SEPEKAN TERAKHIR
  Sabtu, 31 Januari 2015   -HARI INI-
  Jumat, 30 Januari 2015
  Kamis, 29 Januari 2015
  Rabu, 28 Januari 2015
  Selasa, 27 Januari 2015
  Senin, 26 Januari 2015
  Minggu, 25 Januari 2015
POKOK RENUNGAN
Keluarga menjadi hidup jika di dalamnya ada kasih dan keterbukaan untuk saling membangun.
DITULIS OLEH
Bpk. Andreas T. Loso
Kontributor
Renungan Lain oleh Penulis:
Home  »  Renungan  »  Membangun Pernikahan Dengan Nilai - Nilai Kerajaan Allah
Membangun Pernikahan Dengan Nilai - Nilai Kerajaan Allah
Kamis, 06 Juni 2013 | Tema: Keluarga Yang Mengutamakan Kerajaan Allah
Membangun Pernikahan Dengan Nilai - Nilai Kerajaan Allah
Kolose 3:18-21
Mary Pipher, dalam bukunya The Shelter of Each Other, memberi nasihat tentang membangun kembali keluarga-keluarga yang bermasalah. Ia menyelidiki bagaimana anak-anak zaman sekarang terkadang terlalu sering menonton televisi dan bermain video game, sehingga mengabaikan pendidikan informal yang diterima dari kerabat mereka.
Ia mencontohkan pertemuan keluarga di mana anak-anak menonton video di ruang belakang sehingga para orang dewasa dapat berbicara tanpa diganggu. Dr. Pipher berpendapat bahwa hiburan semacam ini sesungguhnya merampas sesuatu yang berharga dari anak-anak. Anak-anak perlu bergaul dengan generasi yang lebih tua sehingga mereka dapat mendengar cerita-cerita tentang bibi, paman, kakek-nenek, dan orangtua. Ini membantu mereka belajar dari orang-orang yang telah mendahului mereka.

Meskipun di sekitar kita sering terjadi kasus-kasus pengingkaran dan penyelewenangan perkawinan, bahkan berujung pada perceraian, kita tidak perlu pesimis dan apatis. Justru di sinilah peranan kita untuk mengupayakan dan menjaga agar perkawinan benar-benar menjadi pilihan dan panggilan hidup yang bisa dipertanggungjawabkan, baik di hadapan masyarakat maupun di hadapan Tuhan. Berdasarkan kodratnya, perkawinan terarah pada kelahiran anak yang merupakan buah cinta dari suami istri, sekaligus menurunkan kehidupan baru. Oleh karena itu, keluarga kristiani dipanggil untuk menjadi pencinta, perawat, penjaga dan pembela kehidupan. Pasangan suami istri harus mempertahankan kes...selengkapnya »
Hizkia diangkat sebagai raja menggantikan ayahnya dalam usia 25 tahun. Tidak mudah untuk memimpin rakyat dalam usia muda dan belum ada pengalaman. Tetapi sejarah mencatat Hizkia berhasil memimpin negara dan membuat menjadi kaya, proyek-proyek besar untuk kesejahteraan rakyat diselesaikannya. Rahasianya karena Hizkia mengutamakan Tuhan dan melakukan yang benar. Sebelum memulai mengatur negara dan rakyat, dia mengawali pemerintahannya dengan menguduskan kembali rumah Tuhan yang sudah lama ditinggalkan oleh para pendahulunya. Mengajak rakyat untuk kembali beribadah dan mempersembahkan korban untuk Tuhan. Hizkia menghidupi kebenaran, maka Tuhan membuat apa saja yang diusahakannya berhasil. Kisah ini tertulis di 2 Tawarikh 29-32. Setiap orang yang telah menerima Kristus sebagai juruselamat, hidupnya tetap di dalam Dia, makin berakar dalam Firman dan dibangun di atas kebenaran. Memiliki iman yang makin teguh dan melimpah dengan syukur apapun yang terjadi. Waspada terhadap pengajaran-pengajaran palsu dan menyesatkan yang tidak sesuai dengan Firman Tuhan. Dengan demikian akan memiliki hidup yang dipenuhi dengan kuasa-Nya. Kita tidak tahu apa yang akan terjadi atau alami pada hari-hari mendatang tahun ini, marilah kita tetap tinggal di dalam Dia, berjalan bersama-Nya. Makin berakar dalam Firman yang kita baca atau dengar. Menghidupi kebenaran dengan mentaati/melakukan Firman-Nya dalam segala keadaan. Milikilah iman yang teguh yang tidak tergoyahkan dengan berbagai pengajaran palsu yang makin marak dan menawarkan kemudahan-kemudahan yang bertentangan dengan Firman-Nya. Maka penyertaan Tuhan akan ada di setiap langkah hidup kita.
Hampir 20 tahun aku hidup tanpa senyum dan tawa renyah. Sejak umur 2 tahun, anakku yang paling kecil sudah ditinggal oleh ibunya bekerja ke luar kota. Aku sebagai seorang suami yang hanya kerja sebagai tukang batu harus mengurusi seorang anak yang masih kecil dan empat anak yang besar. Aku sangat kecewa sekali dengan istriku karena sekian tahun tidak pernah memberi kabar berita. Lebih parahnya lagi, ada berita dia telah menikah dengan teman kerjanya. Aku semakin terpuruk. Untungnya kakak iparku mau merawat si kecilku. Hari-hariku tidak ada lagi sukacita, apalagi kebahagiaan. Rasanya ingin marah, tetapi aku berusaha untuk menahannya dengan cara aku bekerja seenakku sendiri. Seorang penginjil pernah mengajakku percaya Yesus yang katanya bisa memberikan jalan keluar bagi setiap masalah dan bebanku. Tetapi semua percuma bagiku. Aku mutuskan tidak lagi ke gereja. Aku menganggap ke gereja hanya menambah beban saja. Karena aku harus keluar uang macam-macam setiap ke gereja. Ada persembahan, iuran natal, iuran pembanguan, dll. Semua seabrek iuran. Namun Allah yang hidup tidak pernah meninggalkan aku ketika hidup terpuruk dan kehilangan segalanya. Dua tahun yang lalu seorang hamba Tuhan yang pernah mengajakku ke gereja menemui aku. Dia dengan penuh kasih membimbingku dan mendoakanku. Saat itulah hatiku yang telah tidak ada lagi harapan itu seperti disentuh-Nya, dan aku putuskan kembali kepada Yesus. Dan luar biasa, ketika aku berlutut dengan hati yang hancur, aku mendapatkan jamahan-Nya. Tepatnya 2 tahun lalu, 1 januari dalam ibadah tahun baru, sukacita yang hilang itu dikembalikan lagi oleh Kristus. Dan kini aku menemukan semua dalam Kristus. Inilah sepenggal kesaksian seorang bapak. Dari kesaksian di atas kita kembali diingatkan, jika kita selalu hanyut dengan peristiwa masa lalu yang menyakitkan akan membuat kita terpuruk. Hendaklah kita memegang hal-hal baik yang Tuhan telah sediakan untuk masa depan kita. Seperti Paulus, jika ada satu hal yang menjadi fokus pada tahun ini, fokuslah pada bergerak ke depan. Fokuslah pada berbicara Firman Allah atas diri dan keluarga kita setiap hari (ayat 14). Biarkan Firman Allah memelihara dan menyegarkan jiwa kita. Ketika kita mengatur fokus ke depan, kita akan bergerak maju dan menjadi apa yang telah Tuhan rencanakan bagi.
Di masa Dinasti Qi di Tiongkok, ada seorang perdana menteri yang terkenal dengan kecekatan dan kerja kerasnya. Namanya Tian Ji. Suatu kali ia menerima 100 tael emas dari salah seorang koleganya karena dianggap sudah menolongnya. Ia menolak berkali-kali. Namun karena dipaksa berulang kali, ia menerimanya dengan berat hati. Begitu sampai di rumah, ia memberikan emas tersebut kepada ibunya. Namun, mengetahui hal tersebut, sang ibu langsung murka. Ia mengatakan bahwa jumlah tersebut setara dengan pendapatannya sebagai perdana menteri setelah bekerja tiga tahun. “Kamu merampok uang orang atau mendapat sogokan karena kedudukanmu?” tanya ibunya dengan nada marah.Tian Ji tertunduk malu. Ia pun mendapat banyak nasihat dari ibunya. “Sebagai orang terpelajar, seseorang harus mengatur perilakunya dengan penuh kewaspadaan. Ia juga harus bisa menjaga nama baiknya dan tidak akan pernah mengambil apa yang bukan menjadi miliknya. Seorang terpelajar juga tidak boleh punya hal yang disembunyikan, sebagaimana dia tidak pernah curang dan mengambil keuntungan dari orang lain. Seorang terpelajar akan menolak hal yang mencurigakan dan menolak sogokan. “Kamu bertanggung jawab terhadap negeri ini, maka kamu harus memberikan contoh yang baik kepada semua orang,” lanjut sang ibu. “Tapi saat ini kamu sudah menerima barang yang bukan hakmu. Kamu telah berkhianat pada amanah yang diberikan dan rakyatmu. Kamu benar-benar telah mengecewakanku. Sekarang, kamu harus mengembalikan emas tersebut, dan mintalah hukuman kepada raja!” seru ibunya. Tian Ji merasa sangat malu pada dirinya sendiri setelah mendapat teguran keras dari ibunya. Dia pun segera mengembalikan emas tersebut. Ia juga segera menghadap baginda raja untuk mengakui kesalahan yang telah diperbuat, memohon hukuman, sembari mengajukan pengunduran diri karena malu telah berbuat cela. Mengetahui hal tersebut, sang raja memuji betapa tinggi moralitas yang diajarkan ibu kepada Tian Ji. “Aku mengampunimu, Tian Ji, atas apa yang kau perbuat.” Raja bahkan kemudian membuat perintah kepada seluruh negeri untuk belajar moral dari ibu Tian Ji. Sebab ia merasa seorang ibu yang bisa meletakkan dasar moral bagi anaknya akan mampu menjadi contoh yang luar biasa. Sejak kejadian itu, Tian Ji makin meningkatkan standar kejujuran dan kebaikan di negerinya. (Disadur dari www.andriewongso.com/articles) Dari kisah tersebut, kita bisa belajar bahwa apa yang “ditanam” sang ibu pada Tian Ji menjadi “buah” kebaikan yang berlaku selamanya. Bahkan “tanaman” itu terus berkembang. Inilah salah satu bentuk makna bahwa apa yang kita tanam akan kita tuai. Maka kalau ingin mendapat banyak kebaikan, taburlah kebaikan. Jika ingin sukses, bantu jugalah orang lain untuk sukses. Jika ingin meraih kebahagiaan, berbagilah untuk memperbesar dampak kebahagiaan
“Pertama kali aku melihatmu, aku takut mengajak bicara. Boro-boro ngajak bicara, mendekat saja aku sudah takut, sepertinya kamu galak dan judes...” Kalimat itu tidak asing lagi bagi saya karena saya sudah sering dengarnya dari teman-teman. Ketika mereka belum mengenal saya, mereka mengira saya galak dan judes. Tetapi setelah mereka mengenal saya, kebanyakan kaget karena ternyata tidak seperti yang mereka sangka. Demikian juga image kita kepada Tuhan, apabila kita tidak mengenal Dia, kita pasti membayangkan bahwa Tuhan itu terlalu jauh dan tidak bisa didekati karena Dia Mahaagung. Tuhan itu suka menghukum manusia karena Dia Mahasuci dan tidak suka melihat manusia berbuat dosa. Itu gambaran luar yang kita tahu tentang Tuhan ketika kita belum mengenal Dia lebih dalam. Namun apabila kita mengenal Dia dengan baik, kita akan tahu bahwa Dia adalah pribadi yang penuh Kasih. Dalam 2 Petrus 1:2 “Kasih karunia dan damai sejahtera melimpahi kamu....” Tuhan selalu ingin kita mengalami anugrah dan damai sejahtera-Nya lebih besar lagi dalam kehidupan kita. Bagaimana caranya? Kata selanjutnya dari ayat tersebut “.... oleh pengenalan akan Allah dan akan Yesus, Tuhan kita”. Semakin banyak pengetahuan kita akan Yesus, tentunya semakin dalam dan baik pula hubungan kita dengan-Nya. Maka semakin besar anugrah dan damai sejahtera-Nya melimpahi kehidupan kita. Tahun boleh berganti, umur biar saja bertambah, mari kita mengimbanginya dengan menambah pengetahuan dan pengenalan akan Dia. Supaya tahun ini tidak sama dengan tahun kemarin, tapi menjadi lebih baik lagi oleh karena anugrah-Nya sangat berguna bagi kehidupan dan pelayanan kita.
BARCODE BBM CHANNELS
RENUNGAN HARIAN
Tidak Menyia - Nyiakan Anugerah Keselamatan
20 Januari '15
Anak Tangga Ketekunan
27 Januari '15
Menghidupi Kebenaran
19 Januari '15
Copyright © 2012 All rights reserved. Designed and Developed by GIA Dr. Cipto Semarang