SEPEKAN TERAKHIR
  Sabtu, 20 Desember 2014   -HARI INI-
  Jumat, 19 Desember 2014
  Kamis, 18 Desember 2014
  Rabu, 17 Desember 2014
  Selasa, 16 Desember 2014
  Senin, 15 Desember 2014
  Minggu, 14 Desember 2014
POKOK RENUNGAN
Yesus adalah pemersatu kita untuk menjadi satu saudara seiman yang saling mengasihi, sehingga berkat-berkat tercurah karena satu kasih persaudaraan dalam Kristus.
DITULIS OLEH
Bpk. Andreas T. Loso
Kontributor
Renungan Lain oleh Penulis:
Home  »  Renungan  »  Hidup Rukun
Hidup Rukun
Kamis, 21 Februari 2013 | Tema: Komunitas Yang Menebarkan Kasih
Hidup Rukun
Mazmur 133:1-3
Ada banyak suku bangsa di Indonesia, seperti Minahasa, Batak, Tiong Hwa, dan lainnya yang mengenakan nama marga, yaitu nama yang melekat di belakang atau depan nama seseorang. Ketika dua orang bertemu di suatu daerah peratauan dan mempunyai nama marga yang sama, maka dapat dipastikan mereka akan nampak begitu akrab, bahkan mereka akan menelusuri silsilah keluarga untuk mengetahui hubungan kekerabatan di antara mereka. Biasanya mereka yang diperantauan yang berasal dari satu marga akan membentuk komunitas agar tetap rukun satu sama lainnya.
Sebagai warga kerajaan Allah, semua orang percaya mempunyai hubungan darah satu sama lain, yaitu oleh penebusan darah Yesus Kristus. Sekalipun Tuhan menempatkan kita di kota atau daerah yang berbeda, juga di gereja yang berbeda, tetapi kita tetap satu di dalam Kristus. Kita harus membina kerukunan di antara saudara seiman.

Sebagai warga negara Indonesia, tanpa melihat latar belakang suku dan agama atau kepercayaan, kita harus membangun kerukunan dengan satu sama lainnya. Rahasia berkat Tuhan yang luar biasa adalah jika kita hidup rukun, baik dalam keluarga sendiri, antara saudara seiman, dan antar sesama manusia. Kalimat yang mengungkapkan adanya embun dari gunung Hermon yang mengalir ke atas gunung-gunung Sion menunjukkan perlunya kerendahan hati. Jika kita rendah hati, maka kerukunan akan mudah terbentuk.

Perbedaan dan ketidaksepahaman yang tidak didasari dengan kerendahan hati akan mengakibatkan perpecahan. Tet...selengkapnya »
“Cuma buku saja kok ribut,” gerutu Ibu. “Ini bukan CUMA soal buku, ini soal kecintaanku pada dunia baca! Dan uang saku yang sejak SD sampai SMA kukumpulkan untuk mengoleksi dua ratus buku kini lenyap tak bersisa. Buku dibagi-bagi tanpa seizinku! Belum lagi oven, mikser, loyang, cetakan kue ... habis semua ....” Aku tak sanggup melampiaskan seluruh amarahku. Air mata keburu membanjir dan membuat tenggorokanku tersekat. Itu bukan CUMA soal buku. Itu soal penghargaan terhadap milik pribadi yang dilanggar habis-habisan. Itu merenggut paksa semua yang kusayangi dan kurawat dengan hati-hati. Itu benar-benar menghancurkan hatiku. Pada akhirnya aku harus menghemat rupiah demi rupiah lagi untuk membeli buku-buku yang sama. Dan sebagian sudah tidak terbit lagi. Sebagian lagi tak mungkin terbeli karena itu merupakan hadiah dari bibiku. Hal itu benar-benar membuatku geram dan naik darah. Butuh waktu panjang untuk melepaskan ganjalan yang begitu menyesakkan. Ada banyak kali aku mengungkit-ungkit perkara itu dalam pertikaian antara Ibu dan aku. Dan setiap kali aku meluapkan amarah, itu tak memperbaiki keadaan. Hanya menyakiti Ibu dan aku lebih dalam lagi. Untuk apa? Akhirnya aku melihatnya seperti ini. Tak dapat kuubah apa yang terjadi kepadaku. Mendendam pada Ibu tidak membawa kebaikan. Ibu tahu akan kesalahannya. Dan meski tanpa ada permintaan maaf darinya, aku telah mengampuninya. Aku pun bisa menghindari melakukan kesalahan yang sama terhadap anak-anakku. Aku belajar untuk berhati-hati dan menghargai hak milik mereka. Sederhana? Mari belajar untuk tidak menyepelekan hal-hal yang sederhana. Hal sederhana yang tak kunjung dituntaskan bisa membawa kepahitan yang mendalam. Namun hal sederhana yang membuat kita terlatih untuk mengampuni bisa membawa sukacita yang tak terkira.
Perkataan ini sangat keras bagi seorang kaya yang datang kepada Tuhan Yesus dan bertanya apa yang harus dia perbuat untuk memperoleh hidup yang kekal. Tuhan Yesus menjawab :”Yah, engkau tahu perintah - perintah Allah.” Dan Ia menyebut perintah - perintah yang berhubungan dengan kewajiban seseorang terhadap sesamanya. Bahwa berpegang pada ketetapan dan peraturan Allah serta melakukannya merupakan jalan kepada hidup (Imamat 18:5 ) orang kaya itu menjawab bahwa ia sudah melakukannya sejak masa mudanya. Nampaknya orang kaya ini datang kepada Tuhan Yesus dengan harapan supaya Dia mengatakan sesuatu yang lain. Dan benar, “ada satu hal yang kurang, satu hal yang belum kau lakukan,’ kata Tuhan Yesus, ‘Dan engkau bisa melakukannya sekarang. Juallah apa yang kau miliki dan berikanlah kepada orang - orang miskin, kemudian datanglah kepadaKu dan ikutlah Aku, maka engkau akan beroleh harta di Sorga.” Orang kaya itu sangat kaget dan kecewa mendengar jawaban Tuhan Yesus karena hartanya sangat banyak. Matius menulis nasihat semacam ini, nasihat kesempurnaan. “Jikalau engkau hendak sempurna, pergilah, juallah segala milikmu dan berikanlah kepada orang - orang miskin (Mat 19:21 ). Tetapi dengan melakukan perintah ini, bukan berarti kita naik ke jenjang lebih tinggi dalam ketaatan. Rasul Paulus mengingatkan kita bahwa memberikan segala harta yang kita miliki kepada orang miskin tidak berarti apa - apa jika tidak ada kasih dihati (1 Kor 13:3). Berbagi dengan kasih, itulah yang Tuhan Yesus ingin kita lakukan dalam hidup ini. Ajaran Tuhan Yesus ini adalah ajaran yang keras dan tidak mudah untuk melakukannya, tapi kita harus berusaha menjadikannya sebagi pedoman hidup kita. Memang tidak kepada semua pengikutNya, termasuk kita, Tuhan Yesus menuntut kita untuk memberikan harta milik kita dengan cara yang sama. Tuhan Yesus ingin menguji ketaatan dan sikap hati kita untuk berbagi dengan sesama.
Suatu hari seorang hamba Tuhan menceritakan penyesalannya dalam sebuah kesaksian. Ia menyampaikan bahwa ia sangat menyesal karena janjinya untuk mengunjungi jemaatnya yang sakit tidak dapat ia penuhi, pasalnya jemaat yang seharusnya dikunjungi itu sudah pulang ke rumah Bapa di sorga sebelum ia mengunjunginya. Penyesalan itu sangat dalam dirasakannya karena beberapa hari sebelum jemaatnya meninggal, hamba Tuhan tersebut sudah berjanji akan mengunjunginya di rumah sakit. Namun akibat kesibukan pelayanan dan berbagai aktifitas yang dikerjakannya, jemaat yang sakit ini telah meninggal sebelum ia dapat mengunjunginya. “Penyesalan pasti akan muncul di kemudian hari”. Pepatah inilah yang dialami oleh hamba Tuhan tersebut, dan mungkin juga kerapkali kita alami dalam kehidupan kita sehari-hari. Ingin hati menyatakan kasih, namun kadang waktu dan kesempatan membatasi sehingga kita tidak dapat melaksanakan kasih itu dalam pelayanan kita, sehingga penyesalan demi penyesalan mengakumulasi yang kemudian berakibat pada perasaan bersalah yang sangat dalam. Semua hal yang akan terjadi dalam hidup kita tidak akan diketahui oleh siapa pun (Matius 25:13), demikian dengan kedatangan Tuhan pada kali yang ke-2. Oleh karena itu Alkitab mengajar kita untuk selalu berjaga-jaga, sehingga kita tidak akan menyesal jika sesuatu yang tidak diinginkan terjadi. Sebagai seorang pelayan Tuhan (rohaniawan, penatua, diaken, pengerja, dan lain-lain), saat ini kita dipercayakan untuk mengembalakan domba-domba Tuhan. Sebagai seorang orang tua (kakek, nenek, bapak, ibu), kita memiliki anak-anak, cucu-cucu, keponakan, yang Tuhan percayakan untuk digembalakan. Sebagai seorang anak, kita memiliki orangtua, kakek, nenek, dan yang lain yang Tuhan percayakan menjadi orang-orang yang kita kasihi. Orang-orang yang ada di sekeliling kita merupakan ladang pelayanan kita di mana kita memiliki tugas yang sama, yaitu untuk “saling mengasihi dan memperhatikan”. Oleh karena itu jika saat ini kita merasa bahwa hubungan kita dengan orang-orang yang pernah dan sangat mengasihi kita sedang renggang atau jauh, mari kita meningkatkan hubungan melalui perhatian yang penuh kasih. Selagi masih ada kesempatan, lakukan, supaya tidak ada penyesalan di kemudian hari.
Ketika seseorang merasa dirugikan, dilecehkan, dihina, dan sebagainya, yang sering diucapkan adalah: “Yang penting aku sudah mengampuni dan memaafkannya.” Namun ketika suatu saat berjumpa dengan orang yang bersangkutan sikapnya masih acuh tak acuh, sinis, dan kemudian menghindar. Dengan kata-kata “yang penting aku sudah mengampuni dan memaafkan” merasa bahwa dirinya telah “bersih”, selesai masalah. Marilah kita belajar seperti Yusuf. Kita semua tahu bagaimana Yusuf dianiaya dan diperlakukan kasar oleh saudara-saudaranya, bahkan sampai hati menjual Yusuf kepada para Kafilah orang Ismael (Kejadian 37:20-30). Karena perbuatan saudara-saudaranyalah, Yusuf menjadi menderita secara lahir dan batin. Yusuf kesakitan karena dilemparkan ke dalam sumur kering, dia sedih karena harus berpisah dengan Yakub, bapanya dan Benyamin, adik kesayangannya. Dan ketika Yusuf ada di Mesir, dia masuk penjara karena difitnah. Semua itu terjadi karena ulah para saudaranya yang sangat membencinya. Singkat cerita, karena Yusuf senantiasa dipelihara Tuhan, maka sampailah dia kepada masa kejayaannya. Yusuf diangkat menjadi orang kedua di Mesir sebagai tangan kanan Firaun, penguasa Mesir. “Merah-hijaunya” Mesir ada di tangan Yusuf, karena memang semua sudah diserahkan kekuasaan itu kepada Yusuf. Karena Yusuf-lah kekuasaan Mesir semakin luas, masa kelaparan yang berkepanjangan menjadikan Mesir semakin dihormati bangsa-bangsa lain, dan kekuasaanya semakin berjaya. Tetapi seperti apakah kejadiannya ketika Yusuf berjumpa dengan sudara-saudaranya dalam kondisi kelaparan? Awalnya Yusuf bersandiwara supaya tidak dikenali bahwa dirinya Yusuf. Tetapi ketika Yusuf tidak kuat lagi menahan rindu dengan saudara-saudaranya, khususnya Yakub, bapanya, Yusuf akhirnya memperkenalkan dirinya dan dia melihat wajah ketakutan saudara-saudaranya. Kata-kata apa yang pertama kali keluar dari mulut Yusuf? Inilah kata-kata Yusuf: “Akulah Yusuf! Masih hidupkah bapa? ... Marilah dekat-dekat...” Kemudian Yusuf menciumi saudaranya satu-satu dengan mesra (ayat 3-4, 15). Saudara, mengampuni adalah keputusan hati, tidak cukup dengan kata-kata (“aku mengampuni”) kemudian menghindar, tetapi juga dengan tindakan nyata bahwa kita mengampuni. Misalnya bersedia: menjumpai, berjabat tangan, merangkul, bersujud, kadang juga dengan tangisan, makan bersama, berkunjung ke rumahnya, dan sebagainya. Mengampuni adalah rekonsiliasi, suatu implementasi kasih.
BARCODE BBM CHANNELS
RENUNGAN HARIAN
Luka - Luka Emosional Masa Lalu
24 November '14
Tundukkanlah Hulk, Si Monster Hijau
05 Desember '14
Pengampunan Itu Menyembuhkan
26 November '14
Copyright © 2012 All rights reserved. Designed and Developed by GIA Dr. Cipto Semarang