SEPEKAN TERAKHIR
  Selasa, 27 September 2016   -HARI INI-
  Senin, 26 September 2016
  Minggu, 25 September 2016
  Sabtu, 24 September 2016
  Jumat, 23 September 2016
  Kamis, 22 September 2016
  Rabu, 21 September 2016
POKOK RENUNGAN
Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya barangsiapa menuruti firmanKu, ia tidak akan mengalami maut sampai selama-lamanya. (Yohanes 8:51)
DITULIS OLEH
Ibu Ribkah E. Christanti
Kontributor
Renungan Lain oleh Penulis:
Home  »  Renungan  »  Hidup Dalam Anugerah
Hidup Dalam Anugerah
Kamis, 05 September 2013 | Tema: Kebenaran Kerajaan Allah
Hidup Dalam Anugerah
Yohanes 8:30-36
Seorang hamba Tuhan pernah bersaksi tentang bagaimana ia bisa mengenal Kristus. Menurutnya, ketika ia masih dalam kepercayaannya yang lama, ia tidak sempat memiliki tabungan dan selalu hidup dalam ketakutan. Betapa tidak, dalam setahun saja, ia harus mengadakan beberapa macam ritual yang menuntut adanya korban dan sesajen yang telah ditentukan jumlahnya. Menurut kepercayaannya dulu, serangkaian syarat tersebut harus dipenuhi untuk menyenangkan para “penguasa” alam sehingga dirinya terhindar dari marabahaya, selamat, rezekinya tetap lancar, dll. Jika tidak dilakukan, maka akan mendapat celaka. Namun ketika ia diperkenalkan kepada Yesus, dan keselamatan di dalam Dia, ia terheran heran. Bagaimana bisa keselamatan yang “mahal” (menurut kepercayaannya yang lama) itu, bisa diraih dengan cuma-cuma hanya dengan percaya kepada Yesus?

Bersyukur....selengkapnya »
Hidup secara arif Efesus 5:15-21 Karena itu, perhatikanlah dengan saksama, bagaimana kamu hidup, janganlah seperti orang bebal, tetapi seperti orang arif, ’Awas, hati-hati. Lantai basah.’ Demikian peringatan yang sering kita baca apabila ada lantai yang sedang dipel, supaya orang tidak jatuh terpeleset. Di jalan-jalan yang berbahaya di mana sering terjadi kecelakaan biasanya dipasang tanda peringatan: ’Hati-hati, banyak terjadi kecelakaan.’ Dan akhir-akhir ini banyak muncul peringatan kepada para pengendara mobil dan sepeda motor: ’JANGAN MENGGUNAKAN HANDPHONE SAAT BERKENDARA.’ Semua peringatan itu punya maksud agar kita hati-hati, supaya tidak mengalami celaka. Firman Tuhan mengingatkan kita supaya menjalani hidup ini dengan hati-hati. Jangan seperti orang bebal, tetapi seperti orang arif. Orang bebal adalah orang yang tidak mau mempedulikan nasihat dan peringatan, orang yang ceroboh dan sembrono, tidak pikir panjang dalam mengambil keputusan. Sedangkan orang arif adalah orang yang cermat dalam mengambil keputusan, memperhitungkan situasi dan nasihat-nasihat serta peringatan-peringatan yang diberikan orang lain. Agar menjadi orang yang arif kita perlu memperhatikan nasihat-nasihat Firman Tuhan ini: 1. Pergunakan waktu sebaik mungkin [ayat 16]. Jangan sia-siakan untuk hal-hal yang tidak bermanfaat. Tetapkan prioritas dengan benar. Kerjakan lebih dahulu hal-hal yang menjadi prioritas kita. 2. Berusaha untuk mengerti kehendak Tuhan [ayat 17]. Baca Firman Tuhan secara rutin dan teratur. Peka dalam segala situasi, dan berusaha mengerti apa yang Tuhan ingin kita lakukan dalam situasi seperti itu. Mungkin pertanyaan ini bisa membantu kita: What would Jesus do in this situation? 3. Mintalah untuk dipimpin dan dipenuhi oleh Roh Kudus setiap hari [ayat 18]. Tuhanlah yang paling mengerti jalan hidup yang terbaik untuk kita. Jika kita menyerahkan diri dalam pimpinan-Nya, Dia akan mengarahkan dan menuntun kita di jalan yang benar sesuai kehendak-Nya. Tuhan memberkati kita semua. Amin. Pdt. Goenawan Susanto
Perkembangan budaya dan peradaban kita sebagai orang-orang timur sebenarnya lebih didominasi oleh olah rasa daripada olah pikir. Kita cenderung mistis dan mudah tertarik dengan peristiwa-peristiwa supranatural. Pohon-pohon yang besar segera memberi kesan angker. Tidaklah demikian dengan pohon-pohon yang kecil, apalagi suket teki [rumput]. Batu-batu besar kerap kali dikeramatkan dan dihubungkan dengan cerita mitos atau legenda tertentu. Sebut saja watu dodol di Banyuwangi, watu gemblong di daerah Tuban, watu ulo, dan lain-lain. Tidaklah demikian dengan batu-batu kecil, apalagi kerikil. Berkenaan dengan batu, Benay punya pengalaman unik. Benay tidak setuju jika hanya batu besar yang dikeramatkan. Kakek buyut Benay pernah mempunyai batu kecil yang terkenal sakti mandraguna, yaitu batu akik merah delima. “Batu itu dipercaya orang berkhasiat pengasihan”, kata Benay menjelaskan. “Wah.. berarti istri kakek buyutmu banyak”, ujar Sambey sambil terkekeh. “Ya, banyak dalam arti jumlah. Bukan banyak sebangsanya enthok dan bebek!” jawab Benay cengar-cengir. “Omong-omong, aku punya pengalaman dahsyat berkenaan dengan batu.” Sambey menatap Benay penasaran. Raut wajahnya memberi tanda bahwa ia tertarik untuk mendengarkan cerita Benay. “Dahulu di daerahku ada batu besar. Tidak ada orang yang berani duduk di atasnya apalagi corat-coret atau merusaknya. Suatu sore aku memberanikan diri duduk di atas batu itu. Dan peristiwa dahsyat terjadi! Keesokan harinya batu itu terbelah menjadi dua bagian.” Sambey tampak kian tertarik dengan cerita Benay. “Wow.. apa yang menyebabkan batu itu terbelah? Apakah karena kamu memakai batu akik sakti kakek buyutmu?” Benay mengeleng-gelengkan kepalanya. “Aku hanya kentut!” jawab Benay singkat, “Kentut anak Tuhan itu dahsyat bukan?” “Wow.. jadi kentutmu mampu membelah batu keramat itu? Luar biasa!” komentar Sambey terkagum. “Sebenarnya bukan kentutku yang membelahnya”, jawab Benay sambil menahan tawa, “Tetapi alat pemecah batu dari proyek yang akan membangun infrastruktur tepat di mana batu itu ada.” Merasa terkibuli oleh cerita sahabatnya, Sambey menggelitiki perut Benay yang bulat bundar. “Sebenarnya ceritaku ini tetap punya makna, Sam”, kata Benay sambil menahan geli, “Aku duduk di atas batu besar yang kokoh, mengingatkan aku bahwa Yesus adalah batu penjuru dan kita-kita ini adalah batu-batu kecil. Tuhan punya tujuan dengan batu-batu kecil itu. Batu-batu kecil itu disusun rapi dan saling terkait satu sama lain untuk membangun rumah rohani yang berdiri di atas pondasi yang kokoh, yaitu Tuhan Yesus sendiri.” Jemaat yang terkasih. Tuhan Yesus adalah batu penjuru yang hidup dan kita pun adalah batu-batu hidup-Nya. Kita semua berguna untuk membangun rumah rohani. Oleh karena itu jadikan Tuhan dasar hidup dan pelayanan kita bersama. Dan marilah kita bergandengan tangan, sepikir dan sehati, saling mengasihi dan memperhatikan satu sama lain agar rumah rohani yang kudus itu sungguh terwujud.
Masakan cap cay yang sedap adalah racikan yang pas antara saus tomat dan bumbu-bumbu dengan perpaduan ragam sayur mayur yang proporsional. Jika saus tomat dituang terlalu banyak, rasa asam akan mendominasi hidangan itu. Jika garam ditabur kurang banyak, akan hambarlah masakannya. Bila potongan wortel terlalu banyak, citarasa wortel akan mendominasi. Bila rajangan kubis disingkirkan lantaran irisan sawi sudah banyak, maka kurang lengkaplah sajiannya. Gereja Tuhan terdiri dari orang-orang yang berlatar belakang berbeda-beda. Ada yang berasal dari keluarga Kristen turun-temurun; ada yang berasal dari keluarga non Kristen. Ada yang sudah puluhan tahun menjadi anggota jemaat; ada yang baru saja bergabung. Ada yang sudah lama terlibat dalam pelayanan; ada yang baru saja akan mulai; bahkan ada juga yang belum sama sekali. Berangkat dari kategori mana pun, jemaat Tuhan adalah satu. Satu sebagai Tubuh Kristus. Bersama-sama tumbuh di dalam Kristus. Tanpa mengenal kasta. Tanpa mengenal kelompok superior atau inferior. Semua patut memiliki kesempatan yang sama untuk bertumbuh bersama, tersusun rapi menjadi Bait Allah yang kudus. Gereja yang tersusun rapi tentunya teratur. Semua ada di tempat yang semestinya. Semua berfungsi secara semestinya. Tidak ada yang mendominasi, tidak ada pula yang tak berfungsi. Tidak ada yang berlebihan, tidak ada pula yang tak diberi kesempatan. Mewujudkan Gereja yang dipersatukan di dalam Kristus memang butuh perjuangan. Perlu kerja sama dari semua pihak. Dengan pertolongan Kristus sang Kepala Gereja, mari terus mengupayakannya.
Manusia memiliki waktu sebebas-bebasnya. Waktu yang dipakai terserah pada manusia itu sendiri. Ada waktu untuk sekolah. Ada waktu untuk bekerja. Ada waktu untuk istirahat. Ada waktu untuk bepergian. Ada waktu untuk menunggu dan ada waktu lain yang dipakai manusia. Bagaimana dengan waktu kita? Kita merasa waktu berjalan begitu cepat dan semakin cepat. Sering kita merasa kekurangan waktu. Mari kita berhenti sejenak untuk merenungkan untuk apa saja waktu kita selama ini. Rasul Paulus memiliki perhatian sangat besar dengan waktu. Dia tidak ingin waktu terbuang dengan sia-sia. Tidak berlebihan kalau setiap jam, menit bahkan detik harus dipergunakan dengan sebaik-baiknya. Kita punya waktu 24 jam sehari, bagaimana kita mengisi waktu tersebut? Bagi yang bersekolah waktu terisi dengan belajar di sekolah, istirahat, bermain, mengerjakan tugas-tugas dan tidur. Bagi yang bekerja waktu terisi dengan pekerjaan, berangkat pagi, pulang malam hari. Yang dibutuhkan di rumah adalah istirahat. Besok pagi harus bekerja lagi. Demikianlah rutinitas kehidupan sehari. Rajin dan giat belajar, bekerja keras, beraktifitas sehari-hari itu adalah hal yang baik. Namun Rasul Paulus mengingatkan janganlah kita semata-mata mengisi waktu hanya untuk kepentingan manusia belaka, kita harus ingat kepada Tuhan, Sang Pencipta waktu. Dialah yang memberi kita waktu dalam kehidupan ini. Waktu adalah milik Tuhan, kita tinggal mengisi dan mempergunakannya dengan sebaik-baiknya. Masih adakah waktu yang kita khususkan untuk bersaat teduh, bersekutu dengan Dia, membaca Firman, mencari dan melakukan kehendak-Nya? Dengan demikian kita membangun manusia batiniah [rohaniah] kita untuk menopang pembangunan tubuh Kristus di mana kita berjemaat.
BARCODE BBM CHANNELS
RENUNGAN HARIAN
Kepompong Kupu-Kupu
05 September '16
Rela Berkorban Untuk Kebaikan Sesama
26 September '16
Tahan Uji atau Tidak?
28 Agustus '16
Copyright © 2012 All rights reserved. Designed and Developed by GIA Dr. Cipto Semarang