SEPEKAN TERAKHIR
  Selasa, 30 September 2014   -HARI INI-
  Senin, 29 September 2014
  Minggu, 28 September 2014
  Sabtu, 27 September 2014
  Jumat, 26 September 2014
  Kamis, 25 September 2014
  Rabu, 24 September 2014
POKOK RENUNGAN
Kekuatan tidak hanya berdasar dari apa yang kita dapatkan, tapi justru dari apa yang kita berikan.
DITULIS OLEH
Ibu Ribkah E. Christanti
Kontributor
Renungan Lain oleh Penulis:
Home  »  Renungan  »  Hilang Justru Bertambah
Hilang Justru Bertambah
Jumat, 01 Februari 2013 | Tema: Komunitas Yang Menebarkan Kasih
Hilang Justru Bertambah
Yesaya 58:1-12
Baterai HP atau laptop, kalau sedang lemah (low battery), ia akan kembali berenergi kalau ada tambahan kekuatan melalui charger. Kalau badan lemas karena lapar, dengan makan maka akan menjadi kenyang dan menjadi kuat kembali. Kalau uang habis, dengan mengambil uang di ATM atau meminta kepada orang tua, maka persediaan uang kita akan kembali terisi. Artinya ada substansi yang ditambahkan sehingga memiliki tenaga ekstra. Namun beberapa kenyataan di atas, beda prinsipnya dengan kekuatan baru versi Yesaya 58:11. Orang akan mendapat kekuatan baru kalau dia justru bisa berbagi atau memberi substansi (isi) dari dalam dirinya.

Dalam ayat yang ke-6 sampai ayat ke-10, disebutkan beberapa tindakan iman yang nyata dalam perbuatan. Misalnya, memerdekakan orang yang teraniaya, memecah roti bagi orang lapar, memberi tumpangan bagi orang yang tak punya rumah, memberi pakaian kepada orang yang telanjang, menyerahkan yang kita inginkan sendiri kepada orang yang lapar, dan lain-lain. Namun ketika kita melakukan hal itu (hal yang nampaknya ”mengurangi”apa yang ada pada kita/merugikan kita), justru mendatangkan kasih karunia dari Tuhan, diantaranya mampu ”menambah” kekuatan baru (ayat 11).

Ayat ini mengingatkan kita pada apa yang dialami oleh Daud ketika dia berada di gua Adulam (1 Samuel 22:1-5). Dalam perikop itu diceritakan bagaimana Daud menjadi pemimpin bagi 400 orang ...selengkapnya »
Suatu hari saya membaca sebuah artikel dan melihat foto-foto tentang operasi plastik. Bersama teman-teman, kami menertawakan gambar dari beberapa ibu dan gadis-gadis yang telah menjalani operasi plastik tersebut. Kami tertawa karena orang dalam foto tersebut yang awalnya ‘tidak enak dilihat’ berubah jadi ‘enak dilihat’. Wajah yang sudah tua dan keriput disulap menjadi muda dan cantik kembali. Sungguh sangat menggelikan membandingkan wajah asli yang semula hidungnya pesek dan sekarang menjadi mancung seperti hidung Madona. Dalam artikel tersebut, sebuah komentar mengungkapkan bahwa keinginan utama yang mendorong mereka melakukan operasi plastik adalah ketakutan mereka pada ‘ketuaan’ yang kemudian membawa dampak pada kurangnya kepercayaan diri pada seseorang. Sebenarnya operasi plastik yang dilakukan untuk merawat tubuh dan mendandani tubuh yang Tuhan sudah berikan kepada kita sebagai bentuk rasa syukur kita, itu tidak salah. Tetapi operasi plastik yang dilakukan karena ketakutan-ketakutan pada ketuaan, ketakutan pada perubahan fisik yang memang pasti akan terjadi dalam tubuh kita, dan ketidakpuasan fisik yang Tuhan berikan, serta rasa iri hati terhadap kelebihan-kelebihan fisik yang dimiliki orang lain, itu yang tidak dibenarkan dalam Alkitab. Karena secara otomatis ketakutan-ketakutan tersebut akan menguras seluruh energi, keuangan, dan menjadikan kita jauh dari ucapan syukur. Perubahan fisik, tua, keriput, rambut putih, ompong, lemah, dan lain sebagainya, mengapa harus ditakuti? Bukankah kita semua pasti akan mengalaminya? 2 Korintus 4:16 berkata: “Tetapi meskipun manusia lahiriah kami semakin merosot,...” Artinya, baik usia, bentuk tubuh, wajah, hidung dan semua yang ada dalam tubuh kita ada batas waktu tertentu yang tidak dapat kita hindari. Kitab Mazmur lebih tegas berkata bahwa batas usia kita pun sudah ditentukan oleh Tuhan (Mazmur 90:10). “Masa hidup kami tujuh puluh tahun, dan jika kami kuat delapan puluh tahun,...”. Jadi, mari kita merawat tubuh kita dengan baik dan penuh ucapan syukur. Semua hal yang pasti akan terjadi dalam hidup kita di kemudian hari jangan sampai membuat kita takut, apalagi sampai mengurangi rasa percaya diri dan ucapan syukur kita pada Tuhan.
Jemaat mula-mula merupakan gereja yang bertumbuh dengan pesat. Dua faktor yang dapat membuat mereka menjadi gereja yang bertumbuh adalah: 1) mereka disukai semua orang dan 2) pertolongan Tuhan. Mereka disukai karena kehidupan mereka menjadi saksi. Antara pengajaran dan kehidupan mereka ada keselarasan. Kasih yang sungguh yang mereka tunjukkan di antara sesama anggota jemaat membuat orang lain melihat perbedaan yang besar antara mereka dengan orang-orang Yahudi pada umumnya. Sukacita yang mereka tunjukkan, sekalipun “di bawah tekanan” juga sangat terasa bagi orang lain karena sukacita itu berasal dari Tuhan. Jelaslah bahwa jemaat mula-mula dapat menjadi gereja yang bertumbuh karena ditentukan oleh dua faktor penting, yaitu adanya tanggung jawab manusia yang mereka tunjukkan melalui kesaksian hidup yang benar dan karya Tuhan dalam mengirimkan orang-orang untuk diselamatkan. Owen W. Glassburn menulis sebuah puisi dengan judul “Gerejaku“. Isi dari puisi itu adalah sebagai berikut: “Gerejaku, sebuah ruangan yang tenang, sebuah tempat untuk kedamaian, sebuah rumah iman di mana kebimbangan berhenti, sebuah rumah penghiburan di mana pengharapan diberikan, sebuah sumber kekuatan untuk menolong kita ke sorga, sebuah tempat penyembahan, sebuah tempat untuk berdoa, saya menemukan semua ini dalam gerejaku hari ini.” Jika sebuah gereja menunjukkan keadaan seperti itu, bukan saja Owen yang akan betah berada di gereja itu, tetapi jemaat yang lain pun akan betah berada bersama di dalam gereja tersebut. Kondisi seperti inilah dan dengan pertolongan Tuhan menjadikan gereja bertumbuh. Oleh sebab itu marilah kita mulai dari diri kita sendiri, yaitu dengan menunjukkan kehidupan yang benar dan tidak jemu berdoa kepada Tuhan.
Jari-jari tangan manusia tidak sama bentuk dan fungsinya. Si gendut jempol selalu berkata baik, telunjuk yang suka menunjuk dan memerintah. Si jangkung jari tengah yang sombong dan suka menghasut telunjuk. Si jari manis yang lemah lembut dan suka memakai perhiasan cincin. Si kecil kelingking lemah, penurut dan pemaaf. Mereka berbeda dan tidak bisa berganti fungsi tetapi pada waktu ada pekerjaan mereka bersatu untuk mencapai tujuan misalnya menulis, memegang barang dll. Mereka diciptakan berbeda-beda tetapi dengan tujuan untuk bisa saling menolong bukan untuk saling merusak atau menghancurkan. Kita adalah anggota dalam tubuh Kristus, masing-masing kita memiliki kepandaian, talenta dan karunia yang berbeda. Seperti tubuh kita terdiri dari banyak anggota yang berbeda maka dalam tubuh Kristus perbedaan itu wajar. Setiap anggota tubuh mempunyai fungsi masing-masing yang berbeda satu dengan lainnya, ada lebih lemah dan ada yang kuat. Uniknya walaupun berbeda anggota tubuh kita saling memperhatikan, saling membutuhkan dan saling menolong untuk mencapai suatu tujuan. Sebagai anggota tubuh Kristus, kita mempunyai tujuan yang sama memuliakan Tuhan dalam setiap aspek hidup kita. Agar tujuan itu tercapai, Tuhan ingin kita menggunakan falsafah tubuh manusia, saling membutuhkan, saling memperhatikan, saling menolong, saling menghormati. Ikut berduka dengan yang menderita, ikut bersukacita dengan yg mendapat penghargaan. Kita tidak bisa mengharap orang lain sama seperti kita, biarlah setiap orang tetap dengan karakter masing-masing tetapi pada waktu melayani Tuhan harus sehati dan sepikir. Seharusnya kita merasa malu pada jari-jari bila sebagai tubuh Kristus kita bertikai dalam menggapai visi jemaat, karena jari-jari telah memberi contoh pada kita berbeda tetapi satu tujuan.
Sejak usia 2 tahun sampai 23 tahun saya tinggal di Maluku, secara otomatis saya dapat dengan fasih berbicara bahasa Maluku (bahasa Tobelo) dengan dialeknya yang unik. Dengan bahasa dan gaya dialek yang sama dengan masyarakat Tobelo, tentu saya beranggapan bahwa masyarakat tidak akan mengenal identitas saya yang sesungguhnya, yaitu orang Jawa. Namun ternyata saya salah, mereka tetap menyapa saya dengan panggilan ‘mas’. Peristiwa serupa juga saya alami, pada tahun 2011 saat saya mengikuti studi banding tentang “Pertumbuhan Gereja dan Budaya Masyarakat Korea” di Korea Selatan selama hampir 1 bulan. Tanpa saya memperkenalkan asal-muasal saya, orang-orang Korea dapat mengenal jika saya berasal dari Indonesia. Dengan rasa penasaran saya kemudian bertanya, “Bagimana Anda mengenal saya?” “Dari warna kulit, bentuk rambut, bentuk wajah, tinggi badan, dan nama Anda-lah yang menunjukkan bahwa Anda orang Indonesia,” jawab mereka. Setelah saya merenungkan pengalaman tersebut, saya kemudian menjadi paham bahwa dalam diri saya ada sesuatu yang tidak dapat saya sembunyikan, yaitu identitas. Identitas pribadi yang sudah melekat sejak lahir dalam diri saya tidak dapat saya ubah dan saya sembunyikan sehingga hanya dengan melihat saya, maka semua orang akan tahu siapa saya dan dari mana saya berasal. Hal ini tentunya juga menjadi pengalaman kita bersama bukan? Sebagai anak-anak Allah, Ia memposisikan kita sebagai ‘terang dan garam’ yang tentunya harus menerangi tempat yang gelap dan mengasinkan dunia yang sudah menjadi tawar. Dengan demikian identitas kita jelas bahwa Tuhan mengangkat kita menjadi anak-Nya supaya kita tahu siapa kita, dari mana kita berasal, dan apa tujuan kita diciptakan. Tuhan Yesus berkata: “Kamu adalah terang dunia. Kota yang terletak di atas gunung tidak mungkin tersembunyi” (ayat 14). Identitas kita adalah murid-murid Tuhan Yesus. Secara otomatis kita harus meneladani Guru Agung kita sebagai figur identitas kita, yaitu menjadi ‘terang dan garam’. Dengan teladan yang kita lakukan dalam kehidupan sehari-hari tersebut, maka secara otomatis orang akan mengenal identitas kita, bahwa kita adalah orang-orang Kristen yang benar.
BARCODE BBM CHANNELS
RENUNGAN HARIAN
Gereja Yang Bertumbuh
25 September '14
Home Sick
18 September '14
Karakter Kristus
26 September '14
Copyright © 2012 All rights reserved. Designed and Developed by GIA Dr. Cipto Semarang