SEPEKAN TERAKHIR
  Kamis, 11 Februari 2016   -HARI INI-
  Rabu, 10 Februari 2016
  Selasa, 09 Februari 2016
  Senin, 08 Februari 2016
  Minggu, 07 Februari 2016
  Sabtu, 06 Februari 2016
  Jumat, 05 Februari 2016
POKOK RENUNGAN
Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya barangsiapa menuruti firmanKu, ia tidak akan mengalami maut sampai selama-lamanya. (Yohanes 8:51)
DITULIS OLEH
Ibu Ribkah E. Christanti
Kontributor
Renungan Lain oleh Penulis:
Home  »  Renungan  »  Hidup Dalam Anugerah
Hidup Dalam Anugerah
Kamis, 05 September 2013 | Tema: Kebenaran Kerajaan Allah
Hidup Dalam Anugerah
Yohanes 8:30-36
Seorang hamba Tuhan pernah bersaksi tentang bagaimana ia bisa mengenal Kristus. Menurutnya, ketika ia masih dalam kepercayaannya yang lama, ia tidak sempat memiliki tabungan dan selalu hidup dalam ketakutan. Betapa tidak, dalam setahun saja, ia harus mengadakan beberapa macam ritual yang menuntut adanya korban dan sesajen yang telah ditentukan jumlahnya. Menurut kepercayaannya dulu, serangkaian syarat tersebut harus dipenuhi untuk menyenangkan para “penguasa” alam sehingga dirinya terhindar dari marabahaya, selamat, rezekinya tetap lancar, dll. Jika tidak dilakukan, maka akan mendapat celaka. Namun ketika ia diperkenalkan kepada Yesus, dan keselamatan di dalam Dia, ia terheran heran. Bagaimana bisa keselamatan yang “mahal” (menurut kepercayaannya yang lama) itu, bisa diraih dengan cuma-cuma hanya dengan percaya kepada Yesus?

Bersyukur. Itulah hal yang seharusnya kita kerjakan atas anugerah keselamatan yang kita terima. Hidup kita telah berdosa sejak leluhur kita berdosa. Belum lagi dampak yang kita terima sehingga kita cenderung berbuat dosa. Seharusnya kita sendiri yang harus menanggung semua dosa kita dengan nyawa kita (Roma 6:23). Namun atas kasih karunia Tuhan, Bapa mengutus Putra-Nya untuk menggantikan penghukuman atas dosa kita, sehingga kita diampuni dari dosa dan diselamatkan. Ketika kita percaya kepada Yesus dan anugerah keselamatan-Nya, maka kebenaran itu berlaku atas hidup kita. Namun kehidupan percaya yang bagaimana yang akan memberlakukan “kebenaran” itu? Dalam ayat 31-32 disebutkan syarat hidup percaya kita. Yaitu unt...selengkapnya »
Kita menghayati tema baru di bulan Februari ini, yaitu Tuhan Hadir di Bait Kudus-Nya. Pertanyaannya adalah mengapa Tuhan hadir di Bait Kudus-Nya? Bukankah Tuhan Maha Hadir dan selalu hadir di mana-mana? Benar sekali bahwa Tuhan Maha Hadir, tetapi pengertian “Tuhan hadir di Bait Kudus-Nya” lebih menekankan pada “Tuhan memiliki maksud dan kehendak” terhadap umat-Nya yang selalu berkumpul dan mencari Allah di dalam Bait-Nya. Maka kehadiran Tuhan selalu berarti dan memberikan suatu perintah kepada Umat-Nya untuk diperhatikan dan dilakukan dalam kehidupan nyata. Bukan di dalam Bait Allah saja, namun yang terutama dilakukan di luar sana, sehingga berkat syalom juga dirasakan dan diterima bagi banyak orang. Kehadiran Tuhan telah nyata, yaitu dengan adanya kasih karunia Allah yang menyelamatkan semua manusia [ayat 11]. Yesus Kristus yang merupakan kehadiran Allah itu sendiri mendidik kita semua supaya meninggalkan kefasikan dan keinginan duniawi, sehingga memiliki hidup yang penuh bijaksana, adil dan beribadah di dalam dunia sekarang ini [ayat 12]. Bahkan Yesus Kristus telah menyerahkan diri-Nya bagi kita untuk membebaskan kita dari segala kejahatan dan menguduskan umat kepunyaan-Nya sendiri, yaitu mereka semua yang rajin berbuat baik [ayat 14]. Saudara yang dikasihi Tuhan, ketika Tuhan hadir di dalam ibadah kita, kira-kira apa yang Tuhan kehendaki atas jemaat yang berkumpul dalam ibadah? Tentu saja Tuhan ingin supaya kita mendengar Firman-Nya dan melakukan dalam kehidupan sehari-hari, yaitu kehidupan yang kudus, yang tidak cacat dengan segala keinginan-keinginan kedagingan. Dengan demikian kita lebih mudah untuk memberitakan kebenaran bagi banyak orang, maka kita juga tidak akan pernah dianggap rendah oleh sekitar kita. Tuhan hadir supaya kita, umat-Nya, dikuduskan dan menjadi berkat.
Saulus seorang Ibrani dan termasuk golongan Farisi. Ia sangat memahami dan menaati hukum Taurat yang diyakininya sebagai sebuah kebenaran, sehingga ia menganggap orang yang tidak sepaham dengannya harus dibinasakan. Ia memasuki rumah demi rumah para pengikut Kristus, menyeret laki-laki maupun perempuan, menganiaya dan memasukkan mereka ke dalam penjara. Ia juga yang menyetujui Stefanus dirajam batu. Setelah perjumpaan dengan Kristus, terjadi perubahan dalam hidupnya. Apa yang dahulu ia anggap sebagai menghidupi kebenaran ternyata salah. Ia berbalik seratus delapan puluh derajat, meninggalkan kehidupan lama dan menjadi manusia baru yang menurut kehendak Allah. Seseorang yang telah menerima Kristus sebagai Juru Selamat dan menerima pengajaran-Nya harus meninggalkan kehidupan manusia lama dan diperbaharui di dalam roh dan pikiran, mengenakan manusia baru yang telah diciptakan menurut kehendak Allah di dalam kebenaran dan kekudusan yang sesungguhnya. Membuang dusta, tidak marah sampai matahari terbenam, tidak mencuri, tidak mengucapkan perkataan kotor. Membuang kepahitan, kegeraman, kemarahan, pertikaian dan fitnah. Jujur, perkataan yang baik dan membangun, ramah, penuh kasih mesra, saling mengampuni. Sebagai murid Kristus, sudah selayaknya kita mengenakan manusia baru yang melakukan kehendak Tuhan dalam perkataan dan perbuatan kita sehari-hari. Janganlah kita memusuhi atau menghakimi orang lain, tetapi dengan perkataan dan perbuatan kita yang mencerminkan Kristus akan membawa mereka menerima-Nya sebagai Juru Selamat. Marilah kita menghidupi kebenaran tanpa dibatasi waktu dan tempat. Artinya kapan saja dan di mana saja kebenaran itu senantiasa mewarnai hidup kita.
Tiga orang pemuda datang kepada seorang bijak dan bertanya bagaimana mereka bisa menemukan kedamaian hati. Kemudian guru bijak itu berkata, “Aku tidak bisa memberikan jawabannya. Yang bisa menemukannya adalah kalian sendiri.“ Salah seorang dari pemuda itu bertanya, “Apa nasihat guru dan apa yang harus kami lakukan?” Guru tersebut menyahut, “Kata orang ada tiga gunung yang biasa dicari oleh kebanyakan orang, yaitu gunung harta, gunung kekuasaan, dan gunung ilmu pengetahuan. Kalian bertiga, masing-masing, pergilah ke tempat itu dan temukanlah jawabannya di sana.” Maka pergilah ketiga pemuda itu. Satu orang ke gunung harta; satu lagi ke gunung kekuasaan; dan yang terakhir ke gunung ilmu pengetahuan. Setelah beberapa waktu lamanya mereka kembali menghadap kepada sang guru bijak. “Apakah kalian sudah menemukan kedamaian yang kalian cari?” tanya sang guru. Pemuda yang pertama mengatakan bahwa dia tidak menemukan kedamaian di gunung harta karena yang ada adalah keserakahan belaka. Pemuda kedua juga tidak menemukan kedamaian karena di gunung kekuasaan yang ada hanyalah saling menjatuhkan. Sedangkan pemuda yang ketiga pun tidak menemukan jawabnya karena di gunung ilmu pengetahuan yang ada adalah kecongkakan. Kemudian sang guru berkata, “Kalian telah menemukan jawabannya. Memang benar, di dunia ini kalian tidak akan menemukan kedamaian yang sesungguhnya.” Jemaat yang terkasih, dunia ini mungkin menawarkan rasa tenang, rasa aman ataupun rasa tentram, tetapi apakah itu kedamaian yang sejati? Perhatikan apa yang terjadi di sekeliling kita. Berbagai bencana alam terjadi, dari tanah longsor, gunung meletus, gempa bumi, banjir bandang, dsb. Iklim ekstrim yang melanda beberapa belahan bumi ini. Dari suhu panas yang ekstrim sampai suhu dingin yang luar biasa. Juga peperangan dan perebutan kekuasaan yang mengorbankan rakyat kecil terjadi di banyak negara. Belum lagi kejahatan dan kriminalitas dengan berbagai macam bentuk variasinya. Bahkan ancaman terorisme yang sewaktu-waktu muncul secara mengejutkan. Masih adakah tempat bagi kedamaian di dunia ini? Janganlah kita gelisah dan gentar. Memang tidak ada yang dapat menjamin kedamaian di dunia ini, tetapi Kerajaan Allah telah hadir di tengah dunia ini membawa damainya yang sejati. Tuhan Yesus telah memberikan damai sejahtera-Nya kepada setiap orang yang percaya [murid-murid-Nya]. Damai sejahtera-Nya tidak seperti yang diberikan dunia ini, yang hanya semu dan sementara semata. Melalui dan dalam Roh Kudus-Nya, ada penghiburan; ada sukacita; ada pengharapan; ada pemeliharaan dan penyertaan; ada kekuatan baru, dsb. Ternyata masih bisa ditemukan kedamaian di tengah dunia ini. Kedamaian yang bukan berasal dari dunia ini, tetapi dari Kerajaan Allah yang tidak tergoncangkan.
Allah mengakui bahwa Daud seorang yang berkenan kepada-Nya dan yang melakukan segala kehendak-Nya [KPR 13:22]. Daud berkenan kepada Tuhan bukan karena bentuk fisik, kepandaian atau kekayaannya, tetapi karena dia sangat mencintai Allah dan hal itu terlihat dalam kehidupannya. Dia selalu rindu untuk bersekutu dengan Tuhan dan selalu merindukan hadirat-Nya [Mazmur 84:2-3]. Sebagai raja, dia tinggal di istana yang mewah, hidup berkelimpahan, tetapi dia lebih suka tinggal di rumah Allah dan pelataran-Nya [Mazmur 84:11]. Setiap pagi sebelum melakukan kegiatan, dia terlebih dulu mencari Allah [Mazmur 5:4]. Dalam sehari tujuh kali dia memuji-muji Tuhan [Mazmur 119:164]. Dia manusia biasa yang bisa dan pernah jatuh dalam dosa, tetapi dia tidak larut dalam dosanya tetapi bertobat dan kembali taat akan Firman-Nya. Orang percaya tidak imun terhadap masalah, sering mengeluh karena berat beban yang harus dipikul karena masih hidup di dalam dunia. Karena memang selama masih tinggal dalam kemah yang sekarang, masalah dan penderitaan tetap akan terjadi. Tetapi Allah tidak meninggalkan umat-Nya, Dia memberikan Roh-Nya untuk menyertai umat-Nya. Yang harus dilakukan oleh umat-Nya adalah hidup berkenan kepada-Nya supaya tetap tabah dalam menghadapi segala masalah. Kita tidak tahu apa yang akan terjadi dalam tahun 2016 yang baru saja kita masuki. Kesulitan ekonomi, masalah keamanan, masalah keluarga, bencana tidak dapat kita prediksi. Kita tidak bisa mengubah atau menolak hal-hal yang akan kita alami dan kita tidak bisa memilih untuk tidak melewatinya. Yang perlu kita ingat bahwa Tuhan tidak pernah meninggalkan kita dalam segala keadaan. Bagian yang bisa kita lakukan adalah berusaha untuk berkenan kepada-Nya, tingkatkan persekutuan kita dengan-Nya melalui saat teduh, merenungkan Firman-Nya, menaikkan pujian senantiasa, mentaati dan melakukan Firman-Nya.
BARCODE BBM CHANNELS
RENUNGAN HARIAN
Mengundang Raja
01 Februari '16
Si Mungil Yang Menjadi Tempat Bernaung
27 Januari '16
Pujilah Tuhan
20 Januari '16
Copyright © 2012 All rights reserved. Designed and Developed by GIA Dr. Cipto Semarang