SEPEKAN TERAKHIR
  Kamis, 18 Desember 2014   -HARI INI-
  Rabu, 17 Desember 2014
  Selasa, 16 Desember 2014
  Senin, 15 Desember 2014
  Minggu, 14 Desember 2014
  Sabtu, 13 Desember 2014
  Jumat, 12 Desember 2014
POKOK RENUNGAN
“Pujilah Allah senantiasa, karena anugerah-Nya telah menyelamatkan kita di dalam Tuhan Yesus Kristus. Pujilah Allah karena hikmat dan pikiran-Nya tak terselami oleh siapa pun di dunia ini.”
DITULIS OLEH
Pdt. Y. Agus Santoso
Rohaniwan Pusat
Renungan Lain oleh Penulis:
Home  »  Renungan  »  Semua Untuk Kemuliaan Allah
Semua Untuk Kemuliaan Allah
Rabu, 20 Maret 2013 | Tema: Umat Yang Memasyurkan Allah
Semua Untuk Kemuliaan Allah
Roma 11:33-36
Kita sering bernyanyi “mulia, mulia bagi Anak domba....” Kadang kita juga menyanyikan “segala puji syukur bagi-Mu, kutinggikan nama-Mu selalu...” dan banyak lagi pujian lain yang syairnya senada dengan lagu pujian tersebut. Apa sebenarnya pesan yang hendak disampaikan kepada umat Allah saat pujian tersebut dinyanyikan? Bacaan renungan pagi ini berkisah tentang pujian bagi kemuliaan Allah. Ayat yang kita baca lebih dikenal sebagai teologi pujian bagi Allah. Mengapa penulis menuliskan hal ini untuk disampaikan kepada jemaat? Pesan apa yang hendak disampaikan?

Berdasarkan bacaan ayat-ayat sebelumnya dan sesudahnya, sebenarnya Rasul Paulus, sebagai penulis surat ini, sangat kagum dengan karya, hikmat, dan pikiran Allah sebagai perencana segala sesuatu secara sempurna. Khususnya dalam hal keselamatan manusia dari dosa melalui karya Tuhan Yesus di kayu salib. Pujian tersebut hendak menyatakan bahwa bangsa Israel sebagai umat pilihan Allah (berdasarkan perjanjian Allah dengan Abraham) sedang menegarkan hatinya. Maka saat ini bangsa Israel sedang dibiarkan Allah untuk sementara waktu. Sekarang Allah mau berurusan dengan bangsa-bangsa lain untuk membentuk umat yang baru, yang dikenal dengan sebutan gereja. Setelah jumlahnya cukup dan waktu kunjungan Allah untuk bangsa-bangsa lain sudah selesai, maka Allah akan kembali berurusan dengan bangsa Israel (ayat 7-25).

Semakin kita merenungkan pekerjaan Allah, semakin kita memuji Allah karena hanya DIA-lah Allah yang mampu mengerjakan segala sesuatu dengan sempurna untuk kepentingan umat manusia...selengkapnya »
Suatu hari, di sebuah komcil, ada seseorang yang “asing” bagi saya karena sepertinya baru kali ini saya melihat orang itu. Seorang nenek berusia sekitar 60-an, memakai kebaya konvensional dan kain jarit. Ia datang bersama salah seorang jemaat. Dalam hati saya merasa senang, karena ada satu lagi jiwa baru. Namun sesaat, rasa senang itu terganggu dengan bisikan sinis seorang jemaat lain di sebelah kanan saya, yang mengatakan, “Orang itu sebenarnya dahulu jemaat sini, terus waktu yang lain pindah gereja, dia juga ikut.” Yang mengganggu saya bukan keadaan dari nenek itu, yang telah lama pindah di gereja lain lalu sekarang kembali, tapi justru sikap sinis yang ditunjukkan oleh jemaat lama itu. Sepertinya ia menganggap bahwa orang yang meninggalkan gereja adalah seorang pengkhianat. Mungkin hal seperti itu sering terjadi di sekitar kita, apalagi saat ini sedang maraknya jemaat pindah pindah gereja. Seringkali jemaat lama tidak senang jika orang yang dulu pernah meninggalkan gereja, lalu kembali lagi. Hal ini mengingatkan kita pada sikap anak sulung dalam perumpaan anak yang hilang ketika sang bapa menerima kembali si bungsu. Ada perasaan iri, jengkel, dan lain-lain yang dialami si sulung. Tahukah kita, ketika kita tidak menerima keberadaan seseorang itu, kita sedang tidak menghargai orang itu? Dan tidak menerima kembali berarti masih mengingat kesalahannya dan tidak mengampuninya? Dan tidak mengampuni orang yang bersalah berarti kita sedang menolak pengampunan dari Tuhan atas dosa kita? Tuhan, Sang Bapa adalah Allah yang humanis, yang sangat menghargai orang. Ia mengampuni setiap orang yang bersalah kepada-Nya, Ia menerima kembali orang yang menolak-Nya, bahkan Ia memberikan nyawa-Nya sebagai ganti orang berdosa yang seringkali menyakiti-Nya. Betapa dahsyatnya kasih dan anugerah-Nya. Jika kita adalah anak Tuhan, maka seharusnya kita memiliki sikap yang sama dengan-Nya. Kita menerima pengampunan Tuhan, jika kita pun mengampuni. Kita bisa mengampuni ketika kita bisa menerima kembali orang yang bersalah kepada kita. Kita bisa menerima kembali seseorang yang bersalah kepada kita, jika kita menghargai orang itu.
Perkataan ini sangat keras bagi seorang kaya yang datang kepada Tuhan Yesus dan bertanya apa yang harus dia perbuat untuk memperoleh hidup yang kekal. Tuhan Yesus menjawab :”Yah, engkau tahu perintah - perintah Allah.” Dan Ia menyebut perintah - perintah yang berhubungan dengan kewajiban seseorang terhadap sesamanya. Bahwa berpegang pada ketetapan dan peraturan Allah serta melakukannya merupakan jalan kepada hidup (Imamat 18:5 ) orang kaya itu menjawab bahwa ia sudah melakukannya sejak masa mudanya. Nampaknya orang kaya ini datang kepada Tuhan Yesus dengan harapan supaya Dia mengatakan sesuatu yang lain. Dan benar, “ada satu hal yang kurang, satu hal yang belum kau lakukan,’ kata Tuhan Yesus, ‘Dan engkau bisa melakukannya sekarang. Juallah apa yang kau miliki dan berikanlah kepada orang - orang miskin, kemudian datanglah kepadaKu dan ikutlah Aku, maka engkau akan beroleh harta di Sorga.” Orang kaya itu sangat kaget dan kecewa mendengar jawaban Tuhan Yesus karena hartanya sangat banyak. Matius menulis nasihat semacam ini, nasihat kesempurnaan. “Jikalau engkau hendak sempurna, pergilah, juallah segala milikmu dan berikanlah kepada orang - orang miskin (Mat 19:21 ). Tetapi dengan melakukan perintah ini, bukan berarti kita naik ke jenjang lebih tinggi dalam ketaatan. Rasul Paulus mengingatkan kita bahwa memberikan segala harta yang kita miliki kepada orang miskin tidak berarti apa - apa jika tidak ada kasih dihati (1 Kor 13:3). Berbagi dengan kasih, itulah yang Tuhan Yesus ingin kita lakukan dalam hidup ini. Ajaran Tuhan Yesus ini adalah ajaran yang keras dan tidak mudah untuk melakukannya, tapi kita harus berusaha menjadikannya sebagi pedoman hidup kita. Memang tidak kepada semua pengikutNya, termasuk kita, Tuhan Yesus menuntut kita untuk memberikan harta milik kita dengan cara yang sama. Tuhan Yesus ingin menguji ketaatan dan sikap hati kita untuk berbagi dengan sesama.
Beberapa waktu lalu pemerintah kota Semarang mengeluarkan sebuah peraturan tentang larangan memberikan uang kepada pengemis yang biasanya beroperasi di tempat-tempat umum, seperti sekitar lampu penyeberangan jalan, tempat perbelanjaan, jembatan layang, dll. Bahkan bagi siapapun yang memberi akan dikenakan denda uang. Entah hanya untuk menggertak atau sudah benar-benar diterapkan, yang jelas melalui peraturan itu pemerintah bermaksud untuk memutus mental meminta-minta. Mungkin pernah muncul di benak kita sebuah pertanyaan, lalu kapan sebaiknya kita memberi? Dalam nats yang kita pelajari hari ini menyebutkan bahwa Tuhan memberikan musim subur bagi kita. Artinya ada waktu tertentu yang tepat bagi kita untuk melakukan hal-hal yang baik termasuk memberi. Dalam Alkitab memberi sering dianalogikan dengan menabur atau menanam. Bayangkan jika kita menanam tanaman di musim kemarau. Kemungkinan besar apa yang kita tanam akan layu, kering bahkan mati. Namun sebaliknya, jika kita menanam di musim hujan, maka tanaman itu akan tumbuh subur bahkan berbuah. Demikian halnya dengan memberi. Dikatakan musim memberi berarti tepat orang, waktu dan motivasinya. Yaitu orang yang benar-benar membutuhkan, tepat pada waktu ada orang yang saat itu sedang membutuhkan, dan tepat ketika Roh Kudus yang menggerakkan kita, bukan dengan motivasi pelipatgandaan. Jika kita telah menanam pada musimnya, maka kemungkinan besar tanaman itu akan tumbuh bahkan berbuah. Demikian juga jika kita memberi pada “musimnya”, maka apa yang kita berikan akan menjadi berkat bagi yang menerimanya dan akan menimbulkan rasa syukur atas pemeliharaan Tuhan bagi yang menerimanya. Dengan demikian memberi pada musimnya berarti memuliakan Tuhan. Namun sebaliknya, jika kita memberi bukan pada orang yang benar-benar membutuhkan dan dengan motivasi untuk populer, maka kita justru menjadi korban dari orang-orang yang “menjual” kemiskinan atau penderitaannya. Selamat menjadi orang yang bijak saat memberi!
Pada umumnya umat Kristiani tahu betul isi DOA BAPA KAMI, bahkan tidak sedikit yang bisa menghafalnya di luar kepala. Pertanyaannya, bukan sekedar tahu dan hafal atau benar-benar menerapkannya dalam hidup keseharian kita ? Khususnya pada bagian: “Dan ampunilah kami akan kesalahan kami, seperti kami juga mengampuni orang yang bersalah kepada kami” (Matius 6:12). Dalam kenyataan yang kita temui, ternyata tidaklah mudah untuk mengampuni orang yang bersalah kepada kita walaupun kita tahu bahwa “MENGAMPUNI’ adalah WAJIB bagi setiap anak Tuhan (baca: Matius 6:14,15; Markus 11:25; Lukas 11:4; Kolose 3:13). Mungkin kita berpikir satu atau dua kali oke lah...., tetapi kalau lebih dari itu...., tunggu dulu....! Tetapi mari kita simak apa yang dikatakan Yesus kepada murid-murid-Nya? • Saat Petrus bertanya apakah sampai tujuh kali, Yesus menjawab sampai tujuh puluh kali tujuh kali ( Matius 18:2, 22) . Apa, 490 kali? Setahun saja hanya 365 hari . • Salah satu nasihat Yesus kepada murid-murid (Yohanes 17:3, 4): “Jagalah dirimu! Jikalau saudaramu berbuat dosa, tegorlah dia, dan jikalau ia menyesal, ampunilah dia. Bahkan jikalau ia berbuat dosa terhadap engkau tujuh kali sehari dan tujuh kali ia kembali kepadamu dan berkata, “Aku menyesal”, engkau harus mengampuni dia.” Tujuh kali dalam sehari? Luar biasa! Berarti TIDAK TERBATAS dong.... Wah berat sekali ya, tetapi bagaimanapun juga itu WAJIB bagi kita murid-murid Kristus yang telah mendapatkan keselamatan! Amin.
BARCODE BBM CHANNELS
RENUNGAN HARIAN
Siklus Pengampunan
25 November '14
Bermurah Hati Terhadap Sesama
10 Desember '14
Bukan Soal Untung Atau Rugi
27 November '14
Copyright © 2012 All rights reserved. Designed and Developed by GIA Dr. Cipto Semarang