SEPEKAN TERAKHIR
  Rabu, 25 Mei 2016   -HARI INI-
  Selasa, 24 Mei 2016
  Senin, 23 Mei 2016
  Minggu, 22 Mei 2016
  Sabtu, 21 Mei 2016
  Jumat, 20 Mei 2016
  Kamis, 19 Mei 2016
POKOK RENUNGAN
Dengan tinggal tetap di dalam Tuhan, maka segala rupa pencobaan dan tantangan yang kita hadapi justru akan membuat kita semakin dan semakin terlatih menghadapinya.
DITULIS OLEH
Pdt. Natanael Rabono
Rohaniwan Pusat
Renungan Lain oleh Penulis:
Home  »  Renungan  »  Hidup Di Tengah Kemajemukan
Hidup Di Tengah Kemajemukan
Kamis, 23 Mei 2013 | Tema: Memiliki Karakter Kristus
Hidup Di Tengah Kemajemukan
Yosua 23:1-16
Ada suatu pemandangan yang terlihat “aneh” dan menimbulkan pertanyaan. Pada enam bulan yang lalu segerombol pepohonan bambu secara “kompak” bersama-sama agak merebah ke arah barat, kemudian waktu berjalan dan tiga bulan yang lalu segerombol bambu itu telah berubah posisi arah rebahnya ke timur. Tetapi sekarang segerombol pohon bambu itu arah rebahnya jelas terlihat ke utara. Kata banyak orang bahwa pohon bambu adalah pohon yang lentur, mudah diombang-ambingkan angin, tetapi justru kelenturan itulah letak kekuatannya. Hampir tidak pernah kita melihat pohon bambu tumbang karena diterpa angin. Oleh sebab itu kita sekarang mengerti bahwa segerombolan pepohonan bambu yang selalu berubah-ubah arah rebahnya karena sering diterpa angin kencang dari arah yang selalu bergantian, namun demikian bambu-bambu itu masih tinggal tetap di tempatnya dan be...selengkapnya »
Semakin tinggi jabatan seseorang, semakin besar kekuasaan yang dimiliki ... ataukah semakin besar tanggung jawab yang diemban? Seumpama orang sedang ‘angon’ domba, manakah prioritasnya ... menggiring domba-domba itu ke daerah yang banyak tempat berteduhnya, ataukah menggiring mereka ke daerah yang berlimpah rumputnya? Ya dua-duanya dong, begitu biasanya jawab orang. Tetapi bila bicara tentang prioritas, tentu salah satu harus didahulukan. Kitab Amsal menggambarkan manusia serakah sebagai lintah yang hanya memikirkan diri sendiri. Untukku dan untukku [Amsal 30:15]. Dia mengisap dan mengisap demi kepuasannya sendiri. Malangnya, rasa puas itu tak kunjung datang hingga akhirnya badannya terlempar jatuh karena tak mampu lagi menampung keserakahannya. Keserakahan yang salah satunya berwujud mementingkan diri sendiri itu tak pernah mengenal kata “cukup”. Bagai dunia orang mati yang terus-menerus membuka pintu; bagai bumi yang senantiasa meminta siraman hujan; bagai rahim yang belum terbuahi yang selalu merindukan si jabang bayi; bagai api yang terus berkobar melalap apa saja yang bisa dihanguskannya. Tak ada kata “cukup” [ayat 16]. Demikian berbahayanya keserakahan bila merasuki manusia. Menyedihkan sekali bila dorongan mementingkan diri sendiri, teman-teman sendiri, kelompok sendiri, masih mendarah daging di kalangan umat percaya, yang merupakan imamat yang rajani. Dan lebih mengenaskan lagi bila orang-orang yang dipercaya untuk membimbing sesamanya ... ternyata lebih tertarik memajukan diri sendiri daripada menolong orang-orang yang dibimbingnya untuk maju. Dijauhkanlah kiranya hal yang demikian dari kita. Kiranya Tuhan menolong umat-Nya.
Di hutan-hutan Eropa bagian utara dan Asia hiduplah ermine, binatang lucu yang setiap musim dingin tiba warna bulunya berubah menjadi seputih salju. Binatang ini sangat melindungi kebersihan bulunya sampai-sampai ketika terpojok oleh para pemburu ia lebih rela mati daripada bersembunyi di tempat yang kotor. Selama menjalani kehidupan ini tak terhitung betapa seringnya kita diperhadapkan pada situasi yang mengharuskan kita untuk memilih. Memanjakan keinginan daging ... atau bertahan hidup dalam kekudusan. Bila kita renungkan, entah sudah berapa kali kita memilih menyerah pada keadaan daripada berjuang mempertahankan kekudusan. Sebagai anak-anak Tuhan, kita diarahkan untuk hidup sebagai anak-anak yang taat dan tidak membiarkan diri dikuasai hawa nafsu [1 Petrus 1:14]. Sangat penting untuk menjadi kudus di dalam seluruh aspek kehidupan kita, sama seperti Tuhan yang memanggil kita adalah kudus [ayat 15]. Demikian utamanya kekudusan itu sehingga dikatakan bahwa tanpa kekudusan tidak seorang pun akan melihat Tuhan [Ibrani12:14]. Kekudusan tidak dibatasi oleh situasi dan tempat. Kekudusan terpancar dalam keadaan aman maupun genting. Kekudusan tidak hanya ada di dalam lingkup tembok gereja. Ketika Tuhan menyucikan hati kita, maka saat berada di pasar pun kita bias sekudus saat kita berada di rumah ibadah [Martin Luther]. Kekudusan yang diperjuangkan dengan sungguh-sungguh itu merambah keluar dari naungan atap-atap gereja.
Beberapa minggu yang lalu kota Semarang dihebohkan dengan berita tentang aksi heroik seorang anak usia 9 tahun. Anak yang bernama Daffa Farros Oktaviarto itu melakukan aksi heroik dengan menghentikan sepeda motor yang lewat di trotoar. Walaupun mendapat caci maki dari pengendara motor, dia tidak peduli dan tetap minta agar sepeda motor tidak lewat di trotoar dengan melintangkan sepedanya. Dia melakukan itu karena tahu dari berita televisi dan spanduk yang mengatakan bahwa trotoar hanya untuk pejalan kaki. Dia meyakini bahwa peraturan harus ditaati oleh siapa saja, maka dengan gaya kanak-kanaknya dia menghentikan pengendara sepeda motor yang melanggar, apapun alasannya. Ketika aksi heroik tersebut diunggah di medsos, banyak orang yang memberi penghargaan kepadanya termasuk polisi dan gubernur Jawa Tengah. Sudah selayaknya umat Tuhan mempersembahkan tubuhnya menjadi persembahan yang hidup, yang kudus dan yang berkenan kepada Allah, karena itu merupakan ibadah yang sejati. Hal itu dinyatakan dengan tidak lagi menjadi serupa dengan dunia tetapi berubah oleh pembaharuan budi, sehingga yang dilakukan adalah yang sesuai kehendak Allah, sesuatu yang mendatangkan kebaikan dan yang berkenan kepada-Nya. Dalam segala hal menguasai diri dan berpadan dengan iman yang dimiliki. Kita hidup di tengah dunia yang diwarnai dengan segala macam ketidakbenaran, di mana seringkali ketidakbenaran itu sudah dianggap menjadi kebenaran. Kita dipilih Tuhan untuk berani menyatakan kebenaran dan mempermalukan ketidakbenaran. Walaupun untuk itu kita harus mengalami berbagai kesulitan dan bahkan penderitaan. Kita tidak akan mampu bila dilakukan dengan kekuatan sendiri, tetapi bila kita persembahkan hidup kita menjadi persembahan yang berkenan kepada-Nya, Tuhan akan memampukan kita. Kita harus berubah, tidak kompromi dengan pelanggaran Firman tetapi menguasai diri dan memiliki iman yang teguh.
Pada suatu hari saya sedang berjalan-jalan di sebuah taman bermain. Di situ banyak anak-anak kecil yang sedang asik bermain permainan yang ada di tempat hiburan tersebut. Tetapi ada yang menarik perhatian saya, yaitu ada seorang anak kecil berdiri sendirian di pojok ruangan sambil membawa banyak mainan di tangannya. Tiba-tiba ia menghampiri seorang anak kecil lainnya dan tanpa alasan yang jelas lalu ia memukul anak itu dan merebut mainan yang di bawanya. Anak yang dipukul itu langsung menangis sejadi-jadinya. Entah siapa yang mengajarkan anak itu untuk berbuat demikian dan tidak ada yang menyuruhnya. Dia hanya melakukan apa yang benar menurut keinginanya. Tidak dapat dipungkiri terkadang kita bertindak seperti anak kecil tersebut di mana kita melakukan hal-hal yang menurut kita benar demi memenuhi keinginan daging kita tanpa melihat apakah itu sesuai dengan kebenaran Firman Tuhan. Hal itulah yang disebut sebagai tabiat dosa, karena diri kita dilahirkan ke dunia telah membawa benih dosa. Namun jangan sampai hal itu menjadikan kita untuk seenaknya berbuat dosa terus menerus, melainkan harus bisa meninggalkan kehidupan dosa itu dengan menjaga hidup kudus di hadapan-Nya. Pembacaan nats hari ini menjelaskan bahwa kita tidak mungkin dapat berkenan kepada Allah jika kita tidak memberikan tubuh kita sebagai persembahan yang hidup dan yang kudus kepada Allah. Dan hal tersebut hanya dapat dilakukan apabila kita hidup seturut dengan Firman-Nya dan tidak menjadi serupa dengan dunia ini. Sehingga kita dapat membedakan apa yang baik dan yang berkenan di hadapan Allah. Menjaga kekudusan hidup melalui perbuatan dan tindakan sesuai dengan Firman-Nya merupakan keharusan sebagai anak-anak Allah. Marilah kita sebagai jemaat dan tubuh Kristus selalu memperbaharui tindakan kita sesuai dengan Firman Tuhan, maka di situlah terlihat kesungguhan kita dalam mengikut Kristus. Dengan demikian kita tidak lagi diperhamba oleh dosa.
BARCODE BBM CHANNELS
RENUNGAN HARIAN
Kekudusan Bukan Teori
22 Mei '16
Kumis Kudus
23 Mei '16
Dan Jangan Berbuat Dosa Lagi Mulai Dari Sekarang
20 Mei '16
Copyright © 2012 All rights reserved. Designed and Developed by GIA Dr. Cipto Semarang