SEPEKAN TERAKHIR
  Kamis, 20 Juli 2017   -HARI INI-
  Rabu, 19 Juli 2017
  Selasa, 18 Juli 2017
  Senin, 17 Juli 2017
  Minggu, 16 Juli 2017
  Sabtu, 15 Juli 2017
  Jumat, 14 Juli 2017
POKOK RENUNGAN
Dengan tinggal tetap di dalam Tuhan, maka segala rupa pencobaan dan tantangan yang kita hadapi justru akan membuat kita semakin dan semakin terlatih menghadapinya.
DITULIS OLEH
Pdt. Natanael Rabono
Rohaniwan Pusat
Renungan Lain oleh Penulis:
Home  »  Renungan  »  Hidup Di Tengah Kemajemukan
Hidup Di Tengah Kemajemukan
Kamis, 23 Mei 2013 | Tema: Memiliki Karakter Kristus
Hidup Di Tengah Kemajemukan
Yosua 23:1-16
Ada suatu pemandangan yang terlihat “aneh” dan menimbulkan pertanyaan. Pada enam bulan yang lalu segerombol pepohonan bambu secara “kompak” bersama-sama agak merebah ke arah barat, kemudian waktu berjalan dan tiga bulan yang lalu segerombol bambu itu telah berubah posisi arah rebahnya ke timur. Tetapi sekarang segerombol pohon bambu itu arah rebahnya jelas terlihat ke utara. Kata banyak orang bahwa pohon bambu adalah pohon yang lentur, mudah diombang-ambingkan angin, tetapi justru kelenturan itulah letak kekuatannya. Hampir tidak pernah kita melihat pohon bambu tumbang karena diterpa angin. Oleh sebab itu kita sekarang mengerti bahwa segerombolan pepohonan bambu yang selalu berubah-ubah arah rebahnya karena sering diterpa angin kencang dari arah yang selalu bergantian, namun demikian bambu-bambu itu masih tinggal tetap di tempatnya dan bertahun-tahun tidak satu pun yang tumbang. Mengapa pepohonan bambu itu begitu kuat? Sedikitnya ada dua alasan: 1. karena pepohonan tersebut hidup lentur; 2. Karena dengan hidup bergerombol, maka akar-akarnya telah menyatu. Itulah kunci kekuatannya.

Demikianlah juga dalam isi pidato Yosua kepada bangsa Israel, Yosua mengingatkan bahwa sekarang mereka tinggal berdampingan dengan sisa-sisa bangsa-bangsa lain. Itu berarti bahwa Israel ter...selengkapnya »
Seminggu yang lalu saat liburan sekolah, kami sekeluarga berlibur ke Bandung. Di sana kami menyempatkan pergi ke Lembang untuk mengunjungi beberapa tempat wisata yang cukup menarik bukan hanya untuk anak-anak tetapi juga bagi orang dewasa. Tetapi perjalanan menuju Lembang yang tidak terlalu jauh dari kota Bandung bisa menjadi perjalanan yang cukup melelahkan tenaga bahkan emosi karena terkenal kemacetannya apalagi pada masa-masa liburan. Oleh sebab itu kami pergi pagi hari untuk menghindari kemacetan yang parah. Dan benar saja, perjalanan ke Lembang kami lalui dengan lancar, tanpa kemacetan yang berarti. Tetapi saat pulang menuju Bandung, tentunya kemacetan tidak akan bisa dihindarkan. Oleh sebab itu kami mengambil jalan pulang melalui Maribaya yang mengarah ke Dago. Meskipun sudah berusaha melewati jalur alternatif, kemacetan tidak bisa dihindari karena ternyata juga banyak wisatawan yang melewati jalur tersebut. Kemacetan semakin diperparah dengan beberapa mobil dan banyak motor yang tidak sabar mengambil jalur kanan sehingga menutup jalur kendaraan dari arah yang berlawanan. Jemaat yang terkasih, ada kalanya peristiwa seperti itu terjadi dalam hidup kita. Sesuatu yang tidak diduga, di luar perhitungan, bahkan kendali. Kita sudah berusaha mengantisipasi dan membuat rencana yang baik. Memikirkan dan memperhitungkan segala resiko dan mempersiapkan langkah antisipasinya. Membuat rencana sedetail mungkin dan bahkan sudah meminta pendapat dari mereka yang berpengalaman. Tetapi ternyata yang terjadi tidak sesuai dengan apa yang kita rancangkan. Rencana kita tidak berjalan baik. Apa yang kita usahakan tidak membuahkan hasil seperti yang diinginkan. Bahkan mungkin mengalami kegagalan. Kadang kemudian kita berpikir semuanya sia-sia. Tidak ada gunanya berlelah-lelah melakukan semuanya. Percuma saja telah bekerja keras. Dan mungkin masih banyak pemikiran negatif yang bergelayutan mengganggu dalam hati. Bagaimana sikap kita jika mengalami kondisi seperti itu? Memang tidak mudah ketika mengalami kondisi di luar rencana dan prediksi; mengalami jalan buntu; apalagi mengalami kegagalan. Tetapi dalam kondisi tersebut tetaplah optimis dan berpikiran positif. Pasti selalu ada pelajaran berharga di setiap kegagalan. Yang penting adalah bagaimana kita tetap mau belajar untuk bangkit dan mengevaluasi untuk perbaikan ke depan.
Suatu hari istri tetangga di dekat rumah saya menanam pohon buah langsep. Pohon tersebut selalu dirawat dan dipelihara sehingga pohon dapat bertumbuh dengan sangat baik. Pertumbuhan tersebut juga dikarenakan ada proses penyiraman dan pemupukan yang berkala. Hari demi hari, bulan demi bulan pohon tersebut semakin bertumbuh tinggi dan subur. Daunnya hijau lebat dan batangnya cukup besar. Suatu hari terjadi masalah dalam keluarga. Istri tersebut terlibat pertengkaran dengan suaminya. Ia jengkel dan marah karena suaminya dengan sengaja membersihkan semua pekarangan rumah termasuk memangkas pohon langsep tersebut. Akhirnya pohon langsep yang sudah mulai bertumbuh besar tersebut, tinggal menyisakan batang yang pendek tanpa satu daunpun. Sehingga si istri harus kembali merawat dan memelihara kembali. Cukup waktu yang lama menunggu pohon tersebut kembali subur dan besar. Kehidupan seorang Kristen seringkali seperti perumpamaan tentang seorang penabur. Banyak firman yang ditaburkan tapi kadang tidak bisa tumbuh karena berbagai kondisi dan situasi. Seperti benih yang jatuh di pinggir jalan, tidak ada kesempatan untuk tumbuh karena langsung dihampiri burung-burung dan dimakan. Sedangkan yang jatuh di tanah yang berbatu-batu, cepat tumbuh namun tidak bertahan lama karena tidak dapat mengakar dengan kuat ke dalam. Hanya ada dipermukaan saja, lalu mati karena teriknya matahari. Sebagian lagi tumbuh di antara semak duri. Benih dan semak sama-sama tumbuh, namun seiring dengan berjalannya waktu, benih menjadi terhimpit oleh semak duri yang akhirnya menyebabkan benih mati karena tidak kuat dengan himpitan duri yang tajam. Akan tetapi berbeda dengan benih yang tertanam dalam tanah yang baik. Benih tumbuh dengan suburnya, dan pada masanya benih yang telah tumbuh tersebut akan menghasilkan buah yang baik pula. Ada yang menghasilkan tiga puluh kali lipat, enam puluh kali lipat, dam seratus kali lipat. Benih tersebut menggambarkan tentang iman. Di mana iman dapat bertumbuh di tempat yang tepat. Semakin baik tempat yang ditaburi benih, semakin baik pula perkembangan dan pertumbuhannya. Dalam kehidupan sebagai orang Kristen, sudah pasti kita memiliki iman kepada Tuhan. Namun seringkali perjalanan iman tersebut naik turun. Ada masanya kita terhimpit oleh berbagai masalah dan pergumulan. Dalam peperangan terhadap masalah tersebut mungkin bisa saja kita harus mengalami pemangkasan, dibersihkan sedemikian rupa. Kadang bisa bertahan namun kadang juga bisa kalah. Oleh karena itu pertumbuhan iman tersebut harus senantiasa dipelihara supaya tetap bertumbuh. Pertumbuhan iman akan terus meningkat jikalau kita menyediakan media yang baik, yaitu hati kita. Mari kita menyiapkan hati yang baik demi pertumbuhan iman yang baik pula.
“Tertawalah sebelum tertawa itu dilarang”. Masih ingatkah anda dengan kalimat tersebut? Kalimat ini adalah kalimat yang selalu muncul di berbagai film yang dibintangi oleh Warkop DKI yang sangat terkenal sekitar tahun 1990an. Kalimat ini selalu dimunculkan di awal atau di akhir setiap film yang dibintangi oleh Dono, Kasino dan Indro. Kalimat tersebut bukan sekedar kalimat untuk “lucu-lucuan” semata. Kalimat tersebut adalah penggambaran kondisi tahun 1980-1990an dan sekaligus merupakan kritik yang tersirat [tersembunyi] bagi para penguasa “Orde Baru” yang berkuasa saat itu. Pada zaman orde baru, bagi para komedian, membuat orang tertawa bukan hal yang mudah. Para komedian memang dapat dengan mudah membuat orang tertawa, namun materi lawakan yang disajikan harus dipersiapkan dengan hati-hati. Jika salah membuat lelucon, penjara adalah tujuannya. Para komedian pada masa itu merasa, tertawa para penonton bukanlah tertawa yang lepas. Mengapa? Tertawa mereka secara tidak sadar hanya merupakan tertawa yang semu, tidak ada kebebasan karena masih dipenuhi kegelisahan dan ketakutan. Intinya, membuat orang merasakan kebahagiaan yang sejati bukanlah hal yang mudah. Sukacita adalah hal yang mahal dan langka di dalam hidup manusia yang penuh kegelisahan, permasalahan dan berbagai ketakutan. Perjanjian Baru, khususnya surat-surat yang ditulis oleh Rasul Paulus, mencatat bahwa selama melewati masa penderitaan besar, Rasul Paulus menggambarkan pengalamannya itu seperti ’sebagai orang berdukacita, namun senantiasa bersukacita. Dia juga menggambarkannya sebagai orang miskin, namun memperkaya banyak orang, atau juga digambarkan sebagai orang tak bermilik, sekalipun memiliki segala sesuatu’ [2 Korintus 6:10]. Karena kasih Allah telah dicurahkan dalam hati kita oleh Roh Kudus [Roma 5:5], adakah situasi di mana kita tak dapat mengalami sukacita yang Dia berikan? Duka dan penderitaan adalah kenyataan hidup yang tak dapat dihindari. Namun Roh Kudus, adalah sumber sukacita kita, ’memberi kita harta tak ternilai harganya yang didamba manusia, dan yang Allah beri’. Segala kesulitan yang ada di dunia ini seharusnya tidak dapat membuat kita pesimis menjalani hidup. Sukacita yang Tuhan berikan kepada kita jauh melebihi segala penderitaan yang ada di dunia ini. Di dalam Yesus, sukacita dan kebahagiaan bukanlah sesuatu yang mahal dan langka. Sebab di dalam Yesus ada sukacita yang sejati. Di perbatasan Meksiko dan Amerika Serikat, orang Meksiko zaman dahulu memiliki kebiasaan yang unik. Di kesehariannya mereka bekerja menggembalakan domba di padang rumput yang luas. Mereka mengenakan pakaian yang umum dipakai oleh orang Meksiko pada zaman itu saat menggembalakan ternak, yaitu celana jeans, baju khas Meksiko dan topi sombreo. Sambil menunggang kuda mereka juga bernyanyi dengan menggunakan gitar sebagai alat musiknya. Tahukah anda, mengapa mereka memakai gitar saat mereka bernyanyi, sambil menggembalakan ternak mereka? Jawabannya adalah ... karena jika para penggembala Meksiko menggunakan drum sebagai alat musiknya pasti akan terlalu berat untuk dibawa. Apalagi sambil naik kuda ... pasti berat banget ya! Tetaplah tersenyum, tetaplah bersukacita, tetaplah berbahagia. Tetaplah bersukacita menjalani hidup ini sebab Tuhan sudah memberikan sukacita yang sejati kepada kita.
Suatu sore di awal masa bekerja dulu, saya salah menaiki sebuah bus ke arah Boja padahal tujuan saya adalah pulang ke Ungaran. Ketika sadar bahwa saya keliru, bus yang saya tumpangi sudah terlanjur meluncur jauh dan memasuki daerah yang sepi. Saya memutuskan untuk turun dan menunggu angkutan umum untuk kembali ke Semarang. Menjelang petang barulah muncul angkutan umum yang saya tunggu-tunggu. Setelah naik dan duduk di samping seorang ibu yang akhirnya mengerti kesulitan saya, serta merta si ibu menjelaskan bahwa nanti setelah angkot berhenti saya harus berganti angkot nomor itu yang menuju ke jalan itu. Saya pun berterimakasih dan turun di tempat pemberhentian. Ternyata si ibu ikut turun dan mengantar saya sampai ke angkot yang dimaksud, lalu berpesan kepada sopir untuk mengantar saya ke jalan itu. Sesudah memastikan bahwa saya dalam keadaan aman, barulah si ibu pamit meninggalkan saya. Sampai dua puluh tahun kemudian saya masih terkesan akan pertolongan, kasih dan perhatian yang saya terima dari seorang ibu tak dikenal itu. Sang ibu tidak memasalahkan etnis dan agama. Sang ibu semata-mata melihat seorang yang butuh pertolongan dan langsung mengulurkan tangan. Sang ibu telah memperlakukan saya dengan kasih sebagai sesama manusia. Hendaklah kita sebagai umat Tuhan, terlebih lagi, taat pada Firman Tuhan. Mari mengasihi sesama manusia tanpa berhitung apakah mereka seetnis, seagama, segolongan, atau setara kedudukan sosial-ekonomi dengan kita.
BARCODE BBM CHANNELS
RENUNGAN HARIAN
Jalan Dalam Terang
15 Juli '17
Mengampuni
12 Juli '17
Berakar Ke bawah Bertumbuh Ke atas1
14 Juli '17
Copyright © 2012 All rights reserved. Designed and Developed by GIA Dr. Cipto Semarang