SEPEKAN TERAKHIR
  Selasa, 26 Mei 2015   -HARI INI-
  Senin, 25 Mei 2015
  Minggu, 24 Mei 2015
  Sabtu, 23 Mei 2015
  Jumat, 22 Mei 2015
  Kamis, 21 Mei 2015
  Rabu, 20 Mei 2015
POKOK RENUNGAN
“Pujilah Allah senantiasa, karena anugerah-Nya telah menyelamatkan kita di dalam Tuhan Yesus Kristus. Pujilah Allah karena hikmat dan pikiran-Nya tak terselami oleh siapa pun di dunia ini.”
DITULIS OLEH
Pdt. Y. Agus Santoso
Rohaniwan Pusat
Renungan Lain oleh Penulis:
Home  »  Renungan  »  Semua Untuk Kemuliaan Allah
Semua Untuk Kemuliaan Allah
Rabu, 20 Maret 2013 | Tema: Umat Yang Memasyurkan Allah
Semua Untuk Kemuliaan Allah
Roma 11:33-36
Kita sering bernyanyi “mulia, mulia bagi Anak domba....” Kadang kita juga menyanyikan “segala puji syukur bagi-Mu, kutinggikan nama-Mu selalu...” dan banyak lagi pujian lain yang syairnya senada dengan lagu pujian tersebut. Apa sebenarnya pesan yang hendak disampaikan kepada umat Allah saat pujian tersebut dinyanyikan? Bacaan renungan pagi ini berkisah tentang pujian bagi kemuliaan Allah. Ayat yang kita baca lebih dikenal sebagai teologi pujian bagi Allah. Mengapa penulis menuliskan hal ini untuk disampaikan kepada jemaat? Pesan apa yang hendak disampaikan?

Berdasarkan bacaan ayat-ayat sebelumnya dan sesudahnya, sebenarnya Rasul Paulus, sebagai penulis surat ini, sangat kagum dengan karya, hikmat, dan pikiran Allah sebagai perencana segala sesuatu secara sempurna. Khususnya dalam hal keselamatan manusia dari dosa melalui karya Tuhan Yesus di kayu salib. Pujian tersebut hendak menyatakan bahwa bangsa Israel sebagai umat pilihan Allah (berdasarkan perjanjian Allah dengan Abraham) sedang menegarkan hatinya. Maka saat ini bangsa Israel sedang dibiarkan Allah untuk sementara waktu. Sekarang Allah mau berurusan dengan bangsa-bangsa lain untuk membentuk umat yang baru, yang dikenal dengan sebutan gereja. Setelah jumlahnya cukup dan waktu kunjungan Allah untuk bangsa-bangsa lain sudah selesai, maka Allah akan kembali berurusan dengan bangsa Israel (ayat 7-25).

Semakin kita merenungkan pekerjaan Allah, semakin kita memuji Allah karena hanya DIA-lah Allah yang mampu mengerjakan segala sesuatu dengan sempurna untuk kepentingan umat manusia...selengkapnya »
Beda pelayan restoran dengan abdi dalem Ngayogjokarto terletak pada loyalitas mereka. Seorang pelayan restoran melayani pelanggan dengan ramah dan baik karena upah yang mereka terima. Semakin tinggi upah yang mereka terima, maka semakin ramah pula pelayanan yang mereka kerjakan. Namun tidak jarang dari mereka mengeluh dan malu dengan apa yang mereka lakukan sebab mereka melakukan berdasarkan aturan. Bahkan tidak jarang dari mereka melakukan dengan tidak segenap hati ketika mendapatkan tamu yang kurang menyenangkan. Hal ini berbeda dengan abdi dalem dari keraton Ngayogjokarto. Secara upah mereka mendapatkan sangat minim sekali, bahkan dibilang tidak ada artinya buat kehidupan sehari-hari. Namun mereka melakukan dengan penuh tanggung jawab dan semangat yang begitu luar biasa. Sebab bagi mereka melayani sebagai abdi dalem merupakan suatu kehormatan dan kesempatan yang langka meskipun secara kebutuhan tidak mencukupi. Mereka puas dengan pengabdian yang mereka kerjakan. Mereka melakukan yang terbaik, dengan segenap hati, dan tulus ikhlas sebagai pelayanan kepada raja dan keluarganya. Bagi abdi dalem keraton Ngayogjokarto, melayani manusia [raja dan keluarga] yang dianggap lebih tinggi merupakan suatu kehormatan. Seharusnya kita sebagai orang percaya lebih dari itu sebab kita melayani Tuhan yang menjadikan segala-galanya. sebagai orang yang telah ditebus, hendaknya kita melakukan pelayanan kepada Tuhan bukan dengan pamrih atau mendapatkan pujian atau memilih-milih pelayanan berdasarkan yang kita suka. Semua pelayanan yang kita lakukan kepada Tuhan adalah sebuah kehormatan dan bukanlah sesuatu yang memalukan. Pelayanan tidak hanya di altar atau yang menonjol. Pelayanan bisa dikerjakan berdasarkan kemampuan kita dan apa yang bisa kita lakukan untuk pekerjaan Tuhan. Bisa dengan harta, tenaga, kecerdasan, keahlian atau apapun yang dapat mendukung kemajuan gereja. Oleh karenanya ketika kita melayani, sesungguhnya banyak cara kita bisa melakukannya. Yang penting nama Tuhan dimuliakan dan kita tidak mencuri kemuliaan-Nya. Biarlah kita melakukan bukan karena pamrih, namun kita melakukan dengan pemahaman bahwa melayani Tuhan adalah sebuah kehormatan.
Kisah Para Rasul 2:1, 4 Ketika tiba hari Pentakosta, semua orang percaya berkumpul di satu tempat.... Maka penuhlah mereka dengan Roh Kudus, lalu mereka mulai berkata-kata dalam bahasa-bahasa lain, seperti yang diberikan oleh Roh itu kepada mereka untuk mengatakannya. Kisah Para Rasul 4:31 Dan ketika mereka sedang berdoa, goyanglah tempat mereka berkumpul itu dan mereka semua penuh dengan Roh Kudus, lalu mereka memberitakan firman Allah dengan berani. Murid-murid Yesus adalah orang-orang yang sederhana. Setelah Yesus naik ke surga, apa yang terjadi dengan mereka? Kalau dilihat dari kedudukan dan kemampuan mereka seharusnya mereka sudah bubar kocar-kacir. Mereka diancam tidak boleh memberitakan Nama Yesus. Seharusnya mereka ketakutan dan bersembunyi atau tutup mulut. Ternyata di luar dugaan, mereka tampil sebagai saksi-saksi yang berani. Mereka dengan penuh keyakinan memberitakan bahwa Yesus bangkit dari kematian dan memerintah sebagai Tuhan atas hidup manusia. Jelas, keberanian itu bukan berasal dari diri mereka sendiri. Roh Kudus telah turun ke atas mereka dan membuat mereka memiliki keberanian itu. Peristiwa Pentakosta-lah yang menyebabkan semua itu. Filipi 2:13 mengatakan: ’karena Allahlah yang mengerjakan di dalam kamu baik kemauan maupun pekerjaan menurut kerelaan-Nya.’ Roh Kudus-lah yang mengerjakan di dalam kita kemauan untuk melakukan kehendak Bapa di surga. Dalam 2 Korintus 3:5 rasul Paulus mengatakan: ’Dengan diri kami sendiri kami tidak sanggup untuk memperhitungkan sesuatu seolah-olah pekerjaan kami sendiri; tidak, kesanggupan kami adalah pekerjaan Allah.’ Roh Kuduslah yang membuat Rasul Paulus sanggup melakukan pekerjaan-pekerjaan besar yang dikerjakannya. Saya merindukan Pentakosta itu terjadi lagi dan lagi dalam gereja kita. Amin.
Roma 12:2 dalam versi bahasa Indonesia sehari-hari menyatakan, “Janganlah ikuti norma-norma dunia ini. Biarkan Allah membuat pribadimu menjadi baru, supaya kalian berubah. Dengan demikian kalian sanggup mengetahui kemauan Allah , yaitu apa yang baik dan yang menyenangkan hati-Nya dan yang sempurna.” Berpijak dari ayat tersebut, banyak orang kristen merasa bahwa mereka telah melakukan kehendak Allah dalam hidupnya. Misalnya, setia beribadah pada hari Minggu dan tidak pernah merugikan orang lain. Katakan saja pak Munir. Dia selalu beribadah di hari Minggu, tetapi di lingkungan tempat tinggalnya, banyak orang kecewa karena pelitnya minta ampun. Pak Munir juga memberikan perpuluhan, sekalipun sejak sepuluh tahun yang lalu sampai sekarang nominalnya tetap sama, tidak ada peningkatan. Namun demikian pak Munir tidak sungkan-sungkan berbicara mengenai kesetiaannya dalam melakukan kehendak Allah. Pak Munir merasa bahwa dirinya sudah melakukan kehendak Allah. Saudara, banyak orang kristen merasa sudah melakukan kehendak Allah, padahal sebenarnya hanya sekedar merasa melakukan kehendak Allah. Kalau hanya merasa, maka sejatinya belum banyak melakukan kehendak Allah. Seseorang yang melakukan kehendak Allah pastilah terlebih dulu mengalami perubahan kepribadian yang dikerjakan oleh Allah sendiri sesuai dengan yang dipola Allah. Pembaharuan budi itulah yang menyanggupkan kita mengetahui kehendak atau kemauan Allah, yaitu semua yang baik dan yang menyenangkan hati-Nya. Dengan kata lain seseorang yang sudah mengalami pembaharuan budi, maka dia benar-benar melakukan kehendak Allah: semua yang baik dan yang berkenan di hati-Nya. Biarkanlah Allah terlebih dulu melakukan pembaruan budi kita. Amin.
Belajar memahami kehendak Allah harus dimulai dari pemahaman akan rancangan Agung Allah Bapa yang dilaksanakan melalui karya penebusan di dalam Tuhan Yesus Kristus. Satu-satunya tujuan penebusan [anugerah keselamatan] yang sangat mahal harganya itu adalah untuk mengembalikan manusia pada rancangan semula Allah, yaitu memiliki kemuliaan Allah yang telah hilang. Kedua ayat di atas menjelaskan bahwa Allah menghendaki supaya semua orang diselamatkan, memperoleh pengetahuan akan kebenaran, sehingga tidak ada yang binasa, melainkan supaya semua orang berbalik dan bertobat. Kriteria yang menggambarkan kemuliaan Allah antara lain: &’61607; sempurna seperti Bapa [ Matius 5:48]. &’61607; kudus dan tidak bercacat [Efesus 1:4; Ibrani 12:10]. &’61607; mengambil bagian dalam kodrat ilahi [2 Petrus 1:4]. &’61607; memiliki pikiran dan perasaan Kristus [Pilipi 2:5]. Jadi bukan sekedar supaya menjadi orang baik secara moral umum. Hal ini tidak bisa terjadi secara otomatis dan instan, melainkan perlu usaha keras dan serius masuk dalam proses keselamatan. Bukan suatu hal yang mudah, tetapi sangat sulit dan nyaris mustahil, namun bagi Allah tidak ada yang mustahil [Lukas 1:37]. Selanjutnya, sementara kita secara serius masuk dalam proses tersebut, untuk menjadi pribadi yang berkenan kepada Allah, kita juga harus membantu orang lain masuk dalam proses yang sama, supaya mereka juga bisa dipulihkan dan memiliki kemuliaan Allah. Inilah kehendak Allah yang dinyatakan oleh Tuhan Yesus dalam Amanat Agung [Matius 28:19-20]. Umat tebusan harus senantiasa setiap hari memperkarakan kedua hal tersebut, karena merupakan landasan pelayanan yang dikehendaki oleh Bapa. Hiduplah seperti orang arif dan pergunakan waktu yang ada [Efesus 5:15-16]. Syarat penting untuk memahami kehendak Allah tersebut adalah tidak menjadi serupa dengan dunia atau tidak mencintainya dan juga terus mengalami pembaharuan pikiran [Roma 12:2]. Untuk hal ini orang percaya harus terus belajar mengenal kebenaran Injil yang murni, yaitu apa yang diajarkan dan dilakukan oleh Tuhan Yesus. Dengan mengenal kebenaran Injil dan pimpinan Roh Kudus, kita menjadi peka akan suara dan kehendak Bapa untuk dilakukan.
BARCODE BBM CHANNELS
RENUNGAN HARIAN
Anda Pilih Yang Mana?
25 Mei '15
Sang Penantang Zaman
20 Mei '15
Prioritas Hidup
03 Mei '15
Copyright © 2012 All rights reserved. Designed and Developed by GIA Dr. Cipto Semarang