SEPEKAN TERAKHIR
  Jumat, 22 Agustus 2014   -HARI INI-
  Kamis, 21 Agustus 2014
  Rabu, 20 Agustus 2014
  Selasa, 19 Agustus 2014
  Senin, 18 Agustus 2014
  Minggu, 17 Agustus 2014
  Sabtu, 16 Agustus 2014
POKOK RENUNGAN
Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya barangsiapa menuruti firmanKu, ia tidak akan mengalami maut sampai selama-lamanya. (Yohanes 8:51)
DITULIS OLEH
Ibu Ribkah E. Christanti
Kontributor
Renungan Lain oleh Penulis:
Home  »  Renungan  »  Hidup Dalam Anugerah
Hidup Dalam Anugerah
Kamis, 05 September 2013 | Tema: Kebenaran Kerajaan Allah
Hidup Dalam Anugerah
Yohanes 8:30-36
Seorang hamba Tuhan pernah bersaksi tentang bagaimana ia bisa mengenal Kristus. Menurutnya, ketika ia masih dalam kepercayaannya yang lama, ia tidak sempat memiliki tabungan dan selalu hidup dalam ketakutan. Betapa tidak, dalam setahun saja, ia harus mengadakan beberapa macam ritual yang menuntut adanya korban dan sesajen yang telah ditentukan jumlahnya. Menurut kepercayaannya dulu, serangkaian syarat tersebut harus dipenuhi untuk menyenangkan para “penguasa” alam sehingga dirinya terhindar dari marabahaya, selamat, rezekinya tetap lancar, dll. Jika tidak dilakukan, maka akan mendapat celaka. Namun ketika ia diperkenalkan kepada Yesus, dan keselamatan di dalam Dia, ia terheran heran. Bagaimana bisa keselamatan yang “mahal” (menurut kepercayaannya yang lama) itu, bisa diraih dengan cuma-cuma hanya dengan percaya kepada Yesus?

Bersyukur. Itulah hal yang seharusnya kita kerjakan atas anugerah keselamatan yang kita terima. Hidup kita telah berdosa sejak leluhur kita berdosa. Belum lagi dampak yang kita terima sehingga kita cenderung berbuat dosa. Seharusnya kita sendiri yang harus menanggung semua dosa kita dengan nyawa kita (Roma 6:23). Namun atas kasih karunia Tuhan, Bapa mengutus Putra-Nya untuk menggantikan penghukuman atas dosa kita, sehingga kita diampuni dari dosa dan diselamatkan. Ketika kita percaya kepada Yesus dan anugerah keselamatan-Nya, maka kebenaran itu berlaku atas hidup kita. Namun kehidupan percaya yang bagaimana yang akan memberlakukan “kebenaran” itu? Dalam ayat 31-32 disebutkan syarat hidup percaya kita. Yaitu unt...selengkapnya »
Hobi yang paling saya gemari pada masa kecil adalah berenang. Karena masa kecil saya tidak tumbuh di daerah perkotaan, maka tempat menyalurkan hobi saya bukan di water blaster, Jatim Park ataupun di kolam renang hotel berbintang yang mewah. Bersama teman-teman, biasanya saya renang di sungai, telaga, bahkan di pantai. Walaupun sejak kecil saya seorang perenang, namun ada satu kejanggalan yang saya alami saat berenang, yaitu saya sangat takut dengan kedalaman sungai ataupun pantai yang tidak dapat ditembus oleh penglihatan. Biasanya kalau dalam, warna air akan berubah menjadi kebiru-biruan. Dalam ‘ketakutan yang buta’ (asumsi negatif), saya diperhadapkan dengan dua plihan. Saya akan pergi dan meninggalkan kedalaman air yang menakutkan atau saya akan menyelidiki kedalaman air tersebut dan menemukan bahwa dikedalaman air itu sebenarnya tidak ada apa-apa yang dapat membahayakan hidup saya. Biasanya saya memutuskan untuk memilih yang kedua, yaitu menyelidiki kedalaman air itu. Dah hasilnya setelah saya memastikan bahwa di kedalaman air itu tidak ada yang membahayakan diri saya, saya dapat berenang dengan bebas, leluasa dan tanpa dihantui rasa takut. Jemaat yang terkasih, kadangkala ketakutan sering menghantui kita baik dalam pelayanan, pekerjaan, keluarga, masa depan, sekolah, dan lain-lain. Namun tidak benar jika kita memandang ketakutan yang muncul dalam diri kita selalu berkecenderungan negatif sehingga kita segera berdoa supaya Tuhan menjauhkan kita dari rasa takut yang selalu menghantui kita. Ketakutan dapat dipandang secara positif jika kita dapat berpikir dengan bijak untuk mencari sumber ketakutan kita, sehingga kita dapat menentukan pilihan untuk mengatasi ketakutan itu. Misalnya, jika seorang anak sekolah takut tidak lulus ujian sekolah, maka pilihan tepat yang harus ia ambil adalah belajar dengan sungguh. Sebagai orang dewasa yang takut gagal dalam hidup, kita dapat menata hidup kita sejak saat kita sadar akan ketakutan itu. Contohnya, menjalani dan menyelesaikan studi dengan baik, mengatur menejemen keuangan dengan baik, bergaul dengan orang yang baik, mencari pasangan hidup yang baik, dll. Semua adalah pilihan yang harus kita tentukan. Sejak awal kita diciptakan-Nya, kita didesain menjadi orang yang berhasil (serupa dengan Allah berarti sangat baik- sempurna). Bahkan ketika kita hidup di bawah bayang-bayang dosa keturunanpun, Tuhan tetap memberikan Roh-Nya yang membuat kita menjadi berani dan tidak hidup dalam ‘ketakutan yang buta’ (Roma 8:15). Oleh karena itu jangan takut dengan asumsi negatif kita, melainkan pilihlah jalan yang dapat memberanikan dan membangun diri kita.
Suatu kali, saya pernah periksa ke dokter. Usianya agak muda mungkin sekitar 30 tahunan. Ketika konsultasi, sang dokter menjawab pertanyaan saya dengan ketus dan seperlunya. Bahkan cenderung menghakimi pola hidup saya yang menurutnya tidak sehat. Meskipun mungkin jawaban maupun alasan sang dokter benar, namun karena penyampaian yang kurang pas menurut saya, akhirnya saya agak jengkel. Namun dalam kesempatan yang berbeda, di tempat praktek yang sama, saya ditangani oleh dokter lain. Mungkin usianya sudah 60 tahunan. Ia menyambut setiap pasien dengan ramah. Bertutur kata halus dan enak didengar ketika berkonsultasi dan memberi nasihat kesehatan. Akhirnya secara psikis saya merasa tenang karena merasa ditangani oleh orang yang tepat. Dari pengalaman saya tersebut ada nilai yang sangat berarti buat saya, yaitu betapa berpengaruhnya sikap ramah terhadap keadaan psikis. Meski bersikap ramah terdengar sederhana, namun sangat rumit untuk dilakukan bagi beberapa orang. Mudah bagi orang berkarakter murni atau kombinasi sanguin, tapi mungkin rumit bagi si kholerik murni atau kombinasi. Ada yang dengan mudah bisa tersenyum, menyapa, mengobrol dengan orang yang baru dikenal. Namun di kubu lain ada yang berjuang untuk bisa menyapa bahkan menatap mata orang yang baru dikenal. Meski demikian, sikap ramah seharusnya dilakukan oleh setiap orang yang percaya, meski dengan penuh perjuangan dengan konsekuensi dianggap sok kenal sok dekat, dsb. Nats yang kita baca hari ini menunjukkan betapa penting sikap ramah ini kita miliki dalam hidup berkomunitas. Ramah menjadi salah satu sikap orang percaya sebagai ucapan syukur atas karya keselamatan Allah. Selain itu, dalam nats yang lain disebutkan betapa dahsyatnya dampak dari sikap ramah. Misalnya, memandang orang yang bersikap ramah diumpamakan seperti melihat wajah Allah (Kejadian 33:10); perkataan yang baik itu menggembirakan (Amsal 12:25); jawaban yang lemah lembut itu meredakan kegeraman (Amsal 15:1); perkataan yang menyenangkan itu menyehatkan (Amsal 16:24). Di tengah lingkungan sekitar kita yang semakin memanas dengan berbagai konflik, alangkah lebih baik jika kita berkontribusi kedamaian dengan bersikap ramah. Selamat menjadi orang ramah.
Si Yudhi baru saja bertobat dan mengalami kelahiran baru di dalam Tuhan Yesus Kristus. Dia sangat bersukacita sebab menemukan komunitas anak-anak Tuhan yang tergabung dalam wadah Perkantas Surabaya. Walaupun pertemuan mereka satu kali dalam seminggu hanya 3 jam, namun dia bisa bersekutu dan belajar firman bersama mereka. Rasanya semua tantangan hidup saat mengalami perubahan menjadi ringan sebab ada saudara seiman yang menguatkan dirinya. Yudhi akhirnya bertumbuh dalam iman dan mulai terlibat dalam kepengurusan organisasi perkantas dan melayani sesama mahasiswa lainnya. Kisah kehidupan Yudhi adalah salah satu kisah nyata dari seorang berdosa yang diselamatkan oleh Tuhan Yesus dan digabungkan dengan komunitas baru yang memang berbeda dengan komunitas sebelum percaya kepada Tuhan Yesus. Hal ini sesuai dengan perjalanan kehidupan Rasul Paulus dalam bacaan kita hari ini. Ada tiga ciri khas hidup dalam komunitas umat Perjanjian Baru berdasarkan bacaan kita hari ini. Pertama, harus mau mati terhadap tradisi keagamaan yang telah lama dan secara turun temurun diterima dan diajarkan begitu saja tanpa mengerti maknanya dengan benar. Sebelum percaya, hidup Rasul Paulus adalah hidup menurut ketentuan tradisi Hukum Taurat. Kedua, harus rela mati bagi diri sendiri. Berarti siap menyangkal diri dan memikul salib Kristus. Ketiga, harus hidup mengutamakan dan memuliakan Tuhan Yesus. Banyak orang Kristen gagal dalam menjalani kehidupan sebagai anggota komunitas Perjanjian Baru karena tidak mencirikan ketiga hal tersebut. Kehidupan dalam Komunitas Perjanjian Baru harus memiliki sifat-sifat yang baru sebagaimana tertulis dalam Efesus 4:17-32, tanpa hal ini mustahil kita bisa hidup bertahan dalam komunitas tersebut. Dan ada pula sejumlah persyaratan lain yang harus kita penuhi sebagaimana tertulis dalam Filipi 2:2-5, hidup memikirkan dan mendahulukan kepentingan orang lain daripada diri sendiri dan selalu rendah hati serta setia kepada Tuhan Yesus dalam segala keadaan. Jikalau hal ini benar-benar dijalankan oleh setiap orang percaya, maka hidup dalam komunitas Perjanjian Baru akan menjadi daya tarik bagi banyak orang di sekitarnya. Bagaimana dengan kehidupan kita saat ini, sudahkah kita benar-benar hidup dalam komunitas Perjanjian Baru atau masih tetap hidup dalam komunitas yang lama? Atau kita masih berdiri di antara dua perahu yang berbeda? Keputusan ada di tangan kita. Komunitas Perjanjian Baru tidak bisa hidup dalam kompromi dan dalam pola hidup yang lama. Sebab semuanya akan sia-sia saja.
1 Yohanes 4:18 Di dalam kasih tidak ada ketakutan: kasih yang sempurna melenyapkan ketakutan; sebab ketakutan mengandung hukuman dan barangsiapa takut, ia tidak sempurna di dalam kasih. Ketakutan seringkali berkonotasi dengan kegelapan. Sedangkan kasih berkonotasi dengan terang. Firman Tuhan berkata: ”Terang itu bercahaya di dalam kegelapan dan kegelapan itu tidak menguasainya” (Yoh 1:5). Orang yang melakukan perbuatan jahat biasanya melakukannya di dalam kegelapan, pada malam hari atau di tempat yang sepi atau gelap, karena dia takut perbuatannya diketahui orang lain. Tetapi orang yang melakukan perbuatan baik tidak perlu menutup-nutupi perbuatannya. (Meskipun juga tidak perlu mengumbar perbuatannya supaya diketahui semua orang). Orang yang melakukan perbuatan baik tidak perlu merasa takut dan malu. Jika kasih yang memimpin kehidupan kita, maka kita tidak perlu takut. Hanya orang-orang yang punya maksud jahat yang layak untuk merasa takut. Tetapi sering kali kita merasa takut meskipun kita melakukan perbuatan baik atau benar. Sebagai contoh dalam hal bersaksi atau memberitakan Injil kepada orang lain. Sering kita takut bersaksi tentang kebaikan Tuhan yang telah kita alami, meskipun kita tahu bersaksi itu baik. Mengapa kita takut? Bukankah kita melakukan sesuatu yang baik? Seringkali juga kita takut mengatakan kebenaran atau menegur orang yang berbuat salah. Seringkali jika melihat orang berbuat salah, kita memilih untuk diam atau membiarkannya saja. Apalagi kalau yang berbuat salah itu lebih tinggi kedudukannya daripada kita. Kita berdalih: ”Ah, itu kan urusannya sendiri. Untuk apa saya mencampuri urusan pribadinya?” Padahal sebenarnya kita takut atau kita tidak mau berurusan dengan orang itu. Sebenarnya jika kita sungguh-sungguh mengasihi orang tersebut kita harus menegur atau mengingatkannya. Kalau kita membiarkannya berarti kita tidak peduli dengan keselamatan orang itu. Rasul Paulus memberikan contoh yang baik dalam hal ini. Dia menegur jemaat Galatia yang telah menyimpang dari ajaran Firman Tuhan yang benar. Bahkan dia menegur mereka dengan tegas. Kemudian dia berkata dalam suratnya: ”Apakah dengan mengatakan kebenaran kepadamu aku telah menjadi musuhmu?” (Gal 4:16) Dia yakin bahwa dengan mengatakan kebenaran dia tidak memusuhi jemaat Galatia. Justru dia mengasihi mereka. Sikap seperti itulah yang harus kita pakai. Pertama kita yakin bahwa kita punya maksud kasih. Kemudian kita mengatakan kebenaran tanpa rasa takut. Tuhan memberkati.
BARCODE BBM CHANNELS
RENUNGAN HARIAN
Tak Terlihat
18 Agustus '14
Kasih Sejati
21 Agustus '14
Dari Manakah Datangnya Keberanian?
17 Agustus '14
Copyright © 2012 All rights reserved. Designed and Developed by GIA Dr. Cipto Semarang