SEPEKAN TERAKHIR
  Senin, 28 Juli 2014   -HARI INI-
  Minggu, 27 Juli 2014
  Sabtu, 26 Juli 2014
  Jumat, 25 Juli 2014
  Kamis, 24 Juli 2014
  Rabu, 23 Juli 2014
  Selasa, 22 Juli 2014
POKOK RENUNGAN
Yesus adalah pemersatu kita untuk menjadi satu saudara seiman yang saling mengasihi, sehingga berkat-berkat tercurah karena satu kasih persaudaraan dalam Kristus.
DITULIS OLEH
Bpk. Andreas T. Loso
Kontributor
Renungan Lain oleh Penulis:
Home  »  Renungan  »  Hidup Rukun
Hidup Rukun
Kamis, 21 Februari 2013 | Tema: Komunitas Yang Menebarkan Kasih
Hidup Rukun
Mazmur 133:1-3
Ada banyak suku bangsa di Indonesia, seperti Minahasa, Batak, Tiong Hwa, dan lainnya yang mengenakan nama marga, yaitu nama yang melekat di belakang atau depan nama seseorang. Ketika dua orang bertemu di suatu daerah peratauan dan mempunyai nama marga yang sama, maka dapat dipastikan mereka akan nampak begitu akrab, bahkan mereka akan menelusuri silsilah keluarga untuk mengetahui hubungan kekerabatan di antara mereka. Biasanya mereka yang diperantauan yang berasal dari satu marga akan membentuk komunitas agar tetap rukun satu sama lainnya.
Sebagai warga kerajaan Allah, semua orang percaya mempunyai hubungan darah satu sama lain, yaitu oleh penebusan darah Yesus Kristus. Sekalipun Tuhan menempatkan kita di kota atau daerah yang berbeda, juga di gereja yang berbeda, tetapi kita tetap satu di dalam Kristus. Kita harus membina kerukunan di antara saudara seiman.

Sebagai warga negara Indonesia, tanpa melihat latar belakang suku dan agama atau kepercayaan, kita harus membangun kerukunan dengan satu sama lainnya. Rahasia berkat Tuhan yang luar biasa adalah jika kita hidup rukun, baik dalam keluarga sendiri, antara saudara seiman, dan antar sesama manusia. Kalimat yang mengungkapkan adanya embun dari gunung Hermon yang mengalir ke atas gunung-gunung Sion menunjukkan perlunya kerendahan hati. Jika kita rendah hati, maka kerukunan akan mudah terbentuk.

Perbedaan dan ketidaksepahaman yang tidak didasari dengan kerendahan hati akan mengakibatkan perpecahan. Tet...selengkapnya »
Suatu kali, saya pernah periksa ke dokter. Usianya agak muda mungkin sekitar 30 tahunan. Ketika konsultasi, sang dokter menjawab pertanyaan saya dengan ketus dan seperlunya. Bahkan cenderung menghakimi pola hidup saya yang menurutnya tidak sehat. Meskipun mungkin jawaban maupun alasan sang dokter benar, namun karena penyampaian yang kurang pas menurut saya, akhirnya saya agak jengkel. Namun dalam kesempatan yang berbeda, di tempat praktek yang sama, saya ditangani oleh dokter lain. Mungkin usianya sudah 60 tahunan. Ia menyambut setiap pasien dengan ramah. Bertutur kata halus dan enak didengar ketika berkonsultasi dan memberi nasihat kesehatan. Akhirnya secara psikis saya merasa tenang karena merasa ditangani oleh orang yang tepat. Dari pengalaman saya tersebut ada nilai yang sangat berarti buat saya, yaitu betapa berpengaruhnya sikap ramah terhadap keadaan psikis. Meski bersikap ramah terdengar sederhana, namun sangat rumit untuk dilakukan bagi beberapa orang. Mudah bagi orang berkarakter murni atau kombinasi sanguin, tapi mungkin rumit bagi si kholerik murni atau kombinasi. Ada yang dengan mudah bisa tersenyum, menyapa, mengobrol dengan orang yang baru dikenal. Namun di kubu lain ada yang berjuang untuk bisa menyapa bahkan menatap mata orang yang baru dikenal. Meski demikian, sikap ramah seharusnya dilakukan oleh setiap orang yang percaya, meski dengan penuh perjuangan dengan konsekuensi dianggap sok kenal sok dekat, dsb. Nats yang kita baca hari ini menunjukkan betapa penting sikap ramah ini kita miliki dalam hidup berkomunitas. Ramah menjadi salah satu sikap orang percaya sebagai ucapan syukur atas karya keselamatan Allah. Selain itu, dalam nats yang lain disebutkan betapa dahsyatnya dampak dari sikap ramah. Misalnya, memandang orang yang bersikap ramah diumpamakan seperti melihat wajah Allah (Kejadian 33:10); perkataan yang baik itu menggembirakan (Amsal 12:25); jawaban yang lemah lembut itu meredakan kegeraman (Amsal 15:1); perkataan yang menyenangkan itu menyehatkan (Amsal 16:24). Di tengah lingkungan sekitar kita yang semakin memanas dengan berbagai konflik, alangkah lebih baik jika kita berkontribusi kedamaian dengan bersikap ramah. Selamat menjadi orang ramah.
Kekuatan bom untuk menghancurkan; kekuatan dinamit juga sama, untuk menghancurkan. Berbagai makanan yang kita konsumsi menghasilkan energi (kekuatan) supaya kita mampu beraktivitas. Pesawat terbang, mobil, sepeda motor bisa bergerak karena ada kekuatan dorongan dari mesin. Yang jelas, semua yang berkekuatan akan bergerak maju mencapai sesuatu. Roh Kudus adalah Pribadi yang memberi kekuatan (power) kepada orang-orang percaya (gereja-Nya). Ketika murid-murid dipenuhi Roh Kudus, maka mereka tidak tinggal diam. Murid-murid bekerja lebih giat dan lebih berani oleh karena dorongan Roh Kudus. Dengan semangat menggelora memberitakan Yesus yang telah bangkit, tidak lagi takut kepada siapapun. Buktinya, Petrus dan Yohanes ketika dipenuhi Roh Kudus, mereka berdua dengan penuh berani memberitakan Yesus yang telah bangkit sekalipun mereka harus ditangkap dan dihadapkan ke mahkamah agama Yerusalem. Akibatnya, jumlah orang percaya bertambah menjadi lima ribu orang (laki-laki saja). Saudara, seorang yang dipenuhi Roh Kudus bukan untuk “gagah-gagahan” rohani, supaya orang lain memberikan hormat. Ada gejala atau kecenderungan yang terjadi pada orang kristen saat-saat ini bahwa banyak orang mengejar supaya dipenuhi Roh Kudus. Saking rindunya dipenuhi Roh Kudus, mereka ke sana-kemari bertanya bagaimana caranya supaya dipenuhi Roh Kudus? Tidak salah rindu dipenuhi Roh Kudus, tetapi persoalannya siapkah kita ketika Roh Kudus memenuhi kita. Sebab ketika Roh Kudus dicurahkan, Dia akan memimpin hidup kita sepenuhnya, sesuai dengan kehendak-Nya, bukan kehendak kita. Berarti, siapkah kita mematikan keinginan-keinginan manusiawi kedagingan kita? Jika belum siap, tunda dulu hasrat mulia itu sampai Anda betul-betul siap.
Saudara-saudara yang dikasihi Tuhan, pada minggu yang terakhir di bulan Juni ini saya ingin mengajak kita semua kembali mengingat tema kita untuk tahun 2014 ini yaitu: Saling mengasihi dan memperhatikan. Separuh dari tahun ini telah kita jalani. Marilah kita mengevaluasi kemajuan hidup rohani dan ketaatan kita pada Firman Tuhan. Pada tahun ini fokus kita adalah kehidupan berkomunitas, dimana kita bisa mempraktekkan Firman Tuhan dalam hal saling mengasihi dan memperhatikan. Pada hari ini saya mengajak kita membaca dan memperhatikan kembali beberapa ayat Firman Tuhan berkenaan dengan tema kita. 1 Yohanes 4:7-8 Saudara-saudaraku yang kekasih, marilah kita saling mengasihi, sebab kasih itu berasal dari Allah; dan setiap orang yang mengasihi, lahir dari Allah dan mengenal Allah. Barangsiapa tidak mengasihi, ia tidak mengenal Allah, sebab Allah adalah kasih. Ibrani 10:24 Dan marilah kita saling memperhatikan supaya kita saling mendorong dalam kasih dan dalam pekerjaan baik. Roma 14:19 Sebab itu marilah kita mengejar apa yang mendatangkan damai sejahtera dan yang berguna untuk saling membangun. Ayat-ayat di atas berbicara bahwa kita harus saling mengasihi, saling memperhatikan dan saling membangun supaya kehidupan rohani kita mengalami kemajuan. Kemajuan itu kita dapat wujudkan bukan sendiri-sendiri, tapi secara bersama-sama sebagai anggota Tubuh Kristus. Pastikan bahwa Anda mengalami kemajuan rohani. Jangan sampai rohani Anda stagnan atau mengalami kemacetan. Apakah saudara telah mendapatkan manfaat dari hidup berkomunitas untuk menunjang hidup rohani saudara? Jika saudara belum tergabung dalam Komunitas Kecil (Komcil) segeralah bergabung dengan salah satu Komcil yang ada. Tuhan kiranya memberkati kita semua sementara kita mentaati Firman-Nya. Amin.
“Pak Pendeta, apakah kondisi seperti sekarang ini memang sudah ditakdirkan sejak semula?” tanya Benay kepada Pdt. Andrey dalam sebuah percakapan di warung kopi depan gereja. Pdt. Andrey menjelaskan bahwa kondisi saat ini tercipta dalam sejarah ekonomi manusia. Jadi tidak ditentukan dari mulanya. Dahulu di masa purba, laki-laki dan perempuan sederajat. Sebab keduanya sama-sama berpartisipasi dalam ekonomi, yaitu sama-sama turut serta dalam mencari makan untuk suku mereka. Lambat laun terjadi pembagian tugas. Perempuan mengurus rumah dan tanggungjawab ekonomi dipegang laki-laki. Di sinilah cikal-bakal budaya patriakhi yang menempatkan derajat perempuan sebagai konco wingking, di bawah laki-laki. Demikian juga dalam arti yang lebih luas, faktor mencari sumber-sumber ekonomi-lah yang menyebabkan suatu bangsa menyerang bangsa lain dengan kekuatan militer yang dimilikinya. Terciptalah status sebagai bangsa penjajah (superior) dan bangsa yang dijajah (inferior). Terciptalah status sebagai orang merdeka dan budak. Terciptalah orang kaya yang merasa terhormat dan orang miskin yang merasa hina. Demikian penjelasan Pdt. Andrey dan Benay mendengarkan dengan penuh perhatian. Tuhan menciptakan manusia dalam kondisi sederajat. Kondisi ini telah dirusak oleh manusia yang telah jatuh dalam dosa. Siapa menguasai faktor ekonomi, menjadikan dirinya merasa lebih utama dari yang lain. Orang Romawi-Yunani merasa lebih beradab daripada orang Yahudi. Tuan tanah pemilik kekayaan mempunyai budak miskin yang umumnya diperlakukan layaknya binatang, bukan sebagai sesamanya manusia. Laki-laki merasa lebih tinggi derajatnya dibandingkan perempuan. Kondisi yang telah rusak ini dipulihkan kembali oleh Yesus Kristus. Sehingga setiap orang yang beriman kepada Yesus Kristus adalah anak-anak Allah. Terciptalah komunitas baru yang egaliter (sederajat). Dalam komunitas anak-anak Allah ini tidak ada pembedaan status. Tidak ada ruang untuk suatu bangsa, suku atau ras merasa lebih tinggi dari lainnya. Tidak ada tempat untuk orang kaya merasa lebih utama dari orang yang kurang kaya, atau miskin. Tidak ada posisi bagi laki-laki untuk merasa lebih tinggi derajatnya daripada perempuan. Sebaliknya, dalam komunitas baru ini terwujud kondisi saling mengasihi dan saling memperhatikan. Jemaat yang terkasih. Marilah kita wujud-nyatakan komunitas baru yang telah diciptakan oleh Tuhan Yesus. Marilah kita memandang saudara-saudara seiman kita sebagai sesama anak-anak Allah yang sederajat. Janganlah kita membedakan lagi suku atau ras dan merasa lebih tinggi derajatnya dari yang lain. Kita yang lebih kaya janganlah sombong. Kita yang kurang kaya atau miskin janganlah minder. Hargailah diri kita sendiri dan hargailah saudara seiman kita tanpa memandang status atau jenis kelamin. Meskipun ini tidak mudah, tetapi marilah kita wujudkan kehendak Tuhan ini. Semoga kita semua mampu mewujudkan komunitas saling mengasihi dan memperhatikan.
BARCODE BBM CHANNELS
RENUNGAN HARIAN
Pentingnya Komunitas Rohani
06 Juli '14
Belimbing Tetangga
08 Juli '14
Jadilah Berkat
05 Juli '14
Copyright © 2012 All rights reserved. Designed and Developed by GIA Dr. Cipto Semarang