SEPEKAN TERAKHIR
  Sabtu, 29 Agustus 2015   -HARI INI-
  Jumat, 28 Agustus 2015
  Kamis, 27 Agustus 2015
  Rabu, 26 Agustus 2015
  Selasa, 25 Agustus 2015
  Senin, 24 Agustus 2015
  Minggu, 23 Agustus 2015
POKOK RENUNGAN
Kekuatan tidak hanya berdasar dari apa yang kita dapatkan, tapi justru dari apa yang kita berikan.
DITULIS OLEH
Ibu Ribkah E. Christanti
Kontributor
Renungan Lain oleh Penulis:
Home  »  Renungan  »  Hilang Justru Bertambah
Hilang Justru Bertambah
Jumat, 01 Februari 2013 | Tema: Komunitas Yang Menebarkan Kasih
Hilang Justru Bertambah
Yesaya 58:1-12
Baterai HP atau laptop, kalau sedang lemah (low battery), ia akan kembali berenergi kalau ada tambahan kekuatan melalui charger. Kalau badan lemas karena lapar, dengan makan maka akan menjadi kenyang dan menjadi kuat kembali. Kalau uang habis, dengan mengambil uang di ATM atau meminta kepada orang tua, maka persediaan uang kita akan kembali terisi. Artinya ada substansi yang ditambahkan sehingga memiliki tenaga ekstra. Namun beberapa kenyataan di atas, beda prinsipnya dengan kekuatan baru versi Yesaya 58:11. Orang akan mendapat kekuatan baru kalau dia justru bisa berbagi atau memberi substansi (isi) dari dalam dirinya.

Dalam ayat yang ke-6 sampai ayat ke-10, disebutkan beberapa tindakan iman yang nyata dalam perbuatan. Misalnya, memerdekakan orang yang teraniaya, memecah roti bagi orang lapar, memberi tumpangan bagi orang yang tak punya rumah, memberi pakaian kepada orang yang telanjang, menyerahkan yang kita inginkan sendiri kepada orang yang lapar, dan lain-lain. Namun ketika kita melakukan hal itu (hal yang nampaknya ”mengurangi”apa yang ada pada kita/merugikan kita), justru mendatangkan kasih karunia dari Tuhan, diantaranya mampu ”menambah” kekuatan baru (ayat 11).

Ayat ini mengingatkan kita pada apa yang dialami oleh Daud ketika dia berada di gua Adulam (1 Samuel 22:1-5). Dalam perikop itu diceritakan bagaimana Daud menjadi pemimpin bagi 400 orang ...selengkapnya »
“Tembok yang sangat tebal dan kokoh itupun akhirnya runtuh. Bruugg... ! Yosua dengan suaranya yang lantang pun segera berteriak, ‘MAJU... SERBU!’ Maka seketika itu juga seluruh pasukan Israel menyerbu kota itu dan membumi hanguskannya. Tidak ada yang tersisa satupun. ‘Hore... Puji Tuhan... Kita menang!’ teriak seluruh pasukan Israel dengan gembira”. Itulah sepenggal cerita yang sedang disampaikan oleh seorang guru sekolah minggu dengan penuh semangat, atraktif dan kreatif dalam sebuah kebaktian Sekolah Minggu. Bagi kita yang mendengar sekilas cerita itu, tentu kita akan segera paham bahwa kisah di atas adalah kisah tentang runtuhnya tembok Yerikho. Namun jika kita membacanya secara cermat, kisah tersebut merupakan kisah aneh yang terjadi di pertempuran. Bahkan mungkin kita pun juga akan berkata bahwa kisah tersebut tidak hanya aneh, tetapi juga teraneh dan paling tidak masuk akal yang pernah terjadi di sepanjang sejarah peperangan di manapun juga. Tembok yang sedemikian tebal dan kokoh, runtuh, hancur berantakan hanya gara-gara sekelompok orang berkeliling sambil bernyanyi. OMG... Hello... kagak mungkin kale !!! Suka tidak suka dengan kisah ini, namun inilah sebuah fakta yang tidak terbantahkan. Tembok Yerikho yang tebal dan kokoh, dan bahkan sebagai simbol kekuatan kekuasaan Yerikho roboh oleh sekelompok orang berkeliling sambil bernyanyi memuji Tuhan. Di dalam perenungan kita saat ini, cobalah untuk fokus menyimak kepada pribadi Yosua beserta dengan seluruh umat Israel pada waktu itu. Diceritakan dalam kisah ini [sebelum pasal 6], bangsa Israel “panik” melihat kota Yerikho. Yerikho dipandang sebagai sesuatu yang menakutkan. Kota dengan tembok yang tebal dan kokoh, serta di dalamnya terdapat para ksatria dan orang-orang hebat yang siap untuk berperang. Bagaimana cara menaklukkan kota ini? Mungkin demikian isi pikiran logis orang-rang Israel [termasuk Yosua] pada waktu itu. Kisah menjadi semakin menarik, saat di awal pasal yang keenam [ayat 2-5], Tuhan memberi solusi dari kepanikan umat Israel itu. Solusi intinya dengan berkeliling dan menyanyi. Sungguh sebuah solusi yang tidak masuk akal menurut ilmu peperangan. Tetapi yang menarik di dalam kisah ini, Yosua beserta seluruh umat Israel menaati solusi yang diberikan oleh Tuhan sekalipun itu tidak logis. Jika disimpulkan, Yosua, sebagai panglima perang tertinggi Israel, taat pada Tuhan sebagai Pimpinan Yang Mahatinggi. Seorang prajurit sejati akan bertindak taat pada komandannya. Bagaimana dengan kita? Bukankah kita sering menyebut diri sebagai laskar Kristus yang maju dengan gagah berani bersama Kristus? Jika kita adalah prajirit-prajurit Yesus, maka hendaklah kita berjalan dengan taat pada perintah Komandan Tertinggi kita, yaitu Yesus Kristus sendiri. Meski kadang tidak masuk akal logis kita, atau terkadang sulit dan bahkan terkadang membosankan, seorang prajurit sejati akan taat kepada perintah Sang Pangima Tertinggi sampai akhir hayat kita.
Efesus 6:10-20 Kenakanlah seluruh perlengkapan senjata Allah, supaya kamu dapat bertahan melawan tipu muslihat Iblis; [ayat 11] Akhir-akhir ini kita sering mendengar orang mengucapkan kata ’bully’ atau ’bullying’. Arti kata itu ialah perbuatan agresif atau penindasan yang sering dilakukan oleh anak-anak usia sekolah [bisa juga dilakukan oleh orang dewasa] kepada sesama temannya yang lemah/ tak berdaya. Perbuatan itu cenderung diulang-ulang terus karena korbannya tidak punya daya untuk melawan. Ada sebuah cerita tentang seorang anak yang di-bully oleh temannya. Setiap hari temannya itu memeras dan meminta uang jajannya, serta mengancamnya. Dia tidak berdaya untuk melawan karena temannya itu lebih besar badannya. Lalu karena sudah tidak tahan pada suatu hari dia memutuskan untuk melawan. Dia mau belajar bela diri pada seorang guru karate. Tetapi biaya yang harus dikeluarkan untuk les karate itu cukup mahal yaitu 5 dolar setiap pertemuan, lebih mahal daripada uang yang diminta oleh temannya. Maka dia menyerah dan tidak jadi latihan karate. Banyak orang Kristen yang memilih untuk menyerah dan bersedia mengikuti kemauan iblis. Dia tahu bahwa dia selama ini telah di-bully oleh iblis. Dia terjerat oleh dosa. Dia tahu bahwa dia diperbudak oleh dosa. Tetapi dia tidak berdaya untuk melawannya. Apakah orang Kristen, yang telah ditebus oleh darah Yesus, layak untuk di-bully oleh iblis? Apakah benar bahwa orang Kristen tidak punya daya untuk melawan kuasa iblis? Sama sekali tidak benar. Bukankah Tuhan telah menyediakan seluruh perlengkapan senjata rohani untuk melawan iblis? Semua persenjataan sudah disediakan oleh Tuhan, supaya kita dapat bertahan dan menang atas iblis. Tetapi sayangnya seringkali orang Kristen tidak mau memakainya dan rela jadi bulan-bulanan iblis. Jemaat Tuhan, jangan mau ditipu oleh iblis. Tuhan Yesus telah mati dan bangkit, supaya kita menang bersama dengan Dia oleh kemuliaan-Nya. Lawanlah iblis dengan perlengkapan senjata Allah: ikat pinggang kebenaran, baju zirah keadilan, kasut kerelaan untuk memberitakan Injil, perisai iman, ketopong keselamatan dan pedang Roh, yaitu firman Allah. Juga belajarlah untuk menggunakan perlengakapan senjata rohani itu supaya kita mahir menggunakannya. Selamat menjadi pemenang.
Dalam syair lagu pujian sering kita mendengar ungkapan “kita adalah prajurit [laskar] Kristus”. Bahkan ketika seorang pendeta berkhotbah dengan berapi-api sering menyebutnya demikian. Memang benar semua orang Kristen, baik itu pendeta, diaken, penatua, aktivis gereja, dan bahkan semua jemaat dengan tidak membedakan status sosial, pendidikan, kedudukan apapun semua adalah prajurit Kristus [sama seperti di kemiliteran: pangkat bawah sampai Jendral adalah prajurit]. Setia mengabdi kepada Kristus, apapun yang terjadi. Memiliki keberanian untuk menyaksikan Kristus, Sang Juru selamat dan kesetiaan melayani Tuhan dalam situasi sesulit apapun. Bahkan rela menyerahkan nyawanya karena kesetiaan kepada Tuhan. Stefanus, misalnya, dia seorang prajurit Kristus yang gagah berani yang menyaksikan Kristus Yesus sebagai Tuhan dan Juru selamat dengan bersoal jawab dengan jemaat Yahudi [Kisah Rasul 6:9]. Ketika jemaat Yahudi dari Kirene, Aleksandria, Kilikia dan Asia itu tidak sanggup bersoal jawab dengan hikmat yang dimiliki Stefanus, maka mereka bersama dengan ahli-ahli Taurat dan tua-tua Yahudi mengadakan gerakan untuk menangkap dan menyerahkan Stefanus kepada Mahkamah Agama. Stefanus memiliki hati bermental prajurit, tidak mudah menyerah, tidak takut, sekalipun harus menjadi syahid Tuhan [Kisah Rasul 7:60]. Ketika dianiaya mendekati ajalnya, Stefanus sempat mendoakan mereka semua yang menganiayanya. Tidak saja bermental prajurit, tetapi juga memiliki hati seorang hamba, rela menderita bahkan mati. Saudara, kita bisa meneladani Stefanus yang berani bersaksi tentang Kristus apapun yang terjadi. Keberanian kita untuk bersaksi laksana prajurit dan memiliki hati yang mengasihi jiwa-jiwa dengan ketaatan laksana hamba, sehingga dalam segenap kehidupan kita merupakan saksi Kristus. Perkataan dan perbuatan kita adalah pesan kesaksian itu sendiri. Seperti pesan Paulus kepada Jemaat Korintus [2 Korintus 4:10], “Kami senantiasa membawa kematian Yesus di dalam tubuh kami, supaya kehidupan Yesus juga menjadi nyata di dalam tubuh kami.” Seorang anak Tuhan yang bermental prajurit tidak mudah tersinggung. Mengambil bagian dalam pekerjaan Tuhan apa saja tidak merasa direndahkan pada posisi yang tidak favorit dan juga tidak merasa tinggi pada posisi penting. Memiliki kerendahan hati laksana seorang hamba. Semua dikerjakan hanya karena mencintai Tuhan dan jiwa-jiwa.
2 Korintus 4:7-11 Dalam segala hal kami ditindas, namun tidak terjepit; kami habis akal, namun tidak putus asa; kami dianiaya, namun tidak ditinggalkan sendirian, kami dihempaskan, namun tidak binasa. [ayat 8-9] Seorang penulis bernama Irving Stone telah menggunakan sepanjang hidupnya untuk mempelajari kehidupan orang-orang terkenal seperti Michelangelo, Vincent van Gogh, Sigmund Freud dan Charles Darwin. Dia pernah ditanya apakah telah menemukan benang merah dari kehidupan orang-orang yang hebat itu. Dia menjawab: ’Mereka itu adalah orang-orang yang dalam hidupnya mempunyai visi atau impian, sesuatu yang harus diwujudkan.... dan mereka memperjuangkannya. Lalu mereka menghadapi tantangan, dan mereka terhempas jatuh, difitnah dan selama bertahun-tahun tidak mengalami kemajuan apa-apa. Tetapi setiap kali mereka terhempas mereka berdiri kembali. Orang-orang seperti ini tidak bisa dihancurkan. Dan pada akhir kehidupannya mereka mewujudkan apa yang terbaik dari apa yang harus mereka kerjakan.’ Itulah gambaran pejuang yang tangguh. Pejuang yang tangguh tidak kenal menyerah. Dalam hidupnya pasti dia pernah dihempaskan, pernah mengalami kejatuhan, tapi dia tidak menyerah. Setiap kali dia terjatuh, dia akan bangun kembali. Dia yakin bahwa dia pasti akan menang. Dia yakin bahwa dia sedang berjuang untuk sesuatu yang layak diperjuangkan dengan taruhan apapun. Kita ingat bagaimana para pejuang yang memperjuangkan kemerdekaan Indonesia. Mereka berjuang tanpa kenal menyerah. Walaupun musuh yang mereka hadapi begitu sulit untuk dikalahkan karena lebih unggul dalam persenjataan dan strategi perang. Namun karena para pejuang bangsa kita begitu ulet dan tak kenal menyerah, akhirnya kemerdekaan Indonesia dapat terwujud. Demikianlah prajurit Kristus. Prajurit Kristus memang harus mengalami perjuangan yang berat. Prajurit Kristus harus tangguh. Walaupun kadang harus dihempaskan dan terjatuh, namun dia akan bangkit kembali. Karena prajurit Kristus sedang memperjuangkan sesuatu yang layak untuk diperjuangkan dengan taruhan apapun. Kita merindukan agar banyak jiwa yang dimerdekakan dari perbudakan dosa. Harus ada yang memperjuangkannya tanpa kenal menyerah. Amin.
BARCODE BBM CHANNELS
RENUNGAN HARIAN
Tasnya Dimana?
25 Agustus '15
40 Prajurit Bernyanyi
21 Agustus '15
Jagalah Perkataanmu
30 Juli '15
Copyright © 2012 All rights reserved. Designed and Developed by GIA Dr. Cipto Semarang