SEPEKAN TERAKHIR
  Jumat, 28 November 2014   -HARI INI-
  Kamis, 27 November 2014
  Rabu, 26 November 2014
  Selasa, 25 November 2014
  Senin, 24 November 2014
  Minggu, 23 November 2014
  Sabtu, 22 November 2014
POKOK RENUNGAN
Kekuatan tidak hanya berdasar dari apa yang kita dapatkan, tapi justru dari apa yang kita berikan.
DITULIS OLEH
Ibu Ribkah E. Christanti
Kontributor
Renungan Lain oleh Penulis:
Home  »  Renungan  »  Hilang Justru Bertambah
Hilang Justru Bertambah
Jumat, 01 Februari 2013 | Tema: Komunitas Yang Menebarkan Kasih
Hilang Justru Bertambah
Yesaya 58:1-12
Baterai HP atau laptop, kalau sedang lemah (low battery), ia akan kembali berenergi kalau ada tambahan kekuatan melalui charger. Kalau badan lemas karena lapar, dengan makan maka akan menjadi kenyang dan menjadi kuat kembali. Kalau uang habis, dengan mengambil uang di ATM atau meminta kepada orang tua, maka persediaan uang kita akan kembali terisi. Artinya ada substansi yang ditambahkan sehingga memiliki tenaga ekstra. Namun beberapa kenyataan di atas, beda prinsipnya dengan kekuatan baru versi Yesaya 58:11. Orang akan mendapat kekuatan baru kalau dia justru bisa berbagi atau memberi substansi (isi) dari dalam dirinya.

Dalam ayat yang ke-6 sampai ayat ke-10, disebutkan beberapa tindakan iman yang nyata dalam perbuatan. Misalnya, memerdekakan orang yang teraniaya, memecah roti bagi orang lapar, memberi tumpangan bagi orang yang tak punya rumah, memberi pakaian kepada orang yang telanjang, menyerahkan yang kita inginkan sendiri kepada orang yang lapar, dan lain-lain. Namun ketika kita melakukan hal itu (hal yang nampaknya ”mengurangi”apa yang ada pada kita/merugikan kita), justru mendatangkan kasih karunia dari Tuhan, diantaranya mampu ”menambah” kekuatan baru (ayat 11).

Ayat ini mengingatkan kita pada apa yang dialami oleh Daud ketika dia berada di gua Adulam (1 Samuel 22:1-5). Dalam perikop itu diceritakan bagaimana Daud menjadi pemimpin bagi 400 orang ...selengkapnya »
Pak Dihar adalah karyawan perusahaan “Makmur Sentosa Abadi” (khayalan). Karena suatu hal berkaitan dengan persoalan kebutuhan keuangan, pak Dihar melakukan tindakan yang tidak terpuji, yaitu meng-korupsi uang perusahaan. Karena adanya pengusutan secara intensif maka terkuaklah tindakan yang tidak terpuji itu. Pak Dihar tidak bisa mengelak karena bukti-bukti telah ditunjukkan dengan jelas, dan akhirnya mengakulah pak Dihar bahwa dia telah melakukan perbuatan tidak terpuji itu. Ketika ditanya pimpinan perusahaan itu, pak Dihar mengatakan bahwa dirinya kilaf. Perbuatan itu dia lakukan karena terjepit kebutuhan keuangan keluarga, merasa tidak ada jalan keluar lagi, bahkan hutang-hutang kepada perusahaan yang lalu pun belum terlunaskan. Mendengar penjelasan tersebut, maka pimpinan perusahaan tersebut tergerak oleh belas kasihan, kemudian memaafkan dan mengampuni pak Dihar. Sehingga pak Dihar tetap bisa bekerja seperti biasa, bahkan hutang-hutangnya pun dibebaskan. Saudara, Yesus Kristus adalah Tuhan Allah kita yang datang ke dunia ini untuk menjumpai manusia berdosa. Sebab manusia telah melakukan banyak pelanggaran-pelanggaran. Dan dosa-dosa tersebut akan membawanya kepada kebinasaan kekal. Kedatangan Yesus ke dunia siap untuk memberikan pengampunan, asalkan manusia bersedia mengakui bahwa dirinya adalah manusia berdosa dan bersedia percaya kepada Yesus sebagai Tuhan dan Juru selamat. Pengampunan itu akan terus diberikan kepada manusia, sekalipun manusia menyakiti dan menganiaya Tuhan (Lukas 23:34). Karena Tuhan tahu bahwa untuk mempercayai Yesus Tuhan adalah sesuatu yang tidak mudah, sebab itu adalah perbuatan Roh Kudus. Menurut Anda, “Bagaimana seharusnya kehidupan pak Dihar selanjutnya setelah diampuni oleh pimpinan perusahaan itu?” Ya, dia harus berterima kasih dan sudah seharusnya memiliki hati yang penuh dengan belas kasihan dan pengampunan sebab dia telah mendapatkan pengampunan. Demikian juga dengan kita semua, kita harus memiliki hati yang penuh dengan pengampunan karena kita telah diampuni Tuhan dari segala dosa-dosa dan kesalahan kita. Kita diampuni Tuhan supaya kita mengampuni orang yang bersalah kepada kita. Kita diselamatkan, dengan pengampunan (Efesus 1:7), supaya kita melakukan perbuatan baik (Efesus 2:10), salah satunya adalah mengampuni.
Selama satu bulan lebih kita disuguhi perseteruan di parlemen (DPR) antara Koalisi Indonesia Hebat (KIH) dan Koalisi Merah Putih (KMP). Perseteruan itu muncul ketika pemilihan ketua dan wakil, baik di DPR maupun MPR yang disapu bersih oleh KMP yang jumlah anggotanya lebih banyak. Merasa aspirasinya tidak didengar dan diperlakukan tidak adil, maka KIH bereaksi keras. Dan puncak dari konflik tersebut, kubu KIH membentuk pimpinan DPR tandingan. Tetapi beberapa hari terakhir, melalui lobi-lobi yang intensif yang dilakukan oleh ketua DPR kepada kedua belah pihak, maka terjadilah kesepakatan-kesepakatan. Dan nampaknya beberapa hari ke depan akan terwujudlah islah kedua belah kubu yang selama ini berseteru. Islah berarti usaha rekonsiliasi atau perdamaian dua kubu yang berseteru atau memiliki pandangan yang berbeda. Allah kita adalah Allah yang aktif mengusahakan perdamaian. 2 Korintus 5:18-19 menunjukkan bahwa yang berinisiatif dan proaktif mengusahakan perdamaian dari perseteruan antara Allah dan manusia karena dosa adalah Allah sendiri. Dan manusia sebagai pihak yang menerima perdamaian itu. Roma 5:11 menyatakan: “Sebab oleh Dia (Yesus Kristus) kita menerima pendamaian itu.” Prinsip tersebut mengajarkan kepada kita untuk selalu aktif mengusahakan perdamaian dengan siapa saja seperti halnya nats bacaan kita hari ini. “Sedapat-dapatnya, kalau hal itu bergantung padamu, hiduplah dalam perdamaian dengan semua orang!” Memang perdamaian hanya akan terjadi jika kedua belah pihak yang berseteru bersedia didamaikan. Tidak mungkin perdamaian hanya dilakukan oleh satu pihak, sedangkan pihak yang lain menolak. Tetapi kita diajarkan berusaha aktif untuk berdamai dengan siapa saja. Tidak patah semangat untuk mengusahakannya. Tidak peduli seberapa besar penolakan yang terjadi, yang penting dari pihak kita tetap membuka diri untuk berdamai. Oleh sebab itu ketika kita melakukan kesalahan atau merugikan orang lain hendaknya bersedia meminta maaf atau meminta ampun. Dan jika orang lain melakukan kesalahan atau merugikan kita, hendaklah kita bersedia memberi maaf atau memberi ampunan.
Pernahkah kita sakit hati? Saat seseorang tersakiti hatinya sedemikian rupa, terucaplah kata-kata yang merupakan luapan emosi tak terkendali. Misalnya, “Sampai mati aku tidak sudi melihat mukanya lagi.” Bbahkan ada yang menjadi dendam dan terlontarlah perkataan: “Lihat saja nanti pembalasanku!” Dari Kamus Besar Bahasa Indonesia kita tahu bahwa dendam artinya mempunyai keinginan keras untuk membalas. Bagi orang percaya jelas hal tersebut tidak boleh dilakukan karena tidak sesuai dengan apa yang dikatakan oleh Firman Tuhan dalam Efesus 4:26 yang mengatakan, “Apabila kamu menjadi marah, janganlah kamu berbuat dosa: janganlah matahari terbenam, sebelum padam amarahmu.” Tokoh Alkitab yang kita renungkan hari ini adalah Yusuf . Kisahnya sangat tidak asing bagi kita. Yusuf mempunyai mimpi yang dari Tuhan datangnya, tetapi Yusuf harus membayar harga untuk mimpinya itu. Yusuf dibenci, dimasukkan ke dalam sumur, dan dijual oleh saudara-saudaranya. Tiga belas tahun Yusuf hidup dalam penderitaan sampai akhirnya mimpi itu menjadi kenyataan! Saat saudara-saudaranya mengetahui bahwa Yusuf, sang penguasa itu adalah adik yang mereka jual, maka sangat ketakutanlah mereka. Mereka takut kalau Yusuf akan membalas apa yang mereka perbuat dahulu. Sungguh luar biasa! Jawaban Yusuf sangat menyejukkan hati. Tiada dendam dalam hatinya! “Tetapi sekarang, janganlah bersusah hati dan janganlah menyesali diri karena kamu menjual aku ke sini, sebab untuk memelihara kehidupanlah Allah menyuruh aku mendahului kamu“ (Kejadian 45:5). Bagaimana dengan kita? Adakah dendam dalam hati kita? Lepaskan pengampunan! Amin.
Berapa kali kita harus melepas pengampunan? Tuhan Yesus menjawab pertanyaan itu, tujuh puluh kali tujuh kali. Allah adalah Allah yang mengampuni (Mikha 7:18), Allah yang pengasih dan penyayang yang panjang sabar dan berlimpah kasih setia (Yunus 4:2). Jadi sudah sepatutnya kita yang menerima pengampunan, yang menyebut Dia Bapa, melakukan sikap penuh pengampunan terhadap orang lain. Bagaimana jika kita tidak melakukannya? Tuhan Yesus menjawab pertanyaan itu dalam perumpamaan seorang hamba yang tidak mau mengampuni (Matius 18:21-35): “maka marahlah tuannya itu dan menyerahkan dia kepada algojo-algojo sampai ia melunaskan seluruh hutangnya...” Kata Yesus, dengan cara seperti itulah Bapa di Sorga akan memperlakukan siapa saja apabila tidak mengampuni. Membatalkan pengampunan yang sudah diberikan? Tentunya Allah tidak akan melakukan hal semacam itu bukan? Bukankah Dia Allah maha pengampun? Namun Tuhan Yesus berkata bahwa Allah akan melakukannya, sebuah perkataan yang sungguh keras! Tuhan Yesus mengisahkan sebuah perumpamaan lain mengenai dua orang yang berhutang untuk menjelaskan aspek lain dari pengampunan (Lukas 7:36-50). Ini terjadi di rumah Simon, seorang farisi yang tidak menyambut tamunya secara hormat seperti tradisi yang ada waktu itu. Tiba-tiba datang seorang wanita berdosa menerobos masuk mencurahkan rasa syukur dan kasihnya dengan membasuh kaki Tuhan Yesus dengan air matanya, menyeka dengan rambutnya, mencium kaki Tuhan Yesus dan meminyakinya dengan minyak wangi. Dalam perumpamaan ini Tuhan Yesus mengajarkan bahwa orang yang diampuni sejumlah besar hutangnya akan memberikan tanggapan dengan kasih yang besar. Sebaliknya, tidak ada tanggapan yang besar yang bisa diberikan seseorang yang merasa hanya sedikit diampuni. Di mana ada tanggapan dengan kasih yang tulus, di sana ada roh pengampunan. Di mana ada roh pengampunan, di sana ada penghargaan yang lebih besar atas kemurahan pengampunan Allah dan akibatnya adalah kasih yang lebih besar lagi. Kasih dan pengampunan mengakibatkan reaksi berantai: makin banyak pengampunan, makin banyak kasih, makin banyak kasih makin banyak pengampunan. Mari kita praktikkan pengampunan yang Tuhan Yesus ajarkan dan teladankan kepada kita.
BARCODE BBM CHANNELS
RENUNGAN HARIAN
Susahkah Melupakan Kesalahan Orang?
17 November '14
Melampaui Batas
15 November '14
Respon Terhadap Teguran
04 November '14
Copyright © 2012 All rights reserved. Designed and Developed by GIA Dr. Cipto Semarang