SEPEKAN TERAKHIR
  Selasa, 28 Maret 2017   -HARI INI-
  Senin, 27 Maret 2017
  Minggu, 26 Maret 2017
  Sabtu, 25 Maret 2017
  Jumat, 24 Maret 2017
  Kamis, 23 Maret 2017
  Rabu, 22 Maret 2017
POKOK RENUNGAN
“Pujilah Allah senantiasa, karena anugerah-Nya telah menyelamatkan kita di dalam Tuhan Yesus Kristus. Pujilah Allah karena hikmat dan pikiran-Nya tak terselami oleh siapa pun di dunia ini.”
DITULIS OLEH
Pdt. Y. Agus Santoso
Rohaniwan Pusat
Renungan Lain oleh Penulis:
Home  »  Renungan  »  Semua Untuk Kemuliaan Allah
Semua Untuk Kemuliaan Allah
Rabu, 20 Maret 2013 | Tema: Umat Yang Memasyurkan Allah
Semua Untuk Kemuliaan Allah
Roma 11:33-36
Kita sering bernyanyi “mulia, mulia bagi Anak domba....” Kadang kita juga menyanyikan “segala puji syukur bagi-Mu, kutinggikan nama-Mu selalu...” dan banyak lagi pujian lain yang syairnya senada dengan lagu pujian tersebut. Apa sebenarnya pesan yang hendak disampaikan kepada umat Allah saat pujian tersebut dinyanyikan? Bacaan renungan pagi ini berkisah tentang pujian bagi kemuliaan Allah. Ayat yang kita baca lebih dikenal sebagai teologi pujian bagi Allah. Mengapa penulis menuliskan hal ini untuk disampaikan kepada jemaat? Pesan apa yang hendak disampaikan?

Berdasarkan bacaan ayat-ayat sebelumnya dan sesudahnya, sebenarnya Rasul Paulus, sebagai penulis surat ini, sangat kagum de...selengkapnya »
Tulisan “HARAP TENANG” pada waktu yang lalu banyak kita jumpai di kantor-kantor, di ruang tunggu praktek dokter dan di rumah sakit. Tentunya tulisan itu dipasang sebagai public notice dengan harapan di dalam tenang ada keteduhan, ada kesejukan hati. Dan itu akan memberi kenyamanan kerja, kenyamanan pasien yang menunggu panggilan dokter untuk diperiksa. Sekarang tulisan itu sulit kita temukan. Dalam gedung gereja kita yang lama, di kiri kanan mimbar dipasang tulisan: “DIAM & BERDOA, TUHAN HADIR”. Tulisan itu cukup memberkati jemaat, mereka masuk ruang ibadah, duduk, diam dan berdoa menikmati kehadiran Tuhan sambil menunggu kebaktian dimulai. Bahkan di hari-hari biasa, pagi hari, tidak ada kebaktian, ada jemaat yang datang, duduk sendiri di depan mimbar berdiam diri berdoa. Entah apa yang mereka sampaikan kepada Tuhan tidak ada orang yang yang tahu tapi saya yakin Tuhan hadir menjamah mereka. Firman Tuhan [1 Petrus 4:7] menasihatkan “kuasailah diri, jadilah tenang supaya kamu dapat berdoa”. Daud adalah manusia yang sarat dengan masalah. Lebih-lebih sejak ia diurapi menjadi raja menggantikan Saul. Karena iri hati Saul, Daud ada dalam kejaran pedang, diburu, terancam bahaya maut, kesesakan dan ketakutan bertubi-tubi datang dalam hidupnya. Daud mendapatkan ketenangan sewaktu ia datang pada Allah yang hidup mencurahkan segala isi hatinya. Masalah datang setiap saat dalam hidup kita tanpa diundang. Tetap saja rasa panik dan bingung lebih cepat menyergap kita daripada ide cemerlang untuk mengatasi masalah itu. Semua itu hal yang wajar dan manusiawi tapi perlu kita ingat bahwa kita punya tempat yang tepat untuk mencurahkan semua gundah gulana kegalauan hati kita. Harap tenang, hampiri Allah, sapalah Dia dalam doa. Allah mengerti apa yang sedang terjadi. Dia sudah mempersiapkan jalan keluar bagi kita. Datang, sujud di hadapan-Nya dan berdoa. Mintalah dan terimalah kelegaan dari-Nya.
Kisah heroik Daud melawan Goliat sangat melegenda. Bukan hanya kaum Kristiani saja yang mengetahui kisah ini tetapi juga orang “di luar sana” tahu bahwa pertempuran itu sangat tidak imbang. Daud yang imut tanpa perlengkapan perang melawan Goliat si raksasa yang berpakaian perang lengkap. Daud menghadapi Goliat tanpa rasa takut sedikitpun. Mengapa ??? Daud sudah mengalami secara pribadi pertolongan Tuhan saat dia bekerja menggembalakan kambing domba ayahnya. Daud merasa tersinggung ketika mendengar Goliat yang berteriak-teriak mencemooh Allah Israel sehingga dengan penuh keyakinan dikatakannya kepada Raja Saul bahwa dia akan mengalahkan Goliat sama seperti dia mengalahkan singa dan beruang saat dia melindungi ternak ayahnya [ayat 34-36]. Daud hanya membawa tongkat, lima batu kali dalam kantongnya dan umban di tangannya sehingga Goliat marah, mengutuki Daud karena merasa dianggap seekor anjing [ayat 43]. Goliat yang besar mendatangi Daud dengan pedang, tombak dan lembing sedangkan Daud yang imut mendatangi Goliat dengan nama TUHAN [ayat 45]. Dengan hikmat dan pertolongan Tuhan, Daud dapat melihat peluang yang ada, yaitu lubang ketopong yang dipakai Goliat tepat di dahinya [ayat 49]. Mungkin saat ini kita sedang menghadapi “Goliat” dalam kehidupan keseharian kita, dalam pekerjaan, problema rumah tangga bahkan mungkin dalam pelayanan. Jangan takut, jangan putus asa !! Mari kita ingat pertolongan Tuhan yang telah kita alami sama seperti Daud disertai Tuhan sehingga bisa membaca peluang yang ada dan hanya dengan batu kali licin yang kecil dapat mengalahkan “Goliat” yang mungkin sangat menakutkan !!! Amin.
Hampir tiga bulan burung yang saya temukan itu saya rawat. Saya belikan sangkar yang besar, memberinya makanan yang terbaik, dari sayuran, vitamin, dan lainnya. Setiap hari saya perhatikan dengan membersihkan sangkarnya dan menjaga pintu sangkar tetap tertutup. Saya menganggap burung tersebut telah mendapatkan kehidupan yang cukup baik walaupun di dalam sangkar. Setelah menginjak bulan ke dua, saya berusaha memanggil dengan siulan khas. Dan burung itupun merespon dengan menegakkan badannya, membuka sayap dan bersuara sambil melompat-lompat kecil. Dan sebaliknya ketika saya berhenti memanggilnya, burung itupun berhenti berbunyi kemudian makan makanan yang ada. Setelah saya merasa burung itu telah menemukan kehidupannya dan terpenuhi kebutuhannya, maka saya mengujinya dengan membuka pintu sangkarnya. Harapan saya biarlah dia keluar sendiri dan terbang jika dia tidak betah di dalam sangkar. Namun apa yang terjadi, walaupun pintu sangkar telah terbuka bahkan sangkarnya saya taruh di atas pohon, ternyata ia tidak mau keluar juga. Melihat kemauan burung itu untuk tetap bertahan dalam sangkar, maka saya merawatnya dengan sungguh. Demikian hidup kita sebagai orang percaya kepada Tuhan Yesus, Dia tidak pernah berjanji bahwa hidup kita akan selalu baik dan mulus. Tetapi Dia berjanji mengirimkan Roh Kudus-Nya untuk menyertai kita yang menuruti perintah-Nya [Yohanes 14:15-16]. Demikian juga Paulus mengajarkan kita bahwa ’kesengsaraan menimbulkan ... tahan uji’. Roma 5:3-4 menyatakan bahwa kesengsaraan itu menimbulkan ketekunan, dan ketekunan menimbulkan tahan uji dan tahan uji menimbulkan pengharapan. Kemalangan adalah proses yang Allah pakai untuk mendatangkan kebaikan dalam hidup kita. Permasalahan yang membuat kita datang kepada Tuhan, sebenarnya dapat mendatangkan kebaikan bagi kita. Hal itu membuat kita sepenuhnya bergantung kepada-Nya. Dalam berdoa hendaknya kita tidak hanya memohon terlepas dari penderitaan, tetapi juga memohon kasih karunia Allah supaya Allah memakai penderitaan itu untuk menyatakan kehendak-Nya dalam hidup kita. Dengan demikian kita akan kuat di tengah malapetaka dan tetap merasa damai di mana pun Allah menempatkan kita. Dan kita akan menikmati betapa besar dan luar biasanya pemeliharaan- Nya jika kita tetap taat dan bertahan dalam iman percaya kita kepada Kristus. Seperti burung yang dalam sangkar, penderitaan yang dialami dalam sangkar justru akan membawanya kepada pemeliharaan sepenuhnya oleh sang pemilik. Demikian juga hidup kita, ujian pencobaan yang kita alami akan membawa kita kepada pemeliharaan Allah bagi hidup kita sekarang dan selamanya.
Sering kita tidak mengerti apa yang terjadi dalam perjalanan hidup ini, banyak hal yang sulit dipahami. Ada syair lagu mengatakan: “Segala yang terjadi dalam hidupku ini hanyalah sebuah misteri ilahi.” Kemampuan pikir dan logika manusia tidak bisa mengerti, kecuali Allah sendiri memberi pengertian, menyingkapkannya bahkan ada hal-hal yang akan tetap menjadi misteri sampai akhir hidup kita. Alice Herz Sommer adalah pianis Yahudi yang dimasukkan ke kamp konsentrasi oleh pemerintah Nazi Jerman pada tahun 1940-an karena kemampuannya bermain musik dia tidak dibunuh. Kehidupan di kamp konsentrasi bukanlah hal yang menyenangkan. Kita tidak bisa membayangkannya. Sampai ajal menjemputnya dia tidak getir terhadap kehidupannya, sebaliknya dengan tersenyum dia berkata bahwa hidup ini indah. Ibarat kita membaca sebuah buku, tidak semua halaman yang kita baca bisa kita pahami seluruhnya. Benar kata Pengkhotbah, manusia tidak bisa menyelami apa yang dilakukan Allah dari awal sampai akhir ketika kita mengalami penyakit kronis, mungkin sukar bagi kita untuk memahami bahwa Dia adalah Allah Penyembuh. “Mengapa Allah Penyembuh ini tidak menyembuhkan aku?” Beberapa orang lain sulit memahami kematian orang-orang yang mereka kasihi meskipun mereka mengerti ada jaminan hidup kekal di dalam Kristus. Demikian juga ketika masalah datang, kesulitan dan tantangan bertubi menghadang. Semua di luar kemampuan kita untuk mengerti dan memahaminya. Allah tidak pernah menuntut kita untuk mengerti dan memahami semua yang sedang terjadi di bumi ini. Allah hanya ingin kita untuk PERCAYA bahwa Dia pegang kendali dan pasti menjadikan semuanya indah pada waktunya [ayat 11], sekalipun banyak hal yang menjadi misteri dan sukar kita mengerti. Mari kita tetap teguh berpegang pada janji-Nya yang tidak pernah diingkari.
BARCODE BBM CHANNELS
RENUNGAN HARIAN
Pendengar dan Pelaku Firman
11 Maret '17
Seperti Monster
27 Maret '17
Hidup Adalah Pilihan
26 Maret '17
Copyright © 2012 All rights reserved. Designed and Developed by GIA Dr. Cipto Semarang