SEPEKAN TERAKHIR
  Sabtu, 07 Maret 2015   -HARI INI-
  Jumat, 06 Maret 2015
  Kamis, 05 Maret 2015
  Rabu, 04 Maret 2015
  Selasa, 03 Maret 2015
  Senin, 02 Maret 2015
  Minggu, 01 Maret 2015
POKOK RENUNGAN
Kekuatan tidak hanya berdasar dari apa yang kita dapatkan, tapi justru dari apa yang kita berikan.
DITULIS OLEH
Ibu Ribkah E. Christanti
Kontributor
Renungan Lain oleh Penulis:
Home  »  Renungan  »  Hilang Justru Bertambah
Hilang Justru Bertambah
Jumat, 01 Februari 2013 | Tema: Komunitas Yang Menebarkan Kasih
Hilang Justru Bertambah
Yesaya 58:1-12
Baterai HP atau laptop, kalau sedang lemah (low battery), ia akan kembali berenergi kalau ada tambahan kekuatan melalui charger. Kalau badan lemas karena lapar, dengan makan maka akan menjadi kenyang dan menjadi kuat kembali. Kalau uang habis, dengan mengambil uang di ATM atau meminta kepada orang tua, maka persediaan uang kita akan kembali terisi. Artinya ada substansi yang ditambahkan sehingga memiliki tenaga ekstra. Namun beberapa kenyataan di atas, beda prinsipnya dengan kekuatan baru versi Yesaya 58:11. Orang akan mendapat kekuatan baru kalau dia justru bisa berbagi atau memberi substansi (isi) dari dalam dirinya.

Dalam ayat yang ke-6 sampai ayat ke-10, disebutkan beberapa tindakan iman yang nyata dalam perbuatan. Misalnya, memerdekakan orang yang teraniaya, memecah roti bagi orang lapar, memberi tumpangan bagi orang yang tak punya rumah, memberi pakaian kepada orang yang telanjang, menyerahkan yang kita inginkan sendiri kepada orang yang lapar, dan lain-lain. Namun ketika kita melakukan hal itu (hal yang nampaknya ”mengurangi”apa yang ada pada kita/merugikan kita), justru mendatangkan kasih karunia dari Tuhan, diantaranya mampu ”menambah” kekuatan baru (ayat 11).

Ayat ini mengingatkan kita pada apa yang dialami oleh Daud ketika dia berada di gua Adulam (1 Samuel 22:1-5). Dalam perikop itu diceritakan bagaimana Daud menjadi pemimpin bagi 400 orang ...selengkapnya »
1 Petrus 4:7-11 Layanilah seorang akan yang lain, sesuai dengan karunia yang telah diperoleh tiap-tiap orang sebagai pengurus yang baik dari kasih karunia Allah. Restoran yang bagus pasti memberikan ’good service.’ Demikian juga hotel yang bagus, toko yang bagus, apartemen yang bagus, perusahaan yang bagus dan semua yang bagus pasti memberikan ’good service’. Tapi good service pasti harus dibayar dengan biaya yang mahal. Tidak ada good service yang murahan, apalagi gratisan. Memang itulah hukum ekonomi: ’ada harga, ada rupa.’ Karena itu siapapun yang ingin mendapatkan imbalan yang bagus, dia harus memberikan service yang bagus. Itu namanya adil. Firman Tuhan mengajar kita sesuatu yang berbeda dengan yang diajarkan dunia ini. Memang dunia ini menganjurkan agar kita memberikan good service, bahkan kalau perlu yang excelent, supaya kita mendapatkan penghargaan yang tinggi. Tetapi Firman Tuhan mengajar kita untuk melayani, bahkan memberikan ’good service’, bukan untuk kepentingan diri kita. Kita melayani oleh karena kita mendapat kepercayaan sebagai pengurus (pengelola) dari kasih karunia Allah. Jadi melayani itu bukan untuk mengejar sesuatu yang bernilai, tetapi karena kita sudah punya sesuatu yang bernilai tinggi. Karunia berasal dari kata Yunani ’kharis,’ yang berarti pemberian yang cuma-cuma. Karunia adalah pemberian yang kita terima dari Allah, meskipun kita tidak layak untuk menerimanya. Jika kita menerima suatu pemberian oleh karena kita telah mengerjakan sesuatu yang diwajibkan, maka itu namanya upah. Karunia tidak mensyaratkan kita untuk mengerjakan sesuatu. Karunia semata-mata diberikan oleh karena Allah mengasihi kita dan berkenan memberikannya kepada kita. Cobalah kita mengingat berapa banyak pemberian yang kita terima dari Allah, meskipun kita tidak layak untuk menerimanya. Selain keselamatan yang telah kita terima, ada banyak macam pemberian yang Allah berikan kepada kita: kesehatan, talenta, keberuntungan, kesempatan, orang-orang yang baik di sekitar kita, dan sebagainya. Tidak ada yang kebetulan dengan semua itu. Semuanya dihadirkan bagi kita oleh tangan Allah yang penuh kebaikan. Jika kita menyadari semua itu, tidakkah hati kita akan dipenuhi rasa syukur? Tidakkah jiwa kita ingin melakukan yang terbaik karena semua kepercayaan yang Allah berikan kepada kita? Itulah arti pelayanan bagi orang yang percaya kepada Tuhan Yesus. Amin.
Siapakah di dunia ini yang tidak mengenal Bunda Teresa [Agnes Gonxha Bojaxhiu]; yang lahir di Üsküb, Kerajaan Ottoman, 26 Agustus 1910 dan meninggal di Kalkuta, India, 5 September 1997 tahun? Ia adalah seorang biarawati Katolik Roma keturunan Albania dan berkewarganegaraan India yang mendirikan “Misionaris Cinta Kasih” [Missionaries of Charity] di Kalkuta, India pada tahun 1950. Selama lebih dari 47 tahun, ia melayani orang miskin, sakit, yatim piatu dan sekarat, sementara membimbing ekspansi Misionaris Cinta Kasih yang pertama di seluruh India dan selanjutnya di negara lain. Setelah kematiannya, ia mendapat gelar ‘Beata’ [blessed-Inggris] oleh Paus Yohanes Paulus II. Sebagai orang kristen yang diajar untuk meneladani kasih Kristus setiap hari, tentu terbesit dalam pikiran kita pertanyaan, “Bagaimana Bunda Theresa dapat melakukan semua itu?” Itu semua karena Bunda Theresa telah menerima kasih yang melimpah dari Tuhan, dan kasih Tuhan itu yang membawanya untuk mengambil, memelihara, memiliki, dan menyayangi domba-domba yang tak terpelihara itu. Sehingga ia dapat mengabdikan hidupnya sepenuhnya untuk orang-orang yang disayanginya. Rasul Paulus selalu berdoa untuk jemaat kecil yang ada di Filipi agar Tuhan terus melimpahkan kasih itu dengan ‘meluber’ [melimpah-limpah], sehingga ada banyak orang-orang yang akan diberkati melalui teladan kasih yang diberikan oleh Jemaat Filipi. Kasih yang melimpah itu pun harus menjadi bagian dalam hidup kita sehingga kita dapat menjadi berkat bagi orang-orang di sekitar kita. Kita tidak akan dapat mengasihi orang lain secara total jika kita tidak pernah mempunyai rasa memiliki dan menyayangi mereka. Kita tidak akan dapat mengasihi Tuhan jika kita tidak mempunyai rasa memiliki dan menyayangi, demikian juga kepada sesama manusia dan benda-benda di sekitar kita.
Sebuah toko yang tidak begitu besar sangat ramai dikunjungi pembeli dibanding toko-toko di sekitarnya yang jauh lebih besar. Bukan karena barang-barang di toko itu dijual lebih murah dibanding toko lainnya, tetapi karena pelayanannya. Pemilik toko, seorang aktivis sebuah gereja, melatih semua karyawan agar melayani pembeli dengan ramah walaupun orang tersebut sangat menjengkelkan dan tidak jadi membeli setelah semua barang porak poranda. Suatu ketika ada seorang pria dengan pakaian kumal masuk ke toko dan ingin membeli sebuah barang yang cukup mahal harganya. Karyawan toko kuatir dia tidak bisa bayar. Pemilik toko mendekati dan melayaninya dengan ramah, si pembeli membayar dengan beberapa tumpuk uang ribuan. Setelah si pembeli pulang, dia berkata kepada karyawan-karyawannya: “Layanilah pembeli siapapun dia, jangan memandang penampilannya. Layanilah mereka dengan kasih seperti kepada Tuhan.” Tuhan ingin setiap anak-Nya hidup di dalam kasih seperti kasih Kristus yang rela berkorban bagi manusia. Hidup dalam kasih dinyatakan dengan tidak melakukan percabulan, kecemaran, keserakahan, bahkan dibicarakannya pun jangan. Demikian juga perkataan kotor, sembrono atau tidak pantas. Tetapi ucapkanlah syukur senantiasa. Ingatlah orang cemar, orang cabul dan yang perkataannya kotor tidak mendapat bagian dalam Kerajaan Kristus dan Allah. Kita hidup di masyarakat yang beraneka ragam, apakah kita bisa menyatakan kasih Kristus dalam pergaulan kita? Walaupun sekitar kita hidup dalam percabulan, kecemaran, keserakahan dan perkataan mereka kotor, sembrono, tidak pantas, apakah kita tetap hidup dalam kasih Kristus dengan rela berkorban dicemooh, disakiti hati, disingkirkan oleh lingkungan kita? Marilah kita terus bertahan dan setia kepada-Nya sampai satu saat Dia berkata, “Sabaslah hai hamba-Ku yang setia.”
Di dalam diri kita ada potensi-potensi besar yang bisa membuat kita berkembang atau bertumbuh. Pusatnya ada di dalam hati kita masing-masing. Nah, apa yang tersimpan di dalam hati itulah yang akan mendorong kita untuk melakukan sesuatu. Hati kita diibaratkan sebagai lahan yang subur [berpotensi] untuk mendorong dan mengerjakan banyak hal. Tergantung benih apa [motivasi apa] yang ada di dalam hati kita. Jika di dalam hati kita tertanam benih-benih, yaitu firman Tuhan [ayat 21b], dan kita tidak saja mengetahui Firman tetapi juga melakukannya [ayat 22], maka benih Firman itu berkuasa untuk menyelamatkan jiwa kita [ayat 21b]. Dan ketika kita sudah menjadi dewasa iman karena senantiasa menerima firman Tuhan, maka saatnya kita juga menabur berbagai kebaikan dan kebenaran dari firman Tuhan kepada orang lain. Oleh sebab itu sudahkah hati kita terlebih dulu dipenuhi benih Firman? Sebab apa yang kita tabur adalah apa yang kita terima dari Tuhan. Janganlah kita mengumbar hawa nafsu untuk memuaskan kedagingan sesaat, sebab itu kekotoran dan kejahatan yang hanya menyesatkan dan menghancurkan jiwa manusia [ayat 21a]. Tetapi jadilah pelaku Firman dengan menabur banyak kebajikkan, bukan supaya kita memperoleh keuntungan balik dari orang lain, melainkan dengan hati yang ikhlas. Ingatlah bahwa Firman yang ada di hati kita akan membantu kita untuk melakukan banyak kebajikan. Masalahnya adalah apakah yang menguasai hati kita? Jika yang menguasai adalah benih firman Tuhan, maka kita akan dituntun untuk melakukan banyak hal kebajikan untuk memberkati banyak orang. Tetapi jika keegoisan tetap menguasai hati kita, maka selamanya apa yang kita pikirkan dan lakukan hanya hitung-hitungan bagaimana supaya tetap menguntungkan diri kita sendiri. Menabur sedikit, tetapi berhasrat mendapatkan kembali berlipat-lipat adalah hal yang tidak fair.
BARCODE BBM CHANNELS
RENUNGAN HARIAN
Penuhi Hati Dengan Benih Firman
04 Maret '15
Melayani Dengan Kekuatan Anugerah Allah
21 Februari '15
Tergerak Secara Otomatis
05 Maret '15
Copyright © 2012 All rights reserved. Designed and Developed by GIA Dr. Cipto Semarang