SEPEKAN TERAKHIR
  Minggu, 29 Mei 2016   -HARI INI-
  Sabtu, 28 Mei 2016
  Jumat, 27 Mei 2016
  Kamis, 26 Mei 2016
  Rabu, 25 Mei 2016
  Selasa, 24 Mei 2016
  Senin, 23 Mei 2016
POKOK RENUNGAN
Keluarga menjadi hidup jika di dalamnya ada kasih dan keterbukaan untuk saling membangun.
DITULIS OLEH
Bp. Andreas T. Loso
Rohaniwan Pusat
Renungan Lain oleh Penulis:
Home  »  Renungan  »  Membangun Pernikahan Dengan Nilai - Nilai Kerajaan Allah
Membangun Pernikahan Dengan Nilai - Nilai Kerajaan Allah
Kamis, 06 Juni 2013 | Tema: Keluarga Yang Mengutamakan Kerajaan Allah
Membangun Pernikahan Dengan Nilai - Nilai Kerajaan Allah
Kolose 3:18-21
Mary Pipher, dalam bukunya The Shelter of Each Other, memberi nasihat tentang membangun kembali keluarga-keluarga yang bermasalah. Ia menyelidiki bagaimana anak-anak zaman sekarang terkadang terlalu sering menonton televisi dan bermain video game, sehingga mengabaikan pendidikan informal yang diterima dari kerabat mereka.
Ia mencontohkan pertemuan keluarga di mana anak-anak menonton video di ruang belakang sehingga para orang dewasa dapat berbicara tanpa diganggu. Dr. Pipher berpendapat bahwa hiburan semacam ini sesungguhnya merampas sesuatu yang berharga dari anak-anak. Anak-anak perlu bergaul dengan generasi yang lebih tua sehingga mereka dapat mendengar cerita-cerita tentang bibi, paman, kakek-nenek, dan orangtua. Ini membantu mereka belajar dari orang-orang yang telah mendah...selengkapnya »
Dalam realitas bisa dijumpai orang non kristen yang mempunyai kualitas mental yang baik yang ditandai antara lain: mempunyai gambar diri yang positif, bisa menerima dan menyesuaikan diri dengan lingkungan, mempunyai daya tahan untuk menghadapi tantangan atau problem hidup, bisa hidup harmonis dalam keluarga dan masyarakat. Mereka dikenal sebagai orang baik yang menaati hukum dan nilai moral kemasyarakatan. Mereka bisa tidak “manja” dalam menghadapi buas dan ganasnya kehidupan ini. Tidak jarang dijumpai orang kristen yang justru “manja” dalam menghadapi hidup ini. Hal ini disebabkan karena tidak mengenal kebenaran. Mereka berharap keadaan selalu sesuai dengan keinginannya, hidup lebih mudah dan nyaman. Tidak menyadari bahwa dunia ini telah terkutuk dan semakin fasik [Kejadian 3:17; 2 Timotius 3:1-5]. Pola pikir ini juga dipicu oleh pemahaman yang salah terhadap Kebenaran Injil. Yang terpateri dalam pikiran adalah bagian dan tanggung jawab Tuhan terhadap hidup mereka melalui kasih, kuasa dan kebaikan Tuhan. Seakan-akan memiliki hak istimewa untuk bisa mengarungi hidup ini lebih mudah dan nyaman. Jauh dari berbagai problem. Pola pikir seperti ini akan membuat orang percaya tidak bertumbuh dewasa mental. Tuhan memang kasih, berkuasa, dan baik, namun tidak untuk dimanfaatkan sesuai keinginan kita. Tuhan menebus kita lunas dengan harga yang mahal untuk keselamatan kita, yaitu dikembalikan kepada rancangan-Nya semula, menjadi serupa dengan diri-Nya [Kejadian 3:27]. Berarti kita harus berproses untuk menjadi sempurna seperti Bapa [Matius 5:48], kudus dan tidak bercacat di hadapan-Nya [Efesus 1:4], mengambil bagian dalam kodrat ilahi [2 Petrus 1:4], dan memiliki pribadi Kristus [Roma 8:29]. Inilah pada hakekatnya suatu kedewasaan rohani yang harus menjadi target utama orang percaya. Kedewasaan rohani adalah kemampuan untuk bisa mengerti dan melakukan kehendak Tuhan, sehingga dapat hidup berkenan di hadapan Bapa. Untuk bertumbuh dewasa rohani harus didahului oleh kedewasaan mental. Orang yang dewasa rohani menyadari bahwa dirinya mempunyai bagian dan tanggung jawab dalam hidup ini. Mereka memandang problem hidup adalah bagian dari berkat Tuhan, bagian dari nutrisi jiwa yang memproses seseorang bertumbuh makin dewasa. Landasan sikap yang diperlukan adalah mengucap syukur dalam segala hal [Efesus 5:20]. Bapa sudah menyediakan fasilitas untuk pertumbuhan rohani, yaitu Roh Kudus, kebenaran Injil, dan penggarapan Bapa melalui problem hidup sehari-hari.
Beberapa minggu yang lalu kota Semarang dihebohkan dengan berita tentang aksi heroik seorang anak usia 9 tahun. Anak yang bernama Daffa Farros Oktaviarto itu melakukan aksi heroik dengan menghentikan sepeda motor yang lewat di trotoar. Walaupun mendapat caci maki dari pengendara motor, dia tidak peduli dan tetap minta agar sepeda motor tidak lewat di trotoar dengan melintangkan sepedanya. Dia melakukan itu karena tahu dari berita televisi dan spanduk yang mengatakan bahwa trotoar hanya untuk pejalan kaki. Dia meyakini bahwa peraturan harus ditaati oleh siapa saja, maka dengan gaya kanak-kanaknya dia menghentikan pengendara sepeda motor yang melanggar, apapun alasannya. Ketika aksi heroik tersebut diunggah di medsos, banyak orang yang memberi penghargaan kepadanya termasuk polisi dan gubernur Jawa Tengah. Sudah selayaknya umat Tuhan mempersembahkan tubuhnya menjadi persembahan yang hidup, yang kudus dan yang berkenan kepada Allah, karena itu merupakan ibadah yang sejati. Hal itu dinyatakan dengan tidak lagi menjadi serupa dengan dunia tetapi berubah oleh pembaharuan budi, sehingga yang dilakukan adalah yang sesuai kehendak Allah, sesuatu yang mendatangkan kebaikan dan yang berkenan kepada-Nya. Dalam segala hal menguasai diri dan berpadan dengan iman yang dimiliki. Kita hidup di tengah dunia yang diwarnai dengan segala macam ketidakbenaran, di mana seringkali ketidakbenaran itu sudah dianggap menjadi kebenaran. Kita dipilih Tuhan untuk berani menyatakan kebenaran dan mempermalukan ketidakbenaran. Walaupun untuk itu kita harus mengalami berbagai kesulitan dan bahkan penderitaan. Kita tidak akan mampu bila dilakukan dengan kekuatan sendiri, tetapi bila kita persembahkan hidup kita menjadi persembahan yang berkenan kepada-Nya, Tuhan akan memampukan kita. Kita harus berubah, tidak kompromi dengan pelanggaran Firman tetapi menguasai diri dan memiliki iman yang teguh.
1 Petrus 1:13-19 tetapi hendaklah kamu menjadi kudus di dalam seluruh hidupmu sama seperti Dia yang kudus, yang telah memanggil kamu, sebab ada tertulis: Kuduslah kamu, sebab Aku kudus. [ayat 15-16] Hidup dalam kekudusan tidak pernah mudah, baik pada zaman dahulu, terlebih hari-hari ini dimana ada begitu banyak media yang menawarkan segala sesuatu yang bisa merusak kekudusan. Menjaga kekudusan semakin lama semakin dianggap kuno oleh manusia. Dunia terus menawarkan segala sesuatu yang bisa merusak kekudusan kita dalam berbagai bentuk yang biasanya menawarkan kenikmatan bagi daging kita tetapi sangatlah mematikan bagi perjalanan hidup kita. Hidup dalam kekudusan bukanlah sebuah pilihan yang boleh diambil dan boleh juga tidak. Hidup dalam kekudusan bukan untuk orang-orang tertentu saja, misalnya para hamba Tuhan, melainkan untuk semua orang percaya. Setiap orang percaya dipanggil untuk hidup kudus. Tuhan memberi perintah kepada setiap orang Kristen: ’Kejarlah kekudusan, sebab tanpa kekudusan tidak seorang pun akan melihat Tuhan’ [Ibrani 12:14]. Jadi tidak ada pilihan lain selain hidup dalam kekudusan. Seperti apakah hidup dalam kekudusan itu? Apakah harus hidup mengasingkan diri dari dunia ini dan menjadi seperti orang yang aneh? Apakah harus setiap hari pergi ke gereja? Apakah hari-hari kita harus selalu kita isi dengan kegiatan-kegiatan rohani? Bukan seperti itu yang dimaksudkan Tuhan. Seorang teolog dari Skotlandia bernama John Brown berkata bahwa kekudusan itu adalah berpikir seperti Allah berpikir dan mengingini seperti Allah mengingini. Itu berarti bahwa hidup kita mengalami perubahan, dari yang tadinya berpikir menurut cara-cara dunia ini menjadi berpikir menurut caranya Tuhan; dari mengingini apa yang dinginkan oleh orang-orang dunia ini menjadi menginginkan apa yang diinginkan Tuhan. Hidup dalam kekudusan berarti hidup kita dipengaruhi oleh cara hidupnya Tuhan. Jadi, hidup dalam kekudusan di zaman ini sebenarnya sangat mungkin. Caranya adalah dengan mengizinkan Tuhan mengubah pikiran dan kehendak kita dari waktu ke waktu menjadi seperti yang diingini-Nya. Amin. Pdt. Goenawan Susanto
Di hutan-hutan Eropa bagian utara dan Asia hiduplah ermine, binatang lucu yang setiap musim dingin tiba warna bulunya berubah menjadi seputih salju. Binatang ini sangat melindungi kebersihan bulunya sampai-sampai ketika terpojok oleh para pemburu ia lebih rela mati daripada bersembunyi di tempat yang kotor. Selama menjalani kehidupan ini tak terhitung betapa seringnya kita diperhadapkan pada situasi yang mengharuskan kita untuk memilih. Memanjakan keinginan daging ... atau bertahan hidup dalam kekudusan. Bila kita renungkan, entah sudah berapa kali kita memilih menyerah pada keadaan daripada berjuang mempertahankan kekudusan. Sebagai anak-anak Tuhan, kita diarahkan untuk hidup sebagai anak-anak yang taat dan tidak membiarkan diri dikuasai hawa nafsu [1 Petrus 1:14]. Sangat penting untuk menjadi kudus di dalam seluruh aspek kehidupan kita, sama seperti Tuhan yang memanggil kita adalah kudus [ayat 15]. Demikian utamanya kekudusan itu sehingga dikatakan bahwa tanpa kekudusan tidak seorang pun akan melihat Tuhan [Ibrani12:14]. Kekudusan tidak dibatasi oleh situasi dan tempat. Kekudusan terpancar dalam keadaan aman maupun genting. Kekudusan tidak hanya ada di dalam lingkup tembok gereja. Ketika Tuhan menyucikan hati kita, maka saat berada di pasar pun kita bias sekudus saat kita berada di rumah ibadah [Martin Luther]. Kekudusan yang diperjuangkan dengan sungguh-sungguh itu merambah keluar dari naungan atap-atap gereja.
BARCODE BBM CHANNELS
RENUNGAN HARIAN
Dan Jangan Berbuat Dosa Lagi Mulai Dari Sekarang
20 Mei '16
Kehadiran, Kemenangan dan Kepergian Yang Sunyi
05 Mei '16
Tips Menang Atas Dosa
16 Mei '16
Copyright © 2012 All rights reserved. Designed and Developed by GIA Dr. Cipto Semarang