SEPEKAN TERAKHIR
  Sabtu, 23 September 2017   -HARI INI-
  Jumat, 22 September 2017
  Kamis, 21 September 2017
  Rabu, 20 September 2017
  Selasa, 19 September 2017
  Senin, 18 September 2017
  Minggu, 17 September 2017
DITULIS OLEH
Pdt. Goenawan Susanto
Gembala Jemaat
Renungan Lain oleh Penulis:
Home  »  Renungan  »  Menjadi Berhasil Dalam Pengenalan Akan Kristus
Menjadi Berhasil Dalam Pengenalan Akan Kristus
Minggu, 14 Juli 2013 | Tema: Bertumbuh Dalam Pengenalan Akan Allah
Menjadi Berhasil Dalam Pengenalan Akan Kristus
2 Petrus 1:3-9
Setiap manusia dilahirkan ke dunia ini sebagai bayi, setelah itu akan mengalami pertumbuhan baik secara jasmani, mental maupun rohani. Karena itu tujuan dari setiap manusia adalah bertumbuh menjadi dewasa, melalui tahap-tahap perkembangan yang normal, supaya bisa berfungsi sebagaimana manusia dewasa pada umumnya.

Demikianlah bisa digambarkan kehidupan kita di dalam Kristus. Oleh anugerah dan karya Roh Kudus-Nya kita dilahirkan menjadi ciptaan baru, manusia rohani yang memiliki kodrat ilahi (potensi kehidupan sebagai anak Allah). Ayat 4 berkata: supaya olehnya kamu boleh mengambil bagian dalam kodrat ilahi. Artinya, setiap kita yang lahir baru di dalam Kristus memiliki potensi untuk hidup di dalam kekudusan dan pengenalan akan Allah. Harus digaris bawahi: setiap kita! Bukan hanya orang-orang Kristen tertentu saja, misalnya hamba Tuhan, atau orang-orang Kristen yang punya karunia-karunia tertentu.

Tapi kenyataan itu tidaklah untuk membuat kita menanti dengan pasif dan beranggapan bahwa dengan sendirinya kita akan mencapai kondisi itu. Firman Tuhan berkata: Justru karena itu kamu harus dengan sungguh-sungguh berusaha .... (ayat 5). Usaha yang sungguh-sungguh diperl...selengkapnya »
Menjadi murid perlu latihan 1 Timotius 4:6-11 Tetapi jauhilah takhayul dan dongeng nenek-nenek tua. Latihlah dirimu beribadah. Latihan badani terbatas gunanya, tetapi ibadah itu berguna dalam segala hal, karena mengandung janji, baik untuk hidup ini maupun untuk hidup yang akan datang. [ayat 7-8] Ada sebuah pernyataan menarik dari seorang guru di Australia: ’Kami tidak terlalu khawatir anak-anak Sekolah Dasar kami tidak pandai Matematika. Kami jauh lebih khawatir jika mereka tidak pandai mengantri.” Mengapa pernyataan itu menarik? Biasanya kita di Indonesia menganggap bahwa kemampuan dalam pelajaran itu jauh lebih penting daripada etika. Berprestasi di dalam pelajaran itu dianggap jauh lebih membanggakan daripada menjadi seorang anak yang mengerti tata krama. Hasilnya adalah di Indonesia ini banyak orang pandai, tetapi kepandaiannya itu tidak digunakan untuk hal yang baik tapi untuk hal yang tidak baik, misalnya korupsi. Ya, korupsi itu dimulai dan dipelajari sejak kecil. Dimulai dari kebiasaan-kebiasaan tidak tertib, mengutamakan kepentingannya sendiri dan menyerobot hak orang lain. Misalnya di dalam hal mengantri. Kalau sejak kecil anak sudah terbiasa menyerobot maka sewaktu dewasa nanti juga dia punya anggapan bahwa menyerobot hak orang lain adalah perkara biasa. Dan banyak orang tua yang tidak keberatan dan malah mengajari anaknya untuk menyerobot hak orang lain. Itulah sebabnya di Indonesia ini banyak orang yang melakukan korupsi dan menganggap bahwa korupsi adalah hal biasa, karena memang sudah biasa mereka lakukan sejak kecil. Sedangkan di negara-negara yang membiasakan warganya untuk tertib [contohnya dalam hal mengantri] korupsi pun jarang terjadi. Rasul Paulus menasihati Timotius, muridnya secara rohani, agar melatih diri di dalam ibadah. Ibadah yang dimaksud di sini adalah kesalehan [godliness]. Kesalehan memang harus dilatih, bahkan harus diajarkan sejak kecil, ketika seseorang masih kanak-kanak. Seperti halnya dengan kedisiplinan dalam mengantri, ketertiban, menghargai hak orang lain, harus ditanamkan sejak dini. Hasilnya akan terlihat nanti setelah anak itu menjadi dewasa, dia akan menjadi seorang yang baik. Buat setiap murid Kristus, perlu kita melatih dan mendisiplin diri kita sendiri, dengan membaca Alkitab, bersaat teduh secara rutin, dan melakukan Firman itu agar terbentuk karakter Kristus di dalam diri kita. Amin. Pdt. Goenawan Susanto
Kita tidak boleh meremehkan pentingnya kekuatan perkataan. Yakobus mengatakan bahwa meskipun lidah manusia adalah bagian kecil dari bagian tubuh, tetapi lidah memiliki kekuatan untuk menimbulkan efek yang dahsyat [Yakobus 3:1-12]. Kitab Amsal mengingatkan kita bahwa ‘hidup dan mati dikuasai lidah’ [Amsal 18:21]. Bahasa yang kita pakai untuk berkomunikasi dengan sesama itu seperti sebilah pisau. Di tangan ahli bedah yang teliti dan mahir, sebilah pisau dapat digunakan untuk hal-hal yang baik. Tetapi di tangan orang ceroboh atau bodoh, pisau itu dapat menimbulkan kerusakan besar. Begitu juga dengan kata-kata. Pertama, kuasa untuk melakukan kebaikan. Alkitab mengajarkan bahwa kata-kata yang baik dapat mengangkat, memelihara dan dapat menyembuhkan hati yang luka. Amsal 16:24 mengatakan, “Perkataan yang menyenangkan adalah seperti sarang madu, manis bagi hati dan obat bagi tulang-tulang.” Kata-kata yang dipertimbangkan dengan baik dapat membantu untuk memulihkan kepercayaan diri, harapan, dan tujuan bagi suami atau isteri yang merasa kesal, kehilangan arah, dan bimbang. Contohnya, seorang suami dapat memulihkan semangat isterinya dengan berkata, “Sayang, aku menghargai kesabaranmu terhadapku akhir-akhir ini. Aku tahu bahwa aku terlalu larut dalam pekerjaanku. Aku telah menyepelekan dirimu. Kau tersakiti sementara aku terlalu sibuk dengan semuanya sekalipun semua itu juga untuk kita.” Kedua, kuasa untuk menyakiti. Orang yang terbiasa mengobral perkataan kasar biasanya tidak menyadari bahwa apa yang dikatakan itu telah menyakiti orang lain. Dibentak-bentak atau dipanggil dengan sebutan seperti “bodoh” atau “idiot”, terutama oleh pasangan sendiri, dapat menimbulkan luka yang sangat dalam selama bertahun-tahun. Kita kerap kali tidak menganggap serius kuasa lidah untuk menyerang serta kemampuannya untuk menghancurkan. Beberapa kata yang kurang enak dapat membunuh semangat pasangan atau teman kita. Amsal 12:18 menyatakan bahwa ‘ada orang yang lancang mulutnya seperti tikaman pedang’ [bnd. Yakobus 3:8; Mazmur 52:4]. Perlu bagi kita untuk menyadari bahwa kita semua memiliki “senjata” yang sangat tajam [yaitu : lidah], bagaimana kita akan menggunakannya? Hendaknya kita menggunakannya untuk membangun atau memotivasi orang-orang terdekat kita terutama dalam keluarga supaya lidah kita memberi berkat dan kehidupan yang penuh damai sejahtera. Namun demikian kita harus bersedia menerima tegoran dari lidah yang sifatnya membangun [bnd. 2 Korintus 7:8-10].
Seorang pemuda yang sedang menyelesaikan pendidikan sarjana tentu berharap mendapatkan pekerjaan yang sesuai dengan bidang kemampuan yang dimilikinya. Ia terus berusaha mencari dan mendapatkan pekerjaan. Ia akan mencari peluang untuk bisa mendapatkan pekerjaan yang tepat bagi dirinya. Cita-cita semasa belajar seolah-olah akan segera didapatkan. Mimpi-mimpi ketika menjalani perkuliahan dalam angan sudah terbayang nyata. Ia memiliki harapan yang besar untuk masa depan yang gemilang. Harapan itu pasti sesuatu yang indah dan yang baik karena ada keyakinan pasti bisa meraihnya. Kitab Amsal 23:18 memberitahu bahwa masa depan dan harapan yang baik itu tetap ada. Meskipun harus dengan perjuangan yang berat. Kadang masa depan yang diimpikan dan harapan yang indah selalu dibayangkan, namun untuk menggapainya membutuhkan kerja keras dan usaha, tentunya juga berdoa dan berserah diri kepada Tuhan. Kata demi kata dalam ayat ini mengandung makna yang dalam jikalau setiap kita merenungkan lebih dalam. Meskipun kadang kita kehilangan harapan, seakan-akan hidupnya tidak ada yang bisa diharapkan, namun Tuhan menyediakan harapan yang tidak akan hilang bagi orang yang percaya. Memiliki masa depan dan harapan bukan hanya berlaku bagi generasi muda saat ini, melainkan bagi semua orang yang percaya bahwa Tuhan telah memberikan hari depan yang penuh dengan harapan bagi kita yang mempercayakan diri sepenuhnya kepada Tuhan. Bukankah Ia adalah Allah yang sama dari dulu, sekarang dan selamanya. Jika Allah memberikan masa depan dan hikmat yang luar biasa bagi Salomo, raja Israel, maka Ia adalah Allah yang sama yang akan memberikan hari depan dan harapan yang baik bagi kehidupan kita. Sebagai manusia ciptaan Tuhan yang mulia, kita harus berpegang teguh kepada janji dan kuasa Tuhan yang mampu mengubahkan sesuatu yang tidak baik menjadi sangat baik. Ia sanggup mengubahkan kelemahan kita menjadi kekuatan dalam hidup kita. Bahkan Ia sanggup mengubahkan sesuatu yang mustahil menjadi sangat mungkin bagi masa depan kita. Jadilah manusia yang memiliki pengharapan yang penuh kepada Tuhan, Ia pasti akan melakukan yang terbaik.
Panas, Dingin atau Suam? Wahyu 3:14-22 Aku tahu segala pekerjaanmu: engkau tidak dingin dan tidak panas. Alangkah baiknya jika engkau dingin atau panas! Jadi karena engkau suam-suam kuku, dan tidak dingin atau panas, Aku akan memuntahkan engkau dari mulut-Ku. [ayat 15-16] Anda suka minuman panas atau dingin? Mungkin jawabnya: ’Bisa dua-duanya. Tergantung waktunya’ asal tidak diminum berbarengan dingin dan panas. Tapi bagaimana kalau minuman yang tidak dingin atau panas, alias suam-suam? Mungkin jawabannya: ’Boleh juga. Tidak masalah.’ Betul, dalam hal minuman tidak masalah. Panas, dingin atau suam. Tetapi dalam hal hidup rohani itu masalah besar. Tuhan Yesus tidak mau hidup rohani yang suam-suam. Apa artinya panas, dingin dan suam-suam? Hidup rohani yang panas artinya yang bersungguh-sungguh percaya kepada Tuhan, antusias, mengasihi Tuhan dengan sepenuh hati. Dingin artinya tidak percaya kepada Tuhan, bahkan mungkin anti terhadap Tuhan. Sedangkan suam-suam berarti acuh tak acuh, tidak ada gairah untuk mengasihi Tuhan, tapi ngakunya percaya kepada Tuhan. Ini adalah sikap yang tidak jelas dan membingungkan. Tuhan berkata lebih baik dingin sekalian. Mengapa lebih baik dingin daripada suam-suam? Sebagai gambaran, andaikan ada seorang pria berkata kepada seorang wanita, ’Aku mencintaimu dan ingin menikah denganmu. Aku akan mencukupi semua keperluanmu, bahkan akan membuatmu bahagia dengan memberikan apa yang kau minta. Hanya satu saja permintaan saya, izinkan saya meluangkan waktu satu hari saja setiap minggu dengan seorang wanita lain.’ Apakah wanita itu akan menerima cinta pria itu dan mau menjadi isterinya? Jawabnya, pasti tidak! Jemaat Laodikia memang mengaku percaya dan mencintai Tuhan, tetapi tidak dengan segenap hati. Mereka membanggakan kekayaan mereka. Mereka membagi cinta mereka antara kepada Yesus dan kepada kekayaan mereka. Tuhan tidak mau diduakan. Jika mau mencintai Tuhan harus dengan segenap hati atau tidak sama sekali. Karena Dia pun telah mengasihi kita dengan segenap hati-Nya. Pdt. Goenawan Susanto
BARCODE BBM CHANNELS
RENUNGAN HARIAN
Menjadi Murid Perlu Latihan
27 Agustus '17
Perjumpaan Yang Mengubahkan
14 September '17
Pelaku
16 September '17
Copyright © 2012 All rights reserved. Designed and Developed by GIA Dr. Cipto Semarang