SEPEKAN TERAKHIR
  Jumat, 29 April 2016   -HARI INI-
  Kamis, 28 April 2016
  Rabu, 27 April 2016
  Selasa, 26 April 2016
  Senin, 25 April 2016
  Minggu, 24 April 2016
  Sabtu, 23 April 2016
POKOK RENUNGAN
Yesus adalah pemersatu kita untuk menjadi satu saudara seiman yang saling mengasihi, sehingga berkat-berkat tercurah karena satu kasih persaudaraan dalam Kristus.
DITULIS OLEH
Bp. Andreas T. Loso
Rohaniwan Pusat
Renungan Lain oleh Penulis:
Home  »  Renungan  »  Hidup Rukun
Hidup Rukun
Kamis, 21 Februari 2013 | Tema: Komunitas Yang Menebarkan Kasih
Hidup Rukun
Mazmur 133:1-3
Ada banyak suku bangsa di Indonesia, seperti Minahasa, Batak, Tiong Hwa, dan lainnya yang mengenakan nama marga, yaitu nama yang melekat di belakang atau depan nama seseorang. Ketika dua orang bertemu di suatu daerah peratauan dan mempunyai nama marga yang sama, maka dapat dipastikan mereka akan nampak begitu akrab, bahkan mereka akan menelusuri silsilah keluarga untuk mengetahui hubungan kekerabatan di antara mereka. Biasanya mereka yang diperantauan yang berasal dari satu marga akan membentuk komunitas agar tetap rukun satu sama lainnya.
Sebagai warga kerajaan Allah, semua orang percaya mempunyai hubungan darah satu sama lain, yaitu oleh penebusan darah Yesus Kristus. Sekalipun Tuhan menempatkan kita di kota atau daerah yang berbeda, juga di gereja yang berbeda, tetapi kita t...selengkapnya »
Sebuah penggalan lirik lagu yang berbunyi: “Kita dipilih dari segala bangsa, kita dipilih jadi umatnya, kita dipilih dan dikuduskan-Nya, membawa kemuliaan hanya bagi Dia”. Lirik dari lagu ini tegas mengatakan bahwa kita sebagai orang-orang yang menjadi umat Allah yang dikuduskan-Nya dari keadaan yang semula tidak kudus menjadi kudus oleh karena Dia. Dan kita memiliki tugas, yaitu untuk menjadi alat kemuliaa-Nya. Tuhan memiliki tujuan bagi setiap kita umat yang dikasihi-Nya. Sebuah hal yang luar biasa bagi kita yang pada dasarnya adalah manusia yang berdosa. Namun oleh karena kasih karunia Allah, kita memperoleh pengampunan melalui pengorbanan Kristus di kayu salib. Karena Allah sendiri yang telah memilih kita untuk menjadi umat-Nya, maka dari itu kita perlu meresponi panggilan tersebut dengan benar. Hidup benar dan kudus di hadapan Tuhan sebagai wujud rasa syukur kita kepada Allah dan juga sebagai wujud bakti kita kepada-Nya. Dalam kitab Imamat 20:26 dikatakan bahwa Tuhan adalah kudus dan kita juga haruslah kudus karena Ia telah memisahkan dan memilih kita sebagai umat kepunyaan-Nya. Maka sangat jelas bagi kita untuk hidup kudus sesuai dengan Firman-Nya. Hidup kudus berarti menjaga hidup kita untuk tetap lurus berjalan dalam kebenaran Firman Tuhan. Dan dengan demikian kita yang telah dikuduskan oleh-Nya dapat membawa terang kemuliaan Allah untuk kita tunjukan kepada dunia ini dan menjadi berkat bagi orang-orang yang belum percaya kepada-Nya. Jemaat Tuhan yang terkasih, marilah kita menjadi umat Tuhan yang membawa terang kemuliaan-Nya melalui apa yang ada pada diri kita melalui sikap hidup kita. Dengan hidup lurus sesuai dengan firman-Nya, maka dengan itu pula nama Tuhan semakin dipermuliakan. Jika kita telah dipilih menjadi umat pilihan-Nya, maka kita juga memiliki tugas tanggung jawab untuk mempermuliakan Tuhan.
Secangkir kopi kental panas dihidangkan Mbah Wanidy, seorang Kristen yang taat dan pekerja keras. Ia adalah pendiri dan pengelola kedai kopi seberang gereja. Bau harum segera membumbung, menggoda indera penciuman Benay. Diletakkanlah Koran Bibir Kota yang sedari tadi dibacanya. Sekelebat angin, kemudian bibir cangkir sudah menempel di mulut Benay. “O..e...e..nak tenan. Mantap kopinya, Mbah!”, kata Benay sesaat setelah menyruput kopi. “Syukur, nak Ben”, ungkap Mbah Wanidy senang, “Banyak pelanggan berkata bahwa suasana kedai nan sederhana ini dan kopi racikan Mbah turut menyumbangkan kenikmatan hidup.” “Wah...itu semua karena Mbah sendiri adalah seorang yang menikmati hidup ini”, kata Benay. Mbah Wanidy pun tertawa seolah-olah membenarkan perkataan Benay. Kata-kata Mbah Wanidy dan Benay barusan membuat Sambey yang sedari tadi diam menjadi terperanjat dari lamunannya. Dia teringat akan almarhum Steve Jobs, pendiri dan pemimpin Apple Inc. Steve Jobs adalah simbol kesuksesan. Manusia kreatif yang hobinya kerja ini hidup bergelimang harta. Tetapi ketika ia terbaring sakit dan terancam kematian, ia mulai menyadari bahwa kekayaan, nama besar, dan kedudukan tidak lagi banyak berarti. “Hidup memang tidak mempunyai rumus”, gumam Sambey. “Ada orang baik yang hidupnya tetap susah, tetapi ada orang jahat yang hidupnya serba wah. Ada pekerja keras yang tetap miskin, tetapi ada pemalas yang kaya raya. Ada orang percaya yang hidupnya penuh pergumulan, tetapi ada orang ateis yang hidup nyaman.” Sambey berpikir bahwa menikmati hidup sebagaimana yang diungkapkan Mbah Wanidy menjadi penting dalam kehidupan yang serba tidak menentu ini. “Dengan cara apa orang dapat menikmati hidup?” pikir Sambey. Kembali ia teringat akan Steve Jobs. Dalam kondisi sekarat, Jobs menyadari bahwa mengejar kekayaan tanpa batas bagaikan monster yang mengerikan. Kekayaan hanya memberi ilusi kebahagiaan. Padahal kebahagiaan bersumber dari hati yang dipenuhi cinta kasih. Mata Sambey segera terperangkap pada sosok Mbah Wanidy. Seorang yang hidup sederhana tetapi raut wajah dan sorot matanya memancarkan kedalaman hidup. Ia tidak dapat dibandingkan dengan kesuksesan, nama besar, dan kedudukan yang dicapai Steve Jobs. Tetapi belum tentu Steve Jobs dapat menggapai kenikmatan hidup yang dialami dan dibagikan oleh Mbah Wanidy melalui kedai dan racikan kopinya. “Hatinya tulus dipenuhi cinta kasih bagaikan orang berpakaian putih dan hidupnya dihiasi dengan syukur dan sukacita bagaikan rambutnya selalu diurapi minyak”, gumam Sambey mengutip Pengkhotbah 9:8. Jemaat yang terkasih, marilah kita menjalani hidup ini dengan kesucian, ketulusan yang terpancar dari hati yang penuh cinta kasih dan sukacita. Kiranya hidup yang keras dan sulit ini tidak mendera kita sehingga kita kehilangan sesuatu yang paling berarti, yaitu menikmati hidup dan membagikannya kepada orang lain.
Pakaian adalah kebutuhan pokok manusia yang tidak bisa lepas dari kehidupan sehari-hari. Manusia membutuhkan pakaian karena pakaian menawarkan berbagai kebaikan atau manfaat kepada para pemakainya. Pakaian yang digunakan oleh seseorang haruslah sesuai dengan situasi dan kondisi yang ada agar tidak menyebabkan masalah, baik pada dirinya sendiri maupun dengan orang lain yang berada di lingkungan sekitarnya. Selain berfungsi menutup tubuh, pakaian juga menunjukkan lambang status atau identitas seseorang dalam kehidupan bermasyarakat. Ketika kita melihat seseorang dengan pakaian identitasnya, maka kita langsung mengetahui juga komunitasnya. Dalam suratnya kepada jemaat Efesus, rasul Paulus menjelaskan bahwa dalam keseharian hidup kita wajib mengenakan seluruh perlengkapan senjata Allah supaya kita dapat bertahan melawan tipu muslihat Iblis. Karena perjuangan kita bukanlah melawan darah dan daging, tetapi melawan pemerintah-pemerintah, penguasa-penguasa, penghulu-penghulu dunia yang gelap ini, dan roh-roh jahat di udara, supaya kita dapat mengadakan perlawanan pada hari yang jahat dan tetap berdiri sesudah kita menyelesaikan segala sesuatu [ay. 11-13]. Perlengkapan senjata Allah dicatat oleh rasul Paulus sebagai berikut: ikat pinggang kebenaran, baju zirah keadilan, kasut kerelaan untuk memberitakan Injil, perisai iman, ketopong keselamatan, dan pedang Roh [ay. 14-17]. Jadi, kita diharapkan selalu berjalan dalam kebenaran, yaitu firman Allah bagaikan ikat pinggang yang membuat pakaian tetap pada posisinya, rapi tidak “kedodoran” sehingga kita merasa nyaman. Kita juga diharapkan selalu berbuat keadilan bagi sesama sehingga hidup kita seakan menjadi baju zirah yang siap melindungi saat peperangan berlangsung. Tidak hanya itu, kitapun harus mempunyai waktu yang kita relakan untuk memberitakan Injil keselamatan dengan iman yang kita miliki sebagai perisai dan terus memegang keselamatan yang telah Tuhan anugerahkan, serta berpegang pada pedang Roh, yaitu firman Allah.
Coba simak apa yang seringkali dilakukan oleh beberapa elit politik di negeri ini ketika menanggapi sebuah kasus terjadi. Apakah itu kasus korupsi, kasus asusila ataupun penyalahgunaan wewenang. Jika itu dialami oleh koleganya, maka mereka akan berusaha membela dan menutup-nutupi. Tetapi jika itu menjerat lawan politiknya, maka mereka akan memanfaatkannya sebagai upaya untuk menjatuhkan. Seringkali mereka tersandera oleh kepentingan sendiri, sehingga cenderung melihat kebenaran seirama dengan kepentingan mereka. Akibatnya, kebenaran dan keadilan dikebiri. Ayat nats hari ini menyatakan, “ Bencilah yang jahat dan cintailah yang baik; dan tegakkanlah keadilan di pintu gerbang...”. Pada zaman Perjanjian Lama, pintu gerbang menjadi simbol tempat pelaksanaan kekuasaan dan otoritas. Para tua-tua Israel mengambil keputusan-keputusan penting di tempat terbuka dan luas [semacam tanah lapang] di dekat pintu gerbang kota. Tempat untuk membicarakan dan memutuskan masalah-masalah yang disediakan bagi kalayak ramai. Seruan tersebut bukan hanya ditujukan kepada para tua-tua Isarel [sebagai juru pengadil] untuk berlaku adil dalam memutuskan perkara, tetapi juga kepada segenap umat Allah. Allah menghendaki umat-Nya menjauhi dan meningggalkan segala perbuatan jahat dengan melakukan hal-hal yang baik. Allah menghendaki kebenaran dinyatakan; Allah memerintahkan kebenaran ditegakkan. Ketika kebenaran dinyatakan dan ditegakkan, maka keadilan itu akan terjadi. Tak dapat dipungkiri, kadang usaha menegakkan kebenaran tidaklah mudah dan tidak selalu berjalan mulus. Yang seringkali terjadi justru menemui jalan terjal dan berliku. Meskipun demikian kebenaran haruslah tetap ditegakkan dalam kehidupan pribadi, keluarga, gereja maupun masyarakat. Oleh sebab itu, mari kita menjauhi dusta dan kebohongan; bersikap jujur; tidak menyebar fitnah. Berani mengatakan ya di atas ya dan tidak di atas tidak. Jangan kita memihak secara membabi buta karena faktor kedekatan atau demi mendapatkan keuntungan pribadi. Ya, menyuarakan kebenaran memang beresiko, tetapi jika kita berani melakukannya, paling tidak kita telah mempraktekkan perintah Tuhan untuk membenci yang jahat dan mencintai yang baik.
BARCODE BBM CHANNELS
RENUNGAN HARIAN
Mengenal Yesus Secara Pribadi
02 April '16
Diangkat Menjadi Mulia
04 April '16
Hubungan Antara Kepala Dan Tubuh
31 Maret '16
Copyright © 2012 All rights reserved. Designed and Developed by GIA Dr. Cipto Semarang