SEPEKAN TERAKHIR
  Sabtu, 30 Juli 2016   -HARI INI-
  Jumat, 29 Juli 2016
  Kamis, 28 Juli 2016
  Rabu, 27 Juli 2016
  Selasa, 26 Juli 2016
  Senin, 25 Juli 2016
  Minggu, 24 Juli 2016
POKOK RENUNGAN
Kekuatan tidak hanya berdasar dari apa yang kita dapatkan, tapi justru dari apa yang kita berikan.
DITULIS OLEH
Ibu Ribkah E. Christanti
Kontributor
Renungan Lain oleh Penulis:
Home  »  Renungan  »  Hilang Justru Bertambah
Hilang Justru Bertambah
Jumat, 01 Februari 2013 | Tema: Komunitas Yang Menebarkan Kasih
Hilang Justru Bertambah
Yesaya 58:1-12
Baterai HP atau laptop, kalau sedang lemah (low battery), ia akan kembali berenergi kalau ada tambahan kekuatan melalui charger. Kalau badan lemas karena lapar, dengan makan maka akan menjadi kenyang dan menjadi kuat kembali. Kalau uang habis, dengan mengambil uang di ATM atau meminta kepada orang tua, maka persediaan uang kita akan kembali terisi. Artinya ada substansi yang ditambahkan sehingga memiliki tenaga ekstra. Namun beberapa kenyataan di atas, beda prinsipnya dengan kekuatan baru versi Yesaya 58:11. Orang akan mendapat kekuatan baru kalau dia justru bisa berbagi atau memberi substansi (isi) dari dalam dirinya.

Dalam ayat yang ke-6 sampai ayat ke-10, disebutkan beberapa ...selengkapnya »
Salah satu keadaan yang diperjuangkan manusia sebagai mahluk sosial adalah menjadi bersatu. Biasanya kata bersatu menunjuk pada suatu tujuan untuk kepentingan bersama. Misalnya, kemerdekaan bagi suatu bangsa, kemakmuran suatu bangsa, ataupun kemajuan sebuah kota atau desa. Bahkan dalam keluarga, suatu lembaga terkecil dalam masyarakat pun membutuhkan sebuah kesatuan. Mengapa kesatuan menjadi penting bagi manusia? Karena sejak awal Tuhan menciptakan manusia bukan untuk hidup menyendiri, melainkan hidup dalam kebersamaan. Demikian juga dalam Gereja, Tuhan pernah berjanji akan mendirikan gereja-Nya [Matius 16:18] dan telah digenapi melalui para rasul-Nya yang berjumlah duabelas itu bersatu padu berjuang mengumpulkan orang-orang yang bersedia menerima Yesus yang berawal dari Yerusalem, Yudea, Samaria dan sampai ke ujung bumi. Rasul Paulus, salah satu rasul Yesus Kristus, adalah tokoh gereja mula-mula yang bekerja keras memperjuangkan kesatuan di beberapa jemaat, misalnya Korintus, Roma dan Efesus [Roma 12:4-8; 1 Korintus 12:14-27; Efesus 4:1-16]. Sekalipun rasul Paulus sedang dalam tahanan rumah oleh pemerintah Roma, hal itu tidak menyurutkan semangat untuk berjuang demi sebuah kesatuan jemaat Efesus [ayat 3]. Alasan Paulus adalah di dalam kesatuan jemaat itu ada panggilan bersama untuk satu pengharapan bersama di dalam Kristus [ayat 4]. Ia memberikan dorongan kepada jemaat Efesus untuk menggapai kesatuan jemaat hendaklah masing-masing anggota jemaat saling memiliki kerendahan hati, lemah lembut dan sabar. Tidak cukup hanya itu, supaya kesatuan itu benar-benar terjadi masing-masing anggota jemaat harus mempraktekkan kasih dalam hal saling membantu satu dengan yang lainnya [ayat 2]. Saudara yang terkasih, kita merindukan bersama sebuah kesatuan terjadi di gereja kita, supaya dengan demikian akan terwujud sebuah pengharapan bersama dalam Kristus atau keselamatan. Selain itu kita juga merindukan supaya gereja kita berfungsi sebagaimana yang Tuhan inginkan, yaitu menjadi gereja yang menginjil untuk jiwa-jiwa sehingga gereja kita akan menghasilkan jemaat-jemaat yang baru. Tentu saja dibutuhkan pertumbuhan rohani bersama menjadi jemaat yang dewasa. Caranya belajar bersama-sama untuk rendah hati, lemah lembut, sabar dan mempraktekkan kasih dalam hal saling membantu satu dengan yang lainnya. Mari kita memperjuangkannya bersama, amin.
Gereja adalah persekutuan orang-orang percaya yang dipanggil keluar dari kegelapan menuju kepada terang-Nya yang ajaib. Persekutuan orang-orang pilihan Allah yang berdosa yang telah ditebus dan dimerdekakan dari dosa. Itu artinya di dalam gereja ada sebuah persekutuan yang menciptakan keterikatan hubungan antara anggotanya. Dan hal itu terwujud dalam bentuk saling melayani antara jemaat, seperti saling menguatkan iman, saling menasihati, saling menegur, saling mengajar dan saling menghibur dalam kesesakan. Kodrat alamiah gereja adalah melayani. Namun banyak orang percaya hanya ingin dilayani dan suka dilayani daripada melayani. Tuhan Yesus telah datang ke dunia menjadi manusia, mengambil rupa seorang hamba yang melayani, bukan untuk dilayani. Hal itu merupakan sebuah teladan yang sangat indah dan luar biasa bagi orang percaya. Ia ingin semua orang yang telah dipanggil ke dalam persekutuan yang kudus dengan-Nya agar saling melayani dalam kasih. Jemaat yang terkasih, jika kita rindu untuk melayani Tuhan, mari kita terlibat dalam melayani pekerjaan Tuhan. Tuhan Yesus sendiri telah melayani kita, marilah kita sebagai umat-Nya dengan segenap hati melayani pekerjaan Tuhan yang ada di gereja kita. Masih banyak bagian pelayanan yang bisa kita lakukan di gereja kita, seperti: pelayan musik, paduan suara, visitasi, pendoa dan masih banyaklagi yang lainnya. Tentunya mengambil bagian pelayanan sesuai dengan talenta dan karunia yang berikan. Marilah kita bersama-sama mewujudkan suatu persekutuan yang indah di dalam Kristus Yesus dengan ikut ambil bagian dalam melayani pekerjaan Tuhan.
Allah menciptakan setiap mahluk di bumi ini dengan kekhususannya. Ada yang berenang, ada yang lompat, ada yang melata, ada yang terbang, dsb. Masing-masing memiliki peranan yang dilakukan sesuai dengan apa yang telah Allah tetapkan bagi mereka. Demikian pula dengan manusia, setiap kita secara unik diciptakan oleh Allah untuk melakukan sesuatu yang khusus. Dia merancangkan dengan tepat bagaimana harus melayani-Nya. Lalu Ia membentuk kita untuk tugas tersebut. Kapanpun Allah memberikan tugas untuk dikerjakan, Ia selalu melengkapi kita dengan apa yang kita perlukan, yaitu kelengkapan karunia-karunia rohani yang diberikan kepada masing-masing kita. Namun karunia-karunia Roh yang diberikan Allah kepada orang percaya berfungsi untuk kepentingan dan kesejahteraan bersama. Ada rupa-rupa karunia, tetapi tidak dimaksudkan untuk berdiri sendiri-sendiri. Semuanya saling melengkapi bagi kebaikan bersama. Bagaikan jaring laba-laba, saling terkait satu dengan yang lain dan tidak terpisahkan, saling memberikan keuntungan dan saling melengkapi. Setiap orang percaya yang telah menyadari karunia tertentu yang diterimanya dari Tuhan hendaknya mengembangkannya terus menerus. Namun kita juga perlu menolong sesama yang belum menyadari karunia yang dianugerahkan kepadanya supaya mereka pun dapat mempersembahkannya bagi kepentingan bersama. Rupa-rupa karunia bukan untuk disombongkan apalagi untuk merendahkan orang lain. Sikap sombong dan merendahkan karunia lain yang dimiliki sesama sama halnya dengan merendahkan Allah, Sang Pemberi karunia. Seperti halnya beberapa jemaat di Korintus yang memiliki karunia-karunia khusus dari Tuhan, rupanya menjadi jumawa dan tinggi hati. Sikap mereka yang merasa diri lebih hebat dari anggota jemaat yang lain telah mengganggu persekutuan yang ada. Kebanggaan inilah yang dikritik oleh Rasul Paulus dengan mengatakan bahwa yang berkarya melalui perkara-perkara istimewa yang manusia lakukan adalah Tuhan [ayat 6, 11]. Dan melalui perkara-perkara itu Tuhan menyatakan pelayanan yang membangun kehidupan iman jemaat [ayat 5] untuk kemuliaan-Nya. Karunia Rohani adalah wujud kuasa dan anugerah Allah, bukan kekebalan manusia. Maka praktek karunia rohani seharusnya terfokus untuk melayani Tuhan dan meninggikan-Nya dalam segala maksud kekal-Nya.
Usianya sudah tidak muda lagi, tubuhnya pun tidak sekuat teman-temannya, bahkan masalah kesehatan sering mengganggunya. Sebentar sakit mata, di lain waktu jantungnya bermasalah, berkali-kali jatuh dari motornya, bahkan beberapa kali jiwanya terancam ketika hendak pergi ke gereja. Belum lagi jarak rumah dengan gereja yang menurut saya cukup jauh. Tapi itu semua tidak membuat beliau berniat berhenti atau pensiun dari pelayanannya. Setengah abad lebih dari hidupnya didedikasikannya melayani pekerjaan Tuhan. Bidang yang dilayani tidak terlalu dipandang orang, sangat sederhana. Tetapi kesetiaannya dalam melakukan tugasnya, sungguh membuat saya kagum. Jika kita tidak pandai menyampaikan Firman Tuhan, atau tidak memiliki kecakapan untuk menjadi pemimpin pujian, ataupun suara kita fals dan buta not balok atau not angka. Tidak pede untuk sekedar mengedarkan kantong kolekte, janganlah membuat kita memvonis diri sendiri bahwa “aku tidak punya kemampuan untuk melayani”. Ketika Tuhan menghadirkan kita di dunia ini, Dia sudah pasti memperlengkapi kita dengan karunia. Besar ataupun kecil karunia itu, hebat atau biasa saja, semua bisa dimanfaatkan untuk pelayanan pekerjaan Tuhan, asal kita melakukannya dengan sungguh- sungguh dan setia. Dan sekecil apapun pelayanan kita, jangan membuat kita berkecil hati karena Dia melihat sikap hati kita dalam melayani-Nya. Pikirkan apa yang bisa kita lakukan! Berdoa untuk orang lain? Senang meladeni anak-anak? Bisa mengetik? Bisa mengoperasikan komputer? Bisa bermain musik? Bisa bernyanyi? Bisa menyampaikan Firman? Mulailah mengambil keputusan untuk mengembangkan karunia yang Tuhan sudah berikan kepada kita, supaya bermanfaat bagi sesama, bagi gereja, dan sudah pasti bagi kita sendiri. Dan lihatlah ketika kita setia melakukan perkerjaan yang kecil sekalipun, Dia pasti mengapresiasi dan mengatakan, “Baik sekali perbuatanmu itu, hai hambaku yang setia, engkau telah setia dalam perkara kecil, aku akan memberikan kepadamu tanggung jawab dalam perkara yang besar. Masuklah dan turutlah dalam kebahagiaan tuanmu.”
BARCODE BBM CHANNELS
RENUNGAN HARIAN
Karunia Roh Kudus Sebagai Kesaksian Kita
06 Juli '16
Menjadi Lebih Utuh
22 Juli '16
Bisa Melayani Dalam Keterbatasan
04 Juli '16
Copyright © 2012 All rights reserved. Designed and Developed by GIA Dr. Cipto Semarang