SEPEKAN TERAKHIR
  Jumat, 28 November 2014   -HARI INI-
  Kamis, 27 November 2014
  Rabu, 26 November 2014
  Selasa, 25 November 2014
  Senin, 24 November 2014
  Minggu, 23 November 2014
  Sabtu, 22 November 2014
POKOK RENUNGAN
Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya barangsiapa menuruti firmanKu, ia tidak akan mengalami maut sampai selama-lamanya. (Yohanes 8:51)
DITULIS OLEH
Ibu Ribkah E. Christanti
Kontributor
Renungan Lain oleh Penulis:
Home  »  Renungan  »  Hidup Dalam Anugerah
Hidup Dalam Anugerah
Kamis, 05 September 2013 | Tema: Kebenaran Kerajaan Allah
Hidup Dalam Anugerah
Yohanes 8:30-36
Seorang hamba Tuhan pernah bersaksi tentang bagaimana ia bisa mengenal Kristus. Menurutnya, ketika ia masih dalam kepercayaannya yang lama, ia tidak sempat memiliki tabungan dan selalu hidup dalam ketakutan. Betapa tidak, dalam setahun saja, ia harus mengadakan beberapa macam ritual yang menuntut adanya korban dan sesajen yang telah ditentukan jumlahnya. Menurut kepercayaannya dulu, serangkaian syarat tersebut harus dipenuhi untuk menyenangkan para “penguasa” alam sehingga dirinya terhindar dari marabahaya, selamat, rezekinya tetap lancar, dll. Jika tidak dilakukan, maka akan mendapat celaka. Namun ketika ia diperkenalkan kepada Yesus, dan keselamatan di dalam Dia, ia terheran heran. Bagaimana bisa keselamatan yang “mahal” (menurut kepercayaannya yang lama) itu, bisa diraih dengan cuma-cuma hanya dengan percaya kepada Yesus?

Bersyukur. Itulah hal yang seharusnya kita kerjakan atas anugerah keselamatan yang kita terima. Hidup kita telah berdosa sejak leluhur kita berdosa. Belum lagi dampak yang kita terima sehingga kita cenderung berbuat dosa. Seharusnya kita sendiri yang harus menanggung semua dosa kita dengan nyawa kita (Roma 6:23). Namun atas kasih karunia Tuhan, Bapa mengutus Putra-Nya untuk menggantikan penghukuman atas dosa kita, sehingga kita diampuni dari dosa dan diselamatkan. Ketika kita percaya kepada Yesus dan anugerah keselamatan-Nya, maka kebenaran itu berlaku atas hidup kita. Namun kehidupan percaya yang bagaimana yang akan memberlakukan “kebenaran” itu? Dalam ayat 31-32 disebutkan syarat hidup percaya kita. Yaitu unt...selengkapnya »
Hal baik bisa kita pelajari dari organ tubuh kita. Misalnya hubungan antara si gigi dan si lidah. Kedua bagian tubuh tersebut ada dalam satu lokasi, yaitu mulut. Seringkali tanpa sadar si gigi ‘merugikan’ si lidah. Terkadang ketika mulut mengunyah makanan, si lidah tergigit oleh si gigi. Ketika berbicara atau melamun, si lidah tertekan oleh si gigi. Namun reaksi si lidah justru sebaliknya. Sehabis makan, si lidah membersihkan si gigi. Ketika habis bicara, si lidah membasahi si gigi yang kering agar tidak sakit gusinya. Dan banyak lagi yang dikerjakan oleh si lidah untuk menolong si gigi meskipun seringkali dia tersakiti. Seringkali Allah memakai organ tubuh kita untuk memberikan suatu pengajaran bagi kita dalam membangun hubungan dengan sesama manusia. Dalam berhubungan dengan sesama bisa saja timbul yang namanya konflik. Untuk itu sebagai umat Tuhan, kita harus belajar bereaksi dengan benar. Sebab dari cara kita bereaksi tersebut, kita akan terlihat sebagai orang yang dewasa atau masih kanak-kanak. Salah satu tanda seseorang yang dewasa adalah kemampuannya mengendalikan emosi. Dengan kita mengendalikan emosi, maka yang terjadi adalah kedamaian dan rasa aman. Sehingga kita tetap bisa melakukan kebaikan, termasuk kepada orang yang menyakiti. Sebaliknya, jika hati yang merasa tersakiti tidak mampu mengendalikan diri, maka yang datang adalah bencana. Yang terjadi adalah pertengkaran, permusuhan, dan saling membalas. Tidak akan ada kebaikan. Tidak akan didapati nilai-nilai kerajaan Allah di dalamnya. Oleh karena itu kita harus belajar bereaksi benar ketika diperhadapkan dengan konflik yang bisa datang kapan saja. Tugas kita sebagai anak-anak kerajaan adalah menjadikan konflik sebagai pembelajaran untuk hidup yang lebih. Ketika kita diperhadapkan pada konflik, tetaplah lakukan kebaikan!
Selama satu bulan lebih kita disuguhi perseteruan di parlemen (DPR) antara Koalisi Indonesia Hebat (KIH) dan Koalisi Merah Putih (KMP). Perseteruan itu muncul ketika pemilihan ketua dan wakil, baik di DPR maupun MPR yang disapu bersih oleh KMP yang jumlah anggotanya lebih banyak. Merasa aspirasinya tidak didengar dan diperlakukan tidak adil, maka KIH bereaksi keras. Dan puncak dari konflik tersebut, kubu KIH membentuk pimpinan DPR tandingan. Tetapi beberapa hari terakhir, melalui lobi-lobi yang intensif yang dilakukan oleh ketua DPR kepada kedua belah pihak, maka terjadilah kesepakatan-kesepakatan. Dan nampaknya beberapa hari ke depan akan terwujudlah islah kedua belah kubu yang selama ini berseteru. Islah berarti usaha rekonsiliasi atau perdamaian dua kubu yang berseteru atau memiliki pandangan yang berbeda. Allah kita adalah Allah yang aktif mengusahakan perdamaian. 2 Korintus 5:18-19 menunjukkan bahwa yang berinisiatif dan proaktif mengusahakan perdamaian dari perseteruan antara Allah dan manusia karena dosa adalah Allah sendiri. Dan manusia sebagai pihak yang menerima perdamaian itu. Roma 5:11 menyatakan: “Sebab oleh Dia (Yesus Kristus) kita menerima pendamaian itu.” Prinsip tersebut mengajarkan kepada kita untuk selalu aktif mengusahakan perdamaian dengan siapa saja seperti halnya nats bacaan kita hari ini. “Sedapat-dapatnya, kalau hal itu bergantung padamu, hiduplah dalam perdamaian dengan semua orang!” Memang perdamaian hanya akan terjadi jika kedua belah pihak yang berseteru bersedia didamaikan. Tidak mungkin perdamaian hanya dilakukan oleh satu pihak, sedangkan pihak yang lain menolak. Tetapi kita diajarkan berusaha aktif untuk berdamai dengan siapa saja. Tidak patah semangat untuk mengusahakannya. Tidak peduli seberapa besar penolakan yang terjadi, yang penting dari pihak kita tetap membuka diri untuk berdamai. Oleh sebab itu ketika kita melakukan kesalahan atau merugikan orang lain hendaknya bersedia meminta maaf atau meminta ampun. Dan jika orang lain melakukan kesalahan atau merugikan kita, hendaklah kita bersedia memberi maaf atau memberi ampunan.
Pernahkah kita sakit hati? Saat seseorang tersakiti hatinya sedemikian rupa, terucaplah kata-kata yang merupakan luapan emosi tak terkendali. Misalnya, “Sampai mati aku tidak sudi melihat mukanya lagi.” Bbahkan ada yang menjadi dendam dan terlontarlah perkataan: “Lihat saja nanti pembalasanku!” Dari Kamus Besar Bahasa Indonesia kita tahu bahwa dendam artinya mempunyai keinginan keras untuk membalas. Bagi orang percaya jelas hal tersebut tidak boleh dilakukan karena tidak sesuai dengan apa yang dikatakan oleh Firman Tuhan dalam Efesus 4:26 yang mengatakan, “Apabila kamu menjadi marah, janganlah kamu berbuat dosa: janganlah matahari terbenam, sebelum padam amarahmu.” Tokoh Alkitab yang kita renungkan hari ini adalah Yusuf . Kisahnya sangat tidak asing bagi kita. Yusuf mempunyai mimpi yang dari Tuhan datangnya, tetapi Yusuf harus membayar harga untuk mimpinya itu. Yusuf dibenci, dimasukkan ke dalam sumur, dan dijual oleh saudara-saudaranya. Tiga belas tahun Yusuf hidup dalam penderitaan sampai akhirnya mimpi itu menjadi kenyataan! Saat saudara-saudaranya mengetahui bahwa Yusuf, sang penguasa itu adalah adik yang mereka jual, maka sangat ketakutanlah mereka. Mereka takut kalau Yusuf akan membalas apa yang mereka perbuat dahulu. Sungguh luar biasa! Jawaban Yusuf sangat menyejukkan hati. Tiada dendam dalam hatinya! “Tetapi sekarang, janganlah bersusah hati dan janganlah menyesali diri karena kamu menjual aku ke sini, sebab untuk memelihara kehidupanlah Allah menyuruh aku mendahului kamu“ (Kejadian 45:5). Bagaimana dengan kita? Adakah dendam dalam hati kita? Lepaskan pengampunan! Amin.
Seorang teman yang sangat suka membuat berbagai macam makanan bergabung dengan sebuah group pencinta kuliner. Dari situ ia berhasil mengumpulkan banyak resep dan mempraktikkannya satu demi satu. Ketika seorang tetangga mengetahui bahwa teman ini berhasil membuat banyak macam makanan, tetangga itu meminta agar ia diberitahu resep-resep yang didapat dari group kuliner itu. Mendengar permintaan itu, galaulah hati teman ini. Kasih tahu nggak ya??? Kalau diberitahu, kok enak sekali ya? Tidak usah susah-susah mencari, tinggal minta. Kalau tidak diberitahu, rasanya kok sungkan. Terhadap tetangga kok pelit. Akhirnya kegalauannya tercium juga oleh sang suami. Jadilah ia menceritakan persoalan itu kepada suaminya. Sang suami bertanya, “Mama dapat resep itu dari hasil membeli atau gratis?” “Gratis, Pa.” “Susah payah browsing di google atau tanya teman di group kuliner itu?” “Tanya teman, Pa.” “Lha ya sudah, kok bingung-bingung. Dapat resepnya kan gratis, Mama juga dapat dari teman. Sekarang tetangga kita minta, ya beri saja. Wong ya Mama ndak berjualan pakai resep itu. Atau suruh saja tetangga kita bergabung di group kuliner itu supaya bisa mengumpulkan resep-resep seperti Mama.” Lupa. Seperti wanita tadi yang lupa bahwa ia mendapatkan resepnya dengan gratis, sering kali kita lupa bahwa kita sangat banyak mendapat kemurahan dari Tuhan, kebaikan dari Tuhan, pengampunan dari Tuhan. Sehingga ketika tiba giliran orang lain membutuhkan kemurahan dari kita, kebaikan dari kita, pemberian maaf dari kita ... kita begitu penuh perhitungan seolah-olah kita tak pernah mendapat semua itu dari Tuhan. Keselamatan yang kita peroleh, perlindungan, kesehatan, kecukupan ... semua itu bukan berasal dari usaha kita sendiri. Betapapun keras kita berusaha, bila Tuhan tidak menganugerahkannya kepada kita, tak akan sampai ke tangan kita. Oleh karena itu janganlah kita angkuh sebab semua yang melekat dalam diri kita berasal dari Tuhan. Dan Tuhan memberi apa yang baik buat kita agar kita melakukan pekerjaan baik yang telah dipersiapkan-Nya untuk kita kerjakan.
BARCODE BBM CHANNELS
RENUNGAN HARIAN
Hati Yang Penuh Pengampunan
21 November '14
Berdoalah Bagi Mereka Yang Menyakitimu
13 November '14
Mari! Kembali Bersama Kami!
19 November '14
Copyright © 2012 All rights reserved. Designed and Developed by GIA Dr. Cipto Semarang