SEPEKAN TERAKHIR
  Selasa, 31 Maret 2015   -HARI INI-
  Senin, 30 Maret 2015
  Minggu, 29 Maret 2015
  Sabtu, 28 Maret 2015
  Jumat, 27 Maret 2015
  Kamis, 26 Maret 2015
  Rabu, 25 Maret 2015
DITULIS OLEH
Pdt. Goenawan Susanto
Gembala Jemaat
Renungan Lain oleh Penulis:
Home  »  Renungan  »  Menjadi Berhasil Dalam Pengenalan Akan Kristus
Menjadi Berhasil Dalam Pengenalan Akan Kristus
Minggu, 14 Juli 2013 | Tema: Bertumbuh Dalam Pengenalan Akan Allah
Menjadi Berhasil Dalam Pengenalan Akan Kristus
2 Petrus 1:3-9
Setiap manusia dilahirkan ke dunia ini sebagai bayi, setelah itu akan mengalami pertumbuhan baik secara jasmani, mental maupun rohani. Karena itu tujuan dari setiap manusia adalah bertumbuh menjadi dewasa, melalui tahap-tahap perkembangan yang normal, supaya bisa berfungsi sebagaimana manusia dewasa pada umumnya.

Demikianlah bisa digambarkan kehidupan kita di dalam Kristus. Oleh anugerah dan karya Roh Kudus-Nya kita dilahirkan menjadi ciptaan baru, manusia rohani yang memiliki kodrat ilahi (potensi kehidupan sebagai anak Allah). Ayat 4 berkata: “supaya olehnya kamu boleh mengambil bagian dalam kodrat ilahi”. Artinya, setiap kita yang lahir baru di dalam Kristus memiliki potensi untuk hidup di dalam kekudusan dan pengenalan akan Allah. Harus digaris bawahi: setiap kita! Bukan hanya orang-orang Kristen tertentu saja, misalnya hamba Tuhan, atau orang-orang Kristen yang punya karunia-karunia tertentu.

Tapi kenyataan itu tidaklah untuk membuat kita menanti dengan pasif dan beranggapan bahwa dengan sendirinya kita akan mencapai kondisi itu. Firman Tuhan berkata: “Justru karena itu kamu harus dengan sungguh-sungguh berusaha ....” (ayat 5). Usaha yang sungguh-sungguh diperlukan agar supaya kita mengalami pertumbuhan dalam pengenalan kita akan Tuhan. Dengan kata lain, kalau kita tidak berusaha dengan sungguh-sungguh maka potensi yang dianugerahkan kepada kita itu akan tersia-siakan. Pe...selengkapnya »
“Walah, ISIS kejam banget! Membunuh orang-orang Kristen di Irak, Suriah, Libya seperti neplek nyamuk saja. Sungguh tidak punya perasaan!”, cetus Benay geram saat membaca berita di Koran BIBIR KOTA. Sambey yang berada di sebelahnya tertarik untuk turut membaca berita mengerikan itu. “Wah, memang mereka tidak berperikemanusiaan! Menebar teror dan ketakutan di mana-mana. Kok ada orang-orang seperti itu ya? Aku jadi gumun”, komentar Sambey. “Aku juga gumun, Sam. Namanya ISIS ‘kan harusnya bikin sejuk, bikin segar”, kata Benay. “Bikin ngantuk juga!”, kata Sambey jengkel. “ISIS kok kamu samakan artinya dalam bahasa jawa. ISIS itu kelompok ekstrem! Kelompok yang memusuhi kelompok lain yang berbeda pandangan dengan mereka! Mereka yang lebih kejam daripada hewan!” tambah Sambey. Menerima respon Sambey dengan tensi tinggi, Benay malah cekikikan. Tidak biasa sahabatnya itu emosi. “Ya..ya.. tak usah emosi. Aku kan cuma guyon”, kata Benay sambil terus cekikikan. Jemaat yang terkasih. Tuhan mengajarkan kita hukum kasih. Kasih kepada Tuhan dan kasih kepada sesama manusia, sama seperti kita mengasihi diri sendiri. Itu berarti Tuhan menghendaki kita menjadi pribadi yang berperikemanusiaan. Pribadi yang berperikemanusiaan menaruh kasih dan hormat pada sesama. Tidak merendahkan, apalagi menganiaya sesame kita. Meskipun mereka tidak seagama dengan kita. Meskipun mereka berbeda suku atau golongan dengan kita. Malah lebih dari itu, kitab Amsal menunjukkan bahwa orang benar lebih dari sekedar berperikemanusiaan. Orang benar menaruh perhatian pada hidup hewannya. Tidak semena-mena kepada hewan dan memelihara mereka. Kalaupun harus dibunuh untuk diambil dagingnya, itu dilakukan tanpa menyiksa. Jika orang benar itu memperhatikan dan berbuat baik pada hewan, terlebih lagi kepada sesamanya manusia. Jemaat yang terkasih, tentu di antara kita ada yang memiliki hewan piaraan atau hewan ternak. Rawatlah dan perlakukan mereka dengan baik. Tuhan berkenan kepada sikap kita yang demikian itu. Tetapi jangan lupa! Perbuatan baik kita pada hewan janganlah lebih besar dari perbuatan baik kita pada sesama. Jika kita mendandani, memberi makan, membersihkan kandang dari anjing, kucing, burung piaraan kita dengan tidak sembarangan, lebih dari itu marilah kita memperhatikan dan berbuat baik kepada sesama kita yang membutuhkan sandang-pangan-papan.
Dalam kehidupan sehari-hari ada banyak hal sederhana yang sebenarnya justru penting. Sayang banyak orang yang lupa melakukannya. Misalnya: membuang bungkus permen di tempat sampah, memberi tempat duduk pada ibu hamil atau orang tua di angkutan, bertegur sapa dengan tetangga dekat, menyingkirkan batu atau paku di jalan, hingga sekadar tersenyum pada orang yang kita kenal. Semua itu, sepertinya memang hal yang remeh/kecil, namun jika dilakukan dengan penuh ketulusan akan melahirkan banyak kebaikan. Ketika orangtua mengajarkan terima kasih kepada anaknya setelah diberi atau di tolong atau mengucapkan maaf jika melakukan kesalahan atau kekeliruan, bukankah itu sesuatu yang mengubahkan seseorang atau banyak orang. Sebab itu, kita perlu menjadi insan yang selalu mau berinisiatif, termasuk pada hal-hal remeh tersebut. Sebab dari hal yang kecil, perbuatan baik bisa terus menular. Sekadar menolong satu orang dengan perbuatan ringan akan melahirkan kebahagiaan. Apalagi jika rasa bahagia itu terus menular untuk mendorong perbuatan baik lainnya. Sehingga satu inisiatif perbuatan baik akan melahirkan contoh nyata kebaikan lainnya. Melakukan sesuatu yang baik ditengah-tengah kehidupan yang tidak baik adalah suatu tindakan yang dapat mempengaruhi keegoisaan yang semakin banyak berkembang di zaman modern ini. Merasa tidak membutuhkan sesama dan hidup independen merupakan potret yang sering kita jumpai. Oleh karenanya perbuatan yang menurut orang sepele hendaknya kita lakukan. Sebab jika kita hendak mewarnai sekeliling dengan sesuatu yang baik, maka kita harus terus berbuat baik meskipun tidak ada yang menilai. Oleh karena itu mari kita selalu penuh inisiatif untuk berbuat baik setiap hari. Lakukan hal-hal kecil yang penuh kebaikan. Lakukan setiap saat dan lakukan dengan ketulusan. Niscaya lingkungan sekitar kita akan dipenuhi keindahan ‘bunga’ kehidupan yang membahagiakan.
Keluarga dan teman-temannya mengenal dia sebagai “orang yang suka menolong”. Hal ini bukan suatu hal yang luar biasa, bukankah kita sering mendengar kometar: “Dia orang baik kok, suka menolong orang lain”. Tapi ketika saya membaca kisah tentang orang yang satu ini, saya sempat terdiam sejenak membayangkan sosok orang ini. Orang seperti apa dia? Di tempat umum, orang yang tidak kenal dia dan belum pernah berjumpa dengannya dapat mengenali dia karena perbuatan baik suka menolong orang lain. Dikisahkan waktu itu Sir Bartle Frere, seorang bangsawan Inggris, menjadi gubernur Bombay, India pada 1862 - 1867, kembali dari perjalanan jauh. Isterinya menyuruh pembantu yang masih baru untuk menjemput Sir Bartle dan membantu membawakan barang-barangnya. Si pembantu bertanya, “Bagaimana saya dapat mengenali Sir Bartle? Bukankah saya belum mengenalnya dan belum pernah berjumpa dengannya? Isteri Sir Bartle menjawab, “Perhatikanlah laki-laki bertubuh tinggi yang sedang menolong orang lain.” Nampaknya, di manapun Sir Bartle berada, ciri “suka menolong orang lain” selalu nampak ada pada dirinya. Injil Matius, Markus dan Lukas berkisah tentang empat orang yang bermaksud membawa temannya yang lumpuh kepada Yesus. Ketika mereka sampai di rumah di mana Yesus mengajar, mereka mendapatkan rumah itu penuh sesak, banyak orang berkumpul di sana. Tidak mungkin mereka bisa masuk. Namun mereka berusaha naik ke atas, membuka atap rumah dan menurunkan si lumpuh tepat di depan Yesus. Yesus memuji iman mereka. Iman yang diwujudkan dengan tindakan perbuatan baik itu telah membuat si lumpuh menerima mujizat kesembuhan. Alkitab tidak pernah mencatat nama mereka, tapi perbuatan baik keempat orang tersebut dikenal dunia sepanjang masa. Mereka dikenal karena kebaikan dan pertolongan untuk membawa orang kepada Yesus. Ketika kita melakukan perbuatan baik, kita sedang memperkenalkan Kristus kepada orang lain.
Ukuran apa yang kita pakai ketika kita melakukan tindakan “memberi”? Yesus mengajarkan: ”Berilah dan kamu akan diberi suatu takaran yang baik, yang dipadatkan, yang diguncang dan yang tumpah keluar akan dicurahkan ke dalam ribaanmu, sebab ukuran yang kamu pakai untuk mengukur, akan diukurkan kepadamu.” Ajaran Yesus ini banyak dijabarkan Rasul Paulus dalam surat-suratnya kepada jemaat-jemaat yang dilayaninya. Dia menulis banyak tentang asas-asas pemberian Kristen, diantaranya kepada jemaat di Korintus [2 Korintus 9: 6-12]. Sumber pemberian bukanlah kantong, melainkan hati [P.E. Hughes]. Ukuran pemberian adalah murah hati. Bagi Paulus, memberi itu bukan berarti kehilangan, melainkan semacam tabungan yang memberi keuntungan besar bagi mereka yang memberi. Paulus tidak berbicara tentang jumlah pemberian, tapi terutama tentang kualitas dari kerinduan hati dan motivasi dari mereka yang memberi. Kita ingat, suatu ketika Yesus duduk menghadapi peti persembahan di bait Allah. Dia memperhatikan bagaimana orang banyak memasukkan persembahan mereka. Dia memuji seorang janda miskin yang memberi sangat sedikit dibandingkan yang lain, tapi dia memberi semua yang ada padanya. Yesus mengajarkan tentang bagaimana Allah menilai sebuah pemberian. Pemberian seseorang tidak ditentukan oleh jumlah yang diberikan, tapi jumlah pengorbanan yang ada dalam sebuah pemberian. Orang yang memberi dengan murah hati akan diperkaya dalam segala kemurahan hati. Itu janji Tuhan.
BARCODE BBM CHANNELS
RENUNGAN HARIAN
Banyak Menabur, Banyak Menuai
12 Maret '15
Ukuran Sebuah Pemberian
23 Maret '15
Orang Yang Suka Menolong
11 Maret '15
Copyright © 2012 All rights reserved. Designed and Developed by GIA Dr. Cipto Semarang