SEPEKAN TERAKHIR
  Kamis, 23 Oktober 2014   -HARI INI-
  Rabu, 22 Oktober 2014
  Selasa, 21 Oktober 2014
  Senin, 20 Oktober 2014
  Minggu, 19 Oktober 2014
  Sabtu, 18 Oktober 2014
  Jumat, 17 Oktober 2014
POKOK RENUNGAN
Keluarga menjadi hidup jika di dalamnya ada kasih dan keterbukaan untuk saling membangun.
DITULIS OLEH
Bpk. Andreas T. Loso
Kontributor
Renungan Lain oleh Penulis:
Home  »  Renungan  »  Membangun Pernikahan Dengan Nilai - Nilai Kerajaan Allah
Membangun Pernikahan Dengan Nilai - Nilai Kerajaan Allah
Kamis, 06 Juni 2013 | Tema: Keluarga Yang Mengutamakan Kerajaan Allah
Membangun Pernikahan Dengan Nilai - Nilai Kerajaan Allah
Kolose 3:18-21
Mary Pipher, dalam bukunya The Shelter of Each Other, memberi nasihat tentang membangun kembali keluarga-keluarga yang bermasalah. Ia menyelidiki bagaimana anak-anak zaman sekarang terkadang terlalu sering menonton televisi dan bermain video game, sehingga mengabaikan pendidikan informal yang diterima dari kerabat mereka.
Ia mencontohkan pertemuan keluarga di mana anak-anak menonton video di ruang belakang sehingga para orang dewasa dapat berbicara tanpa diganggu. Dr. Pipher berpendapat bahwa hiburan semacam ini sesungguhnya merampas sesuatu yang berharga dari anak-anak. Anak-anak perlu bergaul dengan generasi yang lebih tua sehingga mereka dapat mendengar cerita-cerita tentang bibi, paman, kakek-nenek, dan orangtua. Ini membantu mereka belajar dari orang-orang yang telah mendahului mereka.

Meskipun di sekitar kita sering terjadi kasus-kasus pengingkaran dan penyelewenangan perkawinan, bahkan berujung pada perceraian, kita tidak perlu pesimis dan apatis. Justru di sinilah peranan kita untuk mengupayakan dan menjaga agar perkawinan benar-benar menjadi pilihan dan panggilan hidup yang bisa dipertanggungjawabkan, baik di hadapan masyarakat maupun di hadapan Tuhan. Berdasarkan kodratnya, perkawinan terarah pada kelahiran anak yang merupakan buah cinta dari suami istri, sekaligus menurunkan kehidupan baru. Oleh karena itu, keluarga kristiani dipanggil untuk menjadi pencinta, perawat, penjaga dan pembela kehidupan. Pasangan suami istri harus mempertahankan kes...selengkapnya »
Selama 16 tahun John Kovacs menjadi ”penghuni terowongan”. John Kovacs tinggal di sebuah terowongan rel kereta api bawah tanah yang tak dipakai di New York, bersama beberapa orang lainnya. Orang-orangpun sering menyebutnya dengan “Si Manusia Terowongan”. Ketika Amtrak membeli terowongan itu dan mempersiapkannya untuk dibuka kembali, John terpaksa mencari tempat tinggal di atas terowongan. Menurut Surat Kabar “The New York Times”, John Kovacs menjadi orang pertama yang terpilih untuk sebuah program baru yang dirancang untuk ”mengubah tunawisma menjadi penghuni rumah yang menetap”. Setelah menghabiskan sepertiga hidupnya di terowongan rel kereta api, John Kovacs meninggalkan kehidupan bawah tanahnya dan menjadi petani organik di New York bagian utara. Dia pernah berkata, ”Udara di luar sini terasa lebih baik. Saya tidak akan merindukan kehidupan lama saya. Saya tak akan kembali ke sana lagi.” Bila kita merenungkan kisah di atas, kita akan menyadari bahwa setiap kita yang telah menjadi orang Kristiani memiliki pengalaman yang serupa. Kita telah dipilih untuk meninggalkan keberadaan kita yang gelap dan sangat kotor untuk diangkat dan mendapat kehidupan dan pekerjaan yang baru. Seandainya kita dapat melihat kehidupan kita yang terdahulu sejelas John Kovacs melihat kehidupan lamanya, maka kita pun akan sadar bahwa tak ada yang bermanfaat dalam kegelapan, dan tak ada alasan untuk kembali ke sana. Kita akan memilih untuk menjalani hidup yang baru bersama dengan Kristus. Hidup yang telah ditebus dan telah dimerdekakannya. Rasul Paulus juga menyadari tentang perihal sukacita hidup bersama dengan Yesus. Saat Paulus ada dalam penjara, dia merasakan bagaimana sulitnya hidup dalam tekanan, namun dia tetap bersukacita di dalam Yesus. Paulus sadar bahwa penderitaan yang dialaminya tidak sebanding dengan pengorbanan yang telah Yesus berikan bagi umat manusia. Oleh karena itulah Rasul Paulus berkata, “Karena bagiku hidup adalah Kristus dan mati adalah keuntungan. Tetapi jika aku harus hidup di dunia ini, itu berarti bagiku bekerja memberi buah ...” (Filipi 1:21-22). Melalui perkataan tersebut dia berpesan, bahwa ketika kita telah ditebus menjadi umat pilihan Allah, maka hidup kita harus meninggalkan kehidupan yang lama, dan masuk dalam hidup yang baru bersama dengan Yesus. Yang artinya kita berkomitmen untuk memberikan yang terbaik kepada Yesus dan memberitakan tentang Yesus sebagai Tuhan dan juru selamat. Tidak ada kata terlambat untuk melakukannya.
“Orang yang mengumpulkan banyak tidak kelebihan dan orang yang mengumpulkan sedikit tidak kekurangan”. Prinsip ini telah Tuhan tetapkan ketika Tuhan memberikan roti manna untuk memenuhi kebutuhan bangsa Israel dalam perjalanan mereka menuju tanah perjanjian Kanaan. Tiap orang mengumpulkan menurut keperluannya (Keluaran 16:18). Itu ‘kan dulu, zaman Perjanjian Lama. Bagaimana dengan kehidupan kita saat ini? Orang berkata, “Yang kaya semakin kaya, yang miskin semakin miskin.” Ada banyak perumahan mewah di bangun tapi ada banyak pemukiman kumuh di kolong jembatan dan jalan layang, di tepi rel kereta api maupun di bantaran sungai. Ada orang-orang yang menikmati satu porsi menu makanan seharga jutaan rupiah, tetapi ada orang-orang yang harus mencuri demi sesuap nasi. Ada orang kaya dan miskin dengan jurang pemisah yang semakin menganga lebar. Di tengah-tengah komunitas gereja mula-mula, Rasul Paulus memuji dan menyaksikan apa yang telah jemaat Makedonia praktekkan, serta mendesak jemaat Korintus untuk melakukan pelayanan kasih yang sama. Dia mengutip ayat yang sama (dari PL) untuk menekankan prinsip yang Tuhan tetapkan: banyak atau sedikit yang dikumpulkan, namun orang berkecukupan. Apa rahasianya? Ternyata kalau kita pelajari, gaya hidup jemaat mula-mula adalah yang mengumpulkan banyak bersedia berbagi dan mendukung kebutuhan mereka yang mengumpulkan sedikit. Orang kaya dan orang miskin tentunya ada di tengah-tengah gereja Tuhan. Tetapi jarak atau kesenjangan itu menjadi dekat terjembatani dengan adanya kesediaan untuk hidup saling mencukupi, sehingga terjadi keseimbangan di dalamnya. Mari kita praktekkan prinsip tersebut di tengah-tengah gereja kita.
Masih ingatkah kita dengan film, “Terminator 2: The Judgment Day”, yang dibintangi oleh Arnold Schwarzenegger, Linda Hamilton, Edward Furlong, dan Robert Patrick yang dirilis tahun 1991? Di dalam film tersebut diceritakan tentang sesosok robot Terminator yang dikirim dari masa depan untuk melindungi seorang anak yang bernama John Connor dari ancaman pembunuhan robot yang terbuat dari logam cair yang bernama T-1000. John Connor diburu dan diancam untuk dibunuh oleh T-1000,karena di masa depan, John Connor menjadi orang yang akan memusnahkan robot-robot jahat dan akan menghakimi para tokoh jahat di balik munculnya para robot jahat. Yang menarik dari kisah ini adalah tentang perjuangan sosok terminator yang dengan setia melindungi dan mendampingi John Connor. Jauh-jauh dikirim dari masa depan, sang terminator rela mengorbankan dirinya agar John Connor tetap hidup, sekalipun harus dibayar dengan nyawa sang terminator. Kehadirannya bukan semata untuk kepentingan pribadinya, melainkan untuk memastikan orang lain merasa damai. Jika dibahasakan dalam “bahasa rohani”, kehadirannya memberi berkat bagi orang lain. Kisah Abraham mirip dengan kisah di atas. Abraham dipanggil dan dipilih Tuhan untuk melakukan misi yang mulia, yaitu untuk menjadi berkat bagi segala bangsa. Tuhan memanggil Abraham untuk “merantau” keluar dari tanah kelahirannya. Panggilan itu bukan semata-mata adalah jalan Tuhan untuk memberkati Abraham saja. Di dalam pemanggilan itu tersimpan amanat yang tidak kalah luar biasanya, yaitu Tuhan ingin menjadikan Abraham beserta keturunannya menjadi saluran berkat bagi semua bangsa. Cakupan atau ruang lingkup misi Abraham ini tidak terbatas hanya di kalangan tertentu saja. Alkitab mencatat di dalam Kejadian 12:3, “... dan olehmu semua kaum di muka bumi akan mendapat berkat.” Artinya, misi dan janji Allah pada Abraham untuk menjadi berkat berada di dalam cakupan yang tidak terbatas, tanpa ada pembatasan dan tanpa ada diskriminasi. Bagaimana dengan kita? Apakah kehadiran kita sudah menjadi berkat bagi semua orang? Ataukah kehadiran kita justru menjadi batu sandungan? Tuhan telah memilih kita keluar dari kegelapan untuk menjadi anak-anak terang. Kita telah dipilih Tuhan untuk menjadi umat pilihan-Nya, dan di dalam panggilan itu tersisip sebuah misi mulia, yaitu untuk menjadi berkat bagi semua orang. Mari Laksanakan!
Suatu saat saya ingin menengok mama saya yang tinggalnya cukup jauh dari rumah, yaitu di Perum Graha Mukti. Saya sudah pikirkan untuk ke rumah mama dan bertemu dengan beliau, maka motor pun saya keluarkan dari rumah dan saya kendarai. Dalam perjalanan, saya memikirkan banyak hal yang terlintas di benak saya dan lucunya saya justru tidak ke rumah mama, tetapi justru ke sekolah anak saya yang pada waktu itu sedang libur. Dalam bulan ini kita sudah banyak mendengar dari berita-berita mimbar atau khotbah di pertemuan-pertemuan Komcil ataupun juga membaca sendiri dari Alkitab yang memberikan gambaran bahwa sebagai gereja Tuhan, kita digambarkan seperti tubuh dengan banyak anggota yang saling memperhatikan, saling mengasihi, saling terikat satu dengan yang lainnya, bahkan tubuh yang harus berjalan atas perintah ”kepala”. Mari kita fokuskan pikiran kita pada tujuan, bahkan kita bergerak mencapai tujuan untuk menjadi Gereja yang sempurna seperti yang Tuhan kehendaki (Matius 5:48). Dengan demikian bukan saja Tuhan akan bersukacita karena kita, namun sesuai nats firman di atas kita pun akan hidup bahagia sebagai umat Tuhan. Selamat untuk menjadi sempurna. Tuhan memberkati kita semua.
BARCODE BBM CHANNELS
RENUNGAN HARIAN
Hebat, Keren, Megah?
04 Oktober '14
Karakter Kristus
26 September '14
Upah Perkenanan
07 Oktober '14
Copyright © 2012 All rights reserved. Designed and Developed by GIA Dr. Cipto Semarang