SEPEKAN TERAKHIR
  Kamis, 30 Juni 2016   -HARI INI-
  Rabu, 29 Juni 2016
  Selasa, 28 Juni 2016
  Senin, 27 Juni 2016
  Minggu, 26 Juni 2016
  Sabtu, 25 Juni 2016
  Jumat, 24 Juni 2016
POKOK RENUNGAN
Yesus adalah pemersatu kita untuk menjadi satu saudara seiman yang saling mengasihi, sehingga berkat-berkat tercurah karena satu kasih persaudaraan dalam Kristus.
DITULIS OLEH
Bp. Andreas T. Loso
Rohaniwan Pusat
Renungan Lain oleh Penulis:
Home  »  Renungan  »  Hidup Rukun
Hidup Rukun
Kamis, 21 Februari 2013 | Tema: Komunitas Yang Menebarkan Kasih
Hidup Rukun
Mazmur 133:1-3
Ada banyak suku bangsa di Indonesia, seperti Minahasa, Batak, Tiong Hwa, dan lainnya yang mengenakan nama marga, yaitu nama yang melekat di belakang atau depan nama seseorang. Ketika dua orang bertemu di suatu daerah peratauan dan mempunyai nama marga yang sama, maka dapat dipastikan mereka akan nampak begitu akrab, bahkan mereka akan menelusuri silsilah keluarga untuk mengetahui hubungan kekerabatan di antara mereka. Biasanya mereka yang diperantauan yang berasal dari satu marga akan membentuk komunitas agar tetap rukun satu sama lainnya.
Sebagai warga kerajaan Allah, semua orang percaya mempunyai hubungan darah satu sama lain, yaitu oleh penebusan darah Yesus Kristus. Sekalipun Tuhan menempatkan kita di kota atau daerah yang berbeda, juga di gereja yang berbeda, tetapi kita t...selengkapnya »
Dalam teks aslinya, kata “perubahan” dalam ayat tersebut adalah “metamorfosis” yang dalam ilmu Biologi dicontohkan proses perubahan dari telur, ulat kecil, ulat dewasa, kepompong sampai menjadi kupu-kupu. Proses ini secara logika penuh misteri dan sangat luar biasa. Rasul Paulus hendak menggambarkan bahwa proses kelahiran baru menuju kedewasaan rohani orang percaya tidak terjadi sekejap, tapi melalui sebuah proses panjang. Tidak terjadi secara instan pada waktu tertentu. Dalam Lukas 2:52 digambarkan proses pertumbuhan pribadi Yesus yang tidak berlangsung instan. Muara proses ini adalah pola pikir yang tidak serupa dengan dunia, mempunyai kecerdasan spiritual, sehingga memiliki kepekaan untuk mengerti kehendak Allah, yaitu apa yang baik, yang berkenan dan yang sempurna. Proses kelahiran baru terjadi ketika seseorang terus menerus mengganti cara berpikir/filosofi hidup dengan cara berpikir Tuhan melalui kebenaran Injil [apa yang diajarkan oleh Tuhan Yesus] dan pekerjaan Roh Kudus. Jadi perubahan menuju kedewasaan rohani membutuhkan waktu dan perjuangan serius untuk “masuk jalan sempit” [Lukas 13:23-24]. Kita harus merespon anugerah keselamatan dengan tekun masuk proses metamorfosis ini, sehingga tidak menyia-nyiakan keselamatan yang besar [Ibrani 2:1-3]. Kesalahan banyak orang adalah tidak sungguh-sungguh melakukan perjuangan tersebut. Sementara waktu berjalan, dunia menyeretnya kepada berbagai kesibukan dan kesenangan yang tidak mendukung proses metamorfosis. Istilah lain, menukarkan hak kesulungan dengan sepiring makanan [Ibrani 12:16]. Waktu, sarana, dan potensi yang seharusnya digunakan untuk mengalami proses ini digunakan untuk banyak hal lain. Berarti tidak mendahulukan Kerajaan Sorga dan kebenaran-Nya [Matius 6:33]. Seharusnya selama Tuhan masih mengaruniakan kesempatan, masih memiliki kemampuan pikiran yang didukung oleh kondisi sel-sel syaraf otak yang masih berfungsi optimal, kita manfaatkan untuk membangun pola pikir ilahi dan bertumbuh menjadi anak-anak Allah yang dewasa rohani. Sebab suatu saat organ otak akan mengalami kemunduran [demensia], baik oleh usia atau oleh bebagai sebab lain. Jangan menunda-nunda, harus dimulai sedini mungkin untuk mengalami metamorfosis menjadi anak Allah. Kita harus selalu haus dan lapar akan kebenaran Injil dan bersedia untuk terus bertobat dan memperbaharui diri tanpa henti. Waktu hidup ini hanyalah untuk menjalankan proses metamorfosis atau transformasi menjadi anak-anak Allah, sehingga semakin hari keberadaan sebagai anak Allah semakin nyata.
Baru saja kita menyaksikan pertandingan Thomas Cup dan Uber Cup. Sebuah ajang perebutan piala bulu tangkis bergengsi dunia. Pemain dari Indonesia pernah berjaya dalam ajang ini di era Rudi Hartono sampai zaman Liem Swi King. Namun setelah itu kita belum pernah meraih kemenangan lagi. Dalam perhelatan kemarin, dengan tampilnya para pemain muda, tim bulu tangkis kita mengalami kemajuan yang cukup pesat meskipun belum meraih hasil sebagai juara. Apa rahasia keberhasilan tim bulu tangkis kali ini? Dari wawancara diketahui penyebabnya adalah kesatuan pengurus PBSI, atlit, pelatih, dan ofisel pertandingan. Semangat bersatu dan berjuang bersama telah memberi hasil melebihi target meskipun sebagian pemain muda kita belum memiliki jam terbang bertanding yang cukup. Bacaan nats kita berkaitan dengan kesatuan umat Israel dalam membangun kembali kota Yerusalem maupun Bait Allah yang telah rusak porak poranda. Nehemia sebagai pemimpin pembangunan berhasil mempersatukan suku Israel yang tersisa dan terpencar untuk membangun kembali kota Yerusalem yang menjadi kebanggaan mereka. Ternyata dalam proses pembangunannya tidaklah mudah karena selain membangun tembok, mereka juga harus siap siaga mengantisipasi serangan musuh yang menghendaki kota itu tidak kembali di bangun. Namun semangat kesatuan dan kebersamaan telah membuahkan hasil maksimal. Musuh dapat dikalahkan dan tembok Yerusalem berhasil didirikan. Demikian pula dalam pembangunan tubuh Kristus [gereja] di zaman ini, semangat kesatuan dan kebersamaan sangat diperlukan bagi kita semua yang menjadi bagian dari GIA Jemaat Dr Cipto. Sebab tumbuh kembangnya gereja tidak tergantung kepada satu pribadi saja, namun memerlukan kerjasama dan kesatuan semua bagian yang ada di dalamnya. Misalnya, rencana pembanguan gedung Growth Center membutuhkan kesatuan dan kebersamaan untuk mewujudkan hal ini. Tanpa dukungan, kebersamaan, kesatuan semua bagian yang ada di gereja kita, mustahil hal itu akan terwujud. Ketika kita bersatu, tantangan sesulit dan seberat apapun pasti dapat diatasi. Misalnya, dalam hal pengalangan dana dan rencana membangun. Saat ada kesatuan dan kebersamaan Tuhan Yesus sebagai Kepala Gereja pasti akan turut campur tangan mencukupi dan menyertai rencana tersebut. Marilah kita bersatu dan bersama-sama menyatukan langkah mewujudkan visi Allah, yaitu membangun gedung sebagai pusat pertumbuhan rohani jemaat. Ketika kita bersatu dan fokus kepada visi Allah, maka Tuhan Yesus pasti menyertai kita sehingga visi tersebut dapat terwujud.
Pada sidang Badan Penyelidik Usaha Persiapan Kemerdekaan Indonesia [BPUPKI] di tahun 1945, Presiden Sukarno menyampaikan bahwa gotong royong merupakan jiwa masyarakat Indonesia. Saat saya masih kecil, mudah sekali menemukan budaya gotong royong dalam berbagai bentuk. Mulai dari kerja bakti kampung, membantu tetangga mendirikan rumah hingga budaya gotong royong antar umat beragama. Budaya tersebut telah menjadi identitas nasional. Tetapi sayangnya budaya luhur tersebut perlahan-lahan telah luntur. Istilah gotong royong berasal dari bahasa Jawa. Gotong berarti pikul atau angkat, sedangkan royong berarti bersama-sama. Sehingga jika diartikan secara harafiah, gotong royong berarti mengangkat secara bersama-sama atau mengerjakan sesuatu secara bersama-sama. Gotong royong dapat dipahami pula sebagai bentuk partisipasi aktif setiap individu untuk ikut terlibat dalam memberi solusi dan nilai positif terhadap permasalahan atau kebutuhan orang-orang di sekelilingnya. Sehingga di dalamnya sarat dengan nilai kebersamaan, persatuan, rela berkorban, tolong menolong dan solidaritas. Alkitab mengajarkan prinsip tersebut. “Bertolong-tolonganlah menanggung bebanmu! Demikianlah kamu memenuhi hukum Kristus.” ‘Beban’ dalam ayat tersebut berarti suatu kelemahan atau ketidaksempurnaan secara spiritual yang membuat seseorang mengalami rasa tertekan. Paulus menyebutnya sebagai ‘suatu pelanggaran’ [dosa]. Dia menasihatkan agar kita yang hidup menurut Roh Allah [terjemahan baru: yang rohani] membimbing orang yang berbuat dosa kembali ke jalan yang benar. Membimbingnya dengan roh yang lemah lembut dan bukan penghakiman. Membimbingnya untuk bertobat, menyadari kesalahannya dan kembali kepada Allah serta kebenaran-Nya. Artinya, kita bertanggung jawab untuk ‘mendukung dan mengangkat’ saudara kita yang mengalami kejatuhan. Semangat ‘bertolong-tolonganlah menanggung bebanmu’ adalah jiwa gotong royong yang harus kita wujud nyatakan ketika mendapati sesama kita, khususnya saudara-saudara seiman, berbuat dosa. Bukan sebaliknya, cuek dan masa bodoh, membicarakan dan menjelek-jelekkannya di belakang; menghakimi dan mempermalukannya; mencibir dan memandangnya sebelah mata; atau bahkan ‘menendangnya’ dari komunitas kita. Karena dengan ‘bertolong-tolongan” maka kita menunjukkan ketaatan kepada perintah Yesus Kristus. ‘Jiwa gotong royong’ ini tidak boleh luntur dari kehidupan kita dan harus tetap menjadi identitas kita sebagai saudara di dalam Kristus.
Kalau saya bertanya, “Apa semboyan negara kita?“ Pasti kita semua tahu apa itu, yaitu “Bhineka Tunggal Ika“, yang berarti berbeda-beda itu, satu itu. Terjemahan bebasnya “berbeda-beda tetapi satu juga“. Dari mana datangnya dan mau kemana tujuannya semboyan itu? Sekedar menyegarkan ingatan. Bhineka Tunggal Ika adalah salah satu ragam sastra puisi yang ditulis di kitab Sutasoma. Siapa pengarangnya? Ia bernama Mpu Tantular. Seorang pujangga agama Budha abad 14 kerajaan Majapahit. Mpu Tantular menulis semboyan ini karena pada masa itu wilayah kerajaan Majapahit sangat luas, selain meliputi Indonesia juga mencakup Malaysia dan Singapura [sekarang]. Di kerajaan Majapahit ini terdapat ratusan etnik dengan ratusan bahasa. Penduduknya menganut agama Budha, Hindu dan ratusan macam agama suku hidup berdampingan dengan damai. Kerukunan dan kesatuan penduduk Majapahit itu berbuah kemakmuran dan kemajuan perdagangan. Semua itu adalah bukti bahwa di dalam ragam keberbedaan tidak menghalangi mereka untuk mencapai kemakmuran dan kemajuan karena adanya kesatuan. Ketika Republik Indonesia [RI] lahir, semboyan inilah yang dipakai dengan maksud di mana Indonesia yang terdiri dari beragam agama, budaya, etnik ribuan pulau tersebar memiliki satu keinginan, yaitu Republik Indonesia menjadi tempat yang damai, aman, makmur bagi tiap penduduknya. Keberagaman ini tidak berarti menutup kemungkinan untuk bekerja bersama-sama. Paulus memakai keragaman ini melalui kesatuan tubuh dengan banyak anggota untuk menggambarkan kesatuan gereja Kristus. Digambarkan bahwa tubuh terdiri dari bagian-bagian yang berbeda bentuk dan fungsinya [ayat 18]. Peranan dan fungsi masing-masing anggota tubuh itu baru dapat dirasakan apabila ditempatkan dalam kesatuan tubuh. Kesatuan tubuh itu sedemikian solid sampai-sampai ketika gigi terasa nyeri, kepala pun terasa sakit sehingga seluruh aktifitas tubuh pun ikut terganggu [ayat 26]. Orang-orang percaya di Korintus adalah gambaran tubuh Kristus yang sebenarnya. Melalui penjelasan tersebut Paulus mengingatkan bagaimana umat percaya seharusnya hidup. Tiap-tiap orang percaya diberikan fungsi khusus dalam rangka kesatuan jemaat, tetapi tidak berarti karunia yang satu lebih bernilai dibandingkan yang lain. Meski satu dengan yang lain berbeda, Paulus mengingatkan bahwa masing-masing bisa berfungsi sebagai tubuh Kristus hanya bila mereka menyadari kebergantungan dengan bagian tubuh yang lainnya.
BARCODE BBM CHANNELS
RENUNGAN HARIAN
Ukhuwah Nasraniyah
25 Juni '16
Kekuatan Dalam Kesatuan
13 Juni '16
Tepa Salira
23 Juni '16
Copyright © 2012 All rights reserved. Designed and Developed by GIA Dr. Cipto Semarang