SEPEKAN TERAKHIR
  Jumat, 31 Oktober 2014   -HARI INI-
  Kamis, 30 Oktober 2014
  Rabu, 29 Oktober 2014
  Selasa, 28 Oktober 2014
  Senin, 27 Oktober 2014
  Minggu, 26 Oktober 2014
  Sabtu, 25 Oktober 2014
DITULIS OLEH
Pdt. Goenawan Susanto
Gembala Jemaat
Renungan Lain oleh Penulis:
Home  »  Renungan  »  Menjadi Berhasil Dalam Pengenalan Akan Kristus
Menjadi Berhasil Dalam Pengenalan Akan Kristus
Minggu, 14 Juli 2013 | Tema: Bertumbuh Dalam Pengenalan Akan Allah
Menjadi Berhasil Dalam Pengenalan Akan Kristus
2 Petrus 1:3-9
Setiap manusia dilahirkan ke dunia ini sebagai bayi, setelah itu akan mengalami pertumbuhan baik secara jasmani, mental maupun rohani. Karena itu tujuan dari setiap manusia adalah bertumbuh menjadi dewasa, melalui tahap-tahap perkembangan yang normal, supaya bisa berfungsi sebagaimana manusia dewasa pada umumnya.

Demikianlah bisa digambarkan kehidupan kita di dalam Kristus. Oleh anugerah dan karya Roh Kudus-Nya kita dilahirkan menjadi ciptaan baru, manusia rohani yang memiliki kodrat ilahi (potensi kehidupan sebagai anak Allah). Ayat 4 berkata: “supaya olehnya kamu boleh mengambil bagian dalam kodrat ilahi”. Artinya, setiap kita yang lahir baru di dalam Kristus memiliki potensi untuk hidup di dalam kekudusan dan pengenalan akan Allah. Harus digaris bawahi: setiap kita! Bukan hanya orang-orang Kristen tertentu saja, misalnya hamba Tuhan, atau orang-orang Kristen yang punya karunia-karunia tertentu.

Tapi kenyataan itu tidaklah untuk membuat kita menanti dengan pasif dan beranggapan bahwa dengan sendirinya kita akan mencapai kondisi itu. Firman Tuhan berkata: “Justru karena itu kamu harus dengan sungguh-sungguh berusaha ....” (ayat 5). Usaha yang sungguh-sungguh diperlukan agar supaya kita mengalami pertumbuhan dalam pengenalan kita akan Tuhan. Dengan kata lain, kalau kita tidak berusaha dengan sungguh-sungguh maka potensi yang dianugerahkan kepada kita itu akan tersia-siakan. Pe...selengkapnya »
Mazmur 112:1-10 Mujur orang yang menaruh belas kasihan dan yang memberi pinjaman, yang melakukan urusannya dengan sewajarnya (Ayat 5). Ia membagi-bagikan, ia memberikan kepada orang miskin; kebajikannya tetap untuk selama-lamanya, tanduknya meninggi dalam kemuliaan (Ayat 9). Di Israel ada dua danau besar, yaitu Danau Galilea dan Laut Mati (sebenarnya danau, namun karena sangat luas disebut laut). Dua danau itu mempunyai perbedaan yang sangat kontras. Danau Galilea merupakan sumber penghidupan bagi penduduk sekitarnya karena mempunyai banyak ikan. Sementara di Laut Mati tidak ada satupun makhluk yang bisa hidup di dalamnya, karena mengandung kadar garam yang sangat tinggi. Danau Galilea menerima pasokan air dari bukit Hermon, lalu menyalurkan airnya keluar melalui Sungai Yordan, sedangkan Laut Mati hanya menerima pasokan air tetapi tidak menyalurkannya keluar. Akibatnya kadar garamnya sangat tinggi dan tidak memungkinkan ikan hidup di dalamnya. Itu adalah gambaran dari kehidupan kita. Jika kita hanya menerima berkat saja dan tidak menyalurkannya, maka kita akan menjadi seperti Laut Mati. Hidup kita akan menjadi kering dan gersang karena tidak menjadi berkat bagi orang lain. Sedangkan jika kita menerima berkat dan menyalurkannya, maka kita akan menjadi seperti Danau Galilea. Ada kehidupan di dalamnya dan menghidupi banyak orang. Orang yang murah hati akan selalu bergairah dan punya semangat hidup. Tuhan berjanji untuk orang yang melakukan kebajikan dan kemurahan, bahwa mereka akan mengalami kemujuran (ayat 5). Kemujuran berarti Tuhan akan mendatangkan hal-hal yang baik untuk orang yang bermurah hati. Juga Tuhan akan mengangkat martabat (disimbolkan dengan tanduk) orang yang suka berbagi (ayat 9). Di dalam Matius 5:7 juga dikatakan: ”Berbahagialah orang yang murah hatinya, karena mereka akan beroleh kemurahan.” Hukum rohani tentang tabur tuai pasti berlaku di dalam hidup ini. Apa yang kita tabur itulah yang kita tuai. Jika kita menabur kemurahan maka kita pun akan menuai kemurahan juga. Oleh karena itu, jemaat Tuhan, milikilah hati yang suka berbuat kebajikan. Galatia 6:9-10 mengatakan: ”Janganlah kita jemu-jemu berbuat baik, karena apabila sudah datang waktunya, kita akan menuai, jika kita tidak menjadi lemah. Karena itu, selama masih ada kesempatan bagi kita, marilah kita berbuat baik kepada semua orang, tetapi terutama kepada kawan-kawan kita seiman.” Amin.
Taman Eden adalah saksi di mana Allah berfirman “tidak baik” atas ciptaan-Nya. Padahal sejak hari pertama sampai hari ke lima Allah melihat segala yang dijadikan-Nya itu baik, bahkan di hari ke enam Allah melihat segala yang diciptakan-Nya sungguh amat baik. Setelah itu Allah berhenti, memberkati dan mengkuduskan hari ke tujuh. Apa yang tidak baik? Mengapa tidak baik? Belum adanya penolong yang sepadan bagi manusia. Nampaknya sejak semula Allah menghendaki adanya keadaan saling menolong, suka berbagi memberi pertolongan di tengah-tengah manusia. Allah menghadirkan “perempuan” yang ditetapkan-Nya sebagai penolong, yang dari rahimnya akan lahir para penolong yang lain. Ketika perempuan Hawa menyalahgunakan jati dirinya sebagai penolong, membawa Adam jatuh dalam dosa, seakan Allah gagal dalam rencana-Nya. Namun Allah kita adalah Allah yang tidak pernah gagal dalam semua rencana dan kehendak-Nya. Sekali Dia tetapkan perempuan dengan jati diri sebagai penolong, Dia tetap pada ketetapan-Nya. Dia berjanji bahwa dari benih perempuan akan lahir “ Sang Penolong Agung” yang akan mengajarkan dan meneladankan sikap saling menolong, saling memberi sebagai wujud nyata pribadi Allah yang adalah kasih. Itu semua sudah tergenapi dalam diri Yesus Kristus, Tuhan kita. Alkitab menghadirkan cukup banyak tokoh perempuan yang sadar akan jati dirinya. Kita kenal gadis Maria, Ibu Yesus. Dia berani memberikan hidupnya dengan semua harga yang harus dia bayar demi lahirnya Sang Mesias di bumi ini (Lukas 1:26-38). Satu saat Yesus memperhatikan seorang perempuan janda miskin yang berani memberikan dua keping uang yang dia punya (Markus 12:4-44) dan Yesus ajarkan nilai memberi kepada murid-muridNya. Ada kisah seorang perempuan penjahit sederhana, Dorkas namanya. Dia dicatat sebagai perempuan yang banyak sekali berbuat baik dan memberi sedekah (KPR 9:36). Dan masih banyak lagi yang lain. Bagaimana dengan kita, para perempuan? Ketahuilah dan camkanlah jati diri kita “PENOLONG” yang suka memberi dan berbagi pertolongan. Mari kita pelajari nilai memberi yang benar dan kita pelopori gerakan memberi di tengah-tengah keluarga kita, di tengah-tengah komunitas gereja kita, bahkan ditengah-tengah masyarakat di mana kita ada. Apa saja yang kita punya bisa kita berikan dan bagikan.
Rezeki adalah segala sesuatu (yang diberikan Tuhan) yang dipakai untuk memelihara kehidupan; makanan sehari-hari; nafkah. Demikian dijelaskan dalam KBBI. Ada anekdot: Hidup untuk cari rezeki atau cari rezeki untuk hidup? Kalau pola pertama yang dianut, maka seseorang akan menggunakan hidupnya hanya untuk mencari, mencari dan terus mencari rezeki sehingga tidak punya waktu untuk yang lainnya dan biasanya akan menjadi orang yang “pelit” dan tak ada istilah berbagi rezeki dalam kamus hidupnya. Bahkan cenderung tamak untuk memperkaya diri. Ada seorang kelasi sebuah kapal pesiar yang cukup besar yang sedang mengalami musibah tenggelam. Dalam situasi kacau, dia berpikir bahwa saat itu adalah kesempatan emas untuk mengumpulkan harta kekayaan para penumpang yang berlarian terjun menyelamatkan diri. Dia berpikir dengan pelampung di tubuhnya yang sarat dengan harta kekayaan milik para penumpang yang diambil dari kamar-kamar, dia pasti aman, tidak akan tenggelam. Saat kapal mulai karam, dia segera terjun ke laut. Apa yang terjadi? Ia bukannya mengapung, melainkan langsung dengan cepat tenggelam ke dasar laut. Pelampung yang dipakai tidak dapat menahan berat tubuh dan barang bawaannya. Firman Tuhan dalam Amsal 22:9 mengatakan “Orang yang baik hati akan diberkati, karena ia membagi rezekinya dengan si miskin.” Tidak dikatakan, “Orang yang kaya, orang yang banyak rezekinya” tetapi orang yang baik hati. Jadi untuk berbagi rezeki jangan menunggu sampai kita memiliki “harta lebih”. Jangan sampai terlalu asyik menumpuk rezeki, terlena, lupa segalanya sampai-sampai terlalu berat dan akhirnya menenggelamkan kita kepada gemerlapnya dunia yang bisa menyeret kita kepada kegelapan yang kekal. Amin.
Di sebuah kota yang bernama Yope, hiduplah seorang perempuan yang sangat baik sekali hatinya. Namanya Tabita. Ia banyak sekali berbuat baik dan memberi sedekah, sehingga apa yang dilakukannya sangat memberkati orang-orang yang ada di sekelilingnya. Karena kebaikannya, Tabita sangat dikenal di masyarakat. Namun demikian tahukan kita siapa Tabita? Alkitab memang tidak memberikan keterangan dengan jelas, namun para ahli dalam tafsir Alkitab yang dapat dipertanggungjawabkan menerangkan bahwa Tabita adalah seorang yang sederhana. Tabita bukanlah wanita yang kaya raya sehingga kita cukup asing jika ia menjadi salah satu wanita dermawan dalam rentetan daftar tokoh-tokoh Alkitab. Tabita dikenal masyarakat karena kebaikannya. Ia tidak hanya baik sekali hatinya, tapi juga sering memberi sedekah. Dipenuhi kebajikan dan kemurahan adalah kerinduan kita bersama sebagai murid-murid Tuhan Yesus, karena demikianlah teladan yang diberikan Tuhan Yesus. Setiap murid dipanggil untuk menyatakan kebajikan dan kemurahan Tuhan, apapun keadaan kita. Seperti Tabita dengan segala kesederhanaannya, ia terlibat dalam pelayanan kasih yang sangat memberkati banyak orang. Demikian kita. Hendaklah kita menyatakan kebajikan dan kemurahan Allah melalui keterlibatan kita dalam melayani orang-orang di sekitar kita. Bukan pada saat kita sudah hidup dalam kelimpahan berkat, namun kita dapat melakukannya dari saat ini sesuai dengan talenta yang Tuhan berikan kepada kita. Kita dapat melayani dengan: menasehati, mengunjungi, mengasihi, mendoakan, memotivasi, meneguhkan, menguatkan, dan masih banyak hal lagi yang dapat kita lakukan dalam pelayanan kita. Menyatakan kebajikan dan kemurahan Allah adalah panggilan pelayanan kita. Oleh karena itu, belajar dari Tabita, kita harus memulainya sejak saat kita membaca renungan ini. Menjadi murah hati dan memberkati bukan kita awali setelah hidup kita berkelimpahan, namun dalam kederhanaan.
BARCODE BBM CHANNELS
RENUNGAN HARIAN
Danau Galilea atau Laut Mati
05 Oktober '14
Mengapa Kita Ada Di Sini?
26 Oktober '14
Dipilih Agar Berguna
29 Oktober '14
Copyright © 2012 All rights reserved. Designed and Developed by GIA Dr. Cipto Semarang