SEPEKAN TERAKHIR
  Kamis, 05 Maret 2015   -HARI INI-
  Rabu, 04 Maret 2015
  Selasa, 03 Maret 2015
  Senin, 02 Maret 2015
  Minggu, 01 Maret 2015
  Sabtu, 28 Februari 2015
  Jumat, 27 Februari 2015
DITULIS OLEH
Pdt. Goenawan Susanto
Gembala Jemaat
Renungan Lain oleh Penulis:
Home  »  Renungan  »  Menjadi Berhasil Dalam Pengenalan Akan Kristus
Menjadi Berhasil Dalam Pengenalan Akan Kristus
Minggu, 14 Juli 2013 | Tema: Bertumbuh Dalam Pengenalan Akan Allah
Menjadi Berhasil Dalam Pengenalan Akan Kristus
2 Petrus 1:3-9
Setiap manusia dilahirkan ke dunia ini sebagai bayi, setelah itu akan mengalami pertumbuhan baik secara jasmani, mental maupun rohani. Karena itu tujuan dari setiap manusia adalah bertumbuh menjadi dewasa, melalui tahap-tahap perkembangan yang normal, supaya bisa berfungsi sebagaimana manusia dewasa pada umumnya.

Demikianlah bisa digambarkan kehidupan kita di dalam Kristus. Oleh anugerah dan karya Roh Kudus-Nya kita dilahirkan menjadi ciptaan baru, manusia rohani yang memiliki kodrat ilahi (potensi kehidupan sebagai anak Allah). Ayat 4 berkata: “supaya olehnya kamu boleh mengambil bagian dalam kodrat ilahi”. Artinya, setiap kita yang lahir baru di dalam Kristus memiliki potensi untuk hidup di dalam kekudusan dan pengenalan akan Allah. Harus digaris bawahi: setiap kita! Bukan hanya orang-orang Kristen tertentu saja, misalnya hamba Tuhan, atau orang-orang Kristen yang punya karunia-karunia tertentu.

Tapi kenyataan itu tidaklah untuk membuat kita menanti dengan pasif dan beranggapan bahwa dengan sendirinya kita akan mencapai kondisi itu. Firman Tuhan berkata: “Justru karena itu kamu harus dengan sungguh-sungguh berusaha ....” (ayat 5). Usaha yang sungguh-sungguh diperlukan agar supaya kita mengalami pertumbuhan dalam pengenalan kita akan Tuhan. Dengan kata lain, kalau kita tidak berusaha dengan sungguh-sungguh maka potensi yang dianugerahkan kepada kita itu akan tersia-siakan. Pe...selengkapnya »
1 Petrus 4:7-11 Layanilah seorang akan yang lain, sesuai dengan karunia yang telah diperoleh tiap-tiap orang sebagai pengurus yang baik dari kasih karunia Allah. Restoran yang bagus pasti memberikan ’good service.’ Demikian juga hotel yang bagus, toko yang bagus, apartemen yang bagus, perusahaan yang bagus dan semua yang bagus pasti memberikan ’good service’. Tapi good service pasti harus dibayar dengan biaya yang mahal. Tidak ada good service yang murahan, apalagi gratisan. Memang itulah hukum ekonomi: ’ada harga, ada rupa.’ Karena itu siapapun yang ingin mendapatkan imbalan yang bagus, dia harus memberikan service yang bagus. Itu namanya adil. Firman Tuhan mengajar kita sesuatu yang berbeda dengan yang diajarkan dunia ini. Memang dunia ini menganjurkan agar kita memberikan good service, bahkan kalau perlu yang excelent, supaya kita mendapatkan penghargaan yang tinggi. Tetapi Firman Tuhan mengajar kita untuk melayani, bahkan memberikan ’good service’, bukan untuk kepentingan diri kita. Kita melayani oleh karena kita mendapat kepercayaan sebagai pengurus (pengelola) dari kasih karunia Allah. Jadi melayani itu bukan untuk mengejar sesuatu yang bernilai, tetapi karena kita sudah punya sesuatu yang bernilai tinggi. Karunia berasal dari kata Yunani ’kharis,’ yang berarti pemberian yang cuma-cuma. Karunia adalah pemberian yang kita terima dari Allah, meskipun kita tidak layak untuk menerimanya. Jika kita menerima suatu pemberian oleh karena kita telah mengerjakan sesuatu yang diwajibkan, maka itu namanya upah. Karunia tidak mensyaratkan kita untuk mengerjakan sesuatu. Karunia semata-mata diberikan oleh karena Allah mengasihi kita dan berkenan memberikannya kepada kita. Cobalah kita mengingat berapa banyak pemberian yang kita terima dari Allah, meskipun kita tidak layak untuk menerimanya. Selain keselamatan yang telah kita terima, ada banyak macam pemberian yang Allah berikan kepada kita: kesehatan, talenta, keberuntungan, kesempatan, orang-orang yang baik di sekitar kita, dan sebagainya. Tidak ada yang kebetulan dengan semua itu. Semuanya dihadirkan bagi kita oleh tangan Allah yang penuh kebaikan. Jika kita menyadari semua itu, tidakkah hati kita akan dipenuhi rasa syukur? Tidakkah jiwa kita ingin melakukan yang terbaik karena semua kepercayaan yang Allah berikan kepada kita? Itulah arti pelayanan bagi orang yang percaya kepada Tuhan Yesus. Amin.
Suatu saat saya diajak seorang teman untuk ikut kegiatan jalan santai yang dipusatkan di Simpang Lima, tetapi saya menolaknya karena memang tidak bisa. Kemudian dia berkata, “ Wah, sayang banget kamu tidak ikut. Acaranya menarik, apalagi ada door prizenya lho. Hadiah utamanya sebuah mobil.” Kemudian saya memberi alasan, “Iya... ya, sayang sekali. Siapa tahu ketiban rejeki nomplok dengan mendapatkan mobil. Tetapi saya memang benar-benar tidak bisa ikut. Waktunya yang ndak pas.” Door prize bisa kita temukan dalam kegiatan olahraga, pernikahan, perayaan ulang tahun, dan bahkan kegiatan ibadah. Acara ini identik dengan kegiatan memberi atau acara bagi-bagi hadiah. Setiap orang pasti tertarik olehnya, apalagi kalau hadiah-hadiahnya banyak dan mahal. Tetapi kalau ditelisik lebih dalam, ternyata aktivitas tersebut tidak sepenuhnya bertujuan memberi atau bagi-bagi hadiah. Tujuan utamanya adalah menarik minat sebanyak mungkin orang untuk terlibat dalam sebuah acara atau kegiatan. Dan juga tentunya, supaya peserta tidak pulang dulu sampai akhir acara. Sehingga dengan adanya door prize akan mendukung suksesnya sebuah penyelenggaraan acara. Tema bulan ini adalah Love in Action. Kasih yang dinyatakan dalam tindakan. Kasih yang didasarkan pada anugerah Allah yang luar biasa bagi umat manusia di mana Allah telah menjadi manusia untuk keselamatan. Ini menunjukkan bahwa Allah di dalam Yesus Kristus adalah Allah yang “membumi”. Allah yang bersedia menyapa manusia dalam kesederhanaan. Allah yang solider dan turut merasakan keterpurukan dan ketidakberdayaan manusia karena dosa. Dan kedatangan-Nya ke dunia sebagai wujud kasih-Nya adalah dalam rangka mengentaskan manusia dari kehinaan dan ketercelaannya kepada harkat dan martabat yang mulia. Serta memberdayakan kembali manusia sebagai rekan kerja-Nya. Itulah makna pemberian yang terbesar dari Allah bagi umat manusia. Hal tersebut mengajarkan bahwa tindakan kasih kita kepada sesama bukan untuk menyingkirkan barang [benda] yang sudah tidak terpakai dan memenuhi rumah kita. Pemberian kita bukan bertujuan untuk menunjukkan eksistensi dan peran kita. Juga tidak untuk membuat seseorang terikat dan merasa ewuh pekewuh terhadap kita. Juga bukan untuk mempertegas perbedaan jarak atau kesenjangan antara yang memberi dan menerima. Bahkan juga bukan sekedar untuk menyukseskan sebuah program atau acara gereja. Tetapi hendaknya tindakan kasih kita merupakan ekspresi kepedulian yang didasari sikap berempati. Juga merupakan niat baik kita untuk mengentaskan dan memuliakan sesama. Menempatkan sesama sebagai pribadi yang sederajat dan harus dikasihi dengan tulus. Memandang sesama sebagai subyek yang harus dikasihi dan juga dilibatkan dalam mengasihi.
Di dalam diri kita ada potensi-potensi besar yang bisa membuat kita berkembang atau bertumbuh. Pusatnya ada di dalam hati kita masing-masing. Nah, apa yang tersimpan di dalam hati itulah yang akan mendorong kita untuk melakukan sesuatu. Hati kita diibaratkan sebagai lahan yang subur [berpotensi] untuk mendorong dan mengerjakan banyak hal. Tergantung benih apa [motivasi apa] yang ada di dalam hati kita. Jika di dalam hati kita tertanam benih-benih, yaitu firman Tuhan [ayat 21b], dan kita tidak saja mengetahui Firman tetapi juga melakukannya [ayat 22], maka benih Firman itu berkuasa untuk menyelamatkan jiwa kita [ayat 21b]. Dan ketika kita sudah menjadi dewasa iman karena senantiasa menerima firman Tuhan, maka saatnya kita juga menabur berbagai kebaikan dan kebenaran dari firman Tuhan kepada orang lain. Oleh sebab itu sudahkah hati kita terlebih dulu dipenuhi benih Firman? Sebab apa yang kita tabur adalah apa yang kita terima dari Tuhan. Janganlah kita mengumbar hawa nafsu untuk memuaskan kedagingan sesaat, sebab itu kekotoran dan kejahatan yang hanya menyesatkan dan menghancurkan jiwa manusia [ayat 21a]. Tetapi jadilah pelaku Firman dengan menabur banyak kebajikkan, bukan supaya kita memperoleh keuntungan balik dari orang lain, melainkan dengan hati yang ikhlas. Ingatlah bahwa Firman yang ada di hati kita akan membantu kita untuk melakukan banyak kebajikan. Masalahnya adalah apakah yang menguasai hati kita? Jika yang menguasai adalah benih firman Tuhan, maka kita akan dituntun untuk melakukan banyak hal kebajikan untuk memberkati banyak orang. Tetapi jika keegoisan tetap menguasai hati kita, maka selamanya apa yang kita pikirkan dan lakukan hanya hitung-hitungan bagaimana supaya tetap menguntungkan diri kita sendiri. Menabur sedikit, tetapi berhasrat mendapatkan kembali berlipat-lipat adalah hal yang tidak fair.
Seorang teman di tempat saya bekerja memiliki kebiasaan yang aneh, yaitu mencatat kesalahan-kesalahan yang dilakukan oleh rekan-rekan kerjanya. Pada saat meeting, kami semua sudah bisa menebak apa yang akan dilakukannya bila giliran diberi kesempatan untuk berbicara, yaitu dia pasti akan membuka catatannya dan mulai membacakan semua kesalahan kami satu persatu. Nama sayapun tidak luput dari catatan hariannya. Sebenarnya kami punya kesempatan untuk melakukan hal yang sama terhadapnya, tapi tidak ada satupun di antara kami yang “membalas” meskipun dia sendiri sering melakukan kesalahan, bahkan jenis kesalahannya lebih fatal dari yang kami lakukan. Saya tidak bisa membayangkan seandainya Tuhan kita berbuat seperti teman saya, mencatat semua kesalahan, dosa, dan pelanggaran kita. Pasti catatannya akan sangat panjang, membutuhkan kertas beribu-ribu lembar. Dan sudah pasti kita tidak akan mempunyai nyali untuk datang kepada-Nya, memohon pertolongan-Nya, bahkan untuk sekedar curhat karena kita takut Dia akan membuka dan membacakan catatan dosa kita. Tetapi kita patut bersyukur karena kasih-Nya yang besar kepada kita, sehingga Dia tidak pernah mengingat lagi segala dosa dan pelanggaran yang pernah kita lakukan seperti yang diungkapkan oleh Raja Daud dalam kitab Mazmur 103:12, “Sejauh timur dari barat demikian dijauhkan-Nya dari pada kita pelanggaran kita.” Tuhan Yesus sudah memberikan teladan pada kita dengan mengasihi dan menjauhkan pelanggaran-pelanggaran yang kita lakukan, bagaimana dengan kita? Apakah kita masih menyimpan kesalahan, kekecewaan, sakit hati dari teman atau keluarga kita? Apakah masih pantas kita membalas dendam atas semua perlakuan orang lain yang jahat terhadap kita? Sebagai orang yang sudah ditebus, diampuni dosanya, dan merasakan kebesaran kasih-Nya, tidak perlu kita membalas perlakukan tidak menyenangkan orang lain terhadap kita. Lukas 6:27-28 mengajarkan bagaimana seharusnya kita memperlakukan orang yang membenci kita. Mengasihi, berbuat baik, memberkati, dan mendoakan mereka. Itu yang seharusnya kita lakukan. Siapkah kita melakukan itu semua?
BARCODE BBM CHANNELS
RENUNGAN HARIAN
Bukan Door Prize
25 Februari '15
Penuhi Hati Dengan Benih Firman
04 Maret '15
Kasih Tanpa Diskriminasi
17 Februari '15
Copyright © 2012 All rights reserved. Designed and Developed by GIA Dr. Cipto Semarang