SEPEKAN TERAKHIR
  Rabu, 01 Juni 2016   -HARI INI-
  Selasa, 31 Mei 2016
  Senin, 30 Mei 2016
  Minggu, 29 Mei 2016
  Sabtu, 28 Mei 2016
  Jumat, 27 Mei 2016
  Kamis, 26 Mei 2016
POKOK RENUNGAN
Orang yang selalu bersyukur akan mampu menanggung permasalahan hidupnya.
DITULIS OLEH
Pdt. Andreas P. Chandra
Rohaniwan Pusat
Renungan Lain oleh Penulis:
Home  »  Renungan  »  Bersyukur Dalam Segala Hal
Bersyukur Dalam Segala Hal
Jumat, 15 Maret 2013 | Tema: Umat Yang Memasyurkan Allah
Bersyukur Dalam Segala Hal
I Tesalonika 5:18
Selalu ada alasan untuk mengucap syukur, sekalipun kondisi yang kita hadapi kelihatannya buruk. Chrysostom, seorang yang pernah menjadi Uskup Besar Constantinopel, dibawa ke pembuangan, dianiaya, direndahkan dan mati di tempat yang jauh dari kemewahan kota serta kesenangan dan kemuliaan yang pernah dinikmatinya. Namun demikian ia belajar bersyukur dalam semua keadaan. Semua ini bertolak dari motto hidupnya: Doxa to Theo Panton Heneken yang artinya kemuliaan bagi Allah dalam segala sesuatunya. Ia dapat membuktikan mottonya itu, di mana ia tetap bersyukur dan memuliakan Allah sekalipun menderita.

Marilah kita juga belajar untuk memuji Allah dan bersyukur kepada-Nya dalam segala ...selengkapnya »
Seorang ibu membelikan baju baru untuk anaknya. Mendapat baju baru, si anak merasa sangat senang. Karena begitu senangnya, ia ingin memakai terus baju itu, tidak ingin melepas dari tubuhnya. Bahkan di saat tidur pun baju itu dipakainya. Ketika baju itu hendak dicuci karena kotor oleh keringat dan debu, sang ibu pun harus membujuknya berulang kali selama berhari-hari. Meskipun baju itu kotor, sang ibu tidak marah, malahan dengan setia dan sabar ia membujuk anaknya untuk melepas bajunya untuk dicuci. Namun sebaliknya sang ibu akan marah kepada anaknya kalau anak itu dengan sengaja memasukkan baju baru itu ke lumpur atau mencorat-coretnya dengan pensil berwarna [kecuali iklan di TV atau anak anak yang baru lulus SMU dan sederajat]. Demikian juga Tuhan Allah yang telah menebus dan menyucikan kita melalui Yesus Kristus yang mati di kayu salib bagi kita yang percaya, tentu Dia menyadari kekurangan kita selama di dunia ini [Ibrani 4:15]. Kita bisa jatuh dalam dosa, namun tentu Tuhan tidak mengharapkan kalau kita hidup dalam dosa. Jika saat ini kita terus hidup dalam dosa, jangankan berkumpul dengan Tuhan dalam Kerajaan-Nya, melihat saja tidak mungkin [Ibrani 12:14b]. Bacaan ayat di atas menasihatkan kepada kita untuk terus menjaga hidup supaya kita kedapatan tidak bercacat cela sampai Yesus datang kedua kali menyambut kita sebagai gereja-Nya. Sesuai dengan tema bulan ini, mari kita tetap hidup dalam kekudusan supaya nama Tuhan dimuliakan dalam diri kita.
Ada suatu ungkapan dalam masyarakat yang mengatakan, “Jika seekor ayam pernah jatuh di suatu lobang, maka besoknya ia tidak akan pernah melewati lobang yang sama.” Namun berbeda dengan pengalaman satu ini. Saya mempunyai seekor anjing peranakan pom yang sangat setia menjaga rumah yang saya tempati. Sayangnya, ada yang membuat saya sangat tidak suka, yaitu kutu anjing itu. Entah dari mana datangnya, saya tidak mengerti. Karena kasihan, maka saya selalu mandikannya setiap tiga hari sekali agar bersih dari kutu. Namun yang membuat saya jengkel adalah setelah dimandikan, anjing itu langsung lari ke pasir, berguling-guling sehingga badanya penuh dengan tanah dan kemudian kembali ke halaman rumah sambil mengibas-kibaskan bulunya hingga kotor semua. Kejadian itu berulang-ulang dan yang lebih menjengkelkan lagi, kutunya banyak kembali. Dalam hati saya bertanya, “Mengapa kok banyak lagi padahal sudah bersih?” Ternyata setiap kali saya tidak di rumah, anjing itu pergi ke tempat anjing lain yang adalah biang kutu. Dalam hati saya berkata, “Pantas saja setiap dimandikan dan dibedaki jadi bersih, namun tetap kutuan ternyata karena kebiasaannya main ke tempat biang kutu.” Sebagai orang yang telah ditebus dan disucikan oleh Allah, kita seharusnya menyadari, bersyukur, dan terus memuliakan Allah dengan memelihara kekudusan dan kesucian hidup. Namun seringkali hal-hal buruk di lingkungan kita turut mempengaruhi dan mencemari sehingga kita kembali lagi ‘nyemplung’ dalam kehidupan lama. Mungkin tidak secara langsung, kadang hanya “ngincipi“ saja. Kita berpikir, “Kan masih manusia, jadi wajarlah kalau masih terpengaruh.” Ingat ilustrasi ikan yang hidup di laut. Ketika ikan hidup dan berenang, ia tidak asin meskipun tinggal di air asin. Namun ketika ikan mati di laut, maka ia akan menjadi asin. Jadi ketika kita hidup dalam kristus, sesungguhnya kita tidak akan terpengaruh oleh apapun, hanya Kristus yang mempengaruhi kita. Jika kita dipengaruhi oleh dunia, sesungguhnya pikiran dan kehendak kita sendirilah yang mengijinkannya. Oleh karenanya kita harus selalu menyadari bahwa kita telah ditebus dengan darah yang mahal, dan marilah kita menggunakannya sebagai senjata kemuliaan Allah. Jangan selalu beralasan bahwa kita masih manusia. Keputusan kitalah yang menentukan mau ‘nyemplung’ atau tidak. Hidup dalam kekudusan Kristus memang tidak menyenangkan, tetapi membahagiakan.
Pemisahan dari yang jahat adalah dasar dalam hubungan Allah dengan umat-Nya. Pemisahan ini meliputi dua dimensi: pertama, memisahkan diri secara moral dan rohani dari dosa dan dari segala sesuatu yang bertentangan dengan Yesus Kristus, kebenaran dan Fiman Allah. Kedua, mendekatkan diri kepada Allah dalam satu persekutuan yang akrab dan intim melalui penyerahan diri, penyembahan, dan pelayanan. Pemisahan ini menghasilkan suatu hubungan di mana Allah menjadi Bapa Sorgawi kita yang hidup bersama kita sebagai Allah kita; dan sebaliknya kita menjadi anak-anakNya laki-laki dan perempuan [2 Korintus 6:17-18] Dalam Perjanjian Lama, pemisahan merupakan tuntutan Allah bagi umat-Nya. Mereka harus menjadi kudus, berbeda dan terpisah dari semua bangsa lain supaya menjadi milik Allah sendiri. Allah menghukum dan membuang mereka ke Asyur dan Babilonia karena mereka bersikeras ingin menyesuaikan diri dengan penyembahan berhala dan gaya hidup yang fasik dari bangsa-bangsa di sekitar mereka. Dalam Perjanjian Baru, Allah memerintahkan orang percaya untuk memisahkan diri dari: sistem dunia yang jahat dan tindakan kompromi yang tidak kudus; dari orang-orang dalam jemaat yang berbuat dosa dan menolak untuk bertobat; dari guru, jemaat dan kepercayaan palsu yang mengajarkan hal yang salah dan menyangkal kebenaran Alkitabiah. Maksud dari pemisahan ini adalah agar sebagai umat Allah kita dapat bertekun dalam keselamatan, iman, dan kekudusan; kita hidup semata bagi Allah sebagai Tuhan dan Bapa kita; menginsafkan dunia yang tidak percaya ini akan kebenaran dan berkat-berkat Injil. Penolakan orang percaya untuk memisahkan diri dari yang jahat pasti akan mengakibatkan hilangnya persekutuan dengan Allah, penerimaan oleh Bapa, dan hak-hak kita sebagai anak.
Kata-kata itu diucapkan Tuhan Yesus kepada seorang perempuan yang kedapatan berbuat zinah. Perempuan itu dibawa oleh ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi kepada Yesus. Bukan dengan maksud untuk mengadili perempuan itu, tetapi justru untuk mencobai Dia. Mereka ingin melihat apa reaksi Yesus dengan masalah itu dan berharap Dia membuat satu keputusan yang bertentangan dengan hukum Taurat, sehingga mereka memiliki alasan untuk mempersalahkan-Nya. Tetapi diluar dugaan, jawaban yang diberikan Tuhan Yesus justru menohok ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi. Dan membuat mereka mati kutu hingga satu per satu dari mereka meninggalkan Tuhan Yesus dan perempuan itu. Efesus 5:8 menyatakan ‘…dahulu kamu adalah kegelapan, tetapi sekarang kamu adalah terang di dalam Tuhan. Sebab itu hiduplah sebagai anak-anak terang’. Itulah keadaan kita, yang sebelumnya adalah hamba dosa yang hidup dalam kegelapan, tetapi sekarang kita diselamatkan dan menerima kasih karunia-Nya. Sebagai umat yang telah ditebus dan diselamatkan sudah seharusnya kita mensyukuri anugrah itu dengan tetap hidup dalam kekudusan. Kita harus memiliki pikiran yang kudus dengan tidak memikirkan perkara yang jahat, tetapi memikirkan hal-hal yang benar, mulia, adil, dll [Filipi 4:8]. Perkataan atau ucapan yang kudus, yaitu yang membangun dan menguatkan [Efesus 4:29]. Sikap dan tindakan yang kudus, menjauhi perbuatan daging [Galatia 5:19-21] Oleh karena itu kata-kata Tuhan Yesus ‘dan jangan berbuat dosa lagi mulai dari sekarang’ yang diucapkan kepada perempuan yang kedapatan berbuat zinah itu juga ditujukan bagi kita. Sebagai umat pilihan yang kudus, hendaklah kita terus belajar dan berusaha untuk selalu hidup dalam kekudusan melalui pikiran, ucapan, maupun perbuatan kita.
BARCODE BBM CHANNELS
RENUNGAN HARIAN
Relasi Dan Tujuan
28 Mei '16
Tidak Hidup Dalam Dosa
24 Mei '16
Kumis Kudus
23 Mei '16
Copyright © 2012 All rights reserved. Designed and Developed by GIA Dr. Cipto Semarang