SEPEKAN TERAKHIR
  Minggu, 26 Juni 2016   -HARI INI-
  Sabtu, 25 Juni 2016
  Jumat, 24 Juni 2016
  Kamis, 23 Juni 2016
  Rabu, 22 Juni 2016
  Selasa, 21 Juni 2016
  Senin, 20 Juni 2016
POKOK RENUNGAN
Dengan tinggal tetap di dalam Tuhan, maka segala rupa pencobaan dan tantangan yang kita hadapi justru akan membuat kita semakin dan semakin terlatih menghadapinya.
DITULIS OLEH
Pdt. Natanael Rabono
Rohaniwan Pusat
Renungan Lain oleh Penulis:
Home  »  Renungan  »  Hidup Di Tengah Kemajemukan
Hidup Di Tengah Kemajemukan
Kamis, 23 Mei 2013 | Tema: Memiliki Karakter Kristus
Hidup Di Tengah Kemajemukan
Yosua 23:1-16
Ada suatu pemandangan yang terlihat “aneh” dan menimbulkan pertanyaan. Pada enam bulan yang lalu segerombol pepohonan bambu secara “kompak” bersama-sama agak merebah ke arah barat, kemudian waktu berjalan dan tiga bulan yang lalu segerombol bambu itu telah berubah posisi arah rebahnya ke timur. Tetapi sekarang segerombol pohon bambu itu arah rebahnya jelas terlihat ke utara. Kata banyak orang bahwa pohon bambu adalah pohon yang lentur, mudah diombang-ambingkan angin, tetapi justru kelenturan itulah letak kekuatannya. Hampir tidak pernah kita melihat pohon bambu tumbang karena diterpa angin. Oleh sebab itu kita sekarang mengerti bahwa segerombolan pepohonan bambu yang selalu berubah-ubah arah rebahnya karena sering diterpa angin kencang dari arah yang selalu bergantian, namun demikian bambu-bambu itu masih tinggal tetap di tempatnya dan be...selengkapnya »
Dalam bulan Desember 1944 Letnan Hiroo Onoda, perwira intelijen kekaisaran Jepang dalam perang Dunia II, ditugaskan oleh atasannya beroperasi di pulau Lubang Filipina untuk melakukan perang geriliya karena Jepang sudah terdesak waktu itu. Sebagai prajurit yang ingin berkenan kepada atasan dan kaisar, dia taat dan patuh pada atasannya untuk tidak keluar dari pulau itu apapun yang terjadi sampai dijemput kembali oleh atasannya. Pada bulan Agustus 1945, Jepang menyerah pada sekutu. Sayangnya berita itu tidak sampai pada Onoda, sehingga dia tetap bertahan di hutan pulau Lubang bersama anak buahnya melakukan perlawanan sampai satu persatu anak buahnya tewas meninggalkannya. Februari 1974, seorang anak muda Jepang menemuinya dan mintanya pulang karena perang telah selesai. Tetapi dia tidak mau pulang karena belum ada perintah dari atasannya. Sang pemuda bisa menemukan atasannya dan kemudian memberi perintah kepada Onoda untuk pulang. Tuhan ingin setiap anak Tuhan menjadi penurut-penurut Allah dan hidup di dalam kasih seperti Kristus mengasihi dengan menyerahkan diri-Nya untuk orang percaya sebagai persembahan dan korban yang harum bagi Allah. Untuk itu segala percabulan, kecemaran, keserakahan harus dihilangkan sebagaimana sepatutnya bagi orang-orang kudus. Perkataan kotor, kosong dan sembrono tidak diperkatakan lagi, sebaliknya yang Nampak adalah ucapan syukur. Karena orang cemar, serakah, orang dengan perkataan kotor dan hampa tidak mendapat bagian dalam kerajaan Allah. Untuk bisa berkenan di hadapan-Nya, maka kita seharusnya taat kepada perintah-Nya, hidup dalam kasih seperti Kristus telah mengasihi dan berkorban untuk kita. Kita harus berusaha untuk membuang segala percabulan, perbuatan cemar, keserakahan bahkan merasa malu untuk memperbincangkannya karena kita adalah umat yang kudus. Hindari untuk memperkatakan kata-kata kotor, omong kosong dan kasar, dan pergunakan kata-kata yang mencerminkan ucapan syukur. Bila kita berkenan kepada-Nya, maka kita akan mendapat bagian dalam kerajaan Allah.
“Ben, kok kamu bengong saja? Tidak ambil makanan?” tanya Sambey kepada Benay dalam acara makan malam yang diadakan Gereja, “Sotonya sedep banget lho, Ben. Rugi kalau tidak makan.” “Biar yang lain dulu saja, Sam. Aku belakangan”, jawab Benay santun. Ada sesuatu yang berbeda dari sosok Benay malam itu. Sosoknya yang gendut di segala sisi tubuhnya, mulai dari pipi, bahu, pinggul, dan perut, menampakkan bahwa Benay pelahap segalanya. Sampai-sampai ia pernah dijuluki “daging berjalan” oleh Pdt. Itong. Tetapi malam itu Benay memang beda dari biasanya. Sejenak membuat Sambey bertanya-tanya ada apa gerangan dengan sahabatnya itu. Belum sempat Sambey bertanya, Benay sudah menjelaskan mengapa sikapnya berbeda dari biasanya. Seminggu yang lalu, dalam sebuah acara perayaan ulang tahun sesepuh Gereja yang genap berusia 92 tahun, Benay melahap segala makanan yang dihidangkan secara prasmanan. Berbagai menu olahan istimewa disantapnya tanpa ampun. Setidaknya ia sudah 7 kali berganti menu dalam waktu 8 menit 10 detik. Alhasil tanpa disadarinya ada sekitar 70 “tua-tua” [baca: orang lanjut usia] yang tidak kebagian makanan. Mereka hanya bisa ngeces dan menerima nasib karena tak mampu menandingi ketangkasan Benay dalam hal sabet-menyabet “berkat”. Peristiwa itu sungguh menempelak Benay. Sang sesepuh yang berulang tahun sempat menasihatinya saat itu. “Cucuku, belajarlah mengutamakan dan memperhatikan orang lain selain dirimu sendiri. Karena Tuhan Yesus memberikan teladan demikian kepada kita”, demikian nasihat sang sesepuh dengan terbata-bata sambil sesekali batuk kering. Saat itu Benay menjadi malu dan rasa bersalah menjangkiti perasaannya. Sambey termangu-mangu mendengarkan Benay. Ia tak mampu lagi mengunyah soto nan lezat. Pandangannya menerawang dan terpaku pada sepasang kakek dan nenek yang hanya bisa duduk terbengong melihat antrian dan sesekali serobotan untuk mendapatkan semangkuk soto. “Ben, terima kasih ya. Pengalamanmu menyadarkan aku”, kata Sambey, “Bagaimana mungkin kita sehati sepikir, dalam satu kasih, satu jiwa, satu tujuan jika kita saling mementingkan diri sendiri dan melupakan orang lain. Dan bisa jadi itu tercermin dalam acara jamuan makan seperti malam ini.” Tanpa menunggu jawaban Benay, sekelebat angin Sambey sudah ada di hadapan kakek dan nenek itu. Entah apa yang dibicarakannya dengan mereka tetapi tidak lama kemudian tampak Sambey berdiri mengantri. Rupanya ia mengantri untuk kakek dan nenek itu. Jemaat yang terkasih, kita adalah satu keluarga di dalam Tuhan yang digambarkan sebagai tubuh yang terdiri dari banyak anggota. Marilah kita jaga kesatuan kita dalam segala hal dengan mengambil sikap tidak hanya memperhatikan kepentingan diri kita sendiri. Tetapi dengan rendah hati mau memperhatikan bahkan mengutamakan kepentingan orang lain.
Dalam proses metamorfosis, yaitu proses dikembalikannya manusia kepada rancangan Allah semula dalam sekolah kehidupan, waktu yang dikaruniakan kepada kita sangat berharga dan harus digunakan dengan benar. Dalam perjalanan waktu hidup ini ada momentum/kesempatan berharga di mana kita harus memilih, mengarahkan hidup kita ke sorga atau ke neraka. Dalam ayat 16, kata “pergunakan waktu” dalam terjemahan aslinya berarti menebus atau menyelamatkan [redeemimg the time]. Untuk menyelamatkan waktu kita harus rela meninggalkan semua kesibukan yang tidak mengarahkan hidup kita pada kedewasaan rohani atau pertumbuhan iman ke arah kesempurnaan Kristus. Waktu yang tidak digunakan untuk kepentingan kehidupan kekal berarti membuang anugerah yang tidak ternilai dalam kehidupan singkat ini. Masa hidup kita di bumi ini singkat hanya 70 – 80 tahun [Mazmur 90:10] adalah masa pembibitan/persemaian untuk dituai di kekekalan. Fokus hidup kita harus sungguh-sungguh pada kedewasaan rohani, untuk itu dibutuhkan niat yang kuat dan komitmen tinggi. Kehendak bebas kita harus diarahkan hanya pada Tuhan dan Kerajaan-Nya. Dengan demikian kita akan menjadi orang yang bijaksana, mengerti kehendak Tuhan [ayat 17]. Menyadari hal ini pemazmur berdoa supaya dapat menghitung hari-hari, yang berarti menghargai setiap hari yang diberikan Tuhan. Setiap hari kita perlu belajar mengenal dan mengalami Tuhan dalam saat teduh, merenungkan kebenaran Tuhan, juga pada saat jeda, pada saat kita sedang tidak melakukan kegiatan yang direncanakan. Dengan demikian kita akan bertumbuh semakin tidak bercacat dan tidak bercela. Untuk sukses dalam sekolah kehidupan di bumi ini, orang percaya perlu serius memanfaatkan waktu untuk:  Menjadikan Firman Tuhan [Kebenaran Injil] sebagai panduan yang dapat mengubah filosofi hidup/pola pikir.  Mengadakan perjumpaan, persekutuan dengan Tuhan setiap hari.  Hindari masukan yang salah melalui apa yang kita dengar, baca, informasi dari internet yang tidak bersentuhan dengan Tuhan.  Memiliki persekutuan dengan orang percaya yang menghormati dan takut akan Tuhan. Orang percaya membutuhkan sahabat-sahabat untuk saling berbagi kebenaran, saling menguatkan dan saling membangun iman [1 Korintus 15:33].
FIFA [Federation Internationale De Football Association] yang bertindak sebagai badan induk organisasi sepakbola dunia, dalam bukunya yaitu Laws Of The Game, membuat berbagai peraturan untuk permainan sepakbola. Di dalam pasal 12 buku tersebut tertera aturan tentang pelanggaran dan kelakuan tidak sopan dalam permainan sepakbola beserta dengan hukumannya. Salah satu tindakan yang tergolong sebagai pelanggaran adalah saat seorang pemain menggunakan mulutnya secara sembarangan. Kategori yang termasuk dalam tindakan menggunakan mulut secara sembarangan adalah seperti meludahi orang lain, berkata-kata kasar, melecehkan, rasis, serta menghina orang lain. Hukuman bagi pelanggaran ini terbagi menjadi dua, yaitu kartu kuning dan katu merah. Hukuman yang paling berat adalah kartu merah. Saat seorang pemain mendapat kartu merah, maka pemain tersebut harus keluarkan dari lapangan dan tidak berhak mengikuti lagi sisa jalannya pertandingan. Apakah cukup sampai di situ? Tidak! Otoritas yang berwenang akan mengusut tuntas tentang seberapa berat peanggaran akibat ucapan tersebut. Apabila itu tergolong ringan, maka pemain tersebut harus menerima sanksi tidak dapat ikut di pertandingan tersebut dan pertandingan lainnya sesuai ketentuan masing-masing daerah. Apabila itu tergolong berat, maka akan ada sangsi tambahan berupa skorsing, denda, hingga larangan aktif dalam dunia sepakbola sampai pada tuntutan pidana. Jika hidup ini adalah ibarat pertandingan sepakbola, kita adalah para pemainnya dan Tuhan bertindak sebagai sang pengadil. Apakah kita mau menjadi “pemain” yang mendapat “kartu merah” dari Tuhan dan kemudian dihukum berat hanya gara-gara mulut kita? Mulut bagaikan pedang bermata dua. Adakalanya mulut, melalui setiap perkataan yang baik, membuat kita terlihat bijaksana dan terhormat. Namun dengan yang mulut yang sama pula, oleh karena perkataan yang tidak menjadi berkat, membuat kita menjadi pribadi yang direndahkan. Karena itu tidaklah berlebihan bila Yakobus memperingatkan tentang kekuatan lidah. Yakobus mengatakan bahwa lebih mudah mengekang seekor kuda, mengendalikan sebuah kapal yang besar, dan menjinakkan segala jenis binatang seperti burung, binatang melata, dan binatang-binatang laut daripada mengendalikan lidah [ay. 3-8]. Dia menyebut lidah sebagai ’api’ yang dinyalakan oleh api neraka [ay. 6], dan ’sesuatu yang buas, tak terkuasai, dan penuh racun yang mematikan’ [ay. 8]. Alangkah bijaksana bila setiap hari kita berdoa, ’Awasilah mulutku, ya TUHAN, berjagalah pada pintu bibirku’ [Mazmur 141:3]. Mintalah agar Tuhan mengkuduskan mulut kita sehingga perkataan kita menjadi berkat bagi sesama dan memuliakan-Nya. Ingat, jagalah mulut kita agar “kartu merah” dari Tuhan tidak diberikan bagi kita.
BARCODE BBM CHANNELS
RENUNGAN HARIAN
Kesatuan Di Dalam Kristus
19 Juni '16
Kesatuan Yang Tidak Ada Duanya
12 Juni '16
Tepa Salira
23 Juni '16
Copyright © 2012 All rights reserved. Designed and Developed by GIA Dr. Cipto Semarang