SEPEKAN TERAKHIR
  Sabtu, 28 Februari 2015   -HARI INI-
  Jumat, 27 Februari 2015
  Kamis, 26 Februari 2015
  Rabu, 25 Februari 2015
  Selasa, 24 Februari 2015
  Senin, 23 Februari 2015
  Minggu, 22 Februari 2015
POKOK RENUNGAN
Keluarga menjadi hidup jika di dalamnya ada kasih dan keterbukaan untuk saling membangun.
DITULIS OLEH
Bpk. Andreas T. Loso
Kontributor
Renungan Lain oleh Penulis:
Home  »  Renungan  »  Membangun Pernikahan Dengan Nilai - Nilai Kerajaan Allah
Membangun Pernikahan Dengan Nilai - Nilai Kerajaan Allah
Kamis, 06 Juni 2013 | Tema: Keluarga Yang Mengutamakan Kerajaan Allah
Membangun Pernikahan Dengan Nilai - Nilai Kerajaan Allah
Kolose 3:18-21
Mary Pipher, dalam bukunya The Shelter of Each Other, memberi nasihat tentang membangun kembali keluarga-keluarga yang bermasalah. Ia menyelidiki bagaimana anak-anak zaman sekarang terkadang terlalu sering menonton televisi dan bermain video game, sehingga mengabaikan pendidikan informal yang diterima dari kerabat mereka.
Ia mencontohkan pertemuan keluarga di mana anak-anak menonton video di ruang belakang sehingga para orang dewasa dapat berbicara tanpa diganggu. Dr. Pipher berpendapat bahwa hiburan semacam ini sesungguhnya merampas sesuatu yang berharga dari anak-anak. Anak-anak perlu bergaul dengan generasi yang lebih tua sehingga mereka dapat mendengar cerita-cerita tentang bibi, paman, kakek-nenek, dan orangtua. Ini membantu mereka belajar dari orang-orang yang telah mendahului mereka.

Meskipun di sekitar kita sering terjadi kasus-kasus pengingkaran dan penyelewenangan perkawinan, bahkan berujung pada perceraian, kita tidak perlu pesimis dan apatis. Justru di sinilah peranan kita untuk mengupayakan dan menjaga agar perkawinan benar-benar menjadi pilihan dan panggilan hidup yang bisa dipertanggungjawabkan, baik di hadapan masyarakat maupun di hadapan Tuhan. Berdasarkan kodratnya, perkawinan terarah pada kelahiran anak yang merupakan buah cinta dari suami istri, sekaligus menurunkan kehidupan baru. Oleh karena itu, keluarga kristiani dipanggil untuk menjadi pencinta, perawat, penjaga dan pembela kehidupan. Pasangan suami istri harus mempertahankan kes...selengkapnya »
Siapakah di dunia ini yang tidak mengenal Bunda Teresa [Agnes Gonxha Bojaxhiu]; yang lahir di Üsküb, Kerajaan Ottoman, 26 Agustus 1910 dan meninggal di Kalkuta, India, 5 September 1997 tahun? Ia adalah seorang biarawati Katolik Roma keturunan Albania dan berkewarganegaraan India yang mendirikan “Misionaris Cinta Kasih” [Missionaries of Charity] di Kalkuta, India pada tahun 1950. Selama lebih dari 47 tahun, ia melayani orang miskin, sakit, yatim piatu dan sekarat, sementara membimbing ekspansi Misionaris Cinta Kasih yang pertama di seluruh India dan selanjutnya di negara lain. Setelah kematiannya, ia mendapat gelar ‘Beata’ [blessed-Inggris] oleh Paus Yohanes Paulus II. Sebagai orang kristen yang diajar untuk meneladani kasih Kristus setiap hari, tentu terbesit dalam pikiran kita pertanyaan, “Bagaimana Bunda Theresa dapat melakukan semua itu?” Itu semua karena Bunda Theresa telah menerima kasih yang melimpah dari Tuhan, dan kasih Tuhan itu yang membawanya untuk mengambil, memelihara, memiliki, dan menyayangi domba-domba yang tak terpelihara itu. Sehingga ia dapat mengabdikan hidupnya sepenuhnya untuk orang-orang yang disayanginya. Rasul Paulus selalu berdoa untuk jemaat kecil yang ada di Filipi agar Tuhan terus melimpahkan kasih itu dengan ‘meluber’ [melimpah-limpah], sehingga ada banyak orang-orang yang akan diberkati melalui teladan kasih yang diberikan oleh Jemaat Filipi. Kasih yang melimpah itu pun harus menjadi bagian dalam hidup kita sehingga kita dapat menjadi berkat bagi orang-orang di sekitar kita. Kita tidak akan dapat mengasihi orang lain secara total jika kita tidak pernah mempunyai rasa memiliki dan menyayangi mereka. Kita tidak akan dapat mengasihi Tuhan jika kita tidak mempunyai rasa memiliki dan menyayangi, demikian juga kepada sesama manusia dan benda-benda di sekitar kita.
Pak Rano dan keluarganya tinggal dalam lingkungan di mana hanya mereka saja yang Kristen. Setiap akan pergi beribadah hari minggu, mereka selalu mendapat ejekan dan gunjingan dari para tetangga. Meskipun begitu mereka tetap ramah dan penuh senyum menyapa setiap orang yang mereka lewati. Bila di rumah mereka diadakan komcil, para tetangga selalu mengganggu dengan membesarkan volume TV atau sengaja memperdengarkan musik dengan suara keras. Pak Rano tidak membalas perbuatan jahat tetangganya dengan kejahatan, tetapi dengan kasih yang dinyatakan dengan tindakan. Dengan senang hati dia menolong tetangga yang sakit dan mengantar ke rumah sakit. Dengan ringan tangan membantu tetangga memperbaiki alat-alat elektroniknya yang rusak tanpa biaya dan banyak perbuatan kasih lainnya. Dengan berjalannya waktu tindakan kasih itu berdampak, para tetangga juga mengasihi keluarga pak Rano. Yesus mengasihi orang percaya seperti Bapa mengasihi Yesus. Dia tidak mengharap balasan kasih yang sama, tetapi ingin setiap orang percaya tinggal dalam kasih-Nya. Artinya orang percaya hidup dalam kasih-Nya. Hal itu bisa terjadi apabila orang percaya menuruti perintah-Nya seperti Yesus menuruti perintah Bapa. Dampaknya adalah mengasihi orang lain seperti Yesus mengasihi. Kasih yang berani berkorban untuk orang lain. Sebutan sebagai sahabat Kristus, bukan lagi hamba akan diberikan kepada orang yang tinggal dalam kasih-Nya. Di sekitar kita banyak orang yang mungkin menyulitkan, membuat kita sakit hati, tidak menghargai, dan sebagainya. Apakah kita bisa mengasihi mereka? Dengan kekuatan kita tidak mungkin bisa. Kita yang telah menerima kasih Kristus, taatilah seluruh perintah-Nya, karena salah satu perintah-Nya adalah saling mengasihi. Dengan demikian kita dapat mengasihi orang lain, walaupun harus berkorban. Karena untuk mengasihi kadang-kadang sakit hati, mengorbankan perasaan. Marilah kita mengasihi tanpa pamrih, kasih yang rela berkorban. Tetaplah tinggal dalam kasih-Nya.
“Pertama kali aku melihatmu, aku takut mengajak bicara. Boro-boro ngajak bicara, mendekat saja aku sudah takut, sepertinya kamu galak dan judes...” Kalimat itu tidak asing lagi bagi saya karena saya sudah sering dengarnya dari teman-teman. Ketika mereka belum mengenal saya, mereka mengira saya galak dan judes. Tetapi setelah mereka mengenal saya, kebanyakan kaget karena ternyata tidak seperti yang mereka sangka. Demikian juga image kita kepada Tuhan, apabila kita tidak mengenal Dia, kita pasti membayangkan bahwa Tuhan itu terlalu jauh dan tidak bisa didekati karena Dia Mahaagung. Tuhan itu suka menghukum manusia karena Dia Mahasuci dan tidak suka melihat manusia berbuat dosa. Itu gambaran luar yang kita tahu tentang Tuhan ketika kita belum mengenal Dia lebih dalam. Namun apabila kita mengenal Dia dengan baik, kita akan tahu bahwa Dia adalah pribadi yang penuh Kasih. Dalam 2 Petrus 1:2 “Kasih karunia dan damai sejahtera melimpahi kamu....” Tuhan selalu ingin kita mengalami anugrah dan damai sejahtera-Nya lebih besar lagi dalam kehidupan kita. Bagaimana caranya? Kata selanjutnya dari ayat tersebut “.... oleh pengenalan akan Allah dan akan Yesus, Tuhan kita”. Semakin banyak pengetahuan kita akan Yesus, tentunya semakin dalam dan baik pula hubungan kita dengan-Nya. Maka semakin besar anugrah dan damai sejahtera-Nya melimpahi kehidupan kita. Tahun boleh berganti, umur biar saja bertambah, mari kita mengimbanginya dengan menambah pengetahuan dan pengenalan akan Dia. Supaya tahun ini tidak sama dengan tahun kemarin, tapi menjadi lebih baik lagi oleh karena anugrah-Nya sangat berguna bagi kehidupan dan pelayanan kita.
Kasih Tuhan kepada manusia membuat manusia berharga. Diciptakan dalam gambar dan rupa Allah (Mazmur 8:5-6), dijadikan anak-anak-Nya (Yohanes 1:12; 2 Korintus 6:18), dan puncaknya diberi anugerah keselamatan (melalui penebusan salib Kristus), sehingga memungkinkan kita yang sudah jatuh dalam dosa, bisa dipulihkan kepada rancangan Allah semula, yaitu sempurna seperti Bapa (Matius 5:48). Sebetulnya kita sangat berhutang kepada Tuhan, berarti kita wajib “membayar” hutang kita kepada Tuhan, yaitu dengan mengasihi Dia tanpa batas. Pertama-tama kita harus merespon anugerah dengan benar dan bertanggung jawab dengan mengerjakan keselamatan dengan takut dan gentar (Pilipi 2:12). Selanjutnya kita wajib melayani Tuhan dengan pelayanan kepada sesama, siapapun mereka. Mengasihi Tuhan, mengasihi sesama dan memuridkan mereka adalah tiga hal paling mendasar dalam kehidupan umat pilihan (Matius 22:37-39, Matius 28:19). Dalam bacaan di atas kita dapatkan teladan praktis dari Tuhan Yesus dalam mengasihi sesama: a. Sikap hati menerima : Memperlakukan sesama sebagai pribadi yang unik dengan berbagai latar belakang yang berbeda, memahami, bersahabat, menyediakan waktu, memerhatikan, dan tidak menghakimi. b. Berkata-kata tentang Kerajaan Allah : Berbagi kebenaran Injil yang mempunyai kuasa menyelamatkan, memperbaharui kehidupan. Perkataan yang kita sampaikan membawa damai sejahtera, sukacita, membangun kehidupan dan menguatkan semangat hidup orang (Roma 14:17). c. Menyembuhkan orang yang sakit : Tidak saja sikap hati, berkata-kata, tetapi juga melakukan tindakan nyata untuk membantu, menolong kebutuhan orang lain. Tidak harus suatu perbuatan besar, namun bisa berupa tindakan-tindakan kecil yang berdampak positif , small acts of kindness (Matius 5:16, Titus 2:14b). Kesempatan untuk mempraktekkan hal-hal tersebut semakin terbuka di dunia yang semakin jahat ini.
BARCODE BBM CHANNELS
RENUNGAN HARIAN
Persepuluhan, Keadilan & Kasih
10 Februari '15
Cermin Tidak Pernah Berbohong
02 Februari '15
Good Service
15 Februari '15
Copyright © 2012 All rights reserved. Designed and Developed by GIA Dr. Cipto Semarang