SEPEKAN TERAKHIR
  Selasa, 28 Maret 2017   -HARI INI-
  Senin, 27 Maret 2017
  Minggu, 26 Maret 2017
  Sabtu, 25 Maret 2017
  Jumat, 24 Maret 2017
  Kamis, 23 Maret 2017
  Rabu, 22 Maret 2017
POKOK RENUNGAN
Keluarga menjadi hidup jika di dalamnya ada kasih dan keterbukaan untuk saling membangun.
DITULIS OLEH
Bp. Andreas T. Loso
Rohaniwan Pusat
Renungan Lain oleh Penulis:
Home  »  Renungan  »  Membangun Pernikahan Dengan Nilai - Nilai Kerajaan Allah
Membangun Pernikahan Dengan Nilai - Nilai Kerajaan Allah
Kamis, 06 Juni 2013 | Tema: Keluarga Yang Mengutamakan Kerajaan Allah
Membangun Pernikahan Dengan Nilai - Nilai Kerajaan Allah
Kolose 3:18-21
Mary Pipher, dalam bukunya The Shelter of Each Other, memberi nasihat tentang membangun kembali keluarga-keluarga yang bermasalah. Ia menyelidiki bagaimana anak-anak zaman sekarang terkadang terlalu sering menonton televisi dan bermain video game, sehingga mengabaikan pendidikan informal yang diterima dari kerabat mereka.
Ia mencontohkan pertemuan keluarga di mana anak-anak menonton video di ruang belakang sehingga para orang dewasa dapat berbicara tanpa diganggu. Dr. Pipher berpendapat bahwa hiburan semacam ini sesungguhnya merampas sesuatu yang berharga dari anak-anak. Anak-anak perlu bergaul dengan generasi yang lebih tua sehingga mereka dapat mendengar cerita-cerita tentang bibi, paman, kakek-nenek, dan orangtua. Ini membantu mereka belajar dari orang-orang yang telah mendah...selengkapnya »
Setiap orang rindu menikmati kebebasan. Misalnya bebas beribadah menurut keyakinannya, bebas berpendapat secara bertanggung-jawab, bebas menentukan pilihan dalam PEMILU, dan bebas memilih profesi. Semua itu adalah contoh-contoh kebebasan yang kita nikmati dan berharap dapat tetap terpelihara dengan baik dalam masyarakat bangsa kita. Namun semakin tua dunia ini, tuntutan akan kebebasan yang melebihi batas kewajaran pun kian tinggi. Misalnya sex bebas dalam berbagai bentuknya. Mulai dari sex sebelum nikah, hidup bersama tanpa ikatan pernikahan [kumpul kebo], hingga bebas berhubungan intim dengan sesama jenis kelamin. Kebebasan macam ini meski masih tabu dalam masyarakat kita, toh sudah mulai menjadi kian biasa dipraktekkan. Bisa jadi kian lama kian Tuan Joko Ndokondo, si ahli dalam merenungkan kenyataan, turut memikirkan tuntutan kebebasan yang kebablasan ini. Di hadapan para pendengar setianya, ia mulai menyampaikan wejangannya. Keinginan akan kebebasan yang sebebas-bebasnya sudah menjadi bagian dari manusia sejak dari mulanya. Adam dan Hawa jatuh dalam dosa karena keinginan untuk bebas. Mereka tidak puas hidup dalam batasan-batasan kebebasan yang diberikan oleh Allah [ayat 2-3]. Melalui bujukan si ular, angan-angan Hawa akan kehidupan bebas lepas dari ‘kungkungan’ Allah makin menguasai pikirannya. Dan itu ia tularkan pada Adam, suaminya. Bagi Adam dan Hawa sebuah petualangan baru saja dimulai. Sebuah petualangan untuk menikmati kebebasan sebebas-bebasnya. Bebas dari kungkungan Allah. Bebas menjadi seperti allah bagi dirinya sendiri. Kebebasan semacam itu diperjuangkan dengan cara melawan Allah. Adam dan Hawa tidak menyadari bahwa kebebasan yang kebablasan itu justru memperbudak mereka. Saat itu pula dosa menjadi tuan agung mereka menggantikan Allah. Mereka gagal menyadari bahwa kebebasan yang sejati hanya ada ketika mereka menjadi penurut-penurut Allah. Seperti biasa Tuan Joko Ndokondo tidak memberi kesempatan seorang pun untuk bertanya. Tiba-tiba sebuah desisan panjang seperti ular keluar dari mulutnya, “Sssstt.....ttt, jangan bilang siapa-siapa ya?” Dan para pendengar setianya seperti terhipnotis diam seribu bahasa mengikuti kehendak sang tuan. Jemaat yang terkasih, hidup bebas dalam batasan yang diberikan oleh Allah adalah kebebasan kita yang sejati. Sama seperti ikan, hanya dapat bebas ketika ia berada dalam batasan air. Di luar batasan air, meski tampak menggoda, hanya akan membuat ikan mati. Oleh sebab itu janganlah kita mau hidup bebas sebebas-bebasnya. Melainkan hendaknya kita mau hidup bebas dengan mengikuti kehendak Allah. Selamat hidup bebas.
Pertengkaran dimana-mana. Anak-anak dalam satu keluarga rutin bertengkar. Orang-orang dewasa pun demikian. Bertengkar di kantor-kantor, di ruang-ruang rapat, di jalan-jalan dan di manapun juga. Seolah-olah menguatkan slogan “apapun profesinya dan berapapun usianya, bertengkar adalah menu favoritnya”. Jika dipikir-pikir mengapa banyak orang suka bertengkar? Padahal bertengkar itu tidak enak lho? Kecuali bagi yang hobinya ribut, mungkin jika tidak bertengkar malah membuat kepala pusing tujuh keliling. Namun benarkah ada orang yang hobinya bertengkar? Mungkin ada juga orang yang demikian itu, yang tidak mau stress sendiri, yang caper alias cari perhatian, yang coba mengalihkan perhatian pada orang lain agar kesalahannya dapat ditutupi, atau yang sebenarnya gagal fokus? Masalah pertengkaran tidak luput dari perhatian Tuan Joko Ndokondo. Baginya pertengkaran adalah masalah klasik. Konon ada yang bertengkar karena membela kebenaran dan keadilan. Namun banyak pula yang bertengkar karena ujung-ujungnya memperebutkan gengsi diri. Ingin jadi yang nomor satu, ingin jadi yang paling berkuasa, ingin jadi yang paling dihormati. Bagi Tuan Joko Ndokondo yang seperti inilah yang disebut bertengkar karena gagal fokus. Seperti ditunjukkan oleh murid-murid Tuhan Yesus yang bertengkar karena memperdebatkan “siapa yang terbesar di antara mereka”. Mereka tidak sadar jika sudah gagal fokus. Bukankah sebagai murid Tuhan harusnya fokus hidup mereka tidak pada diri mereka sendiri? Bukankah seharusnya fokus hidup mereka justru pada orang lain, terutama yang kecil dan tak terpandang dalam masyarakat? Kepada murid-murid yang gagal fokus, Tuhan telah menunjukkan bagaimana seharusnya fokus hidup tiap murid-Nya. Dibawa-Nya seorang anak kecil lalu diletakkannya di tengah-tengah murid-murid yang sedang bertengkar. “Inilah fokus hidupmu! Anak kecil yang tak terpandang, yang diremehkan banyak orang. Sambutlah mereka ini di dalam nama Tuhan. Jangan ribut lagi karena hasrat diri ingin disambut atau diutamakan! Hanya dengan demikianlah sebenarnya kalian telah menyambut Tuhan dan menyambut Bapa”, ujar Tuan Joko Ndokondo. Sebelum tiap orang sempat berkomentar atau bertanya tiba-tiba “Sssttttt…ttt jangan bilang siapa-siapa, ya?” katanya buru-buru menutup pembicaraan. Jemaat yang terkasih, sejak kita lahir kita sudah biasa minta diperhatikan. Dan saat usia kita sudah dewasa pun kita tetap mau jadi yang nomor satu. Itu semua tampak wajar saja. Namun bisa menjadi tidak wajar jika perhatian kita hanya pada diri kita sendiri. Akibatnya kita mudah tersinggung, mudah memusuhi orang lain yang tidak mendukung kita, dan bertengkar. Kita lupa bahwa sebagai murid Tuhan seharusnyalah kita memperhatikan orang lain. Terutama orang-orang kecil dan tak terpandang dalam masyarakat. Tuhan ingin mereka menjadi fokus perhatian dan pelayanan kita. Selamat berfokus, semoga tidak gagal fokus.
Optimus Prime sang pemimpin autobots [kumpulan robot berwatak baik] pun terus terdesak oleh serangan dari para deceptions [kumpulan robot jahat]. Megatron sebagai pemimpin tertinggi Decepticons terus menyerang, memukul dan bahkan memojokkan Optimus Prime. Saat terburuk yang tidak diinginkan pun benar-benar terjadi. Optimus Prime terbunuh oleh Megatron, sang pemimpin Decepticons. Untuk menghidupkan kembali Optimus Prime diperlukan tenaga baru dari sebuah “lempengan baterai” yang langka. Demi menghidupkan sang pemimpin, para autobots mencari “lempengan baterai” langka tersebut ke berbagai tempat. Setelah ditemukan, “lempengan baterai langka” tersebut berhasil menghidupkan Optimus Prime. Bahkan tidak hanya itu, berkat kekuatan “lempengan baterai” tersebut, sang pemimpin autobots ini memiliki kekuatan yang jauh lebih dahsyat, hingga ia berhasil mengalahkan megatron. Itulah ringkasan dari sebagian cerita film Transformer yang menjadi box office di berbagai bioskop dunia. Hidup manusia tidak jauh berbeda dengan cerita di atas. Oleh karena dosa, manusia sesungguhnya telah mati. Tidak ada harapan lagi untuk hidup. Hanya oleh “kekuatan baru” saja kita dapat diselamatkan dan memperoleh hidup yang kekal. “Kekuatan baru” itu adalah pengorbanan Yesus bagi manusia. 1 Petrus 2:9-10 menulis: “Tetapi kamulah bangsa yang terpilih, imamat yang rajani, bangsa yang kudus, umat kepunyaan Allah sendiri, supaya kamu memberitakan perbuatan-perbuatan yang besar dari Dia, yang telah memanggil kamu keluar dari kegelapan kepada terang-Nya yang ajaib: kamu, yang dahulu bukan umat Allah, tetapi yang sekarang telah menjadi umat-Nya, yang dahulu tidak dikasihani tetapi yang sekarang telah beroleh belas kasihan.” Jelas kiranya ayat ini bagi kita semua bahwa kita dahulu adalah orang-orang yang ada dalam “kegelapan”. Oleh karena kasih-Nya, kita menjadi ciptaan baru. Kita menjadi anak-anak terang. Bagaimana hidup kita saat ini? Masihkah kita tinggal dalam “kegelapan” oleh karena dosa? Atau kita sudah jauh meninggalkan dosa dan berkomitmen menjadi ciptaan yang baru? Jawabannya hanya kita pribadi yang tahu akan hal ini. Murid Kristus yang sejati berarti berani berkomitmen, percaya kepada Yesus dan bersedia dididik oleh-Nya supaya kita menjadi ciptaan baru-Nya.
Di musim penghujan dan angin kencang, sering terjadi pohon tumbang. Pohon yang tumbang bukan pohon kecil tetapi pohon besar yang kelihatan kokoh, sangat rindang dan subur. Pohon tersebut tumbang karena akarnya yang tidak kuat atau rapuh. Saat menanam pohon yang nantinya diharapkan menjadi besar dan rindang seharusnya diperhatikan apakah akar pohon tersebut bisa tumbuh dengan baik, luas dan dalam. Timur Tengah daerah dengan padang pasir sering terjadi badai topan tetapi tidak ada pohon korma yang tumbang karena badai. Pada waktu menanam di atas tunas pohon diletakkan batu, yang semakin hari semakin besar dengan tujuan sebelum tumbuh ke atas, akar tumbuh sangat dalam dan kuat. Sebagai murid harus berakar kuat di dalam Dia, tetap tinggal di dalam Tuhan. Berakar dulu makin dalam baru kemudian tumbuh ke atas. Setiap murid harus belajar dan memahami Firman Tuhan sebagai dasar kehidupan rohani yang kokoh. Hal itu sangat penting karena angin kencang yang berupa pengajaran-pengajaran palsu yang menawan, tradisi, berbagai macam masalah dan tantangan yang dihadapi bisa membuat tumbang iman murid Kristus. Sebagian orang lebih suka pelayanan yang dilihat banyak orang dibanding dengan tekun belajar Firman yang tidak kelihatan. Saat ini marak tawaran pengajaran-pengajaran baru yang dikemas demikian bagus sehingga membuat banyak orang tertarik untuk mengikutinya. Bila kita tidak berakar kuat dalam Firman, akan sangat mudah untuk bimbang dan akan mengambil keputusan mengikuti pengajaran baru itu walaupun bertentangan dengan Firman. Tekanan ekonomi, masalah keluarga, masalah pekerjaan bahkan masalah pelayanan akan mudah membuat kita lari dari Tuhan apabila tidak tetap di dalam Dia. Marilah kita mau mengorbankan sedikit waktu untuk tekun membaca dan merenungkan Firman sehingga iman kita tidak mudah tumbang.
BARCODE BBM CHANNELS
RENUNGAN HARIAN
Pintu-Pintu Yang Tertutup
25 Maret '17
Hidup Penuh Misteri Ilahi
16 Maret '17
Teruslah Berkarya
19 Maret '17
Copyright © 2012 All rights reserved. Designed and Developed by GIA Dr. Cipto Semarang