SEPEKAN TERAKHIR
  Rabu, 30 Juli 2014   -HARI INI-
  Selasa, 29 Juli 2014
  Senin, 28 Juli 2014
  Minggu, 27 Juli 2014
  Sabtu, 26 Juli 2014
  Jumat, 25 Juli 2014
  Kamis, 24 Juli 2014
DITULIS OLEH
Pdt. Goenawan Susanto
Gembala Jemaat
Renungan Lain oleh Penulis:
Home  »  Renungan  »  Menjadi Berhasil Dalam Pengenalan Akan Kristus
Menjadi Berhasil Dalam Pengenalan Akan Kristus
Minggu, 14 Juli 2013 | Tema: Bertumbuh Dalam Pengenalan Akan Allah
Menjadi Berhasil Dalam Pengenalan Akan Kristus
2 Petrus 1:3-9
Setiap manusia dilahirkan ke dunia ini sebagai bayi, setelah itu akan mengalami pertumbuhan baik secara jasmani, mental maupun rohani. Karena itu tujuan dari setiap manusia adalah bertumbuh menjadi dewasa, melalui tahap-tahap perkembangan yang normal, supaya bisa berfungsi sebagaimana manusia dewasa pada umumnya.

Demikianlah bisa digambarkan kehidupan kita di dalam Kristus. Oleh anugerah dan karya Roh Kudus-Nya kita dilahirkan menjadi ciptaan baru, manusia rohani yang memiliki kodrat ilahi (potensi kehidupan sebagai anak Allah). Ayat 4 berkata: “supaya olehnya kamu boleh mengambil bagian dalam kodrat ilahi”. Artinya, setiap kita yang lahir baru di dalam Kristus memiliki potensi untuk hidup di dalam kekudusan dan pengenalan akan Allah. Harus digaris bawahi: setiap kita! Bukan hanya orang-orang Kristen tertentu saja, misalnya hamba Tuhan, atau orang-orang Kristen yang punya karunia-karunia tertentu.

Tapi kenyataan itu tidaklah untuk membuat kita menanti dengan pasif dan beranggapan bahwa dengan sendirinya kita akan mencapai kondisi itu. Firman Tuhan berkata: “Justru karena itu kamu harus dengan sungguh-sungguh berusaha ....” (ayat 5). Usaha yang sungguh-sungguh diperlukan agar supaya kita mengalami pertumbuhan dalam pengenalan kita akan Tuhan. Dengan kata lain, kalau kita tidak berusaha dengan sungguh-sungguh maka potensi yang dianugerahkan kepada kita itu akan tersia-siakan. Pe...selengkapnya »
“Ampunilah seperti kami mengampuni“ adalah satu kesatuan yang tidak terpisahkan, Tuhan Yesus mengajarkan hal ini secara khusus dalam Doa Bapa Kami (Matius 6:12). Bahkan dengan jelas Dia berkata bahwa jika kita mengampuni, Bapa kita yang di Sorga akan mengampuni kita tapi jika kita tidak mengampuni, Bapa kita juga tidak akan mengampuni kita (Matius 6:14). Jangan berharap kita akan mendapat pengampunan apabila kita menyimpan dendam, amarah atau kegeraman pada seseorang. Keluarga adalah lembaga pertama yang Allah ciptakan. Keluarga Kristen adalah sebuah komunitas iman yang Allah bentuk ketika sepasang kekasih datang ke altar Tuhan disatukan dan diikat dalam janji nikah kudus mereka. Seharusnya kuasa dan anugerah pengampunan Allah di dalam Yesus dan kuasa pengampunan antar sesama anggota keluarga menjadi warna khusus yang juga mewarnai lingkungan sekitar mereka. Masih adakah di tengah-tengah kita, para suami atau isteri, yang oleh karena hati yang terluka mulut berucap: “Sampai mati aku tidak bisa mengampuni dia. Dia tidak mungkin sembuh dari kelakuannya, kalau dia tidak mati.” Masih adakah para orangtua yang berkata: “Aku lebih baik kehilangan satu anak daripada aku mengampuni anakku yang satu ini, dia bukan anakku lagi.” Masih adakah anak-anak yang berkata: “Aku benci papa mama, oleh karena mereka aku jadi seperti ini, aku tidak bisa memaafkan mereka.” Efesus 4:32 berkata: ”Hendaklah kamu saling mengampuni, sebagaimana Allah di dalam Kristus telah mengampuni kamu.” Ijinkanlah kuasa pengampunan Allah yang mendatangkan damai sejahtera dan pemulihan persekutuan kita dengan Allah, kita dengan sesama, kita dengan diri kita sendiri dan kita dengan alam terus berkarya di dalam diri kita dan di tengah-tengah komunitas di mana kita ada di dalamnya.
Lidah itu kecil, tetapi pengaruhnya sangat besar! Tak jarang kita mendengar, membaca berita tentang pertengkaran yang kadang sampai berujung pada pembunuhan hanya berawal dari “bersilat lidah“. Sebaliknya lidah yang mengeluarkan perkataan lemah lembut membuat hati sejuk dan dapat meredakan kemarahan yang meledak-ledak. Dalam suratnya, Yakobus mengatakan bahwa lidah memang suatu anggota kecil dari tubuh kita, tetapi dapat memegahkan perkara-perkara besar sama seperti dahsyatnya api. Walaupun nyalanya semula kecil, jika didiamkan bisa membakar hutan yang besar (ayat 5). Ya, Yakobus menyamakan lidah dengan api yang jika lepas kendali dapat menodai seluruh tubuh dan menyalakan roda kehidupan manusia sedang dirinya sendiri akan dibakar oleh api neraka (ayat 6). Api itu panas, demikian juga lidah. Api bisa merusak dan menghancurkan. Gosip dan fitnah bisa merusakkan hubungan dengan orang lain. Kata-kata kasar akan terasa panas di telinga bagaikan api. Gosip akan menjalar dengan cepat bagaikan api yang menghanguskan. Pergunakan lidahmu untuk memuliakan Allah. Kuasai hatimu dan berkata-katalah yang memberikan berkat bagi orang lain (ayat 9a). Kita juga harus konsisten dalam menggunakan lidah, sama seperti sebuah pohon tidak mungkin mengeluarkan dua jenis buah, dan sebuah mata air tidak mungkin mengeluarkan air tawar dan air asin. Kita tidak boleh sebentar menggunakan lidah kita untuk Tuhan, tetapi kemudian mengeluarkan kata-kata kutuk dan caci maki (ayat 12). Bagaimana dengan lidah kita? Dengan kekuatan dan urapan Roh Kudus yang senantiasa menyala dalam diri kita, kita dimampukan untuk dapat mengendalikan lidah kita agar perkataan yang keluar bisa menjadi berkat bagi banyak orang.
Hendaklah damai sejahtera Kristus memerintah dalam hatimu, karena untuk itulah kamu telah dipanggil menjadi satu tubuh. (ayat 15) Rakyat Indonesia telah memilih presiden yang dikehendaki. Yang dipilih sebagian besar rakyat dialah yang akan memerintah atas kita. Demikian juga, jika kita memilih ’damai sejahtera Kristus’ sebagai yang berkuasa atas hidup kita maka damai sejahtera Kristuslah yang akan memerintah dalam hidup kita. Tuhan Yesus bersabda: Berbahagialah orang yang membawa damai, sebab merekalah yang disebut anak-anak Allah (Matius 5:9). Identitas anak Allah adalah pembawa damai. Itu bisa terjadi jika damai sejahtera Kristus memerintah di dalam hati kita. Apa yang kita perbuat adalah refleksi dari apa yang ada di dalam hati kita. Jika di dalam hati kita penuh dengan kepahitan dan amarah, maka kita akan menimbulkan pertentangan dimana-mana. Dimana kita hadir di situ akan muncul persoalan. Tetapi jika hati kita dipenuhi oleh damai sejahtera, maka yang kita kerjakan akan mendatangkan damai sejahtera bagi lingkungan kita. Jika di sekitar kita ada masalah, maka kita akan berusaha untuk menciptakan perdamaian. Maksud Tuhan menjadikan kita satu di dalam Gereja-Nya adalah agar kita mewujudkan damai sejahtera. Nas di atas berkata: ”untuk itulah kamu telah dipanggil menjadi satu tubuh.” Gereja adalah proyek percontohan dari Kristus. Jika Dia disebut Raja Damai maka umat pengikut-Nya adalah umat yang dipimpin oleh damai sejahtera. Bukan berarti tidak ada masalah di dalam gereja. Sifat-sifat manusia lama kita yang masih terbawa sekarang memang sering kali bertentangan dengan maksud Kristus. Itulah sebabnya di dalam gereja selalu saja muncul masalah. Tetapi damai sejahtera Kristuslah yang harus memerintah. Yang menang dan berkuasa bukanlah sifat kedagingan, egoisme, dan keangkuhan kita, tapi yang menang dan berkuasa adalah damai sejahtera Kristus. Jadi selama ini apakah kita telah membangun gereja Tuhan dengan damai sejahtera, atau malah meruntuhkannya dengan sikap egois dan keangkuhan kita? Dengan cara apa kita membangun atau meruntuhkan gereja Tuhan? Salah satunya adalah lewat perkataan. Kita dapat membangun dan menguatkan orang dengan mengucapkan kata-kata yang baik, dengan memberikan pujian yang tulus serta ayat-ayat firman Tuhan. Namun, kita juga dapat menghancurkan orang lewat gosip, omelan, dan pernyataan-pernyataan yang negatif. Izinkan Kristus berkuasa di dalam hidupmu, maka hatimu akan dipenuhi oleh damai sejahtera daripada-Nya. Amin.
Mother Theresa semasa hidupnya dipenuhi dengan kasih yang meluap. Dia mengasihi semua orang terutama mereka yang terpinggirkan dan rela tinggal dan hidup bersama mereka. Suatu saat dia menemukan seorang laki-laki dengan penuh luka membusuk dan berulat terbaring tanpa daya di selokan kota Calcuta. Dia mengangkat orang tersebut, dibawanya ke rumah, dan dirawatnya. Tanpa canggung dibersihkannya luka-luka itu dan diobati. Setelah beberapa hari dirawat, laki- laki itu meninggal dunia. Sebelum meninggal dia berkata, “Saya hidup seperti hewan, tetapi saya mati seperti malaikat karena ada orang yang mau mengasihiku.” Kita mengasihi karena Allah telah lebih dahulu mengasihi kita dengan pengorbanan-Nya di kayu salib (ayat 10), dan kasih kita sebagai tanda pemberitaan kasih Kristus pada dunia (ayat 9). Kasih juga sebagai tanda bahwa kita mengenal Allah dan telah dilahirkan baru dalam Kristus (ayat 7). Bila kita tidak saling mengasihi, maka kita tidak mengenal Allah karena Allah itu kasih (ayat 8). Allah sedemikian besar kasih-Nya kepada kita, maka sebagai umat tebusan kita harus saling mengasihi (ayat 11). Manusia tidak bisa melihat Allah, tetapi melalui saling mengasihi dengan kasih-Nya, maka orang lain akan merasakan kehadiran Allah (ayat 12). Di akhir zaman ini kasih menjadi sesuatu yang langka. Angka perceraian tinggi, dengan mudahnya membunuh orang lain hanya karena kepentingan pribadi, tidak peduli dengan penderitaan orang lain, dll. Di tengah situasi seperti itu Tuhan ingin agar kita tetap mengasihi sesama. Sudah selayaknya kalau penuh dengan Roh Kudus kita nyatakan kasih Kristus kepada semua orang tanpa memandang bulu. Dengan demikian kita bisa membawa orang lain mengenal Kristus seperti kita mengenal-Nya.
BARCODE BBM CHANNELS
RENUNGAN HARIAN
Dimana Pak Jon?
14 Juli '14
Komunitas Egaliter
17 Juli '14
Pentingnya Komunitas Rohani
06 Juli '14
Copyright © 2012 All rights reserved. Designed and Developed by GIA Dr. Cipto Semarang