SEPEKAN TERAKHIR
  Sabtu, 29 Agustus 2015   -HARI INI-
  Jumat, 28 Agustus 2015
  Kamis, 27 Agustus 2015
  Rabu, 26 Agustus 2015
  Selasa, 25 Agustus 2015
  Senin, 24 Agustus 2015
  Minggu, 23 Agustus 2015
POKOK RENUNGAN
Ingatlah bahwa Pencobaan yang kita alami tidak melebihi kekuatan kita (1Korintus10:13), oleh karena itu jangan menyerah dan putus asa.
DITULIS OLEH
Ibu Ribkah E. Christanti
Kontributor
Renungan Lain oleh Penulis:
Home  »  Renungan  »  Hai Ibu, Besar Imanmu
Hai Ibu, Besar Imanmu
Sabtu, 04 Mei 2013 | Tema: Memiliki Karakter Kristus
Hai Ibu, Besar Imanmu
Matius 15:21-28
Dalam hidup ini kita akan selalu diperhadapkan dengan berbagai macam pergumulan, yaitu berbagai macam tantangan dan kesulitan. Tantangan dan kesulitan tersebut tidak hanya dialami orang yang belum percaya Tuhan tetapi juga dialami oleh anak-anak Tuhan. Seringkali pergumulan itu begitu kompleks, sehingga kita ragu dalam melangkah bahkan sepertinya tidak ada jalan keluar. Ketika kita tidak mengerti lagi apa yang harus dilakukan, kita tidak boleh menyerah dan putus asa begitu saja, pada saat itulah kita harus datang lebih lagi pada Tuhan.

Jika kita memperhatikan secara jelas kisah perempuan Kanaan ini, kita dapat melihat bahwa perempuan Kanaan ini memiliki sikap hati yang tidak mudah menyerah dan putus asa sehingga Yesus berkata kepadanya, ”Hai ibu, besar imanmu.” Bagaimana perempuan Kanaan ini dapat memiliki sikap yang tidak mudah menyerah dan putus asa ketika tantangan penolakan dari murid-murid Yesus dan sikap Yesus yang acuh ketika perempuan tersebut memohon kesembuhan untuk anaknya? Yang pertama adalah, berpikir positif (ayat 22).
Pada waktu itu orang Kanaan mempunyai image negatif karena dianggap oleh orang Israel akan membawa pengaruh buruk. Dalam keadaan tersebut perempuan Kanaan itu tidak berkecil hati, tapi dia berpikir positif (Filipi. 4:8) dengan menghampiri Tuhan Yesus. Kedua, tidak mudah terpengaruh oleh keadaan (ayat 23). Walaupun murid-murid Yesus meminta-Nya untuk menyuruh perempuan Kanaan itu pergi, tetapi perempuan itu tetap tegar untuk ...selengkapnya »
Kedewasaan rohani ditandai oleh: kerinduan, kehausan akan Tuhan dan Kerajaan-Nya [Mazmur 42:2-3], kehidupan yang berbuah [Matius 13:23], dan menjadi murid yang rela dididik [Lukas 14:33]. Daud rindu dan haus akan Tuhan karena membutuhkan keamanan yang pada waktu itu sedang dikejar-kejar musuh. Bagi orang percaya, rindu dan haus akan Tuhan seharusnya bukan karena kebutuhan akan rasa aman, tetapi karena mengetahui bahwa Allah adalah satu-satunya tujuan hidup. Tuhan adalah segalanya karena telah memberikan anugerah-anugerah yg sangat besar nilainya: penciptaan, penebusan, dan keselamatan. Kehidupan yg berbuah adalah kehidupan yg menjadi berkat dan terang bagi orang lain. Orang yg belum percaya bila menyaksikan sikap dan perbuatan kita akan membawa mereka datang pada pengenalan Tuhan yg benar dan memuliakan Bapa [Matius 5:16]. Menjadi murid yg rela dididik [oleh Guru Agung] berarti mempunyai kerendahan hati untuk terus belajar kebenaran Firman Kristus [Injil yg murni], sehingga semakin peka dan mengerti kehendak Bapa dan melakukannya. Keduniawian, istilah lain: apa yg ada di dalam dunia [sistem, filosofi], tipu daya kekayaan, kekuatiran dunia, dibedakan menjadi: 1. Keinginan daging Belum tentu sesuatu yg jahat atau dosa. Yang dimaksud adalah nafsu makan dan nafsu seksual yg tidak proporsional, tidak wajar dan tidak sesuai dengan kehendak Tuhan dan bisa menjadi dosa yg mengikat. 2. Keinginan mata Hasrat untuk memiliki fasilitas hidup yg dimiliki orang lain atau yg ditawarkan oleh dunia [melalui iklan], tidak bisa membedakan antara kebutuhan dan keinginan, hasrat materialisme dan konsumerisme. Hal ini lebih terkait dengan sikap hati, maka sering tidak tampak dari luar. 3. Keangkuhan hidup Kehormatan dan kebanggaan atas sesuatu yg membuat diri merasa bernilai. Keinginan untuk dianggap bernilai dan terhormat di mata manusia menyebabkan seseorang menjadi sombong [seperti Lucifer]. Padahal kita harus belajar merasa bernilai karena dikasihi dan dipandang berharga oleh Tuhan yang membuat kita tidak angkuh. Tuhan Yesus dengan tegas menyatakan bahwa keduniawian akan membuat seseorang sulit menjadi murid yang bisa dididik untuk menjadi dewasa rohani [Matius 13:22, Lukas 14:33].
2 Korintus 4:7-11 Dalam segala hal kami ditindas, namun tidak terjepit; kami habis akal, namun tidak putus asa; kami dianiaya, namun tidak ditinggalkan sendirian, kami dihempaskan, namun tidak binasa. [ayat 8-9] Seorang penulis bernama Irving Stone telah menggunakan sepanjang hidupnya untuk mempelajari kehidupan orang-orang terkenal seperti Michelangelo, Vincent van Gogh, Sigmund Freud dan Charles Darwin. Dia pernah ditanya apakah telah menemukan benang merah dari kehidupan orang-orang yang hebat itu. Dia menjawab: ’Mereka itu adalah orang-orang yang dalam hidupnya mempunyai visi atau impian, sesuatu yang harus diwujudkan.... dan mereka memperjuangkannya. Lalu mereka menghadapi tantangan, dan mereka terhempas jatuh, difitnah dan selama bertahun-tahun tidak mengalami kemajuan apa-apa. Tetapi setiap kali mereka terhempas mereka berdiri kembali. Orang-orang seperti ini tidak bisa dihancurkan. Dan pada akhir kehidupannya mereka mewujudkan apa yang terbaik dari apa yang harus mereka kerjakan.’ Itulah gambaran pejuang yang tangguh. Pejuang yang tangguh tidak kenal menyerah. Dalam hidupnya pasti dia pernah dihempaskan, pernah mengalami kejatuhan, tapi dia tidak menyerah. Setiap kali dia terjatuh, dia akan bangun kembali. Dia yakin bahwa dia pasti akan menang. Dia yakin bahwa dia sedang berjuang untuk sesuatu yang layak diperjuangkan dengan taruhan apapun. Kita ingat bagaimana para pejuang yang memperjuangkan kemerdekaan Indonesia. Mereka berjuang tanpa kenal menyerah. Walaupun musuh yang mereka hadapi begitu sulit untuk dikalahkan karena lebih unggul dalam persenjataan dan strategi perang. Namun karena para pejuang bangsa kita begitu ulet dan tak kenal menyerah, akhirnya kemerdekaan Indonesia dapat terwujud. Demikianlah prajurit Kristus. Prajurit Kristus memang harus mengalami perjuangan yang berat. Prajurit Kristus harus tangguh. Walaupun kadang harus dihempaskan dan terjatuh, namun dia akan bangkit kembali. Karena prajurit Kristus sedang memperjuangkan sesuatu yang layak untuk diperjuangkan dengan taruhan apapun. Kita merindukan agar banyak jiwa yang dimerdekakan dari perbudakan dosa. Harus ada yang memperjuangkannya tanpa kenal menyerah. Amin.
’Gerejaku baru saja mengundang TW, wew ... seru, bro!’ ’Ooo, kalau gerejaku ngundangnya Mike Mohede ... keren, man!’ ’Ah, itu sih belum seberapa, gerejaku sukses mendatangkan Asmirandah dan Lukman Sardi yang lagi ’happening’ di mana-mana! Cool abisss!’ ’Kapan nih gerejamu ngadain event serupa? Jangan adem ayem aja dong, nanti membosankan!’ ’Ngapain buang-buang uang gereja buat mengundang artis? Gereja ndak boleh bermewah-mewah memboroskan uang jemaat!’ ’Apa bisa dibenarkan jemaat diajak berhura-hura? Yesus saja datang dan hidup dalam kesederhanaan!’ ’Yang suka bikin acara ’ngejreng’ itu gereja yang nggak alkitabiah!’ Wah. Berantem deh. Masing-masing membela seleranya sendiri. Sebagian gemar memanggil artis, sebagian anti artis. Sebagian menggemari pengkotbah yang berapi-api, sebagian memilih pengkotbah yang tenang dan mumpuni. Sebagian suka kegiatan yang gegap gempita, sebagian suka kegiatan yang tidak bergaung tapi bermakna. Di mana-mana begitu. Perdebatan tak ada habis-habisnya. Di dalam gereja terdapat berbagai macam manusia dengan beragam selera. Yang terpenting bukanlah masalah adu kuat pengaruh untuk memuaskan selera manusia, karena kita adalah hamba Kristus, bukan hamba manusia. Baiklah kita memusatkan perhatian pada bagaimana kita bisa berkenan kepada Kristus dan saling memperhatikan kebutuhan sesama saudara untuk bertumbuh dalam Kristus. Kepada yang menggerutu di saat kebaktian kita tenang dan tak gegap gempita, saya katakan kita perlu belajar untuk beranjak dewasa. Menikmati kebaktian tanpa tergantung pada jenis pujian dan model penyampaian Firman. Dan kepada yang keberatan di saat kebaktian kita riuh membahana, saya katakan kita perlu menghargai saudara-saudara yang masih membutuhkan suntikan semangat untuk bertumbuh dalam pengenalan akan Kristus. Bukankah ada beragam cara untuk berbakti? Yang terpenting bukan soal selera, melainkan bagaimana kita berkenan kepada Kristus. Bukan sebagai hamba manusia, melainkan sebagai hamba Kristus.
Seorang kakek bercerita pada cucunya, pada zaman dahulu, hiduplah kancil yang bijaksana. Kancil dikenal oleh hewan lainnya sebagai hewan yang dapat memberi jalan keluar atas semua masalah mereka, dan tidak terkecuali oleh kura-kura. Oleh karena jalannya yang lamban, sehingga dia selalu tertinggal dalam berbagai hal, maka kura-kura ingin sekali bisa terbang, namun bagaimana caranya? Kemudian karena tak kunjung mendapat caranya, maka kura-kura mendatangi kancil untuk meminta solusi akan masalah tersebut. “Kancil... Kancil, aku ingin sekali bisa terbang, bisakah kamu menolongku”, kata kura-kura kepada kancil. Alangkah terkejutnya kancil mendengar hal ini, lalu dia berkata kepada kura-kura, “Bagaimana kamu bisa terbang, kamu kan tidak punya sayap?” Sambil menangis kura-kura itu berkata, “Oleh karena itulah aku datang kepadamu, Kancil. Bukankah kamu adalah hewan yang cerdik dan bijaksana, pasti kamu dapat menolongku.” Sambil terdiam sesaat, kancil berpikir sejenak, dan kemudian meminta dua ekor angsa membantu kura-kura. Kancil menyuruh dua ekor angsa itu mengambil sepotong kayu yang kuat, lalu masing-masing angsa memegang setiap ujung kayu itu. Kemudian si kancil memerintahkan kura-kura untuk memegang kayu itu dengan mulutnya. Saat semuanya selesai, kancil berpesan pada kura-kura, “Kura-kura apapun yang terjadi saat terbang nanti, kamu jangan sampai membuka mulutmu.” Pada saatnya, dua angsa dan seekor kura-kura itu memulai perjalanan mereka. Mereka terbang tingi dan makin tinggi, bahkan semakin tinggi. Hewan-hewan lain yang melihat itu terpana, dan bahkan burung yang terbang di sisi mereka pun ikut terkaget-kaget. Burung yang kaget itu berseru, ’Benarkah itu kamu, kura-kura? Hebat sekali kamu! Kamu memang pandai, Kura-kura’ Hal ini membuat sang kura-kura merasa bangga karena dia merasa menjadi sosok yang penting. ’Saya memang pandai, lihatlah sekarang aku bisa terbang!’ kata si kura-kura. Pada saat kura-kura berbicaa, maka otomatis dia membuka mulutnya untuk menyampaikan hal tersebut, dan pada saat itu juga dia pun kehilangan pegangan dan jatuh. Banyak orang gampang untuk “membuka mulutnya” untuk hal-hal yang tidak baik. Mulai dari mengomel, memaki orang lain, berkata kasar, mengutuk, membicarakan orang lain untuk hal yang tidak baik, menyakiti orang lain, hingga memakai mulutnya untuk kesombongan diri. Kitab Amsal mendorong kita untuk berhati-hati atas perkataan kita [Amsal 12:17-22; 15:4; 26:2]. Kitab Amsal juga mengingatkan kepada kita semua, ’Kecongkakan mendahului kehancuran, dan tinggi hati mendahului kejatuhan’ [Amsal 16:18], tetapi Allah mengaruniakan berkat-Nya bagi orang yang rendah hati. ’Biarlah orang lain memuji engkau dan bukan mulutmu’ [Amsal 7:22]. Seharusnya kita berdoa bersama sang pemazmur, ’Mudah-mudahan Engkau berkenan akan ucapan mulutku dan renungan hatiku, ya TUHAN, gunung batuku dan penebusku’ [Mazmur 19:15]. Gunakan mulut kita untuk sesuatu yang positif. Gunakan perkataan kita untuk membangun diri kita agar lebih baik lagi. Gunakan mulut kita untuk memuji Tuhan dan untuk memberkati orang lain.
BARCODE BBM CHANNELS
RENUNGAN HARIAN
Di Balik Dinding Gereja
01 Agustus '15
Kisah Senja ’Mbah Sentot’
19 Agustus '15
Selera Siapa?
15 Agustus '15
Copyright © 2012 All rights reserved. Designed and Developed by GIA Dr. Cipto Semarang