SEPEKAN TERAKHIR
  Sabtu, 24 Februari 2018   -HARI INI-
  Jumat, 23 Februari 2018
  Kamis, 22 Februari 2018
  Rabu, 21 Februari 2018
  Selasa, 20 Februari 2018
  Senin, 19 Februari 2018
  Minggu, 18 Februari 2018
POKOK RENUNGAN
Orang yang selalu bersyukur akan mampu menanggung permasalahan hidupnya.
DITULIS OLEH
Pdt. Andreas P. Chandra
Rohaniwan Pusat
Renungan Lain oleh Penulis:
Home  »  Renungan  »  Bersyukur Dalam Segala Hal
Bersyukur Dalam Segala Hal
Jumat, 15 Maret 2013 | Tema: Umat Yang Memasyurkan Allah
Bersyukur Dalam Segala Hal
I Tesalonika 5:18
Selalu ada alasan untuk mengucap syukur, sekalipun kondisi yang kita hadapi kelihatannya buruk. Chrysostom, seorang yang pernah menjadi Uskup Besar Constantinopel, dibawa ke pembuangan, dianiaya, direndahkan dan mati di tempat yang jauh dari kemewahan kota serta kesenangan dan kemuliaan yang pernah dinikmatinya. Namun demikian ia belajar bersyukur dalam semua keadaan. Semua ini bertolak dari motto hidupnya: “Doxa to Theo Panton Heneken” yang artinya kemuliaan bagi Allah dalam segala sesuatunya. Ia dapat membuktikan mottonya itu, di mana ia tetap bersyukur dan memuliakan Allah sekalipun menderita.

Marilah kita juga belajar untuk memuji Allah dan bersyukur kepada-Nya dalam segala sesuatu yang terjadi pada diri kita atas ijin-Nya. Kita tidak hanya bersyukur untuk hal-hal yang baik saja, tetapi juga untuk kejadian-kejadian yang menyesakkan hati kita. Kita mungkin tidak tahu apa maksud Allah ketika Ia mengijinkan semua itu terjadi, namun kita harus tetap percaya bahwa Ia adalah Allah yang Mahabaik. Kita tahu kisah Ayub yang mengalami pencobaan sedemikian beratnya, namun Ia belajar bersyukur dan tetap setia kepada Allah. Dan karena ia setia, maka Allah memulihkan keadaannya ...selengkapnya »
Kebiasaan mempersiapkan segala sesuatu dengan baik ketika rumah kita akan kedatangan tamu merupakan hal yang lumrah kita lakukan. Pastinya kita akan memperhatikan kebersihan rumah. Membersihkan rumah pasti kita dilakukan setiap hari. Namun jika ada tamu yang akan datang bahkan menginap, kita akan kembali mempersiapkan apakah ada yang kurang rapi dan kurang bersih dirumah kita. Ketika tamu kita akan menginap, pasti kita akan mempersiapkan kamar dan tempat tidur dengan baik. Baik itu mengganti seprei dan sarung bantal maupun memberikan wewangian dikamar tersebut supaya terasa nyaman saat tamu kita menginap. Tidak lupa juga kita pasti akan menyediakan hidangan untuk tamu kita. Membuatkan masakan yang enak untuk menjamu tamu yang akan datang. Semua hal itu kita lakukan supaya tamu kita yang akan datang merasa nyaman dan senang karena kita menyambutnya dengan baik. Jika kita sedemikian sungguh-sungguh ketika menyambut tamu yang akan datang kerumah kita, apakah kita juga telah sungguh-sungguh dalam menyambut dan menantikan kedatangan-Nya yang kedua kalinya?. Sudahkah kita mempersiapkan diri kita masing-masing untuk menyambut hari Tuhan yang semakin dekat itu? Atau malah kita masih bersantai dengan kehidupan kita yang masih penuh dengan dosa. Namun sering kali kehidupan kita sekarang ini tidak menunjukkan bahwa kita benar-benar sedang menantikan kedatangan-Nya. Menantikan kedatangan Tuhan harus kita isi dengan kehidupan yang benar jauh dari dosa dan berusaha dengan sungguh-sungguh supaya benar-benar menjadi mempelai yang layak dihadapan-Nya. Kita mungkin dapat berkata bahwa kita sedang menantikan kedatangan-Nya, tapi kita tidak bisa menipu Tuhan bahwa kita sedang menantikan-Nya, tetapi kita masih hidup di dalam dosa tanpa ada usaha untuk membereskannya. Hari Tuhan tidak ada yang tahu kapan datangnya. Namun kita dapat mempersiapkan hidup kita agar kita siap ketika berhadapan dengan-Nya. Marilah kita siap sedia senantiasa dengan menjaga kekudusan hidup ini. Jika masih menyimpan dosa maka segeralah selesaikan di hadapan Tuhan. Memohon pertolongn-Nya supaya memampukan kita untuk meninggalkan segala dosa yang masih mengikat kita. Mari kita sungguh-sungguh mempersiapkan diri sebaik mungkin untuk menyambut sang Tamu Agung itu, supaya kita juga bisa turut serta di dalam kemuliaan-Nya yang kekal.
Musuh terbesar manusia terlebih orang percaya adalah penghulu-penghulu di udara dan penguasa-penguasa di langit yaitu iblis. Mereka tahu bagaimana menaklukkan manusia bahkan orang-orang percaya. Salah satu senjatanya adalah menebar rasa takut. Ketika ketakutan ada dalam diri orang percaya, maka pemberitaan Injil menjadi terlambat. Ketakutan membuat orang-orang percaya tidak berani bersaksi, tidak berani ber PI, tidak berani menyatakan kasih Tuhan kepada orang-orang yang belum percaya. Lebih menyedihkan lagi kalau kemudian orang-orang percaya menyerah pada ketakutannya dan tidak mau berusaha mendapatkan keberanian. Murid-murid menyadari bahwa ancaman yang mereaka hadapi dari pihak orang yang menentang Yesus adalah penguasa-penguasa, suku-suku, bangsa-bangsa yang mendatangkan ketakutan pada diri para murid. Satu sisi ada dorongan dalam diri murid-murid untuk ber-PI begitu kuat. Di sisi lain ada ketakutan untuk melakukannya. Murid-murid sadar bahwa yang dibutuhkan adalah keberanian. Seperti halnya sekarang, kitapun hidup di mana banyak hambatan-hambatan yang membuat kita juga takut. Karena ada undang-undang yang melarang kristenisasi. Dibeberapa tempat ada hamba-hamba Tuhan yang dipenjara karena ber-PI. Kalau ketakutan itu sekarang ada pada kita dan keberanian seolah-olah tidak ada lagi, mari kita belajar dari murid-murid yang menaikan doa permohonan agar TuhanYesus memberikan keberanian kepada kita. Agar Tuhan juga memberikan kuasa untuk menyatakan kasih Tuhan kepada orang-orang yang belum diselamatkan. Memang ada resiko yang akan kita terima. Namun demikian berita Injil, kabar baik, menyatakan kasih Tuhan kepada sesama adalah tugas panggilan yang mulia. Tugas itu telah ditaruh di pundak orang-orang yang dapat dipercayai oleh Tuhan untuk tetap dilaksanakan. Sehingga banyak jiwa yang diselamatkan sesuai dengan yang dikehendaki-Nya.
Hidup dalam keharmonisan Roma 12:16 Hendaklah kamu sehati sepikir dalam hidupmu bersama; janganlah kamu memikirkan perkara-perkara yang tinggi, tetapi arahkanlah dirimu kepada perkara-perkara yang sederhana. Janganlah menganggap dirimu pandai! Sebuah paduan suara akan menghasilkan nyanyian yang merdu jika semua anggotanya saling menyesuaikan suara mereka. Semua jenis suara, baik sopran, alto, tenor dan bas, jika diselaraskan dengan baik akan menciptakan paduan suara yang indah. Apabila ada suara yang terlalu tinggi atau terlalu rendah itu akan mengganggu paduan suara itu dan menciptakan suara sumbang atau disharmoni. Demikian juga tidak boleh ada suara yang terlalu keras atau menonjol. Seperti halnya dengan paduan suara demikianlah kehidupan kita di dalam komunitas, baik itu di masyarakat umum, gereja, atau bahkan komunitas apa saja. Agar hidup berkomunitas menjadi indah, maka setiap orang yang ada di dalam komunitas itu harus saling menyesuaikan dirinya dengan yang lain. Semuanya harus selaras dan seimbang sehingga terjadi sebuah harmoni. Jika ada yang ingin menonjol, berkuasa, bahkan mendominasi yang lainnya, maka akan terjadi disharmoni, dan kehidupan berkomunitas menjadi tidak bisa dinikmati. Agar tercipta sebuah paduan suara yang indah maka semua anggota harus berlatih dengan disiplin. Memang dibutuhkan latihan yang cukup keras, agar tidak menjadi paduan suara yang asal-asalan. Di dalam latihan itu semua anggota belajar menyelaraskan suaranya dengan yang lain. Suara yang salah, yang tidak sesuai dengan notasi, atau yang sumbang, yang terlalu tinggi atau terlalu rendah, harus dikoreksi. Setiap anggota paduan suara harus siap dikoreksi. Jika tidak, maka dia akan mengganggu paduan suara itu. Demikian juga dalam kehidupan berkomunitas, kita perlu berlatih untuk menyelaraskan diri kita dengan yang lain. Kita harus mau dikoreksi. Memang pada waktu dikoreksi kita merasa tidak enak. Tetapi di situ akan kelihatan siapa yang sungguh-sungguh ingin hidupnya memuliakan Tuhan atau ingin menuruti kehendak hatinya sendiri. Kiranya Tuhan menolong kita sehingga dapat mewujudkan keharmonisan dalam hidup berkomunitas. Amin. Pdt. Goenawan Susanto
Mahasiswa Akademi Militer atau Akademi Kepolisian harus mengikuti semua peraturan kampus. Selalu mengenakan pakaian seragam termasuk saat liburan, potongan rambut sesuai standard yang berlaku, tidak diperkenankan berbahasa daerah saat berkomunikasi dengan siapa saja termasuk dengan rekan sedaerahnya. Yang sangat menarik saat mereka berjalan bersama atau sendiri langkah mereka harus sesuai dengan yang telah ditetapkan. Mereka mematuhi aturan-aturan walaupun tidak ada yang mengawasi karena bagi mereka aturan tersebut sudah menjadi gaya hidup dan bukan beban. Orang benar akan melangkah sesuai dengan ketetapan Tuhan dan berkenan kepada-Nya. Firman Tuhan ada dalam hatinya dan tidak goyah dalam melangkah sesuai dengan perintah-Nya. Mulut orang benar mengucapkan kebenaran dan kebajikan, perkataan yang sesuai dengan hukum-Nya. Setiap hari menaruh belas kasihan dan memberi pertolongan kepada orang lain. Menjauhi kejahatan dan melakukan perbuatan baik. Langkah orang benar akan mendatangkan penyertaan Tuhan senantiasa dan tidak akan jatuh tergeletak. Tuhan akan memelihara hidupnya sampai selamanya. Tidak akan dibiarkan berkekurangan di masa tua karena anak cucunya tidak akan meninggalkannya. Kita harus memenuhi hidup kita dengan Firman-Nya sehingga setiap langkah kita akan sesuai dengan yang telah ditetapkan-Nya. Hidup yang berkenan kepada-Nya. Perkataan dan perbuatan yang mencerminkan kekudusan dan sebagai pelaku Firman. Melakukan perbuatan baik setiap waktu dan berdampak keselamatan bagi banyak orang. Langkah tersebut tidak tergantung pada situasi dan keadaan, tetapi menjadi gaya hidup dan dilakukan tanpa beban. Dengan demikian, Tuhan akan memelihara hidup kita dalam menempuh perjalanan dalam tahun ini walaupun harus melewati lembah yang dalam.
BARCODE BBM CHANNELS
RENUNGAN HARIAN
Gereja : Komunitas Keselamatan
04 Februari '18
Berdoa Bagi Mereka
05 Februari '18
Langkah Orang Benar
31 Januari '18
Copyright © 2012 All rights reserved. Designed and Developed by GIA Dr. Cipto Semarang