SEPEKAN TERAKHIR
  Kamis, 30 Juli 2015   -HARI INI-
  Rabu, 29 Juli 2015
  Selasa, 28 Juli 2015
  Senin, 27 Juli 2015
  Minggu, 26 Juli 2015
  Sabtu, 25 Juli 2015
  Jumat, 24 Juli 2015
POKOK RENUNGAN
Kekuatan tidak hanya berdasar dari apa yang kita dapatkan, tapi justru dari apa yang kita berikan.
DITULIS OLEH
Ibu Ribkah E. Christanti
Kontributor
Renungan Lain oleh Penulis:
Home  »  Renungan  »  Hilang Justru Bertambah
Hilang Justru Bertambah
Jumat, 01 Februari 2013 | Tema: Komunitas Yang Menebarkan Kasih
Hilang Justru Bertambah
Yesaya 58:1-12
Baterai HP atau laptop, kalau sedang lemah (low battery), ia akan kembali berenergi kalau ada tambahan kekuatan melalui charger. Kalau badan lemas karena lapar, dengan makan maka akan menjadi kenyang dan menjadi kuat kembali. Kalau uang habis, dengan mengambil uang di ATM atau meminta kepada orang tua, maka persediaan uang kita akan kembali terisi. Artinya ada substansi yang ditambahkan sehingga memiliki tenaga ekstra. Namun beberapa kenyataan di atas, beda prinsipnya dengan kekuatan baru versi Yesaya 58:11. Orang akan mendapat kekuatan baru kalau dia justru bisa berbagi atau memberi substansi (isi) dari dalam dirinya.

Dalam ayat yang ke-6 sampai ayat ke-10, disebutkan beberapa tindakan iman yang nyata dalam perbuatan. Misalnya, memerdekakan orang yang teraniaya, memecah roti bagi orang lapar, memberi tumpangan bagi orang yang tak punya rumah, memberi pakaian kepada orang yang telanjang, menyerahkan yang kita inginkan sendiri kepada orang yang lapar, dan lain-lain. Namun ketika kita melakukan hal itu (hal yang nampaknya ”mengurangi”apa yang ada pada kita/merugikan kita), justru mendatangkan kasih karunia dari Tuhan, diantaranya mampu ”menambah” kekuatan baru (ayat 11).

Ayat ini mengingatkan kita pada apa yang dialami oleh Daud ketika dia berada di gua Adulam (1 Samuel 22:1-5). Dalam perikop itu diceritakan bagaimana Daud menjadi pemimpin bagi 400 orang ...selengkapnya »
Suatu hari yang cerah, empat murid SMU memutuskan untuk membolos, dan keesokan harinya mereka menjelaskan kepada guru bahwa mereka tidak masuk sekolah karena ban mobil kempes. Mereka sangat lega sekali ketika guru mereka tidak marah tetapi tersenyum dan berkata, ’Kalian ketinggalan satu tes kecil kemarin, sekarang duduklah dan keluarkan pensil serta kertas.’ Guru itu menunggu mereka duduk, mengeluarkan alat tulis dan siap mengerjakan tes kecil itu. Kemudian dia berkata, ’Pertanyaan pertama: ban sebelah mana yang kempes?’ Seketika itu juga, mereka pun saling bertatapan satu dengan yang lainnya dengan wajah bingung dan panik. Tidak seorangpun dapat terbebas dari perbuatan dusta. Dalam Kisah Para Rasul 5, Ananias dan Safira berpikir bahwa mereka hanya berdusta kepada Petrus dan saudara-saudara seiman lainnya. Tetapi Petrus berkata kepada mereka, ’Engkau bukan mendustai manusia, tetapi mendustai Allah.’ Allah adalah kebenaran. Jika kita berdusta, kita menyakiti-Nya. Dan cepat atau lambat, Dia akan menyingkap setiap kebohongan, bila tidak di dalam hidup ini, pastilah pada hari penghakiman kelak [Roma 14:10-12]. Kita hidup di dunia yang penuh persaingan, dan kadang-kadang kita mudah tergoda untuk menutupi kebenaran, dan memilih berdusta supaya dapat terus maju dan tetap eksis. Namun perlu diingat bahwa hasil yang diperoleh dalam waktu singkat ketika berdusta tidaklah berarti bila dibandingkan dengan manfaat jangka panjang karena melakukan kebenaran. Jika Anda sudah menipu seseorang, akuilah hal itu kepadanya dan kepada Tuhan. Mungkin itu tampak merendahkan diri, tetapi itulah langkah awal untuk membangun integritas hidup kita. Menjadi umat yang cemerlang harus berani “tampil beda”, yaitu menjaga integritas diri agar tetap berkenan di hadapan Tuhan dan manusia.
Pak Darto adalah seorang anak Tuhan yang setia sejak masih muda. Hidupnya penuh perjuangan untuk menjadi seorang yang sukses di dunia kerja. Berkat ketekunan dan keuletan, serta kebergantungan-nya kepada Allah, keluarga pak Darto diberkati Allah. Akhirnya keluarga ini membeli sebidang tanah untuk membangun rumah tinggal. Setelah suami istri tersebut berdoa, mereka sepakat akan membuat satu kamar tamu bagi hamba Tuhan yang sering diundang di gerejanya. Dalam benak mereka hanya itu yang bisa mereka lakukan bagi pelayanan pekerjaan Tuhan. Dan Tuhan Yesus semakin mempercayakan kepada keluarga ini banyak pekerjaan yang mendatangkan berkat baik bagi hidup mereka, orang di sekitarnya, maupun gerejanya. Keluarga ini juga tidak segan - segan berbagi kehidupan dan pengalamannya kepada keluarga-keluarga muda supaya hidup mereka juga mengalami kemajuan seperti keluarganya. Bacaan kita hari ini berkisah tentang satu keluarga yang tinggal di kota Sunem. Sayang nama keluarga ini tidak disebutkan. Namun apa yang diperbuat oleh keluarga yang berasal dari Sunem ini patut menjadi teladan bagi keluarga orang percaya di zaman ini. Keluarga ini tentu saja keluarga seorang pengusaha yang sangat diberkati Allah. Awalnya keluarga ini hanya mengundang nabi Elisa untuk singgah makan di rumahnya. Akhirnya si istri bersepakat dengan suaminya untuk membangun sebuah kamar agar nabi Elisa bisa beristirahat di rumahnya selama melayani di kotanya. Seperti gayung bersambut niat hati yang baik dan luhur dari keluarga Sunem itu disambut dengan baik oleh nabi Elisa. Sehingga setiap kali sang nabi melayani di kota Sunem selalu singgah di rumah mereka. Nabi Elisa tahu bahwa niat baik mereka untuk memberi tumpangan dan makan dilakukan dengan ketulusan, yaitu hanya ingin memberkati pelayanan nabi Elisa. Tuhan memperhatikan keluarga tersebut dengan memberikan anak di usia lanjut mereka [sebelumnya mereka tidak memiliki anak]. Begitu juga ketika anak tersebut mati, Tuhan membangkitkan melalui nabi Elisa. Ketika kita memiliki niat untuk memberkati orang lain maupun gereja, jangan pernah kita menahannya. Sebaiknya berdoalah dan bersepakatlah dengan keluarga agar niat baik kita diteguhkan oleh Tuhan Yesus. Niscaya berkat Allah akan ditambahkan kepada kita sebagaimana janji Allah dalam Matius 6:33.
Dua tema dasar surat Efesus adalah: pertama, bagaimana kita ditebus oleh Allah [pasal 1-3 ] dan kedua, bagaimana kita harus hidup sebagai umat yang ditebus [pasal 4-6]. Ayat renungan kita hari ini merupakan arahan praktis bagaimana orang percaya terpanggil kepada suatu cara hidup baru dalam hubungan kerja, hubungan hamba dan tuan, hubungan pekerja dan majikan, hubungan bawahan dan atasan. Hubungan ini hendaknya dikuasai prinsip-prinsip yang menandai bahwa orang percaya berbeda sekali dari masyarakat sekuler di mana mereka hidup. Pada umumnya kita beranggapan bahwa pihak tuan atau majikanlah yang seharusnya memberkati para hamba atau pekerjanya karena mereka ada di posisi lebih tinggi dalam segala hal. Tetapi Firman Tuhan mengajarkan bahwa para hamba harus memberkati tuannya dengan sikap hati yang taat dan tulus kepada tuannya, dengan segenap hati dan rela melakukan tugas pelayanannya seperti melayani Tuhan bukan manusia. Ketika seorang hamba berbuat sesuatu yang baik, ia akan menerima balasannya dari Tuhan. Alkitab mencatat sebuah kisah tentang seorang anak perempuan dari Israel yang tertawan di negeri Aram. Ia menjadi pelayan pada isteri Naaman, panglima raja Aram yang terpandang dan disayangi raja. Tetapi ia sakit kusta. Budak perempuan kecil ini sebenarnya punya banyak alasan untuk bersikap cuek, tak perlu peduli dengan penderitaan tuannya. Tapi ia bersikap lain, sebagai seorang hamba ia mau berbuat baik bagi tuannya. Dari mulutnya yang kecil sampailah sebuah info bahwa di Samaria ada seorang nabi yang dapat menyembuhkan tuannya. Mujizat terjadi, Naaman mengenal Allah Israel dan hanya kepada-Nya dia akan mempersembahkan korban bakaran dan korban sembelihan. Bagaimana dengan budak tawanan kecil ini? Alkitab tidak menulis kisah lanjutnya, tapi saya yakin Naaman pasti membawa hadiah kepadanya dan terlebih lagi Tuhan Allah Israel pasti memberi dia upah sampai kepada kekekalan. Mari para pekerja Kristen, di mana dan kepada siapa kita bekerja atau berkarya, kita berkati tuan atau majikan kita dengan perbuatan-perbuatan baik semaksimal yang bisa kita lakukan.
Pada sebuah acara pertemuan keluarga, Andi, bocah berusia empat tahun tiba-tiba berteriak, “Bego, kamu.” Kontan saja Dewi, sang mama, yang mendengar ucapan itu jelas kaget dan malu. Walaupun sudah diberi pengertian bahwa kata-kata itu tidak baik, Andi tetap mengulanginya berkali-kali hingga membuat Dewi semakin malu dan berusaha menahan amarah kepada anaknya. Melihat reaksi orang di sekelilingnya yang mendiamkannya, akhirnya Andi berhenti berkata-kata. “Waduh, Andi tahu istilah itu dari mana, ya?” telisik sang mama. Tentunya masalah tersebut tidak hanya dialami oleh ibu Dewi, tetapi juga kita semua, para orangtua. Proses alami meniru ucapan terjadi pada anak usia 1 - 3 tahun. Di masa itulah mereka belajar berbicara, belajar bahasa, dan juga menambah kosa kata. Di usia itu seringkali anak-anak ‘membeo’ tanpa tahu maksud dan artinya, menirukan kata-kata yang didengarnya baik dari orangtua dan keluarga, dari teman-teman bermainnya, dan bahkan dari televisi. Kata-kata yang buruk dan tidak sopan, seperti kasus Andi di atas, harus disikapi dengan bijak karena jika kebiasaan jelek tersebut terbawa hingga besar, maka si anak akan mudah melontarkan kata-kata tidak sopan dan kasar saat sedang emosi. Biasanya reaksi marah [terutama yang berlebihan] ketika anak kita mengucapkan kata-kata kasar dan tidak sopan seringkali merupakan upaya menutupi rasa malu kita sebagai orangtua. Kita takut dipandang sebagai orangtua yang tidak bisa mendidik anak dengan baik. Alangkah baiknya jika kita lebih fokus memberi arahan kepada anak daripada sekedar menutupi rasa malu kita. Seperti nats hari ini menyatakan bahwa orang yang bijak hati disebut berpengertian, dan berbicara manis lebih dapat menyakinkan. Artinya kata-kata yang bijaksana mempunyai kekuatan untuk meyakinkan dan bahkan mengubahkan perilaku seseorang. Apa yang bisa kita lakukan sebagai orangtua jika menghadapi kasus serupa? Kita sebagai orangtua [termasuk kakek dan nenek] bisa memberi contoh kata-kata yang sederhana dan sopan kepada anak setiap hari. Ayah ibu, selaku orangtua, harus benar-benar memperhatikan kosakata yang dipakai dalam percakapan keseharian. Kata-kata kasar dan tidak sopan harus benar-benar dihilangkan termasuk ketika tensi emosi kita meninggi. Kita hendaknya mengapresiasi [memberi pujian] ketika anak berkata-kata dengan sopan dan mengarahkan ketika anak mengucapkan kata-kata yang kasar dan tidak sopan tanpa harus marah secara berlebihan. Juga tidak kalah pentingnya adalah mendampingi anak-anak ketika mereka menonton televisi dan memberikan pengertian tentang apa yang ditontonnya.
BARCODE BBM CHANNELS
RENUNGAN HARIAN
Menjadi Teladan
02 Juli '15
Motto Baru Mengalami Pengalaman Iman
06 Juli '15
Perkataan Yang Bijaksana
28 Juli '15
Copyright © 2012 All rights reserved. Designed and Developed by GIA Dr. Cipto Semarang