SEPEKAN TERAKHIR
  Kamis, 23 November 2017   -HARI INI-
  Rabu, 22 November 2017
  Selasa, 21 November 2017
  Senin, 20 November 2017
  Minggu, 19 November 2017
  Sabtu, 18 November 2017
  Jumat, 17 November 2017
POKOK RENUNGAN
Ingatlah bahwa Pencobaan yang kita alami tidak melebihi kekuatan kita (1Korintus10:13), oleh karena itu jangan menyerah dan putus asa.
DITULIS OLEH
Ibu Ribkah E. Christanti
Kontributor
Renungan Lain oleh Penulis:
Home  »  Renungan  »  Hai Ibu, Besar Imanmu
Hai Ibu, Besar Imanmu
Sabtu, 04 Mei 2013 | Tema: Memiliki Karakter Kristus
Hai Ibu, Besar Imanmu
Matius 15:21-28
Dalam hidup ini kita akan selalu diperhadapkan dengan berbagai macam pergumulan, yaitu berbagai macam tantangan dan kesulitan. Tantangan dan kesulitan tersebut tidak hanya dialami orang yang belum percaya Tuhan tetapi juga dialami oleh anak-anak Tuhan. Seringkali pergumulan itu begitu kompleks, sehingga kita ragu dalam melangkah bahkan sepertinya tidak ada jalan keluar. Ketika kita tidak mengerti lagi apa yang harus dilakukan, kita tidak boleh menyerah dan putus asa begitu saja, pada saat itulah kita harus datang lebih lagi pada Tuhan.

Jika kita memperhatikan secara jelas kisah perempuan Kanaan ini, kita dapat melihat bahwa perempuan Kanaan ini memiliki sikap hati yang tidak mudah menyerah dan putus asa sehingga Yesus berkata kepadanya, Hai ibu, besar imanmu. Bagaimana perempuan Kanaan ini dapat memiliki sikap yang tidak mudah menyerah dan putus asa ketika tantangan penolakan dari murid-murid Yesus dan sikap Yesus yang acuh ketika perempuan tersebut memohon kesembuhan untuk anaknya? Yang pertama adalah, berpikir positif (ayat 22).
Pada waktu itu orang Kanaan mempunyai image negatif karena dianggap oleh orang Israel akan membawa pengaruh buruk. Dalam keadaan tersebut perempuan Kanaan itu tidak berkecil hati, tapi dia berpikir positif (Filipi. 4:8) dengan menghampi...selengkapnya »
“Ajar kami Tuhan, menghitung hari-hari…. Agar kami beroleh hati bijaksana…….” Lagu lama yang kata-katanya diambil dari kitab Mazmur 90:12 itu tiba-tiba saja terlintas dibenak saya. Dan langsung saja saya rengeng-rengeng sambil membereskan tugas-tugas rumah tangga. Mulut saya terus menyanyikan lagu itu berulang-ulang, sementara pikiran saya terus menerus mencerna kata-kata dalam lagu itu. Mengapa pemazmur meminta kepada Tuhan untuk mengajarnya? Mengapa tidak meminta diajar oleh guru, oleh suami atau istri, atau teman? Jawabannya sederhana, karena manusia terbatas hikmatnya, manusia tidak selalu bisa menjadi tempat belajar karena manusia banyak kekurangannya, karena manusia tidaklah sempurna. Kalau kita belajar dari manusia belum tentu kebijaksanaan yang kita dapat, mungkin kekecewaan, atau malah kemarahan. Tapi ketika Tuhan sendiri yang mengajar kita, sudah pasti hikmat kita akan bertambah dan kebijaksanaan akan kita peroleh. Mengapa pemazmur minta diajar untuk menghitung hari-hari? Mengapa bukan menghitung berkat-berkat, menghitung kesulitan demi kesulitan, menghitung persoalan yang ada? Karena dalam setiap hari yang kita lalui, banyak hal yang terjadi. Kejadian yang menyenangkan, yang membahagiakan, pengharapan yang menjadi kenyataan, doa yang terkabul, atau kekecewaan yang didapat, ketakutan yang tak kunjung berakhir, kepedihan dan kesusahan yang tiba-tiba saja datang. Itu beberapa situasi yang tiba-tiba bisa menghampiri kita setiap hari. Karena itu sangat perlu bagi kita merenungkan apa yang terjadi.Menimbang baik dan buruknya dari setiap kejadian yang timbul. Agar kita tidak salah dalam melangkah, dalam menjalani hari-hari kita. Mohon hikmat kepada Tuhan dalam menyikapi setiap peristiwa yang terjadi. Mohon Dia memimpin di setiap waktu yang kita lalui. Ketika kita menjadikan Tuhan sebagai guru dalam menjalani hari demi hari yang kita lalui, maka Dia akan memberi hati yang bijaksana. Kebijaksanaan akan terlihat dari cara seseorang berpikir, bertutur kata dan bersikap. Kebijaksanaan akan menimbulkan sukacita, menjadi berkat bagi orang-orang di sekelilingnya dan sudah pasti akan menciptakan suasana damai sejahtera. Karena itu mintalah kepada Dia untuk terus mengajar menghitung hari-hari, agar kita beroleh hati yang bijaksana.
Dalam sebuah cerita dikisahkan ada tiga orang anggota pramuka yang mengikuti pembekalan dan acara camping. Mereka sangat antusias sekali karena ada banyak hal yang belum mereka pahami akhirnya mereka mengerti melalui pembekalan tersebut. Ketika mereka berbagi pengalaman tiba-tiba terdengar suara tabrakan yang cukup keras antara sepeda dengan motor. Pengendara sepeda terjebur ke sungai yang cukup dalam dan deras. Sepontan terdengar teriakan, “Tolong... tolong.... tolong!“ Saat mereka mendengar terikan tersebut , maka bergegaslah mereka menolong. Saat hendak menolong, mereka melihat situasi dan terjadilah diskusi. “Bagaimana ini airnya deras, kamukan bisa berenang?” tanya si A kepada si B. Jawab si B, Iya... sih, tapi saya harus buat tali dulu supaya saya tidak hanyut oleh air.” Kemudian ia bergegas membuat tali temali sambil berkata kepada si C, “Kamu kan bisa buat tandu, coba segera kamu buat supaya jika kita telah menolongnya, kita bisa lebih mudah mengangkatnya.” Dan kemudian si C berbicara kepada si A, “Kamu juga kan bisa membuat obat-obatan darurat, coba sekarang kamu buat supaya ketika sudah menolongnya ada persediaan obat.“ Ketiga orang tersebut sibuk dengan pekerjaan dan tugas masing-masing, orang yang terjebur semakin terbawa arus dan semakin jauh. Hingga akhirnya pekerjaan mereka selesai dan kemudian mereka berkata, “Ayo, kita mencarinya.” Namun mereka tidak menemukannya karena si korban telah hilang terbawa arus hingga meninggal. Kemudian mereka berkata, “Mengapa ya, kita tidak segera menolong. Kita malah sibuk dengan urusan dan keahlian kita masing-masing. Dan sekarang sudah terlambat. Orang yang seharusnya bisa kita tolong, sekarang sudah meninggal karena kita terlalu sibuk dengan urusan kita.” Jemaat yang terkasih, seringkali kita lupa bahwa banyak orang yang ada di sekeliling kita akan binasa karena dosa dan pelanggaran mereka. Dan kita yang telah diselamatkan cenderung asyik dengan persekutuan, kebaktian, urusan pelayanan atau bahkan kesibukan dengan berkat yang Tuhan berikan. Kita justru lupa kalau kita memiliki tanggung jawab untuk menyelamatkan mereka. Kita terlalu egois dengan urusan dan kebutuhan diri kita sendirisehingga kita lupa akan amanat-Nya, yaitu menyelamatkan jiwa-jiwa bagi Tuhan.
Pada Olimpiade 2012 di London, ada pemandangan yang tak biasa di lintasan lari. Seorang pelari bernama Oscar Pistorius menarik perhatian penonton karena tidak memiliki kaki dan berlari menggunakan dua buah kaki palsu yang terbuat dari serat karbon. Walau tidak mendapat medali, dia mencatat waktu tercepat ke 13 dari 49 peserta. Ketika di Paralimpiade 2012 di London, dia mendapat medali emas di lari estafet 4 x 100 meter. Dia lahir tanpa tulang fibula [betis], sehingga pada usia 11 tahun kedua kakinya diamputasi sampai lutut. Di tengah kekurangan secara fisik dan kesulitan yang dihadapi, dia tekun untuk berlatih lari dengan kaki palsunya. Dia tekun dan disiplin dalam berlatih sesuai aturan-aturan yang diharuskan bagi pelari. Karena ketekunannya, dia berhasil menjadi juara pada usia 25 tahun. Setiap orang percaya harus meninggalkan beban dosa dan dengan tekun berlomba dalam kehidupan yang diwajibkan. Walaupun banyak rintangan dan kesulitan tetap harus dilakukan dengan mata yang tertuju kepada Kristus yang membawa iman kita kepada kesempurnaan. Dia yang mengabaikan kehinaan, tekun memikul salib sebagai ganti sukacita yang disediakan bagi-Nya. Sekarang Dia duduk di sebelah kanan tahta Allah. Jangan kita menjadi lemah dan putus asa karena dalam pergumulan kita melawan dosa belum sampai mencucurkan darah. Sebagai manusia, masing-masing kita mempunyai kekurangan, tetapi tetaplah tekun dalam melatih diri untuk menang dalam perlombaaan hidup. Dalam menghadapi tantangan dibutuhkan ketekunan untuk mengalami Tuhan setiap hari melalui perenungan Firman-Nya. Di tengah kesulitan dan himpitan, tetaplah mata rohani kita tertuju kepada Kristus yang akan menyempurnakan iman kita. Jangan kita putus asa dan kehilangan iman di tengah penderitaan, ingatlah bahwa penderitaan kita belum sebanding dengan penderitaan-Nya.
Selama sekitar dua setengah tahun teman yang satu itu benar-benar tak terpisahkan dengan saya. Di mana ada dia, di situ ada saya. Keluarganya menyambut saya dengan baik, begitu juga keluarga saya terhadapnya. Kami berjanji untuk selalu saling terbuka. Sepengetahuan saya, tidak ada rahasia di antara kami. Masa-masa ceria di bangku SD kami lalui tanpa sehari pun tak bertemu, meskipun kami tidak sekelas. Tak disangka-sangka persahabatan itu kandas di kelas VI SD. Sangat tiba-tiba dan begitu mengejutkan. Sulit diungkapkan betapa sepi dan sedih rasanya ditinggal oleh orang terdekat. Padahal sebentar lagi ujian kelulusan sekolah sudah menghadang. Syukurlah di saat-saat yang berat itu ada Tuhan Yesus Kristus, Sahabat setia yang tak pernah meninggalkan saya. Meskipun saat itu saya tengah marah dan kecewa dengan kesusahan yang bertubi-tubi menimpa hidup saya, Sahabat setia saya dengan sabar menemani dan melindungi. Tidak ada kasih yang lebih besar daripada kasih seorang yang memberikan nyawanya buat sahabat-sahabatnya [Yoh 15:13]. Tuhan Yesus Kristus adalah sahabat yang sungguh-sungguh setia. Tak pernah Ia meninggalkan kita sendirian. Sejak masa kita mengenalnya sampai nanti kita dipanggil-Nya pulang, Ia senantiasa menemani dan menaruh kasih pada kita. Berbahagialah kita yang menerima anugerah untuk menjadi sahabat-sahabat-Nya.
BARCODE BBM CHANNELS
RENUNGAN HARIAN
Kekuatan Di Balik Masalah
11 November '17
Pakailah Medsos Untuk Memasyurkan Nama Tuhan
29 Oktober '17
Doa Bagi Orang Lain
22 November '17
Copyright © 2012 All rights reserved. Designed and Developed by GIA Dr. Cipto Semarang