SEPEKAN TERAKHIR
  Sabtu, 27 Mei 2017   -HARI INI-
  Jumat, 26 Mei 2017
  Kamis, 25 Mei 2017
  Rabu, 24 Mei 2017
  Selasa, 23 Mei 2017
  Senin, 22 Mei 2017
  Minggu, 21 Mei 2017
POKOK RENUNGAN
Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya barangsiapa menuruti firmanKu, ia tidak akan mengalami maut sampai selama-lamanya. (Yohanes 8:51)
DITULIS OLEH
Ibu Ribkah E. Christanti
Kontributor
Renungan Lain oleh Penulis:
Home  »  Renungan  »  Hidup Dalam Anugerah
Hidup Dalam Anugerah
Kamis, 05 September 2013 | Tema: Kebenaran Kerajaan Allah
Hidup Dalam Anugerah
Yohanes 8:30-36
Seorang hamba Tuhan pernah bersaksi tentang bagaimana ia bisa mengenal Kristus. Menurutnya, ketika ia masih dalam kepercayaannya yang lama, ia tidak sempat memiliki tabungan dan selalu hidup dalam ketakutan. Betapa tidak, dalam setahun saja, ia harus mengadakan beberapa macam ritual yang menuntut adanya korban dan sesajen yang telah ditentukan jumlahnya. Menurut kepercayaannya dulu, serangkaian syarat tersebut harus dipenuhi untuk menyenangkan para penguasa alam sehingga dirinya terhindar dari marabahaya, selamat, rezekinya tetap lancar, dll. Jika tidak dilakukan, maka akan mendapat celaka. Namun ketika ia diperkenalkan kepada Yesus, dan keselamatan di dalam Dia, ia terheran heran. Bagaimana bisa keselamatan yang mahal (menurut kepercayaannya yang lama) itu, bisa diraih dengan cuma-cuma hanya dengan percaya kepada Yesus?

Bersyukur....selengkapnya »
Kita sering mendengar istilah “kasih”. Memang tema kasih sangatlah populer apalagi di kalangan anak muda yang sedang dimabuk asmara. Sedemikian populernya sehingga ungkapan kasih serasa diobral secara verbal [kata-kata] saja di mana-mana. Kasih juga ramai dibicarakan bahkan dalam perdebatan calon pemimpin yang “memamerkan” program-programnya pun berlomba-lomba menunjukkan visi misinya yang tidak jauh dari kasih. Ironisnya, sedemikian gencarnya membicarakan kasih, perhatian terhadap orang banyak, tetapi kenyataannya banyak yang kecewa karena tidak puas dan mempertanyakan kasih itu. Mengapa demikian? Salah satu penyebabnya adalah karena kasih hanya merupakan tuntutan yang harus dikenakan pada orang lain dan tidak pada diri sendiri. Tuhan Yesus menunjukkan kasih-Nya yang terbesar dalam sejarah dunia ketika Dia digantung di kayu salib. Dia tidak melarikan diri ketika harus menghadapi penderitaan [Matius 26:42], Dia tidak melemparkan penderitaan itu kepada orang lain, Dia menuntut diri-Nya sendiri dan tidak menuntut orang lain. Bagi Yesus, kasih harus segera dipraktikan bukan hanya dibicarakan saja. Kasih itu harus dimulai dari diri sendiri. Ketika Yesus dieksekusi di kayu salib, Dia menghadapi dengan tegar sekalipun harus histeris. Yang terlihat pada diri Yesus ketika tergantung di Kalvari adalah pertama, Yesus rela menderita [wujud kasih] demi manusia berdosa; kedua, Yesus mampu mengalahkan diri-Nya sendiri demi terwujudnya sebuah kasih. Itulah kasih yang termahal. Dia rela mengosongkan diri-Nya mengambil rupa manusia hamba, menderita dan mati di kayu salib bagi kita [Filipi 2:6-8]. Saudara kekasih Tuhan, mungkin memang kita tidak melakukan kasih sesempurna seperti Tuhan Yesus, tetapi melalui peristiwa salib itu Yesus ingin mengajarkan juga sesuatu kepada kita, yaitu sebuah kasih yang berkualitas. Penderitaan Yesus di kayu salib jelas bukan seruan menuntut [memaksa] kita untuk melakukan kasih berkualitas, tetapi salib Kristus adalah mengajar [memberi teladan] kepada murid-murid-Nya bahwa kasih itu seharusnya tulus dan berangkat dari diri sendiri bukan menuntut orang lain atau diri kita dituntut orang lain. Bersediakah kita memiliki kasih berkualitas? Mari kita mengikuti teladan yang diajarkan Tuhan Yesus. Mari kita mulai dari diri sendiri.
Di hari Paskah kita dengar tentang kubur yang kosong,” Ia tidak ada di sini sebab Ia telah bangkit”. [Matius 28:6]. Selama 40 hari Yesus menjumpai murid-muridNya meyakinkan, meneguhkan bahwa Dia benar-benar bangkit, Dia hidup. Sebelum Dia naik ke surga, Dia perintahkan murid-murid-Nya untuk tetap tinggal di Yerusalem. Kenapa? Alasannya adalah ada janji Bapa yang akan diberikan kepada murid-murid-Nya [Kisah Para Rasul 1:4]. Sebanyak 120 murid berkumpul [Kisah Para Rasul 1:15] bertekun, sehati, berdoa bersama-sama. Di hari Pentakosta murid-murid dipenuhi Roh Kudus. Kepenuhan Roh Kudus inilah yang merupakan meterai lahirnya gereja Tuhan. Allah Tritunggal berkenan hadir di perhimpunan murid-murid-Nya. Alkitab mencatat, Yesus berkata “Tidak ada seorangpun yang dapat datang pada-Ku, jikalau ia tidak ditarik oleh Bapa” [Yohanes 6:44]. Dari ayat ini kita melihat karya Bapa dan jiwa-jiwa yang datang kepada Yesus, Sang Anak. Roh Kudus belum hadir [Yohanes 7:39]. Barulah di hari Pentakosta, Roh Kudus hadir. Lengkaplah karya Allah Tritunggal. Jiwa-jiwa datang kepada Yesus oleh karya Bapa dan Roh Kudus memeteraikan perhimpunan orang percaya. Inilah gereja Tuhan. Di hari Pentakosta, murid yang dipenuhi Roh Kudus memberitakan perbuatan besar yang Allah lakukan kepada berbagai suku bangsa. Murid-murid diberi karunia bahasa, mereka mampu menyampaikan berita Tuhan dalam berbagai bahasa antara lain Partia, Media, Elam, Mesir, pendatang dari Roma, Arab dan bahasa-bahasa lainnya. Ini yang disebut Xenolalia, karunia yang dahsyat. Fokus karya Roh Kudus bukan sekedar memampukan murid-murid berbahasa di luar bahasa ibu mereka tapi fokusnya adalah memberitakan Injil Tuhan. Roh Kudus memeteraikan/mensahkan perhimpunan orang percaya sebagai jemaat/mensahkan perhimpunan orang percaya sebagai jemaat/gereja Tuhan dan memakai gereja-Nya sebagai pemberita Injil Tuhan. Mari di saat kita mengenang hari Kenaikan Tuhan Yesus ke sorga dan di saat kita menyambut perayaan Pentakosta, kita bangkitkan, kita hidupkan karunia-karunia Roh Kudus di tengah-tengah gereja Tuhan. Ingatlah karunia-karunia itu diberikan dengan satu tujuan memberitakan Injil Kristus melalui kehidupan kita pribadi lepas pribadi dan juga melalui kehidupan bersama sebagai jemaat/gereja Tuhan.
Pepatah Rusia kuno berkata “milikilah mental baja, bukan mental kaca”. Ambilah palu, hantamkan pada kaca pasti akan pecah. Tapi ketika palu menghantam baja apalagi kalau dipanaskan, baja pasti akan membentuk. Jangan jadi kaca, jadilah baja. Jika kita bermental kaca ketika “palu” masalah menghantam, kita akan mudah putus asa, frustasi, kecewa, marah dan hancur remuk redam. Mental baja adalah mental yang selalu positif bahkan bisa tetap bersyukur di saat masalah dan keadaan sulit benar-benar menghimpit. Alkitab dan sejarah tradisi gereja mencatat para Rasul yang bermental baja. Mereka memperjuangkan iman dan menjadi saksi dari Tuhan Yesus Kristus yang hidup. Mereka setia mati syahid sebagai martir. Yakobus dibunuh raja Herodes dengan pedang, Petrus disalib terbalik membentuk posisi “X” di Roma, Matius mati martir di Etiopia terbunuh karena pedang, Bartolomeus mati martir dicambuk ketika berkotbah di Armenia, Andreas disalib berbentuk “X” di Yunani, Tomas ditikam tombak dalam perjalanan misi mendirikan jemaat di India, Matias dirajam dan dipenggal, Rasul Paulus disiksa dan dipenggal Kaisar Nero. Sampai sekarang barisan ini terus diperpanjang oleh orang-orang yang berani bermental baja memperjuangkan iman dan menjadi saksi Kristus yang hidup. Mungkin kita bertanya, “Bagaimana kita bisa punya mental baja? Bagaimana kita bisa mengubah pribadi yang mudah hancur menjadi pribadi yang kuat dan tegar?” Rasul Paulus salah satu tokoh bermental baja memberi kesaksian bagaimana ia ditindas namun tidak terjepit, habis akal namun tidak putus asa, dianiaya namun merasa tidak ditinggalkan, dihempaskan namun tidak binasa. Rasul Paulus yang sangat lemah bagaikan tanah liat namun tetap kuat memberi kuncinya: 1. Ia selalu mengandalkan dan menikmati kekuatan Allah yang diterima melalui imannya [ayat 13]. 2. Ia memiliki semangat hidup di dalam Kristus, menjadi saksi Kristus dan siap menerima risiko seorang saksi Kristus [ayat 14]. 3. Ia selalu menerima segala keadaan dengan mengucap syukur sehingga hidup yang berat terasa ringan [ayat 15]. Mari kita menjadi orang-orang yang bermental baja oleh karena penyertaan dan kekuatan dari Tuhan kita Yesus Kristus.
Hari-hari ini kesatuan kita sebagai bangsa Indonesia sedang dalam kondisi yang memprihatinkan. Sebagaimana kita lihat, dengar dan rasakan akhir-akhir ini melalui pemberitaan di media massa maupun jejaring media sosial, ujaran-ujaran kebencian semakin marak, kelompok yang satu saling menghujat dengan kelompok lainnya, muncul aksi-aksi pengerahan massa untuk memojokkan pribadi dan kelompok lawannya. Jika gejala ini dibiarkan dan terus menerus berlanjut maka keberadaan kita sebagai sebuah bangsa bisa terancam keberlangsungannya. Beberapa contoh nyata tentang kehancuran sebuah bangsa bisa kita lihat, misalnya bangsa Suriah. Mereka terkoyak-koyak oleh peperangan yang tak kunjung selesai. Penduduk yang tidak terlibat dalam perselisihan politik terancam nyawanya dan lari mengungsi ke negara-negara lain untuk mencari perlindungan. Kita semua tentu tidak menginginkan bangsa dan negara kita bernasib seperti itu. Tanggal 20 Mei kemarin kita memperingati Hari Kebangkitan Nasional. Mengapa kita memperingati hari itu? Tanggal 20 Mei 1908 adalah hari berdirinya Boedi Oetomo sebagai tonggak sejarah bangkitnya rasa dan semangat persatuan, kesatuan, dan nasionalisme, serta kesadaran untuk memperjuangkan kemerdekaan Republik Indonesia. Para pejuang kemerdekaan bangsa kita tanpa mempedulikan perbedaan agama, etnik dan kesukuan serta golongan, mereka memperjuangkan kemerdekaan bagi seluruh rakyat Indonesia. Tetapi akhir-akhir ini perjuangan dan pengorbanan para pahlawan itu hendak dikotori dan dikhianati oleh orang-orang tertentu untuk kepentingan pribadi dan golongannya sendiri. Kita sebagai orang-orang Kristen percaya kepada Tuhan yang adalah Pencipta langit dan bumi, yang juga adalah Tuhan atas bangsa Indonesia. Kita ada di Indonesia ini bukan atas pilihan kita tetapi atas kehendak Tuhan. Karena itu kita meyakini bahwa Tuhanlah yang menempatkan kita untuk lahir sebagai anak dari bangsa Indonesia. Maka kita harus mensyukuri ketetapan Tuhan itu dan ikut mengusahan dan menjaga kesejahteraan bangsa ini. Berdoalah bagi Indonesia. Usahakanlah kesejahteraan bagi bangsa Indonesia. Ikutlah merawat kedamaian dan kerukunan di tengah bangsa Indonesia. Semoga Indonesia tetap utuh dalam bingkai NKRI. Semoga Indonesia menjadi semakin adil dan makmur. Kiranya Tuhan Yesus terus dan semakin dimuliakan di Indonesia. Amin.
BARCODE BBM CHANNELS
RENUNGAN HARIAN
Tak Surut Oleh Ketakutan
28 April '17
Apa Yang Kita Konsumsi ?
26 Mei '17
Kuatkan Dan Teguhkan Hatimu
07 Mei '17
Copyright © 2012 All rights reserved. Designed and Developed by GIA Dr. Cipto Semarang