SEPEKAN TERAKHIR
  Rabu, 29 Juli 2015   -HARI INI-
  Selasa, 28 Juli 2015
  Senin, 27 Juli 2015
  Minggu, 26 Juli 2015
  Sabtu, 25 Juli 2015
  Jumat, 24 Juli 2015
  Kamis, 23 Juli 2015
DITULIS OLEH
Pdt. Goenawan Susanto
Gembala Jemaat
Renungan Lain oleh Penulis:
Home  »  Renungan  »  Menjadi Berhasil Dalam Pengenalan Akan Kristus
Menjadi Berhasil Dalam Pengenalan Akan Kristus
Minggu, 14 Juli 2013 | Tema: Bertumbuh Dalam Pengenalan Akan Allah
Menjadi Berhasil Dalam Pengenalan Akan Kristus
2 Petrus 1:3-9
Setiap manusia dilahirkan ke dunia ini sebagai bayi, setelah itu akan mengalami pertumbuhan baik secara jasmani, mental maupun rohani. Karena itu tujuan dari setiap manusia adalah bertumbuh menjadi dewasa, melalui tahap-tahap perkembangan yang normal, supaya bisa berfungsi sebagaimana manusia dewasa pada umumnya.

Demikianlah bisa digambarkan kehidupan kita di dalam Kristus. Oleh anugerah dan karya Roh Kudus-Nya kita dilahirkan menjadi ciptaan baru, manusia rohani yang memiliki kodrat ilahi (potensi kehidupan sebagai anak Allah). Ayat 4 berkata: “supaya olehnya kamu boleh mengambil bagian dalam kodrat ilahi”. Artinya, setiap kita yang lahir baru di dalam Kristus memiliki potensi untuk hidup di dalam kekudusan dan pengenalan akan Allah. Harus digaris bawahi: setiap kita! Bukan hanya orang-orang Kristen tertentu saja, misalnya hamba Tuhan, atau orang-orang Kristen yang punya karunia-karunia tertentu.

Tapi kenyataan itu tidaklah untuk membuat kita menanti dengan pasif dan beranggapan bahwa dengan sendirinya kita akan mencapai kondisi itu. Firman Tuhan berkata: “Justru karena itu kamu harus dengan sungguh-sungguh berusaha ....” (ayat 5). Usaha yang sungguh-sungguh diperlukan agar supaya kita mengalami pertumbuhan dalam pengenalan kita akan Tuhan. Dengan kata lain, kalau kita tidak berusaha dengan sungguh-sungguh maka potensi yang dianugerahkan kepada kita itu akan tersia-siakan. Pe...selengkapnya »
Saudara, istilah pahlawan tidaklah asing di telinga kita. Negara kita memberikan apresiasi khusus kepada para pahlawan, terbukti adanya peringatan Hari Pahlawan setiap bulan Nopember. Gelar “pahlawan” diberikan pada seseorang yang telah berbuat sesuatu yang berjasa atau berjasa bagi kepentingan banyak orang. Tapi pada umumnya orang beranggapan “pahlawan” adalah mereka yang telah berjuang angkat senjata untuk memperoleh kemerdekaan suatu negara. Pahlawan pejuang kemerdekaan itu hanya salah satu sebutan untuk para pahlawan, padahal masih banyak jenis kepahlawanan yang bisa kita jumpai. RA Kartini, beliau adalah pahlawan untuk emansipasi wanita. Bapak dan ibu guru, mereka termasuk pahlawan tanpa tanda jasa yang telah berhasil mendidik dan menghasilkan anak didik yang pandai dan berhasil. Yang menarik adalah gelar “pahlawan tak dikenal”. Gelar ini diperuntukkan bagi mereka yang telah berbuat sesuatu yang berarti untuk kemajuan sesama tapi tidak mendapat penghargaan atau tidak diperhitungkan. Dalam bacaan hari ini kita merenungkan tentang seorang tuan yang memberikan modal atau kemampuan kepada hamba-hambanya untuk dikembangkan. Hal ini tak ubahnya seperti keadaan kita manusia yang diciptakan Allah dan diperlengkapi dengan berbagai kemampuan dan keahlian. Pada ayat 21, sang tuan mengacungkan jempol kepada hamba yang sudah mengembangkan modal yang ia berikan dengan baik. Bahkan hamba itu boleh menikmati berkat kebahagiaan tuannya. Berapa banyak keahlian, kepandaian atau kemampuan yang sudah Tuhan berikan dalam hidup kita? Tentunya Tuhan memperlengkapi kita dengan keahlian, kepandaian ataupun kemampuan tertentu. Oleh sebab itu kita patut bersyukur kepada Tuhan dengan bersedia membagikannya kepada sesama. Saat kita bekerja, di situ bukan berarti semata-mata kita menjual keahlian untuk mendapat sejumlah uang, tapi juga memberi kontribusi bagi perusahaan atau sesama semakin maju dan memiliki arti. Saat kita melayani, bukan berarti kita mempertontonkan karunia yang dari Tuhan sehingga orang kagum melihat kehebatan kita, tapi bagaimana karunia yang kita miliki menjadi berkat untuk orang lain.
Suatu pagi saya bangun dengan kepala yang terasa sangat berat, mata yang sulit untuk dibuka, tubuh yang limbung. Tentu saja saya bangun dengan kondisi seperti itu karena semalam-malaman tidak bisa tidur. Banyaknya tugas dan masalah yang harus diselesaikan membuat saya tidak bisa memejamkan mata. Pekerjaan di kantor, masalah di rumah, tugas-tugas dalam pelayanan terasa menjadi beban yang sangat berat. Sempat merasa frustasi dan sering terpikir untuk melepaskan semua tugas-tugas yang tiada habisnya. Puji syukur karena Bapa mengerti betul setiap detail dari kondisi fisik, mental, pikiran dan hati kita. Dia tuntun saya untuk melihat hidup Ester. Ester ditempatkan Tuhan di sebuah istana, bukan karena wajah Ester yang cantik saja yang membawanya menjadi permaisuri, tapi terlebih karena Tuhan punya rencana, dan Tuhan membutuhkan kesediaan Ester untuk dipakai menjadi berkat bagi bangsanya. Ester dituntut menjadi alat untuk menyelamatkan bangsanya yang akan dimusnahkan oleh Haman dengan cara menghadap raja Ahasyweros untuk membatalkan rencana itu. Bukan hal yang mudah untuk bertemu dengan raja karena nyawa menjadi taruhannya. Ester bisa saja menolak tugas itu, tetapi dia menyadari akan perannya sebagai penyalur berkat bagi bangsanya, dan dia melakukan tugas yang dipercayakan kepadanya dengan sepenuh hati. Ketika tugas-tugas, pekerjaan, masalah yang kita hadapi menjadi beban bagi kita, kita cenderung untuk menolak atau melakukan dengan terpaksa. Dan sudah pasti ketika segala sesuatu dilakukan dengan terpaksa tidak akan menghasilkan sesuatu yang baik dan membuat kita menjadi stress. Tetapi kalau kita menyadari bahwa ketika Tuhan mengijinkan banyak tugas, pekerjaan ataupun masalah ada dalam kehidupan kita, itu bukan hanya kebetulan semata. Tapi ada maksud dan rencana di balik semua itu. Dan Allah ingin kita menjadi penyalur berkat melalui apapun yang kita lakukan. Seperti Ester yang tidak menjadikan tugasnya sebagai beban tetapi sebagai berkat untuk bangsanya, mari kita belajar menyadari posisi kita sebagai penyalur berkat bagi lingkungan melalui setiap tugas, pekerjaan dan masalah yang kita hadapi. Amin.
Sabtu siang itu sebagaimana biasa Wati dan saya berangkat dari Yogya ke Muntilan dengan berboncengan sepeda motor. Ada anak-anak Sekolah Minggu yang menanti kami di sebuah ruko kontrakan mungil di Pos PI Muntilan setiap Sabtu sore. Meskipun pagi harinya kami harus mengikuti perkuliahan dan kegiatan lainnya, kami selalu berusaha bersiap diri dengan baik sebab perjalanan ke Muntilan membutuhkan stamina dan konsentrasi penuh. Gencarnya bus, truk dan mobil yang berlalu lalang dengan kecepatan tinggi membuat para pengendara sepeda motor harus betul-betul waspada. Sekolah Minggu berlangsung dengan menyenangkan seperti juga Sabtu-Sabtu sebelumnya. Kami pun kembali ke Yogya menjelang petang. Namun jika biasanya kami langsung kembali ke kos, kali ini kami lanjut ke gereja untuk menghadiri rapat panitia Paskah. Saat itulah peristiwa itu terjadi. Selepas sebuah tikungan yang mengarah ke gereja, motor yang kami naiki bersenggolan dengan sebuah becak dan mengakibatkan Wati yang memegang kemudi terluka parah di kaki. Saya yang duduk di boncengan terluka lecet. Penumpang dan pengemudi becak baik-baik saja. Usai diantar oleh teman-teman gereja ke RS Panti Rapih, Wati mendapat pengobatan untuk kakinya dan harus beristirahat selama dua minggu. Teman-teman menawarkan diri untuk menggantikan kami mengajar kelas Sekolah Minggu esok paginya. Namun karena luka saya tidak serius dan bahan ajar sudah saya siapkan jauh hari sebelumnya, saya masih bisa mengajar di kelas kami. Setelah kecelakaan itu Wati dan saya mengintrospeksi diri. Apakah kami bersalah di dalam pandangan Tuhan, ataukah ada maksud Tuhan yang lain di balik itu. Saya sendiri melihat ada hal baik yang timbul dari peristiwa itu. Kami semua mendapat kesempatan untuk lebih saling memperhatikan dan menjadi berkat bagi rekan sepelayanan. Wati dirawat dengan penuh kasih di rumah salah satu jemaat selama beberapa hari; setelah ia kembali ke kos kami bergantian menjenguk dan mengantarnya berobat sampai ia sembuh betul; dan untuk pelayanan di Muntilan selanjutnya saya dan pengganti Wati selalu dikawal oleh dua orang rekan pria. Kami menjadi lebih peduli, lebih merasa sebagai satu keluarga di dalam pelayanan. Tiada peristiwa yang diizinkan Tuhan terjadi tanpa makna. Baik itu teguran, baik itu untuk memunculkan kebaikan, atau untuk memuliakan Tuhan ... segala sesuatu pasti ada maknanya. Semua itu memberkati kita dan membuka pintu untuk menjadi berkat bagi sesama.
Pada sebuah acara pertemuan keluarga, Andi, bocah berusia empat tahun tiba-tiba berteriak, “Bego, kamu.” Kontan saja Dewi, sang mama, yang mendengar ucapan itu jelas kaget dan malu. Walaupun sudah diberi pengertian bahwa kata-kata itu tidak baik, Andi tetap mengulanginya berkali-kali hingga membuat Dewi semakin malu dan berusaha menahan amarah kepada anaknya. Melihat reaksi orang di sekelilingnya yang mendiamkannya, akhirnya Andi berhenti berkata-kata. “Waduh, Andi tahu istilah itu dari mana, ya?” telisik sang mama. Tentunya masalah tersebut tidak hanya dialami oleh ibu Dewi, tetapi juga kita semua, para orangtua. Proses alami meniru ucapan terjadi pada anak usia 1 - 3 tahun. Di masa itulah mereka belajar berbicara, belajar bahasa, dan juga menambah kosa kata. Di usia itu seringkali anak-anak ‘membeo’ tanpa tahu maksud dan artinya, menirukan kata-kata yang didengarnya baik dari orangtua dan keluarga, dari teman-teman bermainnya, dan bahkan dari televisi. Kata-kata yang buruk dan tidak sopan, seperti kasus Andi di atas, harus disikapi dengan bijak karena jika kebiasaan jelek tersebut terbawa hingga besar, maka si anak akan mudah melontarkan kata-kata tidak sopan dan kasar saat sedang emosi. Biasanya reaksi marah [terutama yang berlebihan] ketika anak kita mengucapkan kata-kata kasar dan tidak sopan seringkali merupakan upaya menutupi rasa malu kita sebagai orangtua. Kita takut dipandang sebagai orangtua yang tidak bisa mendidik anak dengan baik. Alangkah baiknya jika kita lebih fokus memberi arahan kepada anak daripada sekedar menutupi rasa malu kita. Seperti nats hari ini menyatakan bahwa orang yang bijak hati disebut berpengertian, dan berbicara manis lebih dapat menyakinkan. Artinya kata-kata yang bijaksana mempunyai kekuatan untuk meyakinkan dan bahkan mengubahkan perilaku seseorang. Apa yang bisa kita lakukan sebagai orangtua jika menghadapi kasus serupa? Kita sebagai orangtua [termasuk kakek dan nenek] bisa memberi contoh kata-kata yang sederhana dan sopan kepada anak setiap hari. Ayah ibu, selaku orangtua, harus benar-benar memperhatikan kosakata yang dipakai dalam percakapan keseharian. Kata-kata kasar dan tidak sopan harus benar-benar dihilangkan termasuk ketika tensi emosi kita meninggi. Kita hendaknya mengapresiasi [memberi pujian] ketika anak berkata-kata dengan sopan dan mengarahkan ketika anak mengucapkan kata-kata yang kasar dan tidak sopan tanpa harus marah secara berlebihan. Juga tidak kalah pentingnya adalah mendampingi anak-anak ketika mereka menonton televisi dan memberikan pengertian tentang apa yang ditontonnya.
BARCODE BBM CHANNELS
RENUNGAN HARIAN
Memberi Menjauhkan Petaka
20 Juli '15
Perkataan Yang Bijaksana
28 Juli '15
Hidup Yang Terberkati
09 Juli '15
Copyright © 2012 All rights reserved. Designed and Developed by GIA Dr. Cipto Semarang