SEPEKAN TERAKHIR
  Minggu, 31 Juli 2016   -HARI INI-
  Sabtu, 30 Juli 2016
  Jumat, 29 Juli 2016
  Kamis, 28 Juli 2016
  Rabu, 27 Juli 2016
  Selasa, 26 Juli 2016
  Senin, 25 Juli 2016
POKOK RENUNGAN
Keluarga menjadi hidup jika di dalamnya ada kasih dan keterbukaan untuk saling membangun.
DITULIS OLEH
Bp. Andreas T. Loso
Rohaniwan Pusat
Renungan Lain oleh Penulis:
Home  »  Renungan  »  Membangun Pernikahan Dengan Nilai - Nilai Kerajaan Allah
Membangun Pernikahan Dengan Nilai - Nilai Kerajaan Allah
Kamis, 06 Juni 2013 | Tema: Keluarga Yang Mengutamakan Kerajaan Allah
Membangun Pernikahan Dengan Nilai - Nilai Kerajaan Allah
Kolose 3:18-21
Mary Pipher, dalam bukunya The Shelter of Each Other, memberi nasihat tentang membangun kembali keluarga-keluarga yang bermasalah. Ia menyelidiki bagaimana anak-anak zaman sekarang terkadang terlalu sering menonton televisi dan bermain video game, sehingga mengabaikan pendidikan informal yang diterima dari kerabat mereka.
Ia mencontohkan pertemuan keluarga di mana anak-anak menonton video di ruang belakang sehingga para orang dewasa dapat berbicara tanpa diganggu. Dr. Pipher berpendapat bahwa hiburan semacam ini sesungguhnya merampas sesuatu yang berharga dari anak-anak. Anak-anak perlu bergaul dengan generasi yang lebih tua sehingga mereka dapat mendengar cerita-cerita tentang bibi, paman, kakek-nenek, dan orangtua. Ini membantu mereka belajar dari orang-orang yang telah mendah...selengkapnya »
Siapa yang pernah mengira bahwa kesediaan seorang karyawan toko sepatu yang juga adalah guru sekolah minggu akan melahirkan hamba-hamba Tuhan dan pengkhotbah terkenal seperti D. L. Moody, F.B. Meyer dan Billy Graham? Ia adalah Edward Kimball, seorang karyawan toko sepatu yang sangat suka kepada anak-anak. Ketika ada waktu luang, ia mengisinya untuk mengunjungi anak-anak dan berusaha membawa mereka kepada Kristus. Melalui Edward Kimball inilah, D.L. Moody diselamatkan dan kemudian menjadi seorang pengkhotbah. Selanjutnya seorang pemuda bernama F.B.Meyer dimenangkan oleh Moody dan setelah dewasa Meyer menjadi pengkhotbah. Dalam pelayanan, Meyer memenangkan J.W. Chapman. Seorang atlet bernama Billy Sunday diselamatkan dalam pelayanan Chapman. Suatu ketika Billy Sunday menyelenggarakan KKR di Charlotte, North Carolina dan seorang pemuda berusia belasan tahun menerima Tuhan Yesus dan menyerahkan hidupnya. Pemuda tersebut bernama Billy Graham. Semuanya dimulai dari kesediaan seorang karyawan toko sepatu. Kita tidak akan pernah tahu bagaimana Tuhan bekerja dan memulai sebuah proses yang luar biasa melalui kesediaan kita melakukan sesuatu bagi Dia. Apa yang sedang Tuhan percayakan kepada kita saat ini? Mengunjungi orang sakit? Melayani anak-anak jalanan? Memberikan tumpangan kepada hamba-hamba Tuhan yang melayani? Karyawan toko sepatu itu tidak pernah bermimpi sebelumnya bahwa apa yang ia lakukan kelak akan melahirkan hamba-hamba Tuhan terkenal. Dan yang pasti melalui hamba-hamba Tuhan ini ribuan atau bahkan lebih banyak lagi jiwa-jiwa yang dimenangkan bagi Tuhan Yesus. Karyawan toko sepatu itu hanya melakukan apa yang semestinya ia lakukan. ’Besar’ atau ’kecil’ nya pekerjaan itu di hadapan manusia, ia tidak peduli. Ia tahu bahwa di hadapan Tuhan tidak ada pekerjaan pelayanan yang hina. Sebenarnya masalah utama manusia bukan terletak pada ketidakmampuan dan kurangnya talenta yang ia miliki, tetapi lebih sering pada ketidakmauan dan tidak bersedia untuk melakukan sesuatu bagi Tuhan. Tanpa perlu mencari tahu apa yang akan Tuhan kerjakan melalui kita, marilah kita melakukan dengan tekun apa yang dapat kita lakukan bagi Dia sehingga nama kita tercatat sebagai orang yang bersedia dipakai Tuhan dan berhak menerima kemuliaan yang telah disediakan-Nya bagi kita.
Gereja adalah persekutuan orang-orang percaya yang dipanggil keluar dari kegelapan menuju kepada terang-Nya yang ajaib. Persekutuan orang-orang pilihan Allah yang berdosa yang telah ditebus dan dimerdekakan dari dosa. Itu artinya di dalam gereja ada sebuah persekutuan yang menciptakan keterikatan hubungan antara anggotanya. Dan hal itu terwujud dalam bentuk saling melayani antara jemaat, seperti saling menguatkan iman, saling menasihati, saling menegur, saling mengajar dan saling menghibur dalam kesesakan. Kodrat alamiah gereja adalah melayani. Namun banyak orang percaya hanya ingin dilayani dan suka dilayani daripada melayani. Tuhan Yesus telah datang ke dunia menjadi manusia, mengambil rupa seorang hamba yang melayani, bukan untuk dilayani. Hal itu merupakan sebuah teladan yang sangat indah dan luar biasa bagi orang percaya. Ia ingin semua orang yang telah dipanggil ke dalam persekutuan yang kudus dengan-Nya agar saling melayani dalam kasih. Jemaat yang terkasih, jika kita rindu untuk melayani Tuhan, mari kita terlibat dalam melayani pekerjaan Tuhan. Tuhan Yesus sendiri telah melayani kita, marilah kita sebagai umat-Nya dengan segenap hati melayani pekerjaan Tuhan yang ada di gereja kita. Masih banyak bagian pelayanan yang bisa kita lakukan di gereja kita, seperti: pelayan musik, paduan suara, visitasi, pendoa dan masih banyaklagi yang lainnya. Tentunya mengambil bagian pelayanan sesuai dengan talenta dan karunia yang berikan. Marilah kita bersama-sama mewujudkan suatu persekutuan yang indah di dalam Kristus Yesus dengan ikut ambil bagian dalam melayani pekerjaan Tuhan.
Bukan ’one-man-band’ tapi orkes simfoni Roma 12:3-8 Sebab sama seperti pada satu tubuh kita mempunyai banyak anggota, tetapi tidak semua anggota itu mempunyai tugas yang sama, demikian juga kita, walaupun banyak, adalah satu tubuh di dalam Kristus; tetapi kita masing-masing adalah anggota yang seorang terhadap yang lain. [ayat 4-5] Pernahkah anda melihat ’one-man-band’? Memang sangat menakjubkan melihat seorang yang dapat memainkan beberapa alat musik sekaligus dalam waktu yang bersamaan hanya seorang diri saja. Tetapi sehebat apapun orang itu memainkan beberapa alat musik seorang diri, tetap tidak sebagus kalau beberapa alat musik itu dimainkan oleh beberapa pemain yang ahli di instrumennya masing-masing. Apalagi kalau kita bandingkan dengan sebuah orkes simfoni yang terdiri dari banyak pemain, masing-masing dengan alat musiknya yang beragam, lalu bermain bersama di bawah pimpinan seorang dirigen, pasti jauh lebih indah daripada ’one-man-band’ tadi. Gereja adalah seperti orkes simfoni, bukan one-man-band. Gereja terdiri dari banyak anggota dan masing-masing anggota mempunyai peran untuk dimainkan. Oleh sebab itu Allah memberikan karunia atau kemampuan yang berbeda-beda kepada masing-masing anggota. Ada yang diberi karunia untuk bernubuat, ada yang diberi karunia untuk melayani, ada yang diberi karunia untuk menyatakan kemurahan, ada yang diberi karunia untuk memimpin, dan sebagainya. Karunia-karunia itu diberikan oleh Roh Kudus untuk dipakai sesuai dengan fungsinya dan pada tempatnya. Bukan untuk kepentingan si pemakai itu, tetapi untuk kepentingan bersama yaitu jemaat. Apabila anggota-anggota jemaat yang sudah menerima karunia itu tidak memfungsikan karunianya maka bisa muncul ’one-man-band’. Munculnya ’one-man-band’ adalah tanda sebuah gereja yang tidak sehat, karena anggota-anggotanya tidak memainkan perannya masing-masing. Gereja yang sehat adalah seperti orkes simfoni dimana semua ikut berperan dengan karunianya masing-masing untuk menghasilkan perpaduan suara musik yang indah. Mari sidang jemaat, jangan hanya tinggal diam saja. Kenalilah karunia yang sudah Tuhan tanamkan di dalam diri anda. Pakailah karunia itu sebagai instrumen alat musik yang anda mainkan untuk menjadi orkes simfoni yang indah dari gereja kita. Tuhan Yesus memberkati. Pdt. Goenawan Susanto
Karunia adalah pemberian atau anugerah dari yang lebih tinggi kedudukannya kepada yang lebih rendah [KBBI]. Jadi pastilah karunia setiap orang berbeda tergantung si pemberi. Demikian juga dengan kita, karunia yang Tuhan anugerahkan kepada kita berlain-lainan sesuai dengan kasih karunia-Nya kepada kita [ayat 6a]. Ada ungkapan yang sangat indah dari Rick Warren tentang sebuah karunia, yaitu “Sebuah karunia yang tidak terungkap tidaklah ada artinya”. Ungkapan ini menyatakan bila karunia tidak diungkapkan atau dengan kata lain disembunyikan, maka akan sangat tidak berarti. Hal itu jugalah yang dikatakan oleh Rasul Paulus kepada jemaat di Roma agar karunia yang kita terima, kita dipergunakan dalam hidup. [ayat 6-8]. Paulus mengingatkan bahwa karunia untuk bernubuat dilakukan sesuai dengan iman kita. Artinya bukan hanya ikut-ikutan atau supaya terlihat “hebat/keren” [ayat 6b]. Ia juga mengajarkan jika kita diberi karunia untuk melayani, mengajar, menasihati, marilah kita pergunakan sesuai dengan karunia yang diberikan Tuhan [ayat 7, 8b]. Lebih jauh Paulus memberi pesan khusus di ayat 8 dalam kita menggunakan karunia tersebut. Jika kita membagi-bagikan sesuatu haruslah dengan hati ikhlas. Artinya, tidak boleh dengan terpaksa, apalagi menggerutu. Jika kita memberi pimpinan harus dengan rajin. Artinya, dilakukan terus menerus, bukan kalau pas ingat atau kalau pas mau. Jika kita menunjukkan kemurahan, hendaklah dengan sukacita. Kita akan menjadi berkat bagi banyak orang jika karunia yang Tuhan anugerahkan tidak kita sembunyikan tetapi kita melakukannya sesuai dengan Firman Tuhan yang ditulis oleh Rasul Paulus dalam suratnya kepada jemaat di Roma.
BARCODE BBM CHANNELS
RENUNGAN HARIAN
Apapun Karunianya, Kasih Pengikatnya
25 Juli '16
Kesatuan Iman
01 Juli '16
Bersatu dan Raih Kemenangan
23 Juli '16
Copyright © 2012 All rights reserved. Designed and Developed by GIA Dr. Cipto Semarang