SEPEKAN TERAKHIR
  Sabtu, 27 Mei 2017   -HARI INI-
  Jumat, 26 Mei 2017
  Kamis, 25 Mei 2017
  Rabu, 24 Mei 2017
  Selasa, 23 Mei 2017
  Senin, 22 Mei 2017
  Minggu, 21 Mei 2017
POKOK RENUNGAN
Orang yang selalu bersyukur akan mampu menanggung permasalahan hidupnya.
DITULIS OLEH
Pdt. Andreas P. Chandra
Rohaniwan Pusat
Renungan Lain oleh Penulis:
Home  »  Renungan  »  Bersyukur Dalam Segala Hal
Bersyukur Dalam Segala Hal
Jumat, 15 Maret 2013 | Tema: Umat Yang Memasyurkan Allah
Bersyukur Dalam Segala Hal
I Tesalonika 5:18
Selalu ada alasan untuk mengucap syukur, sekalipun kondisi yang kita hadapi kelihatannya buruk. Chrysostom, seorang yang pernah menjadi Uskup Besar Constantinopel, dibawa ke pembuangan, dianiaya, direndahkan dan mati di tempat yang jauh dari kemewahan kota serta kesenangan dan kemuliaan yang pernah dinikmatinya. Namun demikian ia belajar bersyukur dalam semua keadaan. Semua ini bertolak dari motto hidupnya: Doxa to Theo Panton Heneken yang artinya kemuliaan bagi Allah dalam segala sesuatunya. Ia dapat membuktikan mottonya itu, di mana ia tetap bersyukur dan memuliakan Allah sekalipun menderita.

Marilah kita juga belajar untuk memuji Allah dan bersyukur kepada-Nya dalam segala ...selengkapnya »
Orang menyebut zaman ini adalah zaman kebangkitan Islam dalam berbagai fenomenanya. Di sisi lain, kekristenan sedang mengalami kemunduran yang kian parah. Sudah lama terjadi di Eropa dan mungkin sedang terjadi di negeri kita sekarang ini. Meski Gereja-Gereja masih ramai dikunjungi oleh jemaat pada Hari Minggu. Tetapi apakah masih ada roh yang menyala-nyala untuk Tuhan dalam ibadah dan dalam hidup kita? Bukankah gejalanya terbalik saat ini. Dahulu rohaniwan dan jemaat begitu menaruh perhatian pada kondisi kerohaniannya. Doa dilakukan dengan sungguh-sungguh kerap kali dengan mencucurkan air mata karena penyesalan akan dosa atau kerinduan mengenal kehendak Tuhan. Namun saat ini fenomena seperti itu justru kita lihat dari saudara-saudara kita, umat Islam. Mereka berdoa sungguh-sungguh sambil menangis karena merasa belum dapat melaksanakan kehendak Allah. Dahulu pemuda-pemudi Kristen dikenal mempunyai etos belajar dan etos kerja yang gigih karena “dibakar” semangat hidup untuk Tuhan. Saat ini justru pemuda dan pemudi Muslim yang mengambil alih keuletan itu. Sebaliknya pemuda dan pemudi kita lebih suka mencari kemudahan dan kenyamanan dengan “dugem rohani” yang miskin esensi iman. Dahulu kabar baik dapat disebarkan karena banyak orang Kristen yang mau berkorban harta, tenaga, bahkan nyawa. Saat ini kita memble karena sibuk membangun “kerajaan sendiri” dan bukannya kerajaan Allah. Sebaliknya saudara-saudara Muslim makin getol berdakwah berapapun harga yang harus mereka bayar, mereka siap berkorban. Tuan Joko Ndokondo memperhatikan gejala-gejala umum ini. “Kita sedang meluncur bebas membusuk,” kata sang tuan resah, “meskipun lambat tetapi pasti apalagi jika kita tidak menyadari betapa dalamnya kita telah jatuh.” Seperti kondisi pembusukan yang terjadi pada bangsa Israel pada zaman Nabi Yeremia. Pembusukan terjadi karena imam, nabi, dan umat Allah tidak lagi mencari Allah dengan sungguh-sungguh. Mereka menganggap pengenalan akan Allah sebagai sesuatu yang tidak penting. Tiap orang sibuk memikirkan dirinya sendiri dan dengan urusan pribadinya masing-masing. Sehingga tak ayal kedurhakaan dan perbuatan jahat terjadi di sana. Dalam bahasa Perjanjian Baru, umat Allah gagal menjadi garam yang mengawetkan dan sebaliknya malah meluncur bebas dalam pembusukan itu sendiri. “Semoga hal ini tidak terjadi di Gereja kita dan di Indonesia,” harap Tuan Joko Ndokondo. Kali ini Tuan Joko Ndokondo tak mampu memberikan kata-kata penutup seperti yang biasa dia sampaikan. Ia memilih untuk menundukkan diri dan tenggelam dalam doa kepada Tuhan. Jemaat yang terkasih, tidak semua malapetaka terjadi begitu saja. Ada yang mulai dari gejala kecil namun kita abaikan. Oleh karena itu marilah kita mulai mendeteksi kerohanian kita. Apakah kita masih sungguh-sungguh mencari Tuhan? Sungguh-sungguh berdoa? Sungguh-sungguh belajar firman-Nya? Sungguh-sungguh rela berkorban untuk-Nya? Semoga kita bangkit dan tidak sedang bebas membusuk. Terpujilah Tuhan!
Bagi siapakah janji Tuhan? Kisah Para Rasul 2:37-40 Sebab bagi kamulah janji itu dan bagi anak-anakmu dan bagi orang yang masih jauh, yaitu sebanyak yang akan dipanggil oleh Tuhan Allah kita. [ayat 39] Murid Kristus adalah orang yang mendapat hak untuk menerima janji-janji Tuhan: keselamatan/ hidup kekal, hidup dalam sukacita dan damai sejahtera, penyertaan oleh Tuhan dalam menghadapi setiap tantangan hidup, mengalami kemenangan dalam perjuangan hidup ini, dan masih banyak janji lainnya yang luar biasa. Janji-janji itu adalah untuk dinikmati dan dialami oleh setiap murid Kristus. Kalau tidak mengalami janji itu berarti ada seseuatu yang salah di dalam hidup orang tersebut. Bagi kamulah janji itu. Jangan sampai ada di antara kita yang tidak mengerti atau tidak meyakini bahwa janji Tuhan itu adalah untuk kita. Jika kita tidak meyakini janji itu kita tidak akan mengalaminya. Jika kita tidak meyakini maka hidup kita tidak memiliki harapan, dan hidup kita tidak memiliki iman sesuai dengan janji Tuhan itu. Jika ingin mengalami janji Tuhan maka kita harus meyakini bahwa janji itu adalah BAGI KITA. Minggu lalu saya menyampaikan prinsip memperkatakan Firman Tuhan. Karena itu kita bisa memperkatakan Firman Tuhan dan mengatakan: ’Firman Tuhan itu adalah BAGI SAYA. Bagi sayalah janji Tuhan itu.’ Perkatakanlah itu berulang-ulang, sehingga jalan pikiran, perasaan dan kehendak kita dikuasai dan dipimpin oleh Firman Tuhan. Maka Firman yang diucapkan itu akan mendatangkan hasil seperti yang Anda perkatakan dan Anda percayai. Bagi anak-anakmu Janji Tuhan bukan saya buat kita secara pribadi, tetapi juga bagi anak-anak kita. Janji Tuhan itu tidak terputus pada generasi kita saja, tetapi berlanjut kepada generasi di bawah kita. Milikilah keyakinan bahwa anak-anak kita juga akan ikut menikmati janji Tuhan. Itu berarti bahwa kita mempunyai tanggung jawab untuk menceritakan kebaikan Tuhan dan mengajarkan iman dan ketaatan akan janji Tuhan kepada mereka, agar mereka juga percaya dan menikmati janji Tuhan. Bagaimanakah keadaan anak-anak kita saat ini? Apakah mereka juga percaya kepada Tuhan? Bagi mereka yang masih jauh Janji Tuhan juga buat mereka yang masih jauh, artinya orang yang saat ini masih belum percaya, namun mereka adalah orang-orang yang sedang menantikan keselamatan dan kebenaran yang sejati. Mereka adalah orang-orang yang akan dipanggil oleh Allah untuk menerima janji-Nya. Harus ada yang menyampaikan berita sukacita itu kepada mereka. Mungkin mereka itu adalah orang-orang di sekitar kita. Tuhan mau memakai kita untuk menjangkau mereka. Pdt. Goenawan Susanto
Setiap anak pasti mengenal orang yang paling dekat dengan dirinya. Paling tidak anak tahu bahwa yang ada di sekitarnya siang dan malam adalah orangtuanya. Sekalipun anak angkat, jikalau ia dirawat sejak bayi, dikasihi dan disayangi, pasti anak tersebut akan merasakan kasih sayang dari orangtua. Bahkan sekalipun orangtua pernah marah, menasihati, menegur dengan keras, si anak pasti tetap menganggap orang yang telah membesarkan dan merawatnya adalah orangtuanya. Karena hampir setiap saat mereka bersama-sama dan terus mendampingi dalam proses tumbuh kembangnya. Kedekatan anak dengan orangtua membuat anak menjadi mengerti sikap dan perbuatan orangtuanya. Mulai dari cara makan dan makanan favoritnya, bahkan sampai kebiasaan-kebiasaan yang sering dilakukan orangtuanya, anak menjadi tahu dan akhirnya bisa juga menirukan. Bulan ini menjadi bulan yang istimewa bagi orang percaya karena momen kematian dan kebangkitan Yesus kembali kita peringati. Peristiwa kematian Yesus di kayu salib menyisakan luka dan kesedihan yang mendalam bagi para pengikut dan murid Yesus. Mereka lupa bahwa Tuhan telah menubuatkan bahwa setelah kematian-Nya, Ia akan bangkit pada hari yang ketiga. Sehingga mereka hanya berfokus pada kematian Yesus saja. Mereka mungkin juga lupa bahwa Yesus juga telah berpesan untuk bangkit dan menang atas kuasa maut, sehingga pada minggu pagi-pagi Maria Magdalena dan Maria-maria yang lain hendak mengunjungi kubur Yesus untuk merempahi mayat Yesus, namun perempuan-perempuan itu terkejut ketika kubur telah terbuka dan tidak menemukan Yesus di sana. Tetapi Yesus sendiri menampakkan diri-Nya kepada Maria dan kemudian ia menyampaikan kepada murid Yesus, namun mereka sendiri tidak percaya bahwa Yesus bangkit dan hidup. Setelah itu Yesus menampakkan diri kepada dua orang yang sedang berjalan ke luar kota. Lalu kembalilah mereka untuk memberitahukan kepada murid Yesus, namun lagi-lagi para murid belum percaya akan berita itu. Akhirnya Yesus menampakkan diri kepada kesebelas murid, dan melalui momen itulah para murid baru mempercayai bahwa Yesus bangkit dan hidup. Kemudian Yesus memberikan pesan kepada para murid-Nya untuk memberitakan Injil ke seluruh dunia. Para murid yang bersama-sama dengan Tuhan Yesus dalam kurun waktu yang cukup lama belum mampu mengenal Yesus sepenuhnya. Apalagi kehidupan kita yang mungkin tidak memiliki waktu untuk mendekatkan diri kepada Tuhan, apakah kita sanggup mengenali Tuhan jika kita bertemu dengan-Nya? Sanggupkan kita mendengar suara-Nya? Atau mampukah kita mengerjakan perintah-Nya? Jemaat yang terkasih, mari kita hidup mengenal kuasa kebangkitan-Nya dan semakin mendekatkan diri kepada Sang Pencipta.
Penganiayaan bukanlah hal yang asing sejak pertama kalinya para pengikut Kristus disebut sebagai orang Kristen. Para pendahulu kita dianiaya oleh pemerintah Romawi karena tidak mau menyembah patung kaisar. Mereka dicap pembangkang dan bahkan pemberontak karena mempunyai kaisar sendiri, yaitu Yesus Kristus. Bahkan menyebut-Nya sebagai Kaisar di atas segala kaisar [Raja di atas segala raja]. Namun keadaan berbalik, pada tahun 313 Kaisar Constantinus mengeluarkan maklumat toleransi dan kemudian berkembang dengan menjadikan Agama Kristen sebagai agama resmi kekaisaran. Kekristenan berbalik dari minoritas tertindas menjadi mayoritas penindas yang didukung alat-alat kekuasaan negara. Dan kala itu yang terjadi bukanlah zaman keemasan Gereja, namun sebaliknya masyarakat Kristen Eropa hidup dalam abad-abad yang gelap. Tuan Joko Ndokondo menarik pelajaran berharga atas pengalaman buram Gereja di masa lalu itu. “Keyakinan itu tidak dapat dipaksakan!” katanya dengan tegas di hadapan beberapa anak muda Gereja, “Jika dipaksakan pastilah berbuahkan keburukan semata.” Bukan saja kisah Gereja di abad pertengahan yang menunjukkan hal itu. Namun sudah dinyatakan dalam Alkitab, yaitu tentang kisah Israel di tanah Mesir yang diperbudak oleh Firaun. Firaun berupaya membuat bangsa Israel lupa akan Allahnya. Kerja paksa yang kian hari kian keras diterapkan agar kelelahan membuat kerinduan untuk beribadah sirna dari benak mereka. Namun ternyata pemaksaan yang demikian justru membuat bangsa Israel kian dahaga untuk berjumpa dengan Allah dan beribadah kepada-Nya. Seorang anak muda mengangkat tangan, “Jika keyakinan tidak bisa dipaksakan, apakah dengan demikian kita pun tidak boleh memberitakan Injil pada orang lain?” tanyanya. “Tidak demikian anak muda”, jawab Tuan Joko Ndokondo, “Injil adalah kabar baik yang harus disampaikan dengan cara yang baik pula, yaitu memberitakannya tanpa pemaksaan apalagi dengan ancaman dan kebencian. Jika orang yang kita beritakan Injil menerima, kita bersukacita. Namun jika tidak, kita tetap menghormatinya beserta dengan keyakinan yang ia pilih sebagai jalan hidupnya.” Si anak muda mengangguk-angguk tanda mengerti. Tuan Joko Ndokondo menghela nafas panjang lalu berkata, “Dengan demikian kita mengagungkan keyakinan kita di dalam Kristus Yesus dan sekaligus turut memelihara kebhinnekaan. Hanya dengan cara ini kesatuan bangsa tetap dapat dipelihara.” Dan “Sttt…ttt, jangan bilang siapa-siapa ya?” kata Tuan Joko Ndokondo menutup pituturnya. Jemaat yang terkasih, kita tidak ingin kebebasan kita beribadah sesuai dengan keyakinan kita diganggu. Apalagi dengan kata-kata “Kafir!” sebagai ungkapan penuh kebencian. Oleh sebab itu marilah kita berlaku bijak pada orang-orang yang berbeda keyakinan dengan kita. Amanat Agung Tuhan Yesus mesti tetap kita diberitakan. Namun bersamaan dengan itu kita harus menghormati orang lain beserta dengan keyakinan dan ibadah yang ia pilih. Terpujilah Tuhan!
BARCODE BBM CHANNELS
RENUNGAN HARIAN
Menjaga Hati
25 Mei '17
Tahu Karena Mengerti
12 Mei '17
Jangan Takut, Percaya Saja !
08 Mei '17
Copyright © 2012 All rights reserved. Designed and Developed by GIA Dr. Cipto Semarang