SEPEKAN TERAKHIR
  Selasa, 26 Mei 2015   -HARI INI-
  Senin, 25 Mei 2015
  Minggu, 24 Mei 2015
  Sabtu, 23 Mei 2015
  Jumat, 22 Mei 2015
  Kamis, 21 Mei 2015
  Rabu, 20 Mei 2015
POKOK RENUNGAN
Dengan tinggal tetap di dalam Tuhan, maka segala rupa pencobaan dan tantangan yang kita hadapi justru akan membuat kita semakin dan semakin terlatih menghadapinya.
DITULIS OLEH
Pdt. Natanael Rabono
Rohaniwan Pusat
Renungan Lain oleh Penulis:
Home  »  Renungan  »  Hidup Di Tengah Kemajemukan
Hidup Di Tengah Kemajemukan
Kamis, 23 Mei 2013 | Tema: Memiliki Karakter Kristus
Hidup Di Tengah Kemajemukan
Yosua 23:1-16
Ada suatu pemandangan yang terlihat “aneh” dan menimbulkan pertanyaan. Pada enam bulan yang lalu segerombol pepohonan bambu secara “kompak” bersama-sama agak merebah ke arah barat, kemudian waktu berjalan dan tiga bulan yang lalu segerombol bambu itu telah berubah posisi arah rebahnya ke timur. Tetapi sekarang segerombol pohon bambu itu arah rebahnya jelas terlihat ke utara. Kata banyak orang bahwa pohon bambu adalah pohon yang lentur, mudah diombang-ambingkan angin, tetapi justru kelenturan itulah letak kekuatannya. Hampir tidak pernah kita melihat pohon bambu tumbang karena diterpa angin. Oleh sebab itu kita sekarang mengerti bahwa segerombolan pepohonan bambu yang selalu berubah-ubah arah rebahnya karena sering diterpa angin kencang dari arah yang selalu bergantian, namun demikian bambu-bambu itu masih tinggal tetap di tempatnya dan bertahun-tahun tidak satu pun yang tumbang. Mengapa pepohonan bambu itu begitu kuat? Sedikitnya ada dua alasan: 1. karena pepohonan tersebut hidup lentur; 2. Karena dengan hidup bergerombol, maka akar-akarnya telah menyatu. Itulah kunci kekuatannya.

Demikianlah juga dalam isi pidato Yosua kepada bangsa Israel, Yosua mengingatkan bahwa sekarang mereka tinggal berdampingan dengan sisa-sisa bangsa-bangsa lain. Itu berarti bahwa Israel terancam keberadaannya, katakan saja masalah tradisi adat-istiadat, kepercayaan, kawin campur, dan sebagainya. Hal-hal tersebut siap mengikis Israel. Yosua memperingatkan bahwa iman mereka selalu diuji dan teruji di tengah bangsa lain yang juga berjuang mempertahankan dan ...selengkapnya »
Banyak orang mengakui, dia adalah pelatih yang cerdas, ahli “meracik strategi”, disiplin, tetapi juga baik hati. Namun di sisi lain tak sedikit pula orang yang menilai, dia adalah sosok yang keras, kejam dan tak pandang bulu. Dialah sosok yang bernama Louis van Gaal, atau yang lebih dikenal oleh media dengan sebutan LvG. Louis van Gaal [LvG] adalah pelatih sepakbola berkebangsaan Belanda. Banyak klub yang dilatihnya menuai hasil memuaskan dan bahkan merebut gelar juara, seperti Ajax Amsterdam, AZ Alkmaar, hingga Barcelona. Metodenya dalam melatih dikenal disiplin, keras dan tidak mudah untuk dicerna. LvG tidak perduli dengan istilah pemain terkenal. Di matanya semua pemain sama dan harus membuktikan kemampuan mereka di hadapan “Sang Tuan” LvG. Di dalam metodenya melatih, dia berpandangan bahwa pemain sepakbola tidak berbicara tentang popularitas tetapi soal kemampuan bermain di lapangan dan dapat bermain sesuai dengan metode yang diterapkan. Jadi dalam hal ini, untuk membuat “Sang Tuan” LvG puas adalah bukan persoalan mudah. Banyak pemain terkenal yang tidak sesuai dengan seleranya dan harus tersingkir dari skema permainannya, seperti bintang prancis, Frank Riberry dan “bomber” Kolombia, Radamel Falcao yang dapat dijadikan contohnya. Membuat “Sang Tuan” LvG menjadi puas tidaklah mudah bagi para pemain, dan keadaan itu juga sama dengan yang dialami oleh jemaat Laodikia. Jemaat Laodikia adalah jemaat yang makmur karena mereka berada di kota yang makmur yang masyarakatnya adalah orang-orang kaya. Mereka juga tergolong jemaat yang mapan [karena sudah lama berdiri]. Karena kekayaan dan kemakmurannya, ibadah pun juga dibuat megah. Pada zaman itu, ibadah di Laodikia “didandani” semewah mungkin. Alat-alat musik istimewa dihadirkan dalam ibadah, tempat ibadah direnovasi sehingga terlihat istimewa. Bahkan tidak ketinggalan para pemimpin ibadah didandani dengan pakaian-pakaian yang memukau, serta “persembahan” diberikan “jor-joran” tanpa ada kata pelit. Apakah hal itu membuat Tuhan Puas? TIDAK !!! Tuhan kecewa dengan sikap yang ditunjukkan oleh jemaat Laodikia. Tuhan tidak dapat dibeli dan di suap dengan kemewahan. Dengan harta benda dan segala kemewahan dunia tidak membuat jemaat Laodikia berkenan di hati Tuhan. Pesan yang disampaikan Tuhan bagi mereka sangat pedas, “Jadi karena engkau suam-suam kuku, dan tidak dingin atau panas, Aku akan memuntahkan engkau dari mulut-Ku” [ay.16]. Ini berarti Tuhan menolak apa yang mereka lakukan. Kata “suam-suam kuku” menjelaskan tentang perilaku mereka yang ditolak Tuhan. Perilaku seperti apa yang membuat Tuhan tidak berkenan? Pertama, tidak ada semangat yang berkobar dalam kehidupan rohani mereka. Kekristenan jemaat Laodikia hanya sebatas formalitas, tidak ada kerinduan dan semangat. Kedua, jemaat Laodikia tidak perduli terhadap sesamanya. “Hidupku adalah hidupku, hidupmu adalah hidupmu”, kira-kira ungkapan tersebut cocok untuk menggambarkan keadaan pada saat itu. Serta yang Ketiga, jemaat Laodikia masih hidup dalam dosa dan mereka belum mau untuk bertobat. Membuat Tuhan, Sang Pemilik Semesta Alam ini puas ternyata tidak semudah yang kita bayangkan. Belajar dari jemaat Laodikia, kita bersama harus instropeksi diri. Apakah kekristenan kita hanya formalitas belaka? Apakah kita lebih menonjolkan ego kita, sehingga kita tidak perduli kepada sesama? Serta, apakah kita masih suka hidup dalam dosa, dan tidak mau sepenuhnya bertobat kepada Tuhan? Apabila itu masih ada pada kita, segeralah tinggalkan itu dan kembalilah kepada jalan Tuhan, supaya kita tidak “dimuntahkan” oleh Tuhan.
Gadis remaja itu menatap tumpukan kaset yang dikumpulkannya dalam sebuah kardus besar. Itu adalah koleksi yang dibeli dari uang sakunya sejak SD sampai SMA. Kaset-kaset itu telah menemaninya sekian lama sehingga ia hafal sebagian besar lagunya di luar kepala. Beberapa di antaranya bahkan menyimpan kenangan yang sangat mendalam. Tetapi sore itu satu demi satu ia meraih kaset-kasetnya dan mengeluarkannya dari kemasan. Satu per-satu diurainya pita kaset yang biasanya diperlakukan dengan hati-hati. Digapainya gunting dan dikoyaknya pita-pita coklat tua yang berkilau dan panjang bergelombang. Sore itu si gadis remaja memusnahkan koleksinya. Tindakan itu membuatnya menjadi bahan tertawaan sepupunya. Sasaran cibiran paman dan bibinya. Namun ia bersikukuh melanjutkannya sampai semua koleksinya tak bersisa. Mengapa? Berawal dari seorang gadis remaja yang rindu berlaku sesuai kehendak Tuhan, setelah bertahun-tahun melupakan-Nya. Kehausan untuk menaati Tuhan, tanpa bimbingan. Berkeliling dari satu KKR ke KKR lain. Hadir dari satu persekutuan ke persekutuan lain. Diberi asupan pengajaran demi pengajaran yang tak selalu bisa dipertanggungjawabkan. Ujung-ujungnya ia meyakini dan mengikuti ajaran pembicara yang ’sepertinya’ murni dan membawa kepada terobosan iman. Termasuk bakar-membakar semua buku dan kaset non-rohani. Yang menurut si pembicara adalah ’sesat’. Peristiwa itu terjadi tiga puluh tahun yang lalu. Kini trend KKR dengan pembicara-pembicara yang sedang ’naik daun’ memang tak lagi segencar dulu. Ajaran-ajaran yang ’mencengangkan’ tak sebegitu menjamur seperti dulu. Namun bukan berarti para pembicara yang gemar mencari sensasi sudah punah. Dari masa ke masa itu selalu ada. Dan orang-orang yang rindu mengikuti kehendak Tuhan demikian mudahnya mengasup ajaran yang disodorkan tanpa menyaring lagi. Bisa jadi karena tak mengerti mana yang benar. Bisa juga karena terlalu percaya kepada pembicara. Generasi yang rindu melakukan kehendak Tuhan butuh bimbingan dan pendampingan agar tak mudah diombang-ambingkan oleh berbagai pengajaran. Adakah kerinduan di hati kita untuk melakukan kehendak Tuhan? Kenali kebenaran Firman Tuhan. Tanpa dikurangi. Tanpa dilebih-lebihkan. Lakukan tepat seperti yang dikehendaki-Nya. Itulah yang menyenangkan hati Tuhan.
Pernahkah kita melihat orang-orang di sekitar kita melakukan hal-hal negatif yang tidak kita senangi, sehingga tindakan mereka dapat membuat kita marah, sedih, atau mungkin berduka? Mungkin itu dilakukan orang-orang yang kita kasihi, misalnya; istri, suami, orangtua, anak-anak, cucu, dll. Atau mungkin hal itu dilakukan oleh tetangga kanan kiri kita, bahkan mungkin orang-orang yang kita jumpai setiap hari dalam segala aktivitas dan pelayanan kita. Mengapa kerap kali hati kita tidak berkenan jika melihat orang-orang yang kita kasihi melakukan tindakan yang negatif? Sesungguhnya kesadaran itu telah muncul dengan sendirinya ketika hidup kita diperbaharui oleh kebenaran Firman Tuhan. Kebenaran Firman yang adalah sumber terang itulah yang kemudian menuntun kita dalam terang sehingga kita dipimpin untuk selalu hidup dalam terang Allah. Ketika terang Allah itu telah ada dalam hati kita, sesungguhnya kita akan mengetahui semua hal yang berkenan di hati Tuhan dan yang tidak. Kita menjadi cermin di mana kita bisa turut merasakan apa yang dirasakan oleh Tuhan. Jika kita sedih melihat kejahatan dan ketidakadilan, maka Tuhan lebih sedih melihatnya. Ketika kita menangis melihat orang-orang yang kita kasihi jatuh dalam dosa, sesungguhnya Tuhan juga sedang menangis melihat orang-orang yang telah ditebus-Nya kembali jatuh dalam dosa. Apa yang kita rasakan sesungguhnya mewakili apa yang Tuhan rasakan. Kita dapat merasakan kasih Allah yang demikian besar karena kasih Allah telah menerangi kita. Ketika Nehemia mendengar keadaan orang-orang Israel yang terluput dari pembuangan, maka Nehemia terduduk menangis dan berkabung selama beberapa hari. Nehemia berpuasa dan berdoa kehadirat Allah semesta langit selama beberapa hari [ayat 4]. Tuhan memakai Nehemia bak sebuah cermin yang dapat melihat sekelilingnya. Ia sangat sedih melihat keterpurukan orang Israel yang tertinggal di Yerusalem [ayat 3]. Sesungguhnya apa yang kita rasakan juga dirasakan oleh Tuhan. Aku adalah cermin bagi diriku di hati Tuhan. Jika kita sedih melihat kejahatan dan ketidakadilan, jangan sampai kita malah jatuh di dalamnya. Berkenanlah di hati Tuhan seperti kita melihat orang-orang di sekitar kita yang berkenan di hati kita.
Kitab Hakim-hakim mencatat sejarah kelam perjalanan hidup bangsa Israel sebagai umat Allah. Sepeninggal Yosua, para tua-tua, dan angkatan sezamannya, muncullah angkatan [generasi] baru yang tidak mengenal Tuhan atau perbuatan yang dilakukan-Nya bagi orang Israel. Generasi baru bangsa itu berulangkali melakukan apa yang jahat di mata Tuhan dan mereka beribadah kepada para Baal. Mereka meninggalkan Tuhan dan mengikuti allah-allah bangsa lain di sekitarnya. Penyembahan kepada allah lain telah mengakibatkan kemerosotan moral bangsa Israel. Bangsa itu telah menyimpang dari jalan kebenaran dan melakukan yang tidak patut [ayat 17]. Hal itu menyakitkan hati Tuhan. Akibatnya, Tuhan murka dan menyerahkan mereka dalam penindasan musuh-musuh mereka. Generasi baru umat Allah telah ‘terpesona’ dengan allah lain dan dipengaruhi gaya hidup bangsa-bangsa di sekitarnya yang jahat di mata Tuhan. Mereka terkontaminasi karena tidak mengenal Allah. Pengaruh-pengaruh jahat telah mempengaruhi dan bahkan menguasai mereka. Bukankah pengaruh dan ancaman yang jahat juga mengancam generasi muda kristen zaman ini? Coba lihat kemerosotan moral yang terjadi di sekitar kita. Situs-situs dengan konten pornografi beredar luas di internet; prostitusi online dapat dengan mudah diakses. Dan yang membuat kita miris, para pelajar dan mahasiswa terlibat di dalamnya. Belum lagi pergaulan bebas [free seks] yang semakin meningkat jumlahnya. Dan Jawa Tengah masuk dalam kategori mengkhawatirkan. Ditambah lagi semakin maraknya peredaran narkoba. Presiden Jokowi sendiri menyatakan bahwa paling tidak dalam satu hari ada sekitar 50 jiwa melayang karena narkoba. Semua itu terjadi di sekitar kita. Sadarkah kita bahwa bahaya tersebut setiap saat setiap waktu mengancam generasi kita; bisa merusak dan menghancurkan masa depan anak-anak kita? Apa yang harus kita lakukan untuk membentengi generasi yang ada di bawah kita? Penyebab utama generasi baru bangsa Israel meninggalkan Tuhan adalah tidak adanya pengenalan akan Tuhan. Ini berbicara tentang keimanan yang terus bertumbuh dan diperdalam. Kita memiliki tanggung jawab untuk menyiapkan generasi selanjutnya untuk siap menghadapi ancaman dari dunia ini yang semakin masif. Orangtua [bekerjasama dengan gereja] harus benar-benar menanamkan keimanan dengan memperkenalkan Kristus dan mengajarkan nilai-nilai moralitas kristen. Orangtua memegang peran utama sebagai ujung tombak mempersiapkan generasi yang tangguh. Kesiapan generasi penerus menghadapi tantangan dan ancaman bahaya dari dunia yang jahat ini bergantung dari apa yang kita kerjakan bagi mereka saat ini.
BARCODE BBM CHANNELS
RENUNGAN HARIAN
Tak Tergoyahkan
21 Mei '15
Teramat Singkat
11 Mei '15
Sang Penantang Zaman
20 Mei '15
Copyright © 2012 All rights reserved. Designed and Developed by GIA Dr. Cipto Semarang