SEPEKAN TERAKHIR
  Minggu, 20 April 2014   -HARI INI-
  Sabtu, 19 April 2014
  Jumat, 18 April 2014
  Kamis, 17 April 2014
  Rabu, 16 April 2014
  Selasa, 15 April 2014
  Senin, 14 April 2014
POKOK RENUNGAN
Orang yang selalu bersyukur akan mampu menanggung permasalahan hidupnya.
DITULIS OLEH
Pdt. Andreas P. Chandra
Rohaniwan Pusat
Renungan Lain oleh Penulis:
Home  »  Renungan  »  Bersyukur Dalam Segala Hal
Bersyukur Dalam Segala Hal
Jumat, 15 Maret 2013 | Tema: Umat Yang Memasyurkan Allah
Bersyukur Dalam Segala Hal
I Tesalonika 5:18
Selalu ada alasan untuk mengucap syukur, sekalipun kondisi yang kita hadapi kelihatannya buruk. Chrysostom, seorang yang pernah menjadi Uskup Besar Constantinopel, dibawa ke pembuangan, dianiaya, direndahkan dan mati di tempat yang jauh dari kemewahan kota serta kesenangan dan kemuliaan yang pernah dinikmatinya. Namun demikian ia belajar bersyukur dalam semua keadaan. Semua ini bertolak dari motto hidupnya: “Doxa to Theo Panton Heneken” yang artinya kemuliaan bagi Allah dalam segala sesuatunya. Ia dapat membuktikan mottonya itu, di mana ia tetap bersyukur dan memuliakan Allah sekalipun menderita.

Marilah kita juga belajar untuk memuji Allah dan bersyukur kepada-Nya dalam segala sesuatu yang terjadi pada diri kita atas ijin-Nya. Kita tidak hanya bersyukur untuk hal-hal yang baik saja, tetapi juga untuk kejadian-kejadian yang menyesakkan hati kita. Kita mungkin tidak tahu apa maksud Allah ketika Ia mengijinkan semua itu terjadi, namun kita harus tetap percaya bahwa Ia adalah Allah yang Mahabaik. Kita tahu kisah Ayub yang mengalami pencobaan sedemikian beratnya, namun Ia belajar bersyukur dan tetap setia kepada Allah. Dan karena ia setia, maka Allah memulihkan keadaannya dan memberkati hidupnya.

Berdasarkan pengajaran Paulus kepada jemaat Tesalonika untuk selalu mengucap syukur dalam segala hal, mari apapun yang Anda alami, bersyukurlah kepada Allah dan tetaplah memuji Dia, sepe...selengkapnya »
Di tengah amukan badai yang makin lama makin mengganas, sebuah kapal menderita kebocoran yang sangat parah sehingga nyaris karam. Pada detik-detik yang menegangkan itu sang kapten kapal berteriak kepada anak buahnya, ”Siapa di antara kalian merupakan pengikut Kristus yang tersohor karena rela mati bagi semua orang?” Seorang anak buah kapal yang dikenal saleh mengacungkan telunjuknya. Dia bersiap kalau-kalau diperintahkan untuk memimpin doa. Sang kapten menepuk keras bahu anak muda yang tanpa ragu mengaku sebagai pengikut Kristus itu dan berujar, ”Bagus! Kita kekurangan satu jaket penyelamat .... Jika Tuhanmu rela mati bagi seluruh manusia, tentu kau pun akan merasa terhormat mati bagi rekan-rekanmu.” Anekdot ini bukan hanya memancing senyum kita, tetapi menohok jauh lebih dalam. Bila kita menganggap bahwa sebutan sebagai pengikut Kristus sekedar predikat yang bermakna ringan tanpa konsekuensi yang berarti, kita harus berpikir ulang. Ternyata dunia tidak melihatnya demikian. Dunia berharap kita berlaku seperti Kristus. Memandang kita sebagai wakil Kristus dalam kehidupan yang tampak di depan mata. Ketika kita hidup buat kepentingan diri sendiri, keluarga sendiri, kelompok sendiri ... itu bertentangan dengan cara hidup Kristus. Hidup Kristus tidak dibaktikan bagi diri-Nya sendiri. Pengorbanan yang mulia adalah ciri khas cara hidup-Nya. Cara hidup yang semestinya menginspirasi kita yang menyebut diri sebagai pengikut Kristus. Jadi, setiap kali kita hendak mengatakan, memutuskan, atau melakukan segala sesuatu ... pertimbangkanlah matang-matang, apakah itu mencerminkan bahwa kita hidup bagi diri sendiri ... atau hidup bagi Kristus yang telah mati dan dibangkitkan untuk kita.
Bulan Oktober 2014 Timnas U-19 akan menghadapi semifinal piala AFF di Myanmar. Lawan-lawan yang dihadapi tentu bukan lawan yang semberangan tetapi lawan-lawan yang tangguh di Asia. Untuk mempersiapkan pertandingan tersebut maka pelatih Timnas U-19 mempersiapkan diri dengan melakukan pertandingan-pertandingan uji coba dengan lawan-lawan yang cukup baik untuk melatih kekuatan dan kemampuan tim sehingga siap menghadapi perebutan piala AFF. Setelah bangsa Israel memasuki tanah perjanjian, Tuhan mengijinkan bangsa-bangsa dan raja-raja yang menjadi musuh bangsa Israel tetap hidup di antara mereka. Tujuan Tuhan jelas, yaitu keturunan bangsa Israel yang tidak menghadapi peperangan dalam merebut tanah perjanjian dilatih untuk tetap menjadi bangsa pilihan yang kuat. Seringkali Tuhan juga mengijinkan masalah dan tantangan terjadi di dalam hidup kita bukan dengan maksud dan tujuan supaya kita mundur, lemah, dan kalah tetapi supaya kita menjadi jemaat yang kuat dan terlebih lagi mengenal Tuhan kita Yesus Kristus sebagai Allah yang senantiasa siap menolong dan sanggup melakukan segala perkara. Masalah dan tantangan tidak mungkin kita hindari, apalagi kita tolak. Yang harus kita lakukan adalah menghadapinya dan menjadi pemenang . Mari pahlawan-pahlawan Allah bangkit dan menangkan perlombaan ini dengan tetap memandang kepada Yesus Kristus sebagai panglima perang dan juga pelatih kita.
Dalam segala hal kami ditindas, namun tidak terjepit; kami habis akal, namun tidak putus asa; kami dianiaya, namun tidak ditinggalkan sendirian, kami dihempaskan, namun tidak binasa. (ayat 8-9) Orang Kristen memang dirancang Tuhan untuk tahan banting. Dalam sejarahnya Kekristenan selalu menghadapi aniaya dan tekanan, namun tetap eksis dan bahkan malah berkembang. Ada sebuah buku yang berjudul Semakin Dibabat Semakin Merambat. Buku ini mengisahkan tentang riwayat penganiayaan yang diderita orang Kristen dari masa ke masa. Salah satu penggalan kalimat di buku itu mengatakan: ”Mereka dihina, namun mereka dimuliakan dalam kehinaan mereka. Mereka difitnah, namun mereka dibenarkan Tuhan. Mereka dimaki, namun mereka memberkati. Mereka diejek, namun mereka menghormati. Mereka melakukan hal yang baik, namun menderita sebagai orang yang melakukan kejahatan. Dalam penghukuman mereka bersukacita, sebab mereka telah dihidupkan....” (Halaman 6) Sungguh mengherankan sekalipun orang-orang Kristen dianiaya sedemikian rupa namun tetap bertahan. Apa yang menyebabkan mereka memiliki kekuatan yang begitu rupa? Mereka tidak punya kekuatan secara politik, atau secara finansial, terlebih secara militer. Tapi mereka memiliki sumber kekuatan yang melampaui kekuatan manusia. Rahasianya terdapat di dalam 2 Korintus 4:7, ”Tetapi harta ini kami punyai dalam bejana tanah liat, supaya nyata, bahwa kekuatan yang melimpah-limpah itu berasal dari Allah, bukan dari diri kami.” Kekuatan yang melimpah-limpah itu adalah kuasa dari Injil itu sendiri. Kekuatan Injil begitu dahsyat sehingga membuat orang-orang Kristen sanggup meretas setiap rintangan yang menghambatnya. Orang Kristen sekarang sama dengan orang Kristen zaman dahulu, karena kita memiliki kekuatan yang sama. Situasi zaman memang berubah dan berbeda di setiap zaman dan tempat. Tantangan dan rintangan juga berbeda dan berubah dari waktu ke waktu. Tetapi kekuatan yang melimpah-limpah itu tetap tersimpan dari masa ke masa. Setiap saat kita memerlukannya, kekuatan itu selalu tersedia. Pakailah kekuatan yang melimpah itu. Jangan pernah menyerah. Anda dirancang untuk menjadi orang Kristen yang meretas rintangan.
Saat kita sedang mengalami pergumulan dalam hidup ini, mungkin masalah keluarga, masa depan anak, ekonomi yang tak kunjung ada jalan keluar, apa yang kita lakukan? Percayakah kita pada saat yang tepat Allah pasti menyediakan? Dialah Allah Yehovah Jireh! Mari kita simak dan renungkan kisah yang pasti tidak asing lagi bagi kita, kisah tentang Abraham yang diuji kepercayaannya oleh Tuhan. Bila kita membaca akhir dari kisah ini sangat menyenangkan, Happy Ending. Ishak, sang anak yang sangat dikasihi tidak jadi dikorbankan! Allah menyediakan penggantinya, seekor domba jantan yang tanduknya tersangkut di belukar di belakang Abraham (ayat 13). Sungguh suatu peristiwa yang sangat menegangkan! Tuhan menguji sampai detik terakhir, pisau siap menyembelih sang korban, Ishak anak yang sangat dikasihinya (ayat 10). Namun terpikirkah kita bagaimana perasaan Abraham sebagai seorang ayah saat berangkat menaati perintah Allah itu? Tentu hatinya penuh pergumulan antara ketaatannya kepada perintah Allah dan kenyataan yang dihadapinya! Anak yang keberadaannya sangat didambakan dan baru diperolehnya di usia lanjutnya diminta kembali oleh Allah sebagai korban bakaran (ayat 2). Tidakkah hatinya teriris saat Ishak menanyakan di mana anak domba yang akan dikorbankan karena dilihatnya api dan kayu sudah ada, tetapi yang akan dikorbankan tidak ada (ayat 7). Mungkin saat ini kita sedang dalam pergumulan yang sangat berat. Firman Tuhan sudah kita taati, tetapi kenyataan yang kita hadapi sungguh berbeda. Jangan kita goyah, percayalah Tuhan pasti akan menolong tepat pada waktunya. Dia tahu dan akan menyediakan bagi kita apa yang kita perlukan. Dialah Allah Yehovah Jireh! Amin.
MARI BERTUMBUH BERSAMA
TEMA BULAN APRIL 2014
RENUNGAN HARIAN
Si Daun Berlubang
19 April '14
Merendahkan Diri dan Ditinggikan
13 April '14
Menjadi Seorang Hamba Kristus
08 April '14
Copyright © 2012 All rights reserved. Designed and Developed by GIA Dr. Cipto Semarang