SEPEKAN TERAKHIR
  Senin, 20 Februari 2017   -HARI INI-
  Minggu, 19 Februari 2017
  Sabtu, 18 Februari 2017
  Jumat, 17 Februari 2017
  Kamis, 16 Februari 2017
  Rabu, 15 Februari 2017
  Selasa, 14 Februari 2017
POKOK RENUNGAN
Orang yang selalu bersyukur akan mampu menanggung permasalahan hidupnya.
DITULIS OLEH
Pdt. Andreas P. Chandra
Rohaniwan Pusat
Renungan Lain oleh Penulis:
Home  »  Renungan  »  Bersyukur Dalam Segala Hal
Bersyukur Dalam Segala Hal
Jumat, 15 Maret 2013 | Tema: Umat Yang Memasyurkan Allah
Bersyukur Dalam Segala Hal
I Tesalonika 5:18
Selalu ada alasan untuk mengucap syukur, sekalipun kondisi yang kita hadapi kelihatannya buruk. Chrysostom, seorang yang pernah menjadi Uskup Besar Constantinopel, dibawa ke pembuangan, dianiaya, direndahkan dan mati di tempat yang jauh dari kemewahan kota serta kesenangan dan kemuliaan yang pernah dinikmatinya. Namun demikian ia belajar bersyukur dalam semua keadaan. Semua ini bertolak dari motto hidupnya: Doxa to Theo Panton Heneken yang artinya kemuliaan bagi Allah dalam segala sesuatunya. Ia dapat membuktikan mottonya itu, di mana ia tetap bersyukur dan memuliakan Allah sekalipun menderita.

Marilah kita juga belajar untuk memuji Allah dan bersyukur kepada-Nya dalam segala ...selengkapnya »
Kecap dan lihatlah Mazmur 34:1-9 Kecaplah dan lihatlah, betapa baiknya TUHAN itu! Berbahagialah orang yang berlindung pada-Nya! [ayat 9] Daud mengajak kita untuk mengecap dan melihat betapa baiknya Tuhan. Ajakan itu didasarkan pada pengalamannya sendiri. Dia pernah diperhadapkan dengan situasi yang sangat sulit: dikejar-kejar dan hendak dibunuh oleh Saul, melarikan diri ke negeri orang Filistin, lalu orang-orang Filistin tahu bahwa dia adalah orang yang dulu pernah membunuh Goliat, pahlawan Filistin. Dia ditangkap dan dihadapkan pada raja orang Filistin. Dalam kondisi yang terjepit itu, Daud tiba-tiba mendapat akal, berpura-pura gila. Ternyata dengan cara itu dia terbebas dari ancaman maut. Orang-orang Filistin melepaskan dia. Itu karena pertolongan Tuhan. Tuhan memang baik bagi orang yang berharap dan berseru kepada-Nya. Tuhan melepaskan Daud dari ancaman maut, sehingga dia terbebas dari jerat maut itu. Dia berkata: ’Aku telah mencari TUHAN, lalu Ia menjawab aku, dan melepaskan aku dari segala kegentaranku.’ [ayat 5]. Dari pengalamannya itu Daud meyakini bahwa dalam hidup ini ada sebuah prinsip kebenaran yaitu: Tuhan mendengar orang yang berseru kepada-Nya. Dengan inspirasi kebenaran yang telah terbukti dalam pengalaman itu, Daud menulis sebuah syair pujian yang mengatakan: ’Orang yang tertindas ini berseru, dan TUHAN mendengar; Ia menyelamatkan dia dari segala kesesakannya. Malaikat TUHAN berkemah di sekeliling orang-orang yang takut akan Dia, lalu meluputkan mereka’. [ayat 7-8]. Prinsip kebenaran itu bukan hanya berlaku bagi Daud, tetapi juga bisa dialami dan dipakai oleh siapa saja yang percaya kepada Tuhan. Karena itu Daud menawarkan sebuah ajakan: ’Kecaplah dan lihatlah, betapa baiknya TUHAN itu!’ Alamilah sendiri betapa baiknya Tuhan. Pdt. Goenawan Susanto
Kesukaan saya ketika masih SD dalu adalah pulang pagi karena momen tersebut merupakan kesempatan untuk main ke rumah teman sekelas. Karena tempat kami waktu itu belum ada angkot, maka kami berjalan menyusuri kampung demi kampung untuk menjemput teman lainnya. Ketika sampai ke ujung kampung, kami terkejut dan ketakutan karena berpapasan dengan seorang laki-laki yang mengalami gangguan jiwa dengan pakaian menjijikkan dan rambut kumal. Sepontan saya mengambil batu dan melemparkannya ke orang tersebut. Eh... orang itu tidak pergi tapi justru malah ganti melempar kami dengan batu yang lebih besar dan bahkan mengejar kami. Kami pun tunggang langgang melarikan diri. Setelah saya lihat orang itu tidak mengejar lagi, maka kami sepakat mendatanginya untuk melempari batu lagi. Saat kami berlari kecil sambil membawa batu, ada seorang bapak yang berjalan agak pincang memanggil saya, “ Heiii, le, cah... berhenti dulu, kalian bawa batu mau buat apa?” Dengan agak berteriak saya menjawab, ”Buat melempar orang gila, pak Dhe!” Bapak itu berkata, ”Kalau kamu saya lempar batu, sakit tidak?” ”Sakit, Pak,” jawab saya. Bapak itu berkata lagi, ”Yang kamu lempar itu orang apa hewan?” ”Orang, Pak,” saya menyahut. Kemudian bapak itu melanjutkan, ”Kalau dia orang berarti sakit seperti yang kamu rasakan, boleh gak dilempari?” Belum sempat saya jawab, bapak itu berkata lagi, ”Kamu orang Nasrani, kan?” “Saya Kristen, Pak.” Jawab saya. Bapak itu mulai mengingatkan saya, “Isa, Yesusmu mengajarkan kasihilah sesamamu manusia, kan? Apa kamu mau jadi seperti orang gila itu. Ayo, buang batunya dan belajarlah seperti Nabi Isa, Yesus guru yang mengajarimu mengasihi itu!” Maka sayapun urung melempari orang gila itu. Mulai saat itu saya mulai paham teladan seorang Guru Agung yang harus dicontoh oleh para pengikut-Nya. Ketika mengaku Kristen berarti harus meneladani Kristus dalam hidupnya sebagai SOKO GURU. Pribahasa mengatakan “Guru kencing berdiri, murid kencing berlari”. Artinya, seorang murid akan meneladani sang guru. Kita mempunyai guru yang luar biasa, yaitu Yesus Kristus. Maka hendaklah hidup kita meneladani hidup Yesus, Guru Agung kita [1 Yohanes 2:6]. Bila kita membaca dan belajar kebenaran firman Tuhan dengan serius setiap hari, maka kita akan menemukan sebuah kebenaran bahwa gaya hidup Tuhan Yesus itu bertolak belakang dengan gaya hidup dunia atau gaya hidup manusia pada umumnya. Jadi kalau gaya hidup kita sebagai orang percaya belum mencapai standar gaya hidup seperti Tuhan Yesus atau kalau hidup kita masih sama dengan gaya hidup orang dunia pada umumnya, maka sesungguhnya kita belum mencapai standar hidup kekristenan yang diajarkan oleh Tuhan Yesus. Dan itu menunjukan bahwa kita belum menjadi seorang pengikut Kristus yang sejati. Oleh sebab itu hiduplah sesuai teladan Kristus, maka hidup kita akan menjadi berkat bagi sekitar kita.
Mendekati hari Valentine yang identik dengan nuansa pink, kado serta coklat tanda perhatian dan kasih sayang, banyak orang sibuk memilih hadiah dan coklat buat orang-orang tersayang. Tentu dengan harapan bahwa si penerima akan gembira dan menghargai perhatian yang diberikan. Terkadang diadakan acara tukar kado pula, yang biasanya membuat hati penasaran ketika membuka kertas pembungkusnya. Jika kita amati lebih teliti, sering orang menghadiahkan sesuatu yang menarik baginya, tapi belum tentu menarik bagi yang menerima. Sehingga tak jarang ketika Valentine berlalu, hadiah itu akan teronggok dan berdebu. Sayang sekali. Padahal bila mau meluangkan waktu untuk mencari tahu minat dan kebutuhan si penerima, tentu kado yang diberikan akan bisa bermanfaat. Sementara itu, acara tukar kado terkadang menjadi momen uji peruntungan. Dengan membawa kado sekenanya, sebagian orang berharap mendapat kado istimewa dari dermawan tanpa nama. Jauh sebelum momen Valentine menjadi trend, Alkitab sudah mengatakan dalam Markus 12:31 bahwa kita harus mengasihi. Bukan hanya orang yang kita sayangi, namun termasuk semua yang disebut sebagai sesama manusia. Dan bukan sekedar mengasihi, namun mengasihi seperti kita mengasihi diri kita sendiri. Marilah mengasihi dan memperhatikan dengan lebih baik lagi. Termasuk dalam hal-hal yang sederhana. Seringkali justru dari perkara-perkara sederhanalah tercermin sikap hati kita yang sesungguhnya.
Mengalami Tuhan 3 1 Samuel 3:1-10 Lalu datanglah TUHAN, berdiri di sana dan memanggil seperti yang sudah-sudah: ’Samuel! Samuel!’ Dan Samuel menjawab: ’Berbicaralah, sebab hamba-Mu ini mendengar.’ [ayat 10] Kita perlu mendengar suara Tuhan karena Dia adalah Gembala Agung kita. Domba-domba harus mendengar suara gembalanya dan dapat membedakan suara gembalanya dari suara orang lain. Samuel yang masih sangat muda belum mengenal Tuhan, sehingga tidak mengenal suara-Nya pada waktu Tuhan memanggilnya. Setelah dia diberi tahu oleh imam Eli, barulah dia tahu bahwa suara yang memanggilnya itu adalah suara Tuhan. Rick Warren, penulis buku Purpose Driven Life, berkata: ’Kita sering tidak mendengar suara Tuhan karena kita tidak memberi perhatian.’ Kita sering tidak mendengar suara Tuhan karena pikiran kita dipenuhi dengan banyak hal lain selain Tuhan. Mungkin pikiran kita sedang dipenuhi oleh kekuatiran, atau dipenuhi oleh ketamakan akan materi, atau dipenuhi oleh hobi atau kesenangan kita, dan lain sebagainya. Kita tidak memberi perhatian atau menyediakan waktu untuk mendengar suara Tuhan. Sebenarnya Tuhan ingin berkomunikasi dengan kita. Tuhan ingin sekali berbicara dengan kita. Bahkan Dia sudah menunggu kapan bisa berbicara kepada kita. Tetapi kita sulit untuk diajak bicara. Kita terlalu sibuk dengan diri kita sendiri atau dengan urusan-urusan lain yang kita anggap penting. Kita tidak menyediakan diri kita untuk Tuhan berbicara kepada kita. Kita harus menyediakan diri kita dan berkata: ’Ini aku Tuhan. Berbicaralah. Aku siap untuk mendengar.’ Ambillah waktu untuk berdiam diri. Ambillah sikap mendengar. Nantikanlah Dia berbicara kepada kita. Seringkali Dia berbicara dengan suara yang lembut. Tapi kalau hati dan jiwa kita siap untuk mendengarnya, selembut apapun suara-Nya, kita pasti dapat mendengarnya. Jika kita terbiasa mendengar suara Tuhan, maka kita dapat selalu mengikuti pimpinan-Nya. Kalau kita mendengar suara-Nya kita terbebas dari kekuatiran. Kalau kita mendengar suaranya kita tidak perlu takut salah jalan di dalam hidup ini. Belajarlah mendengar suara Tuhan. Pdt. Goenawan Susanto
BARCODE BBM CHANNELS
RENUNGAN HARIAN
Kecap dan Lihatlah
19 Februari '17
Mengalami Allah Dalam Hidup Kita
31 Januari '17
Mengalami Tuhan
10 Februari '17
Copyright © 2012 All rights reserved. Designed and Developed by GIA Dr. Cipto Semarang