SEPEKAN TERAKHIR
  Senin, 27 April 2015   -HARI INI-
  Minggu, 26 April 2015
  Sabtu, 25 April 2015
  Jumat, 24 April 2015
  Kamis, 23 April 2015
  Rabu, 22 April 2015
  Selasa, 21 April 2015
POKOK RENUNGAN
Ingatlah bahwa Pencobaan yang kita alami tidak melebihi kekuatan kita (1Korintus10:13), oleh karena itu jangan menyerah dan putus asa.
DITULIS OLEH
Ibu Ribkah E. Christanti
Kontributor
Renungan Lain oleh Penulis:
Home  »  Renungan  »  Hai Ibu, Besar Imanmu
Hai Ibu, Besar Imanmu
Sabtu, 04 Mei 2013 | Tema: Memiliki Karakter Kristus
Hai Ibu, Besar Imanmu
Matius 15:21-28
Dalam hidup ini kita akan selalu diperhadapkan dengan berbagai macam pergumulan, yaitu berbagai macam tantangan dan kesulitan. Tantangan dan kesulitan tersebut tidak hanya dialami orang yang belum percaya Tuhan tetapi juga dialami oleh anak-anak Tuhan. Seringkali pergumulan itu begitu kompleks, sehingga kita ragu dalam melangkah bahkan sepertinya tidak ada jalan keluar. Ketika kita tidak mengerti lagi apa yang harus dilakukan, kita tidak boleh menyerah dan putus asa begitu saja, pada saat itulah kita harus datang lebih lagi pada Tuhan.

Jika kita memperhatikan secara jelas kisah perempuan Kanaan ini, kita dapat melihat bahwa perempuan Kanaan ini memiliki sikap hati yang tidak mudah menyerah dan putus asa sehingga Yesus berkata kepadanya, ”Hai ibu, besar imanmu.” Bagaimana perempuan Kanaan ini dapat memiliki sikap yang tidak mudah menyerah dan putus asa ketika tantangan penolakan dari murid-murid Yesus dan sikap Yesus yang acuh ketika perempuan tersebut memohon kesembuhan untuk anaknya? Yang pertama adalah, berpikir positif (ayat 22).
Pada waktu itu orang Kanaan mempunyai image negatif karena dianggap oleh orang Israel akan membawa pengaruh buruk. Dalam keadaan tersebut perempuan Kanaan itu tidak berkecil hati, tapi dia berpikir positif (Filipi. 4:8) dengan menghampiri Tuhan Yesus. Kedua, tidak mudah terpengaruh oleh keadaan (ayat 23). Walaupun murid-murid Yesus meminta-Nya untuk menyuruh perempuan Kanaan itu pergi, tetapi perempuan itu tetap tegar untuk ...selengkapnya »
Kejadian 6:5-9 Tetapi Nuh mendapat kasih karunia di mata TUHAN [ayat 8]. Nuh mendapat kasih karunia di mata Tuhan. Nuh berkenan di hati Tuhan. Tuhan senang melihat kehidupan Nuh. Sementara itu Tuhan merasa sedih karena melihat kehidupan manusia di bumi ini telah menjadi jahat dan rusak. Tetapi ada satu hal yang menghibur hati-Nya karena masih ada seorang yang hidupnya benar, yaitu Nuh. Maka Tuhan berkenan kepada Nuh. Seorang yang mendapat perkenan Allah adalah seorang yang beruntung. Nuh mendapat perkenan Tuhan sehingga dia diselamatkan dari air bah. Bukan hanya dia saja, tetapi seluruh keluarganya diselamatkan dari hukuman itu dan dipakai Tuhan menjadi penyelamat kehidupan. Seorang yang diperkenan oleh Tuhan adalah seorang yang mendapat perlakuan istimewa dari Tuhan. Tuhan memberi perhatian khusus kepada orang itu. Tuhan menunjukkan jalan-Nya kepada orang yang Dia perkenan. Tuhan melewatkan orang itu dari bahaya yang membinasakan. Tuhan mempersiapkan masa depan yang baik bagi orang yang diperkenan-Nya. Itu tidak berarti bahwa orang yang diperkenan Tuhan tidak pernah mengalami kesulitan. Kita melihat di dalam Alkitab bahwa orang-orang yang diperkenan Tuhan seperti Abraham, Musa, Daud, Daniel dan yang lainnya mengalami kesulitan-kesulitan dalam hidup mereka. Tetapi Tuhan selalu memberi pertolongan kepada mereka sehingga mereka menang atas kesulitan-kesulitan itu. Mazmur 37:23-24 berkata: ’TUHAN menetapkan langkah-langkah orang yang hidupnya berkenan kepada-Nya; apabila ia jatuh, tidaklah sampai tergeletak, sebab TUHAN menopang tangannya.’ Orang yang diperkenan Tuhan bisa saja mengalami kejatuhan, tetapi tidak akan dibiarkan Tuhan sampai tergeletak. Tuhan tidak pernah meninggalkan orang yang hidupnya berkenan pada-Nya. Karena itu jalanilah hidup ini dengan mengikuti kehendak-Nya, supaya hidup Anda berkenan kepada-Nya. Amin.
Yohanes 12:24-26 Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya jikalau biji gandum tidak jatuh ke dalam tanah dan mati, ia tetap satu biji saja; tetapi jika ia mati, ia akan menghasilkan banyak buah. [ayat 24] Pada saat Presiden Abraham Lincoln meninggal, jenazahnya dibawa dari Washington menuju ke Illinois untuk dimakamkan. Pada waktu itu perjalanan menggunakan jalan darat melewati kota-kota. Pada saat melewati kota Albany, iring-iringan jenazah itu melintasi jalan utama kota dan banyak orang menyaksikannya. Di antara kerumunan orang itu ada seorang wanita kulit hitam mengangkat anak laki-lakinya setinggi mungkin sehingga bisa melihat dengan jelas iring-iringan jenazah sang presiden. Dia berkata kepada anaknya, ’Pandanglah selama mungkin anakku. Dia telah mati untukmu.’ [Catatan: Abaraham Lincoln adalah presiden Amerika yang gigih memperjuangkan persamaan hak setiap warga negara tanpa membedakan warna kulit. Dia mati karena dibunuh oleh lawan politiknya] Kematian seorang yang memperjuangkan kebenaran bukanlah akhir dari segalanya. Bahkan kematian orang tersebut merupakan awal dari tumbuhnya kebenaran yang diperjuangkan. Kematiannya dapat digambarkan seperti biji gandum yang ditanam di tanah, lalu bertumbuh menjadi tunas, dan selanjutnya menjadi tanaman yang menghasilkan buah yang berlipat kali jumlahnya. Hari Jumat besok kita akan memperingati kematian Yesus Kristus. Kematian Yesus selalu kita peringati sebagai sebuah peristiwa yang agung, yang layak untuk selalu dikenang dan punya makna yang dalam bagi hidup kita. Yesus telah mati untuk kita. Karena kematian-Nya kita dibebaskan dari kutuk dosa dan beroleh hidup yang baru. Kematian-Nya merupakan pemberian hidup-Nya, bagai biji gandum yang ditabur di dalam tanah, lalu tumbuh dan menjadi tanaman yang menghasilkan banyak buah. Buah-buah dari pengorbanan Kristus adalah berupa jiwa-jiwa yang diselamatkan. Sebagai pengikut Yesus kita hidup di jalan-Nya. Dia memberikan hidup-Nya untuk selalu menyampaikan kabar baik tentang Kerajaan Allah. Karena itu Dia mengekspresikan kasih Allah dengan menyembuhkan orang sakit, menolong orang yang susah dan menyatakan belas kasih kepada orang berdosa. Dia berikan hidup-Nya secara utuh. Selamat menyambut peristiwa yang paling agung sepanjang sejarah.
Nuh hidup di tengah-tengah masyarakat yang jahat, rusak di hadapan Allah, dan penuh kekerasan. Dia tidak larut di tengah rusaknya dunia, tetapi hidup benar dan tidak bercela di hadapan Allah. Nuh hidup bergaul dengan Allah dan sangat taat kepada perintah-Nya. Waktu Allah sudah hilang kesabaran-Nya melihat ulah umat manusia dan akan memusnahkan mereka, Nuh beserta keluarga diselamatkan. Nuh diperintah untuk membuat kapal dengan ukuran panjang 133 m, lebar 22 m, dan tinggi 13 m. Kapal sangat besar yang dikerjakan oleh Nuh dan anak-anaknya dengan peralatan sangat sederhana. Mereka membuat kapal dengan bersusah payah dalam jangka waktu puluhan tahun di tengah cemooh dan olok-olok masyarakat. Nuh tetap setia dan percaya kepada janji Allah, walaupun harus mengalami kesulitan. Hal itu yang menyebabkan Nuh disukai Allah [Kejadian 6]. Seringkali orang percaya beranggapan sudah menyenangkan hati Tuhan apabila sangat sibuk dengan pelayanan, memberi persembahan dalam jumlah besar walau tidak mempunyai waktu pribadi untuk Tuhan. Pandangan yang sangat keliru, karena Tuhan menyukai kasih setia daripada korban sembelihan. Menyukai pengenalan akan Allah lebih dari korban bakaran. Pengenalan akan Allah melalui kasih-Nya, kesetiaan-Nya, perintah-Nya, janji-Nya yang benar-benar kita pahami dan berdampak pada kehidupan sehari-hari. Kita bersyukur apabila kita mempunyai waktu untuk melayani pekerjaan-Nya, bisa memberi persembahan yang besar kepada-Nya. Tetapi akan lebih baik lagi jika kita taat akan perintah-Nya walaupun tidak mudah, berbagi kasih Kristus pada semua orang, setia kepada-Nya meskipun dalam penderitaan, memberitakan kabar keselamatan melalui hidup dan perkataan kita. Maukah kita disukai oleh Allah? Hiduplah bergaul dengan Allah.
Suatu kenyataan yang tidak bisa dielakkan bahwa dalam hidup ini pasti menghadapi problem. Hal ini berlaku bagi orang percaya dan non kristen. Pada umumnya orang mempunyai pemahaman bahwa problem adalah segala sesuatu yang dapat mengganggu pikiran dan jiwa, menimbulkan ketidaktenangan dan ketidaknyamanan. Contohnya: gangguan kesehatan, kesulitan studi, pekerjaan, kegagalan dalam karir, rumah tangga, diperlakukan tidak adil, dll. Adanya problem sebetulnya bisa dimaklumi karena kita masih hidup di bumi yang sudah terkutuk dan ditengah-tengah masyarakat manusia yang sudah jatuh dalam dosa [Kejadian 3:17-19]. Sekalipun secara pribadi sedang tidak mengalami problem, kita masih menghadapi masalah, yaitu ikut merasakan dan memikul beban atau problem orang lain. Ini berarti bahwa yang diharapkan bukan keadaan tanpa problem, tetapi bagaimana tetap memiliki pikiran dan jiwa yang tidak terganggu oleh problem yang ada. Kita memang tidak bisa mengatur keadaan sekitar atau perilaku orang lain, namun kita bisa mengatur respon kita terhadap problem yang datang. Untuk dapat mengatur respon kita dan tetap menikmati damai sejahtera, perlu menghayati kebenaran Firman Tuhan yang murni dan hidup di dalamnya [Yohanes 8:31-32], antara lain: 1. Menyadari bahwa problem umum tersebut adalah hal biasa [1 Korintus 10:13]. Belajar memahami bahwa problem adalah berkat Tuhan untuk kedewasaan rohani [Roma 8:28-29] ,dan untuk hal ini diperlukan proses panjang [Ibrani 12:10-11]. 2. Menyadari bahwa pada hakekatnya problem terbesar kita adalah masih terhambatnya pertumbuhan rohani kita [Ibrani 5:11-12]. Pertumbuhan rohani diperlukan supaya kita dipulihkan menjadi sempurna seperti rancangan Allah semula adalah satu-satunya agenda [visi] Bapa dengan karya penebusan oleh Tuhan Yesus Kristus. Kita harus selalu risau dan berjuang keras mengejar dan meningkatkan keadaan rohani yang masih jauh dari standar yang dikehendaki oleh Tuhan. Tetapi ironisnya banyak orang percaya lebih merisaukan hal-hal lain. 3. Dalam menghadapi semua problem, kita harus bisa membedakan mana yang menjadi bagian atau tanggung jawab kita, yang mana menjadi bagian Tuhan [Kejadian 1:28].
BARCODE BBM CHANNELS
RENUNGAN HARIAN
Kurma Padang Gurun
31 Maret '15
Problem Terbesar Seorang Anak Tuhan
25 April '15
Menemukan Mujizat Berkat
28 Maret '15
Copyright © 2012 All rights reserved. Designed and Developed by GIA Dr. Cipto Semarang