SEPEKAN TERAKHIR
  Kamis, 23 November 2017   -HARI INI-
  Rabu, 22 November 2017
  Selasa, 21 November 2017
  Senin, 20 November 2017
  Minggu, 19 November 2017
  Sabtu, 18 November 2017
  Jumat, 17 November 2017
POKOK RENUNGAN
Pujilah Allah senantiasa, karena anugerah-Nya telah menyelamatkan kita di dalam Tuhan Yesus Kristus. Pujilah Allah karena hikmat dan pikiran-Nya tak terselami oleh siapa pun di dunia ini.
DITULIS OLEH
Pdt. Y. Agus Santoso
Rohaniwan Pusat
Renungan Lain oleh Penulis:
Home  »  Renungan  »  Semua Untuk Kemuliaan Allah
Semua Untuk Kemuliaan Allah
Rabu, 20 Maret 2013 | Tema: Umat Yang Memasyurkan Allah
Semua Untuk Kemuliaan Allah
Roma 11:33-36
Kita sering bernyanyi mulia, mulia bagi Anak domba.... Kadang kita juga menyanyikan segala puji syukur bagi-Mu, kutinggikan nama-Mu selalu... dan banyak lagi pujian lain yang syairnya senada dengan lagu pujian tersebut. Apa sebenarnya pesan yang hendak disampaikan kepada umat Allah saat pujian tersebut dinyanyikan? Bacaan renungan pagi ini berkisah tentang pujian bagi kemuliaan Allah. Ayat yang kita baca lebih dikenal sebagai teologi pujian bagi Allah. Mengapa penulis menuliskan hal ini untuk disampaikan kepada jemaat? Pesan apa yang hendak disampaikan?

Berdasarkan bacaan ayat-ayat sebelumnya dan sesudahnya, sebenarnya Rasul Paulus, sebagai penulis surat ini, sangat kagum dengan karya, hikmat, dan pikiran Allah sebagai perencana segala sesuatu secara sempurna. Khususnya dalam hal keselamatan manusia dari dosa melalui karya Tuhan Yesus di kayu salib. Pujian tersebut hendak menyatakan bahwa bangsa Israel sebagai umat pilihan Allah (berdasarkan perjanjian Allah dengan Abraham) sedang menegarkan hatinya. Maka saat ini bangsa Israel sedang dibiarkan Allah untuk sementara waktu. Sekarang Allah mau berurusan dengan bangsa-bangsa lain untuk membentuk umat yang baru, yang d...selengkapnya »
Beberapa tahun terakhir ini dunia dihebohkan dengan kemunculan “paham” dan tindakan ISIS/IS yang membuat banyak orang mengecam dan mengutuk mereka. Namun tidak sedikit juga orang yang mengikuti paham tersebut dan bergabung untuk melakukan tindakan-tindakan yang dianggap orang sebagai “teror”. Meskipun kelompok tersebut dipandang melakukan teror, tetapi mereka sendiri menanggapi hal itu sebagai tindakan berdasarkan keyakinan yang benar. Membunuh orang lain yang tidak sepaham, bahkan melakukan bom bunuh diri yang dipandang sebagai tindakan diluar “nalar”, namun faktanya yang menjadi pengikutnya bukanlah orang-orang yang berintelektual rendah. Apa yang dilakukan pengikut ISIS/IS ini karena keyakinan mereka, dan mereka bertindak. Bahkan sebuah majalah menuliskan bahwa orang-orang yang berpengaruh di dunia pemimpin IS adalah sebagai salah satu orang yang berpengaruh di dunia. Keyakinan, menurut kamus bahasa Indonesia artinya kepercayaan dengan sungguh-sungguh. Bacaan Alkitab di atas menyatakan keyakinan Paulus tentang janji Allah, tentang kemuliaan yang akan diberikan bagi orang-orang yang percaya. Keyakinan ini membawa Paulus tidak memperdulikan segala tantangan dan masalah yang dihadapinya dalam perjalanan pengiringan dan pelayanannya kepada Allah sekalipun ada banyak penderitaan dan pergumulan hidup yang dihadapi [Roma 8:35-37], sekalipun harus menghadapi kematian [2 Timotius 4:6-7]. Bagaimana dengan keyakinan kita kepada Allah di dalam Yesus Kristus? Apakah kita sudah hidup sesuai dengan keyakinan kita? Mari sebagai umat Allah, kita mau hidup sesuai dengan apa yang menjadi keyakinan kita, sehingga melalui kehidupan kita nama Tuhan Yesus dikenal dan dipermuliakan banyak orang.
Setahun sudah ingatan akan Benay menguap dari ingatan jemaat. Namun pada Bulan Misi seperti saat ini, mendadak kenangan akan sosok pemuda pendek bertubuh tambun, berkulit hitam dan berkelakuan konyol itu kembali hadir. Tak terkecuali pada Sambey, sahabat karib Benay. Pemuda kurus sebatang kara yang kemudian lebih dikenal sebagai Tuan Joko Ndokondo, itu menitikkan air mata kerinduan di ruang interaksi gereja. “Benay, oh...Benay, aku merindukanmu!” rintih pilu Sambey. Setiap jemaat yang lewat memberikan penghiburan kepadanya seraya menyatakan bahwa mereka juga merindukan Benay. Jemaat teringat bahwa setahun yang lalu, di bulan Misi seperti saat ini, Benay pernah melakukan kekonyolan dengan memberitakan Injil kepada kera-kera di Goa Kreo. Kekonyolan yang merupakan kritik terhadap rasa aman berlebihan dari orang-orang Kristen saat ini sehingga melupakan tugas memberitakan “kabar baik” kepada orang lain. Dan jika setahun lalu Benay memutuskan berangkat ke Iraq untuk bergabung dengan para sukarelawan misi, tidak lain karena komitmennya pada panggilan Tuhan untuk memberitakan Injil. Meski berisiko tinggi karena Iraq adalah daerah konflik, Benay pantang mundur. Kepergiannya ke Iraq bukan untuk membunuh orang yang berbeda keyakinan dengannya. Namun kepergiannya untuk membagikan “roti hidup” yang mampu memberikan hidup kekal kepada setiap orang yang menerima dan memakannya. Jemaat yang terkasih, Benay adalah gambaran pribadi yang telah tuntas pemuridannya. Allah menyediakan orang-orang dengan karunia jawatan khusus, yaitu rasul, nabi, pemberita Injil, gembala dan pengajar untuk memperlengkapi jemaat. Dengan kata lain, melalui hamba-hamba Tuhan ini jemaat dimuridkan. Jemaat dipulihkan hidupnya, dibentuk karakternya dan diperlengkapi untuk turut serta dalam pembangunan tubuh Kristus. Maka bukti bahwa proses pemuridan telah berhasil adalah kesiapan jemaat untuk diutus dalam tugas pelayanan. Dan Benay adalah bukti keberhasilan pemuridan itu. Benay telah dimuridkan dengan sangat baik oleh Pdt. Itong dan Pdt. Andrey melalui komunitas kecil [komcil] yang dia ikuti dengan tekun bersama Sambey. Dalam komcil itu karakter Benay dibentuk dan diperlengkapi melalui dukungan kasih dari para hamba Tuhan dan tiap-tiap orang dalam kelompoknya. Bagaimana dengan Saudara? Sudahkah Saudara bergabung dan dimuridkan dalam komcil? Jika sudah, bertekunlah dalam belajar dan bertumbuh menjadi murid Kristus yang baik. Jika belum, marilah bergabung dengan komcil yang terdekat dengan tempat tinggal Saudara. Tentulah Saudara akan diperlengkapi dan disiapkan untuk dipakai oleh Tuhan bagi semakin besarnya kemuliaan-Nya. Terpujilah Tuhan.
Hati yang tenang Amsal 14:30 Hati yang tenang menyegarkan tubuh, tetapi iri hati membusukkan tulang. Kehidupan kita dikendalikan oleh hati. Apakah kita sedang tertawa, atau sedang sedih , atau sedang marah ditentukan oleh bagaimana keadaan hati kita. Apakah kita sedang bersemangat menjalani hidup ini, ataukah sedang lesu tak bersemangat, juga ditentukan oleh keadaan hati kita. Kesehatan tubuh kita juga dipengaruhi oleh keadaan hati kita. Sebagaimana Firman Tuhan di atas mengatakan bahwa hati yang tenang menyegarkan tubuh, tetapi hati yang iri membusukkan tulang. Firman Tuhan berkata: ’Jagalah hatimu dengan segala kewaspadaan, karena dari situlah terpancar kehidupan.’ [Amsal 4:23]. Oleh karena itu betapa pentingnya menjaga hati kita, agar selalu memancarkan kehidupan yang baik. Tetapi seringkali situasi di luar mempengaruhi bahkan mengendalikan keadaan hati kita. Misalnya tekanan-tekanan hidup, perkataan-perkataan yang negatif dari orang di sekitar kita, atau berita-berita tentang situasi politik atau ekonomi yang membuat kita kecil hati, semua itu seringkali merampas sukacita dan damai sejahtera dari dalam hati kita. Menjaga hati agar tetap tenang merupakan kunci dari hidup sehat dan bahagia. Hati yang tenang adalah hati yang selalu dekat dengan Tuhan. Di dalam dekat dengan Tuhan ada perlindungan yang sebenarnya. Itu bukan sekedar perasaan, tapi sungguh sebuah realitas. Firman Tuhan sendiri memberikan jaminan itu: ’Hanya dekat Allah saja aku tenang, dari pada-Nyalah keselamatanku. Hanya Dialah gunung batuku dan keselamatanku, kota bentengku, aku tidak akan goyah.’ [Mazmur 62:2-3] Jemaat yang dikasihi Tuhan, jika Anda ingin hidup dengan sehat dan memiliki hati yang tenang, jalanilah hidup ini dengan mempercayai Tuhan. Sekalipun dalam hidup ini kita tidak bisa mengendalikan semuanya, tetapi jika kita selalu berada dekat dengan Tuhan, kita mendapatkan perlindungan dan hati kita akan merasa tenang. Tuhan memberkati. Pdt. Goenawan Susanto
Suatu saat ibu Trisni menghadapi pergumulan berat di mana pak Trisno, suaminya, terkena PHK dan terkena sakit liver. Segala usaha sudah dilakukan oleh bu Trisni dan anak-anaknya untuk kesembuhannya. Namun usaha tersebut belum membuahkan hasil. Suatu sore ada KKR di gereja mereka, keluarga ini datang dan beriman bahwa Tuhan Yesus sanggup menyembuhkan sakit pak Trisno sebagaimana cerita Alkitab di mana Tuhan Yesus berkuasa menyembuhkan berbagai penyakit. Setelah di doakan dalam KKR, ternyata penyakit suaminya disembuhkan dan Tuhan Yesus tetap memelihara kehidupan keluarga tersebut sampai saat ini. Renungan hari ini berkisah tentang dua orang yang mempunyai masalah serius dalam hidupnya. Mereka datang kepada Tuhan Yesus dan masalahnya dapat terselesaikan. Orang pertama adalah Kepala Rumah Ibadah Yahudi bernama Yairus yang anaknya sakit dan hampir mati. Sudah banyak usaha diupayakan untuk sembuh, namun sia-sia. Kemudian Yairus datang merendahkan diri di bawah kaki Tuhan Yesus [ayat 22-23]. Yairus tahu dan sadar betul bahwa Tuhan Yesus itu musuh besar para Imam Yahudi. Ia tidak peduli dengan kedudukan terhormatnya dan tidak peduli dengan gengsinya karena ia tahu bahwa Tuhan Yesus sudah terbukti berkuasa menyembuhkan segala macam penyakit. Karena itu ia datang kepada-Nya. Kepada Yairus Tuhan Yesus berkata, “Jangan takut percaya saja [ayat 36], anakmu yang sudah mati pasti hidup kembali [ayat 38-42]. Dan anak Yairus pun bangkit dari kematian dan menjadi sembuh total. Orang kedua adalah seorang perempuan yang sakit pendarahan selama 12 tahun. Pengobatan para tabib tidak berhasil dan hartanya sudah habis. Kini sakitnya semakin parah dan tidak punya harapan untuk hidup. Perempuan ini pernah mendengar tentang Tuhan Yesus yang melakukan mujizat kesembuhan. Maka timbullah imannya, ‘Asal kujamah jumbai jubah Tuhan Yesus pasti penyakitku sembuh.” Dia langsung bertindak dengan iman. Hal ini menarik perhatian Tuhan Yesus untuk menghentikan langkahnya dan mencari tahu siapa orang yang menjamah jumbai jubahnya. Tuhan Yesus berkata, “Imanmu telah menyelamatkan engkau, penyakitmu sudah sembuh dan pergilah engkau” [ayat 25-34]. Dari kisah ini kita belajar bahwa bagi mereka yang sudah percaya Tuhan Yesus maupun yang belum percaya Tuhan Yesus, jangan sampai kehilangan pengharapan dan putus asa ketika menghadapi masalah silih berganti dan tidak ada solusinya. Datanglah kepada Tuhan Yesus dengan merendah hati sambil berserah total dan beriman bahwa Tuhan Yesus masih sanggup menolong kita dan memberi pengharapan kepada kita.
BARCODE BBM CHANNELS
RENUNGAN HARIAN
Hidup Dalam Ketetapan
08 November '17
Keyakinan1
26 Oktober '17
Pengelola Bukan Pemilik
12 November '17
Copyright © 2012 All rights reserved. Designed and Developed by GIA Dr. Cipto Semarang