SEPEKAN TERAKHIR
  Kamis, 25 Agustus 2016   -HARI INI-
  Rabu, 24 Agustus 2016
  Selasa, 23 Agustus 2016
  Senin, 22 Agustus 2016
  Minggu, 21 Agustus 2016
  Sabtu, 20 Agustus 2016
  Jumat, 19 Agustus 2016
POKOK RENUNGAN
Yesus adalah pemersatu kita untuk menjadi satu saudara seiman yang saling mengasihi, sehingga berkat-berkat tercurah karena satu kasih persaudaraan dalam Kristus.
DITULIS OLEH
Bp. Andreas T. Loso
Rohaniwan Pusat
Renungan Lain oleh Penulis:
Home  »  Renungan  »  Hidup Rukun
Hidup Rukun
Kamis, 21 Februari 2013 | Tema: Komunitas Yang Menebarkan Kasih
Hidup Rukun
Mazmur 133:1-3
Ada banyak suku bangsa di Indonesia, seperti Minahasa, Batak, Tiong Hwa, dan lainnya yang mengenakan nama marga, yaitu nama yang melekat di belakang atau depan nama seseorang. Ketika dua orang bertemu di suatu daerah peratauan dan mempunyai nama marga yang sama, maka dapat dipastikan mereka akan nampak begitu akrab, bahkan mereka akan menelusuri silsilah keluarga untuk mengetahui hubungan kekerabatan di antara mereka. Biasanya mereka yang diperantauan yang berasal dari satu marga akan membentuk komunitas agar tetap rukun satu sama lainnya.
Sebagai warga kerajaan Allah, semua orang percaya mempunyai hubungan darah satu sama lain, yaitu oleh penebusan darah Yesus Kristus. Sekalipun Tuhan menempatkan kita di kota atau daerah yang berbeda, juga di gereja yang berbeda, tetapi kita t...selengkapnya »
Pada tanggal 29 Mei 1985, dunia sepakbola tercoreng oleh peristiwa berdarah yang terkenal dengan “Tragedi Heysel”. Peristiwa itu terjadi saat pertandingan Piala Champion antara Liverpool melawan Juventus. Peristiwa ini bermula dari fans masing-masing klub yang saling mengejek dan melecehkan. Lalu tiba-tiba sekitar satu jam sebelum kick off, kelompok hooligan Liverpool menerobos pembatas masuk ke wilayah tifosi Juventus. Tidak terjadi perlawanan karena yang berada di bagian tersebut bukanlah kelompok Ultras [kelompok garis keras]. Pendukung Juventus pun berusaha menjauh namun kemudian sebuah tragedi terjadi. Dinding pembatas di sektor tersebut roboh karena tidak kuasa menahan beban dari orang-orang yang terus berusaha merangsek dan melompati pagar. Ratusan orang tertimpa dinding yang berjatuhan. Akibat peristiwa ini sebanyak 39 orang meninggal dunia dan 600 lebih lainnya luka-luka. Kisah di atas memberi gambaran pada kita bahwa suatu perseteruan, perpecahan, maupun perkelahian tidak semuanya bersumber dari hal-hal besar. Kadangkala perseteruan tercipta justru dari hal-hal kecil, sepele dan sederhana. Perseteruan diawali ejekan ringan, saling sindir, dsb. Namun sekali dimulai, perseteruan secara perlahan dapat merusak dan menghancurkan keluarga, gereja, serta hubungan yang telah berlangsung seumur hidup, hingga dapat menyebabkan nyawa melayang. Paulus tahu benar akibat-akibat mematikan dari perseteruan dalam sebuah persekutuan. Itu sebabnya Paulus mengingatkan jemaat di Efesus: ’Kita adalah sesama anggota’ [Efesus 4:25]. Anggota berarti bagian dalam suatu bagian. Hal ini berarti ada kesamaan yang mengikat antar tiap anggota. Ada tujuan dan fokus yang sama yang ingin diraih. Sekalipun tiap anggota berlainan, namun ada kesatuan yang mengarahkan anggota menuju pada tujuan akhir yang sama. Apakah Anda marah, benci, atau enggan berbicara dengan rekan Anda? Apakah kemarahan membuat Anda bermusuhan dengan teman dekat Anda? Dengarlah apa yang dikatakan Paulus: ’Segala kepahitan, kegeraman, kemarahan, pertikaian, dan fitnah hendaklah dibuang dari antara kamu, demikian pula segala kejahatan. Tetapi hendaklah kamu ramah seorang terhadap yang lain, penuh kasih mesra, dan saling mengampuni sebagaimana Allah di dalam Kristus telah mengampuni kamu’ [Efesus 4:31-32]. Hari ini dan sampai sepanjang hidup ini, lakukanlah segala sesuatu dengan pertolongan Allah. Bangunlah ’jembatan’ yang menghubungkan kita dengan orang lain. Sekalipun masing-masing kita diberi anugerah yang berbeda, sadarilah bahwa kita adalah satu. Satu tubuh Kristus yang mempunyai tujuan yang sama untuk memuliakan nama Kristus. Jangan biarkan perkara-perkara sepele meruntuhkan kesatuan kita dan mengubahnya menjadi pertikaian.
Sebuah penggalan lirik lagu berbunyi demikian: “Ratakan tanah bergelombang, timbunlah tanah yang berlubang, menjadi siap dibangun di atas dasar iman”. Penggalan lirik lagu tersebut menggambarkan bahwa untuk membangun dasar iman yang kuat adalah mempersiapkan hati dan pikiran dengan baik agar Firman yang disampaikan dapat bertumbuh subur dan akan menghasilkan iman yang kuat di dalam Kristus Yesus. Kesediaan hati manusia untuk menerima setiap Firman Tuhan terletak pada bagaimana kita mempersiapkan hati untuk ditanami benih Firman Tuhan. Hati kita seperti layaknya sebuah ladang yang akan digarap, maka perlu untuk dicangkul dan diratakan sebelum benih siap untuk ditanam. Demikian dengan hati kita akan siap untuk ditanami benih Firman apabila kita telah menyiapkan hati dengan baik.yaitu dengan melembutkan hati kita untuk diisi dengan firman Tuhan. Iman adalah karunia Allah yang dikerjakan di dalam hati oleh Roh Kudus [1 Korintus 12:9]. Roh Kudus telah memampukan kita untuk menerima setiap kebenaran Firman Tuhan yang disampaikan oleh para hamba-Nya dan akhirnya iman kita semakin teguh di dalam Tuhan kita, Yesus Kristus. Jika kita senantiasa membuka hati untuk Roh Kudus bekerja di hati, maka setiap Firman yang disampaikan akan menjadi berkat dan kekuatan untuk menjalani kehidupan ini. Tuhan telah memberikan karunia iman untuk memperlengkapi setiap orang yang percaya kepada-Nya agar semakin kuat di dalam Dia serta untuk mempermuliakan nama-Nya. Setelah hati kita benar-benar siap untuk menerima Firman Allah, maka kita juga harus mau untuk dididik oleh pengajaran Firman Allah. Dan setelah itu, hendaklah sebagai jemaat yang telah menerima didikan firman Tuhan dan juga telah memperoleh karunia iman bisa melayani satu dengan yang lain guna membangun Tubuh Kristus karena kita adalah satu tubuh di dalam Dia.
Di dalam pagelaran Euro 2016 yang diselenggarakan beberapa waktu yang lalu, Inggris menjadi salah satu negara yang menjadi unggulan untuk memenangkan turnamen ini. Banyak orang berkata, permainan mereka hebat, banyak pemain berkualitas di dalamnya, dan dukungan suporter pun sangat luar biasa. Inggris layak menjadi pemenang Euro 2016. Apakah dengan komentar tersebut tim nasional Inggris menjadi juaranya? Jawabannya Tidak. Inggris bukanlah pemenangnya! Inggris bukan pemenang karena mereka tidak dapat menjadi yang terbaik dalam turnamen ini. Pemenang adalah seseorang yang dapat menyelesaikan sebuah pertandingan dan berhasil menjadi yang terbaik. Menjadi yang terbaik bukan hal yang mudah dan tidak semua orang dapat menjadi yang terbaik. Untuk menjadi yang terbaik butuh “nilai plus” yang harus dimiliki. Dengan kata lain seseorang yang berhasil menjadi yang terbaik pasti ada sesuatu yang “berbeda” yang dimiliki yang dapat membedakan dirinya dengan orang lain. 1 Yohanes 5:1-5 menjelaskan bahwa untuk menjadi pemenang/terbaik di dunia ini butuh sesuatu yang berbeda yang harus dimiliki oleh setiap orang percaya. Hal itu adalah iman [ay. 4]. Iman kepada Yesus merupakan “keunikan” dan kekhasan kekristenan yang harus terus dijaga sampai akhir hidup kita. Menjaga iman artinya tidak cukup hanya berkata percaya, tetapi tanpa ditunjukkan oleh sikap hidup yang benar. Menjaga iman artinya, selain percaya dengan sepenuh keyakinan, juga harus ditandai dengan tindakan yang mencerminkan sikap yang senantiasa mentaati ketetapan-ketetapan Allah [ay. 2]. Iman kepada Yesus akan membawa kita menuju kepada kebenaran yang sejati dan kehidupan yang kekal. Rasul Paulus pernah mengungkapkan dalam 2 Timotius 4:7 bahwa hidup ibarat sebuah pertandingan. Jika dalam pertandingan tersebut kita mampu mempertahankan dan menjaga iman kita, maka “mahkota” itu akan diberikan Allah bagi kita. Kemerdekaan dan kemenangan itu akan diraih saat kita berjalan dengan iman yang selalu tertuju kepada Yesus. Bertepatan dengan diperingatinya hari kemerdekaan Indonesia, jadilah orang percaya yang telah dimerdekakan seutuhnya oleh Yesus. Artinya, bersedia menanggalkan segala dosa yang ada dan menjadi orang yang benar-benar merdeka bersama Kristus. Bagaimana dengan kita? Sanggupkah kita melakukannya? Masih bisakah kita mempertahankan iman kita sampai akhir hidup kita? Di tengah kesulitan hidup, di dalam situasi minoritas yang kita alami di Indonesia, dan di tengah kemajuan zaman yang begitu pesat, masih adakah iman kepada Yesus Kristus dalam diri kita? Renungkanlah.
Dulu sebelum tahun 2000an bahan makanan seperti singkong dan jenis umbi-umbian tidaklah begitu digemari oleh banyak orang karena tidak memiliki penamplan atau sajian yang istimewa karena pada umumnya hanya digoreng, direbus atau dibakar. Variasi yang lain biasanya dibuat getuk atau keripik. Namun sekarang bahan makanan seperti singkong atau umbi-umbian tidak bisa diremehkan karena ada tangan-tangan yang mengolahnya menjadi produk kreatif. Singkong yang dulu hanya ada di warung-warung, sekarang sudah masuk dalam hotel bintang lima, restorant yang mewah dan bahkan sudah bersanding dengan makanan international sehingga bernilai ekonomis tinggi. Jadi apa yang dahulu dianggap remeh oleh banyak orang, sekarang sudah berubah menjadi istimewa. Dahulu sebelum dalam Kristus, kita juga adalah manusia yang hina dan bercela di hadapan Tuhan. Keadaan kita terpuruk dan tak berharga. Namun sekarang kita harus bersyukur kepada Allah di dalam Kristus Yesus karena oleh kasih karunia dan kebaikan-Nya, kita sekarang dijadikan-Nya berarti dan berharga. Kita bernilai tinggi di hadapan-Nya, maka patutlah kita melakukan apa yang baik dan mulia bagi Allah. Sesunggunya kita ini memiliki kemampuan untuk melakukan yang terbaik untuk kerajaan Allah sebab untuk itulah kita diciptakan-Nya. Jika kita yang sudah ditebus-Nya tidak melakukan apa-apa sama artinya membuang diri kita sendiri karena kita ini dikaruniai dengan kekayaan rohani yang besar. Oleh karenanya kita harus menyadari tujuan yang mulia dan maksud yang besar ketika Allah menciptakan kita. Janganlah kita membuang apa yang sebenarnya bisa kita berikan kepada kerajaan Allah. Jangan membuang kasih karunia yang berharga dalam diri kita dengan hanya berdiam diri dan tidak melakukan yang terbaik bagi Allah. Lakukan apa yang kita bisa dan persembahkanlah yang terbaik bagi Allah sebagai rasa syukur atas anugerah-Nya yang besar. Selagi kita ada, marilah kita memaksimalkan kepercayaan dan anugrah-Nya dengan melayani Tuhan dan sesama melalui perbuatan baik.
BARCODE BBM CHANNELS
RENUNGAN HARIAN
Berakar dan Dibangun
14 Agustus '16
Tax Amnesty
23 Agustus '16
Pecatur Terbaik Dunia
20 Agustus '16
Copyright © 2012 All rights reserved. Designed and Developed by GIA Dr. Cipto Semarang