SEPEKAN TERAKHIR
  Selasa, 19 Juni 2018   -HARI INI-
  Senin, 18 Juni 2018
  Minggu, 17 Juni 2018
  Sabtu, 16 Juni 2018
  Jumat, 15 Juni 2018
  Kamis, 14 Juni 2018
  Rabu, 13 Juni 2018
POKOK RENUNGAN
Keluarga menjadi hidup jika di dalamnya ada kasih dan keterbukaan untuk saling membangun.
DITULIS OLEH
Pdm. Andreas T. Loso
Rohaniwan Pusat
Renungan Lain oleh Penulis:
Home  »  Renungan  »  Membangun Pernikahan Dengan Nilai - Nilai Kerajaan Allah
Membangun Pernikahan Dengan Nilai - Nilai Kerajaan Allah
Kamis, 06 Juni 2013 | Tema: Keluarga Yang Mengutamakan Kerajaan Allah
Membangun Pernikahan Dengan Nilai - Nilai Kerajaan Allah
Kolose 3:18-21
Mary Pipher, dalam bukunya The Shelter of Each Other, memberi nasihat tentang membangun kembali keluarga-keluarga yang bermasalah. Ia menyelidiki bagaimana anak-anak zaman sekarang terkadang terlalu sering menonton televisi dan bermain video game, sehingga mengabaikan pendidikan informal yang diterima dari kerabat mereka.
Ia mencontohkan pertemuan keluarga di mana anak-anak menonton video di ruang belakang sehingga para orang dewasa dapat berbicara tanpa diganggu. Dr. Pipher berpendapat bahwa hiburan semacam ini sesungguhnya merampas sesuatu yang berharga dari anak-anak. Anak-anak perlu bergaul dengan generasi yang lebih tua sehingga mereka dapat mendengar cerita-cerita tentang bibi, paman, kakek-nenek, dan orangtua. Ini membantu mereka belajar dari orang-orang yang telah mendahului mereka.

Meskipun di sekitar kita sering terjadi kasus-kasus pengingkaran dan penyelewenangan perkawinan, bahkan berujung pada perceraian, kita tidak perlu pesimis dan apatis. Justru di sinilah peranan kita untuk mengupayakan dan menjaga agar perkawinan benar-benar menjadi pilihan dan panggilan hidup yang bisa dipertanggungjawabkan, baik di hadapan masyarakat maupun di hadapan Tuhan. Berdasarkan kodratnya, perkawinan terarah pada kelahiran anak yang merupakan buah cinta dari suami istri, ...selengkapnya »
Wikipedia mendefinisikan Fobia sebagai rasa ketakutan yang berlebihan pada sesuatu hal atau fenomena tertentu. Bagi sebagian orang, perasaan takut seorang pengidap fobia sulit dimengerti. Ada perbedaan ’bahasa’ antara pengamat fobia dengan seorang pengidap fobia. Pengamat fobia menggunakan bahasa logika sementara seorang pengidap fobia biasanya menggunakan bahasa rasa. Bagi pengamat dirasa lucu jika seseorang berbadan besar, takut dengan hewan kecil seperti kecoak atau tikus. Sementara di bayangan mental seorang pengidap fobia, subjek tersebut menjadi benda yang sangat besar, berwarna, sangat menjijikkan ataupun menakutkan. Di dalam keadaan normal setiap orang memiliki kemampuan mengendalikan rasa takut. Akan tetapi bila seseorang terpapar terus menerus dengan subjek fobia, hal tersebut berpotensi menyebabkan terjadinya fiksasi. Fiksasi adalah suatu keadaan di mana mental seseorang menjadi terkunci, yang disebabkan oleh ketidakmampuan orang yang bersangkutan dalam mengendalikan perasaan takutnya. Fobia bisa dikatakan dapat menghambat kehidupan orang yang mengidapnya. Tanpa disadari, hari-hari ini banyak orang Kristiani mengalami ketakutan. Tanpa disadari juga ketakutan itu terus meningkat dan seolah-olah menjadi seperti fobia. Fobia dalam hal apa? Fobia untuk beribadah. Ada ketakutan dalam diri untuk datang beribadah dan bergereja. Entah itu takut karena terorisme, intimidasi, merasa sebagai orang berdosa, yang tidak layak untuk beribadah kepadaNya. Atau ketakutan karena hal-hal lainnya, yang akhirnya menyebabkan urung untuk beribadah. Ketakutan itu jika terus dibiarkan akan berubah ke level yang lebih tinggi, yaitu fobia yang permanen. Apakah kita menyadari hal ini? Sebelum Tuhan Yesus terangkat ke sorga. Tuhan Yesus meyakinkan para muridNya untuk menghapus segala ketakutan mereka. Bagaimana caranya? Ada “Sang Penolong” yang akan diberikan kepada para murid. Injil Yohanes 14:16-17, “Aku akan minta kepada Bapa, dan Ia akan memberikan kepadamu seorang Penolong yang lain, supaya Ia menyertai kamu selama-lamanya, yaitu Roh Kebenaran...” Roh kebenaran akan menyatakan kebenaran kepada umat Tuhan, untuk tetap yakin mengikut dia Roh Kudus akan bertindak sebagai penolong, yang akan menolong umat Tuhan supaya tetap tegar menghadapi segala tantangan dan ketakutan. Apa yang menjadi ketakutan kita? Apakah ketakutan itu masih ada hingga saat ini? Apakah ketakutan itu menguasai dan mengintimidasi? Tuhan Yesus memberi penegasan kepada umatNya. Jangan Takut !!! Roh Tuhan bersama kita. Jangan gentar dan gelisah, Roh Tuhan menolong dan menuntun kita. Firman yang disampaikan oleh Tuhan Yesus yang tercatat di dalam Injil Yohanes 14:18 jelas dan tegas. Kita tidak akan dibiarkan sendiri. Tuhan bersama kita! Oleh karena itu, janganlah takut. Serukan dengan tegas kepada semua fobia tersebut, KAMI TIDAK TAKUT !!!
Setiap mahluk hidup membutuhkan rasa aman agar sehat secara psikologis. Oleh sebab itu mereka diperlengkapi dengan kemampuan untuk melindungi diri. Contoh, keong memiliki cangkang untuk melindungi badannya yang lemah. Kura-kura memiliki tempurung yang kuat untuk menyembunyikan bagian tubuhnya. Bunglon mempunyai kemampuan ‘berkamuflase’ untuk melindungi dirinya. Manusia dengan akal budinya, mengembangkan diri dan ilmunya untuk melindungi diri. Pakaian dirancang untuk melindungi dari cuaca. Rumah dibangun untuk melindungi dari cuaca, serangan binatang buas, dan sebagainya. Intinya, setiap mahluk hidup, khususnya manusia, butuh terlindungi sehingga merasa aman. Untuk mencapai keluarga yang sehat secara psikologis membutuhkan rasa aman. Jika kita berkaca dari keluarga Yusuf dan Maria, kita bisa melihat situasi sulit yang harus dihadapi yang mengancam rasa aman keluarga tersebut. Kehamilan Maria yang di luar nalar manusia, usaha pembunuhan oleh Herodes, menyingkir ke Mesir sebagai orang asing, kembali ke tanah Israel tetapi tetap ada ancaman merupakan situasi yang bisa merenggut rasa aman keluarga mereka. Tetapi mereka sanggup menghadapi bahkan melewati ‘ancaman’ yang bisa merusak rasa aman keluarga mereka. Hal tersebut disebabkan: 1. Ketaatan Maria dan ketulusan hati Yusuf. Ketaatan dan ketulusan hati merupakan perpaduan yang sanggup meredam setiap situasi yang berpotensi menghilangkan rasa aman. Ketaatan Maria menerima sebuah situasi yang tidak mudah telah memberinya keikhlasan dan kelapangan hati untuk mengandung bayi Yesus. Ketulusan hati Yusuf menerima kondisi Maria yang telah hamil meredakan gejolak hatinya yang semula berniat memutus pertunangannya dengan Maria. Dan karena ketulusan hatinya, Yusuf bersedia menikahi, melindungi, dan bertanggung jawab sepenuhnya kepada Maria dan bayi Yesus. Sikap-sikap tersebut telah membangun rasa aman dalam keluarga mereka. 2. Campur tangan Ilahi. Terciptanya rasa aman dalam keluarga mereka tidak lepas dari campur tangan Allah. Beberapa kali Allah mengutus malaikatnya untuk menyampaikan pesan-pesan penting kepada Maria dan Yusuf. Maria dan Yusuf mengerti rencana illahi bagi manusia berkat penjelasan malaikat. Bayi Yesus selamat dari usaha pembunuhan Herodes juga karena campur tangan Allah. Campur tangan Allah tersebut telah meredam gejolak batin Maria – Yusuf dan membawa keselamatan bayi Yesus. Setiap keluarga tentu tidak luput dari kondisi yang bisa merusak rasa aman. Perbedaan pendapat dan kebiasaan, konflik antar anggota keluarga, masalah keuangan, sakit penyakit, bisnis yang macet, dan sebagainya berpotensi merenggut rasa aman. Hadapilah semua itu dengan ketaatan dan ketulusan hati, serta selalu harapkan campur tangan Allah.
Sam Foss adalah seorang musafir. Suatu ketika di dalam perjalanannya ia merasa lelah dan haus yang sangat. Ia datang mendekati sebuah rumah kecil tidak bercat yang berdiri di atas sebuah bukit. Dekat sisi jalan yang menuju rumah itu, ia melihat tanda dengan tulisan, ’masuklah, dan dapatkan minuman yang dingin.’ Tidak berapa jauh dari tulisan itu Foss menemukan sebuah mata air yang dingin dan sejuk. Di atas mata air itu tersedia gayung tua untuk menciduk air dan di bangku dekat mata air tersebut ada keranjang berisi buah apel yang segar segar dengan tulisan, ’layanilah diri anda sendiri’. Penuh rasa ingin tahu, Foss bergegas menemui pasangan suami istri yang tinggal di rumah kecil itu dan ia pun bertanya tentang tulisan dekat mata air dan keranjang apel yang dilihatnya’. Pasangan suami yang sudah tua itu ternyata tidak mempunyai anak dan mereka hidup dari hasil kebun apel mereka yang tidak seberapa. Mereka bisa digolongkan sangat miskin tetapi dalam hal mata air dan apel, mereka merasa kaya dan berkelimpahan sehingga mereka ingin sekali membagikan kelimpahan tersebut kepada orang-orang yang kebetulan lewat di situ. ’Dalam hal uang kami terlalu miskin untuk menolong orang lain.’ kata pemilik rumah kecil itu, ’tetapi kami berpikir dengan cara ini kami dapat menambahkan serta menutupi apa yang kurang pada kami sehingga kami tetap dapat melakukan sesuatu untuk orang lain.’ Setiap orang dapat melakukan sesuatu untuk menolong sesamanya. Kita tidak harus menunggu sampai kita cukup mampu dan cukup berada barulah memikirkan kepentingan sesama. Mungkin kita semiskin pasangan suami isteri diatas, kita masih memiliki lebih banyak dari apa yang mereka miliki. Tetapi sekalipun kita memiliki banyak hal, kita tetaplah orang-orang ’miskin’ sebab tidak pernah berpikir untuk menolong orang lain. ’Kekayaan seseorang tidak dapat dinilai dari apa yang ia miliki, tetapi dari apa yang ia berikan kepada sesama,’ demikian kata para bijak. Adakah kita memiliki kerinduan untuk berbuat kebaikan bagi sesama? Begitu banyak orang yang kecewa karena tidak menemukan apa yang mereka harapkan dari orang percaya. Tuhan tidak akan menanyakan berapa banyak perusahaan kita, berapa banyak harta yang kita miliki dan berapa banyak tabungan kita, tetapi yang akan Tuhan tanyakan adalah apa yang sudah kita lakukan dengan semua yang sudah Tuhan percayakan kepada kita.
Pernahkah kita memperhatikan bahwa di hampir semua mall yang ada di seluruh Indonesia ?. Saat masuk ke konter sepatu dan sandal, hampir bisa dipastikan ada merek Yongki Komaladi di sana. Bahkan, tak jarang merek asli Indonesia ini berdampingan dengan merek-merek luar yang sudah tak asing lagi. Namun, merek ini tetap mampu “percaya diri”. Dan hasilnya, memang bukan sekadar “mejeng” di toko. Produknya laris manis. Padahal, bisa dikatakan, sang pemilik usaha yang memiliki nama sama dengan mereknya Yongki Komaladi ini, memulai semua dari nol, sekitar dua dekade lalu.Ia mengawali berbisnis sepatu nyaris tanpa rencana. Kala itu, ia bekerja di sebuah Departement Store. Atasannya mengeluhkan kurangnya stok sepatu dan ia “ditantang” untuk memenuhi. “Mengetahui latar belakang Ia yang 10 tahun jadi peragawan, Ia ditawari mendesain sepatu dan sekaligus membuatnya. Dia pikir, kenapa tidak dicoba? Toh, Ia juga senang menggambar dan mengikuti tren mode. Karena membutuhkan merek, atasannya minta agar memakai nama Yongki Komaladi saja.“Awalnya Ia tidak percaya diri, rasanya agak aneh. Nama Yongki mungkin saja masih oke. Tapi, tambah “Komaladi” Panjang sekali. Tapi ada teman yang mengatakan, kenapa tidak dicoba. Lantas, Ia kerjakan sungguh-sungguh, sembari berpromosi bahwa inilah produk Indonesia. Ia juga kerja sama dengan banyak rekannya yang orang-orang fashion,” ujarnya berkisah. Ia berhasil mendobrak dominasi produk asing karena selalu menjaga kualitas dan berani tampil beda. Dan, ada satu hal lagi yang barangkali tidak banyak orang tahu. Yakni, ia dan semua pekerjanya, saat mengerjakan sepatu dan sandal, selalu “diwajibkan” untuk mengawali dengan doa. Doa yang dipanjatkan pun tak main-main. Setiap orang yang membeli produknya, selalu didoakan agar selalu penuh berkah, dimudahkan jalannya, banyak rezeki, sehat, dan bahagia. “Doa itu, orang nggak perlu tahu, tapi biasanya kalau orang pakai itu pasti nyaman,” sebut pria yang selalu bersemangat saat menceritakan kisah hidupnya ini. “Dan, Ia memang selalu menekankan, kalau tujuan kita baik, pasti Tuhan tidak akan menutup mata.”Mungkin sedikit di luar kelaziman.Tapi, itulah sosok Yongki yang memang berani tampil beda. Dan, barangkali, itu jugalah yang menjadikan ia mampu mendobrak pasar. Ia menyebutkan: “Dengan desain yang dianggap ‘aneh’, beberapa kali UKM yang Ia ajak kerja sama malah complain. Kata mereka, karena nggak lazim, pasti nggak laku. Tapi Ia lihat, model-model yang seperti itu di Eropa banyak yang pakai. Jadi saya tetap coba aplikasikan,” Dengan dilandasi oleh doa, ia yakin produknya bisa diterima pasar. Kisah Inspiratif Yongki Komaladi] Setiap orang punya kesempatan untuk berdoa. Namun terkadang jarang meluangkan waktu untuk berdoa sebab kita menganggap kita mampu. Namun orang yang menyadari akan ketidak mampuan mereka akan berdoa dan mendoakan apa yang menjadi tujuannya hingga tercapai. Oleh karenanya jangan berhenti berharap dan berdoa meskipun kita sudah punya.
BARCODE BBM CHANNELS
RENUNGAN HARIAN
Efek Pentakosta
20 Mei '18
Pribadi Roh Kudus
23 Mei '18
Sang Waktu
12 Juni '18
Copyright © 2012 All rights reserved. Designed and Developed by GIA Dr. Cipto Semarang