SEPEKAN TERAKHIR
  Kamis, 23 November 2017   -HARI INI-
  Rabu, 22 November 2017
  Selasa, 21 November 2017
  Senin, 20 November 2017
  Minggu, 19 November 2017
  Sabtu, 18 November 2017
  Jumat, 17 November 2017
POKOK RENUNGAN
Keluarga menjadi hidup jika di dalamnya ada kasih dan keterbukaan untuk saling membangun.
DITULIS OLEH
Bp. Andreas T. Loso
Rohaniwan Pusat
Renungan Lain oleh Penulis:
Home  »  Renungan  »  Membangun Pernikahan Dengan Nilai - Nilai Kerajaan Allah
Membangun Pernikahan Dengan Nilai - Nilai Kerajaan Allah
Kamis, 06 Juni 2013 | Tema: Keluarga Yang Mengutamakan Kerajaan Allah
Membangun Pernikahan Dengan Nilai - Nilai Kerajaan Allah
Kolose 3:18-21
Mary Pipher, dalam bukunya The Shelter of Each Other, memberi nasihat tentang membangun kembali keluarga-keluarga yang bermasalah. Ia menyelidiki bagaimana anak-anak zaman sekarang terkadang terlalu sering menonton televisi dan bermain video game, sehingga mengabaikan pendidikan informal yang diterima dari kerabat mereka.
Ia mencontohkan pertemuan keluarga di mana anak-anak menonton video di ruang belakang sehingga para orang dewasa dapat berbicara tanpa diganggu. Dr. Pipher berpendapat bahwa hiburan semacam ini sesungguhnya merampas sesuatu yang berharga dari anak-anak. Anak-anak perlu bergaul dengan generasi yang lebih tua sehingga mereka dapat mendengar cerita-cerita tentang bibi, paman, kakek-nenek, dan orangtua. Ini membantu mereka belajar dari orang-orang yang telah mendahului mereka.

Meskipun di sekitar kita sering terjadi kasus-kasus pengingkaran dan penyelewenangan perkawinan, bahkan berujung pada perceraian, kita tidak perlu pesimis dan apatis. Justru di sinilah peranan kita untuk mengupayakan dan menjaga agar perkawinan benar-benar menjadi pilihan dan panggilan hidup yang bisa dipertanggungjawabkan, baik di hadapan masyarakat maupun di hadapan Tuhan. Berdasarkan kodratnya, perkawinan terarah pada kelahiran anak yang merupakan buah cinta dari suami istri, ...selengkapnya »
Suatu saat ibu Trisni menghadapi pergumulan berat di mana pak Trisno, suaminya, terkena PHK dan terkena sakit liver. Segala usaha sudah dilakukan oleh bu Trisni dan anak-anaknya untuk kesembuhannya. Namun usaha tersebut belum membuahkan hasil. Suatu sore ada KKR di gereja mereka, keluarga ini datang dan beriman bahwa Tuhan Yesus sanggup menyembuhkan sakit pak Trisno sebagaimana cerita Alkitab di mana Tuhan Yesus berkuasa menyembuhkan berbagai penyakit. Setelah di doakan dalam KKR, ternyata penyakit suaminya disembuhkan dan Tuhan Yesus tetap memelihara kehidupan keluarga tersebut sampai saat ini. Renungan hari ini berkisah tentang dua orang yang mempunyai masalah serius dalam hidupnya. Mereka datang kepada Tuhan Yesus dan masalahnya dapat terselesaikan. Orang pertama adalah Kepala Rumah Ibadah Yahudi bernama Yairus yang anaknya sakit dan hampir mati. Sudah banyak usaha diupayakan untuk sembuh, namun sia-sia. Kemudian Yairus datang merendahkan diri di bawah kaki Tuhan Yesus [ayat 22-23]. Yairus tahu dan sadar betul bahwa Tuhan Yesus itu musuh besar para Imam Yahudi. Ia tidak peduli dengan kedudukan terhormatnya dan tidak peduli dengan gengsinya karena ia tahu bahwa Tuhan Yesus sudah terbukti berkuasa menyembuhkan segala macam penyakit. Karena itu ia datang kepada-Nya. Kepada Yairus Tuhan Yesus berkata, “Jangan takut percaya saja [ayat 36], anakmu yang sudah mati pasti hidup kembali [ayat 38-42]. Dan anak Yairus pun bangkit dari kematian dan menjadi sembuh total. Orang kedua adalah seorang perempuan yang sakit pendarahan selama 12 tahun. Pengobatan para tabib tidak berhasil dan hartanya sudah habis. Kini sakitnya semakin parah dan tidak punya harapan untuk hidup. Perempuan ini pernah mendengar tentang Tuhan Yesus yang melakukan mujizat kesembuhan. Maka timbullah imannya, ‘Asal kujamah jumbai jubah Tuhan Yesus pasti penyakitku sembuh.” Dia langsung bertindak dengan iman. Hal ini menarik perhatian Tuhan Yesus untuk menghentikan langkahnya dan mencari tahu siapa orang yang menjamah jumbai jubahnya. Tuhan Yesus berkata, “Imanmu telah menyelamatkan engkau, penyakitmu sudah sembuh dan pergilah engkau” [ayat 25-34]. Dari kisah ini kita belajar bahwa bagi mereka yang sudah percaya Tuhan Yesus maupun yang belum percaya Tuhan Yesus, jangan sampai kehilangan pengharapan dan putus asa ketika menghadapi masalah silih berganti dan tidak ada solusinya. Datanglah kepada Tuhan Yesus dengan merendah hati sambil berserah total dan beriman bahwa Tuhan Yesus masih sanggup menolong kita dan memberi pengharapan kepada kita.
Seorang pemimpin perusahaan menetapkan dan terus menerus menekankan “satu hal” kepada seluruh karyawannya. Ketika seorang calon karyawannya datang kepadanya, satu pertanyaan sambutan yang dia berikan adalah: “Dapatkah Anda dipercaya?” Dan pada akhir wawancara satu pernyataan penutup bagi calon karyawan yang lulus seleksi adalah: “Saya hanya menerima karyawan yang dapat dipercaya. Begitu Anda ternyata tidak dapat dipercaya lagi, silahkan meninggalkan perusahaan ini!” DAPAT DIPERCAYA adalah satu hal yang penting. Seseorang yang dapat dipercaya akan berlaku jujur, dia tidak akan merugikan perusahaan. Dia akan selalu menjaga nama baik perusahaan yang sudah memberi kepercayaan kepadanya. Pengikut Kristus dipanggil menjadi orang-orang yang bisa dipercaya dalam mengemban tugas sebagai seorang murid dan menjadi saksi bagi-Nya. Rasul Paulus menggambarkan panggilan itu sebagai : 1. Seorang prajurit yang baik, berjuang menghadapi semua kesulitan dan yang berkenan kepada komandannya. 2. Seorang atlit yang disiplin dan menang, memperoleh mahkota kejuaraannya. 3. Seorang petani yang bekerja keras yang menikmati hasil usahanya. Sudahkah kita meresponi panggilan sebagai pengikut Kristus, sebagai murid Kristus dan menjadi saksi Kristus yang dapat dipercaya? Ataukah cukup sekedar menjadi orang Kristen yang rajin datang beribadah di gereja? Mari kita menjadi pengikut Kristus yang bisa dipercaya baik di dalam keluarga, di tengah-tengah dunia kerja, di tengah-tengah dunia pendidikan dan dalam pergaulan hidup kita sehari-hari.
Dalam ayat ini, kelegaan sering diartikan kelepasan dari berbagai persoalan hidup dan terpenuhinya kebutuhan jasmani. Kelegaan atau perhentian sejati pada dasarnya akan dialami bila kita tidak dipenuhi pikiran kuatir. Biasanya kekuatiran berkaitan dengan kebutuhan jasmani, harta kekayaan dan berbagai fasilitas duniawi yang diharapkan dapat melengkapi dan membahagiakan hidup. Kebutuhan jasmani sebetulnya menjadi fokus utama orang yang tidak mengenal Tuhan. Akibatnya orang akan terus bergerak mencari sesuatu yang dianggap dapat memberi kelegaan. Ibarat kapal yang terus berlayar mencari pelabuhan, padahal bagi orang percaya, hanya ada satu pelabuhan yang memberi kelegaan, yaitu Tuhan Yesus. Mereka dikatakan sebagai orang yang letih lesu dan berbeban berat karena banyaknya keinginan yang tidak sesuai dengan kehendak Tuhan. Banyak orang yang datang kepada Tuhan hanya sekedar memperoleh jalan keluar atas problem kebutuhan jasmani. Sebetulnya orang percaya dipanggil untuk mengalami perhentian di dalam Tuhan, artinya merasa cukup pada saat dirinya menerima anugerah keselamatan. Keselamatan di dalam Tuhan Yesus bertujuan supaya kita bisa dikembalikan kepada rancangan semula Bapa dan dipersiapkan masuk Kerajaan-Nya [Ibrani 11:16]. Kelegaan dan ketenangan jiwa sejati akan dialami bila: 1. Pikiran tidak dipenuhi keinginan pribadi yang tidak sesuai dengan pikiran/kehendak Tuhan [Yakobus 1:14-15]. 2. Kita memahami dan mempraktekkan Kebenaran Injil yang murni [Yesaya 32:17, Yohanes 8:31-32]. 3. Memiliki rasa cukup, tidak berkeinginan memiliki fasilitas duniawi untuk mendapatkan nilai diri, prestise, ketenaran [1 Timotius 6:6-8]. 4. Memiliki karakter mulia melalui proses pemuridan. Mustahil mengalami kelegaan dan ketenangan jiwa bila kita egois, iri hati, suka marah-marah, penuh curiga, pendendam.
Seorang nenek begitu setia beribadah kepada Tuhan di usianya yang semakin bertambah. Demikian juga sang nenek terus berusaha mendekatkan diri kepada Tuhan melalui ibadah sekalipun keadaan hujan atau panas. Bahkan tubuh tuanya yang seringkali mengalami sakit, tidakmembuatnya melupakan setiap hari minggu untuk tetap beribadah kepada Tuhan. Sang nenek berpikir bahwa dengan beribadah, ia sedang bertemu dengan Tuhannya. Tetangga yang melihat kehidupannya begitu tertarik dengan apa yang dilakukannya .Sampai suatu saat, tetangga nenek yang awalnya tidak mempercayai Yesus sebagai Tuhan dan Juru selamat, akhirnya menjadi percaya karena melihat kehidupannya. Seringkali kita berpikir kalau menjadi berkat berarti kita harus mengeluarkan rupiah dari dompet kita. Tidak salah memang, namun melalui kehidupan ini kita bisa menjadi berkat bagi banyak orang seperti contoh kisah nenek di atas, termasuk juga melalui bibir kita menjadi berkat bagi banyak orang. Penulis surat Ibrani mengingatkan supaya kita mempunyai ucapan bibir yang memuliakan Allah. Tentu orang yang mendengar perkataan kita akan memuji-muji dan memuliakan Allah karena kebaikkan-Nya. Contohnya, Paulus dan Silas sekalipun di penjara [Kisah Para Rasul 16:25] atau ucapan syukur yang kita perkatakan dari mulut bibir kita sekalipun menghadapi masalah dan tantangan. Ketika orang lain mendengarnya, tentu mereka juga akan mendapatkan semangat yang baru dari kehidupan ini. Saat kita belajar melalui mulut bibir ini mengucap syukur tidak saja memperkenankan hati Tuhan [1 Tesalonika 5:18], tetapi juga membuat orang yang mendengarnya mendapatkan harapan baru. Mari kita bawa hidup ini, khususnya melalui perkataan kita, menjadi berkat bagi banyak orang. Sehingga seperti perintah Tuhan kepada Abraham supaya Abraham diberkati Tuhan dan menjadi berkat bagi banyak orang, demikianlah juga kita kiranya menjadi berkat dan menikmati berkat Abraham dalam kehidupan kita ini.
BARCODE BBM CHANNELS
RENUNGAN HARIAN
Menghitung Hari-Hari
21 November '17
Berhiaskan Kekudusan
20 November '17
Pengelola Bukan Pemilik
12 November '17
Copyright © 2012 All rights reserved. Designed and Developed by GIA Dr. Cipto Semarang