SEPEKAN TERAKHIR
  Sabtu, 27 Agustus 2016   -HARI INI-
  Jumat, 26 Agustus 2016
  Kamis, 25 Agustus 2016
  Rabu, 24 Agustus 2016
  Selasa, 23 Agustus 2016
  Senin, 22 Agustus 2016
  Minggu, 21 Agustus 2016
POKOK RENUNGAN
Kekuatan tidak hanya berdasar dari apa yang kita dapatkan, tapi justru dari apa yang kita berikan.
DITULIS OLEH
Ibu Ribkah E. Christanti
Kontributor
Renungan Lain oleh Penulis:
Home  »  Renungan  »  Hilang Justru Bertambah
Hilang Justru Bertambah
Jumat, 01 Februari 2013 | Tema: Komunitas Yang Menebarkan Kasih
Hilang Justru Bertambah
Yesaya 58:1-12
Baterai HP atau laptop, kalau sedang lemah (low battery), ia akan kembali berenergi kalau ada tambahan kekuatan melalui charger. Kalau badan lemas karena lapar, dengan makan maka akan menjadi kenyang dan menjadi kuat kembali. Kalau uang habis, dengan mengambil uang di ATM atau meminta kepada orang tua, maka persediaan uang kita akan kembali terisi. Artinya ada substansi yang ditambahkan sehingga memiliki tenaga ekstra. Namun beberapa kenyataan di atas, beda prinsipnya dengan kekuatan baru versi Yesaya 58:11. Orang akan mendapat kekuatan baru kalau dia justru bisa berbagi atau memberi substansi (isi) dari dalam dirinya.

Dalam ayat yang ke-6 sampai ayat ke-10, disebutkan beberapa ...selengkapnya »
Berakar dan dibangun Kolose 2:6-7 Hendaklah kamu berakar di dalam Dia dan dibangun di atas Dia, hendaklah kamu bertambah teguh dalam iman yang telah diajarkan kepadamu, dan hendaklah hatimu melimpah dengan syukur. Arah pertumbuhan bukan hanya ke atas, tapi juga ke bawah. Berakar dan dibangun menggambarkan dua arah pertumbuhan, ke bawah dan ke atas. Kedua arah pertumbuhan itu sama-sama membutuhkan waktu dan proses. Pertumbuhan yang makin lama makin kuat dan makin lengkap. Akar merambat ke bawah. Ini adalah bagian yang tidak kelihatan. Berakar bicara tentang hidup rohani yang makin erat bersekutu dengan Kristus. Akar menentukan kekuatan sebuah pohon. Semakin dalam akarnya semakin kuat pohon itu. Pohon itu tidak akan mudah layu di musim kering jika akarnya meresap jauh ke dalam tanah. Demikian juga pohon itu tidak mudah tercabut walaupun ditiup angin badai kalau akarnya kuat di dalam tanah. Orang yang berakar di dalam Kristus imannya akan kuat menghadapi berbagai situasi dalam hidupnya, baik saat hidupnya tenang maupun saat menghadapi goncangan, baik ketika ada banyak berkat maupun saat dalam kekurangan. Gedung dibangun ke atas. Ini adalah bagian yang kelihatan. Proses pembangunan gedung adalah gambaran juga tentang pertumbuhan iman seorang Kristen. Hidup imannya akan makin meningkat. Semakin dibangun ke atas gedung itu akan makin tampak lengkap dan sempurna. Semua bagiannya terlengkapi dengan baik: tembok, atap, pintu, jendela, dsb. Rancangan yang semula ada di dalam gambar menjadi terwujud di dalam kenyataan. Bangunan itu menjadi bangunan yang siap dipakai. Orang yang dibangun di dalam Kristus akan terus menerus diperlengkapi. Dia akan menjadi murid Kristus yang semakin sempurna. Hidupnya akan makin tampak indah karena dibentuk sesuai dengan firman Allah. Rancangan Allah di dalam hidupnya makin tampak/ terwujud dengan indahnya. Kiranya kita semua ada di dalam proses berakar dan dibangun di dalam Kristus. Amin. Pdt. Goenawan Susanto
Mengurus karunia dengan setia 1 Petrus 4:10-11 Layanilah seorang akan yang lain, sesuai dengan karunia yang telah diperoleh tiap-tiap orang sebagai pengurus yang baik dari kasih karunia Allah. [ayat 10] Setiap orang Kristen adalah pengurus dari karunia yang diberikan oleh Allah. Apakah kita telah menjadi pengurus yang baik dari karunia Allah? Suatu kali Ibu Teresa ditanya oleh seseorang, ’Ibu telah melayani kaum miskin di kota ini [Kolkata, India]. Tetapi, tahukah Ibu, bahwa masih ada jauh lebih banyak lagi orang miskin yang terabaikan? Apakah Ibu tidak merasa gagal?’ Ibu Teresa menjawab, ’Anakku, aku tidak dipanggil untuk berhasil, tetapi aku dipanggil untuk setia ....’ Panggilan orang Kristen bukanlah untuk menjadi berhasil dalam pelayanannya. Orang Kristen dipanggil untuk menjadi pengurus yang baik dari karunia yang dipercayakan kepadanya, artinya menggunakan karunia yang telah diberikan kepadanya untuk melayani orang lain dengan setia. Keberhasilan adalah bagian Tuhan yang memberikannya. Bagian kita adalah mengerjakan pelayanan sesuai dengan karunia kita dengan setia. Pengurus adalah seorang yang diberi kepercayaan untuk mengelola sesuatu. Misalnya, seorang yang dipercaya untuk mengelola sebuah perusahaan. Orang tersebut harus memberi pertanggung jawaban kepada pemilik perusahaan itu. Jika dia dinilai tidak serius atau kurang sungguh-sungguh dalam menjalankan tugasnya, kepercayaan itu bisa diambil kembali dari dia dan diberikan kepada orang lain. Juga seperti menteri-menteri dalam kabinet presiden Jokowi saat ini sedang dinilai kinerjanya. Jika mereka dinilai tidak baik dalam mengelola kementrian yang dipercayakan kepada mereka, maka bisa saja mereka dicopot dan diganti orang lain. Demikianlah kita adalah pengurus dari karunia-karunia yang dipercayakan kepada kita. Tugas kita adalah memakai karunia-karunia itu untuk melayani orang lain dengan setia. Dan jika kita telah melakukan tugas dengan setia maka pada akhirnya nanti Tuhan yang memberikan karunia itu akan berkata: ’Baik sekali perbuatanmu hai hamba-Ku yang baik dan setia. Masuklah dalam kebahagiaan Tuanmu.’ [Matius 25:23]. Pdt. Goenawan Susanto
Xu Yuehua, seorang wanita yatim piatu, pada usia 13 tahun mengalami kecelakaan terlindas kereta api ketika mengumpulkan batu bara di rel kereta. Dia kehilangan kedua kakinya sampai pangkal paha. Untuk mobilitas ia menggunakan dua buah bangku kecil sebagai ganti kaki. Dalam keadaan seperti itu ia menemukan panggilannya untuk merawat anak-anak di panti asuhan yatim piatu. Dia bersyukur bisa berkarya di tengah keterbatasannya dan dengan sukacita merawat anak-anak dari bayi sampai usia remaja. 37 tahun dia melayani dengan sabar, perkataan yang lembut dan membangun. Mereka yang dirawat sejak kecil olehnya banyak yang telah menjadi orang yang berhasil. Ia berhasil membangun kehidupan sesama yatim piatu karena hidupnya penuh dengan ucapan syukur di tengah keterbatasan. Paulus mengingatkan setiap murid Kristus seyogyanya mengucap syukur dalam nama Tuhan Yesus di dalam segala keadaan. Ucapan syukur tidak hanya di bibir tetapi dari hati. Ucapan syukur yang dinyatakan dalam hubungan dengan sesama. Berkata-kata dalam mazmur, kidung pujian dan nyanyian rohani. Artinya, setiap perkataan yang keluar seperti ketika bermazmur/memuji Tuhan. Perkataan yang menyenangkan, membangun, menghibur, menguatkan dan bukan sebaliknya menyakiti, mengumpat, memaki, melemahkan. Bernyanyi dan bersorak bagi Tuhan dengan sepenuh hati yang dinyatakan dalam kehidupan sehari-hari melalui wajah dan tindakan penuh sukacita akan membangun hidup orang lain terutama mereka yang mengalami masalah. Apapun yang sedang kita alami saat ini, ucapkanlah syukur dalam nama Tuhan Yesus. Berbicaralah dengan siapa saja seperti kita sedang menyanyikan pujian, sehingga akan membuat lawan bicara kita merasa terhibur, termotivasi, dikuatkan karena mungkin saja saat ini dia sedang mengalami masalah. Kita harus mempunyai hati yang meluap dengan pujian kepada Tuhan yang ditampakkan pada wajah yang penuh sukacita. Mari dengan ucapan syukur kita membangun sesama sebagai tubuh Kristus.
Sebuah rumah dengan desain yang bagus dan menarik menjadi sebuah keinginan bagi hampir setiap orang. Namun pada dasarnya tidak cukup hanya berurusan dengan desain dan bentuk rumah tersebut. Rumah akan menjadi semakin menarik dan bagus jikalau dilengkapi dengan berbagai perabotan yang ada di dalamnya. Tidak harus selalu sesuatu yang mahal, yang penting cukup untuk mempercantik keadaan rumah. Di mulai dari ruang tamu dengan meja kursi sederhana, ruang dapur dengan perlengkapannya, dan sebagainya. Sehingga keadaan dan suasana rumah menjadi lengkap dengan segala isinya. Namun sebaliknya, jika kita hanya melihat luarnya saja maka mungkin kita bisa tertipu. Keadaan yang bagus dari luar tetapi di dalamnya tidak terdapat apa-apa, berarti tidak hanya kurang lengkap namun kosong. Sehingga diperlukan perlengkapan untuk menjadikan rumah tersebut sempurna. Surat Yakobus mengingatkan kepada kedua belas suku di perantauan bahwa kehidupan sebagai orang percaya jangan hanya didasarkan pada yang nampak dari luar saja. Komunitas orang percaya tidak untuk menjadi pelindung, menyukakan hati para pemimpin dan orang yang berkuasa, melainkan harus berlaku setara antar sesama anggota. Lebih lanjut lagi Yakobus menuliskan bahwa setiap orang yang telah melakukan pembedaan itu berarti ia telah menjadi hakim atas orang lain. Tuhan justru menentang kita yang menganggap diri kita hakim dan berkuasa atas orang lain. Jikalau seseorang masih memandang muka, maka orang tersebut belum siap untuk menjadi pelayan Tuhan. Jika masih berurusan dengan status sosial berarti belum siap untuk diperlengkapi dalam membangun Tubuh Kristus. Jemaat yang terkasih, Tuhan mengingatkan kita sebagai orang percaya melalui surat Yakobus ini bahwa kesiapan kita sebagai pelayan Tuhan tidak ditentukan dengan tampilan luar kita. Tuhan lebih menilik pada kesiapan hati kita. Jikalau kita masih memusingkan orang lain karena tidak sama dengan kita berarti kita belum siap untuk diperlengkapi. Setiap orang diberikan kehidupan dengan segala keperbedaannya, bukan tanpa alasan. Tuhan menyiapkan kita sebagai orang percaya dalam satu komunitas rohani untuk sama-sama bertumbuh, saling melengkapi, dan terlebih siap untuk diperlengkapi dalam pembangunan Tubuh Kristus. Mari kita belajar merendahkan hati untuk menerima pengajaran Firman dan siap untuk diperlengkapi oleh pengurapan Tuhan Yesus.
BARCODE BBM CHANNELS
RENUNGAN HARIAN
Tak Akan Pernah Berhenti
10 Agustus '16
Menyelamlah Lebih Dalam
05 Agustus '16
Kenali Karuniamu
02 Agustus '16
Copyright © 2012 All rights reserved. Designed and Developed by GIA Dr. Cipto Semarang