SEPEKAN TERAKHIR
  Sabtu, 20 Desember 2014   -HARI INI-
  Jumat, 19 Desember 2014
  Kamis, 18 Desember 2014
  Rabu, 17 Desember 2014
  Selasa, 16 Desember 2014
  Senin, 15 Desember 2014
  Minggu, 14 Desember 2014
POKOK RENUNGAN
Orang yang selalu bersyukur akan mampu menanggung permasalahan hidupnya.
DITULIS OLEH
Pdt. Andreas P. Chandra
Rohaniwan Pusat
Renungan Lain oleh Penulis:
Home  »  Renungan  »  Bersyukur Dalam Segala Hal
Bersyukur Dalam Segala Hal
Jumat, 15 Maret 2013 | Tema: Umat Yang Memasyurkan Allah
Bersyukur Dalam Segala Hal
I Tesalonika 5:18
Selalu ada alasan untuk mengucap syukur, sekalipun kondisi yang kita hadapi kelihatannya buruk. Chrysostom, seorang yang pernah menjadi Uskup Besar Constantinopel, dibawa ke pembuangan, dianiaya, direndahkan dan mati di tempat yang jauh dari kemewahan kota serta kesenangan dan kemuliaan yang pernah dinikmatinya. Namun demikian ia belajar bersyukur dalam semua keadaan. Semua ini bertolak dari motto hidupnya: “Doxa to Theo Panton Heneken” yang artinya kemuliaan bagi Allah dalam segala sesuatunya. Ia dapat membuktikan mottonya itu, di mana ia tetap bersyukur dan memuliakan Allah sekalipun menderita.

Marilah kita juga belajar untuk memuji Allah dan bersyukur kepada-Nya dalam segala sesuatu yang terjadi pada diri kita atas ijin-Nya. Kita tidak hanya bersyukur untuk hal-hal yang baik saja, tetapi juga untuk kejadian-kejadian yang menyesakkan hati kita. Kita mungkin tidak tahu apa maksud Allah ketika Ia mengijinkan semua itu terjadi, namun kita harus tetap percaya bahwa Ia adalah Allah yang Mahabaik. Kita tahu kisah Ayub yang mengalami pencobaan sedemikian beratnya, namun Ia belajar bersyukur dan tetap setia kepada Allah. Dan karena ia setia, maka Allah memulihkan keadaannya dan memberkati hidupnya.

Berdasarkan pengajaran Paulus kepada jemaat Tesalonika untuk selalu mengucap syukur dalam segala hal, mari apapun yang Anda alami, bersyukurlah kepada Allah dan tetaplah memuji Dia, sepe...selengkapnya »
Betsy sedang melayani seorang wanita bernama Nanik, seorang gadis yang mengalami pelecehan seksual dan korban pemerkosaan oleh saudara sekandungnya. Gadis ini minta didoakan karena menderita bisul di bagian usus besarnya yang nyaris mengancam keselamatan jiwanya. Setelah Betsy membimbingnya secara pastoral, Nanik bersedia mengampuni saudaranya meskipun begitu pahit pengalaman itu dirasakannya. Akhirnya Allah memulihkan kesehatannya. Bisul di usus besarnya hilang dengan sendirinya tanpa harus melewati meja operasi, sampai dokter yang merawatnya merasa heran akan keajaiban Allah. Hubungan dengan saudara kandungnya pun dipulihkan, sehingga mereka bisa hidup saling mengasihi. Permintaan Allah kepada kita sangat sederhana dan disampaikan terus menerus, yaitu kita harus hidup saling mengampuni satu sama lain (Lukas 6:37). Supaya kita bisa memutus rantai balas dendam, hidup saling menyakiti, memutus belenggu kepahitan hidup yang dapat membahayakan emosional dan kesehatan jasmani kita. Sesakit apapun yang kita alami, ketika kita mengampuni, pada akhirnya hal itu akan membawa kita kepada kesembuhan. Allah memerintahkan kita untuk hidup saling mengampuni satu sama lain supaya hubungan kita satu dengan yang lain menjadi damai dan penuh kasih sayang disertai dengan ketulusan hati. Itulah kehendak Allah atas hidup kita. Kejadian 45:11-15 merupakan contoh kehidupan Yusuf sebagai seorang perdana mentri Mesir yang mau mengambil keputusan untuk mengampuni saudara-saudaranya yang telah memperlakukannya dengan jahat sehingga ia hidup dalam kesulitan selama 13 tahun sebagai seorang budak. Kini setelah dia menjadi penguasa di Kerajaan Mesir dan dipercaya sebagai pengatur persediaan makanan di musim kelaparan, saudara-saudaranya datang untuk meminta belas kasihannya. Yusuf memberikan pelayanan yang terbaik kepada mereka sebelum memperkenalkan dirinya, bahkan setelah pemulihan hubungan, Yusuf menawarkan kehidupan yang lebih baik kepada mereka atas persetujuan Raja Mesir. Pengampunan itu memberi pengaruh yang luar biasa dalam pemulihan hubungan dan penyembuhan penyakit jasmani yang ditimbulkan oleh kepahitan, kemarahan, kegeraman. Bagi kita yang masih belum bisa mengampuni sesama, mintalah belas kasihan Allah supaya kita diberikan kekuatan dan kuasa untuk mengampuni. Demi kebaikan hubungan di masa depan baik dengan Allah maupun sesama kita, dan juga untuk kesehatan mental serta jasmani kita, ambillah keputusan sekarang juga untuk mengampuni selagi masih ada kesempatan.
Dan sekalipun aku membagi-bagikan segala sesuatu yang ada padaku, bahkan menyerahkan tubuhku untuk dibakar, tetapi jika aku tidak mempunyai kasih, sedikitpun tidak ada faedahnya bagiku. Pemilik pabrik mobil Amerika, Henry Ford, pernah diminta menyumbang untuk pembangunan sebuah rumah sakit baru. Orang kaya itu menyanggupi untuk menyumbang 5.000 Dolar. Esok harinya muncul berita di surat kabar, ”Henry Ford menyumbang 50.000 Dolar untuk rumah sakit setempat.” Ford merasa tidak enak dan protes kepada penggalang dana rumah sakit itu. Penggalang dana menjawab, ”Baik kami akan meralatnya.” Esoknya muncul di koran, ”Henry Ford mengurangi sumbangannya sebesar 45.000 Dolar.” Menyadari bahwa itu akan berakibat buruk bagi reputasinya, Henry Ford setuju akan menyumbang 50.000 Dolar.” Berbagi berkat itu baik. Tetapi yang tidak boleh dilupakan adalah motivasinya. Banyak orang bisa memberi kepada orang lain: ada yang memberi sumbangan dalam jumlah besar kepada panti asuhan, ada yang membagi-bagi uang kepada orang-orang miskin, ada yang menyantuni banyak anak yatim piatu, ada yang memberi beasiswa kepada anak-anak sekolah, tetapi bukan dengan motivasi kasih. Ada yang melakukan itu untuk mengurangi rasa bersalah karena telah mendapatkan kekayaan dengan cara yang tidak benar, ada yang melakukannya untuk mengejar popularitas dan mengumpulkan suara menjelang Pemilu (biasa dilakukan oleh politikus), ada yang melakukannya karena merasa sungkan karena disodori proposal. Rasul Paulus berkata: walaupun aku memberikan seluruh milikku kepada orang lain, bahkan menyerahkan tubuhku untuk dibakar, tapi kalau tanpa kasih, semuanya akan sia-sia. Sebuah pemberian yang sia-sia. Artinya, tidak punya nilai di dalam Kerajaan Allah. Efek dari tindakan itu hanya sementara saja. Mungkin kita akan mendapat pujian dari orang, kita akan dikenal sebagai orang dermawan, nama kita akan dicatat sebagai donatur dari sebuah yayasan sosial. Tapi apa gunanya jika Surga tidak mencatat nama kita dan Tuhan tidak menganggap apa yang kita lakukan? Kalau begitu kita harus berpikir dahulu sebelum memberi atau berbagi. Adakah kita betul-betul mau memberi karena kasih atau karena apa? Jangan sampai pemberian itu menjadi sebuah tindakan yang sia-sia.
Adalah hal yang wajar bila orang cenderung memperhitungkan untung dan rugi ketika akan melakukan sesuatu. Contoh, waktu orang berdagang atau akan membuka sebuah usaha biasanya orang cenderung menghitung-hitung untung yang akan diperoleh. Jika keuntungan hanya sedikit, dia akan mempertimbangkan berulangkali rencananya untuk berbisnis. Dalam menjalin pertemanan persahabatan dengan sesama seringkali manusia juga memperhitungkan untung dan rugi. Hubungan persahabatatan seseorang dengan yang lain bisa saja berakhir tiba-tiba tatkala salah satu pihak merasa disakiti atau dirugikan. Filemon seorang pengikut Kristus yang sebelumnya adalah tuan dari Onesimus. Filemon pernah dirugikan karena Onesimus berhutang kepadanya sehingga ia memenjarakannya. Dia diminta oleh Paulus untuk menerima kembali bukan sebagai hamba tetapi sebagai saudara yang kekasih. Tentu bukan hal yang mudah bagi Filemon untuk menerima kembali Onesimus, hambanya yang telah mengecewakan dan merugikannya sebagai saudara secara sukarela. Tapi itu kehendak Tuhan untuk Filemon lakukan. Saudara terkasih, sebagai orang percaya kita juga sering mengalami hal serupa seperti yang dialami Filemon. Saat kita disakiti dirugikan orang lain apakah kita akan tetap berkawan dengan orang itu? Saat kita dipertemukan dengan orang-orang yang pernah melakukan kejahatan di lingkungan kita, apakah kita akan menerima mereka kembali sebagai orang yang semestinya dikasihi dibina secara rohani untuk bisa bertobat dan dipulihkan? Apakah kita mau berguna bagi orang-orang yang telah merugikan atau menyakiti kita? Jangan pernah hanya menghitung untungnya saja secara lahiriah, tapi pertimbangkan serta perhitungkan keuntungan rohani-batiniah ketika kita berguna bagi mereka yang pernah merugikan kita.
Kisah Para Rasul 20:35 Dalam segala sesuatu telah kuberikan contoh kepada kamu, bahwa dengan bekerja demikian kita harus membantu orang-orang yang lemah dan harus mengingat perkataan Tuhan Yesus, sebab Ia sendiri telah mengatakan: ”Adalah lebih berbahagia memberi dari pada menerima.” Ada sebuah tradisi di Amerika dan beberapa negara lain, setiap Jumat keempat di bulan Nopember disebut sebagai Black Friday. Hari itu merupakan hari untuk berbelanja. Toko-toko dan supermarket mengadakan sale besar-besaran. Biasanya pada hari itu sejak pagi hari orang berbondong-bondong mengunjungi pusat-pusat perbelanjaan. Mereka membelanjakan uang dalam jumlah yang besar. Kebiasaan itu ada kaitannya dengan Natal. Biasanya menjelang Natal orang-orang berbelanja untuk kebutuhan perayaan hari Natal. Perayaan Natal telah dikonotasikan dengan kebiasaan berbelanja. Apakah demikian cara untuk menyambut Natal? Sungguh penyambutan Natal seperti itu jauh sekali dari makna Natal yang sebenarnya. Apakah kaitan kelahiran Yesus dengan berbelanja? Tidak ada sama sekali. Makna Natal yang sebenarnya adalah: Memberi. Allah memberikan Putra-Nya untuk menebus dosa dunia. Yesus memberikan hidup-Nya bagi manusia, supaya manusia beroleh keselamatan di dalam Dia. Yesus mengajarkan: Adalah lebih berbahagia memberi daripada menerima. Pada hari yang sama, beberapa gereja di Amerika mengadakan sebuah gerakan yang berkebalikan dengan Black Friday. Mereka menamakan gerakan itu Bless Friday. Mereka mengisi hari Jumat itu bukan dengan berbelanja, tetapi dengan mengadakan aksi sosial. Mereka membagikan makanan kepada orang-orang tuna wisma. Mereka mengunjungi rumah-rumah jompo untuk memberikan penghiburan kepada para lansia. Mereka mengadakan kerja bakti untuk membersihkan lingkungan. Hari itu dimaknai dengan kegiatan berbagi dan menjadi berkat. Itulah makna Natal yang sebenarnya. Bagaimana kita memaknai Natal di tahun ini? Inilah kesempatan yang baik bagi kita untuk berbagi kasih kepada orang lain, terutama kepada mereka yang lemah, kekurangan dan tak terperhatikan. Tuhan memberkati.
BARCODE BBM CHANNELS
RENUNGAN HARIAN
Kekuatan Kasih
18 Desember '14
Kasih Tak Sampai
15 Desember '14
Pengampunan Itu Menyembuhkan
26 November '14
Copyright © 2012 All rights reserved. Designed and Developed by GIA Dr. Cipto Semarang