SEPEKAN TERAKHIR
  Kamis, 27 November 2014   -HARI INI-
  Rabu, 26 November 2014
  Selasa, 25 November 2014
  Senin, 24 November 2014
  Minggu, 23 November 2014
  Sabtu, 22 November 2014
  Jumat, 21 November 2014
POKOK RENUNGAN
“Pujilah Allah senantiasa, karena anugerah-Nya telah menyelamatkan kita di dalam Tuhan Yesus Kristus. Pujilah Allah karena hikmat dan pikiran-Nya tak terselami oleh siapa pun di dunia ini.”
DITULIS OLEH
Pdt. Y. Agus Santoso
Rohaniwan Pusat
Renungan Lain oleh Penulis:
Home  »  Renungan  »  Semua Untuk Kemuliaan Allah
Semua Untuk Kemuliaan Allah
Rabu, 20 Maret 2013 | Tema: Umat Yang Memasyurkan Allah
Semua Untuk Kemuliaan Allah
Roma 11:33-36
Kita sering bernyanyi “mulia, mulia bagi Anak domba....” Kadang kita juga menyanyikan “segala puji syukur bagi-Mu, kutinggikan nama-Mu selalu...” dan banyak lagi pujian lain yang syairnya senada dengan lagu pujian tersebut. Apa sebenarnya pesan yang hendak disampaikan kepada umat Allah saat pujian tersebut dinyanyikan? Bacaan renungan pagi ini berkisah tentang pujian bagi kemuliaan Allah. Ayat yang kita baca lebih dikenal sebagai teologi pujian bagi Allah. Mengapa penulis menuliskan hal ini untuk disampaikan kepada jemaat? Pesan apa yang hendak disampaikan?

Berdasarkan bacaan ayat-ayat sebelumnya dan sesudahnya, sebenarnya Rasul Paulus, sebagai penulis surat ini, sangat kagum dengan karya, hikmat, dan pikiran Allah sebagai perencana segala sesuatu secara sempurna. Khususnya dalam hal keselamatan manusia dari dosa melalui karya Tuhan Yesus di kayu salib. Pujian tersebut hendak menyatakan bahwa bangsa Israel sebagai umat pilihan Allah (berdasarkan perjanjian Allah dengan Abraham) sedang menegarkan hatinya. Maka saat ini bangsa Israel sedang dibiarkan Allah untuk sementara waktu. Sekarang Allah mau berurusan dengan bangsa-bangsa lain untuk membentuk umat yang baru, yang dikenal dengan sebutan gereja. Setelah jumlahnya cukup dan waktu kunjungan Allah untuk bangsa-bangsa lain sudah selesai, maka Allah akan kembali berurusan dengan bangsa Israel (ayat 7-25).

Semakin kita merenungkan pekerjaan Allah, semakin kita memuji Allah karena hanya DIA-lah Allah yang mampu mengerjakan segala sesuatu dengan sempurna untuk kepentingan umat manusia...selengkapnya »
Perang Kosovo adalah salah satu perang yang menjadi perhatian dunia yang berlangsung sekitar tahun 1990an di wilayah bekas negara Yugoslavia. Perang tersebut melibatkan negara besar seperti Rusia, Amerika Serikat dan beberapa negara yang tergabung dalam Uni Eropa, yang kemudian mengakibatkan perang ini berpotensi menjadi perang yang dahsyat Selama berlangsungnya perang di Kosovo pada tahun 1999, tiga tentara Amerika ditangkap dan disandera selama lebih dari satu bulan. Setelah dilakukan negosiasi yang menegangkan, muncul suatu kesepakatan dan tawanan pun dibebaskan. Roy Lloyd adalah seorang utusan yang menjamin pembebasan ketiga tentara itu melaporkan, ”Ketiga tentara muda itu sangat religius. Salah seorang dari mereka, Christopher Stone, tidak bersedia pergi sebelum diizinkan menemui tentara yang menjaganya selama dia ditawan, dan berdoa untuknya.” Tentara muda tersebut memahami prinsip-prinsip yang diajarkan Yesus. Christopher Stone bisa saja marah terhadap keadaan yang dialaminya dan membenci orang yang menangkapnya. Stone bisa saja memenuhi hatinya dengan kebencian dan dendam. Serta, dia bisa saja terbakar oleh api kemarahan karena segala kesulitan yang dialaminya. Namun dengan menaati perintah Yesus (Matius 5:44) serta teladan Paulus dan Silas di Filipi (Kisah Para Rasul 16:25-34), Stone mengampuni orang yang menawannya bahkan melayaninya. Di dunia ini, balas dendam merupakan hal yang wajar. Namun orang-orang percaya dipanggil untuk melakukan hal yang berbeda. Kita harus berdoa untuk orang-orang yang menganiaya kita, mengampuni mereka, dan melayani mereka. Prinsip-prinsip Yesus memang merupakan suatu tantangan bagi para pengikut-Nya, namun dengan pertolongan Roh Kudus, kita dapat memilih untuk memiliki hati yang mau mengampuni. Dengan hati yang diterangi oleh Roh Kudus, kita akan diamampukan untuk memberi pengampunann bagi semua orang. Tidak hanya pengampunan bagi orang-orang terdekat kita atau orang-orang yang kita kenal saja, tetapi juga bagi orang yang membenci dan bahkan telah menyakiti kita. Bukan dengan kekuatan manusia, kita dapat mengampuni, hanya dengan pertolongan Tuhan saja kita dapat dikuatkan untuk melepaskan pengampunan bagi semua orang.
Seorang teman yang sangat suka membuat berbagai macam makanan bergabung dengan sebuah group pencinta kuliner. Dari situ ia berhasil mengumpulkan banyak resep dan mempraktikkannya satu demi satu. Ketika seorang tetangga mengetahui bahwa teman ini berhasil membuat banyak macam makanan, tetangga itu meminta agar ia diberitahu resep-resep yang didapat dari group kuliner itu. Mendengar permintaan itu, galaulah hati teman ini. Kasih tahu nggak ya??? Kalau diberitahu, kok enak sekali ya? Tidak usah susah-susah mencari, tinggal minta. Kalau tidak diberitahu, rasanya kok sungkan. Terhadap tetangga kok pelit. Akhirnya kegalauannya tercium juga oleh sang suami. Jadilah ia menceritakan persoalan itu kepada suaminya. Sang suami bertanya, “Mama dapat resep itu dari hasil membeli atau gratis?” “Gratis, Pa.” “Susah payah browsing di google atau tanya teman di group kuliner itu?” “Tanya teman, Pa.” “Lha ya sudah, kok bingung-bingung. Dapat resepnya kan gratis, Mama juga dapat dari teman. Sekarang tetangga kita minta, ya beri saja. Wong ya Mama ndak berjualan pakai resep itu. Atau suruh saja tetangga kita bergabung di group kuliner itu supaya bisa mengumpulkan resep-resep seperti Mama.” Lupa. Seperti wanita tadi yang lupa bahwa ia mendapatkan resepnya dengan gratis, sering kali kita lupa bahwa kita sangat banyak mendapat kemurahan dari Tuhan, kebaikan dari Tuhan, pengampunan dari Tuhan. Sehingga ketika tiba giliran orang lain membutuhkan kemurahan dari kita, kebaikan dari kita, pemberian maaf dari kita ... kita begitu penuh perhitungan seolah-olah kita tak pernah mendapat semua itu dari Tuhan. Keselamatan yang kita peroleh, perlindungan, kesehatan, kecukupan ... semua itu bukan berasal dari usaha kita sendiri. Betapapun keras kita berusaha, bila Tuhan tidak menganugerahkannya kepada kita, tak akan sampai ke tangan kita. Oleh karena itu janganlah kita angkuh sebab semua yang melekat dalam diri kita berasal dari Tuhan. Dan Tuhan memberi apa yang baik buat kita agar kita melakukan pekerjaan baik yang telah dipersiapkan-Nya untuk kita kerjakan.
Binatang kecil yang pasti dibenci oleh setiap orang yang memiliki rumah kayu karena sering menghabiskan kayu-kayu adalah RAYAP. Binatang kecil putih berkepala coklat pemakan kayu itu, sudah sejak lama menjadi musuh manusia karena sering menghancurkan rumah yang terbuat dari kayu, baik berupa perabotan maupun kelengkapan rumah. Setiap pasti ingin memusnahkannya. Tetapi siapa sangka bahwa binatang tersebut memiliki naluri yang sangat bagus, sehingga dapat diteladani oleh orang Kristen. Rayap sangat tunduk dan setia terhadap ratunya. Naluri untuk mengikuti setiap perintah ratunya selalu melekat pada dirinya. Panggilan yang dipancarkan oleh sang ratu sangat kuat mempengaruhi setiap anggota koloni yang melayani ratu. Rayap-rayap ini hidup tunduk kepada ratunya. Mereka hidup melakukan kehendak ratu dan mengabdi sepenuhnya kepada ratu, dan bermanfaat bagi mereka bersama. Kita sebagai orang kristen telah diciptakan dan dipilih agar menjadi berguna bagi Allah dan sesama (Efesus 2:10). Bagaimana cara kita dapat meresponi panggilan dari Raja kita? Mari kita belajar seperti Matius ketika dipanggil oleh Tuhan Yesus untuk menjadi alat-Nya. Yang dilakukan Matius ketika dipanggil, yaitu: pertama, berdiri dan meninggalkan semua dan mengikut Yesus (Lukas 5:28). Kedua, Matius mengundang Yesus ke rumahnya dan mengadakan perjamuan makan untuk Yesus di rumahnya (Matius 9:10a). Ketiga, Matius memperkenalkan Yesus kepada sesama orang berdosa, yaitu ketika Matius mengundang Yesus makan di rumahnya. Dia juga mengundang banyak pemungut cukai dan orang berdosa lainya (Matius 9:10b). Posisi kita sama dengan Matius, yaitu diciptakan dan dipilih Allah untuk melakukan kehendaknya. Hendaklah teladan Matius selalu melekat dalam hidup kita, yaitu menjadi alat Allah memperkenalkan kebaikan Allah itu kepada semua orang melalui kehidupan kita sehari-hari.
Dulu, ketika membantu pelayanan di sebuah jemaat, saya melihat keadaan yang tidak lazim menurut pandangan saya. Di gereja tersebut ada sejumlah pria (kepala keluarga) yang masih sehat dan dalam usia masih produktif tetapi tidak bekerja. Dan yang mencari penghasilan untuk mencukupi kebutuhan keluarga adalah para istri. Sebenarnya, dulu, mereka pernah bekerja. Tetapi karena kondisi dan alasan tertentu, kemudian mereka tidak lagi bekerja. Tentunya ini sebuah keadaan yang tidak sehat. Seseorang yang hidupnya tidak punya arti bagi sesama, tidak mau bekerja tetapi bergantung kepada orang lain, dan sungguh tidak mandiri, tidaklah berlebihan jika disebut seperti benalu. Tatanan masyarakat sekarang menilai seseorang yang mempunyai pekerjaan, meskipun pekerjaannya kasar adalah orang yang terhormat. Jika orang tidak mau bekerja akan dinilai malas, malah bisa-bisa dianggap manusia yang tidak berguna. Ini status yang hina dan memalukan. Melalui suratnya, Rasul Paulus mendorong Titus untuk mengingatkan jemaat di Kreta untuk memiliki pekerjaan supaya dapat hidup mandiri dan bisa mencukupi kebutuhan hidup pribadi ataupun keluarganya. Bahkan dengan memiliki pekerjaan, mereka pun diharapkan dapat membantu yang lain. Dalam hal ini jemaat diajar bahwa rezeki yang diperoleh dari bekerja bukan hanya dipergunakan untuk memenuhi keperluan hidup, tetapi juga dapat dimanfaatkan untuk menjadi berkat bagi sesama. Dengan demikian rezeki dapat dipergunakan untuk membangun hidup yang berguna. Karena seseorang berani mengambil sikap untuk memutuskan kecenderungan serakah dan menutup mata bagi sesama. Sebelum kita terlelap dalam istirahat malam merupakan kesempatan untuk bersyukur atas semua rezeki yang kita peroleh dari Tuhan hari ini. Kita bersyukur hari ini telah menjadi berkat bagi sesama dengan berbagi rezeki meskipun kecil. Tetapi kita yakin, besok berkat Tuhan akan ada lagi. Kiranya esok kita semakin hidup berguna bagi sesama.
BARCODE BBM CHANNELS
RENUNGAN HARIAN
Antara Kasih Dan Hukuman
06 November '14
Susahkah Melupakan Kesalahan Orang?
17 November '14
Berapa Kali Harus Mengampuni?
16 November '14
Copyright © 2012 All rights reserved. Designed and Developed by GIA Dr. Cipto Semarang