SEPEKAN TERAKHIR
  Kamis, 23 November 2017   -HARI INI-
  Rabu, 22 November 2017
  Selasa, 21 November 2017
  Senin, 20 November 2017
  Minggu, 19 November 2017
  Sabtu, 18 November 2017
  Jumat, 17 November 2017
POKOK RENUNGAN
Orang yang selalu bersyukur akan mampu menanggung permasalahan hidupnya.
DITULIS OLEH
Pdt. Andreas P. Chandra
Rohaniwan Pusat
Renungan Lain oleh Penulis:
Home  »  Renungan  »  Bersyukur Dalam Segala Hal
Bersyukur Dalam Segala Hal
Jumat, 15 Maret 2013 | Tema: Umat Yang Memasyurkan Allah
Bersyukur Dalam Segala Hal
I Tesalonika 5:18
Selalu ada alasan untuk mengucap syukur, sekalipun kondisi yang kita hadapi kelihatannya buruk. Chrysostom, seorang yang pernah menjadi Uskup Besar Constantinopel, dibawa ke pembuangan, dianiaya, direndahkan dan mati di tempat yang jauh dari kemewahan kota serta kesenangan dan kemuliaan yang pernah dinikmatinya. Namun demikian ia belajar bersyukur dalam semua keadaan. Semua ini bertolak dari motto hidupnya: “Doxa to Theo Panton Heneken” yang artinya kemuliaan bagi Allah dalam segala sesuatunya. Ia dapat membuktikan mottonya itu, di mana ia tetap bersyukur dan memuliakan Allah sekalipun menderita.

Marilah kita juga belajar untuk memuji Allah dan bersyukur kepada-Nya dalam segala sesuatu yang terjadi pada diri kita atas ijin-Nya. Kita tidak hanya bersyukur untuk hal-hal yang baik saja, tetapi juga untuk kejadian-kejadian yang menyesakkan hati kita. Kita mungkin tidak tahu apa maksud Allah ketika Ia mengijinkan semua itu terjadi, namun kita harus tetap percaya bahwa Ia adalah Allah yang Mahabaik. Kita tahu kisah Ayub yang mengalami pencobaan sedemikian beratnya, namun Ia belajar bersyukur dan tetap setia kepada Allah. Dan karena ia setia, maka Allah memulihkan keadaannya ...selengkapnya »
Dalam ayat ini, kelegaan sering diartikan kelepasan dari berbagai persoalan hidup dan terpenuhinya kebutuhan jasmani. Kelegaan atau perhentian sejati pada dasarnya akan dialami bila kita tidak dipenuhi pikiran kuatir. Biasanya kekuatiran berkaitan dengan kebutuhan jasmani, harta kekayaan dan berbagai fasilitas duniawi yang diharapkan dapat melengkapi dan membahagiakan hidup. Kebutuhan jasmani sebetulnya menjadi fokus utama orang yang tidak mengenal Tuhan. Akibatnya orang akan terus bergerak mencari sesuatu yang dianggap dapat memberi kelegaan. Ibarat kapal yang terus berlayar mencari pelabuhan, padahal bagi orang percaya, hanya ada satu pelabuhan yang memberi kelegaan, yaitu Tuhan Yesus. Mereka dikatakan sebagai orang yang letih lesu dan berbeban berat karena banyaknya keinginan yang tidak sesuai dengan kehendak Tuhan. Banyak orang yang datang kepada Tuhan hanya sekedar memperoleh jalan keluar atas problem kebutuhan jasmani. Sebetulnya orang percaya dipanggil untuk mengalami perhentian di dalam Tuhan, artinya merasa cukup pada saat dirinya menerima anugerah keselamatan. Keselamatan di dalam Tuhan Yesus bertujuan supaya kita bisa dikembalikan kepada rancangan semula Bapa dan dipersiapkan masuk Kerajaan-Nya [Ibrani 11:16]. Kelegaan dan ketenangan jiwa sejati akan dialami bila: 1. Pikiran tidak dipenuhi keinginan pribadi yang tidak sesuai dengan pikiran/kehendak Tuhan [Yakobus 1:14-15]. 2. Kita memahami dan mempraktekkan Kebenaran Injil yang murni [Yesaya 32:17, Yohanes 8:31-32]. 3. Memiliki rasa cukup, tidak berkeinginan memiliki fasilitas duniawi untuk mendapatkan nilai diri, prestise, ketenaran [1 Timotius 6:6-8]. 4. Memiliki karakter mulia melalui proses pemuridan. Mustahil mengalami kelegaan dan ketenangan jiwa bila kita egois, iri hati, suka marah-marah, penuh curiga, pendendam.
Konon, wanita tidak bisa jauh dari sesuatu yang bersifat ’hiasan’. Benar atau tidak, Andalah yang menilai. Wanita mana yang tidak suka mengenakan perhiasan? Wanita mana yang tidak suka pernak-pernik? Kebanyakan wanita suka memasang pohon natal. Hal apa yang menyenangkan soal pohon natal? Menghias pohon natal itu, bukan? Setiap awal bulan Desember para kaum ibu mulai merakit kembali pohon natal dan mengubah hiasannya menurut kreasinya sendiri. Tiap tahun ganti tema. Bagi pria yang penting ada pohon natal. Tapi bagi wanita kepuasan terbesarnya adalah bagaimana pohon natal itu jadi indah karena ada hiasan-hiasannya. Tahukah Anda bahwa Tuhan juga suka hiasan? Hiasan seperti apa yang disukai Tuhan? Kekudusan. Dalam 1 Tawarikh 16:29 dikatakan, ’Sujudlah menyembah kepada Tuhan dengan berhiaskan kekudusan.’ Frasa’berhiaskan kekudusan’ ini ditulis berulang-ulang kali dalam Alkitab, yaitu ketika kita hendak datang menghampiri Tuhan. Dengan kata lain, jika kita hidup dalam kekudusan maka itu sesuatu yang sangat indah di hadapan Tuhan. Itu menyenangkan hati-Nya. Hidup dalam kekudusan membuat Tuhan puas melihat kita. Sayangnya, kerap kita mengabaikan hal ini. Kita tidak mau mengerti hati Tuhan. Kita bahkan tidak berusaha mencari tahu apa selera Tuhan dan hal apa yang menyenangkan hati-Nya. Firman Tuhan jelas mengatakan bahwa menghampiri Tuhan dengan berhiaskan kekudusan adalah sesuatu yang menyenangkan hati-Nya. Bayangkan seorang wanita yang berbinar-binar ketika melihat perhiasan, demikian juga hati Tuhan senang melihat anak-anak-Nya hidup berhiaskan kekudusan.
Kami putra dan putri Indonesia mengaku bertumpah darah yang satu, tanah air Indonesia Kami putra dan putri Indonesia mengaku berbangsa yang satu, bangsa Indonesia Kami putra dan putri Indonesia menjunjung bahasa persatuan, bahasa Indonesia Teks di atas merupakan isi teks dari Sumpah Pemuda yang dibacakan di Jakarta pada 28 Oktober 1928. Sumpah Pemuda merupakan sebuah komitmen bersama dari segenap pemuda dan pemudi Indonesia yang terdiri dari berbagai elemen di bangsa ini yang tersebar dari Sabang sampai Merauke, dari Minangas hingga Pulau Rote. Komitmen untuk apa? Komitmen untuk bersama-sama melepaskan ego pribadi dan melepaskan diri dari kolonialisme penjajah, serta bertekad bulat untuk bersatu menjunjung tinggi Negara Kesatuan Republik Indonesia. Sumpah Pemuda menjadi tonggak dimulainya sebuah kesatuan perjuangan dengan satu nama Indonesia. Perjuangan yang bukan lagi tentang kesukaan dan kedaerahan. Indonesia bukan lagi hanya berbicara dan berjuang tentang Jawa, Batak, Ambon, Dayak, Sunda, Betawi, Bali, Manado, Makassar, Madura, Papua, dll. Indonesia adalah tentang kesatuan dari Sabang sampai Merauke, dari Minangas hingga Pulau Rote. Komitmen untuk menyatukan tekad bagi Indonesia yang satu. Sebelum Tuhan Yesus terangkat ke surga, ada tugas penting yang Tuhan Yesus sampaikan kepada segenap murid-Nya. Tugas ini membutuhkan komitmen dan kesatuan. Tugas untuk memberitakan kabar baik atau yang hingga saat ini lebih dikenal sebagai tugas memberitakan Injil-Nya. Injil Markus mencatat bahwa tugas ini harus dilaksanakan oleh segenap pengikut Kristus dengan sasarannya adalah semua orang di muka bumi ini [Markus 16:15]. Tugas panggilan menjadi pemberita Injil-Nya bukan hanya milik para penginjil saja. Juga bukan hanya untuk pendeta atau pemimpin gereja saja. Atau juga bukan khusus ditujukan untuk para aktivis gereja. Panggilan ini adalah untuk kita semua para pengikut Kristus. Jika Anda adalah pengikut Kristus, mari mulai saat ini ambil komitmen untuk menjadi pemberita Injil-Nya. Tidak ada kata terlambat untuk menjadi pewarta Injil-Nya. Sama seperti para pemuda dan pemudi Indonesia yang mengambil komitmen bulat untuk Indonesia. Saat ini pun kita sebagai murid Kristus yang sejati harus mengambil komitmen untuk Yesus. Komitmen untuk memberitakan kabar sukacita. Kabar tentang Yesus yang rela mati menebus dosa manusia. Kabar untuk mengajak setiap orang percaya kepada Yesus Kristus sebagai Tuhan dan Juru Selamat. Kami sebagai putra dan putri pengikut Yesus, melaksanakan komitmen yang satu, komitmen mewartakan Injil-Nya.
Anda para pecinta komik dan film buatan Marvel? Pasti Anda tahu sosok Thor, sang dewa Petir. Thor identik dengan kekuatan petirnya dan senjata palu yang maha dahsyat. Palu milik sang dewa petir, Thor, merupakan senjata yang luar biasa dan paling ditakuti oleh lawan-lawannya. Bahkan oleh para super hero rekan Thor lainnya yang tergabung dalam group Avengers, palu Thor adalah benda yang unik dan istimewa. Hal ini dikarenakan, kecuali sosok super hero The Vision, tidak ada super hero Avengers lain yang dapat mengangkat palu Thor. Thor sangat membanggakan palu yang luar biasa ini, sebab dia yakin tidak ada sosok manapun yang dapat menghancurkan dan mengalahkan palu tersebut. Namun sebuah peristiwa mengejutkan pun terjadi pada saat dalam pertempuran melawan Hela, sang dewa kematian, yang juga merupakan kakak dari Thor. Di dalam pertempuran tersebut, palu Thor yang maha dahsyat tersebut, hancur berkeping-keping. Palu yang ditakuti dan dibanggakan tersebut ternyata dengan mudahnya hancur. Thor pun sangat terkejut sekaligus gemetar melihat kejadian ini. Hal yang paling diandalkan sekaligus dibanggakan hancur dan sekarang tidak ada lagi yang dapat dibanggakan dari kekuatan palu, sang dewa petir. Bangsa Israel melakukan dosa besar di hadapan Tuhan dengan melakukan ritual penyembahan berhala. Mereka mendirikan mezbah-mezbah dan tiang-tiang berhala di samping pohon yang rimbun dan di atas bukit yang tinggi [ayat 1-3]. Tindakan mereka ini suatu pelanggaran yang sangat menjijikkan dan menyakiti hati Tuhan. Mereka merasa diri mampu melakukan semuanya dengan cara mereka. Bangsa Israel berpikir, berhala yang mereka buat dan sembah dapat menyelamatkan mereka. Kekuatan, kepandaian dan kemampuan bangsa Israel dianggap cukup untuk membawa pembebasan bagi bangsa Israel. Apa yang kemudian terjadi? Semuanya sia-sia! Kekuatan dan cara manusia tidak mampu menyelamatkan! Tuhan mengutus nabi Yeremia untuk menyampaikan firman kepada mereka. Dalam firman-Nya, Tuhan mengingatkan terkutuklah orang yang mengandalkan manusia, mengandalkan kekuatan sendiri, dan hatinya menjauh dari Tuhan [ayat 5]. Berhala itu pada kenyataannya tidak mampu menolong mereka. Melalui Yeremia, Tuhan ingin menyadarkan Yehuda agar tidak lagi melakukan penyembahan berhala, melainkan kembali ke jalan Tuhan. Tuhan berjanji akan memberkati jika mereka hidup bersandar kepada Tuhan dan menaruh harapan kepada Dia [ayat 7]. Pada saat kita melakukan sesuatu dengan cara kita, tanpa mengandalkan Tuhan, seolah-olah itu semua dapat menyelesaikan segalanya. Kenyataannya yang terjadi bukan itu, tetapi justru sebaliknya. Kekuatan manusia tidak sanggup menuntaskannya. Kekuatan manusia terbatas adanya. Hal yang kita banggakan dan kagumi dapat hancur dengan begitu mudahnya. Oleh karena itu inilah waktunya untuk kita sadar diri dan kembali kepada Tuhan. Tuhan Sang Pencipta alam semesta dan pengendali kehidupan adalah satu-satunya kekuatan yang mampu membawa kita bebas dan lepas dari segala belenggu dunia ini. Mari kita belajar untuk tidak mengandalkan manusia, tidak mengandalkan kekuatan sendiri, dan tidak menjauh dari Tuhan. Sebab hanya Tuhanlah kekuatan kita. Dia dapat dipercaya, perkataan-Nya benar adanya, dan janji-Nya pasti akan digenapi.
BARCODE BBM CHANNELS
RENUNGAN HARIAN
Waspada Terhadap Cara Hidup Yang Gegabah Dan Ceroboh
03 November '17
Pendidikan Rohani, pentingkah?
10 November '17
Bertindak Hati-Hati Dalam Kereta Kehidupan
25 Oktober '17
Copyright © 2012 All rights reserved. Designed and Developed by GIA Dr. Cipto Semarang