SEPEKAN TERAKHIR
  Minggu, 01 Februari 2015   -HARI INI-
  Sabtu, 31 Januari 2015
  Jumat, 30 Januari 2015
  Kamis, 29 Januari 2015
  Rabu, 28 Januari 2015
  Selasa, 27 Januari 2015
  Senin, 26 Januari 2015
POKOK RENUNGAN
Orang yang selalu bersyukur akan mampu menanggung permasalahan hidupnya.
DITULIS OLEH
Pdt. Andreas P. Chandra
Rohaniwan Pusat
Renungan Lain oleh Penulis:
Home  »  Renungan  »  Bersyukur Dalam Segala Hal
Bersyukur Dalam Segala Hal
Jumat, 15 Maret 2013 | Tema: Umat Yang Memasyurkan Allah
Bersyukur Dalam Segala Hal
I Tesalonika 5:18
Selalu ada alasan untuk mengucap syukur, sekalipun kondisi yang kita hadapi kelihatannya buruk. Chrysostom, seorang yang pernah menjadi Uskup Besar Constantinopel, dibawa ke pembuangan, dianiaya, direndahkan dan mati di tempat yang jauh dari kemewahan kota serta kesenangan dan kemuliaan yang pernah dinikmatinya. Namun demikian ia belajar bersyukur dalam semua keadaan. Semua ini bertolak dari motto hidupnya: “Doxa to Theo Panton Heneken” yang artinya kemuliaan bagi Allah dalam segala sesuatunya. Ia dapat membuktikan mottonya itu, di mana ia tetap bersyukur dan memuliakan Allah sekalipun menderita.

Marilah kita juga belajar untuk memuji Allah dan bersyukur kepada-Nya dalam segala sesuatu yang terjadi pada diri kita atas ijin-Nya. Kita tidak hanya bersyukur untuk hal-hal yang baik saja, tetapi juga untuk kejadian-kejadian yang menyesakkan hati kita. Kita mungkin tidak tahu apa maksud Allah ketika Ia mengijinkan semua itu terjadi, namun kita harus tetap percaya bahwa Ia adalah Allah yang Mahabaik. Kita tahu kisah Ayub yang mengalami pencobaan sedemikian beratnya, namun Ia belajar bersyukur dan tetap setia kepada Allah. Dan karena ia setia, maka Allah memulihkan keadaannya dan memberkati hidupnya.

Berdasarkan pengajaran Paulus kepada jemaat Tesalonika untuk selalu mengucap syukur dalam segala hal, mari apapun yang Anda alami, bersyukurlah kepada Allah dan tetaplah memuji Dia, sepe...selengkapnya »
”Aku setia beribadah tiap Minggu, aku mendengarkan pemberitaan Firman Tuhan tanpa ribut mengobrol, aku mengajak anak-anakku ke gereja, aku bahkan terlibat di seksi-seksi yang ada di gereja. Bukankah itu sudah baik? Kurang apa lagi?” Tentu apa yang disebutkan di atas adalah baik. Kurang apa lagi? Mari tujukan pertanyaan itu pada diri kita masing-masing. Masih adakah yang bisa kita upayakan agar menjadi lebih baik? Kalau mau jujur, tentulah banyak yang bisa dibuat lebih baik lagi. Setia beribadah itu baik. Setia beribadah dengan santun tentu lebih baik lagi. Handphone disetel ke silent mode itu baik. Lebih baik lagi bila kita tidak bolak-balik keluar masuk ruang kebaktian setiap kali hp bergetar. Walau tak terdengar deringnya, namun dengan bolak-balik keluar itu mengalihkan perhatian saudara-saudara kita yang sedang menyimak pemberitaan Firman Tuhan. Mengajak anak-anak beribadah sejak dini itu baik. Menjadi lebih baik lagi bila kita menyertakan mereka ke Sekolah Minggu yang diadakan bersamaan dengan jam pemberitaan Firman Tuhan, sehingga orang tua terhindar dari kesulitan mengendalikan anak-anak yang aktif berlarian ke sana-sini di tengah-tengah jalannya ibadah. Mendengarkan kotbah tanpa ribut mengobrol itu baik. Akan lebih baik lagi bila kita benar-benar memperhatikan tanpa mengutak-atik handphone atau gadget lain, atau mengiringi pemberitaan Firman Tuhan dengan irama dari gunting kuku kita. Bagaimana kita hendak menjadi pelaku Firman jika tak bisa bersungguh-sungguh dalam mendengarkan? Dan jika kita sudah bisa mendengarkan Firman Tuhan dengan baik. Mari kita jadikan lebih baik lagi dengan cara menjadi pelaku Firman. Agar iman kita serupa landasan yang kokoh, dan bukan landasan goyah yang mudah hancur. Jangan berkecil hati bila kita merasa ada yang masih kurang. Jangan pula geram bila mendapat teguran. Menyadari kekurangan diri adalah tanda bahwa hati nurani kita lebih sehat daripada merasa diri sudah baik semua padahal kenyataannya tidak. Apa yang sudah baik marilah kita tingkatkan menjadi lebih baik. Mari jadikan kehidupan kita tahun ini menjadi lebih baik daripada tahun-tahun sebelumnya. Tuhan beserta kita.
Dalam tulisan-tulisan Injil, Tuhan Yesus menggambarkan iman seperti biji sesawi. Meskipun kecil tetapi memiliki potensi kehidupan. Memiliki kekuatan untuk bertumbuh semakin besar dan kuat. Sebuah gambaran bahwa iman itu aktif dan progresif, tidak mandeg. Intinya, itulah iman yang hidup. Dan iman yang hidup itu harus terlihat dalam tindakan yang nyata. Seperti kata Yakobus bahwa iman tanpa perbuatan adalah mati. Rasul Paulus pun menyatakan bahwa keselamatan oleh iman harus lahir dalam ketaatan kepada Allah. “Tetaplah kerjakan keselamatanmu dengan takut dam gentar.” Artinya, iman yang hidup itu tidak melulu berbicara tentang hal-hal yang akan datang dan tidak terlihat, tetapi juga hal-hal kekinian yang bersentuhan dengan kehidupan sehari-hari secara nyata. Apakah ukuran bahwa iman itu hidup? Bukankah iman itu sendiri tidak terlihat? Iman yang hidup itu terlihat dari perubahan hidup seseorang. Bagaimana perkataannya dalam keseharian; bagaimana perbuatan dan tingkah lakunya sehari-hari; bagaimana memperlakukan orang lain; bagaimana caranya mengatur dan menjalankan bisnis. Juga nampak dari caranya bersikap terhadap kesuksesan, harta benda, bahkan terhadap penderitaan dan kesulitan hidup. Bagaimana dia berespon terhadap tekanan dan kondisi yang menguras sisi emosinya. Tentunya juga dapat nyata dari bagaimana gaya hidupnya. Apakah dia hidup untuk diri sendiri ataukah untuk Tuhan dan sesama. Dan masih banyak lagi yang lain. Oleh sebab itu Rasul Paulus menuliskan: “Karena itu, perhatikanlah dengan saksama bagaimana kamu hidup, janganlah seperti orang bebal, tetapi seperti orang arif.” Orang bebal adalah mereka yang tetap hidup dalam manusia lama yang hanya menuruti keinginan daging dan perbuatan kegelapan (baca: ayat 3-12). Mereka yang tidak mengalami pembaruan dan perubahan. Sedangkan orang arif adalah orang yang menjadi penurut Tuhan dan mengerti kehendak-Nya, mampu menguasai diri dan dipimpin oleh Roh Kudus, selalu memperkatakan pujian dan ucapan syukur atas segala sesuatu, dan bersikap rendah hati. Yaitu, mereka yang mengalami pembaruan dan perubahan terus menerus dari hari ke sehari. “Bangunlah, hai kamu yang tidur dan bangkitlah dari antara orang mati dan Krsitus akan bercahaya atas kamu.”
Dalam kenyataan atau pengalaman pribadi sering dijumpai orang Kristen yang lambat mengalami perubahan yang bermakna, meskipun telah bertahun-tahun, bahkan puluhan tahun menjadi orang percaya. Hal ini dapat dijumpai pernyataan seperti: “Aduh, aku kok jatuh/meleset lagi.” Dalam Ibrani 2:3 kita diingatkan untuk tidak menyia-nyiakan anugerah keselamatan yang sangat mahal harganya (1 Petrus 1:18). Anugerah keselamatan melalui karya penebusan Tuhan Yesus diberikan supaya kita dikembalikan pada rancangan Allah semula pada waktu penciptaan. Konkritnya supaya kita bisa bertumbuh dalam kesempurnaan (Matius 5:48) atau mengambil bagian dalam kodrat ilahi, memiliki kepribadian/karakter Allah (2 Petrus 1:4), sehingga kita dimampukan untuk hidup sama seperti Kristus telah hidup (1 Yohanes 2:6). Tidak menyia-nyiakan Anugerah berarti menghargai Bapa dan apa yang telah dikerjakan melalui karya penebusan salib Kristus. Untuk itu diperlukan respon yang benar dan memadai dari orang percaya, antara lain berupa: • Serius masuk dalam proses keselamatan, yang oleh rasul Paulus dinyatakan dengan “kerjakan keselamatan dengan takut dan gentar” (Filipi 2:12). Setiap hari belajar makin mengenal Tuhan dan kebenaran-Nya. • Belajar mengasihi dan melayani Tuhan tanpa batas, yang akan berdampak pada orang lain untuk mengalami perubahan hidup. Untuk mencapai hal tersebut memang tidak mudah, tidak bisa terjadi secara otomatis dan instan, tapi diperlukan perjuangan, usaha keras sepanjang hidup (Lukas 13:24). Bapa yang baik telah menyediakan sarana yang diperlukan bagi umat tebusan, yaitu Roh Kudus, Firman Kristus dan penggarapan-Nya setiap hari.
Akhir-akhir ini ada yang berubah dari diri Benay. Ia masih terlibat kegiatan di komisi pemuda, latihan musik dan latihan tamborine. Tetapi ia tampak kurang fokus, sering terlambat, dan terburu-buru. Gejala yang tak biasa ini ditangkap oleh kawan-kawan Benay. Termasuk Sambey dan Pdt. Itong sebagai rohaniwan pembinanya. Mereka telah berusaha bertanya apa sebabnya pada Benay, tetapi jawaban yang diterima hanyalah alasan-alasan yang terdengar dibuat-buat. Dua minggu berikutnya, tanpa sengaja Sambey memergoki Benay sedang menggandeng tangan seorang gadis manis di sebuah mall. Kepergok sahabatnya, Benay jadi gugup luar biasa. Ia jadi salah tingkah dan pipinya merona merah menahan malu. Sambey jadi paham mengapa Benay berubah. Rupa-rupanya Benay sudah mempunyai pacar. Ia sedang dimabuk asrama hingga kurang fokus pada pelayanan dan kegiatan gereja yang selama ini diikutinya dengan penuh tanggungjawab. Orang yang dikuasai cinta buta, seperti Benay, akan lupa daratan. Syukur Benay tidak sampai meninggalkan tanggungjawab pelayanannya di gereja. Itu pun tidak dapat menyembunyikan perubahan sikap yang dirasakan kawan-kawan sepelayanannya. Cinta buta yang berkecamuk di hati Benay telah menguasai pikiran, perasaan, dan tindakan Benay begitu rupa. Sehingga ia menjadi kurang mampu untuk menguasai dirinya sendiri. Selain cinta buta, masih ada hal-hal lain yang dapat membuat setiap orang kehilangan kendali atas dirinya. Misalnya, cinta uang, amarah, benci, dendam, serakah, dan segala bentuk nafsu lainnya. Kasus-kasus korupsi, kecanduan judi, games, perkelahian, dan pembunuhan adalah akibat yang dihasilkan oleh hal-hal tersebut. Jika demikian halnya, adakah yang dapat memampukan kita untuk lebih baik dalam menguasai diri? Satu-satunya jalan adalah dipimpin atau dipenuhi oleh Roh Kudus. Jika kita dikuasai oleh Roh, kita tidak akan kehilangan kendali atas diri kita. Justru Roh Kudus akan memampukan kita untuk dapat menguasai diri. Kita tetap bisa marah, tetapi marah yang terkendali, bukan emosional. Kita bisa menikmati makanan, tetapi makan secara terkontrol. Kita senang menerima berkat, tanpa kehilangan kepedulian pada sesama. Kita akan didekatkan dengan perasaan penuh syukur dan dijauhkan dari keangkuhan dan keserakahan.
BARCODE BBM CHANNELS
RENUNGAN HARIAN
Allah Mengawal Kehidupan Kita
08 Januari '15
Lebih Baik Dalam Menguasai Diri
26 Januari '15
Mengenal Lebih Dalam
29 Januari '15
Copyright © 2012 All rights reserved. Designed and Developed by GIA Dr. Cipto Semarang