SEPEKAN TERAKHIR
  Selasa, 30 Juni 2015   -HARI INI-
  Senin, 29 Juni 2015
  Minggu, 28 Juni 2015
  Sabtu, 27 Juni 2015
  Jumat, 26 Juni 2015
  Kamis, 25 Juni 2015
  Rabu, 24 Juni 2015
POKOK RENUNGAN
Orang yang selalu bersyukur akan mampu menanggung permasalahan hidupnya.
DITULIS OLEH
Pdt. Andreas P. Chandra
Rohaniwan Pusat
Renungan Lain oleh Penulis:
Home  »  Renungan  »  Bersyukur Dalam Segala Hal
Bersyukur Dalam Segala Hal
Jumat, 15 Maret 2013 | Tema: Umat Yang Memasyurkan Allah
Bersyukur Dalam Segala Hal
I Tesalonika 5:18
Selalu ada alasan untuk mengucap syukur, sekalipun kondisi yang kita hadapi kelihatannya buruk. Chrysostom, seorang yang pernah menjadi Uskup Besar Constantinopel, dibawa ke pembuangan, dianiaya, direndahkan dan mati di tempat yang jauh dari kemewahan kota serta kesenangan dan kemuliaan yang pernah dinikmatinya. Namun demikian ia belajar bersyukur dalam semua keadaan. Semua ini bertolak dari motto hidupnya: “Doxa to Theo Panton Heneken” yang artinya kemuliaan bagi Allah dalam segala sesuatunya. Ia dapat membuktikan mottonya itu, di mana ia tetap bersyukur dan memuliakan Allah sekalipun menderita.

Marilah kita juga belajar untuk memuji Allah dan bersyukur kepada-Nya dalam segala sesuatu yang terjadi pada diri kita atas ijin-Nya. Kita tidak hanya bersyukur untuk hal-hal yang baik saja, tetapi juga untuk kejadian-kejadian yang menyesakkan hati kita. Kita mungkin tidak tahu apa maksud Allah ketika Ia mengijinkan semua itu terjadi, namun kita harus tetap percaya bahwa Ia adalah Allah yang Mahabaik. Kita tahu kisah Ayub yang mengalami pencobaan sedemikian beratnya, namun Ia belajar bersyukur dan tetap setia kepada Allah. Dan karena ia setia, maka Allah memulihkan keadaannya dan memberkati hidupnya.

Berdasarkan pengajaran Paulus kepada jemaat Tesalonika untuk selalu mengucap syukur dalam segala hal, mari apapun yang Anda alami, bersyukurlah kepada Allah dan tetaplah memuji Dia, sepe...selengkapnya »
Ada enam orang remaja yang dibentuk oleh gurunya untuk belajar kelompok bersama. Mereka baru duduk di kelas 2 SMP dan bersepakat untuk saling membantu, saling menolong dan bekerjasama. Awalnya mereka sukses menjadi kelompok belajar bersama, bahkan dua di antara mereka mendapat ranking ketika kenaikan ke kelas 3. Namun kebersamaan mereka ternyata tidak semulus tujuannya semula. Karena mereka merupakan anak-anak yang baru menginjak remaja, munculah kebiasaan buruk dalam kelompok tersebut. Mereka sering keluar malam bersama, walaupun hanya sekedar ngobrol di pinggir jalan. Lama-lama mereka mulai membutuhkan uang walaupun hanya sekedar untuk membeli rokok. Mereka anak-anak yang pandai sebenarnya, tetapi karena orangtua yang kurang memperhatikan, akibatnya mereka lepas kendali. Waktu itu malam minggu, mereka sedang jalan-jalan. Tiba-tiba ketika mereka melewati sebuah gedung SMP terbesit keinginan untuk mencuri di sekolah itu. Dan malam itu mereka berhasil. Perbuatan itu dilakukan beberapa kali, sampai akhirnya mereka tertangkap gara-gara salah satu dari mereka membawa barang sekolah yang dicuri. Akhirnya mereka dipanggil pihak sekolah dan diserahkan ke pemerintah setempat, bukan ke polisi, dengan tujuan pembinaan. Anak-anak ini mengakui perbuatannya dan melakukan pertobatan. Mereka belum terlambat, sehingga mereka lulus SMP. Dan sekarang ini mereka menjadi anak-anak yang berhasil. Peristiwa ini mengingatkan kita akan peristiwa Yunus dan Niniwe. Yunus anak muda yang baik, Tuhan memilihnya untuk memperingatkan Niniwe. Dia melambangkan generasi yang mau menanggapi dan mau bertobat ketika jauh dari kehendak Allah. Seperti ketika Yunus di perut ikan, ia berkata, “Mungkinkah aku memandang lagi Bait-Mu yang kudus?” Ini menandakan pertobatan yang nyata sehingga Tuhan tetap berkenan kepadanya. Belum terlambat bagi Yunus untuk bertobat dan melakukan kehendak Allah. Demikian juga bangsa Niniwe. Penduduknya telah melakukan kejahatan yang luar biasa [1:1-2]. Tuhan tinggal menjatuhkan hukuman bagi Niniwe. Tetapi Tuhan ingin melihat pertobatan bangsa itu. Dan karena pertobatannya, maka selamatlah bangsa itu. Kita perlu belajar seperti Yunus dan orang Niniwe yang taat kepada suara Allah. Belum terlambat untuk melakukan setiap kehendak Allah. Perumpamaan Yesus dalam Matius 21:28-32 menjelaskan bahwa yang akan masuk kerajaan Allah adalah orang yang mau mendengar, bertobat dan melakukan kehendak Bapa di sorga. Marilah kita menjadi seperti Yunus dan orang Niniwe yang bersedia mendengar suara Allah, bertobat dan melakukan kehendak-Nya sehingga hidup kita berkenan di hati-Nya.
Ada dua kelompok pertemanan yang bertolak belakang yang sempat mewarnai kehidupan masa SMA saya. Mulanya saya ’runtang-runtung’ dengan sejumlah kawan yang berasal dari beragam latar belakang. Ada yang keluarganya harmonis, ada yang keluarganya pecah berantakan. Ada yang sangat cemerlang prestasi akademisnya, ada yang berhenti sekolah di tengah jalan. Ada yang beragama Budha, Katolik, Kristen, ada pula yang atheis. Ada yang orang tuanya berlimpah materi, ada yang harus bekerja untuk mencukupi kebutuhannya sendiri. Semua ’tumplek blek’ dalam kelompok kami. Semua berusaha bertenggang rasa. Berusaha saling mengisi kekosongan yang terasa begitu menggigit. Namun meski pertemuan kami tak pernah sepi dari canda tawa, dolan, acara ini itu, tetap saja kekosongan itu tak terisi. Saat semua pergi, rasa hampa itu datang lagi. Di saat yang hampir bersamaan saya diajak bergabung dalam kelompok teman sekolah yang seiman. Bukan sekelompok anak saleh. Kami hanyalah sekumpulan anak SMA yang suka berkumpul di rumah salah satu teman secara bergantian, mengobrol, jalan-jalan, jajan, itu saja. Sampai suatu siang kami diajak untuk ikut ke persekutuan yang dinaungi oleh sekolah kami. Sejak saat itu nuansa pertemuan kelompok kami perlahan-lahan berubah. Pembicaraan kami mulai diselingi topik seputar persekutuan. Tempat yang kami tuju bukan lagi semata-mata untuk bersenang-senang, melainkan untuk mencari makna hidup juga. Perubahan itu terjadi begitu alamiah. Kami tetap merupakan sekumpulan remaja yang suka mengobrol ringan dan dolan. Tapi kami tak lagi berjalan tak tentu arah. Satu per satu memutuskan untuk hidup sebagai seorang Kristen sejati. Ketika kami lulus SMA, teman-teman lain melihat bahwa hidup kami tak lagi sama. Hidup kami mulai berubah menjadi indah. Bahkan perubahan yang nyata itu mengawali terjadinya perjumpaan antara kawan-kawan yang lain dengan pribadi Kristus. Kristus yang tinggal di dalam hati sekumpulan anak remaja ini telah memancarkan sinar yang begitu cemerlang sehingga orang ingin mendekat pada Pribadi yang sanggup mengubahkan hati ini.
“Bagaimana Ben acara retreat kemarin?” tanya Sambey yang tidak bisa ikut retreat pemuda antar gereja karena merawat ibunya yang sedang sakit di kampung. “Wah, acaranya keren banget, Sam. Sayang kamu tidak ikut”, kata Benay. “Pembicaranya tidak ada yang hamba Tuhan lokal, Sam. Semuanya hamba Tuhan interlokal”, kata Benay lebih lanjut. “Wow, hamba Tuhan interlokal? Kayak telepon saja”, komentar Sambey sambil nyengir. “Maksudku pembicara top markotop yang sudah terkenal di mana-mana”, jelas Benay. Disebutkanlah sederet nama pendeta-pendeta ternama yang sudah tidak asing lagi di dunia panggung kerohanian. “Lebih hebatnya lagi, kita tidak saja dipuaskan secara rohani tetapi juga jasmani”, kata Benay. Benay menyebutkan berbagai menu makan dan snack yang lezat-lezat. Sambey hampir dibuat ngiler mendengarnya. “Lalu dampak apa yang kamu dapat dari retreat itu?” tanya Sambey. “Ya banyak Sam. Yang jelas aku semakin bangga sebagai orang Kristen! Para pembicara menekankan bahwa kita ini umat yang lebih dari pemenang! Umat yang dikasihi Tuhan! Bahkan ada yang berkata jika dunia resesi, kita rekreasi! Wah, berkatnya keren pokoknya”, jelas Benay. Sambey termangu mendengarkan penjelasan Benay. Dalam benaknya terbersit kegundahan. Jika sekedar bangga apakah gunanya? Jangan-jangan banyak orang Kristen yang narsis, tetapi hidupnya tidak memberi dampak yang baik bagi orang lain. Jemaat yang terkasih. Betapa bangganya orang Israel yang mengenali dirinya sebagai umat pilihan Tuhan yang dibedakan dari bangsa-bangsa lain. Mereka bangga mempunyai Bait Suci di Yerusalem yang menjadi tempat ibadah kepada Tuhan. Bait Suci yang mereka percayai sebagai rumah Tuhan di mana Dia berkenan hadir di tengah-tengah umat-Nya. Tetapi di mata Tuhan kebanggaan saja tidaklah memadai. Apakah artinya kebanggaan sebagai umat pilihan Tuhan? Apakah maknanya kebanggaan mempunyai Bait Suci? Jika kebanggaan itu disertai perbuatan yang menistakan Tuhan. Tuhan berfirman bahwa Dia akan sungguh-sungguh hadir menyertai umat-Nya hanya jika mereka memperbaiki tingkah laku dan perbuatannya. Yaitu dengan melakukan keadilan, tidak menindas orang lain, dan tidak menyembah allah lain [ayat 5-7]. Sungguh! Kebanggaan harus diikuti dengan perbuatan yang menjadi berkat bagi orang lain. Jemaat yang terkasih. Banyak atribut-atribut indah yang Tuhan berikan kepada kita. Kita disebut-Nya sebagai bangsa yang kudus, umat pilihan Allah. Kita disebutnya sebagai biji mata Tuhan. Kita disebutnya sebagai umat yang lebih dari pemenang, dan lain-lain. Marilah kita tidak sekedar bangga dengan semuanya itu. Jangan menjadi umat yang narsis, yang justru dibenci oleh Tuhan. Melainkan marilah kita buktikan anugrah keistimewaan yang Tuhan berikan dengan perbuatan-perbuatan kita yang selalu menjadi berkat bagi orang lain. Terutama kepada mereka yang miskin dan menderita.
Untuk membangun masyarakat, khususnya di Indonesia, tidak lagi hanya menekankan pada sisi akademis-teoritis. Namun sekarang sudah mengalami banyak perubahan, kalau bukan transformasi, setidaknya ada kemajuan yang signifikan. Kemajuan yang dimaksud adalah membangun masyarakat yang berbasiskan ilmu pengetahuan dan peningkatan SDM. Oleh sebab itu masyarakat yang maju akan bertumpu pada generasi muda yang berpengetahuan luas dan akhirnya menjadi masyarakat yang dipenuhi oleh SDM mumpuni. Iptek akan menjadi piranti utama sebagai pendukung kemajuan yang tiada duanya. Maka bagi ukuran dunia [Indonesia saat ini] untuk menjadi bangsa yang cemerlang setidaknya akan lebih serius terhadap program tersebut. Saudara, bagaimana dengan umat Tuhan supaya cemerlang? Tentu saja kita semua sebagai orang Kristen tidak menolak program pemerintah seperti yang saya sampaikan di atas. Namun demikian umat Tuhan yang cemerlang tidak seratus persen berpatokkan pada ukuran-ukuran positif yang ada di dunia ini. Sebagai contoh: Daniel, Hananya, Misael dan Azarya. Anak-anak muda dari Yehuda di Babel sangat cemerlang dan tidak ada yang menandingi kecerdasannya di tengah-tengah orang muda Babel. Dan mereka menggunakan kecerdasan dan hikmat yang dimiliki untuk bersaksi akan kebesaran Allah di tengah-tengah bangsa Babel yang tidak percaya Allah. Saudara, perhatikanlah juga jemaat mula-mula di Antiokhia. Para petobat baru menjadi murid-murid Yesus dan mereka semua, karena cinta dan setianya kepada Tuhan, disebut sebagai “orang Kristen” yang pertama kali. Luar biasa kesetiaan mereka untuk terus memberitakan Injil Yesus Kristus. Dan jika kita menelusuri sebelumnya siapakah yang memberitakan injil di Antiokhia? Ternyata murid-murid Yesus yang tidak terkenal, yaitu orang Siprus dan Kirene. Kecemerlangan mereka terletak pada kesetiaan, ketaatan kepada Tuhan dan senantiasa memberitakan Injil Yesus Kristus. Jikalau kita rindu mendapat predikat sebagai umat Tuhan yang cemerlang, maka jadilah yang terbaik di tengah dunia ini. Belajar, berjuang hingga sukses. Dan yang terpenting adalah setia dan taat kepada Tuhan, menjadi saksi Krisus di manapun kita berada.
BARCODE BBM CHANNELS
RENUNGAN HARIAN
Belum Terlambat
30 Mei '15
Yang Buruk Tidak Selamanya Buruk
13 Juni '15
Jadilah Seorang Climber
01 Juni '15
Copyright © 2012 All rights reserved. Designed and Developed by GIA Dr. Cipto Semarang