SEPEKAN TERAKHIR
  Selasa, 30 Agustus 2016   -HARI INI-
  Senin, 29 Agustus 2016
  Minggu, 28 Agustus 2016
  Sabtu, 27 Agustus 2016
  Jumat, 26 Agustus 2016
  Kamis, 25 Agustus 2016
  Rabu, 24 Agustus 2016
POKOK RENUNGAN
Dengan tinggal tetap di dalam Tuhan, maka segala rupa pencobaan dan tantangan yang kita hadapi justru akan membuat kita semakin dan semakin terlatih menghadapinya.
DITULIS OLEH
Pdt. Natanael Rabono
Rohaniwan Pusat
Renungan Lain oleh Penulis:
Home  »  Renungan  »  Hidup Di Tengah Kemajemukan
Hidup Di Tengah Kemajemukan
Kamis, 23 Mei 2013 | Tema: Memiliki Karakter Kristus
Hidup Di Tengah Kemajemukan
Yosua 23:1-16
Ada suatu pemandangan yang terlihat aneh dan menimbulkan pertanyaan. Pada enam bulan yang lalu segerombol pepohonan bambu secara kompak bersama-sama agak merebah ke arah barat, kemudian waktu berjalan dan tiga bulan yang lalu segerombol bambu itu telah berubah posisi arah rebahnya ke timur. Tetapi sekarang segerombol pohon bambu itu arah rebahnya jelas terlihat ke utara. Kata banyak orang bahwa pohon bambu adalah pohon yang lentur, mudah diombang-ambingkan angin, tetapi justru kelenturan itulah letak kekuatannya. Hampir tidak pernah kita melihat pohon bambu tumbang karena diterpa angin. Oleh sebab itu kita sekarang mengerti bahwa segerombolan pepohonan bambu yang selalu berubah-ubah arah rebahnya karena sering diterpa angin kencang dari arah yang selalu bergantian, namun demikian bambu-bambu itu masih tinggal tetap di tempatnya dan be...selengkapnya »
Perkembangan budaya dan peradaban kita sebagai orang-orang timur sebenarnya lebih didominasi oleh olah rasa daripada olah pikir. Kita cenderung mistis dan mudah tertarik dengan peristiwa-peristiwa supranatural. Pohon-pohon yang besar segera memberi kesan angker. Tidaklah demikian dengan pohon-pohon yang kecil, apalagi suket teki [rumput]. Batu-batu besar kerap kali dikeramatkan dan dihubungkan dengan cerita mitos atau legenda tertentu. Sebut saja watu dodol di Banyuwangi, watu gemblong di daerah Tuban, watu ulo, dan lain-lain. Tidaklah demikian dengan batu-batu kecil, apalagi kerikil. Berkenaan dengan batu, Benay punya pengalaman unik. Benay tidak setuju jika hanya batu besar yang dikeramatkan. Kakek buyut Benay pernah mempunyai batu kecil yang terkenal sakti mandraguna, yaitu batu akik merah delima. “Batu itu dipercaya orang berkhasiat pengasihan”, kata Benay menjelaskan. “Wah.. berarti istri kakek buyutmu banyak”, ujar Sambey sambil terkekeh. “Ya, banyak dalam arti jumlah. Bukan banyak sebangsanya enthok dan bebek!” jawab Benay cengar-cengir. “Omong-omong, aku punya pengalaman dahsyat berkenaan dengan batu.” Sambey menatap Benay penasaran. Raut wajahnya memberi tanda bahwa ia tertarik untuk mendengarkan cerita Benay. “Dahulu di daerahku ada batu besar. Tidak ada orang yang berani duduk di atasnya apalagi corat-coret atau merusaknya. Suatu sore aku memberanikan diri duduk di atas batu itu. Dan peristiwa dahsyat terjadi! Keesokan harinya batu itu terbelah menjadi dua bagian.” Sambey tampak kian tertarik dengan cerita Benay. “Wow.. apa yang menyebabkan batu itu terbelah? Apakah karena kamu memakai batu akik sakti kakek buyutmu?” Benay mengeleng-gelengkan kepalanya. “Aku hanya kentut!” jawab Benay singkat, “Kentut anak Tuhan itu dahsyat bukan?” “Wow.. jadi kentutmu mampu membelah batu keramat itu? Luar biasa!” komentar Sambey terkagum. “Sebenarnya bukan kentutku yang membelahnya”, jawab Benay sambil menahan tawa, “Tetapi alat pemecah batu dari proyek yang akan membangun infrastruktur tepat di mana batu itu ada.” Merasa terkibuli oleh cerita sahabatnya, Sambey menggelitiki perut Benay yang bulat bundar. “Sebenarnya ceritaku ini tetap punya makna, Sam”, kata Benay sambil menahan geli, “Aku duduk di atas batu besar yang kokoh, mengingatkan aku bahwa Yesus adalah batu penjuru dan kita-kita ini adalah batu-batu kecil. Tuhan punya tujuan dengan batu-batu kecil itu. Batu-batu kecil itu disusun rapi dan saling terkait satu sama lain untuk membangun rumah rohani yang berdiri di atas pondasi yang kokoh, yaitu Tuhan Yesus sendiri.” Jemaat yang terkasih. Tuhan Yesus adalah batu penjuru yang hidup dan kita pun adalah batu-batu hidup-Nya. Kita semua berguna untuk membangun rumah rohani. Oleh karena itu jadikan Tuhan dasar hidup dan pelayanan kita bersama. Dan marilah kita bergandengan tangan, sepikir dan sehati, saling mengasihi dan memperhatikan satu sama lain agar rumah rohani yang kudus itu sungguh terwujud.
Sambey berniat mengajak Benay untuk mengisi acara perayaan kemerdekaan Indonesia ke-71 di kampung halamannya yang berjarak sekitar 40 kilometer di selatan Semarang. Mereka berdiskusi perihal apa yang akan mereka tampilkan. “Ben, bagaimana kalau kita menampilkan tari holahop”, usul Sambey, “Kamu yang menari, aku yang main ketipung.” Benay menatap sinis sahabatnya itu. “Enak di kamu, aku yang remuk”, respon Benay tak setuju, “Lagian apa kamu bisa main ketipung?” “Lha masih ada waktu 2 minggu. Aku bisa belajar dulu dengan Mas Anang drummer gereja kita”, jawab Sambey, “Atau aku iringi dengan ecek-ecek aja yang lebih mudah.” Mata Benay kian melotot meski bibirnya tersungging geli akan kata-kata Sambey. “Apa kamu bisa main ecek-ecek?” tanya Benay, “Lagipula tetap kamu yang nyantai, aku yang bakal babak belur diketawain orang sekampungmu?” Sambey tak kuasa lagi menahan tawanya melihat mimik kesal sahabat karibnya itu. “Ben, bukan maksudku ngerjain kamu”, kata Sambey, “Aku ingin kita ini menunjukkan kekompakan seperti Bezaleel dan Aholiab.” Benay menepuk pundak Sambey. “Bagaimana kalau gantian. Kamu yang menari aku yang main ketipung?” usul Benay. “Wah tidak bisa, Ben”, jawab Sambey, “Karena aku tak punya bakat menari seperti kamu. Meski tubuhmu tambun, bukankah kamu anggota favorite penari tambourine. Lagian menurutku belajar tari lebih sulit daripada main ketipung atau ecek-ecek.” “Banyak alasan kamu, Sam!” kata Benay, “Kalau begitu aku tak mau tampil di kampungmu.” Sambey terus membujuk Benay. Tetapi Benay tak bergeming dari keputusannya itu. “Sam, kamu itu pingin kita seperti Bezaleel dan Aholiab. Tapi coba lihat dirimu? Kamu punya bakat apa? Musik tak bisa, menari apalagi?” kata Benay penghabisan. “Ya..iya.. aku tak seperti kamu yang punya bakat banyak”, jawab Sambey, “Tapi setidaknya aku punya bakat.” “Apa bakatmu itu?” tanya Benay. “Ngerjain kamu”, jawab Sambey singkat sambil tertawa lepas. Jemaat yang terkasih, tidak seperti Sambey dan Benay di atas. Ada dua orang tokoh yang dicatat dalam kisah pengerjaan Kemah Suci, yaitu Bezaleel dan Aholiab, adalah orang yang mempunyai bakat dalam hal konstruksi. Mereka dipenuhi oleh Roh Allah dan diperlengkapi sedemikian rupa bukan untuk kepentingan dan keuntungan diri mereka sendiri. Melainkan untuk membangun sebuah tempat suci untuk kepentingan seluruh umat Israel. Pada masa sekarang ini, Tuhan pun memperlengkapi kita masing-masing dengan bakat dan karunia tertentu. Bakat dan karunia dalam diri kita itu sangat berguna. Tidak peduli apakah bakat dan karunia itu tampak besar atau kecil. Yang pasti Tuhan ingin kita menggunakannya untuk kepentingan bersama, untuk membangun jemaat. Marilah kita bersama-sama saling melayani dan membangun dengan bakat dan karunia dari Tuhan.
Jenderal Tso adalah pecatur yang sangat handal, nyaris tak ada yang mampu mengalahkannya. Suatu hari dalam perjalanan dinasnya, ia melihat sebuah gubuk yang di dindingnya tergantungtulisan “Pecatur Terbaik Dunia”. Hal ini membuat sang Jenderal penasaran. Segera dihampirinya gubuk itu dan menantang pemiliknya untuk adu catur. Terbukti sang Jenderal mampu memenangkan seluruh set yang mereka mainkan. Sebelum melanjutkan perjalanan, dengan menepuk dada ia berkata, ” Anda harus mencopot papan itu.’ Tak lama berselang, dalam perjalanan pulang sang Jenderal kembali melewati gubuk itu dan mendapati bahwa papan “Pecatur Terbaik Dunia” belum dicopot juga. Maka masuklah ia dan menantang pemilik gubuk itu sekali lagi. Namun kali ini tanpa diduga ia kalah telak tiga set berturut-turut. Sang Jenderal terperangah tak habis pikir. Lalu pemilik gubuk itu menjelaskan,“ Di pertandingan pertama, saya tahu Anda sedang dalam perjalanan mengemban tugas negara. Maka saya membiarkan Anda menang untuk menjaga semangat juang Anda. Tapi kini Anda telah kembali dengan sukses, maka saya pun bertanding sesuai dengan kemampuan saya.” Seorang maestro menahan diri sedemikian rupa. Rela dipandang sebelah mata demi kejayaan negaranya. Satu sikap bijak yang langka didapati dalam dunia yang serba berebut untuk menonjolkan diri dan mementingkan diri sendiri. Adakah kualitas seperti ini didapati di antara anggota Tubuh Kristus? Rela mengesampingkan kebanggaan pribadi demi mengutamakan pembangunan Tubuh Kristus secara keseluruhan? Selama anggota Tubuh Kristus masih bersikukuh menjunjung kebanggaan pribadi masing-masing, maka pembangunan Tubuh Kristus akan tersendat-sendat. Seorang maestro sejati memiliki kemampuan untuk menang, namun tahu kapan ia perlu mengalah untuk kebaikan. Seorang anak Tuhan yang bijaksana mampu untuk berkarya hebat, namun tahu kapan ia harus menahan diri dan menyesuaikan diri, demi kepentingan dan kemajuan bersama.
Dalam sebuah ibadah di Tunas, pembicara menanyakan di awal renungannya, “Talenta apa yang kalian miliki?” Semua anak tunas saling menoleh satu dengan yang lain sambil tersenyum ringan. Nampaknya anak-anak tunas belum mengerti apa talenta yang mereka miliki. Atau mungkin ada yang merasa malu mengungkapkan talentanya karena tidak begitu menarik dan bisa jadi sangat sederhana. Namun setelah pembicara menyampaikan renungan “perumpamaan tentang talenta”, mereka mulai berpikir bahwa mereka juga memiliki talenta. Sebelum kesimpulan, pembicara memberikan sebuah test kecil untuk mengetahui bakat atau kemampuan khusus apa yang mereka miliki. Akhirnya mereka mulai mengisi dan ternyata setiap anak memiliki talenta bukan hanya satu melainkan lebih. Dan pertanyaan terakhir itu adalah bakat apa yang dapat disumbangkan untuk pelayanan gereja. Akhirnya, hampir semua anak dapat mengetahui talenta mereka dan sekaligus memahami ternyata mereka dapat juga terlibat dalam pelayanan. Perumpamaan tentang telenta memberikan gambaran bahwa setiap orang diberikan talenta menurut ukuran kesanggupan kita. Setiap hamba menerima menurut kesanggupannya. Dan setelah mereka dipercayakan untuk memelihara talenta tersebut, mereka juga harus berusaha untuk mengembangkannya. Setiap hamba yang berhasil mengembangkan talentanya akan disebut hamba yang baik dan setia. Tetapi hamba yang tidak mengembangkan talenta yang dipercayakan disebut hamba yang malas dan jahat. Tuhan sudah mempertimbangkan dengan matang talenta yang akan diberikan kepada setiap umat-Nya, sehingga sekalipun kita hanya mendapatkan sedikit, itu tetap merupakan kepercayaan yang Tuhan berikan kepada kita untuk tetap disyukuri dan terlebih dapat digunakan untuk melayani Tuhan. Jemaat yang terkasih, jika kita sanggup menerima 5 talenta berarti kita memiliki tanggung jawab yang lebih besar untuk mengembangkan yang 5 tersebut menjadi maksimal. Sedangkan kita yang sanggup menerima 2 talenta, kita juga bertanggung jawab terhadap yang 2 tersebut. Bahkan mungkin Tuhan hanya mempercayakan kepada kita 1 talenta saja, itu juga menjadi tanggung jawab kita untuk menggunakannya dalam pelayanan. Bukan berapa banyak atau berapa jumlahnya talenta yang Tuhan berikan kepada kita, melainkan bagaimana kita berproses untuk mengembangkannya untuk pelayanan. Karena itu setiap kita yang telah menerima talenta itu, mari kita mengenali, menggali, memelihara, dan juga mengembangkannya untuk hormat kemuliaan Tuhan Yesus.
BARCODE BBM CHANNELS
RENUNGAN HARIAN
Tidak Ada Yang Salah Dengan Apa Yang Tuhan Taruh
30 Juli '16
Batu Yang Hidup1
21 Agustus '16
Ucapan Syukur Yang Membangun Sesama
15 Agustus '16
Copyright © 2012 All rights reserved. Designed and Developed by GIA Dr. Cipto Semarang