SEPEKAN TERAKHIR
  Senin, 02 Mei 2016   -HARI INI-
  Minggu, 01 Mei 2016
  Sabtu, 30 April 2016
  Jumat, 29 April 2016
  Kamis, 28 April 2016
  Rabu, 27 April 2016
  Selasa, 26 April 2016
DITULIS OLEH
Pdt. Goenawan Susanto
Gembala Jemaat
Renungan Lain oleh Penulis:
Home  »  Renungan  »  Menjadi Berhasil Dalam Pengenalan Akan Kristus
Menjadi Berhasil Dalam Pengenalan Akan Kristus
Minggu, 14 Juli 2013 | Tema: Bertumbuh Dalam Pengenalan Akan Allah
Menjadi Berhasil Dalam Pengenalan Akan Kristus
2 Petrus 1:3-9
Setiap manusia dilahirkan ke dunia ini sebagai bayi, setelah itu akan mengalami pertumbuhan baik secara jasmani, mental maupun rohani. Karena itu tujuan dari setiap manusia adalah bertumbuh menjadi dewasa, melalui tahap-tahap perkembangan yang normal, supaya bisa berfungsi sebagaimana manusia dewasa pada umumnya.

Demikianlah bisa digambarkan kehidupan kita di dalam Kristus. Oleh anugerah dan karya Roh Kudus-Nya kita dilahirkan menjadi ciptaan baru, manusia rohani yang memiliki kodrat ilahi (potensi kehidupan sebagai anak Allah). Ayat 4 berkata: “supaya olehnya kamu boleh mengambil bagian dalam kodrat ilahi”. Artinya, setiap kita yang lahir baru di dalam Kristus memiliki potensi ...selengkapnya »
Peristiwa ini adalah suatu gambaran dari kesalahan yang kita buat karena berpikir bahwa yang terutama dikehendaki Allah dari kita adalah pengorbanan diri hingga mati. Yang Allah inginkan adalah pengorbanan melalui kematian Yesus yang memampukan kita untuk melakukan apa yang telah Yesus lakukan, yaitu mempersembahkan hidup kita. Bukan “Tuhan aku bersedia masuk penjara dan mati bersama-sama dengan Engkau” [Lukas 22:33], tetapi “Apabila kamu telah mati bersama-sama dengan Kristus dan bebas dari roh-roh dunia” [Kolose 2:20], maka kita tidak lagi melekat kepada hal-hal lahiriah. Melalui ini baru kita dapat mempersembahkan hidup kita untuk Tuhan. Tampaknya kita berpikir bahwa Allah menghendaki kita untuk mengorbankan segala sesuatu. Allah memurnikan Abraham dari kesalahpahaman ini dan hal yang sama sedang terjadi dalam hidup kita. Allah tidak menyuruh kita untuk mengorbankan segala sesuatu hanya untuk berkorban saja, tetapi Dia meminta kita mengorbankannya demi sesuatu yang paling berharga, yaitu hidup bersama-Nya. Hal ini adalah persoalan melepaskan ikatan-ikatan yang membelenggu hidup kita. Ikatan-ikatan ini langsung dilepaskan setelah kita disatukan dengan kematian Yesus. Melalui itu kita dapat menjalin relasi dengan Allah di mana kita dapat mempersembahkan hidup kita kepada-Nya dan mengaplikasikannya kepada sesama dengan kasih dan pengampunan. Bukan hal yang mengesankan bagi Allah jika kita mempersembahkan hidup kepada-Nya melalui kematian. Tuhan menghendaki kita menjadi “persembahan yang hidup”, yaitu mengijinkan Dia memiliki semua kekuatan, kepandaian, hikmat, kemampuan apa saja, bahkan keluarga kita yang semuanya itu dapat mengikat kita dan membuat kita berpaling dari Allah. Inilah yang berkenan kepada Allah. Adakah kita masih terikat dan melekat kepada hal-hal duniawi yang bisa membuat kita menjauh dari Allah bahkan melupakan-Nya. Atau karena kita begitu mengasihi kita keluarga sehingga kita menomorduakan Allah. Bukankan seharusnya dengan rendah hati kita mengakui bahwa mereka semua datangnya dari Allah.
Bagaimana cara memilih seorang pemain untuk dijadikan kapten dalam sebuah tim sepak bola? Kapten dalam sebuah tim sepak bola memiliki peran yang cukup vital. Kapten ditugaskan untuk memimpin anggota timnya untuk berlaga di lapangan saat pertandingan berlangsung. Dia harus mampu untuk menjembatani hubungan antara pemain dengan pelatih, sehingga apa yang “dikehendaki” oleh sang pelatih dapat diterjemahkan oleh para pemain di atas lapangan saat berlaga. Kapten juga berperan untuk menyatukan sebuah tim, selain itu kapten juga menjadi sosok “simbol” bagi tim di hadapan tim lain. Oleh karena itu dalam memilih seorang kapten, pelatih tidak bisa “asal comot” mengambil asal-asalan dari pemain yang ada. Seorang pemain dapat terpilih menjadi kapten bagi timnya, tidak hanya semata-mata karena skill bermainnya yang baik, namun juga karena kepribadiannya. Seorang kapten harus menunjukkan kepribadian yang baik dan dewasa di manapun dia berada, baik di dalam maupun di luar lapangan. Singkatnya, seorang kapten harus dapat menjadi teladan bagi pemain lainnya. Pelatih akan memilih pemain yang dapat diteladani dan disegani oleh pemain lainnya untuk dijadikan sebagai kapten. Di dalam pelayanannya, rasul Paulus memberi contoh tentang pentingnya menjadi teladan. Pola memberi teladan ini diberikan Paulus seperti yang dikisahkan di dalam 1 Tesalonika 1. Teladan yang ditunjukkannya bersama Silwanus dan Timotius mendorong orang-orang yang baru percaya di Tesalonika untuk meniru [mengikut] mereka. Sementara orang-orang yang baru percaya di Tesalonika itu menderita bagi Kristus dengan sabar dan tabah. Mereka bertiga selanjutnya menjadi teladan bagi orang-orang yang baru percaya di Makedonia dan Akhaya dan mendorong mereka untuk lebih bersungguh-sungguh dalam beribadah. Teladan kita dapat membawa pengaruh yang luar biasa dalam mengenalkan orang kepada Kristus. Pada saat Kristus “memilih” kita, di saat itu juga Kristus memandatkan kepada kita untuk dapat hidup menjadi teladan bagi orang lain. Kita dipanggil-Nya untuk dapat memimpin dan membawa banyak orang untuk mengenal Yesus dan memuliakan nama-Nya. Yesus berkata, “Demikianlah hendaknya terangmu bercahaya di depan orang, supaya mereka melihat perbuatanmu yang baik dan memuliakan Bapamu yang di surga” [Matius 5:16]. Hidup kita adalah untuk memuliakan nama-Nya. Kita dapat memuliakan nama Tuhan, saat hidup kita dapat menjadi teladan bagi semua orang. Sudahkah hidup kita menjadi teladan?
Hidup kudus, mungkinkah? 1 Petrus 1:13-19 tetapi hendaklah kamu menjadi kudus di dalam seluruh hidupmu sama seperti Dia yang kudus, yang telah memanggil kamu, sebab ada tertulis: Kuduslah kamu, sebab Aku kudus. [ayat 15-16] Hidup dalam kekudusan tidak pernah mudah, baik pada zaman dahulu, terlebih hari-hari ini dimana ada begitu banyak media yang menawarkan segala sesuatu yang bisa merusak kekudusan. Menjaga kekudusan semakin lama semakin dianggap kuno oleh manusia. Dunia terus menawarkan segala sesuatu yang bisa merusak kekudusan kita dalam berbagai bentuk yang biasanya menawarkan kenikmatan bagi daging kita tetapi sangatlah mematikan bagi perjalanan hidup kita. Hidup dalam kekudusan bukanlah sebuah pilihan yang boleh diambil dan boleh juga tidak. Hidup dalam kekudusan bukan untuk orang-orang tertentu saja, misalnya para hamba Tuhan, melainkan untuk semua orang percaya. Setiap orang percaya dipanggil untuk hidup kudus. Tuhan memberi perintah kepada setiap orang Kristen: ’Kejarlah kekudusan, sebab tanpa kekudusan tidak seorang pun akan melihat Tuhan’ [Ibrani 12:14]. Jadi tidak ada pilihan lain selain hidup dalam kekudusan. Seperti apakah hidup dalam kekudusan itu? Apakah harus hidup mengasingkan diri dari dunia ini dan menjadi seperti orang yang aneh? Apakah harus setiap hari pergi ke gereja? Apakah hari-hari kita harus selalu kita isi dengan kegiatan-kegiatan rohani? Bukan seperti itu yang dimaksudkan Tuhan. Seorang teolog dari Skotlandia bernama John Brown berkata bahwa kekudusan itu adalah berpikir seperti Allah berpikir dan mengingini seperti Allah mengingini. Itu berarti bahwa hidup kita mengalami perubahan, dari yang tadinya berpikir menurut cara-cara dunia ini menjadi berpikir menurut caranya Tuhan; dari mengingini apa yang dinginkan oleh orang-orang dunia ini menjadi menginginkan apa yang diinginkan Tuhan. Hidup dalam kekudusan berarti hidup kita dipengaruhi oleh cara hidupnya Tuhan. Jadi, hidup dalam kekudusan di zaman ini sebenarnya sangat mungkin. Caranya adalah dengan mengizinkan Tuhan mengubah pikiran dan kehendak kita dari waktu ke waktu menjadi seperti yang diingini-Nya. Amin. Pdt. Goenawan Susanto
Coba simak apa yang seringkali dilakukan oleh beberapa elit politik di negeri ini ketika menanggapi sebuah kasus terjadi. Apakah itu kasus korupsi, kasus asusila ataupun penyalahgunaan wewenang. Jika itu dialami oleh koleganya, maka mereka akan berusaha membela dan menutup-nutupi. Tetapi jika itu menjerat lawan politiknya, maka mereka akan memanfaatkannya sebagai upaya untuk menjatuhkan. Seringkali mereka tersandera oleh kepentingan sendiri, sehingga cenderung melihat kebenaran seirama dengan kepentingan mereka. Akibatnya, kebenaran dan keadilan dikebiri. Ayat nats hari ini menyatakan, “ Bencilah yang jahat dan cintailah yang baik; dan tegakkanlah keadilan di pintu gerbang...”. Pada zaman Perjanjian Lama, pintu gerbang menjadi simbol tempat pelaksanaan kekuasaan dan otoritas. Para tua-tua Israel mengambil keputusan-keputusan penting di tempat terbuka dan luas [semacam tanah lapang] di dekat pintu gerbang kota. Tempat untuk membicarakan dan memutuskan masalah-masalah yang disediakan bagi kalayak ramai. Seruan tersebut bukan hanya ditujukan kepada para tua-tua Isarel [sebagai juru pengadil] untuk berlaku adil dalam memutuskan perkara, tetapi juga kepada segenap umat Allah. Allah menghendaki umat-Nya menjauhi dan meningggalkan segala perbuatan jahat dengan melakukan hal-hal yang baik. Allah menghendaki kebenaran dinyatakan; Allah memerintahkan kebenaran ditegakkan. Ketika kebenaran dinyatakan dan ditegakkan, maka keadilan itu akan terjadi. Tak dapat dipungkiri, kadang usaha menegakkan kebenaran tidaklah mudah dan tidak selalu berjalan mulus. Yang seringkali terjadi justru menemui jalan terjal dan berliku. Meskipun demikian kebenaran haruslah tetap ditegakkan dalam kehidupan pribadi, keluarga, gereja maupun masyarakat. Oleh sebab itu, mari kita menjauhi dusta dan kebohongan; bersikap jujur; tidak menyebar fitnah. Berani mengatakan ya di atas ya dan tidak di atas tidak. Jangan kita memihak secara membabi buta karena faktor kedekatan atau demi mendapatkan keuntungan pribadi. Ya, menyuarakan kebenaran memang beresiko, tetapi jika kita berani melakukannya, paling tidak kita telah mempraktekkan perintah Tuhan untuk membenci yang jahat dan mencintai yang baik.
BARCODE BBM CHANNELS
RENUNGAN HARIAN
Menjadi Imam Dalam Masyarakat
11 April '16
Berdamai Dengan Semua Orang
26 April '16
Imam Dalam Keluarga
27 April '16
Copyright © 2012 All rights reserved. Designed and Developed by GIA Dr. Cipto Semarang