SEPEKAN TERAKHIR
  Selasa, 23 September 2014   -HARI INI-
  Senin, 22 September 2014
  Minggu, 21 September 2014
  Sabtu, 20 September 2014
  Jumat, 19 September 2014
  Kamis, 18 September 2014
  Rabu, 17 September 2014
POKOK RENUNGAN
“Pujilah Allah senantiasa, karena anugerah-Nya telah menyelamatkan kita di dalam Tuhan Yesus Kristus. Pujilah Allah karena hikmat dan pikiran-Nya tak terselami oleh siapa pun di dunia ini.”
DITULIS OLEH
Pdt. Y. Agus Santoso
Rohaniwan Pusat
Renungan Lain oleh Penulis:
Home  »  Renungan  »  Semua Untuk Kemuliaan Allah
Semua Untuk Kemuliaan Allah
Rabu, 20 Maret 2013 | Tema: Umat Yang Memasyurkan Allah
Semua Untuk Kemuliaan Allah
Roma 11:33-36
Kita sering bernyanyi “mulia, mulia bagi Anak domba....” Kadang kita juga menyanyikan “segala puji syukur bagi-Mu, kutinggikan nama-Mu selalu...” dan banyak lagi pujian lain yang syairnya senada dengan lagu pujian tersebut. Apa sebenarnya pesan yang hendak disampaikan kepada umat Allah saat pujian tersebut dinyanyikan? Bacaan renungan pagi ini berkisah tentang pujian bagi kemuliaan Allah. Ayat yang kita baca lebih dikenal sebagai teologi pujian bagi Allah. Mengapa penulis menuliskan hal ini untuk disampaikan kepada jemaat? Pesan apa yang hendak disampaikan?

Berdasarkan bacaan ayat-ayat sebelumnya dan sesudahnya, sebenarnya Rasul Paulus, sebagai penulis surat ini, sangat kagum dengan karya, hikmat, dan pikiran Allah sebagai perencana segala sesuatu secara sempurna. Khususnya dalam hal keselamatan manusia dari dosa melalui karya Tuhan Yesus di kayu salib. Pujian tersebut hendak menyatakan bahwa bangsa Israel sebagai umat pilihan Allah (berdasarkan perjanjian Allah dengan Abraham) sedang menegarkan hatinya. Maka saat ini bangsa Israel sedang dibiarkan Allah untuk sementara waktu. Sekarang Allah mau berurusan dengan bangsa-bangsa lain untuk membentuk umat yang baru, yang dikenal dengan sebutan gereja. Setelah jumlahnya cukup dan waktu kunjungan Allah untuk bangsa-bangsa lain sudah selesai, maka Allah akan kembali berurusan dengan bangsa Israel (ayat 7-25).

Semakin kita merenungkan pekerjaan Allah, semakin kita memuji Allah karena hanya DIA-lah Allah yang mampu mengerjakan segala sesuatu dengan sempurna untuk kepentingan umat manusia...selengkapnya »
Di ruang tunggu sebuah sekolah, Sambey duduk sambil membaca Koran Bibir Kota. Keasyikannya membaca terpecah oleh perhatiannya pada pembicaraan ibu-ibu yang tengah berbincang riuh rendah. Arisan! Adalah tema yang diperbincangkan ibu-ibu itu. Seorang ibu berwajah bulat keputih-putihan menceritakan dengan bangga bahwa ia mengikuti 3 arisan. Arisan PKK, arisan perabot rumah, dan arisan sepeda motor. Seorang ibu berambut keriting berpipi tembem mengomentari bahwa sebenarnya ia wegah mengikuti arisan PKK karena baginya tidak level. Seorang ibu yang lain dengan ceriwis plus semangat mempromosikan arisan-arisan yang diikutinya. Sementara ibu-ibu yang lain hanya bengong mendengarkan saja. Sambey tersenyum geli mendengar celoteh ibu-ibu yang makin menambah gerah siang hari itu. Entah mengapa terbersit dalam pikirannya mengenai gereja. “Apakah gereja seperti kumpulan arisan? Meskipun terbuka untuk semua orang tetapi terbagi berdasarkan “taraf keelokan” tertentu? Dan membiarkan sekumpulan orang lain “yang tidak elok” sekedar pendengar dan penggembira?” pikir Sambey. “Ah, semoga tidak demikian,” gumam Sambey sambil tersenyum. Hambatan besar bagi kesatuan jemaat Korintus adalah masalah etnis dan status sosial-ekonomi. Jemaat cenderung berkelompok berdasarkan kebanggaan etnis dan status sosial-ekonomi. Jemaat terbelah antara keturunan Yahudi dan Yunani. Jemaat terpisah antara yang kaya dengan yang miskin. Ungkapan masa kini ora level mungkin menggambarkan secara tepat jurang yang digali oleh dua kelompok jemaat di atas. Menghadapi kenyataan ini, Rasul Paulus menasihati jemaat agar menyadari bahwa mereka adalah satu tubuh. Sebagai satu tubuh Kristus sudah seharusnya mereka berbaur, saling membutuhkan dan memperhatikan satu sama lain. Itu dimulai dengan kesediaan memperhatikan anggota yang selama ini luput dari perhatian. Mungkin karena ia dari etnis tertentu, mungkin ia tidak terpandang, dan mungkin ia orang miskin. Rasul Paulus minta itu dilakukan hingga kebanggaan etnis dan status sosial-ekonomi tergerus dan berganti dengan sehati-seperasaan. Jika ada satu anggota menderita, semua anggota turut menderita. Jika ada satu anggota dihormati, semua anggota bersukacita. Jemaat yang terkasih. Dalam masyarakat, tiap orang dikelompokkan berdasarkan etnis dan status sosial-ekonomi. Tionghoa atau Jawa? Batak? Madura? Dayak? Kaya atau miskin? Bos atau buruh? Manager atau Satpam? Direktur atau Cleaning Service? Sehingga suka atau tidak suka, kita cenderung mudah menerima, mengasihi dan menghormati orang-orang yang se-etnis dengan status sosial-ekonomi yang relatif setingkat dengan kita. Tuhan menghendaki kita melawan pengaruh ini. Tuhan mau kita hidup sebagai satu tubuh Kristus yang sehati-seperasaan satu sama lain. Semoga kita bisa.
Menurut KBBI, menyanyi adalah mengeluarkan suara bernada. Secara umum, orang melantunkan nyanyian sebagai salah satu ungkapan rasa sukacita. Bahkan tanpa disadari kadang seseorang otomatis menyanyi atau bersenandung bila hatinya sedang berbunga-bunga. Tidaklah demikian halnya dengan Rasul Paulus dan Silas. Dikisahkan dalam perikop ini, mereka berdua dimasukkan ke dalam penjara karena laporan dari tuan-tuan yang kehilangan penghasilan besar yang mereka peroleh dari hasil tenungan-tenungan hamba perempuan yang roh tenungnya sudah diusir ke luar oleh Rasul Paulus. Rasul Paulus dan Silas ditangkap, dianiaya, dan dilempar ke dalam penjara yang paling tengah dengan kaki dibelenggu dalam pasungan yang kuat serta penjagaan yang sangat ketat (ayat 19-23). Luar biasa! Dalam keadaan menderita, tengah malam mereka berdoa dan menaikkan pujia-pujian kepada Allah dan para hukuman yang lain mendengarkan (ayat 25). Artinya mereka berdoa dan menyanyi dengan bersuara tidak hanya di dalam hati. Mereka berdua tidak takut ataupun malu menyaksikan kemuliaan Tuhan dalam penderitaan melalui doa dan pujian. Ajaib!! Terjadilah gempa bumi yang hebat sehingga menggoyahkan semua sendi-sendi penjara dan seketika itu juga terbukalah semua pintu dan terlepaslah semua belenggu mereka semua (ayat 26). Saat kepala penjara melihat peristiwa tsb, dia hendak bunuh diri karena dia berpikir semua orang hukuman telah melarikan diri (ayat 27). Di akhir kisah ini kita tahu kepala penjara dan seisi rumahnya bertobat, percaya kepada Allah (ayat 34). Puji Tuhan! Dalam penderitaan, melalui Doa & Pujian ada kemenangan. Amin.
Beberapa waktu lalu saya mendengar cerita seorang Hamba Tuhan tentang jemaatnya. Adalah seorang menantu laki-laki yang sangat perhatian kepada mertuanya. Ketika mertuanya sakit dan berkali-kali harus masuk rumah sakit, dialah orang yang selalu ada mengantar dan menemani mertuanya, bukan anak dari mertuanya atau para iparnya. Bahkan dialah yang menanggung segala biaya pengobatan. Suatu saat si pendeta ini menyatakan kekagumannya kepada sang menantu setia itu. Ketika mendapat pujian itu, si menantu berkata jujur dengan si pendeta. Katanya, ia melakukan semua hal baik bahkan lebih dari semua iparnya kepada mertuanya adalah wujud balas dendamnya kepada si mertua karena dulu saat pacaran dengan anaknya, si mertua sempat memandang sebelah mata kemampuannya untuk membahagiakan putrinya lahir batin (waktu itu dia masih belum punya apa-apa). Dengan melakukan semuanya itu, dia ingin menunjukkan kepada mertuanya bahwa dia mampu menafkahi putrinya. Cerita di atas menyadarkan kita ternyata ada banyak sekali alasan seseorang untuk berbuat baik, salah satunya karena balas dendam. Namun pada nats yang kita baca hari ini mengajarkan sesuatu yang lain. Hendaklah kita memberi dengan sukacita. “Memberi” yang dimaksud bukan hanya sekedar memberi materi. Mungkin memberi nasihat, memberi pimpinan, memberi teladan, memberi perhatian, dll. Dan hendaknya melakukan semuanya itu dengan sukacita dan dilandasi kesadaran bahwa apa yang kita lakukan hanya sebagian kecil dari wujud ucapan syukur kita atas kasih karunia Tuhan atas kita. Kita tidak bisa membalas semua pengorbanan Tuhan dan anugerah keselamatan-Nya. Yesus dalam hidupnya telah meneladankan bagaimana menunjukkan kemurahan-Nya dengan sukacita. Seorang tokoh terkenal yang juga dengan sukacita memberi pertolongan dan perhatian adalah Mother Theresa. Dia rela meninggalkan semua kenyamanan hidup demi bisa menolong orang yang tak diperhitungkan. Ia memanusiakan manusia yang dianggap sampah oleh orang lain. Dia tidak memikirkan derajat kehormatannya, status sosialnya, keuntungannya, dan resiko-resiko lain ketika menolong seseorang. Bahkan ia menolong seseorang yang hampir mati dari sebuah kelompok agama tertentu yang menentang aksi sosialnya. Sepertinya tidak ada hasil yang seketika bisa dirasakan. Namun yang membuat saya sadar betapa hebatnya jika kita memberi dengan sukacita adalah jiwa seseorang yang menerima kebaikan kita. Salah satu pasien Mother Theresa dalam akhir hidupnya mengatakan sambil tersenyum, “Selama aku hidup, aku hidup seperti hewan. Namun kini aku akan mati seperti malaikat. Terimakasih.” Bagaimana dengan kita? Maukah kita merasakan keajaiban dari tindakan kita yang didasarkan dengan sukacita?
Di sekitar kita terdapat banyak wujud dari suatu komunitas. Ada yang disebut dengan komunitas sepeda ontel, komunitas penggemar reptile, komunitas sepur, komunitas perangko, komunitas barang antik dan lain sebagainya. Biasanya setiap komunitas memiliki satu simbol tertentu atau suatu barang tertentu yang dipergunakan sebagai sarana untuk memberikan nama atau ciri khas dari komunitas itu. Misalnya, komunitas sepur. Selain berkumpulnya di stasiun dan menggambil beberapa adegan menarik dari kereta api yang sedang bergerak, mereka juga memiliki koleksi beberapa kereta api mini yang terpasang di rumahnya. Gereja itu bukan gedungnya atau simbolnya yang paling penting sebagaimana dipahami oleh kebanyakan orang. Gereja adalah komunitas orang-orang percaya yang berasal dari berbagai latar belakang, yang telah lahir baru dan sekarang telah dipersatukan dalam sebuah persekutuan. Jadi yang paling ditekankan adalah komunitasnya atau persekutuannya, bukan gedung gerejanya. Untuk bisa masuk ke dalam komunitas ini seseorang harus beriman kepada Tuhan Yesus Kristus, bertobat dari dosanya dan mengalami kehidupan yang baru. Penambahan jumlah orang dalam komunitas Gereja karena pekerjaan Roh Allah bukan kehebatan dan pekerjaan manusia. Dalam komunitas inilah masing-masing anggota jemaat bertumbuh bersama dan mengembangkan karunia-karunia Roh Kudus. Mereka sering digambarkan sebagai satu tubuh yang memiliki banyak anggota, namun hanya memiliki satu kepala. Tiap-tiap anggota tubuh melekat sesuai dengan bagian tubuh yang mengikatnya. Dan masing-masing anggota harus berfungsi sesuai dengan bagiannya. Di Gereja kita ada banyak bentuk komunitas, misalnya komunitas pemusik dan pemuji, komunitas keluarga muda, komunitas lansia, dsb. Setiap anggota yang tergabung di dalamnya bisa berperan aktif bagi kepentingan bersama dan menumbuh-kembangkan iman percaya mereka sampai menjadi sama seperti Yesus Kristus. Mari, jemaat yang terkasih turut bergabung dalam Komcil. Tanpa bergabung dalam wadah komunitas gereja, maka kita akan kehilangan kesempatan untuk mengalami pertumbuhan rohani yang maksimal.
BARCODE BBM CHANNELS
RENUNGAN HARIAN
Jangan Takut
30 Agustus '14
Gereja + Tubuh
11 September '14
Berani Karena Ada Dia
27 Agustus '14
Copyright © 2012 All rights reserved. Designed and Developed by GIA Dr. Cipto Semarang