SEPEKAN TERAKHIR
  Sabtu, 01 November 2014   -HARI INI-
  Jumat, 31 Oktober 2014
  Kamis, 30 Oktober 2014
  Rabu, 29 Oktober 2014
  Selasa, 28 Oktober 2014
  Senin, 27 Oktober 2014
  Minggu, 26 Oktober 2014
POKOK RENUNGAN
Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya barangsiapa menuruti firmanKu, ia tidak akan mengalami maut sampai selama-lamanya. (Yohanes 8:51)
DITULIS OLEH
Ibu Ribkah E. Christanti
Kontributor
Renungan Lain oleh Penulis:
Home  »  Renungan  »  Hidup Dalam Anugerah
Hidup Dalam Anugerah
Kamis, 05 September 2013 | Tema: Kebenaran Kerajaan Allah
Hidup Dalam Anugerah
Yohanes 8:30-36
Seorang hamba Tuhan pernah bersaksi tentang bagaimana ia bisa mengenal Kristus. Menurutnya, ketika ia masih dalam kepercayaannya yang lama, ia tidak sempat memiliki tabungan dan selalu hidup dalam ketakutan. Betapa tidak, dalam setahun saja, ia harus mengadakan beberapa macam ritual yang menuntut adanya korban dan sesajen yang telah ditentukan jumlahnya. Menurut kepercayaannya dulu, serangkaian syarat tersebut harus dipenuhi untuk menyenangkan para “penguasa” alam sehingga dirinya terhindar dari marabahaya, selamat, rezekinya tetap lancar, dll. Jika tidak dilakukan, maka akan mendapat celaka. Namun ketika ia diperkenalkan kepada Yesus, dan keselamatan di dalam Dia, ia terheran heran. Bagaimana bisa keselamatan yang “mahal” (menurut kepercayaannya yang lama) itu, bisa diraih dengan cuma-cuma hanya dengan percaya kepada Yesus?

Bersyukur. Itulah hal yang seharusnya kita kerjakan atas anugerah keselamatan yang kita terima. Hidup kita telah berdosa sejak leluhur kita berdosa. Belum lagi dampak yang kita terima sehingga kita cenderung berbuat dosa. Seharusnya kita sendiri yang harus menanggung semua dosa kita dengan nyawa kita (Roma 6:23). Namun atas kasih karunia Tuhan, Bapa mengutus Putra-Nya untuk menggantikan penghukuman atas dosa kita, sehingga kita diampuni dari dosa dan diselamatkan. Ketika kita percaya kepada Yesus dan anugerah keselamatan-Nya, maka kebenaran itu berlaku atas hidup kita. Namun kehidupan percaya yang bagaimana yang akan memberlakukan “kebenaran” itu? Dalam ayat 31-32 disebutkan syarat hidup percaya kita. Yaitu unt...selengkapnya »
”Kegelapan besar” pada tanggal 9 Nopember 1965 merupakan pengalaman yang tak terlupakan bagi masyarakat yang tinggal di daerah sebelah timur laut Amerika. Gangguan listrik dalam skala besar ini telah mengakibatkan kegelapan di delapan negara bagian di sebelah timur laut Amerika, serta sebagian Ontario dan Quebec di timur Kanada, meliputi 128.000 kilometer persegi dan berdampak pada 30 juta orang. Tanpa penerangan listrik, kebutuhan akan lilin pun meningkat dengan pesat. Seorang penyiar sebuah stasiun radio di New York yang tetap mengudara karena memiliki sumber listrik cadangan melaporkan, ”Sebuah ‘drama’ menarik sedang ditayangkan di jalan-jalan. Harga lilin di banyak toko telah meningkat dua kali lipat. Namun, ada juga beberapa pedagang baik hati yang menjualnya hanya setengah harga, atau bahkan memberikannya secara cuma-cuma.” Pada saat darurat ini, beberapa pemilik toko lebih mengutamakan kepedulian mereka terhadap sesama daripada keinginan untuk memperoleh keuntungan pribadi. Namun, sebagian lainnya memanfaatkan situasi ini lebih untuk keuntungan pribadi daripada rasa peduli akan sesama. Situasi yang sama menghasilkan dua tipe orang yang berbeda, yaitu yang mencari kepentingan diri sendiri dan yang memikirkan kepentingan orang banyak. Bagaimana seharusnya kita menyikapi situasi ini? Apakah kita memiliki rasa belas kasihan kepada orang yang membutuhkan dan menunjukkan kebaikan kepada mereka? Satu-satunya respons yang tepat terdapat dalam Galatia 6:10, ”Selama masih ada kesempatan bagi kita, marilah kita berbuat baik kepada semua orang”. Pepatah Jawa berkata, “Urip iku mung mampir ngombe”. Artinya, hidup itu adalah sementara yang diibaratkan seperti seseorang yang minum air, yang hanya sesaat. Di dalam waktu yang singkat itu, Tuhan menginginkan untuk kita “bertindak maksimal”, selagi kita ada di dunia ini. “Bertindak maksimal” berarti memberikan hidup yang terbaik untuk memuliakan nama Tuhan sekaligus untuk menjadi berkat bagi sesama. Dengan segala harta benda, materi, talenta, semangat, pemikiran, perkataan, dan seluruh tindakan yang kita miliki, berikanlah yang terbaik bagi Tuhan dan sesama. Janganlah kita membiarkan ego menguasai hidup kita, sehingga fokus hidup hanya pada diri sendiri. “Bertindaklah maksimal”, berilah yang terbaik bagi Tuhan dan sesama.
Adalah seorang wanita biasa dan sederhana. Setiap sore hari setelah seharian mengurusi pekerjaan rumahnya, ia selalu menyempatkan diri untuk berkeliling dari kampung satu ke kampung lainnya. Ia hanya seorang penjual tembakau keliling. Setiap sore hanya dengan berjalan kaki, wanita ini sambil menggendong tembakau dan timbangan kecil menawarkan dagangannya kepada para pelanggan dari rumah ke rumah. Kebanyakan orang di setiap kampung mengenalnya dengan sebutan bu mbakau. Wanita ini sangat disegani oleh setiap orang karena keramahan dan kebaikkannya. Dia tidak pernah menolak jika ada pelanggan tembakaunya membawa dulu alias hutang. Kelemahan wanita ini tidak pernah mencatat siapa saja yang berhutang kepadanya. Akibatnya kadang barang habis, tetapi tidak membawa pulang uang. Wanita ini mengatakan kalau memang berkatnya, maka barang yang sudah dihutang pasti akan dibayar. Kebaikan wanita ini membuahkan hasil. Ketika ia sedang berpikir bagaimana cara mencari uang untuk secepatnya membayar kuliah anaknya, tiba-tiba seorang laki-laki paruh baya dari tetangga desa datang ke rumahnya. Ternyata orang ini akan melunasi hutang yang sudah terlupakan oleh wanita ini. Pria tersebut, selama satu setengah tahun, belum membayar tembakau kwalitas nomer satu yang diambilnya dari si ibu. Hari itu wanita itu begitu sukacita, berkat itu datang tepat waktunya ketika semua telah terlupakan, sehingga ia dapat membayar kuliah anaknya. Cerita ini hampir sama dengan peristiwa yang di alami oleh Dorkas. Dia adalah seorang wanita yang sangat terkenal kebaikannya karena suka memberi. Karena sakit, Dorkas meninggal. Kematiannya membuat banyak orang yang telah menerima kebaikannya sangat bersedih. Berita kematian Dorkas itupun sampai kepada Petrus. Dan karena kebaikannya, melalui doa Petrus, diapun dibangkitkan. Hendaklah kebaikkan kita dapat dirasakan oleh setiap orang agar hidup kita memuliakan dan mnyenangkan Allah. Dan berkat Allah selalu bersama kita di manapun kita berada. Orang akan dikatakan berkecukupan bahkan berkelimpahan ketika ia mampu memberi tumpangan kepada orang lain, dan memberi kepada orang yang membutuhkan. Tuhan akan melipatgandakan berkatnya bagi mereka yang mau berbagi dan memberi kepada orang miskin. Kecukupan akan bersama kita, ketika kita mau memberi dengan ketulusan hati. Dan kasih karunia Allah akan melimpah kepada kita ( 2 Korintus 9:7-10).
Taman Eden adalah saksi di mana Allah berfirman “tidak baik” atas ciptaan-Nya. Padahal sejak hari pertama sampai hari ke lima Allah melihat segala yang dijadikan-Nya itu baik, bahkan di hari ke enam Allah melihat segala yang diciptakan-Nya sungguh amat baik. Setelah itu Allah berhenti, memberkati dan mengkuduskan hari ke tujuh. Apa yang tidak baik? Mengapa tidak baik? Belum adanya penolong yang sepadan bagi manusia. Nampaknya sejak semula Allah menghendaki adanya keadaan saling menolong, suka berbagi memberi pertolongan di tengah-tengah manusia. Allah menghadirkan “perempuan” yang ditetapkan-Nya sebagai penolong, yang dari rahimnya akan lahir para penolong yang lain. Ketika perempuan Hawa menyalahgunakan jati dirinya sebagai penolong, membawa Adam jatuh dalam dosa, seakan Allah gagal dalam rencana-Nya. Namun Allah kita adalah Allah yang tidak pernah gagal dalam semua rencana dan kehendak-Nya. Sekali Dia tetapkan perempuan dengan jati diri sebagai penolong, Dia tetap pada ketetapan-Nya. Dia berjanji bahwa dari benih perempuan akan lahir “ Sang Penolong Agung” yang akan mengajarkan dan meneladankan sikap saling menolong, saling memberi sebagai wujud nyata pribadi Allah yang adalah kasih. Itu semua sudah tergenapi dalam diri Yesus Kristus, Tuhan kita. Alkitab menghadirkan cukup banyak tokoh perempuan yang sadar akan jati dirinya. Kita kenal gadis Maria, Ibu Yesus. Dia berani memberikan hidupnya dengan semua harga yang harus dia bayar demi lahirnya Sang Mesias di bumi ini (Lukas 1:26-38). Satu saat Yesus memperhatikan seorang perempuan janda miskin yang berani memberikan dua keping uang yang dia punya (Markus 12:4-44) dan Yesus ajarkan nilai memberi kepada murid-muridNya. Ada kisah seorang perempuan penjahit sederhana, Dorkas namanya. Dia dicatat sebagai perempuan yang banyak sekali berbuat baik dan memberi sedekah (KPR 9:36). Dan masih banyak lagi yang lain. Bagaimana dengan kita, para perempuan? Ketahuilah dan camkanlah jati diri kita “PENOLONG” yang suka memberi dan berbagi pertolongan. Mari kita pelajari nilai memberi yang benar dan kita pelopori gerakan memberi di tengah-tengah keluarga kita, di tengah-tengah komunitas gereja kita, bahkan ditengah-tengah masyarakat di mana kita ada. Apa saja yang kita punya bisa kita berikan dan bagikan.
Bapak Kristeno adalah seorang Kristen. Setiap hari Minggu dia tidak pernah absen beribadah ke gereja. Tidak hanya itu, dia pun sangat aktif terlibat dalam banyak kegiatan di gerejanya. Bapak Kristeno memiliki sikap hidup yang mencerminkan ajaran Yesus, seperti yang tersurat dan tersirat dalam Injil. Karena begitu mengasihi Tuhan, dia juga terpanggil dalam pelayanan kasih (sosial). Dia selalu berbagi dengan orang-orang yang tidak mampu, sehingga di kampungnya, bapak Kristeno sangat dikenal sebagai orang Kristen yang murah hati. Begitu juga dengan bapak Syamsuri. Dia seorang non-Kristen. Tetapi bicara soal sosial, dia juga tidak kalah dengan kebanyakan orang Kristen, dengan bapak Kristeno misalnya. Bapak Syamsuri menyumbangkan banyak uangnya untuk membangun balai RT; membangun jalan; menyantuni tetangganya yang tidak mampu. Kehidupan sosialnya pun sangat luar biasa. Lantas, apa yang membedakan kemurahan hati yang dilakukan seorang Kristen dan seorang non-Kristen? Mungkin kita berpikir dan bergumam dalam hati, “Kalau begitu sama saja antara jadi Kristen dan tidak. Buktinya tanpa menjadi murid Yesus pun, banyak orang bisa berbuat baik.” Tidak... pikiran seperti itu tidak tepat. Ada bedanya. Di dalam Yakobus 2:17 dikatakan, ”Jika iman itu tidak disertai perbuatan, maka iman itu pada hakikatnya adalah mati.” Perbuatan-perbuatan kita sebagai seorang Kristen, termasuk segala kemurahan hati, kita lakukan dengan sadar bahwa iman di dalam Tuhanlah yang mendorong semua perbuatan baik kita. Dengan demikian semua orang yang beriman di dalam nama Yesus Kristus, entah itu dia kaya, “setengah” kaya, ekonomi menengah, bahkan orang-orang Kristen ekonomi lemah pun terpanggil untuk “mengejawantahkan” imannya dalam segala perbuatan baik (kemurahan). Bagi kita, berbuat baik adalah panggilan semua orang yang percaya dalam Yesus, sehingga tidak ada motivasi sedikitpun untuk mencari keuntungan untuk diri sendiri. Memang itu tidak mudah, tetapi jika kita bisa, itu karena pertolongan Roh Kudus.
BARCODE BBM CHANNELS
RENUNGAN HARIAN
Hidup Diwarnai Kebaikan
08 Oktober '14
Kebahagiaan Orang Yang Murah Hati
10 Oktober '14
Saling Mencukupi
09 Oktober '14
Copyright © 2012 All rights reserved. Designed and Developed by GIA Dr. Cipto Semarang