SEPEKAN TERAKHIR
  Sabtu, 23 September 2017   -HARI INI-
  Jumat, 22 September 2017
  Kamis, 21 September 2017
  Rabu, 20 September 2017
  Selasa, 19 September 2017
  Senin, 18 September 2017
  Minggu, 17 September 2017
POKOK RENUNGAN
Ingatlah bahwa Pencobaan yang kita alami tidak melebihi kekuatan kita (1Korintus10:13), oleh karena itu jangan menyerah dan putus asa.
DITULIS OLEH
Ibu Ribkah E. Christanti
Kontributor
Renungan Lain oleh Penulis:
Home  »  Renungan  »  Hai Ibu, Besar Imanmu
Hai Ibu, Besar Imanmu
Sabtu, 04 Mei 2013 | Tema: Memiliki Karakter Kristus
Hai Ibu, Besar Imanmu
Matius 15:21-28
Dalam hidup ini kita akan selalu diperhadapkan dengan berbagai macam pergumulan, yaitu berbagai macam tantangan dan kesulitan. Tantangan dan kesulitan tersebut tidak hanya dialami orang yang belum percaya Tuhan tetapi juga dialami oleh anak-anak Tuhan. Seringkali pergumulan itu begitu kompleks, sehingga kita ragu dalam melangkah bahkan sepertinya tidak ada jalan keluar. Ketika kita tidak mengerti lagi apa yang harus dilakukan, kita tidak boleh menyerah dan putus asa begitu saja, pada saat itulah kita harus datang lebih lagi pada Tuhan.

Jika kita memperhatikan secara jelas kisah perempuan Kanaan ini, kita dapat melihat bahwa perempuan Kanaan ini memiliki sikap hati yang tidak mudah menyerah dan putus asa sehingga Yesus berkata kepadanya, Hai ibu, besar imanmu. Bagaimana perempuan Kanaan ini dapat memiliki sikap yang tidak mudah menyerah dan putus asa ketika tantangan penolakan dari murid-murid Yesus dan sikap Yesus yang acuh ketika perempuan tersebut memohon kesembuhan untuk anaknya? Yang pertama adalah, berpikir positif (ayat 22).
Pada waktu itu orang Kanaan mempunyai image negatif karena dianggap oleh orang Israel akan membawa pengaruh buruk. Dalam keadaan tersebut perempuan Kanaan itu tidak berkecil hati, tapi dia berpikir positif (Filipi. 4:8) dengan menghampi...selengkapnya »
Tahukah kita mengapa perusahaan dagang VOC bangkrut total? Perusahaan besar yang sempat sukses memonopoli hasil kekayaan alam Nusantara ini hanya berusia kurang dari 2 abad. Pada tahun 1799 VOC rusak parah karena digerogoti korupsi yang mewabah di dalam diri para pegawainya. Akhirnya sendi-sendi penopang perusahaan tak bisa lagi menahan beban korupsi yang maha besar, dan ambruk luluh berkalang tanah-lah raksasa ekonomi ini. Melihat tinta sejarah kelam yang ditorehkan oleh pengalaman VOC itu, kita jadi ngeri melihat perilaku korupsi yang tak kunjung surut di negeri tercinta ini. Meski KPK telah dibentuk dan bekerja keras, toh… korupsi tetap trengginas. Upaya untuk membuat malu dan jera para koruptor sepertinya tidak berdampak apa-apa. Mungkinkah ini membuktikan bahwa korupsi telah membudaya di negeri tercinta ini? Semoga saja tidak! Tetapi jika benar demikian, kita patut mengkuatirkan masa depan negeri ini. Meski negara lebih kuat daripada sebuah perusahaan, namun korupsi bagai jamur yang sedikit demi sedikit mampu mengeroposkan tembok raksasa di China sekalipun. Kenyataan korupsi menunjukkan kebenaran firman Tuhan bahwa akar segala kejahatan adalah cinta uang [1 Timotius 6:10]. Uang mampu “menyihir” setiap orang sehingga melihat uang bagai raja bukan sebagai sarana. Akibatnya orang memburu uang begitu rupa tanpa mempedulikan lagi apakah upaya itu sejalan dengan imannya atau tidak. Tanpa sadar ia telah memberi diri diperbudak oleh uang. Hal seperti ini pernah dilakoni Zakheus, si pemungut cukai, sebelum berjumpa dengan Yesus. Bagi Zakheus uang adalah segalanya. Uang adalah kebebasan dan kebahagiaannya. Asal pundi-pundi kekayaaannya bertambah, tidak masalah dengan menipu dan memeras orang lain. Namun perjumpaan dengan Yesus Kristus merubah segalanya. Selubung ilusi semu uang yang selama ini membutakan nuraninya, terkelupas tuntas. Ia dimampukan untuk melihat bahwa uang bukan raja melainkan sarana untuk hidup dan melayani orang lain. Zakheus bertobat dan pada hari itu juga ia menikmati kebebasan yang sesungguhnya. Jemaat yang terkasih, uang dibuat oleh manusia untuk memudahkan sarana jual-beli. Namun di sisi lain uang menjadi ukuran kekayaan. Dalam hal inilah segala upaya untuk menjadi kaya apapun jalannya dibuka oleh adanya uang. Marilah kita mewaspadai tipuan ini, janganlah hati kita terpikat erat olehnya. Biarlah uang tetap pada posisinya, yaitu sebagai sarana. Bekerja keraslah dengan benar, jangan menipu, memeras dan korupsi demi uang. Bersyukur dan cukupkanlah diri kita dengan uang yang dihasilkan oleh kerja kita itu. Ingatlah dan pakailah uang untuk melayani Tuhan dan menolong sesama. Jika kapasitas kita bertambah dan semakin banyak pula kekayaan kita, janganlah kita lupa untuk makin bermanfaat bagi pelayanan gereja dan sesama kita.
Akhir-akhir ini saya [mungkin kita] dibuat terkaget-kaget dengan berita tentang sepasang suami istri yang “kompak, seia sekata, harmonis” dalam melakukan penipuan. Mereka menghimpun uang dan menggunakannya untuk kepentingan pribadi dan keluarganya. Yang membuat saya ternganga adalah jumlahnya yang fantastis, hampir menembus angka “T”. Uang itu dipakai untuk hidup berfoya-foya, bepergian ke luar negeri, membeli rumah mewah, mobil- mobil mewah, tas-tas dan barang-barang branded yang super mewah dengan harga yang super mahal. Mereka seperti hidup di alam mimpi karena dengan mudahnya mendapat uang dan mendapatkan apa saja yang mereka inginkan. Tapi akhirnya mimpi mereka harus berakhir dan harus mempertanggungjawabkan perbuatan mereka. Rasa haus dan lapar akan harta benda dan hidup dalam kemewahan bisa membuat seseorang menghalalkan segala cara untuk memuaskannya. Tidak adanya perasaan cukup mendorongnya merasa haus dan lapar yang tidak berkesudahan. Dan hasrat untuk terus menerus memuaskan rasa haus dan lapar akan kenikmatan dunia yang tanpa disadari akan membawanya kepada kehancuran. Di sepanjang kehidupannya, Raja Daud juga mengalami rasa haus dan lapar. Tetapi kita tahu akhir hidup Daud tidak hancur. Namanya dikenang sampai sekarang, bahkan salah satu keturunannya dipakai Tuhan untuk melahirkan Juruselamat. Mengapa demikian? Karena rasa haus dan lapar yang dirasakan Daud berbeda dengan yang dirasakan sepasang suami istri di atas. Daud tidak haus dan lapar akan harta dunia ataupun tahta, tetapi ia haus dan lapar akan hadirat Tuhan, akan firman Tuhan. Mazmur 63:1-8 adalah salah satu dari banyak ungkapan Raja Daud akan kerinduannya kepada Allah. Haus dan lapar akan firman Tuhan, akan hadirat Tuhan dalam hidupnya telah membawanya selalu ingin mendekat kepada Tuhan. Dan itulah yang menjadi kekuatan Raja Daud dalam menghadapi masalah demi masalah, menjadi penghiburan yang sempurna ketika ia dilanda kesusahan. Rasa haus dan lapar akan firman Tuhan, akan hadirat Tuhan, tentunya juga akan membawa kita kepada kemenangan atas pencobaan-pencobaan yang kita hadapi. Karena ketika kita berusaha memuaskan rasa haus dan lapar itu, kita akan selalu mencari hadirat Tuhan, selalu ingin dekat dengan Tuhan, selalu ingin menggali janji-janji firman-Nya. Dan tentu saja kita tidak akan mudah terjerumus di dalam perkara-perkara yang tidak berkenan di hadapan-Nya. Karena itu, marilah kita belajar memelihara rasa haus dan lapar akan firman-Nya, akan hadirat-Nya, dan mulai membuang rasa haus dan lapar akan hal-hal dunia.
Dalam sebuah pertandingan sepak bola terdapat tiga jenis orang yang ada di dalamnya. Pertama, pemain, mereka yang bertanding. Dengan segenap tenaga, pikiran dan taktik mereka bermain agar dapat memenangkan pertandingan. Mereka harus disiplin dalam berlatih dan menjaga kesehatan. Kedua, penonton/suporter, mereka yang melihat pertandingan baik yang hadir di stadion maupun yang melihat lewat televisi. Mereka akan bersorak-sorak bila tim yang mereka dukung menang, tapi sebaliknya akan kecewa bahkan marah bila kalah. Ketiga, komentator, mereka yang mengomentari semua kejadian dalam pertandingan dan mengkritik para pemain. Penonton dan komentator pada umumnya tidak ahli dalam bermain bola tetapi mereka piawai dalam menyalahkan para pemain. Padahal tanpa ada pemain, maka tidak akan terjadi sebuah pertandingan. Setiap orang percaya/anak Tuhan pasti sering mendengar atau membaca firman Tuhan. Yang membedakan mereka adalah menjadi pelaku atau hanya sekedar pendengar saja. Bagi pelaku firman, mereka akan disiplin dalam membaca dan berlatih untuk melakukan. Tidak mudah dan mungkin sering gagal, tetapi terus berlatih sampai mampu melakukannya. Pendengar mendengar atau membaca, tetapi mereka hanya memberi komentar dan tidak mau melatih diri untuk melakukan firman. Sehingga mudah kecewa, marah bila janji Tuhan belum menjadi kenyataan. Untuk menjadi pelaku, seseorang harus membuang segala sesuatu yang kotor dan kejahatan agar bisa menerima firman dengan lemah lembut dan tertanam dalam hati. Firman yang telah tertanam harus dilakukan, bila tidak akan seumpama seorang yang sedang mengamat-amati wajahnya di depan cermin. Baru saja memandang, ia sudah pergi dan segera lupa bagaimana rupanya. Marilah kita bertekun dalam firman, tidak hanya rajin mendengar atau membaca tetapi melakukannya. Jadilah pelaku firman, jangan hanya sebagai penonton atau komentator saja. Pelaku firman akan berbahagia oleh perbuatannya.
Malam itu merupakan malam yang sangat menakutkan bagi suster Charllote dan Carol. Mereka berlari terengah-engah dengan penuh ketakutan. Mereka mencoba bersembunyi dari kejaran Iblis yang sangat mengerikan. Keduanya hanya bisa berteriak histeris dengan wajah yang pucat karena melihat sosok Iblis yang sangat kejam hendak membunuh mereka. Suster Charllote terpojok di sebuah ruangan di lantai dua, dan di tempat terpisah Carol dengan gemetar sampai di ujung ruangan gudang. Sang Iblis pun semakin mendekati keduanya dan siap mencekik mereka. Namun situasi pun berubah, suster Charllote dengan memegang kalung rosarionya sambil gemetaran memejamkan mata dan berdoa memanggil Tuhan. Carol pun yang juga tidak kalah takutnya, berteriak histeris, “... Waaaaaaaaa... God.! Help Me!” [Tuhan! Tolong Aku!] Seketika itu juga, Iblis pun lenyap dari hadapan mereka. Itulah sepenggal cuplikan adegan yang ada dalam film Annabelle Creation. Sebuah fim horor yang sedang populer hari-hari ini. Ada pesan positif dalam adegan di atas, yaitu pada saat kita terdesak, ketakutan dan tidak berdaya, selalu ada Tuhan yang siap membantu kita. Elia juga mengalami hal serupa di dalam hidupnya. Di dalam 1 Raja-raja pasal 18, dikisahkan tentang perjuangan heroik Nabi Elia melawan 450 Nabi Baal. Elia sukses mengalahkan mereka dan membunuh mereka semua. Namun justru keadaan sebaliknya diceritakan dalam pasal yang ke-19. Saat mendapat ancaman dari Izebel, Elia malah ketakutan. Elia berusaha sekuat tenaga berlari menjauh dari Izebel. Dia sangat ketakutan dan gelisah mendengar ancaman ini. Satu hal yang sangat luar biasa dari kisah Elia ini adalah Tuhan tidak pernah meninggalkannya. Pada saat Elia ketakutan dan tidak berdaya, Tuhan selalu bersamanya. Tuhan memberikan penyertaan, perlindungan dan kelegaan kepada Elia. Bagaimana dengan kita? Pada saat kita pesimis akan hidup ini, kita cemas terhadap kondisi bangsa Indonesia, atau bahkan kita ragu terhadap gereja kita, ingatlah selalu ada Tuhan yang siap menolong kita! Berserulah kepada-Nya, maka Dia akan mendengar seruan kita. Jangan pernah malu untuk berseru meminta pertolongan-Nya. Jangan pernah sungkan untuk mengakui keterbatasan kita kepada-Nya. Tuhan kita bukanlah Tuhan yang tertidur. Dia adalah Tuhan yang siap untuk membantu kita di dalam segala situasi. Ingatlah, masih ada Tuhan!
BARCODE BBM CHANNELS
RENUNGAN HARIAN
Panas, Dingin atau Suam?
03 September '17
Ayo Tetap Semangat
09 September '17
Haus Dan Lapar
12 September '17
Copyright © 2012 All rights reserved. Designed and Developed by GIA Dr. Cipto Semarang