SEPEKAN TERAKHIR
  Kamis, 29 Januari 2015   -HARI INI-
  Rabu, 28 Januari 2015
  Selasa, 27 Januari 2015
  Senin, 26 Januari 2015
  Minggu, 25 Januari 2015
  Sabtu, 24 Januari 2015
  Jumat, 23 Januari 2015
POKOK RENUNGAN
Ingatlah bahwa Pencobaan yang kita alami tidak melebihi kekuatan kita (1Korintus10:13), oleh karena itu jangan menyerah dan putus asa.
DITULIS OLEH
Ibu Ribkah E. Christanti
Kontributor
Renungan Lain oleh Penulis:
Home  »  Renungan  »  Hai Ibu, Besar Imanmu
Hai Ibu, Besar Imanmu
Sabtu, 04 Mei 2013 | Tema: Memiliki Karakter Kristus
Hai Ibu, Besar Imanmu
Matius 15:21-28
Dalam hidup ini kita akan selalu diperhadapkan dengan berbagai macam pergumulan, yaitu berbagai macam tantangan dan kesulitan. Tantangan dan kesulitan tersebut tidak hanya dialami orang yang belum percaya Tuhan tetapi juga dialami oleh anak-anak Tuhan. Seringkali pergumulan itu begitu kompleks, sehingga kita ragu dalam melangkah bahkan sepertinya tidak ada jalan keluar. Ketika kita tidak mengerti lagi apa yang harus dilakukan, kita tidak boleh menyerah dan putus asa begitu saja, pada saat itulah kita harus datang lebih lagi pada Tuhan.

Jika kita memperhatikan secara jelas kisah perempuan Kanaan ini, kita dapat melihat bahwa perempuan Kanaan ini memiliki sikap hati yang tidak mudah menyerah dan putus asa sehingga Yesus berkata kepadanya, ”Hai ibu, besar imanmu.” Bagaimana perempuan Kanaan ini dapat memiliki sikap yang tidak mudah menyerah dan putus asa ketika tantangan penolakan dari murid-murid Yesus dan sikap Yesus yang acuh ketika perempuan tersebut memohon kesembuhan untuk anaknya? Yang pertama adalah, berpikir positif (ayat 22).
Pada waktu itu orang Kanaan mempunyai image negatif karena dianggap oleh orang Israel akan membawa pengaruh buruk. Dalam keadaan tersebut perempuan Kanaan itu tidak berkecil hati, tapi dia berpikir positif (Filipi. 4:8) dengan menghampiri Tuhan Yesus. Kedua, tidak mudah terpengaruh oleh keadaan (ayat 23). Walaupun murid-murid Yesus meminta-Nya untuk menyuruh perempuan Kanaan itu pergi, tetapi perempuan itu tetap tegar untuk ...selengkapnya »
Seorang tokoh bernama Jean Baptiste Lamarck (1744 1829), dalam sebuah teori evolusinya, melihat adanya kecenderungan makhluk sederhana berubah menjadi makhluk yang lebih kompleks dengan prinsip adanya proses perubahan menuju kesempurnaan. Perubahan menjadi sempurna ini menurut Lamarck karena harus beradaptasi pada lingkungannya. Proses adaptasi ini dijelaskan Lamarck melalui dua hal. Pertama, adanya proses use (menggunakan) dan disuse (tidak menggunakan) dari bagian-bagian tubuh organisme, bergantung pada kebutuhannya. Artinya, menurut Lamarck, organ tubuh yang digunakan secara luas untuk menghadapi lingkungan akan berkembang lebih besar, sedangkan bagian tubuh yang kurang digunakan akan mengalami penyusutan. (http://sikna.wordpress.com/2012/01/15/teori-teori-evolusi-menurut-ahli/). Dari potongan artikel di atas, ada sebuah pengertian sederhana yang menurut saya sangat menarik. Dalam teori itu dikatakan, bagian tubuh yang sering digunakan akan semakin sempurna, sedangkan yang jarang digunakan akan mengalami penyusutan. Menurut saya teori ini relevan dengan kehidupan di sekitar kita. Misalnya, sebuah pisau jika jarang digunakan pasti akan tumpul; jika kita lebih banyak beraktifitas dengan tangan kanan, maka kita pun akan kesulitan jika harus menggunakan tangan kiri, dll. Rupanya hal yang sama pun akan terjadi dengan karunia yang Tuhan sudah percayakan kepada kita. Bukankah karunia itu diberikan atas dasar kehendak Tuhan bagi mereka yang dipercaya untuk mendapatkannya (Roma 12:6-8; I Korintus 12:8-11)? Karunia yang Tuhan berikan menuntut ketaatan dan komitmen kita untuk hidup kudus. Jika kita mendapatkan karunia kesembuhan, karunia untuk melayani, menasihati, bernubuat, kemurahan hati, melayani, mengajar, memimpin, mengadakan mujizat, dll, namun kita sering mengabaikannya, memendamnya karena malu dan takut, malas untuk melakukannya, terlalu sibuk dengan jadwal kita untuk melaksanakan karunia itu atau menggunakannya untuk motivasi selain kemuliaan Tuhan, maka berhati-hatilah! Ini berarti kita sedang menyia-nyiakan karunia Tuhan. Kita sedang “menghilangkan” karunia itu. Bukankah ini berarti kita sedang tidak menghargai Sang Pemberi Karunia? Bukankah ini berarti kita sedang mendukakan dan mengkhianati kepercayaan-Nya? Bukankah kita sedang menjadi orang paling malang? Jika tahun lalu kita masih melakukan hal itu, perbaikilah di tahun ini. Maksimalkan karunia Tuhan sehingga karunia itu makin “sempurna” dan memuliakan Sang Pemberi Karunia.
Hampir 20 tahun aku hidup tanpa senyum dan tawa renyah. Sejak umur 2 tahun, anakku yang paling kecil sudah ditinggal oleh ibunya bekerja ke luar kota. Aku sebagai seorang suami yang hanya kerja sebagai tukang batu harus mengurusi seorang anak yang masih kecil dan empat anak yang besar. Aku sangat kecewa sekali dengan istriku karena sekian tahun tidak pernah memberi kabar berita. Lebih parahnya lagi, ada berita dia telah menikah dengan teman kerjanya. Aku semakin terpuruk. Untungnya kakak iparku mau merawat si kecilku. Hari-hariku tidak ada lagi sukacita, apalagi kebahagiaan. Rasanya ingin marah, tetapi aku berusaha untuk menahannya dengan cara aku bekerja seenakku sendiri. Seorang penginjil pernah mengajakku percaya Yesus yang katanya bisa memberikan jalan keluar bagi setiap masalah dan bebanku. Tetapi semua percuma bagiku. Aku mutuskan tidak lagi ke gereja. Aku menganggap ke gereja hanya menambah beban saja. Karena aku harus keluar uang macam-macam setiap ke gereja. Ada persembahan, iuran natal, iuran pembanguan, dll. Semua seabrek iuran. Namun Allah yang hidup tidak pernah meninggalkan aku ketika hidup terpuruk dan kehilangan segalanya. Dua tahun yang lalu seorang hamba Tuhan yang pernah mengajakku ke gereja menemui aku. Dia dengan penuh kasih membimbingku dan mendoakanku. Saat itulah hatiku yang telah tidak ada lagi harapan itu seperti disentuh-Nya, dan aku putuskan kembali kepada Yesus. Dan luar biasa, ketika aku berlutut dengan hati yang hancur, aku mendapatkan jamahan-Nya. Tepatnya 2 tahun lalu, 1 januari dalam ibadah tahun baru, sukacita yang hilang itu dikembalikan lagi oleh Kristus. Dan kini aku menemukan semua dalam Kristus. Inilah sepenggal kesaksian seorang bapak. Dari kesaksian di atas kita kembali diingatkan, jika kita selalu hanyut dengan peristiwa masa lalu yang menyakitkan akan membuat kita terpuruk. Hendaklah kita memegang hal-hal baik yang Tuhan telah sediakan untuk masa depan kita. Seperti Paulus, jika ada satu hal yang menjadi fokus pada tahun ini, fokuslah pada bergerak ke depan. Fokuslah pada berbicara Firman Allah atas diri dan keluarga kita setiap hari (ayat 14). Biarkan Firman Allah memelihara dan menyegarkan jiwa kita. Ketika kita mengatur fokus ke depan, kita akan bergerak maju dan menjadi apa yang telah Tuhan rencanakan bagi.
Moment menjelang Natal seperti sekarang ini mengingatkan Sambey akan sukacitanya ketika masih menjadi bagian anak-anak sekolah minggu. Saat itu bayangan akan kado Natal dari gereja, hadiah dari paman dan bibinya, hadir dalam angan-angannya. Sekarang hal itu jauh dari angannya. Sebagai orang yang beranjak dewasa, Sambey justru berpikir untuk melakukan sesuatu bagi orang lain. Setelah sejenak merenung, Sambey berencana untuk membeli makanan ringan dengan uang sejumlah Rp. 250.000,- yang ia miliki. Ia membungkus makanan-makanan ringan itu menjadi 50 paket plastik. Keesokan harinya ia membagi-bagikannya kepada anak-anak jalanan yang sering ia temui saat berangkat kuliah. Sambey bukanlah anak orang kaya. Kuliahnya selama ini dibiayai oleh pamannya. Orangtuanya hanya mampu memberi sedikit uang saku untuk keperluannya sehari-hari. Namun demikian, kondisi serba pas-pasan itu tidak menghalanginya untuk berbagi kasih. Sambil membagikan paket makanan ringan, Sambey berpesan pada anak-anak agar kondisi yang mereka alami tidak menghalangi mereka untuk berbagi kasih kepada orang lain. Sudah miskin, mengalami pencobaan berat, tentu adalah kondisi yang penuh penderitaan. Kondisi itulah yang dialami oleh jemaat Makedonia. Jemaat Makedonia harusnya layak menerima bantuan atas kondisi memprihatinkan yang mereka alami. Tetapi yang terjadi sebaliknya, mereka justru menjadi salah satu pemberi bantuan untuk Jemaat Yerusalem. Perbuatan kasih ini begitu memukau hati Rasul Paulus sehingga ia menjadikan mereka contoh untuk diteladani oleh Jemaat Korintus yang adalah jemaat kaya. Pengalaman ini menunjukkan bahwa jemaat miskin tidak selalu berarti jemaat yang pelit, dan jemaat kaya tidak selalu berarti adalah jemaat yang gemar memberi. Jemaat Makedonia miskin harta, tetapi kaya kemurahan. Sedangkan Jemaat Korintus kaya harta, tetapi miskin kemurahan. Jemaat yang terkasih. Tuhan menghendaki setiap orang percaya mempunyai kemurahan hati kepada sesamanya. Itu tidak ditentukan apakah kita sudah kaya atau masih miskin. Jemaat yang kaya tentu dituntut memberi lebih banyak daripada jemaat yang lain. Tetapi janganlah jemaat yang kurang kaya atau miskin sekedar menjadi penerima saja. Kalau kita suka menerima pemberian, hendaklah kita juga suka memberi. Karena lebih baik tangan di atas daripada tangan di bawah. Lebih baik memberi daripada menerima. SELAMAT BERBAGI KASIH!
Kita tentu ingat sepenggal kalimat di atas yang banyak kita lihat atau baca di mobil dan kaos kaos pada masa kampanye pemelihan Presiden RI tahun 2014 yang lalu. Tulisan tersebut seolah-olah menyatakan bahwa kepemimpinan masa lalu lebih baik daripada zaman sekarang ini. Saya ingat masa seangkatan orangtua saya dulu saat menghadapi masalah dan pergumulan, khususnya di bidang perekonomian, mengatakan bahwa zaman penjajahan itu lebih baik. Walaupun susah masih bisa makan. Pertanyaannya: Benarkah zaman dulu lebih baik dari sekarang ini? Ada banyak juga Suami, Istri, orangtua, anak yang mengatakan bahwa pasangannya tidak bisa berubah; anak-anaknya tidak bisa berubah; orangtuanya tidak bisa berubah; dan sebagainya. Mereka tidak bisa berubah menjadi seperti yang diharapkan. Benarkah suami, istri, orantua, anak-anak tidak dapat berubah? Kitab Pengkhotbah menyatakan bahwa orang yang menyatakan zaman dahulu lebih baik daripada zaman sekarang adalah orang yang tidak berhikmat. Thema Gereja kita bulan ini “Lebih Baik dari Kemarin” mengandung harapan. Selagi kita hidup masih memiliki harapan, maka akan ada banyak hal yang lebih baik yang akan terjadi dalam kehidupan ini, terlebih bersama Tuhan Yesus Kristus. Pengkhotbah 9 :4 menyatakan “Anjing yang hidup lebih baik daripada Singa yang mati “ Sehebat-hebatnya singa kalau sudah mati, maka sudah tidak dapat berbuat apa apa. Kita ingat penggalan pujian lagu yang mengatakan “S’bab Dia hidup ada hari esok, s’bab Dia hidup ku tak gentar. Karna ku’tau Dia pegang hari esok, hidup jadi berarti s’bab Dia hidup.” Mari kita percaya bahwa hari ini lebih baik dari kemarin, esok akan lebih baik dari hari ini, dan seterusnya. Yesus sanggup memulihkan hidup rohani kita, perekonomian kita, usaha kita, keluarga kita, bahkan apa yang kita pandang dan pikir tidak mungkin. Bukankah bersama Yesus tidak ada yang mustahil? Selamat menikmati hidup ini dan berdampak lebih baik untuk lingkungan kita. Tuhan Yesus memberkati.
BARCODE BBM CHANNELS
RENUNGAN HARIAN
Tujuan Yang Pasti
14 Januari '15
Bukan Instan
06 Januari '15
Start Yang Baik
01 Januari '15
Copyright © 2012 All rights reserved. Designed and Developed by GIA Dr. Cipto Semarang