SEPEKAN TERAKHIR
  Selasa, 29 Juli 2014   -HARI INI-
  Senin, 28 Juli 2014
  Minggu, 27 Juli 2014
  Sabtu, 26 Juli 2014
  Jumat, 25 Juli 2014
  Kamis, 24 Juli 2014
  Rabu, 23 Juli 2014
POKOK RENUNGAN
Keluarga menjadi hidup jika di dalamnya ada kasih dan keterbukaan untuk saling membangun.
DITULIS OLEH
Bpk. Andreas T. Loso
Kontributor
Renungan Lain oleh Penulis:
Home  »  Renungan  »  Membangun Pernikahan Dengan Nilai - Nilai Kerajaan Allah
Membangun Pernikahan Dengan Nilai - Nilai Kerajaan Allah
Kamis, 06 Juni 2013 | Tema: Keluarga Yang Mengutamakan Kerajaan Allah
Membangun Pernikahan Dengan Nilai - Nilai Kerajaan Allah
Kolose 3:18-21
Mary Pipher, dalam bukunya The Shelter of Each Other, memberi nasihat tentang membangun kembali keluarga-keluarga yang bermasalah. Ia menyelidiki bagaimana anak-anak zaman sekarang terkadang terlalu sering menonton televisi dan bermain video game, sehingga mengabaikan pendidikan informal yang diterima dari kerabat mereka.
Ia mencontohkan pertemuan keluarga di mana anak-anak menonton video di ruang belakang sehingga para orang dewasa dapat berbicara tanpa diganggu. Dr. Pipher berpendapat bahwa hiburan semacam ini sesungguhnya merampas sesuatu yang berharga dari anak-anak. Anak-anak perlu bergaul dengan generasi yang lebih tua sehingga mereka dapat mendengar cerita-cerita tentang bibi, paman, kakek-nenek, dan orangtua. Ini membantu mereka belajar dari orang-orang yang telah mendahului mereka.

Meskipun di sekitar kita sering terjadi kasus-kasus pengingkaran dan penyelewenangan perkawinan, bahkan berujung pada perceraian, kita tidak perlu pesimis dan apatis. Justru di sinilah peranan kita untuk mengupayakan dan menjaga agar perkawinan benar-benar menjadi pilihan dan panggilan hidup yang bisa dipertanggungjawabkan, baik di hadapan masyarakat maupun di hadapan Tuhan. Berdasarkan kodratnya, perkawinan terarah pada kelahiran anak yang merupakan buah cinta dari suami istri, sekaligus menurunkan kehidupan baru. Oleh karena itu, keluarga kristiani dipanggil untuk menjadi pencinta, perawat, penjaga dan pembela kehidupan. Pasangan suami istri harus mempertahankan kes...selengkapnya »
Si Yudhi baru saja bertobat dan mengalami kelahiran baru di dalam Tuhan Yesus Kristus. Dia sangat bersukacita sebab menemukan komunitas anak-anak Tuhan yang tergabung dalam wadah Perkantas Surabaya. Walaupun pertemuan mereka satu kali dalam seminggu hanya 3 jam, namun dia bisa bersekutu dan belajar firman bersama mereka. Rasanya semua tantangan hidup saat mengalami perubahan menjadi ringan sebab ada saudara seiman yang menguatkan dirinya. Yudhi akhirnya bertumbuh dalam iman dan mulai terlibat dalam kepengurusan organisasi perkantas dan melayani sesama mahasiswa lainnya. Kisah kehidupan Yudhi adalah salah satu kisah nyata dari seorang berdosa yang diselamatkan oleh Tuhan Yesus dan digabungkan dengan komunitas baru yang memang berbeda dengan komunitas sebelum percaya kepada Tuhan Yesus. Hal ini sesuai dengan perjalanan kehidupan Rasul Paulus dalam bacaan kita hari ini. Ada tiga ciri khas hidup dalam komunitas umat Perjanjian Baru berdasarkan bacaan kita hari ini. Pertama, harus mau mati terhadap tradisi keagamaan yang telah lama dan secara turun temurun diterima dan diajarkan begitu saja tanpa mengerti maknanya dengan benar. Sebelum percaya, hidup Rasul Paulus adalah hidup menurut ketentuan tradisi Hukum Taurat. Kedua, harus rela mati bagi diri sendiri. Berarti siap menyangkal diri dan memikul salib Kristus. Ketiga, harus hidup mengutamakan dan memuliakan Tuhan Yesus. Banyak orang Kristen gagal dalam menjalani kehidupan sebagai anggota komunitas Perjanjian Baru karena tidak mencirikan ketiga hal tersebut. Kehidupan dalam Komunitas Perjanjian Baru harus memiliki sifat-sifat yang baru sebagaimana tertulis dalam Efesus 4:17-32, tanpa hal ini mustahil kita bisa hidup bertahan dalam komunitas tersebut. Dan ada pula sejumlah persyaratan lain yang harus kita penuhi sebagaimana tertulis dalam Filipi 2:2-5, hidup memikirkan dan mendahulukan kepentingan orang lain daripada diri sendiri dan selalu rendah hati serta setia kepada Tuhan Yesus dalam segala keadaan. Jikalau hal ini benar-benar dijalankan oleh setiap orang percaya, maka hidup dalam komunitas Perjanjian Baru akan menjadi daya tarik bagi banyak orang di sekitarnya. Bagaimana dengan kehidupan kita saat ini, sudahkah kita benar-benar hidup dalam komunitas Perjanjian Baru atau masih tetap hidup dalam komunitas yang lama? Atau kita masih berdiri di antara dua perahu yang berbeda? Keputusan ada di tangan kita. Komunitas Perjanjian Baru tidak bisa hidup dalam kompromi dan dalam pola hidup yang lama. Sebab semuanya akan sia-sia saja.
“Ben, setujukah kamu dengan anggapan umum bahwa semua gereja mempunyai masalah?” tanya Sambey kepada Benay. Sambil mengunyah mendoan kesukaannya, Benay menjawab, “Aku setuju! Memang kenyataannya begitu kok.” Sambey menganguk-anggukkan kepala, pertanda ia juga menyetujui jawaban sahabatnya itu. “Tapi aku pikir kenyataan itu tidak boleh diterima secara pasif.” ungkap Sambey lebih lanjut. “Maksudnya apa?” tanya Benay ingin mendapat penjelasan. Sambey menjelaskan bahwa semua gereja mempunyai masalah adalah kenyataan, tetapi kenyataan itu tidak boleh membuat gereja menyerah. Sebaliknya kenyataan itu justru harus membuat gereja “bergerak”, bergumul dan berjuang sesuai yang dikehendaki Tuhan. Menurut Sambey, kesehatian jemaat mutlak diperlukan agar gereja tidak kalah dengan masalah yang dihadapinya. “Lha, bagaimana kalau justru masalahnya tidak adanya kesehatian dalam jemaat?” tanya Benay dengan mulut penuh mendoan. “Wah, repot itu, Ben! Itu yang harus diatasi lebih dahulu. Perlu digumulkan bagaimana mewujudkan gereja sebagai komunitas sehati-sepikir.” jawab Sambey. Rasul Paulus menghendaki adanya kesehati-sepikiran dalam jemaat yang terwujud dalam satu kasih, satu jiwa, satu tujuan. Kesehati-sepikiran itu mengisyaratkan jemaat yang kompak, yang tidak terpecah-belah. Jemaat yang saling mengasihi satu sama lain. Jemaat yang mempunyai perasaan sebagai satu keluarga, yaitu sebagai saudara-saudari di dalam Tuhan. Jemaat yang mempunyai kesatuan tujuan untuk kemuliaan Tuhan. Kondisi kesatuan itu akan sukar diwujudkan jika sikap mementingkan diri dan mencari kehormatan pribadi ada dalam jemaat. Itulah sebabnya Rasul Paulus mendorong jemaat untuk bersedia merendahkan diri sama seperti yang diteladankan oleh Yesus Kristus. Sikap merendahkan diri itu ditampakkan dengan memperhatikan dan mengutamakan kepentingan orang lain, di samping memperhatikan kepentingan pribadi. Dengan demikian kesehati-sepikiran dalam jemaat dapat diwujudkan. Jemaat yang terkasih. Marilah kita waspada dengan kepentingan pribadi kita. Tidak setiap kepentingan pribadi salah. Tetapi ketika kepentingan pribadi itu begitu menonjol dan menguasai diri kita, itu akan menjadikan kita pribadi yang tak pernah puas dengan pujian, terus mengejar kepopuleran, dan tak sudi menerima nasihat, apalagi kritik dari orang lain. Dan ini akan menjadi kendala untuk mewujudkan komunitas sehati-sepikir sebagaimana dikehendaki Tuhan. Oleh sebab itu marilah kita merendahkan diri dengan bersedia memperhatikan kepentingan orang lain untuk tujuan kita bersama sebagai jemaat Tuhan.
Sebab sama seperti pada satu tubuh kita mempunyai banyak anggota, tetapi tidak semua anggota itu mempunyai tugas yang sama, demikian juga kita, walaupun banyak, adalah satu tubuh di dalam Kristus; tetapi kita masing-masing adalah anggota yang seorang terhadap yang lain. (Ayat 4-5) Anda pasti pernah melihat patung polisi. Dari jauh kelihatan polisi sungguhan, tapi setelah didekati ternyata hanya sebuah patung. Kita tahu bahwa itu hanyalah sebuah patung karena tidak bergerak, tidak ada ekspresi wajah, dan tidak ada tanda-tanda kehidupan. Demikian juga kalau kita berkunjung ke sebuah museum yang bernama Madame Tussauds di London, kita akan melihat patung-patung yang terbuat dari lilin. Patung-patung itu sangat mirip dengan tokoh-tokoh yang digambarkan, baik tokoh-tokoh bangsawan, bintang film, bintang olah raga, sampai penjahat-penjahat. Patung-patung itu sepertinya hidup, tapi sebenarnya tidak. Gereja adalah Tubuh Kristus. Yang membedakan antara tubuh dengan patung adalah bahwa tubuh itu hidup. Memang patung kelihatan mirip dengan tubuh, punya kepala, badan, tangan, kaki dan anggota-anggota tubuh lainnya. Tetapi semuanya tidak bergerak dan tidak berfungsi karena mati. Berbeda dengan tubuh yang hidup. Setiap anggota tubuh itu mempunyai fungsi masing-masing. Tidak ada anggota tubuh yang tidak berfungsi. Tidak ada anggota yang hanya sekedar tempelan di tubuh itu. Setiap anggota ada fungsinya dan mengerjakan tugasnya sesuai dengan perintah kepala. Itulah gambaran dari Gereja Tuhan. Gereja adalah Tubuh Kristus, karena Tuhan Yesus mau melaksanakan kehendak-Nya melalui gereja-Nya. Sebagai Kepala, Dia yang mengatur dan memberi perintah kepada tubuh-Nya. Dialah pusat pikiran dan kehendak yang menentukan gerak langkah gereja. Apa yang harus dikerjakan dan kemana gereja harus bergerak tergantung pada kehendak dan rencana Kristus. Sebagai anggota Tubuh Kristus kita harus mengikuti apa yang diperintahkan-Nya. Masing-masing kita mempunyai fungsinya sendiri. Tidak ada yang tempelan saja. Setiap anggota Tubuh Kristus mempunyai fungsi dan tugasnya sendiri. Jemaat Tuhan, Anda adalah anggota Tubuh Kristus. Tuhan mau memakai anda dan bekerja melalui Anda. Jangan puas hanya menjadi anggota yang pasif, karena sebenarnya tidak ada anggota yang tidak mempunyai fungsi. Amin.
Dia terlahir dengan nama Junaidi. Orang-orang memanggilnya Joned. Tapi lebih banyak yang mengenalnya sebagai Pak Jon si tukang bersih-bersih sekolah. Tugasnya beragam, mulai dari membersihkan setiap jengkal lantai sampai membetulkan atap yang bocor. Tetapi murid-murid lebih mengenalnya sebagai petugas pembersih sekolah sebab sebatang sapu hampir selalu melekat di tangannya. Kelihatannya tak ada yang istimewa. Tak ada yang menaruh perhatian pada apa yang dilakukannya. Tak ada yang memuji-muji hasil kerjanya. Sampai suatu hari ia jatuh sakit dan harus beristirahat cukup lama. Awalnya tak ada yang sadar akan ketidakhadirannya. Lalu halaman sekolah mulai dihiasi daun-daun kering. Sampah di laci-laci meja betah sekali tinggal di sana. Kaca-kaca jendela mulai bisa ditulisi dengan jari. Dan murid-murid mulai bertanya-tanya di mana Pak Jon. Mengapa ia tidak masuk. Kapan mereka boleh menjenguknya. Pada akhirnya mereka mengerti, bukan hanya kepala sekolah dan guru-guru yang punya arti. Seorang petugas pembersih pun punya andil besar dalam proses belajar-mengajar di sekolah. Demikian pula dengan Gereja sebagai Tubuh Kristus. Tiap-tiap anggota memiliki tempat dan peran masing-masing. Bersyukurlah di bagian kita ditempatkan. Semua anggota tubuh itu penting. Jangan menyombongkan diri, jangan pula merasa rendah diri. Layanilah apa yang menjadi tugas kita. Jangan dengan terpaksa, jangan pula demi keuntungan pribadi. Gereja bisa berfungsi dengan baik apabila semua anggotanya berfungsi dengan benar sesuai bagiannya.
BARCODE BBM CHANNELS
RENUNGAN HARIAN
Dimana Pak Jon?
14 Juli '14
Saling Berbagi
07 Juli '14
Jadilah Berkat
05 Juli '14
Copyright © 2012 All rights reserved. Designed and Developed by GIA Dr. Cipto Semarang