SEPEKAN TERAKHIR
  Sabtu, 01 Oktober 2016   -HARI INI-
  Jumat, 30 September 2016
  Kamis, 29 September 2016
  Rabu, 28 September 2016
  Selasa, 27 September 2016
  Senin, 26 September 2016
  Minggu, 25 September 2016
POKOK RENUNGAN
Pujilah Allah senantiasa, karena anugerah-Nya telah menyelamatkan kita di dalam Tuhan Yesus Kristus. Pujilah Allah karena hikmat dan pikiran-Nya tak terselami oleh siapa pun di dunia ini.
DITULIS OLEH
Pdt. Y. Agus Santoso
Rohaniwan Pusat
Renungan Lain oleh Penulis:
Home  »  Renungan  »  Semua Untuk Kemuliaan Allah
Semua Untuk Kemuliaan Allah
Rabu, 20 Maret 2013 | Tema: Umat Yang Memasyurkan Allah
Semua Untuk Kemuliaan Allah
Roma 11:33-36
Kita sering bernyanyi mulia, mulia bagi Anak domba.... Kadang kita juga menyanyikan segala puji syukur bagi-Mu, kutinggikan nama-Mu selalu... dan banyak lagi pujian lain yang syairnya senada dengan lagu pujian tersebut. Apa sebenarnya pesan yang hendak disampaikan kepada umat Allah saat pujian tersebut dinyanyikan? Bacaan renungan pagi ini berkisah tentang pujian bagi kemuliaan Allah. Ayat yang kita baca lebih dikenal sebagai teologi pujian bagi Allah. Mengapa penulis menuliskan hal ini untuk disampaikan kepada jemaat? Pesan apa yang hendak disampaikan?

Berdasarkan bacaan ayat-ayat sebelumnya dan sesudahnya, sebenarnya Rasul Paulus, sebagai penulis surat ini, sangat kagum de...selengkapnya »
Suzhou, Tiongkok, inilah tempat di mana kisah nyata tentang seorang gadis berhati mulia ini terjadi. Seperti biasa, seorang pengemis tua duduk di atas papan beroda miliknya. Sambil menjulurkan tempat sedekah miliknya, pengemis yang ternyata cacat tersebut terus memerhatikan orang yang lalu lalang di depannya. Tiba-tiba saja hujan turun. Pengemis itu bingung, tetapi apa mau dikata, dia tidak bisa lekas beranjak. Dengan sangat pelan dia mulai berpindah, tentu saja gerakannya ini tidak cukup untuk menghindar dari guyuran air hujan. Namun sebelum hujan semakin bertambah deras, seorang gadis berlari dari pinggir toko di mana dia berdiri, membawa payung yang sudah dia buka dan memayungi pengemis tersebut. Untuk beberapa menit mereka berdua terlindung dari hujan. Dengan setia si gadis mengiringi gerakan si pengemis yang hendak menepi ke tempat teduh. Sayangnya hujan semakin bertambaj deras disertai angin. Bisa dipastikan bahwa payung itu tidak mampu melindungi mereka berdua. Tanpa dikomando, si gadis lalu mengarahkan payungnya lebih ke arah si pengemis. Sementara itu, dia membiarkan tubuhnya diguyur air hujan. Beberapa saat hujanpun reda. Gadis itu pulang dengan pakaian di tubuhnya yang basah kuyup. Perbuatan baik gadis itu mungkin bagi kebanyakan orang dianggap tidak spektakuler. Bahkan sangat mungkin ada yang berpandangan negatif terhadap dia, entah dikira mencari sensasi atau dikira ingin menonjolkan kebaikan. Satu hal yang penting yang dilakukan gadis itu, entah sengaja atau tidak dia sudah meneladani Yesus. Tidak pernah ada kata terlambat untuk menunjukkan hati yg mulia dengan perbuatan baik. Sebagai pengikut Kristus kita harus selalu melakukan perbuatan baik, bukan untuk kepentingan kita, tetapi untuk kebaikan orang lain, dan terutama untuk kemuliaan nama Tuhan.
Dalam realitas dijumpai orang kristen yang melayani Tuhan dengan motif yang berbeda. Bagi orang Kristen baru, belum dewasa rohani karena belum memahami kebenaran Injil secara memadai, bisa berpola pikir “memanfaatkan Tuhan”. Mereka rajin ke gereja, terlibat dalam aktivitas rohani gereja dengan tujuan supaya Tuhan memberkati hidupnya, kebutuhan jasmani dipenuhi, problem dalam hidup cepat dan mudah mendapat solusi, bila sakit segera mendapat kesembuhan secara mujizat, dsb. Mereka berpikir bahwa kalau sudah percaya pada Tuhan Yesus, maka Tuhan bertanggung jawab atas kehidupannya, sehingga selalu mengharapkan bagian Tuhan digenapi. Fokus hidup seperti ini, yaitu menggunakan kebaikan dan kuasa Tuhan untuk pemenuhan kebutuhan jasmani akan berakibat: • Hidup tidak bertanggung jawab, memikul kewajiban dengan bekerja keras [Kejadian 1:28]. • Fokus hidupnya tidak ditujukan pada Kerajaan Surga dan cenderung terus mencintai hal-hal fana/duniawi [Matius 6:31-32]. • Tidak membangun sikap berjaga-jaga menghadapi musuh yang sangat cerdik [1 Petrus 5:8]. Di dalam ayat bacaan kita temukan pengajaran Tuhan Yesus supaya kita sebagai hamba Tuhan terus belajar melayani Tuhan dengan asas devosi, yaitu dengan kesetiaan, ketaatan, dan kasih yang dalam [pengabdian tanpa batas dan tidak bersyarat]. Untuk itu diperlukan pemahaman yang dalam dan kesadaran penuh bahwa: • Hidup kita telah ditebus dari kesia-siaan dengan harga yang sangat mahal [1 Petrus 1:18-19]. • Hidup kita bukan milik kita sendiri [1 Korintus 6:19-20]. • Kita berhutang untuk hidup menurut Roh, yaitu hidup sesuai dengan kehendak Allah [Roma 8:12-13] dan tidak sekedar mentaati hukum. Jadi kita sebagai pengikut Kristus harus terus bertumbuh menjadi murid Kristus yang rela dididik supaya dewasa rohani [tidak sekedar dewasa mental]. Sebagai seorang hamba yang menyadari posisinya di hadapan Tuhan, siap setiap saat melakukan kewajiban yang dilandasi sikap rendah hati. Hal ini akan menyenangkan hati Tuhan sebagai pemilik hidup kita dan majikan yang harus kita layani.
Salah satu hal yang perlu diperhatikan dalam membangun adalah bekerjasama. Membangun apa saja tentu diperlukan suatu kerjasama. Siapa pun yang mengerjakan apa saja jikalau dikerjakan sendiri akan berbeda hasilnya dibandingkan dengan bekerjasama. Hasilnya akan jauh lebih baik dan sempurna. Apakah itu membangun rumah, jembatan ataupun membersihkan kampung. Bahkan untuk mengerjakan sesuatu yang sifatnya pribadi pun tetap membutuhkan uluran tangan orang lain atau setidaknya masih terkait dengan orang lain. Misalnya: mengerjakan skripsi, tesis, tugas akhir, dsb. Demikian juga dalam kehidupan berjemaat dalam membangun tubuh Kristus, kita harus saling bekerjasama dan saling tolong menolong dalam segala hal. Mengapa harus bekerjasama dan saling tolong-menolong dalam membangun tubuh Kristus? Rasul Paulus memberikan beberapa alasan kepada jemaat Galatia terkait masalah ini. Pertama, semua orang [termasuk orang kristen] tidak kebal terhadap pencobaan [ayat 1]. Ketika rekan kita sedang menghadapi masalah atau pelanggaran maka tugas kita yang kuat adalah memberi pertolongan dengan cara memimpin kepada jalan yang benar dengan roh yang lemah lembut, sambil menjaga diri sendiri. Kedua, karena kita semua mengasihi Tuhan [ayat 2-3]. Kita menolong saudara kita yang sedang menghadapi persoalan dengan semangat kasih Kristus. Dengan demikian kita disadarkan bahwa kalau kita bisa menolong itu bukan kuat dan gagah kita, tetapi hanya karena Tuhan saja sehingga jangan ada yang merasa kuat tanpa Tuhan [ayat 3]. Ketiga, sebagai bentuk penghormatan kepada Allah [ayat 7]. Artinya dengan saling menolong maka kita mengikuti kehendak Tuhan. Kita terhindar dari dosa mementingkan diri sendiri dan berbagai dosa kedagingan [ayat 8]. Tuhan tidak menghendaki orang-orang yang telah lahir baru jatuh dalam dosa kedagingan. Keempat, apa yang kita lakukan akan kita tuai [ayat 9]. Apa yang kita lakukan, yaitu sikap kita terhadap pertumbuhan tubuh Kristus itu kelak akan kita tuai. Saudara, mari kita memperhatikan dengan baik ke empat alasan hal di atas. Semua itu merupakan landasan praktis yang bisa kita wujudkan demi pembangunan tubuh Kristus. Mari kita bersemangat untuk menghidupinya mumpung masih ada kesempatan [ayat 10].
Rela berkorban adalah kesediaan dan keikhlasan memberikan segala sesuatu yang dimiliki untuk sesama walaupun akan menimbulkan ‘penderitaan’ bagi dirinya sendiri. Itu berarti rela menomorduakan kepentingan sendiri demi membantu orang lain. Demi kebaikan sesama. Ketika Paulus tiba di Yerusalem dan berusaha bergabung dengan saudara seiman, para murid merasa takut karena tidak percaya jika Paulus yang sebelumnya bernama Saulus, sang penganiaya jemaat, telah menjadi murid Kristus. Tetapi di tengah penolakan terhadap Paulus, ada seorang pribadi, yaitu Barnabas, yang tanpa ragu menerima dan membela Paulus. Bahkan ia membawanya kepada para rasul. Melalui penjelasan Barnabas tentang kisah pertobatan dan pengajaran Paulus dalam nama Tuhan, para rasul diyakinkan dan bersedia menerima Paulus untuk tinggal bersama-sama mereka. Apa yang dilakukan Barnabas bukan tanpa resiko. Ia ‘berani melawan arus’. Ia berani mengambil sikap dan tindakan yang berbeda untuk mendukung Paulus. Barnabas bersedia keluar dari zona aman dan rasa nyamannya demi ‘menjaga’ petobat baru yang sangat berpotensi bagi pekerjaan Tuhan. Semua itu dilakukan sepenuhnya untuk kepentingan dan kebaikan Paulus. Barnabas menunjukan semangat rela berkorban bagi orang lain. Bagaikan sebuah lilin yang rela tubuhnya meleleh habis terbakar, tetapi dengan cara itu telah membawa manfaat besar bagi sekitarnya. Musuh yang secara perlahan dapat melemahkan semangat rela berkorban adalah kecenderungan untuk bersikap egois. Sikap egois bisa disamakan dengan karat pada besi. Kalau diabaikan, itu bisa berbahaya karena karat itu akan semakin menyebar dan membuat besi keropos. Keegoisan harus dilawan dan dikalahkan agar semangar rela berkorban akan terus membahana. Pengutamaan kepentingan pribadi di atas kepentingan bersama atau kepentingan orang lain akan menimbulkan ketegangan dalam kehidupan komunitas. Untuk itu perlu adanya keberanian untuk memberikan sebagian milik kita kepada orang lain. Artinya setiap pribadi tidak menuntut hak secara utuh, melainkan harus melihat kepentingan orang lain juga. Dengan demikian, kehidupan dapat dinikmati karena terjalin hubungan yang serasi antar sesama dalam komunitas. Jemaat yang terkasih, jangan kita menjadi seperti karat yang membuat besi rusak dan keropos, tetapi marilah kita menjadi seperti lilin yang rela berkorban untuk mendatangkan kebaikan dan manfaat bagi sekitar.
BARCODE BBM CHANNELS
RENUNGAN HARIAN
Kepompong Kupu-Kupu
05 September '16
Ho Lopis Kuntul Baris
23 September '16
Tunduk Tulus Atau Terpaksa ?
21 September '16
Copyright © 2012 All rights reserved. Designed and Developed by GIA Dr. Cipto Semarang