SEPEKAN TERAKHIR
  Minggu, 03 Mei 2015   -HARI INI-
  Sabtu, 02 Mei 2015
  Jumat, 01 Mei 2015
  Kamis, 30 April 2015
  Rabu, 29 April 2015
  Selasa, 28 April 2015
  Senin, 27 April 2015
POKOK RENUNGAN
Dengan tinggal tetap di dalam Tuhan, maka segala rupa pencobaan dan tantangan yang kita hadapi justru akan membuat kita semakin dan semakin terlatih menghadapinya.
DITULIS OLEH
Pdt. Natanael Rabono
Rohaniwan Pusat
Renungan Lain oleh Penulis:
Home  »  Renungan  »  Hidup Di Tengah Kemajemukan
Hidup Di Tengah Kemajemukan
Kamis, 23 Mei 2013 | Tema: Memiliki Karakter Kristus
Hidup Di Tengah Kemajemukan
Yosua 23:1-16
Ada suatu pemandangan yang terlihat “aneh” dan menimbulkan pertanyaan. Pada enam bulan yang lalu segerombol pepohonan bambu secara “kompak” bersama-sama agak merebah ke arah barat, kemudian waktu berjalan dan tiga bulan yang lalu segerombol bambu itu telah berubah posisi arah rebahnya ke timur. Tetapi sekarang segerombol pohon bambu itu arah rebahnya jelas terlihat ke utara. Kata banyak orang bahwa pohon bambu adalah pohon yang lentur, mudah diombang-ambingkan angin, tetapi justru kelenturan itulah letak kekuatannya. Hampir tidak pernah kita melihat pohon bambu tumbang karena diterpa angin. Oleh sebab itu kita sekarang mengerti bahwa segerombolan pepohonan bambu yang selalu berubah-ubah arah rebahnya karena sering diterpa angin kencang dari arah yang selalu bergantian, namun demikian bambu-bambu itu masih tinggal tetap di tempatnya dan bertahun-tahun tidak satu pun yang tumbang. Mengapa pepohonan bambu itu begitu kuat? Sedikitnya ada dua alasan: 1. karena pepohonan tersebut hidup lentur; 2. Karena dengan hidup bergerombol, maka akar-akarnya telah menyatu. Itulah kunci kekuatannya.

Demikianlah juga dalam isi pidato Yosua kepada bangsa Israel, Yosua mengingatkan bahwa sekarang mereka tinggal berdampingan dengan sisa-sisa bangsa-bangsa lain. Itu berarti bahwa Israel terancam keberadaannya, katakan saja masalah tradisi adat-istiadat, kepercayaan, kawin campur, dan sebagainya. Hal-hal tersebut siap mengikis Israel. Yosua memperingatkan bahwa iman mereka selalu diuji dan teruji di tengah bangsa lain yang juga berjuang mempertahankan dan ...selengkapnya »
“Zaman sekarang, makin sulit orang untuk berkorban”, kata Sambey risau. Benay yang lagi asyik ngupil, terganggu oleh ungkapan sahabatnya itu. “Ah, masak segitunya? Kan masih banyak orang yang mau nyumbang ke panti asuhan, korban banjir, membagi berkat dengan orang miskin.... Ah, jangan berlebihan kamu Sam”, katanya. Sambey manggut-manggut membenarkan pendapat Benay, tetapi itu tidak mengobati kerisauannya. Sambey menyadari bahwa pribadi seseorang tidak hanya dibentuk oleh ajaran-ajaran yang baik, tetapi juga oleh kondisi zamannya. Bukankah zaman ini adalah zaman persaingan ketat. Orang berlomba-lomba untuk “laku di pasaran” dan meraup sebanyak-banyaknya “keuntungan pasar” itu. Sambey kuatir kondisi ini makin membutakan mata batin orang bahwa di sekitarnya ada sesamanya manusia. Ia mengamati dalam persaingan itu sedikit orang yang berhasil, dan meninggalkan banyak orang yang belum berhasil atau gagal. Ah... ironisnya kemanusiaan seseorang pun diukur berdasarkan “ukuran pasar”. Jika banyak pundi-pundi uang yang dikumpulkannya, disebutlah ia wis dadi uwong [sudah jadi orang]. Bagaimana dengan yang pas-pasan atau berkekurangan? Disebut apakah mereka? Sambey memahami bahwa dalam kondisi ini kebajikan orang belumlah hilang. Tetapi mungkinkah sudah mulai luntur? Jemaat yang terkasih, dalam Alkitab, kita mendapati contoh orang-orang yang tidak luntur kebajikannya oleh terpaan kondisi zaman. Salah satu contoh adalah Jemaat Filipi [bagian dari wilayah Makedonia; 2 Korintus 8:1-7]. Jemaat Filipi merupakan jemaat miskin. Mereka tergolong orang-orang yang kalah dalam “persaingan pasar” di kota Filipi. Tiap hari mereka harus berpeluh sedemikian rupa untuk bertahan hidup dalam kancah persaingan yang berat. Sebenarnya wajar saja jika ungkapan “Lha.. aku dhewe yo butuh” [Lha.. saya sendiri juga butuh] menjadi motto yang mudah didengar dari mulut mereka. Aneh tetapi nyata! Ungkapan semacam itu tidak ada dalam kamus hidup jemaat. Kemiskinan dan persaingan berat yang mereka alami tidak mengurangi kepekaan mereka terhadap kesusahan orang lain. Dalam hal ini kesusahan yang dialami Rasul Paulus [ayat 14]. Beberapa kali mereka tulus berkorban dengan memberikan persembahan untuk Rasul Paulus. Jemaat yang dikasihi Tuhan, apakah situasi persaingan ketat dan tidak pernah habis-habisnya kebutuhan kita akan melunturkan kebajikan kita pada orang lain? Ah... tentu sebagai anak-anak Allah kita tetap mampu berbuat baik kepada orang lain - terutama yang mengalami kesusahan. Sebagaimana yang diteladankan jemaat Filipi, marilah kita melakukan kebajikan tidak sekedarnya saja, tetapi dengan segenap ketulusan dengan memandang orang yang kita tolong sebagai sesama kita manusia. Selamat menebar kebaikan. Tuhan memberkati kita.
Harakiri adalah sebuah tindakan ekstrim yang ada dalam tradisi kemiliteran jepang kuno. Seorang prajurit dibekali sebuah pisau kecil khusus dan perlengkapan senjata lain. Pisau khusus ini tidak boleh digunakan sembarangan. Ketika seorang prajurit gagal menjalankan tugas di medan perang, ia harus menebusnya dengan cara mengakhiri hidupnya dengan menggunakan pisau kecil tersebut. Tindakan itu dilakukan tepat di hadapan gambar Kaisar, ia ber”harakiri”. Betapa taatnya prajurit Jepang terhadap perintah Kaisarnya. Meskipun hanya di depan gambar kaisar, ia melakukan ketaatan mutlak. Bagaimana dengan kita? Bukankah seharusnya kita memiliki ketaatan yang lebih kepada Tuhan kita? Di hari-hari kita merayakan paskah, kita diingatkan akan keteladanan Tuhan kita, Yesus Kristus. Dia telah taat melakukan kehendak Bapa, bahkan Dia telah taat mati di kayu salib. Dia rela lahir di palungan. Dia sering disalah mengerti ketika Dia melayani banyak orang. Dia dianggap melakukan praktik kuasa kegelapan ketika Dia menyembuhkan orang sakit. Dia dianggap menghujat Allah ketika Dia mengampuni orang berdosa. Perlakuan-perlakuan yang tidak patut terhadap diri-Nya sebenarnya bisa membuat Dia undur dari tugas yang diberikan kepada-Nya. Namun Tuhan Yesus tetap dengan kerendahan hati seorang hamba, taat melakukan tugas penyelamatan manusia. Dia rela menderita, memikul salib, setia sampai mati di kayu salib. Mari kita memiliki ketaatan dan kesetiaan seperti Tuhan kita, Yesus Kristus. Dan kita melihat bagaimana Bapa telah meninggikan Dia supaya di dalam Yesus bertekuk lutut segala yang ada di bumi dan di langit.
Di dalam perkembangan kehidupan dewasa ini, banyak orang memandang bahwa standar kehidupan moral manusia sifatnya relatif dan tidak mutlak. Maksudnya adalah penilaian tentang standar moral manusia yang dianggap baik dan benar adalah tergantung penilaian masing-masing. Oleh karena itu banyak sekali orang mengaku dirinya benar karena menilainya dari sudut pandangnya sendiri. Sebagai contoh, orang yang nyata-nyata melakukan korupsi yang mengakibatkan kerugian berbagai pihak, masih saja membela diri dengan berbagai alasannya. Atau, para elite partai politik yang saling berebut kekuasaan menyebut pihaknya sebagai yang benar dan pihak lawan sebagai pihak yang salah. Hal ini menunjukkan bahwa manusia memerlukan standar atau patokan yang jelas untuk dijadikan acuan standar moral. Ketika Paulus menulis surat kepada jemaat di Efesus, dia menunjuk kepada Tuhan Yesus sebagai standar acuan untuk menilai perilaku manusia. Seseorang akan layak dinilai sebagai orang yang benar jika bersedia hidup sesuai dengan panggilan Allah dan berusaha keras mencari hal yang ’berkenan kepada Tuhan’ [ayat 10]. Serta tidak akan ’turut mengambil bagian dalam perbuatan-perbuatan kegelapan yang tidak berbuahkan apa-apa. Tetapi sebaliknya, menelanjangi perbuatan-perbuatan itu’ [ayat 11]. Patokan dari semuanya adalah Yesus, bukan yang lainnya. Hidup yang berkenan di hadapan Tuhan adalah hidup sebagai orang benar yang menjadikan Yesus sebagai standarnya. Hidup yang mau menjauhi perbuatan-perbuatan kegelapan. Hidup yang mau berjalan dalam terang Kristus. Itulah hidup yang menyenangkan hati Tuhan. Mari jadilah orang benar, bukan dalam standar ukuran manusia, tetapi dengan standar yang Tuhan tetapkan, yaitu menjadi serupa dengan Yesus Kristus.
Sebagai umat Tuhan tentu setiap kita rindu untuk memperkenan hati Tuhan dalam setiap tingkahlaku dan perbuatan kita. Namun mungkin kita bertanya bagaimana cara untuk berkenan di hati Tuhan. Melalui tema bulan ini kita diajarkan banyak hal bagaimana memperkenan dan menyukakan hati Tuhan dengan tindakan kita. Dalam surat Ibrani ini penulis juga mengajarkan kepada kita bagaimana beribadah yang berkenan kepada Allah, yaitu ibadah menurut caranya Allah, bukan cara kita. Bukan seenak kita sendiri atau semau kita sendiri. Cara Allah yang seperti apa? Setiap hari Minggu ditentukan sebagai “hari Sabat”, hari perhentian. Kesempatan untuk kita datang kepada Tuhan. Bukan hanya kalau Paskah atau Natal saja datang beribadah sehingga gereja penuh sesak, tetapi setelah itu tidak perduli lagi dengan waktu ibadah. Bahkan seringkali jam-jam ibadah kita abaikan dengan datang “terlambat”. Ibadah harus menurut cara Allah, bahkan dengan hormat dan takut. Mengapa? Karena Yesus sudah mati di atas kayu salib Golgota bagi semua manusia. Bagi kita yang percaya, sorga adalah sebuah kepastian dengan kebangkitan-Nya yang kita rayakan di dalam ibadah Paskah yang lalu sebagai jaminan keselamatan kekal yang Dia sediakan bagi kita. Mari kita secara terus menerus belajar memperkenan hati-Nya dengan memperhatikan jam-jam ibadah yang sudah ditetapkan di gereja. Mari kita memberi teladan yang benar kepada anak cucu kita untuk beribadah yang menyukakan hati Tuhan karena ibadah mengandung janji untuk hidup saat ini maupun untuk hidup yang akan datang [1 Timotius 4:8].
BARCODE BBM CHANNELS
RENUNGAN HARIAN
Janji Bagi Yang Diperkenan Tuhan
27 April '15
Problem Terbesar Seorang Anak Tuhan
25 April '15
Kami Selalu Mengenangmu
04 April '15
Copyright © 2012 All rights reserved. Designed and Developed by GIA Dr. Cipto Semarang