SEPEKAN TERAKHIR
  Selasa, 02 September 2014   -HARI INI-
  Senin, 01 September 2014
  Minggu, 31 Agustus 2014
  Sabtu, 30 Agustus 2014
  Jumat, 29 Agustus 2014
  Kamis, 28 Agustus 2014
  Rabu, 27 Agustus 2014
POKOK RENUNGAN
Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya barangsiapa menuruti firmanKu, ia tidak akan mengalami maut sampai selama-lamanya. (Yohanes 8:51)
DITULIS OLEH
Ibu Ribkah E. Christanti
Kontributor
Renungan Lain oleh Penulis:
Home  »  Renungan  »  Hidup Dalam Anugerah
Hidup Dalam Anugerah
Kamis, 05 September 2013 | Tema: Kebenaran Kerajaan Allah
Hidup Dalam Anugerah
Yohanes 8:30-36
Seorang hamba Tuhan pernah bersaksi tentang bagaimana ia bisa mengenal Kristus. Menurutnya, ketika ia masih dalam kepercayaannya yang lama, ia tidak sempat memiliki tabungan dan selalu hidup dalam ketakutan. Betapa tidak, dalam setahun saja, ia harus mengadakan beberapa macam ritual yang menuntut adanya korban dan sesajen yang telah ditentukan jumlahnya. Menurut kepercayaannya dulu, serangkaian syarat tersebut harus dipenuhi untuk menyenangkan para “penguasa” alam sehingga dirinya terhindar dari marabahaya, selamat, rezekinya tetap lancar, dll. Jika tidak dilakukan, maka akan mendapat celaka. Namun ketika ia diperkenalkan kepada Yesus, dan keselamatan di dalam Dia, ia terheran heran. Bagaimana bisa keselamatan yang “mahal” (menurut kepercayaannya yang lama) itu, bisa diraih dengan cuma-cuma hanya dengan percaya kepada Yesus?

Bersyukur. Itulah hal yang seharusnya kita kerjakan atas anugerah keselamatan yang kita terima. Hidup kita telah berdosa sejak leluhur kita berdosa. Belum lagi dampak yang kita terima sehingga kita cenderung berbuat dosa. Seharusnya kita sendiri yang harus menanggung semua dosa kita dengan nyawa kita (Roma 6:23). Namun atas kasih karunia Tuhan, Bapa mengutus Putra-Nya untuk menggantikan penghukuman atas dosa kita, sehingga kita diampuni dari dosa dan diselamatkan. Ketika kita percaya kepada Yesus dan anugerah keselamatan-Nya, maka kebenaran itu berlaku atas hidup kita. Namun kehidupan percaya yang bagaimana yang akan memberlakukan “kebenaran” itu? Dalam ayat 31-32 disebutkan syarat hidup percaya kita. Yaitu unt...selengkapnya »
Ketika mengandung putri yang pertama, angan-angan saya dipenuhi gambaran yang sangat indah tentang hubungan yang manis antara saya dan anak ini kelak. Saya bertekad untukmengasuhnya sendiri dan menjadi ibu yang terbaik. Hubungan kami pasti akan sangat menyenangkan. Setelah bayi mungil ini lahir mulailah saya berhadapan dengan kenyataannya yang tak sesederhana angan-angan semula. Saat mulai mendapat asupan makanan padat, kadangkala ia menolak untuk makan dan lebih suka bermain-main saja. Di lain waktu ia memuntahkan makanan yang dengan susah payah dibuatkan khusus untuknya dan dengan penuh perjuangan disuapkan selama lebih dari satu jam. Di saat-saat seperti itu saya bisa saja memilih untuk menuruti keinginannya agar ia tetap senang. Namun saya tidak melakukannya. Saya memilih untuk tidak membiarkan perutnya kosong. Meskipun dengan begitu ia akan marah dan menangis. Memasuki usia sekolah pun punya kesulitan sendiri. Mengajarnya untuk hidup teratur dan bertatakrama tak semudah teori. Akan lebih mudah bila saya membiarkannya melakukan apa yang diinginkannya dengan cara sesukanya. Tetapi saya tidak melakukannya. Saya memilih untuk tetap mengarahkannya. Meskipun dengan begitu ia akan ngambek dan marah-marah. Memasuki pertengahan masa remaja, lebih mudah untuk memberinya pengertian. Lebih mudah untuk mengajaknya berbicara dari hati ke hati. Kami menikmati hubungan yang sehat. Memang tidak seperti yang saya angan-angankan dahulu, tetapi ini lebih baik. Ada kalanya kami bercanda. Ada kalanya bercerita. Ada kalanya berdebat. Ada kalanya sebatas berdiskusi. Bahkan kini bukan hanya saya yang menegurnya bila perlu, ia pun kadang melakukan hal yang sama. Semuanya kami lakukan demi kebaikan bersama. Lebih baik menegur demi kebaikan daripada membiarkan namun menjerumuskan.
Suatu ketika seorang ayah melarang anaknya untuk bermain sepakbola di siang hari dengan alasan cuaca yang begitu panas. Dan sang ayah menyarankan tentu akan lebih baik kalau anaknya istirahat atau belajar. Tetapi karena ajakan teman-temannya untuk bermain sepakbola dan kebetulan ayahnya juga sedang pergi, maka bermainlah anak tersebut. Setelah anak itu selesai bermain sepakbola ternyata ayahnya sudah di rumah, maka apa yang terjadi dengan anak itu? Dia takut untuk pulang ke rumah karena melanggar perintah orangtuanya. Dari bacaan di atas Yesuspun pernah mengalami ketakutan yang begitu hebat sampai peluhnya bercampur darah. Bukan karena sebuah kesalahan, tetapi karena Dia harus menanggung dosa seluruh manusia di kayu salib. Kepada siapa Yesus terbuka menceritakan kesedihan hati-Nya? Dalam pergumulan-Nya yang berat, Dia menceritakan kesedihan hatinya kepada murid-murid terdekat-Nya dan juga kepada Bapa-Nya di sorga. Dalam ketakutan-Nya, Yesus terbuka kepada orang-orang dekat-Nya dan yang lebih penting adalah berserah kepada Bapa. Setiap kita tentu pernah mengalami ketakutan dan banyak hal yang bisa membuat kita menjadi takut, namun bukankah semua sudah ditanggung oleh Yesus di atas salib Golgota. Ketika kita mengalami ketakutan, mari kita mau belajar seperti Yesus. Belajar terbuka kepada rekan-rekan yang dapat dipercaya dan siap memberikan dukungan. Juga datang kepada Bapa kita di sorga dan menceritakan semua pergumulan kita. Yang harus kita lakukan adalah membangun komunitas yang siap memberi dukungan. Dan yang terpenting adalah serahkan semua dan percayakan diri kita kepada Allah .
Sore itu saya mendengar suara berisik sekali. Keempat anak anjing saya yang baru berumur 2,5 tahun itu menggonggong semua dan tak mau berhenti. Karena penasaran, saya beranjak keluar rumah menengok mencari penyebab mengapa anak anjing itu menggonggong tidak henti-henti. Ketika saya keluar, induk anjingpun ikut keluar. Apa yang terjadi? Eh.... anak-anak anjing itu malah menggonggong semakin keras dan berani. Ternyata mereka menggonggong karena melihat seorang tetangga mengambil buah alpokat di pohon sebelah rumah saya. Anak-anak anjing itu semakin berani ketika induknya bersama mereka. Dan anak-anak anjing itu semakin berani mendekati tetangga itu karena induknyapun ikut menggonggong. Dan anjing-anjing itu berhenti menggonggong setelah saya suruh berhenti dan pergi. Anak-anak anjing itu menggonggong karena melihat hal-hal yang tidak beres di sekitarnya dan menurutnya benar demi tuannya. Anak-anak anjing itu semakin berani karena merasa mendapat perlindungan, yaitu induknya. Anjing-anjing itu tidak berhenti menggonggong ketika tidak mendapat mandat dari tuannya untuk berhenti. Cerita di atas hendaknya menjadi inspirasi bagi setiap orang yang telah mengaku sebagai orang percaya Yesus. Berani untuk menyuarakan kebenaran Injil Kristus karena Yesus yang telah memberi hidup kepada kita. Dan Roh Kudus selalu bersama kita untuk memberikan pertolongan dan hikmat untuk bertindak dalam kebenaran. Rasul Petrus dengan tegas berkata kepada pemimpin-pemimpin Yahudi serta tua-tua dan ahli-ahli Taurat dalam sidang di Yerusalem, ”Silakan kamu putuskan sendiri manakah yang benar di hadapan Allah: taat kepada kamu atau taat kepada Allah. Sebab tidak mungkin bagi kami untuk tidak berkata-kata tentang apa yang telah kami lihat dan yang telah kami dengar.” Keberanian Rasul Petrus muncul karena kebenaran, sehingga Tuhan selalu menyertai apa yang dilakukannya. Dan tanda-tanda mujizat terjadi dalam setiap pelayanannya (KPR 4:16). Marilah kita tetap dalam kesetiaan kepada Allah untuk menyuarakan kebenaran Injil Tuhan dalam setiap sisi kehidupan kita, supaya kita dapat merasakan penyertaan Allah dalam setiap kehidupan kita.
Bagi para penggemar berat olahraga sepak bola, siapa yang tak kenal dengan Paolo Di Canio? Striker asal Italia ini sering dianggap sebagai salah satu biang keonaran di lapangan karena temperamennya yang tinggi dan meledak-ledak. Meskipun demikian siapa yang menyangka mantan striker West Ham United ini juga bisa berjiwa besar. Hal itu dibuktikan dengan diraihnya penghargaan sebagai pemain paling fair pada 2001 oleh FIFA (Asosisasi Sepak Bola Dunia). Penghargaan ini diberikan atas aksi Paolo Di Canio di pertandingan liga Inggris antara West Ham United vs Everton tahun 2001 silam. Paolo Di Canio memutuskan untuk menghentikan permainan dan membuang bola saat dia melihat kiper Everton Paul Gerrard terkapar. Seaindainya saja dia mau memutuskan untuk meneruskan permainan dan menceploskan bola ke gawang yang kosong, pastilah 99 % gol akan terjadi. Ada sebuh pepatah jawa yang berkata, “jamane jaman edan, nek ora edan ora keduman”. Zaman sekarang adalah zaman yang “gila”, jika tidak ikut menjadi “gila”, maka kita tidak akan mendapatkan bagian, kurang lebih itulah terjemahan bebas dari pepatah jawa tersebut. Orang akan melakukan berbagai macam cara untuk mempertahankan hidup. Orang akan melakukan segalanya agar tetap eksis hidup di dunia ini. Tuntutan kebutuhan dan situasi zaman dapat membuat seseorang kehilangan integritas untuk bertindak dalam kebenaran. Berpikir benar, bertindak benar dan berkata-kata di dalam kebenaran bukan perkara yang mudah untuk dilakukan dalam perkembangan dunia dewasa ini. Bagi pengikut Kristus, hal terpenting yang perlu dipertimbangkan adalah bahwa kebenaran itu mencerminkan hubungan kita dengan Tuhan. Saat kita menyerahkan hidup kita di dalam Yesus, maka kita adalah milik Kristus. Dan secara otomatis seharusnya apa yang kita lakukan pun mencerminkan Kristus tinggal di dalam kita (Efesus 4:15, Kolose 3:9). Penulis Amsal menjelaskan bahwa hidup yang bersih jauh lebih mulia dan dicari oleh banyak orang daripada orang yang hidup dalam kebohongan (Amsal 19:1-9). Kebohongan yang dimaksud oleh penulis kitab Amsal tidak saja dalam hal perkataan, melainkan juga dalam seluruh tingkah laku. Orang yang tidak berintegritas pasti akan melakukan “kebohongan” dalam dirinya. Maksudnya adalah jika seseorang tidak berintegritas, maka segala yang dilakukannya mencerminkan ketidaksesuaian. Apa yang ditampilkan hanya merupakan kamuflase dan kemunafikan. Oleh karena itu pilihan yang tepat dan bijak adalah bertindak dengan penuh integtitas, yaitu berpikir, bertindak dan bertutur kata dalam kebenaran.
BARCODE BBM CHANNELS
RENUNGAN HARIAN
Ketika Kenyamanan Dipertaruhkan
12 Agustus '14
Mengasihi Tanpa Rasa Takut
03 Agustus '14
Yesuspun Takut
19 Agustus '14
Copyright © 2012 All rights reserved. Designed and Developed by GIA Dr. Cipto Semarang