SEPEKAN TERAKHIR
  Senin, 01 September 2014   -HARI INI-
  Minggu, 31 Agustus 2014
  Sabtu, 30 Agustus 2014
  Jumat, 29 Agustus 2014
  Kamis, 28 Agustus 2014
  Rabu, 27 Agustus 2014
  Selasa, 26 Agustus 2014
POKOK RENUNGAN
Yesus adalah pemersatu kita untuk menjadi satu saudara seiman yang saling mengasihi, sehingga berkat-berkat tercurah karena satu kasih persaudaraan dalam Kristus.
DITULIS OLEH
Bpk. Andreas T. Loso
Kontributor
Renungan Lain oleh Penulis:
Home  »  Renungan  »  Hidup Rukun
Hidup Rukun
Kamis, 21 Februari 2013 | Tema: Komunitas Yang Menebarkan Kasih
Hidup Rukun
Mazmur 133:1-3
Ada banyak suku bangsa di Indonesia, seperti Minahasa, Batak, Tiong Hwa, dan lainnya yang mengenakan nama marga, yaitu nama yang melekat di belakang atau depan nama seseorang. Ketika dua orang bertemu di suatu daerah peratauan dan mempunyai nama marga yang sama, maka dapat dipastikan mereka akan nampak begitu akrab, bahkan mereka akan menelusuri silsilah keluarga untuk mengetahui hubungan kekerabatan di antara mereka. Biasanya mereka yang diperantauan yang berasal dari satu marga akan membentuk komunitas agar tetap rukun satu sama lainnya.
Sebagai warga kerajaan Allah, semua orang percaya mempunyai hubungan darah satu sama lain, yaitu oleh penebusan darah Yesus Kristus. Sekalipun Tuhan menempatkan kita di kota atau daerah yang berbeda, juga di gereja yang berbeda, tetapi kita tetap satu di dalam Kristus. Kita harus membina kerukunan di antara saudara seiman.

Sebagai warga negara Indonesia, tanpa melihat latar belakang suku dan agama atau kepercayaan, kita harus membangun kerukunan dengan satu sama lainnya. Rahasia berkat Tuhan yang luar biasa adalah jika kita hidup rukun, baik dalam keluarga sendiri, antara saudara seiman, dan antar sesama manusia. Kalimat yang mengungkapkan adanya embun dari gunung Hermon yang mengalir ke atas gunung-gunung Sion menunjukkan perlunya kerendahan hati. Jika kita rendah hati, maka kerukunan akan mudah terbentuk.

Perbedaan dan ketidaksepahaman yang tidak didasari dengan kerendahan hati akan mengakibatkan perpecahan. Tet...selengkapnya »
1 Samuel 17:45-47 Tetapi Daud berkata kepada orang Filistin itu: ”Engkau mendatangi aku dengan pedang dan tombak dan lembing, tetapi aku mendatangi engkau dengan nama TUHAN semesta alam, Allah segala barisan Israel yang kautantang itu.” (ayat 45) Goliat adalah gambaran dari orang-orang yang angkuh, sombong dan terlalu percaya diri, karena merasa dirinya kuat dan punya segala perlengkapan yang ampuh. Mereka memandang rendah orang lain yang tidak memiliki kemampuan dan perlengkapan seperti yang dimilikinya. Mereka yakin bahwa dengan segala perlengkapan itu kemenangan selalu ada di pihak mereka. Mereka lupa bahwa ada faktor lain dalam hidup ini, yaitu TUHAN. Daud adalah gambaran dari orang-orang yang punya keyakinan bahwa kemenangan dalam hidup ini tidak ditentukan oleh kekuatan fisik dan kelengkapan persenjataan. Kemenangan adalah milik orang yang ada di pihak Tuhan. Tuhan memihak orang-orang yang diperkenan oleh-Nya. Karena itu Daud tidak takut menghadapi Goliat. Dia berani maju walaupun hanya dengan tongkat dan umban. Memang dia cuma punya itu. Perlengkapan senjata tidak masalah, asal Tuhan ada bersamanya. Itu sudah cukup. Dari sinilah keberanian Daud berasal. Keberaniannya tidak berasal dari keperkasaan dan kekuatan otot. Bukan juga dari pedang, tombak dan lembing. Keberaniannya datang dari penyertaan Tuhan. Dia tahu Tuhan ada di pihak Israel, karena Goliat menantang Allah semesta alam. Goliat bukan sekedar menantang barisan tentara Israel, tapi menantang Tuhan sendiri. Barangsiapa menantang Allah pasti akan berhadapan dengan-Nya. Dan siapakah yang tahan berhadapan dengan-Nya? Tuhan memberikan kemenangan pada orang yang ada di pihak-Nya. Apa andalan saudara? Senjata? Harta? Modal yang besar? Koneksi dengan orang-orang penting? Tidak salah punya itu semua. Tapi kalau itu yang menjadi andalan saudara dan saudara meremehkan penyertaan Tuhan, saudara akan seperti Goliat. Yakinkah bahwa Tuhan sedang ada di pihak Anda? Jika Tuhan ada di pihak kita, siapakah lawan kita?
Asap putih dupa itu meliuk-liuk di udara menebar bau harum ke segenap penjuru ruangan. Berwarna-warni jajanan dan buah-buahan tersaji rapi di meja. Sangat menggugah selera. Sulit sekali bagi seorang gadis kecil untuk menahan diri dari godaan buat mencomotnya. Tetapi tahun itu berbeda dari tahun sebelumnya. Tahun itu si gadis kecil sudah mengerti tentang arti keselamatan. Mengerti bahwa dupa-dupa itu bukanlah pengantar doa. Bahwa sang Juruselamat bukanlah penguasa antah berantah yang bersemayam entah di mana. Tahun sebelumnya ia menurut saja ketika disuruh menirukan tindak tanduk kakeknya di depan altar. Memanjatkan doa kepada sosok yang tak dikenalnya. Namun kali ini berbeda. Ia tak akan melakukan hal itu lagi. Kalaupun ia harus menanggung amarah dari kakeknya, ia bersedia. Ia sungguh ingin bertindak sesuai dengan imannya. i dalam kehidupan sehari-hari, terkadang kita menghadapi hal yang mirip dengan kejadian tadi. Bisakah kita bersikap sesuai dengan iman kita ketika orang-orang di sekitar kita berlaku sebaliknya? Akankah kita ikut terseret arus dan takut untuk berbuat benar? Bisakah kita berlaku jujur ketika lingkungan kita penuh dusta? Bisakah kita berlaku lurus ketika orang-orang lebih memilih berbelat-belit? Jangan takut untuk bertindak benar. Jangan malu bertindak sesuai dengan iman kita sebab Allah memberikan kepada kita bukan roh ketakutan, melainkan roh yang membangkitkan kekuatan, kasih dan ketertiban.
Sebuah gereja kecil dengan anggota jemaat sekitar 150 orang yang berada di tengah sebuah perumahan suatu ketika mendapat berita bahwa besok siang akan ada penyerbuan dari kelompok tertentu. Kelompok itu akan datang dengan rombongan besar karena mereka tidak setuju dan merasa terganggu dengan adanya gereja. Mereka bertujuan untuk menghancurkan bangunan gereja. Pada waktu mendapat berita tersebut, jemaat menjadi panik. Pendeta berkata menenangkan jemaat, “Jangan kita takut dan panik karena mereka datang dengan kekuatan manusia, tetapi yang menyertai kita adalah Tuhan, Allah yang Maha Kuasa. Mari kita datang dan bersujud kepada-Nya karena pertolongan datang dari Allah saja.” Keesokan harinya pada jam diperkirakan, mereka datang. Sang Pendeta dan isterinya masuk di tempat ibadah untuk berdoa dan tidak menghiraukan himbauan aparat keamanan yang melarang masuk. Sampai malam hari dan hari-hari berikut sampai sekarang tidak ada satupun orang yang datang untuk merusak gedung gereja. Mereka berani bukan mampu tetapi karena kuasa Tuhan yang menyertainya. Yerusalem dikepung oleh tentara Asyur di bawah pimpinan raja Sanherib. Raja Hizkia menutup semua mata air di seluruh negeri dan membangun tembok dan menara-menara. Memperkuat pasukan tentara dan mengangkat panglima-panglima perang. Walaupun persiapan demikian kuat, rakyat tetap ketakutan karena selain pasukan Asyur sangat besar, mereka menyebarkan berita kepada rakyat bahwa tidak ada bangsa manapun yang tidak pernah dikalahkannya. Hizkia menemui rakyatnya dan berkata, “Kuatkanlah dan teguhkanlah hatimu! Jangan takut karena yang menyertai mereka adalah tangan manusia, tetapi yang menyertai kita adalah Tuhan, Allah kita, yang membantu kita dan melakukan peperangan kita.” Hizkia sujud dan berdoa bersama nabi Yesaya. Tuhan mengirimkan malaikatnya untuk melawan dan melenyapkan pasukan Asyur (ayat 20-21). Hizkia berani karena dia yakin Tuhan yang Maha Besar itu yang menyertainya. Mungkin saat ini kita sedang mengalami masalah yang sangat besar sehingga kita sangat ketakutan. Marilah seperti Hizkia kita kuatkan dan teguhkan hati kita, jangan takut karena Tuhan Yesus Kristus yang senantiasa menyertai kita jauh lebih besar kuasa-Nya dibanding dengan apapun masalah kita. Jadilah pemberani bukan karena kekuatan kita sendiri tetapi karena Tuhan menyertai kita.
Dalam novel yang berjudul “The Man Who Was Thursday” karangan G.K. Chesterton dikisahkan seorang polisi agen rahasia menyelundup ke dalam kelompok pemberontak yang ingin mengacaukan dunia. Polisi itu sangat ketakutan sampai pada akhirnya dia menemukan seorang sekutu di dalam kelompok itu. Chesterton menuliskan perasaan sang polisi ketika menemukan seorang teman: “Dalam semua pencobaan ini, akar ketakutannya adalah kesendirian. Tak ada kata-kata yang dapat mengungkapkan betapa besarnya perbedaan antara sendirian dan memiliki seorang teman. Para ahli matematika mengatakan bahwa empat orang adalah dua orang ditambah dua orang. Namun bila kita mendapatkan seorang teman, kita bukan sekadar dua orang yang bersatu, melainkan bagaikan kesatuan dua ribu orang.” Ketika Daud dikejar-kejar oleh Raja Saul yang cemburu dan kehilangan akal sehat, dia memiliki seorang sahabat yang mau mengambil risiko besar untuk mendampinginya. Yonatan, putra tunggal Saul, menyatakan kesetiaannya kepada Daud dan memberitahukan niat sang ayah untuk membunuhnya (1 Samuel 20:31-42). Kemudian saat Saul mengejar Daud ke padang gurun, “bersiaplah Yonatan ... lalu pergi kepada Daud di Koresa. Dia menguatkan kepercayaan Daud kepada Allah” (1 Samuel 23:16). Betapa indahnya hadiah yang kita berikan saat kita dengan setia mendampingi seorang teman yang membutuhkan dukungan! Jangan puas hanya menjadi teman bagi orang di sekelillingmu, tetapi jadilah sahabat bagi mereka. Setiap orang sangat memerlukan arti pentingnya kehadiran seorang sahabat. Seorang sahabat ibarat setetes air yang memberi kesejukan saat kita ada dalam kekeringan. Menjadi sahabat tidak hanya tentang sekedar menjalin relasi. Menjadi sahabat tidak hanya tentang sekedar mengisi waktu luang. Menjadi sahabat berarti bersedia untuk: berkorban, berbagi, menguatkan, menghibur, menjadi pendengar yang baik, memberi nasihat, mendoakan, tertawa bersama, menangis bersama, dsb. Sudah siapkah kita menjadi sahabat bagi orang di sekeliling kita?
BARCODE BBM CHANNELS
RENUNGAN HARIAN
Kekuatan Seorang Sahabat
02 Agustus '14
Apa Yang Anda Wariskan?
16 Agustus '14
Saksi Yang Berani
24 Agustus '14
Copyright © 2012 All rights reserved. Designed and Developed by GIA Dr. Cipto Semarang