SEPEKAN TERAKHIR
  Sabtu, 27 Mei 2017   -HARI INI-
  Jumat, 26 Mei 2017
  Kamis, 25 Mei 2017
  Rabu, 24 Mei 2017
  Selasa, 23 Mei 2017
  Senin, 22 Mei 2017
  Minggu, 21 Mei 2017
POKOK RENUNGAN
Ingatlah bahwa Pencobaan yang kita alami tidak melebihi kekuatan kita (1Korintus10:13), oleh karena itu jangan menyerah dan putus asa.
DITULIS OLEH
Ibu Ribkah E. Christanti
Kontributor
Renungan Lain oleh Penulis:
Home  »  Renungan  »  Hai Ibu, Besar Imanmu
Hai Ibu, Besar Imanmu
Sabtu, 04 Mei 2013 | Tema: Memiliki Karakter Kristus
Hai Ibu, Besar Imanmu
Matius 15:21-28
Dalam hidup ini kita akan selalu diperhadapkan dengan berbagai macam pergumulan, yaitu berbagai macam tantangan dan kesulitan. Tantangan dan kesulitan tersebut tidak hanya dialami orang yang belum percaya Tuhan tetapi juga dialami oleh anak-anak Tuhan. Seringkali pergumulan itu begitu kompleks, sehingga kita ragu dalam melangkah bahkan sepertinya tidak ada jalan keluar. Ketika kita tidak mengerti lagi apa yang harus dilakukan, kita tidak boleh menyerah dan putus asa begitu saja, pada saat itulah kita harus datang lebih lagi pada Tuhan.

Jika kita memperhatikan secara jelas kisah perempuan Kanaan ini, kita dapat melihat bahwa perempuan Kanaan ini memiliki sikap hati yang tidak mud...selengkapnya »
Sering kita mendengar sebuah ucapan demikian: “Jika ada pertemuan pasti juga ada perpisahan”. Yang berarti bahwa semua manusia di dunia ini pasti akan mengalami yang namanya perpisahan dengan sesamanya manusia, baik itu perpisahan hanya sementara maupun perpisahan untuk selama-lamanya akibat kematian. Para murid-murid Kristus juga mengalami bagaimana rasanya harus berpisahan dengan Yesus. Bukan suatu hal yang mudah bagi mereka untuk bisa menerima hal itu karena selama 3 tahun yang hebat mereka menikmati kebersamaan dengan-Nya. Bagaimanapun Yesus adalah sosok yang berpengaruh bagi mereka karena Yesus sebagai guru dan menjadi panutan bagi murid-murid dan pastinya mereka memiliki hubungan emosional yang erat. Namum perpisahan itu bukanlah akhir dari kehadiran Yesus bagi dunia ini, akan tetapi menjadi awal bersatunya pribadi Kristus dengan orang-orang yang percaya. Jika Kristus tetap bersama-sama mereka, maka kehadiran-Nya hanya bersifat lokal. Artinya kehadiran-Nya terbatas ruang dan waktu. Misalnya ketika para murid berada di perahu dan Yesus sedang berdoa di bukit. Mereka tidak bisa terus dan setiap saat bersekutu dengan-Nya. Oleh sebab itu Yesus pergi dan mengirim Roh Kudus sebagai pengganti-Nya karena Roh Kudus menguniversalkan kehadiran-Nya sehingga Dia dapat berelasi semua orang percaya di mana saja. Yang kedua adalah Yesus mengirimkan Roh Kudus untuk menginternalkan kehadiran-Nya sehingga melalui Roh-Nya tinggal dihati kita dan mengubah kita serupa dengan-Nya [Yohanes 16:5-11]. Roh Kudus datang dan Roh Kudus membuat kehadiran Yesus tidak lagi lokal melainkan universal, tidak lagi eksternal melainkan internal. Roh menguniversalkan sekaligus menginternalkan kehadiran Yesus Kristus. Marilah kita sebagai jemaat Tuhan membuka hati dan pikiran kita untuk dipenuhi oleh Roh-Nya sehingga hidup kita tidak lagi dikuasi oleh nafsu diri sendiri melainkan kita hidup sesuai dengan kehendak Allah. [DS]
Setiap orang yang telah ditebus oleh darah Yesus menjadi milik Tuhan [1 Korintus 6:19-20]. Kita telah dimerdekakan dari perbudakan dosa dan menjadi hamba kebenaran [Roma 6:18] yang tidak lagi hidup untuk dirinya sendiri, tetapi untuk Dia yang telah mati dan telah dibangkitkan bagi kita. Berarti kita harus menjadi pelayan Tuhan [2 Korintus 5:14-15]. Pelayanan umumnya dipahami sebagai kegiatan di lingkup gereja, keterlibatan dalam liturgi [sebagai pembicara, pemimpin puji-pujian, pemain musik, dll], kegiatan diakonia, pelayanan pastoran [konseling, pembinaan pribadi] dan kegiatan misi [kegiatan pemberitaan Injil di tempat-tempat tertentu]. Tetapi sebetulnya pelayanan yang benar tidak hanya terbatas dalam kegiatan-kegiatan tersebut. Pelayanan yang benar adalah buah dari pendewasaan rohani yang melahirkan jiwa hamba seperti Yesus. Pelayanan kepada Tuhan adalah semua tindakan, baik yang dipikirkan, diucapkan dan dilakukan yang sesuai dengan pikiran dan perasaan Tuhan. Pelayanan tidak dimulai dari kegiatan dalam lingkungan gereja, juga tidak dimulai dari Sekolah Tinggi Teologi/Sekolah Alkitab dan kursus pelayanan. Pelayanan dimulai dari sikap hati dan cara berpikir serta gaya hidup atau perilaku yang selalu sesuai dengan keinginan Tuhan setiap hari. Dengan demikian dapat sungguh-sungguh memuaskan atau menyenangkan hati Bapa dan Tuhan Yesus Kristus. Untuk itu harus dilandasi oleh pengembangan cara berpikir yang sesuai dengan Kebenaran Injil. Orang percaya harus benar-benar memahami, menangkap visi Bapa yang berupa rencana penyelamatan sebanyak mungkin manusia di dunia ini: Bapa menghendaki supaya jangan ada yang binasa, melainkan supaya semua orang berbalik dan bertobat [2 Petrus 3:9], Tuhan Yesus menghendaki supaya semua orang diselamatkan dan memperoleh pengetahuan akan kebenaran [1 Timotius 2:4] melalui karya penebusan-Nya. Dengan pemahaman tersebut, tidak tepatlah pemikiran yang memisahkan antara pekerjaan rohani dan pekerjaan duniawi. Profesi dan peran apapun yang disandang oleh orang percaya adalah jabatan rohani untuk mendukung visi dan rencana Bapa tersebut. Jadi orang percaya harus sungguh-sungguh mengembangkan diri secara maksimal di bidang yang digelutinya sebagai ladang pelayanannya. Semua anak Tuhan adalah imamat-imamat bagi Tuhan [1 Petrus 2:9].
Bagi si Antok orangtuanya adalah segala-galanya, sehingga apapun yang orangtuanya sampaikan kepadanya selalu diperhatikan dengan serius. Hal ini boleh terjadi karena orangtua sangat memperhatikan, menyayanginya sehingga terbina hubungan yang dekat. Antok sekarang menjadi pengusaha garmen yang berhasil. Sehingga dia memiliki lima toko garmen di luar kota Semarang sebagai hasil pengembangan usahanya. Keberhasilan tersebut tidak lepas dari peran orangtuanya yang juga seorang pengusaha di bidang meubel. Ketika Antok mau belajar, mendengarkan masukan dan berdiskusi dengan orangtuanya, maka ia semakin termotivasi untuk lebih maju dari orangtuanya. Akhirnya dalam sepuluh tahun usaha garmen yang ditekuninya membuahkan keberhasilan sehingga ia sekarang tinggal memetik hasilnya. Kisah akhir hidup Raja Daud yang tertulis dalam 1 Raja-Raja 2:1-12 patut kita renungkan baik sebagai orangtua maupun sebagai seorang anak. Saat kematian Raja Daud hampir tiba, ia memberi beberapa pesan penting yang menjadi kunci keberhasilan hidupnya sebagai seorang raja. Sebagai orangtua, Daud berdoa dan berharap semoga Salomo yang menjadi raja menggantikannya akan lebih maju dan lebih berhasil. Nasihat tersebut antara lain: Pertama, kuatkanlah hatimu dan berlakulah sebagai seorang laki-laki [ayat 2]. Maksudnya, Salomo harus menjadi dewasa dan menguatkan hati dalam menjalani kehidupan yang penuh tantangan sebagai seorang raja Israel. Tantangan dalam memimpin bangsa Israel yang tidak gampang dan juga menghadapi kerajaan dan bangsa lain yang menjadi musuh Israel. Jika tidak dewasa dan tidak kuat hati, maka ia pasti akan gagal di tengah jalan dalam melaksanakan pemerintahan. Kedua, berlakulah setia kepada Allah dan lakukan kewajiban hidupmu berdasarkan Firman Allah [ayat 3]. Keterpautan hidup dengan Allah dan kesetiaan dalam menjalankan perintah Allah merupakan kunci keberhasilan hidupnya. Apabila ia tidak lagi terpaut dengan Allah dan tidak setia pasti masa depannya akan terpuruk. Raja Daud sadar bahwa bangsa Israel hidup di sekitar bangsa-bangsa yang menyembah berhala. Padahal Allah yang disembahnya sangat membenci penyembahan berhala. Raja Daud mengharapkan agar Salomo yang akan menggantikannya jangan sampai tergodai dan jatuh ke dalam penyembahan berhala sama seperti bangsa yang ada di sekililingnya. Ketiga, pegang teguh janji Allah [ayat 4]. Apa yang telah dijanjikan Allah kepada Raja Daud dan keturunannya harus tetap dipegang teguh. Dia mengharapkan agar takhta kerajaan tetap berdiri kokoh di antara keturunannya sesuai dengan janji Allah kepadanya. Maka Salomo berkewajiban dan bertanggung jawab untuk memelihara dan memegang janji Allah dalam hidupnya. Bagaimana dengan kita sebagai orangtua zaman ini kepada anak-anak kita, sudahkan kita menularkan pengalaman kita dan kunci keberhasilan kita kepada anak-anak kita? Pengalaman dan teladan Raja Daud patut kita perhatikan dan kita lakukan dalam hidup kita.
Perayaan Paskah sudah kita lalui. Ketika merayakan Paskah beberapa waktu yang lalu, kita ibadah jam 5 pagi, tidak seperti biasanya jam 6 pagi. Sudah berapa kali kita merayakan Paskah? Tentu sudah lebih dari lima kali. Makna dan pesan apa yang yang kita peroleh di setiap perayaan Paskah? Kiranya bukan sekedar mendapat telur Paskah. Jauh sebelum kita merayakan Paskah, umat Yahudi sudah merayakannya [Yohanes 13:1a] dan perayaan Paskah merupakan perintah Tuhan sejak zaman Musa, sebagaimana tertulis di nats pembacaan Alkitab di atas. Umat Israel tidak cuma merayakan Paskah dengan ”berpesta“, tetapi juga ada pesan yang harus dilakukan umat Israel, yaitu menceritakan perbuatan-perbuatan yang besar dan ajaib yang dilakukan Tuhan untuk melepaskan bangsa Israel dari perbudakan dan penindasan di Mesir kepada anak cucu mereka secara turun temurun dan selama-lamanya. Dan pesan Paskah untuk saat ini tentunya Tuhan juga mau kita menceritakan pengorbanan Tuhan Yesus di atas kayu salib Golgota untuk melepaskan manusia dari ikatan dan perbudakan dosa sebagaimana tema kita untuk tahun 2017 ini dengan nats Alkitab Matius 28:19-20. Mari kita jadikan Paskah dan di mulai tahun 2017 sebagai gaya hidup kita untuk menceritakan kasih dan pengorbanan Yesus kepada semua orang, khususnya anak cucu kita. Tuhan memberkati kita semua. [AY]
BARCODE BBM CHANNELS
RENUNGAN HARIAN
Bebas Menyembah
20 Mei '17
Dekat dan Mengenal
27 April '17
Kepergian Yesus
24 Mei '17
Copyright © 2012 All rights reserved. Designed and Developed by GIA Dr. Cipto Semarang