SEPEKAN TERAKHIR
  Jumat, 06 Maret 2015   -HARI INI-
  Kamis, 05 Maret 2015
  Rabu, 04 Maret 2015
  Selasa, 03 Maret 2015
  Senin, 02 Maret 2015
  Minggu, 01 Maret 2015
  Sabtu, 28 Februari 2015
POKOK RENUNGAN
Dengan tinggal tetap di dalam Tuhan, maka segala rupa pencobaan dan tantangan yang kita hadapi justru akan membuat kita semakin dan semakin terlatih menghadapinya.
DITULIS OLEH
Pdt. Natanael Rabono
Rohaniwan Pusat
Renungan Lain oleh Penulis:
Home  »  Renungan  »  Hidup Di Tengah Kemajemukan
Hidup Di Tengah Kemajemukan
Kamis, 23 Mei 2013 | Tema: Memiliki Karakter Kristus
Hidup Di Tengah Kemajemukan
Yosua 23:1-16
Ada suatu pemandangan yang terlihat “aneh” dan menimbulkan pertanyaan. Pada enam bulan yang lalu segerombol pepohonan bambu secara “kompak” bersama-sama agak merebah ke arah barat, kemudian waktu berjalan dan tiga bulan yang lalu segerombol bambu itu telah berubah posisi arah rebahnya ke timur. Tetapi sekarang segerombol pohon bambu itu arah rebahnya jelas terlihat ke utara. Kata banyak orang bahwa pohon bambu adalah pohon yang lentur, mudah diombang-ambingkan angin, tetapi justru kelenturan itulah letak kekuatannya. Hampir tidak pernah kita melihat pohon bambu tumbang karena diterpa angin. Oleh sebab itu kita sekarang mengerti bahwa segerombolan pepohonan bambu yang selalu berubah-ubah arah rebahnya karena sering diterpa angin kencang dari arah yang selalu bergantian, namun demikian bambu-bambu itu masih tinggal tetap di tempatnya dan bertahun-tahun tidak satu pun yang tumbang. Mengapa pepohonan bambu itu begitu kuat? Sedikitnya ada dua alasan: 1. karena pepohonan tersebut hidup lentur; 2. Karena dengan hidup bergerombol, maka akar-akarnya telah menyatu. Itulah kunci kekuatannya.

Demikianlah juga dalam isi pidato Yosua kepada bangsa Israel, Yosua mengingatkan bahwa sekarang mereka tinggal berdampingan dengan sisa-sisa bangsa-bangsa lain. Itu berarti bahwa Israel terancam keberadaannya, katakan saja masalah tradisi adat-istiadat, kepercayaan, kawin campur, dan sebagainya. Hal-hal tersebut siap mengikis Israel. Yosua memperingatkan bahwa iman mereka selalu diuji dan teruji di tengah bangsa lain yang juga berjuang mempertahankan dan ...selengkapnya »
Galatia 6:7-10 Janganlah kita jemu-jemu berbuat baik, karena apabila sudah datang waktunya, kita akan menuai, jika kita tidak menjadi lemah. [ayat 9] Nasi yang kita makan setiap hari merupakan hasil kerja keras dari petani. Untuk menghasilkan padi, mula-mula petani harus menyiapkan bibit untuk ditanam. Bibit itu disemaikan di lahan yang sudah disiapkan. Dalam dua minggu bibit itu akan tumbuh. Sementara itu si petani mengolah tanah untuk menanam bibit yang sudah tumbuh itu. Cara mengolahnya bisa dengan dicangkul, dibajak, atau memakai traktor. Setelah lahan siap, barulah menanaminya. Petani harus merawat padi dengan mengairi, memupuk, dan menyemprotkan antihama. Juga petani itu harus menjaga tanaman padinya dari berbagai macam hama seperti tikus, burung, dsb. Semuanya itu memang pekerjaan yang melelahkan. Namun ketika tiba saatnya, padi itu menghasilkan bulir-bulir yang telah menguning, maka petani itu dapat menuai hasil jerih lelahnya. Saat panen tiba, para petani bersukacita. Firman Tuhan berkata: Janganlah jemu-jemu berbuat baik, sebab jika datang waktunya kita akan menuai. Seorang tokoh gereja, A.B. Simpson berkata, ’Saya percaya jerih payah dan doa yang dipanjatkan 20 tahun yang lalu tidak akan berlalu begitu saja. Memang mungkin kita tidak dapat melihat langsung hasil karya dan pengorbanan kita sekarang ini, tetapi pada suatu saat semuanya akan nyata dalam keindahan dan kemuliaan.’ ’Kasih yang Anda berikan, pengampunan yang Anda tunjukkan, kesabaran dan ketekunan yang dikaruniakan dalam hidup Anda akan menghasilkan buah yang lebat. Orang yang Anda tuntun kepada Kristus mungkin menolak diperdamaikan dengan Allah. Hatinya mungkin terlihat sedemikian kerasnya sehingga doa dan usaha Anda terasa sia-sia belaka. Namun sesungguhnya semua itu tidak akan sia-sia, melainkan akan berhasil pada suatu saat, mungkin sesudah Anda sendiri melupakannya.’ Memang kita bisa merasa lelah dan bosan. Kita bisa putus asa melihat apa yang kita kerjakan belum ada hasilnya. Mungkin kita sudah menjadi apatis dan berhenti mengerjakan hal-hal baik yang seharusnya kita lakukan. Mari kita bangkit dan bergairah kembali. Apa yang kita lakukan di dalam Tuhan tidak akan pernah sia-sia. Pada saatnya nanti kita akan memetik hasil jerih lelah kita. Amin.
Sepasang muda-mudi yang berpacaran dan akan melanjutkan ke jenjang pernikahan pasti merasa senang. Tentunya mereka tidak hanya memikirkan waktu pernikahan, namun juga persiapan-persiapannya. Misalnya, mengikuti bimbingan pranikah, melengkapi persyaratan administrasi gereja dan catatan sipil, membuat undangan, menentukan tempat resepsi dan lain-lain. Di tengah-tengah kesibukan persiapan tersebut, tentulah aktifitas sehari hari tidak berhenti, salah satunya tetap semangat bekerja. Pada nats di atas, Petrus mengajarkan kepada jemaat-jemaat yang hidup pada zamannya dan tentu juga kepada kita bahwa sebagai orang Kristen, kita sedang menantikan kedatangan Kristus yang ke-2 (ayat 7a). Sikap menanti kedatangan-Nya diwujudkan dalam tindakan, antara lain: 1. Membangun persekutuan dengan Tuhan (ayat 7b) 2. Mengasihi dengan sungguh-sungguh (ayat 8) 3. Membantu dengan tidak bersungut-sungut (ayat 9) 4. Melayani dengan kemampuan yang Tuhan beri (ayat 10) Dengan apa yang Petrus nasihatkan ini tentu kita masih bisa melakukan tanggung jawab dan kewajiban kita sehari-hari. Seperti halnya seorang yang mau menikah, di samping sibuk mempersiapkan urusan pernikahan, diapun tetap bekerja. Begitu juga kita sebagai orang percaya, hendaknya kita tidak hanya disibukkan dengan urusan pribadi, tetapi juga memikirkan hal-hal yang bersifat kekal.
Sebuah toko yang tidak begitu besar sangat ramai dikunjungi pembeli dibanding toko-toko di sekitarnya yang jauh lebih besar. Bukan karena barang-barang di toko itu dijual lebih murah dibanding toko lainnya, tetapi karena pelayanannya. Pemilik toko, seorang aktivis sebuah gereja, melatih semua karyawan agar melayani pembeli dengan ramah walaupun orang tersebut sangat menjengkelkan dan tidak jadi membeli setelah semua barang porak poranda. Suatu ketika ada seorang pria dengan pakaian kumal masuk ke toko dan ingin membeli sebuah barang yang cukup mahal harganya. Karyawan toko kuatir dia tidak bisa bayar. Pemilik toko mendekati dan melayaninya dengan ramah, si pembeli membayar dengan beberapa tumpuk uang ribuan. Setelah si pembeli pulang, dia berkata kepada karyawan-karyawannya: “Layanilah pembeli siapapun dia, jangan memandang penampilannya. Layanilah mereka dengan kasih seperti kepada Tuhan.” Tuhan ingin setiap anak-Nya hidup di dalam kasih seperti kasih Kristus yang rela berkorban bagi manusia. Hidup dalam kasih dinyatakan dengan tidak melakukan percabulan, kecemaran, keserakahan, bahkan dibicarakannya pun jangan. Demikian juga perkataan kotor, sembrono atau tidak pantas. Tetapi ucapkanlah syukur senantiasa. Ingatlah orang cemar, orang cabul dan yang perkataannya kotor tidak mendapat bagian dalam Kerajaan Kristus dan Allah. Kita hidup di masyarakat yang beraneka ragam, apakah kita bisa menyatakan kasih Kristus dalam pergaulan kita? Walaupun sekitar kita hidup dalam percabulan, kecemaran, keserakahan dan perkataan mereka kotor, sembrono, tidak pantas, apakah kita tetap hidup dalam kasih Kristus dengan rela berkorban dicemooh, disakiti hati, disingkirkan oleh lingkungan kita? Marilah kita terus bertahan dan setia kepada-Nya sampai satu saat Dia berkata, “Sabaslah hai hamba-Ku yang setia.”
Pak Rano dan keluarganya tinggal dalam lingkungan di mana hanya mereka saja yang Kristen. Setiap akan pergi beribadah hari minggu, mereka selalu mendapat ejekan dan gunjingan dari para tetangga. Meskipun begitu mereka tetap ramah dan penuh senyum menyapa setiap orang yang mereka lewati. Bila di rumah mereka diadakan komcil, para tetangga selalu mengganggu dengan membesarkan volume TV atau sengaja memperdengarkan musik dengan suara keras. Pak Rano tidak membalas perbuatan jahat tetangganya dengan kejahatan, tetapi dengan kasih yang dinyatakan dengan tindakan. Dengan senang hati dia menolong tetangga yang sakit dan mengantar ke rumah sakit. Dengan ringan tangan membantu tetangga memperbaiki alat-alat elektroniknya yang rusak tanpa biaya dan banyak perbuatan kasih lainnya. Dengan berjalannya waktu tindakan kasih itu berdampak, para tetangga juga mengasihi keluarga pak Rano. Yesus mengasihi orang percaya seperti Bapa mengasihi Yesus. Dia tidak mengharap balasan kasih yang sama, tetapi ingin setiap orang percaya tinggal dalam kasih-Nya. Artinya orang percaya hidup dalam kasih-Nya. Hal itu bisa terjadi apabila orang percaya menuruti perintah-Nya seperti Yesus menuruti perintah Bapa. Dampaknya adalah mengasihi orang lain seperti Yesus mengasihi. Kasih yang berani berkorban untuk orang lain. Sebutan sebagai sahabat Kristus, bukan lagi hamba akan diberikan kepada orang yang tinggal dalam kasih-Nya. Di sekitar kita banyak orang yang mungkin menyulitkan, membuat kita sakit hati, tidak menghargai, dan sebagainya. Apakah kita bisa mengasihi mereka? Dengan kekuatan kita tidak mungkin bisa. Kita yang telah menerima kasih Kristus, taatilah seluruh perintah-Nya, karena salah satu perintah-Nya adalah saling mengasihi. Dengan demikian kita dapat mengasihi orang lain, walaupun harus berkorban. Karena untuk mengasihi kadang-kadang sakit hati, mengorbankan perasaan. Marilah kita mengasihi tanpa pamrih, kasih yang rela berkorban. Tetaplah tinggal dalam kasih-Nya.
BARCODE BBM CHANNELS
RENUNGAN HARIAN
Good Service
15 Februari '15
Musim Panen Pasti Akan Tiba
01 Maret '15
Melayani Dengan Kekuatan Anugerah Allah
21 Februari '15
Copyright © 2012 All rights reserved. Designed and Developed by GIA Dr. Cipto Semarang