SEPEKAN TERAKHIR
  Senin, 29 Agustus 2016   -HARI INI-
  Minggu, 28 Agustus 2016
  Sabtu, 27 Agustus 2016
  Jumat, 26 Agustus 2016
  Kamis, 25 Agustus 2016
  Rabu, 24 Agustus 2016
  Selasa, 23 Agustus 2016
POKOK RENUNGAN
Keluarga menjadi hidup jika di dalamnya ada kasih dan keterbukaan untuk saling membangun.
DITULIS OLEH
Bp. Andreas T. Loso
Rohaniwan Pusat
Renungan Lain oleh Penulis:
Home  »  Renungan  »  Membangun Pernikahan Dengan Nilai - Nilai Kerajaan Allah
Membangun Pernikahan Dengan Nilai - Nilai Kerajaan Allah
Kamis, 06 Juni 2013 | Tema: Keluarga Yang Mengutamakan Kerajaan Allah
Membangun Pernikahan Dengan Nilai - Nilai Kerajaan Allah
Kolose 3:18-21
Mary Pipher, dalam bukunya The Shelter of Each Other, memberi nasihat tentang membangun kembali keluarga-keluarga yang bermasalah. Ia menyelidiki bagaimana anak-anak zaman sekarang terkadang terlalu sering menonton televisi dan bermain video game, sehingga mengabaikan pendidikan informal yang diterima dari kerabat mereka.
Ia mencontohkan pertemuan keluarga di mana anak-anak menonton video di ruang belakang sehingga para orang dewasa dapat berbicara tanpa diganggu. Dr. Pipher berpendapat bahwa hiburan semacam ini sesungguhnya merampas sesuatu yang berharga dari anak-anak. Anak-anak perlu bergaul dengan generasi yang lebih tua sehingga mereka dapat mendengar cerita-cerita tentang bibi, paman, kakek-nenek, dan orangtua. Ini membantu mereka belajar dari orang-orang yang telah mendah...selengkapnya »
Apa yang Yesus lakukan ketika Ia mengalami penderitaan di Golgota? Ia sedang melakukan rekonsiliasi, yaitu pemulihan hubungan antara umat manusia dengan Allah. Ia sedang mengembalikan rancangan Allah yang sesungguhnya dengan memberikan diri-Nya untuk penebusan bagi umat manusia. Kerohanian gereja berhenti ketika ia mementingkan dirinya sendiri dan hanya berminat mengembangkan organisasinya sendiri. Rekonsiliasi umat manusia menurut rencana-Nya berarti mewujudkan Kristus, tidak hanya dalam kehidupan kita secara individu, tetapi juga dalam kehidupan secara bersama. Yesus Kristus mengutus para Rasul dan guru supaya kesatuan Kristus dengan gereja-Nya yang terdiri dari banyak anggota dapat diwujudkan dan dikenal. Ketika masih ada di dunia ini, kita memiliki tanggung jawab bukan hanya mengembangkan kehidupan rohani kita sendiri atau menikmati retret rohani yang tenang, namun juga untuk mewujudkan Yesus Kristus sepenuhnya dengan tujuan membangun tubuh-Nya. Kerohanian gereja berhenti ketika ia mementingkan dirinya sendiri dan hanya berminat mengembangkan organisasinya sendiri. Apakah kita sedang membangun tubuh Kristus ataukah kita hanya sedang peduli pada perkembangan dan pertumbuhan diri sendiri? Setiap kali kita menginginkan segala sesuatu untuk diri kita, maka relasi kita dengan Allah akan terganggu. Kalau kita mau jujur, yang seringkali kita pedulikan adalah tentang apa yang telah Dia lakukan untuk kita, dan kita tidak sungguh-sungguh peduli dengan bagaimana mewujudkan Yesus Kristus dalam kehidupan yang dipercayakan-Nya kepada kita. Mewujudkan Kristus itu artinya menyatakan kasih dan kuasa kebangkitan-Nya di tengah-tengah dunia, bukan sekedar mencari damai, sukacita, bukan pula berkat dan segala sesuatu untuk pemenuhan diri sendiri. Mewujudkan Kristus memiliki tujuan membangun tubuh-Nya melalui pelayanan-pelayanan yang kita lakukan bagi umat manusia.
Jenderal Tso adalah pecatur yang sangat handal, nyaris tak ada yang mampu mengalahkannya. Suatu hari dalam perjalanan dinasnya, ia melihat sebuah gubuk yang di dindingnya tergantungtulisan “Pecatur Terbaik Dunia”. Hal ini membuat sang Jenderal penasaran. Segera dihampirinya gubuk itu dan menantang pemiliknya untuk adu catur. Terbukti sang Jenderal mampu memenangkan seluruh set yang mereka mainkan. Sebelum melanjutkan perjalanan, dengan menepuk dada ia berkata, ” Anda harus mencopot papan itu.’ Tak lama berselang, dalam perjalanan pulang sang Jenderal kembali melewati gubuk itu dan mendapati bahwa papan “Pecatur Terbaik Dunia” belum dicopot juga. Maka masuklah ia dan menantang pemilik gubuk itu sekali lagi. Namun kali ini tanpa diduga ia kalah telak tiga set berturut-turut. Sang Jenderal terperangah tak habis pikir. Lalu pemilik gubuk itu menjelaskan,“ Di pertandingan pertama, saya tahu Anda sedang dalam perjalanan mengemban tugas negara. Maka saya membiarkan Anda menang untuk menjaga semangat juang Anda. Tapi kini Anda telah kembali dengan sukses, maka saya pun bertanding sesuai dengan kemampuan saya.” Seorang maestro menahan diri sedemikian rupa. Rela dipandang sebelah mata demi kejayaan negaranya. Satu sikap bijak yang langka didapati dalam dunia yang serba berebut untuk menonjolkan diri dan mementingkan diri sendiri. Adakah kualitas seperti ini didapati di antara anggota Tubuh Kristus? Rela mengesampingkan kebanggaan pribadi demi mengutamakan pembangunan Tubuh Kristus secara keseluruhan? Selama anggota Tubuh Kristus masih bersikukuh menjunjung kebanggaan pribadi masing-masing, maka pembangunan Tubuh Kristus akan tersendat-sendat. Seorang maestro sejati memiliki kemampuan untuk menang, namun tahu kapan ia perlu mengalah untuk kebaikan. Seorang anak Tuhan yang bijaksana mampu untuk berkarya hebat, namun tahu kapan ia harus menahan diri dan menyesuaikan diri, demi kepentingan dan kemajuan bersama.
Dalam sebuah ibadah di Tunas, pembicara menanyakan di awal renungannya, “Talenta apa yang kalian miliki?” Semua anak tunas saling menoleh satu dengan yang lain sambil tersenyum ringan. Nampaknya anak-anak tunas belum mengerti apa talenta yang mereka miliki. Atau mungkin ada yang merasa malu mengungkapkan talentanya karena tidak begitu menarik dan bisa jadi sangat sederhana. Namun setelah pembicara menyampaikan renungan “perumpamaan tentang talenta”, mereka mulai berpikir bahwa mereka juga memiliki talenta. Sebelum kesimpulan, pembicara memberikan sebuah test kecil untuk mengetahui bakat atau kemampuan khusus apa yang mereka miliki. Akhirnya mereka mulai mengisi dan ternyata setiap anak memiliki talenta bukan hanya satu melainkan lebih. Dan pertanyaan terakhir itu adalah bakat apa yang dapat disumbangkan untuk pelayanan gereja. Akhirnya, hampir semua anak dapat mengetahui talenta mereka dan sekaligus memahami ternyata mereka dapat juga terlibat dalam pelayanan. Perumpamaan tentang telenta memberikan gambaran bahwa setiap orang diberikan talenta menurut ukuran kesanggupan kita. Setiap hamba menerima menurut kesanggupannya. Dan setelah mereka dipercayakan untuk memelihara talenta tersebut, mereka juga harus berusaha untuk mengembangkannya. Setiap hamba yang berhasil mengembangkan talentanya akan disebut hamba yang baik dan setia. Tetapi hamba yang tidak mengembangkan talenta yang dipercayakan disebut hamba yang malas dan jahat. Tuhan sudah mempertimbangkan dengan matang talenta yang akan diberikan kepada setiap umat-Nya, sehingga sekalipun kita hanya mendapatkan sedikit, itu tetap merupakan kepercayaan yang Tuhan berikan kepada kita untuk tetap disyukuri dan terlebih dapat digunakan untuk melayani Tuhan. Jemaat yang terkasih, jika kita sanggup menerima 5 talenta berarti kita memiliki tanggung jawab yang lebih besar untuk mengembangkan yang 5 tersebut menjadi maksimal. Sedangkan kita yang sanggup menerima 2 talenta, kita juga bertanggung jawab terhadap yang 2 tersebut. Bahkan mungkin Tuhan hanya mempercayakan kepada kita 1 talenta saja, itu juga menjadi tanggung jawab kita untuk menggunakannya dalam pelayanan. Bukan berapa banyak atau berapa jumlahnya talenta yang Tuhan berikan kepada kita, melainkan bagaimana kita berproses untuk mengembangkannya untuk pelayanan. Karena itu setiap kita yang telah menerima talenta itu, mari kita mengenali, menggali, memelihara, dan juga mengembangkannya untuk hormat kemuliaan Tuhan Yesus.
Surat Efesus mengajar kita tentang bagaimana Allah telah membangkitkan Kristus dan bagaimana Kristus telah mempersatukan orang-orang yang percaya kepada-Nya menjadi satu tubuh, yaitu jemaat-Nya/gereja-Nya. Sebagai Kepala gereja, Kristus mengaruniakan berbagai macam karunia yang berbeda-beda, memilih orang-orang dalam jemaat baik sebagai rasul, nabi, pemberita Injil, gembala dan pengajar untuk memperlengkapi jemaat membangun gereja yang adalah tubuh-Nya sendiri. Allah yang sempurna berkarya secara sempurna di tengah-tengah gereja-Nya. Dia tidak hanya memperlengkapi umat-Nya dengan semua perlengkapan yang dibutuhkan untuk membangun gereja-Nya, Dia juga memperlengkapai umat-Nya dengan senjata ilahi untuk mempertahankan dan berperang melawan Iblis yang semakin gencar berusaha menghancurkan dan merobohkan gereja Tuhan. Rasul Paulus menuliskan hal tersebut di akhir surat Efesus. Gambaran seorang tentara Romawi dengan perlengkapan senjata perangnya, dipakai Rasul Paulus untuk mengajar kita. “ Kenakanlah...” 1. Ikat pinggang kebenaran dan baju zirah keadilan [ayat 4] = berusaha mempertahankan kebenaran dan keadilan serta meluruskan ketidakbenaran dan ketidakadilan. 2. Kasut/sepatu kerelaan memberitakan injil [ayat 5] = berbaris dengan derap cepat melayani dalam semua usaha pemberitaan injil. 3. Perisai iman [ayat 16] = percaya penuh pada kemenangan Allah dalam kebangkitan dan pemuliaan Kristus dan kemenangan itu sudah Allah berikan kepada orang-orang yang berperang bersama Dia. 4. Ketopong keselamatan dan pedang roh, Firman Allah [ayat 17]. Ketopong keselamatan berbicara tentang semua usaha Kristus dalam karya penyelamatan umat manusia. Pedang roh berbicara tentang kedahsyatan daya potong Firman Allah ketika firman itu diberitakan. 5. Doa permohonan yang tekun [ayat 18] = berdoa syafaat tak hentinya dengan sasaran doa buat orang-orang kudus dan sesama orang Kristen dalam gereja Tuhan. Selamat membangun dan mempertahankan bangunan Tubuh Kristus dengan semua perlengkapan yang Allah karuniakan kepada kita.
BARCODE BBM CHANNELS
RENUNGAN HARIAN
Mengurus Karunia Dengan Setia
31 Juli '16
Jangan Memandang Muka
22 Agustus '16
Kristus, Sang Batu Penjuru
26 Agustus '16
Copyright © 2012 All rights reserved. Designed and Developed by GIA Dr. Cipto Semarang