SEPEKAN TERAKHIR
  Jumat, 28 Agustus 2015   -HARI INI-
  Kamis, 27 Agustus 2015
  Rabu, 26 Agustus 2015
  Selasa, 25 Agustus 2015
  Senin, 24 Agustus 2015
  Minggu, 23 Agustus 2015
  Sabtu, 22 Agustus 2015
POKOK RENUNGAN
Yesus adalah pemersatu kita untuk menjadi satu saudara seiman yang saling mengasihi, sehingga berkat-berkat tercurah karena satu kasih persaudaraan dalam Kristus.
DITULIS OLEH
Bpk. Andreas T. Loso
Kontributor
Renungan Lain oleh Penulis:
Home  »  Renungan  »  Hidup Rukun
Hidup Rukun
Kamis, 21 Februari 2013 | Tema: Komunitas Yang Menebarkan Kasih
Hidup Rukun
Mazmur 133:1-3
Ada banyak suku bangsa di Indonesia, seperti Minahasa, Batak, Tiong Hwa, dan lainnya yang mengenakan nama marga, yaitu nama yang melekat di belakang atau depan nama seseorang. Ketika dua orang bertemu di suatu daerah peratauan dan mempunyai nama marga yang sama, maka dapat dipastikan mereka akan nampak begitu akrab, bahkan mereka akan menelusuri silsilah keluarga untuk mengetahui hubungan kekerabatan di antara mereka. Biasanya mereka yang diperantauan yang berasal dari satu marga akan membentuk komunitas agar tetap rukun satu sama lainnya.
Sebagai warga kerajaan Allah, semua orang percaya mempunyai hubungan darah satu sama lain, yaitu oleh penebusan darah Yesus Kristus. Sekalipun Tuhan menempatkan kita di kota atau daerah yang berbeda, juga di gereja yang berbeda, tetapi kita tetap satu di dalam Kristus. Kita harus membina kerukunan di antara saudara seiman.

Sebagai warga negara Indonesia, tanpa melihat latar belakang suku dan agama atau kepercayaan, kita harus membangun kerukunan dengan satu sama lainnya. Rahasia berkat Tuhan yang luar biasa adalah jika kita hidup rukun, baik dalam keluarga sendiri, antara saudara seiman, dan antar sesama manusia. Kalimat yang mengungkapkan adanya embun dari gunung Hermon yang mengalir ke atas gunung-gunung Sion menunjukkan perlunya kerendahan hati. Jika kita rendah hati, maka kerukunan akan mudah terbentuk.

Perbedaan dan ketidaksepahaman yang tidak didasari dengan kerendahan hati akan mengakibatkan perpecahan. Tet...selengkapnya »
Hari ini, tepatnya 70 tahun yang lalu, pekik ‘MERDEKA’ membahana di seantero negeri. Seluruh elemen bangsa di bawah komando Bung Karno dan Bung Hatta dengan penuh semangat dan kebanggaan memproklamirkan kemerdekaan Indonesia dari penjajahan bangsa asing. Sejak saat itu Indonesia bukan lagi bangsa yang terjajah, tetapi telah menjadi bangsa yang merdeka. Yang seringkali menjadi sorotan saat ini adalah sebagai bangsa yang merdeka, namun masih memiliki mentalistas bangsa yang terjajah. Buya Syafii Maarif menyatakan bahwa ‘mentalitas terjajah itu selalu merunduk bila bertemu bule [orang asing], selalu minder berhadapan dengan orang lain, dan mental lainnya yang menghambat diri kita untuk maju’. Intinya, mentalitas bangsa yang terjajah adalah rendah diri. Penyakit rendah diri itu telah akut diderita oleh bangsa Israel. Hal itu terlihat dari reaksi mereka ketika mendengar perkataan sepuluh pengintai bahwa kota yang diintai adalah kota yang kuat, berkubu, dan sangat besar; ada keturunan raksasa; negeri yang memakan penduduknya. Mereka merasa kecil dan tidak ada apa-apanya dibanding penduduk negeri Kanaan [Bilangan 13:28, 32-33]. Sontak saja berita itu membuat nyali mereka ciut dan kehilangan kepercayaan kepada Allah yang telah membebaskan mereka dari perbudakan Mesir dan yang menuntun mereka ke tanah perjanjian dengan tangan-Nya yang dahsyat. Mereka menangis dengan suara nyaring; bersungut-sungut kepada Musa dan Harun. Mereka berniat mengangkat pemimpin baru untuk kembali ke Mesir. Mereka memberontak kepada Allah. Ternyata, meskipun bangsa Israel telah merdeka dari perbudakan Mesir, tetapi mentalitas budak masih melekat dalam diri. Kita adalah umat yang telah dimerdekakan dari perbudakan dosa. Mentalitas manusia lama kita harus dikalahkan. Bagaimana respon kita ketika kita diperhadapkan kepada godaan dosa? Ketika kita diperhadapkan dengan pergumulan dan tekanan kehidupan, apakah kita tetap berpegang teguh kepada Allah dan tidak sedikitpun meragukan kasih-Nya. Ketika kita menghadapi tanggung jawab yang besar dan berat, masihkah kita bersemangat dan bertekad menyelesaikannya dengan baik? Ketika kita tidak memperoleh yang kita inginkan dan keadaan tidak berjalan seperti yang kita harapkan, masihkah kita tetap setia, loyal, dan berkomitmen kepada Tuhan. Dan masih banyak lagi pertanyaan serupa yang harus kita jawab dengan jujur.
Seorang nenek begitu setia beribadah kepada Tuhan dalam usianya yang semakin bertambah. Sang nenek terus berusaha mendekatkan diri kepada Tuhan. Dalam keadaan hujan atau panas dan tubuh tuanya yang sudah seringkali mengalami sakit, sang nenek tidak melupakan hari minggu untuk tetap beribadah. Nenek tersebut berpikir bahwa melalui ibadah, ia bertemu dengan Tuhan. Tetangga begitu tertarik dengan apa yang dilakukan sang nenek. Sampai suatu ketika tetangga yang awalnya tidak mempercayai Yesus sebagai Tuhan dan juruselamat, akhirnya menjadi percaya karena melihat kehidupan sang nenek . Seringkali kita berpikir bahwa menjadi berkat berarti kita harus mengeluarkan rupiah dari dompet atau dari saku kita. Tidak salah memang, namun melalui kehidupan ini, kita bisa menjadi berkat bagi siapa saja ataupun dengan cara apapun termasuk melalui bibir kita. Penulis surat Ibrani mengingatkan supaya kita mempunyai ucapan bibir yang memuliakan Allah. Tentu orang yang mendengar kita memuji dan memuliakan Allah karena kebaikan-Nya akan senang mendengarnya. Seperti halnya yang dilakukan Paulus dan Silas sekalipun di dalam penjara [Kisah Para Rasul 16:25]. Begitu juga ucapan syukur yang kita ucapkan saat kita menghadapi masalah dan tantangan, tentu akan memberi semangat baru bagi mereka yang mendengarnya. Saat kita belajar mengucap syukur dalam segala keadaan tidak saja memperkenankan hati Tuhan [1 Tesalonika 5:18], tetapi juga bisa membuat orang yang mendengarnya mendapatkan harapan baru. Oleh sabab itu mari kita, khususnya melalui perkataan, menjadi berkat bagi orang lain, sehingga seperti perintah Tuhan supaya Abraham yang diberkati menjadi berkat, demikianlah juga kita yang menikmati berkat Abraham juga menjadi berkat bagi sesama dalam kehidupan kita.
Efesus 6:10-20 Kenakanlah seluruh perlengkapan senjata Allah, supaya kamu dapat bertahan melawan tipu muslihat Iblis; [ayat 11] Akhir-akhir ini kita sering mendengar orang mengucapkan kata ’bully’ atau ’bullying’. Arti kata itu ialah perbuatan agresif atau penindasan yang sering dilakukan oleh anak-anak usia sekolah [bisa juga dilakukan oleh orang dewasa] kepada sesama temannya yang lemah/ tak berdaya. Perbuatan itu cenderung diulang-ulang terus karena korbannya tidak punya daya untuk melawan. Ada sebuah cerita tentang seorang anak yang di-bully oleh temannya. Setiap hari temannya itu memeras dan meminta uang jajannya, serta mengancamnya. Dia tidak berdaya untuk melawan karena temannya itu lebih besar badannya. Lalu karena sudah tidak tahan pada suatu hari dia memutuskan untuk melawan. Dia mau belajar bela diri pada seorang guru karate. Tetapi biaya yang harus dikeluarkan untuk les karate itu cukup mahal yaitu 5 dolar setiap pertemuan, lebih mahal daripada uang yang diminta oleh temannya. Maka dia menyerah dan tidak jadi latihan karate. Banyak orang Kristen yang memilih untuk menyerah dan bersedia mengikuti kemauan iblis. Dia tahu bahwa dia selama ini telah di-bully oleh iblis. Dia terjerat oleh dosa. Dia tahu bahwa dia diperbudak oleh dosa. Tetapi dia tidak berdaya untuk melawannya. Apakah orang Kristen, yang telah ditebus oleh darah Yesus, layak untuk di-bully oleh iblis? Apakah benar bahwa orang Kristen tidak punya daya untuk melawan kuasa iblis? Sama sekali tidak benar. Bukankah Tuhan telah menyediakan seluruh perlengkapan senjata rohani untuk melawan iblis? Semua persenjataan sudah disediakan oleh Tuhan, supaya kita dapat bertahan dan menang atas iblis. Tetapi sayangnya seringkali orang Kristen tidak mau memakainya dan rela jadi bulan-bulanan iblis. Jemaat Tuhan, jangan mau ditipu oleh iblis. Tuhan Yesus telah mati dan bangkit, supaya kita menang bersama dengan Dia oleh kemuliaan-Nya. Lawanlah iblis dengan perlengkapan senjata Allah: ikat pinggang kebenaran, baju zirah keadilan, kasut kerelaan untuk memberitakan Injil, perisai iman, ketopong keselamatan dan pedang Roh, yaitu firman Allah. Juga belajarlah untuk menggunakan perlengakapan senjata rohani itu supaya kita mahir menggunakannya. Selamat menjadi pemenang.
Dalam syair lagu pujian sering kita mendengar ungkapan “kita adalah prajurit [laskar] Kristus”. Bahkan ketika seorang pendeta berkhotbah dengan berapi-api sering menyebutnya demikian. Memang benar semua orang Kristen, baik itu pendeta, diaken, penatua, aktivis gereja, dan bahkan semua jemaat dengan tidak membedakan status sosial, pendidikan, kedudukan apapun semua adalah prajurit Kristus [sama seperti di kemiliteran: pangkat bawah sampai Jendral adalah prajurit]. Setia mengabdi kepada Kristus, apapun yang terjadi. Memiliki keberanian untuk menyaksikan Kristus, Sang Juru selamat dan kesetiaan melayani Tuhan dalam situasi sesulit apapun. Bahkan rela menyerahkan nyawanya karena kesetiaan kepada Tuhan. Stefanus, misalnya, dia seorang prajurit Kristus yang gagah berani yang menyaksikan Kristus Yesus sebagai Tuhan dan Juru selamat dengan bersoal jawab dengan jemaat Yahudi [Kisah Rasul 6:9]. Ketika jemaat Yahudi dari Kirene, Aleksandria, Kilikia dan Asia itu tidak sanggup bersoal jawab dengan hikmat yang dimiliki Stefanus, maka mereka bersama dengan ahli-ahli Taurat dan tua-tua Yahudi mengadakan gerakan untuk menangkap dan menyerahkan Stefanus kepada Mahkamah Agama. Stefanus memiliki hati bermental prajurit, tidak mudah menyerah, tidak takut, sekalipun harus menjadi syahid Tuhan [Kisah Rasul 7:60]. Ketika dianiaya mendekati ajalnya, Stefanus sempat mendoakan mereka semua yang menganiayanya. Tidak saja bermental prajurit, tetapi juga memiliki hati seorang hamba, rela menderita bahkan mati. Saudara, kita bisa meneladani Stefanus yang berani bersaksi tentang Kristus apapun yang terjadi. Keberanian kita untuk bersaksi laksana prajurit dan memiliki hati yang mengasihi jiwa-jiwa dengan ketaatan laksana hamba, sehingga dalam segenap kehidupan kita merupakan saksi Kristus. Perkataan dan perbuatan kita adalah pesan kesaksian itu sendiri. Seperti pesan Paulus kepada Jemaat Korintus [2 Korintus 4:10], “Kami senantiasa membawa kematian Yesus di dalam tubuh kami, supaya kehidupan Yesus juga menjadi nyata di dalam tubuh kami.” Seorang anak Tuhan yang bermental prajurit tidak mudah tersinggung. Mengambil bagian dalam pekerjaan Tuhan apa saja tidak merasa direndahkan pada posisi yang tidak favorit dan juga tidak merasa tinggi pada posisi penting. Memiliki kerendahan hati laksana seorang hamba. Semua dikerjakan hanya karena mencintai Tuhan dan jiwa-jiwa.
BARCODE BBM CHANNELS
RENUNGAN HARIAN
Keduniawian Penghambat Kedewasaan Rohani
14 Agustus '15
Senjata rohani
23 Agustus '15
Bertahan Dalam Penderitaan
10 Agustus '15
Copyright © 2012 All rights reserved. Designed and Developed by GIA Dr. Cipto Semarang