SEPEKAN TERAKHIR
  Rabu, 28 September 2016   -HARI INI-
  Selasa, 27 September 2016
  Senin, 26 September 2016
  Minggu, 25 September 2016
  Sabtu, 24 September 2016
  Jumat, 23 September 2016
  Kamis, 22 September 2016
POKOK RENUNGAN
Orang yang selalu bersyukur akan mampu menanggung permasalahan hidupnya.
DITULIS OLEH
Pdt. Andreas P. Chandra
Rohaniwan Pusat
Renungan Lain oleh Penulis:
Home  »  Renungan  »  Bersyukur Dalam Segala Hal
Bersyukur Dalam Segala Hal
Jumat, 15 Maret 2013 | Tema: Umat Yang Memasyurkan Allah
Bersyukur Dalam Segala Hal
I Tesalonika 5:18
Selalu ada alasan untuk mengucap syukur, sekalipun kondisi yang kita hadapi kelihatannya buruk. Chrysostom, seorang yang pernah menjadi Uskup Besar Constantinopel, dibawa ke pembuangan, dianiaya, direndahkan dan mati di tempat yang jauh dari kemewahan kota serta kesenangan dan kemuliaan yang pernah dinikmatinya. Namun demikian ia belajar bersyukur dalam semua keadaan. Semua ini bertolak dari motto hidupnya: Doxa to Theo Panton Heneken yang artinya kemuliaan bagi Allah dalam segala sesuatunya. Ia dapat membuktikan mottonya itu, di mana ia tetap bersyukur dan memuliakan Allah sekalipun menderita.

Marilah kita juga belajar untuk memuji Allah dan bersyukur kepada-Nya dalam segala ...selengkapnya »
Kalau kita hadir di gereja yang belum pernah kita kunjungi, hal pertama yang pasti kita perhatikan adalah bagian depan sebelum pintu masuk dan bagian dalam ruang ibadah terutama di panggung utama tempat para pelayan mimbar melayani. Bagaimana kerapihan dalam menata peralatan penunjang ibadah dan kebersihan ruangan. Biasanya setelah penataan barang, kerapihan dan kebersihan ruangan, barulah kita memperhatikan cara para petugas melayani dan menerima kita sebagai tamu yang sedang berkunjung. Dari hal yang sederhana ini, kita akan memiliki kesan awal tentang bagaimana keberadaan gereja tersebut. Rasul Paulus dalam suratnya kepada Timotius yang pertama sebagian besar berbicara tentang bagaimana kita, sebagai umat pilihan Allah, selalu melayani sesuai dengan aturan yang ada agar semuanya bisa tersusun rapih dan terjalin dengan baik antara satu dengan yang lainnya. Maka Timotius ditugaskan untuk mengatur semua orang yang terlibat dalam tubuh jemaat. Mengatur bagaimana laki dan perempuan bersikap dalam ibadah [2:8-15], mengatur persyaratan para penilik jemaat sebagai pelayan jemaat [3:1-7], mengatur persyaratan diaken [3:8-13]. Mengatur mengenai saudara seiman, para janda, mengahadapi pengajaran sesat di jemaat dan beberapa petunjuk praktis yang lainnya [4:1 – 6:2]. Tujuannya supaya semua pelayanan di jemaat tertata dengan rapih dan tidak terjadi tumpang tindih, semua pelayan jemaat saling melayani untuk melengkapi satu dengan yang lainnya. Rasul Paulus tidak menyukai kekacauan dan juga merasa semua itu penting bagi kemajuan peayanan dan pertumbuhan rohani jemaat. Renungan kita hari ini menjelaskan bahwa jemaat [gereja] adalah keluarga Allah yang terdiri dari pribadi-pribadi yang hidup dan menjadi saksi akan kebenaran Allah. Tentu saja sebagai keluarga perlu adanya peraturan dan kerapihan dalam menata kehidupan. Demikian pula di gereja kita memerlukan keteraturan dan kerapihan dalam pelayanan pekerjaan Tuhan. Hal ini akan mempermudah kita dalam melayani jemaat dan sekaligus mempermudah dalam memberi kesempatan jemaat melayani. Sehingga kesaksian hidup kita sebagai jemaat menjadi berkat bagi sesama.
Bejo : “Laptop anyar yo Di ?” [“Laptop baru ya Di”] Mukidi : “Yo iyo lah ...!” [“Ya iya lah ...] Bejo : “Entuk teko ndi Di ...?” [“Dapat dari mana Di ...?”] Mukidi : “Hadiah lomba lari !” Bejo : “Tenanan to? Sopo wae pesertane?” [“Beneran ? Siapa saja pesertanya”] Mukidi : “Wong telu pesertane ..., aku, polisi, karo sijine meneh wong sing duwe laptop.” [Pesertanya tiga orang, saya, polisi dan yang satunya lagi yaitu pemilik laptop ini”] Inilah salah satu dari banyak cerita humor “Mukidi” yang saat ini banyak dicari dan dibaca di berbagai jejaring sosial baru-baru ini. Ceritanya terkesan humor, enteng, nggak penting, dan bahkan banyak pula humor lama yang dikemas kembali dalam bentuk yang baru. Terlepas dari semuanya itu, jika kita melihat ini secara sistematis dalam teknik stand up comedy, semuanya tersusun dengan rapi. Bit [bagian kecil materi dari stand up comedy yang berupa kalimat demi kalimat] yang ditulis sangat rapi dan runtut, serta bagian punch line [bagian lucu dari sebuah lelucon] dalam setiap cerita sangat mengena. Cerita Mukidi menjadi cerita yang segar dan populer karena dibuat secara cermat, teratur, rapi dan mengena. Coba, seandainya cerita di atas ditulis dengan seadanya dan bahkan amburadul, mustahil orang akan tertarik pada cerita mukidi. Begitu juga halnya dengan ibadah dan kehidupan kekristenan kita. Jemaat Tuhan yang memiliki berbagai karunia dan perbedaan di dalamnya akan berjalan dengan harmonis dan baik, jika semuanya tertata rapi dan teratur. 1 Korintus 14:40 berbunyi, “Tetapi segala sesuatu harus berlangsung dengan sopan dan teratur.” Di Dalam bahasa Inggris kata sopan dan teratur menggunakan kata decent dan order, sedangkan dalam bahasa Yunani memakai kata euschemonos [gabungan dari kata eu dan schemon] yang berarti patut, pantas dan selaras. Kata schemon adalah kata yang menunjukkan bagaimana kita merespons kehadiran seseorang: sikap, tutur kata, semua yang berkaitan dengan panca indra kita dalam berhubungan dengan orang lain. Sedangkan kata teratur, menggunakan kata dalam bahasa Yunani taxis. Joshepus, seorang bapa gereja, menggunakan kata itu untuk mendeskripsikan camp angkatan perang Romawi yang begitu rapi, disiplin dan teratur. Dengan kata lain, dia menggunakan kata ini untuk mendeskripsikan cara ibadah atau penyembahan mereka yang dilakukan dengan sangat khidmat dan teratur. Paulus menggunakan kata ini untuk mendeskripsikan euschemon atau kesopanan jemaat, ketertiban atau keteraturan jemaat yang begitu indah. Paulus berpesan agar kita melaksanakan ibadah dengan “sopan” dan “teratur.” Bagaimana kita menyikapi ibadah yang tertib dan teratur? Ibadah yang teratur adalah ibadah yang diingini Tuhan. Jika kita menjalankan ibadah adalah untuk Tuhan, maka yang diinginkan Tuhan, itulah yang kita prioritaskan. Tuhan merindukan ibadah yang selaras dan teratur. Marilah kita memberikan yang selaras dan teratur sebagai bagian sikap kita untuk menyukakan hati Tuhan.
Ada banyak ukuran yang digunakan manusia untuk mengukur kesuksesan. Ukuran umum yang sering digunakan adalah harta yang dimiliki, jabatan, gelar, nilai, dsb. Seseorang yang memiliki mobil Lamborgini dianggap sukses. Seseorang yang menjadi profesor atau menjadi direktur dianggap sukses. Bahkan seseorang yang mampu membeli apa yang diinginkan dianggap sukses. Bagaimana dengan seorang yang berprofesi sebagai tukang becak, pekerja pabrik, dan yang hidup sederhana, apakah tidak tergolong sebagai orang yang sukses? Ukuran sukses menurut manusia seringkali berhubungan dengan apa yang kasat mata. Lebih bersifat materi. Tentunya ini jauh berbeda dengan sukses menurut Alkitab. Tapi sayangnya gereja seringkali terjebak pada ukuran tersebut. Coba lihat, gereja dengan jumlah jemaat ribuan dan memiliki gedung gereja yang megah [megachurch] dipandang lebih sukses daripada gereja yang jumlah jemaatnya hanya puluhan atau ratusan. Gereja yang memiliki dana yang besar dan fasilitas lengkap dinilai lebih berhasil daripada gereja yang sederhana. Gereja dengan ibadah yang ‘gebyar’ lebih berkenan di hati Tuhan daripada gereja dengan ibadah yang ‘biasa-biasa’ saja. Untuk melihat ukuran sukses yang sebenarnya harus didasarkan apa yang menjadi fokus perhatian Tuhan Yesus ketika Ia memanggil murid-murid-Nya. Dia menegaskan kepada murid-murid-Nya, “Setiap orang yang mau mengikut Aku, ia harus menyangkal dirinya, memikul salibnya dan mengikut Aku.” Yang menjadi perhatian Tuhan Yesus ketika memuridkan adalah kualitas hidup para murid. Bagaimana sifat dan karakter Sang Guru ataupun nilai-nilai Kerajaan Allah bisa ‘diturunkan’ kepada para murid. Ini berbicara kualitas, bukan sekedar apa yang kelihatan. Bahkan ketika banyak murid-murid tergoncang oleh perkataan-Nya dan mengundurkan diri, Tuhan Yesus justru menantang ke-12 murid, “Apakah kamu tidak mau pergi juga?” Ini mengindikasikan bahwa fokus Tuhan Yesus bukan ‘mencari’ sebanyak mungkin pengikut, tetapi ‘membentuk’ murid. Lagi-lagi kualitas yang menjadi fokus Yesus. Jemaat yang terkasih, ukuran sukses kita sebagai murid Kristus adalah menjadi serupa dengan Kristus [Roma 8:29]. Itu berbicara tentang sifat dan karakter Kristus [nilai-nilai Kerajaan Allah] tampil dan mewarnai hidup kita. Ketika kita dijahati, bisakah kita mengampuni dan memberkati. ketika kita dipersalahkan dan dipojokkan, mampukah kita tidak emosi dan menjawab dengan lembut. Ketika kita difitnah, sanggupkah kita mengasihi dan menyapa dengan senyuman. Ketika kita dihina dan tidak dihargai, bersediakan kita tetap menaruh hormat. Ketika kebenaran diputarbalikkan, beranikah kita menyuarakannya apapun resikonya. Ketika keadilan diperkosa, beranikah kita menegakkannya. Ingatlah, kesuksesan bukan dinilai dari yang kelihatan, tetapi dari kualitas hidup kita.
Dalam realitas dijumpai orang kristen yang melayani Tuhan dengan motif yang berbeda. Bagi orang Kristen baru, belum dewasa rohani karena belum memahami kebenaran Injil secara memadai, bisa berpola pikir “memanfaatkan Tuhan”. Mereka rajin ke gereja, terlibat dalam aktivitas rohani gereja dengan tujuan supaya Tuhan memberkati hidupnya, kebutuhan jasmani dipenuhi, problem dalam hidup cepat dan mudah mendapat solusi, bila sakit segera mendapat kesembuhan secara mujizat, dsb. Mereka berpikir bahwa kalau sudah percaya pada Tuhan Yesus, maka Tuhan bertanggung jawab atas kehidupannya, sehingga selalu mengharapkan bagian Tuhan digenapi. Fokus hidup seperti ini, yaitu menggunakan kebaikan dan kuasa Tuhan untuk pemenuhan kebutuhan jasmani akan berakibat: • Hidup tidak bertanggung jawab, memikul kewajiban dengan bekerja keras [Kejadian 1:28]. • Fokus hidupnya tidak ditujukan pada Kerajaan Surga dan cenderung terus mencintai hal-hal fana/duniawi [Matius 6:31-32]. • Tidak membangun sikap berjaga-jaga menghadapi musuh yang sangat cerdik [1 Petrus 5:8]. Di dalam ayat bacaan kita temukan pengajaran Tuhan Yesus supaya kita sebagai hamba Tuhan terus belajar melayani Tuhan dengan asas devosi, yaitu dengan kesetiaan, ketaatan, dan kasih yang dalam [pengabdian tanpa batas dan tidak bersyarat]. Untuk itu diperlukan pemahaman yang dalam dan kesadaran penuh bahwa: • Hidup kita telah ditebus dari kesia-siaan dengan harga yang sangat mahal [1 Petrus 1:18-19]. • Hidup kita bukan milik kita sendiri [1 Korintus 6:19-20]. • Kita berhutang untuk hidup menurut Roh, yaitu hidup sesuai dengan kehendak Allah [Roma 8:12-13] dan tidak sekedar mentaati hukum. Jadi kita sebagai pengikut Kristus harus terus bertumbuh menjadi murid Kristus yang rela dididik supaya dewasa rohani [tidak sekedar dewasa mental]. Sebagai seorang hamba yang menyadari posisinya di hadapan Tuhan, siap setiap saat melakukan kewajiban yang dilandasi sikap rendah hati. Hal ini akan menyenangkan hati Tuhan sebagai pemilik hidup kita dan majikan yang harus kita layani.
BARCODE BBM CHANNELS
RENUNGAN HARIAN
Tunduk Tulus Atau Terpaksa ?
21 September '16
Sikap Yang Mendukung Pelayanan
29 Agustus '16
Hidup Secara Arif
18 September '16
Copyright © 2012 All rights reserved. Designed and Developed by GIA Dr. Cipto Semarang