SEPEKAN TERAKHIR
  Kamis, 02 Oktober 2014   -HARI INI-
  Rabu, 01 Oktober 2014
  Selasa, 30 September 2014
  Senin, 29 September 2014
  Minggu, 28 September 2014
  Sabtu, 27 September 2014
  Jumat, 26 September 2014
DITULIS OLEH
Pdt. Goenawan Susanto
Gembala Jemaat
Renungan Lain oleh Penulis:
Home  »  Renungan  »  Menjadi Berhasil Dalam Pengenalan Akan Kristus
Menjadi Berhasil Dalam Pengenalan Akan Kristus
Minggu, 14 Juli 2013 | Tema: Bertumbuh Dalam Pengenalan Akan Allah
Menjadi Berhasil Dalam Pengenalan Akan Kristus
2 Petrus 1:3-9
Setiap manusia dilahirkan ke dunia ini sebagai bayi, setelah itu akan mengalami pertumbuhan baik secara jasmani, mental maupun rohani. Karena itu tujuan dari setiap manusia adalah bertumbuh menjadi dewasa, melalui tahap-tahap perkembangan yang normal, supaya bisa berfungsi sebagaimana manusia dewasa pada umumnya.

Demikianlah bisa digambarkan kehidupan kita di dalam Kristus. Oleh anugerah dan karya Roh Kudus-Nya kita dilahirkan menjadi ciptaan baru, manusia rohani yang memiliki kodrat ilahi (potensi kehidupan sebagai anak Allah). Ayat 4 berkata: “supaya olehnya kamu boleh mengambil bagian dalam kodrat ilahi”. Artinya, setiap kita yang lahir baru di dalam Kristus memiliki potensi untuk hidup di dalam kekudusan dan pengenalan akan Allah. Harus digaris bawahi: setiap kita! Bukan hanya orang-orang Kristen tertentu saja, misalnya hamba Tuhan, atau orang-orang Kristen yang punya karunia-karunia tertentu.

Tapi kenyataan itu tidaklah untuk membuat kita menanti dengan pasif dan beranggapan bahwa dengan sendirinya kita akan mencapai kondisi itu. Firman Tuhan berkata: “Justru karena itu kamu harus dengan sungguh-sungguh berusaha ....” (ayat 5). Usaha yang sungguh-sungguh diperlukan agar supaya kita mengalami pertumbuhan dalam pengenalan kita akan Tuhan. Dengan kata lain, kalau kita tidak berusaha dengan sungguh-sungguh maka potensi yang dianugerahkan kepada kita itu akan tersia-siakan. Pe...selengkapnya »
Sepak bola Indonesia tidak pernah kekurangan pemain bertalenta dari masa ke masa. Oleh sebab itulah tidak sedikit dari beberapa Klub luar negri naksir berat dengan beberapa pemain Indonesia dan menawari mereka untuk bermain di luar Indonesia. Sebut saja nama, Ricky Yakobi, Bima Sakti, Kurniawan, Bambang Pamungkas, Rocky Putiray, Andik Vermansyah, dan Irfan Bachdim adalah beberapa nama pemain yang pernah merumput di kompetisi sepak bola di luar Indonesia. Namun sayangnya, sejarah mencatat bahwa karir pemain Indonesia di uar negri tidak pernah bertahan lama. Karir mereka sebagian besar rata-rata hanya bertahan sekitar satu hingga dua tahun saja. Salah satu harian olah raga nasional pernah mengulas tentang hal ini dan menyebutkan bahwa selain karena persaingan yang sangat ketat, ada satu faktor lain yang menyebabkan para pemain Indonesia gagal bersaing di luar negri. Faktor itu adalah Home Sick atau “kangen” kampung halaman, atau dengan kata lain tidak betah tinggal di luar Indonesia. Home sick ini disebabkan karena adanya perasaan sendiri di negeri orang, merasa asing dan tidak ada teman di tempat yang baru. Apakah Anda mengalami Home sick ketika berada di gereja? Banyak orang merasa tidak nyaman beribadah di gereja karena alasan merasa sendiri, tidak ada yang memperhatikan, bosan, tidak ada pengurus atau teman yang peduli. Sehingga kelanjutannya kita lebih merindukan pulang ke rumah secepatnya atau rindu mendatangi gereja yang “lebih peduli”. Bila itu terjadi pada Anda, itu tandanya Anda sedang terserang Home Sick. Lalu siapa yang seharusnya bertanggung jawab agar Anda tidak Home sick? “Pendetanya dong”, “ah... bukan pendeta, tetapi Gembalanya, kan dia pemimpinnya”, “tidak bisa hanya Gembala, tetapi semua pengurus, Rohaniwan, Diaken, Penatua, aktifis, pokoknya semua yang aktif di gereja deh....” Itulah Celetukan opini dari sebagian orang tentang hal ini. Perhatikanlah cara hidup jemaat mula-mula yang dicatat dalam Kisah Para Rasul 2:41-47. Kisah ini diawali dengan khotbah Petrus yang membawa perubahan hidup. Jemaat yang pertama mendapat pencurahan Roh Kudus. Setelah itu, cara mereka beribadah pun diperbarui. Ibadah yang selama ini dijalankan biasa-biasa saja, kini berubah menjadi kebutuhan mutlak. Jemaat memiliki kehausan yang mendalam akan firman Tuhan. Mereka bertekun dalam pengajaran para rasul dan dalam persekutuan. Setiap hari mereka berkumpul untuk memecahkan roti dan berdoa (ayat 42). Peristiwa-peristiwa ajaib terjadi sebagai bukti penyertaan Tuhan atas firman-Nya. Dan lebih hebat lagi, Tuhan menambahkan jumlah mereka dengan orang-orang yang diselamatkan (ayat 47). Inti dari kisah ini adalah bahwa ibadah atau persekutuan yang mendatangkan berkat bagi semua orang, ada kesehatian ada kehidupan saling peduli adalah tugas dari semua. Mengapa demikian? Karena semua adalah tubuh Kristus yang memiliki peran masing-masing untuk membuat suasana yang antusias dalam setiap ibadah. Oleh karena itu, marilah kita menjadikan gereja sebagai “tempat yang nyaman” bagi kita. Ada kehidupan saling berbagi, saling peduli dan saling memperhatikan.
Suatu saat saya ingin menengok mama saya yang tinggalnya cukup jauh dari rumah, yaitu di Perum Graha Mukti. Saya sudah pikirkan untuk ke rumah mama dan bertemu dengan beliau, maka motor pun saya keluarkan dari rumah dan saya kendarai. Dalam perjalanan, saya memikirkan banyak hal yang terlintas di benak saya dan lucunya saya justru tidak ke rumah mama, tetapi justru ke sekolah anak saya yang pada waktu itu sedang libur. Dalam bulan ini kita sudah banyak mendengar dari berita-berita mimbar atau khotbah di pertemuan-pertemuan Komcil ataupun juga membaca sendiri dari Alkitab yang memberikan gambaran bahwa sebagai gereja Tuhan, kita digambarkan seperti tubuh dengan banyak anggota yang saling memperhatikan, saling mengasihi, saling terikat satu dengan yang lainnya, bahkan tubuh yang harus berjalan atas perintah ”kepala”. Mari kita fokuskan pikiran kita pada tujuan, bahkan kita bergerak mencapai tujuan untuk menjadi Gereja yang sempurna seperti yang Tuhan kehendaki (Matius 5:48). Dengan demikian bukan saja Tuhan akan bersukacita karena kita, namun sesuai nats firman di atas kita pun akan hidup bahagia sebagai umat Tuhan. Selamat untuk menjadi sempurna. Tuhan memberkati kita semua.
Di ruang tunggu sebuah sekolah, Sambey duduk sambil membaca Koran Bibir Kota. Keasyikannya membaca terpecah oleh perhatiannya pada pembicaraan ibu-ibu yang tengah berbincang riuh rendah. Arisan! Adalah tema yang diperbincangkan ibu-ibu itu. Seorang ibu berwajah bulat keputih-putihan menceritakan dengan bangga bahwa ia mengikuti 3 arisan. Arisan PKK, arisan perabot rumah, dan arisan sepeda motor. Seorang ibu berambut keriting berpipi tembem mengomentari bahwa sebenarnya ia wegah mengikuti arisan PKK karena baginya tidak level. Seorang ibu yang lain dengan ceriwis plus semangat mempromosikan arisan-arisan yang diikutinya. Sementara ibu-ibu yang lain hanya bengong mendengarkan saja. Sambey tersenyum geli mendengar celoteh ibu-ibu yang makin menambah gerah siang hari itu. Entah mengapa terbersit dalam pikirannya mengenai gereja. “Apakah gereja seperti kumpulan arisan? Meskipun terbuka untuk semua orang tetapi terbagi berdasarkan “taraf keelokan” tertentu? Dan membiarkan sekumpulan orang lain “yang tidak elok” sekedar pendengar dan penggembira?” pikir Sambey. “Ah, semoga tidak demikian,” gumam Sambey sambil tersenyum. Hambatan besar bagi kesatuan jemaat Korintus adalah masalah etnis dan status sosial-ekonomi. Jemaat cenderung berkelompok berdasarkan kebanggaan etnis dan status sosial-ekonomi. Jemaat terbelah antara keturunan Yahudi dan Yunani. Jemaat terpisah antara yang kaya dengan yang miskin. Ungkapan masa kini ora level mungkin menggambarkan secara tepat jurang yang digali oleh dua kelompok jemaat di atas. Menghadapi kenyataan ini, Rasul Paulus menasihati jemaat agar menyadari bahwa mereka adalah satu tubuh. Sebagai satu tubuh Kristus sudah seharusnya mereka berbaur, saling membutuhkan dan memperhatikan satu sama lain. Itu dimulai dengan kesediaan memperhatikan anggota yang selama ini luput dari perhatian. Mungkin karena ia dari etnis tertentu, mungkin ia tidak terpandang, dan mungkin ia orang miskin. Rasul Paulus minta itu dilakukan hingga kebanggaan etnis dan status sosial-ekonomi tergerus dan berganti dengan sehati-seperasaan. Jika ada satu anggota menderita, semua anggota turut menderita. Jika ada satu anggota dihormati, semua anggota bersukacita. Jemaat yang terkasih. Dalam masyarakat, tiap orang dikelompokkan berdasarkan etnis dan status sosial-ekonomi. Tionghoa atau Jawa? Batak? Madura? Dayak? Kaya atau miskin? Bos atau buruh? Manager atau Satpam? Direktur atau Cleaning Service? Sehingga suka atau tidak suka, kita cenderung mudah menerima, mengasihi dan menghormati orang-orang yang se-etnis dengan status sosial-ekonomi yang relatif setingkat dengan kita. Tuhan menghendaki kita melawan pengaruh ini. Tuhan mau kita hidup sebagai satu tubuh Kristus yang sehati-seperasaan satu sama lain. Semoga kita bisa.
Seorang pria kekar dalam perjalanan menuju rumahnya tiba-tiba dihentikan oleh beberapa orang yang langsung memukuli dan mengambil dengan paksa sepeda motor yang dikendarainya. Pria itu ditinggal di tepi jalan dengan tubuh yang penuh dengan memar dan luka. Seseorang yang melihat peristiwa itu bertanya kepadanya, “Mengapa bapak tidak berusaha melawan orang-orang itu, saya melihat bapak jauh lebih kekar dan kuat dibanding dengan orang-orang yang merampok bapak.” “Dulu saya seorang jawara, saya pemarah, pemabuk, penjudi, pezinah, tidak ada satupun orang yang berani menghadapi saya. Saya pimpinan preman yang sangat ditakuti. Tetapi setelah menerima Yesus Kristus dalam hidup saya, perubahan terjadi. Saya menjadi manusia baru dengan karakter Kristus. Badan saya kekar, wajah saya sangar tetapi saya terus berusaha untuk sabar, lemah lembut, tidak dendam, hidup dengan damai sejahtera,” jawab pria itu. Sebagai umat pilihan Allah yang telah dikuduskan dan dikasihi-Nya, karakter kita harus berubah dari manusia lama menjadi manusia baru. Penuh belas kasihan, murah hati, rendah hati, lemah lembut dan sabar (ayat 12). Itu semua adalah karakter Kristus yang harus menjadi identitas murid Kristus. Sabar terhadap orang lain, mengampuni seperti Tuhan telah mengampuni kita (ayat 13). Kasih Kristus dalam hidup kita sebagai pengikat yang mempersatukan sesama (ayat 14). Hati penuh dengan damai sejahtera dan Firman Tuhan sehingga memberi hikmat untuk mengajar dan menegur sesama dengan perkataan yang menyejukkan (ayat 15, 16). Perkataan dan perbuatan dilakukan dalam nama Yesus (ayat 17). Marilah kita terus berusaha untuk menjadi manusia baru dengan membuang (mematikan) tabiat lama yang duniawi, yaitu percabulan, kenajisan, hawa nafsu, nafsu jahat, dan keserakahan yang semuanya itu mendatangkan murka Allah (ayat 5, 6). Dibutuhkan kemauan dan tekad yang kuat untuk dapat memiliki karakter Kristus. Ingatlah dengan memiliki karakter Kristus, hidup kita akan berdampak dan mempermuliakan nama Tuhan.
BARCODE BBM CHANNELS
RENUNGAN HARIAN
Gereja Yang Bertumbuh
25 September '14
”Action? ... Yes!”
17 September '14
Manusia Terowongan
30 September '14
Copyright © 2012 All rights reserved. Designed and Developed by GIA Dr. Cipto Semarang