SEPEKAN TERAKHIR
  Rabu, 10 Februari 2016   -HARI INI-
  Selasa, 09 Februari 2016
  Senin, 08 Februari 2016
  Minggu, 07 Februari 2016
  Sabtu, 06 Februari 2016
  Jumat, 05 Februari 2016
  Kamis, 04 Februari 2016
POKOK RENUNGAN
Yesus adalah pemersatu kita untuk menjadi satu saudara seiman yang saling mengasihi, sehingga berkat-berkat tercurah karena satu kasih persaudaraan dalam Kristus.
DITULIS OLEH
Bpk. Andreas T. Loso
Kontributor
Renungan Lain oleh Penulis:
Home  »  Renungan  »  Hidup Rukun
Hidup Rukun
Kamis, 21 Februari 2013 | Tema: Komunitas Yang Menebarkan Kasih
Hidup Rukun
Mazmur 133:1-3
Ada banyak suku bangsa di Indonesia, seperti Minahasa, Batak, Tiong Hwa, dan lainnya yang mengenakan nama marga, yaitu nama yang melekat di belakang atau depan nama seseorang. Ketika dua orang bertemu di suatu daerah peratauan dan mempunyai nama marga yang sama, maka dapat dipastikan mereka akan nampak begitu akrab, bahkan mereka akan menelusuri silsilah keluarga untuk mengetahui hubungan kekerabatan di antara mereka. Biasanya mereka yang diperantauan yang berasal dari satu marga akan membentuk komunitas agar tetap rukun satu sama lainnya.
Sebagai warga kerajaan Allah, semua orang percaya mempunyai hubungan darah satu sama lain, yaitu oleh penebusan darah Yesus Kristus. Sekalipun Tuhan menempatkan kita di kota atau daerah yang berbeda, juga di gereja yang berbeda, tetapi kita tetap satu di dalam Kristus. Kita harus membina kerukunan di antara saudara seiman.

Sebagai warga negara Indonesia, tanpa melihat latar belakang suku dan agama atau kepercayaan, kita harus membangun kerukunan dengan satu sama lainnya. Rahasia berkat Tuhan yang luar biasa adalah jika kita hidup rukun, baik dalam keluarga sendiri, antara saudara seiman, dan antar sesama manusia. Kalimat yang mengungkapkan adanya embun dari gunung Hermon yang mengalir ke atas gunung-gunung Sion menunjukkan perlunya kerendahan hati. Jika kita rendah hati, maka kerukunan akan mudah terbentuk.

Perbedaan dan ketidaksepahaman yang tidak didasari dengan kerendahan hati akan mengakibatkan perpecahan. Tet...selengkapnya »
Allah mengakui bahwa Daud seorang yang berkenan kepada-Nya dan yang melakukan segala kehendak-Nya [KPR 13:22]. Daud berkenan kepada Tuhan bukan karena bentuk fisik, kepandaian atau kekayaannya, tetapi karena dia sangat mencintai Allah dan hal itu terlihat dalam kehidupannya. Dia selalu rindu untuk bersekutu dengan Tuhan dan selalu merindukan hadirat-Nya [Mazmur 84:2-3]. Sebagai raja, dia tinggal di istana yang mewah, hidup berkelimpahan, tetapi dia lebih suka tinggal di rumah Allah dan pelataran-Nya [Mazmur 84:11]. Setiap pagi sebelum melakukan kegiatan, dia terlebih dulu mencari Allah [Mazmur 5:4]. Dalam sehari tujuh kali dia memuji-muji Tuhan [Mazmur 119:164]. Dia manusia biasa yang bisa dan pernah jatuh dalam dosa, tetapi dia tidak larut dalam dosanya tetapi bertobat dan kembali taat akan Firman-Nya. Orang percaya tidak imun terhadap masalah, sering mengeluh karena berat beban yang harus dipikul karena masih hidup di dalam dunia. Karena memang selama masih tinggal dalam kemah yang sekarang, masalah dan penderitaan tetap akan terjadi. Tetapi Allah tidak meninggalkan umat-Nya, Dia memberikan Roh-Nya untuk menyertai umat-Nya. Yang harus dilakukan oleh umat-Nya adalah hidup berkenan kepada-Nya supaya tetap tabah dalam menghadapi segala masalah. Kita tidak tahu apa yang akan terjadi dalam tahun 2016 yang baru saja kita masuki. Kesulitan ekonomi, masalah keamanan, masalah keluarga, bencana tidak dapat kita prediksi. Kita tidak bisa mengubah atau menolak hal-hal yang akan kita alami dan kita tidak bisa memilih untuk tidak melewatinya. Yang perlu kita ingat bahwa Tuhan tidak pernah meninggalkan kita dalam segala keadaan. Bagian yang bisa kita lakukan adalah berusaha untuk berkenan kepada-Nya, tingkatkan persekutuan kita dengan-Nya melalui saat teduh, merenungkan Firman-Nya, menaikkan pujian senantiasa, mentaati dan melakukan Firman-Nya.
Suatu hari datanglah seorang pemuda kepada Tuhan Yesus, dan bertanya, ’Guru, perbuatan baik apakah yang harus kuperbuat untuk memperoleh hidup yang kekal?’ Jawab Tuhan Yesus, ’Jikalau engkau ingin masuk ke dalam hidup, turutilah segala perintah Allah.” Sahut orang muda itu, ’Perintah yang mana? Semua perintah-Nya telah kuturuti, apa lagi yang masih kurang?’ Kata Yesus kepadanya, ’Jikalau engkau hendak sempurna, pergilah, juallah segala milikmu dan berikanlah itu kepada orang-orang miskin, maka engkau akan beroleh harta di sorga [hidup yang kekal itu], kemudian datanglah kemari dan ikutlah Aku.’ Ketika orang muda itu mendengar perkataan itu, pergilah ia dengan sedih, sebab banyak hartanya. Kesadaran manusia akan kuasa penebusan yang dikerjakan Allah melalui kelahiran dan kematian Yesus Kristus di atas kayu salib menuntut setiap orang kristen dengan sadar membalas pengorbahan Tuhan Yesus. Hal ini kemudian menuntut orang kristen untuk melakukan berbagai usaha supaya perilakunya dapat menyenangkan hati Allah, misalnya: berusaha untuk terus aktif dalam ibadah-ibadah gereja, setia memberikan persembahan dan perpuluhan, taat melakukan doa puasa, dan tidak melakukan segala kejahatan yang dilarang oleh Alkitab. Namun demikian, ternyata semua yang dilakukan manusia untuk menyenangkan Allah belum cukup dalam pandangan Tuhan Yesus. Lihatlah sebuah kisah tentang orang Farisi yang dengan sungguh telah berusaha melakukan perintah hukum Allah [Lukas 18:9-14]. Dalam pandangannya sendiri, ia adalah orang yang baik dan benar. Ia bukan perampok, bukan orang lalim, bukan penzinah, bukan pemeras, namun ia adalah seorang yang taat. Ia berpuasa dua kali seminggu dan setia memberikan persepuluhan. Namun ternyata semua yang dilakukan belum berkenan di hati Tuhan. Mengapa? Jawabannya sederhana. Seorang muda dan orang Farisi di atas hanya berusaha melakukan hukum-hukum Tuhan sebagai sebuah formalitas [kewajiban], namun mereka tidak berusaha melakukan sesuatu yang berkenan di hati Tuhan. Rasul Paulus menasihatkan kepada jemaat di kota Roma supaya mereka dapat mempersembahkan tubuh mereka sebagai persembahan yang hidup, yang kudus dan yang berkenan kepada Allah: dan itu adalah ibadah yang sejati. Artinya, puncak perkenanan Tuhan tidak dapat dipuaskan dengan melakukan hukum-hukum tertulis yang ada dalam Alkitab, sebab Tuhan juga melihat motivasi dan dasar seseorang melakukan hukum-hukum-Nya. Motivasi dan dasarnya kasih kepada Tuhan atau hanya sebuah formalitas untuk membangun kebenaran diri sendiri. Tuhan ingin supaya kita dengan sadar tidak hanya taat pada hukum Allah, tetapi lebih daripada itu kita harus dengan sadar berusaha hidup berkenan di hati Allah. Hal ini tidak dapat kita lakukan dengan taat melayani, memberi persembahan, dll. Tetapi hanya dengan didasarkan kasih kepada Allah, kita mempersembahkan tubuh sebagai persembahan yang hidup, maka kita dapat berkenan di hadapan Allah.
Simon dan teman-temannya pergi untuk menjala ikan. Namun keberuntungan belum berpihak pada mereka. Semalam-malaman mereka menebarkan jalanya, mereka tidak dapat menangkap apa-apa. Keesokan harinya mereka merapat di pantai, mereka membersihkan dan memperbaiki jala yang telah digunakan semalam. Yesus tahu Simon dan rekan-rekannya tidak mendapatkan ikan. Apa yang dilakukan Yesus terhadap mereka, yakni mengajar kebenaran firman terlebih dahulu. Prioritas utama adalah firman. Sesudah mengajar firman, Yesus menyuruh Simon mendayung perahunya ke laut dan menebarkan jalannya! Simon berkata, “Guru, sudah semalam-malaman kami bekerja keras menjala ikan tapi tidak berhasil menangkap apa-apa.” Itulah reaksi Simon mendengar perintah Tuhan Yesus. Simon yang telah berpengalaman dalam bidang pekerjaannya berpikir: “Apa mungkin ikan-ikan dapat ditangkap pada siang hari, pada malam hari saja tidak bisa?” Karena pada waktu Simon menebarkan jala pada malam hari tidak ada satu ekor pun yang terjala, apalagi menebarkan jala pada siang hari. Namun akhirnya Simon bertolak ke laut dan menebarkan jalanya. Sungguh ajaib. Simon dan rekan-rekannya berhasil menangkap ikan yang sangat banyak jumlahnya, bahkan jalanya sampai hampir koyak karena tidak dapat menampung banyaknya hasil tangkapan siang itu. Pengajaran penting yang dapat kita petik adalah “Bekerja bersama Yesus akan mendatangkan hasil yang ajaib.” Seringkali kita bekerja hanya mengandalkan diri sendiri. Kita bekerja hanya mengandalkan pengalaman ataupun segenap kekuatan kita. Namun hasil yang kita dapatkan sedikit, bahkan tidak sama sekali. Kita perlu mengandalkan Tuhan Yesus dalam pekerjaan, pendidikan, pelayanan, bahkan dalam segala susuatu yang kita kerjakan, kita perlu bekerja bersama Tuhan Yesus. Hasilnya pasti menakjubkan. Berkat Tuhan akan dilimpahkan dengan ajaib dalam hidup kita. Mari kita bekerjasama dengan Tuhan Yesus. Kerajaan Allah sudah datang dalam hidup kita, dan Tuhan Yesus adalah Rajanya. Biarkan Yesus yang memimpin hidup kita.
Ketika kita membaca Alkitab, khususnya Perjanjian Baru, di sana kita menjumpai Yesus melakukan pelayanan pembebasan kepada orang-orang yang menderita secara fisik, mental dan sebagai tawanan dosa. Mereka adalah orang-orang yang menderita sakit atau cacat yang sifatnya permanen. Juga menderita karena akibat kesalahan sendiri sebagai tawanan dosa. Semua itu menyebabkan mereka tidak memiliki pengharapan. Yang ada adalah penderitaan dan penyesalan hidup. Penderitaan fisik dan mental yang sangat hebat tentu saja merambat dan mempengaruhi situasi kerohanian mereka, sehingga konsep atau pemahaman mereka terhadap Allah telah larut bersama dalam rasa sakit dan penderitaan mereka. Gambaran Allah dalam hidupnya mengalami kekaburan yang amat sangat. Singkatnya orang yang menderita hebat adalah mereka yang secara fisik, psikis dan roh mengalami gangguan. Saudara, Kerajaan Allah telah datang dan Yesus sebagai pelaksana pemerintahan itu berfirman, “...Pada hari ini genaplah nas ini sewaktu kamu mendengarnya.” Kerajaan Allah datang bukan secara verbal [kata-kata] saja, tetapi telah dinyatakan dalam perbuatan di dalam kuasa Yesus. Yang cacat fisik dipulihkan, yang tertindas dan sebagai tawanan dosa dibebaskan. Semua yang menjadi sumber kemiskinan dipulihkan dan difungsikan lagi sebagaimana mestinya. Satu hal yang terpenting adalah menumbuhkan kembali spirit atau semangat hidup yang berpengharapan. Saudara, Kerajaan Allah datang mendahulukan mereka yang tidak memiliki semangat hidup dan yang tak berpengharapan. Ketika di antara kita ada yang mengalami kepenatan hidup, seolah hidup ini tiada artinya, hidup hanya persoalan dan persoalan tiada gairah, masa depan suram... mungkin malah gelap, rasanya mau mati saja, saatnya sekarang untuk mengenal Yesus. Undang Yesus. Biarkan Dia menjamah, menjawab, membebaskan dan mendahulukan saudara. Gereja sebagai duta Kristus, maka demikianlah seharusnya bersikap terhadap yang menderita.
BARCODE BBM CHANNELS
RENUNGAN HARIAN
Semarak di Dalam, Semerbak di Luar
08 Februari '16
Berkenan Kepada Nya
16 Januari '16
Ketaatan Formalitas VS Berkenan Kepada Allah
12 Januari '16
Copyright © 2012 All rights reserved. Designed and Developed by GIA Dr. Cipto Semarang