SEPEKAN TERAKHIR
  Selasa, 03 Maret 2015   -HARI INI-
  Senin, 02 Maret 2015
  Minggu, 01 Maret 2015
  Sabtu, 28 Februari 2015
  Jumat, 27 Februari 2015
  Kamis, 26 Februari 2015
  Rabu, 25 Februari 2015
POKOK RENUNGAN
Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya barangsiapa menuruti firmanKu, ia tidak akan mengalami maut sampai selama-lamanya. (Yohanes 8:51)
DITULIS OLEH
Ibu Ribkah E. Christanti
Kontributor
Renungan Lain oleh Penulis:
Home  »  Renungan  »  Hidup Dalam Anugerah
Hidup Dalam Anugerah
Kamis, 05 September 2013 | Tema: Kebenaran Kerajaan Allah
Hidup Dalam Anugerah
Yohanes 8:30-36
Seorang hamba Tuhan pernah bersaksi tentang bagaimana ia bisa mengenal Kristus. Menurutnya, ketika ia masih dalam kepercayaannya yang lama, ia tidak sempat memiliki tabungan dan selalu hidup dalam ketakutan. Betapa tidak, dalam setahun saja, ia harus mengadakan beberapa macam ritual yang menuntut adanya korban dan sesajen yang telah ditentukan jumlahnya. Menurut kepercayaannya dulu, serangkaian syarat tersebut harus dipenuhi untuk menyenangkan para “penguasa” alam sehingga dirinya terhindar dari marabahaya, selamat, rezekinya tetap lancar, dll. Jika tidak dilakukan, maka akan mendapat celaka. Namun ketika ia diperkenalkan kepada Yesus, dan keselamatan di dalam Dia, ia terheran heran. Bagaimana bisa keselamatan yang “mahal” (menurut kepercayaannya yang lama) itu, bisa diraih dengan cuma-cuma hanya dengan percaya kepada Yesus?

Bersyukur. Itulah hal yang seharusnya kita kerjakan atas anugerah keselamatan yang kita terima. Hidup kita telah berdosa sejak leluhur kita berdosa. Belum lagi dampak yang kita terima sehingga kita cenderung berbuat dosa. Seharusnya kita sendiri yang harus menanggung semua dosa kita dengan nyawa kita (Roma 6:23). Namun atas kasih karunia Tuhan, Bapa mengutus Putra-Nya untuk menggantikan penghukuman atas dosa kita, sehingga kita diampuni dari dosa dan diselamatkan. Ketika kita percaya kepada Yesus dan anugerah keselamatan-Nya, maka kebenaran itu berlaku atas hidup kita. Namun kehidupan percaya yang bagaimana yang akan memberlakukan “kebenaran” itu? Dalam ayat 31-32 disebutkan syarat hidup percaya kita. Yaitu unt...selengkapnya »
Sebab jika seorang hanya mendengar firman saja dan tidak melakukannya, ia adalah seumpama seorang yang sedang mengamat-amati mukanya yang sebenarnya di depan cermin. Baru saja ia memandang dirinya, ia sudah pergi atau ia segera lupa bagaimana rupanya. [ayat 23-24] Setiap kita mempunyai kebiasaan masing-masing setelah bangun pada pagi hari. Ada yang langsung mandi, ada yang gosok gigi dahulu, ada yang melihat-lihat tanaman, ada yang minum teh atau kopi, dan ada yang lainnya. Masing-masing orang punya kebiasaan yang berbeda. Tetapi ada satu hal yang semua orang pada umumnya lakukan setelah bangun tidur, yaitu bercermin. Setelah bangun tidur biasanya rambut kita acak-acakan. Sebelum kita keluar rumah, kita harus pastikan bahwa rambut kita sudah tersisir dengan rapi. Untuk itulah kita perlu bercermin. Firman Tuhan berfungsi seperti cermin. Firman Tuhan memberi tahu tentang keadaan diri kita, kekurangan-kekurangan yang masih harus kita benahi. Tanpa Firman Tuhan mungkin kita berasumsi bahwa diri kita sudah baik. Seperti orang yang tanpa melihat ke cermin berasumsi bahwa penampilannya sudah baik. Tapi itu hanyalah asumsi yang keliru. Kita tidak bisa hanya berasumsi tanpa melihat bagaimana keadaan diri kita sebenarnya. Karena itulah kita butuh cermin kehidupan, yaitu Firman Tuhan. Tetapi, melihat ke cermin saja tidak cukup tanpa melakukan suatu tindakan. Contohnya, bila kita melihat di cermin bahwa rambut kita acak-acakan, tapi kita tidak menyisir rambut kita, maka itu tidak ada gunanya. Oleh sebab itulah Yakobus berkata: Jangan cuma jadi pendengar Firman saja. Jadilah pelaku Firman. Sebagai contoh, kalau Firman Tuhan menegor kita agar kita tidak sombong, dan kita sadar bahwa tegoran itu benar, tetapi kita tidak ambil langkah untuk tinggalkan sikap sombong itu, maka kita tidak mengalami perubahan apa-apa. Sama saja dengan orang yang melihat ke cermin, tahu rambutnya acak-acakan, tetapi tidak menyisir rambutnya, lalu terus pergi ke luar rumah. Saudara-saudara, kalau kita masih sempat mendengar Firman Tuhan kita beruntung. Kita punya kesempatan untuk menjadi pribadi yang lebih baik. Firman Tuhan menuntun kita pada keselamatan. Terlebih lagi, kalau Firman itu secara khusus berbicara langsung pada kita [entah berupa tegoran, nasihat, penghiburan, atau perintah yang harus kita lakukan], jangan biarkan Firman itu berlalu tanpa ada sebuah tindakan. Amin.
Yakobus 2:14-26 Apakah gunanya, saudara-saudaraku, jika seorang mengatakan, bahwa ia mempunyai iman, padahal ia tidak mempunyai perbuatan? Dapatkah iman itu menyelamatkan dia? (ayat 14) Dari mengamati perilaku para pemimpin di negeri ini kita bisa mendapatkan pelajaran yang menarik. Ada pemimpin yang berusaha mengangkat pamornya dengan teknik yang disebut ”pencitraan”. Dia sengaja mengatur penampilan, gaya bicara, bahasa tubuhnya agar memberi kesan bahwa dia adalah seorang pemimpin yang dapat diandalkan dan sekaligus peduli pada nasib bangsa. Pencitraan ini sengaja diekspose di media massa agar semua orang melihat dan mendapat kesan seperti yang diinginkannya. Tetapi di pihak lain, ada pemimpin yang tidak banyak mengatur gaya penampilan atau gaya bicaranya, namun dengan sepenuh hati bekerja untuk kepentingan rakyat. Nas Firman di atas berbicara mengenai bagaimana iman diwujudkan. Apakah iman diwujudkan dengan sekedar berkata-kata atau dengan perbuatan yang nyata? Mewujudkan iman dengan sekedar berkata-kata itu sama dengan ”pencitraan”. Tujuannya adalah supaya orang mendapat kesan bahwa dia adalah seorang yang beriman, punya hati yang baik, punya belas kasihan. Padahal yang namanya pencitraan di dalam dirinya tidak seperti yang dikatakannya. Hanya untuk membuat orang terkesan saja. Tuhan menginginkan kita menjadi pelaku-pelaku Firman. Tujuan kita mengerti dan memahami Firman bukan supaya kita pandai berkata-kata. Bukan juga supaya kita pandai menasihati orang lain. Tujuannya adalah supaya kita mengerjakan apa yang diperintahkan Tuhan. Firman Tuhan berkata: ”Sebab seperti tubuh tanpa roh adalah mati, demikian jugalah iman tanpa perbuatan-perbuatan adalah mati.” (ayat 26) Iman yang hidup adalah iman yang dinyatakan dalam perbuatan. Tetapi iman itu akan mati jika dibungkus dengan kata-kata yang kosong. Kitalah yang bisa memutuskan apakah iman itu akan kita kembangkan agar hidup dan menggairahkan hidup kita, ataukah kita biarkan mati.
Ketika mobil ambulance “meluncur” kencang dibarengi dengan suara sirine yang nyaring menuju salah satu rumah sakit, maka siapapun yang melihatnya pasti akan segera mengerti bahwa di dalam mobil ambulance itu ada orang sakit yang harus ditolong dengan segera. Ketika sampai di rumah sakit, maka dengan segera orang itu mendapatkan pertolongan pertama sebelum lebih lanjut menjalani perawatan intensif. Aksi menolong dengan cepat dan sigap harus segera dilakukan karena tindakan ini bermanfaat menyelamatkan seseorang yang hidupnya sedang terancam. Tuhan Yesus mengajarkan supaya para murid-Nya dengan sigap memberikan pertolongan sebagai bentuk kasih yang dinyatakan dalam perbuatan. Pertolongan itu hendaknya diberikan kepada semua sesama manusia dengan tidak memandang suku, ras, agama, tingkat sosial, dll. Misalnya seperti orang Samaria yang oleh Yesus digambarkan sebagai orang yang murah hati, ketika melihat ada seorang yang tidak berdaya dan menderita, maka dengan sigap memberikan pertolongan karena korban adalah dilihatnya sebagai sesama manusia yang hidupnya sedang terancam. Saudara, melalui kisah orang Samaria yang murah hati, Tuhan Yesus menandaskan bahwa kasih harus diwujudkan kepada sesama manusia dengan tidak pandang bulu. Itu berarti bahwa kasih adalah sebuah tindakan keharusan bagi semua murid Yesus untuk menolong kepada sesama manusia yang tak berdaya. Kasih adalah komitmen, bukan sekedar “main perasaan”, bukan pilih-pilih tetapi bagi semua orang, khususnya yang tak berdaya-menderita. Apakah Anda termasuk murid Yesus? Berbuatlah demikian.
Kemarin saya membaca status seorang teman di media sosial yang menimbulkan banyak interpretasi. Dalam tulisannya dia meminta maaf kepada temannya karena tidak bisa mentraktir. Menurutnya, dia bukan pendeta kota yang “berkantong tebal”, melainkan pendeta ndeso yang kadang punya duit kadang tidak. Kalau ada duit ya makan, kalau tidak ada ya puasa, katanya. Terang saja hal ini menimbulkan perang komentar dari berbagai sudut pandang. Entah hanya untuk sensasi atau merupakan curahan hati, yang jelas pernyataan itu berhasil membuat gerah pembacanya. Ada yang menasihati untuk tidak mengumbarnya di media sosial; ada yang mengingatkan untuk tetap bersyukur; ada yang menyarankan untuk tidak jadi pendeta jika mau banyak uang; tapi juga ada yang menyemangatinya karena menurutnya ini adalah sebuah kejujuran. Jika status tersebut merupakan sebuah “kejujuran” dari seorang pelayan Tuhan tentang keadaan ekonomi sosialnya, maka apakah sikapnya sudah dilandasi dengan kasih [1 Korintus 13:4-7]? Jujur atau mengeluh? Atau keduanya? 1 Petrus 4:11 mengatakan bahwa pelayanan adalah anugerah Tuhan, maka sebagai penerima anugerah hendaknya kita melakukannya dengan penuh rasa syukur, dengan tulus, dan dengan penuh tanggung jawab. Ada banyak orang yang keadaannya lebih memprihatinkan, namun mereka masih bisa bersukacita ketika melayani Tuhan. Sebut saja bapak Y, seorang pendeta dari desa Precet, Wlingi, Blitar. Dia menggembalakan hanya sekitar 20 orang yang dirintisnya melalui kesetiaannya membuka persekutuan doa. Dia hanya punya sepeda sebagai satu-satunya alat transportasi untuk hidup dan pelayanannya. Untuk menopang perekonomiannya, dia memelihara seekor kambing. Namun sampai Tuhan memanggilnya pulang ke rumah Bapa di usia sekitar 35 tahun, dia masih setia memegang penggembalaan itu. Kini istrinya dengan seorang anak yang berumur 9 tahun meneruskan pelayanannya di sana. Keadaan sekeliling kita sangat mungkin mengganggu fokus kita dalam melayani Tuhan. Entah kebutuhan ekonomi, opini publik, kebutuhan sosial, dll. Pengetahuan, pengalaman, pikiran dan fisik kita seringkali tidak mampu menahan desakan-desakan itu. Namun jika kita mengandalkan kekuatan dari Tuhan, maka kita akan menang. Daud bisa membuat roh jahat pergi dari Saul saat Roh Tuhan menguasainya ketika bermain kecapi [1 Samuel 16:23]. Berbeda halnya dengan Saul, ketika Samuel tak kunjung datang untuk mempersembahkan korban, sementara rakyat mendesaknya, maka ia pun melayani dengan pengetahuannya saja dan bukan karena kehendak Tuhan. Justru Saul tidak mendapat perkenanan Allah. Jadi jika saat ini kita sedang dipercayakan untuk melayani Tuhan dalam bidang apapun dan di manapun, lakukan dengan penuh ucapan syukur, bertanggung jawab, setia dan dengan kekuatan dari Allah sebagai bukti kasih kita. Maka Tuhan akan dipermuliakan. Selain itu, pelayanan kita akan menjadi berkat serta nama kita tertulis sebagai pelaku Firman.
BARCODE BBM CHANNELS
RENUNGAN HARIAN
Keterbatasan Dan Kesibukan
04 Februari '15
Predikat Yang Tidak Enak Disandang
23 Februari '15
Menabur Kebaikan Menuai Jiwa Baru
02 Maret '15
Copyright © 2012 All rights reserved. Designed and Developed by GIA Dr. Cipto Semarang