SEPEKAN TERAKHIR
  Kamis, 18 September 2014   -HARI INI-
  Rabu, 17 September 2014
  Selasa, 16 September 2014
  Senin, 15 September 2014
  Minggu, 14 September 2014
  Sabtu, 13 September 2014
  Jumat, 12 September 2014
POKOK RENUNGAN
Kekuatan tidak hanya berdasar dari apa yang kita dapatkan, tapi justru dari apa yang kita berikan.
DITULIS OLEH
Ibu Ribkah E. Christanti
Kontributor
Renungan Lain oleh Penulis:
Home  »  Renungan  »  Hilang Justru Bertambah
Hilang Justru Bertambah
Jumat, 01 Februari 2013 | Tema: Komunitas Yang Menebarkan Kasih
Hilang Justru Bertambah
Yesaya 58:1-12
Baterai HP atau laptop, kalau sedang lemah (low battery), ia akan kembali berenergi kalau ada tambahan kekuatan melalui charger. Kalau badan lemas karena lapar, dengan makan maka akan menjadi kenyang dan menjadi kuat kembali. Kalau uang habis, dengan mengambil uang di ATM atau meminta kepada orang tua, maka persediaan uang kita akan kembali terisi. Artinya ada substansi yang ditambahkan sehingga memiliki tenaga ekstra. Namun beberapa kenyataan di atas, beda prinsipnya dengan kekuatan baru versi Yesaya 58:11. Orang akan mendapat kekuatan baru kalau dia justru bisa berbagi atau memberi substansi (isi) dari dalam dirinya.

Dalam ayat yang ke-6 sampai ayat ke-10, disebutkan beberapa tindakan iman yang nyata dalam perbuatan. Misalnya, memerdekakan orang yang teraniaya, memecah roti bagi orang lapar, memberi tumpangan bagi orang yang tak punya rumah, memberi pakaian kepada orang yang telanjang, menyerahkan yang kita inginkan sendiri kepada orang yang lapar, dan lain-lain. Namun ketika kita melakukan hal itu (hal yang nampaknya ”mengurangi”apa yang ada pada kita/merugikan kita), justru mendatangkan kasih karunia dari Tuhan, diantaranya mampu ”menambah” kekuatan baru (ayat 11).

Ayat ini mengingatkan kita pada apa yang dialami oleh Daud ketika dia berada di gua Adulam (1 Samuel 22:1-5). Dalam perikop itu diceritakan bagaimana Daud menjadi pemimpin bagi 400 orang ...selengkapnya »
Suatu ketika seorang ayah melarang anaknya untuk bermain sepakbola di siang hari dengan alasan cuaca yang begitu panas. Dan sang ayah menyarankan tentu akan lebih baik kalau anaknya istirahat atau belajar. Tetapi karena ajakan teman-temannya untuk bermain sepakbola dan kebetulan ayahnya juga sedang pergi, maka bermainlah anak tersebut. Setelah anak itu selesai bermain sepakbola ternyata ayahnya sudah di rumah, maka apa yang terjadi dengan anak itu? Dia takut untuk pulang ke rumah karena melanggar perintah orangtuanya. Dari bacaan di atas Yesuspun pernah mengalami ketakutan yang begitu hebat sampai peluhnya bercampur darah. Bukan karena sebuah kesalahan, tetapi karena Dia harus menanggung dosa seluruh manusia di kayu salib. Kepada siapa Yesus terbuka menceritakan kesedihan hati-Nya? Dalam pergumulan-Nya yang berat, Dia menceritakan kesedihan hatinya kepada murid-murid terdekat-Nya dan juga kepada Bapa-Nya di sorga. Dalam ketakutan-Nya, Yesus terbuka kepada orang-orang dekat-Nya dan yang lebih penting adalah berserah kepada Bapa. Setiap kita tentu pernah mengalami ketakutan dan banyak hal yang bisa membuat kita menjadi takut, namun bukankah semua sudah ditanggung oleh Yesus di atas salib Golgota. Ketika kita mengalami ketakutan, mari kita mau belajar seperti Yesus. Belajar terbuka kepada rekan-rekan yang dapat dipercaya dan siap memberikan dukungan. Juga datang kepada Bapa kita di sorga dan menceritakan semua pergumulan kita. Yang harus kita lakukan adalah membangun komunitas yang siap memberi dukungan. Dan yang terpenting adalah serahkan semua dan percayakan diri kita kepada Allah .
Sore itu saya mendengar suara berisik sekali. Keempat anak anjing saya yang baru berumur 2,5 tahun itu menggonggong semua dan tak mau berhenti. Karena penasaran, saya beranjak keluar rumah menengok mencari penyebab mengapa anak anjing itu menggonggong tidak henti-henti. Ketika saya keluar, induk anjingpun ikut keluar. Apa yang terjadi? Eh.... anak-anak anjing itu malah menggonggong semakin keras dan berani. Ternyata mereka menggonggong karena melihat seorang tetangga mengambil buah alpokat di pohon sebelah rumah saya. Anak-anak anjing itu semakin berani ketika induknya bersama mereka. Dan anak-anak anjing itu semakin berani mendekati tetangga itu karena induknyapun ikut menggonggong. Dan anjing-anjing itu berhenti menggonggong setelah saya suruh berhenti dan pergi. Anak-anak anjing itu menggonggong karena melihat hal-hal yang tidak beres di sekitarnya dan menurutnya benar demi tuannya. Anak-anak anjing itu semakin berani karena merasa mendapat perlindungan, yaitu induknya. Anjing-anjing itu tidak berhenti menggonggong ketika tidak mendapat mandat dari tuannya untuk berhenti. Cerita di atas hendaknya menjadi inspirasi bagi setiap orang yang telah mengaku sebagai orang percaya Yesus. Berani untuk menyuarakan kebenaran Injil Kristus karena Yesus yang telah memberi hidup kepada kita. Dan Roh Kudus selalu bersama kita untuk memberikan pertolongan dan hikmat untuk bertindak dalam kebenaran. Rasul Petrus dengan tegas berkata kepada pemimpin-pemimpin Yahudi serta tua-tua dan ahli-ahli Taurat dalam sidang di Yerusalem, ”Silakan kamu putuskan sendiri manakah yang benar di hadapan Allah: taat kepada kamu atau taat kepada Allah. Sebab tidak mungkin bagi kami untuk tidak berkata-kata tentang apa yang telah kami lihat dan yang telah kami dengar.” Keberanian Rasul Petrus muncul karena kebenaran, sehingga Tuhan selalu menyertai apa yang dilakukannya. Dan tanda-tanda mujizat terjadi dalam setiap pelayanannya (KPR 4:16). Marilah kita tetap dalam kesetiaan kepada Allah untuk menyuarakan kebenaran Injil Tuhan dalam setiap sisi kehidupan kita, supaya kita dapat merasakan penyertaan Allah dalam setiap kehidupan kita.
Sore itu saya kaget sekali bahkan takut ke pulang rumah karena 2 ekor dari 6 ekor kambing saya mati, dan 1 ekor lagi sedang sekarat. Sedang 3 ekor yang lain masih hidup karena tetap terikat dengan kuat. Begitu juga dengan kambing teman saya. Dari 8 ekor kambing, 3 ekor telah mati. Apa penyebabnya? Kebiasaan kami setelah pulang sekolah adalah menggembalakan kambing-kambing ke pinggir jalan ladang di kampung kami. Hari itu saya teledor. Seperti biasa kambing-kambing sudah saya ikat dan nampak cukup kuat, maka saya tinggal mandi di sebuah sungai yang memang mata airnya jernih. Kesenangan kami membuat lupa akan tugas kami menjaga kambing. Ternyata kambing-kambing kami lepas dan masuk ladang orang, sehingga memakan daun singkong beracun di ladang tersebut. Cerita di atas menggambarkan kita sebagai orang percaya. Kita telah dipilih Allah dan diikat dengan kuat dalam persekutuan gereja-Nya. Kita masing-masing anggota diperlengkapi Tuhan dengan karunia masing-masing untuk hidup menerima berkat-Nya dan untuk membangun gereja-Nya. Kita adalah satu tubuh kristus dengan bermacam-macam fungsi anggota tubuh, semua untuk saling melengkapi (1 Korintus 12:12). anganlah kita menjauhkan diri dari persekutuan kita (Ibrani 10:25). Tetapi hendaknya kita saling menasehati, memperhatikan, membangun satu dengan yang lainnya agar kita tetap aman menjelang hari Tuhan. Perlu kita ingat, ketika kita mulai menjauh dari persekutuan, maka kita akan mudah menjadi lemah dan terjatuh saat mengalami tantangan dan masalah hidup. Kita mudah terjerumus tanpa ada yang menolong. Oleh Roh Kudus dan Firman, kita diikat kuat agar tidak mudah terjerumus dalam pencobaan yang mematikan rohani kita. Dengan tinggal tetap dalam satu tubuh kristus, akan ada saling memperhatikan, mendoakan sehingga mampu bertahan dalam setiap langkah kehidupan kita.
Suatu hari saya membaca sebuah artikel dan melihat foto-foto tentang operasi plastik. Bersama teman-teman, kami menertawakan gambar dari beberapa ibu dan gadis-gadis yang telah menjalani operasi plastik tersebut. Kami tertawa karena orang dalam foto tersebut yang awalnya ‘tidak enak dilihat’ berubah jadi ‘enak dilihat’. Wajah yang sudah tua dan keriput disulap menjadi muda dan cantik kembali. Sungguh sangat menggelikan membandingkan wajah asli yang semula hidungnya pesek dan sekarang menjadi mancung seperti hidung Madona. Dalam artikel tersebut, sebuah komentar mengungkapkan bahwa keinginan utama yang mendorong mereka melakukan operasi plastik adalah ketakutan mereka pada ‘ketuaan’ yang kemudian membawa dampak pada kurangnya kepercayaan diri pada seseorang. Sebenarnya operasi plastik yang dilakukan untuk merawat tubuh dan mendandani tubuh yang Tuhan sudah berikan kepada kita sebagai bentuk rasa syukur kita, itu tidak salah. Tetapi operasi plastik yang dilakukan karena ketakutan-ketakutan pada ketuaan, ketakutan pada perubahan fisik yang memang pasti akan terjadi dalam tubuh kita, dan ketidakpuasan fisik yang Tuhan berikan, serta rasa iri hati terhadap kelebihan-kelebihan fisik yang dimiliki orang lain, itu yang tidak dibenarkan dalam Alkitab. Karena secara otomatis ketakutan-ketakutan tersebut akan menguras seluruh energi, keuangan, dan menjadikan kita jauh dari ucapan syukur. Perubahan fisik, tua, keriput, rambut putih, ompong, lemah, dan lain sebagainya, mengapa harus ditakuti? Bukankah kita semua pasti akan mengalaminya? 2 Korintus 4:16 berkata: “Tetapi meskipun manusia lahiriah kami semakin merosot,...” Artinya, baik usia, bentuk tubuh, wajah, hidung dan semua yang ada dalam tubuh kita ada batas waktu tertentu yang tidak dapat kita hindari. Kitab Mazmur lebih tegas berkata bahwa batas usia kita pun sudah ditentukan oleh Tuhan (Mazmur 90:10). “Masa hidup kami tujuh puluh tahun, dan jika kami kuat delapan puluh tahun,...”. Jadi, mari kita merawat tubuh kita dengan baik dan penuh ucapan syukur. Semua hal yang pasti akan terjadi dalam hidup kita di kemudian hari jangan sampai membuat kita takut, apalagi sampai mengurangi rasa percaya diri dan ucapan syukur kita pada Tuhan.
BARCODE BBM CHANNELS
RENUNGAN HARIAN
Jangan Takut
30 Agustus '14
Jangan Panik, Tenanglah Bersama Tuhan!
03 September '14
Diikat Kuat
08 September '14
Copyright © 2012 All rights reserved. Designed and Developed by GIA Dr. Cipto Semarang