SEPEKAN TERAKHIR
  Selasa, 26 Juli 2016   -HARI INI-
  Senin, 25 Juli 2016
  Minggu, 24 Juli 2016
  Sabtu, 23 Juli 2016
  Jumat, 22 Juli 2016
  Kamis, 21 Juli 2016
  Rabu, 20 Juli 2016
POKOK RENUNGAN
Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya barangsiapa menuruti firmanKu, ia tidak akan mengalami maut sampai selama-lamanya. (Yohanes 8:51)
DITULIS OLEH
Ibu Ribkah E. Christanti
Kontributor
Renungan Lain oleh Penulis:
Home  »  Renungan  »  Hidup Dalam Anugerah
Hidup Dalam Anugerah
Kamis, 05 September 2013 | Tema: Kebenaran Kerajaan Allah
Hidup Dalam Anugerah
Yohanes 8:30-36
Seorang hamba Tuhan pernah bersaksi tentang bagaimana ia bisa mengenal Kristus. Menurutnya, ketika ia masih dalam kepercayaannya yang lama, ia tidak sempat memiliki tabungan dan selalu hidup dalam ketakutan. Betapa tidak, dalam setahun saja, ia harus mengadakan beberapa macam ritual yang menuntut adanya korban dan sesajen yang telah ditentukan jumlahnya. Menurut kepercayaannya dulu, serangkaian syarat tersebut harus dipenuhi untuk menyenangkan para “penguasa” alam sehingga dirinya terhindar dari marabahaya, selamat, rezekinya tetap lancar, dll. Jika tidak dilakukan, maka akan mendapat celaka. Namun ketika ia diperkenalkan kepada Yesus, dan keselamatan di dalam Dia, ia terheran heran. Bagaimana bisa keselamatan yang “mahal” (menurut kepercayaannya yang lama) itu, bisa diraih dengan cuma-cuma hanya dengan percaya kepada Yesus?

Bersyukur....selengkapnya »
Allah menciptakan setiap mahluk di bumi ini dengan kekhususannya. Ada yang berenang, ada yang lompat, ada yang melata, ada yang terbang, dsb. Masing-masing memiliki peranan yang dilakukan sesuai dengan apa yang telah Allah tetapkan bagi mereka. Demikian pula dengan manusia, setiap kita secara unik diciptakan oleh Allah untuk melakukan sesuatu yang khusus. Dia merancangkan dengan tepat bagaimana harus melayani-Nya. Lalu Ia membentuk kita untuk tugas tersebut. Kapanpun Allah memberikan tugas untuk dikerjakan, Ia selalu melengkapi kita dengan apa yang kita perlukan, yaitu kelengkapan karunia-karunia rohani yang diberikan kepada masing-masing kita. Namun karunia-karunia Roh yang diberikan Allah kepada orang percaya berfungsi untuk kepentingan dan kesejahteraan bersama. Ada rupa-rupa karunia, tetapi tidak dimaksudkan untuk berdiri sendiri-sendiri. Semuanya saling melengkapi bagi kebaikan bersama. Bagaikan jaring laba-laba, saling terkait satu dengan yang lain dan tidak terpisahkan, saling memberikan keuntungan dan saling melengkapi. Setiap orang percaya yang telah menyadari karunia tertentu yang diterimanya dari Tuhan hendaknya mengembangkannya terus menerus. Namun kita juga perlu menolong sesama yang belum menyadari karunia yang dianugerahkan kepadanya supaya mereka pun dapat mempersembahkannya bagi kepentingan bersama. Rupa-rupa karunia bukan untuk disombongkan apalagi untuk merendahkan orang lain. Sikap sombong dan merendahkan karunia lain yang dimiliki sesama sama halnya dengan merendahkan Allah, Sang Pemberi karunia. Seperti halnya beberapa jemaat di Korintus yang memiliki karunia-karunia khusus dari Tuhan, rupanya menjadi jumawa dan tinggi hati. Sikap mereka yang merasa diri lebih hebat dari anggota jemaat yang lain telah mengganggu persekutuan yang ada. Kebanggaan inilah yang dikritik oleh Rasul Paulus dengan mengatakan bahwa yang berkarya melalui perkara-perkara istimewa yang manusia lakukan adalah Tuhan [ayat 6, 11]. Dan melalui perkara-perkara itu Tuhan menyatakan pelayanan yang membangun kehidupan iman jemaat [ayat 5] untuk kemuliaan-Nya. Karunia Rohani adalah wujud kuasa dan anugerah Allah, bukan kekebalan manusia. Maka praktek karunia rohani seharusnya terfokus untuk melayani Tuhan dan meninggikan-Nya dalam segala maksud kekal-Nya.
Saat ini para pencinta bola disuguhi dua ajang sepak bola kelas dunia, yaitu copa Amerika dan Euro. Ada banyak tim yang baik turut tampil meramaikan ajang tersebut. Di samping pemain-pemain yang sudah terkenal dan langganan masuk tim nasional negara masing-masing, juga muncul wajah-wajah baru yang tidak kalah jago dalam mengolah si kulit bundar. Semua tim berlomba-lomba mencetak gol dan memenangkan pertandingan dengan satu tujuan, yaitu menjadi juara. Sekalipun yang mencetak gol ke gawang lawan hanya satu, dua atau tiga orang saja, namun semua anggota tim turut merayakan kesenangan. Contohnya, sekalipun seorang penjaga gawang tidak memasukkan bola ke gawang lawan, tetapi ia pasti ikut merayakan gol yang dicetak rekannya. Itulah tim sepak bola. Ada penjaga gawang, ada yang menjadi back atau denfender, ada pemain tengah yang mengatur alur serangan, dan ada striker yang bertugas mencetak gol ke gawang lawan. Sekalipun berbeda-beda tugas dan tanggung jawab, namun sebuah tim mempunyai satu tujuan, yaitu menciptakan gol. Kemenangan tim adalah kemenangan bersama, kekalahan tim adalah kekalahan bersama. Itu akan menjadi permainan yang sangat menarik. Coba bayangkan seandainya pemain sepak bola semua penjaga gawang, atau semua menjadi defender, atau semua mendapatkan tugas mencetak gol, pasti akan menjadi tontonan yang tidak menarik. Demikian juga kita sebagai jemaat Tuhan atau tubuh Kristus, tentu kita mempunyai talenta dan karunia yang berbeda-beda. Namun semua diberikan dengan satu tujuan untuk membangun tubuh Kristus dan melayani dengan lebih baik lagi. Paulus menasihatkan kepada Timotius untuk mengobarkan karunia Allah yang diberikan kepadanya sehingga nama Tuhan dipermuliakan. Bukan nama kita atau nama gereja kita, tetapi supaya nama Tuhan dikenal banyak orang dan mereka mempercayai Yesus sebagai Tuhan dan Juru Selamat. Tuhan memanggil kita tidak saja untuk setia beribadah, tetapi juga melayani Dia melalui gereja-Nya dengan karunia berbeda-beda. Mari kita layani Dia dengan sukacita.
Masih ingatkah dengan filosofi “Sapu Lidi”? Sapu lidi merupakan suatu kumpulan dari lidi-lidi yang diikat menjadi satu sehingga dapat digunakan untuk menyapu. Jikalau seseorang hanya mempunyai satu lidi, bisakah dipakai untuk membersihkan halaman yang luas? Tentu tidak. Karena pasti akan membutuhkan waktu yang lama dan sangat merepotkan menyapu dengan menggunakan satu batang lidi. Tetapi jikalau ia mempunyai banyak lidi dan diikat menjadi satu kesatuan, maka ia akan lebih mudah untuk membersihkan halaman yang luas tersebut. Dan tentunya akan lebih mempercepat pekerjaan dibandingkan dengan satu lidi saja. Meskipun kadang dalam satu ikatan sapu tersebut ada yang patah, tetapi lidi-lidi yang lain tetap menopang sehingga tetap dapat dipakai untuk menyelesaikan pekerjaannya. Karena setiap lidi yang terikat hanya memiliki satu tujuan, yaitu tidak bekerja masing-masing. Hal demikian juga menjadi catatan Rasul Paulus untuk jemaat Korintus. Paulus memberikan penjelasan bahwa setiap jemaat diberikan karunia yang berbeda satu dengan yang lain. Ini dimaksudkan untuk saling melengkapi tubuh Kristus. Namun pemberian karunia yang berbeda-beda bukan bermaksud untuk memecah-belah, memisah-misahkan, atau bahkan mengkotak-kotakkan satu dengan yang lain, melainkan demi kepentingan bersama dalam membangun tubuh Kristus. Pembangunan tubuh Kristus tidak hanya dapat ditopang oleh seorang saja yang dianggap memiliki fungsi dan peran yang paling besar, tetapi setiap anggota memiliki perannya masing-masing sehingga menciptakan suatu keutuhan dalam tubuh Kristus. Jemaat Korintus diingatkan bahwa dalam segala perbedaannya, mereka telah diikat dalam satu Roh yang sama yang memberikan karunia kepada tiap-tiap orang secara khusus menurut kehendak-Nya [1 Korintus 12:11]. Jemaat yang dikasihi Tuhan, kesatuan dalam kehidupan kita bergereja bukanlah sesuatu yang mustahil. Setiap orang diberikan karunia oleh Tuhan memang berbeda-beda, namun sejauh kita belajar untuk menghargai setiap karunia yang dimiliki oleh setiap jemaat walaupun mungkin sangat kecil, kesatuan tubuh Kristus akan menjadi nyata. Mempertahankan ego dan kesombongan pribadi, merasa diri paling hebat dan paling berpengaruh akan menjadikan tubuh Kristus terpecah-pecah. Tetapi dengan menyatukan perbedaan demi kepentingan bersama akan mengeratkan kesatuan tubuh Kristus, yaitu melakukan segala sesuatu dilandasi dengan kasih dan takut akan Tuhan demi membangun keutuhan tubuh Kristus dan menyatakan kemuliaan-Nya dalam kehidupan kita bergereja.
Rasul Paulus menuliskan berbagai karunia untuk orang percaya dan juga karunia pelayanan gereja [Roma 12:6-8; 1 Korintus 12:8-10; Efesus 4:11]. Berbagai karunia itu diberikan untuk satu tujuan yang sama, yaitu membangun jemaat bukan untuk memecah jemaat, bukan merusak jemaat tapi untuk kepentingan bersama [1 Korintus 12:7]. Rasul Paulus menggambarkannya dengan indah, sebagaimana tubuh memiliki banyak anggota demikian juga sebuah jemaat ada yang menjadi tangan, kaki, telinga, mata dan sebagainya. Masing-masing berfungsi secara utuh dalam satu kesatuan tubuh. Dalam satu jemaat ada berbagai aktifitas yang dikenal sebagai pelayanan. Untuk pelayanan dalam jemaat dibutuhkan kemampuan. Itulah sebabnya Tuhan memberi karunia kepada tiap-tiap anggota secara khusus seperti yang dikehendakinya [1Korintus 12:11]. Pelayanan membangun jemaat bukan semata-mata berasal dari kemampuan atau kepandaian kita, tapi berasal dari Tuhan. Kita bukan membangun sebuah organisasi masyarakat atau organisasi manusia tapi membangun Tubuh Kristus yang adalah jemaat-Nya [Efesus 4:12]. Kita membutuhkan kemampuan dari Kristus, dan kemampuan inilah yang disebut karunia. Kemampuan kita sebagai manusia terbatas, karunia Roh dibutuhkan untuk mengatasi hal-hal yang tidak mampu kita lakukan. Ketika seseorang mendengar dokter berkata, “ Penyakit anda tidak ada obatnya, hidup anda tinggal beberapa bulan saja”, dibutuhkan karunia Tuhan. Masih ada pengharapan di dalam Kristus, kesembuhan masih dimungkinkan melalui karunia kesembuhan, masih ada karunia mujizat. Kalau toh tidak sembuh dibutuhkan karunia iman agar kita tetap bisa bersyukur dan bersukacita dalam penderitaan karena suatu penyakit. Oleh karena itu milikilah karunia Tuhan [ayat 1].
BARCODE BBM CHANNELS
RENUNGAN HARIAN
Tujuan Penggunaan Karunia Roh
07 Juli '16
Apapun Karunianya, Kasih Pengikatnya
25 Juli '16
Jangan Sembunyikan
11 Juli '16
Copyright © 2012 All rights reserved. Designed and Developed by GIA Dr. Cipto Semarang