SEPEKAN TERAKHIR
  Senin, 01 September 2014   -HARI INI-
  Minggu, 31 Agustus 2014
  Sabtu, 30 Agustus 2014
  Jumat, 29 Agustus 2014
  Kamis, 28 Agustus 2014
  Rabu, 27 Agustus 2014
  Selasa, 26 Agustus 2014
DITULIS OLEH
Pdt. Goenawan Susanto
Gembala Jemaat
Renungan Lain oleh Penulis:
Home  »  Renungan  »  Menjadi Berhasil Dalam Pengenalan Akan Kristus
Menjadi Berhasil Dalam Pengenalan Akan Kristus
Minggu, 14 Juli 2013 | Tema: Bertumbuh Dalam Pengenalan Akan Allah
Menjadi Berhasil Dalam Pengenalan Akan Kristus
2 Petrus 1:3-9
Setiap manusia dilahirkan ke dunia ini sebagai bayi, setelah itu akan mengalami pertumbuhan baik secara jasmani, mental maupun rohani. Karena itu tujuan dari setiap manusia adalah bertumbuh menjadi dewasa, melalui tahap-tahap perkembangan yang normal, supaya bisa berfungsi sebagaimana manusia dewasa pada umumnya.

Demikianlah bisa digambarkan kehidupan kita di dalam Kristus. Oleh anugerah dan karya Roh Kudus-Nya kita dilahirkan menjadi ciptaan baru, manusia rohani yang memiliki kodrat ilahi (potensi kehidupan sebagai anak Allah). Ayat 4 berkata: “supaya olehnya kamu boleh mengambil bagian dalam kodrat ilahi”. Artinya, setiap kita yang lahir baru di dalam Kristus memiliki potensi untuk hidup di dalam kekudusan dan pengenalan akan Allah. Harus digaris bawahi: setiap kita! Bukan hanya orang-orang Kristen tertentu saja, misalnya hamba Tuhan, atau orang-orang Kristen yang punya karunia-karunia tertentu.

Tapi kenyataan itu tidaklah untuk membuat kita menanti dengan pasif dan beranggapan bahwa dengan sendirinya kita akan mencapai kondisi itu. Firman Tuhan berkata: “Justru karena itu kamu harus dengan sungguh-sungguh berusaha ....” (ayat 5). Usaha yang sungguh-sungguh diperlukan agar supaya kita mengalami pertumbuhan dalam pengenalan kita akan Tuhan. Dengan kata lain, kalau kita tidak berusaha dengan sungguh-sungguh maka potensi yang dianugerahkan kepada kita itu akan tersia-siakan. Pe...selengkapnya »
Anda tentunya ingat iklan di TV: Siapa Takut! Tantangan itu dijawab oleh sebuah produk shampoo, nampaknya masalah ketombe juga sempat membuat seseorang takut, entah apa yang ditakutkan. Banyak orang dilanda ketakutan menghadapi banyak masalah dalam kehidupan, mungkin anda adalah salah satu di antaranya. Saya mau katakan bahwa hal itu sangat wajar, sebagai manusia biasa siapa yang tidak pernah merasa takut. Masalahnya adalah dengan apa kita harus mengatasi ketakutan tersebut? Daud menulis: “Kepada siapakah aku harus takut dan terhadap siapakah aku harus gemetar?“ Tulisan itu bukanlah suatu pertanyaan atas ketakutan atau keputusasaannya. Daud justru menantang musuh dan lawannya karena dia tahu jawabnya. Dengan apa dia bisa mengatasi ketakutan dalam hidupnya? Dengan PERCAYA PENUH KEPADA TUHAN ALLAHNYA. Tuhan adalah terang dan keselamatannya. Tuhan adalah benteng hidupnya. Tuhan pasti menjaga, melindungi dan menolongnya. Pengalamannya sebagai seorang gembala menghadapi binatang-binatang buas di padang, pengalamannya merobohkan Goliat si raksasa Filistin, pengalamannya lolos dari kejaran Saul yang berusaha membunuhnya karena iri, pengalamannya menghadapi kudeta anaknya sendiri dan masalah-masalah lain di dalam hidupnya membuat dia semakin teguh dalam keyakinan imannya. Apa dan siapa yang membuat kita takut? Biarlah pengalaman Daud mengajar kita bagaimana kita menghadapi dan mengatasinya bersama Tuhan Allah kita.
Kakak saya pernah bersaksi atas dua mujizat Tuhan yang dialaminya saat dia menempuh studi di sekolah Alkitab. Dulu dia pernah berkata kepada Tuhan kalau dia tidak ingin tahu bahwa Tuhan itu baik hanya dari kata orang. Ternyata Tuhan izinkan kebaikan-Nya dan kuasa-Nya dialami oleh kakak saya melalui sakit pendarahan dan benjolan pada lidahnya. Tuhan seketika hentikan pendarahan yang sudah dialaminya selama beberapa waktu hingga membuat kakak saya habis-habisan, baik tenaga maupun keuangan. Setelah beberapa tahun kemudian mujizat kembali dialami setelah benjolan itu keluar saat kakak saya seperti tersedak makanan. Padahal dokter berkata benjolan itu harus dioperasi. Pengalaman kakak saya ini juga sangat menginspirasi saya. Saya juga mau seperti itu. Ternyata selama saya sekolah, banyak sekali mujizat yang saya alami. Hal yang mustahil bisa saya alami. Mulai dari biaya sekolah, biaya hidup, beberapa mata kuliah yang menakutkan, masalah sosial dengan teman asrama, sakit penyakit, bahkan pemulihan gambar diri. Semuanya selesai secara ajaib. Dari pengalaman itu, saya merasa jujur dan benar, tanpa kebohongan, tanpa rasa bersalah, ketika berkata kepada orang lain bahwa Tuhan itu baik. Intensitas mujizat dan intimasi dengan Tuhan itulah yang membuat saya percaya bahwa Tuhan mempunyai kuasa untuk melakukan segala sesuatu dari dulu, sekarang sampai selama-lamanya. Demikian halnya dengan yang dialami Ayub. Ayub pernah mengalami kejayaan, bahkan keterpurukan. Sepanjang peristiwa itu terjadi, Ayub pun pernah kecewa dengan sahabat, keluarga bahkan dengan Tuhan. Namun titik nadir kehidupan Ayub telah mempertemukannya kepada kasih Tuhan yang terselubung dalam hal-hal menyakitkan yang dialamimya. Melalui kasih karunia Tuhan, Ayub mempercayai kemahakuasaan Tuhan dalam alam semesta. Jika saat ini Anda sedang mengalami kejayaan maupun keterpurukan, ingatlah bahwa Tuhan sedang menunjukkan kemahakuasaan-Nya. Berserahlah, percayalah, maka Anda akan melihat pemeliharaan-Nya.
“Jika kamu melakukan kebenaran, meskipun karenanya orang tidak menyukaimu, biarlah hatimu tetap damai,” kata Pdt. Andrey kepada Sambey yang sedang galau. Ya, hari-hari ini Sambey gelisah luar biasa. Betapa tidak, Pak Rabiny, pamannya yang berusia 65 tahun berencana akan berpoligami. “Lha, wong Abraham, Daud, Salomo, punya istri lebih dari satu. Masak aku tidak boleh?” ujar Pak Rabiny kepada Sambey pada suatu kesempatan. Sambey ingin melarang pamannya menduakan cinta bibinya yang selama ini begitu setia, tetapi ia sungkan. Ia takut pamannya marah. Apalagi studinya selama ini dibiayai oleh pamannya itu. Sebaliknya jika ia berdiam diri mencari aman, hatinya tidak dapat tenang membiarkan kesalahan terjadi di depan matanya. Setidaknya nasihat Pdt. Andrey membantu Sambey untuk menentukan pilihan. Sore hari itu, Sambey ingin bertemu dan berbicara dari hati ke hati dengan pamannya. Ia telah siap menanggung risiko terburuk dari tindakan benar yang akan dilakukannya itu. Jemaat yang terkasih. Dalam pemerintahan Raja Zedekia di Yehuda ada dua orang nabi yang bernubuat berbeda. Nabi Hananya bernubuat bahwa Allah akan memulihkan Yehuda dengan menghancurkan Babel (ayat 1-4). Sebaliknya Nabi Yeremia bernubuat bahwa oleh kehendak Allah justru Yehuda yang akan ditaklukkan oleh Babel dengan lebih parah (ayat 13-14). Tidak mudah bagi Nabi Yeremia untuk menubuatkan kehancuran bagi bangsanya sendiri. Kenyamanan hidupnya dipertaruhkan. Ia telah diancam untuk dibunuh oleh orang-orang yang tidak menyukai nubuat buruk yang disampaikannya (Yeremia 26). Tetapi ia memilih taat untuk menyampaikan firman Tuhan meskipun itu pahit. Nabi Yeremia sungguh paham bahwa nubuat damai sejahtera yang disampaikan Nabi Hananya bukanlah dari Allah. Sebab tidak mungkin Allah mendatangkan damai sejahtera di dalam kondisi ketidakadilan, kejahatan, dan kefasikan yang terus dipraktekkan oleh pengusa politik (raja) dan penguasa agama (iman-imam dan nabi-nabi) di Yehuda. Jemaat yang terkasih. Sangatlah wajar jika hati kita tertarik dan menyukai kotbah tentang berkat dan damai sejahtera. Bukankah itu merupakan bagian dari kehendak Tuhan juga. Dalam pada itu, justru kita patut waspada. Jangan-jangan tanpa kita sadari kita tidak tertarik dan cenderung menolak kotbah yang menegur dosa dan kesalahan. Bukankah kotbah-kotbah semacam ini mulai jarang terdengar sekarang ini? Mengapa? Mungkinkah karena kecenderungan orang zaman ini lebih suka kotbah yang menyukakan telinga? Yang menghibur dan harus selalu menghibur? Mungkinkah oleh karena itu para hamba Tuhan saat ini cenderung sekedar memenuhi “selera pasar”? Takut isi kotbahnya dan dirinya tidak disukai orang? Marilah kita tidak bersikap demikian itu. Di saat-saat kenyamanan diri kita dipertaruhkan, marilah kita memilih untuk mau taat pada firman Tuhan meskipun itu pahit untuk disampaikan atau didengarkan.
Saat seseorang diperhadapkan dengan masalah atau problem yang berat dan datangnya sangat mendadak, pada umumnya muncullah yang namanya kekhawatiran bahkan mungkin ketakutan yang luar biasa. Akibatnya, terkadang tidak tahu apa yang harus diperbuat. Tidak lagi bisa berpikir atau mengingat pertolongan dan berkat Tuhan yang pernah diterima. Ketakutan serupa juga dialami oleh seorang pelayan Nabi Elisa, abdi Allah. Saat dia bangun pagi dan pergi ke luar, tampak olehnya suatu rombongan tentara dan kereta kuda telah mengepung kota (ayat 15). Rombongan tentara dan kereta kuda tersebut adalah utusan dari raja Aram yang marah karena segala rencana untuk menyerang Israel selalu gagal karena ulah nabi Elisa yang selalu memberitahukan strategi rancangannya kepada raja Israel (ayat 12). Sang pelayan abdi Allah tidak bisa melihat pasukan kuda dan kereta berapi yang ada sekeliling Elisa. Pertolongan Tuhan yang begitu dahsyat tak terlihat olehnya sehingga dia sangat ketakutan. Nabi Elisa berdoa agar Tuhan membuka mata sang pelayan sehingga dia bisa melihat pertolongan Tuhan yang maha dahsyat tersebut (ayat 17). Kembali mujizat dinyatakan saat tentara Aram turun untuk menangkap Elisa, berdoalah Elisa agar mata mereka dibutakan dan di antarnya mereka ke Samaria kepada raja Israel (ayat 18,19). Di akhir kisah ini kita melihat para utusan raja Aram itu tidak dibunuh tetapi malah diberi makan dan minum. Dijamu secara besar-besaran (ayat 23). Luar biasa! Dari kisah ini ada dua hal yang bisa kita renungkan, yaitu: 1. Saat bangun pagi hari sebelum kita melangkahkan kaki ke luar rumah, biasakan berdoa mohon penyertaan dan kekuatan dari Tuhan dalam kita beraktivitas sepanjang hari, sehingga apapun yang terjadi kita tidak perlu takut. 2. Kita harus mengasihi orang yang memusuhi kita. Jangan membalas kejahatan dengan kejahatan, tetapi membalas kejahatan dengan kebaikan. Amin.
BARCODE BBM CHANNELS
RENUNGAN HARIAN
Dari Manakah Datangnya Keberanian?
17 Agustus '14
Yesuspun Takut
19 Agustus '14
Jangan Takut
30 Agustus '14
Copyright © 2012 All rights reserved. Designed and Developed by GIA Dr. Cipto Semarang