SEPEKAN TERAKHIR
  Senin, 20 Februari 2017   -HARI INI-
  Minggu, 19 Februari 2017
  Sabtu, 18 Februari 2017
  Jumat, 17 Februari 2017
  Kamis, 16 Februari 2017
  Rabu, 15 Februari 2017
  Selasa, 14 Februari 2017
POKOK RENUNGAN
Keluarga menjadi hidup jika di dalamnya ada kasih dan keterbukaan untuk saling membangun.
DITULIS OLEH
Bp. Andreas T. Loso
Rohaniwan Pusat
Renungan Lain oleh Penulis:
Home  »  Renungan  »  Membangun Pernikahan Dengan Nilai - Nilai Kerajaan Allah
Membangun Pernikahan Dengan Nilai - Nilai Kerajaan Allah
Kamis, 06 Juni 2013 | Tema: Keluarga Yang Mengutamakan Kerajaan Allah
Membangun Pernikahan Dengan Nilai - Nilai Kerajaan Allah
Kolose 3:18-21
Mary Pipher, dalam bukunya The Shelter of Each Other, memberi nasihat tentang membangun kembali keluarga-keluarga yang bermasalah. Ia menyelidiki bagaimana anak-anak zaman sekarang terkadang terlalu sering menonton televisi dan bermain video game, sehingga mengabaikan pendidikan informal yang diterima dari kerabat mereka.
Ia mencontohkan pertemuan keluarga di mana anak-anak menonton video di ruang belakang sehingga para orang dewasa dapat berbicara tanpa diganggu. Dr. Pipher berpendapat bahwa hiburan semacam ini sesungguhnya merampas sesuatu yang berharga dari anak-anak. Anak-anak perlu bergaul dengan generasi yang lebih tua sehingga mereka dapat mendengar cerita-cerita tentang bibi, paman, kakek-nenek, dan orangtua. Ini membantu mereka belajar dari orang-orang yang telah mendah...selengkapnya »
Kesadaran apa yang perlu dimiliki oleh seorang hamba Tuhan agar pelayanannya berkenan kepada Tuhan? Yaitu kesadaran akan siapa dirinya dan siapa Tuhan yang dilayaninya. Allah tidak mengarahkan panggilan-Nya kepada Yesaya. Dia mendengar Allah berkata, “... Siapakah yang mau pergi untuk Aku?” Panggilan Allah bukan hanya untuk beberapa orang terpilih tetapi untuk setiap orang. Apakah kita mendengar panggilan atau tidak tergantung sikap rohani kita. Banyak yang dipanggil tetapi sedikit yang dipilih [Matius 22:14]. Dengan kata lain hanya sedikit yang membuktikan bahwa mereka adalah yang terpilih. Mereka yang terpilih adalah mereka yang masuk ke dalam relasi dengan Allah melalui Yesus Kristus. Dan mereka mengalami perubahan rohani melalui telinga dan hati yang terbuka. Sehingga mereka mendengar “suara Allah” yang terus bertanya, “... siapa yang mau pergi untuk Aku?” Namun harap tidak salah paham di sini Allah menunjukkan bahwa Dia tidak memaksakan kehendak-Nya kepada Yesaya, demikian juga kepada kita. Dalam kesadaran dirinya, Yesaya yang berada dalam hadirat Allah jelas mendengar panggilan Allah. Tanggapan Yesaya yang dilakukan dalam kebebasan sepenuhnya hanya dapat berkata, ”Ini aku, utuslah aku!” Dalam kesadaran siapa dirinya dan siap yang dilayani-Nya bahwa panggilan itu mulia, maka dengan serius dan kesungguhan Yesaya bersedia menjalankan tugasnya dengan benar. Yesaya menyadari kenajisannya dan sekaligus memahami kekudusan Allah-lah yang menguduskan dirinya sehingga dilayakkan untuk melayani Dia. Yesaya sadar sepenuhnya bahwa semua itu hanya karena anugerah-Nya. Yesaya tidak menjadi sombong melainkan sepenuhnya hanya bersandar pada kekuatan Allah untuk menyampaikan kabar baik, berita keselamatan kepada umat-Nya. Bagaimana dengan kita? Sudahkah kita mendengar panggilan-Nya? Bagaimana tanggapan kita? Mari kita belajar dari Yesaya, sehingga kita dapat berkata, ”Ini aku Tuhan, utuslah aku!”
Andaikata ada berita seorang pendeta menyuap seorang ustadz yang menduduki jabatan penting di negara ini. Tindakan mereka ketahuan dan saat ini kasusnya sedang ditangani para ksatria anti-korupsi. Bisa saja orang akan bertanya, “Bagaimana mungkin ini terjadi?” Dua orang pemimpin religius dengan atribut keagamaan yang disandangnya diduga melakukan tindakan tercela? Jika memang demikian kenyataannya seharusnya mereka merasa malu. Malu karena tindakan mereka tidak dapat menjadi teladan sebagaimana diharapkan dari seorang pemuka agama. Tetapi apakah rasa malu itu hanya ditujukan pada mereka saja? Sehingga sindiran-sindiran semacam “suap menyatukan perbedaan” atau “membangun toleransi melalui suap” muncul dari kejengkelan atau sekedar keisengan kita saja. Bahkan yang paling kasar cepat-cepat menyematkan kata “munafik” kepada mereka. Bisa jadi benar bahwa mereka adalah orang-orang beragama yang munafik. Namun sebelum menyematkan itu pada mereka alangkah bijaknya jika kita melihat diri kita terlebih dahulu. Tuan Joko Ndokondo membuka Alkitab lalu mulai mengajar sekelompok kecil orang yang setia mendengarkan pituturnya. Menyikapi perkara sang pendeta dan sang ustadz, ia memberikan nasihat agar jangan buru-buru mencela apalagi menghakimi. Biasanya orang yang cepat menghakimi sebenarnya mempunyai masalah yang sama pada dirinya. Misalnya, orang yang secara berlebihan suka memojokkan orang lain sebagai orang yang tidak bermoral, bisa jadi ia sendiri adalah orang yang menyimpan perbuatan-perbuatan tidak bermoral. Seseorang yang selalu mengobral kebagusan dirinya sambil menghakimi kesalahan orang-orang lain, patut diduga bahwa ia mempunyai masalah besar pada dirinya. Anehnya masalah besar pada dirinya itu tidak disadarinya, malah sebaliknya ia melemparkan tuduhan dan penghakiman pada orang lain untuk menutupi kebejadan dirinya sendiri. Maka alangkah baiknya jika kita melihat diri kita dengan saksama terlebih dahulu. Siapa tahu kita pun memiliki kemunafikan yang tak kalah besar bahkan lebih besar dari orang yang telah kita hakimi sebagai orang munafik. Dan seperti biasa, “Sssttttt…..ttt, jangan bilang siapa-siapa ya?” pinta Tuan Joko Ndokondo menutup pituturnya. Jemaat yang terkasih, marilah kita mempraktekkan firman Tuhan yang menasihati kita agar cepat untuk mendengar tetapi lambat untuk berkata-kata [Yakobus 1:19]. Jika kita mendengar berita yang tidak sedap menimpa orang lain atau saudara seiman kita, janganlah cepat-cepat memberikan kata-kata penghakiman padanya. Baiklah kita mengoreksi diri kita. Apakah kita juga menyimpan tabiat-tabiat tak baik sebagaimana orang itu? Syukur jika tidak. Tetapi jika ya, maka kita pun wajib merasa malu pada diri kita sendiri sebagaimana perbuatan memalukan yang dilakukan orang itu. Dengan demikian niscaya kita terhindar dari kebiasaan menghakimi dan siap mengalami pemulihan dari Roh Kudus. [DDK] Pokok Renungan: Si bijak tidak akan tergoda menghakimi, tetapi si bebal akan suka menunjuk kesalahan orang.
Orang percaya dikatakan sebagai orang-orang yang lebih dari pemenang. Dalam hal apa? ’Dalam semuanya itu’, yaitu dalam penindasan, kesesakan, penganiayaan, kelaparan, ketelanjangan, bahaya dan pedang. Bagaimana kita bisa menjadi pemenang, bahkan lebih dari pemenang dalam hal-hal di atas? Paulus memberikan tiga kunci agar kita dapat hidup sebagai pemenang-pemenang dalam pergumulan hidup kita sehari-hari. Pertama, hiduplah dalam pertobatan yang sungguh. Roma 8:1-4 berbicara mengenai kemerdekaan sejati yang kita peroleh melalui karya penebusan Yesus di kayu salib. Setiap orang yang mau hidup berkemenangan, maka ia harus mengalami pertobatan dan perjumpaan dengan Yesus. Bila seseorang masih hidup dalam pertobatan yang semu, sekalipun ia rajin ke gereja atau melayani, maka ia tidak akan mengalami kemenangan demi kemenangan. Kita harus sungguh-sungguh hidup dalam pertobatan yang benar : tidak ada lagi dusta, fitnah, kebohongan dan gosip. Berhenti berjudi, stop narkoba, tidak lagi mabuk-mabukan, juga dengan tegas meninggalkan dosa-dosa seksual. Kedua, hiduplah dalam pimpinan Roh. Roma 8:5-17 berbicara mengenai hidup yang dipimpin oleh Roh. Setiap orang percaya yang mau hidupnya selalu berkemenangan haruslah peka untuk mendengarkan suara Penolongnya. Ia harus mengikuti semua arahan dan petunjuk yang diberikan oleh Roh Kudus. Baca dan renungkan Firman Tuhan, maka kita akan mendapat tuntunan bagi jalan hidup kita. Ketiga, hiduplah dalam pengharapan [Roma 8:18-30]. Bagaimana kita bisa hidup dalam pengharapan? Tidak ada cara lain selain kita harus dapat melihat dengan jelas apa yang menanti kita di kekekalan. Rasul Paulus dapat melihat hal itu sehingga dengan berani ia berkata, ’Sebab aku yakin, bahwa penderitaan zaman sekarang ini tidak dapat dibandingkan dengan kemuliaan yang akan dinyatakan kepada kita.’ Orang Kristen yang tidak bisa melihat apa yang menantinya di sorga, cenderung mudah kehilangan iman, kasih dan pengharapannya di dunia ini karena matanya melihat apa yang ada di dunia ini.
Belum genap sebulan di awal tahun 2017, kita sudah menikmati kenaikan harga di berbagai bidang. Biaya pengurusan surat-surat kendaraan bermotor naik! Harga bahan bakar minyak [BBM] naik! Subsidi listrik 900 watt dari sebagian pelanggan rencananya akan dicabut! Beriringan dengan itu harga-harga kebutuhan pokok mulai ancang-ancang tak mau ketinggalan. Teringatlah akan sepenggal lagu lawas Iwan Fals “...orang pintar tarik subsidi, anak kami kurang gizi...” Namun apa boleh buat, kenyataannya memang demikian. Subsidi bisa ditarik sewaktu-waktu dan harga-harga menjadi menanjak tinggi atau sebaliknya bisa turun. Demikian konsekwensi sistem ekonomi pasar yang dianut pemerintah kita. Hanya jalan umum di Gombel dari arah Ungaran ke Semarang yang dari dahulu tidak pernah menanjak/naik. Kondisi ini bagi warga negara berbendapatan rendah dapat dipastikan menambah berat beban hidup mereka. Tuan Joko Ndokondo punya nasihat. Dikelilingi khalayak jemaat dari berbagai golongan usia dan jenis kelamin, di ruang interaksi gereja, tuan Joko Ndokondo memberikan wejangannya. Para Bhikku Buddhis mempunyai ajaran bahwa kemelekatan adalah sumber kesengsaraan manusia. Dalam pada itu, tujuan hidup manusia adalah lepas dari segala kemelekatan. “Berisi adalah kosong, kosong adalah berisi” demikian ajaran yang mungkin pernah kita dengar. Ajaran ini tidak sama persis dengan kekristenan. Namun ada kemiripannya. Dalam Kitab Habakuk tertulis bahwa ketika pohon ara tak berbuah, panen anggur gagal, kambing-domba tak ada lagi di kandang. Ngluyur entah kemana. Tetapi Nabi Habakuk tetap akan beria-ria di hadapan Tuhan. Wow...bukankah ini bukti ketidakmelekatan nabi pada harta milik dan kondisi yang terjadi. Rupanya semakin kuatnya kemelekatan kita pada Tuhan selalu berarti semakin kurangnya kemelekatan kita pada pada segala yang fana. Inilah kunci penemuan sukacita yang sejati. Dan seperti biasa “Ssstttt....jangan bilang siapa-siapa, ya?” ungkap tuan Joko Ndokondo menutup penuturannya. Jemaat yang terkasih, apakah kita termasuk pada orang-orang yang sedang terganggu karena kenaikan harga-harga? Ataukah tidak terganggu? Marilah kita uji hati kita dengan saksama. Darimanakah sumber kekuatiran atau ketenangan itu? Apakah kekuatiran dan ketenangan itu muncul karena kemelekatan kita pada materi? Pendapatan kita rendah karenanya kita kuatir? Sebaliknya pendapatan kita berlimpah maka damailah hati kita? Ini wajar tetapi sekaligus tantangan bagi kita yang mau menemukan sukacita sejati di dalam Tuhan. Oleh karena itu marilah kita bersama-sama belajar dari berbagai kondisi yang kita alami untuk mengalami sukacita karena kemelekatan kita pada Tuhan yang kita yakini pasti punya maksud baik bagi umat-Nya.
BARCODE BBM CHANNELS
RENUNGAN HARIAN
Mengalami Tuhan �2
22 Januari '17
Berjuang Sampai Akhir
06 Februari '17
Mengalami Tuhan
10 Februari '17
Copyright © 2012 All rights reserved. Designed and Developed by GIA Dr. Cipto Semarang