SEPEKAN TERAKHIR
  Minggu, 24 Juli 2016   -HARI INI-
  Sabtu, 23 Juli 2016
  Jumat, 22 Juli 2016
  Kamis, 21 Juli 2016
  Rabu, 20 Juli 2016
  Selasa, 19 Juli 2016
  Senin, 18 Juli 2016
POKOK RENUNGAN
Pujilah Allah senantiasa, karena anugerah-Nya telah menyelamatkan kita di dalam Tuhan Yesus Kristus. Pujilah Allah karena hikmat dan pikiran-Nya tak terselami oleh siapa pun di dunia ini.
DITULIS OLEH
Pdt. Y. Agus Santoso
Rohaniwan Pusat
Renungan Lain oleh Penulis:
Home  »  Renungan  »  Semua Untuk Kemuliaan Allah
Semua Untuk Kemuliaan Allah
Rabu, 20 Maret 2013 | Tema: Umat Yang Memasyurkan Allah
Semua Untuk Kemuliaan Allah
Roma 11:33-36
Kita sering bernyanyi mulia, mulia bagi Anak domba.... Kadang kita juga menyanyikan segala puji syukur bagi-Mu, kutinggikan nama-Mu selalu... dan banyak lagi pujian lain yang syairnya senada dengan lagu pujian tersebut. Apa sebenarnya pesan yang hendak disampaikan kepada umat Allah saat pujian tersebut dinyanyikan? Bacaan renungan pagi ini berkisah tentang pujian bagi kemuliaan Allah. Ayat yang kita baca lebih dikenal sebagai teologi pujian bagi Allah. Mengapa penulis menuliskan hal ini untuk disampaikan kepada jemaat? Pesan apa yang hendak disampaikan?

Berdasarkan bacaan ayat-ayat sebelumnya dan sesudahnya, sebenarnya Rasul Paulus, sebagai penulis surat ini, sangat kagum de...selengkapnya »
Bilamana anda melihat ada 2 semut yang bertemu muka dengan muka agak lama, jangan salah sangka. Mereka bukan sedang bercanda atau sedang berebut makanan, mereka juga bukan sedang berciuman ataupun sedang asyik ‘ngegosip’ tetapi yang sedang terjadi adalah semut yang satu sedang memberikan madu kepada semut yang lainnya. Semut menyimpan madu dalam perutnya. Di dalam perut semut terdapat 2 lambung. Lambung terdepan dekat dengan mulut adalah lambung tempat madu yang akan diberikan kepada teman-temannya. Lambung kedua yang terletak di belakang lambung pertama adalah tempat untuk menyimpan madu bagi dirinya sendiri. Melalui mulutnya semut memberikan madunya yang tersimpan di lambung yang pertama kepada teman-temannya yang membutuhkan. Inilah hal yang indah dari semut yang rela berbagi berkat. Sepertinya semut mengerti betul bahwa berkat itu selalu saja ada bagi dirinya sehingga ia tidak perlu takut untuk memberi dan berbagi kepada teman-temannya yang membutuhkan makanan. Berbeda jauh dengan sifat manusia yang lebih mementingkan dirinya sendiri kurang mau berbagi. Manusia cenderung menumpuk berkat bagi dirinya sendiri. Inilah sifat manusia yang sangat jauh berbeda dengan semut. Semut selalu bersedia untuk memberi kepada yang membutuhkan, tetapi manusia selalu berusaha menahan berkat bagi dirinya sendiri. Jangankan memberi dengan sesama yang membutuhkan, dengan saudara sekandung pun sering dikatakan uang tidak bersaudara. Jangankan memberi tanpa imbalan apa-apa, membayar kewajibannya saja seringkali disunat dan diperkecil. Malah yang lebih menyedihkan adalah seringkali berkat yang sudah masuk ke mulut teman-temannya pun diambil dan dirampas semua. Kita harus merendahkan hati untuk belajar dari semut. Kebiasaan semut yang mulia di dalam kerelaannya memberi harus juga menjadi sifat dan kebiasaaan kita.
Dalam Mazmur tersebut digambarkan tentang hidup dalam perlindungan Tuhan, hakekat dan syarat-syaratnya. Untuk memahami secara lengkap perihal perlindungan Tuhan, perlu diperhatikan beberapa hal berikut: 1. Manusia adalah makhluk yang sangat lemah dan rentan [rapuh]. Kondisi ini sering tidak disadari pada waktu hidup berjalan serba lancar, tidak menghadapi masalah dalam segala segi kehidupannya. Biasanya Tuhan hanya dijadikan sebagai ban serep. Padahal Alkitab menunjukkan bahwa hidup manusia seperti bunga rumput dan uap [1 Petrus 1:24, Yakobus 4:14]. Kita harus selalu menyadari bahwa: • Manusia mempunyai tubuh fana yang kemampuannya sangat terbatas karena telah jatuh dalam dosa. Perhatikan pada saat seseorang berada di rumah sakit dan di pemakaman. • Kita hidup di dunia yang penuh bahaya, banyak krisis, ancaman, bencana alam, epidemi penyakit dan berbagai pencemaran jasmani dan rohani. • Ada kuasa gelap/jahat yang berusaha menyeret ke dalam kegelapan abadi. Iblis sangat cerdik untuk membawa manusia berpikir bahwa kesempatan hidup hanya sekali di bumi ini. 2. Orang yang layak menerima perlindungan Tuhan adalah mereka yang hidup dalam kehendak dan rencana Allah. Kehendak Bapa adalah supaya manusia bisa dikembalikan kepada rancangan semula dalam penciptaan. Orang yang hidup dalam kehendak-Nya akan memberi diri dimuridkan, diproses menjadi sempurna seperti Kristus [Matius 5:48; Lukas 14:33]. Orang yang hidup dalam rencana Tuhan adalah mereka yang rela mengabdi kepada Bapa tanpa batas dengan segenap hidupnya. Mereka inilah yang otomatis ada dalam perlindungan Tuhan [Mazmur 91:14-16]. Mereka pasti tidak sibuk dengan dirinya sendiri [Lukas 12:16-21] dan bisa menjadi saksi [Matius 28:19-20]. 3. Orang yang berlindung kepada Tuhan adalah orang yang rendah hati dan mengasihi sesama. Orang yang tidak melindungi dan tidak menaruh belas kasihan kepada sesamanya, hidup sembrono, dan tidak mempedulikan kehendak Tuhan adalah orang yang tidak layak menerima perlindungan Tuhan [Matius 18:23-35; Yakobus 2:13].
Terhubung 1 Korintus 12:14-27 Kamu semua adalah tubuh Kristus dan kamu masing-masing adalah anggotanya. [ayat 27]. ’Connecting people’, demikian motto dari sebuah perusahaan telepon genggam. Zaman ini adalah zaman di mana keterhubungan merupakan hal yang sangat penting. Hampir setiap orang menggunakan telepon genggam, yang bukan hanya berfungsi untuk bertelepon dan sms, tetapi juga untuk berhubungan dengan orang lain melalui banyak cara, entah dengan BBM, WA, Line, dan sebagainya. Menggunakan media sosial seperti facebook, instagram, tweeter, dan yang lainnya adalah hal yang biasa. Semua orang ingin terhubung dengan yang lainnya secara cepat, mudah dan luas. Jika tidak terhubung atau kurang terhubung maka seperti hidup terisolasi. Sebenarnya keterhubungan bukan hal yang penting pada zaman sekarang saja. Sejak zaman dahulu keterhubungan sudah menjadi hal yang sangat penting. Hanya bedanya kalau zaman dulu belum ada sarana teknologi canggih seperti sekarang ini. Tetapi keterhubungan selalu merupakan hal yang sangat penting. Firman Tuhan mengajarkan prinsip penting dari keterhubungan. Seperti di dalam satu tubuh, ada banyak anggota dan masing-masing anggota itu terhubung satu sama lainnya. Setiap anggota membutuhkan anggota yang lainnya. Semua anggota saling membutuhkan dan saling tergantung satu dengan lainnya. Tidak ada anggota tubuh yang terpisah dan hidup terlepas dari anggota lainnya. Jika ada anggota tubuh yang tidak terhubung dengan anggota lainnya, maka berarti anggota itu tidak berfungsi atau mati. Sebagai contoh: kalau kuku jari kita terlepas dari tempatnya, maka kuku itu akan mati. Demikianlah pentingnya keterhubungan. Sebagai anggota tubuh Kristus, kita harus terhubung dengan anggota lainnya. Ada banyak cara kita bisa menjalin keterhubungan kita dengan anggota lainnya. Cara yang paling efektif adalah melalui Komunitas Kecil [komcil]. Di dalam komunitas kecil kita bisa saling memperhatikan, saling menguatkan dan saling menopang. Pdt. Goenawan Susanto
Karunia adalah pemberian atau anugerah dari yang lebih tinggi kedudukannya kepada yang lebih rendah [KBBI]. Jadi pastilah karunia setiap orang berbeda tergantung si pemberi. Demikian juga dengan kita, karunia yang Tuhan anugerahkan kepada kita berlain-lainan sesuai dengan kasih karunia-Nya kepada kita [ayat 6a]. Ada ungkapan yang sangat indah dari Rick Warren tentang sebuah karunia, yaitu “Sebuah karunia yang tidak terungkap tidaklah ada artinya”. Ungkapan ini menyatakan bila karunia tidak diungkapkan atau dengan kata lain disembunyikan, maka akan sangat tidak berarti. Hal itu jugalah yang dikatakan oleh Rasul Paulus kepada jemaat di Roma agar karunia yang kita terima, kita dipergunakan dalam hidup. [ayat 6-8]. Paulus mengingatkan bahwa karunia untuk bernubuat dilakukan sesuai dengan iman kita. Artinya bukan hanya ikut-ikutan atau supaya terlihat “hebat/keren” [ayat 6b]. Ia juga mengajarkan jika kita diberi karunia untuk melayani, mengajar, menasihati, marilah kita pergunakan sesuai dengan karunia yang diberikan Tuhan [ayat 7, 8b]. Lebih jauh Paulus memberi pesan khusus di ayat 8 dalam kita menggunakan karunia tersebut. Jika kita membagi-bagikan sesuatu haruslah dengan hati ikhlas. Artinya, tidak boleh dengan terpaksa, apalagi menggerutu. Jika kita memberi pimpinan harus dengan rajin. Artinya, dilakukan terus menerus, bukan kalau pas ingat atau kalau pas mau. Jika kita menunjukkan kemurahan, hendaklah dengan sukacita. Kita akan menjadi berkat bagi banyak orang jika karunia yang Tuhan anugerahkan tidak kita sembunyikan tetapi kita melakukannya sesuai dengan Firman Tuhan yang ditulis oleh Rasul Paulus dalam suratnya kepada jemaat di Roma.
BARCODE BBM CHANNELS
RENUNGAN HARIAN
Berdamai Dengan Sesama
30 Juni '16
Peliharalah Kesatuan Roh
26 Juni '16
Ukhuwah Nasraniyah
25 Juni '16
Copyright © 2012 All rights reserved. Designed and Developed by GIA Dr. Cipto Semarang