SEPEKAN TERAKHIR
  Kamis, 02 Oktober 2014   -HARI INI-
  Rabu, 01 Oktober 2014
  Selasa, 30 September 2014
  Senin, 29 September 2014
  Minggu, 28 September 2014
  Sabtu, 27 September 2014
  Jumat, 26 September 2014
POKOK RENUNGAN
Dengan tinggal tetap di dalam Tuhan, maka segala rupa pencobaan dan tantangan yang kita hadapi justru akan membuat kita semakin dan semakin terlatih menghadapinya.
DITULIS OLEH
Pdt. Natanael Rabono
Rohaniwan Pusat
Renungan Lain oleh Penulis:
Home  »  Renungan  »  Hidup Di Tengah Kemajemukan
Hidup Di Tengah Kemajemukan
Kamis, 23 Mei 2013 | Tema: Memiliki Karakter Kristus
Hidup Di Tengah Kemajemukan
Yosua 23:1-16
Ada suatu pemandangan yang terlihat “aneh” dan menimbulkan pertanyaan. Pada enam bulan yang lalu segerombol pepohonan bambu secara “kompak” bersama-sama agak merebah ke arah barat, kemudian waktu berjalan dan tiga bulan yang lalu segerombol bambu itu telah berubah posisi arah rebahnya ke timur. Tetapi sekarang segerombol pohon bambu itu arah rebahnya jelas terlihat ke utara. Kata banyak orang bahwa pohon bambu adalah pohon yang lentur, mudah diombang-ambingkan angin, tetapi justru kelenturan itulah letak kekuatannya. Hampir tidak pernah kita melihat pohon bambu tumbang karena diterpa angin. Oleh sebab itu kita sekarang mengerti bahwa segerombolan pepohonan bambu yang selalu berubah-ubah arah rebahnya karena sering diterpa angin kencang dari arah yang selalu bergantian, namun demikian bambu-bambu itu masih tinggal tetap di tempatnya dan bertahun-tahun tidak satu pun yang tumbang. Mengapa pepohonan bambu itu begitu kuat? Sedikitnya ada dua alasan: 1. karena pepohonan tersebut hidup lentur; 2. Karena dengan hidup bergerombol, maka akar-akarnya telah menyatu. Itulah kunci kekuatannya.

Demikianlah juga dalam isi pidato Yosua kepada bangsa Israel, Yosua mengingatkan bahwa sekarang mereka tinggal berdampingan dengan sisa-sisa bangsa-bangsa lain. Itu berarti bahwa Israel terancam keberadaannya, katakan saja masalah tradisi adat-istiadat, kepercayaan, kawin campur, dan sebagainya. Hal-hal tersebut siap mengikis Israel. Yosua memperingatkan bahwa iman mereka selalu diuji dan teruji di tengah bangsa lain yang juga berjuang mempertahankan dan ...selengkapnya »
Suatu saat saya ingin menengok mama saya yang tinggalnya cukup jauh dari rumah, yaitu di Perum Graha Mukti. Saya sudah pikirkan untuk ke rumah mama dan bertemu dengan beliau, maka motor pun saya keluarkan dari rumah dan saya kendarai. Dalam perjalanan, saya memikirkan banyak hal yang terlintas di benak saya dan lucunya saya justru tidak ke rumah mama, tetapi justru ke sekolah anak saya yang pada waktu itu sedang libur. Dalam bulan ini kita sudah banyak mendengar dari berita-berita mimbar atau khotbah di pertemuan-pertemuan Komcil ataupun juga membaca sendiri dari Alkitab yang memberikan gambaran bahwa sebagai gereja Tuhan, kita digambarkan seperti tubuh dengan banyak anggota yang saling memperhatikan, saling mengasihi, saling terikat satu dengan yang lainnya, bahkan tubuh yang harus berjalan atas perintah ”kepala”. Mari kita fokuskan pikiran kita pada tujuan, bahkan kita bergerak mencapai tujuan untuk menjadi Gereja yang sempurna seperti yang Tuhan kehendaki (Matius 5:48). Dengan demikian bukan saja Tuhan akan bersukacita karena kita, namun sesuai nats firman di atas kita pun akan hidup bahagia sebagai umat Tuhan. Selamat untuk menjadi sempurna. Tuhan memberkati kita semua.
Di ruang tunggu sebuah sekolah, Sambey duduk sambil membaca Koran Bibir Kota. Keasyikannya membaca terpecah oleh perhatiannya pada pembicaraan ibu-ibu yang tengah berbincang riuh rendah. Arisan! Adalah tema yang diperbincangkan ibu-ibu itu. Seorang ibu berwajah bulat keputih-putihan menceritakan dengan bangga bahwa ia mengikuti 3 arisan. Arisan PKK, arisan perabot rumah, dan arisan sepeda motor. Seorang ibu berambut keriting berpipi tembem mengomentari bahwa sebenarnya ia wegah mengikuti arisan PKK karena baginya tidak level. Seorang ibu yang lain dengan ceriwis plus semangat mempromosikan arisan-arisan yang diikutinya. Sementara ibu-ibu yang lain hanya bengong mendengarkan saja. Sambey tersenyum geli mendengar celoteh ibu-ibu yang makin menambah gerah siang hari itu. Entah mengapa terbersit dalam pikirannya mengenai gereja. “Apakah gereja seperti kumpulan arisan? Meskipun terbuka untuk semua orang tetapi terbagi berdasarkan “taraf keelokan” tertentu? Dan membiarkan sekumpulan orang lain “yang tidak elok” sekedar pendengar dan penggembira?” pikir Sambey. “Ah, semoga tidak demikian,” gumam Sambey sambil tersenyum. Hambatan besar bagi kesatuan jemaat Korintus adalah masalah etnis dan status sosial-ekonomi. Jemaat cenderung berkelompok berdasarkan kebanggaan etnis dan status sosial-ekonomi. Jemaat terbelah antara keturunan Yahudi dan Yunani. Jemaat terpisah antara yang kaya dengan yang miskin. Ungkapan masa kini ora level mungkin menggambarkan secara tepat jurang yang digali oleh dua kelompok jemaat di atas. Menghadapi kenyataan ini, Rasul Paulus menasihati jemaat agar menyadari bahwa mereka adalah satu tubuh. Sebagai satu tubuh Kristus sudah seharusnya mereka berbaur, saling membutuhkan dan memperhatikan satu sama lain. Itu dimulai dengan kesediaan memperhatikan anggota yang selama ini luput dari perhatian. Mungkin karena ia dari etnis tertentu, mungkin ia tidak terpandang, dan mungkin ia orang miskin. Rasul Paulus minta itu dilakukan hingga kebanggaan etnis dan status sosial-ekonomi tergerus dan berganti dengan sehati-seperasaan. Jika ada satu anggota menderita, semua anggota turut menderita. Jika ada satu anggota dihormati, semua anggota bersukacita. Jemaat yang terkasih. Dalam masyarakat, tiap orang dikelompokkan berdasarkan etnis dan status sosial-ekonomi. Tionghoa atau Jawa? Batak? Madura? Dayak? Kaya atau miskin? Bos atau buruh? Manager atau Satpam? Direktur atau Cleaning Service? Sehingga suka atau tidak suka, kita cenderung mudah menerima, mengasihi dan menghormati orang-orang yang se-etnis dengan status sosial-ekonomi yang relatif setingkat dengan kita. Tuhan menghendaki kita melawan pengaruh ini. Tuhan mau kita hidup sebagai satu tubuh Kristus yang sehati-seperasaan satu sama lain. Semoga kita bisa.
Sang pemrakarsa adanya Gereja adalah Tuhan sendiri. Namun Gereja yang ada dalam Perjanjian Baru (PB) terkait dengan adanya Umat Allah dalam Perjanjian Lama (PL). Dengan kata lain Gereja adalah kesinambungan dari Umat Allah dalam PL, dalam hal ini adalah bangsa Israel, yang kepadanyalah Tuhan Yesus datang untuk kembali membawa umat Allah itu supaya bertobat kepada Allah. Saat ini kita akan membahas perihal jati diri umat Allah dalam PL yang merupakan cikal-bakal dari Gereja itu sendiri. Umat Allah ada, berawal dari Allah yang memanggil para leluhur Israel (Abraham, Ishak, dan Yakub). Kepada leluhur itulah Allah membangun perjanjian yang pada intinya bahwa Allah akan memberkati dengan keturunan yang “memenuhi bumi”. Ketika keturunan Abraham menjadi suatu bangsa (Israel), maka Allah semakin menunjukkan penyertaan dangan perbuatan nyata: membebaskan sebagai budak di Mesir, memimpin perjalanan selama di padang gurun dengan memenuhi kebutuhan sehari-hari dengan mujizat, memberikan tanah Kanaan yang subur, menjaga ketentraman dan perlindungan dari musuh, dst. Oleh sebab itu TUHAN menginginkan supaya Umat Allah melakukan aksi kebaikan. Iman yang hidup adalah perbuatan nyata sebagai respon ketaatan kepada TUHAN dalam kehidupan sehari-hari: memperhatikan dan membela hak orang miskin, yaitu para janda dan anak yatim, serta umat Allah harus menjauhkan diri dari semua perbuatan jahat (Yesaya 1:16-17). Ibadah dengan korban syukur di rumah Allah itu penting, tetapi itu hanyalah sikap mengucap syukur karena TUHAN sudah berbuat nyata kepada umat-Nya. Tetapi iman umat Allah (Gereja) harus tercermin dalam tindakan nyata, terutama membela (menolong) sesama manusia yang miskin: membela hak-hak yatim dan janda-janda. Itulah yang dikehendaki Allah, itu prioritas. Dan seperti itulah umat Allah, seperti itu pula-lah jati diri Gereja.
Selama 16 tahun John Kovacs menjadi ”penghuni terowongan”. John Kovacs tinggal di sebuah terowongan rel kereta api bawah tanah yang tak dipakai di New York, bersama beberapa orang lainnya. Orang-orangpun sering menyebutnya dengan “Si Manusia Terowongan”. Ketika Amtrak membeli terowongan itu dan mempersiapkannya untuk dibuka kembali, John terpaksa mencari tempat tinggal di atas terowongan. Menurut Surat Kabar “The New York Times”, John Kovacs menjadi orang pertama yang terpilih untuk sebuah program baru yang dirancang untuk ”mengubah tunawisma menjadi penghuni rumah yang menetap”. Setelah menghabiskan sepertiga hidupnya di terowongan rel kereta api, John Kovacs meninggalkan kehidupan bawah tanahnya dan menjadi petani organik di New York bagian utara. Dia pernah berkata, ”Udara di luar sini terasa lebih baik. Saya tidak akan merindukan kehidupan lama saya. Saya tak akan kembali ke sana lagi.” Bila kita merenungkan kisah di atas, kita akan menyadari bahwa setiap kita yang telah menjadi orang Kristiani memiliki pengalaman yang serupa. Kita telah dipilih untuk meninggalkan keberadaan kita yang gelap dan sangat kotor untuk diangkat dan mendapat kehidupan dan pekerjaan yang baru. Seandainya kita dapat melihat kehidupan kita yang terdahulu sejelas John Kovacs melihat kehidupan lamanya, maka kita pun akan sadar bahwa tak ada yang bermanfaat dalam kegelapan, dan tak ada alasan untuk kembali ke sana. Kita akan memilih untuk menjalani hidup yang baru bersama dengan Kristus. Hidup yang telah ditebus dan telah dimerdekakannya. Rasul Paulus juga menyadari tentang perihal sukacita hidup bersama dengan Yesus. Saat Paulus ada dalam penjara, dia merasakan bagaimana sulitnya hidup dalam tekanan, namun dia tetap bersukacita di dalam Yesus. Paulus sadar bahwa penderitaan yang dialaminya tidak sebanding dengan pengorbanan yang telah Yesus berikan bagi umat manusia. Oleh karena itulah Rasul Paulus berkata, “Karena bagiku hidup adalah Kristus dan mati adalah keuntungan. Tetapi jika aku harus hidup di dunia ini, itu berarti bagiku bekerja memberi buah ...” (Filipi 1:21-22). Melalui perkataan tersebut dia berpesan, bahwa ketika kita telah ditebus menjadi umat pilihan Allah, maka hidup kita harus meninggalkan kehidupan yang lama, dan masuk dalam hidup yang baru bersama dengan Yesus. Yang artinya kita berkomitmen untuk memberikan yang terbaik kepada Yesus dan memberitakan tentang Yesus sebagai Tuhan dan juru selamat. Tidak ada kata terlambat untuk melakukannya.
BARCODE BBM CHANNELS
RENUNGAN HARIAN
Batu Yang Hidup
21 September '14
Bukan Sekedar Penggembira Dalam Gereja
22 September '14
Gereja ≠ Kumpulan Arisan
16 September '14
Copyright © 2012 All rights reserved. Designed and Developed by GIA Dr. Cipto Semarang