SEPEKAN TERAKHIR
  Jumat, 25 April 2014   -HARI INI-
  Kamis, 24 April 2014
  Rabu, 23 April 2014
  Selasa, 22 April 2014
  Senin, 21 April 2014
  Minggu, 20 April 2014
  Sabtu, 19 April 2014
POKOK RENUNGAN
Dengan tinggal tetap di dalam Tuhan, maka segala rupa pencobaan dan tantangan yang kita hadapi justru akan membuat kita semakin dan semakin terlatih menghadapinya.
DITULIS OLEH
Pdt. Natanael Rabono
Rohaniwan Pusat
Renungan Lain oleh Penulis:
Home  »  Renungan  »  Hidup Di Tengah Kemajemukan
Hidup Di Tengah Kemajemukan
Kamis, 23 Mei 2013 | Tema: Memiliki Karakter Kristus
Hidup Di Tengah Kemajemukan
Yosua 23:1-16
Ada suatu pemandangan yang terlihat “aneh” dan menimbulkan pertanyaan. Pada enam bulan yang lalu segerombol pepohonan bambu secara “kompak” bersama-sama agak merebah ke arah barat, kemudian waktu berjalan dan tiga bulan yang lalu segerombol bambu itu telah berubah posisi arah rebahnya ke timur. Tetapi sekarang segerombol pohon bambu itu arah rebahnya jelas terlihat ke utara. Kata banyak orang bahwa pohon bambu adalah pohon yang lentur, mudah diombang-ambingkan angin, tetapi justru kelenturan itulah letak kekuatannya. Hampir tidak pernah kita melihat pohon bambu tumbang karena diterpa angin. Oleh sebab itu kita sekarang mengerti bahwa segerombolan pepohonan bambu yang selalu berubah-ubah arah rebahnya karena sering diterpa angin kencang dari arah yang selalu bergantian, namun demikian bambu-bambu itu masih tinggal tetap di tempatnya dan bertahun-tahun tidak satu pun yang tumbang. Mengapa pepohonan bambu itu begitu kuat? Sedikitnya ada dua alasan: 1. karena pepohonan tersebut hidup lentur; 2. Karena dengan hidup bergerombol, maka akar-akarnya telah menyatu. Itulah kunci kekuatannya.

Demikianlah juga dalam isi pidato Yosua kepada bangsa Israel, Yosua mengingatkan bahwa sekarang mereka tinggal berdampingan dengan sisa-sisa bangsa-bangsa lain. Itu berarti bahwa Israel terancam keberadaannya, katakan saja masalah tradisi adat-istiadat, kepercayaan, kawin campur, dan sebagainya. Hal-hal tersebut siap mengikis Israel. Yosua memperingatkan bahwa iman mereka selalu diuji dan teruji di tengah bangsa lain yang juga berjuang mempertahankan dan ...selengkapnya »
Yesaya 53 menubuatkan dengan jelas tentang penderitaan dan penolakan Mesias - Hamba, Yesus Kristus. Melalui penderitaan-Nya banyak orang akan diampuni, dibenarkan, ditebus dan disembuhkan. Penderitaan-Nya juga akan menghasilkan pengagungan dan pemuliaan-Nya. Yesus, Sang Mesias, Hamba Allah itu akan melakukan kehendak Allah dengan sempurna dan karena itu Ia akan sangat ditinggikan (KPR 2:3; Flp 2:9; Kol 3:1; Ibr 1:3). Yesaya 53:1 bertanya, “Siapakah yang percaya kepada berita?” Nubuat itu sudah digenapi. Yesus, Sang Mesias sudah mati, “ditinggikan” di atas kayu salib, diremukkan sebagai korban pendamaian bagi semua dosa dan pelanggaran kita. Sayangnya, masih banyak orang menolak mendengar dan percaya, sehingga mereka gagal menerima keselamatan Tuhan. Apabila seseorang mendengar dan percaya, dengan tekun dan setia memperhatikan perkara-perkara rohani dan hidup dalam tuntunan Firman-Nya, maka kehidupannya akan semakin disempurnakan. Dia akan terus bertumbuh dalam kemuliaan illahi yang semakin besar, dari kemuliaan kepada kemuliaan yang semakin besar (2 Korintus 3:18b ). Kemuliaan yang dialami orang percaya tidak sama dengan kemuliaan dunia ini. Kemuliaan orang percaya adalah kemuliaan illahi, sedangakan kemuliaan dunia ini selalu dikaitkan dengan kekayaan dan hal jasmaniah belaka. Kemuliaan illahi berawal dari sebuah pertobatan, berbalik, datang kepada Tuhan dengan demikian seseorang akan menerima kemuliaan illahi. Hidupnya diubahkan oleh kuasa Roh Kudus Tuhan. Hidupnya dimerdekakan dari ikatan dosa. Kecendrungan hati yang sebelumnya berbuah kejahatan diubah sehingga merindukan hal-hal yang rohani, bertumbuh ke arah Kristus. Inilah kemuliaan yang dialami orang -orang percaya. Mari kita bertekad untuk bertumbuh dalam kerinduan rohani yang lebih dalam lagi. Alami kemuliaan Tuhan yang memimpin kita dari kemuliaan kepada kemuliaan yang lebih besar.
Ketika lulus SMU tahun 1997, saya memimpikan sebuah sepeda motor. Setahun... dua tahun... bahkan memasuki tahun 2007, saya belum memilikinya. Doa dan usaha sepertinya tidak membuahkan hasil. Hingga akhirnya Januari 2008, saya bisa membeli sepeda motor second impian. Wah... senangnya, sampai tidak bisa tidur. Setiap kita tentunya juga mempunyai impian. Impian dengan berbagai rintangan yang bisa membuat menangis sekaligus tertawa. Dan band Nidji turut bernyanyi: “Mimpi adalah kunci, untuk kita menaklukkan dunia, tanpa lelah....” Yusuf, tatkala berumur 17 tahun (Kejadian 37:2) bermimpi. Tampak matahari, bulan dan sebelas bintang sujud menyembah kepadanya. Tetapi justru yang terjadi di tahun awal mimpinya, ia dilemparkan ke dalam sumur kosong lalu dijual kepada orang Ismael ke tanah Mesir. Malahan di tahun berikutnya, ia difitnah oleh istri Potifar dan dimasukkan ke dalam penjara. Namun ketika berumur 30 tahun, ia menghadap Firaun dan menjadi mangkubumi di negeri Mesir (Kejadian 41:46). Jadi selama 13 tahun dia meretas rintangan. Heemm.... Sebuah rentang waktu yang cukup panjang. Bagaimana dengan Saudara? Seberapa berat rintangan yang dihadapi? Mari terus berdoa memohon kekuatan dari Roh Kudus supaya kita mampu menerobos rintangan. Memohon penyertaan kuasa Tuhan agar pekerjaan kita berhasil. Amin.
Yesaya 53:1-12 Tetapi dia tertikam oleh karena pemberontakan kita, dia diremukkan oleh karena kejahatan kita; ganjaran yang mendatangkan keselamatan bagi kita ditimpakan kepadanya, dan oleh bilur-bilurnya kita menjadi sembuh. (Ayat 5) Pada suatu saat terjadi kebakaran di sebuah hutan. Setelah api berhasil dipadamkan para petugas keamanan hutan mulai menjelajahi bekas hutan yang terbakar untuk mengetahui seberapa besar kerusakan yang telah terjadi. Seorang petugas menemukan seekor ayam hutan yang telah hangus terbakar bertengger mematung di bawah sebuah pohon. Dengan tercengang oleh pemandangan itu, dia mengetuk ayam hutan yang sudah menjadi abu itu dengan sebuah tongkat. Seketika itu muncullah tiga ekor anak ayam kecil dari bawah kepak sayap induk ayam yang telah hangus itu. Induk ayam yang begitu mengasihi anak-anaknya, menyadari akan adanya bahaya, mengumpulkan anak-anaknya di bawah pohon itu dan melindungi mereka dengan sayapnya. Dia bisa saja terbang untuk menyelamatkan dirinya sendiri, tetapi sebaliknya yang dia lakukan adalah mengorbankan dirinya untuk keselamatan anak-anaknya. Berkorban. Merelakan keamanan dan kenyamanan dirinya sendiri, supaya orang lain diselamatkan. Itulah yang Yesus Kristus kerjakan untuk kita. Dia melakukan tindakan itu karena Dia begitu mengasihi kita, karena kita begitu berharga di mata-Nya. Apa yang Dia kerjakan telah dinubuatkan oleh nabi Yesaya ratusan tahun sebelum kehadiran-Nya di dunia. Nubuat itu akhirnya tergenapi di atas bukit Kalvari 2000 tahun yang lalu. Di bulan ini kita akan memperingati pengorbanan Kristus yang telah mati untuk kita. Kita mengingat kembali kasih-Nya yang begitu besar atas kita. Biarlah hati kita kembali dihangatkan oleh kasih-Nya, dengan mengingat akan pengorbanan-Nya yang mulia. Amin.
Kisah kepahlawanan Rambo dalam film Rambo1-3 merupakan cerita yang sangat menegangkan dan terkadang membuat orang yang menontonnya menjadi takjub akan keberaniannya dalam misi pembebasan tentara Amerika yang ditawanan tentara Vietkong. Dalam ceritanya Rambo melakukan misi penyelamatan seorang diri di tengah ganasnya medan pertempuran dan kehidupan hutan rimba. Meskipun misi tersebut penuh rintangan dan resiko, ia tetap melakukannya karena tujuan pembebasan tawanan harus tercapai. Resiko penangkapan dan penyiksaan kerapkali dihadapi dengan “tidak mengeluh” karena dalam pikiran dan hatinya adalah pembebasan. Dan tujuan itu jelas sekali sehingga ia tidak memusingkan resiko yang dihadapinya. Bagi Rambo, tugas Negara adalah mulia dan besar sehingga ia totalitas dalam melakukan misi tersebut. Keberanian mengambil resiko dalam mencapai tujuan seperti bahan bakar yang memberi kekuatan untuk melakukan apa yang hendak dicapai. Karena dengan adanya tujuan, setiap orang yang memahaminya akan bertindak meskipun tantangan ada di depannya. Harapan inilah yang semestinya menjadi pembelajaran bagi banyak orang Kristen sebagaimana Paulus dalam melakukan misi mewartakan kebenaran kerajaan Allah. Ia melakukan dengan sekuat tenaga karena hatinya membara dengan kecintaan kepada Allahnya dan hasrat agar semua orang beroleh keselamatan. Meskipun ia harus menghadapi aniaya, cemoohan, ancaman pembunuhan dan banyak lagi kesulitan lainnya, Paulus tidak menyerah. Dia memandang semua itu sebagai suatu kehormatan dan kepercayaan dari Allah. Sebab prinsip hidupnya setelah berjumpa dengan Yesus adalah memberi buah bagi Allah dan menjadikan kehidupan Yesus nyata dalam hidupnya. Ini merupakan komitmen yang luar biasa dan pastinya didasarkan pada keyakinan yang mantap dan matang akan Kristus sebagai Tuhan. Jika boleh bertanya sudah sejauh manakah komitmen kita kepada Kristus Yesus yang ada dalam hidup kita? Sebab tanpa pengertian dan pengenalan yang jelas akan Kristus tidak akan mungkin kita melakukan tujuan yang mulia apalagi berani mengambil resiko untuk menyatakan kabar keselamatan bagi banyak orang. Selagi masih ada waktu buatlah keputusan yang tepat dalam mengemban amanat Yesus Kristus.
MARI BERTUMBUH BERSAMA
TEMA BULAN APRIL 2014
RENUNGAN HARIAN
Percaya Dan Berpikir Positif
03 April '14
Si Pion
12 April '14
13 Tahun Meretas Rintangan
26 Maret '14
Copyright © 2012 All rights reserved. Designed and Developed by GIA Dr. Cipto Semarang