SEPEKAN TERAKHIR
  Sabtu, 25 Juni 2016   -HARI INI-
  Jumat, 24 Juni 2016
  Kamis, 23 Juni 2016
  Rabu, 22 Juni 2016
  Selasa, 21 Juni 2016
  Senin, 20 Juni 2016
  Minggu, 19 Juni 2016
POKOK RENUNGAN
Ingatlah bahwa Pencobaan yang kita alami tidak melebihi kekuatan kita (1Korintus10:13), oleh karena itu jangan menyerah dan putus asa.
DITULIS OLEH
Ibu Ribkah E. Christanti
Kontributor
Renungan Lain oleh Penulis:
Home  »  Renungan  »  Hai Ibu, Besar Imanmu
Hai Ibu, Besar Imanmu
Sabtu, 04 Mei 2013 | Tema: Memiliki Karakter Kristus
Hai Ibu, Besar Imanmu
Matius 15:21-28
Dalam hidup ini kita akan selalu diperhadapkan dengan berbagai macam pergumulan, yaitu berbagai macam tantangan dan kesulitan. Tantangan dan kesulitan tersebut tidak hanya dialami orang yang belum percaya Tuhan tetapi juga dialami oleh anak-anak Tuhan. Seringkali pergumulan itu begitu kompleks, sehingga kita ragu dalam melangkah bahkan sepertinya tidak ada jalan keluar. Ketika kita tidak mengerti lagi apa yang harus dilakukan, kita tidak boleh menyerah dan putus asa begitu saja, pada saat itulah kita harus datang lebih lagi pada Tuhan.

Jika kita memperhatikan secara jelas kisah perempuan Kanaan ini, kita dapat melihat bahwa perempuan Kanaan ini memiliki sikap hati yang tidak mud...selengkapnya »
Dalam proses metamorfosis, yaitu proses dikembalikannya manusia kepada rancangan Allah semula dalam sekolah kehidupan, waktu yang dikaruniakan kepada kita sangat berharga dan harus digunakan dengan benar. Dalam perjalanan waktu hidup ini ada momentum/kesempatan berharga di mana kita harus memilih, mengarahkan hidup kita ke sorga atau ke neraka. Dalam ayat 16, kata “pergunakan waktu” dalam terjemahan aslinya berarti menebus atau menyelamatkan [redeemimg the time]. Untuk menyelamatkan waktu kita harus rela meninggalkan semua kesibukan yang tidak mengarahkan hidup kita pada kedewasaan rohani atau pertumbuhan iman ke arah kesempurnaan Kristus. Waktu yang tidak digunakan untuk kepentingan kehidupan kekal berarti membuang anugerah yang tidak ternilai dalam kehidupan singkat ini. Masa hidup kita di bumi ini singkat hanya 70 – 80 tahun [Mazmur 90:10] adalah masa pembibitan/persemaian untuk dituai di kekekalan. Fokus hidup kita harus sungguh-sungguh pada kedewasaan rohani, untuk itu dibutuhkan niat yang kuat dan komitmen tinggi. Kehendak bebas kita harus diarahkan hanya pada Tuhan dan Kerajaan-Nya. Dengan demikian kita akan menjadi orang yang bijaksana, mengerti kehendak Tuhan [ayat 17]. Menyadari hal ini pemazmur berdoa supaya dapat menghitung hari-hari, yang berarti menghargai setiap hari yang diberikan Tuhan. Setiap hari kita perlu belajar mengenal dan mengalami Tuhan dalam saat teduh, merenungkan kebenaran Tuhan, juga pada saat jeda, pada saat kita sedang tidak melakukan kegiatan yang direncanakan. Dengan demikian kita akan bertumbuh semakin tidak bercacat dan tidak bercela. Untuk sukses dalam sekolah kehidupan di bumi ini, orang percaya perlu serius memanfaatkan waktu untuk:  Menjadikan Firman Tuhan [Kebenaran Injil] sebagai panduan yang dapat mengubah filosofi hidup/pola pikir.  Mengadakan perjumpaan, persekutuan dengan Tuhan setiap hari.  Hindari masukan yang salah melalui apa yang kita dengar, baca, informasi dari internet yang tidak bersentuhan dengan Tuhan.  Memiliki persekutuan dengan orang percaya yang menghormati dan takut akan Tuhan. Orang percaya membutuhkan sahabat-sahabat untuk saling berbagi kebenaran, saling menguatkan dan saling membangun iman [1 Korintus 15:33].
Perabot untuk maksud mulia 2 Timotius 2:20-26 Jika seorang menyucikan dirinya dari hal-hal yang jahat, ia akan menjadi perabot rumah untuk maksud yang mulia, ia dikuduskan, dipandang layak untuk dipakai tuannya dan disediakan untuk setiap pekerjaan yang mulia. [ayat 21] Di rumah kita ada berbagai macam perabot. Ada piring, sendok, panci yang dipakai untuk keperluan makan. Selain perabot-perabot makan itu ada perabot-perabot lain yang berbeda kegunaannya, seperti misalnya: sapu, keranjang sampah, ember, keranjang tempat pakaian kotor dan sebagainya. Perabot-perabot makan hanya kita pergunakan untuk keperluan makan saja. Sebaliknya, perabot-perabot lain tidak kita pergunakan untuk keperluan makan. Perabot yang biasa dipakai untuk keperluan makan adalah perabot yang dikhususkan. Perabot-perabot itu tidak dipakai untuk keperluan yang lain selain untuk keperluan makan. Misalkan: panci sayur tidak pernah kita pakai untuk menaruh baju kotor. Panci sayur hanya untuk menaruh sayur. Perbedaan kegunaan perabot menjadi gambaran yang tepat mengenai kekudusan. Tuhan Yesus sudah menebus kita dan menjadikan kita ciptaan baru, supaya kita menjadi alat-Nya untuk melakukan pekerjaan-pekerjaan yang mulia. Efesus 2:10 mengatakan: ’Karena kita ini buatan Allah, diciptakan dalam Kristus Yesus untuk melakukan pekerjaan baik, yang dipersiapkan Allah sebelumnya. Ia mau, supaya kita hidup di dalamnya.’ Sebagai ciptaan baru kita dirancang oleh-Nya untuk melakukan pekerjaan-pekerjaan yang baik, untuk kemuliaan-Nya. Oleh karena itu kita harus tahu dengan persis untuk apa Tuhan menjadikan kita ciptaan baru. Kalau kita tidak tahu untuk apa kita ada di dalam dunia ini kita akan menyia-nyiakan hidup kita untuk hal-hal yang tidak baik dan tidak bermanfaat, yang berujung pada penyesalan pada akhirnya nanti. Jangan sampai kita tidak tahu atau bingung mengenai tujuan hidup kita. Firman Tuhan jelas mengatakan: untuk melakukan pekerjaan yang baik. Jika selama ini kita belum melakukan pekerjaan baik, kita perlu diubah menjadi ciptaan baru oleh Roh Kudus. Jika kita telah dijadikan ciptaan baru, kita harus terus menerus mengerjakan pekerjaan yang baik. Tuhan mau memakai orang-orang tertentu untuk maksud-Nya yang mulia. Tuhan ingin agar pekerjaan-Nya yang mulia dikerjakan oleh orang-orang yang hidup berkenan kepada-Nya. Kiranya hidup kita selalu berkenan di hati-Nya. Amin. Pdt. Goenawan Susanto
Christians, like snowflakes, are frail, but when they stick together they can stop traffic - Dr Vance Houston Havner, an evangelist and Christian book writer [1901-1986]. Umat Kristiani itu rapuh bagai serpihan salju, namun begitu serpih-serpih itu menyatu, kekuatannya mampu menghentikan laju lalu lintas. Betul sekali. Ketika serpih-serpih salju melayang turun dan mendarat di wajah serta kulit kita, rasanya hanyalah seperti dihinggapi serpihan kapas dingin. Begitu ringan dan tak bertenaga. Namun kala serpih-serpih itu jatuh ke jalan, saling bertumpuk dan membentuk gundukan tinggi, laju deretan kendaraan bermotor pun terhenti karenanya. Rasul Paulus menasihatkan agar umat Kristiani seia sekata, erat bersatu dan sehati sepikir di dalam Kristus, sehingga tidak terjadi perpecahan di antara kita [1 Kor 1:10]. Meski ada banyak pemimpin jemaat dan pewarta Firman dengan keunikannya masing-masing, jangan terperosok dalam pemujaan dan membentuk kubu-kubu yang saling bermusuhan. Karena bukan sosok-sosok itu yang penting, melainkan pribadi Yesus Kristus yang diberitakan dan ajaran Kristus yang disampaikan kepada jemaat, itulah yang terpenting. Mari cermat mencerna mana ajaran yang murni dari Kristus. Mari bekerjasama dengan saudara seiman untuk menerapkannya di dalam kehidupan bergereja dan dalam hidup sehari-hari. Tak usah memboroskan waktu dan tenaga untuk memusuhi yang tak sepaham dengan kita. Pakai pemikiran, waktu dan tenaga kita untuk mengerjakan kebaikan di dalam pekerjaan Kristus. Dengan mengerjakannya bersama-sama, dampak yang dihasilkan akan jauh lebih hebat dibanding jika kita mengusahakannya sendirian.
Orangtua yang bertanggung jawab tentunya memperhatikan dengan baik bagaimana pertumbuhan kualitas hidup anak-anaknya. Dimulai dari sejak dini para orangtua mengasuh anak-anaknya, artinya sejak kecil anak-anak diperhatikan pendidikannya. Bukan saja untuk urusan sekolahnya, namun yang terpenting adalah urusan moral serta rohani anak-anak. Orangtua memiliki peran yang sangat penting terhadap pertumbuhan fisik, moral, mental dan rohani. Tetapi sebaliknya, anak-anak yang bertumbuh “liar” hancur-hancuran moralnya adalah kegagalan orangtua dalam mendidik anak-anaknya. Demikian juga dengan kita sebagai anak-anak Tuhan. Allah adalah Bapa kita yang senantiasa memperhatikan hidup kita. Tuhan bertanggung jawab penuh dalam kehidupan kita, bukan saja berkat selama hidup di dunia ini, yaitu semua kebutuhan jasmani kita telah disediakan Tuhan, terlebih dari itu berkat kemuliaan hidup kekal, serta kekudusan hidup juga telah dikerjakan oleh Tuhan Yesus [Ibrani 10:10]. Begitu besar kasih Allah akan dunia ini sehingga Dia memberikan Anak-Nya yang tunggal untuk keselamatan manusia berdosa [Yohanes 3:16]. Tuhan sudah mengerjakan yang terbaik bagi kita, tetapi bagaimana dengan respon kita terhadap kasih Allah yang sempurna itu? Pertama, kita harus benar-benar menerima Kristus secara konsisten, artinya percaya di dalam Kristus tidak saja mengaku dengan mulut saja tetapi juga dalam seluruh kehidupan kita tetap di dalam Yesus [ay. 6]. Kedua, hendaklah kita berakar di dalam Dia [ay. 7]. Iman yang konsisten atau tetap teguh dan tidak goyah akan membuat kita semakin kuat [berakar]. Iman yang teguh berarti hidup kita tidak mudah terpengaruh oleh tipuan dan rayuan kefasikan dunia ini. Ketiga, hendaklah kita dibangun di atas Dia [ay. 7]. Ketika iman kita di dalam Yesus sudah kuat tak tergoyahkan, maka ijinkan Dia membangun kita, yaitu hidup jadi berkat bagi orang lain, menjadi pemimpin komcil, terlibat pelayanan gerejani, mengabarkan Injil Yesus Kristus, menyerahkan sebagian harta kita [uang] untuk pekerjaan Tuhan, memimpin keluarga dengan bertanggung jawab, dll. Tuhan Yesus sudah menguduskan kita sebagai gereja-Nya, maka sebagai timbal balik gereja harus menguduskan nama Tuhan sebagaimana yang telah tercatat dalam poin pertama, kedua dan ketiga di atas. Hendaklah hidupmu yang telah menerima Kristus senantiasa tetap di dalam Dia, berakar di dalam Dia dan dibangun di atas Dia.
BARCODE BBM CHANNELS
RENUNGAN HARIAN
Tepa Salira
23 Juni '16
Jangan Egois !
21 Juni '16
Seia Sekata, Erat Bersatu dan Sehati Sepikir
10 Juni '16
Copyright © 2012 All rights reserved. Designed and Developed by GIA Dr. Cipto Semarang