SEPEKAN TERAKHIR
  Jumat, 19 Desember 2014   -HARI INI-
  Kamis, 18 Desember 2014
  Rabu, 17 Desember 2014
  Selasa, 16 Desember 2014
  Senin, 15 Desember 2014
  Minggu, 14 Desember 2014
  Sabtu, 13 Desember 2014
POKOK RENUNGAN
Ingatlah bahwa Pencobaan yang kita alami tidak melebihi kekuatan kita (1Korintus10:13), oleh karena itu jangan menyerah dan putus asa.
DITULIS OLEH
Ibu Ribkah E. Christanti
Kontributor
Renungan Lain oleh Penulis:
Home  »  Renungan  »  Hai Ibu, Besar Imanmu
Hai Ibu, Besar Imanmu
Sabtu, 04 Mei 2013 | Tema: Memiliki Karakter Kristus
Hai Ibu, Besar Imanmu
Matius 15:21-28
Dalam hidup ini kita akan selalu diperhadapkan dengan berbagai macam pergumulan, yaitu berbagai macam tantangan dan kesulitan. Tantangan dan kesulitan tersebut tidak hanya dialami orang yang belum percaya Tuhan tetapi juga dialami oleh anak-anak Tuhan. Seringkali pergumulan itu begitu kompleks, sehingga kita ragu dalam melangkah bahkan sepertinya tidak ada jalan keluar. Ketika kita tidak mengerti lagi apa yang harus dilakukan, kita tidak boleh menyerah dan putus asa begitu saja, pada saat itulah kita harus datang lebih lagi pada Tuhan.

Jika kita memperhatikan secara jelas kisah perempuan Kanaan ini, kita dapat melihat bahwa perempuan Kanaan ini memiliki sikap hati yang tidak mudah menyerah dan putus asa sehingga Yesus berkata kepadanya, ”Hai ibu, besar imanmu.” Bagaimana perempuan Kanaan ini dapat memiliki sikap yang tidak mudah menyerah dan putus asa ketika tantangan penolakan dari murid-murid Yesus dan sikap Yesus yang acuh ketika perempuan tersebut memohon kesembuhan untuk anaknya? Yang pertama adalah, berpikir positif (ayat 22).
Pada waktu itu orang Kanaan mempunyai image negatif karena dianggap oleh orang Israel akan membawa pengaruh buruk. Dalam keadaan tersebut perempuan Kanaan itu tidak berkecil hati, tapi dia berpikir positif (Filipi. 4:8) dengan menghampiri Tuhan Yesus. Kedua, tidak mudah terpengaruh oleh keadaan (ayat 23). Walaupun murid-murid Yesus meminta-Nya untuk menyuruh perempuan Kanaan itu pergi, tetapi perempuan itu tetap tegar untuk ...selengkapnya »
Kejadian 50:15-21 Memang kamu telah mereka-rekakan yang jahat terhadap aku, tetapi Allah telah mereka-rekakannya untuk kebaikan, dengan maksud melakukan seperti yang terjadi sekarang ini, yakni memelihara hidup suatu bangsa yang besar. (ayat 20) Dari kisah kehidupan Yusuf kita bisa mendapatkan inspirasi yang bermanfaat, khususnya dalam hal mengampuni. Apa yang membuat dia sanggup mengampuni saudara-saudaranya yang pernah memperlakukan dirinya dengan tidak baik? Yusuf tidak menyimpan dendam Saudara-saudaranya mengira bahwa Yusuf pasti menyimpan dendam terhadap mereka, karena mereka pernah melakukan kejahatan kepada Yusuf (ayat 15). Mereka pernah memasukkan Yusuf ke dalam sumur dan menjualnya sebagai budak. Tapi ternyata dugaan mereka itu keliru. Ternyata Yusuf tidak punya dendam sedikit pun kepada mereka, apalagi membalas kejahatan yang pernah mereka lakukan. Yusuf malah menerima mereka dengan sukacita karena bisa bertemu kembali dengan saudara-saudaranya dan berjanji akan memelihara hidup mereka dan keluarga mereka. Yusuf punya karakter rendah hati Kakak-kakak Yusuf begitu takut sehingga mereka berkata: ”Kami ini budak-budakmu.” Mereka memohon belas kasihan dari Yusuf agar diampuni kesalahannya sekalipun harus menjadi budak. Tetapi Yusuf berkata: ”Jangan takut, sebab aku inikah pengganti Allah?” (ayat 19) Yusuf tahu bahwa dia bukan Allah, dia adalah manusia biasa. Dia mengakui bahwa dia tidak lebih dari kakak-kakaknya. Kalau kakak-kakaknya bisa berbuat salah, dia pun bisa juga berbuat salah. Maka dia tidak mau menghakimi dan menghukum kakak-kakaknya. Yusuf menaruh kepercayaannya kepada Tuhan Perkataan Yusuf di ayat 20 (lihat teks di atas) sungguh merupakan perkataan yang luar biasa. Ini adalah perkataan iman. Dia yakin sepenuhnya kepada Allah yang mengendalikan hidupnya. Dia percaya bahwa Allah sanggup mengubah segala kejadian yang buruk dalam hidupnya menjadi baik. Rancangan Allah yang indah dalam hidupnya tidak mungkin digagalkan oleh tindakan saudara-saudaranya yang mencelakai dia. Bahkan dari apa yang paling buruk sekalipun Allah dapat menciptakan sesuatu yang indah, yang tak terpikirkan sebelumnya. Dan dari semua itu Allah sedang mengerjakan suatu rancangan besar yaitu keselamatan bagi banyak orang. Renungkan dan dapatkanlah pelajaran yang indah dari kehidupan Yusuf. Amin.
Natal hampir tiba. Panti asuhan sibuk berbenah, siap menyambut padatnya jadwal kunjungan dan limpahan perhatian. Gereja sibuk dengan rangkaian acara Natal dan Tahun Baru. Pusat perbelanjaan sibuk berdandan dengan nuansa merah dan hijau. Beradu kreativitas untuk mendulang rupiah. Masing-masing punya cara dan kesibukan sendiri di bulan Desember. Bagi kita umat Kristiani, apa pun yang kita kerjakan dalam rangka memperingati kelahiran Kristus, janganlah itu melenceng dari bahasa kasih yang merupakan alasan utama datangnya Kristus di dunia. Bila kita berkunjung ke panti asuhan, biarlah perhatian dan pemberian kita murni untuk memberkati mereka. Bukan untuk memasyhurkan nama denominasi gereja. Bila kita mengadakan kegiatan sosial, biarlah masyarakat memetik manfaat sebesar-besarnya bagi kepentingan mereka. Bukan demi nama besar pihak penyelenggara. Bila kita mengisi acara kebaktian Natal di gereja, biarlah melalui talenta kita jemaat dihantar untuk memusatkan perhatian pada kebesaran Tuhan. Bukan digiring agar terkagum-kagum oleh merdunya suara kita, atau gemulai serta dinamisnya tarian kita, atau mahirnya kita memainkan drama. Setiap saat kita bisa berbagi kasih. Pada kesempatan Natal, sangat bersukacita rasanya bila kita bisa lebih lagi berbagi kasih. Kasih itu begitu luas maknanya. Salah satunya, kasih itu tidak mencari keuntungan diri sendiri (1 Korintus 13:5). Mari berbagi kasih dengan hati yang murni. Selamat datang bulan Desember. Selamat menyambut hari Natal.
Pada umumnya umat Kristiani tahu betul isi DOA BAPA KAMI, bahkan tidak sedikit yang bisa menghafalnya di luar kepala. Pertanyaannya, bukan sekedar tahu dan hafal atau benar-benar menerapkannya dalam hidup keseharian kita ? Khususnya pada bagian: “Dan ampunilah kami akan kesalahan kami, seperti kami juga mengampuni orang yang bersalah kepada kami” (Matius 6:12). Dalam kenyataan yang kita temui, ternyata tidaklah mudah untuk mengampuni orang yang bersalah kepada kita walaupun kita tahu bahwa “MENGAMPUNI’ adalah WAJIB bagi setiap anak Tuhan (baca: Matius 6:14,15; Markus 11:25; Lukas 11:4; Kolose 3:13). Mungkin kita berpikir satu atau dua kali oke lah...., tetapi kalau lebih dari itu...., tunggu dulu....! Tetapi mari kita simak apa yang dikatakan Yesus kepada murid-murid-Nya? • Saat Petrus bertanya apakah sampai tujuh kali, Yesus menjawab sampai tujuh puluh kali tujuh kali ( Matius 18:2, 22) . Apa, 490 kali? Setahun saja hanya 365 hari . • Salah satu nasihat Yesus kepada murid-murid (Yohanes 17:3, 4): “Jagalah dirimu! Jikalau saudaramu berbuat dosa, tegorlah dia, dan jikalau ia menyesal, ampunilah dia. Bahkan jikalau ia berbuat dosa terhadap engkau tujuh kali sehari dan tujuh kali ia kembali kepadamu dan berkata, “Aku menyesal”, engkau harus mengampuni dia.” Tujuh kali dalam sehari? Luar biasa! Berarti TIDAK TERBATAS dong.... Wah berat sekali ya, tetapi bagaimanapun juga itu WAJIB bagi kita murid-murid Kristus yang telah mendapatkan keselamatan! Amin.
Suatu hari seorang hamba Tuhan menceritakan penyesalannya dalam sebuah kesaksian. Ia menyampaikan bahwa ia sangat menyesal karena janjinya untuk mengunjungi jemaatnya yang sakit tidak dapat ia penuhi, pasalnya jemaat yang seharusnya dikunjungi itu sudah pulang ke rumah Bapa di sorga sebelum ia mengunjunginya. Penyesalan itu sangat dalam dirasakannya karena beberapa hari sebelum jemaatnya meninggal, hamba Tuhan tersebut sudah berjanji akan mengunjunginya di rumah sakit. Namun akibat kesibukan pelayanan dan berbagai aktifitas yang dikerjakannya, jemaat yang sakit ini telah meninggal sebelum ia dapat mengunjunginya. “Penyesalan pasti akan muncul di kemudian hari”. Pepatah inilah yang dialami oleh hamba Tuhan tersebut, dan mungkin juga kerapkali kita alami dalam kehidupan kita sehari-hari. Ingin hati menyatakan kasih, namun kadang waktu dan kesempatan membatasi sehingga kita tidak dapat melaksanakan kasih itu dalam pelayanan kita, sehingga penyesalan demi penyesalan mengakumulasi yang kemudian berakibat pada perasaan bersalah yang sangat dalam. Semua hal yang akan terjadi dalam hidup kita tidak akan diketahui oleh siapa pun (Matius 25:13), demikian dengan kedatangan Tuhan pada kali yang ke-2. Oleh karena itu Alkitab mengajar kita untuk selalu berjaga-jaga, sehingga kita tidak akan menyesal jika sesuatu yang tidak diinginkan terjadi. Sebagai seorang pelayan Tuhan (rohaniawan, penatua, diaken, pengerja, dan lain-lain), saat ini kita dipercayakan untuk mengembalakan domba-domba Tuhan. Sebagai seorang orang tua (kakek, nenek, bapak, ibu), kita memiliki anak-anak, cucu-cucu, keponakan, yang Tuhan percayakan untuk digembalakan. Sebagai seorang anak, kita memiliki orangtua, kakek, nenek, dan yang lain yang Tuhan percayakan menjadi orang-orang yang kita kasihi. Orang-orang yang ada di sekeliling kita merupakan ladang pelayanan kita di mana kita memiliki tugas yang sama, yaitu untuk “saling mengasihi dan memperhatikan”. Oleh karena itu jika saat ini kita merasa bahwa hubungan kita dengan orang-orang yang pernah dan sangat mengasihi kita sedang renggang atau jauh, mari kita meningkatkan hubungan melalui perhatian yang penuh kasih. Selagi masih ada kesempatan, lakukan, supaya tidak ada penyesalan di kemudian hari.
BARCODE BBM CHANNELS
RENUNGAN HARIAN
Kekuatan Kasih
18 Desember '14
Black Friday vs Bless Friday
07 Desember '14
Tundukkanlah Hulk, Si Monster Hijau
05 Desember '14
Copyright © 2012 All rights reserved. Designed and Developed by GIA Dr. Cipto Semarang