SEPEKAN TERAKHIR
  Jumat, 29 Mei 2015   -HARI INI-
  Kamis, 28 Mei 2015
  Rabu, 27 Mei 2015
  Selasa, 26 Mei 2015
  Senin, 25 Mei 2015
  Minggu, 24 Mei 2015
  Sabtu, 23 Mei 2015
DITULIS OLEH
Pdt. Goenawan Susanto
Gembala Jemaat
Renungan Lain oleh Penulis:
  Power
Home  »  Renungan  »  Menjadi Berhasil Dalam Pengenalan Akan Kristus
Menjadi Berhasil Dalam Pengenalan Akan Kristus
Minggu, 14 Juli 2013 | Tema: Bertumbuh Dalam Pengenalan Akan Allah
Menjadi Berhasil Dalam Pengenalan Akan Kristus
2 Petrus 1:3-9
Setiap manusia dilahirkan ke dunia ini sebagai bayi, setelah itu akan mengalami pertumbuhan baik secara jasmani, mental maupun rohani. Karena itu tujuan dari setiap manusia adalah bertumbuh menjadi dewasa, melalui tahap-tahap perkembangan yang normal, supaya bisa berfungsi sebagaimana manusia dewasa pada umumnya.

Demikianlah bisa digambarkan kehidupan kita di dalam Kristus. Oleh anugerah dan karya Roh Kudus-Nya kita dilahirkan menjadi ciptaan baru, manusia rohani yang memiliki kodrat ilahi (potensi kehidupan sebagai anak Allah). Ayat 4 berkata: “supaya olehnya kamu boleh mengambil bagian dalam kodrat ilahi”. Artinya, setiap kita yang lahir baru di dalam Kristus memiliki potensi untuk hidup di dalam kekudusan dan pengenalan akan Allah. Harus digaris bawahi: setiap kita! Bukan hanya orang-orang Kristen tertentu saja, misalnya hamba Tuhan, atau orang-orang Kristen yang punya karunia-karunia tertentu.

Tapi kenyataan itu tidaklah untuk membuat kita menanti dengan pasif dan beranggapan bahwa dengan sendirinya kita akan mencapai kondisi itu. Firman Tuhan berkata: “Justru karena itu kamu harus dengan sungguh-sungguh berusaha ....” (ayat 5). Usaha yang sungguh-sungguh diperlukan agar supaya kita mengalami pertumbuhan dalam pengenalan kita akan Tuhan. Dengan kata lain, kalau kita tidak berusaha dengan sungguh-sungguh maka potensi yang dianugerahkan kepada kita itu akan tersia-siakan. Pe...selengkapnya »
Roma 12:2 dalam versi bahasa Indonesia sehari-hari menyatakan, “Janganlah ikuti norma-norma dunia ini. Biarkan Allah membuat pribadimu menjadi baru, supaya kalian berubah. Dengan demikian kalian sanggup mengetahui kemauan Allah , yaitu apa yang baik dan yang menyenangkan hati-Nya dan yang sempurna.” Berpijak dari ayat tersebut, banyak orang kristen merasa bahwa mereka telah melakukan kehendak Allah dalam hidupnya. Misalnya, setia beribadah pada hari Minggu dan tidak pernah merugikan orang lain. Katakan saja pak Munir. Dia selalu beribadah di hari Minggu, tetapi di lingkungan tempat tinggalnya, banyak orang kecewa karena pelitnya minta ampun. Pak Munir juga memberikan perpuluhan, sekalipun sejak sepuluh tahun yang lalu sampai sekarang nominalnya tetap sama, tidak ada peningkatan. Namun demikian pak Munir tidak sungkan-sungkan berbicara mengenai kesetiaannya dalam melakukan kehendak Allah. Pak Munir merasa bahwa dirinya sudah melakukan kehendak Allah. Saudara, banyak orang kristen merasa sudah melakukan kehendak Allah, padahal sebenarnya hanya sekedar merasa melakukan kehendak Allah. Kalau hanya merasa, maka sejatinya belum banyak melakukan kehendak Allah. Seseorang yang melakukan kehendak Allah pastilah terlebih dulu mengalami perubahan kepribadian yang dikerjakan oleh Allah sendiri sesuai dengan yang dipola Allah. Pembaharuan budi itulah yang menyanggupkan kita mengetahui kehendak atau kemauan Allah, yaitu semua yang baik dan yang menyenangkan hati-Nya. Dengan kata lain seseorang yang sudah mengalami pembaharuan budi, maka dia benar-benar melakukan kehendak Allah: semua yang baik dan yang berkenan di hati-Nya. Biarkanlah Allah terlebih dulu melakukan pembaruan budi kita. Amin.
Kisah Para Rasul 2:1, 4 Ketika tiba hari Pentakosta, semua orang percaya berkumpul di satu tempat.... Maka penuhlah mereka dengan Roh Kudus, lalu mereka mulai berkata-kata dalam bahasa-bahasa lain, seperti yang diberikan oleh Roh itu kepada mereka untuk mengatakannya. Kisah Para Rasul 4:31 Dan ketika mereka sedang berdoa, goyanglah tempat mereka berkumpul itu dan mereka semua penuh dengan Roh Kudus, lalu mereka memberitakan firman Allah dengan berani. Murid-murid Yesus adalah orang-orang yang sederhana. Setelah Yesus naik ke surga, apa yang terjadi dengan mereka? Kalau dilihat dari kedudukan dan kemampuan mereka seharusnya mereka sudah bubar kocar-kacir. Mereka diancam tidak boleh memberitakan Nama Yesus. Seharusnya mereka ketakutan dan bersembunyi atau tutup mulut. Ternyata di luar dugaan, mereka tampil sebagai saksi-saksi yang berani. Mereka dengan penuh keyakinan memberitakan bahwa Yesus bangkit dari kematian dan memerintah sebagai Tuhan atas hidup manusia. Jelas, keberanian itu bukan berasal dari diri mereka sendiri. Roh Kudus telah turun ke atas mereka dan membuat mereka memiliki keberanian itu. Peristiwa Pentakosta-lah yang menyebabkan semua itu. Filipi 2:13 mengatakan: ’karena Allahlah yang mengerjakan di dalam kamu baik kemauan maupun pekerjaan menurut kerelaan-Nya.’ Roh Kudus-lah yang mengerjakan di dalam kita kemauan untuk melakukan kehendak Bapa di surga. Dalam 2 Korintus 3:5 rasul Paulus mengatakan: ’Dengan diri kami sendiri kami tidak sanggup untuk memperhitungkan sesuatu seolah-olah pekerjaan kami sendiri; tidak, kesanggupan kami adalah pekerjaan Allah.’ Roh Kuduslah yang membuat Rasul Paulus sanggup melakukan pekerjaan-pekerjaan besar yang dikerjakannya. Saya merindukan Pentakosta itu terjadi lagi dan lagi dalam gereja kita. Amin.
Henry Bosch mengatakan, “ Hidup begitu singkat. Jadikan hidup Anda indah!” Untuk menekankan betapa singkatnya hidup ini, pemazmur juga menggambarkannya sebagai rumput dan bunga [ayat 15,16]. Hijaunya rumput dan cantiknya bunga sangat menyejukkan hati. Selain mengeluarkan aroma yang wangi bunga juga berperan penting dalam menghasilkan bibit baru. Namun pernahkah kita menghitung hari-hari “kehidupannya”? Ternyata aroma wangi & kecantikannya berlalu begitu cepat. Pemazmur mengingatkan kepada kita betapa hidup kitapun seperti itu. Teramat sangat singkat! Oleh karenanya mari kita menggunakannya dengan cermat “saat-saat kita berbunga”. Dengan madu kasih Allah yang ada dalam “bunga” hati kita mari kita menghasilkan bibit-bibit baru dalam keluarga kita, yaitu ‘GENERASI ILAHI” yang mengasihi dan mengerti apa yang menjadi kehendak Allah dalam hidup ini. Bagaimana hal itu bisa terwujud? Simaklah apa yang dikatakan oleh Pemazmur dalam perikop ini: • Kasih setia Tuhan selalu ada bila kita takut akan Tuhan [ayat 17]. • Keadilannya bagi anak-cucu kita bila kita berpegang teguh pada perjanjian-Nya dan ingat untuk melakukan perintah-Nya [ayat 18]. Mungkin kita merasa selama ini menggunakan waktu hanya untuk mencari uang... uang... dan uang untuk memenuhi kebutuhan hidup keluarga yang kita kasihi. Hal tersebut tidak salah karena kita wajib memelihara kelangsungan hidup keluarga kita. Namun akan menjadi salah apabila dalam kesibukan pekerjaan ataupun pelayanan kita, kita melupakan esensi yang penting bagi generasi penerus kita, yaitu keselamatan jiwa mereka! Sudahkah kita mempersiapkan masa depan mereka sesuai dengan kehendak Allah? Amin.
Pernahkah kita melihat orang-orang di sekitar kita melakukan hal-hal negatif yang tidak kita senangi, sehingga tindakan mereka dapat membuat kita marah, sedih, atau mungkin berduka? Mungkin itu dilakukan orang-orang yang kita kasihi, misalnya; istri, suami, orangtua, anak-anak, cucu, dll. Atau mungkin hal itu dilakukan oleh tetangga kanan kiri kita, bahkan mungkin orang-orang yang kita jumpai setiap hari dalam segala aktivitas dan pelayanan kita. Mengapa kerap kali hati kita tidak berkenan jika melihat orang-orang yang kita kasihi melakukan tindakan yang negatif? Sesungguhnya kesadaran itu telah muncul dengan sendirinya ketika hidup kita diperbaharui oleh kebenaran Firman Tuhan. Kebenaran Firman yang adalah sumber terang itulah yang kemudian menuntun kita dalam terang sehingga kita dipimpin untuk selalu hidup dalam terang Allah. Ketika terang Allah itu telah ada dalam hati kita, sesungguhnya kita akan mengetahui semua hal yang berkenan di hati Tuhan dan yang tidak. Kita menjadi cermin di mana kita bisa turut merasakan apa yang dirasakan oleh Tuhan. Jika kita sedih melihat kejahatan dan ketidakadilan, maka Tuhan lebih sedih melihatnya. Ketika kita menangis melihat orang-orang yang kita kasihi jatuh dalam dosa, sesungguhnya Tuhan juga sedang menangis melihat orang-orang yang telah ditebus-Nya kembali jatuh dalam dosa. Apa yang kita rasakan sesungguhnya mewakili apa yang Tuhan rasakan. Kita dapat merasakan kasih Allah yang demikian besar karena kasih Allah telah menerangi kita. Ketika Nehemia mendengar keadaan orang-orang Israel yang terluput dari pembuangan, maka Nehemia terduduk menangis dan berkabung selama beberapa hari. Nehemia berpuasa dan berdoa kehadirat Allah semesta langit selama beberapa hari [ayat 4]. Tuhan memakai Nehemia bak sebuah cermin yang dapat melihat sekelilingnya. Ia sangat sedih melihat keterpurukan orang Israel yang tertinggal di Yerusalem [ayat 3]. Sesungguhnya apa yang kita rasakan juga dirasakan oleh Tuhan. Aku adalah cermin bagi diriku di hati Tuhan. Jika kita sedih melihat kejahatan dan ketidakadilan, jangan sampai kita malah jatuh di dalamnya. Berkenanlah di hati Tuhan seperti kita melihat orang-orang di sekitar kita yang berkenan di hati kita.
BARCODE BBM CHANNELS
RENUNGAN HARIAN
Regenerasi Yang Sukses
04 Mei '15
Tertib Hukum : Bagian Dari Perintah Allah
14 Mei '15
Ibuku, Guruku
23 Mei '15
Copyright © 2012 All rights reserved. Designed and Developed by GIA Dr. Cipto Semarang