SEPEKAN TERAKHIR
  Sabtu, 23 September 2017   -HARI INI-
  Jumat, 22 September 2017
  Kamis, 21 September 2017
  Rabu, 20 September 2017
  Selasa, 19 September 2017
  Senin, 18 September 2017
  Minggu, 17 September 2017
POKOK RENUNGAN
Kekuatan tidak hanya berdasar dari apa yang kita dapatkan, tapi justru dari apa yang kita berikan.
DITULIS OLEH
Ibu Ribkah E. Christanti
Kontributor
Renungan Lain oleh Penulis:
Home  »  Renungan  »  Hilang Justru Bertambah
Hilang Justru Bertambah
Jumat, 01 Februari 2013 | Tema: Komunitas Yang Menebarkan Kasih
Hilang Justru Bertambah
Yesaya 58:1-12
Baterai HP atau laptop, kalau sedang lemah (low battery), ia akan kembali berenergi kalau ada tambahan kekuatan melalui charger. Kalau badan lemas karena lapar, dengan makan maka akan menjadi kenyang dan menjadi kuat kembali. Kalau uang habis, dengan mengambil uang di ATM atau meminta kepada orang tua, maka persediaan uang kita akan kembali terisi. Artinya ada substansi yang ditambahkan sehingga memiliki tenaga ekstra. Namun beberapa kenyataan di atas, beda prinsipnya dengan kekuatan baru versi Yesaya 58:11. Orang akan mendapat kekuatan baru kalau dia justru bisa berbagi atau memberi substansi (isi) dari dalam dirinya.

Dalam ayat yang ke-6 sampai ayat ke-10, disebutkan beberapa tindakan iman yang nyata dalam perbuatan. Misalnya, memerdekakan orang yang teraniaya, memecah roti bagi orang lapar, memberi tumpangan bagi orang yang tak punya rumah, memberi pakaian kepada orang yang telanjang, menyerahkan yang kita inginkan sendiri kepada orang yang lapar, dan lain-lain. Namun ketika kita melakukan hal itu (hal yang nampaknya ”mengurangi”apa yang ada pada kita/merugikan kita), justru mendatangkan kasih karunia dari Tuhan, diantaranya mampu ”menambah” ...selengkapnya »
Akhir-akhir ini saya [mungkin kita] dibuat terkaget-kaget dengan berita tentang sepasang suami istri yang “kompak, seia sekata, harmonis” dalam melakukan penipuan. Mereka menghimpun uang dan menggunakannya untuk kepentingan pribadi dan keluarganya. Yang membuat saya ternganga adalah jumlahnya yang fantastis, hampir menembus angka “T”. Uang itu dipakai untuk hidup berfoya-foya, bepergian ke luar negeri, membeli rumah mewah, mobil- mobil mewah, tas-tas dan barang-barang branded yang super mewah dengan harga yang super mahal. Mereka seperti hidup di alam mimpi karena dengan mudahnya mendapat uang dan mendapatkan apa saja yang mereka inginkan. Tapi akhirnya mimpi mereka harus berakhir dan harus mempertanggungjawabkan perbuatan mereka. Rasa haus dan lapar akan harta benda dan hidup dalam kemewahan bisa membuat seseorang menghalalkan segala cara untuk memuaskannya. Tidak adanya perasaan cukup mendorongnya merasa haus dan lapar yang tidak berkesudahan. Dan hasrat untuk terus menerus memuaskan rasa haus dan lapar akan kenikmatan dunia yang tanpa disadari akan membawanya kepada kehancuran. Di sepanjang kehidupannya, Raja Daud juga mengalami rasa haus dan lapar. Tetapi kita tahu akhir hidup Daud tidak hancur. Namanya dikenang sampai sekarang, bahkan salah satu keturunannya dipakai Tuhan untuk melahirkan Juruselamat. Mengapa demikian? Karena rasa haus dan lapar yang dirasakan Daud berbeda dengan yang dirasakan sepasang suami istri di atas. Daud tidak haus dan lapar akan harta dunia ataupun tahta, tetapi ia haus dan lapar akan hadirat Tuhan, akan firman Tuhan. Mazmur 63:1-8 adalah salah satu dari banyak ungkapan Raja Daud akan kerinduannya kepada Allah. Haus dan lapar akan firman Tuhan, akan hadirat Tuhan dalam hidupnya telah membawanya selalu ingin mendekat kepada Tuhan. Dan itulah yang menjadi kekuatan Raja Daud dalam menghadapi masalah demi masalah, menjadi penghiburan yang sempurna ketika ia dilanda kesusahan. Rasa haus dan lapar akan firman Tuhan, akan hadirat Tuhan, tentunya juga akan membawa kita kepada kemenangan atas pencobaan-pencobaan yang kita hadapi. Karena ketika kita berusaha memuaskan rasa haus dan lapar itu, kita akan selalu mencari hadirat Tuhan, selalu ingin dekat dengan Tuhan, selalu ingin menggali janji-janji firman-Nya. Dan tentu saja kita tidak akan mudah terjerumus di dalam perkara-perkara yang tidak berkenan di hadapan-Nya. Karena itu, marilah kita belajar memelihara rasa haus dan lapar akan firman-Nya, akan hadirat-Nya, dan mulai membuang rasa haus dan lapar akan hal-hal dunia.
Kenangan akan aroma roti yang menyebar di rumah Oma mendorong saya untuk membeli sebuah buku resep kue dan roti saat saya baru saja menikah. Dari seluruh resep yang dilengkapi potret-potret roti dan kue yang menggiurkan, saya menetapkan pilihan untuk membuat donat. Bahan-bahan telah dibeli lengkap dan ditimbang tepat seperti yang tertera di resep. Langkah demi langkah saya ikuti persis seperti instruksi di buku itu. Hasilnya ... donatnya bantat. Rasanya memang enak, tetapi adonan tidak mengembang dengan semestinya sehingga hasilnya keras. Percobaan kedua, ketiga, dan selanjutnya berujung sama. Akhirnya saya berkesimpulan bahwa ada yang salah dengan resep itu. Mulailah saya mencermati dan mengutak-atik ukuran bahan, lalu mencobanya kembali. Kali ini berhasil. Ternyata memang ada salah ketik di resepnya. Pantas saja meskipun dicoba berkali-kali hasilnya tetap gagal. Seperti sia-sianya mempercayai resep yang keliru, sering kali dalam hidup ini kita bersandar pada apa yang kita yakini adalah benar namun ternyata menyesatkan. Kita bergaul erat dengan orang-orang yang dianggap baik, namun ternyata memberi pengaruh buruk. Kita meminta nasihat kepada orang yang dianggap bijak, namun ternyata nasihatnya tidak bijaksana. Firman Tuhan pada hari ini mengingatkan kita untuk berada dalam lingkup pergaulan yang sehat. Kita diberi pesan agar tidak menuruti nasihat orang fasik ataupun duduk dalam kumpulan pencemooh. Perilaku itu menuju pada jalan kebinasaan. Sebaliknya, hendaklah kita selalu dekat dengan Tuhan dan akrab dengan Firman Tuhan. Dialah jalan kebenaran. Demikian hendaklah kita hidup dengan benar dan berkat Tuhan pasti dicurahkan kepada kita.
Kita tahu bahwa beberapa gereja begitu memiliki semangat dan antusiasme yang tinggi dalam menumbuhkan iman jemaatnya dengan berbagai cara atau metode yang telah ditempuhnya. Misalnya saja kita tahu ada gereja yang menekankan doa yang luar biasa untuk membangun jemaat memiliki ketekunan dan kedekatan dengan Tuhan. Sementara di gereja lain memiliki semangat yang lain lagi. Pemuridan, misalnya. Melalui penekanan pada pembentukan karakter, diharapkan jemaatnya memiliki karakter Kristus. Sungguh membanggakan jemaat yang memiliki gairah untuk bertumbuh sebab jemaat seperti ini memiliki masa depan yang baik untuk mencapai visi dan misi gereja. Pertanyaannya: ada apa dalam semangat itu? Jawabnya adalah karena dalam semangat ada kekuatan “iman dan pengharapan” untuk menerima janji Allah sekarang dan selamanya. Oleh sebab itu tidak heran apabila penulis surat Ibrani dengan tegas menegur jemaat Yahudi yang telah menerima Kristus namun mereka mengalami kemunduran, sehingga mereka tidak memiliki pengharapan yang kuat dalam Tuhan. Sekalipun jemaat Ibrani mengalami kemunduran iman dalam Kristus [bahkan banyak yang kembali pada agama Yudaisme], tetapi menurut penulis surat Ibrani, masih ada harapan dalam Tuhan. Dengan kata lain mereka masih memiliki banyak hal yang baik yang mengandung keselamatan [ayat 9]. Artinya bahwa jemaat Ibrani belum habis, masih ada kesempatan karena Tuhan itu adil dan tetap memperhitungkan pekerjaan pelayanan dan kasih jemaat Ibrani yang ditujukan kepada Tuhan maupun kepada orang-orang kudus [ayat 10]. Hanya saja mereka masih lamban dan sulit bertumbuh [ayat 12; bnd. 5:12]. Menurut penulis surat Ibrani bahwa iman dan pengharapan adalah “saudara kembar” yang tidak terpisahkan. Sebab barangsiapa memiliki iman yang kuat, maka ia akan berdiri dalam pengharapan yang teguh. Sebaliknya barangsiapa kendor imannya, maka lemah pula pengharapannya seperti iman Abraham yang tetap memiliki pengharapan. Dan pengharapan itu tidak mengecewakan [ayat 14, 15]. Saudara kekasih Tuhan, marilah dengan rendah hati kita mengevaluasi perjalanan iman kita. Seperti apakah wajah iman kita, bagaimana pengiringan kita bahkan pelayanan kita kepada Tuhan? Semakin baikkah atau justru mengalami penurunan dan kemunduran? Tentu saudara yang tahu. Apabila sekarang saudara dalam tingkat “on fire” pertahankan. Tetapi apabila kita sedang mengalami kemunduran bahkan penurunan drastis: rasa-rasanya mau berhenti dari pelayanan; berhenti dari semangat membangun diri dalam komunitas rohani. Kita perlu jujur di hadapan Tuhan. Barangkali ada sesuatu yang merintangi pertumbuhan iman kita. Mungkin kita sedang menghadapi pencobaan dan ujian hidup yang berat. Dalam situasi seperti itu apakah kita harus mundur mengorbankan iman kita? Ataukah kita bertahan dalam iman, tetap melayani Tuhan walau berat dan terus berjalan maju sampai akhir? Tentu yang terakhir ini menjadi pilahan kita bersama. Tetap semangat!
Sebuah lembaga penitipan anak atau taman penitipan anak menjadi tempat favorit bagi orangtua yang memiliki jam kerja yang sangat tinggi untuk menitipkan anak-anaknya. Suatu saat pengasuh dan penjaga sebuah tempat penitipan anak bercerita tentang berbagai macam karakter anak yang dititipkan yang umumnya balita hingga usia tujuh tahunan. Ada seorang anak yang memiliki karakter yang kurang baik. Anak tersebut memiliki perbendaharaan kata yang sangat tidak pantas untuk diucapkan. Anak tersebut fasih sekali menyebut teman-temannya dengan nama-nama binatang, bahkan kata-kata kotor yang lainnya. Pengasuhnya mulai penasaran dari mana kosakata tersebut ia dapatkan. Selidik punya selidik ternyata anak tersebut sering mendengar perkataan itu keluar dari orangtuanya yang mungkin tanpa disadari ketika mereka mengucapkan perkataan itu bukan saja hanya didengar tapi juga direkam oleh si anak. Roma 12:2 berkata bahwa jangan kita menjadi serupa dengan dunia ini, tetapi berubah oleh pembaharuan budimu, sehingga kita dapat membedakan kehendak Allah. Ayat ini menunjukkan bahwa setiap orang punya kesempatan untuk mengalami perubahan dalam kehidupannya. Dalam keseluruhan perikop ini berjudul persembahan yang benar, artinya adalah setiap aspek kehidupan kita menjadi sebuah persembahan yang kita tujukan kepada Tuhan karena atas dasar kasih karunia yang Tuhan berikan dalam hidup kita. Bagaimana hidup kita menjadi persembahan yang benar untuk Tuhan kalau kita belum bisa menguasai lidah dan bibir kita untuk berkata-kata dengan baik dan benar kepada sesama kita? Contoh di atas memberikan gambaran bahwa sebelum anaknya berubah, orangtuanya harus terlebih dahulu berubah. Perubahan itu dimulai dari diri sendiri. Ketika masing-masing pribadi mempunyai kesadaran untuk berubah ke arah yang benar maka akan ada dampak yang mempengaruhi sekitarnya. Perubahan pribadi demi pribadi karena pembaharuan budi kita, sehingga mampu membedakan yang baik, yang berkenan, dan yang sempurna di hadapan Allah. Saudara yang terkasih, perubahan terjadi tidak seketika, melainkan proses yang didasarkan pada komitmen. Sebelum kita belajar mengubahkan orang lain menjadi benar dan baik, maka perubahan itu harus dimulai dari diri kita sendiri. Pada akhirnya kalau hidup kita sudah diubahkan ke arah Kristus, maka akan banyak buah-buah yang keluar dan dapat mempengaruhi satu dengan yang lain sehingga membawa perubahan yang nyata bagi banyak orang.
BARCODE BBM CHANNELS
RENUNGAN HARIAN
Apa Yang Membuat Kita Bangga?
17 September '17
Masih Ada Tuhan
24 Agustus '17
Proses
20 September '17
Copyright © 2012 All rights reserved. Designed and Developed by GIA Dr. Cipto Semarang