SEPEKAN TERAKHIR
  Sabtu, 26 Juli 2014   -HARI INI-
  Jumat, 25 Juli 2014
  Kamis, 24 Juli 2014
  Rabu, 23 Juli 2014
  Selasa, 22 Juli 2014
  Senin, 21 Juli 2014
  Minggu, 20 Juli 2014
POKOK RENUNGAN
Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya barangsiapa menuruti firmanKu, ia tidak akan mengalami maut sampai selama-lamanya. (Yohanes 8:51)
DITULIS OLEH
Ibu Ribkah E. Christanti
Kontributor
Renungan Lain oleh Penulis:
Home  »  Renungan  »  Hidup Dalam Anugerah
Hidup Dalam Anugerah
Kamis, 05 September 2013 | Tema: Kebenaran Kerajaan Allah
Hidup Dalam Anugerah
Yohanes 8:30-36
Seorang hamba Tuhan pernah bersaksi tentang bagaimana ia bisa mengenal Kristus. Menurutnya, ketika ia masih dalam kepercayaannya yang lama, ia tidak sempat memiliki tabungan dan selalu hidup dalam ketakutan. Betapa tidak, dalam setahun saja, ia harus mengadakan beberapa macam ritual yang menuntut adanya korban dan sesajen yang telah ditentukan jumlahnya. Menurut kepercayaannya dulu, serangkaian syarat tersebut harus dipenuhi untuk menyenangkan para “penguasa” alam sehingga dirinya terhindar dari marabahaya, selamat, rezekinya tetap lancar, dll. Jika tidak dilakukan, maka akan mendapat celaka. Namun ketika ia diperkenalkan kepada Yesus, dan keselamatan di dalam Dia, ia terheran heran. Bagaimana bisa keselamatan yang “mahal” (menurut kepercayaannya yang lama) itu, bisa diraih dengan cuma-cuma hanya dengan percaya kepada Yesus?

Bersyukur. Itulah hal yang seharusnya kita kerjakan atas anugerah keselamatan yang kita terima. Hidup kita telah berdosa sejak leluhur kita berdosa. Belum lagi dampak yang kita terima sehingga kita cenderung berbuat dosa. Seharusnya kita sendiri yang harus menanggung semua dosa kita dengan nyawa kita (Roma 6:23). Namun atas kasih karunia Tuhan, Bapa mengutus Putra-Nya untuk menggantikan penghukuman atas dosa kita, sehingga kita diampuni dari dosa dan diselamatkan. Ketika kita percaya kepada Yesus dan anugerah keselamatan-Nya, maka kebenaran itu berlaku atas hidup kita. Namun kehidupan percaya yang bagaimana yang akan memberlakukan “kebenaran” itu? Dalam ayat 31-32 disebutkan syarat hidup percaya kita. Yaitu unt...selengkapnya »
Istilah “pantang pulang sebelum padam” merupakan slogan yang sangat dijunjung tinggi oleh regu pemadam kebakaran di seluruh dunia. Kalimat sakti itu memacu setiap orang yang terhisap dalam regu penyelamatan dan pemadam kebakaran untuk memiliki tekad dan keberanian dalam menghadapi tantangan yang tidak jarang membahayakan nyawanya sendiri. Bagi mereka, kesulitan dan tantangan tidaklah menjadi soal asalkan bisa menolong dan menyelamatkan mereka yang mengalami kesusahan. Ketika terjadi kebakaran atau bencana, mereka siap sedia untuk melakukan tugasnya, meskipun terkadang mereka sedang beristirahat atau sedang berlibur. Dengan kerelaan mereka mendedikasikan pekerjaan dan kehidupannya bagi kemanusiaan. meskipun ada juga yang melakukan sebagai profesi atau pekerjaan namun inti dari semuanya itu mereka lakukan hanya untuk menolong. Semangat yang dimiliki oleh regu pemadam memang tidak langsung terjadi begitu saja, tetapi karena latihan dan disiplin tinggi yang diterapkan sehingga semangat itu selalu dibawa dalam pekerjaan dan dalam kehidupannya. Semangat yang luar biasa untuk menolong orang lain yang dalam kesulitan merupakan kebahagiaannya. Jika kita sebagai orang percaya menyadari bahwa kita juga sebenarnya memiliki tugas dan tanggung jawab untuk melayani dan menyelamatkan jiwa manusia, maka kegairahan itu harus dibangkitkan dalam diri kita. Jika dalam regu pemadam kebakaran memiliki slogan ‘pantang pulang sebelum padam’, maka dalam kekristenan memiliki slogan ‘selamatkan jiwa berapapun harganya’. Jika kita menyadari slogan itu maka akan timbul gairah melayani dan mengasihi Tuhan dan sesama. Kita akan mendisiplin diri meskipun kita memiliki kesibukan dalam pekerjaan dan aktifitas. Mengasihi dan menyelamatkan jiwa bisa dilakukan di tengah dunia kerja, dunia studi, pergaulan masyarakat, dan sebagainya. Tinggal bagaimana kita melakukan dan memiliki hati yang berkobar untuk melayani dan mengasihi mereka. Allah menunggu orang yang memilki hati yang berkobar untuk rela dipakai diladang-Nya.
Seorang pemuda mendapat pekerjaan di rumah seorang pengusaha besar sebagai pelayan. Di hari pertama bekerja dia bertemu dengan senior-senior karyawan di rumah itu. Juru masak berkata kepadanya dengan sombong, “Kamu bekerja di sini tidak ada artinya, tidak seperti saya yang selalu mendapat pujian karena masakan saya sangat enak dan dibutuhkan di rumah ini.” Sopir berkata, “Aku sangat dipercaya tuan karena aku yang senantiasa membawa beliau ke mana saja dan pasti dibutuhkan.” “Aku yang menata semua taman sehingga nampak indah dan menyenangkan hati tuan.” kata tukang kebun. Pada waktu pemuda itu putus asa datanglah seorang pelayan tua yang berkata, “Jangan kamu sedih, lakukanlah pekerjaanmu dengan rendah hati dan tidak sombong akan hasil karyamu.” Perkataan itu membuatnya semangat untuk bekerja, membersihkan rumah, menata perabot dan semua pekerjaan bagiannya dilakukan dengan sukacita. Sang majikan sangat puas dengan pekerjaannya dan selalu memuji dia di hadapan semua karyawan. Dia tetap rendah hati dan tidak menjadi sombong walaupun saat ini dia menjadi kepercayaan tuannya. Firman Tuhan menghendaki kita rendah hati dan selalu menganggap orang lain lebih penting dari diri kita, tidak mencari kepentingan sendiri dan pujian dalam setiap langkah hidup kita (ayat 3). Tidak mementingkan diri sendiri tetapi juga memperhatikan kepentingan orang lain (ayat 4). Agar kita bisa melakukan hal tersebut maka pikiran dan perasaan Yesus harus ada dalam hidup kita (ayat 5). Selama Yesus hidup di dunia, Dia selalu menganggap orang lain penting. Di tengah kelelahan setelah sepanjang hari melayani, Dia tetap melayani orang-orang yang membutuhkan pelayanan-Nya. Dia tidak hanya memperhatikan kebutuhan rohani karena orang-orang itu seperti domba yang tak bergembala, tetapi memperhatikan kebutuhan jasmani sehingga Dia memberi mereka makan. Yesus adalah contoh dan teladan rendah hati yang sejati. Apakah kita sudah meneladani-Nya dan berani menempatkan kepentingan orang lain di atas kepentingan kita?
Pemilihan presiden semakin dekat. Adu kata di media massa makin memanas. Pendukung kedua kubu mati-matian membela jagoan mereka. Tak jarang sesungguhnya mereka tak begitu mendalami sosok yang mereka puja. Mereka hanya melihat pribadi yang tampak di permukaan. Berpijak pada argumen yang mereka dengar. Alhasil orang yang mereka bela hanyalah sosok yang ideal dalam angan semata. Seperti pendukung calon-calon presiden yang sering tak bisa objektif dalam menilai sosok pujaan mereka, jemaat Gereja Tuhan pun sering terjebak dalam situasi yang serupa. Konflik yang sebenarnya wajar, bisa menjadi runcing dan memanas, bahkan ada yang berujung dengan perpecahan, sebab ada orang-orang yang tak bisa (atau tak mau) berpikir jernih. Kepentingan Tubuh Kristus adalah yang utama. Bukan kepentingan orang tertentu atau kelompok tertentu. Mari menalar segala sesuatu dengan nurani yang jernih. Bukan berdasarkan argumen teman dekat ataupun tokoh idola. Sehingga apabila kita giat, biarlah kita giat untuk hal yang benar. Apabila kita berjuang, biarlah kita berjuang untuk alasan yang benar. Ladang telah menguning dan siap untuk dituai. Mari bekerja untuk Tuhan, giat di ladang Tuhan dan berjuang untuk kepentingan Gereja Tuhan.
Beberapa orang ‘beruang’ pernah berkata kepada saya bahwa rumah sakit yang paling terpercaya dalam menangani kesehatan kita adalah rumah sakit Singapura. Oleh karena itu mereka merekomendasikan untuk berobat di Singapura jika ada yang mengalami masalah kesehatan. Mereka memandang bahwa seolah-olah tenaga medis dan peralatan-peralatan rumah sakit yang ada di negara kita belum memenuhi standar untuk menangani penyakit-penyakit tertentu, sehingga mereka lebih mempercayai rumah sakit-rumah sakit yang ada di Singapura. Dari setiap percakapan yang sering saya dengar, ternyata banyak orang kaya terjebak dalam lingkaran pengaruh materi yang mereka miliki. Beberapa dari mereka merasa bahwa kesehatan dapat diperoleh dengan mudah jika mereka memiliki materi. Mereka merasa bahwa dengan materi yang dimiliki, mereka dapat berobat ke manapun sesuai yang mereka kehendaki. Akhirnya tanpa sadar banyak orang ‘beruang’ terjebak tidak lagi mengandalkan Tuhan. Mereka lebih mengandalkan kekayaan dan pikiran mereka sendiri daripada mengandalkan Tuhan. Saudara yang terkasih, ketika kita sedang mengalami kelimpahan materi, tanpa masalah, tanpa persoalan, kerap kali kita menjadi lupa bahwa kita harus tetap mengandalkan Tuhan. Tuhan harus menjadi yang pertama dan terutama dalam hidup kita. Jangan sampai kita tertipu dengan apa yang Tuhan ijinkan kita miliki sehingga kita lebih mengandalkannya daripada Tuhan. Akibatnya kita menaruh Tuhan di luar rumah (hati) kita. Tuhan Yesus berkata: ”Lihat, Aku berdiri di muka pintu dan mengetok;.... Aku akan masuk mendapatkannya dan Aku makan bersama-sama dengan dia, dan ia bersama-sama dengan Aku.” Tuhan sangat rindu agar setiap kita selalu mengandalkan-Nya. Kita tidak mengantikan Tuhan dengan materi yang diberi-Nya, sehingga secara otomatis kita tidak menaruh Yesus di luar rumah kita.
BARCODE BBM CHANNELS
RENUNGAN HARIAN
Berbagi Untuk Tunanetra
09 Juli '14
Jangan Sombong
19 Juli '14
Kuasa Kesatuan
23 Juli '14
Copyright © 2012 All rights reserved. Designed and Developed by GIA Dr. Cipto Semarang