SEPEKAN TERAKHIR
  Minggu, 24 Juli 2016   -HARI INI-
  Sabtu, 23 Juli 2016
  Jumat, 22 Juli 2016
  Kamis, 21 Juli 2016
  Rabu, 20 Juli 2016
  Selasa, 19 Juli 2016
  Senin, 18 Juli 2016
POKOK RENUNGAN
Dengan tinggal tetap di dalam Tuhan, maka segala rupa pencobaan dan tantangan yang kita hadapi justru akan membuat kita semakin dan semakin terlatih menghadapinya.
DITULIS OLEH
Pdt. Natanael Rabono
Rohaniwan Pusat
Renungan Lain oleh Penulis:
Home  »  Renungan  »  Hidup Di Tengah Kemajemukan
Hidup Di Tengah Kemajemukan
Kamis, 23 Mei 2013 | Tema: Memiliki Karakter Kristus
Hidup Di Tengah Kemajemukan
Yosua 23:1-16
Ada suatu pemandangan yang terlihat “aneh” dan menimbulkan pertanyaan. Pada enam bulan yang lalu segerombol pepohonan bambu secara “kompak” bersama-sama agak merebah ke arah barat, kemudian waktu berjalan dan tiga bulan yang lalu segerombol bambu itu telah berubah posisi arah rebahnya ke timur. Tetapi sekarang segerombol pohon bambu itu arah rebahnya jelas terlihat ke utara. Kata banyak orang bahwa pohon bambu adalah pohon yang lentur, mudah diombang-ambingkan angin, tetapi justru kelenturan itulah letak kekuatannya. Hampir tidak pernah kita melihat pohon bambu tumbang karena diterpa angin. Oleh sebab itu kita sekarang mengerti bahwa segerombolan pepohonan bambu yang selalu berubah-ubah arah rebahnya karena sering diterpa angin kencang dari arah yang selalu bergantian, namun demikian bambu-bambu itu masih tinggal tetap di tempatnya dan be...selengkapnya »
Allah menciptakan setiap mahluk di bumi ini dengan kekhususannya. Ada yang berenang, ada yang lompat, ada yang melata, ada yang terbang, dsb. Masing-masing memiliki peranan yang dilakukan sesuai dengan apa yang telah Allah tetapkan bagi mereka. Demikian pula dengan manusia, setiap kita secara unik diciptakan oleh Allah untuk melakukan sesuatu yang khusus. Dia merancangkan dengan tepat bagaimana harus melayani-Nya. Lalu Ia membentuk kita untuk tugas tersebut. Kapanpun Allah memberikan tugas untuk dikerjakan, Ia selalu melengkapi kita dengan apa yang kita perlukan, yaitu kelengkapan karunia-karunia rohani yang diberikan kepada masing-masing kita. Namun karunia-karunia Roh yang diberikan Allah kepada orang percaya berfungsi untuk kepentingan dan kesejahteraan bersama. Ada rupa-rupa karunia, tetapi tidak dimaksudkan untuk berdiri sendiri-sendiri. Semuanya saling melengkapi bagi kebaikan bersama. Bagaikan jaring laba-laba, saling terkait satu dengan yang lain dan tidak terpisahkan, saling memberikan keuntungan dan saling melengkapi. Setiap orang percaya yang telah menyadari karunia tertentu yang diterimanya dari Tuhan hendaknya mengembangkannya terus menerus. Namun kita juga perlu menolong sesama yang belum menyadari karunia yang dianugerahkan kepadanya supaya mereka pun dapat mempersembahkannya bagi kepentingan bersama. Rupa-rupa karunia bukan untuk disombongkan apalagi untuk merendahkan orang lain. Sikap sombong dan merendahkan karunia lain yang dimiliki sesama sama halnya dengan merendahkan Allah, Sang Pemberi karunia. Seperti halnya beberapa jemaat di Korintus yang memiliki karunia-karunia khusus dari Tuhan, rupanya menjadi jumawa dan tinggi hati. Sikap mereka yang merasa diri lebih hebat dari anggota jemaat yang lain telah mengganggu persekutuan yang ada. Kebanggaan inilah yang dikritik oleh Rasul Paulus dengan mengatakan bahwa yang berkarya melalui perkara-perkara istimewa yang manusia lakukan adalah Tuhan [ayat 6, 11]. Dan melalui perkara-perkara itu Tuhan menyatakan pelayanan yang membangun kehidupan iman jemaat [ayat 5] untuk kemuliaan-Nya. Karunia Rohani adalah wujud kuasa dan anugerah Allah, bukan kekebalan manusia. Maka praktek karunia rohani seharusnya terfokus untuk melayani Tuhan dan meninggikan-Nya dalam segala maksud kekal-Nya.
Sering orang berkata bahwa memelihara, menjaga atau merawat itu lebih sulit daripada membangun. Memang dalam kenyataan itu yang sering terjadi. Orang bisa membangun sebuah gedung yang megah, tetapi tidak lama kemudian gedung itu menjadi rusak karena tidak dirawat. Orang hanya berpikir sampai pada membangunnya saja, tetapi tidak memikirkan bagaimana merawatnya. Memang merawat itu membutuhkan ketekunan, untuk jangka waktu yang lama. Untuk membangun sebuah gedung mungkin hanya butuh waktu 1 atau 2 tahun saja, tetapi untuk merawatnya butuh waktu berpuluh-puluh tahun. Kesatuan Roh itu perlu dipelihara atau dirawat. Kesatuan itu dikerjakan oleh Roh Kudus. Kita yang berasal dari berbagai latar belakang, dengan kebiasaan, kesukaan dan kepentingan yang bermacam-macam, telah dipersatukan menjadi satu Tubuh Kristus. Kita yang tidak ada hubungan kekeluargaan dan kekerabatan telah dipersatukan dalam keluarga Allah. Kita yang berasal dari suku yang berbeda-beda telah dipersatukan menjadi satu umat yang baru, dengan identitas yang baru yaitu bangsa yang terpilih, imamat yang rajani, umat kepunyaan Allah. Kesatuan rohani itu bukan kita yang menciptakan tetapi pekerjaan Allah sendiri. Oleh karena itu kita harus memelihara kesatuan yang telah dikerjakan Allah itu dengan rasa takut dan hormat. Jangan merusak kesatuan Tubuh Kristus itu hanya demi kepentingan kita sendiri. Jagalah kesatuan dengan tidak berbicara negatif tentang Gereja sebagai Tubuh Kristus. Hormatilah kekudusan Gereja-Nya. Tuhan Yesus kiranya menolong kita untuk menjaga kesatuan Tubuh-Nya. Amin.
Sejak manusia diciptakan oleh Allah sudah terbentuk untuk saling membutuhkan, Hawa diciptakan karena Adam membutuhkan seorang penolong. Tidak ada seorangpun yang berani berkata tidak membutuhkan pertolongan orang lain. Kebutuhan pangan, sandang dan papan yang merupakan kebutuhan utama sangat tergantung pada bantuan orang lain yang jumlahnya tidak terhitung. Tanpa disadari setiap hari selama 24 jam, dari dalam kandungan sampai meninggal dunia setiap orang membutuhkan pertolongan orang lain. Demikian juga dalam kehidupan bergereja, setiap anggota membutuhkan bantuan anggota lainnya. Tidak peduli apapun jabatan atau pelayanannya pasti membutuhkan orang lain. Rasul Paulus dalam kehidupan dan pelayanannya membutuhkan bantuan banyak orang, antara lain Febe, Akwila dan Priskila. Febe memberi bantuan besar pada Paulus di samping kepada banyak orang. Akwila dan Priskila memberi tumpangan bagi Paulus di rumah mereka dan memberi pekerjaan membuat tenda [Kisah Para Rasul 18:1-3]. Bahkan Akwila dan Priskila mempertaruhkan nyawa mereka dalam membantu Paulus. Walaupun mereka banyak membantu orang lain, Paulus memberi pesan kepada jemaat di Roma untuk memperhatikan Febe, Akwila dan Priskila karena mereka juga membutuhkan bantuan. Sebagai anggota jemaat, sudah selayaknya kita saling membantu karena kita juga saling membutuhkan. Tidak ada satupun anggota yang super dan sanggup untuk bergereja dan melayani tanpa bantuan orang lain. Bahkan anggota yang pelayanannya sangat sederhana seringkali justru sangat dibutuhkan oleh anggota lainnya. Marilah kita saling menghargai antara sesama anggota karena pada hakekatnya kita saling membutuhkan sebagai sahabat dan saudara. Dengan demikian jemaat yang dinamis, bertumbuh dan berdampak akan nyata dan bukan hanya wacana.
Bilamana anda melihat ada 2 semut yang bertemu muka dengan muka agak lama, jangan salah sangka. Mereka bukan sedang bercanda atau sedang berebut makanan, mereka juga bukan sedang berciuman ataupun sedang asyik ‘ngegosip’ tetapi yang sedang terjadi adalah semut yang satu sedang memberikan madu kepada semut yang lainnya. Semut menyimpan madu dalam perutnya. Di dalam perut semut terdapat 2 lambung. Lambung terdepan dekat dengan mulut adalah lambung tempat madu yang akan diberikan kepada teman-temannya. Lambung kedua yang terletak di belakang lambung pertama adalah tempat untuk menyimpan madu bagi dirinya sendiri. Melalui mulutnya semut memberikan madunya yang tersimpan di lambung yang pertama kepada teman-temannya yang membutuhkan. Inilah hal yang indah dari semut yang rela berbagi berkat. Sepertinya semut mengerti betul bahwa berkat itu selalu saja ada bagi dirinya sehingga ia tidak perlu takut untuk memberi dan berbagi kepada teman-temannya yang membutuhkan makanan. Berbeda jauh dengan sifat manusia yang lebih mementingkan dirinya sendiri kurang mau berbagi. Manusia cenderung menumpuk berkat bagi dirinya sendiri. Inilah sifat manusia yang sangat jauh berbeda dengan semut. Semut selalu bersedia untuk memberi kepada yang membutuhkan, tetapi manusia selalu berusaha menahan berkat bagi dirinya sendiri. Jangankan memberi dengan sesama yang membutuhkan, dengan saudara sekandung pun sering dikatakan uang tidak bersaudara. Jangankan memberi tanpa imbalan apa-apa, membayar kewajibannya saja seringkali disunat dan diperkecil. Malah yang lebih menyedihkan adalah seringkali berkat yang sudah masuk ke mulut teman-temannya pun diambil dan dirampas semua. Kita harus merendahkan hati untuk belajar dari semut. Kebiasaan semut yang mulia di dalam kerelaannya memberi harus juga menjadi sifat dan kebiasaaan kita.
BARCODE BBM CHANNELS
RENUNGAN HARIAN
Berlomba-lomba Untuk Melayani
15 Juli '16
Urusanku, Urusanmu atau Urusan Kita
02 Juli '16
Tujuan Penggunaan Karunia Roh
07 Juli '16
Copyright © 2012 All rights reserved. Designed and Developed by GIA Dr. Cipto Semarang