SEPEKAN TERAKHIR
  Senin, 22 September 2014   -HARI INI-
  Minggu, 21 September 2014
  Sabtu, 20 September 2014
  Jumat, 19 September 2014
  Kamis, 18 September 2014
  Rabu, 17 September 2014
  Selasa, 16 September 2014
POKOK RENUNGAN
Dengan tinggal tetap di dalam Tuhan, maka segala rupa pencobaan dan tantangan yang kita hadapi justru akan membuat kita semakin dan semakin terlatih menghadapinya.
DITULIS OLEH
Pdt. Natanael Rabono
Rohaniwan Pusat
Renungan Lain oleh Penulis:
Home  »  Renungan  »  Hidup Di Tengah Kemajemukan
Hidup Di Tengah Kemajemukan
Kamis, 23 Mei 2013 | Tema: Memiliki Karakter Kristus
Hidup Di Tengah Kemajemukan
Yosua 23:1-16
Ada suatu pemandangan yang terlihat “aneh” dan menimbulkan pertanyaan. Pada enam bulan yang lalu segerombol pepohonan bambu secara “kompak” bersama-sama agak merebah ke arah barat, kemudian waktu berjalan dan tiga bulan yang lalu segerombol bambu itu telah berubah posisi arah rebahnya ke timur. Tetapi sekarang segerombol pohon bambu itu arah rebahnya jelas terlihat ke utara. Kata banyak orang bahwa pohon bambu adalah pohon yang lentur, mudah diombang-ambingkan angin, tetapi justru kelenturan itulah letak kekuatannya. Hampir tidak pernah kita melihat pohon bambu tumbang karena diterpa angin. Oleh sebab itu kita sekarang mengerti bahwa segerombolan pepohonan bambu yang selalu berubah-ubah arah rebahnya karena sering diterpa angin kencang dari arah yang selalu bergantian, namun demikian bambu-bambu itu masih tinggal tetap di tempatnya dan bertahun-tahun tidak satu pun yang tumbang. Mengapa pepohonan bambu itu begitu kuat? Sedikitnya ada dua alasan: 1. karena pepohonan tersebut hidup lentur; 2. Karena dengan hidup bergerombol, maka akar-akarnya telah menyatu. Itulah kunci kekuatannya.

Demikianlah juga dalam isi pidato Yosua kepada bangsa Israel, Yosua mengingatkan bahwa sekarang mereka tinggal berdampingan dengan sisa-sisa bangsa-bangsa lain. Itu berarti bahwa Israel terancam keberadaannya, katakan saja masalah tradisi adat-istiadat, kepercayaan, kawin campur, dan sebagainya. Hal-hal tersebut siap mengikis Israel. Yosua memperingatkan bahwa iman mereka selalu diuji dan teruji di tengah bangsa lain yang juga berjuang mempertahankan dan ...selengkapnya »
Pemilu 2014 menjadi pemilu yang paling mengundang banyak perhatian dari berbagai kalangan jika dibandingkan dengan pemilu-pemilu sebelumnya. Berbagai kontroversi mengiringi pemberitaan seputar pemilu kali ini. Kejadian yang paling hangat adalah tentang persidangan di tingkat Mahkamah Konstitusi (MK) di mana para saksi sempat kebingungan dalam menjawab pertanyaan, dan tak jarang pula menghadirkan gelak tawa di persidangan. Banyak orang bertanya-tanya, apakah para saksi ini benar-benar berkompeten untuk memberikan kesaksian? Apakah para saksi juga tahu persis tentang duduk perkara yang dilaporkan? Ataukah jangan-jangan para saksi, hanya bersaksi berdasarkan “pesan sponsor” saja? Hal ini membuat banyak orang menggelengkan kepala dan mengernyitkan dahi tanda penasaran akan seputar yang terjadi. Bahkan salah satu surat kabar elektronik pun sampai-sampai menyebut hal ini seperti “panggung dagelan srimulat”. Sadarkah kita bahwa apa yang kita ceritakan atau sampaikan akan memiliki akibat bagi orang di sekitar kita yang menerimanya? Jika apa yang kita sampaikan benar, maka orang yang menerimanya juga akan bertindak benar. Namun jika yang kita sampaikan salah, maka “si penerima cerita” pun, niscaya juga dapat bertindak salah dan akan bingung dengan keadaan yang sedang dialami. Menceritakan sesuatu yang benar adalah hal yang penting. Prinsip bercerita tentang kebenaran adalah mengungkapkan apa yang sudah kita lihat dan alami secara tepat, tanpa “pesan sponsor” dari pihak manapun. Saat kita bercerita (bersaksi) tentang kebenaran, maka pasti akan ada orang yang diubah oleh kebenaran itu. Pernahkah kita merenungkan mengapa Rahab, seorang wanita tunasusila yang tinggal di kota penyembah berhala, Yerikho, membuka rumahnya bagi para mata-mata Israel? Dan dari manakah dia memperoleh keberanian untuk menyebut Allah orang Israel sebagai Allahnya sendiri? Perubahan yang hampir tak mungkin terjadi ini sesungguhnya didorong oleh berbagai kisah yang telah ia dengar mengenai kenyataan dan kuasa Allah. Meskipun dikelilingi penyembahan berhala dan kejahatan, hati Rahab tertarik kepada Allah. Sebagaimana yang dikatakannya kepada para mata-mata (ayat 10), ”Kami mendengar, bahwa Tuhan telah mengeringkan air Laut Teberau di depan kamu, ketika kamu berjalan keluar dari Mesir, dan apa yang kamu lakukan kepada kedua raja orang Amori.” Dalam kondisi normal, kota Yerikho yang berbenteng tinggi hampir tak mungkin dikalahkan. Namun demikian, kota itu menjadi tak berdaya karena cerita-cerita yang luar biasa mengenai kuasa Allah. Jauh sebelum para utusan Allah tiba, kesombongan dalam kebudayaan musuh Israel ini larut dalam ketakutan saat mereka berhadapan dengan orang-orang kepunyaan Allah yang kisahnya telah banyak mereka dengar (ayat 11). Dan di dalam tembok, satu hati penyembah berhala berbalik untuk menerima Allah Israel dan memainkan peranan strategis dalam kemenangan Israel yang mengherankan. Marilah kita menceritakan kebesaran Yesus dan kemurahan-Nya kepada orang di sekeliling kita karena itu adalah kebenaran yang sejati. Menceritakan kebenaran yang sejati adalah tugas kita, dan biarkan Roh Kudus yang akan mengubah orang menjadi percaya. Jangan pernah berhenti bersaksi tentang kebenaran yang sejati di dalam Yesus Kristus.
Kakak saya pernah bersaksi atas dua mujizat Tuhan yang dialaminya saat dia menempuh studi di sekolah Alkitab. Dulu dia pernah berkata kepada Tuhan kalau dia tidak ingin tahu bahwa Tuhan itu baik hanya dari kata orang. Ternyata Tuhan izinkan kebaikan-Nya dan kuasa-Nya dialami oleh kakak saya melalui sakit pendarahan dan benjolan pada lidahnya. Tuhan seketika hentikan pendarahan yang sudah dialaminya selama beberapa waktu hingga membuat kakak saya habis-habisan, baik tenaga maupun keuangan. Setelah beberapa tahun kemudian mujizat kembali dialami setelah benjolan itu keluar saat kakak saya seperti tersedak makanan. Padahal dokter berkata benjolan itu harus dioperasi. Pengalaman kakak saya ini juga sangat menginspirasi saya. Saya juga mau seperti itu. Ternyata selama saya sekolah, banyak sekali mujizat yang saya alami. Hal yang mustahil bisa saya alami. Mulai dari biaya sekolah, biaya hidup, beberapa mata kuliah yang menakutkan, masalah sosial dengan teman asrama, sakit penyakit, bahkan pemulihan gambar diri. Semuanya selesai secara ajaib. Dari pengalaman itu, saya merasa jujur dan benar, tanpa kebohongan, tanpa rasa bersalah, ketika berkata kepada orang lain bahwa Tuhan itu baik. Intensitas mujizat dan intimasi dengan Tuhan itulah yang membuat saya percaya bahwa Tuhan mempunyai kuasa untuk melakukan segala sesuatu dari dulu, sekarang sampai selama-lamanya. Demikian halnya dengan yang dialami Ayub. Ayub pernah mengalami kejayaan, bahkan keterpurukan. Sepanjang peristiwa itu terjadi, Ayub pun pernah kecewa dengan sahabat, keluarga bahkan dengan Tuhan. Namun titik nadir kehidupan Ayub telah mempertemukannya kepada kasih Tuhan yang terselubung dalam hal-hal menyakitkan yang dialamimya. Melalui kasih karunia Tuhan, Ayub mempercayai kemahakuasaan Tuhan dalam alam semesta. Jika saat ini Anda sedang mengalami kejayaan maupun keterpurukan, ingatlah bahwa Tuhan sedang menunjukkan kemahakuasaan-Nya. Berserahlah, percayalah, maka Anda akan melihat pemeliharaan-Nya.
Suatu hari saya membaca sebuah artikel dan melihat foto-foto tentang operasi plastik. Bersama teman-teman, kami menertawakan gambar dari beberapa ibu dan gadis-gadis yang telah menjalani operasi plastik tersebut. Kami tertawa karena orang dalam foto tersebut yang awalnya ‘tidak enak dilihat’ berubah jadi ‘enak dilihat’. Wajah yang sudah tua dan keriput disulap menjadi muda dan cantik kembali. Sungguh sangat menggelikan membandingkan wajah asli yang semula hidungnya pesek dan sekarang menjadi mancung seperti hidung Madona. Dalam artikel tersebut, sebuah komentar mengungkapkan bahwa keinginan utama yang mendorong mereka melakukan operasi plastik adalah ketakutan mereka pada ‘ketuaan’ yang kemudian membawa dampak pada kurangnya kepercayaan diri pada seseorang. Sebenarnya operasi plastik yang dilakukan untuk merawat tubuh dan mendandani tubuh yang Tuhan sudah berikan kepada kita sebagai bentuk rasa syukur kita, itu tidak salah. Tetapi operasi plastik yang dilakukan karena ketakutan-ketakutan pada ketuaan, ketakutan pada perubahan fisik yang memang pasti akan terjadi dalam tubuh kita, dan ketidakpuasan fisik yang Tuhan berikan, serta rasa iri hati terhadap kelebihan-kelebihan fisik yang dimiliki orang lain, itu yang tidak dibenarkan dalam Alkitab. Karena secara otomatis ketakutan-ketakutan tersebut akan menguras seluruh energi, keuangan, dan menjadikan kita jauh dari ucapan syukur. Perubahan fisik, tua, keriput, rambut putih, ompong, lemah, dan lain sebagainya, mengapa harus ditakuti? Bukankah kita semua pasti akan mengalaminya? 2 Korintus 4:16 berkata: “Tetapi meskipun manusia lahiriah kami semakin merosot,...” Artinya, baik usia, bentuk tubuh, wajah, hidung dan semua yang ada dalam tubuh kita ada batas waktu tertentu yang tidak dapat kita hindari. Kitab Mazmur lebih tegas berkata bahwa batas usia kita pun sudah ditentukan oleh Tuhan (Mazmur 90:10). “Masa hidup kami tujuh puluh tahun, dan jika kami kuat delapan puluh tahun,...”. Jadi, mari kita merawat tubuh kita dengan baik dan penuh ucapan syukur. Semua hal yang pasti akan terjadi dalam hidup kita di kemudian hari jangan sampai membuat kita takut, apalagi sampai mengurangi rasa percaya diri dan ucapan syukur kita pada Tuhan.
Efesus 2:19 Demikianlah kamu bukan lagi orang asing dan pendatang, melainkan kawan sewarga dari orang-orang kudus dan anggota-anggota keluarga Allah, Setiap orang dilahirkan di dalam sebuah keluarga. Keluarga itu memberinya identitas. Dia mewarisi sifat-sifat dari orang tuanya. Dia juga akan mewarisi harta yang dimiliki orang tuanya. Dan yang lebih esensial lagi dia memiliki hubungan batin dengan keluarga itu. Keluarga itu menjadi tempat bernaung baginya dan dia bertumbuh di dalam keluarga itu. Secara rohani kita memiliki keluarga, yaitu gereja di mana kita menjadi anggota. Gereja lokal di mana kita tertanam sebagai anggota Tubuh Kristus adalah keluarga kita secara rohani. Identitas rohani kita terbentuk di gereja kita. Kita bertumbuh secara rohani bersama-sama dengan orang-orang di gereja kita. Kita ikut serta dalam kehidupan komunitas di gereja kita. Kita terlibat dalam pelayanan di gereja kita. Namun dalam kenyataan tidak jarang kita melihat kehidupan keluarga yang tidak sebagaimana mestinya. Ada keluarga-keluarga yang tidak memiliki hubungan harmonis di antara anggota-anggotanya. Mereka tidak merasa nyaman berada di rumah, sehingga mereka lebih senang bersama dengan orang-orang di luar keluarganya. Bahkan mereka merasa asing dengan keluarganya sendiri. Situasi seperti ini bukanlah situasi yang normal dan seharusnya tidak terjadi. Firman Tuhan di atas mengingatkan kita bahwa di dalam gereja Tuhan Yesus, kita bukan orang-orang asing atau pendatang. Kita adalah anggota-anggota keluarga Allah. Kadang orang Kristen kurang menyadari keberadaannya sebagai anggota keluarga Allah. Padahal setiap orang pasti membutuhkan keluarga sebagai tempat bernaung dan bertumbuh. Orang Kristen yang hidup rohaninya bertumbuh dengan sehat adalah orang Kristen yang memiliki keluarga rohani yaitu gereja lokal. Dia memiliki hubungan dengan anggota yang lain dan ikut terlibat dalam kehidupan rohani yang ada di gereja itu. Jemaat Tuhan, anda mempunyai keluarga rohani, tempat anda menerima berkat-berkat rohani dan mengalami pertumbuhan secara rohani.
BARCODE BBM CHANNELS
RENUNGAN HARIAN
Identitas Yang Tak Bisa Disembunyikan
15 September '14
Diikat Kuat
08 September '14
Gereja + Tubuh
11 September '14
Copyright © 2012 All rights reserved. Designed and Developed by GIA Dr. Cipto Semarang