SEPEKAN TERAKHIR
  Sabtu, 26 Juli 2014   -HARI INI-
  Jumat, 25 Juli 2014
  Kamis, 24 Juli 2014
  Rabu, 23 Juli 2014
  Selasa, 22 Juli 2014
  Senin, 21 Juli 2014
  Minggu, 20 Juli 2014
POKOK RENUNGAN
“Pujilah Allah senantiasa, karena anugerah-Nya telah menyelamatkan kita di dalam Tuhan Yesus Kristus. Pujilah Allah karena hikmat dan pikiran-Nya tak terselami oleh siapa pun di dunia ini.”
DITULIS OLEH
Pdt. Y. Agus Santoso
Rohaniwan Pusat
Renungan Lain oleh Penulis:
Home  »  Renungan  »  Semua Untuk Kemuliaan Allah
Semua Untuk Kemuliaan Allah
Rabu, 20 Maret 2013 | Tema: Umat Yang Memasyurkan Allah
Semua Untuk Kemuliaan Allah
Roma 11:33-36
Kita sering bernyanyi “mulia, mulia bagi Anak domba....” Kadang kita juga menyanyikan “segala puji syukur bagi-Mu, kutinggikan nama-Mu selalu...” dan banyak lagi pujian lain yang syairnya senada dengan lagu pujian tersebut. Apa sebenarnya pesan yang hendak disampaikan kepada umat Allah saat pujian tersebut dinyanyikan? Bacaan renungan pagi ini berkisah tentang pujian bagi kemuliaan Allah. Ayat yang kita baca lebih dikenal sebagai teologi pujian bagi Allah. Mengapa penulis menuliskan hal ini untuk disampaikan kepada jemaat? Pesan apa yang hendak disampaikan?

Berdasarkan bacaan ayat-ayat sebelumnya dan sesudahnya, sebenarnya Rasul Paulus, sebagai penulis surat ini, sangat kagum dengan karya, hikmat, dan pikiran Allah sebagai perencana segala sesuatu secara sempurna. Khususnya dalam hal keselamatan manusia dari dosa melalui karya Tuhan Yesus di kayu salib. Pujian tersebut hendak menyatakan bahwa bangsa Israel sebagai umat pilihan Allah (berdasarkan perjanjian Allah dengan Abraham) sedang menegarkan hatinya. Maka saat ini bangsa Israel sedang dibiarkan Allah untuk sementara waktu. Sekarang Allah mau berurusan dengan bangsa-bangsa lain untuk membentuk umat yang baru, yang dikenal dengan sebutan gereja. Setelah jumlahnya cukup dan waktu kunjungan Allah untuk bangsa-bangsa lain sudah selesai, maka Allah akan kembali berurusan dengan bangsa Israel (ayat 7-25).

Semakin kita merenungkan pekerjaan Allah, semakin kita memuji Allah karena hanya DIA-lah Allah yang mampu mengerjakan segala sesuatu dengan sempurna untuk kepentingan umat manusia...selengkapnya »
Selalu ada kisah menarik di seputar penyelenggaraan World Cup yang diadakan setiap empat tahun sekali, termasuk di World Cup 2014 kali ini. Kisah ini adalah kisah tentang seorang tuna netra yang bernama Carlos. Kecintaannya terhadap sepakbola membuat Carlos sangat ingin menyaksikan dan menikmati serunya pertandingan World Cup 2014. Carlos yang adalah warga Negara Brazil ingin sekali mendukung Timnas Brazil berlaga di World Cup 2014. Pertanyaannya adalah bagaimana tuna netra yang tidak dapat melihat dapat menikmati dan menyaksikan pertandingan sepakbola? Apakah mungkin? Keinginan Carlos mendapat tanggapan yang positif dari sahabatnya yang merupakan pasangan suami istri yang bernama Helio dan Regiane. Mereka berusaha semaksimal mungkin untuk mewujudkan keinginan Carlos agar dia dapat melihat dan merasakan serunya pertandingan yang dimainkan oleh timnas Brazil. Pasangan ini membangun miniatur lapangan beserta pemain di dalamnya yang dibuat sedetail mungkin menyerupai formasi dari kedua tim yang sedang bertanding di lapangan. Miniatur ini dibuat untuk memberi gambaran jalannya pertandingan selama kedua tim sedang bertanding. Jadi selama pertandingan Helio memegang tangan Carlos dan menuntunnya untuk bergerak sama persis dengan pertandingan yang sedang berlangsung. Sehingga melalui cara tersebut Carlos yang tuna netra dapat merasakan kebahagiaan karena dapat “melihat” tim kesayangannya Brazil berlaga di World Cup 2014. Luar Biasa... Pemandangan yang sangat indah dan mengharukan ! Janda di Sarfat dihadapkan pada dilema yang cukup sulit atas permintaan Elia. Jika dia memberikan persediaan terakhir bahan makanan yang ada padanya, dia akan mati kelaparan. Namun akhirnya, dia mengambil keputusan yang sangat sulit itu, walaupun sangat beresiko (1 Raja-raja 17:15). Dia memberikan makanan penyambung hidupnya kepada Elia yang dalam kata lain berarti juga memberikan hidupnya. Kita juga akan mengalami hal yang indah jika kita belajar dari kisah janda dari Sarfat serta kisah dari Helio dan Regiane yang membantu Carlos yang tuna netra. Mereka memberi teladan dalam hal berbagi. Bagi mereka tak ada alasan untuk tidak berbagi, memberi dan menolong sesamanya apapun keadaannya. Dalam keadaan baik atau tidak baik, dalam kelebihan ataupun kekurangan. Mereka menunjukkan bahwa kita semua bisa berbagi dan memberi asal kita mau. Sebab kita pasti mempunyai sesuatu untuk diberikan dalam melayani sesama, paling tidak waktu, tenaga, dan perhatian. Yang perlu terus kita ingat adalah bahwa apapun yang kita punya adalah anugerah-Nya yang diberikan bukan saja untuk diri sendiri, melainkan juga untuk melayani sesama demi kemuliaan-Nya. Apa yang kita berikan lebih daripada yang kita dapatkan akan memberi sukacita dalam hidup kita. Alkitab berkata, “Ada yang menyebar harta, tetapi bertambah kaya... Siapa banyak memberi berkat, diberi kelimpahan, siapa memberi minum, ia sendiri akan diberi minum” (Amsal 11:24,25). Kesempatan untuk memberi, terlebih memberi diri adalah anugerah yang tidak boleh kita sia-siakan. Memberi hidup kita untuk melayani dengan sungguh-sungguh di mana kita ditempatkan: di rumah, di tempat kerja, dan di manapun, adalah ibadah yang sejati.
Suatu hari seorang bapak bercerita kepada saya bahwa seluruh menejemen keuangan keluarga dihandel olehnya. Mengapa demikian? Menurut bapak tersebut, istrinya tidak dapat dipercaya dalam mengelolah keuangan yang seharusnya menjadi tanggung jawabnya. Seorang ibu dalam keluarga yang lain juga menyatakan hal yang sama. Ketika suaminya sedang bekerja atau bepergian ia ingin mengetahui keberadaan suaminya. Dengan alasan tersebut ia selalu bertanya pada suaminya tentang: ‘Sekarang sedang mengerjakan apa, Pah? Dimana? Dengan siapa saja? Sebutkan namanya? Berapa lama? Nanti pulang jam berapa? Jangan lama-lama ya, Pah...” Dan masih banyak pertanyaan lain yang mungkin terkesan membuat tidak nyaman. Mengapa ibu ini bertanya demikian? Jawabannya karena ibu ini kurang percaya pada suaminya. Salah satu bagian yang penting dalam komunitas kristen perjanjian baru adalah kepercayaan. Tanpa kepercayaan maka seorang pemimpin tidak akan pernah mendelegasikan suatu tugas yang sangat penting kepada bawahannya. Tanpa kepercayaan maka dalam sebuah keluarga akan timbul terus menerus kecurigaan yang tidak beralasan. Akibatnya antara suami - istri, orangtua - anak, sesama keluarga saling mencurigai, tidak saling mempercayai. Ananias mau pergi menemui dan mendoakan Saulus dari kebutaannya akibat perjumpaanya dengan Tuhan dalam sinar kemuliaan karena Ananias percaya bahwa Saulus akan dipakai oleh Tuhan seperti dirinya (Kisah Para Rasul 9:17). Setelah Saulus bertobat dan didoakan, murid-murid yang ada di Yerusalem takut menerimanya karena mereka belum percaya pada Saulus kalau ia sekarang juga telah menjadi murid Tuhan (Kisah Para Rasul 9:26). Kehidupan dalam komunitas perjanjian baru harus kita dasari dengan kepercayaan. Kita tidak bisa membangun komunitas ataupun keluarga kita dalam kecurigaan dan ketidakpercayaan. Sikap saling percaya antara satu dengan yang lain akan menepis rasa curiga yang kadang muncul dibenak kita. Bagimana kita bisa membangun kepercayaan dalam komunitas kita? Jawabanya singkat, kita semua harus dapat menjadi orang yang dapat dipercaya. Ketika kita sadar tentang arti dan dampak dari sebuah kepercayaan, maka kita dapat membangun komunitas perjanjian baru yang harmonis.
Sikap dan perilaku berbagi bukan sesuatu yang asing bagi kita. Sejak kecil kita sudah diajar dan dilatih untuk berbagi, bahkan kitapun mengajar anak cucu kita untuk berbagi. Ketika si Nonik atau si Nyonyo kecil sudah bisa pegang biskuit di tangan mungilnya dan mulai belajar makan sendiri, kita mengajarnya untuk berbagi, “Minta dong?” Kalau si kecil memberikannya, dia mendapat pujian tapi lebih sering dia sampai menangis mempertahankan biskuitnya. Di saat yang lain si kecil pegang makanan di kedua belah tangannya, kembali kita ajar dia untuk berbagi, “Bagi dong, kan kamu punya dua?” Mungkin si kecil memberikan yang satu, tapi sering dia mempertahankan kedua-duanya, bahkan dengan cerdik dia berdalih: “Ini pahit, tidak enak”, katanya menirukan ketika kita melarang dia minta sesuatu untuk dimakannya. Itulah sikap dan perilaku anak kecil yang belum mengerti apa arti berbagi, tapi kita toh terus mengajar dan melatihnya untuk berbagi. Bagaimana dengan kita para orang dewasa? Apakah kita terus mengajar dan melatih diri kita sendiri untuk berbagi? Mari kita teladani orang-orang percaya di Yerusalem. Mereka tidak hanya bertekun dengan sehati berkumpul tiap-tiap hari dalam Bait Allah, tapi mereka membangun kesatuan dan kebersamaan dengan sikap dan perilaku saling berbagi. Mereka menyaksikan dan mengalami mukjizat dan tanda yang dikerjakan oleh para rasul. Alkitab mencatat bahwa mereka disukai semua orang dan tiap-tiap hari Tuhan menambahkan jumlah orang-orang yang diselamatkan. Selamat mempraktikkan sikap dan perilaku saling berbagi di dalam komunitas-komunitas d imana Anda ada di dalamnya.
Dia terlahir dengan nama Junaidi. Orang-orang memanggilnya Joned. Tapi lebih banyak yang mengenalnya sebagai Pak Jon si tukang bersih-bersih sekolah. Tugasnya beragam, mulai dari membersihkan setiap jengkal lantai sampai membetulkan atap yang bocor. Tetapi murid-murid lebih mengenalnya sebagai petugas pembersih sekolah sebab sebatang sapu hampir selalu melekat di tangannya. Kelihatannya tak ada yang istimewa. Tak ada yang menaruh perhatian pada apa yang dilakukannya. Tak ada yang memuji-muji hasil kerjanya. Sampai suatu hari ia jatuh sakit dan harus beristirahat cukup lama. Awalnya tak ada yang sadar akan ketidakhadirannya. Lalu halaman sekolah mulai dihiasi daun-daun kering. Sampah di laci-laci meja betah sekali tinggal di sana. Kaca-kaca jendela mulai bisa ditulisi dengan jari. Dan murid-murid mulai bertanya-tanya di mana Pak Jon. Mengapa ia tidak masuk. Kapan mereka boleh menjenguknya. Pada akhirnya mereka mengerti, bukan hanya kepala sekolah dan guru-guru yang punya arti. Seorang petugas pembersih pun punya andil besar dalam proses belajar-mengajar di sekolah. Demikian pula dengan Gereja sebagai Tubuh Kristus. Tiap-tiap anggota memiliki tempat dan peran masing-masing. Bersyukurlah di bagian kita ditempatkan. Semua anggota tubuh itu penting. Jangan menyombongkan diri, jangan pula merasa rendah diri. Layanilah apa yang menjadi tugas kita. Jangan dengan terpaksa, jangan pula demi keuntungan pribadi. Gereja bisa berfungsi dengan baik apabila semua anggotanya berfungsi dengan benar sesuai bagiannya.
BARCODE BBM CHANNELS
RENUNGAN HARIAN
Untuk Apa Dipenuhi Roh Kudus?
02 Juli '14
Jadilah Berkat
05 Juli '14
Pentingnya Komunitas Rohani
06 Juli '14
Copyright © 2012 All rights reserved. Designed and Developed by GIA Dr. Cipto Semarang