SEPEKAN TERAKHIR
  Senin, 20 Oktober 2014   -HARI INI-
  Minggu, 19 Oktober 2014
  Sabtu, 18 Oktober 2014
  Jumat, 17 Oktober 2014
  Kamis, 16 Oktober 2014
  Rabu, 15 Oktober 2014
  Selasa, 14 Oktober 2014
POKOK RENUNGAN
Orang yang selalu bersyukur akan mampu menanggung permasalahan hidupnya.
DITULIS OLEH
Pdt. Andreas P. Chandra
Rohaniwan Pusat
Renungan Lain oleh Penulis:
Home  »  Renungan  »  Bersyukur Dalam Segala Hal
Bersyukur Dalam Segala Hal
Jumat, 15 Maret 2013 | Tema: Umat Yang Memasyurkan Allah
Bersyukur Dalam Segala Hal
I Tesalonika 5:18
Selalu ada alasan untuk mengucap syukur, sekalipun kondisi yang kita hadapi kelihatannya buruk. Chrysostom, seorang yang pernah menjadi Uskup Besar Constantinopel, dibawa ke pembuangan, dianiaya, direndahkan dan mati di tempat yang jauh dari kemewahan kota serta kesenangan dan kemuliaan yang pernah dinikmatinya. Namun demikian ia belajar bersyukur dalam semua keadaan. Semua ini bertolak dari motto hidupnya: “Doxa to Theo Panton Heneken” yang artinya kemuliaan bagi Allah dalam segala sesuatunya. Ia dapat membuktikan mottonya itu, di mana ia tetap bersyukur dan memuliakan Allah sekalipun menderita.

Marilah kita juga belajar untuk memuji Allah dan bersyukur kepada-Nya dalam segala sesuatu yang terjadi pada diri kita atas ijin-Nya. Kita tidak hanya bersyukur untuk hal-hal yang baik saja, tetapi juga untuk kejadian-kejadian yang menyesakkan hati kita. Kita mungkin tidak tahu apa maksud Allah ketika Ia mengijinkan semua itu terjadi, namun kita harus tetap percaya bahwa Ia adalah Allah yang Mahabaik. Kita tahu kisah Ayub yang mengalami pencobaan sedemikian beratnya, namun Ia belajar bersyukur dan tetap setia kepada Allah. Dan karena ia setia, maka Allah memulihkan keadaannya dan memberkati hidupnya.

Berdasarkan pengajaran Paulus kepada jemaat Tesalonika untuk selalu mengucap syukur dalam segala hal, mari apapun yang Anda alami, bersyukurlah kepada Allah dan tetaplah memuji Dia, sepe...selengkapnya »
Rasul Paulus menggambarkan gereja dengan simbol sebuah bangunan. Bangunan itu dibangun dengan Kristus Yesus sebagai batu penjuru. Yesus Kristus adalah batu penjuru gereja. Batu penjuru adalah dasar utama pada sudut struktur bangunan di mana ahli bangunan menetapkan suatu standar untuk tumpuan bagi seluruh dindingnya. Di dalam Yesus Kristus dibangun menjadi bangunan Bait Allah yang kudus, yang tersusun tapi di mana Allah diam di dalamnya. Rasul Paulus melukiskan Yesus Kristus sebagai batu yang hidup yang dibuang oleh manusia, tetapi dipilih Allah menjadi batu penjuru yang mahal. Sang Batu hidup itu memberi hidup bagi orang-orang percaya yang datang kepada-Nya dan menjadikan mereka batu-batu hidup yang dipergunakan untuk membangun suatu rumah rohani atau gereja-Nya dengan tujuan ibadah dan kesaksian (1 Petrus 2:4-6, 9). Kalau gereja digambarkan sebagai sebuah bangunan dan Yesus Kristus sebagai batu penjuru gereja, di mana posisi dan peran kita, para anggota gereja? Kita adalah batu-batu hidup yang terus disusun rapi menjadi satu kesatuan, dibangun bertumpu pada batu penjuru untuk menjadi rumah Allah yang kudus di mana Roh Allah tinggal di dalamnya. Hadirat dan kuasa-Nya semakin dinyatakan. Semakin banyak orang datang berhimpun dan bersekutu mempersembahkan persembahan mereka serta memberitakan perbuatan-perbuatan besar Allah di dalam Yesus Kristus Tuhan.
Beberapa waktu lalu saya membaca sebuah artikel yang menarik tentang keturunan orang-orang yang hidup benar dan orang-orang yang jahat. Di situ dipaparkan sebuah data akurat bahwa orang baik, keturunannya akan juga hidup menjadi orang yang baik. Dikatakan dalam artikel itu, keturunannya ada yang menjadi pendeta, pengusaha, hakim, dosen, dll. Namun sebaliknya, diceritakan juga bahwa keturunan dari orang yang jahat, ada yang jadi pembunuh, koruptor, buronan, dll. Terbuktilah sebuah pepatah, “Like father like son.” Artinya, anak akan menjadi seperti apa yang dilihat ataupun didengar dari ayahnya. Jika ayahnya mengajarkan yang baik, maka anaknya akan menjadi baik. Dan berlaku juga sebaliknya. Kita tentu juga sering mendengar beberapa slogan seperti , “Rajin pangkal pandai” dan “Hemat pangkal kaya”. Kedua slogan itu dengan cerita sebelumnya memiliki persamaan, yaitu adanya sebuah konsekwensi dari sebuah aksi. Sebuah aksi yang mengandung pengorbanan akan menghasilkan upah, yaitu kemuliaan. Dan hal itu juga berlaku bagi orang yang mau hidup berkenan di hadapan Tuhan. Nats yang kita baca hari ini mengandung sebuah janji bagi orang yang hidupnya berkenan kepada Tuhan. Bahkan di ayat yang lain, Mazmur 112:2 misalnya, jika kita hidup benar, maka hidup keturunan kita pun dijamin Tuhan. Mereka tidak akan meminta-minta, mereka akan diberkati, mereka akan mewarisi negeri, dll. Namun dengan syarat, jika kita sebagai orang tua, hidup benar di hadapan Tuhan. Untuk hidup benar memang tidak mudah. Ada banyak pengorbanan yang harus kita tanggung, ada banyak perjuangan yang harus kita tempuh. Kita harus beda dengan sikap orang pada umumnya tentang kebiasaan dosa yang sudah menjadi wajar. Misalnya perselingkuhan, perceraian, kebohongan demi keuntungan dalam usaha, politik uang, mencontek, dll. Kita harus siap untuk dijauhi, dihina, mungkin juga usaha kita mengalami perkembangan yang lambat, atau kita mendapat nilai jelek karena kita mau hidup benar. Ketika sedang dalam keadaan itu, ingatlah janji-janji Tuhan yang lebih indah dan mulia sedang ada dalam perjalanan untuk menghampiri Anda. Jadi berjuanglah demi upah perkenanan Tuhan yang akan Anda terima.
Masih ingatkah kita dengan film, “Terminator 2: The Judgment Day”, yang dibintangi oleh Arnold Schwarzenegger, Linda Hamilton, Edward Furlong, dan Robert Patrick yang dirilis tahun 1991? Di dalam film tersebut diceritakan tentang sesosok robot Terminator yang dikirim dari masa depan untuk melindungi seorang anak yang bernama John Connor dari ancaman pembunuhan robot yang terbuat dari logam cair yang bernama T-1000. John Connor diburu dan diancam untuk dibunuh oleh T-1000,karena di masa depan, John Connor menjadi orang yang akan memusnahkan robot-robot jahat dan akan menghakimi para tokoh jahat di balik munculnya para robot jahat. Yang menarik dari kisah ini adalah tentang perjuangan sosok terminator yang dengan setia melindungi dan mendampingi John Connor. Jauh-jauh dikirim dari masa depan, sang terminator rela mengorbankan dirinya agar John Connor tetap hidup, sekalipun harus dibayar dengan nyawa sang terminator. Kehadirannya bukan semata untuk kepentingan pribadinya, melainkan untuk memastikan orang lain merasa damai. Jika dibahasakan dalam “bahasa rohani”, kehadirannya memberi berkat bagi orang lain. Kisah Abraham mirip dengan kisah di atas. Abraham dipanggil dan dipilih Tuhan untuk melakukan misi yang mulia, yaitu untuk menjadi berkat bagi segala bangsa. Tuhan memanggil Abraham untuk “merantau” keluar dari tanah kelahirannya. Panggilan itu bukan semata-mata adalah jalan Tuhan untuk memberkati Abraham saja. Di dalam pemanggilan itu tersimpan amanat yang tidak kalah luar biasanya, yaitu Tuhan ingin menjadikan Abraham beserta keturunannya menjadi saluran berkat bagi semua bangsa. Cakupan atau ruang lingkup misi Abraham ini tidak terbatas hanya di kalangan tertentu saja. Alkitab mencatat di dalam Kejadian 12:3, “... dan olehmu semua kaum di muka bumi akan mendapat berkat.” Artinya, misi dan janji Allah pada Abraham untuk menjadi berkat berada di dalam cakupan yang tidak terbatas, tanpa ada pembatasan dan tanpa ada diskriminasi. Bagaimana dengan kita? Apakah kehadiran kita sudah menjadi berkat bagi semua orang? Ataukah kehadiran kita justru menjadi batu sandungan? Tuhan telah memilih kita keluar dari kegelapan untuk menjadi anak-anak terang. Kita telah dipilih Tuhan untuk menjadi umat pilihan-Nya, dan di dalam panggilan itu tersisip sebuah misi mulia, yaitu untuk menjadi berkat bagi semua orang. Mari Laksanakan!
Angkatan pertama bangsa Israel keluar dari Mesir mengenal TUHAN bukan dari ajaran-ajaran tentang keagamaan, atau mendengar dari bangsa lain, melainkan mereka menyaksikan sendiri bagaimana TUHAN menyatakan diri-Nya dengan perbuatan-perbuatan yang besar. Misalnya, melihat tulah-tulah dijatuhkan atas Mesir, “membuka dan menutup” laut Teberau dan membinasakan laskar tentara berkuda Mesir dengan keajaiban yang dahsyat sehingga memungkinkan bangsa Israel dapat terbebas dari kejaran Firaun dengan tentara-tentaranya. Padang Gurun siap menerima dan menampung arak-arakan bangsa Israel dalam jumlah rakyatnya yang besar, dengan kerasnya kondisi gurun semakin lengkap TUHAN menunjukkan kekuatan tangan-Nya. Namun setidaknya dalam kondisi yang semakin sulit dan keras, Israel mendapatkan kebebasan dan ketenangan di dalam TUHAN. Oleh sebab itu TUHAN mengajak kepada segenap bangsa ini supaya iman mereka juga diwujudkan dalam tindakan nyata, yaitu kemurahan dan kebajikan kepada sesamanya, khusus kepada sesama sebangsanya. Bagi Israel, kebajikan dan kemurahan yang diwujudnyatakan kepada khususnya orang-orang yang tidak mampu: para janda, yatim, dan orang asing (ayat 21, 22) adalah bagian dari iman mereka. Mengapa demikian? Karena dulu Israel adalah budak dan orang asing di Mesir yang telah dimerdekakan TUHAN, maka mereka wajib melakukan hal sama kepada orang-orang yang tidak berdaya. Saudara-saudara kekasih Tuhan, kebajikan dan kemurahan adalah bagian dari perwujudan iman kita. Hal ini menjadi penting untuk kita wujudkan karena Tuhan Yesus telah melakukan hal yang jauh lebih besar bagi kita melalui darah-Nya yang kudus yang dicurahkan untuk menebus dosa kebinasaan kita. Peristiwa salib di Golgota adalah pijakan kita untuk mengembangkan kasih dan iman kita, seperti kisah Keluaran Israel adalah pijakan iman kepada TUHAN bagi Israel.
BARCODE BBM CHANNELS
RENUNGAN HARIAN
Apa Hubungannya?
17 Oktober '14
Gara - Gara Terang
24 September '14
Pelayan Tuhan Dengan Kualitas Teolog
13 Oktober '14
Copyright © 2012 All rights reserved. Designed and Developed by GIA Dr. Cipto Semarang