SEPEKAN TERAKHIR
  Sabtu, 23 Mei 2015   -HARI INI-
  Jumat, 22 Mei 2015
  Kamis, 21 Mei 2015
  Rabu, 20 Mei 2015
  Selasa, 19 Mei 2015
  Senin, 18 Mei 2015
  Minggu, 17 Mei 2015
POKOK RENUNGAN
Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya barangsiapa menuruti firmanKu, ia tidak akan mengalami maut sampai selama-lamanya. (Yohanes 8:51)
DITULIS OLEH
Ibu Ribkah E. Christanti
Kontributor
Renungan Lain oleh Penulis:
Home  »  Renungan  »  Hidup Dalam Anugerah
Hidup Dalam Anugerah
Kamis, 05 September 2013 | Tema: Kebenaran Kerajaan Allah
Hidup Dalam Anugerah
Yohanes 8:30-36
Seorang hamba Tuhan pernah bersaksi tentang bagaimana ia bisa mengenal Kristus. Menurutnya, ketika ia masih dalam kepercayaannya yang lama, ia tidak sempat memiliki tabungan dan selalu hidup dalam ketakutan. Betapa tidak, dalam setahun saja, ia harus mengadakan beberapa macam ritual yang menuntut adanya korban dan sesajen yang telah ditentukan jumlahnya. Menurut kepercayaannya dulu, serangkaian syarat tersebut harus dipenuhi untuk menyenangkan para “penguasa” alam sehingga dirinya terhindar dari marabahaya, selamat, rezekinya tetap lancar, dll. Jika tidak dilakukan, maka akan mendapat celaka. Namun ketika ia diperkenalkan kepada Yesus, dan keselamatan di dalam Dia, ia terheran heran. Bagaimana bisa keselamatan yang “mahal” (menurut kepercayaannya yang lama) itu, bisa diraih dengan cuma-cuma hanya dengan percaya kepada Yesus?

Bersyukur. Itulah hal yang seharusnya kita kerjakan atas anugerah keselamatan yang kita terima. Hidup kita telah berdosa sejak leluhur kita berdosa. Belum lagi dampak yang kita terima sehingga kita cenderung berbuat dosa. Seharusnya kita sendiri yang harus menanggung semua dosa kita dengan nyawa kita (Roma 6:23). Namun atas kasih karunia Tuhan, Bapa mengutus Putra-Nya untuk menggantikan penghukuman atas dosa kita, sehingga kita diampuni dari dosa dan diselamatkan. Ketika kita percaya kepada Yesus dan anugerah keselamatan-Nya, maka kebenaran itu berlaku atas hidup kita. Namun kehidupan percaya yang bagaimana yang akan memberlakukan “kebenaran” itu? Dalam ayat 31-32 disebutkan syarat hidup percaya kita. Yaitu unt...selengkapnya »
Roma 12:2 dalam versi bahasa Indonesia sehari-hari menyatakan, “Janganlah ikuti norma-norma dunia ini. Biarkan Allah membuat pribadimu menjadi baru, supaya kalian berubah. Dengan demikian kalian sanggup mengetahui kemauan Allah , yaitu apa yang baik dan yang menyenangkan hati-Nya dan yang sempurna.” Berpijak dari ayat tersebut, banyak orang kristen merasa bahwa mereka telah melakukan kehendak Allah dalam hidupnya. Misalnya, setia beribadah pada hari Minggu dan tidak pernah merugikan orang lain. Katakan saja pak Munir. Dia selalu beribadah di hari Minggu, tetapi di lingkungan tempat tinggalnya, banyak orang kecewa karena pelitnya minta ampun. Pak Munir juga memberikan perpuluhan, sekalipun sejak sepuluh tahun yang lalu sampai sekarang nominalnya tetap sama, tidak ada peningkatan. Namun demikian pak Munir tidak sungkan-sungkan berbicara mengenai kesetiaannya dalam melakukan kehendak Allah. Pak Munir merasa bahwa dirinya sudah melakukan kehendak Allah. Saudara, banyak orang kristen merasa sudah melakukan kehendak Allah, padahal sebenarnya hanya sekedar merasa melakukan kehendak Allah. Kalau hanya merasa, maka sejatinya belum banyak melakukan kehendak Allah. Seseorang yang melakukan kehendak Allah pastilah terlebih dulu mengalami perubahan kepribadian yang dikerjakan oleh Allah sendiri sesuai dengan yang dipola Allah. Pembaharuan budi itulah yang menyanggupkan kita mengetahui kehendak atau kemauan Allah, yaitu semua yang baik dan yang menyenangkan hati-Nya. Dengan kata lain seseorang yang sudah mengalami pembaharuan budi, maka dia benar-benar melakukan kehendak Allah: semua yang baik dan yang berkenan di hati-Nya. Biarkanlah Allah terlebih dulu melakukan pembaruan budi kita. Amin.
Suatu kenyataan yang tidak bisa dielakkan bahwa dalam hidup ini pasti menghadapi problem. Hal ini berlaku bagi orang percaya dan non kristen. Pada umumnya orang mempunyai pemahaman bahwa problem adalah segala sesuatu yang dapat mengganggu pikiran dan jiwa, menimbulkan ketidaktenangan dan ketidaknyamanan. Contohnya: gangguan kesehatan, kesulitan studi, pekerjaan, kegagalan dalam karir, rumah tangga, diperlakukan tidak adil, dll. Adanya problem sebetulnya bisa dimaklumi karena kita masih hidup di bumi yang sudah terkutuk dan ditengah-tengah masyarakat manusia yang sudah jatuh dalam dosa [Kejadian 3:17-19]. Sekalipun secara pribadi sedang tidak mengalami problem, kita masih menghadapi masalah, yaitu ikut merasakan dan memikul beban atau problem orang lain. Ini berarti bahwa yang diharapkan bukan keadaan tanpa problem, tetapi bagaimana tetap memiliki pikiran dan jiwa yang tidak terganggu oleh problem yang ada. Kita memang tidak bisa mengatur keadaan sekitar atau perilaku orang lain, namun kita bisa mengatur respon kita terhadap problem yang datang. Untuk dapat mengatur respon kita dan tetap menikmati damai sejahtera, perlu menghayati kebenaran Firman Tuhan yang murni dan hidup di dalamnya [Yohanes 8:31-32], antara lain: 1. Menyadari bahwa problem umum tersebut adalah hal biasa [1 Korintus 10:13]. Belajar memahami bahwa problem adalah berkat Tuhan untuk kedewasaan rohani [Roma 8:28-29] ,dan untuk hal ini diperlukan proses panjang [Ibrani 12:10-11]. 2. Menyadari bahwa pada hakekatnya problem terbesar kita adalah masih terhambatnya pertumbuhan rohani kita [Ibrani 5:11-12]. Pertumbuhan rohani diperlukan supaya kita dipulihkan menjadi sempurna seperti rancangan Allah semula adalah satu-satunya agenda [visi] Bapa dengan karya penebusan oleh Tuhan Yesus Kristus. Kita harus selalu risau dan berjuang keras mengejar dan meningkatkan keadaan rohani yang masih jauh dari standar yang dikehendaki oleh Tuhan. Tetapi ironisnya banyak orang percaya lebih merisaukan hal-hal lain. 3. Dalam menghadapi semua problem, kita harus bisa membedakan mana yang menjadi bagian atau tanggung jawab kita, yang mana menjadi bagian Tuhan [Kejadian 1:28].
“Bret...bret...breeeett,” serentetan bunyi menyibak udara ketika Benay berusaha mengeluarkan ingus dari hidungnya yang meler karena pilek. Sehelai sapu tangan yang sudah tampak basah kuyup digenggamnya. Sambey bergidik melihatnya lalu berkomentar, “Ih...hari gini pakai sapu tangan. Kuno! Orang modern pakainya tissue! Praktis, tak pakai repot!” Disodorkanlah secarik tissue kepada Benay tetapi segera ditolaknya. “Tissue hanya menambah sampah saja!”, kata Benay singkat. Beberapa saat terdiamlah Sambey memikirkan perkataan sahabatnya itu. Pikirnya benar juga perkataan Benay. Sudah lama sapu tangan lenyap dari peredaran dan digantikan tissue. Penggambaran tissue sebagai gaya modern mendorong orang-orang untuk lebih percaya diri dalam memakainya. Selain itu praktis. Selesai pakai langsung buang. Tanpa disadari, tissue memberikan cerminan mental manusia zaman sekarang ini, yaitu menyukai pencitraan daripada hakikat dan condong kepada yang instan daripada proses. Dengan demikian kurang memikirkan akibat dari tindakannya terhadap lingkungan dan bahkan bagi orang lain. “Breet...Certrterteetrrrr...Treeeitt” tiba-tiba rentetan bunyi bak agresi kedua ini menyentakkan Sambey dari perenungannya. Dipandangnya lagi Benay dengan perasaan risih. “Mbok, sapu tanganmu ganti yang baru, lalu yang kotor itu dicuci,” nasihat Sambey. “Aku cuma punya satu. Kalau bisa belikan aku sapu tangan. Sekarang nyarinya susah, tau!,” kata Benay sedikit sewot. Jemaat yang terkasih, mental pencitraan, yang hanya mau menampakkan sisi kulit luar saja dan menolak mencari pengertian yang mendalam tentang iman; dan mental instan [asal cepat] yang tidak sabar terhadap proses pendewasaan iman, adalah dua bentuk mental generasi anak lembu emas. Dua mental ini muncul pertama kali pada diri bangsa Israel yang goyah hatinya karena ketidakpastian nasib Musa di puncak Gunung Sinai. Mereka butuh sesuatu yang pasti dan segera. Pertama-tama, mereka mau Allah yang pasti. Allah yang dapat dipegang dengan tangan dan dilihat dengan mata jasmani. Maka dicitrakanlah Allah yang membawa mereka keluar dari Mesir dalam bentuk patung anak lembu emas. Selanjutnya, mereka bersukaria beribadah kepadanya. Sebuah ibadah pencitraan untuk memuja allah yang mereka bentuk menurut kemauan mereka sendiri. Dan tentu, ibadah mereka adalah ibadah palsu karena sebenarnya yang mereka puja adalah kemauan/kebutuhan diri mereka sendiri. Jemaat yang terkasih, generasi lembu emas dapat muncul kembali pada zaman kita sekarang ini. Maka waspadalah! Waspadalah! Dan waspadalah! Marilah kita renungkan apakah selama ini kita mengedepankan kehendak Allah atau kebutuhan kita? Apakah kita mempunyai kerinduan yang mendalam untuk mengenal Tuhan? Apakah dalam peristiwa-peristiwa yang kita alami, kita mau tekun dan bersabar dalam mencari dan menanti kehendak Tuhan? Jika jawabannya adalah YA, niscaya kita bukanlah termasuk generasi anak lembu emas itu. Tuhan memberkati kita.
Adi seorang insinyur teknik sipil yang kariernya cemerlang. Baru bekerja beberapa waktu, perusahaan tempatnya bekerja telah kebanjiran tender pembangunan gedung dan gudang baik milik perorangan maupun milik suatu perusahaan. Karena Adi dipercaya oleh pimpinan sebagai pelaksana proyek di lapangan, maka semuanya dikerjakan dengan baik dan tepat waktu sesuai dengan petunjuk yang ada. Ketika pihak pimpinan memanggilnya dan bertanya tentang rahasia keberhasilan hidupnya, dengan santai Adi menjawab, karena ortu mengajarkan kejujuran hidup sejak kecil dan hidup mengamalkan iman dengan sungguh-sungguh dan mempercayai bahwa Allah adalah sumber segala kehidupan dan rejeki. Renungan pagi ini berkisah tentang seorang murid Rasul Paulus yang bernama Timotius yang harus hidup dan melayani di tengah kehidupan masyarakat sebagaimana tertulis dalam 2 Timotius 3:1-9. Dia harus menghadapi orang-orang yang selalu membuat masalah bagi dirinya [2 Timotius 2:1-26]. Orang-orang yang mementingkan diri sendiri dan tidak gampang untuk diubah menjadi pribadi yang mengutamakan kehendak Allah. Namun Timotius tetap bisa hidup sejalan dengan kehendak Allah meskipun harus hidup dalam situasi seperti itu, karena: 1. Penanaman iman yang benar dari orangtuanya [2 Timotius 1:5-7]. 2. Bersedia meneladani kehidupan Rasul Paulus sebagai mentornya [2 Timotius 1:11-13]. 3. Komitmen terhadap tugas panggilannya [2 Timotius 2:1-2]. Timotius telah menjadi generasi yang tetap melakukan kehendak Allah meskipun situasi dan lingkungannya kurang mendukung. Demikian pula dengan kehidupan dan situasi kita saat ini, di mana keadaan sekeliling kita sudah sedemikian merosot baik dalam hal moral, etika dan spiritual. Sebagai murid Kristus yang telah menikmati hubungan yang intim dengan-Nya dan memiliki Firman Allah sebagai dasar kehidupan kita, maka menjalankan kehendak Allah, itu ibarat menjadi mercusuar bagi Kerajaan Allah di dunia ini. Hal itu harus kita lakukan sebagai wujud kesaksian kita di tengah-tengah dunia ini. Tidak peduli apa tugas dan jabatan kita saat ini, yang penting adalah bagaimana kita bisa tetap hidup sesuai dengan kehendak Allah dan menjadi berkat bagi orang lain. Sama seperti Timotius yang tidak ikut larut dengan lingkungan sekitarnya, namun tetap hidup menurut kehendak Allah sesuai dengan panggilannya.
BARCODE BBM CHANNELS
RENUNGAN HARIAN
Problem Terbesar Seorang Anak Tuhan
25 April '15
Teramat Singkat
11 Mei '15
Pengabdian Total
07 Mei '15
Copyright © 2012 All rights reserved. Designed and Developed by GIA Dr. Cipto Semarang