SEPEKAN TERAKHIR
  Rabu, 01 April 2015   -HARI INI-
  Selasa, 31 Maret 2015
  Senin, 30 Maret 2015
  Minggu, 29 Maret 2015
  Sabtu, 28 Maret 2015
  Jumat, 27 Maret 2015
  Kamis, 26 Maret 2015
POKOK RENUNGAN
Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya barangsiapa menuruti firmanKu, ia tidak akan mengalami maut sampai selama-lamanya. (Yohanes 8:51)
DITULIS OLEH
Ibu Ribkah E. Christanti
Kontributor
Renungan Lain oleh Penulis:
Home  »  Renungan  »  Hidup Dalam Anugerah
Hidup Dalam Anugerah
Kamis, 05 September 2013 | Tema: Kebenaran Kerajaan Allah
Hidup Dalam Anugerah
Yohanes 8:30-36
Seorang hamba Tuhan pernah bersaksi tentang bagaimana ia bisa mengenal Kristus. Menurutnya, ketika ia masih dalam kepercayaannya yang lama, ia tidak sempat memiliki tabungan dan selalu hidup dalam ketakutan. Betapa tidak, dalam setahun saja, ia harus mengadakan beberapa macam ritual yang menuntut adanya korban dan sesajen yang telah ditentukan jumlahnya. Menurut kepercayaannya dulu, serangkaian syarat tersebut harus dipenuhi untuk menyenangkan para “penguasa” alam sehingga dirinya terhindar dari marabahaya, selamat, rezekinya tetap lancar, dll. Jika tidak dilakukan, maka akan mendapat celaka. Namun ketika ia diperkenalkan kepada Yesus, dan keselamatan di dalam Dia, ia terheran heran. Bagaimana bisa keselamatan yang “mahal” (menurut kepercayaannya yang lama) itu, bisa diraih dengan cuma-cuma hanya dengan percaya kepada Yesus?

Bersyukur. Itulah hal yang seharusnya kita kerjakan atas anugerah keselamatan yang kita terima. Hidup kita telah berdosa sejak leluhur kita berdosa. Belum lagi dampak yang kita terima sehingga kita cenderung berbuat dosa. Seharusnya kita sendiri yang harus menanggung semua dosa kita dengan nyawa kita (Roma 6:23). Namun atas kasih karunia Tuhan, Bapa mengutus Putra-Nya untuk menggantikan penghukuman atas dosa kita, sehingga kita diampuni dari dosa dan diselamatkan. Ketika kita percaya kepada Yesus dan anugerah keselamatan-Nya, maka kebenaran itu berlaku atas hidup kita. Namun kehidupan percaya yang bagaimana yang akan memberlakukan “kebenaran” itu? Dalam ayat 31-32 disebutkan syarat hidup percaya kita. Yaitu unt...selengkapnya »
Tabita atau Dorkas seorang murid Kristus yang tinggal di Yope. Yang menarik dari Tabita adalah dalam kesederhanaannya dia mengusahakan untuk berbuat kebaikan. Dengan tenaganya dia membuat baju dan pakaian tidak untuk dijual tetapi dibagikan kepada yang membutuhkan dan para janda. Pada waktu dia meninggal sangat banyak orang yang merasa kehilangan seorang yang sangat baik. Dengan menangis mereka dating kepada Petrus sambil menunjukkan baju dan pakaian yang diberi oleh Tabita. Tabita berusaha berbuat baik pada banyak orang dan memberkati mereka. Dengan kuasa Kristus, Petrus membangkitkan Tabita dan dia mendapat kesempatan lagi untuk berbuat kebaikan. [Kisah Para Rasul 9:36-41]. Yesaya menulis orang percaya harus belajar berbuat baik artinya berusaha untuk bisa berbuat baik. Berbuat baik tidak instan atau otomatis tetapi harus selalu diusahakan. Termasuk di dalamnya mengusahakan keadilan, meredam kejahatan, membela hak anak yatim dan memperhatikan para janda. Dengan demikian harus diusahakan untuk berbuat kebaikan kepada siapa saja yang membutuhkan pertolongan. Setiap hari di sekeliling kita pasti ada orang yang membutuhkan pertolongan. Apakah kita siap selalu untuk memberikan bantuan? Dibutuhkan kemauan, kerelaan dan kadang pengorbanan untuk menolong orang lain. Bila kita setia memberikan bantuan hal-hal yang kecil, maka Tuhan akan memberi tanggung jawab untuk hal besar. Itu bisa terjadi kalau kita senantiasa berusaha untuk berbuat kebaikan. Inilah saatnya untuk kita berbuat baik, jangan menunda karena mungkin kita akan kehilangan kesempatan.
Hosea 10:12 Menaburlah bagimu sesuai dengan keadilan, menuailah menurut kasih setia! Bukalah bagimu tanah baru, sebab sudah waktunya untuk mencari TUHAN, sampai Ia datang dan menghujani kamu dengan keadilan. Sebelum mengerjakan sesuatu orang pasti akan berpikir: ’Jika aku mengerjakan ini, apa manfaatnya?’ Lebih dari itu: ’Apa manfaatnya bagi diriku?’ Orang tidak akan mengerjakan hal yang dia anggap tak berguna. Atau sekalipun dia mengerjakannya, dia akan melakukan dengan setengah hati. Kita seringkali menjadi lemah ketika kita hendak melakukan suatu perbuatan baik, karena kita bertanya: ’Apa yang aku lakukan ini ada manfaatnya? Apa manfaatnya bagi diriku? Kelihatannya cuma menguntungkan bagi orang lain dan menyusahkan diriku sendiri.’ Lalu kita urung melakukan perbuatan baik itu. Itu sebabnya banyak orang yang sempat punya keinginan untuk berbuat baik, tapi kemudian menunda atau membatalkan niatnya. Firman Tuhan berkata: Menaburlah bagimu. Perhatikan kata: ’bagimu’, berarti bagi diri kita sendiri. Jika kita menabur kebaikan maka sebenarnya kita menabur untuk kepentingan diri kita sendiri. Kita sendirilah yang akan menikmati hasilnya nanti, bukan orang lain. Firman Tuhan berkata: ’Seorang petani yang bekerja keras haruslah yang pertama menikmati hasil usahanya.’ [2 Timotius 2:6]. Benih kebaikan yang kita taburkan tidak pernah sia-sia atau terbuang dengan percuma. Keyakinan ini akan membuat kita giat untuk melakukan perbuatan baik. ’Menaburlah bagimu’ juga berarti bahwa masing-masing kita punya tanggung jawab untuk menabur benih kebaikan. Kita sendirilah yang harus menabur benih itu untuk masa depan kita. Kita sendirilah yang harus berjerih lelah untuk panen yang akan kita petik nanti, bukan orang lain. Jangan bergantung pada orang lain yang akan menabur untuk kita. Kita sendiri yang harus menabur. Jika kita ingin menuai kebaikan di masa yang akan datang, saat ini kita harus menabur benih kebaikan. Jadi, teruslah menabur benih kebaikan. Jangan jemu-jemu berbuat baik. Setiap perbuatan baik pasti akan menghasilkan buah kebaikan untuk kita tuai bagi diri kita sendiri. Tuhan memberkati kita semua.
Dalam sebuah kesempatan makan pagi bersama dua orang teman, salah seorang dari mereka mencetuskan kecemasannya akan kecenderungan manusia yang semakin kejam dan mementingkan diri sendiri di zaman ini. Bahkan orang yang tampaknya mustahil melakukan hal yang jahat, lambat laun terbawa arus juga. Diceritakannya tentang seorang kawan yang dikenalnya dengan baik. Kawan ini bukan orang yang berkekurangan. Dia hidup dengan layak. Bahkan lebih dari cukup. Namun nafsu untuk mendapatkan lebih banyak lagi tanpa bersusah payah, telah menjerumuskannya kepada keserakahan yang membahayakan. Suatu hari dengan bangganya kawan itu memamerkan salah satu bisnisnya kepada teman kami. Bisnis pembuatan merica bubuk. Keuntungannya sangat menjanjikan. Sekilas tak ada yang ganjil dengan bungkusan-bungkusan yang tertumpuk rapi dan siap dipasarkan. Namun pengakuan selanjutnya dari sang pemilik usaha membuat teman kami tercengang dan terguncang.Keuntungan berlipat kali ganda itu ternyata berasal daripengoplosan merica bubukdengan sisa gergajian kayu yang ditumbuk halus! Berhubung bidikannya adalah pasar tradisional maka bisa dipastikan banyak ibu rumah tangga dan pedagang kecil yang akan menyajikan masakan berbumbu merica-kayu bubuk itu kepada keluarga dan pelanggan mereka. Bukan mustahil sang produsen atau anggota keluarganya sendiri tanpa sadar selama ini telah ikut mengonsumsi bahan berbahaya itu melalui makanan yang mereka beli. Jangan pikir mereka bisa terhindar dengan cara membeli di tempat elit saja. Makanan yang tersaji di tempat elit pun banyak yang berasal dari setoran industri kecil rumahan. Janganlah tergiur dengan cara hidup orang fasik. Sebab Amsal 11:18 telah menyatakan bahwa, “Orang fasik membuat laba yang sia-sia, tetapi siapa menabur kebenaran, mendapat pahala yang tetap.” Cepat atau lambat pemilik usaha yang tidak jujur itu akan menuai akibat dari perbuatan yang telah ditaburnya.Siapa menabur angin, ia menuai badai.
Pernahkah Anda melihat dan mendengar beberapa peristiwa seperti berikut: seseorang menyumbang di panti sosial demi sebuah reputasi atau pujian atau pengakuan? Seseorang yang memberi karena disuruh, merasa tidak enak atau gengsi? Seseorang pindah kepercayaan demi pasangan hidup, jabatan, harta atau bahkan karena ancaman? Seseorang yang menjadi baik karena ingin mendapatkan simpati dari seseorang atau perhatian dari orang tua? Seseorang yang menjalani kuliah karena tuntutan beasiswa atau gereja? Demikian kita melihat banyak sekali perilaku manusia beserta motivasi di belakangnya. Mungkin alasan mereka baik [tentunya dengan berbagai macam sudut pandang], namun apakah semuanya benar? Masih ingat Raja Saul yang “terpaksa” menggantikan posisi imam dari Samuel [1 Samuel 13]? Di sisi lain hal itu bisa dibenarkan karena itu adalah masa genting yang membutuhkan tindakan cepat. Tapi ternyata itu salah di mata Tuhan. Itu adalah tindakan ketidaktaatan. Selain itu, masih ingat peristiwa Raja Daud yang hendak membangun bait Allah? Bukankah itu hal yang baik? Namun itu bukan kehendak Tuhan. Tuhan menghendaki Salomo, anaknya, yang akan membangunnya. Nats yang kita baca hari ini mengingatkan kita akan pentingnya motivasi yang benar saat melakukan segala sesuatu. Dalam Hosea 10 dituliskan betapa kecewanya Tuhan atas Efraim. Tuhan menghendaki supaya mereka melakukan segala sesuatu karena cinta mereka kepada Tuhan. Itulah juga yang seharusnya menjadi alasan kita melakukan segala sesuatu. Selain itu, lakukanlah semuanya bukan semata-mata berdasarkan pengalaman atau kemampuan kita, tetapi berdasarkan kehendak dan kekuatan Tuhan. Dan tunggulah..... akan datang saatnya berkat-berkat Tuhan akan “menghujani” hidup kita sesuai dengan janji-Nya [Hosea 10:12].
BARCODE BBM CHANNELS
RENUNGAN HARIAN
Menikmati Dan Berbagi
25 Maret '15
Banyak Menabur, Banyak Menuai
12 Maret '15
Penuhi Hati Dengan Benih Firman
04 Maret '15
Copyright © 2012 All rights reserved. Designed and Developed by GIA Dr. Cipto Semarang