SEPEKAN TERAKHIR
  Senin, 22 Desember 2014   -HARI INI-
  Minggu, 21 Desember 2014
  Sabtu, 20 Desember 2014
  Jumat, 19 Desember 2014
  Kamis, 18 Desember 2014
  Rabu, 17 Desember 2014
  Selasa, 16 Desember 2014
POKOK RENUNGAN
Dengan tinggal tetap di dalam Tuhan, maka segala rupa pencobaan dan tantangan yang kita hadapi justru akan membuat kita semakin dan semakin terlatih menghadapinya.
DITULIS OLEH
Pdt. Natanael Rabono
Rohaniwan Pusat
Renungan Lain oleh Penulis:
Home  »  Renungan  »  Hidup Di Tengah Kemajemukan
Hidup Di Tengah Kemajemukan
Kamis, 23 Mei 2013 | Tema: Memiliki Karakter Kristus
Hidup Di Tengah Kemajemukan
Yosua 23:1-16
Ada suatu pemandangan yang terlihat “aneh” dan menimbulkan pertanyaan. Pada enam bulan yang lalu segerombol pepohonan bambu secara “kompak” bersama-sama agak merebah ke arah barat, kemudian waktu berjalan dan tiga bulan yang lalu segerombol bambu itu telah berubah posisi arah rebahnya ke timur. Tetapi sekarang segerombol pohon bambu itu arah rebahnya jelas terlihat ke utara. Kata banyak orang bahwa pohon bambu adalah pohon yang lentur, mudah diombang-ambingkan angin, tetapi justru kelenturan itulah letak kekuatannya. Hampir tidak pernah kita melihat pohon bambu tumbang karena diterpa angin. Oleh sebab itu kita sekarang mengerti bahwa segerombolan pepohonan bambu yang selalu berubah-ubah arah rebahnya karena sering diterpa angin kencang dari arah yang selalu bergantian, namun demikian bambu-bambu itu masih tinggal tetap di tempatnya dan bertahun-tahun tidak satu pun yang tumbang. Mengapa pepohonan bambu itu begitu kuat? Sedikitnya ada dua alasan: 1. karena pepohonan tersebut hidup lentur; 2. Karena dengan hidup bergerombol, maka akar-akarnya telah menyatu. Itulah kunci kekuatannya.

Demikianlah juga dalam isi pidato Yosua kepada bangsa Israel, Yosua mengingatkan bahwa sekarang mereka tinggal berdampingan dengan sisa-sisa bangsa-bangsa lain. Itu berarti bahwa Israel terancam keberadaannya, katakan saja masalah tradisi adat-istiadat, kepercayaan, kawin campur, dan sebagainya. Hal-hal tersebut siap mengikis Israel. Yosua memperingatkan bahwa iman mereka selalu diuji dan teruji di tengah bangsa lain yang juga berjuang mempertahankan dan ...selengkapnya »
Kolose 3:13 Sabarlah kamu seorang terhadap yang lain, dan ampunilah seorang akan yang lain apabila yang seorang menaruh dendam terhadap yang lain, sama seperti Tuhan telah mengampuni kamu, kamu perbuat jugalah demikian. Kita telah mendengar bahwa mengampuni itu menguntungkan diri kita sendiri. Benar, kalau kita mengampuni kita akan terbebas dari rasa sakit di hati kita. Tidak perlu lagi kita berkata: ”Tahu ndak, sakitnya itu di sini.” (sambil menunjuk ke arah dada). Tapi tujuan pengampunan bukan cuma untuk kepentingan diri kita. Tujuan pengampunan adalah untuk keutuhan Tubuh Kristus dan kesaksian Gereja di tengah dunia. Pengampunan akan bekerja dengan efektif bila terjadi dalam dua arah, artinya bukan hanya salah satu pihak saja yang mengampuni tapi kedua pihak saling mengampuni. Firman Tuhan berkata: ”ampunilah seorang akan yang lain.” Biasanya dalam sebuah konflik kedua pihak yang berseteru punya andil dalam terjadinya perseteruan itu. Tidak ada orang yang 100% benar maupun 100% salah. Yang merasa tersakiti bukan hanya salah satu pihak saja, melainkan kedua pihak sama-sama merasa tersakiti. Karena itu pengampunan harusnya dilakukan oleh kedua pihak, bukan salah satu saja. Memang pengampunan bisa dilakukan oleh salah satu pihak saja. Kalau yang seorang mau mengampuni, sedangkan yang lainnya tidak mau, pihak yang mau mengampuni tetap dapat melakukan pengampunan. Dan dialah yang akan terlepas dari sakit hati. Tuhan tentu berkenan pada apa yang dilakukannya. Tetapi Tuhan akan lebih senang jika kedua pihak saling mengampuni dan membuka hati. Tuhan menghendaki pemulihan hubungan kedua belah pihak. Pemulihan hubungan bisa terjadi kalau kedua pihak mau sama-sama saling mengampuni. Tuhan menghendaki kita melakukan Firman-Nya bukan hanya secara pribadi demi pribadi, tapi juga secara bersama-sama. Tindakan ketaatan itu adalah tanggung jawab bersama. Tuhan menghendaki gereja-Nya menjadi sebuah keluarga yang saling mengasihi, di mana di dalamnya ada kerukunan dan damai sejahtera. ”Karena Dialah damai sejahtera kita, yang telah mempersatukan kedua pihak dan yang telah merubuhkan tembok pemisah, yaitu perseteruan, ...... dan untuk memperdamaikan keduanya, di dalam satu tubuh, dengan Allah oleh salib, dengan melenyapkan perseteruan pada salib itu.... Demikianlah kamu bukan lagi orang asing dan pendatang, melainkan kawan sewarga dari orang-orang kudus dan anggota-anggota keluarga Allah,” (Efesus 2:14, 16, 19). Kiranya Tuhan memberkati dan menolong kita semua. Amin.
“Cuma buku saja kok ribut,” gerutu Ibu. “Ini bukan CUMA soal buku, ini soal kecintaanku pada dunia baca! Dan uang saku yang sejak SD sampai SMA kukumpulkan untuk mengoleksi dua ratus buku kini lenyap tak bersisa. Buku dibagi-bagi tanpa seizinku! Belum lagi oven, mikser, loyang, cetakan kue ... habis semua ....” Aku tak sanggup melampiaskan seluruh amarahku. Air mata keburu membanjir dan membuat tenggorokanku tersekat. Itu bukan CUMA soal buku. Itu soal penghargaan terhadap milik pribadi yang dilanggar habis-habisan. Itu merenggut paksa semua yang kusayangi dan kurawat dengan hati-hati. Itu benar-benar menghancurkan hatiku. Pada akhirnya aku harus menghemat rupiah demi rupiah lagi untuk membeli buku-buku yang sama. Dan sebagian sudah tidak terbit lagi. Sebagian lagi tak mungkin terbeli karena itu merupakan hadiah dari bibiku. Hal itu benar-benar membuatku geram dan naik darah. Butuh waktu panjang untuk melepaskan ganjalan yang begitu menyesakkan. Ada banyak kali aku mengungkit-ungkit perkara itu dalam pertikaian antara Ibu dan aku. Dan setiap kali aku meluapkan amarah, itu tak memperbaiki keadaan. Hanya menyakiti Ibu dan aku lebih dalam lagi. Untuk apa? Akhirnya aku melihatnya seperti ini. Tak dapat kuubah apa yang terjadi kepadaku. Mendendam pada Ibu tidak membawa kebaikan. Ibu tahu akan kesalahannya. Dan meski tanpa ada permintaan maaf darinya, aku telah mengampuninya. Aku pun bisa menghindari melakukan kesalahan yang sama terhadap anak-anakku. Aku belajar untuk berhati-hati dan menghargai hak milik mereka. Sederhana? Mari belajar untuk tidak menyepelekan hal-hal yang sederhana. Hal sederhana yang tak kunjung dituntaskan bisa membawa kepahitan yang mendalam. Namun hal sederhana yang membuat kita terlatih untuk mengampuni bisa membawa sukacita yang tak terkira.
Kata-kata yang disampaikan oleh nabi Yeremia kepada bangsa Israel pada umumnya adalah kata-kata yang sangat keras, pedas, dan cenderung sangat kasar. Namun maksud pesan Tuhan yang disampaikannya adalah agar umat Tuhan itu segera kembali kepada jalan Allah atau bertobat. Orang yang sudah cukup lama tinggal di dalam hidup yang tidak benar di hadapan Tuhan acapkali perlu diberikan pesan yang lebih keras dan menyentak. Semata-mata bukan karena Tuhan kejam, namun Tuhan ingin agar orang tersebut segera siuman dari keadaannya yang semakin parah. Hidup berpura-pura di hadapan Tuhan merupakan salah satu contoh hidup yang tidak benar. Secara lahiriah beribadah pada Tuhan, namun tidak lahir dari hati yang tulus. Demikian juga dengan pesan Tuhan dalam hal ‘pengampunan’. Mengampuni sesama bukan sebuah pilihan yang harus kita pilah-pilah, mana yang perlu diampuni dan mana yang tidak bisa diampuni. Namun Alkitab mengajar kita bahwa pengampunan adalah tindakan kongkret yang harus segera kita lakukan. Mengapa? Pertama, karena jika kita tidak mengampuni, maka doa kita akan terhalang (Markus 11:25); kedua, Tuhan juga tidak akan mengampuni kesalahan kita (Matius 6:14); ketiga, akan membinasakan dan menambah kesedihan bagi orang lain (2 Korintus 2:7); dll. Saling mengampuni harus dilakukan setiap orang (Efesus 4:32), karena dengan pengampunan yang kita berikan bagi orang lain, itu juga yang akan Bapa di sorga berikan kepada kita (Matius 6:14). Pengampunan harus dengan sadar kita lakukan. Pengampunan yang hanya berpura-pura akan mendatangkan kerugian bagi diri kita sendiri, karena hati kita akan terus-menerus dipenuhi dengan ‘kepahitan’. Pengampunan yang tidak pura-pura akan mendatangkan pemulihan bagi diri kita dan orang lain. Kepura-puraan hanya bisa dibuang dari hidup kita bila kita berani untuk terbuka di hadapan Tuhan. Apa adanya, bersedia dikoreksi daripada berusaha membela diri dengan kebenaran diri sendiri.
Yohanes 3:16 Karena begitu besar kasih Allah akan dunia ini, sehingga Ia telah mengaruniakan Anak-Nya yang tunggal, supaya setiap orang yang percaya kepada-Nya tidak binasa, melainkan beroleh hidup yang kekal. Pada zaman dahulu di Persia ada seorang raja yang baik dan bijak. Dia sangat mencintai rakyatnya. Dia ingin mengetahui bagaimana mereka hidup. Dia ingin tahu tentang penderitaan yang mereka alami. Seringkali dia menyamar sebagai seorang pekerja kasar atau seorang pengemis, dan mengunjungi rumah-rumah orang miskin. Tidak seorangpun yang dia kunjungi tahu bahwa dia adalah raja mereka. Pada suatu kali dia mengunjungi seorang yang sangat miskin yang tinggal di sebuah gudang bawah tanah. Orang miskin itu menerima dia dengan ramah dan menyuguhkan makanan yang biasa dia makan. Dan raja itupun memakan apa yang disuguhkan, sambil bercakap-cakap dengan orang miskin itu, lalu pamitan pulang. Beberapa waktu kemudian raja itu kembali singgah di rumah orang miskin itu dan membuka identitas dirinya dengan berkata, ”Akulah rajamu!” Raja itu mengira bahwa orang miskin itu akan meminta sesuatu kepadanya, tetapi ternyata dia tidak melakukannya. Sebaliknya dia berkata, ”Tuanku raja sudah meninggalkan istana yang mulia untuk mengunjungi hamba di tempat yang gelap dan hina ini. Tuan berkenan menerima makanan yang hamba suguhkan. Tuan sudah membawa kesukaan di hati saya. Bagi saya itu sudah merupakan pemberian yang besar, karena tuan sudah memberikan kasih yang besar kepada rakyat tuan.” Yesus Kristus telah tinggalkan Sorga, datang ke dunia, lahir sebagai seorang manusia, karena Dia mengasihi manusia yang hidup di dalam penderitaan akibat dosa. Dia berkenan hidup bersama manusia dan merasakan beratnya hidup di dunia ini. Bahkan Dia bersedia menanggung kutuk derita dari manusia melalui kematian-Nya di atas kayu salib. Dia berikan hidup-Nya secara utuh bagi manusia. Natal adalah pemberian Allah yang terbesar bagi manusia. Dia berikan Diri-Nya sendiri kepada manusia. Mari kita menyambut Natal dengan mengucap syukur atas kasih-Nya yang besar. SELAMAT MENYAMBUT NATAL 2014.
BARCODE BBM CHANNELS
RENUNGAN HARIAN
Bukan Soal Untung Atau Rugi
27 November '14
Wajib Hukumnya
12 Desember '14
Belum Terlambat
02 Desember '14
Copyright © 2012 All rights reserved. Designed and Developed by GIA Dr. Cipto Semarang