SEPEKAN TERAKHIR
  Jumat, 01 Agustus 2014   -HARI INI-
  Kamis, 31 Juli 2014
  Rabu, 30 Juli 2014
  Selasa, 29 Juli 2014
  Senin, 28 Juli 2014
  Minggu, 27 Juli 2014
  Sabtu, 26 Juli 2014
POKOK RENUNGAN
“Pujilah Allah senantiasa, karena anugerah-Nya telah menyelamatkan kita di dalam Tuhan Yesus Kristus. Pujilah Allah karena hikmat dan pikiran-Nya tak terselami oleh siapa pun di dunia ini.”
DITULIS OLEH
Pdt. Y. Agus Santoso
Rohaniwan Pusat
Renungan Lain oleh Penulis:
Home  »  Renungan  »  Semua Untuk Kemuliaan Allah
Semua Untuk Kemuliaan Allah
Rabu, 20 Maret 2013 | Tema: Umat Yang Memasyurkan Allah
Semua Untuk Kemuliaan Allah
Roma 11:33-36
Kita sering bernyanyi “mulia, mulia bagi Anak domba....” Kadang kita juga menyanyikan “segala puji syukur bagi-Mu, kutinggikan nama-Mu selalu...” dan banyak lagi pujian lain yang syairnya senada dengan lagu pujian tersebut. Apa sebenarnya pesan yang hendak disampaikan kepada umat Allah saat pujian tersebut dinyanyikan? Bacaan renungan pagi ini berkisah tentang pujian bagi kemuliaan Allah. Ayat yang kita baca lebih dikenal sebagai teologi pujian bagi Allah. Mengapa penulis menuliskan hal ini untuk disampaikan kepada jemaat? Pesan apa yang hendak disampaikan?

Berdasarkan bacaan ayat-ayat sebelumnya dan sesudahnya, sebenarnya Rasul Paulus, sebagai penulis surat ini, sangat kagum dengan karya, hikmat, dan pikiran Allah sebagai perencana segala sesuatu secara sempurna. Khususnya dalam hal keselamatan manusia dari dosa melalui karya Tuhan Yesus di kayu salib. Pujian tersebut hendak menyatakan bahwa bangsa Israel sebagai umat pilihan Allah (berdasarkan perjanjian Allah dengan Abraham) sedang menegarkan hatinya. Maka saat ini bangsa Israel sedang dibiarkan Allah untuk sementara waktu. Sekarang Allah mau berurusan dengan bangsa-bangsa lain untuk membentuk umat yang baru, yang dikenal dengan sebutan gereja. Setelah jumlahnya cukup dan waktu kunjungan Allah untuk bangsa-bangsa lain sudah selesai, maka Allah akan kembali berurusan dengan bangsa Israel (ayat 7-25).

Semakin kita merenungkan pekerjaan Allah, semakin kita memuji Allah karena hanya DIA-lah Allah yang mampu mengerjakan segala sesuatu dengan sempurna untuk kepentingan umat manusia...selengkapnya »
“Ben, setujukah kamu dengan anggapan umum bahwa semua gereja mempunyai masalah?” tanya Sambey kepada Benay. Sambil mengunyah mendoan kesukaannya, Benay menjawab, “Aku setuju! Memang kenyataannya begitu kok.” Sambey menganguk-anggukkan kepala, pertanda ia juga menyetujui jawaban sahabatnya itu. “Tapi aku pikir kenyataan itu tidak boleh diterima secara pasif.” ungkap Sambey lebih lanjut. “Maksudnya apa?” tanya Benay ingin mendapat penjelasan. Sambey menjelaskan bahwa semua gereja mempunyai masalah adalah kenyataan, tetapi kenyataan itu tidak boleh membuat gereja menyerah. Sebaliknya kenyataan itu justru harus membuat gereja “bergerak”, bergumul dan berjuang sesuai yang dikehendaki Tuhan. Menurut Sambey, kesehatian jemaat mutlak diperlukan agar gereja tidak kalah dengan masalah yang dihadapinya. “Lha, bagaimana kalau justru masalahnya tidak adanya kesehatian dalam jemaat?” tanya Benay dengan mulut penuh mendoan. “Wah, repot itu, Ben! Itu yang harus diatasi lebih dahulu. Perlu digumulkan bagaimana mewujudkan gereja sebagai komunitas sehati-sepikir.” jawab Sambey. Rasul Paulus menghendaki adanya kesehati-sepikiran dalam jemaat yang terwujud dalam satu kasih, satu jiwa, satu tujuan. Kesehati-sepikiran itu mengisyaratkan jemaat yang kompak, yang tidak terpecah-belah. Jemaat yang saling mengasihi satu sama lain. Jemaat yang mempunyai perasaan sebagai satu keluarga, yaitu sebagai saudara-saudari di dalam Tuhan. Jemaat yang mempunyai kesatuan tujuan untuk kemuliaan Tuhan. Kondisi kesatuan itu akan sukar diwujudkan jika sikap mementingkan diri dan mencari kehormatan pribadi ada dalam jemaat. Itulah sebabnya Rasul Paulus mendorong jemaat untuk bersedia merendahkan diri sama seperti yang diteladankan oleh Yesus Kristus. Sikap merendahkan diri itu ditampakkan dengan memperhatikan dan mengutamakan kepentingan orang lain, di samping memperhatikan kepentingan pribadi. Dengan demikian kesehati-sepikiran dalam jemaat dapat diwujudkan. Jemaat yang terkasih. Marilah kita waspada dengan kepentingan pribadi kita. Tidak setiap kepentingan pribadi salah. Tetapi ketika kepentingan pribadi itu begitu menonjol dan menguasai diri kita, itu akan menjadikan kita pribadi yang tak pernah puas dengan pujian, terus mengejar kepopuleran, dan tak sudi menerima nasihat, apalagi kritik dari orang lain. Dan ini akan menjadi kendala untuk mewujudkan komunitas sehati-sepikir sebagaimana dikehendaki Tuhan. Oleh sebab itu marilah kita merendahkan diri dengan bersedia memperhatikan kepentingan orang lain untuk tujuan kita bersama sebagai jemaat Tuhan.
Kekuatan bom untuk menghancurkan; kekuatan dinamit juga sama, untuk menghancurkan. Berbagai makanan yang kita konsumsi menghasilkan energi (kekuatan) supaya kita mampu beraktivitas. Pesawat terbang, mobil, sepeda motor bisa bergerak karena ada kekuatan dorongan dari mesin. Yang jelas, semua yang berkekuatan akan bergerak maju mencapai sesuatu. Roh Kudus adalah Pribadi yang memberi kekuatan (power) kepada orang-orang percaya (gereja-Nya). Ketika murid-murid dipenuhi Roh Kudus, maka mereka tidak tinggal diam. Murid-murid bekerja lebih giat dan lebih berani oleh karena dorongan Roh Kudus. Dengan semangat menggelora memberitakan Yesus yang telah bangkit, tidak lagi takut kepada siapapun. Buktinya, Petrus dan Yohanes ketika dipenuhi Roh Kudus, mereka berdua dengan penuh berani memberitakan Yesus yang telah bangkit sekalipun mereka harus ditangkap dan dihadapkan ke mahkamah agama Yerusalem. Akibatnya, jumlah orang percaya bertambah menjadi lima ribu orang (laki-laki saja). Saudara, seorang yang dipenuhi Roh Kudus bukan untuk “gagah-gagahan” rohani, supaya orang lain memberikan hormat. Ada gejala atau kecenderungan yang terjadi pada orang kristen saat-saat ini bahwa banyak orang mengejar supaya dipenuhi Roh Kudus. Saking rindunya dipenuhi Roh Kudus, mereka ke sana-kemari bertanya bagaimana caranya supaya dipenuhi Roh Kudus? Tidak salah rindu dipenuhi Roh Kudus, tetapi persoalannya siapkah kita ketika Roh Kudus memenuhi kita. Sebab ketika Roh Kudus dicurahkan, Dia akan memimpin hidup kita sepenuhnya, sesuai dengan kehendak-Nya, bukan kehendak kita. Berarti, siapkah kita mematikan keinginan-keinginan manusiawi kedagingan kita? Jika belum siap, tunda dulu hasrat mulia itu sampai Anda betul-betul siap.
Efesus 4:30-32 Dan janganlah kamu mendukakan Roh Kudus Allah, yang telah memeteraikan kamu menjelang hari penyelamatan. (Ayat 30) Salah satu pekerjaan Roh Kudus adalah menyatukan jemaat sebagai Tubuh Kristus. Jika kita ingin menyenangkan hati-Nya, maka kita harus menjaga kesatuan itu. Jika kita mengasihi Kristus, maka kita pun mengasihi Tubuh-Nya, yaitu gereja-Nya. Janganlah kita mencederai kesatuan jemaat, karena dengan mencederai kesatuan jemaat berarti kita juga mencederai hati Kristus. Kadang tanpa kita sadari kita mendukakan hati Roh Kudus. Dengan cara apa? Ketika kita menyimpan: kepahitan, kegeraman, kemarahan, dan ketika kita bertikai satu sama lain dan saling memfitnah, maka kita telah mendukakan Roh Kudus (ayat 31). Tindakan itu bertentangan dengan apa yang sedang dikerjakan oleh Roh Kudus. Karena itu segala kepahitan dan kemarahan yang masih tersimpan harus dibuang dari antara kita. Sebab dengan memelihara dan menyimpannya kita merusak pekerjaan Roh Kudus. Tetapi hendaklah kamu ramah seorang terhadap yang lain, penuh kasih mesra dan saling mengampuni, sebagaimana Allah di dalam Kristus telah mengampuni kamu (ayat 32). Kepahitan, kegeraman dan kemarahan harus diganti dengan keramahan dan kasih mesra. Itu bisa terjadi jika ada saling mengampuni. Pengampunan membuat segalanya bisa pulih kembali. Jika kita taat dalam hal ini maka Roh Kudus akan disukakan. Kehadiran-Nya selalu akan nyata di tengah kita. Buah-buah pertobatan akan dihasilkan. Mujizat-mujizat akan dikerjakan oleh Tuhan di antara kita. Banyak orang akan melihat kemuliaan Tuhan di tengah-tengah kita. Nama Tuhan Yesus akan dimashyurkan. Orang-orang akan datang dan percaya kepada-Nya. Tuhan Yesus sebagai Kepala gereja akan menyatakan diri-Nya di hadapan dunia ini. Gereja Tuhan, marilah kita ikut serta dalam perkara besar yang sedang dikerjakan-Nya di tengah dunia ini.
Sikap dan perilaku berbagi bukan sesuatu yang asing bagi kita. Sejak kecil kita sudah diajar dan dilatih untuk berbagi, bahkan kitapun mengajar anak cucu kita untuk berbagi. Ketika si Nonik atau si Nyonyo kecil sudah bisa pegang biskuit di tangan mungilnya dan mulai belajar makan sendiri, kita mengajarnya untuk berbagi, “Minta dong?” Kalau si kecil memberikannya, dia mendapat pujian tapi lebih sering dia sampai menangis mempertahankan biskuitnya. Di saat yang lain si kecil pegang makanan di kedua belah tangannya, kembali kita ajar dia untuk berbagi, “Bagi dong, kan kamu punya dua?” Mungkin si kecil memberikan yang satu, tapi sering dia mempertahankan kedua-duanya, bahkan dengan cerdik dia berdalih: “Ini pahit, tidak enak”, katanya menirukan ketika kita melarang dia minta sesuatu untuk dimakannya. Itulah sikap dan perilaku anak kecil yang belum mengerti apa arti berbagi, tapi kita toh terus mengajar dan melatihnya untuk berbagi. Bagaimana dengan kita para orang dewasa? Apakah kita terus mengajar dan melatih diri kita sendiri untuk berbagi? Mari kita teladani orang-orang percaya di Yerusalem. Mereka tidak hanya bertekun dengan sehati berkumpul tiap-tiap hari dalam Bait Allah, tapi mereka membangun kesatuan dan kebersamaan dengan sikap dan perilaku saling berbagi. Mereka menyaksikan dan mengalami mukjizat dan tanda yang dikerjakan oleh para rasul. Alkitab mencatat bahwa mereka disukai semua orang dan tiap-tiap hari Tuhan menambahkan jumlah orang-orang yang diselamatkan. Selamat mempraktikkan sikap dan perilaku saling berbagi di dalam komunitas-komunitas d imana Anda ada di dalamnya.
BARCODE BBM CHANNELS
RENUNGAN HARIAN
Penuh Roh, Penuh Kesadaran
03 Juli '14
Jadilah Berkat
05 Juli '14
Buatlah Tuhan bersuka
20 Juli '14
Copyright © 2012 All rights reserved. Designed and Developed by GIA Dr. Cipto Semarang