SEPEKAN TERAKHIR
  Sabtu, 01 November 2014   -HARI INI-
  Jumat, 31 Oktober 2014
  Kamis, 30 Oktober 2014
  Rabu, 29 Oktober 2014
  Selasa, 28 Oktober 2014
  Senin, 27 Oktober 2014
  Minggu, 26 Oktober 2014
POKOK RENUNGAN
“Pujilah Allah senantiasa, karena anugerah-Nya telah menyelamatkan kita di dalam Tuhan Yesus Kristus. Pujilah Allah karena hikmat dan pikiran-Nya tak terselami oleh siapa pun di dunia ini.”
DITULIS OLEH
Pdt. Y. Agus Santoso
Rohaniwan Pusat
Renungan Lain oleh Penulis:
Home  »  Renungan  »  Semua Untuk Kemuliaan Allah
Semua Untuk Kemuliaan Allah
Rabu, 20 Maret 2013 | Tema: Umat Yang Memasyurkan Allah
Semua Untuk Kemuliaan Allah
Roma 11:33-36
Kita sering bernyanyi “mulia, mulia bagi Anak domba....” Kadang kita juga menyanyikan “segala puji syukur bagi-Mu, kutinggikan nama-Mu selalu...” dan banyak lagi pujian lain yang syairnya senada dengan lagu pujian tersebut. Apa sebenarnya pesan yang hendak disampaikan kepada umat Allah saat pujian tersebut dinyanyikan? Bacaan renungan pagi ini berkisah tentang pujian bagi kemuliaan Allah. Ayat yang kita baca lebih dikenal sebagai teologi pujian bagi Allah. Mengapa penulis menuliskan hal ini untuk disampaikan kepada jemaat? Pesan apa yang hendak disampaikan?

Berdasarkan bacaan ayat-ayat sebelumnya dan sesudahnya, sebenarnya Rasul Paulus, sebagai penulis surat ini, sangat kagum dengan karya, hikmat, dan pikiran Allah sebagai perencana segala sesuatu secara sempurna. Khususnya dalam hal keselamatan manusia dari dosa melalui karya Tuhan Yesus di kayu salib. Pujian tersebut hendak menyatakan bahwa bangsa Israel sebagai umat pilihan Allah (berdasarkan perjanjian Allah dengan Abraham) sedang menegarkan hatinya. Maka saat ini bangsa Israel sedang dibiarkan Allah untuk sementara waktu. Sekarang Allah mau berurusan dengan bangsa-bangsa lain untuk membentuk umat yang baru, yang dikenal dengan sebutan gereja. Setelah jumlahnya cukup dan waktu kunjungan Allah untuk bangsa-bangsa lain sudah selesai, maka Allah akan kembali berurusan dengan bangsa Israel (ayat 7-25).

Semakin kita merenungkan pekerjaan Allah, semakin kita memuji Allah karena hanya DIA-lah Allah yang mampu mengerjakan segala sesuatu dengan sempurna untuk kepentingan umat manusia...selengkapnya »
Kemiskinan adalah salah satu masalah sosial yang di hadapi bangsa kita. Dalam pidato kenegaraan menjelang masa akhir jabatannya, Presiden SBY mengakui bahwa angka kemiskinan telah berhasil dikurangi tetapi memang belum maksimal. Ini artinya bahwa kemiskinan akan masih menjadi salah satu wajah kehidupan bangsa ini. Kita bisa melihat di perempatan lampu merah, di pasar, di jalan, di mall dan pertokoan bahkan di tempat ibadah selalu ada potret kemiskinan bangsa ini. Sebagian kemiskinan itu karena kondisi hidup yang tidak mampu dan tidak berdaya, tetapi ada juga yang dengan sengaja mempertontonkan kemiskinan yang dibuat-buat untuk memperoleh sesuatu dari orang yang berbelas kasihan. Seperti halnya seseorang yang berprofesi sebagai pengemis yang berpura-pura cacat dan penuh luka. Ya, memang kemiskinan bisa juga karena faktor kemalasan dan hidup boros. Meskipun begitu, bukan berarti kita sebagai orang percaya menutup mata terhadap kemiskinan yang terjadi di sekitar kita. Apa yang perlu kita lakukan terhadap mereka yang miskin? Nats bacaan alkitab pada hari ini adalah sebagian dari perkataan Musa yang disampaikan kepada umat Allah sebelum mereka memasuki tanah perjanjian. Musa menyampaikan beberapa hal terkait tentang masalah kehidupan ekonomi umat. “Tidak boleh ada orang miskin di antara kamu”, namun dia juga menyatakan “orang miskin tidak hentinya ada di antara kamu.” Apa makna dari perkataan tersebut? Sesungguhnya ketika orang miskin ada di antara kita, maka hal tersebut hendaknya dipahami sebagai sebuah kesempatan yang Tuhan berikan bagi kita untuk memberi, melayani Dia. Tentunya melayani Tuhan merupakan sebuah kesukaan bagi orang percaya. Melayani si miskin harus dipahami dalam terang pelayanan yang kita lakukan bagi Tuhan dengan penuh sukacita. Dengan demikian kita akan melayani dan memberi tidak dengan bersungut-sungut, tetapi sebaliknya dengan kemurahan hati dan kegembiraan. Itulah makna pelayanan yang bersukacita. Kita selalu memiliki kesempatan untuk melayani Tuhan melalui pelayanan kepada orang miskin. Di mana ada orang miskin, disitulah kesempatan tangan terbuka untuk melayani Tuhan dengan sukacita.
Bapak Kristeno adalah seorang Kristen. Setiap hari Minggu dia tidak pernah absen beribadah ke gereja. Tidak hanya itu, dia pun sangat aktif terlibat dalam banyak kegiatan di gerejanya. Bapak Kristeno memiliki sikap hidup yang mencerminkan ajaran Yesus, seperti yang tersurat dan tersirat dalam Injil. Karena begitu mengasihi Tuhan, dia juga terpanggil dalam pelayanan kasih (sosial). Dia selalu berbagi dengan orang-orang yang tidak mampu, sehingga di kampungnya, bapak Kristeno sangat dikenal sebagai orang Kristen yang murah hati. Begitu juga dengan bapak Syamsuri. Dia seorang non-Kristen. Tetapi bicara soal sosial, dia juga tidak kalah dengan kebanyakan orang Kristen, dengan bapak Kristeno misalnya. Bapak Syamsuri menyumbangkan banyak uangnya untuk membangun balai RT; membangun jalan; menyantuni tetangganya yang tidak mampu. Kehidupan sosialnya pun sangat luar biasa. Lantas, apa yang membedakan kemurahan hati yang dilakukan seorang Kristen dan seorang non-Kristen? Mungkin kita berpikir dan bergumam dalam hati, “Kalau begitu sama saja antara jadi Kristen dan tidak. Buktinya tanpa menjadi murid Yesus pun, banyak orang bisa berbuat baik.” Tidak... pikiran seperti itu tidak tepat. Ada bedanya. Di dalam Yakobus 2:17 dikatakan, ”Jika iman itu tidak disertai perbuatan, maka iman itu pada hakikatnya adalah mati.” Perbuatan-perbuatan kita sebagai seorang Kristen, termasuk segala kemurahan hati, kita lakukan dengan sadar bahwa iman di dalam Tuhanlah yang mendorong semua perbuatan baik kita. Dengan demikian semua orang yang beriman di dalam nama Yesus Kristus, entah itu dia kaya, “setengah” kaya, ekonomi menengah, bahkan orang-orang Kristen ekonomi lemah pun terpanggil untuk “mengejawantahkan” imannya dalam segala perbuatan baik (kemurahan). Bagi kita, berbuat baik adalah panggilan semua orang yang percaya dalam Yesus, sehingga tidak ada motivasi sedikitpun untuk mencari keuntungan untuk diri sendiri. Memang itu tidak mudah, tetapi jika kita bisa, itu karena pertolongan Roh Kudus.
Taman Eden adalah saksi di mana Allah berfirman “tidak baik” atas ciptaan-Nya. Padahal sejak hari pertama sampai hari ke lima Allah melihat segala yang dijadikan-Nya itu baik, bahkan di hari ke enam Allah melihat segala yang diciptakan-Nya sungguh amat baik. Setelah itu Allah berhenti, memberkati dan mengkuduskan hari ke tujuh. Apa yang tidak baik? Mengapa tidak baik? Belum adanya penolong yang sepadan bagi manusia. Nampaknya sejak semula Allah menghendaki adanya keadaan saling menolong, suka berbagi memberi pertolongan di tengah-tengah manusia. Allah menghadirkan “perempuan” yang ditetapkan-Nya sebagai penolong, yang dari rahimnya akan lahir para penolong yang lain. Ketika perempuan Hawa menyalahgunakan jati dirinya sebagai penolong, membawa Adam jatuh dalam dosa, seakan Allah gagal dalam rencana-Nya. Namun Allah kita adalah Allah yang tidak pernah gagal dalam semua rencana dan kehendak-Nya. Sekali Dia tetapkan perempuan dengan jati diri sebagai penolong, Dia tetap pada ketetapan-Nya. Dia berjanji bahwa dari benih perempuan akan lahir “ Sang Penolong Agung” yang akan mengajarkan dan meneladankan sikap saling menolong, saling memberi sebagai wujud nyata pribadi Allah yang adalah kasih. Itu semua sudah tergenapi dalam diri Yesus Kristus, Tuhan kita. Alkitab menghadirkan cukup banyak tokoh perempuan yang sadar akan jati dirinya. Kita kenal gadis Maria, Ibu Yesus. Dia berani memberikan hidupnya dengan semua harga yang harus dia bayar demi lahirnya Sang Mesias di bumi ini (Lukas 1:26-38). Satu saat Yesus memperhatikan seorang perempuan janda miskin yang berani memberikan dua keping uang yang dia punya (Markus 12:4-44) dan Yesus ajarkan nilai memberi kepada murid-muridNya. Ada kisah seorang perempuan penjahit sederhana, Dorkas namanya. Dia dicatat sebagai perempuan yang banyak sekali berbuat baik dan memberi sedekah (KPR 9:36). Dan masih banyak lagi yang lain. Bagaimana dengan kita, para perempuan? Ketahuilah dan camkanlah jati diri kita “PENOLONG” yang suka memberi dan berbagi pertolongan. Mari kita pelajari nilai memberi yang benar dan kita pelopori gerakan memberi di tengah-tengah keluarga kita, di tengah-tengah komunitas gereja kita, bahkan ditengah-tengah masyarakat di mana kita ada. Apa saja yang kita punya bisa kita berikan dan bagikan.
Kisah Para Rasul 9:36-42 Di Yope ada seorang murid perempuan bernama Tabita dalam bahasa Yunani Dorkas. Perempuan itu banyak sekali berbuat baik dan memberi sedekah. (Ayat 36b) Tabita adalah seorang biasa. Alkitab menyebut identitasnya hanya sebagai seorang murid perempuan. Dia bukan seorang nyonya atau istri dari seorang terkemuka. Dia juga bukan seorang pengusaha atau seorang kaya. Kemungkinan dia seorang single atau seorang janda. Mungkin dia seorang yang hidup secara sederhana. Tapi ada sesuatu yang istimewa di dalam dirinya. Dia adalah seorang murid yang benar-benar melakukan ajaran Tuhan Yesus. Firman Tuhan berkata: ”Ibadah yang murni dan yang tak bercacat di hadapan Allah, Bapa kita, ialah mengunjungi yatim piatu dan janda-janda dalam kesusahan mereka, dan menjaga supaya dirinya sendiri tidak dicemarkan oleh dunia.” (Yakobus 1:27) Tabita menerapkan gambaran tentang seorang perempuan yang penuh hikmat: ”Tangannya ditaruhnya pada jentera, jari-jarinya memegang pemintal. Ia memberikan tangannya kepada yang tertindas, mengulurkan tangannya kepada yang miskin”. (Amsal 31:19-20) Tabita banyak melakukan kemurahan hati kepada orang-orang yang miskin, terutama janda-janda yang tidak mampu. Ia membuatkan pakaian bagi mereka. Dia menjahit dengan tangannya sendiri pakaian-pakaian itu, lalu dia berikan kepada yang membutuhkan. Hidupnya sangat berarti bagi banyak orang, sehingga pada waktu ia meninggal banyak orang merasa kehilangan dan menangisi kepergiannya. Hidup Tabita berarti bukan hanya bagi orang-orang miskin yang pernah dibantunya, tetapi juga berarti bagi Tuhan. Firman Tuhan berkata bahwa apa yang kita perbuat bagi orang-orang kecil kita telah melakukannya untuk Tuhan (Matius 25:40). Itulah sebabnya ketika Tabita meninggal, Tuhan berkenan membangkitkan dia dari kematian. Tuhan mendengar permohonan orang-orang yang mengasihinya. Apakah hidup kita juga berarti bagi banyak orang? Apakah ketika kita meninggal nanti banyak orang akan merasa kehilangan? Atau sebaliknyakah yang terjadi? Hidup kita menyusahkan banyak orang. Ketika kita meninggal, banyak orang merasa lega karena sudah berkurang satu orang yang sering membuat masalah. Termasuk yang manakah hidup anda?
BARCODE BBM CHANNELS
RENUNGAN HARIAN
Dirindukan Orang
20 Oktober '14
Saling Mencukupi
09 Oktober '14
Hidup Yang Bermakna
19 Oktober '14
Copyright © 2012 All rights reserved. Designed and Developed by GIA Dr. Cipto Semarang