SEPEKAN TERAKHIR
  Selasa, 28 April 2015   -HARI INI-
  Senin, 27 April 2015
  Minggu, 26 April 2015
  Sabtu, 25 April 2015
  Jumat, 24 April 2015
  Kamis, 23 April 2015
  Rabu, 22 April 2015
POKOK RENUNGAN
Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya barangsiapa menuruti firmanKu, ia tidak akan mengalami maut sampai selama-lamanya. (Yohanes 8:51)
DITULIS OLEH
Ibu Ribkah E. Christanti
Kontributor
Renungan Lain oleh Penulis:
Home  »  Renungan  »  Hidup Dalam Anugerah
Hidup Dalam Anugerah
Kamis, 05 September 2013 | Tema: Kebenaran Kerajaan Allah
Hidup Dalam Anugerah
Yohanes 8:30-36
Seorang hamba Tuhan pernah bersaksi tentang bagaimana ia bisa mengenal Kristus. Menurutnya, ketika ia masih dalam kepercayaannya yang lama, ia tidak sempat memiliki tabungan dan selalu hidup dalam ketakutan. Betapa tidak, dalam setahun saja, ia harus mengadakan beberapa macam ritual yang menuntut adanya korban dan sesajen yang telah ditentukan jumlahnya. Menurut kepercayaannya dulu, serangkaian syarat tersebut harus dipenuhi untuk menyenangkan para “penguasa” alam sehingga dirinya terhindar dari marabahaya, selamat, rezekinya tetap lancar, dll. Jika tidak dilakukan, maka akan mendapat celaka. Namun ketika ia diperkenalkan kepada Yesus, dan keselamatan di dalam Dia, ia terheran heran. Bagaimana bisa keselamatan yang “mahal” (menurut kepercayaannya yang lama) itu, bisa diraih dengan cuma-cuma hanya dengan percaya kepada Yesus?

Bersyukur. Itulah hal yang seharusnya kita kerjakan atas anugerah keselamatan yang kita terima. Hidup kita telah berdosa sejak leluhur kita berdosa. Belum lagi dampak yang kita terima sehingga kita cenderung berbuat dosa. Seharusnya kita sendiri yang harus menanggung semua dosa kita dengan nyawa kita (Roma 6:23). Namun atas kasih karunia Tuhan, Bapa mengutus Putra-Nya untuk menggantikan penghukuman atas dosa kita, sehingga kita diampuni dari dosa dan diselamatkan. Ketika kita percaya kepada Yesus dan anugerah keselamatan-Nya, maka kebenaran itu berlaku atas hidup kita. Namun kehidupan percaya yang bagaimana yang akan memberlakukan “kebenaran” itu? Dalam ayat 31-32 disebutkan syarat hidup percaya kita. Yaitu unt...selengkapnya »
“Zaman sekarang, makin sulit orang untuk berkorban”, kata Sambey risau. Benay yang lagi asyik ngupil, terganggu oleh ungkapan sahabatnya itu. “Ah, masak segitunya? Kan masih banyak orang yang mau nyumbang ke panti asuhan, korban banjir, membagi berkat dengan orang miskin.... Ah, jangan berlebihan kamu Sam”, katanya. Sambey manggut-manggut membenarkan pendapat Benay, tetapi itu tidak mengobati kerisauannya. Sambey menyadari bahwa pribadi seseorang tidak hanya dibentuk oleh ajaran-ajaran yang baik, tetapi juga oleh kondisi zamannya. Bukankah zaman ini adalah zaman persaingan ketat. Orang berlomba-lomba untuk “laku di pasaran” dan meraup sebanyak-banyaknya “keuntungan pasar” itu. Sambey kuatir kondisi ini makin membutakan mata batin orang bahwa di sekitarnya ada sesamanya manusia. Ia mengamati dalam persaingan itu sedikit orang yang berhasil, dan meninggalkan banyak orang yang belum berhasil atau gagal. Ah... ironisnya kemanusiaan seseorang pun diukur berdasarkan “ukuran pasar”. Jika banyak pundi-pundi uang yang dikumpulkannya, disebutlah ia wis dadi uwong [sudah jadi orang]. Bagaimana dengan yang pas-pasan atau berkekurangan? Disebut apakah mereka? Sambey memahami bahwa dalam kondisi ini kebajikan orang belumlah hilang. Tetapi mungkinkah sudah mulai luntur? Jemaat yang terkasih, dalam Alkitab, kita mendapati contoh orang-orang yang tidak luntur kebajikannya oleh terpaan kondisi zaman. Salah satu contoh adalah Jemaat Filipi [bagian dari wilayah Makedonia; 2 Korintus 8:1-7]. Jemaat Filipi merupakan jemaat miskin. Mereka tergolong orang-orang yang kalah dalam “persaingan pasar” di kota Filipi. Tiap hari mereka harus berpeluh sedemikian rupa untuk bertahan hidup dalam kancah persaingan yang berat. Sebenarnya wajar saja jika ungkapan “Lha.. aku dhewe yo butuh” [Lha.. saya sendiri juga butuh] menjadi motto yang mudah didengar dari mulut mereka. Aneh tetapi nyata! Ungkapan semacam itu tidak ada dalam kamus hidup jemaat. Kemiskinan dan persaingan berat yang mereka alami tidak mengurangi kepekaan mereka terhadap kesusahan orang lain. Dalam hal ini kesusahan yang dialami Rasul Paulus [ayat 14]. Beberapa kali mereka tulus berkorban dengan memberikan persembahan untuk Rasul Paulus. Jemaat yang dikasihi Tuhan, apakah situasi persaingan ketat dan tidak pernah habis-habisnya kebutuhan kita akan melunturkan kebajikan kita pada orang lain? Ah... tentu sebagai anak-anak Allah kita tetap mampu berbuat baik kepada orang lain - terutama yang mengalami kesusahan. Sebagaimana yang diteladankan jemaat Filipi, marilah kita melakukan kebajikan tidak sekedarnya saja, tetapi dengan segenap ketulusan dengan memandang orang yang kita tolong sebagai sesama kita manusia. Selamat menebar kebaikan. Tuhan memberkati kita.
Keluaran 33:12-17 Dari manakah gerangan akan diketahui, bahwa aku telah mendapat kasih karunia di hadapan-Mu, yakni aku dengan umat-Mu ini? Bukankah karena Engkau berjalan bersama-sama dengan kami, sehingga kami, aku dengan umat-Mu ini, dibedakan dari segala bangsa yang ada di muka bumi ini?’ [ayat 16] Apakah tanda dari umat yang diperkenan oleh Tuhan? Tanda pertama, mereka disertai oleh Tuhan. Bangsa Israel berjalan di padang gurun. Pada masa itu perjalanan di padang gurun sangat membahayakan. Ada bahaya binatang buas. Bahaya bisa datang dari bangsa-bangsa lain yang siap menghadang mereka. Bangsa Israel membutuhkan penyertaan Tuhan. Musa dan bangsa Israel telah mendapat perkenan dari Tuhan. Sebagai tandanya mereka disertai Tuhan sepanjang perjalanan mereka. Penyertaan Tuhan berwujud dalam bentuk tiang awan pada siang hari dan tiang api pada malam hari yang berjalan di depan barisan mereka. Walaupun mereka menghadapi bahaya, mereka selalu ditolong Tuhan, sehingga mereka selalu selamat dari bahaya yang menghadang. Pada zaman sekarang ini kita juga membutuhkan penyertaan Tuhan. Kita berada di tengah zaman yang serba tak menentu. Situasi politik, keamanan, harga-harga serba sulit dipastikan. Yang kita butuhkan adalah penyertaan Tuhan. Kita disertai Tuhan jika Tuhan berkenan atas kita. Tanda kedua, mereka mendapat perlakuan khusus dari Tuhan Umat Israel sebagai umat yang diperkenan Tuhan dibedakan dari segala bangsa di muka bumi ini. Tuhan mempertaruhkan Nama-Nya ketika memilih bangsa Israel dari segala bangsa di muka bumi ini untuk menjadi umat pilihan-Nya. Masing-masing bangsa mempunyai allahnya sendiri, tetapi Allah orang Israel adalah TUHAN Pencipta dan Penguasa atas alam semesta. Karena itu umat pilihan-Nya harus menjadi umat percontohan bahwa Tuhan yang memilih Israel adalah Tuhan yang hidup dan berkuasa. Hidup orang Kristen adalah percontohan dari karya Tuhan Yesus yang telah menebus mereka dari dosa. Tuhan pasti memberi perhatian yang khusus kepada umat tebusan-Nya, supaya umat-Nya itu memberi kesaksian kepada dunia bahwa Tuhan Penebusnya adalah Tuhan yang hidup, yang telah mengalahkan kuasa dosa dan kuasa maut. Jadilah umat yang diistimewakan oleh Tuhan, dengan cara menjalani hidup yang berkenan di hati Tuhan. Amin.
2 Korintus 5:6-10 Sebab itu juga kami berusaha, baik kami diam di dalam tubuh ini, maupun kami diam di luarnya, supaya kami berkenan kepada-Nya. [ayat 9] Sejenis bebek yang disebut steamer duck bisa terbang. Tetapi yang bisa terbang kebanyakan adalah jenis betinanya, sedangkan jenis jantannya hanya 1/4 saja yang bisa terbang dan bisa terbang hanya sebelum makan. Sisanya terlalu berat untuk bisa terbang. Mereka hanya menggunakan sayapnya sebagai dayung dan mengayuhnya melintasi permukaan air, tanpa bisa naik ke udara. Bagi bebek tersebut, agar bisa terbang mereka harus berusaha keras. Kalau makan terlalu kenyang mereka tidak bisa terbang. Demikian juga agar kita bisa hidup berkenan kepada Allah diperlukan usaha keras. Karena itu Rasul Paulus berkata bahwa dia berusaha supaya berkenan kepada Tuhan. Apa yang harus kita usahakan agar berkenan kepada Allah? Harus tabah. Dalam Alkitab bahasa Inggris dipakai kata: Confident, yakin. Hidup itu penuh dengan perjuangan. Ada berbagai macam tekanan di dalam hidup ini. Tetapi kita harus menghadapi semua tantangan itu dengan tabah, dengan yakin bahwa kita pasti menang atas semua tantangan itu. Hanya dengan keyakinan itu kita bisa berkenan kepada Allah. Berjalan dengan iman, bukan dengan melihat. Tanpa iman tidak mungkin kita bisa berkenan di hadapan Allah. Dengan iman kita dapat melihat kehadiran Allah dan campur tangan Allah di dalam kehidupan ini. Iman itulah yang mengalahkan dunia. Hanya dengan cara itu kita bisa berkenan di hati Allah. Harus siap menghadap pengadilan Allah. Hidup di dunia ini adalah sementara. Kita hidup hanya satu kali dan sesudah itu harus menghadap kepada pengadilan Allah. Apa yang kita lakukan harus kita pertanggung jawabkan di hadapan pengadilan itu. Dengan memandang kepada apa yang di depan itu kita menjalani hidup ini untuk menyenangkan hati Tuhan. Tuhan memberkati.
Kejadian 6:5-9 Tetapi Nuh mendapat kasih karunia di mata TUHAN [ayat 8]. Nuh mendapat kasih karunia di mata Tuhan. Nuh berkenan di hati Tuhan. Tuhan senang melihat kehidupan Nuh. Sementara itu Tuhan merasa sedih karena melihat kehidupan manusia di bumi ini telah menjadi jahat dan rusak. Tetapi ada satu hal yang menghibur hati-Nya karena masih ada seorang yang hidupnya benar, yaitu Nuh. Maka Tuhan berkenan kepada Nuh. Seorang yang mendapat perkenan Allah adalah seorang yang beruntung. Nuh mendapat perkenan Tuhan sehingga dia diselamatkan dari air bah. Bukan hanya dia saja, tetapi seluruh keluarganya diselamatkan dari hukuman itu dan dipakai Tuhan menjadi penyelamat kehidupan. Seorang yang diperkenan oleh Tuhan adalah seorang yang mendapat perlakuan istimewa dari Tuhan. Tuhan memberi perhatian khusus kepada orang itu. Tuhan menunjukkan jalan-Nya kepada orang yang Dia perkenan. Tuhan melewatkan orang itu dari bahaya yang membinasakan. Tuhan mempersiapkan masa depan yang baik bagi orang yang diperkenan-Nya. Itu tidak berarti bahwa orang yang diperkenan Tuhan tidak pernah mengalami kesulitan. Kita melihat di dalam Alkitab bahwa orang-orang yang diperkenan Tuhan seperti Abraham, Musa, Daud, Daniel dan yang lainnya mengalami kesulitan-kesulitan dalam hidup mereka. Tetapi Tuhan selalu memberi pertolongan kepada mereka sehingga mereka menang atas kesulitan-kesulitan itu. Mazmur 37:23-24 berkata: ’TUHAN menetapkan langkah-langkah orang yang hidupnya berkenan kepada-Nya; apabila ia jatuh, tidaklah sampai tergeletak, sebab TUHAN menopang tangannya.’ Orang yang diperkenan Tuhan bisa saja mengalami kejatuhan, tetapi tidak akan dibiarkan Tuhan sampai tergeletak. Tuhan tidak pernah meninggalkan orang yang hidupnya berkenan pada-Nya. Karena itu jalanilah hidup ini dengan mengikuti kehendak-Nya, supaya hidup Anda berkenan kepada-Nya. Amin.
BARCODE BBM CHANNELS
RENUNGAN HARIAN
Selamat Dari Tenggelam
24 April '15
Apa Dampak Kata - Kata Kita?
21 April '15
Untuk Berkenan Kepada Tuhan Perlu Perjuangan Keras
02 April '15
Copyright © 2012 All rights reserved. Designed and Developed by GIA Dr. Cipto Semarang