SEPEKAN TERAKHIR
  Sabtu, 23 September 2017   -HARI INI-
  Jumat, 22 September 2017
  Kamis, 21 September 2017
  Rabu, 20 September 2017
  Selasa, 19 September 2017
  Senin, 18 September 2017
  Minggu, 17 September 2017
POKOK RENUNGAN
Pujilah Allah senantiasa, karena anugerah-Nya telah menyelamatkan kita di dalam Tuhan Yesus Kristus. Pujilah Allah karena hikmat dan pikiran-Nya tak terselami oleh siapa pun di dunia ini.
DITULIS OLEH
Pdt. Y. Agus Santoso
Rohaniwan Pusat
Renungan Lain oleh Penulis:
Home  »  Renungan  »  Semua Untuk Kemuliaan Allah
Semua Untuk Kemuliaan Allah
Rabu, 20 Maret 2013 | Tema: Umat Yang Memasyurkan Allah
Semua Untuk Kemuliaan Allah
Roma 11:33-36
Kita sering bernyanyi mulia, mulia bagi Anak domba.... Kadang kita juga menyanyikan segala puji syukur bagi-Mu, kutinggikan nama-Mu selalu... dan banyak lagi pujian lain yang syairnya senada dengan lagu pujian tersebut. Apa sebenarnya pesan yang hendak disampaikan kepada umat Allah saat pujian tersebut dinyanyikan? Bacaan renungan pagi ini berkisah tentang pujian bagi kemuliaan Allah. Ayat yang kita baca lebih dikenal sebagai teologi pujian bagi Allah. Mengapa penulis menuliskan hal ini untuk disampaikan kepada jemaat? Pesan apa yang hendak disampaikan?

Berdasarkan bacaan ayat-ayat sebelumnya dan sesudahnya, sebenarnya Rasul Paulus, sebagai penulis surat ini, sangat kagum dengan karya, hikmat, dan pikiran Allah sebagai perencana segala sesuatu secara sempurna. Khususnya dalam hal keselamatan manusia dari dosa melalui karya Tuhan Yesus di kayu salib. Pujian tersebut hendak menyatakan bahwa bangsa Israel sebagai umat pilihan Allah (berdasarkan perjanjian Allah dengan Abraham) sedang menegarkan hatinya. Maka saat ini bangsa Israel sedang dibiarkan Allah untuk sementara waktu. Sekarang Allah mau berurusan dengan bangsa-bangsa lain untuk membentuk umat yang baru, yang d...selengkapnya »
Acara peringatan HUT Kemerdekaan RI Ke-72 telah usai dengan segala kemeriahannya di seluruh pelosok negeri ini. Yang tersisa adalah pesan pemerintah melalui tema peringatan tahun ini “kerja bersama, bersama kerja” yang harus ditindaklanjuti oleh seluruh rakyat Indonesia untuk mengisi kemerdekaan. Presiden Joko Widodo dalam pidato kenegaraan menyampaikan tekad pemerintah untuk terciptanya pemerataan kesejahteraan di seluruh negeri. Hal tersebut telah dilakukan melalui upaya persamaan harga BBM dan semen di seluruh negeri, membuat jalan trans Papua, Sumatra dan tol di seluruh Jawa, serta tol laut untuk melancarkan roda ekonomi. Dibutuhkan kerjasama dan gotong royong di seluruh lapisan masyarakat sehingga tidak ada lagi saling curiga, saling memfitnah, saling menghancurkan untuk menuju Indonesia yang lebih baik, seperti tertulis dalam tema peringatan di beberapa wilayah “Semangat gotong royong untuk membangun Indonesia menuju masa depan yang lebih baik”. Sebagai orang yang merdeka secara rohani, hendaklah kita mengisi kemerdekaan bukan dengan menyalahgunakan kemerdekaan untuk menyelubungi kejahatan, tetapi hidup sebagai hamba Allah. Tunduklah kepada pemerintah sebagai pemegang kekuasaan tertinggi, menghormati hukum yang berlaku. Berbuat baik kepada sesama sebagai kehendak Allah karena dengan berbuat baik kita akan membungkam kepicikan orang. Hormati hak-hak orang lain dan hiduplah dalam kasih pada semua orang. Jauhilah keinginan-keinginan daging yang akan merusak jiwa, milikilah cara hidup yang baik di antara semua orang agar Tuhan dimuliakan dan melawat mereka. Isilah kemerdekaan dengan perbuatan baik yang akan berdampak pada semua orang, sehingga dapat memenuhi Amanat Agung untuk memuridkan orang lain. Jadilah agen Kristus untuk mengubah negeri ini menjadi lebih baik di masa depan.
Salah satu program yang digaungkan oleh Bapak Jokowi Widodo setelah dilantik menjadi Presiden RI adalah revolsi mental. Revolusi mental berarti sebuah usaha untuk mengembalikan karakter warga negara kepada apa yang menjadi orisinalitas atau identitas asli bangsa, yaitu karakter santun, berbudi pekerti, ramah dan bergotong royong. Presiden Jokowi menekankan pentingnya revolusi mental di tengah-tengah negeri ini karena beliau menilai sekarang ini sedikit demi sedikit karakter asli itu berubah dan itu tidak disadari. Yang lebih parah lagi tidak ada yang ‘ngerem’. Dan yang seperti itulah yang merusak mental bangsa. Perubahan karakter bangsa tersebut merupakan akar munculnya korupsi, kolusi, nepotisme, etos kerja yang buruk, bobroknya birokasi, hingga ketidaksiplinan. Karena itu Presiden Jokowi memandang pentingnya revolusi mental di bangsa ini. Sebenarnya revolusi mental bukanlah hal yang asing bagi kekristenan karena pada hakikatnya hal tersebut merupakan salah satu aspek dari program Ilahi melalui kehadiran Yesus Kristus ke dunia. Sejak manusia jatuh dalam dosa, dosa dan kejahatan semakin marak dan berkembang. Kuasa dan kekuatannya mencengkeram dan membelenggu manusia. Bahkan di zaman Nuh dikatakan bahwa perbuatan manusia itu melahirkan kejahatan semata. Artinya bahwa kejahatan itu semakin berkembang luar biasa dan menguasai seluruh sendi kehidupan manusia. Sekarang ini pun kita bisa melihat bahwa kejahatan semakin memuncak. Dunia ini benar-benar telah dikuasai oleh dosa dan kejahatan. Manusia dibuat tidak berdaya. Oleh karena itu diperlukan intervensi Ilahi untuk terjadinya revolusi mental dalam hidup manusia. Intervensi Ilahi tersebut nyata melalui karya Yesus Kristus di kayu salib yang memerdekakan kita, yang percaya, dari dosa. Kita yang dulu mati karena dosa telah dihidupkan kembali oleh kematian dan kebangkitan-Nya. Dosa dan kejahatan tidak lagi berkuasa atas kita. Oleh-Nya, kita menjadi ciptaan baru. ‘Jadi siapa yang dalam Kristus, ia adalah ciptaan baru’. Itulah poin penting yang mendasari efektifnya revolusi mental. Selanjutnya, ‘yang lama sudah berlalu dan yang baru sudah datang’. Artinya, sebagai ciptaan baru, kita diingatkan untuk terus menerus mematikan dan menanggalkan manusia lama yang dipenuhi hawa nafsu duniawi [Kolose 3:5-9] dan terus hidup dalam hidup yang baru [Kolose 3:10-17]. Caranya adalah dengan terus berubah oleh pembaharuan budi kita [Roma 12:2a] di dalam terang firman Allah dan Roh Kudus. Oleh sebab itu hiduplah selalu dalam pimpinan firman dan Roh Kudus, niscaya hidup kita akan mengalami revolusi mental seperti halnya yang dicita-citakan Presiden Jokowi. Sehingga korupsi, kolusi, nepotisme, etos kerja yang buruk, penyalahgunaan wewenang, hingga ketidaksiplinan, dan sebagainya, akan menjadi musuh kita. Sedangkan karakter santun, berbudi pekerti, ramah, bergotong royong, dan sebagainya, akan menjadi sahabat.
Malam itu merupakan malam yang sangat menakutkan bagi suster Charllote dan Carol. Mereka berlari terengah-engah dengan penuh ketakutan. Mereka mencoba bersembunyi dari kejaran Iblis yang sangat mengerikan. Keduanya hanya bisa berteriak histeris dengan wajah yang pucat karena melihat sosok Iblis yang sangat kejam hendak membunuh mereka. Suster Charllote terpojok di sebuah ruangan di lantai dua, dan di tempat terpisah Carol dengan gemetar sampai di ujung ruangan gudang. Sang Iblis pun semakin mendekati keduanya dan siap mencekik mereka. Namun situasi pun berubah, suster Charllote dengan memegang kalung rosarionya sambil gemetaran memejamkan mata dan berdoa memanggil Tuhan. Carol pun yang juga tidak kalah takutnya, berteriak histeris, “... Waaaaaaaaa... God.! Help Me!” [Tuhan! Tolong Aku!] Seketika itu juga, Iblis pun lenyap dari hadapan mereka. Itulah sepenggal cuplikan adegan yang ada dalam film Annabelle Creation. Sebuah fim horor yang sedang populer hari-hari ini. Ada pesan positif dalam adegan di atas, yaitu pada saat kita terdesak, ketakutan dan tidak berdaya, selalu ada Tuhan yang siap membantu kita. Elia juga mengalami hal serupa di dalam hidupnya. Di dalam 1 Raja-raja pasal 18, dikisahkan tentang perjuangan heroik Nabi Elia melawan 450 Nabi Baal. Elia sukses mengalahkan mereka dan membunuh mereka semua. Namun justru keadaan sebaliknya diceritakan dalam pasal yang ke-19. Saat mendapat ancaman dari Izebel, Elia malah ketakutan. Elia berusaha sekuat tenaga berlari menjauh dari Izebel. Dia sangat ketakutan dan gelisah mendengar ancaman ini. Satu hal yang sangat luar biasa dari kisah Elia ini adalah Tuhan tidak pernah meninggalkannya. Pada saat Elia ketakutan dan tidak berdaya, Tuhan selalu bersamanya. Tuhan memberikan penyertaan, perlindungan dan kelegaan kepada Elia. Bagaimana dengan kita? Pada saat kita pesimis akan hidup ini, kita cemas terhadap kondisi bangsa Indonesia, atau bahkan kita ragu terhadap gereja kita, ingatlah selalu ada Tuhan yang siap menolong kita! Berserulah kepada-Nya, maka Dia akan mendengar seruan kita. Jangan pernah malu untuk berseru meminta pertolongan-Nya. Jangan pernah sungkan untuk mengakui keterbatasan kita kepada-Nya. Tuhan kita bukanlah Tuhan yang tertidur. Dia adalah Tuhan yang siap untuk membantu kita di dalam segala situasi. Ingatlah, masih ada Tuhan!
Dalam kehidupan orang percaya sering dijumpai pola pikir menuntut/mengklaim Tuhan memenuhi kebutuhan jasmani. Banyak dikondisikan bahwa bila sudah ikut dalam pelayanan, rajin beribadah di gereja, aktif dalam berbagai aktivitas rohani, maka menganggap dirinya layak menerima balasan dari Tuhan berupa berkat jasmani. Terkesan Tuhan berhutang kepada kita. Sebetulnya kitalah yang berhutang kepada Tuhan: 1. Kita berhutang kehidupan. Kita ada karena diciptakan dari tidak ada menjadi ada. Terlebih lagi kita diciptakan sebagai ciptaan yang termulia, diciptakan segambar dan serupa Pencipta, diberi kemampuan kehendak bebas [Kejadian 1:26]. Namun telah jatuh dalam dosa dan belum mencapai keadaan memiliki kemuliaan Allah. 2. Kita berhutang keselamatan. Sesudah manusia jatuh dalam dosa dan kehilangan kemuliaan Allah [Roma 3:23], Bapa memberikan anugerah keselamatan melalui karya penebusan salib Tuhan Yesus. Anugerah ini memberi hak dan kesempatan istimewa agar menusia dapat dikembalikan ke rancangan Allah semula, yaitu menjadi anak Allah [Yohanes 1:12], tanpa terlebih dahulu berbuat baik atau memberikan jasa apapun kepada Tuhan. Hutang dosa dengan konsekuensi hukuman dosa ini hanya dapat di bayar/dipikul oleh Tuhan Yesus dengan kematian-Nya di salib. 3. Hukuman dosa telah dipikul oleh Tuhan Yesus, tetapi kodrat dosa [potensi untuk berbuat dosa/meleset dari yang diinginkan Tuhan] dalam diri seseorang tidak secara otomatis hilang. Kodrat dosa ini harus digarap oleh masing-masing individu bersama Roh Kudus. Itulah alasan orang percaya harus hidup dalam pimpinan Roh Kudus. Dalam ayat bacaan rasul Paulus mengingatkan bahwa orang percaya adalah orang yang BERHUTANG HIDUP MENURUT ROH, dengan cara MEMATIKAN perbuatan-perbuatan tubuh/daging. Hanya dengan demikian barulah kita bisa diproses menjadi anak Allah. Proses membayar hutang demikian ini juga dinamakan: mengerjakan keselamatan dengan takut dan gentar [Filipi 2:12]. Salah satu prinsip penting dan praktis dalam membayar hutang supaya hidup sesuai dengan maksud karya penebusan oleh Tuhan Yesus diadakan adalah dengan menolak kesempatan untuk berbuat dosa, menolak kesempatan untuk memuaskan kehendak daging [Galatia 5:24]. Kesempatan-kesempatan yang dijumpai setiap hari adalah sarana penggarapan dari Bapa supaya kita makin bertumbuh untuk mengenakan kodrat ilahi dan hidup berkenan kepada Tuhan.
BARCODE BBM CHANNELS
RENUNGAN HARIAN
Masih Ada Tuhan
24 Agustus '17
Bebas Sesungguhnya
06 September '17
Perjumpaan Yang Mengubahkan
14 September '17
Copyright © 2012 All rights reserved. Designed and Developed by GIA Dr. Cipto Semarang