SEPEKAN TERAKHIR
  Rabu, 01 April 2015   -HARI INI-
  Selasa, 31 Maret 2015
  Senin, 30 Maret 2015
  Minggu, 29 Maret 2015
  Sabtu, 28 Maret 2015
  Jumat, 27 Maret 2015
  Kamis, 26 Maret 2015
POKOK RENUNGAN
Dengan tinggal tetap di dalam Tuhan, maka segala rupa pencobaan dan tantangan yang kita hadapi justru akan membuat kita semakin dan semakin terlatih menghadapinya.
DITULIS OLEH
Pdt. Natanael Rabono
Rohaniwan Pusat
Renungan Lain oleh Penulis:
Home  »  Renungan  »  Hidup Di Tengah Kemajemukan
Hidup Di Tengah Kemajemukan
Kamis, 23 Mei 2013 | Tema: Memiliki Karakter Kristus
Hidup Di Tengah Kemajemukan
Yosua 23:1-16
Ada suatu pemandangan yang terlihat “aneh” dan menimbulkan pertanyaan. Pada enam bulan yang lalu segerombol pepohonan bambu secara “kompak” bersama-sama agak merebah ke arah barat, kemudian waktu berjalan dan tiga bulan yang lalu segerombol bambu itu telah berubah posisi arah rebahnya ke timur. Tetapi sekarang segerombol pohon bambu itu arah rebahnya jelas terlihat ke utara. Kata banyak orang bahwa pohon bambu adalah pohon yang lentur, mudah diombang-ambingkan angin, tetapi justru kelenturan itulah letak kekuatannya. Hampir tidak pernah kita melihat pohon bambu tumbang karena diterpa angin. Oleh sebab itu kita sekarang mengerti bahwa segerombolan pepohonan bambu yang selalu berubah-ubah arah rebahnya karena sering diterpa angin kencang dari arah yang selalu bergantian, namun demikian bambu-bambu itu masih tinggal tetap di tempatnya dan bertahun-tahun tidak satu pun yang tumbang. Mengapa pepohonan bambu itu begitu kuat? Sedikitnya ada dua alasan: 1. karena pepohonan tersebut hidup lentur; 2. Karena dengan hidup bergerombol, maka akar-akarnya telah menyatu. Itulah kunci kekuatannya.

Demikianlah juga dalam isi pidato Yosua kepada bangsa Israel, Yosua mengingatkan bahwa sekarang mereka tinggal berdampingan dengan sisa-sisa bangsa-bangsa lain. Itu berarti bahwa Israel terancam keberadaannya, katakan saja masalah tradisi adat-istiadat, kepercayaan, kawin campur, dan sebagainya. Hal-hal tersebut siap mengikis Israel. Yosua memperingatkan bahwa iman mereka selalu diuji dan teruji di tengah bangsa lain yang juga berjuang mempertahankan dan ...selengkapnya »
Galatia 6:7-10 Janganlah kita jemu-jemu berbuat baik, karena apabila sudah datang waktunya, kita akan menuai, jika kita tidak menjadi lemah. [ayat 9] Nasi yang kita makan setiap hari merupakan hasil kerja keras dari petani. Untuk menghasilkan padi, mula-mula petani harus menyiapkan bibit untuk ditanam. Bibit itu disemaikan di lahan yang sudah disiapkan. Dalam dua minggu bibit itu akan tumbuh. Sementara itu si petani mengolah tanah untuk menanam bibit yang sudah tumbuh itu. Cara mengolahnya bisa dengan dicangkul, dibajak, atau memakai traktor. Setelah lahan siap, barulah menanaminya. Petani harus merawat padi dengan mengairi, memupuk, dan menyemprotkan antihama. Juga petani itu harus menjaga tanaman padinya dari berbagai macam hama seperti tikus, burung, dsb. Semuanya itu memang pekerjaan yang melelahkan. Namun ketika tiba saatnya, padi itu menghasilkan bulir-bulir yang telah menguning, maka petani itu dapat menuai hasil jerih lelahnya. Saat panen tiba, para petani bersukacita. Firman Tuhan berkata: Janganlah jemu-jemu berbuat baik, sebab jika datang waktunya kita akan menuai. Seorang tokoh gereja, A.B. Simpson berkata, ’Saya percaya jerih payah dan doa yang dipanjatkan 20 tahun yang lalu tidak akan berlalu begitu saja. Memang mungkin kita tidak dapat melihat langsung hasil karya dan pengorbanan kita sekarang ini, tetapi pada suatu saat semuanya akan nyata dalam keindahan dan kemuliaan.’ ’Kasih yang Anda berikan, pengampunan yang Anda tunjukkan, kesabaran dan ketekunan yang dikaruniakan dalam hidup Anda akan menghasilkan buah yang lebat. Orang yang Anda tuntun kepada Kristus mungkin menolak diperdamaikan dengan Allah. Hatinya mungkin terlihat sedemikian kerasnya sehingga doa dan usaha Anda terasa sia-sia belaka. Namun sesungguhnya semua itu tidak akan sia-sia, melainkan akan berhasil pada suatu saat, mungkin sesudah Anda sendiri melupakannya.’ Memang kita bisa merasa lelah dan bosan. Kita bisa putus asa melihat apa yang kita kerjakan belum ada hasilnya. Mungkin kita sudah menjadi apatis dan berhenti mengerjakan hal-hal baik yang seharusnya kita lakukan. Mari kita bangkit dan bergairah kembali. Apa yang kita lakukan di dalam Tuhan tidak akan pernah sia-sia. Pada saatnya nanti kita akan memetik hasil jerih lelah kita. Amin.
Dalam kehidupan sehari-hari ada banyak hal sederhana yang sebenarnya justru penting. Sayang banyak orang yang lupa melakukannya. Misalnya: membuang bungkus permen di tempat sampah, memberi tempat duduk pada ibu hamil atau orang tua di angkutan, bertegur sapa dengan tetangga dekat, menyingkirkan batu atau paku di jalan, hingga sekadar tersenyum pada orang yang kita kenal. Semua itu, sepertinya memang hal yang remeh/kecil, namun jika dilakukan dengan penuh ketulusan akan melahirkan banyak kebaikan. Ketika orangtua mengajarkan terima kasih kepada anaknya setelah diberi atau di tolong atau mengucapkan maaf jika melakukan kesalahan atau kekeliruan, bukankah itu sesuatu yang mengubahkan seseorang atau banyak orang. Sebab itu, kita perlu menjadi insan yang selalu mau berinisiatif, termasuk pada hal-hal remeh tersebut. Sebab dari hal yang kecil, perbuatan baik bisa terus menular. Sekadar menolong satu orang dengan perbuatan ringan akan melahirkan kebahagiaan. Apalagi jika rasa bahagia itu terus menular untuk mendorong perbuatan baik lainnya. Sehingga satu inisiatif perbuatan baik akan melahirkan contoh nyata kebaikan lainnya. Melakukan sesuatu yang baik ditengah-tengah kehidupan yang tidak baik adalah suatu tindakan yang dapat mempengaruhi keegoisaan yang semakin banyak berkembang di zaman modern ini. Merasa tidak membutuhkan sesama dan hidup independen merupakan potret yang sering kita jumpai. Oleh karenanya perbuatan yang menurut orang sepele hendaknya kita lakukan. Sebab jika kita hendak mewarnai sekeliling dengan sesuatu yang baik, maka kita harus terus berbuat baik meskipun tidak ada yang menilai. Oleh karena itu mari kita selalu penuh inisiatif untuk berbuat baik setiap hari. Lakukan hal-hal kecil yang penuh kebaikan. Lakukan setiap saat dan lakukan dengan ketulusan. Niscaya lingkungan sekitar kita akan dipenuhi keindahan ‘bunga’ kehidupan yang membahagiakan.
Keluarga bapak Karno berkomitmen untuk berbagi makanan kepada keluarga di sekitar rumahnya yang memang sebagian besar kurang mampu. Maka mereka membagikan makanan tersebut secara bergiliran sesuai dengan kemampuannya. Selang beberapa waktu ada beberapa keluarga yang mendatangi rumahnya ingin tahu mengapa mereka melakukan hal itu. Bahkan bukan sekedar ingin tahu, tetapi para tetangganya juga menceritakan permasalahan yang mereka alami. Keluarga Bapak Karno yang tulus hati mau menerima mereka dan memberikan nasihat, membantu, serta mendoakan mereka. Selang beberapa waktu menghasilkan tiga keluarga yang percaya kepada Tuhan Yesus, dibaptis, dan berkomunitas di salah satu gereja. Sebelumnya hal ini tidak pernah terbayangkan oleh keluarga Bapak Karno. Komitmen itu hanya mereka lakukan sebagai wujud dari ketaatan kepada Firman Allah tentang menjadi berkat bagi orang lain. Renungan kali ini kembali membicarakan tentang berbuat baik kepada sesama. Menabur benih kebaikan merupakan salah satu tanggapan atas segala kebaikan Allah yang telah diterima oleh setiap orang percaya. Hal itu sesuai dengan nats di dalam Efesus 2:10 yang menyatakan bahwa Allah telah merancang hidup kita untuk melakukan hal-hal yang baik demi kemuliaan nama-Nya. Berbuat kebaikan dapat kita wujudkan dengan berbagai cara tergantung kepada situasi dan kondisi yang kita hadapi serta berdasarkan kemampuan yang kita miliki. Kita tidak perlu berpikir akan hasilnya, tetapi lebih baik fokus kepada bagaimana kita melakukan kebaikan berdasarkan perintah Firman Allah. Soal menuai hasil itu merupakan pekerjaan Allah melalui Roh Kudus. Tugas dan tanggung jawab kita hanya melakukan kebaikan yang bisa kita lakukan. Itulah sebabnya lakukan mulai dari hal-hal yang kecil yang bisa kita lakukan. Misalnya: mengantar tetangga berobat ke rumah sakit, berbagi makanan, membantu orang tua menyeberang jalan, memberi tempat duduk kepada kaum lansia, dsb. Sarana untuk melakukan kebaikan sudah disediakan oleh Allah di sekitar kita. Tugas kita hanya sekedar menangkap peluang tersebut dan segera berbuat sesuatu sesuai dengan kemampuan dan yang bisa kita lakukan. Oleh sebab itu jangan jemu-jemu berbuat kebaikan meskipun sampai hari ini kita belum melihat hasilnya secara nyata. Suatu saat kita pasti akan menuai hasilnya. Bulan ini Gereja kita mengambil tema Menebar Benih Kebaikan. Sudahkah kita melakukannya? Marilah kita berkomitmen untuk terus melakukan kebaikan agar banyak sesama yang belum seberuntung kita menikmati manfaat dari buah kebaikan kita dan nama Allah dipermuliakan.
Hosea 10:12 Menaburlah bagimu sesuai dengan keadilan, menuailah menurut kasih setia! Bukalah bagimu tanah baru, sebab sudah waktunya untuk mencari TUHAN, sampai Ia datang dan menghujani kamu dengan keadilan. Sebelum mengerjakan sesuatu orang pasti akan berpikir: ’Jika aku mengerjakan ini, apa manfaatnya?’ Lebih dari itu: ’Apa manfaatnya bagi diriku?’ Orang tidak akan mengerjakan hal yang dia anggap tak berguna. Atau sekalipun dia mengerjakannya, dia akan melakukan dengan setengah hati. Kita seringkali menjadi lemah ketika kita hendak melakukan suatu perbuatan baik, karena kita bertanya: ’Apa yang aku lakukan ini ada manfaatnya? Apa manfaatnya bagi diriku? Kelihatannya cuma menguntungkan bagi orang lain dan menyusahkan diriku sendiri.’ Lalu kita urung melakukan perbuatan baik itu. Itu sebabnya banyak orang yang sempat punya keinginan untuk berbuat baik, tapi kemudian menunda atau membatalkan niatnya. Firman Tuhan berkata: Menaburlah bagimu. Perhatikan kata: ’bagimu’, berarti bagi diri kita sendiri. Jika kita menabur kebaikan maka sebenarnya kita menabur untuk kepentingan diri kita sendiri. Kita sendirilah yang akan menikmati hasilnya nanti, bukan orang lain. Firman Tuhan berkata: ’Seorang petani yang bekerja keras haruslah yang pertama menikmati hasil usahanya.’ [2 Timotius 2:6]. Benih kebaikan yang kita taburkan tidak pernah sia-sia atau terbuang dengan percuma. Keyakinan ini akan membuat kita giat untuk melakukan perbuatan baik. ’Menaburlah bagimu’ juga berarti bahwa masing-masing kita punya tanggung jawab untuk menabur benih kebaikan. Kita sendirilah yang harus menabur benih itu untuk masa depan kita. Kita sendirilah yang harus berjerih lelah untuk panen yang akan kita petik nanti, bukan orang lain. Jangan bergantung pada orang lain yang akan menabur untuk kita. Kita sendiri yang harus menabur. Jika kita ingin menuai kebaikan di masa yang akan datang, saat ini kita harus menabur benih kebaikan. Jadi, teruslah menabur benih kebaikan. Jangan jemu-jemu berbuat baik. Setiap perbuatan baik pasti akan menghasilkan buah kebaikan untuk kita tuai bagi diri kita sendiri. Tuhan memberkati kita semua.
BARCODE BBM CHANNELS
RENUNGAN HARIAN
Usahakanlah Berbuat Kebaikan
07 Maret '15
Menemukan Mujizat Berkat
28 Maret '15
Tiada Udang Dibalik Batu
09 Maret '15
Copyright © 2012 All rights reserved. Designed and Developed by GIA Dr. Cipto Semarang