SEPEKAN TERAKHIR
  Sabtu, 27 Mei 2017   -HARI INI-
  Jumat, 26 Mei 2017
  Kamis, 25 Mei 2017
  Rabu, 24 Mei 2017
  Selasa, 23 Mei 2017
  Senin, 22 Mei 2017
  Minggu, 21 Mei 2017
DITULIS OLEH
Pdt. Goenawan Susanto
Gembala Jemaat
Renungan Lain oleh Penulis:
Home  »  Renungan  »  Menjadi Berhasil Dalam Pengenalan Akan Kristus
Menjadi Berhasil Dalam Pengenalan Akan Kristus
Minggu, 14 Juli 2013 | Tema: Bertumbuh Dalam Pengenalan Akan Allah
Menjadi Berhasil Dalam Pengenalan Akan Kristus
2 Petrus 1:3-9
Setiap manusia dilahirkan ke dunia ini sebagai bayi, setelah itu akan mengalami pertumbuhan baik secara jasmani, mental maupun rohani. Karena itu tujuan dari setiap manusia adalah bertumbuh menjadi dewasa, melalui tahap-tahap perkembangan yang normal, supaya bisa berfungsi sebagaimana manusia dewasa pada umumnya.

Demikianlah bisa digambarkan kehidupan kita di dalam Kristus. Oleh anugerah dan karya Roh Kudus-Nya kita dilahirkan menjadi ciptaan baru, manusia rohani yang memiliki kodrat ilahi (potensi kehidupan sebagai anak Allah). Ayat 4 berkata: “supaya olehnya kamu boleh mengambil bagian dalam kodrat ilahi”. Artinya, setiap kita yang lahir baru di dalam Kristus memiliki potensi ...selengkapnya »
Kita sering mendengar ungkapan bahwa ‘yang penting adalah pada akhir perjalanan’, hal ini tidak sepenuhnya betul karena pemikiran seperti ini bisa membuat orang menunda-nunda mengambil keputusan yang bisa berdampak dalam kekekalan. Keselamatan di dalam Tuhan Yesus sering dianggap begitu murah dan gampangan, yang menyebabkan kehidupan rohani orang percaya tidak bermutu. Tidak jarang kita mendengar pernyataan ‘nanti sajalah bila sudah mapan, sudah kaya, sudah tua baru memikirkan hal-hal rohani’. Dampaknya membuat seseorang tidak sungguh-sungguh menghargai anugerah penebusan yang membawa keselamatan kekal. Pikirnya asal nanti percaya, maka akan selamat dan semua akan beres. Menunda berarti tidak menggunakan waktu dengan baik [ayat 16], memboroskan waktu hidupnya untuk hal-hal yang tidak penting yang bisa menghambat pertumbuhan kedewasaan rohani. Hal ini akan membawa orang “kristen” tetap hidup di bawah belenggu percintaan dunia. Keinginannya hanya menikmati keindahan dunia seperti anak-anak dunia menikmatinya. Padahal persahabatan dengan dunia adalah suatu perzinahan rohani dan menjadikan dirinya musuh Allah, yang berarti pengkhianatan kepada Tuhan [Yakubus 4:4]. Seringkali orang baru mau “terpaksa rela” meninggalkan keindahan dunia pada saat dipaksa oleh kondisi obyektif berupa fisik dan kemampuan lain sudah rapuh karena usia atau suatu penyakit. Perlu disadari bahwa nasib kekal seseorang tidak hanya tergantung pada akhir perjalanan hidupnya, tetapi merupakan akumulasi keputusan-keputusan yang diambil sepanjang hidupnya. Dalam Lukas 13:22-30, Tuhan Yesus mengingatkan perlunya berjuang, berusaha keras untuk memperoleh keselamatan sejati seperti yang dikehendaki Bapa, yaitu dikembalikannya manusia kepada rancangan Allah semula. Untuk berjuang perlu menggunakan waktu dengan bijak selagi kondisi kita masih belum rapuh dimakan usia dan penyakit. Bagi yang relative masih muda, masih memiliki potensi fisik, intelektual yang maksimal, harus memahami hal tersebut. Mulai serius mempersembahkan segenap hidupnya bagi kemuliaan dan kepentingan Tuhan. Bagi yang lebih senior harus makin serius untuk mengejar ketertinggalan. Kecintaan kepada Tuhan harus sudah digelar meskipun masih ada kesempatan menikmati dunia ini. Prinsip ini yang membawa seseorang mengakhiri hidupnya dengan cantik yang membawa kemuliaan [finishing well]. Bila mau hidup sungguh-sungguh bagi Tuhan hanya pada saat kondisi diri sudah tidak berpotensi [fisik, intelektual, sosial-ekonomi], sebetulnya kita menipu diri sendiri dan menipu Tuhan. Berarti hanya memberi remah-remah kepada Tuhan, dan ini adalah sikap yang “kurang ajar” terhadap Tuhan yang begitu Agung dan Mulia.
Yesus Kristus tidak berkata, ”Pergilah dan selamatkan jiwa-jiwa.” Karena keselamatan jiwa adalah pekerjaan supranatural Allah. Tetapi Dia berkata, ”Pergilah jadikan semua bangsa muridKu....” Kita tidak dapat memuridkan orang lain jika kita sendiri bukan seorang murid. Ketika para murid kembali dari perjalanan misi pertama, mereka dipenuhi sukacita karena setan-setan pun tunduk kepada mereka. Namun Yesus menyatakan agar mereka jangan bersukacita karena sekedar pelayanan yang berhasil, tetapi bersukacita karena memiliki relasi yang benar dengan Yesus [lihat Lukas 10:17-20]. Hal terpenting bagi seorang utusan [murid] adalah tetap setia pada panggilan Tuhan, menyadari satu-satunya tujuannya hanyalah memuridkan semua orang bagi Kristus. Di dalam memuridkan kita harus memiliki belas kasih dari Allah terhadap jiwa-jiwa. Ingatlah dan berhati-hatilah, bahwa ada belas kasihan terhadap jiwa-jiwa yang bukan berasal dari Allah, melainkan dari hasrat kita sendiri untuk mempertobatkan orang lain berdasarkan perspektif kita. Tantangan bagi seorang utusan bukan muncul dari kenyataan bahwa orang-orang sulit dibawa kepada keselamatan, atau orang-orang yang mundur imannya sulit ditarik kembali, atau adanya rintangan berupa ketidakpedulian. Tidak! Tantangan itu muncul dari perspektif tentang persekutuan pribadi seorang utusan [murid] dengan Yesus Kristus. “Percayakah kamu bahwa Aku dapat melakukannya?” [Matius 9:28]. Tuhan kita terus mengajukan pertanyaan itu tanpa ragu dan hal itu menjadi tantangan bagi kita dalam setiap situasi yang kita jumpai. Tantangan terbesar kita adalah apakah saya mengenal Tuhan yang telah bangkit? Apakah saya mengenal kuasa Roh-Nya yang tinggal di dalam diri saya? Apakah saya cukup berhikmat dalam pandangan Allah untuk percaya kepada apa yang Yesus katakan? Ataukah saya sedang meninggalkan keyakinan yang supranatural dan tidak terbatas dari Yesus yang sesungguhnya merupakan satu-satunya panggilan Allah untuk kita sebagai utusan? Jika mengikuti cara apapun yang lain berarti saya sedang meninggalkan cara yang telah ditentukan Tuhan kita. “KepadaKu telah diberikan segala kuasa....karena itu pergilah...” [Matius 28:18-19]. [HAW]
Seorang jemaat pernah bercerita dan mengajarkan bagaimana mengerti seekor ikan hias yang bagus dan mahal. Beliau menjelaskan ciri dan spesifikasi ikan secara gamblang agar mudah dipahami. Tetapi dalam pikiran saya masih banyak pertanyaan, sebab menurut saya yang tidak mengerti, semua ikan hias bagus dan menarik. Namun bagi beliau yang menekuni dan mempelajari, tidak semua ikan hias itu bagus sebab ada bagian yang penting dan unik bagi peternak dan penggemar ikan hias. Dan itu yang dicari. Tetapi bagi saya, orang awam, itu tidak akan nampak sebab saya hanya melihat secara umum. Sama seperti peternak atau penggemar ikan hias, mereka menilai dan memperhatikan dengan seksama keunikan dan keistimewaan ikan yang diharapkan. Sehingga tidak heran jika mereka tekun dan terus mengusahakan sesuatu yang terbaik dari ikan hiasnya karena ada sesuatu yang mahal akan diterimanya. Demikian halnya dengan kekristenan kita adalah sesuatu yang unik dan istimewa sebab kita akan dibawa kepada suatu pengalaman yang berkualitas dengan Tuhan. Semakin kita memahami keunikan dan keistimewaan perbuatan Tuhan, maka kita tidak akan pernah berhenti mencari. Mengapa? Sebab kita akan mengalami kepuasan saat kita menemukan dan mendapatkan keindahan dari Tuhan sendiri. Namun jika kita menganggap keindahan Tuhan itu biasa saja, maka kita tidak akan pernah mengusahakan bahkan cenderung meremehkan sesuatu yang ada dalam diri Tuhan. Seperti Paulus berusaha mengejar dan mendapatkan rahasia Kristus sehingga apapun diusahakannya. Ia merelakan segalanya bahkan nyawanya untuk mengerti dan mengenal Kristus yang teristimewa dalam hidupnya. Dan seharusnya kita pun melakukannya sampai kita benar-benar tergetar dan terpesona dengan Tuhan sendiri. Jemaat yang terkasih, jika kita tidak mengerti siapa Yesus Kristus, maka segala yang berhubungan dengan-Nya akan kita anggap biasa. Tetapi sebaliknya, jika kita mengerti siapa Dia, mengerti keunikan dan keistimewaan-Nya, maka kita akan semakin mengejar dan mengusahakan mengenal-Nya lebih lagi. Dan itu akan kita tekuni hingga kita mengalami kepuasan dan kebahagiaan dalam hidup. Jangan pernah berhenti menemukan keistimewaan yang ada dalam diri Yesus Kristus.
Seorang pria mempunyai jabatan kepala bagian dalam sebuah perusahaan. Suatu saat pemilik perusahaan menawarkan promosi jabatan manager produksi dengan syarat melakukan perbuatan yang bertentangan dengan imannya. Bila menolak maka tidak saja gagal promosi tetapi juga harus berhenti bekerja. Semalam dia bergumul. Bila berhenti bekerja bagaimana memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari, biaya anak-anak yang tidak sedikit. Di sisi lain dia tidak mungkin mengkhianati Kristus yang telah berkorban bagi keselamatannya. Pagi harinya dia menghadap pemilik perusahaan dan memilih berhenti bekerja. Walaupun akan menderita tetapi dia berkata bahwa layak menerima penderitaan itu yang tidak sebanding dengan penderitaan-Nya. Petrus mengatakan janganlah heran bila nyala api siksaan datang sebagai ujian dan dianggap sesuatu yang luar biasa sedang terjadi. Sebaliknya bersukacitalah sebagai bagian dari penderitaan Kristus seperti ketika kemuliaan-Nya dinyatakan. Berbahagialah bila dinista karena nama Kristus. Janganlah menderita sebagai pembunuh, pencuri, penjahat atau pengacau. Janganlah malu menderita sebagai orang Kristen, melainkah memuliakan Allah dalam nama Kristus. Petrus telah mempraktekkan perkataannya. Dalam KPR 5, Petrus dan rasul-rasul diadili di mahkamah agama, walaupun dilarang bersaksi dan memberitakan Kristus, mereka menentang. Mereka disesah/dicambuk dengan rotan, tetapi mereka gembira karena merasa layak menerima penderitaan dan penghinaan karena nama Yesus. Di tengah berbagai tawaran yang bertentangan dengan iman, apakah kita tetap teguh mempertahankannya? Ketika mendapat perlakuan yang tidak adil, karya kita tidak dihargai, difitnah, dituduh atas sesuatu yang tidak kita perbuat di mana semua itu berkaitan dengan iman kepada Kristus, apakah kita tetap bisa bergembira dan bersukacita? Bila hal itu diperkenan datang pada diri kita, marilah kita berkata bahwa kita layak menerima bagi kemuliaan Allah.
BARCODE BBM CHANNELS
RENUNGAN HARIAN
Berdoalah untuk Bangsa Indonesia
21 Mei '17
Bertumbuh Dalam Kasih Karunia
13 Mei '17
Apa Yang Kita Konsumsi ?
26 Mei '17
Copyright © 2012 All rights reserved. Designed and Developed by GIA Dr. Cipto Semarang