SEPEKAN TERAKHIR
  Minggu, 20 April 2014   -HARI INI-
  Sabtu, 19 April 2014
  Jumat, 18 April 2014
  Kamis, 17 April 2014
  Rabu, 16 April 2014
  Selasa, 15 April 2014
  Senin, 14 April 2014
POKOK RENUNGAN
Keluarga menjadi hidup jika di dalamnya ada kasih dan keterbukaan untuk saling membangun.
DITULIS OLEH
Bpk. Andreas T. Loso
Kontributor
Renungan Lain oleh Penulis:
Home  »  Renungan  »  Membangun Pernikahan Dengan Nilai - Nilai Kerajaan Allah
Membangun Pernikahan Dengan Nilai - Nilai Kerajaan Allah
Kamis, 06 Juni 2013 | Tema: Keluarga Yang Mengutamakan Kerajaan Allah
Membangun Pernikahan Dengan Nilai - Nilai Kerajaan Allah
Kolose 3:18-21
Mary Pipher, dalam bukunya The Shelter of Each Other, memberi nasihat tentang membangun kembali keluarga-keluarga yang bermasalah. Ia menyelidiki bagaimana anak-anak zaman sekarang terkadang terlalu sering menonton televisi dan bermain video game, sehingga mengabaikan pendidikan informal yang diterima dari kerabat mereka.
Ia mencontohkan pertemuan keluarga di mana anak-anak menonton video di ruang belakang sehingga para orang dewasa dapat berbicara tanpa diganggu. Dr. Pipher berpendapat bahwa hiburan semacam ini sesungguhnya merampas sesuatu yang berharga dari anak-anak. Anak-anak perlu bergaul dengan generasi yang lebih tua sehingga mereka dapat mendengar cerita-cerita tentang bibi, paman, kakek-nenek, dan orangtua. Ini membantu mereka belajar dari orang-orang yang telah mendahului mereka.

Meskipun di sekitar kita sering terjadi kasus-kasus pengingkaran dan penyelewenangan perkawinan, bahkan berujung pada perceraian, kita tidak perlu pesimis dan apatis. Justru di sinilah peranan kita untuk mengupayakan dan menjaga agar perkawinan benar-benar menjadi pilihan dan panggilan hidup yang bisa dipertanggungjawabkan, baik di hadapan masyarakat maupun di hadapan Tuhan. Berdasarkan kodratnya, perkawinan terarah pada kelahiran anak yang merupakan buah cinta dari suami istri, sekaligus menurunkan kehidupan baru. Oleh karena itu, keluarga kristiani dipanggil untuk menjadi pencinta, perawat, penjaga dan pembela kehidupan. Pasangan suami istri harus mempertahankan kes...selengkapnya »
Saat saya berkunjung ke sebuah persekutuan doa di SICC Sentul tahun 2012, saya cukup kaget dan keheranan melihat banyaknya pendoa syafaat yang mendukung pekerjaan Tuhan dalam pelayanan Pdt. Ir. Niko Nyotoraharjo. Mereka dengan tekun, sehati, berdoa syafaat mendoakan pekerjaan Tuhan dalam pelayanan Healing Movement. Di sini kita dapat melihat bahwa pelayanan Pdt. Ir. Niko Nyotoraharjo yang begitu dahsyat ternyata tidak dilakukan seorang diri, tetapi ada 12.000 pendoa syafaat yang mendukungnya di belakang layar. Kadang setiap orang menganggap bahwa melayani sebagai pendoa syafaat gereja merupakan pelayanan yang sangat kecil bahkan lebih rendah dibandingkan dengan pelayanan yang lain karena tidak kelihatan (waktu ibadah di ruang doa). Mereka menganggap bahwa pelayanan yang sesungguhnya ya menjadi worship seader, Singer, pemain musik, dancer, tamborine, dan yang paling tinggi adalah pengkotbah karena mereka adalah pelayan-pelayan yang berperan penting dan terlihat di atas altar. Oleh karena itu sangat jarang anggota jemaat yang masih produktif muda mau menjadi pendoa syafaat. Alhasih, pendoa syafaat gereja hanya dipenuhi oleh jemaat-jemaat yang sudah tua, dan kebanyakan wanita. Jika kita melihat pelayanan Rasul Paulus secara keseluruhan, ternyata pandangan yang saya kemukakan di atas itu keliru. Hamba Tuhan ‘sehebat’ Paulus ternyata tetap memohon bantuan agar jemaat yang dilayaninya terus mendoakan pelayanan Paulus (Kolose 4:3). Paulus menyadari tanpa pertolongan Tuhan melalui doa-doa yang dinaikan jemaat, pelayanannya tidak akan berjalan dengan baik. Pdt. Ir. Niko sadar betul bahwa pendoa syafaat merupakan pondasi dari sebuah pelayanan. Tanpa pondasi yang kuat, sebuah bangunan akan menjadi rapuh. Oleh karena itu Pdt. Ir. Niko membentuk Persekutuan Pendoa Syafaat yang cukup banyak dalam jajaran pelayanannya. Pendoa syafaat merupakan pelayanan yang sangat mulia. Mereka tidak diprioritaskan dalam seksi-seksi, tidak pernah dipuji, tidak pernah terlihat, bahkan mungkin di balik tembok belakang mimbar saat ibadah. Namun siapakah yang menjadi penyambung lidah jemaat saat Pendeta berkotbah, mendoakan kelangsung ibadah, mendoakan jemaat yang sakit, bergumul bagi bangsa dan negara, dan lain-lain? Mereka adalah para pendoa syafaat, orang-orang yang melayani di belakang layar.
Pada masa-masa awal bergulirnya liga utama permainan bisbol yang sangat digemari di Amerika Serikat, liga itu didominasi oleh para pemain kulit putih yang dipuja-puja oleh penggemar mereka. Jackie Robinson adalah pemain kulit hitam pertama yang berhasil menembus persaingan ketat untuk masuk ke dalam jajaran tim bisbol liga utama. Namun ia tak bisa berlama-lama bergembira atas pencapaiannya sebab para penggemar bisbol yang terkenal sangat rasis tak pernah melewatkan satu kesempatan pun untuk memojokkannya. Ketika ia dan rekan-rekannya sedang bertanding melawan tim tamu yang bertandang ke markas mereka di Brooklyn, tanpa sengaja Jackie Robinson melakukan sebuah kesalahan yang serta merta disambut oleh fans dengan teriakan-teriakan yang melecehkan dan menghinanya. Jackie begitu terpukul sehingga dia hanya diam terpaku di tengah derasnya cemooh yang seolah tak ada hentinya. Ketika ia berpikir bahwa karirnya berakhir sampai di situ, ia merasakan sebuah lengan yang kokoh melingkari bahunya. Sesosok tubuh berdiri di sampingnya. Menemaninya menghadapi fans yang meneriakinya dengan brutal. Sosok itu adalah rekan satu tim yang merupakan bintang lapangan mereka. Para fans langsung terdiam. Segenap penjuru hening. Pembelaan dari sang bintang lapangan telah menyelamatkan karir Jackie. Menjalani kehidupan sebagai pengikut Kristus yang sungguh-sungguh, kita sering dianggap berbeda dengan orang-orang kebanyakan. Hal itu sering memicu cemooh atas segala sesuatu yang kita ucapkan dan lakukan. Jangankan ketika kita tanpa sengaja melakukan kesalahan, bahkan saat tak melakukan kesalahan pun orang mencari-cari kesalahan kita. Janganlah berkecil hati. Pembela kita tak pernah tidur. Dalam kesulitan seperti apa pun kita tidak akan hancur. Selalu ada jalan. Selalu dimampukan untuk bertahan. Untuk maju. Untuk menang.
Ada sebuah ilustrasi menarik yang menceriterakan sebuah percakapan antara seekor ulat dan daun di mana dikatakan bahwa si ulat minta ijin untuk memakan zat hijau daun yang dimiliki si daun. Dengan senang hati daun mempersilahkan ulat memakan dirinya. Dia berpikir, dengan memberikan sedikit dari tubuhnya untuk makanan si ulat, dia akan tetap hijau. Hanya saja akan kelihatan berlubang-lubang, tetapi itu tidak menjadi masalah. Setelah makan dengan kenyang, ulat berterima kasih kepada si daun yang telah merelakan bagian tubuhnya menjadi makanannya. Ketika ulat mengucapkan terima kasih kepada sahabat yang penuh kasih dan pengorbanan itu, ada rasa puas di dalam diri si daun. Sekalipun tubuhnya kini berlubang di sana sini, namun ia bahagia bisa melakukan sesuatu bagi ulat kecil yang lapar. Tidak lama berselang ketika musim panas datang, daun hijau menjadi kering dan berubah warna. Akhirnya ia jatuh ke tanah, disapu orang dan dibakar. Sebuah pengorbanan yang tidak sia-sia! Saat ulat si buruk rupa kenyang, maka berubahlah menjadi kepompong dan akhirnya muncul kupu-kupu indah yang terbang ke sana ke mari. Si daun luruh, jatuh ke tanah diinjak, disapu, dan dibakar tetapi ada sebuah kehidupan baru muncul. Kupu-kupu yang terbang di antara bunga-bunga, penyerbukan terjadi dan pohon akan memberikan hasil yang bisa dinikmati. Bagaimana dengan kita? Di saat kita masih mampu, diberi kekuatan dan berkat oleh Tuhan, sudahkah kita berkorban bagi keluarga dan sesama? Ataukah hanya untuk diri sendiri? “Hijau Daun” kita tetap mulus, tak ada lubang? Ingatlah, sama seperti si daun, dikatakan dalam ayat-ayat renungan di atas, manusia bagaikan rumput, pagi berkembang dan bertumbuh, di waktu petang lisut dan layu (ayat 6) . Umur manusia di hadapan Tuhan amat sangat singkat (ayat 4,10). Mari kita isi hidup yang sangat singkat ini dengan hal-hal yang bermanfaat dan berguna bagi keluarga dan sesama. Kita impartasikan pengorbanan Kristus yang telah rela mengorbankan diri-Nya bagi kita melalui kehidupan keseharian kita, sehingga bisa menjadi berkat bagi banyak orang.
Dulu Saya sering mendampingi siswa siswi SMA di mana saya mengajar mengunjungi obyek wisata tempat pembuatan barang keramik. Kami menyaksikan bagaimana tanah liat diproses sedemikian rupa, dibentuk, dihias, dijadikan hasil karya seni keramik yang indah, punya nilai jual tinggi, dipajang di ruang pamer, menceritakan kemahiran si seniman keramik. Barang-barang yang kami beli dikemas sedemikian rupa dengan tulisan: “Awas, jangan banting, mudah pecah.” Waktu itu saya selalu ingat bagaiman Tuhan mengajar umat-Nya di rumah si tukang periuk. Pengajaran akan makna kemahakuasaan, kedaulatan dan ketekunan Allah dalam memroses, membentuk umat-Nya menjadi umat yang dikehendaki-Nya (Yeremia 18). Dengan berjalannya waktu, Tuhan mengajar saya pada suatu pemahaman yang lebih dalam lagi tentang bejana tanah liat. Tanah liat yang tidak ada harganya itu bukan sekedar diproses, dibentuk menjadi sebuah bejana yang indah, berharga mahal, dikagumi banyak orang. Bukan, bukan hanya sebatas itu, seindah dan semahal apapun juga, bejana tanah liat adalah tetap tanah liat yang rapuh dan mudah pecah. Rasul Paulus dalam suratnya kepada jemaat di Korintus (2 Korintus 4) memberikan kesaksian sekaligus pengajaran serta keteladanannya tentang bagaimana tanah liat yang rapuh bisa menjadi bejana yang kuat tahan banting, tidak mudah pecah atau hancur. Kuncinya adalah: 1. Memiliki harta rohani dalam bejana tanah liat hidup Anda. Harta rohani berbicara tentang terang dan kemuliaan Allah yang nampak pada wajah Kristus. Biarlah terang dan kemuliaan Allah menerangi hidup kita. Dengan demikian, kekuatan Allah, bukan kerapuhan diri kita, akan semakin nyata melimpah dalam hidup kita. 2. Berani membawa kematian atau penderitaan Yesus dalam hidup kita. Dengan demikian kebangkitan dan kehidupan Yesus akan menjadi semakin nyata. Dengan kunci ini kita dimampukan menghadapi dan menjawab serta memenangkan setiap rintangan di depan kita.
MARI BERTUMBUH BERSAMA
TEMA BULAN APRIL 2014
RENUNGAN HARIAN
Sumber Kekuatanku
22 Maret '14
Jangan Menyerah
29 Maret '14
Ada Yang Lebih Tragis
09 April '14
Copyright © 2012 All rights reserved. Designed and Developed by GIA Dr. Cipto Semarang