SEPEKAN TERAKHIR
  Senin, 20 Februari 2017   -HARI INI-
  Minggu, 19 Februari 2017
  Sabtu, 18 Februari 2017
  Jumat, 17 Februari 2017
  Kamis, 16 Februari 2017
  Rabu, 15 Februari 2017
  Selasa, 14 Februari 2017
POKOK RENUNGAN
Pujilah Allah senantiasa, karena anugerah-Nya telah menyelamatkan kita di dalam Tuhan Yesus Kristus. Pujilah Allah karena hikmat dan pikiran-Nya tak terselami oleh siapa pun di dunia ini.
DITULIS OLEH
Pdt. Y. Agus Santoso
Rohaniwan Pusat
Renungan Lain oleh Penulis:
Home  »  Renungan  »  Semua Untuk Kemuliaan Allah
Semua Untuk Kemuliaan Allah
Rabu, 20 Maret 2013 | Tema: Umat Yang Memasyurkan Allah
Semua Untuk Kemuliaan Allah
Roma 11:33-36
Kita sering bernyanyi mulia, mulia bagi Anak domba.... Kadang kita juga menyanyikan segala puji syukur bagi-Mu, kutinggikan nama-Mu selalu... dan banyak lagi pujian lain yang syairnya senada dengan lagu pujian tersebut. Apa sebenarnya pesan yang hendak disampaikan kepada umat Allah saat pujian tersebut dinyanyikan? Bacaan renungan pagi ini berkisah tentang pujian bagi kemuliaan Allah. Ayat yang kita baca lebih dikenal sebagai teologi pujian bagi Allah. Mengapa penulis menuliskan hal ini untuk disampaikan kepada jemaat? Pesan apa yang hendak disampaikan?

Berdasarkan bacaan ayat-ayat sebelumnya dan sesudahnya, sebenarnya Rasul Paulus, sebagai penulis surat ini, sangat kagum de...selengkapnya »
Belum genap sebulan di awal tahun 2017, kita sudah menikmati kenaikan harga di berbagai bidang. Biaya pengurusan surat-surat kendaraan bermotor naik! Harga bahan bakar minyak [BBM] naik! Subsidi listrik 900 watt dari sebagian pelanggan rencananya akan dicabut! Beriringan dengan itu harga-harga kebutuhan pokok mulai ancang-ancang tak mau ketinggalan. Teringatlah akan sepenggal lagu lawas Iwan Fals “...orang pintar tarik subsidi, anak kami kurang gizi...” Namun apa boleh buat, kenyataannya memang demikian. Subsidi bisa ditarik sewaktu-waktu dan harga-harga menjadi menanjak tinggi atau sebaliknya bisa turun. Demikian konsekwensi sistem ekonomi pasar yang dianut pemerintah kita. Hanya jalan umum di Gombel dari arah Ungaran ke Semarang yang dari dahulu tidak pernah menanjak/naik. Kondisi ini bagi warga negara berbendapatan rendah dapat dipastikan menambah berat beban hidup mereka. Tuan Joko Ndokondo punya nasihat. Dikelilingi khalayak jemaat dari berbagai golongan usia dan jenis kelamin, di ruang interaksi gereja, tuan Joko Ndokondo memberikan wejangannya. Para Bhikku Buddhis mempunyai ajaran bahwa kemelekatan adalah sumber kesengsaraan manusia. Dalam pada itu, tujuan hidup manusia adalah lepas dari segala kemelekatan. “Berisi adalah kosong, kosong adalah berisi” demikian ajaran yang mungkin pernah kita dengar. Ajaran ini tidak sama persis dengan kekristenan. Namun ada kemiripannya. Dalam Kitab Habakuk tertulis bahwa ketika pohon ara tak berbuah, panen anggur gagal, kambing-domba tak ada lagi di kandang. Ngluyur entah kemana. Tetapi Nabi Habakuk tetap akan beria-ria di hadapan Tuhan. Wow...bukankah ini bukti ketidakmelekatan nabi pada harta milik dan kondisi yang terjadi. Rupanya semakin kuatnya kemelekatan kita pada Tuhan selalu berarti semakin kurangnya kemelekatan kita pada pada segala yang fana. Inilah kunci penemuan sukacita yang sejati. Dan seperti biasa “Ssstttt....jangan bilang siapa-siapa, ya?” ungkap tuan Joko Ndokondo menutup penuturannya. Jemaat yang terkasih, apakah kita termasuk pada orang-orang yang sedang terganggu karena kenaikan harga-harga? Ataukah tidak terganggu? Marilah kita uji hati kita dengan saksama. Darimanakah sumber kekuatiran atau ketenangan itu? Apakah kekuatiran dan ketenangan itu muncul karena kemelekatan kita pada materi? Pendapatan kita rendah karenanya kita kuatir? Sebaliknya pendapatan kita berlimpah maka damailah hati kita? Ini wajar tetapi sekaligus tantangan bagi kita yang mau menemukan sukacita sejati di dalam Tuhan. Oleh karena itu marilah kita bersama-sama belajar dari berbagai kondisi yang kita alami untuk mengalami sukacita karena kemelekatan kita pada Tuhan yang kita yakini pasti punya maksud baik bagi umat-Nya.
Sebagai orangtua, saya pernah menyarankan kepada anak perempuan saya untuk tidak melewati desa Meteseh tepatnya di tanjakan panjang jalan Sigar Bencah menuju kampus Undip wilayah Tembalang Semarang. Mengapa? Karena selain jalannya yang tidak rata karena daerah tanah gerak, daerah itu pada waktu-waktu tertentu juga sepi dan rawan kejahatan. Sehingga saya menganjurkan untuk melewati jalan lain yang ramai dan datar, dengan demikian saya mengantisipasi hal-hal yang tidak saya inginkan. Saya menganjurkan untuk memilih jalan yang terbaik. Berbicara soal MEMILIH pastilah dilatarbelakangi dengan pertimbangan “ini dan itu”. Mana yang terbaik, menyenangkan, memuaskan atau mungkin mana yang lebih menguntungkan. Demikian juga dengan orang-orang Ibrani [Yahudi] yang sudah percaya Yesus, yang oleh penulis surat Ibrani disebut sebagai saudara-saudara yang kudus dan yang menerima panggilan sorgawi [ay. 1]. Mereka menghadapi situasi tertentu untuk memilih tetap percaya Yesus atau kembali kepada Yudaisme yang mengagumi Musa sebagai tokohnya. Penulis surat Ibrani memperjelas bahwa Yesus lebih besar dari Musa karena Yesus adalah Allah sebagai pencipta [ay. 3, 4], sedangkan Musa hanyalah pelayan-Nya [ay. 5]. Orang-orang Kristen Ibrani [Yahudi] harus kembali dan tetap yakin percaya kepada Yesus yang telah memberi jaminan keselamatan sorgawi. Saudara, melalui surat Ibrani Allah juga berbicara kepada gereja saat ini. Berbicara kepada banyak orang kristen yang sedang bergumul karena masih ada keraguan percaya Yesus. Atau berbicara juga kepada kita saat ini, ketika kita tetap rajin ke gereja tetapi rasa-rasanya tidak ada gairah dan selama ini tetap saja ada perasaan takut dan kuatir akan segala sesuatu yang menindih kita. Kita mencoba melarikan diri dari hadapan Yesus, mencari pertolongan lain. Apabila Saudara saat ini sedang menghadapi keadaan yang demikian, maka cobalah sekali lagi untuk datang kepada Yesus. Tetapi kali ini Saudara harus datang dengan keyakinan teguh bahwa Yesus adalah Allah yang berkuasa mengubahkan segala sesuatu. Hanya saja Saudara harus yakin dan fokus pada YESUS KRISTUS, jangan coba-coba membagi dengan keyakinan di luar Yesus. Niscaya kita akan menemukan Tuhan dan yang siap untuk memuaskan roh dan jiwa kita.
Sabtu, 18 Pebruari 2017 MENJADI CIPTAAN BARU 2 Korintus 5:15-17 Menjadi ciptaan baru atau hidup baru memiliki kualitas hidup yang tinggi, bukan hanya sekedar dari status non Kristen menjadi Kristen, atau dari tidak bergereja menjadi anggota gereja dan aktif ikut pelayanan rohani. Pengertian Ciptaan baru sering disederhanakan sebagai sesuatu kejadian yang instan, berlangsung dengan sendirinya secara otomatis, bahkan secara mistik, dalam waktu singkat, tanpa proses bertahap. Seakan-akan kalau kita sudah percaya karya penebusan Kristus, otomatis sudah menjadi ciptaan baru. Bukankah kita sering menyaksikan, bahkan mungkin mengalami sendiri, sudah bertahun bahkan puluhan tahun menjadi “Kristen”, ternyata hidup belum berubah secara bermakna, dan masih buta terhadap kebenaran Injil yang murni. Hukum kehidupan yang selalu berlaku adalah Tuhan menggunakan proses bertahap [kecuali untuk suatu tujuan khusus tertentu]. Hal ini dapat dilihat dalam proses penciptaan [Kejadian 1], kelahiran bayi dan pendewasaan pribadi manusia [tubuh dan jiwa], juga Tuhan Yesus sebagai anak manusia [Lukas 2:52]. Proses keselamatan menjadi ciptaan baru juga secara bertahap, dan diperlukan kerja-sama antara Allah dan orang percaya [Pilipi 2:12-13]. Manusia tidak bisa mencapai keselamatan yang membawa pada ciptaan baru dengan kekuatan sendiri, tetapi juga mustahil Tuhan mengerjakan semua tanpa respon manusia. Apa yang dilakukan manusia untuk mengerjakan keselamatan bukan jasa, tapi diperhitungkan sebagai respon yang menjadi tanggung jawab individu. Orang yang benar-benar hidup baru akan tampak responnya terhadap berbagai pengaruh dunia, tidak mengadopsi pola pikir dan gaya hidup “wajar” menurut orang-orang yang mencintai dunia. Kerinduannya adalah Kerajaan Surga dan kedatangan Tuhan Yesus. [GL] Pokok Renungan: Menjadi ciptaan baru pada hakekatnya adalah menjadi manusia seperti yang dikehendaki oleh dan berkenan kepada Bapa serta tidak mencintai dunia sama sekali. [2 Korintus 5:9]
Kesukaan saya ketika masih SD dalu adalah pulang pagi karena momen tersebut merupakan kesempatan untuk main ke rumah teman sekelas. Karena tempat kami waktu itu belum ada angkot, maka kami berjalan menyusuri kampung demi kampung untuk menjemput teman lainnya. Ketika sampai ke ujung kampung, kami terkejut dan ketakutan karena berpapasan dengan seorang laki-laki yang mengalami gangguan jiwa dengan pakaian menjijikkan dan rambut kumal. Sepontan saya mengambil batu dan melemparkannya ke orang tersebut. Eh... orang itu tidak pergi tapi justru malah ganti melempar kami dengan batu yang lebih besar dan bahkan mengejar kami. Kami pun tunggang langgang melarikan diri. Setelah saya lihat orang itu tidak mengejar lagi, maka kami sepakat mendatanginya untuk melempari batu lagi. Saat kami berlari kecil sambil membawa batu, ada seorang bapak yang berjalan agak pincang memanggil saya, “ Heiii, le, cah... berhenti dulu, kalian bawa batu mau buat apa?” Dengan agak berteriak saya menjawab, ”Buat melempar orang gila, pak Dhe!” Bapak itu berkata, ”Kalau kamu saya lempar batu, sakit tidak?” ”Sakit, Pak,” jawab saya. Bapak itu berkata lagi, ”Yang kamu lempar itu orang apa hewan?” ”Orang, Pak,” saya menyahut. Kemudian bapak itu melanjutkan, ”Kalau dia orang berarti sakit seperti yang kamu rasakan, boleh gak dilempari?” Belum sempat saya jawab, bapak itu berkata lagi, ”Kamu orang Nasrani, kan?” “Saya Kristen, Pak.” Jawab saya. Bapak itu mulai mengingatkan saya, “Isa, Yesusmu mengajarkan kasihilah sesamamu manusia, kan? Apa kamu mau jadi seperti orang gila itu. Ayo, buang batunya dan belajarlah seperti Nabi Isa, Yesus guru yang mengajarimu mengasihi itu!” Maka sayapun urung melempari orang gila itu. Mulai saat itu saya mulai paham teladan seorang Guru Agung yang harus dicontoh oleh para pengikut-Nya. Ketika mengaku Kristen berarti harus meneladani Kristus dalam hidupnya sebagai SOKO GURU. Pribahasa mengatakan “Guru kencing berdiri, murid kencing berlari”. Artinya, seorang murid akan meneladani sang guru. Kita mempunyai guru yang luar biasa, yaitu Yesus Kristus. Maka hendaklah hidup kita meneladani hidup Yesus, Guru Agung kita [1 Yohanes 2:6]. Bila kita membaca dan belajar kebenaran firman Tuhan dengan serius setiap hari, maka kita akan menemukan sebuah kebenaran bahwa gaya hidup Tuhan Yesus itu bertolak belakang dengan gaya hidup dunia atau gaya hidup manusia pada umumnya. Jadi kalau gaya hidup kita sebagai orang percaya belum mencapai standar gaya hidup seperti Tuhan Yesus atau kalau hidup kita masih sama dengan gaya hidup orang dunia pada umumnya, maka sesungguhnya kita belum mencapai standar hidup kekristenan yang diajarkan oleh Tuhan Yesus. Dan itu menunjukan bahwa kita belum menjadi seorang pengikut Kristus yang sejati. Oleh sebab itu hiduplah sesuai teladan Kristus, maka hidup kita akan menjadi berkat bagi sekitar kita.
BARCODE BBM CHANNELS
RENUNGAN HARIAN
Pribadi Yang Berkualitas
26 Januari '17
Mengalami Tuhan 3
29 Januari '17
Landasan Ketaatan
04 Februari '17
Copyright © 2012 All rights reserved. Designed and Developed by GIA Dr. Cipto Semarang