SEPEKAN TERAKHIR
  Senin, 24 November 2014   -HARI INI-
  Minggu, 23 November 2014
  Sabtu, 22 November 2014
  Jumat, 21 November 2014
  Kamis, 20 November 2014
  Rabu, 19 November 2014
  Selasa, 18 November 2014
POKOK RENUNGAN
Keluarga menjadi hidup jika di dalamnya ada kasih dan keterbukaan untuk saling membangun.
DITULIS OLEH
Bpk. Andreas T. Loso
Kontributor
Renungan Lain oleh Penulis:
Home  »  Renungan  »  Membangun Pernikahan Dengan Nilai - Nilai Kerajaan Allah
Membangun Pernikahan Dengan Nilai - Nilai Kerajaan Allah
Kamis, 06 Juni 2013 | Tema: Keluarga Yang Mengutamakan Kerajaan Allah
Membangun Pernikahan Dengan Nilai - Nilai Kerajaan Allah
Kolose 3:18-21
Mary Pipher, dalam bukunya The Shelter of Each Other, memberi nasihat tentang membangun kembali keluarga-keluarga yang bermasalah. Ia menyelidiki bagaimana anak-anak zaman sekarang terkadang terlalu sering menonton televisi dan bermain video game, sehingga mengabaikan pendidikan informal yang diterima dari kerabat mereka.
Ia mencontohkan pertemuan keluarga di mana anak-anak menonton video di ruang belakang sehingga para orang dewasa dapat berbicara tanpa diganggu. Dr. Pipher berpendapat bahwa hiburan semacam ini sesungguhnya merampas sesuatu yang berharga dari anak-anak. Anak-anak perlu bergaul dengan generasi yang lebih tua sehingga mereka dapat mendengar cerita-cerita tentang bibi, paman, kakek-nenek, dan orangtua. Ini membantu mereka belajar dari orang-orang yang telah mendahului mereka.

Meskipun di sekitar kita sering terjadi kasus-kasus pengingkaran dan penyelewenangan perkawinan, bahkan berujung pada perceraian, kita tidak perlu pesimis dan apatis. Justru di sinilah peranan kita untuk mengupayakan dan menjaga agar perkawinan benar-benar menjadi pilihan dan panggilan hidup yang bisa dipertanggungjawabkan, baik di hadapan masyarakat maupun di hadapan Tuhan. Berdasarkan kodratnya, perkawinan terarah pada kelahiran anak yang merupakan buah cinta dari suami istri, sekaligus menurunkan kehidupan baru. Oleh karena itu, keluarga kristiani dipanggil untuk menjadi pencinta, perawat, penjaga dan pembela kehidupan. Pasangan suami istri harus mempertahankan kes...selengkapnya »
Seorang teman yang sangat suka membuat berbagai macam makanan bergabung dengan sebuah group pencinta kuliner. Dari situ ia berhasil mengumpulkan banyak resep dan mempraktikkannya satu demi satu. Ketika seorang tetangga mengetahui bahwa teman ini berhasil membuat banyak macam makanan, tetangga itu meminta agar ia diberitahu resep-resep yang didapat dari group kuliner itu. Mendengar permintaan itu, galaulah hati teman ini. Kasih tahu nggak ya??? Kalau diberitahu, kok enak sekali ya? Tidak usah susah-susah mencari, tinggal minta. Kalau tidak diberitahu, rasanya kok sungkan. Terhadap tetangga kok pelit. Akhirnya kegalauannya tercium juga oleh sang suami. Jadilah ia menceritakan persoalan itu kepada suaminya. Sang suami bertanya, “Mama dapat resep itu dari hasil membeli atau gratis?” “Gratis, Pa.” “Susah payah browsing di google atau tanya teman di group kuliner itu?” “Tanya teman, Pa.” “Lha ya sudah, kok bingung-bingung. Dapat resepnya kan gratis, Mama juga dapat dari teman. Sekarang tetangga kita minta, ya beri saja. Wong ya Mama ndak berjualan pakai resep itu. Atau suruh saja tetangga kita bergabung di group kuliner itu supaya bisa mengumpulkan resep-resep seperti Mama.” Lupa. Seperti wanita tadi yang lupa bahwa ia mendapatkan resepnya dengan gratis, sering kali kita lupa bahwa kita sangat banyak mendapat kemurahan dari Tuhan, kebaikan dari Tuhan, pengampunan dari Tuhan. Sehingga ketika tiba giliran orang lain membutuhkan kemurahan dari kita, kebaikan dari kita, pemberian maaf dari kita ... kita begitu penuh perhitungan seolah-olah kita tak pernah mendapat semua itu dari Tuhan. Keselamatan yang kita peroleh, perlindungan, kesehatan, kecukupan ... semua itu bukan berasal dari usaha kita sendiri. Betapapun keras kita berusaha, bila Tuhan tidak menganugerahkannya kepada kita, tak akan sampai ke tangan kita. Oleh karena itu janganlah kita angkuh sebab semua yang melekat dalam diri kita berasal dari Tuhan. Dan Tuhan memberi apa yang baik buat kita agar kita melakukan pekerjaan baik yang telah dipersiapkan-Nya untuk kita kerjakan.
Dulu, ketika membantu pelayanan di sebuah jemaat, saya melihat keadaan yang tidak lazim menurut pandangan saya. Di gereja tersebut ada sejumlah pria (kepala keluarga) yang masih sehat dan dalam usia masih produktif tetapi tidak bekerja. Dan yang mencari penghasilan untuk mencukupi kebutuhan keluarga adalah para istri. Sebenarnya, dulu, mereka pernah bekerja. Tetapi karena kondisi dan alasan tertentu, kemudian mereka tidak lagi bekerja. Tentunya ini sebuah keadaan yang tidak sehat. Seseorang yang hidupnya tidak punya arti bagi sesama, tidak mau bekerja tetapi bergantung kepada orang lain, dan sungguh tidak mandiri, tidaklah berlebihan jika disebut seperti benalu. Tatanan masyarakat sekarang menilai seseorang yang mempunyai pekerjaan, meskipun pekerjaannya kasar adalah orang yang terhormat. Jika orang tidak mau bekerja akan dinilai malas, malah bisa-bisa dianggap manusia yang tidak berguna. Ini status yang hina dan memalukan. Melalui suratnya, Rasul Paulus mendorong Titus untuk mengingatkan jemaat di Kreta untuk memiliki pekerjaan supaya dapat hidup mandiri dan bisa mencukupi kebutuhan hidup pribadi ataupun keluarganya. Bahkan dengan memiliki pekerjaan, mereka pun diharapkan dapat membantu yang lain. Dalam hal ini jemaat diajar bahwa rezeki yang diperoleh dari bekerja bukan hanya dipergunakan untuk memenuhi keperluan hidup, tetapi juga dapat dimanfaatkan untuk menjadi berkat bagi sesama. Dengan demikian rezeki dapat dipergunakan untuk membangun hidup yang berguna. Karena seseorang berani mengambil sikap untuk memutuskan kecenderungan serakah dan menutup mata bagi sesama. Sebelum kita terlelap dalam istirahat malam merupakan kesempatan untuk bersyukur atas semua rezeki yang kita peroleh dari Tuhan hari ini. Kita bersyukur hari ini telah menjadi berkat bagi sesama dengan berbagi rezeki meskipun kecil. Tetapi kita yakin, besok berkat Tuhan akan ada lagi. Kiranya esok kita semakin hidup berguna bagi sesama.
Mikha 7:18-19 Siapakah Allah seperti Engkau yang mengampuni dosa, dan yang memaafkan pelanggaran dari sisa-sisa milik-Nya sendiri; yang tidak bertahan dalam murka-Nya untuk seterusnya, melainkan berkenan kepada kasih setia? Biarlah Ia kembali menyayangi kita, menghapuskan kesalahan-kesalahan kita dan melemparkan segala dosa kita ke dalam tubir-tubir laut. Tidak ada orang yang berkata bahwa mengampuni itu mudah dilakukan. Banyak orang yang lebih rela menyimpan dendam dan hidup tidak tenang gara-gara tidak sanggup mengampuni. Padahal jelas itu merugikan dirinya sendiri. Mengapa bisa demikian? Karena pikiran kita selalu berkata: ”Orang salah harus dihukum. Orang itu telah berbuat jahat kepadaku maka dia pantas menanggung hukuman.” Sedikit banyak di dalam diri kita ada sifat adil, yang seringkali menentang dorongan untuk mengampuni. Sifat yang ada di dalam diri kita sebenarnya adalah cerminan dari sifat Allah, karena kita diciptakan menurut gambar dan rupa Allah. Tuhan itu adil, tapi Dia juga suka mengampuni. Bilangan 14:18 berkata: ”TUHAN itu berpanjangan sabar dan kasih setia-Nya berlimpah-limpah, Ia mengampuni kesalahan dan pelanggaran, tetapi sekali-kali tidak membebaskan orang yang bersalah dari hukuman, ....” Tuhan itu panjang sabar dan suka mengampuni kesalahan serta dosa manusia. Namun bukan berarti Dia itu bisa dipermainkan. Dia adalah Allah yang adil. Dia pasti menjalankan keadilan-Nya dengan menghukum setiap pelanggaran dan dosa. Sifat adil dan belas kasih Allah ini tidak saling bertentangan. Jika Allah suka mengampuni dosa itu bukan berarti Allah tidak mempermasalahkan dosa kita. Allah benci terhadap dosa, tetapi Dia sayang kepada manusia, sekalipun sudah jatuh dalam dosa. Dia ingin menyelamatkan manusia agar tidak terkena kutuk akibat dosa. Keadilan Allah mengharuskan kita untuk menghormati kekudusan-Nya. Kita harus menjaga hidup kita agar tidak melanggar perintah-Nya. Namun Dia bukan Tuhan yang kejam tak berbelas kasihan. Sekalipun kita telah berbuat dosa, jika kita datang kepada-Nya dengan hati yang tulus, bertobat dan memohon anugerah-Nya, Dia pasti akan memberikan pengampunan. Kita harus mencontoh sifat Allah yang adil, yang tidak mau kompromi dengan dosa. Namun kita harus mencontoh juga sifat-Nya yang suka mengampuni. Amin.
Berapa kali kita harus melepas pengampunan? Tuhan Yesus menjawab pertanyaan itu, tujuh puluh kali tujuh kali. Allah adalah Allah yang mengampuni (Mikha 7:18), Allah yang pengasih dan penyayang yang panjang sabar dan berlimpah kasih setia (Yunus 4:2). Jadi sudah sepatutnya kita yang menerima pengampunan, yang menyebut Dia Bapa, melakukan sikap penuh pengampunan terhadap orang lain. Bagaimana jika kita tidak melakukannya? Tuhan Yesus menjawab pertanyaan itu dalam perumpamaan seorang hamba yang tidak mau mengampuni (Matius 18:21-35): “maka marahlah tuannya itu dan menyerahkan dia kepada algojo-algojo sampai ia melunaskan seluruh hutangnya...” Kata Yesus, dengan cara seperti itulah Bapa di Sorga akan memperlakukan siapa saja apabila tidak mengampuni. Membatalkan pengampunan yang sudah diberikan? Tentunya Allah tidak akan melakukan hal semacam itu bukan? Bukankah Dia Allah maha pengampun? Namun Tuhan Yesus berkata bahwa Allah akan melakukannya, sebuah perkataan yang sungguh keras! Tuhan Yesus mengisahkan sebuah perumpamaan lain mengenai dua orang yang berhutang untuk menjelaskan aspek lain dari pengampunan (Lukas 7:36-50). Ini terjadi di rumah Simon, seorang farisi yang tidak menyambut tamunya secara hormat seperti tradisi yang ada waktu itu. Tiba-tiba datang seorang wanita berdosa menerobos masuk mencurahkan rasa syukur dan kasihnya dengan membasuh kaki Tuhan Yesus dengan air matanya, menyeka dengan rambutnya, mencium kaki Tuhan Yesus dan meminyakinya dengan minyak wangi. Dalam perumpamaan ini Tuhan Yesus mengajarkan bahwa orang yang diampuni sejumlah besar hutangnya akan memberikan tanggapan dengan kasih yang besar. Sebaliknya, tidak ada tanggapan yang besar yang bisa diberikan seseorang yang merasa hanya sedikit diampuni. Di mana ada tanggapan dengan kasih yang tulus, di sana ada roh pengampunan. Di mana ada roh pengampunan, di sana ada penghargaan yang lebih besar atas kemurahan pengampunan Allah dan akibatnya adalah kasih yang lebih besar lagi. Kasih dan pengampunan mengakibatkan reaksi berantai: makin banyak pengampunan, makin banyak kasih, makin banyak kasih makin banyak pengampunan. Mari kita praktikkan pengampunan yang Tuhan Yesus ajarkan dan teladankan kepada kita.
BARCODE BBM CHANNELS
RENUNGAN HARIAN
Dipilih Agar Berguna
29 Oktober '14
Tangan Yang Selalu Terbuka
31 Oktober '14
Kita Mengampuni dan Mengampuni
03 November '14
Copyright © 2012 All rights reserved. Designed and Developed by GIA Dr. Cipto Semarang