SEPEKAN TERAKHIR
  Selasa, 28 Maret 2017   -HARI INI-
  Senin, 27 Maret 2017
  Minggu, 26 Maret 2017
  Sabtu, 25 Maret 2017
  Jumat, 24 Maret 2017
  Kamis, 23 Maret 2017
  Rabu, 22 Maret 2017
POKOK RENUNGAN
Yesus adalah pemersatu kita untuk menjadi satu saudara seiman yang saling mengasihi, sehingga berkat-berkat tercurah karena satu kasih persaudaraan dalam Kristus.
DITULIS OLEH
Bp. Andreas T. Loso
Rohaniwan Pusat
Renungan Lain oleh Penulis:
Home  »  Renungan  »  Hidup Rukun
Hidup Rukun
Kamis, 21 Februari 2013 | Tema: Komunitas Yang Menebarkan Kasih
Hidup Rukun
Mazmur 133:1-3
Ada banyak suku bangsa di Indonesia, seperti Minahasa, Batak, Tiong Hwa, dan lainnya yang mengenakan nama marga, yaitu nama yang melekat di belakang atau depan nama seseorang. Ketika dua orang bertemu di suatu daerah peratauan dan mempunyai nama marga yang sama, maka dapat dipastikan mereka akan nampak begitu akrab, bahkan mereka akan menelusuri silsilah keluarga untuk mengetahui hubungan kekerabatan di antara mereka. Biasanya mereka yang diperantauan yang berasal dari satu marga akan membentuk komunitas agar tetap rukun satu sama lainnya.
Sebagai warga kerajaan Allah, semua orang percaya mempunyai hubungan darah satu sama lain, yaitu oleh penebusan darah Yesus Kristus. Sekalipun Tuhan menempatkan kita di kota atau daerah yang berbeda, juga di gereja yang berbeda, tetapi kita t...selengkapnya »
Setiap manusia pasti memiliki pengalaman hidup yang bermacam-macam dan berbeda satu dengan yang lainnya. Setiap pengalaman yang dialami, baik itu pengalaman yang menyenangkan maupun menyedihkan pasti akan meninggalkan kesan yang berbeda. Terkadang pengalaman yang telah dialami akan ikut mempengaruhi sikap hidup seseorang ke depannya. Misalnya, seseorang akan menjadi lebih berhati-hati ketika berkendara karena pernah mengalami kecelakaan. Atau seseorang tidak akan mudah percaya kepada orang lain ketika pernah dibohongi. Pengalaman bisa menjadi pelajaran penting bagi manusia untuk bertindak lebih baik lagi di hari depan. Dan menjadikannya tidak sembarangan untuk mengambil langkah-langkah kehidupan ketika diperhadapkan pada banyak pilihan dalam hidup Ketika kita melihat kembali apa yang dialami Daud pada saat ia dikejar-kejar oleh musuh yang ingin membunuhnya, pada saaat itu juga Daud mengalami pengalaman bersama Tuhan. Dalam 2 Samuel 22:1-7 dituliskan menganai ucapan syukur Daud ketika ia telah dibebaskan oleh Tuhan dari cengkraman musuh-musuhnya. Bahkan kesulitan yang Daud alami digambarkan seperti tali-tali dunia orang mati yang membelitnya, namun Tuhan tidak membiarkan dia celaka. Tuhan mendengar seruan doa yang Daud sampaikan. Bagaimana Daud bisa bertahan menghadapi musuh-musuhnya tidak lain karena dia tetap mengikuti jalan Tuhan dan tidak menjauhkan diri dari jalan-Nya [ayat 22], dia memperhatikan segala hukum-Nya dan tidak menyimpang dari ketetapannya [ayat 23], dia berlaku tidak bercela dan menjaga diri terhadap kesalehan [ayat 24]. Pengalaman yang dialami oleh Daud menjadikan dia semakin dekat dengan Allah dan semakin beriman kepada-Nya. Orang yang benar-benar mengalami pengalaman bersama Tuhan atau orang yang mengalami Tuhan secara nyata akan memiliki konsistensi iman yang kuat dan tidak berubah-ubah dengan apa yang dialami. Ia akan tetap memiliki iman yang kuat ketika mengalami pengalaman yang pahit maupun manis. Kita bisa mengalami Tuhan ketika hidup kita selalu dekat dengan-Nya, tidak menyimpang dari ketetapan-Nya, dan berlaku tidak bercela dan menjaga diri terhadap kesalehan.
Tidak ada makan siang gratis. Ungkapan tersebut menggambarkan bahwa segala sesuatu ada harga yang harus dibayar. Ada pertanggung-jawaban yang harus diberikan di akhir kehidupan ini [Roma 14:12, 2 Korintus 5:9-10]. Sejak awal penciptaan, Adam dan Hawa diberi mandat yang harus ditunaikan, yaitu mengelola dan menaklukkan bumi, tentunya termasuk menaklukkan Lusifer, musuh Allah [Kejadian 1:28]. Sayangnya mereka gagal karena tidak mau membayar harga untuk taat mutlak kepada Allah. Banyak orang percaya berpikir menyimpang, bahwa karya penebusan Tuhan Yesus menghindarkan manusia dari tanggung jawab dan membuat kehidupan serba gratis. Sebetulnya justru anugerah membawa manusia pada tanggung jawab yang berat [Lukas 12:48]. Anugerah memberikan hak istimewa supaya orang percaya bisa dibentuk dan hidup sebagai anak-anak Allah yang harus sempurna seperti Bapa [Yohanes 1:12; Matius 5:48]. Rasul Paulus menegaskan bahwa orang percaya berhutang untuk hidup bukan menurut daging, melainkan menurut roh [Roma 8:12]. Hidup menurut roh artinya segala sesuatu yang dilakukan sesuai dengan kehendak Bapa, supaya hidup umat tebusan memberi buah kehidupan [Yohanes 15:16]. Buah kehidupan adalah menjadi pribadi yang berkodrat ilahi seperti yang diinginkan oleh Bapa, hidup berkenan dan menyenangkan hati-Nya. Tuhan sudah memberikan kesempatan kepada masing-masing orang percaya. Anugerah untuk menjadi anak-anak Allah telah disediakan gratis oleh Allah Bapa, tetapi orang percaya harus memberi respon/”membayar harga” untuk bisa mengalami anugerah tersebut dan benar-benar berkeadaan sebagai anak Allah.
Yakobus 1:22 menyatakan “Tetapi hendaklah kamu menjadi pelaku firman dan bukan hanya pendengar saja; sebab jika tidak demikian kamu menipu diri sendiri.” Ayat ini tidak bermaksud mengadakan pembedaan antara pelaku dan pendengar firman. Kata-kata ‘...dan bukan pendengar saja’ menunjukkan bahwa siapa pun orang Kristen tidak hanya berhenti pada mendengar firman saja. Memang mendengar firman adalah awal yang benar, tetapi belum selesai sebab kalau hanya sampai di situ saja, firman Tuhan berkata ‘..kamu menipu diri sendiri’. Kepala manggut-manggut, wajah berseri, mulut tertawa, mata terbelalak lebar ketika mendengarkan firman sebagai bentuk umpan balik. Pertanda bahwa firman telah ditangkap dengan baik, pengkhotbah pun lega. Tetapi ketika keluar dari kebaktian semua yang didengarnya dengan cepat terlupakan, dan kembali hidup dalam kebiasaan lama yang tidak sesuai firman yang didengarnya, itulah menipu diri sendiri. Tetapi ada juga ekstrim kedua: ketika jam ibadah, kagak pernah dengerin firman. Kalaupun duduk maka melakukan aktivitas lain. Ada saja yang dilakukan. Tetapi kalau soal angkat-angkat kursi, angkut-angkut barang, persiapan bagian perlengkapan dalam acara program gereja jangan tanya tiada duanya, rajin luar biasa. Tipe seperti ini sangat disukai banyak orang karena semua dikerjakan dengan baik. Banyak acara kelar dan setiap kali ada acara gereja selalu saja ada tipe seperti ini. Salahkah? Tidak! Tetapi tidak cukup berhenti sampai di situ saja. Lalu bagaimana? Tentu saja pada saat-saat tertentu kita harus bisa bersikap seperti Maria, yaitu duduk tenang mendengar firman Tuhan, tetapi di lain waktu kita harus bisa bersikap seperti Marta. Artinya kita juga memiliki semangat mengerjakan banyak hal, namun demikian harus ada urutan yang tepat. Yang pertama, kita harus bersedia bersikap seperti Maria, yaitu mendengar firman Tuhan. Dan kedua, kita harus berusaha keras untuk melakukan apa yang kita dengar, yaitu firman Tuhan itu. Dengan demikian hal ini bukan satu pilihan di antara dua, tetapi dua-duanya harus kita lakukan, yaitu mendengar firman dan kemudian kita melakukannya.
Pernahkah kita mengucap syukur kepada Tuhan untuk ’pintu-pintu’ yang tertutup sebagaimana kita mengucap syukur untuk ’pintu-pintu’ yang terbuka? Sekarang ini mungkin kita sedang bertanya-tanya, ’Mengapa Tuhan tidak mengabulkan doaku, mengapa Tuhan tidak memberkatiku?’ ’Mengapa usahaku gagal lagi?’ Pertanyaan-pertanyaan seperti ini seringkali muncul dalam pikiran kita ketika impian dan cita-cita kita tidak terjadi. Tetapi apakah kita pernah memikirkan bahwa setiap kali Tuhan menutup sebuah pintu, sebenarnya Ia sedang mengarahkan kita kepada pintu lain di mana berkat yang lebih baik sedang menunggu kita? Satu-satunya alasan mengapa Tuhan menutup pintu bagi kita, yaitu karena di balik pintu itu tidak tersedia apa-apa bagi kita. Atau mungkin juga ada sesuatu, tetapi hal itu tidak akan membawa kebaikan bagi kita. Percayalah bahwa Tuhan selalu merancangkan damai sejahtera dan kebaikan bagi kita. Pernahkah kita bertanya, mengapa seorang tukang burung harus menyelimuti sangkar burungnya dengan sehelai kain saat melatih burung itu untuk bernyanyi dan mengeluarkan suara-suara yang indah dan merdu? Konon dengan menutupi sangkar burung sehingga keadaan di dalamnya menjadi gelap, hal ini akan mempermudah burung tersebut berkonsentrasi sehingga ia bisa bernyanyi dengan kualitas suara yang lebih baik. Tuhan seringkali melakukan hal yang sama terhadap kita dengan maksud menjadikan kita lebih maju, lebih diberkati, lebih berkualitas dan lebih dewasa. Ketika Tuhan menutup ’pintu’, kita seakan-akan berada dalam kegelapan dan jalan buntu. Tuhan harus melakukan itu karena dalam keadaan demikianlah kita akan belajar sesuatu yang lebih berarti. Mungkin belajar tentang penundukkan diri, kerendahan hati, kesabaran atau penyerahan total kepada Tuhan. Pintu-pintu yang tertutup bukan berarti Tuhan menghukum atau tidak mengasihi kita. Sebaliknya pintu-pintu yang tertutup itu akan membawa kita pada sesuatu yang lebih baik yang Ia sediakan dan pada pengenalan yang lebih dalam lagi akan Dia. Sekalipun kita seringkali diperhadapkan pada ’pintu-pintu’ yang tertutup, percayalah bahwa Ia akan selalu membuktikan diri-Nya setia dari waktu ke waktu.
BARCODE BBM CHANNELS
RENUNGAN HARIAN
Gagal Fokus
08 Maret '17
Mengalami Tuhan Secara Nyata
20 Maret '17
Membayar Harga Menjadi Anak Allah
02 Maret '17
Copyright © 2012 All rights reserved. Designed and Developed by GIA Dr. Cipto Semarang