SEPEKAN TERAKHIR
  Sabtu, 24 Februari 2018   -HARI INI-
  Jumat, 23 Februari 2018
  Kamis, 22 Februari 2018
  Rabu, 21 Februari 2018
  Selasa, 20 Februari 2018
  Senin, 19 Februari 2018
  Minggu, 18 Februari 2018
POKOK RENUNGAN
Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya barangsiapa menuruti firmanKu, ia tidak akan mengalami maut sampai selama-lamanya. (Yohanes 8:51)
DITULIS OLEH
Ibu Ribkah E. Christanti
Kontributor
Renungan Lain oleh Penulis:
Home  »  Renungan  »  Hidup Dalam Anugerah
Hidup Dalam Anugerah
Kamis, 05 September 2013 | Tema: Kebenaran Kerajaan Allah
Hidup Dalam Anugerah
Yohanes 8:30-36
Seorang hamba Tuhan pernah bersaksi tentang bagaimana ia bisa mengenal Kristus. Menurutnya, ketika ia masih dalam kepercayaannya yang lama, ia tidak sempat memiliki tabungan dan selalu hidup dalam ketakutan. Betapa tidak, dalam setahun saja, ia harus mengadakan beberapa macam ritual yang menuntut adanya korban dan sesajen yang telah ditentukan jumlahnya. Menurut kepercayaannya dulu, serangkaian syarat tersebut harus dipenuhi untuk menyenangkan para “penguasa” alam sehingga dirinya terhindar dari marabahaya, selamat, rezekinya tetap lancar, dll. Jika tidak dilakukan, maka akan mendapat celaka. Namun ketika ia diperkenalkan kepada Yesus, dan keselamatan di dalam Dia, ia terheran heran. Bagaimana bisa keselamatan yang “mahal” (menurut kepercayaannya yang lama) itu, bisa diraih dengan cuma-cuma hanya dengan percaya kepada Yesus?

Bersyukur. Itulah hal yang seharusnya kita kerjakan atas anugerah keselamatan yang kita terima. Hidup kita telah berdosa sejak leluhur kita berdosa. Belum lagi dampak yang kita terima sehingga kita cenderung berbuat dosa. Seharusnya kita sendiri yang harus menanggung semua dosa kita dengan nyawa kita (Roma 6:23). Namun atas kasih karunia Tuhan, Bapa mengutus Putra-Nya untuk menggantikan penghukuman atas dosa kita, sehingga kita diampuni dari dosa...selengkapnya »
Kebiasaan mempersiapkan segala sesuatu dengan baik ketika rumah kita akan kedatangan tamu merupakan hal yang lumrah kita lakukan. Pastinya kita akan memperhatikan kebersihan rumah. Membersihkan rumah pasti kita dilakukan setiap hari. Namun jika ada tamu yang akan datang bahkan menginap, kita akan kembali mempersiapkan apakah ada yang kurang rapi dan kurang bersih dirumah kita. Ketika tamu kita akan menginap, pasti kita akan mempersiapkan kamar dan tempat tidur dengan baik. Baik itu mengganti seprei dan sarung bantal maupun memberikan wewangian dikamar tersebut supaya terasa nyaman saat tamu kita menginap. Tidak lupa juga kita pasti akan menyediakan hidangan untuk tamu kita. Membuatkan masakan yang enak untuk menjamu tamu yang akan datang. Semua hal itu kita lakukan supaya tamu kita yang akan datang merasa nyaman dan senang karena kita menyambutnya dengan baik. Jika kita sedemikian sungguh-sungguh ketika menyambut tamu yang akan datang kerumah kita, apakah kita juga telah sungguh-sungguh dalam menyambut dan menantikan kedatangan-Nya yang kedua kalinya?. Sudahkah kita mempersiapkan diri kita masing-masing untuk menyambut hari Tuhan yang semakin dekat itu? Atau malah kita masih bersantai dengan kehidupan kita yang masih penuh dengan dosa. Namun sering kali kehidupan kita sekarang ini tidak menunjukkan bahwa kita benar-benar sedang menantikan kedatangan-Nya. Menantikan kedatangan Tuhan harus kita isi dengan kehidupan yang benar jauh dari dosa dan berusaha dengan sungguh-sungguh supaya benar-benar menjadi mempelai yang layak dihadapan-Nya. Kita mungkin dapat berkata bahwa kita sedang menantikan kedatangan-Nya, tapi kita tidak bisa menipu Tuhan bahwa kita sedang menantikan-Nya, tetapi kita masih hidup di dalam dosa tanpa ada usaha untuk membereskannya. Hari Tuhan tidak ada yang tahu kapan datangnya. Namun kita dapat mempersiapkan hidup kita agar kita siap ketika berhadapan dengan-Nya. Marilah kita siap sedia senantiasa dengan menjaga kekudusan hidup ini. Jika masih menyimpan dosa maka segeralah selesaikan di hadapan Tuhan. Memohon pertolongn-Nya supaya memampukan kita untuk meninggalkan segala dosa yang masih mengikat kita. Mari kita sungguh-sungguh mempersiapkan diri sebaik mungkin untuk menyambut sang Tamu Agung itu, supaya kita juga bisa turut serta di dalam kemuliaan-Nya yang kekal.
Suatu hari sebuah status facebook seorang teman yang dikenal sebagai pribadi yang sederhana membuat mata terbelalak. Kira-kira begini bunyinya, ’Wah, aku bingung mau BERHEMAT bagaimana lagi. UANG JAJAN ANAK dari 7 JETI SEMINGGU sudah kupangkas jadi separuhnya! Tapi kepala masih saja nyut-nyutan dengan GAJI MEPET seperti ini.’ Dan status itu ramai menuai komentar dari mana-mana. Ada yang memuji-muji keberuntungannya yang bagi sebagian orang bagaikan mimpi. Ada juga yang mengecam keluhannya sebagai kamuflase untuk mewartakan ke’tajiran’nya. Sampai akhirnya si pemilik status menyatakan bahwa itu hanya status main-main. Ternyata dia sedang mengikuti tantangan membuat status ’humblebrags’. Meninggikan diri dengan kemasan kalimat yang ’merendah’, itulah humblebrags. Saking seringnya menjumpai model yang seperti ini, sampai-sampai ada yang mendapat ide untuk melombakannya sebagai guyonan satire. Di pasar, di perkumpulan RT, di arena olah raga, di layar televisi, di lingkungan sekolah, di tempat kerja ... di mana ada orang berkumpul, di situ kita temui humblebrags. Ruang lingkup rohani pun tidak luput dari hal ini. Hati-hati dengan motivasi di balik setiap hal yang kita sampaikan. Baik lisan maupun tulisan. Sharing hal-hal rohani pun sangat bisa terpeleset menjadi ajang untuk mendulang pujian bagi diri sendiri. Ketika unsur SAYA menjadi dominan dan menggeser supremasi TUHAN ... berhati-hatilah.Jangan bosan berguru kepada Tuhan Yesus Kristus untuk belajar menjadi rendah hati. Selalu ingat untuk berhati-hati. Tuhan tidak menyukai kecongkakan dan tinggi hati. Dua hal yang menjadi jaminan bagi perilaku congkak dan tinggi hati adalah kehancuran dan kejatuhan. Tentu saja kita ingin menjauhinya keduanya.
Kita mungkin pernah mendengar atau pernah menyanyikan lagu yang Reff nya menyatakan di doa ibuku namaku disebut, di doa ibu kudengar ada namaku disebut. Tanggal 21 Juli 1990 adalah kelahiran rohani atau pertobatan saya, karena ada seorang ibu yang senantiasa tekun mendoakan meskipun ada orang-orang yang mengajak saya untuk ke gereja untuk beribadah. Saya percaya karena doa ibu saya lah yang menggerakkan Tuhan untuk mengubahkan hidup ini. Setelah bertobat saya mulai mendoakan papa saya meskipun sebelumnya sudah ada banyak orang yang memperkenalkan kristus dan mengajak ke Gereja. Namun justru baru tahun 1993 papa saya mau terima Tuhan dan di Baptiskan. Surat Yakobus tidak cuma untuk mengingatkan orang percaya yang hidup pada masa itu, namun juga pada jaman sekarang. Elia sebagai nabi Tuhan juga manusia biasa doanya di dengar dan di jawab Tuhan. Dengan kuat kuasa Nya, Allah melakukan apa yang di harapkan dan di minta oleh Elia. Mari sebagai umat Tuhan yang percaya, bahwa doa kita tidak cuma di dengar oleh Allah tetapi juga di jawab Nya. Kita tidak cuma sibuk berdoa untuk kebutuhan-kebutuhan pribadi, pergumulan dan masalah-masalah pribadi kita, tapi juga berdoa untuk keselamatan jiwa-jiwa. Supaya ada banyak orang percaya pada Yesus sebagai Tuhan dan Juru Selamat. Sehingga Allah memberikan keselamatan yang kekal seperti yang Tuhan Yesus mau.
“…aku ki kurang sabar piye to jeng? Wes puluhan tahun dikecewak’ke, disakiti atiku….tak ampuni terus..,nek wong liyo mesti wes ora tahan ngadepi wong koyo de’en, tapi nek ngene terus, opo yo aku kudu sabar terus? Kudu ngampuni terus?, aku wes kesel… capek jeng, wes cukup kesabaranku, sabar kan yo ono bates’e to jeng…” Demikian curhatan seorang ibu kepada temannya dalam menghadapi suamianya. Mungkin kita pernah mengalami saat-saat seperti itu, jenuh dan capek ketika harus terus menerus bersabar dan mengampuni anggota keluarga ataupun teman yang tak henti-hentinya menguji kesabaran kita. Sebagai manusia yang tidak sempurna, naluri dan kedagingan kita tentu tidak selamanya terkontrol. Ada kalanya emosi kita terpancing untuk membalas setiap ketidak adilan yang kita terima. Ketika kita hanya memikirkan kedagingan, maka sudah pasti amarah, dendam dan membalas ketidak adilan menjadi hal yang wajar dilakukan, mengingat manusia tidak memiliki kekuatan untuk bisa bersabar dan mengampuni. Dan kata-kata “kesabaran ada batasnya, karena manusia lemah” menjadi permakluman bagi kita. Itulah standart kita, manusia yang penuh kelemahan. Tapi ternyata bukan itu yang diinginkan Tuhan dari umatNya. Dia ingin kita memiliki standart yang sama dengan Nya dalam hal mengampuni. Dalam Matius 18:21-22, Petrus mengajukan standart tujuh kali dalam mengampuni seseorang, tapi Tuhan Yesus menginginkan kita mengampuni seseorang tujuh puluh kali tujuh. Bukan hanya sampai disitu, bahkan Tuhan Yesus mengatakan bahwa Bapa di Sorga tidak akan mengampuni kita, apabila kita tidak mengampuni orang lain dengan segenap hati. Artinya selama manusia masih mempunyai hati, selama itu pula dia harus mengampuni sampai kedasar hati, sampai segenap hati. Artinya tidak ada celah untuk tidak mengampuni kepada siapapun. Wow…..berat sekali standart yang ditetapkan Tuhan buat kita, rasanya terlalu tinggi buat manusia yang sangat lemah ini. Tapi bagi Tuhan tidak ada hal yang mustahil. Roh kuduslah yang akan terus menerus mengingatkan kita untuk berusaha mencapai standart tinggi itu. Roh kudus yang akan selalu mengajar kita menghadapi ujian kesabaran yang serasa tak ada habisnya, sampai kita bisa memenuhi standart yang diberikan Tuhan bagi kita.
BARCODE BBM CHANNELS
RENUNGAN HARIAN
Menabur Kebaikan1
17 Februari '18
Yang Tersayang Sudah Pulang
25 Januari '18
Sempat Meragukan Kristus
15 Februari '18
Copyright © 2012 All rights reserved. Designed and Developed by GIA Dr. Cipto Semarang