SEPEKAN TERAKHIR
  Sabtu, 23 September 2017   -HARI INI-
  Jumat, 22 September 2017
  Kamis, 21 September 2017
  Rabu, 20 September 2017
  Selasa, 19 September 2017
  Senin, 18 September 2017
  Minggu, 17 September 2017
POKOK RENUNGAN
Yesus adalah pemersatu kita untuk menjadi satu saudara seiman yang saling mengasihi, sehingga berkat-berkat tercurah karena satu kasih persaudaraan dalam Kristus.
DITULIS OLEH
Bp. Andreas T. Loso
Rohaniwan Pusat
Renungan Lain oleh Penulis:
Home  »  Renungan  »  Hidup Rukun
Hidup Rukun
Kamis, 21 Februari 2013 | Tema: Komunitas Yang Menebarkan Kasih
Hidup Rukun
Mazmur 133:1-3
Ada banyak suku bangsa di Indonesia, seperti Minahasa, Batak, Tiong Hwa, dan lainnya yang mengenakan nama marga, yaitu nama yang melekat di belakang atau depan nama seseorang. Ketika dua orang bertemu di suatu daerah peratauan dan mempunyai nama marga yang sama, maka dapat dipastikan mereka akan nampak begitu akrab, bahkan mereka akan menelusuri silsilah keluarga untuk mengetahui hubungan kekerabatan di antara mereka. Biasanya mereka yang diperantauan yang berasal dari satu marga akan membentuk komunitas agar tetap rukun satu sama lainnya.
Sebagai warga kerajaan Allah, semua orang percaya mempunyai hubungan darah satu sama lain, yaitu oleh penebusan darah Yesus Kristus. Sekalipun Tuhan menempatkan kita di kota atau daerah yang berbeda, juga di gereja yang berbeda, tetapi kita tetap satu di dalam Kristus. Kita harus membina kerukunan di antara saudara seiman.

Sebagai warga negara Indonesia, tanpa melihat latar belakang suku dan agama atau kepercayaan, kita harus membangun kerukunan dengan satu sama lainnya. Rahasia berkat Tuhan yang luar biasa adalah jika kita hidup rukun, baik dalam keluarga sendiri, antara saudara se...selengkapnya »
Ada satu kebiasaan yang saya lakukan selama bertahun-tahun, yaitu mengantar atau menjemput anak sekolah. Suatu ketika dalam perjalanan setelah menjemput anak saya, Olivia, pulang dari sekolah tepatnya di jalan Wahidin atau di tanjakan Tanah Putih, motor saya mogok. Untuk bawanya ke bengkel dengan Olivia, tentu saya kerepotan. Maka saya menelepon Yonathan, anak saya yang pertama, untuk menjemput adiknya. Sementara kami menunggu jemputan, ada seorang anak muda yang melewati jalan di mana kami menunggu, tiba-tiba ia berbalik arah menghampiri kami dengan maksud untuk menolong kami. Dengan berbagai alasan kami menolak pertolongan anak muda tersebut. Dan yang membuat Olive heran adalah mengapa anak muda itu bersedia menolong kami. Maka saya menjelaskan bahwa tidak perlu heran, kalau kita bersedia menolong orang lain pasti dalam suatu kesempatan yang lain saat kita dalam kesulitan, akan ada orang yang menolong karena apa yang kita tabur pasti akan kita tuai. Kita mungkin juga seringkali mendengar orang Samaria yang baik hati atau kisah-kisah yang lain yang mengajarkan agar kita berbuat baik atau menolong orang lain. Pertanyaannya, sudahkah kita melakukannya dalam kehidupan kita sehari -hari? Surat Galatia juga mengingatkan kepada kita untuk berbuat baik karena apa yang kita tabur itu juga yang akan kita tuai. Kalau kita menabur kebaikan, maka kita pasti akan menuai kebaikan. Demikian juga kalau kita menabur kejahatan, pasti kita akan menuai kejahatan. Mari kita menabur apa yang baik sehingga kita dan anak-anak kita dapat menuai kebaikan yang kita tabur selama di dunia ini.
Peristiwa air bah pada zaman Nuh menjadi salah satu nasihat yang Tuhan Yesus pernah sampaikan untuk menggambarkan tentang kedatangan-Nya. Dalam peristiwa air bah, Allah sudah memperingatkan mereka melalui Nuh yang ditugaskan untuk membangun bahtera dan menyerukan kepada mereka untuk segera bertobat karena air bah akan segera melanda bumi. Namun reaksi orang-orang pada waktu itu acuh tak acuh, mencemooh dan bahkan mentertawakan Nuh. Bukannya bertobat, tapi mereka justru semakin lama malah semakin jahat. Firman Tuhan dalam Kejadian 6:5 menyatakan: ‘Ketika dilihat TUHAN, bahwa kejahatan manusia besar di bumi dan bahwa segala kecenderungan hatinya selalu membuahkan kejahatan semata-mata.’ Bukankah sikap mereka itu tak jauh berbeda dengan keadaan orang-orang di zaman sekarang ini? Kini banyak orang bersikap acuh dan tidak peduli terhadap perkara-perkara rohani, di mana yang mereka pikirkan adalah ‘Sampai sekarang pun Tuhan tidak datang juga, dan sepertinya semua yang tertulis dalam Alkitab itu tidak betul.” Saat ini ada banyak sekali orang-orang yang mungkin berfikiran seperti itu, sehingga akhirnya mereka tidak mempedulikan lagi tentang hal-hal rohani yang berdampak pada kehidupan kekal. Lebih parahnya lagi banyak orang mengaku dirinya mengenal Allah, merasa dekat, bahkan lebih keren lagi ada yang mengatakan bahwa mereka membuat karya mujizat atas seizin Allah, tetapi ternyata perbuatan hidupnya tidak seturut kehendak Allah. Apakah orang-orang seperti ini berkenan di hadapan Allah? Orang-orang zaman sekarang tak ubahnya hampir sama dengan orang-orang pada zaman Nuh. Seperti Alkitab menuliskan [2 Timotius 3:5a]: “Secara lahiriah mereka menjalankan ibadah mereka, tetapi pada hakekatnya mereka memungkiri kekuatannya.” Apa sebenarnya yang Tuhan kehendaki pada zaman ini agar pertobatan kita berkenan di hadapan Allah? Yang Tuhan kehendaki adalah pertobatan yang sejati. Banyak orang mengaku dirinya telah bertobat, percaya Yesus, tetapi hidupnya tidak melakukan kehendak Allah, seperti yang Yesus katakan dalam Matius 7:21, “Bukan setiap orang yang berseru kepada-Ku: Tuhan, Tuhan! akan masuk ke dalam Kerajaan Sorga, melainkan dia yang melakukan kehendak Bapa-Ku yang di sorga.” Dan di ayat selanjutnya Yesus mengatakan bahwa banyak orang bernubuat demi nama Yesus, membuat banyak mujizat demi nama Yesus, tetapi pada akhirnya Tuhan Yesus menyatakan tidak mengenal mereka. Mengapa? Dalam Matius 7:21 dikatakan dengan jelas karena mereka TIDAK MELAKUKAN KEHENDAK ALLAH. Marilah kita semua hidup dalam pertobatan dan melakukan setiap perintah-Nya dengan merubah setiap perilaku di setiap sisi kehidupan kita.
Malam itu merupakan malam yang sangat menakutkan bagi suster Charllote dan Carol. Mereka berlari terengah-engah dengan penuh ketakutan. Mereka mencoba bersembunyi dari kejaran Iblis yang sangat mengerikan. Keduanya hanya bisa berteriak histeris dengan wajah yang pucat karena melihat sosok Iblis yang sangat kejam hendak membunuh mereka. Suster Charllote terpojok di sebuah ruangan di lantai dua, dan di tempat terpisah Carol dengan gemetar sampai di ujung ruangan gudang. Sang Iblis pun semakin mendekati keduanya dan siap mencekik mereka. Namun situasi pun berubah, suster Charllote dengan memegang kalung rosarionya sambil gemetaran memejamkan mata dan berdoa memanggil Tuhan. Carol pun yang juga tidak kalah takutnya, berteriak histeris, “... Waaaaaaaaa... God.! Help Me!” [Tuhan! Tolong Aku!] Seketika itu juga, Iblis pun lenyap dari hadapan mereka. Itulah sepenggal cuplikan adegan yang ada dalam film Annabelle Creation. Sebuah fim horor yang sedang populer hari-hari ini. Ada pesan positif dalam adegan di atas, yaitu pada saat kita terdesak, ketakutan dan tidak berdaya, selalu ada Tuhan yang siap membantu kita. Elia juga mengalami hal serupa di dalam hidupnya. Di dalam 1 Raja-raja pasal 18, dikisahkan tentang perjuangan heroik Nabi Elia melawan 450 Nabi Baal. Elia sukses mengalahkan mereka dan membunuh mereka semua. Namun justru keadaan sebaliknya diceritakan dalam pasal yang ke-19. Saat mendapat ancaman dari Izebel, Elia malah ketakutan. Elia berusaha sekuat tenaga berlari menjauh dari Izebel. Dia sangat ketakutan dan gelisah mendengar ancaman ini. Satu hal yang sangat luar biasa dari kisah Elia ini adalah Tuhan tidak pernah meninggalkannya. Pada saat Elia ketakutan dan tidak berdaya, Tuhan selalu bersamanya. Tuhan memberikan penyertaan, perlindungan dan kelegaan kepada Elia. Bagaimana dengan kita? Pada saat kita pesimis akan hidup ini, kita cemas terhadap kondisi bangsa Indonesia, atau bahkan kita ragu terhadap gereja kita, ingatlah selalu ada Tuhan yang siap menolong kita! Berserulah kepada-Nya, maka Dia akan mendengar seruan kita. Jangan pernah malu untuk berseru meminta pertolongan-Nya. Jangan pernah sungkan untuk mengakui keterbatasan kita kepada-Nya. Tuhan kita bukanlah Tuhan yang tertidur. Dia adalah Tuhan yang siap untuk membantu kita di dalam segala situasi. Ingatlah, masih ada Tuhan!
Seorang pemuda yang sedang menyelesaikan pendidikan sarjana tentu berharap mendapatkan pekerjaan yang sesuai dengan bidang kemampuan yang dimilikinya. Ia terus berusaha mencari dan mendapatkan pekerjaan. Ia akan mencari peluang untuk bisa mendapatkan pekerjaan yang tepat bagi dirinya. Cita-cita semasa belajar seolah-olah akan segera didapatkan. Mimpi-mimpi ketika menjalani perkuliahan dalam angan sudah terbayang nyata. Ia memiliki harapan yang besar untuk masa depan yang gemilang. Harapan itu pasti sesuatu yang indah dan yang baik karena ada keyakinan pasti bisa meraihnya. Kitab Amsal 23:18 memberitahu bahwa masa depan dan harapan yang baik itu tetap ada. Meskipun harus dengan perjuangan yang berat. Kadang masa depan yang diimpikan dan harapan yang indah selalu dibayangkan, namun untuk menggapainya membutuhkan kerja keras dan usaha, tentunya juga berdoa dan berserah diri kepada Tuhan. Kata demi kata dalam ayat ini mengandung makna yang dalam jikalau setiap kita merenungkan lebih dalam. Meskipun kadang kita kehilangan harapan, seakan-akan hidupnya tidak ada yang bisa diharapkan, namun Tuhan menyediakan harapan yang tidak akan hilang bagi orang yang percaya. Memiliki masa depan dan harapan bukan hanya berlaku bagi generasi muda saat ini, melainkan bagi semua orang yang percaya bahwa Tuhan telah memberikan hari depan yang penuh dengan harapan bagi kita yang mempercayakan diri sepenuhnya kepada Tuhan. Bukankah Ia adalah Allah yang sama dari dulu, sekarang dan selamanya. Jika Allah memberikan masa depan dan hikmat yang luar biasa bagi Salomo, raja Israel, maka Ia adalah Allah yang sama yang akan memberikan hari depan dan harapan yang baik bagi kehidupan kita. Sebagai manusia ciptaan Tuhan yang mulia, kita harus berpegang teguh kepada janji dan kuasa Tuhan yang mampu mengubahkan sesuatu yang tidak baik menjadi sangat baik. Ia sanggup mengubahkan kelemahan kita menjadi kekuatan dalam hidup kita. Bahkan Ia sanggup mengubahkan sesuatu yang mustahil menjadi sangat mungkin bagi masa depan kita. Jadilah manusia yang memiliki pengharapan yang penuh kepada Tuhan, Ia pasti akan melakukan yang terbaik.
BARCODE BBM CHANNELS
RENUNGAN HARIAN
Mengikuti Petunjuk
08 September '17
Tabur Tuai
19 September '17
Menjadi Murid Perlu Latihan
27 Agustus '17
Copyright © 2012 All rights reserved. Designed and Developed by GIA Dr. Cipto Semarang