SEPEKAN TERAKHIR
  Sabtu, 24 Februari 2018   -HARI INI-
  Jumat, 23 Februari 2018
  Kamis, 22 Februari 2018
  Rabu, 21 Februari 2018
  Selasa, 20 Februari 2018
  Senin, 19 Februari 2018
  Minggu, 18 Februari 2018
POKOK RENUNGAN
Ingatlah bahwa Pencobaan yang kita alami tidak melebihi kekuatan kita (1Korintus10:13), oleh karena itu jangan menyerah dan putus asa.
DITULIS OLEH
Ibu Ribkah E. Christanti
Kontributor
Renungan Lain oleh Penulis:
Home  »  Renungan  »  Hai Ibu, Besar Imanmu
Hai Ibu, Besar Imanmu
Sabtu, 04 Mei 2013 | Tema: Memiliki Karakter Kristus
Hai Ibu, Besar Imanmu
Matius 15:21-28
Dalam hidup ini kita akan selalu diperhadapkan dengan berbagai macam pergumulan, yaitu berbagai macam tantangan dan kesulitan. Tantangan dan kesulitan tersebut tidak hanya dialami orang yang belum percaya Tuhan tetapi juga dialami oleh anak-anak Tuhan. Seringkali pergumulan itu begitu kompleks, sehingga kita ragu dalam melangkah bahkan sepertinya tidak ada jalan keluar. Ketika kita tidak mengerti lagi apa yang harus dilakukan, kita tidak boleh menyerah dan putus asa begitu saja, pada saat itulah kita harus datang lebih lagi pada Tuhan.

Jika kita memperhatikan secara jelas kisah perempuan Kanaan ini, kita dapat melihat bahwa perempuan Kanaan ini memiliki sikap hati yang tidak mudah menyerah dan putus asa sehingga Yesus berkata kepadanya, ”Hai ibu, besar imanmu.” Bagaimana perempuan Kanaan ini dapat memiliki sikap yang tidak mudah menyerah dan putus asa ketika tantangan penolakan dari murid-murid Yesus dan sikap Yesus yang acuh ketika perempuan tersebut memohon kesembuhan untuk anaknya? Yang pertama adalah, berpikir positif (ayat 22).
Pada waktu itu orang Kanaan mempunyai image negatif karena dianggap oleh orang Israel akan membawa pengaruh buruk. Dalam keadaan tersebut perempuan Kanaan itu tidak berkecil hati, tapi dia berpikir positif (Filipi. 4:8) dengan menghampi...selengkapnya »
Pak Budi adalah seorang Kristen sejak kecil. Dia bertumbuh dalam Gereja yang memiliki komunitas kecil untuk sarana pertumbuhan rohani jemaat. Pada suatu saat pak Budi memiliki pergumulan tentang keselamatan dirinya di hadapan Allah. Dia juga sempat meragukan apakah Yesus Kristus benar-benar Allah. Akhirnya Pak Budi di yakinkan keselamatan hidupnya melalui bimbingan pak Slamet sebagai pemimpin komcil. Pak Budi berusaha meyakinkan bahwa keselamatan hidupnya di dalam Kristus di jamin dan Kristus memang benar-benar Allah yang menjadi manusia untuk menyelamatkan manusia berdosa. Keraguan tentang siapa Yesus Kristus sebenarnya bukan cuma pergumulan pak Budi saja, tetapi pergumulan banyak orang baik yang sudah mengenal dan percaya Tuhan Yesus maupun mereka yang belum percaya kepada Tuhan Yesus. Yang belum percaya layak kita maklumi sebab mereka berada di luar Kristus, tapi bagi yang sudah percaya Tuhan Yesus hal ini harus kita perhatikan dengan serius. Sebab akan berdampak dalam kehidupannya di kemudian hari. Sebagaimana bacaan renungan kita hari ini yang berkaitan dengan kehidupan Yohanes Pembaptis yang telah membaptis Tuhan Yesus dan memperkenalkan Tuhan Yesus kepada orang banyak melalui kotbahnya. Saat berada di dalam penjara menunggu bagaimana nasibnya selanjutnya di tangan Raja Herodes, dirinya sempat meragukan keberadaan Tuhan Yesus sebagai Sang Mesias. Oleh sebab itu dia mengutus muridnya untuk mempertanyakan hal ini kepada Tuhan Yesus. Ternyata jawaban Tuhan Yesus sangat mengejutkan. Pertama Dia meyakinkan bahwa Diri-Nya adalah Mesias melalui tanda-tanda yang telah di buatnya [ayat 4-6]. KeDua Dia, mulai berbicara tentang diri Yohanes Pembaptis [ayat 7-14]. Di katakan tidak ada seorangpun yang lahir di Israel memiliki pribadi lebih besar dari Yohanes Pembaptis. Pelajaran yang kita dapat melalui bacaan ini adalah kebesaran dan kasih Tuhan Yesus yang selalu ingin meyakinkan siapapun orang yang sempat meragukan keberadaan-Nya sebagai Sang Mesias. Supaya dengan pernyataan Tuhan Yesus, orang tersebut tidak lagi ragu-ragu melainkan akan melangkah dengan mantap dalam iman kepada dan bersama Tuhan Yesus. Bagaimana dengan diri kita saat ini, yakinkah kita bahwa Tuhan Yesus adalah Mesias Sang Juruselamat manusia berdosa? Jika kita masih sempat meragukannya sama seperti Yohanes Pembaptis, maka temukan jawabannya melalui pembacaan dan pendalam Firman Allah terutama Injil Yohanes niscaya kita akan diyakinkan siapa Tuhan Yesus Kristus yang sebenarnya.
Di awal tahun ini, Pak Matsu memulai pertanian dengan pembibitan benih bunga selasih. Pembibitan ini dimulai dengan mencangkul tanah supaya menjadi gembur. Setelah itu, tanah tersebut dicampur dengan pupuk kandang agar menjadi subur. Sebelum bibit bunga selasih ditabur ditanah tersebut, Pak Matsu terlebih dahulu membuat pagar untuk sekeliling tempat pembibitan agar tidak dirusak oleh binatang-binatang piaraan. Setelah proses pengolahan tanah selesai, benih siap ditaburkan. Dan menunggu beberapa minggu untuk melihat pertumbuhan dari benih tersebut. Kira-kira 3 bulan benih yang sudah tumbuh bisa dipindahkan di ladang atau di pot. Agar menghasilkan benih yang dapat bertumbuh dengan baik maka diperlukan tanah yang subur. Dalam perumpamaan tentang penabur, Tuhan Yesus memberikan gambaran tentang kehidupan orang yang percaya. Tipe pertama adalah orang yang mendengar firman tetapi tidak menyimpannya sehingga iblis datang untuk mencurinya. Oleh sebab itu, benih itu tidak dapat tumbuh sama sekali. Tipe kedua adalah orang yang mendengar firman dengan bersukacita, tetapi tidak sampai berakar yang kuat, karena dasarnya tidak kokoh. Ketika panas terik menyengat, mulailah layu imannya tanpa menghasilkan apa-apa. Tipe ketiga adalah orang yang menerima firman, berakar, dan bertumbuh. Namun pertumbuhannya berada di tengah-tengah semak duri yang semakin hari semakin lebih besar. Akhirnya matilah pertumbuhan itu, karena tidak kuat menghadapi berbagai tantangan dan persoalan yang menghimpit dan menekannya hari lepas hari. Tipe yang keempat adalah tipe tanah yang subur. Orang percaya yang telah menyiapkan hatinya untuk ditaburi benih firman. Jadi ketika firman itu ditaburkan, maka akan bertumbuh dengan sangat baik. Ia berakar semakin kuat dan pada saatnya akan menghasilkan buah yang banyak dan dapat dinikmati. Jemaat terkasih, setiap orang percaya pasti merindukan menjadi tipe yang keempat, yaitu menjadi tempat yang subur untuk menerima firman Tuhan. Akan tetapi untuk menjadi subur tidaklah instan. Maka hidup kita harus senantiasa dipersiapkan, yaitu melatih diri berfokus pada firman, merenungkan firman itu siang dan malam, serta menggumulkan di dalam doa supaya rema itu dapat tertanam dalam hati, berakar kuat, bertumbuh subur, dan pada akhirnya berbuah lebat. Mari menyiapkan seluruh kehidupan ini menjadi tempat bertumbuh dan berbuahnya firman Tuhan.
Tema gereja tahun ini: Lakukan yang terbaik untuk keselamatan jiwa-jiwa, ini seirama dengan Amanat Agung yang tertulis di Injil Markus dan Matius. Mereka yang percaya dan dibaptis akan diselamatkan, selanjutnya dididik menjadi murid yang harus melakukan segala sesuatu yang telah diajarkan oleh Tuhan Yesus. Ada proses yang tidak sederhana dalam Amanat Agung, yaitu: Injil [kebenaran Tuhan] diberitakan baik secara langsung maupun tidak langsung [melalui kesaksian hidupnya Matius 5:16], orang yang mau percaya selanjutnya dididik menjadi murid Tuhan Yesus, dan orang percaya yang sudah menjadi murid juga harus pergi dan memberitakan Injil kepada orang lain, lahir orang percaya baru yang harus dididik menjadi murid. Demikian seterusnya seperti suatu reaksi berantai dalam pembuatan sebuah bom atom. Supaya proses penginjilan berjalan lancar perlu dipahami kebenaran yang terkait proses keselamatan jiwa. Anugerah keselamatan melalui penebusan salib harganya sangat mahal [I Petrus 1:18] dan bertujuan supaya manusia bisa dikembalikan kepada rancangan semula Tuhan waktu menciptakannya, serupa dengan Penciptanya. Dengan demikian manusia bisa menemukan kembali kemuliaan Tuhan yang telah hilang/berkurang [Roma 3:23], orang percaya bisa mengenakan kodrat ilahi, hidup kudus dan tidak bercacat tidak bercela di hadapan Tuhan dan manusia [Efesus 1:4]. Proses pengudusan orang percaya, pertama oleh darah Kristus yang tercurah di kayu salib [Pengudusan pasif yang hanya bisa dilakukan Bapa], selanjutnya kita dikuduskan oleh ketaatan kepada kebenaran melalui pimpinan Roh Kudus [I Petrus 1:22, Yohanes 14:26], hal ini menuntut tanggung jawab masing-masing individu, disebut juga pengudusan aktif. Dalam hal ini gereja harus berfungsi sebagai “sekolah teologia” bagi jemaat supaya anggota jemaat bertumbuh dalam memahami kebenaran Injil yang murni dan para pimpinan rohani dan aktivis gereja menampilkan sosok teladan yang bisa menjadi model dalam mentaati segala sesuatu yang telah diajarkan oleh Tuhan Yesus. Syarat penting dalam proses keselamatan adalah manusia harus percaya kepada Tuhan Yesus dan Injil yang diajarkan-Nya. Percaya Tuhan Yesus bukan sekedar mengakui secara pikiran akan status dan riwayat-Nya. Iman berarti penyerahan dan penurutan/ketaatan mutlak kepada pribadi yang dipercayai [= iman Abraham]. Untuk memiliki iman taraf ini memang tidak mudah, namun diperlukan perjuangan dan usaha serius untuk mengerjakan keselamatan dengan takut dan gentar [Lukas 13:24, Pilipi 2:12]. Melepaskan diri dari segala miliknya, yaitu tidak mencintai dunia [Lukas 14:33, Matius 13:22].
Sejak ditemukannya benua Amerika oleh Columbus pada abad 15 dan diketahui bahwa benua baru tersebut menyimpan kekayaan alam yang luar biasa, ribuan orang dari Eropa berduyun-duyun datang kesana. Puncaknya adalah di abad 19 ketika terjadi ’demam emas’. Tersebutlah seorang pria yang juga datang ke Amerika hendak menambang emas, namun betapa kecewanya ia menerima kenyataan bahwa emas yang diimpikan sudah habis. Sementara uang untuk pulang menipis. Dengan gontai dan pikiran kosong, ia berjalan mendekati kereta kudanya. Untuk sekian menit, pikirannya menerawang entah ke mana, sambil tangannya memegang terpal penutup kereta kudanya. Ahaa!! Tiba-tiba datang ide cemerlang ke dalam pikirannya. Dengan tangan masih memegang terpal penutup kereta kuda, ia memandang ke arah penambang yang sedang bekerja keras mengumpulkan butiran emas, dengan kondisi pakaian yang sudah tidak jelas. Sontak muncul ide cerdas di pikirannya. Ia bertanya di dalam hati, ’Mengapa tidak ada celana khusus penambang yang terbuat dari bahan yang kuat seperti terpal ini? Selain lebih awet, kulit penambang juga bisa terlindungi dari goresan yang membuat sakit’. Siapa menyangka berawal dari rasa frustasi akibat gagal menjadi penambang emas, pria tadi secara tidak sengaja menemukan ide untuk membuat bahan celana yang terbuat dari terpal. Bahan celana yang kelak disebut jeans itu kini sudah dipakai di seluruh dunia, sebagai bagian yang tidak bisa dipisahkan dari mode. Pria itu bernama Levi Strauss, seorang Yahudi-Jerman, yang produknya dikenal dengan merk Levi’s. Dahulu Israel dikenal sebagai negeri yang gersang. Seluruh negeri dikelilingi hamparan gurun pasir, tak ada satupun tanaman bisa tumbuh kecuali kaktus. Sumber air pun tidak ada, lalu apa yang mau diharap dari negeri seperti itu? Namun sebagai bangsa yang cerdas, bangsa Yahudi terus maju dan tidak menyerah dengan kondisi alam seperti itu. Didukung kecanggihan teknologi, saat ini Israel dikenal sebagai penghasil buah-buahan terbaik di dunia. Mazmur 126:4, Tuhan berjanji memulihkan Sion dan memulihkan batang-batang air kering di tanah Negeb. Tuhan berkuasa mengubah padang gurun menjadi kebun buah-buahan, sesuatu yang mustahil bagi logika manusia! [Yes 32:15]. Hal ini yang dikehendaki Tuhan atas gerejaNya. Jangan mudah menyerah dengan kondisi yang ada!
BARCODE BBM CHANNELS
RENUNGAN HARIAN
Penguasaan Diri
21 Februari '18
Selamatkanlah Waktumu
20 Februari '18
Mengenal Tuhan, Menanggalkan Kesombongan
16 Februari '18
Copyright © 2012 All rights reserved. Designed and Developed by GIA Dr. Cipto Semarang