SEPEKAN TERAKHIR
  Sabtu, 20 Desember 2014   -HARI INI-
  Jumat, 19 Desember 2014
  Kamis, 18 Desember 2014
  Rabu, 17 Desember 2014
  Selasa, 16 Desember 2014
  Senin, 15 Desember 2014
  Minggu, 14 Desember 2014
DITULIS OLEH
Pdt. Goenawan Susanto
Gembala Jemaat
Renungan Lain oleh Penulis:
Home  »  Renungan  »  Menjadi Berhasil Dalam Pengenalan Akan Kristus
Menjadi Berhasil Dalam Pengenalan Akan Kristus
Minggu, 14 Juli 2013 | Tema: Bertumbuh Dalam Pengenalan Akan Allah
Menjadi Berhasil Dalam Pengenalan Akan Kristus
2 Petrus 1:3-9
Setiap manusia dilahirkan ke dunia ini sebagai bayi, setelah itu akan mengalami pertumbuhan baik secara jasmani, mental maupun rohani. Karena itu tujuan dari setiap manusia adalah bertumbuh menjadi dewasa, melalui tahap-tahap perkembangan yang normal, supaya bisa berfungsi sebagaimana manusia dewasa pada umumnya.

Demikianlah bisa digambarkan kehidupan kita di dalam Kristus. Oleh anugerah dan karya Roh Kudus-Nya kita dilahirkan menjadi ciptaan baru, manusia rohani yang memiliki kodrat ilahi (potensi kehidupan sebagai anak Allah). Ayat 4 berkata: “supaya olehnya kamu boleh mengambil bagian dalam kodrat ilahi”. Artinya, setiap kita yang lahir baru di dalam Kristus memiliki potensi untuk hidup di dalam kekudusan dan pengenalan akan Allah. Harus digaris bawahi: setiap kita! Bukan hanya orang-orang Kristen tertentu saja, misalnya hamba Tuhan, atau orang-orang Kristen yang punya karunia-karunia tertentu.

Tapi kenyataan itu tidaklah untuk membuat kita menanti dengan pasif dan beranggapan bahwa dengan sendirinya kita akan mencapai kondisi itu. Firman Tuhan berkata: “Justru karena itu kamu harus dengan sungguh-sungguh berusaha ....” (ayat 5). Usaha yang sungguh-sungguh diperlukan agar supaya kita mengalami pertumbuhan dalam pengenalan kita akan Tuhan. Dengan kata lain, kalau kita tidak berusaha dengan sungguh-sungguh maka potensi yang dianugerahkan kepada kita itu akan tersia-siakan. Pe...selengkapnya »
Christian bertekad menyisihkan uang saku sekolahnya sebesar Rp.5000,- setiap hari untuk di tabung bagi keperluan membantu teman-teman sekolahnya yang sering mengalami kesulitan membayar uang sekolah. Christian sadar dan tahu bahwa tidak semua teman sekolahnya seberuntung dirinya. Ketika sudah terkumpul sejumlah uang, Christian berniat memberikannya untuk pembayaran uang sekolah Antok, teman sekelasnya. Maka Christian segera memberikan uang tersebut kepadanya sambil berkata, “Tuhan meminta saya memberkati kamu melalui hal ini agar engkau tetap punya semangat dalam belajar hingga lulus.” Dengan rasa haru Antok menerima uang itu dan segera membayar sekolahnya. Tak lupa Antok berkata, “Terima kasih, Tuhan sudah memakaimu untuk meringankan bebanku. Sudah sepuluh hari aku berdoa untuk hal ini sebab orangtuaku lagi sakit dan membutuhkan biaya pengobatan. Sehingga untuk membayar sekolahku harus tertunda dulu. Berkat ini sangat berarti bagi hidupku agar waktu ulangan nanti aku tetap bisa ikut.” Ternyata Christian yang tergerak hatinya untuk membantu temannya merupakan hasil perenungan Firman Tuhan dari perumpamaan orang Samaria yang murah hati di dalam Lukas 10. Melalui bacaan tersebut Tuhan Yesus hendak mengajarkan kepada para murid, termasuk kita, supaya mau memperhatikan sesama yang hidupnya belum beruntung. Melalui kisah tersebut Tuhan Yesus hendak menekankan bahwa semua manusia di hadapan Allah maupun sesama memiliki kedudukan yang sama. Sehingga tindakan membantu orang lain harus kita lakukan dengan sepenuh hati dan digerakan oleh hati yang berbelas kasihan. Orang Samaria dalam perumpamaan ini adalah warganegara kelas dua pada zaman itu. Namun dalam hal mengasihi sesama manusia, orang Samaria lebih peduli daripada mereka yang hidup agamanya lebih baik. Hal itu mengajarkan agar kita tidak membedakan siapakah orang yang hendak kita tolong . Kadangkala Tuhan Yesus menyediakan banyak sarana dan kesempatan bagi kita untuk berbuat kasih kepada sesama di sekitar kita. Oleh sebab itu apabila kita digerakan Allah untuk melakukan, maka lakukanlah dengan segenap hati. Siapa tahu melalui hal yang kecil tersebut Allah menyediakan sesuatu yang sangat berarti dalam hidupmu kelak di kemudian hari. Sudahkah kita melakukan hidup saling memperhatikan, saling peduli dan saling berbagi kasih sebagaimana telah dipilih sebagai tema gereja kita sepanjang tahun ini.
Kata-kata yang disampaikan oleh nabi Yeremia kepada bangsa Israel pada umumnya adalah kata-kata yang sangat keras, pedas, dan cenderung sangat kasar. Namun maksud pesan Tuhan yang disampaikannya adalah agar umat Tuhan itu segera kembali kepada jalan Allah atau bertobat. Orang yang sudah cukup lama tinggal di dalam hidup yang tidak benar di hadapan Tuhan acapkali perlu diberikan pesan yang lebih keras dan menyentak. Semata-mata bukan karena Tuhan kejam, namun Tuhan ingin agar orang tersebut segera siuman dari keadaannya yang semakin parah. Hidup berpura-pura di hadapan Tuhan merupakan salah satu contoh hidup yang tidak benar. Secara lahiriah beribadah pada Tuhan, namun tidak lahir dari hati yang tulus. Demikian juga dengan pesan Tuhan dalam hal ‘pengampunan’. Mengampuni sesama bukan sebuah pilihan yang harus kita pilah-pilah, mana yang perlu diampuni dan mana yang tidak bisa diampuni. Namun Alkitab mengajar kita bahwa pengampunan adalah tindakan kongkret yang harus segera kita lakukan. Mengapa? Pertama, karena jika kita tidak mengampuni, maka doa kita akan terhalang (Markus 11:25); kedua, Tuhan juga tidak akan mengampuni kesalahan kita (Matius 6:14); ketiga, akan membinasakan dan menambah kesedihan bagi orang lain (2 Korintus 2:7); dll. Saling mengampuni harus dilakukan setiap orang (Efesus 4:32), karena dengan pengampunan yang kita berikan bagi orang lain, itu juga yang akan Bapa di sorga berikan kepada kita (Matius 6:14). Pengampunan harus dengan sadar kita lakukan. Pengampunan yang hanya berpura-pura akan mendatangkan kerugian bagi diri kita sendiri, karena hati kita akan terus-menerus dipenuhi dengan ‘kepahitan’. Pengampunan yang tidak pura-pura akan mendatangkan pemulihan bagi diri kita dan orang lain. Kepura-puraan hanya bisa dibuang dari hidup kita bila kita berani untuk terbuka di hadapan Tuhan. Apa adanya, bersedia dikoreksi daripada berusaha membela diri dengan kebenaran diri sendiri.
Pada masa perang Vietnam, seorang pria Amerika nyaris membunuh seorang wanita. Wanita Vietnam tersebut bernama Kim Phuc. Ketika bom kimia mulai dijatuhkan dari pesawat orang Amerika tadi, dia sedang berusaha menyelamatkan diri. Kim Phuc yang berlari ketakutan meninggalkan desanya, berharap dapat menyelamatkan diri dari bom kimia yang sempat membakar kulitnya. Pria di pesawat itu adalah John Plummer. Karena merasa yakin bahwa tidak ada penduduk di desa tersebut, John Plummer memerintahkan penyerangan itu. Menurut sebuah cerita dalam Minnesota Christian Chronicle (Sejarah Kristen Minnesota), Kim Phuc diundang ke Washington tahun 1996 untuk berpidato di Monumen Veteran Vietnam. Dalam pidatonya ia mengatakan akan memaafkan pilot pesawat yang mencelakainya seandainya mereka bisa bertemu. Luar biasa, ternyata John Plummer berada di antara para hadirin. Ia mendengar bahwa Kim akan berpidato di sana sehingga ia pun datang untuk mendengarkan pidatonya. Setelah acara usai, keduanya pun bertemu. Plummer berulangkali berkata, ”Maafkan saya, maafkan saya.” Jawab Kim, ”Tidak apa-apa, saya memaafkanmu.” Bagaimana Kim bisa memaafkan orang yang seharusnya bertanggung jawab atas cacat yang dialaminya seumur hidup? Kim sudah menjadi Kristen saat perang Vietnam terjadi, demikian pula dengan John. Karena itu mereka mengerti tentang makna pengampunan. Mereka mengerti tentang bagaimana memberi dan menerima pengampunan. Pengampunan adalah seperti sebuah siklus yang berputar. Siklus itu diawali dari inisiatif Tuhan sendiri. Tuhan yang dalam rupa manusia, yang terlahir dalam pribadi Yesus Kristus rela berkorban untuk mengampuni manusia yang berdosa. Tindakan yang telah diperbuat Tuhan bagi manusia, wajib diteladani dan dijalankan oleh manusia. Setiap orang yang percaya kepada Yesus wajib melepaskan pengampunan bagi mereka yang menyakitinya (Kolose 3:13). Kita telah diampuni oleh Yesus dan kita harus membuat siklus pengampunan itu terus berputar, dengan cara kita mengampuni yang bersalah kepada kita.
Betsy sedang melayani seorang wanita bernama Nanik, seorang gadis yang mengalami pelecehan seksual dan korban pemerkosaan oleh saudara sekandungnya. Gadis ini minta didoakan karena menderita bisul di bagian usus besarnya yang nyaris mengancam keselamatan jiwanya. Setelah Betsy membimbingnya secara pastoral, Nanik bersedia mengampuni saudaranya meskipun begitu pahit pengalaman itu dirasakannya. Akhirnya Allah memulihkan kesehatannya. Bisul di usus besarnya hilang dengan sendirinya tanpa harus melewati meja operasi, sampai dokter yang merawatnya merasa heran akan keajaiban Allah. Hubungan dengan saudara kandungnya pun dipulihkan, sehingga mereka bisa hidup saling mengasihi. Permintaan Allah kepada kita sangat sederhana dan disampaikan terus menerus, yaitu kita harus hidup saling mengampuni satu sama lain (Lukas 6:37). Supaya kita bisa memutus rantai balas dendam, hidup saling menyakiti, memutus belenggu kepahitan hidup yang dapat membahayakan emosional dan kesehatan jasmani kita. Sesakit apapun yang kita alami, ketika kita mengampuni, pada akhirnya hal itu akan membawa kita kepada kesembuhan. Allah memerintahkan kita untuk hidup saling mengampuni satu sama lain supaya hubungan kita satu dengan yang lain menjadi damai dan penuh kasih sayang disertai dengan ketulusan hati. Itulah kehendak Allah atas hidup kita. Kejadian 45:11-15 merupakan contoh kehidupan Yusuf sebagai seorang perdana mentri Mesir yang mau mengambil keputusan untuk mengampuni saudara-saudaranya yang telah memperlakukannya dengan jahat sehingga ia hidup dalam kesulitan selama 13 tahun sebagai seorang budak. Kini setelah dia menjadi penguasa di Kerajaan Mesir dan dipercaya sebagai pengatur persediaan makanan di musim kelaparan, saudara-saudaranya datang untuk meminta belas kasihannya. Yusuf memberikan pelayanan yang terbaik kepada mereka sebelum memperkenalkan dirinya, bahkan setelah pemulihan hubungan, Yusuf menawarkan kehidupan yang lebih baik kepada mereka atas persetujuan Raja Mesir. Pengampunan itu memberi pengaruh yang luar biasa dalam pemulihan hubungan dan penyembuhan penyakit jasmani yang ditimbulkan oleh kepahitan, kemarahan, kegeraman. Bagi kita yang masih belum bisa mengampuni sesama, mintalah belas kasihan Allah supaya kita diberikan kekuatan dan kuasa untuk mengampuni. Demi kebaikan hubungan di masa depan baik dengan Allah maupun sesama kita, dan juga untuk kesehatan mental serta jasmani kita, ambillah keputusan sekarang juga untuk mengampuni selagi masih ada kesempatan.
BARCODE BBM CHANNELS
RENUNGAN HARIAN
Siklus Pengampunan
25 November '14
Kerjakan, Kerjakan Dan Kerjakanlah!
03 Desember '14
Ternyata Salah
16 Desember '14
Copyright © 2012 All rights reserved. Designed and Developed by GIA Dr. Cipto Semarang