SEPEKAN TERAKHIR
  Rabu, 25 Mei 2016   -HARI INI-
  Selasa, 24 Mei 2016
  Senin, 23 Mei 2016
  Minggu, 22 Mei 2016
  Sabtu, 21 Mei 2016
  Jumat, 20 Mei 2016
  Kamis, 19 Mei 2016
POKOK RENUNGAN
Kekuatan tidak hanya berdasar dari apa yang kita dapatkan, tapi justru dari apa yang kita berikan.
DITULIS OLEH
Ibu Ribkah E. Christanti
Kontributor
Renungan Lain oleh Penulis:
Home  »  Renungan  »  Hilang Justru Bertambah
Hilang Justru Bertambah
Jumat, 01 Februari 2013 | Tema: Komunitas Yang Menebarkan Kasih
Hilang Justru Bertambah
Yesaya 58:1-12
Baterai HP atau laptop, kalau sedang lemah (low battery), ia akan kembali berenergi kalau ada tambahan kekuatan melalui charger. Kalau badan lemas karena lapar, dengan makan maka akan menjadi kenyang dan menjadi kuat kembali. Kalau uang habis, dengan mengambil uang di ATM atau meminta kepada orang tua, maka persediaan uang kita akan kembali terisi. Artinya ada substansi yang ditambahkan sehingga memiliki tenaga ekstra. Namun beberapa kenyataan di atas, beda prinsipnya dengan kekuatan baru versi Yesaya 58:11. Orang akan mendapat kekuatan baru kalau dia justru bisa berbagi atau memberi substansi (isi) dari dalam dirinya.

Dalam ayat yang ke-6 sampai ayat ke-10, disebutkan beberapa ...selengkapnya »
Coba simak apa yang seringkali dilakukan oleh beberapa elit politik di negeri ini ketika menanggapi sebuah kasus terjadi. Apakah itu kasus korupsi, kasus asusila ataupun penyalahgunaan wewenang. Jika itu dialami oleh koleganya, maka mereka akan berusaha membela dan menutup-nutupi. Tetapi jika itu menjerat lawan politiknya, maka mereka akan memanfaatkannya sebagai upaya untuk menjatuhkan. Seringkali mereka tersandera oleh kepentingan sendiri, sehingga cenderung melihat kebenaran seirama dengan kepentingan mereka. Akibatnya, kebenaran dan keadilan dikebiri. Ayat nats hari ini menyatakan, Bencilah yang jahat dan cintailah yang baik; dan tegakkanlah keadilan di pintu gerbang.... Pada zaman Perjanjian Lama, pintu gerbang menjadi simbol tempat pelaksanaan kekuasaan dan otoritas. Para tua-tua Israel mengambil keputusan-keputusan penting di tempat terbuka dan luas [semacam tanah lapang] di dekat pintu gerbang kota. Tempat untuk membicarakan dan memutuskan masalah-masalah yang disediakan bagi kalayak ramai. Seruan tersebut bukan hanya ditujukan kepada para tua-tua Isarel [sebagai juru pengadil] untuk berlaku adil dalam memutuskan perkara, tetapi juga kepada segenap umat Allah. Allah menghendaki umat-Nya menjauhi dan meningggalkan segala perbuatan jahat dengan melakukan hal-hal yang baik. Allah menghendaki kebenaran dinyatakan; Allah memerintahkan kebenaran ditegakkan. Ketika kebenaran dinyatakan dan ditegakkan, maka keadilan itu akan terjadi. Tak dapat dipungkiri, kadang usaha menegakkan kebenaran tidaklah mudah dan tidak selalu berjalan mulus. Yang seringkali terjadi justru menemui jalan terjal dan berliku. Meskipun demikian kebenaran haruslah tetap ditegakkan dalam kehidupan pribadi, keluarga, gereja maupun masyarakat. Oleh sebab itu, mari kita menjauhi dusta dan kebohongan; bersikap jujur; tidak menyebar fitnah. Berani mengatakan ya di atas ya dan tidak di atas tidak. Jangan kita memihak secara membabi buta karena faktor kedekatan atau demi mendapatkan keuntungan pribadi. Ya, menyuarakan kebenaran memang beresiko, tetapi jika kita berani melakukannya, paling tidak kita telah mempraktekkan perintah Tuhan untuk membenci yang jahat dan mencintai yang baik.
Pemisahan dari yang jahat adalah dasar dalam hubungan Allah dengan umat-Nya. Pemisahan ini meliputi dua dimensi: pertama, memisahkan diri secara moral dan rohani dari dosa dan dari segala sesuatu yang bertentangan dengan Yesus Kristus, kebenaran dan Fiman Allah. Kedua, mendekatkan diri kepada Allah dalam satu persekutuan yang akrab dan intim melalui penyerahan diri, penyembahan, dan pelayanan. Pemisahan ini menghasilkan suatu hubungan di mana Allah menjadi Bapa Sorgawi kita yang hidup bersama kita sebagai Allah kita; dan sebaliknya kita menjadi anak-anakNya laki-laki dan perempuan [2 Korintus 6:17-18] Dalam Perjanjian Lama, pemisahan merupakan tuntutan Allah bagi umat-Nya. Mereka harus menjadi kudus, berbeda dan terpisah dari semua bangsa lain supaya menjadi milik Allah sendiri. Allah menghukum dan membuang mereka ke Asyur dan Babilonia karena mereka bersikeras ingin menyesuaikan diri dengan penyembahan berhala dan gaya hidup yang fasik dari bangsa-bangsa di sekitar mereka. Dalam Perjanjian Baru, Allah memerintahkan orang percaya untuk memisahkan diri dari: sistem dunia yang jahat dan tindakan kompromi yang tidak kudus; dari orang-orang dalam jemaat yang berbuat dosa dan menolak untuk bertobat; dari guru, jemaat dan kepercayaan palsu yang mengajarkan hal yang salah dan menyangkal kebenaran Alkitabiah. Maksud dari pemisahan ini adalah agar sebagai umat Allah kita dapat bertekun dalam keselamatan, iman, dan kekudusan; kita hidup semata bagi Allah sebagai Tuhan dan Bapa kita; menginsafkan dunia yang tidak percaya ini akan kebenaran dan berkat-berkat Injil. Penolakan orang percaya untuk memisahkan diri dari yang jahat pasti akan mengakibatkan hilangnya persekutuan dengan Allah, penerimaan oleh Bapa, dan hak-hak kita sebagai anak.
Pada tahun ini ulang tahun Gereja tempat Sambey dan Benay berjemaat dirayakan dengan sangat sederhana. Roti tart yang menjulang tinggi diarak ke depan mimbar menjelang akhir ibadah. Para rohaniwan, majelis, dan pengurus seksi maju ke depan dengan sangat tertib langkah demi langkah. Sebuah pisau berkilau yang terhias cantik telah dipersiapkan untuk sesi potong kue. Ketika Gembala Jemaat memotong kue tipis terdengar suara yang tak lazim. “Krrreeeek…rrryeerkk….eerrrr…eek.” Dan tampak butiran-butiran putih nan lembut berguguran mengikuti irisan pisau. Sambey dan Benay yang sedari tadi membayangkan lezatnya kue itu mendadak kehilangan selera makan. Tampakya bahan kue itu bukan sesuatu yang layak makan. Andaikata dipaksa memakannya sedikit, maka setidaknya perut akan mual. Jika kebanyakan bisa membuat orang break dance [kejang-kejang], tak sadarkan diri, dan bisa-bisa dinyatakan lulus dengan gelar almarhum. “Kue itu dari styrofoam!” pikir mereka kompak. “Mengapa tahun ini kok ngiritnya kebangetan, ya?” kata Benay prihatin. “Ya tentu ada prioritas kebutuhan Gereja yang lebih penting daripada sekedar perayaan!” jawab Sambey, “Mbok pikiranmu itu jangan makanan melulu, Ben!” Benay jadi cemberut menanggapi teguran sahabatnya itu. “Ben, ini baru ulang tahun Gereja yang sangat sederhana. Tahukah kamu bahwa ada peristiwa yang jauh lebih besar tetapi sunyi-sepi perayaannya?” tanya Sambey. “Natal yang pertama? Kelahiran Tuhan Yesus di Betlehem”, jawab Benay yakin, “Khan ada lagunya: malam sunyi-senyap….” Sambey membenarkan jawaban Benay. “Tapi ada peristiwa besar lainnya selain Natal”, kata Sambey. Benay geleng-geleng kepala karena tidak tahu. Sambey menjelaskan bahwa peristiwa besar tapi sunyi perayaannya itu adalah Paskah. Tidak ada suasana gegap gempita ketika Tuhan Yesus bangkit. Kain kafan yang lingsut adalah saksi bisu kemenangan Tuhan atas kuasa maut. Gempa bumi yang pun terjadi setelah kebangkitan-Nya [Matius 28:1-7]. Singkatnya, tidak ada seorang pun yang menyadari bahwa Tuhan Yesus bangkit. Murid-murid pun tidak menyadarinya. “Tapi ada satu peristiwa besar lagi selain Paskah”, kata Benay. Sambey memandangi Benay dengan perasaan ingin tahu. “Kenaikan Tuhan Yesus ke Sorga”, jawab Benay. Senyum Sambey melebar sebagai pertanda bahwa ia sependapat dengan Benay. Kenaikan Tuhan meski disaksikan murid-murid tetapi toh peristiwa besar itu tetap dibiarkan diam hingga hari pentakosta. Jemaat yang terkasih, tampaknya Tuhan sengaja membiarkan peristiwa-peristiwa besar dalam hidup-Nya itu terjadi dalam kesunyian tanpa perayaan yang berlebihan. Terlalu sedikit orang yang menyadari dan menyaksikan peristiwa-peristiwa itu. Mengapa? Karena Tuhan ingin murid-murid-Nya yang menggaungkan peristiwa itu ke seluruh dunia. Termasuk kita. Kita diutus oleh Tuhan untuk menjadi saksi-saksi-Nya bagi orang-orang lain.
Di hutan-hutan Eropa bagian utara dan Asia hiduplah ermine, binatang lucu yang setiap musim dingin tiba warna bulunya berubah menjadi seputih salju. Binatang ini sangat melindungi kebersihan bulunya sampai-sampai ketika terpojok oleh para pemburu ia lebih rela mati daripada bersembunyi di tempat yang kotor. Selama menjalani kehidupan ini tak terhitung betapa seringnya kita diperhadapkan pada situasi yang mengharuskan kita untuk memilih. Memanjakan keinginan daging ... atau bertahan hidup dalam kekudusan. Bila kita renungkan, entah sudah berapa kali kita memilih menyerah pada keadaan daripada berjuang mempertahankan kekudusan. Sebagai anak-anak Tuhan, kita diarahkan untuk hidup sebagai anak-anak yang taat dan tidak membiarkan diri dikuasai hawa nafsu [1 Petrus 1:14]. Sangat penting untuk menjadi kudus di dalam seluruh aspek kehidupan kita, sama seperti Tuhan yang memanggil kita adalah kudus [ayat 15]. Demikian utamanya kekudusan itu sehingga dikatakan bahwa tanpa kekudusan tidak seorang pun akan melihat Tuhan [Ibrani12:14]. Kekudusan tidak dibatasi oleh situasi dan tempat. Kekudusan terpancar dalam keadaan aman maupun genting. Kekudusan tidak hanya ada di dalam lingkup tembok gereja. Ketika Tuhan menyucikan hati kita, maka saat berada di pasar pun kita bias sekudus saat kita berada di rumah ibadah [Martin Luther]. Kekudusan yang diperjuangkan dengan sungguh-sungguh itu merambah keluar dari naungan atap-atap gereja.
BARCODE BBM CHANNELS
RENUNGAN HARIAN
Tips Menang Atas Dosa
16 Mei '16
Menyatakan Kebenaran
14 Mei '16
Percaya Dan Taat
17 Mei '16
Copyright © 2012 All rights reserved. Designed and Developed by GIA Dr. Cipto Semarang