SEPEKAN TERAKHIR
  Jumat, 28 November 2014   -HARI INI-
  Kamis, 27 November 2014
  Rabu, 26 November 2014
  Selasa, 25 November 2014
  Senin, 24 November 2014
  Minggu, 23 November 2014
  Sabtu, 22 November 2014
POKOK RENUNGAN
Orang yang selalu bersyukur akan mampu menanggung permasalahan hidupnya.
DITULIS OLEH
Pdt. Andreas P. Chandra
Rohaniwan Pusat
Renungan Lain oleh Penulis:
Home  »  Renungan  »  Bersyukur Dalam Segala Hal
Bersyukur Dalam Segala Hal
Jumat, 15 Maret 2013 | Tema: Umat Yang Memasyurkan Allah
Bersyukur Dalam Segala Hal
I Tesalonika 5:18
Selalu ada alasan untuk mengucap syukur, sekalipun kondisi yang kita hadapi kelihatannya buruk. Chrysostom, seorang yang pernah menjadi Uskup Besar Constantinopel, dibawa ke pembuangan, dianiaya, direndahkan dan mati di tempat yang jauh dari kemewahan kota serta kesenangan dan kemuliaan yang pernah dinikmatinya. Namun demikian ia belajar bersyukur dalam semua keadaan. Semua ini bertolak dari motto hidupnya: “Doxa to Theo Panton Heneken” yang artinya kemuliaan bagi Allah dalam segala sesuatunya. Ia dapat membuktikan mottonya itu, di mana ia tetap bersyukur dan memuliakan Allah sekalipun menderita.

Marilah kita juga belajar untuk memuji Allah dan bersyukur kepada-Nya dalam segala sesuatu yang terjadi pada diri kita atas ijin-Nya. Kita tidak hanya bersyukur untuk hal-hal yang baik saja, tetapi juga untuk kejadian-kejadian yang menyesakkan hati kita. Kita mungkin tidak tahu apa maksud Allah ketika Ia mengijinkan semua itu terjadi, namun kita harus tetap percaya bahwa Ia adalah Allah yang Mahabaik. Kita tahu kisah Ayub yang mengalami pencobaan sedemikian beratnya, namun Ia belajar bersyukur dan tetap setia kepada Allah. Dan karena ia setia, maka Allah memulihkan keadaannya dan memberkati hidupnya.

Berdasarkan pengajaran Paulus kepada jemaat Tesalonika untuk selalu mengucap syukur dalam segala hal, mari apapun yang Anda alami, bersyukurlah kepada Allah dan tetaplah memuji Dia, sepe...selengkapnya »
Seorang wanita aktivis sebuah gereja mempunyai suami yang gemar berjudi dan minuman keras. Hampir setiap hari pulang sampai larut malam dan menjelang pagi. Dia setia menunggu suaminya pulang walaupun seringkali tiba di rumah dalam keadaan mabuk, marah-marah dan tidak jarang memukulinya. Dengan sabar dia melayani suaminya dengan membersihkan tubuhnya dan mengganti pakaiannya. Pagi harinya setelah pengaruh alkoholnya hilang, suaminya meminta maaf kepadanya atas kejadian semalam. Dengan ikhlas dia mengampuni suaminya. Malam harinya terjadi lagi seperti malam sebelumnya. Hal ini berulang terus menerus dan dia tetap mengampuni suaminya. Ketika seorang ibu bertanya kepadanya mengapa dia sangat sabar dan tidak bosan mengampuni, dia berkata, ”Tuhan telah lebih dahulu mengampuni saya dan tidak pernah jemu mengampuni, sudah selayaknya saya meneladani-Nya.” Tuhan menghendaki kita sabar terhadap orang lain dan mengampuni kesalahannya, seperti Tuhan telah mengampuni kita. Hal itu bisa terjadi apabila kita mengenakan kasih Allah dalam hidup kita dan damai sejahtera-Nya memerintah dalam hati kita. Yang merupakan dampak dari firman Tuhan dengan segala kekayaaannya diam di dalam hidup kita. Saat ini mungkin hati kita penuh dengan kejengkelan ataupun kemarahan terhadap orang yang menyakiti hati kita. Telah berulang kali kita mengampuninya, tetapi terus menerus perbuatan menyakitkan hati dilakukannya. Penuhilah hidup kita dengan firman Tuhan yang senantiasa kita baca dan renungkan sehingga damai sejahtera Allah diam di dalam hati kita. Dengan demikian kasih Allah akan nyata dalam hidup kita dan hati kita akan penuh dengan pengampunan. Sehingga kita tidak akan jemu untuk mengampuni siapa saja yang menyakiti hati kita.
Matius 6:12-15 dan ampunilah kami akan kesalahan kami, seperti kami juga mengampuni orang yang bersalah kepada kami; (ayat 12) Di sebuah kota ada seorang wanita yang terkenal sebagai wanita gila, karena dia sering berbicara dengan dirinya sendiri. Bahkan dia mengaku sering bercakap-cakap dengan Tuhan Yesus. Lalu ada seorang Kristen yang mendatanginya untuk menggodanya. Dia bertanya kepada perempuan itu: ”Apa benar kamu sering bercakap-cakap dengan Tuhan Yesus?” Wanita itu menjawab: ”Ya benar, baru saja saya bercakap-cakap dengan Dia berjam-jam.” Orang Kristen itu berkata: ”Kalau begitu tolong tanyakan pada-Nya, pengakuan dosa apa yang terakhir aku lakukan?” Keesokan harinya orang Kristen itu bertemu kembali dengan perempuan itu dan bertanya: ”Sudahkah kau sampaikan pada Yesus pertanyaan saya kemarin?” Perempuan itu menjawab: ”Sudah. Dan Dia menjawab sudah tidak ingat lagi apa dosamu.” Kebenaran dari cerita tersebut adalah: sekali Tuhan mengampuni dosa kita, maka Dia tidak mengingat lagi dosa kita. Artinya, Dia tidak mau mengungkit-ungkit masa lalu kita. Dia hanya mau melihat apa yang ada di depan kita, yaitu agar kita menjadi pribadi yang lebih baik. ”Ampunilah kami akan kesalahan kami, seperti kami juga mengampuni orang yang bersalah kepada kami.” Ini adalah bagian dari doa yang diajarkan Tuhan Yesus, yang sering kita sebut Doa Bapa Kami. Kita memohon pengampunan dosa, kita juga harus memberikan pengampunan pada orang yang bersalah pada kita. Keduanya harus seimbang. Jika kita hanya mau mendapatkan pengampunan dari Tuhan, tetapi kita tidak mau memberikan pengampunan kepada orang lain itu tidak adil. Kita juga pernah berbuat salah dan kita selalu tidak pernah luput dari berbuat kesalahan. Kita terus berusaha menjadi lebih baik dari kemarin. Kita belajar tidak jatuh dalam satu hal, tetapi kadang kita masih gagal dalam hal lainnya. Tuhan selalu memberi kesempatan kepada orang yang mau menjadi lebih baik. Demikian juga kita harus memberi kesempatan yang sama kepada orang lain.
Setiap orang mempunyai dua arsip yang tersimpan di memorinya. Pertama adalah arsip yang berisi kisah kemenangan, sukacita dan kebahagiaan. Kedua adalah arsip yang berisi kisah penolakan, kegagalan, perkabungan, atau hal-hal negatif lainnya. Arsip manakah yang sering kita buka? Arsip pertama akan menjadikan hidup kita bahagia, sebaliknya arsip kedua akan membuat kita pedih dan sedih. Orang yang menyimpan luka-luka emosional biasanya hidup di dalam lingkaran mengasihani diri sendiri. Ia senang menghidupkan dan menghidupi kenangan-kenangan menyakitkan itu dipikirannya. Kehidupan yang dibayangi luka-luka masa lalu mempengaruhi masa sekarang dan berpotensi merusak masa depan. Kita tidak dapat mengubah masa lalu, namun kita dapat memperbaikinya sekarang guna membangun masa depan yang cerah. Langkah apa yang harus diambil agar kita sembuh dari luka - luka itu? Pertama, terimalah semua pengalaman pahit sebagai proses pendewasaan. Kita tidak selalu harus bisa mengerti mengapa pengalaman yang menyakitkan itu kita alami. Belajarlah melihat bahwa ketika Tuhan mengijinkannya, maka hal itu pasti ada baiknya bagi kita. Lewat masa-masa yang menyakitkan Tuhan sedang menumbuhkan kasih, kesabaran, pengampunan dan penguasaan diri (Mazmur 119:71). Kedua, ampuni orang yang sudah melukai hati kita. Mungkin kita terluka oleh orangtua, saudara, atasan, atau teman kita, tetapi kita tidak akan pernah bahagia selama masih menyimpan kebencian atas luka-luka itu. Ambillah tindakan kasih saat itu juga dan ampuni mereka yang telah melukai (Amsal 27:17). Ketiga, ketika kenangan luka masa lalu mengganggu pikiran kita, tolaklah dengan cara melakukan kegiatan yang berguna. Iblis suka melepaskan panah api jahatnya ke pikiran kita, dia akan mengintimidasi kita atas luka-luka masa lampau. Ketika panah api itu menyerang, patahkanlah dengan melakukan kegiatan yang berguna, seperti membaca Firman dan berdoa (Efesus 6:16).
Seorang bapak menemui seorang pengacara meminta dibuatkan surat wasiat yang intinya agar seluruh warisannya diberikan kepada sebuah Panti Asuhan anak cacat. Sang pengacara menanyakan alasan bapak tersebut berbuat demikian. Alasannya yaitu, selama ini kedua anaknya tidak ada yang mau mengalah dalam segala hal. Bapak itu takut mereka bertengkar dan tidak ada yang mau mengalah gara-gara memperebutkan warisan. Si bapak paham betul akan sifat kedua anaknya yang suka membalas. Kejadian di atas dapat kita lihat, jika disuruh memilih antara mengampuni atau membalas kejahatan seseorang, banyak orang pasti akan lebih memilih melakukan pembalasan terhadap kejahatan yang dilakukan orang lain. Jika ini dilakukan oleh orang dunia, kita maklum. Namun tidak bagi orang Kristen karena mengampuni adalah sebuah keharusan (wajib), bukan pilihan. Mengapa orang Kristen harus mengampuni? Sesungguhnya oleh karena pengampunan Tuhan bagi kitalah yang mengharuskan kita dapat mengampuni orang lain. Yesaya menuliskan: “Dia tertikam oleh karena pemberontakan kita, dia diremukkan oleh karena kejahatan kita; ganjaran yang mendatangkan keselamatan bagi kita ditimpakan kepadanya, ..... Tuhan telah menimpakan kepadanya kejahatan kita sekalian.” (Yesaya 53:5-6). Hukuman atas pelanggaran yang seharusnya kita terima telah ditanggung oleh Yesus Kristus di kayu salib. Yesus telah menerima murka Allah yang seharusnya ditimpakan kepada kita. Dialah yang menggantikan tempat kita. Darah Yesus membasuh dan menyucikan kita dari dosa. Ketika ada kesalahan atau kejahatan dilakukan oleh pihak lain, kitalah yang harus berinisiatif terlebih dulu untuk mengampuni mereka. Sebagaimana Allah di dalam Kristus Yesus telah mengampuni kita, hendaklah kita juga punya hati yang mau mengampuni kesalahan orang lain. Efesus 4:31-32a menyatakan: “Segala kepahitan, kegeraman, kemarahan, pertikaian dan fitnah hendaklah dibuang dari antara kamu, demikian pula segala kejahatan. Tetapi hendaklah kamu ramah seorang terhadap yang lain, penuh kasih mesra dan saling mengampuni.” Bagaimana kita bisa melakukannya? Pertama, kita harus memusatkan pikiran kita sepenuhnya kepada pengampunan yang telah Tuhan kerjakan bagi kita. Renungkan betapa besar rahmat yang sudah dilimpahkan Tuhan kepada kita seperti kata Daud (Mazmur 103:2-3a), “Pujilah Tuhan, hai jiwaku, dan janganlah lupakan segala kebaikan-Nya! Dia yang mengampuni segala kesalahanmu.” Kedua, selesaikan dengan jujur semua kemarahan yang kita rasakan terhadap orang lain, lalu melupakannya. Memang tidak mudah! Namun Tuhan akan tolong.
BARCODE BBM CHANNELS
RENUNGAN HARIAN
Bukan Soal Untung Atau Rugi
27 November '14
Berapa Kali Harus Mengampuni?
16 November '14
Dipilih Agar Berguna
29 Oktober '14
Copyright © 2012 All rights reserved. Designed and Developed by GIA Dr. Cipto Semarang