SEPEKAN TERAKHIR
  Kamis, 28 Agustus 2014   -HARI INI-
  Rabu, 27 Agustus 2014
  Selasa, 26 Agustus 2014
  Senin, 25 Agustus 2014
  Minggu, 24 Agustus 2014
  Sabtu, 23 Agustus 2014
  Jumat, 22 Agustus 2014
POKOK RENUNGAN
Keluarga menjadi hidup jika di dalamnya ada kasih dan keterbukaan untuk saling membangun.
DITULIS OLEH
Bpk. Andreas T. Loso
Kontributor
Renungan Lain oleh Penulis:
Home  »  Renungan  »  Membangun Pernikahan Dengan Nilai - Nilai Kerajaan Allah
Membangun Pernikahan Dengan Nilai - Nilai Kerajaan Allah
Kamis, 06 Juni 2013 | Tema: Keluarga Yang Mengutamakan Kerajaan Allah
Membangun Pernikahan Dengan Nilai - Nilai Kerajaan Allah
Kolose 3:18-21
Mary Pipher, dalam bukunya The Shelter of Each Other, memberi nasihat tentang membangun kembali keluarga-keluarga yang bermasalah. Ia menyelidiki bagaimana anak-anak zaman sekarang terkadang terlalu sering menonton televisi dan bermain video game, sehingga mengabaikan pendidikan informal yang diterima dari kerabat mereka.
Ia mencontohkan pertemuan keluarga di mana anak-anak menonton video di ruang belakang sehingga para orang dewasa dapat berbicara tanpa diganggu. Dr. Pipher berpendapat bahwa hiburan semacam ini sesungguhnya merampas sesuatu yang berharga dari anak-anak. Anak-anak perlu bergaul dengan generasi yang lebih tua sehingga mereka dapat mendengar cerita-cerita tentang bibi, paman, kakek-nenek, dan orangtua. Ini membantu mereka belajar dari orang-orang yang telah mendahului mereka.

Meskipun di sekitar kita sering terjadi kasus-kasus pengingkaran dan penyelewenangan perkawinan, bahkan berujung pada perceraian, kita tidak perlu pesimis dan apatis. Justru di sinilah peranan kita untuk mengupayakan dan menjaga agar perkawinan benar-benar menjadi pilihan dan panggilan hidup yang bisa dipertanggungjawabkan, baik di hadapan masyarakat maupun di hadapan Tuhan. Berdasarkan kodratnya, perkawinan terarah pada kelahiran anak yang merupakan buah cinta dari suami istri, sekaligus menurunkan kehidupan baru. Oleh karena itu, keluarga kristiani dipanggil untuk menjadi pencinta, perawat, penjaga dan pembela kehidupan. Pasangan suami istri harus mempertahankan kes...selengkapnya »
Sebuah gereja kecil dengan anggota jemaat sekitar 150 orang yang berada di tengah sebuah perumahan suatu ketika mendapat berita bahwa besok siang akan ada penyerbuan dari kelompok tertentu. Kelompok itu akan datang dengan rombongan besar karena mereka tidak setuju dan merasa terganggu dengan adanya gereja. Mereka bertujuan untuk menghancurkan bangunan gereja. Pada waktu mendapat berita tersebut, jemaat menjadi panik. Pendeta berkata menenangkan jemaat, “Jangan kita takut dan panik karena mereka datang dengan kekuatan manusia, tetapi yang menyertai kita adalah Tuhan, Allah yang Maha Kuasa. Mari kita datang dan bersujud kepada-Nya karena pertolongan datang dari Allah saja.” Keesokan harinya pada jam diperkirakan, mereka datang. Sang Pendeta dan isterinya masuk di tempat ibadah untuk berdoa dan tidak menghiraukan himbauan aparat keamanan yang melarang masuk. Sampai malam hari dan hari-hari berikut sampai sekarang tidak ada satupun orang yang datang untuk merusak gedung gereja. Mereka berani bukan mampu tetapi karena kuasa Tuhan yang menyertainya. Yerusalem dikepung oleh tentara Asyur di bawah pimpinan raja Sanherib. Raja Hizkia menutup semua mata air di seluruh negeri dan membangun tembok dan menara-menara. Memperkuat pasukan tentara dan mengangkat panglima-panglima perang. Walaupun persiapan demikian kuat, rakyat tetap ketakutan karena selain pasukan Asyur sangat besar, mereka menyebarkan berita kepada rakyat bahwa tidak ada bangsa manapun yang tidak pernah dikalahkannya. Hizkia menemui rakyatnya dan berkata, “Kuatkanlah dan teguhkanlah hatimu! Jangan takut karena yang menyertai mereka adalah tangan manusia, tetapi yang menyertai kita adalah Tuhan, Allah kita, yang membantu kita dan melakukan peperangan kita.” Hizkia sujud dan berdoa bersama nabi Yesaya. Tuhan mengirimkan malaikatnya untuk melawan dan melenyapkan pasukan Asyur (ayat 20-21). Hizkia berani karena dia yakin Tuhan yang Maha Besar itu yang menyertainya. Mungkin saat ini kita sedang mengalami masalah yang sangat besar sehingga kita sangat ketakutan. Marilah seperti Hizkia kita kuatkan dan teguhkan hati kita, jangan takut karena Tuhan Yesus Kristus yang senantiasa menyertai kita jauh lebih besar kuasa-Nya dibanding dengan apapun masalah kita. Jadilah pemberani bukan karena kekuatan kita sendiri tetapi karena Tuhan menyertai kita.
Sore ini Komcil Guyub Rukun akan mengadakan persekutuan. Sejak siang hari para anggotanya sibuk berkirim pesan singkat untuk saling mengingatkan. Ketika ada kabar tentang Bu Trimo yang tak akan hadir karena sakit kepala, Bu Prakosa yang paling rajin di antara mereka langsung meneleponnya. ”Selama badan belum betul-betul terkapar di ranjang, jangan tidak datang. Sakit jangan dimanjakan!” begitu pesan Bu Prakosa. Bu Trimo yang menerima telepon dengan kepala yang berdenyut-denyut merasa dahinya semakin ’cekut-cekut’. ”Biasanya kalau sakit kepala, saya beristirahat agar besoknya pulih tanpa berobat. Kalau dipaksa beraktivitas, besoknya tambah parah. Kalau saya harus ke dokter apa Ibu mau membiayai?!” Nah. Kok malah bertengkar? Jangan heran. Bukankah ini situasi yang tak asing bagi kita? Bukan hanya soal penyakit, banyak hal yang bisa memicu gesekan di antara kita. Pertemuan dalam Komunitas Kecil yang dirancang untuk saling mengasihi dan memperhatikan memang akrab dengan hal-hal yang tak terduga sebelumnya. Namun tak usah berkecil hati apalagi menganggapnya percuma. Jangan pula urung bergabung atau memutuskan untuk berhenti. Justru di sinilah kita berlatih untuk menghidupi kekristenan dalam situasi yang nyata. Kita melatih diri untuk saling memahami dan bersikap sabar. Masing-masing orang memiliki kebiasaan yang berbeda, daya tahan tubuh yang berbeda, kepekaan yang berbeda. Masing-masing ditolong oleh Roh Kudus untuk memperbaiki diri melalui interaksi yang teratur dengan saudara-saudara yang lain. Sebab pengikut Kristus bukanlah individu-individu yang tak terkait satu sama lain, melainkan sekelompok saudara yang direkatkan dalam kesatuan Roh oleh ikatan damai sejahtera.
Anda tentunya ingat iklan di TV: Siapa Takut! Tantangan itu dijawab oleh sebuah produk shampoo, nampaknya masalah ketombe juga sempat membuat seseorang takut, entah apa yang ditakutkan. Banyak orang dilanda ketakutan menghadapi banyak masalah dalam kehidupan, mungkin anda adalah salah satu di antaranya. Saya mau katakan bahwa hal itu sangat wajar, sebagai manusia biasa siapa yang tidak pernah merasa takut. Masalahnya adalah dengan apa kita harus mengatasi ketakutan tersebut? Daud menulis: “Kepada siapakah aku harus takut dan terhadap siapakah aku harus gemetar?“ Tulisan itu bukanlah suatu pertanyaan atas ketakutan atau keputusasaannya. Daud justru menantang musuh dan lawannya karena dia tahu jawabnya. Dengan apa dia bisa mengatasi ketakutan dalam hidupnya? Dengan PERCAYA PENUH KEPADA TUHAN ALLAHNYA. Tuhan adalah terang dan keselamatannya. Tuhan adalah benteng hidupnya. Tuhan pasti menjaga, melindungi dan menolongnya. Pengalamannya sebagai seorang gembala menghadapi binatang-binatang buas di padang, pengalamannya merobohkan Goliat si raksasa Filistin, pengalamannya lolos dari kejaran Saul yang berusaha membunuhnya karena iri, pengalamannya menghadapi kudeta anaknya sendiri dan masalah-masalah lain di dalam hidupnya membuat dia semakin teguh dalam keyakinan imannya. Apa dan siapa yang membuat kita takut? Biarlah pengalaman Daud mengajar kita bagaimana kita menghadapi dan mengatasinya bersama Tuhan Allah kita.
Hampir 8 tahun saya terjerembab dalam dosa tidak bisa mengampuni. Selama itu saya merasakan kehilangan sukacita sejati. Apa yang saya gumulkan di hadapan Tuhan seperti berhenti di tengah jalan. Selama itu pula saya tidak pernah menemukan penyebab mengapa hidup saya terasa tidak menemukan berkat Allah. Dosa ini dimulai ketika saya sekeluarga di usir oleh kakak ipar dari rumah yang kami bangun, sedang kami tidak tahu permasalahnnya. Saya dendam kepadanya karena saya merasa rumah itu dibangun juga dengan hasil keringat saya dan kakak tidak membantu sama sekali. Kami sekeluarga pergi meninggalkan rumah itu tanpa keluar kata apapun, tetapi amarah dan dendam mendera hati ini. Selama itu saya tidak pernah tegur sapa walaupun bertemu. Tetapi selama itu pula hidup kami, walaupun melayani Tuhan, tetap tidak menemukan damai sejahtera Allah. Kami merasakan hidup ini selalu kurang dalam segala hal. Puji Tuhan, melalui 1 Yohanes 4:20 yang mengatakan, ”Jikalau seorang berkata: ‘Aku mengasihi Allah,’ dan ia membenci saudaranya, maka ia adalah pendusta, karena barangsiapa tidak mengasihi saudaranya yang dilihatnya, tidak mungkin mengasihi Allah yang tidak dilihatnya.” Saya diingatkan begitu jelas sekali dosa kesalahan saya sehingga mengalami kemerosotan rohani yang mengakibatkan kehilangan berkat Allah. Dua tahun lalu saya menemui kakak ipar, saya minta maaf dan saya mengasihi mereka, Dan luar biasa damai yang telah hilang itu kembali, bahkan berkat-berkat Allah yang selama ini tersumbat mengalir deras. AKU BISA MENGAMPUNI mereka yang telah menyakitiku, itulah kunci pemulihan pada diri saya. Beban yang saya pikul terasa terhempas begitu saja setelah pengampunan dan kasih itu saya lakukan. Sebagai seorang yang mengakui bahwa Yesus adalah Tuhan dan Juruselamat, sudah seharusnya sifat mau mengampuni menjadi gaya hidup kita. Mengapa harus mengampuni? Pertama, supaya Iblis tidak mengambil keuntungan dari kita dan kita bebas dari hal-hal yang merugikan kita (2 Korintus 2:10-11). Kedua, Bapa di Surga akan mengampuni kita juga, jika kita mau melepaskan pengampunan kepada orang lain (Matius 6:15). Marilah kita belajar mengampuni karena Allah lebih dulu mengampuni kita.
BARCODE BBM CHANNELS
RENUNGAN HARIAN
Mengatakan Kebenaran
10 Agustus '14
Pengalaman Pribadi Menumbuhkan Kepercayaan
26 Agustus '14
Yesuspun Takut
19 Agustus '14
Copyright © 2012 All rights reserved. Designed and Developed by GIA Dr. Cipto Semarang