SEPEKAN TERAKHIR
  Senin, 15 September 2014   -HARI INI-
  Minggu, 14 September 2014
  Sabtu, 13 September 2014
  Jumat, 12 September 2014
  Kamis, 11 September 2014
  Rabu, 10 September 2014
  Selasa, 09 September 2014
POKOK RENUNGAN
Ingatlah bahwa Pencobaan yang kita alami tidak melebihi kekuatan kita (1Korintus10:13), oleh karena itu jangan menyerah dan putus asa.
DITULIS OLEH
Ibu Ribkah E. Christanti
Kontributor
Renungan Lain oleh Penulis:
Home  »  Renungan  »  Hai Ibu, Besar Imanmu
Hai Ibu, Besar Imanmu
Sabtu, 04 Mei 2013 | Tema: Memiliki Karakter Kristus
Hai Ibu, Besar Imanmu
Matius 15:21-28
Dalam hidup ini kita akan selalu diperhadapkan dengan berbagai macam pergumulan, yaitu berbagai macam tantangan dan kesulitan. Tantangan dan kesulitan tersebut tidak hanya dialami orang yang belum percaya Tuhan tetapi juga dialami oleh anak-anak Tuhan. Seringkali pergumulan itu begitu kompleks, sehingga kita ragu dalam melangkah bahkan sepertinya tidak ada jalan keluar. Ketika kita tidak mengerti lagi apa yang harus dilakukan, kita tidak boleh menyerah dan putus asa begitu saja, pada saat itulah kita harus datang lebih lagi pada Tuhan.

Jika kita memperhatikan secara jelas kisah perempuan Kanaan ini, kita dapat melihat bahwa perempuan Kanaan ini memiliki sikap hati yang tidak mudah menyerah dan putus asa sehingga Yesus berkata kepadanya, ”Hai ibu, besar imanmu.” Bagaimana perempuan Kanaan ini dapat memiliki sikap yang tidak mudah menyerah dan putus asa ketika tantangan penolakan dari murid-murid Yesus dan sikap Yesus yang acuh ketika perempuan tersebut memohon kesembuhan untuk anaknya? Yang pertama adalah, berpikir positif (ayat 22).
Pada waktu itu orang Kanaan mempunyai image negatif karena dianggap oleh orang Israel akan membawa pengaruh buruk. Dalam keadaan tersebut perempuan Kanaan itu tidak berkecil hati, tapi dia berpikir positif (Filipi. 4:8) dengan menghampiri Tuhan Yesus. Kedua, tidak mudah terpengaruh oleh keadaan (ayat 23). Walaupun murid-murid Yesus meminta-Nya untuk menyuruh perempuan Kanaan itu pergi, tetapi perempuan itu tetap tegar untuk ...selengkapnya »
Hobi yang paling saya gemari pada masa kecil adalah berenang. Karena masa kecil saya tidak tumbuh di daerah perkotaan, maka tempat menyalurkan hobi saya bukan di water blaster, Jatim Park ataupun di kolam renang hotel berbintang yang mewah. Bersama teman-teman, biasanya saya renang di sungai, telaga, bahkan di pantai. Walaupun sejak kecil saya seorang perenang, namun ada satu kejanggalan yang saya alami saat berenang, yaitu saya sangat takut dengan kedalaman sungai ataupun pantai yang tidak dapat ditembus oleh penglihatan. Biasanya kalau dalam, warna air akan berubah menjadi kebiru-biruan. Dalam ‘ketakutan yang buta’ (asumsi negatif), saya diperhadapkan dengan dua plihan. Saya akan pergi dan meninggalkan kedalaman air yang menakutkan atau saya akan menyelidiki kedalaman air tersebut dan menemukan bahwa dikedalaman air itu sebenarnya tidak ada apa-apa yang dapat membahayakan hidup saya. Biasanya saya memutuskan untuk memilih yang kedua, yaitu menyelidiki kedalaman air itu. Dah hasilnya setelah saya memastikan bahwa di kedalaman air itu tidak ada yang membahayakan diri saya, saya dapat berenang dengan bebas, leluasa dan tanpa dihantui rasa takut. Jemaat yang terkasih, kadangkala ketakutan sering menghantui kita baik dalam pelayanan, pekerjaan, keluarga, masa depan, sekolah, dan lain-lain. Namun tidak benar jika kita memandang ketakutan yang muncul dalam diri kita selalu berkecenderungan negatif sehingga kita segera berdoa supaya Tuhan menjauhkan kita dari rasa takut yang selalu menghantui kita. Ketakutan dapat dipandang secara positif jika kita dapat berpikir dengan bijak untuk mencari sumber ketakutan kita, sehingga kita dapat menentukan pilihan untuk mengatasi ketakutan itu. Misalnya, jika seorang anak sekolah takut tidak lulus ujian sekolah, maka pilihan tepat yang harus ia ambil adalah belajar dengan sungguh. Sebagai orang dewasa yang takut gagal dalam hidup, kita dapat menata hidup kita sejak saat kita sadar akan ketakutan itu. Contohnya, menjalani dan menyelesaikan studi dengan baik, mengatur menejemen keuangan dengan baik, bergaul dengan orang yang baik, mencari pasangan hidup yang baik, dll. Semua adalah pilihan yang harus kita tentukan. Sejak awal kita diciptakan-Nya, kita didesain menjadi orang yang berhasil (serupa dengan Allah berarti sangat baik- sempurna). Bahkan ketika kita hidup di bawah bayang-bayang dosa keturunanpun, Tuhan tetap memberikan Roh-Nya yang membuat kita menjadi berani dan tidak hidup dalam ‘ketakutan yang buta’ (Roma 8:15). Oleh karena itu jangan takut dengan asumsi negatif kita, melainkan pilihlah jalan yang dapat memberanikan dan membangun diri kita.
Sore itu saya mendengar suara berisik sekali. Keempat anak anjing saya yang baru berumur 2,5 tahun itu menggonggong semua dan tak mau berhenti. Karena penasaran, saya beranjak keluar rumah menengok mencari penyebab mengapa anak anjing itu menggonggong tidak henti-henti. Ketika saya keluar, induk anjingpun ikut keluar. Apa yang terjadi? Eh.... anak-anak anjing itu malah menggonggong semakin keras dan berani. Ternyata mereka menggonggong karena melihat seorang tetangga mengambil buah alpokat di pohon sebelah rumah saya. Anak-anak anjing itu semakin berani ketika induknya bersama mereka. Dan anak-anak anjing itu semakin berani mendekati tetangga itu karena induknyapun ikut menggonggong. Dan anjing-anjing itu berhenti menggonggong setelah saya suruh berhenti dan pergi. Anak-anak anjing itu menggonggong karena melihat hal-hal yang tidak beres di sekitarnya dan menurutnya benar demi tuannya. Anak-anak anjing itu semakin berani karena merasa mendapat perlindungan, yaitu induknya. Anjing-anjing itu tidak berhenti menggonggong ketika tidak mendapat mandat dari tuannya untuk berhenti. Cerita di atas hendaknya menjadi inspirasi bagi setiap orang yang telah mengaku sebagai orang percaya Yesus. Berani untuk menyuarakan kebenaran Injil Kristus karena Yesus yang telah memberi hidup kepada kita. Dan Roh Kudus selalu bersama kita untuk memberikan pertolongan dan hikmat untuk bertindak dalam kebenaran. Rasul Petrus dengan tegas berkata kepada pemimpin-pemimpin Yahudi serta tua-tua dan ahli-ahli Taurat dalam sidang di Yerusalem, ”Silakan kamu putuskan sendiri manakah yang benar di hadapan Allah: taat kepada kamu atau taat kepada Allah. Sebab tidak mungkin bagi kami untuk tidak berkata-kata tentang apa yang telah kami lihat dan yang telah kami dengar.” Keberanian Rasul Petrus muncul karena kebenaran, sehingga Tuhan selalu menyertai apa yang dilakukannya. Dan tanda-tanda mujizat terjadi dalam setiap pelayanannya (KPR 4:16). Marilah kita tetap dalam kesetiaan kepada Allah untuk menyuarakan kebenaran Injil Tuhan dalam setiap sisi kehidupan kita, supaya kita dapat merasakan penyertaan Allah dalam setiap kehidupan kita.
Suatu ketika seorang ayah melarang anaknya untuk bermain sepakbola di siang hari dengan alasan cuaca yang begitu panas. Dan sang ayah menyarankan tentu akan lebih baik kalau anaknya istirahat atau belajar. Tetapi karena ajakan teman-temannya untuk bermain sepakbola dan kebetulan ayahnya juga sedang pergi, maka bermainlah anak tersebut. Setelah anak itu selesai bermain sepakbola ternyata ayahnya sudah di rumah, maka apa yang terjadi dengan anak itu? Dia takut untuk pulang ke rumah karena melanggar perintah orangtuanya. Dari bacaan di atas Yesuspun pernah mengalami ketakutan yang begitu hebat sampai peluhnya bercampur darah. Bukan karena sebuah kesalahan, tetapi karena Dia harus menanggung dosa seluruh manusia di kayu salib. Kepada siapa Yesus terbuka menceritakan kesedihan hati-Nya? Dalam pergumulan-Nya yang berat, Dia menceritakan kesedihan hatinya kepada murid-murid terdekat-Nya dan juga kepada Bapa-Nya di sorga. Dalam ketakutan-Nya, Yesus terbuka kepada orang-orang dekat-Nya dan yang lebih penting adalah berserah kepada Bapa. Setiap kita tentu pernah mengalami ketakutan dan banyak hal yang bisa membuat kita menjadi takut, namun bukankah semua sudah ditanggung oleh Yesus di atas salib Golgota. Ketika kita mengalami ketakutan, mari kita mau belajar seperti Yesus. Belajar terbuka kepada rekan-rekan yang dapat dipercaya dan siap memberikan dukungan. Juga datang kepada Bapa kita di sorga dan menceritakan semua pergumulan kita. Yang harus kita lakukan adalah membangun komunitas yang siap memberi dukungan. Dan yang terpenting adalah serahkan semua dan percayakan diri kita kepada Allah .
Ketika mengandung putri yang pertama, angan-angan saya dipenuhi gambaran yang sangat indah tentang hubungan yang manis antara saya dan anak ini kelak. Saya bertekad untukmengasuhnya sendiri dan menjadi ibu yang terbaik. Hubungan kami pasti akan sangat menyenangkan. Setelah bayi mungil ini lahir mulailah saya berhadapan dengan kenyataannya yang tak sesederhana angan-angan semula. Saat mulai mendapat asupan makanan padat, kadangkala ia menolak untuk makan dan lebih suka bermain-main saja. Di lain waktu ia memuntahkan makanan yang dengan susah payah dibuatkan khusus untuknya dan dengan penuh perjuangan disuapkan selama lebih dari satu jam. Di saat-saat seperti itu saya bisa saja memilih untuk menuruti keinginannya agar ia tetap senang. Namun saya tidak melakukannya. Saya memilih untuk tidak membiarkan perutnya kosong. Meskipun dengan begitu ia akan marah dan menangis. Memasuki usia sekolah pun punya kesulitan sendiri. Mengajarnya untuk hidup teratur dan bertatakrama tak semudah teori. Akan lebih mudah bila saya membiarkannya melakukan apa yang diinginkannya dengan cara sesukanya. Tetapi saya tidak melakukannya. Saya memilih untuk tetap mengarahkannya. Meskipun dengan begitu ia akan ngambek dan marah-marah. Memasuki pertengahan masa remaja, lebih mudah untuk memberinya pengertian. Lebih mudah untuk mengajaknya berbicara dari hati ke hati. Kami menikmati hubungan yang sehat. Memang tidak seperti yang saya angan-angankan dahulu, tetapi ini lebih baik. Ada kalanya kami bercanda. Ada kalanya bercerita. Ada kalanya berdebat. Ada kalanya sebatas berdiskusi. Bahkan kini bukan hanya saya yang menegurnya bila perlu, ia pun kadang melakukan hal yang sama. Semuanya kami lakukan demi kebaikan bersama. Lebih baik menegur demi kebaikan daripada membiarkan namun menjerumuskan.
BARCODE BBM CHANNELS
RENUNGAN HARIAN
Keberanian Iman Mengalahkan Rasa Takut
25 Agustus '14
Ketakutan Yang Positif
20 Agustus '14
Tuhan Kekuatanku
28 Agustus '14
Copyright © 2012 All rights reserved. Designed and Developed by GIA Dr. Cipto Semarang