SEPEKAN TERAKHIR
  Selasa, 26 Mei 2015   -HARI INI-
  Senin, 25 Mei 2015
  Minggu, 24 Mei 2015
  Sabtu, 23 Mei 2015
  Jumat, 22 Mei 2015
  Kamis, 21 Mei 2015
  Rabu, 20 Mei 2015
POKOK RENUNGAN
Yesus adalah pemersatu kita untuk menjadi satu saudara seiman yang saling mengasihi, sehingga berkat-berkat tercurah karena satu kasih persaudaraan dalam Kristus.
DITULIS OLEH
Bpk. Andreas T. Loso
Kontributor
Renungan Lain oleh Penulis:
Home  »  Renungan  »  Hidup Rukun
Hidup Rukun
Kamis, 21 Februari 2013 | Tema: Komunitas Yang Menebarkan Kasih
Hidup Rukun
Mazmur 133:1-3
Ada banyak suku bangsa di Indonesia, seperti Minahasa, Batak, Tiong Hwa, dan lainnya yang mengenakan nama marga, yaitu nama yang melekat di belakang atau depan nama seseorang. Ketika dua orang bertemu di suatu daerah peratauan dan mempunyai nama marga yang sama, maka dapat dipastikan mereka akan nampak begitu akrab, bahkan mereka akan menelusuri silsilah keluarga untuk mengetahui hubungan kekerabatan di antara mereka. Biasanya mereka yang diperantauan yang berasal dari satu marga akan membentuk komunitas agar tetap rukun satu sama lainnya.
Sebagai warga kerajaan Allah, semua orang percaya mempunyai hubungan darah satu sama lain, yaitu oleh penebusan darah Yesus Kristus. Sekalipun Tuhan menempatkan kita di kota atau daerah yang berbeda, juga di gereja yang berbeda, tetapi kita tetap satu di dalam Kristus. Kita harus membina kerukunan di antara saudara seiman.

Sebagai warga negara Indonesia, tanpa melihat latar belakang suku dan agama atau kepercayaan, kita harus membangun kerukunan dengan satu sama lainnya. Rahasia berkat Tuhan yang luar biasa adalah jika kita hidup rukun, baik dalam keluarga sendiri, antara saudara seiman, dan antar sesama manusia. Kalimat yang mengungkapkan adanya embun dari gunung Hermon yang mengalir ke atas gunung-gunung Sion menunjukkan perlunya kerendahan hati. Jika kita rendah hati, maka kerukunan akan mudah terbentuk.

Perbedaan dan ketidaksepahaman yang tidak didasari dengan kerendahan hati akan mengakibatkan perpecahan. Tet...selengkapnya »
“Maju.. maju... maju... Mundur... mundur... mundur... Jangan marah-marah, mari ramah-ramah...”. Demikian cuplikan kalimat dari sebuah lagu iklan rokok yang disajikan dengan memecah suasanan kemarahan menjadi kegembiraan. Lagu dalam iklan ini memberikan pesan moral kepada penontonnya bahwa tindakan saling marah untuk mendahului dalam situasi jalanan macet, karena masing-masing tidak dapat menahan ego dan lebih mementingkan diri sendiri dibandingkan kepentingan bersama, itu tidak baik. Lebih dari itu, penonton diharapkan menyadari bahwa tindakan tidak tertib dalam berlalu lintas itu tidak dibenarkan. Tuhan Yesus adalah Allah yang turun menjadi manusia sempurna. Sebagai manusia yang sempurna Ia juga memberikan teladan yang sempurna. Salah satu teladan itu adalah kepatuhan-Nya terhadap hukum. Misalnya, hukum perpajakan sangat diperhatikan oleh Tuhan Yesus. Sewaktu Ia dicobai dengan pertanyaan diperbolehkan atau tidak membayar pajak kepada Kaisar. Ia mengambil sekeping uang perak dan bertanya, “Gambar siapakah ini?” Mereka menjawab, “Gambar Kaisar”. Kata Yesus kepada mereka, ’Berilah kepada Kaisar apa yang wajib kamu berikan kepada Kaisar, dan kepada Allah apa yang wajib kamu berikan kepada Allah.’ Dalam hal ini Tuhan Yesus melakukan sebuah tindakan yang sangat sempurna. Ia tidak menolak kewajiban agama Yahudi, namun juga tidak melawan hukum yang berlaku di bawah kekaisaran Romawi. Keberadaan kita di Indonesia, secara khusus di daerah kota Semarang dan sekitarnya, tunduk di bawah otoritas payung hukum yang menaungi kita. Kita dapat dikatakan menjadi warganegara yang baik jika kita memiliki pola hidup tertib di dalamnya. Misalnya, tertib berlalu-lintas, tertib membayar pajak, tertib bermasyarakat, tertib menjaga kebersihan lingkungan bersama, tertib dalam beradministrasi [tidak menyuap dan menerima suap], tidak ada KKN, dll. Semua itu merupakan bagian dari tindakan iman yang diwariskan oleh Tuhan Yesus, bahkan Ia sendiri taat terhadap hukuman mati yang berlaku di zaman kekaisaran Romawi pada masa itu. Biarlah tertib hukum menjadi bagian dalam hidup gererasi kita sebagai ungkapan kasih kita kepada Tuhan Yesus yang telah memberi teladan dalam tertib hukum.
Kisah Para Rasul 2:1, 4 Ketika tiba hari Pentakosta, semua orang percaya berkumpul di satu tempat.... Maka penuhlah mereka dengan Roh Kudus, lalu mereka mulai berkata-kata dalam bahasa-bahasa lain, seperti yang diberikan oleh Roh itu kepada mereka untuk mengatakannya. Kisah Para Rasul 4:31 Dan ketika mereka sedang berdoa, goyanglah tempat mereka berkumpul itu dan mereka semua penuh dengan Roh Kudus, lalu mereka memberitakan firman Allah dengan berani. Murid-murid Yesus adalah orang-orang yang sederhana. Setelah Yesus naik ke surga, apa yang terjadi dengan mereka? Kalau dilihat dari kedudukan dan kemampuan mereka seharusnya mereka sudah bubar kocar-kacir. Mereka diancam tidak boleh memberitakan Nama Yesus. Seharusnya mereka ketakutan dan bersembunyi atau tutup mulut. Ternyata di luar dugaan, mereka tampil sebagai saksi-saksi yang berani. Mereka dengan penuh keyakinan memberitakan bahwa Yesus bangkit dari kematian dan memerintah sebagai Tuhan atas hidup manusia. Jelas, keberanian itu bukan berasal dari diri mereka sendiri. Roh Kudus telah turun ke atas mereka dan membuat mereka memiliki keberanian itu. Peristiwa Pentakosta-lah yang menyebabkan semua itu. Filipi 2:13 mengatakan: ’karena Allahlah yang mengerjakan di dalam kamu baik kemauan maupun pekerjaan menurut kerelaan-Nya.’ Roh Kudus-lah yang mengerjakan di dalam kita kemauan untuk melakukan kehendak Bapa di surga. Dalam 2 Korintus 3:5 rasul Paulus mengatakan: ’Dengan diri kami sendiri kami tidak sanggup untuk memperhitungkan sesuatu seolah-olah pekerjaan kami sendiri; tidak, kesanggupan kami adalah pekerjaan Allah.’ Roh Kuduslah yang membuat Rasul Paulus sanggup melakukan pekerjaan-pekerjaan besar yang dikerjakannya. Saya merindukan Pentakosta itu terjadi lagi dan lagi dalam gereja kita. Amin.
Kisah Para Rasul 1:8 Tetapi kamu akan menerima kuasa, kalau Roh Kudus turun ke atas kamu, dan kamu akan menjadi saksi-Ku di Yerusalem dan di seluruh Yudea dan Samaria dan sampai ke ujung bumi. Kita butuh power dalam segala hal agar kehidupan ini dapat berjalan. Untuk memasak diperlukan api, yang berasal dari kayu, minyak atau gas LPG. Untuk menyalakan lampu, dan semua peralatan elektronik, dibutuhkan energi listrik dari PLN, aki atau baterei. Untuk menjalankan kendaraan bermotor kita butuh bahan bakar minyak, baik bensin atau solar, yang kita beli di pom bensin Pertamina. Bahkan tubuh kita sendiri pun membutuhkan energi yang kita dapatkan dari asupan makanan yang kita makan setiap hari. Lalu bagaimana dengan roh kita? Tentu saja roh kita butuh power untuk memberi kekuatan dan semangat bagi kehidupan kita. Kalau roh kita padam, seluruh kehidupan kita akan kehilangan gairah. Kalau roh kita menyala kehidupan kita juga akan bersemangat. Ketika kita menghadapi masa-masa yang sulit dalam hidup kita, kita membutuhkan kekuatan spiritual. Apa jadinya bila pada saat kita membutuhkan kekuatan itu, roh kita sedang tak berdaya? Kita akan menerima kuasa [power] ketika Roh Kudus turun atas kita. Roh Kuduslah yang memberi kita kekuatan dan kemampuan supaya kita tidak menyerah pada tantangan. Pada saat seseorang dijamah oleh Roh Kudus, dia akan memiliki semangat yang menggelora dan kekuatan yang melimpah. Hari-hari ini banyak orang mengahadapi tantangan yang berat, khususnya sehubungan dengan perekonomian yang melambat. Pertumbuhan ekonomi jauh di bawah perkiraan dan harapan. Melambatnya perekonomian ini bukan hanya disebabkan oleh situasi dalam negeri, tetapi juga keadaan perekonomian negara-negara lain. Ekonomi China dan Jepang, sebagai raksasa ekonomi Asia, sedang melambat dan dampaknya meluas sampai ke negeri kita juga. Jika demikian keadaannya, maka tidak ada cara lain, setiap kita harus kuat, harus mampu bertahan di tengah situasi yang sulit ini. Jangan panik, tetaplah tenang dalam iman dan harap kepada Tuhan Yesus Kristus, Sang Pemelihara hidup kita. Carilah kekuatan-Nya, yang sudah Dia sediakan jika hidup kita dipenuhi oleh Roh Kudus-Nya. Amin.
Belajar memahami kehendak Allah harus dimulai dari pemahaman akan rancangan Agung Allah Bapa yang dilaksanakan melalui karya penebusan di dalam Tuhan Yesus Kristus. Satu-satunya tujuan penebusan [anugerah keselamatan] yang sangat mahal harganya itu adalah untuk mengembalikan manusia pada rancangan semula Allah, yaitu memiliki kemuliaan Allah yang telah hilang. Kedua ayat di atas menjelaskan bahwa Allah menghendaki supaya semua orang diselamatkan, memperoleh pengetahuan akan kebenaran, sehingga tidak ada yang binasa, melainkan supaya semua orang berbalik dan bertobat. Kriteria yang menggambarkan kemuliaan Allah antara lain: &’61607; sempurna seperti Bapa [ Matius 5:48]. &’61607; kudus dan tidak bercacat [Efesus 1:4; Ibrani 12:10]. &’61607; mengambil bagian dalam kodrat ilahi [2 Petrus 1:4]. &’61607; memiliki pikiran dan perasaan Kristus [Pilipi 2:5]. Jadi bukan sekedar supaya menjadi orang baik secara moral umum. Hal ini tidak bisa terjadi secara otomatis dan instan, melainkan perlu usaha keras dan serius masuk dalam proses keselamatan. Bukan suatu hal yang mudah, tetapi sangat sulit dan nyaris mustahil, namun bagi Allah tidak ada yang mustahil [Lukas 1:37]. Selanjutnya, sementara kita secara serius masuk dalam proses tersebut, untuk menjadi pribadi yang berkenan kepada Allah, kita juga harus membantu orang lain masuk dalam proses yang sama, supaya mereka juga bisa dipulihkan dan memiliki kemuliaan Allah. Inilah kehendak Allah yang dinyatakan oleh Tuhan Yesus dalam Amanat Agung [Matius 28:19-20]. Umat tebusan harus senantiasa setiap hari memperkarakan kedua hal tersebut, karena merupakan landasan pelayanan yang dikehendaki oleh Bapa. Hiduplah seperti orang arif dan pergunakan waktu yang ada [Efesus 5:15-16]. Syarat penting untuk memahami kehendak Allah tersebut adalah tidak menjadi serupa dengan dunia atau tidak mencintainya dan juga terus mengalami pembaharuan pikiran [Roma 12:2]. Untuk hal ini orang percaya harus terus belajar mengenal kebenaran Injil yang murni, yaitu apa yang diajarkan dan dilakukan oleh Tuhan Yesus. Dengan mengenal kebenaran Injil dan pimpinan Roh Kudus, kita menjadi peka akan suara dan kehendak Bapa untuk dilakukan.
BARCODE BBM CHANNELS
RENUNGAN HARIAN
Merasa Melakukan Kehendak Allah
18 Mei '15
Janji Bagi Yang Diperkenan Tuhan
27 April '15
Ibuku, Guruku
23 Mei '15
Copyright © 2012 All rights reserved. Designed and Developed by GIA Dr. Cipto Semarang