SEPEKAN TERAKHIR
  Sabtu, 23 September 2017   -HARI INI-
  Jumat, 22 September 2017
  Kamis, 21 September 2017
  Rabu, 20 September 2017
  Selasa, 19 September 2017
  Senin, 18 September 2017
  Minggu, 17 September 2017
POKOK RENUNGAN
Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya barangsiapa menuruti firmanKu, ia tidak akan mengalami maut sampai selama-lamanya. (Yohanes 8:51)
DITULIS OLEH
Ibu Ribkah E. Christanti
Kontributor
Renungan Lain oleh Penulis:
Home  »  Renungan  »  Hidup Dalam Anugerah
Hidup Dalam Anugerah
Kamis, 05 September 2013 | Tema: Kebenaran Kerajaan Allah
Hidup Dalam Anugerah
Yohanes 8:30-36
Seorang hamba Tuhan pernah bersaksi tentang bagaimana ia bisa mengenal Kristus. Menurutnya, ketika ia masih dalam kepercayaannya yang lama, ia tidak sempat memiliki tabungan dan selalu hidup dalam ketakutan. Betapa tidak, dalam setahun saja, ia harus mengadakan beberapa macam ritual yang menuntut adanya korban dan sesajen yang telah ditentukan jumlahnya. Menurut kepercayaannya dulu, serangkaian syarat tersebut harus dipenuhi untuk menyenangkan para “penguasa” alam sehingga dirinya terhindar dari marabahaya, selamat, rezekinya tetap lancar, dll. Jika tidak dilakukan, maka akan mendapat celaka. Namun ketika ia diperkenalkan kepada Yesus, dan keselamatan di dalam Dia, ia terheran heran. Bagaimana bisa keselamatan yang “mahal” (menurut kepercayaannya yang lama) itu, bisa diraih dengan cuma-cuma hanya dengan percaya kepada Yesus?

Bersyukur. Itulah hal yang seharusnya kita kerjakan atas anugerah keselamatan yang kita terima. Hidup kita telah berdosa sejak leluhur kita berdosa. Belum lagi dampak yang kita terima sehingga kita cenderung berbuat dosa. Seharusnya kita sendiri yang harus menanggung semua dosa kita dengan nyawa kita (Roma 6:23). Namun atas kasih karunia Tuhan, Bapa mengutus Putra-Nya untuk menggantikan penghukuman atas dosa kita, sehingga kita diampuni dari dosa...selengkapnya »
Malam itu merupakan malam yang sangat menakutkan bagi suster Charllote dan Carol. Mereka berlari terengah-engah dengan penuh ketakutan. Mereka mencoba bersembunyi dari kejaran Iblis yang sangat mengerikan. Keduanya hanya bisa berteriak histeris dengan wajah yang pucat karena melihat sosok Iblis yang sangat kejam hendak membunuh mereka. Suster Charllote terpojok di sebuah ruangan di lantai dua, dan di tempat terpisah Carol dengan gemetar sampai di ujung ruangan gudang. Sang Iblis pun semakin mendekati keduanya dan siap mencekik mereka. Namun situasi pun berubah, suster Charllote dengan memegang kalung rosarionya sambil gemetaran memejamkan mata dan berdoa memanggil Tuhan. Carol pun yang juga tidak kalah takutnya, berteriak histeris, “... Waaaaaaaaa... God.! Help Me!” [Tuhan! Tolong Aku!] Seketika itu juga, Iblis pun lenyap dari hadapan mereka. Itulah sepenggal cuplikan adegan yang ada dalam film Annabelle Creation. Sebuah fim horor yang sedang populer hari-hari ini. Ada pesan positif dalam adegan di atas, yaitu pada saat kita terdesak, ketakutan dan tidak berdaya, selalu ada Tuhan yang siap membantu kita. Elia juga mengalami hal serupa di dalam hidupnya. Di dalam 1 Raja-raja pasal 18, dikisahkan tentang perjuangan heroik Nabi Elia melawan 450 Nabi Baal. Elia sukses mengalahkan mereka dan membunuh mereka semua. Namun justru keadaan sebaliknya diceritakan dalam pasal yang ke-19. Saat mendapat ancaman dari Izebel, Elia malah ketakutan. Elia berusaha sekuat tenaga berlari menjauh dari Izebel. Dia sangat ketakutan dan gelisah mendengar ancaman ini. Satu hal yang sangat luar biasa dari kisah Elia ini adalah Tuhan tidak pernah meninggalkannya. Pada saat Elia ketakutan dan tidak berdaya, Tuhan selalu bersamanya. Tuhan memberikan penyertaan, perlindungan dan kelegaan kepada Elia. Bagaimana dengan kita? Pada saat kita pesimis akan hidup ini, kita cemas terhadap kondisi bangsa Indonesia, atau bahkan kita ragu terhadap gereja kita, ingatlah selalu ada Tuhan yang siap menolong kita! Berserulah kepada-Nya, maka Dia akan mendengar seruan kita. Jangan pernah malu untuk berseru meminta pertolongan-Nya. Jangan pernah sungkan untuk mengakui keterbatasan kita kepada-Nya. Tuhan kita bukanlah Tuhan yang tertidur. Dia adalah Tuhan yang siap untuk membantu kita di dalam segala situasi. Ingatlah, masih ada Tuhan!
Ketika Paulus dapat melihat lagi setelah tiga hari mengalami kebutaan, ia juga menerima pencerahan rohani tentang pribadi Yesus Kristus. Seluruh hidup dan pelayanannya sejak saat itu hanya dikuasai oleh Tuhan Yesus Kristus. Seperti yang nyata dalam pernyataannya dalam 1 Korintus 2:2, “Sebab aku telah memutuskan untuk tidak mengetahui apa-apa di antara kamu selain Yesus Kristus, yaitu Dia yang disalibkan.“ Paulus tidak pernah lagi membiarkan apapun menarik dan memikat perhatian, pikiran dan jiwanya selain diri Yesus Kristus. Kita semestinya belajar seperti Rasul Paulus yang bersedia memelihara karakter yang kuat dalam hidupnya bahkan sampai pada tingkat yang telah disingkapkan dalam penglihatan, pengalamannya akan Yesus Kristus. Karakteristik kekal dari orang beriman adalah kemampuannya untuk memahami dengan benar makna Tuhan Yesus Kristus dalam hidupnya dan kemampuannya untuk menjabarkan tujuan Allah kepada sesamanya. Semangat juang yang menguasai hidupnya adalah Yesus Kristus. Setiap kali kita melihat sifat ini dalam hidup seseorang, kita dapat merasakan bahwa ia adalah orang yang sungguh berkenan di hati Allah [lih. Kisah Para Rasul 13:22]. Jangan pernah membiarkan apapun mengalihkan perhatian kita terhadap Tuhan Yesus Kristus. Itu adalah ujian sejati untuk kehidupan rohani kita. Kita belum dapat disebut rohani ketika masih ada hal-hal lain yang lebih menarik dan menguasai perhatian kita ketimbang Yesus Kristus.
Film animasi Doraemon merupakan sebuah film animasi buatan Jepang yang cukup terkenal di Indonesia. Orang dewasa yang lahir di tahun 80an hingga anak-anak masa kini pasti tidak asing mendengar nama Doraemon. Di dalam film tersebut dikisahkan tentang sebuah robot kucing dari abad masa depan yang diutus ke zaman sekarang untuk menolong seorang anak yang bernama Nobita. Guna menolong Nobita, Doraemon menggunakan berbagai peralatan canggih dari masa depan yang tersimpan di kantong ajaibnya. Alat-alat canggih tersebut mempunyai berbagai macam fungsi yang dapat membantu berbagai keluh kesah Nobita. Jika mengamati film ini secara rutin, maka kita akan menemukan kesamaan pola cerita dari film animasi ini. Pola cerita film animasi Doraemon selalu diawali dari Nobita yang mendapat masalah dan kemudian ia meminta bantuan kepada Doraemon untuk mengeluarkan alat yang dapat mengatasi masalah atau penderitaan yang dialaminya. Setelah Nobita merengek meminta bantuan kepada Doraemon, karena merasa kasihan, maka Doraemon mengeluarkan alatnya. Pada saat alat canggih dikeluarkan, pasti Doraemon memberi penjelasan panjang lebar tentang cara pemakaian alat tersebut. Pola selanjutnya dari film ini adalah meskipun Nobita terlihat seperti mendengarkan penjelasan dan peringatan dari Doraemon, namun ia seringkali mengabaikan penjelasan Doraemon dan memakai alat tersebut dengan sembarangan atau sesuka hatinya. Nobita terlihat memperhatikan penjelasan, namun ternyata faktanya justu bertolak belakang. Ending dari pola film ini pasti selalu berakhir dengan nasib tragis yang dialami oleh Nobita. Nobita akan mengalami hal yang buruk sebagai akibat dia tidak mendengarkan penjelasan dari Doraemon dan bertindak dengan sembarangan. Orang-orang pada zaman Yehezkiel mirip sekali dengan pribadi Nobita dalam kisah di atas. Mereka suka mendengarkan para nabi berbicara tentang petunjuk-petunjuk Allah. Mereka hadir di sana untuk mendengarkan, tetapi mereka tetap saja hidup dalam kejahatan dan tidak menghiraukan peringatan-peringatan yang diberikan dengan sungguh-sungguh. Yehezkiel 33:32 menyebutkan, “… mereka mendengar apa yang kauucapkan, tetapi mereka sama sekali tidak melakukannya”. Mereka terlihat hadir untuk mendengar, namun mereka tidak menjalankannya di dalam hidup mereka. Atau lebih tepatnya mereka tidak menghiraukan firman itu. Tepat seperti yang dinubuatkan oleh para nabi, bangsa Babel datang dan menjadikan mereka bangsa tawanan. Hingga kemudian mereka menyadari bahwa mereka telah melakukan kesalahan besar, yakni mendengarkan firman Allah tanpa mau melakukannya. Namun sudah terlambat bagi mereka untuk mencegah datangnya hukuman Allah. Ratusan kali atau bahkan ribuan kali kita pernah membaca dan mendengarkan firman Tuhan melalui berbagai media. Itu adalah hal yang baik, namun mendengar atau membaca firman saja belum cukup. Kita harus sampai pada tahap melakukan firman-Nya. Merenungkan dan melakukan firman-Nya, itulah yang disukai Tuhan. Selamat membaca, mendengar, merenungkan serta melakukan Firman-Nya.
Akhir-akhir ini saya [mungkin kita] dibuat terkaget-kaget dengan berita tentang sepasang suami istri yang “kompak, seia sekata, harmonis” dalam melakukan penipuan. Mereka menghimpun uang dan menggunakannya untuk kepentingan pribadi dan keluarganya. Yang membuat saya ternganga adalah jumlahnya yang fantastis, hampir menembus angka “T”. Uang itu dipakai untuk hidup berfoya-foya, bepergian ke luar negeri, membeli rumah mewah, mobil- mobil mewah, tas-tas dan barang-barang branded yang super mewah dengan harga yang super mahal. Mereka seperti hidup di alam mimpi karena dengan mudahnya mendapat uang dan mendapatkan apa saja yang mereka inginkan. Tapi akhirnya mimpi mereka harus berakhir dan harus mempertanggungjawabkan perbuatan mereka. Rasa haus dan lapar akan harta benda dan hidup dalam kemewahan bisa membuat seseorang menghalalkan segala cara untuk memuaskannya. Tidak adanya perasaan cukup mendorongnya merasa haus dan lapar yang tidak berkesudahan. Dan hasrat untuk terus menerus memuaskan rasa haus dan lapar akan kenikmatan dunia yang tanpa disadari akan membawanya kepada kehancuran. Di sepanjang kehidupannya, Raja Daud juga mengalami rasa haus dan lapar. Tetapi kita tahu akhir hidup Daud tidak hancur. Namanya dikenang sampai sekarang, bahkan salah satu keturunannya dipakai Tuhan untuk melahirkan Juruselamat. Mengapa demikian? Karena rasa haus dan lapar yang dirasakan Daud berbeda dengan yang dirasakan sepasang suami istri di atas. Daud tidak haus dan lapar akan harta dunia ataupun tahta, tetapi ia haus dan lapar akan hadirat Tuhan, akan firman Tuhan. Mazmur 63:1-8 adalah salah satu dari banyak ungkapan Raja Daud akan kerinduannya kepada Allah. Haus dan lapar akan firman Tuhan, akan hadirat Tuhan dalam hidupnya telah membawanya selalu ingin mendekat kepada Tuhan. Dan itulah yang menjadi kekuatan Raja Daud dalam menghadapi masalah demi masalah, menjadi penghiburan yang sempurna ketika ia dilanda kesusahan. Rasa haus dan lapar akan firman Tuhan, akan hadirat Tuhan, tentunya juga akan membawa kita kepada kemenangan atas pencobaan-pencobaan yang kita hadapi. Karena ketika kita berusaha memuaskan rasa haus dan lapar itu, kita akan selalu mencari hadirat Tuhan, selalu ingin dekat dengan Tuhan, selalu ingin menggali janji-janji firman-Nya. Dan tentu saja kita tidak akan mudah terjerumus di dalam perkara-perkara yang tidak berkenan di hadapan-Nya. Karena itu, marilah kita belajar memelihara rasa haus dan lapar akan firman-Nya, akan hadirat-Nya, dan mulai membuang rasa haus dan lapar akan hal-hal dunia.
BARCODE BBM CHANNELS
RENUNGAN HARIAN
Iman Yang Bertanggung Jawab
13 September '17
Berbuat Baik Dari Hal Yang Kecil
21 September '17
Menjadi Murid Perlu Latihan
27 Agustus '17
Copyright © 2012 All rights reserved. Designed and Developed by GIA Dr. Cipto Semarang