhan nyanyian baru [ayat 1]. Marilah kita dengan penuh sukacita selalu mau mengikuti nyanyian/ pujian baru ciptaan musisi-musisi kristiani yang diberi talenta oleh Tuhan. Kadang kita berpikir yang satu belum bisa sudah ada yang baru lagi. Jangan putus asa, belajar terus pasti bisa! 2. Memuji-muji Tuhan dengan tari-tarian [ayat 3a] Mungkin kita berpikir itu ‘kan untuk anak muda, itu ‘kan di Perjanjian Lama. Ingat Tuhan adalah Raja segala zaman, Allah yang kekal [1 Timotius 1:17]. Jadi memuji Tuhan dengan menari, bergerak, bertepuk tangan berlaku juga sampai sekarang. 3. Memuji Tuhan dengan iringan musik. [ayat 3b] Musik adalah anugrah Tuhan. Tidak semua orang memiliki talenta bermain musik. Musik dapat menenangkan hati yang sedang gundah. Musik dapat memotivasi kita untuk lebih bersemangat saat menaikkan pujian, dan melalui musik kita dapat mengangkat hati dalam pujian kepada Tuhan. Tanpa musik, terkadang jadi kurang bersemangat saat jemaat memuji Tuhan. Pertanyaannya, bagaimana jika di antara yang hadir tidak satupun yang bisa bermain musik? Jangan kuatir, kita bisa bertepuk tangan, musik alam ciptaan Tuhan. Karena Tuhan bersemayam di atas puji-pujian, marilah kita selalu memuji Tuhan walau mungkin kita merasa tidak bisa menyanyi, suara sumbang. Yang penting kita memuji dengan penuh kesungguhan hati. Amin. [Nin]
Matius 12:28 Tetapi jika Aku mengusir setan dengan kuasa Roh Allah, maka sesungguhnya Kerajaan Allah sudah datang kepadamu. Kerajaan Allah bukanlah sekedar janji yang masih jauh dari kenyataan masa kini. Kehadiran Kerajaan Allah sebenarnya sudah dapat kita rasakan dan nikmati sekarang ini yaitu ketika kita menang atas kuasa setan. Tuhan ingin kita menikmati Kerajaan-Nya bukan hanya besok ketika Kristus datang kedua kalinya, tetapi juga sekarang semasa kita hidup di dunia ini. Bagaimana caranya? Hiduplah sebagai warga Kerajaan Allah dan gunakan otoritas yang sudah Tuhan berikan kepada setiap warga Kerajaan-Nya. Kita diberi kuasa untuk mengalahkan kuasa setan di dalam Nama Yesus. Tuhan Yesus berkata: ’Kepadamu akan Kuberikan kunci Kerajaan Sorga. Apa yang kauikat di dunia ini akan terikat di sorga dan apa yang kaulepaskan di dunia ini akan terlepas di sorga.’ [Matius 16:19] Kita diperintahkan untuk tidak tunduk kepada iblis, melainkan melawan dia. Iblis akan takut dan lari dari kita jika kita menundukkan diri kepada Allah, artinya kita taat kepada Allah. Firman Tuhan berkata: ’Karena itu tunduklah kepada Allah, dan lawanlah Iblis, maka ia akan lari dari padamu!’ [Yakobus 4:7]. Banyak orang tidak berkuasa melawan iblis karena mereka lebih suka hidup di dalam dosa daripada hidup di bawah otoritas Allah. Orang yang demikian tidak akan mengalami Kerajaan Allah dalam hidupnya. Demikian juga Firman Tuhan mengajarkan agar kita melawan iblis dengan iman yang teguh. ’Lawanlah dia dengan iman yang teguh, sebab kamu tahu, bahwa semua saudaramu di seluruh dunia menanggung penderitaan yang sama.’ [1 Petrus 5:9]. Iblis tidak bisa dilawan dengan kekuatan kita sendiri. Melawan dengan iman artinya melawannya dengan mengandalkan kuasa Allah, yang adalah pembela bagi kita. Dialah yang berperang bagi kita dan mengalahkan musuh-musuh kita. Amin.
Mendengar istilah ’Kerajaan’ tentunya orang akan membayangkan sesuatu yang besar, megah, mengagumkan, bahkan mencengangkan. Apalagi jika kerajaan itu bukan sembarang kerajaan, pasti bayangan orang akan semakin melambung tinggi bila mendengar istilah ’Kerajaan Allah’ Uniknya, Yesus Kristus mengumpamakan Kerajaan Allah itu seperti biji sesawi mungil yang ditaburkan di tanah. Bukan biji mangga atau biji-biji lain yang ukurannya lebih besar dan lebih mantap. Sebenarnya apanya yang istimewa? Ternyata meskipun biji sesawi adalah yang paling kecil dibanding segala jenis benih yang ada di bumi, apabila ia ditaburkan, ia tumbuh dan menjadi lebih besar dari pada segala sayuran yang lain dan mengeluarkan cabang-cabang yang besar, sehingga burung-burung di udara dapat bersarang dalam naungannya [Markus 4:31-32]. Kualitas itulah yang membuat Yesus memilihnya untuk menggambarkan Kerajaan Allah Kerajaan Allah diwujudkan melalui keberadaan Gereja-Nya yang hadir di tengah-tengah dunia ini. Kerajaan Allah terwujud melalui kiprah kita yang merupakan anggota Tubuh Kristus. Kerajaan Allah terwujud bukan karena kita punya keterampilan hebat mengelola gereja serta percaya diri tinggi dan bakat menonjol dalam melayani. Kerajaan Allah diwujudkan dari hal-hal yang kecil dan sederhana. Ketika umat-Nya memberi diri untuk belajar dibentuk bersama melalui Firman-Nya. Ketika umat-Nya memberi diri untuk tidak mementingkan diri sendiri dan saling mendahulukan kepentingan yang lain. Ketika umat-Nya memberi diri untuk belajar bekerjasama di dalam perbedaan. Ketika umat-Nya memberi diri untuk memahami bahwa tujuan Gereja adalah mewujudkan hadirnya Kerajaan Allah dan bukan mewujudkan ambisi masing-masing pribadi. Seperti biji sesawi yang mungil. Dijatuhkan ke tanah. Tumbuh. Semakin besar. Kuat. Bermanfaat. Bahkan menjadi tempat bernaung bagi makhluk lain. Demikianlah Gereja hadir mewujudkan Kerajaan Allah di bumi ini.
Allah adalah Roh, kehadiran-Nya bisa di mana-mana. Tidak dibatasi oleh ruangan dan waktu, dan tidak ada yang tersembunyi di mata Tuhan [Yohanes 4:34, 2 Tawarikh 16:9]. Menghayati bahwa Allah hadir di mana-mana bukan hal mudah, karena banyak yang sudah terbiasa memahami kehadiran Tuhan hanya di tempat-tempat tertentu: Bani Israel waktu dalam perjalanan di padang gurun memahami kehadiran Tuhan di dalam Kemah Suci, tepatnya di Tabut Perjanjian [Keluaran 25, 26]. Di zaman raja-raja, bangsa Israel memahami kehadiran Allah di Bait Suci [Tabernakel] yang dibangun raja Salomo [1 Raja-Raja 5; 6; 7; 8] Di zaman gereja, orang percaya sering terbiasa menghayati kehadiran Tuhan hanya di gedung gereja, tempat dilakukan ibadah [kebaktian]. Seringkali banyak orang tidak mempersoalkan dengan sungguh-sungguh ke-Mahahadiran Tuhan, sehingga tidak menyikapi dengan benar terhadap kenyataan ini. Sikap dan reaksi kita seharusnya menyadari bahwa kita hidup di wilayah pemerintahan Allah, ada hukum yang harus ditegakkan dan dipatuhi. Bagi bangsa Israel di masa Perjanjian Lama, hukum yang mereka kenal adalah hukum Taurat. Bagi orang percaya hukum kehidupan yang harus ditegakkan adalah “Kehendak Allah” [The Lord is my law]. Semua yang kita inginkan dan lakukan harus sesuai dengan kehendak Allah [Roma 12:2]. Dampak kesungguhan dalam menghayati ke-Mahahadiran Tuhan: Hidup tidak ceroboh dalam tingkah laku. Memiliki daya tahan menghadapi segala macam bahaya dan ancaman, karena kita yakin akan kasih dan kuasa Allah yang hadir dalam hidup kita. Sikap takut akan Tuhan yang dibangun dari hati yang menghormati Tuhan [Matius 10:28; 1 Petrus 1:17; Maleakhi 2:1-2]. Menghormati Tuhan tidak cukup ditunjukkan dalam sikap tubuh, kalimat doa, nyanyian, pernyataan verbal dalam ibadah di gereja, tapi dari sikap batin di manapun kita berada. Hal ini akan nampak dalam kehidupan yang kudus dan tidak bercela di hadapan Tuhan [Kejadian 17:1]. Gaya hidup yang menghormati Tuhan secara pantas dan benar harus dibiasakan. Untuk itu membutuhkan usaha dan perburuan yang serius terhadap hal-hal rohani, mendahulukan Kerajaan Allah dan Kebenaran-Nya [Matius 6:33].
BARCODE BBM CHANNELS
RENUNGAN HARIAN
’Sesungguhnya Aku Ini Adalah Hamba Tuhan’
14 Januari '16
Tidak Seperti Yang Dunia Berikan
04 Februari '16
Menunjukkan Kekuatan-Nya
23 Januari '16
Copyright © 2012 All rights reserved. Designed and Developed by GIA Dr. Cipto Semarang