SEPEKAN TERAKHIR
  Sabtu, 27 Mei 2017   -HARI INI-
  Jumat, 26 Mei 2017
  Kamis, 25 Mei 2017
  Rabu, 24 Mei 2017
  Selasa, 23 Mei 2017
  Senin, 22 Mei 2017
  Minggu, 21 Mei 2017
POKOK RENUNGAN
Keluarga menjadi hidup jika di dalamnya ada kasih dan keterbukaan untuk saling membangun.
DITULIS OLEH
Bp. Andreas T. Loso
Rohaniwan Pusat
Renungan Lain oleh Penulis:
Home  »  Renungan  »  Membangun Pernikahan Dengan Nilai - Nilai Kerajaan Allah
Membangun Pernikahan Dengan Nilai - Nilai Kerajaan Allah
Kamis, 06 Juni 2013 | Tema: Keluarga Yang Mengutamakan Kerajaan Allah
Membangun Pernikahan Dengan Nilai - Nilai Kerajaan Allah
Kolose 3:18-21
Mary Pipher, dalam bukunya The Shelter of Each Other, memberi nasihat tentang membangun kembali keluarga-keluarga yang bermasalah. Ia menyelidiki bagaimana anak-anak zaman sekarang terkadang terlalu sering menonton televisi dan bermain video game, sehingga mengabaikan pendidikan informal yang diterima dari kerabat mereka.
Ia mencontohkan pertemuan keluarga di mana anak-anak menonton video di ruang belakang sehingga para orang dewasa dapat berbicara tanpa diganggu. Dr. Pipher berpendapat bahwa hiburan semacam ini sesungguhnya merampas sesuatu yang berharga dari anak-anak. Anak-anak perlu bergaul dengan generasi yang lebih tua sehingga mereka dapat mendengar cerita-cerita tentang bibi, paman, kakek-nenek, dan orangtua. Ini membantu mereka belajar dari orang-orang yang telah mendah...selengkapnya »
Kita sering mendengar istilah “kasih”. Memang tema kasih sangatlah populer apalagi di kalangan anak muda yang sedang dimabuk asmara. Sedemikian populernya sehingga ungkapan kasih serasa diobral secara verbal [kata-kata] saja di mana-mana. Kasih juga ramai dibicarakan bahkan dalam perdebatan calon pemimpin yang “memamerkan” program-programnya pun berlomba-lomba menunjukkan visi misinya yang tidak jauh dari kasih. Ironisnya, sedemikian gencarnya membicarakan kasih, perhatian terhadap orang banyak, tetapi kenyataannya banyak yang kecewa karena tidak puas dan mempertanyakan kasih itu. Mengapa demikian? Salah satu penyebabnya adalah karena kasih hanya merupakan tuntutan yang harus dikenakan pada orang lain dan tidak pada diri sendiri. Tuhan Yesus menunjukkan kasih-Nya yang terbesar dalam sejarah dunia ketika Dia digantung di kayu salib. Dia tidak melarikan diri ketika harus menghadapi penderitaan [Matius 26:42], Dia tidak melemparkan penderitaan itu kepada orang lain, Dia menuntut diri-Nya sendiri dan tidak menuntut orang lain. Bagi Yesus, kasih harus segera dipraktikan bukan hanya dibicarakan saja. Kasih itu harus dimulai dari diri sendiri. Ketika Yesus dieksekusi di kayu salib, Dia menghadapi dengan tegar sekalipun harus histeris. Yang terlihat pada diri Yesus ketika tergantung di Kalvari adalah pertama, Yesus rela menderita [wujud kasih] demi manusia berdosa; kedua, Yesus mampu mengalahkan diri-Nya sendiri demi terwujudnya sebuah kasih. Itulah kasih yang termahal. Dia rela mengosongkan diri-Nya mengambil rupa manusia hamba, menderita dan mati di kayu salib bagi kita [Filipi 2:6-8]. Saudara kekasih Tuhan, mungkin memang kita tidak melakukan kasih sesempurna seperti Tuhan Yesus, tetapi melalui peristiwa salib itu Yesus ingin mengajarkan juga sesuatu kepada kita, yaitu sebuah kasih yang berkualitas. Penderitaan Yesus di kayu salib jelas bukan seruan menuntut [memaksa] kita untuk melakukan kasih berkualitas, tetapi salib Kristus adalah mengajar [memberi teladan] kepada murid-murid-Nya bahwa kasih itu seharusnya tulus dan berangkat dari diri sendiri bukan menuntut orang lain atau diri kita dituntut orang lain. Bersediakah kita memiliki kasih berkualitas? Mari kita mengikuti teladan yang diajarkan Tuhan Yesus. Mari kita mulai dari diri sendiri.
Setiap orang yang telah ditebus oleh darah Yesus menjadi milik Tuhan [1 Korintus 6:19-20]. Kita telah dimerdekakan dari perbudakan dosa dan menjadi hamba kebenaran [Roma 6:18] yang tidak lagi hidup untuk dirinya sendiri, tetapi untuk Dia yang telah mati dan telah dibangkitkan bagi kita. Berarti kita harus menjadi pelayan Tuhan [2 Korintus 5:14-15]. Pelayanan umumnya dipahami sebagai kegiatan di lingkup gereja, keterlibatan dalam liturgi [sebagai pembicara, pemimpin puji-pujian, pemain musik, dll], kegiatan diakonia, pelayanan pastoran [konseling, pembinaan pribadi] dan kegiatan misi [kegiatan pemberitaan Injil di tempat-tempat tertentu]. Tetapi sebetulnya pelayanan yang benar tidak hanya terbatas dalam kegiatan-kegiatan tersebut. Pelayanan yang benar adalah buah dari pendewasaan rohani yang melahirkan jiwa hamba seperti Yesus. Pelayanan kepada Tuhan adalah semua tindakan, baik yang dipikirkan, diucapkan dan dilakukan yang sesuai dengan pikiran dan perasaan Tuhan. Pelayanan tidak dimulai dari kegiatan dalam lingkungan gereja, juga tidak dimulai dari Sekolah Tinggi Teologi/Sekolah Alkitab dan kursus pelayanan. Pelayanan dimulai dari sikap hati dan cara berpikir serta gaya hidup atau perilaku yang selalu sesuai dengan keinginan Tuhan setiap hari. Dengan demikian dapat sungguh-sungguh memuaskan atau menyenangkan hati Bapa dan Tuhan Yesus Kristus. Untuk itu harus dilandasi oleh pengembangan cara berpikir yang sesuai dengan Kebenaran Injil. Orang percaya harus benar-benar memahami, menangkap visi Bapa yang berupa rencana penyelamatan sebanyak mungkin manusia di dunia ini: Bapa menghendaki supaya jangan ada yang binasa, melainkan supaya semua orang berbalik dan bertobat [2 Petrus 3:9], Tuhan Yesus menghendaki supaya semua orang diselamatkan dan memperoleh pengetahuan akan kebenaran [1 Timotius 2:4] melalui karya penebusan-Nya. Dengan pemahaman tersebut, tidak tepatlah pemikiran yang memisahkan antara pekerjaan rohani dan pekerjaan duniawi. Profesi dan peran apapun yang disandang oleh orang percaya adalah jabatan rohani untuk mendukung visi dan rencana Bapa tersebut. Jadi orang percaya harus sungguh-sungguh mengembangkan diri secara maksimal di bidang yang digelutinya sebagai ladang pelayanannya. Semua anak Tuhan adalah imamat-imamat bagi Tuhan [1 Petrus 2:9].
Hari-hari ini kesatuan kita sebagai bangsa Indonesia sedang dalam kondisi yang memprihatinkan. Sebagaimana kita lihat, dengar dan rasakan akhir-akhir ini melalui pemberitaan di media massa maupun jejaring media sosial, ujaran-ujaran kebencian semakin marak, kelompok yang satu saling menghujat dengan kelompok lainnya, muncul aksi-aksi pengerahan massa untuk memojokkan pribadi dan kelompok lawannya. Jika gejala ini dibiarkan dan terus menerus berlanjut maka keberadaan kita sebagai sebuah bangsa bisa terancam keberlangsungannya. Beberapa contoh nyata tentang kehancuran sebuah bangsa bisa kita lihat, misalnya bangsa Suriah. Mereka terkoyak-koyak oleh peperangan yang tak kunjung selesai. Penduduk yang tidak terlibat dalam perselisihan politik terancam nyawanya dan lari mengungsi ke negara-negara lain untuk mencari perlindungan. Kita semua tentu tidak menginginkan bangsa dan negara kita bernasib seperti itu. Tanggal 20 Mei kemarin kita memperingati Hari Kebangkitan Nasional. Mengapa kita memperingati hari itu? Tanggal 20 Mei 1908 adalah hari berdirinya Boedi Oetomo sebagai tonggak sejarah bangkitnya rasa dan semangat persatuan, kesatuan, dan nasionalisme, serta kesadaran untuk memperjuangkan kemerdekaan Republik Indonesia. Para pejuang kemerdekaan bangsa kita tanpa mempedulikan perbedaan agama, etnik dan kesukuan serta golongan, mereka memperjuangkan kemerdekaan bagi seluruh rakyat Indonesia. Tetapi akhir-akhir ini perjuangan dan pengorbanan para pahlawan itu hendak dikotori dan dikhianati oleh orang-orang tertentu untuk kepentingan pribadi dan golongannya sendiri. Kita sebagai orang-orang Kristen percaya kepada Tuhan yang adalah Pencipta langit dan bumi, yang juga adalah Tuhan atas bangsa Indonesia. Kita ada di Indonesia ini bukan atas pilihan kita tetapi atas kehendak Tuhan. Karena itu kita meyakini bahwa Tuhanlah yang menempatkan kita untuk lahir sebagai anak dari bangsa Indonesia. Maka kita harus mensyukuri ketetapan Tuhan itu dan ikut mengusahan dan menjaga kesejahteraan bangsa ini. Berdoalah bagi Indonesia. Usahakanlah kesejahteraan bagi bangsa Indonesia. Ikutlah merawat kedamaian dan kerukunan di tengah bangsa Indonesia. Semoga Indonesia tetap utuh dalam bingkai NKRI. Semoga Indonesia menjadi semakin adil dan makmur. Kiranya Tuhan Yesus terus dan semakin dimuliakan di Indonesia. Amin.
Seorang pria mempunyai jabatan kepala bagian dalam sebuah perusahaan. Suatu saat pemilik perusahaan menawarkan promosi jabatan manager produksi dengan syarat melakukan perbuatan yang bertentangan dengan imannya. Bila menolak maka tidak saja gagal promosi tetapi juga harus berhenti bekerja. Semalam dia bergumul. Bila berhenti bekerja bagaimana memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari, biaya anak-anak yang tidak sedikit. Di sisi lain dia tidak mungkin mengkhianati Kristus yang telah berkorban bagi keselamatannya. Pagi harinya dia menghadap pemilik perusahaan dan memilih berhenti bekerja. Walaupun akan menderita tetapi dia berkata bahwa layak menerima penderitaan itu yang tidak sebanding dengan penderitaan-Nya. Petrus mengatakan janganlah heran bila nyala api siksaan datang sebagai ujian dan dianggap sesuatu yang luar biasa sedang terjadi. Sebaliknya bersukacitalah sebagai bagian dari penderitaan Kristus seperti ketika kemuliaan-Nya dinyatakan. Berbahagialah bila dinista karena nama Kristus. Janganlah menderita sebagai pembunuh, pencuri, penjahat atau pengacau. Janganlah malu menderita sebagai orang Kristen, melainkah memuliakan Allah dalam nama Kristus. Petrus telah mempraktekkan perkataannya. Dalam KPR 5, Petrus dan rasul-rasul diadili di mahkamah agama, walaupun dilarang bersaksi dan memberitakan Kristus, mereka menentang. Mereka disesah/dicambuk dengan rotan, tetapi mereka gembira karena merasa layak menerima penderitaan dan penghinaan karena nama Yesus. Di tengah berbagai tawaran yang bertentangan dengan iman, apakah kita tetap teguh mempertahankannya? Ketika mendapat perlakuan yang tidak adil, karya kita tidak dihargai, difitnah, dituduh atas sesuatu yang tidak kita perbuat di mana semua itu berkaitan dengan iman kepada Kristus, apakah kita tetap bisa bergembira dan bersukacita? Bila hal itu diperkenan datang pada diri kita, marilah kita berkata bahwa kita layak menerima bagi kemuliaan Allah.
BARCODE BBM CHANNELS
RENUNGAN HARIAN
Orang Percaya Adalah Fulltimer Tuhan
19 Mei '17
Ungkapan Hati Anak Kecil
09 Mei '17
Jangan Takut, Percaya Saja !
08 Mei '17
Copyright © 2012 All rights reserved. Designed and Developed by GIA Dr. Cipto Semarang