SEPEKAN TERAKHIR
  Selasa, 02 September 2014   -HARI INI-
  Senin, 01 September 2014
  Minggu, 31 Agustus 2014
  Sabtu, 30 Agustus 2014
  Jumat, 29 Agustus 2014
  Kamis, 28 Agustus 2014
  Rabu, 27 Agustus 2014
POKOK RENUNGAN
Keluarga menjadi hidup jika di dalamnya ada kasih dan keterbukaan untuk saling membangun.
DITULIS OLEH
Bpk. Andreas T. Loso
Kontributor
Renungan Lain oleh Penulis:
Home  »  Renungan  »  Membangun Pernikahan Dengan Nilai - Nilai Kerajaan Allah
Membangun Pernikahan Dengan Nilai - Nilai Kerajaan Allah
Kamis, 06 Juni 2013 | Tema: Keluarga Yang Mengutamakan Kerajaan Allah
Membangun Pernikahan Dengan Nilai - Nilai Kerajaan Allah
Kolose 3:18-21
Mary Pipher, dalam bukunya The Shelter of Each Other, memberi nasihat tentang membangun kembali keluarga-keluarga yang bermasalah. Ia menyelidiki bagaimana anak-anak zaman sekarang terkadang terlalu sering menonton televisi dan bermain video game, sehingga mengabaikan pendidikan informal yang diterima dari kerabat mereka.
Ia mencontohkan pertemuan keluarga di mana anak-anak menonton video di ruang belakang sehingga para orang dewasa dapat berbicara tanpa diganggu. Dr. Pipher berpendapat bahwa hiburan semacam ini sesungguhnya merampas sesuatu yang berharga dari anak-anak. Anak-anak perlu bergaul dengan generasi yang lebih tua sehingga mereka dapat mendengar cerita-cerita tentang bibi, paman, kakek-nenek, dan orangtua. Ini membantu mereka belajar dari orang-orang yang telah mendahului mereka.

Meskipun di sekitar kita sering terjadi kasus-kasus pengingkaran dan penyelewenangan perkawinan, bahkan berujung pada perceraian, kita tidak perlu pesimis dan apatis. Justru di sinilah peranan kita untuk mengupayakan dan menjaga agar perkawinan benar-benar menjadi pilihan dan panggilan hidup yang bisa dipertanggungjawabkan, baik di hadapan masyarakat maupun di hadapan Tuhan. Berdasarkan kodratnya, perkawinan terarah pada kelahiran anak yang merupakan buah cinta dari suami istri, sekaligus menurunkan kehidupan baru. Oleh karena itu, keluarga kristiani dipanggil untuk menjadi pencinta, perawat, penjaga dan pembela kehidupan. Pasangan suami istri harus mempertahankan kes...selengkapnya »
Hobi yang paling saya gemari pada masa kecil adalah berenang. Karena masa kecil saya tidak tumbuh di daerah perkotaan, maka tempat menyalurkan hobi saya bukan di water blaster, Jatim Park ataupun di kolam renang hotel berbintang yang mewah. Bersama teman-teman, biasanya saya renang di sungai, telaga, bahkan di pantai. Walaupun sejak kecil saya seorang perenang, namun ada satu kejanggalan yang saya alami saat berenang, yaitu saya sangat takut dengan kedalaman sungai ataupun pantai yang tidak dapat ditembus oleh penglihatan. Biasanya kalau dalam, warna air akan berubah menjadi kebiru-biruan. Dalam ‘ketakutan yang buta’ (asumsi negatif), saya diperhadapkan dengan dua plihan. Saya akan pergi dan meninggalkan kedalaman air yang menakutkan atau saya akan menyelidiki kedalaman air tersebut dan menemukan bahwa dikedalaman air itu sebenarnya tidak ada apa-apa yang dapat membahayakan hidup saya. Biasanya saya memutuskan untuk memilih yang kedua, yaitu menyelidiki kedalaman air itu. Dah hasilnya setelah saya memastikan bahwa di kedalaman air itu tidak ada yang membahayakan diri saya, saya dapat berenang dengan bebas, leluasa dan tanpa dihantui rasa takut. Jemaat yang terkasih, kadangkala ketakutan sering menghantui kita baik dalam pelayanan, pekerjaan, keluarga, masa depan, sekolah, dan lain-lain. Namun tidak benar jika kita memandang ketakutan yang muncul dalam diri kita selalu berkecenderungan negatif sehingga kita segera berdoa supaya Tuhan menjauhkan kita dari rasa takut yang selalu menghantui kita. Ketakutan dapat dipandang secara positif jika kita dapat berpikir dengan bijak untuk mencari sumber ketakutan kita, sehingga kita dapat menentukan pilihan untuk mengatasi ketakutan itu. Misalnya, jika seorang anak sekolah takut tidak lulus ujian sekolah, maka pilihan tepat yang harus ia ambil adalah belajar dengan sungguh. Sebagai orang dewasa yang takut gagal dalam hidup, kita dapat menata hidup kita sejak saat kita sadar akan ketakutan itu. Contohnya, menjalani dan menyelesaikan studi dengan baik, mengatur menejemen keuangan dengan baik, bergaul dengan orang yang baik, mencari pasangan hidup yang baik, dll. Semua adalah pilihan yang harus kita tentukan. Sejak awal kita diciptakan-Nya, kita didesain menjadi orang yang berhasil (serupa dengan Allah berarti sangat baik- sempurna). Bahkan ketika kita hidup di bawah bayang-bayang dosa keturunanpun, Tuhan tetap memberikan Roh-Nya yang membuat kita menjadi berani dan tidak hidup dalam ‘ketakutan yang buta’ (Roma 8:15). Oleh karena itu jangan takut dengan asumsi negatif kita, melainkan pilihlah jalan yang dapat memberanikan dan membangun diri kita.
Ketika mengandung putri yang pertama, angan-angan saya dipenuhi gambaran yang sangat indah tentang hubungan yang manis antara saya dan anak ini kelak. Saya bertekad untukmengasuhnya sendiri dan menjadi ibu yang terbaik. Hubungan kami pasti akan sangat menyenangkan. Setelah bayi mungil ini lahir mulailah saya berhadapan dengan kenyataannya yang tak sesederhana angan-angan semula. Saat mulai mendapat asupan makanan padat, kadangkala ia menolak untuk makan dan lebih suka bermain-main saja. Di lain waktu ia memuntahkan makanan yang dengan susah payah dibuatkan khusus untuknya dan dengan penuh perjuangan disuapkan selama lebih dari satu jam. Di saat-saat seperti itu saya bisa saja memilih untuk menuruti keinginannya agar ia tetap senang. Namun saya tidak melakukannya. Saya memilih untuk tidak membiarkan perutnya kosong. Meskipun dengan begitu ia akan marah dan menangis. Memasuki usia sekolah pun punya kesulitan sendiri. Mengajarnya untuk hidup teratur dan bertatakrama tak semudah teori. Akan lebih mudah bila saya membiarkannya melakukan apa yang diinginkannya dengan cara sesukanya. Tetapi saya tidak melakukannya. Saya memilih untuk tetap mengarahkannya. Meskipun dengan begitu ia akan ngambek dan marah-marah. Memasuki pertengahan masa remaja, lebih mudah untuk memberinya pengertian. Lebih mudah untuk mengajaknya berbicara dari hati ke hati. Kami menikmati hubungan yang sehat. Memang tidak seperti yang saya angan-angankan dahulu, tetapi ini lebih baik. Ada kalanya kami bercanda. Ada kalanya bercerita. Ada kalanya berdebat. Ada kalanya sebatas berdiskusi. Bahkan kini bukan hanya saya yang menegurnya bila perlu, ia pun kadang melakukan hal yang sama. Semuanya kami lakukan demi kebaikan bersama. Lebih baik menegur demi kebaikan daripada membiarkan namun menjerumuskan.
Hampir 8 tahun saya terjerembab dalam dosa tidak bisa mengampuni. Selama itu saya merasakan kehilangan sukacita sejati. Apa yang saya gumulkan di hadapan Tuhan seperti berhenti di tengah jalan. Selama itu pula saya tidak pernah menemukan penyebab mengapa hidup saya terasa tidak menemukan berkat Allah. Dosa ini dimulai ketika saya sekeluarga di usir oleh kakak ipar dari rumah yang kami bangun, sedang kami tidak tahu permasalahnnya. Saya dendam kepadanya karena saya merasa rumah itu dibangun juga dengan hasil keringat saya dan kakak tidak membantu sama sekali. Kami sekeluarga pergi meninggalkan rumah itu tanpa keluar kata apapun, tetapi amarah dan dendam mendera hati ini. Selama itu saya tidak pernah tegur sapa walaupun bertemu. Tetapi selama itu pula hidup kami, walaupun melayani Tuhan, tetap tidak menemukan damai sejahtera Allah. Kami merasakan hidup ini selalu kurang dalam segala hal. Puji Tuhan, melalui 1 Yohanes 4:20 yang mengatakan, ”Jikalau seorang berkata: ‘Aku mengasihi Allah,’ dan ia membenci saudaranya, maka ia adalah pendusta, karena barangsiapa tidak mengasihi saudaranya yang dilihatnya, tidak mungkin mengasihi Allah yang tidak dilihatnya.” Saya diingatkan begitu jelas sekali dosa kesalahan saya sehingga mengalami kemerosotan rohani yang mengakibatkan kehilangan berkat Allah. Dua tahun lalu saya menemui kakak ipar, saya minta maaf dan saya mengasihi mereka, Dan luar biasa damai yang telah hilang itu kembali, bahkan berkat-berkat Allah yang selama ini tersumbat mengalir deras. AKU BISA MENGAMPUNI mereka yang telah menyakitiku, itulah kunci pemulihan pada diri saya. Beban yang saya pikul terasa terhempas begitu saja setelah pengampunan dan kasih itu saya lakukan. Sebagai seorang yang mengakui bahwa Yesus adalah Tuhan dan Juruselamat, sudah seharusnya sifat mau mengampuni menjadi gaya hidup kita. Mengapa harus mengampuni? Pertama, supaya Iblis tidak mengambil keuntungan dari kita dan kita bebas dari hal-hal yang merugikan kita (2 Korintus 2:10-11). Kedua, Bapa di Surga akan mengampuni kita juga, jika kita mau melepaskan pengampunan kepada orang lain (Matius 6:15). Marilah kita belajar mengampuni karena Allah lebih dulu mengampuni kita.
Suatu hari saya membaca sebuah artikel dan melihat foto-foto tentang operasi plastik. Bersama teman-teman, kami menertawakan gambar dari beberapa ibu dan gadis-gadis yang telah menjalani operasi plastik tersebut. Kami tertawa karena orang dalam foto tersebut yang awalnya ‘tidak enak dilihat’ berubah jadi ‘enak dilihat’. Wajah yang sudah tua dan keriput disulap menjadi muda dan cantik kembali. Sungguh sangat menggelikan membandingkan wajah asli yang semula hidungnya pesek dan sekarang menjadi mancung seperti hidung Madona. Dalam artikel tersebut, sebuah komentar mengungkapkan bahwa keinginan utama yang mendorong mereka melakukan operasi plastik adalah ketakutan mereka pada ‘ketuaan’ yang kemudian membawa dampak pada kurangnya kepercayaan diri pada seseorang. Sebenarnya operasi plastik yang dilakukan untuk merawat tubuh dan mendandani tubuh yang Tuhan sudah berikan kepada kita sebagai bentuk rasa syukur kita, itu tidak salah. Tetapi operasi plastik yang dilakukan karena ketakutan-ketakutan pada ketuaan, ketakutan pada perubahan fisik yang memang pasti akan terjadi dalam tubuh kita, dan ketidakpuasan fisik yang Tuhan berikan, serta rasa iri hati terhadap kelebihan-kelebihan fisik yang dimiliki orang lain, itu yang tidak dibenarkan dalam Alkitab. Karena secara otomatis ketakutan-ketakutan tersebut akan menguras seluruh energi, keuangan, dan menjadikan kita jauh dari ucapan syukur. Perubahan fisik, tua, keriput, rambut putih, ompong, lemah, dan lain sebagainya, mengapa harus ditakuti? Bukankah kita semua pasti akan mengalaminya? 2 Korintus 4:16 berkata: “Tetapi meskipun manusia lahiriah kami semakin merosot,...” Artinya, baik usia, bentuk tubuh, wajah, hidung dan semua yang ada dalam tubuh kita ada batas waktu tertentu yang tidak dapat kita hindari. Kitab Mazmur lebih tegas berkata bahwa batas usia kita pun sudah ditentukan oleh Tuhan (Mazmur 90:10). “Masa hidup kami tujuh puluh tahun, dan jika kami kuat delapan puluh tahun,...”. Jadi, mari kita merawat tubuh kita dengan baik dan penuh ucapan syukur. Semua hal yang pasti akan terjadi dalam hidup kita di kemudian hari jangan sampai membuat kita takut, apalagi sampai mengurangi rasa percaya diri dan ucapan syukur kita pada Tuhan.
BARCODE BBM CHANNELS
RENUNGAN HARIAN
Pengalaman Pribadi Menumbuhkan Kepercayaan
26 Agustus '14
Super Penyet Dan Super Takut
22 Agustus '14
Mengasihi Tanpa Rasa Takut
03 Agustus '14
Copyright © 2012 All rights reserved. Designed and Developed by GIA Dr. Cipto Semarang