SEPEKAN TERAKHIR
  Sabtu, 30 April 2016   -HARI INI-
  Jumat, 29 April 2016
  Kamis, 28 April 2016
  Rabu, 27 April 2016
  Selasa, 26 April 2016
  Senin, 25 April 2016
  Minggu, 24 April 2016
POKOK RENUNGAN
“Pujilah Allah senantiasa, karena anugerah-Nya telah menyelamatkan kita di dalam Tuhan Yesus Kristus. Pujilah Allah karena hikmat dan pikiran-Nya tak terselami oleh siapa pun di dunia ini.”
DITULIS OLEH
Pdt. Y. Agus Santoso
Rohaniwan Pusat
Renungan Lain oleh Penulis:
Home  »  Renungan  »  Semua Untuk Kemuliaan Allah
Semua Untuk Kemuliaan Allah
Rabu, 20 Maret 2013 | Tema: Umat Yang Memasyurkan Allah
Semua Untuk Kemuliaan Allah
Roma 11:33-36
Kita sering bernyanyi “mulia, mulia bagi Anak domba....” Kadang kita juga menyanyikan “segala puji syukur bagi-Mu, kutinggikan nama-Mu selalu...” dan banyak lagi pujian lain yang syairnya senada dengan lagu pujian tersebut. Apa sebenarnya pesan yang hendak disampaikan kepada umat Allah saat pujian tersebut dinyanyikan? Bacaan renungan pagi ini berkisah tentang pujian bagi kemuliaan Allah. Ayat yang kita baca lebih dikenal sebagai teologi pujian bagi Allah. Mengapa penulis menuliskan hal ini untuk disampaikan kepada jemaat? Pesan apa yang hendak disampaikan?

Berdasarkan bacaan ayat-ayat sebelumnya dan sesudahnya, sebenarnya Rasul Paulus, sebagai penulis surat ini, sangat kagum de...selengkapnya »
Jadilah pembawa damai Ulangan 21:5 Imam-imam bani Lewi haruslah tampil ke depan, sebab merekalah yang dipilih TUHAN, Allahmu, untuk melayani Dia dan untuk memberi berkat demi nama TUHAN; menurut putusan merekalah setiap perkara dan setiap hal luka-melukai harus diselesaikan. Seorang mahasiswi bercerita tentang dua orang teman dekatnya, sebut saja nama kedua teman itu Helen dan Magda. Dia hampir setiap hari bertemu dengan kedua teman itu, karena mereka suka mampir di tempat kosnya. Dia melihat ada pengaruh yang berbeda dari kedua temannya itu. Demikian ceritanya: ’Jika Helen masuk ke kamarku dia selalu membawa ’suasana panas.’ Helen selalu datang dengan membawa berita-berita yang akan membuat telinga dan hati menjadi panas. Topik ceritanya berkisar kelemahan dan kejelekan orang lain. Helen juga tidak akan pernah lupa menyampaikan perkataan-perkataan negatif orang lain terhadapku, yang kalau ditanggapi pasti menimbulkan pertengkaran dan perselisihan. Setiap kali aku memberikan reaksi negatif seperti marah, Helen kelihatan senang.’ ’Lain halnya dengan Magda, dia mempunyai kebiasaan yang jauh berbeda dengan Helen. Kata-kata Magda seperti aliran air yang menyejukkan, ia selalu berusaha menciptakan suasana yang penuh damai dengan perkataan-perkataan nya, ’Ya, sudahlah ..... jangan dimasukkan hati,’ atau ’Buat apa melibatkan perasaan untuk hal yang tidak jelas.’ Mendengar kata-kata yang demikian, mau tidak mau aku merasa lebih tenang.’ Tugas dari imam bukan saja melakukan ibadah-ibadah seperti mempersembahkan korban, berdoa dan memberi berkat buat umat Tuhan. Tugas imam juga menyangkut kehidupan sehari-hari umat Tuhan. Jika ada di antara umat Tuhan yang berselisih maka imam bertugas untuk menjadi juru damai di antara mereka. Imam harus membantu orang-orang yang berselisih itu agar menemukan jalan keluar dan mendapatkan penyelesaian yang adil. Dengan cara itu kehidupan umat Tuhan dapat terjaga dalam damai sejahtera. Tugas kita di tengah lingkungan kita adalah menjadi pembawa damai. Pembawa damai artinya adalah orang yang menghadirkan suasana damai di tengah lingkungan kita. Jangan sebaliknya, seperti dalam cerita di atas, suka membuat orang jadi panas hati dan ingin marah [menjadi provokator bagi terjadinya suatu perselisihan]. Tetapi, jadilah pembawa damai. Tuhan Yesus berkata: “Berbahagialah orang yang membawa damai, karena mereka akan disebut anak-anak Allah.” [Matius 5:9]. Amin. Pdt. Goenawan Susanto
1 Petrus 2:9 Tetapi kamulah bangsa yang terpilih, imamat yang rajani, bangsa yang kudus, umat kepunyaan Allah sendiri, supaya kamu memberitakan perbuatan-perbuatan yang besar dari Dia, yang telah memanggil kamu keluar dari kegelapan kepada terang-Nya yang ajaib Ada banyak perbuatan ajaib yang Tuhan sudah pernah lakukan di dunia ini. Sebagian telah dicatat di dalam Alkitab. Semua yang dicatat adalah untuk memberi kesaksian kepada kita yang hidup di masa kini. Dari kisah-kisah perbuatan ajaib itu kita bisa mengenal pribadi Allah yang besar. Perbuatan Allah yang besar bukan hanya terjadi pada masa lampau, tetapi pada masa sekarang pun Dia terus menerus melakukan perbuatan yang ajaib. Termasuk apa yang kita alami di dalam kehidupan kita. Setiap kita pasti pernah mengalami perbuatan yang besar dari Dia. Minggu lalu kita sudah merenungkan bahwa Allah menjadikan kita sebagai imam-imam bagi Dia. Menjadi imam Allah berarti kita mendapatkan hak istimewa untuk datang mendekat kepada-Nya. Oleh sebab itulah kita disebut sebagai imamat yang rajani. Nats minggu ini memberi tahu kita bahwa sebagai imam Allah kita bukan hanya mendapat hak untuk mendekat kepada Allah tetapi juga mengalami perbuatan-Nya yang besar dan ajaib. Apakah perbuatan-Nya yang ajaib? Tentu saja banyak. Tetapi di antara banyaknya perbuatan-Nya yang ajaib, yang paling besar di antaranya adalah perubahan di dalam hidup kita: dulu kita hidup dalam kegelapan, tetapi sekarang kita hidup di dalam terang. Dulu kita adalah hamba dosa, tetapi sekarang kita merdeka dari perbudakan dosa. Dulu kita melayani hawa nafsu dan kejahatan, tetapi sekarang kita melayani kebenaran. Perubahan hidup kita itu adalah mujizat yang paling besar. Apakah yang anda alami dari Tuhan? Perubahan apa yang telah terjadi di dalam hidup anda? Ceritakanlah itu kepada orang lain. Tuhan akan terus melakukan perbuatan-Nya yang ajaib dalam hidup anda. Amin.
Suatu sore sepulang pelayanan, saya bertemu seorang jemaat yang sedang bersama-sama warga melakukan kerja bakti pemasangan paving di sebuah lorong gang dekat dengan rumahnya. Setelah kami saling bertegur sapa dan basa-basi, jemaat tersebut bersyukur bahwa kehadirannya bersama dengan keluarga di kampung itu cukup menjadi berkat bagi warga kampung tersebut. Ia menambahkan bahwa sudah 1,5 tahun ia dipercaya menjadi ketua RT, bahkan dalam beberapa kesempatan ia dipercaya mengelola dana pembangunan infrastruktur desa, baik yang disalurkan dari pemerintah Kodya maupun dari partai politik. Ia menunjukkan perkembangan pembangunan infrastruktur desa yang sudah selesai dikerjakannya. Beberapa di antaranya adalah betonisasi jalan depan pasar sepanjang 700 meter, pembuatan gorong-gorong, perbaikan jalan-jalan RT, dan pemavingan lorong-lorong seperti yang mereka sedang kerjakan saat itu. Dan yang membuat ia kagum akan karya Tuhan adalah meskipun usianya masih muda [berusia 43 tahun] tetapi menjadi panutan masyarakat. Bahkan tua-tua masyarakat menghormati otoritas dan memperhitungkan suara serta keberadaannya, meskipun secara agama ia minoritas di desa itu. Beberapa ayat yang ditulis oleh rasul Yohanes di Pulau Patmos memberikan gambaran yang jelas kepada kita bahwa selain kita dimerdekakan dari dosa oleh darah-Nya, kita semua dikumpulkan ‘secara rohani’ menjadi suatu kerajaan dan menjadi imam bagi Allah [Wahyu 1:5b-6]. Ditambahkan pula dalam Wahyu 5:10 bahwa “Engkau [Tuhan sendiri] telah membuat mereka [orang-orang yang percaya kepada Tuhan Yesus] menjadi suatu kerajaan, dan menjadi imam-imam bagi Allah kita, dan mereka akan memerintah sebagai raja di bumi.’ Setelah mendengarkan kesaksian jemaat tersebut saya berkata, “Pak, Anda termasuk imam-imam yang Tuhan telah pilih dan utus menjadi pelayanan-Nya di desa ini. Jabatan anda mungkin tidak setinggi dan sepenting kepala desa, camat, walikota, gubernur, apalagi presiden. Tapi Anda telah melakukan fungsi keimamam dalam masyarakat dengan baik, seperti yang Tuhan sudah ajarkan”. Saya kemudian melanjutkan, “Teruskan pelayananmu, Pak. Jadilah teladan dan jagalah kepercayaan yang Tuhan sudah berikan sebagai orang-orang yang dipilih menjadi imam-imam Tuhan melalui pelayananmu di masyarakat”.
Sore itu Sambey duduk santai di sebuah mall ternama di kotanya. Sudah lama ia tidak punya waktu untuk memanjakan dirinya. Diam termenung merajut makna hidup meski di tengah-tengah keramaian mall. Raut wajahnya penuh perhatian namun santai. Kadangkala tersenyum kecil merespon tingkah laku biasa para pengunjung mall. Tingkah laku yang dalam perenungannya menjadi tidak biasa lagi. “Ingin seperti yang lain”, gumam Sambey setelah beberapa jam duduk terpaku. Seolah-olah ia bisa membaca naluri yang bersembunyi di balik tindakan para pengunjung. Apakah yang sedang dicari para pemburu pakaian itu? Mode terbarukah? Apakah yang sedang dibeli oleh pecinta gadget? Teknologi terkinikah? Mereka berbelanja sambil memenuhi kebutuhan “ingin seperti yang lain”. Keinginan untuk tampak modis dan trendi, bukan yang biasa-biasa. Keinginan untuk tampak canggih, bukan jadul [jaman dulu]. “Eee...e...e... tunggu dulu! Bukankah semuanya itu tidak salah, Sam?” seru suara hati Sambey. Sejenak Sambey berpikir lalu bergumam, “Hmmm...benar! Semuanya itu tidak salah. Tetapi kebutuhan “ingin seperti yang lain” adalah kebutuhan pencitraan yang bisa membuat orang membangun pemisahan tajam antara aku dan kamu, kita dan kalian, berdasarkan apa yang dapat dibeli, dipakai, atau dikendarai. Akibatnya terbentuk pribadi yang sombong atau sebaliknya minder [rendah diri]. Lebih-lebih lagi, “ingin seperti yang lain” bisa membuat orang melupakan apa yang Tuhan inginkan. Sambey ingat akan kisah bangsa Israel yang memohon kepada Samuel untuk diberi seorang raja. Seorang raja dan kerajaannya seperti bangsa-bangsa yang lain [ayat 5,19]. Sebuah kebutuhan pencitraan agar sama seperti yang lain sehingga tidak dianggap ketinggalan jaman. Mereka tidak menggubris risiko yang harus mereka terima dengan adanya seorang raja [ayat 11-18]. “Pokoknya harus ada raja”, demikian kata bangsa Israel [ayat 19]. Tak sadar bahwa “ingin seperti yang lain” telah membuat mereka menolak Tuhan sebagai satu-satunya raja mereka [ayat 7]. Sejenak Sambey terdiam. Lalu sekonyong-konyong suara hatinya berbicara, “Ngapain kamu di mall ini? Biasanya kamu nonggrongnya di warung kopi, kan? Apakah ini juga pencitraan? Ingin tampak seperti yang lain?” Sambey nyengir mendengar peringatan lembut dari suara hatinya. Jemaat yang terkasih, Tuhan ingin kita berhati-hati dengan apa yang kita inginkan. Apakah keinginan itu adalah kebutuhan? Ataukah keinginan itu sekedar untuk dapat seperti yang lain? Hati-hati karena keinginan berpotensi untuk menjauhkan kita dari kehendak Tuhan. Alangkah baiknya kita lebih mengutamakan keinginan Tuhan. Dia menginginkan kita hidup sebagai anggota kerajaan imam yang saling melayani satu dengan lainnya. Berhati-hatilah dengan keinganan untuk membangun “kerajaan pribadi” di mana kita ingin dipertuan-agung, maunya hanya dipatuhi dan dilayani “seperti yang lain”.
BARCODE BBM CHANNELS
RENUNGAN HARIAN
Menyuarakan Kebenaran
25 April '16
Ceritakanlah Perbuatan-Nya Yang Ajaib
10 April '16
Menikmati Hidup Dengan Berpakaian Kesucian Dan Sukacita
18 April '16
Copyright © 2012 All rights reserved. Designed and Developed by GIA Dr. Cipto Semarang