SEPEKAN TERAKHIR
  Sabtu, 25 Oktober 2014   -HARI INI-
  Jumat, 24 Oktober 2014
  Kamis, 23 Oktober 2014
  Rabu, 22 Oktober 2014
  Selasa, 21 Oktober 2014
  Senin, 20 Oktober 2014
  Minggu, 19 Oktober 2014
POKOK RENUNGAN
“Pujilah Allah senantiasa, karena anugerah-Nya telah menyelamatkan kita di dalam Tuhan Yesus Kristus. Pujilah Allah karena hikmat dan pikiran-Nya tak terselami oleh siapa pun di dunia ini.”
DITULIS OLEH
Pdt. Y. Agus Santoso
Rohaniwan Pusat
Renungan Lain oleh Penulis:
Home  »  Renungan  »  Semua Untuk Kemuliaan Allah
Semua Untuk Kemuliaan Allah
Rabu, 20 Maret 2013 | Tema: Umat Yang Memasyurkan Allah
Semua Untuk Kemuliaan Allah
Roma 11:33-36
Kita sering bernyanyi “mulia, mulia bagi Anak domba....” Kadang kita juga menyanyikan “segala puji syukur bagi-Mu, kutinggikan nama-Mu selalu...” dan banyak lagi pujian lain yang syairnya senada dengan lagu pujian tersebut. Apa sebenarnya pesan yang hendak disampaikan kepada umat Allah saat pujian tersebut dinyanyikan? Bacaan renungan pagi ini berkisah tentang pujian bagi kemuliaan Allah. Ayat yang kita baca lebih dikenal sebagai teologi pujian bagi Allah. Mengapa penulis menuliskan hal ini untuk disampaikan kepada jemaat? Pesan apa yang hendak disampaikan?

Berdasarkan bacaan ayat-ayat sebelumnya dan sesudahnya, sebenarnya Rasul Paulus, sebagai penulis surat ini, sangat kagum dengan karya, hikmat, dan pikiran Allah sebagai perencana segala sesuatu secara sempurna. Khususnya dalam hal keselamatan manusia dari dosa melalui karya Tuhan Yesus di kayu salib. Pujian tersebut hendak menyatakan bahwa bangsa Israel sebagai umat pilihan Allah (berdasarkan perjanjian Allah dengan Abraham) sedang menegarkan hatinya. Maka saat ini bangsa Israel sedang dibiarkan Allah untuk sementara waktu. Sekarang Allah mau berurusan dengan bangsa-bangsa lain untuk membentuk umat yang baru, yang dikenal dengan sebutan gereja. Setelah jumlahnya cukup dan waktu kunjungan Allah untuk bangsa-bangsa lain sudah selesai, maka Allah akan kembali berurusan dengan bangsa Israel (ayat 7-25).

Semakin kita merenungkan pekerjaan Allah, semakin kita memuji Allah karena hanya DIA-lah Allah yang mampu mengerjakan segala sesuatu dengan sempurna untuk kepentingan umat manusia...selengkapnya »
Produsen-produsen film Hollywood sangat terkenal dengan kepiawaian mereka dalam menghasilkan film-film bermutu. Mereka sangat jago menghidupkan sebuah kisah yang diangkat ke layar lebar. Dari kisah film kisah nyata sampai hanya fiksi belaka. Salah satu genre film yang banyak disukai adalah fiksi ilmiah (science fiction). Film fiksi ilmiah seringkali mengangkat kisah tentang intervensi makhluk asing yang berasal dari planet atau galaksi lain ke bumi. Mereka datang dengan misi untuk menghancurkan dan menguasai manusia di bumi. Kemudian timbullah perlawanan dan usaha penyelamatan yang dimotori oleh segelintir orang. Dan merekalah yang berperan sebagai tokoh utama. Dalam nats alkitab hari ini Tuhan Yesus menyatakan bahwa kita, orang percaya, bukan berasal dari dunia ini. Wah, makhluk asing dong kita? Tentu bukan. Kita adalah orang yang telah dipanggil dari dunia yang gelap untuk mendapatkan terang Kristus. Kita telah dikhususkan dan dipisahkan dari dunia yang jahat untuk menjadi milik kepunyaan Allah (1 Petrus 2:9). Sehingga Tuhan Yesus mengatakan bahwa kita bukan berasal dari dunia, sama seperti Dia bukan berasal dari dunia. Ya, secara status kita yang dalam Kristus bukan lagi berasal (menjadi bagian) dari dunia yang jahat dan gelap ini. Jika sebuah film, kisahnya tidak berhenti di situ saja, ada kelanjutannya. Dan ini merupakan bagian yang paling seru, yaitu kita diutus kembali ke dunia (ayat 18). Misi apa yang kita bawa? Tentunya bukan misi pribadi untuk memperkaya diri ataupun mencari ketenaran dan kepopuleran diri, tetapi misi Allah untuk pemulihan bagi dunia. Membawa misi penyelamatan bagi dunia. Itulah misi yang ditetapkan Allah bagi setiap kita, orang-orang yang telah dibebaskan-Nya dari kegelapan dunia. Hidup kita harus mengejawantahkan misi tersebut dalam keseharian. Seringkali orang percaya tidak sadar akan misi yang telah diamanatkan oleh Allah. Akibatnya mereka hanya hidup bagi diri sendiri dan mengejar sesuatu yang sementara yang berasal dari dunia ini. Bukanlah sesuatu yang haram kita memiliki harta benda. Tetapi yang penting adalah untuk apa dan untuk siapa harta benda yang kita miliki. Jika kita memiliki kekayaan, kita harus ingat bahwa itu adalah pemberian dan perlengkapan dari Allah agar dimanfaatkan untuk mendukung dana bagi misi yang telah ditetapkan bagi kita. Bukan sesuatu yang dilarang untuk kita meraih jabatan. Tetapi jangan lupa bahwa jabatan tersebut merupakan sarana yang strategis untuk kita memberi pengaruh dan membawa perubahan. Dan masih banyak contoh yang lain lagi. Tetapi intinya, apapun yang bisa kita raih dan peroleh di dunia ini bukanlah tujuan akhir. Itu semuanya hanyalah sarana dan pendukung bagi pelaksanaan misi penyelamatan dan pemulihan bagi dunia. Pertanyaannya, apakah kita sudah melaksanakan misi ilahi tersebut?
Rezeki adalah segala sesuatu (yang diberikan Tuhan) yang dipakai untuk memelihara kehidupan; makanan sehari-hari; nafkah. Demikian dijelaskan dalam KBBI. Ada anekdot: Hidup untuk cari rezeki atau cari rezeki untuk hidup? Kalau pola pertama yang dianut, maka seseorang akan menggunakan hidupnya hanya untuk mencari, mencari dan terus mencari rezeki sehingga tidak punya waktu untuk yang lainnya dan biasanya akan menjadi orang yang “pelit” dan tak ada istilah berbagi rezeki dalam kamus hidupnya. Bahkan cenderung tamak untuk memperkaya diri. Ada seorang kelasi sebuah kapal pesiar yang cukup besar yang sedang mengalami musibah tenggelam. Dalam situasi kacau, dia berpikir bahwa saat itu adalah kesempatan emas untuk mengumpulkan harta kekayaan para penumpang yang berlarian terjun menyelamatkan diri. Dia berpikir dengan pelampung di tubuhnya yang sarat dengan harta kekayaan milik para penumpang yang diambil dari kamar-kamar, dia pasti aman, tidak akan tenggelam. Saat kapal mulai karam, dia segera terjun ke laut. Apa yang terjadi? Ia bukannya mengapung, melainkan langsung dengan cepat tenggelam ke dasar laut. Pelampung yang dipakai tidak dapat menahan berat tubuh dan barang bawaannya. Firman Tuhan dalam Amsal 22:9 mengatakan “Orang yang baik hati akan diberkati, karena ia membagi rezekinya dengan si miskin.” Tidak dikatakan, “Orang yang kaya, orang yang banyak rezekinya” tetapi orang yang baik hati. Jadi untuk berbagi rezeki jangan menunggu sampai kita memiliki “harta lebih”. Jangan sampai terlalu asyik menumpuk rezeki, terlena, lupa segalanya sampai-sampai terlalu berat dan akhirnya menenggelamkan kita kepada gemerlapnya dunia yang bisa menyeret kita kepada kegelapan yang kekal. Amin.
Beberapa waktu lalu saya membaca sebuah artikel yang menarik tentang keturunan orang-orang yang hidup benar dan orang-orang yang jahat. Di situ dipaparkan sebuah data akurat bahwa orang baik, keturunannya akan juga hidup menjadi orang yang baik. Dikatakan dalam artikel itu, keturunannya ada yang menjadi pendeta, pengusaha, hakim, dosen, dll. Namun sebaliknya, diceritakan juga bahwa keturunan dari orang yang jahat, ada yang jadi pembunuh, koruptor, buronan, dll. Terbuktilah sebuah pepatah, “Like father like son.” Artinya, anak akan menjadi seperti apa yang dilihat ataupun didengar dari ayahnya. Jika ayahnya mengajarkan yang baik, maka anaknya akan menjadi baik. Dan berlaku juga sebaliknya. Kita tentu juga sering mendengar beberapa slogan seperti , “Rajin pangkal pandai” dan “Hemat pangkal kaya”. Kedua slogan itu dengan cerita sebelumnya memiliki persamaan, yaitu adanya sebuah konsekwensi dari sebuah aksi. Sebuah aksi yang mengandung pengorbanan akan menghasilkan upah, yaitu kemuliaan. Dan hal itu juga berlaku bagi orang yang mau hidup berkenan di hadapan Tuhan. Nats yang kita baca hari ini mengandung sebuah janji bagi orang yang hidupnya berkenan kepada Tuhan. Bahkan di ayat yang lain, Mazmur 112:2 misalnya, jika kita hidup benar, maka hidup keturunan kita pun dijamin Tuhan. Mereka tidak akan meminta-minta, mereka akan diberkati, mereka akan mewarisi negeri, dll. Namun dengan syarat, jika kita sebagai orang tua, hidup benar di hadapan Tuhan. Untuk hidup benar memang tidak mudah. Ada banyak pengorbanan yang harus kita tanggung, ada banyak perjuangan yang harus kita tempuh. Kita harus beda dengan sikap orang pada umumnya tentang kebiasaan dosa yang sudah menjadi wajar. Misalnya perselingkuhan, perceraian, kebohongan demi keuntungan dalam usaha, politik uang, mencontek, dll. Kita harus siap untuk dijauhi, dihina, mungkin juga usaha kita mengalami perkembangan yang lambat, atau kita mendapat nilai jelek karena kita mau hidup benar. Ketika sedang dalam keadaan itu, ingatlah janji-janji Tuhan yang lebih indah dan mulia sedang ada dalam perjalanan untuk menghampiri Anda. Jadi berjuanglah demi upah perkenanan Tuhan yang akan Anda terima.
Di sebuah kampung berpenduduk mayoritas pemeluk agama tertentu. Agama mereka hanya sebagai pengenal saja, sedang cara hidup mereka tidak sesuai dengan ajarannya. Ada seorang bapak yang telah menerima injil dan baru satu-satunya orang di kampung itu yang mengenal Kristus. Meskipun begitu para warga masih mengganggapnya sebagai sesepuh atau orang yang dituakan secara adat agama mereka. Dia tidak pernah secara langsung memberitakan Injil melalui mulutnya. Dan yang menarik adalah dia tidak pernah mempermasalahkan ketika di minta untuk memberikan pengajaran agama mayoritas ini menurut ajaran mereka, bukan menurut ajaran yang dianutnya. Kesempatan itu dipergunakan oleh bapak tersebut untuk membawa setiap orang untuk menemukan jawaban dari setiap pergumulan hidup walaupun tanpa menyebut nama Injil Kristus. Maka mulailah banyak orang yang tertarik, sehingga hampir setiap malam beberapa orang kampung berdatangan ke rumahnya untuk menemukan jawaban pergumulan hidup mereka. Dan melalui bapak tersebut Roh Kudus bekerja, dan berdirilah sebuah gereja. Hampir seluruh warga kampung mengenal kristus karena cara hidupnya yang menjadi berkat. Demikian juga jemaat di Tesalonika menjadi kebanggaan tersendiri bagi Rasul Paulus karena cara hidupnya yang menjadi berkat bagai banyak orang (ayat 6). Selain itu jemaat Tesalonika mampu menjadi saksi bagi jemaat yang lainnya karena ketekunannya dalam iman, kasih dan pengharapan (ayat 3). Dan yang lebih membahagiakan Paulus adalah ketika Firman Allah itu dilakukan dan menjadi bagian iman dari hidup orang Tesalonika (ayat 8). Sehingga Injil tersebar ke daerah lain. Semua ini terjadi karena Jemaat Tesalonika juga merupakan umat pilihan Allah yang dipilih untuk menjadi berkat bagi orang lain (Ayat 4). Kita semua juga merupakan jemaat-jemaat dari salah satu gereja yang Tuhan telah tetapkan. Hendaklah kita dapat dikenal melalui cara hidup yang selalu mencerminkan Injil sebagai kabar baik bagi semua orang. Karena kita telah dipilih Allah untuk menjadi pembawa kabar baik itu kepada semua orang, dan Roh Kudus sebagai pembimbing kita (ayat 4, 6). Posisi kita sama seperti jemaat Tesalonika, mereka dipilih dan dalam penyertaan Roh Kudus.
BARCODE BBM CHANNELS
RENUNGAN HARIAN
Umat Pilihan
28 September '14
Murah Hati Dalam Segala Keadaan
24 Oktober '14
Manusia Terowongan
30 September '14
Copyright © 2012 All rights reserved. Designed and Developed by GIA Dr. Cipto Semarang