SEPEKAN TERAKHIR
  Rabu, 26 November 2014   -HARI INI-
  Selasa, 25 November 2014
  Senin, 24 November 2014
  Minggu, 23 November 2014
  Sabtu, 22 November 2014
  Jumat, 21 November 2014
  Kamis, 20 November 2014
POKOK RENUNGAN
Ingatlah bahwa Pencobaan yang kita alami tidak melebihi kekuatan kita (1Korintus10:13), oleh karena itu jangan menyerah dan putus asa.
DITULIS OLEH
Ibu Ribkah E. Christanti
Kontributor
Renungan Lain oleh Penulis:
Home  »  Renungan  »  Hai Ibu, Besar Imanmu
Hai Ibu, Besar Imanmu
Sabtu, 04 Mei 2013 | Tema: Memiliki Karakter Kristus
Hai Ibu, Besar Imanmu
Matius 15:21-28
Dalam hidup ini kita akan selalu diperhadapkan dengan berbagai macam pergumulan, yaitu berbagai macam tantangan dan kesulitan. Tantangan dan kesulitan tersebut tidak hanya dialami orang yang belum percaya Tuhan tetapi juga dialami oleh anak-anak Tuhan. Seringkali pergumulan itu begitu kompleks, sehingga kita ragu dalam melangkah bahkan sepertinya tidak ada jalan keluar. Ketika kita tidak mengerti lagi apa yang harus dilakukan, kita tidak boleh menyerah dan putus asa begitu saja, pada saat itulah kita harus datang lebih lagi pada Tuhan.

Jika kita memperhatikan secara jelas kisah perempuan Kanaan ini, kita dapat melihat bahwa perempuan Kanaan ini memiliki sikap hati yang tidak mudah menyerah dan putus asa sehingga Yesus berkata kepadanya, ”Hai ibu, besar imanmu.” Bagaimana perempuan Kanaan ini dapat memiliki sikap yang tidak mudah menyerah dan putus asa ketika tantangan penolakan dari murid-murid Yesus dan sikap Yesus yang acuh ketika perempuan tersebut memohon kesembuhan untuk anaknya? Yang pertama adalah, berpikir positif (ayat 22).
Pada waktu itu orang Kanaan mempunyai image negatif karena dianggap oleh orang Israel akan membawa pengaruh buruk. Dalam keadaan tersebut perempuan Kanaan itu tidak berkecil hati, tapi dia berpikir positif (Filipi. 4:8) dengan menghampiri Tuhan Yesus. Kedua, tidak mudah terpengaruh oleh keadaan (ayat 23). Walaupun murid-murid Yesus meminta-Nya untuk menyuruh perempuan Kanaan itu pergi, tetapi perempuan itu tetap tegar untuk ...selengkapnya »
Seorang bapak menemui seorang pengacara meminta dibuatkan surat wasiat yang intinya agar seluruh warisannya diberikan kepada sebuah Panti Asuhan anak cacat. Sang pengacara menanyakan alasan bapak tersebut berbuat demikian. Alasannya yaitu, selama ini kedua anaknya tidak ada yang mau mengalah dalam segala hal. Bapak itu takut mereka bertengkar dan tidak ada yang mau mengalah gara-gara memperebutkan warisan. Si bapak paham betul akan sifat kedua anaknya yang suka membalas. Kejadian di atas dapat kita lihat, jika disuruh memilih antara mengampuni atau membalas kejahatan seseorang, banyak orang pasti akan lebih memilih melakukan pembalasan terhadap kejahatan yang dilakukan orang lain. Jika ini dilakukan oleh orang dunia, kita maklum. Namun tidak bagi orang Kristen karena mengampuni adalah sebuah keharusan (wajib), bukan pilihan. Mengapa orang Kristen harus mengampuni? Sesungguhnya oleh karena pengampunan Tuhan bagi kitalah yang mengharuskan kita dapat mengampuni orang lain. Yesaya menuliskan: “Dia tertikam oleh karena pemberontakan kita, dia diremukkan oleh karena kejahatan kita; ganjaran yang mendatangkan keselamatan bagi kita ditimpakan kepadanya, ..... Tuhan telah menimpakan kepadanya kejahatan kita sekalian.” (Yesaya 53:5-6). Hukuman atas pelanggaran yang seharusnya kita terima telah ditanggung oleh Yesus Kristus di kayu salib. Yesus telah menerima murka Allah yang seharusnya ditimpakan kepada kita. Dialah yang menggantikan tempat kita. Darah Yesus membasuh dan menyucikan kita dari dosa. Ketika ada kesalahan atau kejahatan dilakukan oleh pihak lain, kitalah yang harus berinisiatif terlebih dulu untuk mengampuni mereka. Sebagaimana Allah di dalam Kristus Yesus telah mengampuni kita, hendaklah kita juga punya hati yang mau mengampuni kesalahan orang lain. Efesus 4:31-32a menyatakan: “Segala kepahitan, kegeraman, kemarahan, pertikaian dan fitnah hendaklah dibuang dari antara kamu, demikian pula segala kejahatan. Tetapi hendaklah kamu ramah seorang terhadap yang lain, penuh kasih mesra dan saling mengampuni.” Bagaimana kita bisa melakukannya? Pertama, kita harus memusatkan pikiran kita sepenuhnya kepada pengampunan yang telah Tuhan kerjakan bagi kita. Renungkan betapa besar rahmat yang sudah dilimpahkan Tuhan kepada kita seperti kata Daud (Mazmur 103:2-3a), “Pujilah Tuhan, hai jiwaku, dan janganlah lupakan segala kebaikan-Nya! Dia yang mengampuni segala kesalahanmu.” Kedua, selesaikan dengan jujur semua kemarahan yang kita rasakan terhadap orang lain, lalu melupakannya. Memang tidak mudah! Namun Tuhan akan tolong.
Di sebuah kota yang bernama Yope, hiduplah seorang perempuan yang sangat baik sekali hatinya. Namanya Tabita. Ia banyak sekali berbuat baik dan memberi sedekah, sehingga apa yang dilakukannya sangat memberkati orang-orang yang ada di sekelilingnya. Karena kebaikannya, Tabita sangat dikenal di masyarakat. Namun demikian tahukan kita siapa Tabita? Alkitab memang tidak memberikan keterangan dengan jelas, namun para ahli dalam tafsir Alkitab yang dapat dipertanggungjawabkan menerangkan bahwa Tabita adalah seorang yang sederhana. Tabita bukanlah wanita yang kaya raya sehingga kita cukup asing jika ia menjadi salah satu wanita dermawan dalam rentetan daftar tokoh-tokoh Alkitab. Tabita dikenal masyarakat karena kebaikannya. Ia tidak hanya baik sekali hatinya, tapi juga sering memberi sedekah. Dipenuhi kebajikan dan kemurahan adalah kerinduan kita bersama sebagai murid-murid Tuhan Yesus, karena demikianlah teladan yang diberikan Tuhan Yesus. Setiap murid dipanggil untuk menyatakan kebajikan dan kemurahan Tuhan, apapun keadaan kita. Seperti Tabita dengan segala kesederhanaannya, ia terlibat dalam pelayanan kasih yang sangat memberkati banyak orang. Demikian kita. Hendaklah kita menyatakan kebajikan dan kemurahan Allah melalui keterlibatan kita dalam melayani orang-orang di sekitar kita. Bukan pada saat kita sudah hidup dalam kelimpahan berkat, namun kita dapat melakukannya dari saat ini sesuai dengan talenta yang Tuhan berikan kepada kita. Kita dapat melayani dengan: menasehati, mengunjungi, mengasihi, mendoakan, memotivasi, meneguhkan, menguatkan, dan masih banyak hal lagi yang dapat kita lakukan dalam pelayanan kita. Menyatakan kebajikan dan kemurahan Allah adalah panggilan pelayanan kita. Oleh karena itu, belajar dari Tabita, kita harus memulainya sejak saat kita membaca renungan ini. Menjadi murah hati dan memberkati bukan kita awali setelah hidup kita berkelimpahan, namun dalam kederhanaan.
Pak Dihar adalah karyawan perusahaan “Makmur Sentosa Abadi” (khayalan). Karena suatu hal berkaitan dengan persoalan kebutuhan keuangan, pak Dihar melakukan tindakan yang tidak terpuji, yaitu meng-korupsi uang perusahaan. Karena adanya pengusutan secara intensif maka terkuaklah tindakan yang tidak terpuji itu. Pak Dihar tidak bisa mengelak karena bukti-bukti telah ditunjukkan dengan jelas, dan akhirnya mengakulah pak Dihar bahwa dia telah melakukan perbuatan tidak terpuji itu. Ketika ditanya pimpinan perusahaan itu, pak Dihar mengatakan bahwa dirinya kilaf. Perbuatan itu dia lakukan karena terjepit kebutuhan keuangan keluarga, merasa tidak ada jalan keluar lagi, bahkan hutang-hutang kepada perusahaan yang lalu pun belum terlunaskan. Mendengar penjelasan tersebut, maka pimpinan perusahaan tersebut tergerak oleh belas kasihan, kemudian memaafkan dan mengampuni pak Dihar. Sehingga pak Dihar tetap bisa bekerja seperti biasa, bahkan hutang-hutangnya pun dibebaskan. Saudara, Yesus Kristus adalah Tuhan Allah kita yang datang ke dunia ini untuk menjumpai manusia berdosa. Sebab manusia telah melakukan banyak pelanggaran-pelanggaran. Dan dosa-dosa tersebut akan membawanya kepada kebinasaan kekal. Kedatangan Yesus ke dunia siap untuk memberikan pengampunan, asalkan manusia bersedia mengakui bahwa dirinya adalah manusia berdosa dan bersedia percaya kepada Yesus sebagai Tuhan dan Juru selamat. Pengampunan itu akan terus diberikan kepada manusia, sekalipun manusia menyakiti dan menganiaya Tuhan (Lukas 23:34). Karena Tuhan tahu bahwa untuk mempercayai Yesus Tuhan adalah sesuatu yang tidak mudah, sebab itu adalah perbuatan Roh Kudus. Menurut Anda, “Bagaimana seharusnya kehidupan pak Dihar selanjutnya setelah diampuni oleh pimpinan perusahaan itu?” Ya, dia harus berterima kasih dan sudah seharusnya memiliki hati yang penuh dengan belas kasihan dan pengampunan sebab dia telah mendapatkan pengampunan. Demikian juga dengan kita semua, kita harus memiliki hati yang penuh dengan pengampunan karena kita telah diampuni Tuhan dari segala dosa-dosa dan kesalahan kita. Kita diampuni Tuhan supaya kita mengampuni orang yang bersalah kepada kita. Kita diselamatkan, dengan pengampunan (Efesus 1:7), supaya kita melakukan perbuatan baik (Efesus 2:10), salah satunya adalah mengampuni.
Mikha 7:18-19 Siapakah Allah seperti Engkau yang mengampuni dosa, dan yang memaafkan pelanggaran dari sisa-sisa milik-Nya sendiri; yang tidak bertahan dalam murka-Nya untuk seterusnya, melainkan berkenan kepada kasih setia? Biarlah Ia kembali menyayangi kita, menghapuskan kesalahan-kesalahan kita dan melemparkan segala dosa kita ke dalam tubir-tubir laut. Tidak ada orang yang berkata bahwa mengampuni itu mudah dilakukan. Banyak orang yang lebih rela menyimpan dendam dan hidup tidak tenang gara-gara tidak sanggup mengampuni. Padahal jelas itu merugikan dirinya sendiri. Mengapa bisa demikian? Karena pikiran kita selalu berkata: ”Orang salah harus dihukum. Orang itu telah berbuat jahat kepadaku maka dia pantas menanggung hukuman.” Sedikit banyak di dalam diri kita ada sifat adil, yang seringkali menentang dorongan untuk mengampuni. Sifat yang ada di dalam diri kita sebenarnya adalah cerminan dari sifat Allah, karena kita diciptakan menurut gambar dan rupa Allah. Tuhan itu adil, tapi Dia juga suka mengampuni. Bilangan 14:18 berkata: ”TUHAN itu berpanjangan sabar dan kasih setia-Nya berlimpah-limpah, Ia mengampuni kesalahan dan pelanggaran, tetapi sekali-kali tidak membebaskan orang yang bersalah dari hukuman, ....” Tuhan itu panjang sabar dan suka mengampuni kesalahan serta dosa manusia. Namun bukan berarti Dia itu bisa dipermainkan. Dia adalah Allah yang adil. Dia pasti menjalankan keadilan-Nya dengan menghukum setiap pelanggaran dan dosa. Sifat adil dan belas kasih Allah ini tidak saling bertentangan. Jika Allah suka mengampuni dosa itu bukan berarti Allah tidak mempermasalahkan dosa kita. Allah benci terhadap dosa, tetapi Dia sayang kepada manusia, sekalipun sudah jatuh dalam dosa. Dia ingin menyelamatkan manusia agar tidak terkena kutuk akibat dosa. Keadilan Allah mengharuskan kita untuk menghormati kekudusan-Nya. Kita harus menjaga hidup kita agar tidak melanggar perintah-Nya. Namun Dia bukan Tuhan yang kejam tak berbelas kasihan. Sekalipun kita telah berbuat dosa, jika kita datang kepada-Nya dengan hati yang tulus, bertobat dan memohon anugerah-Nya, Dia pasti akan memberikan pengampunan. Kita harus mencontoh sifat Allah yang adil, yang tidak mau kompromi dengan dosa. Namun kita harus mencontoh juga sifat-Nya yang suka mengampuni. Amin.
BARCODE BBM CHANNELS
RENUNGAN HARIAN
Mengapa Kita Ada Di Sini?
26 Oktober '14
Hidup Berdamai
18 November '14
Tiada Dendam
12 November '14
Copyright © 2012 All rights reserved. Designed and Developed by GIA Dr. Cipto Semarang