SEPEKAN TERAKHIR
  Selasa, 28 Maret 2017   -HARI INI-
  Senin, 27 Maret 2017
  Minggu, 26 Maret 2017
  Sabtu, 25 Maret 2017
  Jumat, 24 Maret 2017
  Kamis, 23 Maret 2017
  Rabu, 22 Maret 2017
POKOK RENUNGAN
Kekuatan tidak hanya berdasar dari apa yang kita dapatkan, tapi justru dari apa yang kita berikan.
DITULIS OLEH
Ibu Ribkah E. Christanti
Kontributor
Renungan Lain oleh Penulis:
Home  »  Renungan  »  Hilang Justru Bertambah
Hilang Justru Bertambah
Jumat, 01 Februari 2013 | Tema: Komunitas Yang Menebarkan Kasih
Hilang Justru Bertambah
Yesaya 58:1-12
Baterai HP atau laptop, kalau sedang lemah (low battery), ia akan kembali berenergi kalau ada tambahan kekuatan melalui charger. Kalau badan lemas karena lapar, dengan makan maka akan menjadi kenyang dan menjadi kuat kembali. Kalau uang habis, dengan mengambil uang di ATM atau meminta kepada orang tua, maka persediaan uang kita akan kembali terisi. Artinya ada substansi yang ditambahkan sehingga memiliki tenaga ekstra. Namun beberapa kenyataan di atas, beda prinsipnya dengan kekuatan baru versi Yesaya 58:11. Orang akan mendapat kekuatan baru kalau dia justru bisa berbagi atau memberi substansi (isi) dari dalam dirinya.

Dalam ayat yang ke-6 sampai ayat ke-10, disebutkan beberapa ...selengkapnya »
Kita pasti tidak asing dengan sapaan ‘sahabat super’ yang sering diucapkan oleh seorang motivator di salah satu stasiun TV swasta. Tentunya sapaan tersebut dipakai untuk mengajak setiap pemirsa televisi melihat dirinya sendiri sebagai pribadi super. Terlepas dari sapaan itu, merasa super atau menjadi super bukanlah sesuatu yang buruk, tetapi jangan kebablasan merasa atau menjadi superior. Sejarah telah mencatat, mereka yang merasa superior bukannya menjadi super, tetapi malah menjadi monster. Misalnya, Firaun yang merasa diri superior karena mengklaim sebagai keturunan dewa, cenderung mempergunakan kekuasaannya untuk menindas rakyatnya. Di zaman yang jauh lebih modern, Adolf Hitler dengan pernyataannya ‘Deutschland Uber Alles’ [Jerman di atas segalanya] dan pemahaman bahwa bangsa Aria [Jerman] adalah bangsa yang tertinggi di dunia telah menjadikan dirinya penguasa yang tirani. Ternyata bukan hanya dunia penguasa pemerintahan yang bisa terserang virus ‘superior’, tetapi juga lingkup spiritual pun bisa tertular. Hal itu bisa kita lihat ketika Tuhan Yesus membentangkan perumpamaan tentang orang Farisi dengan pemungut cukai. Mengapa? Karena ada beberapa orang merasa diri superior dengan menganggap dirinya benar dan memandang rendah orang lain. Dalam perumpamaan tersebut orang Farisi dan pemungut cukai sama-sama pergi berdoa ke Bait Allah. Orang Farisi berdoa dengan membanggakan [menyombongkan] dirinya. Ia bangga akan status sebagai ‘orang baik dan terhormat’; ia membanggakan sisi ‘religiusitasnya’, ‘kesalehan dan ketaatannya pada perintah Allah’. Tanpa malu ia memamerkan seabreg prestasi keagamaannya di hadapan Sang Khalik. Sebaliknya si pemungut cukai berdiri jauh-jauh dan tidak berani menengadah ke langit, menyadari sebagai orang berdosa yang tidak layak berdiri di hadapan Allah. Ia hanya bisa meratap dan memohon belas kasihan Sang Pencipta. Kepada siapa Allah berkenan? Bukan semata-mata kepada si pemungut cukai, tetapi kepada orang yang merendahkan diri di hadapan-Nya. Allah berkenan bukan kepada orang yang meninggikan diri; merasa superior, melainkan kepada orang yang merendahkan hati. Kita harus berhati-hati dengan sikap merasa diri superior dalam hal spiritualitas dan keagamaan karena bisa memunculkan kecenderungan menjadi ‘hakim suci’. Tanpa sadar merasa yang ‘berhak’ menentukan suci atau tidaknya seseorang; saleh atau tidaknya seseorang; merasa berhak menunjuk jari kepada orang lain dengan tatapan merendahkan dan merasa lebih baik serta lebih benar; menjatuhkan sanksi tanpa disertai belas kasih; dsb. Orang seperti itu tidak ubahnya menjadi ‘diktator dan penguasa rohani’ yang tirani yang dibungkus kesucian dan kesalehan semu.
Seorang remaja pernah datang menghampiri saya dan berkata, “Bagaimana saya bisa mengalami Tuhan di saat sedang banyak persoalan dan masalah yang datang silih berganti?” Seolah-olah tidak ada ujung dan batasnya, semua itu terus mengalir bak air sungai yang tiada bertepi. Remaja tersebut terus menceritakan masalah-masalah yang sedang ia alami. Ia berusaha mencari jawaban dengan terus berpikir bagaimana keluar dari masalahnya. Banyak masukan dari teman-temannya yang menyuruh melakukan sesuatu, namun ia tetap masih ragu untuk mengambil sebuah keputusan. Dengan lembut saya mengatakan bahwa masalah bukanlah sebuah rintangan yang menghambat keberhasilan. Masalah yang sedang kita alami, Tuhan mengijinkannya terjadi karena ada maksud dan tujuan di balik setiap masalah tersebut. Tuhan mau menyatakan kehendaknya lewat masalah tersebut. Bahkan kita terus berpikir bagaimana kita mendapatkan jalan keluar, dan Tuhan punya banyak cara untuk menyelesaikan setiap masalah. Seperti kisah Yusuf, Tuhan mengizinkan sebuah perkara besar terjadi dalam hidupnya. Mulai dari ia harus menerima perlakukan yang tidak menyenangkan dari saudara-saudaranya karena iri hati. Ia dimasukkan ke dalam sumur, di jual sebagai budak di Mesir. Namun masalahnya tidak berhenti sampai di situ saja. Ia juga harus menerima perlakukan dari istri majikannya yang memfitnahnya, akhirnya berujung di penjara. Ia merasakan masalah yang terus-menerus bergulir dalam hidupnya seakan-akan tidak pernah berhenti. Tetapi Tuhan punya rencana yang indah lewat persoalan yang ia hadapi. Tuhan tidak pernah mereka-rekakan yang jahat bagi Yusuf meskipun masalah yang ia hadapi begitu besar. Karena setiap masalah yang ia hadapi menjadikannya hidup berkemenangan di dalam Tuhan. Ia terus menjalani proses mengalami Tuhan setiap hari. Ia tetap memiliki pendirian yang teguh atas imannya di dalam Allah. Sehingga masalah yang ia hadapi sedemikian rupa, justru menjadikannya sebagai orang yang memiliki keberhasilan di Mesir sebagai wakil raja. Mungkin kita tidak menghadapi masalah yang bertubi-tubi bagaikan air yang mengalir seperti yang dialami oleh Yusuf, tetapi tidak menutup kemungkinan kalau kita juga berada dalam situasi yang demikian. Tuhan mengijinkan masalah terjadi bukan untuk menjatuhkan dan membuat hidup kita terpuruk, melainkan menjadikan kita kuat dan terus berproses di dalam Tuhan dan mengalami-Nya lewat setiap persoalan yang datang menyapa hidup kita.
Pertengkaran dimana-mana. Anak-anak dalam satu keluarga rutin bertengkar. Orang-orang dewasa pun demikian. Bertengkar di kantor-kantor, di ruang-ruang rapat, di jalan-jalan dan di manapun juga. Seolah-olah menguatkan slogan “apapun profesinya dan berapapun usianya, bertengkar adalah menu favoritnya”. Jika dipikir-pikir mengapa banyak orang suka bertengkar? Padahal bertengkar itu tidak enak lho? Kecuali bagi yang hobinya ribut, mungkin jika tidak bertengkar malah membuat kepala pusing tujuh keliling. Namun benarkah ada orang yang hobinya bertengkar? Mungkin ada juga orang yang demikian itu, yang tidak mau stress sendiri, yang caper alias cari perhatian, yang coba mengalihkan perhatian pada orang lain agar kesalahannya dapat ditutupi, atau yang sebenarnya gagal fokus? Masalah pertengkaran tidak luput dari perhatian Tuan Joko Ndokondo. Baginya pertengkaran adalah masalah klasik. Konon ada yang bertengkar karena membela kebenaran dan keadilan. Namun banyak pula yang bertengkar karena ujung-ujungnya memperebutkan gengsi diri. Ingin jadi yang nomor satu, ingin jadi yang paling berkuasa, ingin jadi yang paling dihormati. Bagi Tuan Joko Ndokondo yang seperti inilah yang disebut bertengkar karena gagal fokus. Seperti ditunjukkan oleh murid-murid Tuhan Yesus yang bertengkar karena memperdebatkan “siapa yang terbesar di antara mereka”. Mereka tidak sadar jika sudah gagal fokus. Bukankah sebagai murid Tuhan harusnya fokus hidup mereka tidak pada diri mereka sendiri? Bukankah seharusnya fokus hidup mereka justru pada orang lain, terutama yang kecil dan tak terpandang dalam masyarakat? Kepada murid-murid yang gagal fokus, Tuhan telah menunjukkan bagaimana seharusnya fokus hidup tiap murid-Nya. Dibawa-Nya seorang anak kecil lalu diletakkannya di tengah-tengah murid-murid yang sedang bertengkar. “Inilah fokus hidupmu! Anak kecil yang tak terpandang, yang diremehkan banyak orang. Sambutlah mereka ini di dalam nama Tuhan. Jangan ribut lagi karena hasrat diri ingin disambut atau diutamakan! Hanya dengan demikianlah sebenarnya kalian telah menyambut Tuhan dan menyambut Bapa”, ujar Tuan Joko Ndokondo. Sebelum tiap orang sempat berkomentar atau bertanya tiba-tiba “Sssttttt…ttt jangan bilang siapa-siapa, ya?” katanya buru-buru menutup pembicaraan. Jemaat yang terkasih, sejak kita lahir kita sudah biasa minta diperhatikan. Dan saat usia kita sudah dewasa pun kita tetap mau jadi yang nomor satu. Itu semua tampak wajar saja. Namun bisa menjadi tidak wajar jika perhatian kita hanya pada diri kita sendiri. Akibatnya kita mudah tersinggung, mudah memusuhi orang lain yang tidak mendukung kita, dan bertengkar. Kita lupa bahwa sebagai murid Tuhan seharusnyalah kita memperhatikan orang lain. Terutama orang-orang kecil dan tak terpandang dalam masyarakat. Tuhan ingin mereka menjadi fokus perhatian dan pelayanan kita. Selamat berfokus, semoga tidak gagal fokus.
Dalam wawancara buletin sekolah edisi liputan pemilihan ketua OSIS, dua siswa diminta pendapatnya tentang dua calon ketua OSIS yang tengah bersaing ketat. Siswa pertama berkata, ’Menurut saya, Adi kurang asyik pembawaannya, tidak gaul. Mana bisa dia mewakili aspirasi semua siswa? Sedangkan Betsy terlalu sibuk dengan kegiatan baik di dalam maupun di luar sekolah. Mana ada waktu buat mengurus organisasi OSIS nantinya?’ Siswa kedua berpendapat, ’Sebelum dicalonkan sebagai ketua OSIS, Adi sudah menjadi ketua kelas. Ia suka mengamati dan mendengarkan pendapat teman-teman sekelas. Orangnya demokratis. Sedangkan Betsy suka terlibat dengan bermacam-macam kegiatan. Ia sudah terbiasa bersosialisasi.’ Wawancara itu memberi gambaran yang cukup jelas tidak hanya tentang para calon ketua OSIS tetapi juga tentang para pemberi pendapat. Siswa pertama cenderung mencela dengan menggarisbawahi kekurangan-kekurangan. Sementara siswa kedua berusaha menyoroti kelebihan-kelebihan yang dimiliki masing-masing calon. Semua orang punya kelebihan dan kekurangan. Namun di dalam Tuhan kita terus belajar dan berlatih untuk menjadi sempurna seperti Bapa. Kita pun belajar untuk taat pada Firman Tuhan untuk tidak menghakimi. Bukan berarti kita harus menutup mata terhadap kekurangan orang lain. Namun kita berlatih untuk tidak memusatkan perhatian terhadap kekurangan orang lain, apalagi membesar-besarkannya, seolah-olah kita adalah orang yang paling benar. Tidak mungkin kita bisa mengeluarkan selumbar di mata orang sedangkan ada balok di mata kita sendiri.
BARCODE BBM CHANNELS
RENUNGAN HARIAN
Proses Mengalami Tuhan
06 Maret '17
Seperti Monster
27 Maret '17
Harap Tenang
04 Maret '17
Copyright © 2012 All rights reserved. Designed and Developed by GIA Dr. Cipto Semarang