SEPEKAN TERAKHIR
  Kamis, 26 Mei 2016   -HARI INI-
  Rabu, 25 Mei 2016
  Selasa, 24 Mei 2016
  Senin, 23 Mei 2016
  Minggu, 22 Mei 2016
  Sabtu, 21 Mei 2016
  Jumat, 20 Mei 2016
POKOK RENUNGAN
“Pujilah Allah senantiasa, karena anugerah-Nya telah menyelamatkan kita di dalam Tuhan Yesus Kristus. Pujilah Allah karena hikmat dan pikiran-Nya tak terselami oleh siapa pun di dunia ini.”
DITULIS OLEH
Pdt. Y. Agus Santoso
Rohaniwan Pusat
Renungan Lain oleh Penulis:
Home  »  Renungan  »  Semua Untuk Kemuliaan Allah
Semua Untuk Kemuliaan Allah
Rabu, 20 Maret 2013 | Tema: Umat Yang Memasyurkan Allah
Semua Untuk Kemuliaan Allah
Roma 11:33-36
Kita sering bernyanyi “mulia, mulia bagi Anak domba....” Kadang kita juga menyanyikan “segala puji syukur bagi-Mu, kutinggikan nama-Mu selalu...” dan banyak lagi pujian lain yang syairnya senada dengan lagu pujian tersebut. Apa sebenarnya pesan yang hendak disampaikan kepada umat Allah saat pujian tersebut dinyanyikan? Bacaan renungan pagi ini berkisah tentang pujian bagi kemuliaan Allah. Ayat yang kita baca lebih dikenal sebagai teologi pujian bagi Allah. Mengapa penulis menuliskan hal ini untuk disampaikan kepada jemaat? Pesan apa yang hendak disampaikan?

Berdasarkan bacaan ayat-ayat sebelumnya dan sesudahnya, sebenarnya Rasul Paulus, sebagai penulis surat ini, sangat kagum de...selengkapnya »
Semakin tinggi jabatan seseorang, semakin besar kekuasaan yang dimiliki ... ataukah semakin besar tanggung jawab yang diemban? Seumpama orang sedang ‘angon’ domba, manakah prioritasnya ... menggiring domba-domba itu ke daerah yang banyak tempat berteduhnya, ataukah menggiring mereka ke daerah yang berlimpah rumputnya? Ya dua-duanya dong, begitu biasanya jawab orang. Tetapi bila bicara tentang prioritas, tentu salah satu harus didahulukan. Kitab Amsal menggambarkan manusia serakah sebagai lintah yang hanya memikirkan diri sendiri. Untukku dan untukku [Amsal 30:15]. Dia mengisap dan mengisap demi kepuasannya sendiri. Malangnya, rasa puas itu tak kunjung datang hingga akhirnya badannya terlempar jatuh karena tak mampu lagi menampung keserakahannya. Keserakahan yang salah satunya berwujud mementingkan diri sendiri itu tak pernah mengenal kata “cukup”. Bagai dunia orang mati yang terus-menerus membuka pintu; bagai bumi yang senantiasa meminta siraman hujan; bagai rahim yang belum terbuahi yang selalu merindukan si jabang bayi; bagai api yang terus berkobar melalap apa saja yang bisa dihanguskannya. Tak ada kata “cukup” [ayat 16]. Demikian berbahayanya keserakahan bila merasuki manusia. Menyedihkan sekali bila dorongan mementingkan diri sendiri, teman-teman sendiri, kelompok sendiri, masih mendarah daging di kalangan umat percaya, yang merupakan imamat yang rajani. Dan lebih mengenaskan lagi bila orang-orang yang dipercaya untuk membimbing sesamanya ... ternyata lebih tertarik memajukan diri sendiri daripada menolong orang-orang yang dibimbingnya untuk maju. Dijauhkanlah kiranya hal yang demikian dari kita. Kiranya Tuhan menolong umat-Nya.
Paul John Gascoigne, sering dipanggil dengan nama Gazza, adalah bekas pemain sepak bola Inggris di era 1990an yang dikenal karena bakatnya dalam bermain sepak bola. Pada masa itu Gazza adalah pemain andalan bagi klub dan tim nasional Inggris yang dibelanya. Namun sayangnya, bakat luar biasa yang dimilikinya tidak dibarengi dengan tempramen dan gaya hidup yang baik, yang akhirnya berujung pada karier yang meredup dan hidup yang selalu dihantui ketakutan akan kematian. Gazza dikenal sebagai pribadi yang tempramental. Karakternya yang keras, kasar dan “meledak-ledak” menjadi awal mula kehancurannya. Hidupnya semakin terpuruk akibat kecanduannya terhadap alkohol. Akibatnya Gazza harus merelakan tubuhnya digerogoti berbagai macam penyakit dan bahkan hampir merenggut nyawanya. Hingga saat ini dia terus keluar masuk tempat rehabilitasi kecanduan alkohol guna menghilangkan kebiasaan buruknya dalam mengkonsumsi minuman beralkohol. Ibrani 12 berbicara tentang berlomba dengan baik dalam perlombaan iman. Namun kata menang sama sekali tidak disebutkan di sana. Sebaliknya, sang penulis menekankan perlunya ketekunan dan disiplin. Ketekunan dan disiplin adalah kunci memenangkan pertandingan. Tanpa kedua hal itu, perlombaan tak dapat dimenangkan. Memenangkan suatu perlombaan memang menyenangkan, tetapi keharusan untuk berlari seringkali melelahkan. Untuk menjadi “atlet rohani”, kita harus menanggalkan semua beban dan dosa yang merintangi kita [ay. 1]. Hal ini memerlukan disiplin. Kita harus tekun demi memperoleh sukacita yang telah disediakan bagi kita sesudah menyelesaikan perlombaan. Perlombaan iman memang unik karena kita bertanding melawan diri sendiri, bukan orang lain. Agar kita dapat menang atas dosa dan keegoisan, kita harus mau menerima pendisiplinan yang penuh kasih dari Allah. Dengan mengetahui bahwa kita pasti menang dan bebas dari dosa, kita tidak akan berkeberatan menanggung ganjaran pendisiplinan itu. Kemenangan sudah disiapkan Tuhan bagi umat-Nya. Permasalahannya adalah apakah kita mau mendisiplin diri untuk tetap hidup kudus dan benar di hadapan Tuhan. Umat Tuhan harus bersedia meninggalkan “hidup lama” dan berjalan menatap masa depan bersama Kristus. Marilah kita melangkah meraih kemenangan dalam “perlombaan rohani” itu bersama dengan Kristus.
Perilaku seks bebas pada generasi muda di kota-kota besar semakin meningkat. Lebih dari 35 % pelajar SMU telah melakukan hubungan seks sebelum menikah. Lembaran pertanyaan disebarkan kepada 500 responden di 10 SMU. Hasilnya 69,9% pelajar pria telah melakukan hubungan seks dan 58,9% pelajar wanita pernah hamil di luar nikah. Seks bebas biasanya dilakukan dengan pacar, teman maupun dengan pekerja seks komersial [PSK]. Data ini menunjukkan kemerosotan moral telah melanda pada generasi muda zaman ini dan membuktikan bahwa sebagian orang muda tidak peduli pada nilai-nilai kekudusan hidup. Alkitab mengajarkan kaum muda untuk hidup kudus. Pergaulan muda mudi haruslah merupakan pergaulan yang kudus. Bahkan di dalam Alkitab, setelah pasangan muda mudi resmi bertunangan pun, mereka belum diijinkan untuk melakukan hubungan seks. Contoh Yusuf dan Maria [Matius 1:18]. Menjaga kekudusan hidup seperti yang Alkitab ajarkan harus dilakukan juga di zaman modern sekarang ini. Setiap kaum muda harus dapat menjaga dirinya sedemikian rupa agar terhindar dari godaan untuk melakukan seks bebas. Pergaulan memang perlu tetapi pergaulan itu harus bertujuan untuk mengembangkan wawasan hidup dan membangun orang lain, bukan untuk merusak atau terjerumus ke dalam seks bebas. Berpacaran bukanlah saat untuk melakukan pengenalan secara ’fisik’ melainkan untuk saling mengenal sifat dan karakter masing-masing pihak. Bertunangan bukan berarti saatnya menyalakan lampu hijau untuk dapat melakukan hubungan seks. Teknologi yang semakin maju, informasi yang semakin akurat dan fasilitas-fasilitas lain yang memudahkan untuk memperoleh pengetahuan tentang seks dapat membuat kaum muda tergoda melakukan seks bebas. Tetapi hal itu dapat diatasi dengan pertolongan Roh Kudus dan dengan berpegang pada komitmen untuk menjaga kekudusan hidup karena itu adalah kehendak Tuhan. Gunakanlah semua kecanggihan teknologi untuk mempermudah hidup dan mengembangkan pelayanan kita kepada-Nya, jangan untuk berbuat dosa. Ingatlah, Tuhan berkenan kepada umat-Nya yg menjaga kekudusan hidup dan membenci sikap yang mengabaikan nilai-nilai kekudusan hidup.
Kekudusan bukan teori Ibrani 10:10-26 Karena itu marilah kita menghadap Allah dengan hati yang tulus ikhlas dan keyakinan iman yang teguh, oleh karena hati kita telah dibersihkan dari hati nurani yang jahat dan tubuh kita telah dibasuh dengan air yang murni. [ayat 22] Kekristenan bukanlah suatu teori namun kebenaran yang aplikatif. Kekudusan Kristen bukanlah bersifat mistis ataupun magis, atau yang membuat orang Kristen menjadi manusia yang hidup dengan dirinya sendiri dan terpisah dari dunia, atau kekudusan yang menekankan kepada manusia batiniah saja, namun kekudusan yang komprehensif meliputi seluruh kehidupan manusia, dinamis, dan kooperatif. Karya penebusan Kristus yang menguduskan manusia harus dihidupi dan diwujudnyatakan dalam kehidupan Kristen secara individu maupun komunitas. Oleh karena darah Kristus, orang Kristen mempunyai hak istimewa untuk menghampiri takhta Allah dengan penuh keberanian. Tidak ada lagi dosa yang menghambat. Tidak diperlukan lagi prosesi ataupun upacara yang bertele-tele untuk menghadap Allah, karena orang Kristen adalah umat yang kudus di hadapan Allah. Kekudusan itu harus dimanifestasikan melalui hati yang tulus dan keyakinan iman yang teguh ketika menghadap takhta Allah. Ini berarti kekudusan Kristen meliputi hati dan pikiran, ketulusan dan iman, perasaan dan logika. Di samping itu, orang Kristen yang kudus harus berpegang teguh pada pengakuan tentang pengharapan Kristen. Orang Kristen harus selalu memandang kepada Kristus yang berdiri di sebelah kanan Allah, sebagai Imam Besar. Orang Kristen janganlah mudah terombang-ambing oleh berbagai isu yang seringkali menggoncangkan imannya. Ia yang menjanjikan adalah setia sehingga apa pun yang terjadi dalam kehidupan orang Kristen di dunia, yakinlah bahwa orang Kristen akan tetap sampai kepada takhta Allah yang kudus. Berarti kekudusan meliputi ketekunan dan kesetiaan. Setelah kehidupan yang tidak kasat mata secara individual, orang Kristen harus menghidupi kebenaran Kristen secara komunitas, melawan dosa, Iblis, dan pencobaan. Kekudusan Kristen termanifestasikan ketika mereka berbagi hidup dengan yang lain, memberi, dan menerima dorongan, mendorong satu dengan yang lain dalam kasih dan perbuatan baik [sumber: www.sabda.org]. Tuhan Yesus memberkati. Amin. Pdt. Goenawan Susanto
BARCODE BBM CHANNELS
RENUNGAN HARIAN
Untukku dan Untukku
30 April '16
Kekudusan Hidup Orang Muda
21 Mei '16
Tips Menang Atas Dosa
16 Mei '16
Copyright © 2012 All rights reserved. Designed and Developed by GIA Dr. Cipto Semarang