SEPEKAN TERAKHIR
  Jumat, 28 Agustus 2015   -HARI INI-
  Kamis, 27 Agustus 2015
  Rabu, 26 Agustus 2015
  Selasa, 25 Agustus 2015
  Senin, 24 Agustus 2015
  Minggu, 23 Agustus 2015
  Sabtu, 22 Agustus 2015
POKOK RENUNGAN
Dengan tinggal tetap di dalam Tuhan, maka segala rupa pencobaan dan tantangan yang kita hadapi justru akan membuat kita semakin dan semakin terlatih menghadapinya.
DITULIS OLEH
Pdt. Natanael Rabono
Rohaniwan Pusat
Renungan Lain oleh Penulis:
Home  »  Renungan  »  Hidup Di Tengah Kemajemukan
Hidup Di Tengah Kemajemukan
Kamis, 23 Mei 2013 | Tema: Memiliki Karakter Kristus
Hidup Di Tengah Kemajemukan
Yosua 23:1-16
Ada suatu pemandangan yang terlihat “aneh” dan menimbulkan pertanyaan. Pada enam bulan yang lalu segerombol pepohonan bambu secara “kompak” bersama-sama agak merebah ke arah barat, kemudian waktu berjalan dan tiga bulan yang lalu segerombol bambu itu telah berubah posisi arah rebahnya ke timur. Tetapi sekarang segerombol pohon bambu itu arah rebahnya jelas terlihat ke utara. Kata banyak orang bahwa pohon bambu adalah pohon yang lentur, mudah diombang-ambingkan angin, tetapi justru kelenturan itulah letak kekuatannya. Hampir tidak pernah kita melihat pohon bambu tumbang karena diterpa angin. Oleh sebab itu kita sekarang mengerti bahwa segerombolan pepohonan bambu yang selalu berubah-ubah arah rebahnya karena sering diterpa angin kencang dari arah yang selalu bergantian, namun demikian bambu-bambu itu masih tinggal tetap di tempatnya dan bertahun-tahun tidak satu pun yang tumbang. Mengapa pepohonan bambu itu begitu kuat? Sedikitnya ada dua alasan: 1. karena pepohonan tersebut hidup lentur; 2. Karena dengan hidup bergerombol, maka akar-akarnya telah menyatu. Itulah kunci kekuatannya.

Demikianlah juga dalam isi pidato Yosua kepada bangsa Israel, Yosua mengingatkan bahwa sekarang mereka tinggal berdampingan dengan sisa-sisa bangsa-bangsa lain. Itu berarti bahwa Israel terancam keberadaannya, katakan saja masalah tradisi adat-istiadat, kepercayaan, kawin campur, dan sebagainya. Hal-hal tersebut siap mengikis Israel. Yosua memperingatkan bahwa iman mereka selalu diuji dan teruji di tengah bangsa lain yang juga berjuang mempertahankan dan ...selengkapnya »
Seorang psikolog melakukan penelitian dengan melibatkan sekelompok orang dengan latar belakang pendidikan dan ekonomi yang relatif sama. Mereka ditempatkan di suatu gedung untuk mengikuti serangkaian percobaan. Setelah semua relawan terkumpul, mereka dibawa ke ruang yang sudah dipersiapkan sebelumnya. Di dalam ruangan yang remang-remang, ketua tim peneliti memberitahukan kepada seluruh peserta bahwa di seberang kolam ada sebuah medali yang terbuat dari emas murni. Untuk mendapatkannya setiap orang harus melewati jembatan gantung. Jika gagal dan jatuh, ada risiko cedera, namun tim medis siap memberikan pertolongan. ”Siapa yang berani mencoba?” tanya ketua tim peneliti menantang. Ternyata lebih banyak di antara mereka yang berbisik-bisik dan hanya berdiskusi tentang risiko yang akan dihadapi. ”Ayo, siapa yang berani?” tanya ketua tim peneliti lagi. Dari sekumpulan orang yang ragu-ragu, tiba-tiba muncul seorang pria yang siap mengambil tantangan. Setelah berada di depan jembatan gantung, ia tarik nafas dalam-dalam, setelah itu dengan hati-hati melewatinya. ”Yeah... aku berhasil!!” terdengar suara teriakan kegembiraan di seberang sana Setelah itu, ketua tim peneliti menghidupkan beberapa bola lampu dan membawa peserta lebih dekat ke jembatan. Ternyata, di bawahnya telah dipasang jaring pengaman. Ketua tim bertanya lagi, ”Siapa yang berani mencoba?” Kali ini, hanya ada tiga orang yang maju dan mereka semuanya berhasil melewati tantangan tersebut. Kemudian sisanya bertanya, ”Pak, apakah jaringannya kuat menahan beban orang?” Jawab ketua tim, ”Jaring ini cukup kuat menahan beban sampai lima puluh orang sekaligus, tetapi sayangnya kesempatan sudah tidak ada lagi.” Sebenarnya, setiap orang mempunyai kesempatan dan peluang untuk sukses. Tetapi karena takut, maka mereka tidak bergerak sama sekali. Alasan klasik selalu menjadi hambatan, seperti: takut gagal, takut kecewa, takut tantangan, takut rugi, takut kerja keras, takut menghadapi persaingan dan segudang takut yang tidak berkesudahan.
“Minggu ini banyak jemaat yang pulang dari kebaktian dengan wajah mrengut”, kata Sambey. “Lha kok bisa begitu?” tanya Benay sambil mengaduk teh hangat yang ia hidangkan untuk menemani obrolan mereka. “Aku menduga mungkin karena kotbah Pdt. Andrey yang kecut”, kata Sambey. “Kecut bagaimana? Kok seperti bau ketekku saja”, komentar Benay. Sambey menjelaskan isi kotbah Pdt. Andrey yang berisi peringatan bahwa tahun-tahun ke depan kondisi bangsa Indonesia akan semakin memburuk jika pemerintah dan seluruh elemen masyarakat tidak mampu mewujudkan keadilan sosial bagi seluruh rakyat. Ketidakmampuan itu dibuktikan dengan kemiskinan yang makin menjadi-jadi, kesenjangan ekonomi-sosial yang makin melebar, kebijakan yang tidak adil, kejahatan korupsi merajalela, dan lain-lain. “Lho, kok beda dengan kotbah Pdt. Itong dua minggu yang lalu?” kata Benay. “Pdt. Itong menyatakan bahwa tahun-tahun ke depan bangsa Indonesia akan mencapai tingkat kemakmuran yang luar biasa dan menjadi mercusuar dunia. Bahkan ia mengatakan bahwa ia mendapatkan pewahyuan itu langsung dari Tuhan melalui penglihatan. Terus yang benar itu yang mana?” Menurut Sambey menentukan siapa yang benar dan salah tidak mudah. Tetapi kotbah Pdt. Andrey patut diapresiasi. Ia berani menyampaikan kotbah berdasarkan Alkitab meskipun itu tidak populer, yaitu tidak sekedar menina-bobokan jemaat dengan janji-janji kemakmuran atas nama Tuhan. Perang nubuat terjadi antara Nabi Yeremia dan Nabi Hananya. Keduanya sama-sama berbicara atas nama Tuhan semesta alam. Nabi Hananya menubuatkan kemenangan gilang-gemilang Israel atas Babel dalam waktu dua tahun ke depan [ayat 2, 10-11]. Sebaliknya Nabi Yeremia menubuatkan kekalahan dasyat yang akan dialami bangsanya sendiri oleh kekuatan Babel [ayat 12-14]. Bahkan Bait Allah akan diruntuhkan karena ketidaktaatan mereka [26:6-11]. Sikap konsisten pada kehendak Tuhan ini mendatangkan risiko pada diri Nabi Yeremia. Ia menjadi tidak populer karena memberitakan kehancuran bangsanya sendiri. Lebih dari itu nyawanya terancam oleh penguasa agama yang tidak suka akan nubuat miringnya itu. Risiko ini dapat dipahami karena penguasa politik dan agama maupun rakyat Israel lebih suka mendengarkan nubuat yang menyukakan hati mereka dan yang tidak menuntut pertobatan. Jemaat yang terkasih, kita cenderung suka memberitakan atau mendengarkan kotbah yang menyukakan hati kita dan orang lain. Jika apa yang menyukakan itu sesuai dengan kehendak Tuhan tentu tidaklah salah. Tetapi kadangkala kehendak Tuhan bertentangan dengan kemauan kita atau tidak menyukakan orang lain. Dalam kondisi ini mana yang kita pilih? Bersediakah kita mengambil risiko untuk memilih taat pada kehendak Tuhan daripada menuruti kesenangan diri sendiri atau kemauan orang lain? Marilah kita belajar memilih taat pada kehendak Tuhan.
Seorang kakek bercerita pada cucunya, pada zaman dahulu, hiduplah kancil yang bijaksana. Kancil dikenal oleh hewan lainnya sebagai hewan yang dapat memberi jalan keluar atas semua masalah mereka, dan tidak terkecuali oleh kura-kura. Oleh karena jalannya yang lamban, sehingga dia selalu tertinggal dalam berbagai hal, maka kura-kura ingin sekali bisa terbang, namun bagaimana caranya? Kemudian karena tak kunjung mendapat caranya, maka kura-kura mendatangi kancil untuk meminta solusi akan masalah tersebut. “Kancil... Kancil, aku ingin sekali bisa terbang, bisakah kamu menolongku”, kata kura-kura kepada kancil. Alangkah terkejutnya kancil mendengar hal ini, lalu dia berkata kepada kura-kura, “Bagaimana kamu bisa terbang, kamu kan tidak punya sayap?” Sambil menangis kura-kura itu berkata, “Oleh karena itulah aku datang kepadamu, Kancil. Bukankah kamu adalah hewan yang cerdik dan bijaksana, pasti kamu dapat menolongku.” Sambil terdiam sesaat, kancil berpikir sejenak, dan kemudian meminta dua ekor angsa membantu kura-kura. Kancil menyuruh dua ekor angsa itu mengambil sepotong kayu yang kuat, lalu masing-masing angsa memegang setiap ujung kayu itu. Kemudian si kancil memerintahkan kura-kura untuk memegang kayu itu dengan mulutnya. Saat semuanya selesai, kancil berpesan pada kura-kura, “Kura-kura apapun yang terjadi saat terbang nanti, kamu jangan sampai membuka mulutmu.” Pada saatnya, dua angsa dan seekor kura-kura itu memulai perjalanan mereka. Mereka terbang tingi dan makin tinggi, bahkan semakin tinggi. Hewan-hewan lain yang melihat itu terpana, dan bahkan burung yang terbang di sisi mereka pun ikut terkaget-kaget. Burung yang kaget itu berseru, ’Benarkah itu kamu, kura-kura? Hebat sekali kamu! Kamu memang pandai, Kura-kura’ Hal ini membuat sang kura-kura merasa bangga karena dia merasa menjadi sosok yang penting. ’Saya memang pandai, lihatlah sekarang aku bisa terbang!’ kata si kura-kura. Pada saat kura-kura berbicaa, maka otomatis dia membuka mulutnya untuk menyampaikan hal tersebut, dan pada saat itu juga dia pun kehilangan pegangan dan jatuh. Banyak orang gampang untuk “membuka mulutnya” untuk hal-hal yang tidak baik. Mulai dari mengomel, memaki orang lain, berkata kasar, mengutuk, membicarakan orang lain untuk hal yang tidak baik, menyakiti orang lain, hingga memakai mulutnya untuk kesombongan diri. Kitab Amsal mendorong kita untuk berhati-hati atas perkataan kita [Amsal 12:17-22; 15:4; 26:2]. Kitab Amsal juga mengingatkan kepada kita semua, ’Kecongkakan mendahului kehancuran, dan tinggi hati mendahului kejatuhan’ [Amsal 16:18], tetapi Allah mengaruniakan berkat-Nya bagi orang yang rendah hati. ’Biarlah orang lain memuji engkau dan bukan mulutmu’ [Amsal 7:22]. Seharusnya kita berdoa bersama sang pemazmur, ’Mudah-mudahan Engkau berkenan akan ucapan mulutku dan renungan hatiku, ya TUHAN, gunung batuku dan penebusku’ [Mazmur 19:15]. Gunakan mulut kita untuk sesuatu yang positif. Gunakan perkataan kita untuk membangun diri kita agar lebih baik lagi. Gunakan mulut kita untuk memuji Tuhan dan untuk memberkati orang lain.
2 Timotius 2:3-4 Ikutlah menderita sebagai seorang prajurit yang baik dari Kristus Yesus. Seorang prajurit yang sedang berjuang tidak memusingkan dirinya dengan soal-soal penghidupannya, supaya dengan demikian ia berkenan kepada komandannya. Star wars, sebuah film bioskop yang terkenal, mengisahkan tentang terjadinya peperangan besar di alam semesta ini, antara kekuatan baik melawan kekuatan jahat. Peperangan yang dikisahkan itu terjadi di galaxy nun jauh di sana. Tapi di dalam realita di dunia ini, bukan di galaxy nun jauh di sana, sedang terjadi juga peperangan besar, bukan perang yang kelihatan secara jasmani, tapi perang secara rohani, yaitu perang antara kerajaan Kristus melawan kerajaan iblis [Efesus 6:12]. Kristus datang ke dunia untuk membebaskan manusia dari cengkeraman kuasa iblis. Iblis dengan seluruh kekuatannya berusaha mempertahankan kekuasaannya atas manusia dan bahkan atas segala ciptaan. Kristus memanggil kita untuk ikut dalam barisan tentara-Nya, sebagai prajurit-prajurit-Nya. Kita dipanggil bukan sekedar untuk jadi prajurit, tapi prajurit yang baik dari Kristus Yesus [ayat 3]. Ada prajurit yang asal jadi prajurit, yaitu prajurit yang tidak tahu tugasnya sebagai prajurit. Yang Kristus harapkan adalah prajurit yang baik. Seperti apakah prajurit yang baik? Seorang pejuang Prajurit yang baik adalah seorang pejuang. Tugas prajurit adalah berperang untuk mengalahkan musuh. Semua prajurit harus siap untuk berperang. Semua prajurit harus berani maju di medan perang. Musuh pertama yang harus ditaklukkan adalah ketakutan di dalam dirinya. Prajurit yang baik dari Kristus haruslah seorang pejuang. Prajurit Kristus tidak boleh takut menghadapi tantangan. Prajurit Kristus tidak boleh menyerah sebelum berperang. Seorang pengabdi Prajurit yang baik adalah seorang pengabdi. Dia harus siap menjalankan perintah dari atasannya. Untuk menjalankan perintah atasannya dia harus mengesampingkan kepentingan dirinya [urusan-urusan pribadinya]. Sebagai contoh: prajurit yang dalam tugas akan kehilangan kenyamanannya, seperti kurang tidur, tidur di sembarang tempat, makan seadanya, dsb. Tapi dia rela lakukan semua itu demi menjalankan tugas dari negara. Firman Tuhan berkata seorang prajurit Kristus harus rela untuk menderita [ayat 3]. Penderitaan itu mungkin berupa diasingkan, dicemooh, atau mengalami bentuk-bentuk penderitaan lainnya yang harus kita terima. Dengan menjalani semua itu kita dapat disebut prajurit yang baik dari Kristus Yesus. Amin.
BARCODE BBM CHANNELS
RENUNGAN HARIAN
Mulut Yang Membawa Berkat!
29 Juli '15
Kisah Senja ’Mbah Sentot’
19 Agustus '15
Senjata rohani
23 Agustus '15
Copyright © 2012 All rights reserved. Designed and Developed by GIA Dr. Cipto Semarang