SEPEKAN TERAKHIR
  Sabtu, 01 November 2014   -HARI INI-
  Jumat, 31 Oktober 2014
  Kamis, 30 Oktober 2014
  Rabu, 29 Oktober 2014
  Selasa, 28 Oktober 2014
  Senin, 27 Oktober 2014
  Minggu, 26 Oktober 2014
POKOK RENUNGAN
Ingatlah bahwa Pencobaan yang kita alami tidak melebihi kekuatan kita (1Korintus10:13), oleh karena itu jangan menyerah dan putus asa.
DITULIS OLEH
Ibu Ribkah E. Christanti
Kontributor
Renungan Lain oleh Penulis:
Home  »  Renungan  »  Hai Ibu, Besar Imanmu
Hai Ibu, Besar Imanmu
Sabtu, 04 Mei 2013 | Tema: Memiliki Karakter Kristus
Hai Ibu, Besar Imanmu
Matius 15:21-28
Dalam hidup ini kita akan selalu diperhadapkan dengan berbagai macam pergumulan, yaitu berbagai macam tantangan dan kesulitan. Tantangan dan kesulitan tersebut tidak hanya dialami orang yang belum percaya Tuhan tetapi juga dialami oleh anak-anak Tuhan. Seringkali pergumulan itu begitu kompleks, sehingga kita ragu dalam melangkah bahkan sepertinya tidak ada jalan keluar. Ketika kita tidak mengerti lagi apa yang harus dilakukan, kita tidak boleh menyerah dan putus asa begitu saja, pada saat itulah kita harus datang lebih lagi pada Tuhan.

Jika kita memperhatikan secara jelas kisah perempuan Kanaan ini, kita dapat melihat bahwa perempuan Kanaan ini memiliki sikap hati yang tidak mudah menyerah dan putus asa sehingga Yesus berkata kepadanya, ”Hai ibu, besar imanmu.” Bagaimana perempuan Kanaan ini dapat memiliki sikap yang tidak mudah menyerah dan putus asa ketika tantangan penolakan dari murid-murid Yesus dan sikap Yesus yang acuh ketika perempuan tersebut memohon kesembuhan untuk anaknya? Yang pertama adalah, berpikir positif (ayat 22).
Pada waktu itu orang Kanaan mempunyai image negatif karena dianggap oleh orang Israel akan membawa pengaruh buruk. Dalam keadaan tersebut perempuan Kanaan itu tidak berkecil hati, tapi dia berpikir positif (Filipi. 4:8) dengan menghampiri Tuhan Yesus. Kedua, tidak mudah terpengaruh oleh keadaan (ayat 23). Walaupun murid-murid Yesus meminta-Nya untuk menyuruh perempuan Kanaan itu pergi, tetapi perempuan itu tetap tegar untuk ...selengkapnya »
Efesus 2:10 Karena kita ini buatan Allah, diciptakan dalam Kristus Yesus untuk melakukan pekerjaan baik, yang dipersiapkan Allah sebelumnya. Ia mau, supaya kita hidup di dalamnya. Pernahkah Anda bertanya: ”Kenapa aku ada di dunia ini?” Kita ada di dunia ini bukan karena kebetulan. Saya ambil contoh diri saya sendiri. Saya mempunyai dua orang kakak. Jarak usia saya dengan kakak yang di atas saya adalah tiga belas tahun. Sebelum saya lahir, ibu saya sempat mengalami beberapa kali keguguran kandungannya. Jika saya merenungkan tentang diri saya, saya boleh hadir di dunia ini karena Tuhan memang menginginkannya. Kalau tidak, maka bisa jadi saya juga sudah gugur sebelum lahir sebagai seorang bayi. Pencipta kita, TUHAN Allah kita, sengaja membentuk kita, atas kehendak dan kemauan-Nya, sehingga kita hadir di dunia ini sebagai seorang pribadi, dengan segala keunikan yang kita miliki. Jika Tuhan mencipta kita dengan sengaja, maka Dia terlebih dahulu sudah merancang kita. Dia mendisain setiap kita dengan unik. Tidak ada di antara kita yang persis sama dengan seorang pun di dunia ini. Setiap saudara hanya ada satu di dunia ini. Anda dan saya bukan produk massal seperti barang-barang yang dibuat di pabrik. Setiap kita tidak ada duanya. Kita adalah masterpiece (karya ciptaan) Allah kita yang luar biasa dan sempurna. Tuhan mencipta kita untuk suatu tujuan. Tujuan itu adalah untuk melakukan pekerjaan-pekerjaan yang baik, untuk melakukan kebajikan dan kemurahan. Titus 3:1-2 berkata: ”Ingatkanlah mereka supaya mereka .... siap untuk melakukan setiap pekerjaan yang baik. Janganlah mereka memfitnah, janganlah mereka bertengkar, hendaklah mereka selalu ramah dan bersikap lemah lembut terhadap semua orang.” Tujuan kita diciptakan oleh Tuhan hanyalah untuk melakukan pekerjaan-pekerjaan yang baik. Jika ada orang yang menggunakan hidupnya untuk melakukan hal-hal yang tidak baik, maka berarti telah terjadi penyalah gunaan. Sebagai contoh: biola diciptakan sebagai alat musik, untuk menghasilkan suara merdu agar bisa dinikmati. Tapi jika biola itu dipakai untuk mainan, untuk alat pemukul bola, atau senarnya dipakai untuk busur panah, maka itu sama sekali bukan tujuan biola itu diciptakan. Jemaat yang dikasihi Tuhan, kita dirancang Tuhan untuk kemuliaan-Nya, agar kita melakukan pekerjaan yang baik, kebajikan dan kemurahan. Jika kita hidup sesuai dengan tujuan itu maka hidup kita akan berbahagia. Amin.
Dulu, ketika membantu pelayanan di sebuah jemaat, saya melihat keadaan yang tidak lazim menurut pandangan saya. Di gereja tersebut ada sejumlah pria (kepala keluarga) yang masih sehat dan dalam usia masih produktif tetapi tidak bekerja. Dan yang mencari penghasilan untuk mencukupi kebutuhan keluarga adalah para istri. Sebenarnya, dulu, mereka pernah bekerja. Tetapi karena kondisi dan alasan tertentu, kemudian mereka tidak lagi bekerja. Tentunya ini sebuah keadaan yang tidak sehat. Seseorang yang hidupnya tidak punya arti bagi sesama, tidak mau bekerja tetapi bergantung kepada orang lain, dan sungguh tidak mandiri, tidaklah berlebihan jika disebut seperti benalu. Tatanan masyarakat sekarang menilai seseorang yang mempunyai pekerjaan, meskipun pekerjaannya kasar adalah orang yang terhormat. Jika orang tidak mau bekerja akan dinilai malas, malah bisa-bisa dianggap manusia yang tidak berguna. Ini status yang hina dan memalukan. Melalui suratnya, Rasul Paulus mendorong Titus untuk mengingatkan jemaat di Kreta untuk memiliki pekerjaan supaya dapat hidup mandiri dan bisa mencukupi kebutuhan hidup pribadi ataupun keluarganya. Bahkan dengan memiliki pekerjaan, mereka pun diharapkan dapat membantu yang lain. Dalam hal ini jemaat diajar bahwa rezeki yang diperoleh dari bekerja bukan hanya dipergunakan untuk memenuhi keperluan hidup, tetapi juga dapat dimanfaatkan untuk menjadi berkat bagi sesama. Dengan demikian rezeki dapat dipergunakan untuk membangun hidup yang berguna. Karena seseorang berani mengambil sikap untuk memutuskan kecenderungan serakah dan menutup mata bagi sesama. Sebelum kita terlelap dalam istirahat malam merupakan kesempatan untuk bersyukur atas semua rezeki yang kita peroleh dari Tuhan hari ini. Kita bersyukur hari ini telah menjadi berkat bagi sesama dengan berbagi rezeki meskipun kecil. Tetapi kita yakin, besok berkat Tuhan akan ada lagi. Kiranya esok kita semakin hidup berguna bagi sesama.
Taman Eden adalah saksi di mana Allah berfirman “tidak baik” atas ciptaan-Nya. Padahal sejak hari pertama sampai hari ke lima Allah melihat segala yang dijadikan-Nya itu baik, bahkan di hari ke enam Allah melihat segala yang diciptakan-Nya sungguh amat baik. Setelah itu Allah berhenti, memberkati dan mengkuduskan hari ke tujuh. Apa yang tidak baik? Mengapa tidak baik? Belum adanya penolong yang sepadan bagi manusia. Nampaknya sejak semula Allah menghendaki adanya keadaan saling menolong, suka berbagi memberi pertolongan di tengah-tengah manusia. Allah menghadirkan “perempuan” yang ditetapkan-Nya sebagai penolong, yang dari rahimnya akan lahir para penolong yang lain. Ketika perempuan Hawa menyalahgunakan jati dirinya sebagai penolong, membawa Adam jatuh dalam dosa, seakan Allah gagal dalam rencana-Nya. Namun Allah kita adalah Allah yang tidak pernah gagal dalam semua rencana dan kehendak-Nya. Sekali Dia tetapkan perempuan dengan jati diri sebagai penolong, Dia tetap pada ketetapan-Nya. Dia berjanji bahwa dari benih perempuan akan lahir “ Sang Penolong Agung” yang akan mengajarkan dan meneladankan sikap saling menolong, saling memberi sebagai wujud nyata pribadi Allah yang adalah kasih. Itu semua sudah tergenapi dalam diri Yesus Kristus, Tuhan kita. Alkitab menghadirkan cukup banyak tokoh perempuan yang sadar akan jati dirinya. Kita kenal gadis Maria, Ibu Yesus. Dia berani memberikan hidupnya dengan semua harga yang harus dia bayar demi lahirnya Sang Mesias di bumi ini (Lukas 1:26-38). Satu saat Yesus memperhatikan seorang perempuan janda miskin yang berani memberikan dua keping uang yang dia punya (Markus 12:4-44) dan Yesus ajarkan nilai memberi kepada murid-muridNya. Ada kisah seorang perempuan penjahit sederhana, Dorkas namanya. Dia dicatat sebagai perempuan yang banyak sekali berbuat baik dan memberi sedekah (KPR 9:36). Dan masih banyak lagi yang lain. Bagaimana dengan kita, para perempuan? Ketahuilah dan camkanlah jati diri kita “PENOLONG” yang suka memberi dan berbagi pertolongan. Mari kita pelajari nilai memberi yang benar dan kita pelopori gerakan memberi di tengah-tengah keluarga kita, di tengah-tengah komunitas gereja kita, bahkan ditengah-tengah masyarakat di mana kita ada. Apa saja yang kita punya bisa kita berikan dan bagikan.
Bapak Kristeno adalah seorang Kristen. Setiap hari Minggu dia tidak pernah absen beribadah ke gereja. Tidak hanya itu, dia pun sangat aktif terlibat dalam banyak kegiatan di gerejanya. Bapak Kristeno memiliki sikap hidup yang mencerminkan ajaran Yesus, seperti yang tersurat dan tersirat dalam Injil. Karena begitu mengasihi Tuhan, dia juga terpanggil dalam pelayanan kasih (sosial). Dia selalu berbagi dengan orang-orang yang tidak mampu, sehingga di kampungnya, bapak Kristeno sangat dikenal sebagai orang Kristen yang murah hati. Begitu juga dengan bapak Syamsuri. Dia seorang non-Kristen. Tetapi bicara soal sosial, dia juga tidak kalah dengan kebanyakan orang Kristen, dengan bapak Kristeno misalnya. Bapak Syamsuri menyumbangkan banyak uangnya untuk membangun balai RT; membangun jalan; menyantuni tetangganya yang tidak mampu. Kehidupan sosialnya pun sangat luar biasa. Lantas, apa yang membedakan kemurahan hati yang dilakukan seorang Kristen dan seorang non-Kristen? Mungkin kita berpikir dan bergumam dalam hati, “Kalau begitu sama saja antara jadi Kristen dan tidak. Buktinya tanpa menjadi murid Yesus pun, banyak orang bisa berbuat baik.” Tidak... pikiran seperti itu tidak tepat. Ada bedanya. Di dalam Yakobus 2:17 dikatakan, ”Jika iman itu tidak disertai perbuatan, maka iman itu pada hakikatnya adalah mati.” Perbuatan-perbuatan kita sebagai seorang Kristen, termasuk segala kemurahan hati, kita lakukan dengan sadar bahwa iman di dalam Tuhanlah yang mendorong semua perbuatan baik kita. Dengan demikian semua orang yang beriman di dalam nama Yesus Kristus, entah itu dia kaya, “setengah” kaya, ekonomi menengah, bahkan orang-orang Kristen ekonomi lemah pun terpanggil untuk “mengejawantahkan” imannya dalam segala perbuatan baik (kemurahan). Bagi kita, berbuat baik adalah panggilan semua orang yang percaya dalam Yesus, sehingga tidak ada motivasi sedikitpun untuk mencari keuntungan untuk diri sendiri. Memang itu tidak mudah, tetapi jika kita bisa, itu karena pertolongan Roh Kudus.
BARCODE BBM CHANNELS
RENUNGAN HARIAN
Murah Hati Dalam Segala Keadaan
24 Oktober '14
Misteri Dibalik Duka Orang Benar
22 Oktober '14
Perempuan Sebagai Penolong
25 Oktober '14
Copyright © 2012 All rights reserved. Designed and Developed by GIA Dr. Cipto Semarang