SEPEKAN TERAKHIR
  Minggu, 07 Februari 2016   -HARI INI-
  Sabtu, 06 Februari 2016
  Jumat, 05 Februari 2016
  Kamis, 04 Februari 2016
  Rabu, 03 Februari 2016
  Selasa, 02 Februari 2016
  Senin, 01 Februari 2016
POKOK RENUNGAN
Kekuatan tidak hanya berdasar dari apa yang kita dapatkan, tapi justru dari apa yang kita berikan.
DITULIS OLEH
Ibu Ribkah E. Christanti
Kontributor
Renungan Lain oleh Penulis:
Home  »  Renungan  »  Hilang Justru Bertambah
Hilang Justru Bertambah
Jumat, 01 Februari 2013 | Tema: Komunitas Yang Menebarkan Kasih
Hilang Justru Bertambah
Yesaya 58:1-12
Baterai HP atau laptop, kalau sedang lemah (low battery), ia akan kembali berenergi kalau ada tambahan kekuatan melalui charger. Kalau badan lemas karena lapar, dengan makan maka akan menjadi kenyang dan menjadi kuat kembali. Kalau uang habis, dengan mengambil uang di ATM atau meminta kepada orang tua, maka persediaan uang kita akan kembali terisi. Artinya ada substansi yang ditambahkan sehingga memiliki tenaga ekstra. Namun beberapa kenyataan di atas, beda prinsipnya dengan kekuatan baru versi Yesaya 58:11. Orang akan mendapat kekuatan baru kalau dia justru bisa berbagi atau memberi substansi (isi) dari dalam dirinya.

Dalam ayat yang ke-6 sampai ayat ke-10, disebutkan beberapa tindakan iman yang nyata dalam perbuatan. Misalnya, memerdekakan orang yang teraniaya, memecah roti bagi orang lapar, memberi tumpangan bagi orang yang tak punya rumah, memberi pakaian kepada orang yang telanjang, menyerahkan yang kita inginkan sendiri kepada orang yang lapar, dan lain-lain. Namun ketika kita melakukan hal itu (hal yang nampaknya ”mengurangi”apa yang ada pada kita/merugikan kita), justru mendatangkan kasih karunia dari Tuhan, diantaranya mampu ”menambah” kekuatan baru (ayat 11).

Ayat ini mengingatkan kita pada apa yang dialami oleh Daud ketika dia berada di gua Adulam (1 Samuel 22:1-5). Dalam perikop itu diceritakan bagaimana Daud menjadi pemimpin bagi 400 orang ...selengkapnya »
Simon dan teman-temannya pergi untuk menjala ikan. Namun keberuntungan belum berpihak pada mereka. Semalam-malaman mereka menebarkan jalanya, mereka tidak dapat menangkap apa-apa. Keesokan harinya mereka merapat di pantai, mereka membersihkan dan memperbaiki jala yang telah digunakan semalam. Yesus tahu Simon dan rekan-rekannya tidak mendapatkan ikan. Apa yang dilakukan Yesus terhadap mereka, yakni mengajar kebenaran firman terlebih dahulu. Prioritas utama adalah firman. Sesudah mengajar firman, Yesus menyuruh Simon mendayung perahunya ke laut dan menebarkan jalannya! Simon berkata, “Guru, sudah semalam-malaman kami bekerja keras menjala ikan tapi tidak berhasil menangkap apa-apa.” Itulah reaksi Simon mendengar perintah Tuhan Yesus. Simon yang telah berpengalaman dalam bidang pekerjaannya berpikir: “Apa mungkin ikan-ikan dapat ditangkap pada siang hari, pada malam hari saja tidak bisa?” Karena pada waktu Simon menebarkan jala pada malam hari tidak ada satu ekor pun yang terjala, apalagi menebarkan jala pada siang hari. Namun akhirnya Simon bertolak ke laut dan menebarkan jalanya. Sungguh ajaib. Simon dan rekan-rekannya berhasil menangkap ikan yang sangat banyak jumlahnya, bahkan jalanya sampai hampir koyak karena tidak dapat menampung banyaknya hasil tangkapan siang itu. Pengajaran penting yang dapat kita petik adalah “Bekerja bersama Yesus akan mendatangkan hasil yang ajaib.” Seringkali kita bekerja hanya mengandalkan diri sendiri. Kita bekerja hanya mengandalkan pengalaman ataupun segenap kekuatan kita. Namun hasil yang kita dapatkan sedikit, bahkan tidak sama sekali. Kita perlu mengandalkan Tuhan Yesus dalam pekerjaan, pendidikan, pelayanan, bahkan dalam segala susuatu yang kita kerjakan, kita perlu bekerja bersama Tuhan Yesus. Hasilnya pasti menakjubkan. Berkat Tuhan akan dilimpahkan dengan ajaib dalam hidup kita. Mari kita bekerjasama dengan Tuhan Yesus. Kerajaan Allah sudah datang dalam hidup kita, dan Tuhan Yesus adalah Rajanya. Biarkan Yesus yang memimpin hidup kita.
Mendengar istilah ’Kerajaan’ tentunya orang akan membayangkan sesuatu yang besar, megah, mengagumkan, bahkan mencengangkan. Apalagi jika kerajaan itu bukan sembarang kerajaan, pasti bayangan orang akan semakin melambung tinggi bila mendengar istilah ’Kerajaan Allah’ Uniknya, Yesus Kristus mengumpamakan Kerajaan Allah itu seperti biji sesawi mungil yang ditaburkan di tanah. Bukan biji mangga atau biji-biji lain yang ukurannya lebih besar dan lebih mantap. Sebenarnya apanya yang istimewa? Ternyata meskipun biji sesawi adalah yang paling kecil dibanding segala jenis benih yang ada di bumi, apabila ia ditaburkan, ia tumbuh dan menjadi lebih besar dari pada segala sayuran yang lain dan mengeluarkan cabang-cabang yang besar, sehingga burung-burung di udara dapat bersarang dalam naungannya [Markus 4:31-32]. Kualitas itulah yang membuat Yesus memilihnya untuk menggambarkan Kerajaan Allah Kerajaan Allah diwujudkan melalui keberadaan Gereja-Nya yang hadir di tengah-tengah dunia ini. Kerajaan Allah terwujud melalui kiprah kita yang merupakan anggota Tubuh Kristus. Kerajaan Allah terwujud bukan karena kita punya keterampilan hebat mengelola gereja serta percaya diri tinggi dan bakat menonjol dalam melayani. Kerajaan Allah diwujudkan dari hal-hal yang kecil dan sederhana. Ketika umat-Nya memberi diri untuk belajar dibentuk bersama melalui Firman-Nya. Ketika umat-Nya memberi diri untuk tidak mementingkan diri sendiri dan saling mendahulukan kepentingan yang lain. Ketika umat-Nya memberi diri untuk belajar bekerjasama di dalam perbedaan. Ketika umat-Nya memberi diri untuk memahami bahwa tujuan Gereja adalah mewujudkan hadirnya Kerajaan Allah dan bukan mewujudkan ambisi masing-masing pribadi. Seperti biji sesawi yang mungil. Dijatuhkan ke tanah. Tumbuh. Semakin besar. Kuat. Bermanfaat. Bahkan menjadi tempat bernaung bagi makhluk lain. Demikianlah Gereja hadir mewujudkan Kerajaan Allah di bumi ini.
Usai sudah perjalanan kepelatihan “The Special One”, Jose Mourinho, di Chelsea. Sebelum mengakhiri tahun 2015, tepatnya di bulan Desember 2015, sang pelatih fenomenal itu terpaksa lengser dari jabatannya usai dipecat oleh sang pemilik klub Chelsea, Roman Abramovic. Di balik pemecatan tersebut, sempat terhembus isu miring soal pemberontakan para pemain terhadap sang pelatih. Jose Mouriho sempat mengungkapkan kepada media bahwa para pemainnya berusaha mengkhianatinya, sehingga hasilnya prestasi di lapangan pun merosot tajam. Bahkan dia mengungkapkan, strategi terbaik yang dia miliki pun tidak dapat berjalan dengan sukses apabila para pemain tidak respect kepadanya dan cenderung mengkhianatinya. Saat Yesus memasuki Yerusalem dan dielu-elukan banyak orang beberapa hari sebelum kematian-Nya, sesungguhnya peristiwa itu menunjukkan bahwa Yesus adalah Tuhan. Saat Yesus menyuruh para murid-Nya untuk mengambil keledai yang akan ditunggangi-Nya, Dia hanya menyuruh mereka berkata kepada pemilik keledai itu, “Tuhan memerlukannya.” Dan ketika kerumunan orang berseru-seru memuji Dia, mereka mengutip Mazmur 118:26, “Diberkatilah Dia yang datang sebagai Raja dalam nama Tuhan.” Yesus adalah Tuhan. Istilah Tuhan yang merupakan gelar yang disandang-Nya, mengacu pada kedaulatan-Nya yang tertinggi. Dia adalah Raja, dan setiap orang yang percaya kepada-Nya adalah anggota kerajaan-Nya. Kata Tuhan di dalam bahasa Yunani memakai kata “Kurios”, yang memiki arti tuan sebagai sang penguasa yang mutlak Jika kita mengakui Yesus sebagai Tuhan dalam hidup kita, maka hiduplah dengan tunduk di bawah kekuasaan-Nya sebagai Raja yang memiliki kuasa mutlak atas hidup kita. Artinya, kita hidup dalam ketaatan kepada Dia. Kita harus menaruh respect kepadanya agar rencana-Nya bagi kita digenapi. Namun, apa yang sering kita lakukan terhadap-Nya? Bukankah selama ini kita sering “mengkhianati dan memberontak” terhadap-Nya. Melalui sikap hidup keseharian kita yang jauh dari Tuhan, melakukan tindakan tidak bermoral, sombong diri, iri hati, dan banyak lagi sikap lainnya, bukankah itu merupakan tindakan pemberontakan kita terhadap Tuhan? Di saat kita mengharapkan Kerajaan Allah itu datang, maka di situlah saatnya kita respect kepada Tuhan. Kita ijinkan Dia memerintah dalam hidup kita dan lakukan tindakan yang selalu berkenan dan memuliakan nama-Nya. [VYN]
Apa yang ada di benak kita saat kita mendengar negara San Marino? Yang paling populer saat kita mendengar negara San Marino adalah tentang penyelenggaraan balap motor, “Moto GP”, yang digelar setiap tahunnya di negara tersebut. Namun saat dikaitkan dengan sepakbola, sedikit orang yang tahu perihal San Marino. Tim Nasional [timnas] sepak bola San Marino termasuk tim gurem yang akrab dengan berbagai macam kekalahan telak. Tim San Marino juga menjadi tim nasional sepak bola terlemah di dunia dengan mencatat rekor hanya menang 1 kali dalam kurun waktu 15 tahun. Hal ini menjadi beban yang berat bagi Giampaolo Mazza selaku pelatih yang mulai melatih tim ini sejak tahun 1998 hingga 2013. Setiap pelatih mendambakan kemenangan, namun yang terjadi selama Mazza melatih, hanya satu kemenangan yang diraih oleh timnya. Namun ada hal yang perlu dicermati secara positif perihal Mazza. Mazza tidak pernah menyesal dan putus asa saat menangani timnas San Marino meski tim ini terus menerus kalah. Dia tidak menyerah dan berputus asa saat melihat tim yang dilatihnya tak kunjung menang. Dia tidak putus asa dan menyesal kepada timnya karena dia telah meletakkan pondasi yang positif bagi San Marino. Dia mengajarkan dasar-dasar sepakbola mulai dari awal, serta pondasi filosofi yang kokoh bagi San Marino. Dia menekankan prinsip untuk selalu memakai pemain lokal dan tidak akan pernah menaturalisasi pemain dari negara lain untuk membela negara San Marino. Banyak orang terkadang ’putus asa’ menjalani hidup berimannya. Perbuatan-perbuatan yang berlawanan dengan kehendak Allah masih terus dilakukan. Dalam hati tidak ingin melakukan, tetapi nyatanya berkali-kali masih terulang. Berulang kali berjanji kepada Tuhan, tetapi terus gagal. Bahkan ada orang yang marah pada diri sendiri karena terus jatuh dalam lubang yang sama dengan mengulangi dosa yang sama. Dan akhirnya menjadi budak dosa untuk selamanya. Firman Tuhan mengingatkan bahwa sesungguhnya dalam keadaan demikian, kita tidak usah putus asa, apalagi terus menerus menyalahkan diri. Tuhan Yesus memberikan solusi. ’Tetap dalam firman-Ku’ [ayat 31]. Istilah ’tetap’ berarti setiap saat, selalu-bukan kadang-kadang, dalam setiap aspek hidup kita. Jika firman Tuhan menguasai kepala, pasti pikiran kita selalu tertuju kepada Yesus. Jika firman Tuhan menguasai mulut, tentu perkataan kita akan terkontrol. Jika firman menguasai langkah, pasti kita tidak berjalan ke tempat yang berdosa. Pada saat itulah, kebenaran itu akan memerdekakan kita [ayat 32]. Sekalipun kita bukan keturunan hamba/budak [dalam arti sesungguhnya], tetapi pada saat kita masih melakukan dosa, maka kita adalah hamba dosa [ayat 34]. Dosa adalah tuan kita, dan kita adalah hamba dari dosa itu sendiri. Kita perlu terus-menerus berjuang melawan dosa. Jangan menyerah. Untuk itu, kita perlu selalu dekat dengan firman-Nya. Kita tidak akan seketika menjadi manusia suci tanpa cela, tetapi firman Tuhan akan mengingatkan dan menolong tetap berjalan di jalur yang benar. Hidupilah firman-Nya, maka kebenaran itu memerdekakan kita.
BARCODE BBM CHANNELS
RENUNGAN HARIAN
Pujilah Tuhan
20 Januari '16
Persiapkan Bagi KehadiranNya
08 Januari '16
Keluarga Takut akan Allah
21 Januari '16
Copyright © 2012 All rights reserved. Designed and Developed by GIA Dr. Cipto Semarang