SEPEKAN TERAKHIR
  Kamis, 31 Juli 2014   -HARI INI-
  Rabu, 30 Juli 2014
  Selasa, 29 Juli 2014
  Senin, 28 Juli 2014
  Minggu, 27 Juli 2014
  Sabtu, 26 Juli 2014
  Jumat, 25 Juli 2014
POKOK RENUNGAN
Ingatlah bahwa Pencobaan yang kita alami tidak melebihi kekuatan kita (1Korintus10:13), oleh karena itu jangan menyerah dan putus asa.
DITULIS OLEH
Ibu Ribkah E. Christanti
Kontributor
Renungan Lain oleh Penulis:
Home  »  Renungan  »  Hai Ibu, Besar Imanmu
Hai Ibu, Besar Imanmu
Sabtu, 04 Mei 2013 | Tema: Memiliki Karakter Kristus
Hai Ibu, Besar Imanmu
Matius 15:21-28
Dalam hidup ini kita akan selalu diperhadapkan dengan berbagai macam pergumulan, yaitu berbagai macam tantangan dan kesulitan. Tantangan dan kesulitan tersebut tidak hanya dialami orang yang belum percaya Tuhan tetapi juga dialami oleh anak-anak Tuhan. Seringkali pergumulan itu begitu kompleks, sehingga kita ragu dalam melangkah bahkan sepertinya tidak ada jalan keluar. Ketika kita tidak mengerti lagi apa yang harus dilakukan, kita tidak boleh menyerah dan putus asa begitu saja, pada saat itulah kita harus datang lebih lagi pada Tuhan.

Jika kita memperhatikan secara jelas kisah perempuan Kanaan ini, kita dapat melihat bahwa perempuan Kanaan ini memiliki sikap hati yang tidak mudah menyerah dan putus asa sehingga Yesus berkata kepadanya, ”Hai ibu, besar imanmu.” Bagaimana perempuan Kanaan ini dapat memiliki sikap yang tidak mudah menyerah dan putus asa ketika tantangan penolakan dari murid-murid Yesus dan sikap Yesus yang acuh ketika perempuan tersebut memohon kesembuhan untuk anaknya? Yang pertama adalah, berpikir positif (ayat 22).
Pada waktu itu orang Kanaan mempunyai image negatif karena dianggap oleh orang Israel akan membawa pengaruh buruk. Dalam keadaan tersebut perempuan Kanaan itu tidak berkecil hati, tapi dia berpikir positif (Filipi. 4:8) dengan menghampiri Tuhan Yesus. Kedua, tidak mudah terpengaruh oleh keadaan (ayat 23). Walaupun murid-murid Yesus meminta-Nya untuk menyuruh perempuan Kanaan itu pergi, tetapi perempuan itu tetap tegar untuk ...selengkapnya »
Sikap dan perilaku berbagi bukan sesuatu yang asing bagi kita. Sejak kecil kita sudah diajar dan dilatih untuk berbagi, bahkan kitapun mengajar anak cucu kita untuk berbagi. Ketika si Nonik atau si Nyonyo kecil sudah bisa pegang biskuit di tangan mungilnya dan mulai belajar makan sendiri, kita mengajarnya untuk berbagi, “Minta dong?” Kalau si kecil memberikannya, dia mendapat pujian tapi lebih sering dia sampai menangis mempertahankan biskuitnya. Di saat yang lain si kecil pegang makanan di kedua belah tangannya, kembali kita ajar dia untuk berbagi, “Bagi dong, kan kamu punya dua?” Mungkin si kecil memberikan yang satu, tapi sering dia mempertahankan kedua-duanya, bahkan dengan cerdik dia berdalih: “Ini pahit, tidak enak”, katanya menirukan ketika kita melarang dia minta sesuatu untuk dimakannya. Itulah sikap dan perilaku anak kecil yang belum mengerti apa arti berbagi, tapi kita toh terus mengajar dan melatihnya untuk berbagi. Bagaimana dengan kita para orang dewasa? Apakah kita terus mengajar dan melatih diri kita sendiri untuk berbagi? Mari kita teladani orang-orang percaya di Yerusalem. Mereka tidak hanya bertekun dengan sehati berkumpul tiap-tiap hari dalam Bait Allah, tapi mereka membangun kesatuan dan kebersamaan dengan sikap dan perilaku saling berbagi. Mereka menyaksikan dan mengalami mukjizat dan tanda yang dikerjakan oleh para rasul. Alkitab mencatat bahwa mereka disukai semua orang dan tiap-tiap hari Tuhan menambahkan jumlah orang-orang yang diselamatkan. Selamat mempraktikkan sikap dan perilaku saling berbagi di dalam komunitas-komunitas d imana Anda ada di dalamnya.
Dia terlahir dengan nama Junaidi. Orang-orang memanggilnya Joned. Tapi lebih banyak yang mengenalnya sebagai Pak Jon si tukang bersih-bersih sekolah. Tugasnya beragam, mulai dari membersihkan setiap jengkal lantai sampai membetulkan atap yang bocor. Tetapi murid-murid lebih mengenalnya sebagai petugas pembersih sekolah sebab sebatang sapu hampir selalu melekat di tangannya. Kelihatannya tak ada yang istimewa. Tak ada yang menaruh perhatian pada apa yang dilakukannya. Tak ada yang memuji-muji hasil kerjanya. Sampai suatu hari ia jatuh sakit dan harus beristirahat cukup lama. Awalnya tak ada yang sadar akan ketidakhadirannya. Lalu halaman sekolah mulai dihiasi daun-daun kering. Sampah di laci-laci meja betah sekali tinggal di sana. Kaca-kaca jendela mulai bisa ditulisi dengan jari. Dan murid-murid mulai bertanya-tanya di mana Pak Jon. Mengapa ia tidak masuk. Kapan mereka boleh menjenguknya. Pada akhirnya mereka mengerti, bukan hanya kepala sekolah dan guru-guru yang punya arti. Seorang petugas pembersih pun punya andil besar dalam proses belajar-mengajar di sekolah. Demikian pula dengan Gereja sebagai Tubuh Kristus. Tiap-tiap anggota memiliki tempat dan peran masing-masing. Bersyukurlah di bagian kita ditempatkan. Semua anggota tubuh itu penting. Jangan menyombongkan diri, jangan pula merasa rendah diri. Layanilah apa yang menjadi tugas kita. Jangan dengan terpaksa, jangan pula demi keuntungan pribadi. Gereja bisa berfungsi dengan baik apabila semua anggotanya berfungsi dengan benar sesuai bagiannya.
Kekuatan bom untuk menghancurkan; kekuatan dinamit juga sama, untuk menghancurkan. Berbagai makanan yang kita konsumsi menghasilkan energi (kekuatan) supaya kita mampu beraktivitas. Pesawat terbang, mobil, sepeda motor bisa bergerak karena ada kekuatan dorongan dari mesin. Yang jelas, semua yang berkekuatan akan bergerak maju mencapai sesuatu. Roh Kudus adalah Pribadi yang memberi kekuatan (power) kepada orang-orang percaya (gereja-Nya). Ketika murid-murid dipenuhi Roh Kudus, maka mereka tidak tinggal diam. Murid-murid bekerja lebih giat dan lebih berani oleh karena dorongan Roh Kudus. Dengan semangat menggelora memberitakan Yesus yang telah bangkit, tidak lagi takut kepada siapapun. Buktinya, Petrus dan Yohanes ketika dipenuhi Roh Kudus, mereka berdua dengan penuh berani memberitakan Yesus yang telah bangkit sekalipun mereka harus ditangkap dan dihadapkan ke mahkamah agama Yerusalem. Akibatnya, jumlah orang percaya bertambah menjadi lima ribu orang (laki-laki saja). Saudara, seorang yang dipenuhi Roh Kudus bukan untuk “gagah-gagahan” rohani, supaya orang lain memberikan hormat. Ada gejala atau kecenderungan yang terjadi pada orang kristen saat-saat ini bahwa banyak orang mengejar supaya dipenuhi Roh Kudus. Saking rindunya dipenuhi Roh Kudus, mereka ke sana-kemari bertanya bagaimana caranya supaya dipenuhi Roh Kudus? Tidak salah rindu dipenuhi Roh Kudus, tetapi persoalannya siapkah kita ketika Roh Kudus memenuhi kita. Sebab ketika Roh Kudus dicurahkan, Dia akan memimpin hidup kita sepenuhnya, sesuai dengan kehendak-Nya, bukan kehendak kita. Berarti, siapkah kita mematikan keinginan-keinginan manusiawi kedagingan kita? Jika belum siap, tunda dulu hasrat mulia itu sampai Anda betul-betul siap.
Seorang pemuda mendapat pekerjaan di rumah seorang pengusaha besar sebagai pelayan. Di hari pertama bekerja dia bertemu dengan senior-senior karyawan di rumah itu. Juru masak berkata kepadanya dengan sombong, “Kamu bekerja di sini tidak ada artinya, tidak seperti saya yang selalu mendapat pujian karena masakan saya sangat enak dan dibutuhkan di rumah ini.” Sopir berkata, “Aku sangat dipercaya tuan karena aku yang senantiasa membawa beliau ke mana saja dan pasti dibutuhkan.” “Aku yang menata semua taman sehingga nampak indah dan menyenangkan hati tuan.” kata tukang kebun. Pada waktu pemuda itu putus asa datanglah seorang pelayan tua yang berkata, “Jangan kamu sedih, lakukanlah pekerjaanmu dengan rendah hati dan tidak sombong akan hasil karyamu.” Perkataan itu membuatnya semangat untuk bekerja, membersihkan rumah, menata perabot dan semua pekerjaan bagiannya dilakukan dengan sukacita. Sang majikan sangat puas dengan pekerjaannya dan selalu memuji dia di hadapan semua karyawan. Dia tetap rendah hati dan tidak menjadi sombong walaupun saat ini dia menjadi kepercayaan tuannya. Firman Tuhan menghendaki kita rendah hati dan selalu menganggap orang lain lebih penting dari diri kita, tidak mencari kepentingan sendiri dan pujian dalam setiap langkah hidup kita (ayat 3). Tidak mementingkan diri sendiri tetapi juga memperhatikan kepentingan orang lain (ayat 4). Agar kita bisa melakukan hal tersebut maka pikiran dan perasaan Yesus harus ada dalam hidup kita (ayat 5). Selama Yesus hidup di dunia, Dia selalu menganggap orang lain penting. Di tengah kelelahan setelah sepanjang hari melayani, Dia tetap melayani orang-orang yang membutuhkan pelayanan-Nya. Dia tidak hanya memperhatikan kebutuhan rohani karena orang-orang itu seperti domba yang tak bergembala, tetapi memperhatikan kebutuhan jasmani sehingga Dia memberi mereka makan. Yesus adalah contoh dan teladan rendah hati yang sejati. Apakah kita sudah meneladani-Nya dan berani menempatkan kepentingan orang lain di atas kepentingan kita?
BARCODE BBM CHANNELS
RENUNGAN HARIAN
Pentingnya Komunitas Rohani
06 Juli '14
Saling Berbagi
07 Juli '14
Otoritas Dalam Komunitas Perjanjian Baru
16 Juli '14
Copyright © 2012 All rights reserved. Designed and Developed by GIA Dr. Cipto Semarang