SEPEKAN TERAKHIR
  Senin, 20 Oktober 2014   -HARI INI-
  Minggu, 19 Oktober 2014
  Sabtu, 18 Oktober 2014
  Jumat, 17 Oktober 2014
  Kamis, 16 Oktober 2014
  Rabu, 15 Oktober 2014
  Selasa, 14 Oktober 2014
POKOK RENUNGAN
Ingatlah bahwa Pencobaan yang kita alami tidak melebihi kekuatan kita (1Korintus10:13), oleh karena itu jangan menyerah dan putus asa.
DITULIS OLEH
Ibu Ribkah E. Christanti
Kontributor
Renungan Lain oleh Penulis:
Home  »  Renungan  »  Hai Ibu, Besar Imanmu
Hai Ibu, Besar Imanmu
Sabtu, 04 Mei 2013 | Tema: Memiliki Karakter Kristus
Hai Ibu, Besar Imanmu
Matius 15:21-28
Dalam hidup ini kita akan selalu diperhadapkan dengan berbagai macam pergumulan, yaitu berbagai macam tantangan dan kesulitan. Tantangan dan kesulitan tersebut tidak hanya dialami orang yang belum percaya Tuhan tetapi juga dialami oleh anak-anak Tuhan. Seringkali pergumulan itu begitu kompleks, sehingga kita ragu dalam melangkah bahkan sepertinya tidak ada jalan keluar. Ketika kita tidak mengerti lagi apa yang harus dilakukan, kita tidak boleh menyerah dan putus asa begitu saja, pada saat itulah kita harus datang lebih lagi pada Tuhan.

Jika kita memperhatikan secara jelas kisah perempuan Kanaan ini, kita dapat melihat bahwa perempuan Kanaan ini memiliki sikap hati yang tidak mudah menyerah dan putus asa sehingga Yesus berkata kepadanya, ”Hai ibu, besar imanmu.” Bagaimana perempuan Kanaan ini dapat memiliki sikap yang tidak mudah menyerah dan putus asa ketika tantangan penolakan dari murid-murid Yesus dan sikap Yesus yang acuh ketika perempuan tersebut memohon kesembuhan untuk anaknya? Yang pertama adalah, berpikir positif (ayat 22).
Pada waktu itu orang Kanaan mempunyai image negatif karena dianggap oleh orang Israel akan membawa pengaruh buruk. Dalam keadaan tersebut perempuan Kanaan itu tidak berkecil hati, tapi dia berpikir positif (Filipi. 4:8) dengan menghampiri Tuhan Yesus. Kedua, tidak mudah terpengaruh oleh keadaan (ayat 23). Walaupun murid-murid Yesus meminta-Nya untuk menyuruh perempuan Kanaan itu pergi, tetapi perempuan itu tetap tegar untuk ...selengkapnya »
Mazmur 112:1-10 Mujur orang yang menaruh belas kasihan dan yang memberi pinjaman, yang melakukan urusannya dengan sewajarnya (Ayat 5). Ia membagi-bagikan, ia memberikan kepada orang miskin; kebajikannya tetap untuk selama-lamanya, tanduknya meninggi dalam kemuliaan (Ayat 9). Di Israel ada dua danau besar, yaitu Danau Galilea dan Laut Mati (sebenarnya danau, namun karena sangat luas disebut laut). Dua danau itu mempunyai perbedaan yang sangat kontras. Danau Galilea merupakan sumber penghidupan bagi penduduk sekitarnya karena mempunyai banyak ikan. Sementara di Laut Mati tidak ada satupun makhluk yang bisa hidup di dalamnya, karena mengandung kadar garam yang sangat tinggi. Danau Galilea menerima pasokan air dari bukit Hermon, lalu menyalurkan airnya keluar melalui Sungai Yordan, sedangkan Laut Mati hanya menerima pasokan air tetapi tidak menyalurkannya keluar. Akibatnya kadar garamnya sangat tinggi dan tidak memungkinkan ikan hidup di dalamnya. Itu adalah gambaran dari kehidupan kita. Jika kita hanya menerima berkat saja dan tidak menyalurkannya, maka kita akan menjadi seperti Laut Mati. Hidup kita akan menjadi kering dan gersang karena tidak menjadi berkat bagi orang lain. Sedangkan jika kita menerima berkat dan menyalurkannya, maka kita akan menjadi seperti Danau Galilea. Ada kehidupan di dalamnya dan menghidupi banyak orang. Orang yang murah hati akan selalu bergairah dan punya semangat hidup. Tuhan berjanji untuk orang yang melakukan kebajikan dan kemurahan, bahwa mereka akan mengalami kemujuran (ayat 5). Kemujuran berarti Tuhan akan mendatangkan hal-hal yang baik untuk orang yang bermurah hati. Juga Tuhan akan mengangkat martabat (disimbolkan dengan tanduk) orang yang suka berbagi (ayat 9). Di dalam Matius 5:7 juga dikatakan: ”Berbahagialah orang yang murah hatinya, karena mereka akan beroleh kemurahan.” Hukum rohani tentang tabur tuai pasti berlaku di dalam hidup ini. Apa yang kita tabur itulah yang kita tuai. Jika kita menabur kemurahan maka kita pun akan menuai kemurahan juga. Oleh karena itu, jemaat Tuhan, milikilah hati yang suka berbuat kebajikan. Galatia 6:9-10 mengatakan: ”Janganlah kita jemu-jemu berbuat baik, karena apabila sudah datang waktunya, kita akan menuai, jika kita tidak menjadi lemah. Karena itu, selama masih ada kesempatan bagi kita, marilah kita berbuat baik kepada semua orang, tetapi terutama kepada kawan-kawan kita seiman.” Amin.
“Orang yang mengumpulkan banyak tidak kelebihan dan orang yang mengumpulkan sedikit tidak kekurangan”. Prinsip ini telah Tuhan tetapkan ketika Tuhan memberikan roti manna untuk memenuhi kebutuhan bangsa Israel dalam perjalanan mereka menuju tanah perjanjian Kanaan. Tiap orang mengumpulkan menurut keperluannya (Keluaran 16:18). Itu ‘kan dulu, zaman Perjanjian Lama. Bagaimana dengan kehidupan kita saat ini? Orang berkata, “Yang kaya semakin kaya, yang miskin semakin miskin.” Ada banyak perumahan mewah di bangun tapi ada banyak pemukiman kumuh di kolong jembatan dan jalan layang, di tepi rel kereta api maupun di bantaran sungai. Ada orang-orang yang menikmati satu porsi menu makanan seharga jutaan rupiah, tetapi ada orang-orang yang harus mencuri demi sesuap nasi. Ada orang kaya dan miskin dengan jurang pemisah yang semakin menganga lebar. Di tengah-tengah komunitas gereja mula-mula, Rasul Paulus memuji dan menyaksikan apa yang telah jemaat Makedonia praktekkan, serta mendesak jemaat Korintus untuk melakukan pelayanan kasih yang sama. Dia mengutip ayat yang sama (dari PL) untuk menekankan prinsip yang Tuhan tetapkan: banyak atau sedikit yang dikumpulkan, namun orang berkecukupan. Apa rahasianya? Ternyata kalau kita pelajari, gaya hidup jemaat mula-mula adalah yang mengumpulkan banyak bersedia berbagi dan mendukung kebutuhan mereka yang mengumpulkan sedikit. Orang kaya dan orang miskin tentunya ada di tengah-tengah gereja Tuhan. Tetapi jarak atau kesenjangan itu menjadi dekat terjembatani dengan adanya kesediaan untuk hidup saling mencukupi, sehingga terjadi keseimbangan di dalamnya. Mari kita praktekkan prinsip tersebut di tengah-tengah gereja kita.
Rezeki adalah segala sesuatu (yang diberikan Tuhan) yang dipakai untuk memelihara kehidupan; makanan sehari-hari; nafkah. Demikian dijelaskan dalam KBBI. Ada anekdot: Hidup untuk cari rezeki atau cari rezeki untuk hidup? Kalau pola pertama yang dianut, maka seseorang akan menggunakan hidupnya hanya untuk mencari, mencari dan terus mencari rezeki sehingga tidak punya waktu untuk yang lainnya dan biasanya akan menjadi orang yang “pelit” dan tak ada istilah berbagi rezeki dalam kamus hidupnya. Bahkan cenderung tamak untuk memperkaya diri. Ada seorang kelasi sebuah kapal pesiar yang cukup besar yang sedang mengalami musibah tenggelam. Dalam situasi kacau, dia berpikir bahwa saat itu adalah kesempatan emas untuk mengumpulkan harta kekayaan para penumpang yang berlarian terjun menyelamatkan diri. Dia berpikir dengan pelampung di tubuhnya yang sarat dengan harta kekayaan milik para penumpang yang diambil dari kamar-kamar, dia pasti aman, tidak akan tenggelam. Saat kapal mulai karam, dia segera terjun ke laut. Apa yang terjadi? Ia bukannya mengapung, melainkan langsung dengan cepat tenggelam ke dasar laut. Pelampung yang dipakai tidak dapat menahan berat tubuh dan barang bawaannya. Firman Tuhan dalam Amsal 22:9 mengatakan “Orang yang baik hati akan diberkati, karena ia membagi rezekinya dengan si miskin.” Tidak dikatakan, “Orang yang kaya, orang yang banyak rezekinya” tetapi orang yang baik hati. Jadi untuk berbagi rezeki jangan menunggu sampai kita memiliki “harta lebih”. Jangan sampai terlalu asyik menumpuk rezeki, terlena, lupa segalanya sampai-sampai terlalu berat dan akhirnya menenggelamkan kita kepada gemerlapnya dunia yang bisa menyeret kita kepada kegelapan yang kekal. Amin.
Pernahkah Anda menemui seseorang yang berbeda antara asli dan fotonya? Seringkali orang lebih cantik atau tampan ketika di foto. Inilah salah satu rahasia seorang fotogenik, yaitu adanya penerangan yang bagus. Demikian halnya dengan taman di halaman atau di dalam rumah, akan lebih indah jika ada penataan lampu yang baik. Lukisan yang sederhana pun, jika diberi penerangan yang tepat akan tampak istimewa dan lebih hidup. Inilah beberapa istimewanya sesuatu karena adanya penerangan. Demikian dengan hidup kita. Pernahkah kita berpikir mengapa selalu ada lilin di dekat orang mati? Dan bagi orang Jawa, biasanya ketika ada bayi lahir, ari-arinya di tanam dan diberi lampu? Itu adalah simbol bahwa manusia butuh terang dari lahir sampai mati. Di sekitar kita banyak orang yang hidup dalam kegelapan. Gelap oleh harta, gelap tahta, maupun “wanita” (pasangan). Demi ketiganya, manusia rela melakukan segalanya. Mereka tidak peduli hukum, norma, bahkan agama. Dalam keadaan yang demikian, manusia tidak bisa melakukan sesuatu dengan baik, apalagi dengan benar. Namun syukur kepada Allah, Sang Terang, yang telah datang bagi manusia. Ia berkenan ditemui bagi siapa saja yang ingin datang kepada-Nya. Hanya dekat dengan Sang Terang itu, maka kita pun terbias akan terang-Nya sehingga kita bisa melakukan perbuatan yang benar, berkenan kepada Allah karena pikiran, hati, dan seluruh aspek kehidupan kita dipenuhi oleh hal-hal yang kudus. Standar hidup kita bukan lagi standar pada umumnya, namun standar Ilahi. Apapun yang kita lihat, kita pikirkan, kita lakukan, kita katakan, semuanya adalah hal-hal yang baik sekaligus benar. Jika demikian hidup kita di tengah dunia yang gelap ini, maka kita akan menjadi teladan, inspirator dan motivator bagi mereka. Oleh karena itu, bersandarlah pada-Nya, sehingga hidupmu diberkati dan menjadi berkat.
BARCODE BBM CHANNELS
RENUNGAN HARIAN
Hebat, Keren, Megah?
04 Oktober '14
Gak Fokus, Sih!
23 September '14
Hidup Yang Bermakna
19 Oktober '14
Copyright © 2012 All rights reserved. Designed and Developed by GIA Dr. Cipto Semarang