SEPEKAN TERAKHIR
  Kamis, 20 Juli 2017   -HARI INI-
  Rabu, 19 Juli 2017
  Selasa, 18 Juli 2017
  Senin, 17 Juli 2017
  Minggu, 16 Juli 2017
  Sabtu, 15 Juli 2017
  Jumat, 14 Juli 2017
POKOK RENUNGAN
Kekuatan tidak hanya berdasar dari apa yang kita dapatkan, tapi justru dari apa yang kita berikan.
DITULIS OLEH
Ibu Ribkah E. Christanti
Kontributor
Renungan Lain oleh Penulis:
Home  »  Renungan  »  Hilang Justru Bertambah
Hilang Justru Bertambah
Jumat, 01 Februari 2013 | Tema: Komunitas Yang Menebarkan Kasih
Hilang Justru Bertambah
Yesaya 58:1-12
Baterai HP atau laptop, kalau sedang lemah (low battery), ia akan kembali berenergi kalau ada tambahan kekuatan melalui charger. Kalau badan lemas karena lapar, dengan makan maka akan menjadi kenyang dan menjadi kuat kembali. Kalau uang habis, dengan mengambil uang di ATM atau meminta kepada orang tua, maka persediaan uang kita akan kembali terisi. Artinya ada substansi yang ditambahkan sehingga memiliki tenaga ekstra. Namun beberapa kenyataan di atas, beda prinsipnya dengan kekuatan baru versi Yesaya 58:11. Orang akan mendapat kekuatan baru kalau dia justru bisa berbagi atau memberi substansi (isi) dari dalam dirinya.

Dalam ayat yang ke-6 sampai ayat ke-10, disebutkan beberapa tindakan iman yang nyata dalam perbuatan. Misalnya, memerdekakan orang yang teraniaya, memecah roti bagi orang lapar, memberi tumpangan bagi orang yang tak punya rumah, memberi pakaian kepada orang yang telanjang, menyerahkan yang kita inginkan sendiri kepada orang yang lapar, dan lain-lain. Namun ketika kita melakukan hal itu (hal yang nampaknya ”mengurangi”apa yang ada pada kita/merugikan kita), justru mendatangkan kasih karunia dari Tuhan, diantaranya mampu ”menambah” ...selengkapnya »
Kahlil Gibran [1883-1931], filsuf pendidikan Libanon yang kemudian menetap di Amerika Serikat mengibaratkan orangtua sebagai busur, anak sebagai anak panah dan Tuhan sebagai Sang Pemanah. Gibran menulis : Anakmu sebenarnya bukan milikmu. Mereka adalah anak Sang Hidup yang mendambakan hidup mereka sendiri. Mereka memang datang melalui kamu, tetapi mereka bukan milikmu. Engkau bisa memberi kasih sayang, tapi engkau tidak bisa memberikan pendirianmu, sebab mereka memiliki pendirian sendiri. Engkau dapat memberikan tempat pijak bagi raganya, tapi tidak untuk jiwanya sebab jiwa mereka ada di masa depan yang tidak bisa engkau capai sekalipun dalam mimpi. Engkau boleh berusaha mengikuti alam mereka tapi jangan harap mereka dapat mengikuti alammu, sebab hidup tidaklah surut ke belakang, tidak pula tertambat di masa lalu. Engkau adalah busur dari mana bagai anak panah, kehidupan anakmu melesat ke masa depan. Sang Pemanah mahatahu sasaran bidikan keabadian. Dia merentangmu dengan kekuasaan-Nya, hingga anak panah itu melesat jauh serta cepat. Meliuklah dengan sukacita dalam rentangan tangan Sang Pemanah, sebab Dia mengasihi anak panah yang melesat laksana kilat, Sebagaimana pula dikasihi-Nya busur yang mantap. Ketika pendidikan anak beranjak ke jenjang SMA/SMK atau kuliah di perguruan tinggi banyak orangtua memilih, memutuskan jurusan apa yang anak-anak ambil. Tiap orangtua ingin memberikan pendidikan yang terbaik demi masa depan anaknya. Banyak orangtua terlalu posesif [bersikap memiliki] dan protektif [bersikap melindungi] sehingga cenderung mengekang dan menguasai anak. Tidak bolehkah orangtua mengarahkan pendidikan demi masa depan anak? Tentu saja boleh itu tugas orangtua. Tapi ada tugas yang lebih penting, yaitu orangtua harus tahu rencana Tuhan atas hidup anak-anak dan membimbing mereka untuk percaya penuh pada rencana-Nya dalam hidup mereka. Mazmur 139:16 mengatakan bahwa hari-hari kita sudah tertulis dalam kitab-Nya sebelum hari-hari itu ada. Mazmur 127:4 mengibaratkan anak-anak seperti anak panah di tangan pahlawan. Sang pahlawan pasti melesatkan anak panah tepat pada sasaran.
Masih segar diingatan, saat salah seorang teman sekolah berteriak kagum melihat pohon rambutan. Ternyata dia hanya tahu buah rambutan di toko buah. Maklum anak kota. Dia sangat gembira dan berteriak-teriak bahwa seumur-umur dia baru tahu pohon rambutan! Andaikan waktu itu bukan musim buah rambutan, dia tidak akan tahu bahwa pohon itu adalah pohon rambutan. Saya yang lahir dan besar di desa merasa geli karena dari kecil saya sudah tahu berbagai jenis pohon buah-buahan karena di kebun ada beberapa macam pohon buah termasuk rambutan. Kasihan deh lu.... Seperti kisah di atas, demikian juga kehidupan kita selaku anak Tuhan. Orang bisa mengenali diri kita dari “buah” yang kita hasilkan terutama orang-orang yang ada di lingkungan hidup keseharian kita [ayat 16, 20]. Jadi tidak heran ada dua macam lontaran perkataan yang terucap, yaitu “pujian” saat kita memberikan dampak yang baik dan “cacian/cemooh” saat kita melakukan tindakan negatif yang tidak sesuai dengan Firman Tuhan. Dalam suratnya kepada Jemaat di Galatia, Rasul Paulus mengatakan buah yang harus kita miliki dan pasti akan memberi dampak yang baik bagi lingkungan kita adalah “buah Roh” karena pasti tidak ada hukum yang menentangnya, yaitu kasih, sukacita, damai sejahtera, kesabaran, kemurahan, kebaikan, kesetiaan, kelemahlembutan, penguasaan diri [Galatia 5:22-23]. Kesembilannya wajib ada dalam kehidupan keseharian kita karena kesembilannya itu manunggal dalam 1 buah saja, yaitu BUAH ROH. Bagaimana dengan diri kita? Tentu kita rindu menghasilkan buah yang baik sehingga nama Tuhan dimuliakan dan kita tidak ditebang [ayat 19]. Dengan kemampuan yang diberikan Tuhan kepada kita melalui Roh Kudus-Nya, kita miliki BUAH ROH seperti yang dikatakan oleh Rasul Paulus kepada Jemaat Galatia.
Untuk menyatu dengan Yesus Kristus, seseorang harus bersedia untuk tidak hanya meninggalkan dosa tetapi juga menyerahkan seluruh caranya memandang segala sesuatu. Dilahirkan kembali oleh Roh Allah berarti kita pertama-tama harus rela melepaskan sesuatu sebelum dapat memahami sesuatu yang lain. Hal pertama yang harus kita lepaskan adalah kepura-puraan atau ketidakjujuran. Apa yang dikehendaki Tuhan untuk diserahkan kepada-Nya bukanlah kebaikan, kejujuran atau usaha untuk melakukan sesuatu yang lebih baik, tetapi sesungguhnya dosa kita. Sebenarnya itu yang ingin Dia ambil dari kita. Dan apa yang Tuhan berikan sebagai pengganti dosa kita adalah kebenaran yang nyata dan penuh. Selanjutnya harus menyerahkan segala kepura-puraan bahwa kita ini berarti dan meninggalkan semua klaim yang menganggap diri layak bagi Allah. Ketika telah melakukannya, Roh Allah akan memperlihatkan apa yang harus kita serahkan selanjutnya. Bersama setiap langkah proses ini, kita harus menyerahkan klaim kita terhadap hak bagi diri sendiri. Apakah kita bersedia melepaskan genggaman atas harta milik, hawa nafsu dan semua hal lain dalam hidup kita? Apakah kita siap disatukan dengan kematian Kristus Yesus? Kita akan menderita kekecewaan yang sangat menyakitkan jika tidak berserah sepenuhnya. Ketika seseorang melihat dirinya sama seperti Tuhan memandang, maka ia akan merasa malu dan putus asa bukan hanya karena dosa-dosa kedagingan tetapi natur kesombongan hatinya yang menentang Yesus Kristus ketika melihat dirinya sendiri dalam terang Tuhan. Apabila diperhadapkan dengan pertanyaan, apakah kita akan berserah atau tidak? Buatlah tekad untuk terus berjalan menghadapi semua pergumulan, menyerahkan semua yang dimiliki dan seluruh keberadaan kita kepada-Nya. Dan Allah pasti memperlengkapi kita untuk melakukan segala yang Dia kehendaki.
Secara harafiah istilah Box office atau kantor tiket merupakan tempat di mana tiket dijual untuk umum guna masuk ke sebuah acara. Seiring dengan perkembangan zaman, istilah Box office lebih dikaitkan dalam konteks dunia film yang diartikan sebagai hasil pendapatan yang diterima oleh sebuah film dari terjualnya tiket dari film yang ditayangkan di seluruh dunia. Sebuah film dapat menjadi yang terbaik di Box office bukan hal yang mudah, dan tidak semua film dapat menjadi yang terbaik. Film The Mummy yang digadang-gadang akan mampu menggeser film Wonder Woman dari puncak Box office, hingga minggu ke-2 bulan juni 2017 ternyata hanya mampu menduduki peringkat ke-2 di jajaran Box office. Intinya adalah untuk menjadi yang terbaik butuh “nilai plus” yang harus dimiliki. Dengan kata lain menjadi yang terbaik pasti ada sesuatu yang “berbeda” yang dimiliki yang dapat membedakan dirinya dengan yang tidak menjadi yang terbaik. 1 Yohanes 5:1-5 menjelaskan bahwa untuk menjadi pemenang/terbaik di dunia ini butuh sesuatu yang berbeda yang harus dimiliki oleh setiap orang percaya. Apakah itu? Hal tersebut adalah iman [ayat 4]. Iman kepada Yesus merupakan “keunikan” dan kekhasan kekristenan yang harus terus dijaga sampai akhir hidup kita. Menjaga iman artinya tidak cukup hanya berkata percaya, tetapi tanpa ditunjukkan dalam sikap hidup yang benar. Menjaga iman artinya selain percaya dengan sepenuh keyakinan, juga harus ditandai dengan tindakan yang mencerminkan sikap yang senantiasa mentaati ketetapan-ketetapan Allah [ayat 2]. Iman kepada Yesus akan membawa kita menuju kepada kebenaran yang sejati dan kehidupan yang kekal. Rasul Paulus pernah mengungkapkan dalam 2 Timotius 4:7, bahwa hidup ibarat sebuah pertandingan. Jika dalam pertandingan tersebut kita mampu mempertahankan dan menjaga iman kita, maka “mahkota” itu akan diberikan Allah bagi kita. Bagaimana dengan kita? Masih bisakah kita menjaga keunikan kekristenan? Masih bisakah kita mempertahankan iman kita sampai akhir hidup kita? Di tengah kesulitan hidup, di dalam situasi minoritas yang kita alami di Indonesia, dan di tengah kemajuan zaman yang begitu pesat, masih adakah iman kepada Yesus Kristus dalam diri kita? Renungkanlah!
BARCODE BBM CHANNELS
RENUNGAN HARIAN
Bangkit dan Terus Berjuang
11 Juli '17
Tiga Pilar Yang Mendasari Pelayanan Yang Benar
03 Juli '17
Jalan Dalam Terang
15 Juli '17
Copyright © 2012 All rights reserved. Designed and Developed by GIA Dr. Cipto Semarang