SEPEKAN TERAKHIR
  Jumat, 09 Desember 2016   -HARI INI-
  Kamis, 08 Desember 2016
  Rabu, 07 Desember 2016
  Selasa, 06 Desember 2016
  Senin, 05 Desember 2016
  Minggu, 04 Desember 2016
  Sabtu, 03 Desember 2016
POKOK RENUNGAN
Kekuatan tidak hanya berdasar dari apa yang kita dapatkan, tapi justru dari apa yang kita berikan.
DITULIS OLEH
Ibu Ribkah E. Christanti
Kontributor
Renungan Lain oleh Penulis:
Home  »  Renungan  »  Hilang Justru Bertambah
Hilang Justru Bertambah
Jumat, 01 Februari 2013 | Tema: Komunitas Yang Menebarkan Kasih
Hilang Justru Bertambah
Yesaya 58:1-12
Baterai HP atau laptop, kalau sedang lemah (low battery), ia akan kembali berenergi kalau ada tambahan kekuatan melalui charger. Kalau badan lemas karena lapar, dengan makan maka akan menjadi kenyang dan menjadi kuat kembali. Kalau uang habis, dengan mengambil uang di ATM atau meminta kepada orang tua, maka persediaan uang kita akan kembali terisi. Artinya ada substansi yang ditambahkan sehingga memiliki tenaga ekstra. Namun beberapa kenyataan di atas, beda prinsipnya dengan kekuatan baru versi Yesaya 58:11. Orang akan mendapat kekuatan baru kalau dia justru bisa berbagi atau memberi substansi (isi) dari dalam dirinya.

Dalam ayat yang ke-6 sampai ayat ke-10, disebutkan beberapa ...selengkapnya »
Siap Sedialah Matius 24:37-44 Sebab itu, hendaklah kamu juga siap sedia, karena Anak Manusia datang pada saat yang tidak kamu duga.’ [ayat 44] Pada saat kita naik sepeda motor kita diharuskan memakai helm. Apa perlunya? Perlunya adalah untuk berjaga-jaga, bila sewaktu-waktu terjadi kecelakaan, kita tidak akan mengalami akibat yang fatal. Tapi berkali-kali kita sudah mengenakan helm saat naik sepeda motor, toh tidak mengalami kecelakaan. Jadi kalau begitu apakah selama ini kalau kita memakai helm saat naik sepeda motor itu tidak ada gunanya, karena tidak mengalami kecelakaan? Kita tidak bisa berkata bahwa memakai helm itu tidak ada gunanya walaupun tidak terjadi kecelakaan. Karena tidak ada seorang pun yang tahu apa yang akan terjadi. Kita tidak bisa memastikan apa yang akan terjadi dengan diri kita saat naik sepeda motor. Yang bisa dan perlu kita lakukan hanyalah bersiap sedia. Kalau seandainya terjadi kecelakaan kita tidak akan mengalami akibat yang fatal. Sejak dulu kita sudah disuruh untuk bersiap sedia, menanti kedatangan Kristus. Tapi toh Tuhan Yesus belum datang juga. Apakah kalau demikian berjaga-jaga menanti kedatangan Kristus tidak ada gunanya? Kita tidak bisa berkata demikian. Kenapa? Karena kita tidak tahu apa yang akan terjadi di depan kita. Kita tidak tahu kapan Tuhan Yesus datang kembali. Kita juga tidak tahu dengan umur kita kapan kita harus kembali kepada Tuhan. Karena kita tidak tahu apa yang akan terjadi, maka seharusnya kita bersiap sedia dengan segala kemungkinan yang bisa terjadi. Maka berjaga-jaga menanti kedatangan Tuhan Yesus adalah pilihan yang paling tepat, agar kita selamat. Kalau kita selalu berjaga-jaga, seandainya Tuhan datang nanti malam pun kita sudah siap. Tetapi kalau kita tidak berjaga-jaga siapa yang tahu apa yang akan terjadi? Apa jadinya jika seandainya, mungkin bukan Tuhan yang datang kembali, tapi kita yang dipanggil untuk kembali kepada-Nya? Berjaga-jagalah, supaya apabila sewaktu-waktu Tuhan datang kembali atau kita yang kembali kepada Tuhan, kita didapati dalam keadaan siap. Tuhan memberkati. Pdt. Goenawan Susanto
Pada waktu terjadi erupsi gunung Merapi beberapa tahun yang lalu, orang yang tersibuk adalah mereka yang berada di wilayah ring satu. Di mana mereka selama berhari-hari tanpa mengenal lelah terus menerus memantau perkembangan gunung Merapi. Dengan menggunakan Seismograf, mereka secara cermat dapat memprediksi kapan gunung tersebut mengeluarkan ledakan. Begitu juga masyarakat yang tinggal di wilayah ring satu sampai tiga yang pada waktu itu sudah mengungsi di wilayah aman, mereka juga terus menerus waspada dan berjaga-jaga karena erupsi bisa saja terjadi secara tiba-tiba seperti yang terjadi ketika rombongan peduli bencana Merapi GIA Dr. Cipto berkunjung ke tempat pengungsi di wilayah Klaten. Siang hari sebelum rombongan pulang, erupsi kembali terjadi. Suasana sangat mencekam. Sirine dan kentongan terus menerus dibunyikan supaya masyarakat menjauh dari lokasi kejadian. Asap hitam pekat bercampur pasir dan batu kembali terlontar ke udara. Ya, terus berjaga-jaga dan waspada itulah yang dilakukan oleh petugas penanggulangan bencana dan masyarakat. Demikian halnya kedatangan Tuhan Yesus kedua kali juga memerlukan perhatian dan kewaspadaan kita. Meskipun sudah banyak tanda diberikan dan mulai tergenapi, namun kita semua tetap belum dapat memastikan dengan jelas kapan Tuhan Yesus akan datang kembali. Namun hal yang sangat menguatkan, meneguhkan dan memberi pengharapan kepada kita adalah Firman Allah. Nats bacaan hari ini menuntun kita bagaimana harus mempersiapkan diri menghadapi kedatangan Tuhan Yesus kedua kali. Pertama, menjelaskan bahwa hari kedatangan-Nya terjadi secara tiba-tiba dan tidak dapat diprediksi sebelumnya seperti pencuri di malam hari atau seperti seorang perempuan yang hamil tua dan siap untuk melahirkan. Jadi kita harus senantiasa berjaga-jaga [ayat 1-3]. Kedua, kita termasuk golongan anak-anak siang [terang] yang bisa membaca tanda-tanda yang ada, sehingga peristiwa itu bukanlah sesuatu yang menakutkan dan mengejutkan, tetapi sebuah pengharapan bagi kita [ayat 4-7]. Ketiga, Kita diminta senantiasa berjaga-jaga dan siap sedia setiap waktu karena kedatangan-Nya terjadi secara tiba-tiba [ayat 8-9]. Janji Tuhan Yesus yang meneguhkan bahwa kita semua tidak dirancang untuk mengalami celaka pada waktu hari itu tiba tetapi dirancang untuk bersuka cita sebab kita semua akan diselamatkan dari hal itu. Menyikapi keadaan zaman ini, marilah kita lebih sungguh-sungguh lagi mempersiapkan diri untuk menyambut kedatangan-Nya kembali dengan hidup lebih intim bersama Tuhan Yesus dan menjaga kekudusan hidup dengan menjauhi segala dosa dan kejahatan supaya pada waktu Dia datang kembali, kita termasuk pribadi-pribadi yang berkenan kepada-Nya.
Informasi bersliweran di mata dan telinga kita. Kasus sang gubernur ditanggapi berbagai rupa. Rupa-rupa yang dapat kita nilai sebagai rupa bersih nan tulus, rupa marah, rupa konyol, rupa takut dan tak jelas rupanya. Hingga terjadilah deru tuntutan yang menggelora di jalanan. Sejumlah besar massa membangun asa bersama. Suara-suara santun berbaur dengan cacian kebencian dan umpatan yang arogan. Kata “kafir!” mendadak mendengung memenuhi langit ibukota negara. Apakah ini pertanda bahwa kedamaian dan ketenangan selama ini hanyalah tampilan permukaan di negeri ini? Hanyalah topeng rupawan di balik wajah berbisul? Yang siap mengoyak ke-bhinneka tunggal ika-an yang selama ini coba dirajut oleh orang-orang lugu yang bermaksud baik. Lambat-laun kita menyadari bahwa 1000 hari kedamaian tidak dapat menjamin bahwa hari yang ke-1001 tetap akan damai. Malapetaka sewaktu-waktu dapat hadir pada saat yang tidak dapat di duga. Dan bukankah ketiadapastian ini begitu menakutkan bagi kita, kaum minoritas yang mudah merasa minder dan tak berdaya? Dalam situasi seperti ini sekonyong-konyong timbul perasaan bahwa kiamat sudah ada di hadapan kita. Meskipun tidak banyak, tetapi ada orang-orang percaya yang sudah mengkaitkan demonstrasi 411 sebagai tanda kiamat. Ulasannya diunggah di media sosial atau mungkin juga telah disampaikan dalam kotbah-kotbah. Lalu bagaimanakah kita harus bersikap dalam situasi ini? Di barisan bangku paling belakang gereja duduk pemuda sebatangkara bersama beberapa pemuda-pemudi merenungkan masalah ini. Sebuah masalah yang bisa saja mengganggu perasaan damai orang-orang percaya dalam merayakan Natal yang akan menjelang. Haruskah kita takut terhadap ketidakpastian situasi? Haruskah kita minder dan putus asa? Gentar terhadap isu kiamat? Pemuda sebatangkara memaknai Natal sebagai persiapan untuk menyambut kedatangan Yesus Kristus. Bukan sebagai bayi tak berdaya, tetapi sebagai Raja di atas segala raja. Maka situasi dan kondisi apapun yang terjadi tidak boleh membuat orang-orang percaya merasa minder, putus asa, apalagi di dera ketakutan yang berlebihan. Sebagaimana perasaan orang-orang yang tidak menyiapkan diri, yang berada dalam kegelapan. Tetapi orang-orang percaya adalah anak-anak terang yang telah hidup setiap hari bersama dengan Tuhan. Hidupnya dibimbing oleh iman dan kasih yang membara; pengharapannya kuat akan keselamatan yang datang dari Tuhan. Maka dalam situasi dan kondisi apapun juga anak-anak terang tetap tinggal tenang. Dan tiba-tiba “Sttt…..tt.. jangan bilang siapa-siapa ya?” kata pemuda sebatangkara menutup penuturannya. Jemaat yang terkasih, belajarlah hidup setiap hari bersama Tuhan. Gemarlah merenungkan firman Tuhan. Janganlah jemu-jemu berdoa. Tebarkanlah kasih kepada semua orang. Siap sedialah sebagai penyambut-penyambut kedatangan Tuhan. Niscaya kita akan tinggal tenang.
Ada seorang anak remaja sangat nakal dan jahat perbuatannya. Kedua orang tuanya tidak mampu mengatasi kenakalan anak tersebut yang selalu merugikan orang lain dan mereka mengganti kerugian orang-orang tersebut. Demikian juga dengan guru-guru sekolahnya sudah tidak sanggup untuk menangani anak tersebut. Segala macam hukuman sudah pernah diberikan bahkan hukuman yang keras, tetapi semua kemarahan dan hukuman yang diterimanya tidak mendatangkan perubahan. Di tengah keputusasaan, kedua orang tua berkonsultasi dengan seorang hamba Tuhan. Hamba Tuhan itu menyarankan untuk mendekati anak tersebut dengan kasih dan bukan dengan kemarahan/kekerasan. Mereka mulai menyapa dengan lemah lembut dan tidak berkata kasar waktu anaknya nakal, tetapi dinasehati dengan sabar. Dalam waktu tidak terlalu lama terjadi perubahan besar, anak remaja itu menjadi anak yang baik dan santun. Sebagai orang pilihan Allah, setiap murid Kristus seyogyanya mengenakan belas kasihan, kemurahan, kerendahan hati, kelemahlembutan, kesabaran. Sabar terhadap orang lain dan mengampuni seperti Kristus sudah mengampuni. Itu semua terjadi bila mengenakan kasih Kristus. Kasih yang tidak berkesudahan dan yang menyempurnakan setiap perbuatan/tindakan kebaikan kepada semua orang. Saat ini kekerasan terjadi di mana-mana, sangat mudah orang terpancing emosi dan kemarahan. Orang sangat mudah tersinggung yang mengakibatkan kemarahan bahkan tindakan anarkis. Keadaan ini bisa mempengaruhi orang percaya/anak Tuhan menjadi tidak sabar, mudah marah sampai pertikaian dan perpecahan. Marilah kita tidak terpengaruh dengan keadaan dunia, tetapi menjadi dewasa dengan kepenuhan Kristus yang ditandai dengan menghidupi kasih Kristus sehingga bisa mendatangkan damai sejahtera kepada banyak orang.
BARCODE BBM CHANNELS
RENUNGAN HARIAN
Merajut Mimpi Indah
15 November '16
Jangan Tolak Makanan Keras
21 November '16
Berjaga-jaga Siang dan Malam
05 Desember '16
Copyright © 2012 All rights reserved. Designed and Developed by GIA Dr. Cipto Semarang