SEPEKAN TERAKHIR
  Minggu, 25 Januari 2015   -HARI INI-
  Sabtu, 24 Januari 2015
  Jumat, 23 Januari 2015
  Kamis, 22 Januari 2015
  Rabu, 21 Januari 2015
  Selasa, 20 Januari 2015
  Senin, 19 Januari 2015
POKOK RENUNGAN
Dengan tinggal tetap di dalam Tuhan, maka segala rupa pencobaan dan tantangan yang kita hadapi justru akan membuat kita semakin dan semakin terlatih menghadapinya.
DITULIS OLEH
Pdt. Natanael Rabono
Rohaniwan Pusat
Renungan Lain oleh Penulis:
Home  »  Renungan  »  Hidup Di Tengah Kemajemukan
Hidup Di Tengah Kemajemukan
Kamis, 23 Mei 2013 | Tema: Memiliki Karakter Kristus
Hidup Di Tengah Kemajemukan
Yosua 23:1-16
Ada suatu pemandangan yang terlihat “aneh” dan menimbulkan pertanyaan. Pada enam bulan yang lalu segerombol pepohonan bambu secara “kompak” bersama-sama agak merebah ke arah barat, kemudian waktu berjalan dan tiga bulan yang lalu segerombol bambu itu telah berubah posisi arah rebahnya ke timur. Tetapi sekarang segerombol pohon bambu itu arah rebahnya jelas terlihat ke utara. Kata banyak orang bahwa pohon bambu adalah pohon yang lentur, mudah diombang-ambingkan angin, tetapi justru kelenturan itulah letak kekuatannya. Hampir tidak pernah kita melihat pohon bambu tumbang karena diterpa angin. Oleh sebab itu kita sekarang mengerti bahwa segerombolan pepohonan bambu yang selalu berubah-ubah arah rebahnya karena sering diterpa angin kencang dari arah yang selalu bergantian, namun demikian bambu-bambu itu masih tinggal tetap di tempatnya dan bertahun-tahun tidak satu pun yang tumbang. Mengapa pepohonan bambu itu begitu kuat? Sedikitnya ada dua alasan: 1. karena pepohonan tersebut hidup lentur; 2. Karena dengan hidup bergerombol, maka akar-akarnya telah menyatu. Itulah kunci kekuatannya.

Demikianlah juga dalam isi pidato Yosua kepada bangsa Israel, Yosua mengingatkan bahwa sekarang mereka tinggal berdampingan dengan sisa-sisa bangsa-bangsa lain. Itu berarti bahwa Israel terancam keberadaannya, katakan saja masalah tradisi adat-istiadat, kepercayaan, kawin campur, dan sebagainya. Hal-hal tersebut siap mengikis Israel. Yosua memperingatkan bahwa iman mereka selalu diuji dan teruji di tengah bangsa lain yang juga berjuang mempertahankan dan ...selengkapnya »
Yohanes 15:1-8 Akulah pokok anggur yang benar dan Bapa-Kulah pengusahanya. Setiap ranting pada-Ku yang tidak berbuah, dipotong-Nya dan setiap ranting yang berbuah, dibersihkan-Nya, supaya ia lebih banyak berbuah. Saya pernah menanam sebuah pohon jambu. Mulai dari kecil saya merawatnya sampai besar. Ketika tiba saatnya, pohon itu menghasilkan buah. Pada awalnya, buah yang dihasilkan hanya sedikit, satu atau dua saja. Saya merasa tidak puas dengan hasil itu. Maka saya berusaha supaya pohon itu menghasilkan buah lebih banyak lagi dengan cara membersihkan ranting-rantingnya dari daun-daun yang kering. Dengan berjalannya waktu, pohon itu menghasilkan buah yang lebih banyak lagi daripada sebelumnya. Kehidupan kita diumpamakan seperti ranting pohon anggur. Setiap ranting harus melekat pada pokok anggur supaya bisa tetap hidup dan berbuah. Kita tidak mungkin bisa menghasilkan buah itu dari diri kita sendiri. Demikianlah kita harus terus hidup dekat dengan Kristus supaya kehidupan rohani kita tetap terjaga dan supaya kita menghasilkan buah. Galatia 5:22-23 menjelaskan buah apa yang diharapkan Tuhan dari hidup kita, yaitu: kasih, sukacita, damai sejahtera, kesabaran, kemurahan, kebaikan, kesetiaan, kelemah lembutan dan penguasaan diri. Namun yang Tuhan inginkan dari kita bukan sekedar berbuah, tapi berbuah semakin banyak. Jika agar bisa berbuah syaratnya adalah kita harus melekat pada pokok anggur, maka agar bisa berbuah lebih banyak syaratnya adalah mau dibersihkan. Ranting itu harus secara teratur dibersihkan supaya berbuah lebih banyak. Demikian juga, jika kita mau berbuah lebih banyak, kita harus rela dibersihkan selalu oleh Firman-Nya. Firman Tuhan berfungsi untuk mengoreksi dan mendidik kita supaya menjadi pribadi yang lebih baik. Kita harus rela dikoreksi oleh Firman Tuhan jika kita mau lebih banyak berbuah. Walaupun kita mendengar kotbah, membaca Alkitab, membaca renungan, tapi kalau sikap hati kita tidak mau dikoreksi maka kita tidak mengalami perubahan apapun. Karena itu, relakan diri kita dibersihkan oleh Firman Tuhan. Selamat menghasilkan buah lebih banyak lagi. Tuhan memberkati.
Hampir 20 tahun aku hidup tanpa senyum dan tawa renyah. Sejak umur 2 tahun, anakku yang paling kecil sudah ditinggal oleh ibunya bekerja ke luar kota. Aku sebagai seorang suami yang hanya kerja sebagai tukang batu harus mengurusi seorang anak yang masih kecil dan empat anak yang besar. Aku sangat kecewa sekali dengan istriku karena sekian tahun tidak pernah memberi kabar berita. Lebih parahnya lagi, ada berita dia telah menikah dengan teman kerjanya. Aku semakin terpuruk. Untungnya kakak iparku mau merawat si kecilku. Hari-hariku tidak ada lagi sukacita, apalagi kebahagiaan. Rasanya ingin marah, tetapi aku berusaha untuk menahannya dengan cara aku bekerja seenakku sendiri. Seorang penginjil pernah mengajakku percaya Yesus yang katanya bisa memberikan jalan keluar bagi setiap masalah dan bebanku. Tetapi semua percuma bagiku. Aku mutuskan tidak lagi ke gereja. Aku menganggap ke gereja hanya menambah beban saja. Karena aku harus keluar uang macam-macam setiap ke gereja. Ada persembahan, iuran natal, iuran pembanguan, dll. Semua seabrek iuran. Namun Allah yang hidup tidak pernah meninggalkan aku ketika hidup terpuruk dan kehilangan segalanya. Dua tahun yang lalu seorang hamba Tuhan yang pernah mengajakku ke gereja menemui aku. Dia dengan penuh kasih membimbingku dan mendoakanku. Saat itulah hatiku yang telah tidak ada lagi harapan itu seperti disentuh-Nya, dan aku putuskan kembali kepada Yesus. Dan luar biasa, ketika aku berlutut dengan hati yang hancur, aku mendapatkan jamahan-Nya. Tepatnya 2 tahun lalu, 1 januari dalam ibadah tahun baru, sukacita yang hilang itu dikembalikan lagi oleh Kristus. Dan kini aku menemukan semua dalam Kristus. Inilah sepenggal kesaksian seorang bapak. Dari kesaksian di atas kita kembali diingatkan, jika kita selalu hanyut dengan peristiwa masa lalu yang menyakitkan akan membuat kita terpuruk. Hendaklah kita memegang hal-hal baik yang Tuhan telah sediakan untuk masa depan kita. Seperti Paulus, jika ada satu hal yang menjadi fokus pada tahun ini, fokuslah pada bergerak ke depan. Fokuslah pada berbicara Firman Allah atas diri dan keluarga kita setiap hari (ayat 14). Biarkan Firman Allah memelihara dan menyegarkan jiwa kita. Ketika kita mengatur fokus ke depan, kita akan bergerak maju dan menjadi apa yang telah Tuhan rencanakan bagi.
1 Yohanes 2:7-17 Barangsiapa mengasihi saudaranya, ia tetap berada di dalam terang, dan di dalam dia tidak ada penyesatan. Tetapi barangsiapa membenci saudaranya, ia berada di dalam kegelapan dan hidup di dalam kegelapan. Ia tidak tahu ke mana ia pergi, karena kegelapan itu telah membutakan matanya. (ayat 10-11) Hari ini adalah hari Minggu terakhir di tahun 2014. Tema yang diangkat gereja kita di sepanjang tahun 2014 adalah ”Saling Mengasihi dan Memperhatikan”. Firman yang diberitakan dari mimbar gereja selalu memberi dorongan kepada kita untuk mempraktekkan ajaran Tuhan Yesus mengenai kasih. Walaupun tidak mudah untuk dipraktekkan, namun bukan berarti kita putus asa dan berhenti berusaha untuk melakukan perintah Tuhan Yesus itu. Hakikat dari kehidupan ini adalah belajar. Dalam hal mengasihi, sekalipun kita masih sering gagal, kita harus terus belajar untuk mempraktekkan kasih seperti yang diajarkan oleh Tuhan kita. Mengasihi saudara adalah perintah pokok yang mutlak harus ditaati. Perintah itu bukan sebuah pilihan yang boleh dilakukan (jika mampu) atau tidak dilakukan (jika tidak mampu melakukannya). Perintah itu harus ditaati. Ketaatan terhadap perintah itu merupakan tanda bahwa seseorang telah ada di dalam Terang. Ada di dalam Terang artinya diselamatkan. Artinya, kalau tidak melakukan itu seseorang belum diselamatkan atau masih di luar Kristus. Seseorang yang telah di dalam Kristus pasti dimampukan untuk melakukan kasih. Allah tidak mungkin memberikan perintah yang tidak mungkin dikerjakan oleh orang-orang yang percaya kepada Kristus. Orang yang percaya kepada Kristus pasti telah mengalami kasih yang luar biasa dari Allah. Dia memiliki hati yang baru karena telah disentuh oleh kasih Bapa. Dia juga dimampukan karena Roh Kudus ada di dalam hatinya. Jadi sebenarnya, orang yang percaya kepada Kristus adalah orang yang mampu untuk mengasihi. Jemaat Tuhan, janganlah pernah berhenti belajar untuk saling mengasihi. Jika kita mau belajar, pasti kita akan mampu melakukan perintah Tuhan Yesus. Karena jika kita tidak melakukannya, kita akan membawa hidup kita pada kebinasaan. Selamat menyongsong TAHUN BARU 2015. Tuhan memberkati.
Moment menjelang Natal seperti sekarang ini mengingatkan Sambey akan sukacitanya ketika masih menjadi bagian anak-anak sekolah minggu. Saat itu bayangan akan kado Natal dari gereja, hadiah dari paman dan bibinya, hadir dalam angan-angannya. Sekarang hal itu jauh dari angannya. Sebagai orang yang beranjak dewasa, Sambey justru berpikir untuk melakukan sesuatu bagi orang lain. Setelah sejenak merenung, Sambey berencana untuk membeli makanan ringan dengan uang sejumlah Rp. 250.000,- yang ia miliki. Ia membungkus makanan-makanan ringan itu menjadi 50 paket plastik. Keesokan harinya ia membagi-bagikannya kepada anak-anak jalanan yang sering ia temui saat berangkat kuliah. Sambey bukanlah anak orang kaya. Kuliahnya selama ini dibiayai oleh pamannya. Orangtuanya hanya mampu memberi sedikit uang saku untuk keperluannya sehari-hari. Namun demikian, kondisi serba pas-pasan itu tidak menghalanginya untuk berbagi kasih. Sambil membagikan paket makanan ringan, Sambey berpesan pada anak-anak agar kondisi yang mereka alami tidak menghalangi mereka untuk berbagi kasih kepada orang lain. Sudah miskin, mengalami pencobaan berat, tentu adalah kondisi yang penuh penderitaan. Kondisi itulah yang dialami oleh jemaat Makedonia. Jemaat Makedonia harusnya layak menerima bantuan atas kondisi memprihatinkan yang mereka alami. Tetapi yang terjadi sebaliknya, mereka justru menjadi salah satu pemberi bantuan untuk Jemaat Yerusalem. Perbuatan kasih ini begitu memukau hati Rasul Paulus sehingga ia menjadikan mereka contoh untuk diteladani oleh Jemaat Korintus yang adalah jemaat kaya. Pengalaman ini menunjukkan bahwa jemaat miskin tidak selalu berarti jemaat yang pelit, dan jemaat kaya tidak selalu berarti adalah jemaat yang gemar memberi. Jemaat Makedonia miskin harta, tetapi kaya kemurahan. Sedangkan Jemaat Korintus kaya harta, tetapi miskin kemurahan. Jemaat yang terkasih. Tuhan menghendaki setiap orang percaya mempunyai kemurahan hati kepada sesamanya. Itu tidak ditentukan apakah kita sudah kaya atau masih miskin. Jemaat yang kaya tentu dituntut memberi lebih banyak daripada jemaat yang lain. Tetapi janganlah jemaat yang kurang kaya atau miskin sekedar menjadi penerima saja. Kalau kita suka menerima pemberian, hendaklah kita juga suka memberi. Karena lebih baik tangan di atas daripada tangan di bawah. Lebih baik memberi daripada menerima. SELAMAT BERBAGI KASIH!
BARCODE BBM CHANNELS
RENUNGAN HARIAN
Supaya Kemajuanmu Nyata
18 Januari '15
Bukan Instan
06 Januari '15
Buang Kemalasan
17 Januari '15
Copyright © 2012 All rights reserved. Designed and Developed by GIA Dr. Cipto Semarang