SEPEKAN TERAKHIR
  Sabtu, 21 Januari 2017   -HARI INI-
  Jumat, 20 Januari 2017
  Kamis, 19 Januari 2017
  Rabu, 18 Januari 2017
  Selasa, 17 Januari 2017
  Senin, 16 Januari 2017
  Minggu, 15 Januari 2017
DITULIS OLEH
Pdt. Goenawan Susanto
Gembala Jemaat
Renungan Lain oleh Penulis:
Home  »  Renungan  »  Menjadi Berhasil Dalam Pengenalan Akan Kristus
Menjadi Berhasil Dalam Pengenalan Akan Kristus
Minggu, 14 Juli 2013 | Tema: Bertumbuh Dalam Pengenalan Akan Allah
Menjadi Berhasil Dalam Pengenalan Akan Kristus
2 Petrus 1:3-9
Setiap manusia dilahirkan ke dunia ini sebagai bayi, setelah itu akan mengalami pertumbuhan baik secara jasmani, mental maupun rohani. Karena itu tujuan dari setiap manusia adalah bertumbuh menjadi dewasa, melalui tahap-tahap perkembangan yang normal, supaya bisa berfungsi sebagaimana manusia dewasa pada umumnya.

Demikianlah bisa digambarkan kehidupan kita di dalam Kristus. Oleh anugerah dan karya Roh Kudus-Nya kita dilahirkan menjadi ciptaan baru, manusia rohani yang memiliki kodrat ilahi (potensi kehidupan sebagai anak Allah). Ayat 4 berkata: supaya olehnya kamu boleh mengambil bagian dalam kodrat ilahi. Artinya, setiap kita yang lahir baru di dalam Kristus memiliki potensi ...selengkapnya »
Khususnya bagi kaum hawa, saat kita menerima undangan pesta biasanya langsung kita berpikir baju atau gaun apa yang akan kita pakai. Andaikata pun kita tidak memiliki gaun khusus untuk pesta, paling tidak kita akan memilih baju terbaik yang kita miliki yang kita nilai layak dipakai menghadiri sebuah pesta walau mungkin sangat sederhana. Dengan baju yang rapi dan bersih, kita menghargai rekan yang mengundang dan juga menghargai diri sendiri. Dalam perumpamaan dari perikop yang kita renungkan ini, dikisahkan seorang raja yang mengadakan perjamuan kawin untuk anaknya. Ternyata di antara undangan yang hadir ada yang tidak mengenakan pakaian pesta dan hanya diam saat raja menegurnya. Hal itu membuat raja marah dan menyuruh hambanya untuk mengikat orang tersebut serta mencampakkannya ke dalam kegelapan [ayat 11-13]. Sangat tragis sekali. Dia merupakan tamu undangan tetapi ternyata tidak diperkenankan mengikuti perjamuan kawin yang diadakan hanya karena ulah yang dibuatnya sendiri. Siapkah kita dengan baju pesta saat Perjamuan Anak Domba? Dalam suratnya kepada jemaat di Galatia, Rasul Paulus mengatakan bahwa kita semua yang dibaptis dalam Kristus, telah mengenakan Kristus [Galatia 3:27]. Artinya kebenaran Firman yang dinyatakan Kristus itulah pakaian pesta yang kita pakai. Kita tinggalkan manusia lama kita dan mengenakan manusia yang baru yang telah diciptakan menurut kehendak Allah di dalam kebenaran dan kekudusan yang sesungguhnya [Efesus 4:24]. Pertanyaannya adalah bisakah kita selalu hidup dalam kebenaran dan kekudusan sesuai Firman Tuhan menghadapi tantangan hidup keseharian kita? Siapkah kita dengan pakaian pesta saat undangan perjamuan Anak Domba datang ? Ingat apa yang dikatakan Yesus dalam mengakhiri perumpamaan ini [ayat 14], yaitu “sebab banyak yang dipanggil, tetapi sedikit yang dipilih.”Amin.
Bulan lalu seorang artis Indonesia yang cantik merayakan pesta pernikahan di Disney World Tokyo Jepang. Pesta pernikahan itu terbilang megah, cukup mewah dan tentu saja menghabiskan biaya yang besar mengingat tempat yang digunakan sangat special. Pesta itu sukses karena sudah dipersiapkan jauh hari. Bahkan satu tahun sebelum hari H, sudah dilakukan persiapan-persiapan. Konsep pesta, detil acara, gaun yang akan dipakai, menu yang akan disajikan semua sudah dipikirkan dan dipersiapkan jauh-jauh hari. Sang mempelai ingin supaya acara itu bisa berjalan sesuai dengan impiannya karena pesta pernikahan merupakan event besar yang diharapkan hanya terjadi sekali dalam hidupnya. Sebagai umat Tuhan, kita juga memiliki event besar yang sangat spesial yang bakal kita hadapi. Perjumpaan dengan Tuhan Yesus adalah momen spesial bagi kita, dan tentu saja kita tidak mau melewatkan momen itu dengan biasa-biasa saja. Seperti mempelai mempersiapan segala sesuatu untuk menyambut hari pernikahan, demikian juga dengan kita, pastinya akan melalukan persiapan juga. Supaya pada waktunya, kita benar-benar siap bertemu dan menyambut kedatangan-Nya. Apa yang harus kita persiapkan dalam menyambut event besar itu? Menjaga hati dengan segala kewaspadaan karena dari situlah terpancar kehidupan [Amsal 4:23]. Hati kita adalah pusat dari segala yang kita pikirkan, sumber semua ucapan kita, sumber dari semua perbuatan kita. Menjaga hati supaya terus menerus melekat pada Firman-Nya. Menjaga hati untuk tidak jemu-jemu berbuat baik. Menjaga hati untuk tidak putus berdoa. Menjaga hati untuk mengeluarkan kata-kata berkat. Menjaga hati untuk melakukan perbuatan yang memuliakan nama Tuhan. Dengan menjaga hati kita bisa mengontrol semua segi kehidupan, dengan demikian kita mempersiapkan diri untuk hidup benar di hadapan-Nya. Menjaga hati tidak hanya dilakukan kepada orang-orang tertentu, tapi pada semua orang yang kita jumpai. Tidak juga dilakukan pada hari-hari tertentu, tapi kita harus melakukan terus menerus sepanjang hidup kita sampai hari itu datang. Hari di mana event besar perjumpaan kita dengan Tuhan Yesus terjadi.
Ada seorang petani yang sukses mengelola perkebunan jagungnya. Si petani bukan hanya mampu menghasilkan butir-butir jagung dengan kualitas yang prima, tetapi hasil panennya pun sangat berlimpah. Ia telah beberapa kali memenangkan penghargaan. Termasuk penghargaan tertinggi dari pemerintah diraihnya karena dinilai sebagai pelopor kemajuan perekonomian masyarakat petani setempat. Keberhasilan si petani ternyata bukan hanya untuk dirinya dan keluarganya saja, tetapi juga untuk petani-petani tetangganya. Dia seringkali terlihat membagi-bagikan bibit jagung berkualitasnya, mengajari cara bercocok tanam yang baik, sehingga hampir seluruh petani di daerah itu hidup sejahtera dan perekonomian pemerintah daerah pun juga meningkat tajam. Suatu hari datang wartawan bertanya, “Apa rahasia kesuksesan Bapak?” “Oh, yang saya lakukan sederhana saja. Saya hanya membagi-bagikan bibit jagung unggul kepada tetangga-tetangga di sekitar perkebunan,” jelas si petani sambil tersenyum simpul. “Mengapa Bapak melakukan hal tersebut? Apakah Bapak tidak takut jika para tetangga menjadi pesaing Bapak, bahkan mungkin akan merebut penghargaan yang diberikan pemerintah dari tangan Bapak?” tanya si wartawan penasaran. “Saya ini bekerja bukan bertujuan untuk mendapat penghargaan. Yang saya kerjakan adalah mengelola alam dengan sebaik-baiknya, yakni terus menerus berusaha untuk menghasilkan bibit jagung yang unggulan. Yaitu jagung yang warna bijinya segar, manis, besar, sehat, dan panennya pun juga berlimpah,’ papar petani itu. ’Ingat pelajaran di SD dulu! Sesuai hukum alam, pembuahan terjadi pada tanaman bila putik bertemu dengan serbuk sari melalui perantara angin. Itu artinya sebagus apapun tanaman jagung di kebun kita, bila serbuk sari dari ladang tetangga bukan yang berkualitas baik, maka jagung yang dihasilkan pasti juga tidak berkualitas baik. Nah, sederhana kan? Untuk menghasilkan hasil jagung yang baik, saya harus menolong tetangga saya dengan memberi mereka bibit jagung yang baik pula. Dengan menolong tetangga, membantu mereka berarti juga menolong diri sendiri.” Memasuki tahun yang baru ini, mari kita membuka lembaran baru dengan bekerjasama membangun gereja dan tempat di mana kita berkomunitas. Kita yang kuat wajib menanggung yang lemah dan yang lemah menghargai yang kuat tanpa kritikan dan sebagainya. Kita maju bersama untuk melakukan amanat Tuhan di tahun yang baru ini dan berkembang dalam komunitas sehat yang dan saling menguatkan dalam iman. Bukan menjatuhkan ataupun mencari kesalahan. Namun kita bergandengan tangan untuk bersama-sama dewasa dan bertumbuh ke arah Kristus dengan mengalami kuasa, kebenaran dan kasih Kristus dalam kita berjemaat. Kiranya di tahun yang baru ini kita melihat kehidupan yang semakin luar biasa dari jemaat, keluarga, dan komunitas kita. Selamat menebarkan kebaikan dan saling bertumbuh dalam kebenaran-Nya. Selagi kita dipercaya untuk melangkah di hari-hari kita, mari kita saling membangun dan saling menguatkan sebagai tubuh Kristus dan membangun gereja Tuhan yang dipercayakan kepada kita untuk tumbuh bersama dalam komunitas kerajaan Allah.
Salah satu sikap seorang murid yang baik adalah taat/patuh kepada perintah atau aturan guru maupun institusi yang telah disepakati bersama. Sebelum menjadi murid Yesus, Simon Petrus seorang nelayan yang piawai dalam bidangnya. Ia ahli dalam hal menjala ikan. Sampai pada suatu hari dia menyadari kepiawaiannya sama sekali tak berarti dibandingkan dengan kuasa Yesus Sang Guru. Simon Petrus menyaksikan suatu kejadian yang dianggapnya sangat ajaib dan luar biasa karena tidak masuk akal menurut keahliannya sebagai nelayan handal. Sepanjang malam dia bersama teman-teman bekerja keras tidak mendapatkan apa-apa. Tetapi saat Yesus memerintahkan agar perahunya kembali ke tempat yang sama di mana mereka mengalami kegagalan sebagai nelayan, jala mereka sampai terkoyak karena begitu banyak ikan yang tertangkap. Mengapa mujizat yang luar biasa itu terjadi? Karena Simon Petrus taat/patuh kepada perintah Yesus untuk menebarkan jala di tempat yang telah digelutinya sepanjang malam tanpa hasil. Ketaatan Simon Petrus membuahkan hasil yang sangat menakjubkan. Simon Petrus tersungkur di hadapan Yesus dan merasa dirinya kecil tiada arti dan penuh dosa. Sehingga saat Yesus menyatakan ingin menjadikan mereka penjala jiwa, langsung Simon Petrus, Yakobus dan Yohanes meninggalkan pekerjaannya dan mengikut Yesus. Mungkin kita pernah mengalami kegagalan dalam bisnis, rumah tangga atau pelayanan seperti yang dialami Simon Petrus. Kita pun juga bisa mengalami mujizat dari Tuhan apabila kita taat dan patuh kepada apa yang Tuhan katakan melalui Firman-Nya yang kita baca/dengar, renungkan dan lakukan dalam hidup keseharian kita. Amin.
BARCODE BBM CHANNELS
RENUNGAN HARIAN
Sungguh Amat Baik
02 Januari '17
Resolusi Tahun Baru
20 Januari '17
Menjadi dan Menjadikan Murid Kristus
08 Januari '17
Copyright © 2012 All rights reserved. Designed and Developed by GIA Dr. Cipto Semarang