SEPEKAN TERAKHIR
  Minggu, 23 November 2014   -HARI INI-
  Sabtu, 22 November 2014
  Jumat, 21 November 2014
  Kamis, 20 November 2014
  Rabu, 19 November 2014
  Selasa, 18 November 2014
  Senin, 17 November 2014
DITULIS OLEH
Pdt. Goenawan Susanto
Gembala Jemaat
Renungan Lain oleh Penulis:
Home  »  Renungan  »  Menjadi Berhasil Dalam Pengenalan Akan Kristus
Menjadi Berhasil Dalam Pengenalan Akan Kristus
Minggu, 14 Juli 2013 | Tema: Bertumbuh Dalam Pengenalan Akan Allah
Menjadi Berhasil Dalam Pengenalan Akan Kristus
2 Petrus 1:3-9
Setiap manusia dilahirkan ke dunia ini sebagai bayi, setelah itu akan mengalami pertumbuhan baik secara jasmani, mental maupun rohani. Karena itu tujuan dari setiap manusia adalah bertumbuh menjadi dewasa, melalui tahap-tahap perkembangan yang normal, supaya bisa berfungsi sebagaimana manusia dewasa pada umumnya.

Demikianlah bisa digambarkan kehidupan kita di dalam Kristus. Oleh anugerah dan karya Roh Kudus-Nya kita dilahirkan menjadi ciptaan baru, manusia rohani yang memiliki kodrat ilahi (potensi kehidupan sebagai anak Allah). Ayat 4 berkata: “supaya olehnya kamu boleh mengambil bagian dalam kodrat ilahi”. Artinya, setiap kita yang lahir baru di dalam Kristus memiliki potensi untuk hidup di dalam kekudusan dan pengenalan akan Allah. Harus digaris bawahi: setiap kita! Bukan hanya orang-orang Kristen tertentu saja, misalnya hamba Tuhan, atau orang-orang Kristen yang punya karunia-karunia tertentu.

Tapi kenyataan itu tidaklah untuk membuat kita menanti dengan pasif dan beranggapan bahwa dengan sendirinya kita akan mencapai kondisi itu. Firman Tuhan berkata: “Justru karena itu kamu harus dengan sungguh-sungguh berusaha ....” (ayat 5). Usaha yang sungguh-sungguh diperlukan agar supaya kita mengalami pertumbuhan dalam pengenalan kita akan Tuhan. Dengan kata lain, kalau kita tidak berusaha dengan sungguh-sungguh maka potensi yang dianugerahkan kepada kita itu akan tersia-siakan. Pe...selengkapnya »
Hal baik bisa kita pelajari dari organ tubuh kita. Misalnya hubungan antara si gigi dan si lidah. Kedua bagian tubuh tersebut ada dalam satu lokasi, yaitu mulut. Seringkali tanpa sadar si gigi ‘merugikan’ si lidah. Terkadang ketika mulut mengunyah makanan, si lidah tergigit oleh si gigi. Ketika berbicara atau melamun, si lidah tertekan oleh si gigi. Namun reaksi si lidah justru sebaliknya. Sehabis makan, si lidah membersihkan si gigi. Ketika habis bicara, si lidah membasahi si gigi yang kering agar tidak sakit gusinya. Dan banyak lagi yang dikerjakan oleh si lidah untuk menolong si gigi meskipun seringkali dia tersakiti. Seringkali Allah memakai organ tubuh kita untuk memberikan suatu pengajaran bagi kita dalam membangun hubungan dengan sesama manusia. Dalam berhubungan dengan sesama bisa saja timbul yang namanya konflik. Untuk itu sebagai umat Tuhan, kita harus belajar bereaksi dengan benar. Sebab dari cara kita bereaksi tersebut, kita akan terlihat sebagai orang yang dewasa atau masih kanak-kanak. Salah satu tanda seseorang yang dewasa adalah kemampuannya mengendalikan emosi. Dengan kita mengendalikan emosi, maka yang terjadi adalah kedamaian dan rasa aman. Sehingga kita tetap bisa melakukan kebaikan, termasuk kepada orang yang menyakiti. Sebaliknya, jika hati yang merasa tersakiti tidak mampu mengendalikan diri, maka yang datang adalah bencana. Yang terjadi adalah pertengkaran, permusuhan, dan saling membalas. Tidak akan ada kebaikan. Tidak akan didapati nilai-nilai kerajaan Allah di dalamnya. Oleh karena itu kita harus belajar bereaksi benar ketika diperhadapkan dengan konflik yang bisa datang kapan saja. Tugas kita sebagai anak-anak kerajaan adalah menjadikan konflik sebagai pembelajaran untuk hidup yang lebih. Ketika kita diperhadapkan pada konflik, tetaplah lakukan kebaikan!
Pernahkah kita sakit hati? Saat seseorang tersakiti hatinya sedemikian rupa, terucaplah kata-kata yang merupakan luapan emosi tak terkendali. Misalnya, “Sampai mati aku tidak sudi melihat mukanya lagi.” Bbahkan ada yang menjadi dendam dan terlontarlah perkataan: “Lihat saja nanti pembalasanku!” Dari Kamus Besar Bahasa Indonesia kita tahu bahwa dendam artinya mempunyai keinginan keras untuk membalas. Bagi orang percaya jelas hal tersebut tidak boleh dilakukan karena tidak sesuai dengan apa yang dikatakan oleh Firman Tuhan dalam Efesus 4:26 yang mengatakan, “Apabila kamu menjadi marah, janganlah kamu berbuat dosa: janganlah matahari terbenam, sebelum padam amarahmu.” Tokoh Alkitab yang kita renungkan hari ini adalah Yusuf . Kisahnya sangat tidak asing bagi kita. Yusuf mempunyai mimpi yang dari Tuhan datangnya, tetapi Yusuf harus membayar harga untuk mimpinya itu. Yusuf dibenci, dimasukkan ke dalam sumur, dan dijual oleh saudara-saudaranya. Tiga belas tahun Yusuf hidup dalam penderitaan sampai akhirnya mimpi itu menjadi kenyataan! Saat saudara-saudaranya mengetahui bahwa Yusuf, sang penguasa itu adalah adik yang mereka jual, maka sangat ketakutanlah mereka. Mereka takut kalau Yusuf akan membalas apa yang mereka perbuat dahulu. Sungguh luar biasa! Jawaban Yusuf sangat menyejukkan hati. Tiada dendam dalam hatinya! “Tetapi sekarang, janganlah bersusah hati dan janganlah menyesali diri karena kamu menjual aku ke sini, sebab untuk memelihara kehidupanlah Allah menyuruh aku mendahului kamu“ (Kejadian 45:5). Bagaimana dengan kita? Adakah dendam dalam hati kita? Lepaskan pengampunan! Amin.
Ada kepahitan dalam hati Sambey. Berat baginya untuk mengampuni Pdt. Itong yang baginya bukan sosok hamba Tuhan yang baik. Minggu ini sepulang dari gereja, ia memikirkan sepenggal kata Pdt. Andrey dalam kotbahnya menasihati jemaat untuk mempunyai kekayaan pengampunan dengan bukti selalu bersedia mengampuni orang yang bersalah berapa kalipun kesalahan itu dilakukan. Kata-kata itu bertentangan dengan perasaannya. “Bagaimana mungkin aku harus selalu mengampuni Pdt. Itong? Bukankah pendeta super cuek ini sebaiknya diberi pelajaran? Kalau perlu dibuat menderita? Kok, rasanya lebih puas jika melihat ia menderita?” pikir Sambey. Semakin lama ia berpikir, semakin pusing kepalanya karena ada pertentangan di dalam pikiran dan perasaan Sambey. Baginya kotbah minggu ini bertentangan dengan kenyataan hidup sehari-hari. Bukankah membalas adalah tindakan yang wajar jika terus-menerus disalahi seseorang? Dan mengampuni yang bagi Sambey berarti hilangnya hasrat membalas, tidak masuk akal! Tidak sejalan dengan perasaan sakit hatinya! Minggu ini dilalui Sambey dengan perasaan serba kacau. Tidak ada tempat curhat baginya, karena Benay sahabatnya sedang sibuk latihan tari tamborine untuk kelompok penari laki-laki. Jemaat yang terkasih. Petrus rupanya mempunyai batasan pengampunan. Baginya cukuplah mengampuni tujuh kali saja (ayat 21). Pertanyaannya kepada Tuhan Yesus sebenarnya untuk mendapatkan peneguhan bahwa sudah saatnya ia mengadakan pembalasan kepada seseorang yang telah berbuat salah kepadanya. Tetapi jawaban Tuhan di luar perkiraan Petrus. “Bukan sampai tujuh kali, melainkan tujuh puluh kali tujuh kali,” demikian kata Tuhan. Itu berarti Tuhan menghendaki Petrus selalu bersedia mengampuni. Mengapa demikian? Melalui perumpamaan yang dikisahkan-Nya, Tuhan memberikan alasan yang sangat mendasar. Kita harus selalu bersedia mengampuni karena Tuhan telah lebih dahulu mengampuni kita. Bukankah dosa kita kepada Tuhan jauh lebih besar? Oleh sebab itu untuk menebusnya pun sangat mahal harganya, yaitu dengan darah suci Yesus, Anak Allah! Masakan kita yang telah mendapatkan pengampunan dengan cara demikian itu, tidak bersedia selalu mengampuni orang lain? Jemaat yang terkasih. Bukankah sering kita dengar kata-kata: “Kamu boleh nyalahi aku, tapi jangan sampai tiga kali! Karena kesabaranku (pengampunanku) ada batasnya! Kalau sudah sampai tiga kali, jangan salahkan aku kalau aku membalas!” Kata-kata ini terdengar masuk akal. Tetapi Tuhan menghendaki kita tidak demikian. Tuhan menghendaki kita menjadi pribadi yang kaya akan pengampunan. Kekayaan pengampunan itu tidak berasal dari diri kita sendiri, tetapi bersumber dari Tuhan yang telah mengampuni dosa kita yang begitu besar. SELAMAT MENGAMPUNI.
Yusuf sejak kecil dibenci oleh saudara-saudaranya dan pada usia remaja, mereka menjualnya sebagai seorang budak. Yusuf yang sangat dimanja oleh orangtuanya masuk dalam penderitaan bertahun-tahun sebagai budak dan narapidana. Tuhan mengangkatnya dari penderitaan menjadi penguasa di Mesir. Yusuf menjadi sarana bagi orangtua dan saudara-saudaranya terbebas dari kelaparan. Pada waktu ayahnya meninggal, saudara-saudaranya sangat takut karena mereka berpikir pastilah Yusuf membalas dendam kepada mereka. Ternyata mereka keliru karena Yusuf tidak menaruh dendam, tetapi justru memelihara hidup mereka beserta keluarga (Kejadian 50:19-21). Yusuf mengampuni dan melupakan perbuatan jahat mereka. Ayat-ayat di atas menunjukkan betapa Tuhan itu pengasih dan penyayang. Tuhan yang mengampuni dan menghapus dosa-dosa manusia, dibuangnya jauh sampai ke dalam tubir-tubir laut. Dia tidak mengingat-ingat lagi dosa manusia yang mau datang kepada-Nya. Tuhan tidak pendendam. Dia menghendaki anak-anak Tuhan juga mempunyai sikap dan hati yang sama dengan-Nya terhadap sesama. Mengampuni orang yang bersalah dan tidak mengingat-ingat lagi perbuatannya. Seringkali anak Tuhan mengampuni hanya sebatas basa-basi atau di mulut saja, hatinya tetap tidak bisa melupakan perbuatan yang sangat menyakitkan. Saat ini mungkin Saudara sedang mengalami sakit hati karena perbuatan suami, isteri, anak, orangtua, rekan sepelayanan atau siapapun yang mempunyai hubungan dekat dengan Saudara sehingga membuat Saudara menderita. Ingatlah, Tuhan telah memberikan pengampunan atas dosa kita dan Dia sudah melupakannya. Berusahalah untuk mengampuni dengan sepenuh hati dan melupakan perbuatan mereka. Tuhan pasti akan menolong Saudara untuk mampu melakukannya.
BARCODE BBM CHANNELS
RENUNGAN HARIAN
Mari! Kembali Bersama Kami!
19 November '14
Berapa Kali Harus Mengampuni?
16 November '14
Harga Sebuah Pengampunan
07 November '14
Copyright © 2012 All rights reserved. Designed and Developed by GIA Dr. Cipto Semarang