SEPEKAN TERAKHIR
  Senin, 21 April 2014   -HARI INI-
  Minggu, 20 April 2014
  Sabtu, 19 April 2014
  Jumat, 18 April 2014
  Kamis, 17 April 2014
  Rabu, 16 April 2014
  Selasa, 15 April 2014
POKOK RENUNGAN
Kekuatan tidak hanya berdasar dari apa yang kita dapatkan, tapi justru dari apa yang kita berikan.
DITULIS OLEH
Ibu Ribkah E. Christanti
Kontributor
Renungan Lain oleh Penulis:
Home  »  Renungan  »  Hilang Justru Bertambah
Hilang Justru Bertambah
Jumat, 01 Februari 2013 | Tema: Komunitas Yang Menebarkan Kasih
Hilang Justru Bertambah
Yesaya 58:1-12
Baterai HP atau laptop, kalau sedang lemah (low battery), ia akan kembali berenergi kalau ada tambahan kekuatan melalui charger. Kalau badan lemas karena lapar, dengan makan maka akan menjadi kenyang dan menjadi kuat kembali. Kalau uang habis, dengan mengambil uang di ATM atau meminta kepada orang tua, maka persediaan uang kita akan kembali terisi. Artinya ada substansi yang ditambahkan sehingga memiliki tenaga ekstra. Namun beberapa kenyataan di atas, beda prinsipnya dengan kekuatan baru versi Yesaya 58:11. Orang akan mendapat kekuatan baru kalau dia justru bisa berbagi atau memberi substansi (isi) dari dalam dirinya.

Dalam ayat yang ke-6 sampai ayat ke-10, disebutkan beberapa tindakan iman yang nyata dalam perbuatan. Misalnya, memerdekakan orang yang teraniaya, memecah roti bagi orang lapar, memberi tumpangan bagi orang yang tak punya rumah, memberi pakaian kepada orang yang telanjang, menyerahkan yang kita inginkan sendiri kepada orang yang lapar, dan lain-lain. Namun ketika kita melakukan hal itu (hal yang nampaknya ”mengurangi”apa yang ada pada kita/merugikan kita), justru mendatangkan kasih karunia dari Tuhan, diantaranya mampu ”menambah” kekuatan baru (ayat 11).

Ayat ini mengingatkan kita pada apa yang dialami oleh Daud ketika dia berada di gua Adulam (1 Samuel 22:1-5). Dalam perikop itu diceritakan bagaimana Daud menjadi pemimpin bagi 400 orang ...selengkapnya »
Pada suatu siang yang terik, Sambey mengambil gitar. Ia duduk di teras rumahnya yang sejuk dan mulai memetik gitarnya, mengalunkan pujian “Kasih setia-Mu yang ku rasakan” ciptaan Pdt. Ir. Niko Njotorahardjo. Menjelang refrain, tiba-tiba Sambey menghentikan pujiannya. Bukan karena senar gitarnya putus, tetapi karena ada satu kata dalam bait pujian itu yang menarik hatinya. Kata itu adalah “...berkat-Mu yang telah ku terima, sempat membuatku terpesona...” “Mengapa berkat Tuhan kok hanya sempat membuat terpesona? Mengapa kok tidak selalu atau tidak terus membuat terpesona?” renung Sambey. Beberapa menit dihabiskannya untuk mengulang syair pujian itu dan merenungkannya kembali. Sampai akhirnya Sambey mengerti bahwa hanya kepada Tuhanlah, Sang sumber berkat, ia harus selalu terpesona. Kepada berkat-Nya, cukup sempat terpesona saja. Agar berkat tidak mengikatnya, melainkan hanya kepada Tuhan saja ia melekat. Jemaat yang terkasih. Simon mencari ikan semalam-malaman. Ia bekerja keras begitu rupa menebarkan jalanya di sisi kanan dan di sisi kiri perahunya. Tetapi malang nasibnya malam itu. Tak satu pun ikan berhasil ditangkapnya. Ia kembali ke pantai sebagai seorang yang gagal. Harapannya untuk menangkap sejumlah ikan pupus sudah. Pagi itu ia berjumpa dengan Tuhan Yesus yang memerintahkannya untuk menebarkan jalanya di siang bolong. Meskipun tak masuk akal, tetapi karena Tuhan yang memerintahkan, ia pun melakukannya. Hasilnya, berkat yang luar biasa! Sejumlah besar ikan ditangkapnya! Yang menarik adalah sikap Simon. Berkat itu tidak mempesonanya. Justru berkat itu membuatnya merasa tidak layak. Ia merasa tidak layak diperhatikan Tuhan karena ia orang berdosa. Matanya terus tertuju pada Tuhan Yesus. Maka ketika Tuhan memanggilnya, Simon dan teman-temannya meninggalkan berkat yang sempat mempesonanya itu dan mengikut Tuhan. Jemaat yang terkasih. Jika kita mau menjadi pribadi yang mampu meretas rintangan, contohlah sikap Simon. Pertama, jangan dilemahkan oleh kegagalan. Kedua, taat pada perintah Tuhan. Meskipun kadangkala tampak tidak masuk akal. Ketiga, selalu terpesona pada Tuhan saja. Itu berarti tidak terus terpesona pada berkat-berkat yang kita terima.
Kisah kepahlawanan Rambo dalam film Rambo1-3 merupakan cerita yang sangat menegangkan dan terkadang membuat orang yang menontonnya menjadi takjub akan keberaniannya dalam misi pembebasan tentara Amerika yang ditawanan tentara Vietkong. Dalam ceritanya Rambo melakukan misi penyelamatan seorang diri di tengah ganasnya medan pertempuran dan kehidupan hutan rimba. Meskipun misi tersebut penuh rintangan dan resiko, ia tetap melakukannya karena tujuan pembebasan tawanan harus tercapai. Resiko penangkapan dan penyiksaan kerapkali dihadapi dengan “tidak mengeluh” karena dalam pikiran dan hatinya adalah pembebasan. Dan tujuan itu jelas sekali sehingga ia tidak memusingkan resiko yang dihadapinya. Bagi Rambo, tugas Negara adalah mulia dan besar sehingga ia totalitas dalam melakukan misi tersebut. Keberanian mengambil resiko dalam mencapai tujuan seperti bahan bakar yang memberi kekuatan untuk melakukan apa yang hendak dicapai. Karena dengan adanya tujuan, setiap orang yang memahaminya akan bertindak meskipun tantangan ada di depannya. Harapan inilah yang semestinya menjadi pembelajaran bagi banyak orang Kristen sebagaimana Paulus dalam melakukan misi mewartakan kebenaran kerajaan Allah. Ia melakukan dengan sekuat tenaga karena hatinya membara dengan kecintaan kepada Allahnya dan hasrat agar semua orang beroleh keselamatan. Meskipun ia harus menghadapi aniaya, cemoohan, ancaman pembunuhan dan banyak lagi kesulitan lainnya, Paulus tidak menyerah. Dia memandang semua itu sebagai suatu kehormatan dan kepercayaan dari Allah. Sebab prinsip hidupnya setelah berjumpa dengan Yesus adalah memberi buah bagi Allah dan menjadikan kehidupan Yesus nyata dalam hidupnya. Ini merupakan komitmen yang luar biasa dan pastinya didasarkan pada keyakinan yang mantap dan matang akan Kristus sebagai Tuhan. Jika boleh bertanya sudah sejauh manakah komitmen kita kepada Kristus Yesus yang ada dalam hidup kita? Sebab tanpa pengertian dan pengenalan yang jelas akan Kristus tidak akan mungkin kita melakukan tujuan yang mulia apalagi berani mengambil resiko untuk menyatakan kabar keselamatan bagi banyak orang. Selagi masih ada waktu buatlah keputusan yang tepat dalam mengemban amanat Yesus Kristus.
Di tengah amukan badai yang makin lama makin mengganas, sebuah kapal menderita kebocoran yang sangat parah sehingga nyaris karam. Pada detik-detik yang menegangkan itu sang kapten kapal berteriak kepada anak buahnya, ”Siapa di antara kalian merupakan pengikut Kristus yang tersohor karena rela mati bagi semua orang?” Seorang anak buah kapal yang dikenal saleh mengacungkan telunjuknya. Dia bersiap kalau-kalau diperintahkan untuk memimpin doa. Sang kapten menepuk keras bahu anak muda yang tanpa ragu mengaku sebagai pengikut Kristus itu dan berujar, ”Bagus! Kita kekurangan satu jaket penyelamat .... Jika Tuhanmu rela mati bagi seluruh manusia, tentu kau pun akan merasa terhormat mati bagi rekan-rekanmu.” Anekdot ini bukan hanya memancing senyum kita, tetapi menohok jauh lebih dalam. Bila kita menganggap bahwa sebutan sebagai pengikut Kristus sekedar predikat yang bermakna ringan tanpa konsekuensi yang berarti, kita harus berpikir ulang. Ternyata dunia tidak melihatnya demikian. Dunia berharap kita berlaku seperti Kristus. Memandang kita sebagai wakil Kristus dalam kehidupan yang tampak di depan mata. Ketika kita hidup buat kepentingan diri sendiri, keluarga sendiri, kelompok sendiri ... itu bertentangan dengan cara hidup Kristus. Hidup Kristus tidak dibaktikan bagi diri-Nya sendiri. Pengorbanan yang mulia adalah ciri khas cara hidup-Nya. Cara hidup yang semestinya menginspirasi kita yang menyebut diri sebagai pengikut Kristus. Jadi, setiap kali kita hendak mengatakan, memutuskan, atau melakukan segala sesuatu ... pertimbangkanlah matang-matang, apakah itu mencerminkan bahwa kita hidup bagi diri sendiri ... atau hidup bagi Kristus yang telah mati dan dibangkitkan untuk kita.
Saudara, ketika manusia jatuh dalam dosa, manusia telah kehilangan sesuatu yang sangat berharga dalam dirinya, yaitu kemuliaan Allah, gambar Allah telah rusak. Kreativitas manusia sebagai cerminan gambaran Allah telah terkontaminasi oleh dosa. Tanggung jawab terhadap dunia ciptaan Allah telah disalahgunakan, tidak lagi memelihara dan mengusahakannya dengan baik, tetapi justru untuk menumpuk “kemuliaan” diri sendiri. Manusia diperbudak oleh dosa, dan dibuatnya tidak berdaya untuk bangkit mengatasinya, dan dosa menggiringnya ke dalam kebinasaan. Di tengah ketidakberdayaan dan tanpa harapan, Allah telah mengutus Putera-Nya, Yesus Kristus, untuk menyelamatkan manusia berdosa dari kebinasaan. Cara atau jalan yang dilakukan Yesus untuk menyelamatkan manusia adalah jalan salib, Dia mengorbankan diri-Nya sekali untuk selama-lamanya, demi keselamatan manusia. Pengorbanan itu memiliki nilai yang sangat tinggi, tidak hanya di mata manusia, tetapi juga di mata Bapa. Nah, di manakah letak nilai yang tinggi atau kemuliaannya itu? Ini dia: terletak pada besarnya pengampunan Allah atas dosa manusia dan pemulihan hidup kekal (Ibrani 10 :14, 18). Saudara, sekarang ini, banyak orang yang sebenarnya telah menyadari akan keberadaan dirinya yang lemah, bahwa dirinya berdosa, menderita, dan juga telah menyadari bahwa dosa membawa kepada maut. Namun mereka tidak berdaya dan tidak tahu harus bagaimana? Sehingga dengan ketidakberdayaan dan ketidaktahuan untuk jalan keluarnya, mereka tetap saja bergulat dalam dosa bertahun-tahun, sampai mereka kebal dan tidak peduli lagi terhadap nasibnya. Tragis bukan? Tetapi justru karena ketragisan hidup manusia inilah, Dia hadir untuk mengorbankan diri-Nya. Mengubah ketragisan menjadi keselamatan. Dan ternyata masih ada yang lebih tragis, ini dia: ketika banyak orang mengaku Kristen, sudah dibaptis, percaya Yesus, ke gereja juga, selalu mendengar Firman, dan sebagainya, tetapi ternyata hidupnya tidak sesuai dengan Firman Tuhan. Dengan kesadaran tahu akan kebenaran, dan senantiasa mengecap berkat-berkat-Nya, namun ironisnya tetap saja nikmat dengan komunitas dosa dan segala perbuatannya. Mereka ini adalah sekelompok “kristen” yang dengan sengaja menginjak-injak Anak Allah, dan dengan cara apa lagi pengampunan itu akan diberikan? Tidak ada! Hanya hukuman kekal (Ibrani 10:26-30). Hendaklah yang bertelinga mendengarkan kebenaran ini, dan bertobatlah!
MARI BERTUMBUH BERSAMA
TEMA BULAN APRIL 2014
RENUNGAN HARIAN
Jaket Penyelamat
14 April '14
Paradoks
18 April '14
Membawa Keharuman Kristus
30 Maret '14
Copyright © 2012 All rights reserved. Designed and Developed by GIA Dr. Cipto Semarang