SEPEKAN TERAKHIR
  Kamis, 30 Oktober 2014   -HARI INI-
  Rabu, 29 Oktober 2014
  Selasa, 28 Oktober 2014
  Senin, 27 Oktober 2014
  Minggu, 26 Oktober 2014
  Sabtu, 25 Oktober 2014
  Jumat, 24 Oktober 2014
POKOK RENUNGAN
Keluarga menjadi hidup jika di dalamnya ada kasih dan keterbukaan untuk saling membangun.
DITULIS OLEH
Bpk. Andreas T. Loso
Kontributor
Renungan Lain oleh Penulis:
Home  »  Renungan  »  Membangun Pernikahan Dengan Nilai - Nilai Kerajaan Allah
Membangun Pernikahan Dengan Nilai - Nilai Kerajaan Allah
Kamis, 06 Juni 2013 | Tema: Keluarga Yang Mengutamakan Kerajaan Allah
Membangun Pernikahan Dengan Nilai - Nilai Kerajaan Allah
Kolose 3:18-21
Mary Pipher, dalam bukunya The Shelter of Each Other, memberi nasihat tentang membangun kembali keluarga-keluarga yang bermasalah. Ia menyelidiki bagaimana anak-anak zaman sekarang terkadang terlalu sering menonton televisi dan bermain video game, sehingga mengabaikan pendidikan informal yang diterima dari kerabat mereka.
Ia mencontohkan pertemuan keluarga di mana anak-anak menonton video di ruang belakang sehingga para orang dewasa dapat berbicara tanpa diganggu. Dr. Pipher berpendapat bahwa hiburan semacam ini sesungguhnya merampas sesuatu yang berharga dari anak-anak. Anak-anak perlu bergaul dengan generasi yang lebih tua sehingga mereka dapat mendengar cerita-cerita tentang bibi, paman, kakek-nenek, dan orangtua. Ini membantu mereka belajar dari orang-orang yang telah mendahului mereka.

Meskipun di sekitar kita sering terjadi kasus-kasus pengingkaran dan penyelewenangan perkawinan, bahkan berujung pada perceraian, kita tidak perlu pesimis dan apatis. Justru di sinilah peranan kita untuk mengupayakan dan menjaga agar perkawinan benar-benar menjadi pilihan dan panggilan hidup yang bisa dipertanggungjawabkan, baik di hadapan masyarakat maupun di hadapan Tuhan. Berdasarkan kodratnya, perkawinan terarah pada kelahiran anak yang merupakan buah cinta dari suami istri, sekaligus menurunkan kehidupan baru. Oleh karena itu, keluarga kristiani dipanggil untuk menjadi pencinta, perawat, penjaga dan pembela kehidupan. Pasangan suami istri harus mempertahankan kes...selengkapnya »
Johnny seorang manager sebuah perusahaan tekstil duduk termenung di ruang kantornya. Ia yang seorang aktivis sebuah gereja sedang galau karena kebutuhan yang harus segera dipenuhinya. Dua orang anaknya yang bersamaan masuk perguruan tinggi dan menengah atas membutuhkan biaya yang sangat besar. Tabungannya telah terkuras habis untuk perbaikan rumah yang rusak karena badai topan. Imannya mengatakan bahwa Tuhan pasti akan menyediakan apa yang menjadi kebutuhannya tetapi hatinya tetap gelisah juga. Tiba-tiba dia dikejutkan dengan pintu ruangan yang diketuk, seorang anak buahnya dengan muka sedih berkata dengan terbata-bata, “Maaf Pak, saya mengganggu. Anak saya dirawat di rumah sakit, demam berdarah dan cukup serius. Saya butuh dana untuk biaya anak saya. Bolehkah saya pinjam pribadi kepada Bapak karena saya sudah tidak bisa pinjam lagi di koperasi.” Dia mengeluarkan dompetnya dan berkata, “Ini saya ada uang, mungkin jumlahnya tidak banyak. Pakai saja, tidak perlu dikembalikan.” Ia tetap murah hati walaupun sedang dalam masalah. Jemaat Makedonia, walaupun sedang dalam masalah yang sangat berat dan hidup dalam kemiskinan tetapi dengan sukacita menyatakan kemurahan hatinya dengan memberikan bantuan kepada pelayanan pekerjaan Tuhan. Mereka memberikan melebihi kemampuan mereka dan mendesak Rasul Paulus untuk mau menerima pemberian mereka. Hal itu bisa terjadi karena mereka merasa berhutang kepada Tuhan yang telah lebih dahulu menyatakan kemurahan hati-Nya kepada mereka. Untuk menyatakan kemurahan hati dalam keadaan baik dan berkecukupan akan sangat mudah, tetapi Tuhan ingin kita dalam keadaan kesulitan tetap murah hati. Yesus telah memberi teladan kepada kita. Di saat tidak disukai oleh pemimpin-pemimpin agama dan dipersulit pelayanan-Nya, Dia tetap murah hati dengan memberi makan yang lapar, menyembuhkan yang sakit, membangkitkan yang mati, memberi penghiburan pada yang susah. Marilah sebagai murid Yesus, kita bermurah hati dalam segala keadaan.
Kisah Para Rasul 9:36-42 Di Yope ada seorang murid perempuan bernama Tabita dalam bahasa Yunani Dorkas. Perempuan itu banyak sekali berbuat baik dan memberi sedekah. (Ayat 36b) Tabita adalah seorang biasa. Alkitab menyebut identitasnya hanya sebagai seorang murid perempuan. Dia bukan seorang nyonya atau istri dari seorang terkemuka. Dia juga bukan seorang pengusaha atau seorang kaya. Kemungkinan dia seorang single atau seorang janda. Mungkin dia seorang yang hidup secara sederhana. Tapi ada sesuatu yang istimewa di dalam dirinya. Dia adalah seorang murid yang benar-benar melakukan ajaran Tuhan Yesus. Firman Tuhan berkata: ”Ibadah yang murni dan yang tak bercacat di hadapan Allah, Bapa kita, ialah mengunjungi yatim piatu dan janda-janda dalam kesusahan mereka, dan menjaga supaya dirinya sendiri tidak dicemarkan oleh dunia.” (Yakobus 1:27) Tabita menerapkan gambaran tentang seorang perempuan yang penuh hikmat: ”Tangannya ditaruhnya pada jentera, jari-jarinya memegang pemintal. Ia memberikan tangannya kepada yang tertindas, mengulurkan tangannya kepada yang miskin”. (Amsal 31:19-20) Tabita banyak melakukan kemurahan hati kepada orang-orang yang miskin, terutama janda-janda yang tidak mampu. Ia membuatkan pakaian bagi mereka. Dia menjahit dengan tangannya sendiri pakaian-pakaian itu, lalu dia berikan kepada yang membutuhkan. Hidupnya sangat berarti bagi banyak orang, sehingga pada waktu ia meninggal banyak orang merasa kehilangan dan menangisi kepergiannya. Hidup Tabita berarti bukan hanya bagi orang-orang miskin yang pernah dibantunya, tetapi juga berarti bagi Tuhan. Firman Tuhan berkata bahwa apa yang kita perbuat bagi orang-orang kecil kita telah melakukannya untuk Tuhan (Matius 25:40). Itulah sebabnya ketika Tabita meninggal, Tuhan berkenan membangkitkan dia dari kematian. Tuhan mendengar permohonan orang-orang yang mengasihinya. Apakah hidup kita juga berarti bagi banyak orang? Apakah ketika kita meninggal nanti banyak orang akan merasa kehilangan? Atau sebaliknyakah yang terjadi? Hidup kita menyusahkan banyak orang. Ketika kita meninggal, banyak orang merasa lega karena sudah berkurang satu orang yang sering membuat masalah. Termasuk yang manakah hidup anda?
Rezeki adalah segala sesuatu (yang diberikan Tuhan) yang dipakai untuk memelihara kehidupan; makanan sehari-hari; nafkah. Demikian dijelaskan dalam KBBI. Ada anekdot: Hidup untuk cari rezeki atau cari rezeki untuk hidup? Kalau pola pertama yang dianut, maka seseorang akan menggunakan hidupnya hanya untuk mencari, mencari dan terus mencari rezeki sehingga tidak punya waktu untuk yang lainnya dan biasanya akan menjadi orang yang “pelit” dan tak ada istilah berbagi rezeki dalam kamus hidupnya. Bahkan cenderung tamak untuk memperkaya diri. Ada seorang kelasi sebuah kapal pesiar yang cukup besar yang sedang mengalami musibah tenggelam. Dalam situasi kacau, dia berpikir bahwa saat itu adalah kesempatan emas untuk mengumpulkan harta kekayaan para penumpang yang berlarian terjun menyelamatkan diri. Dia berpikir dengan pelampung di tubuhnya yang sarat dengan harta kekayaan milik para penumpang yang diambil dari kamar-kamar, dia pasti aman, tidak akan tenggelam. Saat kapal mulai karam, dia segera terjun ke laut. Apa yang terjadi? Ia bukannya mengapung, melainkan langsung dengan cepat tenggelam ke dasar laut. Pelampung yang dipakai tidak dapat menahan berat tubuh dan barang bawaannya. Firman Tuhan dalam Amsal 22:9 mengatakan “Orang yang baik hati akan diberkati, karena ia membagi rezekinya dengan si miskin.” Tidak dikatakan, “Orang yang kaya, orang yang banyak rezekinya” tetapi orang yang baik hati. Jadi untuk berbagi rezeki jangan menunggu sampai kita memiliki “harta lebih”. Jangan sampai terlalu asyik menumpuk rezeki, terlena, lupa segalanya sampai-sampai terlalu berat dan akhirnya menenggelamkan kita kepada gemerlapnya dunia yang bisa menyeret kita kepada kegelapan yang kekal. Amin.
Selama 16 tahun John Kovacs menjadi ”penghuni terowongan”. John Kovacs tinggal di sebuah terowongan rel kereta api bawah tanah yang tak dipakai di New York, bersama beberapa orang lainnya. Orang-orangpun sering menyebutnya dengan “Si Manusia Terowongan”. Ketika Amtrak membeli terowongan itu dan mempersiapkannya untuk dibuka kembali, John terpaksa mencari tempat tinggal di atas terowongan. Menurut Surat Kabar “The New York Times”, John Kovacs menjadi orang pertama yang terpilih untuk sebuah program baru yang dirancang untuk ”mengubah tunawisma menjadi penghuni rumah yang menetap”. Setelah menghabiskan sepertiga hidupnya di terowongan rel kereta api, John Kovacs meninggalkan kehidupan bawah tanahnya dan menjadi petani organik di New York bagian utara. Dia pernah berkata, ”Udara di luar sini terasa lebih baik. Saya tidak akan merindukan kehidupan lama saya. Saya tak akan kembali ke sana lagi.” Bila kita merenungkan kisah di atas, kita akan menyadari bahwa setiap kita yang telah menjadi orang Kristiani memiliki pengalaman yang serupa. Kita telah dipilih untuk meninggalkan keberadaan kita yang gelap dan sangat kotor untuk diangkat dan mendapat kehidupan dan pekerjaan yang baru. Seandainya kita dapat melihat kehidupan kita yang terdahulu sejelas John Kovacs melihat kehidupan lamanya, maka kita pun akan sadar bahwa tak ada yang bermanfaat dalam kegelapan, dan tak ada alasan untuk kembali ke sana. Kita akan memilih untuk menjalani hidup yang baru bersama dengan Kristus. Hidup yang telah ditebus dan telah dimerdekakannya. Rasul Paulus juga menyadari tentang perihal sukacita hidup bersama dengan Yesus. Saat Paulus ada dalam penjara, dia merasakan bagaimana sulitnya hidup dalam tekanan, namun dia tetap bersukacita di dalam Yesus. Paulus sadar bahwa penderitaan yang dialaminya tidak sebanding dengan pengorbanan yang telah Yesus berikan bagi umat manusia. Oleh karena itulah Rasul Paulus berkata, “Karena bagiku hidup adalah Kristus dan mati adalah keuntungan. Tetapi jika aku harus hidup di dunia ini, itu berarti bagiku bekerja memberi buah ...” (Filipi 1:21-22). Melalui perkataan tersebut dia berpesan, bahwa ketika kita telah ditebus menjadi umat pilihan Allah, maka hidup kita harus meninggalkan kehidupan yang lama, dan masuk dalam hidup yang baru bersama dengan Yesus. Yang artinya kita berkomitmen untuk memberikan yang terbaik kepada Yesus dan memberitakan tentang Yesus sebagai Tuhan dan juru selamat. Tidak ada kata terlambat untuk melakukannya.
BARCODE BBM CHANNELS
RENUNGAN HARIAN
Diciptakan Dengan Tujuan
21 Oktober '14
Jati Diri Gereja Berarti Segambar Dan Serupa Dengan Allah
02 Oktober '14
Makin Diberkati Supaya Makin Bermurah Hati
12 Oktober '14
Copyright © 2012 All rights reserved. Designed and Developed by GIA Dr. Cipto Semarang