SEPEKAN TERAKHIR
  Jumat, 09 Desember 2016   -HARI INI-
  Kamis, 08 Desember 2016
  Rabu, 07 Desember 2016
  Selasa, 06 Desember 2016
  Senin, 05 Desember 2016
  Minggu, 04 Desember 2016
  Sabtu, 03 Desember 2016
DITULIS OLEH
Pdt. Goenawan Susanto
Gembala Jemaat
Renungan Lain oleh Penulis:
Home  »  Renungan  »  Menjadi Berhasil Dalam Pengenalan Akan Kristus
Menjadi Berhasil Dalam Pengenalan Akan Kristus
Minggu, 14 Juli 2013 | Tema: Bertumbuh Dalam Pengenalan Akan Allah
Menjadi Berhasil Dalam Pengenalan Akan Kristus
2 Petrus 1:3-9
Setiap manusia dilahirkan ke dunia ini sebagai bayi, setelah itu akan mengalami pertumbuhan baik secara jasmani, mental maupun rohani. Karena itu tujuan dari setiap manusia adalah bertumbuh menjadi dewasa, melalui tahap-tahap perkembangan yang normal, supaya bisa berfungsi sebagaimana manusia dewasa pada umumnya.

Demikianlah bisa digambarkan kehidupan kita di dalam Kristus. Oleh anugerah dan karya Roh Kudus-Nya kita dilahirkan menjadi ciptaan baru, manusia rohani yang memiliki kodrat ilahi (potensi kehidupan sebagai anak Allah). Ayat 4 berkata: supaya olehnya kamu boleh mengambil bagian dalam kodrat ilahi. Artinya, setiap kita yang lahir baru di dalam Kristus memiliki potensi ...selengkapnya »
Riwayat penciptaan alam semesta dan penciptaan manusia yang serupa dan segambar dengan Allah menunjukkan kesempurnaan hasil ciptaan, sehingga diberi predikat sungguh amat baik [Kejadian 1:31]. Tetapi karena kejatuhan manusia, bumi dan manusia tidak lagi menjadi seperti yang dirancang semula oleh Bapa. Keadaan manusia menjadi sangat menyedihkan, kehilangan damai, moralnya rusak dan berjalan menuju kebinasaan, terpisah dari Penciptanya. Dengan kata lain, kehilangan kemuliaan Allah [Roma 3:23]. Allah Bapa tentunya sangat prihatin dengan keadaan manusia yang jatuh dalam dosa. Keprihatinan ini ditunjukkan dalam peristiwa:  Yesus menangisi Yerusalem dalam Lukas 13:34.  Dalam kisah tentang Lazarus yang mati, Tuhan Yesus juga menangis [Yohanes 11:35]. Dia bukan saja menangisi Lazarus yang telah mati, tetapi sedih karena realitas adanya kematian dalam kehidupan manusia. Sesungguhnya kematian bukan suatu realitas yang dirancang oleh Allah Bapa. Kisah kedatangan Anak Allah ke dalam dunia menunjukkan solidaritas yang luar biasa dari Pencipta. Lahir di kandang domba, mengosongkan diri dan mengambil rupa seorang hamba, dan menjadi sama dengan manusia, merendahkan diri, mengalami penderitaan yang hebat dan taat sampai mati di kayu salib [Filipi 2:6-8]. Kita perlu merespon keprihatinan dan beban di hati Tuhan dengan terus bertumbuh dewasa rohani sehingga bisa memahami pikiran dan perasaan Allah terhadap keadaan dunia yang sebetulnya sangat tragis dan menyedihkan. Kita harus memiliki visi Bapa untuk menyelamatkan sebanyak mungkin manusia melalui hidup kita di dunia ini [2 Petrus 3:9].
Bukti bahwa kita telah mengalami penyaliban dengan Yesus adalah kita memiliki keserupaan yang pasti dengan-Nya. Roh Kudus yang diberikan dalam diri kita menata kembali kehidupan pribadi kita di hadapan Allah. Kebangkitan Yesus adalah bukti kemuliaan Allah untuk menyatakan hidup kepada kita dan sejak itu pengalaman hidup kita harus dibangun di atas landasan hidup-Nya. Kita dapat memiliki hidup kebangkitan-Nya sekarang ini yang akan terlihat dengan sendirinya melalui kekudusan. Apa yang dipaparkan dalam perikop Roma 6:1–14 oleh Rasul Paulus menunjuk kepada kita setelah memutuskan untuk disatukan dengan Yesus Kristus dalam kematian-Nya. Hidup kebangkitan Yesus akan menembus setiap bagian kehidupan kemanusiaan kita. Dan kuasa kemanusiaan lama [dosa] kita sudah tidak lagi berkuasa atas kita. Untuk itu diperlukan kemahakuasaan Allah - kuasa keilahian yang menyeluruh - untuk menjalani hidup baru sebagai anak-anak Tuhan dalam tubuh “daging” manusia. Dari sinilah nyata bahwa Roh Tuhan [Roh Kudus] menguasai kehidupan kita ketika kita memutuskan untuk menyatakan “manusia lama” [warisan dosa] dengan kematian Yesus Kristus. Dia [Yesus Kristus] mengambil alih semuanya bagian kita adalah berjalan dalam terang dan mematuhi semua yang dinyatakan-Nya kepada kita. Hasilnya adalah mencapai kepenuhan Kristus. Setelah kita membuat keputusan penting tentang dosa, maka akan mudah bagi kita “memandang” bahwa saya benar-benar ‘telah mati bagi dosa’ karena saya menentukan hidup Yesus di dalam diri saya sepanjang waktu [ayat 11]. Seperti halnya tentang kekudusan hanya ada satu, yaitu di dalam diri Yesus. Dan kekudusan Yesus-lah yang telah diberikan kepada kita. Bapa menaruh kekudusan Anak-Nya di dalam diri kita dan kita menjadi bagian dari suatu tatanan kehidupan rohani yang baru, yang bersedia setiap waktu untuk dipakai oleh Allah Bapa menjadi alat-alat kebenaran.
Tidak sedikit orang kristen yang belum mengerti tentang hubungan antara iman kepada Kristus dengan kekayaan. Yang sering terjadi adalah banyak orang kristen terus berdoa supaya diberkati, diberkati dan diberkati. Diberkati dalam hal apa? Biasanya diberkati secara materi, yaitu kekayaan. Sementara orang-orang kristen yang sudah “terlanjur” kaya banyak yang juga belum mengerti sebenarnya kekayaan itu dari siapa dan untuk apa. Siapa yang memberi dan bagaimana harus mengelola kekayaan itu. Banyak di antara mereka yang terombang-ambingkan oleh arus dunia bersama-sama dengan harta mereka. Alkitab menunjukkan bahwa menjadi kaya secara materi itu tidak dilarang [1 Timotius 6:17-18], bahkan Tuhan pun bisa memberikan kekayaan itu [1 Raja-Raja 3:13]. Tetapi sungguhpun demikian Alkitab tidak mengharuskan kita untuk menjadi kaya, misalnya raja Salomo, dia di hadapan Tuhan tidak meminta kekayaan atau umur panjang melainkan dia minta hikmat. Dengan demikian dia bisa mengerti yang baik dan yang jahat sehingga mampu menjadi hakim yang adil di tengah rakyatnya yang tidak sedikit jumlahnya, yang tentunya memiliki berbagai persoalan hidup [1 Raja-Raja 3:9-12]. Kalaupun Salomo menjadi kaya raya itu semata-mata hanya bonus saja dari Allah [lih. 1 Raja-Raja 3:13]. Mungkin saudara saat ini bertanya kepada Tuhan, “Boleh dong Tuhan aku menjadi kaya?” Sudah barang tentu Tuhan tidak membeda-bedakan dan memandang rupa, siapa pun boleh menjadi kaya. Tetapi... sekali lagi “tetapi” ada beberapa hal yang perlu diperhatikan: sudahkah kita memiliki visi-misi dengan kekayaan itu?; Bagaimana cara mendapatkan? Tentu saja modalnya dengan kerja keras dan kejujuran; Bagaimana pengelolaannya?; Dan yang terpenting jikalau sudah berhasil menjadi kaya untuk apa kekayaan itu. Banyak orang berhasil yang memulai dari nol sampai akhirnya sukses, tetapi setelah kaya raya pelitnya minta ampun, egoisnya luar biasa dan menjadi sombong [lih. 1 Timotius 6:17-18]. Saudara, siapa pun boleh kaya tetapi harus rela menjadi bendaharanya Tuhan. Suka memberi kepada yang tak mampu, membiayai sekolah anak-anak terlantar, memerhatikan pembangunan rumah Tuhan, mendukung pelayanan jemaat yang tidak mampu [diakonia], dll. Tetapi jika tidak demikian, maka harta kekayaan itu akan menjerumuskan dan menenggelamkan kita dalam keruntuhan dan kebinasaan [1 Tim.6:9,10]. Bagi yang mau menjadi kaya harap memperhatikan hal ini dengan baik.
Ketika masih tinggal di desa, kami memiliki pohon sirsat yang sudah lama tumbuh dan berbuah, namun buahnya tidak pernah bisa dimakan karena terlalu asam. Akibatnya ketika pohon ini berbunga, bunganya selalu saya ambil untuk bermain. Bahkan oleh orangtua saya, daunnya selalu diambil untuk makanan ternak dan rantingnya kami pergunakan untuk kayu bakar. Suatu hari seorang tetangga datang ke rumah kami. Tiba-tiba menghampiri saya sambil berkata, “Loh apa gak sayang, kok bunganya diambil. Kan kalau berbuah bisa di makan.” Ayah saya menjawab dengan santainya, ”Percuma berbunga, wong buahnya tidak bisa dimakan, kecut semua!” Kemudian tetangga tersebut memberikan resep supaya pohon sirsat tersebut dikerat dan dibuka kulitnya, kemudiaan diberi gula jawa atau pemanis. Secara nalar, tidak mungkin cara ini mampu menghasilkan rasa manis. Tetapi hasilnya nyata, bunga yang kami biarkan berbuah itu mengasilkan buah yang manis. Dan mulai saat itu kami membuat kebiasaan. Jika pohon sirsat kami mulai berbunga, maka kulitnya kami kerat dan disisipi pemanis atau gula. Pengalaman di atas menggambarkan kehidupan iman kita sebagai pengikut Kristus. Kita perlu keratan-keratan yang kemudian diberi pemanis agar kita dapat menjadi berkat bagi orang lain dan membawa kemuliaan bagi Tuhan [Roma 8:28]. Setiap orang berbeda-beda keratannya. Ada yang dalam, ada yang dangkal, semua Tuhan yang mengatur agar kita setelah menerima keratan itu dapat merasakan pemeliharaan Tuhan. Keratan tersebut adalah ujian hidup yang harus kita alami dan lewati. Jika kita mampu, maka Tuhan akan menyatakan upahnya. Seperti halnya yang dialami oleh seorang janda nabi yang harus menanggung hutang dan anak-anaknya perempuan akan diambil penagih hutang. Janda nabi tersebut mengalami penderitaan karena hutangnya walaupun almarhum suaminya adalah seorang abdi Allah. Keluarga janda ini akhirnya terlepas dari jerat hutang setelah: pertama, menyerahkan perkaranya kepada Tuhan melalui nabi Elisa [ayat 1]; kedua, mendengar nasihat Elisa [ayat 3-4]; ketiga, melakukan perintah sang nabi [ayat 5-7]. Dan hasilnya janda itu tidak hanya bisa membayar hutang, tetapi juga dapat hidup dari hasil penjualan minyak. Janda itu mungkin tidak pernah menyangka bahwa minyak di dalam buli-buli itu bisa memenuhi bejana-bejana kosong hingga semua penuh. Janda itu telah mendapatkan penyataan kuasa Allah setelah sekian lama dihadapkan dengan masalah kesulitan ekonomi. Justru dengan kesulitannya itulah janda itu merasakan pertolongan Tuhan. Apapun yang kita alami sekarang, Tuhan jauh lebih tahu apa yang terbaik. Kita tahu bahwa ujian yang kita alami menghasilkan ketekunan, dan ketekunan menghasilkan buah yang matang, dan buah itu menjadi berkat [Yakobus 1:3-4].
BARCODE BBM CHANNELS
RENUNGAN HARIAN
Hati Yang Lembut
30 November '16
Siap Sedialah
04 Desember '16
Berjaga-jaga Siang dan Malam
05 Desember '16
Copyright © 2012 All rights reserved. Designed and Developed by GIA Dr. Cipto Semarang