SEPEKAN TERAKHIR
  Senin, 21 April 2014   -HARI INI-
  Minggu, 20 April 2014
  Sabtu, 19 April 2014
  Jumat, 18 April 2014
  Kamis, 17 April 2014
  Rabu, 16 April 2014
  Selasa, 15 April 2014
POKOK RENUNGAN
Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya barangsiapa menuruti firmanKu, ia tidak akan mengalami maut sampai selama-lamanya. (Yohanes 8:51)
DITULIS OLEH
Ibu Ribkah E. Christanti
Kontributor
Renungan Lain oleh Penulis:
Home  »  Renungan  »  Hidup Dalam Anugerah
Hidup Dalam Anugerah
Kamis, 05 September 2013 | Tema: Kebenaran Kerajaan Allah
Hidup Dalam Anugerah
Yohanes 8:30-36
Seorang hamba Tuhan pernah bersaksi tentang bagaimana ia bisa mengenal Kristus. Menurutnya, ketika ia masih dalam kepercayaannya yang lama, ia tidak sempat memiliki tabungan dan selalu hidup dalam ketakutan. Betapa tidak, dalam setahun saja, ia harus mengadakan beberapa macam ritual yang menuntut adanya korban dan sesajen yang telah ditentukan jumlahnya. Menurut kepercayaannya dulu, serangkaian syarat tersebut harus dipenuhi untuk menyenangkan para “penguasa” alam sehingga dirinya terhindar dari marabahaya, selamat, rezekinya tetap lancar, dll. Jika tidak dilakukan, maka akan mendapat celaka. Namun ketika ia diperkenalkan kepada Yesus, dan keselamatan di dalam Dia, ia terheran heran. Bagaimana bisa keselamatan yang “mahal” (menurut kepercayaannya yang lama) itu, bisa diraih dengan cuma-cuma hanya dengan percaya kepada Yesus?

Bersyukur. Itulah hal yang seharusnya kita kerjakan atas anugerah keselamatan yang kita terima. Hidup kita telah berdosa sejak leluhur kita berdosa. Belum lagi dampak yang kita terima sehingga kita cenderung berbuat dosa. Seharusnya kita sendiri yang harus menanggung semua dosa kita dengan nyawa kita (Roma 6:23). Namun atas kasih karunia Tuhan, Bapa mengutus Putra-Nya untuk menggantikan penghukuman atas dosa kita, sehingga kita diampuni dari dosa dan diselamatkan. Ketika kita percaya kepada Yesus dan anugerah keselamatan-Nya, maka kebenaran itu berlaku atas hidup kita. Namun kehidupan percaya yang bagaimana yang akan memberlakukan “kebenaran” itu? Dalam ayat 31-32 disebutkan syarat hidup percaya kita. Yaitu unt...selengkapnya »
Menurut kebanyakan orang, bukan hanya dahalu maupun sekarang, menjadi seorang hamba adalah sesuatu yang rendah dan hina. Sebuah status yang tidak menguntungkan ataupun membanggakan karena ada dilevel bawah. Jika berhubungan dengan pekerjaan pastilah konotasinya bersinggungan dengan pekerjaan yang kasar dan keras, bahkan sering mendapat perlakuan yang kurang manusiawi. Tetapi bagi sebagian masyarakat Yogyakarta, menjadi abdi dalem (mengabdikan diri dalam pekerjaan tertentu) di Kesultanan Ngayogyokarto adalah sebuah kebanggaan dan kehormatan. Ketika mereka bisa melayani Sri Sultan, sang raja, mereka merasa bangga. Meskipun gajinya tidak seberapa, mereka dengan tulus mengabdikan diri. Hal yang sama ditunjukkan oleh Rasul Paulus. Ketika dia menulis surat kepada jemaat Filipi, Paulus memperkenalkan dirinya dan Timotius sebagai hamba Kristus. Istilah hamba menyiratkan unsur ketaklukan dan ketaatan mutlak yang merupakan kewajiban seorang hamba kepada tuannya. Selain itu sebutan hamba juga mengandung unsur kehormatan, dalam arti panggilan untuk tugas atau jabatan khusus. Apalagi yang dilayani adalah Tuhan yang begitu mulia, maka sebutan hamba Tuhan menjadi gelar kehormatan. Kita semua adalah hamba Tuhan (Kristus) karena kita telah ditebus oleh Kristus dengan harga darah-Nya sendiri (1 Petrus 1:18-19) Hal tersebut membawa dua akibat: pertama, kita telah menjadi milik Kristus untuk melayani-Nya dan mengabdi kepada-Nya. Itu adalah sebuah kehormatan. Oleh sebab itu tunjukkanlah pengabdian diri yang tulus dan ketaatan yang mutlak kepada Sang Tuan, yaitu Yesus Kristus. Kedua, kitapun harus menyadari setinggi apapun jabatan, status sosial, dan kekayaan kita, status kita tidak lebih dari seorang hamba. Tidak sepantasnya kita memposisikan diri sebagai tuan atas sesama hamba. Menuntut penghormatan dan perlakuan khusus dari sesama hamba yang lain. Kita tidak lebih berkuasa, tidak lebih tinggi ataupun tidak lebih mulia dari sesama orang percaya karena kita semua adalah hamba dan satu-satunya tuan kita adalah Tuhan Yesus Kristus.
Yesaya 53:1-12 Tetapi dia tertikam oleh karena pemberontakan kita, dia diremukkan oleh karena kejahatan kita; ganjaran yang mendatangkan keselamatan bagi kita ditimpakan kepadanya, dan oleh bilur-bilurnya kita menjadi sembuh. (Ayat 5) Pada suatu saat terjadi kebakaran di sebuah hutan. Setelah api berhasil dipadamkan para petugas keamanan hutan mulai menjelajahi bekas hutan yang terbakar untuk mengetahui seberapa besar kerusakan yang telah terjadi. Seorang petugas menemukan seekor ayam hutan yang telah hangus terbakar bertengger mematung di bawah sebuah pohon. Dengan tercengang oleh pemandangan itu, dia mengetuk ayam hutan yang sudah menjadi abu itu dengan sebuah tongkat. Seketika itu muncullah tiga ekor anak ayam kecil dari bawah kepak sayap induk ayam yang telah hangus itu. Induk ayam yang begitu mengasihi anak-anaknya, menyadari akan adanya bahaya, mengumpulkan anak-anaknya di bawah pohon itu dan melindungi mereka dengan sayapnya. Dia bisa saja terbang untuk menyelamatkan dirinya sendiri, tetapi sebaliknya yang dia lakukan adalah mengorbankan dirinya untuk keselamatan anak-anaknya. Berkorban. Merelakan keamanan dan kenyamanan dirinya sendiri, supaya orang lain diselamatkan. Itulah yang Yesus Kristus kerjakan untuk kita. Dia melakukan tindakan itu karena Dia begitu mengasihi kita, karena kita begitu berharga di mata-Nya. Apa yang Dia kerjakan telah dinubuatkan oleh nabi Yesaya ratusan tahun sebelum kehadiran-Nya di dunia. Nubuat itu akhirnya tergenapi di atas bukit Kalvari 2000 tahun yang lalu. Di bulan ini kita akan memperingati pengorbanan Kristus yang telah mati untuk kita. Kita mengingat kembali kasih-Nya yang begitu besar atas kita. Biarlah hati kita kembali dihangatkan oleh kasih-Nya, dengan mengingat akan pengorbanan-Nya yang mulia. Amin.
Patung Liberty tampak menjulang tinggi di atas pelabuhan New York. Lebih dari seratus tahun patung wanita agung yang memegang tinggi-tinggi obor kemerdekaan. Pada alas Patung Liberty itu tertulis kalimat Emma Lazarus yang sangat menyentuh: ”Datanglah kepadaku hai orang-orang yang letih dan miskin, rakyat yang merindukan udara kebebasan, dan orang-orang yang terbuang dari masyarakat. Kirimkanlah kepadaku para tunawisma dan orang-orang yang terlantar: Aku telah meninggikan lampuku di sisi gerbang emas!” Sebuah monumen lain juga menjulang tinggi di sepanjang sejarah untuk menawarkan kemerdekaan rohani bagi orang-orang yang diperbudak di seluruh dunia. Monumen tersebut adalah salib Romawi di mana Yesus disalibkan 2.000 tahun yang lalu. Mulanya pemandangan tersebut tampak menjijikkan, hina dan tidak pantas untuk dilihat. Berabad-abad sebelum Yesus lahir, salib digunakan sebagai alat untuk menyiksa dan membunuh. Sebagai contoh, pada tahun 519 SM, Raja Darius I dari Persia menyalibkan 3.000 musuh di Babel. Hukuman mati seperti ini kemudian dipakai bangsa Roma untuk menghukum orang asing dan budak. Namun sejak Yesus Kristus memikul dosa manusia di Kalvari, kayu salib mendapat arti yang baru. Di Kalvari, melalui “darah salib Kristus”, Sang Juruselamat melepaskan kita dari penghakiman dan mendamaikan kita dengan Allah (Kolose 1:20,21). Rasul Paulus mengerti benar tentang arti salib. Sebelum bertobat, Paulus telah melakukan banyak hal yang membuatnya mendapatkan kepuasan dan kebanggaan pribadi (2 Korintus11:16-12:13). Namun Paulus telah meninggalkan semua itu, sehingga kepada jemaat di Galatia ia menulis, “Aku sekali-kali tidak mau bermegah, selain dalam salib Tuhan kita Yesus Kristus” (Galatia 6:14). Bila kita mengerti apa yang telah Yesus perbuat bagi kita di atas kayu salib, niscaya kita akan menjadi rendah hati. Sebab segala usaha kita sia-sia adanya; Dialah yang telah mengerjakan segalanya! Sang Juruselamat yang telah bangkit mengundang semua orang untuk datang dan percaya kepada-Nya dengan sikap rendah hati. Dengan percaya bahwa Dia telah mati di kayu salib untuk menggantikan kita yang berdosa, maka kita akan menerima pengampunan. Ketika kita menerima Kristus sebagai Juruselamat, maka beban dosa yang berat akan terlepas dari jiwa kita yang letih karena dosa. Kita pun bebas untuk selamanya. Sudahkah kita menerima Undangan Salib Kristus itu?
Pada suatu siang yang terik, Sambey mengambil gitar. Ia duduk di teras rumahnya yang sejuk dan mulai memetik gitarnya, mengalunkan pujian “Kasih setia-Mu yang ku rasakan” ciptaan Pdt. Ir. Niko Njotorahardjo. Menjelang refrain, tiba-tiba Sambey menghentikan pujiannya. Bukan karena senar gitarnya putus, tetapi karena ada satu kata dalam bait pujian itu yang menarik hatinya. Kata itu adalah “...berkat-Mu yang telah ku terima, sempat membuatku terpesona...” “Mengapa berkat Tuhan kok hanya sempat membuat terpesona? Mengapa kok tidak selalu atau tidak terus membuat terpesona?” renung Sambey. Beberapa menit dihabiskannya untuk mengulang syair pujian itu dan merenungkannya kembali. Sampai akhirnya Sambey mengerti bahwa hanya kepada Tuhanlah, Sang sumber berkat, ia harus selalu terpesona. Kepada berkat-Nya, cukup sempat terpesona saja. Agar berkat tidak mengikatnya, melainkan hanya kepada Tuhan saja ia melekat. Jemaat yang terkasih. Simon mencari ikan semalam-malaman. Ia bekerja keras begitu rupa menebarkan jalanya di sisi kanan dan di sisi kiri perahunya. Tetapi malang nasibnya malam itu. Tak satu pun ikan berhasil ditangkapnya. Ia kembali ke pantai sebagai seorang yang gagal. Harapannya untuk menangkap sejumlah ikan pupus sudah. Pagi itu ia berjumpa dengan Tuhan Yesus yang memerintahkannya untuk menebarkan jalanya di siang bolong. Meskipun tak masuk akal, tetapi karena Tuhan yang memerintahkan, ia pun melakukannya. Hasilnya, berkat yang luar biasa! Sejumlah besar ikan ditangkapnya! Yang menarik adalah sikap Simon. Berkat itu tidak mempesonanya. Justru berkat itu membuatnya merasa tidak layak. Ia merasa tidak layak diperhatikan Tuhan karena ia orang berdosa. Matanya terus tertuju pada Tuhan Yesus. Maka ketika Tuhan memanggilnya, Simon dan teman-temannya meninggalkan berkat yang sempat mempesonanya itu dan mengikut Tuhan. Jemaat yang terkasih. Jika kita mau menjadi pribadi yang mampu meretas rintangan, contohlah sikap Simon. Pertama, jangan dilemahkan oleh kegagalan. Kedua, taat pada perintah Tuhan. Meskipun kadangkala tampak tidak masuk akal. Ketiga, selalu terpesona pada Tuhan saja. Itu berarti tidak terus terpesona pada berkat-berkat yang kita terima.
MARI BERTUMBUH BERSAMA
TEMA BULAN APRIL 2014
RENUNGAN HARIAN
Menjadi Seorang Hamba Kristus
08 April '14
Penderitaan Sang Juru Selamat
10 April '14
Jaket Penyelamat
14 April '14
Copyright © 2012 All rights reserved. Designed and Developed by GIA Dr. Cipto Semarang