SEPEKAN TERAKHIR
  Sabtu, 02 Juli 2016   -HARI INI-
  Jumat, 01 Juli 2016
  Kamis, 30 Juni 2016
  Rabu, 29 Juni 2016
  Selasa, 28 Juni 2016
  Senin, 27 Juni 2016
  Minggu, 26 Juni 2016
POKOK RENUNGAN
Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya barangsiapa menuruti firmanKu, ia tidak akan mengalami maut sampai selama-lamanya. (Yohanes 8:51)
DITULIS OLEH
Ibu Ribkah E. Christanti
Kontributor
Renungan Lain oleh Penulis:
Home  »  Renungan  »  Hidup Dalam Anugerah
Hidup Dalam Anugerah
Kamis, 05 September 2013 | Tema: Kebenaran Kerajaan Allah
Hidup Dalam Anugerah
Yohanes 8:30-36
Seorang hamba Tuhan pernah bersaksi tentang bagaimana ia bisa mengenal Kristus. Menurutnya, ketika ia masih dalam kepercayaannya yang lama, ia tidak sempat memiliki tabungan dan selalu hidup dalam ketakutan. Betapa tidak, dalam setahun saja, ia harus mengadakan beberapa macam ritual yang menuntut adanya korban dan sesajen yang telah ditentukan jumlahnya. Menurut kepercayaannya dulu, serangkaian syarat tersebut harus dipenuhi untuk menyenangkan para “penguasa” alam sehingga dirinya terhindar dari marabahaya, selamat, rezekinya tetap lancar, dll. Jika tidak dilakukan, maka akan mendapat celaka. Namun ketika ia diperkenalkan kepada Yesus, dan keselamatan di dalam Dia, ia terheran heran. Bagaimana bisa keselamatan yang “mahal” (menurut kepercayaannya yang lama) itu, bisa diraih dengan cuma-cuma hanya dengan percaya kepada Yesus?

Bersyukur....selengkapnya »
Suasana rapat pimpinan di perusahaan itu semakin memanas seperti yang sudah saya duga. Bagaimana tidak, rapat yang diharapkan bisa menelurkan ide-ide yang cemerlang untuk meningkatkan penjualan, malah menjadi ajang saling menyalahkan antar manager dan mengkritik kebijakan perusahaan. Alhasil, tidak ada kesepakatan yang dicapai, tidak jalan keluar yang didapat dari hasil rapat itu. Dan masing-masing peserta keluar dengan wajah yang kuyu karena kelelahan berdebat. Sungguh sangat disayangkan. Hanya membuang waktu, tenaga dan pikiran, tanpa mendapatkan hal yang positif. Mencari kambing hitam, itu hal yang biasa dilakukan segelintir orang ketika dihadapkan pada masalah/persoalan. Bukan berusaha memikirkan jalan keluar agar masalah bisa diatasi, tetapi hanya berkutat dengan penyebab masalah itu. Hal ini tentu saja memicu perpecahan dalam sebuah komunitas seperti keluarga, perusahaan, maupun gereja. Sifat mencari kambing hitam adalah sifat dari manusia lama yang belum diubahkan. Sebagai orang yang sudah menerima Yesus, sudah seharusnya kita meninggalkan manusia lama dan menjadi manusia baru dengan sifat dan karakter yang baru [ayat 5-11]. Dengan begitu ketika kita menyadari bahwa kita adalah bagian dari tubuh Kristus dalam gereja, kita mampu memelihara dan mewujudkan kesatuan. Dan suatu waktu ketika diperhadapkan dengan masalah/persoalan, kita tidak mencari kambing hitam lagi, karena dasar pemikiran kita adalah belas kasihan, kemurahan, kerendahan hati, kelemah lembutan dan kesabaran [ayat 12-13]. Damai sejahtera Kristus yang memerintah dalam hati kita akan mendatangkan hikmat baik dalam pikiran maupun ucapan saat kita duduk bersama menyelesaikan masalah yang ada. Masalah/persoalan akan selalu ada, datang silih berganti, tetapi jangan lagi mencari kambing hitam. Carilah kasih yang sanggup mengikat dan mempersatukan dengan sempurna. Belajarlah memelihara dan mewujudkan kesatuan dalam hidup bergereja dengan mengutamakan kepentingan bersama di atas kepentingan pribadi.
Kisah orang lumpuh disembuhkan oleh Yesus merupakan salah satu mujizat yang dilakukan Tuhan Yesus ketika Ia di dunia. Namun mari kita mencermati dan belajar bagaimana orang yang lumpuh itu bisa bertemu dengan Yesus sedangkan ia tidak bisa berjalan. Orang lumpuh tersebut tidak mungkin bisa bertemu dengan Yesus tanpa pertolongan dari sahabat-sahabatnya. Supaya ia bisa bertemu dengan Yesus, maka ia di usung di atas tempat tidur oleh beberapa orang. Namun karena terlalu banyaknya orang, mereka tidak dapat membawanya masuk. Satu-satunya cara supaya dapat bertemu Yesus adalah dengan membongkar atap dan menurunkan orang tersebut dengan tempat tidurnya tepat di hadapan Yesus. Akhirnya Yesus pun menyembuhkan seorang yang lumpuh itu. Melalui kisah tersebut kita dapat mencermati bahwa orang yang lumpuh itu membutuhkan orang lain untuk bisa membawanya ke hadapan Yesus untuk memperoleh kesembuhan. Ada empat orang teman yang bekerjasama menurunkannya dari atas atap sehingga ia bertemu dengan Yesus dan disembuhkan. Satu hal yang tidak bisa dipungkiri adalah setiap orang akan membutuhkan orang lain untuk saling membantu, termasuk ketika mengalami kesulitan. Dalam surat Ibrani 10:24-25 kita diajar untuk saling memperhatikan dan mendorong dalam kasih dan pekerjaan yang baik. Dan mengajarkan supaya jangan menjauhkan diri dari pertemuan ibadah dan saling menasihati. Jemaat yang dikasihi Tuhan, marilah kita, sebagai anggota tubuh Kristus, menjadi umat yang saling tolong menolong satu dengan yang lainnya. Ketika kita lemah iman, maka janganlah menjauhkan diri dari ibadah yang ada. Justru dengan beribadah, maka kita sebagai anggota tubuh Kristus bisa saling menguatkan di dalam kasih dan saling mendoakan satu dengan yang lain sehingga kita disegarkan kembali. Kesatuan tubuh Kristus akan terwujud ketika kita saling terikat melalui kebersamaan di dalam kasih Kristus.
Emas adalah lambang kemuliaan, oleh karenanya emas disebut logam mulia. Seorang raja atau ratu mendapat panggilan “Yang Mulia”. Mereka memakai mahkota emas sebagai lambang dari kedudukannya yang dimuliakan. Dari dulu sampai sekarang logam emas menduduki peringkat tertinggi dibandingkan dengan yang lain seperti perak atau tembaga. Emas sudah teruji tidak luntur terkena benda apapun dan harganya semakin hari semakin tinggi. Dalam Perjanjian Lama, emas dijadikan salah satu bahan untuk pembuatan kemah suci selain perak, tembaga dan bahan-bahan lainnya [Keluaran 25]. Di ruang kudus diletakkan meja roti sajian yang disalut dan dibingkai dengan emas murni. Pada keempat kakinya dipasang gelang-gelang dari emas murni. Di atas meja ditaruh pinggan, cawan, kendi dan piala yang semuanya terbuat dari emas murni. Semua perkakas itu digunakan untuk korban persembahan curahan, yaitu darah anak domba yang harus dibuat dari emas murni, bukan dari tanah liat. Mengapa? Karena tanah liat merupakan lambang dari manusia yang bersifat fana dan telah rusak oleh dosa, tetapi Tuhan telah mengangkat kita yang fana menjadi kekal dalam kemuliaan-Nya. Suatu saat ketika hidup kita di bumi berakhir, tubuh kita yang fana akan kembali ke tanah, tetapi kita yang percaya kepada Kristus, Sang Anak Domba yang darah-Nya telah dicurahkan, akan diubah dalam sekejap menjadi tubuh kemuliaan yang kekal [1 Korintus 15:51-53]. Rasul Paulus menasihatkan untuk menjadi perabot dari emas atau perak untuk maksud yang mulia, bukan perkakas dari kayu atau tanah. Jika kita menyucikan diri dari hal-hal yang jahat, kita akan menjadi perabot rumah untuk maksud yang mulia, dikuduskan, dipandang layak untuk dipakai Tuan kita dan disediakan untuk setiap pekerjaan yang mulia [2 Timotius 2:50-51]. Siapkah kita menjadi bejana kemuliaan-Nya?
Kira-kira 2 bulan lalu, saat doa korporat di gereja, bapak Gembala memberi sebuah ilustrasi berupa klip yang diambil dari film berjudul “Finding Nemo”. Nemo adalah seekor ikan anemon kecil yang tidak sengaja terperangkap dalam jaring sebuah kapal besar pencari ikan. Dalam klip itu digambarkan betapa jaring raksasa itu seakan mengeruk habis isi laut. Namun Nemo berinisiatif untuk menolong ikan-ikan lain keluar dari jaring. Dia berbicara kepada seluruh ikan untuk berenang sekuat-kuatnya menuju bawah untuk melawan pusat kekuatan kendali jaring itu. Awalnya dia mengalami kesulitan karena seluruh ikan sibuk, bingung dan panik untuk menyelamatkan diri masing-masing dengan berenang ke segala arah. Namun ketika mereka mendengarkan suara Nemo si ikan kecil, mereka mulai bersatu dan melakukan instruksi Nemo untuk berenang ke bawah bersama-sama dengan sekuat mungkin. Alhasil para nelayan di kapal mulai heran karena jala semakin berat, dan sungguh tidak terelakkan, jala itu koyak karena tidak kuat menahan ikan yang “memberontak” tadi. Akhirnya bebaslah ikan-ikan tersebut. Dari kisah ikan di atas, kita dapat mengambil banyak pelajaran yang berharga. Mulai dari betapa hebatnya dampak dari sebuah kesepakatan dan kesatuan dalam kelompok. Kesepakatan seakan mengaburkan kekurangan dari setiap individu dan justru melipatgandakan kelebihan atau kekuatan mereka. Seekor ikan sudah pasti sangat mustahil untuk mengoyakkan jala. Namun beda cerita jika ikan itu bersama dengan kelompoknya. Bahkan lebih “mengerikan” lagi jika ikan yang banyak itu memiliki satu titik fokus. Itulah Kuasa dari kata sepakat. Kesepakatan mampu melipatgandakan kekuatan dan memfokuskan tujuan. Namun kehebatan kesepakatan juga menuntut adanya “pribadi yang hebat”. Yaitu mereka yang mau berbesar hati, rendah hati, menghargai pendapat orang lain dan mampu berpikir secara komprehensif. Di mana pun posisi kita, selagi kita masih berada dalam sebuah kelompok atau komunitas, kita dituntut untuk berkarakter menjadi “orang hebat” jika kita menginginkan adanya sebuah keajaiban dalam sebuah kesepakatan. Dalam keluarga, tempat kerja, lingkungan masyarakat, gereja dan di mana pun. Dan perlu diingat, bagi orang yang mau membangun karakter orang hebat tersebut, Tuhan berkenan dan bahkan akan mengabulkan apapun yang mereka minta. Selamat menjadi orang hebat!
BARCODE BBM CHANNELS
RENUNGAN HARIAN
Sehati Dalam Perjuangan Iman
05 Juni '16
Peliharalah Kesatuan Roh
26 Juni '16
Semut Yang Tidak Egois
27 Juni '16
Copyright © 2012 All rights reserved. Designed and Developed by GIA Dr. Cipto Semarang