SEPEKAN TERAKHIR
  Selasa, 27 September 2016   -HARI INI-
  Senin, 26 September 2016
  Minggu, 25 September 2016
  Sabtu, 24 September 2016
  Jumat, 23 September 2016
  Kamis, 22 September 2016
  Rabu, 21 September 2016
POKOK RENUNGAN
Yesus adalah pemersatu kita untuk menjadi satu saudara seiman yang saling mengasihi, sehingga berkat-berkat tercurah karena satu kasih persaudaraan dalam Kristus.
DITULIS OLEH
Bp. Andreas T. Loso
Rohaniwan Pusat
Renungan Lain oleh Penulis:
Home  »  Renungan  »  Hidup Rukun
Hidup Rukun
Kamis, 21 Februari 2013 | Tema: Komunitas Yang Menebarkan Kasih
Hidup Rukun
Mazmur 133:1-3
Ada banyak suku bangsa di Indonesia, seperti Minahasa, Batak, Tiong Hwa, dan lainnya yang mengenakan nama marga, yaitu nama yang melekat di belakang atau depan nama seseorang. Ketika dua orang bertemu di suatu daerah peratauan dan mempunyai nama marga yang sama, maka dapat dipastikan mereka akan nampak begitu akrab, bahkan mereka akan menelusuri silsilah keluarga untuk mengetahui hubungan kekerabatan di antara mereka. Biasanya mereka yang diperantauan yang berasal dari satu marga akan membentuk komunitas agar tetap rukun satu sama lainnya.
Sebagai warga kerajaan Allah, semua orang percaya mempunyai hubungan darah satu sama lain, yaitu oleh penebusan darah Yesus Kristus. Sekalipun Tuhan menempatkan kita di kota atau daerah yang berbeda, juga di gereja yang berbeda, tetapi kita t...selengkapnya »
Malang nian nasib Benay. Di tengah-tengah kelelahan yang menderanya, ia mengalami kecelakaan. Beberapa minggu ini Benay memang sibuk. Ia harus segera menyelesaikan tugas-tugas kuliah yang sempat terbengkalai. Penyelesaian tugas-tugas ini sudah cukup membuatnya harus lembur tiap malam. Begadang di depan laptop usangnya yang kadang-kadang ngadat tak mau diajak kompromi sambil ditemani segelas kopi hangat yang harum menggoda. Belum lagi ia harus mengatur waktu untuk terlibat kegiatan ini dan itu. Sebut saja latihan ibadah sebagi worship leader atau singer, rapat Youth For Christ bersama Pdt. Itong untuk menyusun program, latihan tambourine rutin, dan lain-lain. Belum lagi keterlibatannya di lingkungan RT/RW-nya dalam kelompok karang-taruna yang sangat sarat kegiatan dalam menyambut HUT Kemerdekaan RI ke-71. Suatu pagi, dalam keadaan setengah ngantuk, ia memacu sepeda motornya agar tidak terlambat hadir pada perkuliahan di kampusnya. Tanpa dapat diperhitungkan, di sebuah jalan yang menurun tajam tiba-tiba seekor kucing hitam nylonong menyebrang. Kucing nekad ini rupa-rupanya tak dapat menahan nafsunya untuk menghampiri seeokor kucing betina yang menggoda-rayu di seberang jalan. Alhasil Benay pun melakukan gerak reflek pengereman mendadak. Motor yang dikendarainya hilang kendali dan jatuh menyisir jalan. Benay terpelanting, berguling-guling beberapa meter dan terjerembab di bahu jalan. Beruntung Benay masih sadar dan tak ada masalah berarti kecuali sedikit lecet pada kaki dan tangannya. “Cing…kucing…. Mbok kalau mau menyeberang jalan lihat kanan dan kiri dulu!” serunya kesal sambil menahan perih. Si kucing yang selamat dari maut melotot tajam menatap Benay seolah-olah tak terima. Pada sebuah acara doa di gereja Pdt. Itong memberikan nasihat kepada Benay yang tetap hadir meski pegal dan nyeri akibat kecelakaan masih dirasakannya. “Ben, aku menghargai semangatmu untuk terlibat dalam berbagai kegiatan baik di gereja, kampus, maupun di masyarakat. Tetapi janganlah berlebihan. Berikanlah sumbangsih sesuai kemampuanmu”, kata Pdt. Itong. “Jika kelelahan mendera jangan paksakan kendarai sepeda motor. Apalagi kamu pacu dengan kecepatan tinggi. Bisa berbahaya! Bukan hanya untuk kamu tetapi nyawa kucing itu juga terancam.” Belum selesai Pdt. Itong menyelesaikan nasihatnya, Benay sudah tertidur pulas. Sungguh kelelahan tampak jelas di raut wajah bulatnya. Jemaat yang terkasih, melihat orang-orang yang memiliki semangat keterlibatan seperti Benay tentu memukau. Tetapi tentu kita tidak ingin jika keterlibatannya berlebihan dari sisi tenaga, waktu, atau dana. Keterlibatan yang berlebihan pada segelintir orang bisa menjadi indikasi bahwa masih banyak yang belum terlibat atau dilibatkan. Padahal Tuhan menghendaki setiap orang dapat terlibat dan memberikan sumbangsih sesuai kemampuannya untuk membangun sebuah jemaat yang kokoh dalam iman, tekun dalam pengajaran, berjiwa misi dan berdampak luas. Marilah kita ambil bagian dalam pelayanan. Tidak berlebihan tetapi sesuai kemampuan kita.
Rela berkorban adalah kesediaan dan keikhlasan memberikan segala sesuatu yang dimiliki untuk sesama walaupun akan menimbulkan ‘penderitaan’ bagi dirinya sendiri. Itu berarti rela menomorduakan kepentingan sendiri demi membantu orang lain. Demi kebaikan sesama. Ketika Paulus tiba di Yerusalem dan berusaha bergabung dengan saudara seiman, para murid merasa takut karena tidak percaya jika Paulus yang sebelumnya bernama Saulus, sang penganiaya jemaat, telah menjadi murid Kristus. Tetapi di tengah penolakan terhadap Paulus, ada seorang pribadi, yaitu Barnabas, yang tanpa ragu menerima dan membela Paulus. Bahkan ia membawanya kepada para rasul. Melalui penjelasan Barnabas tentang kisah pertobatan dan pengajaran Paulus dalam nama Tuhan, para rasul diyakinkan dan bersedia menerima Paulus untuk tinggal bersama-sama mereka. Apa yang dilakukan Barnabas bukan tanpa resiko. Ia ‘berani melawan arus’. Ia berani mengambil sikap dan tindakan yang berbeda untuk mendukung Paulus. Barnabas bersedia keluar dari zona aman dan rasa nyamannya demi ‘menjaga’ petobat baru yang sangat berpotensi bagi pekerjaan Tuhan. Semua itu dilakukan sepenuhnya untuk kepentingan dan kebaikan Paulus. Barnabas menunjukan semangat rela berkorban bagi orang lain. Bagaikan sebuah lilin yang rela tubuhnya meleleh habis terbakar, tetapi dengan cara itu telah membawa manfaat besar bagi sekitarnya. Musuh yang secara perlahan dapat melemahkan semangat rela berkorban adalah kecenderungan untuk bersikap egois. Sikap egois bisa disamakan dengan karat pada besi. Kalau diabaikan, itu bisa berbahaya karena karat itu akan semakin menyebar dan membuat besi keropos. Keegoisan harus dilawan dan dikalahkan agar semangar rela berkorban akan terus membahana. Pengutamaan kepentingan pribadi di atas kepentingan bersama atau kepentingan orang lain akan menimbulkan ketegangan dalam kehidupan komunitas. Untuk itu perlu adanya keberanian untuk memberikan sebagian milik kita kepada orang lain. Artinya setiap pribadi tidak menuntut hak secara utuh, melainkan harus melihat kepentingan orang lain juga. Dengan demikian, kehidupan dapat dinikmati karena terjalin hubungan yang serasi antar sesama dalam komunitas. Jemaat yang terkasih, jangan kita menjadi seperti karat yang membuat besi rusak dan keropos, tetapi marilah kita menjadi seperti lilin yang rela berkorban untuk mendatangkan kebaikan dan manfaat bagi sekitar.
Manusia memiliki waktu sebebas-bebasnya. Waktu yang dipakai terserah pada manusia itu sendiri. Ada waktu untuk sekolah. Ada waktu untuk bekerja. Ada waktu untuk istirahat. Ada waktu untuk bepergian. Ada waktu untuk menunggu dan ada waktu lain yang dipakai manusia. Bagaimana dengan waktu kita? Kita merasa waktu berjalan begitu cepat dan semakin cepat. Sering kita merasa kekurangan waktu. Mari kita berhenti sejenak untuk merenungkan untuk apa saja waktu kita selama ini. Rasul Paulus memiliki perhatian sangat besar dengan waktu. Dia tidak ingin waktu terbuang dengan sia-sia. Tidak berlebihan kalau setiap jam, menit bahkan detik harus dipergunakan dengan sebaik-baiknya. Kita punya waktu 24 jam sehari, bagaimana kita mengisi waktu tersebut? Bagi yang bersekolah waktu terisi dengan belajar di sekolah, istirahat, bermain, mengerjakan tugas-tugas dan tidur. Bagi yang bekerja waktu terisi dengan pekerjaan, berangkat pagi, pulang malam hari. Yang dibutuhkan di rumah adalah istirahat. Besok pagi harus bekerja lagi. Demikianlah rutinitas kehidupan sehari. Rajin dan giat belajar, bekerja keras, beraktifitas sehari-hari itu adalah hal yang baik. Namun Rasul Paulus mengingatkan janganlah kita semata-mata mengisi waktu hanya untuk kepentingan manusia belaka, kita harus ingat kepada Tuhan, Sang Pencipta waktu. Dialah yang memberi kita waktu dalam kehidupan ini. Waktu adalah milik Tuhan, kita tinggal mengisi dan mempergunakannya dengan sebaik-baiknya. Masih adakah waktu yang kita khususkan untuk bersaat teduh, bersekutu dengan Dia, membaca Firman, mencari dan melakukan kehendak-Nya? Dengan demikian kita membangun manusia batiniah [rohaniah] kita untuk menopang pembangunan tubuh Kristus di mana kita berjemaat.
Ketika saya masih tinggal di desa, di depan rumah tumbuh pohon alpukat. Setahun sekali selalu dipenuhi dengan ulat yang kemudian menjadi kepompong sebelum menjadi kupu-kupu. Seringkali saya mengambil beberapa kepompong dan menyimpannya di atas jendela rumah. Suatu hari lubang kecil muncul dari salah satu kepompong. Saya ambil kepompong itu dan mengamati bagaimana si kupu-kupu berjuang melewati lubang kecil kepompong. Kemudian kupu-kupu yang belum sempurna itu berhenti keluar dari dalam kepompong itu. Kelihatannya dia telah berusaha semampunya dan dia tidak bisa lebih jauh lagi. Akhirnya saya mengambil gunting memutuskan untuk membantunya. Saya potong sisa kulit luar kepompong itu. Kupu-kupu tersebut keluar dengan mudahnya. Kupu-kupu itu memiliki tubuh yang indah dan lucu. Tubuh gembung dan kecil dengan sayap mengkerut. Setiap pulang sekolah, saya selalu mengamati dan berharap sayap-sayap itu akan mekar dan melebar sehingga mampu menopang tubuhnya saat terbang. Ternyata Semuanya tak pernah terjadi. Kupu-kupu itu menghabiskan sisa hidupnya merangkak di sekitarnya dengan tubuh gembung dan sayap masih mengkerut. Dia tidak pernah bisa terbang. Ini semua karena perbuatan saya. Sebenarnya kepompong itu berguna untuk menghambat supaya kupu kupu itu berjuang melewati lobang kecil dengan cara memaksa cairan tubuhnya pindah ke sayapnya. Perbuatan saya ini sepertinya baik, ternyata sama sekali tidak membawa manfaat bagi kupu-kupu tersebut. Dalam sebuah organisasi, persekutuan, gereja, kadang terjadi seperti yang saya lakukan, yaitu membuat pengamatan yang salah terhadap orang lain. Bahkan membuat sebuah pemaksaan yang sebenarnya tidak baik bagi orang lain. Menganggap orang lain tidak becus dalam tugas dan menganggap diri sendiri yang paling baik dan benar. Rasul Paulus dalam 1 Korintus 12:18 menjelaskan bahwa masing-masing anggota memiliki karunia yang berbeda, semua tersusun rapi untuk pembangunan tubuh Kristus, yaitu Jemaat. Karunia yang berbeda-beda itu telah Tuhan berikan sesuai dengan kemampuan masing-masing [Efesus 4:7]. Masing-masing karunia saling melengkapi, terikat menjadi satu dengan masing-masing bagian pelayanan agar bertumbuh bersama dalam satu tubuh Kristus [Efesus 4:16]. Kita tidak bisa memaksakan orang lain untuk bertumbuh secara instan, tetapi mendorong mereka yang lemah agar mampu bertumbuh secara sehat dan normal dalam pertumbuhan sebagai tubuh Kristus yang utuh. Agar tubuh Kristus tersusun rapi, marilah saling menghormati karunia orang lain, saling mendoakan dan mendorong yang lemah, serta menggunakan karunia masing-masing untuk melayani Tuhan.
BARCODE BBM CHANNELS
RENUNGAN HARIAN
Mumpung Masih Ada Kesempatan1
01 September '16
Sikap Yang Mendukung Pelayanan
29 Agustus '16
Kenangan Yang Manis
13 September '16
Copyright © 2012 All rights reserved. Designed and Developed by GIA Dr. Cipto Semarang