SEPEKAN TERAKHIR
  Senin, 23 April 2018   -HARI INI-
  Minggu, 22 April 2018
  Sabtu, 21 April 2018
  Jumat, 20 April 2018
  Kamis, 19 April 2018
  Rabu, 18 April 2018
  Selasa, 17 April 2018
POKOK RENUNGAN
“Pujilah Allah senantiasa, karena anugerah-Nya telah menyelamatkan kita di dalam Tuhan Yesus Kristus. Pujilah Allah karena hikmat dan pikiran-Nya tak terselami oleh siapa pun di dunia ini.”
DITULIS OLEH
Pdt. Y. Agus Santoso
Rohaniwan Pusat
Renungan Lain oleh Penulis:
Home  »  Renungan  »  Semua Untuk Kemuliaan Allah
Semua Untuk Kemuliaan Allah
Rabu, 20 Maret 2013 | Tema: Umat Yang Memasyurkan Allah
Semua Untuk Kemuliaan Allah
Roma 11:33-36
Kita sering bernyanyi “mulia, mulia bagi Anak domba....” Kadang kita juga menyanyikan “segala puji syukur bagi-Mu, kutinggikan nama-Mu selalu...” dan banyak lagi pujian lain yang syairnya senada dengan lagu pujian tersebut. Apa sebenarnya pesan yang hendak disampaikan kepada umat Allah saat pujian tersebut dinyanyikan? Bacaan renungan pagi ini berkisah tentang pujian bagi kemuliaan Allah. Ayat yang kita baca lebih dikenal sebagai teologi pujian bagi Allah. Mengapa penulis menuliskan hal ini untuk disampaikan kepada jemaat? Pesan apa yang hendak disampaikan?

Berdasarkan bacaan ayat-ayat sebelumnya dan sesudahnya, sebenarnya Rasul Paulus, sebagai penulis surat ini, sangat kagum dengan karya, hikmat, dan pikiran Allah sebagai perencana segala sesuatu secara sempurna. Khususnya dalam hal keselamatan manusia dari dosa melalui karya Tuhan Yesus di kayu salib. Pujian tersebut hendak menyatakan bahwa bangsa Israel sebagai umat pilihan Allah (berdasarkan perjanjian Allah dengan Abraham) sedang menegarkan hatinya. Maka saat ini bangsa Israel sedang dibiarkan Allah untuk sementara waktu. Sekarang Allah mau berurusan dengan bangsa-bangsa lain untuk membentuk umat yang baru, yang d...selengkapnya »
Sejenak kita tinggalkan Sambey, Pdt. Itong dan Mbah Wanidy dengan segala pikiran yang berkecamuk di kepala mereka. Marilah kita arahkan pandangan mata kita nun jauh di sana. Pada sosok Benay yang berada di Iraq, negeri Saddam Husein yang kaya minyak namun sekaligus kaya konflik. Ya, Benay masih hidup dan sangat rindu untuk dapat segera pulang ke tanah air. Ia sudah kangen dengan nasi goreng babat, lunpia Semarang, dan tentu saja nasi bungkus dan racikan kopi khas angkringan Mbah Wanidy. Ia sangat rindu pula pada Sambey, sahabat karibnya. Bayangan canda tawa dan keakraban di antara mereka terukir indah di langit-langit angannya. Dan itu semua membuat waktu penantian seperti ini terasa begitu lama dan sangat menyiksa batin Benay. Namun di sela-sela dera kerinduan itu, ada nuansa kepuasan yang tak terlukiskan dalam nurani Benay. “Sudah selesai”, kata Benay. Kalimat singkatnya itu merangkumkan semua jerih lelah dan pengorbanan yang telah ia persembahkan dalam misi kemanusiaan yang penuh risiko. Ya, Benay sungguh bersyukur diberi kesempatan untuk mencicipi pengalaman-pengalaman yang tak pernah ia bayangkan sebelumnya. Melalui pengalaman-pengalaman itu hidupnya makin diperkaya dan kian merasakan campur tangan Tuhan sungguh nyata. Jemaat yang terkasih. Sama seperti Benay yang telah setia dan berhasil menyelesaikan misinya, demikian juga dengan Yesus Kristus. Hidupnya sungguh-sungguh dibaktikan-Nya untuk menggenapi seluruh kehendak Bapa. Yaitu kehendak untuk menanggung dosa seisi dunia, supaya manusia yang berdosa mendapatkan anugerah keselamatan oleh iman kepada-Nya.Saat-saat penghinaan, penyiksaan dan penyaliban yang begitu menyakitkan, menjadi saat-saat yang lama bagi Yesus. Namun Dia begitu sabar menanggungnya dan menjalaninya dengan setia. Hingga saat pamungkas yang dinanti-nanti tiba. Dengan tergantung di kayu salib, Yesus berkata, “Sudah selesai.” Dia menundukkan kepala lalu menyerahkan nyawa-Nya. Dengan perkataan itu Yesus maksudkan untuk menyatakan bahwa: pertama, misi penyelamatan-Nya untuk menggenapi kehendak Bapa sudah rampung; kedua, jangan ada lagi praktek-praktek ketidakadilan dengan mengorbankan orang-orang lemah, miskin dan tak berdaya untuk menanggung/menutupi kesalahan para penguasa yang tak bernurani. Jemaat yang dikasihi Tuhan. Beberapa hari menjelang peringatan Jumat Agung dan Paskah ini, marilah kita bersyukur buat anugerah keselamatan yang sudah kita terima. Sekaligus kita mengingat bahwa keselamatan itu harganya sangat mahal, yaitu seharga darah Kristus yang suci dan dengan demikian harganya tak terkira. Marilah kita menghargai-Nya dengan hidup benar dan adil di hadapan Tuhan dan bagi semua orang. Janganlah kita hidup menikmati gelimang dosa lagi. Dan jauhilah sikap dan tindakan yang mencari aman dengan mengabaikan dan mengkambing-hitamkan orang-orang kecil “yang tak berdosa”. Selamat bersyukur. Terpujilah Tuhan!
Saya pernah membaca cerita sebuah kisah nyata mengenai seorang wanita yang sedang hamil. Ia adalah salah seorang aktifis yg menentang adanya aborsi. Ternyata ia sendiri dihadapkan pada keadaan yg mengharuskan dirinya mengaborsi kandungannya, sebab bayinya didiagonsa memiliki ketahanan tubuh yang rapuh, jika anak itu dilahirkan, umurnya hanya 2 hari saja. Dan bukan hanya itu saja, ada resiko yang akan mengakibatkan kematian si ibu kalau dia melahirkan anak tsb. Dokter menyarankan ia untuk mengugurkan kandungannya. Ia merasa terjepit diantara keadaan bahwa ia adalah seorang penentang aborsi sementara nyawanya terancam kalau ia tidak mengaborsi anak tsb. Namun ia berdoa dan ia mengambil suatu keputusan bahwa ia akan melahirkan anaknya. Ia berkata bahwa anak itu layak untuk hidup walaupun hidupnya hanya sebentar. Suaminya pasrah dan menerima keputusan tsb. Akhirnya ketika bayi itu lahir, ibunya meninggal. Pengorbanan si ibu ternyata tidak sia-sia, anak itu ternyata bertahan hidup selama 2 minggu dan ketika anak bayi itu meninggal, ia mendonorkan ginjal dan jantungnya untuk 2 nyawa bayi lain yang terancam meninggal. Ibu itu mengorbankan dirinya, agar bayi tersebut bisa menghidupkan nyawa bayi-bayi lain. Dari cerita peristiwa di atas, demikian juga pengorbanan Yesus di kayu salib, merupakan bentuk nyata pengorbanan Bapa di Surga untuk keselamatan orang percaya. Yesus harus menderita, di salibkan, mati dan bangkit merupakan pengorban yang tak ternilai harganya. Itu semua Allah lakukan agar kita yang seharusnya di hukum maut oleh dosa, tetapi di selamatkan melalui percaya kita kepada pengorbanan Yesus di kayu salib [Roma 6:23]. Kalau Allah sendiri melalui Yesus rela berkorban untuk kita, lalu apa yang menjadi balasan kita ? Apakah yang dapat kita korbankan sebagai bentuk trimakasih kita pada Allah ? Maka ketika kita dihadapkan kepada pengorbanan, berdoalah kepada Tuhan, apakah yang menjadi kehendakNya, seperti ketika Abraham harus mengorbankan anak tercintanya, Ishak. Ketika Abraham pasrah kepada Tuhan dan ia mengorbankan anaknya, Allah memberikan berkat berlimpah-limpah dan berkali-kali lipat kepadanya. Jika Allah melakukan hal yang sama kepada Abraham, maka Ia-pun pasti akan melakukan hal yang sama kepada kita anak-anakNya juga. Karena dalam suatu pengorbanan yg harus kita pilih, Tuhan memiliki rencanaNya sendiri, hanya tinggal maukah kita menjalaninya, maukah kita mengorbankan harta kita, perasaan kita, bahkan nyawa kita sekalipun? Untuk sesuatu yang lebih besar, untuk kemulyaan Tuhan. Marilah kita mulai memikirkan dan minta petunjuk Tuhan, apakah yang dapat kita korbankan untuk menghasilkan dampak yang lebih besar bagi kebaikan dan kemulyaan Allah.
Yesus sepertinya tahu apa yang akan dihadapi oleh para pengikut-Nya jika Ia tinggalkan. Oleh sebab itu Yesus sebalum kembali ke sorga Ia berjanji,’Aku akan minta kepada Bapa, dan Ia akan memberikan kepadamu seorang Penolong yang lain, supaya Ia menyertai kamu selama-lamanya, yaitu Roh Kebenaran. Dunia tidak dapat menerima Dia, sebab Dunia tidak melihat Dia dan tidak mengenal Dia. Tetapi kamu mengenal Dia, sebab Ia menyertai kamu dan akan diam di dalam kamu.’ [Yohanes 14:16-17] Yesus menepati janjiNya. Saat ini Roh Kudus yang adalah Penolong ada dan selalu ada untuk menolong, mengajar, membimbing, menghibur, menguatkan dan menyertai kehidupan orang percaya sampai kesudahan zaman. Ayat nas di atas menunjukkan bahwa setiap orang percaya sangat membutuhkan kekuatan Roh Kudus supaya mereka semakin berlimpah-limpah dalam pengharapan. Menjadi orang Kristen tidak cukup hanya rutin ke gereja setiap Minggu, menjabat majelis, pengurus gereja dan terlibat di berbagai aktivitas yang berbau Kristen, namun harus terus bertumbuh di dalam pengenalan akan Tuhan dan semakin dewasa rohani. Apa peranan Roh Kudus dalam pertumbuhan iman orang percaya? Roh Kudus selain membimbing, menolong, menyertai, juga menyinari umat Tuhan dengan memberikan firman yang sudah tertulis dalam Alkitab. Maksudnya adalah membuat kita memahami pengajaran dan tuntutan Allah yang diberikan kepada kita yang selama ini tidak atau belum kita mengerti. Bukan karena kita orang awam, tetapi karena keterbatasan kita sebagai manusia. Setiap pribadi, baik Kristen awam atau para pengkotbah [hamba Tuhan], memerlukan bimbingan dan pencerahan dari Roh Kudus untuk mencapai tahap pengertian tertentu. Jadi kemampuan memahami firman Tuhan bukan karena kepandaian dan kehebatan kita. Walapun kita mampu menyampaikan firman Tuhan, bersaksi di hadapan orang lain dan pada akhirnya dapat membawa seseorang bertobat dan menerima Kristus secara pribadi, itu karena karya Roh Kudus. Roh Kuduslah yang bekerja mengubah hati serta menyingkapkan pengertian dan pengenalan yang benar akan Tuhan, sehingga seseorang dapat percaya dan beriman. Kita sekarang sebagai orang percaya, sejauh mana pengakuan dan penyerahan diri kita kepada Roh Kudus ? Karena Roh Kuduslah yang senantiasa setia menolong dalam setiap sisi hidup kita serta memberi pencerahan kepada kita dalam memahami Firman-Nya.
Kehidupan kita orang beriman, dalam menjalani hidup sehari-hari sangat membutuhkan tuntunan dan petunjuk dari Tuhan. Pemazmur berkata,“Berbahagialah orang yang tidak berjalan menurut nasihat orang fasik, yang tidak berdiri di jalan orang berdosa, dan tidak duduk dalam kumpulan pencemooh, tetapi yang kesukaannya ialah Taurat Tuhan, dan yang merenungkan Taurat itu siang dan malam.” [Mazmur 1:1-2]. Alkitab berisi tuntunan dan petunjuk dari Tuhan. Semakin kita mempelajari firman Tuhan dan merenungkannya siang dan malam semakin kita mengerti apa kehendak Tuhan, dan apa langkah-langkah yang harus kita tempuh sehingga perjalanan hidup kita selalu beruntung dan akan memberi faedah. Di Alkitab menuliskan contoh teladan hidup orang beriman melalui empat binatang kecil, “Ada empat binatang yang terkecil di bumi, tetapi yang sangat cekatan: semut, bangsa yang tidak kuat, tetapi yang menyediakan makanannya di musim panas, pelanduk, bangsa yang lemah, tetapi yang membuat rumahnya di bukit batu, belalang yang tidak mempunyai raja, namun semuanya berbaris dengan teratur, cicak yang dapat kautangkap dengan tangan, tetapi yang juga ada di istana-istana raja.” [Amsal 30:24-28]. Semut, meskipun tergolong binatang terkecil dan lemah, ia rajin, ulet dan cekatan. Selain itu semut memiliki rasa empati yang tinggi terhadap sesamanya, mereka menopang satu sama lain dan bergotong royong. Tuhan menghendaki hal yang demikian, “Bertolong-tolonglah menanggung bebanmu! Demikianlah kamu memenuhi hukum Kristus.” [Galatia 6:2]. Belalang, dalam waktu singkat sanggup menghabiskan hasil ladang berkat kerjasama dan ketekunannya. Walapun tanpa pemimpin. Manusia tidak dapat melakukan hal itu tanpa seorang pemimpin. Di sini manusia diajar untuk tunduk kepada pemimpin agar bisa hidup teratur. Pelanduk, binatang lemah tapi mampu membuat rumahnya di atas bukit batu sehingga ia selamat dan aman apabila badai menyerang. Kita di ajar untuk menggunakan hikmat kepandaian kita untuk bertahan hidup. Cicak bintang yang dengan mudah dapat kita tangkap tetapi juga hidup di istana raja. Mengingatkan kita walaupun lemah tetapi Allah masih memberi hikmat agar kita bisa bertahan hidup dalam bahaya sekalipun. Yesus adalah Batu Karang Keselamatan kita. Sudah seharusnya kita mempercayakan hidup ini sepenuhnya kepada Dia.
BARCODE BBM CHANNELS
RENUNGAN HARIAN
Melakukan Yang Terbaik
23 Maret '18
Kebaikan Yang Terbalik
16 April '18
Swa Bhuwana Paksa
09 April '18
Copyright © 2012 All rights reserved. Designed and Developed by GIA Dr. Cipto Semarang