SEPEKAN TERAKHIR
  Senin, 20 April 2015   -HARI INI-
  Minggu, 19 April 2015
  Sabtu, 18 April 2015
  Jumat, 17 April 2015
  Kamis, 16 April 2015
  Rabu, 15 April 2015
  Selasa, 14 April 2015
POKOK RENUNGAN
Yesus adalah pemersatu kita untuk menjadi satu saudara seiman yang saling mengasihi, sehingga berkat-berkat tercurah karena satu kasih persaudaraan dalam Kristus.
DITULIS OLEH
Bpk. Andreas T. Loso
Kontributor
Renungan Lain oleh Penulis:
Home  »  Renungan  »  Hidup Rukun
Hidup Rukun
Kamis, 21 Februari 2013 | Tema: Komunitas Yang Menebarkan Kasih
Hidup Rukun
Mazmur 133:1-3
Ada banyak suku bangsa di Indonesia, seperti Minahasa, Batak, Tiong Hwa, dan lainnya yang mengenakan nama marga, yaitu nama yang melekat di belakang atau depan nama seseorang. Ketika dua orang bertemu di suatu daerah peratauan dan mempunyai nama marga yang sama, maka dapat dipastikan mereka akan nampak begitu akrab, bahkan mereka akan menelusuri silsilah keluarga untuk mengetahui hubungan kekerabatan di antara mereka. Biasanya mereka yang diperantauan yang berasal dari satu marga akan membentuk komunitas agar tetap rukun satu sama lainnya.
Sebagai warga kerajaan Allah, semua orang percaya mempunyai hubungan darah satu sama lain, yaitu oleh penebusan darah Yesus Kristus. Sekalipun Tuhan menempatkan kita di kota atau daerah yang berbeda, juga di gereja yang berbeda, tetapi kita tetap satu di dalam Kristus. Kita harus membina kerukunan di antara saudara seiman.

Sebagai warga negara Indonesia, tanpa melihat latar belakang suku dan agama atau kepercayaan, kita harus membangun kerukunan dengan satu sama lainnya. Rahasia berkat Tuhan yang luar biasa adalah jika kita hidup rukun, baik dalam keluarga sendiri, antara saudara seiman, dan antar sesama manusia. Kalimat yang mengungkapkan adanya embun dari gunung Hermon yang mengalir ke atas gunung-gunung Sion menunjukkan perlunya kerendahan hati. Jika kita rendah hati, maka kerukunan akan mudah terbentuk.

Perbedaan dan ketidaksepahaman yang tidak didasari dengan kerendahan hati akan mengakibatkan perpecahan. Tet...selengkapnya »
Autis. Itu adalah julukan teman-teman kepada saya ketika masih di bangku kuliah dulu. Waktu itu, saya memang bertekad keras untuk belajar serius, memanfaatkan waktu dengan sebaik-baiknya karena saya merasa butuh waktu lebih banyak dan konsentrasi lebih untuk menguasai materi lagu dibandingkan teman-teman yang memiliki bakat musik lebih baik dari saya. Akibatnya, hampir seluruh waktu saya selama 7 semester, habis di ruang latihan, perpustakaan dan kamar. Sangat jarang sekali saya duduk santai di ruang makan, di teras asrama atau kampus bahkan jalan-jalan. Parahnya, saya menyapa teman dan main ke kamar teman pun seperlunya. Tapi Puji Tuhan, semua yang saya lakukan membuahkan hasil. Semua tugas-tugas saya selesai tepat waktu dengan hasil yang memuaskan, meski harus menyandang predikat “orang autis”. Dan hasil yang saya peroleh berbanding terbalik dengan mereka yang mengatai saya autis. Sepintas pengalaman saya terasa negatif dan terdengar kurang baik. Namun keputusan ini saya ambil karena melihat teman-teman dan kakak tingkat waktu itu, menurut saya, kurang memberi teladan yang baik dalam hal belajar. Hidup santai, belajar sebisanya, mengerjakan tugas sekenanya, seakan-akan sudah menjadi budaya yang umum. Maka ketika saya memiliki sikap yang berbeda, tidak sedikit yang mencibir keputusan saya, memandang sebelah mata, bahkan dengan terang-terangan mengatakan bahwa saya sombong sehingga dia tidak suka kepada saya. Namun waktu membuktikan bahwa proses yang keras pasti membuahkan hasil yang memuaskan. Pengalaman saya ini bagaikan sebuah etalase dari dunia di sekitar kita. Di sekeliling kita penuh dengan berbagai macam pola pikir, gaya hidup, kebiasaan, budaya, sudut pandang, intrik, dll, yang saling berkaitan. Tidak sedikit di antaranya yang membawa dampak negatif bagi kehidupan masyarakat, termasuk orang percaya. Untuk menjadi “murni” atau tidak terpengaruh diperlukan usaha yang ekstra. Demikian juga dengan anak-anak Tuhan. Kita harus berani ambil resiko untuk dikatakan “gila, autis, aneh” demi menjaga kemurnian iman kita. Kita harus berani berkorban tenaga lebih untuk membuktikan bahwa kita tidak tergiur dengan “dana siluman”, “nilai siluman” dan “jabatan siluman”.
Keluaran 33:12-17 Dari manakah gerangan akan diketahui, bahwa aku telah mendapat kasih karunia di hadapan-Mu, yakni aku dengan umat-Mu ini? Bukankah karena Engkau berjalan bersama-sama dengan kami, sehingga kami, aku dengan umat-Mu ini, dibedakan dari segala bangsa yang ada di muka bumi ini?’ [ayat 16] Apakah tanda dari umat yang diperkenan oleh Tuhan? Tanda pertama, mereka disertai oleh Tuhan. Bangsa Israel berjalan di padang gurun. Pada masa itu perjalanan di padang gurun sangat membahayakan. Ada bahaya binatang buas. Bahaya bisa datang dari bangsa-bangsa lain yang siap menghadang mereka. Bangsa Israel membutuhkan penyertaan Tuhan. Musa dan bangsa Israel telah mendapat perkenan dari Tuhan. Sebagai tandanya mereka disertai Tuhan sepanjang perjalanan mereka. Penyertaan Tuhan berwujud dalam bentuk tiang awan pada siang hari dan tiang api pada malam hari yang berjalan di depan barisan mereka. Walaupun mereka menghadapi bahaya, mereka selalu ditolong Tuhan, sehingga mereka selalu selamat dari bahaya yang menghadang. Pada zaman sekarang ini kita juga membutuhkan penyertaan Tuhan. Kita berada di tengah zaman yang serba tak menentu. Situasi politik, keamanan, harga-harga serba sulit dipastikan. Yang kita butuhkan adalah penyertaan Tuhan. Kita disertai Tuhan jika Tuhan berkenan atas kita. Tanda kedua, mereka mendapat perlakuan khusus dari Tuhan Umat Israel sebagai umat yang diperkenan Tuhan dibedakan dari segala bangsa di muka bumi ini. Tuhan mempertaruhkan Nama-Nya ketika memilih bangsa Israel dari segala bangsa di muka bumi ini untuk menjadi umat pilihan-Nya. Masing-masing bangsa mempunyai allahnya sendiri, tetapi Allah orang Israel adalah TUHAN Pencipta dan Penguasa atas alam semesta. Karena itu umat pilihan-Nya harus menjadi umat percontohan bahwa Tuhan yang memilih Israel adalah Tuhan yang hidup dan berkuasa. Hidup orang Kristen adalah percontohan dari karya Tuhan Yesus yang telah menebus mereka dari dosa. Tuhan pasti memberi perhatian yang khusus kepada umat tebusan-Nya, supaya umat-Nya itu memberi kesaksian kepada dunia bahwa Tuhan Penebusnya adalah Tuhan yang hidup, yang telah mengalahkan kuasa dosa dan kuasa maut. Jadilah umat yang diistimewakan oleh Tuhan, dengan cara menjalani hidup yang berkenan di hati Tuhan. Amin.
Dari kecil kita diajar ilmu matematika bahwa 1 + 1 = 2; 2 - 1 = 1. Artinya, apa yang kita miliki akan semakin banyak jika terus ditambahkan. Sebaliknya, apa yang kita miliki akan semakin sedikit jika dikurangi. Ilmu pasti tersebut telah mengakar kuat dan membentuk pola pikir kita. Akibatnya, seringkali secara otomatis kita berpikir jika kita memberi atau membagi sesuatu, maka yang kita miliki akan semakin sedikit dan berkurang. Apakah hal itu salah? Tentu tidak salah, tetapi tidak alkitabiah. Alkitab tidak menentang ilmu pasti tersebut, tetapi Alkitab memiliki prinsip yang lain. Amsal 11:24 menyatakan: “Ada yang menyebar harta, tetapi bertambah kaya, ada yang menghemat secara luar biasa, namun selalu berkekurangan.” Tentunya pernyataan tersebut tidak bisa diterima secara ilmu matematika. Secara logika matematika, menyebar harta berarti harta akan berkurang dan semakin sedikit; menghemat berarti hartanya akan bertambah dan semakin banyak. Tetapi prinsip Alkitab menjungkirbalikkannya, menyebar justru yang semakin bertambah banyak, sedangkan menghemat secara luar bisa justru semakin berkurang. Mengapa bisa demikian? Pertama, karena kemurahan hati kita akan mendatangkan kemurahan dari Allah, “Berbahagialah orang yang murah hatinya, karena mereka akan beroleh kemurahan.” Kedua, karena apa yang kita tabur akan kita tuai, “Karena apa yang ditabur orang, itu juga yang akan dituainya.” Ini adalah prinsip pelipatgandaan yang dikerjakan oleh Allah, “Ia yang menyediakan benih bagi penabur, dan roti untuk dimakan, Ia juga yang akan melipatgandakannya dan menumbuhkan buah-buah kebenaranmu.” Tetapi kita jangan salah memahami prinsip ini. Ini bukanlah prisip pelipatgandaan seperti investasi saham. Bukan pula pelipatgandaan seperti memenangkan sebuah lotre. Allah melipatgandakan [menambah-nambahkan] supaya kita semakin murah hati; semakin banyak menabur; semakin banyak memberi dan membagi. Artinya fokus perhatian dan tugas kita bukan pada hasil pelipatgandaan, tetapi bagaimana kebaikan dan kemurahan hati kita semakin bertambah jumlahnya, intensitasnya, jangkauannya, dan bahkan dampaknya.
Nuh hidup di tengah-tengah masyarakat yang jahat, rusak di hadapan Allah, dan penuh kekerasan. Dia tidak larut di tengah rusaknya dunia, tetapi hidup benar dan tidak bercela di hadapan Allah. Nuh hidup bergaul dengan Allah dan sangat taat kepada perintah-Nya. Waktu Allah sudah hilang kesabaran-Nya melihat ulah umat manusia dan akan memusnahkan mereka, Nuh beserta keluarga diselamatkan. Nuh diperintah untuk membuat kapal dengan ukuran panjang 133 m, lebar 22 m, dan tinggi 13 m. Kapal sangat besar yang dikerjakan oleh Nuh dan anak-anaknya dengan peralatan sangat sederhana. Mereka membuat kapal dengan bersusah payah dalam jangka waktu puluhan tahun di tengah cemooh dan olok-olok masyarakat. Nuh tetap setia dan percaya kepada janji Allah, walaupun harus mengalami kesulitan. Hal itu yang menyebabkan Nuh disukai Allah [Kejadian 6]. Seringkali orang percaya beranggapan sudah menyenangkan hati Tuhan apabila sangat sibuk dengan pelayanan, memberi persembahan dalam jumlah besar walau tidak mempunyai waktu pribadi untuk Tuhan. Pandangan yang sangat keliru, karena Tuhan menyukai kasih setia daripada korban sembelihan. Menyukai pengenalan akan Allah lebih dari korban bakaran. Pengenalan akan Allah melalui kasih-Nya, kesetiaan-Nya, perintah-Nya, janji-Nya yang benar-benar kita pahami dan berdampak pada kehidupan sehari-hari. Kita bersyukur apabila kita mempunyai waktu untuk melayani pekerjaan-Nya, bisa memberi persembahan yang besar kepada-Nya. Tetapi akan lebih baik lagi jika kita taat akan perintah-Nya walaupun tidak mudah, berbagi kasih Kristus pada semua orang, setia kepada-Nya meskipun dalam penderitaan, memberitakan kabar keselamatan melalui hidup dan perkataan kita. Maukah kita disukai oleh Allah? Hiduplah bergaul dengan Allah.
BARCODE BBM CHANNELS
RENUNGAN HARIAN
Sebuah Ketaatan
06 April '15
Efek Bola Salju
22 Maret '15
Lunturkah Kebajikan Kita?
03 April '15
Copyright © 2012 All rights reserved. Designed and Developed by GIA Dr. Cipto Semarang