SEPEKAN TERAKHIR
  Jumat, 09 Desember 2016   -HARI INI-
  Kamis, 08 Desember 2016
  Rabu, 07 Desember 2016
  Selasa, 06 Desember 2016
  Senin, 05 Desember 2016
  Minggu, 04 Desember 2016
  Sabtu, 03 Desember 2016
POKOK RENUNGAN
Dengan tinggal tetap di dalam Tuhan, maka segala rupa pencobaan dan tantangan yang kita hadapi justru akan membuat kita semakin dan semakin terlatih menghadapinya.
DITULIS OLEH
Pdt. Natanael Rabono
Rohaniwan Pusat
Renungan Lain oleh Penulis:
Home  »  Renungan  »  Hidup Di Tengah Kemajemukan
Hidup Di Tengah Kemajemukan
Kamis, 23 Mei 2013 | Tema: Memiliki Karakter Kristus
Hidup Di Tengah Kemajemukan
Yosua 23:1-16
Ada suatu pemandangan yang terlihat aneh dan menimbulkan pertanyaan. Pada enam bulan yang lalu segerombol pepohonan bambu secara kompak bersama-sama agak merebah ke arah barat, kemudian waktu berjalan dan tiga bulan yang lalu segerombol bambu itu telah berubah posisi arah rebahnya ke timur. Tetapi sekarang segerombol pohon bambu itu arah rebahnya jelas terlihat ke utara. Kata banyak orang bahwa pohon bambu adalah pohon yang lentur, mudah diombang-ambingkan angin, tetapi justru kelenturan itulah letak kekuatannya. Hampir tidak pernah kita melihat pohon bambu tumbang karena diterpa angin. Oleh sebab itu kita sekarang mengerti bahwa segerombolan pepohonan bambu yang selalu berubah-ubah arah rebahnya karena sering diterpa angin kencang dari arah yang selalu bergantian, namun demikian bambu-bambu itu masih tinggal tetap di tempatnya dan be...selengkapnya »
Pada saat keadaan baik sangat mudah mengucap syukur dan menjadi berkat bagi banyak orang. Akan lebih mudah memberi perhatian, waktu, dan bahkan dana. Tetapi bagaimana saat kita sendiri sedang ‘krisis’? Tidak bisa dipungkiri karena situasi ekonomi saat ini, kita membutuhan waktu lebih banyak untuk membanting tulang demi kelangsungan hidup keluarga yang tentunya hal itu lebih penting bagi kita. Sehingga kita tidak mempunyai cukup waktu dan uang apalagi perhatian. Namun apa kata Pemazmur? Ada beberapa hal yang dapat merubah pikiran manusia secara umum saat keadaan kurang baik untuk tetap menjadi berkat bagi banyak orang. Nats bacaan hari ini menyatakan, “Orang-orang yang menabur dengan mencucurkan air mata, akan menuai dengan bersorak-sorai. Orang yang berjalan maju dengan menangis sambil menabur benih, pasti pulang dengan sorak-sorai sambil membawa berkas-berkasnya.” Menabur, berjalan maju adalah suatu aktivitas yang harus dilakukan oleh seorang penabur, mungkin petani atau pemilik perkebunan. Mencucurkan air mata, menangis merupakan gambaran suasana hati yang tidak nyaman karena mungkin sedang banyak masalah, persoalan, tantangan. Sungguh sangat menggugah hati ungkapan Pemazmur yang tertuang dalam Mazmur 126:5-6 ini. Dalam suasana hati yang tidak nyaman, banyak tantangan yang mungkin membuat kita malas, kita harus tetap menabur. Menjadi berkat bagi orang lain. Jika kita rindu rohani terus bertumbuh kuat, sehat menjadi dewasa, jangan kita menyerah kepada keadaan. Dengan demikian kita tidak akan tergoyahkan oleh suasana baik dari dalam diri sendiri ataupun dari luar. Dan sungguh indah, pemazmur juga mengatakan bahwa kita akan pulang dengan sorak sorai sambil membawa berkas-berkas sebagai hasil dari benih yang bertumbuh subur yang terus kita bagikan di saat kesulitan datang dalam kehidupan kita. Amin.
Dalam hal apa sajakah kita harus bertumbuh dewasa? Dalam seluruh aspek kehidupan kita, termasuk dalam sikap doa kita. Pada umumnya kecenderungan orang dalam berdoa adalah memohon agar segala keinginan atau kerinduannya dikabulkan Tuhan. Kehendak dirinya lebih mengemuka di sini. Namun Paulus mendorong kita memiliki sikap doa yang berbeda, yaitu menjadikan kehendak Allah sebagai landasannya. Paulus berdoa agar jemaat Efesus dikuatkan dan diteguhkan oleh Roh Allah berdasarkan kekayaan kemuliaan-Nya. Inilah kebutuhan mendasar orang beriman, yaitu kehadiran kuasa Allah di dalam hidupnya. Paulus juga berdoa agar orang Kristen non Yahudi, sebagai bagian dari keluarga Allah, memahami kasih Kristus yang multidimensi. Umat yang telah mengalami kasih Kristus niscaya akan memahami kasih itu serta mau hidup dan berakar di dalamnya. Tujuannya, agar jemaat Efesus dipenuhi kepenuhan Allah. Nyanyian pujian pada akhir doa Paulus memperlihatkan keyakinan Paulus akan kebenaran Tuhan. Dia sanggup melakukan jauh lebih banyak daripada yang kita doakan atau kita pikirkan. Doa Paulus ini menggarisbawahi kebutuhan utama umat Tuhan. Jemaat akan mengalami hidup yang dinamis ketika mereka menyadari kehadiran Kristus di dalam hati mereka. Hidup mereka akan efektif karena memiliki kualitas yang lahir dari kuasa Roh Kudus, pemahaman akan kasih Kristus, serta dipenuhi oleh kepenuhan Allah. Inilah yang akan menolong jemaat dalam berdoa. Mereka akan mempercayakan hidupnya pada kuasa dan kehendak-Nya. “Bukan kehendakku, tapi kehendak-Mulah yang jadi”.
Menurut Anda, tim sepakbola seperti apakah yang dapat menjadi juara? Apakah tim dengan dana berlimpah? Apakah tim dengan banyak pemain bintang di dalamnya? Ataukah tim yang kompak dan mengutamakan kebersamaan? Jose Mourinho, pelatih Manchester United, menunjukkan jawabannya kepada kita. Menurutnya, kesuksesan sebuah tim sepakbola dalam meraih juara, bukan karena banyaknya pemain bintang dan melimpahnya dana dalam sebuah tim. Tim dengan dana berlimpah dan banyak pemain bintang tidak ada gunanya jika tidak ada kesatuan di dalamnya. Jika ego pemain dan pemilik klub masih menonjol dan tidak dapat disatukan, jangan harap tim tersebut menjadi juara. Oleh karena itu, Jose Mourinho tidak segan “memarkir” dan tidak memainkan pemain yang egois. Dia lebih mengutamakan pemain yang bisa bekerja sama untuk menjalankan taktik bagi kemenangan tim. Kita belajar dari Paulus tentang hal ini. Menurut Paulus, perselisihan atau perpecahan menunjukkan ketidakdewasaan dalam Kristus [ayat 1], sebab manusia duniawilah yang masih ditonjolkan di sini [ayat 3]. Apabila seseorang masih hidup dengan lebih mengutamakan “keakuannya” [egoisme] dan tidak mengusahakan hidup yang rohani, maka hidupnya akan dikuasai oleh keirihatian dan perselisihan [ayat 4]. Untuk menyelesaikan perselisihan atau perpecahan, kedua pihak mesti berusaha hidup secara ’rohani’ dengan bercermin pada kehidupan Yesus Kristus, baik dalam perkataan, perasaan, pikiran, maupun tindakan. Paulus menasihati jemaat di Korintus [ayat 7-8] agar dalam hidup bersekutu, kita berusaha untuk selalu hidup dalam kesatuan serta sehati sepikir. Dengan hati yang sama-sama rindu dan sepakat untuk memiliki hidup yang rohani, anak-anak Tuhan akan lebih erat dan bersatu sehingga tidak terjadi perselisihan. Perselisihan seringkali kali terjadi karena ego manusia yang ingin menjadi yang “terdepan” dan terhebat. Padahal bila direnungkan, siapakah kita sehingga ada keangkuhan di antara saudara? Bahkan Yesus Kristus yang adalah Tuhan menjadi teladan bagi kita dengan rela menanggalkan ego-Nya dan turun menjadi manusia untuk mati secara nista di kayu salib. Sebab itu untuk menghindari perselisihan, landasi segala sesuatu dengan kasih. Siapakah kita? Jika kita mengaku sebagai murid Kristus, hamba Kristus atau pengikut-Nya, marilah kita menunjukkan kedewasaan kita dengan cara hidup seperti Yesus. Hidup yang mau menanggalkan ego dan keangkuhan, serta mengutamakan persatuan.
’Dia bertobat lantaran kesaksianku!’ ’Penyakitnya sembuh karena aku yang mendoakan!’ ’Dia kembali ke gereja karena aku yang gigih mengajaknya!’ Pernyataan-pernyataan semacam itu kerap dilontarkan oleh orang-orang yang belum dewasa di dalam Kristus. Meskipun sudah puluhan tahun menyatakan diri sebagai umat Kristiani. Meskipun sudah malang melintang dalam pelayanan di gereja. Meskipun ada yang sudah menyandang predikat rohaniwan. Tetap saja sering terlontar pernyataan yang menggambarkan sikap ketidakdewasaan. ’Aku menanam, Apolos menyiram, tetapi Allah yang memberi pertumbuhan.’ demikian ujar Paulus dalam 1 Korintus 3:6. Kadang orang beriman lupa bahwa di dalam melayani Tuhan, ia tidak bekerja sendirian. Apabila seseorang bertobat karena kesaksian seorang Kristen, bukan berarti itu adalah hasil jerih lelah satu orang saja. Besar kemungkinan ia pernah mendengar tentang Injil jauh sebelumnya. Pernah mendengar pesan yang menyentuh dari lagu rohani, entah lewat radio atau dari CD player tetangga. Pernah dibawa dalam doa oleh orang-orang Kristen lain juga. Dan yang terpenting adalah Tuhan yang menjamah hatinya. Semua itu berperan dalam pertobatannya. Seorang Kristen yang dewasa adalah orang yang menyadari bahwa pekerjaan Tuhan adalah ’team work’, bukan ’one man show’. Setiap orang bahu-membahu mengerjakan pekerjaan Tuhan. Setiap orang melakukan bagiannya dalam pelayanan. Keberhasilan adalah hasil usaha bersama, bukan jasa satu atau dua orang saja. Dan yang terpenting adalah Allah-lah yang menjadi penentu keberhasilan atas segala yang kita kerjakan.
BARCODE BBM CHANNELS
RENUNGAN HARIAN
Mengapa Harus Dewasa ?
24 November '16
Tetaplah Jadi Berkat
25 November '16
Jadilah Anak-Anak Dalam Kejahatan
23 November '16
Copyright © 2012 All rights reserved. Designed and Developed by GIA Dr. Cipto Semarang