SEPEKAN TERAKHIR
  Jumat, 31 Juli 2015   -HARI INI-
  Kamis, 30 Juli 2015
  Rabu, 29 Juli 2015
  Selasa, 28 Juli 2015
  Senin, 27 Juli 2015
  Minggu, 26 Juli 2015
  Sabtu, 25 Juli 2015
POKOK RENUNGAN
Yesus adalah pemersatu kita untuk menjadi satu saudara seiman yang saling mengasihi, sehingga berkat-berkat tercurah karena satu kasih persaudaraan dalam Kristus.
DITULIS OLEH
Bpk. Andreas T. Loso
Kontributor
Renungan Lain oleh Penulis:
Home  »  Renungan  »  Hidup Rukun
Hidup Rukun
Kamis, 21 Februari 2013 | Tema: Komunitas Yang Menebarkan Kasih
Hidup Rukun
Mazmur 133:1-3
Ada banyak suku bangsa di Indonesia, seperti Minahasa, Batak, Tiong Hwa, dan lainnya yang mengenakan nama marga, yaitu nama yang melekat di belakang atau depan nama seseorang. Ketika dua orang bertemu di suatu daerah peratauan dan mempunyai nama marga yang sama, maka dapat dipastikan mereka akan nampak begitu akrab, bahkan mereka akan menelusuri silsilah keluarga untuk mengetahui hubungan kekerabatan di antara mereka. Biasanya mereka yang diperantauan yang berasal dari satu marga akan membentuk komunitas agar tetap rukun satu sama lainnya.
Sebagai warga kerajaan Allah, semua orang percaya mempunyai hubungan darah satu sama lain, yaitu oleh penebusan darah Yesus Kristus. Sekalipun Tuhan menempatkan kita di kota atau daerah yang berbeda, juga di gereja yang berbeda, tetapi kita tetap satu di dalam Kristus. Kita harus membina kerukunan di antara saudara seiman.

Sebagai warga negara Indonesia, tanpa melihat latar belakang suku dan agama atau kepercayaan, kita harus membangun kerukunan dengan satu sama lainnya. Rahasia berkat Tuhan yang luar biasa adalah jika kita hidup rukun, baik dalam keluarga sendiri, antara saudara seiman, dan antar sesama manusia. Kalimat yang mengungkapkan adanya embun dari gunung Hermon yang mengalir ke atas gunung-gunung Sion menunjukkan perlunya kerendahan hati. Jika kita rendah hati, maka kerukunan akan mudah terbentuk.

Perbedaan dan ketidaksepahaman yang tidak didasari dengan kerendahan hati akan mengakibatkan perpecahan. Tet...selengkapnya »
Suatu pagi saya bangun dengan kepala yang terasa sangat berat, mata yang sulit untuk dibuka, tubuh yang limbung. Tentu saja saya bangun dengan kondisi seperti itu karena semalam-malaman tidak bisa tidur. Banyaknya tugas dan masalah yang harus diselesaikan membuat saya tidak bisa memejamkan mata. Pekerjaan di kantor, masalah di rumah, tugas-tugas dalam pelayanan terasa menjadi beban yang sangat berat. Sempat merasa frustasi dan sering terpikir untuk melepaskan semua tugas-tugas yang tiada habisnya. Puji syukur karena Bapa mengerti betul setiap detail dari kondisi fisik, mental, pikiran dan hati kita. Dia tuntun saya untuk melihat hidup Ester. Ester ditempatkan Tuhan di sebuah istana, bukan karena wajah Ester yang cantik saja yang membawanya menjadi permaisuri, tapi terlebih karena Tuhan punya rencana, dan Tuhan membutuhkan kesediaan Ester untuk dipakai menjadi berkat bagi bangsanya. Ester dituntut menjadi alat untuk menyelamatkan bangsanya yang akan dimusnahkan oleh Haman dengan cara menghadap raja Ahasyweros untuk membatalkan rencana itu. Bukan hal yang mudah untuk bertemu dengan raja karena nyawa menjadi taruhannya. Ester bisa saja menolak tugas itu, tetapi dia menyadari akan perannya sebagai penyalur berkat bagi bangsanya, dan dia melakukan tugas yang dipercayakan kepadanya dengan sepenuh hati. Ketika tugas-tugas, pekerjaan, masalah yang kita hadapi menjadi beban bagi kita, kita cenderung untuk menolak atau melakukan dengan terpaksa. Dan sudah pasti ketika segala sesuatu dilakukan dengan terpaksa tidak akan menghasilkan sesuatu yang baik dan membuat kita menjadi stress. Tetapi kalau kita menyadari bahwa ketika Tuhan mengijinkan banyak tugas, pekerjaan ataupun masalah ada dalam kehidupan kita, itu bukan hanya kebetulan semata. Tapi ada maksud dan rencana di balik semua itu. Dan Allah ingin kita menjadi penyalur berkat melalui apapun yang kita lakukan. Seperti Ester yang tidak menjadikan tugasnya sebagai beban tetapi sebagai berkat untuk bangsanya, mari kita belajar menyadari posisi kita sebagai penyalur berkat bagi lingkungan melalui setiap tugas, pekerjaan dan masalah yang kita hadapi. Amin.
Saudara, istilah pahlawan tidaklah asing di telinga kita. Negara kita memberikan apresiasi khusus kepada para pahlawan, terbukti adanya peringatan Hari Pahlawan setiap bulan Nopember. Gelar “pahlawan” diberikan pada seseorang yang telah berbuat sesuatu yang berjasa atau berjasa bagi kepentingan banyak orang. Tapi pada umumnya orang beranggapan “pahlawan” adalah mereka yang telah berjuang angkat senjata untuk memperoleh kemerdekaan suatu negara. Pahlawan pejuang kemerdekaan itu hanya salah satu sebutan untuk para pahlawan, padahal masih banyak jenis kepahlawanan yang bisa kita jumpai. RA Kartini, beliau adalah pahlawan untuk emansipasi wanita. Bapak dan ibu guru, mereka termasuk pahlawan tanpa tanda jasa yang telah berhasil mendidik dan menghasilkan anak didik yang pandai dan berhasil. Yang menarik adalah gelar “pahlawan tak dikenal”. Gelar ini diperuntukkan bagi mereka yang telah berbuat sesuatu yang berarti untuk kemajuan sesama tapi tidak mendapat penghargaan atau tidak diperhitungkan. Dalam bacaan hari ini kita merenungkan tentang seorang tuan yang memberikan modal atau kemampuan kepada hamba-hambanya untuk dikembangkan. Hal ini tak ubahnya seperti keadaan kita manusia yang diciptakan Allah dan diperlengkapi dengan berbagai kemampuan dan keahlian. Pada ayat 21, sang tuan mengacungkan jempol kepada hamba yang sudah mengembangkan modal yang ia berikan dengan baik. Bahkan hamba itu boleh menikmati berkat kebahagiaan tuannya. Berapa banyak keahlian, kepandaian atau kemampuan yang sudah Tuhan berikan dalam hidup kita? Tentunya Tuhan memperlengkapi kita dengan keahlian, kepandaian ataupun kemampuan tertentu. Oleh sebab itu kita patut bersyukur kepada Tuhan dengan bersedia membagikannya kepada sesama. Saat kita bekerja, di situ bukan berarti semata-mata kita menjual keahlian untuk mendapat sejumlah uang, tapi juga memberi kontribusi bagi perusahaan atau sesama semakin maju dan memiliki arti. Saat kita melayani, bukan berarti kita mempertontonkan karunia yang dari Tuhan sehingga orang kagum melihat kehebatan kita, tapi bagaimana karunia yang kita miliki menjadi berkat untuk orang lain.
Dunia facebook, twitter dan instagram sudah merambah ke hampir semua lapisan usia. Dari murid SD sampai oma opa fasih update status dan upload foto. Bahkan balita pun kini sudah dibikinkan akun sosial media oleh orang tua mereka. Seperti juga teknologi yang lain, jejaring sosial media pun bisa memberi pengaruh positif maupun negatif bagi para penggunanya. Tergantung bagaimana cara si pengguna memanfaatkan akunnya. Terkadang seorang pengguna memiliki beberapa akun sekaligus untuk jenis sosial media yang sama. Satu akun untuk rekan-rekan bisnis dan kawan-kawan sehobi; satu akun lagi untuk teman-teman gereja. Tidak ada salahnya, selama akun-akun itu dimanfaatkan dengan baik dan bertanggung jawab. Bahkan sebenarnya satu akun pun bisa di-setting untuk berkomunikasi dengan beberapa group yang berbeda. Tetapi pada kenyataannya, tak jarang pengguna sosmed menjelma menjadi dua pribadi yang bertolak belakang sesuai dengan peruntukan akunnya. Di satu akun dia akan mengutip ayat-ayat Alkitab, mengunggah kisah-kisah inspiratif dan memberi petuah-petuah rohani; di akun lain dia akan bercanda dengan kata-kata kasar, melontarkan makian dan melemparkan kecaman-kecaman menusuk. Itulah gunanya memiliki akun ganda, agar sisi gelapnya tersembunyi dan ’reputasi’nya terjaga. Sebagai anak-anak Tuhan tidak ada yang perlu kita sembunyikan bila kita benar-benar hidup dalam terang Firman-Nya. Tak perlu berpura-pura, tak perlu menutup-nutupi, kalau memang secara alamiah kita berada di dalam terang kasih-Nya. Justru segala perkataan dan tindakan kita selayaknya terbuka dalam terang, supaya menjadi nyata, bahwa perbuatan-perbuatan kita dilakukan dalam Allah.
Hidup manusia di akhir zaman ini cenderung dikendalikan oleh nafsu memiliki harta benda. Mengapa demikian? Sebab mereka berpikir bahwa kekayaan mampu memberikan jaminan keamanan, kecukupan, ketenangan dan kebahagiaan hidup. Oleh sebab itu derap langkah kehidupan terus dimotivasi oleh apa yang namanya bekerja, bekerja, dan terus bekerja, bahkan tidak mengenal batas waktu kapan harus bekerja, beristirahat, bercengkerama dengan keluarga, bersosial di masyarakat, dll. Bagi kita, anak-anak Tuhan, tentu tidak heran lagi apabila kecenderungan seperti itu dilakukan oleh dunia ini. Sebab Tuhan Yesus pernah memberikan sebuah gambaran mengenai “Orang kaya yang bodoh”. Dia [orang kaya yang bodoh] menerapkan strategi dengan membangun lumbung yang besar untuk dapat menyimpan banyak sekali kekayaannya. Sehingga dia akan bersantai-santai dan bersenang-senang dengan mengandalkan simpanan kekayaan di lumbung yang dibangunnya itu [bnd. ayat 17-19]. Bukankah kehidupan dunia di akhir zaman sekarang ini berkecenderungan seperti itu? Banyak orang bekerja dengan tidak memperhatikan waktu, tidak bisa membagi waktu dengan benar. Yang dikejar adalah harta kekayaan sebanyak-banyaknya dan menumpuknya di bank A, bank B, dst. Pikirnya, banyak harta pasti bahagia dan tenang hidupnya. Saudara yang kekasih, seseorang yang menumpuk uangnya [kekayaannya] di Bank memang tidak salah, tetapi Tuhan Yesus berfirman bahwa harta yang melimpah tidak menjamin ketenangan dan kebahagiaan hidup manusia [ayat 15]. Sebab semua itu akan ditinggalkan ketika seseorang dipanggil Tuhan. Semua menjadi sia-sia. Tuhan Yesus menghendaki supaya orang yang kaya [diberkati] di dunia juga menjadi kaya di hadapan Allah. Artinya, kekayaannya atau berkat yang ada padanya jangan hanya untuk dirinya sendiri [ayat 21], tetapi bagaimana berkat kekayaan itu harus dimanfaatkan dan disalurkan juga kepada orang lain yang membutuhkan. Jadi sekalipun kita menjadi manusia modern yang bergelut dengan bisnis setiap hari, namun Tuhan juga menghendaki agar kita menjadi bisnisman yang berhasil dan diberkati, serta sekaligus memiliki jiwa sosial yang tinggi.
BARCODE BBM CHANNELS
RENUNGAN HARIAN
Bertahan Walau Ditolak
01 Juli '15
Menjadi Berkat Dimulai Dari Hati
08 Juli '15
Lakukan Sebaik Mungkin
25 Juli '15
Copyright © 2012 All rights reserved. Designed and Developed by GIA Dr. Cipto Semarang