SEPEKAN TERAKHIR
  Sabtu, 21 Januari 2017   -HARI INI-
  Jumat, 20 Januari 2017
  Kamis, 19 Januari 2017
  Rabu, 18 Januari 2017
  Selasa, 17 Januari 2017
  Senin, 16 Januari 2017
  Minggu, 15 Januari 2017
POKOK RENUNGAN
Keluarga menjadi hidup jika di dalamnya ada kasih dan keterbukaan untuk saling membangun.
DITULIS OLEH
Bp. Andreas T. Loso
Rohaniwan Pusat
Renungan Lain oleh Penulis:
Home  »  Renungan  »  Membangun Pernikahan Dengan Nilai - Nilai Kerajaan Allah
Membangun Pernikahan Dengan Nilai - Nilai Kerajaan Allah
Kamis, 06 Juni 2013 | Tema: Keluarga Yang Mengutamakan Kerajaan Allah
Membangun Pernikahan Dengan Nilai - Nilai Kerajaan Allah
Kolose 3:18-21
Mary Pipher, dalam bukunya The Shelter of Each Other, memberi nasihat tentang membangun kembali keluarga-keluarga yang bermasalah. Ia menyelidiki bagaimana anak-anak zaman sekarang terkadang terlalu sering menonton televisi dan bermain video game, sehingga mengabaikan pendidikan informal yang diterima dari kerabat mereka.
Ia mencontohkan pertemuan keluarga di mana anak-anak menonton video di ruang belakang sehingga para orang dewasa dapat berbicara tanpa diganggu. Dr. Pipher berpendapat bahwa hiburan semacam ini sesungguhnya merampas sesuatu yang berharga dari anak-anak. Anak-anak perlu bergaul dengan generasi yang lebih tua sehingga mereka dapat mendengar cerita-cerita tentang bibi, paman, kakek-nenek, dan orangtua. Ini membantu mereka belajar dari orang-orang yang telah mendah...selengkapnya »
Hari-hari ini adalah hari-hari yang dinanti-nantikan oleh penduduk negeri. Pengadilan kasus sang gubernur telah dilaksanakan. Banyak pasang mata menonton di layar TV. Menanti apa yang akan terjadi. Tanpa pernah menduga sang gubernur menangis ketika membacakan nota keberatannya. Sebuah ekspresi biasa dari seorang manusia yang terharu, sedih atau prihatin. Namun dalam hal ini tangisan sang gubernur menjadi tidak biasa lagi. Berbagai perasaan dan prasangka muncul dalam benak pemirsa. Diikuti dengan berbagai komentar meluncur deras dari mulut. “Kasihan sang gubernur,” kata seseorang. “Sang gubernur yang selama ini garang, ternyata lembut hatinya,” kata yang lainnya. “Sang gubernur sedang main acting,” kata orang yang lainnya lagi. Tampaknya gawe hukum yang banyak menjadi sorotan publik ini serta komentar-komentar yang mengiringinya mengalahkan perhatian pada tangisan anak negeri di ujung Sumatera yang baru saja dihantam gempa berkekuatan tinggi. Tidak hanya menyisakan reruntuhan bangunan dan kerugian harta benda tetapi juga nyawa dari orangtua, anak, keluarga, atau sahabat yang dicintai. Sebagian orang berpendapat bahwa gempa ini adalah hukuman Tuhan. Tapi bagi sebagian orang lain ini adalah fenomena bencana alam biasa yang tidak perlu dikaitkan dengan hukuman. Manakah pendapat atau komentar yang paling benar? Tidak ada yang dapat memastikannya. Sang pemuda sebatangkara punya pendapatnya sendiri. Ia tidak terlalu mempermasalahkan apakah tangisan sang gubernur hanyalah air mata buaya atau sungguh tangisan keprihatinan? Apakah tangisan rakyat di Serambi Mekah adalah tangisan hukuman Tuhan atau bukan? Yang jelas ada tangisan. Tangisan dari orang yang dilanda musibah yang tidak pernah ia harapkan. Dalam doanya pemuda sebatangkara menyerahkan tangisan-tangisan itu pada TUHAN, satu-satunya Hakim Yang Adil. Ia berharap tangisan sang gubernur maupun tangisan rakyat Pidie Jaya adalah tangisan yang murni. Tangisan anak-anak manusia yang rindu perasan dan cucuran air matanya didengar dan ditampung oleh TUHAN dalam kirbat-Nya. Tangisan yang memanggil kita untuk juga menangis bersama-sama mereka. Dalam pada itu tangisan sang gubernur dan tangisan rakyat menjadi tangisan KITA. Dan seperti biasa “Sttt…..tt.. jangan bilang siapa-siapa ya?” kata pemuda sebatangkara menutup penuturannya. Jemaat yang terkasih, bukankah kita pernah menangis? Menangis sedih karena kegagalan kita. Menangis karena penyesalan dosa. Menangis karena difitnah. Bahkan menangis karena haru bahagia. Maka beranilah untuk menangis. Sebab sebagaimana TUHAN menerima kebahagiaan kita, pasti DIA menerima tangisan kita juga. Dan pada waktu-Nya akan mengubah tangisan kita menjadi tari-tarian sukacita. Akhirnya, selamat menanti-nantikan TUHAN dengan tawa dan tetes air mata yang tulus murni.
Ketika ibu saya masih usaha jual beli ayam, kebetulan mendapat seekor ayam yang baru bertelor. Ayam dagangan itu tidak langsung di jual oleh ibu, tetapi diternakkan dulu agar ayamnya bertelor dan bertambah banyak. Ide tersebut sangat tepat, selama 40 hari ayam itu bertelur 30 biji. Dan tiba saatnya ayam itu akan mengerami telor-telornya. Sebanyak 20 telur dieraminya sampai menetas. Setelah 25 hari, ayam-ayam kecil pun bermunculan. Namun di hari-hari akhir ada 2 telor yang tidak kunjung menetas. Ibu berpesan agar tidak menggangu apalagi membuka paksa cangkang telur sampai anak ayam itu menetas dan keluar sendiri. Hati dan mata saya mulai penasaran. Mengapa tidak segera keluar anak ayam itu, sedang yang lainnya malah sudah ada yang keluar dari tarangnya. Maka tanpa sepengetahuan ibu, diam-diam saya membuka telor ayam yang sudah sedikit terbuka dan mualai bergerak-gerak. Eh, ternyata ayam itu sudah bisa bergerak, maka saya mengeluarkannya dari cangkang telor yang saya pecahkan itu. Akibatnya anak ayam itu prematur, kakinya tidak kuat menahan berdiri, paruhnya masih lembek. Dan pada hari ke lima, anak ayam itu mati. Tetapi anak ayam yang kuat memecahkan cangkang dan keluar sendiri, semuanya sehat dan menjadi besar. Niat baik saya menolong anak ayam keluar dari cangkangnya ternyata sudah menghilangkan proses perjuangan anak ayam tersebut untuk keluar dari cangkangnya. Padahal proses perjuangan itu yg seharusnya dilewati agar tubuhnya menjadi kuat seperti kaki, sayap, dan paruhnya berkembang sempurna. Cerita di atas menggambarkan manusia pada umumnya selalu berusaha menghindari perjuangan dengan usaha keras untuk mencapai sesuatu. Kebanyakan orang selalu ingin cara-cara mudah dan instant untuk mencapai sesuatu. Itu sebabnya banyak orang tidak kuat menghadapi perjuangan berat dan kenyataan hidup yang semakin sulit. Mudah menyerah dan pasrah. Itulah ciri-ciri betapa lemahnya mentalitas manusia jika tanpa penyertaan Roh Tuhan dalam hidupnya. Jadi jika hari ini Anda menghadapi persoalan besar, masalah yang sulit, perjuangan hidup yg berat, tantangan kerja yang berat, hadapi dan berusahalah sekuat tenaga untuk mengatasinya karena semua itu akan membuat kita menjadi semakin kuat. Dan minta hikmat, Roh Kudus menolong dalam setiap pergumulan hidup. Ingatlah perkataan nats dalam Roma 5:3-5, “Dan bukan hanya itu saja. Kita malah bermegah juga dalam kesengsaraan kita, karena kita tahu, bahwa kesengsaraan itu menimbulkan ketekunan, dan ketekunan menimbulkan tahan uji dan tahan uji menimbulkan pengharapan. Dan pengharapan tidak mengecewakan, karena kasih Allah telah dicurahkan di dalam hati kita oleh Roh Kudus yang telah dikaruniakan kepada kita.”
Menjadi dan menjadikan murid Kristus Matius 28:19-20 Karena itu pergilah, jadikanlah semua bangsa murid-Ku dan baptislah mereka dalam nama Bapa dan Anak dan Roh Kudus, dan ajarlah mereka melakukan segala sesuatu yang telah Kuperintahkan kepadamu. Dan ketahuilah, Aku menyertai kamu senantiasa sampai kepada akhir zaman.’ Ini disebut Amanat Agung, perintah terbesar. Yesus menyampaikan pesan ini kepada murid-murid-Nya sebelum naik ke surga. Kita harus taat kepada perintah itu. Kalau kita ingin mendapat penyertaan Tuhan, kita harus taat pada Amanat Agung itu. Pergi Kita bisa menjadi orang percaya karena ada orang-orang yang pergi dari negerinya, untuk memberitakan Kristus kepada kita. Kita tidak harus pergi ke negara lain. Kita bisa pergi kepada teman kita, atau bahkan kepada anggota keluarga kita yang ada di rumah kita sendiri. Inti dari perintah ini adalah: tinggalkan zona nyamanmu, milikilah kepedulian pada keselamatan jiwa-jiwa. Kita bisa mendoakan mereka yang belum percaya. Jadikan mereka murid Kristus Perintah Kristus adalah untuk menjadikan mereka murid-murid-Nya, bukan menjadikan mereka orang Kristen. Menjadi orang Kristen hanya menyangkut soal agamanya. Tetapi menjadi murid Kristus artinya menyerahkan hidupnya secara total untuk mengikut Kristus dan belajar untuk hidup seperti Kristus telah hidup. Murid Kristus adalah orang yang: - Mengalami Tuhan Kekristenan adalah pengalaman dengan Tuhan. Bukan teori, bukan sekedar doktrin, meskipun ada doktrinnya. Kekristenan adalah pengalaman dengan sesuatu yang riil. Tuhan itu riil. Dia nyata, Dia hadir. Mengalami Tuhan berarti mengalami kasih, kehadiran, anugrah, berkat, pertolongan, mujizatNya. - Bertumbuh dalam iman Kekristenan itu hidup, progresif, dinamis, makin bertambah maju. Bukan pengalaman yang statis, mandeg. Bukan maju selangkah lalu mundur lagi. Bukan juga timbul lalu tenggelam lagi. Menjadi murid Kristus yang benar itu bertumbuh. Bertumbuh itu makin kuat, makin dewasa, makin kaya dengan pengalaman bersama Tuhan. - Berdampak pada sesama Gaya hidup murid Kristus pasti menular. Kalau di dalam diri saudara ada virus, pasti menular. Kebiasaan yang buruk pun biasanya menular. Kalau hal-hal yang jelek biasa dan gampang ditularkan, seharusnya hal-hal yang baik itu ditularkan kepada orang lain. Tugas kita sebagai murid Kristus adalah menularkan virus kebaikan, virus kebenaran, virus pengharapan. Pdt. Goenawan Susanto
Biasanya seorang tokoh atau guru akan senang bila memiliki banyak pengikut, apalagi di bidang politik. Banyaknya pengikut akan menunjang kariernya sehingga berpeluang menjadi seorang pemimpin atau pejabat. Saat melayani, Tuhan Yesus selalu diikuti oleh banyak orang, tetapi Ia tahu bahwa mereka tidak semua memiliki komitmen untuk mengikut-Nya. Oleh karena itu Yesus mengatakan, jika mereka tidak membenci [lebih mengasihi] anggota keluarganya bahkan dirinya sendiri, mereka tidak dapat menjadi murid-Nya [ayat 26]. Ucapan yang membingungkan itu langsung diberi penjelasan dengan dua buah gambaran. Pertama, tentang mendirikan menara dan memperhitungkan biayanya [ayat 28]. Kedua, dalam hal berperang perlu mempertimbangkan kekuatan lawan sehingga tidak mengalami kekalahan [ayat 31]. Segera setelah Yesus memberi dua gambaran tersebut, Ia membuat semacam kesimpulan: “Demikian pulalah tiap-tiap orang di antara kamu yang tidak melepaskan dirinya dari segala miliknya tidak dapat menjadi murid-Ku” [ayat 33]. Dari kedua gambaran dan kesimpulan tersebut menguak maksud ucapan Yesus, yaitu ada resiko, harga atau konsekuensi jika menjadi murid Yesus. Menjadi murid Yesus berarti mengikatkan diri kepada Yesus, Dialah yang harus menjadi paling utama dan tidak yang lain bahkan keluarga. Hanya jika Yesus menjadi prioritas utama dalam hidup seorang barulah ia dapat menjadi murid-Nya. Itulah sebabnya mereka harus berpikir matang karena dibutuhkan keseriusan dan komitmen sebab mengikut Yesus bukan hanya untuk masalah sekarang, namun mencakup hidup yang akan datang. Oleh karena itu dibutuhkan kesungguhan hati. Jangan maju berperang bila tidak yakin akan menang. Mengikut Yesus memiliki konsekuensi membuat keputusan yang berbeda dengan dunia, Mungkin keluarga akan memusuhi kita, mungkin kita dikucilkan di dalam lingkungan atau kita akan mengalami kerugian dari kejujuran kita. Ikut Yesus berarti juga memikul salib dan mematikan ke-aku-an dan keinginan pribadi [ayat 27]. Tidak boleh disertai motivasi untuk meraup keuntungan atau sukses ini-itu, justru sebaliknya, yaitu bersedia menanggung konsekuensi-konsekuensi yang muncul di sepanjang perjalanan [ayat 23] dan belajar menempatkan keinginan-keinginan kita di bawah keinginan Tuhan. Seperti juga doa Yesus: “Bukanlah kehendak-Ku melainkan Kehendak-Mu yang terjadi“ [Lukas 22:42]. Hanya mereka yang setia dan bijaksana dalam iman, dialah murid Yesus.
BARCODE BBM CHANNELS
RENUNGAN HARIAN
Kebenaran
04 Januari '17
Persiapan Maksimal
27 Desember '16
Persiapkan KedatanganNya
28 Desember '16
Copyright © 2012 All rights reserved. Designed and Developed by GIA Dr. Cipto Semarang