SEPEKAN TERAKHIR
  Selasa, 31 Mei 2016   -HARI INI-
  Senin, 30 Mei 2016
  Minggu, 29 Mei 2016
  Sabtu, 28 Mei 2016
  Jumat, 27 Mei 2016
  Kamis, 26 Mei 2016
  Rabu, 25 Mei 2016
POKOK RENUNGAN
Yesus adalah pemersatu kita untuk menjadi satu saudara seiman yang saling mengasihi, sehingga berkat-berkat tercurah karena satu kasih persaudaraan dalam Kristus.
DITULIS OLEH
Bp. Andreas T. Loso
Rohaniwan Pusat
Renungan Lain oleh Penulis:
Home  »  Renungan  »  Hidup Rukun
Hidup Rukun
Kamis, 21 Februari 2013 | Tema: Komunitas Yang Menebarkan Kasih
Hidup Rukun
Mazmur 133:1-3
Ada banyak suku bangsa di Indonesia, seperti Minahasa, Batak, Tiong Hwa, dan lainnya yang mengenakan nama marga, yaitu nama yang melekat di belakang atau depan nama seseorang. Ketika dua orang bertemu di suatu daerah peratauan dan mempunyai nama marga yang sama, maka dapat dipastikan mereka akan nampak begitu akrab, bahkan mereka akan menelusuri silsilah keluarga untuk mengetahui hubungan kekerabatan di antara mereka. Biasanya mereka yang diperantauan yang berasal dari satu marga akan membentuk komunitas agar tetap rukun satu sama lainnya.
Sebagai warga kerajaan Allah, semua orang percaya mempunyai hubungan darah satu sama lain, yaitu oleh penebusan darah Yesus Kristus. Sekalipun Tuhan menempatkan kita di kota atau daerah yang berbeda, juga di gereja yang berbeda, tetapi kita t...selengkapnya »
Waktu saya masih kecil, ketika keluarga saya belum mengenal Kristus, ayah sering mengajak saya ke kubur kakek dan nenek. Yang dilakukan ayah adalah membersihkan makam benar-benar bersih sampai tak tertinggal kotoran apapun. Setelah itu ayah berdoa, memohon kepada arwah kakek nenek agar diberi kelencaran dan berkat dalam seluruh kehidupan kami. Perintah ayah yang sampai saat ini tidak terlupakan ketika masuk kuburan adalah mandi bersih, berpakaian bersih, dan ketika masuk lingkungan area kubur harus melepas alas kaki sebagai tanda hormat kepada rumah, penunggu kubur, dan roh kakek nenek kami. Karena rasa hormat kepada roh nenek moyang dan kuburan, maka kami mengkhusyukkan diri berdoa dan membersihkan diri sebelum masuk ke pekuburan. Inilah yang kami lakukan sebelum bertobat dan percaya Kristus. Setelah percaya Yesus Kristus, saya memandang apa yang kami lakukan waktu itu adalah sesuatu yang sia-sia. Saat itu, untuk hal yang sia-sia saja, kami harus membersihkan diri, melepas alas kaki menjaga kebersihan kubur sebagai rasa hormat kepada roh kubur. Lalu bagaimana dengan kekristenan kita yang tidak akan pernah sia-sia? Yesus Kristus tidak saja hanya mati, tetapi Dia telah bangkit dan hidup selamanya. Melalui pengorbanan-Nya kita telah dibersihkan dari dosa. Melalui kebangkitan-Nya kita beroleh kemenangan. Dan melalui Roh Kudus kita memperoleh penyertaan-Nya. Maka menjaga kekudusan hidup kita, itu suatu KEHARUSAN. Oleh sebab itu bagi orang percaya, hidup kudus adalah suatu kewajaran. Masalahnya, kita kerap menganggap nats hari ini sebagai suatu perintah. Kita membacanya sebagai: ’Sebab Aku kudus, maka kamu harus berusaha hidup dengan kudus.’ Dan mungkin kita merasa putus asa ketika sudah berusaha sekuat tenaga, namun rasanya tidak ‘kudus-kudus’ juga. Akan sangat berbeda efeknya jika kita memahaminya sebagai sebuah janji. Firman itu menyatakan: ’Sebab Aku kudus, maka kamu adalah orang kudus kepunyaan-Ku.’ Kekudusan adalah anugerah Allah. Ketika kita percaya kepada penebusan oleh darah yang mahal, yaitu darah Kristus [ay. 19], maka kita menerima identitas yang baru, yaitu orang kudus. Identitas baru ini akan mengubah pemahaman, sikap, dan perilaku kita hari demi hari, memampukan kita hidup kudus. Sebaliknya, berbuat dosa adalah penyimpangan dari identitas sejati kita. Sekarang yang menjadi tantangan kita adalah selalu bercermin dan memandang kepada anugerah Allah, serta tidak melupakannya sehingga kita akan selalu menyadari identitas baru kita. Dengan pimpinan Roh Kudus, kesadaran baru tersebut akan menggugah kita untuk hidup berpadanan dengan identitas tersebut. Dengan identitas baru sebagai orang kudus, maka kita akan dikuatkan dan diingatkan untuk selalu menjaga setiap sisi hidup kita untuk hidup seturut kehendak Allah.
Pemisahan dari yang jahat adalah dasar dalam hubungan Allah dengan umat-Nya. Pemisahan ini meliputi dua dimensi: pertama, memisahkan diri secara moral dan rohani dari dosa dan dari segala sesuatu yang bertentangan dengan Yesus Kristus, kebenaran dan Fiman Allah. Kedua, mendekatkan diri kepada Allah dalam satu persekutuan yang akrab dan intim melalui penyerahan diri, penyembahan, dan pelayanan. Pemisahan ini menghasilkan suatu hubungan di mana Allah menjadi Bapa Sorgawi kita yang hidup bersama kita sebagai Allah kita; dan sebaliknya kita menjadi anak-anakNya laki-laki dan perempuan [2 Korintus 6:17-18] Dalam Perjanjian Lama, pemisahan merupakan tuntutan Allah bagi umat-Nya. Mereka harus menjadi kudus, berbeda dan terpisah dari semua bangsa lain supaya menjadi milik Allah sendiri. Allah menghukum dan membuang mereka ke Asyur dan Babilonia karena mereka bersikeras ingin menyesuaikan diri dengan penyembahan berhala dan gaya hidup yang fasik dari bangsa-bangsa di sekitar mereka. Dalam Perjanjian Baru, Allah memerintahkan orang percaya untuk memisahkan diri dari: sistem dunia yang jahat dan tindakan kompromi yang tidak kudus; dari orang-orang dalam jemaat yang berbuat dosa dan menolak untuk bertobat; dari guru, jemaat dan kepercayaan palsu yang mengajarkan hal yang salah dan menyangkal kebenaran Alkitabiah. Maksud dari pemisahan ini adalah agar sebagai umat Allah kita dapat bertekun dalam keselamatan, iman, dan kekudusan; kita hidup semata bagi Allah sebagai Tuhan dan Bapa kita; menginsafkan dunia yang tidak percaya ini akan kebenaran dan berkat-berkat Injil. Penolakan orang percaya untuk memisahkan diri dari yang jahat pasti akan mengakibatkan hilangnya persekutuan dengan Allah, penerimaan oleh Bapa, dan hak-hak kita sebagai anak.
Di hutan-hutan Eropa bagian utara dan Asia hiduplah ermine, binatang lucu yang setiap musim dingin tiba warna bulunya berubah menjadi seputih salju. Binatang ini sangat melindungi kebersihan bulunya sampai-sampai ketika terpojok oleh para pemburu ia lebih rela mati daripada bersembunyi di tempat yang kotor. Selama menjalani kehidupan ini tak terhitung betapa seringnya kita diperhadapkan pada situasi yang mengharuskan kita untuk memilih. Memanjakan keinginan daging ... atau bertahan hidup dalam kekudusan. Bila kita renungkan, entah sudah berapa kali kita memilih menyerah pada keadaan daripada berjuang mempertahankan kekudusan. Sebagai anak-anak Tuhan, kita diarahkan untuk hidup sebagai anak-anak yang taat dan tidak membiarkan diri dikuasai hawa nafsu [1 Petrus 1:14]. Sangat penting untuk menjadi kudus di dalam seluruh aspek kehidupan kita, sama seperti Tuhan yang memanggil kita adalah kudus [ayat 15]. Demikian utamanya kekudusan itu sehingga dikatakan bahwa tanpa kekudusan tidak seorang pun akan melihat Tuhan [Ibrani12:14]. Kekudusan tidak dibatasi oleh situasi dan tempat. Kekudusan terpancar dalam keadaan aman maupun genting. Kekudusan tidak hanya ada di dalam lingkup tembok gereja. Ketika Tuhan menyucikan hati kita, maka saat berada di pasar pun kita bias sekudus saat kita berada di rumah ibadah [Martin Luther]. Kekudusan yang diperjuangkan dengan sungguh-sungguh itu merambah keluar dari naungan atap-atap gereja.
Dalam realitas bisa dijumpai orang non kristen yang mempunyai kualitas mental yang baik yang ditandai antara lain: mempunyai gambar diri yang positif, bisa menerima dan menyesuaikan diri dengan lingkungan, mempunyai daya tahan untuk menghadapi tantangan atau problem hidup, bisa hidup harmonis dalam keluarga dan masyarakat. Mereka dikenal sebagai orang baik yang menaati hukum dan nilai moral kemasyarakatan. Mereka bisa tidak “manja” dalam menghadapi buas dan ganasnya kehidupan ini. Tidak jarang dijumpai orang kristen yang justru “manja” dalam menghadapi hidup ini. Hal ini disebabkan karena tidak mengenal kebenaran. Mereka berharap keadaan selalu sesuai dengan keinginannya, hidup lebih mudah dan nyaman. Tidak menyadari bahwa dunia ini telah terkutuk dan semakin fasik [Kejadian 3:17; 2 Timotius 3:1-5]. Pola pikir ini juga dipicu oleh pemahaman yang salah terhadap Kebenaran Injil. Yang terpateri dalam pikiran adalah bagian dan tanggung jawab Tuhan terhadap hidup mereka melalui kasih, kuasa dan kebaikan Tuhan. Seakan-akan memiliki hak istimewa untuk bisa mengarungi hidup ini lebih mudah dan nyaman. Jauh dari berbagai problem. Pola pikir seperti ini akan membuat orang percaya tidak bertumbuh dewasa mental. Tuhan memang kasih, berkuasa, dan baik, namun tidak untuk dimanfaatkan sesuai keinginan kita. Tuhan menebus kita lunas dengan harga yang mahal untuk keselamatan kita, yaitu dikembalikan kepada rancangan-Nya semula, menjadi serupa dengan diri-Nya [Kejadian 3:27]. Berarti kita harus berproses untuk menjadi sempurna seperti Bapa [Matius 5:48], kudus dan tidak bercacat di hadapan-Nya [Efesus 1:4], mengambil bagian dalam kodrat ilahi [2 Petrus 1:4], dan memiliki pribadi Kristus [Roma 8:29]. Inilah pada hakekatnya suatu kedewasaan rohani yang harus menjadi target utama orang percaya. Kedewasaan rohani adalah kemampuan untuk bisa mengerti dan melakukan kehendak Tuhan, sehingga dapat hidup berkenan di hadapan Bapa. Untuk bertumbuh dewasa rohani harus didahului oleh kedewasaan mental. Orang yang dewasa rohani menyadari bahwa dirinya mempunyai bagian dan tanggung jawab dalam hidup ini. Mereka memandang problem hidup adalah bagian dari berkat Tuhan, bagian dari nutrisi jiwa yang memproses seseorang bertumbuh makin dewasa. Landasan sikap yang diperlukan adalah mengucap syukur dalam segala hal [Efesus 5:20]. Bapa sudah menyediakan fasilitas untuk pertumbuhan rohani, yaitu Roh Kudus, kebenaran Injil, dan penggarapan Bapa melalui problem hidup sehari-hari.
BARCODE BBM CHANNELS
RENUNGAN HARIAN
Keluar Dari Naungan Atap Gereja
09 Mei '16
Dan Jangan Berbuat Dosa Lagi Mulai Dari Sekarang
20 Mei '16
Menyatakan Kebenaran
14 Mei '16
Copyright © 2012 All rights reserved. Designed and Developed by GIA Dr. Cipto Semarang