SEPEKAN TERAKHIR
  Senin, 27 Juni 2016   -HARI INI-
  Minggu, 26 Juni 2016
  Sabtu, 25 Juni 2016
  Jumat, 24 Juni 2016
  Kamis, 23 Juni 2016
  Rabu, 22 Juni 2016
  Selasa, 21 Juni 2016
POKOK RENUNGAN
Kekuatan tidak hanya berdasar dari apa yang kita dapatkan, tapi justru dari apa yang kita berikan.
DITULIS OLEH
Ibu Ribkah E. Christanti
Kontributor
Renungan Lain oleh Penulis:
Home  »  Renungan  »  Hilang Justru Bertambah
Hilang Justru Bertambah
Jumat, 01 Februari 2013 | Tema: Komunitas Yang Menebarkan Kasih
Hilang Justru Bertambah
Yesaya 58:1-12
Baterai HP atau laptop, kalau sedang lemah (low battery), ia akan kembali berenergi kalau ada tambahan kekuatan melalui charger. Kalau badan lemas karena lapar, dengan makan maka akan menjadi kenyang dan menjadi kuat kembali. Kalau uang habis, dengan mengambil uang di ATM atau meminta kepada orang tua, maka persediaan uang kita akan kembali terisi. Artinya ada substansi yang ditambahkan sehingga memiliki tenaga ekstra. Namun beberapa kenyataan di atas, beda prinsipnya dengan kekuatan baru versi Yesaya 58:11. Orang akan mendapat kekuatan baru kalau dia justru bisa berbagi atau memberi substansi (isi) dari dalam dirinya.

Dalam ayat yang ke-6 sampai ayat ke-10, disebutkan beberapa ...selengkapnya »
Suasana rapat pimpinan di perusahaan itu semakin memanas seperti yang sudah saya duga. Bagaimana tidak, rapat yang diharapkan bisa menelurkan ide-ide yang cemerlang untuk meningkatkan penjualan, malah menjadi ajang saling menyalahkan antar manager dan mengkritik kebijakan perusahaan. Alhasil, tidak ada kesepakatan yang dicapai, tidak jalan keluar yang didapat dari hasil rapat itu. Dan masing-masing peserta keluar dengan wajah yang kuyu karena kelelahan berdebat. Sungguh sangat disayangkan. Hanya membuang waktu, tenaga dan pikiran, tanpa mendapatkan hal yang positif. Mencari kambing hitam, itu hal yang biasa dilakukan segelintir orang ketika dihadapkan pada masalah/persoalan. Bukan berusaha memikirkan jalan keluar agar masalah bisa diatasi, tetapi hanya berkutat dengan penyebab masalah itu. Hal ini tentu saja memicu perpecahan dalam sebuah komunitas seperti keluarga, perusahaan, maupun gereja. Sifat mencari kambing hitam adalah sifat dari manusia lama yang belum diubahkan. Sebagai orang yang sudah menerima Yesus, sudah seharusnya kita meninggalkan manusia lama dan menjadi manusia baru dengan sifat dan karakter yang baru [ayat 5-11]. Dengan begitu ketika kita menyadari bahwa kita adalah bagian dari tubuh Kristus dalam gereja, kita mampu memelihara dan mewujudkan kesatuan. Dan suatu waktu ketika diperhadapkan dengan masalah/persoalan, kita tidak mencari kambing hitam lagi, karena dasar pemikiran kita adalah belas kasihan, kemurahan, kerendahan hati, kelemah lembutan dan kesabaran [ayat 12-13]. Damai sejahtera Kristus yang memerintah dalam hati kita akan mendatangkan hikmat baik dalam pikiran maupun ucapan saat kita duduk bersama menyelesaikan masalah yang ada. Masalah/persoalan akan selalu ada, datang silih berganti, tetapi jangan lagi mencari kambing hitam. Carilah kasih yang sanggup mengikat dan mempersatukan dengan sempurna. Belajarlah memelihara dan mewujudkan kesatuan dalam hidup bergereja dengan mengutamakan kepentingan bersama di atas kepentingan pribadi.
Pada awal tahun 2000-an di Bimas Kristen sudah terdaftar secara resmi 300-an aliran Gereja Kristen. Pertanyaannya adalah bagaimana proses terjadinya berbagai merek atau denominasi aliran gereja itu? Fakta menunjukkan bahwa berbagai aliran itu terjadi rata-rata diawali dengan apa yang namanya perbedaan pendapat, perselisihan, pertengkaran dan akhirnya perpecahan [Tarmizi Taher, Sekjend Depag RI, 2004]. Ya, memang benar. Tidak disangkali bahwa di dalam gereja, bahkan sejak gereja mula-mula sering juga terjadi konflik, perbedaan pendapat bahkan menjurus perpecahan. Padahal firman Tuhan berkata bahwa Kristus itu satu dan tidak terbagi-bagi, serta dengan tegas Paulus mewanti-wanti supaya jangan ada perpecahan [ay. 10, 13]. Gereja sudah terlanjur terpecah-pecah dan sekarang terdiri dari ratusan denominasi. Memang bukan tidak mungkin akan ada rekonsiliasi secara besar-besaran, namun semakin banyak perpecahan gereja maka semakin banyak “pekerjaan rumah” bagi gereja itu sendiri untuk membenahinya. Itu berarti gereja akan semakin banyak membuang energi untuk mengurus diri sendiri. Kapan menjalankan misi Allah? Jemaat Tuhan, mari kita merenungkan sejenak arti keutuhan gereja kita. Setan adalah pakar dalam bidang memecah belah dan apabila di gereja kita ternyata ada perselisihan maka setan sangat senang. Perselisihan di dalam gereja hanya membuang-buang waktu dan menguras banyak energi. Semua itu tidak ada faedahnya, hanya meninggalkan luka batin dan saling membenci. Memang tidak ada gereja yang sempurna tetapi setidaknya kita bisa berjuang untuk meminimalisir segala bentuk kemungkinan terjadinya perpecahan dalam gereja. Langkah apa supaya kita terhindar dari perselisihan dalam gereja kita sendiri? Pertama-tama, jemaat harus seia-sekata, erat bersatu dan sehati sepikir di dalam Kristus [ay. 10]. Artinya jemaat harus kembali konsentrasi kepada visi misi Allah bahwa gereja adalah “ambasador-nya” Tuhan [duta Tuhan]. Gereja harus siap sedia menjadi berkat bagi dunia ini dengan lebih banyak terobosan-terobosan keluar daripada asyik berlama-lama dengan acara di dalam. Berikutnya adalah jemaat jangan terpancang dengan “kehebatan” hamba Tuhan sebab itu bisa jatuh pada pengkultusan hamba Tuhan [ay. 12]. Semua hamba Tuhan sama, karena yang disampaikan adalah Firman Tuhan. Jemaatlah yang harus belajar untuk mendengar suara Tuhan, jangan memilih-milih hamba Tuhan supaya tidak kecewa nanti. Cukup mendengar dengan baik dan tangkap apa maunya Tuhan. Kuncinya adalah jemaat harus seia sekata, erat bersatu dan sehati sepikir, jangan ada lagi perpecahan.
Kira-kira 2 bulan lalu, saat doa korporat di gereja, bapak Gembala memberi sebuah ilustrasi berupa klip yang diambil dari film berjudul “Finding Nemo”. Nemo adalah seekor ikan anemon kecil yang tidak sengaja terperangkap dalam jaring sebuah kapal besar pencari ikan. Dalam klip itu digambarkan betapa jaring raksasa itu seakan mengeruk habis isi laut. Namun Nemo berinisiatif untuk menolong ikan-ikan lain keluar dari jaring. Dia berbicara kepada seluruh ikan untuk berenang sekuat-kuatnya menuju bawah untuk melawan pusat kekuatan kendali jaring itu. Awalnya dia mengalami kesulitan karena seluruh ikan sibuk, bingung dan panik untuk menyelamatkan diri masing-masing dengan berenang ke segala arah. Namun ketika mereka mendengarkan suara Nemo si ikan kecil, mereka mulai bersatu dan melakukan instruksi Nemo untuk berenang ke bawah bersama-sama dengan sekuat mungkin. Alhasil para nelayan di kapal mulai heran karena jala semakin berat, dan sungguh tidak terelakkan, jala itu koyak karena tidak kuat menahan ikan yang “memberontak” tadi. Akhirnya bebaslah ikan-ikan tersebut. Dari kisah ikan di atas, kita dapat mengambil banyak pelajaran yang berharga. Mulai dari betapa hebatnya dampak dari sebuah kesepakatan dan kesatuan dalam kelompok. Kesepakatan seakan mengaburkan kekurangan dari setiap individu dan justru melipatgandakan kelebihan atau kekuatan mereka. Seekor ikan sudah pasti sangat mustahil untuk mengoyakkan jala. Namun beda cerita jika ikan itu bersama dengan kelompoknya. Bahkan lebih “mengerikan” lagi jika ikan yang banyak itu memiliki satu titik fokus. Itulah Kuasa dari kata sepakat. Kesepakatan mampu melipatgandakan kekuatan dan memfokuskan tujuan. Namun kehebatan kesepakatan juga menuntut adanya “pribadi yang hebat”. Yaitu mereka yang mau berbesar hati, rendah hati, menghargai pendapat orang lain dan mampu berpikir secara komprehensif. Di mana pun posisi kita, selagi kita masih berada dalam sebuah kelompok atau komunitas, kita dituntut untuk berkarakter menjadi “orang hebat” jika kita menginginkan adanya sebuah keajaiban dalam sebuah kesepakatan. Dalam keluarga, tempat kerja, lingkungan masyarakat, gereja dan di mana pun. Dan perlu diingat, bagi orang yang mau membangun karakter orang hebat tersebut, Tuhan berkenan dan bahkan akan mengabulkan apapun yang mereka minta. Selamat menjadi orang hebat!
Kesatuan di dalam Kristus. Filipi 2:1-11 Banyak nasihat firman Tuhan bagi warga gereja sulit kita praktikkan. Mengapa? Salah satu alasannya adalah karena nasihat-nasihat itu bertentangan dengan dorongan kodrati kita. Perikop ini dimulai dengan ’Jadi karena dalam Kristus, atau ’Sebagaimana dalam Kristus’ [ayat 1]. Karya dan teladan Kristus serta pengenalan kita akan Kristus adalah sumber nasihat, penghiburan kasih, persekutuan Roh, kasih mesra dan belas kasihan [ayat 2-4]. Tanpa sumber itu, semua kesatuan di antara manusia hanyalah semu belaka. Keakraban berdasarkan kepentingan sama, interes sama, hobi sama, hanyalah kesatuan berdasarkan kesamaan dorongan ego masing-masing orang. Paulus mengaitkan kesatuan ini dengan kesempurnaan sukacita [ayat 1; bdk. Yoh. 17:13]. Inilah sukacita seorang yang saleh, yang afeksi dan emosi terdalamnya serasi dengan rencana Tuhan. Inilah sukacita karena melihat saudara seiman hidup dalam kesatuan. Kesatuan ini meliputi beberapa hal. Pertama, kesehatian. Kristen seharusnya memiliki arah hati yang sama yaitu kepada Tuhan, dalam segala sesuatu memuliakan dan menyenangkan Tuhan saja. Kedua, sepikir. Pikiran harus dikuasai oleh kebenaran yang sama, yaitu firman Tuhan. Ketiga, satu kasih. Kristus mengasihi kita dan mempersatukan kita dengan Bapa yang di sorga. Waktu kita mengasihi, kita sedang membawa orang ke dalam kesatuan tubuh Kristus dengan satu tujuan, yaitu hidup bagi Tuhan dengan meneladani kehidupan Kristus. Ada dua hal yang dapat menghambat kesatuan ini, yaitu mencari kepentingan sendiri dan puji-pujian yang sia-sia. Untuk mengatasinya dibutuhkan sikap menganggap orang lain lebih utama daripada diri sendiri. Belajarlah melihat diri sendiri sebagai yang terakhir! Inilah cara kita menonjolkan kasih Kristus. [Sumber:www.sabda.com] Pdt. Goenawan Susanto
BARCODE BBM CHANNELS
RENUNGAN HARIAN
Iman Yang Tetap, Berakar dan Bertumbuh
27 Mei '16
Kesatuan Membawa Hasil Maksimal
09 Juni '16
Berkenan Di Hadapan Nya
01 Juni '16
Copyright © 2012 All rights reserved. Designed and Developed by GIA Dr. Cipto Semarang