SEPEKAN TERAKHIR
  Rabu, 01 Juni 2016   -HARI INI-
  Selasa, 31 Mei 2016
  Senin, 30 Mei 2016
  Minggu, 29 Mei 2016
  Sabtu, 28 Mei 2016
  Jumat, 27 Mei 2016
  Kamis, 26 Mei 2016
DITULIS OLEH
Pdt. Goenawan Susanto
Gembala Jemaat
Renungan Lain oleh Penulis:
Home  »  Renungan  »  Menjadi Berhasil Dalam Pengenalan Akan Kristus
Menjadi Berhasil Dalam Pengenalan Akan Kristus
Minggu, 14 Juli 2013 | Tema: Bertumbuh Dalam Pengenalan Akan Allah
Menjadi Berhasil Dalam Pengenalan Akan Kristus
2 Petrus 1:3-9
Setiap manusia dilahirkan ke dunia ini sebagai bayi, setelah itu akan mengalami pertumbuhan baik secara jasmani, mental maupun rohani. Karena itu tujuan dari setiap manusia adalah bertumbuh menjadi dewasa, melalui tahap-tahap perkembangan yang normal, supaya bisa berfungsi sebagaimana manusia dewasa pada umumnya.

Demikianlah bisa digambarkan kehidupan kita di dalam Kristus. Oleh anugerah dan karya Roh Kudus-Nya kita dilahirkan menjadi ciptaan baru, manusia rohani yang memiliki kodrat ilahi (potensi kehidupan sebagai anak Allah). Ayat 4 berkata: supaya olehnya kamu boleh mengambil bagian dalam kodrat ilahi. Artinya, setiap kita yang lahir baru di dalam Kristus memiliki potensi ...selengkapnya »
Roma 6:1-14 Demikianlah hendaknya kamu memandangnya: bahwa kamu telah mati bagi dosa, tetapi kamu hidup bagi Allah dalam Kristus Yesus. [ayat 11] Kematian pada umumnya adalah sesuatu yang ditakuti. Tapi kematian itu diperlukan untuk terjadinya suatu perubahan dan sebuah permulaan yang baru. Sebagai contoh, biji yang ditanam di dalam tanah tidak akan berubah menjadi tunas/tanaman yang baru jika tidak mengalami kematian terlebih dahulu. Demikian juga kehidupan kita tidak akan mengalami perubahan menjadi manusia yang baru jika manusia lama kita tidak mengalami kematian terlebih dahulu. Banyak orang yang ingin berubah hidupnya. Mereka sadar bahwa kehidupan di dalam dosa telah menjerumuskan mereka ke dalam penderitaan dan kehancuran. Mereka datang ke gereja, mengikuti acara-acara ibadah, mendengarkan Firman Tuhan, berdoa dan membaca Alkitab. Mereka bisa berhenti dari kebiasaan melakukan perbuatan dosa mereka. Namun beberapa waktu kemudian mereka kembali lagi kepada kehidupan lama mereka. Rupanya manusia lama mereka belum benar-benar mati, tapi pingsan untuk sesaat, kemudian siuman, lalu hidup kembali. Manusia lama kita harus benar-benar mati. Orang mengalami kematian kalau nyawanya lepas dari tubuhnya. Kristus mau melepaskan tubuh kita dari kekuasaan manusia lama kita. Karena itu kita harus rela dilepaskan dari manusia lama kita. Mengapa banyak orang begitu gampang jatuh lagi di dalam dosa? Karena mereka tidak mau dilepaskan dari manusia lama mereka. Di dalam dasar hatinya mereka masih suka dan masih ingin hidup dengan manusia lamanya. Itulah sebabnya manusia lama mereka tidak sungguh-sungguh mati, hanya pingsan beberapa saat, lalu hidup kembali. Pertobatan yang dihasilkan adalah pertobatan yang setengah-setengah. Hidup dalam kekudusan hanya dimungkinkan jika orang telah mati bagi dosa dan hidup dalam hidup yang baru bagi Allah. Dalam hidup yang baru itu dia memiliki tujuan hidup yang baru. Kesenangannya ialah menyukakan hati Allah. Pastikan bahwa manusia lama Anda telah benar-benar mati, dan pastikan bahwa Anda telah memiliki kehidupan yang baru di dalam Kristus. Amin.
Waktu saya masih kecil, ketika keluarga saya belum mengenal Kristus, ayah sering mengajak saya ke kubur kakek dan nenek. Yang dilakukan ayah adalah membersihkan makam benar-benar bersih sampai tak tertinggal kotoran apapun. Setelah itu ayah berdoa, memohon kepada arwah kakek nenek agar diberi kelencaran dan berkat dalam seluruh kehidupan kami. Perintah ayah yang sampai saat ini tidak terlupakan ketika masuk kuburan adalah mandi bersih, berpakaian bersih, dan ketika masuk lingkungan area kubur harus melepas alas kaki sebagai tanda hormat kepada rumah, penunggu kubur, dan roh kakek nenek kami. Karena rasa hormat kepada roh nenek moyang dan kuburan, maka kami mengkhusyukkan diri berdoa dan membersihkan diri sebelum masuk ke pekuburan. Inilah yang kami lakukan sebelum bertobat dan percaya Kristus. Setelah percaya Yesus Kristus, saya memandang apa yang kami lakukan waktu itu adalah sesuatu yang sia-sia. Saat itu, untuk hal yang sia-sia saja, kami harus membersihkan diri, melepas alas kaki menjaga kebersihan kubur sebagai rasa hormat kepada roh kubur. Lalu bagaimana dengan kekristenan kita yang tidak akan pernah sia-sia? Yesus Kristus tidak saja hanya mati, tetapi Dia telah bangkit dan hidup selamanya. Melalui pengorbanan-Nya kita telah dibersihkan dari dosa. Melalui kebangkitan-Nya kita beroleh kemenangan. Dan melalui Roh Kudus kita memperoleh penyertaan-Nya. Maka menjaga kekudusan hidup kita, itu suatu KEHARUSAN. Oleh sebab itu bagi orang percaya, hidup kudus adalah suatu kewajaran. Masalahnya, kita kerap menganggap nats hari ini sebagai suatu perintah. Kita membacanya sebagai: ’Sebab Aku kudus, maka kamu harus berusaha hidup dengan kudus.’ Dan mungkin kita merasa putus asa ketika sudah berusaha sekuat tenaga, namun rasanya tidak ‘kudus-kudus’ juga. Akan sangat berbeda efeknya jika kita memahaminya sebagai sebuah janji. Firman itu menyatakan: ’Sebab Aku kudus, maka kamu adalah orang kudus kepunyaan-Ku.’ Kekudusan adalah anugerah Allah. Ketika kita percaya kepada penebusan oleh darah yang mahal, yaitu darah Kristus [ay. 19], maka kita menerima identitas yang baru, yaitu orang kudus. Identitas baru ini akan mengubah pemahaman, sikap, dan perilaku kita hari demi hari, memampukan kita hidup kudus. Sebaliknya, berbuat dosa adalah penyimpangan dari identitas sejati kita. Sekarang yang menjadi tantangan kita adalah selalu bercermin dan memandang kepada anugerah Allah, serta tidak melupakannya sehingga kita akan selalu menyadari identitas baru kita. Dengan pimpinan Roh Kudus, kesadaran baru tersebut akan menggugah kita untuk hidup berpadanan dengan identitas tersebut. Dengan identitas baru sebagai orang kudus, maka kita akan dikuatkan dan diingatkan untuk selalu menjaga setiap sisi hidup kita untuk hidup seturut kehendak Allah.
Iklan salah satu produk detergen memiliki slogan “berani kotor itu baik”. Slogan ini digambarkan oleh orangtua yang mengijinkan anaknya bermain kotor-kotor yang akhirnya meninggalkan noda di pakaiannya. Namun orangtua ini tidak kuatir karena ada sabun anti-noda yang sanggup membersihkan noda tersebut tanpa berbekas. Mulai dari noda minuman, spidol, lumpur, dan lain sebagainya dapat dibersihkannya. Dan pakaian sehabis dicuci, kembali bersih dan tidak ada noda yang menempel lagi. Yeremia hadir di tengah-tengah bangsa Israel yang sedang mengalami pergolakan yang hebat. Keadaan yang semakin menghimpit dengan munculnya kerajaan-kerajaan yang besar membuat umat Israel menjadi gemetar. Israel mulai membangun persekutuan dengan bangsa-bangsa asing serta mengandalkan kekuatan militernya yang dianggap mampu menaklukkan bangsa yang menyerang. Para pemimpin mulai berbuat dosa dengan beribadah kepada ilah-ilah lain. Mereka tidak menyerahkan kepada perlindungan dan pertolongan Tuhan, melainkan mengandalkan kekuatannya sendiri. Yeremia hadir untuk menyerukan peringatan-peringatan yang akan terjadi kepada Israel jika mereka terus berpaling meninggalkan Tuhan Allah. Yeremia memberikan peringatan yang keras bahwa Yehuda akan dikalahkan dan Yerusalem akan dihancurkan. Di sisi lain Yeremia juga mengingatkan Israel agar tetap setia mengikuti hukum Allah yang telah ditetapkan. Sekalipun Yehuda akan mengalami kekalahan, kasih setia Allah akan dinyatakan dengan mengikat kembali perjanjian yang baru dengan umat-Nya setelah masa penghukuman selesai [Yeremia 31:31-34]. Jemaat terkasih, Israel dan Yehuda membiarkan noda dosa itu menempel dalam kehidupannya. Mereka melakukan apa yang mereka pandang baik menurut kekuatan mereka. Meskipun mereka menganggap diri mereka tidak menajiskan diri, bahkan mungkin mereka sudah menyuci dosa-dosa mereka dengan abu dan sabun, namun dosa mereka tetaplah terlihat di mata Tuhan [ay. 22]. Dan akibat dari dosa, mereka menanggung hukuman di pembuangan. Menjadi orang asing di negeri orang. Oleh karena itu, jangan biarkan kotoran [noda dosa] melekat dalam kehidupan kita. Berani kotor itu sungguh tidak baik, karena kotoran yang ada dalam hidup kita akan membuat kita jauh dari Tuhan. Jika kita bisa menjaga hidup kita tetap bersih, tetap suci, tetap kudus, mengapa kita harus membuat kotoran dalam hidup kita?
Salah satu peribahasa dalam bahasa Jawa berbunyi: “Ajining diri saka ing lathi”. Peribahasa itu mengandung makna bahwa seseorang dihargai itu berdasarkan ucapannya. Setiap perkataan yang keluar dari mulut kita menjadi salah satu kriteria bagi orang lain dalam menilai kita. Bahasa yang santun, ucapan yang meneduhkan, dan perkataan yang membangun, menjadikan orang lain memberikan penilaian yang positif. Sedangkan perkataan yang kasar, penuh dengan caci-makian, bahkan ucapan yang kotor justru akan membuat orang lain sakit hati, marah, jengkel sehingga membuat penilaian yang negatif terhadap kita. Jemaat di Efesus diingatkan oleh rasul Paulus tentang pentingnya hidup sungguh-sungguh di dalam Tuhan. Salah satu sikap hidup benar di hadapan Tuhan yang disampaikan rasul Paulus adalah memperkatakan perkataan yang membangun. Efesus 4:29 berkata: “Janganlah ada perkataan kotor keluar dari mulutmu, tetapi pakailah perkataan yang baik untuk membangun, di mana perlu, supaya mereka yang mendengarnya, beroleh kasih karunia.” Ini merupakan ciri manusia baru di dalam Kristus Yesus. Ketika jemaat Efesus menerima Yesus sebagai Tuhan lewat pengajaran rasul Paulus, salah satu sikap hidup yang harus diubah adalah dalam hal perkataan. Melalui perkataan yang keluar dari mulut menjadi tanda apakah jemaat sudah menjadi manusia baru atau tetap menjadi manusia lama. Perkataan kotor hanya akan menjadi batu sandungan bagi orang lain untuk bertumbuh, tetapi perkataan yang baik akan membangun dalam segala hal. Jemaat terkasih, untuk menjadi umat yang kudus, mari kita belajar dari apa yang rasul Paulus sampaikan kepada jemaat di Efesus, yaitu menggunakan perkataan yang baik untuk membangun sesama kita. Perkataan yang baik akan menguatkan, membangun, bahkan memberikan kedamaian bagi yang mendengarnya. Dalam keadaan yang tidak menguntungkan diri kita sekalipun, belajarlah untuk tidak menggunakan kata-kata yang menyakiti orang lain. Karena perkataan yang keluar dari mulut kita merupakan nilai yang tercermin dalam hidup kita. Orang lain memperhatikan setiap ucapan demi ucapan kita. Sehingga jikalau keluar perkataan kotor, perkataan makian, atau bahkan perkataan penghinaan, bukankah kita sudah menjadi batu penghalang bagi orang lain? Pantaskah kita disebut umat yang kudus sementara perkataan kita merendahkan orang lain? Mari menggunakan setiap perkataan yang manis, yang baik, dan penuh dengan kasih, sehingga orang yang mendengar dipenuhi dengan damai dan sukacita.
BARCODE BBM CHANNELS
RENUNGAN HARIAN
Identitas Diri Orang Percaya
26 Mei '16
Tidak Hidup Dalam Dosa
24 Mei '16
Tips Menang Atas Dosa
16 Mei '16
Copyright © 2012 All rights reserved. Designed and Developed by GIA Dr. Cipto Semarang