SEPEKAN TERAKHIR
  Kamis, 20 Juli 2017   -HARI INI-
  Rabu, 19 Juli 2017
  Selasa, 18 Juli 2017
  Senin, 17 Juli 2017
  Minggu, 16 Juli 2017
  Sabtu, 15 Juli 2017
  Jumat, 14 Juli 2017
POKOK RENUNGAN
“Pujilah Allah senantiasa, karena anugerah-Nya telah menyelamatkan kita di dalam Tuhan Yesus Kristus. Pujilah Allah karena hikmat dan pikiran-Nya tak terselami oleh siapa pun di dunia ini.”
DITULIS OLEH
Pdt. Y. Agus Santoso
Rohaniwan Pusat
Renungan Lain oleh Penulis:
Home  »  Renungan  »  Semua Untuk Kemuliaan Allah
Semua Untuk Kemuliaan Allah
Rabu, 20 Maret 2013 | Tema: Umat Yang Memasyurkan Allah
Semua Untuk Kemuliaan Allah
Roma 11:33-36
Kita sering bernyanyi “mulia, mulia bagi Anak domba....” Kadang kita juga menyanyikan “segala puji syukur bagi-Mu, kutinggikan nama-Mu selalu...” dan banyak lagi pujian lain yang syairnya senada dengan lagu pujian tersebut. Apa sebenarnya pesan yang hendak disampaikan kepada umat Allah saat pujian tersebut dinyanyikan? Bacaan renungan pagi ini berkisah tentang pujian bagi kemuliaan Allah. Ayat yang kita baca lebih dikenal sebagai teologi pujian bagi Allah. Mengapa penulis menuliskan hal ini untuk disampaikan kepada jemaat? Pesan apa yang hendak disampaikan?

Berdasarkan bacaan ayat-ayat sebelumnya dan sesudahnya, sebenarnya Rasul Paulus, sebagai penulis surat ini, sangat kagum dengan karya, hikmat, dan pikiran Allah sebagai perencana segala sesuatu secara sempurna. Khususnya dalam hal keselamatan manusia dari dosa melalui karya Tuhan Yesus di kayu salib. Pujian tersebut hendak menyatakan bahwa bangsa Israel sebagai umat pilihan Allah (berdasarkan perjanjian Allah dengan Abraham) sedang menegarkan hatinya. Maka saat ini bangsa Israel sedang dibiarkan Allah untuk sementara waktu. Sekarang Allah mau berurusan dengan bangsa-bangsa lain untuk membentuk umat yang baru, yang d...selengkapnya »
Menjadi orang yang benar bukanlah perkara yang gampang untuk dilakukan. Terlebih pada era modern saat ini banyak sekali hal-hal yang dapat membuat iman percaya kita kepada Kristus menjadi goyah sehingga tidak lagi hidup dalam kebenaran. Di dalam Perjanjian Baru arti orang benar ialah orang yang menyadari dan mengakui bahwa dia adalah orang berdosa, bertobat dan dibenarkan. Orang benar bukanlah orang yang tidak pernah melanggar hukum Tuhan karena tidak ada manusia yang tidak pernah berbuat dosa. Bagaimanakah kita bisa tahu apakah hidup kita sudah benar di hadapan Tuhan? Dalam Mazmur 1:1-6 dituliskan ciri orang benar. Pertama, orang benar gemar akan Firman Tuhan. Membaca dan merenungkan Firman dan melakukannya karena ia sadar bahwa dirinya adalah orang yang berdosa dan membutuhkan Firman Tuhan sebagai tuntunan hidup. Sehingga ia tidak akan lagi menggunakan hidupnya untuk melakukan perbuatan yang tidak berkenan kepada Allah. Kedua, orang benar akan selalu mendapat kekuatan dari Allah dan apa yang dikerjakan berhasil. Kekuatan dan pengharapan orang yang hidup benar adalah datangnya dari Allah karena hidupnya senantiasa berada di dekat-Nya. Sehingga ketika ia melakukan segala pekerjaan pasti akan menyerahkannya kepada tangan Tuhan yang akan membuatnya berhasil. Ketiga, orang benar selalu memberikan pengaruh yang baik supaya semua orang hidup dalam kebenaran-Nya. Sikap hidup benar yang dimiliki itu dicerminkan melalui tindakan nyata dalam komunitas di manapun ia berada sehingga menjadi berkat bagi sesama. Kita memang dulu orang berdosa, tetapi sekarang kita tidak lagi hidup di dalam dosa karena kita telah dibebaskan dari kuasa dosa oleh pengorbanan Kristus di kayu salib. Hidup kita menjadi benar bukan karena kita yang mampu membuat diri kita menjadi benar, itu semua hanya karena kemurahan Tuhan saja yang menjadikan hidup layak dan dibenarkan-Nya. Oleh karena itu marilah kita bertindak benar sesuai dengan kehendak Allah dan mengaplikasikannya dalam kehidupan nyata.
“Pokoknya satu yang tak bisa kulakukan, ngampuni orang yang nyalahi aku, titik!” Kalimat itu saya dengar lagi dari dia setelah beberapa waktu saya tidak mendengarnya. Saya kaget juga karena saya pikir setelah sekian waktu dia sudah berubah, apalagi dengan status/jabatan yang baru di gerejanya. Teman saya ini memang dikenal keras, disiplin dan setia dalam mengikut Tuhan. Tapi satu kelemahannya, dia tidak bisa mengampuni orang yang membohonginya ataupun melakukan kesalahan terhadap dia. Ketika kita memutuskan sekolah dan menjadi murid, sudah tentu kita wajib mengikuti semua mata pelajaran yang diajarkan di sekolah itu. Kita tidak bisa memilih hanya mengikuti mata pelajaran yang kita sukai dan menolak untuk mengikuti mata pelajaran yang tidak kita sukai. Kelulusan siswa pun bergantung pada semua mata pelajaran. Demikian juga ketika kita memutuskan untuk menjadi murid Kristus, semua hal yang Tuhan ajarkan harus kita taati. Kita tidak bisa taat hanya dalam masalah kejujuran tapi terbiasa mengumbar kemarahan. Atau setia dalam melayani tapi pelit dalam kehidupan sehari-hari. Disiplin dalam segala hal tapi tidak memiliki Kasih. Semua yang Tuhan ajarkan saling berkaitan satu dengan yang lain. Mengampuni merupakan perintah dari Tuhan yang harus kita lakukan juga. Apapun kesalahan yang orang lain lakukan terhadap, kita harus belajar untuk mengampuni. Ketika mengampuni orang lain, maka kitapun akan diampuni oleh Tuhan [Matius 6:14, karena jikalau kamu mengampuni kesalahan orang, Bapamu yang di sorga akan mengampuni kamu juga]. Dan ada konsekuensi yang harus ditanggung ketika kita tidak mengampuni orang lain. [Matius 6:15, tetapi jikalau kamu tidak mengampuni orang, Bapamu juga tidak akan mengampuni kesalahanmu]. Sama seperti mengikuti sekolah sekuler, semua pelajaran akan menentukan lulus tidaknya dalam menempuh ujian. Karena itu suka atau tidak suka, kita harus belajar untuk mengampuni. Supaya kelak Tuhan akan berkata, “Kamu lulus semua mata pelajaran, Nak.”
Ada seorang tukang becak sempat dimarahi teman-temannya, dan bahkan istrinya pun pernah memarahinya. Penyebabnya yaitu, ketika awal memulai pekerjaannya sebagai tukang becak, dia tidak pernah mematok tarip kepada setiap penumpangnya. Dia selalu menerima berapapun yang dibayarkan oleh penumpangnya. Ternyata kebiasaannya yang sempat membuat marah sesama tukang becak ini membuahkan hasil. Setiap orang yang pernah diantarnya, menjadi pelanggan setianya. Dan ketika membayar pun selalu memberi dengan uang lebih. Yang membahagiakan bapak becak adalah ketika hari-hari raya dia kebanjiran berkat yang bermacam-macam bentuknya. Melalui cerita pengalaman di atas, saya teringat dengan keberanian Rahab ketika ia menyembunyikan para pengintai dari Israel [Yosua 1:1-24]. Ia telah banyak mendengar tentang Allah orang Israel. Hal itu seringkali membuat batinnya berkecamuk, tetapi pikirannya terus bekerja. Apa yang harus dilakukannya kepada kedua orang pengintai itu? Ia memikirkan berbagai kemungkinan yang dapat muncul. Jika ia ketahuan menyembunyikan para pengintai, maka kematiannya dan keluarganya yang akan diperolehnya. Namun ia tahu bahwa ia harus mengambil keputusan yang tepat dengan berani. Akhirnya ia memutuskan untuk menyembunyikan kedua pengintai itu di bawah timbunan batang rami yang ditebarkan di atas sotoh rumahnya. Tentunya keberanian menolong dua pengintai dengan segala resikonya patut menerima upah yang sepadan. Rahab, si perempuan sundal itu, tidak hanya memikirkan dirinya sendiri, tetapi juga seluruh anggota keluarganya [Yosua 2:12-14]. Dan upah keberanian Rahab, yaitu ketika Yerikho direbut Israel, maka ia dan seluruh kaum keluarganya mendapat pembebasan dan tinggal di tengah-tengah orang Israel [Yosua 6:25]. Apa yang dilakukan Rahab seperti pernyataan Salomo [Pengkhotbah 11:1], “Lemparkanlah rotimu ke air, maka engkau akan mendapatnya kembali lama setelah itu.” Ini adalah salah satu kunci sukses yang dimiliki oleh Salomo. Dia menjadi Raja yang kaya raya karena kesungguhannya ketika berbuat sesuatu. Artinya, apa yang kita usahakan dengan sungguh, segenap hati, dan ikhlas akan membuahkan keberhasilan. Walaupun mungkin dianggap sesuatu yang remeh, tetapi ketika kita melakukannya dengan niat baik tulus, maka suatu saat, tanpa kita harapkan, akan mendatangkan manfaat bagi diri kita. Bagaimana dengan kita sekarang, sudahkah memiliki keberanian dalam bertindak? Dalam setiap usaha, pergumulan, pekerjaan dan apapun yang kita rindukan harus dibarengi dengan keberanian untuk bertindak walaupun ada resiko yang harus kita ambil. Tentu saja harus disertai dengan iman bahwa Tuhan yang membuat berhasil. Seberapa banyak benih yang kita tabur akan menentukan seberapa banyak yang akan kita tuai jika dilakukan dengan sepenuh hati dan penuh iman. Pendek kata, keberhasilan yang kita dapatkan akan sebanding dengan pengorbanan yang kita lakukan.
Suatu pagi pak Sastro dan pak Kromo meminta tolong kepada pak Soeroto untuk mendoakan si Ponirah yang lagi sakit. Tanpa berpikir panjang mereka bertiga bergegas menuju ke rumah pak Kromo di mana si Ponirah sedang sakit. Ketika sampai, pak Soeroto terkejut ternyata si Ponirah yang mau didoakan ternyata seekor sapi perah milik pak Kromo yang sudah tiga hari sakit sehingga tidak bisa memproduksi susu seperti biasanya. Setelah beberapa saat pak Soeroto minta petunjuk Allah dan berdoa meminta kuasa Tuhan Yesus menyembuhkan sakitnya supaya si Ponirah bisa memproduksi susu seperti biasanya. Selepas berdoa mereka pulang dan tidak terjadi apa-apa. Tiga hari kemudian di pagi hari, pak Kromo datang ke rumah pak Soeroto membawa satu liter susu produksi si Ponirah sebagai rasa syukur dan terima kasihnya kepada Tuhan Yesus karena si Ponirah sudah sehat. Dari peristiwa tersebut pak Kromo semakin teguh imannya. Renungan hari ini berbicara tentang kehidupan seorang saksi Kristus yang disertai dengan kuasa Roh Kudus. Memang tugas utama yang dimandatkan Tuhan Yesus kepada setiap orang percaya dan para murid-Nya adalah menjadi saksi Kristus di dunia ini untuk melanjutkan tugas-Nya mendirikan Kerajaan Allah di bumi ini. Bersaksi tentang Kristus memerlukan hikmat dan kuasa dari sorga. Sebab meyakinkan orang berdosa untuk bertobat dan percaya kepada Tuhan Yesus bukan perkara yang gampang. Ini pekerjaan yang membutuhkan ketergantungan mutlak kepada kuasa Roh Kudus. Untuk kepentingan inilah Roh Kudus diberikan kepada setiap orang percaya supaya mereka menjadi efektif sebagai saksi Kristus. Sepanjang Kitab Kisah Para Rasul, kita bisa menemukan bagaimana kerja Roh Kudus memimpin para Rasul maupun orang percaya sebagai saksi Kristus. Ada pengalaman yang biasa-biasa saja dan juga ada pengalaman bersaksi yang luar biasa karena disertai dengan kuasa mujizat sebagaimana tertulis dalam Kisah Para Rasul 3 saat Rasul Petrus menyembuhkan orang yang lumpuh. Bagaimana dengan kita saat ini sebagai jemaat GIA Dr Cipto yang telah menerima Roh Kudus dan mengalami Tuhan Yesus dalam hidup kita? Sudahkah kita juga berperan sebagai saksi Kristus kepada orang lain yang belum percaya kepada Tuhan Yesus? Kini sudah waktunya kita harus berani melangkah sebagai saksi Kristus. Maka kuasa mujizat dan penyertaan Roh Kudus selama kita bersaksi tentang Tuhan Yesus pasti akan kita alami. Jadilah saksi Kristus dengan kuasa Roh Kudus, maka hidup kita pasti akan berdampak positip dalam kehidupan orang lain.
BARCODE BBM CHANNELS
RENUNGAN HARIAN
Bangkit dan Terus Berjuang
11 Juli '17
Dunia Butuh Terang
20 Juni '17
Menjadi Yang Terbaik
30 Juni '17
Copyright © 2012 All rights reserved. Designed and Developed by GIA Dr. Cipto Semarang