SEPEKAN TERAKHIR
  Minggu, 01 Maret 2015   -HARI INI-
  Sabtu, 28 Februari 2015
  Jumat, 27 Februari 2015
  Kamis, 26 Februari 2015
  Rabu, 25 Februari 2015
  Selasa, 24 Februari 2015
  Senin, 23 Februari 2015
POKOK RENUNGAN
“Pujilah Allah senantiasa, karena anugerah-Nya telah menyelamatkan kita di dalam Tuhan Yesus Kristus. Pujilah Allah karena hikmat dan pikiran-Nya tak terselami oleh siapa pun di dunia ini.”
DITULIS OLEH
Pdt. Y. Agus Santoso
Rohaniwan Pusat
Renungan Lain oleh Penulis:
Home  »  Renungan  »  Semua Untuk Kemuliaan Allah
Semua Untuk Kemuliaan Allah
Rabu, 20 Maret 2013 | Tema: Umat Yang Memasyurkan Allah
Semua Untuk Kemuliaan Allah
Roma 11:33-36
Kita sering bernyanyi “mulia, mulia bagi Anak domba....” Kadang kita juga menyanyikan “segala puji syukur bagi-Mu, kutinggikan nama-Mu selalu...” dan banyak lagi pujian lain yang syairnya senada dengan lagu pujian tersebut. Apa sebenarnya pesan yang hendak disampaikan kepada umat Allah saat pujian tersebut dinyanyikan? Bacaan renungan pagi ini berkisah tentang pujian bagi kemuliaan Allah. Ayat yang kita baca lebih dikenal sebagai teologi pujian bagi Allah. Mengapa penulis menuliskan hal ini untuk disampaikan kepada jemaat? Pesan apa yang hendak disampaikan?

Berdasarkan bacaan ayat-ayat sebelumnya dan sesudahnya, sebenarnya Rasul Paulus, sebagai penulis surat ini, sangat kagum dengan karya, hikmat, dan pikiran Allah sebagai perencana segala sesuatu secara sempurna. Khususnya dalam hal keselamatan manusia dari dosa melalui karya Tuhan Yesus di kayu salib. Pujian tersebut hendak menyatakan bahwa bangsa Israel sebagai umat pilihan Allah (berdasarkan perjanjian Allah dengan Abraham) sedang menegarkan hatinya. Maka saat ini bangsa Israel sedang dibiarkan Allah untuk sementara waktu. Sekarang Allah mau berurusan dengan bangsa-bangsa lain untuk membentuk umat yang baru, yang dikenal dengan sebutan gereja. Setelah jumlahnya cukup dan waktu kunjungan Allah untuk bangsa-bangsa lain sudah selesai, maka Allah akan kembali berurusan dengan bangsa Israel (ayat 7-25).

Semakin kita merenungkan pekerjaan Allah, semakin kita memuji Allah karena hanya DIA-lah Allah yang mampu mengerjakan segala sesuatu dengan sempurna untuk kepentingan umat manusia...selengkapnya »
“Persepuluhan itu penting, Ben!”, kata Sambey kepada Benay yang sudah 3 bulan tidak memberikan persepuluhan. “Betul Sam! Penting untuk membuat Pdt. Itong kaya”, sindir Benay dengan mimik serius. Sambey tersenyum geli lalu menjelaskan bahwa Tuhan memerintahkan persepuluhan bukan untuk memperkaya para pendeta. Perpuluhan dimaksudkan untuk mencukupi kebutuhan hidup suku Lewi (Bilangan 18:21-24; Maleakhi 3:10). Suku Lewi dikhususkan untuk melayani di Bait Allah dan mereka tidak mendapatkan bagian atas tanah Kanaan. Sehingga mereka tidak mungkin bekerja dan oleh karenanya tidak mempunyai penghasilan. Selain untuk suku Lewi, persepuluhan dimaksudkan juga untuk orang asing, anak yatim, dan janda (Ulangan 26:12-13). Jadi jelas, persepuluhan yang disebut Tuhan sebagai milik-Nya itu, sebenarnya adalah sarana keadilan dan kasih Tuhan. Melalui persepuluhan, Tuhan ingin memelihara hidup orang yang tidak mempunyai pekerjaan dan penghasilan. Benay manggut-manggut mendengarkan penjelasan Sambey, lalu menyimpulkan, “Itu berarti, orang yang mengembalikan persepuluhan tetapi tidak tahu mengasihi dan berlaku semena-mena pada sesamanya pasti tidak diperkenan Tuhan.” “Tepat, Ben! termasuk kalangan imam/pendeta yang menyalahgunakan persepuluhan untuk memperkaya diri, pasti akan dimurkai Tuhan”, kata Sambey. Persepuluhan diperintahkan Tuhan tentu untuk ditaati. Tetapi ketaatan dalam memberikan dan memanfaatkan persepuluhan tidak boleh mengabaikan maksud Tuhan di balik perintah-Nya itu. Tuhan yang mahakaya, pencipta dan pemilik alam semesta dengan segala isinya, sampai menyebut persepuluhan sebagai milik-Nya. Bukan karena Tuhan itu serakah atau merasa masih kurang kaya, melainkan Dia memaksudkannya agar melalui persepuluhan terpeliharalah hidup orang-orang yang tidak mungkin bekerja dan mendapatkan penghasilan. Pada zaman kita sekarang ini, mereka itu adalah para pendeta yang melayani penuh waktu, janda-janda tua yang tidak mempunyai sanak-famili, orang-orang lanjut usia yang tidak mempunyai keluarga, anak yatim-piatu, dll. Dengan demikian persepuluhan adalah wujud keadilan dan kasih Tuhan bagi manusia. Sehingga memberikan dan memanfaatkan persepuluhan haruslah disertai dengan rasa kasih dan keadilan sebagaimana yang Tuhan inginkan. Jemaat yang terkasih. Sekarang mengertilah kita mengapa Tuhan mencela orang-orang Farisi yang sangat teliti dalam memberikan persepuluhan. Tuhan mencela mereka karena mereka memberikan persepuluhan tetapi mengabaikan keadilan dan kasih. Itu berarti mereka memberikan persepuluhan dengan maksud untuk kepentingan diri sendiri. Entah itu ingin terlihat rohani atau lebih dimotivasi untuk mendapatkan berkat. Hendaklah kita tidak meniru sikap mereka itu! Supaya kita tidak turut dicela oleh Tuhan.
Ketika mobil ambulance “meluncur” kencang dibarengi dengan suara sirine yang nyaring menuju salah satu rumah sakit, maka siapapun yang melihatnya pasti akan segera mengerti bahwa di dalam mobil ambulance itu ada orang sakit yang harus ditolong dengan segera. Ketika sampai di rumah sakit, maka dengan segera orang itu mendapatkan pertolongan pertama sebelum lebih lanjut menjalani perawatan intensif. Aksi menolong dengan cepat dan sigap harus segera dilakukan karena tindakan ini bermanfaat menyelamatkan seseorang yang hidupnya sedang terancam. Tuhan Yesus mengajarkan supaya para murid-Nya dengan sigap memberikan pertolongan sebagai bentuk kasih yang dinyatakan dalam perbuatan. Pertolongan itu hendaknya diberikan kepada semua sesama manusia dengan tidak memandang suku, ras, agama, tingkat sosial, dll. Misalnya seperti orang Samaria yang oleh Yesus digambarkan sebagai orang yang murah hati, ketika melihat ada seorang yang tidak berdaya dan menderita, maka dengan sigap memberikan pertolongan karena korban adalah dilihatnya sebagai sesama manusia yang hidupnya sedang terancam. Saudara, melalui kisah orang Samaria yang murah hati, Tuhan Yesus menandaskan bahwa kasih harus diwujudkan kepada sesama manusia dengan tidak pandang bulu. Itu berarti bahwa kasih adalah sebuah tindakan keharusan bagi semua murid Yesus untuk menolong kepada sesama manusia yang tak berdaya. Kasih adalah komitmen, bukan sekedar “main perasaan”, bukan pilih-pilih tetapi bagi semua orang, khususnya yang tak berdaya-menderita. Apakah Anda termasuk murid Yesus? Berbuatlah demikian.
1 Petrus 4:7-11 Layanilah seorang akan yang lain, sesuai dengan karunia yang telah diperoleh tiap-tiap orang sebagai pengurus yang baik dari kasih karunia Allah. Restoran yang bagus pasti memberikan ’good service.’ Demikian juga hotel yang bagus, toko yang bagus, apartemen yang bagus, perusahaan yang bagus dan semua yang bagus pasti memberikan ’good service’. Tapi good service pasti harus dibayar dengan biaya yang mahal. Tidak ada good service yang murahan, apalagi gratisan. Memang itulah hukum ekonomi: ’ada harga, ada rupa.’ Karena itu siapapun yang ingin mendapatkan imbalan yang bagus, dia harus memberikan service yang bagus. Itu namanya adil. Firman Tuhan mengajar kita sesuatu yang berbeda dengan yang diajarkan dunia ini. Memang dunia ini menganjurkan agar kita memberikan good service, bahkan kalau perlu yang excelent, supaya kita mendapatkan penghargaan yang tinggi. Tetapi Firman Tuhan mengajar kita untuk melayani, bahkan memberikan ’good service’, bukan untuk kepentingan diri kita. Kita melayani oleh karena kita mendapat kepercayaan sebagai pengurus (pengelola) dari kasih karunia Allah. Jadi melayani itu bukan untuk mengejar sesuatu yang bernilai, tetapi karena kita sudah punya sesuatu yang bernilai tinggi. Karunia berasal dari kata Yunani ’kharis,’ yang berarti pemberian yang cuma-cuma. Karunia adalah pemberian yang kita terima dari Allah, meskipun kita tidak layak untuk menerimanya. Jika kita menerima suatu pemberian oleh karena kita telah mengerjakan sesuatu yang diwajibkan, maka itu namanya upah. Karunia tidak mensyaratkan kita untuk mengerjakan sesuatu. Karunia semata-mata diberikan oleh karena Allah mengasihi kita dan berkenan memberikannya kepada kita. Cobalah kita mengingat berapa banyak pemberian yang kita terima dari Allah, meskipun kita tidak layak untuk menerimanya. Selain keselamatan yang telah kita terima, ada banyak macam pemberian yang Allah berikan kepada kita: kesehatan, talenta, keberuntungan, kesempatan, orang-orang yang baik di sekitar kita, dan sebagainya. Tidak ada yang kebetulan dengan semua itu. Semuanya dihadirkan bagi kita oleh tangan Allah yang penuh kebaikan. Jika kita menyadari semua itu, tidakkah hati kita akan dipenuhi rasa syukur? Tidakkah jiwa kita ingin melakukan yang terbaik karena semua kepercayaan yang Allah berikan kepada kita? Itulah arti pelayanan bagi orang yang percaya kepada Tuhan Yesus. Amin.
“Mahatma Gandhi, seorang tokoh besar dari India, sangat menghargai ajaran Tuhan Yesus. Terutama ajaran dalam kotbah di bukit yang sarat ajaran kasih dan kepedulian kepada sesama. Ia terinspirasi dan menerapkan ajaran itu dalam hidup dan perjuangannya. Tetapi karena Mahatma Gandhi seorang Hindu, dapat dipastikan ia akan tetap masuk neraka”, demikian kata Pdt. Itong dalam kotbahnya. Perkataan Pdt. Itong itu menarik perhatian Sambey. Bagi Sambey perkataan rohaniwannya itu bertolak-belakang dengan sikap Tuhan Yesus. Tuhan Yesus justru suka mengedepankan orang-orang yang dipandang sebelah mata oleh orang-orang Yahudi yang terlalu bangga dengan agamanya sehingga menjadi sombong, suka menghakimi dan miskin kasih. Salah satu kisah yang menunjukkan hal itu adalah kisah perempuan berdosa yang mengurapi Tuhan Yesus. Ketika itu Tuhan Yesus diundang oleh seorang Farisi bernama Simon untuk makan di rumahnya. Simon tidak membasuh kaki-Nya, tidak mencium-Nya, dan tidak meminyaki rambut-Nya, sebagaimana seharusnya dalam adat-kebiasaan masyarakat Yahudi. Tetapi justru seorang perempuan yang terkenal berdosa datang dan menangis di kaki Tuhan. Ia membasahi kaki Tuhan bukan dengan air biasa tetapi dengan air matanya. Ia menyekanya bukan dengan kain tetapi dengan rambutnya. Ia berulang kali mencium kaki Tuhan dan meminyaki rambut Tuhan dengan minyak wangi. Apa yang tidak dilakukan oleh orang yang merasa diri benar seperti Simon, dilakukan dengan kasih yang mendalam oleh seorang perempuan yang berdosa. Seolah-olah Tuhan mengajari Simon untuk belajar berbuat kasih dari seorang perempuan berdosa. Jemaat yang terkasih, pernahkah kita dapati seorang Kristen yang setia dan tindakan kasihnya nyata? Pernahkah kita temui seorang Kristen yang sombong, tidak peka dan tidak mudah peduli? Pernahkah kita dapati seorang bukan Kristen yang jahat? Pernahkah kita dapati seorang bukan Kristen yang baik dan tulus dalam menolong orang lain? Tentu kita pernah mendapati semua itu. Oleh karena itu janganlah kita sekedar bangga dengan kekristenan kita, jika kita miskin kasih. Karena orang bukan Kristen yang tahu mengasihi lebih dihargai oleh Tuhan. Marilah kita menjadi orang Kristen yang dapat mewujudkan kasih dalam tindakan nyata.
BARCODE BBM CHANNELS
RENUNGAN HARIAN
Tinggal Dalam KasihNya
07 Februari '15
Tuhan Tidak Mencatat
18 Februari '15
Kasih itu Kelihatan
01 Februari '15
Copyright © 2012 All rights reserved. Designed and Developed by GIA Dr. Cipto Semarang