SEPEKAN TERAKHIR
  Rabu, 28 September 2016   -HARI INI-
  Selasa, 27 September 2016
  Senin, 26 September 2016
  Minggu, 25 September 2016
  Sabtu, 24 September 2016
  Jumat, 23 September 2016
  Kamis, 22 September 2016
POKOK RENUNGAN
Ingatlah bahwa Pencobaan yang kita alami tidak melebihi kekuatan kita (1Korintus10:13), oleh karena itu jangan menyerah dan putus asa.
DITULIS OLEH
Ibu Ribkah E. Christanti
Kontributor
Renungan Lain oleh Penulis:
Home  »  Renungan  »  Hai Ibu, Besar Imanmu
Hai Ibu, Besar Imanmu
Sabtu, 04 Mei 2013 | Tema: Memiliki Karakter Kristus
Hai Ibu, Besar Imanmu
Matius 15:21-28
Dalam hidup ini kita akan selalu diperhadapkan dengan berbagai macam pergumulan, yaitu berbagai macam tantangan dan kesulitan. Tantangan dan kesulitan tersebut tidak hanya dialami orang yang belum percaya Tuhan tetapi juga dialami oleh anak-anak Tuhan. Seringkali pergumulan itu begitu kompleks, sehingga kita ragu dalam melangkah bahkan sepertinya tidak ada jalan keluar. Ketika kita tidak mengerti lagi apa yang harus dilakukan, kita tidak boleh menyerah dan putus asa begitu saja, pada saat itulah kita harus datang lebih lagi pada Tuhan.

Jika kita memperhatikan secara jelas kisah perempuan Kanaan ini, kita dapat melihat bahwa perempuan Kanaan ini memiliki sikap hati yang tidak mud...selengkapnya »
Kalau kita hadir di gereja yang belum pernah kita kunjungi, hal pertama yang pasti kita perhatikan adalah bagian depan sebelum pintu masuk dan bagian dalam ruang ibadah terutama di panggung utama tempat para pelayan mimbar melayani. Bagaimana kerapihan dalam menata peralatan penunjang ibadah dan kebersihan ruangan. Biasanya setelah penataan barang, kerapihan dan kebersihan ruangan, barulah kita memperhatikan cara para petugas melayani dan menerima kita sebagai tamu yang sedang berkunjung. Dari hal yang sederhana ini, kita akan memiliki kesan awal tentang bagaimana keberadaan gereja tersebut. Rasul Paulus dalam suratnya kepada Timotius yang pertama sebagian besar berbicara tentang bagaimana kita, sebagai umat pilihan Allah, selalu melayani sesuai dengan aturan yang ada agar semuanya bisa tersusun rapih dan terjalin dengan baik antara satu dengan yang lainnya. Maka Timotius ditugaskan untuk mengatur semua orang yang terlibat dalam tubuh jemaat. Mengatur bagaimana laki dan perempuan bersikap dalam ibadah [2:8-15], mengatur persyaratan para penilik jemaat sebagai pelayan jemaat [3:1-7], mengatur persyaratan diaken [3:8-13]. Mengatur mengenai saudara seiman, para janda, mengahadapi pengajaran sesat di jemaat dan beberapa petunjuk praktis yang lainnya [4:1 – 6:2]. Tujuannya supaya semua pelayanan di jemaat tertata dengan rapih dan tidak terjadi tumpang tindih, semua pelayan jemaat saling melayani untuk melengkapi satu dengan yang lainnya. Rasul Paulus tidak menyukai kekacauan dan juga merasa semua itu penting bagi kemajuan peayanan dan pertumbuhan rohani jemaat. Renungan kita hari ini menjelaskan bahwa jemaat [gereja] adalah keluarga Allah yang terdiri dari pribadi-pribadi yang hidup dan menjadi saksi akan kebenaran Allah. Tentu saja sebagai keluarga perlu adanya peraturan dan kerapihan dalam menata kehidupan. Demikian pula di gereja kita memerlukan keteraturan dan kerapihan dalam pelayanan pekerjaan Tuhan. Hal ini akan mempermudah kita dalam melayani jemaat dan sekaligus mempermudah dalam memberi kesempatan jemaat melayani. Sehingga kesaksian hidup kita sebagai jemaat menjadi berkat bagi sesama.
Salah satu hal yang perlu diperhatikan dalam membangun adalah bekerjasama. Membangun apa saja tentu diperlukan suatu kerjasama. Siapa pun yang mengerjakan apa saja jikalau dikerjakan sendiri akan berbeda hasilnya dibandingkan dengan bekerjasama. Hasilnya akan jauh lebih baik dan sempurna. Apakah itu membangun rumah, jembatan ataupun membersihkan kampung. Bahkan untuk mengerjakan sesuatu yang sifatnya pribadi pun tetap membutuhkan uluran tangan orang lain atau setidaknya masih terkait dengan orang lain. Misalnya: mengerjakan skripsi, tesis, tugas akhir, dsb. Demikian juga dalam kehidupan berjemaat dalam membangun tubuh Kristus, kita harus saling bekerjasama dan saling tolong menolong dalam segala hal. Mengapa harus bekerjasama dan saling tolong-menolong dalam membangun tubuh Kristus? Rasul Paulus memberikan beberapa alasan kepada jemaat Galatia terkait masalah ini. Pertama, semua orang [termasuk orang kristen] tidak kebal terhadap pencobaan [ayat 1]. Ketika rekan kita sedang menghadapi masalah atau pelanggaran maka tugas kita yang kuat adalah memberi pertolongan dengan cara memimpin kepada jalan yang benar dengan roh yang lemah lembut, sambil menjaga diri sendiri. Kedua, karena kita semua mengasihi Tuhan [ayat 2-3]. Kita menolong saudara kita yang sedang menghadapi persoalan dengan semangat kasih Kristus. Dengan demikian kita disadarkan bahwa kalau kita bisa menolong itu bukan kuat dan gagah kita, tetapi hanya karena Tuhan saja sehingga jangan ada yang merasa kuat tanpa Tuhan [ayat 3]. Ketiga, sebagai bentuk penghormatan kepada Allah [ayat 7]. Artinya dengan saling menolong maka kita mengikuti kehendak Tuhan. Kita terhindar dari dosa mementingkan diri sendiri dan berbagai dosa kedagingan [ayat 8]. Tuhan tidak menghendaki orang-orang yang telah lahir baru jatuh dalam dosa kedagingan. Keempat, apa yang kita lakukan akan kita tuai [ayat 9]. Apa yang kita lakukan, yaitu sikap kita terhadap pertumbuhan tubuh Kristus itu kelak akan kita tuai. Saudara, mari kita memperhatikan dengan baik ke empat alasan hal di atas. Semua itu merupakan landasan praktis yang bisa kita wujudkan demi pembangunan tubuh Kristus. Mari kita bersemangat untuk menghidupinya mumpung masih ada kesempatan [ayat 10].
Menyusun puzzle Efesus 4:16 Dari pada-Nyalah seluruh tubuh, yang rapih tersusun dan diikat menjadi satu oleh pelayanan semua bagiannya, sesuai dengan kadar pekerjaan tiap-tiap anggota menerima pertumbuhannya dan membangun dirinya dalam kasih. Saya yakin kebanyakan kita pernah bermain puzzle. Dalam permainan itu kita berusaha menyusun potongan-potongan gambar menjadi tersusun rapi sehingga membentuk sebuah gambar yang utuh. Bagaimana cara menyusunnya? Mulainya dari mana? Biasanya mulai dari mencari potongan sudut-sudutnya dan meletakkannya di sudut-sudut gambar. Kemudian mencari dan meletakkan bagian-bagian yang merupakan pinggiran dari gambar itu. Kemudian kita menyusun bagian dalamnya. Berarti untuk menyusun sebuah puzzle kita harus mulai dengan menentukan batas-batasnya, lalu berusaha menyusun gambar. Gereja dapat digambarkan seperti puzzle. Gereja terbentuk dari orang-orang yang tadinya terlepas satu dari yang lainnya. Kemudian Kristuslah yang menyatukan kita. Dari potongan-potongan yang terlepas menjadi sebuah kesatuan yang utuh dengan satu tujuan, satu misi dan satu kasih kepada Tuhan dan sesama. Puzzle itu masih belum utuh, sedang disusun. Pada saatnya nanti akan terbentuk menjadi sebuah gambar yang utuh. Gereja sedang dalam proses penyempurnaan. Dalam proses itu ada beberapa hal yang perlu diperhatikan. 1. Proses penyempurnaan itu harus di bawah arahan Kristus. ’Dari pada-Nyalah seluruh tubuh, yang rapih tersusun....’ Kristuslah yang menjadi inisiator gereja. Gereja sedang dalam proses pembentukkan menurut arahan Kristus. Para pemimpin dan semua yang terlibat dalam pelayanan adalah hamba-hamba-Nya yang dipakai sebagai alat untuk menyempurnakan gereja-Nya. 2. Semua bagian harus aktif terlibat dalam proses penyempurnaan. ’diikat menjadi satu oleh pelayanan semua bagiannya, sesuai dengan kadar pekerjaan tiap-tiap anggota menerima pertumbuhannya dan membangun dirinya dalam kasih.’ Proses itu akan berjalan dengan baik jika semua bagian turut bekerja sama di dalam membangun tubuh Kristus. Diperlukan kerja sama agar proses itu berjalan dengan baik. Semoga puzzle itu makin tersusun dengan rapi, sampai akhirnya menjadi gambar yang utuh. Amin. Pdt. Goenawan Susanto
Dalam Matius 7:24-27, Yesus mengatakan bahwa setiap orang yang mendengar Firman dan melakukannya, ia adalah orang bijaksana yang mendirikan rumahnya di atas batu karang. Ketika hujan, angin dan banjir melanda, rumahnya tetap kokoh. Sedangkan yang mendengar Firman dan tidak melakukan, ia adalah orang bodoh yang mendirikan rumahnya di atas pasir. Ketika hujan, angin dan banjir melanda, rumahnya roboh. Yesus mengingatkan murid-Nya, dasar [fondasi] dari iman yang kokoh dan tidak tergoyahkan walaupun berbagai masalah melanda adalah melakukan Firman Tuhan dalam setiap aspek hidup mereka. Dasar [fondasi] yang telah diletakkan oleh Allah itu kuat dan dibubuhi meterai. Meterainya “Tuhan mengenal siapa kepunyaan-Nya” dan “setiap orang yang menyebut nama Tuhan hendaklah meninggalkan kejahatan”. Meterai sebagai tanda bagi setiap murid Kristus yang dapat dilihat oleh semua orang. Pikiran, perkataan dan perbuatan selaras dengan Firman Tuhan sehingga tidak ada sedikitpun kejahatan, tetapi perbuatan baik yang nampak. Menghindari dan menjauhi silat kata, omongan kosong, masalah yang dicari-cari dan yang menimbulkan pertengkaran, mengejar keadilan, kesetiaan, kasih dan damai. Ramah, lemah lembut pada semua orang termasuk mereka yang membuat kejahatan. Firman Tuhan yang telah kita dengar atau baca harus dilakukan dalam segala keadaan karena akan merupakan fondasi yang kuat bagi iman kita. Kita menghindari segala perbuatan yang tidak sesuai dengan Firman dan melakukan perbuatan baik setiap saat supaya meterai yang Tuhan bubuhkan pada kita dapat dilihat oleh orang lain. Dengan demikian hidup kita akan mempermuliakan nama Tuhan.
BARCODE BBM CHANNELS
RENUNGAN HARIAN
Kepompong Kupu-Kupu
05 September '16
Power And Responsibility
25 September '16
Tidak Ada Kata Itu Bukan Urusanku
09 September '16
Copyright © 2012 All rights reserved. Designed and Developed by GIA Dr. Cipto Semarang