SEPEKAN TERAKHIR
  Sabtu, 27 Mei 2017   -HARI INI-
  Jumat, 26 Mei 2017
  Kamis, 25 Mei 2017
  Rabu, 24 Mei 2017
  Selasa, 23 Mei 2017
  Senin, 22 Mei 2017
  Minggu, 21 Mei 2017
POKOK RENUNGAN
Yesus adalah pemersatu kita untuk menjadi satu saudara seiman yang saling mengasihi, sehingga berkat-berkat tercurah karena satu kasih persaudaraan dalam Kristus.
DITULIS OLEH
Bp. Andreas T. Loso
Rohaniwan Pusat
Renungan Lain oleh Penulis:
Home  »  Renungan  »  Hidup Rukun
Hidup Rukun
Kamis, 21 Februari 2013 | Tema: Komunitas Yang Menebarkan Kasih
Hidup Rukun
Mazmur 133:1-3
Ada banyak suku bangsa di Indonesia, seperti Minahasa, Batak, Tiong Hwa, dan lainnya yang mengenakan nama marga, yaitu nama yang melekat di belakang atau depan nama seseorang. Ketika dua orang bertemu di suatu daerah peratauan dan mempunyai nama marga yang sama, maka dapat dipastikan mereka akan nampak begitu akrab, bahkan mereka akan menelusuri silsilah keluarga untuk mengetahui hubungan kekerabatan di antara mereka. Biasanya mereka yang diperantauan yang berasal dari satu marga akan membentuk komunitas agar tetap rukun satu sama lainnya.
Sebagai warga kerajaan Allah, semua orang percaya mempunyai hubungan darah satu sama lain, yaitu oleh penebusan darah Yesus Kristus. Sekalipun Tuhan menempatkan kita di kota atau daerah yang berbeda, juga di gereja yang berbeda, tetapi kita t...selengkapnya »
Orang menyebut zaman ini adalah zaman kebangkitan Islam dalam berbagai fenomenanya. Di sisi lain, kekristenan sedang mengalami kemunduran yang kian parah. Sudah lama terjadi di Eropa dan mungkin sedang terjadi di negeri kita sekarang ini. Meski Gereja-Gereja masih ramai dikunjungi oleh jemaat pada Hari Minggu. Tetapi apakah masih ada roh yang menyala-nyala untuk Tuhan dalam ibadah dan dalam hidup kita? Bukankah gejalanya terbalik saat ini. Dahulu rohaniwan dan jemaat begitu menaruh perhatian pada kondisi kerohaniannya. Doa dilakukan dengan sungguh-sungguh kerap kali dengan mencucurkan air mata karena penyesalan akan dosa atau kerinduan mengenal kehendak Tuhan. Namun saat ini fenomena seperti itu justru kita lihat dari saudara-saudara kita, umat Islam. Mereka berdoa sungguh-sungguh sambil menangis karena merasa belum dapat melaksanakan kehendak Allah. Dahulu pemuda-pemudi Kristen dikenal mempunyai etos belajar dan etos kerja yang gigih karena “dibakar” semangat hidup untuk Tuhan. Saat ini justru pemuda dan pemudi Muslim yang mengambil alih keuletan itu. Sebaliknya pemuda dan pemudi kita lebih suka mencari kemudahan dan kenyamanan dengan “dugem rohani” yang miskin esensi iman. Dahulu kabar baik dapat disebarkan karena banyak orang Kristen yang mau berkorban harta, tenaga, bahkan nyawa. Saat ini kita memble karena sibuk membangun “kerajaan sendiri” dan bukannya kerajaan Allah. Sebaliknya saudara-saudara Muslim makin getol berdakwah berapapun harga yang harus mereka bayar, mereka siap berkorban. Tuan Joko Ndokondo memperhatikan gejala-gejala umum ini. “Kita sedang meluncur bebas membusuk,” kata sang tuan resah, “meskipun lambat tetapi pasti apalagi jika kita tidak menyadari betapa dalamnya kita telah jatuh.” Seperti kondisi pembusukan yang terjadi pada bangsa Israel pada zaman Nabi Yeremia. Pembusukan terjadi karena imam, nabi, dan umat Allah tidak lagi mencari Allah dengan sungguh-sungguh. Mereka menganggap pengenalan akan Allah sebagai sesuatu yang tidak penting. Tiap orang sibuk memikirkan dirinya sendiri dan dengan urusan pribadinya masing-masing. Sehingga tak ayal kedurhakaan dan perbuatan jahat terjadi di sana. Dalam bahasa Perjanjian Baru, umat Allah gagal menjadi garam yang mengawetkan dan sebaliknya malah meluncur bebas dalam pembusukan itu sendiri. “Semoga hal ini tidak terjadi di Gereja kita dan di Indonesia,” harap Tuan Joko Ndokondo. Kali ini Tuan Joko Ndokondo tak mampu memberikan kata-kata penutup seperti yang biasa dia sampaikan. Ia memilih untuk menundukkan diri dan tenggelam dalam doa kepada Tuhan. Jemaat yang terkasih, tidak semua malapetaka terjadi begitu saja. Ada yang mulai dari gejala kecil namun kita abaikan. Oleh karena itu marilah kita mulai mendeteksi kerohanian kita. Apakah kita masih sungguh-sungguh mencari Tuhan? Sungguh-sungguh berdoa? Sungguh-sungguh belajar firman-Nya? Sungguh-sungguh rela berkorban untuk-Nya? Semoga kita bangkit dan tidak sedang bebas membusuk. Terpujilah Tuhan!
Mati dan bangkit bersama Kristus Roma 6:1-14 Sebab jika kita telah menjadi satu dengan apa yang sama dengan kematian-Nya, kita juga akan menjadi satu dengan apa yang sama dengan kebangkitan-Nya. [ayat 5] Seorang petobat baru ditanya apa alasan dia menjadi Kristen. Demikian jawabnya: “Andaikan Anda menempuh sebuah perjalanan dan tiba di sebuah persimpangan. Anda tak tahu jalan mana yang harus Anda pilih. Lalu di situ ada dua orang, yang satu hidup dan yang lainnya meninggal. Kepada orang yang manakah Anda akan bertanya tentang jalan yang harus Anda pilih?” Paskah berarti Kristus bangkit. Dia hidup untuk selamanya. Dia bukan sekedar seorang tokoh agama yang terkenal, yang ajaran-Nya diikuti banyak orang setelah meninggal. Karena Dia hidup maka Dia bisa menunjukkan jalan kehidupan yang benar kepada kita. Bukan hanya itu saja, Dia sendirilah jalan kebenaran itu yang membawa kita kepada keselamatan. Kuasa Tuhan Yesus tampak nyata di dalam kebangkitan-Nya. Ketika Dia bangkit dari kubur, Dia mengalahkan kuasa kematian. Belum pernah ada orang yang menang atas kuasa maut, kecuali Tuhan Yesus. Kekuatan maut memang sungguh hebat. Siapapun tunduk kepadanya. Bila maut sudah menjemput, tak ada yang berkuasa menahannya. Tidak ada dokter yang bisa memperpanjang hidup seorang manusia bila maut sudah menjemputnya. Namun betapapun berkuasanya maut, Kristus Yesus tidak bisa dikalahkan olehnya. Kebangkitan Yesus bukan sekedar sebuah peristiwa yang terjadi pada masa yang lampau. Kuasa kebangkitan-Nya masih bekerja sampai sekarang. Dalam upacara baptisan diucapkan Firman ini: “Dengan demikian kita telah dikuburkan bersama-sama dengan Dia oleh baptisan dalam kematian, supaya, sama seperti Kristus telah dibangkitkan dari antara orang mati oleh kemuliaan Bapa, demikian juga kita akan hidup dalam hidup yang baru.” [Roma 6:4] Makna baptisan adalah kita menjadi satu dengan Kristus dalam kematian dan kebangkitan-Nya. Kita mati terhadap dosa dan menerima hidup yang baru seperti Kristus. Kita ditentukan untuk menjadi serupa dengan gambaran Anak-Nya. Kita memiliki potensi yang luar biasa, yaitu menjadi serupa dengan Kristus. Sama seperti Kristus hidup di dunia ini dengan segala kemuliaan Ilahi yang dimiliki-Nya, Anda dan saya memiliki potensi untuk menjadi seperti itu. Pdt. Goenawan Susanto
Sering kita mendengar sebuah ucapan demikian: “Jika ada pertemuan pasti juga ada perpisahan”. Yang berarti bahwa semua manusia di dunia ini pasti akan mengalami yang namanya perpisahan dengan sesamanya manusia, baik itu perpisahan hanya sementara maupun perpisahan untuk selama-lamanya akibat kematian. Para murid-murid Kristus juga mengalami bagaimana rasanya harus berpisahan dengan Yesus. Bukan suatu hal yang mudah bagi mereka untuk bisa menerima hal itu karena selama 3 tahun yang hebat mereka menikmati kebersamaan dengan-Nya. Bagaimanapun Yesus adalah sosok yang berpengaruh bagi mereka karena Yesus sebagai guru dan menjadi panutan bagi murid-murid dan pastinya mereka memiliki hubungan emosional yang erat. Namum perpisahan itu bukanlah akhir dari kehadiran Yesus bagi dunia ini, akan tetapi menjadi awal bersatunya pribadi Kristus dengan orang-orang yang percaya. Jika Kristus tetap bersama-sama mereka, maka kehadiran-Nya hanya bersifat lokal. Artinya kehadiran-Nya terbatas ruang dan waktu. Misalnya ketika para murid berada di perahu dan Yesus sedang berdoa di bukit. Mereka tidak bisa terus dan setiap saat bersekutu dengan-Nya. Oleh sebab itu Yesus pergi dan mengirim Roh Kudus sebagai pengganti-Nya karena Roh Kudus menguniversalkan kehadiran-Nya sehingga Dia dapat berelasi semua orang percaya di mana saja. Yang kedua adalah Yesus mengirimkan Roh Kudus untuk menginternalkan kehadiran-Nya sehingga melalui Roh-Nya tinggal dihati kita dan mengubah kita serupa dengan-Nya [Yohanes 16:5-11]. Roh Kudus datang dan Roh Kudus membuat kehadiran Yesus tidak lagi lokal melainkan universal, tidak lagi eksternal melainkan internal. Roh menguniversalkan sekaligus menginternalkan kehadiran Yesus Kristus. Marilah kita sebagai jemaat Tuhan membuka hati dan pikiran kita untuk dipenuhi oleh Roh-Nya sehingga hidup kita tidak lagi dikuasi oleh nafsu diri sendiri melainkan kita hidup sesuai dengan kehendak Allah. [DS]
Malam sudah beranjak larut, tapi mata saya tidak juga mau terpejam, pikiran mengembara kemana-mana. Antara kecewa, galau, gelisah, khawatir campur aduk jadi satu. Meskipun sudah berusaha menghalau semua pikiran yang tidak jelas itu, tetap saja kegelisahan tidak mau pergi. Kekalahan Ahok dalam pilpres di DKI benar-benar menyita pikiran saya. Kekhawatiran ibu kota akan kembali menjadi arena pertunjukan kepentingan oknum-oknum yang tidak bertanggung jawab membuat saya kehilangan damai sejahtera. Aneh dan terlalu berlebihan memang. Meski saya bukan warga DKI, tapi jujur saya merasa sedih dengan kekalahan itu. Saya sadar tidak ada kepentingan bagi saya untuk memikirkan itu, tapi saat itu sulit sekali menghilangkan kegelisahan yang ada. Beruntungnya saya ketika membaca Firman Tuhan dalam Yohanes 14:27 menyatakan ‘damai sejahtera kutinggalkan bagimu. Damai sejahtera-Ku, Kuberikan kepadamu, dan apa yang Kuberikan tidak seperti yang diberikan oleh dunia kepadamu, janganlah gelisah dan gentar hatimu’, hati saya menjadi lebih tenang. Kepercayaan kepada-Nya membuat saya kembali merasakan damai sejahtera dan tidak khawatir lagi dengan situasi yang saat ini sedang terjadi. Tuhan mengingatkan saya bahwa semua yang terjadi ada di bawah kendali-Nya. Tuhan sangat tahu bahwa suatu saat setiap kita pasti akan mengalami situasi seperti yang saya rasakan. Kekhawatiran akan banyak hal yang tidak sanggup kita atasi, kekecewaan terhadap lingkungan maupun orang lain, kegalauan yang tak berujung, itu semua akan merampas sukacita dan damai sejahtera yang seharusnya menjadi milik kita. Karena itu Dia sudah menyediakan Roh Penolong yang siap sedia untuk menolong ketika kita membutuhkan kekuatan dan penghiburan. Ingatlah bahwa damai sejahtera dan sukacita adalah hak milik yang harus kita nikmati sebagai anak-anak Tuhan. Jangan biarkan situasi di luar merampas apa yang menjadi milik kita, dan biarkan Roh Penolong bekerja ketika kita tidak mampu untuk mengatasi kegelisahan dan tawar hati yang menghampiri. Sehingga kita bisa melewati hari-hari kita dengan nyaman dan tentu saja bisa tidur dengan nyenyak karena kita tahu bahwa Dia yang mengendalikan semuanya. [RH] Pokok Renungan: Janganlah gelisah dan gentar hatimu karena damai sejahtera-Nya sudah diberikan bagimu.
BARCODE BBM CHANNELS
RENUNGAN HARIAN
Berdoalah untuk Bangsa Indonesia
21 Mei '17
Mental Baja
04 Mei '17
Pesan Kepada Generasi Selanjutnya
17 Mei '17
Copyright © 2012 All rights reserved. Designed and Developed by GIA Dr. Cipto Semarang