SEPEKAN TERAKHIR
  Rabu, 01 Oktober 2014   -HARI INI-
  Selasa, 30 September 2014
  Senin, 29 September 2014
  Minggu, 28 September 2014
  Sabtu, 27 September 2014
  Jumat, 26 September 2014
  Kamis, 25 September 2014
POKOK RENUNGAN
Ingatlah bahwa Pencobaan yang kita alami tidak melebihi kekuatan kita (1Korintus10:13), oleh karena itu jangan menyerah dan putus asa.
DITULIS OLEH
Ibu Ribkah E. Christanti
Kontributor
Renungan Lain oleh Penulis:
Home  »  Renungan  »  Hai Ibu, Besar Imanmu
Hai Ibu, Besar Imanmu
Sabtu, 04 Mei 2013 | Tema: Memiliki Karakter Kristus
Hai Ibu, Besar Imanmu
Matius 15:21-28
Dalam hidup ini kita akan selalu diperhadapkan dengan berbagai macam pergumulan, yaitu berbagai macam tantangan dan kesulitan. Tantangan dan kesulitan tersebut tidak hanya dialami orang yang belum percaya Tuhan tetapi juga dialami oleh anak-anak Tuhan. Seringkali pergumulan itu begitu kompleks, sehingga kita ragu dalam melangkah bahkan sepertinya tidak ada jalan keluar. Ketika kita tidak mengerti lagi apa yang harus dilakukan, kita tidak boleh menyerah dan putus asa begitu saja, pada saat itulah kita harus datang lebih lagi pada Tuhan.

Jika kita memperhatikan secara jelas kisah perempuan Kanaan ini, kita dapat melihat bahwa perempuan Kanaan ini memiliki sikap hati yang tidak mudah menyerah dan putus asa sehingga Yesus berkata kepadanya, ”Hai ibu, besar imanmu.” Bagaimana perempuan Kanaan ini dapat memiliki sikap yang tidak mudah menyerah dan putus asa ketika tantangan penolakan dari murid-murid Yesus dan sikap Yesus yang acuh ketika perempuan tersebut memohon kesembuhan untuk anaknya? Yang pertama adalah, berpikir positif (ayat 22).
Pada waktu itu orang Kanaan mempunyai image negatif karena dianggap oleh orang Israel akan membawa pengaruh buruk. Dalam keadaan tersebut perempuan Kanaan itu tidak berkecil hati, tapi dia berpikir positif (Filipi. 4:8) dengan menghampiri Tuhan Yesus. Kedua, tidak mudah terpengaruh oleh keadaan (ayat 23). Walaupun murid-murid Yesus meminta-Nya untuk menyuruh perempuan Kanaan itu pergi, tetapi perempuan itu tetap tegar untuk ...selengkapnya »
Suporter atau fans club adalah sebuah organisasi yang terdiri dari sejumlah orang yang bertujuan untuk mendukung sebuah klub, di antaranya klub sepak bola. Dalam hal ini suporter harus berafiliasi dengan klub sepak bola yang didukungnya, sehingga perbuatan mereka akan berpengaruh terhadap klub dukungannya. Jenis suporter yang umum adalah Hooligan, fans yang brutal saat idolanya kalah bertanding; Ultras, kelompok yang tidak berhenti menyanyi dan meyerukan yel-yel lagu klub kebangaan selama pertandingan berlangsung dan rela berdiri sepanjang pertandingan; The Vip, mereka adalah sekelompok orang bukan bermaksud menonton, tetapi mereka mengharap ditonton oleh penonton lainnya; Deddy/Mommy, sekelompok orang yang menjadikan pertandingan sebagai hiburan rekreasi keluarga; Pohon Natal, kelompok yang hanya memamerkan atribut atau pernak-pernik dan hanya memamerkan identitas klub atau negaranya; The Expert adalah sekelompok pensiunan yang telah berumur. Mereka tidak sayang menggunakan uang pensiunan untuk bertaruh dan biasanya mereka hanya bertaruh pada pertandingan yang besar saja; Couch potato, mereka ini tipe penonton yang tidak hadir langsung ke stadion, namun melalui pesawat TV di rumah. Mereka lebih nyaman menonton di rumah karena berasumsi pertandingan belum tentu bagus. Mereka juga berdandan dengan atribut dan seolah-olah di stadion. Semua itu adalah para pendukung, namun tidak pernah bermain. Sehingga tidak jarang dukungan dan cacian selalu ada dalam mulut mereka. Namun perlu kita sadari sebagaimana dalam olah raga sepak bola yang membutuhkan dukungan, begitu juga dalam kegerejaan. Kita tidak hanya membutuhkan pendukung dalam hal ini jemaat, namun diperlukan juga pemain, yaitu para pelayan Tuhan yang siap untuk mewujudkan goal dari sang pelatih, yaitu Yesus Kristus. Sebab dengan kita langsung menjadi bagian dari tim sesungguhnya kita sedang memikirkan strategi dan target yang akan dicapai. Sebab melalui tim kita akan mengetahui kondisi yang sesungguhnya dari tempat kita bernaung dan diharapkan dari dukungan kita inilah, maka ada kemajuan dan kebangkitan. Oleh karenanya mari kita masuk dalam pelayanan dan telibat aktif di dalamnya karena itu akan membawa kemajuan bagi pertumbuhan gereja Tuhan Jangan hanya puas jadi penonton, tetapi mari lebih lagi sumbangsihkan dan dedikasikan apa yang kita punya bagi Tuhan, sebab kebanggannya adalah Tuhan dipuaskan dengan apa yang kita kerjakan. Dan kita akan melihat hasil dari apa yang kita kerjakan.
Sepak bola Indonesia tidak pernah kekurangan pemain bertalenta dari masa ke masa. Oleh sebab itulah tidak sedikit dari beberapa Klub luar negri naksir berat dengan beberapa pemain Indonesia dan menawari mereka untuk bermain di luar Indonesia. Sebut saja nama, Ricky Yakobi, Bima Sakti, Kurniawan, Bambang Pamungkas, Rocky Putiray, Andik Vermansyah, dan Irfan Bachdim adalah beberapa nama pemain yang pernah merumput di kompetisi sepak bola di luar Indonesia. Namun sayangnya, sejarah mencatat bahwa karir pemain Indonesia di uar negri tidak pernah bertahan lama. Karir mereka sebagian besar rata-rata hanya bertahan sekitar satu hingga dua tahun saja. Salah satu harian olah raga nasional pernah mengulas tentang hal ini dan menyebutkan bahwa selain karena persaingan yang sangat ketat, ada satu faktor lain yang menyebabkan para pemain Indonesia gagal bersaing di luar negri. Faktor itu adalah Home Sick atau “kangen” kampung halaman, atau dengan kata lain tidak betah tinggal di luar Indonesia. Home sick ini disebabkan karena adanya perasaan sendiri di negeri orang, merasa asing dan tidak ada teman di tempat yang baru. Apakah Anda mengalami Home sick ketika berada di gereja? Banyak orang merasa tidak nyaman beribadah di gereja karena alasan merasa sendiri, tidak ada yang memperhatikan, bosan, tidak ada pengurus atau teman yang peduli. Sehingga kelanjutannya kita lebih merindukan pulang ke rumah secepatnya atau rindu mendatangi gereja yang “lebih peduli”. Bila itu terjadi pada Anda, itu tandanya Anda sedang terserang Home Sick. Lalu siapa yang seharusnya bertanggung jawab agar Anda tidak Home sick? “Pendetanya dong”, “ah... bukan pendeta, tetapi Gembalanya, kan dia pemimpinnya”, “tidak bisa hanya Gembala, tetapi semua pengurus, Rohaniwan, Diaken, Penatua, aktifis, pokoknya semua yang aktif di gereja deh....” Itulah Celetukan opini dari sebagian orang tentang hal ini. Perhatikanlah cara hidup jemaat mula-mula yang dicatat dalam Kisah Para Rasul 2:41-47. Kisah ini diawali dengan khotbah Petrus yang membawa perubahan hidup. Jemaat yang pertama mendapat pencurahan Roh Kudus. Setelah itu, cara mereka beribadah pun diperbarui. Ibadah yang selama ini dijalankan biasa-biasa saja, kini berubah menjadi kebutuhan mutlak. Jemaat memiliki kehausan yang mendalam akan firman Tuhan. Mereka bertekun dalam pengajaran para rasul dan dalam persekutuan. Setiap hari mereka berkumpul untuk memecahkan roti dan berdoa (ayat 42). Peristiwa-peristiwa ajaib terjadi sebagai bukti penyertaan Tuhan atas firman-Nya. Dan lebih hebat lagi, Tuhan menambahkan jumlah mereka dengan orang-orang yang diselamatkan (ayat 47). Inti dari kisah ini adalah bahwa ibadah atau persekutuan yang mendatangkan berkat bagi semua orang, ada kesehatian ada kehidupan saling peduli adalah tugas dari semua. Mengapa demikian? Karena semua adalah tubuh Kristus yang memiliki peran masing-masing untuk membuat suasana yang antusias dalam setiap ibadah. Oleh karena itu, marilah kita menjadikan gereja sebagai “tempat yang nyaman” bagi kita. Ada kehidupan saling berbagi, saling peduli dan saling memperhatikan.
1 Petrus 2:5 Dan biarlah kamu juga dipergunakan sebagai batu hidup untuk pembangunan suatu rumah rohani, bagi suatu imamat kudus, untuk mempersembahkan persembahan rohani yang karena Yesus Kristus berkenan kepada Allah. Batu adalah benda mati. Kita sering melihat batu di sungai-sungai atau tergeletak di tanah. Apa arti atau nilai sebuah batu? Sewaktu tergeletak di tanah atau di sungai batu itu tidak ada artinya. Tetapi sewaktu dia diambil oleh tukang bangunan dan disusun bersama batu-batu lainnya untuk membangun sebuah rumah, barulah batu itu ada artinya. Dia menjadi bagian dari sebuah bangunan yang akan dipakai sebagai tempat tinggal. Seperti itulah hidup kita. Jika kita terpisah dari orang lain hidup kita tidak mempunyai makna. Tetapi jika kita disatukan dengan yang lain dan kita bersama-sama mengerjakan tugas yang ditentukan oleh Allah, maka hidup kita menjadi sangat berarti. Allah merancang kita untuk tidak hidup sendirian. Oleh sebab itu Kristus mendirikan gereja bagi orang-orang percaya supaya hidup bersama dalam komunitas rohani. Di dalam komunitas hidup kita menjadi bermakna. Kita menjadi batu hidup yang dipakai untuk pembangunan rumah rohani. Apa tujuan dari hidup bersama dalam komunitas itu? Firman Allah katakan: ”untuk mempersembahkan persembahan rohani yang karena Yesus Kristus berkenan kepada Allah.” Di dalam gereja kita melakukan: 1. Ibadah kepada Allah 2. Persekutuan sebagai keluarga Allah. 3. Pelayanan kepada orang yang membutuhkan. 4. Memberitakan Injil kepada masyarakat. Puji Tuhan, hidup kita bisa menjadi batu yang hidup, bukan batu yang mati. Batu yang hidup adalah batu yang rela untuk disatukan dengan batu-batu lainnya dan dipakai untuk mempermuliakan Nama Allah dan mengerjakan kehendak-Nya di dalam gereja-Nya.
Carut marut, porak poranda membuat keadaan tidak nyaman dan sangat mengganggu suasana. Lain halnya dengan kerapian, keteraturan akan membuat suasana nyaman. Bisa dibayangkan jika kepala jadi kaki, kaki jadi tangan, dst. Akan terlihat janggal dan aneh, kecuali itu dilakukan saat akrobat di sirkus, kita akan kagum. Keteraturan memang sangat diperlukan dalam kehidupan kita, baik dalam keluarga, pekerjaan dan juga pelayanan. Semua dikerjakan sesuai dengan tugas dan kapasitas masing-masing. Dari tulisan Rasul Paulus kepada jemaat di Efesus (Ef 4:6), ada beberapa hal yang bisa kita renungkan bersama: pertama, sebagai tubuh Kristus kita diharapkan tersusun rapi. Artinya ada sebuah keteraturan dalam kebersamaan, tidak sendirian, tidak carut marut, tidak porak poranda, tidak over laping semau gue karena kata tersusun digunakan untuk sesuatu yang jumlahnya lebih dari satu. Kedua, tidak cukup hanya tersusun rapi, tetapi dikatakan juga diikat menjadi satu. Jadi dalam pelayanan kita tidak boleh bergerak seenaknya sendiri, harus ada kesepakatan, kesehatian dan sesuai dengan kadar pekerjaan tiap anggota sehingga melalui pelayanan yang kita lakukan, kita bisa menjadi tali yang baik dan bermanfaat sebagai alat pengikat, pemersatu dalam Tubuh Kristus, bukan pemecah belah. Ketiga, jika kita melakukan semuanya itu, kita akan bertumbuh dan membangun diri dalam kasih. Ada pertumbuhan, tidak jalan di tempat, tiada kesombongan dan selalu aktif, keatif, tidak malas ataupun egois. Amin
BARCODE BBM CHANNELS
RENUNGAN HARIAN
Manusia Terowongan
30 September '14
Jangan Hanya Berangan - Angan
05 September '14
Kemenangan Melalui Doa Dan Pujian
06 September '14
Copyright © 2012 All rights reserved. Designed and Developed by GIA Dr. Cipto Semarang