SEPEKAN TERAKHIR
  Jumat, 28 Agustus 2015   -HARI INI-
  Kamis, 27 Agustus 2015
  Rabu, 26 Agustus 2015
  Selasa, 25 Agustus 2015
  Senin, 24 Agustus 2015
  Minggu, 23 Agustus 2015
  Sabtu, 22 Agustus 2015
POKOK RENUNGAN
Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya barangsiapa menuruti firmanKu, ia tidak akan mengalami maut sampai selama-lamanya. (Yohanes 8:51)
DITULIS OLEH
Ibu Ribkah E. Christanti
Kontributor
Renungan Lain oleh Penulis:
Home  »  Renungan  »  Hidup Dalam Anugerah
Hidup Dalam Anugerah
Kamis, 05 September 2013 | Tema: Kebenaran Kerajaan Allah
Hidup Dalam Anugerah
Yohanes 8:30-36
Seorang hamba Tuhan pernah bersaksi tentang bagaimana ia bisa mengenal Kristus. Menurutnya, ketika ia masih dalam kepercayaannya yang lama, ia tidak sempat memiliki tabungan dan selalu hidup dalam ketakutan. Betapa tidak, dalam setahun saja, ia harus mengadakan beberapa macam ritual yang menuntut adanya korban dan sesajen yang telah ditentukan jumlahnya. Menurut kepercayaannya dulu, serangkaian syarat tersebut harus dipenuhi untuk menyenangkan para “penguasa” alam sehingga dirinya terhindar dari marabahaya, selamat, rezekinya tetap lancar, dll. Jika tidak dilakukan, maka akan mendapat celaka. Namun ketika ia diperkenalkan kepada Yesus, dan keselamatan di dalam Dia, ia terheran heran. Bagaimana bisa keselamatan yang “mahal” (menurut kepercayaannya yang lama) itu, bisa diraih dengan cuma-cuma hanya dengan percaya kepada Yesus?

Bersyukur. Itulah hal yang seharusnya kita kerjakan atas anugerah keselamatan yang kita terima. Hidup kita telah berdosa sejak leluhur kita berdosa. Belum lagi dampak yang kita terima sehingga kita cenderung berbuat dosa. Seharusnya kita sendiri yang harus menanggung semua dosa kita dengan nyawa kita (Roma 6:23). Namun atas kasih karunia Tuhan, Bapa mengutus Putra-Nya untuk menggantikan penghukuman atas dosa kita, sehingga kita diampuni dari dosa dan diselamatkan. Ketika kita percaya kepada Yesus dan anugerah keselamatan-Nya, maka kebenaran itu berlaku atas hidup kita. Namun kehidupan percaya yang bagaimana yang akan memberlakukan “kebenaran” itu? Dalam ayat 31-32 disebutkan syarat hidup percaya kita. Yaitu unt...selengkapnya »
Penembakan di jalan tol kembali terjadi. Kali ini pengemudi Toyota Avanza menembak sebuah Honda Jazz di Tol Jagorawi kilometer 19 pada Minggu [2/8/2015]. Setelah dilaporkan dan diadakan pemeriksaan, ternyata diketahui bahwa si penembak adalah seorang oknum prajurit. Ketika diwawancari mengapa dia melakukan penembakan, jawabnya hanya karena emosi mobilnya disalip oleh mobil lain. Tantangan sebagai seorang prajurit tidak hanya di medan peperangan ketika menghadapi musuh atau saat melakukan tugas memberantas kejahatan saja, tetapi juga dalam kehidupan bermasyarakat pun seorang prajurit tetap dihadapkan pada tantangan. Berlaku sebagai pengayom, pelindung masyarakat, bahkan sekali waktu diperlukan sebagai penolong adalah tantangan yang perlu untuk diperhatikan juga. Kegagahan di balik seragam prajurit bisa menjadi tidak menarik lagi ketika kehidupannya di tengah masyarakat tidak bisa dijadikan teladan. Sebagai prajurit Kristus, kita tidak dituntut memiliki penampilan yang sempurna seperti prajurit pada umumnya. Entah fisik kita sempurna atau tidak, kita tetaplah prajurit-Nya. Berlaku adil, mencintai kesetiaan dan hidup dengan rendah hati, itu yang Tuhan inginkan dari para prajurit-Nya. Dan menjadi tantangan bagi kita sebagai prajurit Kristus untuk melaksanakan apa yang menjadi kerinduan Tuhan kita. Dalam kehidupan sehari-hari pasti kita diperhadapkan pada berbagai situasi baik yang menyenangkan, mengecewakan, membuat marah, menyakitkan, menjengkelkan dan bermacam-macam hal yang bisa membuat kita kehilangan kontrol dalam bersikap. Memiliki kerendahan hati seperti seorang hamba adalah ibarat rem yang akan mencegah kita berbuat di luar kehendak Bapa, ketika hal-hal yang tidak kita inginkan itu kita alami. Tidak mudah untuk bersikap rendah hati, tapi Dia siap mengajar kita berlaku rendah hati, seperti dikatakan-Nya dalam Matius 11:29, “Pikullah kuk yang Kupasang dan belajarlah pada-Ku, karena Aku lemah lembut dan rendah hati dan jiwamu akan mendapat ketenangan.” Apa yang dilakukan oleh sang oknum prajurit di atas, bukan hanya tidak menarik simpati dari masyarakat, tapi dia pun pasti menuai hukuman dari atasannya. Demikian juga dengan kita. Ketika kita tidak bisa berlaku adil, tidak mencintai kesetiaan, dan tidak memiliki kerendahan hati, bukan saja tidak menjadi berkat bagi orang di sekitar kita, tetapi pastinya tidak akan mendapat perkenan Bapa. Karena itu mari, sebelum kita kehilangan kontrol dalam bertindak, pastikan kita selalu belajar rendah hati seperti seorang hamba, supaya kita tetap menjadi prajurit yang berkenan di hati-Nya.
Pada sebuah acara pertemuan keluarga, Andi, bocah berusia empat tahun tiba-tiba berteriak, “Bego, kamu.” Kontan saja Dewi, sang mama, yang mendengar ucapan itu jelas kaget dan malu. Walaupun sudah diberi pengertian bahwa kata-kata itu tidak baik, Andi tetap mengulanginya berkali-kali hingga membuat Dewi semakin malu dan berusaha menahan amarah kepada anaknya. Melihat reaksi orang di sekelilingnya yang mendiamkannya, akhirnya Andi berhenti berkata-kata. “Waduh, Andi tahu istilah itu dari mana, ya?” telisik sang mama. Tentunya masalah tersebut tidak hanya dialami oleh ibu Dewi, tetapi juga kita semua, para orangtua. Proses alami meniru ucapan terjadi pada anak usia 1 - 3 tahun. Di masa itulah mereka belajar berbicara, belajar bahasa, dan juga menambah kosa kata. Di usia itu seringkali anak-anak ‘membeo’ tanpa tahu maksud dan artinya, menirukan kata-kata yang didengarnya baik dari orangtua dan keluarga, dari teman-teman bermainnya, dan bahkan dari televisi. Kata-kata yang buruk dan tidak sopan, seperti kasus Andi di atas, harus disikapi dengan bijak karena jika kebiasaan jelek tersebut terbawa hingga besar, maka si anak akan mudah melontarkan kata-kata tidak sopan dan kasar saat sedang emosi. Biasanya reaksi marah [terutama yang berlebihan] ketika anak kita mengucapkan kata-kata kasar dan tidak sopan seringkali merupakan upaya menutupi rasa malu kita sebagai orangtua. Kita takut dipandang sebagai orangtua yang tidak bisa mendidik anak dengan baik. Alangkah baiknya jika kita lebih fokus memberi arahan kepada anak daripada sekedar menutupi rasa malu kita. Seperti nats hari ini menyatakan bahwa orang yang bijak hati disebut berpengertian, dan berbicara manis lebih dapat menyakinkan. Artinya kata-kata yang bijaksana mempunyai kekuatan untuk meyakinkan dan bahkan mengubahkan perilaku seseorang. Apa yang bisa kita lakukan sebagai orangtua jika menghadapi kasus serupa? Kita sebagai orangtua [termasuk kakek dan nenek] bisa memberi contoh kata-kata yang sederhana dan sopan kepada anak setiap hari. Ayah ibu, selaku orangtua, harus benar-benar memperhatikan kosakata yang dipakai dalam percakapan keseharian. Kata-kata kasar dan tidak sopan harus benar-benar dihilangkan termasuk ketika tensi emosi kita meninggi. Kita hendaknya mengapresiasi [memberi pujian] ketika anak berkata-kata dengan sopan dan mengarahkan ketika anak mengucapkan kata-kata yang kasar dan tidak sopan tanpa harus marah secara berlebihan. Juga tidak kalah pentingnya adalah mendampingi anak-anak ketika mereka menonton televisi dan memberikan pengertian tentang apa yang ditontonnya.
Orang Kristen terlibat dalam suatu peperangan rohani melawan kejahatan yang digambarkan sebagai peperangan iman yang berlangsung sampai mereka memasuki hidup kekal. Kemenangan orang percaya telah diperoleh Kristus sendiri melalui kematian-Nya di salib. Yesus telah melancarkan serangan yang berhasil terhadap Iblis, melucuti kuasa dan penguasa kejahatan, membawa tawanan dan menebus orang percaya dari kuasa iblis. Saat ini orang Kristen terlibat dalam peperangan rohani terhadap keinginan berdosa dalam diri mereka sendiri, terhadap kesenangan duniawi yang tidak senonoh dan berbagai pencobaan dan terhadap Iblis dengan pasukannya. Prajurit Kristus yang tangguh harus menang memerangi semua kejahatan bukan dengan kekuatan/kuasa mereka sendiri, tetapi dengan senjata-senjata rohani, kelengkapan perang yang Allah sediakan: IKAT PINGGANG kebenaran, BAJU ZIRAH keadilan, KASUT kerelaan memberitakan Injil, PERISAI IMAN, KETOPONG KESELAMATAN dan PEDANG ROH Firman Allah. Lima perlengkapan untuk bertahan dengan satu- satunya alat untuk menyerang, yaitu PEDANG ROH. Prajurit Kristus tidak cukup hanya mampu bertahan, tetapi harus memenangkan peperangan dengan tindakan menyerang. Pedang roh, Firman Allah adalah satu-satunya alat yang sangat ampuh menyerang dan memenangkan peperangan. Iblis terus berusaha untuk merobohkan dan menghancurkan keyakinan kita akan Firman Allah dan jangan lupa akan satu hal bahwa peperangan kita menuntut kesungguhan kita dalam doa: berdoa dalam roh, setiap waktu, dengan permohonan yang tidak pernah putus-putus bukan hanya untuk diri sendiri, tetapi juga untuk orang lain yang juga berjuang bersama kita.
2 Korintus 4:7-11 Dalam segala hal kami ditindas, namun tidak terjepit; kami habis akal, namun tidak putus asa; kami dianiaya, namun tidak ditinggalkan sendirian, kami dihempaskan, namun tidak binasa. [ayat 8-9] Seorang penulis bernama Irving Stone telah menggunakan sepanjang hidupnya untuk mempelajari kehidupan orang-orang terkenal seperti Michelangelo, Vincent van Gogh, Sigmund Freud dan Charles Darwin. Dia pernah ditanya apakah telah menemukan benang merah dari kehidupan orang-orang yang hebat itu. Dia menjawab: ’Mereka itu adalah orang-orang yang dalam hidupnya mempunyai visi atau impian, sesuatu yang harus diwujudkan.... dan mereka memperjuangkannya. Lalu mereka menghadapi tantangan, dan mereka terhempas jatuh, difitnah dan selama bertahun-tahun tidak mengalami kemajuan apa-apa. Tetapi setiap kali mereka terhempas mereka berdiri kembali. Orang-orang seperti ini tidak bisa dihancurkan. Dan pada akhir kehidupannya mereka mewujudkan apa yang terbaik dari apa yang harus mereka kerjakan.’ Itulah gambaran pejuang yang tangguh. Pejuang yang tangguh tidak kenal menyerah. Dalam hidupnya pasti dia pernah dihempaskan, pernah mengalami kejatuhan, tapi dia tidak menyerah. Setiap kali dia terjatuh, dia akan bangun kembali. Dia yakin bahwa dia pasti akan menang. Dia yakin bahwa dia sedang berjuang untuk sesuatu yang layak diperjuangkan dengan taruhan apapun. Kita ingat bagaimana para pejuang yang memperjuangkan kemerdekaan Indonesia. Mereka berjuang tanpa kenal menyerah. Walaupun musuh yang mereka hadapi begitu sulit untuk dikalahkan karena lebih unggul dalam persenjataan dan strategi perang. Namun karena para pejuang bangsa kita begitu ulet dan tak kenal menyerah, akhirnya kemerdekaan Indonesia dapat terwujud. Demikianlah prajurit Kristus. Prajurit Kristus memang harus mengalami perjuangan yang berat. Prajurit Kristus harus tangguh. Walaupun kadang harus dihempaskan dan terjatuh, namun dia akan bangkit kembali. Karena prajurit Kristus sedang memperjuangkan sesuatu yang layak untuk diperjuangkan dengan taruhan apapun. Kita merindukan agar banyak jiwa yang dimerdekakan dari perbudakan dosa. Harus ada yang memperjuangkannya tanpa kenal menyerah. Amin.
BARCODE BBM CHANNELS
RENUNGAN HARIAN
Jagalah Perkataanmu
30 Juli '15
Imanuel, Allah Beserta Kita!
22 Agustus '15
Bertahan Dalam Penderitaan
10 Agustus '15
Copyright © 2012 All rights reserved. Designed and Developed by GIA Dr. Cipto Semarang