SEPEKAN TERAKHIR
  Jumat, 29 April 2016   -HARI INI-
  Kamis, 28 April 2016
  Rabu, 27 April 2016
  Selasa, 26 April 2016
  Senin, 25 April 2016
  Minggu, 24 April 2016
  Sabtu, 23 April 2016
POKOK RENUNGAN
Ingatlah bahwa Pencobaan yang kita alami tidak melebihi kekuatan kita (1Korintus10:13), oleh karena itu jangan menyerah dan putus asa.
DITULIS OLEH
Ibu Ribkah E. Christanti
Kontributor
Renungan Lain oleh Penulis:
Home  »  Renungan  »  Hai Ibu, Besar Imanmu
Hai Ibu, Besar Imanmu
Sabtu, 04 Mei 2013 | Tema: Memiliki Karakter Kristus
Hai Ibu, Besar Imanmu
Matius 15:21-28
Dalam hidup ini kita akan selalu diperhadapkan dengan berbagai macam pergumulan, yaitu berbagai macam tantangan dan kesulitan. Tantangan dan kesulitan tersebut tidak hanya dialami orang yang belum percaya Tuhan tetapi juga dialami oleh anak-anak Tuhan. Seringkali pergumulan itu begitu kompleks, sehingga kita ragu dalam melangkah bahkan sepertinya tidak ada jalan keluar. Ketika kita tidak mengerti lagi apa yang harus dilakukan, kita tidak boleh menyerah dan putus asa begitu saja, pada saat itulah kita harus datang lebih lagi pada Tuhan.

Jika kita memperhatikan secara jelas kisah perempuan Kanaan ini, kita dapat melihat bahwa perempuan Kanaan ini memiliki sikap hati yang tidak mud...selengkapnya »
Dalam masa anugrah atau masa perjanjian baru ini setiap orang yang mempercayai Yesus sebagai Tuhan dan Juru selamatnya tidak saja memperoleh anugerah keselamatan kekal dalam Kerajaan Sorga, tetapi selagi hidup di dunia ini juga dipanggil sebagai imam-imam Allah [1 Petrus 2:9]. Imam dalam kamus bahasa Indonesia selain mempunyai arti orang yang memimpin upacara dalam ibadah, juga berarti pemimpin, yaitu memimpin orang lain untuk datang kepada Tuhan. Ada banyak yang merasa cukup dengan ibadah setahun sekali pada waktu natalan atau cukup dengan percaya atau yang penting percaya dan tidak perduli dengan orang lain yang belum percaya. Tidak perduli terhadap suami atau istri; tidak perduli terhadap anak-anaknya. Dengan kata lain, mereka kurang berfungsi seperti apa yang Tuhan kehendaki untuk dilakukan dalam kehidupan keseharian. Sadar atau tidak setiap kita dipanggil sebagai pemimpin. Minimal memimpin diri sendiri atau memimpin keluarga kita. Dalam bacaan di atas, Paulus mengingatkan jemaat di Korintus, juga setiap kita, untuk memimpin keluarga. Sebagai suami atau istri yang mempercayai Tuhan dapat membawa suami atau istri yang belum percaya untuk datang kepada Tuhan dengan melalui iman percayanya dan kehidupannya [1 Petrus 3:1-7]. Sebagai orangtua dapat membawa anak-anak untuk percaya kepada Tuhan Yesus dan untuk beribadah sesuai kerinduan kita. Jemaat yang terkasih, sebagai Imamat yang Rajani dari ketetapan dan keputusan Tuhan, mari kita berfungsi untuk mendoakan suami, istri, orangtua, anak-anak kita. Dan juga membawa mereka untuk datang kepada Tuhan Yesus Kristus sehingga setiap lutut bertelut, setiap lidah mengaku Yesus Kristus itu Tuhan [Efesus 2:11].
Beberapa puluh tahun yang lalu di Semarang ada cerita misteri yang disiarkan melalui radio yang diberi judul “Trinil”. Kisah misteri tersebut mengisahkan seorang perempuan yang meninggal dengan kepala terpisah dari tubuhnya dan kepala itu terus menerus mencari tubuhnya dengan mengatakan, “Endi gembongku.” Disebut kisah misteri karena memang cerita itu membuat takut orang yang mendengarnya. Nats firman di atas, Allah Bapa mengatakan bahwa jemaat adalah tanggung jawab Tuhan Yesus Kristus, dan Kristus sebagai Kepala dan jemaat adalah tubuhnya. Untuk mengetahui apakah hubungan kita dengan Kepala itu baik dapat dilihat dari kehidupan kita, yaitu sampai sejauh mana kita menjadi berkat bagi orang lain. Tetapi jika sebaliknya, menakutkan seperti cerita misteri di atas tentunya tidak menggambarkan hubungan yang baik dengan Sang Kepala. Selain itu, hubungan yang baik juga terlihat dari kesadaran tubuh [jemaat] memberi penghormatan dan pujian kepada Kepala. Sebagai tubuh, jemaat tidak layak dan tidak sepantasnya mencari penghormatan dan pujian karena hal itu adalah “kesombongan” yang dibenci oleh Tuhan [Yakobus 4:6]. Penghormatan dan pujian adalah sesuatu yang dikhususkan untuk Tuhan, seperti peringatan yang dinyatakan kepada bangsa Israel jika mereka mencium bau ukupan yang dipersembahkan untuk Tuhan, mereka harus di hukum mati [Keluaran 30:38]. Ada banyak orang dengan rutin memeriksakan kesehatannya supaya kesehatan tubuhnya tetap terjaga dengan baik. Tetapi pernahkah kita memeriksa kehidupan rohani kita yang membawa kepada kekekalan. Mari jemaat yang terkasih, sebagai tubuh Kristus, kita membangun hubungan yang baik dengan Sang Kepala Gereja, yaitu Yesus Kristus Tuhan, sehingga hidup kita tidak seperti kisah misteri di atas yang menakutkan, tetapi sebaliknya dapat menjadi berkat.
Sepasang suami istri yang sudah menikah hampir lima tahun berdoa kepada Tuhan untuk bisa mendapatkan seorang anak. Namun apa yang ditunggu-tunggu tidak kunjung datang, hingga suatu saat ada seseorang yang sengaja membuang kardus berisi bayi yang baru lahir di halaman rumahnya. Ketika melihatnya, ia merasa senang sekali sebab apa yang didoakannya terkabul meskipun itu bukan anaknya sendiri. Ia dan suaminya memberikan perhatian dan kasih sayang yang baik hingga anak itu menjadi remaja. Tetapi kasih sayang itu disalahartikan oleh sang anak dengan kehidupan yang sembarangan karena anak merasa sebagai penguasa dan bukan sebagai anak yang dikasihi. Hal itu menyebabkan kedua orangtuanya merasa kecewa karena mereka melihat anaknya tidak tahu berterima kasih dan tidak bersyukur akan apa yang telah dinikmatinya. Hampir saja mereka mengungkit masa lalu anak tersebut. Gambaran ini semestinya kita pahami bahwa kita, sebagai orang percaya, seharusnya berterima kasih dengan apa yang telah kita alami sebab Allah telah mengambil kita dari lumpur dosa dan menjadikan kita sebagai anak-anak-Nya. Oleh karenanya kita harus belajar untuk hidup sebagai “bangsawan”. Ketika kita dijadikan anak, sesungguhnya kita mempunyai gelar nigrat, yaitu anak-anak kerajan Allah. Jadi kita pun harus berlaku sebagaimana tata cara hidup kerajaan yang tidak sembarangan. Pergaulan, perkataan, sikap, dan tingkah laku kita harus mencerminkan sebagai orang yang terhormat. Namun sayangnya yang seringkali terjadi adalah kita masih hidup dalam manusia lama kita. Sembrono dengan hidup kita dan tidak menganggap penting status sebagai anak-anak Allah. Dan hal inilah yang menyebabkan kita tidak berkenan di hadapan Allah. Semakin kita tidak menganggap pentingnya status itu semakin pula kita hidup apa adanya dan seenaknya. Sehingga tidak heran kita mencoreng nama baik kerajaan Allah yang telah dipercayakan kepada kita. Dan tanpa kita sadari kita telah membuang sendiri atribut atau status kerajaan itu. Oleh karenanya sadari bahwa kita ini telah diangkat menjadi orang yang terhormat dalam kerajaan Allah dan marilah kita menggunakan kesempatan itu sebaik-baiknya. Dengan demikian kita memberikan kemuliaan dan nama baik kepada yang telah mengangkat kita menjadi anak. Sebab kasih karunianya yang diberikan kepada kita sungguh teramat mulia.
Empat tahun yang lalu saya membeli sepatu. Bagi saya dan istri, harga sepatu yang saya beli memang agak mahal. Tetapi saya tetap berkeputusan membeli karena sepatu itu saya lihat sangat baik, cocok untuk ukuran kaki saya, dan nampak kuat untuk dipakai sehari-hari. Dan ternyata betul, sampai hari ini sepatu itu masih sering melekat di kaki saya. Karena sepatu itu menjadi pilihan dan kesayangan saya, maka ketika akan dipakai, saya selalu memperhatikan apakah ada bagian yang kurang baik. Saya semir setiap dua hari sekali dan ketika ada bagian yang akan lepas, saya berusaha membenahi agar tetap baik. Sepatu itu saya rawat sedemikian rupa agar tetap awet, nyaman di pakai, dan tetap terlihat baik. Kisah sepatu saya di atas menggambarkan hidup kita di mata Allah. Kita sebagai orang percaya adalah umat pilihan Allah dan umat kesayangan-Nya. Keberadaan orang percaya digambarkan sebagai batu-batu hidup yang dipergunakan untuk pembangunan rumah rohani. Dalam 1 Petrus 2:5 di tuliskan: “Dan biarlah kamu juga dipergunakan sebagai batu hidup untuk pembangunan suatu rumah rohani, bagi suatu imamat kudus, untuk mempersembahkan persembahan rohani yang karena Yesus Kristus berkenan kepada Allah.” Sebagai batu-batu hidup, setiap kita dipakai Allah untuk pekerjaan-Nya menurut fungsi dan perannya. Tertulis dalam 1 Petrus 2:9-10: ’...kamulah bangsa yang terpilih, imamat yang rajani, bangsa yang kudus, umat kepunyaan Allah sendiri, supaya kamu memberitakan perbuatan-perbuatan yang besar dari Dia, yang telah memanggil kamu keluar dari kegelapan kepada terang-Nya yang ajaib; kamu, yang dahulu bukan umat Allah, tetapi yang sekarang telah menjadi umat-Nya, yang dahulu tidak dikasihani tetapi yang sekarang telah beroleh belas kasihan.’ Menjadi batu yang hidup berarti memiliki kehidupan yang berpadanan dengan panggilan Tuhan. ’Allah memanggil kita bukan untuk melakukan apa yang cemar, melainkan apa yang kudus.’ [1 Tesalonika 4:7]. Jadi, ’...hendaklah kamu menjadi kudus di dalam seluruh hidupmu sama seperti Dia yang kudus, yang telah memanggil kamu, sebab ada tertulis: Kuduslah kamu, sebab Aku kudus.’ [1 Petrus 1:15-16]. Hidup di dalam kekudusan berarti tidak ’...menyerahkan anggota-anggota tubuhmu kepada dosa untuk dipakai sebagai senjata kelaliman, tetapi serahkanlah dirimu kepada Allah sebagai orang-orang, yang dahulu mati, tetapi yang sekarang hidup. Dan serahkanlah anggota-anggota tubuhmu kepada Allah untuk menjadi senjata-senjata kebenaran.’ [Roma 6:13]. Sebagai umat pilihan Allah yang telah dipakai sebagai batu yang hidup untuk pembangunan rumah rohani, hendaklah setiap kehidupan kita selalu berpadanan dengan kebenaran Firman Allah. Agar dalam setiap kehidupan kita menjadi berkat bagi setiap orang di sekitar kita, sehingga nama Tuhan dipermuliakan dalam kehidupan kita.
BARCODE BBM CHANNELS
RENUNGAN HARIAN
Diangkat Menjadi Mulia
04 April '16
Menjadi Imam Dalam Masyarakat
11 April '16
Tidak Pernah Padam
28 April '16
Copyright © 2012 All rights reserved. Designed and Developed by GIA Dr. Cipto Semarang