SEPEKAN TERAKHIR
  Minggu, 19 April 2015   -HARI INI-
  Sabtu, 18 April 2015
  Jumat, 17 April 2015
  Kamis, 16 April 2015
  Rabu, 15 April 2015
  Selasa, 14 April 2015
  Senin, 13 April 2015
DITULIS OLEH
Pdt. Goenawan Susanto
Gembala Jemaat
Renungan Lain oleh Penulis:
Home  »  Renungan  »  Menjadi Berhasil Dalam Pengenalan Akan Kristus
Menjadi Berhasil Dalam Pengenalan Akan Kristus
Minggu, 14 Juli 2013 | Tema: Bertumbuh Dalam Pengenalan Akan Allah
Menjadi Berhasil Dalam Pengenalan Akan Kristus
2 Petrus 1:3-9
Setiap manusia dilahirkan ke dunia ini sebagai bayi, setelah itu akan mengalami pertumbuhan baik secara jasmani, mental maupun rohani. Karena itu tujuan dari setiap manusia adalah bertumbuh menjadi dewasa, melalui tahap-tahap perkembangan yang normal, supaya bisa berfungsi sebagaimana manusia dewasa pada umumnya.

Demikianlah bisa digambarkan kehidupan kita di dalam Kristus. Oleh anugerah dan karya Roh Kudus-Nya kita dilahirkan menjadi ciptaan baru, manusia rohani yang memiliki kodrat ilahi (potensi kehidupan sebagai anak Allah). Ayat 4 berkata: “supaya olehnya kamu boleh mengambil bagian dalam kodrat ilahi”. Artinya, setiap kita yang lahir baru di dalam Kristus memiliki potensi untuk hidup di dalam kekudusan dan pengenalan akan Allah. Harus digaris bawahi: setiap kita! Bukan hanya orang-orang Kristen tertentu saja, misalnya hamba Tuhan, atau orang-orang Kristen yang punya karunia-karunia tertentu.

Tapi kenyataan itu tidaklah untuk membuat kita menanti dengan pasif dan beranggapan bahwa dengan sendirinya kita akan mencapai kondisi itu. Firman Tuhan berkata: “Justru karena itu kamu harus dengan sungguh-sungguh berusaha ....” (ayat 5). Usaha yang sungguh-sungguh diperlukan agar supaya kita mengalami pertumbuhan dalam pengenalan kita akan Tuhan. Dengan kata lain, kalau kita tidak berusaha dengan sungguh-sungguh maka potensi yang dianugerahkan kepada kita itu akan tersia-siakan. Pe...selengkapnya »
Dalam perbincangan antar Pelayan Tuhan dalam sebuah persekutuan, terceletuklah sebuah pernyataan dari salah seorang di antaranya demikian, “Ah... saya tidak ingin anak saya menjadi seperti saya [pendeta]. Biar mereka mencari pekerjaan lain.” Ketika saya mendengar pernyataan tersebut serta melihat mimik wajahnya, seakan-akan ia menyesali “pekerjaan” itu. Hal itu tersirat dari keinginannya yang mengharapkan anaknya tidak mengikuti jejaknya untuk jadi pendeta. Dari pengalaman di atas menggambarkan bahwa Pelayan Tuhan bukanlah sebuah “pekerjaan” favorit. Bahkan mungkin ketika disurvei, cita-cita menjadi Pelayan Tuhan dikalahkan dengan cita-cita untuk menjadi presiden, dokter, TNI, polisi, pengusaha, dll. Bagi mereka yang mencari ketenaran, sumber ekonomi, kenyamanan, kehormatan, dan lain sebagainya, seringkali merasa kecewa jika hal itu menjadi alasan bagi mereka ketika memutuskan menjadi Pelayan Tuhan. Lalu mengapa ada orang yang mau menjadi Pelayan Tuhan? Menjadi seorang Pelayan Tuhan tergantung dari dua hal. Pertama, Tuhan memanggilnya melalui passion [hasrat], yaitu ketika kita sangat tertarik dengan hal itu; pain [sakit], yaitu ketika kita merasa terbeban dengan hal itu; dan productivity [berbuah], yaitu ketika kita cepat berkembang dan menghasilkan sesuatu dengan hal itu . Kedua, ketika orang itu dengan taat, sadar, dan tulus memutuskan untuk menjadi Pelayan Tuhan walaupun ada banyak tantangan dan kemungkinan yang lain. Dengan demikian keputusan seseorang untuk menjadi Pelayan Tuhan merupakan sebuah bukti ketaatan mereka pada teladan Yesus [Matius 3:13-15]. Selain itu, menjadi Pelayan Tuhan merupakan bukti pengorbanan kecil kita demi kemuliaan Tuhan . Entah waktu, keuangan, prioritas, tenaga, perasaan, mungkin juga rasa gengsi atau harga diri, bahkan nyawa kita. Namun dalam semua itu, ada upah kita yang tak disadari oleh orang lain, yaitu pemuliaan dari Bapa di sorga dalam bentuk apa pun [Matius 19:29].
Yohanes 12:24-26 Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya jikalau biji gandum tidak jatuh ke dalam tanah dan mati, ia tetap satu biji saja; tetapi jika ia mati, ia akan menghasilkan banyak buah. [ayat 24] Pada saat Presiden Abraham Lincoln meninggal, jenazahnya dibawa dari Washington menuju ke Illinois untuk dimakamkan. Pada waktu itu perjalanan menggunakan jalan darat melewati kota-kota. Pada saat melewati kota Albany, iring-iringan jenazah itu melintasi jalan utama kota dan banyak orang menyaksikannya. Di antara kerumunan orang itu ada seorang wanita kulit hitam mengangkat anak laki-lakinya setinggi mungkin sehingga bisa melihat dengan jelas iring-iringan jenazah sang presiden. Dia berkata kepada anaknya, ’Pandanglah selama mungkin anakku. Dia telah mati untukmu.’ [Catatan: Abaraham Lincoln adalah presiden Amerika yang gigih memperjuangkan persamaan hak setiap warga negara tanpa membedakan warna kulit. Dia mati karena dibunuh oleh lawan politiknya] Kematian seorang yang memperjuangkan kebenaran bukanlah akhir dari segalanya. Bahkan kematian orang tersebut merupakan awal dari tumbuhnya kebenaran yang diperjuangkan. Kematiannya dapat digambarkan seperti biji gandum yang ditanam di tanah, lalu bertumbuh menjadi tunas, dan selanjutnya menjadi tanaman yang menghasilkan buah yang berlipat kali jumlahnya. Hari Jumat besok kita akan memperingati kematian Yesus Kristus. Kematian Yesus selalu kita peringati sebagai sebuah peristiwa yang agung, yang layak untuk selalu dikenang dan punya makna yang dalam bagi hidup kita. Yesus telah mati untuk kita. Karena kematian-Nya kita dibebaskan dari kutuk dosa dan beroleh hidup yang baru. Kematian-Nya merupakan pemberian hidup-Nya, bagai biji gandum yang ditabur di dalam tanah, lalu tumbuh dan menjadi tanaman yang menghasilkan banyak buah. Buah-buah dari pengorbanan Kristus adalah berupa jiwa-jiwa yang diselamatkan. Sebagai pengikut Yesus kita hidup di jalan-Nya. Dia memberikan hidup-Nya untuk selalu menyampaikan kabar baik tentang Kerajaan Allah. Karena itu Dia mengekspresikan kasih Allah dengan menyembuhkan orang sakit, menolong orang yang susah dan menyatakan belas kasih kepada orang berdosa. Dia berikan hidup-Nya secara utuh. Selamat menyambut peristiwa yang paling agung sepanjang sejarah.
Beberapa dari anggota jemaat Filipi senantiasa memberi perhatian untuk pekerjaan Tuhan melalui hamba-Nya, yaitu rasul Paulus. Apa dasar pemberian jemaat untuk rasul Paulus? Apakah karena rasul Paulus kekurangan, atau apakah gereja di Filipi sedang membutuhkan banyak dana untuk urusan pelayanan? Yang jelas bahwa rasul Paulus tidak begitu terlalu mengharapkan pemberian jemaat Filipi karena Paulus telah terbiasa dalam keadaan kekurangan maupun kelimpahan, kenyang maupun kelaparan. Sebab Paulus telah belajar mencukupkan diri dalam segala keadaan, terutama dalam kesesakan. Paulus tidak menanggungnya sendiri karena ada Tuhan yang memberi kekuatan kepadanya [ayat 11-13]. Menurut Paulus, Tuhan itu segalanya. Dia sanggup memberikan kekuatan dalam situasi seperti apapun. Pelayanan di ladang Tuhan pastilah akan mendapatkan pertolongan-Nya. Namun ketika jemaat dengan kesungguhan hati memberi bantuan untuk pelayanan pekerjaan Tuhan, Paulus mengatakan bahwa “baik juga perbuatanmu” [ayat 14] karena tindakan itu merupakan usaha mengambil bagian kesusahan dalam pelayanan di ladang Tuhan. Bukan persoalan pemberian itu, melainkan buahnya yang memperbesar keuntungan jemaat itu sendiri [ayat 17]. Saudara kekasih, Tuhan sanggup mencukupkan segala kebutuhan di ladang pelayanan-Nya, tetapi Tuhan memandang baik kepada jemaat yang selalu bersedia mengambil kesusahan di ladang Tuhan dengan memberi persembahan, perpuluhan, tenaga, pemikiran, waktu, ide-ide, dsb. Tuhan tidak akan membiarkan perbuatan jemaat itu menjadi sia-sia. Tuhan tidak akan membiarkan jemaat “memiutangi-Nya”. Bukan pemberian jemaat yang utama, tetapi kesediaan jemaat yang turut mengambil bagian dalam kesusahan pelayanan. Tuhan akan memandang itu sebagai kebaikan, dan Tuhan tidak akan pernah membiarkan jemaat-Nya, dan bersiaplah untuk menerima keuntungan dari Tuhan [ayat 17b, 19].
Tuhan Yesus memberikan sebuah perumpamaan tentang dua orang anak. Dikisahkan bahwa sang ayah menyuruh anak sulungnya untuk pergi bekerja di kebun anggur. Si sulung menjawab, “Baik, Bapa.” Tetapi kenyataannya si sulung tidak menjalankan perintah bapanya, dia tidak pergi. Sang ayah juga menghampiri anak kedua dan menyuruhnya pula untuk bekerja di kebun anggur. Anak kedua itu berkata, “Aku tidak mau.” Tetapi ia segera menyesal akan sikapnya itu, dan akhirnya anak kedua mengambil keputusan pergi ke kebun anggur dan bekerja. Dari kisah perumpamaan itu Yesus bertanya kepada imam-imam dan tua-tua bangsa Yahudi, “Siapakah di antara kedua orang itu yang melakukan kehendak ayahnya?” Mereka menjawab, “Yang terakhir.” Saudara yang kekasih, berbicara mengenai “berkenan di hati Tuhan” adalah bicara tentang ketaatan melakukan perintah Tuhan dan segala kebenaran-Nya. Yang benar-benar taat melakukan kehendak Tuhan itulah yang diperkenan Tuhan. Jika demikian apakah semua orang Kristen pasti diperkenan Tuhan? Jawabnya adalah “tergantung.” Artinya, setiap orang Kristen yang setiap hari taat melakukan kehendak Tuhan melalui Firman-Nya, maka mereka berkenan di hati Tuhan. Tetapi sekalipun orang mengatakan dirinya Kristen namun ternyata masih hidup dalam keduniawian, bertentangan dengan firman Tuhan, dan tidak sedikitpun mencerminkan ketaatan kepada Tuhan, masih mengikuti kemauan egonya, tentu orang ini belum diperkenan Tuhan. Saudara kekasih, di dalam Injil Matius 7:21 mengatakan “Bukan setiap orang yang berseru kepada-Ku: Tuhan, Tuhan! Akan masuk dalam Kerajaan Sorga, melainkan dia yang melakukan kehendak Bapa-Ku yang di Sorga.” Bagaimana kita bisa melakukan kehendak Tuhan? Setidaknya ada 3 hal penting yang dilakukan Yesus sebagai teladan bagi kita: pertama, menyangkal diri [Yohanes 12:24, 25], mematikan ego kita dan hanya mengikuti Firman Tuhan. Kedua, taat kepada Bapa [Yohanes 12:26], apa yang dikehendaki-Nya kita ikuti. Ketiga, berani menghadapi tantangan [Yohanes 12:27], ketaatan membutuhkan keberanian, seperti Yesus, untuk diuji sejauh mana ketaatan kepada Bapa.
BARCODE BBM CHANNELS
RENUNGAN HARIAN
Menikmati Dan Berbagi
25 Maret '15
Sebuah Ketaatan
06 April '15
Yesus Sebagai Standart
07 April '15
Copyright © 2012 All rights reserved. Designed and Developed by GIA Dr. Cipto Semarang