SEPEKAN TERAKHIR
  Selasa, 27 Januari 2015   -HARI INI-
  Senin, 26 Januari 2015
  Minggu, 25 Januari 2015
  Sabtu, 24 Januari 2015
  Jumat, 23 Januari 2015
  Kamis, 22 Januari 2015
  Rabu, 21 Januari 2015
POKOK RENUNGAN
“Pujilah Allah senantiasa, karena anugerah-Nya telah menyelamatkan kita di dalam Tuhan Yesus Kristus. Pujilah Allah karena hikmat dan pikiran-Nya tak terselami oleh siapa pun di dunia ini.”
DITULIS OLEH
Pdt. Y. Agus Santoso
Rohaniwan Pusat
Renungan Lain oleh Penulis:
Home  »  Renungan  »  Semua Untuk Kemuliaan Allah
Semua Untuk Kemuliaan Allah
Rabu, 20 Maret 2013 | Tema: Umat Yang Memasyurkan Allah
Semua Untuk Kemuliaan Allah
Roma 11:33-36
Kita sering bernyanyi “mulia, mulia bagi Anak domba....” Kadang kita juga menyanyikan “segala puji syukur bagi-Mu, kutinggikan nama-Mu selalu...” dan banyak lagi pujian lain yang syairnya senada dengan lagu pujian tersebut. Apa sebenarnya pesan yang hendak disampaikan kepada umat Allah saat pujian tersebut dinyanyikan? Bacaan renungan pagi ini berkisah tentang pujian bagi kemuliaan Allah. Ayat yang kita baca lebih dikenal sebagai teologi pujian bagi Allah. Mengapa penulis menuliskan hal ini untuk disampaikan kepada jemaat? Pesan apa yang hendak disampaikan?

Berdasarkan bacaan ayat-ayat sebelumnya dan sesudahnya, sebenarnya Rasul Paulus, sebagai penulis surat ini, sangat kagum dengan karya, hikmat, dan pikiran Allah sebagai perencana segala sesuatu secara sempurna. Khususnya dalam hal keselamatan manusia dari dosa melalui karya Tuhan Yesus di kayu salib. Pujian tersebut hendak menyatakan bahwa bangsa Israel sebagai umat pilihan Allah (berdasarkan perjanjian Allah dengan Abraham) sedang menegarkan hatinya. Maka saat ini bangsa Israel sedang dibiarkan Allah untuk sementara waktu. Sekarang Allah mau berurusan dengan bangsa-bangsa lain untuk membentuk umat yang baru, yang dikenal dengan sebutan gereja. Setelah jumlahnya cukup dan waktu kunjungan Allah untuk bangsa-bangsa lain sudah selesai, maka Allah akan kembali berurusan dengan bangsa Israel (ayat 7-25).

Semakin kita merenungkan pekerjaan Allah, semakin kita memuji Allah karena hanya DIA-lah Allah yang mampu mengerjakan segala sesuatu dengan sempurna untuk kepentingan umat manusia...selengkapnya »
Moment menjelang Natal seperti sekarang ini mengingatkan Sambey akan sukacitanya ketika masih menjadi bagian anak-anak sekolah minggu. Saat itu bayangan akan kado Natal dari gereja, hadiah dari paman dan bibinya, hadir dalam angan-angannya. Sekarang hal itu jauh dari angannya. Sebagai orang yang beranjak dewasa, Sambey justru berpikir untuk melakukan sesuatu bagi orang lain. Setelah sejenak merenung, Sambey berencana untuk membeli makanan ringan dengan uang sejumlah Rp. 250.000,- yang ia miliki. Ia membungkus makanan-makanan ringan itu menjadi 50 paket plastik. Keesokan harinya ia membagi-bagikannya kepada anak-anak jalanan yang sering ia temui saat berangkat kuliah. Sambey bukanlah anak orang kaya. Kuliahnya selama ini dibiayai oleh pamannya. Orangtuanya hanya mampu memberi sedikit uang saku untuk keperluannya sehari-hari. Namun demikian, kondisi serba pas-pasan itu tidak menghalanginya untuk berbagi kasih. Sambil membagikan paket makanan ringan, Sambey berpesan pada anak-anak agar kondisi yang mereka alami tidak menghalangi mereka untuk berbagi kasih kepada orang lain. Sudah miskin, mengalami pencobaan berat, tentu adalah kondisi yang penuh penderitaan. Kondisi itulah yang dialami oleh jemaat Makedonia. Jemaat Makedonia harusnya layak menerima bantuan atas kondisi memprihatinkan yang mereka alami. Tetapi yang terjadi sebaliknya, mereka justru menjadi salah satu pemberi bantuan untuk Jemaat Yerusalem. Perbuatan kasih ini begitu memukau hati Rasul Paulus sehingga ia menjadikan mereka contoh untuk diteladani oleh Jemaat Korintus yang adalah jemaat kaya. Pengalaman ini menunjukkan bahwa jemaat miskin tidak selalu berarti jemaat yang pelit, dan jemaat kaya tidak selalu berarti adalah jemaat yang gemar memberi. Jemaat Makedonia miskin harta, tetapi kaya kemurahan. Sedangkan Jemaat Korintus kaya harta, tetapi miskin kemurahan. Jemaat yang terkasih. Tuhan menghendaki setiap orang percaya mempunyai kemurahan hati kepada sesamanya. Itu tidak ditentukan apakah kita sudah kaya atau masih miskin. Jemaat yang kaya tentu dituntut memberi lebih banyak daripada jemaat yang lain. Tetapi janganlah jemaat yang kurang kaya atau miskin sekedar menjadi penerima saja. Kalau kita suka menerima pemberian, hendaklah kita juga suka memberi. Karena lebih baik tangan di atas daripada tangan di bawah. Lebih baik memberi daripada menerima. SELAMAT BERBAGI KASIH!
UP. Itu adalah sebuah judul film animasi yang populer dan mendapatkan banyak penghargaan di tahun 2009. Film UP mengisahkan tentang sebuah impian 2 orang sahabat untuk memiliki rumah di Paradise Fall, sebuah tanah di atas air terjun di Amerika Selatan. Kisahnya diceritakan sangat dramatik. Dua orang sahabat tersebut kemudian menjadi suami isteri. Namun impiannya untuk memiliki rumah di Paradise Fall banyak menemui hambatan. Yang menarik bagi saya adalah ketika sang isteri meninggal, Carl (tokoh utama dari film ini) tetap ingin mewujudkan impian mereka. Demi cinta dan semua kenangan mereka, Carl membawa seluruh bangunan rumah beserta isinya untuk terbang menuju Paradise Fall dengan menggunakan balon yang jumlahnya ribuan. Walaupun dengan banyak tantangan dan kemustahilan, akhirnya Carl berhasil mewujudkan impiannya. Film di atas merupakan sebuah kisah yang indah tentang kekuatan cinta yang mengalahkan kemustahilan. Bisa dikatakan juga sebagai inspirasi pengorbanan karena cinta. Kisah pengorbanan seperti itu pun tergambar di nats yang kita baca hari ini. Dalam nats ini digambarkan sebuah pengorbanan yang sangat ekstrem, yaitu dengan menyerahkan tubuh untuk dibakar demi memberi untuk orang lain. Namun yang berbeda dengan kisah Carl di atas adalah pengorbanan di ayat ini dilakukan tanpa kasih. Hal yang sangat mengherankan adalah Firman Tuhan mengatakan “pengorbanan” itu tidak ada gunanya sama sekali. Ternyata menurut Firman Tuhan, tolok ukur segala tindakan adalah kasih. Entah besar atau kecil perbuatan kita, kasihlah yang membuatnya berguna. Kisah seorang bernama Dorkas dalam Kisah Para Rasul 9:36 mencontohkan kepada kita betapa perbuatan kasih itu menimbulkan sukacita dan kesan bagi orang lain. Lain halnya dengan apa yang diperbuat Allah Bapa bagi orang berdosa. Ia memberikan Anak Tunggal-Nya sebagai tebusan supaya setiap orang berdosa yang percaya akan diselamatkan. Hal ini pun menimbulkan kesan, sukacita, damai, bahkan keselamatan bagi orang lain. Demikianlah, jika kita melakukan segala perbuatan oleh karena kasih, maka akan ada banyak dampak positif, tidak hanya bagi orang lain, tapi juga bagi kita, bahkan kita akan memuliakan Bapa di surga.
Akhir-akhir ini ada yang berubah dari diri Benay. Ia masih terlibat kegiatan di komisi pemuda, latihan musik dan latihan tamborine. Tetapi ia tampak kurang fokus, sering terlambat, dan terburu-buru. Gejala yang tak biasa ini ditangkap oleh kawan-kawan Benay. Termasuk Sambey dan Pdt. Itong sebagai rohaniwan pembinanya. Mereka telah berusaha bertanya apa sebabnya pada Benay, tetapi jawaban yang diterima hanyalah alasan-alasan yang terdengar dibuat-buat. Dua minggu berikutnya, tanpa sengaja Sambey memergoki Benay sedang menggandeng tangan seorang gadis manis di sebuah mall. Kepergok sahabatnya, Benay jadi gugup luar biasa. Ia jadi salah tingkah dan pipinya merona merah menahan malu. Sambey jadi paham mengapa Benay berubah. Rupa-rupanya Benay sudah mempunyai pacar. Ia sedang dimabuk asrama hingga kurang fokus pada pelayanan dan kegiatan gereja yang selama ini diikutinya dengan penuh tanggungjawab. Orang yang dikuasai cinta buta, seperti Benay, akan lupa daratan. Syukur Benay tidak sampai meninggalkan tanggungjawab pelayanannya di gereja. Itu pun tidak dapat menyembunyikan perubahan sikap yang dirasakan kawan-kawan sepelayanannya. Cinta buta yang berkecamuk di hati Benay telah menguasai pikiran, perasaan, dan tindakan Benay begitu rupa. Sehingga ia menjadi kurang mampu untuk menguasai dirinya sendiri. Selain cinta buta, masih ada hal-hal lain yang dapat membuat setiap orang kehilangan kendali atas dirinya. Misalnya, cinta uang, amarah, benci, dendam, serakah, dan segala bentuk nafsu lainnya. Kasus-kasus korupsi, kecanduan judi, games, perkelahian, dan pembunuhan adalah akibat yang dihasilkan oleh hal-hal tersebut. Jika demikian halnya, adakah yang dapat memampukan kita untuk lebih baik dalam menguasai diri? Satu-satunya jalan adalah dipimpin atau dipenuhi oleh Roh Kudus. Jika kita dikuasai oleh Roh, kita tidak akan kehilangan kendali atas diri kita. Justru Roh Kudus akan memampukan kita untuk dapat menguasai diri. Kita tetap bisa marah, tetapi marah yang terkendali, bukan emosional. Kita bisa menikmati makanan, tetapi makan secara terkontrol. Kita senang menerima berkat, tanpa kehilangan kepedulian pada sesama. Kita akan didekatkan dengan perasaan penuh syukur dan dijauhkan dari keangkuhan dan keserakahan.
Pernahkah kita memperhatikan remaja yang sering terlibat dalam kenakalan? Narkoba, pornografi, free-sex, mabuk-mabukan, balapan liar, tawuran, dll. Pengamatan Sambey dan Benay menarik untuk kita perhatikan. Mereka sedang melakukan penelitian mengenai kenakalan remaja di beberapa kota besar di dunia. Hasil penelitian mereka menunjukkan bahwa adanya hubungan antara kenakalan dengan hilangnya orientasi hidup remaja. Dengan kata lain, remaja yang orientasi hidupnya kabur mudah terlibat kenakalan. Orientasi hidup menjadi kabur karena berbagai sebab. Bisa karena faktor pengabaian orangtua, terlalu dimanja atau didikan yang terlalu keras. Selain itu faktor tidak harmonisnya orangtua, perceraian, minimnya keteladanan, kemiskinan menjadi faktor penentu penting lainnya. Sambey dan Benay melihat remaja yang demikian itu jika salah bergaul dapat dipastikan akan terlibat dalam salah satu atau beberapa bentuk kenakalan. Dari penelitian internasionalnya itu, Sambey dan Benay menyadari pentingnya hidup yang bertujuan bagi setiap orang. Hidup yang bertujuan tidak akan menjadikan orang hidup sembarangan. Jemaat yang terkasih. Rasul Paulus memberikan teladan yang sangat berharga mengenai hidup yang bertujuan. Tujuan itu ia lihat dengan sangat jelas dalam imannya, yaitu mendapatkan mahkota abadi (ayat 25). Tujuan itu yang membimbingnya untuk hidup seolah-olah seperti seorang atlit yang sungguh-sungguh dalam melatih tubuhnya dan menguasainya sedemikian rupa (ayat 27). Bagai pelari, Rasul Paulus tidak lagi ngalor ngidul, tetapi ia berlari dengan mata yang terarah pada garis finish. Bagai petinju, ia tidak sembarangan memukul, melainkan ia terapkan tehnik bertahan dan memukul dengan tepat dan terukur. Dengan cara demikian, Rasul Paulus menjadi rasul yang teguh-setia pada Tuhan. Ia tidak tergoyahkan oleh godaan dunia dan tantangan muncul dalam pelayanannya. Jemaat yang terkasih. Semakin lama kita mengikut Tuhan, seharusnyalah makin tebal iman, pengharapan, dan kasih kita kepada-Nya. Tetapi jika ternyata kita dapati bahwa kita masih hidup sembarangan. Kita terus jatuh bangun dalam dosa yang sama. Sukacita dan ucapan syukur kita mudah hilang karena tantangan yang kita hadapi. Kita tidak mempunyai semangat dalam melayani Tuhan dan sesama manusia. Jika demikian halnya, kita mesti bertobat dan milikilah tujuan hidup, tujuan mengikut Tuhan dengan tepat.
BARCODE BBM CHANNELS
RENUNGAN HARIAN
Si Miskin Yang Kaya Kemurahan
30 Desember '14
Start Yang Baik
01 Januari '15
Selalu Ada Hasil Dari Yang Di Tanam
02 Januari '15
Copyright © 2012 All rights reserved. Designed and Developed by GIA Dr. Cipto Semarang