SEPEKAN TERAKHIR
  Kamis, 23 November 2017   -HARI INI-
  Rabu, 22 November 2017
  Selasa, 21 November 2017
  Senin, 20 November 2017
  Minggu, 19 November 2017
  Sabtu, 18 November 2017
  Jumat, 17 November 2017
POKOK RENUNGAN
Yesus adalah pemersatu kita untuk menjadi satu saudara seiman yang saling mengasihi, sehingga berkat-berkat tercurah karena satu kasih persaudaraan dalam Kristus.
DITULIS OLEH
Bp. Andreas T. Loso
Rohaniwan Pusat
Renungan Lain oleh Penulis:
Home  »  Renungan  »  Hidup Rukun
Hidup Rukun
Kamis, 21 Februari 2013 | Tema: Komunitas Yang Menebarkan Kasih
Hidup Rukun
Mazmur 133:1-3
Ada banyak suku bangsa di Indonesia, seperti Minahasa, Batak, Tiong Hwa, dan lainnya yang mengenakan nama marga, yaitu nama yang melekat di belakang atau depan nama seseorang. Ketika dua orang bertemu di suatu daerah peratauan dan mempunyai nama marga yang sama, maka dapat dipastikan mereka akan nampak begitu akrab, bahkan mereka akan menelusuri silsilah keluarga untuk mengetahui hubungan kekerabatan di antara mereka. Biasanya mereka yang diperantauan yang berasal dari satu marga akan membentuk komunitas agar tetap rukun satu sama lainnya.
Sebagai warga kerajaan Allah, semua orang percaya mempunyai hubungan darah satu sama lain, yaitu oleh penebusan darah Yesus Kristus. Sekalipun Tuhan menempatkan kita di kota atau daerah yang berbeda, juga di gereja yang berbeda, tetapi kita tetap satu di dalam Kristus. Kita harus membina kerukunan di antara saudara seiman.

Sebagai warga negara Indonesia, tanpa melihat latar belakang suku dan agama atau kepercayaan, kita harus membangun kerukunan dengan satu sama lainnya. Rahasia berkat Tuhan yang luar biasa adalah jika kita hidup rukun, baik dalam keluarga sendiri, antara saudara se...selengkapnya »
Di dalam kehidupan, manusia pasti pernah mengalami saat-saat yang sulit dan merasa tersesat tidak tahu harus berbuat apa. Mungkin mengalami pencobaan di dalam kehidupan keluarga, kesulitan ekonomi dan mungkin juga mengalami kekeringan rohani dalam kehidupan spiritual. Dan akhirnya hidup serasa tersesat tidak tahu harus ke mana dan bagaimana. Hal itu mungkin pernah kita alami, namun itulah keidupan yang harus dijalani. Jika hidup kita sedang tersesat atau mungkin pernah tersesat maka mari kita melihat kembali apa yang Yesus ajarkan. Dalam Injil Matius 18:10-14, Tuhan Yesus memberikan pengajaran tentang kasih kepada yang terhilang. Yesus mengatakan bahwa anak-anak yang polos itu sama seperti malaikat-malaikat di surga yang memandang wajah Allah. Sebenarnya malaikat tidaklah identik dengan anak kecil, tetapi Tuhan Yesus mengingatkan bahwa di hadapan Allah, para malaikat memandang wajah Bapa-Nya dan bersikap seperti anak kecil yang rendah dan taat mutlak. Ketaatan dan kerendahan hati inilah yang membuat para malaikat sujud dan menyembah Allah. Setelah memberikan gambaran umat-Nya yang dikasihi seperti anak-anak, lalu Ia menggambarkan umat yang dikasihi-Nya seperti domba-domba yang dikasihi oleh gembala mereka. Umat-Nya yang dipandang rendah oleh dunia ini pun dicari oleh Allah seperti kesungguhan seorang gembala yang mencari dombanya yang tersesat. Bapa di surga tidak ingin anak-anak-Nya tersesat dann terhilang. Terhilang karena tidak percaya Tuhan, terhilang karena terjerumus dalam dosa, terhilang kaerna terjerat tipu muslihat Iblis. Tuhan tidak ingin itu terjadi kepada anak-anak-Nya. Tuhan begitu mengasihi kita semua, Ia tidak ingin kita tersesat. Ia meninggalkan yang lain untuk mencari yang tersesat. Yang tersesat memerlukan perhatian lebih. Mari kita mengambil peran bagi saudara kita yang sedang tersesat, bawa mereka kembali kepada Tuhan. Berikan dukungan dan semangat supaya mereka kembali kepada Tuhan. Atau mungkin saat ini kita merasa terhilang jauh dari Tuhan, maka segeralah datang kepada-Nya dengan kerendahan hati dan penyerahan diri penuh, pasti Ia akan menghampiri dan memeluk kita dengan cinta dan kasih-Nya sehingga kita terbebas dari segala hal yang mengikat. Bapa di surga begitu mengasihi kita dan tidak ingin kita terhilang.
Tujuan hidup orang percaya adalah Tuhan dan Kerajaan-Nya. Dalam realitas dijumpai orang-orang yang hidup tanpa tujuan. Hidup tanpa tujuan adalah hidup yang tidak berkualitas. Tuhan Yesus memberi contoh cara hidup seperti ini dalam perikop di atas. Seorang yang mengisi hidupnya dengan segala kesibukan, tetapi tidak pernah/tidak serius mencari Tuhan. Dari sudut pandang dunia mereka dianggap sebagai orang yang cerdas dan sukses. Tetapi Tuhan Yesus menyebut nya sebagai orang bodoh, gegabah dan ceroboh. Bagi kebanyakan manusia duniawi cara hidup seperti ini dianggap sebagai pola hidup standar, dan dijadikan sebagai tujuan atau alasan hidup yang normal dan wajar. Orientasi berpikirnya hanya sebatas hari ini, sekarang dan di bumi ini. Proyeksi dan urusan hidupnya hanya berputar-putar pada hal-hal berikut: sekolah, berkarir, membentuk keluarga, melengkapi hidup dengan fasilitas fisik, menikmati wisata, hobi dan berbagai kesenangan duniawi. Mencari kehormatan dan nilai diri melalui kekayaan, penampilan, gelar pendidikan, pangkat, kekuasaan dan popularitas. Memanjakan keinginan dagingnya dengan makan, minum dan seks. Sebetulnya tidak ada yang salah dengan hal-hal tersebut sepanjang tidak membelenggu hidupnya dan tidak membuat seseorang tenggelam dalam berbagai aktivitas yang menyita sebagian besar waktunya serta melalaikan kebutuhan mencari Tuhan secara benar. Firman Tuhan menyebutnya sebagai orang bodoh, tidak kaya dihadapan Tuhan dan dapat bermuara pada kebinasaan. Pola hidup yang salah ini akan sangat membahayakan nasib kekalnya, kesibukan dengan kesenangan-kesenangan dunia akan seperti candu yang mengikat sampai tidak bisa melepaskan diri. Padahal perjalanan waktu hidup ini singkat dan ada batasnya, usia semakin senja, kesehatan semakin rapuh, sampai tidak ada kesempatan lagi untuk merubahnya [Ibrani 12:16-17]. Hal ini adalah keadaan yang sangat dahsyat dan mengerikan. Untuk menghindari cara hidup ceroboh kita harus menghayati peringatan Tuhan Yesus: Berjaga-jagalah dan waspadalah terhadap segala ketamakan, sebab walaupun seorang berlimpah-limpah hartanya, hidupnya tidaklah tergantung pada kekayaannya itu [Lukas 12:15]. Kumpulkanlah bagimu harta di sorga [Matius 5:20]. Dan juga nasihat rasul Paulus: Karena itu, perhatikanlah dengan saksama, bagaimana kamu hidup [berkebiasaan], janganlah seperti orang bebal, tetapi seperti orang arif, dan pergunakanlah waktu [kesempatan singkat] yang masih ada [Efesus 5:15-16].
“Ajar kami Tuhan, menghitung hari-hari…. Agar kami beroleh hati bijaksana…….” Lagu lama yang kata-katanya diambil dari kitab Mazmur 90:12 itu tiba-tiba saja terlintas dibenak saya. Dan langsung saja saya rengeng-rengeng sambil membereskan tugas-tugas rumah tangga. Mulut saya terus menyanyikan lagu itu berulang-ulang, sementara pikiran saya terus menerus mencerna kata-kata dalam lagu itu. Mengapa pemazmur meminta kepada Tuhan untuk mengajarnya? Mengapa tidak meminta diajar oleh guru, oleh suami atau istri, atau teman? Jawabannya sederhana, karena manusia terbatas hikmatnya, manusia tidak selalu bisa menjadi tempat belajar karena manusia banyak kekurangannya, karena manusia tidaklah sempurna. Kalau kita belajar dari manusia belum tentu kebijaksanaan yang kita dapat, mungkin kekecewaan, atau malah kemarahan. Tapi ketika Tuhan sendiri yang mengajar kita, sudah pasti hikmat kita akan bertambah dan kebijaksanaan akan kita peroleh. Mengapa pemazmur minta diajar untuk menghitung hari-hari? Mengapa bukan menghitung berkat-berkat, menghitung kesulitan demi kesulitan, menghitung persoalan yang ada? Karena dalam setiap hari yang kita lalui, banyak hal yang terjadi. Kejadian yang menyenangkan, yang membahagiakan, pengharapan yang menjadi kenyataan, doa yang terkabul, atau kekecewaan yang didapat, ketakutan yang tak kunjung berakhir, kepedihan dan kesusahan yang tiba-tiba saja datang. Itu beberapa situasi yang tiba-tiba bisa menghampiri kita setiap hari. Karena itu sangat perlu bagi kita merenungkan apa yang terjadi.Menimbang baik dan buruknya dari setiap kejadian yang timbul. Agar kita tidak salah dalam melangkah, dalam menjalani hari-hari kita. Mohon hikmat kepada Tuhan dalam menyikapi setiap peristiwa yang terjadi. Mohon Dia memimpin di setiap waktu yang kita lalui. Ketika kita menjadikan Tuhan sebagai guru dalam menjalani hari demi hari yang kita lalui, maka Dia akan memberi hati yang bijaksana. Kebijaksanaan akan terlihat dari cara seseorang berpikir, bertutur kata dan bersikap. Kebijaksanaan akan menimbulkan sukacita, menjadi berkat bagi orang-orang di sekelilingnya dan sudah pasti akan menciptakan suasana damai sejahtera. Karena itu mintalah kepada Dia untuk terus mengajar menghitung hari-hari, agar kita beroleh hati yang bijaksana.
Hidup yang kita jalani bagaikan sebuah perjalanan menaiki kereta api, dengan stasiun-stasiun pemberhentiannya. Kita mulai menaiki kereta ini ketika kita dilahirkan. Di suatu stasiun, ada penumpang akan turun dari kereta dan meninggalkan kita dalam perjalanan ini. Di pihak lain ada penumpang baru, yaitu orang yang baru masuk dalam lingkungan sekitar kita, yang akan masuk dalam gerbong kereta kehidupan kita. Banyak di antara mereka menjadi orang yang berarti di dalam hidup kita. Pasangan kita, anak-anak, teman-teman, dan orang-orang yang kita sayangi. Satu misteri dalam perjalanan hidup ini adalah kita TIDAK TAHU di stasiun mana kita akan turun. Maka kita harus hidup dengan cara yang terbaik dan memberikan yang terbaik atas hidup yang kita miliki. Sebab bila tiba saatnya bagi kita untuk meninggalkan kereta, kita harus meninggalkan kenangan indah. Kita tak tahu kapankah kita akan tiba dan turun di stasiun tujuan akhir kita! Sebelum kita turun di stasiun tujuan akhir, jangan pernah kita sia-siakan waktu yang Tuhan telah berikan pada kita. Kita harus terus berbuat baik dalam ketulusan dan kerelaan kepada sesama kita. Sehingga.... kita dapat melanjutkan perjalanan kita bersama Tuhan Yesus di surga yang mulia. Semoga Tuhan terus memberi berkat, iman, pengharapan, dan kasih sukacita kepada kita dalam kita menjalani kereta kita. Ingatlah, Tuhan memampukan!
BARCODE BBM CHANNELS
RENUNGAN HARIAN
Doa Bagi Orang Lain
22 November '17
Hidup Menjadi Berkat !
16 November '17
Hidup Dalam Ketetapan
08 November '17
Copyright © 2012 All rights reserved. Designed and Developed by GIA Dr. Cipto Semarang