SEPEKAN TERAKHIR
  Minggu, 19 April 2015   -HARI INI-
  Sabtu, 18 April 2015
  Jumat, 17 April 2015
  Kamis, 16 April 2015
  Rabu, 15 April 2015
  Selasa, 14 April 2015
  Senin, 13 April 2015
POKOK RENUNGAN
Kekuatan tidak hanya berdasar dari apa yang kita dapatkan, tapi justru dari apa yang kita berikan.
DITULIS OLEH
Ibu Ribkah E. Christanti
Kontributor
Renungan Lain oleh Penulis:
Home  »  Renungan  »  Hilang Justru Bertambah
Hilang Justru Bertambah
Jumat, 01 Februari 2013 | Tema: Komunitas Yang Menebarkan Kasih
Hilang Justru Bertambah
Yesaya 58:1-12
Baterai HP atau laptop, kalau sedang lemah (low battery), ia akan kembali berenergi kalau ada tambahan kekuatan melalui charger. Kalau badan lemas karena lapar, dengan makan maka akan menjadi kenyang dan menjadi kuat kembali. Kalau uang habis, dengan mengambil uang di ATM atau meminta kepada orang tua, maka persediaan uang kita akan kembali terisi. Artinya ada substansi yang ditambahkan sehingga memiliki tenaga ekstra. Namun beberapa kenyataan di atas, beda prinsipnya dengan kekuatan baru versi Yesaya 58:11. Orang akan mendapat kekuatan baru kalau dia justru bisa berbagi atau memberi substansi (isi) dari dalam dirinya.

Dalam ayat yang ke-6 sampai ayat ke-10, disebutkan beberapa tindakan iman yang nyata dalam perbuatan. Misalnya, memerdekakan orang yang teraniaya, memecah roti bagi orang lapar, memberi tumpangan bagi orang yang tak punya rumah, memberi pakaian kepada orang yang telanjang, menyerahkan yang kita inginkan sendiri kepada orang yang lapar, dan lain-lain. Namun ketika kita melakukan hal itu (hal yang nampaknya ”mengurangi”apa yang ada pada kita/merugikan kita), justru mendatangkan kasih karunia dari Tuhan, diantaranya mampu ”menambah” kekuatan baru (ayat 11).

Ayat ini mengingatkan kita pada apa yang dialami oleh Daud ketika dia berada di gua Adulam (1 Samuel 22:1-5). Dalam perikop itu diceritakan bagaimana Daud menjadi pemimpin bagi 400 orang ...selengkapnya »
Perawakannya tinggi besar. Ia suka bercerita dan melontarkan lawakan. Meskipun demikian tak banyak siswa yang menyukai guru ini. Pasalnya, gurauan yang dilontarkannya sering kali membuat merah telinga. Entah itu berupa olok-olok terhadap agama lain yang tak dianutnya, ejekan terhadap siswa-siswi di kelasnya, juga lawakan yang menjurus pada hal yang tak pantas. Lebih miris lagi, sang guru mengampu matapelajaran Pendidikan Moral Pancasila [sekarang menjadi Pendidikan Kewarganegaraan] di SMP kami saat itu. Ganjil rasanya. Di satu sisi sang guru mengajarkan kami nilai-nilai yang luhur, menjunjung tinggi moral dan etika, saling menghormati dan bertoleransi. Di sisi lain ia nyata-nyata melanggar semua yang telah diajarkannya sendiri. Mungkin sang guru menganggap kami hanyalah sekelompok siswa berseragam putih biru yang belum mampu berpikir kritis dan menilai. Ia tak sadar bahwa murid-muridnya meringis dan geleng-geleng kepala melihat sepak terjangnya. Kecaman Tuhan Yesus terhadap orang Farisi dan para ahli Taurat sungguh mencerminkan situasi ini. ’Sebab itu turutilah dan lakukanlah segala sesuatu yang mereka ajarkan kepadamu, tetapi janganlah kamu turuti perbuatan-perbuatan mereka, karena mereka mengajarkannya tetapi tidak melakukannya. Mereka mengikat beban-beban berat, lalu meletakkannya di atas bahu orang, tetapi mereka sendiri tidak mau menyentuhnya.’ [Matius 23:3-4] Tentu kita sebagai orang beriman tak ingin perkataan Tuhan Yesus itu ditujukan kepada diri kita juga. Oleh karena itu marilah kita menghidupi apa yang kita imani. Menghidupi apa yang kita ajarkan. Menyelaraskan tindakan dan ucapan. Agar bukan celaan yang kita dapatkan, melainan perkenanan di hati Tuhan.
Dalam kehidupan sehari-hari ada banyak hal sederhana yang sebenarnya justru penting. Sayang banyak orang yang lupa melakukannya. Misalnya: membuang bungkus permen di tempat sampah, memberi tempat duduk pada ibu hamil atau orang tua di angkutan, bertegur sapa dengan tetangga dekat, menyingkirkan batu atau paku di jalan, hingga sekadar tersenyum pada orang yang kita kenal. Semua itu, sepertinya memang hal yang remeh/kecil, namun jika dilakukan dengan penuh ketulusan akan melahirkan banyak kebaikan. Ketika orangtua mengajarkan terima kasih kepada anaknya setelah diberi atau di tolong atau mengucapkan maaf jika melakukan kesalahan atau kekeliruan, bukankah itu sesuatu yang mengubahkan seseorang atau banyak orang. Sebab itu, kita perlu menjadi insan yang selalu mau berinisiatif, termasuk pada hal-hal remeh tersebut. Sebab dari hal yang kecil, perbuatan baik bisa terus menular. Sekadar menolong satu orang dengan perbuatan ringan akan melahirkan kebahagiaan. Apalagi jika rasa bahagia itu terus menular untuk mendorong perbuatan baik lainnya. Sehingga satu inisiatif perbuatan baik akan melahirkan contoh nyata kebaikan lainnya. Melakukan sesuatu yang baik ditengah-tengah kehidupan yang tidak baik adalah suatu tindakan yang dapat mempengaruhi keegoisaan yang semakin banyak berkembang di zaman modern ini. Merasa tidak membutuhkan sesama dan hidup independen merupakan potret yang sering kita jumpai. Oleh karenanya perbuatan yang menurut orang sepele hendaknya kita lakukan. Sebab jika kita hendak mewarnai sekeliling dengan sesuatu yang baik, maka kita harus terus berbuat baik meskipun tidak ada yang menilai. Oleh karena itu mari kita selalu penuh inisiatif untuk berbuat baik setiap hari. Lakukan hal-hal kecil yang penuh kebaikan. Lakukan setiap saat dan lakukan dengan ketulusan. Niscaya lingkungan sekitar kita akan dipenuhi keindahan ‘bunga’ kehidupan yang membahagiakan.
Dalam renungan hari ini kita akan belajar dari seorang tokoh Alkitab yang hidupnya berkenan kepada Allah. Kehidupannya patut kita teladani. Dia adalah ASA , raja Yehuda, keturunan dari Raja Daud. Apa saja yang dilakukan Raja Asa yang patut kita teladani? Pertama, Asa melakukan apa yang baik dan benar di mata Tuhan [ayat 2, 3]. Menjauhkan mezbah penyembahan berhala, memecahkan tugu-tugu berhala dan menghancurkan tiang-tiang berhala. Berhala adalah kekejian di mata Tuhan. Kamus Besar Bahasa Indonesia mengatakan bahwa berhala adalah sesuatu yang didewakan yang disembah dan dipuja. Masih adakah berhala dalam kehidupan kita? Bila kita rindu hidup berkenan di hadapan Tuhan, mari kita buang apa yang selama ini menjadi “berhala” dalam hidup kita! Kedua, Asa memerintahkan orang Yehuda supaya mereka mencari Tuhan , mematuhi hukum dan perintah [ayat 4, 7]. Di dalam kehidupannya sebagai raja, Asa senantiasa mencari Tuhan. Bahkan rakyatnya pun ia perintahkan untuk mencari Tuhan. Rindukah kita selalu mencari Tuhan dalam setiap aspek kehidupan kita? Menjadi berkat bagi orang-orang yang ada di sekeliling kita, membawa mereka yang mungkin sudah meninggalkan Tuhan kembali berbalik mencari Tuhan. Ketiga, Asa mengandalkan Tuhan [ayat 11]. Asa mengakui kedaulatan dan kekuasaan Tuhan dengan bersandar kepada Tuhan ketika ia menghadapi peperangan. Ia berseru “Ya Tuhan” karena menyadari keterbatasannya. Asa tahu bahwa tanpa pertolongan Tuhan mereka tidak akan mampu menghadapi musuh di dalam peperangan. Dengan mengandalkan Tuhan akhirnya Asa menang dari musuh. Saat kita menghadapi “peperangan/pergumulan” hidup, mari kita berseru kepada dan bersandar kepada Tuhan seperti yang dilakukan Raja Asa. Dengan pertolongan dan kekuatan dari Tuhan melalui Roh Kudus-Nya, mari kita teladani apa yang dilakukan Raja Asa dalam hidupnya agar hidup kita berkenan di hadapan Tuhan. Amin.
Dari kecil kita diajar ilmu matematika bahwa 1 + 1 = 2; 2 - 1 = 1. Artinya, apa yang kita miliki akan semakin banyak jika terus ditambahkan. Sebaliknya, apa yang kita miliki akan semakin sedikit jika dikurangi. Ilmu pasti tersebut telah mengakar kuat dan membentuk pola pikir kita. Akibatnya, seringkali secara otomatis kita berpikir jika kita memberi atau membagi sesuatu, maka yang kita miliki akan semakin sedikit dan berkurang. Apakah hal itu salah? Tentu tidak salah, tetapi tidak alkitabiah. Alkitab tidak menentang ilmu pasti tersebut, tetapi Alkitab memiliki prinsip yang lain. Amsal 11:24 menyatakan: “Ada yang menyebar harta, tetapi bertambah kaya, ada yang menghemat secara luar biasa, namun selalu berkekurangan.” Tentunya pernyataan tersebut tidak bisa diterima secara ilmu matematika. Secara logika matematika, menyebar harta berarti harta akan berkurang dan semakin sedikit; menghemat berarti hartanya akan bertambah dan semakin banyak. Tetapi prinsip Alkitab menjungkirbalikkannya, menyebar justru yang semakin bertambah banyak, sedangkan menghemat secara luar bisa justru semakin berkurang. Mengapa bisa demikian? Pertama, karena kemurahan hati kita akan mendatangkan kemurahan dari Allah, “Berbahagialah orang yang murah hatinya, karena mereka akan beroleh kemurahan.” Kedua, karena apa yang kita tabur akan kita tuai, “Karena apa yang ditabur orang, itu juga yang akan dituainya.” Ini adalah prinsip pelipatgandaan yang dikerjakan oleh Allah, “Ia yang menyediakan benih bagi penabur, dan roti untuk dimakan, Ia juga yang akan melipatgandakannya dan menumbuhkan buah-buah kebenaranmu.” Tetapi kita jangan salah memahami prinsip ini. Ini bukanlah prisip pelipatgandaan seperti investasi saham. Bukan pula pelipatgandaan seperti memenangkan sebuah lotre. Allah melipatgandakan [menambah-nambahkan] supaya kita semakin murah hati; semakin banyak menabur; semakin banyak memberi dan membagi. Artinya fokus perhatian dan tugas kita bukan pada hasil pelipatgandaan, tetapi bagaimana kebaikan dan kemurahan hati kita semakin bertambah jumlahnya, intensitasnya, jangkauannya, dan bahkan dampaknya.
BARCODE BBM CHANNELS
RENUNGAN HARIAN
Mengambil Bagian Dari Kesusahan Pekerjaan Tuhan
26 Maret '15
Jangan Menilai Rupanya
09 April '15
Menikmati Dan Berbagi
25 Maret '15
Copyright © 2012 All rights reserved. Designed and Developed by GIA Dr. Cipto Semarang