SEPEKAN TERAKHIR
  Jumat, 12 Februari 2016   -HARI INI-
  Kamis, 11 Februari 2016
  Rabu, 10 Februari 2016
  Selasa, 09 Februari 2016
  Senin, 08 Februari 2016
  Minggu, 07 Februari 2016
  Sabtu, 06 Februari 2016
POKOK RENUNGAN
Keluarga menjadi hidup jika di dalamnya ada kasih dan keterbukaan untuk saling membangun.
DITULIS OLEH
Bpk. Andreas T. Loso
Kontributor
Renungan Lain oleh Penulis:
Home  »  Renungan  »  Membangun Pernikahan Dengan Nilai - Nilai Kerajaan Allah
Membangun Pernikahan Dengan Nilai - Nilai Kerajaan Allah
Kamis, 06 Juni 2013 | Tema: Keluarga Yang Mengutamakan Kerajaan Allah
Membangun Pernikahan Dengan Nilai - Nilai Kerajaan Allah
Kolose 3:18-21
Mary Pipher, dalam bukunya The Shelter of Each Other, memberi nasihat tentang membangun kembali keluarga-keluarga yang bermasalah. Ia menyelidiki bagaimana anak-anak zaman sekarang terkadang terlalu sering menonton televisi dan bermain video game, sehingga mengabaikan pendidikan informal yang diterima dari kerabat mereka.
Ia mencontohkan pertemuan keluarga di mana anak-anak menonton video di ruang belakang sehingga para orang dewasa dapat berbicara tanpa diganggu. Dr. Pipher berpendapat bahwa hiburan semacam ini sesungguhnya merampas sesuatu yang berharga dari anak-anak. Anak-anak perlu bergaul dengan generasi yang lebih tua sehingga mereka dapat mendengar cerita-cerita tentang bibi, paman, kakek-nenek, dan orangtua. Ini membantu mereka belajar dari orang-orang yang telah mendahului mereka.

Meskipun di sekitar kita sering terjadi kasus-kasus pengingkaran dan penyelewenangan perkawinan, bahkan berujung pada perceraian, kita tidak perlu pesimis dan apatis. Justru di sinilah peranan kita untuk mengupayakan dan menjaga agar perkawinan benar-benar menjadi pilihan dan panggilan hidup yang bisa dipertanggungjawabkan, baik di hadapan masyarakat maupun di hadapan Tuhan. Berdasarkan kodratnya, perkawinan terarah pada kelahiran anak yang merupakan buah cinta dari suami istri, sekaligus menurunkan kehidupan baru. Oleh karena itu, keluarga kristiani dipanggil untuk menjadi pencinta, perawat, penjaga dan pembela kehidupan. Pasangan suami istri harus mempertahankan kes...selengkapnya »
Rasul Petrus menjelaskan bahwa umat percaya adalah bangsa yang berkerajaan [1 Petrus 2:9]. Jadi kita adalah anggota suatu Kerajaan dan Tuhan Yesus sebagai Rajanya. Dalam “Doa Bapa kami”, Tuhan Yesus mengajarkan kita berdoa supaya Kerajaan Allah hadir dalam hidup kita. Formula doa ini pada hakekatnya bukan sekadar suatu permohonan, tetapi suatu gaya hidup orang percaya. Supaya kita dapat menghadirkan Kerajaan Allah, perlu dipahami kebenaran sebagai berikut: 1. Menghadirkan Kerajaan Allah dalam kehidupan pribadi berarti kita hanya hidup di bawah pemerintahan Allah. sebagai anggota Kerajaan kita harus menaati kehendak Sang Raja. Kita harus meninggalkan kerajaan kita sendiri [kerajaan kegelapan] di mana yang diutamakan adalah keinginan sendiri, berupa: kemuliaan sendiri, kesenangan sendiri, cita-cita sendiri, kesuksesan sendiri. Untuk itu kita harus terus belajar kebenaran yang dibawa, diajarkan oleh Tuhan Yesus. 2. Hindari pemahaman yang salah terhadap apa yang dikatakan oleh Tuhan Yesus dalam Matius 6:33. Ayat ini BUKAN kiat [metode] supaya kita mendapat tambahan berkat jasmani apabila kita makin rajin ke gereja, aktif di pelayanan rohani, memberi dukungan dana, dsb. Dalam perikop ini Tuhan Yesus mengajar tentang kekuatiran terhadap kebutuhan jasmani yang menjadi fokus utama orang yang tidak mengenal Allah. Tuhan Yesus menghendaki supaya jangan sampai kekuatiran terhadap kebutuhan jasmani mengganggu perjuangan kita untuk mencari dan mengenakan kebenaran [Injil] yang mempunyai kuasa untuk merubah sikap hati dan karakter supaya makin berkenan kepada Bapa. Tentang kebutuhan jasmani, kita harus menyadari bahwa sebagai anak-Nya, Bapa tahu apa yang kita perlukan [Matius 6:32]. Tentunya asal kita bertanggung jawab dalam hidup. Jadi apabila kita mendahulukan Kerajaan Allah dan kebenarannya, yang akan ditambahkan adalah “investasi kita di sorga”, yaitu perkenanan kita di hadapan Bapa, kualitas hidup kita yang makin serupa dengan Tuhan Yesus, pengabdian dan pelayanan kita kepada-Nya 3. Prinsip penting dari Kerajaan Allah [Roma 14:17]: a. Kerajaan Allah tidak menekankan pemenuhan kebutuhan jasmani, asal ada makanan dan pakaian, cukuplah [I Timotius 6:8]. Tidak berarti harus hidup dalam kemiskinan b. Kerajaan Allah menekankan pada kebenaran, yang berkaitan dengan sikap hati dan karakter [Matius 5:20; Roma 12:2] c. Kerajaan Allah berkaitan dengan damai sejahtera dan sukacita yang diberikan oleh Tuhan Yesus, yang melampaui segala akal yang tidak tergantung pada kondisi lingkungan, harta benda dan kekayaan, karena kita yakin akan kasih dan kekuatan Allah [Yohanes 14:27; Pilipi 4:4-7].
Usai sudah perjalanan kepelatihan “The Special One”, Jose Mourinho, di Chelsea. Sebelum mengakhiri tahun 2015, tepatnya di bulan Desember 2015, sang pelatih fenomenal itu terpaksa lengser dari jabatannya usai dipecat oleh sang pemilik klub Chelsea, Roman Abramovic. Di balik pemecatan tersebut, sempat terhembus isu miring soal pemberontakan para pemain terhadap sang pelatih. Jose Mouriho sempat mengungkapkan kepada media bahwa para pemainnya berusaha mengkhianatinya, sehingga hasilnya prestasi di lapangan pun merosot tajam. Bahkan dia mengungkapkan, strategi terbaik yang dia miliki pun tidak dapat berjalan dengan sukses apabila para pemain tidak respect kepadanya dan cenderung mengkhianatinya. Saat Yesus memasuki Yerusalem dan dielu-elukan banyak orang beberapa hari sebelum kematian-Nya, sesungguhnya peristiwa itu menunjukkan bahwa Yesus adalah Tuhan. Saat Yesus menyuruh para murid-Nya untuk mengambil keledai yang akan ditunggangi-Nya, Dia hanya menyuruh mereka berkata kepada pemilik keledai itu, “Tuhan memerlukannya.” Dan ketika kerumunan orang berseru-seru memuji Dia, mereka mengutip Mazmur 118:26, “Diberkatilah Dia yang datang sebagai Raja dalam nama Tuhan.” Yesus adalah Tuhan. Istilah Tuhan yang merupakan gelar yang disandang-Nya, mengacu pada kedaulatan-Nya yang tertinggi. Dia adalah Raja, dan setiap orang yang percaya kepada-Nya adalah anggota kerajaan-Nya. Kata Tuhan di dalam bahasa Yunani memakai kata “Kurios”, yang memiki arti tuan sebagai sang penguasa yang mutlak Jika kita mengakui Yesus sebagai Tuhan dalam hidup kita, maka hiduplah dengan tunduk di bawah kekuasaan-Nya sebagai Raja yang memiliki kuasa mutlak atas hidup kita. Artinya, kita hidup dalam ketaatan kepada Dia. Kita harus menaruh respect kepadanya agar rencana-Nya bagi kita digenapi. Namun, apa yang sering kita lakukan terhadap-Nya? Bukankah selama ini kita sering “mengkhianati dan memberontak” terhadap-Nya. Melalui sikap hidup keseharian kita yang jauh dari Tuhan, melakukan tindakan tidak bermoral, sombong diri, iri hati, dan banyak lagi sikap lainnya, bukankah itu merupakan tindakan pemberontakan kita terhadap Tuhan? Di saat kita mengharapkan Kerajaan Allah itu datang, maka di situlah saatnya kita respect kepada Tuhan. Kita ijinkan Dia memerintah dalam hidup kita dan lakukan tindakan yang selalu berkenan dan memuliakan nama-Nya. [VYN]
Simon dan teman-temannya pergi untuk menjala ikan. Namun keberuntungan belum berpihak pada mereka. Semalam-malaman mereka menebarkan jalanya, mereka tidak dapat menangkap apa-apa. Keesokan harinya mereka merapat di pantai, mereka membersihkan dan memperbaiki jala yang telah digunakan semalam. Yesus tahu Simon dan rekan-rekannya tidak mendapatkan ikan. Apa yang dilakukan Yesus terhadap mereka, yakni mengajar kebenaran firman terlebih dahulu. Prioritas utama adalah firman. Sesudah mengajar firman, Yesus menyuruh Simon mendayung perahunya ke laut dan menebarkan jalannya! Simon berkata, “Guru, sudah semalam-malaman kami bekerja keras menjala ikan tapi tidak berhasil menangkap apa-apa.” Itulah reaksi Simon mendengar perintah Tuhan Yesus. Simon yang telah berpengalaman dalam bidang pekerjaannya berpikir: “Apa mungkin ikan-ikan dapat ditangkap pada siang hari, pada malam hari saja tidak bisa?” Karena pada waktu Simon menebarkan jala pada malam hari tidak ada satu ekor pun yang terjala, apalagi menebarkan jala pada siang hari. Namun akhirnya Simon bertolak ke laut dan menebarkan jalanya. Sungguh ajaib. Simon dan rekan-rekannya berhasil menangkap ikan yang sangat banyak jumlahnya, bahkan jalanya sampai hampir koyak karena tidak dapat menampung banyaknya hasil tangkapan siang itu. Pengajaran penting yang dapat kita petik adalah “Bekerja bersama Yesus akan mendatangkan hasil yang ajaib.” Seringkali kita bekerja hanya mengandalkan diri sendiri. Kita bekerja hanya mengandalkan pengalaman ataupun segenap kekuatan kita. Namun hasil yang kita dapatkan sedikit, bahkan tidak sama sekali. Kita perlu mengandalkan Tuhan Yesus dalam pekerjaan, pendidikan, pelayanan, bahkan dalam segala susuatu yang kita kerjakan, kita perlu bekerja bersama Tuhan Yesus. Hasilnya pasti menakjubkan. Berkat Tuhan akan dilimpahkan dengan ajaib dalam hidup kita. Mari kita bekerjasama dengan Tuhan Yesus. Kerajaan Allah sudah datang dalam hidup kita, dan Tuhan Yesus adalah Rajanya. Biarkan Yesus yang memimpin hidup kita.
Kita pasti pernah mendengar sebutan duta besar, yaitu seseorang yang diutus untuk mewakili pemerintahan negaranya ke negara lain. Seorang duta besar paling tidak memiliki tiga tanggung jawab, yaitu: 1. membangun komunikasi antara dua negara; 2. Menjalankan tugas pemerintahan sesuai dengan instruksi kepala negara. Dalam arti ia tidak boleh melakukan tindakan-tindakan menurut kemauannya sendiri [sak karepe dhewe], tetapi harus hidup dan melakukan tindakan-tindakan sesuai dengan negara yang mengutusnya. Kantor kedutaan dipasang lambang negara dari negara yang mengutus, misal: kantor kedutaan Indonesia di negara lain di situ pasti dipasang lambang negara, yaitu burung Garuda dan foto kepala pemerintahan, yaitu presiden dan wakilnya, sebagai bentuk tanggung jawab terhadap negara pengutus; 3. Memperkenalkan negara pengutus kepada negara lain dalam banyak hal termasuk budaya maupun tradisi. Oleh sebab itu di kantor kedutaan, selain dipasang lambang-lambang negaranya, juga terpampang lambang-lambang budaya negara tersebut. Paulus dalam suratnya tidak saja mengingatkan kepada jemaat di Filipi, tetapi juga kepada kita bahwa kewarganegaraan kita adalah warga negara sorga. Di dunia, kita ini pendatang. Kita adalah utusan Kerajaan Sorga. Di dalam Ibrani 12:28 dijelaskan bahwa dengan percaya kepada Kristus, kita telah menerima kerajaan yang tak tergoncangkan, kerajaan kekal, yaitu Kerajaan Sorga. Sudahkah kita hidup sesuai dengan ‘negara yang mengutus’ kita, yaitu Kerajaan Sorga! Sudahkah kita memenuhi harapan yang sesuai dengan ‘negara’ yang mengutus kita, memperkenalkan ‘negara’ yang mengutus kita? Mari kita menjadi duta-duta Allah yang bertanggung jawab sesuai dengan kehendak Allah yang menempatkan kita di bumi ini.
BARCODE BBM CHANNELS
RENUNGAN HARIAN
Mengundang Raja
01 Februari '16
Tempat Pertemuan Dengan Tuhan
07 Februari '16
Respect
18 Januari '16
Copyright © 2012 All rights reserved. Designed and Developed by GIA Dr. Cipto Semarang