SEPEKAN TERAKHIR
  Minggu, 31 Agustus 2014   -HARI INI-
  Sabtu, 30 Agustus 2014
  Jumat, 29 Agustus 2014
  Kamis, 28 Agustus 2014
  Rabu, 27 Agustus 2014
  Selasa, 26 Agustus 2014
  Senin, 25 Agustus 2014
POKOK RENUNGAN
Ingatlah bahwa Pencobaan yang kita alami tidak melebihi kekuatan kita (1Korintus10:13), oleh karena itu jangan menyerah dan putus asa.
DITULIS OLEH
Ibu Ribkah E. Christanti
Kontributor
Renungan Lain oleh Penulis:
Home  »  Renungan  »  Hai Ibu, Besar Imanmu
Hai Ibu, Besar Imanmu
Sabtu, 04 Mei 2013 | Tema: Memiliki Karakter Kristus
Hai Ibu, Besar Imanmu
Matius 15:21-28
Dalam hidup ini kita akan selalu diperhadapkan dengan berbagai macam pergumulan, yaitu berbagai macam tantangan dan kesulitan. Tantangan dan kesulitan tersebut tidak hanya dialami orang yang belum percaya Tuhan tetapi juga dialami oleh anak-anak Tuhan. Seringkali pergumulan itu begitu kompleks, sehingga kita ragu dalam melangkah bahkan sepertinya tidak ada jalan keluar. Ketika kita tidak mengerti lagi apa yang harus dilakukan, kita tidak boleh menyerah dan putus asa begitu saja, pada saat itulah kita harus datang lebih lagi pada Tuhan.

Jika kita memperhatikan secara jelas kisah perempuan Kanaan ini, kita dapat melihat bahwa perempuan Kanaan ini memiliki sikap hati yang tidak mudah menyerah dan putus asa sehingga Yesus berkata kepadanya, ”Hai ibu, besar imanmu.” Bagaimana perempuan Kanaan ini dapat memiliki sikap yang tidak mudah menyerah dan putus asa ketika tantangan penolakan dari murid-murid Yesus dan sikap Yesus yang acuh ketika perempuan tersebut memohon kesembuhan untuk anaknya? Yang pertama adalah, berpikir positif (ayat 22).
Pada waktu itu orang Kanaan mempunyai image negatif karena dianggap oleh orang Israel akan membawa pengaruh buruk. Dalam keadaan tersebut perempuan Kanaan itu tidak berkecil hati, tapi dia berpikir positif (Filipi. 4:8) dengan menghampiri Tuhan Yesus. Kedua, tidak mudah terpengaruh oleh keadaan (ayat 23). Walaupun murid-murid Yesus meminta-Nya untuk menyuruh perempuan Kanaan itu pergi, tetapi perempuan itu tetap tegar untuk ...selengkapnya »
Pemilu 2014 menjadi pemilu yang paling mengundang banyak perhatian dari berbagai kalangan jika dibandingkan dengan pemilu-pemilu sebelumnya. Berbagai kontroversi mengiringi pemberitaan seputar pemilu kali ini. Kejadian yang paling hangat adalah tentang persidangan di tingkat Mahkamah Konstitusi (MK) di mana para saksi sempat kebingungan dalam menjawab pertanyaan, dan tak jarang pula menghadirkan gelak tawa di persidangan. Banyak orang bertanya-tanya, apakah para saksi ini benar-benar berkompeten untuk memberikan kesaksian? Apakah para saksi juga tahu persis tentang duduk perkara yang dilaporkan? Ataukah jangan-jangan para saksi, hanya bersaksi berdasarkan “pesan sponsor” saja? Hal ini membuat banyak orang menggelengkan kepala dan mengernyitkan dahi tanda penasaran akan seputar yang terjadi. Bahkan salah satu surat kabar elektronik pun sampai-sampai menyebut hal ini seperti “panggung dagelan srimulat”. Sadarkah kita bahwa apa yang kita ceritakan atau sampaikan akan memiliki akibat bagi orang di sekitar kita yang menerimanya? Jika apa yang kita sampaikan benar, maka orang yang menerimanya juga akan bertindak benar. Namun jika yang kita sampaikan salah, maka “si penerima cerita” pun, niscaya juga dapat bertindak salah dan akan bingung dengan keadaan yang sedang dialami. Menceritakan sesuatu yang benar adalah hal yang penting. Prinsip bercerita tentang kebenaran adalah mengungkapkan apa yang sudah kita lihat dan alami secara tepat, tanpa “pesan sponsor” dari pihak manapun. Saat kita bercerita (bersaksi) tentang kebenaran, maka pasti akan ada orang yang diubah oleh kebenaran itu. Pernahkah kita merenungkan mengapa Rahab, seorang wanita tunasusila yang tinggal di kota penyembah berhala, Yerikho, membuka rumahnya bagi para mata-mata Israel? Dan dari manakah dia memperoleh keberanian untuk menyebut Allah orang Israel sebagai Allahnya sendiri? Perubahan yang hampir tak mungkin terjadi ini sesungguhnya didorong oleh berbagai kisah yang telah ia dengar mengenai kenyataan dan kuasa Allah. Meskipun dikelilingi penyembahan berhala dan kejahatan, hati Rahab tertarik kepada Allah. Sebagaimana yang dikatakannya kepada para mata-mata (ayat 10), ”Kami mendengar, bahwa Tuhan telah mengeringkan air Laut Teberau di depan kamu, ketika kamu berjalan keluar dari Mesir, dan apa yang kamu lakukan kepada kedua raja orang Amori.” Dalam kondisi normal, kota Yerikho yang berbenteng tinggi hampir tak mungkin dikalahkan. Namun demikian, kota itu menjadi tak berdaya karena cerita-cerita yang luar biasa mengenai kuasa Allah. Jauh sebelum para utusan Allah tiba, kesombongan dalam kebudayaan musuh Israel ini larut dalam ketakutan saat mereka berhadapan dengan orang-orang kepunyaan Allah yang kisahnya telah banyak mereka dengar (ayat 11). Dan di dalam tembok, satu hati penyembah berhala berbalik untuk menerima Allah Israel dan memainkan peranan strategis dalam kemenangan Israel yang mengherankan. Marilah kita menceritakan kebesaran Yesus dan kemurahan-Nya kepada orang di sekeliling kita karena itu adalah kebenaran yang sejati. Menceritakan kebenaran yang sejati adalah tugas kita, dan biarkan Roh Kudus yang akan mengubah orang menjadi percaya. Jangan pernah berhenti bersaksi tentang kebenaran yang sejati di dalam Yesus Kristus.
Pak Wiryo memiliki sejumlah uang yang hanya cukup untuk keperluan keluarganya selama 10 hari ke depan sampai dirinya menerima gaji bulanan dari tempatnya bekerja. Suatu hari pak Wiryo ke datangan tamu pak Hardjo, saudara seiman, yang sudah 5 tahun tidak pernah berjumpa karena pindah pekerjaan di luar kota. Dari temu kagen dan sharing tersebut pak Wiryo baru tahu kalau pak Hardjo sakit dan memerlukan bantuan uang untuk membeli obat. Setelah pak Wiryo berunding dengan istrinya, maka diberikan sejumlah uang kepada pak Hardjo yang cukup untuk membeli obat. Padahal uang itu sebenarnya untuk kehidupan keluarganya. Pak Wiryo beserta istri tidak kuatir ataupun takut tentang kebutuhan keuangannya karena percaya bahwa Tuhan Yesus pasti memenuhi kebutuhannya. Bacaan nats kali ini berbicara tentang salah satu penyakit yang seringkali dihadapi oleh orang Kristen, yaitu rasa kuatir dan takut apabila kebutuhan hidupnya tidak tercukupi terutama hal pangan dan pakaian yang dikenakan. Kekuatiran dan ketakutan sebenarnya wajar sebab tidak ada seorangpun yang dapat memberi jaminan dengan pasti akan hal ini. Situasi yang dihadapi mereka pada waktu Tuhan Yesus menyampaikan Firman ini tidak jauh berbeda dengan situasi yang kita hadapi saat ini. Hanya saja tantangan yang kita hadapi jauh berbeda, namun persoalannya tetap sama yaitu berkisar kepada ketakutan dan kekuatiran tentang masa depan hidup kita. Itulah sebabnya banyak diantara kita yang begitu sibuk dan kerja keras supaya memiliki masa depan yang terjamin dalam memenuhi kebutuhan keluarganya. Hal itu memang tidak salah, namun adanya rasa takut dan kuatir yang berlebihan dapat menyebabkan hilangnya iman dan kepercayaan kita bahwa Allah sanggup menjamin dan mencukupi kebutuhan hidup kita tepat waktu. Perkataan Tuhan Yesus mengingatkan kita bahwa kehidupan kita di hadapan Allah jauh lebih penting daripada segala kebutuhan hidup kita sehari-hari. Ketika kita mengutamakan Allah di dalam hidup kita, pastilah kebutuhan kita akan dipenuhi dan dijamin oleh DIA yang kita percayai. Bagaimana dengan kehidupan kita hari-hari ini? Masihkah rasa takut dan kuatir akan masa depan kita masih menghantui kita? Percayakanlah diri kita kepada Allah dan peganglah janji-Nya dalam Matius 6:33 bahwa Allah pasti akan mencukupkan ketika hidup kita berfokus kepada Allah.
Sore itu saya mendengar suara berisik sekali. Keempat anak anjing saya yang baru berumur 2,5 tahun itu menggonggong semua dan tak mau berhenti. Karena penasaran, saya beranjak keluar rumah menengok mencari penyebab mengapa anak anjing itu menggonggong tidak henti-henti. Ketika saya keluar, induk anjingpun ikut keluar. Apa yang terjadi? Eh.... anak-anak anjing itu malah menggonggong semakin keras dan berani. Ternyata mereka menggonggong karena melihat seorang tetangga mengambil buah alpokat di pohon sebelah rumah saya. Anak-anak anjing itu semakin berani ketika induknya bersama mereka. Dan anak-anak anjing itu semakin berani mendekati tetangga itu karena induknyapun ikut menggonggong. Dan anjing-anjing itu berhenti menggonggong setelah saya suruh berhenti dan pergi. Anak-anak anjing itu menggonggong karena melihat hal-hal yang tidak beres di sekitarnya dan menurutnya benar demi tuannya. Anak-anak anjing itu semakin berani karena merasa mendapat perlindungan, yaitu induknya. Anjing-anjing itu tidak berhenti menggonggong ketika tidak mendapat mandat dari tuannya untuk berhenti. Cerita di atas hendaknya menjadi inspirasi bagi setiap orang yang telah mengaku sebagai orang percaya Yesus. Berani untuk menyuarakan kebenaran Injil Kristus karena Yesus yang telah memberi hidup kepada kita. Dan Roh Kudus selalu bersama kita untuk memberikan pertolongan dan hikmat untuk bertindak dalam kebenaran. Rasul Petrus dengan tegas berkata kepada pemimpin-pemimpin Yahudi serta tua-tua dan ahli-ahli Taurat dalam sidang di Yerusalem, ”Silakan kamu putuskan sendiri manakah yang benar di hadapan Allah: taat kepada kamu atau taat kepada Allah. Sebab tidak mungkin bagi kami untuk tidak berkata-kata tentang apa yang telah kami lihat dan yang telah kami dengar.” Keberanian Rasul Petrus muncul karena kebenaran, sehingga Tuhan selalu menyertai apa yang dilakukannya. Dan tanda-tanda mujizat terjadi dalam setiap pelayanannya (KPR 4:16). Marilah kita tetap dalam kesetiaan kepada Allah untuk menyuarakan kebenaran Injil Tuhan dalam setiap sisi kehidupan kita, supaya kita dapat merasakan penyertaan Allah dalam setiap kehidupan kita.
Kisah Para Rasul 4:7-21 Ketika sidang itu melihat keberanian Petrus dan Yohanes dan mengetahui, bahwa keduanya orang biasa yang tidak terpelajar, heranlah mereka; dan mereka mengenal keduanya sebagai pengikut Yesus. (ayat 13) Keberanian Petrus dan Yohanes membuat para pemuka agama itu heran. Apa yang membuat mereka berani? Mereka bukan orang-orang terpelajar yang pandai membela diri atau beradu argumentasi. Mereka bukan orang kaya yang punya banyak uang untuk menyewa pengacara atau pembela. Tidak ada pejabat atau orang berpangkat yang melindungi mereka. Mereka orang-orang sederhana yang lemah tak berdaya. Tetapi mengapa mereka bisa menjadi begitu berani? Yang pertama, karena mereka dipenuhi oleh Roh Kudus (ayat 8). Ketika Roh Kudus turun ke atas kita, maka kita akan menerima ’kuasa’ (Kis 1:8). Petrus dan Yohanes berani karena kuasa Roh Kudus menaungi mereka. Kuasa itulah yang menyingkirkan ketakutan dari hati mereka. Jika Roh Kudus memenuhi kita, cirinya adalah kita bebas dari ketakutan. Roh Kudus tidak memberi kita ketakutan, tapi kuasa (2 Tim 1:7). Yang kedua, karena mereka sedang melakukan kebaikan (ayat 9). Mereka sadar betul bahwa yang mereka lakukan adalah kebaikan, yaitu menyembuhkan orang yang sakit lumpuh. Tidak ada alasan untuk mempersalahkan orang yang melakukan kebaikan. Tidak ada hukum yang mempersalahkan orang yang melakukan kebaikan. Itulah sebabnya mereka tidak perlu merasa takut dihakimi oleh mahkamah agama. Yang ketiga, karena mereka punya keyakinan yang kokoh pada Kristus (ayat 12). Mereka dikenal sebagai pengikut Kristus. Menurut para pemuka agama Yahudi mereka adalah orang-orang yang sesat. Tapi mereka yakin betul bahwa mereka ada di jalan yang benar. Mereka yakin betul bahwa keselamatan hanya ada di dalam Kristus. Mereka yakin betul bahwa hanya Nama Yesus yang sanggup memberikan hidup kekal. Di atas semua itu, tentu saja Yesus sendiri yang menjadi Pembela bagi mereka. Kesaksian mereka tentang Nama Yesus tak terbantahkan, karena Yesus membuktikan kebenaran kesaksian mereka itu melalui pernyataan tanda mujizat. Orang sakit disembuhkan. Jemaat Tuhan, jangan malu bersaksi tentang Nama Yesus, karena Dia sendirilah yang akan menjadi Pembela bagi kita. Amin.
BARCODE BBM CHANNELS
RENUNGAN HARIAN
Kasih Sejati
21 Agustus '14
Berani Karena Ada Dia
27 Agustus '14
Yes...Aku Bisa
04 Agustus '14
Copyright © 2012 All rights reserved. Designed and Developed by GIA Dr. Cipto Semarang