SEPEKAN TERAKHIR
  Senin, 23 April 2018   -HARI INI-
  Minggu, 22 April 2018
  Sabtu, 21 April 2018
  Jumat, 20 April 2018
  Kamis, 19 April 2018
  Rabu, 18 April 2018
  Selasa, 17 April 2018
POKOK RENUNGAN
Kekuatan tidak hanya berdasar dari apa yang kita dapatkan, tapi justru dari apa yang kita berikan.
DITULIS OLEH
Ibu Ribkah E. Christanti
Kontributor
Renungan Lain oleh Penulis:
Home  »  Renungan  »  Hilang Justru Bertambah
Hilang Justru Bertambah
Jumat, 01 Februari 2013 | Tema: Komunitas Yang Menebarkan Kasih
Hilang Justru Bertambah
Yesaya 58:1-12
Baterai HP atau laptop, kalau sedang lemah (low battery), ia akan kembali berenergi kalau ada tambahan kekuatan melalui charger. Kalau badan lemas karena lapar, dengan makan maka akan menjadi kenyang dan menjadi kuat kembali. Kalau uang habis, dengan mengambil uang di ATM atau meminta kepada orang tua, maka persediaan uang kita akan kembali terisi. Artinya ada substansi yang ditambahkan sehingga memiliki tenaga ekstra. Namun beberapa kenyataan di atas, beda prinsipnya dengan kekuatan baru versi Yesaya 58:11. Orang akan mendapat kekuatan baru kalau dia justru bisa berbagi atau memberi substansi (isi) dari dalam dirinya.

Dalam ayat yang ke-6 sampai ayat ke-10, disebutkan beberapa tindakan iman yang nyata dalam perbuatan. Misalnya, memerdekakan orang yang teraniaya, memecah roti bagi orang lapar, memberi tumpangan bagi orang yang tak punya rumah, memberi pakaian kepada orang yang telanjang, menyerahkan yang kita inginkan sendiri kepada orang yang lapar, dan lain-lain. Namun ketika kita melakukan hal itu (hal yang nampaknya ”mengurangi”apa yang ada pada kita/merugikan kita), justru mendatangkan kasih karunia dari Tuhan, diantaranya mampu ”menambah” ...selengkapnya »
Pak Petrus seorang aktivis pelayanan sebuah Gereja terserang penyakit kangker lever akut. Menurut diagnosis dokter usianya tinggal tiga bulan lagi. Namun karena kuasa mujizat Allah, pak Petrus dianugrahi Tuhan waktu 15 tahun lagi. Setelah dirinya sembuh dan mendapatkan kesempatan hidup selama 15 tahun, waktu tersebut tidak dia sia-siakan. Pak Petrus semakin giat melakukan pemberitaan Injil bagi jiwa-jiwa yang belum mengenal Tuhan Yesus. Selama periode 15 tahun pak Petrus berhasil memenangkan banyak jiwa-jiwa baru melalui kesaksian hidupnya sendiri. Sebagai orang percaya kita mempercayai ada kehidupan kekal setelah kematian. Kita juga meyakini bahwa Tuhan Yesus akan datang kembali ke dunia untuk kedua kalinya. Kita juga yakin bahwa hidup kita di dunia ada batasnya. Oleh sebab itu renungan kita hari ini berbicara tentang bagaimana kita mempergunakan waktu yang tersisa dari kehidupan kita saat ini [ayat 2]. Kita juga belajar dari Mazmur 90:10 bahwa setiap kita mendapatkan jatah kehidupan antara 70-80 tahun. Berarti saat ini kita memiliki waktu yang tersisa dari kehidupan kita untuk berjaga-jaga dan mempersiapkan diri sebaik mungkin untuk memasuki kekekalan atau untuk menyambut kedatangan Tuhan Yesus kedua kalinya. Hal-hal apakah yang harus kita lakukan dengan sisa waktu yang tersedia saat ini ? Pertama, Bersikaplah militan terhadap dosa apapun yang menggodai diri kita untuk melakukannya [ayat 1-3]. Kita harus tegas berani bersikap melawan kuasa dosa yang mencoba menggoda diri kita. Tentu saja ini merupakan perjuangan hidup yang tidak mudah bagi kita. Karena selama bertahun-tahun kita sudah membiasakan diri untuk menuruti hawa nafsu dosa apalagi sekarang kita harus berhenti dari kebiasaan tersebut. Contoh, orang kecanduan rokok, pornografi, miras, berjudi akan sangat susah berhenti apabila dalam dirinya sendiri tidak ada tekad dan komitmen untuk berhenti dari kebiasaan buruk tersebut. Makanya ayat 2 berkata agar kita tidak menuruti kedagingan kita, tetapi menggunakan sisa waktu kita untuk melakukan kehendak Allah. Salah satu cara melakukan kehendak Allah kita harus berani sangkal diri dan pikul salib untuk mengikuti Tuhan Yesus Kristus. Kedua, Kuasailah dirimu supaya kita mampu melakukan kehendak Allah [ayat 7 – 11]. Untuk bisa hidup tenang, berdoa dan mengasihi seseorang dibutuhkan penguasaan diri. Terlebih untuk mengasihi dan berdoa bagi orang yang menjadi musuh kita, yang menyakiti hati kita, yang telah mengecewakan kita pada zaman ini. Dunia yang sedang bergejolak dan penuh persaingan serta permusuhan hanya dapat dimenangkan oleh pribadi-pribadi yang dapat menguasai diri. Tanpa penguasaan diri, kita akan terseret arus masuk kepusaran dunia yang penuh hawa nafsu saat ini. Oleh sebab itu pergunakanlah waktu yang tersisa untuk berpikir dan melakukan hal-hal yang bernilai kekekalan.
Berdoa adalah kegiatan terpenting dalam kehidupan Gereja. Doa dikatakan sebagai nafas orang beriman, artinya adalah bahwa berdoa merupakan bagian terpenting yang tidak dapat ditinggalkan. Seperti manusia pada umumnya bernafas adalah bukti bahwa manusia itu hidup, demikian juga dengan berdoa maka Gereja akan tampak sebagai Gereja yang hidup. Di dalam doa maka terungkap bahwa orang percaya mengakui kebesaran dan kedaulatan Allah. Seperti dalam doa Tuhan Yesus yang selalu berserah diri kepada kedaulatan Bapa, “...tetapi janganlah seperti yang Kukehendaki, melainkan seperti yang Engkau kehendaki.” [Mat. 26:39]. Pertanyaanya adalah bagaimana supaya doa-doa kita menjadi doa yang berkualitas seperti doa Tuhan Yesus? Supaya doa-doa kita menjadi doa yang berkualitas, maka berdoalah setiap waktu di dalam Roh, dan berdoa yang tidak ada putus-putusnya untuk segala orang Kudus [Ef.6:18]. Kata “di dalam Roh” [en pneumatikos] bukan menunjuk pada “glosolali” atau bahasa lidah, tetapi bermakna berdoa yang ada dalam pimpinan kuasa Roh Kudus. Berdoa yang berkualitas adalah berdoa yang berserah penuh dalam pimpinan kuasa Roh, sehingga doa-doa kita tidak berorientasi pada doa-doa kedagingan yaitu ungkapan-ungkapan yang berkutat pada permohonan untuk diri sendiri. Doa yang ada dalam pimpinan Roh Kudus akan membawa kita semua pada penyembahan kepada Allah dan kita akan masuk dalam keintiman dengan Bapa, masuk dalam hadirat Allah. Dalam doa seperti itulah kita akan dipimpin oleh Roh untuk berkata “kehendakMulah yang jadi bukan kehendakku”. Di dalam doa yang berkualitas itu [dipimpin Roh] maka doa-doa syafaat selalu mendapat porsi yang baik [berdoa untuk segala orang kudus atau berdoa untuk pekabaran Injil]. Baiklah saudara-saudara, kita semua akan terus berdoa dalam pimpinan Roh Kudus. Bagaimana supaya kita bisa berdoa dalam pimpinan Roh Kudus? Mintalah Roh Kudus membimbing saudara ketika berdoa. Sebenarnya apa yang bisa kita berikan kepada Tuhan? Semuanya adalah milik Tuhan, Dia tidak butuh apa-apa dari kita. Tetapi Tuhan senang apabila anak-anak-Nya dekat dengan-Nya, dekat dengan Bapa, ya melalui doa. Bapa senang kalau anak-anak-Nya pada nurut, mengikuti kehendak-Nya dan untuk menjadi anak-anak penurut Bapa maka mereka harus selalu menghampiri dan mendekat, ya melalui doa. Lalu bagaimana dengan permohonan doa-doa pribadi? Jangan kuatir, kalau kita dekat dengan Bapa, maka Bapa mengetahui segala apa kebutuhanmu, tanpa kita meminta-minta Bapa kita yang bertanggungjawab penuh atas hidup kita. Amin.
Dalam sebuah cerita ilustrasi di dalam kelas, seorang guru mulai bercerita tentang kehidupan seekor Koala. Koala ini sedang belajar melakukan yang terbaik atas apa yang diperbuatnya. Pertama-tama, ketika masih kecil, seekor Koala belajar untuk melompat, lari, dan bahkan bernyanyi. Ia terus mencoba sampai bisa. Setelah itu ia juga mencoba sesuatu yang baru, mungkin banyak waktu yang diperlukan untuk mampu melakukannya. Namun ia tetap mencoba dan belajar melakukan sesuatu yang terbaik. Bahkan ia melatih dirinya sampai ia mampu menguasainya. Ia selalu mencoba lakukan yang terbaik dengan bekerja keras. Apa yang ia telah mulai, ia berusaha untuk tetap menyelesaikan meskipun kadang tidak menyenangkan. Prinsip yang dimiliki seekor Koala ini adalah tetap melakukan yang terbaik dari setiap kegiatan yang dilakukannya. Kitab Amsal 14 merupakan salah satu bagian dari kitab Amsal yang berisikan ucapan-ucapan bijak atau yang sering kita sebut hikmat. Hikmat adalah pengetahuan dan pengertian akan apa yang benar, adil, tulus, dan jujur yang tentunya berasal dari Tuhan dan bersumber kepada Tuhan. Khusus di ayat 23, yaitu dalam tiap jerih payah ada keuntungan. Setiap manusia yang hidup pasti tidak pernah terlewatkan dari sebuah kegiatan. Baik dalam pendidikan, pekerjaan, dan pelayanan. Semua itu membutuhkan tenaga, pemikiran, dan kerja keras. Ayat ini mengingatkan bahwa setiap jerih lelah yang dilakukan akan mendatangkan keuntungan. Bukankan tahun ini target jemaat Tuhan adalah melakukan yang terbaik untuk keselamatan jiwa-jiwa? Itu berarti ada sesuatu yang harus dikerjakan, ada hal-hal yang harus diupayakan supaya dapat terpenuhi. Dari apa yang akan kita kerjakan tersebut membutuhkan yang namanya jerih lelah, butuh pengorbanan dan butuh tindakan. Melakukan yang terbaik tidak bisa hanya berdiam diri, melainkan harus berjerih lelah untuk menjangkau jiwa-jiwa bagi Tuhan. Dan pastinya dalam berjerih payah itu, butuh hikmat dari Tuhan. Saudara terkasih, kita telah dipanggil Allah untuk turut bekerja dalam ladang pelayanan di dunia ini. Kita dipanggil untuk melakukan perintah Allah, yaitu mencari dan menyelamatkan yang hilang. Kita juga alat kepanjangan tangan Tuhan untuk memberitakan Injil Tuhan. Oleh sebab itu, mari belajar melakukan yang terbaik dari setiap bagian kehidupan kita untuk menghasilkan buah yang berdampak bagi sesama. Bahkan sampai mendatangkan keuntungan bagi kemuliaan nama Tuhan.
’Sayap Tanah Air’, ’Pelindung Tanah Air’, atau ’Sayap Pelindung Tanah Airku’ itulah makna semboyan TNI AU yang pada tanggal 9 April diperingati ulang tahunnya, berbarengan dengan peringatan Hari Penerbangan Nasional. Tidak banyak yang mengenal jati diri TNI AU, kebanyakan orang sebatas mengasosiasikan TNI AU dengan sosok pilot Angkatan Udara berseragam gagah yang piawai bermanuver dengan pesawat tempur. Padahal TNI AU memiliki fungsi dan peran yang jauh lebih penting daripada sekedar tampilan luarnya. Begitu juga dengan kehadiran Gereja di tengah dunia. Banyak orang hanya mengenal Gereja sebagai kumpulan orang yang beribadah setiap hari Minggu di dalam bangunan yang diberi simbol salib. Gereja sekedar diasosiasikan dengan agama Kristen dan Katolik. Padahal fungsi dan peran Gereja di dalam dunia jauh lebih penting daripada itu. Sebagai garam dan terang dunia, Gereja memiliki misi untuk mengubah kondisi dunia yang tawar hati dan tak bermakna menjadi berpengharapan; Gereja bertugas merefleksikan segala yang baik dari Tuhan agar umat manusia memuliakan Bapa di surga [Matius 5:16]. Apabila kehadiran Gereja tak memiliki arti bagi dunia, apa bedanya ia dengan garam yang tak berguna selain untuk dibuang? Pun jika Gereja menyembunyikan terang yang ada padanya, lalu apa fungsi yang dijalankannya di dalam dunia? Ibarat sebuah rumah, Gereja janganlah seperti rumah yang terang-benderang namun tertutup rapat pintu dan jendelanya sehingga orang di luar tak dapat melihat cahayanya. Hendaklah Gereja memancarkan terang sehingga orang-orang yang hidupnya tersesat dituntun oleh cahaya itu menuju terang-Nya yang ajaib.
BARCODE BBM CHANNELS
RENUNGAN HARIAN
Memuliakan Tuhan
04 April '18
Berhenti Menjadi Gelas
07 April '18
Swa Bhuwana Paksa
09 April '18
Copyright © 2012 All rights reserved. Designed and Developed by GIA Dr. Cipto Semarang