SEPEKAN TERAKHIR
  Sabtu, 23 September 2017   -HARI INI-
  Jumat, 22 September 2017
  Kamis, 21 September 2017
  Rabu, 20 September 2017
  Selasa, 19 September 2017
  Senin, 18 September 2017
  Minggu, 17 September 2017
POKOK RENUNGAN
Dengan tinggal tetap di dalam Tuhan, maka segala rupa pencobaan dan tantangan yang kita hadapi justru akan membuat kita semakin dan semakin terlatih menghadapinya.
DITULIS OLEH
Pdt. Natanael Rabono
Rohaniwan Pusat
Renungan Lain oleh Penulis:
Home  »  Renungan  »  Hidup Di Tengah Kemajemukan
Hidup Di Tengah Kemajemukan
Kamis, 23 Mei 2013 | Tema: Memiliki Karakter Kristus
Hidup Di Tengah Kemajemukan
Yosua 23:1-16
Ada suatu pemandangan yang terlihat aneh dan menimbulkan pertanyaan. Pada enam bulan yang lalu segerombol pepohonan bambu secara kompak bersama-sama agak merebah ke arah barat, kemudian waktu berjalan dan tiga bulan yang lalu segerombol bambu itu telah berubah posisi arah rebahnya ke timur. Tetapi sekarang segerombol pohon bambu itu arah rebahnya jelas terlihat ke utara. Kata banyak orang bahwa pohon bambu adalah pohon yang lentur, mudah diombang-ambingkan angin, tetapi justru kelenturan itulah letak kekuatannya. Hampir tidak pernah kita melihat pohon bambu tumbang karena diterpa angin. Oleh sebab itu kita sekarang mengerti bahwa segerombolan pepohonan bambu yang selalu berubah-ubah arah rebahnya karena sering diterpa angin kencang dari arah yang selalu bergantian, namun demikian bambu-bambu itu masih tinggal tetap di tempatnya dan bertahun-tahun tidak satu pun yang tumbang. Mengapa pepohonan bambu itu begitu kuat? Sedikitnya ada dua alasan: 1. karena pepohonan tersebut hidup lentur; 2. Karena dengan hidup bergerombol, maka akar-akarnya telah menyatu. Itulah kunci kekuatannya.

Demikianlah juga dalam isi pidato Yosua kepada bangsa Israel, Yosua mengingatkan bahwa sekarang mereka tinggal berdampingan dengan sisa-sisa bangsa-bangsa lain. Itu berarti bahwa Israel ter...selengkapnya »
Malam itu merupakan malam yang sangat menakutkan bagi suster Charllote dan Carol. Mereka berlari terengah-engah dengan penuh ketakutan. Mereka mencoba bersembunyi dari kejaran Iblis yang sangat mengerikan. Keduanya hanya bisa berteriak histeris dengan wajah yang pucat karena melihat sosok Iblis yang sangat kejam hendak membunuh mereka. Suster Charllote terpojok di sebuah ruangan di lantai dua, dan di tempat terpisah Carol dengan gemetar sampai di ujung ruangan gudang. Sang Iblis pun semakin mendekati keduanya dan siap mencekik mereka. Namun situasi pun berubah, suster Charllote dengan memegang kalung rosarionya sambil gemetaran memejamkan mata dan berdoa memanggil Tuhan. Carol pun yang juga tidak kalah takutnya, berteriak histeris, “... Waaaaaaaaa... God.! Help Me!” [Tuhan! Tolong Aku!] Seketika itu juga, Iblis pun lenyap dari hadapan mereka. Itulah sepenggal cuplikan adegan yang ada dalam film Annabelle Creation. Sebuah fim horor yang sedang populer hari-hari ini. Ada pesan positif dalam adegan di atas, yaitu pada saat kita terdesak, ketakutan dan tidak berdaya, selalu ada Tuhan yang siap membantu kita. Elia juga mengalami hal serupa di dalam hidupnya. Di dalam 1 Raja-raja pasal 18, dikisahkan tentang perjuangan heroik Nabi Elia melawan 450 Nabi Baal. Elia sukses mengalahkan mereka dan membunuh mereka semua. Namun justru keadaan sebaliknya diceritakan dalam pasal yang ke-19. Saat mendapat ancaman dari Izebel, Elia malah ketakutan. Elia berusaha sekuat tenaga berlari menjauh dari Izebel. Dia sangat ketakutan dan gelisah mendengar ancaman ini. Satu hal yang sangat luar biasa dari kisah Elia ini adalah Tuhan tidak pernah meninggalkannya. Pada saat Elia ketakutan dan tidak berdaya, Tuhan selalu bersamanya. Tuhan memberikan penyertaan, perlindungan dan kelegaan kepada Elia. Bagaimana dengan kita? Pada saat kita pesimis akan hidup ini, kita cemas terhadap kondisi bangsa Indonesia, atau bahkan kita ragu terhadap gereja kita, ingatlah selalu ada Tuhan yang siap menolong kita! Berserulah kepada-Nya, maka Dia akan mendengar seruan kita. Jangan pernah malu untuk berseru meminta pertolongan-Nya. Jangan pernah sungkan untuk mengakui keterbatasan kita kepada-Nya. Tuhan kita bukanlah Tuhan yang tertidur. Dia adalah Tuhan yang siap untuk membantu kita di dalam segala situasi. Ingatlah, masih ada Tuhan!
Kita tidak boleh meremehkan pentingnya kekuatan perkataan. Yakobus mengatakan bahwa meskipun lidah manusia adalah bagian kecil dari bagian tubuh, tetapi lidah memiliki kekuatan untuk menimbulkan efek yang dahsyat [Yakobus 3:1-12]. Kitab Amsal mengingatkan kita bahwa ‘hidup dan mati dikuasai lidah’ [Amsal 18:21]. Bahasa yang kita pakai untuk berkomunikasi dengan sesama itu seperti sebilah pisau. Di tangan ahli bedah yang teliti dan mahir, sebilah pisau dapat digunakan untuk hal-hal yang baik. Tetapi di tangan orang ceroboh atau bodoh, pisau itu dapat menimbulkan kerusakan besar. Begitu juga dengan kata-kata. Pertama, kuasa untuk melakukan kebaikan. Alkitab mengajarkan bahwa kata-kata yang baik dapat mengangkat, memelihara dan dapat menyembuhkan hati yang luka. Amsal 16:24 mengatakan, “Perkataan yang menyenangkan adalah seperti sarang madu, manis bagi hati dan obat bagi tulang-tulang.” Kata-kata yang dipertimbangkan dengan baik dapat membantu untuk memulihkan kepercayaan diri, harapan, dan tujuan bagi suami atau isteri yang merasa kesal, kehilangan arah, dan bimbang. Contohnya, seorang suami dapat memulihkan semangat isterinya dengan berkata, “Sayang, aku menghargai kesabaranmu terhadapku akhir-akhir ini. Aku tahu bahwa aku terlalu larut dalam pekerjaanku. Aku telah menyepelekan dirimu. Kau tersakiti sementara aku terlalu sibuk dengan semuanya sekalipun semua itu juga untuk kita.” Kedua, kuasa untuk menyakiti. Orang yang terbiasa mengobral perkataan kasar biasanya tidak menyadari bahwa apa yang dikatakan itu telah menyakiti orang lain. Dibentak-bentak atau dipanggil dengan sebutan seperti “bodoh” atau “idiot”, terutama oleh pasangan sendiri, dapat menimbulkan luka yang sangat dalam selama bertahun-tahun. Kita kerap kali tidak menganggap serius kuasa lidah untuk menyerang serta kemampuannya untuk menghancurkan. Beberapa kata yang kurang enak dapat membunuh semangat pasangan atau teman kita. Amsal 12:18 menyatakan bahwa ‘ada orang yang lancang mulutnya seperti tikaman pedang’ [bnd. Yakobus 3:8; Mazmur 52:4]. Perlu bagi kita untuk menyadari bahwa kita semua memiliki “senjata” yang sangat tajam [yaitu : lidah], bagaimana kita akan menggunakannya? Hendaknya kita menggunakannya untuk membangun atau memotivasi orang-orang terdekat kita terutama dalam keluarga supaya lidah kita memberi berkat dan kehidupan yang penuh damai sejahtera. Namun demikian kita harus bersedia menerima tegoran dari lidah yang sifatnya membangun [bnd. 2 Korintus 7:8-10].
Pak Martono baru saja mengikuti pelatihan Pekabaran Injil yang diadakan oleh gerejanya. Metode yang diajarkan untuk bersaksi sangat sederhana dan orang-orang yang dijangkau lebih dahulu adalah mereka yang dalam lingkup terdekat. Setelah selesai pelatihan pak Martono sadar bahwa selama ini ia telah menyia-nyiakan waktu dan kesempatan untuk bersaksi. Ia juga menyadari kalau selama ini tidak memiliki keberanian untuk bersaksi. Setelah menyelesaikan pelatihan pak Martono berkomitmen untuk bersaksi tentang Tuhan Yesus kepada mereka yang belum mengenal Tuhan Yesus terutama yang ada di lingkungan terdekatnya. Nats bacaan hari ini berbicara tentang tugas pokok orang percaya saat menantikan Tuhan Yesus datang kembali ke dunia untuk kedua kalinya. Tugas utama orang percaya adalah bersaksi, bukan hanya sekedar menunggu dengan diam dan tidak berbuat sesuatu. Mengapa sampai saat ini orang percaya enggan untuk bersaksi tentang Tuhan Yesus meskipun kesempatan dan waktunya ada? Berikut ini merupakan hasil sharing salah satu Komcil yang membahas topik tentang bersaksi bagi Kristus. Pertama, kita tidak bersaksi tentang Kristus karena kita tidak memiliki hati dan motivasi untuk memenangkan jiwa bagi Tuhan Yesus Kristus. Kita senang menikmati keselamatan dari Tuhan Yesus untuk diri sendiri dan kita sudah merasa puas berada di zona nyaman sebab kehidupan kita di jamin oleh Tuhan Yesus. Akhirnya kita tidak pernah berpikir untuk orang lain, kita lebih senang berpikir untuk diri kita sendiri. Kedua, kita tidak tahu kepada siapa harus bersaksi tentang Tuhan Yesus. Kadangkala kerinduan untuk berbagi kehidupan dan pengalaman hidup bersama Tuhan Yesus kepada orang lain itu ada, hanya saja sering terhalang siapa orang yang harus mendengarkan kesaksian kita. Perhatikanlah sekeliling kita. Mungkin masih ada di antara keluarga kita, sahabat kita, rekan sekerja kita, teman sepergaulan kita yang belum mendengar Injil dan percaya kepada Tuhan Yesus. Ambillah langkah berani untuk bersaksi kepada mereka. Ketiga, Kita tidak bersaksi karena tidak tahu bagaimana cara dan dari mana kita harus memulainya. Mulailah dengan mendoakan pribadi-pribadi yang hendak dijangkau dan mohonlah pimpinan Tuhan. Bangunlah hubungan yang baik, kemudian ceritakanlah pengalaman-pengalaman hidup kita bersama dengan Kristus. Jika sesama kita yang sakit ataupun dalam pergumulan, tawarkan untuk mendoakannya. Sesederhana itu. Marilah kita memiliki semangat seperti pak Martono yang punya komitmen untuk bersaksi tentang Tuhan Yesus kepada orang lain. Tuhan Yesus telah mengamanatkan hal ini kepada kita dan telah memberi kuasa kepada kita untuk bersaksi.
Kita tahu bahwa beberapa gereja begitu memiliki semangat dan antusiasme yang tinggi dalam menumbuhkan iman jemaatnya dengan berbagai cara atau metode yang telah ditempuhnya. Misalnya saja kita tahu ada gereja yang menekankan doa yang luar biasa untuk membangun jemaat memiliki ketekunan dan kedekatan dengan Tuhan. Sementara di gereja lain memiliki semangat yang lain lagi. Pemuridan, misalnya. Melalui penekanan pada pembentukan karakter, diharapkan jemaatnya memiliki karakter Kristus. Sungguh membanggakan jemaat yang memiliki gairah untuk bertumbuh sebab jemaat seperti ini memiliki masa depan yang baik untuk mencapai visi dan misi gereja. Pertanyaannya: ada apa dalam semangat itu? Jawabnya adalah karena dalam semangat ada kekuatan “iman dan pengharapan” untuk menerima janji Allah sekarang dan selamanya. Oleh sebab itu tidak heran apabila penulis surat Ibrani dengan tegas menegur jemaat Yahudi yang telah menerima Kristus namun mereka mengalami kemunduran, sehingga mereka tidak memiliki pengharapan yang kuat dalam Tuhan. Sekalipun jemaat Ibrani mengalami kemunduran iman dalam Kristus [bahkan banyak yang kembali pada agama Yudaisme], tetapi menurut penulis surat Ibrani, masih ada harapan dalam Tuhan. Dengan kata lain mereka masih memiliki banyak hal yang baik yang mengandung keselamatan [ayat 9]. Artinya bahwa jemaat Ibrani belum habis, masih ada kesempatan karena Tuhan itu adil dan tetap memperhitungkan pekerjaan pelayanan dan kasih jemaat Ibrani yang ditujukan kepada Tuhan maupun kepada orang-orang kudus [ayat 10]. Hanya saja mereka masih lamban dan sulit bertumbuh [ayat 12; bnd. 5:12]. Menurut penulis surat Ibrani bahwa iman dan pengharapan adalah “saudara kembar” yang tidak terpisahkan. Sebab barangsiapa memiliki iman yang kuat, maka ia akan berdiri dalam pengharapan yang teguh. Sebaliknya barangsiapa kendor imannya, maka lemah pula pengharapannya seperti iman Abraham yang tetap memiliki pengharapan. Dan pengharapan itu tidak mengecewakan [ayat 14, 15]. Saudara kekasih Tuhan, marilah dengan rendah hati kita mengevaluasi perjalanan iman kita. Seperti apakah wajah iman kita, bagaimana pengiringan kita bahkan pelayanan kita kepada Tuhan? Semakin baikkah atau justru mengalami penurunan dan kemunduran? Tentu saudara yang tahu. Apabila sekarang saudara dalam tingkat “on fire” pertahankan. Tetapi apabila kita sedang mengalami kemunduran bahkan penurunan drastis: rasa-rasanya mau berhenti dari pelayanan; berhenti dari semangat membangun diri dalam komunitas rohani. Kita perlu jujur di hadapan Tuhan. Barangkali ada sesuatu yang merintangi pertumbuhan iman kita. Mungkin kita sedang menghadapi pencobaan dan ujian hidup yang berat. Dalam situasi seperti itu apakah kita harus mundur mengorbankan iman kita? Ataukah kita bertahan dalam iman, tetap melayani Tuhan walau berat dan terus berjalan maju sampai akhir? Tentu yang terakhir ini menjadi pilahan kita bersama. Tetap semangat!
BARCODE BBM CHANNELS
RENUNGAN HARIAN
Revolusi Mental
02 September '17
Jangan Pernah Menyerah
18 September '17
Proses
20 September '17
Copyright © 2012 All rights reserved. Designed and Developed by GIA Dr. Cipto Semarang