SEPEKAN TERAKHIR
  Kamis, 31 Juli 2014   -HARI INI-
  Rabu, 30 Juli 2014
  Selasa, 29 Juli 2014
  Senin, 28 Juli 2014
  Minggu, 27 Juli 2014
  Sabtu, 26 Juli 2014
  Jumat, 25 Juli 2014
POKOK RENUNGAN
Dengan tinggal tetap di dalam Tuhan, maka segala rupa pencobaan dan tantangan yang kita hadapi justru akan membuat kita semakin dan semakin terlatih menghadapinya.
DITULIS OLEH
Pdt. Natanael Rabono
Rohaniwan Pusat
Renungan Lain oleh Penulis:
Home  »  Renungan  »  Hidup Di Tengah Kemajemukan
Hidup Di Tengah Kemajemukan
Kamis, 23 Mei 2013 | Tema: Memiliki Karakter Kristus
Hidup Di Tengah Kemajemukan
Yosua 23:1-16
Ada suatu pemandangan yang terlihat “aneh” dan menimbulkan pertanyaan. Pada enam bulan yang lalu segerombol pepohonan bambu secara “kompak” bersama-sama agak merebah ke arah barat, kemudian waktu berjalan dan tiga bulan yang lalu segerombol bambu itu telah berubah posisi arah rebahnya ke timur. Tetapi sekarang segerombol pohon bambu itu arah rebahnya jelas terlihat ke utara. Kata banyak orang bahwa pohon bambu adalah pohon yang lentur, mudah diombang-ambingkan angin, tetapi justru kelenturan itulah letak kekuatannya. Hampir tidak pernah kita melihat pohon bambu tumbang karena diterpa angin. Oleh sebab itu kita sekarang mengerti bahwa segerombolan pepohonan bambu yang selalu berubah-ubah arah rebahnya karena sering diterpa angin kencang dari arah yang selalu bergantian, namun demikian bambu-bambu itu masih tinggal tetap di tempatnya dan bertahun-tahun tidak satu pun yang tumbang. Mengapa pepohonan bambu itu begitu kuat? Sedikitnya ada dua alasan: 1. karena pepohonan tersebut hidup lentur; 2. Karena dengan hidup bergerombol, maka akar-akarnya telah menyatu. Itulah kunci kekuatannya.

Demikianlah juga dalam isi pidato Yosua kepada bangsa Israel, Yosua mengingatkan bahwa sekarang mereka tinggal berdampingan dengan sisa-sisa bangsa-bangsa lain. Itu berarti bahwa Israel terancam keberadaannya, katakan saja masalah tradisi adat-istiadat, kepercayaan, kawin campur, dan sebagainya. Hal-hal tersebut siap mengikis Israel. Yosua memperingatkan bahwa iman mereka selalu diuji dan teruji di tengah bangsa lain yang juga berjuang mempertahankan dan ...selengkapnya »
Apa hobi Saudara? Apakah membaca atau menulis? Membaca adalah salah satu kegemaran saya semenjak kecil. Dulu sekitar 10 tahun yang lalu, mungkin masih banyak orang yang tidak suka membaca apalagi menulis. Tetapi sekarang, hampir semua orang hobi membaca dan menulis. Koq tahu? Setiap hari bahkan setiap menit, orang-orang up date status: ‘teman-teman, sekarang aku di Korea lho, wah lagi musim salju nih’. Dari anak-anak hingga orang tua, dari pengemis (maaf... ada lho pengemis yang pakai HP) hingga manajer. Mereka membaca berita, menulis berita dan juga memuat foto terbaru tentang dirinya. Mereka juga mempunyai grup tersendiri, entah melalui facebook, BBM, twitter, dsb. Sungguh fenomena yang luar biasa. Tahukah Saudara, di awal abad pertama, hobi membaca sudah dijumpai di jemaat Kristen mula-mula. Kisah Para Rasul 17:11 mencatat: “Mereka menerima firman itu dengan segala kerelaan hati dan setiap hari mereka menyelidiki Kitab Suci untuk mengetahui apakah semuanya itu benar demikian.” Ternyata mereka punya komunitas yang suka belajar. Dengan membaca Alkitab akan ada banyak hal positif yang dapat kita peroleh. Dengan membacanya, kita tahu apa yang Tuhan Yesus inginkan dalam kehidupan orang percaya. Dan kita akan dipimpin oleh Roh Kudus untuk menjadi pelaku firman Tuhan. Mari menjadi komunitas Kristen yang senantiasa up date status di hadapan Tuhan: ‘Tuhan hari ini aku sudah menyelesaikan pembacaan Kejadian - Wahyu, wah senangnya “.
Sikap dan perilaku berbagi bukan sesuatu yang asing bagi kita. Sejak kecil kita sudah diajar dan dilatih untuk berbagi, bahkan kitapun mengajar anak cucu kita untuk berbagi. Ketika si Nonik atau si Nyonyo kecil sudah bisa pegang biskuit di tangan mungilnya dan mulai belajar makan sendiri, kita mengajarnya untuk berbagi, “Minta dong?” Kalau si kecil memberikannya, dia mendapat pujian tapi lebih sering dia sampai menangis mempertahankan biskuitnya. Di saat yang lain si kecil pegang makanan di kedua belah tangannya, kembali kita ajar dia untuk berbagi, “Bagi dong, kan kamu punya dua?” Mungkin si kecil memberikan yang satu, tapi sering dia mempertahankan kedua-duanya, bahkan dengan cerdik dia berdalih: “Ini pahit, tidak enak”, katanya menirukan ketika kita melarang dia minta sesuatu untuk dimakannya. Itulah sikap dan perilaku anak kecil yang belum mengerti apa arti berbagi, tapi kita toh terus mengajar dan melatihnya untuk berbagi. Bagaimana dengan kita para orang dewasa? Apakah kita terus mengajar dan melatih diri kita sendiri untuk berbagi? Mari kita teladani orang-orang percaya di Yerusalem. Mereka tidak hanya bertekun dengan sehati berkumpul tiap-tiap hari dalam Bait Allah, tapi mereka membangun kesatuan dan kebersamaan dengan sikap dan perilaku saling berbagi. Mereka menyaksikan dan mengalami mukjizat dan tanda yang dikerjakan oleh para rasul. Alkitab mencatat bahwa mereka disukai semua orang dan tiap-tiap hari Tuhan menambahkan jumlah orang-orang yang diselamatkan. Selamat mempraktikkan sikap dan perilaku saling berbagi di dalam komunitas-komunitas d imana Anda ada di dalamnya.
Selalu ada kisah menarik di seputar penyelenggaraan World Cup yang diadakan setiap empat tahun sekali, termasuk di World Cup 2014 kali ini. Kisah ini adalah kisah tentang seorang tuna netra yang bernama Carlos. Kecintaannya terhadap sepakbola membuat Carlos sangat ingin menyaksikan dan menikmati serunya pertandingan World Cup 2014. Carlos yang adalah warga Negara Brazil ingin sekali mendukung Timnas Brazil berlaga di World Cup 2014. Pertanyaannya adalah bagaimana tuna netra yang tidak dapat melihat dapat menikmati dan menyaksikan pertandingan sepakbola? Apakah mungkin? Keinginan Carlos mendapat tanggapan yang positif dari sahabatnya yang merupakan pasangan suami istri yang bernama Helio dan Regiane. Mereka berusaha semaksimal mungkin untuk mewujudkan keinginan Carlos agar dia dapat melihat dan merasakan serunya pertandingan yang dimainkan oleh timnas Brazil. Pasangan ini membangun miniatur lapangan beserta pemain di dalamnya yang dibuat sedetail mungkin menyerupai formasi dari kedua tim yang sedang bertanding di lapangan. Miniatur ini dibuat untuk memberi gambaran jalannya pertandingan selama kedua tim sedang bertanding. Jadi selama pertandingan Helio memegang tangan Carlos dan menuntunnya untuk bergerak sama persis dengan pertandingan yang sedang berlangsung. Sehingga melalui cara tersebut Carlos yang tuna netra dapat merasakan kebahagiaan karena dapat “melihat” tim kesayangannya Brazil berlaga di World Cup 2014. Luar Biasa... Pemandangan yang sangat indah dan mengharukan ! Janda di Sarfat dihadapkan pada dilema yang cukup sulit atas permintaan Elia. Jika dia memberikan persediaan terakhir bahan makanan yang ada padanya, dia akan mati kelaparan. Namun akhirnya, dia mengambil keputusan yang sangat sulit itu, walaupun sangat beresiko (1 Raja-raja 17:15). Dia memberikan makanan penyambung hidupnya kepada Elia yang dalam kata lain berarti juga memberikan hidupnya. Kita juga akan mengalami hal yang indah jika kita belajar dari kisah janda dari Sarfat serta kisah dari Helio dan Regiane yang membantu Carlos yang tuna netra. Mereka memberi teladan dalam hal berbagi. Bagi mereka tak ada alasan untuk tidak berbagi, memberi dan menolong sesamanya apapun keadaannya. Dalam keadaan baik atau tidak baik, dalam kelebihan ataupun kekurangan. Mereka menunjukkan bahwa kita semua bisa berbagi dan memberi asal kita mau. Sebab kita pasti mempunyai sesuatu untuk diberikan dalam melayani sesama, paling tidak waktu, tenaga, dan perhatian. Yang perlu terus kita ingat adalah bahwa apapun yang kita punya adalah anugerah-Nya yang diberikan bukan saja untuk diri sendiri, melainkan juga untuk melayani sesama demi kemuliaan-Nya. Apa yang kita berikan lebih daripada yang kita dapatkan akan memberi sukacita dalam hidup kita. Alkitab berkata, “Ada yang menyebar harta, tetapi bertambah kaya... Siapa banyak memberi berkat, diberi kelimpahan, siapa memberi minum, ia sendiri akan diberi minum” (Amsal 11:24,25). Kesempatan untuk memberi, terlebih memberi diri adalah anugerah yang tidak boleh kita sia-siakan. Memberi hidup kita untuk melayani dengan sungguh-sungguh di mana kita ditempatkan: di rumah, di tempat kerja, dan di manapun, adalah ibadah yang sejati.
Si Yudhi baru saja bertobat dan mengalami kelahiran baru di dalam Tuhan Yesus Kristus. Dia sangat bersukacita sebab menemukan komunitas anak-anak Tuhan yang tergabung dalam wadah Perkantas Surabaya. Walaupun pertemuan mereka satu kali dalam seminggu hanya 3 jam, namun dia bisa bersekutu dan belajar firman bersama mereka. Rasanya semua tantangan hidup saat mengalami perubahan menjadi ringan sebab ada saudara seiman yang menguatkan dirinya. Yudhi akhirnya bertumbuh dalam iman dan mulai terlibat dalam kepengurusan organisasi perkantas dan melayani sesama mahasiswa lainnya. Kisah kehidupan Yudhi adalah salah satu kisah nyata dari seorang berdosa yang diselamatkan oleh Tuhan Yesus dan digabungkan dengan komunitas baru yang memang berbeda dengan komunitas sebelum percaya kepada Tuhan Yesus. Hal ini sesuai dengan perjalanan kehidupan Rasul Paulus dalam bacaan kita hari ini. Ada tiga ciri khas hidup dalam komunitas umat Perjanjian Baru berdasarkan bacaan kita hari ini. Pertama, harus mau mati terhadap tradisi keagamaan yang telah lama dan secara turun temurun diterima dan diajarkan begitu saja tanpa mengerti maknanya dengan benar. Sebelum percaya, hidup Rasul Paulus adalah hidup menurut ketentuan tradisi Hukum Taurat. Kedua, harus rela mati bagi diri sendiri. Berarti siap menyangkal diri dan memikul salib Kristus. Ketiga, harus hidup mengutamakan dan memuliakan Tuhan Yesus. Banyak orang Kristen gagal dalam menjalani kehidupan sebagai anggota komunitas Perjanjian Baru karena tidak mencirikan ketiga hal tersebut. Kehidupan dalam Komunitas Perjanjian Baru harus memiliki sifat-sifat yang baru sebagaimana tertulis dalam Efesus 4:17-32, tanpa hal ini mustahil kita bisa hidup bertahan dalam komunitas tersebut. Dan ada pula sejumlah persyaratan lain yang harus kita penuhi sebagaimana tertulis dalam Filipi 2:2-5, hidup memikirkan dan mendahulukan kepentingan orang lain daripada diri sendiri dan selalu rendah hati serta setia kepada Tuhan Yesus dalam segala keadaan. Jikalau hal ini benar-benar dijalankan oleh setiap orang percaya, maka hidup dalam komunitas Perjanjian Baru akan menjadi daya tarik bagi banyak orang di sekitarnya. Bagaimana dengan kehidupan kita saat ini, sudahkah kita benar-benar hidup dalam komunitas Perjanjian Baru atau masih tetap hidup dalam komunitas yang lama? Atau kita masih berdiri di antara dua perahu yang berbeda? Keputusan ada di tangan kita. Komunitas Perjanjian Baru tidak bisa hidup dalam kompromi dan dalam pola hidup yang lama. Sebab semuanya akan sia-sia saja.
BARCODE BBM CHANNELS
RENUNGAN HARIAN
Rendah Hati
21 Juli '14
Berbagi Untuk Tunanetra
09 Juli '14
Buatlah Tuhan bersuka
20 Juli '14
Copyright © 2012 All rights reserved. Designed and Developed by GIA Dr. Cipto Semarang