SEPEKAN TERAKHIR
  Jumat, 09 Desember 2016   -HARI INI-
  Kamis, 08 Desember 2016
  Rabu, 07 Desember 2016
  Selasa, 06 Desember 2016
  Senin, 05 Desember 2016
  Minggu, 04 Desember 2016
  Sabtu, 03 Desember 2016
POKOK RENUNGAN
Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya barangsiapa menuruti firmanKu, ia tidak akan mengalami maut sampai selama-lamanya. (Yohanes 8:51)
DITULIS OLEH
Ibu Ribkah E. Christanti
Kontributor
Renungan Lain oleh Penulis:
Home  »  Renungan  »  Hidup Dalam Anugerah
Hidup Dalam Anugerah
Kamis, 05 September 2013 | Tema: Kebenaran Kerajaan Allah
Hidup Dalam Anugerah
Yohanes 8:30-36
Seorang hamba Tuhan pernah bersaksi tentang bagaimana ia bisa mengenal Kristus. Menurutnya, ketika ia masih dalam kepercayaannya yang lama, ia tidak sempat memiliki tabungan dan selalu hidup dalam ketakutan. Betapa tidak, dalam setahun saja, ia harus mengadakan beberapa macam ritual yang menuntut adanya korban dan sesajen yang telah ditentukan jumlahnya. Menurut kepercayaannya dulu, serangkaian syarat tersebut harus dipenuhi untuk menyenangkan para “penguasa” alam sehingga dirinya terhindar dari marabahaya, selamat, rezekinya tetap lancar, dll. Jika tidak dilakukan, maka akan mendapat celaka. Namun ketika ia diperkenalkan kepada Yesus, dan keselamatan di dalam Dia, ia terheran heran. Bagaimana bisa keselamatan yang “mahal” (menurut kepercayaannya yang lama) itu, bisa diraih dengan cuma-cuma hanya dengan percaya kepada Yesus?

Bersyukur....selengkapnya »
Setiap mahluk hidup memiliki kemampuan untuk merespon setiap rangsangan dari luar dirinya. Perhatikan perkebunan pohon karet di daerah Ngaliyan. Batang pohonnya miring [condong] ke arah yang sama. Ada yang menyatakan hal itu terjadi karena ketika pohon karet ditanam dalam jarak yang relatif dekat, maka ia akan berusaha mencari dan menemukan sinar matahari. Sehingga condongnya ke arah mana ia mendapatkan banyak sinar matahari. Coba juga perhatikan seekor anjing ketika ia dipegang dan dibelai-belai oleh pemiliknya, maka ia akan bermanja-manja dengan menggerak-gerakkan ekornya, membaringkan badannya dan menyambut ungkapan sayang dan perhatiaan dari tuannya. Dan tentunya yang paling sempurna adalah manusia. Manusia diberikan kemampuan merespon lebih dari mahluk yang lain. Tetapi sayangnya tidak semua manusia bisa merespon dengan baik kekayaan kemurahan, kesabaran, dan kelapangan hati Allah. Ada pribadi-pribadi yang kurang peka bahkan tidak peka terhadap ungkapan kasih Allah. Buktinya, seperti yang dinyatakan oleh Paulus dalam nats bacaan hari ini. Meskipun mereka melihat kekuatan-Nya yang kekal dan keilahiaan-Nya yang nampak dalam segenap karya ciptaan-Nya, bahkan melalui penyataan Pribadi-Nya dalam diri Yesus Kristus yang menyatakan kasih secara sempurna, tetapi ternyata masih banyak yang mengingkari dan mengeraskan hati. Sehingga mereka terjerat dalam berbagai-bagai nafsu kejahatan dan menolak untuk bertobat. Memang nats tersebut merupakan sebuah teguran yang ditujukan kepada mereka yang lebih memilih kejahatan daripada bertobat dan meninggalkan dosa. Secara posisi mereka adalah manusia duniawi yang menolak bertobat dan percaya Yesus. Jika seperti itu, apakah ayat tersebut sama sekali tidak berlaku kepada kita yang sudah percaya Yesus? Tentu saja tidak! Ayat tersebut tentu juga menjadi sebuah peringatan bagi kita, segenap umat Tuhan. Jangan sampai kita memiliki sifat dan sikap yang sama dengan mereka. Jangan sampai kita mengeraskan hati dan memilih jalan kita sendiri seperti halnya manusia duniawi ketika Allah menegur kita, ketika Allah memperingatkan kita. Jangan anggap sepi [enteng, remeh, dan tidak ada artinya] setiap kekayaan kemurahan-Nya, kesabaran-Nya, dan kelapangan hati-Nya. Jadilah pribadi yang cepat merespon dengan baik [peka] ketika Allah menegur dan memperingatkan kita sebagai bentuk kasih-Nya yang besar kepada kita. Hendaknya kita memiliki hati yang lembut dan mudah untuk bertobat.
Aku di dalam mereka dan Engkau di dalam Aku supaya mereka sempurna menjadi satu, agar dunia tahu, bahwa Engkau yang telah mengutus Aku dan bahwa Engkau mengasihi mereka, sama seperti Engkau mengasihi Aku. Di dalam bahasa Yunani kata ’sempurna’ dipakai kata TELEIOS, yang berarti: 1. Lengkap, utuh [Lukas 8:14; 2 Korintus 12:9; Yakobus 1:4], 2. Menjadi dewasa, atau matang [1 Korintus 14:20; Ibrani 5:14], 3. Telah mencapai akhir, tujuan, atau target yang tepat atau yang ditentukan [Yohanes 19:28; Filipi 3:12]. Jika itu berkaitan dengan benda maka sebuah benda disebut ’sempurna’ apabila selaras, atau sesuai dengan tujuan yang ditetapkan oleh si perancang atau pembuatnya, atau sesuai dengan penggunaan yang dikehendaki oleh si penerima atau penggunanya. Ketika Tuhan Yesus menyelesaikan segala tuntutan Hukum Taurat, yaitu dengan kematian-Nya sebagai Anak Domba Allah penghapus dosa dunia, di atas kayu salib Ia berkata ’sudah selesai’ [sempurna!]. Apa yang dilakukan oleh Yesus telah sesuai atau mencapai tujuan Bapa-Nya dalam mengutus Dia di dunia ini, yaitu menebus umat manusia dari dosa. Tuhan menghendaki agar kita menjadi sempurna, artinya agar tujuan-Nya dalam menciptakan kita dapat tercapai. Tuhan menciptakan dan menghadirkan kita di tengah dunia ini tidak lain untuk mengerjakan kehendak-Nya melalui hidup kita [Efesus 2:10]. Jika hidup kita telah mewujudkan apa yang menjadi kehendak-Nya maka dapat dikatakan bahwa kita telah sempurna. Kesempurnaan itu dapat tercapai jika Kristus ada di dalam kita. Kita mencapai kesempurnaan bukan atas kemampuan kita sendiri, tetapi oleh karena Kristus yang mengerjakannya di dalam diri kita. Amin.
Ada seorang anak remaja sangat nakal dan jahat perbuatannya. Kedua orang tuanya tidak mampu mengatasi kenakalan anak tersebut yang selalu merugikan orang lain dan mereka mengganti kerugian orang-orang tersebut. Demikian juga dengan guru-guru sekolahnya sudah tidak sanggup untuk menangani anak tersebut. Segala macam hukuman sudah pernah diberikan bahkan hukuman yang keras, tetapi semua kemarahan dan hukuman yang diterimanya tidak mendatangkan perubahan. Di tengah keputusasaan, kedua orang tua berkonsultasi dengan seorang hamba Tuhan. Hamba Tuhan itu menyarankan untuk mendekati anak tersebut dengan kasih dan bukan dengan kemarahan/kekerasan. Mereka mulai menyapa dengan lemah lembut dan tidak berkata kasar waktu anaknya nakal, tetapi dinasehati dengan sabar. Dalam waktu tidak terlalu lama terjadi perubahan besar, anak remaja itu menjadi anak yang baik dan santun. Sebagai orang pilihan Allah, setiap murid Kristus seyogyanya mengenakan belas kasihan, kemurahan, kerendahan hati, kelemahlembutan, kesabaran. Sabar terhadap orang lain dan mengampuni seperti Kristus sudah mengampuni. Itu semua terjadi bila mengenakan kasih Kristus. Kasih yang tidak berkesudahan dan yang menyempurnakan setiap perbuatan/tindakan kebaikan kepada semua orang. Saat ini kekerasan terjadi di mana-mana, sangat mudah orang terpancing emosi dan kemarahan. Orang sangat mudah tersinggung yang mengakibatkan kemarahan bahkan tindakan anarkis. Keadaan ini bisa mempengaruhi orang percaya/anak Tuhan menjadi tidak sabar, mudah marah sampai pertikaian dan perpecahan. Marilah kita tidak terpengaruh dengan keadaan dunia, tetapi menjadi dewasa dengan kepenuhan Kristus yang ditandai dengan menghidupi kasih Kristus sehingga bisa mendatangkan damai sejahtera kepada banyak orang.
Ada seorang ibu yang sedih dan sudah beberapa kali bolak-balik ke dokter untuk memeriksakan anaknya, Antok, yang telah berusia 12 tahun namun makanan sehari-harinya hanya bubur, susu dan makanan yang lembek. Tubuhnya kelihatan bertumbuh normal, namun secara gizi kurang memenuhi syarat bagi anak seusianya. Mulut dan giginya tidak pernah terlatih untuk mengunyah daging, ikan maupun sayuran dan buah-buahan. Secara fisik Antok sudah dewasa, namun secara makanan dia masih anak-anak. Hal seperti itu banyak dialami oleh anak-anak Tuhan dewasa ini. Secara lamanya menjadi orang Kristen sudah puluhan tahun, namun secara pengenalan akan Allah dan kedewasaan rohani masih kanak-kanak. Akibatnya belum bisa menerima makanan rohani yang keras. Mengapa mereka sudah menjadi orang Kristen puluhan tahun, aktif ibadah, aktif melayani namun masih anak-anak secara rohani, belum dewasa jika dibandingkan dengan usianya menjadi orang percaya. Penyebabnya antara lain: 1. Mereka tidak pernah membaca Alkitab dan merenungkan Firman dalam hidupnya. 2. Mereka ke gereja, beribadah, bahkan melayani hanya sekedar tradisi dan kegiatan rutinitas saja. 3. Mereka hanya mau melakukan Firman Allah yang ringan- ringan saja. 4. Mereka belum memiliki dasar iman Kristen yang kuat dalam hidupnya 5. Mereka masih hidup dalam dua dunia yang berbeda. Inilah yang dimaksud Firman Allah dalam Ibrani 5:12-14, di mana ditinjau dari sisi usia mengikut Kristus seharusnya mereka sudah bertumbuh dewasa rohani, namun dalam kenyataannya mereka masih anak-anak rohani. Oleh sebab itu gereja kita menyediakan sarana untuk menumbuhkan kedewasaan rohani kita. Dan ada dua sarana yang disediakan untuk hal ini, yaitu pertama, ibadah raya termasuk ibadah doa malam dan ibadah seksi-seksi; kedua, komcil yang ada di setiap wilayah, di seksi, dan kelompok pekerja. Sarana ini merupakan tempat yang disediakan untuk kita belajar bertumbuh dewasa secara rohani. Tumbuh dewasa dalam Kristus memang menjadi target Allah bagi hidup setiap orang percaya karena kehendak Allah bagi hidup kita sebagai orang percaya, yaitu sempurna sama seperti Bapa di Surga [Matius 5:48] dan menjadi serupa dengan Tuhan Yesus [Roma 8:29]. Marilah kita berusaha dan memotivasi diri untuk bertumbuh semakin dewasa di dalam Kristus melalui sarana yang disediakan oleh gereja kita agar kita menjadi berkat bagi orang lain dan mengalami berkat itu sendiri.
BARCODE BBM CHANNELS
RENUNGAN HARIAN
Jangan Lagi Minum Susu Tapi Makanan Yang Keras
11 November '16
Jangan Anggap Remeh
06 Desember '16
Kedewasaan Karakter
12 November '16
Copyright © 2012 All rights reserved. Designed and Developed by GIA Dr. Cipto Semarang