SEPEKAN TERAKHIR
  Kamis, 20 Juli 2017   -HARI INI-
  Rabu, 19 Juli 2017
  Selasa, 18 Juli 2017
  Senin, 17 Juli 2017
  Minggu, 16 Juli 2017
  Sabtu, 15 Juli 2017
  Jumat, 14 Juli 2017
POKOK RENUNGAN
Keluarga menjadi hidup jika di dalamnya ada kasih dan keterbukaan untuk saling membangun.
DITULIS OLEH
Bp. Andreas T. Loso
Rohaniwan Pusat
Renungan Lain oleh Penulis:
Home  »  Renungan  »  Membangun Pernikahan Dengan Nilai - Nilai Kerajaan Allah
Membangun Pernikahan Dengan Nilai - Nilai Kerajaan Allah
Kamis, 06 Juni 2013 | Tema: Keluarga Yang Mengutamakan Kerajaan Allah
Membangun Pernikahan Dengan Nilai - Nilai Kerajaan Allah
Kolose 3:18-21
Mary Pipher, dalam bukunya The Shelter of Each Other, memberi nasihat tentang membangun kembali keluarga-keluarga yang bermasalah. Ia menyelidiki bagaimana anak-anak zaman sekarang terkadang terlalu sering menonton televisi dan bermain video game, sehingga mengabaikan pendidikan informal yang diterima dari kerabat mereka.
Ia mencontohkan pertemuan keluarga di mana anak-anak menonton video di ruang belakang sehingga para orang dewasa dapat berbicara tanpa diganggu. Dr. Pipher berpendapat bahwa hiburan semacam ini sesungguhnya merampas sesuatu yang berharga dari anak-anak. Anak-anak perlu bergaul dengan generasi yang lebih tua sehingga mereka dapat mendengar cerita-cerita tentang bibi, paman, kakek-nenek, dan orangtua. Ini membantu mereka belajar dari orang-orang yang telah mendahului mereka.

Meskipun di sekitar kita sering terjadi kasus-kasus pengingkaran dan penyelewenangan perkawinan, bahkan berujung pada perceraian, kita tidak perlu pesimis dan apatis. Justru di sinilah peranan kita untuk mengupayakan dan menjaga agar perkawinan benar-benar menjadi pilihan dan panggilan hidup yang bisa dipertanggungjawabkan, baik di hadapan masyarakat maupun di hadapan Tuhan. Berdasarkan kodratnya, perkawinan terarah pada kelahiran anak yang merupakan buah cinta dari suami istri, ...selengkapnya »
Seorang anak berkulit hitam, lahir di daerah kumuh Brooklyn, New York. Ia melewati kehidupannya dalam lingkungan miskin dan penuh diskriminasi. Suatu hari ayahnya memberikan sehelai pakaian bekas kepadanya. “Menurutmu, berapa nilai pakaian ini?” tanya ayahnya. Ia menjawab, “Mungkin $1.” “Bisakah dijual seharga $2? Jika berhasil, berarti engkau telah membantu ayah dan ibumu,” ujar Ayahnya. “Saya akan mencobanya,” tanggap sang anak. Lalu anak itu membawa pakaian tersebut ke stasiun kereta bawah tanah dan menjual selama lebih dari enam jam. Akhirnya ia berhasil menjual $2 dan berlari pulang. Kemudian ayahnya kembali menyerahkan sepotong pakaian bekas kepadanya dan berkata, “Coba sekarang kau jual seharga $20?” “Bagaimana mungkin? Pakaian ini paling hanya $2,” sahutnya kepada sang Ayah. Ayahnya berkata, “Mengapa engkau tidak mencobanya dulu?” Akhirnya ia mendapatkan ide. Ia meminta bantuan sepupunya untuk menggambarkan seekor Donald Duck yang lucu dan seekor Mickey Mouse yang nakal pada pakaian itu. Ia lalu menjualnya di sekolah anak orang kaya, dan terjual $25. Ayahnya kembali memberikan selembar pakaian bekas kepadanya, “Apakah engkau mampu menjualnya dengan harga $200?” Kali ini ia menerima tanpa keraguan sedikitpun. Kebetulan aktris film populer “Charlie Angels”, Farrah Fawcett berada di New York. Setelah konferensi pers, anak itupun menerobos penjagaan keamanan dan meminta Farrah Fawcett membubuhkan tanda tangan di pakaian bekasnya. Kemudian pakaian itu terjual $1500. Malamnya, ayahnya bertanya, “Anakku, dari pengalaman menjual tiga helai pakaian ini, apa yang engkau pahami?” Ia menjawab, “Selama kita mau berpikir pasti ada caranya.” Ayahnya menggelengkan kepala, “Engkau tidak salah, tapi bukan itu maksud ayah. Ayah hanya ingin memberitahukanmu bahwa sehelai pakaian bekas yang bernilai satu dolar saja bisa ditingkatkan nilainya. Apalagi kita sebagai manusia. Mungkin kita berkulit gelap dan miskin, tapi apa bedanya?” ujar sang ayah. Itulah kisah MICHAEL JORDAN, sang legenda basket Amerika. Kita seringkali mengeluh dengan keadaan karena kita tidak kuat lagi dan lelah. Kita cenderung melihat diri lemah dan tidak melihat siapa yang menciptakan kita, bahkan Roh yang ada dalam diri kita. Kita sebagai umat Tuhan seringkali mengabaikan kuasa dan hikmat yang Tuhan beri dalam hidup kita dan menggantikan dengan fakta hidup yang penuh dengan kesulitan. Oleh karenanya marilah kita melihat bahwa kita diciptakan untuk melakukan banyak perkara yang besar. Jangan menilai diri sendiri, tetapi marilah kita melihat Tuhan yang menjadikan kita adalah dahsyat dan ajaib. Jangan pernah berhenti berjuang dan tetaplah mengandalkan Tuhan dalam segala keadaan sebab itu akan memaksimalkan kuasa Tuhan yang diberikan dalam diri kita ini.
Seminggu yang lalu saat liburan sekolah, kami sekeluarga berlibur ke Bandung. Di sana kami menyempatkan pergi ke Lembang untuk mengunjungi beberapa tempat wisata yang cukup menarik bukan hanya untuk anak-anak tetapi juga bagi orang dewasa. Tetapi perjalanan menuju Lembang yang tidak terlalu jauh dari kota Bandung bisa menjadi perjalanan yang cukup melelahkan tenaga bahkan emosi karena terkenal kemacetannya apalagi pada masa-masa liburan. Oleh sebab itu kami pergi pagi hari untuk menghindari kemacetan yang parah. Dan benar saja, perjalanan ke Lembang kami lalui dengan lancar, tanpa kemacetan yang berarti. Tetapi saat pulang menuju Bandung, tentunya kemacetan tidak akan bisa dihindarkan. Oleh sebab itu kami mengambil jalan pulang melalui Maribaya yang mengarah ke Dago. Meskipun sudah berusaha melewati jalur alternatif, kemacetan tidak bisa dihindari karena ternyata juga banyak wisatawan yang melewati jalur tersebut. Kemacetan semakin diperparah dengan beberapa mobil dan banyak motor yang tidak sabar mengambil jalur kanan sehingga menutup jalur kendaraan dari arah yang berlawanan. Jemaat yang terkasih, ada kalanya peristiwa seperti itu terjadi dalam hidup kita. Sesuatu yang tidak diduga, di luar perhitungan, bahkan kendali. Kita sudah berusaha mengantisipasi dan membuat rencana yang baik. Memikirkan dan memperhitungkan segala resiko dan mempersiapkan langkah antisipasinya. Membuat rencana sedetail mungkin dan bahkan sudah meminta pendapat dari mereka yang berpengalaman. Tetapi ternyata yang terjadi tidak sesuai dengan apa yang kita rancangkan. Rencana kita tidak berjalan baik. Apa yang kita usahakan tidak membuahkan hasil seperti yang diinginkan. Bahkan mungkin mengalami kegagalan. Kadang kemudian kita berpikir semuanya sia-sia. Tidak ada gunanya berlelah-lelah melakukan semuanya. Percuma saja telah bekerja keras. Dan mungkin masih banyak pemikiran negatif yang bergelayutan mengganggu dalam hati. Bagaimana sikap kita jika mengalami kondisi seperti itu? Memang tidak mudah ketika mengalami kondisi di luar rencana dan prediksi; mengalami jalan buntu; apalagi mengalami kegagalan. Tetapi dalam kondisi tersebut tetaplah optimis dan berpikiran positif. Pasti selalu ada pelajaran berharga di setiap kegagalan. Yang penting adalah bagaimana kita tetap mau belajar untuk bangkit dan mengevaluasi untuk perbaikan ke depan.
Masih segar diingatan, saat salah seorang teman sekolah berteriak kagum melihat pohon rambutan. Ternyata dia hanya tahu buah rambutan di toko buah. Maklum anak kota. Dia sangat gembira dan berteriak-teriak bahwa seumur-umur dia baru tahu pohon rambutan! Andaikan waktu itu bukan musim buah rambutan, dia tidak akan tahu bahwa pohon itu adalah pohon rambutan. Saya yang lahir dan besar di desa merasa geli karena dari kecil saya sudah tahu berbagai jenis pohon buah-buahan karena di kebun ada beberapa macam pohon buah termasuk rambutan. Kasihan deh lu.... Seperti kisah di atas, demikian juga kehidupan kita selaku anak Tuhan. Orang bisa mengenali diri kita dari “buah” yang kita hasilkan terutama orang-orang yang ada di lingkungan hidup keseharian kita [ayat 16, 20]. Jadi tidak heran ada dua macam lontaran perkataan yang terucap, yaitu “pujian” saat kita memberikan dampak yang baik dan “cacian/cemooh” saat kita melakukan tindakan negatif yang tidak sesuai dengan Firman Tuhan. Dalam suratnya kepada Jemaat di Galatia, Rasul Paulus mengatakan buah yang harus kita miliki dan pasti akan memberi dampak yang baik bagi lingkungan kita adalah “buah Roh” karena pasti tidak ada hukum yang menentangnya, yaitu kasih, sukacita, damai sejahtera, kesabaran, kemurahan, kebaikan, kesetiaan, kelemahlembutan, penguasaan diri [Galatia 5:22-23]. Kesembilannya wajib ada dalam kehidupan keseharian kita karena kesembilannya itu manunggal dalam 1 buah saja, yaitu BUAH ROH. Bagaimana dengan diri kita? Tentu kita rindu menghasilkan buah yang baik sehingga nama Tuhan dimuliakan dan kita tidak ditebang [ayat 19]. Dengan kemampuan yang diberikan Tuhan kepada kita melalui Roh Kudus-Nya, kita miliki BUAH ROH seperti yang dikatakan oleh Rasul Paulus kepada Jemaat Galatia.
Untuk menyatu dengan Yesus Kristus, seseorang harus bersedia untuk tidak hanya meninggalkan dosa tetapi juga menyerahkan seluruh caranya memandang segala sesuatu. Dilahirkan kembali oleh Roh Allah berarti kita pertama-tama harus rela melepaskan sesuatu sebelum dapat memahami sesuatu yang lain. Hal pertama yang harus kita lepaskan adalah kepura-puraan atau ketidakjujuran. Apa yang dikehendaki Tuhan untuk diserahkan kepada-Nya bukanlah kebaikan, kejujuran atau usaha untuk melakukan sesuatu yang lebih baik, tetapi sesungguhnya dosa kita. Sebenarnya itu yang ingin Dia ambil dari kita. Dan apa yang Tuhan berikan sebagai pengganti dosa kita adalah kebenaran yang nyata dan penuh. Selanjutnya harus menyerahkan segala kepura-puraan bahwa kita ini berarti dan meninggalkan semua klaim yang menganggap diri layak bagi Allah. Ketika telah melakukannya, Roh Allah akan memperlihatkan apa yang harus kita serahkan selanjutnya. Bersama setiap langkah proses ini, kita harus menyerahkan klaim kita terhadap hak bagi diri sendiri. Apakah kita bersedia melepaskan genggaman atas harta milik, hawa nafsu dan semua hal lain dalam hidup kita? Apakah kita siap disatukan dengan kematian Kristus Yesus? Kita akan menderita kekecewaan yang sangat menyakitkan jika tidak berserah sepenuhnya. Ketika seseorang melihat dirinya sama seperti Tuhan memandang, maka ia akan merasa malu dan putus asa bukan hanya karena dosa-dosa kedagingan tetapi natur kesombongan hatinya yang menentang Yesus Kristus ketika melihat dirinya sendiri dalam terang Tuhan. Apabila diperhadapkan dengan pertanyaan, apakah kita akan berserah atau tidak? Buatlah tekad untuk terus berjalan menghadapi semua pergumulan, menyerahkan semua yang dimiliki dan seluruh keberadaan kita kepada-Nya. Dan Allah pasti memperlengkapi kita untuk melakukan segala yang Dia kehendaki.
BARCODE BBM CHANNELS
RENUNGAN HARIAN
Kerjakan Keselamatanmu !
29 Juni '17
Mengubah Kebiasaan Menjadi Berkat
28 Juni '17
Bangkit dan Terus Berjuang
11 Juli '17
Copyright © 2012 All rights reserved. Designed and Developed by GIA Dr. Cipto Semarang