SEPEKAN TERAKHIR
  Sabtu, 30 April 2016   -HARI INI-
  Jumat, 29 April 2016
  Kamis, 28 April 2016
  Rabu, 27 April 2016
  Selasa, 26 April 2016
  Senin, 25 April 2016
  Minggu, 24 April 2016
POKOK RENUNGAN
Dengan tinggal tetap di dalam Tuhan, maka segala rupa pencobaan dan tantangan yang kita hadapi justru akan membuat kita semakin dan semakin terlatih menghadapinya.
DITULIS OLEH
Pdt. Natanael Rabono
Rohaniwan Pusat
Renungan Lain oleh Penulis:
Home  »  Renungan  »  Hidup Di Tengah Kemajemukan
Hidup Di Tengah Kemajemukan
Kamis, 23 Mei 2013 | Tema: Memiliki Karakter Kristus
Hidup Di Tengah Kemajemukan
Yosua 23:1-16
Ada suatu pemandangan yang terlihat “aneh” dan menimbulkan pertanyaan. Pada enam bulan yang lalu segerombol pepohonan bambu secara “kompak” bersama-sama agak merebah ke arah barat, kemudian waktu berjalan dan tiga bulan yang lalu segerombol bambu itu telah berubah posisi arah rebahnya ke timur. Tetapi sekarang segerombol pohon bambu itu arah rebahnya jelas terlihat ke utara. Kata banyak orang bahwa pohon bambu adalah pohon yang lentur, mudah diombang-ambingkan angin, tetapi justru kelenturan itulah letak kekuatannya. Hampir tidak pernah kita melihat pohon bambu tumbang karena diterpa angin. Oleh sebab itu kita sekarang mengerti bahwa segerombolan pepohonan bambu yang selalu berubah-ubah arah rebahnya karena sering diterpa angin kencang dari arah yang selalu bergantian, namun demikian bambu-bambu itu masih tinggal tetap di tempatnya dan be...selengkapnya »
Pusat Studi dan Pengembangan Perdamaian [PSPP] UKDW adalah sebuah lembaga bantuan hukum sebuah universitas kristen di Yogjakarta yang bergerak dalam bidang Mediasi Konflik dan Perdamaian. Lembaga ini memberikan pelayanan dalam bidang pelatihan-pelatihan Mediasi dan Transformasi Konflik, Pelatihan Simpul Pulih [Trauma Healing], Penanaman Cinta Damai, Spiritualitas Perdamaian, dll. Sejak tahun 1996 PSPP UKDW juga telah memberikan pelayanan-pelayanan praktis seperti pelatihan pemberdayaan untuk perdamaian, konsultasi dan mediasi konflik, penyembuhan trauma, dan pengurangan atau manajemen resiko bencana. Pelayanan praktis tersebut telah dilakukan di masyarakat Indonesia dengan berbagai macam latar belakang budaya dan agama di Papua, Timor, Ambon, Halmahera, Sulawesi, Kalimantan, Bali, Jawa, Sumatera, Nias, dan pulau-pulau lainnya di Indonesia, bahkan di Asia Pasifik. Tak terbilang jumlah mediator dan negosiator yang telah lahir dari pelatihan-pelatihan PSPP. Tak terbilang pula jumlah jiwa yang telah dipulihkan dari trauma akibat konflik dalam komunitas mereka. Sebagai seorang imam, Musa pernah melakukan kesalahan dalam ketidaktahuannya. Ia berpikir bahwa ia sanggup seorang diri mengadili dan menyelesaikan semua masalah rakyat Israel yang jumlahnya berjuta-juta orang [ay. 14-16]. Ia mengadili seorang diri. Ia menganggap hanya dia yang tahu tentang petunjuk yang benar dari Allah. Ia berdiri di hadapan bangsa Israel dari pagi hingga petang untuk menyelesaikan persoalan mereka. Ia sangat lelah, demikian juga bangsa itu. Musa hanya mengadili bangsa itu seorang diri saja. Oleh karena itu Yitro, mertuanya, menegur Musa bahwa tidak baik ia menjadi hakim seorang diri saja, melainkan Musa harus mempercayakan pengadilan itu kepada orang yang lain, yang cakap, yang takut akan Allah untuk membantu menyelesaikan setiap persoalan di antara rakyat bangsa Israel [ay. 17-23]. Sebagai Imamat yang rajani, Tuhan sebenarnya telah mengutus kita untuk menjadi imam-imam dalam keluarga, gereja, sekolah, masyarakat, dll, untuk menjadi pendoa syafaat bagi mereka dan menyelesaikan setiap persoalan yang terjadi dalam kehidupan sesuai dengan kapasitas dan posisi yang Tuhan telah tempatkan. Hal ini harus kita sadari secara benar karena dengan demikian kita akan memahami fungsi kita sebagai imam dan raja dalam masyarakat. Sebagaimana PSPP UKDW Yogyakarta yang telah melahirkan banyak mediator dan negosiator serta memulihkan banyak orang, kita pun dipanggil untuk saling bekerjasama dan melibatkan banyak orang dalam pelayanan. Kita tidak mungkin dapat melayani jemaat dengan maksimal jika kita hanya berpikir dan bergerak sendiri. Kita perlu tanggap dalam setiap persoalan yang terjadi dengan kerjasama tim yang saling mendukung dan membangun sehingga pelayanan kita lebih maksimal dan lebih banyak jiwa yang akan dimenangkan bagi Tuhan.
Bagaimana cara memilih seorang pemain untuk dijadikan kapten dalam sebuah tim sepak bola? Kapten dalam sebuah tim sepak bola memiliki peran yang cukup vital. Kapten ditugaskan untuk memimpin anggota timnya untuk berlaga di lapangan saat pertandingan berlangsung. Dia harus mampu untuk menjembatani hubungan antara pemain dengan pelatih, sehingga apa yang “dikehendaki” oleh sang pelatih dapat diterjemahkan oleh para pemain di atas lapangan saat berlaga. Kapten juga berperan untuk menyatukan sebuah tim, selain itu kapten juga menjadi sosok “simbol” bagi tim di hadapan tim lain. Oleh karena itu dalam memilih seorang kapten, pelatih tidak bisa “asal comot” mengambil asal-asalan dari pemain yang ada. Seorang pemain dapat terpilih menjadi kapten bagi timnya, tidak hanya semata-mata karena skill bermainnya yang baik, namun juga karena kepribadiannya. Seorang kapten harus menunjukkan kepribadian yang baik dan dewasa di manapun dia berada, baik di dalam maupun di luar lapangan. Singkatnya, seorang kapten harus dapat menjadi teladan bagi pemain lainnya. Pelatih akan memilih pemain yang dapat diteladani dan disegani oleh pemain lainnya untuk dijadikan sebagai kapten. Di dalam pelayanannya, rasul Paulus memberi contoh tentang pentingnya menjadi teladan. Pola memberi teladan ini diberikan Paulus seperti yang dikisahkan di dalam 1 Tesalonika 1. Teladan yang ditunjukkannya bersama Silwanus dan Timotius mendorong orang-orang yang baru percaya di Tesalonika untuk meniru [mengikut] mereka. Sementara orang-orang yang baru percaya di Tesalonika itu menderita bagi Kristus dengan sabar dan tabah. Mereka bertiga selanjutnya menjadi teladan bagi orang-orang yang baru percaya di Makedonia dan Akhaya dan mendorong mereka untuk lebih bersungguh-sungguh dalam beribadah. Teladan kita dapat membawa pengaruh yang luar biasa dalam mengenalkan orang kepada Kristus. Pada saat Kristus “memilih” kita, di saat itu juga Kristus memandatkan kepada kita untuk dapat hidup menjadi teladan bagi orang lain. Kita dipanggil-Nya untuk dapat memimpin dan membawa banyak orang untuk mengenal Yesus dan memuliakan nama-Nya. Yesus berkata, “Demikianlah hendaknya terangmu bercahaya di depan orang, supaya mereka melihat perbuatanmu yang baik dan memuliakan Bapamu yang di surga” [Matius 5:16]. Hidup kita adalah untuk memuliakan nama-Nya. Kita dapat memuliakan nama Tuhan, saat hidup kita dapat menjadi teladan bagi semua orang. Sudahkah hidup kita menjadi teladan?
Salah satu keadaan manusia pada akhir zaman adalah tidak mau berdamai [2 Timotius 3:3]. Persoalan yang kecil dan remeh bisa menjadi besar dan ‘ramai’. Itu terjadi karena tidak ada itikad untuk berdamai jika ada dua pihak yang berselisih. Sehingga permasalahannya semakin berkembang menjadi rumit dan semakin sulit diselesaikan. Bukankah itu yang sering dipertontonkan oleh para selebritis, yang katanya adalah publik figur, di layar kaca ataupun di media sosial. Misalnya saja konflik yang terjadi antara dua orang seleb. Seleb A, pertama, memberi komentar terhadap seleb B dengan pernyataan yang kurang menyenangkan. Mendengar itu, seleb B tersinggung dan balik memberi komentar yang lebih pedas lagi. Mendapat komentar balik, seleb A menjadi marah dan menyerang balik dengan hinaan dan hujatan. Terus menerus terjadilah ping pong, perang kata-kata yang saling menghina dan menghujat. Sampai bahkan saling tantang untuk adu fisik sebagai penyelesaiannya. Parahnya lagi seringkali ada orang ketiga yang ikut ‘cawe-cawe’ berniat membela tetapi justru semakin memanaskan suasana. Kalau sudah begitu bagaikan api yang disiram bensin, semakin besar nyalanya. Semakin panas meluas. Seharusnya yang dibela adalah kebenaran, bukan salah satu pihak yang dekat atau yang menguntungkannya. Begitu naif dan kurang dewasa apa yang mereka lakukan. Tapi itulah yang sering terjadi dalam keseharian manusia karena tidak mau berdamai. Rasul Paulus mengajarkan kepada kita untuk hidup berdamai dengan semua orang. Memang kadang ada orang yang memusuhi dan tidak senang dengan kita. Tetapi jika itu bergantung kepada kita, maka kita harus berinisiatif dan aktif mengusahakan perdamaian. Artinya, jangan kita kalah dan menyerah. Karena kita sudah diperdamaikan dengan Allah oleh Yesus Kristus, maka kita pun harus berdamai dengan semua orang. Oleh sebab itu jangan kita menjadi ‘bensin’ yang akan semakin membuat konflik menjadi semakin besar dan memanas, tetapi jadilah seperti ‘air’ yang bisa memadamkan perselisihan dan memberi kesejukan bagi hati yang sedang panas terbakar.
Beberapa puluh tahun yang lalu di Semarang ada cerita misteri yang disiarkan melalui radio yang diberi judul “Trinil”. Kisah misteri tersebut mengisahkan seorang perempuan yang meninggal dengan kepala terpisah dari tubuhnya dan kepala itu terus menerus mencari tubuhnya dengan mengatakan, “Endi gembongku.” Disebut kisah misteri karena memang cerita itu membuat takut orang yang mendengarnya. Nats firman di atas, Allah Bapa mengatakan bahwa jemaat adalah tanggung jawab Tuhan Yesus Kristus, dan Kristus sebagai Kepala dan jemaat adalah tubuhnya. Untuk mengetahui apakah hubungan kita dengan Kepala itu baik dapat dilihat dari kehidupan kita, yaitu sampai sejauh mana kita menjadi berkat bagi orang lain. Tetapi jika sebaliknya, menakutkan seperti cerita misteri di atas tentunya tidak menggambarkan hubungan yang baik dengan Sang Kepala. Selain itu, hubungan yang baik juga terlihat dari kesadaran tubuh [jemaat] memberi penghormatan dan pujian kepada Kepala. Sebagai tubuh, jemaat tidak layak dan tidak sepantasnya mencari penghormatan dan pujian karena hal itu adalah “kesombongan” yang dibenci oleh Tuhan [Yakobus 4:6]. Penghormatan dan pujian adalah sesuatu yang dikhususkan untuk Tuhan, seperti peringatan yang dinyatakan kepada bangsa Israel jika mereka mencium bau ukupan yang dipersembahkan untuk Tuhan, mereka harus di hukum mati [Keluaran 30:38]. Ada banyak orang dengan rutin memeriksakan kesehatannya supaya kesehatan tubuhnya tetap terjaga dengan baik. Tetapi pernahkah kita memeriksa kehidupan rohani kita yang membawa kepada kekekalan. Mari jemaat yang terkasih, sebagai tubuh Kristus, kita membangun hubungan yang baik dengan Sang Kepala Gereja, yaitu Yesus Kristus Tuhan, sehingga hidup kita tidak seperti kisah misteri di atas yang menakutkan, tetapi sebaliknya dapat menjadi berkat.
BARCODE BBM CHANNELS
RENUNGAN HARIAN
Ingin Seoerti Yang Lain
07 April '16
Seiring Sejalan
12 April '16
Rahasia Besar Yang Dinantikan Para Nabi Dan Raja
13 April '16
Copyright © 2012 All rights reserved. Designed and Developed by GIA Dr. Cipto Semarang