SEPEKAN TERAKHIR
  Minggu, 01 Mei 2016   -HARI INI-
  Sabtu, 30 April 2016
  Jumat, 29 April 2016
  Kamis, 28 April 2016
  Rabu, 27 April 2016
  Selasa, 26 April 2016
  Senin, 25 April 2016
POKOK RENUNGAN
Kekuatan tidak hanya berdasar dari apa yang kita dapatkan, tapi justru dari apa yang kita berikan.
DITULIS OLEH
Ibu Ribkah E. Christanti
Kontributor
Renungan Lain oleh Penulis:
Home  »  Renungan  »  Hilang Justru Bertambah
Hilang Justru Bertambah
Jumat, 01 Februari 2013 | Tema: Komunitas Yang Menebarkan Kasih
Hilang Justru Bertambah
Yesaya 58:1-12
Baterai HP atau laptop, kalau sedang lemah (low battery), ia akan kembali berenergi kalau ada tambahan kekuatan melalui charger. Kalau badan lemas karena lapar, dengan makan maka akan menjadi kenyang dan menjadi kuat kembali. Kalau uang habis, dengan mengambil uang di ATM atau meminta kepada orang tua, maka persediaan uang kita akan kembali terisi. Artinya ada substansi yang ditambahkan sehingga memiliki tenaga ekstra. Namun beberapa kenyataan di atas, beda prinsipnya dengan kekuatan baru versi Yesaya 58:11. Orang akan mendapat kekuatan baru kalau dia justru bisa berbagi atau memberi substansi (isi) dari dalam dirinya.

Dalam ayat yang ke-6 sampai ayat ke-10, disebutkan beberapa ...selengkapnya »
Semakin tinggi jabatan seseorang, semakin besar kekuasaan yang dimiliki ... ataukah semakin besar tanggung jawab yang diemban? Seumpama orang sedang ‘angon’ domba, manakah prioritasnya ... menggiring domba-domba itu ke daerah yang banyak tempat berteduhnya, ataukah menggiring mereka ke daerah yang berlimpah rumputnya? Ya dua-duanya dong, begitu biasanya jawab orang. Tetapi bila bicara tentang prioritas, tentu salah satu harus didahulukan. Kitab Amsal menggambarkan manusia serakah sebagai lintah yang hanya memikirkan diri sendiri. Untukku dan untukku [Amsal 30:15]. Dia mengisap dan mengisap demi kepuasannya sendiri. Malangnya, rasa puas itu tak kunjung datang hingga akhirnya badannya terlempar jatuh karena tak mampu lagi menampung keserakahannya. Keserakahan yang salah satunya berwujud mementingkan diri sendiri itu tak pernah mengenal kata “cukup”. Bagai dunia orang mati yang terus-menerus membuka pintu; bagai bumi yang senantiasa meminta siraman hujan; bagai rahim yang belum terbuahi yang selalu merindukan si jabang bayi; bagai api yang terus berkobar melalap apa saja yang bisa dihanguskannya. Tak ada kata “cukup” [ayat 16]. Demikian berbahayanya keserakahan bila merasuki manusia. Menyedihkan sekali bila dorongan mementingkan diri sendiri, teman-teman sendiri, kelompok sendiri, masih mendarah daging di kalangan umat percaya, yang merupakan imamat yang rajani. Dan lebih mengenaskan lagi bila orang-orang yang dipercaya untuk membimbing sesamanya ... ternyata lebih tertarik memajukan diri sendiri daripada menolong orang-orang yang dibimbingnya untuk maju. Dijauhkanlah kiranya hal yang demikian dari kita. Kiranya Tuhan menolong umat-Nya.
Dalam masa anugrah atau masa perjanjian baru ini setiap orang yang mempercayai Yesus sebagai Tuhan dan Juru selamatnya tidak saja memperoleh anugerah keselamatan kekal dalam Kerajaan Sorga, tetapi selagi hidup di dunia ini juga dipanggil sebagai imam-imam Allah [1 Petrus 2:9]. Imam dalam kamus bahasa Indonesia selain mempunyai arti orang yang memimpin upacara dalam ibadah, juga berarti pemimpin, yaitu memimpin orang lain untuk datang kepada Tuhan. Ada banyak yang merasa cukup dengan ibadah setahun sekali pada waktu natalan atau cukup dengan percaya atau yang penting percaya dan tidak perduli dengan orang lain yang belum percaya. Tidak perduli terhadap suami atau istri; tidak perduli terhadap anak-anaknya. Dengan kata lain, mereka kurang berfungsi seperti apa yang Tuhan kehendaki untuk dilakukan dalam kehidupan keseharian. Sadar atau tidak setiap kita dipanggil sebagai pemimpin. Minimal memimpin diri sendiri atau memimpin keluarga kita. Dalam bacaan di atas, Paulus mengingatkan jemaat di Korintus, juga setiap kita, untuk memimpin keluarga. Sebagai suami atau istri yang mempercayai Tuhan dapat membawa suami atau istri yang belum percaya untuk datang kepada Tuhan dengan melalui iman percayanya dan kehidupannya [1 Petrus 3:1-7]. Sebagai orangtua dapat membawa anak-anak untuk percaya kepada Tuhan Yesus dan untuk beribadah sesuai kerinduan kita. Jemaat yang terkasih, sebagai Imamat yang Rajani dari ketetapan dan keputusan Tuhan, mari kita berfungsi untuk mendoakan suami, istri, orangtua, anak-anak kita. Dan juga membawa mereka untuk datang kepada Tuhan Yesus Kristus sehingga setiap lutut bertelut, setiap lidah mengaku Yesus Kristus itu Tuhan [Efesus 2:11].
Siapakah Pak Joko Widodo atau yang akrab dipanggil Pak Jokowi menurut anda? Jawaban yang diberikan atas pertanyaan ini tentunya akan berbeda satu sama lain. Bagi masyarakat Indonesia pasti akan sepakat menjawab, beliau adalah Presiden RI yang ke-7. Bagi warga Solo akan menjawab pak Jokowi adalah mantan Walikota Solo. Bagi Warga Jakarta akan menjawab, beliau adalah mantan Gubernur DKI. Jika pertanyaan ini ditujukan kepada orang yang pernah bekerja pada beliau semasa berwirausaha di bidang mebel, pasti mereka akan menjawab pak Jokowi adalah bosnya, beliau seorang pengusaha mebel. Namun akan menarik ceritanya jika pertanyaan ini ditujukan kepada istri atau anak-anak pak Jokowi. Jawaban yang akan diberikan oleh istri dan anak-anak pak Jokowi tentunya akan lebih lengkap dan detail jika dibandingkan jawaban orang pada umumnya. Mengapa bisa terjadi perbedaan dalam hal jawaban? Bukankah pertanyaannya sama, yaitu tentang siapa pak Jokowi itu? Kuncinya adalah tentang kedekatan! Kita dapat mengenal seseorang dan dapat menyebut secara detail perihal seseorang apabila kita mengenalnya secara dekat. Semakin dekat seseorang, maka dia akan makin mengenal dengan lebih dekat. Pada saat Yesus bertanya kepada para muridnya, “Siapakah Aku?” Para murid menjawab dengan berbagai macam jawaban. Ada yang bilang Yohanes Pembaptis, ada juga yang berkata Elia, ada pula yang berkata Yeremia dan ada juga yang berkata bahwa Yesus adalah salah satu dari para nabi [ayat14]. Namun jawaban yang tepat adalah saat Petrus berkata [ayat 16], “Engkau adalah Mesias Anak Allah yang hidup.” Jawaban Petrus didasari dari kedekatan Petrus dengan Yesus. Kedekatan bukan tentang jarak atau posisi, tetapi tentang “kedalaman dalam mengenal” Yesus. Saat Petrus mengenal Yesus secara mendalam, dia dapat mengerti siapa Yesus dan apa tujuan keberadaan-Nya bagi manusia. Siapakah Yesus menurut kita? Temukan jawabanya bukan dari kata orang, tetapi dari pengenalan pribadi kita secara mendalam tentang Yesus. Saat kita mengenal Yesus secara mendalam, maka pada saat itulah kita juga harus siap untuk dituntun-Nya. Kenalilah Yesus bukan dari kata orang, tetapi kenalilah dia secara pribadi melalui hubungan pribadi kita bersama Yesus.
Pakaian adalah kebutuhan pokok manusia yang tidak bisa lepas dari kehidupan sehari-hari. Manusia membutuhkan pakaian karena pakaian menawarkan berbagai kebaikan atau manfaat kepada para pemakainya. Pakaian yang digunakan oleh seseorang haruslah sesuai dengan situasi dan kondisi yang ada agar tidak menyebabkan masalah, baik pada dirinya sendiri maupun dengan orang lain yang berada di lingkungan sekitarnya. Selain berfungsi menutup tubuh, pakaian juga menunjukkan lambang status atau identitas seseorang dalam kehidupan bermasyarakat. Ketika kita melihat seseorang dengan pakaian identitasnya, maka kita langsung mengetahui juga komunitasnya. Dalam suratnya kepada jemaat Efesus, rasul Paulus menjelaskan bahwa dalam keseharian hidup kita wajib mengenakan seluruh perlengkapan senjata Allah supaya kita dapat bertahan melawan tipu muslihat Iblis. Karena perjuangan kita bukanlah melawan darah dan daging, tetapi melawan pemerintah-pemerintah, penguasa-penguasa, penghulu-penghulu dunia yang gelap ini, dan roh-roh jahat di udara, supaya kita dapat mengadakan perlawanan pada hari yang jahat dan tetap berdiri sesudah kita menyelesaikan segala sesuatu [ay. 11-13]. Perlengkapan senjata Allah dicatat oleh rasul Paulus sebagai berikut: ikat pinggang kebenaran, baju zirah keadilan, kasut kerelaan untuk memberitakan Injil, perisai iman, ketopong keselamatan, dan pedang Roh [ay. 14-17]. Jadi, kita diharapkan selalu berjalan dalam kebenaran, yaitu firman Allah bagaikan ikat pinggang yang membuat pakaian tetap pada posisinya, rapi tidak “kedodoran” sehingga kita merasa nyaman. Kita juga diharapkan selalu berbuat keadilan bagi sesama sehingga hidup kita seakan menjadi baju zirah yang siap melindungi saat peperangan berlangsung. Tidak hanya itu, kitapun harus mempunyai waktu yang kita relakan untuk memberitakan Injil keselamatan dengan iman yang kita miliki sebagai perisai dan terus memegang keselamatan yang telah Tuhan anugerahkan, serta berpegang pada pedang Roh, yaitu firman Allah.
BARCODE BBM CHANNELS
RENUNGAN HARIAN
Abraham, Pendoa Keluarga
20 April '16
Persembahan Yang Hidup1
22 April '16
Kemurnian Imamat Rajani
19 April '16
Copyright © 2012 All rights reserved. Designed and Developed by GIA Dr. Cipto Semarang