SEPEKAN TERAKHIR
  Kamis, 20 Juli 2017   -HARI INI-
  Rabu, 19 Juli 2017
  Selasa, 18 Juli 2017
  Senin, 17 Juli 2017
  Minggu, 16 Juli 2017
  Sabtu, 15 Juli 2017
  Jumat, 14 Juli 2017
POKOK RENUNGAN
Yesus adalah pemersatu kita untuk menjadi satu saudara seiman yang saling mengasihi, sehingga berkat-berkat tercurah karena satu kasih persaudaraan dalam Kristus.
DITULIS OLEH
Bp. Andreas T. Loso
Rohaniwan Pusat
Renungan Lain oleh Penulis:
Home  »  Renungan  »  Hidup Rukun
Hidup Rukun
Kamis, 21 Februari 2013 | Tema: Komunitas Yang Menebarkan Kasih
Hidup Rukun
Mazmur 133:1-3
Ada banyak suku bangsa di Indonesia, seperti Minahasa, Batak, Tiong Hwa, dan lainnya yang mengenakan nama marga, yaitu nama yang melekat di belakang atau depan nama seseorang. Ketika dua orang bertemu di suatu daerah peratauan dan mempunyai nama marga yang sama, maka dapat dipastikan mereka akan nampak begitu akrab, bahkan mereka akan menelusuri silsilah keluarga untuk mengetahui hubungan kekerabatan di antara mereka. Biasanya mereka yang diperantauan yang berasal dari satu marga akan membentuk komunitas agar tetap rukun satu sama lainnya.
Sebagai warga kerajaan Allah, semua orang percaya mempunyai hubungan darah satu sama lain, yaitu oleh penebusan darah Yesus Kristus. Sekalipun Tuhan menempatkan kita di kota atau daerah yang berbeda, juga di gereja yang berbeda, tetapi kita tetap satu di dalam Kristus. Kita harus membina kerukunan di antara saudara seiman.

Sebagai warga negara Indonesia, tanpa melihat latar belakang suku dan agama atau kepercayaan, kita harus membangun kerukunan dengan satu sama lainnya. Rahasia berkat Tuhan yang luar biasa adalah jika kita hidup rukun, baik dalam keluarga sendiri, antara saudara se...selengkapnya »
Saya mengenalnya sebagai pribadi yang paling taat beribadah di keluarga besar Ayah. Segala tindak tanduk dan perkataannya mencerminkan bahwa ia adalah pribadi yang takut akan Tuhan. Saat saya pindah ke Semarang, adik ayah saya inilah yang rajin memaketkan buku-buku berbahasa Inggris dan cerita-cerita rohani yang mengakrabkan saya dengan kisah-kisah dari Alkitab. Tante adalah salah satu pelita yang Tuhan tempatkan untuk menuntun saya pada terang-Nya. Setelah Tante menikah dan dikaruniai seorang putra, kabar mengejutkan itu datang. Tante terserang kanker rahim. Rahimnya terpaksa diangkat. Setelah melalui perjuangan yang panjang dan meletihkan ... lagi-lagi ia terdeteksi mengidap kanker payudara. Satu payudara terpaksa diangkat. Lalu kedua-duanya. Seluruh keluarga dilingkupi kesedihan. Di tengah himpitan beban itu, Tante menunjukkan ketegaran yang luar biasa. Ia tidak berkeluh kesah apalagi bersungut-sungut. Ia tetap memberi perhatian kepada orang lain, tetap menjalani hidup dengan sebaik-baiknya. Ajaib benar. Hanya orang yang betul-betul menerima dan merasakan pertolongan dari Roh Kuduslah yang sanggup bersikap demikian. Karya Roh Kudus sering kali hanya dilihat melalui manifestasinya. Namun sebenarnya Roh Kudus bekerja jauh lebih dalam dan menyeluruh di dalam hidup orang yang dipenuhi-Nya. Ia memberi kemampuan kepada umat Tuhan untuk tetap menjadi saksi dalam segala situasi dan kondisi. Dan kuasa dari kesaksian hidup itu sanggup meruntuhkan benteng-benteng keraguan dan ketidakpercayaan. Berbahagialah umat yang dikaruniai kuasa oleh Roh Kudus untuk menjadi saksi-Nya.
Ada seorang tukang becak sempat dimarahi teman-temannya, dan bahkan istrinya pun pernah memarahinya. Penyebabnya yaitu, ketika awal memulai pekerjaannya sebagai tukang becak, dia tidak pernah mematok tarip kepada setiap penumpangnya. Dia selalu menerima berapapun yang dibayarkan oleh penumpangnya. Ternyata kebiasaannya yang sempat membuat marah sesama tukang becak ini membuahkan hasil. Setiap orang yang pernah diantarnya, menjadi pelanggan setianya. Dan ketika membayar pun selalu memberi dengan uang lebih. Yang membahagiakan bapak becak adalah ketika hari-hari raya dia kebanjiran berkat yang bermacam-macam bentuknya. Melalui cerita pengalaman di atas, saya teringat dengan keberanian Rahab ketika ia menyembunyikan para pengintai dari Israel [Yosua 1:1-24]. Ia telah banyak mendengar tentang Allah orang Israel. Hal itu seringkali membuat batinnya berkecamuk, tetapi pikirannya terus bekerja. Apa yang harus dilakukannya kepada kedua orang pengintai itu? Ia memikirkan berbagai kemungkinan yang dapat muncul. Jika ia ketahuan menyembunyikan para pengintai, maka kematiannya dan keluarganya yang akan diperolehnya. Namun ia tahu bahwa ia harus mengambil keputusan yang tepat dengan berani. Akhirnya ia memutuskan untuk menyembunyikan kedua pengintai itu di bawah timbunan batang rami yang ditebarkan di atas sotoh rumahnya. Tentunya keberanian menolong dua pengintai dengan segala resikonya patut menerima upah yang sepadan. Rahab, si perempuan sundal itu, tidak hanya memikirkan dirinya sendiri, tetapi juga seluruh anggota keluarganya [Yosua 2:12-14]. Dan upah keberanian Rahab, yaitu ketika Yerikho direbut Israel, maka ia dan seluruh kaum keluarganya mendapat pembebasan dan tinggal di tengah-tengah orang Israel [Yosua 6:25]. Apa yang dilakukan Rahab seperti pernyataan Salomo [Pengkhotbah 11:1], “Lemparkanlah rotimu ke air, maka engkau akan mendapatnya kembali lama setelah itu.” Ini adalah salah satu kunci sukses yang dimiliki oleh Salomo. Dia menjadi Raja yang kaya raya karena kesungguhannya ketika berbuat sesuatu. Artinya, apa yang kita usahakan dengan sungguh, segenap hati, dan ikhlas akan membuahkan keberhasilan. Walaupun mungkin dianggap sesuatu yang remeh, tetapi ketika kita melakukannya dengan niat baik tulus, maka suatu saat, tanpa kita harapkan, akan mendatangkan manfaat bagi diri kita. Bagaimana dengan kita sekarang, sudahkah memiliki keberanian dalam bertindak? Dalam setiap usaha, pergumulan, pekerjaan dan apapun yang kita rindukan harus dibarengi dengan keberanian untuk bertindak walaupun ada resiko yang harus kita ambil. Tentu saja harus disertai dengan iman bahwa Tuhan yang membuat berhasil. Seberapa banyak benih yang kita tabur akan menentukan seberapa banyak yang akan kita tuai jika dilakukan dengan sepenuh hati dan penuh iman. Pendek kata, keberhasilan yang kita dapatkan akan sebanding dengan pengorbanan yang kita lakukan.
Suatu sore di awal masa bekerja dulu, saya salah menaiki sebuah bus ke arah Boja padahal tujuan saya adalah pulang ke Ungaran. Ketika sadar bahwa saya keliru, bus yang saya tumpangi sudah terlanjur meluncur jauh dan memasuki daerah yang sepi. Saya memutuskan untuk turun dan menunggu angkutan umum untuk kembali ke Semarang. Menjelang petang barulah muncul angkutan umum yang saya tunggu-tunggu. Setelah naik dan duduk di samping seorang ibu yang akhirnya mengerti kesulitan saya, serta merta si ibu menjelaskan bahwa nanti setelah angkot berhenti saya harus berganti angkot nomor itu yang menuju ke jalan itu. Saya pun berterimakasih dan turun di tempat pemberhentian. Ternyata si ibu ikut turun dan mengantar saya sampai ke angkot yang dimaksud, lalu berpesan kepada sopir untuk mengantar saya ke jalan itu. Sesudah memastikan bahwa saya dalam keadaan aman, barulah si ibu pamit meninggalkan saya. Sampai dua puluh tahun kemudian saya masih terkesan akan pertolongan, kasih dan perhatian yang saya terima dari seorang ibu tak dikenal itu. Sang ibu tidak memasalahkan etnis dan agama. Sang ibu semata-mata melihat seorang yang butuh pertolongan dan langsung mengulurkan tangan. Sang ibu telah memperlakukan saya dengan kasih sebagai sesama manusia. Hendaklah kita sebagai umat Tuhan, terlebih lagi, taat pada Firman Tuhan. Mari mengasihi sesama manusia tanpa berhitung apakah mereka seetnis, seagama, segolongan, atau setara kedudukan sosial-ekonomi dengan kita.
Segala sesuatu dijadikan-Nya baik Markus 7:37 Mereka takjub dan tercengang dan berkata: ’Ia menjadikan segala-galanya baik, yang tuli dijadikan-Nya mendengar, yang bisu dijadikan-Nya berkata-kata.’ Kita bersyukur mempunyai Allah yang menjadikan segala-galanya baik. Kita dapat merasa aman mempercayakan hidup kita sepenuhnya kepada Dia, sebab Dia sudah merencanakan dan terus mengerjakan segala yang baik untuk kita. ’Kita tahu sekarang, bahwa Allah turut bekerja dalam segala sesuatu untuk mendatangkan kebaikan bagi mereka yang mengasihi Dia, yaitu bagi mereka yang terpanggil sesuai dengan rencana Allah.’ [Roma 8:28]. Apabila saat ini Anda merasa bahwa hidup Anda sedang dalam keadaan tidak baik. Apakah Anda mulai meragukan kebaikan Allah? Kembalilah meyakini kebenaran Fiman Tuhan, bahwa Dia selalu menginginkan dan mengerjakan apa yang baik dalam hidup kita. Firman Tuhan berkata: ’Setiap pemberian yang baik dan setiap anugerah yang sempurna, datangnya dari atas, diturunkan dari Bapa segala terang; pada-Nya tidak ada perubahan atau bayangan karena pertukaran.’ [Yakobus 1:17] Sebagai umat dari Allah yang menjadikan segala-galanya baik, marilah kita juga mengerjakan hal-hal yang baik dalam kehidupan kita, baik dengan perkataan atau perbuatan kita. ’Janganlah ada perkataan kotor keluar dari mulutmu, tetapi pakailah perkataan yang baik untuk membangun, di mana perlu, supaya mereka yang mendengarnya, beroleh kasih karunia.’ [Efesus 4:29] ’Karena kita ini buatan Allah, diciptakan dalam Kristus Yesus untuk melakukan pekerjaan baik, yang dipersiapkan Allah sebelumnya. Ia mau, supaya kita hidup di dalamnya.’ [Efesus 2:10] ’Janganlah membalas kejahatan dengan kejahatan; lakukanlah apa yang baik bagi semua orang!’ [Roma 12:17] Itulah nasihat Firman Tuhan yang harus kita ikuti, dan marilah kita bersyukur dan selalu merayakan kebaikan Tuhan setiap hari. Pdt. Goenawan Susanto
BARCODE BBM CHANNELS
RENUNGAN HARIAN
Yang Terbaik
23 Juni '17
Tumbuh Ke atas dan Ke bawah
02 Juli '17
Berakar Ke bawah Bertumbuh Ke atas1
14 Juli '17
Copyright © 2012 All rights reserved. Designed and Developed by GIA Dr. Cipto Semarang