SEPEKAN TERAKHIR
  Senin, 23 April 2018   -HARI INI-
  Minggu, 22 April 2018
  Sabtu, 21 April 2018
  Jumat, 20 April 2018
  Kamis, 19 April 2018
  Rabu, 18 April 2018
  Selasa, 17 April 2018
POKOK RENUNGAN
Yesus adalah pemersatu kita untuk menjadi satu saudara seiman yang saling mengasihi, sehingga berkat-berkat tercurah karena satu kasih persaudaraan dalam Kristus.
DITULIS OLEH
Pdm. Andreas T. Loso
Rohaniwan Pusat
Renungan Lain oleh Penulis:
Home  »  Renungan  »  Hidup Rukun
Hidup Rukun
Kamis, 21 Februari 2013 | Tema: Komunitas Yang Menebarkan Kasih
Hidup Rukun
Mazmur 133:1-3
Ada banyak suku bangsa di Indonesia, seperti Minahasa, Batak, Tiong Hwa, dan lainnya yang mengenakan nama marga, yaitu nama yang melekat di belakang atau depan nama seseorang. Ketika dua orang bertemu di suatu daerah peratauan dan mempunyai nama marga yang sama, maka dapat dipastikan mereka akan nampak begitu akrab, bahkan mereka akan menelusuri silsilah keluarga untuk mengetahui hubungan kekerabatan di antara mereka. Biasanya mereka yang diperantauan yang berasal dari satu marga akan membentuk komunitas agar tetap rukun satu sama lainnya.
Sebagai warga kerajaan Allah, semua orang percaya mempunyai hubungan darah satu sama lain, yaitu oleh penebusan darah Yesus Kristus. Sekalipun Tuhan menempatkan kita di kota atau daerah yang berbeda, juga di gereja yang berbeda, tetapi kita tetap satu di dalam Kristus. Kita harus membina kerukunan di antara saudara seiman.

Sebagai warga negara Indonesia, tanpa melihat latar belakang suku dan agama atau kepercayaan, kita harus membangun kerukunan dengan satu sama lainnya. Rahasia berkat Tuhan yang luar biasa adalah jika kita hidup rukun, baik dalam keluarga sendiri, antara saudara se...selengkapnya »
Saya pernah membaca cerita sebuah kisah nyata mengenai seorang wanita yang sedang hamil. Ia adalah salah seorang aktifis yg menentang adanya aborsi. Ternyata ia sendiri dihadapkan pada keadaan yg mengharuskan dirinya mengaborsi kandungannya, sebab bayinya didiagonsa memiliki ketahanan tubuh yang rapuh, jika anak itu dilahirkan, umurnya hanya 2 hari saja. Dan bukan hanya itu saja, ada resiko yang akan mengakibatkan kematian si ibu kalau dia melahirkan anak tsb. Dokter menyarankan ia untuk mengugurkan kandungannya. Ia merasa terjepit diantara keadaan bahwa ia adalah seorang penentang aborsi sementara nyawanya terancam kalau ia tidak mengaborsi anak tsb. Namun ia berdoa dan ia mengambil suatu keputusan bahwa ia akan melahirkan anaknya. Ia berkata bahwa anak itu layak untuk hidup walaupun hidupnya hanya sebentar. Suaminya pasrah dan menerima keputusan tsb. Akhirnya ketika bayi itu lahir, ibunya meninggal. Pengorbanan si ibu ternyata tidak sia-sia, anak itu ternyata bertahan hidup selama 2 minggu dan ketika anak bayi itu meninggal, ia mendonorkan ginjal dan jantungnya untuk 2 nyawa bayi lain yang terancam meninggal. Ibu itu mengorbankan dirinya, agar bayi tersebut bisa menghidupkan nyawa bayi-bayi lain. Dari cerita peristiwa di atas, demikian juga pengorbanan Yesus di kayu salib, merupakan bentuk nyata pengorbanan Bapa di Surga untuk keselamatan orang percaya. Yesus harus menderita, di salibkan, mati dan bangkit merupakan pengorban yang tak ternilai harganya. Itu semua Allah lakukan agar kita yang seharusnya di hukum maut oleh dosa, tetapi di selamatkan melalui percaya kita kepada pengorbanan Yesus di kayu salib [Roma 6:23]. Kalau Allah sendiri melalui Yesus rela berkorban untuk kita, lalu apa yang menjadi balasan kita ? Apakah yang dapat kita korbankan sebagai bentuk trimakasih kita pada Allah ? Maka ketika kita dihadapkan kepada pengorbanan, berdoalah kepada Tuhan, apakah yang menjadi kehendakNya, seperti ketika Abraham harus mengorbankan anak tercintanya, Ishak. Ketika Abraham pasrah kepada Tuhan dan ia mengorbankan anaknya, Allah memberikan berkat berlimpah-limpah dan berkali-kali lipat kepadanya. Jika Allah melakukan hal yang sama kepada Abraham, maka Ia-pun pasti akan melakukan hal yang sama kepada kita anak-anakNya juga. Karena dalam suatu pengorbanan yg harus kita pilih, Tuhan memiliki rencanaNya sendiri, hanya tinggal maukah kita menjalaninya, maukah kita mengorbankan harta kita, perasaan kita, bahkan nyawa kita sekalipun? Untuk sesuatu yang lebih besar, untuk kemulyaan Tuhan. Marilah kita mulai memikirkan dan minta petunjuk Tuhan, apakah yang dapat kita korbankan untuk menghasilkan dampak yang lebih besar bagi kebaikan dan kemulyaan Allah.
Kehidupan kita orang beriman, dalam menjalani hidup sehari-hari sangat membutuhkan tuntunan dan petunjuk dari Tuhan. Pemazmur berkata,“Berbahagialah orang yang tidak berjalan menurut nasihat orang fasik, yang tidak berdiri di jalan orang berdosa, dan tidak duduk dalam kumpulan pencemooh, tetapi yang kesukaannya ialah Taurat Tuhan, dan yang merenungkan Taurat itu siang dan malam.” [Mazmur 1:1-2]. Alkitab berisi tuntunan dan petunjuk dari Tuhan. Semakin kita mempelajari firman Tuhan dan merenungkannya siang dan malam semakin kita mengerti apa kehendak Tuhan, dan apa langkah-langkah yang harus kita tempuh sehingga perjalanan hidup kita selalu beruntung dan akan memberi faedah. Di Alkitab menuliskan contoh teladan hidup orang beriman melalui empat binatang kecil, “Ada empat binatang yang terkecil di bumi, tetapi yang sangat cekatan: semut, bangsa yang tidak kuat, tetapi yang menyediakan makanannya di musim panas, pelanduk, bangsa yang lemah, tetapi yang membuat rumahnya di bukit batu, belalang yang tidak mempunyai raja, namun semuanya berbaris dengan teratur, cicak yang dapat kautangkap dengan tangan, tetapi yang juga ada di istana-istana raja.” [Amsal 30:24-28]. Semut, meskipun tergolong binatang terkecil dan lemah, ia rajin, ulet dan cekatan. Selain itu semut memiliki rasa empati yang tinggi terhadap sesamanya, mereka menopang satu sama lain dan bergotong royong. Tuhan menghendaki hal yang demikian, “Bertolong-tolonglah menanggung bebanmu! Demikianlah kamu memenuhi hukum Kristus.” [Galatia 6:2]. Belalang, dalam waktu singkat sanggup menghabiskan hasil ladang berkat kerjasama dan ketekunannya. Walapun tanpa pemimpin. Manusia tidak dapat melakukan hal itu tanpa seorang pemimpin. Di sini manusia diajar untuk tunduk kepada pemimpin agar bisa hidup teratur. Pelanduk, binatang lemah tapi mampu membuat rumahnya di atas bukit batu sehingga ia selamat dan aman apabila badai menyerang. Kita di ajar untuk menggunakan hikmat kepandaian kita untuk bertahan hidup. Cicak bintang yang dengan mudah dapat kita tangkap tetapi juga hidup di istana raja. Mengingatkan kita walaupun lemah tetapi Allah masih memberi hikmat agar kita bisa bertahan hidup dalam bahaya sekalipun. Yesus adalah Batu Karang Keselamatan kita. Sudah seharusnya kita mempercayakan hidup ini sepenuhnya kepada Dia.
Saat seseorang melontarkan ide yang dianggapnya “cemerlang” dengan antusias, penuh semangat membara bisa saja tiba-tiba menjadi lunglai, lesu. Mengapa ??? Karena ternyata tidak ada yang mendukung ide cemerlangnya itu bahkan tidak sedikit yang mencelanya. Semangatnya seolah bersayap, terbang meninggalkan dirinya, mulutnya terkunci tak sanggup lagi mengeluarkan kata-kata sanggahan. Peristiwa semacam ini sering terjadi bahkan mungkin kita sendiri pernah mengalaminya. Lain halnya dengan Bartimeus, si pengemis buta anak Timeus yang selalu duduk di pinggir jalan mengharap berkat dari orang-orang yang lewat. Walau buta dia tipe orang yang pantang menyerah, selalu semangat. Suatu hari Yesus keluar dari Yerikho bersama-sama para murid dan orang banyak yang berbondong-bondong yang tentu saja membuat suasana menjadi sangat ramai dan menarik perhatian Bartimeus. Ketika Bartimeus mendengar bahwa yang lewat itu adalah Yesus dari Nazaret, serta merta dia berteriak, berseru kepada Yesus untuk mengasihaninya [ayat 47]. Banyak orang merasa tidak nyaman dengan teriakannya itu dan menegurnya supaya diam. Namun larangan itu tidak membuatnya putus asa !! Bartimeus tetap semangat, dia berseru semakin keras untuk minta belas kasihan Yesus [ayat 48]. Yesus menghentikan langkah-Nya, meminta mereka memanggil Bartimeus [ayat 49]. Dengan segera dia berdiri, pergi menjumpai Yesus dan ketika Yesus menanyakan apa yang diinginkannya, tanpa ragu Bartimeus menjawab dia ingin dapat melihat. [ayat 50,51]. Di akhir kisah ini kita tahu Yesus membuat Bartimeus “si buta” dapat melihat kembali karena imannya kepada Yesus dari Nazaret yang diakuinya sebagai “Rabuni/Guru” dan ditinggalkannyalah pekerjaannya sebagai pengemis, mengikuti perjalanan Yesus [ayat 52]. Bagaimana dengan kita? Dalam perjalanan hidup kita, baik di keluarga, pekerjaan bahkan mungkin dalam pelayanan begitu banyak tantangan seakan merintangi bahkan kadang “menjegal” yang membuat kita putus asa, kehilangan semangat. Mari kita belajar dari Bartimeus “si buta” yang selalu semangat dan menghargai sang Rabuni yang memberinya kesempatan untuk dapat melihat dengan cara mengikuti-Nya ke mana sang Guru pergi. Semangat !!!! Amin.
Yesus sepertinya tahu apa yang akan dihadapi oleh para pengikut-Nya jika Ia tinggalkan. Oleh sebab itu Yesus sebalum kembali ke sorga Ia berjanji,’Aku akan minta kepada Bapa, dan Ia akan memberikan kepadamu seorang Penolong yang lain, supaya Ia menyertai kamu selama-lamanya, yaitu Roh Kebenaran. Dunia tidak dapat menerima Dia, sebab Dunia tidak melihat Dia dan tidak mengenal Dia. Tetapi kamu mengenal Dia, sebab Ia menyertai kamu dan akan diam di dalam kamu.’ [Yohanes 14:16-17] Yesus menepati janjiNya. Saat ini Roh Kudus yang adalah Penolong ada dan selalu ada untuk menolong, mengajar, membimbing, menghibur, menguatkan dan menyertai kehidupan orang percaya sampai kesudahan zaman. Ayat nas di atas menunjukkan bahwa setiap orang percaya sangat membutuhkan kekuatan Roh Kudus supaya mereka semakin berlimpah-limpah dalam pengharapan. Menjadi orang Kristen tidak cukup hanya rutin ke gereja setiap Minggu, menjabat majelis, pengurus gereja dan terlibat di berbagai aktivitas yang berbau Kristen, namun harus terus bertumbuh di dalam pengenalan akan Tuhan dan semakin dewasa rohani. Apa peranan Roh Kudus dalam pertumbuhan iman orang percaya? Roh Kudus selain membimbing, menolong, menyertai, juga menyinari umat Tuhan dengan memberikan firman yang sudah tertulis dalam Alkitab. Maksudnya adalah membuat kita memahami pengajaran dan tuntutan Allah yang diberikan kepada kita yang selama ini tidak atau belum kita mengerti. Bukan karena kita orang awam, tetapi karena keterbatasan kita sebagai manusia. Setiap pribadi, baik Kristen awam atau para pengkotbah [hamba Tuhan], memerlukan bimbingan dan pencerahan dari Roh Kudus untuk mencapai tahap pengertian tertentu. Jadi kemampuan memahami firman Tuhan bukan karena kepandaian dan kehebatan kita. Walapun kita mampu menyampaikan firman Tuhan, bersaksi di hadapan orang lain dan pada akhirnya dapat membawa seseorang bertobat dan menerima Kristus secara pribadi, itu karena karya Roh Kudus. Roh Kuduslah yang bekerja mengubah hati serta menyingkapkan pengertian dan pengenalan yang benar akan Tuhan, sehingga seseorang dapat percaya dan beriman. Kita sekarang sebagai orang percaya, sejauh mana pengakuan dan penyerahan diri kita kepada Roh Kudus ? Karena Roh Kuduslah yang senantiasa setia menolong dalam setiap sisi hidup kita serta memberi pencerahan kepada kita dalam memahami Firman-Nya.
BARCODE BBM CHANNELS
RENUNGAN HARIAN
Berdoa Di Dalam Roh
11 April '18
Pergunakanlah Waktu Yang Tersisa
24 Maret '18
Jesus Effect
12 April '18
Copyright © 2012 All rights reserved. Designed and Developed by GIA Dr. Cipto Semarang