SEPEKAN TERAKHIR
  Kamis, 29 September 2016   -HARI INI-
  Rabu, 28 September 2016
  Selasa, 27 September 2016
  Senin, 26 September 2016
  Minggu, 25 September 2016
  Sabtu, 24 September 2016
  Jumat, 23 September 2016
POKOK RENUNGAN
Dengan tinggal tetap di dalam Tuhan, maka segala rupa pencobaan dan tantangan yang kita hadapi justru akan membuat kita semakin dan semakin terlatih menghadapinya.
DITULIS OLEH
Pdt. Natanael Rabono
Rohaniwan Pusat
Renungan Lain oleh Penulis:
Home  »  Renungan  »  Hidup Di Tengah Kemajemukan
Hidup Di Tengah Kemajemukan
Kamis, 23 Mei 2013 | Tema: Memiliki Karakter Kristus
Hidup Di Tengah Kemajemukan
Yosua 23:1-16
Ada suatu pemandangan yang terlihat aneh dan menimbulkan pertanyaan. Pada enam bulan yang lalu segerombol pepohonan bambu secara kompak bersama-sama agak merebah ke arah barat, kemudian waktu berjalan dan tiga bulan yang lalu segerombol bambu itu telah berubah posisi arah rebahnya ke timur. Tetapi sekarang segerombol pohon bambu itu arah rebahnya jelas terlihat ke utara. Kata banyak orang bahwa pohon bambu adalah pohon yang lentur, mudah diombang-ambingkan angin, tetapi justru kelenturan itulah letak kekuatannya. Hampir tidak pernah kita melihat pohon bambu tumbang karena diterpa angin. Oleh sebab itu kita sekarang mengerti bahwa segerombolan pepohonan bambu yang selalu berubah-ubah arah rebahnya karena sering diterpa angin kencang dari arah yang selalu bergantian, namun demikian bambu-bambu itu masih tinggal tetap di tempatnya dan be...selengkapnya »
Siapkan telur ayam 4 butir, gula pasir 150 gr, 125 gr tepung terigu, 50 ml santan kental, 1/2 sendok teh garam halus, 1/2 sendok teh baking powder, 1 sendok makan cake emulsifier [SP/TBM], pewarna makanan secukupnya. Campurkan gula pasir, telur dan cake emulsifier lalu kocok dengan mixer sampai mengembang dan pucat. Masukkan tepung terigu, baking powder dan garam sedikit demi sedikit sambil diayak, aduk hingga merata. Tuang santan kental ke dalam adonan sambil diaduk rata. Adonan dibagi menjadi beberapa bagian lalu masing-masing diberi beberapa tetes pewarna, kemudian aduk rata. Masukkan adonan yang sudah diwarnai satu persatu ke dalam loyang yang sudah dioles dengan minyak. Kukus adonan dalam langseng panas sampai benar-benar matang. Ini adalah resep membuat bolu kukus pelangi. Semua komponen yang ada disatukan dan diikat dalam satu wadah [langseng] sehingga menghasilkan masakan yang bernama bolu kukus pelangi. Coba kita perhatikan semua bahan ditakar sesuai kebutuhan, tidak kurang dan tidak lebih sebab bahan-bahan disesuaikan dengan fungsinya. Satu dengan yang lain tidak ada yang merasa kecil atau merasa banyak sebab jika ada komposisi yang ditukar ukurannya, maka akan terjadi masalah dengan kue bolu tersebut. Sebab semua sudah diukur dan dipertimbangkan agar tercapai yang namanya bolu kukus. Perlu kita ketahui bahwa kita sebagai jemaat ditempatkan dalam sebuah wadah yang disebut gereja. Gereja ini seumpama kapal yang mewadahi kita untuk bergerak mengangkut semua orang kepada suatu tujuan, yaitu ke arah Kristus. Mungkin bagi kita, di dalam kapal kita hanya menumpang dan berpikir tidak ada urusan dengan orang-orang yang ada di dalamnya, seperti nahkoda atau anak buah kapal [ABK]. Perjalanan di laut tidak selalu baik dan mulus. Kadang ada badai ataupun kerusakan. Misalnya, ketika bagian bawah dari kapal bocor, kita yang di atas tidak bisa berkata, “Itu bukan urusan saya, kan ada ABK. Saya di sini hanya menumpang sampai tujuan saja.” Jika kita berpikir begitu, sesungguhnya kita tidak menyadari akan bahaya yang sedang mendatangi kita. Oleh karena itu ketika kita di dalam persekutuan sebagai jemaat Tuhan, marilah kita melihat bahwa kita turut serta di dalamnya. Kita tidak bisa berkata itu bukan urusannku. Kita semua sebagai jemaat atau tubuh Kristus harus juga berfungsi dan terlibat di dalamnya hingga kita mencapai tujuan yang dimaksudkan oleh Allah, Sang Pencipta. Selama kita di dalam Kristus, kita masih memiliki tanggung jawab melakukan bagian yang Kristus maksudkan, yaitu menyatakan kemuliaan Allah dalam terlibat dalam rencana yang Allah telah tetapkan bagi gereja-Nya, yaitu menghasilkan buah bagi kerajaan Allah. [BDC] Pokok renungan: Bukan waktunya lagi kita tidak mengetahui peran kita dalam tubuh Kristus sebab kita semua punya tanggung jawab di dalam-Nya.
Rela berkorban adalah kesediaan dan keikhlasan memberikan segala sesuatu yang dimiliki untuk sesama walaupun akan menimbulkan ‘penderitaan’ bagi dirinya sendiri. Itu berarti rela menomorduakan kepentingan sendiri demi membantu orang lain. Demi kebaikan sesama. Ketika Paulus tiba di Yerusalem dan berusaha bergabung dengan saudara seiman, para murid merasa takut karena tidak percaya jika Paulus yang sebelumnya bernama Saulus, sang penganiaya jemaat, telah menjadi murid Kristus. Tetapi di tengah penolakan terhadap Paulus, ada seorang pribadi, yaitu Barnabas, yang tanpa ragu menerima dan membela Paulus. Bahkan ia membawanya kepada para rasul. Melalui penjelasan Barnabas tentang kisah pertobatan dan pengajaran Paulus dalam nama Tuhan, para rasul diyakinkan dan bersedia menerima Paulus untuk tinggal bersama-sama mereka. Apa yang dilakukan Barnabas bukan tanpa resiko. Ia ‘berani melawan arus’. Ia berani mengambil sikap dan tindakan yang berbeda untuk mendukung Paulus. Barnabas bersedia keluar dari zona aman dan rasa nyamannya demi ‘menjaga’ petobat baru yang sangat berpotensi bagi pekerjaan Tuhan. Semua itu dilakukan sepenuhnya untuk kepentingan dan kebaikan Paulus. Barnabas menunjukan semangat rela berkorban bagi orang lain. Bagaikan sebuah lilin yang rela tubuhnya meleleh habis terbakar, tetapi dengan cara itu telah membawa manfaat besar bagi sekitarnya. Musuh yang secara perlahan dapat melemahkan semangat rela berkorban adalah kecenderungan untuk bersikap egois. Sikap egois bisa disamakan dengan karat pada besi. Kalau diabaikan, itu bisa berbahaya karena karat itu akan semakin menyebar dan membuat besi keropos. Keegoisan harus dilawan dan dikalahkan agar semangar rela berkorban akan terus membahana. Pengutamaan kepentingan pribadi di atas kepentingan bersama atau kepentingan orang lain akan menimbulkan ketegangan dalam kehidupan komunitas. Untuk itu perlu adanya keberanian untuk memberikan sebagian milik kita kepada orang lain. Artinya setiap pribadi tidak menuntut hak secara utuh, melainkan harus melihat kepentingan orang lain juga. Dengan demikian, kehidupan dapat dinikmati karena terjalin hubungan yang serasi antar sesama dalam komunitas. Jemaat yang terkasih, jangan kita menjadi seperti karat yang membuat besi rusak dan keropos, tetapi marilah kita menjadi seperti lilin yang rela berkorban untuk mendatangkan kebaikan dan manfaat bagi sekitar.
Seringkali yang menghambat perkembangan pelayanan adalah sikap hidup orang-orang yang ada di dalamnya, baik yang terlibat langsung maupun tidak. Boleh jadi sebuah gereja mempunyai program yang bagus dan dana yang besar, tetapi kalau orang-orang yang ada di dalamnya tidak mempunyai sikap hidup yang mendukung, maka pelayanan itu tidak akan berkembang. Paulus memberikan teladan hidup agar sebuah pelayanan bisa berkembang. Paling tidak ada tiga sikap hidupnya bisa dijadikan teladan. Pertama, rela berkorban dalam pelayanan. Dalam rangka naik banding kepada Kaisar, Paulus diperbolehkan tinggal dalam rumah yang disewanya sendiri [KPR 28:16]. Rasul Paulus tidak minta bantuan orang-orang Kristen yang ada di sana untuk menyewakan rumah. Dia menyewa sendiri rumah dan dijadikan tempat pelayanannya. Kedua, Paulus menunjukkan sikap terbuka dan ramah. ’Ia menerima semua orang yang datang kepadanya.’ Kata yang diterjemahkan dengan kata ’menerima’ menjelaskan bagaimana Paulus menerima orang-orang itu dengan tidak memandang usia, kekayaan atau perbedaan lainnya. Ia menerima semua orang. Inilah jalan pembuka bagi Paulus untuk bisa menyampaikan Injil. Ketiga, bersemangat dalam memberitakan dan mengajarkan berita sukacita itu. Dengan sikap hidup seperti itu, maka pelayanan Rasul Paulus diberkati Tuhan dan menjadi berkembang. Mari kita tanggalkan sikap hidup yang menghambat perkembangan itu [egois, iri hati, dll] dan kita kembangkan sikap hidup yang mendukung perkembangan pelayanan [rela berkorban, terbuka dan ramah, serta semangat].
Menyusun puzzle Efesus 4:16 Dari pada-Nyalah seluruh tubuh, yang rapih tersusun dan diikat menjadi satu oleh pelayanan semua bagiannya, sesuai dengan kadar pekerjaan tiap-tiap anggota menerima pertumbuhannya dan membangun dirinya dalam kasih. Saya yakin kebanyakan kita pernah bermain puzzle. Dalam permainan itu kita berusaha menyusun potongan-potongan gambar menjadi tersusun rapi sehingga membentuk sebuah gambar yang utuh. Bagaimana cara menyusunnya? Mulainya dari mana? Biasanya mulai dari mencari potongan sudut-sudutnya dan meletakkannya di sudut-sudut gambar. Kemudian mencari dan meletakkan bagian-bagian yang merupakan pinggiran dari gambar itu. Kemudian kita menyusun bagian dalamnya. Berarti untuk menyusun sebuah puzzle kita harus mulai dengan menentukan batas-batasnya, lalu berusaha menyusun gambar. Gereja dapat digambarkan seperti puzzle. Gereja terbentuk dari orang-orang yang tadinya terlepas satu dari yang lainnya. Kemudian Kristuslah yang menyatukan kita. Dari potongan-potongan yang terlepas menjadi sebuah kesatuan yang utuh dengan satu tujuan, satu misi dan satu kasih kepada Tuhan dan sesama. Puzzle itu masih belum utuh, sedang disusun. Pada saatnya nanti akan terbentuk menjadi sebuah gambar yang utuh. Gereja sedang dalam proses penyempurnaan. Dalam proses itu ada beberapa hal yang perlu diperhatikan. 1. Proses penyempurnaan itu harus di bawah arahan Kristus. ’Dari pada-Nyalah seluruh tubuh, yang rapih tersusun....’ Kristuslah yang menjadi inisiator gereja. Gereja sedang dalam proses pembentukkan menurut arahan Kristus. Para pemimpin dan semua yang terlibat dalam pelayanan adalah hamba-hamba-Nya yang dipakai sebagai alat untuk menyempurnakan gereja-Nya. 2. Semua bagian harus aktif terlibat dalam proses penyempurnaan. ’diikat menjadi satu oleh pelayanan semua bagiannya, sesuai dengan kadar pekerjaan tiap-tiap anggota menerima pertumbuhannya dan membangun dirinya dalam kasih.’ Proses itu akan berjalan dengan baik jika semua bagian turut bekerja sama di dalam membangun tubuh Kristus. Diperlukan kerja sama agar proses itu berjalan dengan baik. Semoga puzzle itu makin tersusun dengan rapi, sampai akhirnya menjadi gambar yang utuh. Amin. Pdt. Goenawan Susanto
BARCODE BBM CHANNELS
RENUNGAN HARIAN
Ironi Sebatang Pohon
30 Agustus '16
Mumpung Masih Ada Kesempatan1
01 September '16
Kualitas Hidup
02 September '16
Copyright © 2012 All rights reserved. Designed and Developed by GIA Dr. Cipto Semarang