SEPEKAN TERAKHIR
  Sabtu, 04 Juli 2015   -HARI INI-
  Jumat, 03 Juli 2015
  Kamis, 02 Juli 2015
  Rabu, 01 Juli 2015
  Selasa, 30 Juni 2015
  Senin, 29 Juni 2015
  Minggu, 28 Juni 2015
POKOK RENUNGAN
Dengan tinggal tetap di dalam Tuhan, maka segala rupa pencobaan dan tantangan yang kita hadapi justru akan membuat kita semakin dan semakin terlatih menghadapinya.
DITULIS OLEH
Pdt. Natanael Rabono
Rohaniwan Pusat
Renungan Lain oleh Penulis:
Home  »  Renungan  »  Hidup Di Tengah Kemajemukan
Hidup Di Tengah Kemajemukan
Kamis, 23 Mei 2013 | Tema: Memiliki Karakter Kristus
Hidup Di Tengah Kemajemukan
Yosua 23:1-16
Ada suatu pemandangan yang terlihat “aneh” dan menimbulkan pertanyaan. Pada enam bulan yang lalu segerombol pepohonan bambu secara “kompak” bersama-sama agak merebah ke arah barat, kemudian waktu berjalan dan tiga bulan yang lalu segerombol bambu itu telah berubah posisi arah rebahnya ke timur. Tetapi sekarang segerombol pohon bambu itu arah rebahnya jelas terlihat ke utara. Kata banyak orang bahwa pohon bambu adalah pohon yang lentur, mudah diombang-ambingkan angin, tetapi justru kelenturan itulah letak kekuatannya. Hampir tidak pernah kita melihat pohon bambu tumbang karena diterpa angin. Oleh sebab itu kita sekarang mengerti bahwa segerombolan pepohonan bambu yang selalu berubah-ubah arah rebahnya karena sering diterpa angin kencang dari arah yang selalu bergantian, namun demikian bambu-bambu itu masih tinggal tetap di tempatnya dan bertahun-tahun tidak satu pun yang tumbang. Mengapa pepohonan bambu itu begitu kuat? Sedikitnya ada dua alasan: 1. karena pepohonan tersebut hidup lentur; 2. Karena dengan hidup bergerombol, maka akar-akarnya telah menyatu. Itulah kunci kekuatannya.

Demikianlah juga dalam isi pidato Yosua kepada bangsa Israel, Yosua mengingatkan bahwa sekarang mereka tinggal berdampingan dengan sisa-sisa bangsa-bangsa lain. Itu berarti bahwa Israel terancam keberadaannya, katakan saja masalah tradisi adat-istiadat, kepercayaan, kawin campur, dan sebagainya. Hal-hal tersebut siap mengikis Israel. Yosua memperingatkan bahwa iman mereka selalu diuji dan teruji di tengah bangsa lain yang juga berjuang mempertahankan dan ...selengkapnya »
Untuk membangun masyarakat, khususnya di Indonesia, tidak lagi hanya menekankan pada sisi akademis-teoritis. Namun sekarang sudah mengalami banyak perubahan, kalau bukan transformasi, setidaknya ada kemajuan yang signifikan. Kemajuan yang dimaksud adalah membangun masyarakat yang berbasiskan ilmu pengetahuan dan peningkatan SDM. Oleh sebab itu masyarakat yang maju akan bertumpu pada generasi muda yang berpengetahuan luas dan akhirnya menjadi masyarakat yang dipenuhi oleh SDM mumpuni. Iptek akan menjadi piranti utama sebagai pendukung kemajuan yang tiada duanya. Maka bagi ukuran dunia [Indonesia saat ini] untuk menjadi bangsa yang cemerlang setidaknya akan lebih serius terhadap program tersebut. Saudara, bagaimana dengan umat Tuhan supaya cemerlang? Tentu saja kita semua sebagai orang Kristen tidak menolak program pemerintah seperti yang saya sampaikan di atas. Namun demikian umat Tuhan yang cemerlang tidak seratus persen berpatokkan pada ukuran-ukuran positif yang ada di dunia ini. Sebagai contoh: Daniel, Hananya, Misael dan Azarya. Anak-anak muda dari Yehuda di Babel sangat cemerlang dan tidak ada yang menandingi kecerdasannya di tengah-tengah orang muda Babel. Dan mereka menggunakan kecerdasan dan hikmat yang dimiliki untuk bersaksi akan kebesaran Allah di tengah-tengah bangsa Babel yang tidak percaya Allah. Saudara, perhatikanlah juga jemaat mula-mula di Antiokhia. Para petobat baru menjadi murid-murid Yesus dan mereka semua, karena cinta dan setianya kepada Tuhan, disebut sebagai “orang Kristen” yang pertama kali. Luar biasa kesetiaan mereka untuk terus memberitakan Injil Yesus Kristus. Dan jika kita menelusuri sebelumnya siapakah yang memberitakan injil di Antiokhia? Ternyata murid-murid Yesus yang tidak terkenal, yaitu orang Siprus dan Kirene. Kecemerlangan mereka terletak pada kesetiaan, ketaatan kepada Tuhan dan senantiasa memberitakan Injil Yesus Kristus. Jikalau kita rindu mendapat predikat sebagai umat Tuhan yang cemerlang, maka jadilah yang terbaik di tengah dunia ini. Belajar, berjuang hingga sukses. Dan yang terpenting adalah setia dan taat kepada Tuhan, menjadi saksi Krisus di manapun kita berada.
Salah satu material yang diperlukan untuk mendirikan suatu bangunan adalah batu dengan jenis dan ukuran sesuai keperluan. Misalnya: Batu kali pada umumnya dipergunakan untuk pondasi dengan cara dipecah-pecah terlebih dahulu menggunakan mesin pemecah ataupun dengan cara tradisional sehingga disebut juga batu belah. Batu kerikil untuk campuran adukan beton [semen dan pasir], diaduk, dihancurkan. Batu bata merupakan salah satu bahan pembuat dinding yang terbuat dari tanah liat yang dibakar sampai berwarna kemerah-merahan. Saat pemasangan kadang dipotong sesuai keperluan. Namun seiring perkembangan teknologi, penggunaan batu bata semakin menurun. Batu pualam/marmer merupakan batuan hasil proses metamorfosa atau malihan dari batu gamping, bisa untuk lantai atau dinding. Juga ada jenis yang bisa dipahat untuk hiasan, patung, dan sebagainya. Rasul Petrus mengharapkan kita datang kepada Kristus, Sang Batu Hidup supaya kita juga dapat dipergunakan sebagai batu hidup untuk pembangunan suatu rumah rohani, bagi suatu imamat yang kudus, untuk mempersembahkan persembahan rohani yang karena Yesus Kristus berkenan kepada Allah [ayat 4, 5]. Dari tulisan Rasul Petrus tersebut, paling tidak ada tiga hal yang harus kita lakukan agar bisa menjadi batu hidup yang dapat dipergunakan sesuai dengan fungsinya. Pertama, perbarui manusia lama kita, buang segala kejahatan, tipu muslihat, kemunafikan, kedengkian, dan fitnah [ayat 1]. Kedua, hiduplah rendah hati, selalu rindu akan Firman Tuhan yang murni untuk terus bertumbuh dan beroleh keselamatan [ayat 2]. Ketiga, beritakanlah perbuatan-perbuatan besar Kristus yang telah memanggil kita keluar dari kegelapan kepada terang-Nya yang ajaib [ayat 9]. Saat dipergunakan mungkin kita merasa sakit. Dihancurkan seperti batu kali atau kerikil karena akan dipergunakan untuk keperluan pondasi. Atau harus dipotong seperti batu bata sesuai ukuran yang diperlukan. Ataupun juga kita harus rela diinjak-injak seperti batu pualam yang mahal dan indah karena dipasang sebagai ubin/lantai. Namun itulah yang harus kita lakukan agar kita menjadi batu hidup yang bermanfaat dan memuliakan nama Tuhan. Amin.
Pada pagi hari hingga sore menjelang malam, matahari memancarkan sinarnya memberikan terang kepada semua mahluk hidup. Ternyata sinar matahari bukan saja memberikan terang, namun juga berkaitan dengan kehidupan semua mahluk hidup. Tanpa sinar matahari, semua mahluk yang ada di atas bumi pastilah mati. Dengan adanya sinar matahari, manusia, segala tumbuh-tumbuhan dan binatang akan menghasilkan sesuatu sehingga dapat melanjutkan kehidupan turun-temurun. Saudara, sumber kehidupan sebenarnya ada pada Allah, Sang Penguasa jagad raya ini. Dalam Mazmur 67:2b dikatakan bahwa “kiranya Ia [Allah] menyinari kita dengan wajah-Nya”. Jika kita bandingkan dengan Mazmur 67:2a; 65:10-14, maka kata “menyinari” berarti memancarkan berkat kehidupan. Allah senantiasa memancarkan berkat kehidupan kepada umat-Nya berupa: berkat kekayaan dan keamanan [damai sejahtera]. Ladang-ladang dipenuhi gandum, padang rumput dipenuhi kambing domba; sementara keamanan damai sejahtera terjadi karena Allah menghalau musuh jauh-jauh. Dia akan menjaga berkat syalom [damai sejahtera] itu kepada umat yang senantiasa setia dan taat sampai kepada anak-cucu. Sampai kapan? Ya, selama umat-Nya tetap taat dan setia kepada Allah. Syalom [damai-sejahtera] atau berkat yang dilimpahkan Allah kepada umat-Nya itu bertujuan menunjukkan kepada bangsa-bangsa di dunia bahwa Allah Israel telah membuktikan sebagai Allah yang dahsyat di antara allah bangsa-bangsa. Supaya bangsa-bangsa mengenal jalan TUHAN, Allah Israel, dan juga supaya berkat Allah dinikmati bangsa-bangsa sehingga mereka menjadi percaya dan mampu mengucap syukur kepada TUHAN, Allah Israel [ayat 3-4]. Oleh sebab itu, kita sebagai umat Tuhan yang diberkati dengan kekayaan dan keamanan [damai sejahtera] harus bersaksi kepada yang belum percaya Tuhan bahwa sumber berkat adalah dari Tuhan. Ingat, bahwa berkat dari Tuhan bukan untuk kesombongan dan mengisolasi diri. Salah satu bentuk kesaksian kita, misalnya dengan berbagi berkat Tuhan kepada semua orang, supaya semua orang mengerti bahwa berkat melimpah itu semata-mata pemberian Tuhan, dan mereka kita dorong untuk percaya kepada Allah supaya berkat itu juga turun atas mereka.
Seorang pelukis muda Kristen yang berbakat melukis seorang wanita dan seorang anak yang berada di tengah badai. Melihat hasil lukisannya sendiri, hatinya sangat tersentuh sehingga dia meletakkan kuas dan catnya sambil berkata, “Sebaiknya aku mencari orang-orang yang tersesat seperti ini, dan tidak sekadar melukis mereka.” Maka mulailah dia bekerja di kota yang miskin dan belajar mengenai pelayanan. Pelukis muda dari Inggris tersebut adalah Alfred Robert Tucker [1849-1914] yang melayani sebagai utusan Injil di Uganda dan Afrika Timur selama 20 tahun. Pendeta Horace Bushnell [1802-1876] menulis: “Mereka yang tidak perlu melakukan pelayanan bagi Kristus adalah: • Mereka yang berpikir bahwa dunia ini tidak terhilang dan tidak membutuhkan Juruselamat. • Mereka yang berharap bahwa nenek moyang mereka tidak pernah bertemu dengan para utusan Injil, sedangkan mereka sendiri masih menyembah berhala. • Mereka yang percaya bahwa orang hanya perlu memikirkan diri sendiri dalam dunia ini, yang berkata sama seperti Kain, “Apakah aku penjaga adikku?” • Mereka yang percaya bahwa mereka tidak perlu mempertanggungjawabkan uang yang dipercayakan Allah kepada mereka. • Dan mereka yang siap untuk menerima hukuman terakhir. “Sesungguhnya segala sesuatu yang tidak kamu lakukan untuk salah seorang dari yang paling hina ini, kamu tidak melakukannya juga untuk Aku” [Matius 25:45]. Jika kita adalah salah satu dari golongan orang yang disebut oleh kutipan Pdt. Horace Bushnell di atas, maka sah-sah saja kita hanya sekedar tahu tentang makna “menjadi saksi Kistus”. Namun jika kita mengaku sebagai orang Kristen [yang artinya adalah pengikut Kristus], maka selayaknya kita harus menjalankan yang diperintahkan oleh Yesus Kristus sendiri, yaitu menjadi saksi. Sebab sebelum Yesus naik ke surga, Dia memerintahkan para pengikut Kristus untuk menjadi saksi, dan Yesus berjanji akan memberikan Roh Kudus guna memperlengkapi para pengikut Kristus supaya dapat bersaksi tentang Kristus [KPR 1:8]. Jika perintah ini adalah sesuatu yang jelas bagi kita, maka mari kita melakukannya. Jadikan hal ini tidak hanya sebagai pengajaran yang enak didengar, tetapi kita juga wajib untuk melakukannya. Mungkin kita sering berbicara mengenai misi dan kesaksian, namun tidak pernah melakukannya, lalu apa yang sudah kita perbuat bagi Kristus?
BARCODE BBM CHANNELS
RENUNGAN HARIAN
Umat Yang Memuliakan Allah
20 Juni '15
Menjadi SaksiNya : Sekedar Bicara atau Melakukan?
06 Juni '15
Umat yang dipilih TUHAN
14 Juni '15
Copyright © 2012 All rights reserved. Designed and Developed by GIA Dr. Cipto Semarang