SEPEKAN TERAKHIR
  Kamis, 20 Juli 2017   -HARI INI-
  Rabu, 19 Juli 2017
  Selasa, 18 Juli 2017
  Senin, 17 Juli 2017
  Minggu, 16 Juli 2017
  Sabtu, 15 Juli 2017
  Jumat, 14 Juli 2017
POKOK RENUNGAN
Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya barangsiapa menuruti firmanKu, ia tidak akan mengalami maut sampai selama-lamanya. (Yohanes 8:51)
DITULIS OLEH
Ibu Ribkah E. Christanti
Kontributor
Renungan Lain oleh Penulis:
Home  »  Renungan  »  Hidup Dalam Anugerah
Hidup Dalam Anugerah
Kamis, 05 September 2013 | Tema: Kebenaran Kerajaan Allah
Hidup Dalam Anugerah
Yohanes 8:30-36
Seorang hamba Tuhan pernah bersaksi tentang bagaimana ia bisa mengenal Kristus. Menurutnya, ketika ia masih dalam kepercayaannya yang lama, ia tidak sempat memiliki tabungan dan selalu hidup dalam ketakutan. Betapa tidak, dalam setahun saja, ia harus mengadakan beberapa macam ritual yang menuntut adanya korban dan sesajen yang telah ditentukan jumlahnya. Menurut kepercayaannya dulu, serangkaian syarat tersebut harus dipenuhi untuk menyenangkan para “penguasa” alam sehingga dirinya terhindar dari marabahaya, selamat, rezekinya tetap lancar, dll. Jika tidak dilakukan, maka akan mendapat celaka. Namun ketika ia diperkenalkan kepada Yesus, dan keselamatan di dalam Dia, ia terheran heran. Bagaimana bisa keselamatan yang “mahal” (menurut kepercayaannya yang lama) itu, bisa diraih dengan cuma-cuma hanya dengan percaya kepada Yesus?

Bersyukur. Itulah hal yang seharusnya kita kerjakan atas anugerah keselamatan yang kita terima. Hidup kita telah berdosa sejak leluhur kita berdosa. Belum lagi dampak yang kita terima sehingga kita cenderung berbuat dosa. Seharusnya kita sendiri yang harus menanggung semua dosa kita dengan nyawa kita (Roma 6:23). Namun atas kasih karunia Tuhan, Bapa mengutus Putra-Nya untuk menggantikan penghukuman atas dosa kita, sehingga kita diampuni dari dosa...selengkapnya »
Saya mengenalnya sebagai pribadi yang paling taat beribadah di keluarga besar Ayah. Segala tindak tanduk dan perkataannya mencerminkan bahwa ia adalah pribadi yang takut akan Tuhan. Saat saya pindah ke Semarang, adik ayah saya inilah yang rajin memaketkan buku-buku berbahasa Inggris dan cerita-cerita rohani yang mengakrabkan saya dengan kisah-kisah dari Alkitab. Tante adalah salah satu pelita yang Tuhan tempatkan untuk menuntun saya pada terang-Nya. Setelah Tante menikah dan dikaruniai seorang putra, kabar mengejutkan itu datang. Tante terserang kanker rahim. Rahimnya terpaksa diangkat. Setelah melalui perjuangan yang panjang dan meletihkan ... lagi-lagi ia terdeteksi mengidap kanker payudara. Satu payudara terpaksa diangkat. Lalu kedua-duanya. Seluruh keluarga dilingkupi kesedihan. Di tengah himpitan beban itu, Tante menunjukkan ketegaran yang luar biasa. Ia tidak berkeluh kesah apalagi bersungut-sungut. Ia tetap memberi perhatian kepada orang lain, tetap menjalani hidup dengan sebaik-baiknya. Ajaib benar. Hanya orang yang betul-betul menerima dan merasakan pertolongan dari Roh Kuduslah yang sanggup bersikap demikian. Karya Roh Kudus sering kali hanya dilihat melalui manifestasinya. Namun sebenarnya Roh Kudus bekerja jauh lebih dalam dan menyeluruh di dalam hidup orang yang dipenuhi-Nya. Ia memberi kemampuan kepada umat Tuhan untuk tetap menjadi saksi dalam segala situasi dan kondisi. Dan kuasa dari kesaksian hidup itu sanggup meruntuhkan benteng-benteng keraguan dan ketidakpercayaan. Berbahagialah umat yang dikaruniai kuasa oleh Roh Kudus untuk menjadi saksi-Nya.
Masih segar diingatan, saat salah seorang teman sekolah berteriak kagum melihat pohon rambutan. Ternyata dia hanya tahu buah rambutan di toko buah. Maklum anak kota. Dia sangat gembira dan berteriak-teriak bahwa seumur-umur dia baru tahu pohon rambutan! Andaikan waktu itu bukan musim buah rambutan, dia tidak akan tahu bahwa pohon itu adalah pohon rambutan. Saya yang lahir dan besar di desa merasa geli karena dari kecil saya sudah tahu berbagai jenis pohon buah-buahan karena di kebun ada beberapa macam pohon buah termasuk rambutan. Kasihan deh lu.... Seperti kisah di atas, demikian juga kehidupan kita selaku anak Tuhan. Orang bisa mengenali diri kita dari “buah” yang kita hasilkan terutama orang-orang yang ada di lingkungan hidup keseharian kita [ayat 16, 20]. Jadi tidak heran ada dua macam lontaran perkataan yang terucap, yaitu “pujian” saat kita memberikan dampak yang baik dan “cacian/cemooh” saat kita melakukan tindakan negatif yang tidak sesuai dengan Firman Tuhan. Dalam suratnya kepada Jemaat di Galatia, Rasul Paulus mengatakan buah yang harus kita miliki dan pasti akan memberi dampak yang baik bagi lingkungan kita adalah “buah Roh” karena pasti tidak ada hukum yang menentangnya, yaitu kasih, sukacita, damai sejahtera, kesabaran, kemurahan, kebaikan, kesetiaan, kelemahlembutan, penguasaan diri [Galatia 5:22-23]. Kesembilannya wajib ada dalam kehidupan keseharian kita karena kesembilannya itu manunggal dalam 1 buah saja, yaitu BUAH ROH. Bagaimana dengan diri kita? Tentu kita rindu menghasilkan buah yang baik sehingga nama Tuhan dimuliakan dan kita tidak ditebang [ayat 19]. Dengan kemampuan yang diberikan Tuhan kepada kita melalui Roh Kudus-Nya, kita miliki BUAH ROH seperti yang dikatakan oleh Rasul Paulus kepada Jemaat Galatia.
Untuk menyatu dengan Yesus Kristus, seseorang harus bersedia untuk tidak hanya meninggalkan dosa tetapi juga menyerahkan seluruh caranya memandang segala sesuatu. Dilahirkan kembali oleh Roh Allah berarti kita pertama-tama harus rela melepaskan sesuatu sebelum dapat memahami sesuatu yang lain. Hal pertama yang harus kita lepaskan adalah kepura-puraan atau ketidakjujuran. Apa yang dikehendaki Tuhan untuk diserahkan kepada-Nya bukanlah kebaikan, kejujuran atau usaha untuk melakukan sesuatu yang lebih baik, tetapi sesungguhnya dosa kita. Sebenarnya itu yang ingin Dia ambil dari kita. Dan apa yang Tuhan berikan sebagai pengganti dosa kita adalah kebenaran yang nyata dan penuh. Selanjutnya harus menyerahkan segala kepura-puraan bahwa kita ini berarti dan meninggalkan semua klaim yang menganggap diri layak bagi Allah. Ketika telah melakukannya, Roh Allah akan memperlihatkan apa yang harus kita serahkan selanjutnya. Bersama setiap langkah proses ini, kita harus menyerahkan klaim kita terhadap hak bagi diri sendiri. Apakah kita bersedia melepaskan genggaman atas harta milik, hawa nafsu dan semua hal lain dalam hidup kita? Apakah kita siap disatukan dengan kematian Kristus Yesus? Kita akan menderita kekecewaan yang sangat menyakitkan jika tidak berserah sepenuhnya. Ketika seseorang melihat dirinya sama seperti Tuhan memandang, maka ia akan merasa malu dan putus asa bukan hanya karena dosa-dosa kedagingan tetapi natur kesombongan hatinya yang menentang Yesus Kristus ketika melihat dirinya sendiri dalam terang Tuhan. Apabila diperhadapkan dengan pertanyaan, apakah kita akan berserah atau tidak? Buatlah tekad untuk terus berjalan menghadapi semua pergumulan, menyerahkan semua yang dimiliki dan seluruh keberadaan kita kepada-Nya. Dan Allah pasti memperlengkapi kita untuk melakukan segala yang Dia kehendaki.
Suatu hari istri tetangga di dekat rumah saya menanam pohon buah langsep. Pohon tersebut selalu dirawat dan dipelihara sehingga pohon dapat bertumbuh dengan sangat baik. Pertumbuhan tersebut juga dikarenakan ada proses penyiraman dan pemupukan yang berkala. Hari demi hari, bulan demi bulan pohon tersebut semakin bertumbuh tinggi dan subur. Daunnya hijau lebat dan batangnya cukup besar. Suatu hari terjadi masalah dalam keluarga. Istri tersebut terlibat pertengkaran dengan suaminya. Ia jengkel dan marah karena suaminya dengan sengaja membersihkan semua pekarangan rumah termasuk memangkas pohon langsep tersebut. Akhirnya pohon langsep yang sudah mulai bertumbuh besar tersebut, tinggal menyisakan batang yang pendek tanpa satu daunpun. Sehingga si istri harus kembali merawat dan memelihara kembali. Cukup waktu yang lama menunggu pohon tersebut kembali subur dan besar. Kehidupan seorang Kristen seringkali seperti perumpamaan tentang seorang penabur. Banyak firman yang ditaburkan tapi kadang tidak bisa tumbuh karena berbagai kondisi dan situasi. Seperti benih yang jatuh di pinggir jalan, tidak ada kesempatan untuk tumbuh karena langsung dihampiri burung-burung dan dimakan. Sedangkan yang jatuh di tanah yang berbatu-batu, cepat tumbuh namun tidak bertahan lama karena tidak dapat mengakar dengan kuat ke dalam. Hanya ada dipermukaan saja, lalu mati karena teriknya matahari. Sebagian lagi tumbuh di antara semak duri. Benih dan semak sama-sama tumbuh, namun seiring dengan berjalannya waktu, benih menjadi terhimpit oleh semak duri yang akhirnya menyebabkan benih mati karena tidak kuat dengan himpitan duri yang tajam. Akan tetapi berbeda dengan benih yang tertanam dalam tanah yang baik. Benih tumbuh dengan suburnya, dan pada masanya benih yang telah tumbuh tersebut akan menghasilkan buah yang baik pula. Ada yang menghasilkan tiga puluh kali lipat, enam puluh kali lipat, dam seratus kali lipat. Benih tersebut menggambarkan tentang iman. Di mana iman dapat bertumbuh di tempat yang tepat. Semakin baik tempat yang ditaburi benih, semakin baik pula perkembangan dan pertumbuhannya. Dalam kehidupan sebagai orang Kristen, sudah pasti kita memiliki iman kepada Tuhan. Namun seringkali perjalanan iman tersebut naik turun. Ada masanya kita terhimpit oleh berbagai masalah dan pergumulan. Dalam peperangan terhadap masalah tersebut mungkin bisa saja kita harus mengalami pemangkasan, dibersihkan sedemikian rupa. Kadang bisa bertahan namun kadang juga bisa kalah. Oleh karena itu pertumbuhan iman tersebut harus senantiasa dipelihara supaya tetap bertumbuh. Pertumbuhan iman akan terus meningkat jikalau kita menyediakan media yang baik, yaitu hati kita. Mari kita menyiapkan hati yang baik demi pertumbuhan iman yang baik pula.
BARCODE BBM CHANNELS
RENUNGAN HARIAN
Hidup yang Berserah
18 Juli '17
Kerjakan Keselamatanmu !
29 Juni '17
Bebas Bablas 2
26 Juni '17
Copyright © 2012 All rights reserved. Designed and Developed by GIA Dr. Cipto Semarang