SEPEKAN TERAKHIR
  Selasa, 23 September 2014   -HARI INI-
  Senin, 22 September 2014
  Minggu, 21 September 2014
  Sabtu, 20 September 2014
  Jumat, 19 September 2014
  Kamis, 18 September 2014
  Rabu, 17 September 2014
POKOK RENUNGAN
Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya barangsiapa menuruti firmanKu, ia tidak akan mengalami maut sampai selama-lamanya. (Yohanes 8:51)
DITULIS OLEH
Ibu Ribkah E. Christanti
Kontributor
Renungan Lain oleh Penulis:
Home  »  Renungan  »  Hidup Dalam Anugerah
Hidup Dalam Anugerah
Kamis, 05 September 2013 | Tema: Kebenaran Kerajaan Allah
Hidup Dalam Anugerah
Yohanes 8:30-36
Seorang hamba Tuhan pernah bersaksi tentang bagaimana ia bisa mengenal Kristus. Menurutnya, ketika ia masih dalam kepercayaannya yang lama, ia tidak sempat memiliki tabungan dan selalu hidup dalam ketakutan. Betapa tidak, dalam setahun saja, ia harus mengadakan beberapa macam ritual yang menuntut adanya korban dan sesajen yang telah ditentukan jumlahnya. Menurut kepercayaannya dulu, serangkaian syarat tersebut harus dipenuhi untuk menyenangkan para “penguasa” alam sehingga dirinya terhindar dari marabahaya, selamat, rezekinya tetap lancar, dll. Jika tidak dilakukan, maka akan mendapat celaka. Namun ketika ia diperkenalkan kepada Yesus, dan keselamatan di dalam Dia, ia terheran heran. Bagaimana bisa keselamatan yang “mahal” (menurut kepercayaannya yang lama) itu, bisa diraih dengan cuma-cuma hanya dengan percaya kepada Yesus?

Bersyukur. Itulah hal yang seharusnya kita kerjakan atas anugerah keselamatan yang kita terima. Hidup kita telah berdosa sejak leluhur kita berdosa. Belum lagi dampak yang kita terima sehingga kita cenderung berbuat dosa. Seharusnya kita sendiri yang harus menanggung semua dosa kita dengan nyawa kita (Roma 6:23). Namun atas kasih karunia Tuhan, Bapa mengutus Putra-Nya untuk menggantikan penghukuman atas dosa kita, sehingga kita diampuni dari dosa dan diselamatkan. Ketika kita percaya kepada Yesus dan anugerah keselamatan-Nya, maka kebenaran itu berlaku atas hidup kita. Namun kehidupan percaya yang bagaimana yang akan memberlakukan “kebenaran” itu? Dalam ayat 31-32 disebutkan syarat hidup percaya kita. Yaitu unt...selengkapnya »
Sore itu saya kaget sekali bahkan takut ke pulang rumah karena 2 ekor dari 6 ekor kambing saya mati, dan 1 ekor lagi sedang sekarat. Sedang 3 ekor yang lain masih hidup karena tetap terikat dengan kuat. Begitu juga dengan kambing teman saya. Dari 8 ekor kambing, 3 ekor telah mati. Apa penyebabnya? Kebiasaan kami setelah pulang sekolah adalah menggembalakan kambing-kambing ke pinggir jalan ladang di kampung kami. Hari itu saya teledor. Seperti biasa kambing-kambing sudah saya ikat dan nampak cukup kuat, maka saya tinggal mandi di sebuah sungai yang memang mata airnya jernih. Kesenangan kami membuat lupa akan tugas kami menjaga kambing. Ternyata kambing-kambing kami lepas dan masuk ladang orang, sehingga memakan daun singkong beracun di ladang tersebut. Cerita di atas menggambarkan kita sebagai orang percaya. Kita telah dipilih Allah dan diikat dengan kuat dalam persekutuan gereja-Nya. Kita masing-masing anggota diperlengkapi Tuhan dengan karunia masing-masing untuk hidup menerima berkat-Nya dan untuk membangun gereja-Nya. Kita adalah satu tubuh kristus dengan bermacam-macam fungsi anggota tubuh, semua untuk saling melengkapi (1 Korintus 12:12). anganlah kita menjauhkan diri dari persekutuan kita (Ibrani 10:25). Tetapi hendaknya kita saling menasehati, memperhatikan, membangun satu dengan yang lainnya agar kita tetap aman menjelang hari Tuhan. Perlu kita ingat, ketika kita mulai menjauh dari persekutuan, maka kita akan mudah menjadi lemah dan terjatuh saat mengalami tantangan dan masalah hidup. Kita mudah terjerumus tanpa ada yang menolong. Oleh Roh Kudus dan Firman, kita diikat kuat agar tidak mudah terjerumus dalam pencobaan yang mematikan rohani kita. Dengan tinggal tetap dalam satu tubuh kristus, akan ada saling memperhatikan, mendoakan sehingga mampu bertahan dalam setiap langkah kehidupan kita.
Di sekitar kita terdapat banyak wujud dari suatu komunitas. Ada yang disebut dengan komunitas sepeda ontel, komunitas penggemar reptile, komunitas sepur, komunitas perangko, komunitas barang antik dan lain sebagainya. Biasanya setiap komunitas memiliki satu simbol tertentu atau suatu barang tertentu yang dipergunakan sebagai sarana untuk memberikan nama atau ciri khas dari komunitas itu. Misalnya, komunitas sepur. Selain berkumpulnya di stasiun dan menggambil beberapa adegan menarik dari kereta api yang sedang bergerak, mereka juga memiliki koleksi beberapa kereta api mini yang terpasang di rumahnya. Gereja itu bukan gedungnya atau simbolnya yang paling penting sebagaimana dipahami oleh kebanyakan orang. Gereja adalah komunitas orang-orang percaya yang berasal dari berbagai latar belakang, yang telah lahir baru dan sekarang telah dipersatukan dalam sebuah persekutuan. Jadi yang paling ditekankan adalah komunitasnya atau persekutuannya, bukan gedung gerejanya. Untuk bisa masuk ke dalam komunitas ini seseorang harus beriman kepada Tuhan Yesus Kristus, bertobat dari dosanya dan mengalami kehidupan yang baru. Penambahan jumlah orang dalam komunitas Gereja karena pekerjaan Roh Allah bukan kehebatan dan pekerjaan manusia. Dalam komunitas inilah masing-masing anggota jemaat bertumbuh bersama dan mengembangkan karunia-karunia Roh Kudus. Mereka sering digambarkan sebagai satu tubuh yang memiliki banyak anggota, namun hanya memiliki satu kepala. Tiap-tiap anggota tubuh melekat sesuai dengan bagian tubuh yang mengikatnya. Dan masing-masing anggota harus berfungsi sesuai dengan bagiannya. Di Gereja kita ada banyak bentuk komunitas, misalnya komunitas pemusik dan pemuji, komunitas keluarga muda, komunitas lansia, dsb. Setiap anggota yang tergabung di dalamnya bisa berperan aktif bagi kepentingan bersama dan menumbuh-kembangkan iman percaya mereka sampai menjadi sama seperti Yesus Kristus. Mari, jemaat yang terkasih turut bergabung dalam Komcil. Tanpa bergabung dalam wadah komunitas gereja, maka kita akan kehilangan kesempatan untuk mengalami pertumbuhan rohani yang maksimal.
Menurut KBBI, menyanyi adalah mengeluarkan suara bernada. Secara umum, orang melantunkan nyanyian sebagai salah satu ungkapan rasa sukacita. Bahkan tanpa disadari kadang seseorang otomatis menyanyi atau bersenandung bila hatinya sedang berbunga-bunga. Tidaklah demikian halnya dengan Rasul Paulus dan Silas. Dikisahkan dalam perikop ini, mereka berdua dimasukkan ke dalam penjara karena laporan dari tuan-tuan yang kehilangan penghasilan besar yang mereka peroleh dari hasil tenungan-tenungan hamba perempuan yang roh tenungnya sudah diusir ke luar oleh Rasul Paulus. Rasul Paulus dan Silas ditangkap, dianiaya, dan dilempar ke dalam penjara yang paling tengah dengan kaki dibelenggu dalam pasungan yang kuat serta penjagaan yang sangat ketat (ayat 19-23). Luar biasa! Dalam keadaan menderita, tengah malam mereka berdoa dan menaikkan pujia-pujian kepada Allah dan para hukuman yang lain mendengarkan (ayat 25). Artinya mereka berdoa dan menyanyi dengan bersuara tidak hanya di dalam hati. Mereka berdua tidak takut ataupun malu menyaksikan kemuliaan Tuhan dalam penderitaan melalui doa dan pujian. Ajaib!! Terjadilah gempa bumi yang hebat sehingga menggoyahkan semua sendi-sendi penjara dan seketika itu juga terbukalah semua pintu dan terlepaslah semua belenggu mereka semua (ayat 26). Saat kepala penjara melihat peristiwa tsb, dia hendak bunuh diri karena dia berpikir semua orang hukuman telah melarikan diri (ayat 27). Di akhir kisah ini kita tahu kepala penjara dan seisi rumahnya bertobat, percaya kepada Allah (ayat 34). Puji Tuhan! Dalam penderitaan, melalui Doa & Pujian ada kemenangan. Amin.
Ada beberapa orang beranggapan bahwa ketika seseorang sedang ketakutan kontan dia tidak bisa berbuat apa-apa, yang ada hanyalah panik dan ‘paling-paling’ yang masih bisa dilakukan adalah menghindar atau melarikan diri. Pendapat seperti itu ada benarnya tetapi masih separoh benar. Mungkin yang lebih tepat dirumuskan dengan kalimat: “Ketika seseorang sedang dicengkeram ketakutan tidak bisa berpikir secara logis dan kritis.” Sebenarnya tidak hanya menghindar atau melarikan diri saja, tetapi seorang yang karena kekhawatiran dan ketakutan dia justru melakukan tindakan yang membabi buta. Tiba-tiba menyerang jika sudah tidak ada jalan untuk melarikan diri alias kepepet. Hal itu mencerminkan betapa dangkal cara berpikirnya dalam mengatasi ketakutan. Ketika Musa diutus TUHAN untuk membebaskan bangsa Israel dari perbudakan Mesir, apa dan bagaimana tanggapan dan sambutan orang-orang Israel itu? Apakah menyambutnya dengan kegirangan tau menolaknya? Ya, ternyata tidak menyambut dengan sukacita, malah menolaknya (ayat 21). Mengapa menolaknya dan apa alasannya? Itu dia, karena TAKUT. Takut karena adanya penindasan yang semakin berat, padahal yang dilakukan Musa adalah ingin membebaskan bangsanya sendiri sesuai perintah TUHAN. Seharusnya dengan akal sehat dan berpikir secara kritis, orang-orang Israel menyambut berita pembebasan ini demi kemerdekaan dan masa depan mereka sendiri. Saudara, KETAKUTAN, apa pun alasannya, selalu membuahkan tindakan yang negatif. Karenanya seseorang selalu menengok kanan-kiri dengan sorot mata penuh was-was dan curiga. Takut tersaingi, takut kalah, takut kehilangan pamor dan popularitas, takut ketahuan yang sebenarnya, dsb. Dari semua alasan itu intinya hanya satu takut menderita kehilangan, baik yang lahiriah maupun batiniahnya. Oleh sebab itu kepada setiap orang percaya, Tuhan berfirman “JANGAN TAKUT”. Kata-kata tersebut selalu menumbuhkan iman kita tatkala sedang menghadapi perasaan takut. Firman tersebut juga mengajak kita untuk selalu bersandar kepada Tuhan, hidup sesuai jalan-jalan-Nya, dan tidak berorientasi pada sang “aku”, ego kita.
BARCODE BBM CHANNELS
RENUNGAN HARIAN
Kita Semua Pasti Mengalaminya
01 September '14
Rapi Jali
20 September '14
Jangan Hanya Berangan - Angan
05 September '14
Copyright © 2012 All rights reserved. Designed and Developed by GIA Dr. Cipto Semarang