SEPEKAN TERAKHIR
  Kamis, 23 November 2017   -HARI INI-
  Rabu, 22 November 2017
  Selasa, 21 November 2017
  Senin, 20 November 2017
  Minggu, 19 November 2017
  Sabtu, 18 November 2017
  Jumat, 17 November 2017
POKOK RENUNGAN
Dengan tinggal tetap di dalam Tuhan, maka segala rupa pencobaan dan tantangan yang kita hadapi justru akan membuat kita semakin dan semakin terlatih menghadapinya.
DITULIS OLEH
Pdt. Natanael Rabono
Rohaniwan Pusat
Renungan Lain oleh Penulis:
Home  »  Renungan  »  Hidup Di Tengah Kemajemukan
Hidup Di Tengah Kemajemukan
Kamis, 23 Mei 2013 | Tema: Memiliki Karakter Kristus
Hidup Di Tengah Kemajemukan
Yosua 23:1-16
Ada suatu pemandangan yang terlihat “aneh” dan menimbulkan pertanyaan. Pada enam bulan yang lalu segerombol pepohonan bambu secara “kompak” bersama-sama agak merebah ke arah barat, kemudian waktu berjalan dan tiga bulan yang lalu segerombol bambu itu telah berubah posisi arah rebahnya ke timur. Tetapi sekarang segerombol pohon bambu itu arah rebahnya jelas terlihat ke utara. Kata banyak orang bahwa pohon bambu adalah pohon yang lentur, mudah diombang-ambingkan angin, tetapi justru kelenturan itulah letak kekuatannya. Hampir tidak pernah kita melihat pohon bambu tumbang karena diterpa angin. Oleh sebab itu kita sekarang mengerti bahwa segerombolan pepohonan bambu yang selalu berubah-ubah arah rebahnya karena sering diterpa angin kencang dari arah yang selalu bergantian, namun demikian bambu-bambu itu masih tinggal tetap di tempatnya dan bertahun-tahun tidak satu pun yang tumbang. Mengapa pepohonan bambu itu begitu kuat? Sedikitnya ada dua alasan: 1. karena pepohonan tersebut hidup lentur; 2. Karena dengan hidup bergerombol, maka akar-akarnya telah menyatu. Itulah kunci kekuatannya.

Demikianlah juga dalam isi pidato Yosua kepada bangsa Israel, Yosua mengingatkan bahwa sekarang mereka tinggal berdampingan dengan sisa-sisa bangsa-bangsa lain. Itu berarti bahwa Israel ter...selengkapnya »
Seorang ibu pedagang tembakau keliling, yang suaminya hanya seorang pekerja serabutan, memiliki empat orang anak. Walaupun mereka hanya bekerja apa adanya, namun mereka mempunyai keinginan yang sangat besar untuk anak-anaknya kelak menjadi orang berhasil. Maka mereka berusaha menyekolahkan anaknya setinggi mungkin. Secara manusiawi mereka tidak mungkin melakukan semuanya itu, tetapi karena IMANnya kepada Kristus, mereka berani melakukannya. Dan hasilnya adalah semua anaknya telah menyelesaikan studi kesarjanaanya dan telah bekerja semua. Salah satu peristiwa luar biasa yang pernah dialami adalah ketika anak nomer 2 dan nomer 3 yang kuliah bersamaan membutuhkan biaya untuk kuliah dan kos. Mereka tidak memiliki uang sama sekali, IMAN dan DOA luar biasa dipraktikkan oleh orangtua ini. Dan Tuhan luar biasa mengatur berkat untuk mereka. Hari itu ibu tersebut mendapatkan pesanan tembakau yang sangat banyak, dan suaminya juga mendapat pesanan mengangkat barang dari mobil truk ke gudang. Dalam waktu 3 hari mereka dapat mengumpulkan uang yang dibutuhkan. Setiap orang pasti menginginkan peristiwa yang luar biasa dalam hidupnya. Namun kebanyakan orang tidak mau menerima proses dalam hidupnya untuk menuju peristiwa luar biasa itu. Peristiwa luar biasa itu telah dialami oleh suami istri dalam kisah di atas. Mereka mampu melihat berkat Allah karena keberaniannya melangkah dengan IMAN dan DOA. Peristiwa luar biasa juga pernah di alami oleh Zakharia dan Elisabet. Mereka sadar bahwa Allah yang mereka layani dan sembah adalah Pribadi yang ajaib dan penuh kuasa untuk melakukan perkara-perkara yang mustahil. Namun tetap saja hal tersebut tidak dapat meyakinkan Zakharia untuk mempercayai rancangan Tuhan dalam hidupnya, yaitu tentang hadirnya seorang anak di usia tuanya [ayat 13-20]. Kadang kita sebagai orang percaya juga berlaku demikian. Kita rajin ke gereja setiap hari, menjadi aktivis gereja, dan sebagainya, namun ketika diperhadapkan dengan kemustahilan, kita mulai meragukan kemahakuasaan Allah. Ingatlah bahwa keajaiban atas kemustahilan dimulai dari keterbatasan logika manusia [ayat 7]. Jadi pernyataan “mengalami peristiwa luar biasa karena Allah” tidak akan pernah terjadi dalam kehidupan orang percaya jika tidak ada penyerahan diri sepenuhnya dengan IMAN dan DOA kepada Allah. Penyerahan diri tersebut adalah menyerahkan sepenuhnya keterbatasan kita kepada Allah, yang kemudian disertai dengan membayar harga, yaitu melakukan tindakan nyata apa yang kita gumulkan. Mari kita mengalami peristiwa luar biasa melalui iman kita bahwa tidak ada yang mustahil bagi Tuhan.
Pada Olimpiade 2012 di London, ada pemandangan yang tak biasa di lintasan lari. Seorang pelari bernama Oscar Pistorius menarik perhatian penonton karena tidak memiliki kaki dan berlari menggunakan dua buah kaki palsu yang terbuat dari serat karbon. Walau tidak mendapat medali, dia mencatat waktu tercepat ke 13 dari 49 peserta. Ketika di Paralimpiade 2012 di London, dia mendapat medali emas di lari estafet 4 x 100 meter. Dia lahir tanpa tulang fibula [betis], sehingga pada usia 11 tahun kedua kakinya diamputasi sampai lutut. Di tengah kekurangan secara fisik dan kesulitan yang dihadapi, dia tekun untuk berlatih lari dengan kaki palsunya. Dia tekun dan disiplin dalam berlatih sesuai aturan-aturan yang diharuskan bagi pelari. Karena ketekunannya, dia berhasil menjadi juara pada usia 25 tahun. Setiap orang percaya harus meninggalkan beban dosa dan dengan tekun berlomba dalam kehidupan yang diwajibkan. Walaupun banyak rintangan dan kesulitan tetap harus dilakukan dengan mata yang tertuju kepada Kristus yang membawa iman kita kepada kesempurnaan. Dia yang mengabaikan kehinaan, tekun memikul salib sebagai ganti sukacita yang disediakan bagi-Nya. Sekarang Dia duduk di sebelah kanan tahta Allah. Jangan kita menjadi lemah dan putus asa karena dalam pergumulan kita melawan dosa belum sampai mencucurkan darah. Sebagai manusia, masing-masing kita mempunyai kekurangan, tetapi tetaplah tekun dalam melatih diri untuk menang dalam perlombaaan hidup. Dalam menghadapi tantangan dibutuhkan ketekunan untuk mengalami Tuhan setiap hari melalui perenungan Firman-Nya. Di tengah kesulitan dan himpitan, tetaplah mata rohani kita tertuju kepada Kristus yang akan menyempurnakan iman kita. Jangan kita putus asa dan kehilangan iman di tengah penderitaan, ingatlah bahwa penderitaan kita belum sebanding dengan penderitaan-Nya.
Beberapa tahun terakhir ini dunia dihebohkan dengan kemunculan “paham” dan tindakan ISIS/IS yang membuat banyak orang mengecam dan mengutuk mereka. Namun tidak sedikit juga orang yang mengikuti paham tersebut dan bergabung untuk melakukan tindakan-tindakan yang dianggap orang sebagai “teror”. Meskipun kelompok tersebut dipandang melakukan teror, tetapi mereka sendiri menanggapi hal itu sebagai tindakan berdasarkan keyakinan yang benar. Membunuh orang lain yang tidak sepaham, bahkan melakukan bom bunuh diri yang dipandang sebagai tindakan diluar “nalar”, namun faktanya yang menjadi pengikutnya bukanlah orang-orang yang berintelektual rendah. Apa yang dilakukan pengikut ISIS/IS ini karena keyakinan mereka, dan mereka bertindak. Bahkan sebuah majalah menuliskan bahwa orang-orang yang berpengaruh di dunia pemimpin IS adalah sebagai salah satu orang yang berpengaruh di dunia. Keyakinan, menurut kamus bahasa Indonesia artinya kepercayaan dengan sungguh-sungguh. Bacaan Alkitab di atas menyatakan keyakinan Paulus tentang janji Allah, tentang kemuliaan yang akan diberikan bagi orang-orang yang percaya. Keyakinan ini membawa Paulus tidak memperdulikan segala tantangan dan masalah yang dihadapinya dalam perjalanan pengiringan dan pelayanannya kepada Allah sekalipun ada banyak penderitaan dan pergumulan hidup yang dihadapi [Roma 8:35-37], sekalipun harus menghadapi kematian [2 Timotius 4:6-7]. Bagaimana dengan keyakinan kita kepada Allah di dalam Yesus Kristus? Apakah kita sudah hidup sesuai dengan keyakinan kita? Mari sebagai umat Allah, kita mau hidup sesuai dengan apa yang menjadi keyakinan kita, sehingga melalui kehidupan kita nama Tuhan Yesus dikenal dan dipermuliakan banyak orang.
Pada umumnya semakin bertambah usia seseorang, kemampuannya semakin berkurang. Baik kemampuan fisik, intelegensi, maupun emosional. Tapi Bapak yang satu ini luar biasa menurut saya. Tahun ini usianya 90 tahun, usia yang jarang dicapai oleh kebanyakan orang. Kemampuan fisiknya memang semakin berkurang seiring dengan bertambahnya usia, namun kemampuan intelegensinya tidak kalah dengan orang-orang muda. Semangatnya dalam mempelajari banyak hal mengalahkan kami yang jauh lebih muda. Beliau memiliki prinsip selagi masih diberi nafas hidup, apapun hal positif yang diketahuinya, akan dibagikan kepada orang lain. Keinginan dan cita-citanya itu dituangkan dalam sebuah buku harian yang diberi judul “Hidupku harus bermakna”. Melihat hidupnya, pandangan-pandangannya, prinsip-prinsipnya, saya seperti diingatkan bahwa semakin bertambah usia kita dalam mengenal Tuhan, seharusnya semakin banyak hal yang ingin kita ketahui tentang-Nya. Jangan merasa cukup dengan apa yang sudah kita ketahui saat ini; jangan merasa “tua” untuk menggali Firman Tuhan; jangan pernah merasa sudah tahu akan semua Firman Tuhan. Semakin kita mengenal Firman-Nya, semakin banyak hal baru yang akan kita ketahui. Semakin banyak waktu yang kita gunakan untuk menggumuli Firman-Nya, semakin banyak hikmat yang akan kita peroleh. Dan pengenalan terus menerus akan Firman Tuhan akan memberi pengertian tentang takut akan Tuhan [ayat 5], memelihara jalan orang-orang yang setia [ayat 8], mengerti tentang kebenaran, keadilan dan kejujuran [ayat 9]. Lalu setelah itu apakah pengenalan kita akan kebesaran kasih-Nya, akan kedahsyatan kuasa-Nya, akan pengorbanan-Nya yang besar bagi kita, akan pertolongan-Nya yang tidak pernah terlambat, akan kebaikan-Nya yang terus menerus melimpah dalam hidup kita, hanya kita nikmati sendiri? Terlalu sayang menyimpan semua itu bagi kita pribadi karena di sekeliling kita masih banyak orang yang memerlukan anugerah-Nya. Selama kita masih diberi kesempatan untuk menikmati anugerah-Nya, pakailah setiap kesempatan yang ada untuk mengabarkan tentang segala kebaikan Tuhan bagi mereka yang belum mengenal-Nya. Banyak cara bisa kita pakai untuk menceritakan kebaikan-Nya, supaya apa yang kita tahu tentang Dia, semua orang juga bisa mengetahuinya. Dan “hidupku harus bermakna” biarlah menjadi kerinduan kita juga selama kita hidup.
BARCODE BBM CHANNELS
RENUNGAN HARIAN
Kelegaan/Ketenangan Jiwa Yang Sejati
13 November '17
Mencari Yang Terhilang
18 November '17
Kuasai Diri
01 November '17
Copyright © 2012 All rights reserved. Designed and Developed by GIA Dr. Cipto Semarang