SEPEKAN TERAKHIR
  Kamis, 23 Oktober 2014   -HARI INI-
  Rabu, 22 Oktober 2014
  Selasa, 21 Oktober 2014
  Senin, 20 Oktober 2014
  Minggu, 19 Oktober 2014
  Sabtu, 18 Oktober 2014
  Jumat, 17 Oktober 2014
POKOK RENUNGAN
Kekuatan tidak hanya berdasar dari apa yang kita dapatkan, tapi justru dari apa yang kita berikan.
DITULIS OLEH
Ibu Ribkah E. Christanti
Kontributor
Renungan Lain oleh Penulis:
Home  »  Renungan  »  Hilang Justru Bertambah
Hilang Justru Bertambah
Jumat, 01 Februari 2013 | Tema: Komunitas Yang Menebarkan Kasih
Hilang Justru Bertambah
Yesaya 58:1-12
Baterai HP atau laptop, kalau sedang lemah (low battery), ia akan kembali berenergi kalau ada tambahan kekuatan melalui charger. Kalau badan lemas karena lapar, dengan makan maka akan menjadi kenyang dan menjadi kuat kembali. Kalau uang habis, dengan mengambil uang di ATM atau meminta kepada orang tua, maka persediaan uang kita akan kembali terisi. Artinya ada substansi yang ditambahkan sehingga memiliki tenaga ekstra. Namun beberapa kenyataan di atas, beda prinsipnya dengan kekuatan baru versi Yesaya 58:11. Orang akan mendapat kekuatan baru kalau dia justru bisa berbagi atau memberi substansi (isi) dari dalam dirinya.

Dalam ayat yang ke-6 sampai ayat ke-10, disebutkan beberapa tindakan iman yang nyata dalam perbuatan. Misalnya, memerdekakan orang yang teraniaya, memecah roti bagi orang lapar, memberi tumpangan bagi orang yang tak punya rumah, memberi pakaian kepada orang yang telanjang, menyerahkan yang kita inginkan sendiri kepada orang yang lapar, dan lain-lain. Namun ketika kita melakukan hal itu (hal yang nampaknya ”mengurangi”apa yang ada pada kita/merugikan kita), justru mendatangkan kasih karunia dari Tuhan, diantaranya mampu ”menambah” kekuatan baru (ayat 11).

Ayat ini mengingatkan kita pada apa yang dialami oleh Daud ketika dia berada di gua Adulam (1 Samuel 22:1-5). Dalam perikop itu diceritakan bagaimana Daud menjadi pemimpin bagi 400 orang ...selengkapnya »
Suatu hari Benay yang telah sukses menjuarai lomba makan krupuk di acara HUT RT. 03 RW. VII mengajak Sambey untuk makan siang di sebuah restoran terkemuka di Kota Semarang. Sambil menunggu menu yang telah dipesan, Sambey mengajak Benay bermain tebakan Alkitab. “Ben, kamu memang jago makan krupuk, bahkan sejak bayi kamu sudah terkenal pemakan krupuk yang handal. Tetapi apakah kamu juga jago bermain tebakan Alkitab?” tantang Sambey. Sambil mengangkat pundaknya, Benay yang berlagak sok sombong mempersilahkan Sambey memberinya soal tebakan. “Apa beda dan persamaan antara Zakheus dan janda miskin?” Tanya Sambey. “Zakheus itu lemu ipul-ipul, wong dia kaya. Sedangkan si janda mesti kuru blungkring, karena dia miskin”, jawab Benay mantap. “Wah, jawabanmu spekulatif, tapi menarik Ben. Lalu persamaannya apa?” tanya Sambey lebih lanjut. Benay berpikir keras untuk menemukan jawabannya. Sambey senang sekali melihat sabahatnya ini kebingungan sambil terus mendesaknya untuk segera memberikan jawaban. “Persamaannya....., Aku tahu Sam. Persamaannya mereka sama-sama manusia!” jawab Benay yakin. Mendengar jawaban Benay yang sekenanya itu Sambey tertawa terbahak-bahak. Benay pun ikut tertawa geli. Jemaat yang terkasih. Zakheus dan Janda Miskin mempunyai perbedaan yang kentara sekali. Zakheus adalah orang kaya sedangkan si janda adalah orang miskin. Tetapi keduanya mempunyai persamaan, yaitu sama-sama tidak diperbudak oleh uang. Zakheus, setelah berjumpa dengan Yesus, bertobat. Ia dengan sukacita memberikan separuh hartanya kepada orang miskin dan mengembalikan uang 4 kali lipat kepada orang yang pernah diperasnya. Wow! Luar biasa. Sedangkan si janda dilihat oleh Tuhan memberikan seluruh hartanya yang hanya 2 peser ke kotak persembahan di Bait Suci. Tetapi si janda dipuji oleh Tuhan sebagai pemberi terbanyak karena memberi dari kekurangannya, bahkan seluruh nafkahnya. Wow! Dasyat sekali. Keduanya sama-sama mengalami kemerdekaan dari belenggu uang sehingga mampu memberi dengan sukacita. Bagi Zakheus, uang tidak lagi menjadi ukuran dan tujuan hidupnya setelah berjumpa dengan Yesus. Bagi si janda, uangnya yang sedikit bukanlah tumpuan harapannya. Sebaliknya ia percaya hanya pada Tuhan sebagai pemelihara hidupnya. Jemaat yang terkasih. Rupa-rupanya uang mampu memperbudak setiap orang. Baik orang kaya maupun orang miskin. Salah satu tanda perbudakan itu adalah tidak adanya sukacita dalam memberikan persembahan kepada Tuhan ataupun dalam menolong orang miskin. Orang memberikannya secara terpaksa dan sekedarnya. Kiranya kita tidak demikian. Kiranya kita mengalami kasih Tuhan. Kiranya kita mengalami Tuhan sebagai pemelihara hidup kita, sehingga kita dimampukan untuk memberi dengan sukacita.
Suatu hari saya merenungkan sebuah tema kotbah tentang “Pelayan Tuhan dengan Kualitas Teolog”. Saya bertanya kepada Tuhan tentang apa maksud dari tema itu. Tentang kualitas seorang teolog yang tentunya harus menjadi tolok ukur seorang pelayan-pelayan Tuhan. Dalam perenungan itu kemudian saya berdoa, membaca beberapa buku dan artikel serta kembali menggali arti kata ‘teologia’ itu. Akhirnya saya menemukan sebuah pemahaman bahwa teologia berasal dari kata Yunani ‘theos’ yang berarti Allah/Tuhan dan ‘logia’ yang berarti kata-kata. Dengan demikian dapat diterjemahkan bahwa teologia artinya ilmu yang mempelajari tentang Tuhan, sedangkan arti dari ‘teolog’ itu sendiri adalah ahli ilmu ketuhanan. Namun demikian seorang pelayan Tuhan tidak akan menjadi pelayan Tuhan yang benar jika ia tidak memahami arti dari kata teolog dengan benar. Mengacu pada Alkitab sebagai sumber pelajaran dan kebenaran para pelayan Tuhan, seorang teolog yang benar adalah mereka yang tidak hanya mempelajari, mengetahui firman Tuhan kemudian menyampaikannya, tetapi firman Tuhan itu harus dipelajari, menjadi rhema dalam hidupnya, dan oleh firman itu kita diubahkan. Ketika seorang pelayan mengalami firman dan membiarkan fitman itu tinggal dalam hatinya, maka hidupnya akan diubahkan. Tuhan berkata bahwa “Kuduslah kamu, sebab Aku, Tuhan, Allahmu, kudus.” Kekudusan dalam pikiran, perkataan dan perbuatan merupakan salah satu indikator dari pelayan Tuhan yang memiliki kualitas teolog. Seorang ahli teologi tidak hanya memahami ilmu tentang Tuhan, tetapi juga mengalami Tuhan itu sendiri sehingga hidup dan pelayanannya menjadi berkat bagi sesama.
Pada waktu terjadi kecelakaan sebuah bus yang penuh penumpang dengan sebuah truk trailer, perhatian orang-orang yang ada di sekitar tertuju kepada seorang pria. Pria itu bukan korban melainkan penolong korban yang luka-luka dan meninggal. Dia memberikan pertolongan dengan sukacita dan terlihat bekerja lebih giat di banding penolong yang lainnya. Dia tidak menghiraukan rasa lelah dan pakaian yang kotor terkena darah korban. Setelah selesai ada seorang wartawan yang bertanya, “Mengapa Bapak rela mengorbankan waktu dan tenaga untuk berbuat kebaikan kepada orang-orang yang Bapak tidak kenal?” “Aku mau berbuat baik pada semua orang dengan penuh sukacita karena Tuhan sangat baik kepadaku”, jawabnya. “Tuhan tidak hanya menyelamatkan jiwaku, tetapi selalu dekat denganku maka sudah selayaknya aku menujukkan kebaikan kepada semua orang selama hidupku.” Setiap murid Kristus harus senantiasa bersukacita di dalam Tuhan dalam segala keadaan. Sukacita akan membuat tidak kuatir menghadapi setiap masalah. Juga menyatakan pergumulan masalah hanya kepada Tuhan saja melalui doa dan ucapan syukur. Bila hal itu nyata dalam hidup murid Kristus, maka Tuhan sangat dekat dan kebaikannya dapat dirasakan semua orang. Dengan senang hati menolong orang lain apapun bentuk bantuannya karena damai sejahtera Allah yang melampaui segala akal memelihara hati dan pikiran. Setiap manusia termasuk anak Tuhan tidak kebal terhadap masalah. Apabila kita senantiasa tenggelam dalam masalah dan meratapinya maka kita tidak akan berbuat apa-apa bagi orang lain. Yesus memberi teladan kepada kita, walaupun banyak masalah, dimusuhi, diancam, tidak dipercaya, dan lain sebagainya tetapi senantiasa berbuat kebaikan dengan memberi makan, menyembuhkan, memberi penghiburan, dll. Marilah kita bangkit, di tengah masalah kita tebarkan kebaikan pada semua orang dengan penuh sukacita.
Awal tahun ini, saat saya mengikuti Traning Centre di Sinode GIA, saya berkenalan dengan seorang hamba Tuhan yang juga melayani di salah satu gereja GIA di kota Semarang Barat. Ciri-ciri yang dapat saya sebutkan dari fisik hamba Tuhan ini adalah: berbadan gemuk, tinggi, berkulit hitam, dengan wajah bulatnya ia memiliki senyum dan gaya tertawa yang khas. Beberapa hari kemudian setelah perkenalan itu, saya melihat foto-foto keluarganya dalam account FB. Bagi saya yang cukup unik dan familiar dari anggota keluarganya adalah foto-foto dari kedua anaknya. Bentuk wajah, bentuk tubuh, tinggi badan, warna kulit, dan mungkin yang lainya, semuanya mirip dengan bapaknya. Dengan demikian saya dengan mudah dapat menebak bahwa kedua anak itu sudah pasti adalah anak kandung dari teman saya itu. Sebagai anak-anak Allah hidup kita telah diubahkan sehingga kita menjadi serupa dan segambar dengan Allah. Keserupaan itu diberikan oleh Allah karena penebusan Tuhan Yesus Kristus di atas kayu salib sehingga setiap orang yang percaya kepada Yesus, wajah kemuliaannya dipulihkan kembali dari kerusakannya akibat kejatuhan manusia pertama dalam dosa. Dampak dari penebusan tersebut kita mengalami pemulihan, yaitu kemuliaan gambar Allah yang ada dalam diri kita dipulihkan. Sebagai anak-anak Allah yang telah dipulihkan menjadi segambar dan serupa dengan Allah, tentunya kita harus menjaga gambar Allah yang telah pulih dalam diri kita. Bukan secara lahiriah yang kemudian kita harus mengikuti model pakaian Tuhan Yesus, bentuk potongan rambut, janggut, ataupun model sendal yang digunakan Tuhan Yesus. Tetapi menjadi serupa dan segambar dengan Allah berbicara tentang hal-hal rohaniah: karakter, gaya hidup, visi dan misi, hati, pikiran, perkataan, dan lain-lainnya yang ada dalam diri Tuhan Yesus (Filipi 2:2).
BARCODE BBM CHANNELS
RENUNGAN HARIAN
Hebat, Keren, Megah?
04 Oktober '14
Karakter Kristus
26 September '14
Upah Perkenanan
07 Oktober '14
Copyright © 2012 All rights reserved. Designed and Developed by GIA Dr. Cipto Semarang