SEPEKAN TERAKHIR
  Senin, 20 Februari 2017   -HARI INI-
  Minggu, 19 Februari 2017
  Sabtu, 18 Februari 2017
  Jumat, 17 Februari 2017
  Kamis, 16 Februari 2017
  Rabu, 15 Februari 2017
  Selasa, 14 Februari 2017
POKOK RENUNGAN
Kekuatan tidak hanya berdasar dari apa yang kita dapatkan, tapi justru dari apa yang kita berikan.
DITULIS OLEH
Ibu Ribkah E. Christanti
Kontributor
Renungan Lain oleh Penulis:
Home  »  Renungan  »  Hilang Justru Bertambah
Hilang Justru Bertambah
Jumat, 01 Februari 2013 | Tema: Komunitas Yang Menebarkan Kasih
Hilang Justru Bertambah
Yesaya 58:1-12
Baterai HP atau laptop, kalau sedang lemah (low battery), ia akan kembali berenergi kalau ada tambahan kekuatan melalui charger. Kalau badan lemas karena lapar, dengan makan maka akan menjadi kenyang dan menjadi kuat kembali. Kalau uang habis, dengan mengambil uang di ATM atau meminta kepada orang tua, maka persediaan uang kita akan kembali terisi. Artinya ada substansi yang ditambahkan sehingga memiliki tenaga ekstra. Namun beberapa kenyataan di atas, beda prinsipnya dengan kekuatan baru versi Yesaya 58:11. Orang akan mendapat kekuatan baru kalau dia justru bisa berbagi atau memberi substansi (isi) dari dalam dirinya.

Dalam ayat yang ke-6 sampai ayat ke-10, disebutkan beberapa ...selengkapnya »
Kata “murid = disciple [bhs. Inggris]”. Dari kata ini lahir kata discipline atau disiplin dalam bahasa Indonesia. Seorang disciple [murid] yang baik mempunyai tingkat discipline [disiplin] yang tinggi. Dengan disiplin yang tinggi dia membangun ketaatan dalam dirinya. Renungan kita hari hari ini adalah di atas landasan apa seorang murid Kristus membangun ketaatannya dengan disiplin yang tinggi? Ketaatan dapat berlandaskan atas kepatuhan terhadap suatu idealisme. Ketaatan dapat juga berlandaskan atas kepatuhan terhadap pemimpin yang bersifat diktator. Seringkali terjadi dan kita saksikan, walaupun idealisme keliru, kepatuhan tetap dilakukan. Kepatuhan/ketaatan seperti itu membawa kesengsaraan. Dalam sebuah pemerintahan hal tersebut membawa kepuasan dan kenikmatan hidup bagi para pemimpinnya tapi membawa penderitaan bagi rakyatnya. Alkitab mengajarkan landasan ketaatan yang tidak sama dengan yang diajarkan manusia. Berdasarkan Firman-Nya, landasan ketaatan adalah KASIH, bukan suatu idealisme, bukan juga seorang pemimpin yang diktator. Landasan ketaatan adalah nilai hidup yang luhur, yaitu KASIH. Mengasihi berarti menaati. Yesus mengasihi Bapa dan Bapa mengasihi Yesus. Berlandaskan kasih, Yesus melakukan segala sesuatu yang diperintahkan Bapa kepada-Nya [Yohanes 5:20; 14:31]. Itu sebabnya kita yang mengasihi Yesus wajib menaati semua perintah-Nya seperti yang Yesus teladankan dalam hidup kemanusiaan-Nya, Yesus taat pada perintah Bapa. Rasul Paulus menyaksikan bahwa kasih Kristus yang menguasai hidup-Nya [2 Korintus 5:14]. Berlandaskan pada kasih, Rasul Paulus melaksanakan Firman-Nya dengan penuh ketaatan. Sekalipun harus menghadapi kesulitan, aniaya, penderitaan, ancaman maut, Rasul Paulus tetap mengasihi Tuhan [Roma 8:38-39]. Rasul Paulus juga tetap menaati perintah dan hukum-hukum-Nya. Mengasihi Tuhan berarti menaati Firman-Nya. Bagaimana dengan kita?
Pagi itu, ketika saya sedang mencuci mobil, dikejutkan dengan seekor burung kenari yang tiba-tiba hinggap di atas kap mobil. Secara reflek saya mengusir burung itu. Eh... burung itu tidak mau terbang, tetapi malah berjalan di atas mobil. Saat saya mau menangkapnya, ia tidak berusaha terbang, justru berlari kecil sedikit menghindar dari tangan saya. Setelah menangkapnya, saya menanyakan ke tetangga apakah ada yang kehilangan burung kenari. Karena tidak ada yang merasa kehilangan, maka burung itu saya pelihara. Selang satu minggu, sepulang doa pagi, tetangga memanggil saya sambil berteriak, ”Pak, ternyata burungnya bagus!” Lalu saya balik bertanya, ”Kok bisa, Pak?” Dia menjawab, ”Dari tadi saya mendengar berkicau keras, nyaring, dan bagus. Itu berati burung kualitas baik, Pak.“ Percakapan tersebut memperlihatkan sebuah penilaian tentang kualitas. Tetangga saya bisa berkata burung itu berkualitas karena memiliki kelebihan, mutu, dan juga keindahan yang dapat dirasakan pihak lain. Demikian juga kita sebagai orang percaya, hidup kita akan menjadi berkat bagi orang lain karena kualitas hidup kita. Dalam bacaan nats hari ini, Rasul Paulus mengajar kita bagaimana hidup berkualitas sebagai orang percaya. Pribadi yang berkualitas adalah: pertama, apabila mempunyai kedekatan hubungan pribadi yang mendalam dengan Tuhan [ay. 13]. Karena kalau ada hubungan dekat dengan Allah, kita akan memiliki ketahanan hidup saat menghadapi permasalahan, sehingga tidak mudah terombang-ambing oleh gelombang kehidupan [ay. 14]. Kedua, memiliki kedewasaan dan kematangan dalam menjalani kehidupan. Pribadi yang dewasa dan matang dalam berpikir dan menjalani kehidupan akan bertindak hati-hati, penuh kesabaran, tidak mudah menyerah saat dalam pencobaan dan selalu berusaha untuk kebaikan. Sehingga tidak mudah jatuh saat dalam pencobaan hidup [ay. 14]. Ketiga, hidup berpegang pada kebenaran [ay. 15]. Kita dikatakan pribadi yang berkualitas jika dalam hidup sehari-hari mampu menampilkan kebenaran dalam segala hal. Tanda bahwa kita hidup dalam kebenaran dapat kita lihat dalam Yesaya 32:17 dikatakan, “Dimana ada kebenaran di situ akan tumbuh damai sejahtera, dan akibat kebenaran ialah ketenangan dan ketentraman untuk selama-lamanya.” Maksudnya, jika kita hidup dalam kebenaran di situ akan ada ketenangan dan ketentraman dalam diri kita dan orang lain. Pertanyaannya, sudahkah kita memiliki pribadi yang berkualitas? Mari kita bersama-sama berusaha menjadi pribadi yang berkualitas agar hidup kita menjadi berkat dan berkenan di hati Tuhan. Amin.
Sekarang ini kita hidup pada zaman teknologi canggih. Manusia dimanjakan dengan teknologi sehingga segala sesuatunya menjadi serba cepat, akurat dan sangat menyenangkan. Semua menjadi enak, mudah dan selalu memiliki daya tarik. Semakin hari banyak orang secara pelan-pelan meninggalkan yang tradisional karena dianggap “ribet” dan tidak praktis. Sehingga masyarakat modern sekarang ini menjadi masyarakat yang menyukai segala sesuatu yang serba instan, enak, gampang dan menyenangkan. Itulah kehidupan di zaman ini, kita semua dipola untuk menjadi seperti itu. Tetapi kita perlu mengingat bahwa manusia pertama jatuh dalam dosa karena tertarik pada sesuatu yang enak untuk dimakan dan sedap dipandang [Kej.3:6], mau cepat, enak, gampang, menjadi seperti Allah tahu yang baik dan yang jahat. Jika kita perhatikan di dalam surat Ibrani 2:9 sangat sinkron dengan Yesaya 53:2 bahwa Yesus tidak selalu menarik. Daya tarik Yesus tidak terletak pada yang lahiriah. Apanya yang menarik secara lahiriah dari-Nya? Pada waktu tertentu Yesus dikatakan lebih rendah dari malaikat, demi kasih karunia bagi manusia berdosa Yesus harus mengalami maut [lihat Ibr 2:9]. Yang nampak pada Yesus adalah kesederhanaan dan cara hidupnya yang merendahkan diri. Saudara kekasih, Yesus tidak pernah menjanjikan kepada kita sesuatu yang serba instan dan enak. Dia tidak pernah menjanjikan bahwa mengikut Yesus pasti kaya raya, berhasil, bebas dari persoalan, hidup penuh mujizat dan hidup bebas dari sakit penyakit. Seandainya Yesus mau yang seperti itu, tidak perlu gereja menginjil pasti akan banyak orang berduyun-duyun percaya Yesus. Gereja otomatis penuh dengan sendirinya. Tetapi pertanyaannya, mengapa Yesus tidak mau menggunakan jalan pintas yang enak dan gampang untuk menyelamatkan manusia? Karena hal itu tidak mendidik sedikitpun. Yesus yang merendahkan diri serendah-rendahnya, menderita dan mengalami maut [sangat tidak menarik] adalah cara-Nya untuk mengalahkan dosa untuk membebaskan kita dari dosa maut. Supaya kita yang percaya kepada-Nya dibimbing untuk memiliki kasih yang tulus kepada Tuhan. Kasih yang tulus kepada Tuhan akan meninggalkan dosa dalam pertobatannya.
Mendekati hari Valentine yang identik dengan nuansa pink, kado serta coklat tanda perhatian dan kasih sayang, banyak orang sibuk memilih hadiah dan coklat buat orang-orang tersayang. Tentu dengan harapan bahwa si penerima akan gembira dan menghargai perhatian yang diberikan. Terkadang diadakan acara tukar kado pula, yang biasanya membuat hati penasaran ketika membuka kertas pembungkusnya. Jika kita amati lebih teliti, sering orang menghadiahkan sesuatu yang menarik baginya, tapi belum tentu menarik bagi yang menerima. Sehingga tak jarang ketika Valentine berlalu, hadiah itu akan teronggok dan berdebu. Sayang sekali. Padahal bila mau meluangkan waktu untuk mencari tahu minat dan kebutuhan si penerima, tentu kado yang diberikan akan bisa bermanfaat. Sementara itu, acara tukar kado terkadang menjadi momen uji peruntungan. Dengan membawa kado sekenanya, sebagian orang berharap mendapat kado istimewa dari dermawan tanpa nama. Jauh sebelum momen Valentine menjadi trend, Alkitab sudah mengatakan dalam Markus 12:31 bahwa kita harus mengasihi. Bukan hanya orang yang kita sayangi, namun termasuk semua yang disebut sebagai sesama manusia. Dan bukan sekedar mengasihi, namun mengasihi seperti kita mengasihi diri kita sendiri. Marilah mengasihi dan memperhatikan dengan lebih baik lagi. Termasuk dalam hal-hal yang sederhana. Seringkali justru dari perkara-perkara sederhanalah tercermin sikap hati kita yang sesungguhnya.
BARCODE BBM CHANNELS
RENUNGAN HARIAN
Menjadi Ciptaan Baru
18 Februari '17
Jangan Menghakimi
08 Februari '17
Syarat Murid
17 Februari '17
Copyright © 2012 All rights reserved. Designed and Developed by GIA Dr. Cipto Semarang