SEPEKAN TERAKHIR
  Selasa, 28 Juli 2015   -HARI INI-
  Senin, 27 Juli 2015
  Minggu, 26 Juli 2015
  Sabtu, 25 Juli 2015
  Jumat, 24 Juli 2015
  Kamis, 23 Juli 2015
  Rabu, 22 Juli 2015
POKOK RENUNGAN
Dengan tinggal tetap di dalam Tuhan, maka segala rupa pencobaan dan tantangan yang kita hadapi justru akan membuat kita semakin dan semakin terlatih menghadapinya.
DITULIS OLEH
Pdt. Natanael Rabono
Rohaniwan Pusat
Renungan Lain oleh Penulis:
Home  »  Renungan  »  Hidup Di Tengah Kemajemukan
Hidup Di Tengah Kemajemukan
Kamis, 23 Mei 2013 | Tema: Memiliki Karakter Kristus
Hidup Di Tengah Kemajemukan
Yosua 23:1-16
Ada suatu pemandangan yang terlihat “aneh” dan menimbulkan pertanyaan. Pada enam bulan yang lalu segerombol pepohonan bambu secara “kompak” bersama-sama agak merebah ke arah barat, kemudian waktu berjalan dan tiga bulan yang lalu segerombol bambu itu telah berubah posisi arah rebahnya ke timur. Tetapi sekarang segerombol pohon bambu itu arah rebahnya jelas terlihat ke utara. Kata banyak orang bahwa pohon bambu adalah pohon yang lentur, mudah diombang-ambingkan angin, tetapi justru kelenturan itulah letak kekuatannya. Hampir tidak pernah kita melihat pohon bambu tumbang karena diterpa angin. Oleh sebab itu kita sekarang mengerti bahwa segerombolan pepohonan bambu yang selalu berubah-ubah arah rebahnya karena sering diterpa angin kencang dari arah yang selalu bergantian, namun demikian bambu-bambu itu masih tinggal tetap di tempatnya dan bertahun-tahun tidak satu pun yang tumbang. Mengapa pepohonan bambu itu begitu kuat? Sedikitnya ada dua alasan: 1. karena pepohonan tersebut hidup lentur; 2. Karena dengan hidup bergerombol, maka akar-akarnya telah menyatu. Itulah kunci kekuatannya.

Demikianlah juga dalam isi pidato Yosua kepada bangsa Israel, Yosua mengingatkan bahwa sekarang mereka tinggal berdampingan dengan sisa-sisa bangsa-bangsa lain. Itu berarti bahwa Israel terancam keberadaannya, katakan saja masalah tradisi adat-istiadat, kepercayaan, kawin campur, dan sebagainya. Hal-hal tersebut siap mengikis Israel. Yosua memperingatkan bahwa iman mereka selalu diuji dan teruji di tengah bangsa lain yang juga berjuang mempertahankan dan ...selengkapnya »
Sebatang pohon akan tetap hidup dan terus bertumbuh serta berbuah apabila memperoleh makanan dan juga menerima perawatan yang baik. Saat ada bagian dari pohon itu dipotong atau lepas dari “sang induk”nya, dapat dipastikan bagian itu akan layu, kering dan mati. Yesus mengatakan bahwa Dia adalah Pokok Anggur dan kita adalah ranting-rantingnya. Sebagai ranting kita mendapat “berkat” yang dibawa oleh akar ke seluruh bagian termasuk ranting dan juga buah yang ada pada ranting-ranting. Pohon anggur tidak akan menghasilkan buah banyak kalau ranting-rantingnya terlalu lebat dengan daun. Daun-daun harus dibuang dan dibersihkan agar bisa menghasilkan buah. Bagaimana agar kita sebagai ranting bisa menghasilkan buah yang lebat dan menjadi berkat bagi banyak orang? Dari perikop ini kita mendapat jawabannya, sebagai berikut: 1. Harus melekat [ayat 5]. Mengapa? Supaya tetap mendapat bagian makanan dari SUMBER BERKAT, Yesus sang Pokok Anggur dan bisa berbuah sehingga dinikmati banyak orang. Menjadi berkat. 2. Siap dibersihkan [ayat 2b]. Daun-daun yang rimbun, ranting-ranting kering dibuang karena pohon anggur yang terlalu banyak daun, buahnya tidak bisa banyak. Apa saja yang harus dibersihkan dari diri kita? Kesombongan, iri, dengki, pikiran-pikiran kotor, licik, duniawi, ketakutan, kekhawatiran, dan lain-lain. Hal-hal tersebut hanya akan membuat batu sandungan, tidak bisa menjadi berkat. 3. Baca, renungkan, dan lakukan Firman Tuhan [ayat 3]. Yesus mengatakan kita bersih karena Firman yang Dia katakan. Jadi kita harus rajin membaca, merenungkan agar bisa melakukan apa yang Tuhan firmankan. 4. Setia iring Tuhan agar kita tidak “kering” dan dibuang ke dalam api [ayat 6]. Selain kita harus rajin baca dan merenungkan serta melakukan Firman Tuhan, kita juga harus rajin datang beribadah bersama rekan-rekan seiman [Ibrani 10:25]. Ingat arang atau batubara yang menyala akan mati bila diambil atau disendirikan. Juga sapu lidi tidak akan bermanfaat jika hanya sebatang. Bagaimana dengan kita? Di saat kita masih mampu, diberi kekuatan dan berkat oleh Tuhan, sudahkah kita menjadi berkat bagi keluarga dan sesama? Ataukah hanya untuk diri sendiri?
Banyak orang Kristen mengira bahwa “berkat Tuhan” adalah sesuatu yang kelihatan besar, menakjubkan, dan bernilai fantastis. Rumah mewah, mobil mewah, keuntungan dengan jumlah nominal yang sangat besar mencapai ratusan juta bahkan miliaran rupiah, diterima kerja di perusahaan besar dan ternama, diterima kuliah di perguruan tinggi terkenal, dsb. Namun jika kita mengamati kenyataan dalam kehidupan kita ini, betapa sering kita meremehkan hal-hal yang kelihatan biasa-biasa saja. Padahal yang kelihatan diremehkan banyak orang, itulah yang justru menyebabkan banyak hal bisa kita capai. Misalnya, pernahkan kita berpikir bahwa kita bangun setiap pagi dalam keadaan sehat, tangan-kaki kita bisa membawa kita ke mana-mana dan dapat mengerjakan banyak hal adalah merupakan berkat Tuhan? Bukankah kita bernafas dengan lancar, tidak ada gangguan sedikitpun adalah berkat Tuhan? Iya, benar sekali Saudara. Semua dalam hidup kita, sampai hal terkecil sekalipun adalah berkat Tuhan. Tidak ada alasan untuk kita tidak mengucap syukur atas berkat-berkat itu, dan yang lebih penting lagi adalah tidak cukup berhenti hanya pada mengucap syukur saja. Lantas apa yang bisa kita lakukan lebih banyak lagi dari berkat Tuhan itu? Saudara, rasul Petrus mengatakan supaya kita, seorang akan yang lain, sungguh-sungguh dalam hal mengasihi, memberikan tumpangan dan supaya saling melayani sesuai dengan karunianya [ayat 8-10]. Demikianlah seharusnya hidup sebagai orang Kristen, tidak hanya mengurus kerohanian sendiri saja [ayat 7]. Artinya, ada hal yang lebih penting untuk kita kerjakan. Kita harus mengasihi dengan perbuatan nyata, sekaligus dengan memberikan pelayanan yang baik sesuai dengan karunia apa yang Tuhan telah tanamkan dalam diri kita. Mengasihi dengan perbuatan nyata itu harus dikerjakan secara saling bergantian di antara kita sebagai sesama anak Tuhan. Selain itu pelayanan ini juga kita berikan kepada orang-orang yang di luar sana, yang tidak kita kenal sekalipun. Semua itu kita lakukan dengan satu dasar bahwa Tuhan terlebih dulu telah memberkati kita karena kasih-Nya yang besar. Baiklah jika ada di antara kita yang merasa tidak pernah menerima berkat Tuhan dalam kehidupan kita, maka saudara berhak untuk tidak memberkati orang lain. Tetapi pertanyaannya adalah adakah di antara kita semua yang tidak menerima berkat Tuhan dalam hidup ini? Kalau begitu berkatilah orang lain selama kita masih diberkati Tuhan.
Ada seorang ibu pedagang ayam membeli seekor anak ayam jantan bangkok dan bermaksud membesarkan anakan tersebut di rumahnya. Oleh ibu ini, ayam yang dibelinya itu digabungkan menjadi satu dalam sebuah kurungan dengan ayam-ayamnya yang lain yang agak besar. Karena ayam jantan yang baru dibeli itu merupakan keturunan ayam bangkok, maka ayam itu kelihatan lebih besar dan gagah daripada ayam-ayam yang lainnya. Namun apa yang terjadi dalam kandang itu? Ayam bangkok itu setiap saat selalu di musuhi, dipecohi [dipatuk], oleh ayam-ayam yang lainnya. Dan apa yang dilakukan oleh anak ayam bangkok itu? Dia hanya bisa lari mencari tempat sembunyi. Namun setelah beberapa waktu justru ayam-ayam yang memusuhi ayam bangkok itu berubah mengikutinya, dan bahkan ketika diberi makanan tidak ada yang berani merebutnya. Dari peristiwa di atas, kita ingat akan perkataan Yesus dalam Yohanes 15:20, bahwa para pengikut Kristus akan dibenci, teraniaya, dan bahkan ditolak demi nama Yesus selama hidup di dunia ini. Dunia memusuhi Kristus dan para pengikutnya sepanjang sejarah. Lalu apa yang perlu diingat sebagai orang percaya agar tetap bertahan dalam menghadapi penolakan ini? Pertama, orang percaya sadar bahwa dunia ini menentang Allah dan prinsip-prinsip kerajaan-Nya, sehingga dunia akan tetap menjadi musuh dan penganiaya orang percaya sampai akhir zaman [Yakobus 4:4]. Oleh sebab itu orang percaya harus tetap bertahan dalam iman, supaya tidak ikut menentang Allah. Karena persahabatan dengan dunia berati permusuhan dengan Allah. Kedua, orang percaya menderita di dunia karena pada dasarnya mereka berbeda dengan dunia [Yohanes 15:19]. Karena orang percaya berbeda dengan dunia ini, maka harus mampu menerangi dan menggarami dunia, bukan sebaliknya, berkompromi dengan dunia. Untuk itu nilai-nilai, standar-standar, dan tujuan hidup orang percaya harus berbeda dengan prinsip-prinsip dan cara-cara dunia ini. Oleh karenanya, orang percaya harus menolak dengan tegas untuk kompromi dengan patokan orang dunia. Sebagai umat yang cemerlang, kita harus sadar bahwa dunia ini adalah palsu, karena bertentangan dan menentang cara hidup dalam Allah. Kita juga tidak boleh kompromi dengan keinginan dunia karena kita berbeda dengan dunia. Kita justru harus menerangi mereka dengan cara hidup kristus dalam setiap sisi hidup kita.
Banyak orang di negara-negara makmur merasa terganggu oleh tumpukan barang-barang yang sudah tidak mereka butuhkan atau gunakan lagi. Mereka menemui kesulitan untuk menyingkirkan berbagai barang yang memenuhi rumah dan kantor mereka. Seorang wanita yang telah berpindah rumah sebanyak lima kali dalam empat tahun mengeluh dan berkata, “Tahukah Anda berapa banyak barang yang saya bawa setiap kali pindah rumah? Saya jadi bertanya pada diri sendiri, ’Kenapa tak kugunakan otakku untuk memindahkan semua barang ini?’” Akhirnya wanita itu menyewa seorang ahli untuk membantunya belajar merelakan barang- barang yang tidak dibutuhkan lagi. Banyak orang terikat pada harta benda mereka dengan alasan yang berbeda-beda. Mereka tidak rela untuk menyingkirkan harta benda yang dimiliki, sekalipun itu adalah barang yang tidak terpakai. Secara tidak sadar sikap ini berpengaruh dengan sikap kita dalam berbagi dan memberi bagi orang lain. Di dalam Alkitab diceritakan tentang sebuah kisah yang dapat kita teladani terkait dengan hal memberi. Janda di Sarfat dihadapkan pada dilema yang cukup sulit atas permintaan Elia. Jika dia memberikan persediaan terakhir bahan makanan yang ada padanya, maka dia akan mati kelaparan. Namun akhirnya dia mengambil keputusan itu, walau berisiko [ayat 15]. Dia memberikan makanan penyambung hidupnya kepada Elia, yang dapat berarti juga “memberikan” hidupnya. Sungguh sebuah kisah yang sangat indah untuk kita teladani. Kita juga akan mengalami hal yang indah jika kita belajar dari kisah janda dari Sarfat ini. Mereka memberi teladan dalam hal memberi. Bagi mereka tidak ada alasan untuk tidak memberi apapun keadaannya. Di dalam keadaan baik atau tidak baik, dalam kelebihan ataupun kekurangan. Mereka menunjukkan bahwa kita semua bisa memberi, asal kita mau. Sebab kita pasti mempunyai sesuatu untuk diberikan dalam melayani sesama, paling tidak waktu, tenaga, doa dan perhatian. Yang perlu terus kita ingat adalah apapun yang kita punya adalah anugerah-Nya, yang diberikan bukan saja untuk diri sendiri, melainkan juga untuk melayani sesama demi kemuliaan-Nya. Kesempatan untuk memberi, terlebih memberi diri, adalah anugerah yang tidak boleh kita sia-siakan. Memberi hidup kita untuk melayani dengan sungguh-sungguh di mana kita ditempatkan; di rumah, di tempat kerja, dan di mana pun, adalah ibadah yang sejati.
BARCODE BBM CHANNELS
RENUNGAN HARIAN
Menjadi Berkat Melalui Hidup Kudus dan Tidak Bercela
24 Juli '15
Memberkati Bukan Hanya Pada Musimnya
13 Juli '15
Jadilah Berkat Karena Kita Telah Diberkati
10 Juli '15
Copyright © 2012 All rights reserved. Designed and Developed by GIA Dr. Cipto Semarang