SEPEKAN TERAKHIR
  Sabtu, 27 Agustus 2016   -HARI INI-
  Jumat, 26 Agustus 2016
  Kamis, 25 Agustus 2016
  Rabu, 24 Agustus 2016
  Selasa, 23 Agustus 2016
  Senin, 22 Agustus 2016
  Minggu, 21 Agustus 2016
POKOK RENUNGAN
Ingatlah bahwa Pencobaan yang kita alami tidak melebihi kekuatan kita (1Korintus10:13), oleh karena itu jangan menyerah dan putus asa.
DITULIS OLEH
Ibu Ribkah E. Christanti
Kontributor
Renungan Lain oleh Penulis:
Home  »  Renungan  »  Hai Ibu, Besar Imanmu
Hai Ibu, Besar Imanmu
Sabtu, 04 Mei 2013 | Tema: Memiliki Karakter Kristus
Hai Ibu, Besar Imanmu
Matius 15:21-28
Dalam hidup ini kita akan selalu diperhadapkan dengan berbagai macam pergumulan, yaitu berbagai macam tantangan dan kesulitan. Tantangan dan kesulitan tersebut tidak hanya dialami orang yang belum percaya Tuhan tetapi juga dialami oleh anak-anak Tuhan. Seringkali pergumulan itu begitu kompleks, sehingga kita ragu dalam melangkah bahkan sepertinya tidak ada jalan keluar. Ketika kita tidak mengerti lagi apa yang harus dilakukan, kita tidak boleh menyerah dan putus asa begitu saja, pada saat itulah kita harus datang lebih lagi pada Tuhan.

Jika kita memperhatikan secara jelas kisah perempuan Kanaan ini, kita dapat melihat bahwa perempuan Kanaan ini memiliki sikap hati yang tidak mud...selengkapnya »
Berakar dan dibangun Kolose 2:6-7 Hendaklah kamu berakar di dalam Dia dan dibangun di atas Dia, hendaklah kamu bertambah teguh dalam iman yang telah diajarkan kepadamu, dan hendaklah hatimu melimpah dengan syukur. Arah pertumbuhan bukan hanya ke atas, tapi juga ke bawah. Berakar dan dibangun menggambarkan dua arah pertumbuhan, ke bawah dan ke atas. Kedua arah pertumbuhan itu sama-sama membutuhkan waktu dan proses. Pertumbuhan yang makin lama makin kuat dan makin lengkap. Akar merambat ke bawah. Ini adalah bagian yang tidak kelihatan. Berakar bicara tentang hidup rohani yang makin erat bersekutu dengan Kristus. Akar menentukan kekuatan sebuah pohon. Semakin dalam akarnya semakin kuat pohon itu. Pohon itu tidak akan mudah layu di musim kering jika akarnya meresap jauh ke dalam tanah. Demikian juga pohon itu tidak mudah tercabut walaupun ditiup angin badai kalau akarnya kuat di dalam tanah. Orang yang berakar di dalam Kristus imannya akan kuat menghadapi berbagai situasi dalam hidupnya, baik saat hidupnya tenang maupun saat menghadapi goncangan, baik ketika ada banyak berkat maupun saat dalam kekurangan. Gedung dibangun ke atas. Ini adalah bagian yang kelihatan. Proses pembangunan gedung adalah gambaran juga tentang pertumbuhan iman seorang Kristen. Hidup imannya akan makin meningkat. Semakin dibangun ke atas gedung itu akan makin tampak lengkap dan sempurna. Semua bagiannya terlengkapi dengan baik: tembok, atap, pintu, jendela, dsb. Rancangan yang semula ada di dalam gambar menjadi terwujud di dalam kenyataan. Bangunan itu menjadi bangunan yang siap dipakai. Orang yang dibangun di dalam Kristus akan terus menerus diperlengkapi. Dia akan menjadi murid Kristus yang semakin sempurna. Hidupnya akan makin tampak indah karena dibentuk sesuai dengan firman Allah. Rancangan Allah di dalam hidupnya makin tampak/ terwujud dengan indahnya. Kiranya kita semua ada di dalam proses berakar dan dibangun di dalam Kristus. Amin. Pdt. Goenawan Susanto
Di dalam pagelaran Euro 2016 yang diselenggarakan beberapa waktu yang lalu, Inggris menjadi salah satu negara yang menjadi unggulan untuk memenangkan turnamen ini. Banyak orang berkata, permainan mereka hebat, banyak pemain berkualitas di dalamnya, dan dukungan suporter pun sangat luar biasa. Inggris layak menjadi pemenang Euro 2016. Apakah dengan komentar tersebut tim nasional Inggris menjadi juaranya? Jawabannya Tidak. Inggris bukanlah pemenangnya! Inggris bukan pemenang karena mereka tidak dapat menjadi yang terbaik dalam turnamen ini. Pemenang adalah seseorang yang dapat menyelesaikan sebuah pertandingan dan berhasil menjadi yang terbaik. Menjadi yang terbaik bukan hal yang mudah dan tidak semua orang dapat menjadi yang terbaik. Untuk menjadi yang terbaik butuh “nilai plus” yang harus dimiliki. Dengan kata lain seseorang yang berhasil menjadi yang terbaik pasti ada sesuatu yang “berbeda” yang dimiliki yang dapat membedakan dirinya dengan orang lain. 1 Yohanes 5:1-5 menjelaskan bahwa untuk menjadi pemenang/terbaik di dunia ini butuh sesuatu yang berbeda yang harus dimiliki oleh setiap orang percaya. Hal itu adalah iman [ay. 4]. Iman kepada Yesus merupakan “keunikan” dan kekhasan kekristenan yang harus terus dijaga sampai akhir hidup kita. Menjaga iman artinya tidak cukup hanya berkata percaya, tetapi tanpa ditunjukkan oleh sikap hidup yang benar. Menjaga iman artinya, selain percaya dengan sepenuh keyakinan, juga harus ditandai dengan tindakan yang mencerminkan sikap yang senantiasa mentaati ketetapan-ketetapan Allah [ay. 2]. Iman kepada Yesus akan membawa kita menuju kepada kebenaran yang sejati dan kehidupan yang kekal. Rasul Paulus pernah mengungkapkan dalam 2 Timotius 4:7 bahwa hidup ibarat sebuah pertandingan. Jika dalam pertandingan tersebut kita mampu mempertahankan dan menjaga iman kita, maka “mahkota” itu akan diberikan Allah bagi kita. Kemerdekaan dan kemenangan itu akan diraih saat kita berjalan dengan iman yang selalu tertuju kepada Yesus. Bertepatan dengan diperingatinya hari kemerdekaan Indonesia, jadilah orang percaya yang telah dimerdekakan seutuhnya oleh Yesus. Artinya, bersedia menanggalkan segala dosa yang ada dan menjadi orang yang benar-benar merdeka bersama Kristus. Bagaimana dengan kita? Sanggupkah kita melakukannya? Masih bisakah kita mempertahankan iman kita sampai akhir hidup kita? Di tengah kesulitan hidup, di dalam situasi minoritas yang kita alami di Indonesia, dan di tengah kemajuan zaman yang begitu pesat, masih adakah iman kepada Yesus Kristus dalam diri kita? Renungkanlah.
Mengurus karunia dengan setia 1 Petrus 4:10-11 Layanilah seorang akan yang lain, sesuai dengan karunia yang telah diperoleh tiap-tiap orang sebagai pengurus yang baik dari kasih karunia Allah. [ayat 10] Setiap orang Kristen adalah pengurus dari karunia yang diberikan oleh Allah. Apakah kita telah menjadi pengurus yang baik dari karunia Allah? Suatu kali Ibu Teresa ditanya oleh seseorang, ’Ibu telah melayani kaum miskin di kota ini [Kolkata, India]. Tetapi, tahukah Ibu, bahwa masih ada jauh lebih banyak lagi orang miskin yang terabaikan? Apakah Ibu tidak merasa gagal?’ Ibu Teresa menjawab, ’Anakku, aku tidak dipanggil untuk berhasil, tetapi aku dipanggil untuk setia ....’ Panggilan orang Kristen bukanlah untuk menjadi berhasil dalam pelayanannya. Orang Kristen dipanggil untuk menjadi pengurus yang baik dari karunia yang dipercayakan kepadanya, artinya menggunakan karunia yang telah diberikan kepadanya untuk melayani orang lain dengan setia. Keberhasilan adalah bagian Tuhan yang memberikannya. Bagian kita adalah mengerjakan pelayanan sesuai dengan karunia kita dengan setia. Pengurus adalah seorang yang diberi kepercayaan untuk mengelola sesuatu. Misalnya, seorang yang dipercaya untuk mengelola sebuah perusahaan. Orang tersebut harus memberi pertanggung jawaban kepada pemilik perusahaan itu. Jika dia dinilai tidak serius atau kurang sungguh-sungguh dalam menjalankan tugasnya, kepercayaan itu bisa diambil kembali dari dia dan diberikan kepada orang lain. Juga seperti menteri-menteri dalam kabinet presiden Jokowi saat ini sedang dinilai kinerjanya. Jika mereka dinilai tidak baik dalam mengelola kementrian yang dipercayakan kepada mereka, maka bisa saja mereka dicopot dan diganti orang lain. Demikianlah kita adalah pengurus dari karunia-karunia yang dipercayakan kepada kita. Tugas kita adalah memakai karunia-karunia itu untuk melayani orang lain dengan setia. Dan jika kita telah melakukan tugas dengan setia maka pada akhirnya nanti Tuhan yang memberikan karunia itu akan berkata: ’Baik sekali perbuatanmu hai hamba-Ku yang baik dan setia. Masuklah dalam kebahagiaan Tuanmu.’ [Matius 25:23]. Pdt. Goenawan Susanto
Decak kagum akan keluar dari mulut kita saat kita melihat sebuah bangunan rumah yang sangat indah, dan dalam hati akan timbul pertanyaan, “Siapa pemiliknya? Siapa yang merancangnya, ya ?” Dan bukan tidak mungkin akan terbersit dalam pikiran kita adanya seperangkat perabot yang indah dan mahal dalam rumah tersebut. Di dalam rumah kita pun pasti banyak sekali perabotan. Mulai dari yang berharga mahal sampai perabotan yang harganya sangat murah atau kurang berarti. Kita akan memperlakukan perabot yang berharga mahal dengan baik dan hati-hati supaya tidak terjadi kerusakan. Dalam suratnya kepada Timotius, Rasul Paulus mengatakan bahwa kita adalah perabot yang Tuhan pakai sesuai dengan rancangan Tuhan untuk kemuliaan nama-Nya. Tuhanlah yang memilih dan meletakkan kita dalam bangunan tubuh Kristus sesuai dengan keberadaan diri kita. Perlu kita sadari bahwa penempatan perabot adalah wewenang dan sesuai selera pemilik, perabot tidak boleh atau tidak bisa protes karena memang perabot adalah benda mati. Tetapi manusia adalah makhluk hidup yang berakal budi dan punya kehendak bebas. Jadi ketika dirinya merasa ’penempatan” oleh Tuhan melalui para pemimpin gereja tidak sesuai dengan apa yang diinginkan, maka dia akan kecewa, marah dan pergi. Mengapa? Karena merasa dirinya adalah perabot emas atau perak, tidak sadar bahwa dirinya hanyalah perabot dari tanah yang mudah retak mudah pecah. Bagaimana dengan diri kita? Ada tawaran menarik dari Rasul Paulus dalam suratnya ini, yaitu kalau kita rindu menjadi perabot mulia yang dipandang layak untuk dipergunakan oleh Tuan kita, maka kita harus hidup berkenan di hadapan Tuhan, menyucikan diri dari hal-hal yang jahat. Amin.
BARCODE BBM CHANNELS
RENUNGAN HARIAN
Tax Amnesty
23 Agustus '16
Tak Akan Pernah Berhenti
10 Agustus '16
Batu Yang Hidup1
21 Agustus '16
Copyright © 2012 All rights reserved. Designed and Developed by GIA Dr. Cipto Semarang