SEPEKAN TERAKHIR
  Sabtu, 27 Mei 2017   -HARI INI-
  Jumat, 26 Mei 2017
  Kamis, 25 Mei 2017
  Rabu, 24 Mei 2017
  Selasa, 23 Mei 2017
  Senin, 22 Mei 2017
  Minggu, 21 Mei 2017
POKOK RENUNGAN
Kekuatan tidak hanya berdasar dari apa yang kita dapatkan, tapi justru dari apa yang kita berikan.
DITULIS OLEH
Ibu Ribkah E. Christanti
Kontributor
Renungan Lain oleh Penulis:
Home  »  Renungan  »  Hilang Justru Bertambah
Hilang Justru Bertambah
Jumat, 01 Februari 2013 | Tema: Komunitas Yang Menebarkan Kasih
Hilang Justru Bertambah
Yesaya 58:1-12
Baterai HP atau laptop, kalau sedang lemah (low battery), ia akan kembali berenergi kalau ada tambahan kekuatan melalui charger. Kalau badan lemas karena lapar, dengan makan maka akan menjadi kenyang dan menjadi kuat kembali. Kalau uang habis, dengan mengambil uang di ATM atau meminta kepada orang tua, maka persediaan uang kita akan kembali terisi. Artinya ada substansi yang ditambahkan sehingga memiliki tenaga ekstra. Namun beberapa kenyataan di atas, beda prinsipnya dengan kekuatan baru versi Yesaya 58:11. Orang akan mendapat kekuatan baru kalau dia justru bisa berbagi atau memberi substansi (isi) dari dalam dirinya.

Dalam ayat yang ke-6 sampai ayat ke-10, disebutkan beberapa ...selengkapnya »
Seminggu yang lalu di sebuah grup WhatsApp, rekan-rekan penulis membahas tentang unggahan positif di Instagram yang menuai komentar negatif dari orang yang suka mencari-cari kesalahan. Ketika mereka tengah saling bertukar cerita, tiba-tiba timbul komentar bernada tersinggung berat dari seorang rekan lain yang baru muncul. Padahal soal yang dibahas tak ada kait-mengaitnya dengan dia. Suasana pun langsung menjadi tegang. Usut punya usut, ternyata rekan itu baru saja terlibat pertikaian dengan seorang penulis di grup lain. Kedongkolan yang tersimpan di hati membuatnya jadi ’sensi’ dan membuahkan salah paham dengan orang-orang lain yang sama sekali tak tahu menahu. Keadaan hati kita memang berpengaruh terhadap segala aspek kehidupan kita. Bila hati kita murni maka pola pikir, perasaan, perkataan dan tindakan pun akan lebih mudah dikuasai sesuai dengan kehendak Tuhan. Sebaliknya bila hati kita dihuni amarah, kegetiran dan kedengkian maka kita mudah dikuasai oleh rasa tersinggung, rasa iri dan kecenderungan yang bertentangan dengan kehendak Tuhan. Marilah kita senantiasa menjaga hati dengan segala kewaspadaan, agar seluruh aspek kehidupan kita mencerminkan bahwa kita adalah umat tebusan Allah yang telah dibayar dengan darah Kristus yang tak ternilai harganya. [EG]
Penganiayaan bukanlah hal yang asing sejak pertama kalinya para pengikut Kristus disebut sebagai orang Kristen. Para pendahulu kita dianiaya oleh pemerintah Romawi karena tidak mau menyembah patung kaisar. Mereka dicap pembangkang dan bahkan pemberontak karena mempunyai kaisar sendiri, yaitu Yesus Kristus. Bahkan menyebut-Nya sebagai Kaisar di atas segala kaisar [Raja di atas segala raja]. Namun keadaan berbalik, pada tahun 313 Kaisar Constantinus mengeluarkan maklumat toleransi dan kemudian berkembang dengan menjadikan Agama Kristen sebagai agama resmi kekaisaran. Kekristenan berbalik dari minoritas tertindas menjadi mayoritas penindas yang didukung alat-alat kekuasaan negara. Dan kala itu yang terjadi bukanlah zaman keemasan Gereja, namun sebaliknya masyarakat Kristen Eropa hidup dalam abad-abad yang gelap. Tuan Joko Ndokondo menarik pelajaran berharga atas pengalaman buram Gereja di masa lalu itu. “Keyakinan itu tidak dapat dipaksakan!” katanya dengan tegas di hadapan beberapa anak muda Gereja, “Jika dipaksakan pastilah berbuahkan keburukan semata.” Bukan saja kisah Gereja di abad pertengahan yang menunjukkan hal itu. Namun sudah dinyatakan dalam Alkitab, yaitu tentang kisah Israel di tanah Mesir yang diperbudak oleh Firaun. Firaun berupaya membuat bangsa Israel lupa akan Allahnya. Kerja paksa yang kian hari kian keras diterapkan agar kelelahan membuat kerinduan untuk beribadah sirna dari benak mereka. Namun ternyata pemaksaan yang demikian justru membuat bangsa Israel kian dahaga untuk berjumpa dengan Allah dan beribadah kepada-Nya. Seorang anak muda mengangkat tangan, “Jika keyakinan tidak bisa dipaksakan, apakah dengan demikian kita pun tidak boleh memberitakan Injil pada orang lain?” tanyanya. “Tidak demikian anak muda”, jawab Tuan Joko Ndokondo, “Injil adalah kabar baik yang harus disampaikan dengan cara yang baik pula, yaitu memberitakannya tanpa pemaksaan apalagi dengan ancaman dan kebencian. Jika orang yang kita beritakan Injil menerima, kita bersukacita. Namun jika tidak, kita tetap menghormatinya beserta dengan keyakinan yang ia pilih sebagai jalan hidupnya.” Si anak muda mengangguk-angguk tanda mengerti. Tuan Joko Ndokondo menghela nafas panjang lalu berkata, “Dengan demikian kita mengagungkan keyakinan kita di dalam Kristus Yesus dan sekaligus turut memelihara kebhinnekaan. Hanya dengan cara ini kesatuan bangsa tetap dapat dipelihara.” Dan “Sttt…ttt, jangan bilang siapa-siapa ya?” kata Tuan Joko Ndokondo menutup pituturnya. Jemaat yang terkasih, kita tidak ingin kebebasan kita beribadah sesuai dengan keyakinan kita diganggu. Apalagi dengan kata-kata “Kafir!” sebagai ungkapan penuh kebencian. Oleh sebab itu marilah kita berlaku bijak pada orang-orang yang berbeda keyakinan dengan kita. Amanat Agung Tuhan Yesus mesti tetap kita diberitakan. Namun bersamaan dengan itu kita harus menghormati orang lain beserta dengan keyakinan dan ibadah yang ia pilih. Terpujilah Tuhan!
Kita sering mendengar istilah “kasih”. Memang tema kasih sangatlah populer apalagi di kalangan anak muda yang sedang dimabuk asmara. Sedemikian populernya sehingga ungkapan kasih serasa diobral secara verbal [kata-kata] saja di mana-mana. Kasih juga ramai dibicarakan bahkan dalam perdebatan calon pemimpin yang “memamerkan” program-programnya pun berlomba-lomba menunjukkan visi misinya yang tidak jauh dari kasih. Ironisnya, sedemikian gencarnya membicarakan kasih, perhatian terhadap orang banyak, tetapi kenyataannya banyak yang kecewa karena tidak puas dan mempertanyakan kasih itu. Mengapa demikian? Salah satu penyebabnya adalah karena kasih hanya merupakan tuntutan yang harus dikenakan pada orang lain dan tidak pada diri sendiri. Tuhan Yesus menunjukkan kasih-Nya yang terbesar dalam sejarah dunia ketika Dia digantung di kayu salib. Dia tidak melarikan diri ketika harus menghadapi penderitaan [Matius 26:42], Dia tidak melemparkan penderitaan itu kepada orang lain, Dia menuntut diri-Nya sendiri dan tidak menuntut orang lain. Bagi Yesus, kasih harus segera dipraktikan bukan hanya dibicarakan saja. Kasih itu harus dimulai dari diri sendiri. Ketika Yesus dieksekusi di kayu salib, Dia menghadapi dengan tegar sekalipun harus histeris. Yang terlihat pada diri Yesus ketika tergantung di Kalvari adalah pertama, Yesus rela menderita [wujud kasih] demi manusia berdosa; kedua, Yesus mampu mengalahkan diri-Nya sendiri demi terwujudnya sebuah kasih. Itulah kasih yang termahal. Dia rela mengosongkan diri-Nya mengambil rupa manusia hamba, menderita dan mati di kayu salib bagi kita [Filipi 2:6-8]. Saudara kekasih Tuhan, mungkin memang kita tidak melakukan kasih sesempurna seperti Tuhan Yesus, tetapi melalui peristiwa salib itu Yesus ingin mengajarkan juga sesuatu kepada kita, yaitu sebuah kasih yang berkualitas. Penderitaan Yesus di kayu salib jelas bukan seruan menuntut [memaksa] kita untuk melakukan kasih berkualitas, tetapi salib Kristus adalah mengajar [memberi teladan] kepada murid-murid-Nya bahwa kasih itu seharusnya tulus dan berangkat dari diri sendiri bukan menuntut orang lain atau diri kita dituntut orang lain. Bersediakah kita memiliki kasih berkualitas? Mari kita mengikuti teladan yang diajarkan Tuhan Yesus. Mari kita mulai dari diri sendiri.
Sering kita mendengar sebuah ucapan demikian: “Jika ada pertemuan pasti juga ada perpisahan”. Yang berarti bahwa semua manusia di dunia ini pasti akan mengalami yang namanya perpisahan dengan sesamanya manusia, baik itu perpisahan hanya sementara maupun perpisahan untuk selama-lamanya akibat kematian. Para murid-murid Kristus juga mengalami bagaimana rasanya harus berpisahan dengan Yesus. Bukan suatu hal yang mudah bagi mereka untuk bisa menerima hal itu karena selama 3 tahun yang hebat mereka menikmati kebersamaan dengan-Nya. Bagaimanapun Yesus adalah sosok yang berpengaruh bagi mereka karena Yesus sebagai guru dan menjadi panutan bagi murid-murid dan pastinya mereka memiliki hubungan emosional yang erat. Namum perpisahan itu bukanlah akhir dari kehadiran Yesus bagi dunia ini, akan tetapi menjadi awal bersatunya pribadi Kristus dengan orang-orang yang percaya. Jika Kristus tetap bersama-sama mereka, maka kehadiran-Nya hanya bersifat lokal. Artinya kehadiran-Nya terbatas ruang dan waktu. Misalnya ketika para murid berada di perahu dan Yesus sedang berdoa di bukit. Mereka tidak bisa terus dan setiap saat bersekutu dengan-Nya. Oleh sebab itu Yesus pergi dan mengirim Roh Kudus sebagai pengganti-Nya karena Roh Kudus menguniversalkan kehadiran-Nya sehingga Dia dapat berelasi semua orang percaya di mana saja. Yang kedua adalah Yesus mengirimkan Roh Kudus untuk menginternalkan kehadiran-Nya sehingga melalui Roh-Nya tinggal dihati kita dan mengubah kita serupa dengan-Nya [Yohanes 16:5-11]. Roh Kudus datang dan Roh Kudus membuat kehadiran Yesus tidak lagi lokal melainkan universal, tidak lagi eksternal melainkan internal. Roh menguniversalkan sekaligus menginternalkan kehadiran Yesus Kristus. Marilah kita sebagai jemaat Tuhan membuka hati dan pikiran kita untuk dipenuhi oleh Roh-Nya sehingga hidup kita tidak lagi dikuasi oleh nafsu diri sendiri melainkan kita hidup sesuai dengan kehendak Allah. [DS]
BARCODE BBM CHANNELS
RENUNGAN HARIAN
Ungkapan Hati Anak Kecil
09 Mei '17
Orang Percaya Adalah Fulltimer Tuhan
19 Mei '17
Jangan Takut, Percaya Saja !
08 Mei '17
Copyright © 2012 All rights reserved. Designed and Developed by GIA Dr. Cipto Semarang