SEPEKAN TERAKHIR
  Jumat, 09 Desember 2016   -HARI INI-
  Kamis, 08 Desember 2016
  Rabu, 07 Desember 2016
  Selasa, 06 Desember 2016
  Senin, 05 Desember 2016
  Minggu, 04 Desember 2016
  Sabtu, 03 Desember 2016
POKOK RENUNGAN
Yesus adalah pemersatu kita untuk menjadi satu saudara seiman yang saling mengasihi, sehingga berkat-berkat tercurah karena satu kasih persaudaraan dalam Kristus.
DITULIS OLEH
Bp. Andreas T. Loso
Rohaniwan Pusat
Renungan Lain oleh Penulis:
Home  »  Renungan  »  Hidup Rukun
Hidup Rukun
Kamis, 21 Februari 2013 | Tema: Komunitas Yang Menebarkan Kasih
Hidup Rukun
Mazmur 133:1-3
Ada banyak suku bangsa di Indonesia, seperti Minahasa, Batak, Tiong Hwa, dan lainnya yang mengenakan nama marga, yaitu nama yang melekat di belakang atau depan nama seseorang. Ketika dua orang bertemu di suatu daerah peratauan dan mempunyai nama marga yang sama, maka dapat dipastikan mereka akan nampak begitu akrab, bahkan mereka akan menelusuri silsilah keluarga untuk mengetahui hubungan kekerabatan di antara mereka. Biasanya mereka yang diperantauan yang berasal dari satu marga akan membentuk komunitas agar tetap rukun satu sama lainnya.
Sebagai warga kerajaan Allah, semua orang percaya mempunyai hubungan darah satu sama lain, yaitu oleh penebusan darah Yesus Kristus. Sekalipun Tuhan menempatkan kita di kota atau daerah yang berbeda, juga di gereja yang berbeda, tetapi kita t...selengkapnya »
Diterimanya majalah bukti pemuatan artikel dan cairnya honorarium menulis adalah bukti bahwa seorang penulis melampaui fase amatir. Lembar-lembar naskah yang lolos editing dan diterbitkan menjadi buku pun merupakan fase menapaki profesionalisme. Orang yang tak paham akan mengira bahwa menulis itu gampang. Ternyata tak sesederhana itu. Sebuah cerpen bisa berkali-kali ditolak dan harus ditulis ulang sebelum akhirnya diterima. Sebuah naskah buku bisa disingkirkan oleh banyak redaksi, menjalani lusinan perombakan, sebelum akhirnya berhasil naik cetak. Ada proses panjang untuk mengubah yang amatir menjadi profesional. Kalaupun kini banyak buku yang terbit secara indie [tulis sendiri, modal sendiri, cari percetakan sendiri, promo sendiri, jual sendiri], tentu kualitasnya tak bisa disejajarkan dengan buku terbitan percetakan mayor [Gr****ia, Be***ng P*****a, dll]. Absennya proses pematangan berpengaruh pada kualitas isinya. Hidup kekristenan pun butuh proses untuk menuju kedewasaan. Seperti yang dialami Yusuf, kombinasi pengalaman yang menyakitkan dan menggembirakan, kegagalan dan keberhasilan, dirancang Tuhan untuk membawa umat-Nya berpindah dari tahap anak-anak ke tahap dewasa. Tak ada kebetulan, semua sudah terencana. Tak bisa dipangkas, semua ada waktunya. Jadi, jalanilah proses yang disediakan Tuhan. Belajar mengatasi kesedihan tanpa menyalahkan. Belajar mengatasi kemarahan tanpa mengutuk. Belajar mengatasi kegagalan tanpa putus harapan. Belajar menikmati kebahagiaan tanpa lupa diri. Belajar menikmati keberhasilan tanpa tinggi hati. Mari menjadi dewasa di dalam Tuhan.
Dalam dua bulan ini kita diingatkan, dididik dan diajar Tuhan melalui tema yang ada untuk menjadi jemaat yang bertumbuh dan dewasa dalam kehidupan rohani kita. Sebagaimana tema di atas, mengapa kita harus bertumbuh dan dewasa dalam kehidupan rohani? Untuk menjawab pertanyaan tersebut ada sebuah cerita. Suatu ketika ada seorang pemuda-pemudi yang menjalin hubungan kasih sampai suatu saat mereka memutuskan untuk membina rumah tangga. Setelah hidup berumah tangga, keluarga tersebut dikaruniai anak-anak. Tentu sebagai orang tua yang baik, mereka tidak hanya memberi perhatian dan kebutuhan bagi anak-anaknya, tetapi juga mengharapkan anak-anak mereka bertumbuh dengan baik. Demikian juga dengan kehidupan rohani kita. Bertumbuh dan menjadi dewasa merupakan hal alami yang harus terjadi [Ibrani 5:12]. Dan lebih dari itu dalam nats bacaan di atas Paulus memberi penjelasan bahwa dengan pertumbuhan dan kedewasaan rohani, Allah ingin mempercayakan tanggung jawab dan setiap orang yang dewasa akan terlepas dari kehidupan yang berdosa, tidak takluk kepada roh-roh dunia, dan mampu membedakan yang baik dan yang jahat [Ibrani 5:14]. Selamat bertumbuh dan menjadi dewasa sehingga Allah dapat mempercayakan hal-hal yang lebih besar dalam hidup kita. Mari kita tidak hanya menjadi tua, tetapi juga mau menjadi dewasa. Tuhan memberkati kita semua.
Saat Haman yang ’gila hormat’ itu tahu bahwa Mordekhai berkebangsaan Yahudi, maka Haman mencari cara untuk membinasakan seluruh bangsa Yahudi karena terlalu hina baginya jika hanya membunuh Mordekhai. Dengan kelicikannya Haman mendapat ijin dari raja untuk membinasakan seluruh bangsa Yahudi. Ketika Mordekhai dan seluruh bangsa Yahudi mendengar berita itu, maka mereka mengadakan perkabungan besar. Mordekhai memakai pakaian kabung dan duduk di pintu gerbang istana. Mordekhai ingin memberitahukan hal itu kepada Ester, karena Ester tidak mengetahui akan hal itu. Saat mengetahui hal itu hati Ester menjadi kuatir dan tidak tahuharus berbuat apa, tetapi ia berusaha untuk tetap tenang. Inilah untuk pertama kalinya Ester berhadapan dengan masalah yang serius. Masalah ini merupakan ujian yang mendewasakan sikap Ester. Kedewasaan sikap Ester terlihat dalam dua hal, yaitu: pertama, tetap tenang ketika berhadapan dengan masalah. Saat itu Ester tidak mempunyai teman untuk diajak diskusi mencari jalan keluar dari masalah yang sedang dihadapinya tetapi ia tetap tenang dan tidak panik. Kedua, bertindak bijaksana. Ester bertindak sangat bijaksana saat mengirimkan Hatah untuk bertanya jawab dengan Mordekhai. Orang yang dewasa tidak bertindak gegabah melainkan bertindak bijak dengan kepala yang dingin dan hati yang tenang. Mungkin saat ini Anda sedang menghadapi persoalan yang berat. Anda tidak menemukan orang yang tepat untuk diajak bertukar pikiran. Anda tidak perlu panik dan berputus asa. Ingatlah bahwa seluruh masalah diijinkan Tuhan terjadi di dalam hidup kita untuk mendewasakan kita. Jangan lari dari masalah mintalah kekuatan dan hikmat kepada Tuhan di dalam mencari jalan keluarnya. Jika Anda tetap tenang dan berusaha menyelesaikannya dengan bijak maka Anda akan mendapat kemenangan.
’Dia bertobat lantaran kesaksianku!’ ’Penyakitnya sembuh karena aku yang mendoakan!’ ’Dia kembali ke gereja karena aku yang gigih mengajaknya!’ Pernyataan-pernyataan semacam itu kerap dilontarkan oleh orang-orang yang belum dewasa di dalam Kristus. Meskipun sudah puluhan tahun menyatakan diri sebagai umat Kristiani. Meskipun sudah malang melintang dalam pelayanan di gereja. Meskipun ada yang sudah menyandang predikat rohaniwan. Tetap saja sering terlontar pernyataan yang menggambarkan sikap ketidakdewasaan. ’Aku menanam, Apolos menyiram, tetapi Allah yang memberi pertumbuhan.’ demikian ujar Paulus dalam 1 Korintus 3:6. Kadang orang beriman lupa bahwa di dalam melayani Tuhan, ia tidak bekerja sendirian. Apabila seseorang bertobat karena kesaksian seorang Kristen, bukan berarti itu adalah hasil jerih lelah satu orang saja. Besar kemungkinan ia pernah mendengar tentang Injil jauh sebelumnya. Pernah mendengar pesan yang menyentuh dari lagu rohani, entah lewat radio atau dari CD player tetangga. Pernah dibawa dalam doa oleh orang-orang Kristen lain juga. Dan yang terpenting adalah Tuhan yang menjamah hatinya. Semua itu berperan dalam pertobatannya. Seorang Kristen yang dewasa adalah orang yang menyadari bahwa pekerjaan Tuhan adalah ’team work’, bukan ’one man show’. Setiap orang bahu-membahu mengerjakan pekerjaan Tuhan. Setiap orang melakukan bagiannya dalam pelayanan. Keberhasilan adalah hasil usaha bersama, bukan jasa satu atau dua orang saja. Dan yang terpenting adalah Allah-lah yang menjadi penentu keberhasilan atas segala yang kita kerjakan.
BARCODE BBM CHANNELS
RENUNGAN HARIAN
Jangan Lagi Minum Susu Tapi Makanan Yang Keras
11 November '16
Berani Bertumbuh Dewasa
19 November '16
Jadilah Anak-Anak Dalam Kejahatan
23 November '16
Copyright © 2012 All rights reserved. Designed and Developed by GIA Dr. Cipto Semarang