SEPEKAN TERAKHIR
  Selasa, 02 September 2014   -HARI INI-
  Senin, 01 September 2014
  Minggu, 31 Agustus 2014
  Sabtu, 30 Agustus 2014
  Jumat, 29 Agustus 2014
  Kamis, 28 Agustus 2014
  Rabu, 27 Agustus 2014
POKOK RENUNGAN
Ingatlah bahwa Pencobaan yang kita alami tidak melebihi kekuatan kita (1Korintus10:13), oleh karena itu jangan menyerah dan putus asa.
DITULIS OLEH
Ibu Ribkah E. Christanti
Kontributor
Renungan Lain oleh Penulis:
Home  »  Renungan  »  Hai Ibu, Besar Imanmu
Hai Ibu, Besar Imanmu
Sabtu, 04 Mei 2013 | Tema: Memiliki Karakter Kristus
Hai Ibu, Besar Imanmu
Matius 15:21-28
Dalam hidup ini kita akan selalu diperhadapkan dengan berbagai macam pergumulan, yaitu berbagai macam tantangan dan kesulitan. Tantangan dan kesulitan tersebut tidak hanya dialami orang yang belum percaya Tuhan tetapi juga dialami oleh anak-anak Tuhan. Seringkali pergumulan itu begitu kompleks, sehingga kita ragu dalam melangkah bahkan sepertinya tidak ada jalan keluar. Ketika kita tidak mengerti lagi apa yang harus dilakukan, kita tidak boleh menyerah dan putus asa begitu saja, pada saat itulah kita harus datang lebih lagi pada Tuhan.

Jika kita memperhatikan secara jelas kisah perempuan Kanaan ini, kita dapat melihat bahwa perempuan Kanaan ini memiliki sikap hati yang tidak mudah menyerah dan putus asa sehingga Yesus berkata kepadanya, ”Hai ibu, besar imanmu.” Bagaimana perempuan Kanaan ini dapat memiliki sikap yang tidak mudah menyerah dan putus asa ketika tantangan penolakan dari murid-murid Yesus dan sikap Yesus yang acuh ketika perempuan tersebut memohon kesembuhan untuk anaknya? Yang pertama adalah, berpikir positif (ayat 22).
Pada waktu itu orang Kanaan mempunyai image negatif karena dianggap oleh orang Israel akan membawa pengaruh buruk. Dalam keadaan tersebut perempuan Kanaan itu tidak berkecil hati, tapi dia berpikir positif (Filipi. 4:8) dengan menghampiri Tuhan Yesus. Kedua, tidak mudah terpengaruh oleh keadaan (ayat 23). Walaupun murid-murid Yesus meminta-Nya untuk menyuruh perempuan Kanaan itu pergi, tetapi perempuan itu tetap tegar untuk ...selengkapnya »
Bagi para penggemar berat olahraga sepak bola, siapa yang tak kenal dengan Paolo Di Canio? Striker asal Italia ini sering dianggap sebagai salah satu biang keonaran di lapangan karena temperamennya yang tinggi dan meledak-ledak. Meskipun demikian siapa yang menyangka mantan striker West Ham United ini juga bisa berjiwa besar. Hal itu dibuktikan dengan diraihnya penghargaan sebagai pemain paling fair pada 2001 oleh FIFA (Asosisasi Sepak Bola Dunia). Penghargaan ini diberikan atas aksi Paolo Di Canio di pertandingan liga Inggris antara West Ham United vs Everton tahun 2001 silam. Paolo Di Canio memutuskan untuk menghentikan permainan dan membuang bola saat dia melihat kiper Everton Paul Gerrard terkapar. Seaindainya saja dia mau memutuskan untuk meneruskan permainan dan menceploskan bola ke gawang yang kosong, pastilah 99 % gol akan terjadi. Ada sebuh pepatah jawa yang berkata, “jamane jaman edan, nek ora edan ora keduman”. Zaman sekarang adalah zaman yang “gila”, jika tidak ikut menjadi “gila”, maka kita tidak akan mendapatkan bagian, kurang lebih itulah terjemahan bebas dari pepatah jawa tersebut. Orang akan melakukan berbagai macam cara untuk mempertahankan hidup. Orang akan melakukan segalanya agar tetap eksis hidup di dunia ini. Tuntutan kebutuhan dan situasi zaman dapat membuat seseorang kehilangan integritas untuk bertindak dalam kebenaran. Berpikir benar, bertindak benar dan berkata-kata di dalam kebenaran bukan perkara yang mudah untuk dilakukan dalam perkembangan dunia dewasa ini. Bagi pengikut Kristus, hal terpenting yang perlu dipertimbangkan adalah bahwa kebenaran itu mencerminkan hubungan kita dengan Tuhan. Saat kita menyerahkan hidup kita di dalam Yesus, maka kita adalah milik Kristus. Dan secara otomatis seharusnya apa yang kita lakukan pun mencerminkan Kristus tinggal di dalam kita (Efesus 4:15, Kolose 3:9). Penulis Amsal menjelaskan bahwa hidup yang bersih jauh lebih mulia dan dicari oleh banyak orang daripada orang yang hidup dalam kebohongan (Amsal 19:1-9). Kebohongan yang dimaksud oleh penulis kitab Amsal tidak saja dalam hal perkataan, melainkan juga dalam seluruh tingkah laku. Orang yang tidak berintegritas pasti akan melakukan “kebohongan” dalam dirinya. Maksudnya adalah jika seseorang tidak berintegritas, maka segala yang dilakukannya mencerminkan ketidaksesuaian. Apa yang ditampilkan hanya merupakan kamuflase dan kemunafikan. Oleh karena itu pilihan yang tepat dan bijak adalah bertindak dengan penuh integtitas, yaitu berpikir, bertindak dan bertutur kata dalam kebenaran.
Sebuah gereja kecil dengan anggota jemaat sekitar 150 orang yang berada di tengah sebuah perumahan suatu ketika mendapat berita bahwa besok siang akan ada penyerbuan dari kelompok tertentu. Kelompok itu akan datang dengan rombongan besar karena mereka tidak setuju dan merasa terganggu dengan adanya gereja. Mereka bertujuan untuk menghancurkan bangunan gereja. Pada waktu mendapat berita tersebut, jemaat menjadi panik. Pendeta berkata menenangkan jemaat, “Jangan kita takut dan panik karena mereka datang dengan kekuatan manusia, tetapi yang menyertai kita adalah Tuhan, Allah yang Maha Kuasa. Mari kita datang dan bersujud kepada-Nya karena pertolongan datang dari Allah saja.” Keesokan harinya pada jam diperkirakan, mereka datang. Sang Pendeta dan isterinya masuk di tempat ibadah untuk berdoa dan tidak menghiraukan himbauan aparat keamanan yang melarang masuk. Sampai malam hari dan hari-hari berikut sampai sekarang tidak ada satupun orang yang datang untuk merusak gedung gereja. Mereka berani bukan mampu tetapi karena kuasa Tuhan yang menyertainya. Yerusalem dikepung oleh tentara Asyur di bawah pimpinan raja Sanherib. Raja Hizkia menutup semua mata air di seluruh negeri dan membangun tembok dan menara-menara. Memperkuat pasukan tentara dan mengangkat panglima-panglima perang. Walaupun persiapan demikian kuat, rakyat tetap ketakutan karena selain pasukan Asyur sangat besar, mereka menyebarkan berita kepada rakyat bahwa tidak ada bangsa manapun yang tidak pernah dikalahkannya. Hizkia menemui rakyatnya dan berkata, “Kuatkanlah dan teguhkanlah hatimu! Jangan takut karena yang menyertai mereka adalah tangan manusia, tetapi yang menyertai kita adalah Tuhan, Allah kita, yang membantu kita dan melakukan peperangan kita.” Hizkia sujud dan berdoa bersama nabi Yesaya. Tuhan mengirimkan malaikatnya untuk melawan dan melenyapkan pasukan Asyur (ayat 20-21). Hizkia berani karena dia yakin Tuhan yang Maha Besar itu yang menyertainya. Mungkin saat ini kita sedang mengalami masalah yang sangat besar sehingga kita sangat ketakutan. Marilah seperti Hizkia kita kuatkan dan teguhkan hati kita, jangan takut karena Tuhan Yesus Kristus yang senantiasa menyertai kita jauh lebih besar kuasa-Nya dibanding dengan apapun masalah kita. Jadilah pemberani bukan karena kekuatan kita sendiri tetapi karena Tuhan menyertai kita.
Hobi yang paling saya gemari pada masa kecil adalah berenang. Karena masa kecil saya tidak tumbuh di daerah perkotaan, maka tempat menyalurkan hobi saya bukan di water blaster, Jatim Park ataupun di kolam renang hotel berbintang yang mewah. Bersama teman-teman, biasanya saya renang di sungai, telaga, bahkan di pantai. Walaupun sejak kecil saya seorang perenang, namun ada satu kejanggalan yang saya alami saat berenang, yaitu saya sangat takut dengan kedalaman sungai ataupun pantai yang tidak dapat ditembus oleh penglihatan. Biasanya kalau dalam, warna air akan berubah menjadi kebiru-biruan. Dalam ‘ketakutan yang buta’ (asumsi negatif), saya diperhadapkan dengan dua plihan. Saya akan pergi dan meninggalkan kedalaman air yang menakutkan atau saya akan menyelidiki kedalaman air tersebut dan menemukan bahwa dikedalaman air itu sebenarnya tidak ada apa-apa yang dapat membahayakan hidup saya. Biasanya saya memutuskan untuk memilih yang kedua, yaitu menyelidiki kedalaman air itu. Dah hasilnya setelah saya memastikan bahwa di kedalaman air itu tidak ada yang membahayakan diri saya, saya dapat berenang dengan bebas, leluasa dan tanpa dihantui rasa takut. Jemaat yang terkasih, kadangkala ketakutan sering menghantui kita baik dalam pelayanan, pekerjaan, keluarga, masa depan, sekolah, dan lain-lain. Namun tidak benar jika kita memandang ketakutan yang muncul dalam diri kita selalu berkecenderungan negatif sehingga kita segera berdoa supaya Tuhan menjauhkan kita dari rasa takut yang selalu menghantui kita. Ketakutan dapat dipandang secara positif jika kita dapat berpikir dengan bijak untuk mencari sumber ketakutan kita, sehingga kita dapat menentukan pilihan untuk mengatasi ketakutan itu. Misalnya, jika seorang anak sekolah takut tidak lulus ujian sekolah, maka pilihan tepat yang harus ia ambil adalah belajar dengan sungguh. Sebagai orang dewasa yang takut gagal dalam hidup, kita dapat menata hidup kita sejak saat kita sadar akan ketakutan itu. Contohnya, menjalani dan menyelesaikan studi dengan baik, mengatur menejemen keuangan dengan baik, bergaul dengan orang yang baik, mencari pasangan hidup yang baik, dll. Semua adalah pilihan yang harus kita tentukan. Sejak awal kita diciptakan-Nya, kita didesain menjadi orang yang berhasil (serupa dengan Allah berarti sangat baik- sempurna). Bahkan ketika kita hidup di bawah bayang-bayang dosa keturunanpun, Tuhan tetap memberikan Roh-Nya yang membuat kita menjadi berani dan tidak hidup dalam ‘ketakutan yang buta’ (Roma 8:15). Oleh karena itu jangan takut dengan asumsi negatif kita, melainkan pilihlah jalan yang dapat memberanikan dan membangun diri kita.
Kehidupan bangsa Indonesia yang sekarang tak bisa dipisahkan dari sejarah. Indonesia di masa lalu, kira-kira 3,5 abad bangsa ini ada dalam tekanan penjajah. Rakyat di berbagai daerah mengadakan perlawanan terhadap penjajah, namun tidak mencapai hasil yang maksimal. Sampai akhirnya di tahun 1945 Indonesia memasuki zaman kemerdekaan. Di era Indonesia yang sekarang, tidak bisa dipungkiri masih banyak penyimpangan-penyimpangan yang membuat perjalanan bangsa ini tidak mulus. Sekarang kita akan melihat pengalaman Abram bapa leluhur kita secara rohani. Dia bukanlah seorang negarawan yang punya latar belakang pendidikan tata negara atau kemiliteran. Ketika dipanggil Allah untuk pergi ke tanah perjanjian usianya sudah lanjut. Cerita yang ia dengar tentang Lot yang tertawan membuat inisiatifnya timbul. Ia mengerahkan orang-orang yang ada di rumahnya juga para sahabatnya untuk maju berperang mengalahkan musuh yang tidak sedikit dan tidak main-main kekuatannya. Abram yakin bahwa Allahnya adalah Allah yang luar biasa yang menyertai dan sanggup menjadi pembelanya. Dia juga berjiwa luhur, ia ingin menjadi pengayom untuk yang lemah. Strategi perang tidak dimilikinya, tetapi penyerahan diri kepada Allah serta niat baik itulah yang menjadi modal utamanya memperoleh kemenangan. Yang mengagumkan lagi, Abram menolak semua pemberian raja Sodom yang ditawarkan kepadanya. Kepentingan pribadi tidak ia dahulukan, bahkan ia memberikan sepersepuluh harta hasil jarahannya kepada raja Salem sebagai ucapan syukurnya kepada Tuhan yang memimpinnya mengalahkan Kedorlamoer dan sekutunya. Berapa di antara kita, anak-anak bangsa, yang mempunyai jiwa seperti Abram. Meskipun sebagai orang Kristen kita adalah golongan minoritas di negeri ini, tetapi apakah kita memiliki jiwa serta kiprah seperti Abram yang bersedia berkorban bagi yang lemah dan mengayomi mereka. Apakah kita juga bersikap pantang menyerah untuk membela kebenaran dan terus percaya bahwa Allah ada di pihak kita serta mampu menolong kita. Satu hal lagi, ketika kita mengalami keberhasilan dalam perjuangan kita membela yang lemah, apakah kita tetap rendah hati dan tidak mengambil keuntungan pribadi?
BARCODE BBM CHANNELS
RENUNGAN HARIAN
Berani Menceritakan Kebenaran
29 Agustus '14
Rasanya Rasa Takut
05 Agustus '14
Pejuang Kebenaran
11 Agustus '14
Copyright © 2012 All rights reserved. Designed and Developed by GIA Dr. Cipto Semarang