SEPEKAN TERAKHIR
  Rabu, 29 Juli 2015   -HARI INI-
  Selasa, 28 Juli 2015
  Senin, 27 Juli 2015
  Minggu, 26 Juli 2015
  Sabtu, 25 Juli 2015
  Jumat, 24 Juli 2015
  Kamis, 23 Juli 2015
POKOK RENUNGAN
Ingatlah bahwa Pencobaan yang kita alami tidak melebihi kekuatan kita (1Korintus10:13), oleh karena itu jangan menyerah dan putus asa.
DITULIS OLEH
Ibu Ribkah E. Christanti
Kontributor
Renungan Lain oleh Penulis:
Home  »  Renungan  »  Hai Ibu, Besar Imanmu
Hai Ibu, Besar Imanmu
Sabtu, 04 Mei 2013 | Tema: Memiliki Karakter Kristus
Hai Ibu, Besar Imanmu
Matius 15:21-28
Dalam hidup ini kita akan selalu diperhadapkan dengan berbagai macam pergumulan, yaitu berbagai macam tantangan dan kesulitan. Tantangan dan kesulitan tersebut tidak hanya dialami orang yang belum percaya Tuhan tetapi juga dialami oleh anak-anak Tuhan. Seringkali pergumulan itu begitu kompleks, sehingga kita ragu dalam melangkah bahkan sepertinya tidak ada jalan keluar. Ketika kita tidak mengerti lagi apa yang harus dilakukan, kita tidak boleh menyerah dan putus asa begitu saja, pada saat itulah kita harus datang lebih lagi pada Tuhan.

Jika kita memperhatikan secara jelas kisah perempuan Kanaan ini, kita dapat melihat bahwa perempuan Kanaan ini memiliki sikap hati yang tidak mudah menyerah dan putus asa sehingga Yesus berkata kepadanya, ”Hai ibu, besar imanmu.” Bagaimana perempuan Kanaan ini dapat memiliki sikap yang tidak mudah menyerah dan putus asa ketika tantangan penolakan dari murid-murid Yesus dan sikap Yesus yang acuh ketika perempuan tersebut memohon kesembuhan untuk anaknya? Yang pertama adalah, berpikir positif (ayat 22).
Pada waktu itu orang Kanaan mempunyai image negatif karena dianggap oleh orang Israel akan membawa pengaruh buruk. Dalam keadaan tersebut perempuan Kanaan itu tidak berkecil hati, tapi dia berpikir positif (Filipi. 4:8) dengan menghampiri Tuhan Yesus. Kedua, tidak mudah terpengaruh oleh keadaan (ayat 23). Walaupun murid-murid Yesus meminta-Nya untuk menyuruh perempuan Kanaan itu pergi, tetapi perempuan itu tetap tegar untuk ...selengkapnya »
Banyak orang di negara-negara makmur merasa terganggu oleh tumpukan barang-barang yang sudah tidak mereka butuhkan atau gunakan lagi. Mereka menemui kesulitan untuk menyingkirkan berbagai barang yang memenuhi rumah dan kantor mereka. Seorang wanita yang telah berpindah rumah sebanyak lima kali dalam empat tahun mengeluh dan berkata, “Tahukah Anda berapa banyak barang yang saya bawa setiap kali pindah rumah? Saya jadi bertanya pada diri sendiri, ’Kenapa tak kugunakan otakku untuk memindahkan semua barang ini?’” Akhirnya wanita itu menyewa seorang ahli untuk membantunya belajar merelakan barang- barang yang tidak dibutuhkan lagi. Banyak orang terikat pada harta benda mereka dengan alasan yang berbeda-beda. Mereka tidak rela untuk menyingkirkan harta benda yang dimiliki, sekalipun itu adalah barang yang tidak terpakai. Secara tidak sadar sikap ini berpengaruh dengan sikap kita dalam berbagi dan memberi bagi orang lain. Di dalam Alkitab diceritakan tentang sebuah kisah yang dapat kita teladani terkait dengan hal memberi. Janda di Sarfat dihadapkan pada dilema yang cukup sulit atas permintaan Elia. Jika dia memberikan persediaan terakhir bahan makanan yang ada padanya, maka dia akan mati kelaparan. Namun akhirnya dia mengambil keputusan itu, walau berisiko [ayat 15]. Dia memberikan makanan penyambung hidupnya kepada Elia, yang dapat berarti juga “memberikan” hidupnya. Sungguh sebuah kisah yang sangat indah untuk kita teladani. Kita juga akan mengalami hal yang indah jika kita belajar dari kisah janda dari Sarfat ini. Mereka memberi teladan dalam hal memberi. Bagi mereka tidak ada alasan untuk tidak memberi apapun keadaannya. Di dalam keadaan baik atau tidak baik, dalam kelebihan ataupun kekurangan. Mereka menunjukkan bahwa kita semua bisa memberi, asal kita mau. Sebab kita pasti mempunyai sesuatu untuk diberikan dalam melayani sesama, paling tidak waktu, tenaga, doa dan perhatian. Yang perlu terus kita ingat adalah apapun yang kita punya adalah anugerah-Nya, yang diberikan bukan saja untuk diri sendiri, melainkan juga untuk melayani sesama demi kemuliaan-Nya. Kesempatan untuk memberi, terlebih memberi diri, adalah anugerah yang tidak boleh kita sia-siakan. Memberi hidup kita untuk melayani dengan sungguh-sungguh di mana kita ditempatkan; di rumah, di tempat kerja, dan di mana pun, adalah ibadah yang sejati.
“Sam, aku lagi butuh duit nih. Tolong bayar hutangmu Rp. 200.000,-“, tagih Benay. “Jangan lupa plus bunganya 10% per bulan”. Sambey yang tak menyangka ditagih tiba-tiba berdalih, “Kapan aku hutang, Ben? Perasaan aku tak punya hutang sama kamu.” Benay mengingatkan Sambey bahwa ia hutang untuk beli seekor burung pleci kira-kira 3 bulan yang lalu. Sambey yang tak kekurangan akal berdalih kembali. “Ben, mbok kamu itu jadi pelaku firman Tuhan: pinjamkan dengan tidak mengharapkan balasan, maka upahmu akan besar”, kata Sambey. “Sam, aku tahu firman itu ada di Lukas 6:35. Tapi baca seluruhnya jangan sepotong-sepotong sak karepmu dhewe”, kata Benay sewot. “Kalau kamu mau disebut orang-orang jahat dan tidak tahu berterima kasih seperti yang disebutkan di ayat itu juga, kamu tidak bayar utang tak mengapa. Aku 100% ikhlas!” Sambey tertawa melihat sahabatnya marah. Ia berkata, “Wah..wah.. kamu sewot plus pura-pura ikhlas ni ye...?” Benay memandang Sambey dengan penuh tanya tanpa sepatah kata pun keluar bibir tebalnya. “Ikhlas 100% kok diawal minta bunga 10% per bulan?” sindir Sambey. Mendengar itu Benay nyengir dan pudar kemarahannya. “Sorry Sam, aku cuma kelakar kok. Kamu bayar pokoknya saja deh”, kata Benay. “Ya Ben, jangan kuatir pasti aku bayar. Tapi sebulan lagi ya?”, kata Sambey. “Itung-itung belajar murah hati, Ben” Benay hanya bisa menghela nafas panjang dan wajahnya kembali mrengut karena harapan untuk dapat uang gagal. Tuhan Yesus mengajarkan kepada orang banyak untuk murah hati, sama seperti Bapa di sorga adalah murah hati [ayat 36]. Mengapa dasarnya adalah kemurah-hatian Bapa? Sebab orang-orang berdosa pun dapat bermurah hati. Mereka dapat mengasihi, yaitu kepada orang-orang yang mengasihi mereka. Mereka dapat saling memberi pinjaman, tetapi dengan maksud mendapatkannya kembali. Tidaklah demikian dengan anak-anak Allah. Anak-anak Allah mencontoh kemurahan hati Bapa di mana ukuran tertinggi kemurahan-Nya adalah manusia, bukan harta-benda. Oleh sebab itu anak-anak Allah dimampukan untuk membalas kejahatan dengan perbuatan baik, dengan maksud memanusiakan pelakunya [ayat 28-30]. Dan meminjamkan sesuatu tanpa mengharapkan balasan, karena harta milik bukan segala-galanya [ayat 35]. Kemurahan hati yang demikian ini menjadikan pribadi anak-anak Allah menjadi kuat dan kebaikannya tidak untuk dimanfaatkan atau dipermainkan oleh orang lain. Jemaat yang terkasih, bermurah hati seperti Bapa, di mana ukuran utamanya adalah manusia, menjadi tidak mudah saat ini. Sebab sekarang ini segala sesuatu diukur dengan uang. Demi uang orang dapat mengorbankan sesamanya manusia. Andaikata pun orang bermurah hati kepada sesamanya seringkali untuk mendapatkan keuntungan dalam berbagai bentuknya, atau dilakukan sekedarnya. Marilah kita sebagai anak-anak Allah tidak demikian. Setiap perbuatan baik yang lahir dari kemurahan hati kita hendaklah kita lakukan demi kebaikan orang tersebut. Dan jika kebetulan orang itu jahat kepada kita, kiranya kemurahan hati kita dapat membawa ia kepada pertobatan.
Banyak orang Kristen mengira bahwa “berkat Tuhan” adalah sesuatu yang kelihatan besar, menakjubkan, dan bernilai fantastis. Rumah mewah, mobil mewah, keuntungan dengan jumlah nominal yang sangat besar mencapai ratusan juta bahkan miliaran rupiah, diterima kerja di perusahaan besar dan ternama, diterima kuliah di perguruan tinggi terkenal, dsb. Namun jika kita mengamati kenyataan dalam kehidupan kita ini, betapa sering kita meremehkan hal-hal yang kelihatan biasa-biasa saja. Padahal yang kelihatan diremehkan banyak orang, itulah yang justru menyebabkan banyak hal bisa kita capai. Misalnya, pernahkan kita berpikir bahwa kita bangun setiap pagi dalam keadaan sehat, tangan-kaki kita bisa membawa kita ke mana-mana dan dapat mengerjakan banyak hal adalah merupakan berkat Tuhan? Bukankah kita bernafas dengan lancar, tidak ada gangguan sedikitpun adalah berkat Tuhan? Iya, benar sekali Saudara. Semua dalam hidup kita, sampai hal terkecil sekalipun adalah berkat Tuhan. Tidak ada alasan untuk kita tidak mengucap syukur atas berkat-berkat itu, dan yang lebih penting lagi adalah tidak cukup berhenti hanya pada mengucap syukur saja. Lantas apa yang bisa kita lakukan lebih banyak lagi dari berkat Tuhan itu? Saudara, rasul Petrus mengatakan supaya kita, seorang akan yang lain, sungguh-sungguh dalam hal mengasihi, memberikan tumpangan dan supaya saling melayani sesuai dengan karunianya [ayat 8-10]. Demikianlah seharusnya hidup sebagai orang Kristen, tidak hanya mengurus kerohanian sendiri saja [ayat 7]. Artinya, ada hal yang lebih penting untuk kita kerjakan. Kita harus mengasihi dengan perbuatan nyata, sekaligus dengan memberikan pelayanan yang baik sesuai dengan karunia apa yang Tuhan telah tanamkan dalam diri kita. Mengasihi dengan perbuatan nyata itu harus dikerjakan secara saling bergantian di antara kita sebagai sesama anak Tuhan. Selain itu pelayanan ini juga kita berikan kepada orang-orang yang di luar sana, yang tidak kita kenal sekalipun. Semua itu kita lakukan dengan satu dasar bahwa Tuhan terlebih dulu telah memberkati kita karena kasih-Nya yang besar. Baiklah jika ada di antara kita yang merasa tidak pernah menerima berkat Tuhan dalam kehidupan kita, maka saudara berhak untuk tidak memberkati orang lain. Tetapi pertanyaannya adalah adakah di antara kita semua yang tidak menerima berkat Tuhan dalam hidup ini? Kalau begitu berkatilah orang lain selama kita masih diberkati Tuhan.
Suatu hari yang cerah, empat murid SMU memutuskan untuk membolos, dan keesokan harinya mereka menjelaskan kepada guru bahwa mereka tidak masuk sekolah karena ban mobil kempes. Mereka sangat lega sekali ketika guru mereka tidak marah tetapi tersenyum dan berkata, ’Kalian ketinggalan satu tes kecil kemarin, sekarang duduklah dan keluarkan pensil serta kertas.’ Guru itu menunggu mereka duduk, mengeluarkan alat tulis dan siap mengerjakan tes kecil itu. Kemudian dia berkata, ’Pertanyaan pertama: ban sebelah mana yang kempes?’ Seketika itu juga, mereka pun saling bertatapan satu dengan yang lainnya dengan wajah bingung dan panik. Tidak seorangpun dapat terbebas dari perbuatan dusta. Dalam Kisah Para Rasul 5, Ananias dan Safira berpikir bahwa mereka hanya berdusta kepada Petrus dan saudara-saudara seiman lainnya. Tetapi Petrus berkata kepada mereka, ’Engkau bukan mendustai manusia, tetapi mendustai Allah.’ Allah adalah kebenaran. Jika kita berdusta, kita menyakiti-Nya. Dan cepat atau lambat, Dia akan menyingkap setiap kebohongan, bila tidak di dalam hidup ini, pastilah pada hari penghakiman kelak [Roma 14:10-12]. Kita hidup di dunia yang penuh persaingan, dan kadang-kadang kita mudah tergoda untuk menutupi kebenaran, dan memilih berdusta supaya dapat terus maju dan tetap eksis. Namun perlu diingat bahwa hasil yang diperoleh dalam waktu singkat ketika berdusta tidaklah berarti bila dibandingkan dengan manfaat jangka panjang karena melakukan kebenaran. Jika Anda sudah menipu seseorang, akuilah hal itu kepadanya dan kepada Tuhan. Mungkin itu tampak merendahkan diri, tetapi itulah langkah awal untuk membangun integritas hidup kita. Menjadi umat yang cemerlang harus berani “tampil beda”, yaitu menjaga integritas diri agar tetap berkenan di hadapan Tuhan dan manusia.
BARCODE BBM CHANNELS
RENUNGAN HARIAN
Hendaklah Kamu Murah Hati
14 Juli '15
Hidup Yang Terberkati
09 Juli '15
Berbahagialah!
30 Juni '15
Copyright © 2012 All rights reserved. Designed and Developed by GIA Dr. Cipto Semarang