SEPEKAN TERAKHIR
  Sabtu, 29 November 2014   -HARI INI-
  Jumat, 28 November 2014
  Kamis, 27 November 2014
  Rabu, 26 November 2014
  Selasa, 25 November 2014
  Senin, 24 November 2014
  Minggu, 23 November 2014
POKOK RENUNGAN
Yesus adalah pemersatu kita untuk menjadi satu saudara seiman yang saling mengasihi, sehingga berkat-berkat tercurah karena satu kasih persaudaraan dalam Kristus.
DITULIS OLEH
Bpk. Andreas T. Loso
Kontributor
Renungan Lain oleh Penulis:
Home  »  Renungan  »  Hidup Rukun
Hidup Rukun
Kamis, 21 Februari 2013 | Tema: Komunitas Yang Menebarkan Kasih
Hidup Rukun
Mazmur 133:1-3
Ada banyak suku bangsa di Indonesia, seperti Minahasa, Batak, Tiong Hwa, dan lainnya yang mengenakan nama marga, yaitu nama yang melekat di belakang atau depan nama seseorang. Ketika dua orang bertemu di suatu daerah peratauan dan mempunyai nama marga yang sama, maka dapat dipastikan mereka akan nampak begitu akrab, bahkan mereka akan menelusuri silsilah keluarga untuk mengetahui hubungan kekerabatan di antara mereka. Biasanya mereka yang diperantauan yang berasal dari satu marga akan membentuk komunitas agar tetap rukun satu sama lainnya.
Sebagai warga kerajaan Allah, semua orang percaya mempunyai hubungan darah satu sama lain, yaitu oleh penebusan darah Yesus Kristus. Sekalipun Tuhan menempatkan kita di kota atau daerah yang berbeda, juga di gereja yang berbeda, tetapi kita tetap satu di dalam Kristus. Kita harus membina kerukunan di antara saudara seiman.

Sebagai warga negara Indonesia, tanpa melihat latar belakang suku dan agama atau kepercayaan, kita harus membangun kerukunan dengan satu sama lainnya. Rahasia berkat Tuhan yang luar biasa adalah jika kita hidup rukun, baik dalam keluarga sendiri, antara saudara seiman, dan antar sesama manusia. Kalimat yang mengungkapkan adanya embun dari gunung Hermon yang mengalir ke atas gunung-gunung Sion menunjukkan perlunya kerendahan hati. Jika kita rendah hati, maka kerukunan akan mudah terbentuk.

Perbedaan dan ketidaksepahaman yang tidak didasari dengan kerendahan hati akan mengakibatkan perpecahan. Tet...selengkapnya »
Ibu Yohana, suatu saat bercerita kepada seorang hamba Tuhan tentang pergumulan yang dihadapi dalam keluarganya. Melihat sepintas kehidupan keluarga ini tampak baik-baik saja dan hubungan yang harmonis, serta rukun sepertinya tidak menunjukkan ada masalah. Namun setelah ibu Yohana bercerita barulah mengerti bahwa keluarga tersebut memiliki pergumulan yang serius tentang suaminya yang memiliki wanita simpanan di kota lain, tempat si suami bekerja. Sudah lebih dari tiga kali dia mengampuni suaminya dan berusaha menyadarkan suami tentang arti penting dari keluarga Kristen. Namun tetap saja peristiwa itu berulang kembali sampai akhirnya si ibu putus asa dan kehabisan akal, sehingga kali ini ia tidak mau lagi mengampuni suaminya. Akhirnya lewat percakapan pastoral oleh hamba Tuhan, ibu Yohana disadarkan dan mau mengampuni suaminya meskipun luka hatinya sudah semakin dalam. Dia tidak mau dikuasai oleh luka hati tersebut. Dia rindu mengalami kebebasan dan kemerdekaan di dalam Kristus. Nats renungan hari ini berbicara tentang pengampunan kepada orang lain yang melukai hati kita. Biasanya orang yang paling sering melukai hati kita adalah mereka yang memiliki hubungan dekat dengan kita. Merekalah yang sehari-hari bersama dengan kita dan tinggal di sekitar kita berpotensi menimbulkan kekecewaan dan akar pahit. Tetapi tahukah kita bahwa tindakan mereka yang menyakitkan hati kita bisa dipakai Allah untuk membentuk karakter kita dalam hal kerendahan hati dan pengampunan kepada orang lain. Kita mengampuni karena dosa-dosa kita telah diampuni, oleh sebab itu kitapun mengampuni kesalahan orang lain. Ingatlah, ketika kita tidak bersedia mengampuni orang lain, maka Allah juga tidak mengampuni kita. Tentunya Iblis akan memakai kepahitan tersebut untuk menjerat hidup kita. Tuhan Yesus adalah teladan bagi kita dalam hal mengampuni ketika Dia disalibkan. Ada harga yang harus dibayar oleh Tuhan Yesus untuk mengampuni dosa kita, maka kitapun harus membayar harga untuk mengampuni orang lain. Bagaimana dengan hidup Saudara saat ini? Apakah yang menjadi penghalang utama dalam mengampuni orang lain? Pandanglah Tuhan Yesus di kayu salib, maka kita pasti dimampukan untuk mengampuni orang lain.
Ada kepahitan dalam hati Sambey. Berat baginya untuk mengampuni Pdt. Itong yang baginya bukan sosok hamba Tuhan yang baik. Minggu ini sepulang dari gereja, ia memikirkan sepenggal kata Pdt. Andrey dalam kotbahnya menasihati jemaat untuk mempunyai kekayaan pengampunan dengan bukti selalu bersedia mengampuni orang yang bersalah berapa kalipun kesalahan itu dilakukan. Kata-kata itu bertentangan dengan perasaannya. “Bagaimana mungkin aku harus selalu mengampuni Pdt. Itong? Bukankah pendeta super cuek ini sebaiknya diberi pelajaran? Kalau perlu dibuat menderita? Kok, rasanya lebih puas jika melihat ia menderita?” pikir Sambey. Semakin lama ia berpikir, semakin pusing kepalanya karena ada pertentangan di dalam pikiran dan perasaan Sambey. Baginya kotbah minggu ini bertentangan dengan kenyataan hidup sehari-hari. Bukankah membalas adalah tindakan yang wajar jika terus-menerus disalahi seseorang? Dan mengampuni yang bagi Sambey berarti hilangnya hasrat membalas, tidak masuk akal! Tidak sejalan dengan perasaan sakit hatinya! Minggu ini dilalui Sambey dengan perasaan serba kacau. Tidak ada tempat curhat baginya, karena Benay sahabatnya sedang sibuk latihan tari tamborine untuk kelompok penari laki-laki. Jemaat yang terkasih. Petrus rupanya mempunyai batasan pengampunan. Baginya cukuplah mengampuni tujuh kali saja (ayat 21). Pertanyaannya kepada Tuhan Yesus sebenarnya untuk mendapatkan peneguhan bahwa sudah saatnya ia mengadakan pembalasan kepada seseorang yang telah berbuat salah kepadanya. Tetapi jawaban Tuhan di luar perkiraan Petrus. “Bukan sampai tujuh kali, melainkan tujuh puluh kali tujuh kali,” demikian kata Tuhan. Itu berarti Tuhan menghendaki Petrus selalu bersedia mengampuni. Mengapa demikian? Melalui perumpamaan yang dikisahkan-Nya, Tuhan memberikan alasan yang sangat mendasar. Kita harus selalu bersedia mengampuni karena Tuhan telah lebih dahulu mengampuni kita. Bukankah dosa kita kepada Tuhan jauh lebih besar? Oleh sebab itu untuk menebusnya pun sangat mahal harganya, yaitu dengan darah suci Yesus, Anak Allah! Masakan kita yang telah mendapatkan pengampunan dengan cara demikian itu, tidak bersedia selalu mengampuni orang lain? Jemaat yang terkasih. Bukankah sering kita dengar kata-kata: “Kamu boleh nyalahi aku, tapi jangan sampai tiga kali! Karena kesabaranku (pengampunanku) ada batasnya! Kalau sudah sampai tiga kali, jangan salahkan aku kalau aku membalas!” Kata-kata ini terdengar masuk akal. Tetapi Tuhan menghendaki kita tidak demikian. Tuhan menghendaki kita menjadi pribadi yang kaya akan pengampunan. Kekayaan pengampunan itu tidak berasal dari diri kita sendiri, tetapi bersumber dari Tuhan yang telah mengampuni dosa kita yang begitu besar. SELAMAT MENGAMPUNI.
Sebuah lagu yang diinspirasi dari kitab Amsal berkata bahwa ”Hati yang gembira adalah obat, s’perti obat hati yang senang. Tapi semangat yang patah, keringkan Tulang. Hati yang gembira, Tuhan senang”. Lagu ini telah memberkati ribuan bahkan mungkin jutaan orang Kristen yang telah menyanyikan pujian ini dan mengalami betapa kegembiraan memiliki kekuatan yang sangat dahsyat bagi semangat etos kerja kita baik dalam pekerjaan umum, pelayanan, keluarga, maupun dalam aktifitas sehari-hari, dengan satu bukti bahwa hampir tidak ada orang kristen yang tidak tahu kalimat-kalimat dan lirik lagu ini. Dan hampir semua gereja sering menyanyikan pujian ini. Dalam Kitab Amsal, saya menemukan sedikitnya ada sekita 5 ayat yang menceritakan tentang “Hati yang gembira menyembuhkan, sementara hati yang patah menyakitkan”. Mengapa sang penyajak menulis kata-kata hikmatnya tentang hal ini secara berulang-ulang? Tentu Raja Salomo ingin menyampaikan berita yang sangat penting yang tidak hanya didengarkan oleh para pendengarnya, dan tidak hanya dibaca oleh para pembacanya, tetapi sang penyajak ingin agar para pendengar dan pembacanya mengalami sendiri bahwa “perasaan yang gembira memiliki kekuatan yang sangat dahsyat”. Apakah kekuatannya itu? Pertama: hati yang gembira merupakan obat yang manjur untuk segala sakit penyakit kita (Amsal 17:22); kedua: hati yang gebira membuat wajah kita berseri-seri (Amsal 15:13); ketiga: Tuhan akan menjawab keinginan hati orang yang memohon kepada-Nya dengan hati yang gembira (Mazmur 37:4); keempat: kegembiraan akan mencairkan suasana dalam pertemuan-pertemuan keluarga, sekolah, kantor, pekerjaan, pelayanan, dan lain-lain. Tidak ada alasan untuk seorang tidak bergembira. Jika sakit hati, akar kepahitan ada dalam hatimu sehingga Anda tidak dapat bergembira, lepaskan pengampunan karena sekarang pun kita telah menerima pengampunan dari Tuhan. Pengampunan akan melepaskan kita dari akar kepahitan. Hilangnya kepahitan dalam diri kita akan membawa keceriaan. Dan keceriaan, hati yang gembira akan menyembuhkan.
Kolose 3:13 Sabarlah kamu seorang terhadap yang lain, dan ampunilah seorang akan yang lain apabila yang seorang menaruh dendam terhadap yang lain, sama seperti Tuhan telah mengampuni kamu, kamu perbuat jugalah demikian. Kita telah mendengar bahwa mengampuni itu menguntungkan diri kita sendiri. Benar, kalau kita mengampuni kita akan terbebas dari rasa sakit di hati kita. Tidak perlu lagi kita berkata: ”Tahu ndak, sakitnya itu di sini.” (sambil menunjuk ke arah dada). Tapi tujuan pengampunan bukan cuma untuk kepentingan diri kita. Tujuan pengampunan adalah untuk keutuhan Tubuh Kristus dan kesaksian Gereja di tengah dunia. Pengampunan akan bekerja dengan efektif bila terjadi dalam dua arah, artinya bukan hanya salah satu pihak saja yang mengampuni tapi kedua pihak saling mengampuni. Firman Tuhan berkata: ”ampunilah seorang akan yang lain.” Biasanya dalam sebuah konflik kedua pihak yang berseteru punya andil dalam terjadinya perseteruan itu. Tidak ada orang yang 100% benar maupun 100% salah. Yang merasa tersakiti bukan hanya salah satu pihak saja, melainkan kedua pihak sama-sama merasa tersakiti. Karena itu pengampunan harusnya dilakukan oleh kedua pihak, bukan salah satu saja. Memang pengampunan bisa dilakukan oleh salah satu pihak saja. Kalau yang seorang mau mengampuni, sedangkan yang lainnya tidak mau, pihak yang mau mengampuni tetap dapat melakukan pengampunan. Dan dialah yang akan terlepas dari sakit hati. Tuhan tentu berkenan pada apa yang dilakukannya. Tetapi Tuhan akan lebih senang jika kedua pihak saling mengampuni dan membuka hati. Tuhan menghendaki pemulihan hubungan kedua belah pihak. Pemulihan hubungan bisa terjadi kalau kedua pihak mau sama-sama saling mengampuni. Tuhan menghendaki kita melakukan Firman-Nya bukan hanya secara pribadi demi pribadi, tapi juga secara bersama-sama. Tindakan ketaatan itu adalah tanggung jawab bersama. Tuhan menghendaki gereja-Nya menjadi sebuah keluarga yang saling mengasihi, di mana di dalamnya ada kerukunan dan damai sejahtera. ”Karena Dialah damai sejahtera kita, yang telah mempersatukan kedua pihak dan yang telah merubuhkan tembok pemisah, yaitu perseteruan, ...... dan untuk memperdamaikan keduanya, di dalam satu tubuh, dengan Allah oleh salib, dengan melenyapkan perseteruan pada salib itu.... Demikianlah kamu bukan lagi orang asing dan pendatang, melainkan kawan sewarga dari orang-orang kudus dan anggota-anggota keluarga Allah,” (Efesus 2:14, 16, 19). Kiranya Tuhan memberkati dan menolong kita semua. Amin.
BARCODE BBM CHANNELS
RENUNGAN HARIAN
Bukan Soal Untung Atau Rugi
27 November '14
Awas Hati Panas!
28 November '14
Melampaui Batas
15 November '14
Copyright © 2012 All rights reserved. Designed and Developed by GIA Dr. Cipto Semarang