SEPEKAN TERAKHIR
  Jumat, 19 Desember 2014   -HARI INI-
  Kamis, 18 Desember 2014
  Rabu, 17 Desember 2014
  Selasa, 16 Desember 2014
  Senin, 15 Desember 2014
  Minggu, 14 Desember 2014
  Sabtu, 13 Desember 2014
POKOK RENUNGAN
Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya barangsiapa menuruti firmanKu, ia tidak akan mengalami maut sampai selama-lamanya. (Yohanes 8:51)
DITULIS OLEH
Ibu Ribkah E. Christanti
Kontributor
Renungan Lain oleh Penulis:
Home  »  Renungan  »  Hidup Dalam Anugerah
Hidup Dalam Anugerah
Kamis, 05 September 2013 | Tema: Kebenaran Kerajaan Allah
Hidup Dalam Anugerah
Yohanes 8:30-36
Seorang hamba Tuhan pernah bersaksi tentang bagaimana ia bisa mengenal Kristus. Menurutnya, ketika ia masih dalam kepercayaannya yang lama, ia tidak sempat memiliki tabungan dan selalu hidup dalam ketakutan. Betapa tidak, dalam setahun saja, ia harus mengadakan beberapa macam ritual yang menuntut adanya korban dan sesajen yang telah ditentukan jumlahnya. Menurut kepercayaannya dulu, serangkaian syarat tersebut harus dipenuhi untuk menyenangkan para “penguasa” alam sehingga dirinya terhindar dari marabahaya, selamat, rezekinya tetap lancar, dll. Jika tidak dilakukan, maka akan mendapat celaka. Namun ketika ia diperkenalkan kepada Yesus, dan keselamatan di dalam Dia, ia terheran heran. Bagaimana bisa keselamatan yang “mahal” (menurut kepercayaannya yang lama) itu, bisa diraih dengan cuma-cuma hanya dengan percaya kepada Yesus?

Bersyukur. Itulah hal yang seharusnya kita kerjakan atas anugerah keselamatan yang kita terima. Hidup kita telah berdosa sejak leluhur kita berdosa. Belum lagi dampak yang kita terima sehingga kita cenderung berbuat dosa. Seharusnya kita sendiri yang harus menanggung semua dosa kita dengan nyawa kita (Roma 6:23). Namun atas kasih karunia Tuhan, Bapa mengutus Putra-Nya untuk menggantikan penghukuman atas dosa kita, sehingga kita diampuni dari dosa dan diselamatkan. Ketika kita percaya kepada Yesus dan anugerah keselamatan-Nya, maka kebenaran itu berlaku atas hidup kita. Namun kehidupan percaya yang bagaimana yang akan memberlakukan “kebenaran” itu? Dalam ayat 31-32 disebutkan syarat hidup percaya kita. Yaitu unt...selengkapnya »
Ketika seseorang merasa dirugikan, dilecehkan, dihina, dan sebagainya, yang sering diucapkan adalah: “Yang penting aku sudah mengampuni dan memaafkannya.” Namun ketika suatu saat berjumpa dengan orang yang bersangkutan sikapnya masih acuh tak acuh, sinis, dan kemudian menghindar. Dengan kata-kata “yang penting aku sudah mengampuni dan memaafkan” merasa bahwa dirinya telah “bersih”, selesai masalah. Marilah kita belajar seperti Yusuf. Kita semua tahu bagaimana Yusuf dianiaya dan diperlakukan kasar oleh saudara-saudaranya, bahkan sampai hati menjual Yusuf kepada para Kafilah orang Ismael (Kejadian 37:20-30). Karena perbuatan saudara-saudaranyalah, Yusuf menjadi menderita secara lahir dan batin. Yusuf kesakitan karena dilemparkan ke dalam sumur kering, dia sedih karena harus berpisah dengan Yakub, bapanya dan Benyamin, adik kesayangannya. Dan ketika Yusuf ada di Mesir, dia masuk penjara karena difitnah. Semua itu terjadi karena ulah para saudaranya yang sangat membencinya. Singkat cerita, karena Yusuf senantiasa dipelihara Tuhan, maka sampailah dia kepada masa kejayaannya. Yusuf diangkat menjadi orang kedua di Mesir sebagai tangan kanan Firaun, penguasa Mesir. “Merah-hijaunya” Mesir ada di tangan Yusuf, karena memang semua sudah diserahkan kekuasaan itu kepada Yusuf. Karena Yusuf-lah kekuasaan Mesir semakin luas, masa kelaparan yang berkepanjangan menjadikan Mesir semakin dihormati bangsa-bangsa lain, dan kekuasaanya semakin berjaya. Tetapi seperti apakah kejadiannya ketika Yusuf berjumpa dengan sudara-saudaranya dalam kondisi kelaparan? Awalnya Yusuf bersandiwara supaya tidak dikenali bahwa dirinya Yusuf. Tetapi ketika Yusuf tidak kuat lagi menahan rindu dengan saudara-saudaranya, khususnya Yakub, bapanya, Yusuf akhirnya memperkenalkan dirinya dan dia melihat wajah ketakutan saudara-saudaranya. Kata-kata apa yang pertama kali keluar dari mulut Yusuf? Inilah kata-kata Yusuf: “Akulah Yusuf! Masih hidupkah bapa? ... Marilah dekat-dekat...” Kemudian Yusuf menciumi saudaranya satu-satu dengan mesra (ayat 3-4, 15). Saudara, mengampuni adalah keputusan hati, tidak cukup dengan kata-kata (“aku mengampuni”) kemudian menghindar, tetapi juga dengan tindakan nyata bahwa kita mengampuni. Misalnya bersedia: menjumpai, berjabat tangan, merangkul, bersujud, kadang juga dengan tangisan, makan bersama, berkunjung ke rumahnya, dan sebagainya. Mengampuni adalah rekonsiliasi, suatu implementasi kasih.
Kejadian 50:15-21 Memang kamu telah mereka-rekakan yang jahat terhadap aku, tetapi Allah telah mereka-rekakannya untuk kebaikan, dengan maksud melakukan seperti yang terjadi sekarang ini, yakni memelihara hidup suatu bangsa yang besar. (ayat 20) Dari kisah kehidupan Yusuf kita bisa mendapatkan inspirasi yang bermanfaat, khususnya dalam hal mengampuni. Apa yang membuat dia sanggup mengampuni saudara-saudaranya yang pernah memperlakukan dirinya dengan tidak baik? Yusuf tidak menyimpan dendam Saudara-saudaranya mengira bahwa Yusuf pasti menyimpan dendam terhadap mereka, karena mereka pernah melakukan kejahatan kepada Yusuf (ayat 15). Mereka pernah memasukkan Yusuf ke dalam sumur dan menjualnya sebagai budak. Tapi ternyata dugaan mereka itu keliru. Ternyata Yusuf tidak punya dendam sedikit pun kepada mereka, apalagi membalas kejahatan yang pernah mereka lakukan. Yusuf malah menerima mereka dengan sukacita karena bisa bertemu kembali dengan saudara-saudaranya dan berjanji akan memelihara hidup mereka dan keluarga mereka. Yusuf punya karakter rendah hati Kakak-kakak Yusuf begitu takut sehingga mereka berkata: ”Kami ini budak-budakmu.” Mereka memohon belas kasihan dari Yusuf agar diampuni kesalahannya sekalipun harus menjadi budak. Tetapi Yusuf berkata: ”Jangan takut, sebab aku inikah pengganti Allah?” (ayat 19) Yusuf tahu bahwa dia bukan Allah, dia adalah manusia biasa. Dia mengakui bahwa dia tidak lebih dari kakak-kakaknya. Kalau kakak-kakaknya bisa berbuat salah, dia pun bisa juga berbuat salah. Maka dia tidak mau menghakimi dan menghukum kakak-kakaknya. Yusuf menaruh kepercayaannya kepada Tuhan Perkataan Yusuf di ayat 20 (lihat teks di atas) sungguh merupakan perkataan yang luar biasa. Ini adalah perkataan iman. Dia yakin sepenuhnya kepada Allah yang mengendalikan hidupnya. Dia percaya bahwa Allah sanggup mengubah segala kejadian yang buruk dalam hidupnya menjadi baik. Rancangan Allah yang indah dalam hidupnya tidak mungkin digagalkan oleh tindakan saudara-saudaranya yang mencelakai dia. Bahkan dari apa yang paling buruk sekalipun Allah dapat menciptakan sesuatu yang indah, yang tak terpikirkan sebelumnya. Dan dari semua itu Allah sedang mengerjakan suatu rancangan besar yaitu keselamatan bagi banyak orang. Renungkan dan dapatkanlah pelajaran yang indah dari kehidupan Yusuf. Amin.
Berapa kali kita harus melepas pengampunan? Tuhan Yesus menjawab pertanyaan itu, tujuh puluh kali tujuh kali. Allah adalah Allah yang mengampuni (Mikha 7:18), Allah yang pengasih dan penyayang yang panjang sabar dan berlimpah kasih setia (Yunus 4:2). Jadi sudah sepatutnya kita yang menerima pengampunan, yang menyebut Dia Bapa, melakukan sikap penuh pengampunan terhadap orang lain. Bagaimana jika kita tidak melakukannya? Tuhan Yesus menjawab pertanyaan itu dalam perumpamaan seorang hamba yang tidak mau mengampuni (Matius 18:21-35): “maka marahlah tuannya itu dan menyerahkan dia kepada algojo-algojo sampai ia melunaskan seluruh hutangnya...” Kata Yesus, dengan cara seperti itulah Bapa di Sorga akan memperlakukan siapa saja apabila tidak mengampuni. Membatalkan pengampunan yang sudah diberikan? Tentunya Allah tidak akan melakukan hal semacam itu bukan? Bukankah Dia Allah maha pengampun? Namun Tuhan Yesus berkata bahwa Allah akan melakukannya, sebuah perkataan yang sungguh keras! Tuhan Yesus mengisahkan sebuah perumpamaan lain mengenai dua orang yang berhutang untuk menjelaskan aspek lain dari pengampunan (Lukas 7:36-50). Ini terjadi di rumah Simon, seorang farisi yang tidak menyambut tamunya secara hormat seperti tradisi yang ada waktu itu. Tiba-tiba datang seorang wanita berdosa menerobos masuk mencurahkan rasa syukur dan kasihnya dengan membasuh kaki Tuhan Yesus dengan air matanya, menyeka dengan rambutnya, mencium kaki Tuhan Yesus dan meminyakinya dengan minyak wangi. Dalam perumpamaan ini Tuhan Yesus mengajarkan bahwa orang yang diampuni sejumlah besar hutangnya akan memberikan tanggapan dengan kasih yang besar. Sebaliknya, tidak ada tanggapan yang besar yang bisa diberikan seseorang yang merasa hanya sedikit diampuni. Di mana ada tanggapan dengan kasih yang tulus, di sana ada roh pengampunan. Di mana ada roh pengampunan, di sana ada penghargaan yang lebih besar atas kemurahan pengampunan Allah dan akibatnya adalah kasih yang lebih besar lagi. Kasih dan pengampunan mengakibatkan reaksi berantai: makin banyak pengampunan, makin banyak kasih, makin banyak kasih makin banyak pengampunan. Mari kita praktikkan pengampunan yang Tuhan Yesus ajarkan dan teladankan kepada kita.
Suatu hari seorang hamba Tuhan menceritakan penyesalannya dalam sebuah kesaksian. Ia menyampaikan bahwa ia sangat menyesal karena janjinya untuk mengunjungi jemaatnya yang sakit tidak dapat ia penuhi, pasalnya jemaat yang seharusnya dikunjungi itu sudah pulang ke rumah Bapa di sorga sebelum ia mengunjunginya. Penyesalan itu sangat dalam dirasakannya karena beberapa hari sebelum jemaatnya meninggal, hamba Tuhan tersebut sudah berjanji akan mengunjunginya di rumah sakit. Namun akibat kesibukan pelayanan dan berbagai aktifitas yang dikerjakannya, jemaat yang sakit ini telah meninggal sebelum ia dapat mengunjunginya. “Penyesalan pasti akan muncul di kemudian hari”. Pepatah inilah yang dialami oleh hamba Tuhan tersebut, dan mungkin juga kerapkali kita alami dalam kehidupan kita sehari-hari. Ingin hati menyatakan kasih, namun kadang waktu dan kesempatan membatasi sehingga kita tidak dapat melaksanakan kasih itu dalam pelayanan kita, sehingga penyesalan demi penyesalan mengakumulasi yang kemudian berakibat pada perasaan bersalah yang sangat dalam. Semua hal yang akan terjadi dalam hidup kita tidak akan diketahui oleh siapa pun (Matius 25:13), demikian dengan kedatangan Tuhan pada kali yang ke-2. Oleh karena itu Alkitab mengajar kita untuk selalu berjaga-jaga, sehingga kita tidak akan menyesal jika sesuatu yang tidak diinginkan terjadi. Sebagai seorang pelayan Tuhan (rohaniawan, penatua, diaken, pengerja, dan lain-lain), saat ini kita dipercayakan untuk mengembalakan domba-domba Tuhan. Sebagai seorang orang tua (kakek, nenek, bapak, ibu), kita memiliki anak-anak, cucu-cucu, keponakan, yang Tuhan percayakan untuk digembalakan. Sebagai seorang anak, kita memiliki orangtua, kakek, nenek, dan yang lain yang Tuhan percayakan menjadi orang-orang yang kita kasihi. Orang-orang yang ada di sekeliling kita merupakan ladang pelayanan kita di mana kita memiliki tugas yang sama, yaitu untuk “saling mengasihi dan memperhatikan”. Oleh karena itu jika saat ini kita merasa bahwa hubungan kita dengan orang-orang yang pernah dan sangat mengasihi kita sedang renggang atau jauh, mari kita meningkatkan hubungan melalui perhatian yang penuh kasih. Selagi masih ada kesempatan, lakukan, supaya tidak ada penyesalan di kemudian hari.
BARCODE BBM CHANNELS
RENUNGAN HARIAN
Pengampunan Itu Menyembuhkan
26 November '14
Bukan Sekedar Mengatakan
20 November '14
Belum Terlambat
02 Desember '14
Copyright © 2012 All rights reserved. Designed and Developed by GIA Dr. Cipto Semarang