SEPEKAN TERAKHIR
  Selasa, 28 Maret 2017   -HARI INI-
  Senin, 27 Maret 2017
  Minggu, 26 Maret 2017
  Sabtu, 25 Maret 2017
  Jumat, 24 Maret 2017
  Kamis, 23 Maret 2017
  Rabu, 22 Maret 2017
POKOK RENUNGAN
Dengan tinggal tetap di dalam Tuhan, maka segala rupa pencobaan dan tantangan yang kita hadapi justru akan membuat kita semakin dan semakin terlatih menghadapinya.
DITULIS OLEH
Pdt. Natanael Rabono
Rohaniwan Pusat
Renungan Lain oleh Penulis:
Home  »  Renungan  »  Hidup Di Tengah Kemajemukan
Hidup Di Tengah Kemajemukan
Kamis, 23 Mei 2013 | Tema: Memiliki Karakter Kristus
Hidup Di Tengah Kemajemukan
Yosua 23:1-16
Ada suatu pemandangan yang terlihat ďanehĒ dan menimbulkan pertanyaan. Pada enam bulan yang lalu segerombol pepohonan bambu secara ďkompakĒ bersama-sama agak merebah ke arah barat, kemudian waktu berjalan dan tiga bulan yang lalu segerombol bambu itu telah berubah posisi arah rebahnya ke timur. Tetapi sekarang segerombol pohon bambu itu arah rebahnya jelas terlihat ke utara. Kata banyak orang bahwa pohon bambu adalah pohon yang lentur, mudah diombang-ambingkan angin, tetapi justru kelenturan itulah letak kekuatannya. Hampir tidak pernah kita melihat pohon bambu tumbang karena diterpa angin. Oleh sebab itu kita sekarang mengerti bahwa segerombolan pepohonan bambu yang selalu berubah-ubah arah rebahnya karena sering diterpa angin kencang dari arah yang selalu bergantian, namun demikian bambu-bambu itu masih tinggal tetap di tempatnya dan be...selengkapnya »
Jalan masuk kepada Allah Efesus 2:18 karena oleh Dia kita kedua pihak dalam satu Roh beroleh jalan masuk kepada Bapa. Kata ’jalan masuk’ atau akses berasal dari kata Yunani prosagoogen, yang berarti suatu jalan masuk yang resmi bagi tamu kerajaan untuk menghadap Raja. Bandingkan Ibrani 4:16. Di dalam Kristus kita mempunyai hak resmi untuk memasuki ruang tahta Allah. Roh Kudus yang ada di dalam kita memberi keyakinan dan keberanian kepada kita untuk memasuki ruang tahta Allah. Jadi yang memiliki akses itu bukan saja para Imam, atau orang Lewi, atau para rohaniwan saja, tetapi setiap orang yang percaya dan telah ditebus oleh Kristus. Kita yang dahulu tidak termasuk dalam umat perjanjian, dan tidak mempunyai hak untuk masuk ke hadapan hadirat Allah, sekarang mendapat hak itu oleh Kasih karunia Allah. Karena itu kita harus menggunakan hak tersebut dengan penuh rasa syukur dan dengan keyakinan. Kita tidak perlu takut akan terjadi: - akses ditolak - persediaan terbatas - masa berlaku sudah habis Apakah anda menikmati hak istimewa itu? Pdt. Goenawan Susanto
Kisah heroik Daud melawan Goliat sangat melegenda. Bukan hanya kaum Kristiani saja yang mengetahui kisah ini tetapi juga orang ‚Äúdi luar sana‚ÄĚ tahu bahwa pertempuran itu sangat tidak imbang. Daud yang imut tanpa perlengkapan perang melawan Goliat si raksasa yang berpakaian perang lengkap. Daud menghadapi Goliat tanpa rasa takut sedikitpun. Mengapa ??? Daud sudah mengalami secara pribadi pertolongan Tuhan saat dia bekerja menggembalakan kambing domba ayahnya. Daud merasa tersinggung ketika mendengar Goliat yang berteriak-teriak mencemooh Allah Israel sehingga dengan penuh keyakinan dikatakannya kepada Raja Saul bahwa dia akan mengalahkan Goliat sama seperti dia mengalahkan singa dan beruang saat dia melindungi ternak ayahnya [ayat 34-36]. Daud hanya membawa tongkat, lima batu kali dalam kantongnya dan umban di tangannya sehingga Goliat marah, mengutuki Daud karena merasa dianggap seekor anjing [ayat 43]. Goliat yang besar mendatangi Daud dengan pedang, tombak dan lembing sedangkan Daud yang imut mendatangi Goliat dengan nama TUHAN [ayat 45]. Dengan hikmat dan pertolongan Tuhan, Daud dapat melihat peluang yang ada, yaitu lubang ketopong yang dipakai Goliat tepat di dahinya [ayat 49]. Mungkin saat ini kita sedang menghadapi ‚ÄúGoliat‚ÄĚ dalam kehidupan keseharian kita, dalam pekerjaan, problema rumah tangga bahkan mungkin dalam pelayanan. Jangan takut, jangan putus asa !! Mari kita ingat pertolongan Tuhan yang telah kita alami sama seperti Daud disertai Tuhan sehingga bisa membaca peluang yang ada dan hanya dengan batu kali licin yang kecil dapat mengalahkan ‚ÄúGoliat‚ÄĚ yang mungkin sangat menakutkan !!! Amin.
Cinta sering dikatakan membuat orang berubah baik dalam penampilan, sikap, cara bicara dan banyak lagi yang lainnya. Seperti ketika seorang pemuda tertarik pada seorang gadis, maka sadar atau tidak selalu akan membuat perubahan pada hidupnya. Minimal cara berdandan atau model gaya rambut. Tujuannya adalah agar si gadis tersebut juga senang dengan apa yang diperbuat oleh pemuda tersebut hingga sama-sama tertarik. Kenyataan itu sudah umum dialami oleh setiap orang yang sedang tertambat hatinya kepada seseorang yang dianggap istimewa. Kisah Zakheus adalah kisah yang mengispirasi karena ketertarikannya pada Yesus. Kalimat ‚Äėorang apakah Yesus itu‚Äô menunjukkan betapa keingintahuannya akan pribadi Yesus yang mempesona hatinya. Segala cara ia tempuh untuk bisa ketemu dengan Yesus. Ini yang dikatakan cinta itu kuat seperti maut, atau sebuat kalimat motivasi: ‚ÄúJika sesuatu itu kita anggap penting, maka kita akan menemukan cara. Namun jika sesuatu itu kita anggap tidak penting, maka kita akan menemukan banyak alasan.‚ÄĚ Zakheus melihat betapa pentingnya bertemu dengan Yesus dan ia mengupayakan dengan berbagai cara. Meskipun tidak ada yang mendukung, ia terus mengupayakan sebab ia butuh. Dan Yesuspun menyambutnya dengan Kasih-Nya. Pertemuan itu yang mengakibatkan sebuah komitmen untuk mengalami perubahan sehingga apapun yang ia miliki semua dilakukan dan dikerjakan. Seperti seorang yang sedang mencintai akan memberikan apa yang ia punya. Kita dingatkan kembali akan cinta kita pertama saat berjumpa dengan Yesus, masihkah menyala-nyala atau sudah padam hingga enggan mengalami perubahan atau mandeg dalam pembaharuan rohani. Atau kita selalu beralasan sibuk dengan mengurusi berkat yang telah kita terima dan mengabaikan Pribadi yang telah memberikan berkat tersebut. Bertemu dengan Allah dalam ibadah mulai tidak penting, berdoa dianggap kuno, membaca firman Tuhan sebagai kegiatan yang membosankan sebab tidak ada yang menantang dibanding pekerjaan, traveling, shoping, ataup6n mancing. Dan akhirnya ora eling dengan Tuhan yang telah memberkati. Ketika kasih kita kepada Tuhan menjadi mulai dingin, maka kita tidak akan mengalami sesuatu yang berharga. Namun mari kita kejar dan mengupayakan untuk senantiasa bertemu Tuhan dalam ibadah kita dan saat-saat pribadi kita dengan Tuhan dan perhatikan perubahan apa yang akan kita rasakan bersamanya. Sesuatu yang menyenangkan bersamanya akan semakin kita rasakan di sepanjang perjalanan hidup kita.
Kita pasti tidak asing dengan sapaan ‚Äėsahabat super‚Äô yang sering diucapkan oleh seorang motivator di salah satu stasiun TV swasta. Tentunya sapaan tersebut dipakai untuk mengajak setiap pemirsa televisi melihat dirinya sendiri sebagai pribadi super. Terlepas dari sapaan itu, merasa super atau menjadi super bukanlah sesuatu yang buruk, tetapi jangan kebablasan merasa atau menjadi superior. Sejarah telah mencatat, mereka yang merasa superior bukannya menjadi super, tetapi malah menjadi monster. Misalnya, Firaun yang merasa diri superior karena mengklaim sebagai keturunan dewa, cenderung mempergunakan kekuasaannya untuk menindas rakyatnya. Di zaman yang jauh lebih modern, Adolf Hitler dengan pernyataannya ‚ÄėDeutschland Uber Alles‚Äô [Jerman di atas segalanya] dan pemahaman bahwa bangsa Aria [Jerman] adalah bangsa yang tertinggi di dunia telah menjadikan dirinya penguasa yang tirani. Ternyata bukan hanya dunia penguasa pemerintahan yang bisa terserang virus ‚Äėsuperior‚Äô, tetapi juga lingkup spiritual pun bisa tertular. Hal itu bisa kita lihat ketika Tuhan Yesus membentangkan perumpamaan tentang orang Farisi dengan pemungut cukai. Mengapa? Karena ada beberapa orang merasa diri superior dengan menganggap dirinya benar dan memandang rendah orang lain. Dalam perumpamaan tersebut orang Farisi dan pemungut cukai sama-sama pergi berdoa ke Bait Allah. Orang Farisi berdoa dengan membanggakan [menyombongkan] dirinya. Ia bangga akan status sebagai ‚Äėorang baik dan terhormat‚Äô; ia membanggakan sisi ‚Äėreligiusitasnya‚Äô, ‚Äėkesalehan dan ketaatannya pada perintah Allah‚Äô. Tanpa malu ia memamerkan seabreg prestasi keagamaannya di hadapan Sang Khalik. Sebaliknya si pemungut cukai berdiri jauh-jauh dan tidak berani menengadah ke langit, menyadari sebagai orang berdosa yang tidak layak berdiri di hadapan Allah. Ia hanya bisa meratap dan memohon belas kasihan Sang Pencipta. Kepada siapa Allah berkenan? Bukan semata-mata kepada si pemungut cukai, tetapi kepada orang yang merendahkan diri di hadapan-Nya. Allah berkenan bukan kepada orang yang meninggikan diri; merasa superior, melainkan kepada orang yang merendahkan hati. Kita harus berhati-hati dengan sikap merasa diri superior dalam hal spiritualitas dan keagamaan karena bisa memunculkan kecenderungan menjadi ‚Äėhakim suci‚Äô. Tanpa sadar merasa yang ‚Äėberhak‚Äô menentukan suci atau tidaknya seseorang; saleh atau tidaknya seseorang; merasa berhak menunjuk jari kepada orang lain dengan tatapan merendahkan dan merasa lebih baik serta lebih benar; menjatuhkan sanksi tanpa disertai belas kasih; dsb. Orang seperti itu tidak ubahnya menjadi ‚Äėdiktator dan penguasa rohani‚Äô yang tirani yang dibungkus kesucian dan kesalehan semu.
BARCODE BBM CHANNELS
RENUNGAN HARIAN
Dipulihkan Dengan Kekuatan Untuk Mengikut
15 Maret '17
Mengalami Tuhan Secara Nyata
20 Maret '17
Jangan Abaikan UndanganNya
23 Maret '17
Copyright © 2012 All rights reserved. Designed and Developed by GIA Dr. Cipto Semarang