SEPEKAN TERAKHIR
  Minggu, 26 April 2015   -HARI INI-
  Sabtu, 25 April 2015
  Jumat, 24 April 2015
  Kamis, 23 April 2015
  Rabu, 22 April 2015
  Selasa, 21 April 2015
  Senin, 20 April 2015
POKOK RENUNGAN
“Pujilah Allah senantiasa, karena anugerah-Nya telah menyelamatkan kita di dalam Tuhan Yesus Kristus. Pujilah Allah karena hikmat dan pikiran-Nya tak terselami oleh siapa pun di dunia ini.”
DITULIS OLEH
Pdt. Y. Agus Santoso
Rohaniwan Pusat
Renungan Lain oleh Penulis:
Home  »  Renungan  »  Semua Untuk Kemuliaan Allah
Semua Untuk Kemuliaan Allah
Rabu, 20 Maret 2013 | Tema: Umat Yang Memasyurkan Allah
Semua Untuk Kemuliaan Allah
Roma 11:33-36
Kita sering bernyanyi “mulia, mulia bagi Anak domba....” Kadang kita juga menyanyikan “segala puji syukur bagi-Mu, kutinggikan nama-Mu selalu...” dan banyak lagi pujian lain yang syairnya senada dengan lagu pujian tersebut. Apa sebenarnya pesan yang hendak disampaikan kepada umat Allah saat pujian tersebut dinyanyikan? Bacaan renungan pagi ini berkisah tentang pujian bagi kemuliaan Allah. Ayat yang kita baca lebih dikenal sebagai teologi pujian bagi Allah. Mengapa penulis menuliskan hal ini untuk disampaikan kepada jemaat? Pesan apa yang hendak disampaikan?

Berdasarkan bacaan ayat-ayat sebelumnya dan sesudahnya, sebenarnya Rasul Paulus, sebagai penulis surat ini, sangat kagum dengan karya, hikmat, dan pikiran Allah sebagai perencana segala sesuatu secara sempurna. Khususnya dalam hal keselamatan manusia dari dosa melalui karya Tuhan Yesus di kayu salib. Pujian tersebut hendak menyatakan bahwa bangsa Israel sebagai umat pilihan Allah (berdasarkan perjanjian Allah dengan Abraham) sedang menegarkan hatinya. Maka saat ini bangsa Israel sedang dibiarkan Allah untuk sementara waktu. Sekarang Allah mau berurusan dengan bangsa-bangsa lain untuk membentuk umat yang baru, yang dikenal dengan sebutan gereja. Setelah jumlahnya cukup dan waktu kunjungan Allah untuk bangsa-bangsa lain sudah selesai, maka Allah akan kembali berurusan dengan bangsa Israel (ayat 7-25).

Semakin kita merenungkan pekerjaan Allah, semakin kita memuji Allah karena hanya DIA-lah Allah yang mampu mengerjakan segala sesuatu dengan sempurna untuk kepentingan umat manusia...selengkapnya »
Penebusan oleh darah Yesus yang melandasi anugerah keselamatan mempunyai tujuan supaya manusia yang sudah jatuh dalam dosa bisa dikembalikan pada rancangan semula Allah, memiliki kemuliaan Allah [yang telah hilang]. Dengan demikian hidup kita layak di hadapan-Nya serta berkenan kepada-Nya dalam segala hal, dan akhirnya bisa bersama Tuhan di langit baru dan bumi baru. Untuk kembali memiliki kemuliaan Allah tidak bisa terjadi secara otomatis dan instan, tapi perlu proses panjang seumur hidup. Harus ada niat untuk berusaha keras masuk dalam proses tersebut. Tuhan Yesus sendiri menyatakan bahwa perlu perjuangan terus menerus [Lukas 13:24]. Rasul Paulus juga menyatakan untuk tetap mengerjakan keselamatan dengan takut dan gentar [Filipi 2:12]. Proses untuk berkenan kepada Tuhan berkaitan dengan hal penyangkalan diri, banyak hambatan untuk seseorang melakukan penyangkalan diri, antara lain: • Keinginan daging, yang memang mewarnai kehidupan manusia karena masih adanya kodrat dosa dalam dirinya. Tidak mungkin berkenan kepada Allah bila hidup dalam daging [Roma 8:8]. • Pengaruh masyarakat sekuler yang sangat duniawi, cara hidup yang sia-sia [1 Petrus 1:18]. • Kuasa gelap akan berusaha keras menghalangi orang percaya bertumbuh memiliki kemuliaan Allah. Langkah langkah supaya proses penyangkalan diri berjalan dengan baik adalah: a. Miliki tujuan hidup hanya untuk Tuhan dan Kerajaan-Nya, bersedia melepaskan diri dari segala miliknya [Lukas 14:33]. b. Memenuhi pikiran dengan kebenaran Injil yang murni, hal ini akan membuat peka terhadap apa yang menjadi kehendak Allah [Roma 12:2]. Jadi setiap hari harus belajar Firman Tuhan. c. Hidup dalam doa dan mencari wajah Tuhan [Mazmur 27:8]. Tuhan sudah menyediakan sarana berupa fasilitas keselamatan, yaitu: Roh Kudus [yang menuntun kepada segala kebenaran], Kebenaran Injil [Firman Kristus], dan penggarapan Bapa melalui problem dalam kehidupan sehari-hari.
Suatu hari seorang Ibu mensharingkan keadaan anak-anaknya kepada pak WS. Ibu : “Pak, anak-anak zaman sekarang tu bedanya jauh ya sama anak-anak zaman saya dulu!” Pak WS : “Lho... ya to bu, emangnya apa bu yang beda?” Ibu : “Begini pak, kalo anak-anak zaman saya dulu, ketika mereka melihat orangtuanya nyapu.... Dia langsung cepet-cepet bilang ‘sini bu, biar saya aja yang nyapu. Ibu istirahat aja’... bagus kan pak? Tapi berbeda dengan anak-anak saya sekarang, lihat saya nyapu hanya dipelototin aja, ee malah sambil bilang ‘tu lho bu masih kotor, sini juga masih kotor’; nyapu tu yang bersih....! Pak WS : “......!!!” Kerap kali saya mendengar bahwa perilaku anak-anak zaman sekarang berbeda dengan anak-anak zaman dulu. Kalau dulu mereka manut-manut terhadap didikan baik orangtua, guru, aparat pemerintah, pendeta, dan para panutan di masyarakat. Tetapi zaman sekarang ada banyak anak-anak yang mulai tidak mendengarkan didikan orang-orang di sekitarnya. Banyak yang berasumsi karena pengaruh pergaulan yang salah, sekularisasi, pengaruh IT yang berkembang, dan banyak asumsi lain. Hal ini membawa dampak yang cukup negatif bagi generasi penerus kita. Oleh karena itu setiap anak-anak muda harus kembali pada “kasih mula-mula” mereka. Supaya kehadiran mereka dapat berkenan di hati Tuhan dan orangtua yang mengasihinya. Perkenanan Tuhan tertuju pada orang-orang yang benar dan takut akan Dia. Orang yang benar dan takut akan Tuhan tidak akan pernah melupakan kasih mula-mulanya, tetapi terus menghidupi kasih mula-mula itu sehingga hidupnya selalu bergairah dalam segala sesuatu yang Tuhan percayakan kepadanya. Seperti Jemaat mula-mula dengan kasih mula-mula mereka [ayat 42], demikian hendaknya kita membangun tubuh kristus dalam setiap hidup kita. Perubahan dari yang negatif kepada yang positif mengasumsikan bahwa kita tetap menjaga kasih mula-mula itu, tetapi perubahan dari positif ke arah yang negatif mengindikasikan bahwa kasih mula-mula itu telah luntur.
Perawakannya tinggi besar. Ia suka bercerita dan melontarkan lawakan. Meskipun demikian tak banyak siswa yang menyukai guru ini. Pasalnya, gurauan yang dilontarkannya sering kali membuat merah telinga. Entah itu berupa olok-olok terhadap agama lain yang tak dianutnya, ejekan terhadap siswa-siswi di kelasnya, juga lawakan yang menjurus pada hal yang tak pantas. Lebih miris lagi, sang guru mengampu matapelajaran Pendidikan Moral Pancasila [sekarang menjadi Pendidikan Kewarganegaraan] di SMP kami saat itu. Ganjil rasanya. Di satu sisi sang guru mengajarkan kami nilai-nilai yang luhur, menjunjung tinggi moral dan etika, saling menghormati dan bertoleransi. Di sisi lain ia nyata-nyata melanggar semua yang telah diajarkannya sendiri. Mungkin sang guru menganggap kami hanyalah sekelompok siswa berseragam putih biru yang belum mampu berpikir kritis dan menilai. Ia tak sadar bahwa murid-muridnya meringis dan geleng-geleng kepala melihat sepak terjangnya. Kecaman Tuhan Yesus terhadap orang Farisi dan para ahli Taurat sungguh mencerminkan situasi ini. ’Sebab itu turutilah dan lakukanlah segala sesuatu yang mereka ajarkan kepadamu, tetapi janganlah kamu turuti perbuatan-perbuatan mereka, karena mereka mengajarkannya tetapi tidak melakukannya. Mereka mengikat beban-beban berat, lalu meletakkannya di atas bahu orang, tetapi mereka sendiri tidak mau menyentuhnya.’ [Matius 23:3-4] Tentu kita sebagai orang beriman tak ingin perkataan Tuhan Yesus itu ditujukan kepada diri kita juga. Oleh karena itu marilah kita menghidupi apa yang kita imani. Menghidupi apa yang kita ajarkan. Menyelaraskan tindakan dan ucapan. Agar bukan celaan yang kita dapatkan, melainan perkenanan di hati Tuhan.
Ketika saya masih SMP, kelas kami diwajibkan untuk mengikuti pelajaran ekstra kulikuler berenang di kolam renang yang sudah ditentukan oleh guru. Bagi yang tidak mengikutinya, nilai ekstra kulikulernya kosong. Maka semua harus ikut termasuk saya. Saya dengan perasaan takut memohon izin untuk tidak ikut pelajaran tersebut karena trauma pernah tenggelam di sungai dekat kampung saya. Saya terus berusaha menerangkan perasaan takut saya kepada sang guru. Namun beliau dengan tenang tetapi tegas memberikan jawaban bahwa semua anak harus bisa mengenal karakter air, harus bisa hidup di air karena sebagian tanah air kita terdiri dari air. Kemudian beliau mengatakan dengan tegas bahwa dia akan menjaga keselamatan saya agar tidak tenggelam. Akhirnya saya menyerah dan mengikuti pelajaran ekstra tersebut. Seperti yang dikatakan, pak guru mengajar kami setiap Jumat sore dengan sabar sampai kami bisa berenang. Beliau dengan begitu sabar mengajar dan membimbing saya dari takut kedalaman air menjadi menyukai air dan renang. Selama belum bisa renang, saya menganggap kedalaman air adalah menakutkan, kuatir tenggelam dan mati. Tetapi dengan kesabaran untuk berusaha taat dan mengikuti nasihat dan ajaran guru, saya mampu mengatasi trauma itu. Dari pengalaman di atas, kita ingat ketika Tuhan akan mengutus Yesaya. Ia merasa tidak layak dan tidak mampu di hadapan Allah karena sadar sebagai orang berdosa dan najis bibir [ayat 5]. Kerendahan hatinya dengan mengaku sebagai orang yang najis bibir, kejujurannya ketika mengakui dia tinggal di tempat orang yang najis bibir, dan ketaatannya untuk melakukan perintah-Nya telah membuat Allah jatuh hati dan berkenan kepada Yesaya [ayat 7-8]. Sehingga Allah memilih Yesaya menjadi alat-Nya untuk memulihkan bangsa yang masih tegar tengkuk [ayat 9-10]. Allah menginginkan kita menjadi pribadi yang jujur, rendah hati, dan mentaati setiap firman-Nya, agar kita berkenan di hadapan-Nya. Dan jika Allah berkenan kepada kita, Tuhan akan membimbing dan memberikan ketentraman kepada kita seperti ketika Tuhan berjanji menyertai Musa di padang gurun [Keluaran 33:14]. Janji Tuhan ini diberikan kepada Musa karena Allah mengenal dan berkenan kepadanya [Keluaran 33:17].
BARCODE BBM CHANNELS
RENUNGAN HARIAN
Apa Dampak Kata - Kata Kita?
21 April '15
Selamat Dari Tenggelam
24 April '15
Hati Suci Berkenan Di Hadapan Allah
08 April '15
Copyright © 2012 All rights reserved. Designed and Developed by GIA Dr. Cipto Semarang