SEPEKAN TERAKHIR
  Minggu, 07 Februari 2016   -HARI INI-
  Sabtu, 06 Februari 2016
  Jumat, 05 Februari 2016
  Kamis, 04 Februari 2016
  Rabu, 03 Februari 2016
  Selasa, 02 Februari 2016
  Senin, 01 Februari 2016
POKOK RENUNGAN
Dengan tinggal tetap di dalam Tuhan, maka segala rupa pencobaan dan tantangan yang kita hadapi justru akan membuat kita semakin dan semakin terlatih menghadapinya.
DITULIS OLEH
Pdt. Natanael Rabono
Rohaniwan Pusat
Renungan Lain oleh Penulis:
Home  »  Renungan  »  Hidup Di Tengah Kemajemukan
Hidup Di Tengah Kemajemukan
Kamis, 23 Mei 2013 | Tema: Memiliki Karakter Kristus
Hidup Di Tengah Kemajemukan
Yosua 23:1-16
Ada suatu pemandangan yang terlihat “aneh” dan menimbulkan pertanyaan. Pada enam bulan yang lalu segerombol pepohonan bambu secara “kompak” bersama-sama agak merebah ke arah barat, kemudian waktu berjalan dan tiga bulan yang lalu segerombol bambu itu telah berubah posisi arah rebahnya ke timur. Tetapi sekarang segerombol pohon bambu itu arah rebahnya jelas terlihat ke utara. Kata banyak orang bahwa pohon bambu adalah pohon yang lentur, mudah diombang-ambingkan angin, tetapi justru kelenturan itulah letak kekuatannya. Hampir tidak pernah kita melihat pohon bambu tumbang karena diterpa angin. Oleh sebab itu kita sekarang mengerti bahwa segerombolan pepohonan bambu yang selalu berubah-ubah arah rebahnya karena sering diterpa angin kencang dari arah yang selalu bergantian, namun demikian bambu-bambu itu masih tinggal tetap di tempatnya dan bertahun-tahun tidak satu pun yang tumbang. Mengapa pepohonan bambu itu begitu kuat? Sedikitnya ada dua alasan: 1. karena pepohonan tersebut hidup lentur; 2. Karena dengan hidup bergerombol, maka akar-akarnya telah menyatu. Itulah kunci kekuatannya.

Demikianlah juga dalam isi pidato Yosua kepada bangsa Israel, Yosua mengingatkan bahwa sekarang mereka tinggal berdampingan dengan sisa-sisa bangsa-bangsa lain. Itu berarti bahwa Israel terancam keberadaannya, katakan saja masalah tradisi adat-istiadat, kepercayaan, kawin campur, dan sebagainya. Hal-hal tersebut siap mengikis Israel. Yosua memperingatkan bahwa iman mereka selalu diuji dan teruji di tengah bangsa lain yang juga berjuang mempertahankan dan ...selengkapnya »
Mazmur 145:1-13 Aku hendak mengagungkan Engkau, ya Allahku, ya Raja, dan aku hendak memuji nama-Mu untuk seterusnya dan selamanya. Setiap hari aku hendak memuji Engkau, dan hendak memuliakan nama-Mu untuk seterusnya dan selamanya. [ayat 1-2] Alkitab mengatakan: Allah Bapa menghendaki penyembah-penyembah yang benar, yang menyembah Dia dalam roh dan kebenaran [Yoh 4:23-24]. Di dunia ini ada sekitar 7 miliar manusia. Di antara sekian banyak manusia yang ada di dunia ini, Allah mencari penyembah-penyembah yang benar. Mungkin tidak banyak yang masuk dalam kriteria penyembah yang benar. Kenapa? Kebanyakan orang hanya mencari kesenangan bagi dirinya sendiri. Kebanyakan mengejar popularitas dirinya, kebanyakan mengunggulkan keangkuhan pribadinya. Mereka bukanlah penyembah-penyembah yang dikehendaki Allah Bapa. Apakah kita termasuk orang-orang yang dicari oleh Allah Bapa? Apakah Allah Bapa menemukan di dalam diri kita penyembah-penyembah yang dicari-Nya? Kalau anda ingin diperkenan Allah, akuilah Dia dan jadikan Dia sebagai Tuhan dan Rajamu. Karena Dia memang adalah Raja yang perkasa. Akui kedaulatan-Nya dalam hidupmu. Dia memang Allah yg perkasa, Allah pemenang. Allah yg telah mengalahkan kuasa dosa dan maut. Di sorga para malaikat tak henti-hentinya memuja dan menyembah Dia. Wahyu 4:9-11 berkata: ’Dan setiap kali makhluk-makhluk itu mempersembahkan puji-pujian, dan hormat dan ucapan syukur kepada Dia, yang duduk di atas takhta itu dan yang hidup sampai selama-lamanya, maka tersungkurlah kedua puluh empat tua-tua itu di hadapan Dia yang duduk di atas takhta itu, dan mereka menyembah Dia yang hidup sampai selama-lamanya. Dan mereka melemparkan mahkotanya di hadapan takhta itu, sambil berkata: ’Ya Tuhan dan Allah kami, Engkau layak menerima puji-pujian dan hormat dan kuasa; sebab Engkau telah menciptakan segala sesuatu; dan oleh karena kehendak-Mu semuanya itu ada dan diciptakan.’ Kita harus menanggalkan segala kehormatan kita. Kita persembahkan hormat bagi Dia. Jadilah penyembah2 yg benar. Jadikan Dia Rajamu. Tinggikan Dia dengan sepenuh hatimu. Kalau Dia menjadi Rajamu, maka Dia akan menjadi pembela bagimu.
Ada seorang bapak yang kepengen belajar internet, tetapi karena usianya yang sudah cukup tua membuat dirinya susah untuk memahaminya. Akhirnya si anak mencoba mengajarinya dengan perlahan-lahan. Namun bapak terus bertanya karena tidak mudeng. Si anak pun berpikir sebelum akhirnya dia menjawab. “Gini Pak. Internet itu seumpama Kerajaan Allah. Ketika kita mau menghadap Allah, kita kan harus hidup dulu. Nah, saat masih hidup itulah, kita perlu penghubung lainnya lagi, yaitu doa. Dengan doa, kita bisa cerita apa aja ke Bapa di sorga. Itu sama kayak penghubung kabel yang saya bilang tadi, mau kabel telepon, wifi, dan lain-lainnya. Sampe sini udah paham, Pak?” “Iya Nak”, jawab sang bapak. “Abis itu, ya kita perlu tahu kita mau ngomong apa ke Tuhan ‘kan ya Pak, itulah yang kita juga kita lakukan di internet. Mau ngomong apa, mau lihat apa, mau apa aja bisa di internet, sama kayak ke Tuhan. Omongan kita itu bisa sampai ke Tuhan ‘kan karena ada Roh Kudus, tuh Pak, sebagai pihak ketiga. Nah, apa yang kita lakukan di internet bisa dipenuhi juga kalau ada pihak ketiganya, yaitu gambar kayak huruf e, o, atau gambar rubah ini.” “Oh gitu ya, Nak”, kata bapak sambil manggut-manggut. “Iya, Pak. Selain itu kita bisa terhubung dengan orang lain melalui internet, sama kayak di Kerajaan Allah. Tapi hati-hati Pak, internet juga bisa jadi sumber masalah kalau digunakan sembarangan. Ada yang memakai buat kejahatan, buat hal-hal cabul, dll. Sama kayak doa yang dipakai buat memaksa Tuhan agar menuruti kehendak kita, doa yang selalu meminta tanpa pernah bersyukur, dll.” Seringkali kita memahami Kerajaan Allah itu merupakan hidup di masa yang akan datang. Padahal kita dapat menghadirkan Kerajaan Allah dalam hidup kita hari lepas hari mulai dari sekarang. Mazmur 145:13 mengatakan bahwa Kerajaan Allah itu adalah kerajaan segala abad bukan hanya di masa depan, tetapi sekarang pun kita dapat menghadirkannya. Lalu bagaimana Kerajaan Allah bisa hadir dalam hidup kita setiap hari? Pertama, kita harus hidup terlebih dahulu. Hidup bukan sekedar hidup tetapi sudah hidup baru di dalam Kristus. Kedua, ada hubungan doa yang baik. Kamunikasi lewat doa kita kepada Tuhan membawa pembaharuan dan keintiman hubungan kita dengan Tuhan. Ketiga, ada Roh Kudus yang menuntun dan membimbing kita untuk melakukan apa yang Tuhan kehendaki. Roh Kudus menyuarakan kebenaran di dalam hidup kita. Dan Roh Kudus meluruskan jalan kehidupan kita. Kerajaan Allah dapat hadir dalam hidup kita ketika hidup kita benar di hadapan Tuhan dan terpancar melalui sikap kehidupan kita. Membawa kedamaian, membawa sukacita, dan membawa perubahan yang membuat orang lain turut merasakannya.
Mendengar istilah ’Kerajaan’ tentunya orang akan membayangkan sesuatu yang besar, megah, mengagumkan, bahkan mencengangkan. Apalagi jika kerajaan itu bukan sembarang kerajaan, pasti bayangan orang akan semakin melambung tinggi bila mendengar istilah ’Kerajaan Allah’ Uniknya, Yesus Kristus mengumpamakan Kerajaan Allah itu seperti biji sesawi mungil yang ditaburkan di tanah. Bukan biji mangga atau biji-biji lain yang ukurannya lebih besar dan lebih mantap. Sebenarnya apanya yang istimewa? Ternyata meskipun biji sesawi adalah yang paling kecil dibanding segala jenis benih yang ada di bumi, apabila ia ditaburkan, ia tumbuh dan menjadi lebih besar dari pada segala sayuran yang lain dan mengeluarkan cabang-cabang yang besar, sehingga burung-burung di udara dapat bersarang dalam naungannya [Markus 4:31-32]. Kualitas itulah yang membuat Yesus memilihnya untuk menggambarkan Kerajaan Allah Kerajaan Allah diwujudkan melalui keberadaan Gereja-Nya yang hadir di tengah-tengah dunia ini. Kerajaan Allah terwujud melalui kiprah kita yang merupakan anggota Tubuh Kristus. Kerajaan Allah terwujud bukan karena kita punya keterampilan hebat mengelola gereja serta percaya diri tinggi dan bakat menonjol dalam melayani. Kerajaan Allah diwujudkan dari hal-hal yang kecil dan sederhana. Ketika umat-Nya memberi diri untuk belajar dibentuk bersama melalui Firman-Nya. Ketika umat-Nya memberi diri untuk tidak mementingkan diri sendiri dan saling mendahulukan kepentingan yang lain. Ketika umat-Nya memberi diri untuk belajar bekerjasama di dalam perbedaan. Ketika umat-Nya memberi diri untuk memahami bahwa tujuan Gereja adalah mewujudkan hadirnya Kerajaan Allah dan bukan mewujudkan ambisi masing-masing pribadi. Seperti biji sesawi yang mungil. Dijatuhkan ke tanah. Tumbuh. Semakin besar. Kuat. Bermanfaat. Bahkan menjadi tempat bernaung bagi makhluk lain. Demikianlah Gereja hadir mewujudkan Kerajaan Allah di bumi ini.
Allah adalah Roh, kehadiran-Nya bisa di mana-mana. Tidak dibatasi oleh ruangan dan waktu, dan tidak ada yang tersembunyi di mata Tuhan [Yohanes 4:34, 2 Tawarikh 16:9]. Menghayati bahwa Allah hadir di mana-mana bukan hal mudah, karena banyak yang sudah terbiasa memahami kehadiran Tuhan hanya di tempat-tempat tertentu: Bani Israel waktu dalam perjalanan di padang gurun memahami kehadiran Tuhan di dalam Kemah Suci, tepatnya di Tabut Perjanjian [Keluaran 25, 26]. Di zaman raja-raja, bangsa Israel memahami kehadiran Allah di Bait Suci [Tabernakel] yang dibangun raja Salomo [1 Raja-Raja 5; 6; 7; 8] Di zaman gereja, orang percaya sering terbiasa menghayati kehadiran Tuhan hanya di gedung gereja, tempat dilakukan ibadah [kebaktian]. Seringkali banyak orang tidak mempersoalkan dengan sungguh-sungguh ke-Mahahadiran Tuhan, sehingga tidak menyikapi dengan benar terhadap kenyataan ini. Sikap dan reaksi kita seharusnya menyadari bahwa kita hidup di wilayah pemerintahan Allah, ada hukum yang harus ditegakkan dan dipatuhi. Bagi bangsa Israel di masa Perjanjian Lama, hukum yang mereka kenal adalah hukum Taurat. Bagi orang percaya hukum kehidupan yang harus ditegakkan adalah “Kehendak Allah” [The Lord is my law]. Semua yang kita inginkan dan lakukan harus sesuai dengan kehendak Allah [Roma 12:2]. Dampak kesungguhan dalam menghayati ke-Mahahadiran Tuhan: Hidup tidak ceroboh dalam tingkah laku. Memiliki daya tahan menghadapi segala macam bahaya dan ancaman, karena kita yakin akan kasih dan kuasa Allah yang hadir dalam hidup kita. Sikap takut akan Tuhan yang dibangun dari hati yang menghormati Tuhan [Matius 10:28; 1 Petrus 1:17; Maleakhi 2:1-2]. Menghormati Tuhan tidak cukup ditunjukkan dalam sikap tubuh, kalimat doa, nyanyian, pernyataan verbal dalam ibadah di gereja, tapi dari sikap batin di manapun kita berada. Hal ini akan nampak dalam kehidupan yang kudus dan tidak bercela di hadapan Tuhan [Kejadian 17:1]. Gaya hidup yang menghormati Tuhan secara pantas dan benar harus dibiasakan. Untuk itu membutuhkan usaha dan perburuan yang serius terhadap hal-hal rohani, mendahulukan Kerajaan Allah dan Kebenaran-Nya [Matius 6:33].
BARCODE BBM CHANNELS
RENUNGAN HARIAN
Menghadirkan Kerajaan Allah
19 Januari '16
Nama-Nya Raja Damai
06 Februari '16
Bekerja Bersama Yesus
30 Januari '16
Copyright © 2012 All rights reserved. Designed and Developed by GIA Dr. Cipto Semarang