SEPEKAN TERAKHIR
  Kamis, 30 Juli 2015   -HARI INI-
  Rabu, 29 Juli 2015
  Selasa, 28 Juli 2015
  Senin, 27 Juli 2015
  Minggu, 26 Juli 2015
  Sabtu, 25 Juli 2015
  Jumat, 24 Juli 2015
POKOK RENUNGAN
Keluarga menjadi hidup jika di dalamnya ada kasih dan keterbukaan untuk saling membangun.
DITULIS OLEH
Bpk. Andreas T. Loso
Kontributor
Renungan Lain oleh Penulis:
Home  »  Renungan  »  Membangun Pernikahan Dengan Nilai - Nilai Kerajaan Allah
Membangun Pernikahan Dengan Nilai - Nilai Kerajaan Allah
Kamis, 06 Juni 2013 | Tema: Keluarga Yang Mengutamakan Kerajaan Allah
Membangun Pernikahan Dengan Nilai - Nilai Kerajaan Allah
Kolose 3:18-21
Mary Pipher, dalam bukunya The Shelter of Each Other, memberi nasihat tentang membangun kembali keluarga-keluarga yang bermasalah. Ia menyelidiki bagaimana anak-anak zaman sekarang terkadang terlalu sering menonton televisi dan bermain video game, sehingga mengabaikan pendidikan informal yang diterima dari kerabat mereka.
Ia mencontohkan pertemuan keluarga di mana anak-anak menonton video di ruang belakang sehingga para orang dewasa dapat berbicara tanpa diganggu. Dr. Pipher berpendapat bahwa hiburan semacam ini sesungguhnya merampas sesuatu yang berharga dari anak-anak. Anak-anak perlu bergaul dengan generasi yang lebih tua sehingga mereka dapat mendengar cerita-cerita tentang bibi, paman, kakek-nenek, dan orangtua. Ini membantu mereka belajar dari orang-orang yang telah mendahului mereka.

Meskipun di sekitar kita sering terjadi kasus-kasus pengingkaran dan penyelewenangan perkawinan, bahkan berujung pada perceraian, kita tidak perlu pesimis dan apatis. Justru di sinilah peranan kita untuk mengupayakan dan menjaga agar perkawinan benar-benar menjadi pilihan dan panggilan hidup yang bisa dipertanggungjawabkan, baik di hadapan masyarakat maupun di hadapan Tuhan. Berdasarkan kodratnya, perkawinan terarah pada kelahiran anak yang merupakan buah cinta dari suami istri, sekaligus menurunkan kehidupan baru. Oleh karena itu, keluarga kristiani dipanggil untuk menjadi pencinta, perawat, penjaga dan pembela kehidupan. Pasangan suami istri harus mempertahankan kes...selengkapnya »
Pak Darto adalah seorang anak Tuhan yang setia sejak masih muda. Hidupnya penuh perjuangan untuk menjadi seorang yang sukses di dunia kerja. Berkat ketekunan dan keuletan, serta kebergantungan-nya kepada Allah, keluarga pak Darto diberkati Allah. Akhirnya keluarga ini membeli sebidang tanah untuk membangun rumah tinggal. Setelah suami istri tersebut berdoa, mereka sepakat akan membuat satu kamar tamu bagi hamba Tuhan yang sering diundang di gerejanya. Dalam benak mereka hanya itu yang bisa mereka lakukan bagi pelayanan pekerjaan Tuhan. Dan Tuhan Yesus semakin mempercayakan kepada keluarga ini banyak pekerjaan yang mendatangkan berkat baik bagi hidup mereka, orang di sekitarnya, maupun gerejanya. Keluarga ini juga tidak segan - segan berbagi kehidupan dan pengalamannya kepada keluarga-keluarga muda supaya hidup mereka juga mengalami kemajuan seperti keluarganya. Bacaan kita hari ini berkisah tentang satu keluarga yang tinggal di kota Sunem. Sayang nama keluarga ini tidak disebutkan. Namun apa yang diperbuat oleh keluarga yang berasal dari Sunem ini patut menjadi teladan bagi keluarga orang percaya di zaman ini. Keluarga ini tentu saja keluarga seorang pengusaha yang sangat diberkati Allah. Awalnya keluarga ini hanya mengundang nabi Elisa untuk singgah makan di rumahnya. Akhirnya si istri bersepakat dengan suaminya untuk membangun sebuah kamar agar nabi Elisa bisa beristirahat di rumahnya selama melayani di kotanya. Seperti gayung bersambut niat hati yang baik dan luhur dari keluarga Sunem itu disambut dengan baik oleh nabi Elisa. Sehingga setiap kali sang nabi melayani di kota Sunem selalu singgah di rumah mereka. Nabi Elisa tahu bahwa niat baik mereka untuk memberi tumpangan dan makan dilakukan dengan ketulusan, yaitu hanya ingin memberkati pelayanan nabi Elisa. Tuhan memperhatikan keluarga tersebut dengan memberikan anak di usia lanjut mereka [sebelumnya mereka tidak memiliki anak]. Begitu juga ketika anak tersebut mati, Tuhan membangkitkan melalui nabi Elisa. Ketika kita memiliki niat untuk memberkati orang lain maupun gereja, jangan pernah kita menahannya. Sebaiknya berdoalah dan bersepakatlah dengan keluarga agar niat baik kita diteguhkan oleh Tuhan Yesus. Niscaya berkat Allah akan ditambahkan kepada kita sebagaimana janji Allah dalam Matius 6:33.
Dua tema dasar surat Efesus adalah: pertama, bagaimana kita ditebus oleh Allah [pasal 1-3 ] dan kedua, bagaimana kita harus hidup sebagai umat yang ditebus [pasal 4-6]. Ayat renungan kita hari ini merupakan arahan praktis bagaimana orang percaya terpanggil kepada suatu cara hidup baru dalam hubungan kerja, hubungan hamba dan tuan, hubungan pekerja dan majikan, hubungan bawahan dan atasan. Hubungan ini hendaknya dikuasai prinsip-prinsip yang menandai bahwa orang percaya berbeda sekali dari masyarakat sekuler di mana mereka hidup. Pada umumnya kita beranggapan bahwa pihak tuan atau majikanlah yang seharusnya memberkati para hamba atau pekerjanya karena mereka ada di posisi lebih tinggi dalam segala hal. Tetapi Firman Tuhan mengajarkan bahwa para hamba harus memberkati tuannya dengan sikap hati yang taat dan tulus kepada tuannya, dengan segenap hati dan rela melakukan tugas pelayanannya seperti melayani Tuhan bukan manusia. Ketika seorang hamba berbuat sesuatu yang baik, ia akan menerima balasannya dari Tuhan. Alkitab mencatat sebuah kisah tentang seorang anak perempuan dari Israel yang tertawan di negeri Aram. Ia menjadi pelayan pada isteri Naaman, panglima raja Aram yang terpandang dan disayangi raja. Tetapi ia sakit kusta. Budak perempuan kecil ini sebenarnya punya banyak alasan untuk bersikap cuek, tak perlu peduli dengan penderitaan tuannya. Tapi ia bersikap lain, sebagai seorang hamba ia mau berbuat baik bagi tuannya. Dari mulutnya yang kecil sampailah sebuah info bahwa di Samaria ada seorang nabi yang dapat menyembuhkan tuannya. Mujizat terjadi, Naaman mengenal Allah Israel dan hanya kepada-Nya dia akan mempersembahkan korban bakaran dan korban sembelihan. Bagaimana dengan budak tawanan kecil ini? Alkitab tidak menulis kisah lanjutnya, tapi saya yakin Naaman pasti membawa hadiah kepadanya dan terlebih lagi Tuhan Allah Israel pasti memberi dia upah sampai kepada kekekalan. Mari para pekerja Kristen, di mana dan kepada siapa kita bekerja atau berkarya, kita berkati tuan atau majikan kita dengan perbuatan-perbuatan baik semaksimal yang bisa kita lakukan.
Seorang nenek begitu setia beribadah kepada Tuhan dalam usianya yang semakin bertambah. Sang nenek terus berusaha mendekatkan diri kepada Tuhan. Dalam keadaan hujan atau panas dan tubuh tuanya yang sudah seringkali mengalami sakit, sang nenek tidak melupakan hari minggu untuk tetap beribadah. Nenek tersebut berpikir bahwa melalui ibadah, ia bertemu dengan Tuhan. Tetangga begitu tertarik dengan apa yang dilakukan sang nenek. Sampai suatu ketika tetangga yang awalnya tidak mempercayai Yesus sebagai Tuhan dan juruselamat, akhirnya menjadi percaya karena melihat kehidupan sang nenek . Seringkali kita berpikir bahwa menjadi berkat berarti kita harus mengeluarkan rupiah dari dompet atau dari saku kita. Tidak salah memang, namun melalui kehidupan ini, kita bisa menjadi berkat bagi siapa saja ataupun dengan cara apapun termasuk melalui bibir kita. Penulis surat Ibrani mengingatkan supaya kita mempunyai ucapan bibir yang memuliakan Allah. Tentu orang yang mendengar kita memuji dan memuliakan Allah karena kebaikan-Nya akan senang mendengarnya. Seperti halnya yang dilakukan Paulus dan Silas sekalipun di dalam penjara [Kisah Para Rasul 16:25]. Begitu juga ucapan syukur yang kita ucapkan saat kita menghadapi masalah dan tantangan, tentu akan memberi semangat baru bagi mereka yang mendengarnya. Saat kita belajar mengucap syukur dalam segala keadaan tidak saja memperkenankan hati Tuhan [1 Tesalonika 5:18], tetapi juga bisa membuat orang yang mendengarnya mendapatkan harapan baru. Oleh sabab itu mari kita, khususnya melalui perkataan, menjadi berkat bagi orang lain, sehingga seperti perintah Tuhan supaya Abraham yang diberkati menjadi berkat, demikianlah juga kita yang menikmati berkat Abraham juga menjadi berkat bagi sesama dalam kehidupan kita.
Di Indonesia terkenal dengan berbagai musim buah. Misalnya, bulan Juli hingga September adalah musim buah mangga. Bulan Nopember hingga Desember saatnya musim rambutan. Dan bulan Desember sampai Pebruari biasanya musim durian. Sehingga seringkali kita lihat para penjual menjajakan buah dagangannya di pinggir-pinggir jalan sesuai dengan musimnya. Namun ada satu jenis buah yang selalu ada di pasar dan itu selalu ada di segala musim. Buah itu selalu bisa kita lihat dan nikmati, yaitu buah semangka. Mengapa? Karena semangka hanya tumbuh singkat, sekali saja, dan tanaman ini dapat tahan di segala cuaca. Dari gambaran ini kita bisa belajar bahwa untuk bisa “dinikmati” atau memberkati bukanlah tindakan yang temporer atau kadangkala, jika ada kesempatan. Alkitab mengajarkan untuk tidak jemu-jemu berbuat baik atau memberkati di saat apapun. Entah ketika kita kekurangan atau kelimpahan. Semuanya itu dapat kita lakukan berdasarkan karunia dan hasrat hati untuk mengasihi Tuhan dan sesama. Memberkati tidak identik dengan uang. Bisa tenaga, perhatian atau apapun yang dapat membantu mereka yang memang layak untuk menerimanya. Seringkali dalam memberkati, kita menunggu momentum. Misalnya, saat Paskah, Natal, ataupun hari besar keagamaan dengan harapan ada balasan dari Tuhan. Sesungguhnya ketika kita menjadi berkat bagi orang yang berkekurangan atau membutuhkan tanpa melihat momentum, kita sudah memberi perhatian khusus dan itu merupakan sebuah kebahagiaan tersendiri bagi kita yang mengerti belas kasihan dan anugerah Tuhan dalam hidup kita. Oleh karenanya marilah kita memberkati sesama tanpa memperhatikan siapa mereka, dari suku bangsa apa. Kita memberkati karena kita mengasihi Tuhan, sebab Allah sedang mencari orang yang mau menjadi kepanjangan tangan-Nya. Ia rindu adanya gerakan menjadi berkat sebab Allah telah menyediakan anugrah-Nya kepada siapa yang mau memberkati.
BARCODE BBM CHANNELS
RENUNGAN HARIAN
Kata-kata yang Memberkati
26 Juli '15
Hidup Yang Terberkati
09 Juli '15
Memberkati Bukan Hanya Pada Musimnya
13 Juli '15
Copyright © 2012 All rights reserved. Designed and Developed by GIA Dr. Cipto Semarang