SEPEKAN TERAKHIR
  Selasa, 25 November 2014   -HARI INI-
  Senin, 24 November 2014
  Minggu, 23 November 2014
  Sabtu, 22 November 2014
  Jumat, 21 November 2014
  Kamis, 20 November 2014
  Rabu, 19 November 2014
POKOK RENUNGAN
“Pujilah Allah senantiasa, karena anugerah-Nya telah menyelamatkan kita di dalam Tuhan Yesus Kristus. Pujilah Allah karena hikmat dan pikiran-Nya tak terselami oleh siapa pun di dunia ini.”
DITULIS OLEH
Pdt. Y. Agus Santoso
Rohaniwan Pusat
Renungan Lain oleh Penulis:
Home  »  Renungan  »  Semua Untuk Kemuliaan Allah
Semua Untuk Kemuliaan Allah
Rabu, 20 Maret 2013 | Tema: Umat Yang Memasyurkan Allah
Semua Untuk Kemuliaan Allah
Roma 11:33-36
Kita sering bernyanyi “mulia, mulia bagi Anak domba....” Kadang kita juga menyanyikan “segala puji syukur bagi-Mu, kutinggikan nama-Mu selalu...” dan banyak lagi pujian lain yang syairnya senada dengan lagu pujian tersebut. Apa sebenarnya pesan yang hendak disampaikan kepada umat Allah saat pujian tersebut dinyanyikan? Bacaan renungan pagi ini berkisah tentang pujian bagi kemuliaan Allah. Ayat yang kita baca lebih dikenal sebagai teologi pujian bagi Allah. Mengapa penulis menuliskan hal ini untuk disampaikan kepada jemaat? Pesan apa yang hendak disampaikan?

Berdasarkan bacaan ayat-ayat sebelumnya dan sesudahnya, sebenarnya Rasul Paulus, sebagai penulis surat ini, sangat kagum dengan karya, hikmat, dan pikiran Allah sebagai perencana segala sesuatu secara sempurna. Khususnya dalam hal keselamatan manusia dari dosa melalui karya Tuhan Yesus di kayu salib. Pujian tersebut hendak menyatakan bahwa bangsa Israel sebagai umat pilihan Allah (berdasarkan perjanjian Allah dengan Abraham) sedang menegarkan hatinya. Maka saat ini bangsa Israel sedang dibiarkan Allah untuk sementara waktu. Sekarang Allah mau berurusan dengan bangsa-bangsa lain untuk membentuk umat yang baru, yang dikenal dengan sebutan gereja. Setelah jumlahnya cukup dan waktu kunjungan Allah untuk bangsa-bangsa lain sudah selesai, maka Allah akan kembali berurusan dengan bangsa Israel (ayat 7-25).

Semakin kita merenungkan pekerjaan Allah, semakin kita memuji Allah karena hanya DIA-lah Allah yang mampu mengerjakan segala sesuatu dengan sempurna untuk kepentingan umat manusia...selengkapnya »
Dulu, ketika membantu pelayanan di sebuah jemaat, saya melihat keadaan yang tidak lazim menurut pandangan saya. Di gereja tersebut ada sejumlah pria (kepala keluarga) yang masih sehat dan dalam usia masih produktif tetapi tidak bekerja. Dan yang mencari penghasilan untuk mencukupi kebutuhan keluarga adalah para istri. Sebenarnya, dulu, mereka pernah bekerja. Tetapi karena kondisi dan alasan tertentu, kemudian mereka tidak lagi bekerja. Tentunya ini sebuah keadaan yang tidak sehat. Seseorang yang hidupnya tidak punya arti bagi sesama, tidak mau bekerja tetapi bergantung kepada orang lain, dan sungguh tidak mandiri, tidaklah berlebihan jika disebut seperti benalu. Tatanan masyarakat sekarang menilai seseorang yang mempunyai pekerjaan, meskipun pekerjaannya kasar adalah orang yang terhormat. Jika orang tidak mau bekerja akan dinilai malas, malah bisa-bisa dianggap manusia yang tidak berguna. Ini status yang hina dan memalukan. Melalui suratnya, Rasul Paulus mendorong Titus untuk mengingatkan jemaat di Kreta untuk memiliki pekerjaan supaya dapat hidup mandiri dan bisa mencukupi kebutuhan hidup pribadi ataupun keluarganya. Bahkan dengan memiliki pekerjaan, mereka pun diharapkan dapat membantu yang lain. Dalam hal ini jemaat diajar bahwa rezeki yang diperoleh dari bekerja bukan hanya dipergunakan untuk memenuhi keperluan hidup, tetapi juga dapat dimanfaatkan untuk menjadi berkat bagi sesama. Dengan demikian rezeki dapat dipergunakan untuk membangun hidup yang berguna. Karena seseorang berani mengambil sikap untuk memutuskan kecenderungan serakah dan menutup mata bagi sesama. Sebelum kita terlelap dalam istirahat malam merupakan kesempatan untuk bersyukur atas semua rezeki yang kita peroleh dari Tuhan hari ini. Kita bersyukur hari ini telah menjadi berkat bagi sesama dengan berbagi rezeki meskipun kecil. Tetapi kita yakin, besok berkat Tuhan akan ada lagi. Kiranya esok kita semakin hidup berguna bagi sesama.
Taman Eden adalah saksi di mana Allah berfirman “tidak baik” atas ciptaan-Nya. Padahal sejak hari pertama sampai hari ke lima Allah melihat segala yang dijadikan-Nya itu baik, bahkan di hari ke enam Allah melihat segala yang diciptakan-Nya sungguh amat baik. Setelah itu Allah berhenti, memberkati dan mengkuduskan hari ke tujuh. Apa yang tidak baik? Mengapa tidak baik? Belum adanya penolong yang sepadan bagi manusia. Nampaknya sejak semula Allah menghendaki adanya keadaan saling menolong, suka berbagi memberi pertolongan di tengah-tengah manusia. Allah menghadirkan “perempuan” yang ditetapkan-Nya sebagai penolong, yang dari rahimnya akan lahir para penolong yang lain. Ketika perempuan Hawa menyalahgunakan jati dirinya sebagai penolong, membawa Adam jatuh dalam dosa, seakan Allah gagal dalam rencana-Nya. Namun Allah kita adalah Allah yang tidak pernah gagal dalam semua rencana dan kehendak-Nya. Sekali Dia tetapkan perempuan dengan jati diri sebagai penolong, Dia tetap pada ketetapan-Nya. Dia berjanji bahwa dari benih perempuan akan lahir “ Sang Penolong Agung” yang akan mengajarkan dan meneladankan sikap saling menolong, saling memberi sebagai wujud nyata pribadi Allah yang adalah kasih. Itu semua sudah tergenapi dalam diri Yesus Kristus, Tuhan kita. Alkitab menghadirkan cukup banyak tokoh perempuan yang sadar akan jati dirinya. Kita kenal gadis Maria, Ibu Yesus. Dia berani memberikan hidupnya dengan semua harga yang harus dia bayar demi lahirnya Sang Mesias di bumi ini (Lukas 1:26-38). Satu saat Yesus memperhatikan seorang perempuan janda miskin yang berani memberikan dua keping uang yang dia punya (Markus 12:4-44) dan Yesus ajarkan nilai memberi kepada murid-muridNya. Ada kisah seorang perempuan penjahit sederhana, Dorkas namanya. Dia dicatat sebagai perempuan yang banyak sekali berbuat baik dan memberi sedekah (KPR 9:36). Dan masih banyak lagi yang lain. Bagaimana dengan kita, para perempuan? Ketahuilah dan camkanlah jati diri kita “PENOLONG” yang suka memberi dan berbagi pertolongan. Mari kita pelajari nilai memberi yang benar dan kita pelopori gerakan memberi di tengah-tengah keluarga kita, di tengah-tengah komunitas gereja kita, bahkan ditengah-tengah masyarakat di mana kita ada. Apa saja yang kita punya bisa kita berikan dan bagikan.
Ada seorang Bapak mempunyai anak yang sangat nakal. Berulangkali dengan penuh kesabaran sang ayah menasihati dan mengingatkan agar anak ini tidak nakal lagi. Anak ini semakin hari semakin nakal, sampai satu saat ayahnya berkata: “Anakku, ini yang terakhir kali, kalau kamu nakal lagi, ayah masukkan kamu ke kamar gelap di lantai bawah.” Peringatan ini tidak membuat si Anak jera, akhirnya sang Ayah harus mendisiplinnya, menghukum anak itu dengan memasukkannya ke kamar gelap di lantai bawah. Anak itu memukul-mukul pintu kamar, minta keluar karena takut. Dia berteriak minta ampun. Ayahnya mau membukakan pintu, tapi isterinya melarangnya: “Jangan dibuka, disiplin harus ditegakkan, yang salah harus menerima hukuman!” semakin keras anak itu berteriak dan memukul-mukul pintu karena ketakutan di dalam gelap. Isterinya tetap melarang suaminya membukakan pintu. Ayah itu berkata: “Baik, saya tidak akan melepaskan dia, tetapi saya sangat mengasihi dia... dan saya mau menemani dia.” Turunlah sang Ayah ke lantai bawah membuka pintu, anak itu menangis dan memeluk ayahnya. Ayahnya membawa sedikit roti dan air. Mereka duduk di tempat gelap, makan dan minum berdua. Tidak lama kemudian, anak itu tertidur lelap dalam dekapan tangan ayahnya. Anak ini adalah gambaran diri kita. Alangkah seringnya kita jadi anak-anak yang nakal, berbuat dan melakukan pelanggaran-pelanggaran atas perintah-perintah Bapa kita. Kita patut dihukum dalam kegelapan dunia ini. Dalam ketakutan kita berseru, berteriak mohon ampun kepada-Nya. Allah kita adalah Allah yang mahakudus. Kekudusan-Nya tidak bisa bersatu dengan dosa. Allah kita adalah Allah yang mahakasih. Kasih setia-Nya melimpahkan pengampunan atas dosa-dosa kita. Allah kita adalah Allah yang mahaadil. Keadilan-Nya menuntut hukuman atas dosa-dosa kita. Dia sendiri telah turun ke dunia yang gelap, lahir menjadi manusia, bernama Sang Immanuel yang menemani, menyertai kita, membukakan pintu keselamatan kekal bagi kita. Dia menuntun kita keluar dari kegelapan dan berjalan dalam terang-Nya yang ajaib. Dia lahir untuk mati. Diatas kayu salib, Yesus menggenapi kasih dan hukuman untuk menebus dosa-dosa kita.
Suatu hari, di sebuah komcil, ada seseorang yang “asing” bagi saya karena sepertinya baru kali ini saya melihat orang itu. Seorang nenek berusia sekitar 60-an, memakai kebaya konvensional dan kain jarit. Ia datang bersama salah seorang jemaat. Dalam hati saya merasa senang, karena ada satu lagi jiwa baru. Namun sesaat, rasa senang itu terganggu dengan bisikan sinis seorang jemaat lain di sebelah kanan saya, yang mengatakan, “Orang itu sebenarnya dahulu jemaat sini, terus waktu yang lain pindah gereja, dia juga ikut.” Yang mengganggu saya bukan keadaan dari nenek itu, yang telah lama pindah di gereja lain lalu sekarang kembali, tapi justru sikap sinis yang ditunjukkan oleh jemaat lama itu. Sepertinya ia menganggap bahwa orang yang meninggalkan gereja adalah seorang pengkhianat. Mungkin hal seperti itu sering terjadi di sekitar kita, apalagi saat ini sedang maraknya jemaat pindah pindah gereja. Seringkali jemaat lama tidak senang jika orang yang dulu pernah meninggalkan gereja, lalu kembali lagi. Hal ini mengingatkan kita pada sikap anak sulung dalam perumpaan anak yang hilang ketika sang bapa menerima kembali si bungsu. Ada perasaan iri, jengkel, dan lain-lain yang dialami si sulung. Tahukah kita, ketika kita tidak menerima keberadaan seseorang itu, kita sedang tidak menghargai orang itu? Dan tidak menerima kembali berarti masih mengingat kesalahannya dan tidak mengampuninya? Dan tidak mengampuni orang yang bersalah berarti kita sedang menolak pengampunan dari Tuhan atas dosa kita? Tuhan, Sang Bapa adalah Allah yang humanis, yang sangat menghargai orang. Ia mengampuni setiap orang yang bersalah kepada-Nya, Ia menerima kembali orang yang menolak-Nya, bahkan Ia memberikan nyawa-Nya sebagai ganti orang berdosa yang seringkali menyakiti-Nya. Betapa dahsyatnya kasih dan anugerah-Nya. Jika kita adalah anak Tuhan, maka seharusnya kita memiliki sikap yang sama dengan-Nya. Kita menerima pengampunan Tuhan, jika kita pun mengampuni. Kita bisa mengampuni ketika kita bisa menerima kembali orang yang bersalah kepada kita. Kita bisa menerima kembali seseorang yang bersalah kepada kita, jika kita menghargai orang itu.
BARCODE BBM CHANNELS
RENUNGAN HARIAN
Tangan Yang Selalu Terbuka
31 Oktober '14
Susahkah Melupakan Kesalahan Orang?
17 November '14
Sebuah Cermin
14 November '14
Copyright © 2012 All rights reserved. Designed and Developed by GIA Dr. Cipto Semarang