SEPEKAN TERAKHIR
  Rabu, 06 Mei 2015   -HARI INI-
  Selasa, 05 Mei 2015
  Senin, 04 Mei 2015
  Minggu, 03 Mei 2015
  Sabtu, 02 Mei 2015
  Jumat, 01 Mei 2015
  Kamis, 30 April 2015
POKOK RENUNGAN
Keluarga menjadi hidup jika di dalamnya ada kasih dan keterbukaan untuk saling membangun.
DITULIS OLEH
Bpk. Andreas T. Loso
Kontributor
Renungan Lain oleh Penulis:
Home  »  Renungan  »  Membangun Pernikahan Dengan Nilai - Nilai Kerajaan Allah
Membangun Pernikahan Dengan Nilai - Nilai Kerajaan Allah
Kamis, 06 Juni 2013 | Tema: Keluarga Yang Mengutamakan Kerajaan Allah
Membangun Pernikahan Dengan Nilai - Nilai Kerajaan Allah
Kolose 3:18-21
Mary Pipher, dalam bukunya The Shelter of Each Other, memberi nasihat tentang membangun kembali keluarga-keluarga yang bermasalah. Ia menyelidiki bagaimana anak-anak zaman sekarang terkadang terlalu sering menonton televisi dan bermain video game, sehingga mengabaikan pendidikan informal yang diterima dari kerabat mereka.
Ia mencontohkan pertemuan keluarga di mana anak-anak menonton video di ruang belakang sehingga para orang dewasa dapat berbicara tanpa diganggu. Dr. Pipher berpendapat bahwa hiburan semacam ini sesungguhnya merampas sesuatu yang berharga dari anak-anak. Anak-anak perlu bergaul dengan generasi yang lebih tua sehingga mereka dapat mendengar cerita-cerita tentang bibi, paman, kakek-nenek, dan orangtua. Ini membantu mereka belajar dari orang-orang yang telah mendahului mereka.

Meskipun di sekitar kita sering terjadi kasus-kasus pengingkaran dan penyelewenangan perkawinan, bahkan berujung pada perceraian, kita tidak perlu pesimis dan apatis. Justru di sinilah peranan kita untuk mengupayakan dan menjaga agar perkawinan benar-benar menjadi pilihan dan panggilan hidup yang bisa dipertanggungjawabkan, baik di hadapan masyarakat maupun di hadapan Tuhan. Berdasarkan kodratnya, perkawinan terarah pada kelahiran anak yang merupakan buah cinta dari suami istri, sekaligus menurunkan kehidupan baru. Oleh karena itu, keluarga kristiani dipanggil untuk menjadi pencinta, perawat, penjaga dan pembela kehidupan. Pasangan suami istri harus mempertahankan kes...selengkapnya »
Banyak orang mengakui, dia adalah pelatih yang cerdas, ahli “meracik strategi”, disiplin, tetapi juga baik hati. Namun di sisi lain tak sedikit pula orang yang menilai, dia adalah sosok yang keras, kejam dan tak pandang bulu. Dialah sosok yang bernama Louis van Gaal, atau yang lebih dikenal oleh media dengan sebutan LvG. Louis van Gaal [LvG] adalah pelatih sepakbola berkebangsaan Belanda. Banyak klub yang dilatihnya menuai hasil memuaskan dan bahkan merebut gelar juara, seperti Ajax Amsterdam, AZ Alkmaar, hingga Barcelona. Metodenya dalam melatih dikenal disiplin, keras dan tidak mudah untuk dicerna. LvG tidak perduli dengan istilah pemain terkenal. Di matanya semua pemain sama dan harus membuktikan kemampuan mereka di hadapan “Sang Tuan” LvG. Di dalam metodenya melatih, dia berpandangan bahwa pemain sepakbola tidak berbicara tentang popularitas tetapi soal kemampuan bermain di lapangan dan dapat bermain sesuai dengan metode yang diterapkan. Jadi dalam hal ini, untuk membuat “Sang Tuan” LvG puas adalah bukan persoalan mudah. Banyak pemain terkenal yang tidak sesuai dengan seleranya dan harus tersingkir dari skema permainannya, seperti bintang prancis, Frank Riberry dan “bomber” Kolombia, Radamel Falcao yang dapat dijadikan contohnya. Membuat “Sang Tuan” LvG menjadi puas tidaklah mudah bagi para pemain, dan keadaan itu juga sama dengan yang dialami oleh jemaat Laodikia. Jemaat Laodikia adalah jemaat yang makmur karena mereka berada di kota yang makmur yang masyarakatnya adalah orang-orang kaya. Mereka juga tergolong jemaat yang mapan [karena sudah lama berdiri]. Karena kekayaan dan kemakmurannya, ibadah pun juga dibuat megah. Pada zaman itu, ibadah di Laodikia “didandani” semewah mungkin. Alat-alat musik istimewa dihadirkan dalam ibadah, tempat ibadah direnovasi sehingga terlihat istimewa. Bahkan tidak ketinggalan para pemimpin ibadah didandani dengan pakaian-pakaian yang memukau, serta “persembahan” diberikan “jor-joran” tanpa ada kata pelit. Apakah hal itu membuat Tuhan Puas? TIDAK !!! Tuhan kecewa dengan sikap yang ditunjukkan oleh jemaat Laodikia. Tuhan tidak dapat dibeli dan di suap dengan kemewahan. Dengan harta benda dan segala kemewahan dunia tidak membuat jemaat Laodikia berkenan di hati Tuhan. Pesan yang disampaikan Tuhan bagi mereka sangat pedas, “Jadi karena engkau suam-suam kuku, dan tidak dingin atau panas, Aku akan memuntahkan engkau dari mulut-Ku” [ay.16]. Ini berarti Tuhan menolak apa yang mereka lakukan. Kata “suam-suam kuku” menjelaskan tentang perilaku mereka yang ditolak Tuhan. Perilaku seperti apa yang membuat Tuhan tidak berkenan? Pertama, tidak ada semangat yang berkobar dalam kehidupan rohani mereka. Kekristenan jemaat Laodikia hanya sebatas formalitas, tidak ada kerinduan dan semangat. Kedua, jemaat Laodikia tidak perduli terhadap sesamanya. “Hidupku adalah hidupku, hidupmu adalah hidupmu”, kira-kira ungkapan tersebut cocok untuk menggambarkan keadaan pada saat itu. Serta yang Ketiga, jemaat Laodikia masih hidup dalam dosa dan mereka belum mau untuk bertobat. Membuat Tuhan, Sang Pemilik Semesta Alam ini puas ternyata tidak semudah yang kita bayangkan. Belajar dari jemaat Laodikia, kita bersama harus instropeksi diri. Apakah kekristenan kita hanya formalitas belaka? Apakah kita lebih menonjolkan ego kita, sehingga kita tidak perduli kepada sesama? Serta, apakah kita masih suka hidup dalam dosa, dan tidak mau sepenuhnya bertobat kepada Tuhan? Apabila itu masih ada pada kita, segeralah tinggalkan itu dan kembalilah kepada jalan Tuhan, supaya kita tidak “dimuntahkan” oleh Tuhan.
Apakah kita sudah menguji diri kita? Apa saja yang kita uji? Biasanya kita menguji diri kita untuk perbuatan-perbuatan kegelapan karena kita harus hidup sebagai anak-anak terang [ayat 8]. Misalnya: percabulan, kecemaran, keserakahan, penyembahan berhala, kata-kata kotor, dan sebagainya yang mendatangkan murka Allah. Rasul Paulus menyorot tentang waktu yang Tuhan berikan kepada kita [ayat 16], “Pergunakanlah waktu yang ada karena hari-hari ini adalah jahat.” Bagaimana kita mempergunakan waktu kita? Apakah kita sudah pergunakan waktu kita untuk hal-hal yang bermanfaat dan berkenan kepada Tuhan? Benda yang sama dapat mendatangkan manfaat atau celaka, bergantung pada penggunaannya. Sebotol alkohol bermanfaat saat dipakai untuk membersihkan luka, tapi mendatangkan celaka saat dipakai untuk menyiram muka seseorang. Sebilah pisau bermanfaat saat dipakai untuk alat bantu memasak, tapi mendatangkan celaka saat dipakai untuk membunuh orang. Demikian juga dengan waktu yang Tuhan karuniakan pada kita. Waktu akan bermanfaat saat kita memakainya dengan bijaksana, menggunakannya dengan baik untuk menggali dan menyatakan kehendak-Nya dalam seluruh aspek kehidupan kita. Hidup di dunia ini adalah suatu persiapan untuk memasuki hidup dalam kekekalan. Waktu yang ada harus dipahami sebagai karunia yang sepatutnya dipakai untuk menyenangkan hati Tuhan. Sebaliknya, waktu akan mendatangkan celaka saat kita tidak bijaksana dan kita tidak menyadari adanya harapan akan kehidupan dalam kekekalan. Kita pakai waktu hanya untuk mengejar kekayaan, pangkat, gelar, jabatan, prestasi, cita-cita bahkan kemuliaan diri seolah-olah hidup hanya berlangsung di dunia yang fana ini. Mari kita bangun dari tidur kita, sadar akan kehidupan dalam kekekalan dan biarlah cahaya Kristus menerangi kehidupan kita [ayat14].
’ ... kalau terpaksa aku mati, biarlah aku mati,’ demikian ujar Ester, ratu pilihan raja Ahasyweros, ketika ia memutuskan untuk mendahulukan kepentingan bangsanya di atas kepentingannya sendiri. Kisah ini sendiri berakhir dengan happy ending. Raja berkenan menerima kedatangan Ester meski tanpa diundang. Bahkan Raja dengan sungguh-sungguh menanggapi kegalauan hati ratunya. Ia pun menganugerahkan jalan keluar yang terbaik bagi Ester dan kaum sebangsanya. Bukan semata-mata karena kemolekan Ester. Bukan pula karena sang Raja berhati super mulia. Ada kuasa Tuhan yang bekerja di balik semua peristiwa itu. Ada tangan Tuhan yang berkarya melalui pribadi yang merelakan diri dipakai-Nya meski dengan cara yang sangat menggentarkan hati. Pada waktu Tuhan berkenan pada pribadi seseorang, ketika Ia melihat bahwa orang itu hidup di jalan-Nya, tak sulit bagi Tuhan untuk meluputkan orang itu dari ancaman yang paling menciutkan nyali sekalipun. Tak sehelai rambut pun akan jatuh dari kepala orang itu tanpa seizin Tuhan. Tuhan sungguh-sungguh mengasihi orang yang diperkenan-Nya. Hiduplah di jalan Tuhan. Bila kita diperkenan-Nya, tak perlu khawatir terhadap apa pun yang akan terjadi pada kita. Tuhanlah pelindung kita. Dia penjamin keselamatan kita. Bila Tuhan ada di pihak kita, siapakah yang mampu melawan-Nya?
Kesan yang saya tangkap dan terus melekat ketika saya melihat film the Passion of Christ adalah sikap Tuhan Yesus ketika menerima perlakuan tidak sepantasnya. Sejak ditangkap di taman Gestemani sampai di salib di bukit Golgota, Tuhan Yesus dicaci, dimaki, dihina, direndahkan dan semua perlakuan buruk yang bisa dilakukan manusia tertimpa pada-Nya. Meski menerima perlakuan yang demikian, tidak terucap sedikitpun kata-kata pembelaan maupun pembalasan dari mulut-Nya. Sebenarnya Tuhan Yesus bisa saja membuat pembelaan dan membalas semua perlakuan tersebut karena Dia punya alasan untuk menolak semua itu. Tetapi Dia sama sekali tidak melakukannya. Dan itulah salah satu sikap Tuhan Yesus yang membuat Bapa berkenan kepada-Nya. Bandingkan dengan ketika diadakannya pertemuan antara seorang Gubernur dengan anggota DPRD salah satu propinsip di negeri ini. Di forum yang “terhormat” itu banyak bermunculan cacian, makian, kata-kata kasar, bahkan ada beberapa yang melontarkan nama-nama binatang. Bagi mereka sah-sah saja mengeluarkan kata-kata kasar, ketika pendapatnya ataupun keinginannya tidak disetujui pihak lawan bicara. Surat Yakobus 3:1-12 menjelaskan akibat dari kata-kata yang keluar dari mulut seseorang. Hanya dengan sedikit kata yang melecehkan, bisa membuat seseorang atau banyak orang down. Dengan sedikit kata kasar, bisa membuat seseorang atau banyak orang berang. Dengan sedikit kata hujat, bisa menimbulkan bibit benci dan dendam. Kata-kata tajam bisa membuat luka yang dalam dan bertahan lama. Alangkah mengerikan efek dari kata-kata buruk yang keluar dari mulut kita. Tapi jangan khawatir, karena dengan kata-kata pun kita bisa membangun seseorang yang sedang lemah, dengan kata-kata kita bisa memberkati sesama, dengan kata-kata kita bisa menciptakan suasana damai sejahtera. Banyak dampak positif bisa ditimbulkan dari kata-kata yang akan kita ucapkan. Pilihan ada ditangan kita, apakah kita akan mengeluarkan kata-kata yang negatif dan merusak, atau mengucapkan kata-kata positif dan membangun. Seperti ditegaskan dalam surat Yakobus, “dari mulut yang satu keluar berkat dan kutuk. Hal ini, saudara-saudaraku, tidak boleh demikian terjadi”, karena itu ada baiknya kita berfikir dahulu sebelum mengeluarkan perbendaharaan kata-kata kita, mana yang pantas untuk diucapkan, dan mana yang tidak perlu untuk dikeluarkan. Teladani sikap Tuhan Yesus yang tidak sedikitpun mengeluarkan kata-kata hujat, supaya Bapa juga berkenan kepada kita seperti Bapa berkenan kepada-Nya.
BARCODE BBM CHANNELS
RENUNGAN HARIAN
Umat yang Diistimewakan Tuhan
19 April '15
Aku Adalah Cermin Bagi Diriku Di Hati Tuhan
29 April '15
Berusaha Diperkenan Allah
26 April '15
Copyright © 2012 All rights reserved. Designed and Developed by GIA Dr. Cipto Semarang