SEPEKAN TERAKHIR
  Jumat, 09 Desember 2016   -HARI INI-
  Kamis, 08 Desember 2016
  Rabu, 07 Desember 2016
  Selasa, 06 Desember 2016
  Senin, 05 Desember 2016
  Minggu, 04 Desember 2016
  Sabtu, 03 Desember 2016
POKOK RENUNGAN
“Pujilah Allah senantiasa, karena anugerah-Nya telah menyelamatkan kita di dalam Tuhan Yesus Kristus. Pujilah Allah karena hikmat dan pikiran-Nya tak terselami oleh siapa pun di dunia ini.”
DITULIS OLEH
Pdt. Y. Agus Santoso
Rohaniwan Pusat
Renungan Lain oleh Penulis:
Home  »  Renungan  »  Semua Untuk Kemuliaan Allah
Semua Untuk Kemuliaan Allah
Rabu, 20 Maret 2013 | Tema: Umat Yang Memasyurkan Allah
Semua Untuk Kemuliaan Allah
Roma 11:33-36
Kita sering bernyanyi “mulia, mulia bagi Anak domba....” Kadang kita juga menyanyikan “segala puji syukur bagi-Mu, kutinggikan nama-Mu selalu...” dan banyak lagi pujian lain yang syairnya senada dengan lagu pujian tersebut. Apa sebenarnya pesan yang hendak disampaikan kepada umat Allah saat pujian tersebut dinyanyikan? Bacaan renungan pagi ini berkisah tentang pujian bagi kemuliaan Allah. Ayat yang kita baca lebih dikenal sebagai teologi pujian bagi Allah. Mengapa penulis menuliskan hal ini untuk disampaikan kepada jemaat? Pesan apa yang hendak disampaikan?

Berdasarkan bacaan ayat-ayat sebelumnya dan sesudahnya, sebenarnya Rasul Paulus, sebagai penulis surat ini, sangat kagum de...selengkapnya »
Siap Sedialah Matius 24:37-44 Sebab itu, hendaklah kamu juga siap sedia, karena Anak Manusia datang pada saat yang tidak kamu duga.’ [ayat 44] Pada saat kita naik sepeda motor kita diharuskan memakai helm. Apa perlunya? Perlunya adalah untuk berjaga-jaga, bila sewaktu-waktu terjadi kecelakaan, kita tidak akan mengalami akibat yang fatal. Tapi berkali-kali kita sudah mengenakan helm saat naik sepeda motor, toh tidak mengalami kecelakaan. Jadi kalau begitu apakah selama ini kalau kita memakai helm saat naik sepeda motor itu tidak ada gunanya, karena tidak mengalami kecelakaan? Kita tidak bisa berkata bahwa memakai helm itu tidak ada gunanya walaupun tidak terjadi kecelakaan. Karena tidak ada seorang pun yang tahu apa yang akan terjadi. Kita tidak bisa memastikan apa yang akan terjadi dengan diri kita saat naik sepeda motor. Yang bisa dan perlu kita lakukan hanyalah bersiap sedia. Kalau seandainya terjadi kecelakaan kita tidak akan mengalami akibat yang fatal. Sejak dulu kita sudah disuruh untuk bersiap sedia, menanti kedatangan Kristus. Tapi toh Tuhan Yesus belum datang juga. Apakah kalau demikian berjaga-jaga menanti kedatangan Kristus tidak ada gunanya? Kita tidak bisa berkata demikian. Kenapa? Karena kita tidak tahu apa yang akan terjadi di depan kita. Kita tidak tahu kapan Tuhan Yesus datang kembali. Kita juga tidak tahu dengan umur kita kapan kita harus kembali kepada Tuhan. Karena kita tidak tahu apa yang akan terjadi, maka seharusnya kita bersiap sedia dengan segala kemungkinan yang bisa terjadi. Maka berjaga-jaga menanti kedatangan Tuhan Yesus adalah pilihan yang paling tepat, agar kita selamat. Kalau kita selalu berjaga-jaga, seandainya Tuhan datang nanti malam pun kita sudah siap. Tetapi kalau kita tidak berjaga-jaga siapa yang tahu apa yang akan terjadi? Apa jadinya jika seandainya, mungkin bukan Tuhan yang datang kembali, tapi kita yang dipanggil untuk kembali kepada-Nya? Berjaga-jagalah, supaya apabila sewaktu-waktu Tuhan datang kembali atau kita yang kembali kepada Tuhan, kita didapati dalam keadaan siap. Tuhan memberkati. Pdt. Goenawan Susanto
Pagi itu seorang ibu tidak berangkat kerja karena sedang mengambil cuti. Ia tinggal sendiri di rumah karena anak- anak pergi sekolah dan suami bekerja. Hari itu ibu tersebut tidak sedikit pun berprasangka buruk. Juga tidak mempunyai firasat apa yang akan terjadi ketika ia tinggal di rumah sendiri. Dia menggangap rumah mereka adalah tempat yang aman, tidak mungkin ada orang-orang yang jahat sekalipun untuk mengganggu ataupun membuat masalah dengan tempat tinggalnya. Ketika si ibu sedang mandi, seperti biasa ia tidak menutup pintu dan pagar rumah. Namun apa yang terjadi pagi itu di luar dugaannya. Setelah selesai mandi, ia kaget ketika bermaksud akan menelepon temannya. Handphone yang ditaruhnya di atas meja telah raib. Ternyata ketika ia mandi, ada orang masuk dan mengambil Hpnya. Tetangga dan orang yang ada di depan rumahnya tidak ada yang mengetahui siapa yang telah masuk ke rumahnya. Pencuri tersebut masuk rumah ketika si ibu mengganggap semua aman dan berpikir tidak mungkin ada orang jahat yang masuk. Ia tidak sadar bahwa pencuri bisa datang kapan saja saat ia terlena. Demikian juga Tuhan Yesus mengingatkan kita akan kedatangan-Nya yang kedua ke dunia tidak akan pernah kita ketahui. Dia datang tiba-tiba seperti pencuri [Wahyu 3:3]. Kedatangan-Nya tidak pernah diberitahukan kepada kita sehingga kadang kita mengganggapnya sepele. Kesalahan yang seringkali terjadi saat menanti kedatangan Tuhan Yesus adalah adanya orang-orang yang berusaha menghitung waktu kedatangan-Nya dengan menafsirkan arti hal-hal yang bersifat simbolis di dalam Alkitab secara harfiah. Juga sikap tidak peduli terhadap kedatangan Tuhan Yesus yang kedua kali atau menganggap kedatangan-Nya itu masih lama. Bagaimanakah sikap yang tepat dalam menantikan kedatangan-Nya? Sikap hidup yang seharusnya kita bangun adalah pertama, sikap berjaga-jaga dengan cara tetap menjaga kekudusan hidup, mentaati setiap perintah dan kehendak-Nya [ayat 6]; kedua, tetap sadar dengan cara berbaju-zirahkan iman dan kasih, dan berketopong pengharapan keselamatan [ayat 8]. Rasul Paulus menganjurkan agar kita saling membangun dan saling menasehati agar ketika Dia datang, semua siap sedia. Kita semua harus menyadari bahwa waktu kedatangan Tuhan Yesus yang kedua kali sudah semakin dekat. Dia bisa saja datang tahun ini atau bulan ini, bahkan bisa saja datang hari ini! Apakah kita sudah siap bila Tuhan Yesus datang hari ini? Sudahkah kita menjalani hidup sesuai dengan perintah dan kehendak Tuhan serta menjaga kekudusan hidup? Marilah kita bersiap diri menanti kedatangan-Nya yang kedua dengan siap sedia setiap saat.
Ketika masih tinggal di desa, kami memiliki pohon sirsat yang sudah lama tumbuh dan berbuah, namun buahnya tidak pernah bisa dimakan karena terlalu asam. Akibatnya ketika pohon ini berbunga, bunganya selalu saya ambil untuk bermain. Bahkan oleh orangtua saya, daunnya selalu diambil untuk makanan ternak dan rantingnya kami pergunakan untuk kayu bakar. Suatu hari seorang tetangga datang ke rumah kami. Tiba-tiba menghampiri saya sambil berkata, “Loh apa gak sayang, kok bunganya diambil. Kan kalau berbuah bisa di makan.” Ayah saya menjawab dengan santainya, ”Percuma berbunga, wong buahnya tidak bisa dimakan, kecut semua!” Kemudian tetangga tersebut memberikan resep supaya pohon sirsat tersebut dikerat dan dibuka kulitnya, kemudiaan diberi gula jawa atau pemanis. Secara nalar, tidak mungkin cara ini mampu menghasilkan rasa manis. Tetapi hasilnya nyata, bunga yang kami biarkan berbuah itu mengasilkan buah yang manis. Dan mulai saat itu kami membuat kebiasaan. Jika pohon sirsat kami mulai berbunga, maka kulitnya kami kerat dan disisipi pemanis atau gula. Pengalaman di atas menggambarkan kehidupan iman kita sebagai pengikut Kristus. Kita perlu keratan-keratan yang kemudian diberi pemanis agar kita dapat menjadi berkat bagi orang lain dan membawa kemuliaan bagi Tuhan [Roma 8:28]. Setiap orang berbeda-beda keratannya. Ada yang dalam, ada yang dangkal, semua Tuhan yang mengatur agar kita setelah menerima keratan itu dapat merasakan pemeliharaan Tuhan. Keratan tersebut adalah ujian hidup yang harus kita alami dan lewati. Jika kita mampu, maka Tuhan akan menyatakan upahnya. Seperti halnya yang dialami oleh seorang janda nabi yang harus menanggung hutang dan anak-anaknya perempuan akan diambil penagih hutang. Janda nabi tersebut mengalami penderitaan karena hutangnya walaupun almarhum suaminya adalah seorang abdi Allah. Keluarga janda ini akhirnya terlepas dari jerat hutang setelah: pertama, menyerahkan perkaranya kepada Tuhan melalui nabi Elisa [ayat 1]; kedua, mendengar nasihat Elisa [ayat 3-4]; ketiga, melakukan perintah sang nabi [ayat 5-7]. Dan hasilnya janda itu tidak hanya bisa membayar hutang, tetapi juga dapat hidup dari hasil penjualan minyak. Janda itu mungkin tidak pernah menyangka bahwa minyak di dalam buli-buli itu bisa memenuhi bejana-bejana kosong hingga semua penuh. Janda itu telah mendapatkan penyataan kuasa Allah setelah sekian lama dihadapkan dengan masalah kesulitan ekonomi. Justru dengan kesulitannya itulah janda itu merasakan pertolongan Tuhan. Apapun yang kita alami sekarang, Tuhan jauh lebih tahu apa yang terbaik. Kita tahu bahwa ujian yang kita alami menghasilkan ketekunan, dan ketekunan menghasilkan buah yang matang, dan buah itu menjadi berkat [Yakobus 1:3-4].
Pada waktu terjadi erupsi gunung Merapi beberapa tahun yang lalu, orang yang tersibuk adalah mereka yang berada di wilayah ring satu. Di mana mereka selama berhari-hari tanpa mengenal lelah terus menerus memantau perkembangan gunung Merapi. Dengan menggunakan Seismograf, mereka secara cermat dapat memprediksi kapan gunung tersebut mengeluarkan ledakan. Begitu juga masyarakat yang tinggal di wilayah ring satu sampai tiga yang pada waktu itu sudah mengungsi di wilayah aman, mereka juga terus menerus waspada dan berjaga-jaga karena erupsi bisa saja terjadi secara tiba-tiba seperti yang terjadi ketika rombongan peduli bencana Merapi GIA Dr. Cipto berkunjung ke tempat pengungsi di wilayah Klaten. Siang hari sebelum rombongan pulang, erupsi kembali terjadi. Suasana sangat mencekam. Sirine dan kentongan terus menerus dibunyikan supaya masyarakat menjauh dari lokasi kejadian. Asap hitam pekat bercampur pasir dan batu kembali terlontar ke udara. Ya, terus berjaga-jaga dan waspada itulah yang dilakukan oleh petugas penanggulangan bencana dan masyarakat. Demikian halnya kedatangan Tuhan Yesus kedua kali juga memerlukan perhatian dan kewaspadaan kita. Meskipun sudah banyak tanda diberikan dan mulai tergenapi, namun kita semua tetap belum dapat memastikan dengan jelas kapan Tuhan Yesus akan datang kembali. Namun hal yang sangat menguatkan, meneguhkan dan memberi pengharapan kepada kita adalah Firman Allah. Nats bacaan hari ini menuntun kita bagaimana harus mempersiapkan diri menghadapi kedatangan Tuhan Yesus kedua kali. Pertama, menjelaskan bahwa hari kedatangan-Nya terjadi secara tiba-tiba dan tidak dapat diprediksi sebelumnya seperti pencuri di malam hari atau seperti seorang perempuan yang hamil tua dan siap untuk melahirkan. Jadi kita harus senantiasa berjaga-jaga [ayat 1-3]. Kedua, kita termasuk golongan anak-anak siang [terang] yang bisa membaca tanda-tanda yang ada, sehingga peristiwa itu bukanlah sesuatu yang menakutkan dan mengejutkan, tetapi sebuah pengharapan bagi kita [ayat 4-7]. Ketiga, Kita diminta senantiasa berjaga-jaga dan siap sedia setiap waktu karena kedatangan-Nya terjadi secara tiba-tiba [ayat 8-9]. Janji Tuhan Yesus yang meneguhkan bahwa kita semua tidak dirancang untuk mengalami celaka pada waktu hari itu tiba tetapi dirancang untuk bersuka cita sebab kita semua akan diselamatkan dari hal itu. Menyikapi keadaan zaman ini, marilah kita lebih sungguh-sungguh lagi mempersiapkan diri untuk menyambut kedatangan-Nya kembali dengan hidup lebih intim bersama Tuhan Yesus dan menjaga kekudusan hidup dengan menjauhi segala dosa dan kejahatan supaya pada waktu Dia datang kembali, kita termasuk pribadi-pribadi yang berkenan kepada-Nya.
BARCODE BBM CHANNELS
RENUNGAN HARIAN
Siap Sedialah
04 Desember '16
Menjadi Manis Setelah Terluka
16 November '16
Mengapa Harus Dewasa ?
24 November '16
Copyright © 2012 All rights reserved. Designed and Developed by GIA Dr. Cipto Semarang