SEPEKAN TERAKHIR
  Selasa, 27 September 2016   -HARI INI-
  Senin, 26 September 2016
  Minggu, 25 September 2016
  Sabtu, 24 September 2016
  Jumat, 23 September 2016
  Kamis, 22 September 2016
  Rabu, 21 September 2016
POKOK RENUNGAN
Kekuatan tidak hanya berdasar dari apa yang kita dapatkan, tapi justru dari apa yang kita berikan.
DITULIS OLEH
Ibu Ribkah E. Christanti
Kontributor
Renungan Lain oleh Penulis:
Home  »  Renungan  »  Hilang Justru Bertambah
Hilang Justru Bertambah
Jumat, 01 Februari 2013 | Tema: Komunitas Yang Menebarkan Kasih
Hilang Justru Bertambah
Yesaya 58:1-12
Baterai HP atau laptop, kalau sedang lemah (low battery), ia akan kembali berenergi kalau ada tambahan kekuatan melalui charger. Kalau badan lemas karena lapar, dengan makan maka akan menjadi kenyang dan menjadi kuat kembali. Kalau uang habis, dengan mengambil uang di ATM atau meminta kepada orang tua, maka persediaan uang kita akan kembali terisi. Artinya ada substansi yang ditambahkan sehingga memiliki tenaga ekstra. Namun beberapa kenyataan di atas, beda prinsipnya dengan kekuatan baru versi Yesaya 58:11. Orang akan mendapat kekuatan baru kalau dia justru bisa berbagi atau memberi substansi (isi) dari dalam dirinya.

Dalam ayat yang ke-6 sampai ayat ke-10, disebutkan beberapa ...selengkapnya »
Hidup secara arif Efesus 5:15-21 Karena itu, perhatikanlah dengan saksama, bagaimana kamu hidup, janganlah seperti orang bebal, tetapi seperti orang arif, ’Awas, hati-hati. Lantai basah.’ Demikian peringatan yang sering kita baca apabila ada lantai yang sedang dipel, supaya orang tidak jatuh terpeleset. Di jalan-jalan yang berbahaya di mana sering terjadi kecelakaan biasanya dipasang tanda peringatan: ’Hati-hati, banyak terjadi kecelakaan.’ Dan akhir-akhir ini banyak muncul peringatan kepada para pengendara mobil dan sepeda motor: ’JANGAN MENGGUNAKAN HANDPHONE SAAT BERKENDARA.’ Semua peringatan itu punya maksud agar kita hati-hati, supaya tidak mengalami celaka. Firman Tuhan mengingatkan kita supaya menjalani hidup ini dengan hati-hati. Jangan seperti orang bebal, tetapi seperti orang arif. Orang bebal adalah orang yang tidak mau mempedulikan nasihat dan peringatan, orang yang ceroboh dan sembrono, tidak pikir panjang dalam mengambil keputusan. Sedangkan orang arif adalah orang yang cermat dalam mengambil keputusan, memperhitungkan situasi dan nasihat-nasihat serta peringatan-peringatan yang diberikan orang lain. Agar menjadi orang yang arif kita perlu memperhatikan nasihat-nasihat Firman Tuhan ini: 1. Pergunakan waktu sebaik mungkin [ayat 16]. Jangan sia-siakan untuk hal-hal yang tidak bermanfaat. Tetapkan prioritas dengan benar. Kerjakan lebih dahulu hal-hal yang menjadi prioritas kita. 2. Berusaha untuk mengerti kehendak Tuhan [ayat 17]. Baca Firman Tuhan secara rutin dan teratur. Peka dalam segala situasi, dan berusaha mengerti apa yang Tuhan ingin kita lakukan dalam situasi seperti itu. Mungkin pertanyaan ini bisa membantu kita: What would Jesus do in this situation? 3. Mintalah untuk dipimpin dan dipenuhi oleh Roh Kudus setiap hari [ayat 18]. Tuhanlah yang paling mengerti jalan hidup yang terbaik untuk kita. Jika kita menyerahkan diri dalam pimpinan-Nya, Dia akan mengarahkan dan menuntun kita di jalan yang benar sesuai kehendak-Nya. Tuhan memberkati kita semua. Amin. Pdt. Goenawan Susanto
Rela berkorban adalah kesediaan dan keikhlasan memberikan segala sesuatu yang dimiliki untuk sesama walaupun akan menimbulkan ‘penderitaan’ bagi dirinya sendiri. Itu berarti rela menomorduakan kepentingan sendiri demi membantu orang lain. Demi kebaikan sesama. Ketika Paulus tiba di Yerusalem dan berusaha bergabung dengan saudara seiman, para murid merasa takut karena tidak percaya jika Paulus yang sebelumnya bernama Saulus, sang penganiaya jemaat, telah menjadi murid Kristus. Tetapi di tengah penolakan terhadap Paulus, ada seorang pribadi, yaitu Barnabas, yang tanpa ragu menerima dan membela Paulus. Bahkan ia membawanya kepada para rasul. Melalui penjelasan Barnabas tentang kisah pertobatan dan pengajaran Paulus dalam nama Tuhan, para rasul diyakinkan dan bersedia menerima Paulus untuk tinggal bersama-sama mereka. Apa yang dilakukan Barnabas bukan tanpa resiko. Ia ‘berani melawan arus’. Ia berani mengambil sikap dan tindakan yang berbeda untuk mendukung Paulus. Barnabas bersedia keluar dari zona aman dan rasa nyamannya demi ‘menjaga’ petobat baru yang sangat berpotensi bagi pekerjaan Tuhan. Semua itu dilakukan sepenuhnya untuk kepentingan dan kebaikan Paulus. Barnabas menunjukan semangat rela berkorban bagi orang lain. Bagaikan sebuah lilin yang rela tubuhnya meleleh habis terbakar, tetapi dengan cara itu telah membawa manfaat besar bagi sekitarnya. Musuh yang secara perlahan dapat melemahkan semangat rela berkorban adalah kecenderungan untuk bersikap egois. Sikap egois bisa disamakan dengan karat pada besi. Kalau diabaikan, itu bisa berbahaya karena karat itu akan semakin menyebar dan membuat besi keropos. Keegoisan harus dilawan dan dikalahkan agar semangar rela berkorban akan terus membahana. Pengutamaan kepentingan pribadi di atas kepentingan bersama atau kepentingan orang lain akan menimbulkan ketegangan dalam kehidupan komunitas. Untuk itu perlu adanya keberanian untuk memberikan sebagian milik kita kepada orang lain. Artinya setiap pribadi tidak menuntut hak secara utuh, melainkan harus melihat kepentingan orang lain juga. Dengan demikian, kehidupan dapat dinikmati karena terjalin hubungan yang serasi antar sesama dalam komunitas. Jemaat yang terkasih, jangan kita menjadi seperti karat yang membuat besi rusak dan keropos, tetapi marilah kita menjadi seperti lilin yang rela berkorban untuk mendatangkan kebaikan dan manfaat bagi sekitar.
Power and responsibility Roma 15:1-6 Kita, yang kuat, wajib menanggung kelemahan orang yang tidak kuat dan jangan kita mencari kesenangan kita sendiri. .... Semoga Allah, yang adalah sumber ketekunan dan penghiburan, mengaruniakan kerukunan kepada kamu, sesuai dengan kehendak Kristus Yesus, sehingga dengan satu hati dan satu suara kamu memuliakan Allah dan Bapa Tuhan kita, Yesus Kristus. [ayat 1, 5-6] Dalam film Spiderman 1, ada sebuah adegan dimana paman dari Peter Parker menjelang ajalnya mengatakan sebuah pernyataan/pesan: ’With great power comes great responsibility.’ [Orang yang diberi kekuasaan/kekuatan punya tanggung jawab yang besar]. Peter Parker yang telah menjadi Spiderman selalu mengingat pesan itu. Dia memakai kekuatan yang dimilikinya untuk menolong orang-orang yang lemah dan dalam kesulitan. ’Yang kuat wajib membantu yang lemah’ adalah prinsip universal yang bisa diterima semua orang. Bila ada seorang tua yang mengangkat barang yang sangat berat dan kelihatan sangat kepayahan, lalu kita yang masih muda dan masih kuat melihatnya, apa yang kita rasakan? Apakah kita bisa merasa tenang dan membiarkannya begitu saja? Pasti tidak. Kita akan terdorong untuk membantu orang tua tersebut. Lebih dari prinsip universal, prinsip ini merupakan ajaran Firman Tuhan yang disampaikan melalui Rasul Paulus. Ajaran itu bersumber dari teladan Yesus Kristus sendiri. Dia yang memiliki kuasa sebagai Tuhan tidak memakai kuasa itu untuk diri-Nya sendiri, tetapi memakai kuasa itu untuk menolong banyak orang. Bahkan Dia telah menanggung segala kelemahan kita di atas kayu salib, supaya kita sanggup menjalani hidup ini sebagai orang merdeka. Dalam konteks kehidupan bergereja ajaran ini merupakan kunci terjadinya kesatuan Tubuh Kristus. Kesatuan akan terwujud ketika yang kuat menanggung yang lemah. Jika Allah mengaruniakan kekuatan kepada kita itu bukan untuk kita banggakan dan kita pakai untuk kepentingan diri kita sendiri, melainkan untuk kita pakai membantu orang lain yang lemah. Kekuatan itu bisa dalam hal kekuatan fisik, kekuatan ekonomi, maupun kekuatan yang lainnya. Mari kita saling membantu dalam kesatuan Tubuh Kristus. Amin. Pdt. Goenawan Susanto
Betapa membanggakan ketika sebuah jemaat telah mengalami pertumbuhan rohani, sehingga menjadi jemaat yang memiliki kedewasaan iman. Betapa tidak? Sebab jemaat yang demikian tentu memancarkan “bau harum”. Dengan kata lain jemaat yang menjadi berkat bagi sekelilingnya di manapun mereka berada. Jemaat Tesalonika misalnya, telah berhasil memberikan keteladanan hidup bagi orang banyak, khususnya terhadap orang-orang yang sudah percaya di Makedonia dan Akhaya [ay. 7]. Jemaat yang mampu memberikan keteladanan adalah jemaat yang telah mengalami perubahan di dalam hidupnya, setidaknya kehidupan yang digerakkan oleh iman di dalam Kristus. Itulah jemaat Tesalonika. Kita semua rindu menjadi jemaat yang tersusun rapi dan mengalami perubahan seperti yang terjadi di Tesalonika. Dengan demikian sudah barang tentu akan memberikan dampak positif di sekitar kita. Bagaimana kita bisa sampai kepada jemaat yang demikian? 1.Iman yang disertai dengan kekuatan Roh Kudus [ay. 5]. Awal Injil Yesus Kristus disampaikan oleh rasul Paulus kepada orang-orang Tesalonika adalah tidak saja dengan ketrampilan dan keberanian manusia [Paulus], melainkan dengan kekuatan pimpinan Roh Kudus [ay. 5a]. Siapapun yang bersedia membuka hati untuk Roh Kudus bekerja, maka yang terjadi adalah luar biasa. Mujizat terjadi. Karena kuasa Roh Kudus tidak pernah berubah, maka kuasa-Nya juga terjadi di tempat ini dan saat ini. 2.Jadilah penurut Tuhan dan hamba Tuhan [ay. 6a]. Di dalam kekristenan, beberapa orang atau aliran [denominasi], sudah terjadi “salah kaprah” tentang hubungan dengan Tuhan. Banyak orang kristen beranggapan bahwa Tuhan itu dengan bebasnya “mendatangi dan didatangi” oleh jemaat. Paham pengimanan seperti ini tentu akan mengabaikan “organisasi” dalam gereja, sehingga banyak orang kristen secara pribadi merasa sudah berbicara langsung dengan Tuhan, tanpa hirarki dalam gereja dianggapnya tidak masalah. Padahal Firman Tuhan mengatakan agar kita menjadi penurut Tuhan dan hamba Tuhan, karena jabatan dalam gereja yang menentukan Tuhan, maka hamba Tuhan seharusnya di dengar suaranya sebagai “penyambung lidah Tuhan”. 3.Bersedia mendengar Firman Tuhan [ay. 6b]. Kehidupan jemaat sekarang adalah kehidupan yang sibuk dengan segala urusan pekerjaan, dan banyak orang berkata, “Maklumlah.” Tetapi bagaimana kita akan bertumbuh dan hidup berjamaat dengan rapi kalau jarang mendengar Firman Tuhan? Jemaat Tesalonika, dalam penindasan yang berat sekalipun tetap bersedia mendengar Firman. Itulah yang menyebabkan keberhasilannya. Saudara kekasih Tuhan, dari ketiga hal di atas telah membentuk suatu jemaat yang rapi tersusun dan menjadi teladan bagi banyak orang. Terutama yang terbentuk adalah iman, kasih dan ketekunan pengharapan di dalam Kristus [ay. 3].
BARCODE BBM CHANNELS
RENUNGAN HARIAN
Menggunakan Waktu Sehari-hari
24 September '16
Rela Berkorban Untuk Kebaikan Sesama
26 September '16
Saling Membangun
17 September '16
Copyright © 2012 All rights reserved. Designed and Developed by GIA Dr. Cipto Semarang