SEPEKAN TERAKHIR
  Jumat, 29 April 2016   -HARI INI-
  Kamis, 28 April 2016
  Rabu, 27 April 2016
  Selasa, 26 April 2016
  Senin, 25 April 2016
  Minggu, 24 April 2016
  Sabtu, 23 April 2016
POKOK RENUNGAN
Keluarga menjadi hidup jika di dalamnya ada kasih dan keterbukaan untuk saling membangun.
DITULIS OLEH
Bp. Andreas T. Loso
Rohaniwan Pusat
Renungan Lain oleh Penulis:
Home  »  Renungan  »  Membangun Pernikahan Dengan Nilai - Nilai Kerajaan Allah
Membangun Pernikahan Dengan Nilai - Nilai Kerajaan Allah
Kamis, 06 Juni 2013 | Tema: Keluarga Yang Mengutamakan Kerajaan Allah
Membangun Pernikahan Dengan Nilai - Nilai Kerajaan Allah
Kolose 3:18-21
Mary Pipher, dalam bukunya The Shelter of Each Other, memberi nasihat tentang membangun kembali keluarga-keluarga yang bermasalah. Ia menyelidiki bagaimana anak-anak zaman sekarang terkadang terlalu sering menonton televisi dan bermain video game, sehingga mengabaikan pendidikan informal yang diterima dari kerabat mereka.
Ia mencontohkan pertemuan keluarga di mana anak-anak menonton video di ruang belakang sehingga para orang dewasa dapat berbicara tanpa diganggu. Dr. Pipher berpendapat bahwa hiburan semacam ini sesungguhnya merampas sesuatu yang berharga dari anak-anak. Anak-anak perlu bergaul dengan generasi yang lebih tua sehingga mereka dapat mendengar cerita-cerita tentang bibi, paman, kakek-nenek, dan orangtua. Ini membantu mereka belajar dari orang-orang yang telah mendah...selengkapnya »
Pakaian adalah kebutuhan pokok manusia yang tidak bisa lepas dari kehidupan sehari-hari. Manusia membutuhkan pakaian karena pakaian menawarkan berbagai kebaikan atau manfaat kepada para pemakainya. Pakaian yang digunakan oleh seseorang haruslah sesuai dengan situasi dan kondisi yang ada agar tidak menyebabkan masalah, baik pada dirinya sendiri maupun dengan orang lain yang berada di lingkungan sekitarnya. Selain berfungsi menutup tubuh, pakaian juga menunjukkan lambang status atau identitas seseorang dalam kehidupan bermasyarakat. Ketika kita melihat seseorang dengan pakaian identitasnya, maka kita langsung mengetahui juga komunitasnya. Dalam suratnya kepada jemaat Efesus, rasul Paulus menjelaskan bahwa dalam keseharian hidup kita wajib mengenakan seluruh perlengkapan senjata Allah supaya kita dapat bertahan melawan tipu muslihat Iblis. Karena perjuangan kita bukanlah melawan darah dan daging, tetapi melawan pemerintah-pemerintah, penguasa-penguasa, penghulu-penghulu dunia yang gelap ini, dan roh-roh jahat di udara, supaya kita dapat mengadakan perlawanan pada hari yang jahat dan tetap berdiri sesudah kita menyelesaikan segala sesuatu [ay. 11-13]. Perlengkapan senjata Allah dicatat oleh rasul Paulus sebagai berikut: ikat pinggang kebenaran, baju zirah keadilan, kasut kerelaan untuk memberitakan Injil, perisai iman, ketopong keselamatan, dan pedang Roh [ay. 14-17]. Jadi, kita diharapkan selalu berjalan dalam kebenaran, yaitu firman Allah bagaikan ikat pinggang yang membuat pakaian tetap pada posisinya, rapi tidak “kedodoran” sehingga kita merasa nyaman. Kita juga diharapkan selalu berbuat keadilan bagi sesama sehingga hidup kita seakan menjadi baju zirah yang siap melindungi saat peperangan berlangsung. Tidak hanya itu, kitapun harus mempunyai waktu yang kita relakan untuk memberitakan Injil keselamatan dengan iman yang kita miliki sebagai perisai dan terus memegang keselamatan yang telah Tuhan anugerahkan, serta berpegang pada pedang Roh, yaitu firman Allah.
Peristiwa ini adalah suatu gambaran dari kesalahan yang kita buat karena berpikir bahwa yang terutama dikehendaki Allah dari kita adalah pengorbanan diri hingga mati. Yang Allah inginkan adalah pengorbanan melalui kematian Yesus yang memampukan kita untuk melakukan apa yang telah Yesus lakukan, yaitu mempersembahkan hidup kita. Bukan “Tuhan aku bersedia masuk penjara dan mati bersama-sama dengan Engkau” [Lukas 22:33], tetapi “Apabila kamu telah mati bersama-sama dengan Kristus dan bebas dari roh-roh dunia” [Kolose 2:20], maka kita tidak lagi melekat kepada hal-hal lahiriah. Melalui ini baru kita dapat mempersembahkan hidup kita untuk Tuhan. Tampaknya kita berpikir bahwa Allah menghendaki kita untuk mengorbankan segala sesuatu. Allah memurnikan Abraham dari kesalahpahaman ini dan hal yang sama sedang terjadi dalam hidup kita. Allah tidak menyuruh kita untuk mengorbankan segala sesuatu hanya untuk berkorban saja, tetapi Dia meminta kita mengorbankannya demi sesuatu yang paling berharga, yaitu hidup bersama-Nya. Hal ini adalah persoalan melepaskan ikatan-ikatan yang membelenggu hidup kita. Ikatan-ikatan ini langsung dilepaskan setelah kita disatukan dengan kematian Yesus. Melalui itu kita dapat menjalin relasi dengan Allah di mana kita dapat mempersembahkan hidup kita kepada-Nya dan mengaplikasikannya kepada sesama dengan kasih dan pengampunan. Bukan hal yang mengesankan bagi Allah jika kita mempersembahkan hidup kepada-Nya melalui kematian. Tuhan menghendaki kita menjadi “persembahan yang hidup”, yaitu mengijinkan Dia memiliki semua kekuatan, kepandaian, hikmat, kemampuan apa saja, bahkan keluarga kita yang semuanya itu dapat mengikat kita dan membuat kita berpaling dari Allah. Inilah yang berkenan kepada Allah. Adakah kita masih terikat dan melekat kepada hal-hal duniawi yang bisa membuat kita menjauh dari Allah bahkan melupakan-Nya. Atau karena kita begitu mengasihi kita keluarga sehingga kita menomorduakan Allah. Bukankan seharusnya dengan rendah hati kita mengakui bahwa mereka semua datangnya dari Allah.
Bukankah kekudusan adalah anugerah dari Allah Bapa melalui pengorbanan Kristus? Allah sendiri telah memilih orang-orang percaya sebagi bangsa yang terpilih, imamat yang rajani, bangsa yang kudus, umat kepunyaan Allah [1 Petrus 2:9]? Pengudusan adalah kehendak Allah bagi orang Israel dalam Perjanjian Lama. Mereka seharusnya menjalankan hidup yang suci dan dikuduskan, dipisahkan dari gaya hidup bangsa-bangsa sekeliling mereka [Keluaran 19:6]. Demikian juga pengudusan adalah tuntutan untuk orang percaya di dalam Kristus. Alkitab mengajarkan bahwa tanpa kekudusan tidak seorangpun akan melihat Allah [Ibrani 12:14]. Julius Caesar, pemimpin kekaisaran Romawi yang terkenal, mempunya semboyan “Vini, Vidi, Vici” [bahasa Latin] yang artinya “Aku datang, aku melihat, aku menang”. Semboyan itu kemudian menjadi dorongan semangat para atlit yang berjuang di medan perlombaan dan pertandingan. Meskipun nampaknya kemenangan sudah pasti ada di tangan, mereka harus tetap berjuang untuk mendapatkan kemenangan itu. Penulis surat Ibrani mendorong orang percaya untuk tetap berjuang dalam iman supaya bisa tampil sebagai pemenang [ayat 1-3]. Penulis juga menggunakan analogi seorang anak yang menerima hajaran ayahnya agar kelak menjadi anak yang membanggakan. Memang kita telah menerima anugerah keselamatan oleh iman di dalam Tuhan Yesus Kristus, namun selama kita menantikan wujud keselamatan kekal itu kita harus tetap berjuang dengan mengejar hal-hal yang berkenan kepada Allah termasuk kekudusan [ayat 14]. Kekudusan harus menjadi ciri khas orang percaya yang meliputi kekudusan hati, pikiran, perkataan dan perbuatan. Kekudusan harus tetap diusahakan dengan pertolongan Roh Kudus baik di tengah orang banyak maupun di saat kita sendirian. Kekudusan itu terpancar keluar menjadi kesaksian bagi orang lain. Ketika kita berhasil mempertahankan kekudusan ada sorak kemenangan dalam diri kita. Ingat, Iblis selalu berusaha menjatuhkan kita dalam hal kekudusan ini. Jadilah pemenang dalam mengejar kekudusan.
Hidup berdampingan dengan para tetangga yang ramah ternyata bukan jaminan bahwa penghuni rumah akan betah tinggal di sana. Selama empat belas tahun menghuni rumah yang lama, meski senang memiliki tetangga-tetangga yang baik, ada satu hal yang sangat mengganggu, yaitu seringnya mati lampu. Kerap kali sewaktu saya tengah menikmati saat yang menyenangkan di rumah ... padamlah si lampu. Tak jarang lebih dari sekali dalam sehari. Sangat disayangkan. Sebagaimana lingkungan yang menyenangkan tidak menjamin kebetahan penghuni rumah, demikian pula sebutan sebagai umat pilihan Allah tidak menjamin seseorang sudah hidup di dalam terang. Acap kali orang menganggap bahwa satu-satunya tanda bahwa kegelapan telah sirna adalah keeratan hubungannya dengan Allah. Namun Rasul Yohanes mengungkapkan bahwa hubungan manusia dengan sesamanya pun menjadi pertanda apakah hidup seseorang dipenuhi oleh terang kasih Kristus atau tidak. “Barangsiapa berkata, bahwa ia berada di dalam terang, tetapi ia membenci saudaranya, ia berada di dalam kegelapan sampai sekarang.” Firman Tuhan yang tercatat dalam 1 Yohanes 2:9 ini dengan lugas menguak fakta bahwa rasa benci itu berjalan berbarengan dengan kegelapan. Sebaliknya apabila seseorang hidup di dalam terang, maka rasa kasihlah yang menandainya [ayat 10]. Terang dan benci tidak mungkin seiring sejalan. Kebencian menandakan bahwa seseorang masih hidup dalam kegelapan. Demikian pekatnya sehingga ia kehilangan arah sebab matanya dibutakan oleh kegelapan itu [ayat 11]. Jadi, terang atau kegelapankah yang menguasai kita? Ke manakah arah langkah kita? Jika kebencian dibiarkan merajalela, maka kegelapan sudah pasti menggiring kita menuju kehancuran. Jika terang bercahaya atas kita, maka kasihlah yang pasti menghuni hati. Dan kasih itu yang akan mengatasi rasa benci. Membuat langkah kita tak tersandung-sandung dalam menjalani kehidupan ini. Kasih itu seiring sejalan dengan terang. Kasihlah yang menandakan bahwa kita ini adalah umat pilihan Allah. Umat tebusan yang teramat dikasihi-Nya.
BARCODE BBM CHANNELS
RENUNGAN HARIAN
Kejarlah Kekudusan
06 April '16
Sadar Imam
23 April '16
Wajib Dipakai
21 April '16
Copyright © 2012 All rights reserved. Designed and Developed by GIA Dr. Cipto Semarang