SEPEKAN TERAKHIR
  Jumat, 06 Maret 2015   -HARI INI-
  Kamis, 05 Maret 2015
  Rabu, 04 Maret 2015
  Selasa, 03 Maret 2015
  Senin, 02 Maret 2015
  Minggu, 01 Maret 2015
  Sabtu, 28 Februari 2015
POKOK RENUNGAN
Ingatlah bahwa Pencobaan yang kita alami tidak melebihi kekuatan kita (1Korintus10:13), oleh karena itu jangan menyerah dan putus asa.
DITULIS OLEH
Ibu Ribkah E. Christanti
Kontributor
Renungan Lain oleh Penulis:
Home  »  Renungan  »  Hai Ibu, Besar Imanmu
Hai Ibu, Besar Imanmu
Sabtu, 04 Mei 2013 | Tema: Memiliki Karakter Kristus
Hai Ibu, Besar Imanmu
Matius 15:21-28
Dalam hidup ini kita akan selalu diperhadapkan dengan berbagai macam pergumulan, yaitu berbagai macam tantangan dan kesulitan. Tantangan dan kesulitan tersebut tidak hanya dialami orang yang belum percaya Tuhan tetapi juga dialami oleh anak-anak Tuhan. Seringkali pergumulan itu begitu kompleks, sehingga kita ragu dalam melangkah bahkan sepertinya tidak ada jalan keluar. Ketika kita tidak mengerti lagi apa yang harus dilakukan, kita tidak boleh menyerah dan putus asa begitu saja, pada saat itulah kita harus datang lebih lagi pada Tuhan.

Jika kita memperhatikan secara jelas kisah perempuan Kanaan ini, kita dapat melihat bahwa perempuan Kanaan ini memiliki sikap hati yang tidak mudah menyerah dan putus asa sehingga Yesus berkata kepadanya, ”Hai ibu, besar imanmu.” Bagaimana perempuan Kanaan ini dapat memiliki sikap yang tidak mudah menyerah dan putus asa ketika tantangan penolakan dari murid-murid Yesus dan sikap Yesus yang acuh ketika perempuan tersebut memohon kesembuhan untuk anaknya? Yang pertama adalah, berpikir positif (ayat 22).
Pada waktu itu orang Kanaan mempunyai image negatif karena dianggap oleh orang Israel akan membawa pengaruh buruk. Dalam keadaan tersebut perempuan Kanaan itu tidak berkecil hati, tapi dia berpikir positif (Filipi. 4:8) dengan menghampiri Tuhan Yesus. Kedua, tidak mudah terpengaruh oleh keadaan (ayat 23). Walaupun murid-murid Yesus meminta-Nya untuk menyuruh perempuan Kanaan itu pergi, tetapi perempuan itu tetap tegar untuk ...selengkapnya »
Ada 3 tingkatan yang harus diperhatikan: 1]. Menjadi pendengar Firman, 2]. Penerima Firman, 3]. Pelaku Firman. Ada kesadaran disadarkan, kepercayaan dan iman diwujudkan, dan kehendak dihidupkan. Tanpa perbuatan dan hanya mendengar, Yakobus mengatakan kita menipu diri kita sendiri karena kita tidak sadar akan artinya kesalehan. Ketika kita mendengar Firman, kita sedang berdiri melihat wajah kita di depan cermin Firman Allah, apa yang kita lihat di wajah asli kita dan apa yang kita lakukan kemudian? Apakah kita sekedar melihat wajah kita sekilas saja, kemudian dengan tergesa-gesa meninggalkan cermin dan tak berbuat apa apa? Kalau itu yang kita lakukan, Yakobus dengan jelas berkata bahwa kita adalah seorang penipu, sebuah predikat yang tidak enak untuk disandang. Dalam Matius 7:24-27, Yesus mengajarkan sebuah perumpamaan. Kalau seseorang mendengar Firman dan tidak melakukannya, dia adalah seorang yang bodoh. Ibarat seseorang yang membangun rumah di atas pasir, ketika hujan datang dan banjir melanda, rumah itu akan roboh. Orang bodoh, sebuah predikat yang juga tidak enak untuk disandang. Ibadah adalah wujud nyata dari perbuatan melakukan Firman. Jangan keliru, ibadah bukan sekedar apa yang kita lakukan dalam gereja atau sebuah upacara dalam gereja. Ada perbedaan antara yang batiniah dan yang lahiriah, antara apa yang terdapat dalam hati dan apa yang nyata dalam melaksanakan ibadah. Yakobus 1:26-27 menekankan tentang ibadah yang murni yang berkenan di hadapan Allah. Ibadah yang bebas dari dosa perkataan [penguasaan lidah] serta ibadah yang diwujudkan dalam pelayanan/perbuatan kasih [mengunjungi yatim piatu dan janda dalam kesusahan]. Mari kita menjadi pendengar, penerima dan pelaku Firman yang berkenan di hadapan Tuhan.
Pak Rano dan keluarganya tinggal dalam lingkungan di mana hanya mereka saja yang Kristen. Setiap akan pergi beribadah hari minggu, mereka selalu mendapat ejekan dan gunjingan dari para tetangga. Meskipun begitu mereka tetap ramah dan penuh senyum menyapa setiap orang yang mereka lewati. Bila di rumah mereka diadakan komcil, para tetangga selalu mengganggu dengan membesarkan volume TV atau sengaja memperdengarkan musik dengan suara keras. Pak Rano tidak membalas perbuatan jahat tetangganya dengan kejahatan, tetapi dengan kasih yang dinyatakan dengan tindakan. Dengan senang hati dia menolong tetangga yang sakit dan mengantar ke rumah sakit. Dengan ringan tangan membantu tetangga memperbaiki alat-alat elektroniknya yang rusak tanpa biaya dan banyak perbuatan kasih lainnya. Dengan berjalannya waktu tindakan kasih itu berdampak, para tetangga juga mengasihi keluarga pak Rano. Yesus mengasihi orang percaya seperti Bapa mengasihi Yesus. Dia tidak mengharap balasan kasih yang sama, tetapi ingin setiap orang percaya tinggal dalam kasih-Nya. Artinya orang percaya hidup dalam kasih-Nya. Hal itu bisa terjadi apabila orang percaya menuruti perintah-Nya seperti Yesus menuruti perintah Bapa. Dampaknya adalah mengasihi orang lain seperti Yesus mengasihi. Kasih yang berani berkorban untuk orang lain. Sebutan sebagai sahabat Kristus, bukan lagi hamba akan diberikan kepada orang yang tinggal dalam kasih-Nya. Di sekitar kita banyak orang yang mungkin menyulitkan, membuat kita sakit hati, tidak menghargai, dan sebagainya. Apakah kita bisa mengasihi mereka? Dengan kekuatan kita tidak mungkin bisa. Kita yang telah menerima kasih Kristus, taatilah seluruh perintah-Nya, karena salah satu perintah-Nya adalah saling mengasihi. Dengan demikian kita dapat mengasihi orang lain, walaupun harus berkorban. Karena untuk mengasihi kadang-kadang sakit hati, mengorbankan perasaan. Marilah kita mengasihi tanpa pamrih, kasih yang rela berkorban. Tetaplah tinggal dalam kasih-Nya.
“Mahatma Gandhi, seorang tokoh besar dari India, sangat menghargai ajaran Tuhan Yesus. Terutama ajaran dalam kotbah di bukit yang sarat ajaran kasih dan kepedulian kepada sesama. Ia terinspirasi dan menerapkan ajaran itu dalam hidup dan perjuangannya. Tetapi karena Mahatma Gandhi seorang Hindu, dapat dipastikan ia akan tetap masuk neraka”, demikian kata Pdt. Itong dalam kotbahnya. Perkataan Pdt. Itong itu menarik perhatian Sambey. Bagi Sambey perkataan rohaniwannya itu bertolak-belakang dengan sikap Tuhan Yesus. Tuhan Yesus justru suka mengedepankan orang-orang yang dipandang sebelah mata oleh orang-orang Yahudi yang terlalu bangga dengan agamanya sehingga menjadi sombong, suka menghakimi dan miskin kasih. Salah satu kisah yang menunjukkan hal itu adalah kisah perempuan berdosa yang mengurapi Tuhan Yesus. Ketika itu Tuhan Yesus diundang oleh seorang Farisi bernama Simon untuk makan di rumahnya. Simon tidak membasuh kaki-Nya, tidak mencium-Nya, dan tidak meminyaki rambut-Nya, sebagaimana seharusnya dalam adat-kebiasaan masyarakat Yahudi. Tetapi justru seorang perempuan yang terkenal berdosa datang dan menangis di kaki Tuhan. Ia membasahi kaki Tuhan bukan dengan air biasa tetapi dengan air matanya. Ia menyekanya bukan dengan kain tetapi dengan rambutnya. Ia berulang kali mencium kaki Tuhan dan meminyaki rambut Tuhan dengan minyak wangi. Apa yang tidak dilakukan oleh orang yang merasa diri benar seperti Simon, dilakukan dengan kasih yang mendalam oleh seorang perempuan yang berdosa. Seolah-olah Tuhan mengajari Simon untuk belajar berbuat kasih dari seorang perempuan berdosa. Jemaat yang terkasih, pernahkah kita dapati seorang Kristen yang setia dan tindakan kasihnya nyata? Pernahkah kita temui seorang Kristen yang sombong, tidak peka dan tidak mudah peduli? Pernahkah kita dapati seorang bukan Kristen yang jahat? Pernahkah kita dapati seorang bukan Kristen yang baik dan tulus dalam menolong orang lain? Tentu kita pernah mendapati semua itu. Oleh karena itu janganlah kita sekedar bangga dengan kekristenan kita, jika kita miskin kasih. Karena orang bukan Kristen yang tahu mengasihi lebih dihargai oleh Tuhan. Marilah kita menjadi orang Kristen yang dapat mewujudkan kasih dalam tindakan nyata.
Suatu saat saya diajak seorang teman untuk ikut kegiatan jalan santai yang dipusatkan di Simpang Lima, tetapi saya menolaknya karena memang tidak bisa. Kemudian dia berkata, “ Wah, sayang banget kamu tidak ikut. Acaranya menarik, apalagi ada door prizenya lho. Hadiah utamanya sebuah mobil.” Kemudian saya memberi alasan, “Iya... ya, sayang sekali. Siapa tahu ketiban rejeki nomplok dengan mendapatkan mobil. Tetapi saya memang benar-benar tidak bisa ikut. Waktunya yang ndak pas.” Door prize bisa kita temukan dalam kegiatan olahraga, pernikahan, perayaan ulang tahun, dan bahkan kegiatan ibadah. Acara ini identik dengan kegiatan memberi atau acara bagi-bagi hadiah. Setiap orang pasti tertarik olehnya, apalagi kalau hadiah-hadiahnya banyak dan mahal. Tetapi kalau ditelisik lebih dalam, ternyata aktivitas tersebut tidak sepenuhnya bertujuan memberi atau bagi-bagi hadiah. Tujuan utamanya adalah menarik minat sebanyak mungkin orang untuk terlibat dalam sebuah acara atau kegiatan. Dan juga tentunya, supaya peserta tidak pulang dulu sampai akhir acara. Sehingga dengan adanya door prize akan mendukung suksesnya sebuah penyelenggaraan acara. Tema bulan ini adalah Love in Action. Kasih yang dinyatakan dalam tindakan. Kasih yang didasarkan pada anugerah Allah yang luar biasa bagi umat manusia di mana Allah telah menjadi manusia untuk keselamatan. Ini menunjukkan bahwa Allah di dalam Yesus Kristus adalah Allah yang “membumi”. Allah yang bersedia menyapa manusia dalam kesederhanaan. Allah yang solider dan turut merasakan keterpurukan dan ketidakberdayaan manusia karena dosa. Dan kedatangan-Nya ke dunia sebagai wujud kasih-Nya adalah dalam rangka mengentaskan manusia dari kehinaan dan ketercelaannya kepada harkat dan martabat yang mulia. Serta memberdayakan kembali manusia sebagai rekan kerja-Nya. Itulah makna pemberian yang terbesar dari Allah bagi umat manusia. Hal tersebut mengajarkan bahwa tindakan kasih kita kepada sesama bukan untuk menyingkirkan barang [benda] yang sudah tidak terpakai dan memenuhi rumah kita. Pemberian kita bukan bertujuan untuk menunjukkan eksistensi dan peran kita. Juga tidak untuk membuat seseorang terikat dan merasa ewuh pekewuh terhadap kita. Juga bukan untuk mempertegas perbedaan jarak atau kesenjangan antara yang memberi dan menerima. Bahkan juga bukan sekedar untuk menyukseskan sebuah program atau acara gereja. Tetapi hendaknya tindakan kasih kita merupakan ekspresi kepedulian yang didasari sikap berempati. Juga merupakan niat baik kita untuk mengentaskan dan memuliakan sesama. Menempatkan sesama sebagai pribadi yang sederajat dan harus dikasihi dengan tulus. Memandang sesama sebagai subyek yang harus dikasihi dan juga dilibatkan dalam mengasihi.
BARCODE BBM CHANNELS
RENUNGAN HARIAN
Penuhi Hati Dengan Benih Firman
04 Maret '15
Good Service
15 Februari '15
Menabur Kebaikan Menuai Jiwa Baru
02 Maret '15
Copyright © 2012 All rights reserved. Designed and Developed by GIA Dr. Cipto Semarang