SEPEKAN TERAKHIR
  Jumat, 03 Juli 2015   -HARI INI-
  Kamis, 02 Juli 2015
  Rabu, 01 Juli 2015
  Selasa, 30 Juni 2015
  Senin, 29 Juni 2015
  Minggu, 28 Juni 2015
  Sabtu, 27 Juni 2015
POKOK RENUNGAN
Ingatlah bahwa Pencobaan yang kita alami tidak melebihi kekuatan kita (1Korintus10:13), oleh karena itu jangan menyerah dan putus asa.
DITULIS OLEH
Ibu Ribkah E. Christanti
Kontributor
Renungan Lain oleh Penulis:
Home  »  Renungan  »  Hai Ibu, Besar Imanmu
Hai Ibu, Besar Imanmu
Sabtu, 04 Mei 2013 | Tema: Memiliki Karakter Kristus
Hai Ibu, Besar Imanmu
Matius 15:21-28
Dalam hidup ini kita akan selalu diperhadapkan dengan berbagai macam pergumulan, yaitu berbagai macam tantangan dan kesulitan. Tantangan dan kesulitan tersebut tidak hanya dialami orang yang belum percaya Tuhan tetapi juga dialami oleh anak-anak Tuhan. Seringkali pergumulan itu begitu kompleks, sehingga kita ragu dalam melangkah bahkan sepertinya tidak ada jalan keluar. Ketika kita tidak mengerti lagi apa yang harus dilakukan, kita tidak boleh menyerah dan putus asa begitu saja, pada saat itulah kita harus datang lebih lagi pada Tuhan.

Jika kita memperhatikan secara jelas kisah perempuan Kanaan ini, kita dapat melihat bahwa perempuan Kanaan ini memiliki sikap hati yang tidak mudah menyerah dan putus asa sehingga Yesus berkata kepadanya, ”Hai ibu, besar imanmu.” Bagaimana perempuan Kanaan ini dapat memiliki sikap yang tidak mudah menyerah dan putus asa ketika tantangan penolakan dari murid-murid Yesus dan sikap Yesus yang acuh ketika perempuan tersebut memohon kesembuhan untuk anaknya? Yang pertama adalah, berpikir positif (ayat 22).
Pada waktu itu orang Kanaan mempunyai image negatif karena dianggap oleh orang Israel akan membawa pengaruh buruk. Dalam keadaan tersebut perempuan Kanaan itu tidak berkecil hati, tapi dia berpikir positif (Filipi. 4:8) dengan menghampiri Tuhan Yesus. Kedua, tidak mudah terpengaruh oleh keadaan (ayat 23). Walaupun murid-murid Yesus meminta-Nya untuk menyuruh perempuan Kanaan itu pergi, tetapi perempuan itu tetap tegar untuk ...selengkapnya »
Terselip sebuah fakta menarik di balik keberhasilan Barcelona menjuarai Liga Champion 2014/2015 usai menekuk Juventus 3-1 pada partai puncak yang dilangsungkan di Olimpia Stadion, Berlin, Jerman. Harian Bola, Senin 8 Juni 2015, menceritakan fakta ini dengan sekaligus menampilkan foto dari Neymar Jr, salah satu personel Barcelona yang juga pencetak salah satu gol di partai tersebut. Di foto tersebut, Neymar tampak mengenakan bandana putih bertuliskan “100 % Jesus”, saat perayaan juara dilangsungkan. Hal ini ternyata merupakan tradisi baginya setiap kali meraih gelar juara di level klub. Penampilan serupa seperti ini pernah dia perlihatkan sewaktu membawa klub lamanya Santos menjuarai Copa Libertadores 2011. “Tuhan selalu bersama kami serta melindungi kami”, demikian bunyi kicauan Neymar di akun Twitter pribadinya, @neymarjr. Di dalam 2 Tesalonika 2:13-17, Rasul Paulus, Silwanus, dan Timotius memberi tiga nasihat mendasar kepada jemaat di Tesalonika, yaitu : 1. Anugerah keselamatan yang Tuhan berikan bagi umat-Nya bukan suatu kebetulan. [ayat 13] 2. Tetap memegang teguh Iman kepada Yesus dan berpegang pada ajaran-ajaran Yesus. [ayat 15] 3. Menjalani kehidupan dengan bertindak benar sesuai ketetapan Tuhan. [ayat 17] Tiga hal tersebut adalah dasar bagi umat Tuhan untuk selalu mengingat anugerah-Nya. Segala yang telah di dapat, ada dalam rancangan Tuhan. Semua bukan kebetulan terjadi, melainkan ada dalam rencana Tuhan. Dan rencana Tuhan selalu baik adanya, karena Tuhan tidak pernah merencanakan yang jahat bagi manusia. Oleh karena itu tidak ada kata lain untuk kita selalu mengingat Tuhan dalam segala sesuatu yang terjadi dalam hidup kita. “Mengingat Tuhan” bukan hanya sekedar kita melakukannya dalam batin kita. “Mengingat Tuhan” berarti merenungkan kebaikannya serta melakukan segala ajarannya dalam hidup kita yang tercermin dalam perilaku keseharian kita. Jika kita sedang dalam kebahagiaan dan kesuksesan di hari-hari ini, semua bukan karena kemampuan kita, tetapi semua adalah karena kemurahan Tuhan. Semua adalah 100 % karena Yesus. Dialah sumber segalanya. Yesuslah yang memberikan semua kebaikan dalam hidup kita. Marilah selalu kita mengingat hal ini, “100 % Yesus”. Renungkan kebaikan Yesus dan lakukan firman-Nya, maka niscaya kita akan menjadi umat yang cemerlang di hadapan Tuhan dan manusia.
Ada yang berubah dari raut muka Benay minggu ini. Pipinya nggandul bak pepaya mengkal. Senyum dan tawanya tidak lepas, tampak dibuat-buat. Ada apa dengan Benay? Tidak ada seorang pun yang tahu, termasuk Sambey. Hingga suatu hari Sambey memberanikan diri bertanya kepada sahabatnya itu mengenai apa yang ia alami. Syukur, Benay bersedia terbuka. Ia menyampaikan pada Sambey bahwa ia marah karena Pdt. Andrey berteman dengan Lovy. Bagi Benay, Lovy mantan pacarnya itu bukanlah orang yang pantas diperhatikan apalagi dijadikan teman oleh seorang pendeta. Sambey memahami perasaan Benay karena ia tahu bahwa Lovy memang pernah memanfaatkan dan menyakiti hati Benay. Sambey memahami juga bahwa bagaimanapun sikap Benay salah. Sikapnya itu menunjukkan bahwa Benay belum mengampuni dan lebih terbawa oleh perasaan bencinya. Meski demikian, Sambey memilih untuk mendengarkan ungkapan perasaan Benay lebih dahulu. Ia tidak buru-buru memberikan nasihat mengingat perasaan benci masih membara dalam hati Benay. Jemaat yang terkasih, Nabi Yunus adalah sosok seorang hamba Tuhan yang lebih terbawa oleh perasaan bencinya kepada orang-orang Niniwe daripada menuruti kehendak Tuhan. Mengapa demikian? Karena bagi Nabi Yunus, umat yang patut diperhatikan adalah Israel, bukan bangsa-bangsa lain. Israel adalah umat pilihan Allah sedangkan bangsa-bangsa lain digolongkan sebagai bangsa kafir. Apalagi Ninewe [ibukota Asyur] bukan saja bangsa kafir tetapi sekaligus musuh besar Israel. Maka menurut Nabi Yunus, Ninewe seharusnyalah dihancurkan, bukannya dikasihani dengan diberi teguran agar bertobat. Oleh karena itulah, Nabi Yunus memilih untuk menolak memberitakan pertobatan bagi orang-orang Niniwe dan malah melarikan diri dari kehendak Tuhan. Jemaat yang terkasih, Tuhan memberikan kepada kita perasaan tetapi janganlah kita terbawa oleh perasaan tanpa mampu mengendalikannya. Jika itu yang terjadi maka kita pasti menjadi orang yang sering marah tak terkendali, mudah iri hati, pembenci, mudah tertipu, dan semacamnya. Semuanya itu akan menghalangi kita untuk menjadi umat yang menjadi berkat dan menjadi kesaksian untuk orang-orang lain. Tetapi marilah kita menjadi umat yang cemerlang dengan kemauan kita untuk meletakkan kehendak Tuhan di atas perasaan kita. Roh Kudus tentu menolong kita.
Beberapa waktu yang lalu terjadi gempa yang cukup besar di suatu daerah yang mengakibatkan banyak bangunan roboh dan jalan terbelah. Banyak korban tertimpa puing bangunan dan tertimbun reruntuhan. Relawan-relawan berdatangan untuk memberikan bantuan berupa tenaga dan barang-barang yang dibutuhkan. Ada satu kelompok relawan yang sangat menarik perhatian, jumlah mereka sekitar 20 orang. Mereka bekerja menolong korban dengan sangat cekatan dan tidak berhenti seakan berpacu dengan waktu. “Mengapa Anda melakukan hal ini, apakah Anda dari dinas sosial ?” tanya seorang korban. Mereka menjawab, “Kami dari sebuah perusahaan swasta, kami melakukan ini kerena teladan pimpinan kami yang senantiasa berbuat kebaikan kepada siapa saja yang membutuhkan.” Paulus memberi nasihat kepada Titus agar menjadi teladan bagi banyak orang dalam hal berbuat kebaikan walaupun masih muda. Jujur dan sepenuh hati dalam menghayati dan melakukan ajaran Kristus. Perkataan dan perbuatan sesuai dengan perintah-Nya. Bijaksana dalam tindakan, sehingga tidak dapat dicela oleh orang, dan lawan-lawannya menjadi malu karena tidak ada hal yang buruk yang dapat mereka katakan. Menjadi teladan adalah kewajiban kita sebagai murid Kristus, walaupun kita sering merasa masih muda atau belum berpengalaman dalam mengiring Yesus. Dengan jujur dan sepenuh hati kita membaca dan merenungkan Firman-Nya. Firman-Nya memenuhi kehidupan kita, sehingga perkataan dan perbuatan kita tidak akan menyakiti hati, tetapi senantiasa menyenangkan orang lain. Dengan demikian tidak satupun tindakan kita yang bercela. Jadilah teladan dalam berbuat kebaikan di keluarga, lingkungan, pekerjaan, pelayanan dan di manapun kita berada.
Batu akik akhir-akhir ini menjadi tren nasional. Ada banyak perlombaan keindahan batu akik dan ada banyak pula penjual batu akik yang muncul bagaikan jamur di waktu hujan. Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, batu akik adalah batu berwarna yang indah. Sebuah batu untuk menjadi batu akik yang digunakan sebagai cincin atau liontin tentu tidak terjadi begitu saja, tetapi melalui proses. Dari batu pilihan, kemudian di potong-potong dan di haluskan sehingga kelihatan bersih, mengkilap, dan menjadi batu akik yang indah bagi pemakai. Batu akik merupakan sebuah kebanggaan atau kesukaan bagi para penggemarnya. Dengan melihat batu tersebut akan timbul keasikan atau kesenangan. Demikian juga hendaknya dengan kita sebagai orang percaya. Tuhan telah memilih dan menguduskan kita dengan maksud untuk menjadi kebanggaan atau kesukaan Tuhan melalui hidup kita yang bisa ‘dinikmati’ oleh orang lain. Dalam bacaan firman di atas Tuhan tentu menginginkan agar setiap orang percaya yang sudah dikuduskan-Nya selalu menjaga hidupnya tetap bersih dan kudus. Sehingga menjadi alat yang mulia di pemandangan Allah dan manusia. Mari jemaat pilihan Tuhan dan yang dikasihi-Nya, kita menghormati pengorbanan Yesus Kristus di atas kayu salib Golgota dengan kita menjaga hidup ini dalam kekudusan, sehingga kita dapat menjadi saksi-saksi-Nya.
BARCODE BBM CHANNELS
RENUNGAN HARIAN
Diangkat Untuk Jadi Kepala
21 Juni '15
Fokus Hidup Yang Benar
04 Juni '15
Menembus Batas Perasaan
29 Juni '15
Copyright © 2012 All rights reserved. Designed and Developed by GIA Dr. Cipto Semarang