SEPEKAN TERAKHIR
  Sabtu, 27 Agustus 2016   -HARI INI-
  Jumat, 26 Agustus 2016
  Kamis, 25 Agustus 2016
  Rabu, 24 Agustus 2016
  Selasa, 23 Agustus 2016
  Senin, 22 Agustus 2016
  Minggu, 21 Agustus 2016
POKOK RENUNGAN
Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya barangsiapa menuruti firmanKu, ia tidak akan mengalami maut sampai selama-lamanya. (Yohanes 8:51)
DITULIS OLEH
Ibu Ribkah E. Christanti
Kontributor
Renungan Lain oleh Penulis:
Home  »  Renungan  »  Hidup Dalam Anugerah
Hidup Dalam Anugerah
Kamis, 05 September 2013 | Tema: Kebenaran Kerajaan Allah
Hidup Dalam Anugerah
Yohanes 8:30-36
Seorang hamba Tuhan pernah bersaksi tentang bagaimana ia bisa mengenal Kristus. Menurutnya, ketika ia masih dalam kepercayaannya yang lama, ia tidak sempat memiliki tabungan dan selalu hidup dalam ketakutan. Betapa tidak, dalam setahun saja, ia harus mengadakan beberapa macam ritual yang menuntut adanya korban dan sesajen yang telah ditentukan jumlahnya. Menurut kepercayaannya dulu, serangkaian syarat tersebut harus dipenuhi untuk menyenangkan para “penguasa” alam sehingga dirinya terhindar dari marabahaya, selamat, rezekinya tetap lancar, dll. Jika tidak dilakukan, maka akan mendapat celaka. Namun ketika ia diperkenalkan kepada Yesus, dan keselamatan di dalam Dia, ia terheran heran. Bagaimana bisa keselamatan yang “mahal” (menurut kepercayaannya yang lama) itu, bisa diraih dengan cuma-cuma hanya dengan percaya kepada Yesus?

Bersyukur....selengkapnya »
Diperlengkapi untuk membangun Tubuh Kristus Efesus 4:11-12 Dan Ialah yang memberikan baik rasul-rasul maupun nabi-nabi, baik pemberita-pemberita Injil maupun gembala-gembala dan pengajar-pengajar, untuk memperlengkapi orang-orang kudus bagi pekerjaan pelayanan, bagi pembangunan tubuh Kristus, Pada suatu saat negara Argentina memberlakukan wajib militer bagi setiap warganya. Suatu hari datanglah seorang pria cacat dan mengajukan keberatan untuk mengikuti kewajiban tersebut. “Bagaimana saya dapat berguna? Saya tidak memiliki lengan?” Tetapi bagaimana pun akhirnya militer tetap memasukkannya ke dalam program wajib militer tersebut. Saat ia tengah mengikuti camp latihan dasar, perwira komandonya berkata, ”Kau lihat pria di atas bukit yang tengah memompa air? Pergi ke sana dan beritahu bahwa embernya sudah penuh. Dia buta!” Tuhan sudah membagikan karunia kepada masing-masing anggota jemaat agar kita dapat saling melayani. Pandangan bahwa pelayanan hanyalah tugas yang harus dikerjakan oleh para hamba Tuhan atau beberapa orang Kristen saja, adalah tidak tepat. Pelayanan adalah kewajiban dan hak dari setiap orang Kristen. Pelayanan tidak boleh dibatasi untuk orang tertentu saja. Tapi faktanya masih ada banyak anggota jemaat yang belum melayani. Mungkin mereka belum sadar akan panggilannya bahwa setiap orang Kristen harus melayani. Tapi mungkin persoalannya mereka tidak tahu bagaimana cara melayani atau apa karunia mereka. Mereka harus dibimbing dan dilatih [diperlengkapi] agar mampu melayani sesuai dengan karunia mereka. Inilah sebenarnya tugas pokok para pemimpin gereja. Tugas pemimpin gereja sebenarnya memberdayakan dan memperlengkapi anggota jemaat supaya semua anggota jemaat dapat mengerjakan pelayanan. Karunia yang tidak dipakai untuk melayani adalah seperti asset bangunan yang dibiarkan mangkrak. Bangunan itu makin lama akan makin tua dan menjadi rusak sampai runtuh. Demikianlah kalau kita memiliki karunia tetapi tidak menggunakan karunia itu kita seperti membiarkan bangunan yang mangkrak. Karunia itu akan tumpul dan tak berfungsi. Jemaat Tuhan, mari kita melayani untuk membangun Tubuh Kristus. Saya berharap agar setiap karunia yang ada pada kita dapat difungsikan, agar Tubuh Kristus dapat dibangun menjadi sempurna seperti Kristus. Amin. Pdt. Goenawan Susanto
Surat Efesus mengajar kita tentang bagaimana Allah telah membangkitkan Kristus dan bagaimana Kristus telah mempersatukan orang-orang yang percaya kepada-Nya menjadi satu tubuh, yaitu jemaat-Nya/gereja-Nya. Sebagai Kepala gereja, Kristus mengaruniakan berbagai macam karunia yang berbeda-beda, memilih orang-orang dalam jemaat baik sebagai rasul, nabi, pemberita Injil, gembala dan pengajar untuk memperlengkapi jemaat membangun gereja yang adalah tubuh-Nya sendiri. Allah yang sempurna berkarya secara sempurna di tengah-tengah gereja-Nya. Dia tidak hanya memperlengkapi umat-Nya dengan semua perlengkapan yang dibutuhkan untuk membangun gereja-Nya, Dia juga memperlengkapai umat-Nya dengan senjata ilahi untuk mempertahankan dan berperang melawan Iblis yang semakin gencar berusaha menghancurkan dan merobohkan gereja Tuhan. Rasul Paulus menuliskan hal tersebut di akhir surat Efesus. Gambaran seorang tentara Romawi dengan perlengkapan senjata perangnya, dipakai Rasul Paulus untuk mengajar kita. “ Kenakanlah...” 1. Ikat pinggang kebenaran dan baju zirah keadilan [ayat 4] = berusaha mempertahankan kebenaran dan keadilan serta meluruskan ketidakbenaran dan ketidakadilan. 2. Kasut/sepatu kerelaan memberitakan injil [ayat 5] = berbaris dengan derap cepat melayani dalam semua usaha pemberitaan injil. 3. Perisai iman [ayat 16] = percaya penuh pada kemenangan Allah dalam kebangkitan dan pemuliaan Kristus dan kemenangan itu sudah Allah berikan kepada orang-orang yang berperang bersama Dia. 4. Ketopong keselamatan dan pedang roh, Firman Allah [ayat 17]. Ketopong keselamatan berbicara tentang semua usaha Kristus dalam karya penyelamatan umat manusia. Pedang roh berbicara tentang kedahsyatan daya potong Firman Allah ketika firman itu diberitakan. 5. Doa permohonan yang tekun [ayat 18] = berdoa syafaat tak hentinya dengan sasaran doa buat orang-orang kudus dan sesama orang Kristen dalam gereja Tuhan. Selamat membangun dan mempertahankan bangunan Tubuh Kristus dengan semua perlengkapan yang Allah karuniakan kepada kita.
Pak Narto adalah seorang yang berprofesi sebagai tukang batu. Entah berapa rumah yang sudah dibuatnya atau sudah berapa kali pak Narto membuat jembatan, sudah tak terhitung. Maklum karena dia sebagai tukang batu senior yang sangat baik kerjanya sehingga jasanya sering dipakai banyak orang. Namun ada satu hal yang menarik dalam diri pak Narto, sudah banyak rumah orang lain dia buat tetapi sudah bertahun-tahun dia hanya tinggal di rumah setengah jadi [Jawa: abangan, temboknya masih batu bata merah tidak di plestar]. Pak Narto terus menerus membangun rumah orang lain, tetapi dia tidak pernah menyelesaikan bangunan rumahnya sendiri. Membangun adalah tindakan mengerjakan sesuatu yang belum selesai, tetapi tidak boleh berhenti. Harus dikerjakan terus menerus sampai selesai. Elia sebagai hamba Allah terus melayani dengan setia dan banyak hal telah dikerjakannya menurut kehendak Allah. Memang ia pernah mengalami putus asa di tengah-tengah melayani sehingga dia lari ke gunung Horeb [1 Raja-Raja 19:1-8], yang akhirnya Elia berjumpa dengan Allah dan mendapatkan peneguhan kembali untuk tetap semangat melayani Tuhan [1 Raja-Raja 19:15,16]. Perkara melayani Tuhan adalah turut membangun jemaat yang terhisap dalam tubuh Kristus. Sebelum si pemilik bangunan itu menyatakan bahwa bangunan itu selesai, maka para pengerja harus tetap bekerja menyelesaikannya. Tidak ada kata berhenti. Siapa pemilik bangunan yang harus dikerjakan terus menerus? Siapakah pemilik Gereja sebagai tubuh Kristus yang harus dibangun terus menerus? Tentu saja Tuhan Yesus sendiri. Selama Tuhan Yesus belum menyatakan berhenti dari membangun, itu berarti para pengerja-Nya harus terus bekerja membangunnya. Saudara, selama dunia ini masih dipenuhi manusia maka membangun gereja-Nya tidak akan pernah berhenti karena gereja sebagai duta Kristus untuk penyelamatan dunia ini. Jangan pernah kita berkata, “Aku berhenti saja dari pelayanan. Aku sudah cukup lama terlibat dalam pelayanan.” Kita sudah diperlengkapi Tuhan dengan bakat, talenta dan karunia rohani, marilah kita kerjakan terus menerus untuk melayani Tuhan. Mungkin urusan pribadi kita terkesampingkan, tetapi tak mengapa karena Tuhan sendiri akan memperhitungkan urusan kita [ayat 58].
Xu Yuehua, seorang wanita yatim piatu, pada usia 13 tahun mengalami kecelakaan terlindas kereta api ketika mengumpulkan batu bara di rel kereta. Dia kehilangan kedua kakinya sampai pangkal paha. Untuk mobilitas ia menggunakan dua buah bangku kecil sebagai ganti kaki. Dalam keadaan seperti itu ia menemukan panggilannya untuk merawat anak-anak di panti asuhan yatim piatu. Dia bersyukur bisa berkarya di tengah keterbatasannya dan dengan sukacita merawat anak-anak dari bayi sampai usia remaja. 37 tahun dia melayani dengan sabar, perkataan yang lembut dan membangun. Mereka yang dirawat sejak kecil olehnya banyak yang telah menjadi orang yang berhasil. Ia berhasil membangun kehidupan sesama yatim piatu karena hidupnya penuh dengan ucapan syukur di tengah keterbatasan. Paulus mengingatkan setiap murid Kristus seyogyanya mengucap syukur dalam nama Tuhan Yesus di dalam segala keadaan. Ucapan syukur tidak hanya di bibir tetapi dari hati. Ucapan syukur yang dinyatakan dalam hubungan dengan sesama. Berkata-kata dalam mazmur, kidung pujian dan nyanyian rohani. Artinya, setiap perkataan yang keluar seperti ketika bermazmur/memuji Tuhan. Perkataan yang menyenangkan, membangun, menghibur, menguatkan dan bukan sebaliknya menyakiti, mengumpat, memaki, melemahkan. Bernyanyi dan bersorak bagi Tuhan dengan sepenuh hati yang dinyatakan dalam kehidupan sehari-hari melalui wajah dan tindakan penuh sukacita akan membangun hidup orang lain terutama mereka yang mengalami masalah. Apapun yang sedang kita alami saat ini, ucapkanlah syukur dalam nama Tuhan Yesus. Berbicaralah dengan siapa saja seperti kita sedang menyanyikan pujian, sehingga akan membuat lawan bicara kita merasa terhibur, termotivasi, dikuatkan karena mungkin saja saat ini dia sedang mengalami masalah. Kita harus mempunyai hati yang meluap dengan pujian kepada Tuhan yang ditampakkan pada wajah yang penuh sukacita. Mari dengan ucapan syukur kita membangun sesama sebagai tubuh Kristus.
BARCODE BBM CHANNELS
RENUNGAN HARIAN
Pecatur Terbaik Dunia
20 Agustus '16
Fasilitas dan Perlengkapan Untuk Pemuridan Umat Tebusan
19 Agustus '16
Bersediakah Engkau ?
29 Juli '16
Copyright © 2012 All rights reserved. Designed and Developed by GIA Dr. Cipto Semarang