SEPEKAN TERAKHIR
  Sabtu, 23 September 2017   -HARI INI-
  Jumat, 22 September 2017
  Kamis, 21 September 2017
  Rabu, 20 September 2017
  Selasa, 19 September 2017
  Senin, 18 September 2017
  Minggu, 17 September 2017
POKOK RENUNGAN
Keluarga menjadi hidup jika di dalamnya ada kasih dan keterbukaan untuk saling membangun.
DITULIS OLEH
Bp. Andreas T. Loso
Rohaniwan Pusat
Renungan Lain oleh Penulis:
Home  »  Renungan  »  Membangun Pernikahan Dengan Nilai - Nilai Kerajaan Allah
Membangun Pernikahan Dengan Nilai - Nilai Kerajaan Allah
Kamis, 06 Juni 2013 | Tema: Keluarga Yang Mengutamakan Kerajaan Allah
Membangun Pernikahan Dengan Nilai - Nilai Kerajaan Allah
Kolose 3:18-21
Mary Pipher, dalam bukunya The Shelter of Each Other, memberi nasihat tentang membangun kembali keluarga-keluarga yang bermasalah. Ia menyelidiki bagaimana anak-anak zaman sekarang terkadang terlalu sering menonton televisi dan bermain video game, sehingga mengabaikan pendidikan informal yang diterima dari kerabat mereka.
Ia mencontohkan pertemuan keluarga di mana anak-anak menonton video di ruang belakang sehingga para orang dewasa dapat berbicara tanpa diganggu. Dr. Pipher berpendapat bahwa hiburan semacam ini sesungguhnya merampas sesuatu yang berharga dari anak-anak. Anak-anak perlu bergaul dengan generasi yang lebih tua sehingga mereka dapat mendengar cerita-cerita tentang bibi, paman, kakek-nenek, dan orangtua. Ini membantu mereka belajar dari orang-orang yang telah mendahului mereka.

Meskipun di sekitar kita sering terjadi kasus-kasus pengingkaran dan penyelewenangan perkawinan, bahkan berujung pada perceraian, kita tidak perlu pesimis dan apatis. Justru di sinilah peranan kita untuk mengupayakan dan menjaga agar perkawinan benar-benar menjadi pilihan dan panggilan hidup yang bisa dipertanggungjawabkan, baik di hadapan masyarakat maupun di hadapan Tuhan. Berdasarkan kodratnya, perkawinan terarah pada kelahiran anak yang merupakan buah cinta dari suami istri, ...selengkapnya »
Salah satu program yang digaungkan oleh Bapak Jokowi Widodo setelah dilantik menjadi Presiden RI adalah revolsi mental. Revolusi mental berarti sebuah usaha untuk mengembalikan karakter warga negara kepada apa yang menjadi orisinalitas atau identitas asli bangsa, yaitu karakter santun, berbudi pekerti, ramah dan bergotong royong. Presiden Jokowi menekankan pentingnya revolusi mental di tengah-tengah negeri ini karena beliau menilai sekarang ini sedikit demi sedikit karakter asli itu berubah dan itu tidak disadari. Yang lebih parah lagi tidak ada yang ‘ngerem’. Dan yang seperti itulah yang merusak mental bangsa. Perubahan karakter bangsa tersebut merupakan akar munculnya korupsi, kolusi, nepotisme, etos kerja yang buruk, bobroknya birokasi, hingga ketidaksiplinan. Karena itu Presiden Jokowi memandang pentingnya revolusi mental di bangsa ini. Sebenarnya revolusi mental bukanlah hal yang asing bagi kekristenan karena pada hakikatnya hal tersebut merupakan salah satu aspek dari program Ilahi melalui kehadiran Yesus Kristus ke dunia. Sejak manusia jatuh dalam dosa, dosa dan kejahatan semakin marak dan berkembang. Kuasa dan kekuatannya mencengkeram dan membelenggu manusia. Bahkan di zaman Nuh dikatakan bahwa perbuatan manusia itu melahirkan kejahatan semata. Artinya bahwa kejahatan itu semakin berkembang luar biasa dan menguasai seluruh sendi kehidupan manusia. Sekarang ini pun kita bisa melihat bahwa kejahatan semakin memuncak. Dunia ini benar-benar telah dikuasai oleh dosa dan kejahatan. Manusia dibuat tidak berdaya. Oleh karena itu diperlukan intervensi Ilahi untuk terjadinya revolusi mental dalam hidup manusia. Intervensi Ilahi tersebut nyata melalui karya Yesus Kristus di kayu salib yang memerdekakan kita, yang percaya, dari dosa. Kita yang dulu mati karena dosa telah dihidupkan kembali oleh kematian dan kebangkitan-Nya. Dosa dan kejahatan tidak lagi berkuasa atas kita. Oleh-Nya, kita menjadi ciptaan baru. ‘Jadi siapa yang dalam Kristus, ia adalah ciptaan baru’. Itulah poin penting yang mendasari efektifnya revolusi mental. Selanjutnya, ‘yang lama sudah berlalu dan yang baru sudah datang’. Artinya, sebagai ciptaan baru, kita diingatkan untuk terus menerus mematikan dan menanggalkan manusia lama yang dipenuhi hawa nafsu duniawi [Kolose 3:5-9] dan terus hidup dalam hidup yang baru [Kolose 3:10-17]. Caranya adalah dengan terus berubah oleh pembaharuan budi kita [Roma 12:2a] di dalam terang firman Allah dan Roh Kudus. Oleh sebab itu hiduplah selalu dalam pimpinan firman dan Roh Kudus, niscaya hidup kita akan mengalami revolusi mental seperti halnya yang dicita-citakan Presiden Jokowi. Sehingga korupsi, kolusi, nepotisme, etos kerja yang buruk, penyalahgunaan wewenang, hingga ketidaksiplinan, dan sebagainya, akan menjadi musuh kita. Sedangkan karakter santun, berbudi pekerti, ramah, bergotong royong, dan sebagainya, akan menjadi sahabat.
Pada suatu hari ada seorang bapak berjalan menyusuri pantai, ia berjumpa dengan seorang anak muda yang sedang menyelamatkan seekor bintang laut yang terdampar di pantai dan dengan hati-hati melemparkannya ke dalam laut. Sang bapak : “Selamat pagi! Sedang apakah kamu?” Anak muda : [Sambil berhenti, mendongakkan kepalanya dan menjawab] ’Sedang melemparkan bintang laut ke dalam lautan.” Sang bapak : ’Mengapakah kamu melemparkan bintang laut ke dalam lautan?” Anak muda : “Matahari bersinar terik dan air laut sedang surut. Jika aku tidak melemparkannya ke dalam lautan, mereka akan mati.” Sang bapak : ’Tetapi anak muda, tidak tahukah kamu bahwa pantai ini panjangnya berkilo-kilo meter, dengan puluhan ribu bintang laut di atasnya yang akan mati. Usahamu itu sia-sia belaka, tidak akan ada artinya, bintang laut yang mati jauh lebih banyak daripada yang engkau lemparkan kembali ke laut!” Anak muda itu mendengarkan dengan sopan. Kemudian ia membungkuk, mengambil bintang laut lagi dan melemparkannya ke dalam lautan, serta berkata, ’Tidak akan sia-sia. Artinya sangat besar bagi bintang laut yang aku lemparkan kembali ke laut.’ Bapak itu manggut-manggut dan mengiyakan kebijaksanaan anak muda tersebut. Saudara-saudara, sekecil apapun kebaikan kita terhadap siapa saja, pasti ada artinya. Uang Rp. 1.000,00 [seribu rupiah], mungkin kurang berarti bagi kita. Tetapi bagi orang yang membutuhkan, artinya sangat besar. Bahkan hanya dengan tersenyum, yang mungkin menurut kita tidak ada nilainya, tapi akan sangat berguna bagi orang lain yang melihat kita. Janganlah kita hanya memandang atau menilai sesuatu dari sudut pandang kita, tapi pakailah sudut pandang orang lain, maka hidup kita akan selalu berarti. Perbuatan baik sekecil apapun juga, yang mungkin menurut kita tidak ada artinya, tapi bagi orang lain akan ada artinya, tidak akan sia-sia. Lukas 16:10 menyatakan ’Barangsiapa setia dalam perkara-perkara kecil, ia setia juga dalam perkara-perkara besar. Dan barangsiapa tidak benar dalam perkara-perkara kecil, ia tidak benar juga dalam perkara-perkara besar.” Selamat berbuat baik, dimulai dari hal yang kecil.
Menjadi murid perlu latihan 1 Timotius 4:6-11 Tetapi jauhilah takhayul dan dongeng nenek-nenek tua. Latihlah dirimu beribadah. Latihan badani terbatas gunanya, tetapi ibadah itu berguna dalam segala hal, karena mengandung janji, baik untuk hidup ini maupun untuk hidup yang akan datang. [ayat 7-8] Ada sebuah pernyataan menarik dari seorang guru di Australia: ’Kami tidak terlalu khawatir anak-anak Sekolah Dasar kami tidak pandai Matematika. Kami jauh lebih khawatir jika mereka tidak pandai mengantri.” Mengapa pernyataan itu menarik? Biasanya kita di Indonesia menganggap bahwa kemampuan dalam pelajaran itu jauh lebih penting daripada etika. Berprestasi di dalam pelajaran itu dianggap jauh lebih membanggakan daripada menjadi seorang anak yang mengerti tata krama. Hasilnya adalah di Indonesia ini banyak orang pandai, tetapi kepandaiannya itu tidak digunakan untuk hal yang baik tapi untuk hal yang tidak baik, misalnya korupsi. Ya, korupsi itu dimulai dan dipelajari sejak kecil. Dimulai dari kebiasaan-kebiasaan tidak tertib, mengutamakan kepentingannya sendiri dan menyerobot hak orang lain. Misalnya di dalam hal mengantri. Kalau sejak kecil anak sudah terbiasa menyerobot maka sewaktu dewasa nanti juga dia punya anggapan bahwa menyerobot hak orang lain adalah perkara biasa. Dan banyak orang tua yang tidak keberatan dan malah mengajari anaknya untuk menyerobot hak orang lain. Itulah sebabnya di Indonesia ini banyak orang yang melakukan korupsi dan menganggap bahwa korupsi adalah hal biasa, karena memang sudah biasa mereka lakukan sejak kecil. Sedangkan di negara-negara yang membiasakan warganya untuk tertib [contohnya dalam hal mengantri] korupsi pun jarang terjadi. Rasul Paulus menasihati Timotius, muridnya secara rohani, agar melatih diri di dalam ibadah. Ibadah yang dimaksud di sini adalah kesalehan [godliness]. Kesalehan memang harus dilatih, bahkan harus diajarkan sejak kecil, ketika seseorang masih kanak-kanak. Seperti halnya dengan kedisiplinan dalam mengantri, ketertiban, menghargai hak orang lain, harus ditanamkan sejak dini. Hasilnya akan terlihat nanti setelah anak itu menjadi dewasa, dia akan menjadi seorang yang baik. Buat setiap murid Kristus, perlu kita melatih dan mendisiplin diri kita sendiri, dengan membaca Alkitab, bersaat teduh secara rutin, dan melakukan Firman itu agar terbentuk karakter Kristus di dalam diri kita. Amin. Pdt. Goenawan Susanto
Lagu pujian ’Jangan Pernah Menyerah’ tengah digandrungi saat ini. Lagu indah ini dibawakan oleh Edward Chen dengan Justin Faith Chen dan telah mengharu biru hati banyak orang dengan suaranya yang polos. Lagu ini memiliki aransemen sederhana namun keteguhan iman dalam rangkaian syairnya begitu menyentuh. ’Tuhan tak pernah janji, langit selalu biru. Tetapi Dia berjanji selalu menyertai. Tuhan tak pernah janji jalan selalu rata, tetapi Dia berjanji berikan kekuatan. Jangan pernah menyerah...’ Tidak ada kehidupan layaknya jalan bebas hambatan. Orang benar bukan berarti diistimewakan. Jalan yang dilalui orang benar bahkan lebih terjal dan lebih berliku jika dibandingkan dengan jalan orang fasik. Karena itu, seberapa sulit jalan hidup yang harus dilewati, kita harus tetap menghadapinya dengan tegar. Setidaknya ada tiga etika yang membedakan orang benar dan orang fasik. Pertama, orang benar tidak menjatuhkan orang lain dan tidak menyerah ketika dijatuhkan. Sebanyak apapun ia dijatuhkan sebanyak itu juga ia akan bangkit lagi [Amsal 24:15-16]. Kedua, orang benar tidak bersorak-sorai melihat kejatuhan orang lain, sebab itu jahat di mata Tuhan [Amsal 24:17-18]. Ketiga, orang benar tidak iri akan keberhasilan orang yang menggunakan cara-cara salah untuk meraihnya [Amsal 24:19]. Menjalani kehidupan yang terjal saja sulit, apalagi ditambah dengan tiga tuntutan sikap seperti sudah dijelaskan di atas, tentu akan lebih sulit lagi. Namun demikian, bukan berarti hal tersebut mustahil untuk dicapai. Kita harus ingat bahwa Tuhan yang mengijinkan jalan terjal untuk didaki adalah Tuhan yang juga akan memberi kekuatan dan kesanggupan kepada kita untuk mendakinya. Memang ada kalanya kita jatuh, gagal dan terpuruk. Hanya saja, jangan pernah biarkan kita menyerah kalah. Bangkitlah dan yakinlah bahwa Tuhan berpihak kepada kita. Karenanya seperti akhir dari lagu di atas: ’Jangan pernah menyerah jangan berputus asa. Mujijat Tuhan ada, bagi yang setia dan percaya’. [APC] Pokok renungan: Jalan yang kita lalui mungkin terjal, namun itu bukan alasan untuk menyerah.
BARCODE BBM CHANNELS
RENUNGAN HARIAN
Revolusi Mental
02 September '17
Perjumpaan Yang Mengubahkan
14 September '17
Panas, Dingin atau Suam?
03 September '17
Copyright © 2012 All rights reserved. Designed and Developed by GIA Dr. Cipto Semarang