SEPEKAN TERAKHIR
  Sabtu, 30 April 2016   -HARI INI-
  Jumat, 29 April 2016
  Kamis, 28 April 2016
  Rabu, 27 April 2016
  Selasa, 26 April 2016
  Senin, 25 April 2016
  Minggu, 24 April 2016
POKOK RENUNGAN
Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya barangsiapa menuruti firmanKu, ia tidak akan mengalami maut sampai selama-lamanya. (Yohanes 8:51)
DITULIS OLEH
Ibu Ribkah E. Christanti
Kontributor
Renungan Lain oleh Penulis:
Home  »  Renungan  »  Hidup Dalam Anugerah
Hidup Dalam Anugerah
Kamis, 05 September 2013 | Tema: Kebenaran Kerajaan Allah
Hidup Dalam Anugerah
Yohanes 8:30-36
Seorang hamba Tuhan pernah bersaksi tentang bagaimana ia bisa mengenal Kristus. Menurutnya, ketika ia masih dalam kepercayaannya yang lama, ia tidak sempat memiliki tabungan dan selalu hidup dalam ketakutan. Betapa tidak, dalam setahun saja, ia harus mengadakan beberapa macam ritual yang menuntut adanya korban dan sesajen yang telah ditentukan jumlahnya. Menurut kepercayaannya dulu, serangkaian syarat tersebut harus dipenuhi untuk menyenangkan para “penguasa” alam sehingga dirinya terhindar dari marabahaya, selamat, rezekinya tetap lancar, dll. Jika tidak dilakukan, maka akan mendapat celaka. Namun ketika ia diperkenalkan kepada Yesus, dan keselamatan di dalam Dia, ia terheran heran. Bagaimana bisa keselamatan yang “mahal” (menurut kepercayaannya yang lama) itu, bisa diraih dengan cuma-cuma hanya dengan percaya kepada Yesus?

Bersyukur....selengkapnya »
Dalam masa anugrah atau masa perjanjian baru ini setiap orang yang mempercayai Yesus sebagai Tuhan dan Juru selamatnya tidak saja memperoleh anugerah keselamatan kekal dalam Kerajaan Sorga, tetapi selagi hidup di dunia ini juga dipanggil sebagai imam-imam Allah [1 Petrus 2:9]. Imam dalam kamus bahasa Indonesia selain mempunyai arti orang yang memimpin upacara dalam ibadah, juga berarti pemimpin, yaitu memimpin orang lain untuk datang kepada Tuhan. Ada banyak yang merasa cukup dengan ibadah setahun sekali pada waktu natalan atau cukup dengan percaya atau yang penting percaya dan tidak perduli dengan orang lain yang belum percaya. Tidak perduli terhadap suami atau istri; tidak perduli terhadap anak-anaknya. Dengan kata lain, mereka kurang berfungsi seperti apa yang Tuhan kehendaki untuk dilakukan dalam kehidupan keseharian. Sadar atau tidak setiap kita dipanggil sebagai pemimpin. Minimal memimpin diri sendiri atau memimpin keluarga kita. Dalam bacaan di atas, Paulus mengingatkan jemaat di Korintus, juga setiap kita, untuk memimpin keluarga. Sebagai suami atau istri yang mempercayai Tuhan dapat membawa suami atau istri yang belum percaya untuk datang kepada Tuhan dengan melalui iman percayanya dan kehidupannya [1 Petrus 3:1-7]. Sebagai orangtua dapat membawa anak-anak untuk percaya kepada Tuhan Yesus dan untuk beribadah sesuai kerinduan kita. Jemaat yang terkasih, sebagai Imamat yang Rajani dari ketetapan dan keputusan Tuhan, mari kita berfungsi untuk mendoakan suami, istri, orangtua, anak-anak kita. Dan juga membawa mereka untuk datang kepada Tuhan Yesus Kristus sehingga setiap lutut bertelut, setiap lidah mengaku Yesus Kristus itu Tuhan [Efesus 2:11].
Hidup berdampingan dengan para tetangga yang ramah ternyata bukan jaminan bahwa penghuni rumah akan betah tinggal di sana. Selama empat belas tahun menghuni rumah yang lama, meski senang memiliki tetangga-tetangga yang baik, ada satu hal yang sangat mengganggu, yaitu seringnya mati lampu. Kerap kali sewaktu saya tengah menikmati saat yang menyenangkan di rumah ... padamlah si lampu. Tak jarang lebih dari sekali dalam sehari. Sangat disayangkan. Sebagaimana lingkungan yang menyenangkan tidak menjamin kebetahan penghuni rumah, demikian pula sebutan sebagai umat pilihan Allah tidak menjamin seseorang sudah hidup di dalam terang. Acap kali orang menganggap bahwa satu-satunya tanda bahwa kegelapan telah sirna adalah keeratan hubungannya dengan Allah. Namun Rasul Yohanes mengungkapkan bahwa hubungan manusia dengan sesamanya pun menjadi pertanda apakah hidup seseorang dipenuhi oleh terang kasih Kristus atau tidak. “Barangsiapa berkata, bahwa ia berada di dalam terang, tetapi ia membenci saudaranya, ia berada di dalam kegelapan sampai sekarang.” Firman Tuhan yang tercatat dalam 1 Yohanes 2:9 ini dengan lugas menguak fakta bahwa rasa benci itu berjalan berbarengan dengan kegelapan. Sebaliknya apabila seseorang hidup di dalam terang, maka rasa kasihlah yang menandainya [ayat 10]. Terang dan benci tidak mungkin seiring sejalan. Kebencian menandakan bahwa seseorang masih hidup dalam kegelapan. Demikian pekatnya sehingga ia kehilangan arah sebab matanya dibutakan oleh kegelapan itu [ayat 11]. Jadi, terang atau kegelapankah yang menguasai kita? Ke manakah arah langkah kita? Jika kebencian dibiarkan merajalela, maka kegelapan sudah pasti menggiring kita menuju kehancuran. Jika terang bercahaya atas kita, maka kasihlah yang pasti menghuni hati. Dan kasih itu yang akan mengatasi rasa benci. Membuat langkah kita tak tersandung-sandung dalam menjalani kehidupan ini. Kasih itu seiring sejalan dengan terang. Kasihlah yang menandakan bahwa kita ini adalah umat pilihan Allah. Umat tebusan yang teramat dikasihi-Nya.
Pak Djoko, pagi itu, wajahnya berseri-seri sebab telah beberapa waktu lamanya dia sangat memimpikan apa yang akan dialami di tempatnya mendidik calon-calon sarjana. Ia akan dikukuhkan sebagai professor di bidang ilmu teknik sipil. Memang untuk mencapai cita-cita tersebut diperlukan perjuangan dan keuletan dalam menapaki tahapan demi tahapan hingga ia layak menyandang gelar tersebut. Dalam pidato pengkukuhannya, pak Djoko menyebut berulang-ulang peran ayah dan ibunya sebagai pendoa bagi hidupnya, dan juga peran besar istri dan anak-anaknya bagi keberhasilannya. Jadi wajar saja kalau rasa syukur atas pengkukuhan tersebut merupakan anugerah besar yang diterima dari Yesus Kristus. Renungan kita selama beberapa minggu ini banyak berbicara tentang peran kita sebagai seorang imamat yang rajani sebagaimana tertulis di dalam 1 Petrus 2:9 dan Wahyu 5:9-10, di mana salah satu tugas seorang imam adalah menaikkan doa syafaat kepada Allah sesuai dengan permintaan dan pergumulan umat yang dilayaninya. Bacaan kita hari ini membahas tentang pribadi Abraham sebagai bapak orang beriman. Biasanya kita mengenal pribadi Abraham karena peran imannya di hadapan Allah. Namun di antara sekian banyak pengalaman hidupnya yang tertulis dalam Kitab Kejadian, hanya pasal 19 saja yang mencatat lebih khusus tentang pergumulan dan doa pribadinya di hadapan Allah. Abraham berdoa dan bergumul karena harus menyelamatkan keluarga Lot, keponakannya, yang berada dalam bahaya, meskipun Abraham tahu bahwa masalah itu muncul karena Lot memilih daerah Sodom dan Gomora ketika berpisah dengannya. Tetapi bagaimanapun juga keluarga Lot tetapperlu ditolong dan diselamatkan dari murka Allah atas kota Sodom Gomora karena perbuatan jahatnya di hadapan Allah. Abraham tahu satu-satunya cara untuk menyelamatkan mereka adalah memohon [berdoa] kepada Allah. Di sinilah Abraham memfungsikan dirinya sebagai seorang imam; seorang pendoa bagi keselamatan keluarga Lot. Akhirnya, keluarga Lot diselamatkan dari bencana api dan belerang yang menghanguskan kota Sodom Gomora beserta semua penduduknya, kecuali istri Lot yang menjadi tiang garam karena tidak taat dan lebih mencintai harta kekayaannya. Renungan ini paling tidak mengingatkan kita, sudahkah kita berperan sebagai seorang imam dan pendoa bagi keluarga, gereja, negara, masa depan anak-anak kita? Peran kita sebagai imam dan pendoa cukup strategis di hadapan Allah. Dia pasti mendengarkan apa yang kita dan mengabulkan doakan kita sesuai kehendak-Nya [Yohanes 14:12-14].
Secangkir kopi kental panas dihidangkan Mbah Wanidy, seorang Kristen yang taat dan pekerja keras. Ia adalah pendiri dan pengelola kedai kopi seberang gereja. Bau harum segera membumbung, menggoda indera penciuman Benay. Diletakkanlah Koran Bibir Kota yang sedari tadi dibacanya. Sekelebat angin, kemudian bibir cangkir sudah menempel di mulut Benay. “O..e...e..nak tenan. Mantap kopinya, Mbah!”, kata Benay sesaat setelah menyruput kopi. “Syukur, nak Ben”, ungkap Mbah Wanidy senang, “Banyak pelanggan berkata bahwa suasana kedai nan sederhana ini dan kopi racikan Mbah turut menyumbangkan kenikmatan hidup.” “Wah...itu semua karena Mbah sendiri adalah seorang yang menikmati hidup ini”, kata Benay. Mbah Wanidy pun tertawa seolah-olah membenarkan perkataan Benay. Kata-kata Mbah Wanidy dan Benay barusan membuat Sambey yang sedari tadi diam menjadi terperanjat dari lamunannya. Dia teringat akan almarhum Steve Jobs, pendiri dan pemimpin Apple Inc. Steve Jobs adalah simbol kesuksesan. Manusia kreatif yang hobinya kerja ini hidup bergelimang harta. Tetapi ketika ia terbaring sakit dan terancam kematian, ia mulai menyadari bahwa kekayaan, nama besar, dan kedudukan tidak lagi banyak berarti. “Hidup memang tidak mempunyai rumus”, gumam Sambey. “Ada orang baik yang hidupnya tetap susah, tetapi ada orang jahat yang hidupnya serba wah. Ada pekerja keras yang tetap miskin, tetapi ada pemalas yang kaya raya. Ada orang percaya yang hidupnya penuh pergumulan, tetapi ada orang ateis yang hidup nyaman.” Sambey berpikir bahwa menikmati hidup sebagaimana yang diungkapkan Mbah Wanidy menjadi penting dalam kehidupan yang serba tidak menentu ini. “Dengan cara apa orang dapat menikmati hidup?” pikir Sambey. Kembali ia teringat akan Steve Jobs. Dalam kondisi sekarat, Jobs menyadari bahwa mengejar kekayaan tanpa batas bagaikan monster yang mengerikan. Kekayaan hanya memberi ilusi kebahagiaan. Padahal kebahagiaan bersumber dari hati yang dipenuhi cinta kasih. Mata Sambey segera terperangkap pada sosok Mbah Wanidy. Seorang yang hidup sederhana tetapi raut wajah dan sorot matanya memancarkan kedalaman hidup. Ia tidak dapat dibandingkan dengan kesuksesan, nama besar, dan kedudukan yang dicapai Steve Jobs. Tetapi belum tentu Steve Jobs dapat menggapai kenikmatan hidup yang dialami dan dibagikan oleh Mbah Wanidy melalui kedai dan racikan kopinya. “Hatinya tulus dipenuhi cinta kasih bagaikan orang berpakaian putih dan hidupnya dihiasi dengan syukur dan sukacita bagaikan rambutnya selalu diurapi minyak”, gumam Sambey mengutip Pengkhotbah 9:8. Jemaat yang terkasih, marilah kita menjalani hidup ini dengan kesucian, ketulusan yang terpancar dari hati yang penuh cinta kasih dan sukacita. Kiranya hidup yang keras dan sulit ini tidak mendera kita sehingga kita kehilangan sesuatu yang paling berarti, yaitu menikmati hidup dan membagikannya kepada orang lain.
BARCODE BBM CHANNELS
RENUNGAN HARIAN
Dimanakah Kebahagiaanmu?
16 April '16
Memilih Sang Kapten
14 April '16
Kemurnian Imamat Rajani
19 April '16
Copyright © 2012 All rights reserved. Designed and Developed by GIA Dr. Cipto Semarang