SEPEKAN TERAKHIR
  Sabtu, 20 Desember 2014   -HARI INI-
  Jumat, 19 Desember 2014
  Kamis, 18 Desember 2014
  Rabu, 17 Desember 2014
  Selasa, 16 Desember 2014
  Senin, 15 Desember 2014
  Minggu, 14 Desember 2014
POKOK RENUNGAN
Kekuatan tidak hanya berdasar dari apa yang kita dapatkan, tapi justru dari apa yang kita berikan.
DITULIS OLEH
Ibu Ribkah E. Christanti
Kontributor
Renungan Lain oleh Penulis:
Home  »  Renungan  »  Hilang Justru Bertambah
Hilang Justru Bertambah
Jumat, 01 Februari 2013 | Tema: Komunitas Yang Menebarkan Kasih
Hilang Justru Bertambah
Yesaya 58:1-12
Baterai HP atau laptop, kalau sedang lemah (low battery), ia akan kembali berenergi kalau ada tambahan kekuatan melalui charger. Kalau badan lemas karena lapar, dengan makan maka akan menjadi kenyang dan menjadi kuat kembali. Kalau uang habis, dengan mengambil uang di ATM atau meminta kepada orang tua, maka persediaan uang kita akan kembali terisi. Artinya ada substansi yang ditambahkan sehingga memiliki tenaga ekstra. Namun beberapa kenyataan di atas, beda prinsipnya dengan kekuatan baru versi Yesaya 58:11. Orang akan mendapat kekuatan baru kalau dia justru bisa berbagi atau memberi substansi (isi) dari dalam dirinya.

Dalam ayat yang ke-6 sampai ayat ke-10, disebutkan beberapa tindakan iman yang nyata dalam perbuatan. Misalnya, memerdekakan orang yang teraniaya, memecah roti bagi orang lapar, memberi tumpangan bagi orang yang tak punya rumah, memberi pakaian kepada orang yang telanjang, menyerahkan yang kita inginkan sendiri kepada orang yang lapar, dan lain-lain. Namun ketika kita melakukan hal itu (hal yang nampaknya ”mengurangi”apa yang ada pada kita/merugikan kita), justru mendatangkan kasih karunia dari Tuhan, diantaranya mampu ”menambah” kekuatan baru (ayat 11).

Ayat ini mengingatkan kita pada apa yang dialami oleh Daud ketika dia berada di gua Adulam (1 Samuel 22:1-5). Dalam perikop itu diceritakan bagaimana Daud menjadi pemimpin bagi 400 orang ...selengkapnya »
Seorang gembala jemaat dalam satu bulan penuh menyampaikan firman Tuhan dengan tema yang sama. Pada minggu pertama, jemaat mendengar dengan saksama kebenaran firman Tuhan yang disampaikan sambil menganggukkan kepala tanda mengerti dan mengaminkan firman tersebut. Pada minggu kedua, jemaat mulai berpikir mungkin bapak gembalanya lupa bahwa firman Tuhan tersebut sudah disampaikan minggu yang lalu. Dan pada minggu ketiga, kotbahnya pun sama dengan minggu-minggu sebelumnya. Maka dengan memberanikan diri salah seorang jemaat menyampaikan kepada sang gembala bahwa firman Tuhannya sama dengan minggu yang lalu. Tetapi dengan enteng bapak gembala balik bertanya apakah firman yang sama yang dikhotbahkan beberapa minggu ini oleh gembala sudah dilakukan. Ada banyak jemaat bangga sudah membaca Alkitab beberapa kali mulai dari Kejadian sampai Wahyu. Ada pula jemaat yang begitu setia beribadah sampai-sampai kalau belum beribadah di hari minggu, dia merasakan ada sesuatu yang kurang. Ada yang begitu bangga karena kenal banyak hamba-hamba Tuhan, apalagi hamba-hamba Tuhan dari luar negeri yang terkenal. Ada juga yang begitu bangga sudah berulangkali ke “Tanah Suci“, dan bahkan dibaptis di Sungai Yordan seperti Tuhan Yesus. Surat Yakobus memberikan pelajaran praktis bagi kita tentang apa yang harus kita lakukan. Sebagai orang percaya, apa yang kita dengar dari firman Tuhan harus dilakukan. Dan kita akan memiliki kebahagiaan. Kita sudah mendengar banyak kebenaran firman Tuhan dan juga kesaksian-kesaksian, sekarang waktunya untuk melakukannya. Mari dengan pertolongan Roh Kudus, kita berkeputusan bersedia belajar melakukan setiap firman yang Tuhan sampaikan kepada kita.
Seorang laki-laki terbaring di rumah sakit selama berbulan-bulan karena sakit yang dideritanya. Dia seorang yang baik dan terkenal kecerdasannya, tetapi hidupnya banyak beban pikiran yang membawanya kepada kekhawatiran, kegelisaan dan bahkan masalah di pundaknya yang membebani hatinya. Sementara ia menghabiskan waktunya berbulan-bulan di rumah sakit, ia memiliki kesempatan untuk memikirkan hidup yang lebih baik dan dalam dari sebelumnya. Dalam kondisi fisik yang lemah dan sakit, ia mendapatkan kekuatan rohani yang luar biasa dan dilahirkan kembali dalam lahir baru dan utuh. Di bulan-bulan akhir masa hidupnya, justru laki-laki ini mampu menemukan hubungan yang intim dengan Allah. Sehingga ia mampu hidup damai dengan Allah dan dengan orang lain yang selama ini menjadi beban dalam pikirannya. Ia percaya bahwa ketika telah percaya Kristus, ia tidak harus memikul beban berat. Pemahaman yang luar biasa telah ia temukan sebelum ia kembali kepada Allah. Dia melepaskan pengampunan kepada orang yang menyakitinya, dan berdamai dengan Allah. Sebelum dipanggil Tuhan ia mengungkapkan kepercayaannya bahwa beban berat yang dipikulnya telah dilepaskan oleh Kristus. Pengalaman laki-laki tersebut membukakan ingatan kita akan perumpamaan tentang pekerja kebun anggur. Ia telah mendapatkan kelepasan dan menemukan imannya justru pada masa-masa akhir hidupnya. Tetapi semua itu tidak mengurangi haknya sebagai orang percaya yang pasti menerima damai dari Allah. Dan haknya sama dengan orang lain yang lebih dulu percaya kepada Kristus. Hanya beruntungnya, laki-laki tersebut tidak sampai kehilangan haknya karena lebih dulu menemukan jalan damai itu, yaitu percaya kristus yang telah memberikan kelegaan dan pengampunan. Dan ia telah memberikan pengampunan kepada orang lain, sehingga beban berat yang dipikulnya telah terlepas karena pengakuan imannya kepada Kristus dan pertobatan hidupnya. Marilah kita yang telah percaya kepada Kristus berlomba untuk mencapai garis akhir hidup kita. Dan kita akan mendapatkan upah dari Tuan kita atas jerih lelah dan pekerjaan kita di ladang Tuhan. Janganlah kita terlambat, dan memulai hidup berdamai dengan sesama dan dengan Allah, sehingga ketika Tuan kita datang, upah itu diberikan kepada kita sesuai hak kita sebagai ahli waris kerajaan Surga. Jangan sampai Tuan kita berkata (ayat 14), ”Ambilah bagianmu dan pergilah; aku mau memberikan kepada orang yang masuk terakhir ini sama seperti kepadamu.”
Betsy sedang melayani seorang wanita bernama Nanik, seorang gadis yang mengalami pelecehan seksual dan korban pemerkosaan oleh saudara sekandungnya. Gadis ini minta didoakan karena menderita bisul di bagian usus besarnya yang nyaris mengancam keselamatan jiwanya. Setelah Betsy membimbingnya secara pastoral, Nanik bersedia mengampuni saudaranya meskipun begitu pahit pengalaman itu dirasakannya. Akhirnya Allah memulihkan kesehatannya. Bisul di usus besarnya hilang dengan sendirinya tanpa harus melewati meja operasi, sampai dokter yang merawatnya merasa heran akan keajaiban Allah. Hubungan dengan saudara kandungnya pun dipulihkan, sehingga mereka bisa hidup saling mengasihi. Permintaan Allah kepada kita sangat sederhana dan disampaikan terus menerus, yaitu kita harus hidup saling mengampuni satu sama lain (Lukas 6:37). Supaya kita bisa memutus rantai balas dendam, hidup saling menyakiti, memutus belenggu kepahitan hidup yang dapat membahayakan emosional dan kesehatan jasmani kita. Sesakit apapun yang kita alami, ketika kita mengampuni, pada akhirnya hal itu akan membawa kita kepada kesembuhan. Allah memerintahkan kita untuk hidup saling mengampuni satu sama lain supaya hubungan kita satu dengan yang lain menjadi damai dan penuh kasih sayang disertai dengan ketulusan hati. Itulah kehendak Allah atas hidup kita. Kejadian 45:11-15 merupakan contoh kehidupan Yusuf sebagai seorang perdana mentri Mesir yang mau mengambil keputusan untuk mengampuni saudara-saudaranya yang telah memperlakukannya dengan jahat sehingga ia hidup dalam kesulitan selama 13 tahun sebagai seorang budak. Kini setelah dia menjadi penguasa di Kerajaan Mesir dan dipercaya sebagai pengatur persediaan makanan di musim kelaparan, saudara-saudaranya datang untuk meminta belas kasihannya. Yusuf memberikan pelayanan yang terbaik kepada mereka sebelum memperkenalkan dirinya, bahkan setelah pemulihan hubungan, Yusuf menawarkan kehidupan yang lebih baik kepada mereka atas persetujuan Raja Mesir. Pengampunan itu memberi pengaruh yang luar biasa dalam pemulihan hubungan dan penyembuhan penyakit jasmani yang ditimbulkan oleh kepahitan, kemarahan, kegeraman. Bagi kita yang masih belum bisa mengampuni sesama, mintalah belas kasihan Allah supaya kita diberikan kekuatan dan kuasa untuk mengampuni. Demi kebaikan hubungan di masa depan baik dengan Allah maupun sesama kita, dan juga untuk kesehatan mental serta jasmani kita, ambillah keputusan sekarang juga untuk mengampuni selagi masih ada kesempatan.
Christian bertekad menyisihkan uang saku sekolahnya sebesar Rp.5000,- setiap hari untuk di tabung bagi keperluan membantu teman-teman sekolahnya yang sering mengalami kesulitan membayar uang sekolah. Christian sadar dan tahu bahwa tidak semua teman sekolahnya seberuntung dirinya. Ketika sudah terkumpul sejumlah uang, Christian berniat memberikannya untuk pembayaran uang sekolah Antok, teman sekelasnya. Maka Christian segera memberikan uang tersebut kepadanya sambil berkata, “Tuhan meminta saya memberkati kamu melalui hal ini agar engkau tetap punya semangat dalam belajar hingga lulus.” Dengan rasa haru Antok menerima uang itu dan segera membayar sekolahnya. Tak lupa Antok berkata, “Terima kasih, Tuhan sudah memakaimu untuk meringankan bebanku. Sudah sepuluh hari aku berdoa untuk hal ini sebab orangtuaku lagi sakit dan membutuhkan biaya pengobatan. Sehingga untuk membayar sekolahku harus tertunda dulu. Berkat ini sangat berarti bagi hidupku agar waktu ulangan nanti aku tetap bisa ikut.” Ternyata Christian yang tergerak hatinya untuk membantu temannya merupakan hasil perenungan Firman Tuhan dari perumpamaan orang Samaria yang murah hati di dalam Lukas 10. Melalui bacaan tersebut Tuhan Yesus hendak mengajarkan kepada para murid, termasuk kita, supaya mau memperhatikan sesama yang hidupnya belum beruntung. Melalui kisah tersebut Tuhan Yesus hendak menekankan bahwa semua manusia di hadapan Allah maupun sesama memiliki kedudukan yang sama. Sehingga tindakan membantu orang lain harus kita lakukan dengan sepenuh hati dan digerakan oleh hati yang berbelas kasihan. Orang Samaria dalam perumpamaan ini adalah warganegara kelas dua pada zaman itu. Namun dalam hal mengasihi sesama manusia, orang Samaria lebih peduli daripada mereka yang hidup agamanya lebih baik. Hal itu mengajarkan agar kita tidak membedakan siapakah orang yang hendak kita tolong . Kadangkala Tuhan Yesus menyediakan banyak sarana dan kesempatan bagi kita untuk berbuat kasih kepada sesama di sekitar kita. Oleh sebab itu apabila kita digerakan Allah untuk melakukan, maka lakukanlah dengan segenap hati. Siapa tahu melalui hal yang kecil tersebut Allah menyediakan sesuatu yang sangat berarti dalam hidupmu kelak di kemudian hari. Sudahkah kita melakukan hidup saling memperhatikan, saling peduli dan saling berbagi kasih sebagaimana telah dipilih sebagai tema gereja kita sepanjang tahun ini.
BARCODE BBM CHANNELS
RENUNGAN HARIAN
Pengampunan Itu Menyembuhkan
26 November '14
Pengampunan
22 November '14
Belum Terlambat
02 Desember '14
Copyright © 2012 All rights reserved. Designed and Developed by GIA Dr. Cipto Semarang