SEPEKAN TERAKHIR
  Rabu, 28 Januari 2015   -HARI INI-
  Selasa, 27 Januari 2015
  Senin, 26 Januari 2015
  Minggu, 25 Januari 2015
  Sabtu, 24 Januari 2015
  Jumat, 23 Januari 2015
  Kamis, 22 Januari 2015
DITULIS OLEH
Pdt. Goenawan Susanto
Gembala Jemaat
Renungan Lain oleh Penulis:
Home  »  Renungan  »  Menjadi Berhasil Dalam Pengenalan Akan Kristus
Menjadi Berhasil Dalam Pengenalan Akan Kristus
Minggu, 14 Juli 2013 | Tema: Bertumbuh Dalam Pengenalan Akan Allah
Menjadi Berhasil Dalam Pengenalan Akan Kristus
2 Petrus 1:3-9
Setiap manusia dilahirkan ke dunia ini sebagai bayi, setelah itu akan mengalami pertumbuhan baik secara jasmani, mental maupun rohani. Karena itu tujuan dari setiap manusia adalah bertumbuh menjadi dewasa, melalui tahap-tahap perkembangan yang normal, supaya bisa berfungsi sebagaimana manusia dewasa pada umumnya.

Demikianlah bisa digambarkan kehidupan kita di dalam Kristus. Oleh anugerah dan karya Roh Kudus-Nya kita dilahirkan menjadi ciptaan baru, manusia rohani yang memiliki kodrat ilahi (potensi kehidupan sebagai anak Allah). Ayat 4 berkata: “supaya olehnya kamu boleh mengambil bagian dalam kodrat ilahi”. Artinya, setiap kita yang lahir baru di dalam Kristus memiliki potensi untuk hidup di dalam kekudusan dan pengenalan akan Allah. Harus digaris bawahi: setiap kita! Bukan hanya orang-orang Kristen tertentu saja, misalnya hamba Tuhan, atau orang-orang Kristen yang punya karunia-karunia tertentu.

Tapi kenyataan itu tidaklah untuk membuat kita menanti dengan pasif dan beranggapan bahwa dengan sendirinya kita akan mencapai kondisi itu. Firman Tuhan berkata: “Justru karena itu kamu harus dengan sungguh-sungguh berusaha ....” (ayat 5). Usaha yang sungguh-sungguh diperlukan agar supaya kita mengalami pertumbuhan dalam pengenalan kita akan Tuhan. Dengan kata lain, kalau kita tidak berusaha dengan sungguh-sungguh maka potensi yang dianugerahkan kepada kita itu akan tersia-siakan. Pe...selengkapnya »
Di bidang pendidikan, para pakar berpendapat bahwa sebenarnya tidak ada orang bodoh. Semua orang adalah cerdas di bidang mereka masing-masing. Ada yang cepat dan ada yang lambat dalam belajar sesuatu. Saat ini sekolah diwajibkan mengasuh dan mendidik anak-anak berkebutuhan khusus (ABK). Kunci mengatasi kelambatan adalah ketekunan. Orang tekun bisa mengalahkan orang cerdas yang tidak tekun. Firman Tuhan mengajar kita tentang 7 anak tangga kedewasaan rohani: kebajikan, pengetahuan, penguasaan diri, ketekunan, kesalehan , kasih akan saudara-saudara dan kasih akan semua orang. Jangan menganggap bahwa iman dan keselamatan dalam Kristus sudah cukup. Ada anak tangga-anak tangga yang harus kita titi. Kita harus sungguh-sungguh berusaha (ayat 5), berusaha sekuat-kuatnya (NIV) supaya kita hidup berkemenangan dan berbuah di hadapan Allah. Salah satu anak tangga yang harus kita titi adalah ketekuanan. Tekun berarti terus menerus bersedia menjalani sebuah proses. Ketekunan menuntut kesabaran. Tekun dan sabar adalah karakter manusia baru yang Tuhan inginkan. Penghalang utama ketekunan adalah sikap instan, ingin cepat jadi. Kita cenderung ingin mencapai keberhasilan tanpa melewati sebuah proses. Tuhan Yesus Kristus meneladankan sebuah ketekunan. Ia tekun memikul salib-Nya. Ia mati, bangkit, naik ke sorga dan duduk di sebelah kanan Allah Bapa (Ibrani 12:2). Mari kita tekun menjalani setiap proses kehidupan yang Tuhan tetapkan dalam hidup kita.
Florence Chadwick adalah wanita pertama yang berenang menyeberangi selat Inggris bolak-balik. Pada usia 34 tahun, ia ingin menjadi wanita pertama yang berenang dari pulau Catalina menuju pesisir California. Jutaan orang menyaksikan perjuangannya melalui TV pada tanggal 04 Juli 1952. Ia berjuang di hamparan lautan yang kelihatan seperti padang es yang tak bertepi dan dikelilingi kabut yang sangat tebal, sehingga ia tidak dapat melihat apa-apa. Hampir 16 jam ia sudah berenang. Ketika jarak kurang 800 meter, ia minta ditarik ke perahu pengawalnya di mana Ibu dan pelatihnya memberi semangat dan dorongan. Ketika ditanya mengapa, ia menjawab, “Begini, Saya tidak mencoba membela diri, tetapi seandainya saja saya dapat “melihat” daratan, mungkin saya akan “berhasil.” Yang membuat Florence gagal bukanlah air laut yang dingin menusuk kulit atau kelelahan melainkan kabut gelap yang menghalanginya melihat tujuan pasti. Florence tidak tinggal diam, dua bulan kemudian ia mencoba lagi. Kali ini dia berenang dengan penuh keyakinan sambil membayangkan dengan jelas tujuan yang pasti yang akan dicapainya. Kabut yang sama tebalnya membuat ia tidak bisa melihat dengan matanya, tetapi ia bisa melihat dengan pikirannya. Dengan pasti, ia menggambar dengan pikirannya bahwa di balik kabut itu pasti ada daratan. Kali ini ia berhasil! Ia menjadi wanita pertama yang berhasil menyeberangi Selat Catalina melampaui rekor yang dibuat oleh perenang pria dengan selisih dua jam. Kisah ini mengajarkan kepada kita tentang satu hal yang sangat penting yaitu, harus ada tujuan yang pasti dalam hidup kita. Jika tidak, kemungkinan besar kita akan kehilangan arah, putus asa, berhenti melangkah, tersesat, dan seterusnya. Rasul Paulus memberi kesaksian tentang hidupnya setelah dia ditangkap oleh Kristus, Dia memiliki tujuan yang pasti dalam hidupnya. Baginya, hidup adalah Kristus, mati adalah keuntungan, hidup di dunia adalah bekerja memberi buah. Dia terus berjuang, mengejar, berlari-lari kepada tujuan, mendapatkan hadiah panggilan surgawi dari Allah dalam Kristus (Filipi 3:12-14). Akhirnya dia berkata, dia telah mengakhiri pertandingan yang baik dan memperoleh mahkota kebenaran (2 Timotius 4:7-8).
Biasanya pada bulan Desember yang telah kita tinggalkan kemarin ada banyak orang-orang yang ‘tergerak’ dalam berbagi kasih. Karena Tuhan Yesus sudah mengasihi manusia lewat kelahiran dan kematian-Nya, maka sudah seharusnya manusia mengikuti jejak-Nya untuk membagikan kasih mereka pada orang-orang di sekelilingnya. Hal yang serupa juga terjadi pada beberapa perayaan tahun gerejawi, misalnya pada saat Paskah; demikian juga dengan perayaan-perayaan umum seperti Valentine Day, hari Kemerdekaan, hari raya keagamaan, dll. Memberi dan diberi merupakan hari yang sangat menyenangkan bagi banyak orang, di mana sang penerima dapat menerima barang-barang dengan cuma-cuma. Demikian juga dengan pemberi, mereka dapat memanfaatkan momen yang sangat istimewa tersebut untuk berbagi kasih. Namun demikian, ternyata Tuhan mengecam tindakan dermawan orang-orang yang memberi dengan musiman. Mereka hanya memberi tatkala ada momen-momen tertentu yang mengharuskan mereka ikut berpartisipasi dalam memberi. Kesadaran memberi itu muncul dari motivasi yang keliru, misalnya: kesombongan, ketamakan, dan ingin dipuji orang (Matius 6:2). Dan Tuhan mengajarkan bahwa berbagi kasih itu bukan hanya kita lakukan pada saat-saat tertentu atau momen-momen tertentu. Sepeti pohon ara, Tuhan Yesus menuntut agar berbuah tidak hanya pada musimnya, tetapi saat tidak musim sekalipun pohon ara itu harus tetap berbuah (ayat 13, 20). Berbagi kasih bukan kita lakukan hanya pada momen-momen saat orang-orang berlomba berbagi kasih tetapi harus kita lakukan setiap saat, termasuk di awal tahun ini dan seterusnya. Tuhan mengajarkan kepada kita bukan mengasihi secara musiman, bukan memberi secara musiman, tetapi setiap saat kita harus berbagi kasih. Bukan hanya kepada orang-orang yang dapat mengembalikan kasih yang kita berikan pada mereka, tetapi juga dengan orang-orang yang mungkin tidak dapat berbagi dengan kita.
Dalam kenyataan atau pengalaman pribadi sering dijumpai orang Kristen yang lambat mengalami perubahan yang bermakna, meskipun telah bertahun-tahun, bahkan puluhan tahun menjadi orang percaya. Hal ini dapat dijumpai pernyataan seperti: “Aduh, aku kok jatuh/meleset lagi.” Dalam Ibrani 2:3 kita diingatkan untuk tidak menyia-nyiakan anugerah keselamatan yang sangat mahal harganya (1 Petrus 1:18). Anugerah keselamatan melalui karya penebusan Tuhan Yesus diberikan supaya kita dikembalikan pada rancangan Allah semula pada waktu penciptaan. Konkritnya supaya kita bisa bertumbuh dalam kesempurnaan (Matius 5:48) atau mengambil bagian dalam kodrat ilahi, memiliki kepribadian/karakter Allah (2 Petrus 1:4), sehingga kita dimampukan untuk hidup sama seperti Kristus telah hidup (1 Yohanes 2:6). Tidak menyia-nyiakan Anugerah berarti menghargai Bapa dan apa yang telah dikerjakan melalui karya penebusan salib Kristus. Untuk itu diperlukan respon yang benar dan memadai dari orang percaya, antara lain berupa: • Serius masuk dalam proses keselamatan, yang oleh rasul Paulus dinyatakan dengan “kerjakan keselamatan dengan takut dan gentar” (Filipi 2:12). Setiap hari belajar makin mengenal Tuhan dan kebenaran-Nya. • Belajar mengasihi dan melayani Tuhan tanpa batas, yang akan berdampak pada orang lain untuk mengalami perubahan hidup. Untuk mencapai hal tersebut memang tidak mudah, tidak bisa terjadi secara otomatis dan instan, tapi diperlukan perjuangan, usaha keras sepanjang hidup (Lukas 13:24). Bapa yang baik telah menyediakan sarana yang diperlukan bagi umat tebusan, yaitu Roh Kudus, Firman Kristus dan penggarapan-Nya setiap hari.
BARCODE BBM CHANNELS
RENUNGAN HARIAN
Anak Tangga Ketekunan
27 Januari '15
Siapa Yang Anda Kasihi
31 Desember '14
Supaya Kemajuanmu Nyata
18 Januari '15
Copyright © 2012 All rights reserved. Designed and Developed by GIA Dr. Cipto Semarang