SEPEKAN TERAKHIR
  Sabtu, 29 Agustus 2015   -HARI INI-
  Jumat, 28 Agustus 2015
  Kamis, 27 Agustus 2015
  Rabu, 26 Agustus 2015
  Selasa, 25 Agustus 2015
  Senin, 24 Agustus 2015
  Minggu, 23 Agustus 2015
POKOK RENUNGAN
Orang yang selalu bersyukur akan mampu menanggung permasalahan hidupnya.
DITULIS OLEH
Pdt. Andreas P. Chandra
Rohaniwan Pusat
Renungan Lain oleh Penulis:
Home  »  Renungan  »  Bersyukur Dalam Segala Hal
Bersyukur Dalam Segala Hal
Jumat, 15 Maret 2013 | Tema: Umat Yang Memasyurkan Allah
Bersyukur Dalam Segala Hal
I Tesalonika 5:18
Selalu ada alasan untuk mengucap syukur, sekalipun kondisi yang kita hadapi kelihatannya buruk. Chrysostom, seorang yang pernah menjadi Uskup Besar Constantinopel, dibawa ke pembuangan, dianiaya, direndahkan dan mati di tempat yang jauh dari kemewahan kota serta kesenangan dan kemuliaan yang pernah dinikmatinya. Namun demikian ia belajar bersyukur dalam semua keadaan. Semua ini bertolak dari motto hidupnya: “Doxa to Theo Panton Heneken” yang artinya kemuliaan bagi Allah dalam segala sesuatunya. Ia dapat membuktikan mottonya itu, di mana ia tetap bersyukur dan memuliakan Allah sekalipun menderita.

Marilah kita juga belajar untuk memuji Allah dan bersyukur kepada-Nya dalam segala sesuatu yang terjadi pada diri kita atas ijin-Nya. Kita tidak hanya bersyukur untuk hal-hal yang baik saja, tetapi juga untuk kejadian-kejadian yang menyesakkan hati kita. Kita mungkin tidak tahu apa maksud Allah ketika Ia mengijinkan semua itu terjadi, namun kita harus tetap percaya bahwa Ia adalah Allah yang Mahabaik. Kita tahu kisah Ayub yang mengalami pencobaan sedemikian beratnya, namun Ia belajar bersyukur dan tetap setia kepada Allah. Dan karena ia setia, maka Allah memulihkan keadaannya dan memberkati hidupnya.

Berdasarkan pengajaran Paulus kepada jemaat Tesalonika untuk selalu mengucap syukur dalam segala hal, mari apapun yang Anda alami, bersyukurlah kepada Allah dan tetaplah memuji Dia, sepe...selengkapnya »
Seorang kakek bercerita pada cucunya, pada zaman dahulu, hiduplah kancil yang bijaksana. Kancil dikenal oleh hewan lainnya sebagai hewan yang dapat memberi jalan keluar atas semua masalah mereka, dan tidak terkecuali oleh kura-kura. Oleh karena jalannya yang lamban, sehingga dia selalu tertinggal dalam berbagai hal, maka kura-kura ingin sekali bisa terbang, namun bagaimana caranya? Kemudian karena tak kunjung mendapat caranya, maka kura-kura mendatangi kancil untuk meminta solusi akan masalah tersebut. “Kancil... Kancil, aku ingin sekali bisa terbang, bisakah kamu menolongku”, kata kura-kura kepada kancil. Alangkah terkejutnya kancil mendengar hal ini, lalu dia berkata kepada kura-kura, “Bagaimana kamu bisa terbang, kamu kan tidak punya sayap?” Sambil menangis kura-kura itu berkata, “Oleh karena itulah aku datang kepadamu, Kancil. Bukankah kamu adalah hewan yang cerdik dan bijaksana, pasti kamu dapat menolongku.” Sambil terdiam sesaat, kancil berpikir sejenak, dan kemudian meminta dua ekor angsa membantu kura-kura. Kancil menyuruh dua ekor angsa itu mengambil sepotong kayu yang kuat, lalu masing-masing angsa memegang setiap ujung kayu itu. Kemudian si kancil memerintahkan kura-kura untuk memegang kayu itu dengan mulutnya. Saat semuanya selesai, kancil berpesan pada kura-kura, “Kura-kura apapun yang terjadi saat terbang nanti, kamu jangan sampai membuka mulutmu.” Pada saatnya, dua angsa dan seekor kura-kura itu memulai perjalanan mereka. Mereka terbang tingi dan makin tinggi, bahkan semakin tinggi. Hewan-hewan lain yang melihat itu terpana, dan bahkan burung yang terbang di sisi mereka pun ikut terkaget-kaget. Burung yang kaget itu berseru, ’Benarkah itu kamu, kura-kura? Hebat sekali kamu! Kamu memang pandai, Kura-kura’ Hal ini membuat sang kura-kura merasa bangga karena dia merasa menjadi sosok yang penting. ’Saya memang pandai, lihatlah sekarang aku bisa terbang!’ kata si kura-kura. Pada saat kura-kura berbicaa, maka otomatis dia membuka mulutnya untuk menyampaikan hal tersebut, dan pada saat itu juga dia pun kehilangan pegangan dan jatuh. Banyak orang gampang untuk “membuka mulutnya” untuk hal-hal yang tidak baik. Mulai dari mengomel, memaki orang lain, berkata kasar, mengutuk, membicarakan orang lain untuk hal yang tidak baik, menyakiti orang lain, hingga memakai mulutnya untuk kesombongan diri. Kitab Amsal mendorong kita untuk berhati-hati atas perkataan kita [Amsal 12:17-22; 15:4; 26:2]. Kitab Amsal juga mengingatkan kepada kita semua, ’Kecongkakan mendahului kehancuran, dan tinggi hati mendahului kejatuhan’ [Amsal 16:18], tetapi Allah mengaruniakan berkat-Nya bagi orang yang rendah hati. ’Biarlah orang lain memuji engkau dan bukan mulutmu’ [Amsal 7:22]. Seharusnya kita berdoa bersama sang pemazmur, ’Mudah-mudahan Engkau berkenan akan ucapan mulutku dan renungan hatiku, ya TUHAN, gunung batuku dan penebusku’ [Mazmur 19:15]. Gunakan mulut kita untuk sesuatu yang positif. Gunakan perkataan kita untuk membangun diri kita agar lebih baik lagi. Gunakan mulut kita untuk memuji Tuhan dan untuk memberkati orang lain.
Dalam syair lagu pujian sering kita mendengar ungkapan “kita adalah prajurit [laskar] Kristus”. Bahkan ketika seorang pendeta berkhotbah dengan berapi-api sering menyebutnya demikian. Memang benar semua orang Kristen, baik itu pendeta, diaken, penatua, aktivis gereja, dan bahkan semua jemaat dengan tidak membedakan status sosial, pendidikan, kedudukan apapun semua adalah prajurit Kristus [sama seperti di kemiliteran: pangkat bawah sampai Jendral adalah prajurit]. Setia mengabdi kepada Kristus, apapun yang terjadi. Memiliki keberanian untuk menyaksikan Kristus, Sang Juru selamat dan kesetiaan melayani Tuhan dalam situasi sesulit apapun. Bahkan rela menyerahkan nyawanya karena kesetiaan kepada Tuhan. Stefanus, misalnya, dia seorang prajurit Kristus yang gagah berani yang menyaksikan Kristus Yesus sebagai Tuhan dan Juru selamat dengan bersoal jawab dengan jemaat Yahudi [Kisah Rasul 6:9]. Ketika jemaat Yahudi dari Kirene, Aleksandria, Kilikia dan Asia itu tidak sanggup bersoal jawab dengan hikmat yang dimiliki Stefanus, maka mereka bersama dengan ahli-ahli Taurat dan tua-tua Yahudi mengadakan gerakan untuk menangkap dan menyerahkan Stefanus kepada Mahkamah Agama. Stefanus memiliki hati bermental prajurit, tidak mudah menyerah, tidak takut, sekalipun harus menjadi syahid Tuhan [Kisah Rasul 7:60]. Ketika dianiaya mendekati ajalnya, Stefanus sempat mendoakan mereka semua yang menganiayanya. Tidak saja bermental prajurit, tetapi juga memiliki hati seorang hamba, rela menderita bahkan mati. Saudara, kita bisa meneladani Stefanus yang berani bersaksi tentang Kristus apapun yang terjadi. Keberanian kita untuk bersaksi laksana prajurit dan memiliki hati yang mengasihi jiwa-jiwa dengan ketaatan laksana hamba, sehingga dalam segenap kehidupan kita merupakan saksi Kristus. Perkataan dan perbuatan kita adalah pesan kesaksian itu sendiri. Seperti pesan Paulus kepada Jemaat Korintus [2 Korintus 4:10], “Kami senantiasa membawa kematian Yesus di dalam tubuh kami, supaya kehidupan Yesus juga menjadi nyata di dalam tubuh kami.” Seorang anak Tuhan yang bermental prajurit tidak mudah tersinggung. Mengambil bagian dalam pekerjaan Tuhan apa saja tidak merasa direndahkan pada posisi yang tidak favorit dan juga tidak merasa tinggi pada posisi penting. Memiliki kerendahan hati laksana seorang hamba. Semua dikerjakan hanya karena mencintai Tuhan dan jiwa-jiwa.
2 Timotius 2:3-4 Ikutlah menderita sebagai seorang prajurit yang baik dari Kristus Yesus. Seorang prajurit yang sedang berjuang tidak memusingkan dirinya dengan soal-soal penghidupannya, supaya dengan demikian ia berkenan kepada komandannya. Star wars, sebuah film bioskop yang terkenal, mengisahkan tentang terjadinya peperangan besar di alam semesta ini, antara kekuatan baik melawan kekuatan jahat. Peperangan yang dikisahkan itu terjadi di galaxy nun jauh di sana. Tapi di dalam realita di dunia ini, bukan di galaxy nun jauh di sana, sedang terjadi juga peperangan besar, bukan perang yang kelihatan secara jasmani, tapi perang secara rohani, yaitu perang antara kerajaan Kristus melawan kerajaan iblis [Efesus 6:12]. Kristus datang ke dunia untuk membebaskan manusia dari cengkeraman kuasa iblis. Iblis dengan seluruh kekuatannya berusaha mempertahankan kekuasaannya atas manusia dan bahkan atas segala ciptaan. Kristus memanggil kita untuk ikut dalam barisan tentara-Nya, sebagai prajurit-prajurit-Nya. Kita dipanggil bukan sekedar untuk jadi prajurit, tapi prajurit yang baik dari Kristus Yesus [ayat 3]. Ada prajurit yang asal jadi prajurit, yaitu prajurit yang tidak tahu tugasnya sebagai prajurit. Yang Kristus harapkan adalah prajurit yang baik. Seperti apakah prajurit yang baik? Seorang pejuang Prajurit yang baik adalah seorang pejuang. Tugas prajurit adalah berperang untuk mengalahkan musuh. Semua prajurit harus siap untuk berperang. Semua prajurit harus berani maju di medan perang. Musuh pertama yang harus ditaklukkan adalah ketakutan di dalam dirinya. Prajurit yang baik dari Kristus haruslah seorang pejuang. Prajurit Kristus tidak boleh takut menghadapi tantangan. Prajurit Kristus tidak boleh menyerah sebelum berperang. Seorang pengabdi Prajurit yang baik adalah seorang pengabdi. Dia harus siap menjalankan perintah dari atasannya. Untuk menjalankan perintah atasannya dia harus mengesampingkan kepentingan dirinya [urusan-urusan pribadinya]. Sebagai contoh: prajurit yang dalam tugas akan kehilangan kenyamanannya, seperti kurang tidur, tidur di sembarang tempat, makan seadanya, dsb. Tapi dia rela lakukan semua itu demi menjalankan tugas dari negara. Firman Tuhan berkata seorang prajurit Kristus harus rela untuk menderita [ayat 3]. Penderitaan itu mungkin berupa diasingkan, dicemooh, atau mengalami bentuk-bentuk penderitaan lainnya yang harus kita terima. Dengan menjalani semua itu kita dapat disebut prajurit yang baik dari Kristus Yesus. Amin.
Kaisar Nero memiliki prajurit elit yang sangat setia dan siap mati bagi kaisar. Suatu hari kaisar mendengar bahwa banyak dari anggota pasukan elitnya yang menjadi kristen. Kaisar segera memerintahkan Vespasianus untuk menghukum mati anggotanya yang menjadi kristen. Perintah ini membuat hatinya sedih karena dia sangat dekat dengan pasukannya. Di musim dingin itu, dengan berat hati Vespasianus menyampaikan titah kaisar. Sang komandan memberi pilihan kepada mereka untuk menyangkal Kristus dan mereka akan luput dari hukuman mati, tetapi tak seorang prajuritpun yang mau menyangkal imannya. Setelah berjam-jam, akhirnya Vespasianus berkata, ’Perintah kaisar harus ditaati, tapi aku tidak ingin setetes darahpun tertumpah di tempat ini. Jadi sekarang aku memerintahkan kalian untuk membuka baju, berjalan ke danau yg membeku dan tetap berada di sana sepanjang malam. Barangsiapa mau menyangkal imannya, segeralah naik menghangatkan diri di dekat nyala api dan makan makanan yang lezat. Siapa yang bertahan dengan imannya harus tetap berdiri di danau sampai membeku.’ Sebanyak 40 prajurit berjalan ke danau yang beku sambil bernyanyi tanpa henti. Berjam-jam lamanya mereka kedinginan. Menjelang pagi hari, seorang dari 40 prajurit itu tidak tahan terhadap rasa dingin yang menyiksa, dengan tertatih-tatih ia naik dari danau yang membeku. Vespasianus terdiam, namun beberapa saat kemudian matanya terbuka. Ia melihat pemandangan yang luar biasa. Sepasukan malaikat Tuhan ada di atas tiap-tiap prajurit yang tersiksa itu dengan membawa mahkota yang gemerlapan untuk dipakaikan kepada setiap prajurit Kristus yg setia itu. Pemandangan ini membuat Vespasianus melangkah dengan kebulatan tekad untuk bergabung ke tengah danau dan mati sebagai seorang pengikut Kristus. Sebagai orang percaya kita harus bermental prajurit: taat, rela menderita dan setia sampai mati. Kisah 40 prajurit di atas kiranya mendorong kita untuk tetap setia dan bermental sebagai prajurit.
BARCODE BBM CHANNELS
RENUNGAN HARIAN
Jagalah Perkataanmu
30 Juli '15
Imanuel, Allah Beserta Kita!
22 Agustus '15
Senjata rohani
23 Agustus '15
Copyright © 2012 All rights reserved. Designed and Developed by GIA Dr. Cipto Semarang