SEPEKAN TERAKHIR
  Jumat, 09 Desember 2016   -HARI INI-
  Kamis, 08 Desember 2016
  Rabu, 07 Desember 2016
  Selasa, 06 Desember 2016
  Senin, 05 Desember 2016
  Minggu, 04 Desember 2016
  Sabtu, 03 Desember 2016
POKOK RENUNGAN
Keluarga menjadi hidup jika di dalamnya ada kasih dan keterbukaan untuk saling membangun.
DITULIS OLEH
Bp. Andreas T. Loso
Rohaniwan Pusat
Renungan Lain oleh Penulis:
Home  »  Renungan  »  Membangun Pernikahan Dengan Nilai - Nilai Kerajaan Allah
Membangun Pernikahan Dengan Nilai - Nilai Kerajaan Allah
Kamis, 06 Juni 2013 | Tema: Keluarga Yang Mengutamakan Kerajaan Allah
Membangun Pernikahan Dengan Nilai - Nilai Kerajaan Allah
Kolose 3:18-21
Mary Pipher, dalam bukunya The Shelter of Each Other, memberi nasihat tentang membangun kembali keluarga-keluarga yang bermasalah. Ia menyelidiki bagaimana anak-anak zaman sekarang terkadang terlalu sering menonton televisi dan bermain video game, sehingga mengabaikan pendidikan informal yang diterima dari kerabat mereka.
Ia mencontohkan pertemuan keluarga di mana anak-anak menonton video di ruang belakang sehingga para orang dewasa dapat berbicara tanpa diganggu. Dr. Pipher berpendapat bahwa hiburan semacam ini sesungguhnya merampas sesuatu yang berharga dari anak-anak. Anak-anak perlu bergaul dengan generasi yang lebih tua sehingga mereka dapat mendengar cerita-cerita tentang bibi, paman, kakek-nenek, dan orangtua. Ini membantu mereka belajar dari orang-orang yang telah mendah...selengkapnya »
Pada saat keadaan baik sangat mudah mengucap syukur dan menjadi berkat bagi banyak orang. Akan lebih mudah memberi perhatian, waktu, dan bahkan dana. Tetapi bagaimana saat kita sendiri sedang ‘krisis’? Tidak bisa dipungkiri karena situasi ekonomi saat ini, kita membutuhan waktu lebih banyak untuk membanting tulang demi kelangsungan hidup keluarga yang tentunya hal itu lebih penting bagi kita. Sehingga kita tidak mempunyai cukup waktu dan uang apalagi perhatian. Namun apa kata Pemazmur? Ada beberapa hal yang dapat merubah pikiran manusia secara umum saat keadaan kurang baik untuk tetap menjadi berkat bagi banyak orang. Nats bacaan hari ini menyatakan, “Orang-orang yang menabur dengan mencucurkan air mata, akan menuai dengan bersorak-sorai. Orang yang berjalan maju dengan menangis sambil menabur benih, pasti pulang dengan sorak-sorai sambil membawa berkas-berkasnya.” Menabur, berjalan maju adalah suatu aktivitas yang harus dilakukan oleh seorang penabur, mungkin petani atau pemilik perkebunan. Mencucurkan air mata, menangis merupakan gambaran suasana hati yang tidak nyaman karena mungkin sedang banyak masalah, persoalan, tantangan. Sungguh sangat menggugah hati ungkapan Pemazmur yang tertuang dalam Mazmur 126:5-6 ini. Dalam suasana hati yang tidak nyaman, banyak tantangan yang mungkin membuat kita malas, kita harus tetap menabur. Menjadi berkat bagi orang lain. Jika kita rindu rohani terus bertumbuh kuat, sehat menjadi dewasa, jangan kita menyerah kepada keadaan. Dengan demikian kita tidak akan tergoyahkan oleh suasana baik dari dalam diri sendiri ataupun dari luar. Dan sungguh indah, pemazmur juga mengatakan bahwa kita akan pulang dengan sorak sorai sambil membawa berkas-berkas sebagai hasil dari benih yang bertumbuh subur yang terus kita bagikan di saat kesulitan datang dalam kehidupan kita. Amin.
Menurut Anda, tim sepakbola seperti apakah yang dapat menjadi juara? Apakah tim dengan dana berlimpah? Apakah tim dengan banyak pemain bintang di dalamnya? Ataukah tim yang kompak dan mengutamakan kebersamaan? Jose Mourinho, pelatih Manchester United, menunjukkan jawabannya kepada kita. Menurutnya, kesuksesan sebuah tim sepakbola dalam meraih juara, bukan karena banyaknya pemain bintang dan melimpahnya dana dalam sebuah tim. Tim dengan dana berlimpah dan banyak pemain bintang tidak ada gunanya jika tidak ada kesatuan di dalamnya. Jika ego pemain dan pemilik klub masih menonjol dan tidak dapat disatukan, jangan harap tim tersebut menjadi juara. Oleh karena itu, Jose Mourinho tidak segan “memarkir” dan tidak memainkan pemain yang egois. Dia lebih mengutamakan pemain yang bisa bekerja sama untuk menjalankan taktik bagi kemenangan tim. Kita belajar dari Paulus tentang hal ini. Menurut Paulus, perselisihan atau perpecahan menunjukkan ketidakdewasaan dalam Kristus [ayat 1], sebab manusia duniawilah yang masih ditonjolkan di sini [ayat 3]. Apabila seseorang masih hidup dengan lebih mengutamakan “keakuannya” [egoisme] dan tidak mengusahakan hidup yang rohani, maka hidupnya akan dikuasai oleh keirihatian dan perselisihan [ayat 4]. Untuk menyelesaikan perselisihan atau perpecahan, kedua pihak mesti berusaha hidup secara ’rohani’ dengan bercermin pada kehidupan Yesus Kristus, baik dalam perkataan, perasaan, pikiran, maupun tindakan. Paulus menasihati jemaat di Korintus [ayat 7-8] agar dalam hidup bersekutu, kita berusaha untuk selalu hidup dalam kesatuan serta sehati sepikir. Dengan hati yang sama-sama rindu dan sepakat untuk memiliki hidup yang rohani, anak-anak Tuhan akan lebih erat dan bersatu sehingga tidak terjadi perselisihan. Perselisihan seringkali kali terjadi karena ego manusia yang ingin menjadi yang “terdepan” dan terhebat. Padahal bila direnungkan, siapakah kita sehingga ada keangkuhan di antara saudara? Bahkan Yesus Kristus yang adalah Tuhan menjadi teladan bagi kita dengan rela menanggalkan ego-Nya dan turun menjadi manusia untuk mati secara nista di kayu salib. Sebab itu untuk menghindari perselisihan, landasi segala sesuatu dengan kasih. Siapakah kita? Jika kita mengaku sebagai murid Kristus, hamba Kristus atau pengikut-Nya, marilah kita menunjukkan kedewasaan kita dengan cara hidup seperti Yesus. Hidup yang mau menanggalkan ego dan keangkuhan, serta mengutamakan persatuan.
Aku berdoa, supaya kamu bersama-sama dengan segala orang kudus dapat memahami, betapa lebarnya dan panjangnya dan tingginya dan dalamnya kasih Kristus, dan dapat mengenal kasih itu, sekalipun ia melampaui segala pengetahuan. Aku berdoa, supaya kamu dipenuhi di dalam seluruh kepenuhan Allah. [ayat 18-19] Mencapai kepenuhan ilahi [bhs Yunani: PLEROMA] merupakan tujuan kebanyakan agama-agama Asia kuno. Kepenuhan ilahi dapat disetarakan dengan konsep ’manunggaling kawula Gusti’ di dalam Kejawen. Untuk mencapai keadaan itu seseorang harus melakukan ritual-ritual tertentu seperti berpuasa, bertapa, dan sebagainya. Bagi orang yang percaya kepada Kristus ada pengharapan untuk mencapai kepenuhan Allah, tapi bukan dengan cara seperti yang dilakukan orang-orang lainnya. Kristus adalah pribadi yang memiliki seluruh kepenuhan Allah [Kolose 1:19]. Barangsiapa ada di dalam Kristus juga akan mengalami kepenuhan Allah. 2 Korintus 3:18 berkata: ’Dan kita semua mencerminkan kemuliaan Tuhan dengan muka yang tidak berselubung. Dan karena kemuliaan itu datangnya dari Tuhan yang adalah Roh, maka kita diubah menjadi serupa dengan gambar-Nya, dalam kemuliaan yang semakin besar.’ Bagaimana caranya untuk mencapai keadaan itu? Apakah kita harus melakukan ritual-ritual atau syarat-syarat tertentu? Tidak. Ayat 18 menunjukkan caranya, yaitu dengan memahami dan mengenal kasih Kristus. Kasih yang begitu lebar, panjang, tinggi dan dalam. Kasih yang melampaui segala pengetahuan. Kasih itu sungguh nyata dan sudah Dia buktikan ketika Dia mati di atas kayu salib bagi kita. Tidak ada kasih seperti itu. Memahami kasih Kristus artinya adalah menangkap dengan akal budi kita segala keluasan, ketinggian dan kedalaman kasih Kristus. Akal budi berfungsi untuk memahami dengan cara belajar. Untuk memahami kasih Kristus kita harus belajar Firman Tuhan dengan tekun. Tuhan telah memberikan Firman-Nya agar kita dapat memahami segala kekayaan kasih Kristus itu. Mengenal artinya mengalami. Bukan hanya mendapat pengertian sebagai pengetahuan, tetapi mendapat pengertian dari pengalaman. Mengalami kasih Kristus terjadi melalui pengalaman hidup kita setiap hari. Melewati segala masalah dan kesulitan hidup kita akan mengalami bahwa kasih Kristus itu bukan hanya sungguh nyata, tapi sangat luas, tinggi dan dalam. Pdt. Goenawan Susanto
Dewasa sempurna Yakobus 1:2-4 Dan biarkanlah ketekunan itu memperoleh buah yang matang, supaya kamu menjadi sempurna dan utuh dan tak kekurangan suatu apapun. Pada suatu saat ada seorang tukang perajin perak ditanya, ’Pada waktu anda melebur untuk memurnikan perak, bagaimana anda tahu bahwa perak itu sudah betul-betul murni?’ Dia menjawab, ’Tandanya bahwa perak itu benar-benar murni adalah ketika saya bisa melihat wajah saya di dalam perak itu.’ Seperti itu pula tanda bahwa kita telah benar-benar mencapai kedewasaan penuh adalah ketika Allah dapat melihat gambar-Nya di dalam diri kita. Perak bisa menjadi murni ketika dimasukkan di dalam dapur peleburan. Perak itu tadinya bercampur dengan kotoran-kotoran. Lalu ketika dipanaskan dalam api, kotoran-kotoran itu terbakar habis. Lalu yang tertinggal adalah peraknya saja, perak yang murni. Seperti itulah cara Tuhan menjadikan kita dewasa sempurna, yaitu dengan memurnikan dan member sihkan kita dari segala sifat-sifat kotor yang saat ini masih melekat di dalam diri kita. Tuhan menggunakan berbagai-bagai macam pencobaan untuk memurnikan kita [ayat 2]. Oleh karena itu Firman Tuhan berkata agar kita menganggap sebagai sukacita kalau mengalami berbagai pencobaan, sebab semua itu akan dipakai Tuhan untuk memurnikan kita, menuju pada kesempurnaan. Saat kita mengalami berbagai pencobaan, bersukacitalah dan bersyukurlah. Mengapa? Karena Tuhan sedang mengerjakan sesuatu yang baik dalam hidup kita. Tuhan punya rencana yang baik di dalam semua itu. Inilah cara merespon yang benar terhadap masalah-masalah yang kita hadapi. Fokuslah pada tujuan yang Tuhan sudah tetapkan dalam hidup kita, yaitu kedewasaan penuh, dimana kita tak kekurangan suatu apapun [ayat 4]. Amin. Pdt. Goenawan Susanto
BARCODE BBM CHANNELS
RENUNGAN HARIAN
Dewasa Dalam Iman dan Kekayaan
10 November '16
Kedewasaan Karakter
12 November '16
Menahan Ego dan Bersatu
09 November '16
Copyright © 2012 All rights reserved. Designed and Developed by GIA Dr. Cipto Semarang