SEPEKAN TERAKHIR
  Selasa, 04 Agustus 2015   -HARI INI-
  Senin, 03 Agustus 2015
  Minggu, 02 Agustus 2015
  Sabtu, 01 Agustus 2015
  Jumat, 31 Juli 2015
  Kamis, 30 Juli 2015
  Rabu, 29 Juli 2015
POKOK RENUNGAN
Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya barangsiapa menuruti firmanKu, ia tidak akan mengalami maut sampai selama-lamanya. (Yohanes 8:51)
DITULIS OLEH
Ibu Ribkah E. Christanti
Kontributor
Renungan Lain oleh Penulis:
Home  »  Renungan  »  Hidup Dalam Anugerah
Hidup Dalam Anugerah
Kamis, 05 September 2013 | Tema: Kebenaran Kerajaan Allah
Hidup Dalam Anugerah
Yohanes 8:30-36
Seorang hamba Tuhan pernah bersaksi tentang bagaimana ia bisa mengenal Kristus. Menurutnya, ketika ia masih dalam kepercayaannya yang lama, ia tidak sempat memiliki tabungan dan selalu hidup dalam ketakutan. Betapa tidak, dalam setahun saja, ia harus mengadakan beberapa macam ritual yang menuntut adanya korban dan sesajen yang telah ditentukan jumlahnya. Menurut kepercayaannya dulu, serangkaian syarat tersebut harus dipenuhi untuk menyenangkan para “penguasa” alam sehingga dirinya terhindar dari marabahaya, selamat, rezekinya tetap lancar, dll. Jika tidak dilakukan, maka akan mendapat celaka. Namun ketika ia diperkenalkan kepada Yesus, dan keselamatan di dalam Dia, ia terheran heran. Bagaimana bisa keselamatan yang “mahal” (menurut kepercayaannya yang lama) itu, bisa diraih dengan cuma-cuma hanya dengan percaya kepada Yesus?

Bersyukur. Itulah hal yang seharusnya kita kerjakan atas anugerah keselamatan yang kita terima. Hidup kita telah berdosa sejak leluhur kita berdosa. Belum lagi dampak yang kita terima sehingga kita cenderung berbuat dosa. Seharusnya kita sendiri yang harus menanggung semua dosa kita dengan nyawa kita (Roma 6:23). Namun atas kasih karunia Tuhan, Bapa mengutus Putra-Nya untuk menggantikan penghukuman atas dosa kita, sehingga kita diampuni dari dosa dan diselamatkan. Ketika kita percaya kepada Yesus dan anugerah keselamatan-Nya, maka kebenaran itu berlaku atas hidup kita. Namun kehidupan percaya yang bagaimana yang akan memberlakukan “kebenaran” itu? Dalam ayat 31-32 disebutkan syarat hidup percaya kita. Yaitu unt...selengkapnya »
Pengkotbah 11:1-6 Lemparkanlah rotimu ke air, maka engkau akan mendapatnya kembali lama setelah itu. [ayat 1] Pada suatu hari seorang pemuda sedang berjalan di tengah hutan, tiba-tiba ia mendengar jeritan minta tolong. Ternyata ada seorang pemuda sebaya dengan dia sedang terjebak dalam lumpur yang semakin menenggelamkannya. Pemuda yang pertama tadi menghampirinya dan dengan sekuat tenaga memberikan pertolongan. Akhirnya dengan susah payah pemuda yang terperosok itu dapat diselamatkan. Pemuda yang pertama memapah pemuda yang terperosok ini pulang ke rumahnya. Ternyata rumah si pemuda kedua sangat bagus, besar, megah, dan mewah...Ayah pemuda ini sangat berterima kasih atas pertolongan yang diberikan kepada anaknya, dan hendak memberikan uang, tetapi pemuda yang pertama itu menolak pemberian tersebut. Ia berkata bahwa sudah selayaknya sesama manusia menolong orang lain yang dalam kesusahan. Sejak kejadian itu mereka menjalin persahabatan. Pemuda pertama adalah seorang yang miskin, sedangkan pemuda kedua adalah anak seorang yang kaya raya. Si pemuda yang miskin ini mempunyai cita-cita untuk menjadi dokter, namun ia tidak mempunyai biaya untuk kuliah. Maka ayah dari pemuda yang kaya itu memberinya beasiswa sampai akhirnya meraih gelar dokter. Tahukah saudara nama pemuda miskin yang jadi dokter ini? Namanya Alexander Fleming, yang kemudian menemukan obat Penisilin. Si pemuda yang kaya masuk dinas militer dan dalam suatu tugas di medan perang, ia terluka parah sehingga menyebabkan demam yang sangat tinggi karena infeksi. Pada waktu itu belum ada obat untuk infeksi serupa itu. Para dokter mendengar tentang penisilin penemuan Dr. Fleming dan mereka menyuntik dengan penisilin yang merupakan obat penemuan baru. Lalu berangsur-angsur demam akibat infeksi itu reda dan si pemuda akhirnya sembuh. Tahukah saudara siapa nama pemuda itu? Dia adalah Winston Churchil, PM Inggris yang terkenal karena kepahlawanannya dalam melawan Nazi Jerman di perang dunia kedua. Kisah di atas menggambarkan tentang siklus menjadi berkat dan diberkati. Keduanya tak terpisahkan. Orang yang menjadi berkat akan menerima berkat. Orang yang menerima berkat harusnya menjadi berkat. Ini merupakan hukum yang berlaku di dalam kehidupan ini. Ketika kita hendak menjadi berkat, mungkin kita merasa yang kita lakukan seolah-olah seperti ’membuang roti ke air’, melakukan pekerjaan yang sia-sia. Tapi sebenarnya yang kita lakukan bukan sesuatu yang sia-sia. Karena kebenaran Firman menyatakan: ’Engkau akan mendapatnya kembali lama sesudah itu.’ Karena itu janganlah ragu untuk menjadi berkat. Karena dengan menjadi berkat sebenarnya kita sedang membuka jalan berkat buat diri kita sendiri. Amin.
Hidup manusia di akhir zaman ini cenderung dikendalikan oleh nafsu memiliki harta benda. Mengapa demikian? Sebab mereka berpikir bahwa kekayaan mampu memberikan jaminan keamanan, kecukupan, ketenangan dan kebahagiaan hidup. Oleh sebab itu derap langkah kehidupan terus dimotivasi oleh apa yang namanya bekerja, bekerja, dan terus bekerja, bahkan tidak mengenal batas waktu kapan harus bekerja, beristirahat, bercengkerama dengan keluarga, bersosial di masyarakat, dll. Bagi kita, anak-anak Tuhan, tentu tidak heran lagi apabila kecenderungan seperti itu dilakukan oleh dunia ini. Sebab Tuhan Yesus pernah memberikan sebuah gambaran mengenai “Orang kaya yang bodoh”. Dia [orang kaya yang bodoh] menerapkan strategi dengan membangun lumbung yang besar untuk dapat menyimpan banyak sekali kekayaannya. Sehingga dia akan bersantai-santai dan bersenang-senang dengan mengandalkan simpanan kekayaan di lumbung yang dibangunnya itu [bnd. ayat 17-19]. Bukankah kehidupan dunia di akhir zaman sekarang ini berkecenderungan seperti itu? Banyak orang bekerja dengan tidak memperhatikan waktu, tidak bisa membagi waktu dengan benar. Yang dikejar adalah harta kekayaan sebanyak-banyaknya dan menumpuknya di bank A, bank B, dst. Pikirnya, banyak harta pasti bahagia dan tenang hidupnya. Saudara yang kekasih, seseorang yang menumpuk uangnya [kekayaannya] di Bank memang tidak salah, tetapi Tuhan Yesus berfirman bahwa harta yang melimpah tidak menjamin ketenangan dan kebahagiaan hidup manusia [ayat 15]. Sebab semua itu akan ditinggalkan ketika seseorang dipanggil Tuhan. Semua menjadi sia-sia. Tuhan Yesus menghendaki supaya orang yang kaya [diberkati] di dunia juga menjadi kaya di hadapan Allah. Artinya, kekayaannya atau berkat yang ada padanya jangan hanya untuk dirinya sendiri [ayat 21], tetapi bagaimana berkat kekayaan itu harus dimanfaatkan dan disalurkan juga kepada orang lain yang membutuhkan. Jadi sekalipun kita menjadi manusia modern yang bergelut dengan bisnis setiap hari, namun Tuhan juga menghendaki agar kita menjadi bisnisman yang berhasil dan diberkati, serta sekaligus memiliki jiwa sosial yang tinggi.
Allah kita adalah kasih. Allah yang penuh dengan belas kasihan, kemurahan dan kebaikan. Dia adalah Allah yang setia dan tidak pernah ingkar janji. Ketika kita taat kepada-Nya, maka janji-janji berkat-Nya pasti Dia genapi. Ketika Tuhan melimpahkan berkat-Nya dalam hidup kita, tentu hidup kita akan menjadi lebih nyaman. Akan tetapi berkat yang melimpah mempunyai konsekuensi yang harus kita waspadai. Banyak godaan yang akan datang. Banyak teman mendekat dengan berbagai macam motif dan mungkin membawa pengaruh buruk atas kita. Kesombongan juga gampang menghampiri kita. Ketamakan menjadi sifat yang harus kita waspadai. Ishak tetap tinggal di Kanaan dan tidak pergi ke Mesir ketika terjadi kelaparan. Dia taat kepada Allah dan menetap di Gerar. Allah memberkati Ishak luar biasa, dia menjadi amat sangat kaya. Hasil panennya sepuluh kali lipat [ayat 12]. Abimelekh, raja orang Filistin, merasa terancam dan menutup sumur milik Ishak dan menmgusirnya. Ishak menyingkir. Namun kemudian sikap Abimelekh berubah karena dia melihat penyertaan Tuhan atas Ishak. Baginya akan lebih menguntungkan jika menjadikan Ishak sebagai teman sekutu daripada sebagai musuh. Abimelekh mengajak Ishak mengikat perjanjian. Hal ini merupakan peneguhan dari penyertaan dan berkat Tuhan atas Ishak. Banyak reaksi orang ketika menyaksikan berkat Tuhan atas hidup kita. Ada yang merasa iri, ada juga yang ingin menarik manfaat dari kita. Reaksi positip atau negatip, baik atau buruk, biarlah kita tetap bersyukur. Semua itu adalah wujud pemeliharaan Tuhan atas hidup kita. Di tengah-tengah semua itu, ingatlah bahwa berkat itu bukan untuk dinikmati sendiri. Tuhan menghendaki hidup kita terberkati dan menjadi berkat bagi sebanyak mungkin orang [Kejadian 12:2].
Sebuah poster besar terpampang di sebuah perempatan jalan di kota Semarang. Poster itu mempromosikan sebuah seminar bertajuk “3 LANGKAH MUDAH MENJADI MILYARDER?”, dengan pembicara seorang motivator ternama. Beberapa saat Sambey memandangi poster itu. Ia tertarik untuk meminta pendapat dari penari-penari tradisional mengenai seminar tersebut. Mereka adalah penari-penari yang menjadikan perempatan jalan sebagai open theatre tatkala para pengendara terhenti oleh warna merah lampu lalu lintas. “Mbak, apakah tertarik jadi milyarder? Piye kalu ikut seminar itu?”, tanya Sambey. “Ya pingin to, Mas! Masak ada orang yang tidak mau kaya? Tapi apa seminar itu untuk orang-orang seperti kita ini?”, jawab seorang penari bernama Lay-Lay. “Lha wong temanya saja tidak masuk akal. Kalau jadi milyarder itu mudah, mestinya tidak ada orang miskin seperti kita-kita yang mesti menjual seni yang katanya adiluhung jadi murahan seperti ini”, kata Hadiy seorang penari laki-laki. “Menurut saya, seminar itu membuktikan bahwa bangsa kita sudah salah didik. Kita lebih dididik untuk jadi orang sukses daripada bersolidaritas atau berbelarasa kepada sesama manusia.” Sambey yang tidak setuju menyanggah, “Lho, bagaimana bisa berbelarasa kalau tidak sukses lebih dahulu?” “Sampeyan salah besar, Mas! Kenyataannya semakin orang bertambah kaya, tidak berarti ia makin bisa mengasihi sesama. Bukankah yang makin pelit banyak?” kata Hadiy. Allah adalah kasih. Itu bukan sekedar sebutan semata. Di dalam Kristus Yesus, Allah yang adalah kasih itu mengungkapkan diri secara sempurna. Ia datang demi manusia ciptaan-Nya. Manusia yang sudah rusak oleh karena dosa. Manusia yang tidak mampu mewujudkan gambar Allah sepenuhnya. Singkat kata, manusia yang telah kabur kemanusiaannya. Salah satu buktinya adalah manusia cenderung mementingkan diri sendiri sehingga kehilangan belarasa-kasih pada sesamanya. Dengan demikian kasih kebanyakan orang sekedar menjadi slogan yang tidak terwujud dalam perbuatan. Dalam kondisi ini, Yesus Kristus menunjukkan belarasanya dengan bersedia mengorbankan nyawanya bagi sahabat-sahabatnya. Salah satu maksud-Nya adalah supaya kemanusiaan sahabat-sahabat-Nya dipulihkan, yaitu dengan hidupnya kembali kemampuan untuk saling mengasihi diantara mereka. Jemaat yang terkasih, kita adalah orang Kristen yang dikenal dengan ciri utama ajarannya adalah kasih. Karena memang Allah yang kita sembah adalah Allah yang mengasihi. Dan Dia telah memberikan kasih-Nya secara sempurna kepada kita di dalam Yesus Kristus. Oleh karena itu, di tengah dunia yang tiada henti-hentinya menghalusinasi setiap orang dengan persaingan tanpa batas demi kesuksesan materi, kita tidak boleh kehilangan perbuatan kasih kita. Marilah kita resapi kasih Allah yang telah kita terima, dan marilah kita mewujudkannya dengan mengasihi saudara-saudara dan sesama kita manusia, terutama mereka yang membutuhkan dengan tindakan nyata dalam setiap kesempatan.
BARCODE BBM CHANNELS
RENUNGAN HARIAN
Membuka Pintu Berkat
18 Juli '15
Memiutangi Tuhan
17 Juli '15
Perkataan Yang Bijaksana
28 Juli '15
Copyright © 2012 All rights reserved. Designed and Developed by GIA Dr. Cipto Semarang