SEPEKAN TERAKHIR
  Kamis, 23 November 2017   -HARI INI-
  Rabu, 22 November 2017
  Selasa, 21 November 2017
  Senin, 20 November 2017
  Minggu, 19 November 2017
  Sabtu, 18 November 2017
  Jumat, 17 November 2017
POKOK RENUNGAN
Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya barangsiapa menuruti firmanKu, ia tidak akan mengalami maut sampai selama-lamanya. (Yohanes 8:51)
DITULIS OLEH
Ibu Ribkah E. Christanti
Kontributor
Renungan Lain oleh Penulis:
Home  »  Renungan  »  Hidup Dalam Anugerah
Hidup Dalam Anugerah
Kamis, 05 September 2013 | Tema: Kebenaran Kerajaan Allah
Hidup Dalam Anugerah
Yohanes 8:30-36
Seorang hamba Tuhan pernah bersaksi tentang bagaimana ia bisa mengenal Kristus. Menurutnya, ketika ia masih dalam kepercayaannya yang lama, ia tidak sempat memiliki tabungan dan selalu hidup dalam ketakutan. Betapa tidak, dalam setahun saja, ia harus mengadakan beberapa macam ritual yang menuntut adanya korban dan sesajen yang telah ditentukan jumlahnya. Menurut kepercayaannya dulu, serangkaian syarat tersebut harus dipenuhi untuk menyenangkan para “penguasa” alam sehingga dirinya terhindar dari marabahaya, selamat, rezekinya tetap lancar, dll. Jika tidak dilakukan, maka akan mendapat celaka. Namun ketika ia diperkenalkan kepada Yesus, dan keselamatan di dalam Dia, ia terheran heran. Bagaimana bisa keselamatan yang “mahal” (menurut kepercayaannya yang lama) itu, bisa diraih dengan cuma-cuma hanya dengan percaya kepada Yesus?

Bersyukur. Itulah hal yang seharusnya kita kerjakan atas anugerah keselamatan yang kita terima. Hidup kita telah berdosa sejak leluhur kita berdosa. Belum lagi dampak yang kita terima sehingga kita cenderung berbuat dosa. Seharusnya kita sendiri yang harus menanggung semua dosa kita dengan nyawa kita (Roma 6:23). Namun atas kasih karunia Tuhan, Bapa mengutus Putra-Nya untuk menggantikan penghukuman atas dosa kita, sehingga kita diampuni dari dosa...selengkapnya »
“Ajar kami Tuhan, menghitung hari-hari…. Agar kami beroleh hati bijaksana…….” Lagu lama yang kata-katanya diambil dari kitab Mazmur 90:12 itu tiba-tiba saja terlintas dibenak saya. Dan langsung saja saya rengeng-rengeng sambil membereskan tugas-tugas rumah tangga. Mulut saya terus menyanyikan lagu itu berulang-ulang, sementara pikiran saya terus menerus mencerna kata-kata dalam lagu itu. Mengapa pemazmur meminta kepada Tuhan untuk mengajarnya? Mengapa tidak meminta diajar oleh guru, oleh suami atau istri, atau teman? Jawabannya sederhana, karena manusia terbatas hikmatnya, manusia tidak selalu bisa menjadi tempat belajar karena manusia banyak kekurangannya, karena manusia tidaklah sempurna. Kalau kita belajar dari manusia belum tentu kebijaksanaan yang kita dapat, mungkin kekecewaan, atau malah kemarahan. Tapi ketika Tuhan sendiri yang mengajar kita, sudah pasti hikmat kita akan bertambah dan kebijaksanaan akan kita peroleh. Mengapa pemazmur minta diajar untuk menghitung hari-hari? Mengapa bukan menghitung berkat-berkat, menghitung kesulitan demi kesulitan, menghitung persoalan yang ada? Karena dalam setiap hari yang kita lalui, banyak hal yang terjadi. Kejadian yang menyenangkan, yang membahagiakan, pengharapan yang menjadi kenyataan, doa yang terkabul, atau kekecewaan yang didapat, ketakutan yang tak kunjung berakhir, kepedihan dan kesusahan yang tiba-tiba saja datang. Itu beberapa situasi yang tiba-tiba bisa menghampiri kita setiap hari. Karena itu sangat perlu bagi kita merenungkan apa yang terjadi.Menimbang baik dan buruknya dari setiap kejadian yang timbul. Agar kita tidak salah dalam melangkah, dalam menjalani hari-hari kita. Mohon hikmat kepada Tuhan dalam menyikapi setiap peristiwa yang terjadi. Mohon Dia memimpin di setiap waktu yang kita lalui. Ketika kita menjadikan Tuhan sebagai guru dalam menjalani hari demi hari yang kita lalui, maka Dia akan memberi hati yang bijaksana. Kebijaksanaan akan terlihat dari cara seseorang berpikir, bertutur kata dan bersikap. Kebijaksanaan akan menimbulkan sukacita, menjadi berkat bagi orang-orang di sekelilingnya dan sudah pasti akan menciptakan suasana damai sejahtera. Karena itu mintalah kepada Dia untuk terus mengajar menghitung hari-hari, agar kita beroleh hati yang bijaksana.
Pakailah Medsos untuk memasyhurkan nama Tuhan Mazmur 96:3-4 Ceritakanlah kemuliaan-Nya di antara bangsa-bangsa dan perbuatan-perbuatan yang ajaib di antara segala suku bangsa. Sebab TUHAN maha besar dan terpuji sangat, Ia lebih dahsyat dari pada segala allah. Banyak diantara kita yang saya yakin adalah pemakai media sosial [medsos], entah itu Facebook, Twitter, Instagram, atau yang lainnya. Ada banyak manfaat yang bisa kita dapatkan dengan menggunakan media sosial, antara lain: - mendapatkan informasi, berita dan pengetahuan - menambah teman dan komunitas tanpa batas - mendapatkan hiburan: film, lagu-lagu, gambar-gambar, dll. - sarana promosi bisnis - sarana mengekspresikan diri - sarana berbagi pengetahuan dan pengalaman dengan orang lain Di samping itu masih ada banyak manfaat lain yang bisa kita dapatkan dari menggunakan media sosial. Tapi berapa banyak dari kita yang memanfaatkan media sosial untuk memuliakan Tuhan? Ingatkah kita bahwa kita adalah garam dan terang dunia? Bagaimana kita mengerjakan tugas itu di tengah dunia ini? Media sosial merupakan sarana yang mudah, murah dan efektif untuk menyampaikan kabar baik tentang Kristus kepada banyak orang, tanpa ada yang bisa membatasinya. Firman Tuhan berkata: ’Ceritakanlah kemuliaan-Nya di antara bangsa-bangsa dan perbuatan-perbuatan yang ajaib di antara segala suku bangsa.’ Mungkin kita tidak mempunyai waktu atau biaya untuk pergi ke tempat-tempat yang jauh untuk menceritakan kemuliaan Tuhan. Tapi kita bisa melakukannya dari tempat kita berada, dari rumah kita, dari ruang kerja kita, bahkan dari kamar tidur kita, melalui media sosial. Cukup hanya dengan menggunakan smart phone atau tablet, kita bisa menyampaikan kesaksian kita tentang kebaikan Tuhan kepada banyak orang dimanapun mereka berada. Yang penting anda tahu cara kerja media sosial dan anda mempunyai pengalaman tentang kebaikan Tuhan untuk diceritakan kepada orang lain. Tidak perlu takut berdiri di hadapan orang banyak. Tidak perlu keluar banyak biaya. Media sosial dan internet merupakan kesempatan yang sangat terbuka lebar untuk kita pakai untuk memuliakan Tuhan. Pakailah kesempatan ini dengan sebaik-baiknya. Tuhan memberkati. Pdt. Goenawan Susanto
Anda para pecinta komik dan film buatan Marvel? Pasti Anda tahu sosok Thor, sang dewa Petir. Thor identik dengan kekuatan petirnya dan senjata palu yang maha dahsyat. Palu milik sang dewa petir, Thor, merupakan senjata yang luar biasa dan paling ditakuti oleh lawan-lawannya. Bahkan oleh para super hero rekan Thor lainnya yang tergabung dalam group Avengers, palu Thor adalah benda yang unik dan istimewa. Hal ini dikarenakan, kecuali sosok super hero The Vision, tidak ada super hero Avengers lain yang dapat mengangkat palu Thor. Thor sangat membanggakan palu yang luar biasa ini, sebab dia yakin tidak ada sosok manapun yang dapat menghancurkan dan mengalahkan palu tersebut. Namun sebuah peristiwa mengejutkan pun terjadi pada saat dalam pertempuran melawan Hela, sang dewa kematian, yang juga merupakan kakak dari Thor. Di dalam pertempuran tersebut, palu Thor yang maha dahsyat tersebut, hancur berkeping-keping. Palu yang ditakuti dan dibanggakan tersebut ternyata dengan mudahnya hancur. Thor pun sangat terkejut sekaligus gemetar melihat kejadian ini. Hal yang paling diandalkan sekaligus dibanggakan hancur dan sekarang tidak ada lagi yang dapat dibanggakan dari kekuatan palu, sang dewa petir. Bangsa Israel melakukan dosa besar di hadapan Tuhan dengan melakukan ritual penyembahan berhala. Mereka mendirikan mezbah-mezbah dan tiang-tiang berhala di samping pohon yang rimbun dan di atas bukit yang tinggi [ayat 1-3]. Tindakan mereka ini suatu pelanggaran yang sangat menjijikkan dan menyakiti hati Tuhan. Mereka merasa diri mampu melakukan semuanya dengan cara mereka. Bangsa Israel berpikir, berhala yang mereka buat dan sembah dapat menyelamatkan mereka. Kekuatan, kepandaian dan kemampuan bangsa Israel dianggap cukup untuk membawa pembebasan bagi bangsa Israel. Apa yang kemudian terjadi? Semuanya sia-sia! Kekuatan dan cara manusia tidak mampu menyelamatkan! Tuhan mengutus nabi Yeremia untuk menyampaikan firman kepada mereka. Dalam firman-Nya, Tuhan mengingatkan terkutuklah orang yang mengandalkan manusia, mengandalkan kekuatan sendiri, dan hatinya menjauh dari Tuhan [ayat 5]. Berhala itu pada kenyataannya tidak mampu menolong mereka. Melalui Yeremia, Tuhan ingin menyadarkan Yehuda agar tidak lagi melakukan penyembahan berhala, melainkan kembali ke jalan Tuhan. Tuhan berjanji akan memberkati jika mereka hidup bersandar kepada Tuhan dan menaruh harapan kepada Dia [ayat 7]. Pada saat kita melakukan sesuatu dengan cara kita, tanpa mengandalkan Tuhan, seolah-olah itu semua dapat menyelesaikan segalanya. Kenyataannya yang terjadi bukan itu, tetapi justru sebaliknya. Kekuatan manusia tidak sanggup menuntaskannya. Kekuatan manusia terbatas adanya. Hal yang kita banggakan dan kagumi dapat hancur dengan begitu mudahnya. Oleh karena itu inilah waktunya untuk kita sadar diri dan kembali kepada Tuhan. Tuhan Sang Pencipta alam semesta dan pengendali kehidupan adalah satu-satunya kekuatan yang mampu membawa kita bebas dan lepas dari segala belenggu dunia ini. Mari kita belajar untuk tidak mengandalkan manusia, tidak mengandalkan kekuatan sendiri, dan tidak menjauh dari Tuhan. Sebab hanya Tuhanlah kekuatan kita. Dia dapat dipercaya, perkataan-Nya benar adanya, dan janji-Nya pasti akan digenapi.
Selama sekitar dua setengah tahun teman yang satu itu benar-benar tak terpisahkan dengan saya. Di mana ada dia, di situ ada saya. Keluarganya menyambut saya dengan baik, begitu juga keluarga saya terhadapnya. Kami berjanji untuk selalu saling terbuka. Sepengetahuan saya, tidak ada rahasia di antara kami. Masa-masa ceria di bangku SD kami lalui tanpa sehari pun tak bertemu, meskipun kami tidak sekelas. Tak disangka-sangka persahabatan itu kandas di kelas VI SD. Sangat tiba-tiba dan begitu mengejutkan. Sulit diungkapkan betapa sepi dan sedih rasanya ditinggal oleh orang terdekat. Padahal sebentar lagi ujian kelulusan sekolah sudah menghadang. Syukurlah di saat-saat yang berat itu ada Tuhan Yesus Kristus, Sahabat setia yang tak pernah meninggalkan saya. Meskipun saat itu saya tengah marah dan kecewa dengan kesusahan yang bertubi-tubi menimpa hidup saya, Sahabat setia saya dengan sabar menemani dan melindungi. Tidak ada kasih yang lebih besar daripada kasih seorang yang memberikan nyawanya buat sahabat-sahabatnya [Yoh 15:13]. Tuhan Yesus Kristus adalah sahabat yang sungguh-sungguh setia. Tak pernah Ia meninggalkan kita sendirian. Sejak masa kita mengenalnya sampai nanti kita dipanggil-Nya pulang, Ia senantiasa menemani dan menaruh kasih pada kita. Berbahagialah kita yang menerima anugerah untuk menjadi sahabat-sahabat-Nya.
BARCODE BBM CHANNELS
RENUNGAN HARIAN
Melaksanakan Komitmen Yang Satu : Mewartakan Injil-Nya
28 Oktober '17
Bertindak Hati-Hati Dalam Kereta Kehidupan
25 Oktober '17
Kehidupan Yang Berbuah
05 November '17
Copyright © 2012 All rights reserved. Designed and Developed by GIA Dr. Cipto Semarang