SEPEKAN TERAKHIR
  Sabtu, 20 September 2014   -HARI INI-
  Jumat, 19 September 2014
  Kamis, 18 September 2014
  Rabu, 17 September 2014
  Selasa, 16 September 2014
  Senin, 15 September 2014
  Minggu, 14 September 2014
POKOK RENUNGAN
Keluarga menjadi hidup jika di dalamnya ada kasih dan keterbukaan untuk saling membangun.
DITULIS OLEH
Bpk. Andreas T. Loso
Kontributor
Renungan Lain oleh Penulis:
Home  »  Renungan  »  Membangun Pernikahan Dengan Nilai - Nilai Kerajaan Allah
Membangun Pernikahan Dengan Nilai - Nilai Kerajaan Allah
Kamis, 06 Juni 2013 | Tema: Keluarga Yang Mengutamakan Kerajaan Allah
Membangun Pernikahan Dengan Nilai - Nilai Kerajaan Allah
Kolose 3:18-21
Mary Pipher, dalam bukunya The Shelter of Each Other, memberi nasihat tentang membangun kembali keluarga-keluarga yang bermasalah. Ia menyelidiki bagaimana anak-anak zaman sekarang terkadang terlalu sering menonton televisi dan bermain video game, sehingga mengabaikan pendidikan informal yang diterima dari kerabat mereka.
Ia mencontohkan pertemuan keluarga di mana anak-anak menonton video di ruang belakang sehingga para orang dewasa dapat berbicara tanpa diganggu. Dr. Pipher berpendapat bahwa hiburan semacam ini sesungguhnya merampas sesuatu yang berharga dari anak-anak. Anak-anak perlu bergaul dengan generasi yang lebih tua sehingga mereka dapat mendengar cerita-cerita tentang bibi, paman, kakek-nenek, dan orangtua. Ini membantu mereka belajar dari orang-orang yang telah mendahului mereka.

Meskipun di sekitar kita sering terjadi kasus-kasus pengingkaran dan penyelewenangan perkawinan, bahkan berujung pada perceraian, kita tidak perlu pesimis dan apatis. Justru di sinilah peranan kita untuk mengupayakan dan menjaga agar perkawinan benar-benar menjadi pilihan dan panggilan hidup yang bisa dipertanggungjawabkan, baik di hadapan masyarakat maupun di hadapan Tuhan. Berdasarkan kodratnya, perkawinan terarah pada kelahiran anak yang merupakan buah cinta dari suami istri, sekaligus menurunkan kehidupan baru. Oleh karena itu, keluarga kristiani dipanggil untuk menjadi pencinta, perawat, penjaga dan pembela kehidupan. Pasangan suami istri harus mempertahankan kes...selengkapnya »
Seorang pemuda memiliki impian sejak kecil menjadi seorang pengusaha. Untuk mewujudkan impian tersebut, ia menempuh pendidikan sesuai dengan cita-citanya dan telah berhasil menuntaskannya. Bukan itu saja, ia pun dengan tekun belajar dari banyak orang yang telah sukses dalam usaha dan pekerjaan. Setiap hari ia berkonsultasi dan banyak mencari informasi di tempat di mana orang selalu membicarakan kesuksesan. Seminar-seminar pengembangan diri dan bisnis diikutinya. Tidak jarang ia mengumpulkan artikel dan buku-buku tentang kehidupan sukses. Semuanya ia lakukan lantaran hasrat yang tinggi untuk menjadi orang yang berhasil nantinya. Sepanjang hari ia menghabiskan waktunya untuk mencari cara dan formula yang tepat agar maksudnya bisa tercapai. Hari lepas hari ia hanya berpikir dan menulis cara untuk sukses, namun sayang, ia tidak pernah memulai usaha yang dimaukannya. Selalu ada perhitungan yang ia pikirkan, sehingga ia hanya menghitung-hitung saja dan tidak memulai. Hingga pada suatu saat ia bertemu dengan guru sekolahnya. Dalam pembicaraan ia mengatakan kepada gurunya, “Pak, saya mau usaha kok kelihatannya susah, ya?” Gurunya bertanya, “Apa yang sudah kamu kerjakan selama ini?” Kemudian ia membeberkan cerita yang panjang dari hasil petualangannya itu, namun ia tidak menceritakan bagaimana ia memulainya. Kemudia gurunya menasihatinya, “Kamu memang benar, banyak belajar tidaklah salah tetapi jika kamu tidak memulai dengan tindakan, maka tidaklah mungkin kamu akan mencapai apa yang kamu impikan. Berpikir saja tidaklah bisa mendapatkan hasil.” Kemudian ia berkata, ”Maksud saya sih seperti itu, Pak. Tetapi saya takut gagal seperti yang dialami teman-teman dan juga orangtua saya.” Kemudian guru itu berkata, “Anak muda, sampai kapanpun kamu tidak akan berhasil jika kamu hanya berpikir dan takut gagal. Sebab jika kamu takut gagal, maka kamu tidak akan pernah memulai. Kamu hanya berangan-angan saja dalam hidupmu.” Dari cerita ini dapat kita simpulkan bahwa takut gagal dan tidak berani mencoba adalah perbuatan yang konyol yang hanya membuang banyak waktu dan kesempatan. Akibatnya, kita tidak akan pernah melakukan dan mencoba, sehingga kita jauh dari keberhasilan. Allah telah memberikan kepada kita kuasa untuk cakap melakukan segala perkara. Hanya, beranikah kita memulainya? Karena dengan keberanian, kita akan melihat keberhasilan dan sesuatu yang luar biasa. Jangan pernah berhenti untuk mencoba. Jangan bertahan dalam ketakutan karena akan menggagalkan rencana besar yang Tuhan siapkan dalam hidup kita.
Kisah Para Rasul 4:7-21 Ketika sidang itu melihat keberanian Petrus dan Yohanes dan mengetahui, bahwa keduanya orang biasa yang tidak terpelajar, heranlah mereka; dan mereka mengenal keduanya sebagai pengikut Yesus. (ayat 13) Keberanian Petrus dan Yohanes membuat para pemuka agama itu heran. Apa yang membuat mereka berani? Mereka bukan orang-orang terpelajar yang pandai membela diri atau beradu argumentasi. Mereka bukan orang kaya yang punya banyak uang untuk menyewa pengacara atau pembela. Tidak ada pejabat atau orang berpangkat yang melindungi mereka. Mereka orang-orang sederhana yang lemah tak berdaya. Tetapi mengapa mereka bisa menjadi begitu berani? Yang pertama, karena mereka dipenuhi oleh Roh Kudus (ayat 8). Ketika Roh Kudus turun ke atas kita, maka kita akan menerima ’kuasa’ (Kis 1:8). Petrus dan Yohanes berani karena kuasa Roh Kudus menaungi mereka. Kuasa itulah yang menyingkirkan ketakutan dari hati mereka. Jika Roh Kudus memenuhi kita, cirinya adalah kita bebas dari ketakutan. Roh Kudus tidak memberi kita ketakutan, tapi kuasa (2 Tim 1:7). Yang kedua, karena mereka sedang melakukan kebaikan (ayat 9). Mereka sadar betul bahwa yang mereka lakukan adalah kebaikan, yaitu menyembuhkan orang yang sakit lumpuh. Tidak ada alasan untuk mempersalahkan orang yang melakukan kebaikan. Tidak ada hukum yang mempersalahkan orang yang melakukan kebaikan. Itulah sebabnya mereka tidak perlu merasa takut dihakimi oleh mahkamah agama. Yang ketiga, karena mereka punya keyakinan yang kokoh pada Kristus (ayat 12). Mereka dikenal sebagai pengikut Kristus. Menurut para pemuka agama Yahudi mereka adalah orang-orang yang sesat. Tapi mereka yakin betul bahwa mereka ada di jalan yang benar. Mereka yakin betul bahwa keselamatan hanya ada di dalam Kristus. Mereka yakin betul bahwa hanya Nama Yesus yang sanggup memberikan hidup kekal. Di atas semua itu, tentu saja Yesus sendiri yang menjadi Pembela bagi mereka. Kesaksian mereka tentang Nama Yesus tak terbantahkan, karena Yesus membuktikan kebenaran kesaksian mereka itu melalui pernyataan tanda mujizat. Orang sakit disembuhkan. Jemaat Tuhan, jangan malu bersaksi tentang Nama Yesus, karena Dia sendirilah yang akan menjadi Pembela bagi kita. Amin.
Kehidupan bangsa Indonesia yang sekarang tak bisa dipisahkan dari sejarah. Indonesia di masa lalu, kira-kira 3,5 abad bangsa ini ada dalam tekanan penjajah. Rakyat di berbagai daerah mengadakan perlawanan terhadap penjajah, namun tidak mencapai hasil yang maksimal. Sampai akhirnya di tahun 1945 Indonesia memasuki zaman kemerdekaan. Di era Indonesia yang sekarang, tidak bisa dipungkiri masih banyak penyimpangan-penyimpangan yang membuat perjalanan bangsa ini tidak mulus. Sekarang kita akan melihat pengalaman Abram bapa leluhur kita secara rohani. Dia bukanlah seorang negarawan yang punya latar belakang pendidikan tata negara atau kemiliteran. Ketika dipanggil Allah untuk pergi ke tanah perjanjian usianya sudah lanjut. Cerita yang ia dengar tentang Lot yang tertawan membuat inisiatifnya timbul. Ia mengerahkan orang-orang yang ada di rumahnya juga para sahabatnya untuk maju berperang mengalahkan musuh yang tidak sedikit dan tidak main-main kekuatannya. Abram yakin bahwa Allahnya adalah Allah yang luar biasa yang menyertai dan sanggup menjadi pembelanya. Dia juga berjiwa luhur, ia ingin menjadi pengayom untuk yang lemah. Strategi perang tidak dimilikinya, tetapi penyerahan diri kepada Allah serta niat baik itulah yang menjadi modal utamanya memperoleh kemenangan. Yang mengagumkan lagi, Abram menolak semua pemberian raja Sodom yang ditawarkan kepadanya. Kepentingan pribadi tidak ia dahulukan, bahkan ia memberikan sepersepuluh harta hasil jarahannya kepada raja Salem sebagai ucapan syukurnya kepada Tuhan yang memimpinnya mengalahkan Kedorlamoer dan sekutunya. Berapa di antara kita, anak-anak bangsa, yang mempunyai jiwa seperti Abram. Meskipun sebagai orang Kristen kita adalah golongan minoritas di negeri ini, tetapi apakah kita memiliki jiwa serta kiprah seperti Abram yang bersedia berkorban bagi yang lemah dan mengayomi mereka. Apakah kita juga bersikap pantang menyerah untuk membela kebenaran dan terus percaya bahwa Allah ada di pihak kita serta mampu menolong kita. Satu hal lagi, ketika kita mengalami keberhasilan dalam perjuangan kita membela yang lemah, apakah kita tetap rendah hati dan tidak mengambil keuntungan pribadi?
Apakah Saudara pernah mengenal “Super Penyet”? Di sana disajikan menu makanan seperti bebek goreng, ayam goreng, dsb. Tentunya makan di sana rasanya enak sekali apalagi kalau rasa ’bayar’ (alias gratis). Namun pada awal bulan Juli 2014 saya mengalami rasa “super takut” yang kesekian kali. Rasa ketakutan yang diikuti tidur kurang nyenyak, selera makan berkurang dan daya tahan tubuh menurun. Bukan karena takut hantu di malam hari atau dikejar tagihan kredit, namun karena pengurusan dokumen yang bermasalah. Ada seorang dosen dari Republik Korea yang dokumen imigrasinya akan segera habis tanggal 31 Juli 2014 dan pengurusan terakhir tanggal 25 Juli. Lebih menegangkan lagi pilihannya: keluar dari negara Indonesia atau denda per hari sebesar 300 ribu rupiah kalau pengurusan dilanjutkan (padahal proses pengurusan bisa butuh waktu 30 hari, jadi total denda sekitar 9 juta rupiah). Di sini tanggung jawab dan kepercayaan yang diberikan kepada saya dipertaruhkan. Mari membaca dan merenungkan dalam perikop Injil Lukas 22:39-46. Bukankan Tuhan Yesus juga pernah mengalami hal demikian. Dalam ayat ke-44a dicatat: ”Ia sangat ketakutan dan makin bersungguh-sungguh berdoa”. Tuhan Yesus telah memberi keteladanan dalam menghadapi ketakutan dengan berdoa. Karena di dalam doa ada pertolongan di mana malaikat dari langit telah memberikan kekuatan kepada-Nya. Ora et Labora, berdoa dan bekerja. Dalam pekerjaan berat, saya berdoa kepada Tuhan Yesus, doa semalam suntuk hingga dini hari di tempat doa Goa Kereb - Ambarawa. Dan di tengah malam bersama istri berdoa menangis kepada Tuhan. Puji Tuhan persyaratan dokumen bisa terlengkapi dan pengurusan dokumen selesai tepat waktu tanggal 25 Juli 2014. Bagaimana dengan pergumulan Saudara? Mari menjalani kehidupan yang seringkali dipenuhi ketakutan bersama dengan Bapa di Sorga karena Dia sejauh doa. Amin.
BARCODE BBM CHANNELS
RENUNGAN HARIAN
Kasih Sejati
21 Agustus '14
Jangan Takut
30 Agustus '14
Keluarga Allah
14 September '14
Copyright © 2012 All rights reserved. Designed and Developed by GIA Dr. Cipto Semarang