SEPEKAN TERAKHIR
  Rabu, 22 Oktober 2014   -HARI INI-
  Selasa, 21 Oktober 2014
  Senin, 20 Oktober 2014
  Minggu, 19 Oktober 2014
  Sabtu, 18 Oktober 2014
  Jumat, 17 Oktober 2014
  Kamis, 16 Oktober 2014
POKOK RENUNGAN
“Pujilah Allah senantiasa, karena anugerah-Nya telah menyelamatkan kita di dalam Tuhan Yesus Kristus. Pujilah Allah karena hikmat dan pikiran-Nya tak terselami oleh siapa pun di dunia ini.”
DITULIS OLEH
Pdt. Y. Agus Santoso
Rohaniwan Pusat
Renungan Lain oleh Penulis:
Home  »  Renungan  »  Semua Untuk Kemuliaan Allah
Semua Untuk Kemuliaan Allah
Rabu, 20 Maret 2013 | Tema: Umat Yang Memasyurkan Allah
Semua Untuk Kemuliaan Allah
Roma 11:33-36
Kita sering bernyanyi “mulia, mulia bagi Anak domba....” Kadang kita juga menyanyikan “segala puji syukur bagi-Mu, kutinggikan nama-Mu selalu...” dan banyak lagi pujian lain yang syairnya senada dengan lagu pujian tersebut. Apa sebenarnya pesan yang hendak disampaikan kepada umat Allah saat pujian tersebut dinyanyikan? Bacaan renungan pagi ini berkisah tentang pujian bagi kemuliaan Allah. Ayat yang kita baca lebih dikenal sebagai teologi pujian bagi Allah. Mengapa penulis menuliskan hal ini untuk disampaikan kepada jemaat? Pesan apa yang hendak disampaikan?

Berdasarkan bacaan ayat-ayat sebelumnya dan sesudahnya, sebenarnya Rasul Paulus, sebagai penulis surat ini, sangat kagum dengan karya, hikmat, dan pikiran Allah sebagai perencana segala sesuatu secara sempurna. Khususnya dalam hal keselamatan manusia dari dosa melalui karya Tuhan Yesus di kayu salib. Pujian tersebut hendak menyatakan bahwa bangsa Israel sebagai umat pilihan Allah (berdasarkan perjanjian Allah dengan Abraham) sedang menegarkan hatinya. Maka saat ini bangsa Israel sedang dibiarkan Allah untuk sementara waktu. Sekarang Allah mau berurusan dengan bangsa-bangsa lain untuk membentuk umat yang baru, yang dikenal dengan sebutan gereja. Setelah jumlahnya cukup dan waktu kunjungan Allah untuk bangsa-bangsa lain sudah selesai, maka Allah akan kembali berurusan dengan bangsa Israel (ayat 7-25).

Semakin kita merenungkan pekerjaan Allah, semakin kita memuji Allah karena hanya DIA-lah Allah yang mampu mengerjakan segala sesuatu dengan sempurna untuk kepentingan umat manusia...selengkapnya »
Beberapa waktu lalu saya membaca sebuah artikel yang menarik tentang keturunan orang-orang yang hidup benar dan orang-orang yang jahat. Di situ dipaparkan sebuah data akurat bahwa orang baik, keturunannya akan juga hidup menjadi orang yang baik. Dikatakan dalam artikel itu, keturunannya ada yang menjadi pendeta, pengusaha, hakim, dosen, dll. Namun sebaliknya, diceritakan juga bahwa keturunan dari orang yang jahat, ada yang jadi pembunuh, koruptor, buronan, dll. Terbuktilah sebuah pepatah, “Like father like son.” Artinya, anak akan menjadi seperti apa yang dilihat ataupun didengar dari ayahnya. Jika ayahnya mengajarkan yang baik, maka anaknya akan menjadi baik. Dan berlaku juga sebaliknya. Kita tentu juga sering mendengar beberapa slogan seperti , “Rajin pangkal pandai” dan “Hemat pangkal kaya”. Kedua slogan itu dengan cerita sebelumnya memiliki persamaan, yaitu adanya sebuah konsekwensi dari sebuah aksi. Sebuah aksi yang mengandung pengorbanan akan menghasilkan upah, yaitu kemuliaan. Dan hal itu juga berlaku bagi orang yang mau hidup berkenan di hadapan Tuhan. Nats yang kita baca hari ini mengandung sebuah janji bagi orang yang hidupnya berkenan kepada Tuhan. Bahkan di ayat yang lain, Mazmur 112:2 misalnya, jika kita hidup benar, maka hidup keturunan kita pun dijamin Tuhan. Mereka tidak akan meminta-minta, mereka akan diberkati, mereka akan mewarisi negeri, dll. Namun dengan syarat, jika kita sebagai orang tua, hidup benar di hadapan Tuhan. Untuk hidup benar memang tidak mudah. Ada banyak pengorbanan yang harus kita tanggung, ada banyak perjuangan yang harus kita tempuh. Kita harus beda dengan sikap orang pada umumnya tentang kebiasaan dosa yang sudah menjadi wajar. Misalnya perselingkuhan, perceraian, kebohongan demi keuntungan dalam usaha, politik uang, mencontek, dll. Kita harus siap untuk dijauhi, dihina, mungkin juga usaha kita mengalami perkembangan yang lambat, atau kita mendapat nilai jelek karena kita mau hidup benar. Ketika sedang dalam keadaan itu, ingatlah janji-janji Tuhan yang lebih indah dan mulia sedang ada dalam perjalanan untuk menghampiri Anda. Jadi berjuanglah demi upah perkenanan Tuhan yang akan Anda terima.
“Menurutku, Tuhan itu menciptakan manusia dengan derajatnya masing-masing”, kata Benay. “Maksudmu, derajat seseorang itu sudah ditakdirkan?” tanya Sambey penasaran. Meskipun sempat tidak percaya takdir, tetapi dalam hal ini Benay mengakui bahwa derajat setiap orang sudah ditentukan dari sononya. “Makanya merubah nasib itu tidak mungkin. Kalau sudah ditakdirkan jadi satpam, mulai zaman black coffee sampai zaman white coffee, ya tetap satpam”, kata Benay menyimpulkan. Sambey geleng-geleng kepala pertanda ia tidak setuju. Sambey menjelaskan bahwa menurutnya status sebagai buruh, pegawai negeri, satpam, pendeta, pengusaha dan lain-lain adalah pekerjaan semata. Memang secara sosial itu berarti gengsi tertentu, tetapi di mata Tuhan itu tidak lebih dari sekedar status pekerjaan. Di mata Tuhan setiap orang mempunyai derajat yang sama dan mempunyai hak istimewa yang sama. Dan jangan lupa, setiap orang bisa merubah “nasib”nya dan merubah kondisi masyarakat melalui doa dan perjuangan yang tak kenal lelah. Jemaat yang terkasih. Tuhan mengecam keras orang-orang Farisi dan ahli-ahli Taurat karena kemunafikan mereka. Mereka menggunakan status terhormat mereka seolah-olah mereka adalah orang yang punya privilege (hak istimewa) di hadapan Tuhan dibandingkan rakyat jelata. Padahal status terhormat itu adalah topeng yang menutupi kebobrokan hati & pikiran mereka. Mereka jarkoni (iso ngajar tapi ora iso nglakoni), gila hormat, serakah, gemar berkotbah tentang moral tetapi mereka mengabaikan keadilan, belas kasihan, dan kesetiaan. Tuhan mengajarkan agar umat-Nya tidak meneladani orang-orang seperti itu. Di hadapan Tuhan setiap orang punya hak istimewa apapun status pekerjaannya. Tidak ada yang dapat memegahkan statusnya sebagai “guru rohani” karena hanya ada satu Rabi, yaitu Yesus Kristus. Umat Tuhan hanya punya satu Bapa, yaitu Bapa Sorgawi. Tidak ada tempat untuk kesombongan status sebagai pemimpin karena umat Tuhan hanya punya satu pemimpin, yaitu Mesias. Jika umat Tuhan punya figur pemimpin manusiawi, statusnya sebagai pemimpin bukan untuk disombongkan atau dijadikan topeng suci, tetapi untuk melayani. Tuhan mengajarkan bahwa setiap umat-Nya adalah sesama saudara yang sederajat bagi yang lainnya. Jemaat yang terkasih. Apakah kita menyadari bahwa di hadapan Tuhan kita punya hak istimewa yang sama seperti saudara-saudara kita yang lain? Apapun jabatan gerejawi kita (gembala, pendeta, majelis, jemaat) atau apapun status pekerjaan kita, bagi Tuhan kita sederajat sebagai umat yang dikasihi-Nya. Oleh karena itu jangan merasa bahwa doa pendeta pasti lebih manjur. Karena Tuhan mendengar dan menjawab doa tulus setiap orang. Jangan merasa bahwa “sukses materi” dan status pekerjaan bergengsi adalah tanda diperkenan Tuhan karena Tuhan mengasihi dan membela orang-orang miskin dan orang-orang yang tidak terpandang secara sosial.
1 Petrus 2:9 Tetapi kamulah bangsa yang terpilih, imamat yang rajani, bangsa yang kudus, umat kepunyaan Allah sendiri, supaya kamu memberitakan perbuatan-perbuatan yang besar dari Dia, yang telah memanggil kamu keluar dari kegelapan kepada terang-Nya yang ajaib. Wah bahagianya jadi orang yang terpilih: anggota legislatif yang terpilih, presiden dan wakil presiden yang terpilih. Mereka jadi pusat perhatian. Mereka jadi orang penting. Mereka mendapatkan fasilitas yang khusus: rumah dinas, pengawalan khusus, gaji dan tunjangan yang wah. Pokoknya segala sesuatu yang istimewa bisa dinikmati oleh orang yang terpilih. Apakah seperti itu halnya dengan menjadi umat pilihan Tuhan? Dalam arti tertentu, memang benar. Umat pilihan Tuhan memang mendapat perhatian khusus dari Tuhan. Punya hubungan khusus sebagai anak-anak-Nya. Tuhan memberikan janji penyertaan kepada umat pilihan-Nya. Tuhan berjanji memberkati anak-anak-Nya. Mereka akan mewarisi kekayaan yang tersedia di dalam Kerajaan-Nya. Namun bukan berarti umat pilihan Tuhan tidak akan mengalami kesusahan seperti yang dialami orang-orang pada umumnya. Semua masalah yang umum dialami semua orang (menderita sakit, perjuangan mencari nafkah, ancaman kejahatan, dsb) adalah bagian dari kehidupan umat pilihan (Roma 8:22). Tapi yang pasti Tuhan tidak membiarkan umat pilihan-Nya menghadapi semua itu sendirian. Dia selalu memberi perlakuan khusus kepada umat pilihan-Nya (Keluaran 33:16). Namun yang paling penting, menjadi umat pilihan bukan cuma untuk mendapatkan perlakuan khusus. Yang paling penting adalah menjalankan fungsinya. Memang banyak anggota legislatif yang sudah terpilih cuma ingat pada fasilitas yang didapat tapi lupa pada tugas yang menantinya. Janganlah demikian dengan umat pilihan Tuhan. Jangan lupa pada tugas kita, yaitu untuk memberitakan perbuatan yang besar dari Dia yang telah memilih kita. Dia telah mengubah hidup kita, menyelamatkan kita, memulihkan hidup kita. Kita yang pernah disembuhkan, yang pernah mengalami pertolongan-Nya yang ajaib, ...... semua itu bukan untuk kita simpan sendiri, tapi untuk kita ceritakan pada semua orang, bahwa Dia sungguh besar dan ajaib. Supaya orang lain datang kepada-Nya dan mengalami pertolongan-Nya juga. Ceritakanlah perbuatan-Nya yang ajaib, hai umat pilihan Tuhan.
2 Korintus 9:6-11 kamu akan diperkaya dalam segala macam kemurahan hati, yang membangkitkan syukur kepada Allah oleh karena kami. (Ayat 11) Kalau kita menanam sebuah biji mangga dan biji itu tumbuh menjadi sebuah pohon mangga, maka suatu saat nanti kita akan memetik bukan hanya sebutir buah mangga, tapi ratusan buah mangga. Apa yang kita tanam akan menghasilkan buah sesuai yang kita tanam secara berlipat ganda. Demikianlah Alkitab mengajar kita bukan hanya hukum tabur tuai, tapi juga hukum pelipat gandaan. Sesuai dengan hukum pelipat gandaan, jika kita menabur kemurahan, maka kita akan menuai bukan sekedar kemurahan, namun kemurahan yang berlipat ganda. Firman di atas (dalam versi NIV) berkata: ”You will be enriched in every way so that you can be generous on every occasion, and through us your generosity will result in thanksgiving to God.” Orang yang melakukan kemurahan akan diperkaya dalam segala hal, supaya dia bisa bermurah hati dalam setiap kesempatan. Tuhan makin memberkati orang yang murah hati supaya dia bisa makin bermurah hati. Tujuan akhirnya adalah ucapan syukur kepada Allah, bukan kebanggaan diri orang yang bermurah hati. Orang yang semakin diberkati karena kemurahan hatinya akan semakin menyadari bahwa segala yang dia miliki adalah berasal dari Tuhan. Dalam hal ini Firman Tuhan mengajar tentang motivasi yang benar di dalam melakukan kemurahan hati. Ada orang yang melakukan kemurahan supaya mendapatkan pujian atau nama baik. Firman Tuhan berkata bahwa orang tersebut sudah mendapatkan upahnya dari pujian yang diperolehnya (Matius 6:2). Ada juga yang melakukan kemurahan supaya semakin diberkati. Walaupun ini sesuai dengan hukum tabur tuai namun motivasinya adalah demi keuntungan dirinya. Tuhan pasti menggenapi janji-Nya sesuai dengan apa yang difirmankan-Nya. Namun yang diajarkan Alkitab lebih dari itu. Kita semakin diberkati bukan demi keuntungan diri kita, tapi agar supaya menjadi pribadi yang rendah hati dan penuh ucapan syukur kepada Tuhan yang memiliki segalanya. Jadilah pribadi yang murah hati dan penuh ucapan syukur kepada Tuhan. Amin.
BARCODE BBM CHANNELS
RENUNGAN HARIAN
Kebahagiaan Orang Yang Murah Hati
10 Oktober '14
Hebat, Keren, Megah?
04 Oktober '14
Mulut Yang Tertutup
01 Oktober '14
Copyright © 2012 All rights reserved. Designed and Developed by GIA Dr. Cipto Semarang