SEPEKAN TERAKHIR
  Senin, 20 Februari 2017   -HARI INI-
  Minggu, 19 Februari 2017
  Sabtu, 18 Februari 2017
  Jumat, 17 Februari 2017
  Kamis, 16 Februari 2017
  Rabu, 15 Februari 2017
  Selasa, 14 Februari 2017
DITULIS OLEH
Pdt. Goenawan Susanto
Gembala Jemaat
Renungan Lain oleh Penulis:
Home  »  Renungan  »  Menjadi Berhasil Dalam Pengenalan Akan Kristus
Menjadi Berhasil Dalam Pengenalan Akan Kristus
Minggu, 14 Juli 2013 | Tema: Bertumbuh Dalam Pengenalan Akan Allah
Menjadi Berhasil Dalam Pengenalan Akan Kristus
2 Petrus 1:3-9
Setiap manusia dilahirkan ke dunia ini sebagai bayi, setelah itu akan mengalami pertumbuhan baik secara jasmani, mental maupun rohani. Karena itu tujuan dari setiap manusia adalah bertumbuh menjadi dewasa, melalui tahap-tahap perkembangan yang normal, supaya bisa berfungsi sebagaimana manusia dewasa pada umumnya.

Demikianlah bisa digambarkan kehidupan kita di dalam Kristus. Oleh anugerah dan karya Roh Kudus-Nya kita dilahirkan menjadi ciptaan baru, manusia rohani yang memiliki kodrat ilahi (potensi kehidupan sebagai anak Allah). Ayat 4 berkata: “supaya olehnya kamu boleh mengambil bagian dalam kodrat ilahi”. Artinya, setiap kita yang lahir baru di dalam Kristus memiliki potensi ...selengkapnya »
Pertama kali saya masuk sekolah di TK yang ada dalam pikiran saya hanyalah ikut-ikutan teman. Sebenarnya pada saat itu belum waktunya saya masuk sekolah, namun karena teman-teman di kampung semua sekolah, saya meminta supaya juga ikut sekolah. Di dalam kelas, yang saya ikuti hanya perintah dari guru. Biasanya guru menyuruh untuk mengangkat tangan ke atas, ke samping, dan ke depan. Setiap kali guru memerintahkan demikian, semua murid langsung menggerakkan tangan masing-masing mengikuti perintah guru tersebut. Bahkan dalam kondisi dan suasana yang ramai, guru memakai cara tersebut untuk menenangkan murid-muridnya. Tanpa berpikir panjang murid-murid langsung refleks melakukan perintah dari guru tersebut. Demikian dengan keempat orang yang dijadikan murid-murid yang pertama oleh Tuhan Yesus. Mereka adalah Simon Petrus, Andreas, Yakobus, dan Yohanes. Mereka semua adalah seorang nelayan yang bekerja demi kebutuhan hidupnya dan keluarga. Ketika mereka sedang menebarkan jala di danau Galilea, Sang Guru, yaitu Yesus Kristus memanggil dan mengajak mereka untuk dijadikan murid. Lantas apa yang muncul dalam pikiran mereka? Mungkin kita hanya bisa menduga kira-kira apa yang ada dalam benak mereka, namun yang jelas Alkitab mencatat bahwa mereka pun segera meninggalkan jalanya dan mengikut Dia [ay. 20, 22]. Tanpa ada tawar-menawar dengan Tuhan tentang apa yang akan mereka lakukan setelah mengikut Dia. Dengan sikap percaya bahwa yang memanggilnya adalah Guru yang sejati di mana mereka mendapatkan pengalaman pembelajaran yang benar dari sumber yang benar pula. Jemaat yang terkasih, kadang dalam kehidupan kita sebagai orang percaya masih jauh dari kesempurnaan. Seringkali kita masih ogah-ogahan ketika ada panggilan untuk beribadah. Kita masih malas untuk menghadiri persekutuan. Apalagi kalau kita disuruh menjadi murid Kristus yang sejati. Apakah kita mau mengikuti Dia sebagai Guru? Dengan segala yang diperintahkan dan dikatakanNya, tanpa pikir-pikir dulu, tanpa tawar-menawar, tanpa adanya sunggut-sunggut? Memang bukan hal yang mudah, tetapi marilah kita belajar mau mendengar dan mengikut Dia dari hal yang paling sederhana. Karena dengan mengikut Dia, hati kita akan tenang dalam dekapan-Nya.
Menjamurnya media sosial seperti facebook, bbm, twitter, whatsApp, dan lain sebagainya semakin menegaskan era keterbukaan informasi. Setiap orang bukan hanya bisa dengan mudah mengakses informasi, tetapi juga bisa mengemukakan buah pikirannya secara terbuka dan itu bisa disimak oleh banyak orang. Di satu sisi mendatangkan manfaat besar, tetapi di sisi lain telah membawa dampak negatif yang tidak bisa dipandang enteng dan dikesampingkan. Salah satunya adalah ujaran kebencian atau hate speech. Media sosial telah dijadikan kendaraan oleh banyak orang untuk menyerang dan menjatuhkan; untuk memprovokasi dan menghasut; untuk menghina dan merendahkan individu atau kelompok lain baik melalui perkataan, perilaku, tulisan, gambar, ataupun unggahan video, sehingga dapat memicu munculnya prasangka buruk dan terjadinya tindak kekerasan. Salah satunya firman Tuhan mengingatkan kita bahwa perkataan yang tidak dikendalikan akan mengakibatkan kerusakan hebat. Lidah digambarkan seperti api. Api kecil jika tidak dikendalikan bisa membakar hutan yang luas. Ucapan yang tidak bijak; komentar yang diwarnai kebencian; hasutan dan sejenisnya berpotensi merusak segalanya. Yang semula satu bisa menjadi terpecah belah. Yang semula damai berubah menjadi bertikai. Yang awalnya rukun ganti menjadi bermusuhan. Bukankah itu yang sedang marak terjadi di masyarakat kita; di bangsa kita. Ujaran kebencian telah merubah sebagian wajah bangsa ini yang sebenarnya guyub, rukun, ramah, dan damai. Kita sebagai gereja harus belajar dari apa yang terjadi di masyarakat kita. Setiap orang percaya harus menyadari bahaya besar akibat ujaran kebencian. Karena itu setiap pribadi harus mengendalikan diri dalam berujar, berpendapat, berkomentar, dan menanggapi sesuatu. Jika ada ketidaksetujuan, ungkapkan dan diskusikan hal itu dengan cermat dan wajar. Jika ada perbedaan, suarakan dengan sikap saling hormat. Jika ada perselisihan, alangkah bijaknya jika pihak yang berselisih duduk bersama menyelesaikan dengan sikap dewasa. Juga apa yang seharusnya ada di ruang privat tidak perlu dibawa ke ruang publik. Jemaat yang terkasih, mari kita menangkal maraknya ujaran kebencian dengan mengedepankan komunikasi yang dewasa yang dilandasi sikap saling menghormati, mampu menguasai diri, dan dalam koridor kesopanan. Dengan budaya ini, kita akan semakin memperkuat semangat kesatuan, kerukunan, dan kedamaian sebagai satu keluarga Allah.
Orang percaya dikatakan sebagai orang-orang yang lebih dari pemenang. Dalam hal apa? ’Dalam semuanya itu’, yaitu dalam penindasan, kesesakan, penganiayaan, kelaparan, ketelanjangan, bahaya dan pedang. Bagaimana kita bisa menjadi pemenang, bahkan lebih dari pemenang dalam hal-hal di atas? Paulus memberikan tiga kunci agar kita dapat hidup sebagai pemenang-pemenang dalam pergumulan hidup kita sehari-hari. Pertama, hiduplah dalam pertobatan yang sungguh. Roma 8:1-4 berbicara mengenai kemerdekaan sejati yang kita peroleh melalui karya penebusan Yesus di kayu salib. Setiap orang yang mau hidup berkemenangan, maka ia harus mengalami pertobatan dan perjumpaan dengan Yesus. Bila seseorang masih hidup dalam pertobatan yang semu, sekalipun ia rajin ke gereja atau melayani, maka ia tidak akan mengalami kemenangan demi kemenangan. Kita harus sungguh-sungguh hidup dalam pertobatan yang benar : tidak ada lagi dusta, fitnah, kebohongan dan gosip. Berhenti berjudi, stop narkoba, tidak lagi mabuk-mabukan, juga dengan tegas meninggalkan dosa-dosa seksual. Kedua, hiduplah dalam pimpinan Roh. Roma 8:5-17 berbicara mengenai hidup yang dipimpin oleh Roh. Setiap orang percaya yang mau hidupnya selalu berkemenangan haruslah peka untuk mendengarkan suara Penolongnya. Ia harus mengikuti semua arahan dan petunjuk yang diberikan oleh Roh Kudus. Baca dan renungkan Firman Tuhan, maka kita akan mendapat tuntunan bagi jalan hidup kita. Ketiga, hiduplah dalam pengharapan [Roma 8:18-30]. Bagaimana kita bisa hidup dalam pengharapan? Tidak ada cara lain selain kita harus dapat melihat dengan jelas apa yang menanti kita di kekekalan. Rasul Paulus dapat melihat hal itu sehingga dengan berani ia berkata, ’Sebab aku yakin, bahwa penderitaan zaman sekarang ini tidak dapat dibandingkan dengan kemuliaan yang akan dinyatakan kepada kita.’ Orang Kristen yang tidak bisa melihat apa yang menantinya di sorga, cenderung mudah kehilangan iman, kasih dan pengharapannya di dunia ini karena matanya melihat apa yang ada di dunia ini.
Ketika masih kanak-kanak, saya senang menonton film laga yang diperankan oleh Bruce Lee atau Jacky Chan. Saya melihat betapa jagonya dia dalam menyelesaikan tantangan para pendekar dan selalu menjadi pemenang. Karena terinpirasi oleh tokoh film tersebut maka ketika masuk SMP, saya memutuskan untuk mengikuti pelatihan bela diri yang diadakan oleh salah satu perguruan pencak silat. Selama saya menjadi murid dari pencak silat tersebut, bayangan saya adalah menjadi hebat. Namun demi tujuan tersebut, saya harus melaluinya dengan latihan dan latihan. Latihannya cukup berat dan sangat melelahkan. Belum lagi harus diadu dan seringkali ada ujian untuk kenaikan tingkat. Menjalani hal itu, banyak dari teman-teman yang juga bermimpi ingin menjadi pendekar mulai berguguran dan tidak berlatih lagi. Namun karena keinginan yang kuat, saya tetap mengikuti latihan demi latihan. Dari pengalaman itu saya merasakan bahwa untuk menjadi seorang pendekar tidak cukup hanya menguasai jurus, namun lebih dari itu saya harus mengikuti pertandingan-pertandingan dan harus setidaknya bisa mengalahkan pelatih ketika bertarung sebagai syarat menjadi pendekar. Dan hal itu hanya dapat diwujudkan dengan latihan keras dan semangat pantang menyerah untuk terus memperdalam ilmu yang ada di perguruan silat tersebut. Seringkali kita mendengar kata “menjadi serupa dengan Kristus“, dan kita harus sampai ke sana sebab itulah tujuan dari kekristenan kita. Namun perlu diketahui untuk sampai kepada tahap tersebut, kita harus dan wajib melewati banyak hal dalam hidup kita, yaitu jalan salib kita masing-masing. Sebab hanya dengan jalan salib itu kita bisa mengerti pengalaman yang pernah Yesus alami. Ketika kita hendak menjadi serupa dengan Kristus, kunci yang Yesus ajarkan adalah sangkal diri dan pikul salib. Ketika kita memahami kata sangkal diri dan pikul salib, maka kita akan menyadari bahwa kedewasaan dan pengertian yang mendalam sebagai murid akan semakin jelas dalam kekristenan kita. Memang untuk menjadi seperti Kristus jalannya tidak mudah sebab harga bayarnya cukup besar dan menyakitkan. Namun ketika kita melakukan dengan kasih karunia Tuhan, maka kita akan sanggup untuk melewati semua. Melewati kesulitan, lembah badai hidup, gesekan dengan sesama, kekecewaan dan sebagainya yang tidak mengenakan. Namun ketika kita sanggup melewatinya, maka kemuliaan Tuhan selalu turun atas kita. Selama kita menjadi murid Kristus, maka kita akan selalu melalui jalan salib dan banyak hal. Namun semakin kita bisa melalui semuanya itu, maka perkenanan Tuhan akan selalu mengikuti kita. Oleh karenanya jangan pernah berhenti untuk belajar serupa dengan Kristus. [DBC] Pokok Renungan: Semakin kita belajar mengenal Kristus, maka kita akan belajar mengenal penderitaan-Nya. Jangan pernah menyerah dan meninggalkan pengajaran-Nya.
BARCODE BBM CHANNELS
RENUNGAN HARIAN
Kecap dan Lihatlah
19 Februari '17
Pendengar Atau Pelaku ?
30 Januari '17
Memebentuk Kasih Yang Tulus
24 Januari '17
Copyright © 2012 All rights reserved. Designed and Developed by GIA Dr. Cipto Semarang