SEPEKAN TERAKHIR
  Sabtu, 24 Februari 2018   -HARI INI-
  Jumat, 23 Februari 2018
  Kamis, 22 Februari 2018
  Rabu, 21 Februari 2018
  Selasa, 20 Februari 2018
  Senin, 19 Februari 2018
  Minggu, 18 Februari 2018
POKOK RENUNGAN
“Pujilah Allah senantiasa, karena anugerah-Nya telah menyelamatkan kita di dalam Tuhan Yesus Kristus. Pujilah Allah karena hikmat dan pikiran-Nya tak terselami oleh siapa pun di dunia ini.”
DITULIS OLEH
Pdt. Y. Agus Santoso
Rohaniwan Pusat
Renungan Lain oleh Penulis:
Home  »  Renungan  »  Semua Untuk Kemuliaan Allah
Semua Untuk Kemuliaan Allah
Rabu, 20 Maret 2013 | Tema: Umat Yang Memasyurkan Allah
Semua Untuk Kemuliaan Allah
Roma 11:33-36
Kita sering bernyanyi “mulia, mulia bagi Anak domba....” Kadang kita juga menyanyikan “segala puji syukur bagi-Mu, kutinggikan nama-Mu selalu...” dan banyak lagi pujian lain yang syairnya senada dengan lagu pujian tersebut. Apa sebenarnya pesan yang hendak disampaikan kepada umat Allah saat pujian tersebut dinyanyikan? Bacaan renungan pagi ini berkisah tentang pujian bagi kemuliaan Allah. Ayat yang kita baca lebih dikenal sebagai teologi pujian bagi Allah. Mengapa penulis menuliskan hal ini untuk disampaikan kepada jemaat? Pesan apa yang hendak disampaikan?

Berdasarkan bacaan ayat-ayat sebelumnya dan sesudahnya, sebenarnya Rasul Paulus, sebagai penulis surat ini, sangat kagum dengan karya, hikmat, dan pikiran Allah sebagai perencana segala sesuatu secara sempurna. Khususnya dalam hal keselamatan manusia dari dosa melalui karya Tuhan Yesus di kayu salib. Pujian tersebut hendak menyatakan bahwa bangsa Israel sebagai umat pilihan Allah (berdasarkan perjanjian Allah dengan Abraham) sedang menegarkan hatinya. Maka saat ini bangsa Israel sedang dibiarkan Allah untuk sementara waktu. Sekarang Allah mau berurusan dengan bangsa-bangsa lain untuk membentuk umat yang baru, yang d...selengkapnya »
Gereja: Komunitas pembawa damai Roma 12:18 Sedapat-dapatnya, kalau hal itu bergantung padamu, hiduplah dalam perdamaian dengan semua orang! Kita bersyukur bahwa kita yang hidup di Negara Kesatuan Rebublik Indonesia masih bisa menikmati kedamaian, walaupun di sana sini tentu ada gangguan. Negara kita masih tergolong aman dan damai, apabila dibandingkan dengan negara-negara lain yang saat ini mengalami pergolakan dan peperangan, seperti misalnya yang terjadi di Timur Tengah. Tentunya kita berharap agar situasi yang aman dan damai ini dapat tetap terpelihara. Kita berdoa agar pemerintah kita yang memegang tugas dan tanggung jawab menjaga keamanan dan kedamaian ini dapat mengerjakan tugas dan tanggung jawabnya dengan baik. Tugas untuk memelihara kedamaian di negeri kita tentu saja bukan hanya tanggung jawab pemerintah saja. Itu merupakan tugas dan tanggung jawab seluruh komponen bangsa, termasuk juga kita yang ada di dalamnya. Bagi orang Kristen tugas menjaga kedamaian bukan hanya tanggung jawab sebagai warga negara. Terlebih tugas itu merupakan panggilan yang mulia, yang diberikan oleh Tuhan kita Yesus Kristus. Kita dipanggil untuk membawa damai dimanapun kita berada. Sebab menjadi pembawa damai merupakan bagian dari kesaksian iman kita sebagai pengikut Kristus. Dasar dari tugas itu adalah karena kita telah mengalami perdamaian dengan Allah. Kutuk dosa yang merupakan penyebab perseteruan kita dengan Allah telah dipatahkan, dan sekarang kita telah menerima anugerah kasih-Nya. Kita telah menerima kasih Kristus yang tiada taranya. Kasih itulah yang membuat kita mampu memberikan pengampunan kepada orang yang bersalah kepada kita. Kasih itu juga yang membuat kita mampu menerima orang lain yang berbeda dengan diri kita. Kita tidak menganggap mereka sebagai seteru, tapi sebagai sesama yang memerlukan kasih Allah. Gereja hadir di manapun dengan tugas sebagai pembawa damai. Karena itu marilah kita mewujudkan kerinduan Tuhan itu dimanapun kita berada. Amin. Pdt. Goenawan Susanto
Kehidupan doa merupakan hal yang baik dan penting bagi orang percaya. Di saat mengalami kesulitan hidup yang datang bertubi-tubi maka orang percaya akan merespon setiap masalah dengan berdoa meminta kekuatan dan pertolongan Tuhan. Orang yang takut akan Tuhan selalu memiliki respon vertikal kepada Tuhan ketika menghadapi segala sesuatu. Orang yang percaya kepada Tuhan akan selalu melihat ke arah Dia dan bergantung penuh pada-Nya dan menjadikan Tuhan sebagai satu-satunya sumber pengharapan dalam hidup. Segala sesuatu di dunia ini adalah berasal dari Tuhan. Tuhan yang menciptakan segala sesuatu. Kita harus menyadari bahwa semua yang ada di bumi ini dipelihara oleh-Nya dan ditopang oleh Firman-Nya yang penuh kuasa [ Ibrani 1:3]. Maka dalam berdoa haruslah kita memahami bahwa seluruh dunia ditopang oleh Dia, sehingga ketika kita di dalam kesulitan dan pencobaan. Kita tidak akan menyerah dan putus asa dalam berdoa karena kita tahu bahwa Ia sendiri yang selalu menopang dan menjaga ciptaan-Nya. Selanjutnya kita tidak akan putus asa dalam berdoa sambil mengingat kembali siapa Allah. Allah kita adalah Allah yang maha perkasa serta tidak ada yang sanggup melawan kehendak-Nya. Maka pada saat kita berdoa pun kekuatan yang dari Allah akan membangkitkan kita dari kekawatiran dan ketakutan kita. Ini adalah kekuatan sejati dalam mengikut Tuhan. Selanjutnya adalah ketika kita berdoa marilah kita tidak berfokus hanya kepada diri kita sendiri. Marilah kita belajar, ketika berdoa juga memiliki tujuan bagi pekerjaan-pekerjaan Tuhan dan memuliakan nama-Nya. Berdoalah juga supaya Tuhan memakai hidup kita untuk menyatakan kehendak-Nya kepada orang sekitar kita. [Kisah Para Pasul 4:23-31] Marilah kita sebagi anak-anak-Nya memiliki kehidupan doa yang benar. Karena ketika hal itu kita lakukan dengan kesungguhan hati maka kehidupan iman kita juga akan semakin kuat berakar kepada kristus, sehingga apapun masalah yang kita hadapi tidak membuat kita putus pengharapan, namun semakin percaya teguh kepada Allah kita.
Saya bisa membayangkan kemarahan Naaman, ketika seorang suruhan Nabi Elisa menyampaikan pesan “pergilah mandi tujuh kali dalam sungai Yordan…” kepadanya. Sudah pasti Naaman marah luar biasa, dia merasa direndahkan dan diremehkan. Kalau saja tidak ditahan oleh pegawai-pegawainya, mungkin Nabi Elisa dan suruhannya sudah dihabisi. Wajar saja Naaman begitu marah, bagaimana tidak? Naaman seorang panglima perang yang terpandang [ay 1], berkedudukan tinggi, berprestasi dalam karirnya, dan sudah pasti secara social ekonomi dia diatas rata-rata. Tapi mengapa Tuhan ijinkan Naaman mengalami masalah berupa penyakit kusta, penyakit yang notabene banyak diderita oleh orang-orang dari kalangan bawah? Dan mengapa cara yang Tuhan pakai untuk menyembuhkanpun adalah cara yang tidak wajar? Bahkan terkesan aneh, mungkin memalukan dan tidak lazim? Tuhan bisa saja melenyapkan penyakit Naaman begitu saja, atau menyembuhkan dengan cara yang lebih baik, karena itu perkasa yang sangat mudah bagi Dia. Tetapi Dia Allah yang mengerti betul, apa yang seharusnya disembuhkan dari diri Naaman. Tuhan hanya memakai penyakit kusta sebagai alat untuk menyembuhkan “penyakit” Naaman yang sebenarnya. Keangkuhan dan kesombongan yang ada pada Naaman [ay. 12], itu yang ingin disembuhkan Tuhan. Untunglah Naaman mau memperbaiki diri, dia menyadari akan keangkuhan dan kesombongannya, dan belajar untuk merendahkan diri [ay.14]. Dan ketika Naaman membuka diri terhadap apa yang dikehendaki Tuhan, mujizatpun terjadi, dia sembuh dari penyakitnya. Seringkali masalah yang ada dalam kehidupan kita begitu lama tidak ada jalan keluarnya, tidak kunjung ada pertolongan dariNya. Ada baiknya kita meneliti, menyelidiki, adakah sikap kita sudah benar, adakah kita sudah taat pada perintahNya, apakah kita masih sering melanggar rambu-rambu yang sudah ditetapkan Nya, apakah sifat/kebiasaan kita tidak sesuai dengan Firman Nya?. Adakalanya Tuhan memakai masalah untuk tujuan memperbaiki sesuatu dari diri kita yang tidak benar menurut pandangan Nya. Yang menjadi focus bagi Tuhan bukan sekedar menolong masalah itu, tetapi hidup kita yang sejati, sikap hati kita yang benar terhadap Firman Nya dan lingkungan. Tuhan ingin kita memiliki hati dan hidup yang benar sesuai dengan FirmanNya. Karena itu Dia terlebih dahulu akan memperbaiki sikap, hati dan hidup kita menjadi seturut dengan kehendakNya. Seperti Naaman yang dengan kesadaran mau merendahkan diri dan mentaati perintah Nya, mari kita belajar membuka hati, membiarkan Tuhan bekerja memperbaiki titik lemah kita. Dan saat kelemahan kita sudah diperbaikiNya, maka masalah kitapun akan Dia selesaikan juga, dan mujizat bukan hanya dialami oleh Naaman, tapi kitapun akan mengalami juga.
Ada yang menyatakan bahwa merpati merupakan simbol ketulusan hati karena katanya seekor merpati hanya memiliki satu pasangan seumur hidupnya. Juga ketika ia terbang jauh pasti akan kembali ke kandangnya. Yang lain mengatakan bahwa bunga Edelweis merupakan simbol ketulusan karena Edelweis tumbuh di daerah yang khusus dan ekstrem sehingga seolah-olah menerima keadaan apa adanya tanpa menuntut kondisi yang mengenakkan. Tetapi yang lain juga menyatakan mawar putih lambang ketulusan hati. Yang benar yang mana? Merpati, Edelweis atau mawar putih yang sebenarnya menjadi simbol ketulusan? Atau semuanya memang simbol ketulusan? Merpatikah, Edelweiskah atau mawar putihkah yang benar, tidaklah penting. Yang lebih penting adalah ketulusan itu sendiri karena semua benda tadi hanyalah simbol atau lambang. Apa sebenarnya arti ketulusan? Kamus Besar Bahasa Indonesia mendefinisikan tulus adalah sungguh dan bersih hati; jujur; tidak pura-pura; tidak serong. Tetapi bagaimana Alkitab mendefinisikan ketulusan? Alkitab memberi beberapa arti ketulusan, di antaranya: 1. “Karena itu marilah kita menghadap Allah dengan hati yang tulus ikhlas dan keyakinan iman yang teguh, oleh karena hati kita telah dibersihkan dari hati nurani yang jahat....” [Ibrani 10:22]. Hati yang tulus berarti hati nurani yang bersih dari yang jahat. Tidak ada iri dengki; tidak tercemar oleh kemunafikan; jauh dari kebencian, dendam, sombong, tamak, niat tersembunyi dan hal-hal yang jahat lainnya. 2. “Jangan curang, tetapi hendaklah selalu tulus dan setia...” [Titus 2:10]. Tulus berarti juga tidak curang. Curang itu sama dengan tidak jujur; culas; menipu; mengakali. Seseorang melakukan kecurangan, tentu tujuannnya adalah untuk keuntungan dan kepentingan diri sendiri dengan menghalalkan segala cara. 3. “.... sehingga kamu dapat mengamalkan kasih persaudaraan yang tulus ikhlas, hendaklah kamu bersungguh-sungguh saling mengasihi dengan segenap hatimu.” [1 Petrus 1:22]. Tulus dihubungkan dengan melakukan sesuatu dengan sungguh-sungguh dan segenap hati. Kalau kita perhatikan arti-arti di atas, tulus hati erat hubungannya dengan membangun relasi dengan Allah, sesama manusia, dan tugas tanggung jawab [termasuk pelayanan]. Tanpa ada ketulusan, sulit rasanya membangun kesatuan, kebersamaan, dan keintiman [kedekatan]. Jika kita ingin membangun komunitas kristen atau gereja yang kuat, jangan singkirkan dan lupakan ketulusan hati!
BARCODE BBM CHANNELS
RENUNGAN HARIAN
Menabur Kebaikan1
17 Februari '18
Hambatan Menjadi Peluang
27 Januari '18
Selamatkanlah Waktumu
20 Februari '18
Copyright © 2012 All rights reserved. Designed and Developed by GIA Dr. Cipto Semarang