SEPEKAN TERAKHIR
  Sabtu, 27 Mei 2017   -HARI INI-
  Jumat, 26 Mei 2017
  Kamis, 25 Mei 2017
  Rabu, 24 Mei 2017
  Selasa, 23 Mei 2017
  Senin, 22 Mei 2017
  Minggu, 21 Mei 2017
POKOK RENUNGAN
Dengan tinggal tetap di dalam Tuhan, maka segala rupa pencobaan dan tantangan yang kita hadapi justru akan membuat kita semakin dan semakin terlatih menghadapinya.
DITULIS OLEH
Pdt. Natanael Rabono
Rohaniwan Pusat
Renungan Lain oleh Penulis:
Home  »  Renungan  »  Hidup Di Tengah Kemajemukan
Hidup Di Tengah Kemajemukan
Kamis, 23 Mei 2013 | Tema: Memiliki Karakter Kristus
Hidup Di Tengah Kemajemukan
Yosua 23:1-16
Ada suatu pemandangan yang terlihat aneh dan menimbulkan pertanyaan. Pada enam bulan yang lalu segerombol pepohonan bambu secara kompak bersama-sama agak merebah ke arah barat, kemudian waktu berjalan dan tiga bulan yang lalu segerombol bambu itu telah berubah posisi arah rebahnya ke timur. Tetapi sekarang segerombol pohon bambu itu arah rebahnya jelas terlihat ke utara. Kata banyak orang bahwa pohon bambu adalah pohon yang lentur, mudah diombang-ambingkan angin, tetapi justru kelenturan itulah letak kekuatannya. Hampir tidak pernah kita melihat pohon bambu tumbang karena diterpa angin. Oleh sebab itu kita sekarang mengerti bahwa segerombolan pepohonan bambu yang selalu berubah-ubah arah rebahnya karena sering diterpa angin kencang dari arah yang selalu bergantian, namun demikian bambu-bambu itu masih tinggal tetap di tempatnya dan be...selengkapnya »
Malam sudah beranjak larut, tapi mata saya tidak juga mau terpejam, pikiran mengembara kemana-mana. Antara kecewa, galau, gelisah, khawatir campur aduk jadi satu. Meskipun sudah berusaha menghalau semua pikiran yang tidak jelas itu, tetap saja kegelisahan tidak mau pergi. Kekalahan Ahok dalam pilpres di DKI benar-benar menyita pikiran saya. Kekhawatiran ibu kota akan kembali menjadi arena pertunjukan kepentingan oknum-oknum yang tidak bertanggung jawab membuat saya kehilangan damai sejahtera. Aneh dan terlalu berlebihan memang. Meski saya bukan warga DKI, tapi jujur saya merasa sedih dengan kekalahan itu. Saya sadar tidak ada kepentingan bagi saya untuk memikirkan itu, tapi saat itu sulit sekali menghilangkan kegelisahan yang ada. Beruntungnya saya ketika membaca Firman Tuhan dalam Yohanes 14:27 menyatakan ‘damai sejahtera kutinggalkan bagimu. Damai sejahtera-Ku, Kuberikan kepadamu, dan apa yang Kuberikan tidak seperti yang diberikan oleh dunia kepadamu, janganlah gelisah dan gentar hatimu’, hati saya menjadi lebih tenang. Kepercayaan kepada-Nya membuat saya kembali merasakan damai sejahtera dan tidak khawatir lagi dengan situasi yang saat ini sedang terjadi. Tuhan mengingatkan saya bahwa semua yang terjadi ada di bawah kendali-Nya. Tuhan sangat tahu bahwa suatu saat setiap kita pasti akan mengalami situasi seperti yang saya rasakan. Kekhawatiran akan banyak hal yang tidak sanggup kita atasi, kekecewaan terhadap lingkungan maupun orang lain, kegalauan yang tak berujung, itu semua akan merampas sukacita dan damai sejahtera yang seharusnya menjadi milik kita. Karena itu Dia sudah menyediakan Roh Penolong yang siap sedia untuk menolong ketika kita membutuhkan kekuatan dan penghiburan. Ingatlah bahwa damai sejahtera dan sukacita adalah hak milik yang harus kita nikmati sebagai anak-anak Tuhan. Jangan biarkan situasi di luar merampas apa yang menjadi milik kita, dan biarkan Roh Penolong bekerja ketika kita tidak mampu untuk mengatasi kegelisahan dan tawar hati yang menghampiri. Sehingga kita bisa melewati hari-hari kita dengan nyaman dan tentu saja bisa tidur dengan nyenyak karena kita tahu bahwa Dia yang mengendalikan semuanya. [RH] Pokok Renungan: Janganlah gelisah dan gentar hatimu karena damai sejahtera-Nya sudah diberikan bagimu.
Yesus Kristus tidak berkata, ”Pergilah dan selamatkan jiwa-jiwa.” Karena keselamatan jiwa adalah pekerjaan supranatural Allah. Tetapi Dia berkata, ”Pergilah jadikan semua bangsa muridKu....” Kita tidak dapat memuridkan orang lain jika kita sendiri bukan seorang murid. Ketika para murid kembali dari perjalanan misi pertama, mereka dipenuhi sukacita karena setan-setan pun tunduk kepada mereka. Namun Yesus menyatakan agar mereka jangan bersukacita karena sekedar pelayanan yang berhasil, tetapi bersukacita karena memiliki relasi yang benar dengan Yesus [lihat Lukas 10:17-20]. Hal terpenting bagi seorang utusan [murid] adalah tetap setia pada panggilan Tuhan, menyadari satu-satunya tujuannya hanyalah memuridkan semua orang bagi Kristus. Di dalam memuridkan kita harus memiliki belas kasih dari Allah terhadap jiwa-jiwa. Ingatlah dan berhati-hatilah, bahwa ada belas kasihan terhadap jiwa-jiwa yang bukan berasal dari Allah, melainkan dari hasrat kita sendiri untuk mempertobatkan orang lain berdasarkan perspektif kita. Tantangan bagi seorang utusan bukan muncul dari kenyataan bahwa orang-orang sulit dibawa kepada keselamatan, atau orang-orang yang mundur imannya sulit ditarik kembali, atau adanya rintangan berupa ketidakpedulian. Tidak! Tantangan itu muncul dari perspektif tentang persekutuan pribadi seorang utusan [murid] dengan Yesus Kristus. “Percayakah kamu bahwa Aku dapat melakukannya?” [Matius 9:28]. Tuhan kita terus mengajukan pertanyaan itu tanpa ragu dan hal itu menjadi tantangan bagi kita dalam setiap situasi yang kita jumpai. Tantangan terbesar kita adalah apakah saya mengenal Tuhan yang telah bangkit? Apakah saya mengenal kuasa Roh-Nya yang tinggal di dalam diri saya? Apakah saya cukup berhikmat dalam pandangan Allah untuk percaya kepada apa yang Yesus katakan? Ataukah saya sedang meninggalkan keyakinan yang supranatural dan tidak terbatas dari Yesus yang sesungguhnya merupakan satu-satunya panggilan Allah untuk kita sebagai utusan? Jika mengikuti cara apapun yang lain berarti saya sedang meninggalkan cara yang telah ditentukan Tuhan kita. “KepadaKu telah diberikan segala kuasa....karena itu pergilah...” [Matius 28:18-19]. [HAW]
Kita sering mendengar ungkapan bahwa ‘yang penting adalah pada akhir perjalanan’, hal ini tidak sepenuhnya betul karena pemikiran seperti ini bisa membuat orang menunda-nunda mengambil keputusan yang bisa berdampak dalam kekekalan. Keselamatan di dalam Tuhan Yesus sering dianggap begitu murah dan gampangan, yang menyebabkan kehidupan rohani orang percaya tidak bermutu. Tidak jarang kita mendengar pernyataan ‘nanti sajalah bila sudah mapan, sudah kaya, sudah tua baru memikirkan hal-hal rohani’. Dampaknya membuat seseorang tidak sungguh-sungguh menghargai anugerah penebusan yang membawa keselamatan kekal. Pikirnya asal nanti percaya, maka akan selamat dan semua akan beres. Menunda berarti tidak menggunakan waktu dengan baik [ayat 16], memboroskan waktu hidupnya untuk hal-hal yang tidak penting yang bisa menghambat pertumbuhan kedewasaan rohani. Hal ini akan membawa orang “kristen” tetap hidup di bawah belenggu percintaan dunia. Keinginannya hanya menikmati keindahan dunia seperti anak-anak dunia menikmatinya. Padahal persahabatan dengan dunia adalah suatu perzinahan rohani dan menjadikan dirinya musuh Allah, yang berarti pengkhianatan kepada Tuhan [Yakubus 4:4]. Seringkali orang baru mau “terpaksa rela” meninggalkan keindahan dunia pada saat dipaksa oleh kondisi obyektif berupa fisik dan kemampuan lain sudah rapuh karena usia atau suatu penyakit. Perlu disadari bahwa nasib kekal seseorang tidak hanya tergantung pada akhir perjalanan hidupnya, tetapi merupakan akumulasi keputusan-keputusan yang diambil sepanjang hidupnya. Dalam Lukas 13:22-30, Tuhan Yesus mengingatkan perlunya berjuang, berusaha keras untuk memperoleh keselamatan sejati seperti yang dikehendaki Bapa, yaitu dikembalikannya manusia kepada rancangan Allah semula. Untuk berjuang perlu menggunakan waktu dengan bijak selagi kondisi kita masih belum rapuh dimakan usia dan penyakit. Bagi yang relative masih muda, masih memiliki potensi fisik, intelektual yang maksimal, harus memahami hal tersebut. Mulai serius mempersembahkan segenap hidupnya bagi kemuliaan dan kepentingan Tuhan. Bagi yang lebih senior harus makin serius untuk mengejar ketertinggalan. Kecintaan kepada Tuhan harus sudah digelar meskipun masih ada kesempatan menikmati dunia ini. Prinsip ini yang membawa seseorang mengakhiri hidupnya dengan cantik yang membawa kemuliaan [finishing well]. Bila mau hidup sungguh-sungguh bagi Tuhan hanya pada saat kondisi diri sudah tidak berpotensi [fisik, intelektual, sosial-ekonomi], sebetulnya kita menipu diri sendiri dan menipu Tuhan. Berarti hanya memberi remah-remah kepada Tuhan, dan ini adalah sikap yang “kurang ajar” terhadap Tuhan yang begitu Agung dan Mulia.
Seminggu yang lalu di sebuah grup WhatsApp, rekan-rekan penulis membahas tentang unggahan positif di Instagram yang menuai komentar negatif dari orang yang suka mencari-cari kesalahan. Ketika mereka tengah saling bertukar cerita, tiba-tiba timbul komentar bernada tersinggung berat dari seorang rekan lain yang baru muncul. Padahal soal yang dibahas tak ada kait-mengaitnya dengan dia. Suasana pun langsung menjadi tegang. Usut punya usut, ternyata rekan itu baru saja terlibat pertikaian dengan seorang penulis di grup lain. Kedongkolan yang tersimpan di hati membuatnya jadi ’sensi’ dan membuahkan salah paham dengan orang-orang lain yang sama sekali tak tahu menahu. Keadaan hati kita memang berpengaruh terhadap segala aspek kehidupan kita. Bila hati kita murni maka pola pikir, perasaan, perkataan dan tindakan pun akan lebih mudah dikuasai sesuai dengan kehendak Tuhan. Sebaliknya bila hati kita dihuni amarah, kegetiran dan kedengkian maka kita mudah dikuasai oleh rasa tersinggung, rasa iri dan kecenderungan yang bertentangan dengan kehendak Tuhan. Marilah kita senantiasa menjaga hati dengan segala kewaspadaan, agar seluruh aspek kehidupan kita mencerminkan bahwa kita adalah umat tebusan Allah yang telah dibayar dengan darah Kristus yang tak ternilai harganya. [EG]
BARCODE BBM CHANNELS
RENUNGAN HARIAN
Maju Terus Pantang Mundur1
15 Mei '17
Bebas Menyembah
20 Mei '17
Jangan Memberi Remah-Remah Kepada Tuhan
03 Mei '17
Copyright © 2012 All rights reserved. Designed and Developed by GIA Dr. Cipto Semarang