SEPEKAN TERAKHIR
  Jumat, 18 April 2014   -HARI INI-
  Kamis, 17 April 2014
  Rabu, 16 April 2014
  Selasa, 15 April 2014
  Senin, 14 April 2014
  Minggu, 13 April 2014
  Sabtu, 12 April 2014
POKOK RENUNGAN
Yesus adalah pemersatu kita untuk menjadi satu saudara seiman yang saling mengasihi, sehingga berkat-berkat tercurah karena satu kasih persaudaraan dalam Kristus.
DITULIS OLEH
Bpk. Andreas T. Loso
Kontributor
Renungan Lain oleh Penulis:
Home  »  Renungan  »  Hidup Rukun
Hidup Rukun
Kamis, 21 Februari 2013 | Tema: Komunitas Yang Menebarkan Kasih
Hidup Rukun
Mazmur 133:1-3
Ada banyak suku bangsa di Indonesia, seperti Minahasa, Batak, Tiong Hwa, dan lainnya yang mengenakan nama marga, yaitu nama yang melekat di belakang atau depan nama seseorang. Ketika dua orang bertemu di suatu daerah peratauan dan mempunyai nama marga yang sama, maka dapat dipastikan mereka akan nampak begitu akrab, bahkan mereka akan menelusuri silsilah keluarga untuk mengetahui hubungan kekerabatan di antara mereka. Biasanya mereka yang diperantauan yang berasal dari satu marga akan membentuk komunitas agar tetap rukun satu sama lainnya.
Sebagai warga kerajaan Allah, semua orang percaya mempunyai hubungan darah satu sama lain, yaitu oleh penebusan darah Yesus Kristus. Sekalipun Tuhan menempatkan kita di kota atau daerah yang berbeda, juga di gereja yang berbeda, tetapi kita tetap satu di dalam Kristus. Kita harus membina kerukunan di antara saudara seiman.

Sebagai warga negara Indonesia, tanpa melihat latar belakang suku dan agama atau kepercayaan, kita harus membangun kerukunan dengan satu sama lainnya. Rahasia berkat Tuhan yang luar biasa adalah jika kita hidup rukun, baik dalam keluarga sendiri, antara saudara seiman, dan antar sesama manusia. Kalimat yang mengungkapkan adanya embun dari gunung Hermon yang mengalir ke atas gunung-gunung Sion menunjukkan perlunya kerendahan hati. Jika kita rendah hati, maka kerukunan akan mudah terbentuk.

Perbedaan dan ketidaksepahaman yang tidak didasari dengan kerendahan hati akan mengakibatkan perpecahan. Tet...selengkapnya »
Di tengah amukan badai yang makin lama makin mengganas, sebuah kapal menderita kebocoran yang sangat parah sehingga nyaris karam. Pada detik-detik yang menegangkan itu sang kapten kapal berteriak kepada anak buahnya, ”Siapa di antara kalian merupakan pengikut Kristus yang tersohor karena rela mati bagi semua orang?” Seorang anak buah kapal yang dikenal saleh mengacungkan telunjuknya. Dia bersiap kalau-kalau diperintahkan untuk memimpin doa. Sang kapten menepuk keras bahu anak muda yang tanpa ragu mengaku sebagai pengikut Kristus itu dan berujar, ”Bagus! Kita kekurangan satu jaket penyelamat .... Jika Tuhanmu rela mati bagi seluruh manusia, tentu kau pun akan merasa terhormat mati bagi rekan-rekanmu.” Anekdot ini bukan hanya memancing senyum kita, tetapi menohok jauh lebih dalam. Bila kita menganggap bahwa sebutan sebagai pengikut Kristus sekedar predikat yang bermakna ringan tanpa konsekuensi yang berarti, kita harus berpikir ulang. Ternyata dunia tidak melihatnya demikian. Dunia berharap kita berlaku seperti Kristus. Memandang kita sebagai wakil Kristus dalam kehidupan yang tampak di depan mata. Ketika kita hidup buat kepentingan diri sendiri, keluarga sendiri, kelompok sendiri ... itu bertentangan dengan cara hidup Kristus. Hidup Kristus tidak dibaktikan bagi diri-Nya sendiri. Pengorbanan yang mulia adalah ciri khas cara hidup-Nya. Cara hidup yang semestinya menginspirasi kita yang menyebut diri sebagai pengikut Kristus. Jadi, setiap kali kita hendak mengatakan, memutuskan, atau melakukan segala sesuatu ... pertimbangkanlah matang-matang, apakah itu mencerminkan bahwa kita hidup bagi diri sendiri ... atau hidup bagi Kristus yang telah mati dan dibangkitkan untuk kita.
Menurut kebanyakan orang, bukan hanya dahalu maupun sekarang, menjadi seorang hamba adalah sesuatu yang rendah dan hina. Sebuah status yang tidak menguntungkan ataupun membanggakan karena ada dilevel bawah. Jika berhubungan dengan pekerjaan pastilah konotasinya bersinggungan dengan pekerjaan yang kasar dan keras, bahkan sering mendapat perlakuan yang kurang manusiawi. Tetapi bagi sebagian masyarakat Yogyakarta, menjadi abdi dalem (mengabdikan diri dalam pekerjaan tertentu) di Kesultanan Ngayogyokarto adalah sebuah kebanggaan dan kehormatan. Ketika mereka bisa melayani Sri Sultan, sang raja, mereka merasa bangga. Meskipun gajinya tidak seberapa, mereka dengan tulus mengabdikan diri. Hal yang sama ditunjukkan oleh Rasul Paulus. Ketika dia menulis surat kepada jemaat Filipi, Paulus memperkenalkan dirinya dan Timotius sebagai hamba Kristus. Istilah hamba menyiratkan unsur ketaklukan dan ketaatan mutlak yang merupakan kewajiban seorang hamba kepada tuannya. Selain itu sebutan hamba juga mengandung unsur kehormatan, dalam arti panggilan untuk tugas atau jabatan khusus. Apalagi yang dilayani adalah Tuhan yang begitu mulia, maka sebutan hamba Tuhan menjadi gelar kehormatan. Kita semua adalah hamba Tuhan (Kristus) karena kita telah ditebus oleh Kristus dengan harga darah-Nya sendiri (1 Petrus 1:18-19) Hal tersebut membawa dua akibat: pertama, kita telah menjadi milik Kristus untuk melayani-Nya dan mengabdi kepada-Nya. Itu adalah sebuah kehormatan. Oleh sebab itu tunjukkanlah pengabdian diri yang tulus dan ketaatan yang mutlak kepada Sang Tuan, yaitu Yesus Kristus. Kedua, kitapun harus menyadari setinggi apapun jabatan, status sosial, dan kekayaan kita, status kita tidak lebih dari seorang hamba. Tidak sepantasnya kita memposisikan diri sebagai tuan atas sesama hamba. Menuntut penghormatan dan perlakuan khusus dari sesama hamba yang lain. Kita tidak lebih berkuasa, tidak lebih tinggi ataupun tidak lebih mulia dari sesama orang percaya karena kita semua adalah hamba dan satu-satunya tuan kita adalah Tuhan Yesus Kristus.
Saat kita sedang mengalami pergumulan dalam hidup ini, mungkin masalah keluarga, masa depan anak, ekonomi yang tak kunjung ada jalan keluar, apa yang kita lakukan? Percayakah kita pada saat yang tepat Allah pasti menyediakan? Dialah Allah Yehovah Jireh! Mari kita simak dan renungkan kisah yang pasti tidak asing lagi bagi kita, kisah tentang Abraham yang diuji kepercayaannya oleh Tuhan. Bila kita membaca akhir dari kisah ini sangat menyenangkan, Happy Ending. Ishak, sang anak yang sangat dikasihi tidak jadi dikorbankan! Allah menyediakan penggantinya, seekor domba jantan yang tanduknya tersangkut di belukar di belakang Abraham (ayat 13). Sungguh suatu peristiwa yang sangat menegangkan! Tuhan menguji sampai detik terakhir, pisau siap menyembelih sang korban, Ishak anak yang sangat dikasihinya (ayat 10). Namun terpikirkah kita bagaimana perasaan Abraham sebagai seorang ayah saat berangkat menaati perintah Allah itu? Tentu hatinya penuh pergumulan antara ketaatannya kepada perintah Allah dan kenyataan yang dihadapinya! Anak yang keberadaannya sangat didambakan dan baru diperolehnya di usia lanjutnya diminta kembali oleh Allah sebagai korban bakaran (ayat 2). Tidakkah hatinya teriris saat Ishak menanyakan di mana anak domba yang akan dikorbankan karena dilihatnya api dan kayu sudah ada, tetapi yang akan dikorbankan tidak ada (ayat 7). Mungkin saat ini kita sedang dalam pergumulan yang sangat berat. Firman Tuhan sudah kita taati, tetapi kenyataan yang kita hadapi sungguh berbeda. Jangan kita goyah, percayalah Tuhan pasti akan menolong tepat pada waktunya. Dia tahu dan akan menyediakan bagi kita apa yang kita perlukan. Dialah Allah Yehovah Jireh! Amin.
Mata Benay berbinar-binar. Sesekali tampak ia senyum kikuk seorang diri. Jelas sekali tampak kebahagiaan tak terperi dari raut wajahnya. Asyik dengan lamunannya, Benay tidak menyadari kehadiran Sambey di sampingnya. “Hey...nglamun terus. Senyum-senyum sendiri!” bentak Sambey. Benay njumbul karena kaget. “Apa-apaan sih kamu Sam, nggak tahu orang lagi senang!” protes Benay. “Eit..eit..eit..marah ya? Lagi senang karena apa sih kamu?” tanya Sambey. Dengan malu-malu ia menjawab, “Aku sedang jatuh cinta, Sam.” Pipi Benay sekonyong-konyong merah merona. Ia menceritakan pada Sambey bagaimana seminggu lalu ia bertemu dengan seorang gadis manis. Mona namanya. Ia begitu menarik hati Benay. “Wah..kamu sedang terpanah cinta romantis, Ben. Cinta romantis bisa membuat orang lupa daratan, tenggelam dalam buaian perasaan, tanpa disadari bernuansa keegoisan. Seolah-olah tak ada rintangan yang mampu menghalanginya. Gunung ku daki, lautan ku sebrangi. Tetapi sesungguhnya semuanya itu agar cintanya berbalas. Agar sang kekasih selalu menyukakan dirinya. Setelah cinta kekasih didapatnya atau sang kekasih ternyata tak selalu menuruti kemauannya, lambat laun pudarlah gelora cintanya,” ungkap Sambey. Tanpa peduli dengan kata-kata Sambey, Benay melanjutkan lamunannya yang sempat terganggu. Jemaat Makedonia begitu dipuji oleh Rasul Paulus karena keteladanan kasihnya. Kasih mereka tidak bergantung dengan kondisi yang mereka alami. Buktinya, meskipun mereka mengalami pencobaan yang berat, sukacita mereka tetap meluap. Meskipun mereka miskin, tetapi itu tidak menghalangi mereka untuk menunjukkan kemurahan yang luar biasa (ayat 2-4). Kasih seperti ini adalah kasih yang sejati yang sangat berbeda dengan “kasih romantis”. “Kasih romantis” didorong oleh motivasi memanfaatkan Tuhan untuk selalu memenuhi keinginan dirinya. Oleh karenanya sifatnya hanya sesat karena tidak tahan uji. Tetapi kasih sejati didorong oleh penyerahan diri kepada Allah (ayat 5b). Oleh karenanya, kasih itu tetap berkobar dalam segala kondisi yang dialami. Jemaat yang terkasih. Ada orang Kristen yang memperlakukan Tuhan seperti pelayan restoran. Tuhan dikasihi jika dapat melayani keinginannya secara memuaskan dan cepat alias anti lelet. Sebaiknyalah kita tidak seperti itu, karena niscaya kasih kita akan kandas. Hendaklah kasih kita kepada Tuhan memancar dari penyerahan diri kita sepenuhnya kepada-Nya. Tuhan layak menerima penyerahan diri kita, karena Dia telah terlebih dahulu mengasihi kita dan terus mengasihi kita hingga sekarang ini dan seterusnya. Dengan demikian, kita dimampukan mempunyai kasih yang sejati. Kasih yang terus berkobar dalam segala kondisi.
MARI BERTUMBUH BERSAMA
TEMA BULAN APRIL 2014
RENUNGAN HARIAN
Jaket Penyelamat
14 April '14
Sebuah Lengan Yang Kokoh
28 Maret '14
Tahan Banting
23 Maret '14
Copyright © 2012 All rights reserved. Designed and Developed by GIA Dr. Cipto Semarang