SEPEKAN TERAKHIR
  Senin, 30 Maret 2015   -HARI INI-
  Minggu, 29 Maret 2015
  Sabtu, 28 Maret 2015
  Jumat, 27 Maret 2015
  Kamis, 26 Maret 2015
  Rabu, 25 Maret 2015
  Selasa, 24 Maret 2015
POKOK RENUNGAN
Kekuatan tidak hanya berdasar dari apa yang kita dapatkan, tapi justru dari apa yang kita berikan.
DITULIS OLEH
Ibu Ribkah E. Christanti
Kontributor
Renungan Lain oleh Penulis:
Home  »  Renungan  »  Hilang Justru Bertambah
Hilang Justru Bertambah
Jumat, 01 Februari 2013 | Tema: Komunitas Yang Menebarkan Kasih
Hilang Justru Bertambah
Yesaya 58:1-12
Baterai HP atau laptop, kalau sedang lemah (low battery), ia akan kembali berenergi kalau ada tambahan kekuatan melalui charger. Kalau badan lemas karena lapar, dengan makan maka akan menjadi kenyang dan menjadi kuat kembali. Kalau uang habis, dengan mengambil uang di ATM atau meminta kepada orang tua, maka persediaan uang kita akan kembali terisi. Artinya ada substansi yang ditambahkan sehingga memiliki tenaga ekstra. Namun beberapa kenyataan di atas, beda prinsipnya dengan kekuatan baru versi Yesaya 58:11. Orang akan mendapat kekuatan baru kalau dia justru bisa berbagi atau memberi substansi (isi) dari dalam dirinya.

Dalam ayat yang ke-6 sampai ayat ke-10, disebutkan beberapa tindakan iman yang nyata dalam perbuatan. Misalnya, memerdekakan orang yang teraniaya, memecah roti bagi orang lapar, memberi tumpangan bagi orang yang tak punya rumah, memberi pakaian kepada orang yang telanjang, menyerahkan yang kita inginkan sendiri kepada orang yang lapar, dan lain-lain. Namun ketika kita melakukan hal itu (hal yang nampaknya ”mengurangi”apa yang ada pada kita/merugikan kita), justru mendatangkan kasih karunia dari Tuhan, diantaranya mampu ”menambah” kekuatan baru (ayat 11).

Ayat ini mengingatkan kita pada apa yang dialami oleh Daud ketika dia berada di gua Adulam (1 Samuel 22:1-5). Dalam perikop itu diceritakan bagaimana Daud menjadi pemimpin bagi 400 orang ...selengkapnya »
FIFA sebagai badan tertinggi sepak bola dunia, dari waktu ke waktu semakin gencar untuk memerangi rasisme di dunia sepakbola. Tindakan rasisme biasanya ditujukan kepada pemain sepakbola “berkulit hitam”, di mana mereka biasanya mendapat perlakuan negatif dan tidak layak. FIFA melakukan berbagai cara untuk menghapus perilaku rasis ini dari dunia sepak bola, mulai dari memberlakukan sanksi tegas terhadap pelaku tindakan rasis, hingga membuat slogan “Let’s Kick Racism Out of Footbal” untuk memerangi perilaku rasis tersebut. Namun, ada cara unik yang dilakukan oleh Dani Alves dalam memerangi rasisme ini. Pemain klub Barcelona ini mendapat perlakuan rasis dari pendukung Villareal, kala Barcelona bertanding melawan Villareal pada hari Minggu, 27 April 2014 silam. Kejadian ini bermula saat Dani Alves sedang bersiap mengambil tendangan sudut dan kemudian tiba-tiba pendukung tim Villareal melemparkan pisang ke dalam lapangan hingga pisang tersebut jatuh tidak jauh dari Dani Alves. Respon yang diberikan Alves untuk memerangi tindakan rasis yang diberikan kepadanya sungguh di luar dugaan. Alves tidak spontan marah. Dia juga tidak melakukan aksi walkout bertanding, dan juga dia tidak melakukan protes berlebihan. Yang dilakukan Alves adalah dia menghampiri pisang itu, lalu dia membuka kulit pisang tersebut dan kemudian memakannya. Tindakan ini mendapat pujian dari berbagai kalangan. Bahkan setelah itu banyak orang menggelar aksi makan pisang sebagai bentuk perlawanan terhadap rasisme yang merupakan salah satu bentuk ketidakadilan. Nabi Mikha berkata kepada orang-orang yang melukai hati Tuhan dengan keegoisan dan perlakuan mereka yang tidak adil terhadap orang lain [ayat 8], ’Hai manusia, telah diberitahukan kepadamu apa yang baik. Dan apakah yang dituntut Tuhan dari padamu: selain berlaku adil, mencintai kesetiaan, dan hidup dengan rendah hati di hadapan Allahmu?’ Apa yang Tuhan harapkan dari kita? Dia menginginkan tindakan [’berlaku adil’], kasih [’mencintai kesetiaan’], dan kerja sama [’hidup dengan rendah hati di hadapan Allahmu’]. Sebagai orang Kristen, hendaknya semangat untuk menegakkan keadilan haruslah ada. Hidup sebagai pengikut Kristus tidak hanya terkait dengan ibadah semata, melainkan juga melalui sikap kita menegakkan kebenaran. Hal-hal yang besar dapat terjadi bila kita berkata, ’Di keluarga saya, di tengah masyarakat saya, di tempat kerja saya, dan dalam setiap hubungan saya dengan orang lain, biarlah keadilan saya tegakkan!’ Mari bersama-sama tebarkan benih keadilan itu, agar keadilan semakin nyata terjadi.
Yohanes 12:24-26 Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya jikalau biji gandum tidak jatuh ke dalam tanah dan mati, ia tetap satu biji saja; tetapi jika ia mati, ia akan menghasilkan banyak buah. [ayat 24] Pada saat Presiden Abraham Lincoln meninggal, jenazahnya dibawa dari Washington menuju ke Illinois untuk dimakamkan. Pada waktu itu perjalanan menggunakan jalan darat melewati kota-kota. Pada saat melewati kota Albany, iring-iringan jenazah itu melintasi jalan utama kota dan banyak orang menyaksikannya. Di antara kerumunan orang itu ada seorang wanita kulit hitam mengangkat anak laki-lakinya setinggi mungkin sehingga bisa melihat dengan jelas iring-iringan jenazah sang presiden. Dia berkata kepada anaknya, ’Pandanglah selama mungkin anakku. Dia telah mati untukmu.’ [Catatan: Abaraham Lincoln adalah presiden Amerika yang gigih memperjuangkan persamaan hak setiap warga negara tanpa membedakan warna kulit. Dia mati karena dibunuh oleh lawan politiknya] Kematian seorang yang memperjuangkan kebenaran bukanlah akhir dari segalanya. Bahkan kematian orang tersebut merupakan awal dari tumbuhnya kebenaran yang diperjuangkan. Kematiannya dapat digambarkan seperti biji gandum yang ditanam di tanah, lalu bertumbuh menjadi tunas, dan selanjutnya menjadi tanaman yang menghasilkan buah yang berlipat kali jumlahnya. Hari Jumat besok kita akan memperingati kematian Yesus Kristus. Kematian Yesus selalu kita peringati sebagai sebuah peristiwa yang agung, yang layak untuk selalu dikenang dan punya makna yang dalam bagi hidup kita. Yesus telah mati untuk kita. Karena kematian-Nya kita dibebaskan dari kutuk dosa dan beroleh hidup yang baru. Kematian-Nya merupakan pemberian hidup-Nya, bagai biji gandum yang ditabur di dalam tanah, lalu tumbuh dan menjadi tanaman yang menghasilkan banyak buah. Buah-buah dari pengorbanan Kristus adalah berupa jiwa-jiwa yang diselamatkan. Sebagai pengikut Yesus kita hidup di jalan-Nya. Dia memberikan hidup-Nya untuk selalu menyampaikan kabar baik tentang Kerajaan Allah. Karena itu Dia mengekspresikan kasih Allah dengan menyembuhkan orang sakit, menolong orang yang susah dan menyatakan belas kasih kepada orang berdosa. Dia berikan hidup-Nya secara utuh. Selamat menyambut peristiwa yang paling agung sepanjang sejarah.
Dalam sebuah kesempatan makan pagi bersama dua orang teman, salah seorang dari mereka mencetuskan kecemasannya akan kecenderungan manusia yang semakin kejam dan mementingkan diri sendiri di zaman ini. Bahkan orang yang tampaknya mustahil melakukan hal yang jahat, lambat laun terbawa arus juga. Diceritakannya tentang seorang kawan yang dikenalnya dengan baik. Kawan ini bukan orang yang berkekurangan. Dia hidup dengan layak. Bahkan lebih dari cukup. Namun nafsu untuk mendapatkan lebih banyak lagi tanpa bersusah payah, telah menjerumuskannya kepada keserakahan yang membahayakan. Suatu hari dengan bangganya kawan itu memamerkan salah satu bisnisnya kepada teman kami. Bisnis pembuatan merica bubuk. Keuntungannya sangat menjanjikan. Sekilas tak ada yang ganjil dengan bungkusan-bungkusan yang tertumpuk rapi dan siap dipasarkan. Namun pengakuan selanjutnya dari sang pemilik usaha membuat teman kami tercengang dan terguncang.Keuntungan berlipat kali ganda itu ternyata berasal daripengoplosan merica bubukdengan sisa gergajian kayu yang ditumbuk halus! Berhubung bidikannya adalah pasar tradisional maka bisa dipastikan banyak ibu rumah tangga dan pedagang kecil yang akan menyajikan masakan berbumbu merica-kayu bubuk itu kepada keluarga dan pelanggan mereka. Bukan mustahil sang produsen atau anggota keluarganya sendiri tanpa sadar selama ini telah ikut mengonsumsi bahan berbahaya itu melalui makanan yang mereka beli. Jangan pikir mereka bisa terhindar dengan cara membeli di tempat elit saja. Makanan yang tersaji di tempat elit pun banyak yang berasal dari setoran industri kecil rumahan. Janganlah tergiur dengan cara hidup orang fasik. Sebab Amsal 11:18 telah menyatakan bahwa, “Orang fasik membuat laba yang sia-sia, tetapi siapa menabur kebenaran, mendapat pahala yang tetap.” Cepat atau lambat pemilik usaha yang tidak jujur itu akan menuai akibat dari perbuatan yang telah ditaburnya.Siapa menabur angin, ia menuai badai.
Seorang pengusaha yang menjual perusahaan konstruksi jalan miliknya mengejutkan para karyawannya dengan membagi rata sepertiga keuntungan perusahaan kepada mereka. Dari 550 karyawan yang ada, masing-masing mendapat bagian sebesar 128 juta dollar. Bahkan beberapa karyawan yang sudah berpengalaman mendapat tambahan satu juta dollar dan semuanya bebas pajak. Sang pemilik perusahaan itu berkata, ’Saya ingin berbagi kebahagiaan karena saya memang sangat bahagia. Para karyawan telah bekerja begitu keras dan saya ingin bersikap adil.’ Firman Tuhan memang tidak mengutuk kekayaan, namun dengan tegas firman Tuhan menyatakan larangan agar kita tidak semata-mata terfokus kepada uang. Tuhan melarang kita menjadikan uang sebagai sumber, fokus utama, kebanggaan dan keamanan kita [Matius 6:24, Lukas 12:15]. Seringkali kita menjadikan uang atau harta benda sebagai tuhan bagi diri kita. Itu berarti menempatkannya sebagai berhala yang kita sembah. Tanpa sadar kita telah diperbudak oleh uang/harta benda kita. Kebanyakan manusia lambat laun mulai menempatkan harta di posisi yang terutama dalam hidup, menggantikan Tuhan. Oleh karena itu terkadang Allah tidak mempercayakan uang/harta kepada kita karena kita cenderung menahannya, sementara Allah meminta kita membagikannya. Para pengikut Yesus haruslah ’kaya dalam perbuatan baik, suka memberi dan membagi’ [1 Timotius 6:18]. Harapan Tuhan bagi umatnya adalah supaya setiap kita tidak terikat dengan segala harta di dunia ini. Harta yang didapat selama kita hidup di dunia ini tidak lebihnya seperti sebuah titipan. Alah adalah sumber dari segala harta tersebut, dan Allah ingin untuk kita mengelola “titipan” harta itu dengan baik, serta mau untuk berbagi dengan sesama yang membutuhkan. Rasul Paulus berpesan agar orang-orang percaya bekerja dengan tangan mereka sendiri, ’untuk melakukan yang baik, supaya [mereka] dapat membagikan sesuatu kepada orang yang berkekurangan’ [Efesus 4:28]. Inilah prinsip untuk mengelola kekayaan, yaitu bagikanlah kekayaan Anda untuk menolong orang lain.
BARCODE BBM CHANNELS
RENUNGAN HARIAN
Efek Perbuatan Baik
08 Maret '15
Menabur Angin Menuai Badai
14 Maret '15
Ukuran Sebuah Pemberian
23 Maret '15
Copyright © 2012 All rights reserved. Designed and Developed by GIA Dr. Cipto Semarang