SEPEKAN TERAKHIR
  Jumat, 28 Agustus 2015   -HARI INI-
  Kamis, 27 Agustus 2015
  Rabu, 26 Agustus 2015
  Selasa, 25 Agustus 2015
  Senin, 24 Agustus 2015
  Minggu, 23 Agustus 2015
  Sabtu, 22 Agustus 2015
POKOK RENUNGAN
“Pujilah Allah senantiasa, karena anugerah-Nya telah menyelamatkan kita di dalam Tuhan Yesus Kristus. Pujilah Allah karena hikmat dan pikiran-Nya tak terselami oleh siapa pun di dunia ini.”
DITULIS OLEH
Pdt. Y. Agus Santoso
Rohaniwan Pusat
Renungan Lain oleh Penulis:
Home  »  Renungan  »  Semua Untuk Kemuliaan Allah
Semua Untuk Kemuliaan Allah
Rabu, 20 Maret 2013 | Tema: Umat Yang Memasyurkan Allah
Semua Untuk Kemuliaan Allah
Roma 11:33-36
Kita sering bernyanyi “mulia, mulia bagi Anak domba....” Kadang kita juga menyanyikan “segala puji syukur bagi-Mu, kutinggikan nama-Mu selalu...” dan banyak lagi pujian lain yang syairnya senada dengan lagu pujian tersebut. Apa sebenarnya pesan yang hendak disampaikan kepada umat Allah saat pujian tersebut dinyanyikan? Bacaan renungan pagi ini berkisah tentang pujian bagi kemuliaan Allah. Ayat yang kita baca lebih dikenal sebagai teologi pujian bagi Allah. Mengapa penulis menuliskan hal ini untuk disampaikan kepada jemaat? Pesan apa yang hendak disampaikan?

Berdasarkan bacaan ayat-ayat sebelumnya dan sesudahnya, sebenarnya Rasul Paulus, sebagai penulis surat ini, sangat kagum dengan karya, hikmat, dan pikiran Allah sebagai perencana segala sesuatu secara sempurna. Khususnya dalam hal keselamatan manusia dari dosa melalui karya Tuhan Yesus di kayu salib. Pujian tersebut hendak menyatakan bahwa bangsa Israel sebagai umat pilihan Allah (berdasarkan perjanjian Allah dengan Abraham) sedang menegarkan hatinya. Maka saat ini bangsa Israel sedang dibiarkan Allah untuk sementara waktu. Sekarang Allah mau berurusan dengan bangsa-bangsa lain untuk membentuk umat yang baru, yang dikenal dengan sebutan gereja. Setelah jumlahnya cukup dan waktu kunjungan Allah untuk bangsa-bangsa lain sudah selesai, maka Allah akan kembali berurusan dengan bangsa Israel (ayat 7-25).

Semakin kita merenungkan pekerjaan Allah, semakin kita memuji Allah karena hanya DIA-lah Allah yang mampu mengerjakan segala sesuatu dengan sempurna untuk kepentingan umat manusia...selengkapnya »
Matius 8:5-13 Tetapi jawab perwira itu kepada-Nya: ’Tuan, aku tidak layak menerima Tuan di dalam rumahku, katakan saja sepatah kata, maka hambaku itu akan sembuh. [ayat 8] Banyak kali Tuhan Yesus melakukan perbuatan-perbuatan yang mengherankan. Kalau membaca kisah-kisah mujizat di Alkitab kita merasa heran dengan apa yang Tuhan lakukan. Tetapi kapan Tuhan Yesus sendiri merasa heran? Paling tidak ada sebuah peristiwa yang dicatat Alkitab bahwa Yesus merasa heran, yaitu kepada iman dari seorang perwira. Apa yang membuat-Nya merasa heran? Kepedulian Perwira itu Perwira itu mempunyai kepedulian terhadap hambanya. Apa arti seorang budak bagi seorang tuan? Jika seorang hamba sudah tidak mampu berbuat apa-apa dan tidak berguna lagi bagi tuannya, tuan itu bisa saja menyingkirkan hamba itu dari hadapannya dan mencari hamba yang lainnya. Tetapi perwira itu adalah seorang yang murah hatinya. Dia tidak membuang hambanya, bahkan mencari pertolongan untuk hamba itu. Dia peduli terhadap penderitaan yang dialami oleh hambanya. Orang seperti inilah yang imannya dikagumi oleh Yesus. Kerendahan hati Perwira itu Kerendahan hati perwira itu terlihat ketika dia berkata kepada Yesus: ’Tuan, aku tidak layak menerima Tuan di dalam rumahku, katakan saja sepatah kata, maka hambaku itu akan sembuh.’ Rumah perwira itu pasti bukan rumah yang sederhana, pasti rumahnya cukup bagus dan layak untuk menerima Yesus. Pasti dia mempunyai pembantu-pembantu yang membersihkan dan merapikan rumahnya setiap hari. Tapi dia sangat rendah hati, sehingga dia merasa tidak layak menerima Yesus di rumahnya. Iman Perwira itu Perwira itu mengenal dengan betul siapa Yesus, bahwa Yesus mempunyai kuasa. Dia berkata: ’katakan saja sepatah kata, maka hambaku itu akan sembuh.’ Dia percaya penuh bahwa kata-kata Yesus sangat berkuasa, bahwa hanya dengan kata-kata-Nya saja maka mujizat bisa terjadi. Di dalam kata-kata [Firman] yang keluar dari mulut Tuhan ada kuasa yang membuat mujizat dapat terjadi. Di dalam kata-kata ada kuasa yang dahsyat yang sanggup membuat yang sakit jadi sembuh. Di dalam kata-kata ada kuasa yang membuat hal yang mustahil menjadi mungkin. Percayakah Anda akan kuasa dari kata-kata Tuhan Yesus itu? Perwira itu percaya akan kuasa kata-kata Yesus. Maka terjadilah mujizat itu. Hambanya disembuhkan. Iman perwira itu membuat Yesus heran/kagum dan berkata: ’iman sebesar ini tidak pernah Aku jumpai pada seorangpun di antara orang Israel.’ Sungguh luar biasa iman itu sampai membuat Yesus heran. Apakah Anda mempunyai iman seperti iman perwira itu?
Rasul Paulus sangat berjerih lelah dalam pelayanannya dan mengalami berbagai macam penderitaan. Sering dimasukkan penjara, didera diluar batas, kerap kali dalam bahaya maut. Lima kali disesah orang Yahudi, setiap kali empat puluh kurang satu pukulan. Tiga kali didera, satu kali dilempari dengan batu, tiga kali mengalami karam kapal, sehari semalam terkatung-katung di tengah laut. Sering diancam bahaya banjir dan bahaya penyamun, bahaya dari pihak orang Yahudi dan dari bukan Yahudi, bahaya di kota, bahaya di padang gurun, bahaya di tengah laut. Bekerja berat, kerap kali tidak tidur, lapar dan dahaga, berpuasa, kedinginan dan tanpa pakaian. Walaupun demikian dia tetap bertahan dalam iman dan pelayanannya. Apa rahasianya ? Dalam hidupnya yang seperti bejana tanah liat, di dalamnya tersimpan kekuatan melimpah yang berasal dari Allah. Kekuatan itu yang membuat Rasul Paulus ketika ditindas namun tidak terjepit, habis akal namun tidak putus asa, dianiaya namun tidak ditinggalkan sendirian, dihempaskan namun tidak binasa. Dengan penderitaan, kehidupan Yesus menjadi nyata di dalam tubuhnya, hidupnya adalah Kristus. Semakin besar penderitaan, semakin besar kasih karunia-Nya, semakin banyak orang menjadi percaya dan semakin melimpah ucapan syukur bagi kemuliaan Allah. Dia tidak tawar hati, meskipun manusia lahiriahnya makin merosot, namun manusia batiniahnya dibaharui dari hari ke sehari. Penderitaan seperti sakit penyakit, tekanan ekonomi, masalah keluarga, bencana alam, fitnah, aniaya, dan lain sebagainya sangat mungkin untuk kita alami karena kita tidak imun terhadap penderitaan. Tubuh kita rapuh seperti bejana tanah liat, tetapi di dalam hidup kita ada Roh Kudus yang kekuatan-Nya jauh lebih besar dari segala macam penderitaan. Kita bertahan dalam penderitaan karena kuasa Allah. Melalui penderitaan akan nyata kasih karunia-Nya, semakin memuliakan Dia, melimpah dengan syukur dan menjadi saksi-Nya. Marilah kita tidak tawar hati apabila dalam penderitaan karena walaupun tubuh kita makin merosot, tetapi batin/rohani kita dibaharui dari hari ke sehari.
Bagi Anda penggemar film action, tentu tidak asing lagi dengan aksi Sylvester Stallone yang sangat menegangkan dalam film yang populer yang berjudul Rambo. Dalam salah satu serinya, diceritakan bahwa John Rambo adalah tentara Amerika yang memiliki tugas khusus untuk membebaskan rekannya yang menjadi tawanan tentara Vietnam. Bukan hal yang mudah untuk bisa menyusup ke daerah lawan dan membebaskan tawanan. Ada banyak tantangan yang dihadapi, di antaranya keadaan alam yang sangat liar; jumlah tentara Vietnam yang lebih banyak, bahkan penghianatan yang dilakukan oleh atasannya sendiri karena iri dengan kemampuan yang dimiliki oleh John Rambo. Namun demi tujuan untuk membebaskan rekannya itu, semua tantangan dia hadapi dengan berani, tangguh dan penuh daya juang. Dia tidak mempedulikan rasa sakit pada luka-lukanya, waktu santainya, mungkin juga keluarganya. Semuanya rela dilakukan demi sebuah misi penyelamatan. Dedikasi seorang prajurit seperti ini juga dimiliki oleh seorang tokoh yang kita pelajari pada nats yang kita baca hari ini, yaitu kisah pelayanan Rasul Paulus. Dia adalah seseorang yang berpotensi dan diperhitungkan di kalangan masyarakat waktu itu karena dia adalah keturunan Yahudi dan menjadi murid seorang guru besar Gamaliel. Belum lagi hal-hal besar yang dilakukannya untuk menganiaya orang percaya, dan hal itu dianggap sebagai ”pahlawan” Yahudi. Namun dia meninggalkan semua atribut yang disandangnya setelah mengenal Yesus. Bahkan dia rela direndahkan, tidak diperhitungkan, dianiaya, diusir dari tempat dia dibesarkan, bahkan beberapa kali nyawanya terancam karena dia punya misi untuk memberitakan Injil supaya orang-orang diselamatkan. Demikian halnya dengan Sang Guru, yaitu Yesus. Dia sudah mengalami penderitaan yang paling menderita, rasa sakit yang paling sakit dan penghinaan yang paling hina juga demi sebuah misi, yaitu untuk menyelamatkan manusia. Bila dibandingkan dengan kedua tokoh di atas, apa yang kita alami saat memberitakan Injil belum seberapa. Kita masih dihina oleh beberapa orang, kita masih dipandang sinis, kita masih ditahan, dikucilkan. Kalaupun ada yang sampai mengorbankan nyawa demi nama Yesus, hendaknya kita berbahagia. Dengan demikian kita telah menunaikan tugas yang Yesus teladankan. Jadi kalau saat ini hambatan kita masih berupa: posisi kita sebagai minoritas, rasa malu, sungkan, kelompok radikal yang anarkis, aturan yang jauh dari rasa keadilan, dan lain-lainnya, tetap tegaklah. Melangkah dan berlarilah dengan penuh keberanian dan ketaatan pada perintah Tuhan, maka Allah sendiri yang akan berperkara atas kita.
Hari ini, tepatnya 70 tahun yang lalu, pekik ‘MERDEKA’ membahana di seantero negeri. Seluruh elemen bangsa di bawah komando Bung Karno dan Bung Hatta dengan penuh semangat dan kebanggaan memproklamirkan kemerdekaan Indonesia dari penjajahan bangsa asing. Sejak saat itu Indonesia bukan lagi bangsa yang terjajah, tetapi telah menjadi bangsa yang merdeka. Yang seringkali menjadi sorotan saat ini adalah sebagai bangsa yang merdeka, namun masih memiliki mentalistas bangsa yang terjajah. Buya Syafii Maarif menyatakan bahwa ‘mentalitas terjajah itu selalu merunduk bila bertemu bule [orang asing], selalu minder berhadapan dengan orang lain, dan mental lainnya yang menghambat diri kita untuk maju’. Intinya, mentalitas bangsa yang terjajah adalah rendah diri. Penyakit rendah diri itu telah akut diderita oleh bangsa Israel. Hal itu terlihat dari reaksi mereka ketika mendengar perkataan sepuluh pengintai bahwa kota yang diintai adalah kota yang kuat, berkubu, dan sangat besar; ada keturunan raksasa; negeri yang memakan penduduknya. Mereka merasa kecil dan tidak ada apa-apanya dibanding penduduk negeri Kanaan [Bilangan 13:28, 32-33]. Sontak saja berita itu membuat nyali mereka ciut dan kehilangan kepercayaan kepada Allah yang telah membebaskan mereka dari perbudakan Mesir dan yang menuntun mereka ke tanah perjanjian dengan tangan-Nya yang dahsyat. Mereka menangis dengan suara nyaring; bersungut-sungut kepada Musa dan Harun. Mereka berniat mengangkat pemimpin baru untuk kembali ke Mesir. Mereka memberontak kepada Allah. Ternyata, meskipun bangsa Israel telah merdeka dari perbudakan Mesir, tetapi mentalitas budak masih melekat dalam diri. Kita adalah umat yang telah dimerdekakan dari perbudakan dosa. Mentalitas manusia lama kita harus dikalahkan. Bagaimana respon kita ketika kita diperhadapkan kepada godaan dosa? Ketika kita diperhadapkan dengan pergumulan dan tekanan kehidupan, apakah kita tetap berpegang teguh kepada Allah dan tidak sedikitpun meragukan kasih-Nya. Ketika kita menghadapi tanggung jawab yang besar dan berat, masihkah kita bersemangat dan bertekad menyelesaikannya dengan baik? Ketika kita tidak memperoleh yang kita inginkan dan keadaan tidak berjalan seperti yang kita harapkan, masihkah kita tetap setia, loyal, dan berkomitmen kepada Tuhan. Dan masih banyak lagi pertanyaan serupa yang harus kita jawab dengan jujur.
BARCODE BBM CHANNELS
RENUNGAN HARIAN
Seorang Prajurit yang baik
09 Agustus '15
Demi Sebuah Misi, Aku berlari
13 Agustus '15
Katakan Saja Sepatah Kata
02 Agustus '15
Copyright © 2012 All rights reserved. Designed and Developed by GIA Dr. Cipto Semarang