SEPEKAN TERAKHIR
  Sabtu, 23 Mei 2015   -HARI INI-
  Jumat, 22 Mei 2015
  Kamis, 21 Mei 2015
  Rabu, 20 Mei 2015
  Selasa, 19 Mei 2015
  Senin, 18 Mei 2015
  Minggu, 17 Mei 2015
POKOK RENUNGAN
Ingatlah bahwa Pencobaan yang kita alami tidak melebihi kekuatan kita (1Korintus10:13), oleh karena itu jangan menyerah dan putus asa.
DITULIS OLEH
Ibu Ribkah E. Christanti
Kontributor
Renungan Lain oleh Penulis:
Home  »  Renungan  »  Hai Ibu, Besar Imanmu
Hai Ibu, Besar Imanmu
Sabtu, 04 Mei 2013 | Tema: Memiliki Karakter Kristus
Hai Ibu, Besar Imanmu
Matius 15:21-28
Dalam hidup ini kita akan selalu diperhadapkan dengan berbagai macam pergumulan, yaitu berbagai macam tantangan dan kesulitan. Tantangan dan kesulitan tersebut tidak hanya dialami orang yang belum percaya Tuhan tetapi juga dialami oleh anak-anak Tuhan. Seringkali pergumulan itu begitu kompleks, sehingga kita ragu dalam melangkah bahkan sepertinya tidak ada jalan keluar. Ketika kita tidak mengerti lagi apa yang harus dilakukan, kita tidak boleh menyerah dan putus asa begitu saja, pada saat itulah kita harus datang lebih lagi pada Tuhan.

Jika kita memperhatikan secara jelas kisah perempuan Kanaan ini, kita dapat melihat bahwa perempuan Kanaan ini memiliki sikap hati yang tidak mudah menyerah dan putus asa sehingga Yesus berkata kepadanya, ”Hai ibu, besar imanmu.” Bagaimana perempuan Kanaan ini dapat memiliki sikap yang tidak mudah menyerah dan putus asa ketika tantangan penolakan dari murid-murid Yesus dan sikap Yesus yang acuh ketika perempuan tersebut memohon kesembuhan untuk anaknya? Yang pertama adalah, berpikir positif (ayat 22).
Pada waktu itu orang Kanaan mempunyai image negatif karena dianggap oleh orang Israel akan membawa pengaruh buruk. Dalam keadaan tersebut perempuan Kanaan itu tidak berkecil hati, tapi dia berpikir positif (Filipi. 4:8) dengan menghampiri Tuhan Yesus. Kedua, tidak mudah terpengaruh oleh keadaan (ayat 23). Walaupun murid-murid Yesus meminta-Nya untuk menyuruh perempuan Kanaan itu pergi, tetapi perempuan itu tetap tegar untuk ...selengkapnya »
Ketika kami masih kecil, saya dan adik, dibelikan mainan kapal-kapalan yang bisa berjalan dan berbunyi ketika diletakkan di atas air. Agar bisa berjalan dan berbunyi, kapal-kapalan itu di dalamnya harus diberi lampu minyak yang menyala. Yang menarik bagi saya adalah pesan ayah untuk menjaga kapal-kapalan agar tidak cepat rusak, tidak mudah tenggelam, dan bunyi kas kapal-kapalan itu tetap ada. Untuk itu kami diingatkan agar tidak dimuatinya secara berlebihan dan tidak boleh mengangkatnya dari air dengan sembarangan selama api lampu itu belum mati atau dimatikan. Kapal siapakah yang lebih awet hidup? Kepunyaan adik atau saya? Pastinya kepunyaan saya. Karena kepunyaan adik selalu dimuati barang besar sehingga sering tenggelam dan akhirnya rusak. Lalu seberapa lama kapal-kapalan saya ini bertahan hidup dengan suara yang nyaring itu? Saya selalu ingat pesan ayah untuk menjaganya agar tetap baik. Namun apa yang terjadi, justru orang lain yang merusaknya. Ada tetangga yang tertarik dengan kapal itu sehingga tergoda untuk mengangkatnya tanpa mematikan api lampu dalam kapal itu. Akhirnya dapat ditebak, suara nyaring kapal-kapalan itu mati dan ketika berjalan sering tenggelam. Dari cerita pengalaman di atas kita ingat akan Saul yang dipilih Allah menjadi raja Israel [1 Samuel 9:17]. Saul menjadi raja yang mampu mengalahkan beribu-ribu musuhnya karena ada Roh Allah dalam dirinya. Tetapi kemudian Allah menjauhinya karena ia tidak taat [1 Samuel 13:6-10]. Saul sebenarnya mendengar suara Allah tetapi ia tidak melakukan kehendak Allah karena lebih takut kepada rakyatnya [ayat 20-22]. Sehingga Roh Tuhan undur darinya dan roh jahat selalu mengganggunya [1 Samuel 16:15]. Apa yang dapat kita pelajari melalui contoh peristiwa di atas? Melakukan kehendak Allah dengan sepenuh hati adalah harga mati bagi setiap orang percaya [Keluaran 15:26]. Namun kita juga harus sadar bahwa seringkali pencobaan hidup selalu mengintai kita. Sebagai orang percaya di generasi sekarang hendaklah tetap waspada terhadap tipu daya yang mudah membuat kita jauh dari kehendak Allah. Maka ketaatan dalam melakukan kehendak Allah harus ada dari sekarang juga, agar kita tetap hidup dalam penyertaan Roh Allah. Allah akan membentengi, menyertai, memberi umur panjang, dan bahkan keselamatan jika hati kita tetap melekat sepenuhnya kepada-Nya.
Sejak dunia dijadikan, Allah telah memberi otoritas kepada manusia untuk menguasai buatan tangan-Nya. Allah memahkotai manusia dengan kemuliaan dan hormat [ayat 6]. Di taman Eden, Allah berfirman kepada Adam untuk menamai semua ciptaan-Nya dan memelihara, bahkan boleh menikmatinya kecuali pohon pengetahuan Baik dan Jahat. Allah berkehendak menciptakan manusia hampir sama seperti Allah. Dalam perjalanan kehidupan yang sudah Allah rancangkan ternyata manusia merusak keinginan Allah untuk menjadikan menusia sebagai mahluk mulia. Dosalah yang merusak kemuliaan-kehormatan manusia. Syukur kepada Allah yang tetap mengasihi manusia dan tetap mengingat, serta mengindahkannya [ayat 5]. Sampai sekarang Tuhan terus rindu agar kita menjadi ciptaan yang mulia dan terhormat. Mari kita lihat tangan kita yang mempunyai 5 jari. • Ibu jari, Allah ingin kita mampu menjadi orang-orang yang dapat Dia banggakan. • Jari telunjuk, kita menjadi ciptaan yang menunjukan jalan yang benar bagi mereka yang tersesat. • Jari tengah, bagaimana kita bisa menjadi penengah di setiap gesekan-keretakan di antara sesama. • Jari manis, jari yang umumnya dilingkari cincin yang melambangkan ikatan kesetiaan. Apakah kita juga berusaha menjadi orang-orang yang setia, terutama kepada Tuhan? Apakah kita bersikap manis terhadap semua orang? • Kelingking, meskipun jari yang terkecil, tetapi jari ini diibaratkan pendamai, cepat mendamaikan segala kesalahpahaman yang sering terjadi. Sampai kapanpun Allah berkehendak agar orang percaya terus menjadi mahluk ciptaan-Nya yang melakukan kehendak-Nya, sebab sejak awal Allah sudah memahkotainya dengan kemuliaan dan hormat. Allah ingin kita menjadi pengelola-pengelola yang baik di muka bumi.
Roma 12:2 dalam versi bahasa Indonesia sehari-hari menyatakan, “Janganlah ikuti norma-norma dunia ini. Biarkan Allah membuat pribadimu menjadi baru, supaya kalian berubah. Dengan demikian kalian sanggup mengetahui kemauan Allah , yaitu apa yang baik dan yang menyenangkan hati-Nya dan yang sempurna.” Berpijak dari ayat tersebut, banyak orang kristen merasa bahwa mereka telah melakukan kehendak Allah dalam hidupnya. Misalnya, setia beribadah pada hari Minggu dan tidak pernah merugikan orang lain. Katakan saja pak Munir. Dia selalu beribadah di hari Minggu, tetapi di lingkungan tempat tinggalnya, banyak orang kecewa karena pelitnya minta ampun. Pak Munir juga memberikan perpuluhan, sekalipun sejak sepuluh tahun yang lalu sampai sekarang nominalnya tetap sama, tidak ada peningkatan. Namun demikian pak Munir tidak sungkan-sungkan berbicara mengenai kesetiaannya dalam melakukan kehendak Allah. Pak Munir merasa bahwa dirinya sudah melakukan kehendak Allah. Saudara, banyak orang kristen merasa sudah melakukan kehendak Allah, padahal sebenarnya hanya sekedar merasa melakukan kehendak Allah. Kalau hanya merasa, maka sejatinya belum banyak melakukan kehendak Allah. Seseorang yang melakukan kehendak Allah pastilah terlebih dulu mengalami perubahan kepribadian yang dikerjakan oleh Allah sendiri sesuai dengan yang dipola Allah. Pembaharuan budi itulah yang menyanggupkan kita mengetahui kehendak atau kemauan Allah, yaitu semua yang baik dan yang menyenangkan hati-Nya. Dengan kata lain seseorang yang sudah mengalami pembaharuan budi, maka dia benar-benar melakukan kehendak Allah: semua yang baik dan yang berkenan di hati-Nya. Biarkanlah Allah terlebih dulu melakukan pembaruan budi kita. Amin.
Orang biasa memanggilnya Zakif. Beberapa waktu lalu seakan mata masyarakat Indonesia tertuju padanya. Bukan karena dia seorang artis kontroversi, pejabat terkenal atau orang penting lainnya. Dia adalah seorang pelajar kelas 3 SMU di Yogyakarta yang melaporkan kebocoran soal UN yang diselenggarakan kira-kira 3 minggu lalu kepada pihak yang berwenang. Bagi yang merasa terancam dengan laporan Zakif tersebut, tidak sedikit yang mengancamnya melalui media sosial. Dia ditekan sedemikian rupa supaya mengurungkan niatnya. Namun ia tetap melaporkan kecurangan tersebut. Atas laporannya, hasil UN kini tidak lagi menjadi standar penerimaan mahasiswa baru di Universitas Gajah Mada. Selain itu, kejujurannya tidak hanya mendapatkan pujian, kebanggaan dari orangtua dan orang-orang yang masih menghargai kejujuran, tapi dia juga mendapatkan penghargaan dari pemerintah. Kisah di atas mungkin sudah menjadi barang langka di dunia. Lihat saja prinsip masyarakat zaman sekarang. Zaman iki zaman edan, yen sik waras dianggep edan [zaman ini zaman gila, kalau masih sehat dianggap gila]. Banyak terjadi di sekitar kita peristiwa yang “melegalkan dosa atau kebiasaan yang tidak baik”. Misalnya, seorang karyawan dengan gampang dan tanpa rasa takut memberi dan menerima nota kosong; seorang pelajar/mahasiswa dengan lancar mencontek kanan kiri; para pejabat dengan tangan yang ringan memberi dan menerima “pelicin” demi kepentingan pribadi dan golongan; oknum PNS dengan santai “mengebiri” waktu kerja namun minta kenaikan gaji, dll. Namun nats yang kita baca hari ini mengingatkan kembali akan kehendak Tuhan bagi kita sebagai orang yang percaya. Sadrakh, Mesakh dan Abednego membuktikan diri mereka sebagai Penantang Zaman. Mereka berani menentang titah raja untuk menyembah berhala karena cinta dan ketaatan mereka pada Allah lebih besar. Maka segala ancaman, ejekan, hujatan dan hukuman pun tidak dihiraukannya demi terlaksananya kehendak Allah melalui mereka. Dan terbukti bahwa Tuhan tidak tinggal diam atas pengorbanan orang-orang yang beriman. Dia menunjukkan keMahakuasaan-Nya atas umat-Nya. Hari ini kita mendapat contoh nyata dari orang-orang yang terbukti mampu menjadi Penantang Zaman bagi generasi mereka. Bagaikan orang yang melawan arus, pasti kita akan menghadapi halangan yang tidak sedikit. Namun yang menentukan keberhasilan kita adalah bagaimana kuatnya pijakan atau pegangan kita. Demikian halnya sebagai Penantang Zaman. Cinta akan Tuhan dan mengutamakan kebenaran dan kehendak-Nyalah yang menjadikan kita kuat untuk melakukannya. Selamat berjuang!
BARCODE BBM CHANNELS
RENUNGAN HARIAN
Tidak Lebih, Tidak Kurang
06 Mei '15
Problem Terbesar Seorang Anak Tuhan
25 April '15
Menjadi Makhluk Mulia
08 Mei '15
Copyright © 2012 All rights reserved. Designed and Developed by GIA Dr. Cipto Semarang