SEPEKAN TERAKHIR
  Senin, 02 Februari 2015   -HARI INI-
  Minggu, 01 Februari 2015
  Sabtu, 31 Januari 2015
  Jumat, 30 Januari 2015
  Kamis, 29 Januari 2015
  Rabu, 28 Januari 2015
  Selasa, 27 Januari 2015
POKOK RENUNGAN
Yesus adalah pemersatu kita untuk menjadi satu saudara seiman yang saling mengasihi, sehingga berkat-berkat tercurah karena satu kasih persaudaraan dalam Kristus.
DITULIS OLEH
Bpk. Andreas T. Loso
Kontributor
Renungan Lain oleh Penulis:
Home  »  Renungan  »  Hidup Rukun
Hidup Rukun
Kamis, 21 Februari 2013 | Tema: Komunitas Yang Menebarkan Kasih
Hidup Rukun
Mazmur 133:1-3
Ada banyak suku bangsa di Indonesia, seperti Minahasa, Batak, Tiong Hwa, dan lainnya yang mengenakan nama marga, yaitu nama yang melekat di belakang atau depan nama seseorang. Ketika dua orang bertemu di suatu daerah peratauan dan mempunyai nama marga yang sama, maka dapat dipastikan mereka akan nampak begitu akrab, bahkan mereka akan menelusuri silsilah keluarga untuk mengetahui hubungan kekerabatan di antara mereka. Biasanya mereka yang diperantauan yang berasal dari satu marga akan membentuk komunitas agar tetap rukun satu sama lainnya.
Sebagai warga kerajaan Allah, semua orang percaya mempunyai hubungan darah satu sama lain, yaitu oleh penebusan darah Yesus Kristus. Sekalipun Tuhan menempatkan kita di kota atau daerah yang berbeda, juga di gereja yang berbeda, tetapi kita tetap satu di dalam Kristus. Kita harus membina kerukunan di antara saudara seiman.

Sebagai warga negara Indonesia, tanpa melihat latar belakang suku dan agama atau kepercayaan, kita harus membangun kerukunan dengan satu sama lainnya. Rahasia berkat Tuhan yang luar biasa adalah jika kita hidup rukun, baik dalam keluarga sendiri, antara saudara seiman, dan antar sesama manusia. Kalimat yang mengungkapkan adanya embun dari gunung Hermon yang mengalir ke atas gunung-gunung Sion menunjukkan perlunya kerendahan hati. Jika kita rendah hati, maka kerukunan akan mudah terbentuk.

Perbedaan dan ketidaksepahaman yang tidak didasari dengan kerendahan hati akan mengakibatkan perpecahan. Tet...selengkapnya »
Saat di akhir semester, teman saya yang bernama Turut Marsudi berkomentar, “ Saya bersyukur kepada Tuhan Yesus sebab nilai akademis saya semester ini jauh lebih baik daripada nilai semester yang lalu. Dan saya juga bersyukur karena pelayanan saya di jemaat lebih maju daripada tahun yang lalu. Hampir semua orang memiliki harapan bahwa kehidupan keluarga, pekerjaan, dan pelayanannya dari tahun ke tahun harus mengalami kemajuan dan perkembangan sesuai dengan target yang telah ditetapkan. Jika kita melihat kehidupan kita dari tahun ke tahun tidak ada perkembangan dan justru terjadi kemunduran, maka haruslah kita bertanya ulang kepada diri sendiri mengapa hal ini bisa terjadi. Itu bisa berarti sepanjang waktu yang kita jalani pada tahun tersebut, kita tidak melakukan apa-apa dan kita lebih asyik memuaskan diri sendiri serta mengerjakan hal-hal yang kurang berarti bagi kemajuan hidup kita. Nats renungan hari ini mengingatkan kita semua bahwa Allah telah merancang hidup kita agar dari waktu ke waktu, dari tahun ke tahun menjadi lebih baik dan lebih indah dari tahun sebelumnya. Allah sebagai pemberi hidup dan pekerjaan kita senantiasa setia mendampingi dan memberi hikmat kepada kita agar apapun yang kita lakukan menjadi berhasil. Mari melupakan masa lalu yang belum memenuhi target yang kita harapkan. Dan marilah kita menatap tahun yang baru dengan memulai sesuatu yang baru. Melangkah dengan pimpinan Allah agar setiap target kehidupan yang kita canangkan di tahun ini dapat terpenuhi dengan baik.
Musim kompetisi 2001, Serie A Liga Italia dibuat guncang oleh kehadiran sebuah klub kecil bernama Chievo, yang merupakan pendatang baru. Musim sebelumnya Chievo bertanding di level yang lebih rendah. Prestasi mengesankan Chievo berjalan hampir 3/4 musim pertandingan, dimana Chievo berhasil menduduki peringkat pertama, menggusur tim-tim mapan semacam AC Milan, Inter Milan dan Juventus. Namun sungguh disayangkan, hanya karena kurang percaya diri, mereka gagal mewujudkan sejarah menjadi tim pendatang baru pertama yang berhasil menjuarai Serie A. Saat masih menjadi pemuncak klasemen, Chievo tidak berani membuat target juara. Chievo hanya menargetkan diri bertahan di divisi utama, sehingga tidak mengherankan bila di akhir kompetisi Chievo hanya berada di peringkat 4. Banyak dari kita sebenarnya bisa lebih baik dari keadaan kita sekarang. Sayangnya banyak orang takut menjadi besar atau lebih baik karena ia tidak percaya diri dengan kemampuannya. Kemauan untuk ”menjadi besar” akan akan menentukan besar kecilnya energi hidup kita. Jangan pernah takut menjadi besar! Posisi tinggi dan tanggung jawab besar ibarat dua sisi mata uang. Kita tidak bisa memilih yang satu namun mengabaikan yang lain. Semakin tinggi sebuah pohon, semakin kencang pula angin yang akan menerpanya. Banyak orang memilih menyerah sebelum peperangan dimulai. Seringkali peluang karier yang lebih besar atau peluang usaha yang lebih menantang lewat begitu saja hanya karena kita takut menerima tantangan. Hanya karena takut kepada tanggung jawab yang lebih besar, sebagian orang akhirnya pasrah dengan keadaan yang ada. Sang Pencipta Agung mendesain kita untuk menjadi kepala dan bukan menjadi ekor, akan tetap naik dan bukan turun (ayat 13). Lalu mengapa kita masih takut untuk bermimpi memiliki kehidupan yang lebih baik? Syaratnya sederhana, andalkan Tuhan (Yesaya 40:31).
Menilik apa yang terjadi pada bangsa Israel dalam nats hari ini, ingatan saya melayang pada sesosok perempuan muda yang saya kenal saat tinggal di kost, di tahun kedua masa kuliah. Kala pertama ia muncul di rumah kost kami, ia tampak begitu lusuh, tak banyak cakap, tak ada senyum menghias parasnya yang tirus. Tiada gairah hidup yang terpancar darinya. Selang beberapa minggu kemudian, mulai tampak perubahan di dalam dirinya. Berbekal sedikit modal dari ayahnya yang merupakan bapak kost kami, pagi-pagi benar ia sudah berburu bahan-bahan makanan ke pasar. Sesampainya di rumah kost, diolahnya bahan-bahan itu menjadi makanan kecil yang kemudian dititipkan di toko-toko sepanjang jalan Gejayan, Yogyakarta. Hari demi hari dagangannya bertambah laris. Uang pun mengalir masuk. Penampilannya mulai berubah. Lebih cerah, rapi dan modis. Sayang sekali keadaan itu tak bertahan lama. Para langganannya berangsur-angsur mengeluhkan mutu jajanannya yang menurun. Juga soal titipan yang tak lagi rutin disetor tiap hari. Bila ayahnya mengingatkan, ia menjadi gusar dan bersikap keras kepala. Keadaan itu berlarut-larut sehingga usaha yang sudah mulai maju itu akhirnya terpaksa gulung tikar. Apa yang dialami perempuan muda itu terjadi pula pada kita dalam rupa yang beragam. Sesuatu yang diawali dengan baik, berkembang dengan baik, namun dalam perjalanannya bukannya menjadi semakin baik malah mengalami kemerosotan yang menyedihkan. Kita memasuki bulan pertama di tahun ini dengan bekal segala yang baik yang telah dianugerahkan Tuhan kepada kita. Pusatkan perhatian untuk meningkatkan yang baik dan mengikis yang tidak baik. Dengan pertolongan Tuhan kita belajar menghindari sikap berpuas diri dan tak kenal terima kasih. Mari melangkah maju bersama dan menjadi semakin baik.
Kita tentu ingat sepenggal kalimat di atas yang banyak kita lihat atau baca di mobil dan kaos kaos pada masa kampanye pemelihan Presiden RI tahun 2014 yang lalu. Tulisan tersebut seolah-olah menyatakan bahwa kepemimpinan masa lalu lebih baik daripada zaman sekarang ini. Saya ingat masa seangkatan orangtua saya dulu saat menghadapi masalah dan pergumulan, khususnya di bidang perekonomian, mengatakan bahwa zaman penjajahan itu lebih baik. Walaupun susah masih bisa makan. Pertanyaannya: Benarkah zaman dulu lebih baik dari sekarang ini? Ada banyak juga Suami, Istri, orangtua, anak yang mengatakan bahwa pasangannya tidak bisa berubah; anak-anaknya tidak bisa berubah; orangtuanya tidak bisa berubah; dan sebagainya. Mereka tidak bisa berubah menjadi seperti yang diharapkan. Benarkah suami, istri, orantua, anak-anak tidak dapat berubah? Kitab Pengkhotbah menyatakan bahwa orang yang menyatakan zaman dahulu lebih baik daripada zaman sekarang adalah orang yang tidak berhikmat. Thema Gereja kita bulan ini “Lebih Baik dari Kemarin” mengandung harapan. Selagi kita hidup masih memiliki harapan, maka akan ada banyak hal yang lebih baik yang akan terjadi dalam kehidupan ini, terlebih bersama Tuhan Yesus Kristus. Pengkhotbah 9 :4 menyatakan “Anjing yang hidup lebih baik daripada Singa yang mati “ Sehebat-hebatnya singa kalau sudah mati, maka sudah tidak dapat berbuat apa apa. Kita ingat penggalan pujian lagu yang mengatakan “S’bab Dia hidup ada hari esok, s’bab Dia hidup ku tak gentar. Karna ku’tau Dia pegang hari esok, hidup jadi berarti s’bab Dia hidup.” Mari kita percaya bahwa hari ini lebih baik dari kemarin, esok akan lebih baik dari hari ini, dan seterusnya. Yesus sanggup memulihkan hidup rohani kita, perekonomian kita, usaha kita, keluarga kita, bahkan apa yang kita pandang dan pikir tidak mungkin. Bukankah bersama Yesus tidak ada yang mustahil? Selamat menikmati hidup ini dan berdampak lebih baik untuk lingkungan kita. Tuhan Yesus memberkati.
BARCODE BBM CHANNELS
RENUNGAN HARIAN
Berbuah lebih banyak
04 Januari '15
Jangan Takut Menjadi Besar
24 Januari '15
Anak Tangga Ketekunan
27 Januari '15
Copyright © 2012 All rights reserved. Designed and Developed by GIA Dr. Cipto Semarang