SEPEKAN TERAKHIR
  Sabtu, 13 Februari 2016   -HARI INI-
  Jumat, 12 Februari 2016
  Kamis, 11 Februari 2016
  Rabu, 10 Februari 2016
  Selasa, 09 Februari 2016
  Senin, 08 Februari 2016
  Minggu, 07 Februari 2016
POKOK RENUNGAN
“Pujilah Allah senantiasa, karena anugerah-Nya telah menyelamatkan kita di dalam Tuhan Yesus Kristus. Pujilah Allah karena hikmat dan pikiran-Nya tak terselami oleh siapa pun di dunia ini.”
DITULIS OLEH
Pdt. Y. Agus Santoso
Rohaniwan Pusat
Renungan Lain oleh Penulis:
Home  »  Renungan  »  Semua Untuk Kemuliaan Allah
Semua Untuk Kemuliaan Allah
Rabu, 20 Maret 2013 | Tema: Umat Yang Memasyurkan Allah
Semua Untuk Kemuliaan Allah
Roma 11:33-36
Kita sering bernyanyi “mulia, mulia bagi Anak domba....” Kadang kita juga menyanyikan “segala puji syukur bagi-Mu, kutinggikan nama-Mu selalu...” dan banyak lagi pujian lain yang syairnya senada dengan lagu pujian tersebut. Apa sebenarnya pesan yang hendak disampaikan kepada umat Allah saat pujian tersebut dinyanyikan? Bacaan renungan pagi ini berkisah tentang pujian bagi kemuliaan Allah. Ayat yang kita baca lebih dikenal sebagai teologi pujian bagi Allah. Mengapa penulis menuliskan hal ini untuk disampaikan kepada jemaat? Pesan apa yang hendak disampaikan?

Berdasarkan bacaan ayat-ayat sebelumnya dan sesudahnya, sebenarnya Rasul Paulus, sebagai penulis surat ini, sangat kagum dengan karya, hikmat, dan pikiran Allah sebagai perencana segala sesuatu secara sempurna. Khususnya dalam hal keselamatan manusia dari dosa melalui karya Tuhan Yesus di kayu salib. Pujian tersebut hendak menyatakan bahwa bangsa Israel sebagai umat pilihan Allah (berdasarkan perjanjian Allah dengan Abraham) sedang menegarkan hatinya. Maka saat ini bangsa Israel sedang dibiarkan Allah untuk sementara waktu. Sekarang Allah mau berurusan dengan bangsa-bangsa lain untuk membentuk umat yang baru, yang dikenal dengan sebutan gereja. Setelah jumlahnya cukup dan waktu kunjungan Allah untuk bangsa-bangsa lain sudah selesai, maka Allah akan kembali berurusan dengan bangsa Israel (ayat 7-25).

Semakin kita merenungkan pekerjaan Allah, semakin kita memuji Allah karena hanya DIA-lah Allah yang mampu mengerjakan segala sesuatu dengan sempurna untuk kepentingan umat manusia...selengkapnya »
Keluaran 33:7-17 Apabila Musa masuk ke dalam kemah itu, turunlah tiang awan dan berhenti di pintu kemah dan berbicaralah TUHAN dengan Musa di sana. [ayat 9] Kemah pertemuan adalah tempat pertemuan antara Tuhan dengan umat-Nya. Setiap orang yang mencari Tuhan pergi ke kemah pertemuan itu untuk bertemu dengan Tuhan [ayat 7b]. Demikianlah Musa secara rutin pergi ke kemah pertemuan itu untuk bertemu dengan Tuhan. Tiang awan turun dan berhenti di pintu kemah itu, tanda bahwa Tuhan hadir di kemah pertemuan itu. Di dalam kemah itu Tuhan berbicara dengan Musa. Dan Tuhan berbicara kepada Musa dengan begitu akrab seperti seorang berbicara dengan temannya [ayat 11]. Tak terbayangkan betapa indahnya pertemuan itu. Bangsa Israel perlu memelihara hubungan yang dekat dengan Tuhan. Mereka tak bisa hidup tanpa Tuhan. Apalagi mereka sedang berjalan di tengah padang gurun. Mereka membutuhkan pimpinan Tuhan agar sampai di tanah yang dijanjikan Tuhan kepada mereka. Mereka membutuhkan perlindungan dan pemeliharaan dari Tuhan. Di padang gurun banyak bahaya yang mengancam kehidupan mereka. Darimana mereka bisa mendapatkan makanan dan minuman di padang gurun yang gersang dan tiada penghuni itu? Jika bukan karena Tuhan yang mencukupi kebutuhan mereka dan melindungi mereka dari marabahaya, pastilah mereka semua akan binasa. Kemah pertemuan atau Kemah Suci merupakan proto-tipe dari Bait Suci. Keduanya berbeda dalam bentuk fisiknya. Bait Suci merupakan bangunan permanen, sedangkan Kemah Suci bersifat bongkar pasang. Namun keduanya mempunyai fungsi yang sama, yaitu merupakan tempat pertemuan antara Tuhan dengan umat-Nya. Tuhan hadir di situ dalam kemuliaan-Nya. Di situlah tempat umat mencari Tuhan dan mengalami kehadiran-Nya. Di situ Tuhan menyampaikan maksud dan rencana-Nya. Di masa kini gereja mempunyai fungsi yang sama dengan Kemah Pertemuan dan Bait Suci, yaitu sebagai tempat pertemuan antara Allah dan umat-Nya. Umat Tuhan perlu bertemu dengan Allahnya secara rutin. Gereja adalah tempat di mana umat Tuhan menikmati kehadiran-Nya, mendapatkan arahan dan kekuatan yang baru dari Tuhan untuk melanjutkan perjalanan hidupnya di dunia ini.
Seringkali Allah ingin menunjukkan kekuatan-Nya kepada kita, tetapi kita jarang memberi kesempatan. Kita sering berlaku seperti seorang akuntan yang diperintah oleh atasannya untuk memalsukan pembukuan perusahaan. Karena takut dipecat, ia memilih untuk menurut saja, meskipun sebagai pengikut Kristus ia tahu bahwa ia berdusta dan melanggar hukum. Ternyata akibatnya lebih parah dari kehilangan pekerjaan. Ia malah masuk penjara. Ia kehilangan kesempatan untuk mempercayai Allah dan memberikan-Nya kesempatan untuk menunjukkan kuasa. Seringkali kita berlaku seperti akuntan tersebut. Kita seperti raja Asa, seorang raja yang baik namun dengan bodoh telah memilih untuk membuat perjanjian dengan Ben-Hadad daripada mempercayai Allah [2 Tawarikh 16:1-4]. Raja Asa memiliki alasan untuk kuatir karena peperanganYehuda melawan Israel. Tetapi nabi Hanani berkata kepada Asa [2 Tawarikh 16:7], ’Karena engkau bersandar kepada raja Aram dan tidak bersandar kepada Tuhan, Allahmu, oleh karena itu terluputlah tentara raja Aram dari tanganmu.’ Akibatnya, sepanjang pemerintahan Asa selalu diwarnai peperangan [1 Raja-raja 15:16]. Allah terus menunjukkan kekuatan-Nya kepada mereka yang tetap setia kepada-Nya [2 Tawarikh 16:9]. Tatkala kita bersandar pada atasan yang tidak jujur atau strategi yang licik atau serangkaian kebohongan, kita pasti akan menghadapi kesulitan. Namun jika kita tetap setia kepada Allah sekalipun di bawah ancaman, kita memberi-Nya kesempatan untuk menunjukkan kuasa-Nya kepada kita. [APC]
Ketika kita membaca Alkitab, khususnya Perjanjian Baru, di sana kita menjumpai Yesus melakukan pelayanan pembebasan kepada orang-orang yang menderita secara fisik, mental dan sebagai tawanan dosa. Mereka adalah orang-orang yang menderita sakit atau cacat yang sifatnya permanen. Juga menderita karena akibat kesalahan sendiri sebagai tawanan dosa. Semua itu menyebabkan mereka tidak memiliki pengharapan. Yang ada adalah penderitaan dan penyesalan hidup. Penderitaan fisik dan mental yang sangat hebat tentu saja merambat dan mempengaruhi situasi kerohanian mereka, sehingga konsep atau pemahaman mereka terhadap Allah telah larut bersama dalam rasa sakit dan penderitaan mereka. Gambaran Allah dalam hidupnya mengalami kekaburan yang amat sangat. Singkatnya orang yang menderita hebat adalah mereka yang secara fisik, psikis dan roh mengalami gangguan. Saudara, Kerajaan Allah telah datang dan Yesus sebagai pelaksana pemerintahan itu berfirman, “...Pada hari ini genaplah nas ini sewaktu kamu mendengarnya.” Kerajaan Allah datang bukan secara verbal [kata-kata] saja, tetapi telah dinyatakan dalam perbuatan di dalam kuasa Yesus. Yang cacat fisik dipulihkan, yang tertindas dan sebagai tawanan dosa dibebaskan. Semua yang menjadi sumber kemiskinan dipulihkan dan difungsikan lagi sebagaimana mestinya. Satu hal yang terpenting adalah menumbuhkan kembali spirit atau semangat hidup yang berpengharapan. Saudara, Kerajaan Allah datang mendahulukan mereka yang tidak memiliki semangat hidup dan yang tak berpengharapan. Ketika di antara kita ada yang mengalami kepenatan hidup, seolah hidup ini tiada artinya, hidup hanya persoalan dan persoalan tiada gairah, masa depan suram... mungkin malah gelap, rasanya mau mati saja, saatnya sekarang untuk mengenal Yesus. Undang Yesus. Biarkan Dia menjamah, menjawab, membebaskan dan mendahulukan saudara. Gereja sebagai duta Kristus, maka demikianlah seharusnya bersikap terhadap yang menderita.
Kita menghayati tema baru di bulan Februari ini, yaitu Tuhan Hadir di Bait Kudus-Nya. Pertanyaannya adalah mengapa Tuhan hadir di Bait Kudus-Nya? Bukankah Tuhan Maha Hadir dan selalu hadir di mana-mana? Benar sekali bahwa Tuhan Maha Hadir, tetapi pengertian “Tuhan hadir di Bait Kudus-Nya” lebih menekankan pada “Tuhan memiliki maksud dan kehendak” terhadap umat-Nya yang selalu berkumpul dan mencari Allah di dalam Bait-Nya. Maka kehadiran Tuhan selalu berarti dan memberikan suatu perintah kepada Umat-Nya untuk diperhatikan dan dilakukan dalam kehidupan nyata. Bukan di dalam Bait Allah saja, namun yang terutama dilakukan di luar sana, sehingga berkat syalom juga dirasakan dan diterima bagi banyak orang. Kehadiran Tuhan telah nyata, yaitu dengan adanya kasih karunia Allah yang menyelamatkan semua manusia [ayat 11]. Yesus Kristus yang merupakan kehadiran Allah itu sendiri mendidik kita semua supaya meninggalkan kefasikan dan keinginan duniawi, sehingga memiliki hidup yang penuh bijaksana, adil dan beribadah di dalam dunia sekarang ini [ayat 12]. Bahkan Yesus Kristus telah menyerahkan diri-Nya bagi kita untuk membebaskan kita dari segala kejahatan dan menguduskan umat kepunyaan-Nya sendiri, yaitu mereka semua yang rajin berbuat baik [ayat 14]. Saudara yang dikasihi Tuhan, ketika Tuhan hadir di dalam ibadah kita, kira-kira apa yang Tuhan kehendaki atas jemaat yang berkumpul dalam ibadah? Tentu saja Tuhan ingin supaya kita mendengar Firman-Nya dan melakukan dalam kehidupan sehari-hari, yaitu kehidupan yang kudus, yang tidak cacat dengan segala keinginan-keinginan kedagingan. Dengan demikian kita lebih mudah untuk memberitakan kebenaran bagi banyak orang, maka kita juga tidak akan pernah dianggap rendah oleh sekitar kita. Tuhan hadir supaya kita, umat-Nya, dikuduskan dan menjadi berkat.
BARCODE BBM CHANNELS
RENUNGAN HARIAN
Jangan putus asa, tinggallah dalam kebenaran-Nya
02 Februari '16
Berkenan Kepada Nya
16 Januari '16
Utusan Sorgawi
15 Januari '16
Copyright © 2012 All rights reserved. Designed and Developed by GIA Dr. Cipto Semarang