SEPEKAN TERAKHIR
  Jumat, 21 November 2014   -HARI INI-
  Kamis, 20 November 2014
  Rabu, 19 November 2014
  Selasa, 18 November 2014
  Senin, 17 November 2014
  Minggu, 16 November 2014
  Sabtu, 15 November 2014
POKOK RENUNGAN
Kekuatan tidak hanya berdasar dari apa yang kita dapatkan, tapi justru dari apa yang kita berikan.
DITULIS OLEH
Ibu Ribkah E. Christanti
Kontributor
Renungan Lain oleh Penulis:
Home  »  Renungan  »  Hilang Justru Bertambah
Hilang Justru Bertambah
Jumat, 01 Februari 2013 | Tema: Komunitas Yang Menebarkan Kasih
Hilang Justru Bertambah
Yesaya 58:1-12
Baterai HP atau laptop, kalau sedang lemah (low battery), ia akan kembali berenergi kalau ada tambahan kekuatan melalui charger. Kalau badan lemas karena lapar, dengan makan maka akan menjadi kenyang dan menjadi kuat kembali. Kalau uang habis, dengan mengambil uang di ATM atau meminta kepada orang tua, maka persediaan uang kita akan kembali terisi. Artinya ada substansi yang ditambahkan sehingga memiliki tenaga ekstra. Namun beberapa kenyataan di atas, beda prinsipnya dengan kekuatan baru versi Yesaya 58:11. Orang akan mendapat kekuatan baru kalau dia justru bisa berbagi atau memberi substansi (isi) dari dalam dirinya.

Dalam ayat yang ke-6 sampai ayat ke-10, disebutkan beberapa tindakan iman yang nyata dalam perbuatan. Misalnya, memerdekakan orang yang teraniaya, memecah roti bagi orang lapar, memberi tumpangan bagi orang yang tak punya rumah, memberi pakaian kepada orang yang telanjang, menyerahkan yang kita inginkan sendiri kepada orang yang lapar, dan lain-lain. Namun ketika kita melakukan hal itu (hal yang nampaknya ”mengurangi”apa yang ada pada kita/merugikan kita), justru mendatangkan kasih karunia dari Tuhan, diantaranya mampu ”menambah” kekuatan baru (ayat 11).

Ayat ini mengingatkan kita pada apa yang dialami oleh Daud ketika dia berada di gua Adulam (1 Samuel 22:1-5). Dalam perikop itu diceritakan bagaimana Daud menjadi pemimpin bagi 400 orang ...selengkapnya »
Mikha 7:18-19 Siapakah Allah seperti Engkau yang mengampuni dosa, dan yang memaafkan pelanggaran dari sisa-sisa milik-Nya sendiri; yang tidak bertahan dalam murka-Nya untuk seterusnya, melainkan berkenan kepada kasih setia? Biarlah Ia kembali menyayangi kita, menghapuskan kesalahan-kesalahan kita dan melemparkan segala dosa kita ke dalam tubir-tubir laut. Tidak ada orang yang berkata bahwa mengampuni itu mudah dilakukan. Banyak orang yang lebih rela menyimpan dendam dan hidup tidak tenang gara-gara tidak sanggup mengampuni. Padahal jelas itu merugikan dirinya sendiri. Mengapa bisa demikian? Karena pikiran kita selalu berkata: ”Orang salah harus dihukum. Orang itu telah berbuat jahat kepadaku maka dia pantas menanggung hukuman.” Sedikit banyak di dalam diri kita ada sifat adil, yang seringkali menentang dorongan untuk mengampuni. Sifat yang ada di dalam diri kita sebenarnya adalah cerminan dari sifat Allah, karena kita diciptakan menurut gambar dan rupa Allah. Tuhan itu adil, tapi Dia juga suka mengampuni. Bilangan 14:18 berkata: ”TUHAN itu berpanjangan sabar dan kasih setia-Nya berlimpah-limpah, Ia mengampuni kesalahan dan pelanggaran, tetapi sekali-kali tidak membebaskan orang yang bersalah dari hukuman, ....” Tuhan itu panjang sabar dan suka mengampuni kesalahan serta dosa manusia. Namun bukan berarti Dia itu bisa dipermainkan. Dia adalah Allah yang adil. Dia pasti menjalankan keadilan-Nya dengan menghukum setiap pelanggaran dan dosa. Sifat adil dan belas kasih Allah ini tidak saling bertentangan. Jika Allah suka mengampuni dosa itu bukan berarti Allah tidak mempermasalahkan dosa kita. Allah benci terhadap dosa, tetapi Dia sayang kepada manusia, sekalipun sudah jatuh dalam dosa. Dia ingin menyelamatkan manusia agar tidak terkena kutuk akibat dosa. Keadilan Allah mengharuskan kita untuk menghormati kekudusan-Nya. Kita harus menjaga hidup kita agar tidak melanggar perintah-Nya. Namun Dia bukan Tuhan yang kejam tak berbelas kasihan. Sekalipun kita telah berbuat dosa, jika kita datang kepada-Nya dengan hati yang tulus, bertobat dan memohon anugerah-Nya, Dia pasti akan memberikan pengampunan. Kita harus mencontoh sifat Allah yang adil, yang tidak mau kompromi dengan dosa. Namun kita harus mencontoh juga sifat-Nya yang suka mengampuni. Amin.
Seorang teman yang sangat suka membuat berbagai macam makanan bergabung dengan sebuah group pencinta kuliner. Dari situ ia berhasil mengumpulkan banyak resep dan mempraktikkannya satu demi satu. Ketika seorang tetangga mengetahui bahwa teman ini berhasil membuat banyak macam makanan, tetangga itu meminta agar ia diberitahu resep-resep yang didapat dari group kuliner itu. Mendengar permintaan itu, galaulah hati teman ini. Kasih tahu nggak ya??? Kalau diberitahu, kok enak sekali ya? Tidak usah susah-susah mencari, tinggal minta. Kalau tidak diberitahu, rasanya kok sungkan. Terhadap tetangga kok pelit. Akhirnya kegalauannya tercium juga oleh sang suami. Jadilah ia menceritakan persoalan itu kepada suaminya. Sang suami bertanya, “Mama dapat resep itu dari hasil membeli atau gratis?” “Gratis, Pa.” “Susah payah browsing di google atau tanya teman di group kuliner itu?” “Tanya teman, Pa.” “Lha ya sudah, kok bingung-bingung. Dapat resepnya kan gratis, Mama juga dapat dari teman. Sekarang tetangga kita minta, ya beri saja. Wong ya Mama ndak berjualan pakai resep itu. Atau suruh saja tetangga kita bergabung di group kuliner itu supaya bisa mengumpulkan resep-resep seperti Mama.” Lupa. Seperti wanita tadi yang lupa bahwa ia mendapatkan resepnya dengan gratis, sering kali kita lupa bahwa kita sangat banyak mendapat kemurahan dari Tuhan, kebaikan dari Tuhan, pengampunan dari Tuhan. Sehingga ketika tiba giliran orang lain membutuhkan kemurahan dari kita, kebaikan dari kita, pemberian maaf dari kita ... kita begitu penuh perhitungan seolah-olah kita tak pernah mendapat semua itu dari Tuhan. Keselamatan yang kita peroleh, perlindungan, kesehatan, kecukupan ... semua itu bukan berasal dari usaha kita sendiri. Betapapun keras kita berusaha, bila Tuhan tidak menganugerahkannya kepada kita, tak akan sampai ke tangan kita. Oleh karena itu janganlah kita angkuh sebab semua yang melekat dalam diri kita berasal dari Tuhan. Dan Tuhan memberi apa yang baik buat kita agar kita melakukan pekerjaan baik yang telah dipersiapkan-Nya untuk kita kerjakan.
Seorang anak membuat mainan mobil-mobilan dari kardus. Tentu anak itu mempunyai tujuan dengan apa yang dilakukannya, yaitu supaya dia memiliki mainan mobil-mobilan yang dapat menyukakan hatinya. Terlebih lagi Allah. Dia menciptakan manusia dengan tujuan yang mulia. Selain menjadi teman bersekutu Tuhan, supaya manusia juga bertanggung jawab terhadap lingkungannya. Untuk menciptakan lingkungan yang baik (Kejadian 2:15). Tetapi setelah dosa masuk dalam kehidupan manusia (Adam dan Hawa), keadaan menjadi berubah. Dosa merusak segalanya, bahkan Alkitab berkata bahwa apa yang diperbuat manusia tidak ada yang baik dan tidak ada yang benar (Roma 3:9-12). Tetapi apakah rencana Allah gagal? Tentu tidak! Dengan pengorbanan Yesus Kristus di kayu salib Golgota, Allah ingin rencana-Nya tetap terlaksana. Melalui surat Paulus kepada Jemaat di Efesus, kita diingatkan kembali bahwa kita berbuat baik bukan supaya diselamatkan. Tetapi justru Paulus memberikan penekanan bahwa kalau kita berbuat baik itu adalah tujuan Allah dan bukti bahwa kita adalah orang-orang yang telah diselamatkan. Sehingga tidak ada alasan untuk setiap kita yang mengaku bahwa Yesus Kristus adalah Tuhan, tetapi tidak melakukan hal hal yang baik.
Sudahkah Anda menonton film berjudul “Jokowi”? Ada satu penggal kisah yang menurut saya sangat dramatis. Dalam adegan itu, dikisahkan Jokowi kecil mengetahui ada teman-teman ngajinya yang bolos. Karena takut dilaporkan ke guru ngaji, teman-temannya itu bermaksud menyuap Jokowi kecil dengan uang. Setelah dua kali ditolak, maka teman-temannya itu pun geram dan memukulnya. Sesampai di rumah, melihat anaknya babak belur, ayah Jokowi sangat marah. Ia berpikir anaknya berkelahi. “Bapakmu ki gak bangga kalau anaknya jadi brandalan, Le (bahasa Jawa, sebutan untuk anak laki-laki)! Itu adalah salah satu ungkapan kemarahan sang ayah. Namun yang menjadi puncak dramatisnya ketika sang ayah segera mengambil rotan. Ibu dan kedua adik perempuan Jokowi, segera terhenyak, kuatir jika ayahnya akan memukul orang yang mereka cintai. Dan dugaan mereka salah. Sang ayah justru memukuli dirinya sendiri, sambil berkata, “Bapakmu iki Le sing gak becus ndidik anak!” Dan peristiwa itu menjadi pelajaran berharga bagi seluruh keluarga itu. Jokowi kecil serta adik-adiknya menjadi jera, dan tidak mau menyakiti hati ayahnya lagi melalui perbuatan mereka. Demikian dengan sang ayah, ia lebih berhati-hati lagi dalam mendidik anak-anaknya. Cerita tersebut berkesan bagi saya. Betapa seorang ayah mendidik anaknya dengan cara yang berbeda. Demikian pula dengan kreatifitas yang dimiliki Bapa di sorga dalam mendidik anak-anak-Nya. Tidak dengan cara yang menimbulkan sakit hati anak, namun justru menumbuhkan rasa tanggung jawab yang lebih lagi terhadap kepercayaan dari bapaknya. Namun kasih yang dimiliki Bapa kita lebih besar dari kasih semua bapa di dunia. Rancangan awalnya adalah untuk kebaikan bagi setiap orang yang mengasihi-Nya. Namun cara Allah mengasihi anak-Nya tidak selalu dengan mengabulkan setiap permintaan anak-Nya atau memberikan berkat yang melimpah. Kadang justru melalui hal-hal yang menyakitkan, Allah mengingatkan anak-anak-Nya bahwa mereka tidak bisa melakukan semua sendiri dan membuat semuanya sempurna seperti yang mereka inginkan. Ia menegur anak-anak-Nya yang melakukan hal-hal yang tidak diinginkan-Nya. Mereka disadarkan bahwa hanya Allah-lah yang berdaulat penuh atas hidup mereka. Dalam nats yang kita baca hari ini, ada sikap yang Tuhan inginkan ketika menghadapi kasih Allah melalui teguran. Rela dan bertobatlah! Jika Anda sudah melakukan yang benar, namun masih saja menghadapi hal-hal yang sulit, tetaplah bersukacita dan rela karena Tuhan sedang mengembangkan kepercayaan Anda kepada-Nya dalam level yang lebih tinggi. Namun jika Allah menegur Anda karena Anda berbuat yang mendukakan hati-Nya, maka segeralah bertobat. Anugerah dan kasih karunia Allah menunggu Anda.
BARCODE BBM CHANNELS
RENUNGAN HARIAN
Berdoalah Bagi Mereka Yang Menyakitimu
13 November '14
Meminta Dan Memberi Pengampunan
09 November '14
Dipilih Agar Berguna
29 Oktober '14
Copyright © 2012 All rights reserved. Designed and Developed by GIA Dr. Cipto Semarang