SEPEKAN TERAKHIR
  Sabtu, 21 Januari 2017   -HARI INI-
  Jumat, 20 Januari 2017
  Kamis, 19 Januari 2017
  Rabu, 18 Januari 2017
  Selasa, 17 Januari 2017
  Senin, 16 Januari 2017
  Minggu, 15 Januari 2017
POKOK RENUNGAN
Kekuatan tidak hanya berdasar dari apa yang kita dapatkan, tapi justru dari apa yang kita berikan.
DITULIS OLEH
Ibu Ribkah E. Christanti
Kontributor
Renungan Lain oleh Penulis:
Home  »  Renungan  »  Hilang Justru Bertambah
Hilang Justru Bertambah
Jumat, 01 Februari 2013 | Tema: Komunitas Yang Menebarkan Kasih
Hilang Justru Bertambah
Yesaya 58:1-12
Baterai HP atau laptop, kalau sedang lemah (low battery), ia akan kembali berenergi kalau ada tambahan kekuatan melalui charger. Kalau badan lemas karena lapar, dengan makan maka akan menjadi kenyang dan menjadi kuat kembali. Kalau uang habis, dengan mengambil uang di ATM atau meminta kepada orang tua, maka persediaan uang kita akan kembali terisi. Artinya ada substansi yang ditambahkan sehingga memiliki tenaga ekstra. Namun beberapa kenyataan di atas, beda prinsipnya dengan kekuatan baru versi Yesaya 58:11. Orang akan mendapat kekuatan baru kalau dia justru bisa berbagi atau memberi substansi (isi) dari dalam dirinya.

Dalam ayat yang ke-6 sampai ayat ke-10, disebutkan beberapa ...selengkapnya »
Popeye adalah salah satu tokoh animasi yang dikenal oleh banyak kalangan. Mulai dari kaum muda hingga orang tua, laki-laki atau perempuan, sebagian besar pernah mendengar nama tokoh animasi yang satu ini. Popeye dikenal memiliki musuh “abadi” yang bernama Brutus. Dua orang ini selalu bersaing dalam segala hal. Dalam persaingan tersebut, Brutus seringkali memakai cara-cara licik dan kotor untuk mengalahkan Popeye. Sehingga awalnya tak jarang Popeye mengalami kekalahan saat melawan Brutus. Dan yang menjadi ciri khas dari Popeye adalah bahwa dia dapat memiliki kekuatan super apabila memakan bayam. Saat ada dalam keadaan terpojok dan tak berdaya, bayam menjadi penolong baginya untuk menjadi manusia super. Bayam memberi kekuatan bagi Popeye untuk bangkit kembali dan menaklukan lawannya. Suatu pengakuan dalam kitab Mazmur 121:2 berbunyi: “Pertolonganku ialah dari TUHAN, yang menjadikan langit dan bumi.” Mazmur 121 diawali dengan pencarian pertolongan di dunia ini. Dan ditegaskan dalam ayat-ayat selanjutnya [ay.2-8] bahwa pertolongan hanya datang dari Tuhan. Tidak ada pertolongan lain yang sanggup memberi kedamaian sejati selain dari Tuhan. Bahkan disebutkan di sana, Tuhan diibaratkan sebagai seorang penjaga yang selalu bersiaga tak kenal lelah. Yang akan menjaga kita sampai selama-lamanya. Saat kita ada dalam kesulitan hidup. Masalah tak kunjung berakhir. Perekonomian memburuk. Keharmonisan keluarga mulai retak. Atau sakit penyakit terus menggerogoti tubuh dan tak kunjung sembuh. Kemanakah kita mencari pertolongan? Kepada siapakah kita berharap? Teruslah berharap pada Tuhan. Dia akan memberi kekuatan baru yang akan memampukan kita mengatasi segala persoalan hidup. Mari, lalui tahun 2017 dengan terus berpengharapan kepada Tuhan. Di dalam Yesus ada pengharapan yang tidak akan mengecewakan kita. Sebab rancangan Tuhan adalah rancangan yang akan menghadirkan damai sejahtera bagi kita.
Sejak menjadi orang tua tunggal yang harus berjuang untuk menghidupi dan menyekolahkan saya, Ibu mengajar saya dengan keras untuk mencukupkan diri dengan apa yang ada. Tidak boleh pilih-pilih makanan, apa pun yang tersaji di meja makan harus disukai. Tidak boleh minta ini-itu, kecuali Ibu yang memberikan sendiri. Saya pun membiasakan diri untuk sebisa mungkin tidak menuntut dan meminta apa-apa dari Ibu. Ketika saya kuliah di luar kota dan tinggal di kos, setiap bulan Ibu mengirimkan sejumlah uang. Uang itu saya gunakan untuk mencukupkan segala kebutuhan. Bila perlu membeli buku atau pakaian, saya tidak meminta tambahan. Suatu ketika, hampir dua bulan berlalu dan kiriman uang tak kunjung datang. Meski sudah berhemat kelewat batas, lama-lama uang yang ada nyaris habis juga. Minggu-minggu itu diwarnai oleh kekuatiran dan rasa lapar yang menyiksa. Saat kondisi sudah benar-benar kritis dan uang akan benar-benar habis ... muncullah wajah tante saya dari balik jendela kamar kos. Tante yang merupakan adik Ayah datang jauh-jauh dari Jakarta untuk menjenguk saya. Saat itu saya langsung tersentak. Tertegun. Ada haru yang menghujam. Karena belum sampai saya berteriak meminta pertolongan, Tuhan terlebih dahulu mengulurkan tangan. Kasih sayang dan pemeliharaan Tuhan sungguh mengagumkan. Kebenaran Sabda Tuhan yang berbunyi, ’Janganlah kuatir akan hidupmu ...’ benar-benar dibeberkan di hadapan saya detik itu juga. Sepenggal pengalaman itu dari waktu ke waktu mengingatkan saya bahwa perhatian Tuhan tak pernah lepas dari anak-anak-Nya. Janji Tuhan tak pernah luput digenapi-Nya. Tak ada alasan bagi umat kepunyaan-Nya untuk merasa kuatir karena Tuhan pemilik kita selalu setia memelihara.
Di dunia ini banyak orang berbicara tentang kebenaran karena menurutnya kebenaran adalah satu-satunya menuju kedamaian dan keseimbangan di tengah masyarakat. Misalnya saja semua kejadian terjadi karena adanya norma-norma yang mengikat bersama. Jika ada yang tidak sesuai dengan norma-norma yang berlaku maka menimbulkan masalah. Yang sesuai dengan norma itulah masyarakat mengatakan sebagai kebenaran. Tetapi persoalanya adalah norma atau ideologi bisa menjadi relatif ketika terlalu banyak kelompok masyarakat. Contohnya, para teroris menganggap bahwa apa yang dipikirkan dan yang dilakukan itu kebenaran sekalipun mengorbankan banyak orang. Sementara di masyarakat luas ada yang menentang para teroris tetapi mungkin juga ada yang sepaham dengan mereka. Itu baru paham soal mau masuk sorga saja berbeda-beda. Tentunya masih banyak hal di masyarakat yang mengandung “kebenaran” relatif. Tetapi bagi kita, orang percaya dalam Kristus Yesus, mempercayai bahwa kebenaran itu datang hanya dari Allah yang di dalam Yesus Kristus saja. 1 Korintus 1:30 mengatakan “Tetapi oleh Dia kamu berada dalam Kristus Yesus, yang oleh Allah telah menjadi hikmat bagi kita, Ia membenarkan dan menguduskan dan menebus kita”. Bahwa Yesus Kristus membenarkan dan menguduskan kita. Membenarkan berarti kita diperdamaikan dengan Allah Bapa, sedangkan menguduskan berarti di dalam hati kita dituntun oleh kuasa kebenaran-Nya untuk terus- menerus melakukan segala sesuatu yang sesuai dengan kehendak Allah. Hal ini akan terjadi ketika seseorang memiliki iman di dalam Kristus Yesus karena kita semua yakin bahwa manusia dibenarkan oleh iman bukan karena berbagai perbuatan yang muncul dari hikmat manusia [band. Roma 3:28]. Saudara kekasih Tuhan, kebenaran itu akan “diinfuskan” ke dalam diri kita sehingga akan mempengaruhi seluruh manusia kita ini, yaitu tubuh, jiwa dan roh. Tubuh kita akan menuju kepada semua perbuatan baik. Jiwa kita yang terdiri dari pikiran dan hasrat akan memikirkan hal-hal yang kudus dan roh kita akan selalu memiliki hati nurani untuk selaras dengan kehendak Tuhan dan menurutinya. Ketika kita beriman di dalam Kristus Yesus yang adalah kebenaran Allah, maka “diinfuskan” kebenaran itu sehingga benar yang dikatakan dalam Wahyu 19:8 bahwa orang beriman dalam Kristus akan mendapat karunia memakai kain lenan halus. Apa itu kain lenan halus? Yaitu perbuatan-perbuatan yang benar. Dengan kata lain orang beriman mendapat karunia perbuatan-perbuatan benar dari Tuhan dan itu merupakan syarat mutlak untuk menyongsong mempelai laki-laki dalam pesta perjamuan kawin Anak Domba. Sehingga di luar Kristus bukanlah kebenaran sejati.
Nubuatan Yesaya 9:5, “Sebab seorang anak telah lahir untuk kita, seorang putera telah diberikan untuk kita...”, telah tergenapi ketika bayi Yesus lahir di kandang Betlehem. Para malaikat memuji, para gembala dan para majus datang sujud dan menyembah Dia. Nubuatan Zakaria 9:9, “...lihat rajamu datang kepadamu, ia adil dan jaya, ia lemah lembut dan mengendarai seekor keledai, seekor keledai beban yang muda.” Juga telah tergenapi ketika orang banyak mengelu-elukan Yesus yang menaiki seekor keledai muda itu memasuki kota Yerusalem waktu itu pelayanan Yesus di dunia hampir selesai sebelum Ia disalibkan. Orang-orang itu mengiringi Yesus dengan kegembiraan yang besar, bersorak sorai memuji Yesus: “Hosana... diberkatilah Dia yang datang dalam nama Tuhan, hosana di tempat yang maha tinggi.” Apa artinya? Hosana berasal dari bahasa Ibrani yang berarti ‘berilah kiranya keselamatan, kami berdosa’. Doa permohonan ini kemudian menjadi ungkapan sukacita kemenangan [Mazmur 118:25-26], itulah sebabnya orang-orang bersorak sorai menyambut Yesus. Mereka memberikan pujian kepada Yesus yang telah melakukan banyak mujizat, memberikan penghormatan kepada Yesus sebagai Allah yang maha tinggi dan Raja yang akan membebaskan dan memulihkan keadaan mereka. Orang yang datang kepada-Nya akan diberkati, memperoleh keselamatan, damai sejahtera abadi. Sayangnya di tengah-tengah sukacita itu, Yesus menangisi kota Yerusalem karena sesungguhnya mereka tidak mengerti bahwa Yesus yang mereka elu-elukan itu tidak lama lagi akan mereka salibkan [Lukas 19: 41-44]. Bagaimanakah sikap hati kita ketika kita merayakan natal tahun ini sementara kita juga sedang menantikan penggenapan janji “Natal kedatangan Kristus yang kedua?” Masih kuatkah sorak sorai “Hosana” bergema dalam hidup kita. Di saat kita serukan “Hosana” pandanglah Yesus, apa yang kita temukan di wajahNya? Adakah senyum bahagia di wajah kasih-Nya ataukah tangisan duka seperti Dia menangisi kota Yerusalem waktu itu?
BARCODE BBM CHANNELS
RENUNGAN HARIAN
Tuhan Tahu Jalan Hidup Kita
12 Januari '17
Bukan Jalan Pintas
05 Januari '17
Pertolonganku Ialah Dari Tuhan
10 Januari '17
Copyright © 2012 All rights reserved. Designed and Developed by GIA Dr. Cipto Semarang