SEPEKAN TERAKHIR
  Minggu, 29 Maret 2015   -HARI INI-
  Sabtu, 28 Maret 2015
  Jumat, 27 Maret 2015
  Kamis, 26 Maret 2015
  Rabu, 25 Maret 2015
  Selasa, 24 Maret 2015
  Senin, 23 Maret 2015
POKOK RENUNGAN
Keluarga menjadi hidup jika di dalamnya ada kasih dan keterbukaan untuk saling membangun.
DITULIS OLEH
Bpk. Andreas T. Loso
Kontributor
Renungan Lain oleh Penulis:
Home  »  Renungan  »  Membangun Pernikahan Dengan Nilai - Nilai Kerajaan Allah
Membangun Pernikahan Dengan Nilai - Nilai Kerajaan Allah
Kamis, 06 Juni 2013 | Tema: Keluarga Yang Mengutamakan Kerajaan Allah
Membangun Pernikahan Dengan Nilai - Nilai Kerajaan Allah
Kolose 3:18-21
Mary Pipher, dalam bukunya The Shelter of Each Other, memberi nasihat tentang membangun kembali keluarga-keluarga yang bermasalah. Ia menyelidiki bagaimana anak-anak zaman sekarang terkadang terlalu sering menonton televisi dan bermain video game, sehingga mengabaikan pendidikan informal yang diterima dari kerabat mereka.
Ia mencontohkan pertemuan keluarga di mana anak-anak menonton video di ruang belakang sehingga para orang dewasa dapat berbicara tanpa diganggu. Dr. Pipher berpendapat bahwa hiburan semacam ini sesungguhnya merampas sesuatu yang berharga dari anak-anak. Anak-anak perlu bergaul dengan generasi yang lebih tua sehingga mereka dapat mendengar cerita-cerita tentang bibi, paman, kakek-nenek, dan orangtua. Ini membantu mereka belajar dari orang-orang yang telah mendahului mereka.

Meskipun di sekitar kita sering terjadi kasus-kasus pengingkaran dan penyelewenangan perkawinan, bahkan berujung pada perceraian, kita tidak perlu pesimis dan apatis. Justru di sinilah peranan kita untuk mengupayakan dan menjaga agar perkawinan benar-benar menjadi pilihan dan panggilan hidup yang bisa dipertanggungjawabkan, baik di hadapan masyarakat maupun di hadapan Tuhan. Berdasarkan kodratnya, perkawinan terarah pada kelahiran anak yang merupakan buah cinta dari suami istri, sekaligus menurunkan kehidupan baru. Oleh karena itu, keluarga kristiani dipanggil untuk menjadi pencinta, perawat, penjaga dan pembela kehidupan. Pasangan suami istri harus mempertahankan kes...selengkapnya »
Di dalam diri kita ada potensi-potensi besar yang bisa membuat kita berkembang atau bertumbuh. Pusatnya ada di dalam hati kita masing-masing. Nah, apa yang tersimpan di dalam hati itulah yang akan mendorong kita untuk melakukan sesuatu. Hati kita diibaratkan sebagai lahan yang subur [berpotensi] untuk mendorong dan mengerjakan banyak hal. Tergantung benih apa [motivasi apa] yang ada di dalam hati kita. Jika di dalam hati kita tertanam benih-benih, yaitu firman Tuhan [ayat 21b], dan kita tidak saja mengetahui Firman tetapi juga melakukannya [ayat 22], maka benih Firman itu berkuasa untuk menyelamatkan jiwa kita [ayat 21b]. Dan ketika kita sudah menjadi dewasa iman karena senantiasa menerima firman Tuhan, maka saatnya kita juga menabur berbagai kebaikan dan kebenaran dari firman Tuhan kepada orang lain. Oleh sebab itu sudahkah hati kita terlebih dulu dipenuhi benih Firman? Sebab apa yang kita tabur adalah apa yang kita terima dari Tuhan. Janganlah kita mengumbar hawa nafsu untuk memuaskan kedagingan sesaat, sebab itu kekotoran dan kejahatan yang hanya menyesatkan dan menghancurkan jiwa manusia [ayat 21a]. Tetapi jadilah pelaku Firman dengan menabur banyak kebajikkan, bukan supaya kita memperoleh keuntungan balik dari orang lain, melainkan dengan hati yang ikhlas. Ingatlah bahwa Firman yang ada di hati kita akan membantu kita untuk melakukan banyak kebajikan. Masalahnya adalah apakah yang menguasai hati kita? Jika yang menguasai adalah benih firman Tuhan, maka kita akan dituntun untuk melakukan banyak hal kebajikan untuk memberkati banyak orang. Tetapi jika keegoisan tetap menguasai hati kita, maka selamanya apa yang kita pikirkan dan lakukan hanya hitung-hitungan bagaimana supaya tetap menguntungkan diri kita sendiri. Menabur sedikit, tetapi berhasrat mendapatkan kembali berlipat-lipat adalah hal yang tidak fair.
Berubahnya harga kebutuhan pokok di pasaran membuat setiap orang semakin mengatur keuangan dengan sebaik mungkin. Pengeluaran-pengeluaran yang dirasa tidak terlalu penting, dipangkas. Sebisa mungkin mereka tidak melakukan pemborosan dengan hal-hal yang tidak penting. Prinsip memberi menjadi suatu hal yang dilupakan bagi banyak orang. Mereka berpikir bahwa untuk kebutuhan sendiri saja sudah pas-pasan, bagaimana jika mereka harus membantu orang lain juga. Sebagai umat Tuhan kita harus mengerti prinsip yang Tuhan ajarkan kepada kita. Jalannya Tuhan tidak bisa dibatasi dengan akal dan logika kita. Logika mengatakan bahwa 2 + 2 = 4, tetapi Tuhan justru mengadakan mujizat dengan memberi makan 5000 orang hanya dengan 5 buah roti dan 2 ekor ikan. Bahkan masih ada sisa sebanyak 12 bakul. Bagaimana caranya agar mujizat dapat terjadi dalam kehidupan kita? Pertama, belajar memberi. “Berilah maka kamu akan diberi....” [Lukas 6:38]. Prinsip memberi harus kita terapkan dalam kehidupan kita. Jika kita rindu diberkati oleh Tuhan, kita harus belajar memberi. Firman Tuhan dengan jelas mengatakan bahwa ketika kita belajar memberi, maka saat itulah kita akan menerima berkat dari Tuhan. Kedua, memberi dengan apa yang kita miliki, bukan dengan apa yang tidak kita miliki [ayat 38]. Tetapi Ia berkata kepada mereka: “Berapa banyak roti yang ada padamu? Cobalah periksa!” Sesudah memeriksanya mereka berkata: “Lima roti dan dua ikan.” Tuhan Yesus memberi makan 5000 orang dengan apa yang ada pada mereka dan mujizatpun terjadi. Berkat berkelimpahan dialami oleh 5000 orang tersebut, mereka makan sampai kenyang. Memberi bukanlah dari sesuatu yang tidak kita miliki, tetapi dari apa yang kita miliki. Minta hikmat kepada Tuhan, kapan saatnya untuk memberi. Tuhan akan menuntun kehidupan kita, sehingga kita akan tetap dapat memberi dengan apa yang ada pada kita. Ketiga, Mengucap syukur dengan apa yang kita miliki [ayat 41]. “Dan setelah Ia mengambil lima roti dan dua ikan itu, Ia menengadah ke langit dan mengucap berkat.” Apapun yang kita miliki saat ini, biarlah kita mengucap syukur di dalamnya. Mungkin penghasilan kita tidak seberapa, tetapi mengucap syukur itu merupakan bentuk rasa penyerahan kita terhadap berkat Allah. Jadi kunci kita menemukan mujizat berkat Allah adalah seberapa kita berani memberi dalam kehidupan kita karena akan menjadi takaran Allah dalam mencurahkan berkat kepada kita. Berilah kepada orang lain, supaya Allah juga memberikan kepadamu; kalian akan menerima pemberian berlimpah-limpah yang sudah ditakar padat-padat untukmu. Sebab takaran yang kalian pakai untuk orang lain akan dipakai Allah untukmu.
Jika memperhatikan dengan cermat para petani atau peternak di Indonesia dan di negara-negara maju, kita akan segera menemukan perbedaan yang cukup mencolok di antara keduanya. Misalnya, tentang jumlah petani buruh dan petani pemilik modal. Di Indonesia nampaknya jumlah petani buruh lebih besar dibandingkan petani pemilik modal. Para petani padi di Indonesia hanya menanam 1/8 hektar - ¼ hektar per keluarga, sementara para petani di negara maju mereka dapat menanam 2-5 hektar per orang. Di Indonesia para peternak hanya memelihara 2-6 ekor sapi atau kambing dalam kandang mereka, tapi di negara-negara maju, misalnya di Hamilton, New Zeland, seorang peternak memiliki sedikitnya 500 ekor kambing atau 500- 1000 ekor sapi per orang. Sehingga jumlah ternak di negara itu dikatakan melebihi jumlah penduduknya. Mereka bertani menggunakan teknologi yang maju, seperti traktor jon dree, combain, dll, tapi kita bertani secara manual. Misalnya menggunakan cangkul, arit, bajak kerbau atau sapi dan mungkin ada yang sudah menggunakan hand traktor. Dari perbandingan sistem pertanian dan peternakan di atas tentu kita dapat membayangkan satu gambaran penghasilan keduanya. Jika seekor kambing dapat beranak 3 kali dalam 2 tahun, setiap beranak rata-rata 2 ekor, maka 6 ekor indukan jadi 36 ekor anakan. Namun di Hamilton seorang peternak yang memiliki 500 ekor kambing akan memanen 3000 ekor, dengan omset 3 milyar jika rata-rata harga kambing 1 juta. Karena itu sang peternak hebat, bapak Ayub, dikatakan orang yang terkaya di tanah Us dengan jumlah kambingnya 7000 ekor, unta 300 ekor, sapi 500 pasang. Coba hitung berapa omset bapak Ayub. Ingatlah! Orang yang menabur benih sedikit akan memungut hasil yang sedikit juga. Tetapi orang yang menabur benih banyak akan memungut hasil yang banyak juga. Dalam segala hal, apa yang kita tabur akan kita tuai. Jika kita tidak menabur kita juga tidak akan menuai. Menabur angin akan menuai badai [Hosea 8:7], menabur kebaikan akan menuai kebaikan. Menabur sedikit, seperti petani dan peternak kita, akan menuai sedikit, tetapi menabur banyak akan menuai dengan berlimpah.
FIFA sebagai badan tertinggi sepak bola dunia, dari waktu ke waktu semakin gencar untuk memerangi rasisme di dunia sepakbola. Tindakan rasisme biasanya ditujukan kepada pemain sepakbola “berkulit hitam”, di mana mereka biasanya mendapat perlakuan negatif dan tidak layak. FIFA melakukan berbagai cara untuk menghapus perilaku rasis ini dari dunia sepak bola, mulai dari memberlakukan sanksi tegas terhadap pelaku tindakan rasis, hingga membuat slogan “Let’s Kick Racism Out of Footbal” untuk memerangi perilaku rasis tersebut. Namun, ada cara unik yang dilakukan oleh Dani Alves dalam memerangi rasisme ini. Pemain klub Barcelona ini mendapat perlakuan rasis dari pendukung Villareal, kala Barcelona bertanding melawan Villareal pada hari Minggu, 27 April 2014 silam. Kejadian ini bermula saat Dani Alves sedang bersiap mengambil tendangan sudut dan kemudian tiba-tiba pendukung tim Villareal melemparkan pisang ke dalam lapangan hingga pisang tersebut jatuh tidak jauh dari Dani Alves. Respon yang diberikan Alves untuk memerangi tindakan rasis yang diberikan kepadanya sungguh di luar dugaan. Alves tidak spontan marah. Dia juga tidak melakukan aksi walkout bertanding, dan juga dia tidak melakukan protes berlebihan. Yang dilakukan Alves adalah dia menghampiri pisang itu, lalu dia membuka kulit pisang tersebut dan kemudian memakannya. Tindakan ini mendapat pujian dari berbagai kalangan. Bahkan setelah itu banyak orang menggelar aksi makan pisang sebagai bentuk perlawanan terhadap rasisme yang merupakan salah satu bentuk ketidakadilan. Nabi Mikha berkata kepada orang-orang yang melukai hati Tuhan dengan keegoisan dan perlakuan mereka yang tidak adil terhadap orang lain [ayat 8], ’Hai manusia, telah diberitahukan kepadamu apa yang baik. Dan apakah yang dituntut Tuhan dari padamu: selain berlaku adil, mencintai kesetiaan, dan hidup dengan rendah hati di hadapan Allahmu?’ Apa yang Tuhan harapkan dari kita? Dia menginginkan tindakan [’berlaku adil’], kasih [’mencintai kesetiaan’], dan kerja sama [’hidup dengan rendah hati di hadapan Allahmu’]. Sebagai orang Kristen, hendaknya semangat untuk menegakkan keadilan haruslah ada. Hidup sebagai pengikut Kristus tidak hanya terkait dengan ibadah semata, melainkan juga melalui sikap kita menegakkan kebenaran. Hal-hal yang besar dapat terjadi bila kita berkata, ’Di keluarga saya, di tengah masyarakat saya, di tempat kerja saya, dan dalam setiap hubungan saya dengan orang lain, biarlah keadilan saya tegakkan!’ Mari bersama-sama tebarkan benih keadilan itu, agar keadilan semakin nyata terjadi.
BARCODE BBM CHANNELS
RENUNGAN HARIAN
Penuhi Hati Dengan Benih Firman
04 Maret '15
Kasih Yang Tak Terucapkan
24 Maret '15
Ingin Menuai Kebaikan?
15 Maret '15
Copyright © 2012 All rights reserved. Designed and Developed by GIA Dr. Cipto Semarang