SEPEKAN TERAKHIR
  Jumat, 24 Oktober 2014   -HARI INI-
  Kamis, 23 Oktober 2014
  Rabu, 22 Oktober 2014
  Selasa, 21 Oktober 2014
  Senin, 20 Oktober 2014
  Minggu, 19 Oktober 2014
  Sabtu, 18 Oktober 2014
POKOK RENUNGAN
Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya barangsiapa menuruti firmanKu, ia tidak akan mengalami maut sampai selama-lamanya. (Yohanes 8:51)
DITULIS OLEH
Ibu Ribkah E. Christanti
Kontributor
Renungan Lain oleh Penulis:
Home  »  Renungan  »  Hidup Dalam Anugerah
Hidup Dalam Anugerah
Kamis, 05 September 2013 | Tema: Kebenaran Kerajaan Allah
Hidup Dalam Anugerah
Yohanes 8:30-36
Seorang hamba Tuhan pernah bersaksi tentang bagaimana ia bisa mengenal Kristus. Menurutnya, ketika ia masih dalam kepercayaannya yang lama, ia tidak sempat memiliki tabungan dan selalu hidup dalam ketakutan. Betapa tidak, dalam setahun saja, ia harus mengadakan beberapa macam ritual yang menuntut adanya korban dan sesajen yang telah ditentukan jumlahnya. Menurut kepercayaannya dulu, serangkaian syarat tersebut harus dipenuhi untuk menyenangkan para “penguasa” alam sehingga dirinya terhindar dari marabahaya, selamat, rezekinya tetap lancar, dll. Jika tidak dilakukan, maka akan mendapat celaka. Namun ketika ia diperkenalkan kepada Yesus, dan keselamatan di dalam Dia, ia terheran heran. Bagaimana bisa keselamatan yang “mahal” (menurut kepercayaannya yang lama) itu, bisa diraih dengan cuma-cuma hanya dengan percaya kepada Yesus?

Bersyukur. Itulah hal yang seharusnya kita kerjakan atas anugerah keselamatan yang kita terima. Hidup kita telah berdosa sejak leluhur kita berdosa. Belum lagi dampak yang kita terima sehingga kita cenderung berbuat dosa. Seharusnya kita sendiri yang harus menanggung semua dosa kita dengan nyawa kita (Roma 6:23). Namun atas kasih karunia Tuhan, Bapa mengutus Putra-Nya untuk menggantikan penghukuman atas dosa kita, sehingga kita diampuni dari dosa dan diselamatkan. Ketika kita percaya kepada Yesus dan anugerah keselamatan-Nya, maka kebenaran itu berlaku atas hidup kita. Namun kehidupan percaya yang bagaimana yang akan memberlakukan “kebenaran” itu? Dalam ayat 31-32 disebutkan syarat hidup percaya kita. Yaitu unt...selengkapnya »
Memberi kesempatan kepada sesama pengendara untuk menyeberang di antrian yang panjang. Merelakan tempat duduk di bus untuk sesama penumpang yang lanjut usia. Berbagi keterampilan tanpa imbalan kepada sesama yang sangat membutuhkan. Inilah bentuk-bentuk kemurahan hati yang jarang terpikirkan oleh kita. Sebenarnya masih banyak lagi hal yang lain. Termasuk bermurah hati dalam bentuk memberi pengampunan kepada sesama yang menyakiti kita. Sebagian orang sulit melihat hubungan antara bermurah hati dan mengampuni. Tuhan Yesus sendiri dalam perikop yang diberi judul ‘Kasihilah musuhmu’ (Lukas 6:27-36) memaparkan dengan sangat jelas bahwa mengampuni sesama diperhitungkan sebagai kemurahan hati. Inilah sebuah bentuk kemurahan yang pada umumnya lebih sulit untuk kita lakukan. Manusia bukan perangkat elektronik. Kita tak bisa diprogram untuk mengabaikan perasaan yang tak diinginkan. Hanya perasaan bahagia saja yang disetel on, perasaan yang lain off. Tentu tidak begitu. Manusia yang normal bisa merasakan semuanya. Termasuk sedih dan sakit hati. Karena itulah Tuhan mengajarkan pengampunan. Sebab manusia pada dasarnya ingin dimaklumi dan dimaafkan, tetapi enggan memaklumi apalagi bermurah hati memberi pengampunan. Hal bermurah hati dengan mengampuni hanya indah didengar di mimbar dan mustahil dilakukan? Tidak. Tuhan tidak pernah mengajarkan hal yang mustahil untuk dilakukan. Memang ada kalanya tiba masa-masa sulit untuk bermurah hati bila disakiti. Apalagi bila rasa sakit yang ditimbulkan begitu dalam dan berulang-ulang. Saya pribadi tidak suka bertopeng di hadapan Tuhan dan manusia demi pencitraan. Saya berkata apa adanya tentang perasaan saya kepada Tuhan dan memohon agar dapat mengatasinya. Bukan berkata-kata kepada manusia agar membela saya dan akhirnya memicu perpecahan. Datang dengan jujur di hadapan Tuhan selalu menghasilkan pemulihan. Dan kemurahan hati akan mengalir kembali dalam bentuk pemberian pengampunan. Kalau kita adalah anak-anak-Nya, dengan siapa kita akan serupa jika tidak dengan Bapa kita?
“Menurutku, Tuhan itu menciptakan manusia dengan derajatnya masing-masing”, kata Benay. “Maksudmu, derajat seseorang itu sudah ditakdirkan?” tanya Sambey penasaran. Meskipun sempat tidak percaya takdir, tetapi dalam hal ini Benay mengakui bahwa derajat setiap orang sudah ditentukan dari sononya. “Makanya merubah nasib itu tidak mungkin. Kalau sudah ditakdirkan jadi satpam, mulai zaman black coffee sampai zaman white coffee, ya tetap satpam”, kata Benay menyimpulkan. Sambey geleng-geleng kepala pertanda ia tidak setuju. Sambey menjelaskan bahwa menurutnya status sebagai buruh, pegawai negeri, satpam, pendeta, pengusaha dan lain-lain adalah pekerjaan semata. Memang secara sosial itu berarti gengsi tertentu, tetapi di mata Tuhan itu tidak lebih dari sekedar status pekerjaan. Di mata Tuhan setiap orang mempunyai derajat yang sama dan mempunyai hak istimewa yang sama. Dan jangan lupa, setiap orang bisa merubah “nasib”nya dan merubah kondisi masyarakat melalui doa dan perjuangan yang tak kenal lelah. Jemaat yang terkasih. Tuhan mengecam keras orang-orang Farisi dan ahli-ahli Taurat karena kemunafikan mereka. Mereka menggunakan status terhormat mereka seolah-olah mereka adalah orang yang punya privilege (hak istimewa) di hadapan Tuhan dibandingkan rakyat jelata. Padahal status terhormat itu adalah topeng yang menutupi kebobrokan hati & pikiran mereka. Mereka jarkoni (iso ngajar tapi ora iso nglakoni), gila hormat, serakah, gemar berkotbah tentang moral tetapi mereka mengabaikan keadilan, belas kasihan, dan kesetiaan. Tuhan mengajarkan agar umat-Nya tidak meneladani orang-orang seperti itu. Di hadapan Tuhan setiap orang punya hak istimewa apapun status pekerjaannya. Tidak ada yang dapat memegahkan statusnya sebagai “guru rohani” karena hanya ada satu Rabi, yaitu Yesus Kristus. Umat Tuhan hanya punya satu Bapa, yaitu Bapa Sorgawi. Tidak ada tempat untuk kesombongan status sebagai pemimpin karena umat Tuhan hanya punya satu pemimpin, yaitu Mesias. Jika umat Tuhan punya figur pemimpin manusiawi, statusnya sebagai pemimpin bukan untuk disombongkan atau dijadikan topeng suci, tetapi untuk melayani. Tuhan mengajarkan bahwa setiap umat-Nya adalah sesama saudara yang sederajat bagi yang lainnya. Jemaat yang terkasih. Apakah kita menyadari bahwa di hadapan Tuhan kita punya hak istimewa yang sama seperti saudara-saudara kita yang lain? Apapun jabatan gerejawi kita (gembala, pendeta, majelis, jemaat) atau apapun status pekerjaan kita, bagi Tuhan kita sederajat sebagai umat yang dikasihi-Nya. Oleh karena itu jangan merasa bahwa doa pendeta pasti lebih manjur. Karena Tuhan mendengar dan menjawab doa tulus setiap orang. Jangan merasa bahwa “sukses materi” dan status pekerjaan bergengsi adalah tanda diperkenan Tuhan karena Tuhan mengasihi dan membela orang-orang miskin dan orang-orang yang tidak terpandang secara sosial.
Bapak Kristeno adalah seorang Kristen. Setiap hari Minggu dia tidak pernah absen beribadah ke gereja. Tidak hanya itu, dia pun sangat aktif terlibat dalam banyak kegiatan di gerejanya. Bapak Kristeno memiliki sikap hidup yang mencerminkan ajaran Yesus, seperti yang tersurat dan tersirat dalam Injil. Karena begitu mengasihi Tuhan, dia juga terpanggil dalam pelayanan kasih (sosial). Dia selalu berbagi dengan orang-orang yang tidak mampu, sehingga di kampungnya, bapak Kristeno sangat dikenal sebagai orang Kristen yang murah hati. Begitu juga dengan bapak Syamsuri. Dia seorang non-Kristen. Tetapi bicara soal sosial, dia juga tidak kalah dengan kebanyakan orang Kristen, dengan bapak Kristeno misalnya. Bapak Syamsuri menyumbangkan banyak uangnya untuk membangun balai RT; membangun jalan; menyantuni tetangganya yang tidak mampu. Kehidupan sosialnya pun sangat luar biasa. Lantas, apa yang membedakan kemurahan hati yang dilakukan seorang Kristen dan seorang non-Kristen? Mungkin kita berpikir dan bergumam dalam hati, “Kalau begitu sama saja antara jadi Kristen dan tidak. Buktinya tanpa menjadi murid Yesus pun, banyak orang bisa berbuat baik.” Tidak... pikiran seperti itu tidak tepat. Ada bedanya. Di dalam Yakobus 2:17 dikatakan, ”Jika iman itu tidak disertai perbuatan, maka iman itu pada hakikatnya adalah mati.” Perbuatan-perbuatan kita sebagai seorang Kristen, termasuk segala kemurahan hati, kita lakukan dengan sadar bahwa iman di dalam Tuhanlah yang mendorong semua perbuatan baik kita. Dengan demikian semua orang yang beriman di dalam nama Yesus Kristus, entah itu dia kaya, “setengah” kaya, ekonomi menengah, bahkan orang-orang Kristen ekonomi lemah pun terpanggil untuk “mengejawantahkan” imannya dalam segala perbuatan baik (kemurahan). Bagi kita, berbuat baik adalah panggilan semua orang yang percaya dalam Yesus, sehingga tidak ada motivasi sedikitpun untuk mencari keuntungan untuk diri sendiri. Memang itu tidak mudah, tetapi jika kita bisa, itu karena pertolongan Roh Kudus.
1 Petrus 2:9 Tetapi kamulah bangsa yang terpilih, imamat yang rajani, bangsa yang kudus, umat kepunyaan Allah sendiri, supaya kamu memberitakan perbuatan-perbuatan yang besar dari Dia, yang telah memanggil kamu keluar dari kegelapan kepada terang-Nya yang ajaib. Wah bahagianya jadi orang yang terpilih: anggota legislatif yang terpilih, presiden dan wakil presiden yang terpilih. Mereka jadi pusat perhatian. Mereka jadi orang penting. Mereka mendapatkan fasilitas yang khusus: rumah dinas, pengawalan khusus, gaji dan tunjangan yang wah. Pokoknya segala sesuatu yang istimewa bisa dinikmati oleh orang yang terpilih. Apakah seperti itu halnya dengan menjadi umat pilihan Tuhan? Dalam arti tertentu, memang benar. Umat pilihan Tuhan memang mendapat perhatian khusus dari Tuhan. Punya hubungan khusus sebagai anak-anak-Nya. Tuhan memberikan janji penyertaan kepada umat pilihan-Nya. Tuhan berjanji memberkati anak-anak-Nya. Mereka akan mewarisi kekayaan yang tersedia di dalam Kerajaan-Nya. Namun bukan berarti umat pilihan Tuhan tidak akan mengalami kesusahan seperti yang dialami orang-orang pada umumnya. Semua masalah yang umum dialami semua orang (menderita sakit, perjuangan mencari nafkah, ancaman kejahatan, dsb) adalah bagian dari kehidupan umat pilihan (Roma 8:22). Tapi yang pasti Tuhan tidak membiarkan umat pilihan-Nya menghadapi semua itu sendirian. Dia selalu memberi perlakuan khusus kepada umat pilihan-Nya (Keluaran 33:16). Namun yang paling penting, menjadi umat pilihan bukan cuma untuk mendapatkan perlakuan khusus. Yang paling penting adalah menjalankan fungsinya. Memang banyak anggota legislatif yang sudah terpilih cuma ingat pada fasilitas yang didapat tapi lupa pada tugas yang menantinya. Janganlah demikian dengan umat pilihan Tuhan. Jangan lupa pada tugas kita, yaitu untuk memberitakan perbuatan yang besar dari Dia yang telah memilih kita. Dia telah mengubah hidup kita, menyelamatkan kita, memulihkan hidup kita. Kita yang pernah disembuhkan, yang pernah mengalami pertolongan-Nya yang ajaib, ...... semua itu bukan untuk kita simpan sendiri, tapi untuk kita ceritakan pada semua orang, bahwa Dia sungguh besar dan ajaib. Supaya orang lain datang kepada-Nya dan mengalami pertolongan-Nya juga. Ceritakanlah perbuatan-Nya yang ajaib, hai umat pilihan Tuhan.
BARCODE BBM CHANNELS
RENUNGAN HARIAN
Gara - Gara Terang
24 September '14
Gereja = Bangunan
27 September '14
Misteri Dibalik Duka Orang Benar
22 Oktober '14
Copyright © 2012 All rights reserved. Designed and Developed by GIA Dr. Cipto Semarang