SEPEKAN TERAKHIR
  Kamis, 23 November 2017   -HARI INI-
  Rabu, 22 November 2017
  Selasa, 21 November 2017
  Senin, 20 November 2017
  Minggu, 19 November 2017
  Sabtu, 18 November 2017
  Jumat, 17 November 2017
POKOK RENUNGAN
Kekuatan tidak hanya berdasar dari apa yang kita dapatkan, tapi justru dari apa yang kita berikan.
DITULIS OLEH
Ibu Ribkah E. Christanti
Kontributor
Renungan Lain oleh Penulis:
Home  »  Renungan  »  Hilang Justru Bertambah
Hilang Justru Bertambah
Jumat, 01 Februari 2013 | Tema: Komunitas Yang Menebarkan Kasih
Hilang Justru Bertambah
Yesaya 58:1-12
Baterai HP atau laptop, kalau sedang lemah (low battery), ia akan kembali berenergi kalau ada tambahan kekuatan melalui charger. Kalau badan lemas karena lapar, dengan makan maka akan menjadi kenyang dan menjadi kuat kembali. Kalau uang habis, dengan mengambil uang di ATM atau meminta kepada orang tua, maka persediaan uang kita akan kembali terisi. Artinya ada substansi yang ditambahkan sehingga memiliki tenaga ekstra. Namun beberapa kenyataan di atas, beda prinsipnya dengan kekuatan baru versi Yesaya 58:11. Orang akan mendapat kekuatan baru kalau dia justru bisa berbagi atau memberi substansi (isi) dari dalam dirinya.

Dalam ayat yang ke-6 sampai ayat ke-10, disebutkan beberapa tindakan iman yang nyata dalam perbuatan. Misalnya, memerdekakan orang yang teraniaya, memecah roti bagi orang lapar, memberi tumpangan bagi orang yang tak punya rumah, memberi pakaian kepada orang yang telanjang, menyerahkan yang kita inginkan sendiri kepada orang yang lapar, dan lain-lain. Namun ketika kita melakukan hal itu (hal yang nampaknya ”mengurangi”apa yang ada pada kita/merugikan kita), justru mendatangkan kasih karunia dari Tuhan, diantaranya mampu ”menambah” ...selengkapnya »
Hidup yang kita jalani bagaikan sebuah perjalanan menaiki kereta api, dengan stasiun-stasiun pemberhentiannya. Kita mulai menaiki kereta ini ketika kita dilahirkan. Di suatu stasiun, ada penumpang akan turun dari kereta dan meninggalkan kita dalam perjalanan ini. Di pihak lain ada penumpang baru, yaitu orang yang baru masuk dalam lingkungan sekitar kita, yang akan masuk dalam gerbong kereta kehidupan kita. Banyak di antara mereka menjadi orang yang berarti di dalam hidup kita. Pasangan kita, anak-anak, teman-teman, dan orang-orang yang kita sayangi. Satu misteri dalam perjalanan hidup ini adalah kita TIDAK TAHU di stasiun mana kita akan turun. Maka kita harus hidup dengan cara yang terbaik dan memberikan yang terbaik atas hidup yang kita miliki. Sebab bila tiba saatnya bagi kita untuk meninggalkan kereta, kita harus meninggalkan kenangan indah. Kita tak tahu kapankah kita akan tiba dan turun di stasiun tujuan akhir kita! Sebelum kita turun di stasiun tujuan akhir, jangan pernah kita sia-siakan waktu yang Tuhan telah berikan pada kita. Kita harus terus berbuat baik dalam ketulusan dan kerelaan kepada sesama kita. Sehingga.... kita dapat melanjutkan perjalanan kita bersama Tuhan Yesus di surga yang mulia. Semoga Tuhan terus memberi berkat, iman, pengharapan, dan kasih sukacita kepada kita dalam kita menjalani kereta kita. Ingatlah, Tuhan memampukan!
Beberapa tahun terakhir ini dunia dihebohkan dengan kemunculan “paham” dan tindakan ISIS/IS yang membuat banyak orang mengecam dan mengutuk mereka. Namun tidak sedikit juga orang yang mengikuti paham tersebut dan bergabung untuk melakukan tindakan-tindakan yang dianggap orang sebagai “teror”. Meskipun kelompok tersebut dipandang melakukan teror, tetapi mereka sendiri menanggapi hal itu sebagai tindakan berdasarkan keyakinan yang benar. Membunuh orang lain yang tidak sepaham, bahkan melakukan bom bunuh diri yang dipandang sebagai tindakan diluar “nalar”, namun faktanya yang menjadi pengikutnya bukanlah orang-orang yang berintelektual rendah. Apa yang dilakukan pengikut ISIS/IS ini karena keyakinan mereka, dan mereka bertindak. Bahkan sebuah majalah menuliskan bahwa orang-orang yang berpengaruh di dunia pemimpin IS adalah sebagai salah satu orang yang berpengaruh di dunia. Keyakinan, menurut kamus bahasa Indonesia artinya kepercayaan dengan sungguh-sungguh. Bacaan Alkitab di atas menyatakan keyakinan Paulus tentang janji Allah, tentang kemuliaan yang akan diberikan bagi orang-orang yang percaya. Keyakinan ini membawa Paulus tidak memperdulikan segala tantangan dan masalah yang dihadapinya dalam perjalanan pengiringan dan pelayanannya kepada Allah sekalipun ada banyak penderitaan dan pergumulan hidup yang dihadapi [Roma 8:35-37], sekalipun harus menghadapi kematian [2 Timotius 4:6-7]. Bagaimana dengan keyakinan kita kepada Allah di dalam Yesus Kristus? Apakah kita sudah hidup sesuai dengan keyakinan kita? Mari sebagai umat Allah, kita mau hidup sesuai dengan apa yang menjadi keyakinan kita, sehingga melalui kehidupan kita nama Tuhan Yesus dikenal dan dipermuliakan banyak orang.
Pada umumnya semakin bertambah usia seseorang, kemampuannya semakin berkurang. Baik kemampuan fisik, intelegensi, maupun emosional. Tapi Bapak yang satu ini luar biasa menurut saya. Tahun ini usianya 90 tahun, usia yang jarang dicapai oleh kebanyakan orang. Kemampuan fisiknya memang semakin berkurang seiring dengan bertambahnya usia, namun kemampuan intelegensinya tidak kalah dengan orang-orang muda. Semangatnya dalam mempelajari banyak hal mengalahkan kami yang jauh lebih muda. Beliau memiliki prinsip selagi masih diberi nafas hidup, apapun hal positif yang diketahuinya, akan dibagikan kepada orang lain. Keinginan dan cita-citanya itu dituangkan dalam sebuah buku harian yang diberi judul “Hidupku harus bermakna”. Melihat hidupnya, pandangan-pandangannya, prinsip-prinsipnya, saya seperti diingatkan bahwa semakin bertambah usia kita dalam mengenal Tuhan, seharusnya semakin banyak hal yang ingin kita ketahui tentang-Nya. Jangan merasa cukup dengan apa yang sudah kita ketahui saat ini; jangan merasa “tua” untuk menggali Firman Tuhan; jangan pernah merasa sudah tahu akan semua Firman Tuhan. Semakin kita mengenal Firman-Nya, semakin banyak hal baru yang akan kita ketahui. Semakin banyak waktu yang kita gunakan untuk menggumuli Firman-Nya, semakin banyak hikmat yang akan kita peroleh. Dan pengenalan terus menerus akan Firman Tuhan akan memberi pengertian tentang takut akan Tuhan [ayat 5], memelihara jalan orang-orang yang setia [ayat 8], mengerti tentang kebenaran, keadilan dan kejujuran [ayat 9]. Lalu setelah itu apakah pengenalan kita akan kebesaran kasih-Nya, akan kedahsyatan kuasa-Nya, akan pengorbanan-Nya yang besar bagi kita, akan pertolongan-Nya yang tidak pernah terlambat, akan kebaikan-Nya yang terus menerus melimpah dalam hidup kita, hanya kita nikmati sendiri? Terlalu sayang menyimpan semua itu bagi kita pribadi karena di sekeliling kita masih banyak orang yang memerlukan anugerah-Nya. Selama kita masih diberi kesempatan untuk menikmati anugerah-Nya, pakailah setiap kesempatan yang ada untuk mengabarkan tentang segala kebaikan Tuhan bagi mereka yang belum mengenal-Nya. Banyak cara bisa kita pakai untuk menceritakan kebaikan-Nya, supaya apa yang kita tahu tentang Dia, semua orang juga bisa mengetahuinya. Dan “hidupku harus bermakna” biarlah menjadi kerinduan kita juga selama kita hidup.
Kehidupan yang berbuah Mazmur 1:1-3 Berbahagialah orang yang tidak berjalan menurut nasihat orang fasik, yang tidak berdiri di jalan orang berdosa, dan yang tidak duduk dalam kumpulan pencemooh, tetapi yang kesukaannya ialah Taurat TUHAN, dan yang merenungkan Taurat itu siang dan malam. Ia seperti pohon, yang ditanam di tepi aliran air, yang menghasilkan buahnya pada musimnya, dan yang tidak layu daunnya; apa saja yang diperbuatnya berhasil. Bulan Nopember di negeri kita adalah bulan musimnya buah-buahan. Kita melihat ada banyak buah mangga, rambutan dan durian dijual dimana-mana. Ketika melihat buah-buahan itu, saya diingatkan tentang kehidupan kita. Hidup kita harus menghasilkan buah. Kehidupan Kristen yang benar adalah kehidupan yang menghasilkan buah. Jika hidup kita tidak berbuah maka hidup kita tidak ada gunanya. Firman Tuhan berkata: ’Jadi hasilkanlah buah yang sesuai dengan pertobatan. Kapak sudah tersedia pada akar pohon dan setiap pohon yang tidak menghasilkan buah yang baik, pasti ditebang dan dibuang ke dalam api.’ [Matius 3:8, 10]. Bagaimana agar hidup kita dapat menghasilkan buah? Firman Tuhan di atas menegaskan bahwa kehidupan yang berbuah adalah hasil dari menjaga diri dari segala pengaruh buruk orang-orang di sekitar. Kita memang tidak bisa menghindar dari pergaulan di tengah dunia ini. Di tempat kerja, di lingkungan, di sekolah, di pasar, kita bergaul dan berinteraksi dengan segala macam orang. Kita harus bisa menjaga diri agar tidak mengikuti cara dan jalan hidup orang-orang yang fasik dan berdosa. Bagaimana kita bisa menjaga diri dari segala pengaruh buruk di sekitar kita? Kita harus bergaul dengan Firman Tuhan, yaitu dengan membaca dan merenungkan Firman Tuhan. Ayat 2 mengatakan: ’yang merenungkan Taurat itu siang dan malam’. Kita merenungkan Firman bukan hanya di saat tertentu saja, tetapi setiap saat. Artinya pikiran kita harus dipenuhi dan dipengaruhi oleh Kebenaran Firman Tuhan. Jika kita melakukannya terus menerus maka kehidupan rohani kita akan mengalami pertumbuhan. Hidup rohani yang bertumbuh secara sehat pasti akan menghasilkan buah. Seperti pohon yang bertumbuh dengan sehat pasti akan menghasilkan buah. Kiranya Tuhan memberkati kita semua, agar kita bertumbuh dan menghasilkan buah. Agar nama Tuhan dimuliakan. Pdt. Goenawan Susanto
BARCODE BBM CHANNELS
RENUNGAN HARIAN
Waspada Terhadap Cara Hidup Yang Gegabah Dan Ceroboh
03 November '17
Kehidupan Yang Berbuah
05 November '17
Mencari Yang Terhilang
18 November '17
Copyright © 2012 All rights reserved. Designed and Developed by GIA Dr. Cipto Semarang