SEPEKAN TERAKHIR
  Rabu, 30 Juli 2014   -HARI INI-
  Selasa, 29 Juli 2014
  Senin, 28 Juli 2014
  Minggu, 27 Juli 2014
  Sabtu, 26 Juli 2014
  Jumat, 25 Juli 2014
  Kamis, 24 Juli 2014
POKOK RENUNGAN
Orang yang selalu bersyukur akan mampu menanggung permasalahan hidupnya.
DITULIS OLEH
Pdt. Andreas P. Chandra
Rohaniwan Pusat
Renungan Lain oleh Penulis:
Home  »  Renungan  »  Bersyukur Dalam Segala Hal
Bersyukur Dalam Segala Hal
Jumat, 15 Maret 2013 | Tema: Umat Yang Memasyurkan Allah
Bersyukur Dalam Segala Hal
I Tesalonika 5:18
Selalu ada alasan untuk mengucap syukur, sekalipun kondisi yang kita hadapi kelihatannya buruk. Chrysostom, seorang yang pernah menjadi Uskup Besar Constantinopel, dibawa ke pembuangan, dianiaya, direndahkan dan mati di tempat yang jauh dari kemewahan kota serta kesenangan dan kemuliaan yang pernah dinikmatinya. Namun demikian ia belajar bersyukur dalam semua keadaan. Semua ini bertolak dari motto hidupnya: “Doxa to Theo Panton Heneken” yang artinya kemuliaan bagi Allah dalam segala sesuatunya. Ia dapat membuktikan mottonya itu, di mana ia tetap bersyukur dan memuliakan Allah sekalipun menderita.

Marilah kita juga belajar untuk memuji Allah dan bersyukur kepada-Nya dalam segala sesuatu yang terjadi pada diri kita atas ijin-Nya. Kita tidak hanya bersyukur untuk hal-hal yang baik saja, tetapi juga untuk kejadian-kejadian yang menyesakkan hati kita. Kita mungkin tidak tahu apa maksud Allah ketika Ia mengijinkan semua itu terjadi, namun kita harus tetap percaya bahwa Ia adalah Allah yang Mahabaik. Kita tahu kisah Ayub yang mengalami pencobaan sedemikian beratnya, namun Ia belajar bersyukur dan tetap setia kepada Allah. Dan karena ia setia, maka Allah memulihkan keadaannya dan memberkati hidupnya.

Berdasarkan pengajaran Paulus kepada jemaat Tesalonika untuk selalu mengucap syukur dalam segala hal, mari apapun yang Anda alami, bersyukurlah kepada Allah dan tetaplah memuji Dia, sepe...selengkapnya »
“Ben, setujukah kamu dengan anggapan umum bahwa semua gereja mempunyai masalah?” tanya Sambey kepada Benay. Sambil mengunyah mendoan kesukaannya, Benay menjawab, “Aku setuju! Memang kenyataannya begitu kok.” Sambey menganguk-anggukkan kepala, pertanda ia juga menyetujui jawaban sahabatnya itu. “Tapi aku pikir kenyataan itu tidak boleh diterima secara pasif.” ungkap Sambey lebih lanjut. “Maksudnya apa?” tanya Benay ingin mendapat penjelasan. Sambey menjelaskan bahwa semua gereja mempunyai masalah adalah kenyataan, tetapi kenyataan itu tidak boleh membuat gereja menyerah. Sebaliknya kenyataan itu justru harus membuat gereja “bergerak”, bergumul dan berjuang sesuai yang dikehendaki Tuhan. Menurut Sambey, kesehatian jemaat mutlak diperlukan agar gereja tidak kalah dengan masalah yang dihadapinya. “Lha, bagaimana kalau justru masalahnya tidak adanya kesehatian dalam jemaat?” tanya Benay dengan mulut penuh mendoan. “Wah, repot itu, Ben! Itu yang harus diatasi lebih dahulu. Perlu digumulkan bagaimana mewujudkan gereja sebagai komunitas sehati-sepikir.” jawab Sambey. Rasul Paulus menghendaki adanya kesehati-sepikiran dalam jemaat yang terwujud dalam satu kasih, satu jiwa, satu tujuan. Kesehati-sepikiran itu mengisyaratkan jemaat yang kompak, yang tidak terpecah-belah. Jemaat yang saling mengasihi satu sama lain. Jemaat yang mempunyai perasaan sebagai satu keluarga, yaitu sebagai saudara-saudari di dalam Tuhan. Jemaat yang mempunyai kesatuan tujuan untuk kemuliaan Tuhan. Kondisi kesatuan itu akan sukar diwujudkan jika sikap mementingkan diri dan mencari kehormatan pribadi ada dalam jemaat. Itulah sebabnya Rasul Paulus mendorong jemaat untuk bersedia merendahkan diri sama seperti yang diteladankan oleh Yesus Kristus. Sikap merendahkan diri itu ditampakkan dengan memperhatikan dan mengutamakan kepentingan orang lain, di samping memperhatikan kepentingan pribadi. Dengan demikian kesehati-sepikiran dalam jemaat dapat diwujudkan. Jemaat yang terkasih. Marilah kita waspada dengan kepentingan pribadi kita. Tidak setiap kepentingan pribadi salah. Tetapi ketika kepentingan pribadi itu begitu menonjol dan menguasai diri kita, itu akan menjadikan kita pribadi yang tak pernah puas dengan pujian, terus mengejar kepopuleran, dan tak sudi menerima nasihat, apalagi kritik dari orang lain. Dan ini akan menjadi kendala untuk mewujudkan komunitas sehati-sepikir sebagaimana dikehendaki Tuhan. Oleh sebab itu marilah kita merendahkan diri dengan bersedia memperhatikan kepentingan orang lain untuk tujuan kita bersama sebagai jemaat Tuhan.
Beberapa orang ‘beruang’ pernah berkata kepada saya bahwa rumah sakit yang paling terpercaya dalam menangani kesehatan kita adalah rumah sakit Singapura. Oleh karena itu mereka merekomendasikan untuk berobat di Singapura jika ada yang mengalami masalah kesehatan. Mereka memandang bahwa seolah-olah tenaga medis dan peralatan-peralatan rumah sakit yang ada di negara kita belum memenuhi standar untuk menangani penyakit-penyakit tertentu, sehingga mereka lebih mempercayai rumah sakit-rumah sakit yang ada di Singapura. Dari setiap percakapan yang sering saya dengar, ternyata banyak orang kaya terjebak dalam lingkaran pengaruh materi yang mereka miliki. Beberapa dari mereka merasa bahwa kesehatan dapat diperoleh dengan mudah jika mereka memiliki materi. Mereka merasa bahwa dengan materi yang dimiliki, mereka dapat berobat ke manapun sesuai yang mereka kehendaki. Akhirnya tanpa sadar banyak orang ‘beruang’ terjebak tidak lagi mengandalkan Tuhan. Mereka lebih mengandalkan kekayaan dan pikiran mereka sendiri daripada mengandalkan Tuhan. Saudara yang terkasih, ketika kita sedang mengalami kelimpahan materi, tanpa masalah, tanpa persoalan, kerap kali kita menjadi lupa bahwa kita harus tetap mengandalkan Tuhan. Tuhan harus menjadi yang pertama dan terutama dalam hidup kita. Jangan sampai kita tertipu dengan apa yang Tuhan ijinkan kita miliki sehingga kita lebih mengandalkannya daripada Tuhan. Akibatnya kita menaruh Tuhan di luar rumah (hati) kita. Tuhan Yesus berkata: ”Lihat, Aku berdiri di muka pintu dan mengetok;.... Aku akan masuk mendapatkannya dan Aku makan bersama-sama dengan dia, dan ia bersama-sama dengan Aku.” Tuhan sangat rindu agar setiap kita selalu mengandalkan-Nya. Kita tidak mengantikan Tuhan dengan materi yang diberi-Nya, sehingga secara otomatis kita tidak menaruh Yesus di luar rumah kita.
Efesus 4:30-32 Dan janganlah kamu mendukakan Roh Kudus Allah, yang telah memeteraikan kamu menjelang hari penyelamatan. (Ayat 30) Salah satu pekerjaan Roh Kudus adalah menyatukan jemaat sebagai Tubuh Kristus. Jika kita ingin menyenangkan hati-Nya, maka kita harus menjaga kesatuan itu. Jika kita mengasihi Kristus, maka kita pun mengasihi Tubuh-Nya, yaitu gereja-Nya. Janganlah kita mencederai kesatuan jemaat, karena dengan mencederai kesatuan jemaat berarti kita juga mencederai hati Kristus. Kadang tanpa kita sadari kita mendukakan hati Roh Kudus. Dengan cara apa? Ketika kita menyimpan: kepahitan, kegeraman, kemarahan, dan ketika kita bertikai satu sama lain dan saling memfitnah, maka kita telah mendukakan Roh Kudus (ayat 31). Tindakan itu bertentangan dengan apa yang sedang dikerjakan oleh Roh Kudus. Karena itu segala kepahitan dan kemarahan yang masih tersimpan harus dibuang dari antara kita. Sebab dengan memelihara dan menyimpannya kita merusak pekerjaan Roh Kudus. Tetapi hendaklah kamu ramah seorang terhadap yang lain, penuh kasih mesra dan saling mengampuni, sebagaimana Allah di dalam Kristus telah mengampuni kamu (ayat 32). Kepahitan, kegeraman dan kemarahan harus diganti dengan keramahan dan kasih mesra. Itu bisa terjadi jika ada saling mengampuni. Pengampunan membuat segalanya bisa pulih kembali. Jika kita taat dalam hal ini maka Roh Kudus akan disukakan. Kehadiran-Nya selalu akan nyata di tengah kita. Buah-buah pertobatan akan dihasilkan. Mujizat-mujizat akan dikerjakan oleh Tuhan di antara kita. Banyak orang akan melihat kemuliaan Tuhan di tengah-tengah kita. Nama Tuhan Yesus akan dimashyurkan. Orang-orang akan datang dan percaya kepada-Nya. Tuhan Yesus sebagai Kepala gereja akan menyatakan diri-Nya di hadapan dunia ini. Gereja Tuhan, marilah kita ikut serta dalam perkara besar yang sedang dikerjakan-Nya di tengah dunia ini.
Suatu hari seorang bapak bercerita kepada saya bahwa seluruh menejemen keuangan keluarga dihandel olehnya. Mengapa demikian? Menurut bapak tersebut, istrinya tidak dapat dipercaya dalam mengelolah keuangan yang seharusnya menjadi tanggung jawabnya. Seorang ibu dalam keluarga yang lain juga menyatakan hal yang sama. Ketika suaminya sedang bekerja atau bepergian ia ingin mengetahui keberadaan suaminya. Dengan alasan tersebut ia selalu bertanya pada suaminya tentang: ‘Sekarang sedang mengerjakan apa, Pah? Dimana? Dengan siapa saja? Sebutkan namanya? Berapa lama? Nanti pulang jam berapa? Jangan lama-lama ya, Pah...” Dan masih banyak pertanyaan lain yang mungkin terkesan membuat tidak nyaman. Mengapa ibu ini bertanya demikian? Jawabannya karena ibu ini kurang percaya pada suaminya. Salah satu bagian yang penting dalam komunitas kristen perjanjian baru adalah kepercayaan. Tanpa kepercayaan maka seorang pemimpin tidak akan pernah mendelegasikan suatu tugas yang sangat penting kepada bawahannya. Tanpa kepercayaan maka dalam sebuah keluarga akan timbul terus menerus kecurigaan yang tidak beralasan. Akibatnya antara suami - istri, orangtua - anak, sesama keluarga saling mencurigai, tidak saling mempercayai. Ananias mau pergi menemui dan mendoakan Saulus dari kebutaannya akibat perjumpaanya dengan Tuhan dalam sinar kemuliaan karena Ananias percaya bahwa Saulus akan dipakai oleh Tuhan seperti dirinya (Kisah Para Rasul 9:17). Setelah Saulus bertobat dan didoakan, murid-murid yang ada di Yerusalem takut menerimanya karena mereka belum percaya pada Saulus kalau ia sekarang juga telah menjadi murid Tuhan (Kisah Para Rasul 9:26). Kehidupan dalam komunitas perjanjian baru harus kita dasari dengan kepercayaan. Kita tidak bisa membangun komunitas ataupun keluarga kita dalam kecurigaan dan ketidakpercayaan. Sikap saling percaya antara satu dengan yang lain akan menepis rasa curiga yang kadang muncul dibenak kita. Bagimana kita bisa membangun kepercayaan dalam komunitas kita? Jawabanya singkat, kita semua harus dapat menjadi orang yang dapat dipercaya. Ketika kita sadar tentang arti dan dampak dari sebuah kepercayaan, maka kita dapat membangun komunitas perjanjian baru yang harmonis.
BARCODE BBM CHANNELS
RENUNGAN HARIAN
Otoritas Dalam Komunitas Perjanjian Baru
16 Juli '14
Buatlah Tuhan bersuka
20 Juli '14
Hitunganku Bukan Hitungan Tuhan
10 Juli '14
Copyright © 2012 All rights reserved. Designed and Developed by GIA Dr. Cipto Semarang