SEPEKAN TERAKHIR
  Kamis, 28 Agustus 2014   -HARI INI-
  Rabu, 27 Agustus 2014
  Selasa, 26 Agustus 2014
  Senin, 25 Agustus 2014
  Minggu, 24 Agustus 2014
  Sabtu, 23 Agustus 2014
  Jumat, 22 Agustus 2014
DITULIS OLEH
Pdt. Goenawan Susanto
Gembala Jemaat
Renungan Lain oleh Penulis:
Home  »  Renungan  »  Menjadi Berhasil Dalam Pengenalan Akan Kristus
Menjadi Berhasil Dalam Pengenalan Akan Kristus
Minggu, 14 Juli 2013 | Tema: Bertumbuh Dalam Pengenalan Akan Allah
Menjadi Berhasil Dalam Pengenalan Akan Kristus
2 Petrus 1:3-9
Setiap manusia dilahirkan ke dunia ini sebagai bayi, setelah itu akan mengalami pertumbuhan baik secara jasmani, mental maupun rohani. Karena itu tujuan dari setiap manusia adalah bertumbuh menjadi dewasa, melalui tahap-tahap perkembangan yang normal, supaya bisa berfungsi sebagaimana manusia dewasa pada umumnya.

Demikianlah bisa digambarkan kehidupan kita di dalam Kristus. Oleh anugerah dan karya Roh Kudus-Nya kita dilahirkan menjadi ciptaan baru, manusia rohani yang memiliki kodrat ilahi (potensi kehidupan sebagai anak Allah). Ayat 4 berkata: “supaya olehnya kamu boleh mengambil bagian dalam kodrat ilahi”. Artinya, setiap kita yang lahir baru di dalam Kristus memiliki potensi untuk hidup di dalam kekudusan dan pengenalan akan Allah. Harus digaris bawahi: setiap kita! Bukan hanya orang-orang Kristen tertentu saja, misalnya hamba Tuhan, atau orang-orang Kristen yang punya karunia-karunia tertentu.

Tapi kenyataan itu tidaklah untuk membuat kita menanti dengan pasif dan beranggapan bahwa dengan sendirinya kita akan mencapai kondisi itu. Firman Tuhan berkata: “Justru karena itu kamu harus dengan sungguh-sungguh berusaha ....” (ayat 5). Usaha yang sungguh-sungguh diperlukan agar supaya kita mengalami pertumbuhan dalam pengenalan kita akan Tuhan. Dengan kata lain, kalau kita tidak berusaha dengan sungguh-sungguh maka potensi yang dianugerahkan kepada kita itu akan tersia-siakan. Pe...selengkapnya »
Hampir 8 tahun saya terjerembab dalam dosa tidak bisa mengampuni. Selama itu saya merasakan kehilangan sukacita sejati. Apa yang saya gumulkan di hadapan Tuhan seperti berhenti di tengah jalan. Selama itu pula saya tidak pernah menemukan penyebab mengapa hidup saya terasa tidak menemukan berkat Allah. Dosa ini dimulai ketika saya sekeluarga di usir oleh kakak ipar dari rumah yang kami bangun, sedang kami tidak tahu permasalahnnya. Saya dendam kepadanya karena saya merasa rumah itu dibangun juga dengan hasil keringat saya dan kakak tidak membantu sama sekali. Kami sekeluarga pergi meninggalkan rumah itu tanpa keluar kata apapun, tetapi amarah dan dendam mendera hati ini. Selama itu saya tidak pernah tegur sapa walaupun bertemu. Tetapi selama itu pula hidup kami, walaupun melayani Tuhan, tetap tidak menemukan damai sejahtera Allah. Kami merasakan hidup ini selalu kurang dalam segala hal. Puji Tuhan, melalui 1 Yohanes 4:20 yang mengatakan, ”Jikalau seorang berkata: ‘Aku mengasihi Allah,’ dan ia membenci saudaranya, maka ia adalah pendusta, karena barangsiapa tidak mengasihi saudaranya yang dilihatnya, tidak mungkin mengasihi Allah yang tidak dilihatnya.” Saya diingatkan begitu jelas sekali dosa kesalahan saya sehingga mengalami kemerosotan rohani yang mengakibatkan kehilangan berkat Allah. Dua tahun lalu saya menemui kakak ipar, saya minta maaf dan saya mengasihi mereka, Dan luar biasa damai yang telah hilang itu kembali, bahkan berkat-berkat Allah yang selama ini tersumbat mengalir deras. AKU BISA MENGAMPUNI mereka yang telah menyakitiku, itulah kunci pemulihan pada diri saya. Beban yang saya pikul terasa terhempas begitu saja setelah pengampunan dan kasih itu saya lakukan. Sebagai seorang yang mengakui bahwa Yesus adalah Tuhan dan Juruselamat, sudah seharusnya sifat mau mengampuni menjadi gaya hidup kita. Mengapa harus mengampuni? Pertama, supaya Iblis tidak mengambil keuntungan dari kita dan kita bebas dari hal-hal yang merugikan kita (2 Korintus 2:10-11). Kedua, Bapa di Surga akan mengampuni kita juga, jika kita mau melepaskan pengampunan kepada orang lain (Matius 6:15). Marilah kita belajar mengampuni karena Allah lebih dulu mengampuni kita.
Suatu hari beberapa orang pergi membawa anak-anaknya yang kecil kepada Yesus, supaya Ia meletakkan tangan-Nya atas mereka dan mendoakan mereka. Akan tetapi murid-murid-Nya memarahi orang-orang itu karena pikirnya mungkin keberadaan mereka dapat menganggu Yesus, dan ada pula yang berpendapat bahwa anak-anak bukan fokus prioritas pelayanan Yesus. Akan tetapi Yesus berkata: ”Biarkanlah anak-anak itu, janganlah menghalang-halangi mereka datang kepada-Ku; sebab orang-orang yang seperti itulah yang empunya Kerajaan Sorga.” Lalu Tuhan Yesus meletakkan tangan-Nya atas mereka dan kemudian Ia berangkat dari situ. Dari penggalan kisah yang terdapat dalam Injil Matius tersebut ada satu hal penting yang sangat diperhatikan Yesus, yaitu dalam pelayanan-Nya, Ia tidak pernah membeda-bedakan semua orang yang dilayani-Nya. Dalam komunitas perjanjian baru, konsep saling mengasihi dan menerima antara satu dengan yang lain sangat ditekankan (Kolose 3:12-17). Konsep ini mengajar kita untuk tidak hanya saling menerima kelebihan, namun juga kekurangan sesama anggota dalam tubuh Kristus. Celakanya, kadang Hamba Tuhan pada zaman ini kadang mengabaikan spirit yang diimpartasikan oleh Yesus. Mereka kadang memilih-milih: baik tempat pelayanan, pelayanan seksi tertentu dalam gereja, jemaat yang dilayani, dll. Demikian juga sebaliknya, Jemaat juga kadang memilih-milih dan gampang tidak puas dengan pelayanan yang diberikan kepadanya. Memilih dan suka dengan pendeta tertentu, WL tertentu, dalam seksi tertentu, dan yang fatal mereka memilih gereja tertentu yang dapat memuaskan keinginan dagingnya. Jika ini terjadi dalam pelayanan kita, tentu sebenarnya kita sedang kehilangan prioritas pelayanan yang diajarkan Yesus. Yesus mengajarkan kepada kita bahwa yang menjadi landasan pelayanan adalah kasih dan jiwa-jiwa bagi kerajaan Allah. Dan spirit inilah yang Yesus mau impartasikan dalam komunitas perjanjian baru yang Ia bangun, sehingga dalam komunitas ini tidak ada diskriminasi sedikitpun dalam tubuh Kristus, baik kepada jemaat yang ‘biasa’ maupun pada hamba-hamba Tuhan dan para pelayanan Tuhan yang tentu memiliki banyak kelemahan dan kekurangan.
1 Yohanes 4:18 Di dalam kasih tidak ada ketakutan: kasih yang sempurna melenyapkan ketakutan; sebab ketakutan mengandung hukuman dan barangsiapa takut, ia tidak sempurna di dalam kasih. Ketakutan seringkali berkonotasi dengan kegelapan. Sedangkan kasih berkonotasi dengan terang. Firman Tuhan berkata: ”Terang itu bercahaya di dalam kegelapan dan kegelapan itu tidak menguasainya” (Yoh 1:5). Orang yang melakukan perbuatan jahat biasanya melakukannya di dalam kegelapan, pada malam hari atau di tempat yang sepi atau gelap, karena dia takut perbuatannya diketahui orang lain. Tetapi orang yang melakukan perbuatan baik tidak perlu menutup-nutupi perbuatannya. (Meskipun juga tidak perlu mengumbar perbuatannya supaya diketahui semua orang). Orang yang melakukan perbuatan baik tidak perlu merasa takut dan malu. Jika kasih yang memimpin kehidupan kita, maka kita tidak perlu takut. Hanya orang-orang yang punya maksud jahat yang layak untuk merasa takut. Tetapi sering kali kita merasa takut meskipun kita melakukan perbuatan baik atau benar. Sebagai contoh dalam hal bersaksi atau memberitakan Injil kepada orang lain. Sering kita takut bersaksi tentang kebaikan Tuhan yang telah kita alami, meskipun kita tahu bersaksi itu baik. Mengapa kita takut? Bukankah kita melakukan sesuatu yang baik? Seringkali juga kita takut mengatakan kebenaran atau menegur orang yang berbuat salah. Seringkali jika melihat orang berbuat salah, kita memilih untuk diam atau membiarkannya saja. Apalagi kalau yang berbuat salah itu lebih tinggi kedudukannya daripada kita. Kita berdalih: ”Ah, itu kan urusannya sendiri. Untuk apa saya mencampuri urusan pribadinya?” Padahal sebenarnya kita takut atau kita tidak mau berurusan dengan orang itu. Sebenarnya jika kita sungguh-sungguh mengasihi orang tersebut kita harus menegur atau mengingatkannya. Kalau kita membiarkannya berarti kita tidak peduli dengan keselamatan orang itu. Rasul Paulus memberikan contoh yang baik dalam hal ini. Dia menegur jemaat Galatia yang telah menyimpang dari ajaran Firman Tuhan yang benar. Bahkan dia menegur mereka dengan tegas. Kemudian dia berkata dalam suratnya: ”Apakah dengan mengatakan kebenaran kepadamu aku telah menjadi musuhmu?” (Gal 4:16) Dia yakin bahwa dengan mengatakan kebenaran dia tidak memusuhi jemaat Galatia. Justru dia mengasihi mereka. Sikap seperti itulah yang harus kita pakai. Pertama kita yakin bahwa kita punya maksud kasih. Kemudian kita mengatakan kebenaran tanpa rasa takut. Tuhan memberkati.
Kakak saya pernah bersaksi atas dua mujizat Tuhan yang dialaminya saat dia menempuh studi di sekolah Alkitab. Dulu dia pernah berkata kepada Tuhan kalau dia tidak ingin tahu bahwa Tuhan itu baik hanya dari kata orang. Ternyata Tuhan izinkan kebaikan-Nya dan kuasa-Nya dialami oleh kakak saya melalui sakit pendarahan dan benjolan pada lidahnya. Tuhan seketika hentikan pendarahan yang sudah dialaminya selama beberapa waktu hingga membuat kakak saya habis-habisan, baik tenaga maupun keuangan. Setelah beberapa tahun kemudian mujizat kembali dialami setelah benjolan itu keluar saat kakak saya seperti tersedak makanan. Padahal dokter berkata benjolan itu harus dioperasi. Pengalaman kakak saya ini juga sangat menginspirasi saya. Saya juga mau seperti itu. Ternyata selama saya sekolah, banyak sekali mujizat yang saya alami. Hal yang mustahil bisa saya alami. Mulai dari biaya sekolah, biaya hidup, beberapa mata kuliah yang menakutkan, masalah sosial dengan teman asrama, sakit penyakit, bahkan pemulihan gambar diri. Semuanya selesai secara ajaib. Dari pengalaman itu, saya merasa jujur dan benar, tanpa kebohongan, tanpa rasa bersalah, ketika berkata kepada orang lain bahwa Tuhan itu baik. Intensitas mujizat dan intimasi dengan Tuhan itulah yang membuat saya percaya bahwa Tuhan mempunyai kuasa untuk melakukan segala sesuatu dari dulu, sekarang sampai selama-lamanya. Demikian halnya dengan yang dialami Ayub. Ayub pernah mengalami kejayaan, bahkan keterpurukan. Sepanjang peristiwa itu terjadi, Ayub pun pernah kecewa dengan sahabat, keluarga bahkan dengan Tuhan. Namun titik nadir kehidupan Ayub telah mempertemukannya kepada kasih Tuhan yang terselubung dalam hal-hal menyakitkan yang dialamimya. Melalui kasih karunia Tuhan, Ayub mempercayai kemahakuasaan Tuhan dalam alam semesta. Jika saat ini Anda sedang mengalami kejayaan maupun keterpurukan, ingatlah bahwa Tuhan sedang menunjukkan kemahakuasaan-Nya. Berserahlah, percayalah, maka Anda akan melihat pemeliharaan-Nya.
BARCODE BBM CHANNELS
RENUNGAN HARIAN
Rahasia Kemenangan
23 Agustus '14
Fair Play
14 Agustus '14
Kok Malah Bertengkar?
01 Agustus '14
Copyright © 2012 All rights reserved. Designed and Developed by GIA Dr. Cipto Semarang