SEPEKAN TERAKHIR
  Jumat, 19 Desember 2014   -HARI INI-
  Kamis, 18 Desember 2014
  Rabu, 17 Desember 2014
  Selasa, 16 Desember 2014
  Senin, 15 Desember 2014
  Minggu, 14 Desember 2014
  Sabtu, 13 Desember 2014
POKOK RENUNGAN
Keluarga menjadi hidup jika di dalamnya ada kasih dan keterbukaan untuk saling membangun.
DITULIS OLEH
Bpk. Andreas T. Loso
Kontributor
Renungan Lain oleh Penulis:
Home  »  Renungan  »  Membangun Pernikahan Dengan Nilai - Nilai Kerajaan Allah
Membangun Pernikahan Dengan Nilai - Nilai Kerajaan Allah
Kamis, 06 Juni 2013 | Tema: Keluarga Yang Mengutamakan Kerajaan Allah
Membangun Pernikahan Dengan Nilai - Nilai Kerajaan Allah
Kolose 3:18-21
Mary Pipher, dalam bukunya The Shelter of Each Other, memberi nasihat tentang membangun kembali keluarga-keluarga yang bermasalah. Ia menyelidiki bagaimana anak-anak zaman sekarang terkadang terlalu sering menonton televisi dan bermain video game, sehingga mengabaikan pendidikan informal yang diterima dari kerabat mereka.
Ia mencontohkan pertemuan keluarga di mana anak-anak menonton video di ruang belakang sehingga para orang dewasa dapat berbicara tanpa diganggu. Dr. Pipher berpendapat bahwa hiburan semacam ini sesungguhnya merampas sesuatu yang berharga dari anak-anak. Anak-anak perlu bergaul dengan generasi yang lebih tua sehingga mereka dapat mendengar cerita-cerita tentang bibi, paman, kakek-nenek, dan orangtua. Ini membantu mereka belajar dari orang-orang yang telah mendahului mereka.

Meskipun di sekitar kita sering terjadi kasus-kasus pengingkaran dan penyelewenangan perkawinan, bahkan berujung pada perceraian, kita tidak perlu pesimis dan apatis. Justru di sinilah peranan kita untuk mengupayakan dan menjaga agar perkawinan benar-benar menjadi pilihan dan panggilan hidup yang bisa dipertanggungjawabkan, baik di hadapan masyarakat maupun di hadapan Tuhan. Berdasarkan kodratnya, perkawinan terarah pada kelahiran anak yang merupakan buah cinta dari suami istri, sekaligus menurunkan kehidupan baru. Oleh karena itu, keluarga kristiani dipanggil untuk menjadi pencinta, perawat, penjaga dan pembela kehidupan. Pasangan suami istri harus mempertahankan kes...selengkapnya »
Beberapa bulan ini Benay giat mengikuti latihan tari tamborine khusus pria di gerejanya. Hitung-hitung pelayanan plus usaha melangsingkan perutnya yang kian gembul. Tapi sekian bulan latihan tari tamborine, perut gendut Benay bukannya susut malah tambah mengembang. Melihat tubuh sahabatnya makin bulat, suatu saat Sambey berkomentar, “Wah, tak sawang-sawang kowe bunder tenan.” Benay malu mendengar komentar Sambey. Ia merasa gagal untuk melangsingkan perutnya. Pada suatu kesempatan Benay buka kartu kepada Sambey bahwa upayanya gagal karena hatinya sedang panas. “Kamu tahu aku, Sam. Kalau aku sedang marah, aku lampiaskan dengan banyak makan. Hanya dengan demikian aku merasa sedikit lega”, kata Benay. “Wah, itu tidak sehat Ben. Selain perutmu makin bulat, toh kelegaan itu pasti hanya sementara saja”, kata Sambey. Benay membenarkan kata-kata sahabatnya itu. Ia pun menceritakan bahwa ia marah karena merasa dipermainkan oleh Lucy. Seorang gadis manis yang ia taksir selama ini. “Rasanya hatiku baru puas, jika ia disambar geledeg!” kata Benay geram. Dengan saksama Sambey mendengarkan uneg-uneg sahabatnya itu. Dalam hatinya ia berkata bahwa ia pun sedang marah, yaitu pada Pdt. Itong. Ia belum juga mau mengampuni Pdt. Itong karena dikuasai panas hati. Jemaat yang terkasih. Kain membunuh Habel karena hatinya panas terbakar oleh kecemburuan. Ia dan korban persembahannya tidak diindahkan Tuhan sedangkan adiknya dan korban persembahannya diindahkan Tuhan. Beberapa generasi selanjutnya, Lamekh mengulangi pembunuhan yang dilakukan oleh Kain, bapa leluhurnya. Rupanya Lamekh sedang berselisih dengan seorang laki-laki yang kemudian melukainya dan seorang muda yang memukulnya hingga bengkak. Lamekh tidak sekedar membalas melukai atau memukul, tetapi ia membunuh kedua orang itu. Lamekh yang angkuh, bukannya menyesal atas perbuatannya, malah ia menyombongkan kejahatannya (ayat 23-24). Orang yang angkuh seperti Kain dan terlebih Lamekh adalah orang yang mudah panas hati. Ketika hatinya dibakar api dendam, akal sehatnya tidak bekerja, sehingga mereka tidak mampu mengontrol tindakannya sendiri. Tuhan pasti melawan orang-orang angkuh seperti Kain dan Lamekh yang tahunya hanya menuruti nafsu amarahnya saja. Jemaat yang terkasih. Setiap orang dapat menjadi panas hati. Terutama jika orang tersebut mempunyai masalah penghargaan diri yang coba ditutupi dengan menyombongkan diri. Ia menjadi orang mudah tersinggung, mendendam, dan tidak mampu mengendalikan diri. Akibatnya adalah sulit untuk mengampuni orang lain. Oleh sebab itu Tuhan menghendaki kita memiliki kerendahan hati. Orang yang rendah hati adalah orang yang tidak mudah panas hati. Orang yang tidak panas hati adalah orang yang mampu mengendalikan diri. Orang yang mampu mengendalikan diri adalah orang yang mampu mengampuni orang lain.
Seorang remaja putri cantik jelita yang merupakan “bunga mawar” di sekolah merasa bangga dengan keadaan dirinya, namun ada hal yang membuat risau hatinya. Ia mempunyai ibu yang berwajah sangat buruk yang membuatnya malu sehingga ia tidak pernah mau berjalan bersama sang ibu. Si putri jelita malu mengakui mempunyai ibu yang buruk rupa, dan kepada teman-teman dikatakannya sang ibu sebagai pembantu rumahnya. Melihat perbuatan anaknya, sang ibu sangat sedih. Tetapi ia menahan sabar, hanya bisa menangis karena ia sangat mengasihi putrinya. Saat si ibu menderita sakit berat dan merasa hidupnya sudah tidak lama lagi, ia memanggil si putri dan mengatakan ada suatu rahasia yang akan disampaikannya ,yaitu tentang peristiwa yang membuat wajahnya yang cantik jelita berubah menjadi buruk. Si putri sangat terkejut karena ternyata wajah ibunya yang menyeramkan akibat terbakar kobaran api untuk menyelamatkan dirinya yang masih bayi dari amukan si jago merah yang melalap rumah mereka ketika sang ibu pulang berjualan kue di mana pembantu yang merawatnya hanya mampu berteriak-teriak, tidak sempat membawanya keluar rumah. Begitu hebat kekuatan kasih sang ibu! Tak diperdulikannya keselamatan dirinya, ditembusnya kobaran api demi keselamatan putri yang sangat dikasihinya. Setelah mendengar rahasia tersebut, air mata putri mengalir dan dengan terisak dia memeluk dan meminta maaf dengan apa yang telah diperbuatnya selama ini. Mungkin kita berpikir apa yang dilakukan si putri sangat keterlaluan, membuat ibunya sedih hati. Namun pernahkan kita berpikir bagaimana kita juga pernah melakukan hal yang sama? Membuat hati Bapa yang penuh kasih sangat sedih? Kasih-Nya begitu besar, dikorbankan diri-Nya, rela turun ke dunia menjadi manusia, mati tersalib hanya untuk menebus dosa manusia. Dia didera, disiksa, dihina dan dihindari orang (Yesaya 52:14; 53:3). Semua dilakukan-Nya karena kasih-Nya kepada kita. Maukah kita membagikan kasih-Nya itu kepada orang lain?
Ketika seseorang merasa dirugikan, dilecehkan, dihina, dan sebagainya, yang sering diucapkan adalah: “Yang penting aku sudah mengampuni dan memaafkannya.” Namun ketika suatu saat berjumpa dengan orang yang bersangkutan sikapnya masih acuh tak acuh, sinis, dan kemudian menghindar. Dengan kata-kata “yang penting aku sudah mengampuni dan memaafkan” merasa bahwa dirinya telah “bersih”, selesai masalah. Marilah kita belajar seperti Yusuf. Kita semua tahu bagaimana Yusuf dianiaya dan diperlakukan kasar oleh saudara-saudaranya, bahkan sampai hati menjual Yusuf kepada para Kafilah orang Ismael (Kejadian 37:20-30). Karena perbuatan saudara-saudaranyalah, Yusuf menjadi menderita secara lahir dan batin. Yusuf kesakitan karena dilemparkan ke dalam sumur kering, dia sedih karena harus berpisah dengan Yakub, bapanya dan Benyamin, adik kesayangannya. Dan ketika Yusuf ada di Mesir, dia masuk penjara karena difitnah. Semua itu terjadi karena ulah para saudaranya yang sangat membencinya. Singkat cerita, karena Yusuf senantiasa dipelihara Tuhan, maka sampailah dia kepada masa kejayaannya. Yusuf diangkat menjadi orang kedua di Mesir sebagai tangan kanan Firaun, penguasa Mesir. “Merah-hijaunya” Mesir ada di tangan Yusuf, karena memang semua sudah diserahkan kekuasaan itu kepada Yusuf. Karena Yusuf-lah kekuasaan Mesir semakin luas, masa kelaparan yang berkepanjangan menjadikan Mesir semakin dihormati bangsa-bangsa lain, dan kekuasaanya semakin berjaya. Tetapi seperti apakah kejadiannya ketika Yusuf berjumpa dengan sudara-saudaranya dalam kondisi kelaparan? Awalnya Yusuf bersandiwara supaya tidak dikenali bahwa dirinya Yusuf. Tetapi ketika Yusuf tidak kuat lagi menahan rindu dengan saudara-saudaranya, khususnya Yakub, bapanya, Yusuf akhirnya memperkenalkan dirinya dan dia melihat wajah ketakutan saudara-saudaranya. Kata-kata apa yang pertama kali keluar dari mulut Yusuf? Inilah kata-kata Yusuf: “Akulah Yusuf! Masih hidupkah bapa? ... Marilah dekat-dekat...” Kemudian Yusuf menciumi saudaranya satu-satu dengan mesra (ayat 3-4, 15). Saudara, mengampuni adalah keputusan hati, tidak cukup dengan kata-kata (“aku mengampuni”) kemudian menghindar, tetapi juga dengan tindakan nyata bahwa kita mengampuni. Misalnya bersedia: menjumpai, berjabat tangan, merangkul, bersujud, kadang juga dengan tangisan, makan bersama, berkunjung ke rumahnya, dan sebagainya. Mengampuni adalah rekonsiliasi, suatu implementasi kasih.
Dan sekalipun aku membagi-bagikan segala sesuatu yang ada padaku, bahkan menyerahkan tubuhku untuk dibakar, tetapi jika aku tidak mempunyai kasih, sedikitpun tidak ada faedahnya bagiku. Pemilik pabrik mobil Amerika, Henry Ford, pernah diminta menyumbang untuk pembangunan sebuah rumah sakit baru. Orang kaya itu menyanggupi untuk menyumbang 5.000 Dolar. Esok harinya muncul berita di surat kabar, ”Henry Ford menyumbang 50.000 Dolar untuk rumah sakit setempat.” Ford merasa tidak enak dan protes kepada penggalang dana rumah sakit itu. Penggalang dana menjawab, ”Baik kami akan meralatnya.” Esoknya muncul di koran, ”Henry Ford mengurangi sumbangannya sebesar 45.000 Dolar.” Menyadari bahwa itu akan berakibat buruk bagi reputasinya, Henry Ford setuju akan menyumbang 50.000 Dolar.” Berbagi berkat itu baik. Tetapi yang tidak boleh dilupakan adalah motivasinya. Banyak orang bisa memberi kepada orang lain: ada yang memberi sumbangan dalam jumlah besar kepada panti asuhan, ada yang membagi-bagi uang kepada orang-orang miskin, ada yang menyantuni banyak anak yatim piatu, ada yang memberi beasiswa kepada anak-anak sekolah, tetapi bukan dengan motivasi kasih. Ada yang melakukan itu untuk mengurangi rasa bersalah karena telah mendapatkan kekayaan dengan cara yang tidak benar, ada yang melakukannya untuk mengejar popularitas dan mengumpulkan suara menjelang Pemilu (biasa dilakukan oleh politikus), ada yang melakukannya karena merasa sungkan karena disodori proposal. Rasul Paulus berkata: walaupun aku memberikan seluruh milikku kepada orang lain, bahkan menyerahkan tubuhku untuk dibakar, tapi kalau tanpa kasih, semuanya akan sia-sia. Sebuah pemberian yang sia-sia. Artinya, tidak punya nilai di dalam Kerajaan Allah. Efek dari tindakan itu hanya sementara saja. Mungkin kita akan mendapat pujian dari orang, kita akan dikenal sebagai orang dermawan, nama kita akan dicatat sebagai donatur dari sebuah yayasan sosial. Tapi apa gunanya jika Surga tidak mencatat nama kita dan Tuhan tidak menganggap apa yang kita lakukan? Kalau begitu kita harus berpikir dahulu sebelum memberi atau berbagi. Adakah kita betul-betul mau memberi karena kasih atau karena apa? Jangan sampai pemberian itu menjadi sebuah tindakan yang sia-sia.
BARCODE BBM CHANNELS
RENUNGAN HARIAN
Wajib Hukumnya
12 Desember '14
Luka - Luka Emosional Masa Lalu
24 November '14
Kasih Tak Sampai
15 Desember '14
Copyright © 2012 All rights reserved. Designed and Developed by GIA Dr. Cipto Semarang