SEPEKAN TERAKHIR
  Jumat, 31 Oktober 2014   -HARI INI-
  Kamis, 30 Oktober 2014
  Rabu, 29 Oktober 2014
  Selasa, 28 Oktober 2014
  Senin, 27 Oktober 2014
  Minggu, 26 Oktober 2014
  Sabtu, 25 Oktober 2014
POKOK RENUNGAN
Dengan tinggal tetap di dalam Tuhan, maka segala rupa pencobaan dan tantangan yang kita hadapi justru akan membuat kita semakin dan semakin terlatih menghadapinya.
DITULIS OLEH
Pdt. Natanael Rabono
Rohaniwan Pusat
Renungan Lain oleh Penulis:
Home  »  Renungan  »  Hidup Di Tengah Kemajemukan
Hidup Di Tengah Kemajemukan
Kamis, 23 Mei 2013 | Tema: Memiliki Karakter Kristus
Hidup Di Tengah Kemajemukan
Yosua 23:1-16
Ada suatu pemandangan yang terlihat “aneh” dan menimbulkan pertanyaan. Pada enam bulan yang lalu segerombol pepohonan bambu secara “kompak” bersama-sama agak merebah ke arah barat, kemudian waktu berjalan dan tiga bulan yang lalu segerombol bambu itu telah berubah posisi arah rebahnya ke timur. Tetapi sekarang segerombol pohon bambu itu arah rebahnya jelas terlihat ke utara. Kata banyak orang bahwa pohon bambu adalah pohon yang lentur, mudah diombang-ambingkan angin, tetapi justru kelenturan itulah letak kekuatannya. Hampir tidak pernah kita melihat pohon bambu tumbang karena diterpa angin. Oleh sebab itu kita sekarang mengerti bahwa segerombolan pepohonan bambu yang selalu berubah-ubah arah rebahnya karena sering diterpa angin kencang dari arah yang selalu bergantian, namun demikian bambu-bambu itu masih tinggal tetap di tempatnya dan bertahun-tahun tidak satu pun yang tumbang. Mengapa pepohonan bambu itu begitu kuat? Sedikitnya ada dua alasan: 1. karena pepohonan tersebut hidup lentur; 2. Karena dengan hidup bergerombol, maka akar-akarnya telah menyatu. Itulah kunci kekuatannya.

Demikianlah juga dalam isi pidato Yosua kepada bangsa Israel, Yosua mengingatkan bahwa sekarang mereka tinggal berdampingan dengan sisa-sisa bangsa-bangsa lain. Itu berarti bahwa Israel terancam keberadaannya, katakan saja masalah tradisi adat-istiadat, kepercayaan, kawin campur, dan sebagainya. Hal-hal tersebut siap mengikis Israel. Yosua memperingatkan bahwa iman mereka selalu diuji dan teruji di tengah bangsa lain yang juga berjuang mempertahankan dan ...selengkapnya »
Mazmur 112:1-10 Mujur orang yang menaruh belas kasihan dan yang memberi pinjaman, yang melakukan urusannya dengan sewajarnya (Ayat 5). Ia membagi-bagikan, ia memberikan kepada orang miskin; kebajikannya tetap untuk selama-lamanya, tanduknya meninggi dalam kemuliaan (Ayat 9). Di Israel ada dua danau besar, yaitu Danau Galilea dan Laut Mati (sebenarnya danau, namun karena sangat luas disebut laut). Dua danau itu mempunyai perbedaan yang sangat kontras. Danau Galilea merupakan sumber penghidupan bagi penduduk sekitarnya karena mempunyai banyak ikan. Sementara di Laut Mati tidak ada satupun makhluk yang bisa hidup di dalamnya, karena mengandung kadar garam yang sangat tinggi. Danau Galilea menerima pasokan air dari bukit Hermon, lalu menyalurkan airnya keluar melalui Sungai Yordan, sedangkan Laut Mati hanya menerima pasokan air tetapi tidak menyalurkannya keluar. Akibatnya kadar garamnya sangat tinggi dan tidak memungkinkan ikan hidup di dalamnya. Itu adalah gambaran dari kehidupan kita. Jika kita hanya menerima berkat saja dan tidak menyalurkannya, maka kita akan menjadi seperti Laut Mati. Hidup kita akan menjadi kering dan gersang karena tidak menjadi berkat bagi orang lain. Sedangkan jika kita menerima berkat dan menyalurkannya, maka kita akan menjadi seperti Danau Galilea. Ada kehidupan di dalamnya dan menghidupi banyak orang. Orang yang murah hati akan selalu bergairah dan punya semangat hidup. Tuhan berjanji untuk orang yang melakukan kebajikan dan kemurahan, bahwa mereka akan mengalami kemujuran (ayat 5). Kemujuran berarti Tuhan akan mendatangkan hal-hal yang baik untuk orang yang bermurah hati. Juga Tuhan akan mengangkat martabat (disimbolkan dengan tanduk) orang yang suka berbagi (ayat 9). Di dalam Matius 5:7 juga dikatakan: ”Berbahagialah orang yang murah hatinya, karena mereka akan beroleh kemurahan.” Hukum rohani tentang tabur tuai pasti berlaku di dalam hidup ini. Apa yang kita tabur itulah yang kita tuai. Jika kita menabur kemurahan maka kita pun akan menuai kemurahan juga. Oleh karena itu, jemaat Tuhan, milikilah hati yang suka berbuat kebajikan. Galatia 6:9-10 mengatakan: ”Janganlah kita jemu-jemu berbuat baik, karena apabila sudah datang waktunya, kita akan menuai, jika kita tidak menjadi lemah. Karena itu, selama masih ada kesempatan bagi kita, marilah kita berbuat baik kepada semua orang, tetapi terutama kepada kawan-kawan kita seiman.” Amin.
“Menurutku, Tuhan itu menciptakan manusia dengan derajatnya masing-masing”, kata Benay. “Maksudmu, derajat seseorang itu sudah ditakdirkan?” tanya Sambey penasaran. Meskipun sempat tidak percaya takdir, tetapi dalam hal ini Benay mengakui bahwa derajat setiap orang sudah ditentukan dari sononya. “Makanya merubah nasib itu tidak mungkin. Kalau sudah ditakdirkan jadi satpam, mulai zaman black coffee sampai zaman white coffee, ya tetap satpam”, kata Benay menyimpulkan. Sambey geleng-geleng kepala pertanda ia tidak setuju. Sambey menjelaskan bahwa menurutnya status sebagai buruh, pegawai negeri, satpam, pendeta, pengusaha dan lain-lain adalah pekerjaan semata. Memang secara sosial itu berarti gengsi tertentu, tetapi di mata Tuhan itu tidak lebih dari sekedar status pekerjaan. Di mata Tuhan setiap orang mempunyai derajat yang sama dan mempunyai hak istimewa yang sama. Dan jangan lupa, setiap orang bisa merubah “nasib”nya dan merubah kondisi masyarakat melalui doa dan perjuangan yang tak kenal lelah. Jemaat yang terkasih. Tuhan mengecam keras orang-orang Farisi dan ahli-ahli Taurat karena kemunafikan mereka. Mereka menggunakan status terhormat mereka seolah-olah mereka adalah orang yang punya privilege (hak istimewa) di hadapan Tuhan dibandingkan rakyat jelata. Padahal status terhormat itu adalah topeng yang menutupi kebobrokan hati & pikiran mereka. Mereka jarkoni (iso ngajar tapi ora iso nglakoni), gila hormat, serakah, gemar berkotbah tentang moral tetapi mereka mengabaikan keadilan, belas kasihan, dan kesetiaan. Tuhan mengajarkan agar umat-Nya tidak meneladani orang-orang seperti itu. Di hadapan Tuhan setiap orang punya hak istimewa apapun status pekerjaannya. Tidak ada yang dapat memegahkan statusnya sebagai “guru rohani” karena hanya ada satu Rabi, yaitu Yesus Kristus. Umat Tuhan hanya punya satu Bapa, yaitu Bapa Sorgawi. Tidak ada tempat untuk kesombongan status sebagai pemimpin karena umat Tuhan hanya punya satu pemimpin, yaitu Mesias. Jika umat Tuhan punya figur pemimpin manusiawi, statusnya sebagai pemimpin bukan untuk disombongkan atau dijadikan topeng suci, tetapi untuk melayani. Tuhan mengajarkan bahwa setiap umat-Nya adalah sesama saudara yang sederajat bagi yang lainnya. Jemaat yang terkasih. Apakah kita menyadari bahwa di hadapan Tuhan kita punya hak istimewa yang sama seperti saudara-saudara kita yang lain? Apapun jabatan gerejawi kita (gembala, pendeta, majelis, jemaat) atau apapun status pekerjaan kita, bagi Tuhan kita sederajat sebagai umat yang dikasihi-Nya. Oleh karena itu jangan merasa bahwa doa pendeta pasti lebih manjur. Karena Tuhan mendengar dan menjawab doa tulus setiap orang. Jangan merasa bahwa “sukses materi” dan status pekerjaan bergengsi adalah tanda diperkenan Tuhan karena Tuhan mengasihi dan membela orang-orang miskin dan orang-orang yang tidak terpandang secara sosial.
”Kegelapan besar” pada tanggal 9 Nopember 1965 merupakan pengalaman yang tak terlupakan bagi masyarakat yang tinggal di daerah sebelah timur laut Amerika. Gangguan listrik dalam skala besar ini telah mengakibatkan kegelapan di delapan negara bagian di sebelah timur laut Amerika, serta sebagian Ontario dan Quebec di timur Kanada, meliputi 128.000 kilometer persegi dan berdampak pada 30 juta orang. Tanpa penerangan listrik, kebutuhan akan lilin pun meningkat dengan pesat. Seorang penyiar sebuah stasiun radio di New York yang tetap mengudara karena memiliki sumber listrik cadangan melaporkan, ”Sebuah ‘drama’ menarik sedang ditayangkan di jalan-jalan. Harga lilin di banyak toko telah meningkat dua kali lipat. Namun, ada juga beberapa pedagang baik hati yang menjualnya hanya setengah harga, atau bahkan memberikannya secara cuma-cuma.” Pada saat darurat ini, beberapa pemilik toko lebih mengutamakan kepedulian mereka terhadap sesama daripada keinginan untuk memperoleh keuntungan pribadi. Namun, sebagian lainnya memanfaatkan situasi ini lebih untuk keuntungan pribadi daripada rasa peduli akan sesama. Situasi yang sama menghasilkan dua tipe orang yang berbeda, yaitu yang mencari kepentingan diri sendiri dan yang memikirkan kepentingan orang banyak. Bagaimana seharusnya kita menyikapi situasi ini? Apakah kita memiliki rasa belas kasihan kepada orang yang membutuhkan dan menunjukkan kebaikan kepada mereka? Satu-satunya respons yang tepat terdapat dalam Galatia 6:10, ”Selama masih ada kesempatan bagi kita, marilah kita berbuat baik kepada semua orang”. Pepatah Jawa berkata, “Urip iku mung mampir ngombe”. Artinya, hidup itu adalah sementara yang diibaratkan seperti seseorang yang minum air, yang hanya sesaat. Di dalam waktu yang singkat itu, Tuhan menginginkan untuk kita “bertindak maksimal”, selagi kita ada di dunia ini. “Bertindak maksimal” berarti memberikan hidup yang terbaik untuk memuliakan nama Tuhan sekaligus untuk menjadi berkat bagi sesama. Dengan segala harta benda, materi, talenta, semangat, pemikiran, perkataan, dan seluruh tindakan yang kita miliki, berikanlah yang terbaik bagi Tuhan dan sesama. Janganlah kita membiarkan ego menguasai hidup kita, sehingga fokus hidup hanya pada diri sendiri. “Bertindaklah maksimal”, berilah yang terbaik bagi Tuhan dan sesama.
Memberi kesempatan kepada sesama pengendara untuk menyeberang di antrian yang panjang. Merelakan tempat duduk di bus untuk sesama penumpang yang lanjut usia. Berbagi keterampilan tanpa imbalan kepada sesama yang sangat membutuhkan. Inilah bentuk-bentuk kemurahan hati yang jarang terpikirkan oleh kita. Sebenarnya masih banyak lagi hal yang lain. Termasuk bermurah hati dalam bentuk memberi pengampunan kepada sesama yang menyakiti kita. Sebagian orang sulit melihat hubungan antara bermurah hati dan mengampuni. Tuhan Yesus sendiri dalam perikop yang diberi judul ‘Kasihilah musuhmu’ (Lukas 6:27-36) memaparkan dengan sangat jelas bahwa mengampuni sesama diperhitungkan sebagai kemurahan hati. Inilah sebuah bentuk kemurahan yang pada umumnya lebih sulit untuk kita lakukan. Manusia bukan perangkat elektronik. Kita tak bisa diprogram untuk mengabaikan perasaan yang tak diinginkan. Hanya perasaan bahagia saja yang disetel on, perasaan yang lain off. Tentu tidak begitu. Manusia yang normal bisa merasakan semuanya. Termasuk sedih dan sakit hati. Karena itulah Tuhan mengajarkan pengampunan. Sebab manusia pada dasarnya ingin dimaklumi dan dimaafkan, tetapi enggan memaklumi apalagi bermurah hati memberi pengampunan. Hal bermurah hati dengan mengampuni hanya indah didengar di mimbar dan mustahil dilakukan? Tidak. Tuhan tidak pernah mengajarkan hal yang mustahil untuk dilakukan. Memang ada kalanya tiba masa-masa sulit untuk bermurah hati bila disakiti. Apalagi bila rasa sakit yang ditimbulkan begitu dalam dan berulang-ulang. Saya pribadi tidak suka bertopeng di hadapan Tuhan dan manusia demi pencitraan. Saya berkata apa adanya tentang perasaan saya kepada Tuhan dan memohon agar dapat mengatasinya. Bukan berkata-kata kepada manusia agar membela saya dan akhirnya memicu perpecahan. Datang dengan jujur di hadapan Tuhan selalu menghasilkan pemulihan. Dan kemurahan hati akan mengalir kembali dalam bentuk pemberian pengampunan. Kalau kita adalah anak-anak-Nya, dengan siapa kita akan serupa jika tidak dengan Bapa kita?
BARCODE BBM CHANNELS
RENUNGAN HARIAN
Danau Galilea atau Laut Mati
05 Oktober '14
Zakheus Dan Janda Miskin
14 Oktober '14
Mengapa Kita Ada Di Sini?
26 Oktober '14
Copyright © 2012 All rights reserved. Designed and Developed by GIA Dr. Cipto Semarang