SEPEKAN TERAKHIR
  Selasa, 29 Juli 2014   -HARI INI-
  Senin, 28 Juli 2014
  Minggu, 27 Juli 2014
  Sabtu, 26 Juli 2014
  Jumat, 25 Juli 2014
  Kamis, 24 Juli 2014
  Rabu, 23 Juli 2014
POKOK RENUNGAN
Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya barangsiapa menuruti firmanKu, ia tidak akan mengalami maut sampai selama-lamanya. (Yohanes 8:51)
DITULIS OLEH
Ibu Ribkah E. Christanti
Kontributor
Renungan Lain oleh Penulis:
Home  »  Renungan  »  Hidup Dalam Anugerah
Hidup Dalam Anugerah
Kamis, 05 September 2013 | Tema: Kebenaran Kerajaan Allah
Hidup Dalam Anugerah
Yohanes 8:30-36
Seorang hamba Tuhan pernah bersaksi tentang bagaimana ia bisa mengenal Kristus. Menurutnya, ketika ia masih dalam kepercayaannya yang lama, ia tidak sempat memiliki tabungan dan selalu hidup dalam ketakutan. Betapa tidak, dalam setahun saja, ia harus mengadakan beberapa macam ritual yang menuntut adanya korban dan sesajen yang telah ditentukan jumlahnya. Menurut kepercayaannya dulu, serangkaian syarat tersebut harus dipenuhi untuk menyenangkan para “penguasa” alam sehingga dirinya terhindar dari marabahaya, selamat, rezekinya tetap lancar, dll. Jika tidak dilakukan, maka akan mendapat celaka. Namun ketika ia diperkenalkan kepada Yesus, dan keselamatan di dalam Dia, ia terheran heran. Bagaimana bisa keselamatan yang “mahal” (menurut kepercayaannya yang lama) itu, bisa diraih dengan cuma-cuma hanya dengan percaya kepada Yesus?

Bersyukur. Itulah hal yang seharusnya kita kerjakan atas anugerah keselamatan yang kita terima. Hidup kita telah berdosa sejak leluhur kita berdosa. Belum lagi dampak yang kita terima sehingga kita cenderung berbuat dosa. Seharusnya kita sendiri yang harus menanggung semua dosa kita dengan nyawa kita (Roma 6:23). Namun atas kasih karunia Tuhan, Bapa mengutus Putra-Nya untuk menggantikan penghukuman atas dosa kita, sehingga kita diampuni dari dosa dan diselamatkan. Ketika kita percaya kepada Yesus dan anugerah keselamatan-Nya, maka kebenaran itu berlaku atas hidup kita. Namun kehidupan percaya yang bagaimana yang akan memberlakukan “kebenaran” itu? Dalam ayat 31-32 disebutkan syarat hidup percaya kita. Yaitu unt...selengkapnya »
Saudara-saudara yang dikasihi Tuhan, pada minggu yang terakhir di bulan Juni ini saya ingin mengajak kita semua kembali mengingat tema kita untuk tahun 2014 ini yaitu: Saling mengasihi dan memperhatikan. Separuh dari tahun ini telah kita jalani. Marilah kita mengevaluasi kemajuan hidup rohani dan ketaatan kita pada Firman Tuhan. Pada tahun ini fokus kita adalah kehidupan berkomunitas, dimana kita bisa mempraktekkan Firman Tuhan dalam hal saling mengasihi dan memperhatikan. Pada hari ini saya mengajak kita membaca dan memperhatikan kembali beberapa ayat Firman Tuhan berkenaan dengan tema kita. 1 Yohanes 4:7-8 Saudara-saudaraku yang kekasih, marilah kita saling mengasihi, sebab kasih itu berasal dari Allah; dan setiap orang yang mengasihi, lahir dari Allah dan mengenal Allah. Barangsiapa tidak mengasihi, ia tidak mengenal Allah, sebab Allah adalah kasih. Ibrani 10:24 Dan marilah kita saling memperhatikan supaya kita saling mendorong dalam kasih dan dalam pekerjaan baik. Roma 14:19 Sebab itu marilah kita mengejar apa yang mendatangkan damai sejahtera dan yang berguna untuk saling membangun. Ayat-ayat di atas berbicara bahwa kita harus saling mengasihi, saling memperhatikan dan saling membangun supaya kehidupan rohani kita mengalami kemajuan. Kemajuan itu kita dapat wujudkan bukan sendiri-sendiri, tapi secara bersama-sama sebagai anggota Tubuh Kristus. Pastikan bahwa Anda mengalami kemajuan rohani. Jangan sampai rohani Anda stagnan atau mengalami kemacetan. Apakah saudara telah mendapatkan manfaat dari hidup berkomunitas untuk menunjang hidup rohani saudara? Jika saudara belum tergabung dalam Komunitas Kecil (Komcil) segeralah bergabung dengan salah satu Komcil yang ada. Tuhan kiranya memberkati kita semua sementara kita mentaati Firman-Nya. Amin.
Dia terlahir dengan nama Junaidi. Orang-orang memanggilnya Joned. Tapi lebih banyak yang mengenalnya sebagai Pak Jon si tukang bersih-bersih sekolah. Tugasnya beragam, mulai dari membersihkan setiap jengkal lantai sampai membetulkan atap yang bocor. Tetapi murid-murid lebih mengenalnya sebagai petugas pembersih sekolah sebab sebatang sapu hampir selalu melekat di tangannya. Kelihatannya tak ada yang istimewa. Tak ada yang menaruh perhatian pada apa yang dilakukannya. Tak ada yang memuji-muji hasil kerjanya. Sampai suatu hari ia jatuh sakit dan harus beristirahat cukup lama. Awalnya tak ada yang sadar akan ketidakhadirannya. Lalu halaman sekolah mulai dihiasi daun-daun kering. Sampah di laci-laci meja betah sekali tinggal di sana. Kaca-kaca jendela mulai bisa ditulisi dengan jari. Dan murid-murid mulai bertanya-tanya di mana Pak Jon. Mengapa ia tidak masuk. Kapan mereka boleh menjenguknya. Pada akhirnya mereka mengerti, bukan hanya kepala sekolah dan guru-guru yang punya arti. Seorang petugas pembersih pun punya andil besar dalam proses belajar-mengajar di sekolah. Demikian pula dengan Gereja sebagai Tubuh Kristus. Tiap-tiap anggota memiliki tempat dan peran masing-masing. Bersyukurlah di bagian kita ditempatkan. Semua anggota tubuh itu penting. Jangan menyombongkan diri, jangan pula merasa rendah diri. Layanilah apa yang menjadi tugas kita. Jangan dengan terpaksa, jangan pula demi keuntungan pribadi. Gereja bisa berfungsi dengan baik apabila semua anggotanya berfungsi dengan benar sesuai bagiannya.
Para rasul adalah para murid Yesus yang dipilih untuk menjalankan kelangsungan kesaksian Pekabaran Injil kepada bangsa-bangsa dengan cara menyampaikan kesaksian Injil Yesus Kristus melalui penyampaian Firman Tuhan. Jabatan rasul ini bukan ditentukan oleh mereka sendiri, tetapi Tuhan Yesus sendirilah yang mengangkat mereka sebagai rasul. Buktinya ketika Yudas Iskariot tidak lagi ada dalam bilangan para rasul, Petrus berdiri di antara orang-orang percaya untuk pengembalian bilangan para rasul tetap pada angka dua belas dengan cara pengundian yang dipandang bersama sebagai tindakan obyektif, bukan semata perbuatan rancangan manusia, tetapi pada pemilihan Tuhan sendiri (Kisah Para Rasul 1:26). Sehingga para rasul memiliki otoritas untuk menjaga dan melaksanakan gerakan penginjilan. Tindakan pelayanan apapun bentuknya ada di bawah otoritas para rasul, misalnya pelantikan tujuh orang pelayan meja (Kisah Para Rasul 6:6), sehingga semua kegiatan pelayanan yang dilakukan adalah tugas kudus yang ada dalam tubuh Kristus. Pelayanan bukan tindakan-tindakan yang mengatasnamakan diri sendiri atau kelompok tertentu yang sarat dengan bahaya-bahaya dan konsekuensinya, sebagai contoh kasus Ananias dan Safira (Kisah Para Rasul 5:1-11). Komunitas jemaat mula-mula berorientasi pada pelayanan yang saling memperhatikan satu dengan lainnya yang ada di bawah otoritas penggembalaan para Rasul. Bahaya terbesar adalah adanya orang-orang (pribadi-pribadi) yang mengabaikan pentingnya makna otoritas pemimpin. Menganggap semua itu tidak perlu dan yang penting pelayanan atas nama Tuhan. Bagi kehidupan berjemaat pada zaman sekarang, ajaran para hamba Tuhan mengenai jemaat yang mendapat otoritas dari Tuhan untuk mengalahkan kuasa duniawi dan sakit penyakit, bukan berarti lepas dan mengabaikan otoritas pemimpin Gereja. Bagi siapapun yang melayani Tuhan, tetapi yang mengabaikan otoritas Gereja sebagai pemimpin, jelas tidak sesuai dengan kehidupan komunitas jemaat mula-mula yang ada di bawah otoritas para Rasul. Hendaklah semua melayani dengan perlengkapan otoritas dari Tuhan, perhatikan Kisah Para Rasul 6:6.
Kita pernah mendengar atau mungkin mengatakan pepatah: “bersatu kita teguh bercerai kita runtuh”. Dari pepatah ini kita diperhadapkan kepada dua pilihan dengan segala akibatnya, yaitu: pertama, apakah kita memilih “bersatu”, yang mungkin dalam persatuan itu ada banyak perbedaan yang terjadi dengan akibat kita akan kokoh dan kuat. Atau kedua, memilih “bercerai”, yang menurut Kamus Bahasa Indonesia mempunyai arti putus atau pisah dengan akibat mengalami keruntuhan atau roboh. Dari bacaan firman di atas Tuhan Yesus menasihatkan kepada murid-murid-Nya bahwa saat mereka bersatu atau sepakat maka segala permintaan mereka akan dikabulkan oleh Bapa yang di sorga. Dan untuk menjaga kesatuan atau kesehatian maka: 1. Jangan biarkan dosa tinggal di dalam kehidupan kita (ayat 15a), terlebih dosa kesombongan dan mementingkan diri sendiri (Filipi 2:3- 4). 2. Saling mengingatkan (ayat 15b) karena kesalahan atau pelanggaran orang lain merupakan tanggung jawab kita juga (Galatia 6:1-2). 3. Melepaskan kasih dan pengampunan (ayat 21:22). Sebagai orang percaya tentu kita mengharapkan pertolongan Allah dinyatakan di dalam hidup kita. Kita mengharapkan apa yang kita minta dan doakan dikabulkan oleh Allah. Mari kita mau bangun hubungan yang baik tidak saja dengan Allah tetapi juga dengan sesama kita khusus dalam rumah tangga kita, maka apa yang Tuhan janjikan tentu akan menjadi bagian kita.Tuhan memberkati kita semua.
BARCODE BBM CHANNELS
RENUNGAN HARIAN
Komunitas Sehati Sepikir
28 Juli '14
Yesus Berada Di luar Rumah
30 Juni '14
Menyelesaikan Sampai Akhir
04 Juli '14
Copyright © 2012 All rights reserved. Designed and Developed by GIA Dr. Cipto Semarang