SEPEKAN TERAKHIR
  Minggu, 28 Agustus 2016   -HARI INI-
  Sabtu, 27 Agustus 2016
  Jumat, 26 Agustus 2016
  Kamis, 25 Agustus 2016
  Rabu, 24 Agustus 2016
  Selasa, 23 Agustus 2016
  Senin, 22 Agustus 2016
POKOK RENUNGAN
“Pujilah Allah senantiasa, karena anugerah-Nya telah menyelamatkan kita di dalam Tuhan Yesus Kristus. Pujilah Allah karena hikmat dan pikiran-Nya tak terselami oleh siapa pun di dunia ini.”
DITULIS OLEH
Pdt. Y. Agus Santoso
Rohaniwan Pusat
Renungan Lain oleh Penulis:
Home  »  Renungan  »  Semua Untuk Kemuliaan Allah
Semua Untuk Kemuliaan Allah
Rabu, 20 Maret 2013 | Tema: Umat Yang Memasyurkan Allah
Semua Untuk Kemuliaan Allah
Roma 11:33-36
Kita sering bernyanyi “mulia, mulia bagi Anak domba....” Kadang kita juga menyanyikan “segala puji syukur bagi-Mu, kutinggikan nama-Mu selalu...” dan banyak lagi pujian lain yang syairnya senada dengan lagu pujian tersebut. Apa sebenarnya pesan yang hendak disampaikan kepada umat Allah saat pujian tersebut dinyanyikan? Bacaan renungan pagi ini berkisah tentang pujian bagi kemuliaan Allah. Ayat yang kita baca lebih dikenal sebagai teologi pujian bagi Allah. Mengapa penulis menuliskan hal ini untuk disampaikan kepada jemaat? Pesan apa yang hendak disampaikan?

Berdasarkan bacaan ayat-ayat sebelumnya dan sesudahnya, sebenarnya Rasul Paulus, sebagai penulis surat ini, sangat kagum de...selengkapnya »
Di dalam pagelaran Euro 2016 yang diselenggarakan beberapa waktu yang lalu, Inggris menjadi salah satu negara yang menjadi unggulan untuk memenangkan turnamen ini. Banyak orang berkata, permainan mereka hebat, banyak pemain berkualitas di dalamnya, dan dukungan suporter pun sangat luar biasa. Inggris layak menjadi pemenang Euro 2016. Apakah dengan komentar tersebut tim nasional Inggris menjadi juaranya? Jawabannya Tidak. Inggris bukanlah pemenangnya! Inggris bukan pemenang karena mereka tidak dapat menjadi yang terbaik dalam turnamen ini. Pemenang adalah seseorang yang dapat menyelesaikan sebuah pertandingan dan berhasil menjadi yang terbaik. Menjadi yang terbaik bukan hal yang mudah dan tidak semua orang dapat menjadi yang terbaik. Untuk menjadi yang terbaik butuh “nilai plus” yang harus dimiliki. Dengan kata lain seseorang yang berhasil menjadi yang terbaik pasti ada sesuatu yang “berbeda” yang dimiliki yang dapat membedakan dirinya dengan orang lain. 1 Yohanes 5:1-5 menjelaskan bahwa untuk menjadi pemenang/terbaik di dunia ini butuh sesuatu yang berbeda yang harus dimiliki oleh setiap orang percaya. Hal itu adalah iman [ay. 4]. Iman kepada Yesus merupakan “keunikan” dan kekhasan kekristenan yang harus terus dijaga sampai akhir hidup kita. Menjaga iman artinya tidak cukup hanya berkata percaya, tetapi tanpa ditunjukkan oleh sikap hidup yang benar. Menjaga iman artinya, selain percaya dengan sepenuh keyakinan, juga harus ditandai dengan tindakan yang mencerminkan sikap yang senantiasa mentaati ketetapan-ketetapan Allah [ay. 2]. Iman kepada Yesus akan membawa kita menuju kepada kebenaran yang sejati dan kehidupan yang kekal. Rasul Paulus pernah mengungkapkan dalam 2 Timotius 4:7 bahwa hidup ibarat sebuah pertandingan. Jika dalam pertandingan tersebut kita mampu mempertahankan dan menjaga iman kita, maka “mahkota” itu akan diberikan Allah bagi kita. Kemerdekaan dan kemenangan itu akan diraih saat kita berjalan dengan iman yang selalu tertuju kepada Yesus. Bertepatan dengan diperingatinya hari kemerdekaan Indonesia, jadilah orang percaya yang telah dimerdekakan seutuhnya oleh Yesus. Artinya, bersedia menanggalkan segala dosa yang ada dan menjadi orang yang benar-benar merdeka bersama Kristus. Bagaimana dengan kita? Sanggupkah kita melakukannya? Masih bisakah kita mempertahankan iman kita sampai akhir hidup kita? Di tengah kesulitan hidup, di dalam situasi minoritas yang kita alami di Indonesia, dan di tengah kemajuan zaman yang begitu pesat, masih adakah iman kepada Yesus Kristus dalam diri kita? Renungkanlah.
Segunduk nasi putih, hangat mengepul, tersaji di meja makan sederhana di depan saya. Ada tohokan di hati yang membuat saya terdiam. Seharusnya keluarga teman saya yang sederhana itu tak perlu memaksa diri menjamu saya semewah ini. Waktu itu di kalangan penduduk Wonosari yang terpencil, nasi putih hanya dihidangkan di saat-saat istimewa. Sehari-hari mereka mengkonsumsi nasi tiwul yang berbahan dasar gaplek. Dengan menginap di situ saya ingin ikut merasakan kesulitan hidup di desa terpencil yang selalu mengalami kekeringan. Membasuh tubuh hanya dengan dua gayung air, itu pun setelah berjalan cukup jauh dari rumah penduduk. Bergelap-gelap selepas petang sampai pagi, karena daerahnya belum terjangkau listrik. Pengalaman itu benar-benar berharga buat saya. Sayang sekali pagi itu nasi tiwul yang saya harapkan tak kunjung muncul. Sebagai gantinya adalah sebakul kecil nasi putih yang masih mengepul. Ada rasa kecewa yang saya simpan dalam-dalam. Saya menghargai keluarga sederhana yang berupaya keras menjamu tamunya, namun saya akan jauh lebih senang jika diijinkan menikmati nasi tiwul sederhana seperti yang biasa mereka makan. Tidak selamanya nasi putih lebih berharga daripada nasi tiwul. Seperti kondisi hidup manusia yang bermacam-macam, karunia yang diberikan oleh Tuhan kepada anggota-anggota Tubuh-Nya juga beragam. Masing-masing orang diberi karunia yang khas. Tidak perlu besar kepala atau berkecil hati karena semua karunia itu berharga dan bersumber dari Tuhan. Bila Tuhan memberi karunia-karunia yang sederhana, layanilah Ia dengan kesederhanaan. Tak usah berkecil hati atau iri dengan yang lain dan memaksa diri untuk melakukan hal yang kita tak bisa. Tuhan ingin kita melayani sesuai dengan karunia yang Ia berikan. Tidak ada hal yang terlalu remeh bagi-Nya. Tuhan selalu menghargai setiap hal yang kita kerjakan untuk-Nya.
Leonardo Kamilius, seorang anak muda yang memiliki hati yang selalu iba melihat orang yang mengalami penderitaan. Dia memutuskan berhenti bekerja di perusahaan konsultan berskala internasional dengan jabatan yang cukup tinggi untuk memenuhi panggilan hatinya melayani orang yang membutuhkan. Januari 2011 bersama temannya dia mendirikan Koperasi Kasih Indonesia untuk melayani keluarga-keluarga prasejahtera. Dia mendatangi rumah ke rumah untuk mengajak keluarga prasejahtera untuk menabung, mengembangkan usaha dengan diberi pinjaman untuk modal. Dia juga memberi pelatihan cara berwiraswasta. Dia mengabdikan diri sepenuh waktu untuk melayani mereka. Februari 2016 jumlah anggota koperasi sudah 8200 orang di daerah Jakarta Utara dan sebagian besar sudah meningkat ekonominya. Yesus, pada waktu makan malam Paskah bersama murid-murid-Nya, memberi contoh kepada mereka bagaimana saling melayani. Yesus membasuh kaki mereka dan minta agar apa yang dilakukan-Nya diteladani. Melalui hal tersebut Yesus sedang mengajarkan bila mau melayani harus mau merendahkan diri seperti seorang hamba. Karena dalam tradisi Yahudi waktu itu pembasuh kaki orang yang akan bertamu dan mau masuk ke dalam rumah adalah seorang hamba. Melayani akan hanya merupakan sebuah kegiatan atau keterpaksaan apabila dilakukan tidak dengan menghambakan diri. Kita sudah terbiasa dengan melayani orang lain, tetapi apakah kita sudah melayani seperti Yesus melayani? Kalau kita mengaku sebagai murid Kristus, maka selayaknya kita meneladani apa yang Guru kita lakukan, salah satunya merendahkan hati dalam melayani orang lain. Alangkah indahnya apabila kita saling melayani sebagai anggota tubuh Kristus yang berbeda-beda karunianya. Satu dengan yang lainnya tidak ada yang menonjolkan karunianya tetapi merendahkan hati dan menganggap yang lain lebih utama seperti ketika melayani Tuhan.
Seorang gembala jemaat dalam satu bulan penuh menyampaikan firman Tuhan dengan tema yang sama. Pada minggu pertama jemaat mendengar dengan seksama kebenaran firman Tuhan yang disampaikan sambil menganggukkan kepala tanda mengerti dan mengaminkan firman tersebut. Pada minggu kedua jemaat mulai berpikir mungkin gembalanya lupa bahwa firman Tuhan yang sama sudah disampaikan minggu yang lalu. Bahkan pada minggu ketiga kotbahnya pun sama dengan minggu-minggu sebelumnya. Maka dengan memberanikan diri salah seorang jemaat menyampaikan kepada sang gembala bahwa firman Tuhannya sama dengan minggu yang lalu. Tetapi dengan enteng bapak gembala balik bertanya apakah firman yang didengar sudah dilakukan. Dan pada minggu berikutnya pun kotbah yang sama disampaikan oleh gembala. Ada banyak jemaat bangga sudah membaca Alkitab dari Kejadian – Wahyu sampai beberapa kali. Ada pula yang begitu setia beribadah sampai kalau belum beribadah di hari Minggu dirasa ada sesuatu yang kurang. Ada yang begitu bangga karena kenal banyak hamba-hamba Tuhan, bahkan yang terkenal dan tidak sedikit yang gandrung dengan hamba-hamba Tuhan dari luar negeri. Ada juga yang begitu bangga sudah berulangkali ke “tanah suci “ minta dibaptis di sungai Yordan seperti Tuhan Yesus. Surat Yakobus memberikan pelajaran praktis kepada kita apa yang harus kita lakukan, yaitu apa yang kita dengar dari firman Tuhan harus dipraktekkan. Dengan demikian kita akan memiliki kebahagiaan. Kita sudah mendengar banyak kebenaran firman Tuhan dan juga kesaksian-kesaksian, mari dengan pertolongan Roh Kudus, kita memutuskan untuk belajar melakukan setiap firman yang Tuhan sampaikan kepada kita.
BARCODE BBM CHANNELS
RENUNGAN HARIAN
Bersediakah Engkau ?
29 Juli '16
Kenali Karuniamu
02 Agustus '16
Tidak Ada Yang Salah Dengan Apa Yang Tuhan Taruh
30 Juli '16
Copyright © 2012 All rights reserved. Designed and Developed by GIA Dr. Cipto Semarang