SEPEKAN TERAKHIR
  Selasa, 22 Juli 2014   -HARI INI-
  Senin, 21 Juli 2014
  Minggu, 20 Juli 2014
  Sabtu, 19 Juli 2014
  Jumat, 18 Juli 2014
  Kamis, 17 Juli 2014
  Rabu, 16 Juli 2014
POKOK RENUNGAN
Dengan tinggal tetap di dalam Tuhan, maka segala rupa pencobaan dan tantangan yang kita hadapi justru akan membuat kita semakin dan semakin terlatih menghadapinya.
DITULIS OLEH
Pdt. Natanael Rabono
Rohaniwan Pusat
Renungan Lain oleh Penulis:
Home  »  Renungan  »  Hidup Di Tengah Kemajemukan
Hidup Di Tengah Kemajemukan
Kamis, 23 Mei 2013 | Tema: Memiliki Karakter Kristus
Hidup Di Tengah Kemajemukan
Yosua 23:1-16
Ada suatu pemandangan yang terlihat “aneh” dan menimbulkan pertanyaan. Pada enam bulan yang lalu segerombol pepohonan bambu secara “kompak” bersama-sama agak merebah ke arah barat, kemudian waktu berjalan dan tiga bulan yang lalu segerombol bambu itu telah berubah posisi arah rebahnya ke timur. Tetapi sekarang segerombol pohon bambu itu arah rebahnya jelas terlihat ke utara. Kata banyak orang bahwa pohon bambu adalah pohon yang lentur, mudah diombang-ambingkan angin, tetapi justru kelenturan itulah letak kekuatannya. Hampir tidak pernah kita melihat pohon bambu tumbang karena diterpa angin. Oleh sebab itu kita sekarang mengerti bahwa segerombolan pepohonan bambu yang selalu berubah-ubah arah rebahnya karena sering diterpa angin kencang dari arah yang selalu bergantian, namun demikian bambu-bambu itu masih tinggal tetap di tempatnya dan bertahun-tahun tidak satu pun yang tumbang. Mengapa pepohonan bambu itu begitu kuat? Sedikitnya ada dua alasan: 1. karena pepohonan tersebut hidup lentur; 2. Karena dengan hidup bergerombol, maka akar-akarnya telah menyatu. Itulah kunci kekuatannya.

Demikianlah juga dalam isi pidato Yosua kepada bangsa Israel, Yosua mengingatkan bahwa sekarang mereka tinggal berdampingan dengan sisa-sisa bangsa-bangsa lain. Itu berarti bahwa Israel terancam keberadaannya, katakan saja masalah tradisi adat-istiadat, kepercayaan, kawin campur, dan sebagainya. Hal-hal tersebut siap mengikis Israel. Yosua memperingatkan bahwa iman mereka selalu diuji dan teruji di tengah bangsa lain yang juga berjuang mempertahankan dan ...selengkapnya »
Waktu itu jam menunjukkan pukul 10 malam. Saya dikagetkan dengan ketukan pintu rumah yang disertai tangisan anak yang masih kecil. Ternyata seorang ibu datang menggendong anaknya sambil menangis. Sebagai pelayan Tuhan, saya menyapa dan menerimanya dengan kasih. Ibu tersebut dengan terbata-bata menceritakan semua masalahnya. Intinya, ibu itu tidak bisa membayar sekolah anaknya karena uangnya dihabiskan oleh suaminya. Setelah saya bimbing, saya mengajaknya doa dan Tuhan memerintahkan agar saya memberinya uang yang sebenarnya untuk membelikan susu anak saya. Uang 120 ribu adalah uang yang tersisa di akhir bulan. Jika saya berikan uang itu, maka saya tidak bisa membeli susu anak saya. Tapi Tuhan dengan jelas berkata, “Berikan!” LUAR BIASA, uang saya berikan. Dan apa yang terjadi? Sehari kemudian Tuhan memberkati saya sejumlah uang dari seseorang yang tak terduga sebanyak 200 kali lipat. Dari pengalaman di atas, saya teringat akan keteguhan hati jemaat mula-mula dalam hidup antar jemaat. Cara hidup jemaat mula-mula begitu luar biasa. Mereka mempraktekkan kasih, senantiasa sehati sepikir dan sangat peka terhadap kebutuhan orang lain sehingga mereka berprinsip bahwa segala kepunyaan mereka adalah kepunyaan bersama, dan selalu ada dari mereka yang menjual harta miliknya, lalu membagi-bagikannya kepada semua orang sesuai dengan keperluan masing-masing (Kisah Para Rasul 2:44-45). Hal ini sangat bertolak belakang dengan kenyataan hidup orang-orang zaman sekarang di mana orang sekarang cenderung egois. Dapat dikatakan bahwa cara hidup jemaat mula-mula menjadi sebuah ‘tamparan keras’ bagi jemaat Tuhan saat ini. Kita tanpa sadar telah tercemari dengan gaya hidup orang duniawi, kurang peduli dengan saudara seiman, bahkan kadang menutup mata terhadap orang yang membutuhkan.. Menyedihkan sekali jika kita orang Kristen tetapi tidak mempunyai kasih dalam wujud nyata. Memiliki kasih adalah mutlak bagi kita karena Tuhan menempatkan kita di dunia ini untuk menjadi saksi-Nya. Orang lain menilai kita bukan dari apa yang kita ucapkan saja, tapi juga dari apa yang kita perbuat bagi mereka. Seringkali kita mendengar pernyataan, “Jangankan memikirkan kebutuhan orang lain, untuk diri sendiri saja tidak cukup.” Perhatikan firman Tuhan dalam Amsal 19:17, “Siapa menaruh belas kasihan kepada orang yang lemah, memiutangi Tuhan, yang akan membalas perbuatannya itu.” Janda Sarfat memberi makan nabi Elia meskipun ia hanya punya segenggam tepung dan sedikit minyak dalam buli-buli; dia taat melakukan apa yang diperintahkan oleh Tuhan dan akhirnya mujizat terjadi (1 Raja-raja 17:16). Mari kita hidupkan kembali cara hidup jemaat mula-mula, saling mengasihi satu dengan yang lain, bersekutu saling mendoakan, sehingga tercipta suasana damai sejahtera di gereja kita.
Sebab sama seperti pada satu tubuh kita mempunyai banyak anggota, tetapi tidak semua anggota itu mempunyai tugas yang sama, demikian juga kita, walaupun banyak, adalah satu tubuh di dalam Kristus; tetapi kita masing-masing adalah anggota yang seorang terhadap yang lain. (Ayat 4-5) Anda pasti pernah melihat patung polisi. Dari jauh kelihatan polisi sungguhan, tapi setelah didekati ternyata hanya sebuah patung. Kita tahu bahwa itu hanyalah sebuah patung karena tidak bergerak, tidak ada ekspresi wajah, dan tidak ada tanda-tanda kehidupan. Demikian juga kalau kita berkunjung ke sebuah museum yang bernama Madame Tussauds di London, kita akan melihat patung-patung yang terbuat dari lilin. Patung-patung itu sangat mirip dengan tokoh-tokoh yang digambarkan, baik tokoh-tokoh bangsawan, bintang film, bintang olah raga, sampai penjahat-penjahat. Patung-patung itu sepertinya hidup, tapi sebenarnya tidak. Gereja adalah Tubuh Kristus. Yang membedakan antara tubuh dengan patung adalah bahwa tubuh itu hidup. Memang patung kelihatan mirip dengan tubuh, punya kepala, badan, tangan, kaki dan anggota-anggota tubuh lainnya. Tetapi semuanya tidak bergerak dan tidak berfungsi karena mati. Berbeda dengan tubuh yang hidup. Setiap anggota tubuh itu mempunyai fungsi masing-masing. Tidak ada anggota tubuh yang tidak berfungsi. Tidak ada anggota yang hanya sekedar tempelan di tubuh itu. Setiap anggota ada fungsinya dan mengerjakan tugasnya sesuai dengan perintah kepala. Itulah gambaran dari Gereja Tuhan. Gereja adalah Tubuh Kristus, karena Tuhan Yesus mau melaksanakan kehendak-Nya melalui gereja-Nya. Sebagai Kepala, Dia yang mengatur dan memberi perintah kepada tubuh-Nya. Dialah pusat pikiran dan kehendak yang menentukan gerak langkah gereja. Apa yang harus dikerjakan dan kemana gereja harus bergerak tergantung pada kehendak dan rencana Kristus. Sebagai anggota Tubuh Kristus kita harus mengikuti apa yang diperintahkan-Nya. Masing-masing kita mempunyai fungsinya sendiri. Tidak ada yang tempelan saja. Setiap anggota Tubuh Kristus mempunyai fungsi dan tugasnya sendiri. Jemaat Tuhan, Anda adalah anggota Tubuh Kristus. Tuhan mau memakai anda dan bekerja melalui Anda. Jangan puas hanya menjadi anggota yang pasif, karena sebenarnya tidak ada anggota yang tidak mempunyai fungsi. Amin.
World Cup 2014 telah dimulai, dan 32 tim peserta berlaga dalam turnamen ini untuk meraih satu mahkota tertinggi, yaitu juara World Cup 2014. Seluruh tim berusaha dengan berbagai cara untuk menjaga agar semangat para pemainnya tetap menyala. Salah satu caranya adalah dengan menempelkan kata-kata yang menjadi slogan penyemangat di masing-masing bus kontestan. Bus Timnas Colombia bertuliskan: “Aqui No Vijara Un Quipo, Vijara Todo Un Pais!” (Kami membawa sebuah bangsa, bukan sekedar Tim). Lain pula dengan slogan yang tertera di bus timnas Prancis, yang berbunyi: “Impossible N’Est Pas Francais” (Tak ada kata tak mungkin dalam bahasa Prancis). Atau, lihatlah tulisan di bus timnas Italia yang berbunyi: “Coloraimo D’Azzuro II Sogno Mondiale” (Mari warnai mimpi Piala Dunia dengan Warna Biru). Perhatikan slogan berikut ini: “Only Together We Can Win” (Hanya dengan bersama kita dapat menang), slogan sederhana tapi berisi kata-kata motivasi tersebut menjadi slogan timnas Nigeria. Bahkan tim tuan rumah Brazil pun juga memakai slogan yang memotivasi semangat juang timnya yang berbunyi : “Preparem Sel O Hexa Esta Chegando! (Kuatkan dirimu yang ke-6 akan datang). Slogan-slogan tersebut membuat para pemain termotivasi untuk menjadi pemenang di setiap laga. Manakala mereka mengalami kelesuan karena kelelahan atau kekalahan, kata-kata tersebut seolah seperti angin sejuk yang membuat semangat pemain kembali membara. Meskipun tidak terihat di lapangan, kata-kata itu menjadi motivasi penyemangat bagi masing-masing tim yang berlaga di World Cup 2014. Sadarkah kita bahwa Roh Kudus juga bertindak demikian. Roh Kudus akan memberi kekuatan bagi kita utuk bangkit. Roh Kudus yang tidak terlihat itu mampu mengobarkan semangat kita yang sedang terpuruk Paulus berkata bahwa saat hidup berada di titik terendah, saat itulah Roh Kudus mengirimkan perawatan intensif. Ketika hati begitu sarat beban sampai tak mampu lagi mengucapkan keluhan, Roh Kudus akan menghibur dan membangkitkan kita. Dia sanggup mengubah bahasa air mata menjadi doa. Dengan cara ini, ”keluhan yang tak terucapkan” itu bisa disalurkan (ayat 26), hingga kita mengalami kelegaan di hati, penghiburan ilahi, dan semangat hidup. Kita tidak menjadi panik, tetapi bisa mengamini bahwa apapun yang terjadi, semua akan mendatangkan kebaikan (ayat 28). Hasilnya, kita tetap memandang masa depan secara positif, meski hari ini semuanya tampak suram. Roh Kudus memampukan kita berjalan dengan iman, bukan penglihatan. Apakah hidup Anda terasa rumit? Apakah Anda sedang berada di ”titik terendah”? Adakah keresahan menyelimuti Anda? Berdiam dirilah di hadapan Allah. Ijinkan Roh Kudus berkarya dan mengubah air mata kita menjadi kemenangan bersama dengan Yesus. Roh Kudus akan memampukan kita dan membuat kita menjadi tegar dalam menjalani hidup ini.
Seorang pemuda mendapat pekerjaan di rumah seorang pengusaha besar sebagai pelayan. Di hari pertama bekerja dia bertemu dengan senior-senior karyawan di rumah itu. Juru masak berkata kepadanya dengan sombong, “Kamu bekerja di sini tidak ada artinya, tidak seperti saya yang selalu mendapat pujian karena masakan saya sangat enak dan dibutuhkan di rumah ini.” Sopir berkata, “Aku sangat dipercaya tuan karena aku yang senantiasa membawa beliau ke mana saja dan pasti dibutuhkan.” “Aku yang menata semua taman sehingga nampak indah dan menyenangkan hati tuan.” kata tukang kebun. Pada waktu pemuda itu putus asa datanglah seorang pelayan tua yang berkata, “Jangan kamu sedih, lakukanlah pekerjaanmu dengan rendah hati dan tidak sombong akan hasil karyamu.” Perkataan itu membuatnya semangat untuk bekerja, membersihkan rumah, menata perabot dan semua pekerjaan bagiannya dilakukan dengan sukacita. Sang majikan sangat puas dengan pekerjaannya dan selalu memuji dia di hadapan semua karyawan. Dia tetap rendah hati dan tidak menjadi sombong walaupun saat ini dia menjadi kepercayaan tuannya. Firman Tuhan menghendaki kita rendah hati dan selalu menganggap orang lain lebih penting dari diri kita, tidak mencari kepentingan sendiri dan pujian dalam setiap langkah hidup kita (ayat 3). Tidak mementingkan diri sendiri tetapi juga memperhatikan kepentingan orang lain (ayat 4). Agar kita bisa melakukan hal tersebut maka pikiran dan perasaan Yesus harus ada dalam hidup kita (ayat 5). Selama Yesus hidup di dunia, Dia selalu menganggap orang lain penting. Di tengah kelelahan setelah sepanjang hari melayani, Dia tetap melayani orang-orang yang membutuhkan pelayanan-Nya. Dia tidak hanya memperhatikan kebutuhan rohani karena orang-orang itu seperti domba yang tak bergembala, tetapi memperhatikan kebutuhan jasmani sehingga Dia memberi mereka makan. Yesus adalah contoh dan teladan rendah hati yang sejati. Apakah kita sudah meneladani-Nya dan berani menempatkan kepentingan orang lain di atas kepentingan kita?
BARCODE BBM CHANNELS
RENUNGAN HARIAN
Saling Berbagi
07 Juli '14
Berbagi Untuk Tunanetra
09 Juli '14
Melayani Dengan Karunia Allah
23 Juni '14
Copyright © 2012 All rights reserved. Designed and Developed by GIA Dr. Cipto Semarang