SEPEKAN TERAKHIR
  Senin, 20 Februari 2017   -HARI INI-
  Minggu, 19 Februari 2017
  Sabtu, 18 Februari 2017
  Jumat, 17 Februari 2017
  Kamis, 16 Februari 2017
  Rabu, 15 Februari 2017
  Selasa, 14 Februari 2017
POKOK RENUNGAN
Yesus adalah pemersatu kita untuk menjadi satu saudara seiman yang saling mengasihi, sehingga berkat-berkat tercurah karena satu kasih persaudaraan dalam Kristus.
DITULIS OLEH
Bp. Andreas T. Loso
Rohaniwan Pusat
Renungan Lain oleh Penulis:
Home  »  Renungan  »  Hidup Rukun
Hidup Rukun
Kamis, 21 Februari 2013 | Tema: Komunitas Yang Menebarkan Kasih
Hidup Rukun
Mazmur 133:1-3
Ada banyak suku bangsa di Indonesia, seperti Minahasa, Batak, Tiong Hwa, dan lainnya yang mengenakan nama marga, yaitu nama yang melekat di belakang atau depan nama seseorang. Ketika dua orang bertemu di suatu daerah peratauan dan mempunyai nama marga yang sama, maka dapat dipastikan mereka akan nampak begitu akrab, bahkan mereka akan menelusuri silsilah keluarga untuk mengetahui hubungan kekerabatan di antara mereka. Biasanya mereka yang diperantauan yang berasal dari satu marga akan membentuk komunitas agar tetap rukun satu sama lainnya.
Sebagai warga kerajaan Allah, semua orang percaya mempunyai hubungan darah satu sama lain, yaitu oleh penebusan darah Yesus Kristus. Sekalipun Tuhan menempatkan kita di kota atau daerah yang berbeda, juga di gereja yang berbeda, tetapi kita t...selengkapnya »
Anugerah keselamatan adalah usaha Allah Bapa untuk memulihkan manusia berdosa kepada rancangan Allah semula, yaitu menjadi serupa dengan Diri-Nya [to be like Him], karena manusia telah kehilangan kemuliaan Allah [Roma 3:23]. Anugerah keselamatan disediakan untuk semua manusia tanpa kecuali. Namun tidak semua orang mengalami keselamatan, karena tidak memenuhi persyaratannya, yaitu percaya dan menerima anugerah tersebut [Yohanes 1:12; 3:16]. Demikian juga untuk hal-hal lain, semuanya bersyarat dan tidak terjadi secara otomatis dan mistik. Ada hukum “tabur-tuai” [Galatia 6:7], contoh: 1. Janji perlindungan Tuhan hanya berlaku bagi mereka yang mengasihi dan hatinya melekat kepada Tuhan [Mazmur 91:14-16]. 2. Janji penyertaan Tuhan Yesus berlaku bagi mereka yang pergi untuk menjadikan orang orang menjadi murid-Nya [Matius 28:19-20]. 3. Janji penggarapan Bapa terhadap karakter kita hanya berlaku bagi orang yang mengasihi-Nya [Roma 8:28]. Mereka yang menghormati Tuhan, serius masuk dalam proses keselamatan, selalu membela dan ikut menyelesaikan pekerjaan-Nya [Filipi 2:12; Yohanes 4:34]. 4. Untuk bisa mengerti kehendak Bapa, apa yang baik, yang berkenan kepada Allah dan yang sempurna harus mengalami pembaharuan pikiran. 5. Contoh lain: Kemerdekaan dari berbagai belenggu/ikatan [Yohanes 8:31-32], syarat hidup berbuah [Yohanes 15:4], terlepas dari penghukuman harus ada di dalam Kristus dan tidak hidup/berjalan menurut daging, tetapi menurut Roh [Roma 8:1]. Syarat untuk menerima pengampunan [Matius 6:14; 1 Yohanes 1:9]. Jadi secara prinsip, hidup dalam Tuhan dan bertumbuh dewasa secara rohani tidak cukup hanya mengharapkan Tuhan yang melakukan bagian-Nya, tapi kita juga harus ikut bertanggung jawab melakukan bagian kita.
Sebagai orangtua, saya pernah menyarankan kepada anak perempuan saya untuk tidak melewati desa Meteseh tepatnya di tanjakan panjang jalan Sigar Bencah menuju kampus Undip wilayah Tembalang Semarang. Mengapa? Karena selain jalannya yang tidak rata karena daerah tanah gerak, daerah itu pada waktu-waktu tertentu juga sepi dan rawan kejahatan. Sehingga saya menganjurkan untuk melewati jalan lain yang ramai dan datar, dengan demikian saya mengantisipasi hal-hal yang tidak saya inginkan. Saya menganjurkan untuk memilih jalan yang terbaik. Berbicara soal MEMILIH pastilah dilatarbelakangi dengan pertimbangan “ini dan itu”. Mana yang terbaik, menyenangkan, memuaskan atau mungkin mana yang lebih menguntungkan. Demikian juga dengan orang-orang Ibrani [Yahudi] yang sudah percaya Yesus, yang oleh penulis surat Ibrani disebut sebagai saudara-saudara yang kudus dan yang menerima panggilan sorgawi [ay. 1]. Mereka menghadapi situasi tertentu untuk memilih tetap percaya Yesus atau kembali kepada Yudaisme yang mengagumi Musa sebagai tokohnya. Penulis surat Ibrani memperjelas bahwa Yesus lebih besar dari Musa karena Yesus adalah Allah sebagai pencipta [ay. 3, 4], sedangkan Musa hanyalah pelayan-Nya [ay. 5]. Orang-orang Kristen Ibrani [Yahudi] harus kembali dan tetap yakin percaya kepada Yesus yang telah memberi jaminan keselamatan sorgawi. Saudara, melalui surat Ibrani Allah juga berbicara kepada gereja saat ini. Berbicara kepada banyak orang kristen yang sedang bergumul karena masih ada keraguan percaya Yesus. Atau berbicara juga kepada kita saat ini, ketika kita tetap rajin ke gereja tetapi rasa-rasanya tidak ada gairah dan selama ini tetap saja ada perasaan takut dan kuatir akan segala sesuatu yang menindih kita. Kita mencoba melarikan diri dari hadapan Yesus, mencari pertolongan lain. Apabila Saudara saat ini sedang menghadapi keadaan yang demikian, maka cobalah sekali lagi untuk datang kepada Yesus. Tetapi kali ini Saudara harus datang dengan keyakinan teguh bahwa Yesus adalah Allah yang berkuasa mengubahkan segala sesuatu. Hanya saja Saudara harus yakin dan fokus pada YESUS KRISTUS, jangan coba-coba membagi dengan keyakinan di luar Yesus. Niscaya kita akan menemukan Tuhan dan yang siap untuk memuaskan roh dan jiwa kita.
Mengalami Tuhan 3 1 Samuel 3:1-10 Lalu datanglah TUHAN, berdiri di sana dan memanggil seperti yang sudah-sudah: ’Samuel! Samuel!’ Dan Samuel menjawab: ’Berbicaralah, sebab hamba-Mu ini mendengar.’ [ayat 10] Kita perlu mendengar suara Tuhan karena Dia adalah Gembala Agung kita. Domba-domba harus mendengar suara gembalanya dan dapat membedakan suara gembalanya dari suara orang lain. Samuel yang masih sangat muda belum mengenal Tuhan, sehingga tidak mengenal suara-Nya pada waktu Tuhan memanggilnya. Setelah dia diberi tahu oleh imam Eli, barulah dia tahu bahwa suara yang memanggilnya itu adalah suara Tuhan. Rick Warren, penulis buku Purpose Driven Life, berkata: ’Kita sering tidak mendengar suara Tuhan karena kita tidak memberi perhatian.’ Kita sering tidak mendengar suara Tuhan karena pikiran kita dipenuhi dengan banyak hal lain selain Tuhan. Mungkin pikiran kita sedang dipenuhi oleh kekuatiran, atau dipenuhi oleh ketamakan akan materi, atau dipenuhi oleh hobi atau kesenangan kita, dan lain sebagainya. Kita tidak memberi perhatian atau menyediakan waktu untuk mendengar suara Tuhan. Sebenarnya Tuhan ingin berkomunikasi dengan kita. Tuhan ingin sekali berbicara dengan kita. Bahkan Dia sudah menunggu kapan bisa berbicara kepada kita. Tetapi kita sulit untuk diajak bicara. Kita terlalu sibuk dengan diri kita sendiri atau dengan urusan-urusan lain yang kita anggap penting. Kita tidak menyediakan diri kita untuk Tuhan berbicara kepada kita. Kita harus menyediakan diri kita dan berkata: ’Ini aku Tuhan. Berbicaralah. Aku siap untuk mendengar.’ Ambillah waktu untuk berdiam diri. Ambillah sikap mendengar. Nantikanlah Dia berbicara kepada kita. Seringkali Dia berbicara dengan suara yang lembut. Tapi kalau hati dan jiwa kita siap untuk mendengarnya, selembut apapun suara-Nya, kita pasti dapat mendengarnya. Jika kita terbiasa mendengar suara Tuhan, maka kita dapat selalu mengikuti pimpinan-Nya. Kalau kita mendengar suara-Nya kita terbebas dari kekuatiran. Kalau kita mendengar suaranya kita tidak perlu takut salah jalan di dalam hidup ini. Belajarlah mendengar suara Tuhan. Pdt. Goenawan Susanto
Di sebuah kota ada sebuah rumah makan yang sangat terkenal karena semua menunya sangat lezat. Tidak heran rumah makan itu setiap hari, sejak buka sampai tutup, selalu ramai dengan pengunjung dan banyak orang rela antri. Rahasia kelezatan ada pada sang pemilik yang meracik dan memasak setiap masakan yang dipesan. Dia ingin anaknya dapat menggantikan ketika dia pensiun. Tiga orang anaknya diminta tiap hari belajar darinya, meracik dan cara memasak sehingga dapat menghasilkan makanan yang lezat. Dari ketiga anaknya ternyata hanya ada satu yang mahir dan setiap masakan yang dibuatnya sangat mirip dengan masakan ayahnya. Karena anak itu tekun belajar tidak hanya dari perkataan, tetapi setiap gerak dan perilaku ayahnya ketika memasak juga diikutinya. Yesus mengatakan ‘belajarlah daripada-Ku’ [BIS], artinya tidak hanya menyimak perkataan-Nya tetapi juga mencontoh setiap perbuatan dan tindakan-Nya. Dia berkata, “Aku lemah lembut dan rendah hati.” Perkataan itu dinyatakan dalam perbuatan dan tindakan-Nya setiap hari. Dia lemah lembut [ramah] kepada setiap orang yang ditemuinya karena Dia mengasihi dan mendatangkan damai sejahtera bagi semua orang. Rendah hati karena Dia mempraktekkan kesabaran dan penguasaan diri. Kita membaca dan merenungkan Firman Tuhan tiap hari, hal itu sangat bagus. Tetapi itu tidak cukup kalau kita mau berlajar dari-Nya. Kita harus mempraktekkan dalam hidup sehari-hari sehingga kita akan serupa dengan Kristus. Mengasihi orang lain dengan kasih Kristus dan menciptakan damai sejahtera di mana kita berada walaupun saat ini sulit didapati damai di sekitar kita. Kita sabar terhadap masalah yang dihadapi dan bisa menguasai diri atas perlakuan yang tidak adil. Dengan demikian akan mendatangkan kelegaan hati dan ketenangan bagi kita.
BARCODE BBM CHANNELS
RENUNGAN HARIAN
Berjuang Sampai Akhir
06 Februari '17
Mengalami Tuhan �2
22 Januari '17
Mengalami Tuhan
10 Februari '17
Copyright © 2012 All rights reserved. Designed and Developed by GIA Dr. Cipto Semarang