SEPEKAN TERAKHIR
  Sabtu, 25 Oktober 2014   -HARI INI-
  Jumat, 24 Oktober 2014
  Kamis, 23 Oktober 2014
  Rabu, 22 Oktober 2014
  Selasa, 21 Oktober 2014
  Senin, 20 Oktober 2014
  Minggu, 19 Oktober 2014
POKOK RENUNGAN
Yesus adalah pemersatu kita untuk menjadi satu saudara seiman yang saling mengasihi, sehingga berkat-berkat tercurah karena satu kasih persaudaraan dalam Kristus.
DITULIS OLEH
Bpk. Andreas T. Loso
Kontributor
Renungan Lain oleh Penulis:
Home  »  Renungan  »  Hidup Rukun
Hidup Rukun
Kamis, 21 Februari 2013 | Tema: Komunitas Yang Menebarkan Kasih
Hidup Rukun
Mazmur 133:1-3
Ada banyak suku bangsa di Indonesia, seperti Minahasa, Batak, Tiong Hwa, dan lainnya yang mengenakan nama marga, yaitu nama yang melekat di belakang atau depan nama seseorang. Ketika dua orang bertemu di suatu daerah peratauan dan mempunyai nama marga yang sama, maka dapat dipastikan mereka akan nampak begitu akrab, bahkan mereka akan menelusuri silsilah keluarga untuk mengetahui hubungan kekerabatan di antara mereka. Biasanya mereka yang diperantauan yang berasal dari satu marga akan membentuk komunitas agar tetap rukun satu sama lainnya.
Sebagai warga kerajaan Allah, semua orang percaya mempunyai hubungan darah satu sama lain, yaitu oleh penebusan darah Yesus Kristus. Sekalipun Tuhan menempatkan kita di kota atau daerah yang berbeda, juga di gereja yang berbeda, tetapi kita tetap satu di dalam Kristus. Kita harus membina kerukunan di antara saudara seiman.

Sebagai warga negara Indonesia, tanpa melihat latar belakang suku dan agama atau kepercayaan, kita harus membangun kerukunan dengan satu sama lainnya. Rahasia berkat Tuhan yang luar biasa adalah jika kita hidup rukun, baik dalam keluarga sendiri, antara saudara seiman, dan antar sesama manusia. Kalimat yang mengungkapkan adanya embun dari gunung Hermon yang mengalir ke atas gunung-gunung Sion menunjukkan perlunya kerendahan hati. Jika kita rendah hati, maka kerukunan akan mudah terbentuk.

Perbedaan dan ketidaksepahaman yang tidak didasari dengan kerendahan hati akan mengakibatkan perpecahan. Tet...selengkapnya »
Memberi kesempatan kepada sesama pengendara untuk menyeberang di antrian yang panjang. Merelakan tempat duduk di bus untuk sesama penumpang yang lanjut usia. Berbagi keterampilan tanpa imbalan kepada sesama yang sangat membutuhkan. Inilah bentuk-bentuk kemurahan hati yang jarang terpikirkan oleh kita. Sebenarnya masih banyak lagi hal yang lain. Termasuk bermurah hati dalam bentuk memberi pengampunan kepada sesama yang menyakiti kita. Sebagian orang sulit melihat hubungan antara bermurah hati dan mengampuni. Tuhan Yesus sendiri dalam perikop yang diberi judul ‘Kasihilah musuhmu’ (Lukas 6:27-36) memaparkan dengan sangat jelas bahwa mengampuni sesama diperhitungkan sebagai kemurahan hati. Inilah sebuah bentuk kemurahan yang pada umumnya lebih sulit untuk kita lakukan. Manusia bukan perangkat elektronik. Kita tak bisa diprogram untuk mengabaikan perasaan yang tak diinginkan. Hanya perasaan bahagia saja yang disetel on, perasaan yang lain off. Tentu tidak begitu. Manusia yang normal bisa merasakan semuanya. Termasuk sedih dan sakit hati. Karena itulah Tuhan mengajarkan pengampunan. Sebab manusia pada dasarnya ingin dimaklumi dan dimaafkan, tetapi enggan memaklumi apalagi bermurah hati memberi pengampunan. Hal bermurah hati dengan mengampuni hanya indah didengar di mimbar dan mustahil dilakukan? Tidak. Tuhan tidak pernah mengajarkan hal yang mustahil untuk dilakukan. Memang ada kalanya tiba masa-masa sulit untuk bermurah hati bila disakiti. Apalagi bila rasa sakit yang ditimbulkan begitu dalam dan berulang-ulang. Saya pribadi tidak suka bertopeng di hadapan Tuhan dan manusia demi pencitraan. Saya berkata apa adanya tentang perasaan saya kepada Tuhan dan memohon agar dapat mengatasinya. Bukan berkata-kata kepada manusia agar membela saya dan akhirnya memicu perpecahan. Datang dengan jujur di hadapan Tuhan selalu menghasilkan pemulihan. Dan kemurahan hati akan mengalir kembali dalam bentuk pemberian pengampunan. Kalau kita adalah anak-anak-Nya, dengan siapa kita akan serupa jika tidak dengan Bapa kita?
Produsen-produsen film Hollywood sangat terkenal dengan kepiawaian mereka dalam menghasilkan film-film bermutu. Mereka sangat jago menghidupkan sebuah kisah yang diangkat ke layar lebar. Dari kisah film kisah nyata sampai hanya fiksi belaka. Salah satu genre film yang banyak disukai adalah fiksi ilmiah (science fiction). Film fiksi ilmiah seringkali mengangkat kisah tentang intervensi makhluk asing yang berasal dari planet atau galaksi lain ke bumi. Mereka datang dengan misi untuk menghancurkan dan menguasai manusia di bumi. Kemudian timbullah perlawanan dan usaha penyelamatan yang dimotori oleh segelintir orang. Dan merekalah yang berperan sebagai tokoh utama. Dalam nats alkitab hari ini Tuhan Yesus menyatakan bahwa kita, orang percaya, bukan berasal dari dunia ini. Wah, makhluk asing dong kita? Tentu bukan. Kita adalah orang yang telah dipanggil dari dunia yang gelap untuk mendapatkan terang Kristus. Kita telah dikhususkan dan dipisahkan dari dunia yang jahat untuk menjadi milik kepunyaan Allah (1 Petrus 2:9). Sehingga Tuhan Yesus mengatakan bahwa kita bukan berasal dari dunia, sama seperti Dia bukan berasal dari dunia. Ya, secara status kita yang dalam Kristus bukan lagi berasal (menjadi bagian) dari dunia yang jahat dan gelap ini. Jika sebuah film, kisahnya tidak berhenti di situ saja, ada kelanjutannya. Dan ini merupakan bagian yang paling seru, yaitu kita diutus kembali ke dunia (ayat 18). Misi apa yang kita bawa? Tentunya bukan misi pribadi untuk memperkaya diri ataupun mencari ketenaran dan kepopuleran diri, tetapi misi Allah untuk pemulihan bagi dunia. Membawa misi penyelamatan bagi dunia. Itulah misi yang ditetapkan Allah bagi setiap kita, orang-orang yang telah dibebaskan-Nya dari kegelapan dunia. Hidup kita harus mengejawantahkan misi tersebut dalam keseharian. Seringkali orang percaya tidak sadar akan misi yang telah diamanatkan oleh Allah. Akibatnya mereka hanya hidup bagi diri sendiri dan mengejar sesuatu yang sementara yang berasal dari dunia ini. Bukanlah sesuatu yang haram kita memiliki harta benda. Tetapi yang penting adalah untuk apa dan untuk siapa harta benda yang kita miliki. Jika kita memiliki kekayaan, kita harus ingat bahwa itu adalah pemberian dan perlengkapan dari Allah agar dimanfaatkan untuk mendukung dana bagi misi yang telah ditetapkan bagi kita. Bukan sesuatu yang dilarang untuk kita meraih jabatan. Tetapi jangan lupa bahwa jabatan tersebut merupakan sarana yang strategis untuk kita memberi pengaruh dan membawa perubahan. Dan masih banyak contoh yang lain lagi. Tetapi intinya, apapun yang bisa kita raih dan peroleh di dunia ini bukanlah tujuan akhir. Itu semuanya hanyalah sarana dan pendukung bagi pelaksanaan misi penyelamatan dan pemulihan bagi dunia. Pertanyaannya, apakah kita sudah melaksanakan misi ilahi tersebut?
Seorang anak membuat mainan mobil-mobilan dari kardus. Tentu anak itu mempunyai tujuan dengan apa yang dilakukannya, yaitu supaya dia memiliki mainan mobil-mobilan yang dapat menyukakan hatinya. Terlebih lagi Allah. Dia menciptakan manusia dengan tujuan yang mulia. Selain menjadi teman bersekutu Tuhan, supaya manusia juga bertanggung jawab terhadap lingkungannya. Untuk menciptakan lingkungan yang baik (Kejadian 2:15). Tetapi setelah dosa masuk dalam kehidupan manusia (Adam dan Hawa), keadaan menjadi berubah. Dosa merusak segalanya, bahkan Alkitab berkata bahwa apa yang diperbuat manusia tidak ada yang baik dan tidak ada yang benar (Roma 3:9-12). Tetapi apakah rencana Allah gagal? Tentu tidak! Dengan pengorbanan Yesus Kristus di kayu salib Golgota, Allah ingin rencana-Nya tetap terlaksana. Melalui surat Paulus kepada Jemaat di Efesus, kita diingatkan kembali bahwa kita berbuat baik bukan supaya diselamatkan. Tetapi justru Paulus memberikan penekanan bahwa kalau kita berbuat baik itu adalah tujuan Allah dan bukti bahwa kita adalah orang-orang yang telah diselamatkan. Sehingga tidak ada alasan untuk setiap kita yang mengaku bahwa Yesus Kristus adalah Tuhan, tetapi tidak melakukan hal hal yang baik.
Seorang pria kekar dalam perjalanan menuju rumahnya tiba-tiba dihentikan oleh beberapa orang yang langsung memukuli dan mengambil dengan paksa sepeda motor yang dikendarainya. Pria itu ditinggal di tepi jalan dengan tubuh yang penuh dengan memar dan luka. Seseorang yang melihat peristiwa itu bertanya kepadanya, “Mengapa bapak tidak berusaha melawan orang-orang itu, saya melihat bapak jauh lebih kekar dan kuat dibanding dengan orang-orang yang merampok bapak.” “Dulu saya seorang jawara, saya pemarah, pemabuk, penjudi, pezinah, tidak ada satupun orang yang berani menghadapi saya. Saya pimpinan preman yang sangat ditakuti. Tetapi setelah menerima Yesus Kristus dalam hidup saya, perubahan terjadi. Saya menjadi manusia baru dengan karakter Kristus. Badan saya kekar, wajah saya sangar tetapi saya terus berusaha untuk sabar, lemah lembut, tidak dendam, hidup dengan damai sejahtera,” jawab pria itu. Sebagai umat pilihan Allah yang telah dikuduskan dan dikasihi-Nya, karakter kita harus berubah dari manusia lama menjadi manusia baru. Penuh belas kasihan, murah hati, rendah hati, lemah lembut dan sabar (ayat 12). Itu semua adalah karakter Kristus yang harus menjadi identitas murid Kristus. Sabar terhadap orang lain, mengampuni seperti Tuhan telah mengampuni kita (ayat 13). Kasih Kristus dalam hidup kita sebagai pengikat yang mempersatukan sesama (ayat 14). Hati penuh dengan damai sejahtera dan Firman Tuhan sehingga memberi hikmat untuk mengajar dan menegur sesama dengan perkataan yang menyejukkan (ayat 15, 16). Perkataan dan perbuatan dilakukan dalam nama Yesus (ayat 17). Marilah kita terus berusaha untuk menjadi manusia baru dengan membuang (mematikan) tabiat lama yang duniawi, yaitu percabulan, kenajisan, hawa nafsu, nafsu jahat, dan keserakahan yang semuanya itu mendatangkan murka Allah (ayat 5, 6). Dibutuhkan kemauan dan tekad yang kuat untuk dapat memiliki karakter Kristus. Ingatlah dengan memiliki karakter Kristus, hidup kita akan berdampak dan mempermuliakan nama Tuhan.
BARCODE BBM CHANNELS
RENUNGAN HARIAN
Kebahagiaan Orang Yang Murah Hati
10 Oktober '14
Hebat, Keren, Megah?
04 Oktober '14
Mulut Yang Tertutup
01 Oktober '14
Copyright © 2012 All rights reserved. Designed and Developed by GIA Dr. Cipto Semarang