SEPEKAN TERAKHIR
  Senin, 20 Februari 2017   -HARI INI-
  Minggu, 19 Februari 2017
  Sabtu, 18 Februari 2017
  Jumat, 17 Februari 2017
  Kamis, 16 Februari 2017
  Rabu, 15 Februari 2017
  Selasa, 14 Februari 2017
POKOK RENUNGAN
Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya barangsiapa menuruti firmanKu, ia tidak akan mengalami maut sampai selama-lamanya. (Yohanes 8:51)
DITULIS OLEH
Ibu Ribkah E. Christanti
Kontributor
Renungan Lain oleh Penulis:
Home  »  Renungan  »  Hidup Dalam Anugerah
Hidup Dalam Anugerah
Kamis, 05 September 2013 | Tema: Kebenaran Kerajaan Allah
Hidup Dalam Anugerah
Yohanes 8:30-36
Seorang hamba Tuhan pernah bersaksi tentang bagaimana ia bisa mengenal Kristus. Menurutnya, ketika ia masih dalam kepercayaannya yang lama, ia tidak sempat memiliki tabungan dan selalu hidup dalam ketakutan. Betapa tidak, dalam setahun saja, ia harus mengadakan beberapa macam ritual yang menuntut adanya korban dan sesajen yang telah ditentukan jumlahnya. Menurut kepercayaannya dulu, serangkaian syarat tersebut harus dipenuhi untuk menyenangkan para penguasa alam sehingga dirinya terhindar dari marabahaya, selamat, rezekinya tetap lancar, dll. Jika tidak dilakukan, maka akan mendapat celaka. Namun ketika ia diperkenalkan kepada Yesus, dan keselamatan di dalam Dia, ia terheran heran. Bagaimana bisa keselamatan yang mahal (menurut kepercayaannya yang lama) itu, bisa diraih dengan cuma-cuma hanya dengan percaya kepada Yesus?

Bersyukur....selengkapnya »
Kata “murid = disciple [bhs. Inggris]”. Dari kata ini lahir kata discipline atau disiplin dalam bahasa Indonesia. Seorang disciple [murid] yang baik mempunyai tingkat discipline [disiplin] yang tinggi. Dengan disiplin yang tinggi dia membangun ketaatan dalam dirinya. Renungan kita hari hari ini adalah di atas landasan apa seorang murid Kristus membangun ketaatannya dengan disiplin yang tinggi? Ketaatan dapat berlandaskan atas kepatuhan terhadap suatu idealisme. Ketaatan dapat juga berlandaskan atas kepatuhan terhadap pemimpin yang bersifat diktator. Seringkali terjadi dan kita saksikan, walaupun idealisme keliru, kepatuhan tetap dilakukan. Kepatuhan/ketaatan seperti itu membawa kesengsaraan. Dalam sebuah pemerintahan hal tersebut membawa kepuasan dan kenikmatan hidup bagi para pemimpinnya tapi membawa penderitaan bagi rakyatnya. Alkitab mengajarkan landasan ketaatan yang tidak sama dengan yang diajarkan manusia. Berdasarkan Firman-Nya, landasan ketaatan adalah KASIH, bukan suatu idealisme, bukan juga seorang pemimpin yang diktator. Landasan ketaatan adalah nilai hidup yang luhur, yaitu KASIH. Mengasihi berarti menaati. Yesus mengasihi Bapa dan Bapa mengasihi Yesus. Berlandaskan kasih, Yesus melakukan segala sesuatu yang diperintahkan Bapa kepada-Nya [Yohanes 5:20; 14:31]. Itu sebabnya kita yang mengasihi Yesus wajib menaati semua perintah-Nya seperti yang Yesus teladankan dalam hidup kemanusiaan-Nya, Yesus taat pada perintah Bapa. Rasul Paulus menyaksikan bahwa kasih Kristus yang menguasai hidup-Nya [2 Korintus 5:14]. Berlandaskan pada kasih, Rasul Paulus melaksanakan Firman-Nya dengan penuh ketaatan. Sekalipun harus menghadapi kesulitan, aniaya, penderitaan, ancaman maut, Rasul Paulus tetap mengasihi Tuhan [Roma 8:38-39]. Rasul Paulus juga tetap menaati perintah dan hukum-hukum-Nya. Mengasihi Tuhan berarti menaati Firman-Nya. Bagaimana dengan kita?
Mengalami Tuhan 3 1 Samuel 3:1-10 Lalu datanglah TUHAN, berdiri di sana dan memanggil seperti yang sudah-sudah: ’Samuel! Samuel!’ Dan Samuel menjawab: ’Berbicaralah, sebab hamba-Mu ini mendengar.’ [ayat 10] Kita perlu mendengar suara Tuhan karena Dia adalah Gembala Agung kita. Domba-domba harus mendengar suara gembalanya dan dapat membedakan suara gembalanya dari suara orang lain. Samuel yang masih sangat muda belum mengenal Tuhan, sehingga tidak mengenal suara-Nya pada waktu Tuhan memanggilnya. Setelah dia diberi tahu oleh imam Eli, barulah dia tahu bahwa suara yang memanggilnya itu adalah suara Tuhan. Rick Warren, penulis buku Purpose Driven Life, berkata: ’Kita sering tidak mendengar suara Tuhan karena kita tidak memberi perhatian.’ Kita sering tidak mendengar suara Tuhan karena pikiran kita dipenuhi dengan banyak hal lain selain Tuhan. Mungkin pikiran kita sedang dipenuhi oleh kekuatiran, atau dipenuhi oleh ketamakan akan materi, atau dipenuhi oleh hobi atau kesenangan kita, dan lain sebagainya. Kita tidak memberi perhatian atau menyediakan waktu untuk mendengar suara Tuhan. Sebenarnya Tuhan ingin berkomunikasi dengan kita. Tuhan ingin sekali berbicara dengan kita. Bahkan Dia sudah menunggu kapan bisa berbicara kepada kita. Tetapi kita sulit untuk diajak bicara. Kita terlalu sibuk dengan diri kita sendiri atau dengan urusan-urusan lain yang kita anggap penting. Kita tidak menyediakan diri kita untuk Tuhan berbicara kepada kita. Kita harus menyediakan diri kita dan berkata: ’Ini aku Tuhan. Berbicaralah. Aku siap untuk mendengar.’ Ambillah waktu untuk berdiam diri. Ambillah sikap mendengar. Nantikanlah Dia berbicara kepada kita. Seringkali Dia berbicara dengan suara yang lembut. Tapi kalau hati dan jiwa kita siap untuk mendengarnya, selembut apapun suara-Nya, kita pasti dapat mendengarnya. Jika kita terbiasa mendengar suara Tuhan, maka kita dapat selalu mengikuti pimpinan-Nya. Kalau kita mendengar suara-Nya kita terbebas dari kekuatiran. Kalau kita mendengar suaranya kita tidak perlu takut salah jalan di dalam hidup ini. Belajarlah mendengar suara Tuhan. Pdt. Goenawan Susanto
Hanya para penikmat kopi yang bisa membedakan nikmatnya berbagai jenis kopi yang ada. Tapi tidak semuanya tahu berapa lama perjalanan biji kopi sampai menjadi secangkir kopi, minuman nikmat itu. Untuk membuat secangkir kopi tidak lebih dari 10 menit tapi perjalanan biji kopi sampai menjadi secangkir kopi bisa jadi bertahun-tahun. Biji kopi robusta harus disimpan selama 5 tahun dan biji kopi arabika selama 8 tahun untuk mendapatkan biji kopi yang berkualitas. Di masa kini banyak orang cenderung melakukan sesuatu dengan cepat, lebih mudah menghasilkan berbagai produk dengan serba instan, disukai banyak orang. Hal tersebut tidak menjamin produk yang dihasilkan berkualitas lebih baik. Dalam banyak hal dibutuhkan waktu dan proses untuk menghasilkan sesuatu yang berkualitas unggul. Alkitab mencatat bagaimana Tuhan mempersiapkan seseorang yang berkualitas yang dipakai-Nya untuk memimpin Israel, umat pilihan-Nya. Daud diurapi menjadi raja di 1 Samuel 16 mungkin dalam usia masih remaja. Baru 21 pasal kemudian, dalam 2 Samuel 5, ketika ia berusia 30 tahun [ayat 1]. Setelah mengalami berbagi peristiwa yang membentuk karakternya, ia ditetapkan menjadi raja atas Israel dan Yehuda [ayat 5]. Demikian juga dengan hidup kita. Bagaikan biji kopi yang “disimpan” di tangan Tuhan, kita diproses, diubahkan menjadi secangkir kopi berkualitas yang nikmat yang bisa dinikmati banyak orang. Mari dengan semangat juang yang tinggi, dengan ketekunan dan kesetiaan, kita masuki waktu dan proses Tuhan yang mungkin tidak singkat. Ijinkan Dia membawa kita semakin mengenal Dia, mengalami Dia lewat berbagai peristiwa dalam hidup kita, peristiwa suka maupun duka. Dengan demikian terbangunlah iman percaya kita, terbentuklah karakter kita untuk memberikan dampak positif bagi sesama.
Kesukaan saya ketika masih SD dalu adalah pulang pagi karena momen tersebut merupakan kesempatan untuk main ke rumah teman sekelas. Karena tempat kami waktu itu belum ada angkot, maka kami berjalan menyusuri kampung demi kampung untuk menjemput teman lainnya. Ketika sampai ke ujung kampung, kami terkejut dan ketakutan karena berpapasan dengan seorang laki-laki yang mengalami gangguan jiwa dengan pakaian menjijikkan dan rambut kumal. Sepontan saya mengambil batu dan melemparkannya ke orang tersebut. Eh... orang itu tidak pergi tapi justru malah ganti melempar kami dengan batu yang lebih besar dan bahkan mengejar kami. Kami pun tunggang langgang melarikan diri. Setelah saya lihat orang itu tidak mengejar lagi, maka kami sepakat mendatanginya untuk melempari batu lagi. Saat kami berlari kecil sambil membawa batu, ada seorang bapak yang berjalan agak pincang memanggil saya, “ Heiii, le, cah... berhenti dulu, kalian bawa batu mau buat apa?” Dengan agak berteriak saya menjawab, ”Buat melempar orang gila, pak Dhe!” Bapak itu berkata, ”Kalau kamu saya lempar batu, sakit tidak?” ”Sakit, Pak,” jawab saya. Bapak itu berkata lagi, ”Yang kamu lempar itu orang apa hewan?” ”Orang, Pak,” saya menyahut. Kemudian bapak itu melanjutkan, ”Kalau dia orang berarti sakit seperti yang kamu rasakan, boleh gak dilempari?” Belum sempat saya jawab, bapak itu berkata lagi, ”Kamu orang Nasrani, kan?” “Saya Kristen, Pak.” Jawab saya. Bapak itu mulai mengingatkan saya, “Isa, Yesusmu mengajarkan kasihilah sesamamu manusia, kan? Apa kamu mau jadi seperti orang gila itu. Ayo, buang batunya dan belajarlah seperti Nabi Isa, Yesus guru yang mengajarimu mengasihi itu!” Maka sayapun urung melempari orang gila itu. Mulai saat itu saya mulai paham teladan seorang Guru Agung yang harus dicontoh oleh para pengikut-Nya. Ketika mengaku Kristen berarti harus meneladani Kristus dalam hidupnya sebagai SOKO GURU. Pribahasa mengatakan “Guru kencing berdiri, murid kencing berlari”. Artinya, seorang murid akan meneladani sang guru. Kita mempunyai guru yang luar biasa, yaitu Yesus Kristus. Maka hendaklah hidup kita meneladani hidup Yesus, Guru Agung kita [1 Yohanes 2:6]. Bila kita membaca dan belajar kebenaran firman Tuhan dengan serius setiap hari, maka kita akan menemukan sebuah kebenaran bahwa gaya hidup Tuhan Yesus itu bertolak belakang dengan gaya hidup dunia atau gaya hidup manusia pada umumnya. Jadi kalau gaya hidup kita sebagai orang percaya belum mencapai standar gaya hidup seperti Tuhan Yesus atau kalau hidup kita masih sama dengan gaya hidup orang dunia pada umumnya, maka sesungguhnya kita belum mencapai standar hidup kekristenan yang diajarkan oleh Tuhan Yesus. Dan itu menunjukan bahwa kita belum menjadi seorang pengikut Kristus yang sejati. Oleh sebab itu hiduplah sesuai teladan Kristus, maka hidup kita akan menjadi berkat bagi sekitar kita.
BARCODE BBM CHANNELS
RENUNGAN HARIAN
Resolusi Tahun Baru
20 Januari '17
Tersingkirkan Menjadi Terperhatikan
14 Februari '17
Landasan Ketaatan
04 Februari '17
Copyright © 2012 All rights reserved. Designed and Developed by GIA Dr. Cipto Semarang