SEPEKAN TERAKHIR
  Jumat, 24 Oktober 2014   -HARI INI-
  Kamis, 23 Oktober 2014
  Rabu, 22 Oktober 2014
  Selasa, 21 Oktober 2014
  Senin, 20 Oktober 2014
  Minggu, 19 Oktober 2014
  Sabtu, 18 Oktober 2014
POKOK RENUNGAN
Orang yang selalu bersyukur akan mampu menanggung permasalahan hidupnya.
DITULIS OLEH
Pdt. Andreas P. Chandra
Rohaniwan Pusat
Renungan Lain oleh Penulis:
Home  »  Renungan  »  Bersyukur Dalam Segala Hal
Bersyukur Dalam Segala Hal
Jumat, 15 Maret 2013 | Tema: Umat Yang Memasyurkan Allah
Bersyukur Dalam Segala Hal
I Tesalonika 5:18
Selalu ada alasan untuk mengucap syukur, sekalipun kondisi yang kita hadapi kelihatannya buruk. Chrysostom, seorang yang pernah menjadi Uskup Besar Constantinopel, dibawa ke pembuangan, dianiaya, direndahkan dan mati di tempat yang jauh dari kemewahan kota serta kesenangan dan kemuliaan yang pernah dinikmatinya. Namun demikian ia belajar bersyukur dalam semua keadaan. Semua ini bertolak dari motto hidupnya: “Doxa to Theo Panton Heneken” yang artinya kemuliaan bagi Allah dalam segala sesuatunya. Ia dapat membuktikan mottonya itu, di mana ia tetap bersyukur dan memuliakan Allah sekalipun menderita.

Marilah kita juga belajar untuk memuji Allah dan bersyukur kepada-Nya dalam segala sesuatu yang terjadi pada diri kita atas ijin-Nya. Kita tidak hanya bersyukur untuk hal-hal yang baik saja, tetapi juga untuk kejadian-kejadian yang menyesakkan hati kita. Kita mungkin tidak tahu apa maksud Allah ketika Ia mengijinkan semua itu terjadi, namun kita harus tetap percaya bahwa Ia adalah Allah yang Mahabaik. Kita tahu kisah Ayub yang mengalami pencobaan sedemikian beratnya, namun Ia belajar bersyukur dan tetap setia kepada Allah. Dan karena ia setia, maka Allah memulihkan keadaannya dan memberkati hidupnya.

Berdasarkan pengajaran Paulus kepada jemaat Tesalonika untuk selalu mengucap syukur dalam segala hal, mari apapun yang Anda alami, bersyukurlah kepada Allah dan tetaplah memuji Dia, sepe...selengkapnya »
Produsen-produsen film Hollywood sangat terkenal dengan kepiawaian mereka dalam menghasilkan film-film bermutu. Mereka sangat jago menghidupkan sebuah kisah yang diangkat ke layar lebar. Dari kisah film kisah nyata sampai hanya fiksi belaka. Salah satu genre film yang banyak disukai adalah fiksi ilmiah (science fiction). Film fiksi ilmiah seringkali mengangkat kisah tentang intervensi makhluk asing yang berasal dari planet atau galaksi lain ke bumi. Mereka datang dengan misi untuk menghancurkan dan menguasai manusia di bumi. Kemudian timbullah perlawanan dan usaha penyelamatan yang dimotori oleh segelintir orang. Dan merekalah yang berperan sebagai tokoh utama. Dalam nats alkitab hari ini Tuhan Yesus menyatakan bahwa kita, orang percaya, bukan berasal dari dunia ini. Wah, makhluk asing dong kita? Tentu bukan. Kita adalah orang yang telah dipanggil dari dunia yang gelap untuk mendapatkan terang Kristus. Kita telah dikhususkan dan dipisahkan dari dunia yang jahat untuk menjadi milik kepunyaan Allah (1 Petrus 2:9). Sehingga Tuhan Yesus mengatakan bahwa kita bukan berasal dari dunia, sama seperti Dia bukan berasal dari dunia. Ya, secara status kita yang dalam Kristus bukan lagi berasal (menjadi bagian) dari dunia yang jahat dan gelap ini. Jika sebuah film, kisahnya tidak berhenti di situ saja, ada kelanjutannya. Dan ini merupakan bagian yang paling seru, yaitu kita diutus kembali ke dunia (ayat 18). Misi apa yang kita bawa? Tentunya bukan misi pribadi untuk memperkaya diri ataupun mencari ketenaran dan kepopuleran diri, tetapi misi Allah untuk pemulihan bagi dunia. Membawa misi penyelamatan bagi dunia. Itulah misi yang ditetapkan Allah bagi setiap kita, orang-orang yang telah dibebaskan-Nya dari kegelapan dunia. Hidup kita harus mengejawantahkan misi tersebut dalam keseharian. Seringkali orang percaya tidak sadar akan misi yang telah diamanatkan oleh Allah. Akibatnya mereka hanya hidup bagi diri sendiri dan mengejar sesuatu yang sementara yang berasal dari dunia ini. Bukanlah sesuatu yang haram kita memiliki harta benda. Tetapi yang penting adalah untuk apa dan untuk siapa harta benda yang kita miliki. Jika kita memiliki kekayaan, kita harus ingat bahwa itu adalah pemberian dan perlengkapan dari Allah agar dimanfaatkan untuk mendukung dana bagi misi yang telah ditetapkan bagi kita. Bukan sesuatu yang dilarang untuk kita meraih jabatan. Tetapi jangan lupa bahwa jabatan tersebut merupakan sarana yang strategis untuk kita memberi pengaruh dan membawa perubahan. Dan masih banyak contoh yang lain lagi. Tetapi intinya, apapun yang bisa kita raih dan peroleh di dunia ini bukanlah tujuan akhir. Itu semuanya hanyalah sarana dan pendukung bagi pelaksanaan misi penyelamatan dan pemulihan bagi dunia. Pertanyaannya, apakah kita sudah melaksanakan misi ilahi tersebut?
Bagi Anda yang sekarang ini berusia 50 tahun keatas pasti ingat akan satu nama “Bing Slamet”. Ia seorang insan seni yang serba bisa. Melawak, main film, bahkan menciptakan lagu. Itu semua kemampuan sekaligus profesi yang sungguh-sungguh dia jiwai semasa hidupnya. Sampai-sampai saat dia meninggal dunia, Titik Puspa menggubah sebuah lagu berjudul “Bing”. Syair lagu tersebut berisi kesan-kesan baik tentang almarhum Bing Slamet. Di bagian akhir lirik tersebut dituliskan “tiada nama seharum namamu lagi, tiada-tiada Bing lagi”. Di era 70an lagu “Bing” sempat menjadi lagu favorit di Indonesia, bahkan mendapatkan penghargaan di tingkat Asean. Kisah nyata di atas membuktikan betapa Bing Slamet begitu dikenal dan dirindukan kehadirannya sebagai seorang seniman di negeri ini waktu itu. Kisah yang sama juga kita lihat dalam bacaan firmanTuhan hari ini. Dorkas seorang wanita yang hanya berperan sebagai pemerduli para janda miskin semasa hidupnya, kenyataanya ketika dia meninggal, janda-janda yang pernah menerima kebaikannya merasa sangat kehilangan. Mereka sungguh terkesan dengan kebaikan yang Dorkas lakukan pada mereka. Apa yang sudah Dorkas kerjakan terhadap mereka menjadikan dia seorang wanita yang dirindukan keberadaanya. Saudara mari kita renungkan kalimat-kalimat berikut: Kebaikan hati kita membuat semua orang tersenyum dan dipuji. Keceriaan yang tulus dari hati kita menjadikan kita disayangi banyak orang. Kepribadian yang baik membuat hidup kita menjadi indah dan disenangi Tuhan dan manusia. Kejujuran hati kita memberi dampak yang baik bagi kita di manapun. Oleh sebab itu jadikan hidup kita berkat untuk orang lain. Jemaat Tuhan yang terkasih, Jadilah pribadi yang selalu dirindukan bahkan dikenang karena kebajikan dan kemurahan hati kita. Lakukanlah kebaikan-kebaikan yang kecil dan sederhana bagi orang-orang di sekitar kita, sehingga kehadiran kita bisa membawa manfaat bagi mereka.
Kisah Para Rasul 9:36-42 Di Yope ada seorang murid perempuan bernama Tabita dalam bahasa Yunani Dorkas. Perempuan itu banyak sekali berbuat baik dan memberi sedekah. (Ayat 36b) Tabita adalah seorang biasa. Alkitab menyebut identitasnya hanya sebagai seorang murid perempuan. Dia bukan seorang nyonya atau istri dari seorang terkemuka. Dia juga bukan seorang pengusaha atau seorang kaya. Kemungkinan dia seorang single atau seorang janda. Mungkin dia seorang yang hidup secara sederhana. Tapi ada sesuatu yang istimewa di dalam dirinya. Dia adalah seorang murid yang benar-benar melakukan ajaran Tuhan Yesus. Firman Tuhan berkata: ”Ibadah yang murni dan yang tak bercacat di hadapan Allah, Bapa kita, ialah mengunjungi yatim piatu dan janda-janda dalam kesusahan mereka, dan menjaga supaya dirinya sendiri tidak dicemarkan oleh dunia.” (Yakobus 1:27) Tabita menerapkan gambaran tentang seorang perempuan yang penuh hikmat: ”Tangannya ditaruhnya pada jentera, jari-jarinya memegang pemintal. Ia memberikan tangannya kepada yang tertindas, mengulurkan tangannya kepada yang miskin”. (Amsal 31:19-20) Tabita banyak melakukan kemurahan hati kepada orang-orang yang miskin, terutama janda-janda yang tidak mampu. Ia membuatkan pakaian bagi mereka. Dia menjahit dengan tangannya sendiri pakaian-pakaian itu, lalu dia berikan kepada yang membutuhkan. Hidupnya sangat berarti bagi banyak orang, sehingga pada waktu ia meninggal banyak orang merasa kehilangan dan menangisi kepergiannya. Hidup Tabita berarti bukan hanya bagi orang-orang miskin yang pernah dibantunya, tetapi juga berarti bagi Tuhan. Firman Tuhan berkata bahwa apa yang kita perbuat bagi orang-orang kecil kita telah melakukannya untuk Tuhan (Matius 25:40). Itulah sebabnya ketika Tabita meninggal, Tuhan berkenan membangkitkan dia dari kematian. Tuhan mendengar permohonan orang-orang yang mengasihinya. Apakah hidup kita juga berarti bagi banyak orang? Apakah ketika kita meninggal nanti banyak orang akan merasa kehilangan? Atau sebaliknyakah yang terjadi? Hidup kita menyusahkan banyak orang. Ketika kita meninggal, banyak orang merasa lega karena sudah berkurang satu orang yang sering membuat masalah. Termasuk yang manakah hidup anda?
Masih ingatkah kita dengan film, “Terminator 2: The Judgment Day”, yang dibintangi oleh Arnold Schwarzenegger, Linda Hamilton, Edward Furlong, dan Robert Patrick yang dirilis tahun 1991? Di dalam film tersebut diceritakan tentang sesosok robot Terminator yang dikirim dari masa depan untuk melindungi seorang anak yang bernama John Connor dari ancaman pembunuhan robot yang terbuat dari logam cair yang bernama T-1000. John Connor diburu dan diancam untuk dibunuh oleh T-1000,karena di masa depan, John Connor menjadi orang yang akan memusnahkan robot-robot jahat dan akan menghakimi para tokoh jahat di balik munculnya para robot jahat. Yang menarik dari kisah ini adalah tentang perjuangan sosok terminator yang dengan setia melindungi dan mendampingi John Connor. Jauh-jauh dikirim dari masa depan, sang terminator rela mengorbankan dirinya agar John Connor tetap hidup, sekalipun harus dibayar dengan nyawa sang terminator. Kehadirannya bukan semata untuk kepentingan pribadinya, melainkan untuk memastikan orang lain merasa damai. Jika dibahasakan dalam “bahasa rohani”, kehadirannya memberi berkat bagi orang lain. Kisah Abraham mirip dengan kisah di atas. Abraham dipanggil dan dipilih Tuhan untuk melakukan misi yang mulia, yaitu untuk menjadi berkat bagi segala bangsa. Tuhan memanggil Abraham untuk “merantau” keluar dari tanah kelahirannya. Panggilan itu bukan semata-mata adalah jalan Tuhan untuk memberkati Abraham saja. Di dalam pemanggilan itu tersimpan amanat yang tidak kalah luar biasanya, yaitu Tuhan ingin menjadikan Abraham beserta keturunannya menjadi saluran berkat bagi semua bangsa. Cakupan atau ruang lingkup misi Abraham ini tidak terbatas hanya di kalangan tertentu saja. Alkitab mencatat di dalam Kejadian 12:3, “... dan olehmu semua kaum di muka bumi akan mendapat berkat.” Artinya, misi dan janji Allah pada Abraham untuk menjadi berkat berada di dalam cakupan yang tidak terbatas, tanpa ada pembatasan dan tanpa ada diskriminasi. Bagaimana dengan kita? Apakah kehadiran kita sudah menjadi berkat bagi semua orang? Ataukah kehadiran kita justru menjadi batu sandungan? Tuhan telah memilih kita keluar dari kegelapan untuk menjadi anak-anak terang. Kita telah dipilih Tuhan untuk menjadi umat pilihan-Nya, dan di dalam panggilan itu tersisip sebuah misi mulia, yaitu untuk menjadi berkat bagi semua orang. Mari Laksanakan!
BARCODE BBM CHANNELS
RENUNGAN HARIAN
Mendapatkan Setelah Dilupakan
15 Oktober '14
Saling Mencukupi
09 Oktober '14
Hebat, Keren, Megah?
04 Oktober '14
Copyright © 2012 All rights reserved. Designed and Developed by GIA Dr. Cipto Semarang