SEPEKAN TERAKHIR
  Selasa, 09 Februari 2016   -HARI INI-
  Senin, 08 Februari 2016
  Minggu, 07 Februari 2016
  Sabtu, 06 Februari 2016
  Jumat, 05 Februari 2016
  Kamis, 04 Februari 2016
  Rabu, 03 Februari 2016
DITULIS OLEH
Pdt. Goenawan Susanto
Gembala Jemaat
Renungan Lain oleh Penulis:
Home  »  Renungan  »  Menjadi Berhasil Dalam Pengenalan Akan Kristus
Menjadi Berhasil Dalam Pengenalan Akan Kristus
Minggu, 14 Juli 2013 | Tema: Bertumbuh Dalam Pengenalan Akan Allah
Menjadi Berhasil Dalam Pengenalan Akan Kristus
2 Petrus 1:3-9
Setiap manusia dilahirkan ke dunia ini sebagai bayi, setelah itu akan mengalami pertumbuhan baik secara jasmani, mental maupun rohani. Karena itu tujuan dari setiap manusia adalah bertumbuh menjadi dewasa, melalui tahap-tahap perkembangan yang normal, supaya bisa berfungsi sebagaimana manusia dewasa pada umumnya.

Demikianlah bisa digambarkan kehidupan kita di dalam Kristus. Oleh anugerah dan karya Roh Kudus-Nya kita dilahirkan menjadi ciptaan baru, manusia rohani yang memiliki kodrat ilahi (potensi kehidupan sebagai anak Allah). Ayat 4 berkata: “supaya olehnya kamu boleh mengambil bagian dalam kodrat ilahi”. Artinya, setiap kita yang lahir baru di dalam Kristus memiliki potensi untuk hidup di dalam kekudusan dan pengenalan akan Allah. Harus digaris bawahi: setiap kita! Bukan hanya orang-orang Kristen tertentu saja, misalnya hamba Tuhan, atau orang-orang Kristen yang punya karunia-karunia tertentu.

Tapi kenyataan itu tidaklah untuk membuat kita menanti dengan pasif dan beranggapan bahwa dengan sendirinya kita akan mencapai kondisi itu. Firman Tuhan berkata: “Justru karena itu kamu harus dengan sungguh-sungguh berusaha ....” (ayat 5). Usaha yang sungguh-sungguh diperlukan agar supaya kita mengalami pertumbuhan dalam pengenalan kita akan Tuhan. Dengan kata lain, kalau kita tidak berusaha dengan sungguh-sungguh maka potensi yang dianugerahkan kepada kita itu akan tersia-siakan. Pe...selengkapnya »
Kita pasti pernah mendengar sebutan duta besar, yaitu seseorang yang diutus untuk mewakili pemerintahan negaranya ke negara lain. Seorang duta besar paling tidak memiliki tiga tanggung jawab, yaitu: 1. membangun komunikasi antara dua negara; 2. Menjalankan tugas pemerintahan sesuai dengan instruksi kepala negara. Dalam arti ia tidak boleh melakukan tindakan-tindakan menurut kemauannya sendiri [sak karepe dhewe], tetapi harus hidup dan melakukan tindakan-tindakan sesuai dengan negara yang mengutusnya. Kantor kedutaan dipasang lambang negara dari negara yang mengutus, misal: kantor kedutaan Indonesia di negara lain di situ pasti dipasang lambang negara, yaitu burung Garuda dan foto kepala pemerintahan, yaitu presiden dan wakilnya, sebagai bentuk tanggung jawab terhadap negara pengutus; 3. Memperkenalkan negara pengutus kepada negara lain dalam banyak hal termasuk budaya maupun tradisi. Oleh sebab itu di kantor kedutaan, selain dipasang lambang-lambang negaranya, juga terpampang lambang-lambang budaya negara tersebut. Paulus dalam suratnya tidak saja mengingatkan kepada jemaat di Filipi, tetapi juga kepada kita bahwa kewarganegaraan kita adalah warga negara sorga. Di dunia, kita ini pendatang. Kita adalah utusan Kerajaan Sorga. Di dalam Ibrani 12:28 dijelaskan bahwa dengan percaya kepada Kristus, kita telah menerima kerajaan yang tak tergoncangkan, kerajaan kekal, yaitu Kerajaan Sorga. Sudahkah kita hidup sesuai dengan ‘negara yang mengutus’ kita, yaitu Kerajaan Sorga! Sudahkah kita memenuhi harapan yang sesuai dengan ‘negara’ yang mengutus kita, memperkenalkan ‘negara’ yang mengutus kita? Mari kita menjadi duta-duta Allah yang bertanggung jawab sesuai dengan kehendak Allah yang menempatkan kita di bumi ini.
Siapakah Allah bagi Daud? Dia mengenal Allahnya sebagai Raja [ayat 1, 11, 13 ] dan dia memproklamasikan Allahnya dalam Mazmur 145. Raja yang bagaimana? Mazmur ini mmembawa kita pada suatu perenungan akan 3 aspek dari hakekat ilahi: 1. Keagungan-Nya: “Besarlah Tuhan...” [ayat 3]. 2. Anugerah dan pengasihan-Nya: “Pengasih dan penyayanglah Tuhan...” [ayat 8]. 3. Keadilan dan kebenaranNya-: “Adillah Tuhan...” [ayat 17]. Apa yang Daud proklamasikan? 1. Aku hendak mengagungkan nama-Mu [ayat 1, 2, 21]. Daud memberikan tempat tertinggi bagi Allah yang dikenalnya sebagai Raja. Dalam ayat 1 dan 2, berturut-turut Daud berkata, “Aku hendak memuji dan memuliakan nama-Mu untuk seterusnya dan selamanya.” Bahkan di ayat terakhir Daud mengajak yang lain: “Biarlah segala makhluk memuji nama-Nya.” Daud memiliki alasan yang kuat untuk mengagungkan nama Allah-Nya. 2. Tuhan itu benar [ayat 3-7] Semua yang mengenal Allah berkewajiban berkata-kata tentang Dia. Keagungan-Nya dinyatakan dalam pekerjaan dan tindakan-Nya. Angkatan demi angkatan memegahkan dan menceritakan pekerjaan dan tindakan-Nya yang disebut sebagai perkasa, ajaib dan dahsyat. Dengan pekerjaan-pekerjaan-Nya, Allah telah memberikan berita [benar] yang utuh tentang diri-Nya. 3. Tuhan itu Pemurah [ayat 8-16] Kemurahan ilahi yang khusus terhadap umat perjanjian dan kebaikan Allah yang universal sudah seharusnya membawa ucapan terima kasih kembali kepada Allah. Terutama orang-orang yang dikasihi-Nya, kepada merekalah terletak tugas kesaksian terhadap kuasa dan perintah Tuhan yang rajawi, janji setia-Nya, tindakan anugerah-Nya dalam menopang dan memelihara. 4. Tuhan itu adil [ayat 17-20] Untuk menyatakan bahwa Tuhan itu adil dan benar sama sekali tidak bertentangan dengan mengatakan bahwa Ia pengasih dan penyayang. Keadilan-Nya hidup berdampingan dengan kebaikan-Nya. Ia perhatian terhadap mereka yang datang dekat kepada-Nya. Ia tahu apakah mereka berseru kepada-Nya dalam kesetiaan, apakah mereka takut dan mengasihi Dia, ataukah mereka termasuk orang fasik yang adalah obyek kemurkaan-Nya. KebenaranNya adalah kebenaran penuh anugerah. Anugerah yang menjadi dekat, yang menjawab, yang mendengarkan, menyelamatkan dan menjaga. [LA]
Ada seorang bapak yang kepengen belajar internet, tetapi karena usianya yang sudah cukup tua membuat dirinya susah untuk memahaminya. Akhirnya si anak mencoba mengajarinya dengan perlahan-lahan. Namun bapak terus bertanya karena tidak mudeng. Si anak pun berpikir sebelum akhirnya dia menjawab. “Gini Pak. Internet itu seumpama Kerajaan Allah. Ketika kita mau menghadap Allah, kita kan harus hidup dulu. Nah, saat masih hidup itulah, kita perlu penghubung lainnya lagi, yaitu doa. Dengan doa, kita bisa cerita apa aja ke Bapa di sorga. Itu sama kayak penghubung kabel yang saya bilang tadi, mau kabel telepon, wifi, dan lain-lainnya. Sampe sini udah paham, Pak?” “Iya Nak”, jawab sang bapak. “Abis itu, ya kita perlu tahu kita mau ngomong apa ke Tuhan ‘kan ya Pak, itulah yang kita juga kita lakukan di internet. Mau ngomong apa, mau lihat apa, mau apa aja bisa di internet, sama kayak ke Tuhan. Omongan kita itu bisa sampai ke Tuhan ‘kan karena ada Roh Kudus, tuh Pak, sebagai pihak ketiga. Nah, apa yang kita lakukan di internet bisa dipenuhi juga kalau ada pihak ketiganya, yaitu gambar kayak huruf e, o, atau gambar rubah ini.” “Oh gitu ya, Nak”, kata bapak sambil manggut-manggut. “Iya, Pak. Selain itu kita bisa terhubung dengan orang lain melalui internet, sama kayak di Kerajaan Allah. Tapi hati-hati Pak, internet juga bisa jadi sumber masalah kalau digunakan sembarangan. Ada yang memakai buat kejahatan, buat hal-hal cabul, dll. Sama kayak doa yang dipakai buat memaksa Tuhan agar menuruti kehendak kita, doa yang selalu meminta tanpa pernah bersyukur, dll.” Seringkali kita memahami Kerajaan Allah itu merupakan hidup di masa yang akan datang. Padahal kita dapat menghadirkan Kerajaan Allah dalam hidup kita hari lepas hari mulai dari sekarang. Mazmur 145:13 mengatakan bahwa Kerajaan Allah itu adalah kerajaan segala abad bukan hanya di masa depan, tetapi sekarang pun kita dapat menghadirkannya. Lalu bagaimana Kerajaan Allah bisa hadir dalam hidup kita setiap hari? Pertama, kita harus hidup terlebih dahulu. Hidup bukan sekedar hidup tetapi sudah hidup baru di dalam Kristus. Kedua, ada hubungan doa yang baik. Kamunikasi lewat doa kita kepada Tuhan membawa pembaharuan dan keintiman hubungan kita dengan Tuhan. Ketiga, ada Roh Kudus yang menuntun dan membimbing kita untuk melakukan apa yang Tuhan kehendaki. Roh Kudus menyuarakan kebenaran di dalam hidup kita. Dan Roh Kudus meluruskan jalan kehidupan kita. Kerajaan Allah dapat hadir dalam hidup kita ketika hidup kita benar di hadapan Tuhan dan terpancar melalui sikap kehidupan kita. Membawa kedamaian, membawa sukacita, dan membawa perubahan yang membuat orang lain turut merasakannya.
Keringat dingin membasahi sekujur tubuh si tambun Benay. “Wah, aku tidak kuat. Perutku memberikan sinyal minta diisi lagi”, kata Benay. “Lho, bukannya kamu sudah makan seabreg 10 menit lalu?” tanya Sambey. “Ya bagaimana lagi Sam. Ini saatnya balas dendam”, jawab Benay, “Lha wong selama 3 hari 3 malam tak sebutir nasi pun dan tak setetes air pun masuk dalam perutku.” “Lha, kok bisa begitu? Apa kamu lagi dilanda krisis ekonomi kok sampai tidak makan?” tanya Sambey lagi. “Lho apa kamu tidak tahu. Tiga hari yang lalu aku ikut program doa puasa gereja yang diadakan di lereng gunung Merapi”, kata Benay. “Wah hebat! Si jago makan berani ikut doa puasa model Ester”, kata Sambey, “Ngomong-ngomong di sana kamu sempat ketemu Mak Lampir atau tidak?” “Mak Lampir gundulmu Sam”, jawab Benay, “Yang jelas aku ketemu kekuatiran Sam. Aku kuatir kekurangan gizi karena tidak ada makanan yang masuk di kerongkonganku selama 3 hari.” “Ben, lihat perutmu yang kayak gentong itu. Tabungan gizimu itu melimpah ruah. Kurang sedikit saja kok kuatir. Sekarang malah balas dendam menimbun kalori sebanyak-banyaknya. Hati-hati Ben, jangan tamak!”, kata Sambey. “Iya...iya... aku tidak jadi makan. Kata-katamu memudarkan selera makanku”, kata Benay sambil mengembalikan piring yang hendak diisinya dengan nasi. Jemaat yang terkasih, sudah menjadi hal umum jika kelimpahan materi bisa membuat orang menjadi tamak, dan kekurangan bisa membuat orang dilanda kekuatiran. Dua hal ini bukanlah tanda hadirnya kerajaan Allah, melainkan tanda hadirnya kerajaan Mamon. Ya! Orang yang hidup dalam kerajaan Mamon menjadikan uang atau kekayaan sebagai ukuran hidupnya. Baik itu ukuran kesuksesan, kebahagiaan, harga diri, dan semacamnya. Maka hasilnya selalu adalah ketamakan dan kekuatiran. Seperti orang kaya yang tamak, yang memilih sibuk memperbesar lumbung-lumbungnya karena panen yang luar biasa sehingga lupa untuk bersedekah. Ia menggantungkan kesejahteraan jiwanya pada kekayaannya yang melimpah. Padahal ketika jiwanya diambil Tuhan, kekayaannya itu tidak dapat menolongnya dan ia tidak mempunyai “tabungan” di sorga. Sebaliknya orang-orang yang miskin terus dihajar oleh kekuatiran akan jaminan sandang-pangannya. Kekuatiran yang membuat mereka lupa bahwa mereka pemilik kerajaan Allah [ayat 32]. Tuhan mau umat-Nya menjadikan kerajaan Allah sebagai pusat hidup mereka sehingga tercipta semangat berbagi. Yang kaya tidak tamak dan yang miskin tidak kuatir [ayat 33-34]. Jemaat yang terkasih, menciptakan semangat berbagi sebagai wujud kehadiran kerajaan Allah dalam hidup kita bukanlah tindakan yang mudah. Mengingat kekuasaan kekayaan telah merasuk dalam sendi-sendi kehidupan kita. Ketamakan di satu sisi dan kekuatiran di sisi lain mudah kita dapati dalam kehidupan sehari-hari. Oleh sebab itu, sebagai warga kerajaan Allah, marilah kita belajar dalam pimpinan Roh Kudus untuk menjadi orang yang mampu peduli dan bersedekah sehingga ketamakan dan kekuatiran dapat kita lawan. Selamat menjalani hidup sebagai warga kerajaan Allah.
BARCODE BBM CHANNELS
RENUNGAN HARIAN
Mengenal dan Memproklamasikan Allah
22 Januari '16
Si Mungil Yang Menjadi Tempat Bernaung
27 Januari '16
Bekerja Bersama Yesus
30 Januari '16
Copyright © 2012 All rights reserved. Designed and Developed by GIA Dr. Cipto Semarang