SEPEKAN TERAKHIR
  Senin, 26 September 2016   -HARI INI-
  Minggu, 25 September 2016
  Sabtu, 24 September 2016
  Jumat, 23 September 2016
  Kamis, 22 September 2016
  Rabu, 21 September 2016
  Selasa, 20 September 2016
POKOK RENUNGAN
Keluarga menjadi hidup jika di dalamnya ada kasih dan keterbukaan untuk saling membangun.
DITULIS OLEH
Bp. Andreas T. Loso
Rohaniwan Pusat
Renungan Lain oleh Penulis:
Home  »  Renungan  »  Membangun Pernikahan Dengan Nilai - Nilai Kerajaan Allah
Membangun Pernikahan Dengan Nilai - Nilai Kerajaan Allah
Kamis, 06 Juni 2013 | Tema: Keluarga Yang Mengutamakan Kerajaan Allah
Membangun Pernikahan Dengan Nilai - Nilai Kerajaan Allah
Kolose 3:18-21
Mary Pipher, dalam bukunya The Shelter of Each Other, memberi nasihat tentang membangun kembali keluarga-keluarga yang bermasalah. Ia menyelidiki bagaimana anak-anak zaman sekarang terkadang terlalu sering menonton televisi dan bermain video game, sehingga mengabaikan pendidikan informal yang diterima dari kerabat mereka.
Ia mencontohkan pertemuan keluarga di mana anak-anak menonton video di ruang belakang sehingga para orang dewasa dapat berbicara tanpa diganggu. Dr. Pipher berpendapat bahwa hiburan semacam ini sesungguhnya merampas sesuatu yang berharga dari anak-anak. Anak-anak perlu bergaul dengan generasi yang lebih tua sehingga mereka dapat mendengar cerita-cerita tentang bibi, paman, kakek-nenek, dan orangtua. Ini membantu mereka belajar dari orang-orang yang telah mendah...selengkapnya »
Siapkan telur ayam 4 butir, gula pasir 150 gr, 125 gr tepung terigu, 50 ml santan kental, 1/2 sendok teh garam halus, 1/2 sendok teh baking powder, 1 sendok makan cake emulsifier [SP/TBM], pewarna makanan secukupnya. Campurkan gula pasir, telur dan cake emulsifier lalu kocok dengan mixer sampai mengembang dan pucat. Masukkan tepung terigu, baking powder dan garam sedikit demi sedikit sambil diayak, aduk hingga merata. Tuang santan kental ke dalam adonan sambil diaduk rata. Adonan dibagi menjadi beberapa bagian lalu masing-masing diberi beberapa tetes pewarna, kemudian aduk rata. Masukkan adonan yang sudah diwarnai satu persatu ke dalam loyang yang sudah dioles dengan minyak. Kukus adonan dalam langseng panas sampai benar-benar matang. Ini adalah resep membuat bolu kukus pelangi. Semua komponen yang ada disatukan dan diikat dalam satu wadah [langseng] sehingga menghasilkan masakan yang bernama bolu kukus pelangi. Coba kita perhatikan semua bahan ditakar sesuai kebutuhan, tidak kurang dan tidak lebih sebab bahan-bahan disesuaikan dengan fungsinya. Satu dengan yang lain tidak ada yang merasa kecil atau merasa banyak sebab jika ada komposisi yang ditukar ukurannya, maka akan terjadi masalah dengan kue bolu tersebut. Sebab semua sudah diukur dan dipertimbangkan agar tercapai yang namanya bolu kukus. Perlu kita ketahui bahwa kita sebagai jemaat ditempatkan dalam sebuah wadah yang disebut gereja. Gereja ini seumpama kapal yang mewadahi kita untuk bergerak mengangkut semua orang kepada suatu tujuan, yaitu ke arah Kristus. Mungkin bagi kita, di dalam kapal kita hanya menumpang dan berpikir tidak ada urusan dengan orang-orang yang ada di dalamnya, seperti nahkoda atau anak buah kapal [ABK]. Perjalanan di laut tidak selalu baik dan mulus. Kadang ada badai ataupun kerusakan. Misalnya, ketika bagian bawah dari kapal bocor, kita yang di atas tidak bisa berkata, “Itu bukan urusan saya, kan ada ABK. Saya di sini hanya menumpang sampai tujuan saja.” Jika kita berpikir begitu, sesungguhnya kita tidak menyadari akan bahaya yang sedang mendatangi kita. Oleh karena itu ketika kita di dalam persekutuan sebagai jemaat Tuhan, marilah kita melihat bahwa kita turut serta di dalamnya. Kita tidak bisa berkata itu bukan urusannku. Kita semua sebagai jemaat atau tubuh Kristus harus juga berfungsi dan terlibat di dalamnya hingga kita mencapai tujuan yang dimaksudkan oleh Allah, Sang Pencipta. Selama kita di dalam Kristus, kita masih memiliki tanggung jawab melakukan bagian yang Kristus maksudkan, yaitu menyatakan kemuliaan Allah dalam terlibat dalam rencana yang Allah telah tetapkan bagi gereja-Nya, yaitu menghasilkan buah bagi kerajaan Allah. [BDC] Pokok renungan: Bukan waktunya lagi kita tidak mengetahui peran kita dalam tubuh Kristus sebab kita semua punya tanggung jawab di dalam-Nya.
Bejo : “Laptop anyar yo Di ?” [“Laptop baru ya Di”] Mukidi : “Yo iyo lah ...!” [“Ya iya lah ...] Bejo : “Entuk teko ndi Di ...?” [“Dapat dari mana Di ...?”] Mukidi : “Hadiah lomba lari !” Bejo : “Tenanan to? Sopo wae pesertane?” [“Beneran ? Siapa saja pesertanya”] Mukidi : “Wong telu pesertane ..., aku, polisi, karo sijine meneh wong sing duwe laptop.” [Pesertanya tiga orang, saya, polisi dan yang satunya lagi yaitu pemilik laptop ini”] Inilah salah satu dari banyak cerita humor “Mukidi” yang saat ini banyak dicari dan dibaca di berbagai jejaring sosial baru-baru ini. Ceritanya terkesan humor, enteng, nggak penting, dan bahkan banyak pula humor lama yang dikemas kembali dalam bentuk yang baru. Terlepas dari semuanya itu, jika kita melihat ini secara sistematis dalam teknik stand up comedy, semuanya tersusun dengan rapi. Bit [bagian kecil materi dari stand up comedy yang berupa kalimat demi kalimat] yang ditulis sangat rapi dan runtut, serta bagian punch line [bagian lucu dari sebuah lelucon] dalam setiap cerita sangat mengena. Cerita Mukidi menjadi cerita yang segar dan populer karena dibuat secara cermat, teratur, rapi dan mengena. Coba, seandainya cerita di atas ditulis dengan seadanya dan bahkan amburadul, mustahil orang akan tertarik pada cerita mukidi. Begitu juga halnya dengan ibadah dan kehidupan kekristenan kita. Jemaat Tuhan yang memiliki berbagai karunia dan perbedaan di dalamnya akan berjalan dengan harmonis dan baik, jika semuanya tertata rapi dan teratur. 1 Korintus 14:40 berbunyi, “Tetapi segala sesuatu harus berlangsung dengan sopan dan teratur.” Di Dalam bahasa Inggris kata sopan dan teratur menggunakan kata decent dan order, sedangkan dalam bahasa Yunani memakai kata euschemonos [gabungan dari kata eu dan schemon] yang berarti patut, pantas dan selaras. Kata schemon adalah kata yang menunjukkan bagaimana kita merespons kehadiran seseorang: sikap, tutur kata, semua yang berkaitan dengan panca indra kita dalam berhubungan dengan orang lain. Sedangkan kata teratur, menggunakan kata dalam bahasa Yunani taxis. Joshepus, seorang bapa gereja, menggunakan kata itu untuk mendeskripsikan camp angkatan perang Romawi yang begitu rapi, disiplin dan teratur. Dengan kata lain, dia menggunakan kata ini untuk mendeskripsikan cara ibadah atau penyembahan mereka yang dilakukan dengan sangat khidmat dan teratur. Paulus menggunakan kata ini untuk mendeskripsikan euschemon atau kesopanan jemaat, ketertiban atau keteraturan jemaat yang begitu indah. Paulus berpesan agar kita melaksanakan ibadah dengan “sopan” dan “teratur.” Bagaimana kita menyikapi ibadah yang tertib dan teratur? Ibadah yang teratur adalah ibadah yang diingini Tuhan. Jika kita menjalankan ibadah adalah untuk Tuhan, maka yang diinginkan Tuhan, itulah yang kita prioritaskan. Tuhan merindukan ibadah yang selaras dan teratur. Marilah kita memberikan yang selaras dan teratur sebagai bagian sikap kita untuk menyukakan hati Tuhan.
Malang nian nasib Benay. Di tengah-tengah kelelahan yang menderanya, ia mengalami kecelakaan. Beberapa minggu ini Benay memang sibuk. Ia harus segera menyelesaikan tugas-tugas kuliah yang sempat terbengkalai. Penyelesaian tugas-tugas ini sudah cukup membuatnya harus lembur tiap malam. Begadang di depan laptop usangnya yang kadang-kadang ngadat tak mau diajak kompromi sambil ditemani segelas kopi hangat yang harum menggoda. Belum lagi ia harus mengatur waktu untuk terlibat kegiatan ini dan itu. Sebut saja latihan ibadah sebagi worship leader atau singer, rapat Youth For Christ bersama Pdt. Itong untuk menyusun program, latihan tambourine rutin, dan lain-lain. Belum lagi keterlibatannya di lingkungan RT/RW-nya dalam kelompok karang-taruna yang sangat sarat kegiatan dalam menyambut HUT Kemerdekaan RI ke-71. Suatu pagi, dalam keadaan setengah ngantuk, ia memacu sepeda motornya agar tidak terlambat hadir pada perkuliahan di kampusnya. Tanpa dapat diperhitungkan, di sebuah jalan yang menurun tajam tiba-tiba seekor kucing hitam nylonong menyebrang. Kucing nekad ini rupa-rupanya tak dapat menahan nafsunya untuk menghampiri seeokor kucing betina yang menggoda-rayu di seberang jalan. Alhasil Benay pun melakukan gerak reflek pengereman mendadak. Motor yang dikendarainya hilang kendali dan jatuh menyisir jalan. Benay terpelanting, berguling-guling beberapa meter dan terjerembab di bahu jalan. Beruntung Benay masih sadar dan tak ada masalah berarti kecuali sedikit lecet pada kaki dan tangannya. “Cing…kucing…. Mbok kalau mau menyeberang jalan lihat kanan dan kiri dulu!” serunya kesal sambil menahan perih. Si kucing yang selamat dari maut melotot tajam menatap Benay seolah-olah tak terima. Pada sebuah acara doa di gereja Pdt. Itong memberikan nasihat kepada Benay yang tetap hadir meski pegal dan nyeri akibat kecelakaan masih dirasakannya. “Ben, aku menghargai semangatmu untuk terlibat dalam berbagai kegiatan baik di gereja, kampus, maupun di masyarakat. Tetapi janganlah berlebihan. Berikanlah sumbangsih sesuai kemampuanmu”, kata Pdt. Itong. “Jika kelelahan mendera jangan paksakan kendarai sepeda motor. Apalagi kamu pacu dengan kecepatan tinggi. Bisa berbahaya! Bukan hanya untuk kamu tetapi nyawa kucing itu juga terancam.” Belum selesai Pdt. Itong menyelesaikan nasihatnya, Benay sudah tertidur pulas. Sungguh kelelahan tampak jelas di raut wajah bulatnya. Jemaat yang terkasih, melihat orang-orang yang memiliki semangat keterlibatan seperti Benay tentu memukau. Tetapi tentu kita tidak ingin jika keterlibatannya berlebihan dari sisi tenaga, waktu, atau dana. Keterlibatan yang berlebihan pada segelintir orang bisa menjadi indikasi bahwa masih banyak yang belum terlibat atau dilibatkan. Padahal Tuhan menghendaki setiap orang dapat terlibat dan memberikan sumbangsih sesuai kemampuannya untuk membangun sebuah jemaat yang kokoh dalam iman, tekun dalam pengajaran, berjiwa misi dan berdampak luas. Marilah kita ambil bagian dalam pelayanan. Tidak berlebihan tetapi sesuai kemampuan kita.
Seringkali yang menghambat perkembangan pelayanan adalah sikap hidup orang-orang yang ada di dalamnya, baik yang terlibat langsung maupun tidak. Boleh jadi sebuah gereja mempunyai program yang bagus dan dana yang besar, tetapi kalau orang-orang yang ada di dalamnya tidak mempunyai sikap hidup yang mendukung, maka pelayanan itu tidak akan berkembang. Paulus memberikan teladan hidup agar sebuah pelayanan bisa berkembang. Paling tidak ada tiga sikap hidupnya bisa dijadikan teladan. Pertama, rela berkorban dalam pelayanan. Dalam rangka naik banding kepada Kaisar, Paulus diperbolehkan tinggal dalam rumah yang disewanya sendiri [KPR 28:16]. Rasul Paulus tidak minta bantuan orang-orang Kristen yang ada di sana untuk menyewakan rumah. Dia menyewa sendiri rumah dan dijadikan tempat pelayanannya. Kedua, Paulus menunjukkan sikap terbuka dan ramah. ’Ia menerima semua orang yang datang kepadanya.’ Kata yang diterjemahkan dengan kata ’menerima’ menjelaskan bagaimana Paulus menerima orang-orang itu dengan tidak memandang usia, kekayaan atau perbedaan lainnya. Ia menerima semua orang. Inilah jalan pembuka bagi Paulus untuk bisa menyampaikan Injil. Ketiga, bersemangat dalam memberitakan dan mengajarkan berita sukacita itu. Dengan sikap hidup seperti itu, maka pelayanan Rasul Paulus diberkati Tuhan dan menjadi berkembang. Mari kita tanggalkan sikap hidup yang menghambat perkembangan itu [egois, iri hati, dll] dan kita kembangkan sikap hidup yang mendukung perkembangan pelayanan [rela berkorban, terbuka dan ramah, serta semangat].
BARCODE BBM CHANNELS
RENUNGAN HARIAN
Meterai Murid Kristus
31 Agustus '16
Terlibat Sesuai Kemampuan
07 September '16
Menggunakan Waktu Sehari-hari
24 September '16
Copyright © 2012 All rights reserved. Designed and Developed by GIA Dr. Cipto Semarang