SEPEKAN TERAKHIR
  Sabtu, 25 Oktober 2014   -HARI INI-
  Jumat, 24 Oktober 2014
  Kamis, 23 Oktober 2014
  Rabu, 22 Oktober 2014
  Selasa, 21 Oktober 2014
  Senin, 20 Oktober 2014
  Minggu, 19 Oktober 2014
DITULIS OLEH
Pdt. Goenawan Susanto
Gembala Jemaat
Renungan Lain oleh Penulis:
Home  »  Renungan  »  Menjadi Berhasil Dalam Pengenalan Akan Kristus
Menjadi Berhasil Dalam Pengenalan Akan Kristus
Minggu, 14 Juli 2013 | Tema: Bertumbuh Dalam Pengenalan Akan Allah
Menjadi Berhasil Dalam Pengenalan Akan Kristus
2 Petrus 1:3-9
Setiap manusia dilahirkan ke dunia ini sebagai bayi, setelah itu akan mengalami pertumbuhan baik secara jasmani, mental maupun rohani. Karena itu tujuan dari setiap manusia adalah bertumbuh menjadi dewasa, melalui tahap-tahap perkembangan yang normal, supaya bisa berfungsi sebagaimana manusia dewasa pada umumnya.

Demikianlah bisa digambarkan kehidupan kita di dalam Kristus. Oleh anugerah dan karya Roh Kudus-Nya kita dilahirkan menjadi ciptaan baru, manusia rohani yang memiliki kodrat ilahi (potensi kehidupan sebagai anak Allah). Ayat 4 berkata: “supaya olehnya kamu boleh mengambil bagian dalam kodrat ilahi”. Artinya, setiap kita yang lahir baru di dalam Kristus memiliki potensi untuk hidup di dalam kekudusan dan pengenalan akan Allah. Harus digaris bawahi: setiap kita! Bukan hanya orang-orang Kristen tertentu saja, misalnya hamba Tuhan, atau orang-orang Kristen yang punya karunia-karunia tertentu.

Tapi kenyataan itu tidaklah untuk membuat kita menanti dengan pasif dan beranggapan bahwa dengan sendirinya kita akan mencapai kondisi itu. Firman Tuhan berkata: “Justru karena itu kamu harus dengan sungguh-sungguh berusaha ....” (ayat 5). Usaha yang sungguh-sungguh diperlukan agar supaya kita mengalami pertumbuhan dalam pengenalan kita akan Tuhan. Dengan kata lain, kalau kita tidak berusaha dengan sungguh-sungguh maka potensi yang dianugerahkan kepada kita itu akan tersia-siakan. Pe...selengkapnya »
Seorang pria kekar dalam perjalanan menuju rumahnya tiba-tiba dihentikan oleh beberapa orang yang langsung memukuli dan mengambil dengan paksa sepeda motor yang dikendarainya. Pria itu ditinggal di tepi jalan dengan tubuh yang penuh dengan memar dan luka. Seseorang yang melihat peristiwa itu bertanya kepadanya, “Mengapa bapak tidak berusaha melawan orang-orang itu, saya melihat bapak jauh lebih kekar dan kuat dibanding dengan orang-orang yang merampok bapak.” “Dulu saya seorang jawara, saya pemarah, pemabuk, penjudi, pezinah, tidak ada satupun orang yang berani menghadapi saya. Saya pimpinan preman yang sangat ditakuti. Tetapi setelah menerima Yesus Kristus dalam hidup saya, perubahan terjadi. Saya menjadi manusia baru dengan karakter Kristus. Badan saya kekar, wajah saya sangar tetapi saya terus berusaha untuk sabar, lemah lembut, tidak dendam, hidup dengan damai sejahtera,” jawab pria itu. Sebagai umat pilihan Allah yang telah dikuduskan dan dikasihi-Nya, karakter kita harus berubah dari manusia lama menjadi manusia baru. Penuh belas kasihan, murah hati, rendah hati, lemah lembut dan sabar (ayat 12). Itu semua adalah karakter Kristus yang harus menjadi identitas murid Kristus. Sabar terhadap orang lain, mengampuni seperti Tuhan telah mengampuni kita (ayat 13). Kasih Kristus dalam hidup kita sebagai pengikat yang mempersatukan sesama (ayat 14). Hati penuh dengan damai sejahtera dan Firman Tuhan sehingga memberi hikmat untuk mengajar dan menegur sesama dengan perkataan yang menyejukkan (ayat 15, 16). Perkataan dan perbuatan dilakukan dalam nama Yesus (ayat 17). Marilah kita terus berusaha untuk menjadi manusia baru dengan membuang (mematikan) tabiat lama yang duniawi, yaitu percabulan, kenajisan, hawa nafsu, nafsu jahat, dan keserakahan yang semuanya itu mendatangkan murka Allah (ayat 5, 6). Dibutuhkan kemauan dan tekad yang kuat untuk dapat memiliki karakter Kristus. Ingatlah dengan memiliki karakter Kristus, hidup kita akan berdampak dan mempermuliakan nama Tuhan.
Awal tahun ini, saat saya mengikuti Traning Centre di Sinode GIA, saya berkenalan dengan seorang hamba Tuhan yang juga melayani di salah satu gereja GIA di kota Semarang Barat. Ciri-ciri yang dapat saya sebutkan dari fisik hamba Tuhan ini adalah: berbadan gemuk, tinggi, berkulit hitam, dengan wajah bulatnya ia memiliki senyum dan gaya tertawa yang khas. Beberapa hari kemudian setelah perkenalan itu, saya melihat foto-foto keluarganya dalam account FB. Bagi saya yang cukup unik dan familiar dari anggota keluarganya adalah foto-foto dari kedua anaknya. Bentuk wajah, bentuk tubuh, tinggi badan, warna kulit, dan mungkin yang lainya, semuanya mirip dengan bapaknya. Dengan demikian saya dengan mudah dapat menebak bahwa kedua anak itu sudah pasti adalah anak kandung dari teman saya itu. Sebagai anak-anak Allah hidup kita telah diubahkan sehingga kita menjadi serupa dan segambar dengan Allah. Keserupaan itu diberikan oleh Allah karena penebusan Tuhan Yesus Kristus di atas kayu salib sehingga setiap orang yang percaya kepada Yesus, wajah kemuliaannya dipulihkan kembali dari kerusakannya akibat kejatuhan manusia pertama dalam dosa. Dampak dari penebusan tersebut kita mengalami pemulihan, yaitu kemuliaan gambar Allah yang ada dalam diri kita dipulihkan. Sebagai anak-anak Allah yang telah dipulihkan menjadi segambar dan serupa dengan Allah, tentunya kita harus menjaga gambar Allah yang telah pulih dalam diri kita. Bukan secara lahiriah yang kemudian kita harus mengikuti model pakaian Tuhan Yesus, bentuk potongan rambut, janggut, ataupun model sendal yang digunakan Tuhan Yesus. Tetapi menjadi serupa dan segambar dengan Allah berbicara tentang hal-hal rohaniah: karakter, gaya hidup, visi dan misi, hati, pikiran, perkataan, dan lain-lainnya yang ada dalam diri Tuhan Yesus (Filipi 2:2).
Pada waktu terjadi kecelakaan sebuah bus yang penuh penumpang dengan sebuah truk trailer, perhatian orang-orang yang ada di sekitar tertuju kepada seorang pria. Pria itu bukan korban melainkan penolong korban yang luka-luka dan meninggal. Dia memberikan pertolongan dengan sukacita dan terlihat bekerja lebih giat di banding penolong yang lainnya. Dia tidak menghiraukan rasa lelah dan pakaian yang kotor terkena darah korban. Setelah selesai ada seorang wartawan yang bertanya, “Mengapa Bapak rela mengorbankan waktu dan tenaga untuk berbuat kebaikan kepada orang-orang yang Bapak tidak kenal?” “Aku mau berbuat baik pada semua orang dengan penuh sukacita karena Tuhan sangat baik kepadaku”, jawabnya. “Tuhan tidak hanya menyelamatkan jiwaku, tetapi selalu dekat denganku maka sudah selayaknya aku menujukkan kebaikan kepada semua orang selama hidupku.” Setiap murid Kristus harus senantiasa bersukacita di dalam Tuhan dalam segala keadaan. Sukacita akan membuat tidak kuatir menghadapi setiap masalah. Juga menyatakan pergumulan masalah hanya kepada Tuhan saja melalui doa dan ucapan syukur. Bila hal itu nyata dalam hidup murid Kristus, maka Tuhan sangat dekat dan kebaikannya dapat dirasakan semua orang. Dengan senang hati menolong orang lain apapun bentuk bantuannya karena damai sejahtera Allah yang melampaui segala akal memelihara hati dan pikiran. Setiap manusia termasuk anak Tuhan tidak kebal terhadap masalah. Apabila kita senantiasa tenggelam dalam masalah dan meratapinya maka kita tidak akan berbuat apa-apa bagi orang lain. Yesus memberi teladan kepada kita, walaupun banyak masalah, dimusuhi, diancam, tidak dipercaya, dan lain sebagainya tetapi senantiasa berbuat kebaikan dengan memberi makan, menyembuhkan, memberi penghiburan, dll. Marilah kita bangkit, di tengah masalah kita tebarkan kebaikan pada semua orang dengan penuh sukacita.
Masih ingatkah kita dengan film, “Terminator 2: The Judgment Day”, yang dibintangi oleh Arnold Schwarzenegger, Linda Hamilton, Edward Furlong, dan Robert Patrick yang dirilis tahun 1991? Di dalam film tersebut diceritakan tentang sesosok robot Terminator yang dikirim dari masa depan untuk melindungi seorang anak yang bernama John Connor dari ancaman pembunuhan robot yang terbuat dari logam cair yang bernama T-1000. John Connor diburu dan diancam untuk dibunuh oleh T-1000,karena di masa depan, John Connor menjadi orang yang akan memusnahkan robot-robot jahat dan akan menghakimi para tokoh jahat di balik munculnya para robot jahat. Yang menarik dari kisah ini adalah tentang perjuangan sosok terminator yang dengan setia melindungi dan mendampingi John Connor. Jauh-jauh dikirim dari masa depan, sang terminator rela mengorbankan dirinya agar John Connor tetap hidup, sekalipun harus dibayar dengan nyawa sang terminator. Kehadirannya bukan semata untuk kepentingan pribadinya, melainkan untuk memastikan orang lain merasa damai. Jika dibahasakan dalam “bahasa rohani”, kehadirannya memberi berkat bagi orang lain. Kisah Abraham mirip dengan kisah di atas. Abraham dipanggil dan dipilih Tuhan untuk melakukan misi yang mulia, yaitu untuk menjadi berkat bagi segala bangsa. Tuhan memanggil Abraham untuk “merantau” keluar dari tanah kelahirannya. Panggilan itu bukan semata-mata adalah jalan Tuhan untuk memberkati Abraham saja. Di dalam pemanggilan itu tersimpan amanat yang tidak kalah luar biasanya, yaitu Tuhan ingin menjadikan Abraham beserta keturunannya menjadi saluran berkat bagi semua bangsa. Cakupan atau ruang lingkup misi Abraham ini tidak terbatas hanya di kalangan tertentu saja. Alkitab mencatat di dalam Kejadian 12:3, “... dan olehmu semua kaum di muka bumi akan mendapat berkat.” Artinya, misi dan janji Allah pada Abraham untuk menjadi berkat berada di dalam cakupan yang tidak terbatas, tanpa ada pembatasan dan tanpa ada diskriminasi. Bagaimana dengan kita? Apakah kehadiran kita sudah menjadi berkat bagi semua orang? Ataukah kehadiran kita justru menjadi batu sandungan? Tuhan telah memilih kita keluar dari kegelapan untuk menjadi anak-anak terang. Kita telah dipilih Tuhan untuk menjadi umat pilihan-Nya, dan di dalam panggilan itu tersisip sebuah misi mulia, yaitu untuk menjadi berkat bagi semua orang. Mari Laksanakan!
BARCODE BBM CHANNELS
RENUNGAN HARIAN
Wujud Nyata Iman
06 Oktober '14
Kebahagiaan Orang Yang Murah Hati
10 Oktober '14
Hidup Yang Bermakna
19 Oktober '14
Copyright © 2012 All rights reserved. Designed and Developed by GIA Dr. Cipto Semarang