SEPEKAN TERAKHIR
  Minggu, 05 Juli 2015   -HARI INI-
  Sabtu, 04 Juli 2015
  Jumat, 03 Juli 2015
  Kamis, 02 Juli 2015
  Rabu, 01 Juli 2015
  Selasa, 30 Juni 2015
  Senin, 29 Juni 2015
POKOK RENUNGAN
Keluarga menjadi hidup jika di dalamnya ada kasih dan keterbukaan untuk saling membangun.
DITULIS OLEH
Bpk. Andreas T. Loso
Kontributor
Renungan Lain oleh Penulis:
Home  »  Renungan  »  Membangun Pernikahan Dengan Nilai - Nilai Kerajaan Allah
Membangun Pernikahan Dengan Nilai - Nilai Kerajaan Allah
Kamis, 06 Juni 2013 | Tema: Keluarga Yang Mengutamakan Kerajaan Allah
Membangun Pernikahan Dengan Nilai - Nilai Kerajaan Allah
Kolose 3:18-21
Mary Pipher, dalam bukunya The Shelter of Each Other, memberi nasihat tentang membangun kembali keluarga-keluarga yang bermasalah. Ia menyelidiki bagaimana anak-anak zaman sekarang terkadang terlalu sering menonton televisi dan bermain video game, sehingga mengabaikan pendidikan informal yang diterima dari kerabat mereka.
Ia mencontohkan pertemuan keluarga di mana anak-anak menonton video di ruang belakang sehingga para orang dewasa dapat berbicara tanpa diganggu. Dr. Pipher berpendapat bahwa hiburan semacam ini sesungguhnya merampas sesuatu yang berharga dari anak-anak. Anak-anak perlu bergaul dengan generasi yang lebih tua sehingga mereka dapat mendengar cerita-cerita tentang bibi, paman, kakek-nenek, dan orangtua. Ini membantu mereka belajar dari orang-orang yang telah mendahului mereka.

Meskipun di sekitar kita sering terjadi kasus-kasus pengingkaran dan penyelewenangan perkawinan, bahkan berujung pada perceraian, kita tidak perlu pesimis dan apatis. Justru di sinilah peranan kita untuk mengupayakan dan menjaga agar perkawinan benar-benar menjadi pilihan dan panggilan hidup yang bisa dipertanggungjawabkan, baik di hadapan masyarakat maupun di hadapan Tuhan. Berdasarkan kodratnya, perkawinan terarah pada kelahiran anak yang merupakan buah cinta dari suami istri, sekaligus menurunkan kehidupan baru. Oleh karena itu, keluarga kristiani dipanggil untuk menjadi pencinta, perawat, penjaga dan pembela kehidupan. Pasangan suami istri harus mempertahankan kes...selengkapnya »
Batu akik akhir-akhir ini menjadi tren nasional. Ada banyak perlombaan keindahan batu akik dan ada banyak pula penjual batu akik yang muncul bagaikan jamur di waktu hujan. Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, batu akik adalah batu berwarna yang indah. Sebuah batu untuk menjadi batu akik yang digunakan sebagai cincin atau liontin tentu tidak terjadi begitu saja, tetapi melalui proses. Dari batu pilihan, kemudian di potong-potong dan di haluskan sehingga kelihatan bersih, mengkilap, dan menjadi batu akik yang indah bagi pemakai. Batu akik merupakan sebuah kebanggaan atau kesukaan bagi para penggemarnya. Dengan melihat batu tersebut akan timbul keasikan atau kesenangan. Demikian juga hendaknya dengan kita sebagai orang percaya. Tuhan telah memilih dan menguduskan kita dengan maksud untuk menjadi kebanggaan atau kesukaan Tuhan melalui hidup kita yang bisa ‘dinikmati’ oleh orang lain. Dalam bacaan firman di atas Tuhan tentu menginginkan agar setiap orang percaya yang sudah dikuduskan-Nya selalu menjaga hidupnya tetap bersih dan kudus. Sehingga menjadi alat yang mulia di pemandangan Allah dan manusia. Mari jemaat pilihan Tuhan dan yang dikasihi-Nya, kita menghormati pengorbanan Yesus Kristus di atas kayu salib Golgota dengan kita menjaga hidup ini dalam kekudusan, sehingga kita dapat menjadi saksi-saksi-Nya.
Suatu hari yang cerah, empat murid SMU memutuskan untuk membolos, dan keesokan harinya mereka menjelaskan kepada guru bahwa mereka tidak masuk sekolah karena ban mobil kempes. Mereka sangat lega sekali ketika guru mereka tidak marah tetapi tersenyum dan berkata, ’Kalian ketinggalan satu tes kecil kemarin, sekarang duduklah dan keluarkan pensil serta kertas.’ Guru itu menunggu mereka duduk, mengeluarkan alat tulis dan siap mengerjakan tes kecil itu. Kemudian dia berkata, ’Pertanyaan pertama: ban sebelah mana yang kempes?’ Seketika itu juga, mereka pun saling bertatapan satu dengan yang lainnya dengan wajah bingung dan panik. Tidak seorangpun dapat terbebas dari perbuatan dusta. Dalam Kisah Para Rasul 5, Ananias dan Safira berpikir bahwa mereka hanya berdusta kepada Petrus dan saudara-saudara seiman lainnya. Tetapi Petrus berkata kepada mereka, ’Engkau bukan mendustai manusia, tetapi mendustai Allah.’ Allah adalah kebenaran. Jika kita berdusta, kita menyakiti-Nya. Dan cepat atau lambat, Dia akan menyingkap setiap kebohongan, bila tidak di dalam hidup ini, pastilah pada hari penghakiman kelak [Roma 14:10-12]. Kita hidup di dunia yang penuh persaingan, dan kadang-kadang kita mudah tergoda untuk menutupi kebenaran, dan memilih berdusta supaya dapat terus maju dan tetap eksis. Namun perlu diingat bahwa hasil yang diperoleh dalam waktu singkat ketika berdusta tidaklah berarti bila dibandingkan dengan manfaat jangka panjang karena melakukan kebenaran. Jika Anda sudah menipu seseorang, akuilah hal itu kepadanya dan kepada Tuhan. Mungkin itu tampak merendahkan diri, tetapi itulah langkah awal untuk membangun integritas hidup kita. Menjadi umat yang cemerlang harus berani “tampil beda”, yaitu menjaga integritas diri agar tetap berkenan di hadapan Tuhan dan manusia.
Seorang hamba Tuhan merintis pelayanan di sebuah desa yang tak seorangpun penduduknya beragama Kristen. Berbagai tantangan sampai penolakan dialaminya. Tidak jarang mengalami aniaya secara phisik dan sering kali tidak bisa makan. Tetapi semua itu tidak membuatnya menjadi patah semangat untuk memberitakan Injil. Sampai suatu saat dia bertemu dengan seorang yang lumpuh dan sudah berusaha berobat ke mana saja tetapi tidak sembuh. Setelah dia memberitakan Injil dan orang itu menerima Yesus sebagai juru selamat, kemudian dia mendoakannya. Mujizat terjadi, orang itu sembuh dan bisa berjalan. Bukan pujian yang dia terima, melainkan aniaya dari para tetangga orang itu. Dan mereka mengusirnya. Walaupun begitu dia tidak patah semangat, sehingga 2 tahun kemudian berdiri sebuah jemaat di desa itu. Rasul Paulus mengatakan bahwa tubuhnya seperti bejana tanah liat yang rapuh dan mudah pecah, tetapi di dalamnya ada Roh Kudus yang memberi kekuatan melimpah. Sehingga pada waktu ditindas tetapi tidak terjepit, habis akal tetapi tidak putus asa, dianiaya namun tidak ditinggalkan, dihempaskan namun tidak binasa. Kalau tidak ada kekuatan dari Tuhan pasti Paulus sudah patah semangat dan berhenti dari pelayanannya. Pada waktu mengalami berbagai tantangan, dia mematikan dirinya sehingga yang tampak adalah Yesus yang hidup di dalamnya. Kita telah dipenuhi Roh Kudus untuk menjadi saksi-Nya selama kita masih hidup di dunia. Masalah dan tantangan akan senantiasa datang silih berganti. Apakah kita tetap semangat menjadi saksi-Nya? Marilah kita belajar seperti Rasul Paulus yang tidak patah semangat walaupun mengalami banyak masalah. Karena semakin banyak masalah, maka kemuliaan Tuhan Yesus makin nyata dalam hidup kita.
Kata ‘berkat’ berarti: 1] suatu karunia Ilahi yang menyebabkan pekerjaan kita berhasil; 2] kehadiran Allah bersama kita; 3] pemberian Allah, berupa kekuatan, kuasa dan pertolongan; 4] Pekerjaan Allah di dalam dan melalui kita untuk menghasilkan kebaikan. Di dalam Perjanjian Lama, hal pertama yang Allah lakukan dalam relasi-Nya dengan umat manusia adalah memberkati mereka. Allah juga memelihara pekerjaan-Nya dengan memberkatinya. Kehidupan dan sejarah umat Allah berada di bawah pemberlakuan berkat dan kutuk. Sedangkan dalam Perjanjian Baru, seluruh pekerjaan Kristus dapat disimpulkan dengan pernyataan bahwa Allah telah “mengutus-Nya [Yesus Kristus] kepada kamu supaya Ia memberkati kamu” [Kisah Para Rasul 3:26]. Berkat Allah itu bersyarat. Umat Allah harus memilih berkat karena ketaatan atau kutuk karena ketidaktaatan. Bagaimana kita menerima berkat Tuhan? Tiga hal yang dituntut, yaitu: 1] kita harus senantiasa mengharapkan berkat dari Yesus dalam pelayanan, pekerjaan dan keluarga kita; 2] kita harus percaya, mengasihi, dan taat kepada-Nya; 3] kita harus menyingkirkan segala penghalang yang akan merintangi berkat-Nya dari kehidupan kita.
BARCODE BBM CHANNELS
RENUNGAN HARIAN
Menjadi Teladan
02 Juli '15
Umat Yang Memuliakan Allah
20 Juni '15
Sukacita Dalam Perjuangan
15 Juni '15
Copyright © 2012 All rights reserved. Designed and Developed by GIA Dr. Cipto Semarang