SEPEKAN TERAKHIR
  Selasa, 21 Oktober 2014   -HARI INI-
  Senin, 20 Oktober 2014
  Minggu, 19 Oktober 2014
  Sabtu, 18 Oktober 2014
  Jumat, 17 Oktober 2014
  Kamis, 16 Oktober 2014
  Rabu, 15 Oktober 2014
POKOK RENUNGAN
Dengan tinggal tetap di dalam Tuhan, maka segala rupa pencobaan dan tantangan yang kita hadapi justru akan membuat kita semakin dan semakin terlatih menghadapinya.
DITULIS OLEH
Pdt. Natanael Rabono
Rohaniwan Pusat
Renungan Lain oleh Penulis:
Home  »  Renungan  »  Hidup Di Tengah Kemajemukan
Hidup Di Tengah Kemajemukan
Kamis, 23 Mei 2013 | Tema: Memiliki Karakter Kristus
Hidup Di Tengah Kemajemukan
Yosua 23:1-16
Ada suatu pemandangan yang terlihat “aneh” dan menimbulkan pertanyaan. Pada enam bulan yang lalu segerombol pepohonan bambu secara “kompak” bersama-sama agak merebah ke arah barat, kemudian waktu berjalan dan tiga bulan yang lalu segerombol bambu itu telah berubah posisi arah rebahnya ke timur. Tetapi sekarang segerombol pohon bambu itu arah rebahnya jelas terlihat ke utara. Kata banyak orang bahwa pohon bambu adalah pohon yang lentur, mudah diombang-ambingkan angin, tetapi justru kelenturan itulah letak kekuatannya. Hampir tidak pernah kita melihat pohon bambu tumbang karena diterpa angin. Oleh sebab itu kita sekarang mengerti bahwa segerombolan pepohonan bambu yang selalu berubah-ubah arah rebahnya karena sering diterpa angin kencang dari arah yang selalu bergantian, namun demikian bambu-bambu itu masih tinggal tetap di tempatnya dan bertahun-tahun tidak satu pun yang tumbang. Mengapa pepohonan bambu itu begitu kuat? Sedikitnya ada dua alasan: 1. karena pepohonan tersebut hidup lentur; 2. Karena dengan hidup bergerombol, maka akar-akarnya telah menyatu. Itulah kunci kekuatannya.

Demikianlah juga dalam isi pidato Yosua kepada bangsa Israel, Yosua mengingatkan bahwa sekarang mereka tinggal berdampingan dengan sisa-sisa bangsa-bangsa lain. Itu berarti bahwa Israel terancam keberadaannya, katakan saja masalah tradisi adat-istiadat, kepercayaan, kawin campur, dan sebagainya. Hal-hal tersebut siap mengikis Israel. Yosua memperingatkan bahwa iman mereka selalu diuji dan teruji di tengah bangsa lain yang juga berjuang mempertahankan dan ...selengkapnya »
Alkisah dalam sebuah reuni tiga orang teman sepermainan berjumpa kembali. Setelah mengobrol ’ngalor ngidul’ menuntaskan rasa kangen, salah seorang bertanya kepada temannya. ”Sekarang kamu pergi ke gereja mana, Bro?” ”Aku ke gereja itu lho, yang visinya mendunia. Hebat puolll!” ”Kalau aku sih ke gereja yang selalu mengundang pembicara-pembicara tenar. Kereeen! Kamu sendiri ke gereja mana?” ”Ooo, aku ke gereja yang baru selesai direnovasi itu. Kapan-kapan berkunjung dong, megah bingits!” Kalau seseorang menanyakan pertanyaan yang sama kepada kita, apa jawab kita? Di antara begitu banyak gereja yang bertebaran di kota ini, bagaimana kita menggambarkan gereja kita? Bukan visi pendeta, bukan ketenaran pembicara, bukan menterengnya bangunan ... bukan itu. Semua itu bukan jati diri yang sejati. Itu bukan apa-apa dibanding kedaulatan Tuhan yang seharusnya diakui dan dijunjung tinggi di dalam sebuah gereja. Jati diri Gereja adalah sang Kepala. Ketika seluruh anggota tubuh tunduk kepada kedaulatan sang Kepala, itulah Gereja yang sejati. Ketika kehendak Kristus diakui, ditaati, dan kepentingan-Nya didahulukan ... jati diri Gereja yang sejati akan muncul. Itulah kerinduan saya pribadi terhadap gereja kita. Semoga itu juga menjadi kerinduan kita bersama.
Jemaat mula-mula merupakan gereja yang bertumbuh dengan pesat. Dua faktor yang dapat membuat mereka menjadi gereja yang bertumbuh adalah: 1) mereka disukai semua orang dan 2) pertolongan Tuhan. Mereka disukai karena kehidupan mereka menjadi saksi. Antara pengajaran dan kehidupan mereka ada keselarasan. Kasih yang sungguh yang mereka tunjukkan di antara sesama anggota jemaat membuat orang lain melihat perbedaan yang besar antara mereka dengan orang-orang Yahudi pada umumnya. Sukacita yang mereka tunjukkan, sekalipun “di bawah tekanan” juga sangat terasa bagi orang lain karena sukacita itu berasal dari Tuhan. Jelaslah bahwa jemaat mula-mula dapat menjadi gereja yang bertumbuh karena ditentukan oleh dua faktor penting, yaitu adanya tanggung jawab manusia yang mereka tunjukkan melalui kesaksian hidup yang benar dan karya Tuhan dalam mengirimkan orang-orang untuk diselamatkan. Owen W. Glassburn menulis sebuah puisi dengan judul “Gerejaku“. Isi dari puisi itu adalah sebagai berikut: “Gerejaku, sebuah ruangan yang tenang, sebuah tempat untuk kedamaian, sebuah rumah iman di mana kebimbangan berhenti, sebuah rumah penghiburan di mana pengharapan diberikan, sebuah sumber kekuatan untuk menolong kita ke sorga, sebuah tempat penyembahan, sebuah tempat untuk berdoa, saya menemukan semua ini dalam gerejaku hari ini.” Jika sebuah gereja menunjukkan keadaan seperti itu, bukan saja Owen yang akan betah berada di gereja itu, tetapi jemaat yang lain pun akan betah berada bersama di dalam gereja tersebut. Kondisi seperti inilah dan dengan pertolongan Tuhan menjadikan gereja bertumbuh. Oleh sebab itu marilah kita mulai dari diri kita sendiri, yaitu dengan menunjukkan kehidupan yang benar dan tidak jemu berdoa kepada Tuhan.
Memberi kesempatan kepada sesama pengendara untuk menyeberang di antrian yang panjang. Merelakan tempat duduk di bus untuk sesama penumpang yang lanjut usia. Berbagi keterampilan tanpa imbalan kepada sesama yang sangat membutuhkan. Inilah bentuk-bentuk kemurahan hati yang jarang terpikirkan oleh kita. Sebenarnya masih banyak lagi hal yang lain. Termasuk bermurah hati dalam bentuk memberi pengampunan kepada sesama yang menyakiti kita. Sebagian orang sulit melihat hubungan antara bermurah hati dan mengampuni. Tuhan Yesus sendiri dalam perikop yang diberi judul ‘Kasihilah musuhmu’ (Lukas 6:27-36) memaparkan dengan sangat jelas bahwa mengampuni sesama diperhitungkan sebagai kemurahan hati. Inilah sebuah bentuk kemurahan yang pada umumnya lebih sulit untuk kita lakukan. Manusia bukan perangkat elektronik. Kita tak bisa diprogram untuk mengabaikan perasaan yang tak diinginkan. Hanya perasaan bahagia saja yang disetel on, perasaan yang lain off. Tentu tidak begitu. Manusia yang normal bisa merasakan semuanya. Termasuk sedih dan sakit hati. Karena itulah Tuhan mengajarkan pengampunan. Sebab manusia pada dasarnya ingin dimaklumi dan dimaafkan, tetapi enggan memaklumi apalagi bermurah hati memberi pengampunan. Hal bermurah hati dengan mengampuni hanya indah didengar di mimbar dan mustahil dilakukan? Tidak. Tuhan tidak pernah mengajarkan hal yang mustahil untuk dilakukan. Memang ada kalanya tiba masa-masa sulit untuk bermurah hati bila disakiti. Apalagi bila rasa sakit yang ditimbulkan begitu dalam dan berulang-ulang. Saya pribadi tidak suka bertopeng di hadapan Tuhan dan manusia demi pencitraan. Saya berkata apa adanya tentang perasaan saya kepada Tuhan dan memohon agar dapat mengatasinya. Bukan berkata-kata kepada manusia agar membela saya dan akhirnya memicu perpecahan. Datang dengan jujur di hadapan Tuhan selalu menghasilkan pemulihan. Dan kemurahan hati akan mengalir kembali dalam bentuk pemberian pengampunan. Kalau kita adalah anak-anak-Nya, dengan siapa kita akan serupa jika tidak dengan Bapa kita?
Suporter atau fans club adalah sebuah organisasi yang terdiri dari sejumlah orang yang bertujuan untuk mendukung sebuah klub, di antaranya klub sepak bola. Dalam hal ini suporter harus berafiliasi dengan klub sepak bola yang didukungnya, sehingga perbuatan mereka akan berpengaruh terhadap klub dukungannya. Jenis suporter yang umum adalah Hooligan, fans yang brutal saat idolanya kalah bertanding; Ultras, kelompok yang tidak berhenti menyanyi dan meyerukan yel-yel lagu klub kebangaan selama pertandingan berlangsung dan rela berdiri sepanjang pertandingan; The Vip, mereka adalah sekelompok orang bukan bermaksud menonton, tetapi mereka mengharap ditonton oleh penonton lainnya; Deddy/Mommy, sekelompok orang yang menjadikan pertandingan sebagai hiburan rekreasi keluarga; Pohon Natal, kelompok yang hanya memamerkan atribut atau pernak-pernik dan hanya memamerkan identitas klub atau negaranya; The Expert adalah sekelompok pensiunan yang telah berumur. Mereka tidak sayang menggunakan uang pensiunan untuk bertaruh dan biasanya mereka hanya bertaruh pada pertandingan yang besar saja; Couch potato, mereka ini tipe penonton yang tidak hadir langsung ke stadion, namun melalui pesawat TV di rumah. Mereka lebih nyaman menonton di rumah karena berasumsi pertandingan belum tentu bagus. Mereka juga berdandan dengan atribut dan seolah-olah di stadion. Semua itu adalah para pendukung, namun tidak pernah bermain. Sehingga tidak jarang dukungan dan cacian selalu ada dalam mulut mereka. Namun perlu kita sadari sebagaimana dalam olah raga sepak bola yang membutuhkan dukungan, begitu juga dalam kegerejaan. Kita tidak hanya membutuhkan pendukung dalam hal ini jemaat, namun diperlukan juga pemain, yaitu para pelayan Tuhan yang siap untuk mewujudkan goal dari sang pelatih, yaitu Yesus Kristus. Sebab dengan kita langsung menjadi bagian dari tim sesungguhnya kita sedang memikirkan strategi dan target yang akan dicapai. Sebab melalui tim kita akan mengetahui kondisi yang sesungguhnya dari tempat kita bernaung dan diharapkan dari dukungan kita inilah, maka ada kemajuan dan kebangkitan. Oleh karenanya mari kita masuk dalam pelayanan dan telibat aktif di dalamnya karena itu akan membawa kemajuan bagi pertumbuhan gereja Tuhan Jangan hanya puas jadi penonton, tetapi mari lebih lagi sumbangsihkan dan dedikasikan apa yang kita punya bagi Tuhan, sebab kebanggannya adalah Tuhan dipuaskan dengan apa yang kita kerjakan. Dan kita akan melihat hasil dari apa yang kita kerjakan.
BARCODE BBM CHANNELS
RENUNGAN HARIAN
Umat Pilihan
28 September '14
Apa Hubungannya?
17 Oktober '14
Karakter Kristus
26 September '14
Copyright © 2012 All rights reserved. Designed and Developed by GIA Dr. Cipto Semarang