SEPEKAN TERAKHIR
  Kamis, 11 Februari 2016   -HARI INI-
  Rabu, 10 Februari 2016
  Selasa, 09 Februari 2016
  Senin, 08 Februari 2016
  Minggu, 07 Februari 2016
  Sabtu, 06 Februari 2016
  Jumat, 05 Februari 2016
POKOK RENUNGAN
Ingatlah bahwa Pencobaan yang kita alami tidak melebihi kekuatan kita (1Korintus10:13), oleh karena itu jangan menyerah dan putus asa.
DITULIS OLEH
Ibu Ribkah E. Christanti
Kontributor
Renungan Lain oleh Penulis:
Home  »  Renungan  »  Hai Ibu, Besar Imanmu
Hai Ibu, Besar Imanmu
Sabtu, 04 Mei 2013 | Tema: Memiliki Karakter Kristus
Hai Ibu, Besar Imanmu
Matius 15:21-28
Dalam hidup ini kita akan selalu diperhadapkan dengan berbagai macam pergumulan, yaitu berbagai macam tantangan dan kesulitan. Tantangan dan kesulitan tersebut tidak hanya dialami orang yang belum percaya Tuhan tetapi juga dialami oleh anak-anak Tuhan. Seringkali pergumulan itu begitu kompleks, sehingga kita ragu dalam melangkah bahkan sepertinya tidak ada jalan keluar. Ketika kita tidak mengerti lagi apa yang harus dilakukan, kita tidak boleh menyerah dan putus asa begitu saja, pada saat itulah kita harus datang lebih lagi pada Tuhan.

Jika kita memperhatikan secara jelas kisah perempuan Kanaan ini, kita dapat melihat bahwa perempuan Kanaan ini memiliki sikap hati yang tidak mudah menyerah dan putus asa sehingga Yesus berkata kepadanya, ”Hai ibu, besar imanmu.” Bagaimana perempuan Kanaan ini dapat memiliki sikap yang tidak mudah menyerah dan putus asa ketika tantangan penolakan dari murid-murid Yesus dan sikap Yesus yang acuh ketika perempuan tersebut memohon kesembuhan untuk anaknya? Yang pertama adalah, berpikir positif (ayat 22).
Pada waktu itu orang Kanaan mempunyai image negatif karena dianggap oleh orang Israel akan membawa pengaruh buruk. Dalam keadaan tersebut perempuan Kanaan itu tidak berkecil hati, tapi dia berpikir positif (Filipi. 4:8) dengan menghampiri Tuhan Yesus. Kedua, tidak mudah terpengaruh oleh keadaan (ayat 23). Walaupun murid-murid Yesus meminta-Nya untuk menyuruh perempuan Kanaan itu pergi, tetapi perempuan itu tetap tegar untuk ...selengkapnya »
Kita menghayati tema baru di bulan Februari ini, yaitu Tuhan Hadir di Bait Kudus-Nya. Pertanyaannya adalah mengapa Tuhan hadir di Bait Kudus-Nya? Bukankah Tuhan Maha Hadir dan selalu hadir di mana-mana? Benar sekali bahwa Tuhan Maha Hadir, tetapi pengertian “Tuhan hadir di Bait Kudus-Nya” lebih menekankan pada “Tuhan memiliki maksud dan kehendak” terhadap umat-Nya yang selalu berkumpul dan mencari Allah di dalam Bait-Nya. Maka kehadiran Tuhan selalu berarti dan memberikan suatu perintah kepada Umat-Nya untuk diperhatikan dan dilakukan dalam kehidupan nyata. Bukan di dalam Bait Allah saja, namun yang terutama dilakukan di luar sana, sehingga berkat syalom juga dirasakan dan diterima bagi banyak orang. Kehadiran Tuhan telah nyata, yaitu dengan adanya kasih karunia Allah yang menyelamatkan semua manusia [ayat 11]. Yesus Kristus yang merupakan kehadiran Allah itu sendiri mendidik kita semua supaya meninggalkan kefasikan dan keinginan duniawi, sehingga memiliki hidup yang penuh bijaksana, adil dan beribadah di dalam dunia sekarang ini [ayat 12]. Bahkan Yesus Kristus telah menyerahkan diri-Nya bagi kita untuk membebaskan kita dari segala kejahatan dan menguduskan umat kepunyaan-Nya sendiri, yaitu mereka semua yang rajin berbuat baik [ayat 14]. Saudara yang dikasihi Tuhan, ketika Tuhan hadir di dalam ibadah kita, kira-kira apa yang Tuhan kehendaki atas jemaat yang berkumpul dalam ibadah? Tentu saja Tuhan ingin supaya kita mendengar Firman-Nya dan melakukan dalam kehidupan sehari-hari, yaitu kehidupan yang kudus, yang tidak cacat dengan segala keinginan-keinginan kedagingan. Dengan demikian kita lebih mudah untuk memberitakan kebenaran bagi banyak orang, maka kita juga tidak akan pernah dianggap rendah oleh sekitar kita. Tuhan hadir supaya kita, umat-Nya, dikuduskan dan menjadi berkat.
Apa yang ada di benak kita saat kita mendengar negara San Marino? Yang paling populer saat kita mendengar negara San Marino adalah tentang penyelenggaraan balap motor, “Moto GP”, yang digelar setiap tahunnya di negara tersebut. Namun saat dikaitkan dengan sepakbola, sedikit orang yang tahu perihal San Marino. Tim Nasional [timnas] sepak bola San Marino termasuk tim gurem yang akrab dengan berbagai macam kekalahan telak. Tim San Marino juga menjadi tim nasional sepak bola terlemah di dunia dengan mencatat rekor hanya menang 1 kali dalam kurun waktu 15 tahun. Hal ini menjadi beban yang berat bagi Giampaolo Mazza selaku pelatih yang mulai melatih tim ini sejak tahun 1998 hingga 2013. Setiap pelatih mendambakan kemenangan, namun yang terjadi selama Mazza melatih, hanya satu kemenangan yang diraih oleh timnya. Namun ada hal yang perlu dicermati secara positif perihal Mazza. Mazza tidak pernah menyesal dan putus asa saat menangani timnas San Marino meski tim ini terus menerus kalah. Dia tidak menyerah dan berputus asa saat melihat tim yang dilatihnya tak kunjung menang. Dia tidak putus asa dan menyesal kepada timnya karena dia telah meletakkan pondasi yang positif bagi San Marino. Dia mengajarkan dasar-dasar sepakbola mulai dari awal, serta pondasi filosofi yang kokoh bagi San Marino. Dia menekankan prinsip untuk selalu memakai pemain lokal dan tidak akan pernah menaturalisasi pemain dari negara lain untuk membela negara San Marino. Banyak orang terkadang ’putus asa’ menjalani hidup berimannya. Perbuatan-perbuatan yang berlawanan dengan kehendak Allah masih terus dilakukan. Dalam hati tidak ingin melakukan, tetapi nyatanya berkali-kali masih terulang. Berulang kali berjanji kepada Tuhan, tetapi terus gagal. Bahkan ada orang yang marah pada diri sendiri karena terus jatuh dalam lubang yang sama dengan mengulangi dosa yang sama. Dan akhirnya menjadi budak dosa untuk selamanya. Firman Tuhan mengingatkan bahwa sesungguhnya dalam keadaan demikian, kita tidak usah putus asa, apalagi terus menerus menyalahkan diri. Tuhan Yesus memberikan solusi. ’Tetap dalam firman-Ku’ [ayat 31]. Istilah ’tetap’ berarti setiap saat, selalu-bukan kadang-kadang, dalam setiap aspek hidup kita. Jika firman Tuhan menguasai kepala, pasti pikiran kita selalu tertuju kepada Yesus. Jika firman Tuhan menguasai mulut, tentu perkataan kita akan terkontrol. Jika firman menguasai langkah, pasti kita tidak berjalan ke tempat yang berdosa. Pada saat itulah, kebenaran itu akan memerdekakan kita [ayat 32]. Sekalipun kita bukan keturunan hamba/budak [dalam arti sesungguhnya], tetapi pada saat kita masih melakukan dosa, maka kita adalah hamba dosa [ayat 34]. Dosa adalah tuan kita, dan kita adalah hamba dari dosa itu sendiri. Kita perlu terus-menerus berjuang melawan dosa. Jangan menyerah. Untuk itu, kita perlu selalu dekat dengan firman-Nya. Kita tidak akan seketika menjadi manusia suci tanpa cela, tetapi firman Tuhan akan mengingatkan dan menolong tetap berjalan di jalur yang benar. Hidupilah firman-Nya, maka kebenaran itu memerdekakan kita.
Tidak ada yang tidak kenal Mimin, ya...semua orang di kantor itu, bahkan di semua cabang di seantero jagad tahu namanya. Bukan karena kecantikannya, bukan karena kepandaiannya, tapi karena sifatnya. Meski sudah berumur, tapi Mimin kenal dengan semua umur, dari yang tua sampai yang muda. Dia ceria, cenderung suka bicara bahkan bisa dikatakan cerewet, sedikit bawel, ceplas ceplos dan bicaranya keras, ramai orangnya. Tapi akhir-akhir ini ada yang berubah dengan Mimin. Dia tidak lagi cerewet, agak pendiam, suka menyendiri, tidak mau bergabung dengan teman-temannya ketika makan siang. Bicaranya irit tidak lagi ceplas ceplos dan gembar-gembor. Teman-teman sekantornya merasa senang dengan perubahan itu, mereka pikir Mimin sudah bertobat. Selidik punya selidik, ternyata perubahan sikap Mimin bukan karena bertobat, tapi karena diketahui baru-baru ini dia mengidap suatu penyakit serius. Hal itu yang membuatnya jadi pendiam, tidak banyak bicara, menyendiri, dan kehilangan sukacita. Dari cerita beberapa teman dekatnya, dia tidak siap menghadapi penyakitnya. Dia takut mati. Masalah, persoalan, sakit penyakit bisa dengan mudah menggoncang iman percaya kita. Tak peduli berapa lama kita mengikut Tuhan, seringkali ketika masalah datang, kita lupa pada janji-janjiNya. Kita lupa bahwa Dia setia dan tidak akan pernah meninggalkan kita. Kita lupa pada jaminan keselamatan yang sudah diberikan-Nya. Roma 14:17 menjelaskan: “Sebab Kerajaan Allah bukanlah soal makanan dan minuman tetapi soal Kebenaran, damai sejahtera dan sukacita oleh Roh Kudus.” Damai sejahtera dan sukacita oleh Roh Kudus akan melekat dalam kehidupan kita ketika kita memegang Firman-Nya. Firman Tuhan adalah pelita bagi jalan hidup kita, sumber kekuatan ketika kita lemah, jawaban bagi setiap masalah persoalan kita. Ketika damai sejahtera dan sukacita oleh Roh Kudus tetap kita rasakan, meski masalah, persoalan, sakit penyakit menghampiri, sebenarnya kita sedang berada dalam Kerajaan Allah. Dan Kerajaan-Nya adalah kerajaan kekal yang tidak tergoncangkan oleh apapun juga. Saya rindu teman saya, Mimin, bisa menikmati Kerajaan Allah, merasakan damai sejahtera, dan tetap bersukacita, meski sedang menghadapi penyakit. Tidak ada alasan untuk takut mati karena di dalam Yesus ada jaminan hidup kekal.
Siapakah Allah bagi Daud? Dia mengenal Allahnya sebagai Raja [ayat 1, 11, 13 ] dan dia memproklamasikan Allahnya dalam Mazmur 145. Raja yang bagaimana? Mazmur ini mmembawa kita pada suatu perenungan akan 3 aspek dari hakekat ilahi: 1. Keagungan-Nya: “Besarlah Tuhan...” [ayat 3]. 2. Anugerah dan pengasihan-Nya: “Pengasih dan penyayanglah Tuhan...” [ayat 8]. 3. Keadilan dan kebenaranNya-: “Adillah Tuhan...” [ayat 17]. Apa yang Daud proklamasikan? 1. Aku hendak mengagungkan nama-Mu [ayat 1, 2, 21]. Daud memberikan tempat tertinggi bagi Allah yang dikenalnya sebagai Raja. Dalam ayat 1 dan 2, berturut-turut Daud berkata, “Aku hendak memuji dan memuliakan nama-Mu untuk seterusnya dan selamanya.” Bahkan di ayat terakhir Daud mengajak yang lain: “Biarlah segala makhluk memuji nama-Nya.” Daud memiliki alasan yang kuat untuk mengagungkan nama Allah-Nya. 2. Tuhan itu benar [ayat 3-7] Semua yang mengenal Allah berkewajiban berkata-kata tentang Dia. Keagungan-Nya dinyatakan dalam pekerjaan dan tindakan-Nya. Angkatan demi angkatan memegahkan dan menceritakan pekerjaan dan tindakan-Nya yang disebut sebagai perkasa, ajaib dan dahsyat. Dengan pekerjaan-pekerjaan-Nya, Allah telah memberikan berita [benar] yang utuh tentang diri-Nya. 3. Tuhan itu Pemurah [ayat 8-16] Kemurahan ilahi yang khusus terhadap umat perjanjian dan kebaikan Allah yang universal sudah seharusnya membawa ucapan terima kasih kembali kepada Allah. Terutama orang-orang yang dikasihi-Nya, kepada merekalah terletak tugas kesaksian terhadap kuasa dan perintah Tuhan yang rajawi, janji setia-Nya, tindakan anugerah-Nya dalam menopang dan memelihara. 4. Tuhan itu adil [ayat 17-20] Untuk menyatakan bahwa Tuhan itu adil dan benar sama sekali tidak bertentangan dengan mengatakan bahwa Ia pengasih dan penyayang. Keadilan-Nya hidup berdampingan dengan kebaikan-Nya. Ia perhatian terhadap mereka yang datang dekat kepada-Nya. Ia tahu apakah mereka berseru kepada-Nya dalam kesetiaan, apakah mereka takut dan mengasihi Dia, ataukah mereka termasuk orang fasik yang adalah obyek kemurkaan-Nya. KebenaranNya adalah kebenaran penuh anugerah. Anugerah yang menjadi dekat, yang menjawab, yang mendengarkan, menyelamatkan dan menjaga. [LA]
BARCODE BBM CHANNELS
RENUNGAN HARIAN
Nama-Nya Raja Damai
06 Februari '16
Mengenal dan Memproklamasikan Allah
22 Januari '16
Menghidupi Kebenaran
03 Februari '16
Copyright © 2012 All rights reserved. Designed and Developed by GIA Dr. Cipto Semarang