SEPEKAN TERAKHIR
  Jumat, 25 April 2014   -HARI INI-
  Kamis, 24 April 2014
  Rabu, 23 April 2014
  Selasa, 22 April 2014
  Senin, 21 April 2014
  Minggu, 20 April 2014
  Sabtu, 19 April 2014
POKOK RENUNGAN
Orang yang selalu bersyukur akan mampu menanggung permasalahan hidupnya.
DITULIS OLEH
Pdt. Andreas P. Chandra
Rohaniwan Pusat
Renungan Lain oleh Penulis:
Home  »  Renungan  »  Bersyukur Dalam Segala Hal
Bersyukur Dalam Segala Hal
Jumat, 15 Maret 2013 | Tema: Umat Yang Memasyurkan Allah
Bersyukur Dalam Segala Hal
I Tesalonika 5:18
Selalu ada alasan untuk mengucap syukur, sekalipun kondisi yang kita hadapi kelihatannya buruk. Chrysostom, seorang yang pernah menjadi Uskup Besar Constantinopel, dibawa ke pembuangan, dianiaya, direndahkan dan mati di tempat yang jauh dari kemewahan kota serta kesenangan dan kemuliaan yang pernah dinikmatinya. Namun demikian ia belajar bersyukur dalam semua keadaan. Semua ini bertolak dari motto hidupnya: “Doxa to Theo Panton Heneken” yang artinya kemuliaan bagi Allah dalam segala sesuatunya. Ia dapat membuktikan mottonya itu, di mana ia tetap bersyukur dan memuliakan Allah sekalipun menderita.

Marilah kita juga belajar untuk memuji Allah dan bersyukur kepada-Nya dalam segala sesuatu yang terjadi pada diri kita atas ijin-Nya. Kita tidak hanya bersyukur untuk hal-hal yang baik saja, tetapi juga untuk kejadian-kejadian yang menyesakkan hati kita. Kita mungkin tidak tahu apa maksud Allah ketika Ia mengijinkan semua itu terjadi, namun kita harus tetap percaya bahwa Ia adalah Allah yang Mahabaik. Kita tahu kisah Ayub yang mengalami pencobaan sedemikian beratnya, namun Ia belajar bersyukur dan tetap setia kepada Allah. Dan karena ia setia, maka Allah memulihkan keadaannya dan memberkati hidupnya.

Berdasarkan pengajaran Paulus kepada jemaat Tesalonika untuk selalu mengucap syukur dalam segala hal, mari apapun yang Anda alami, bersyukurlah kepada Allah dan tetaplah memuji Dia, sepe...selengkapnya »
Saat saya berkunjung ke sebuah persekutuan doa di SICC Sentul tahun 2012, saya cukup kaget dan keheranan melihat banyaknya pendoa syafaat yang mendukung pekerjaan Tuhan dalam pelayanan Pdt. Ir. Niko Nyotoraharjo. Mereka dengan tekun, sehati, berdoa syafaat mendoakan pekerjaan Tuhan dalam pelayanan Healing Movement. Di sini kita dapat melihat bahwa pelayanan Pdt. Ir. Niko Nyotoraharjo yang begitu dahsyat ternyata tidak dilakukan seorang diri, tetapi ada 12.000 pendoa syafaat yang mendukungnya di belakang layar. Kadang setiap orang menganggap bahwa melayani sebagai pendoa syafaat gereja merupakan pelayanan yang sangat kecil bahkan lebih rendah dibandingkan dengan pelayanan yang lain karena tidak kelihatan (waktu ibadah di ruang doa). Mereka menganggap bahwa pelayanan yang sesungguhnya ya menjadi worship seader, Singer, pemain musik, dancer, tamborine, dan yang paling tinggi adalah pengkotbah karena mereka adalah pelayan-pelayan yang berperan penting dan terlihat di atas altar. Oleh karena itu sangat jarang anggota jemaat yang masih produktif muda mau menjadi pendoa syafaat. Alhasih, pendoa syafaat gereja hanya dipenuhi oleh jemaat-jemaat yang sudah tua, dan kebanyakan wanita. Jika kita melihat pelayanan Rasul Paulus secara keseluruhan, ternyata pandangan yang saya kemukakan di atas itu keliru. Hamba Tuhan ‘sehebat’ Paulus ternyata tetap memohon bantuan agar jemaat yang dilayaninya terus mendoakan pelayanan Paulus (Kolose 4:3). Paulus menyadari tanpa pertolongan Tuhan melalui doa-doa yang dinaikan jemaat, pelayanannya tidak akan berjalan dengan baik. Pdt. Ir. Niko sadar betul bahwa pendoa syafaat merupakan pondasi dari sebuah pelayanan. Tanpa pondasi yang kuat, sebuah bangunan akan menjadi rapuh. Oleh karena itu Pdt. Ir. Niko membentuk Persekutuan Pendoa Syafaat yang cukup banyak dalam jajaran pelayanannya. Pendoa syafaat merupakan pelayanan yang sangat mulia. Mereka tidak diprioritaskan dalam seksi-seksi, tidak pernah dipuji, tidak pernah terlihat, bahkan mungkin di balik tembok belakang mimbar saat ibadah. Namun siapakah yang menjadi penyambung lidah jemaat saat Pendeta berkotbah, mendoakan kelangsung ibadah, mendoakan jemaat yang sakit, bergumul bagi bangsa dan negara, dan lain-lain? Mereka adalah para pendoa syafaat, orang-orang yang melayani di belakang layar.
Di tengah amukan badai yang makin lama makin mengganas, sebuah kapal menderita kebocoran yang sangat parah sehingga nyaris karam. Pada detik-detik yang menegangkan itu sang kapten kapal berteriak kepada anak buahnya, ”Siapa di antara kalian merupakan pengikut Kristus yang tersohor karena rela mati bagi semua orang?” Seorang anak buah kapal yang dikenal saleh mengacungkan telunjuknya. Dia bersiap kalau-kalau diperintahkan untuk memimpin doa. Sang kapten menepuk keras bahu anak muda yang tanpa ragu mengaku sebagai pengikut Kristus itu dan berujar, ”Bagus! Kita kekurangan satu jaket penyelamat .... Jika Tuhanmu rela mati bagi seluruh manusia, tentu kau pun akan merasa terhormat mati bagi rekan-rekanmu.” Anekdot ini bukan hanya memancing senyum kita, tetapi menohok jauh lebih dalam. Bila kita menganggap bahwa sebutan sebagai pengikut Kristus sekedar predikat yang bermakna ringan tanpa konsekuensi yang berarti, kita harus berpikir ulang. Ternyata dunia tidak melihatnya demikian. Dunia berharap kita berlaku seperti Kristus. Memandang kita sebagai wakil Kristus dalam kehidupan yang tampak di depan mata. Ketika kita hidup buat kepentingan diri sendiri, keluarga sendiri, kelompok sendiri ... itu bertentangan dengan cara hidup Kristus. Hidup Kristus tidak dibaktikan bagi diri-Nya sendiri. Pengorbanan yang mulia adalah ciri khas cara hidup-Nya. Cara hidup yang semestinya menginspirasi kita yang menyebut diri sebagai pengikut Kristus. Jadi, setiap kali kita hendak mengatakan, memutuskan, atau melakukan segala sesuatu ... pertimbangkanlah matang-matang, apakah itu mencerminkan bahwa kita hidup bagi diri sendiri ... atau hidup bagi Kristus yang telah mati dan dibangkitkan untuk kita.
Pada suatu siang yang terik, Sambey mengambil gitar. Ia duduk di teras rumahnya yang sejuk dan mulai memetik gitarnya, mengalunkan pujian “Kasih setia-Mu yang ku rasakan” ciptaan Pdt. Ir. Niko Njotorahardjo. Menjelang refrain, tiba-tiba Sambey menghentikan pujiannya. Bukan karena senar gitarnya putus, tetapi karena ada satu kata dalam bait pujian itu yang menarik hatinya. Kata itu adalah “...berkat-Mu yang telah ku terima, sempat membuatku terpesona...” “Mengapa berkat Tuhan kok hanya sempat membuat terpesona? Mengapa kok tidak selalu atau tidak terus membuat terpesona?” renung Sambey. Beberapa menit dihabiskannya untuk mengulang syair pujian itu dan merenungkannya kembali. Sampai akhirnya Sambey mengerti bahwa hanya kepada Tuhanlah, Sang sumber berkat, ia harus selalu terpesona. Kepada berkat-Nya, cukup sempat terpesona saja. Agar berkat tidak mengikatnya, melainkan hanya kepada Tuhan saja ia melekat. Jemaat yang terkasih. Simon mencari ikan semalam-malaman. Ia bekerja keras begitu rupa menebarkan jalanya di sisi kanan dan di sisi kiri perahunya. Tetapi malang nasibnya malam itu. Tak satu pun ikan berhasil ditangkapnya. Ia kembali ke pantai sebagai seorang yang gagal. Harapannya untuk menangkap sejumlah ikan pupus sudah. Pagi itu ia berjumpa dengan Tuhan Yesus yang memerintahkannya untuk menebarkan jalanya di siang bolong. Meskipun tak masuk akal, tetapi karena Tuhan yang memerintahkan, ia pun melakukannya. Hasilnya, berkat yang luar biasa! Sejumlah besar ikan ditangkapnya! Yang menarik adalah sikap Simon. Berkat itu tidak mempesonanya. Justru berkat itu membuatnya merasa tidak layak. Ia merasa tidak layak diperhatikan Tuhan karena ia orang berdosa. Matanya terus tertuju pada Tuhan Yesus. Maka ketika Tuhan memanggilnya, Simon dan teman-temannya meninggalkan berkat yang sempat mempesonanya itu dan mengikut Tuhan. Jemaat yang terkasih. Jika kita mau menjadi pribadi yang mampu meretas rintangan, contohlah sikap Simon. Pertama, jangan dilemahkan oleh kegagalan. Kedua, taat pada perintah Tuhan. Meskipun kadangkala tampak tidak masuk akal. Ketiga, selalu terpesona pada Tuhan saja. Itu berarti tidak terus terpesona pada berkat-berkat yang kita terima.
Filipi 3:10-11 Yang kukehendaki ialah mengenal Dia dan kuasa kebangkitan-Nya dan persekutuan dalam penderitaan-Nya, di mana aku menjadi serupa dengan Dia dalam kematian-Nya, supaya aku akhirnya beroleh kebangkitan dari antara orang mati. Hari ini kita memperingati peristiwa Kebangkitan Yesus dari antara orang mati. Kubur Yesus yang kosong adalah saksi kebangkitan-Nya. Yesus sendiri berulang kali menampakkan diri kepada murid-murid-Nya selama 40 hari setelah kebangkitan-Nya. Kebangkitan Yesus adalah fondasi iman Kristen. Karena peristiwa kebangkitan itulah maka kita percaya bahwa Yesus adalah Tuhan yang mulia. Peristiwa kebangkitan-Nya membuktikan bahwa segala yang difirmankan dan dilakukan-Nya adalah benar. Kematian-Nya di kayu salib bukanlah kekalahan dan tindakan sia-sia, namun tindakan yang mendatangkan keselamatan bagi semua orang yang percaya kepada-Nya. Peristiwa kebangkitan Yesus punya dampak bagi hidup para murid-Nya. Mereka yang tadinya hilang harapan dan penuh ketakutan menjadi bersemangat dan menjadi saksi di seluruh dunia. Hal itu bisa terjadi karena para murid Yesus mengidentifikasikan diri mereka pada Kristus. Mereka mengenal Yesus yang bangkit dan menjalani hidup sesuai dengan yang Tuhan ajarkan kepada mereka. Jika kita menjadi serupa dengan Dia dalam kematian-Nya, kitapun akan menjadi serupa dengan Dia dalam kebangkitan-Nya. Tujuan kita menjadi orang Kristen adalah untuk menjadi serupa dengan Kristus. Menjadi serupa dengan-Nya berarti kita mengikuti jalan hidup-Nya dengan konsekuen dan konsisten. Itu berarti kita harus taat kepada firman-Nya dan menghormati Dia sebagai Tuhan yang berdaulat atas hidup kita. Selamat Paskah 2014. Tuhan memberkati.
MARI BERTUMBUH BERSAMA
TEMA BULAN APRIL 2014
RENUNGAN HARIAN
Merendahkan Diri dan Ditinggikan
13 April '14
Pelayan Dibelakang Layar
15 April '14
Keputusan Yang Mantap
25 Maret '14
Copyright © 2012 All rights reserved. Designed and Developed by GIA Dr. Cipto Semarang