SEPEKAN TERAKHIR
  Jumat, 27 Maret 2015   -HARI INI-
  Kamis, 26 Maret 2015
  Rabu, 25 Maret 2015
  Selasa, 24 Maret 2015
  Senin, 23 Maret 2015
  Minggu, 22 Maret 2015
  Sabtu, 21 Maret 2015
POKOK RENUNGAN
Yesus adalah pemersatu kita untuk menjadi satu saudara seiman yang saling mengasihi, sehingga berkat-berkat tercurah karena satu kasih persaudaraan dalam Kristus.
DITULIS OLEH
Bpk. Andreas T. Loso
Kontributor
Renungan Lain oleh Penulis:
Home  »  Renungan  »  Hidup Rukun
Hidup Rukun
Kamis, 21 Februari 2013 | Tema: Komunitas Yang Menebarkan Kasih
Hidup Rukun
Mazmur 133:1-3
Ada banyak suku bangsa di Indonesia, seperti Minahasa, Batak, Tiong Hwa, dan lainnya yang mengenakan nama marga, yaitu nama yang melekat di belakang atau depan nama seseorang. Ketika dua orang bertemu di suatu daerah peratauan dan mempunyai nama marga yang sama, maka dapat dipastikan mereka akan nampak begitu akrab, bahkan mereka akan menelusuri silsilah keluarga untuk mengetahui hubungan kekerabatan di antara mereka. Biasanya mereka yang diperantauan yang berasal dari satu marga akan membentuk komunitas agar tetap rukun satu sama lainnya.
Sebagai warga kerajaan Allah, semua orang percaya mempunyai hubungan darah satu sama lain, yaitu oleh penebusan darah Yesus Kristus. Sekalipun Tuhan menempatkan kita di kota atau daerah yang berbeda, juga di gereja yang berbeda, tetapi kita tetap satu di dalam Kristus. Kita harus membina kerukunan di antara saudara seiman.

Sebagai warga negara Indonesia, tanpa melihat latar belakang suku dan agama atau kepercayaan, kita harus membangun kerukunan dengan satu sama lainnya. Rahasia berkat Tuhan yang luar biasa adalah jika kita hidup rukun, baik dalam keluarga sendiri, antara saudara seiman, dan antar sesama manusia. Kalimat yang mengungkapkan adanya embun dari gunung Hermon yang mengalir ke atas gunung-gunung Sion menunjukkan perlunya kerendahan hati. Jika kita rendah hati, maka kerukunan akan mudah terbentuk.

Perbedaan dan ketidaksepahaman yang tidak didasari dengan kerendahan hati akan mengakibatkan perpecahan. Tet...selengkapnya »
Keluarga dan teman-temannya mengenal dia sebagai “orang yang suka menolong”. Hal ini bukan suatu hal yang luar biasa, bukankah kita sering mendengar kometar: “Dia orang baik kok, suka menolong orang lain”. Tapi ketika saya membaca kisah tentang orang yang satu ini, saya sempat terdiam sejenak membayangkan sosok orang ini. Orang seperti apa dia? Di tempat umum, orang yang tidak kenal dia dan belum pernah berjumpa dengannya dapat mengenali dia karena perbuatan baik suka menolong orang lain. Dikisahkan waktu itu Sir Bartle Frere, seorang bangsawan Inggris, menjadi gubernur Bombay, India pada 1862 - 1867, kembali dari perjalanan jauh. Isterinya menyuruh pembantu yang masih baru untuk menjemput Sir Bartle dan membantu membawakan barang-barangnya. Si pembantu bertanya, “Bagaimana saya dapat mengenali Sir Bartle? Bukankah saya belum mengenalnya dan belum pernah berjumpa dengannya? Isteri Sir Bartle menjawab, “Perhatikanlah laki-laki bertubuh tinggi yang sedang menolong orang lain.” Nampaknya, di manapun Sir Bartle berada, ciri “suka menolong orang lain” selalu nampak ada pada dirinya. Injil Matius, Markus dan Lukas berkisah tentang empat orang yang bermaksud membawa temannya yang lumpuh kepada Yesus. Ketika mereka sampai di rumah di mana Yesus mengajar, mereka mendapatkan rumah itu penuh sesak, banyak orang berkumpul di sana. Tidak mungkin mereka bisa masuk. Namun mereka berusaha naik ke atas, membuka atap rumah dan menurunkan si lumpuh tepat di depan Yesus. Yesus memuji iman mereka. Iman yang diwujudkan dengan tindakan perbuatan baik itu telah membuat si lumpuh menerima mujizat kesembuhan. Alkitab tidak pernah mencatat nama mereka, tapi perbuatan baik keempat orang tersebut dikenal dunia sepanjang masa. Mereka dikenal karena kebaikan dan pertolongan untuk membawa orang kepada Yesus. Ketika kita melakukan perbuatan baik, kita sedang memperkenalkan Kristus kepada orang lain.
Amsal 11:17-18, 25 Orang yang murah hati berbuat baik kepada diri sendiri, tetapi orang yang kejam menyiksa badannya sendiri. [ayat 17] Orang fasik membuat laba yang sia-sia, tetapi siapa menabur kebenaran, mendapat pahala yang tetap. [ayat 18] Siapa banyak memberi berkat, diberi kelimpahan, siapa memberi minum, ia sendiri akan diberi minum. [ayat 25] Setiap perbuatan baik mendatangkan efek yang positif bukan hanya bagi orang lain, tetapi bagi orang yang melakukannya sendiri. Daniel Villa, seorang pendeta, menceritakan pengalaman pribadinya. Dia dan isterinya mengunjungi seorang rekan, hamba Tuhan wanita, yang baru saja menikah dengan seorang pria yang pernah menjadi penderita kusta. Perjalanan yang cukup jauh harus ditempuh [sekitar 7 jam] dengan tujuan untuk memberi kekuatan kepada hamba Tuhan wanita itu karena banyak orang telah mengkritik dan menyalahkannya. Daniel mempunyai kelemahan di punggungnya, sehingga merasa sakit nyeri bila duduk terlalu lama, tapi karena Roh Kudus menggerakkan hatinya maka dia lakukan hal itu. Sesampai di rumah rekannya dia disambut dengan sukacita. Dia berkata kepada rekannya bahwa dia memberi dukungan kepadanya. Hamba Tuhan wanita itu bersama suaminya menangis terharu, karena ada orang yang begitu peduli pada mereka. Ketika Daniel dan isterinya meninggalkan rumah rekannya, ada suatu perasaan sukacita yang luar biasa mengalir di hati mereka. Daniel tidak lagi merasakan sakit di punggungnya. Mereka telah melakukan perbuatan yang baik, membuat orang lain merasa diperhatikan. Terlebih, mereka telah mengerjakan apa yang Roh Kudus perintahkan kepada mereka. Mereka memandang wajah Bapa di sorga sedang tersenyum melihat perbuatan mereka. Sungguh benar perkataan Firman Tuhan di atas. ’Orang yang murah hati berbuat baik kepada diri sendiri. Siapa banyak memberi berkat, diberi kelimpahan.’ Kita tidak akan rugi kalau kita melakukan kebaikan pada orang lain. Perbuatan baik kita akan punya efek pada diri kita. Kita akan mendapatkan sukacita yang istimewa, yang lain daripada perasaan sukacita seperti biasanya. Sukacita itu bisa mengalahkan penderitaan dan beban hidup apapun. Efek perbuatan baik itu sungguh luar biasa. Itu adalah upah bagi orang yang menabur benih kebaikan. Hidup berdampak itu memang membuat hidup kita bergairah. Amin.
Tabita atau Dorkas seorang murid Kristus yang tinggal di Yope. Yang menarik dari Tabita adalah dalam kesederhanaannya dia mengusahakan untuk berbuat kebaikan. Dengan tenaganya dia membuat baju dan pakaian tidak untuk dijual tetapi dibagikan kepada yang membutuhkan dan para janda. Pada waktu dia meninggal sangat banyak orang yang merasa kehilangan seorang yang sangat baik. Dengan menangis mereka dating kepada Petrus sambil menunjukkan baju dan pakaian yang diberi oleh Tabita. Tabita berusaha berbuat baik pada banyak orang dan memberkati mereka. Dengan kuasa Kristus, Petrus membangkitkan Tabita dan dia mendapat kesempatan lagi untuk berbuat kebaikan. [Kisah Para Rasul 9:36-41]. Yesaya menulis orang percaya harus belajar berbuat baik artinya berusaha untuk bisa berbuat baik. Berbuat baik tidak instan atau otomatis tetapi harus selalu diusahakan. Termasuk di dalamnya mengusahakan keadilan, meredam kejahatan, membela hak anak yatim dan memperhatikan para janda. Dengan demikian harus diusahakan untuk berbuat kebaikan kepada siapa saja yang membutuhkan pertolongan. Setiap hari di sekeliling kita pasti ada orang yang membutuhkan pertolongan. Apakah kita siap selalu untuk memberikan bantuan? Dibutuhkan kemauan, kerelaan dan kadang pengorbanan untuk menolong orang lain. Bila kita setia memberikan bantuan hal-hal yang kecil, maka Tuhan akan memberi tanggung jawab untuk hal besar. Itu bisa terjadi kalau kita senantiasa berusaha untuk berbuat kebaikan. Inilah saatnya untuk kita berbuat baik, jangan menunda karena mungkin kita akan kehilangan kesempatan.
Kita mungkin masih ingat peristiwa seorang anak yang mengalami gagal fungsi saluran empedu [atriesia bilier]. Penyakit tersebut terdeteksi dari kotoran yang berwarna putih pekat seperti dempul hingga mengakibatkan semua anggota badan berwarna kekuning-kuningan. Penyakit itu diketahui sejak anak tersebut berumur dua minggu. ketika umur 50 hari, orangtuanya berkeinginan untuk mengobatinya. Mereka tergolong keluarga yang berada, namun karena biaya yang diperlukan cukup besar hingga mencapai 1 Milyar, maka timbul suatu ketakutan untuk mengobati anak ini. Dari ketakutan inilah orangtua si anak sharing di media sosial sehingga mendapat tanggapan dari teman-temannya dan dari banyak orang yang membaca sharingnya. Hingga akhirnya tercetus ide koin cinta untuk anak tersebut. Perjalanan kerinduan untuk menolong seorang anak yang sakit begitu kuat sehingga setiap orang tergerak hatinya untuk merelakan uang untuk membantu kesembuhannya. Dengan cepat uang itu terkumpul, bahkan jumlahnya lebih dari yang dibutuhkan. Kejadian itu booming di awal tahun 2010. Melalui kejadian itu, gerakan pengumpulan koin mulai sangat gencar diadakan untuk membantu mereka yang membutuhkan. Sebenarnya kesadaran untuk peduli dan kasih itu sudah ada di dalam diri setiap orang, hanya butuh orang yang menggerakkan. Melakukan kebaikan bukan harus dipompa atau digerakkan, namun respon dari rasa empati akan keadaan sekitar. Sebagai orang kristen semestinya kita menjadi penggerak dan bukannya menunggu komando kapan kita mulai berbuat baik. Kita seharusnya belajar peka akan keadaan sekeliling kita untuk menyatakan kebaikan dan terlebih lagi sebagai penggerak kebaikan di tengah generasi yang mulai egois dengan kesenangan dan kepentingannya sendiri. Kristus mengajarkan untuk memulai sebuah kebaikan bukan untuk dilihat, sebab hal itu sudah menjadi jiwa seorang murid Kristus. Di manapun kita berada jadilah pelopor kebaikan, dan jangan jemu-jemu melakukannya. Wajah dunia telah berubah. Yang dulunya peduli menjadi egois dan meterialistik, namun gereja harus tetap sama seperti Kristus yang kasih dan kepedulian-Nya tidak berubah meskipun semua berubah. Bagian kita adalah meneruskan kasih dan kepedulian Kristus kepada semua makhluk.
BARCODE BBM CHANNELS
RENUNGAN HARIAN
Tergerak Secara Otomatis
05 Maret '15
Efek Bola Salju
22 Maret '15
Hukum Tabur Tuai
16 Maret '15
Copyright © 2012 All rights reserved. Designed and Developed by GIA Dr. Cipto Semarang