SEPEKAN TERAKHIR
  Sabtu, 02 Juli 2016   -HARI INI-
  Jumat, 01 Juli 2016
  Kamis, 30 Juni 2016
  Rabu, 29 Juni 2016
  Selasa, 28 Juni 2016
  Senin, 27 Juni 2016
  Minggu, 26 Juni 2016
POKOK RENUNGAN
Keluarga menjadi hidup jika di dalamnya ada kasih dan keterbukaan untuk saling membangun.
DITULIS OLEH
Bp. Andreas T. Loso
Rohaniwan Pusat
Renungan Lain oleh Penulis:
Home  »  Renungan  »  Membangun Pernikahan Dengan Nilai - Nilai Kerajaan Allah
Membangun Pernikahan Dengan Nilai - Nilai Kerajaan Allah
Kamis, 06 Juni 2013 | Tema: Keluarga Yang Mengutamakan Kerajaan Allah
Membangun Pernikahan Dengan Nilai - Nilai Kerajaan Allah
Kolose 3:18-21
Mary Pipher, dalam bukunya The Shelter of Each Other, memberi nasihat tentang membangun kembali keluarga-keluarga yang bermasalah. Ia menyelidiki bagaimana anak-anak zaman sekarang terkadang terlalu sering menonton televisi dan bermain video game, sehingga mengabaikan pendidikan informal yang diterima dari kerabat mereka.
Ia mencontohkan pertemuan keluarga di mana anak-anak menonton video di ruang belakang sehingga para orang dewasa dapat berbicara tanpa diganggu. Dr. Pipher berpendapat bahwa hiburan semacam ini sesungguhnya merampas sesuatu yang berharga dari anak-anak. Anak-anak perlu bergaul dengan generasi yang lebih tua sehingga mereka dapat mendengar cerita-cerita tentang bibi, paman, kakek-nenek, dan orangtua. Ini membantu mereka belajar dari orang-orang yang telah mendah...selengkapnya »
“Ben, kok kamu bengong saja? Tidak ambil makanan?” tanya Sambey kepada Benay dalam acara makan malam yang diadakan Gereja, “Sotonya sedep banget lho, Ben. Rugi kalau tidak makan.” “Biar yang lain dulu saja, Sam. Aku belakangan”, jawab Benay santun. Ada sesuatu yang berbeda dari sosok Benay malam itu. Sosoknya yang gendut di segala sisi tubuhnya, mulai dari pipi, bahu, pinggul, dan perut, menampakkan bahwa Benay pelahap segalanya. Sampai-sampai ia pernah dijuluki “daging berjalan” oleh Pdt. Itong. Tetapi malam itu Benay memang beda dari biasanya. Sejenak membuat Sambey bertanya-tanya ada apa gerangan dengan sahabatnya itu. Belum sempat Sambey bertanya, Benay sudah menjelaskan mengapa sikapnya berbeda dari biasanya. Seminggu yang lalu, dalam sebuah acara perayaan ulang tahun sesepuh Gereja yang genap berusia 92 tahun, Benay melahap segala makanan yang dihidangkan secara prasmanan. Berbagai menu olahan istimewa disantapnya tanpa ampun. Setidaknya ia sudah 7 kali berganti menu dalam waktu 8 menit 10 detik. Alhasil tanpa disadarinya ada sekitar 70 “tua-tua” [baca: orang lanjut usia] yang tidak kebagian makanan. Mereka hanya bisa ngeces dan menerima nasib karena tak mampu menandingi ketangkasan Benay dalam hal sabet-menyabet “berkat”. Peristiwa itu sungguh menempelak Benay. Sang sesepuh yang berulang tahun sempat menasihatinya saat itu. “Cucuku, belajarlah mengutamakan dan memperhatikan orang lain selain dirimu sendiri. Karena Tuhan Yesus memberikan teladan demikian kepada kita”, demikian nasihat sang sesepuh dengan terbata-bata sambil sesekali batuk kering. Saat itu Benay menjadi malu dan rasa bersalah menjangkiti perasaannya. Sambey termangu-mangu mendengarkan Benay. Ia tak mampu lagi mengunyah soto nan lezat. Pandangannya menerawang dan terpaku pada sepasang kakek dan nenek yang hanya bisa duduk terbengong melihat antrian dan sesekali serobotan untuk mendapatkan semangkuk soto. “Ben, terima kasih ya. Pengalamanmu menyadarkan aku”, kata Sambey, “Bagaimana mungkin kita sehati sepikir, dalam satu kasih, satu jiwa, satu tujuan jika kita saling mementingkan diri sendiri dan melupakan orang lain. Dan bisa jadi itu tercermin dalam acara jamuan makan seperti malam ini.” Tanpa menunggu jawaban Benay, sekelebat angin Sambey sudah ada di hadapan kakek dan nenek itu. Entah apa yang dibicarakannya dengan mereka tetapi tidak lama kemudian tampak Sambey berdiri mengantri. Rupanya ia mengantri untuk kakek dan nenek itu. Jemaat yang terkasih, kita adalah satu keluarga di dalam Tuhan yang digambarkan sebagai tubuh yang terdiri dari banyak anggota. Marilah kita jaga kesatuan kita dalam segala hal dengan mengambil sikap tidak hanya memperhatikan kepentingan diri kita sendiri. Tetapi dengan rendah hati mau memperhatikan bahkan mengutamakan kepentingan orang lain.
Seorang pelatih sepak bola sangat marah kepada para pemainnya karena mengalami kekalahan telak oleh tim dari divisi dua. Kekalahan itu sangat memalukan. Kemarahannya sangat beralasan sebab ketika ia mengamati pertandingan, ada yang tidak beres di antara para pemainnya. Satu dengan yang lain tidak ada komunikasi dan sepetinya mereka main dengan cara mereka sendiri-sendiri tanpa memperhatikan intruksi pelatih dan teman waktu di lapangan. Ketika dalam ruang ganti sang pelatih bertanya: Pelatih : Ada masalah apa, kita mainnya kog buruk? Pemain depan : Bagaimana saya tidak bermain buruk, lha... saya tidak pernah diberi umpan. Kalaupun mendapat bola, itu karena saya mencari sendiri dan tidak ada yang membantu. Pemain tengah : Kita ini sudah berusaha menghadang bola, tetapi ketika mendapat bola teman-teman yang di belakang malah sudah maju duluan. Pemain belakang : Kami bosan di belakang.... Kan boleh toh kita sekali-kali maju menyerang. Kiper : Waktu diserang tidak ada yang menemani saya semua pada asyik menyerang sehingga ketika serangan balik kita keteteran. Kemudian pelatih tersebut memberikan arahan kepada pemainnya, “Ingat, kita ini tim yang menyatu satu dengan yang lain, memiliki bagian masing-masing sesuai dengan kemampuan dan keahlian, dan itu digunakan untuk kerja sama dalam satu tujuan, yaitu menciptakan GOAL. Gunakan komunikasi yang benar karena itu yang mempersatukan dan membuat kita mengerti maksud satu dengan yang lain. Jangan saling menyalahkan tetapi beri dorongan.” Kita sebagai gereja Tuhan sebenarnya seperti tim sepak bola yang memiliki tujuan dan tanggung jawab yang sama, yaitu mencetak Goal. Goal apa itu? Kita, dalam lingkup gereja, memiliki bagian dan fungsi yang berbeda namun mempunyai tujuan yang sama, yaitu menuju kedewasaan dalam Kristus, memenangkan jiwa bagi kristus, dan berdampak bagi banyak orang. Kita tidak akan sampai ke sana jika kita tidak mengerti fungsi masing-masing dan acuh tak acuh dengan apa yang Tuhan dan pemimpin kita maksudkan. Sebab dengan demikian kita akan membuang-buang energi, waktu dan sumber daya karena saling mempersalahkan. Oleh karenanya kita harus menyadari bahwa kita sebagai jemaat mempunyai fungsi yang harus kita kembangkan untuk kemajuan kerajaan Allah di mana kita berada. Lakukan yang bisa kita kerjakan sebaik mungkin dan terus tingkatkan yang menjadi bagian dan tanggung jawab kita.
Lain dulu lain sekarang. Kekristenan yang pernah begitu berpengaruh di Eropa, sekarang tidak lagi. Kekristenan di Eropa kian hari kian merosot. Beberapa gedung gereja terpaksa dijual karena tidak ada lagi jemaat yang beribadah di sana. Gedung-gedung itu kemudian beralih fungsi menjadi museum dan masjid. “Mengapa bisa terjadi demikian?” tanya Benay dalam hati. Tak perlu jauh-jauh. Beberapa kantong-kantong Kristen di tanah air menunjukkan kemunduran. Sebut saja Sulawesi Utara dan Papua misalnya. Di Sulawesi Utara berdiri gedung-gedung gereja nan megah di hampir setiap sudut daerah. Menunjukkan pengaruh kekristenan yang kuat di sana.. Namun sampai berapa lamakah pengaruh ini? Perseteruan yang berakibat perpecahan gereja, tingginya tingkat perselingkuhan dan perceraian di kalangan Kristen, “melempemnya” pekabaran Injil, berbanding terbalik dengan gencarnya dakwah dan pertumbuhan penduduk non Kristen. “Ini adalah sinyal yang tak bisa dipandang remeh”, gumam Benay. Papua yang dulu mayoritas Kristen, sekarang tidak dapat lagi disebut demikian. Jumlah penduduk pendatang yang non-Kristen kian seimbang dengan penduduk asli. Bahkan di antara penduduk asli Papua kian bertambah jumlah orang yang meninggalkan kekristenan. Fenomena ini bukan saja terjadi di daerah pesisir tetapi sampai di pedalaman-pedalaman Papua. “Apa yang harus kita buat?” pikir Benay kian dalam. Teringatlah Benay oleh nasihat Mbah Wanidy, pemilik sekaligus pengelola warung angkringan seberang gereja. “Ojo grusa-grusu dalam menyikapi masalah. Jangan dianggap remeh tetapi jangan dibesar-besarkan pula”, ujar Mbah Wanidy kala itu. Bagi Benay nasihat yang keluar dari bibir keriput Mbah Wanidy perlu direnungkan oleh kita semua. Apakah selama ini kita cenderung berfokus pada diri sendiri? Pada pelayanan di dalam gereja sendiri? Sibuk menciptakan dan memelihara masalah di kalangan sendiri? Sehingga fenomena-fenomena kemunduran kekristenan kita anggap sepi. Kita anggap bukan urusan kita. Atau kita ada rasa kuatir dan prihatin tetapi sibuk mencari kambing hitam karena sebenarnya kita tidak mau terlibat. Benay masih terus berpikir mencari jawab. Sekonyong-konyong terbit dalam benaknya sebuah pengertian. “Tubuh Kristus”, gumamnya, “Ya, mewujudkan hidup dan beban bersama sebagai bagian tubuh Kristus sangat penting karena merupakan sarana yang dasyat dalam mencegah dan menghadapi tantangan masa kini. Tetapi bagaimana membangun ukhuwah nasraniyah ini?” Jemaat yang terkasih, marilah kita wujudkan ukhuwah nasraniyah. Ingatlah akan kerinduan Tuhan agar orang-orang percaya menjadi satu sehingga kesaksian Injil tidak terhalang. Kesatuan akan dapat kita wujudkan jika tiap-tiap kita telah mampu keluar dari mengutamakan kepentingan diri sendiri. Belajar membangun kebersamaan dan kesehatian antar jemaat dan antar gereja dengan mengutamakan kerinduan Tuhan di atas segalanya. Dengan demikian kesaksian Injil terpancar nyata dan kiranya gereja Tuhan semakin berkembang.
Istilah ini seringkali mengemuka dan ngetren menjelang masa pemilihan presiden [pilpres] ataupun pemilihan kepala daerah [pilkada]. Istilah yang dimaksud adalah black campaign. Istilah yang diterjemahkan dengan kampanye hitam adalah suatu tindakan menghina, memfitnah, mengadu domba, menghasut atau menyebarluaskan berita bohong yang dilakukan oleh seorang calon atau sekelompok orang atau partai politik atau pendukung seorang calon terhadap lawan mereka. Tujuannya jelas, yaitu merusak citra dan nama baik seseorang untuk menjatuhkannya, sekaligus membangun dan meningkatkan citra pribadi yang lebih baik. Ujung-ujungnya adalah untuk kepentingan calon ataupun partai dukungannya. Tentunya ini berbeda dengan menyampaikan kritik terhadap visi dan misi atau program calon tertentu atau partai tertentu. Aktivitas kampanye hitam tidak hanya terjadi di zaman modern ini atau menjelang pilpres atau pilkada. Tuhan Yesus telah mengalaminya dan menjadi korban ‘kampanye hitam’ yang dilakukan oleh para imam kepala, tua-tua, dan ahli-ahli Taurat. Mereka menghasut orang banyak dengan melemparkan tuduhan-tuduhan palsu, di antaranya: Yesus dituduh menyesatkan bangsa Yahudi, melarang membayar pajak kepada Kaisar, dan menyatakan bahwa Yesus memberontak kepada Kaisar dengan menyatakan diri sebagai raja orang Yahudi. Coba lihat apa akibat hasutan tersebut. Orang banyak yang termakan dan terprovokasi oleh hasutan para imam, tua-tua, dan ahli-ahli Taurat telah gagal untuk melihat siapa yang benar dan siapa yang salah. Mereka membabi buta dalam mengambil keputusan. Sebuah keputusan yang menyangkut nyawa seseorang. Penjahat [Barnabas] dianggap benar sehingga layak dibebaskan, sedangkan Sang Kebenaran [Yesus Kristus] dipandang salah sehingga layak dienyahkan. Mereka seperti orang yang kalap. Kemarahan dan kegeraman yang sarat aroma kebencian tergambar dalam teriakan yang penuh tuntutan, “Salibkanlah Dia!” Sebuah akibat yang sangat mengerikan dari sebuah ‘kampanye hitam’. Bukan hanya membunuh karakter seseorang; bukan sekedar menjatuhkan dan merusak nama baik seseorang; tetapi juga berakibat hilangnya nyawa seseorang. Betapa jahatnya sebuah hasutan, salah satu bentuk kampanye hitam. Apakah gereja sebagai satu keluarga Allah bebas dari praktek ini? Sungguh sangat disayangkan, ternyata tidak. Kerapkali masih terdengar hinaan, fitnahan, tuduhan palsu, ataupun berita bohong [gosip] yang sesungguhnya jauh dari fakta dan kebenaran ‘bersliweran’ di tengah-tengah kita. Akibatnya muncul kebencian, antipati, saling curiga, pertengkaran, perpecahan, dan sebagainya. Yang menyedihkan lagi, terkadang ada orang-orang yang sengaja melemparkannya menjadi bola panas liar yang semakin membesar siap menghanguskan sang korban, dan sebaliknya memberi keuntungan bagi dirinya. Patutkah ‘kampanye hitam’ ada di tengah-tengah kita? Pantaskah ‘black campaign’ ada di antara keluarga Allah?
BARCODE BBM CHANNELS
RENUNGAN HARIAN
Saling Menolong
17 Juni '16
Semut Yang Tidak Egois
27 Juni '16
Mencari Kambing Hitam
20 Juni '16
Copyright © 2012 All rights reserved. Designed and Developed by GIA Dr. Cipto Semarang