SEPEKAN TERAKHIR
  Sabtu, 22 November 2014   -HARI INI-
  Jumat, 21 November 2014
  Kamis, 20 November 2014
  Rabu, 19 November 2014
  Selasa, 18 November 2014
  Senin, 17 November 2014
  Minggu, 16 November 2014
POKOK RENUNGAN
Ingatlah bahwa Pencobaan yang kita alami tidak melebihi kekuatan kita (1Korintus10:13), oleh karena itu jangan menyerah dan putus asa.
DITULIS OLEH
Ibu Ribkah E. Christanti
Kontributor
Renungan Lain oleh Penulis:
Home  »  Renungan  »  Hai Ibu, Besar Imanmu
Hai Ibu, Besar Imanmu
Sabtu, 04 Mei 2013 | Tema: Memiliki Karakter Kristus
Hai Ibu, Besar Imanmu
Matius 15:21-28
Dalam hidup ini kita akan selalu diperhadapkan dengan berbagai macam pergumulan, yaitu berbagai macam tantangan dan kesulitan. Tantangan dan kesulitan tersebut tidak hanya dialami orang yang belum percaya Tuhan tetapi juga dialami oleh anak-anak Tuhan. Seringkali pergumulan itu begitu kompleks, sehingga kita ragu dalam melangkah bahkan sepertinya tidak ada jalan keluar. Ketika kita tidak mengerti lagi apa yang harus dilakukan, kita tidak boleh menyerah dan putus asa begitu saja, pada saat itulah kita harus datang lebih lagi pada Tuhan.

Jika kita memperhatikan secara jelas kisah perempuan Kanaan ini, kita dapat melihat bahwa perempuan Kanaan ini memiliki sikap hati yang tidak mudah menyerah dan putus asa sehingga Yesus berkata kepadanya, ”Hai ibu, besar imanmu.” Bagaimana perempuan Kanaan ini dapat memiliki sikap yang tidak mudah menyerah dan putus asa ketika tantangan penolakan dari murid-murid Yesus dan sikap Yesus yang acuh ketika perempuan tersebut memohon kesembuhan untuk anaknya? Yang pertama adalah, berpikir positif (ayat 22).
Pada waktu itu orang Kanaan mempunyai image negatif karena dianggap oleh orang Israel akan membawa pengaruh buruk. Dalam keadaan tersebut perempuan Kanaan itu tidak berkecil hati, tapi dia berpikir positif (Filipi. 4:8) dengan menghampiri Tuhan Yesus. Kedua, tidak mudah terpengaruh oleh keadaan (ayat 23). Walaupun murid-murid Yesus meminta-Nya untuk menyuruh perempuan Kanaan itu pergi, tetapi perempuan itu tetap tegar untuk ...selengkapnya »
Perang Kosovo adalah salah satu perang yang menjadi perhatian dunia yang berlangsung sekitar tahun 1990an di wilayah bekas negara Yugoslavia. Perang tersebut melibatkan negara besar seperti Rusia, Amerika Serikat dan beberapa negara yang tergabung dalam Uni Eropa, yang kemudian mengakibatkan perang ini berpotensi menjadi perang yang dahsyat Selama berlangsungnya perang di Kosovo pada tahun 1999, tiga tentara Amerika ditangkap dan disandera selama lebih dari satu bulan. Setelah dilakukan negosiasi yang menegangkan, muncul suatu kesepakatan dan tawanan pun dibebaskan. Roy Lloyd adalah seorang utusan yang menjamin pembebasan ketiga tentara itu melaporkan, ”Ketiga tentara muda itu sangat religius. Salah seorang dari mereka, Christopher Stone, tidak bersedia pergi sebelum diizinkan menemui tentara yang menjaganya selama dia ditawan, dan berdoa untuknya.” Tentara muda tersebut memahami prinsip-prinsip yang diajarkan Yesus. Christopher Stone bisa saja marah terhadap keadaan yang dialaminya dan membenci orang yang menangkapnya. Stone bisa saja memenuhi hatinya dengan kebencian dan dendam. Serta, dia bisa saja terbakar oleh api kemarahan karena segala kesulitan yang dialaminya. Namun dengan menaati perintah Yesus (Matius 5:44) serta teladan Paulus dan Silas di Filipi (Kisah Para Rasul 16:25-34), Stone mengampuni orang yang menawannya bahkan melayaninya. Di dunia ini, balas dendam merupakan hal yang wajar. Namun orang-orang percaya dipanggil untuk melakukan hal yang berbeda. Kita harus berdoa untuk orang-orang yang menganiaya kita, mengampuni mereka, dan melayani mereka. Prinsip-prinsip Yesus memang merupakan suatu tantangan bagi para pengikut-Nya, namun dengan pertolongan Roh Kudus, kita dapat memilih untuk memiliki hati yang mau mengampuni. Dengan hati yang diterangi oleh Roh Kudus, kita akan diamampukan untuk memberi pengampunann bagi semua orang. Tidak hanya pengampunan bagi orang-orang terdekat kita atau orang-orang yang kita kenal saja, tetapi juga bagi orang yang membenci dan bahkan telah menyakiti kita. Bukan dengan kekuatan manusia, kita dapat mengampuni, hanya dengan pertolongan Tuhan saja kita dapat dikuatkan untuk melepaskan pengampunan bagi semua orang.
Seorang bapak menemui seorang pengacara meminta dibuatkan surat wasiat yang intinya agar seluruh warisannya diberikan kepada sebuah Panti Asuhan anak cacat. Sang pengacara menanyakan alasan bapak tersebut berbuat demikian. Alasannya yaitu, selama ini kedua anaknya tidak ada yang mau mengalah dalam segala hal. Bapak itu takut mereka bertengkar dan tidak ada yang mau mengalah gara-gara memperebutkan warisan. Si bapak paham betul akan sifat kedua anaknya yang suka membalas. Kejadian di atas dapat kita lihat, jika disuruh memilih antara mengampuni atau membalas kejahatan seseorang, banyak orang pasti akan lebih memilih melakukan pembalasan terhadap kejahatan yang dilakukan orang lain. Jika ini dilakukan oleh orang dunia, kita maklum. Namun tidak bagi orang Kristen karena mengampuni adalah sebuah keharusan (wajib), bukan pilihan. Mengapa orang Kristen harus mengampuni? Sesungguhnya oleh karena pengampunan Tuhan bagi kitalah yang mengharuskan kita dapat mengampuni orang lain. Yesaya menuliskan: “Dia tertikam oleh karena pemberontakan kita, dia diremukkan oleh karena kejahatan kita; ganjaran yang mendatangkan keselamatan bagi kita ditimpakan kepadanya, ..... Tuhan telah menimpakan kepadanya kejahatan kita sekalian.” (Yesaya 53:5-6). Hukuman atas pelanggaran yang seharusnya kita terima telah ditanggung oleh Yesus Kristus di kayu salib. Yesus telah menerima murka Allah yang seharusnya ditimpakan kepada kita. Dialah yang menggantikan tempat kita. Darah Yesus membasuh dan menyucikan kita dari dosa. Ketika ada kesalahan atau kejahatan dilakukan oleh pihak lain, kitalah yang harus berinisiatif terlebih dulu untuk mengampuni mereka. Sebagaimana Allah di dalam Kristus Yesus telah mengampuni kita, hendaklah kita juga punya hati yang mau mengampuni kesalahan orang lain. Efesus 4:31-32a menyatakan: “Segala kepahitan, kegeraman, kemarahan, pertikaian dan fitnah hendaklah dibuang dari antara kamu, demikian pula segala kejahatan. Tetapi hendaklah kamu ramah seorang terhadap yang lain, penuh kasih mesra dan saling mengampuni.” Bagaimana kita bisa melakukannya? Pertama, kita harus memusatkan pikiran kita sepenuhnya kepada pengampunan yang telah Tuhan kerjakan bagi kita. Renungkan betapa besar rahmat yang sudah dilimpahkan Tuhan kepada kita seperti kata Daud (Mazmur 103:2-3a), “Pujilah Tuhan, hai jiwaku, dan janganlah lupakan segala kebaikan-Nya! Dia yang mengampuni segala kesalahanmu.” Kedua, selesaikan dengan jujur semua kemarahan yang kita rasakan terhadap orang lain, lalu melupakannya. Memang tidak mudah! Namun Tuhan akan tolong.
Sebuah lagu yang diinspirasi dari kitab Amsal berkata bahwa ”Hati yang gembira adalah obat, s’perti obat hati yang senang. Tapi semangat yang patah, keringkan Tulang. Hati yang gembira, Tuhan senang”. Lagu ini telah memberkati ribuan bahkan mungkin jutaan orang Kristen yang telah menyanyikan pujian ini dan mengalami betapa kegembiraan memiliki kekuatan yang sangat dahsyat bagi semangat etos kerja kita baik dalam pekerjaan umum, pelayanan, keluarga, maupun dalam aktifitas sehari-hari, dengan satu bukti bahwa hampir tidak ada orang kristen yang tidak tahu kalimat-kalimat dan lirik lagu ini. Dan hampir semua gereja sering menyanyikan pujian ini. Dalam Kitab Amsal, saya menemukan sedikitnya ada sekita 5 ayat yang menceritakan tentang “Hati yang gembira menyembuhkan, sementara hati yang patah menyakitkan”. Mengapa sang penyajak menulis kata-kata hikmatnya tentang hal ini secara berulang-ulang? Tentu Raja Salomo ingin menyampaikan berita yang sangat penting yang tidak hanya didengarkan oleh para pendengarnya, dan tidak hanya dibaca oleh para pembacanya, tetapi sang penyajak ingin agar para pendengar dan pembacanya mengalami sendiri bahwa “perasaan yang gembira memiliki kekuatan yang sangat dahsyat”. Apakah kekuatannya itu? Pertama: hati yang gembira merupakan obat yang manjur untuk segala sakit penyakit kita (Amsal 17:22); kedua: hati yang gebira membuat wajah kita berseri-seri (Amsal 15:13); ketiga: Tuhan akan menjawab keinginan hati orang yang memohon kepada-Nya dengan hati yang gembira (Mazmur 37:4); keempat: kegembiraan akan mencairkan suasana dalam pertemuan-pertemuan keluarga, sekolah, kantor, pekerjaan, pelayanan, dan lain-lain. Tidak ada alasan untuk seorang tidak bergembira. Jika sakit hati, akar kepahitan ada dalam hatimu sehingga Anda tidak dapat bergembira, lepaskan pengampunan karena sekarang pun kita telah menerima pengampunan dari Tuhan. Pengampunan akan melepaskan kita dari akar kepahitan. Hilangnya kepahitan dalam diri kita akan membawa keceriaan. Dan keceriaan, hati yang gembira akan menyembuhkan.
Sudahkah Anda menonton film berjudul “Jokowi”? Ada satu penggal kisah yang menurut saya sangat dramatis. Dalam adegan itu, dikisahkan Jokowi kecil mengetahui ada teman-teman ngajinya yang bolos. Karena takut dilaporkan ke guru ngaji, teman-temannya itu bermaksud menyuap Jokowi kecil dengan uang. Setelah dua kali ditolak, maka teman-temannya itu pun geram dan memukulnya. Sesampai di rumah, melihat anaknya babak belur, ayah Jokowi sangat marah. Ia berpikir anaknya berkelahi. “Bapakmu ki gak bangga kalau anaknya jadi brandalan, Le (bahasa Jawa, sebutan untuk anak laki-laki)! Itu adalah salah satu ungkapan kemarahan sang ayah. Namun yang menjadi puncak dramatisnya ketika sang ayah segera mengambil rotan. Ibu dan kedua adik perempuan Jokowi, segera terhenyak, kuatir jika ayahnya akan memukul orang yang mereka cintai. Dan dugaan mereka salah. Sang ayah justru memukuli dirinya sendiri, sambil berkata, “Bapakmu iki Le sing gak becus ndidik anak!” Dan peristiwa itu menjadi pelajaran berharga bagi seluruh keluarga itu. Jokowi kecil serta adik-adiknya menjadi jera, dan tidak mau menyakiti hati ayahnya lagi melalui perbuatan mereka. Demikian dengan sang ayah, ia lebih berhati-hati lagi dalam mendidik anak-anaknya. Cerita tersebut berkesan bagi saya. Betapa seorang ayah mendidik anaknya dengan cara yang berbeda. Demikian pula dengan kreatifitas yang dimiliki Bapa di sorga dalam mendidik anak-anak-Nya. Tidak dengan cara yang menimbulkan sakit hati anak, namun justru menumbuhkan rasa tanggung jawab yang lebih lagi terhadap kepercayaan dari bapaknya. Namun kasih yang dimiliki Bapa kita lebih besar dari kasih semua bapa di dunia. Rancangan awalnya adalah untuk kebaikan bagi setiap orang yang mengasihi-Nya. Namun cara Allah mengasihi anak-Nya tidak selalu dengan mengabulkan setiap permintaan anak-Nya atau memberikan berkat yang melimpah. Kadang justru melalui hal-hal yang menyakitkan, Allah mengingatkan anak-anak-Nya bahwa mereka tidak bisa melakukan semua sendiri dan membuat semuanya sempurna seperti yang mereka inginkan. Ia menegur anak-anak-Nya yang melakukan hal-hal yang tidak diinginkan-Nya. Mereka disadarkan bahwa hanya Allah-lah yang berdaulat penuh atas hidup mereka. Dalam nats yang kita baca hari ini, ada sikap yang Tuhan inginkan ketika menghadapi kasih Allah melalui teguran. Rela dan bertobatlah! Jika Anda sudah melakukan yang benar, namun masih saja menghadapi hal-hal yang sulit, tetaplah bersukacita dan rela karena Tuhan sedang mengembangkan kepercayaan Anda kepada-Nya dalam level yang lebih tinggi. Namun jika Allah menegur Anda karena Anda berbuat yang mendukakan hati-Nya, maka segeralah bertobat. Anugerah dan kasih karunia Allah menunggu Anda.
BARCODE BBM CHANNELS
RENUNGAN HARIAN
Melampaui Batas
15 November '14
Melayani Dalam Kesederhanaan
30 Oktober '14
Hidup Berdamai
18 November '14
Copyright © 2012 All rights reserved. Designed and Developed by GIA Dr. Cipto Semarang