SEPEKAN TERAKHIR
  Sabtu, 25 Oktober 2014   -HARI INI-
  Jumat, 24 Oktober 2014
  Kamis, 23 Oktober 2014
  Rabu, 22 Oktober 2014
  Selasa, 21 Oktober 2014
  Senin, 20 Oktober 2014
  Minggu, 19 Oktober 2014
POKOK RENUNGAN
Dengan tinggal tetap di dalam Tuhan, maka segala rupa pencobaan dan tantangan yang kita hadapi justru akan membuat kita semakin dan semakin terlatih menghadapinya.
DITULIS OLEH
Pdt. Natanael Rabono
Rohaniwan Pusat
Renungan Lain oleh Penulis:
Home  »  Renungan  »  Hidup Di Tengah Kemajemukan
Hidup Di Tengah Kemajemukan
Kamis, 23 Mei 2013 | Tema: Memiliki Karakter Kristus
Hidup Di Tengah Kemajemukan
Yosua 23:1-16
Ada suatu pemandangan yang terlihat “aneh” dan menimbulkan pertanyaan. Pada enam bulan yang lalu segerombol pepohonan bambu secara “kompak” bersama-sama agak merebah ke arah barat, kemudian waktu berjalan dan tiga bulan yang lalu segerombol bambu itu telah berubah posisi arah rebahnya ke timur. Tetapi sekarang segerombol pohon bambu itu arah rebahnya jelas terlihat ke utara. Kata banyak orang bahwa pohon bambu adalah pohon yang lentur, mudah diombang-ambingkan angin, tetapi justru kelenturan itulah letak kekuatannya. Hampir tidak pernah kita melihat pohon bambu tumbang karena diterpa angin. Oleh sebab itu kita sekarang mengerti bahwa segerombolan pepohonan bambu yang selalu berubah-ubah arah rebahnya karena sering diterpa angin kencang dari arah yang selalu bergantian, namun demikian bambu-bambu itu masih tinggal tetap di tempatnya dan bertahun-tahun tidak satu pun yang tumbang. Mengapa pepohonan bambu itu begitu kuat? Sedikitnya ada dua alasan: 1. karena pepohonan tersebut hidup lentur; 2. Karena dengan hidup bergerombol, maka akar-akarnya telah menyatu. Itulah kunci kekuatannya.

Demikianlah juga dalam isi pidato Yosua kepada bangsa Israel, Yosua mengingatkan bahwa sekarang mereka tinggal berdampingan dengan sisa-sisa bangsa-bangsa lain. Itu berarti bahwa Israel terancam keberadaannya, katakan saja masalah tradisi adat-istiadat, kepercayaan, kawin campur, dan sebagainya. Hal-hal tersebut siap mengikis Israel. Yosua memperingatkan bahwa iman mereka selalu diuji dan teruji di tengah bangsa lain yang juga berjuang mempertahankan dan ...selengkapnya »
Mazmur 112:1-10 Mujur orang yang menaruh belas kasihan dan yang memberi pinjaman, yang melakukan urusannya dengan sewajarnya (Ayat 5). Ia membagi-bagikan, ia memberikan kepada orang miskin; kebajikannya tetap untuk selama-lamanya, tanduknya meninggi dalam kemuliaan (Ayat 9). Di Israel ada dua danau besar, yaitu Danau Galilea dan Laut Mati (sebenarnya danau, namun karena sangat luas disebut laut). Dua danau itu mempunyai perbedaan yang sangat kontras. Danau Galilea merupakan sumber penghidupan bagi penduduk sekitarnya karena mempunyai banyak ikan. Sementara di Laut Mati tidak ada satupun makhluk yang bisa hidup di dalamnya, karena mengandung kadar garam yang sangat tinggi. Danau Galilea menerima pasokan air dari bukit Hermon, lalu menyalurkan airnya keluar melalui Sungai Yordan, sedangkan Laut Mati hanya menerima pasokan air tetapi tidak menyalurkannya keluar. Akibatnya kadar garamnya sangat tinggi dan tidak memungkinkan ikan hidup di dalamnya. Itu adalah gambaran dari kehidupan kita. Jika kita hanya menerima berkat saja dan tidak menyalurkannya, maka kita akan menjadi seperti Laut Mati. Hidup kita akan menjadi kering dan gersang karena tidak menjadi berkat bagi orang lain. Sedangkan jika kita menerima berkat dan menyalurkannya, maka kita akan menjadi seperti Danau Galilea. Ada kehidupan di dalamnya dan menghidupi banyak orang. Orang yang murah hati akan selalu bergairah dan punya semangat hidup. Tuhan berjanji untuk orang yang melakukan kebajikan dan kemurahan, bahwa mereka akan mengalami kemujuran (ayat 5). Kemujuran berarti Tuhan akan mendatangkan hal-hal yang baik untuk orang yang bermurah hati. Juga Tuhan akan mengangkat martabat (disimbolkan dengan tanduk) orang yang suka berbagi (ayat 9). Di dalam Matius 5:7 juga dikatakan: ”Berbahagialah orang yang murah hatinya, karena mereka akan beroleh kemurahan.” Hukum rohani tentang tabur tuai pasti berlaku di dalam hidup ini. Apa yang kita tabur itulah yang kita tuai. Jika kita menabur kemurahan maka kita pun akan menuai kemurahan juga. Oleh karena itu, jemaat Tuhan, milikilah hati yang suka berbuat kebajikan. Galatia 6:9-10 mengatakan: ”Janganlah kita jemu-jemu berbuat baik, karena apabila sudah datang waktunya, kita akan menuai, jika kita tidak menjadi lemah. Karena itu, selama masih ada kesempatan bagi kita, marilah kita berbuat baik kepada semua orang, tetapi terutama kepada kawan-kawan kita seiman.” Amin.
Johnny seorang manager sebuah perusahaan tekstil duduk termenung di ruang kantornya. Ia yang seorang aktivis sebuah gereja sedang galau karena kebutuhan yang harus segera dipenuhinya. Dua orang anaknya yang bersamaan masuk perguruan tinggi dan menengah atas membutuhkan biaya yang sangat besar. Tabungannya telah terkuras habis untuk perbaikan rumah yang rusak karena badai topan. Imannya mengatakan bahwa Tuhan pasti akan menyediakan apa yang menjadi kebutuhannya tetapi hatinya tetap gelisah juga. Tiba-tiba dia dikejutkan dengan pintu ruangan yang diketuk, seorang anak buahnya dengan muka sedih berkata dengan terbata-bata, “Maaf Pak, saya mengganggu. Anak saya dirawat di rumah sakit, demam berdarah dan cukup serius. Saya butuh dana untuk biaya anak saya. Bolehkah saya pinjam pribadi kepada Bapak karena saya sudah tidak bisa pinjam lagi di koperasi.” Dia mengeluarkan dompetnya dan berkata, “Ini saya ada uang, mungkin jumlahnya tidak banyak. Pakai saja, tidak perlu dikembalikan.” Ia tetap murah hati walaupun sedang dalam masalah. Jemaat Makedonia, walaupun sedang dalam masalah yang sangat berat dan hidup dalam kemiskinan tetapi dengan sukacita menyatakan kemurahan hatinya dengan memberikan bantuan kepada pelayanan pekerjaan Tuhan. Mereka memberikan melebihi kemampuan mereka dan mendesak Rasul Paulus untuk mau menerima pemberian mereka. Hal itu bisa terjadi karena mereka merasa berhutang kepada Tuhan yang telah lebih dahulu menyatakan kemurahan hati-Nya kepada mereka. Untuk menyatakan kemurahan hati dalam keadaan baik dan berkecukupan akan sangat mudah, tetapi Tuhan ingin kita dalam keadaan kesulitan tetap murah hati. Yesus telah memberi teladan kepada kita. Di saat tidak disukai oleh pemimpin-pemimpin agama dan dipersulit pelayanan-Nya, Dia tetap murah hati dengan memberi makan yang lapar, menyembuhkan yang sakit, membangkitkan yang mati, memberi penghiburan pada yang susah. Marilah sebagai murid Yesus, kita bermurah hati dalam segala keadaan.
Kisah Para Rasul 9:36-42 Di Yope ada seorang murid perempuan bernama Tabita dalam bahasa Yunani Dorkas. Perempuan itu banyak sekali berbuat baik dan memberi sedekah. (Ayat 36b) Tabita adalah seorang biasa. Alkitab menyebut identitasnya hanya sebagai seorang murid perempuan. Dia bukan seorang nyonya atau istri dari seorang terkemuka. Dia juga bukan seorang pengusaha atau seorang kaya. Kemungkinan dia seorang single atau seorang janda. Mungkin dia seorang yang hidup secara sederhana. Tapi ada sesuatu yang istimewa di dalam dirinya. Dia adalah seorang murid yang benar-benar melakukan ajaran Tuhan Yesus. Firman Tuhan berkata: ”Ibadah yang murni dan yang tak bercacat di hadapan Allah, Bapa kita, ialah mengunjungi yatim piatu dan janda-janda dalam kesusahan mereka, dan menjaga supaya dirinya sendiri tidak dicemarkan oleh dunia.” (Yakobus 1:27) Tabita menerapkan gambaran tentang seorang perempuan yang penuh hikmat: ”Tangannya ditaruhnya pada jentera, jari-jarinya memegang pemintal. Ia memberikan tangannya kepada yang tertindas, mengulurkan tangannya kepada yang miskin”. (Amsal 31:19-20) Tabita banyak melakukan kemurahan hati kepada orang-orang yang miskin, terutama janda-janda yang tidak mampu. Ia membuatkan pakaian bagi mereka. Dia menjahit dengan tangannya sendiri pakaian-pakaian itu, lalu dia berikan kepada yang membutuhkan. Hidupnya sangat berarti bagi banyak orang, sehingga pada waktu ia meninggal banyak orang merasa kehilangan dan menangisi kepergiannya. Hidup Tabita berarti bukan hanya bagi orang-orang miskin yang pernah dibantunya, tetapi juga berarti bagi Tuhan. Firman Tuhan berkata bahwa apa yang kita perbuat bagi orang-orang kecil kita telah melakukannya untuk Tuhan (Matius 25:40). Itulah sebabnya ketika Tabita meninggal, Tuhan berkenan membangkitkan dia dari kematian. Tuhan mendengar permohonan orang-orang yang mengasihinya. Apakah hidup kita juga berarti bagi banyak orang? Apakah ketika kita meninggal nanti banyak orang akan merasa kehilangan? Atau sebaliknyakah yang terjadi? Hidup kita menyusahkan banyak orang. Ketika kita meninggal, banyak orang merasa lega karena sudah berkurang satu orang yang sering membuat masalah. Termasuk yang manakah hidup anda?
Masih ingatkah kita dengan film, “Terminator 2: The Judgment Day”, yang dibintangi oleh Arnold Schwarzenegger, Linda Hamilton, Edward Furlong, dan Robert Patrick yang dirilis tahun 1991? Di dalam film tersebut diceritakan tentang sesosok robot Terminator yang dikirim dari masa depan untuk melindungi seorang anak yang bernama John Connor dari ancaman pembunuhan robot yang terbuat dari logam cair yang bernama T-1000. John Connor diburu dan diancam untuk dibunuh oleh T-1000,karena di masa depan, John Connor menjadi orang yang akan memusnahkan robot-robot jahat dan akan menghakimi para tokoh jahat di balik munculnya para robot jahat. Yang menarik dari kisah ini adalah tentang perjuangan sosok terminator yang dengan setia melindungi dan mendampingi John Connor. Jauh-jauh dikirim dari masa depan, sang terminator rela mengorbankan dirinya agar John Connor tetap hidup, sekalipun harus dibayar dengan nyawa sang terminator. Kehadirannya bukan semata untuk kepentingan pribadinya, melainkan untuk memastikan orang lain merasa damai. Jika dibahasakan dalam “bahasa rohani”, kehadirannya memberi berkat bagi orang lain. Kisah Abraham mirip dengan kisah di atas. Abraham dipanggil dan dipilih Tuhan untuk melakukan misi yang mulia, yaitu untuk menjadi berkat bagi segala bangsa. Tuhan memanggil Abraham untuk “merantau” keluar dari tanah kelahirannya. Panggilan itu bukan semata-mata adalah jalan Tuhan untuk memberkati Abraham saja. Di dalam pemanggilan itu tersimpan amanat yang tidak kalah luar biasanya, yaitu Tuhan ingin menjadikan Abraham beserta keturunannya menjadi saluran berkat bagi semua bangsa. Cakupan atau ruang lingkup misi Abraham ini tidak terbatas hanya di kalangan tertentu saja. Alkitab mencatat di dalam Kejadian 12:3, “... dan olehmu semua kaum di muka bumi akan mendapat berkat.” Artinya, misi dan janji Allah pada Abraham untuk menjadi berkat berada di dalam cakupan yang tidak terbatas, tanpa ada pembatasan dan tanpa ada diskriminasi. Bagaimana dengan kita? Apakah kehadiran kita sudah menjadi berkat bagi semua orang? Ataukah kehadiran kita justru menjadi batu sandungan? Tuhan telah memilih kita keluar dari kegelapan untuk menjadi anak-anak terang. Kita telah dipilih Tuhan untuk menjadi umat pilihan-Nya, dan di dalam panggilan itu tersisip sebuah misi mulia, yaitu untuk menjadi berkat bagi semua orang. Mari Laksanakan!
BARCODE BBM CHANNELS
RENUNGAN HARIAN
Zakheus Dan Janda Miskin
14 Oktober '14
Kemurahan Hati Adalah Panggilan
23 Oktober '14
Apa Hubungannya?
17 Oktober '14
Copyright © 2012 All rights reserved. Designed and Developed by GIA Dr. Cipto Semarang