SEPEKAN TERAKHIR
  Sabtu, 30 Agustus 2014   -HARI INI-
  Jumat, 29 Agustus 2014
  Kamis, 28 Agustus 2014
  Rabu, 27 Agustus 2014
  Selasa, 26 Agustus 2014
  Senin, 25 Agustus 2014
  Minggu, 24 Agustus 2014
POKOK RENUNGAN
“Pujilah Allah senantiasa, karena anugerah-Nya telah menyelamatkan kita di dalam Tuhan Yesus Kristus. Pujilah Allah karena hikmat dan pikiran-Nya tak terselami oleh siapa pun di dunia ini.”
DITULIS OLEH
Pdt. Y. Agus Santoso
Rohaniwan Pusat
Renungan Lain oleh Penulis:
Home  »  Renungan  »  Semua Untuk Kemuliaan Allah
Semua Untuk Kemuliaan Allah
Rabu, 20 Maret 2013 | Tema: Umat Yang Memasyurkan Allah
Semua Untuk Kemuliaan Allah
Roma 11:33-36
Kita sering bernyanyi “mulia, mulia bagi Anak domba....” Kadang kita juga menyanyikan “segala puji syukur bagi-Mu, kutinggikan nama-Mu selalu...” dan banyak lagi pujian lain yang syairnya senada dengan lagu pujian tersebut. Apa sebenarnya pesan yang hendak disampaikan kepada umat Allah saat pujian tersebut dinyanyikan? Bacaan renungan pagi ini berkisah tentang pujian bagi kemuliaan Allah. Ayat yang kita baca lebih dikenal sebagai teologi pujian bagi Allah. Mengapa penulis menuliskan hal ini untuk disampaikan kepada jemaat? Pesan apa yang hendak disampaikan?

Berdasarkan bacaan ayat-ayat sebelumnya dan sesudahnya, sebenarnya Rasul Paulus, sebagai penulis surat ini, sangat kagum dengan karya, hikmat, dan pikiran Allah sebagai perencana segala sesuatu secara sempurna. Khususnya dalam hal keselamatan manusia dari dosa melalui karya Tuhan Yesus di kayu salib. Pujian tersebut hendak menyatakan bahwa bangsa Israel sebagai umat pilihan Allah (berdasarkan perjanjian Allah dengan Abraham) sedang menegarkan hatinya. Maka saat ini bangsa Israel sedang dibiarkan Allah untuk sementara waktu. Sekarang Allah mau berurusan dengan bangsa-bangsa lain untuk membentuk umat yang baru, yang dikenal dengan sebutan gereja. Setelah jumlahnya cukup dan waktu kunjungan Allah untuk bangsa-bangsa lain sudah selesai, maka Allah akan kembali berurusan dengan bangsa Israel (ayat 7-25).

Semakin kita merenungkan pekerjaan Allah, semakin kita memuji Allah karena hanya DIA-lah Allah yang mampu mengerjakan segala sesuatu dengan sempurna untuk kepentingan umat manusia...selengkapnya »
Sore itu saya mendengar suara berisik sekali. Keempat anak anjing saya yang baru berumur 2,5 tahun itu menggonggong semua dan tak mau berhenti. Karena penasaran, saya beranjak keluar rumah menengok mencari penyebab mengapa anak anjing itu menggonggong tidak henti-henti. Ketika saya keluar, induk anjingpun ikut keluar. Apa yang terjadi? Eh.... anak-anak anjing itu malah menggonggong semakin keras dan berani. Ternyata mereka menggonggong karena melihat seorang tetangga mengambil buah alpokat di pohon sebelah rumah saya. Anak-anak anjing itu semakin berani ketika induknya bersama mereka. Dan anak-anak anjing itu semakin berani mendekati tetangga itu karena induknyapun ikut menggonggong. Dan anjing-anjing itu berhenti menggonggong setelah saya suruh berhenti dan pergi. Anak-anak anjing itu menggonggong karena melihat hal-hal yang tidak beres di sekitarnya dan menurutnya benar demi tuannya. Anak-anak anjing itu semakin berani karena merasa mendapat perlindungan, yaitu induknya. Anjing-anjing itu tidak berhenti menggonggong ketika tidak mendapat mandat dari tuannya untuk berhenti. Cerita di atas hendaknya menjadi inspirasi bagi setiap orang yang telah mengaku sebagai orang percaya Yesus. Berani untuk menyuarakan kebenaran Injil Kristus karena Yesus yang telah memberi hidup kepada kita. Dan Roh Kudus selalu bersama kita untuk memberikan pertolongan dan hikmat untuk bertindak dalam kebenaran. Rasul Petrus dengan tegas berkata kepada pemimpin-pemimpin Yahudi serta tua-tua dan ahli-ahli Taurat dalam sidang di Yerusalem, ”Silakan kamu putuskan sendiri manakah yang benar di hadapan Allah: taat kepada kamu atau taat kepada Allah. Sebab tidak mungkin bagi kami untuk tidak berkata-kata tentang apa yang telah kami lihat dan yang telah kami dengar.” Keberanian Rasul Petrus muncul karena kebenaran, sehingga Tuhan selalu menyertai apa yang dilakukannya. Dan tanda-tanda mujizat terjadi dalam setiap pelayanannya (KPR 4:16). Marilah kita tetap dalam kesetiaan kepada Allah untuk menyuarakan kebenaran Injil Tuhan dalam setiap sisi kehidupan kita, supaya kita dapat merasakan penyertaan Allah dalam setiap kehidupan kita.
Suatu ketika seorang ayah melarang anaknya untuk bermain sepakbola di siang hari dengan alasan cuaca yang begitu panas. Dan sang ayah menyarankan tentu akan lebih baik kalau anaknya istirahat atau belajar. Tetapi karena ajakan teman-temannya untuk bermain sepakbola dan kebetulan ayahnya juga sedang pergi, maka bermainlah anak tersebut. Setelah anak itu selesai bermain sepakbola ternyata ayahnya sudah di rumah, maka apa yang terjadi dengan anak itu? Dia takut untuk pulang ke rumah karena melanggar perintah orangtuanya. Dari bacaan di atas Yesuspun pernah mengalami ketakutan yang begitu hebat sampai peluhnya bercampur darah. Bukan karena sebuah kesalahan, tetapi karena Dia harus menanggung dosa seluruh manusia di kayu salib. Kepada siapa Yesus terbuka menceritakan kesedihan hati-Nya? Dalam pergumulan-Nya yang berat, Dia menceritakan kesedihan hatinya kepada murid-murid terdekat-Nya dan juga kepada Bapa-Nya di sorga. Dalam ketakutan-Nya, Yesus terbuka kepada orang-orang dekat-Nya dan yang lebih penting adalah berserah kepada Bapa. Setiap kita tentu pernah mengalami ketakutan dan banyak hal yang bisa membuat kita menjadi takut, namun bukankah semua sudah ditanggung oleh Yesus di atas salib Golgota. Ketika kita mengalami ketakutan, mari kita mau belajar seperti Yesus. Belajar terbuka kepada rekan-rekan yang dapat dipercaya dan siap memberikan dukungan. Juga datang kepada Bapa kita di sorga dan menceritakan semua pergumulan kita. Yang harus kita lakukan adalah membangun komunitas yang siap memberi dukungan. Dan yang terpenting adalah serahkan semua dan percayakan diri kita kepada Allah .
Sebuah buku berjudul “Orang-orang Hebat: Dari Mata Kaki ke Mata Hati” mengisahkan 20 tokoh hebat yang menggugah hati dan jiwa. Betapa tidak, mereka rela melawan arus, melanggar tradisi, bahkan mengingkari sumpah jabatan demi menolong sesama yang sangat membutuhkan. Satu di antara orang hebat itu adalah drg. Aloysius Giyai, seorang dokter sekaligus direktur RSUD Abepura, Papua. Dia adalah seorang dokter dari keluarga miskin yang berjuang keras atas nama kemanusiaan. Dia “membalas dendam” kemiskinannya dengan mengabdikan hidup untuk orang-orang miskin. Dia berani mengambil resiko karena melanggar aturan birokrasi orang-orang miskin mendapatkan pelayanan kesehatan gratis. Alhasil, justru bukan tindakan disiplin dari Depkes yang ia terima, melainkan pujian. Tidak hanya itu saja, ia mendapatkan penghargaan dari Gubernur JP Salossa karena keberaniannya demi kemanusiaan itu. Ternyata dalam Alkitab juga banyak mengisahkan tokoh-tokoh yang berani menentang aturan dan melanggar tradisi demi sebuah kebenaran yang dikehendaki Tuhan. Sebut saja Rasul Paulus yang berjuang memberi pengajaran tentang hidup benar sebagai orang percaya di tengah masyarakat yang terindoktrinasi pengajaran tentang Hukum Taurat dan tradisi, seperti sunat, dll. Dalam kiprahnya, sangat banyak tantangan yang dihadapi. Tidak jarang pengajarannya ditentang, bahkan dia juga difitnah dan dianiaya demi menyatakan kebenaran. Tidak jauh berbeda dengan Rasul Paulus, Tuhan Yesus justru lebih dulu mengalami hal yang sama. Demi menebus dosa manusia, Ia rela menjadi manusia Yesus. Namun manusia justru menolak-Nya karena mengajarkan hal-hal yang dikehendaki Bapa yang tidak lazim dilakukan oleh orang-orang pada umumnya. Akibatnya, fitnahan pengakuan sebagai Mesias yang dinantikan bangsa Israel, ditimpakan atasnya. Dari tokoh-tokoh yang kita baca di atas sepertinya tidak ada untungnya melawan arus. Bahkan sebuah ungkapan yang menyatakan: ”Jujur Ajur” (orang yang jujur akan hancur) sepertinya sangat dipegang teguh oleh orang yang nyaman dengan kenyamanan fana. Namun bagi orang-orang yang tersentuh jiwanya oleh karya Roh Kudus, mau mensyukuri kasih karunia dan membagikan kasih karunia melalui perbuatan, akan berjuang sekuat tenaga demi tegaknya sebuah kebenaran. Mereka akan rela untuk berkorban secara fisik maupun psikis mereka. Tidak tumbang ketika ditentang, tidak mundur ketika terbentur. Dan hasilnya, Tuhan akan memuliakan mereka dengan cara-Nya yang tak terpikirkan. Jadi jika saat ini di lingkungan Anda masih ada tradisi nenek moyang yang bertentangan dengan ajaran Firman (berdoa minta berkah pada arwah nenek moyang, orang kristen nyadran di kuburan, dll); kebiasaan-kebiasaan sosial yang tidak benar namun dianggap wajar (korupsi, selingkuh, kumpul kebo, kehidupan malam, mabuk, merokok, kawin cerai, dll); beranikah Anda mengambil sikap yang berbeda dengan orang kebanyakan?
Warisan adalah sesuatu yang diberikan atau diturunkan orangtua kepada anaknya. Ketika kata ‘warisan’ itu disebut, kebanyakan orang akan berpikir tentang sesuatu yang bersifat materi. Misalnya, suatu saat Anda mendengar berita bahwa Bapak A (tetangga Anda) telah mendapat warisan dari orangtuanya. Pasti pertanyaan selanjutnya yang muncul adalah warisan apa, berapa jumlahnya. Ya, memang seringkali warisan dihubungkan dengan harta kekayaan. Tetapi warisan tidak melulu berbicara tentang harta kekayaan, bisa saja itu berhubungan dengan sifat atau karakter, nilai-nilai, bahkan bisa juga kecenderungan penyakit bawaan secara genetika. Wah... pasti yang disebut terakhir ini tidak ada yang mau. Menjadi orangtua merupakan proses mewariskan. Yang saya maksudkan bukanlah mewariskan harta kekayaan, apalagi penyakit bawaan, tetapi mewariskan nilai-nilai kebenaran. Mau tidak mau, sadar atau tidak sadar proses itu akan berjalan dan terjadi secara otomatis dan alamiah. Contoh yang pernah ditulis dalam Alkitab adalah kisah yang dialami oleh Abraham dan Ishak. Abraham pernah berbohong kepada raja Firaun ketika dia mengakui Sara sebagai saudara perempuannya dalam pengungsiaannya ke Mesir supaya dia tidak dibunuh. Abraham juga melakukannya kepada Abimelekh, raja Gerar (Kejadian 20:2). Ternyata ini merupakan kebiasaan yang dilakukan Abraham ketika dia berada negeri asing (Kejadian 20:13). Ternyata kebiasaan itu juga dilakukan oleh Ishak, anaknya. Apa yang dilakukan oleh orangtua dicermati oleh anak. Apa yang dikatakan orangtua didengar oleh anak. Kebiasaan orangtua diperhatikan oleh anak. Di situlah terjadi proses mewariskan. Maka ada kata pepatah: ‘Buah jatuh tidak jauh dari pohonnya’; ‘Like father, like son’. Ya, tanpa disadari dan secara alamiah proses mewariskan itu pasti terjadi. Jika demikian faktanya, apa yang harus kita perhatikan sebagai orangtua (ataupun calon orangtua)? Tentunya kita harus mewariskan nilai-nilai yang benar. Semaksimal mungkin kita memberikan contoh yang positif, baik dan benar. Memang tidak dipungkiri bahwa tidak ada orangtua yang sempurna, tetapi itu tidak berarti kita berlaku sembrono atau semau gue. Seringkali orangtua marah ketika mendengar anaknya berkata kasar. Eee.. tunggu dulu, jangan-jangan itu terjadi karena orangtuanya yang sering ‘menceramahi’ anak dengan kata-kata kasar. Seringkali orangtua marah kalau anak malas ke Sekolah Minggu. Sabar dulu, jangan-jangan orangtuanya juga jarang ke gereja. Orangtua pasti murka kalau mendapati anaknya menghisap rokok. Tahan dan kuasai diri dulu, jangan-jangan orangtuanya juga perokok. Orangtua pasti jengkel kalau si kakak suka memukul adiknya. Wah.. jangan-jangan orangtuanya juga ‘ringan tangan’. Contoh di atas sama sekali tidak bermaksud untuk mendiskriditkan pihak orangtua, tetapi hendak menunjukkan bahwa apa yang orangtua lakukan, katakan, dan peragakan dilihat dan diamati oleh anak, serta membawa pengaruh yang besar kepada mereka. Oleh sebab itu kita sebagai orangtua harus berhati-hati dan berlaku bijak. Hendaknya kebaikan, kebajikan dan kebenaran yang kita lakukan dan katakan setiap hari. Karena ketika kita berlaku baik, berkata benar dan sopan, bersikap bijak, dan hal-hal positif lainnya, kita sedang mewariskan kebenaran bagi masa depan mereka.
BARCODE BBM CHANNELS
RENUNGAN HARIAN
Komunitas Yang Berdoa Bersama
31 Juli '14
Mengasihi Tanpa Rasa Takut
03 Agustus '14
Fair Play
14 Agustus '14
Copyright © 2012 All rights reserved. Designed and Developed by GIA Dr. Cipto Semarang