SEPEKAN TERAKHIR
  Sabtu, 23 Mei 2015   -HARI INI-
  Jumat, 22 Mei 2015
  Kamis, 21 Mei 2015
  Rabu, 20 Mei 2015
  Selasa, 19 Mei 2015
  Senin, 18 Mei 2015
  Minggu, 17 Mei 2015
POKOK RENUNGAN
Keluarga menjadi hidup jika di dalamnya ada kasih dan keterbukaan untuk saling membangun.
DITULIS OLEH
Bpk. Andreas T. Loso
Kontributor
Renungan Lain oleh Penulis:
Home  »  Renungan  »  Membangun Pernikahan Dengan Nilai - Nilai Kerajaan Allah
Membangun Pernikahan Dengan Nilai - Nilai Kerajaan Allah
Kamis, 06 Juni 2013 | Tema: Keluarga Yang Mengutamakan Kerajaan Allah
Membangun Pernikahan Dengan Nilai - Nilai Kerajaan Allah
Kolose 3:18-21
Mary Pipher, dalam bukunya The Shelter of Each Other, memberi nasihat tentang membangun kembali keluarga-keluarga yang bermasalah. Ia menyelidiki bagaimana anak-anak zaman sekarang terkadang terlalu sering menonton televisi dan bermain video game, sehingga mengabaikan pendidikan informal yang diterima dari kerabat mereka.
Ia mencontohkan pertemuan keluarga di mana anak-anak menonton video di ruang belakang sehingga para orang dewasa dapat berbicara tanpa diganggu. Dr. Pipher berpendapat bahwa hiburan semacam ini sesungguhnya merampas sesuatu yang berharga dari anak-anak. Anak-anak perlu bergaul dengan generasi yang lebih tua sehingga mereka dapat mendengar cerita-cerita tentang bibi, paman, kakek-nenek, dan orangtua. Ini membantu mereka belajar dari orang-orang yang telah mendahului mereka.

Meskipun di sekitar kita sering terjadi kasus-kasus pengingkaran dan penyelewenangan perkawinan, bahkan berujung pada perceraian, kita tidak perlu pesimis dan apatis. Justru di sinilah peranan kita untuk mengupayakan dan menjaga agar perkawinan benar-benar menjadi pilihan dan panggilan hidup yang bisa dipertanggungjawabkan, baik di hadapan masyarakat maupun di hadapan Tuhan. Berdasarkan kodratnya, perkawinan terarah pada kelahiran anak yang merupakan buah cinta dari suami istri, sekaligus menurunkan kehidupan baru. Oleh karena itu, keluarga kristiani dipanggil untuk menjadi pencinta, perawat, penjaga dan pembela kehidupan. Pasangan suami istri harus mempertahankan kes...selengkapnya »
Belajar memahami kehendak Allah harus dimulai dari pemahaman akan rancangan Agung Allah Bapa yang dilaksanakan melalui karya penebusan di dalam Tuhan Yesus Kristus. Satu-satunya tujuan penebusan [anugerah keselamatan] yang sangat mahal harganya itu adalah untuk mengembalikan manusia pada rancangan semula Allah, yaitu memiliki kemuliaan Allah yang telah hilang. Kedua ayat di atas menjelaskan bahwa Allah menghendaki supaya semua orang diselamatkan, memperoleh pengetahuan akan kebenaran, sehingga tidak ada yang binasa, melainkan supaya semua orang berbalik dan bertobat. Kriteria yang menggambarkan kemuliaan Allah antara lain: &’61607; sempurna seperti Bapa [ Matius 5:48]. &’61607; kudus dan tidak bercacat [Efesus 1:4; Ibrani 12:10]. &’61607; mengambil bagian dalam kodrat ilahi [2 Petrus 1:4]. &’61607; memiliki pikiran dan perasaan Kristus [Pilipi 2:5]. Jadi bukan sekedar supaya menjadi orang baik secara moral umum. Hal ini tidak bisa terjadi secara otomatis dan instan, melainkan perlu usaha keras dan serius masuk dalam proses keselamatan. Bukan suatu hal yang mudah, tetapi sangat sulit dan nyaris mustahil, namun bagi Allah tidak ada yang mustahil [Lukas 1:37]. Selanjutnya, sementara kita secara serius masuk dalam proses tersebut, untuk menjadi pribadi yang berkenan kepada Allah, kita juga harus membantu orang lain masuk dalam proses yang sama, supaya mereka juga bisa dipulihkan dan memiliki kemuliaan Allah. Inilah kehendak Allah yang dinyatakan oleh Tuhan Yesus dalam Amanat Agung [Matius 28:19-20]. Umat tebusan harus senantiasa setiap hari memperkarakan kedua hal tersebut, karena merupakan landasan pelayanan yang dikehendaki oleh Bapa. Hiduplah seperti orang arif dan pergunakan waktu yang ada [Efesus 5:15-16]. Syarat penting untuk memahami kehendak Allah tersebut adalah tidak menjadi serupa dengan dunia atau tidak mencintainya dan juga terus mengalami pembaharuan pikiran [Roma 12:2]. Untuk hal ini orang percaya harus terus belajar mengenal kebenaran Injil yang murni, yaitu apa yang diajarkan dan dilakukan oleh Tuhan Yesus. Dengan mengenal kebenaran Injil dan pimpinan Roh Kudus, kita menjadi peka akan suara dan kehendak Bapa untuk dilakukan.
Henry Bosch mengatakan, “ Hidup begitu singkat. Jadikan hidup Anda indah!” Untuk menekankan betapa singkatnya hidup ini, pemazmur juga menggambarkannya sebagai rumput dan bunga [ayat 15,16]. Hijaunya rumput dan cantiknya bunga sangat menyejukkan hati. Selain mengeluarkan aroma yang wangi bunga juga berperan penting dalam menghasilkan bibit baru. Namun pernahkah kita menghitung hari-hari “kehidupannya”? Ternyata aroma wangi & kecantikannya berlalu begitu cepat. Pemazmur mengingatkan kepada kita betapa hidup kitapun seperti itu. Teramat sangat singkat! Oleh karenanya mari kita menggunakannya dengan cermat “saat-saat kita berbunga”. Dengan madu kasih Allah yang ada dalam “bunga” hati kita mari kita menghasilkan bibit-bibit baru dalam keluarga kita, yaitu ‘GENERASI ILAHI” yang mengasihi dan mengerti apa yang menjadi kehendak Allah dalam hidup ini. Bagaimana hal itu bisa terwujud? Simaklah apa yang dikatakan oleh Pemazmur dalam perikop ini: • Kasih setia Tuhan selalu ada bila kita takut akan Tuhan [ayat 17]. • Keadilannya bagi anak-cucu kita bila kita berpegang teguh pada perjanjian-Nya dan ingat untuk melakukan perintah-Nya [ayat 18]. Mungkin kita merasa selama ini menggunakan waktu hanya untuk mencari uang... uang... dan uang untuk memenuhi kebutuhan hidup keluarga yang kita kasihi. Hal tersebut tidak salah karena kita wajib memelihara kelangsungan hidup keluarga kita. Namun akan menjadi salah apabila dalam kesibukan pekerjaan ataupun pelayanan kita, kita melupakan esensi yang penting bagi generasi penerus kita, yaitu keselamatan jiwa mereka! Sudahkah kita mempersiapkan masa depan mereka sesuai dengan kehendak Allah? Amin.
JANJI! Ya, setiap orang pernah membuat janji. Apakah kepada istri, suami, anak-anak, sahabat, kolega, dsb. Tetapi seberapa sering kita berkomitmen terhadap janji-janji yang kita buat. Atau dengan kata lain, sudahkah kita menjadi orang-orang yang setia menepati janji kita sendiri? Janji yang selalu kita tepati akan membangun diri sendiri menjadi orang yang berpribadi, disegani, dan dipercaya oleh banyak orang. Tetapi bagaimanakah jadinya jika kita sering tidak menepati janji yang kita buat? Sudah barang tentu kita akan ditinggalkan dan tidak dipercaya oleh banyak orang, termasuk orang-orang yang selama ini dekat dengan kita. Saudara, kerinduan dan rencana Tuhan adalah menyelamatkan kita dari maut. Mengapa demikian? Ya, karena Tuhan begitu sangat mengasihi kita semua. Tuhan tidak ingin manusia binasa karena dosa. Tuhan ingin manusia kembali ada dalam firdaus-Nya yang penuh dengan damai sejahtera dan keamanan. Terlebih dari itu bahwa Tuhan berjanji akan selalu bersama menjadi Allah kita, dan kita menjadi umat Allah [2 Korintus 6:16], bahkan lebih dari itu bahwa Allah akan menjadi Bapa kita dan kita semua menjadi anak-anak-Nya [2 korintus 6:18]. Indah sekali bukan? Jika Allah yang adalah Bapa kita membuat janji untuk keselamatan dan kebaikan kita, maka janji itu adalah ya dan amin. Itulah perkenanan Tuhan atas kita. Oleh sebab itu Tuhan tidak mau kita ada dalam kenajisan dunia ini, kita harus keluar dari ‘kemesraan’ dengan dunia ini yang penuh dengan berhala dan ilah zaman yang ciri-cirinya adalah memuaskan nafsu kedagingan. Entah itu cinta harta benda, uang, kenikmatan nafsu yang mempertuhankan perut, mencari perlindungan dan pengharapan dari kuasa-kuasa setan yang menjijikan, pergi ke tempat-tempat ‘kotor’, diperbudak oleh ego yang mementingkan diri sendiri, dll. Oleh karena kita memiliki janji-janji Tuhan yang menyelamatkan kita, mari kita mencari perkenanan Tuhan dengan menyucikan diri kita dari pencemaran jasmani dan rohani supaya menyempurnakan kekudusan kita dalam takut akan Allah [2 Korintus 7:1].
Ketika saya masih SMP, kelas kami diwajibkan untuk mengikuti pelajaran ekstra kulikuler berenang di kolam renang yang sudah ditentukan oleh guru. Bagi yang tidak mengikutinya, nilai ekstra kulikulernya kosong. Maka semua harus ikut termasuk saya. Saya dengan perasaan takut memohon izin untuk tidak ikut pelajaran tersebut karena trauma pernah tenggelam di sungai dekat kampung saya. Saya terus berusaha menerangkan perasaan takut saya kepada sang guru. Namun beliau dengan tenang tetapi tegas memberikan jawaban bahwa semua anak harus bisa mengenal karakter air, harus bisa hidup di air karena sebagian tanah air kita terdiri dari air. Kemudian beliau mengatakan dengan tegas bahwa dia akan menjaga keselamatan saya agar tidak tenggelam. Akhirnya saya menyerah dan mengikuti pelajaran ekstra tersebut. Seperti yang dikatakan, pak guru mengajar kami setiap Jumat sore dengan sabar sampai kami bisa berenang. Beliau dengan begitu sabar mengajar dan membimbing saya dari takut kedalaman air menjadi menyukai air dan renang. Selama belum bisa renang, saya menganggap kedalaman air adalah menakutkan, kuatir tenggelam dan mati. Tetapi dengan kesabaran untuk berusaha taat dan mengikuti nasihat dan ajaran guru, saya mampu mengatasi trauma itu. Dari pengalaman di atas, kita ingat ketika Tuhan akan mengutus Yesaya. Ia merasa tidak layak dan tidak mampu di hadapan Allah karena sadar sebagai orang berdosa dan najis bibir [ayat 5]. Kerendahan hatinya dengan mengaku sebagai orang yang najis bibir, kejujurannya ketika mengakui dia tinggal di tempat orang yang najis bibir, dan ketaatannya untuk melakukan perintah-Nya telah membuat Allah jatuh hati dan berkenan kepada Yesaya [ayat 7-8]. Sehingga Allah memilih Yesaya menjadi alat-Nya untuk memulihkan bangsa yang masih tegar tengkuk [ayat 9-10]. Allah menginginkan kita menjadi pribadi yang jujur, rendah hati, dan mentaati setiap firman-Nya, agar kita berkenan di hadapan-Nya. Dan jika Allah berkenan kepada kita, Tuhan akan membimbing dan memberikan ketentraman kepada kita seperti ketika Tuhan berjanji menyertai Musa di padang gurun [Keluaran 33:14]. Janji Tuhan ini diberikan kepada Musa karena Allah mengenal dan berkenan kepadanya [Keluaran 33:17].
BARCODE BBM CHANNELS
RENUNGAN HARIAN
Setangkai Bunga Tanpa Cinta
30 April '15
Membuat Sang Tuan Puas
02 Mei '15
Power
17 Mei '15
Copyright © 2012 All rights reserved. Designed and Developed by GIA Dr. Cipto Semarang