SEPEKAN TERAKHIR
  Sabtu, 28 Maret 2015   -HARI INI-
  Jumat, 27 Maret 2015
  Kamis, 26 Maret 2015
  Rabu, 25 Maret 2015
  Selasa, 24 Maret 2015
  Senin, 23 Maret 2015
  Minggu, 22 Maret 2015
POKOK RENUNGAN
“Pujilah Allah senantiasa, karena anugerah-Nya telah menyelamatkan kita di dalam Tuhan Yesus Kristus. Pujilah Allah karena hikmat dan pikiran-Nya tak terselami oleh siapa pun di dunia ini.”
DITULIS OLEH
Pdt. Y. Agus Santoso
Rohaniwan Pusat
Renungan Lain oleh Penulis:
Home  »  Renungan  »  Semua Untuk Kemuliaan Allah
Semua Untuk Kemuliaan Allah
Rabu, 20 Maret 2013 | Tema: Umat Yang Memasyurkan Allah
Semua Untuk Kemuliaan Allah
Roma 11:33-36
Kita sering bernyanyi “mulia, mulia bagi Anak domba....” Kadang kita juga menyanyikan “segala puji syukur bagi-Mu, kutinggikan nama-Mu selalu...” dan banyak lagi pujian lain yang syairnya senada dengan lagu pujian tersebut. Apa sebenarnya pesan yang hendak disampaikan kepada umat Allah saat pujian tersebut dinyanyikan? Bacaan renungan pagi ini berkisah tentang pujian bagi kemuliaan Allah. Ayat yang kita baca lebih dikenal sebagai teologi pujian bagi Allah. Mengapa penulis menuliskan hal ini untuk disampaikan kepada jemaat? Pesan apa yang hendak disampaikan?

Berdasarkan bacaan ayat-ayat sebelumnya dan sesudahnya, sebenarnya Rasul Paulus, sebagai penulis surat ini, sangat kagum dengan karya, hikmat, dan pikiran Allah sebagai perencana segala sesuatu secara sempurna. Khususnya dalam hal keselamatan manusia dari dosa melalui karya Tuhan Yesus di kayu salib. Pujian tersebut hendak menyatakan bahwa bangsa Israel sebagai umat pilihan Allah (berdasarkan perjanjian Allah dengan Abraham) sedang menegarkan hatinya. Maka saat ini bangsa Israel sedang dibiarkan Allah untuk sementara waktu. Sekarang Allah mau berurusan dengan bangsa-bangsa lain untuk membentuk umat yang baru, yang dikenal dengan sebutan gereja. Setelah jumlahnya cukup dan waktu kunjungan Allah untuk bangsa-bangsa lain sudah selesai, maka Allah akan kembali berurusan dengan bangsa Israel (ayat 7-25).

Semakin kita merenungkan pekerjaan Allah, semakin kita memuji Allah karena hanya DIA-lah Allah yang mampu mengerjakan segala sesuatu dengan sempurna untuk kepentingan umat manusia...selengkapnya »
Saat berkendaraan di jalan baik naik sepeda motor maupun mobil, saya seringkali melihat orang naik sepeda motor yang standarnya tidak pada posisi yang tepat. Mungkin Saudara pernah mengalaminya. Saya bergegas untuk memberitahu atau mengingatkan si pengendara supaya membetulkan letak penyangga motornya. Terkadang saya harus sedikit berteriak untuk memberitahu atau mengingatkannya. Mungkin ada yang berpikir mengapa bersusah-susah, toh juga tidak kenal orang tersebut. Namun saya lakukan itu ada tiga alasan, yaitu: 1. Saya membayangkan kalau sampai pengendara tersebut jatuh, wah... kasihan. 2. Saya ingin memberi contoh yang sederhana kepada anak-anak atau keluarga saya untuk berbuat baik. Suatu ketika saya mengingatkan seorang pengendara, salah seorang anak saya berkomentar, “Papa, kok baik ya.” 3. Sesuai judul di atas, beberapa kali saya kelupaan meletakkan standar motor pada posisi yang benar, dan saat berjalan ada banyak orang yang mau bersusah-susah untuk mengingatkan saya. Mari kita tidak jemu-jemu untuk melakukan hal-hal yang baik, bukan saja karena perintah Tuhan tetapi juga karena apa yang kita lakukan itu akan kita tuai juga. Kalau kita melakukan kebaikan, maka kita akan lebih banyak menuai hal-hal yang baik. Demikian juga sebaliknya. Apa yang kita tabur? Bersiap-siaplah untuk menuai. Mari kita menabur hal-hal yang baik, supaya anak cucu kita menuai hal-hal yang baik pula.
FIFA sebagai badan tertinggi sepak bola dunia, dari waktu ke waktu semakin gencar untuk memerangi rasisme di dunia sepakbola. Tindakan rasisme biasanya ditujukan kepada pemain sepakbola “berkulit hitam”, di mana mereka biasanya mendapat perlakuan negatif dan tidak layak. FIFA melakukan berbagai cara untuk menghapus perilaku rasis ini dari dunia sepak bola, mulai dari memberlakukan sanksi tegas terhadap pelaku tindakan rasis, hingga membuat slogan “Let’s Kick Racism Out of Footbal” untuk memerangi perilaku rasis tersebut. Namun, ada cara unik yang dilakukan oleh Dani Alves dalam memerangi rasisme ini. Pemain klub Barcelona ini mendapat perlakuan rasis dari pendukung Villareal, kala Barcelona bertanding melawan Villareal pada hari Minggu, 27 April 2014 silam. Kejadian ini bermula saat Dani Alves sedang bersiap mengambil tendangan sudut dan kemudian tiba-tiba pendukung tim Villareal melemparkan pisang ke dalam lapangan hingga pisang tersebut jatuh tidak jauh dari Dani Alves. Respon yang diberikan Alves untuk memerangi tindakan rasis yang diberikan kepadanya sungguh di luar dugaan. Alves tidak spontan marah. Dia juga tidak melakukan aksi walkout bertanding, dan juga dia tidak melakukan protes berlebihan. Yang dilakukan Alves adalah dia menghampiri pisang itu, lalu dia membuka kulit pisang tersebut dan kemudian memakannya. Tindakan ini mendapat pujian dari berbagai kalangan. Bahkan setelah itu banyak orang menggelar aksi makan pisang sebagai bentuk perlawanan terhadap rasisme yang merupakan salah satu bentuk ketidakadilan. Nabi Mikha berkata kepada orang-orang yang melukai hati Tuhan dengan keegoisan dan perlakuan mereka yang tidak adil terhadap orang lain [ayat 8], ’Hai manusia, telah diberitahukan kepadamu apa yang baik. Dan apakah yang dituntut Tuhan dari padamu: selain berlaku adil, mencintai kesetiaan, dan hidup dengan rendah hati di hadapan Allahmu?’ Apa yang Tuhan harapkan dari kita? Dia menginginkan tindakan [’berlaku adil’], kasih [’mencintai kesetiaan’], dan kerja sama [’hidup dengan rendah hati di hadapan Allahmu’]. Sebagai orang Kristen, hendaknya semangat untuk menegakkan keadilan haruslah ada. Hidup sebagai pengikut Kristus tidak hanya terkait dengan ibadah semata, melainkan juga melalui sikap kita menegakkan kebenaran. Hal-hal yang besar dapat terjadi bila kita berkata, ’Di keluarga saya, di tengah masyarakat saya, di tempat kerja saya, dan dalam setiap hubungan saya dengan orang lain, biarlah keadilan saya tegakkan!’ Mari bersama-sama tebarkan benih keadilan itu, agar keadilan semakin nyata terjadi.
Seorang pengusaha yang menjual perusahaan konstruksi jalan miliknya mengejutkan para karyawannya dengan membagi rata sepertiga keuntungan perusahaan kepada mereka. Dari 550 karyawan yang ada, masing-masing mendapat bagian sebesar 128 juta dollar. Bahkan beberapa karyawan yang sudah berpengalaman mendapat tambahan satu juta dollar dan semuanya bebas pajak. Sang pemilik perusahaan itu berkata, ’Saya ingin berbagi kebahagiaan karena saya memang sangat bahagia. Para karyawan telah bekerja begitu keras dan saya ingin bersikap adil.’ Firman Tuhan memang tidak mengutuk kekayaan, namun dengan tegas firman Tuhan menyatakan larangan agar kita tidak semata-mata terfokus kepada uang. Tuhan melarang kita menjadikan uang sebagai sumber, fokus utama, kebanggaan dan keamanan kita [Matius 6:24, Lukas 12:15]. Seringkali kita menjadikan uang atau harta benda sebagai tuhan bagi diri kita. Itu berarti menempatkannya sebagai berhala yang kita sembah. Tanpa sadar kita telah diperbudak oleh uang/harta benda kita. Kebanyakan manusia lambat laun mulai menempatkan harta di posisi yang terutama dalam hidup, menggantikan Tuhan. Oleh karena itu terkadang Allah tidak mempercayakan uang/harta kepada kita karena kita cenderung menahannya, sementara Allah meminta kita membagikannya. Para pengikut Yesus haruslah ’kaya dalam perbuatan baik, suka memberi dan membagi’ [1 Timotius 6:18]. Harapan Tuhan bagi umatnya adalah supaya setiap kita tidak terikat dengan segala harta di dunia ini. Harta yang didapat selama kita hidup di dunia ini tidak lebihnya seperti sebuah titipan. Alah adalah sumber dari segala harta tersebut, dan Allah ingin untuk kita mengelola “titipan” harta itu dengan baik, serta mau untuk berbagi dengan sesama yang membutuhkan. Rasul Paulus berpesan agar orang-orang percaya bekerja dengan tangan mereka sendiri, ’untuk melakukan yang baik, supaya [mereka] dapat membagikan sesuatu kepada orang yang berkekurangan’ [Efesus 4:28]. Inilah prinsip untuk mengelola kekayaan, yaitu bagikanlah kekayaan Anda untuk menolong orang lain.
Keluarga dan teman-temannya mengenal dia sebagai “orang yang suka menolong”. Hal ini bukan suatu hal yang luar biasa, bukankah kita sering mendengar kometar: “Dia orang baik kok, suka menolong orang lain”. Tapi ketika saya membaca kisah tentang orang yang satu ini, saya sempat terdiam sejenak membayangkan sosok orang ini. Orang seperti apa dia? Di tempat umum, orang yang tidak kenal dia dan belum pernah berjumpa dengannya dapat mengenali dia karena perbuatan baik suka menolong orang lain. Dikisahkan waktu itu Sir Bartle Frere, seorang bangsawan Inggris, menjadi gubernur Bombay, India pada 1862 - 1867, kembali dari perjalanan jauh. Isterinya menyuruh pembantu yang masih baru untuk menjemput Sir Bartle dan membantu membawakan barang-barangnya. Si pembantu bertanya, “Bagaimana saya dapat mengenali Sir Bartle? Bukankah saya belum mengenalnya dan belum pernah berjumpa dengannya? Isteri Sir Bartle menjawab, “Perhatikanlah laki-laki bertubuh tinggi yang sedang menolong orang lain.” Nampaknya, di manapun Sir Bartle berada, ciri “suka menolong orang lain” selalu nampak ada pada dirinya. Injil Matius, Markus dan Lukas berkisah tentang empat orang yang bermaksud membawa temannya yang lumpuh kepada Yesus. Ketika mereka sampai di rumah di mana Yesus mengajar, mereka mendapatkan rumah itu penuh sesak, banyak orang berkumpul di sana. Tidak mungkin mereka bisa masuk. Namun mereka berusaha naik ke atas, membuka atap rumah dan menurunkan si lumpuh tepat di depan Yesus. Yesus memuji iman mereka. Iman yang diwujudkan dengan tindakan perbuatan baik itu telah membuat si lumpuh menerima mujizat kesembuhan. Alkitab tidak pernah mencatat nama mereka, tapi perbuatan baik keempat orang tersebut dikenal dunia sepanjang masa. Mereka dikenal karena kebaikan dan pertolongan untuk membawa orang kepada Yesus. Ketika kita melakukan perbuatan baik, kita sedang memperkenalkan Kristus kepada orang lain.
BARCODE BBM CHANNELS
RENUNGAN HARIAN
Menabur Kebaikan Menuai Jiwa Baru
02 Maret '15
Pelayanan Bukan Kebaikan Sesaat
13 Maret '15
Orang Yang Suka Menolong
11 Maret '15
Copyright © 2012 All rights reserved. Designed and Developed by GIA Dr. Cipto Semarang