SEPEKAN TERAKHIR
  Kamis, 21 Agustus 2014   -HARI INI-
  Rabu, 20 Agustus 2014
  Selasa, 19 Agustus 2014
  Senin, 18 Agustus 2014
  Minggu, 17 Agustus 2014
  Sabtu, 16 Agustus 2014
  Jumat, 15 Agustus 2014
POKOK RENUNGAN
Kekuatan tidak hanya berdasar dari apa yang kita dapatkan, tapi justru dari apa yang kita berikan.
DITULIS OLEH
Ibu Ribkah E. Christanti
Kontributor
Renungan Lain oleh Penulis:
Home  »  Renungan  »  Hilang Justru Bertambah
Hilang Justru Bertambah
Jumat, 01 Februari 2013 | Tema: Komunitas Yang Menebarkan Kasih
Hilang Justru Bertambah
Yesaya 58:1-12
Baterai HP atau laptop, kalau sedang lemah (low battery), ia akan kembali berenergi kalau ada tambahan kekuatan melalui charger. Kalau badan lemas karena lapar, dengan makan maka akan menjadi kenyang dan menjadi kuat kembali. Kalau uang habis, dengan mengambil uang di ATM atau meminta kepada orang tua, maka persediaan uang kita akan kembali terisi. Artinya ada substansi yang ditambahkan sehingga memiliki tenaga ekstra. Namun beberapa kenyataan di atas, beda prinsipnya dengan kekuatan baru versi Yesaya 58:11. Orang akan mendapat kekuatan baru kalau dia justru bisa berbagi atau memberi substansi (isi) dari dalam dirinya.

Dalam ayat yang ke-6 sampai ayat ke-10, disebutkan beberapa tindakan iman yang nyata dalam perbuatan. Misalnya, memerdekakan orang yang teraniaya, memecah roti bagi orang lapar, memberi tumpangan bagi orang yang tak punya rumah, memberi pakaian kepada orang yang telanjang, menyerahkan yang kita inginkan sendiri kepada orang yang lapar, dan lain-lain. Namun ketika kita melakukan hal itu (hal yang nampaknya ”mengurangi”apa yang ada pada kita/merugikan kita), justru mendatangkan kasih karunia dari Tuhan, diantaranya mampu ”menambah” kekuatan baru (ayat 11).

Ayat ini mengingatkan kita pada apa yang dialami oleh Daud ketika dia berada di gua Adulam (1 Samuel 22:1-5). Dalam perikop itu diceritakan bagaimana Daud menjadi pemimpin bagi 400 orang ...selengkapnya »
Sebuah gereja kecil dengan anggota jemaat sekitar 150 orang yang berada di tengah sebuah perumahan suatu ketika mendapat berita bahwa besok siang akan ada penyerbuan dari kelompok tertentu. Kelompok itu akan datang dengan rombongan besar karena mereka tidak setuju dan merasa terganggu dengan adanya gereja. Mereka bertujuan untuk menghancurkan bangunan gereja. Pada waktu mendapat berita tersebut, jemaat menjadi panik. Pendeta berkata menenangkan jemaat, “Jangan kita takut dan panik karena mereka datang dengan kekuatan manusia, tetapi yang menyertai kita adalah Tuhan, Allah yang Maha Kuasa. Mari kita datang dan bersujud kepada-Nya karena pertolongan datang dari Allah saja.” Keesokan harinya pada jam diperkirakan, mereka datang. Sang Pendeta dan isterinya masuk di tempat ibadah untuk berdoa dan tidak menghiraukan himbauan aparat keamanan yang melarang masuk. Sampai malam hari dan hari-hari berikut sampai sekarang tidak ada satupun orang yang datang untuk merusak gedung gereja. Mereka berani bukan mampu tetapi karena kuasa Tuhan yang menyertainya. Yerusalem dikepung oleh tentara Asyur di bawah pimpinan raja Sanherib. Raja Hizkia menutup semua mata air di seluruh negeri dan membangun tembok dan menara-menara. Memperkuat pasukan tentara dan mengangkat panglima-panglima perang. Walaupun persiapan demikian kuat, rakyat tetap ketakutan karena selain pasukan Asyur sangat besar, mereka menyebarkan berita kepada rakyat bahwa tidak ada bangsa manapun yang tidak pernah dikalahkannya. Hizkia menemui rakyatnya dan berkata, “Kuatkanlah dan teguhkanlah hatimu! Jangan takut karena yang menyertai mereka adalah tangan manusia, tetapi yang menyertai kita adalah Tuhan, Allah kita, yang membantu kita dan melakukan peperangan kita.” Hizkia sujud dan berdoa bersama nabi Yesaya. Tuhan mengirimkan malaikatnya untuk melawan dan melenyapkan pasukan Asyur (ayat 20-21). Hizkia berani karena dia yakin Tuhan yang Maha Besar itu yang menyertainya. Mungkin saat ini kita sedang mengalami masalah yang sangat besar sehingga kita sangat ketakutan. Marilah seperti Hizkia kita kuatkan dan teguhkan hati kita, jangan takut karena Tuhan Yesus Kristus yang senantiasa menyertai kita jauh lebih besar kuasa-Nya dibanding dengan apapun masalah kita. Jadilah pemberani bukan karena kekuatan kita sendiri tetapi karena Tuhan menyertai kita.
”No Fear - Hidup tanpa rasa takut”, ini adalah slogan kata-kata yang sangat luar biasa. Yang bearti juga sangat pemberani. Apakah saudara punya rasa takut atau tidak punya ketakutan dalam menghadapi kehidupan? Jujur, saya adalah salah satu orang yang terkadang dilanda rasa takut. Takut tidak bisa menyelesaikan kuliah karena tidak punya sponsor tetap, takut punya pacar karena belum punya pekerjaan mapan, takut sudah kepala tiga koq belum menikah, dan seterusnya. Rasa takut muncul meski tidak diinginkan; rasa takut datang meski tidak diundang. Bukankah benar demikian? Amsal 1:7 berkata: “Takut akan TUHAN adalah permulaan pengetahuan tetapi orang bodoh menghina hikmat dan didikan.” Ayat tersebut mengajar bahwa “rasa takut” dapat membuat kita hidup dekat dengan Bapa di sorga. Rasanya rasa takut memampukan saya berpuasa, rasa takut memampukan saya berdoa dan percaya pada pertolongan-Nya. Rasa takut membuat kita untuk tidak mengandalkan manusia. Dan rasa takut membuat kita dapat menghargai orang lain yang kedudukannya lebih rendah daripada kita. Amin, Tuhan Yesus mengasihi kita semua.
Anda tentunya ingat iklan di TV: Siapa Takut! Tantangan itu dijawab oleh sebuah produk shampoo, nampaknya masalah ketombe juga sempat membuat seseorang takut, entah apa yang ditakutkan. Banyak orang dilanda ketakutan menghadapi banyak masalah dalam kehidupan, mungkin anda adalah salah satu di antaranya. Saya mau katakan bahwa hal itu sangat wajar, sebagai manusia biasa siapa yang tidak pernah merasa takut. Masalahnya adalah dengan apa kita harus mengatasi ketakutan tersebut? Daud menulis: “Kepada siapakah aku harus takut dan terhadap siapakah aku harus gemetar?“ Tulisan itu bukanlah suatu pertanyaan atas ketakutan atau keputusasaannya. Daud justru menantang musuh dan lawannya karena dia tahu jawabnya. Dengan apa dia bisa mengatasi ketakutan dalam hidupnya? Dengan PERCAYA PENUH KEPADA TUHAN ALLAHNYA. Tuhan adalah terang dan keselamatannya. Tuhan adalah benteng hidupnya. Tuhan pasti menjaga, melindungi dan menolongnya. Pengalamannya sebagai seorang gembala menghadapi binatang-binatang buas di padang, pengalamannya merobohkan Goliat si raksasa Filistin, pengalamannya lolos dari kejaran Saul yang berusaha membunuhnya karena iri, pengalamannya menghadapi kudeta anaknya sendiri dan masalah-masalah lain di dalam hidupnya membuat dia semakin teguh dalam keyakinan imannya. Apa dan siapa yang membuat kita takut? Biarlah pengalaman Daud mengajar kita bagaimana kita menghadapi dan mengatasinya bersama Tuhan Allah kita.
Suatu ketika seorang ayah melarang anaknya untuk bermain sepakbola di siang hari dengan alasan cuaca yang begitu panas. Dan sang ayah menyarankan tentu akan lebih baik kalau anaknya istirahat atau belajar. Tetapi karena ajakan teman-temannya untuk bermain sepakbola dan kebetulan ayahnya juga sedang pergi, maka bermainlah anak tersebut. Setelah anak itu selesai bermain sepakbola ternyata ayahnya sudah di rumah, maka apa yang terjadi dengan anak itu? Dia takut untuk pulang ke rumah karena melanggar perintah orangtuanya. Dari bacaan di atas Yesuspun pernah mengalami ketakutan yang begitu hebat sampai peluhnya bercampur darah. Bukan karena sebuah kesalahan, tetapi karena Dia harus menanggung dosa seluruh manusia di kayu salib. Kepada siapa Yesus terbuka menceritakan kesedihan hati-Nya? Dalam pergumulan-Nya yang berat, Dia menceritakan kesedihan hatinya kepada murid-murid terdekat-Nya dan juga kepada Bapa-Nya di sorga. Dalam ketakutan-Nya, Yesus terbuka kepada orang-orang dekat-Nya dan yang lebih penting adalah berserah kepada Bapa. Setiap kita tentu pernah mengalami ketakutan dan banyak hal yang bisa membuat kita menjadi takut, namun bukankah semua sudah ditanggung oleh Yesus di atas salib Golgota. Ketika kita mengalami ketakutan, mari kita mau belajar seperti Yesus. Belajar terbuka kepada rekan-rekan yang dapat dipercaya dan siap memberikan dukungan. Juga datang kepada Bapa kita di sorga dan menceritakan semua pergumulan kita. Yang harus kita lakukan adalah membangun komunitas yang siap memberi dukungan. Dan yang terpenting adalah serahkan semua dan percayakan diri kita kepada Allah .
BARCODE BBM CHANNELS
RENUNGAN HARIAN
Yes...Aku Bisa
04 Agustus '14
Kekuatan Seorang Sahabat
02 Agustus '14
Komunitas Yang Berdoa Bersama
31 Juli '14
Copyright © 2012 All rights reserved. Designed and Developed by GIA Dr. Cipto Semarang