SEPEKAN TERAKHIR
  Senin, 20 Februari 2017   -HARI INI-
  Minggu, 19 Februari 2017
  Sabtu, 18 Februari 2017
  Jumat, 17 Februari 2017
  Kamis, 16 Februari 2017
  Rabu, 15 Februari 2017
  Selasa, 14 Februari 2017
POKOK RENUNGAN
Dengan tinggal tetap di dalam Tuhan, maka segala rupa pencobaan dan tantangan yang kita hadapi justru akan membuat kita semakin dan semakin terlatih menghadapinya.
DITULIS OLEH
Pdt. Natanael Rabono
Rohaniwan Pusat
Renungan Lain oleh Penulis:
Home  »  Renungan  »  Hidup Di Tengah Kemajemukan
Hidup Di Tengah Kemajemukan
Kamis, 23 Mei 2013 | Tema: Memiliki Karakter Kristus
Hidup Di Tengah Kemajemukan
Yosua 23:1-16
Ada suatu pemandangan yang terlihat “aneh” dan menimbulkan pertanyaan. Pada enam bulan yang lalu segerombol pepohonan bambu secara “kompak” bersama-sama agak merebah ke arah barat, kemudian waktu berjalan dan tiga bulan yang lalu segerombol bambu itu telah berubah posisi arah rebahnya ke timur. Tetapi sekarang segerombol pohon bambu itu arah rebahnya jelas terlihat ke utara. Kata banyak orang bahwa pohon bambu adalah pohon yang lentur, mudah diombang-ambingkan angin, tetapi justru kelenturan itulah letak kekuatannya. Hampir tidak pernah kita melihat pohon bambu tumbang karena diterpa angin. Oleh sebab itu kita sekarang mengerti bahwa segerombolan pepohonan bambu yang selalu berubah-ubah arah rebahnya karena sering diterpa angin kencang dari arah yang selalu bergantian, namun demikian bambu-bambu itu masih tinggal tetap di tempatnya dan be...selengkapnya »
Mengalami Tuhan ’5 Kisah Para Rasul 9:1-20 Ia rebah ke tanah dan kedengaranlah olehnya suatu suara yang berkata kepadanya: ’Saulus, Saulus, mengapakah engkau menganiaya Aku?’ Jawab Saulus: ’Siapakah Engkau, Tuhan?’ Kata-Nya: ’Akulah Yesus yang kauaniaya itu.’ Orang yang mengalami perjumpaan dengan Tuhan pasti akan mengalami perubahan di dalam hidupnya. Saulus, seorang yang tadinya melawan Kristus dan aktif dalam membinasakan para pengikut Kristus, telah berjumpa dengan Kristus di jalan menuju Damsyik dan hidupnya berubah secara drastis. Tadinya hendak membinasakan iman kepada Kristus, setelah bertemu Kristus dia menjadi seorang yang memberitakan bahwa Yesus adalah Mesias dan Anak Allah. Saulus ada dalam perjalanan menuju Damsyik untuk menangkap orang-orang yang percaya kepada Kristus. Dia melakukan aktivitas itu dengan penuh semangat, ’dengan hati berkobar-kobar.’ Apa yang dia kerjakan itu dia kerjakan dengan sepenuh hati, seolah-olah sedang mengerjakan suatu yang ditugaskan oleh Tuhan sendiri [walaupun sebenarnya bukan]. Rupanya Tuhan tertarik dengan orang-orang semacam ini, yang mengerjakan sesuatu dengan sepenuh hati dan dengan penuh keyakinan. Tuhan ingin mengubah dan memakai orang yang seperti Saulus ini. Tuhan mengubah pikiran Saulus. Tadinya dia menganggap Yesus sebagai seorang manusia biasa. Setelah berjumpa dengan Yesus dia mengerti bahwa Yesus adalah Tuhan. Dan apa yang selama ini dia kerjakan ternyata salah. Dia telah menganiaya pengikut Yesus dan itu berarti menganiaya Yesus sendiri. Pada saat itu terjadilah perubahan di dalam dirinya. Sebelumnya semangat dan segenap energinya dia arahkan untuk sesuatu yang tidak benar, tetapi setelah bertemu dengan Yesus dia mengerahkan segenap kekuatannya untuk memberitakan Yesus sebagai Tuhan dan Juruselamat bagi segala bangsa. Setelah berjumpa dengan Yesus, Saulus mengalami perubahan total dalam hidupnya. Tuhan yang telah mengubah hidup Saulus adalah Tuhan yang masih bekerja hingga sekarang. Jika kita mengalami pengalaman yang otentik dengan Dia, maka hidup kita pun akan menjadi baru. Amin. Pdt. Goenawan Susanto
Di sebuah kampung kadang ada keanehan dan kelucuan terjadi, khususnya dalam hal melangsungkan pernikahan. Biasanya pasangan yang akan melangsungkan pernikahan yang memiliki perbedaan agama akan mengikuti keyakinan salah satu pihak, sehingga secara agama dinyatakan sah dan kemudian bisa melanjutkan proses secara hukum ke pemerintah. Namun hal yang sangat berbeda pernah terjadi, yaitu kedua orang calon mempelai memiliki kepercayaan yang berbeda, lucunya mereka tidak melangsungkan pernikahan dengan salah satu tatacara kepercayaan mereka. Tetapi justru memilih kepercayaan yang berbeda dari keduanya. Mereka tidak tahu-menahu tentang kepercayaan yang menjadi landasan pernikahannya. Dalam pikiran mereka yang penting nikah. Ilustrasi tersebut menggambarkan bahwa dunia yang semakin modern menjadikan sebagian orang merasa tidak penting bagaimana melandasi kehidupan sebuah keluarga dengan landasan yang jelas. Seseorang tidak perlu mengalami Tuhan dalam kehidupannya secara pribadi untuk mendapatkan suatu yang mereka anggap sebagai “kebahagiaan”. Proses yang seharusnya dilewati untuk mencapai tujuan, dilalui secara instan. Semakin banyak orang meninggalkan kepercayaan dengan mudah untuk mendapatkan sesuatu yang mereka anggap lebih penting. Kepercayaan kepada Tuhan yang mana tidak lagi menjadi fokus dan sentral dalam melewati perjalanan kehidupan. Lantas bagaimanakan dengan kita sebagai orang yang percaya? Masihkah kita mengalami Tuhan sebagai titik pusat kehidupan kita sebagai murid Kristus? Kisah perjalanan Elia menuju ke gunung Horeb karena ia melarikan diri dari kejaran Izebel, istri Raja Ahab yang hendak membunuhnya. Di tengah-tengah keletihannya, ia berseru kepada Tuhan, apa yang harus ia kerjakan. Namun Tuhan tidak memberikan jawabannya secara langsung. Tuhan menyuruh Elia berdiri di atas gunung. Maka terjadilah angin besar dan kuat, lalu gempa bumi, dan api. Namun Tuhan tidak ada di situ. Sesudah itu barulah bunyi angin sepoi-sepoi basah, dan segera Elia mendengar suara Tuhan. Ia mengalami Tuhan secara pribadi dan ia mendapatkan pesan dan perintah untuk tetap melanjutkan perjalanannya. Jemaat yang terkasih, mari kita belajar untuk terus mengalami Tuhan melalui proses yang telah dibuat-Nya. Tuhan selalu menyatakan kehadiran-Nya tatkala kita telah siap membuka hati dan hidup kita untuk mengalami-Nya. Tuhan selalu membawa kita dalam setiap persekutuan-Nya ketika kita merendahkan hati dan siap mendengar suara-Nya.
Memasuki awal tahun yang baru ini, tentu kita juga menginginkan kehidupan yang lebih baik dari tahun-tahun sebelumnya dengan menyusun rencana-rencana yang akan kita kerjakan. Mungkin ada kegagalan-kegagalan yang kita alami di tahun sebelumnya yang membuat kita ingin memperbaikinya. Kita mencoba membuat daftar hal-hal yang akan kita lakukan di tahun baru dan berusaha melakukannya. Atau istilah lain yang kita kenal adalah “resolusi tahun baru”. Resolusi tahun baru dibuat karena adanya rasa kurang puas akan sesuatu hal yang ada pada diri manusia sehingga muncul niatan untuk memperbaikinya. Orang dunia membuat resolusi tahun baru menurut standarnya sendiri, tetapi kita sebagai orang Kristen harus bisa berbeda dengan orang dunia. Sebagai orang Kristen, resolusi tahun baru hendaklah berkaitan dengan bagaimana cara kita mengasihi Tuhan dan sesama manusia. Apakah kita sudah berhasil mengasihi Tuhan dan sesama kita ataukah kita telah gagal. Di dalam Alkitab tertulis bahwa tidak mungkin seseorang dapat berubah hanya dengan mencoba lebih keras dan berkomitmen lebih banyak. Tindakan kita dipengaruhi oleh hati kita dan bukan oleh komitmen kita yang logis. Kita tidak memiliki kekuatan untuk mengubah diri kita sendiri dari hal-hal yang buruk, kecuali oleh pertolongan anugerah dan pekerjaan dari Roh kudus yang mengubahkan kita dan memampukan kita untuk mengasihi Tuhan dan sesama manusia. Mari kita sebagai orang Kristen menyadari bahwa untuk mengubah diri menjadi orang yang lebih memuliakan Tuhan, kita harus bergantung seutuhnya kepada Tuhan yang mampu menolong kita untuk melakukan resolusi yang benar sesuai dengan kehendak-Nya, dan dengan tujuan untuk mempermuliakan nama Tuhan.
Mengalami Tuhan ’3 1 Samuel 3:1-10 Lalu datanglah TUHAN, berdiri di sana dan memanggil seperti yang sudah-sudah: ’Samuel! Samuel!’ Dan Samuel menjawab: ’Berbicaralah, sebab hamba-Mu ini mendengar.’ [ayat 10] Kita perlu mendengar suara Tuhan karena Dia adalah Gembala Agung kita. Domba-domba harus mendengar suara gembalanya dan dapat membedakan suara gembalanya dari suara orang lain. Samuel yang masih sangat muda belum mengenal Tuhan, sehingga tidak mengenal suara-Nya pada waktu Tuhan memanggilnya. Setelah dia diberi tahu oleh imam Eli, barulah dia tahu bahwa suara yang memanggilnya itu adalah suara Tuhan. Rick Warren, penulis buku Purpose Driven Life, berkata: ’Kita sering tidak mendengar suara Tuhan karena kita tidak memberi perhatian.’ Kita sering tidak mendengar suara Tuhan karena pikiran kita dipenuhi dengan banyak hal lain selain Tuhan. Mungkin pikiran kita sedang dipenuhi oleh kekuatiran, atau dipenuhi oleh ketamakan akan materi, atau dipenuhi oleh hobi atau kesenangan kita, dan lain sebagainya. Kita tidak memberi perhatian atau menyediakan waktu untuk mendengar suara Tuhan. Sebenarnya Tuhan ingin berkomunikasi dengan kita. Tuhan ingin sekali berbicara dengan kita. Bahkan Dia sudah menunggu kapan bisa berbicara kepada kita. Tetapi kita sulit untuk diajak bicara. Kita terlalu sibuk dengan diri kita sendiri atau dengan urusan-urusan lain yang kita anggap penting. Kita tidak menyediakan diri kita untuk Tuhan berbicara kepada kita. Kita harus menyediakan diri kita dan berkata: ’Ini aku Tuhan. Berbicaralah. Aku siap untuk mendengar.’ Ambillah waktu untuk berdiam diri. Ambillah sikap mendengar. Nantikanlah Dia berbicara kepada kita. Seringkali Dia berbicara dengan suara yang lembut. Tapi kalau hati dan jiwa kita siap untuk mendengarnya, selembut apapun suara-Nya, kita pasti dapat mendengarnya. Jika kita terbiasa mendengar suara Tuhan, maka kita dapat selalu mengikuti pimpinan-Nya. Kalau kita mendengar suara-Nya kita terbebas dari kekuatiran. Kalau kita mendengar suaranya kita tidak perlu takut salah jalan di dalam hidup ini. Belajarlah mendengar suara Tuhan. Pdt. Goenawan Susanto
BARCODE BBM CHANNELS
RENUNGAN HARIAN
Menjadi Ciptaan Baru
18 Februari '17
Ujaran Kebencian
02 Februari '17
Tetaplah di Dalam Yesus
11 Februari '17
Copyright © 2012 All rights reserved. Designed and Developed by GIA Dr. Cipto Semarang