SEPEKAN TERAKHIR
  Senin, 20 Februari 2017   -HARI INI-
  Minggu, 19 Februari 2017
  Sabtu, 18 Februari 2017
  Jumat, 17 Februari 2017
  Kamis, 16 Februari 2017
  Rabu, 15 Februari 2017
  Selasa, 14 Februari 2017
POKOK RENUNGAN
Ingatlah bahwa Pencobaan yang kita alami tidak melebihi kekuatan kita (1Korintus10:13), oleh karena itu jangan menyerah dan putus asa.
DITULIS OLEH
Ibu Ribkah E. Christanti
Kontributor
Renungan Lain oleh Penulis:
Home  »  Renungan  »  Hai Ibu, Besar Imanmu
Hai Ibu, Besar Imanmu
Sabtu, 04 Mei 2013 | Tema: Memiliki Karakter Kristus
Hai Ibu, Besar Imanmu
Matius 15:21-28
Dalam hidup ini kita akan selalu diperhadapkan dengan berbagai macam pergumulan, yaitu berbagai macam tantangan dan kesulitan. Tantangan dan kesulitan tersebut tidak hanya dialami orang yang belum percaya Tuhan tetapi juga dialami oleh anak-anak Tuhan. Seringkali pergumulan itu begitu kompleks, sehingga kita ragu dalam melangkah bahkan sepertinya tidak ada jalan keluar. Ketika kita tidak mengerti lagi apa yang harus dilakukan, kita tidak boleh menyerah dan putus asa begitu saja, pada saat itulah kita harus datang lebih lagi pada Tuhan.

Jika kita memperhatikan secara jelas kisah perempuan Kanaan ini, kita dapat melihat bahwa perempuan Kanaan ini memiliki sikap hati yang tidak mud...selengkapnya »
Di sebuah kota ada sebuah rumah makan yang sangat terkenal karena semua menunya sangat lezat. Tidak heran rumah makan itu setiap hari, sejak buka sampai tutup, selalu ramai dengan pengunjung dan banyak orang rela antri. Rahasia kelezatan ada pada sang pemilik yang meracik dan memasak setiap masakan yang dipesan. Dia ingin anaknya dapat menggantikan ketika dia pensiun. Tiga orang anaknya diminta tiap hari belajar darinya, meracik dan cara memasak sehingga dapat menghasilkan makanan yang lezat. Dari ketiga anaknya ternyata hanya ada satu yang mahir dan setiap masakan yang dibuatnya sangat mirip dengan masakan ayahnya. Karena anak itu tekun belajar tidak hanya dari perkataan, tetapi setiap gerak dan perilaku ayahnya ketika memasak juga diikutinya. Yesus mengatakan ‘belajarlah daripada-Ku’ [BIS], artinya tidak hanya menyimak perkataan-Nya tetapi juga mencontoh setiap perbuatan dan tindakan-Nya. Dia berkata, “Aku lemah lembut dan rendah hati.” Perkataan itu dinyatakan dalam perbuatan dan tindakan-Nya setiap hari. Dia lemah lembut [ramah] kepada setiap orang yang ditemuinya karena Dia mengasihi dan mendatangkan damai sejahtera bagi semua orang. Rendah hati karena Dia mempraktekkan kesabaran dan penguasaan diri. Kita membaca dan merenungkan Firman Tuhan tiap hari, hal itu sangat bagus. Tetapi itu tidak cukup kalau kita mau berlajar dari-Nya. Kita harus mempraktekkan dalam hidup sehari-hari sehingga kita akan serupa dengan Kristus. Mengasihi orang lain dengan kasih Kristus dan menciptakan damai sejahtera di mana kita berada walaupun saat ini sulit didapati damai di sekitar kita. Kita sabar terhadap masalah yang dihadapi dan bisa menguasai diri atas perlakuan yang tidak adil. Dengan demikian akan mendatangkan kelegaan hati dan ketenangan bagi kita.
Pagi itu, ketika saya sedang mencuci mobil, dikejutkan dengan seekor burung kenari yang tiba-tiba hinggap di atas kap mobil. Secara reflek saya mengusir burung itu. Eh... burung itu tidak mau terbang, tetapi malah berjalan di atas mobil. Saat saya mau menangkapnya, ia tidak berusaha terbang, justru berlari kecil sedikit menghindar dari tangan saya. Setelah menangkapnya, saya menanyakan ke tetangga apakah ada yang kehilangan burung kenari. Karena tidak ada yang merasa kehilangan, maka burung itu saya pelihara. Selang satu minggu, sepulang doa pagi, tetangga memanggil saya sambil berteriak, ”Pak, ternyata burungnya bagus!” Lalu saya balik bertanya, ”Kok bisa, Pak?” Dia menjawab, ”Dari tadi saya mendengar berkicau keras, nyaring, dan bagus. Itu berati burung kualitas baik, Pak.“ Percakapan tersebut memperlihatkan sebuah penilaian tentang kualitas. Tetangga saya bisa berkata burung itu berkualitas karena memiliki kelebihan, mutu, dan juga keindahan yang dapat dirasakan pihak lain. Demikian juga kita sebagai orang percaya, hidup kita akan menjadi berkat bagi orang lain karena kualitas hidup kita. Dalam bacaan nats hari ini, Rasul Paulus mengajar kita bagaimana hidup berkualitas sebagai orang percaya. Pribadi yang berkualitas adalah: pertama, apabila mempunyai kedekatan hubungan pribadi yang mendalam dengan Tuhan [ay. 13]. Karena kalau ada hubungan dekat dengan Allah, kita akan memiliki ketahanan hidup saat menghadapi permasalahan, sehingga tidak mudah terombang-ambing oleh gelombang kehidupan [ay. 14]. Kedua, memiliki kedewasaan dan kematangan dalam menjalani kehidupan. Pribadi yang dewasa dan matang dalam berpikir dan menjalani kehidupan akan bertindak hati-hati, penuh kesabaran, tidak mudah menyerah saat dalam pencobaan dan selalu berusaha untuk kebaikan. Sehingga tidak mudah jatuh saat dalam pencobaan hidup [ay. 14]. Ketiga, hidup berpegang pada kebenaran [ay. 15]. Kita dikatakan pribadi yang berkualitas jika dalam hidup sehari-hari mampu menampilkan kebenaran dalam segala hal. Tanda bahwa kita hidup dalam kebenaran dapat kita lihat dalam Yesaya 32:17 dikatakan, “Dimana ada kebenaran di situ akan tumbuh damai sejahtera, dan akibat kebenaran ialah ketenangan dan ketentraman untuk selama-lamanya.” Maksudnya, jika kita hidup dalam kebenaran di situ akan ada ketenangan dan ketentraman dalam diri kita dan orang lain. Pertanyaannya, sudahkah kita memiliki pribadi yang berkualitas? Mari kita bersama-sama berusaha menjadi pribadi yang berkualitas agar hidup kita menjadi berkat dan berkenan di hati Tuhan. Amin.
Andaikata ada berita seorang pendeta menyuap seorang ustadz yang menduduki jabatan penting di negara ini. Tindakan mereka ketahuan dan saat ini kasusnya sedang ditangani para ksatria anti-korupsi. Bisa saja orang akan bertanya, “Bagaimana mungkin ini terjadi?” Dua orang pemimpin religius dengan atribut keagamaan yang disandangnya diduga melakukan tindakan tercela? Jika memang demikian kenyataannya seharusnya mereka merasa malu. Malu karena tindakan mereka tidak dapat menjadi teladan sebagaimana diharapkan dari seorang pemuka agama. Tetapi apakah rasa malu itu hanya ditujukan pada mereka saja? Sehingga sindiran-sindiran semacam “suap menyatukan perbedaan” atau “membangun toleransi melalui suap” muncul dari kejengkelan atau sekedar keisengan kita saja. Bahkan yang paling kasar cepat-cepat menyematkan kata “munafik” kepada mereka. Bisa jadi benar bahwa mereka adalah orang-orang beragama yang munafik. Namun sebelum menyematkan itu pada mereka alangkah bijaknya jika kita melihat diri kita terlebih dahulu. Tuan Joko Ndokondo membuka Alkitab lalu mulai mengajar sekelompok kecil orang yang setia mendengarkan pituturnya. Menyikapi perkara sang pendeta dan sang ustadz, ia memberikan nasihat agar jangan buru-buru mencela apalagi menghakimi. Biasanya orang yang cepat menghakimi sebenarnya mempunyai masalah yang sama pada dirinya. Misalnya, orang yang secara berlebihan suka memojokkan orang lain sebagai orang yang tidak bermoral, bisa jadi ia sendiri adalah orang yang menyimpan perbuatan-perbuatan tidak bermoral. Seseorang yang selalu mengobral kebagusan dirinya sambil menghakimi kesalahan orang-orang lain, patut diduga bahwa ia mempunyai masalah besar pada dirinya. Anehnya masalah besar pada dirinya itu tidak disadarinya, malah sebaliknya ia melemparkan tuduhan dan penghakiman pada orang lain untuk menutupi kebejadan dirinya sendiri. Maka alangkah baiknya jika kita melihat diri kita dengan saksama terlebih dahulu. Siapa tahu kita pun memiliki kemunafikan yang tak kalah besar bahkan lebih besar dari orang yang telah kita hakimi sebagai orang munafik. Dan seperti biasa, “Sssttttt…..ttt, jangan bilang siapa-siapa ya?” pinta Tuan Joko Ndokondo menutup pituturnya. Jemaat yang terkasih, marilah kita mempraktekkan firman Tuhan yang menasihati kita agar cepat untuk mendengar tetapi lambat untuk berkata-kata [Yakobus 1:19]. Jika kita mendengar berita yang tidak sedap menimpa orang lain atau saudara seiman kita, janganlah cepat-cepat memberikan kata-kata penghakiman padanya. Baiklah kita mengoreksi diri kita. Apakah kita juga menyimpan tabiat-tabiat tak baik sebagaimana orang itu? Syukur jika tidak. Tetapi jika ya, maka kita pun wajib merasa malu pada diri kita sendiri sebagaimana perbuatan memalukan yang dilakukan orang itu. Dengan demikian niscaya kita terhindar dari kebiasaan menghakimi dan siap mengalami pemulihan dari Roh Kudus. [DDK] Pokok Renungan: Si bijak tidak akan tergoda menghakimi, tetapi si bebal akan suka menunjuk kesalahan orang.
Ketika saya masih duduk di bangku SMA, ada seorang teman yang sangat taat memegang tata cara adat-istiadat leluhur. Segala upacara peringatan kepercayaan tak pernah mereka lalaikan. Mereka rajin berziarah ke tempat-tempat peribadatan. Mereka wajib melakukan hal-hal tertentu dan sebaliknya berpantang melakukan aktivitas-aktivitas tertentu menjelang hari raya tahun baru. Apa pun mereka lakukan untuk menaati dan menjunjung tinggi adat-istiadat leluhur. Suatu hari teman ini mengemukakan alasan mengapa ia sangat tidak bersimpati dengan kekristenan. Orang Kristen sudah meninggalkan kepercayaan yang dianut oleh leluhur dan melupakan adat-istiadat nenek moyang. Hal itu sangat tidak bisa diterimanya. Namun bila orang menelisik kehidupannya sehari-hari, prinsipnya yang teguh memegang adat istiadat dan kepercayaan berbanding terbalik dengan cara hidupnya. Segala tata cara yang dijunjung tinggi olehnya tidak membuat hidupnya menjadi lebih baik dan benar. Menghargai warisan budaya leluhur itu baik, selama hal itu tidak bertentangan dengan Firman Tuhan. Kehendak Tuhan harus kita utamakan, jangan malah kita korbankan demi mengikuti adat istiadat. Tuhan Yesus pernah menegur beberapa orang Farisi dan ahli Taurat dari Yerusalem ketika mereka mempersoalkan murid-murid yang dianggap melanggar adat istiadat Yahudi. Tuhan menunjukkan kepada mereka bahwa justru orang Farisi dan ahli Tauratlah yang sering ’njelimet’ mempersoalkan adat istiadat namun dengan entengnya melanggar perintah Allah demi kepentingan diri sendiri. Hendaklah kita menjadi umat Tuhan yang mengerti akan prioritas yang benar. Menghargai adat istiadat itu penting, tetapi Firman Tuhan tetaplah yang paling penting.
BARCODE BBM CHANNELS
RENUNGAN HARIAN
Mengalami Tuhan �2
22 Januari '17
Resolusi Tahun Baru
20 Januari '17
Menemukan Sukacita Sejati
23 Januari '17
Copyright © 2012 All rights reserved. Designed and Developed by GIA Dr. Cipto Semarang