SEPEKAN TERAKHIR
  Jumat, 30 September 2016   -HARI INI-
  Kamis, 29 September 2016
  Rabu, 28 September 2016
  Selasa, 27 September 2016
  Senin, 26 September 2016
  Minggu, 25 September 2016
  Sabtu, 24 September 2016
DITULIS OLEH
Pdt. Goenawan Susanto
Gembala Jemaat
Renungan Lain oleh Penulis:
Home  »  Renungan  »  Menjadi Berhasil Dalam Pengenalan Akan Kristus
Menjadi Berhasil Dalam Pengenalan Akan Kristus
Minggu, 14 Juli 2013 | Tema: Bertumbuh Dalam Pengenalan Akan Allah
Menjadi Berhasil Dalam Pengenalan Akan Kristus
2 Petrus 1:3-9
Setiap manusia dilahirkan ke dunia ini sebagai bayi, setelah itu akan mengalami pertumbuhan baik secara jasmani, mental maupun rohani. Karena itu tujuan dari setiap manusia adalah bertumbuh menjadi dewasa, melalui tahap-tahap perkembangan yang normal, supaya bisa berfungsi sebagaimana manusia dewasa pada umumnya.

Demikianlah bisa digambarkan kehidupan kita di dalam Kristus. Oleh anugerah dan karya Roh Kudus-Nya kita dilahirkan menjadi ciptaan baru, manusia rohani yang memiliki kodrat ilahi (potensi kehidupan sebagai anak Allah). Ayat 4 berkata: “supaya olehnya kamu boleh mengambil bagian dalam kodrat ilahi”. Artinya, setiap kita yang lahir baru di dalam Kristus memiliki potensi ...selengkapnya »
Masakan cap cay yang sedap adalah racikan yang pas antara saus tomat dan bumbu-bumbu dengan perpaduan ragam sayur mayur yang proporsional. Jika saus tomat dituang terlalu banyak, rasa asam akan mendominasi hidangan itu. Jika garam ditabur kurang banyak, akan hambarlah masakannya. Bila potongan wortel terlalu banyak, citarasa wortel akan mendominasi. Bila rajangan kubis disingkirkan lantaran irisan sawi sudah banyak, maka kurang lengkaplah sajiannya. Gereja Tuhan terdiri dari orang-orang yang berlatar belakang berbeda-beda. Ada yang berasal dari keluarga Kristen turun-temurun; ada yang berasal dari keluarga non Kristen. Ada yang sudah puluhan tahun menjadi anggota jemaat; ada yang baru saja bergabung. Ada yang sudah lama terlibat dalam pelayanan; ada yang baru saja akan mulai; bahkan ada juga yang belum sama sekali. Berangkat dari kategori mana pun, jemaat Tuhan adalah satu. Satu sebagai Tubuh Kristus. Bersama-sama tumbuh di dalam Kristus. Tanpa mengenal kasta. Tanpa mengenal kelompok superior atau inferior. Semua patut memiliki kesempatan yang sama untuk bertumbuh bersama, tersusun rapi menjadi Bait Allah yang kudus. Gereja yang tersusun rapi tentunya teratur. Semua ada di tempat yang semestinya. Semua berfungsi secara semestinya. Tidak ada yang mendominasi, tidak ada pula yang tak berfungsi. Tidak ada yang berlebihan, tidak ada pula yang tak diberi kesempatan. Mewujudkan Gereja yang dipersatukan di dalam Kristus memang butuh perjuangan. Perlu kerja sama dari semua pihak. Dengan pertolongan Kristus sang Kepala Gereja, mari terus mengupayakannya.
Para penggemar manga [komik Jepang] dan film kartun animasi, “Captain Tsubasa” bukan hal yang asing di telinga. Captain Tsubasa adalah salah judul manga yang muncul di tahun 1990-an yang kemudian dibuat seri kartun animasinya sekitar tahun 2000-an. Di dalam cerita Captain Tsubasa dimunculkan tokoh yang bernama Tsubasa Ozora yang kemudian menjadi tokoh utama dalam cerita ini. Tsubasa Ozora adalah seorang anak yang berbakat dalam bermain sepakbola dan sering disebut sebagai “anak jenius sepakbola”. Dia digambarkan sebagai anak yang rendah hati, penuh semangat, selalu optimis, dan yang terutama adalah mahir bermain sepakbola. Dalam hal bermain sepakbola semua lawan dapat dia taklukkan. Meskipun demikian, Tsubasa Ozora menyadari bahwa sepakbola adalah permainan tim. Dia membutuhkan partner untuk bisa menang, sekaligus meningkatkan kemampuannya dalam bermain sepakbola. Di dalam cerita tersebut partner sejati Tsubasa adalah Taro Misaki. Tsubasa dan Misaki menjadi pasangan emas yang dapat mengubah keadaan sulit menjadi sebuah kemenangan. Di sebut “pasangan emas” karena mereka berdua memiliki kesehatian dan kesepahaman, saling bekerja sama dan saling melengkapi, dan persahabatan mereka tidak pernah luntur ibarat sebuah emas. Pasangan emas tersebut menjadi kunci bagi timnya untuk meraih kemenangan. Jauh sebelum kisah Tsubasa Ozora dan Taro Misaki muncul, ada sebuah kisah serupa yang pernah terjadi dalam zaman Perjanjian Lama. Ketika Daud dikejar-kejar oleh Raja Saul yang cemburu dan kehilangan akal sehat, Daud memiliki seorang teman yang bersedia mengambil risiko besar untuk mendampinginya. Yonatan, putra tunggal Saul, menyatakan kesetiaannya kepada Daud dan memberitahukan niat sang ayah yang ingin membunuhnya [1 Samuel 20:31-42]. Lalu saat Saul mengejar Daud ke padang gurun, ‘bersiaplah Yonatan ... lalu pergi kepada Daud di Koresa. Ia menguatkan kepercayaan Daud kepada Allah’ [1 Samuel 23:16]. Sungguh luar biasa kisah persahabatan Daud dan Yonatan! Ikatan yang dijalin keduanya bukan atas dasar untung dan rugi. Daud dan Yonatan mengikatnya dengan dasar kasih yang sejati. Ada kesehatian, ada kesepahaman, ada kesepakatan, ada kerjasama dan saling melengkapi satu sama lain. Betapa indahnya “hadiah” yang kita berikan saat kita dengan setia mendampingi seorang teman yang membutuhkan dukungan. Ada semangat dan kekuatan yang luar biasa saat dua orang bersatu. Sebagai orang percaya, kita memerlukan kesadaran akan kesatuan rohani kita dengan orang kristiani lainnya. Kita perlu berpusat pada dasar yang kita setujui, seperti kasih kita kepada Juruselamat yang telah mati untuk kita daripada bertengkar seputar pokok persoalan yang kurang berguna. Dengan mengabaikan perbedaan pendapat, kita sebagai orang percaya yang telah dibayar dengan tebusan darah seharusnya mengakui bahwa kita mempunyai satu ikatan keluarga yang kuat di dalam Kristus.
Suzhou, Tiongkok, inilah tempat di mana kisah nyata tentang seorang gadis berhati mulia ini terjadi. Seperti biasa, seorang pengemis tua duduk di atas papan beroda miliknya. Sambil menjulurkan tempat sedekah miliknya, pengemis yang ternyata cacat tersebut terus memerhatikan orang yang lalu lalang di depannya. Tiba-tiba saja hujan turun. Pengemis itu bingung, tetapi apa mau dikata, dia tidak bisa lekas beranjak. Dengan sangat pelan dia mulai berpindah, tentu saja gerakannya ini tidak cukup untuk menghindar dari guyuran air hujan. Namun sebelum hujan semakin bertambah deras, seorang gadis berlari dari pinggir toko di mana dia berdiri, membawa payung yang sudah dia buka dan memayungi pengemis tersebut. Untuk beberapa menit mereka berdua terlindung dari hujan. Dengan setia si gadis mengiringi gerakan si pengemis yang hendak menepi ke tempat teduh. Sayangnya hujan semakin bertambaj deras disertai angin. Bisa dipastikan bahwa payung itu tidak mampu melindungi mereka berdua. Tanpa dikomando, si gadis lalu mengarahkan payungnya lebih ke arah si pengemis. Sementara itu, dia membiarkan tubuhnya diguyur air hujan. Beberapa saat hujanpun reda. Gadis itu pulang dengan pakaian di tubuhnya yang basah kuyup. Perbuatan baik gadis itu mungkin bagi kebanyakan orang dianggap tidak spektakuler. Bahkan sangat mungkin ada yang berpandangan negatif terhadap dia, entah dikira mencari sensasi atau dikira ingin menonjolkan kebaikan. Satu hal yang penting yang dilakukan gadis itu, entah sengaja atau tidak dia sudah meneladani Yesus. Tidak pernah ada kata terlambat untuk menunjukkan hati yg mulia dengan perbuatan baik. Sebagai pengikut Kristus kita harus selalu melakukan perbuatan baik, bukan untuk kepentingan kita, tetapi untuk kebaikan orang lain, dan terutama untuk kemuliaan nama Tuhan.
Dalam suatu acara apapun baik rapat, pertemuan, pernikahan, bahkan sampai perkabungan dalam pelaksanaannya selalu ada urutan acara yang harus dikerjakan. Misalnya seperti salam pembukaan, lalu sambutan-sambutan, baru kemudian diteruskan dengan isi acara, lalu kemudian penutup. Di sini menunjukkan bagaimana sebuah acara tersebut ditata dengan cermat dan teratur supaya jangan sampai ada hal yang terlewat atau ada hal yang janggal. Demikian juga dalam suatu kegiatan yang dilakukan untuk Tuhan baik dalam persekutuan ataupun ibadah. Adanya keteraturan menunjukkan bahwa ada kesungguhan dan penghargaan kita kepada Tuhan karena ibadah atau persekutuan ditujukan kepada Allah untuk memuliakan dan meyukakan Tuhan bukan diri kita sendiri. Kalau itu dilakukan dengan kesungguhan akan berdampak pada kedewasaan iman dan sukacita umat. Niat baik tidak dengan sendirinya menunjukkan bahwa ibadah kita sudah benar, oleh sebab itu dalam ibadah perlu adanya keteraturan karena keteraturan bermanfaat untuk membangun ibadah yang benar di hadapan Tuhan. Inilah yang dimaksud Paulus untuk dilakukan oleh jemaat Korintus supaya dalam menjalankan ibadah atau persekutuan bersuasana gembira, namun juga tertib dan hormat. Karena dalam suatu ibadah akan selalu ada pelayanan berbagai karunia rohani oleh masing-masing anggota jemaat, namun harus dengan bergilir secara teratur dan tertib bukan dengan menonjolkan karunia masing-masing bahwa karunia yang dimiliki lebih dari yang lain sehingga dapat mengakibatkan perpecahan. Ibadah/persekutan dalam jemaat seharusnya terpusat kepada Tuhan dan seharusnya setiap anggota yang hadir lebih mengutamakan yang lain ketimbang dirinya. Karena setiap anggota memiliki sesuatu dari Roh Allah yang perlu ia bagikan demi keutuhan dan membangun iman jemaat, bukan membanggakan karunia yang ia miliki lebih dari yang lain. Jadi Fokus ibadah bukanlah manusia tapi Allah. Ketika itu dilakukan, maka ketertiban dan keteraturan terwujud.
BARCODE BBM CHANNELS
RENUNGAN HARIAN
Rela Berkorban Untuk Kebaikan Sesama
26 September '16
Saling Membangun
17 September '16
Kenangan Yang Manis
13 September '16
Copyright © 2012 All rights reserved. Designed and Developed by GIA Dr. Cipto Semarang