SEPEKAN TERAKHIR
  Kamis, 01 September 2016   -HARI INI-
  Rabu, 31 Agustus 2016
  Selasa, 30 Agustus 2016
  Senin, 29 Agustus 2016
  Minggu, 28 Agustus 2016
  Sabtu, 27 Agustus 2016
  Jumat, 26 Agustus 2016
POKOK RENUNGAN
Orang yang selalu bersyukur akan mampu menanggung permasalahan hidupnya.
DITULIS OLEH
Pdt. Andreas P. Chandra
Rohaniwan Pusat
Renungan Lain oleh Penulis:
Home  »  Renungan  »  Bersyukur Dalam Segala Hal
Bersyukur Dalam Segala Hal
Jumat, 15 Maret 2013 | Tema: Umat Yang Memasyurkan Allah
Bersyukur Dalam Segala Hal
I Tesalonika 5:18
Selalu ada alasan untuk mengucap syukur, sekalipun kondisi yang kita hadapi kelihatannya buruk. Chrysostom, seorang yang pernah menjadi Uskup Besar Constantinopel, dibawa ke pembuangan, dianiaya, direndahkan dan mati di tempat yang jauh dari kemewahan kota serta kesenangan dan kemuliaan yang pernah dinikmatinya. Namun demikian ia belajar bersyukur dalam semua keadaan. Semua ini bertolak dari motto hidupnya: “Doxa to Theo Panton Heneken” yang artinya kemuliaan bagi Allah dalam segala sesuatunya. Ia dapat membuktikan mottonya itu, di mana ia tetap bersyukur dan memuliakan Allah sekalipun menderita.

Marilah kita juga belajar untuk memuji Allah dan bersyukur kepada-Nya dalam segala ...selengkapnya »
Segunduk nasi putih, hangat mengepul, tersaji di meja makan sederhana di depan saya. Ada tohokan di hati yang membuat saya terdiam. Seharusnya keluarga teman saya yang sederhana itu tak perlu memaksa diri menjamu saya semewah ini. Waktu itu di kalangan penduduk Wonosari yang terpencil, nasi putih hanya dihidangkan di saat-saat istimewa. Sehari-hari mereka mengkonsumsi nasi tiwul yang berbahan dasar gaplek. Dengan menginap di situ saya ingin ikut merasakan kesulitan hidup di desa terpencil yang selalu mengalami kekeringan. Membasuh tubuh hanya dengan dua gayung air, itu pun setelah berjalan cukup jauh dari rumah penduduk. Bergelap-gelap selepas petang sampai pagi, karena daerahnya belum terjangkau listrik. Pengalaman itu benar-benar berharga buat saya. Sayang sekali pagi itu nasi tiwul yang saya harapkan tak kunjung muncul. Sebagai gantinya adalah sebakul kecil nasi putih yang masih mengepul. Ada rasa kecewa yang saya simpan dalam-dalam. Saya menghargai keluarga sederhana yang berupaya keras menjamu tamunya, namun saya akan jauh lebih senang jika diijinkan menikmati nasi tiwul sederhana seperti yang biasa mereka makan. Tidak selamanya nasi putih lebih berharga daripada nasi tiwul. Seperti kondisi hidup manusia yang bermacam-macam, karunia yang diberikan oleh Tuhan kepada anggota-anggota Tubuh-Nya juga beragam. Masing-masing orang diberi karunia yang khas. Tidak perlu besar kepala atau berkecil hati karena semua karunia itu berharga dan bersumber dari Tuhan. Bila Tuhan memberi karunia-karunia yang sederhana, layanilah Ia dengan kesederhanaan. Tak usah berkecil hati atau iri dengan yang lain dan memaksa diri untuk melakukan hal yang kita tak bisa. Tuhan ingin kita melayani sesuai dengan karunia yang Ia berikan. Tidak ada hal yang terlalu remeh bagi-Nya. Tuhan selalu menghargai setiap hal yang kita kerjakan untuk-Nya.
Sebuah rumah dengan desain yang bagus dan menarik menjadi sebuah keinginan bagi hampir setiap orang. Namun pada dasarnya tidak cukup hanya berurusan dengan desain dan bentuk rumah tersebut. Rumah akan menjadi semakin menarik dan bagus jikalau dilengkapi dengan berbagai perabotan yang ada di dalamnya. Tidak harus selalu sesuatu yang mahal, yang penting cukup untuk mempercantik keadaan rumah. Di mulai dari ruang tamu dengan meja kursi sederhana, ruang dapur dengan perlengkapannya, dan sebagainya. Sehingga keadaan dan suasana rumah menjadi lengkap dengan segala isinya. Namun sebaliknya, jika kita hanya melihat luarnya saja maka mungkin kita bisa tertipu. Keadaan yang bagus dari luar tetapi di dalamnya tidak terdapat apa-apa, berarti tidak hanya kurang lengkap namun kosong. Sehingga diperlukan perlengkapan untuk menjadikan rumah tersebut sempurna. Surat Yakobus mengingatkan kepada kedua belas suku di perantauan bahwa kehidupan sebagai orang percaya jangan hanya didasarkan pada yang nampak dari luar saja. Komunitas orang percaya tidak untuk menjadi pelindung, menyukakan hati para pemimpin dan orang yang berkuasa, melainkan harus berlaku setara antar sesama anggota. Lebih lanjut lagi Yakobus menuliskan bahwa setiap orang yang telah melakukan pembedaan itu berarti ia telah menjadi hakim atas orang lain. Tuhan justru menentang kita yang menganggap diri kita hakim dan berkuasa atas orang lain. Jikalau seseorang masih memandang muka, maka orang tersebut belum siap untuk menjadi pelayan Tuhan. Jika masih berurusan dengan status sosial berarti belum siap untuk diperlengkapi dalam membangun Tubuh Kristus. Jemaat yang terkasih, Tuhan mengingatkan kita sebagai orang percaya melalui surat Yakobus ini bahwa kesiapan kita sebagai pelayan Tuhan tidak ditentukan dengan tampilan luar kita. Tuhan lebih menilik pada kesiapan hati kita. Jikalau kita masih memusingkan orang lain karena tidak sama dengan kita berarti kita belum siap untuk diperlengkapi. Setiap orang diberikan kehidupan dengan segala keperbedaannya, bukan tanpa alasan. Tuhan menyiapkan kita sebagai orang percaya dalam satu komunitas rohani untuk sama-sama bertumbuh, saling melengkapi, dan terlebih siap untuk diperlengkapi dalam pembangunan Tubuh Kristus. Mari kita belajar merendahkan hati untuk menerima pengajaran Firman dan siap untuk diperlengkapi oleh pengurapan Tuhan Yesus.
Kasih karunia Allah yang menyelamatkan semua manusia telah disediakan Tuhan melalui karya penebusan salib Kristus yang sangat mahal harganya. Orang percaya yang menerima penebusan telah dibeli oleh Tuhan Yesus dan menjadi milik-Nya. Dimerdekakan dari belenggu kuasa gelap dan masuk ke dalam terang-Nya yang ajaib [Kisah Rasul 26:18, 1 Petrus 2:9]. Keselamatan melalui penebusan adalah usaha Tuhan untuk mengembalikan manusia kepada rancangan-Nya semula pada waktu diciptakan, yaitu serupa dengan Penciptanya. Anugerah keselamatan diberikan bukan sekedar supaya nanti bisa masuk surga, tetapi supaya manusia dimungkinkan untuk bisa dididik [menjadi murid] selama di dunia ini, sehingga pribadinya bisa diubah [mengalami metamorfosis] menjadi anak-anak Allah yang berkenan kepada Bapa. Yaitu menjadi manusia yang: • Sempurna seperti Bapa [Matius 5:48]. • Hidup kudus dan tak bercacat di hadapan-Nya [Efesus 1:4]. • Mengambil bagian dalam kodrat ilahi [2 Petrus 1:4]. • Hidup seperti Tuhan Yesus telah hidup selama di dunia ini [Roma 8:29; 1 Yohanes 2:6] Untuk mendidik kita menjadi murid, Bapa telah menyediakan berbagai fasilitas, perlengkapan berupa: 1. Karya penebusan salib Kristus yang menjadi landasan satu-satunya manusia bisa dimiliki kembali oleh Tuhan untuk dimuridkan [1 Petrus 1:18-19]. 2. Kebenaran Injil [semua yang diajarkan oleh Tuhan Yesus], yang sanggup: menyelamatkan [Kisah Rasul 1:16], menguduskan [Yohanes 17:17; Efesus 5:26; 1 Petrus 1:22], sumber hikmat, memperbaiki kelakuan, mendidik orang dalam kebenaran [2 Timotius 3:15-17]. 3. Roh Kudus, yang memimpin orang percaya ke dalam segala kebenaran, mengingatkan kita akan Kebenaran Injil; membuat kita peka akan suara Tuhan [Yohanes 16:13]; menguduskan umat pilihan supaya taat kepada Kristus [1 Petrus 1:2]; memeteraikan dan menjamin orang percaya sebagai milik Allah [Efesus 1:13-14] 4. Penggarapan Bapa dalam kenyataan dan pengalaman hidup sehari-hari, sehingga kita bisa menangkap suara Tuhan dalam setiap peristiwa yang kita hadapi [Roma 8:28]. Kita sebagai umat tebusan yang telah dimiliki oleh Tuhan Yesus harus menghargai dan “memanfaatkan“ semua fasilitas tersebut supaya bisa menjadi murid Kristus yang setia.
Alkitab menggunakan beberapa simbol/gambaran untuk menjelaskan berbagai aspek tentang gereja yang adalah persekutuan orang-orang percaya. Gereja digambarkan sebagai: tubuh, pengantin perempuan, bangunan, imamat, kawanan domba, ataupun ranting. Dengan memahami simbol-simbol tersebut maka gereja dapat dipahami secara lengkap dan menyeluruh. Rasul Paulus menekankan bahwa orang Yahudi dan bukan Yahudi adalah satu di dalam Kristus karena Allah telah menghapuskan/merobohkan dinding pemisah di antara mereka [ayat 11-18]. Kemudian Rasul Paulus menjalankan kesatuan gereja dengan simbol “sebuah bangunan” yang dibangun di atas dasar para Rasul dan para Nabi dengan Yesus Kristus sebagai batu penjuru [ayat 20]. Yesus Kristus adalah batu penjuru gereja. Batu penjuru adalah dasar batu utama/pondasi pada struktur di mana ahli bangunan menetapkan satu standar untuk tumpuan bagi seluruh dinding. Dalam Kristus, gereja dibangun menjadi bangunan yang pas satu dengan yang lain [ayat 21]. Hal ini menekankan karya Kristus dalam membangun gereja-Nya. Sebagaimana satu bangunan yang bertumbuh pada waktu proses pembangunan berlangsung, demikian pula gereja sebagai suatu organisme yang hidup bertumbuh sebagai persekutuan orang percaya di mana petobat-petobat baru ditambahkan pada bangunan itu [1 Petrus 2:5].
BARCODE BBM CHANNELS
RENUNGAN HARIAN
Meterai Murid Kristus
31 Agustus '16
Satu Tubuh
03 Agustus '16
Jangan Memandang Muka
22 Agustus '16
Copyright © 2012 All rights reserved. Designed and Developed by GIA Dr. Cipto Semarang