SEPEKAN TERAKHIR
  Senin, 23 April 2018   -HARI INI-
  Minggu, 22 April 2018
  Sabtu, 21 April 2018
  Jumat, 20 April 2018
  Kamis, 19 April 2018
  Rabu, 18 April 2018
  Selasa, 17 April 2018
POKOK RENUNGAN
Orang yang selalu bersyukur akan mampu menanggung permasalahan hidupnya.
DITULIS OLEH
Pdt. Andreas P. Chandra
Rohaniwan Pusat
Renungan Lain oleh Penulis:
Home  »  Renungan  »  Bersyukur Dalam Segala Hal
Bersyukur Dalam Segala Hal
Jumat, 15 Maret 2013 | Tema: Umat Yang Memasyurkan Allah
Bersyukur Dalam Segala Hal
I Tesalonika 5:18
Selalu ada alasan untuk mengucap syukur, sekalipun kondisi yang kita hadapi kelihatannya buruk. Chrysostom, seorang yang pernah menjadi Uskup Besar Constantinopel, dibawa ke pembuangan, dianiaya, direndahkan dan mati di tempat yang jauh dari kemewahan kota serta kesenangan dan kemuliaan yang pernah dinikmatinya. Namun demikian ia belajar bersyukur dalam semua keadaan. Semua ini bertolak dari motto hidupnya: “Doxa to Theo Panton Heneken” yang artinya kemuliaan bagi Allah dalam segala sesuatunya. Ia dapat membuktikan mottonya itu, di mana ia tetap bersyukur dan memuliakan Allah sekalipun menderita.

Marilah kita juga belajar untuk memuji Allah dan bersyukur kepada-Nya dalam segala sesuatu yang terjadi pada diri kita atas ijin-Nya. Kita tidak hanya bersyukur untuk hal-hal yang baik saja, tetapi juga untuk kejadian-kejadian yang menyesakkan hati kita. Kita mungkin tidak tahu apa maksud Allah ketika Ia mengijinkan semua itu terjadi, namun kita harus tetap percaya bahwa Ia adalah Allah yang Mahabaik. Kita tahu kisah Ayub yang mengalami pencobaan sedemikian beratnya, namun Ia belajar bersyukur dan tetap setia kepada Allah. Dan karena ia setia, maka Allah memulihkan keadaannya ...selengkapnya »
Kehidupan kita orang beriman, dalam menjalani hidup sehari-hari sangat membutuhkan tuntunan dan petunjuk dari Tuhan. Pemazmur berkata,“Berbahagialah orang yang tidak berjalan menurut nasihat orang fasik, yang tidak berdiri di jalan orang berdosa, dan tidak duduk dalam kumpulan pencemooh, tetapi yang kesukaannya ialah Taurat Tuhan, dan yang merenungkan Taurat itu siang dan malam.” [Mazmur 1:1-2]. Alkitab berisi tuntunan dan petunjuk dari Tuhan. Semakin kita mempelajari firman Tuhan dan merenungkannya siang dan malam semakin kita mengerti apa kehendak Tuhan, dan apa langkah-langkah yang harus kita tempuh sehingga perjalanan hidup kita selalu beruntung dan akan memberi faedah. Di Alkitab menuliskan contoh teladan hidup orang beriman melalui empat binatang kecil, “Ada empat binatang yang terkecil di bumi, tetapi yang sangat cekatan: semut, bangsa yang tidak kuat, tetapi yang menyediakan makanannya di musim panas, pelanduk, bangsa yang lemah, tetapi yang membuat rumahnya di bukit batu, belalang yang tidak mempunyai raja, namun semuanya berbaris dengan teratur, cicak yang dapat kautangkap dengan tangan, tetapi yang juga ada di istana-istana raja.” [Amsal 30:24-28]. Semut, meskipun tergolong binatang terkecil dan lemah, ia rajin, ulet dan cekatan. Selain itu semut memiliki rasa empati yang tinggi terhadap sesamanya, mereka menopang satu sama lain dan bergotong royong. Tuhan menghendaki hal yang demikian, “Bertolong-tolonglah menanggung bebanmu! Demikianlah kamu memenuhi hukum Kristus.” [Galatia 6:2]. Belalang, dalam waktu singkat sanggup menghabiskan hasil ladang berkat kerjasama dan ketekunannya. Walapun tanpa pemimpin. Manusia tidak dapat melakukan hal itu tanpa seorang pemimpin. Di sini manusia diajar untuk tunduk kepada pemimpin agar bisa hidup teratur. Pelanduk, binatang lemah tapi mampu membuat rumahnya di atas bukit batu sehingga ia selamat dan aman apabila badai menyerang. Kita di ajar untuk menggunakan hikmat kepandaian kita untuk bertahan hidup. Cicak bintang yang dengan mudah dapat kita tangkap tetapi juga hidup di istana raja. Mengingatkan kita walaupun lemah tetapi Allah masih memberi hikmat agar kita bisa bertahan hidup dalam bahaya sekalipun. Yesus adalah Batu Karang Keselamatan kita. Sudah seharusnya kita mempercayakan hidup ini sepenuhnya kepada Dia.
Sebuah penggalan lirik lagu yang berbunyi “kita dipilih dari segala bangsa, kita dipilih jadi umat-Nya, kita dipilih dan dikuduskan-Nya, membawa kemuliaan hanya bagi Dia”. Lirik dari lagu ini tegas mengatakan bahwa kita sebagai orang-orang yang menjadi umat Allah yang dikuduskanNya dari keadaan yang semula tidak kudus menjadi kudus oleh karena Dia, dan kita memiliki tugas yaitu untuk menjadi alat bagi kemuliaan-Nya. Tuhan memiliki tujuan bagi setiap kita, umat yang dikasihi-Nya. Sebuah hal yang luar biasa bagi kita yang pada dasarnya adalah manusia yang berdosa. Namun, oleh karena kasih karunia Allah kita memperoleh pengampunan melalui pengorbanan Kristus di kayu salib. Karena Allah sendiri yang telah memilih kita untuk menjadi umat-Nya maka dari itu kita perlu meresponi panggilan tersebut dengan benar. Hidup benar dan kudus di hadapan Tuhan sebagai wujud dari rasa syukur kita kepada Allah dan juga sebagai wujud bakti kita kepada-Nya. Dalam kitab Imamat 20:26 dikatakan bahwa Tuhan adalah kudus dan kita juga haruslah kudus, karena Ia telah memisahkan dan memilih kita sebagai umat kepunyaan-Nya. Maka sangat jelas bagi kita untuk hidup kudus sesuai dengan Firman-Nya. Hidup kudus berarti menjaga hidup kita untuk tetap lurus berjalan dalam kebenaran Firman Tuhan dalam setiap aspek kehidupan. Dan dengan demikin kita yang telah dikuduskan oleh karena Dia, dapat membawa terang kemuliaan Allah untuk kita tunjukan kepada dunia ini supaya menjadi berkat bagi orang-orang yang belum percaya kepada-Nya. Jemaat Tuhan yang terkasih, marilah kita menjadi umat Tuhan yang membawa terang kemuliaan-Nya melalui apa yang ada pada diri kita melalui sikap hidup kita. Dengan hidup lurus sesuai dengan firman-Nya, maka dengan itu pula nama Tuhan semakin dipermuliakan. Jika kita telah dipilih menjadi umat pilihan-Nya, maka kita juga memiliki tugas tanggung jawab untuk mempermuliaakan Tuhan.
Cintailah Gerejamu Mazmur 27:4 Satu hal telah kuminta kepada TUHAN, itulah yang kuingini: diam di rumah TUHAN seumur hidupku, menyaksikan kemurahan TUHAN dan menikmati bait-Nya. Hari ini gereja kita genap berusia 44 tahun. Pada tanggal 15 April 1974 Gereja Isa Almasih jemaat Dr. Cipto diresmikan menjadi salah satu Gereja Isa Almasih yang dewasa. Kita patut bersyukur, sejak hari lahirnya sampai hari ini Tuhan sudah banyak melakukan perbuatan besar di sini dan melalui gereja kita ini. Banyak orang sudah dimenangkan dan diubah hidupnya. Banyak orang sudah mengalami mujizat. Banyak orang sudah mengalami pertumbuhan iman. Banyak gereja baru yang didirikan di tempat-tempat lain. Selain bersyukur kita juga harus lebih mencintai gereja kita ini. Mengapa demikian? Gereja adalah keluarga rohani kita. Sama seperti setiap kita mempunyai keluarga secara jasmani, kita pun mempunyai keluarga secara rohani. Kalau Tuhan sudah menetapkan kita menjadi bagian dari gereja ini, maka kita adalah anggota keluarga Allah yang ada di GIA dr. Cipto. Gereja adalah tempat kita mengalami Tuhan. Di gereja kita mengalami kehadiran Tuhan. Kita mendapatkan makanan rohani yaitu Firman Tuhan. Di gereja kita mendengarkan Tuhan yang berbicara kepada kita. Kita mendapatkan kekuatan yang baru, pemulihan dan kesembuhan di gereja. Gereja adalah tempat kita mengalami pertumbuhan iman. Ada orang-orang yang Tuhan pakai untuk membantu kita dalam pertumbuhan rohani. Di gereja kita belajar untuk bertumbuh dalam karakter. Melalui melayani orang lain kita belajar tentang arti hidup untuk melayani. Gereja adalah tempat kita menemukan arti hidup dengan melayani dan menjadi berkat buat orang lain. Di gereja kita diajar untuk mempersembahkan hidup kita kepada Tuhan agar dipakai untuk memberkati orang lain. Melalui pelayanan yang kita kerjakan, kita memuliakan Tuhan dan memberikan dampak positif bagi orang lain. Marilah hari ini, dalam perayaan ulang tahun gereja kita yang ke 44 ini, kita berkomitmen untuk lebih mencintai gereja kita. Amin. Pdt. Goenawan Susanto
Seorang guru bijak mendatangi muridnya yang tampak murung. ’Kenapa kau murung, nak? Bukankah banyak hal yang indah di dunia ini?’ sang guru bertanya. ’Guru hidupku penuh masalah. Sulit bagiku untuk tersenyum. Masalah datang seperti tak ada habis-habisnya.’ jawab sang murid. Sang guru tersenyum. ’Nak, ambillah segelas air dan dua genggam garam, bawalah kemari.’ Si muridpun beranjak pelan tanpa semangat, mengambil gelas dan garam yang diminta gurunya. ’Coba ambil segenggam garam dan masukkan ke gelas air itu’, kata gurunya. ’Sekarang kau minum airnya sedikit.’ Si muridpun melakukannya. Wajahnya meringis karena minum air asin. ’Bagaimana rasanya?’ tanya sang guru. ’Asin sekali dan perutku jadi mual.’ jawab sang murid. ’Sekarang kau ikut aku.’ Sang guru membawa muridnya ke danau di dekat tempat pondokan mereka. ’Ambil garam yang tersisa dan tebarkan ke danau.’ Si murid menebar garam yang tersisa ke danau, tanpa bicara. Rasa asin di mulutnya belum hilang. ’Sekarang coba kau minum air danau itu.’ kata sang guru. Si murid menangkupkan kedua tangannya mengambil air danau, dan membawa ke mulutnya lalu meneguknya. Ketika air danau yang dingin dan segar mengalir di kerongkongannya, sang guru bertanya kepadanya. ’Bagaimana rasanya?’ ’Segar sekali.’ kata si murid. ’Terasakah rasa garam yang kau tebarkan tadi?’ ’Tidak sama sekali’ kata si murid sambil mengambil air dan meminumnya lagi. Sang guru hanya tersenyum memperhatikannya membiarkan muridnya itu meminum air danau sampai puas. ’Nak.’ kata sang guru setelah muridnya selesai minum. ’Segala masalah dalam hidup itu seperti segenggam garam. Tidak kurang tidak lebih. Hanya segenggam garam. Banyaknya masalah dan penderitaan yang harus kau alami sepanjang kehidupanmu itu sudah diketahui oleh Tuhan, sesuai untuk dirimu. Jumlahnya tetap, segitu-segitu saja, tidak berkurang dan tidak bertambah. Setiap manusia yang lahir ke dunia inipun demikian. Tidak ada satupun manusia, walau dia seorang nabi, yang bebas dari penderitaan dan masalah. Rasa ’asin’ dari penderitaan yang kita alami itu sangat tergantung dari besarnya hati yang menampungnya. Jadi nak, supaya tidak merasa menderita, berhentilah jadi gelas. Jadikan hati dalam dadamu itu sebesar danau.’ Si murid terdiam mendengarkan. Milikilah hati yang lapang, hati yang penuh dengan ucapan syukur dan yang sanggup menampung setiap perkara yang terjadi dalam hidup kita.
BARCODE BBM CHANNELS
RENUNGAN HARIAN
Tetap Semangat
03 April '18
Tak Melihat Namun Percaya
18 April '18
Permintaan Yang Berkualitas
31 Maret '18
Copyright © 2012 All rights reserved. Designed and Developed by GIA Dr. Cipto Semarang