SEPEKAN TERAKHIR
  Rabu, 16 April 2014   -HARI INI-
  Selasa, 15 April 2014
  Senin, 14 April 2014
  Minggu, 13 April 2014
  Sabtu, 12 April 2014
  Jumat, 11 April 2014
  Kamis, 10 April 2014
POKOK RENUNGAN
Ingatlah bahwa Pencobaan yang kita alami tidak melebihi kekuatan kita (1Korintus10:13), oleh karena itu jangan menyerah dan putus asa.
DITULIS OLEH
Ibu Ribkah E. Christanti
Kontributor
Renungan Lain oleh Penulis:
Home  »  Renungan  »  Hai Ibu, Besar Imanmu
Hai Ibu, Besar Imanmu
Sabtu, 04 Mei 2013 | Tema: Memiliki Karakter Kristus
Hai Ibu, Besar Imanmu
Matius 15:21-28
Dalam hidup ini kita akan selalu diperhadapkan dengan berbagai macam pergumulan, yaitu berbagai macam tantangan dan kesulitan. Tantangan dan kesulitan tersebut tidak hanya dialami orang yang belum percaya Tuhan tetapi juga dialami oleh anak-anak Tuhan. Seringkali pergumulan itu begitu kompleks, sehingga kita ragu dalam melangkah bahkan sepertinya tidak ada jalan keluar. Ketika kita tidak mengerti lagi apa yang harus dilakukan, kita tidak boleh menyerah dan putus asa begitu saja, pada saat itulah kita harus datang lebih lagi pada Tuhan.

Jika kita memperhatikan secara jelas kisah perempuan Kanaan ini, kita dapat melihat bahwa perempuan Kanaan ini memiliki sikap hati yang tidak mudah menyerah dan putus asa sehingga Yesus berkata kepadanya, ”Hai ibu, besar imanmu.” Bagaimana perempuan Kanaan ini dapat memiliki sikap yang tidak mudah menyerah dan putus asa ketika tantangan penolakan dari murid-murid Yesus dan sikap Yesus yang acuh ketika perempuan tersebut memohon kesembuhan untuk anaknya? Yang pertama adalah, berpikir positif (ayat 22).
Pada waktu itu orang Kanaan mempunyai image negatif karena dianggap oleh orang Israel akan membawa pengaruh buruk. Dalam keadaan tersebut perempuan Kanaan itu tidak berkecil hati, tapi dia berpikir positif (Filipi. 4:8) dengan menghampiri Tuhan Yesus. Kedua, tidak mudah terpengaruh oleh keadaan (ayat 23). Walaupun murid-murid Yesus meminta-Nya untuk menyuruh perempuan Kanaan itu pergi, tetapi perempuan itu tetap tegar untuk ...selengkapnya »
Pada suatu siang yang terik, Sambey mengambil gitar. Ia duduk di teras rumahnya yang sejuk dan mulai memetik gitarnya, mengalunkan pujian “Kasih setia-Mu yang ku rasakan” ciptaan Pdt. Ir. Niko Njotorahardjo. Menjelang refrain, tiba-tiba Sambey menghentikan pujiannya. Bukan karena senar gitarnya putus, tetapi karena ada satu kata dalam bait pujian itu yang menarik hatinya. Kata itu adalah “...berkat-Mu yang telah ku terima, sempat membuatku terpesona...” “Mengapa berkat Tuhan kok hanya sempat membuat terpesona? Mengapa kok tidak selalu atau tidak terus membuat terpesona?” renung Sambey. Beberapa menit dihabiskannya untuk mengulang syair pujian itu dan merenungkannya kembali. Sampai akhirnya Sambey mengerti bahwa hanya kepada Tuhanlah, Sang sumber berkat, ia harus selalu terpesona. Kepada berkat-Nya, cukup sempat terpesona saja. Agar berkat tidak mengikatnya, melainkan hanya kepada Tuhan saja ia melekat. Jemaat yang terkasih. Simon mencari ikan semalam-malaman. Ia bekerja keras begitu rupa menebarkan jalanya di sisi kanan dan di sisi kiri perahunya. Tetapi malang nasibnya malam itu. Tak satu pun ikan berhasil ditangkapnya. Ia kembali ke pantai sebagai seorang yang gagal. Harapannya untuk menangkap sejumlah ikan pupus sudah. Pagi itu ia berjumpa dengan Tuhan Yesus yang memerintahkannya untuk menebarkan jalanya di siang bolong. Meskipun tak masuk akal, tetapi karena Tuhan yang memerintahkan, ia pun melakukannya. Hasilnya, berkat yang luar biasa! Sejumlah besar ikan ditangkapnya! Yang menarik adalah sikap Simon. Berkat itu tidak mempesonanya. Justru berkat itu membuatnya merasa tidak layak. Ia merasa tidak layak diperhatikan Tuhan karena ia orang berdosa. Matanya terus tertuju pada Tuhan Yesus. Maka ketika Tuhan memanggilnya, Simon dan teman-temannya meninggalkan berkat yang sempat mempesonanya itu dan mengikut Tuhan. Jemaat yang terkasih. Jika kita mau menjadi pribadi yang mampu meretas rintangan, contohlah sikap Simon. Pertama, jangan dilemahkan oleh kegagalan. Kedua, taat pada perintah Tuhan. Meskipun kadangkala tampak tidak masuk akal. Ketiga, selalu terpesona pada Tuhan saja. Itu berarti tidak terus terpesona pada berkat-berkat yang kita terima.
Seorang pemuda kedapatan mengutil pakaian di sebuah toko pakaian. Setelah ditangkap, maka pemuda itu dihadapkan ke persidangan. Karena kesalahan pemuda tersebut, maka sang hakim menjatuhkan hukuman sesuai dengan pelanggaran yang dibuatnya. Sementara pak hakim membacakan keputusan sidang tersebut, tampillah pemuda lain yang menyatakan keberatan terhadap vonis hukuman yang dijatuhkan. Katanya, ”Pak hakim, mohon hukuman pemuda yang mencuri itu dipotong 50 % karena pakaian yang diambilnya saat itu ada diskon 50 %.” Ternyata pemuda tersebut adalah si pemilik toko pakaian. Cerita di atas sekalipun kelihatannya baik dengan mengusulkan atau mengharapkan potongan hukuman, tetapi pemuda yang mengutil tersebut tetap saja menjalani hukuman karena kesalahannya. Yesus oleh karena kasihnya mengampuni kesalahan dan pelanggaran kita (Mazmur 103:12). Hal inilah yang membuat Paulus tahan, bahkan mengalami terobosan atas semua masalah dan tantangan. Hidup dihadapinya dengan kesungguhan untuk tetap setia melayani Tuhan dan memberitakan Firman sekalipun mengalami aniaya (Roma 8:34-37). Nats bacaan Firman di atas menyatakan bahwa Allah telah memilih jemaat Tesalonika menjadi umat-Nya. Inilah yang menjadi dasar bagi mereka untuk mendengarkan, menaati Firman dan juga melayani Tuhan meskipun mengalami penindasan (1 Tesalonika 1:9). Bagaimana dengan hidup kekristenan kita? Apakah ditengah-tengah pergumulan dan masalah yang kita hadapi (masalah kebutuhan hidup, pekerjaan, sakit penyakit, dsb), kita tetap setia dan percaya kepada Tuhan serta tetap melayani pekerjaan-Nya? Mari kita kalahkan semua masalah dan tantangan hidup ini dengan tetap memandang kepada Kristus.
Saat saya berkunjung ke sebuah persekutuan doa di SICC Sentul tahun 2012, saya cukup kaget dan keheranan melihat banyaknya pendoa syafaat yang mendukung pekerjaan Tuhan dalam pelayanan Pdt. Ir. Niko Nyotoraharjo. Mereka dengan tekun, sehati, berdoa syafaat mendoakan pekerjaan Tuhan dalam pelayanan Healing Movement. Di sini kita dapat melihat bahwa pelayanan Pdt. Ir. Niko Nyotoraharjo yang begitu dahsyat ternyata tidak dilakukan seorang diri, tetapi ada 12.000 pendoa syafaat yang mendukungnya di belakang layar. Kadang setiap orang menganggap bahwa melayani sebagai pendoa syafaat gereja merupakan pelayanan yang sangat kecil bahkan lebih rendah dibandingkan dengan pelayanan yang lain karena tidak kelihatan (waktu ibadah di ruang doa). Mereka menganggap bahwa pelayanan yang sesungguhnya ya menjadi worship seader, Singer, pemain musik, dancer, tamborine, dan yang paling tinggi adalah pengkotbah karena mereka adalah pelayan-pelayan yang berperan penting dan terlihat di atas altar. Oleh karena itu sangat jarang anggota jemaat yang masih produktif muda mau menjadi pendoa syafaat. Alhasih, pendoa syafaat gereja hanya dipenuhi oleh jemaat-jemaat yang sudah tua, dan kebanyakan wanita. Jika kita melihat pelayanan Rasul Paulus secara keseluruhan, ternyata pandangan yang saya kemukakan di atas itu keliru. Hamba Tuhan ‘sehebat’ Paulus ternyata tetap memohon bantuan agar jemaat yang dilayaninya terus mendoakan pelayanan Paulus (Kolose 4:3). Paulus menyadari tanpa pertolongan Tuhan melalui doa-doa yang dinaikan jemaat, pelayanannya tidak akan berjalan dengan baik. Pdt. Ir. Niko sadar betul bahwa pendoa syafaat merupakan pondasi dari sebuah pelayanan. Tanpa pondasi yang kuat, sebuah bangunan akan menjadi rapuh. Oleh karena itu Pdt. Ir. Niko membentuk Persekutuan Pendoa Syafaat yang cukup banyak dalam jajaran pelayanannya. Pendoa syafaat merupakan pelayanan yang sangat mulia. Mereka tidak diprioritaskan dalam seksi-seksi, tidak pernah dipuji, tidak pernah terlihat, bahkan mungkin di balik tembok belakang mimbar saat ibadah. Namun siapakah yang menjadi penyambung lidah jemaat saat Pendeta berkotbah, mendoakan kelangsung ibadah, mendoakan jemaat yang sakit, bergumul bagi bangsa dan negara, dan lain-lain? Mereka adalah para pendoa syafaat, orang-orang yang melayani di belakang layar.
Yesaya 53:1-12 Tetapi dia tertikam oleh karena pemberontakan kita, dia diremukkan oleh karena kejahatan kita; ganjaran yang mendatangkan keselamatan bagi kita ditimpakan kepadanya, dan oleh bilur-bilurnya kita menjadi sembuh. (Ayat 5) Pada suatu saat terjadi kebakaran di sebuah hutan. Setelah api berhasil dipadamkan para petugas keamanan hutan mulai menjelajahi bekas hutan yang terbakar untuk mengetahui seberapa besar kerusakan yang telah terjadi. Seorang petugas menemukan seekor ayam hutan yang telah hangus terbakar bertengger mematung di bawah sebuah pohon. Dengan tercengang oleh pemandangan itu, dia mengetuk ayam hutan yang sudah menjadi abu itu dengan sebuah tongkat. Seketika itu muncullah tiga ekor anak ayam kecil dari bawah kepak sayap induk ayam yang telah hangus itu. Induk ayam yang begitu mengasihi anak-anaknya, menyadari akan adanya bahaya, mengumpulkan anak-anaknya di bawah pohon itu dan melindungi mereka dengan sayapnya. Dia bisa saja terbang untuk menyelamatkan dirinya sendiri, tetapi sebaliknya yang dia lakukan adalah mengorbankan dirinya untuk keselamatan anak-anaknya. Berkorban. Merelakan keamanan dan kenyamanan dirinya sendiri, supaya orang lain diselamatkan. Itulah yang Yesus Kristus kerjakan untuk kita. Dia melakukan tindakan itu karena Dia begitu mengasihi kita, karena kita begitu berharga di mata-Nya. Apa yang Dia kerjakan telah dinubuatkan oleh nabi Yesaya ratusan tahun sebelum kehadiran-Nya di dunia. Nubuat itu akhirnya tergenapi di atas bukit Kalvari 2000 tahun yang lalu. Di bulan ini kita akan memperingati pengorbanan Kristus yang telah mati untuk kita. Kita mengingat kembali kasih-Nya yang begitu besar atas kita. Biarlah hati kita kembali dihangatkan oleh kasih-Nya, dengan mengingat akan pengorbanan-Nya yang mulia. Amin.
MARI BERTUMBUH BERSAMA
TEMA BULAN APRIL 2014
RENUNGAN HARIAN
Jaket Penyelamat
14 April '14
Belajar Dari Pengalaman Abram
27 Maret '14
Gelombang Ganas Saja Di Teduhkan
31 Maret '14
Copyright © 2012 All rights reserved. Designed and Developed by GIA Dr. Cipto Semarang