SEPEKAN TERAKHIR
  Minggu, 26 Oktober 2014   -HARI INI-
  Sabtu, 25 Oktober 2014
  Jumat, 24 Oktober 2014
  Kamis, 23 Oktober 2014
  Rabu, 22 Oktober 2014
  Selasa, 21 Oktober 2014
  Senin, 20 Oktober 2014
POKOK RENUNGAN
Ingatlah bahwa Pencobaan yang kita alami tidak melebihi kekuatan kita (1Korintus10:13), oleh karena itu jangan menyerah dan putus asa.
DITULIS OLEH
Ibu Ribkah E. Christanti
Kontributor
Renungan Lain oleh Penulis:
Home  »  Renungan  »  Hai Ibu, Besar Imanmu
Hai Ibu, Besar Imanmu
Sabtu, 04 Mei 2013 | Tema: Memiliki Karakter Kristus
Hai Ibu, Besar Imanmu
Matius 15:21-28
Dalam hidup ini kita akan selalu diperhadapkan dengan berbagai macam pergumulan, yaitu berbagai macam tantangan dan kesulitan. Tantangan dan kesulitan tersebut tidak hanya dialami orang yang belum percaya Tuhan tetapi juga dialami oleh anak-anak Tuhan. Seringkali pergumulan itu begitu kompleks, sehingga kita ragu dalam melangkah bahkan sepertinya tidak ada jalan keluar. Ketika kita tidak mengerti lagi apa yang harus dilakukan, kita tidak boleh menyerah dan putus asa begitu saja, pada saat itulah kita harus datang lebih lagi pada Tuhan.

Jika kita memperhatikan secara jelas kisah perempuan Kanaan ini, kita dapat melihat bahwa perempuan Kanaan ini memiliki sikap hati yang tidak mudah menyerah dan putus asa sehingga Yesus berkata kepadanya, ”Hai ibu, besar imanmu.” Bagaimana perempuan Kanaan ini dapat memiliki sikap yang tidak mudah menyerah dan putus asa ketika tantangan penolakan dari murid-murid Yesus dan sikap Yesus yang acuh ketika perempuan tersebut memohon kesembuhan untuk anaknya? Yang pertama adalah, berpikir positif (ayat 22).
Pada waktu itu orang Kanaan mempunyai image negatif karena dianggap oleh orang Israel akan membawa pengaruh buruk. Dalam keadaan tersebut perempuan Kanaan itu tidak berkecil hati, tapi dia berpikir positif (Filipi. 4:8) dengan menghampiri Tuhan Yesus. Kedua, tidak mudah terpengaruh oleh keadaan (ayat 23). Walaupun murid-murid Yesus meminta-Nya untuk menyuruh perempuan Kanaan itu pergi, tetapi perempuan itu tetap tegar untuk ...selengkapnya »
Alkisah dalam sebuah reuni tiga orang teman sepermainan berjumpa kembali. Setelah mengobrol ’ngalor ngidul’ menuntaskan rasa kangen, salah seorang bertanya kepada temannya. ”Sekarang kamu pergi ke gereja mana, Bro?” ”Aku ke gereja itu lho, yang visinya mendunia. Hebat puolll!” ”Kalau aku sih ke gereja yang selalu mengundang pembicara-pembicara tenar. Kereeen! Kamu sendiri ke gereja mana?” ”Ooo, aku ke gereja yang baru selesai direnovasi itu. Kapan-kapan berkunjung dong, megah bingits!” Kalau seseorang menanyakan pertanyaan yang sama kepada kita, apa jawab kita? Di antara begitu banyak gereja yang bertebaran di kota ini, bagaimana kita menggambarkan gereja kita? Bukan visi pendeta, bukan ketenaran pembicara, bukan menterengnya bangunan ... bukan itu. Semua itu bukan jati diri yang sejati. Itu bukan apa-apa dibanding kedaulatan Tuhan yang seharusnya diakui dan dijunjung tinggi di dalam sebuah gereja. Jati diri Gereja adalah sang Kepala. Ketika seluruh anggota tubuh tunduk kepada kedaulatan sang Kepala, itulah Gereja yang sejati. Ketika kehendak Kristus diakui, ditaati, dan kepentingan-Nya didahulukan ... jati diri Gereja yang sejati akan muncul. Itulah kerinduan saya pribadi terhadap gereja kita. Semoga itu juga menjadi kerinduan kita bersama.
Selama 16 tahun John Kovacs menjadi ”penghuni terowongan”. John Kovacs tinggal di sebuah terowongan rel kereta api bawah tanah yang tak dipakai di New York, bersama beberapa orang lainnya. Orang-orangpun sering menyebutnya dengan “Si Manusia Terowongan”. Ketika Amtrak membeli terowongan itu dan mempersiapkannya untuk dibuka kembali, John terpaksa mencari tempat tinggal di atas terowongan. Menurut Surat Kabar “The New York Times”, John Kovacs menjadi orang pertama yang terpilih untuk sebuah program baru yang dirancang untuk ”mengubah tunawisma menjadi penghuni rumah yang menetap”. Setelah menghabiskan sepertiga hidupnya di terowongan rel kereta api, John Kovacs meninggalkan kehidupan bawah tanahnya dan menjadi petani organik di New York bagian utara. Dia pernah berkata, ”Udara di luar sini terasa lebih baik. Saya tidak akan merindukan kehidupan lama saya. Saya tak akan kembali ke sana lagi.” Bila kita merenungkan kisah di atas, kita akan menyadari bahwa setiap kita yang telah menjadi orang Kristiani memiliki pengalaman yang serupa. Kita telah dipilih untuk meninggalkan keberadaan kita yang gelap dan sangat kotor untuk diangkat dan mendapat kehidupan dan pekerjaan yang baru. Seandainya kita dapat melihat kehidupan kita yang terdahulu sejelas John Kovacs melihat kehidupan lamanya, maka kita pun akan sadar bahwa tak ada yang bermanfaat dalam kegelapan, dan tak ada alasan untuk kembali ke sana. Kita akan memilih untuk menjalani hidup yang baru bersama dengan Kristus. Hidup yang telah ditebus dan telah dimerdekakannya. Rasul Paulus juga menyadari tentang perihal sukacita hidup bersama dengan Yesus. Saat Paulus ada dalam penjara, dia merasakan bagaimana sulitnya hidup dalam tekanan, namun dia tetap bersukacita di dalam Yesus. Paulus sadar bahwa penderitaan yang dialaminya tidak sebanding dengan pengorbanan yang telah Yesus berikan bagi umat manusia. Oleh karena itulah Rasul Paulus berkata, “Karena bagiku hidup adalah Kristus dan mati adalah keuntungan. Tetapi jika aku harus hidup di dunia ini, itu berarti bagiku bekerja memberi buah ...” (Filipi 1:21-22). Melalui perkataan tersebut dia berpesan, bahwa ketika kita telah ditebus menjadi umat pilihan Allah, maka hidup kita harus meninggalkan kehidupan yang lama, dan masuk dalam hidup yang baru bersama dengan Yesus. Yang artinya kita berkomitmen untuk memberikan yang terbaik kepada Yesus dan memberitakan tentang Yesus sebagai Tuhan dan juru selamat. Tidak ada kata terlambat untuk melakukannya.
1 Petrus 2:9 Tetapi kamulah bangsa yang terpilih, imamat yang rajani, bangsa yang kudus, umat kepunyaan Allah sendiri, supaya kamu memberitakan perbuatan-perbuatan yang besar dari Dia, yang telah memanggil kamu keluar dari kegelapan kepada terang-Nya yang ajaib. Wah bahagianya jadi orang yang terpilih: anggota legislatif yang terpilih, presiden dan wakil presiden yang terpilih. Mereka jadi pusat perhatian. Mereka jadi orang penting. Mereka mendapatkan fasilitas yang khusus: rumah dinas, pengawalan khusus, gaji dan tunjangan yang wah. Pokoknya segala sesuatu yang istimewa bisa dinikmati oleh orang yang terpilih. Apakah seperti itu halnya dengan menjadi umat pilihan Tuhan? Dalam arti tertentu, memang benar. Umat pilihan Tuhan memang mendapat perhatian khusus dari Tuhan. Punya hubungan khusus sebagai anak-anak-Nya. Tuhan memberikan janji penyertaan kepada umat pilihan-Nya. Tuhan berjanji memberkati anak-anak-Nya. Mereka akan mewarisi kekayaan yang tersedia di dalam Kerajaan-Nya. Namun bukan berarti umat pilihan Tuhan tidak akan mengalami kesusahan seperti yang dialami orang-orang pada umumnya. Semua masalah yang umum dialami semua orang (menderita sakit, perjuangan mencari nafkah, ancaman kejahatan, dsb) adalah bagian dari kehidupan umat pilihan (Roma 8:22). Tapi yang pasti Tuhan tidak membiarkan umat pilihan-Nya menghadapi semua itu sendirian. Dia selalu memberi perlakuan khusus kepada umat pilihan-Nya (Keluaran 33:16). Namun yang paling penting, menjadi umat pilihan bukan cuma untuk mendapatkan perlakuan khusus. Yang paling penting adalah menjalankan fungsinya. Memang banyak anggota legislatif yang sudah terpilih cuma ingat pada fasilitas yang didapat tapi lupa pada tugas yang menantinya. Janganlah demikian dengan umat pilihan Tuhan. Jangan lupa pada tugas kita, yaitu untuk memberitakan perbuatan yang besar dari Dia yang telah memilih kita. Dia telah mengubah hidup kita, menyelamatkan kita, memulihkan hidup kita. Kita yang pernah disembuhkan, yang pernah mengalami pertolongan-Nya yang ajaib, ...... semua itu bukan untuk kita simpan sendiri, tapi untuk kita ceritakan pada semua orang, bahwa Dia sungguh besar dan ajaib. Supaya orang lain datang kepada-Nya dan mengalami pertolongan-Nya juga. Ceritakanlah perbuatan-Nya yang ajaib, hai umat pilihan Tuhan.
Seorang pria kekar dalam perjalanan menuju rumahnya tiba-tiba dihentikan oleh beberapa orang yang langsung memukuli dan mengambil dengan paksa sepeda motor yang dikendarainya. Pria itu ditinggal di tepi jalan dengan tubuh yang penuh dengan memar dan luka. Seseorang yang melihat peristiwa itu bertanya kepadanya, “Mengapa bapak tidak berusaha melawan orang-orang itu, saya melihat bapak jauh lebih kekar dan kuat dibanding dengan orang-orang yang merampok bapak.” “Dulu saya seorang jawara, saya pemarah, pemabuk, penjudi, pezinah, tidak ada satupun orang yang berani menghadapi saya. Saya pimpinan preman yang sangat ditakuti. Tetapi setelah menerima Yesus Kristus dalam hidup saya, perubahan terjadi. Saya menjadi manusia baru dengan karakter Kristus. Badan saya kekar, wajah saya sangar tetapi saya terus berusaha untuk sabar, lemah lembut, tidak dendam, hidup dengan damai sejahtera,” jawab pria itu. Sebagai umat pilihan Allah yang telah dikuduskan dan dikasihi-Nya, karakter kita harus berubah dari manusia lama menjadi manusia baru. Penuh belas kasihan, murah hati, rendah hati, lemah lembut dan sabar (ayat 12). Itu semua adalah karakter Kristus yang harus menjadi identitas murid Kristus. Sabar terhadap orang lain, mengampuni seperti Tuhan telah mengampuni kita (ayat 13). Kasih Kristus dalam hidup kita sebagai pengikat yang mempersatukan sesama (ayat 14). Hati penuh dengan damai sejahtera dan Firman Tuhan sehingga memberi hikmat untuk mengajar dan menegur sesama dengan perkataan yang menyejukkan (ayat 15, 16). Perkataan dan perbuatan dilakukan dalam nama Yesus (ayat 17). Marilah kita terus berusaha untuk menjadi manusia baru dengan membuang (mematikan) tabiat lama yang duniawi, yaitu percabulan, kenajisan, hawa nafsu, nafsu jahat, dan keserakahan yang semuanya itu mendatangkan murka Allah (ayat 5, 6). Dibutuhkan kemauan dan tekad yang kuat untuk dapat memiliki karakter Kristus. Ingatlah dengan memiliki karakter Kristus, hidup kita akan berdampak dan mempermuliakan nama Tuhan.
BARCODE BBM CHANNELS
RENUNGAN HARIAN
Misi Yang Mulia
16 Oktober '14
Perempuan Sebagai Penolong
25 Oktober '14
Dirindukan Orang
20 Oktober '14
Copyright © 2012 All rights reserved. Designed and Developed by GIA Dr. Cipto Semarang