SEPEKAN TERAKHIR
  Jumat, 30 Januari 2015   -HARI INI-
  Kamis, 29 Januari 2015
  Rabu, 28 Januari 2015
  Selasa, 27 Januari 2015
  Senin, 26 Januari 2015
  Minggu, 25 Januari 2015
  Sabtu, 24 Januari 2015
POKOK RENUNGAN
Kekuatan tidak hanya berdasar dari apa yang kita dapatkan, tapi justru dari apa yang kita berikan.
DITULIS OLEH
Ibu Ribkah E. Christanti
Kontributor
Renungan Lain oleh Penulis:
Home  »  Renungan  »  Hilang Justru Bertambah
Hilang Justru Bertambah
Jumat, 01 Februari 2013 | Tema: Komunitas Yang Menebarkan Kasih
Hilang Justru Bertambah
Yesaya 58:1-12
Baterai HP atau laptop, kalau sedang lemah (low battery), ia akan kembali berenergi kalau ada tambahan kekuatan melalui charger. Kalau badan lemas karena lapar, dengan makan maka akan menjadi kenyang dan menjadi kuat kembali. Kalau uang habis, dengan mengambil uang di ATM atau meminta kepada orang tua, maka persediaan uang kita akan kembali terisi. Artinya ada substansi yang ditambahkan sehingga memiliki tenaga ekstra. Namun beberapa kenyataan di atas, beda prinsipnya dengan kekuatan baru versi Yesaya 58:11. Orang akan mendapat kekuatan baru kalau dia justru bisa berbagi atau memberi substansi (isi) dari dalam dirinya.

Dalam ayat yang ke-6 sampai ayat ke-10, disebutkan beberapa tindakan iman yang nyata dalam perbuatan. Misalnya, memerdekakan orang yang teraniaya, memecah roti bagi orang lapar, memberi tumpangan bagi orang yang tak punya rumah, memberi pakaian kepada orang yang telanjang, menyerahkan yang kita inginkan sendiri kepada orang yang lapar, dan lain-lain. Namun ketika kita melakukan hal itu (hal yang nampaknya ”mengurangi”apa yang ada pada kita/merugikan kita), justru mendatangkan kasih karunia dari Tuhan, diantaranya mampu ”menambah” kekuatan baru (ayat 11).

Ayat ini mengingatkan kita pada apa yang dialami oleh Daud ketika dia berada di gua Adulam (1 Samuel 22:1-5). Dalam perikop itu diceritakan bagaimana Daud menjadi pemimpin bagi 400 orang ...selengkapnya »
Adi adalah seorang murid SD yang pandai. Hampir setiap tahun ia mendapat rangking satu di sekolahnya. Karena prestasi tersebut, ia sering mendapatkan hadiah dan penghargaan dari sekolah dan orangtuanya. Tetapi perubahan terjadi ketika dia menginjak kelas 6. Dari awal semester para guru berulangkali memberi semangat kepara murid kelas 6 untuk rajin belajar agar lulus ujian. Semua teman Adi belajar dengan keras, namun berbeda dengan si Adi. Dia justru santai dan banyak menggunakan waktunya untuk bermain PS dan HP. Setiap kali ditanya oleh ibunya apa dia sudah belajar, Adi selalu menjawab, “Sudah, Bu. Kan soal ujiannya hanya pengulangan, Adi pasti bisa kerjakan. Jadi ibu tenang aja.“ Ketika ujian selesai dan hasilnya dibagikan, semua sangat kaget dan tidak percaya dengan hasil yang diperoleh Adi. Dia mendapatkan nilai paling rendah. Adi sangat kecewa dan malu, sebab ia dikenal sebagai bintang kelas namun sekarang menjadi juru kunci dalam nilai. Kisah si Adi menunjukkan kecenderungan berpuas diri dengan pencapaian yang telah diraih, sehingga sering melupakan yang namanya evaluasi dan meningkatkan kemampuan lebih dari sebelumnya. Hal inilah yang yang disebut keenakan dalam zona nyaman. Ketika kita tidak mau keluar dari zona nyaman, maka kita akan menjadi orang yang tertinggal. Ketika kita hanya bertahan sebagai orang Kristen yang hanya rajin ke gereja setiap minggunya, maka kita hanya akan menjadi jemaat yang ketinggalan. Sebagai murid kristus kita harus berbuah dan mau diubahkan ke arah Kristus, yaitu melakukan kehendak Tuhan dengan rajin merenungkan firman Tuhan, berdoa, melayani, dan bahkan bisa mengajar. Jangan hanya puas menjadi orang Kristen, tetapi teruslah bertumbuh dan semakin produktif. Oleh karena itu, jadikan kekristenan kita lebih bermakna. Jangan kita berpuas dengan berkat-berkat Tuhan saja, namun jadilah semakin berbuah. Dan tentunya semakin disempurnakan seperti Kristus. Kiranya Tuhan Yesus menolong kita.
2 Petrus 1:8-11 Karena itu, saudara-saudaraku, berusahalah sungguh-sungguh, supaya panggilan dan pilihanmu makin teguh. Sebab jikalau kamu melakukannya, kamu tidak akan pernah tersandung. (ayat 10) Pada saat seorang anak dalam masa belajar berjalan, dia akan sering mengalami jatuh bangun. Itu merupakan sesuatu yang wajar. Tidak ada anak yang langsung bisa berjalan tanpa pernah terjatuh. Semua anak pernah mengalami jatuh dan bangun. Tetapi seiring dengan pertambahan usianya, dia akan semakin bertambah kuat dan mampu menjaga keseimbangan badannya. Dia menjadi semakin bisa berjalan dengan mantap dan jarang terjatuh. Pengalaman jatuh bangun membuatnya semakin terlatih dalam berjalan. Demikianlah Tuhan menghendaki supaya kita menjadi semakin bertambah teguh dalam iman kita. Mungkin di tahun yang lalu kita masih sering jatuh dan bangun. Tetapi seiring dengan bertambahnya usia rohani kita, maka kita harus semakin teguh dalam iman. Kita harus semakin mampu berjalan dengan mantap dan semakin jarang terjatuh. Agar supaya kita dapat berjalan dengan mantap dan tidak mudah jatuh, maka kita membutuhkan asupan makanan rohani yang sehat. Kita perlu membaca dan mendengar Firman Tuhan secara teratur untuk menunjang pertumbuhan rohani kita. Asupan makanan rohani yang sehat dan teratur akan membuat otot-otot rohani kita bertumbuh menjadi makin kuat. Selain itu pengalaman jatuh bangun adalah sumber pelajaran agar makin bijak. Orang yang bijak adalah orang yang mau belajar dari pengalaman kejatuhannya, sehingga makin bijak. Tetapi orang bodoh selalu jatuh di dalam kesalahan yang sama. Saya berharap tahun ini akan menjadi tahun keberhasilan bagi kita semua. Sebab apabila semuanya itu ada padamu dengan berlimpah-limpah, kamu akan dibuatnya menjadi giat dan berhasil dalam pengenalanmu akan Yesus Kristus, Tuhan kita. (ayat 8) Tuhan memberkati.
Apa yang pertama kali yang biasa dilakukan orang jika remote TV tidak berfungsi dengan baik pada saat dipakai (dipencet) untuk mengganti saluran siaran TV? Pertanyaan ini pernah saya lontarkan kepada beberapa orang dan jawabannya beraneka ragam. Ada yang menjawab, “Akan saya pencet berulang-ulang sampai bisa dipakai.” Yang lain menjawab, “Saya akan cek baterainya.” Serta ada pula yang menjawab, “Saya akan pindah tempat duduk, atau berusaha mendekat supaya remote yang saya pakai bisa berfungsi lagi.” Namun tahukah kita, jawaban terbanyak atas pertanyaan ini adalah “Jika remote TV saya tidak berfungsi dengan baik saat digunakan, maka hal yang pertama kali akan saya lakukan adalah remote tv akan saya ketok-ketokan atau saya pukul-pukulkan ke tangan atau benda lainnya.” Hmmm... jawaban terakhir ini mungkin adalah hal yang paling sering kita lakukan, bukan? Sadarkah kita bahwa seringkali kita melakukan sebuah tindakan yang menjadi kebiasaan, namun sebenarnya tidak tepat atau salah? Seperti contoh di atas, saat remote TV kita tidak dapat berfungsi dengan baik, maka sebagian orang akan dengan segera mengetok-ketok remote tersebut. Padahal jika kita pikir-pikir secara nalar, apa pengaruhnya? Bukankah dengan memukul-mukul remote justru akan berpotensi merusak remote itu? Mengapa hal ini sering terjadi dalam kehidupan kita? Jawabannya sederhana, karena kita tidak mau repot atau malas untuk membaca buku panduan yang telah tersedia dalam setiap pembelian barang-barang elektronik. Membaca, memahami dan menjalankan buku petunjuk sebenarnya adalah hal sederhana, namun sangat penting manfaatnya. Jika tidak dilakukan akan membuat kita kebingungan atau bahkan cenderung dapat berakibat fatal. Hidup manusia pun juga sebenarnya sesederhana itu. Jika kita bersedia untuk membaca, memahami dan menjalankan “buku petunjuk kehidupan”, maka langkah hidup kita akan aman dan kita akan menuju ke keberhasilan. Apakah yang dimaksud dengan “buku petunjuk kehidupan” itu? “Buku petunjuk kehidupan” adalah Firman Tuhan. Alkitab yang kita miliki adalah sebuah petunjuk hidup yang luar biasa. Di dalamnya tertulis berbagai nasihat, pesan, motivasi, teguran, harapan dan bahkan langkah-langkah menuju kepada kesuksesan. Saat kita membaca, memahami dan menjalankan Firman itu, maka Tuhan akan memberi “penerangan” bagi hidup kita agar berhasil. Yosua adalah salah satu contoh orang sukses yang melakukan hal ini. Siapakah Yosua? Yosua adalah seseorang yang diberi mandat untuk menggantikan Musa memimpin umat Israel masuk ke tanah perjanjian, yaitu tanah Kanaan. Jika dibandingkan dengan Musa, Yosua jelas “kalah jauh”. Musa adalah orang terpelajar, terdidik, dan terlatih. Wibawa Musa pun juga tidak diragukan lagi. Bangsa Israel sangat menghormati Musa. Sedangkan Yosua, dia hanyalah orang “biasa” dari kalangan bangsa Israel. Jika kita melihat perbandingan ini, kita pantas meragukan Yosua untuk memimpin bangsa Israel. Namun lihatlah janji Tuhan. Tuhan berjanji akan menjadikan Yosua pemimpin Israel dan semua tempat yang dipijaknya akan menjadi milik Israel (ayat 3, 6). Luar biasa bukan? Semua janji itu akan diberikan jika Yosua berjalan dalam Firman Tuhan. Langkah hidupnya akan dibuat berhasil saat Yosua melakukan hal ini (ayat 7-8). Sederhana bukan? Marilah raih keberhasilan di tahun 2015 dengan cara membaca, memahami dan menjalankan Firman-Nya.
Di masa Dinasti Qi di Tiongkok, ada seorang perdana menteri yang terkenal dengan kecekatan dan kerja kerasnya. Namanya Tian Ji. Suatu kali ia menerima 100 tael emas dari salah seorang koleganya karena dianggap sudah menolongnya. Ia menolak berkali-kali. Namun karena dipaksa berulang kali, ia menerimanya dengan berat hati. Begitu sampai di rumah, ia memberikan emas tersebut kepada ibunya. Namun, mengetahui hal tersebut, sang ibu langsung murka. Ia mengatakan bahwa jumlah tersebut setara dengan pendapatannya sebagai perdana menteri setelah bekerja tiga tahun. “Kamu merampok uang orang atau mendapat sogokan karena kedudukanmu?” tanya ibunya dengan nada marah.Tian Ji tertunduk malu. Ia pun mendapat banyak nasihat dari ibunya. “Sebagai orang terpelajar, seseorang harus mengatur perilakunya dengan penuh kewaspadaan. Ia juga harus bisa menjaga nama baiknya dan tidak akan pernah mengambil apa yang bukan menjadi miliknya. Seorang terpelajar juga tidak boleh punya hal yang disembunyikan, sebagaimana dia tidak pernah curang dan mengambil keuntungan dari orang lain. Seorang terpelajar akan menolak hal yang mencurigakan dan menolak sogokan. “Kamu bertanggung jawab terhadap negeri ini, maka kamu harus memberikan contoh yang baik kepada semua orang,” lanjut sang ibu. “Tapi saat ini kamu sudah menerima barang yang bukan hakmu. Kamu telah berkhianat pada amanah yang diberikan dan rakyatmu. Kamu benar-benar telah mengecewakanku. Sekarang, kamu harus mengembalikan emas tersebut, dan mintalah hukuman kepada raja!” seru ibunya. Tian Ji merasa sangat malu pada dirinya sendiri setelah mendapat teguran keras dari ibunya. Dia pun segera mengembalikan emas tersebut. Ia juga segera menghadap baginda raja untuk mengakui kesalahan yang telah diperbuat, memohon hukuman, sembari mengajukan pengunduran diri karena malu telah berbuat cela. Mengetahui hal tersebut, sang raja memuji betapa tinggi moralitas yang diajarkan ibu kepada Tian Ji. “Aku mengampunimu, Tian Ji, atas apa yang kau perbuat.” Raja bahkan kemudian membuat perintah kepada seluruh negeri untuk belajar moral dari ibu Tian Ji. Sebab ia merasa seorang ibu yang bisa meletakkan dasar moral bagi anaknya akan mampu menjadi contoh yang luar biasa. Sejak kejadian itu, Tian Ji makin meningkatkan standar kejujuran dan kebaikan di negerinya. (Disadur dari www.andriewongso.com/articles) Dari kisah tersebut, kita bisa belajar bahwa apa yang “ditanam” sang ibu pada Tian Ji menjadi “buah” kebaikan yang berlaku selamanya. Bahkan “tanaman” itu terus berkembang. Inilah salah satu bentuk makna bahwa apa yang kita tanam akan kita tuai. Maka kalau ingin mendapat banyak kebaikan, taburlah kebaikan. Jika ingin sukses, bantu jugalah orang lain untuk sukses. Jika ingin meraih kebahagiaan, berbagilah untuk memperbesar dampak kebahagiaan
BARCODE BBM CHANNELS
RENUNGAN HARIAN
Bukan Instan
06 Januari '15
Anak Tangga Ketekunan
27 Januari '15
Kurang Apa Lagi?
12 Januari '15
Copyright © 2012 All rights reserved. Designed and Developed by GIA Dr. Cipto Semarang