SEPEKAN TERAKHIR
  Jumat, 09 Desember 2016   -HARI INI-
  Kamis, 08 Desember 2016
  Rabu, 07 Desember 2016
  Selasa, 06 Desember 2016
  Senin, 05 Desember 2016
  Minggu, 04 Desember 2016
  Sabtu, 03 Desember 2016
POKOK RENUNGAN
Ingatlah bahwa Pencobaan yang kita alami tidak melebihi kekuatan kita (1Korintus10:13), oleh karena itu jangan menyerah dan putus asa.
DITULIS OLEH
Ibu Ribkah E. Christanti
Kontributor
Renungan Lain oleh Penulis:
Home  »  Renungan  »  Hai Ibu, Besar Imanmu
Hai Ibu, Besar Imanmu
Sabtu, 04 Mei 2013 | Tema: Memiliki Karakter Kristus
Hai Ibu, Besar Imanmu
Matius 15:21-28
Dalam hidup ini kita akan selalu diperhadapkan dengan berbagai macam pergumulan, yaitu berbagai macam tantangan dan kesulitan. Tantangan dan kesulitan tersebut tidak hanya dialami orang yang belum percaya Tuhan tetapi juga dialami oleh anak-anak Tuhan. Seringkali pergumulan itu begitu kompleks, sehingga kita ragu dalam melangkah bahkan sepertinya tidak ada jalan keluar. Ketika kita tidak mengerti lagi apa yang harus dilakukan, kita tidak boleh menyerah dan putus asa begitu saja, pada saat itulah kita harus datang lebih lagi pada Tuhan.

Jika kita memperhatikan secara jelas kisah perempuan Kanaan ini, kita dapat melihat bahwa perempuan Kanaan ini memiliki sikap hati yang tidak mud...selengkapnya »
Seorang bijak memberikan nasihat kepada murid-muridnya karena sang guru melihat ada dari beberapa muridnya yang mudah emosi dan sebagian mengurung diri atau istilah sekarang ‘baper’ [bawa perasaan]. Sebagai seorang guru, ia mengharapkan agar murid-muridnya menjadi orang yang tangguh dan mandiri ketika mereka menyelesaikan masa pendidikan. Demi dimengerti oleh para muridnya, guru tersebut mengambil sebuah wortel dan kemudian bertanya, “Menurut kalian bagaimana kondisi wortel ini jika dilemparkan?” Secara bersahut-sahutan ada yang menjawab: keras, kuat, masih utuh, dsb. Kemudian sang guru mengambil sebutir telur mentah dan juga memberi pertanyaan yang sama, “Menurut kalian bagaimana keadaan telur ini jika dilemparkan?” Kemudian ada yang menjawab: hancur, remuk, berantakan, dll. Sang guru mengambil tungku dan panci yang berisi air. Kemudian ia memasak wortel dan telur yang dibawanya. Setelah matang guru tersebut bertanya kepada muridnya, “Sekarang menurut kalian apa yang terjadi dengan wortel jika dipukulkan?” Ada yang menjawab, “Menjadi lembek, guru.” “Nah sekarang bagaimana dengan telur?” “Menjadi keras guru,” sahut salah seorang dari mereka. Kemudian sang guru bertanya, “Menurut kalian mengapa hal itu bisa terjadi?” Semua murid terdiam. Kemudian sang guru menjelaskan, “Dalam kondisi normal, kita mungkin mempunyai perasaan yang kuat dan keras seperti wortel atau telur yang lembut dan sensitif. Namun hanya pengujian dengan panas itulah yang menentukan apakan ia masih keras dan kuat atau sebaliknya menjadi lembek dan lembut. Ujian akan menentukan kualitas dan karakter orang tersebut.” Jemaat yang dikasihi Tuhan, kehidupan kita memang dituntut untuk terus mengalami perubahan ke arah Kristus. Dan untuk dapat menjadi seperti Kristus, bukan sekedar kehidupan keagamaan yang terlihat namun karakter Kristuslah yang harus tampak. Seringkali kita menghindari yang namanya ujian sebab kita cenderung tidak menyukainya. Namun kedewasaan rohani hanya dapat terlihat dari reaksi terhadap ujian tersebut. Jangan menjauhi ujian atau tantangan hidup tetapi hadapi dan bereaksilah dengan benar. Beresponlah dengan benar terhadap ujian dan jangan mengeluh. Sesungguhnya akan terlihat bijaksana jika kita menyikapinya dengan benar, tetapi jika melarikan atau menentangnya, maka kita akan menjadi pribadi yang gampang menyalahkan keadaan dan Tuhan tentunya. Selagi diuji, marilah kita menyelesaikan dengan baik dan menikmatinya sebab akan menemukan hikmat dan pengalaman dari apa yang dialami. Yakinlah bahwa Tuhan memiliki rencana yang terbaik saat mengijinkan kita mengalami ujian, sebab Dia selalu bersama saat kita menghadapinya. Jangan takut dan jangan putus asa.
Ada seorang ibu yang sedih dan sudah beberapa kali bolak-balik ke dokter untuk memeriksakan anaknya, Antok, yang telah berusia 12 tahun namun makanan sehari-harinya hanya bubur, susu dan makanan yang lembek. Tubuhnya kelihatan bertumbuh normal, namun secara gizi kurang memenuhi syarat bagi anak seusianya. Mulut dan giginya tidak pernah terlatih untuk mengunyah daging, ikan maupun sayuran dan buah-buahan. Secara fisik Antok sudah dewasa, namun secara makanan dia masih anak-anak. Hal seperti itu banyak dialami oleh anak-anak Tuhan dewasa ini. Secara lamanya menjadi orang Kristen sudah puluhan tahun, namun secara pengenalan akan Allah dan kedewasaan rohani masih kanak-kanak. Akibatnya belum bisa menerima makanan rohani yang keras. Mengapa mereka sudah menjadi orang Kristen puluhan tahun, aktif ibadah, aktif melayani namun masih anak-anak secara rohani, belum dewasa jika dibandingkan dengan usianya menjadi orang percaya. Penyebabnya antara lain: 1. Mereka tidak pernah membaca Alkitab dan merenungkan Firman dalam hidupnya. 2. Mereka ke gereja, beribadah, bahkan melayani hanya sekedar tradisi dan kegiatan rutinitas saja. 3. Mereka hanya mau melakukan Firman Allah yang ringan- ringan saja. 4. Mereka belum memiliki dasar iman Kristen yang kuat dalam hidupnya 5. Mereka masih hidup dalam dua dunia yang berbeda. Inilah yang dimaksud Firman Allah dalam Ibrani 5:12-14, di mana ditinjau dari sisi usia mengikut Kristus seharusnya mereka sudah bertumbuh dewasa rohani, namun dalam kenyataannya mereka masih anak-anak rohani. Oleh sebab itu gereja kita menyediakan sarana untuk menumbuhkan kedewasaan rohani kita. Dan ada dua sarana yang disediakan untuk hal ini, yaitu pertama, ibadah raya termasuk ibadah doa malam dan ibadah seksi-seksi; kedua, komcil yang ada di setiap wilayah, di seksi, dan kelompok pekerja. Sarana ini merupakan tempat yang disediakan untuk kita belajar bertumbuh dewasa secara rohani. Tumbuh dewasa dalam Kristus memang menjadi target Allah bagi hidup setiap orang percaya karena kehendak Allah bagi hidup kita sebagai orang percaya, yaitu sempurna sama seperti Bapa di Surga [Matius 5:48] dan menjadi serupa dengan Tuhan Yesus [Roma 8:29]. Marilah kita berusaha dan memotivasi diri untuk bertumbuh semakin dewasa di dalam Kristus melalui sarana yang disediakan oleh gereja kita agar kita menjadi berkat bagi orang lain dan mengalami berkat itu sendiri.
Bukti bahwa kita telah mengalami penyaliban dengan Yesus adalah kita memiliki keserupaan yang pasti dengan-Nya. Roh Kudus yang diberikan dalam diri kita menata kembali kehidupan pribadi kita di hadapan Allah. Kebangkitan Yesus adalah bukti kemuliaan Allah untuk menyatakan hidup kepada kita dan sejak itu pengalaman hidup kita harus dibangun di atas landasan hidup-Nya. Kita dapat memiliki hidup kebangkitan-Nya sekarang ini yang akan terlihat dengan sendirinya melalui kekudusan. Apa yang dipaparkan dalam perikop Roma 6:1–14 oleh Rasul Paulus menunjuk kepada kita setelah memutuskan untuk disatukan dengan Yesus Kristus dalam kematian-Nya. Hidup kebangkitan Yesus akan menembus setiap bagian kehidupan kemanusiaan kita. Dan kuasa kemanusiaan lama [dosa] kita sudah tidak lagi berkuasa atas kita. Untuk itu diperlukan kemahakuasaan Allah - kuasa keilahian yang menyeluruh - untuk menjalani hidup baru sebagai anak-anak Tuhan dalam tubuh “daging” manusia. Dari sinilah nyata bahwa Roh Tuhan [Roh Kudus] menguasai kehidupan kita ketika kita memutuskan untuk menyatakan “manusia lama” [warisan dosa] dengan kematian Yesus Kristus. Dia [Yesus Kristus] mengambil alih semuanya bagian kita adalah berjalan dalam terang dan mematuhi semua yang dinyatakan-Nya kepada kita. Hasilnya adalah mencapai kepenuhan Kristus. Setelah kita membuat keputusan penting tentang dosa, maka akan mudah bagi kita “memandang” bahwa saya benar-benar ‘telah mati bagi dosa’ karena saya menentukan hidup Yesus di dalam diri saya sepanjang waktu [ayat 11]. Seperti halnya tentang kekudusan hanya ada satu, yaitu di dalam diri Yesus. Dan kekudusan Yesus-lah yang telah diberikan kepada kita. Bapa menaruh kekudusan Anak-Nya di dalam diri kita dan kita menjadi bagian dari suatu tatanan kehidupan rohani yang baru, yang bersedia setiap waktu untuk dipakai oleh Allah Bapa menjadi alat-alat kebenaran.
Pada waktu terjadi erupsi gunung Merapi beberapa tahun yang lalu, orang yang tersibuk adalah mereka yang berada di wilayah ring satu. Di mana mereka selama berhari-hari tanpa mengenal lelah terus menerus memantau perkembangan gunung Merapi. Dengan menggunakan Seismograf, mereka secara cermat dapat memprediksi kapan gunung tersebut mengeluarkan ledakan. Begitu juga masyarakat yang tinggal di wilayah ring satu sampai tiga yang pada waktu itu sudah mengungsi di wilayah aman, mereka juga terus menerus waspada dan berjaga-jaga karena erupsi bisa saja terjadi secara tiba-tiba seperti yang terjadi ketika rombongan peduli bencana Merapi GIA Dr. Cipto berkunjung ke tempat pengungsi di wilayah Klaten. Siang hari sebelum rombongan pulang, erupsi kembali terjadi. Suasana sangat mencekam. Sirine dan kentongan terus menerus dibunyikan supaya masyarakat menjauh dari lokasi kejadian. Asap hitam pekat bercampur pasir dan batu kembali terlontar ke udara. Ya, terus berjaga-jaga dan waspada itulah yang dilakukan oleh petugas penanggulangan bencana dan masyarakat. Demikian halnya kedatangan Tuhan Yesus kedua kali juga memerlukan perhatian dan kewaspadaan kita. Meskipun sudah banyak tanda diberikan dan mulai tergenapi, namun kita semua tetap belum dapat memastikan dengan jelas kapan Tuhan Yesus akan datang kembali. Namun hal yang sangat menguatkan, meneguhkan dan memberi pengharapan kepada kita adalah Firman Allah. Nats bacaan hari ini menuntun kita bagaimana harus mempersiapkan diri menghadapi kedatangan Tuhan Yesus kedua kali. Pertama, menjelaskan bahwa hari kedatangan-Nya terjadi secara tiba-tiba dan tidak dapat diprediksi sebelumnya seperti pencuri di malam hari atau seperti seorang perempuan yang hamil tua dan siap untuk melahirkan. Jadi kita harus senantiasa berjaga-jaga [ayat 1-3]. Kedua, kita termasuk golongan anak-anak siang [terang] yang bisa membaca tanda-tanda yang ada, sehingga peristiwa itu bukanlah sesuatu yang menakutkan dan mengejutkan, tetapi sebuah pengharapan bagi kita [ayat 4-7]. Ketiga, Kita diminta senantiasa berjaga-jaga dan siap sedia setiap waktu karena kedatangan-Nya terjadi secara tiba-tiba [ayat 8-9]. Janji Tuhan Yesus yang meneguhkan bahwa kita semua tidak dirancang untuk mengalami celaka pada waktu hari itu tiba tetapi dirancang untuk bersuka cita sebab kita semua akan diselamatkan dari hal itu. Menyikapi keadaan zaman ini, marilah kita lebih sungguh-sungguh lagi mempersiapkan diri untuk menyambut kedatangan-Nya kembali dengan hidup lebih intim bersama Tuhan Yesus dan menjaga kekudusan hidup dengan menjauhi segala dosa dan kejahatan supaya pada waktu Dia datang kembali, kita termasuk pribadi-pribadi yang berkenan kepada-Nya.
BARCODE BBM CHANNELS
RENUNGAN HARIAN
Mencapai Kepenuhan Allah
27 November '16
Mengapa Harus Dewasa ?
24 November '16
Kuasa Keilahian Yang Menyeluruh
22 November '16
Copyright © 2012 All rights reserved. Designed and Developed by GIA Dr. Cipto Semarang