SEPEKAN TERAKHIR
  Jumat, 31 Oktober 2014   -HARI INI-
  Kamis, 30 Oktober 2014
  Rabu, 29 Oktober 2014
  Selasa, 28 Oktober 2014
  Senin, 27 Oktober 2014
  Minggu, 26 Oktober 2014
  Sabtu, 25 Oktober 2014
POKOK RENUNGAN
Kekuatan tidak hanya berdasar dari apa yang kita dapatkan, tapi justru dari apa yang kita berikan.
DITULIS OLEH
Ibu Ribkah E. Christanti
Kontributor
Renungan Lain oleh Penulis:
Home  »  Renungan  »  Hilang Justru Bertambah
Hilang Justru Bertambah
Jumat, 01 Februari 2013 | Tema: Komunitas Yang Menebarkan Kasih
Hilang Justru Bertambah
Yesaya 58:1-12
Baterai HP atau laptop, kalau sedang lemah (low battery), ia akan kembali berenergi kalau ada tambahan kekuatan melalui charger. Kalau badan lemas karena lapar, dengan makan maka akan menjadi kenyang dan menjadi kuat kembali. Kalau uang habis, dengan mengambil uang di ATM atau meminta kepada orang tua, maka persediaan uang kita akan kembali terisi. Artinya ada substansi yang ditambahkan sehingga memiliki tenaga ekstra. Namun beberapa kenyataan di atas, beda prinsipnya dengan kekuatan baru versi Yesaya 58:11. Orang akan mendapat kekuatan baru kalau dia justru bisa berbagi atau memberi substansi (isi) dari dalam dirinya.

Dalam ayat yang ke-6 sampai ayat ke-10, disebutkan beberapa tindakan iman yang nyata dalam perbuatan. Misalnya, memerdekakan orang yang teraniaya, memecah roti bagi orang lapar, memberi tumpangan bagi orang yang tak punya rumah, memberi pakaian kepada orang yang telanjang, menyerahkan yang kita inginkan sendiri kepada orang yang lapar, dan lain-lain. Namun ketika kita melakukan hal itu (hal yang nampaknya ”mengurangi”apa yang ada pada kita/merugikan kita), justru mendatangkan kasih karunia dari Tuhan, diantaranya mampu ”menambah” kekuatan baru (ayat 11).

Ayat ini mengingatkan kita pada apa yang dialami oleh Daud ketika dia berada di gua Adulam (1 Samuel 22:1-5). Dalam perikop itu diceritakan bagaimana Daud menjadi pemimpin bagi 400 orang ...selengkapnya »
“Menurutku, Tuhan itu menciptakan manusia dengan derajatnya masing-masing”, kata Benay. “Maksudmu, derajat seseorang itu sudah ditakdirkan?” tanya Sambey penasaran. Meskipun sempat tidak percaya takdir, tetapi dalam hal ini Benay mengakui bahwa derajat setiap orang sudah ditentukan dari sononya. “Makanya merubah nasib itu tidak mungkin. Kalau sudah ditakdirkan jadi satpam, mulai zaman black coffee sampai zaman white coffee, ya tetap satpam”, kata Benay menyimpulkan. Sambey geleng-geleng kepala pertanda ia tidak setuju. Sambey menjelaskan bahwa menurutnya status sebagai buruh, pegawai negeri, satpam, pendeta, pengusaha dan lain-lain adalah pekerjaan semata. Memang secara sosial itu berarti gengsi tertentu, tetapi di mata Tuhan itu tidak lebih dari sekedar status pekerjaan. Di mata Tuhan setiap orang mempunyai derajat yang sama dan mempunyai hak istimewa yang sama. Dan jangan lupa, setiap orang bisa merubah “nasib”nya dan merubah kondisi masyarakat melalui doa dan perjuangan yang tak kenal lelah. Jemaat yang terkasih. Tuhan mengecam keras orang-orang Farisi dan ahli-ahli Taurat karena kemunafikan mereka. Mereka menggunakan status terhormat mereka seolah-olah mereka adalah orang yang punya privilege (hak istimewa) di hadapan Tuhan dibandingkan rakyat jelata. Padahal status terhormat itu adalah topeng yang menutupi kebobrokan hati & pikiran mereka. Mereka jarkoni (iso ngajar tapi ora iso nglakoni), gila hormat, serakah, gemar berkotbah tentang moral tetapi mereka mengabaikan keadilan, belas kasihan, dan kesetiaan. Tuhan mengajarkan agar umat-Nya tidak meneladani orang-orang seperti itu. Di hadapan Tuhan setiap orang punya hak istimewa apapun status pekerjaannya. Tidak ada yang dapat memegahkan statusnya sebagai “guru rohani” karena hanya ada satu Rabi, yaitu Yesus Kristus. Umat Tuhan hanya punya satu Bapa, yaitu Bapa Sorgawi. Tidak ada tempat untuk kesombongan status sebagai pemimpin karena umat Tuhan hanya punya satu pemimpin, yaitu Mesias. Jika umat Tuhan punya figur pemimpin manusiawi, statusnya sebagai pemimpin bukan untuk disombongkan atau dijadikan topeng suci, tetapi untuk melayani. Tuhan mengajarkan bahwa setiap umat-Nya adalah sesama saudara yang sederajat bagi yang lainnya. Jemaat yang terkasih. Apakah kita menyadari bahwa di hadapan Tuhan kita punya hak istimewa yang sama seperti saudara-saudara kita yang lain? Apapun jabatan gerejawi kita (gembala, pendeta, majelis, jemaat) atau apapun status pekerjaan kita, bagi Tuhan kita sederajat sebagai umat yang dikasihi-Nya. Oleh karena itu jangan merasa bahwa doa pendeta pasti lebih manjur. Karena Tuhan mendengar dan menjawab doa tulus setiap orang. Jangan merasa bahwa “sukses materi” dan status pekerjaan bergengsi adalah tanda diperkenan Tuhan karena Tuhan mengasihi dan membela orang-orang miskin dan orang-orang yang tidak terpandang secara sosial.
Memberi kesempatan kepada sesama pengendara untuk menyeberang di antrian yang panjang. Merelakan tempat duduk di bus untuk sesama penumpang yang lanjut usia. Berbagi keterampilan tanpa imbalan kepada sesama yang sangat membutuhkan. Inilah bentuk-bentuk kemurahan hati yang jarang terpikirkan oleh kita. Sebenarnya masih banyak lagi hal yang lain. Termasuk bermurah hati dalam bentuk memberi pengampunan kepada sesama yang menyakiti kita. Sebagian orang sulit melihat hubungan antara bermurah hati dan mengampuni. Tuhan Yesus sendiri dalam perikop yang diberi judul ‘Kasihilah musuhmu’ (Lukas 6:27-36) memaparkan dengan sangat jelas bahwa mengampuni sesama diperhitungkan sebagai kemurahan hati. Inilah sebuah bentuk kemurahan yang pada umumnya lebih sulit untuk kita lakukan. Manusia bukan perangkat elektronik. Kita tak bisa diprogram untuk mengabaikan perasaan yang tak diinginkan. Hanya perasaan bahagia saja yang disetel on, perasaan yang lain off. Tentu tidak begitu. Manusia yang normal bisa merasakan semuanya. Termasuk sedih dan sakit hati. Karena itulah Tuhan mengajarkan pengampunan. Sebab manusia pada dasarnya ingin dimaklumi dan dimaafkan, tetapi enggan memaklumi apalagi bermurah hati memberi pengampunan. Hal bermurah hati dengan mengampuni hanya indah didengar di mimbar dan mustahil dilakukan? Tidak. Tuhan tidak pernah mengajarkan hal yang mustahil untuk dilakukan. Memang ada kalanya tiba masa-masa sulit untuk bermurah hati bila disakiti. Apalagi bila rasa sakit yang ditimbulkan begitu dalam dan berulang-ulang. Saya pribadi tidak suka bertopeng di hadapan Tuhan dan manusia demi pencitraan. Saya berkata apa adanya tentang perasaan saya kepada Tuhan dan memohon agar dapat mengatasinya. Bukan berkata-kata kepada manusia agar membela saya dan akhirnya memicu perpecahan. Datang dengan jujur di hadapan Tuhan selalu menghasilkan pemulihan. Dan kemurahan hati akan mengalir kembali dalam bentuk pemberian pengampunan. Kalau kita adalah anak-anak-Nya, dengan siapa kita akan serupa jika tidak dengan Bapa kita?
Johnny seorang manager sebuah perusahaan tekstil duduk termenung di ruang kantornya. Ia yang seorang aktivis sebuah gereja sedang galau karena kebutuhan yang harus segera dipenuhinya. Dua orang anaknya yang bersamaan masuk perguruan tinggi dan menengah atas membutuhkan biaya yang sangat besar. Tabungannya telah terkuras habis untuk perbaikan rumah yang rusak karena badai topan. Imannya mengatakan bahwa Tuhan pasti akan menyediakan apa yang menjadi kebutuhannya tetapi hatinya tetap gelisah juga. Tiba-tiba dia dikejutkan dengan pintu ruangan yang diketuk, seorang anak buahnya dengan muka sedih berkata dengan terbata-bata, “Maaf Pak, saya mengganggu. Anak saya dirawat di rumah sakit, demam berdarah dan cukup serius. Saya butuh dana untuk biaya anak saya. Bolehkah saya pinjam pribadi kepada Bapak karena saya sudah tidak bisa pinjam lagi di koperasi.” Dia mengeluarkan dompetnya dan berkata, “Ini saya ada uang, mungkin jumlahnya tidak banyak. Pakai saja, tidak perlu dikembalikan.” Ia tetap murah hati walaupun sedang dalam masalah. Jemaat Makedonia, walaupun sedang dalam masalah yang sangat berat dan hidup dalam kemiskinan tetapi dengan sukacita menyatakan kemurahan hatinya dengan memberikan bantuan kepada pelayanan pekerjaan Tuhan. Mereka memberikan melebihi kemampuan mereka dan mendesak Rasul Paulus untuk mau menerima pemberian mereka. Hal itu bisa terjadi karena mereka merasa berhutang kepada Tuhan yang telah lebih dahulu menyatakan kemurahan hati-Nya kepada mereka. Untuk menyatakan kemurahan hati dalam keadaan baik dan berkecukupan akan sangat mudah, tetapi Tuhan ingin kita dalam keadaan kesulitan tetap murah hati. Yesus telah memberi teladan kepada kita. Di saat tidak disukai oleh pemimpin-pemimpin agama dan dipersulit pelayanan-Nya, Dia tetap murah hati dengan memberi makan yang lapar, menyembuhkan yang sakit, membangkitkan yang mati, memberi penghiburan pada yang susah. Marilah sebagai murid Yesus, kita bermurah hati dalam segala keadaan.
2 Korintus 9:6-11 kamu akan diperkaya dalam segala macam kemurahan hati, yang membangkitkan syukur kepada Allah oleh karena kami. (Ayat 11) Kalau kita menanam sebuah biji mangga dan biji itu tumbuh menjadi sebuah pohon mangga, maka suatu saat nanti kita akan memetik bukan hanya sebutir buah mangga, tapi ratusan buah mangga. Apa yang kita tanam akan menghasilkan buah sesuai yang kita tanam secara berlipat ganda. Demikianlah Alkitab mengajar kita bukan hanya hukum tabur tuai, tapi juga hukum pelipat gandaan. Sesuai dengan hukum pelipat gandaan, jika kita menabur kemurahan, maka kita akan menuai bukan sekedar kemurahan, namun kemurahan yang berlipat ganda. Firman di atas (dalam versi NIV) berkata: ”You will be enriched in every way so that you can be generous on every occasion, and through us your generosity will result in thanksgiving to God.” Orang yang melakukan kemurahan akan diperkaya dalam segala hal, supaya dia bisa bermurah hati dalam setiap kesempatan. Tuhan makin memberkati orang yang murah hati supaya dia bisa makin bermurah hati. Tujuan akhirnya adalah ucapan syukur kepada Allah, bukan kebanggaan diri orang yang bermurah hati. Orang yang semakin diberkati karena kemurahan hatinya akan semakin menyadari bahwa segala yang dia miliki adalah berasal dari Tuhan. Dalam hal ini Firman Tuhan mengajar tentang motivasi yang benar di dalam melakukan kemurahan hati. Ada orang yang melakukan kemurahan supaya mendapatkan pujian atau nama baik. Firman Tuhan berkata bahwa orang tersebut sudah mendapatkan upahnya dari pujian yang diperolehnya (Matius 6:2). Ada juga yang melakukan kemurahan supaya semakin diberkati. Walaupun ini sesuai dengan hukum tabur tuai namun motivasinya adalah demi keuntungan dirinya. Tuhan pasti menggenapi janji-Nya sesuai dengan apa yang difirmankan-Nya. Namun yang diajarkan Alkitab lebih dari itu. Kita semakin diberkati bukan demi keuntungan diri kita, tapi agar supaya menjadi pribadi yang rendah hati dan penuh ucapan syukur kepada Tuhan yang memiliki segalanya. Jadilah pribadi yang murah hati dan penuh ucapan syukur kepada Tuhan. Amin.
BARCODE BBM CHANNELS
RENUNGAN HARIAN
Misteri Dibalik Duka Orang Benar
22 Oktober '14
Wujud Nyata Iman
06 Oktober '14
Kemurahan Hati Adalah Panggilan
23 Oktober '14
Copyright © 2012 All rights reserved. Designed and Developed by GIA Dr. Cipto Semarang