SEPEKAN TERAKHIR
  Senin, 25 Mei 2015   -HARI INI-
  Minggu, 24 Mei 2015
  Sabtu, 23 Mei 2015
  Jumat, 22 Mei 2015
  Kamis, 21 Mei 2015
  Rabu, 20 Mei 2015
  Selasa, 19 Mei 2015
POKOK RENUNGAN
Kekuatan tidak hanya berdasar dari apa yang kita dapatkan, tapi justru dari apa yang kita berikan.
DITULIS OLEH
Ibu Ribkah E. Christanti
Kontributor
Renungan Lain oleh Penulis:
Home  »  Renungan  »  Hilang Justru Bertambah
Hilang Justru Bertambah
Jumat, 01 Februari 2013 | Tema: Komunitas Yang Menebarkan Kasih
Hilang Justru Bertambah
Yesaya 58:1-12
Baterai HP atau laptop, kalau sedang lemah (low battery), ia akan kembali berenergi kalau ada tambahan kekuatan melalui charger. Kalau badan lemas karena lapar, dengan makan maka akan menjadi kenyang dan menjadi kuat kembali. Kalau uang habis, dengan mengambil uang di ATM atau meminta kepada orang tua, maka persediaan uang kita akan kembali terisi. Artinya ada substansi yang ditambahkan sehingga memiliki tenaga ekstra. Namun beberapa kenyataan di atas, beda prinsipnya dengan kekuatan baru versi Yesaya 58:11. Orang akan mendapat kekuatan baru kalau dia justru bisa berbagi atau memberi substansi (isi) dari dalam dirinya.

Dalam ayat yang ke-6 sampai ayat ke-10, disebutkan beberapa tindakan iman yang nyata dalam perbuatan. Misalnya, memerdekakan orang yang teraniaya, memecah roti bagi orang lapar, memberi tumpangan bagi orang yang tak punya rumah, memberi pakaian kepada orang yang telanjang, menyerahkan yang kita inginkan sendiri kepada orang yang lapar, dan lain-lain. Namun ketika kita melakukan hal itu (hal yang nampaknya ”mengurangi”apa yang ada pada kita/merugikan kita), justru mendatangkan kasih karunia dari Tuhan, diantaranya mampu ”menambah” kekuatan baru (ayat 11).

Ayat ini mengingatkan kita pada apa yang dialami oleh Daud ketika dia berada di gua Adulam (1 Samuel 22:1-5). Dalam perikop itu diceritakan bagaimana Daud menjadi pemimpin bagi 400 orang ...selengkapnya »
Beda pelayan restoran dengan abdi dalem Ngayogjokarto terletak pada loyalitas mereka. Seorang pelayan restoran melayani pelanggan dengan ramah dan baik karena upah yang mereka terima. Semakin tinggi upah yang mereka terima, maka semakin ramah pula pelayanan yang mereka kerjakan. Namun tidak jarang dari mereka mengeluh dan malu dengan apa yang mereka lakukan sebab mereka melakukan berdasarkan aturan. Bahkan tidak jarang dari mereka melakukan dengan tidak segenap hati ketika mendapatkan tamu yang kurang menyenangkan. Hal ini berbeda dengan abdi dalem dari keraton Ngayogjokarto. Secara upah mereka mendapatkan sangat minim sekali, bahkan dibilang tidak ada artinya buat kehidupan sehari-hari. Namun mereka melakukan dengan penuh tanggung jawab dan semangat yang begitu luar biasa. Sebab bagi mereka melayani sebagai abdi dalem merupakan suatu kehormatan dan kesempatan yang langka meskipun secara kebutuhan tidak mencukupi. Mereka puas dengan pengabdian yang mereka kerjakan. Mereka melakukan yang terbaik, dengan segenap hati, dan tulus ikhlas sebagai pelayanan kepada raja dan keluarganya. Bagi abdi dalem keraton Ngayogjokarto, melayani manusia [raja dan keluarga] yang dianggap lebih tinggi merupakan suatu kehormatan. Seharusnya kita sebagai orang percaya lebih dari itu sebab kita melayani Tuhan yang menjadikan segala-galanya. sebagai orang yang telah ditebus, hendaknya kita melakukan pelayanan kepada Tuhan bukan dengan pamrih atau mendapatkan pujian atau memilih-milih pelayanan berdasarkan yang kita suka. Semua pelayanan yang kita lakukan kepada Tuhan adalah sebuah kehormatan dan bukanlah sesuatu yang memalukan. Pelayanan tidak hanya di altar atau yang menonjol. Pelayanan bisa dikerjakan berdasarkan kemampuan kita dan apa yang bisa kita lakukan untuk pekerjaan Tuhan. Bisa dengan harta, tenaga, kecerdasan, keahlian atau apapun yang dapat mendukung kemajuan gereja. Oleh karenanya ketika kita melayani, sesungguhnya banyak cara kita bisa melakukannya. Yang penting nama Tuhan dimuliakan dan kita tidak mencuri kemuliaan-Nya. Biarlah kita melakukan bukan karena pamrih, namun kita melakukan dengan pemahaman bahwa melayani Tuhan adalah sebuah kehormatan.
Sejak dunia dijadikan, Allah telah memberi otoritas kepada manusia untuk menguasai buatan tangan-Nya. Allah memahkotai manusia dengan kemuliaan dan hormat [ayat 6]. Di taman Eden, Allah berfirman kepada Adam untuk menamai semua ciptaan-Nya dan memelihara, bahkan boleh menikmatinya kecuali pohon pengetahuan Baik dan Jahat. Allah berkehendak menciptakan manusia hampir sama seperti Allah. Dalam perjalanan kehidupan yang sudah Allah rancangkan ternyata manusia merusak keinginan Allah untuk menjadikan menusia sebagai mahluk mulia. Dosalah yang merusak kemuliaan-kehormatan manusia. Syukur kepada Allah yang tetap mengasihi manusia dan tetap mengingat, serta mengindahkannya [ayat 5]. Sampai sekarang Tuhan terus rindu agar kita menjadi ciptaan yang mulia dan terhormat. Mari kita lihat tangan kita yang mempunyai 5 jari. • Ibu jari, Allah ingin kita mampu menjadi orang-orang yang dapat Dia banggakan. • Jari telunjuk, kita menjadi ciptaan yang menunjukan jalan yang benar bagi mereka yang tersesat. • Jari tengah, bagaimana kita bisa menjadi penengah di setiap gesekan-keretakan di antara sesama. • Jari manis, jari yang umumnya dilingkari cincin yang melambangkan ikatan kesetiaan. Apakah kita juga berusaha menjadi orang-orang yang setia, terutama kepada Tuhan? Apakah kita bersikap manis terhadap semua orang? • Kelingking, meskipun jari yang terkecil, tetapi jari ini diibaratkan pendamai, cepat mendamaikan segala kesalahpahaman yang sering terjadi. Sampai kapanpun Allah berkehendak agar orang percaya terus menjadi mahluk ciptaan-Nya yang melakukan kehendak-Nya, sebab sejak awal Allah sudah memahkotainya dengan kemuliaan dan hormat. Allah ingin kita menjadi pengelola-pengelola yang baik di muka bumi.
Kitab Hakim-hakim mencatat sejarah kelam perjalanan hidup bangsa Israel sebagai umat Allah. Sepeninggal Yosua, para tua-tua, dan angkatan sezamannya, muncullah angkatan [generasi] baru yang tidak mengenal Tuhan atau perbuatan yang dilakukan-Nya bagi orang Israel. Generasi baru bangsa itu berulangkali melakukan apa yang jahat di mata Tuhan dan mereka beribadah kepada para Baal. Mereka meninggalkan Tuhan dan mengikuti allah-allah bangsa lain di sekitarnya. Penyembahan kepada allah lain telah mengakibatkan kemerosotan moral bangsa Israel. Bangsa itu telah menyimpang dari jalan kebenaran dan melakukan yang tidak patut [ayat 17]. Hal itu menyakitkan hati Tuhan. Akibatnya, Tuhan murka dan menyerahkan mereka dalam penindasan musuh-musuh mereka. Generasi baru umat Allah telah ‘terpesona’ dengan allah lain dan dipengaruhi gaya hidup bangsa-bangsa di sekitarnya yang jahat di mata Tuhan. Mereka terkontaminasi karena tidak mengenal Allah. Pengaruh-pengaruh jahat telah mempengaruhi dan bahkan menguasai mereka. Bukankah pengaruh dan ancaman yang jahat juga mengancam generasi muda kristen zaman ini? Coba lihat kemerosotan moral yang terjadi di sekitar kita. Situs-situs dengan konten pornografi beredar luas di internet; prostitusi online dapat dengan mudah diakses. Dan yang membuat kita miris, para pelajar dan mahasiswa terlibat di dalamnya. Belum lagi pergaulan bebas [free seks] yang semakin meningkat jumlahnya. Dan Jawa Tengah masuk dalam kategori mengkhawatirkan. Ditambah lagi semakin maraknya peredaran narkoba. Presiden Jokowi sendiri menyatakan bahwa paling tidak dalam satu hari ada sekitar 50 jiwa melayang karena narkoba. Semua itu terjadi di sekitar kita. Sadarkah kita bahwa bahaya tersebut setiap saat setiap waktu mengancam generasi kita; bisa merusak dan menghancurkan masa depan anak-anak kita? Apa yang harus kita lakukan untuk membentengi generasi yang ada di bawah kita? Penyebab utama generasi baru bangsa Israel meninggalkan Tuhan adalah tidak adanya pengenalan akan Tuhan. Ini berbicara tentang keimanan yang terus bertumbuh dan diperdalam. Kita memiliki tanggung jawab untuk menyiapkan generasi selanjutnya untuk siap menghadapi ancaman dari dunia ini yang semakin masif. Orangtua [bekerjasama dengan gereja] harus benar-benar menanamkan keimanan dengan memperkenalkan Kristus dan mengajarkan nilai-nilai moralitas kristen. Orangtua memegang peran utama sebagai ujung tombak mempersiapkan generasi yang tangguh. Kesiapan generasi penerus menghadapi tantangan dan ancaman bahaya dari dunia yang jahat ini bergantung dari apa yang kita kerjakan bagi mereka saat ini.
Apakah kita sudah menguji diri kita? Apa saja yang kita uji? Biasanya kita menguji diri kita untuk perbuatan-perbuatan kegelapan karena kita harus hidup sebagai anak-anak terang [ayat 8]. Misalnya: percabulan, kecemaran, keserakahan, penyembahan berhala, kata-kata kotor, dan sebagainya yang mendatangkan murka Allah. Rasul Paulus menyorot tentang waktu yang Tuhan berikan kepada kita [ayat 16], “Pergunakanlah waktu yang ada karena hari-hari ini adalah jahat.” Bagaimana kita mempergunakan waktu kita? Apakah kita sudah pergunakan waktu kita untuk hal-hal yang bermanfaat dan berkenan kepada Tuhan? Benda yang sama dapat mendatangkan manfaat atau celaka, bergantung pada penggunaannya. Sebotol alkohol bermanfaat saat dipakai untuk membersihkan luka, tapi mendatangkan celaka saat dipakai untuk menyiram muka seseorang. Sebilah pisau bermanfaat saat dipakai untuk alat bantu memasak, tapi mendatangkan celaka saat dipakai untuk membunuh orang. Demikian juga dengan waktu yang Tuhan karuniakan pada kita. Waktu akan bermanfaat saat kita memakainya dengan bijaksana, menggunakannya dengan baik untuk menggali dan menyatakan kehendak-Nya dalam seluruh aspek kehidupan kita. Hidup di dunia ini adalah suatu persiapan untuk memasuki hidup dalam kekekalan. Waktu yang ada harus dipahami sebagai karunia yang sepatutnya dipakai untuk menyenangkan hati Tuhan. Sebaliknya, waktu akan mendatangkan celaka saat kita tidak bijaksana dan kita tidak menyadari adanya harapan akan kehidupan dalam kekekalan. Kita pakai waktu hanya untuk mengejar kekayaan, pangkat, gelar, jabatan, prestasi, cita-cita bahkan kemuliaan diri seolah-olah hidup hanya berlangsung di dunia yang fana ini. Mari kita bangun dari tidur kita, sadar akan kehidupan dalam kekekalan dan biarlah cahaya Kristus menerangi kehidupan kita [ayat14].
BARCODE BBM CHANNELS
RENUNGAN HARIAN
Pengabdian Total
07 Mei '15
Apakah Kehendak Allah Yang Utama?
15 Mei '15
Power
17 Mei '15
Copyright © 2012 All rights reserved. Designed and Developed by GIA Dr. Cipto Semarang